Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Shirah Nabawiyah’ Category

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan “.( QS.An-Nahl(16):127)

Maka (apakah) barangkali engkau ( Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini”.(QS.Al-Kahfi(18):6)

“Janganlah sekali-kali engkau ( Muhammad) menujukan pandanganmu kepada keni`matan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”.(QS.Al-Hijr(15):88).

Ayat-ayat diatas adalah ayat-ayat yang diturunkan ketika Rasululllah dalam keadaan duka yang mendalam. Rasulullah bersedih karena para pemimpin Quraisy dan penduduk Mekah mendustakannya. Namun dengan pertolongan-Nya jualah Rasulullah bisa menahan kesabarannya. Waktu demi waktu berlalu. Tak satupun ayat-ayat Al-Quran mampu menggugah hati orang-orang Mekah untuk meninggalkan kesyirikan mereka.  Mereka tetap dalam keraguan yang mendalam.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.(QS.Al-Baqarah(2):23).

Lima tahun setelah wahyu pertama turun berlalu sudah. Karena penyiksaan tidak juga berkurang, akhirnya Rasulullah mengizinkan sejumlah Muslimin untuk mencari suaka ke Habasyah. Mereka terdiri dari 12 Muslim  dan 4 Muslimah, termasuk diantaranya adalah Ruqayah, putri kedua Rasulullah dan suaminya, Ustman bin Affan. Negri di Afrika yang sekarang bernama Ethiopia ini ketika itu berada dibawah pemerintahan seorang raja Nasrani alim yang sangat bijaksana, yaitu Najasyi.

Baru beberapa waktu mereka menetap  di negri tersebut, ketika kemudian mereka mendengar kabar bahwa beberapa orang kuat Quraisy, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib  dan Umar bin Khattab telah memeluk Islam. Maka merekapun berniat kembali ke Mekah. Namun ditengah perjalanan mereka terpaksa kembali ke Habasyah karena ternyata ke-Islaman dua tokoh tersebut malah makin membuat orang Quraisy memperkuat tekanan terhadap orang-orang Islam. Mereka bahkan mengirim beberapa wakilnya untuk pergi ke Habasyah dan meminta secara langsung kepada raja Najasyi agar mengembalikan orang-orang Islam yang meminta suaka kepadanya.

Namun bagaimana tanggapan raja tersebut? Najasyi malah menangis terharu ketika mendengar Ja’far bin Abu Thalib, salah seorang Muslim yang ikut hijrah, membacakan surat Maryam.

“ Kaaf Haa Yaa `Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” ….. …. …. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi belah dan gunung-gunung runtuh karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba “… hingga akhir surat.

( Click : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

“ Aku tidak akan menyerahkan  orang-orang yang mencari kebenaran ini kepada kalian. Mereka adalah orang yang benar. Demikian pula nabimu”, demikian jawaban Najasyi. Menurut  beberapa sumber Najasyi bahkan bersumpah akan mengakui Islam dan ajarannya bila ia sempat bertemu Rasulullah.

Habis sudah kesabaran para pembesar Quraisy. Betapa kesalnya mereka menghadapi kenyataan ini. Sejumlah riwayat mengatakan bahwa para pemuka Quraisy berkumpul dan sepakat bahwa Muhammad harus dibunuh. Keputusan ini disampaikan kepada bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib. Namun mereka menolak menyerahkan anggota keluarganya ini. Selama Abu Thalib masih hidup tak mungkin mereka berani mengganggu apalagi membunuh ponakan yang amat disayanginya itu. Akhirnya mereka bersepakat bahwa jalan satu-satunya yang memungkinkan hanyalah memboikot kehidupan Muhammad dan seluruh keluarga yang mendukungnya hingga Muhammad diserahkan.

Selama tiga tahun keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib diasingkan dan dikucilkan dari pergaulan dan perekonomian. Suku Quraisy yang terdiri atas beberapa bani ini dilarang mengadakan jual beli dengan kedua keluarga bani tersebut. Tidak boleh ada perdamaian, belas kasih, pertemanan, persahabatan apalagi perkawinan dengan anggota Bani Hasyim maupun Bani Muthalib.

Mereka dipaksa hidup di pemukiman ( syi’ib) bani Muthalib tanpa bisa keluar. Ditempat inilah berkumpul semua anggota bani Hasyim dan bani Abu Muthalib, baik yang telah memeluk Islam maupun yang masih kafir, kecuali Abu Lahab. Bagi yang masih kafir, mereka bertahan karena dorongan semangat fanatisme kekabilahan. Ini adalah sesuatu yang khas telah dimiliki masyarakat Arab sejak dulu.

Sejumlah riwayat menceritakan bahwa selama tiga tahun itu mereka beberapa kali terpaksa makan dedaunan karena kekurangan makanan. Begitu pula keluarga Rasulullah termasuk Fatimah yang ketika itu baru berusia sebelas tahun-an. Tangis kelaparan anak-anak sering terdengar hingga ke luar kota Mekah.

Hingga suatu ketika pada awal tahun ke tiga pemboikotan, bani Qushayyi mulai mengecam perbuatan biadab tersebut. Sementara itu Rasulllah mengatakan pada Abu Thalib bahwa surat perjanjian yang ditanda tangani para pemuka Quraisy dan ditempel di salah satu dinding Ka’bah itu telah dimakan rayap kecuali beberapa kalimat yang menyebutkan kata Allah.

“ Apakah Tuhanmu yang memberitahukan itu kepadamu?”, tanya Abu Thalib heran. “ Ya”, jawab Rasulullah singkat. “ Allah telah mengirim sejumlah anai-anai untuk menghancurkannya”. Maka Abu Thalibpun segera pergi menemui  para pemuka Quraisy dan menyatakan bahwa pemboikotan telah usai karena surat perjanjiannya telah rusak. Dengan terheran-heran mereka terpaksa menerima kenyataan yang berada di luar perkiraan mereka tersebut.

Tak lama setelah itu,sejarah mencatat bahwa sekitar tiga puluh orang dari kaum Nasrani Habasyah datang menemui Rasulullah untuk mengetahui Islam lebih jauh. Mereka datang bersama Ja’far bin Abu Thalib yang telah membuat raja Najasyi menangis ketika mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan kepadanya.

Setelah bertemu dengan Rasulullah, berbincang dan mendengar ayat-ayat Al-Quran merekapun segera beriman. Abu Jahal yang mengetahui hal tersebut langsung bersungut-sungut. “ Kami belum pernah melihat utusan yang paling bodoh kecuali kalian. Kalian diutus oleh kaum kalian untuk menyelidiki orang ini. Tetapi belum sempat kalian duduk dengan tenang di hadapannya, kalian sudah melepaskan agama kalian dan membenarkan apa yang diucapkannya”.

