Feeds:
Posts
Comments

“ Siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Ya, itulah yang dikatakan Rasulullah kepada Abu Sufyan agar disampaikan kepada orang-orang Quraisy Mekah yang akan beliau masuki beberapa saat lagi. Ini adalah cara Rasulullah menghindari perang antar saudara. Rasulullah hendak menaklukkan Mekah dengan Ka’bahnya bukan karena nafsu perang melainkan demi meluruskan kembali ajaran Ibrahim yang berabad-abad lamanya telah diselewengkan.

Setelah Abu Sufyan dan 2 kawannya yang diserahi memata-matai kaum Muslimin tertangkap, Rasulullah segera meneruskan perjalanan menuju Mekah. Akan tetapi sebelum berangkat, beliau berpesan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, paman yang dicintai sekaligus sahabat Abu Sufyan yang baru saja memeluk Islam, agar menahan sahabatnya itu di mulut lembah yang akan dilalui pasukan Muslim. Rasulullah memang bermaksud mempertontonkan kekuatan dan kebesaran pasukan tersebut kepada pemimpin Quraisy yang disegani masyarakatnya itu.

Maka pasukan demi pasukanpun berjalan melewati Abu Sufyan. Tercengang ia dibuatnya hingga ia merinding ketakutan.

“Abbas, siapakah mereka itu?”

“Mereka itu kabilah Sulaim”, jawab Abbas.

“Apa urusanku dengan kabilah Sulaim?!” komentar Abu Sufyan.

Kabilah lainpun lewat. Abu Sufyan bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Mereka kabilah Muzainah,” Abbas menjawab lagi.

“Apa urusanku dengan Kabilah Muzainah?!”

Begitulah seterusnya hingga setiap kabilah lewat. Terakhir, pasukan Rasulullah yang berwarna hijaupun melewatinya. Abu Sufyan menatap tanpa berkedip. Mereka semua dilindungi baju besi.

“Subhanallah, Abbas! Siapa mereka itu?”

“Itu Rasul bersama Muhajirin dan Anshar.”

“Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi kekuatan mereka. Demi Allah, hai Abu Fadhal, kemenakanmu kelak akan menjadi maharaja besar ….”.

Hai Abu Sufyan, itu bukan kerajaan, melainkan kenabian”, tukas Abbas.

Kalau begitu, alangkah mulianya, ungkap Abu Sufyan dengan yakin. Sekarang ia mulai mantap dengan status keislamannya.

Demikianlah Ibnu Sa’ad, Ibnu Ishaq, Ibnu Jurair juga Bukhari meriwayatkan kekaguman Abu Sufyan akan kebesaran Islam. Meski sebenarnya malam sebelum berikrarpun ia telah terkagum-kagum dengan pasukan Islam yang pada malam yang dingin itu sedang melaksanakan wudhu sebelum shalat.

Riwayat di atas juga mengandung hikmah bahwa apa yang disangka Abu Sufyan kerajaan itu tidak sama dengan kenabian. Nyaris 22 tahun lamanya Rasulullah berjuang menegakkan agama Islam,  bukan kerajaan. Jika hanya sekedar kekuasaan dan kerajaan sebenarnya Rasulullah dapat meraihnya tanpa perlu berhijrah ke Madinah. Para pemuka Quraisy sendirilah yang ketika itu menawarkannya kepada Rasulullah, saking gemasnya melihat kekerasan hati Rasulullah dalam berdakwah menuju Islam.

Selanjutnya Abbas berkata, : “ Selamatkanlah kaummu !”. Maka Abu Sufyanpun segera pergi ke Mekah sebelum Rasulullah dan pasukan Islam memasukinya. Dengan suara nyaring, ia berteriak : “Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

Mendengar itu, istri Abu Sufyan, Hindun binti Uthbah, memarahinya “ Alangkah buruknya perbuatanmu sebagai pemimpin”. Abu Sufyan menegaskan “ Celakalah kalian kalau bertindak menuruti hawa nafsu. Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian tandingi”.

Sementara orang-orang Quraisy mencemoohnya , “ Celakalah engkau, hai Abu Sufyan! Apa gunanya rumahmu bagi kami?”. Lalu Abu Sufyan menyahut : ” Barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Menyadari bahwa pemimpin mereka tidak main-main, akhirnya merekapun berlarian, sebagian pulang ke rumah menutup pintu dan sebagian lain berlindung ke Masjidil Haram. Sementara itu Rasulullah telah makin mendekati Mekah. Beliau memasuki kota ini dari dataran tinggi Kida dan memerintahkan pasukan pimpinan Khalid bin Walid masuk melalui dataran rendah Kida.

Bukhari meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “ Aku pernah mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata, ‘Aku melihat Rasulullah pada waktu Fath-Makkah berada diatas untanya seraya membaca surat Al-Fath berulang-ulang dengan bacaan yang merdu sekali. Sabda beliau, “ Seandainya orang-orang tidak berkerumun di sekitarku, niscaya aku akan membacanya berulang-ulang”.

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana supaya Dia memasukkan orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah”,(QS. Al-Fath(48):1-5).

Rasulullah berpesan kepada pasukannya agar menghindari sebanyak mungkin korban. Hanya 6 orang lelaki dan 4 perempuan yang beliau perintahkan agar dibunuh dimanapun mereka berada. Mereka itu adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Habbar bin al-Aswad, Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah, Muqis bin Dhahabah al-Laitsi, Huwairits bin Nuqaid dan Abdullah bin Hilal. Sedangkan yang perempuan adalah Hindun binti Uthbah, Sarah, Fartanai dan Qarinah. Ke 10 orang ini adalah orang-orang kejam yang sangat membenci Islam dan harus dihukum mati.

Maka dalam waktu yang relatife singkat, pasukan Islampun berhasil menaklukkan Mekah dan Ka’bahnya tanpa banyak perlawanan kecuali pasukan Khalid. Pasukan ini akhirnya menang setelah memakan korban 24 orang Quraisy. Jumlah yang teramat sedikit bagi hitungan perang dimana pasukan Islam mengirimkan 10 ribu orang pasukan. Itupun tampak bahwa Rasulullah tidak senang ketika melihat kilatan pedang di kejauhan. Namun ketika beliau mendapat penjelasan bahwa itu adalah pasukan Khalid yang membalas serangan musuh, beliaupun hanya berkomentar : “ Ketentuan Allah selalu baik”.

Rasulullah langsung menuju Ka’bah. Di sekitar tempat tersebut terdapat 360 berhala. Dengan mengucap “ Kebenaran telah tiba dan lenyaplah kebathilan.  Kebenaran telah tiba dan kebathilan tak akan kembali lagi”, Rasulullah mengayunkan pentungan dan menghancurkannya satu persatu. Demikian pula berhala-berhala yang ada di dalam Ka’bah, semua dikeluarkan sebelum Rasulullah memasukinya. Beliau bertakbir disudut-sudut Ka’bah kemudian keluar.

Ketika Rasulullah hendak mengembalikan kunci pintu Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah, memohon agar kunci rumah suci tersebut diserahkan kepadanya.  Namun atas perintah Allah swt melalui Jibril as, Rasulullah tetap menyerahkannya kepada Utsman. Rasulullah tidak memindahkan hak tersebut karena itu memang perintah Sang Khalik.

“ Terimalah kunci ini untuk selamanya. Bukan aku yang menyerahkan kepada kalian tetapi Allah menyerahkannya kepada kalian. Sesungguhnya tak seorangpun akan mencabutnya ( hak memegang kunci Ka’bah) kecuali orang yang zalim”.

Tak lama kemudian turun ayat yang tertera di kain penutup Ka’bah hingga saat ini :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS.An-Nisa(4):58).

Utsman memang adalah pemegang kunci Ka’bah secara turun temurun sejak zaman nabi Ismail as. Ia keturunan bani Thalhah. Namun setelah ia wafat, kunci kini dipegang oleh keturunan anak bapaknya, yaitu bani Syaibah, hingga detik ini. Setelah itu Rasulullah thawaf kemudian memerintahkan Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan shalat. Orang-orang kemudian berduyun-duyun masuk ke dalam agama Allah.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”.(QS.An-Nasr(110):1-3).

( Bersambung).

Dalam perjanjian Hudaibiyah disebutkan bahwa setiap kabilah dan bani Arab memiliki hak untuk memilih kepada siapa mereka berpihak, kepada Rasulullah atau kepada bani Quraisy. Maka bani Khuza’ahpun memilih untuk berdiri di pihak Rasulullah. Sementara bani Bakar memilih bani Quraisy sebagai pihak yang didukungnya.

Suatu hari di tahun 8 H ( 630 M), orang-orang bani Bakar yang memang memusuhi bani Khuza’ah meminta bantuan Quraisy untuk memerangi musuhnya itu. Tanpa berpikir panjang Quraisypun mengirim bantuannya. Dengan cara menyamar mereka berkomplot mengepung perkampungan bani Khuza’ah yang saat itu sedang tidur nyenyak. Orang-orang bani Khuza’ah sama sekali tidak mengira bahwa malam tersebut mereka akan diserang pada malam hari. Pada peristiwa nahas tersebut, 20 orang Khuza’ah terbunuh.

