Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2009

Banyak peninggalan bersejarah yang pantas dikunjungi di Yordania. Negara yang berbatasan dengan Suriah di sebelah utara, Arab Saudi di timur dan selatan, Irak di timur laut, serta Israel dan Tepi Barat di barat ini menyimpan sejarah para nabi. Karena letaknya yang menempel dengan Israel, Yordania yang beribu kota di Amman ini sejak lama telah menjadi negara tujuan terbesar bagi pengungsi Palestina. Rakyat Yordania adalah saksi dari dampak kekejaman Yahudi terhadap rakyat Palestina. Mereka telah lama hidup berdampingan dan mendengar serta menyaksikan sendiri penderitaan saudara-saudara mereka di pengungsian.

Melalui negara inilah sebagian besar orang yang ingin megunjungi Masjid Al-Aqsho’ dan Masjid As-Sakroh atau Dome Of The Rock di Yerusalem harus masuk. Setelah kunjungan ke Yerusalem yang hanya diperbolehkan (oleh pemerintah israel!)tidak lebih dari 1 malam usai, rombonganpun segera meninggalkan Palestina dan menuju Yordania untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi makam para nabi dan situs-situs penting yang tertulis di Al-Quran.

Tujuan pertama adalah makam nabi Musa as. Seperti yang telah dikisahkan dalam Al-Quranul Karim, Musa as beserta kaumnya terpaksa hidup terkatung-katung di padang Tiih dalam penantian selama 40 tahun karena kaumnya tidak berani memasuki tanah Palestina. Padahal nabi Allah ini telah membebaskan mereka dari kekejaman Fir-aun sekaligus memimpin mereka keluar dari negri Mesir.

” Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.“(QS.Al-Maidah (5):24-26).

Masjid dimana makam Musa as berada

Makam nabi Musa as. Dalam keadaan berbaring saja setinggi orang dewasa, gimana kalau berdiri ya?

Dalam keadaan seperti inilah Musa as wafat dan kemudian kaumnya memakamkan beliau di sekitar tempat tersebut. Makam ini terletak 11 km selatan Jericho dan 20 km timur Yerusalem. Bus kecil yang kami tumpangi menyusuri jalan utama antara ke dua kota tersebut. Bus melaju di jalanan aspal yang mulus melalui perbukitan. Walaupun sepanjang jalan terlihat gersang namun sebenarnya sekali-sekali terlihat adanya pepohonan hijau diatas bebatuan diantara bukit pasir campur tanah tersebut. Udaranyapun sejuk tidak terlalu panas. Sebuah pemandangan yang sungguh unik dan mengesankan. Sekitar 2 km setelah melewati tanda yang menunjukkan ketinggian laut, buspun berbelok menuju makam nabi Musa. Makam ini ternyata terletak di salah satu ruang masjid yang berdiri di atas bukit.

Menurut Karim, guide berkebangsaan Palestina yang mendampingi kami, masjid yang memiliki 5 menara ini dibangun pada tahun 1269 M dibawah pemerintahan Abdul Al-Dhaher, seorang sultan Mameluk. Makam ini tidak tampak diperlakukan secara istimewa. Yang terlihat hanya peti yang dibungkus kain beludru hijau tua. Perbedaan mencolok yang terlihat hanyalah ukurannya saja yang lebih tinggi dan besar dari rata-rata peti mati pada umumnya. Masjid terlihat sepi. Hanya kami satu-satunya rombongan yang berkunjung pada hari itu. Setelah melaksanakan shalat tahiyatul masjid 2 rakaat, kami berkeliling melihat situasi masjid. Tiba-tiba muncul sepasang bule. ” Where is the tomb of Moses ?” tanya mereka. Dalam hati saya bertanya, bagaimana kira-kira perasaan mereka ya .. mengetahui bahwa makam nabi mereka itu ternyata berada di dalam sebuah masjid ! 

Setelah puas melihat-lihat keadaan sekitar kami kembali ke bus dan meneruskan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah makam nabi Syu’aib yang terletak tidak terlalu jauh dari makam nabi Musa. Namun karena untuk menuju makam nabi tersebut harus melewati Laut Mati ( Dead Sea) maka kami singgah dahulu di pantai yang terkenal karena kadar garamnya yang tinggi tersebut. Kawasan ini merupakan titik terendah di dunia, yaitu 422 meter di bawah permukaan laut. Untuk menghindari telinga agar tidak sakit, kami harus beberapa kali menelan ludah seperti ketika kita berada di pesawat terbang pada ketinggian tertentu. Air garam dan bau khas laut makin lama makin terasa. Dari kejauhan lautpun mulai menampakkan diri.

Laut yang memiliki luas sekitar 1050 km2 ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai danau karena memang seluruhnya dikelilingi tanah, tidak ada jalan keluar menuju laut lepas. Laut ini sebagian dikuasai Yordania , sebagian Tepi Barat dan sebagian lainnya dikuasai Israel. Yang kami kunjungi saat ini adalah yang milik Yordania. Mengapa dinamakan Laut Mati? Karena tak satupun mahluk hidup mampu hidup didalamnya. Ini disebabkan kandungan garamnya yang 22-25% padahal rata-rata air laut hanya mempunyai kandungan garam 4-6%. Kami tiba di tempat wisata ini sekitar pukul 2 siang. Udara sangat cerah dan matahari panas mencorong.

Tempat ini ditata secara apik dan bersih. Hotel-hotel mewah berdiri berjajar di sepanjang pantai. Juga tampak beberapa bangunan mewah tempat perawatan kesehatan dan kecantikan. Garam dan lumpur hitam yang diambil dari laut ini memang dikenal banyak manfaatnya. Keduanya dijadikan bahan kosmetika dan obat-obatan yang dikenal ke manca negara dan merupakan salah satu komoditi penting eksport negri yang dipimpin oleh raja Abdullah II ini. Sambil menikmati keindahan pantai, kami menyantap makanan yang dihidangkan restoran yang sudah menjadi paket perjalanan yang kami sewa ini.

Setelah itu kami segera mencoba mencemplungkan kaki ke laut dan sedikit mencicipi airnya. Wuuihh …bukan asin lagi ..tapi pahit! Makin sore makin banyak wisatawan datang. Dari jauh terlihat sebagian besar tamu lelaki melumuri badan mereka dengan lumpur hitam yang diambil dari pinggir dasar laut. Sebagian lain ‘merebahkan’ diri di atas air dan membiarkan dirinya mengapung dengan santai.