Mereka menjawab : “ Semoga keselamatan atasmu. Kami tidak mau  bertindak bodoh seperti kamu. Biarlah kami mengikuti pendirian kami dan kamupun bebas mengikuti pendirianmu. Kami tidak ingin kehilangan kesempatan yang baik ini”.

Berkaitan dengan itu maka Allah berfirman :

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.(QS. Al-Qashah(28):52-55).

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 13 September 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Tiga tahun lamanya Rasulullah berdakwah secara diam-diam. Rumah Abu Abdillah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam menjadi madrasah pertama tempat berkumpulnya  Muslimin generasi awal. Dibawah ajaran dan pengawasan langsung Rasulullah saw, meski jumlah mereka ketika itu hanya 40 orang mereka adalah orang-orang yang benar-benar  taat dan sangat pandai menjaga kerahasiaan pertemuan mereka.

Setiap menjelang shalat mereka datang secara sembunyi-sembunyi menuju madrasah  yang tersembunyi di atas bukit Shafa ini. Ketika itu belum turun perintah shalat 5 kali sehari. Mereka hanya melaksanakan shalat 2 kali sehari, yaitu di awal pagi hari ( Subuh ) dan di awal menjelang  malam ( Magrib).

Hingga suatu hari turun  ke tiga ayat berikut :

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.  (QS.Al-Hijir [15]: 94).

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman “.(QS.Asy-Syuara’(26): 214-215).

“Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”.(QS.Al-Hijir [15]: 89).

Maka begitu menerima ketiga perintah di atas, Rasulullahpun segera menuju bukit Shafa. Dari atas bukit ini beliau berseru memanggil :   “ Wahai Bani Fihr, wahai Bani Adya, wahai Bani Kaab, wahai Fathimah binti Muhammad, wahai Bani Abdul Muththalib, wahai semua orang Quraisy .. ”

Seruan ini ditujukan kepada semua suku Quraisy  hingga mereka berkumpul semua. Bahkan ketika ada yang berhalangan hadir maka orang tersebutpun mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.

Rasulullah kemudian melanjutkan seruannya : “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada sepasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?

“ Tentu kami percaya “, jawab mereka. “ Kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran.

Rasulullah kembali bersabda : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku pemberi peringatan kepada kalian dari azab yang pedih. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak dapat membela kalian di hadapan Allah selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya ”.

Mendengar ini, Abu Lahab serta merta menyahut kesal : Celakalah engkau selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”.

Tak lama kemudian turunlah  dua ayat  berikut :

“ Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa “. ( QS. Al-Lahab (111): 1).

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (QS.As-Saba’(34):46).

Itulah yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu Abbas ra dan Muslim dari Abu Hurairah ra dengan redaksi yang kurang lebih sama.

Disamping itu ada juga riwayat yang mengatakan bahwa setelah turun ayat :” Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu” Rasulullah segera mengumpulkan keluarga besarnya di rumah Abu Thalib, paman yang selalu menyayangi dan melindungi beliau. Namun belum sempat Rasulullah berkata panjang lagi-lagi Abu Lahab memotongnya. Ini terjadi hingga dua kali.

Rasulullah menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab yang diembannya amatlah berat dan penuh tantangan. Untuk menghibur Rasulullah Allah swt mengingatkan bahwa semua Rasul dan nabipun menghadapi hal yang sama.

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya”. (QS.Al-Hijr (15):10-11).

Akan tetapi yang paling menyakitkan tantangan dan permusuhan kuat justru datang dari pihak keluarga beliau sendiri yang notabene merupakan para pemuka Quraisy yang disegani masyarakat. Terutama Abu Lahab yang juga merupakan besannya. Dengan penuh kesombongan ia bahkan memerintahkan kedua anaknya untuk segera menceraikan istri-istri mereka,yaitu Zainab dan Ruqqayah binti Muhammad. Dapat dibayangkan betapa sakit hati, malu dan sedihnya Khadijah dan kedua putri Rasulullah ini. Namun demikian mereka tetap tegar dan terus mendukung perjuangan suami dan ayah mereka tercinta, apapun akibatnya, terutama Khadijah ra.

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa suatu ketika Rasulullah berkata dihadapan Abu Thalib dan pamannya yang lain  : “ Aku ingin mereka mengucapkan satu kalimat yaitu La ilaha illallah ( tiada tuhan selain Allah )”. Seketika merekapun mengejek,  “ Satu Tuhan? Ini sesuatu yang sangat mengherankan”. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i dan Hakim).

Kemudian turun ayat berikut :

“ Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini (maksudnya agama Nasrani yaitu meng-esakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan. Mengapa Al Qur’an itu diturunkan kepadanya di antara kita?” Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur’an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku”.( QS. Shad(38): 4-8).

Maka sejak itulah orang-orang Islam yang jumlahnya belum begitu banyak itu mengalami siksaan dan tekanan. Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari bahan ejekan. Kemana beliau  melangkah Abu Lahab selalu mengikutinya sambil mengatakan bahwa ponakannya itu orang gila.

Suatu hari Rasulullah sedang melaksanakan shalat di depan Kabah. Sementara Abu Jahal dan teman-temannya terlihat berada di ujung lain tempat tersebut. Mereka memperhatikan gerak gerik Rasulullah sambil mentertawakan dan mengolok-ngolok beliau. Tak lama kemudian Abu Jahal  berkata menantang  : ‘Siapa di antara kalian yang bisa mendapatkan usus binatang sembelihan untuk kita campakkan kepada Muhammad?’

Uqbah bin Abi Muayt, orang yang paling keji di antara mereka, menawarkan diri dan bergegas pergi untuk melakukan perkara keji  tersebut. Uqbah kembali dengan usus binatang sembelihan lalu melemparkannya ke atas bahu Rasulullah saw ketika beliau sedang sujud.

Fatimah, putri bungsu Rasulullah yang melihat  kejadian tersebut langsung berlari  dan membuang kotoran tersebut sambil menangis. Kemudian Rasulullah kembali berdiri dan menyempurnakan shalatnya. Sementara Fatimah yang ketika itu baru berusia 10 tahun memarahi kumpulan orang Quraisy tadi.

Usai shalat dengan suara keras Rasulullah berdoa : “ Ya Allah, hukumlah orang-orang Quraisy itu!”,sebanyak tiga kali. “ Semoga Kau menghukum Utbah, Uqbah, Abu Jahl dan Shaybah “. Mendengar  ini orang-orang Quraisy tadi hanya diam  tak bereaksi. Terlihat adanya rasa takut dan khawatir dalam diri mereka. (Beberapa tahun kemudian,  dalam perang Badar, mereka yang disebut Rasulullah di dalam doa di atas terbunuh secara mengenaskan).