Keesokan harinya, segera Amr bin Salim al-Khuza’ah bersama 40 orang dari bani Khuza’ah, dengan mengendarari kudanya pergi menemui Rasulullah memohon bantuan.

“ Aku tidak akan ditolong jika aku tidak membantu sebagaimana aku menolong diriku sendiri”, begitu tanggapan Rasulullah begitu menerima pengaduan tersebut.

”Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12).

Pihak Quraisy sendiri menyesali perbuatan ceroboh tersebut. Segera mereka mengutus Abu Sufyan agar menemui Rasulullah guna meminta perpanjangan dan perbaruan genjatan senjata.  Namun Rasulullah tidak menanggapi permintaan tersebut. Maka Abu Sufyanpun menemui Abu Bakar. Abu Bakarpun menolak, «  Aku tidak bisa melakukannya ». Demikian pula Umar bin Khattab yang kemudian ditemuinya setelah mendengar jawaban Abu Bakar.

“ Apa? Aku harus membantumu menghadapi Rasulullah? Demi Allah, sekiranya aku tahu engkau berbuat kesalahan walau sebutir pasir, tentu engkau kuperangi ».

Akhirnya Abu Sufyan terpaksa pulang tanpa membawa hasil.

Sementara itu diam-diam Rasulullah menyiapkan penyerangan. Beliau berdoa : «  Ya Allah, tutuplah mata orang-orang Quraisy agar mereka tidak melihatku kecuali secara tiba-tiba”. ( HR. Ibnu Ishaq dan Ibnu Saa’d).

Rasulullah mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah. Hal ini dilakukan untuk mengecoh Quraisy agar tidak mengetahui tujuan sebenarnya. Pada saat itulah Rasulullah tiba-tiba memerintahkan Ali bin Abi Thalib bersama dua sahabat lain untuk segera mengejar seorang perempuan yang berada di sebuah kebun bernama Khakh. Ali mendapat tugas untuk merampas surat yang dibawa perempuan berkuda tersebut.

«  Keluarkan surat yang kamu bawa ! », perintah Ali begitu ia berhasil menemukan perempuan yang dimaksud Rasul. Mulanya perempuan tersebut menyangkal bahwa ia membawa surat. Akan tetapi setelah Ali mengancamnya maka terpaksa ia mengeluarkan surat yang disembunyikan di balik gulungan rambutnya itu.

Setelah itu segera Ali kembali ke hadapan Rasulullah dan menyerahkan surat tersebut. Ternyata surat tersebut ditulis oleh Hatib bin Abi Balta’ah, seorang shahabat Muhajirin. Ia menujukkan surat tersebut kepada seorang Quraisy, mengabarkan bahwa Rasulullah saw sedang menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Dialah, Allah, Dzat Yang Maha Melihat, yang kemudian mewahyukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dilakukan Hatib.

Rasulullahpun segera memanggil Hatib dan meminta penjelasan tentang apa yang telah dilakukannya itu. “Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana”, begitu penjelasan Hatib.

Mendengar itu, sontak Umar bin Ibn-Khattab berkata :  “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”

Namun dengan bijak, Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar … “.

Akan tetapi tak lama kemudian turun ayat yang isinya teguran kepada orang  yang suka membocorkan rahasia Rasulullah, seperti apa yang diperbuat Hatib.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.(QS.Al-Mumtahanah(60) :1).

Selanjutnya, pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8 H, dengan membawa 10 ribu Muslimin, Rasulullah meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Di lain pihak, meski orang-orang Quraisy belum mengetahui rencana Rasulullah, dengan gagalnya misi Abu Sufyan, mereka telah memperkirakan penyerangan tersebut. Untuk memastikan hal itu, maka mereka mengutus Abu Sufyan, Hakim bin Hizzam dan Badil bin Warqa untuk menyelidiki apa yang dilakukan kaum Muslimin.

Hingga di suatu tempat di sekitar Zhahran, mereka melihat obor api yang sangat besar. Sebelum mereka menyadari bahwa itu adalah rombongan kaum Muslimin dibawah pimpinan Rasulullah, para pengawal telah menangkap ketiganya. Maka keesokan harinya, ketiga orang Quraisy tersebutpun memeluk Islam.

Ibnu Ishaq berkata,: Diriwayatkan dari Abbas tentang rincian Islamnya Abu Sufyan, “ Keesokan harinya, aku bawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah saw. Setelah melihatnya, Rasulullah berkata, “ Celaka engkau, wahai Abu Sufyan. Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui sesungguhnya tidak ada Ilah kecuali Allah ?” Abu Sufyan menyahut, “ Alangkah penyantunnya engkau, alangkah mulianya engkau dan alangkah baiknya engkau! Demi Allah, aku telah yakin seandainya ada Ilah selain Allah niscaya dia telah membelaku “. Nabi saw bertanya lagi, “  Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui bahwa aku adalah Rasul Allah?” Abu Sufyan menyahut, “ Sungguh engkau sangat penyantun, pemurah dan suka menyambung tali keluarga. Demi Allah, mengenai hal yang satu ini sampai sekarang di dalam diriku masih ada sesuatu yang mengganjal”. Abbas menukas,:  “ Celaka ! Masuk Islamlah dan bersaksilah tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah sebelum aku penggal lehermu”. Abu Sufyan kemudian mengucapkan syahadat dengan benar dan masuk Islam”.    .

Hadist diatas mencerminkan bahwa Abu Sufyan, dedengkot musuh Islam  itu, sesungguhnya mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ia juga mengakui bahwa Muhammad, ponakannya itu, adalah orang yang patut menjadi panutan karena beliau adalah seorang yang baik hatinya, penyantun, pemurah dan suka menyambung tali silaturahmi. Namun demikian ia masih belum dapat mengakuinya sebagai utusan karena menurutnya ada sesuatu yang masih mengganjal meski ia sendiri tidak tahu apa ganjalan tersebut.

Itu sebabnya, Abbas yang merupakan sahabat karib Abu Sufyan, mendesaknya agar segera berikrar. Karena ia tahu bahwa ganjalan tersebut bukanlah hal utama. Islam memang mengajarkan bahwa untuk memeluk Islam ( tunduk ) seseorang tidak harus telah memiliki keimanan yang tinggi. Karena keimanan itu akan tumbuh dan berproses seiring dengan berjalannya waktu dan pengetahuan, atas izin-Nya.

“Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Hujurat(49):14).

Itu pula sebabnya, pada saat peperangan, seorang Mukmin tidak boleh menganggap Islamnya seseorang yang tadinya kafir di tengah pertempuran hanya sekedar rasa takut atau ingin mendapatkan rampasan perang meski dari luar tampaknya memang demikian.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni`mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa(4):94).

Abu Sufyan, sebagai orang Quraisy yang awalnya sangat membenci dan memusuhi Islam serta memeluk Islam karena ancaman Abbas membuktikan hal tersebut. Setelah penaklukkan Mekah, ia ikut berperang beberapa kali. Pada peristiwa pengepungan Tha’if ia kehilangan salah satu matanya.

Rasulullah saw kemudian bertanya, : “Yang manakah yang engkau lebih inginkan, sebuah mata di surga atau aku berdoa kepada Allah agar matamu dikembalikan sekarang?” . Ternyata Abu Sufyan lebih memilih sebuah mata di surga. Kemudian pada perang berikutnya, yaitu perang Yarmuk yang terjadi 6 tahun setelah penaklukkan Mekah, ia bahkan kehilangan matanya yang keduanya. Selama 14 tahun setelah peristiwa itu, Abu Sufyan tetap dalam keislamannya hingga akhir hayatnya.

Kembali ke peristiwa masuk Islamnya Abu Sufyan. Tak lama setelah Abu Sufyan bersyahadat,  Abbas yang adalah juga salah satu paman Rasul itu, berkata: Ya Rasul, Abu Sofyan adalah orang yang senang dengan kebanggaan. Karena itu berikan sesuatu kepadanya.”

“Ya. Aku sudah memikirkan hal itu. Untuk itu, siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

( Bersambung)

Menurut Al-Waqidi dan lainnya, mereka berkata: Satu peristiwa, pada pertempuran Yarmuk, keluarlah dari barisan musuh seorang panglima besar musyrik, lalu dia menyeru Khalid bin Al-Walid untuk keluar dari barisan kaum Muslimin. Khalid pun keluar dengan kuda tangkasnya, hingga hampir-hampir kedua kuda itu berlaga kerana ketangkasannya. Maka berkatalah panglima pasukan musyrik itu yang bernama Jarjah:

“Engkaukah yang dikenal Khalid, panglima pasukan ini?”.
“Ya, aku Khalid pedang Allah!” jawab Khalid.
“Khalid, pedang Allah?” tanya Jarjah lagi.
“Ya”, jawab Khalid. “Dan engkau siapa?”
“Aku Jarjah, panglima perang!”

“Apa maksudmu memanggil aku ke sini?” tanya Khalid.
“Hai Khalid! Bicaralah yang benar, dan jangan berdusta! Sebab orang yang merdeka itu tidak berdusta. Dan jangan pula engkau menipuku, kerana orang yang berkedudukan seperti engkau ini tidak akan menipu yang lain, apa lagi bila hal itu ada pertaliannya dengan Allah!” jarjah ingin menguji kejujuran Khalid.
“Baiklah”, jawab Khalid. “Aku akan berkata benar dan menjawab sesuai dengan kehendakmu!”

