Feeds:
Posts
Comments

Pada tahun ke 3 hijriyah, beberapa utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah mendatangi Rasulullah saw. Mereka mengabarkan bahwa mereka telah mendengar tentang Islam . Untuk itu mereka  meminta Rasulullah agar mengirim utusan supaya mereka bisa mempelajari Islam dengan lebih baik lagi.

Maka Rasulullahpun mengutus 10 sahabat untuk memenuhi permintaan tersebut. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai amir mereka.  Namun di suatu tempat di antara ‘Usfan dan Mekkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari bani Lihyan.  Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut.

Sebenarnya Ashim dan kawan-kawan berhasil mengelabui pasukan pemanah Musryik tersebut. Namun Allah swt berkehendak lain. Biji-biji kurma Madinah, bekal yang mereka bawa dari Madinah dan  tercecer di sepanjang perjalanan, memberi petunjuk keberadaan rombongan Ashim. Akhirnya ke sepuluh sahabat itupun terkejar.

“ Kami berjanji tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian jika kalian menyerah”, teriak salah seorang Musyr ik  yang mengepung mereka.

“ Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu”, balas Ashim tegar.

Maka rombongan Musyrik itupun menyerang dan berhasil membunuh Ashim dan 6 sahabat lain hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan seorang sahabat. Orang-orang musyrik itu kemudian menangkap dan mengikat ketiganya.

Namun sahabat yang tidak diketahui namanya itu kemudian memberontak sambil berteriak : “ Ini adalah pengkhianatan pertama !” serunya sambil berusaha melawan. Maka syahidlah ia. Selanjutnya Khubaib dan Zaid dibawa ke Mekah dan dijual sebagai budak.

Sementara itu, bani al-Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat terhadap Khubaib mendengar berita tertangkapnya Khubaib. Rupanya nama Khubaib  telah mereka hafal luar kepala karena Khubaiblah yang membunuh  Harits bin Amir, seorang pemuka Mekah, pada perang Badar. Maka dengan penuh antusias Khubaibpun mereka beli.

Maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar  yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan. Hingga suatu hari salah seorang putri keluarga tersebut berteriak terkejut , memberitakan bahwa budak sekaligus tawanan mereka sedang santai dan tenang-tenang memakan buah anggur. Padahal buah tersebut sedang tidak musim di Mekah dan Khubaibpun diikat tangannya dengan rantai besi!

“ … … … . Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.(QS.Ali Imran(3):37).

Ya itulah yang terjadi pada diri Khubaib, hamba Allah yang senantiasa bertasbih pagi dan petang, mendirikan shalat di malam hari dan berpuasa di setiap siangnya. Khubaib tidak pernah putus asa dari mengharap pertolongan dan perlindungan Sang Khalik.

Mengetahui hal ini, dengan tujuan untuk menakuti-nakuti, keluarga al-Harits segera menceritakan bahwa saudara sekaligus sahabat Khuabib, Zaid yang juga dibeli keluarga Mekah lainnya, telah dieksekusi. Ia telah dibunuh dengan cara ditusuk tombak dari lubang dubur hingga tembus ke dadanya ! Astaghfirullah halladzim ..

Namun berita kejam nan sadis ini ternyata tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanannya.  Sebaliknya hal ini justru membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Akhirnya keluarga al-Haritspun putus asa. Mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanannya yang tegar itu.

Namun sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib memohon agar diperbolehkan melakukan shalat terlebih dahulu. Maka shalatlah Khubaib 2 rakaat. Usai shalat, Khubaib menoleh kepada para algojo yang mengawasinya sambil berkata : “Seandainya bukan karena dikira takut mati, maka aku akan menambah jumlah rakaat shalatku”. Inilah shalat sunnah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian.

Kemudian Khubaib melantunkan sebuah puisi :

Mati bagiku tak menjadi masalah

Asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah

Dengan jalan apapun kematian itu terjadi

Asalkankerinduan kepada-Nya terpenuhi

Kuberserah menyerah kepada-Nya

Sesuai dengan taqdir dan kehendak-Nya

Setelah itu Khubaibpun disalib pada sebuah tiang. Lalu tanpa sedikitpun rasa belas kasih pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah.  Dalam keadaan demikian,   seorang pemuka Quraisy menghampirinya dan berkata : “ Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat walafiat bersama keluargamu?” .

“ Demi Allah, tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri !”, jawabnya sontak, seolah tersengat aliran listrik ribuan watt.  Sebuah jawaban yang persis dikatakan Zaid menjelang kematiannya.

“ Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad “, itu yang dikatakan Abu Sufyan suatu hari mengenai para sahabat.

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojopun menghabisi  Khubaib. Namun sebelumnya, Khubaib sempat berucap kepada Tuhannya: “

“Ya Allah kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami “.

Setelah itu orang-orang  Musryik meninggalkan tubuh Khubaib dalam keadaan tetap tersalib di tiangnya. Sementara  burung-burung buas pemangsa yang sejak tadi telah berputar-putar menanti mangsanya tiba-tiba juga meninggalkannya. Rupanya Sang Khalik tidak ridho hamba-Nya yang taat itu menjadi mangsa burung-burung.

Demikian pula doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Sang Pemilik dalam keadaan pasrah dan ridho pada ketetapan-Nya. Tampak jelas bahwa Sang Khalik tidak tega menolaknya. Itu sebabnya, Rasulullah yang ketika itu berada di Madinah secara mendadak mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk segera menyusul   ke tempat Khubaib disalib. Padahal ketika itu tak seorangpun orang Madinah yang mengetahui peristiwa nahas tersebut. Allahuakbar ..

Setiba di tempat yang dimaksud, Khubaib telah tiada. Senyum kedamaian tergurat di wajahnya. Dengan menahan kedukaan yang mendalam kedua utusan tadi kemudian melepaskan sang mujahid dari tiang salib kemudian membawa dan memakamkannya di suatu tempat yang hingga detik ini tak seorangpun mengetahuinya.  Sebuah fenomena yang mirip pada apa yang terjadi pada diri nabi Isa as 14 abad sebelumnya. Tak ada sesuatupun yang mustahil bagi-Nya.

“ (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“. (QS.Ali Imran(3):55).

Itulah cara Sang Khalik mengabulkan doa hamba-Nya yang takwa agar dijauhkan dari tangan orang kafir. Karena sebenarnya pemuka kaum Musyrik Mekah telah menyuruh utusan agar mereka dikirimi bagian tubuh Khubaib sebagai bukti bahwa Khubaib telah di-eksekusi ! Allahu Akbar ..

“  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Salam sejahtera wahai mujahid sejati !

Paris, 14 Januari 2011.

Vien AM.

Palermo saat ini adalah kota yang amat padat. Kemacetan terlihat dimana-mana. Seperti juga di Jakarta, ‘pak ogah’ tampaknya sudah membudaya di kota ini. Tanpa bantuan mereka rasanya mustahil mendapatkan tempat parkir. Setelah dorong sana dorong sini akhirya kami dapat memarkir mobil tak jauh dari lokasi yang strategis, yaitu di depan taman luas antara Katedral Palermo, Royal palace dan kapel Palatin.

Ketiga bangunan tua sarat sejarah ini terlihat kotor dan kurang terawat kecuali katedralnya. Katedral ini dibangun pada tahun 1185 M diatas bekas bangunan masjid yang tadinya juga dibangun di bekas basilika ( bangunan umum Romawi) pada abad 9. Hingga saat ini sisa-sisa arsitektur Arab Normandia masih terlihat kental di ketiga bangunan tersebut.

Namun seperti juga umumnya gereja di seluruh dunia, lukisan dan patunglah yang menjadi daya tarik utama. Lukisan dan patung-patung ini adalah lukisan Tuhan mereka, Yesus alias nabi Isa as, para orang suci umat Nasrani seperti Maria, ibunda Yesus dan patung-patung malaikat lengkap dengan sayapnya. Jujur saja, sebenarnya lukisan dan patung-patung tersebut sungguh indah dan mirip sekali dengan manusia betulan. Yang saking miripnya kesannya sering kali menjadi ‘seram’. Yang juga patut disesalkan, mengapa lukisan dan patung yang seringkali terlihat kurang santun karena tidak berpakaian lengkap itu bisa dipajang di dalam tempat ibadah ya … :-(

Setelah puas melihat-lihat bagian luar katedral kami meneruskan perjalanan ke Monreal yang jaraknya tak sampai 10 km dari tempat ini. Sayangnya, ternyata kami tiba di katedral yang lagi-lagi bekas masjid ini persis jam istirahat … :-(  Apa boleh buat .. bersama para turis lain yang juga ‘kecele’ kami terpaksa menanti selama 1.5 jam di bawah hujan yang cukup lebat. Beruntung, di sekitar katedral banyak terdapat restoran. Rupanya tempat ini memang menjadi pusat wisata.