Penyiksaan terhadap pemeluk Islam makin hari menjadi-jadi. Hampir setiap hari selalu ada Muslim yang disiksa dan dipaksa kembali ke ajaran nenek moyang mereka. Namun demikian ini tidak berarti bahwa dakwah tidak berkembang.

Rasulullah yang kerap shalat didepan Kabah bersama Khadijah dan Ali bin Abu Thalib yang ketika itu masih belia walaupun banyak orang yang tidak menyukainya, tidak dapat dipungkiri merupakan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang masih bersih hatinya. Sama halnya dengan penyiksaan yang terjadi. Kejadian yang sangat memprihatinkan ini justru merupakan magnit bagi perkembangan agama baru ini.

Bagi mereka yang masih bersih  hatinya, prilaku dan akhlak Muhammad yang sejak lama telah dikenal berkat kejujuran, kesabaran dan kesantunannya sungguh sangat menjanjikan. Sejak muda beliau telah pandai menjaga silaturahmi, tidak mau menyembah berhala, tidak suka mabuk-mabukan apalagi pesta-pesta dan bermain-main dengan perempuan. Beliau dikenal sebagai seorang suami yang setia dan sangat menyayangi keluarganya. Di mata mereka Muhammad adalah benar-benar patut dijadikan sebagai panutan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (QS. Al-Ahzab(33):21).

Belum lagi dengan pengaruh bacaan Al-Quran yang begitu memikat. Kota Mekah sejak lama telah dikenal sebagai tempat berkumpulnya para penyair terkenal. Setiap bulan haji para penyair dari segenap penjuru tanah Arab berdatangan untuk mempertontonkan kehebatan mereka menggubah berbagai bentuk dan gaya syair.

Ketika Rasulullah membacakan ayat-ayat Al-Quran banyak orang yang terpengaruh dengan keindahan ayat-ayat tersebut, baik dari segi isi maupun gaya bahasanya. Oleh karenanya banyak orang yang kemudian tertarik dan akhirnya memeluk Islam. Maka dengan keji Abu Jahalpun melempar fitah bahwa Muhammad adalah seorang penyihir sekaligus penyair gila. Selanjutnya ia berusaha keras menghalangi orang dari mendengar ayat-ayat suci tersebut.

Adalah Walid bin Mughirah, seorang pembesar Mekah. Setelah mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah, ia merasa tersentuh. Abu Jahal segera mendesak temannya itu agar tidak terpengaruh. “Ucapkan sesuatu yang membuktikan pengingkaranmu kepada Muhammad “, ujarnya.

“Apa yang harus kukatakan? Demi Allah, tak seorangpun diantara kalian yang melebihi pengetahuanku tentang syair, puisi dan sajak, bahkan dari kalangan jinpun. Demi Allah apa yang diucapkan Muhammad tak sedikitpun menyerupai semua itu. Sungguh perkataannya indah dan menyejukkan. Kata-katanya sangat tinggi dan tak mungkin tertandingi”, aku Walid kagum.

Hai Walid, kaummu takkan rela hingga kau mengatakan sesuatu yang mencela Muhammad”, desak Abu Jahal lagi.

” Beri aku waktu untuk berpikir”, jawab Walid pada akhirnya.

Setelah berpikir sejenak, Walidpun berkata dalam hati, ” Mungkin memang benar, ucapan Muhammad itu adalah sihir yang berkesan”.

Kisah diatas diriwayatkan oleh Hakim dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa setelah kejadian diatas turunlah ayat berikut :

“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya” . (QS.Al-Mudatstsir(74):11).

Namun demikian Rasulullah berusaha tetap menjaga kesabarannya. Apalagi ketika Allah swt menurunkan ayat berikut :

” Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka”. (QS.Al-Insan(76):24).

Qatadah menuturkan bahwa ayat diatas berkenaan dengan Abu Jahal yang suatu ketika berkata,  ” Jika  aku melihat Muhammad mendirikan shalat pasti aku akan menginjak batang lehernya “. ( HR Abdurrazaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir)

Para penguasa kota Mekah terlihat makin kesal dengan perkembangan Islam.  Apalagi dengan masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Keduanya adalah tokoh Quraisy yang selama ini dikenal gagah berani dan berpendirian kokoh. (Umar bin Khattab adalah satu diantara banyak orang yang tertarik dengan ajaran Islam berkat bacaan Al-Quran).

“ Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.( QS. Fathir(35):8).

Ibnu Abbas menegaskan bahwa ayat diatas diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika berdoa, “ Ya Allah, kukuhkan agama-Mu dengan Umar bin al-khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Lalu Allah memberi hidayah kepada Umar bin al Khattab  dan menyesatkan Abu Jahal. ( HR Juwaibir).

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 6 September 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Tidak ada sedikitpun alasan bagi Khadijah untuk tidak mempercayai apa yang diceritakan lelaki yang telah menemaninya dalam suka dan duka selama 15 tahun pernikahan itu. Muhammad tidak pernah sekalipun berbohong dan ia juga tidak gila. Bahkan dengan kata-kata lembut namun tegas ia menjawab bahwa tidak mungkin apa yang dilihat suaminya itu setan ataupun jin karena Muhammad adalah orang yang memiliki sifat dan akhlak terpuji. Jawaban yang begitu meyakinkan ini tentu saja membuat Muhammad yang tadinya khawatir bahwa ia telah diganggu jin jahat menjadi tenang kembali.

Itu sebabnya Muhammad tidak menolak ajakan Khadijah untuk menemui Waraqah bin Naufal demi menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Waraqah adalah sepupu Khadijah yang dikenal alim. Ia adalah pendeta Nasrani yang menguasai kitabnya dengan sangat baik. Ialah yang kemudian menerangkan bahwa  kitabnya menceritakan apa yang dialami para nabi sejak dahulu. Menurutnya sosok raksasa yang mendatangi Muhammad dari balik langit itu adalah malaikat Jibril yang biasa menyampaikan wahyu dari Tuhannya. Ia bahkan bersumpah bila Muhammad memang adalah nabi, sesuai dengan apa yang telah diramalkan Injil, kitab sucinya, ia akan menjadi orang yang pertama membaiatnya.

Namun beberapa bulan setelah kejadian di jabal Nur itu Muhammad tidak pernah lagi didatangi sosok bernama Jibril itu lagi. Muhammad sempat kecewa dan merasa bahwa  ia telah ditinggalkan Tuhannya. Tampaknya Allah sedang menguji kesabaran calon utusan-Nya ini.

Hingga pada suatu saat, Muhammad kembali melihat sosok tersebut berada di antara langit dan bumi seraya berkata : ” Wahai Muhammad, kamu adalah utusan Allah kepada manusia”. Muhammad sangat terkejut dan lari ketakutan. Ia segera pulang dan meminta istrinya menyelimuti dirinya. Namun kali ini mahluk asing tersebut terus mengejarnya dan berkata :

” Hai orang yang berkemul (berselimut) bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”. (QS.Al-Mudatsir(74):1-7).