“Engkau mengaku diri sebagai pedang Allah, bukan?” tanya Jarjah.
“Ya”, jawab Khalid pendek
“Apakah Allah telah menurunkan pedang itu dari langit kepada Utusan kamu, lalu dia menyerahkan pedang itu kepadamu, dan engkau tidak akan menghunuskan kepada sesiapa pun, melainkan engkau akan mengalahkannya?” Jarjah meminta penerangan dari Khalid.
“Tidak!” jawab Khalid pendek lagi.
“Oh, tidak?!” Jarjah mengejek. “Jadi bagaimana engkau dipanggil sebagai pedang Allah? Bukankah itu ajaib sekali?!” Jarjah menambah lagi.
“Tidak ajaib, jika engkau mendengar cerita yang sebenarnya!” jawab Khalid.
“Kalau begitu ceritakanlah kepadaku!” pinta Jarjah.

“Sekarang dengarlah ceritanya: Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita UtusanNya, lalu Beliau mengajak kami memeluk Islam, tetapi kami menjauhkan diri darinya, dan kami sekalian menyingkirkannya. Meskipun begitu ada juga setengah dari kami yang mempercayainya dan mengikutnya, manakala yang lain mendustakannya dan menentangnya, dan jika engkau ingin tahu aku adalah di antara orang-orang yang mendustakannya dan menentangnya”, Khalid menceritakan dirinya dengan jujur.
“Sesudah itu?” tanya Jarjah yang mendengar dengan penuh minat.
“Kemudian Allah telah melembutkan hati kami, dan membukakan pemikiran kami, lalu kami diberiNya petunjuk untuk memeluk Islam, dan kami pun memberikan kesetiaan kami kepadanya”, Khalid berdiam sebentar mengenang dirinya di masa lalu.
“Kemudian, apa yang berlaku?” tanya Jarjah lagl
‘Kerana aku memeluk Islam itulah, maka beliau berkata kepadaku: Hai Khalid! Engkau ini adalah pedang dari pedang-pedang Allah, yang dihunuskan Allah ke atas kaum musyrik, dan beliau mendoakan bagiku dengan kemenangan!” jelas Khalid.
“Sebab itulah engkau dikenal dengan pedang Allah?!” tanya Jarjah.
“Ya, aku rasakan itu, dan aku orang yang paling keras di antara pasukan Islam ke atas kaum musyrik”, ‘jelas Khalid lagi.

“Baiklah”, tanya Jarjah. “Engkau membawa pasukanmu ke sini itu, untuk apa?”
“Aku datang ke sini untuk menyeru orang-orang seperti kamu kepada Islam, dan mempercayai Tuhan yang Satu!” jawab Khalid.
“Tuhan yang Satu?” tanya Jarjah.
“Ya, dengan menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah, serta meyakini bahwa apa yang dibawa Muhammad itu adalah dari Allah yang Maha Mulia”, terang Khalid.
“Kalau kami tidak mahu menerimanya?”
“Bayar upeti, dan kami akan melindungi kamu!”
“Kalau kami tidak mahu membayar upeti itu?”
“Kami akan memerangi kamu habis-habisan!”

“Baiklah, apa kedudukan orang yang mengikut seruanmu itu, dan yang mendampingkan diri dalam apa yang engkau seru itu?”
‘Kedudukannya dengan kami sama tentang apa yang difardhukan Allah ke atas kami sekalian, baik dia orang berpangkat atau orang yang rendah, yang pertama memeluk Islam dan yang kebelakangan! Yakni siapa yang mengikut Muhammad sekarang ini akan memperoleh pahala yang sama dengan siapa yang telah mengikutnya lama sebelum ini, iaitu balasannya dan kelebihannya?!”
“Bagaimana itu?” Jarjah meminta penjelasan.
“Ya”, jawab Khalid, “bahkan boleh jadi lebih utama lagi”.

“Bagaimana sampai begitu? Bagaimana agamamu menyamakan orang-orang ini dengan kamu, padahal kamu sudah mendahului mereka?” tanya Jarjah.
“Mudah saja!” jawab Khalid. “Kita orang-orang yang terdahulu memeluk Islam secara terpaksa, kerana kita telah menentangnya sebelum itu. Kemudian kita memberikan kesetiaan kami kepadanya sedang dia hidup di sisi kita, berita-berita langit sedang turun kepadanya, dia memberitahu kita tentang firman-firman Allah itu serta dibuktikannya dengan keterangan-keterangan yang tidak dapat diragukannya lagi”, kata Khalid.
“Jadi, apa alasannya?” tanya Jarjah lagi.
“Jadi orang-orang seperti kita ini sudah melihat semua bukti-bukti itu, dan kami mendengar sendiri darinya, sudah seharusnyalah kami mengikutnya dan menganut kepercayaannya. Tetapi kamu tidak seperti kami, kamu tidak melihat apa yang kami lihat, dan kamu tidak mendengar seperti apa yang kami dengar dan berbagai keajaiban dan bukti-bukti yang membenarkan seruan dan dakwaannya. Jadi barangsiapa yang mengikut perkara ini di antara kamu dengan kebenaran dan niat yang baik, tentulah dia lebih utama dari kami”.

Jarjah terharu dengan penerangan Khalid itu, lalu dia berkata: “Demi Allah, aku yakin engkau telah mengatakan yang benar, dan engkau tidak menipuku!”
“Demi Allah, aku telah berkata yang benar, tiada suatu pun yang aku sembunyikan, dan Allah telah membantuku untuk menjawab soalan-soalanmu itu dengan yang benar”, terang Khalid.
“Kalau begitu, apa gunanya lagi aku menyandang perisai ini”, kata Jarjah, dia lalu melepaskannya, sambil memeluk Khalid dan berkata: “Hai Khalid! Ajarkanlah aku agama Islam itu!” pinta Jarjah.

Khalid Ialu mengajak Jarjah datang ke kemahnya, lalu disiramkan ke atasnya dengan qirbah air (kulit kambing yang dibuat untuk mengisi air), kemudian diajaknya Jarjah bersembahyang dengannya dua rakaat.

Akhirnya pasukan Romawi kecewa apabila Jarjah tidak kembali lagi kepada mereka. Lalu mereka memulai penyerangannya kepada pasukan Islam, dan pada mulanya mereka merasa bangga dengan kemenangan kecil di mana mereka dapat mematahkan sayap-sayap pasukan Islam, kecuali yang sedang dipertahankan oleh lkrimah bin Abu jahal ra. dan Al-Harits bin Hisyam ra. Khalid bin Walid ra. pun keluar ke medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan Islam, dan keluar bersamanya Jarjah yang baru memeluk Islam. Keduanya pun memimpin pasukan Islam di tengah-tengah pasukan Romawi yang mencoba mengepung pasukan Islam. pasukan Islam pun berteriak semangat dan menggempur di belakang panglimanya, si pedang Allah, sehingga akhirnya pasukan Romawi tidak mampu bertahan lagi, dan mereka pun mundur kebarisan mereka yang asal.

Khalid terus berjuang pedang dengan pedang bersama-sama pasukan Islam yang telah kembali semangat perjuangannya, sedang Jarjah turut berjuang sebelah-menyebelah dengan pasukan Islam dari sejak tengah hari hingga matahari akan terbenam dan masuk waktu maghrib. Pasukan Islam bersembahyang shalat Dzhuhur dan Asar secara menunduk-nunduk saja kerana hebatnya pertarungan yang berlaku di antara dua pihak itu.

Akhimya Jarjah, moga-moga Allah merahmatinya, gugur syahid setelah mendapat luka-luka berat, dan dia tidak bersembahyang kepada Allah selain dua rakaat yang dikerjakannya dengan Khalid ra. ketika dia memeluk Islam itu.

(Al-Bidayah Wan-Nibayah 7:12 – Menurut Abu Nu’aim dalam “Dalaa’ilun Nubuwah”, nama panglima Romawi itu ialah jarjir bukan jarjah.)

( Diambil dari : http://azharjaafar.blogspot.com/2008/08/dakwah-khalid-bin-walid-ra-di-medan.html )

XXIV. Perang Mut’ah.

Mut’ah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam. Desa tersebut sekarang ini bernama Kirk. Disinilah perang antara kaum Muslimin dan pasukan Syurabil bin Amr al-Ghassani, penguasa Bushra berlangsung.

Perang ini dilakukan sebagai balasan atas dibunuhnya seorang utusan Muslimin. Ketika itu  Rasulullah mengutus Harits bin Umair al-Adzi bin Amr agar menyampaikan surat yang isinya mengajak memeluk Islam kepada pemimpin Bushra tersebut.

Seperti juga peraturan dunia politik saat ini, sejak dahulupun telah ada aturan bahwa seorang utusan negri lain tidak boleh dibunuh tanpa sebab yang jelas. Itu sebabnya Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi Islam kemudian mengirim pasukan ke Bushra. Itupun setelah Rasulullah menunggu beberapa waktu. Dalam kesempatan tersebut beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang yang membawahi pasukan berjumlah 3.000 orang.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya”.