Kami masuk ke sebuah resto special pizza, makanan khas andalan Italia yang terkenal itu. Karena pelayan tidak bisa berbahasa Inggris sementara kamipun tidak bisa berbahasa Italia akhirya dengan bantuan salah seorang tamu yang bisa berbicara Perancis,  kamipun memesan pizza sayuran yang relative aman, daripada salah pesan pizza yang mengandung unsur babi … Walaupun ternyata rasanya ‘nano’nano’ .. J ..

Tepat pukul 14.30 kami telah mengantri didepan katedral. Sepasang patung berhadapan yang sedang membawa pedang menyambut kami di depan pintu masuknya. Patung tersebut terlihat aneh dan seram karena kepalanya tertutup. Sementara di seberang satu lagi sebuah patung terlihat sedang ‘menatap’ kearah para pengunjung. Tiba-tiba saya teringat apa yang diperintahkan Rasulullah kepada para sahabat begitu memasuki Ka’bah pada saat penaklukkan Mekah,yaitu menurunkan patung-patung yang menghiasi dinding-dindingnya. Ka’bah dan juga masjid adalah rumah ibadah. Sang Khalik tidak ridho dengan keberadaan segala patung dan berhala di bait-Nya. Penyembahan hanya murni milik-Nya. Tidak ada satupun sekutu bagi-Nya.

“ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa(4):116).

Itulah inti ajaran Islam, agama milik Allah swt, Tuhan Yang Tunggal, Yang Tiada Beranak dan Diperanakkan, Tuhan semesta Alam yang memiliki langit, bumi dan segala yang ada diantara keduanya. Para nabi sejak nabi Adam as hingga nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Isa as (Yesus) hingga nabi terakhir, Rasulullah Muhammad saw diutus dalam rangka menegakkan penyembahan hanya kepada-Nya, semata.

Namun dalam perjalanannya, ntah mengapa, bisikan syaitan ternyata lebih kuat dan indah dalam penglihatan dan pendengaran orang-orang yang berlebihan dalam mencintai kehidupan dunianya. Tuhan yang satu dirasa kurang memuaskan hingga mereka mencari sesembahan lain.   Mereka berdalih bahwa penyembahan kepada yang selain Allah itu adalah dalam rangka untuk  mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada-Nya!

“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”……. ”.(QS.Az-Zumar(39):3).

Kami terus melangkah masuk ke dalam katedral yang dibangun pada pertengahan abad 12 oleh raja Norman, Wiliam II. Namun demikian pengaruh gaya arsitektur Islam Fatimiyah dan Moor yang ketika itu sedang naik daun tidak dapat dihilangkan begitu saja. Lantai dan dinding mozaik, lekuk dan pilar dengan gambar alam seperti bunga-bungaan dan dedaunan khas arsitektur Islam terlihat menjadi dasar dan latar belakang pemandangan.

Sementara gambar-gambar Yesus dengan ukuran raksasa, bunda  Maria, para malaikat dengan sayapnya, orang-orang suci Nasrani dan rangkaian kejadian yang tertulis dalam kitab Injil terlihat mendominasi dinding dan langit-langit katedral. Dengan warnanya yang kuning keemasan mencolok mata sungguh tidak mungkin bagi para pengunjung untuk menghindarinya.

Dalam hati saya berpikir, “ kalau masjid seperti ini bagaimana bisa konsentrasi ?”. Dalam sebuah hadits yang pernah saya baca, dikatakan bahwa bila masjid diperindah sedemikian rupa dengan warna-warna kuning, itu adalah awal tanda kiamat.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu melarang menghiasi masjid dan memperindahnya, karena yang demikian itu dapat mengganggu shalat seseorang. Dan ketika beliau memerintahkan merehab Masjid Nabawi, beliau berkata, “Lindungilah manusia dari hujan, dan janganlah engkau beri warna merah atau kuning karena akan memfitnah (mengganggu) manusia”[HR.Bukhari].

Kami terus jalan berkeliling sambil mencari-cari bekas letak mihrab, tanpa hasil. Setelah puas kami lalu menuju ke bagian atas katedral melalui tangga sempit berkelok untuk melihat taman yang memang di’declare’ sebagai taman a la Islam.

Sore harinya, kami meneruskan perjalanan ke Catanya melaui Cefalu dan Edna.  Kami tiba di kota terbesar kedua Sisilia ini lewat tengah malam. Anehnya, di tengah remang dan kusamnya kota yang kurang penerangan ini keramaian orang masih terlihat dimana-mana. Sebagian besar muda-mudi yang tampaknya penduduk setempat itu berkumpul di bar-bar yang kami perhatikan banyak sekali bertebaran. Demikian pula esok malamnya. Padahal ini bukan week-end lho .. .

Saking penasarannya, besok malamnya saya tanyakan keanehan tersebut kepada seorang pelayan restoran dimana kami bersantap. Kebetulan sang pelayan parlente yang mengenakan jas hitam rapi itu bisa berbahasa Inggris dengan bagus sekali.

“ Why there are a lot of young people in this late night? Is tomorrow a holiday? I think they are not tourists, do they?”

Ia menjawab bahwa hal tersebut memang telah menjadi tradisi muda-mudi kotanya. Kongkow sambil minum-minum di bar setiap hari walaupun bukan hari libur adalah hal biasa. Dengan sedikit rasa sesal pria setengah baya yang doyan ngobrol ini mengeluh “ Jumlah bar di kota ini sudah kelewatan banyaknya. Ini yang menyebabkan para pelajar selalu berkeliaran siang dan malam”.

“ Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu”.(QS.Al-Maidah(5):91).

Sejarah Catanya ternyata sama kelamnya dengan kebiasaan penduduknya yang doyan minum minuman beralkohol. Kota ini sering dilanda gempa dan tertimpa letusan gunung Etna yang berdiri tak jauh dari kota. Beberapa kali kota ini harus mengalami penataan ulang karena hancur, rata dengan tanah. Itu sebabnya bangunan di Catanya didominasi bangunan berwarna hitam dan putih  yang terbuat dari lava dan berbagai material muntahan gunung.

Ironisnya, hingga detik ini penduduk kota tetap menjadikan orang-orang suci agama mereka sebagai sesembahan. Perayaan yang dilakukan tiap bulan Februari ini menjadi daya tarik tidak saja penduduk lokal namun juga penduduk kota Sisilia dan Italia lainnya.

Taormina, Mesina – 28/10/2010.

Pagi itu kami menyusuri pantai timur Sisilia. Taormina dan Messina adalah kota tujuan terakhir perjananan 5 hari kami selama berada di pulau tersebut. Subhanallah .. letak geografis kota kecil Taormina sungguh menakjubkan. Kota wisata ini berada di atas bukit dengan pemandangan laut dan gunung yang mengelilinginya. Di puncak perbukitan inilah berdiri teater Yunani kuno ‘ Teatro Greco’.  Teater ini diperkirakan dibangun pada masa kekuasaan Romawi pada abad 7 SM diatas  bekas reruntuhan teater Yunani. Arsiktektur Romawi memang banyak dipengaruhi budaya Yunani. Pada masa itu baik kerajaan Romawi maupun Yunani telah menjadikan pertarungan antara manusia (biasanya residivis) dengan binatang buas sebagai tontonan dan hiburan masyarakat.

IMG_4705IMG_4707Teater yunani dengan latar belakang menakjubkan tersebut ternyata telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para seniman dan pelukis di masa lalu. Lukisan tersebut kini dapat kita saksikan di dalam musee Louvre Paris. Namun yang lebih surprising, koleksi berharga tersebut disimpan dan dipajang di bagian koleksi Islam musium  bergengsi tersebut. Divisi Islam ini adalah divisi terbaru yang menjadi bagian dari musium, yang baru dibuka pada September 2012 lalu.

Kekejaman yang dijadikan hiburan ini tiba-tiba mengingatkan saya pada diri nabi Ibrahim as. Yaitu ketika raja yang berkuasa ketika itu memerintahkan para pembantunya agar membakar sang utusan. Ini disebabkan Ibrahim as dituduh telah ‘menganiaya’ Tuhan mereka. Kisah ini diabadikan dalam ayat 58-68 surat Al-Anbiya sebagai berikut :

“ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)” kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”.

Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa`at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”.

Saat ini teater Taormina masih digunakan namun hanya sebagai tempat pertunjukkan musik dan drama. Setelah puas menikmati keindahan alam dari teater ini kamipun melanjutkan perjalanan ke ujung utara pulau yaitu Messina. Waktu kami tidak banyak.

Tujuan utama kami adalah  gereja  Annunziata dei Catalani. Gereja ini ternyata tidak lagi digunakan. Bekas masjid ini dikabarkan sebagai satu diantara sedikit bangunan penting yang bebas dari keganasan gempa 1906. Itu sebabnya saat ini bangunan tidak dipakai dan dipagari dengan pagar besi. Alhamdulillah .. maka dengan demikian kami masih bisa melihat sisa-sisa jejak Islam di kota tua ini.