Sejak  itulah Muhammad menyadari bahwa dirinya adalah utusan Allah. Dan melalui perantaraan Malaikat Jibril, beliau menerima perintah, larangan dan tugas dari Allah swt, Sang Pencipa Yang Maha Esa. Itulah kumpulan wahyu, Al-Quranul Karim, yang diterimanya selama 22 tahun 2 bulan 22 hari hingga ajal menjemputnya di usianya yang ke 63 tahun.

“ Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.

” Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.  Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? ” (QS.An-Najm(53):1-12).

Ayat-ayat Al-Quran diturunkan secara berangsur dan bertahap. Kadang turun ketika terjadi permasalahan dimana Rasulullah tidak atau belum mengetahui jawabnya tetapi lebih sering lagi turun begitu saja. Dengan cara ini banyak hikmah yang bisa diambil diantaranya yaitu lebih mudah memahami dan menghafalkannya.

“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”. (QS.Al-Isra’(17):106).

Di kemudian hari para ahli tafsir membagi ayat-ayat tersebut berdasarkan tempat  turunnya. Yang turun sebelum hijrah ( dari Mekah ke Madinah ) disebut Ayat Makkiyah. Ayat-ayat ini turun selama 12 tahun lebih. Sedangkan yang turun sesudah hijrah dinamakan Ayat Madanniyah. Ayat-ayat ini turun selama 10 tahun. Pada umumnya ciri kedua jenis ayat-ayat tersebut berbeda  baik topik dan isinya  maupun gaya bahasanya. Ayat Makkiyah biasanya berisi tentang tauhid serta adanya surga dan neraka. Sementara Ayat Madaniyah lebih banyak membicarakan masalah hukum.

Perlu diketahui, ayat-ayat Al-Quran datang tidak  dengan urutan sebagaimana kitab Al-Quran yang sekarang ini berada ditangan umat Islam di seluruh dunia. Sebagian ayat turun berdasarkan kebutuhan dan sebagai jawaban atas pertanyaan orang-orang di sekeliling Rasulullah saw.  Rasulullah dengan petunjuk malaikat Jibrillah yang memberitahukan kepada para sahabat urutan ayat dan surat hingga seperti sekarang ini. Urutan ini sesuai dengan  apa yang dinamakan kitab yang tersimpan di Lauh Mahfuz.

Ad-Dhahak, Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”.

Masalah tentang Tauhid atau ke-Esa-an Allah azza wa jalla yang diturunkan di Mekah pada masa awal le-Islam-an adalah masalah yang paling mendasar. Ini adalah ajaran yang sama sejak nabi Adam as hingga Rasulullah saw. Masyarakat Mekah yang kebanyakan musyrik ( menduakan atau lebih Allah) adalah tantangan besar bagi Muhammad saw,  Rasul terakhir yang baru saja ditunjuk ini.

“ Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Orang yang pertama mengakui kerasulan ini mudah ditebak yaitu Khadijah ra dan  ponakannya yang memang tinggal satu rumah dengan Rasulullah yaitu Ali bin Abu Thalib. Ketika itu Ali baru berusia 10 tahun. Kemudian disusul oleh orang-orang dekatnya seperti karibnya sejak kanak-kanak yaitu Abu Bakar; bekas budaknya yang diperlakukan bagai anak sendiri, Zaid bin Haritsah  dan Ummu Aiman, pengasuhnya ketika kecil.

Rasulullah memulai dakwah di lingkungan keluarganya sendiri dan secara sembunyi-sembunyi pula. Kedua paman Rasulullah yaitu Abbas bin Abdul Muthalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib memeluk Islam pada era tersebut. Setelah keluarga dekat yang kemudian tertarik mengikuti ajaran baru ini  adalah orang-orang dari golongan lemah, fakir dan kaum budak.

Selanjutnya Abu Bakar berhasil mengajak beberapa teman dekatnya seperti Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abbi Waqqas dan Thalhah bin Ubaidillah. Aisyah, putri Abu Bakar menyusul tak berapa lama kemudian sebagai orang yang ke 21 atau 22 pemeluk Islam.

Ketika Rasulullah merasa bahwa rumahnya tidak lagi cukup untuk menampung para sahabat maka Rasulullahpun memutuskan untuk menggunakan rumah milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Madrasah pertama ini terletak tersembunyi di bukit Shafa. Ditempat inilah Rasulllah secara sembunyi-sembunyi menerangkan, mengajarkan dan mempraktekkan ayat-ayat yang diturunkan kepada beliau.

Ayat-ayat turun dengan berbagai cara. Ada yang langsung masuk kedalam hati beliau, kadang malaikat Jibril datang dengan menyamar sebagai tamu laki-laki dan yang dirasa paling berat adalah ketika ayat turun dengan diawali bunyi lonceng yang berdentang nyaring di telinga Rasulullah. Para sahabat menuturkan ketika ayat turun dalam keadaan ini, wajah Rasulullah terlihat berpeluh sekalipun saat itu adalah musim dingin. Bahkan tidak jarang unta Rasulullah jatuh terduduk saking beratnya menanggung tubuh Rasulullah ketika itu. Ini terjadi ketika ayat turun di tengah perjalanan.

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata”.

Rasulullah memberitahukan dengan jelas mana ayat-ayat Al-Quran mana hadits Qudsi dan mana hadits nabawiyah. Rasulullah menyuruh para sahabat agar segera menghafal ayat-ayat Al-Quran tersebut begitu ayat-ayat tersebut turun. Para sahabat yang mampu menulis kemudian mencatatnya di berbagai media yang memungkinkan, seperti daun-daunan, pelepah, bebatuan dsb.

Sebaliknya demi menghindari kesalahan dan kerancuan, Rasulullah melarang para sahabat menuliskan hadits, yaitu apa yang dikatakan, dilakukan maupun diamnya nabi. Namun beliau tidak melarang menghafalnya.  Hafalan tentang hal tersebut kemudian di sampaikan secara turun temurun kepada anak cucu para sahabat. Di kemudian hari pengetahuan dan ilmu tersebut oleh diantaranya Bukhari dan Muslim, di kumpulkan dan dicatat hingga menjadi Hadits Nabawiyah yang sampai kepada kita sekarang ini.

( lihat : http://vienmuhadi.com/2009/06/30/hadis-dan-perang-pemikiran/ )

Rasulullah baru mulai berdakwah secara terbuka setelah turun ayat yang memerintakan beliau untuk itu. Ini terjadi setelah Rasulullah berdakwah secara diam-diam selama 3 tahun lamanya dan pengikutnya ada sekitar 40 orang.

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik “. (QS.Al-Hijr (15):94).