Sementara itu Syurabilpun menyiapkan 100.000 pasukannya. Ini masih dibantu dengan pasukan Heraklius, raja Romawi, yang mengirimkan 100.000 tentaranya. Pasukan Islam tampak ragu melihat besarnya kekuatan musuh yang lebih dari 60 kali lipat itu. Selama dua malam mereka berhenti di suatu daerah untuk merundingkan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Beberapa orang diantara mereka berpendapat “ Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah guna melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan?”. Akan tetapi Abdullah bin Rawahah tidak sependapat. Ia berkomentar,

“Hai saudara-saudaraku, mengapa kalian tidak menyukai mati syahid yang menjadi tujuan kita berangkat ke medan perang ini ! Kita berperang tidak mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan tetapi semata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah kepada kita. Karena itulah, marilah kita maju ! Tidak ada pilihan lain kecuali salah satu dari dua kebajikan : menang atau mati syahid”.

Dengan segera musnahlah rasa takut pasukan Islam dan terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dengan gagah berani pasukan Islam terus bertempur hingga akhirnya Zaid bin Haritsah harus syahid. Segera Ja’far bin Abi Thalib yang waktu itu baru berusia 30 tahun maju menggantikan Haritsah.

“ Alangkah dekatnya surga ! Harumnya semerbak dan segarnya minuman.

Kita hunjamkan siksa ke atas orang-orang Romawi yang kafir nun jauh nasabnya

Pastilah aku yang memeranginya”.

Namun iapun harus syahid setelah tangan kanannya disusul tangan kirinya  yang memegang panji pimpinan ditebas musuh. Mujahid gagah berani ini ditebas tubuhnya hingga terbelah dua dari belakang dalam keadaan sedang mengepit panji kepemimpinan dengan sisa kedua tangannya yang tersisa. ! Subhanallah ..

Selanjutnya majulah Abdullah bin Rawahah menggantikan kedudukan Ja’far. Semula ia agak kecut melihat kedua sahabatnya telah tewas sementara tubuhnya sendiri telah penuh luka. Ia juga mendengar kabar bahwa Syurabil telah menyelamatkan diri. Sementara Heraklius menambah lagi 200.000 pasukannya. Namun ketinggian imannya berkata lain. Sambil menerjunkan diri ke kancah pertempuran sengit ia melantunkan syair hingga iapun syahid.

“Wahai hati, kamu harus turun meskipun dengan senang hati ataupun dengan berat hati. Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama. Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani. Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam. Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga”.

Setelah syahidnya ketiga panglima perang yang sebelumnya telah ditunjuk Rasulullah kaum Muslimin kemudian menyepakati Khalid bin Walid menjadi panglima perang.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas ra bahwa sebelum kaum Muslimin ( di Madinah) mendengar berita gugurnya tiga orang panglima mereka, Rasulullah saw bersabda “ Zaid memegang panji kemudian gugur. Panji diambil oleh Ja’far dan ia gugur. Panji itu diambil oleh Ibnu Rawahah dan iapun gugur …”. Saat itu, beliau meneteskan air mata seraya melanjutkan sabdanya , “ .. Akhirnya panji diambil oleh ‘Pedang Allah ( Khalid bin Walid ) dan akhirnya Allah mengaruniakan kemenangan bagi mereka ( kaum Muslimin)”.

Dibawah pimpinan Khalid, bekas panglima perang Quraisy yang dikenal sebagai ahli strategi nan tak terkalahkan ini, pasukan Muslim berhasil merubah keadaan. Begitu mendapat tanda bahwa ia ditunjuk sebagai panglima, Khalid langsung menyerbu pasukan musuh dengan gagah berani. Ia berhasil mengobarkan kembali semangat pasukannya hingga membuat musuh kocar kacir.

Namun begitu malam tiba dan pertempuran dihentikan ( ini adalah peraturan umum perang yang berlaku ketika itu ) Khalid langsung menyusun strategi baru. Dengan strateginya ia berhasil membuat pasukan musuh mundur. Ia mengubah posisi pasukan, yang tadinya di sayap kanan dipindahkan ke sayap kiri dan sebaliknya. Sementara pasukan yang di depan diputar sedemikian rupa dengan pasukan yang dibelakang.

Perubahan posisi yang menyerupai gelombang ini membuat pasukan musuh mengira bahwa pasukan Muslim mendapat tambahan pasukan. Mereka menjadi khawatir, bila dengan kekuatan yang jauh di bawah kekuatan mereka saja pasukan Muslim sulit untuk dikalahkan apalagi dengan adanya tambahan. Karena rasa takutnya itu akhirnya mereka memutuskan untuk mundur teratur tanpa menyadari bahwa sang panglima lebih senang lagi. Pasukan Khalid bin Walid tidak mengejar musuh yang mundur karena menyadari bahwa kekuatan mereka saat itu memang tidak mencukupi.

Maka pasukan Muslimpun kembali ke Madinah dengan  membawa pampasan yang ditinggalkan musuh begitu saja. Menjelang masuk kota, pasukan ini disambut oleh Rasulullah dan anak-anak  yang berhamburan menjemput mereka.

“ Ambillah anak-anak dan gendonglah mereka. Berikanlah kepadaku anak Ja’far!”, sabda Rasulullah.

Kemudian terdengar orang-orang meneriaki pasukan Khalid, “ Wahai orang-orang yang lari! Kalian lari dari jalan Allah”.

Akan tetapi Rasulullah segera menimpali “ Mereka tidak lari ( dari medan perang) tetapi mundur untuk menyerang balik, insya Allah”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 5 April 2011.

Vien AM.

Pada masa Rasulullah saw perang dibagi atas 2 jenis perang, yaitu Ghazwah dan Sariyah. Ghazwah adalah perang yang dipimpin langsung oleh Nabi saw sedangkan Sariyah adalah perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukan Nabi saw.

Para ulama sirah menyepakati bahwa Sariyah dimulai pada tahun 7 H. Namun dlam shahihnya, Imam Bukhari menuturkan bahwa Sariyah baru dimulai pada tahun 9 H yaitu setelah di tanda-tanganinya Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H. Pengiriman pasukan kecil ke berbagai daerah sekitar Jazirah Arab dan dipimpin para sahabat ini bertujuan tidak lain hanya mengajak kepada Islam. Perang baru dilakukan bila mereka menolak.

Dengan kata lain, perang hanya boleh diterapkan setelah suatu masyarakat telah diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam namun kemudian tetap menolak. Jadi perang dalam Islam bukan demi memuaskan nafsu keduniawian untuk memperoleh kemenangan apalagi kebesaran. Baik itu kebesaran perorangan maupun kelompok. Melainkan demi menegakkan hukum dan kehendak Allah swt sebagai pemilik alam semesta ini. Karena kebesaran itu hanya milik Sang Khalik, Al Malikul Kuddus, Allah Azza wa Jalla.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. …”.(QS.Al-Baqarah(2:30).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS.Adz-Dzariyat(51):56).

Itulah tujuan Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini. Manusia diberi hak untuk menggunakan dan mengolah apapun yang ada di bumi ini namun harus mempertanggung-jawabkannya. Kepada siapa ? Tentu saja kepada Sang Pemilik ! Jadi takut, tunduk dan patuh itu hanya kepada-Nya bukan kepada sesama manusia apapun bangsa, warna dan rasnya.

Perang seperti ini bukan hanya dikenal pada era Rasulullah. Namun juga seluruh utusan-Nya termasuk nabi Sulaiman as, nabi Allah sekaligus raja Yahudi yang memerintah pada tahun 970 SM. Al-Quran menceritakan bagaimana nabi ini menaklukkan kerajaan ratu Bilqis di Afrika yang  menjadikan matahari sebagai sesembahan disamping Allah swt.

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, “.(QS.An-Naml(27):24).

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.(QS.An-Naml(27):37).

Perang dalam Islam adalah demi menegakkan kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran palsu. Bukan kebenaran dari sudut pandang manusia karena manusia mempunyai kepentingan dan kebutuhan. Baik itu kepentingan dan kebutuhan pribadi atau keluarga maupun kepentingan dan kebutuhan kelompok. Kebenaran hakiki adalah kebenaran dari Allah swt yang berdiri di luar lingkaran keduniawian.

Rasulullah baru menerapkan Sariyah setelah berdakwah 21 tahun lamanya (12 tahun di Makkah dan 9 tahun di Madinah ). Selama itu umat Islam berperang secara defensive karena diserang. Perang babak baru ini dijalankan setelah umat Islam mempunyai keimanan yang tinggi dan mempunyai cukup kekuatan material. Juga setelah Islam diakui secara resmi oleh Musryik Quraisy yang sebelumnya sangat anti Islam.

Pada periode ini Rasulullah mengirimkan beberapa surat kepada para raja dan pemimpin dunia agar meninggalkan agama kebathilan yang mereka anut dan kembali ke pelukan Islam, kembali ke fitrahnya.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Namun sebelum itu Rasulullah mendapat informasi bahwa para raja tidak mau membaca surat yang tidak distempel. Untuk keperluan itulah maka Rasulullahpun memerintahkan agar segera dibuatkan stempel khusus bagi Rasulullah. Stempel khusus milik Rasulullah tersebut adalah sebuah cincin yang terbuat dari perak dengan tiga kata terukir di atasnya. Tiga kata tersebut adalah : «  Muhammad Rasul Allah ». Dengan stempel itulah selanjutnya Rasulullah sebagai utusan Allah sekaligus pemimpin tertinggi umat Islam mengirim berbagai surat resmi.

Rasulullah mengirimkan surat untuk pertama kalinya pada tahun 9 H atau 631 M. Dalam satu yang hari yang sama itu Rasulullah, dengan bantuan sahabat terpercaya menulis 6 surat sekaligus. Surat-surat tersebut dibawa para sahabat pilihan yang tidak saja menguasai bahasa kaum yang akan didatanginya tetapi juga mengerti kultur dan kebiasaan mereka.

Berikut utusan-utusan tersebut.

1. Amr bin Umaiyyah adh-Dhamri.

Rasulullah mengutus Amr bin Umaiyah adh-Dhamri menemui Najasyi. Najasyi adalah raja negri Habasyah di benua Afrika. Raja yang nama aslinya  Ashhamah bin Abjar ini dikenal sebagai penganut Nasrani yang taat dan alim. Najasyi sebenarnya telah mendengar kabar bahkan pernah berhubungan dengan masalah ke-Islam-an beberapa tahun sebelum ini. Yaitu ketika Rasulullah mengizinkan beberapa sahabat untuk hijrah ke Habasyah.

Ketika itu Najasyi menerima keterangan Ja’far bin Abu Thalib yang berusaha disudutkan oleh orang-orang Quraisy agar dikembalikan ke Mekah.

(Baca:http://umatterbaik.wordpress.com/2008/11/08/raja-najasyi/).

Oleh karena itu ketika raja yang terkenal bijaksana ini menerima surat dari Rasulullah, ia langsung menyatakan ke-Islam-annya.

“ Seandainya aku bisa datang menemuinya ( Rasulullah saw) niscaya aku berangkat menemuinya”, begitu ucapnya.

Bahkan setelah itu dengan senang hati sang rajapun mengabulkan permintaan Rasulullah agar menjadi wakil dalam pernikahan Rasulullah dengan Ramlah binti Abi Sufyan yang ketika itu memang tinggal di Habasyah. Putri Abi Sufyan ini tinggal di negri Najasyi sejak hijrah pertama kaum Muslimin ke Habasyah. Dalam perantauan inilah suaminya kemudian murtad dan tak lama kemudian meninggal dunia. Rasulullah meminang Ramlah yang dikenal dengan sebutan Ummu Habibah ( ibunya Habibah) sebagai penghargaan atas kesabarannya dalam ber-Islam.

Sayangnya, tidak lama setelah memeluk Islam, raja Najasy ini wafat. Rasulullah kemudian menyelenggarkan shalat ghaib baginya. Ini adalah hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan Rasulullah.

2. Dahyah bin Khalifah al-Kalbi.

Rasulullah mengutus Dahyah kepada Heraklius, raja Romawi Timur ( Byzantium).  Heraklius memerintah kerajaan Nasrani ini selama 31 tahun yaitu dari tahun 610 M hingga 641 M. Dibawah pemerintahannya peperangan banyak terjadi. Diantara sekian banyak musuh, kerajaan Sasanid ( Persia) yang dikenal beragama Majusi ( penyembah api) adalah musuh yang paling sengit. Perang bebuyutan antara kedua kerajan besar ini telah berlangsung sejak tahun 602 M, jauh sebelum Heraklius menjadi raja.

Beberapa tahun sebelum Rasulullah mengirimkan utusan kepada raja ini, yaitu pada tahun 626 M, kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi. Pada saat itulah turun ayat 2 hingga 6 surat Rum. Ayat ini menerangkan bahwa setelah kekalahan tersebut pasukan Romawi akan kembali menang. Ternyata terbukti benar, 2 tahun kemudian Romawi berhasil memaksa Persia bertekuk lutut hingga akhirnya kerajaan ini runtuh untuk selamanya. Padahal ketika itu Konsantinopel, ibu kota Romawi Timur, nyaris direbut Persia.

“Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). …”. QS.Ar-Rum(30:2-4).

Namun kemenangan ini hanya sesaat karena beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun 634 M, 2 tahun setelah wafatnya Rasulullah, pasukan Islam dibawah khalifah Abu Bakar ra berhasil menaklukkan Persia yang baru saja direbut Romawi itu. Bahkan Syria, Palestina dan Mesir yang tadinya berada dibawah Romawipun jatuh ke tangan Muslim.

“ Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahu”’.(QS.Ar-Rum(30:4-6).

Dahyah menyampaikan surat Rasulullah kepada Heraklius melalui gubernur Bashra. Surat tersebut bunyinya adalah sebagai berikut :

“Dari Muhammad Rasul Allah kepada Heraklius raja Romawi. Keselamatan atas orang yang hidup mengikuti hidayah Ilahi. Amma ba’du. Anda kuajak supaya memeluk Islam. Peluklah Islam anda akan selamat dan Allah akan melimpahkam dua kali lipat imbalan pahala kepada Anda. Akan tetapi jika anda menolak, anda akan memikul dosa para petani ( rakyat). Dan «  Wahai Ahli Kitab, marilah kita bersatu kata, antara kalian dan kami bahwa kita tidak akan bersembah sujud selain kepada Allah dan bahwa kita tidak akan menjadikan siapapun diantara kita sendiri Tuhan-Tuhan selain Allah. Apabila mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka «  Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Mukmin ». ( HR Bukhari Muslim).

Usai membaca surat Rasulullah, Heraklius memerintahkan para menterinya agar mencari orang yang dapat dipercaya untuk memberikan informasi mengenai sifat-sifat Rasululah.  Kebetulan Abu Sufyan sedang berada di kota tersebut dalam rangka urusan dagangnya. Tak lama kemudian, dibantu seorang penterjemah, terjadilah percakapan antara keduanya.

Di kemudian hari, setelah memeluk Islam, Abu Sufyan mengisahkan tanggapan Heraklius atas percakapan tersebut.

“Aku bertanya kepadamu tentang silsilah keluarganya dan kau menjawab dia adalah keturunan bangsawan terhormat. Nabi-nabi terdahulu pun berasal dari keluarga terhormat di antara kaumnya.
Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara keluarganya yang menjadi nabi, jawabannya tidak ada. Dari sini aku menyimpulkan bahwa orang ini memang tidak dipengaruhi oleh siapa pun dalam hal kenabian yang diikrarkannya dan tidak meniru siapa pun dalam keluarganya.

Aku bertanya kepadamu apakah ada keluarganya yang menjadi raja atau kaisar. Jawabannya tidak ada. Jika ada leluhurnya yang menjadi penguasa, aku beranggapan dia sedang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan leluhurnya.

Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berdusta dan ternyata menurutmu tidak pernah. Orang yang tidak pernah berdusta kepada sesamanya tentu tidak akan berdusta kepada Allah.
Aku bertanya kepadamu mengenai golongan orang-orang yang menjadi pengikutnya dan menurutmu pengikutnya adalah orang miskin dan hina. Demikian pula halnya dengan orang-orang terdahulu yang mendapat panggi
lan kenabian.

Aku bertanya kepadamu apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang. Jawabanmu, terus bertambah. Hal ini juga terjadi pada iman sampai keimanan itu lengkap. Aku bertanya kepadamu apakah ada pengikutnya yang meninggalkannya setelah menerima agamanya dan menurutmu tidak ada. Itulah yang terjadi jika keimanan sejati telah mengisi hati seseorang. Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah ingkar janji dan menurutmu tidak pernah. Sifat dapat dipercaya adalah ciri kerasulan sejati.

Aku bertanya kepadamu apakah engkau pernah berperang dengannya dan bagaimana hasilnya. Menurutmu engkau berperang dengannya, kadang engkau yang menang dan kadang dia yang menang dalam urusan duniawi. Para nabi tidak pernah selalu menang, tetapi mereka mampu mengatasi masa-masa sulit perjuangan, pengorbanan dan kerugiannya sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

Aku bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya, engkau menjawab dia memerintahkanmu untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, serta melarangmu untuk menyembah berhala, dan dia menyuruhmu shalat, bicara jujur, serta penuh perhatian. Jika apa yang kaukatakan itu benar, dia akan segera berkuasa di tempat aku memijakkan kakiku saat ini.

Aku tahu bahwa orang ini akan lahir, tetapi aku tidak tahu bahwa dia akan lahir dari kaummu (orang Arab). Jika aku tahu aku bisa mendekatinya, aku akan pergi menemuinya. Jika dia ada di sini, aku akan membasuh kedua kakinya dan agamanya akan menguasa tempat dua telapak kakiku!”

Selanjutnya, Heraklius berkata kepada Dihyah Al-Kalbi, “Sungguh, aku tahu bahwa sahabatmu itu seorang nabi yang akan diutus, yang kami tunggu-tunggu dan kami ketahui berita kedatangannya dalam kitab kami. Namun, aku takut orang-orang Romawi akan melakukan sesuatu kepadaku. Kalau bukan karena itu, aku akan mengikutinya!”