Masjid dimana makam Syuaib as berada

Masjid dimana makam Syuaib as berada

makam nabi Syuaib as

makam nabi Syuaib as

Sekitar pukul setengah 5 kami kembali meneruskan perjalanan. Tak sampai 20 menit kami telah tiba di makam nabi Syu’aib as, mertua nabi Musa as. Sama seperti makam nabi Musa, makam Nabi Syu’aib juga berada didalam sebuah masjid. Masjid ini terletak di ketinggian diantara bukit-bukit pasir yang mengitarinya. Tak tampak keistimewaan baik di makam maupun masjid. Tak tampak pula adanya kehidupan di sekitarnya. Lokasi ini jauh dari keramaian. Meski begitu keduanya terlihat terawat. Kaum Syu’aib adalah kaum yang diazab Allah karena tidak mau menyembah Allah swt serta suka mengurangi takaran dan timbangan dalam rangka mencari keuntungan berdagang.

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa”.(QS.Huud(11):94-95).

Selanjutnya kami menuju Gua Kahfi. Ada beberapa pendapat mengenai keberadaan gua yang kisahnya diabadikan di Al-Quran ini. Ada yang mengatakan gua tersebut berada di Suriah, ada pula yang mengatakan di Turki dan ada yang berpendapat di Yordania. Namun kebanyakan berpendapat bahwa gua yang di Yordania adalah yang paling benar. Wallahu’alam. Gua yang di Yordania inilah yang kami kunjungi.

pintu gua Alkahfi

pintu gua Alkahfi

Masjid Alkahfi

Masjid Alkahfi

Gua ini terletak di perkampungan Al-Rajib dan berjarak sekitar 1.5 km dari kota Abu A’landa dekat kota Amman. Di dekat gua tersebut sekarang telah berdiri sebuah masjid besar. Saat ini suasana di sekitar gua tidak mencerminkan bahwa dulunya gua ini jauh dari keramaian. Masjid kelihatan aktif digunakan dan guapun telah ditata apik. Bahkan didalam gua telah ditempatkan sebuah lemari kaca yang berisi peninggalan para penghuni gua. Tulang-belulang para penghuninyapun telah disimpan dengan baik di tempat aslinya yaitu di bawah tempat tidur batu mereka. Kemudian ditutup kaca serta diberi sedikit penerangan agar tulang tidak cepat rusak namun tetap bisa dilihat pengunjung.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka” .(QS.Al-Kahfi(18):22).

Bergaya dengan jubah " Harry Potter" di depan gerbang gua Al-Kahfi

Bergaya dengan jubah " Harry Potter" di depan gerbang gua Al-Kahfi

Prasasti gua Kahfi

Yang unik. Sebelum masuk gua, para pengunjung perempuan diharuskan memakai jubah hitam panjang yang disediakan penjaga gua. Lucu juga, seperti tokoh-tokoh sihir Harry Potter : – ) Menjelang magrib kami memasuki kota Amman, makan di restoran Thailand yang terkenal enak di kota tersebut kemudian masuk hotel dan istirahat, bersyukur telah diberi kesempatan melihat situs peninggalan beberapa nabi dan kisah yang diceritakan Al-Quran. Sayang kami batal mengunjungi makam nabi Ibrahim karena makam ini terletak di kota Hebron, Tepi Barat yang dijaga ketat tentara Israel. Juga lokasi kaum nabi Luth yang diazab karena hubungan sesama jenis merajalela. Kota itu diberi nama kota Soddom yang terletak ditepi Laut Mati, sekitar 60 km dari pantai yang kami kunjungi sore tadi. Sayang sekali….

Jakarta, 12/2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan kemurkaan Allah SWT terhadap kaum yang mendustakan ayat-ayat-Nya, yang membunuh utusan-utusan-Nya, yang berbuat kejahatan serta kerusakan sehingga akhirnya Allah SWT mengazab negri mereka. Padahal negri-negri mereka ketika itu telah begitu maju. Allah menghukum mereka disebabkan kesalahan mereka sendiri.

“…… yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”.(QS.Al-Fajr (89):11-14).

Beberapa kota atau negri ada yang telah diketahui secara pasti lokasi dan bekas-bekasnya namun tidak sedikit pula yang tidak diketahui lokasi maupun asal-usulnya. Yang pasti sejarah mencatat bahwa pada tahun 1812 Johann Ludwig Burckhardt, seorang penjelajah mualaf berkebangsaan Swis telah menemukan sebuah situs arkeologi yang amat spektakuler, yaitu Petra yang berarti batu dalam bahasa Yunani, ’The Lost City’ di Yordania. Ketika itu Burckhardt datang ke lokasi tersebut karena mendengar kabar bahwa Harun as, saudara Musa as dimakamkan ditempat itu.

Kota ini terletak beberapa km disebelah selatan laut Mati, tersembunyi dibalik pegunungan Wadi Musa, sebuah pegunungan yang penuh bebatuan raksasa. Peninggalan kota ini sungguh menakjubkan. Tampaknya mereka telah berhasil mendirikan rumah dan istana mereka di lembahnya dengan cara memahat dinding-dinding batunya. Kota ini diperkirakan dibangun pada tahun 400 SM dan telah mengalami beberapa gempa bumi serta banjir besar hingga akhirnya hilang dalam kegelapan sejak sekitar tahun 400M. Yang menarik mereka menyembah berhala-berhala yang mereka namakan Al-Uzza, Al-Latta dan Al-Manna. Nama berhala yang sama yang disembah orang-orang Arab termasuk suku Quraisy di Mekah dan sekitarnya.

”Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.(QS.An-Najm (53):19-23).

Sejarah juga mencatat bahwa pada tahun 97 M sebuah gunung bernama Vesuvius di Italia meletus dengan begitu hebatnya hingga menyebabkan kota Pompei hilang terkubur debu tebal serta lahar yang keluar dari gunung tersebut. Namun Allah SWT berkehendak agar kota tersebut tidak lenyap 100 persen. Saat ini dapat kita saksikan bahwa kota tersebut masih meninggalkan sisa-sisa yang sungguh mengerikan. Disana-sini berserakan jasad-jasad manusia yang masih dalam keadaan sempurna dengan berbagai posisi namun telah tidak bernyawa!

Sejarah juga mencatat bahwa peradaban Romawi ketika itu amat bejat. Mereka gemar berbuat maksiat. Hidup mereka bergelimang dengan kemewahan namun meraka melupakan nasib rakyatnya yang miskin dan menderita kelaparan. Korupsi dan perbudakan meraja-lela. Pada masa pemerintahan ini pula dijatuhkan ’ hukuman penyaliban ’bagi Isa as, yaitu pada sekitar tahun 33 M.

”dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian”.(QS.Az-Zukhruf(43):56).

Berikut beberapa contoh yang tertulis dalam Al-Quran mengenai kaum dan negri yang dimusnahkan karena berbagai prilaku menyimpang penduduknya. Ini adalah kemurkaan  Allah  yang datang kepada mereka. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

1. Kaum Nabi Nuh as.

Kaum Nuh as diperkirakan hidup pada sekitar 4000 SM atau lebih dari 25 abad setelah Adam as. Mereka menempati wilayah sekitar sungai Tigris dan sungai Efrat di Irak. Masyarakatnya sebagian besar hidup sebagai petani. Mulanya mereka menyembah Allah SWT semata namun seiring dengan berlalunya waktu merekapun menyembah berhala dan patung-patung.

Nabi Nuh as selama 950 tahun terus berdakwah mengajak kaumnya agar kembali ke jalan yang benar namun mereka tetap berkeras hidup dalam kesesatan. Hingga akhirnya Nuh as menyerah dan memohon kepada Allah SWT agar memberika hukuman kepada mereka.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma`siat lagi sangat kafir..”.(QS.Nuh(71):26-27).

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan..”(QS.Huud(11):37).

Begitulah akhir nasib kaum yang mendustakan Sang Khalik, Yang Maha Kuasa berbuat apapun. Kemudian dengan izin Allah, perahu besar itu terdampar di gunung Judi (pegunungan Ararat, wilayah timur Turki). Di tanah ini mereka membentuk masyarakat yang takwa dibawah bimbingan Nuh as, salah satu ulul azmi, Sang Rasul pilihan. Setelah jumlah mereka semakin banyak merekapun kemudian berpencar ke berbagai arah, sebagian pergi ke Jazirah Arab,sebagian lagi menuju ke Irak dan yang lainnya ada yang ke Utara, Barat maupun Selatan.

2. Kaum Nabi Hud as

Kaum ini dinamakan kaum ‘Aad, kotanya dinamai kota Iram. Mereka termasuk bangsa Arab dan tinggal di kawasan Al-Ahqaaf (kini Hadramaut), Yaman. Pada masa Nabi Hud as kaum ini telah mampu membangun gedung-gedung tinggi yang mewah. Mereka adalah orang-orang pertama yang membangun gedung-gedung seperti itu. Mereka memiliki harta yang melimpah. Sayang mereka tidak pandai bersyukur. Sebaliknya mereka malah menyombongkan diri dan merasa diri tidak ada yang lebih kuat dari mereka.

Adapun kaum `Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami”. (QS.Fushilat(41):15).

Bahkan penduduknya lebih memilih menyembah berhala daripada menyembah Allah SWT. Nabi Hud as datang untuk memberi peringatan tetapi mereka terlalu congkak untuk mengakui kesalahan mereka. Oleh sebab itu Allah SWT menimpakan azab kepada mereka.

“Adapun kaum `Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka”.(QS.Al-Haqqah(69):6-8).

Namun Allah SWT berkehendak agar bekas-bekas kota dimana kaum ’Aad pernah hidup tidak sama sekali lenyap. Pada tahun 1980 sekelompok peneliti yang tertarik akan keberadaan kota Iram di masa lalu, sengaja mengadakan penelitian di daerah Hadramaut. Dengan bantuan peralatan canggihnya, mereka berhasil merekam bekas kota tersebut melalui Pesawat Luar Angkasa The Challenger walaupun hanya sedikit sekali. Kota ini diperkirakan ada lebih dari 3000 tahun yang lalu di perbatasan antara Yaman dan Oman. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya! Ini adalah peringatan bagi kaum yang akan datang.

“yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”. (QS.Al-Ahqaaf (46):25).

3. Kaum Nabi Shaleh as.

Mereka adalah kabilah Tsamud, penduduk yang mendiami kawasan Al-‘Ala yang terletak diantara Madinah dan Tabuk. Mereka datang setelah kaum ‘Aad dan sebagaimana kaum ‘Aad mereka juga menyembah berhala-berhala. Mereka mendirikan rumah dan istana mereka dengan jalan memahat gunung-gunung.

”Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum `Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah ni`mat-ni`mat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan”. (QS.Al-Araaf (7):74).

Nabi Shaleh as diutus untuk memperingatkan mereka agar mereka tidak mencontoh perbuatan kaum ’Aad. Nabi Shaleh diberi mukjizat seekor unta yang tidak akan habis air susunya walapun diminum oleh banyak orang. Namun mereka malah melecehkan peringatan Nabi Shaleh as dengan membunuh unta tersebut.

”Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”.(Q.Al-Araaf(7):77-78).

4. Kaum Nabi Syuaib as.

Penduduk Madyan tinggal di wilayah barat laut jazirah Arab, di wilayah antara Tabuk dan selatan Yordania. Penduduk daerah ini selain tidak mau menyembah kepada Allah juga sejak lama telah terbiasa berbuat kejahatan dan kecurangan. Perawakan mereka besar lagi kasar prilakunya. Mereka gemar mengurangi takaran dan timbangan dalam mencari keuntungan berdagang. Ditengah kaum yang seperti inilah Nabi Syuaib diutus. Ia dikenal sebagai seorang yang pandai dan penyantun di kalangan kaumnya. Keluarganya adalah keluarga yang dihormati.

”Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. (QS. Huud (11):84).

Penduduk Madyan adalah bukan orang-orang terpelajar. Mereka mengira bahwa kedudukan dan kehormatan di dunia adalah lebih mulia daripada Tuhan, Allah SWT yang telah menciptakan mereka. Oleh karena itu mereka tidak mau dan tidak mengerti apa yang dikatakan Syuaib as. Maka mereka tetap meneruskan kebiasaan buruk mereka hingga akhirnya Allah SWT menjatuhkan hukuman bagi mereka.

”Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya”. (QS. Huud(11):94).

5. Kaum Nabi Luth as.

Nabi Luth as adalah kemenakan Nabi Ibrahim as. Sebagaimana pamannya Luth juga diberi tugas ke-Rasul-an. Ia tinggal di kota Sodom, sebuah kota yang terletak di sebelah selatan Laut Mati. Masyarakat kota ini benar-benar telah tersesat jauh. Merekalah kaum pertama di dunia ini yang mempraktekkan perbuatan homoseksual, sebuah perbuatan yang sungguh hina dan nista.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. (QS.AL-A’raaf(7):80-82).