Esok paginya, setelah berkeliling sebentar melihat Catanya yang tidak sempat kami jelajahi, kamipun terbang meninggalkan Sisilia. Ibrah terpenting yang dapat kami ambil, «  Islam telah datang ke bagian paling selatan Italia untuk memperingatkan bahwa manusia  diperintahkan untuk memurnikan penyembahan, yaitu hanya kepada Allah swt, yang tidak beranak. Namun tampaknya penduduk negri ini terlalu angkuh untuk mengakui kebenaran Islam. Mereka malah lebih memilih mempercayai kitab lain yang jelas-jelas telah dimanipulasi sejak berabad-abad yang lalu … Sayang sekali … »

« Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya ».(QS.Ali Imran(3) :19)

«  Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS. AtTaubah(9):30).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Januari 2011.

Vien AM.

Senin, 24/10/2010, 17.30 waktu Sisilia. Pesawat EasyJet yang kami tumpangi mendarat di bandara  Boccadifalco, Palermo – Sisilia. Setelah mengambil bagasi dan mengambil kunci mobil sewaan kami segera menuju pelataran parkir bandara. Kami sempat agak lama  celingukan mencari tempat ini karena selain tanda pengumuman tidak jelas bertanyapun sulit. Maklum, kami berdua tidak paham bahasa Italia sementara penduduk setempat tidak berbahasa Inggris .. :-(

Namun baru beberapa detik merasa lega setelah menemukan lokasi mobil sewaan kami kembali tersentak kaget. GPS ( Global Positioning System), sang pemandu jalan elektronik yang selama ini setia menemani kemanapun kami pergi ternyata tidak berhasil menangkap signal. Dengan segera kamipun memutuskan untuk menyewa alat canggih tersebut. Tetapi ternyata juga habis ! Terpaksalah dengan bantuan peta kecil seadanya plus GPS HP yang kurang begitu saya kenal, kamipun memulai perjalanan di pulaunya para Mafioso ini.

Jarak dari bandara yang diapit pegunungan kecil berbatu dan pantai laut Tirenia ke pusat kota sekitar 25 km. Melalui jalan tol yang lumayan gelap akhirnya kami sampai juga di hotel dengan selamat ..  Alhamdulillah.

Setelah check in kami keluar lagi untuk mencari makan malam sambil melihat suasana sekitar hotel. Ketika masih di dalam pesawat, suami pernah berkata sepintas bahwa beberapa teman Perancisnya yang keturunan Italia mengatakan bahwa Sisilia walaupun merupakan bagian dari Italia tapi tidak menunjukkan ke-Italian-nya. Namun yang pasti kesan pertama yang  saya tangkap Palermo itu gelap, agak kotor dan lumayan kumuh.

Padahal Ibn Hawqal, seorang ahli geografi kenamaan yang telah berhasil membuat peta bumi menyatakan kekagumannya yang begitu tinggi terhadap kota ini. Ia bahkan berani membandingkannya dengan Baghdad yang ketika itu menjadi pusat daya tarik dunia. Ilmuwan Muslim kelahiran Turki ini mengunjungi Palermo pada tahun 950M dalam rangka lawatannya ke seluruh negri guna memperbaiki peta yang digunakan umum ketika itu.

Dalam buku “ The History of Arabs”  karya Philip Khuri Hitti, Ibn Hawqal yang juga seorang saudagar ini menceritakan bahwa Palermo memiliki istana yang sangat indah di pusat kota. Istana yang berdampingan dengan masjid besar yang juga tak kalah indahnya ini berdiri di atas bekas Katedral Romawi. Di kota ini berdiri tak kurang dari 300 masjid, madrasah ( sekolah), pemandian, taman dll. Ia juga melaporkan adanya universitas bernama Balerm.

Namun tentu saja kami belum dapat membuktikan itu semua karena hari telah larut malam. Rencananya kami baru akan keliling Palermo esok lusa. Besok kami akan mengunjungi beberapa kota yang berada di sebelah barat kota ini.

Palermo, 25/10/2010.

Wuih, kalah Jakarta  .. Muacetnya bukan main. Ternyata kota tua ini padat penduduk. Untuk menuju jalan ke luar kota saja butuh waktu hampir 2 jam ! Itupun setelah menempuh jalan berputar menghindari kemacetan. Akibatnya kunjungan ke Monreal, kota kecil barat daya Palermo yang jaraknya tak lebih dari 10 km dari Palermo itu terpaksa harus di jadwal ulang.

Teater Segesta

Teater Segesta

Kami langsung menuju ke Segesta dan Selinunte yang berada di tengah dan selatan Sisilia. Di kedua kota di atas bukit ini, seperti juga di banyak tempat di Sisilia ini, kami menyaksikan reruntuhan peninggalan Romawi yang dibangun sekitar abad 5 hingga 3 sebelum Masehi, berupa temple (kuil kuno) dan teater Romawi. Kompleks reruntuhan ini amat mirip dengan kompleks reruntuhan yang banyak dijumpai di Roma maupun di Yunani. Sejarah Sisilia memang unik.

Pulau berbentuk menyerupai segi tiga seluas 25.708 km persegi ini terletak di selatan Italia daratan yang bentuknya seperti sepatu boot. Pulau terbesar di laut Mediterania ini terletak  di sebelah timur laut Tunisia di Afrika Utara. Meskipun Sisilia saat ini berada di bawah wilayah kekuasaanItalia, pulau ini memiliki kultur khas yang berbeda dengan wilayah-wilayah Italia lain pada umumnya.

Tampak bahwa pengaruh beberapa peradaban besar seperti Romawi, Byzantium, Islam dan Spanyol yang pernah menguasai Sisilia tidak bisa dihapuskan begitu saja. Pada masa Romawi dan Byzantium inilah kuil-kuil dan teater-teater Romawi dibangun. Kuil yang berdiri di Segesta dan Selinunte dibangun pada abad yang sama yaitu, pada abad 5 SM. Kuil-kuil di  Selinunte adalah kuil Yunani yang dipersembahkan kepada dewa Hera. Sedangkan teater di Segesta dibangun 2 abad setelah itu.

Kuil Selinunte

Kuil Selinunte

Pada masa lalu, kuil Yunani dan Romawi yang hampir selalu dibangun di atas bukit ini adalah tempat ibadah para kaum pagan ( penyembah berhala). Di tempat inilah biasanya diadakan ritual persembahan korban bagi para dewa. Korban pada umumnya adalah remaja perempuan.  Ironisnya,  sejarah ritual ini ternyata sebenarnya berkaca dari kisah penyembelihan nabi Ibrahim as terhadap putranya, Ismail as !

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)”.(QS.An-Nisa(4):49-50).

Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat diatas diturunkan berkenaan dengan kebiasaan kaum Yahudi yang menyuruh anak-anak mereka untuk memimpin ibadah mereka dan mempersembahkan kurban-kurban mereka . Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka tidak mempunyai dosa-dosa. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Fenomena yang kurang lebih sama dengan para Musrykin Mekah sebelum datangnya Islam. Dengan dalih demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik, mereka melakukan semua ini. Karena sebenarnya mereka ini pada dasarnya mengakui Tuhan Semesta Alam Yang Satu yaitu, Allah swt.

… … Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.  … … “. (QS.Az-Zmar(39):3).

Kemudian karena bujukan syaitan dan nafsu ingin menguasai manusia lain, orang-orang ini menciptakan Tuhan-tuhan sendiri sesuai dengan kehendaknya.   Maka jadilah Zeus, Yupiter, Shiwa, Latta, Uzza, Manna dsbnya sebagai tuhan yang mereka sembah. Dewa-dewa ini masing-masing mereka gambarkan memiliki kekuasaannya sendiri-sendiri.

Ironisnya lagi, ternyata penyembahan dan ritual pengurbanan cara barbar ini masih ‘eksis’ hingga detik ini. Bagi penggemar novel-novel karya Dan Brown seperti The Da Vinci Code, The Lost Symbol pasti kata Freemason, Illluminaty dll bukanlah sesuatu yang asing.  Dengan berani penulis kelahiran Amerika Serikat ini membeberkan bahwa organisasi-organisasi elit dunia yang masih mempraktekkan ritual mengerikan ini benar-benar ada di dunia nyata!   Na’udzubillah min dzalik ..

Hal lain yang juga menarik, di Segesta, tak berapa jauh dari teaternya, terpampang sebuah papan keterangan yang menerangkan bahwa di lokasi tersebut dulunya berdiri sebuah  masjid. Masjid tersebut memang kecil namun tetap saja cukup membuat hati senang. Apalagi ketika mengetahui bahwa mihrab masjidnya juga diberi tanda.

Setelah puas melihat kedua kota tersebut, kami kembali ke Palermo. Namun sebelumnya kami sempatkan mampir dulu ke Monreal yang tadi pagi tertunda. Kota ini berdiri di atas bukit. Pemandangan menuju ke tempat tersebut sungguh cantik. Lampu-lampu kota berkedip-kedip dibawah sana. Sementara matahari yang mulai menyembunyikan dirinya ke balik laut menambah indahnya pemandangan.

