Bonjour itulah kata pertama dalam bahasa Perancis yang langsung terdengar akrab di telinga begitu kita menapakkan kaki di ibukota Perancis. Cukup dengan bermodalkan peta Paris, tiket Metro lengkap dengan petanya dan beberapa kata akrab dalam bahasa Perancis seperti Bonjour, Merci, Pardon, dan Au Revoir, kita akan dapat menjelajahi Paris dengan cukup puas. Bahkan bagi seorang turis yang baru pertama kali datang dan sama sekali tidak mampu berbahasa Perancis.
Sarana angkutan umum massal yang dikenal dengan nama Metro ini memang harus diakui kehebatannya. Petunjuknya begitu jelas dan mudah. Jadwalnya begitu mengagumkan. Tiket dapat dibeli disetiap loket stasiun secara manual ataupun otomatis dengan beberapa macam pilihan. Ada yang satuan ada yang per-10an dengan harga lebih murah. Tetapi bila kita tiba di Paris pada hari Senin, Carte d’Orange adalah pilihan yang tepat. Dengan harga yang jauh lebih murah kita dapat menggunakannya selama 1 minggu bebas kemanapun, dengan Metro maupun dengan bus. Carte d’Orange ini harus dilengkapi dengan sebuah pas foto. Tetapi tidak perlu khawatir, karena di banyak stasiun dapat ditemui foto box. Peta jalur Metro dapat diminta di loket tanpa dipungut bayaran. Kemudian dengan bantuan peta kota Paris yang telah dilengkapi dengan tanda obyek turis beserta nama stasiun Metronya, siaplah sudah kita untuk menelusuri seluruh pelosok kota. Satu hal yang cukup penting, jangan lupa untuk mengingat sortie alias exit alias pintu keluar stasiun. Karena bila kita tidak memperhatikan hal tersebut, kita akan kebingungan mencari arah padahal kita telah berada di lokasi yang benar tetapi bisa jadi di sisi yang berlawanan.
Penjelajahan yang dimulai dari stasiun L’Etoile dengan sortie Champs-Elysée mungkin merupakan pilihan tepat. Stasiun ini berada tepat dibawah L’Arc de Triomphe, sebuah tugu kemenangan yang dibangun pada tahun 1836 atas perintah Napoleon Bonaparte. Sejak tahun 1920 para pahlawan tak dikenal dikebumikan di tempat ini. Tugu ini berada disebuah bunderan yang sangat istimewa karena ia memiliki 12 simpang avenue! Salah satunya yaitu Champs-Elysée yang sangat terkenal itu. Dari sini kita dapat menyusuri boulevard yang memiliki pedestrian yang amat lebar, ramai dijejali turis manca negara dengan brasserienya yang amat khas Perancis dengan boutique2 perancang ternamanya yang berarsitektur indah dikiri-kanannya. Bila telah lelah berjalan, kita dapat menggunakan bus untuk meneruskan penelusuran dengan melewati Place de la Concorde, sebuah tempat bersejarah dimana raja Louis XVI, sang permaisuri Marie Antoinette dan puluhan ribu lainnya di goulletin.
Pelataran luas terbuka ini dihiasi dengan 2 air mancur besar nan indah, tugu Obelisk dan dikelilingi bangunan2 penting seperti Palais Bourbon yang berfungsi sebagai gedung Assembly Nasional dan kembaran disisi seberangnya yaitu gereja Madeleine, hotel De Crillon, hotel tempat para tamu penting seperti para presiden sering menginap dan pintu gerbang taman Jardin de Tuleries yang merupakan pintu menuju Musee du Louvre. Bagi para pembaca yang telah menyaksikan film Da Vinci Code tentu tempat ini tidak asing lagi, karena ini memang lokasi dimana peristiwa kejar-mengejar dengan polisi untuk menuju kedutaan Amerika terjadi dan memang kedutaan tersebut terletak tidak jauh dari sini.
Selanjutnya bus akan terus melaju menyusuri sungai Seine melewati La Concierge, Hotel de Ville hingga Ile de la Cite. Bosan dengan bus; kita dapat turun di terminal yang dekat dengan stasiun Metro, yang mudah dikenali dengan tanda ‘M’ bila kita ingin meneruskan perjalanan yang agak jauh dengan menggunakan Metro. Namun bila tidak, kita dapat sekedar berjalan kaki menuju Notre-Dame de Paris ataupun Place st Michelle yang ramai untuk menikmati keindahan Seine sambil mengganjal perut dengan kebab ataupun baguette yang banyak dijual di kedai2 pinggir jalan. Atau mungkin hanya sekedar melihat-lihat buku2 dan majalah2 bekas yang banyak dijual berjajar di kios2 disepanjang sungai. Siapa tahu tiba-tiba menemukan koleksi yang telah lama kita cari.
Jakarta, 11 Juni 2006.
Vien AM.