Nabi Luth berulang kali mengingatkan kaumnya agar mereka segera insyaf dan kembali ke jalan yang benar namun mereka malah berusaha mengusirnya, padahal Luth juga telah mengingatkan akan adanya azab Allah SWT yang berat. Luth sungguh merasa tidak berdaya. Akhirnya Allah SWT mengutus 2 malaikat untuk datang menemui Luth dengan menyamar sebagai manusia lelaki biasa.

Akan tetapi kaum yang terlaknat ini sungguh telah kehilangan akalnya. Mereka malah berusaha masuk kedalam rumah dan memaksa Luth as agar menyerahkan ke 2 tamunya tersebut. Demikian pula istri Luth as, ia termasuk orang-orang yang zalim.

”Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”.(QS.Al-Qamar(54):37).

”Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”. (QS. Huud(11):82-83).

Itulah akhir kaum yang tidak mau menuruti hukum dan aturan-aturan Yang Menciptakannya, Yang Memilikinya, Yang Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Dan Allah SWT berkehendak agar kota tersebut menyisakan tanda-tandanya agar dijadikan pelajaran bagi kaum yang berikutnya.

”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)”. (QS.Al-Hijr(15):75-76).

Kota itu adalah kota Sodom, yang terletak di sebelah selatan Laut Mati. Yang hingga kini masih meninggalkan sisa-sisanya.

6. Kaum Nabi Musa as.

Nabi Musa as diutus mengajak kaum Fir’aun di Mesir yang selama berabad-abad menyembah dewa-dewa bahkan menganggap Fir’aun adalah Tuhan. Mereka adalah kaum yang amat tersesat dan tidak tahu bersyukur padahal Allah SWT telah menganugerahi negri ini dengan kekayaan yang begitu melimpah. Namun pemimpinnya sangat jahat dan keji.

”Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS.Al-Qashash(28):4).

Ketika Musa as memperkenalkan diri bahwa ia adalah utusan Allah dan Tuhan yang patut disembah hanyalah Allah SWT mereka malah mengolok-ngolok dengan membangun sebuah bangunan tinggi untuk ’melihat ’ Tuhannya Musa as. Setelah bertahun-tahun lamanya Nabi Musa mengajak Fir’aun dan kaumnya agar kembali ke jalan yang benar tanpa hasil yang memuaskan akhirnya Musa as memohon agar Allah SWT memberi mereka pelajaran.

”Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih“. (QS.Yunus(10):88).

Namun meskipun Allah SWT telah memberikan begitu banyak cobaan dan Musa pun telah berulang kali memperingatkan akan adanya azab Allah, Fir’aun dan kaumnya tetap membangkang. Akhirnya Musa as bermunajat agar Allah SWT mendatangkan azab yang pedih.

”Kemudian Musa berdo`a kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka)”. (Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”.(QS.Ad-Dukhan(44):22-24).

Ketika Fir’aun melihat bahwa ajalnya telah hampir tiba ia segera mengakui kesalahan dan bertaubat. Namun nasi telah menjadi bubur, Allah SWT tidak menerima pengakuan dan taubat orang yang dalam sakratul maut, dimana ia telah melihat azab di pelupuk matanya, dimana ia tidak mempunyai pilihan selain bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah. Sebaliknya Allah SWT berkenan menjadikan Fir’aun sebagai pelajaran bagi orang-orang yang datang kemudian yaitu dengan menyelamatkan badannya. Saat ini kita dapat menyaksikan jasad Fir’aun yang baru-baru ini ditemukan setelah ribuan tahun lamanya tenggelam di telan air laut. Jasad ini diabadikan di ’Museum of Cairo’, Mesir yang dapat dikatakan masih utuh bahkan pakaiannya hanya sebagian saja yang hancur!

7. Kaum Tubba’.

Kaum Tubba’ dan kaum Saba’ adalah dari keturunan yang sama. Mereka menempati wilayah yang sama pula, yaitu Yaman.  Kaum yang hidup pada zaman Ratu Bilqis disebut kaum Saba’  sedangkan kaum Tubba’ hidup pada masa kerajaan Himyar. Berkat adanya waduk raksasa Ma’arib, daerah mereka subur dan makmur namun dengan hancurnya bendungan tersebut kini Yaman adalah daerah yang tandus, kering dan gersang. Daerah tersebut hanya ditumbuhi sedikit pepohonan, itupun kurang manfaatnya.

Sejarah mencatat bahwa pada sekitar tahun 525 M, raja Himyar yang bernama Dhu Nuwas mempunyai hubungan yang buruk dengan kerajaan Kristen Aksum di Etiopia. Ia melakukan penyerangan terhadap wilayah kerajaan Aksum yang terletak di jazirah Arab, yaitu kota Najran dan Zafar. Mereka membunuhi dan membantai musuh-musuhnya secara kejam dan biadab di kedua kota tersebut.

”Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba` dan orang orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa”.(QS.Adh-Dukhan(44):37).

Akibat kebiadaban tersebut Romawi yang juga penganut Kristen menyerang Himyar hingga akhirnya kerajaan ini takluk dibawah kekuasaan Romawi. Namun beberapa waktu kemudian Abrahah, yang ketika itu adalah salah seorang raja muda kerajaan Aksum berhasil menguasai Himyar. Ia adalah seorang penganut Nasrani penyembah berhala. Raja ini mendirikan sebuah gereja besar di kota Sana’a, ibu kota Himyar. Gereja ini berdiri tinggi menjulang ditaburi dengan batu permata di setiap penjurunya dengan maksud agar dapat menyaingi Ka’bah di kota Mekkah yang ketika itu menjadi pusat pemujaan berhala di semenanjung Arab. Selanjutnya terjadilah persaingan sengit yang menjurus kepada kerusakan sehingga akhirnya Abrahah dengan membawa pasukan gajahnya berangkat ke Mekkah dengan maksud akan menghancurkan Ka’bah. Inilah yang dimaksud pasukan gajah dalam surat Al-Fiil.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah ? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.(QS.Al-Fiil(105):1-5).

Peristiwa ini terjadi pada tahun 570M , yaitu tahun kelahiran Rasulullah (oleh sebab itu tahun tersebut juga dikenal dengan nama tahun Gajah). Suku Quraisy tidak mampu menahan serangan pasukan Abrahah yang kuat. Abdul Muththalib, kakek Rasulullah, sebagai pemimpin ketika itu hanya mampu menyarankan agar sukunya bersembunyi. Ia mengatakan kepada Abrahah bahwa Ka’bah bukan milik suku Quraisy, Sang Pemiliklah yang akan mempertahankannya sendiri.

Setelah itu, orang-orang Quraisy yang bersembunyi di atas gua Hira’ menceritakan bahwa mereka melihat segerombolan burung-burung penyambar muncul dari arah lautan. Masing-masing burung tersebut membawa tiga buah batu, dua batu di masing-masing kedua kakinya dan satu batu lagi di paruhnya. Burung-burung tersebut menjatuhkan batu-batu yang dibawanya ke arah pasukan gajah yang dibawa Abrahah hingga sebagian besar mati. Abrahah sendiri dikabarkan pulang ke negrinya, Yaman dalam keadaan badannya hancur penuh luka bakar dan nanah. Ia tewas beberapa saat setelah tiba di tanah airnya.

Dan tak berapa lama kemudian terdengar berita bahwa waduk di negri tersebut ambruk. Berita yang sampai ke Mekkah ketika itu bermacam-macam. Ada yang mengatakan waduk ambruk karena hujan yang turun terus menerus, ada pula yang mengatakan karena gempa namun ada pula yang mengatakan karena adanya wabah tikus yang menggerogoti dasar waduk!

”Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”. (QS.Saba’(34):15-17).

Bagaimana pula dengan keadaan kita sekarang ini? Bukankah maksiat dan kejahatan telah merajalela ? Akankah Allah mengazab kita? Kapan? Sungguh beruntung, Rasulullah Muhammad saw adalah benar-benar seorang yang sangat sabar. Suatu ketika Rasulullah berdakwah, mengajak penduduk Tha’if, sebuah kota sejuk beberapa km tenggara kota Makkah agar mereka menyembah Allah swt. Namun Rasulullah malah diolok-olok, dikejar dan dilempari batu oleh penduduknya.

Dalam keadaan terluka, Rasulullah kemudian bersembunyi di sebuah kebun anggur. Tak lama kemudian muncul malaikat Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi antara dirimu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”

Namun apa jawaban Rasulullah saw? “Walaupun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.” . Begitu jawaban Rasul.

Tampaknya inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa ajaran Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Allah swt tidak berkehendak menurunkan azab-Nya yang pedih terhadap umat Muhammad saw begitupun Rasul.  Bahkan sebagian ulama mengatakan tidak ada azab setelah turunnya Islam. Allah sungguh mengasihi umat akhir zaman dimana kita sekarang ini hidup. Namun jangan kita terus terbuai karena Allah hanya menunda azab tersebut bukan menghapusnya. Maka dimanakah rasa syukur kita yang telah diberi kesempatan begitu besar untuk bertaubat ? Hingga nafas di kerongkongankah sebagaimana yang diperbuat Fir’aun? Bukankah  taubat yang demikian tidak bakal ditrima-Nya ?

… hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS.Yunus(10):90-91)

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Agustus 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

”…… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.(QS:At-Thalaq(65):2-3).

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al-Ankabut(29):40).

Itulah 2 janji Allah yang pasti akan dipenuhinya. Kemudahan urusan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat bagi siapa yang takwa dan kesengsaraan serta kenistaan baik di dunia apalagi di akhirat bagi siapa yang mendurhakai-Nya.

Berikut adalah janji Allah terhadap orang dan kaum yang taqwa.

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS.Ibrahim(14):7).

Begitu banyak, berat dan kuat gangguan yang dihadapi manusia dalam perjalanannya menuju taqwa. Namun demikian sesungguhnya Allah SWT tetap menghendaki agar manusia dapat melewati rintangan dan hambatan-hambatan tersebut. Hal ini terbukti dengan banyaknya Nabi dan Rasul yang diutus untuk membimbing manusia menuju jalan yang lurus, yaitu untuk senantiasa menyembah kepada Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Pada setiap umat setiap zaman sesungguhnya Allah SWT telah mengutus seorang utusan, baik itu Nabi maupun Rasul. Untuk itulah Allah SWT mengajarkan kita agar mengadakan perjalanan di muka bumi agar kita memperhatikan dan kemudian mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang telah ditinggalkan-Nya di muka bumi ini, yaitu melalui peninggalan-peninggalan kuno bersejarah dan sisa-sisa ajaran terdahulu.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS.An-Nahl(16):36).

Jumlah Nabi menurut hadis adalah 124.000 orang, 315 diantaranya adalah Rasul. Sedangkan yang tersebut dalam Al-Quran hanya 25 saja. Jadi tidak mengherankan bila belakangan ini ditemukan peninggalan-peninggalan kuno dan sisa-sisa ajaran yang mencerminkan adanya ajaran Monotheisme ataupun Tauhid di setiap belahan dunia.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

Ayat di atas menunjukkan bahwa siapapun yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian serta beramal saleh maka mereka akan menerima pahala serta akan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Bahkan orang Yahudi dan Nasrani sekalipun bila mereka beriman kepada Allah, Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan diperanakkan, meyakini seluruh utusan Allah termasuk Muhammad saw serta Al-Qur’an sebagai kitab Allah yang diturunkan kepadanya kelak mereka akan dimasukan ke dalam surga-Nya. Jadi orang Yahudi dan Nasrani yang dimaksud ayat diatas adalah pengikut Musa as dan Isa as yang taat pada jamannya dahulu ketika ajarannya belum diselewengkan, ketika Islam belum datang. Waraqah bin Nufail dan pendeta Bukhaira adalah salah satu contohnya.

Sedangkan yang dimaksud orang-orang Shabiin adalah penduduk negri Haran, yaitu kaum Shabi’ah. Haran adalah sebuah kota kuno di dataran Mesopotamia, kota dimana Ibrahim as pernah menetap sebelum pindah ke Kana’an di Palestina. Penduduk negri tersebut terpecah menjadi 2, sebagian penyembah patung dan sebagian lainnya penyembah agama tauhid yang dibawa nabi-nabi jaman dahulu. Shabi’ah kelompok kedua inilah yang djanjikan surga pada ayat di atas. Namun ada juga sebagian mufasirin yang berpendapat bahwa kaum Shabiin adalah kaum yang karena ketidak-tahuannya menyembah benda-benda langit seperti bintang dan lain-lain sebagai rasa syukur dan keyakinannya akan ke-Esa-an Sang Pencipta.

Namun memang tidak mudah mengajak manusia untuk kembali ke ajaran yang benar. Buktinya banyak diantara para Nabi dan Rasul yang dilecehkan oleh masyarakatnya hingga akhir hidup mereka sehingga ajarannyapun tidak berkembang. Banyak pula diantara mereka yang berhasil namun begitu mereka tiada ajarannyapun terhenti. Yang pasti, sebuah ajaran akan berhasil berkembang dengan baik dan memberikan hasil yang maksimal ketika pemimpinnya juga menerima dan mendakwahkan ajaran tersebut. Karena dengan demikian rakyat memiliki pelindung yang juga berpegang teguh pada hukum Allah SWT sehingga mereka dapat dengan tenang menjalankan kehidupan keberagamaan mereka.

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS.An-Nisa’(4):59).

Banyak bukti dan contoh keberhasilan orang-orang taqwa yang berhasil menjadi pemimpin masyarakat bernegara yang tercatat dalam Al-Quran dan sejarah, diantaranya adalah nabi Yusuf as yang pernah menjabat sebagai mentri Mesir, nabi Daud as dan putranya nabi Sulaiman as yang merupakan pendiri kerajaan Yahudi ribuan tahun yang lalu, kerajaan Himyar dan Aksum di Afrika serta yang terbesar adalah Madinah Al-Munawaroh, kota binaan Rasulullah Muhammad saw yang merupakan cikal bakal berdirinya kekhalifahan Islam yang agung. Kerajaan Islam ini membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, seluruh semenanjung Arab, Asia Kecil, Asia Tengah, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China termasuk didalamnya daerah-daerah yang dahulunya dikuasai pihak kafir, yaitu kekuatan Barat (Nasrani) di Turki dan kekuatan Timur (Majusi) di Persia. Kekhalifahan ini berdiri selama 13 abad sejak tahun 622 M hingga tahun 1924 yang lalu.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik “.(QS.An-Nuur(24):55)

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 9/2008.

Vien AM

Read Full Post »

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka”(QS.Yaasiin (36):51).

Ini adalah hari dimana sangkakala ditiup untuk kali kedua, yaitu hari berbangkit, hari dimana manusia kembali dihidupkan untuk mempertanggung-jawabkab apa yang telah mereka kerjakan semasa hidup di dunia. Ketika itu langit terbelah dan bumi memuntahkan segala apa yang dikandungnya termasuk mayat-mayat di dalam kubur sehingga bumipun menjadi kosong. Sedangkan tiupan pertama sebagai tanda berakhirnya hari atau hari Kiamat, suatu hari yang banyak didustakan oleh orang kafir, telah dilaksanakan sebelum itu.

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi-bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dengan sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelahlah langit karena pada hari itu langit menjadi lemah”. ( QS. Al-Haqqah(13-16)

Sebagaimana terjadinya penciptaan alam semesta (Big Bang) yang hanya memerlukan waktu yang hanya sekejap mata, begitu pula peristiwa penghancuran alam semesta (Big Crunch). Kedua ayat dibawah ini baru dapat dibuktikan kebenarannya 1400 tahun kemudian, yaitu dengan ditemukannya teori Big Bang dan Big Crunch berkat bantuan teleskop Hubble, pada tahun 1940-an.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.(QS.Al-Anbiya(21):30).

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya “. (QS.Al-Anbiya(21):104).

Bila pada tiupan pertama semua yang ada akan mati maka sebaliknya pada tiupan kedua semua manusia mulai dari umat zaman nabi Adam as hingga umat akhir zaman akan berbangkit dan dihimpun di padang Masyar. Rasulullah bersabda : ”Pada hari kiamat manusia dihimpun di atas tanah putih bersih seperti bulatan yang bening”.(HR Bukhary-Muslim).

Pada hari itu, semua orang keluar dari kuburnya, mereka terbangun dari tidur panjangnya. Tak ada pengecualian, baik yang sedang mengalami siksa kubur maupun yang sedang lelap tertidur bagaikan pengantin. Pada hari itu tidak ada sedikitpun yang dapat disembunyikan, tidak pula segala prasangka yang ada dalam hati.

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”.(QS.Al-‘Aadiyaat(100):9-11).

Bila kita berpikir secara duniawi, sungguh malu tak terkira akan menghantui semua perasaan manusia. Ketika di dunia Allah SWT berkenan menutupi keburukan-keburukan bisikan hati bagi siapa yang mau memohon dan bila Ia menghendaki dikabulkan-Nya permohonan tersebut. Namun pada Hari Perhitungan tidak seorangpun manusia perduli akan hal orang lain, masing-masing diselimuti rasa ketakutan dan rasa-rasa was-was akan nasib dirinya. Allah SWT memang membebaskan manusia untuk memilih jalannya namun Dia tidak lupa untuk menempatkan para malaikat untuk mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia di dunia.

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Infithaar(82):10-12).

Di alam inilah catatan-catatan tersebut akan dibuka dan diperiksa. Maka tibalah hari pengadilan dimana Allah SWT sebagai Hakim Yang Maha Adil akan memutuskan segala perkara dengan seadil-adilnya. Rasullah bersabda : “Pada hari kiamat manusia diadili dengan tiga kali pengadilan; dua kali berupa pengajuan pertanyaan dan penyampaian alasan dan yang ketiga lembaran-lembaran berhamburan lalu ada yang mengambil dengan tangan kanannya dan ada yang mengambil dengan tangan kirinya”. (HR Tramidzy, Ahnad dan Ibnu Majah).

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun . (QS.Al-Isra’(17):71).

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),”(QS.Al-Haaqqah(69:25).

Pada hari itu setiap manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya selama hidup didunia, tentang amalnya, tentang hartanya, dari mana ia mendapatkan dan bagaimana ia membelanjakan hartanya tersebut. Kemudian amal itu ditimbang bila amal kebaikannya berat maka dengan izin-Nya ia akan dimasukkan ke surga. Sedangkan bila ringan timbangan kebaikkannya maka masuklah ia ke neraka jahanam.

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.(QS.Al-Qaariah(101:6-9).

Wallahu’alam bishawab

Jakarta, 8/2008

Vien AM

Read Full Post »

Pintu-pintu Surga

Umar ibnul-Khaththab berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang di antara kalian yang setelah berwudhu dengan sempurna lalu membaca Asyhadu Anla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Abduhu Wa Rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya), niscaya dibukakan untuknya kedelapan pintu surga. la bisa masuk dari pintu yang mana pun yang ia inginkan.“. ( HR Muslim).

Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap orang akan diseru dari pintu-pintu tersebut?” Beliau menjawab, “Benar, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka”.

Pintu surga dibedakan berdasarkan amal kebajikan tiap manusia. Ibnul Jauzi meriwayatkan bahwa ke delapan pintu surga yang disediakan bagi hamba-hamba yang takwa ini adalah pintu Shalat, pintu Puasa ( pintu ar-Rayyan ), pintu Zakat dan Sedekah, pintu Haji, pintu Umrah, pintu Jihad, pintu Silaturahim dan pintu Wudhu.

 Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan An Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Abdul Karim, dari Hisyam bin Khalid, dari Khalid bin Yazid bin Abu Malik, dari ayahnya, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Pada malam aku di-israkan, aku melihat tulisan pada sebuah pintu surga, ‘Satu sedekah dibalas sepuluh kali lipat, dan satu piutang dibalas delapan belas kali lipat.’ Aku bertanya kepada Jibril, “Kenapa memberikan utang itu lebih utama daripada bersedekah?” Jibril menjawab, ‘Karena orang yang meminta itu bisa jadi ia sudah punya. Tetapi, orang yang mengajukan utang itu pasti karena sangat membutuhkan”.

 Namun ada ulama yang berpendapat pintu surga lebih dari 8 bila ditambah dengan pintu tobat atau pintu Muhammad. Pintu yang terkenal dengan sebutan pintu Rahmat ini khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang pandai menahan amarah. Disamping itu ada pula ulama yang berpendapat akan adanya pintu Shalat Dhuha.

 Diriwayatkan oleh al-Ajiri dalam kitabnya An-Nashihat alias Abul Hasan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Adh-Dhuha. Pada hari kiamat nanti ada malaikat yang menyeru, ‘Mana orang-orang yang tekun menunaikan shalat Dhuha? Inilah pintu kalian. Masukilah”.

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal ”. ( QS. Az-Zumar (39): 73-74).

 Berdasarkan ayat di atas, sejumlah ulama berpendapat bahwa ada pintu lain disamping pintu-pintu yang telah disebutkan diatas. Pintu ini dinamakan pintu Takwa. Seperti namanya pintu ini diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah yang takwa. Keistimewaan pintu ini dibanding pintu-pintu lain adalah siapapun yang diizinkan masuk melalui pintu tersebut, mereka bebas memilih tempat di mana saja mereka kehendaki. Tempat kediaman mereka ini adalah surga ’Adn sebagaimana yang diterangkan dalam surah Shaad ayat 49-50 diatas.

 Abu Isa Tirmidzi meriwayatkan dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda, Luas pintu surga tempat masuk umatku adalah sejauh perjalanan pengendara kuda yang sangat bagus selama tiga hari. Kemudian mereka berdesak-desakan memasukinya sehingga hampir-hampir pundak mereka lepas.”

 Sementara itu, surga memiliki beberapa tingkatan namun kenikmatan tertinggi yang dapat dirasakan di tempat ini adalah memandang Wajah Allah Azza wa Jalla, Sang Maha Pencipta, Sang Raja Dari Segala Raja. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang : “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb?”. Beliau menjawab: “Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama, ketika tidak terhalang awan?”. “Tidak”. Jawab orang itu. Beliau bersabda: “Begitu pula kalian memandang-Nya pada hari Kiamat”.

 Ini adalah sebuah kehormatan maha besar karena bahkan para nabipun ketika di dunia tidak memiliki kesanggupan memandang wajah Allah Azza wa Jalla.

 “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

 Kehormatan dan kesempatan ini hanya diperuntukkan orang-orang beriman yang yakin akan keberadaan-Nya, mengerjakan amal ibadah, melaksanakan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan semua ini dikerjakan dalam rangka ketaatannya kepada Sang Khalik, hanya karena Sang Khalik, Allah swt, tidak ada sedikitpun rasa syirik yang menyelinap di dalam dada.

 Namun sesungguhnya fenomena istimewa diatas telah diberikan di dunia khusus kepada umat Muhammad saw walaupun hanya 1 arah. Artinya Allah swt mendekati manusia tanpa manusia itu harus hancur sebagaimana hancur luluhnya gunung pada ayat 143 surat Al-Araf diatas. Yaitu ketika tamu-tamu Allah datang ke padang Arafah untuk melaksanakan ibadah haji. Rasulullah bersabda :“…Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu?”

 Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu dari umatku masuk surga. Sebagian mereka saling berpegangan dengan sebagian yang lain. Yang pertama di antara mereka tidak mau masuk sebelum yang terakhir di antara mereka masuk. Wajah mereka seperti bentuk rembulan purnama.”

 Semoga kita termasuk satu diantara yang tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu tersebut, amin ya robbal ’alamin.

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, September 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Tak seorangpun mengetahui kapan persisnya Kiamat bakal terjadi. Ayat Al-Quran hanya mengatakan bahwa hari yang maha dasyat tersebut terjadi secara tiba-tiba.

” Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba … ” (QS.Al-An’am(60:31).

Berikut beberapa ayat yang menunjukkan betapa mengerikannya keadaan hari akhir yang di dustakan keberadaannya oleh orang-orang kafir.

” Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan”. (QS.Al-Qoriah(101):3-5).

” Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”,(QS.Al-Zalzalah(99):1-3).

” Apabila langit terbelah dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi  kosong”, (QS.Al-Insyiqoq(84):1-4).

” Apabila langit terbelah dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan dan apabila lautan dijadikan meluap dan apabila kuburan-kuburan dibongkar”, (QS.Al-Infithor(82):1-4)

” Apabila matahari digulung dan apabila bintang-bintang berjatuhan dan apabila gunung-gunung dihancurkan dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan dan apabila lautan dipanaskan dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”, (QS.At-Takwir(81):1-7).

” (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”. (QS.Al-Hajj(22):2).

” (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?” Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan“.(QS.An-Nazi’at(79):6-12).

” Ia bertanya: “Bilakah hari kiamat itu?” Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) dan apabila bulan telah hilang cahayanya dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali”. (QS.Al-Qiyamah(75):6-12).

Ketika suatu hari Rasulullah ditanya para sahabat kapankah hari yang sungguh mengerikan ini akan datang, Rasulullah menjawab bahwa Sang Khalik tidak memberinya ilmu tentang hal tersebut. Allah swt hanya memberi tahu tanda-tandanya saja.

“Nabi Saw. datang kepada kami, sementara kami tengah berbincang-bincang. Beliau bertanya, ‘Apa yang sedang kalian perbincangkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami sedang membicarakan masalah hari kiamat.’ Rasulullah Saw. berkata, ‘Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga kalian –sebelumnya- melihat sepuluh tanda.’ Lalu beliau menyebut asap, Dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa Bin Maryam, Ya’juj, Ma’juj dan terjadi tiga kegelapan: kegelapan di timur, kegelapan di barat dan kegelapan di jazirah Arab. Dan akhir dari semua itu adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat perhimpunannya.” (H.R.Muslim).

Hadist shohih diatas menyebutkan bahwa kedatangan Dajjal adalah merupakan salah satu tanda kedatangan Hari Kiamat. Namun tahukah kita sebenarnya apa,siapa dan bagaimanakah Dajjal itu ?

Al-Imam Al-Qurthubi ra dalam kitab At-Tadzkirah mengatakan bahwa lafadz Dajjal ( arti secara bahasa ) dipakai untuk sepuluh makna. Di antaranya: Kadzdzab (tukang dusta)dan Mumawwih (yang menipu manusia).

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ra mengatakan: “Dikatakan demikian karena dia adalah manusia yang paling besar penipuannya.”

Sementara itu Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ra mengatakan ( Dajjal secara istilah ) : “Dajjal adalah Seorang laki-laki pendusta (penipu) yang keluar di akhir zaman mengaku sebagai Rabb/Tuhan”.

Para ulama berpendapat bahwa saat ini kita telah berada pada waktu yang teramat dekat dengan kedatangan Dajjal, si raja Yahudi terlaknat. Berbagai tanda telah menunjukkan hal tersebut. Dari hadits kita tahu bahwa Hari Kiamat datang didahului dengan beberapa tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. ( Hadits diatas adalah hadits yang menunjukkan tanda-tanda besar ).  Dajjal, si Pembohong besar ini akan datang menjelajahi berbagai sudut dunia kecuali Makkah, Madinah, Al-Quds ( Yerusalem ) dan Tha’if bersama pasukannya yang berjumlah lebih dari 70.000 orang.

Dari Anas ra, Rasulullah bersabda : “Yang akan mengikuti Dajjal adalah Yahudi Ashbahan dan 70.000 dari mereka memakai pakaian yang tebal dan bergaris.” (HR. Muslim no. 5237 )

Hadis riwayat Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: ” Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah ”. (Shahih Muslim No.5205).

Kita telah menyaksikan sendiri kemunculan sejumlah dajjal kecil yang membawa keahlian sihirnya yang begitu mampu mempesona pandangan kita. Sejumlah nabi-nabi palsu juga telah berhasil memperdaya banyak orang. Akankah kita siap menghadapi fitnah, sihir serta kenikmatan palsu yang lebih besar lagi ? Apa yang harus kita persiapkan ?

Rasulullah memperingatkan para sahabat untuk tidak menganggap ringan kehebatan pengaruh si mata satu ini. Rasulullah bahkan berkata lebih baik mereka bersembunyi dari pada menghadapinya. Ini tidak ada hubungannya dengan sifat pengecut, munafik apalagi murtad. Kita tahu betapa kerasnya ayat-ayat tentang kewajiban jihad dalam rangka menegakkan kebenaran dan menghadapi kemungkaran. Dan para sahabat telah membuktikan kesetiaan, ketaatan dan ketakwaan mereka. Para sahabat adalah manusia yang dikenal kuat keimanannya. Lalu bagaimana dengan kita yang rata-rata jauh dari kwalitas keimanan mereka padahal kita hidup di masa yang rawan dan berbahaya tersebut?

Dari Abu Umamah ra, Rasululah bersabda : “ dan diantara fitnahnya ia membawa surga dan neraka. Nerakanya adalah surga sedangkan surganya adalah neraka. Barangsiapa duji dengan nerakanya hendaklah ia berlindung kepada Allah dan membaca pembukaan surah Al-Kahfi karena ia akan menjadi jernih dan dingin sebagaimana api Ibrahim yang dingin dan menyelamatkannya. Di antara fitnahnya yan lain ia melewati suatu perkampungan tetapi penduduknya membohonginya maka tidak ada binatang ternak mereka yang tersisa kecuali binasa. Ia juga melewati suatu perkampungan dan penduduknya mempercayainya lalu ia menyuruh langit untuk mernurunkan hujannya dan bumi menumbuhkan tanamannya maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanamannya sehingga binatang ternak mereka pada waktu itu menjadi lebih gemuk dan banyak susunya”.( HR Ibnu Majah dan Hakim)

Allah swt sengaja membekali orang terlaknat ini dengan kehebatan yang begitu dasyat. Ini adalah merupakan cobaan terberat dan terbesar bagi orang-orang di akhir zaman yang cenderung sering  lupa dan lalai akan keberadaan-Nya. Hanya orang-orang dengan keimanan super tinggi serta senantiasa berpegang kepada tali-Nyalah yang bakal lolos dari cobaan dan petaka besar ini. Untuk itu Rasulullah mewanti-wanti kita, umat yang dicintainya, agar membaca 10 ayat pertama surat Al-Kahfi terutama setiap hari Jumat, disamping mengerjakan ibadah-ibadah lainnya tentunya.

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Berikut terjemahan surat Al-Kahfi  ayat 1 – 10 :

1.Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;

2. sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

3. mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

4. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak“.

5. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

6. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).

7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

8. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.

9. Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

10. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

( Click : http://www.youtube.com/watch?v=emBhzxHIuR4&feature=related )

Dalam rangka mengantisipasi fitnah Dajjal ini Rasulullah juga mengajarkan agar kita selalu membaca doa dibawah ini setiap kali kita usai membaca tahiyatul akhir sebelum mengucapkan salam :

”Allahumma inni a’udzubika min adzaabil jahannam wa min adzaabil qubur wa min fitnatil mahyaa wa mamaati wa min fitnatil masiihid Dajjal”.

” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa ( neraka ) Jahanam dan dari siksa kubur dan dari fitnah hidup dan mati serta dari fitnah Dajjal ”. (HR Muslim).

Na’udzu billah min dzalik.

Jakarta, 15/2/2009

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers