Ia adalah putri Abu Bakar ra, sahabat Rasulullah saw sekaligus khalifah pertama. Di usianya yang masih belia Aisyah telah dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Ia telah meriwayatkan 2210 hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah.
Istri Rasulullah ini belajar dan mendalami ajaran Islam langsung dari mulut Rasulullah, di dalam rumah kenabian di mana wahyu turun dan Al-Quran dibaca siang dan malam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih dan jika berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya.
Urwah bin Az-Zubair ra suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada Sayyidah Aisyah ra. ”
Pada perang Khandaq, diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena keberaniannya yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya.
Anas bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : ”Sungguh aku menyaksikan Aisyah binti Abu Bakar ra dan Ummu Sulaim, sambil menyingsingkan baju sampai di atas mata kaki, mereka berdua mengambil air minum lalu mereka menghidangkannya kepada pasukan, kemudian mereka berdua kembali lagi untuk mengambil air minum lalu memberikannya lagi kepada mereka ”.
Aisyah berpendapat bahwa beraktifitas adalah merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya namun tentu saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya. Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak. hingga dengan demikian ia dapat secara maksimal mencurahkan seluruh kehidupannya bagi masyarakat dan lingkungannya.
Ia berkata : ” Alat tenun di tangan seorang perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang dijalan Allah SWT ”.
Wallahu’alam bishawab.
Jakarta, Mei 2008.
Vien AM.