Untuk membuktikan perkataannya tersebut, Heraklius memerintahkan orang-orangnya untuk mengumumkan, “Sesungguhnya kaisar telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Nasrani!” Seluruh pasukannya dengan persenjataan lengkap serentak menyerbu ke dalam ruangan tempat Kaisar berada, lalu mengepungnya.

Kemudian Kaisar Romawi itu berkata, “Engkau telah melihat sendiri bagaimana bangsaku. Sungguh, aku takut kepada rakyatku!”

Heraklius membubarkan pasukannya dengan menyuruh pengawalnya mengumumkan berita, “Sesungguhnya kaisar lebih senang bersama kalian. Tadi ia sedang menguji kalian untuk mengetahui kesabaran kalian dalam agama kalian. Sekarang pergilah!”

Mendengar pengumuman tersebut, bubarlah pasukan yang hendak menyerang Kaisar tadi. Sang Kaisar pun menulis surat untuk Rasulullah saw yang berisi, “Sesungguhnya aku telah masuk Islam.” Kaisar juga menitipkan hadiah beberapa dinar kepada Rasulullah saw.

Ketika Dihyah menyampaikan pesan Raja Heraklius kepada Rasulullah saw, beliau berkata, “Musuh Allah itu dusta! Dia masih beragama Nasrani”. Rasulullah saw pun kemudian membagi-bagikan hadiah dari raja tadi kepada kaum muslimin.

3. Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi.

Abdullah diutus Rasulullah saw agar menyampaikan surat kepada Kisra, raja Persia. Surat tersebut berisi ajakan agar mau memeluk Islam. Kisra adalah sebutan atau gelar bagi para raja negri yang sekarang ini dinamakan Iran. Ketika itu penduduk negri mayoritas menganut kepercayaan Majusi ( penyembah api) dan penyembah berhala. Itu sebabnya Rasulullah mengajak mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Namun belum juga surat selesai dibaca sang raja telah menyobek-sobeknya. Menanggapi pengaduan tersebut Rasulullah hanya berkata : “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya”.

Selanjutnya, dengan geram kemudian ia menulis surat kepada gubernur Yaman agar segera menangkap Rasulullah. Maka berangkatlah dua utusan ke Madinah. Rasulullah sendiri yang menyambut utusan gubernur Yaman tersebut. Dengan tersenyum Rasulullah bersabda : “ Kembalilah dulu hari ini. Besok saja kalian menghadapku karena aku ingin mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang aku inginkan”.

Keesokan harinya,kedua utusan tersebut menghadap kembali. “ Sampaikan kepada gubernur kalian bahwa Rabbku telah membunuh tuannya, Kisra, pada malam ini, tepatnya enam jam yang lalu”, sambut Rasulullah tenang.

Ibnu Sa’ad berkata, “ Yaitu pada malam selasa, 10 Jumadil ‘Ula tahun kesembilan. Allah menggerakkan Syirawaih, anak Kisra, untuk membunuhnya”. Akhirnya, kedua orang itu kembali menemui Badzan, sang gubernur, guna menyampaikan berita ini. Selanjutnya Badzan bersama anak buahnyapun masuk Islam.

4. Harits bin Umair al-Adzi.

Rasulullah mengutus Harits bin Umair al-Adzi kepada Syurabil bin Amr al-Ghassani, penguasa Bushra. Namun pemimpin ini menolak bahkan kemudian mengikat serta membunuh Harits. “ Tidak ada utusan Rasulullah saw yang dibunuh selain al-Harits bin Umair al-Adzi”.

Rasulullah juga mengutus beberapa utusan kepada para pemimpin Arab di berbagai wilayah. Diantara mereka ada yang menolak ada yang menerima. Tetapi sebagian besar menerima.  Khalid bin Walid, panglima Quraisy yang di kemudian hari mendapat julukan Saifullah al-Maslul ( pedang Allah yang terhunus) dan selalu menang dalam pertempuran adalah salah satu diantaranya.

Rasulullah begitu berbahagia melihat masuknya Khalid. Karena Khalid adalah seorang panglima perang yang amat disegani baik musuh maupun anak buahnya. Dengan masuknya Khalid ke jajaran Islam diharapkan ia mampu menarik sebanyak mungkin pengikut. Menurut riwayat ia masuk Islam bersamaan dengan Amr bin Ash, panglima perang yang di kemudian hari menaklukkan Baitul Maqdis dan Mesir dari cengkeraman Romawi.

( Youtube  Surat2 asli Rasulullah saw:

http://www.youtube.com/watch?v=JB5R1a4bSUM&NR=1&feature=fvwp ).

Paris, 4 April 2011.

Vien AM.

XXII.Perang Khaibar

“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus”.(QS.Al-Fath(48):20).

Ayat di atas turun ketika Rasulullah dalam perjalanan pulang dari Hudaibiyah menuju Madinah, beberapa saat setelah ditanda-tanganinya perjanjian Hudaibiyah. Yang dimaksud harta rampasan perang yang banyak pada ayat di atas itu adalah kemenangan Muslimin pada perang Khaibar. Khaibar adalah kota terbesar Yahudi yang banyak memiliki benteng dan ladang-ladang kurma. Tanah kota tersebut memang dikenal amat subur, airnya berlimpah dan berbagai buah tumbuh dengan mudah di tanah ini. Kota yang merupakan  benteng utama Yahudi ini terletak sekitar 165 km utara Madinah arah Syam.

Janji Allah swt sendiri akan harta rampasan yang banyak itu adalah sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan-Nya akan kesabaran kaum Muslimin dalam menghadapi kebencian dan permusuhan musuh-musuh Islam seperti kaum Musryik Mekah dan Yahudi selama ini. Dan puncaknya adalah perang Hudaibiyah. ( Click  http://vienmuhadi.com/2011/03/07/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/ untuk baca Perjanjian Hudaibiyah ).

Mendengar janji tersebut, orang-orang Munafik Madinah yang selama ini tidak pernah ikut terlibat dalam peperangan Islam, tiba-tiba meminta izin untuk ikut berperang. Namun Rasulullah tidak mengabulkan permohonan tersebut. Rasulullah hanya mengizinkan berperang para sahabat yang pernah ikut berperang membela Islam dan tujuannya bukan untuk mencari harta rampasan saja.

Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami: demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. ”.(QS.Al-Fath(48):15).

Maka pada tahun 629 M, dengan membawa 1400 pasukan, mereka adalah para sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah, berangkatlah Rasulullah memimpin pasukannya memasuki Khaibar. Mereka berangkat dengan berjalan kaki dan berkuda. Ini adalah perang pertama kaum Muslimin yang terjadi setelah adanya perjanjian Hudaibiyah. Ini juga adalah perang pertama dimana kaum Muslimin datang menyerang terlebih dahulu. Karena sebelumnya pasukan Muslim hanya bertahan.

Rasulullah sengaja memilih jalur melalui Ar-Raji’, daerah antara perkampungan kaum Gathafan dan Khaibar. Kaum Gathafan adalah sekutu Yahudi yang selama ini selalu membantu Yahudi dalam memusuhi Islam. Dan kali inipun mereka sebenarnya memang telah berniat hendak membantu sekutunya itu. Namun nyatanya begitu mendengar kabar bahwa pasukan Rasulullah melewati perkampungan mereka, nyali merekapun jadi menciut. Akhirnya mereka membatalkan pertolongan mereka.

Dari Abu Muattib bin Amr ia berkata, ‘Ketika Rasulullah melihat Khaibar, beliau berkata kepada para sahabat –ketika itu aku bersama mereka–, ‘Berdirilah kalian!’. Rasulullah berkata, ‘Ya Allah, Rabb langit dan Rabb segala yang dinaunginya, Rabb bumi dan Rabb apa saja yang diangkutnya, Rabb setan dan apa saja yang dianutnya, Rabb angin dan Rabb apa saja yang diterbangkannya, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini, penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung diri kepadaMu dari keburukan kampung ini, penduduknya, dan yang ada di dalamnya. Majulah kalian dengan nama Allah!’ Doa tersebut selalu diucapkan beliau setiap kali beliau memasuki per-kampungan”.

Tidak mudah menaklukkan Khaibar. Kota benteng ini memiliki sistim pertahanan berlapis-lapis. Setiap benteng memiliki fungsi masing-masing. Perempuan dan anak-anak ditempatkan di sebuah benteng bernama  Watih. Harta benda disimpan di benteng Sulaim. Sementara persediaan makanan dan pasukan perang yang jumlahnya ribuan itu menempati benteng lain. Bahkan Yahudi Madinahpun melecehkan kemampuan pasukan Islam melumpuhkan Yahudi Khaibar. Namun bagi para sahabat kemenangan bukanlah banyak atau sedikitnya jumlah pasukan atau canggih tidaknya peralatan. Kemenangan adalah pertolongan Allah, Sang Penguasa Langit dan Bumi.

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Ali Imran(3):126).

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqarah(2):249).

Mulanya Rasulullah menempatkan Abu Bakar ra sebagai pemegang panji. Namun pasukan ini tidak berhasil membobol pertahanan Yahudi. Kemudian Rasulullah mengutus Umar bin Khattab ra untuk menggantikan Abu Bakar. Tidak berhasil juga. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib ra  untuk keluar.

Dimana Ali?”, tanya Rasulullah ketika Ali tidak dilihatnya diantara para sahabat.

“ Wahai Rasulullah, Ali sedang sakit mata”, jawab para sahabat.

«  Panggil dia », perintah Rasulullah.

Setelah Ali tiba dengan mengucap doa, Rasulullah segera meniup mata Ali yang sedang sakit itu dengan kedua ludah beliau. Seketika itu sembuhlah mata Ali. Allahuakbar ..

Kemudian Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Ali.

“ Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita ( Muslim) ?”, tanya Ali.

“ Kerjakanlah ! Tetapi jangan tergesa-gesa. Tunggu sampai engkau tiba di halaman mereka. Setelah itu, ajaklah mereka memeluk Islam dulu dan beritahukan kepada mereka kewajiban-kewajiban apa yang harus mereka lakukan terhadap Allah. Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seorang diantara mereka melalui engkau, itu lebih baik daripada engkau memperoleh nikmat berupa unta merah », tegas Rasulullah.

( Unta merah bagi masyarakat Mekah ketika itu adalah suatu dambaan).

Begitulah prinsip perang dalam Islam. Perang bukan cara mendapatkan kemenangan dan kemegahan. Perang adalah hal terakhir yang dilakukan ketika orang tetap berkeras menolak menyembah Sang Khalik. Itupun bila mereka selalu menghalangi dan menghambat kemajuan Islam. Dan setelah dikalahpun tidak ada paksaan bagi mereka untuk berpindah agama selama mereka mau tunduk terhadap hukum Islam tentunya.

Semula pertempuran terjadi kurang seru karena pasukan Yahudi tidak mau keluar dari bentengnya. Mereka tetap bertahan didalam benteng-benteng kokohnya. Hingga akhirnya benteng demi benteng berhasil direbut pasukan Muslimin kecuali benteng Watih dan Sulaim yang merupakan benteng terakhir dan terkuat.  Maka merekapun terpaksa keluar dan perang satu lawan satupun tak dapat dihindarkan lagi.

Pertempuran berkecamuk hebat. Sepuluh hari lamanya benteng Watih dan Sulaim dikepung. Kedua benteng ini akhirnya jatuh setelah pasukan dibawah pimpinan Ali ini berhasil memotong saluran air ke dalam benteng. Penduduk Khaibar terpaksa menyerah dan berbondong-bondong keluar dari benteng pertahanan terakhir mereka. Dengan perasaan suka rela mereka menyerahkan seluruh harta benda yang mereka miliki termasuk ladang-ladang kurma yang luas, selama permohonan mereka untuk diampuni dikabulkan.

Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut bahkan juga permohonan mereka agar diberi kesempatan untuk tetap menggarap dan mengelola ladang dan kebun-kebun tersebut dengan imbalan separuh dari hasil panen. “ Dengan syarat, kalau kami hendak mengusir kalian, kalian harus bersedia kami usir”, tegas Rasulullah.

Sungguh, betapa mulianya akhlak Rasulullah. Bandingkan dengan apa yang terjadi ketika Islam dikalahkan di Andalusia, Spanyol. Ketika itu kaum Muslimin dipaksa berpindah agama dan bila menolak mereka akan dibunuh atau diusir tanpa boleh membawa apapun. Begitu juga yang dilakukan pasukan Romawi ketika mereka mengalahkan musuh. Juga fenomena tanah Palestina di abad 21 ini. Kita dapat menyaksikan bagaimana keji dan tidak adilnya perlakuan zionis Israel terhadap kaum Muslimin di negri tersebut. Sungguh ironis ..  L

Selanjutnya kaum Yahudi tetap tinggal di Khaibar dan menggarap ladang tersebut. Rasulullah membebaskan mereka menjalankan kepercayaan dan hukum mereka sendiri. Mereka baru diusir dari tanah tersebut pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab. Itupun karena mereka berbuat kesalahan.

Usia perang, Rasulullah tinggal selama beberapa hari di Khaibar. Disinilah beliau menikahi seorang perempuan Yahudi bernama  Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab, seorang pemimpin Yahudi yang tertawan. Pembebasannya sebagai tawanan perang menjadi mahar perkawinannya. Ketika itu ia diberi dua pilihan ; dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumnya atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Rasulullah. Ternyata Safiyah memilih pilihan kedua yaitu, menjadi isteri Rasulullah.

Diceritakan bahwa Rasulullah melihat bekas kebiruan di pipi Shafiyah, “Apa ini?” Shafiyah menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Shafiyah menceritakan bahwa sejak kecil ia telah mempelajari Taurat, kitab suci nenek moyangnya. Ia mendengar bahwa suatu ketika akan datang seorang Rasul. Itu sebabnya ia tidak ragu bahwa Muhammad adalah rasul yang diceritakan dalam kitab tersebut. Itu pula sebabnya ia ridho menjadi istri beliau meski ayah dan suaminya terbunuh dalam perang yang dipimpin Rasulullah itu.

Sementara dalam riwayat lain, diceritakan bahwa seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti Harith berusaha meracuni Rasulullah. Ia melakukan hal ini karena dendamnya terhadap kematian suaminya yang terbunuh dalam perang Khaibar. Perempuan ini mengirimkan sepotong daging domba yang telah dipoles dengan racun. Rasulullah sempat mencicipinya namun kemudian memuntahkannya kembali. Sebaliknya seorang sahabat bernama Bisyri bin Bara langsung menelannya hingga iapun meninggal dunia, terkena racun yang sebenarnya ditujukan kepada Rasulullah.

Dengan usainya perang Khaibar, setelah ghanimah dibagi-bagikan dengan adil dan semua merasa puas maka usai pula sejarah perlawanan Yahudi terhadap Islam. Pasukan Yahudi lain yang tinggal di Wadil Qura, tidak jauh dari Madinah, memang sempat melakukan pencegatan ketika rombongan Rasulullah melewati wilayah tersebut sepulang dari penaklukkan Khaibar. Namun pasukan Islam berhasil mematahkan serangan tersebut. Sebaliknya Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa melalui peperangan.

Dalam sebuah riwayat diceritakan ; Suatu ketika dalam perjalanan dari Khaibar menuju Madinah, di salah satu akhir malamnya, Rasulullah bersabda, ‘Siapa orang yang siap menunggu Shubuh untuk kita sehingga kita bisa tidur?’. Bilal berkata, ‘Aku siap menunggu Shubuh untukmu, wahai Rasulullah’.

Maka Rasulullahpun berhenti. Demikian pula para sahabat, kemudian tidur. Sementara itu Bilal mengerjakan shalat beberapa raka’at. Usai shalat, ia bersandar pada untanya untuk menunggu waktu Shubuh, namun rasa kantuk menyerangnya dan ia pun tertidur.

Akibatnya tidak ada seorangpun yang membangunkan Rasulullah dan kaum muslimin melainkan sengatan sinar matahari. Beliau orang yang pertama kali bangun. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Apa yang engkau perbuat terhadap kita, hai Bilal?’ Bilal menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku tertidur sepertimu’. Rasulullah bersabda, ‘Engkau berkata benar’.

Rasulullah kemudian menuntun untanya tidak terlalu jauh kemudian menghentikannya. Beliau berwudhu diikuti kaum muslimin, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah shalat dan mengerjakan shalat bersama kaum muslimin. Setelah salam, Rasulullah menghadap kepada para sahabat dan bersabda, ‘Jika kalian lupa shalat, shalatlah jika kalian telah ingat karena Allah swt berfirman, ‘Shalatlah karena ingat kepadaKu’.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 25 Maret 2011.

Vien AM.

Pemimpin yang dzalim.

Tidak dapat dipungkiri bahwa contoh pemerintahan Islam yang terbaik adalah pada masa Madinah dibawah Rasulullah saw. Setelah itu masa kekhalifahan yang 4 yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra. Dan satu lagi mungkin Umar bin Abdul Azis yang sering disebut-sebut sebagai khalifah ke 5.

Pada masa itu, Rasulullah dan ke 4 sahabat itu benar-benar menjalankan dan memberlakukan aturan dan hukum sesuai dengan kehendak Sang Khalik. Dengan mencontoh dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan, Al-Quran dijunjung tinggi, tidak hanya sebatas bacaan atau teori.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(3):21).

Ketakwaan, akhlak dan prilaku mulia para khalifah, atas ridho Allah swt, mampu menjadikan negri yang mencakup seluruh semenanjung Arabia ( Saudi Arabia, Yaman, Oman, Qatar, Kuwait dan Dubai), bekas Persia ( Irak dan Iran), Syam ( Yordan, Syria, Lebanon dan  Palestina) serta Mesir, sebuah masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum Islam.

Nafas toleransi, keadilan dan musyawarah amat terasa di negri tersebut. Berbagai kisah tentang para khalifah yang hidup sederhana itu tertulis dengan tinta emas, menjadi bukti sejarah yang sulit untuk dilupakan begitu saja.

Melalui Shirah Nabi atau Biografi Rasulullah banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana Rasulullah menyikapi perbedaan pendapat dengan musyawarah. Dengan sikap arif dan bijaksana Rasulullah rela mengganti keputusan yang telah diambil selama itu bukan perintah Allah dan dianggap lebih baik dan tepat.

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. QS.Asy-Syua’ra(42):38).

Abu Bakar yang sebelum menjadi khalifah dikenal lembut namun setelah menjadi khalifah ternyata bisa keras dan tegas. Terbukti dari sikapnya yang tegas terhadap sekelompok Muslim yang menolak menunaikan zakat begitu Rasulullah wafat.

Sementara Umar bin Khattab yang sebelum memeluk Islam dikenal keras namun setelah menjadi khalifah berubah dratis menjadi lembut. Terbukti dengan kebiasaannya menyamar menjadi rakyat biasa dan berkeliling mengunjungi orang-orang miskin sekaligus membantu kesulitan mereka.

Tetapi ketegasannya tetap muncul pada saat-saat dibutuhkan. Terlihat jelas dalam kisahnya tentang sebuah tulang ayam yang dikirimkannya kepada Amr bin Ash, pemimpin Mesir kala itu. Ini adalah peringatan agar Amr tidak bertindak semena-mena terhadap nenek Yahudi yang mengadukan kepada sang khalifah bahwa ia digusur karena tanah miliknya itu akan dijadikan masjid oleh pihak pemerintah.

Sedangkan Ustman bin Affan, menantu Rasulullah yang terpilih menjadi khalifah berkat musyawarah, dikenal karena kelembutan dan kesabarannya. Oleh karenanya setiap hari Jumat ia membebaskan seorang budak dengan harga yang sangat tinggi.

Sementara Ali bin Abu Thalib, suami Fatimah binti Muhammad saw, dikenal sebagai orang yang zuhud, yang memilih hidup dalam kesederhaan sekalipun beliau adalah seorang khalifah. Pakaiannya hanyalah kain kasar yang sekedar cukup melindungi beliau dari panasnya matahari dan dinginnya udara ketika musim dingin tiba.

Ingat pula bagaimana Umar bin Abdul Azis yang meminta istrinya agar mengembalikan gelang emas berlian hadiah dari ayahnya ketika ia menjabat sebagai khalifah kepada Baitul Maal. Baitul Maal adalah sebuah lembaga kekayaan negara.

Dari contoh-contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Demokrasi itu sudah ada sejak awal Islam. Namun Demokrasi tersebut tidak sama dengan demokrasi yang sekarang sering digembar-gemborkan pihak Barat. Demokrasi dalam Islam bukan berarti kekuatan rakyat. ( Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yang berarti Demos untuk kekuatan dan Cratos yang berarti rakyat).

Demokrasi dalam kacamata Islam  adalah azas musyawarah. Siapa yang diajak musyawarah? Apakah semua orang ? Tidak ! Dasar pemikiran Islam adalah tunduk dan patuh itu hanya kepada Sang Khalik, Allah swt. Karena sebenarnya Dialah yang menjadikan seseorang itu menjadi pemimpin. Tanpa izin-Nya mustahil seseorang bisa mencapai puncak kepemimpinan. Maka orang-orang yang diajak musyawarahpun otomatis hanya orang-orang yang memahami arti Islam, yaitu orang-orang yang beriman dan tunduk pada-Nya. Itulah kaum Mukminin.

Sebaliknya, Allah swt telah menurunkan aturan dan persyaratan bagaimana memilih seorang pemimpin. Itu sebabnya sebagai rakyat biasa kita juga harus berhati-hati ketika memilih pimpinan. Karena kita sendirilah yang nantinya bakal merasakan dampak kepemimpinan seseorang. Bahkan dengan tegas Allah mengatakan bahwa orang yang memilih pemimpin yang mengutamakan kekafiran daripada keimanan adalah termasuk golongan orang yang zalim.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS.At-Taubah(9):23).

Namun apa yang terjadi saat ini sungguh jauh dari apa yang telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabat. Kaum Muslimin saat ini banyak yang tidak memperhatikan kriteria ketakwaan dan kesholehan yang ada dalam pribadi calon pemimpin yang dipilihnya. Kelihatannya standard dan cara berpikir barat yang cenderung mendewakan kehebatan akal telah merusak cara berpikir kaum Muslimin.

Lebih parah lagi, bila kekuatan materi alias kekayaan yang dijadikan patokan. Ataupun hubungan kekerabatan. Bahkan kekuatan militer alias kudeta ! Haus akan kekuatan dan kekuasaan tampaknya telah menjadi ’tren’ sebagian para pemimpin dunia Islam. Mereka lupa bahwa kekuatan dan kekuasaan itu hanyalah titipan dan cobaan yang tanggung jawabnya amatlah berat.

Inilah yang  dikatakan Umar bin Abdul Azis sepulang dari pengangkatannya sebagai khalifah.

“Apa yang kau tangiskan?” tanya istri Umar. Umar  mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang miskin, janda-janda yang banyak  anaknya namun  rezekinya sedikit, aku teringat akan para tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang tidak dapat menjawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah karena aku tahu, yang menjadi pembela  mereka adalah Rasulullah saw’’. Mendengar itu istrinyapun turut meneteskan air mata.

(Click:http://vienmuhadi.com/2009/11/17/keteladanan-umar-bin-abdul-aziz-amirul-mukminin/ )

Islam juga mengajarkan agar kaum Muslimin berdiri di atas kaki sendiri alias tidak bergantung kepada pihak lain apalagi kaum Kafirun. Ini bukan berarti kaum Muslimin disuruh membenci mereka. Allah memerintahkan hal tersebut karena dalam hati mereka sebenarnya menyimpan kebencian yang mendalam kepada Islam, disadari maupun tidak.

” Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.(QS.Ali Imran(3):119).

Tentu saja hal ini amat berbahaya. Dapat dibayangkan apa yang dapat dilakukan seseorang apalagi musuh dalam selimut ketika kita memiliki hutang. Hutangnya tidak tanggung-tanggung pula, hutang negara . Hutang dimana rakyat, tanah air dan keimanan adalah jaminannya !! Itu sebabnya Allah mengancam orang-orang yang berbuat demikian dengan azab yang benar-benar pedih. Dan Allah memasukkannya kepada golongan orang munafik !

”Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”.(QS.An-Nisa(4):138-139).

Pemimpin adalah penyayom, pelindung sekaligus contoh bagi rakyatnya. Amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat bila tidak diiringi perbuatan baik terhadap sesama adalah sia-sia. Rasulullah menyebutnya bangkrut.  Mengapa ? Karena seseorang harus membayar perbuatan buruknya seperti mencaci, memfitnah dll dengan pahala amal ibadah yang diperbuatnya. Dan bila perbutan dzalim itu lebih besar dan banyak dari dapa pahala ibadahnya maka bangkrutlah ia.

Rasulullah bersabda: “Orang yang bangkrut ialah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat tetapi sekaligus membawa (dosa) mencaci orang, memfitnah dan menganiaya serta menyiksa sesama semasa hidupnya” .

” … Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?” Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. …”. (QS.Asy-Syua’ra(42):44-45).

Bila mencaci, memfitnah, menganiaya dan menyiksa sesama manusia saja dilarang bagaimana pula dengan membunuh ?

“……barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya……”.(QS.Al-Maidah(5):32).

”Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.(QS.Asy-Syua’ra(42):42).

Bagaimana dengan orang-orang yang didzalimi ? Bolehkah mereka membela diri atau haruskah mereka takut dan tunduk kepada pemimpin yang dzalim? Berdosakah mereka? Apakah mereka juga harus menanggung dosa orang-orang yang ditakutinya itu?

”Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.(QS.Asy-Syua’ra(42):41-42).

Sebaliknya orang-orang tertindas yang tidak membela diri, membiarkan dirinya terdzalimi dan melihat kedzalimin terjadi di depan matanya tanpa berbuat apapun dan hatinyapun tidak mengutuknya maka neraka adalah tempat kembalinya.

” Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah yang paling lemah imannya”.(HR Bukhari-Muslim).

Dalam surat Ash-Shad ayat 59-64 Allah menceritakan percakapan yang terjadi antar penghuni neraka sebagai berikut :

(Dikatakan kepada mereka): “Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)”. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): “Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka”.

Pengikut-pengikut mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap”.

Mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.”

……

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka”.

”Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan shalat. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu)”.(QS.Fathir(35):18).

Rasulullah juga bersabda bahwa sesama Muslim itu bersaudara. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk mengingatkan  saudaranya yang lalai ataupun sedang khilaf. Tidak boleh kita membiarkan saudara kita tersesat. Apalagi menunggu  hingga orang lain ( non Muslim ) menegur bahkan menyerangnya!

Semoga  apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah cermin kesadaran kaum Muslimin dalam rangka menuju ketakwaaan.  Rasanya sudah terlalu lama kita ini terbuai dalam gelimang hutang para pemimpin yang menggadaikan keimanan ini kepada kaum Kufar. Lupa bahwa suatu hari nanti ia harus mempertanggung-jawaban perbuatannya itu.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 16 Maret 2011.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 74 other followers