( Bersambung )

Read Full Post »

Khadijah adalah seorang perempuan terhormat kaya raya yang sukses berkat kelihaiannya  dalam menjalankan usaha perdagangannya. Ia dijuluki ‘Afifah Thahirah atau perempuan suci oleh orang-orang disekitarnya. Ia  pernah menikah dua kali. Keduanya wafat ketika masih berstatus sebagai suaminya. Setelah itu Khadijah memutuskan untuk tidak lagi menikah meski beberapa lelaki terhormat datang melamarnya.

Namun Allah menghendaki lain. Sejak ia mendengar sendiri laporan dari pembantu setianya, Maisaroh, tentang  bagaimana santunnya seorang pemuda bernama Muhammad yang ditunjuknya untuk membantu menjalankan bisnisnya, hatinya tiba-tiba hidup kembali. Sebelum itu ia memang pernah mendengar kabar bahwa pemuda Quraisy ponakan Abu Thalib, cucu Abdul Mutthalib itu memiliki akhlak yang sungguh mulia. Ia dikenal sebagai pemuda yang jujur dan sopan  Sangat berbeda dengan kebanyakan pemuda Mekah yang gemar bermabuk-mabukan dan pesta pora.

Hal inilah yang membuat Khadijah berpikir ulang. “ Pasti ada sesuatu yang istimewa dalam diri anak muda ini. Dari begitu banyak orang yang pernah aku serahi tugas menjalankan perniagaan tak satupun yang pernah pulang dengan membawa berkah yang demikian berlimpah. Dan ini semua berkat kejujuran dan kesantunannya ”, pikirnya keheranan. “ Walaupun beda usia antara aku dan dirinya cukup jauh, rasanya bukan hal mustahil bagi kami untuk bersatu dalam sebuah pernikahan. Semoga firasatku ini firasat yang baik. Semoga darinya akan lahir anak-anak yang berkwalitas ”.

Itu sebabnya maka Khadijahpun memberanikan diri mengutus sahabatnya, Nafisah binti Muniyah, untuk menanyakan apa yang menjadi penghalang pemuda yang diam-diam telah mencuri hatinya itu, sehingga ia belum juga menikah.

“ Aku tidak pernah berani berpikir ke arah itu karena aku belum memiliki cukup harta untuk meminang seseorang”, begitu jawaban pendek Muhammad. Maka akhirnya ketika Nafisah memberitahukan bahwa Khadijah, yang masih memiliki hubungan kekerabatan walau jauh itu, menginginkan Muhammad melamar dirinya, Muhammadpun setuju. Tampak bahwa diam-diam ia juga mengaguminya.

Dengan persetujuan kedua keluarga besar maka menikahlah Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid. Ketika itu Muhammad  berusia 25 tahun sementara Khadijah 40 tahun. Pasangan bahagia ini hingga akhir hayat Khadijah, sang itri tercinta, yang  wafat di usianya yang ke 65 tahun, dikaruniai 4 putri dan 2 putra. Empat putri mereka adalah Zainab, Ruqaiah, Ummi Kultsum dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan dua putra mereka  adalah Abdullah dan Qasim bin Muhammad. Keduanya meninggal ketika masih kecil.

Selama 25 tahun pernikahannya itu Muhammad tidak pernah mencoba menambah istri lagi, bahkan terpikirpun tidak. Padahal adalah hal yang amat lazim bagi pria Arab ketika itu untuk memiliki istri lebih dari satu.

Begitu menikah Khadijah mempercayakan urusan perniagaannya kepada sang suami. Sementara ia sendiri lebih konsentrasi kepada urusan rumah tangganya. Namun  demikian ini tidak berarti bahwa Muhammad lepas tangan terhadap urusan yang umumnya dianggap sebagai urusan perempuan itu. Tidak jarang ia terlihat membantu pekerjaan sehari-hari Khadijah. Pendek kata meskipun istrinya adalah seorang saudagar kaya raya, Muhammad tetap sederhana dan bersahaja.

Muhammad bin Abdullah adalah benar-benar contoh yang patut menjadi keteladanan. Ia amat menyayangi istri dan anak-anaknya yang semuanya perempuan itu. Padahal masyarakat Arab ketika itu tidak menghargai anak perempuan. Memiliki anak perempuan dianggap aib yang memalukan bagi  kehormatan dan harga diri keluarga.

 

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.  Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu “. (QS. An-Nahl(16):58-59).

Selama itu pulalah Khadijah memperhatikan bahwa prilaku suaminya tercinta itu tidak pernah berubah. Sabar, jujur dan amanah adalah sifat utama beliau. Itu sebabnya orang memberinya gelar Al-Amin (orang yang dipercaya). Ini terbukti jelas pada suatu peristiwa yang terjadi ketika Muhammad berusia 35 tahun.

Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang penulis kitab-klasik Shirah Nabawiyah ternama yang termasuk orang pertama yang menulis sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup pada sekitar tahun 1100 M, Ka’bah sebelum zaman Islam telah mengalami pemugaran selama 4 kali.

Pemugaran ke 4 terjadi ketika Muhammad berusia 35 tahun. Pada mulanya pemugaran berjalan lancar, masing-masing kelompok kabilah bekerja menurut pembagian tugas yang telah disepakati bersama. Demikian pula Muhammad, ia turut bekerja membantu pamannya, Al-Abbas bin Abdul–Mutthalib. Namun setelah pemugaran sampai pada tahap peletakkan kembali batu Hajar Aswad terjadilah perselisihan. Masing-masing kabilah merasa lebih berhak untuk melasanakan pekerjaan tersebut.

Perselisihan berkembang menjadi pertikaian hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Hal ini terus memanas hingga berhari-hari. Beruntung akhirnya suasana mendingin setelah semua pihak mau berkumpul dan berembug. Diputuskan bahwa siapapun yang pertama kali memasuki pintu Ka’bah, dialah yang berhak memutuskan perkara.

Tak lama kemudian, dalam suasana tegang tampak Muhammad berjalan menuju pintu Ka’bah.  Serentak merekapun berucap : “ Nah, dialah Al-Amin (orang yang terpercaya), kita rela dan puas menerima keputusannya.!”. Setelah Muhammad mengetahui duduk perkaranya, maka iapun meminta selembar kain, lalu setelah kain dihamparkan ia meletakkan Hajar-Aswad ditengah-tengah kain tersebut.

Kemudian ia berujar :” Setiap kabilah hendaknya memegang pinggiran kain, lalu angkatlah bersama-sama!”. Setelah kain didekatkan ketempat penyimpanan Hajar-Aswad kemudian Muhammadpun mengangkat benda tersebut dan meletakkannya pada tempatnya. Dengan cara itu maka berakhirlah perselisihan dan semua pihak merasa puas.