Setelah melalui jalanan yang berkelak-kelok akhirnya kami tiba di tujuan, Duomo ( Cathedral ) de Monreale. Inilah salah satu tujuan utama wisatawan ke Sisilia. Kami menyadari bahwa kami tak mungkin mengunjungi bekas masjid yang dikabarkan masih banyak menyimpan sisa-sisa ke-Islaman-nya ini. Malam itu kami hanya berkeliling dan melihat-lihat dari luar saja.

Palermo, Monreal, Cefalu- 26/10/2010.

Di tengan kepadatan lalu lintas Palermo, akhirnya sampai juga kami ke tujuan utama kota ini. Selama perjalanan dari hotel ke tempat tersebut kami sempat menangkap sisa nafas Islam berserakan dimana-mana. Bangunan-bangunan tuanya meski kotor dan terkesan kurang dirawat  masih menyisakan ‘bau’ arsitektur Arab-Muslim. Ternyata sejarah memang mencatat bahwa raja-raja Katolik Normandi yang menguasai Sisilia tak lama setelah mengalahkan kerajaan Islam pada tahun 1071 berhasil mempertahankan budaya toleransi yang diwariskan kerajaan Muslim tersebut. Selama jangka waktu tertentu, umat Islam dan Yahudi tetap diizinkan melaksanakan kegiatan di tempat ibadah masing-masing meski dengan catatan tunduk kepada peraturan penguasa. Begitu pula dengan bangunan-bangunannya. Masing-masing saling terpengaruh dan dipengaruhi kultur agama dan budaya lain.

Sebelum Islam berkuasa di Sisilia, pulau ini menjadi bagian dari Byzantium di bawah raja Justinian I. Bahasa Yunani adalah bahasa resmi mereka. Pada tahun 652, di masa kejayaan kalifah Ustman bin Affan, pulau ini sempat dikuasai  walaupun hanya dalam waktu singkat karena pasukan Arab tersebut kemudian meninggalkannya. Selanjutnya, sejak sekitar tahun 700-an, setelah pasukan Islam dibawah kekhalifahan Umayah berhasil menaklukkan Afrika Utara, pasukan ini beberapa kali mencoba menguasai Sisilia. Namun selalu gagal.

Pada tahun 826 M, Euphemius, seorang laksamana Byzantium berontak dan kemudian menjadi penguasa di Siracus, salah satu kota penting di Sisilia. Karena khawatir akan diserang Byzantium, ia memohon bantuan Ziyadat Allah, emir Aghlabid dari Tunisia agar menaklukkan Sisilia. Maka Ziyadatpun mengutus Asad ibn-Furat, seorang kadi ( hakim ) yang pernah menjadi murid Imam Malik untuk memenuhi permohonan tersebut.

Setahun kemudian, sang panglima senior yang ketika itu usianya telah mencapai 60 tahun itupun  berhasil melaksanakan misinya dengan sukses besar. Ia berangkat dengan membawa 10.000 pasukan infanteri, 700 kavaleri dan 100 kapal. Sejak itulah dimulai dominasi Islam, yaitu Emirat Sisilia, selama 200 tahun. Sayangnya, Asad sendiri tidak lama menikmati kejayaan tersebut. Ia gugur di pertempuran.

Sementara Euphemius dibunuh satu tahun kemudian oleh seorang penjaga kerajaannya sendiri  di Enna, sebuah kota di kaki gunung Etna, salah satu gunung berapi berbahaya di dunia. Menurut mitos Yunani kuno, di gunung inilah, monster Typhon, dipenjarakan oleh Zeus, dewa langit dan petir yang disembah oleh bangsaYunani kuno. Zeus bagi mereka adalah King of Gods alias Tuhan langit dan bumi !

Sebenarnya inilah yang menjadi latar belakang penaklukkan pasukan Islam. Islam mengajarkan bahwa penyembahan hanya kepada Allah swt, Tuhan seluruh alam semesta. Penduduk Sisilia, sebagaimana umumnya orang-orang Byzantium adalah penyembah berhala ( kaum Pagan). Inilah agama warisan Yunani kuno yang mempercayai dewa-dewa seperti Zeus, Hera, Athena, Apollo dll.

“… … Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila`nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untukku) dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka … … “.(QS.An-Nisa(4):116-119).

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. QS.Al-Anfal(8):39).

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. “.(QS.An-Nisa(4):76).

Penaklukkan Sisilia dalam rangka menegakkan kalimat Tauhid tidaklah semudah membalikkan tangan. Selama bertahun-tahun para hamba pilihan Allah itu harus bertempur sengit, berjihad mendirikan semangat baru “ Allahuakbar La illaha illa Allah wa ashadu an Muhammad Rasulullah “ , Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Palermo baru berhasil ditaklukkan 4 tahun kemudian yaitu pada tahun 831. Penaklukkan alot ini terjadi setelah didatangkannya bantuan mujahidin sebanyak 30.000 pasukan dari Afrika dan Andalusia. Setelah itu Palermopun dijadikan ibu kota Emirat Sisilia dengan nama “ Al-Madinah” yang berarti “ The City”  atau kota. Sementara Taormina baru jatuh pada tahun 902 dan seluruh pulau akhirnya takluk pada tahun 965. Allahuakbar ..

Dibawah kekuasaan Islam inilah Sisilia mengalami kejayaan dan kemegahan. Islam tidak saja mengajarkan pentingnya tunduk kepada Sang Khalik namun juga mengajarkan bagaimana caranya memanfaatkan alam yang merupakan berkah dari-Nya. Dengan izin-Nya, maka jeruk, pistachio ( sejenis kacang) dan tebu yang diperkenalkan ke daerah tersebut menjadi sumber kekayaan Sisilia. Ini semua berkat sistim pengairan yang diajarkan kepada mereka.

( Bersambung)

Paris, 4 Januari 2011.

Vien AM.

Tentu saja berita ini membuat pasukan Muslim makin panik. Panji segera berpindah ke tangan Ali bin Abu Thalib. Para sahabat dekat yang hanya tinggal beberapa itu segera berkumpul  melindungi Rasulullah. Mereka bertempur mati-matian demi keselamatan sang Rasul yang amat mereka cintai itu. Namun keadaan sungguh sulit hingga tidak mungkin bagi mereka untuk terus menerus berkumpul di sekeliling nabi. Pertempuran berdarah yang tidak seimbang terjadi di sekitar beliau. Dalam rangka menjaga keselamatan utusan Allah inilah satu persatu tujuh orang sahabat mati syahid dihadapan Rasul.

Anas bin Nadar syahid dengan tujuh puluh tusukan pada badannya. Saudarinya dapat mengenal badannya hanya dengan tanda di ujung jarinya. Talha bin Ubaidillah pada saat kritis dengan gagah berani menjadikan dadanya tameng bagi Rasulullah. Tirmidzi meriwayatkan, Nabi saw berkata, “Jika seseorang ingin melihat Syuhada berjalan di bumi ini, lihatlah Talha bin Ubaidullah.”

Sementara Abu Dujana membiarkan punggungnya menjadi sasaran panah demi melindungi Rasululllah. Sejumlah anak panah musuh menancap di punggungnya tetapi tak sejengkalpun ia  bergeming.  Seolah tak mau ketinggalan dengan kaum lelaki,  ummu Amara beserta suami dan dua orang putranya juga bertempur disekeliling Rasulullah ketika hanya beberapa sahabat saja yang berada di sekeliling beliau.

Dengan pedang terhunus bersama Rasul perempuan ini mempertahan diri dari serangan yang datang dari semua arah. Demikian pula suami dan kedua anaknya. Mereka mempertunjukkan keberanian yang sungguh luar biasa. Hingga dalam suatu kesempatan Rasul saw berkata, “Ya Allah, sayangilah keluarga ini.” Beliau juga mendoakan mereka, “Ya Allah jadikanlah mereka sekeluarga sahabatku di surga.”

Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Ummu Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.

Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa pada perang Uhud, “Utbah bin Abi Waqqash melempar Rasulullah hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bagian bawah dan juga melukai bibir beliau. Abdullah bin Syihab az-Zuhri melukai kening beliau. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua buah mata rantai besi masuk ke bagian atas pipi beliau. Rasulullah terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Kemudian Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan yakni Abu Sa’id al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Barang-siapa yang darahnya menyentuh darahku, niscaya ia tidak akan disentuh api Neraka.”

Bukhari meriwayatkan, Saad bin Abi Waqas berkata, “Pada hari peperangan Uhud aku melihat dua orang berpakaian putih disekitar Nabi saw. Mereka sedang bertempur dengan dahsyat atas nama Nabi saw. Aku tidak pernah melihat mereka sebelum dan setelah kesempatan tersebut.” Dalam riwayat yang lain, dikatakan bahwa mereka adalah malaikat Jibril as dan Mikail as. Sementara itu tiga puluh orang sahabat mendatangi dengan cepat tempat tersebut …  Allahuakbar ..

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran(3):151).

Dengan datangnya bala bantuan tersebut maka perangpun usai. Pasukan Quraisy pergi meninggalkan medan perang dengan rasa takut. ( sebagaimana diterangkan ayat di atas). Setelah itu Abu Obaida bin Jarrah dengan giginya mencoba mencabut cincin pengikat helm yang menancap di pipi Rasulullah hingga ia harus kehilangan gigi bawahnya. Berikutnya ia juga  kehilangan gigi bawah lainnya saat mencabut cincin pengikat helm kedua.

Selanjutnya tinggallah Rasulullah didampingi sisa sahabat yang masih hidup berkeliling melihat keadaan para sahabat yang syahid. Melalui firman-Nya, para mujahidin sejati tersebut mendapat pujian dan penghargaan dari Allah swt.

“ Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.  … “.(QS.Al-Ahzab(33):23).

Ketika Rasulullah melihat jenazah Mush’ab dengan sedih beliau berucap : “ Ketika di Mekah dulu tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah”.

Bagi Handhalah bin Abu Amir, Rasulullah bersabda :  “Sungguh sahabat kalian, Handhalah, pasti akan dimandikan para malaikat”. Itu sebabnya ia kemudian mendapat julukan Handhalah bin Abu Amir al-Ghasil  yang artinya yang dimandikan para malaikat. Lalu para sahabat menanyakan perihal Handhalah kepada istrinya: “Ada apa dengan Handhalah bin Abi Amir?” Istrinya menjawab bahwa Handhalah bin Abi Amir keluar dari rumah dalam keadaan junub ketika mendengar panggilan jihad. Mereka berdua memang pasangan pengantin baru.

Selanjutnya ketika Rasul melihat keadaan Hamzah bin Abu Thalib, wajah beliau berubah merah seketika itu juga. Betapa tidak .. perut paman Rasul ini telah di bedah dan diaduk-aduk !  Dengan menahan marah, beliau bersabda :

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Namun kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut :

Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar). Dan hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan. Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu”.(QS.An-Nahl(16:):126-127).

Maka Rasulpun segera memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan dilarangnya orang melakukan penganiayaan. Kemudian Rasulullah menyelimuti jenazah Hamzah dengan mantel beliau lalu men-sholat-kannya. Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan supaya jenazah para mujahidin yang mencapai 70 orang itu dikuburkan di tempat mereka menemui ajalnya. Setelah melayangkan pandangan duka ke arah medan perang serta para syuhada,  Rasulullah berseru :

“ Sungguh aku akan menjadi saksi di hari Kiamat nanti, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, beliau bersabda,

“ Hai manusia, berziarahlah dan berkunjung kepada mereka serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai jiwaku, tak seorang Muslimpun sampai hari Kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya”.

Sesudah itu Rasulullah diikuti para sahabat yang tersisa meninggalkan medan pertempuran  dan kembali ke Madinah. Kepedihan dan kehancuran yang dirasa pasukan Muslim kali ini sungguh terasa amat sangat memalukan. Kehancuran dan kekalahan yang mereka alami seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja sebagian pasukan tidak silau oleh banyaknya harta benda yang ditinggalkan musuh yang sebenarnya telah mereka kalahkan dengan telak. Dengan kata lain, kekalahan ini adalah karena sebagian besar pasukan pemanah telah melanggar perintah nabinya.

Rasulullah memasuki rumah dalam keadaan galau. Pikiran beliau bercampur aduk membayangkan reaksi orang-orang Yahudi, orang-orang munafik dan musyrik Madinah menyaksikan kekalahan dan kehancuran pasukan Muslim yang dipimpinnya itu.

Jabir bin Abdullah menjelaskan bahwa ketika Rasulullah mengalami kekalahan perang Abdullah bin Ubay, si tokoh Munafik Madinah, berkata : “  Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak akan mati sia-sia di medan perang”. Ia menganggap Rasul tidak tahu strategi perang. Atas hal itu Allah menurunkan ayat 168 surat Ali Imran.(HR. Ibnu Ishaq).

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” QS. Ali Imran(3):168).

“Sekiranya kami mengetahui ( bagaimana cara )berperang, tentulah kami mengikuti kamu”.

Itulah jawaban yang diberikan orang-orang Munafik ketika Rasullullah memerintahkan mereka untuk berperang di jalan Allah. Ucapan tersebut adalah sindiran bahwa Rasulullah tidak mengerti strategi perang karena memerintahkan berperang ketika jumlah pasukan hanya sedikit.

“dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara), tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. QS. Ali Imran(3):167).

Itulah ancaman Allah swt atas ucapan orang-orang yang mengaku Muslim namun menolak ketika diperintahkan berperang oleh Rasul-Nya. Perbuatan tersebut menunjukkan bahwa hati mereka lebih menyerupai orang kafir daripada orang yang mengaku telah beriman.

Ditengah kekecewaan pada sebagian pasukan yang tidak mematuhi perintah dan silau dengan harta benda ditambah lagi ejekan dan sindiran orang-orang Munafik itulah kemudian turun turun ayat 152 dan 153 surat Ali Imran. Ayat ini memberitahukan bahwa Allah swt telah memaafkan kesalahan dan kelalaian para sahabat yang menyebabkan pasukan Muslim kalah dalam perang kali ini. Allah ridho.

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Ali Imran(3):152-153).

Dan sebagai bukti bahwa Allah swt ridho dan telah memaafkan kelalaian dan kecerobohan mereka Allah menganugerahkan rasa kantuk yang amat sangat. Malam itu Rasul dan para sahabat yang memiliki keimanan super tinggi tertidur dengan nyenyak hingga keesokan subuhnya bangun dalam keadaan segar bugar. Sebaliknya sebagian lainnya, yaitu golongan Muslim yang kurang kuat keimanannya tetap diselimuti keraguan dan tidak bisa tidur. Mereka ragu bila Muhammad saw memang utusan Allah mengapa Allah membiarkan nabinya kalah! Mereka terus menyesali diri mengapa mau menuruti perintah berperang hingga mereka harus terbunuh! Padahal kematian adalah rahasia Sang Khalik. Tak satu orangpun dapat menghindarinya sekalipun ia terus mengurung di dalam rumah. Sebaliknya mati ketika dalam keadaan menjalankan perintah-Nya seperti berjihad ( baik jihad dalam perang maupun berdakwah mengajak pada kebenaran) surga adalah balasannya.

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. … … … Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati”. (QS. Ali Imran(3):154).

Keesokan harinya, usai subuh berjamaah Rasulullah memerintahkan para sahabat yang kemarin baru saja kembali dari Perang Uhud untuk mengejar pasukan Quraisy yang mengalahkan mereka. Pasalnya, Rasulullah mendengar kabar bahwa para pemimpin Quraisy telah memanasi-manasi pasukannya agar kembali ke Madinah untuk membunuh beliau dan merampas gadis-gadis Madinah! Hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja karena akan membuat orang-orang munafik Madinah dan Yahudi makin melecehkan beliau.

Maka tanpa banyak bicara, Ali bin Abu Thalib yang diserahi memimpin pasukan langsung melesat mengejar pasukan Quraisy yang pagi itu masih berpesta merayakan kemenangan mereka di perkemahan antara Madinah – Makkah. Sebaliknya, mendengar bahwa pasukan Muslim mengejar pasukan Quraisy, mereka segera meninggalkan perkemahan dan pulang menuju Makkah.

Pasukan pimpinan Ali baru kembali ke Madinah setelah 3 hari 2 malam bermalam di wilayah sekitar tersebut. Pasukan ini menyalakan obor besar untuk mengelabui musuh agar disangka membawa pasukan besar. Maka untuk menghargai keberanian mereka Allahpun menurunkan ayat berikut :

… Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar”. QS. Ali Imran(3):171-172).

“ (Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung“. QS. Ali Imran(3):173)

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Paris, 23 Desember 2010.

Vien AM.

Perang ini dipicu karena kekecewaan orang-orang Quraisy terhadap kekalahan mereka di perang Badar. Tak sampai setahun setelah perang tersebut orang-orang Quraisypun mengerahkan 3000 pasukannya untuk menyerang Madinah. Diantara pasukan ini terdapat  700 ratus tentara berbaju besi, 200 tentara berkuda (kavaleri) dan 17 orang perempuan. Seorang di antara perempuan tersebut adalah Hindun bin Utbah, isteri Abu Sufyan. Ayahnya yang bernama Utbah telah terbunuh pada perang Badar. Ia sangat bernafsu ikut berperang karena ingin balas dendam atas kematian ayahnya itu. Dalam perang ini suaminya sendiri yang menjadi pimpinan.

Sementara itu di Madinah, mendengar kabar tersebut Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan bertukar pendapat mengenai strategi yang akan digunakan melawan orang-orang Quraisy nanti. Rasulullah ingin mendengar pendapat para sahabat, mana yang lebih baik, bertahan di dalam kota dan menanti serangan atau menyambut musuh di luar Madinah.

Tokoh munafikun, Abdullah bin Ubay, yang merupakan tokoh senior dan konco-konconya termasuk kelompok yang memilih  bertahan. Sementara para sahabat yang tidak sempat berpartisipasi dalam perang Badar mengusulkan agar mereka menyambut musuh di luar kota. Rasulullah sendiri tampak bahwa sebenarnya lebih memilih bertahan di Madinah. Namun karena terus didesak tanpa banyak bicara maka Rasulullahpun masuk ke kamar dan segera keluar dengan memakai baju besi, tanda bahwa Rasulullah siap berangkat berperang.

Para sahabat muda yang semula mendesak Rasulullah menyambut musuh di luar Madinah belakangan menyadari sikap mereka. Dengan rasa menyesal mereka berkata : “Wahai Rasulullah, kami telah memaksamu keluar, dan itu tidak pantas kami lakukan. Jika Anda berkehendak, silakan Anda duduk kembali (tidak usah keluar dari Madinah), mudah-mudahan Allah memberi shalawat kepada Anda”. Namun Rasulullah saw hanya menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi yang sudah mengenakan baju besi untuk menanggalkannya kembali, hingga Allah menetapkan sesuatu baginya dan bagi musuh.”

Kemudian berangkatlah Rasulullah berserta lebih kurang 1.000 orang tentara. Dua ratus orang diantaranya memakai baju besi dan hanya dua orang tentara yang berkuda. Itupun di sepertiga perjalanan Abdulullah bin Ubay dan teman-temannya yang berjumlah 300 orang mengundurkan diri. Ia berkata: “Ia (Rasulullah) menuruti pendapat para sahabatnya dan tidak menuruti pendapatku. Wahai manusia, untuk apa kita membunuh diri kita sendiri di tempat ini “. Akibatnya pasukan Muslim hanya tinggal 700 orang saja.

Bukhari meriwayatkan bahwa kaum Muslimin berselisih pendapat mengenai tindakan desersi itu. Sebagian mengatakan, “Kita perangi mereka,” sedangkan sebagian yang lain mengatakan, “Biarkanlah mereka.” Lau turunlah firman Allah sebagai berikut :

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya”.(QS.An-Nisa’ (4): 88).

Mereka disesatkan Allah karena dari awal memang tidak memiliki niat kuat untuk mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Menghadapi kenyataan pahit ini maka sebagian sahabat mengusulkan supaya Rasulullah meminta bantuan orang-orang Yahudi, mengingat mereka terikat perjanjian untuk tolong-menolong dengan kaum Muslimin. Akan tetapi Rasulullah menjawab singkat,

“Kita tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang musyrik untuk menghadapi orang-orang musyrik (lainnya).”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sebelum peperangan berkecamuk Rasulullah bersabda : “Aku bermimpi mengayunkan pedang lalu pedang itu patah ujungnya. Itu musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Kemudian aku ayunkan lagi pedang itu lalu pedang itu baik lagi, lebih baik dari sebelumnya. Itulah kemenangan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan persatuan kaum Muslimin. Dalam mimpi itu aku juga melihat sapi – Dan apa yang Allah lakukan itu adalah yang terbaik – Itu terhadap kaum Muslimin (yang menjadi korban) dalam perang Uhud. Kebaikan adalah kebaikan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan balasan kejujuran yang Allah Ta’ala karuniakan setelah perang Badar”.

Rasulullah saw menakwilkan mimpi tersebut dengan kekalahan dan kematian yang akan terjadi dalam Perang Uhud. Selanjutnya Rasulullah kemudian mengambil posisi di sebuah dataran di lereng gunung bernama Uhud dan membentengi diri di balik gunung menghadap ke arah Madinah. Beliau menempatkan lima puluh pasukan pemanah di atas bukit yang terletak di belakang kaum Muslimin itu. Rasulullah menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pimpinan pasukan pemanah.

Kepada pasukan pemanah ini beliau berpesan : “Berjagalah di tempat kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu”.

Setelah memberikan pengarahan Rasulullah mengangkat tinggi pedangnya seraya berkata:

“Siapa yang akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan tugasnya?”

Beberapa orang tampil menawarkan diri namun Rasulullah tetap memegang pedang tersebut. Hingga akhirnya Abu Dujana maju ke depan dan bertanya:

“Apa tugasnya, Ya Rasulullah?”

“Tugasnya ialah menghantamkannya kepada musuh sampai ia bengkok,” jawab Rasulullah.

Abu Dujana adalah seorang laki-laki yang sangat berani. Pada saat-saat tertentu ia mengenakan pita merah. Dan bila pita merah itu sudah diikatkannya di kepala, orang akan mengetahui, bahwa ia telah siap bertempur dan siap mati.

Itulah yang dilakukannya. Begitu pedang diterima iapun mengeluarkan pita merah mautnya. Kemudian ia berjalan di tengah-tengah barisan dengan gaya angkuh sebagaimana biasa apabila ia siap menghadapi pertempuran.

“Cara berjalan begini sangat dibenci Allah, kecuali dalam perang”, komentar Rasulullah melihat gaya Abu Dujana.

Selanjutnya Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Mush’ab bin Umair. Maka meletuslah peperangan sengit antara dua pasukan yang amat jauh dari seimbang itu. Masing-masing pasukan dengan masing-masing latar belakangnya. Pasukan Quraisy dengan semangat dendamnya terhadap kekalahannya di perang sebelumnya. Sementara pasukan Muslimin dengan semangat takwa demi menjunjung kalimat tauhid sekaligus semangat mempertahankan tanah air. Rasulullah saw tak henti-hentinya memberikan semangat dengan menjanjikan kemenangan apabila mereka tabah.

Dengan gagah berani Mush’ab, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Asim bin Tsabit, Ali dan Hamzah bin Abu Thalib beserta para sahabat lain mengayunkan pedang dengan gesitnya. Jumlah yang jauh lebih sedikit tampaknya tidak membuat mereka kehilangan semangat. Janji Rasulullah bahwa hanya dengan ketabahan dan kesabaran dalam rangka menjunjung kalimat tauhid yang bakal  mengantar kepada kemenangan membuat mereka begitu bersemangat menundukkan lawan. Kekafiran harus dienyahkan maka berkumandanglah “ Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar “ di sepanjang perang yang terjadi di suatu hari di bulan Syawal tahun ke 3 Hijriyah itu.

Beberapa sumber meriwayatkan bahwa ketika itu Rasulullah memberikan izin kepada Samurah bin Jundub al-Fazari dan Rafi’ bin Khudaij saudara Bani Haritsah untuk ikut berperang. Ketika itu keduanya baru berusia lima belas tahun. Sebelumnya beliau menyuruh keduanya kembali ke Madinah. Namun kemudian dikatakan : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Rafi’ adalah seorang pemanah yang hebat.” Maka Rasulullah pun mengizinkannya ikut berperang. Dikatakan pula kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Samurah pernah mengalahkan Rafi’.” Maka Rasulullah juga mengizinkannya ikut berperang. Sebaliknya Rasulullah memulangkan Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar bin al-Katthab, Zaid bin Tsabit salah seorang dari Bani Malik bin an-Najjar, al-Bara’ bin Azib dari Bani Haritsah, Amr bin Hazm dari Bani Malik bin an-Najjar dan Usaid bin Dhuhair dari bani Haritsah. Mereka baru diizinkan ikut serta dalam perang Khandaq ketika telah mencapai usia lima belas tahun.

Melihat semangat kaum Muslimin yang begitu tinggi dan korban terus berjatuhan di pihak Quraisy akhirnya pasukan Quraisy kehilangan rasa percaya diri. Mereka mundur dan berusaha melarikan diri. Pasukan Muslimin terus mengejarnya sambil memunguti harta benda yang ditinggalkan musuh. Sementara itu pasukan pemanah yang berjaga di atas bukit mulai tergiur oleh banyaknya harta benda yang tercecer dan dijadikan rebutan kawan-kawannya di bawah bukit sana. Bisikan syaitanpun mulai beraksi.

Peringatan Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah agar mereka menepati janji kepada Rasulullah untuk tetap bertahan di atas bukit apapun yang terjadi tidak digubris. Mereka ikut berhamburan memperebutkan harta benda musuh yang tercecer. Hingga hanya Abdullah dan 9 anak buahnya saja yang bertahan di tempat strategis tersebut.

Sialnya, Khalid bin Walid, komandan pasukan kuda andalan Quraisy yang ketika itu belum memeluk Islam melihat peluang terbuka tersebut. Maka dengan segera ia memerintahkan pasukannya untuk merebut bukit itu dari arah belakang. Akibatnya dapat dibayangkan. Abdullah dan anak buahnya menjadi sasaran empuk. Setelah berhasil membuat ke 10 sahabat syahid mereka membantai pasukan Muslim yang sudah cerai berai di bawah bukit. Dengan cepat keadaan menjadi berbalik. Pasukan Muslim benar-benar dibuat terperanjat. Dalam keadaan panik dan kucar kacir mereka saling bunuh karena tidak menyadari mana kawan mana lawan.

Mush’ab sebagai pemegang panji merasa yang paling bersalah. Dengan sigap dan gagah perkasa ia menyerang dan mengibaskan pedangnya kesana kemari. Ia berusaha menarik perhatian musuh agar tidak menyerang Rasulullah. Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu untuk ketiga kalinya orang berkuda itu menyerangnya dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.” 

Mush’ab berseru demikian karena merasa tidak bakal dapat melindungi Rasulullah, sang kekasih Allah yang amat disayangi dan dihormatinya. Disamping itu ia juga ingin meyakinkan diri dan teman-teman bahwa bila Rasulullah wafat, itu bukan berarti bahwa perjuangan Islam dapat dihentikan. Ironisnya, Mush’ab sendiri syahid justru karena Qumaimah menyangka dirinya Rasulullah karena  Wajah Mush’ab memang mirip dengan Rasulullah. Kemudian dengan sesumbar Qumaiah mengatakan bahwa ia telah membunuh Rasulullah.

Umar bin Khattab berkata :”Kami terpisah dari Rasulullah saat perang Uhud. Aku naik ke gunung dan aku mendengar seorang Yahudi berkata : “Muhammad mati terbunuh!”. Akupun berseru, “ Aku akan memenggal leher orang yang mengatakan  bahwa Muhammad telah mati terbunuh”. Setelah itu aku melihat Rasulullah dan para sahabat kembali ke tempat semula. Lalu turunlah ayat 144 surat Ali Imran.( HR. Ibnu Mundzir).

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(QS.Ali Imran(3):144).

( Bersambung )

Makna Kebenaran

Tiada kebenaran yang hakiki selain kebenaran yang berasal dan datang dari-Nya karena memang Dialah yang menciptakan, dari yang tiada menjadi ada dan dari yang ada menjadi tiada. Bukti-bukti begitu berlimpah bila manusia mau berpikir dan memperhatikan sehingga tidak mungkin bagi kita sebagai manusia, sebagai salah satu mahluk ciptaan-Nya, untuk menyangkal keberadaan dan ke-Esaan-Nya.  Begitu pula dengan kitab suci-Nya, Al-Quranul Karim yang telah demikian banyak menerangkan dan membuktikan kekuasaan-Nya secara meyakinkan.  Oleh sebab itu  tiada jalan lain bagi kita selain harus menjadikan kitab tersebut sebagai satu-satunya petunjuk dan pedoman bagi hidup ini bila kita ingin selamat dan memenangkan permainan. Dan kemenangan tersebut hanya dapat dicapai dengan berpegang teguh pada agama yang benar, agama yang lurus,  yaitu Islam.

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”.(QS.Al-Zurkhuf(43):43).

Ilmu pengetahuan dan sains serta  segala ilmu yang berhubungan langsung dengan kehidupan duniawi jelas memang diperlukan. Namun pengetahuan tersebut hendaknya dapat menjadikan kita makin sadar bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, bagai sebuah permainan namun dengan taruhan yang bukan lagi hanya nyawa  akan tetapi kehidupan kekal yang tak terbatas. Suatu kehidupan yang berada di luar jangkauan pemikiran duniawi. Kehidupan ghaib, yang tidak dapat dibuktikan dengan akal semata melainkan dibutuhkan adanya  keyakinan dan keimanan.

Namun bila ilmu pengetahuan dan sains saat ini telah berhasil membuka berbagai tabir rahasia yang 14 abad silam tidak pernah terpikirkan dan terbayangkan, itu semua berkat Allah swt, Sang Khalik Yang Maha Cerdas memang telah berkenan  memperlihatkan sistim serta aturan kerja-Nya kepada kita, manusia yang diciptakan-Nya. Dan sebagai konsekwensinya, mustinya kita menyadari pula betapa hebat dan canggihnya ilmu Allah.

Kemudian menyatu dengan  pemahaman Al-Quranul Karim serta pemahaman ilmu hadis yang baik, seharusnya kitapun menyadari bahwa saat ini kita semua sedang menuju kepada sebuah  akhir dari sebuah  perjalanan, perjalanan Sang Khalifah dalam menjalankan misinya. Misi perorangan yang diawali dengan adanya perjanjian manusia di alam ruh hingga berakhirnya kehidupan di dunia menuju alam kubur serta misi universal yang diawali dengan adanya peristiwa pembentukan alam semesta ”Big Bang ” hingga hancurnya alam semesta ” Big Crunch”. Maka dimulailah kehidupan akhirat yang diawali dengan pelaksanaan mahkamah peradilan akhirat untuk mempertanggung-jawabkan apa yan telah dilakukan manusia selama hidupnya di muka bumi ini sebagai khalifah.

Tugas sebagai khalifah di muka bumi yang dibebankan kepada manusia memang bukan tugas mudah. Untuk itulah maka pada setiap zaman Allah swt menurunkan para Rasul dan kitab kepada manusia. Semua ini dimaksudkan agar manusia mempunyai pegangan dan landasan yang jelas bagaimana menjalani kehidupan ini. Inilah agama yang benar. Akan tetapi orang yang menyatakan bahwa dirinya telah menjalankan agamanya dengan benar namun ternyata prilakunya tidak baik, tidak dapat dikatakan ia telah beragama dengan benar.  Karena dengan beragama seharusnya lingkungannya, baik lingkungan antar sesama manusia maupun alam sekitarnya akan menjadi aman dan tentram, bukan malah sebaliknya.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”; “Agama adalah akhlak yang baik”; “Seorang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna ahklaknya”; “Rasulullah ditanya: “Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga ?”. Rasulullah menjawab : “Akhlak yang baik”; “Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka?”. Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan”. (HR Tarmidzi).

Jadi orang yang menjalankan agamanya dengan baik semestinya tercermin dari prilakunya. Mereka pandai menjaga kehormatan dan menjaga lisannya. Mereka tidak mau menyakiti hati orang lain serta mudah meminta maaf sekaligus memaafkan kesalahan orang lain. Mereka juga tidak suka menggunjing dan menyebar fitnah. Mereka adalah juga orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala cobaan. Mereka adalah orang-orang yang pandai menjaga amanah dan menepati janji.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna dan orang-orang yangmenunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yangmemelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya dan orang-orang yang memelihara shalat-shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,(ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Mukminun(23):1-11).

Mereka juga gemar membantu meringankan kesulitan orang lain, saling nasehat menasehati dalam kebaikan  serta tidak dengki maupun sombong. Kita harus selalu ingat bahwa kemurkaan Allah SWT yang menyebabkan diturunkannya hukuman dan kutukan Allah SWT terhadap Iblis adalah dikarenakan kesombongannya padahal mulanya Iblis adalah seorang hamba yang shaleh dan takwa.  Ringkas kata, orang yang menjalankan agama dengan penuh ketaatan dan menyempurnakannya, hidup dan kehadirannya benar-benar  terasa manfaatnya bagi orang lain.

Dalam kehidupan ini dapat kita lihat sebenarnya  ada beberapa macam prilaku manusia  pada saat seseorang meninggal dunia. Yang pertama, begitu banyak orang yang merasa bersedih dan merasa kehilangan atas dirinya. Yang kedua, hanya keluarganya saja yang merasa sedih dan berduka ketika ditinggalkannya. Yang ketiga, tak seorangpun merasa kehilangan akan dirinya. Artinya, orang ini baik ketika hidup maupun mati tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada orang lain. Tak seorangpun yang merasa ia pernah ada. Dan yang terakhir adalah seseorang yang ketika ia meninggal dunia semua orang merasa senang, bersuka cita dan lega atas kepergiannya. Orang seperti ini tidak saja tidak bermanfaat namun justru selalu membuat keonaran, kejengkelan bahkan kebencian. Keberadaannya sungguh tidak diharapkan.

Sebaliknya, untuk menjadi orang yang selalu diharapkan kehadirannya, tentu saja harus memiliki prilaku yang baik. Dan prilaku  tersebut sebenarnya akan muncul dengan sendirinya ketika seseorang menjalankan agamanya berdasarkan ilmu yang benar. Kemudian ditambah dengan kemauan yang kuat dan kemampuan yang terus diusahakan dan ditingkatkan maka  akan lahir akhlak yang mulia dan terpuji. Satu hal yang harus dicatat, agama Islam tidak hanya semata-mata menekankan tercapainya tujuan yang baik, namun niat dan caranyapun harus baik dan benar. Sebagai contoh : seseorang yang memberikan hartanya kepada orang miskin. Tujuannya sudah baik, namun bila harta yang diberikan tersebut tidak halal atau ia memberikan harta tersebut karena ingin dipuji orang lain, maka Allah SWT tidak akan memberikan balasan atau pahala baginya.

Jadi tindakan dan perbuatan apapun dalam Islam harus berdasarkan kecintaan dan ketaatan kepada-Nya semata. Shalat, zakat dan infak, puasa, patuh dan taat kepada Rasul, hormat dan taat kedua orang-tua, kepada suami, kepada para pemimpin bahkan belajar, menuntut ilmu, bekerja dan berusaha serta saling mencinta diantara suami-istri, saling menyayangi diantara sesama manusia dan bahkan peduli terhadap alam semesta beserta seluruh isinya, bila itu semua dikarenakan oleh-Nya  maka Allah SWT akan menghitungnya sebagai ibadah dan baginya  pahala yang tak terkira. Oleh sebab itu, apapun tindakannya harus berlandaskan perintahNya. Hukum yang berlakupun adalah hukumNya. Ini adalah bagian dari sistim yang diciptakan-Nya.

Maka dengan demikian alam semesta akan terus berputar dengan segala keteraturan dan kesempurnaannya mengikuti sistim yang telah berjalan sejak milyaran tahun yang lalu hingga waktu yang telah ditentukan-Nya.

Akhir kata, semoga ilmu pengetahuan yang kita peroleh tidak menjadikan kita malah menjadi sombong serta congkak dan semoga kita tidak termasuk hambanya yang menyesal kelak di kemudian hari,  amin.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalahsyaitan itu tidak mau menolong manusia”.(QS.Al-Furqon(25):27-29).

Wallahu’alam bishshawab.

Diambil dari eBook : ” Perjalanan Sang Khalifah  2 – The True Game”, Epilog.

Baca Lengkap : http://vienmuhadisbooks.wordpress.com/2010/07/10/daftar-isi-perjalanan-sang-khalifah-2-the-true-game/

Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

Kata-kata ini terus terngiang di telinga dan semoga tak akan terlupakan … selamanya, Insya Allah. Kata-kata ini lebih terasa lagi ‘adem’ dan berkesan karena yang mengatakannya adalah orang yang tinggal di lingkungan kafir. Orang itu adalah petugas medis, warga Perancis keturunan Maroko yang telah lama menetap di negri pemilik menara Eiffel yang terkenal itu.

Ceritanya begini. Suatu hari dokter yang memeriksa saya merujuk agar saya menjalani pemeriksaan tulang. Maka sesuai dengan ‘rendez-vous’ yang saya peroleh, sayapun pergi ke laboratorium yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari apartemen dimana kami tinggal itu. Namun ntah mengapa saat itu tak terpikirkan sama sekali bahwa petugas medis bisa jadi seorang laki-laki, yang berarti bukan muhrim dan tidak berhak melihat aurat perempuan.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nur(24):31).

Dan sialnya, itulah yang terjadi. Saya baru sadar setelah petugas tersebut menerangkan prosedur yang harus dijalani. Apa boleh buat … terlanjur. Di Perancis ini memang ada aturan, walaupun tidak tertulis, bahwa dokter atau petugas medis maupun pasien sama-sama tidak berhak memilih-milih dokter atau pasien menurut jenis kelamin. Bisa-bisa kita malah dituduh homo atau lesbian ! Na’udzu billah min dzalik ..

Singkat cerita, di tengah pemeriksaan sang petugas menanyakan apakah saya seorang Muslim. Ketika saya mengiyakan iapun menyambung bahwa ia juga Muslim. Alhamdulillah .. Maka dengan rasa bersalah saya menanyakan apakah di laboratorium itu tidak ada petugas perempuan. “ Ada”, jawabnya tegas.“ Yaah ..”, hanya itu yang bisa saya katakan. Sesal kemudian tidak ada gunanya ..:-(( … Pantas tadi ketika ia menerangkan prosedur pemeriksaan wajahnya sedikit mencerminkan keraguan.

Tidak perlu terlalu khawatir .. saya yakin, jika tujuannya untuk kebaikan dan kesehatan Allah swt pasti mau memahami dan memaafkan”, katanya berusaha menghibur. Saya tidak tahu harus menjawab apa. “ Salah sendiri tadi g tanya dulu .. minimal usahalah”, pikir saya benar-benar menyesal.

Selesai pemeriksaan, kami sedikit berbincang tentang Islam di negri ini. Ketika saya menceritakan bahwa anak saya menemui kesulitan dalam menjalankan shalat di sekolah, ia menjawab bahwa iapun dulu begitu. Shalat harus sembunyi-sembunyi. Shalat Jumat malah hampir tidak mungkin. Sekarang, tidak saja shalat Zuhur dan Ashar,  shalat Jumatpun tidak pernah ketinggalan.  “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”, katanya mantap sambil tersenyum kecil seolah menyindir saya yang lalai karena tidak mencari petugas medis perempuan … L . “ Ya Allah, Ya robbi, semoga Engkau mengampuni hamba-Mu  yang lalai ini”.

Saya jadi teringat suami saya. Ia bercerita bahwa tim kerjanya di kantor terbiasa mengadakan meeting setiap Jumat ba’da makan siang. Suatu hari,  setelah tiga kali berturut-turut ia selalu absen, akhirnya salah seorang dari timnya menegur. “ Saya kan sudah katakan bahwa setiap Jumat siang saya pasti tidak berada di kantor. Saya punya kewajiban untuk menunaikan ajaran agama saya yang tidak mungkin ditinggalkan”. Maka sejak saat itu meetingpun dipindahkan ke hari lain. Subhanallah .. Sekali lagi terbukti : “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar … “. (QS.Ath-Thalak(65):2-3).

Demikian juga pengalaman anak-anak saya. Ketika anak perempuan saya baru masuk ke sekolah barunya, para orang-tua menganjurkan anak-anaknya agar shalat di dalam bus saja (bus antar jemput sekolah) bila shalat di sekolah tidak memungkinkan. Waktu musim panas memang tidak masalah karena anak-anak tiba di rumah waktu ashar masih ada. Tetapi di musim dingin tidak mungkin. Karena mereka ( yang usia SMA) pulang sekolah waktu ashar sudah habis. Namun ternyata beberapa minggu kemudian anak saya melaporkan bahwa ia bisa shalat zuhur dan ashar di perpustakaan walaupun hanya dengan duduk …  :-(

Padahal sebenarnya beberapa hari yang lalu, begitu melihat ada kesempatan, saya menawarkan untuk mengirim email kepada kepala sekolah supaya menyediakan ruangan kecil yang bersih dan tenang, agar anak-anak bisa menjalankan shalat di dalamnya. Namun anak saya keberatan. “ Udah mending kali bu kita shalat didiemin aja .. ntar malah dilarang gimana .. “, begitu katanya ragu. Akhirnya sayapun membatalkan niat tersebut. Dengan alasan laic ( sekuler) sekolah ( baca pemerintah Perancis) memang melarang adanya kegiatan keagamaan di lingkungan umum termasuk sekolah. Yaah .. apa mau dikata ..

Sebaliknya anak lelaki saya yang sedang menuntut ilmu di benua Kanguru melaporkan bahwa selama kuliah ia bisa menjalankan shalat tanpa kesulitan berarti. Ia dapat mencari dan memanfaatkan ruangan-ruangan kampus yang jarang dipakai. Alhamdulillah ..

Namun saya pikir mungkin masalahnya agak berbeda. Anak perempuan perlu keberanian lebih dibanding anak laki. Karena anak perempuan  harus menutup auratnya dengan sempurna. Orang Indonesia biasanya memakai mukena.

Lain lagi halnya dengan pengakuan seorang teman yang tinggal di salah satu kota Perancis. Teman saya ini berniat mengikuti kegiatan masak memasak yang diselenggarakan seorang temannya yang non Muslim. Wajar bila kemudian ia ragu dengan kehalalan daging yang digunakan untuk memasak.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah …”.(QS.Al-Baqarah(2):173).

Namun ia juga ragu bagaimana sebaiknya bersikap. Antara keinginan yang menggebu karena teman saya ini doyan sekali masak dan rasa takut kepada-Nya, mendorongnya mengadukan keresahan tersebut dengan berkirim email kepada saya. Belum sempat saya membalas email tersebut, ia mengabarkan bahwa setelah bermunajat kepada Sang Khalik, ia membulatkan tekad untuk langsung meminta temannya itu agar menggunakan daging halal. Anehnya, tanpa banyak tanya, sang ‘chef’ yang biasanya sulit diajak kompromi itu menyetujuinya! Subhanallah .. ( Saya mendapat kabar bahwa hanya beberapa hari sebelum peristiwa tersebut teman saya itu mulai menutup auratnya dengan baik alias berjilbab .. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya .. )

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS.Al-Baqarah(2):186).

Bicara soal makanan halal. Pagi tadi saya baru menerima info tentang website yang memuat daftar resto halal di seluruh dunia. Menurut web bernama Zabihah ini (http://www.zabihah.com/ ) Perancis adalah negara no 1 di Eropa yang mempunyai retoran halal (165 ). Peringkat 2 diduduki Jerman ( 154) dan peringkat 3 adalah Spanyol (108).

Web ini juga mencamtumkan daftar masjid di seluruh dunia lengkap dengan alamat dan petanya ! Allahuakbar … Tampaknya sudah tidak ada lagi alasan bagi Muslim yang bepergian ke luar negri untuk tidak shalat di masjid dan makan di restoran yang tidak menyajikan masakan halal. Walaupun seringkali, berdasarkan pengalaman, tidak mudah menemukan alamat masjid meski dengan pertolongan GPS sekalipun.  Karena kebanyakan masjid-masjid tersebut ( khususnya di Perancis) hanyalah masjid kecil yang letaknya betul-betul terpencil dan sulit dicapai …:-((

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 15 Desember 2010.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 66 other followers