Menjelang usianya yang ke 40 tahun, Muhammad makin sering pergi menyendiri ke gua Hira’  di Jabal Nur, sebuah bukit yang terletak sekitar 6 km sebelah timur Mekah. Tampak bahwa Muhammad makin hari makin risau melihat masyarakat kotanya  yang makin lama makin rusak akhlaknya. Penyembahan terhadap berhala Latta, Manat dan Uzza, ritual haji yang makin hari makin liar dimana para jamaah melaksanakan sa’i dan thawaf dengan bertelanjang, ritual penyembelihan hewan korban yang darahnya di oleskan ke dinding-dinding  Ka’bah dsb.

Kesemuanya ini membuat Muhammad yang hatinya masih bersih ini prihatin. Ia yakin bahwa semua ini tidaklah pada tempatnya. Ia bermunajat memohon petunjuk agar Allah memberi petunjuk kepada masyarakat apa yang seharusnya mereka lakukan.

Semua ini tidak terlepas dari pengawasan Khadijah. Dengan penuh kesetiaan dan kasih-sayangnya, ia mengutus salah satu putrinya untuk membawakan makanan sekaligus menjenguk dan melihat keadaan ayah mereka di atas sana.

Hingga suatu hari di bulan Ramadhan tanggal 17 tahun 611M, Muhammad melihat sebuah sosok raksasa di atas langit mendekatinya. Sebelum sempat berpikir tentang apa  yang dilihatnya tiba-tiba sosok tersebut telah berada disampingnya dan mendiktekan sebuah kalimat yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup.

”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( QS.Al-Alaq (96):1-5).

( Click : http://www.youtube.com/watch?v=aDZNUFcfsvo )

Sosok tersebut memaksanya untuk mengikuti apa yang dikatakannya. Yang ketiga kalinya akhirnya sosok yang belakangan kemudian dikenalnya sebagai malaikat Jibril itu mendekapnya kencang-kencang hingga ia merasa tercekik dan lari pulang menuju rumah dengan perasaan amat ketakutan.

Setibanya di rumah, Khadijah segera menyelimut tubuh sang suami yang  berkeringat dingin tersebut. Muhammad menceritakan apa yang dialaminya. Dengan perasaan dan pandangan waswas ia  memperhatikan reaksi Khadijah, khawatir menganggap dirinya dusta bahkan mungkin gila !

Alangkah leganya perasaan Muhammad mendapati istrinya tercinta itu ternyata tetap mempercayainya. Dan hal ini terus dikenangnya hingga jauh setelah kerasulan.

“Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.”

( Bersambung )

Read Full Post »

Usai pemakaman Aminah, ummu Aiman segera membawa Muhammad kecil ke rumah kakeknya, Abdul Mutthalib di Mekkah. Dengan senang hati sang kakek menerima cucu yang telah yatim piatu itu. Dalam waktu singkat Muhammad dapat melupakan kesedihannya karena kehilangan ibunda tercinta. Kakeknya mencintainya dengan sangat tulus.

Namun hal ini tidak berlangsung lama. Karena dua tahun kemudian Abdul Mutthalib juga wafat. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Sementara itu Muhammad berusia 8 tahun. Beruntung menjelang ajalnya, Abdul Mutthalib masih sempat memikirkan masa depan cucu yang amat disayanginya itu. Ia mengumpulkan ke sembilan anaknya dan berpesan agar mereka sungguh-sungguh memperhatikan nasib Muhammad. Ia berwasiat agar cucu kesayangannya itu di pelihara oleh Abu Thalib, salah satu putranya.

Abu Thalib bukan anak sulung dan juga bukan anak yang terkaya. Anak sulung Abdul Mutthalib adalah Al-Harits. Sedangkan  yang paling mampu adalah Al-‘Abbas. Namun demikian Abu Thalib adalah yang paling dihormati masyarakat Mekkah. Ia seorang yang adil dan amanah. Disamping itu, Abdul Mutthalib juga tahu bahwa putranya ini, seperti dirinya, juga amat menyayangi Muhammad.

Abdul Mutthalib tidak salah. Abu Thalib bahkan menyayangi Muhammad lebih dari anak-anaknya sendiri. Demikian pula istri Abu Thalib, Fatimah binti Asad dan anak-anaknya. Muhammad adalah anak yang menyenangkan. Remaja belia ini tidak berdiam diri melihat keadaan pamannya yang hidup dalam keadaan kekurangan. Bersama saudara-saudara barunya Muhammad membantu mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakannya. Termasuk juga menggembalakan kambing seperti ketika beliau tinggal bersama keluarga susuannya beberapa tahun yang lalu.

Semenjak kecil orang mengenang Muhammad sebagai anak yang berakhlak mulia. Manis budi bahasanya, jujur, senang membantu orang yang dalam kesusahan dan senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak baik.

Ibnu Ishaq mengetengahkan sebuah riwayat yang diterimanya dari Muhammad bin  Al-Hanafiyah dan berasal dari ayahnya, Ali bin Abu Thalib,  bahwa Rasulullah pernah bercerita :

“  Aku tidak pernah tertarik oleh perbuatan yang lazim dilakukan orang-orang jahiliyah kecuali dua kali. Namun dua kali itu Allah menjaga dan melindungi diriku. Ketika aku masih bekerja sebagai penggembala kambing bersama kawan-kawanku, pada suatu malam kukatakan kepada seorang dari mereka : “ Awasilah kambing gembalaanku ini, aku hendak masuk ke kota (Mekah) untuk bergadang seperti yang biasa dilakukan oleh kaum pemuda”. Setibaku di Mekah kudengar bunyi rebana dan seruling dari sebuah rumah yang mengadakan pesta.  Ketika kutanyakan kepada seorang di dekat rumah itu, ia menjawab bahwa itu pesta perkawinan si Fulan dengan si Fulannah. Aku lalu duduk hendak mendengarkan tetapi kemudian Allah swt membuatku tertidur hingga tidak mendengar apa-apa. Demi Allah aku baru terbangun dari tidurku setelah disengat panas matahari. Peristiwa ini terulang lagi keesokan harinya. Demi Allah sejak itu aku tidak pernah mengulang hal-hal seperti itu lagi”.

Suatu hari di usianya yang ke 12, pamannya mengajak bepergian ke  negri Syam bersama rombongan kafilahnya.  Ketika rombongan tiba di sebuah dusun di Bushra, seorang pendeta Nasrani bernama Bukhairah melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Ia memperhatikan adanya sederetan awan yang senantiasa menaungi rombongan dimana Muhammad berada kemanapun mereka pergi.  Didasari rasa penasaran maka iapun mengundang rombongan tersebut untuk mampir ke kediamannya.

Bukhairah yang dikenal sebagai pendeta yang memahami benar ajarab Nasrani inipun mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan Muhammad muda. Setelah yakin bahwa semua jawaban cocok dengan apa yang dikatakan kitabnya, iapun berujar kepada Abu Thalib :

“ Bawalah anak saudara anda itu segera pulang dan hati-hatilah terhadap orang-orang Yahudi. Kalau mereka tahu dan mengenal siapa sebenarnya anak itu mereka pasti akan berbuat jahat terhadap dirinya. Anak itu kelak akan menjadi orang besar, cepatlah ajak dia pulang!”.

“ Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):146).

Adalah kebiasaan orang-orang Arab jahiliyah sejak lama untuk berkumpul di pasar-pasar sekitar kota Mekah, seperti ‘Ukadz, Majannah dan Dzul Majaz. Ini adalah tempat dimana para penyair berlomba memamerkan kebolehannya menggubah syair sekaligus mendeklamasikannya. Biasanya pada bulan-bulan suci tempat ini mencapai puncak keramaian.

Orang-orang Arab mempercayai bahwasanya bulan Dzulqi’dah, Dzulhijah, Rajab dan Muharam adalah bulan-bulan suci yang tidak boleh dinodai oleh segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Jadi selama 4 bulan tersebut perang antar kabilah yang biasa terjadi harus dihentikan. Ke empat bulan tersebut dinamakan sebagai bulan-bulan hurum. Bentuk jamak dari kata haram.

Selama bulan-bulan yang sangat dihormati oleh semua orang Arab, termasuk pemeluk Yahudi, Nasrani dan penyembah berhala, mereka bebas melantunkan syair-syair mengenai pendapat dan  kepercayaan masing-masing. Mereka berlomba memperdengarkan dan memamerkan kehebatan nenek moyang mereka dengan ketinggian mutu bahasa dan kefasihan mereka mendeklamasikan syair-syair baik yang bersifat romantik maupun heroik.

Dari penyair-penyair Nasrani dan Yahudi inilah orang-orang Arab tahu akan bakal datangnya nabi baru. Dengan nada mengancam mereka sering berkata :

“ Tidak lama lagi akan datang seorang nabi. Kamilah yang akan mengikutinya dan bersama dia kami akan memerangi kalian hingga kalian mengalami kehancuran seperti yang dialami kaum ‘Aad dan Iram dahulu kala”.

Maka sejak pertemuannya dengan pendeta Bukhairah itu, Abu Thalib menjadi lebih lagi menyayangi ponakannnya. Ia selalu berhati-hati, menjaga dan mengawasinya dengan baik. Bahkan tak lama setelah itu Abu Thalib dikabarkan tidak pernah lagi berpergian jauh demi  menjalankan perdagangannya. Ia memilih hidup sederhana mengasuh sendiri anak-anaknya yang cukup banyak itu. Selama itu pulalah Muhammad hidup di tengah keluarga Abu Thalib dan diperlakukan bagai anak sendiri.

Hingga tiba suatu saat ketika Muhammad mencapai usia 25 tahun, seorang utusan datang menemuinya. Utusan ini meminta agar Muhammad bersedia ikut dalam kafilah dagang milik Khadijah ke negri Syam. Khadijah binti Khuwailid adalah seorang saudagar perempuan yang kaya raya lagi mulia dan terhormat. Ia biasa mempekerjakan sejumlah lelaki Quraisy untuk membawa barang dagangannya ke Syam dengan imbalan sebagian dari keuntungannya.

Ia mendengar kabar bahwa Muhammad berkeinginan untuk ikut dalam rombongan dagangnya. Sementara itu Khadijah juga pernah diberi tahu bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang jujur, halus budi bahasanya serta berakhlak mulia. Hal yang teramat jarang dijumpai di kota Mekah ini. Itu sebabnya tanpa ragu ia menawarkan keuntungan dua kali lipat dari orang lain bila Muhammad bersedia menerima tawarannya.

Kebetulan Abu Thalib memang sedang dalam kesulitan keuangan. Sebagai anak yang tahu diri Muhammad segera meminta izin pamannya agar diperbolehkan menerima tawaran berharga tersebut. Walaupun dengan berat hati akhirnya Abu Thalib menyetujui permintaan Muhammad. Ia sebenarnya masih merasa khawatir akan keselamatan ponakannya itu sekalipun Muhammad telah dewasa.

Maka dengan membawa berbagai macam dagangan, berangkatlah Muhammad bersama rombongan kafilah dagang Khadijah menuju negri Syam. Disitulah Muhammad membuktikan kepiawaiannya berdagang. Ia menjual barang dagangan yang dibawanya dari Mekah dan membeli barang dagang lainnya untuk dibawa kembali ke Mekah. Dengan kejujuran dan kesantunannya ia bahkan berhasil menarik keuntungan jauh lebih besar dari pada orang lain yang pernah diutus Khadijah.

Semua ini  tidak lepas dari pengawasan dan pandangan kagum Maisarah, pembantu setia Khadijah yang ikut dalam rombongan tersebut. Ialah yang dengan semangat menceritakan apa yang dilihatnya itu kepada majikannya begitu rombongan kembali. Hingga membuat Khadijah bertambah kagum kepada Muhammad, pemuda yang tanpa disadarinya ternyata telah ditakdirkan-Nya  bakal menjadi pendamping hidup terakhirnya.

( Bersambung)

Read Full Post »

Muhammad saw  dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi’ul awal di tahun Gajah atau tahun 570 M di kota Mekah. Beliau lahir hanya berselang sekitar  50 hari setelah peristiwa penyerangan pasukan gajah dibawah pimpinan Abrahah.

Muhammad saw lahir sebagai anak yatim. Ibunya, Aminah binti Wahb  meskipun ketika melahirkan dalam keadaan duka yang mendalam karena ditinggal wafat sang suami tercinta, Abdullah bin Abdul Mutthalib, menyambut kelahiran bayinya dengan suka cita. Mimpinya melihat istana Buchara di Syam dalam taburan cahaya ditambah suara bisikan bahwa ia akan melahirkan orang besar lah yang mempengaruhi semangat hidupnya.

Aminah terkenang, baru beberapa bulan  Abdullah yang ketika itu belum mengawininya terbebas dari kematian. Karena nazar ayahnya yang berbahaya tersebut   dapat  ditebus dengan 100 ekor unta. Namun hanya selang 3 bulan setelah pernikahannya Abdullah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Apa hikmah semua ini? “ Allah sengaja menunda kematian Abdullah agar ia dapat membuahiku dan menitipkan janinnya dalam rahimku. Ini adalah skenario besar Allah. Anak yang aku lahirkan ini pasti anak yang memilki kedudukan istimewa disisi-Nya ”, begitu pikir Aminah yakin.

Hal pertama yang dilakukan Aminah begitu ia melahirkan adalah mengutus seseorang untuk melaporkannya kepada sang kakek, Abdul Mutthalib, seorang pemuka Quraisy yang amat dihormati. Sang kakek inilah yang kemudian memilihkan nama ‘Muhammad’ kepada sang bayi. Abdul Mutthalib memilih nama ini karena ia pernah mendengar beberapa ahli nujum  yang meramalkan akan datangnya nabi di Hijaz dengan nama Muhammad. Perlu diketahui, Ahmad atau Muhammad dalam bahasa Arab berasal dari akar kata “ Hamida “, yang berarti syukur atau yang terpuji. Namun demikian sebelum kelahiran Muhammad saw, ini bukanlah nama yang lazim digunakan.

“ Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS.As-Shaaf (61):6).

Muhammad kecil hanya beberapa hari berada di pelukan ibunda tercinta. Adalah kebiasaan orang Arab zaman dahulu untuk menyusukan bayi-bayi mereka kepada perempuan-perempuan Badawi dengan sejumlah imbalan tertentu. Mengapa Badawi? Karena masyarakat Badawi yang biasanya hidup di pedalaman yang udaranya masih bersih, dianggap berperangai lurus dan jujur. Jauh dari sifat-sifat buruk yang lazim terdapat di kalangan masyarakat  perkotaan seperti Mekkah. Orang-orang Quraisy sendiri biasanya memilih perempuan Badawi dari Bani Sa’ad karena mereka dikenal baik budi bahasa maupun tutur katanya.

Maka ketika suatu hari datang serombongan perempuan dari bani Sa’ad mencari anak untuk disusukan, Aminahpun segera menawarkan bayinya untuk disusui. Namun apa yang terjadi ? Perempuan-perempuan tersebut menolaknya dengan alasan Aminah hanyalah seorang janda yang tidak mewarisi harta yang cukup banyak dari suaminya.

Dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam itulah tiba-tiba salah seorang perempuan yang baru pagi tadi menolak tawaran menyusui putranya datang kembali. Perempuan tersebut bernama Halimah As-Sa’diyyah. Ia kembali setelah tidak menemui seorang bayipun yang dapat disusuinya. Ia mengatakan kepada  suaminya, Al-Harits bin Abdul ‘Uzza , yang mendampingi Halimah ke Mekkah, bahwa ia memutuskan akan menyusui anak yatim cucu Abdul Mutthalib yang ditolaknya pagi tadi.

Ketika itu Al-Harits hanya berkata  :  “ Tidak ada jeleknya egkau lakukan hal itu, mudah-mudahan Allah memberkahi penghidupan kita dengan keberadaan anak yatim itu di tengah keluarga kita”.

Dan nyatanya  memang itulah yang terjadi. Keberkahan bermula dengan unta yang ditunggangi Halimah. Begitu Halimah naik ke atas punggung unta dengan Muhammad kecil di dekapannya, unta kurus yang tadinya selalu tertinggal jauh di belakang itu  tiba-tiba mampu berlari kencang meninggalkan  teman-teman Halimah jauh di belakang.

Demikian juga air susu Halimah yang tadinya tidak terlalu deras tiba-tiba menjadi berlimpah. Hingga tidak saja Muhammad kecil yang puas menyusu tetapi juga bayi Halimah sendiri juga demikian. Tidak itu saja. Bahkan unta dan kambing peliharaan keluarga Halimah yang tadinya kurus kering tiba-tiba menjadi subur. Padahal itu musim paceklik. Tak satupun unta dan kambing tetangga Halimah yang mampu sedikitpun menghasilkan susu.

Muhammad hidup di tengah keluarga ini hingga usia 5 tahun. Ia belajar bahasa Arab yang tinggi dan murni dari kabilah bani Sa’ad yang halus tutur katanya.  Tampak bahwa Muhammad kecil  sangat menghayati kehidupan di pedalaman Badawi  ini dengan  jiwa yang bebas merdeka. Pengalamannya menggembala kambing di padang rumput yang memang menuntut kesabaran tinggi  amat membekas di hati. Demikian pula kedekatannya kepada alam bebas terbuka. Hal ini membuat pikirannya jauh lebih dewasa dibanding  anak-anak seusianya yang hidup di kota besar.

Perasaan dan pengalamannya ini pada suatu hari pernah diutarakannya sendiri. “ Hampir semua nabi pernah menggembalakan kambing. Ibrahim dan Isa adalah penggembala kambing. Musa juga pernah menjadi penggembala kambing. Demikian pula aku “.

Tampak nyata bahwa lama berada langsung di bawah naungan langit terbuka dapat membuat seseorang lebih bijaksana baik dalam berpikir maupun berprilaku.

“ Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan ”.(QS.Al-An’am (6):75-79).

Bagi keluarga Halimah, selama 5 tahun itu ada sebuah peristiwa yang tak mungkin mereka lupakan begitu saja.

“ Suatu ketika Muhammad sedang menggembala kambing di belakang rumah. Tiba-tiba Abdullah, saudaranya laki-laki ( anak lelaki Halimah yang sebaya dengan Muhammad) lari pulang sambil berteriak-teriak. Ia memberitahu bahwa Muhammad diajak oleh dua lelaki berpakaian serba putih. Kemudian ia dibelah perutnya . …. Aku bersama suamiku segera menuju ke tempat kejadian. Disana kami melihat Muhammad sedang  berdiri dan wajahnya tampak pucat pasi. Ia segera kami peluk dan kami tanyakan apa yang baru saja terjadi. Ia menjawab : “ Dua orang lelaki berpakaian serba putih datangkepadaku. Kemudian aku dipegang dan dibaringkan lalu perutku dibedah. Aku tidak tahu apa yang dicari oleh kedua orang itu ! ”.

Muhammad   kembali ke pangkuan ibundanya tercinta pada usia 5 tahun. Tahun berikutnya dengan ditemani Ummu Aiman, pembantu setianya, Aminah mengajak putra tunggalnya itu ke Madinah untuk berziarah ke makam ayahnya. Mereka bertiga  selama 1 bulan penuh berada  di tengah keluarga besar Aminah.

Kalau saja Aminah  tidak mengingat  bahwa kakek dan keluarga besar Hasyim menanti  kepulangan putranya, ia tentu memilih untuk tetap tinggal di Madinah. Apa boleh buat ia harus kembali.  Sayangnya di tengah perjalanan antara Madinah – Makkah, di sebuah desa bernama Abwa’ ( sekitar 37 km Madinah) Aminah mengalami sakit parah. Tak lama kemudian iapun wafat. Beliau dimakamkan  ditempat itu juga.

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata: “Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Dengan menangis pilu Muhammad kecil yang kini telah menjadi yatim piatu itu terpaksa harus menurut dan patuh saja ketika Ummi Aiman mengajaknya untuk segera pulang ke Mekkah.

Di kemudian hari, Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda  mendekati kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya”.

( Bersambung )

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers