Feeds:
Posts
Comments

Namanya adalah Hindun binti Suhail, dikenal dengan nama Ummu Salamah. Ia dibesarkan di lingkungan bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah bin Makhzurn. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya yang terkaya dan terbesar wibawanya.

Sementara Hindun sendiri dikenal kaumnya selain karena kecantikannya yang mampu  meluluhkan setiap orang yang melihatnya juga karena keelokan pribadinya yang memang telah tertanam sejak kecil.

Banyak pemuda Mekah yang ingin mempersunting Hindun. Namun yang akhirnya berhasil menikahinya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal, seorang penunggang kuda terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya bernama Barrah binti Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi saw. Abdullah adalah saudara sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab.

Hindun dan Abdullah hidup bahagia. Rumah tangga mereka diliputi kerukunan dan kesejahteraan. Tak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka sehingga mereka memeluk Islam. Dengan demikian mereka  menjadi orang-orang pertama yang masuk Islam. Maka mulailah mereka berjuang dalam mempertahankan keimanan dan hidup mereka.

Sebagaimana kita pahami, orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin generasi awal agar mereka mau meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat kondisi ini, Rasulullah saw mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah. Raja Habasyah saat itu adalah seorang pemeluk taat Nasrani yang mengakui Muhammad saw sebagai rasul. Raja tersebut adalah Najasyi.

Di kemudian hari, kelompok orang yang berhijrah ke negri ini disebut sebagai kaum Muhajirin yang pertama. Hindun dan Abdullah adalah satu diantaranya. Di Habasyah inilah Hindun melahirkan anak-anaknya, yaitu Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah. Sejak itu Hindun dikenal dengan nama Ummu Salamah atau ibunya Salamah. Dan Abdullah disebut dengan Abu Salamah, ayahnya Salamah.

Beberapa lama kemudian mendengar keislaman tokoh-tokoh besar Mekah seperti Umar bin Khattab ra dan Hamzah bin Abdul Mutthalb, para Muhajirin pertama inipun tertarik untuk pulang kampung. Namun ternyata harapan mereka meleset. Kaum Muslimin masih tetap ditekan dan disiksa orang-orang Quraisy. Beruntung sebagian besar penduduk Yatsrib ketika itu telah berbait hingga akhirnya Rasulullahpun berani mengizinkan mereka untuk hijrah ke Yatsrib, nama lama Madinah.

Namun tampaknya bukan hal yang mudah untuk berhijrah. Orang-orang Quraisy dengan kejam terus berusaha menghalangi mimpi umat islam untuk hidup tentram sambil menjalani agama baru mereka. Ditengah perjalanan kaum Bani Makhzum (kaumnya Ummu Salamah) mencegat dan menyandera Ummu Salamah. Sementara bani Asad, baninya Abu Salamah menculik anak-anaknya. Abu Salamah terpaksa  merelakan keluarganya dan meneruskan perjalanan hijrahnya tanpa orang-orang yang amat dikasihinya itu.

Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu Salamah terus-menerus menangis karena kecewa atas perbuatan kaumnya. Akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya ke Madinah. Bani Asad juga akhirnya menyerahkan kembali putranya, Salamah.

Namun kehidupan di Madinah bukanlah tanpa perjuangan. Perang demi perang terus berlangsung. Abu Salamah ikut serta dalam Perang Badar dan perang Uhud. Dalam perang Dzil Asyirah yang terjadi pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menunjuknya untuk  mewakili beliau di Madinah.

Pada perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka parah dan nyaris meninggal. Namun tak lama kemudian ia pulih kembali. Bahkan pada perang berikutnya ketika bani Asad dikabarkan akan menyerang umat Islam di Madinah, Rasulullah menunjuk sepupu sekaligus saudara susunya ini untuk memimpin penyerangan. Pasukan Abu Salamah mengalami kemenangan yang gemilang. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan perang yang banyak.

Namun luka-luka Abu Salamah kembali kambuh. Ia jatuh sakit. Rasullah beberapa kali menjenguk dan mendoakannya. Sementara itu Ummu Salamah selalu mendampingi, merawat dan menjaganya siang dan malam.

Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat. Dengan perasaan duka yang mendalam, Ummu Salamahpun berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga jika setelah itu istrinya tidak menikah lagi. Kemudian Allah akan mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika si istri yang meninggal dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku. Dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah lagi sepeninggalmu.”

Abu Salamah berkata pelan, “Maukah engkau menaati perintahku?”. Ummu Salamah  menjawab, “Adapun aku bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamahpun melanjutkan perkataannya, “Seandainya aku mati, maka menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya Allah, kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”

Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah saw selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?”

Rasulullah menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.” Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan melaksanakannya untuknya.”

Setelah itu Rasulullah saw berdo’a: “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya dan berilah pengganti yang lebih baik untuknya.”

Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia telah memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah. Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia menjadi janda dan ibu bagi anak-anak yatim.

Setelah wafatnya Abu Salarnah, para pemuka dari kalangan sahabat bersegera meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk melindungi diri Ummu Salamah. Suatu hal yang lazim dilakukan masa itu. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya. Ia terus hidup dalam kesedihan yang mendalam.

Akhirnya Rasulullah saw mendatanginya dan berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”.

Atas pertanyaan tersebut Rasulullahpun terus berpikir. Tidakkah kedua sahabatnya, yaitu  Abu Bakar dan Umar lebih baik dari Abu Salamah? Namun mengapa Ummu Salamah tetap menolak lamaran keduanya? Akhirnya Rasulullah menyadari bahwa Allah swt telah menunjuk dirinya agar menanggung beban derita perempuan yang telah begitu banyak berkorban dalam Islam ini. Rasulullahpun segera melamarnya.

Di kemudian hari, setelah menjalani kehidupan sebagai salah satu Umirul Mukminin, Ummu Salamah ra dikenang tetap istiqomah. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa wahyu yang datang sebelum pernikahan rasulullah dengan Ummu Salamah ra sering terjadi dikamar Aisyah ra. Hal ini yang sering dibanggakan istri Rasulullah termuda tersebut. Namun sejak pernikahan dengan Ummu Salamah, wahyu lebih sering datang di kamar Ummu Salamah. Untuk diketahui, Rasullah menempatkan Ummu Salamah di kamar Zainab binti Khuzaimah, istri nabi yang telah meninggal dan digelari Ummul-Masakiin (ibu bagi orang-orang miskin) karena tingkat kepeduliannya yang amat tinggi terhadap orang miskin.

Disamping itu, Ummu Salamah juga dikenal karena sifatnya yang bijak. Suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para pengikutnya masuk ke kota tersebut walaupun hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Sebenarnya sebagian besar sahabat ketika itu tidak mau menerima sikap ini. Mereka merasa bahwa mereka berniat melakukan sesuatu yang di-ridhoi Allah SWT dan pasti Allah akan membela mereka. Jadi mereka berkesimpulan mereka harus mengambil jalan kekerasan. Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau justru menyetujui untuk menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.

Kemudian setelah kesepakatan tercapai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah. Ternyata walaupun Rasulullah telah mengulangi perintah tersebut hingga 3 kali tidak seorangpun sahabat yang mentaatinya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mungkin para sahabat benar-benar kecewa atas keputusan yang diambil Rasulullah.

Rasulullah akhirnya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah yang ketika  itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurutnya lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

Pada hari tuanya, melalui surat yang ditata dengan kata yang indah, Ummu Salamah juga pernah mengingatkan Aisyah ra agar tidak turut campur dalam peperangan (perang Jamal dll) yang terjadi akibat fitnah pada masa pembunuhan Ustman bin Affan ra.

“Dari Ummu Salamah, Istri Nabi shallallahu alaihi wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.

Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia.  Amma ba’du.

Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya. Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.

Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya”.

” Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS.Al-Ahzab(33):32-33).

Ummu Salamah wafat dalam usia 84 tahun pada tahun 59 H. Ia dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping makam  Ummirul-Mukminin lainnya.

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 1 September 2010.

Vien AM.

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Berikut 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Siddiq ra.

Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”.

Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadiets.

2. Umar Bin Khatab ra.

Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.

Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.

Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.

5. Thalhah Bin Abdullah ra.

Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

6. Zubair Bin Awaam

Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

7. Sa’ad bin Abi Waqqas

Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

8. Sa’id Bin Zaid

Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar. Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun dikuburkan di Baqi’.

9. Abdurrahman Bin Auf

Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’.

10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah

Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw. Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 31 Agustus 2010.

Vien AM.

Sumber : dakwatuna.com

Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini.

Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa. Kota Al Zahra sendiri dibangun pada tahun 936 Masehi oleh Khalifah Abd Al rahman Al Nasir III yang berkuasa antara tahun 912 hingga 961 Masehi. Ayah Al Zahrawi merupakan seorang penguasa kedelapan dari Bani Umayyah di Andalusia yang bernama Abbas. Menurut catatan sejarah keluarga ayah Al Zahrawi aslinya dari Madinah yang pindah ke Andalusia.

Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur karena sebagai seorang Muslim yang taat. Dalam buku Historigrafi Islam Kontemporer, seorang penulis dari perpustakaan Viliyuddin Istanbul Turki menyatakan Al Zahrawi hidup bagaikan seorang sufi. Kebanyakan dia melakukan pengobatan kepada para pasiennya secara cuma-cuma. Dia sering kali tidak meminta bayaran kepada para pasiennya. Sebab dia menganggap melakukan pengobatan kepada para pasiennya merupakan bagian dari amal atau sedekah. Dia merupakan orang yang begitu pemurah serta baik budi pekertinya.

Selain membuka praktek pribadi, Al Zahrawi juga bekerja sebagai dokter pribadi Khalifah Al Hakam II yang memerintah Kordoba di Andalusia yang merupakan putra dari Kalifah Abdurrahman III (An-Nasir). Khalifah Al Hakam II sendiri berkuasa dari tahun 961 sampai tahun 976. Dia melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Kristen di Iberia utara dan menggunakan kondisi yang stabil untuk mengembangkan agrikultur melalui pembangunan irigasi. Selain itu dia juga meningkatkan perkembangan ekonomi dengan memperluas jalan dan pembangunan pasar.

Kehebatan Al Zahrawi sebagai seorang dokter tak dapat diragukan lagi. Salah satu sumbangan pemikiran Al Zahrawi yang begitu besar bagi kemajuan perkembangan ilmu kedokteran modern adalah penggunaan gips bagi penderita patah tulang maupun geser tulang agar tulang yang patah bisa tersambung kembali. Sedangkan tulang yang geser bisa kembali ke tempatnya semula. Tulang yang patah tersebut digips atau dibalut semacam semen. Dalam sebuah risalahnya, dia menuliskan, jika terdapat tulang yang bergeser maka tulang tersebut harus ditarik supaya kembali tempatnya semula. Sedangkan untuk kasus masalah tulang yang lebih gawat, seperti patah maka harus digips.

Untuk menarik tulang lengan yang bergeser, Al Zahrawi menganjurkan seorang dokter meminta bantuan dari dua orang asisten. Kedua asisten tersebut bertugas memegangi pasien dari tarikan. Kemudian lengan harus diputar ke segala arah setelah lengan yang koyak dibalut dengan balutan kain panjang atau pembalut yang lebih besar. Sebelum dokter memutar tulang sendi sang pasian, dokter tersebut harus mengoleskan salep berminyak ke tangannya. Hal ini juga harus dilakukan oleh para asisten yang ikut membantunya dalam proses penarikan. Setelah itu dokter menggerakan tulang sendi pasien dan mendorong tulang tersebut hingga tulang tersebut kembali ke tempatnya semula.

Setelah tulang lengan yang bergeser tersebut kembali ke tempat semula, dokter harus melekatkan gips pada bagian tubuh yang tulangnya tadi sudah dikembalikan. Gips tersebut mengandung obat penahan darah dan memiliki kemampuan menyerap. Kemudian gips tersebut diolesi dengan putih telur dan dibalut dengan perban secara ketat. Setelah itu, dengan menggunakan perban yang diikatkan ke lengan, lengan pasien digantungkan ke leher selama beberapa hari. Sebab jika lengan tidak digantungkan, maka lengan terasa sakit karena masih lemah kondisinya.

Sesudah kondisi lengan semakin kuat dan membaik, maka gantungan lengan ke leher dilepaskan. Jika tulang yang bergeser itu sudah benar-benar kembali dalam posisi semula dengan baik dan sudah tidak terasa begitu sakit lagi maka buka semua balutan termasuk gips yang membalut tangan pasien. Tetapi jika tulang yang bergeser tersebut belum sepenuhnya pulih atau kembali ke tempat semula secara tepat, maka perban maupun gips yang membalut lengan pasien harus dibuka. Lalu lengan pasien dibalut lagi dengan gips dan perban yang baru setelah itu dibiarkan selama beberapa hari hingga lengan pasien benar-benar sembuh total.

Salah satu karya fenomenal Al Zahrawi merupakan Kitab Al-Tasrif. Kitab tersebut berisi penyiapan aneka obat-obatan yang diperlukan untuk penyembuhan setelah dilakukannya proses operasi. Dalam penyiapan obat-obatan itu, dia mengenalkan tehnik sublimasi. Kitab Al Tasrif sendiri begitu populer dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa oleh para penulis. Terjemahan Kitab Al Tasrif pernah diterbitkan pada tahun 1519 dengan judul Liber Theoricae nec non Practicae Alsaharavii. Salah satu risalah buku tersebut juga diterjemahkan dalam bahasa Ibrani dan Latin oleh Simone di Genova dan Abraham Indaeus pada abad ke-13. Salinan Kitab Al Tasrif juga juga diterbitkan di Venice pada tahun 1471 dengan judul Liber Servitoris. Risalah lain dalam Kitab Al Tasrif juga diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gerardo van Cremona di Toledo pada abad ke-12 dengan judul Liber Alsaharavi di Cirurgia. Dengan demikian kitab karya Al Zahrawi semakin termasyhur di seluruh Eropa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya karya Al Zahrawi tersebut bagi dunia. Kitabnya yang mengandung sejumlah diagram dan ilustrasi alat bedah yang digunakan Al Zahrawi ini menjadi buku wajib mahasiswa kedokteran di berbagai kampus-kampus.

Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran yang termasyhur pada zamannya. Bahkan hingga lima abad setelah dia meninggal, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya masuk dalam kurikulum jurusan kedokteran di seluruh Eropa.  dya/taq

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 31 Agustus 2010.

Vien AM.

Dikutip dari : http://koran.republika.co.id/berita/92938/Abu_Al_Zahrawi_Sang_Penemu_Gips_Era_Islam

Tidak ada sedikitpun alasan bagi Khadijah untuk tidak mempercayai apa yang diceritakan lelaki yang telah menemaninya dalam suka dan duka selama 15 tahun pernikahan itu. Muhammad tidak pernah sekalipun berbohong dan ia juga tidak gila. Bahkan dengan kata-kata lembut namun tegas ia menjawab bahwa tidak mungkin apa yang dilihat suaminya itu setan ataupun jin karena Muhammad adalah orang yang memiliki sifat dan akhlak terpuji. Jawaban yang begitu meyakinkan ini tentu saja membuat Muhammad yang tadinya khawatir bahwa ia telah diganggu jin jahat menjadi tenang kembali.

Itu sebabnya Muhammad tidak menolak ajakan Khadijah untuk menemui Waraqah bin Naufal demi menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Waraqah adalah sepupu Khadijah yang dikenal alim. Ia adalah pendeta Nasrani yang menguasai kitabnya dengan sangat baik. Ialah yang kemudian menerangkan bahwa  kitabnya menceritakan apa yang dialami para nabi sejak dahulu. Menurutnya sosok raksasa yang mendatangi Muhammad dari balik langit itu adalah malaikat Jibril yang biasa menyampaikan wahyu dari Tuhannya. Ia bahkan bersumpah bila Muhammad memang adalah nabi, sesuai dengan apa yang telah diramalkan Injil, kitab sucinya, ia akan menjadi orang yang pertama membaiatnya.

Namun beberapa bulan setelah kejadian di jabal Nur itu Muhammad tidak pernah lagi didatangi sosok bernama Jibril itu lagi. Muhammad sempat kecewa dan merasa bahwa  ia telah ditinggalkan Tuhannya. Tampaknya Allah sedang menguji kesabaran calon utusan-Nya ini.

Hingga pada suatu saat, Muhammad kembali melihat sosok tersebut berada di antara langit dan bumi seraya berkata : ” Wahai Muhammad, kamu adalah utusan Allah kepada manusia”. Muhammad sangat terkejut dan lari ketakutan. Ia segera pulang dan meminta istrinya menyelimuti dirinya. Namun kali ini mahluk asing tersebut terus mengejarnya dan berkata :

” Hai orang yang berkemul (berselimut) bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”. (QS.Al-Mudatsir(74):1-7).

Sejak  itulah Muhammad menyadari bahwa dirinya adalah utusan Allah. Dan melalui perantaraan Malaikat Jibril, beliau menerima perintah, larangan dan tugas dari Allah swt, Sang Pencipa Yang Maha Esa. Itulah kumpulan wahyu, Al-Quranul Karim, yang diterimanya selama 22 tahun 2 bulan 22 hari hingga ajal menjemputnya di usianya yang ke 63 tahun.

“ Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.

” Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.  Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? ” (QS.An-Najm(53):1-12).

Ayat-ayat Al-Quran diturunkan secara berangsur dan bertahap. Kadang turun ketika terjadi permasalahan dimana Rasulullah tidak atau belum mengetahui jawabnya tetapi lebih sering lagi turun begitu saja. Dengan cara ini banyak hikmah yang bisa diambil diantaranya yaitu lebih mudah memahami dan menghafalkannya.

“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”. (QS.Al-Isra’(17):106).

Di kemudian hari para ahli tafsir membagi ayat-ayat tersebut berdasarkan tempat  turunnya. Yang turun sebelum hijrah ( dari Mekah ke Madinah ) disebut Ayat Makkiyah. Ayat-ayat ini turun selama 12 tahun lebih. Sedangkan yang turun sesudah hijrah dinamakan Ayat Madanniyah. Ayat-ayat ini turun selama 10 tahun. Pada umumnya ciri kedua jenis ayat-ayat tersebut berbeda  baik topik dan isinya  maupun gaya bahasanya. Ayat Makkiyah biasanya berisi tentang tauhid serta adanya surga dan neraka. Sementara Ayat Madaniyah lebih banyak membicarakan masalah hukum.

Perlu diketahui, ayat-ayat Al-Quran datang tidak  dengan urutan sebagaimana kitab Al-Quran yang sekarang ini berada ditangan umat Islam di seluruh dunia. Sebagian ayat turun berdasarkan kebutuhan dan sebagai jawaban atas pertanyaan orang-orang di sekeliling Rasulullah saw.  Rasulullah dengan petunjuk malaikat Jibrillah yang memberitahukan kepada para sahabat urutan ayat dan surat hingga seperti sekarang ini. Urutan ini sesuai dengan  apa yang dinamakan kitab yang tersimpan di Lauh Mahfuz.

Ad-Dhahak, Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”.

Masalah tentang Tauhid atau ke-Esa-an Allah azza wa jalla yang diturunkan di Mekah pada masa awal le-Islam-an adalah masalah yang paling mendasar. Ini adalah ajaran yang sama sejak nabi Adam as hingga Rasulullah saw. Masyarakat Mekah yang kebanyakan musyrik ( menduakan atau lebih Allah) adalah tantangan besar bagi Muhammad saw,  Rasul terakhir yang baru saja ditunjuk ini.

“ Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Orang yang pertama mengakui kerasulan ini mudah ditebak yaitu Khadijah ra dan  ponakannya yang memang tinggal satu rumah dengan Rasulullah yaitu Ali bin Abu Thalib. Ketika itu Ali baru berusia 10 tahun. Kemudian disusul oleh orang-orang dekatnya seperti karibnya sejak kanak-kanak yaitu Abu Bakar; bekas budaknya yang diperlakukan bagai anak sendiri, Zaid bin Haritsah  dan Ummu Aiman, pengasuhnya ketika kecil.

Rasulullah memulai dakwah di lingkungan keluarganya sendiri dan secara sembunyi-sembunyi pula. Kedua paman Rasulullah yaitu Abbas bin Abdul Muthalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib memeluk Islam pada era tersebut. Setelah keluarga dekat yang kemudian tertarik mengikuti ajaran baru ini  adalah orang-orang dari golongan lemah, fakir dan kaum budak.

Selanjutnya Abu Bakar berhasil mengajak beberapa teman dekatnya seperti Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abbi Waqqas dan Thalhah bin Ubaidillah. Aisyah, putri Abu Bakar menyusul tak berapa lama kemudian sebagai orang yang ke 21 atau 22 pemeluk Islam.

Ketika Rasulullah merasa bahwa rumahnya tidak lagi cukup untuk menampung para sahabat maka Rasulullahpun memutuskan untuk menggunakan rumah milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Madrasah pertama ini terletak tersembunyi di bukit Shafa. Ditempat inilah Rasulllah secara sembunyi-sembunyi menerangkan, mengajarkan dan mempraktekkan ayat-ayat yang diturunkan kepada beliau.

Ayat-ayat turun dengan berbagai cara. Ada yang langsung masuk kedalam hati beliau, kadang malaikat Jibril datang dengan menyamar sebagai tamu laki-laki dan yang dirasa paling berat adalah ketika ayat turun dengan diawali bunyi lonceng yang berdentang nyaring di telinga Rasulullah. Para sahabat menuturkan ketika ayat turun dalam keadaan ini, wajah Rasulullah terlihat berpeluh sekalipun saat itu adalah musim dingin. Bahkan tidak jarang unta Rasulullah jatuh terduduk saking beratnya menanggung tubuh Rasulullah ketika itu. Ini terjadi ketika ayat turun di tengah perjalanan.

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata”.

Rasulullah memberitahukan dengan jelas mana ayat-ayat Al-Quran mana hadits Qudsi dan mana hadits nabawiyah. Rasulullah menyuruh para sahabat agar segera menghafal ayat-ayat Al-Quran tersebut begitu ayat-ayat tersebut turun. Para sahabat yang mampu menulis kemudian mencatatnya di berbagai media yang memungkinkan, seperti daun-daunan, pelepah, bebatuan dsb.

Sebaliknya demi menghindari kesalahan dan kerancuan, Rasulullah melarang para sahabat menuliskan hadits, yaitu apa yang dikatakan, dilakukan maupun diamnya nabi. Namun beliau tidak melarang menghafalnya.  Hafalan tentang hal tersebut kemudian di sampaikan secara turun temurun kepada anak cucu para sahabat. Di kemudian hari pengetahuan dan ilmu tersebut oleh diantaranya Bukhari dan Muslim, di kumpulkan dan dicatat hingga menjadi Hadits Nabawiyah yang sampai kepada kita sekarang ini.

( lihat : http://vienmuhadi.com/2009/06/30/hadis-dan-perang-pemikiran/ )

Rasulullah baru mulai berdakwah secara terbuka setelah turun ayat yang memerintakan beliau untuk itu. Ini terjadi setelah Rasulullah berdakwah secara diam-diam selama 3 tahun lamanya dan pengikutnya ada sekitar 40 orang.

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik “. (QS.Al-Hijr (15):94).

( Bersambung )

Khadijah adalah seorang perempuan terhormat kaya raya yang sukses berkat kelihaiannya  dalam menjalankan usaha perdagangannya. Ia dijuluki ‘Afifah Thahirah atau perempuan suci oleh orang-orang disekitarnya. Ia  pernah menikah dua kali. Keduanya wafat ketika masih berstatus sebagai suaminya. Setelah itu Khadijah memutuskan untuk tidak lagi menikah meski beberapa lelaki terhormat datang melamarnya.

Namun Allah menghendaki lain. Sejak ia mendengar sendiri laporan dari pembantu setianya, Maisaroh, tentang  bagaimana santunnya seorang pemuda bernama Muhammad yang ditunjuknya untuk membantu menjalankan bisnisnya, hatinya tiba-tiba hidup kembali. Sebelum itu ia memang pernah mendengar kabar bahwa pemuda Quraisy ponakan Abu Thalib, cucu Abdul Mutthalib itu memiliki akhlak yang sungguh mulia. Ia dikenal sebagai pemuda yang jujur dan sopan  Sangat berbeda dengan kebanyakan pemuda Mekah yang gemar bermabuk-mabukan dan pesta pora.

Hal inilah yang membuat Khadijah berpikir ulang. “ Pasti ada sesuatu yang istimewa dalam diri anak muda ini. Dari begitu banyak orang yang pernah aku serahi tugas menjalankan perniagaan tak satupun yang pernah pulang dengan membawa berkah yang demikian berlimpah. Dan ini semua berkat kejujuran dan kesantunannya ”, pikirnya keheranan. “ Walaupun beda usia antara aku dan dirinya cukup jauh, rasanya bukan hal mustahil bagi kami untuk bersatu dalam sebuah pernikahan. Semoga firasatku ini firasat yang baik. Semoga darinya akan lahir anak-anak yang berkwalitas ”.

Itu sebabnya maka Khadijahpun memberanikan diri mengutus sahabatnya, Nafisah binti Muniyah, untuk menanyakan apa yang menjadi penghalang pemuda yang diam-diam telah mencuri hatinya itu, sehingga ia belum juga menikah.

“ Aku tidak pernah berani berpikir ke arah itu karena aku belum memiliki cukup harta untuk meminang seseorang”, begitu jawaban pendek Muhammad. Maka akhirnya ketika Nafisah memberitahukan bahwa Khadijah, yang masih memiliki hubungan kekerabatan walau jauh itu, menginginkan Muhammad melamar dirinya, Muhammadpun setuju. Tampak bahwa diam-diam ia juga mengaguminya.

Dengan persetujuan kedua keluarga besar maka menikahlah Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid. Ketika itu Muhammad  berusia 25 tahun sementara Khadijah 40 tahun. Pasangan bahagia ini hingga akhir hayat Khadijah, sang itri tercinta, yang  wafat di usianya yang ke 65 tahun, dikaruniai 4 putri dan 2 putra. Empat putri mereka adalah Zainab, Ruqaiah, Ummi Kultsum dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan dua putra mereka  adalah Abdullah dan Qasim bin Muhammad. Keduanya meninggal ketika masih kecil.

Selama 25 tahun pernikahannya itu Muhammad tidak pernah mencoba menambah istri lagi, bahkan terpikirpun tidak. Padahal adalah hal yang amat lazim bagi pria Arab ketika itu untuk memiliki istri lebih dari satu.

Begitu menikah Khadijah mempercayakan urusan perniagaannya kepada sang suami. Sementara ia sendiri lebih konsentrasi kepada urusan rumah tangganya. Namun  demikian ini tidak berarti bahwa Muhammad lepas tangan terhadap urusan yang umumnya dianggap sebagai urusan perempuan itu. Tidak jarang ia terlihat membantu pekerjaan sehari-hari Khadijah. Pendek kata meskipun istrinya adalah seorang saudagar kaya raya, Muhammad tetap sederhana dan bersahaja.

Muhammad bin Abdullah adalah benar-benar contoh yang patut menjadi keteladanan. Ia amat menyayangi istri dan anak-anaknya yang semuanya perempuan itu. Padahal masyarakat Arab ketika itu tidak menghargai anak perempuan. Memiliki anak perempuan dianggap aib yang memalukan bagi  kehormatan dan harga diri keluarga.

 

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.  Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu “. (QS. An-Nahl(16):58-59).

Selama itu pulalah Khadijah memperhatikan bahwa prilaku suaminya tercinta itu tidak pernah berubah. Sabar, jujur dan amanah adalah sifat utama beliau. Itu sebabnya orang memberinya gelar Al-Amin (orang yang dipercaya). Ini terbukti jelas pada suatu peristiwa yang terjadi ketika Muhammad berusia 35 tahun.

Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang penulis kitab-klasik Shirah Nabawiyah ternama yang termasuk orang pertama yang menulis sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup pada sekitar tahun 1100 M, Ka’bah sebelum zaman Islam telah mengalami pemugaran selama 4 kali.

Pemugaran ke 4 terjadi ketika Muhammad berusia 35 tahun. Pada mulanya pemugaran berjalan lancar, masing-masing kelompok kabilah bekerja menurut pembagian tugas yang telah disepakati bersama. Demikian pula Muhammad, ia turut bekerja membantu pamannya, Al-Abbas bin Abdul–Mutthalib. Namun setelah pemugaran sampai pada tahap peletakkan kembali batu Hajar Aswad terjadilah perselisihan. Masing-masing kabilah merasa lebih berhak untuk melasanakan pekerjaan tersebut.

Perselisihan berkembang menjadi pertikaian hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Hal ini terus memanas hingga berhari-hari. Beruntung akhirnya suasana mendingin setelah semua pihak mau berkumpul dan berembug. Diputuskan bahwa siapapun yang pertama kali memasuki pintu Ka’bah, dialah yang berhak memutuskan perkara.

Tak lama kemudian, dalam suasana tegang tampak Muhammad berjalan menuju pintu Ka’bah.  Serentak merekapun berucap : “ Nah, dialah Al-Amin (orang yang terpercaya), kita rela dan puas menerima keputusannya.!”. Setelah Muhammad mengetahui duduk perkaranya, maka iapun meminta selembar kain, lalu setelah kain dihamparkan ia meletakkan Hajar-Aswad ditengah-tengah kain tersebut.

Kemudian ia berujar :” Setiap kabilah hendaknya memegang pinggiran kain, lalu angkatlah bersama-sama!”. Setelah kain didekatkan ketempat penyimpanan Hajar-Aswad kemudian Muhammadpun mengangkat benda tersebut dan meletakkannya pada tempatnya. Dengan cara itu maka berakhirlah perselisihan dan semua pihak merasa puas.

Menjelang usianya yang ke 40 tahun, Muhammad makin sering pergi menyendiri ke gua Hira’  di Jabal Nur, sebuah bukit yang terletak sekitar 6 km sebelah timur Mekah. Tampak bahwa Muhammad makin hari makin risau melihat masyarakat kotanya  yang makin lama makin rusak akhlaknya. Penyembahan terhadap berhala Latta, Manat dan Uzza, ritual haji yang makin hari makin liar dimana para jamaah melaksanakan sa’i dan thawaf dengan bertelanjang, ritual penyembelihan hewan korban yang darahnya di oleskan ke dinding-dinding  Ka’bah dsb.

Kesemuanya ini membuat Muhammad yang hatinya masih bersih ini prihatin. Ia yakin bahwa semua ini tidaklah pada tempatnya. Ia bermunajat memohon petunjuk agar Allah memberi petunjuk kepada masyarakat apa yang seharusnya mereka lakukan.

Semua ini tidak terlepas dari pengawasan Khadijah. Dengan penuh kesetiaan dan kasih-sayangnya, ia mengutus salah satu putrinya untuk membawakan makanan sekaligus menjenguk dan melihat keadaan ayah mereka di atas sana.

Hingga suatu hari di bulan Ramadhan tanggal 17 tahun 611M, Muhammad melihat sebuah sosok raksasa di atas langit mendekatinya. Sebelum sempat berpikir tentang apa  yang dilihatnya tiba-tiba sosok tersebut telah berada disampingnya dan mendiktekan sebuah kalimat yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup.

”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( QS.Al-Alaq (96):1-5).

( Click : http://www.youtube.com/watch?v=aDZNUFcfsvo )

Sosok tersebut memaksanya untuk mengikuti apa yang dikatakannya. Yang ketiga kalinya akhirnya sosok yang belakangan kemudian dikenalnya sebagai malaikat Jibril itu mendekapnya kencang-kencang hingga ia merasa tercekik dan lari pulang menuju rumah dengan perasaan amat ketakutan.

Setibanya di rumah, Khadijah segera menyelimut tubuh sang suami yang  berkeringat dingin tersebut. Muhammad menceritakan apa yang dialaminya. Dengan perasaan dan pandangan waswas ia  memperhatikan reaksi Khadijah, khawatir menganggap dirinya dusta bahkan mungkin gila !

Alangkah leganya perasaan Muhammad mendapati istrinya tercinta itu ternyata tetap mempercayainya. Dan hal ini terus dikenangnya hingga jauh setelah kerasulan.

“Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.”

( Bersambung )

Usai pemakaman Aminah, ummu Aiman segera membawa Muhammad kecil ke rumah kakeknya, Abdul Mutthalib di Mekkah. Dengan senang hati sang kakek menerima cucu yang telah yatim piatu itu. Dalam waktu singkat Muhammad dapat melupakan kesedihannya karena kehilangan ibunda tercinta. Kakeknya mencintainya dengan sangat tulus.

Namun hal ini tidak berlangsung lama. Karena dua tahun kemudian Abdul Mutthalib juga wafat. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Sementara itu Muhammad berusia 8 tahun. Beruntung menjelang ajalnya, Abdul Mutthalib masih sempat memikirkan masa depan cucu yang amat disayanginya itu. Ia mengumpulkan ke sembilan anaknya dan berpesan agar mereka sungguh-sungguh memperhatikan nasib Muhammad. Ia berwasiat agar cucu kesayangannya itu di pelihara oleh Abu Thalib, salah satu putranya.

Abu Thalib bukan anak sulung dan juga bukan anak yang terkaya. Anak sulung Abdul Mutthalib adalah Al-Harits. Sedangkan  yang paling mampu adalah Al-‘Abbas. Namun demikian Abu Thalib adalah yang paling dihormati masyarakat Mekkah. Ia seorang yang adil dan amanah. Disamping itu, Abdul Mutthalib juga tahu bahwa putranya ini, seperti dirinya, juga amat menyayangi Muhammad.

Abdul Mutthalib tidak salah. Abu Thalib bahkan menyayangi Muhammad lebih dari anak-anaknya sendiri. Demikian pula istri Abu Thalib, Fatimah binti Asad dan anak-anaknya. Muhammad adalah anak yang menyenangkan. Remaja belia ini tidak berdiam diri melihat keadaan pamannya yang hidup dalam keadaan kekurangan. Bersama saudara-saudara barunya Muhammad membantu mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakannya. Termasuk juga menggembalakan kambing seperti ketika beliau tinggal bersama keluarga susuannya beberapa tahun yang lalu.

Semenjak kecil orang mengenang Muhammad sebagai anak yang berakhlak mulia. Manis budi bahasanya, jujur, senang membantu orang yang dalam kesusahan dan senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak baik.

Ibnu Ishaq mengetengahkan sebuah riwayat yang diterimanya dari Muhammad bin  Al-Hanafiyah dan berasal dari ayahnya, Ali bin Abu Thalib,  bahwa Rasulullah pernah bercerita :

“  Aku tidak pernah tertarik oleh perbuatan yang lazim dilakukan orang-orang jahiliyah kecuali dua kali. Namun dua kali itu Allah menjaga dan melindungi diriku. Ketika aku masih bekerja sebagai penggembala kambing bersama kawan-kawanku, pada suatu malam kukatakan kepada seorang dari mereka : “ Awasilah kambing gembalaanku ini, aku hendak masuk ke kota (Mekah) untuk bergadang seperti yang biasa dilakukan oleh kaum pemuda”. Setibaku di Mekah kudengar bunyi rebana dan seruling dari sebuah rumah yang mengadakan pesta.  Ketika kutanyakan kepada seorang di dekat rumah itu, ia menjawab bahwa itu pesta perkawinan si Fulan dengan si Fulannah. Aku lalu duduk hendak mendengarkan tetapi kemudian Allah swt membuatku tertidur hingga tidak mendengar apa-apa. Demi Allah aku baru terbangun dari tidurku setelah disengat panas matahari. Peristiwa ini terulang lagi keesokan harinya. Demi Allah sejak itu aku tidak pernah mengulang hal-hal seperti itu lagi”.

Suatu hari di usianya yang ke 12, pamannya mengajak bepergian ke  negri Syam bersama rombongan kafilahnya.  Ketika rombongan tiba di sebuah dusun di Bushra, seorang pendeta Nasrani bernama Bukhairah melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Ia memperhatikan adanya sederetan awan yang senantiasa menaungi rombongan dimana Muhammad berada kemanapun mereka pergi.  Didasari rasa penasaran maka iapun mengundang rombongan tersebut untuk mampir ke kediamannya.

Bukhairah yang dikenal sebagai pendeta yang memahami benar ajarab Nasrani inipun mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan Muhammad muda. Setelah yakin bahwa semua jawaban cocok dengan apa yang dikatakan kitabnya, iapun berujar kepada Abu Thalib :

“ Bawalah anak saudara anda itu segera pulang dan hati-hatilah terhadap orang-orang Yahudi. Kalau mereka tahu dan mengenal siapa sebenarnya anak itu mereka pasti akan berbuat jahat terhadap dirinya. Anak itu kelak akan menjadi orang besar, cepatlah ajak dia pulang!”.

“ Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):146).

Adalah kebiasaan orang-orang Arab jahiliyah sejak lama untuk berkumpul di pasar-pasar sekitar kota Mekah, seperti ‘Ukadz, Majannah dan Dzul Majaz. Ini adalah tempat dimana para penyair berlomba memamerkan kebolehannya menggubah syair sekaligus mendeklamasikannya. Biasanya pada bulan-bulan suci tempat ini mencapai puncak keramaian.

Orang-orang Arab mempercayai bahwasanya bulan Dzulqi’dah, Dzulhijah, Rajab dan Muharam adalah bulan-bulan suci yang tidak boleh dinodai oleh segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Jadi selama 4 bulan tersebut perang antar kabilah yang biasa terjadi harus dihentikan. Ke empat bulan tersebut dinamakan sebagai bulan-bulan hurum. Bentuk jamak dari kata haram.

Selama bulan-bulan yang sangat dihormati oleh semua orang Arab, termasuk pemeluk Yahudi, Nasrani dan penyembah berhala, mereka bebas melantunkan syair-syair mengenai pendapat dan  kepercayaan masing-masing. Mereka berlomba memperdengarkan dan memamerkan kehebatan nenek moyang mereka dengan ketinggian mutu bahasa dan kefasihan mereka mendeklamasikan syair-syair baik yang bersifat romantik maupun heroik.

Dari penyair-penyair Nasrani dan Yahudi inilah orang-orang Arab tahu akan bakal datangnya nabi baru. Dengan nada mengancam mereka sering berkata :

“ Tidak lama lagi akan datang seorang nabi. Kamilah yang akan mengikutinya dan bersama dia kami akan memerangi kalian hingga kalian mengalami kehancuran seperti yang dialami kaum ‘Aad dan Iram dahulu kala”.

Maka sejak pertemuannya dengan pendeta Bukhairah itu, Abu Thalib menjadi lebih lagi menyayangi ponakannnya. Ia selalu berhati-hati, menjaga dan mengawasinya dengan baik. Bahkan tak lama setelah itu Abu Thalib dikabarkan tidak pernah lagi berpergian jauh demi  menjalankan perdagangannya. Ia memilih hidup sederhana mengasuh sendiri anak-anaknya yang cukup banyak itu. Selama itu pulalah Muhammad hidup di tengah keluarga Abu Thalib dan diperlakukan bagai anak sendiri.

Hingga tiba suatu saat ketika Muhammad mencapai usia 25 tahun, seorang utusan datang menemuinya. Utusan ini meminta agar Muhammad bersedia ikut dalam kafilah dagang milik Khadijah ke negri Syam. Khadijah binti Khuwailid adalah seorang saudagar perempuan yang kaya raya lagi mulia dan terhormat. Ia biasa mempekerjakan sejumlah lelaki Quraisy untuk membawa barang dagangannya ke Syam dengan imbalan sebagian dari keuntungannya.

Ia mendengar kabar bahwa Muhammad berkeinginan untuk ikut dalam rombongan dagangnya. Sementara itu Khadijah juga pernah diberi tahu bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang jujur, halus budi bahasanya serta berakhlak mulia. Hal yang teramat jarang dijumpai di kota Mekah ini. Itu sebabnya tanpa ragu ia menawarkan keuntungan dua kali lipat dari orang lain bila Muhammad bersedia menerima tawarannya.

Kebetulan Abu Thalib memang sedang dalam kesulitan keuangan. Sebagai anak yang tahu diri Muhammad segera meminta izin pamannya agar diperbolehkan menerima tawaran berharga tersebut. Walaupun dengan berat hati akhirnya Abu Thalib menyetujui permintaan Muhammad. Ia sebenarnya masih merasa khawatir akan keselamatan ponakannya itu sekalipun Muhammad telah dewasa.

Maka dengan membawa berbagai macam dagangan, berangkatlah Muhammad bersama rombongan kafilah dagang Khadijah menuju negri Syam. Disitulah Muhammad membuktikan kepiawaiannya berdagang. Ia menjual barang dagangan yang dibawanya dari Mekah dan membeli barang dagang lainnya untuk dibawa kembali ke Mekah. Dengan kejujuran dan kesantunannya ia bahkan berhasil menarik keuntungan jauh lebih besar dari pada orang lain yang pernah diutus Khadijah.

Semua ini  tidak lepas dari pengawasan dan pandangan kagum Maisarah, pembantu setia Khadijah yang ikut dalam rombongan tersebut. Ialah yang dengan semangat menceritakan apa yang dilihatnya itu kepada majikannya begitu rombongan kembali. Hingga membuat Khadijah bertambah kagum kepada Muhammad, pemuda yang tanpa disadarinya ternyata telah ditakdirkan-Nya  bakal menjadi pendamping hidup terakhirnya.

( Bersambung)

Muhammad saw  dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi’ul awal di tahun Gajah atau tahun 570 M di kota Mekah. Beliau lahir hanya berselang sekitar  50 hari setelah peristiwa penyerangan pasukan gajah dibawah pimpinan Abrahah.

Muhammad saw lahir sebagai anak yatim. Ibunya, Aminah binti Wahb  meskipun ketika melahirkan dalam keadaan duka yang mendalam karena ditinggal wafat sang suami tercinta, Abdullah bin Abdul Mutthalib, menyambut kelahiran bayinya dengan suka cita. Mimpinya melihat istana Buchara di Syam dalam taburan cahaya ditambah suara bisikan bahwa ia akan melahirkan orang besar lah yang mempengaruhi semangat hidupnya.

Aminah terkenang, baru beberapa bulan  Abdullah yang ketika itu belum mengawininya terbebas dari kematian. Karena nazar ayahnya yang berbahaya tersebut   dapat  ditebus dengan 100 ekor unta. Namun hanya selang 3 bulan setelah pernikahannya Abdullah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Apa hikmah semua ini? “ Allah sengaja menunda kematian Abdullah agar ia dapat membuahiku dan menitipkan janinnya dalam rahimku. Ini adalah skenario besar Allah. Anak yang aku lahirkan ini pasti anak yang memilki kedudukan istimewa disisi-Nya ”, begitu pikir Aminah yakin.

Hal pertama yang dilakukan Aminah begitu ia melahirkan adalah mengutus seseorang untuk melaporkannya kepada sang kakek, Abdul Mutthalib, seorang pemuka Quraisy yang amat dihormati. Sang kakek inilah yang kemudian memilihkan nama ‘Muhammad’ kepada sang bayi. Abdul Mutthalib memilih nama ini karena ia pernah mendengar beberapa ahli nujum  yang meramalkan akan datangnya nabi di Hijaz dengan nama Muhammad. Perlu diketahui, Ahmad atau Muhammad dalam bahasa Arab berasal dari akar kata “ Hamida “, yang berarti syukur atau yang terpuji. Namun demikian sebelum kelahiran Muhammad saw, ini bukanlah nama yang lazim digunakan.

“ Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS.As-Shaaf (61):6).

Muhammad kecil hanya beberapa hari berada di pelukan ibunda tercinta. Adalah kebiasaan orang Arab zaman dahulu untuk menyusukan bayi-bayi mereka kepada perempuan-perempuan Badawi dengan sejumlah imbalan tertentu. Mengapa Badawi? Karena masyarakat Badawi yang biasanya hidup di pedalaman yang udaranya masih bersih, dianggap berperangai lurus dan jujur. Jauh dari sifat-sifat buruk yang lazim terdapat di kalangan masyarakat  perkotaan seperti Mekkah. Orang-orang Quraisy sendiri biasanya memilih perempuan Badawi dari Bani Sa’ad karena mereka dikenal baik budi bahasa maupun tutur katanya.

Maka ketika suatu hari datang serombongan perempuan dari bani Sa’ad mencari anak untuk disusukan, Aminahpun segera menawarkan bayinya untuk disusui. Namun apa yang terjadi ? Perempuan-perempuan tersebut menolaknya dengan alasan Aminah hanyalah seorang janda yang tidak mewarisi harta yang cukup banyak dari suaminya.

Dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam itulah tiba-tiba salah seorang perempuan yang baru pagi tadi menolak tawaran menyusui putranya datang kembali. Perempuan tersebut bernama Halimah As-Sa’diyyah. Ia kembali setelah tidak menemui seorang bayipun yang dapat disusuinya. Ia mengatakan kepada  suaminya, Al-Harits bin Abdul ‘Uzza , yang mendampingi Halimah ke Mekkah, bahwa ia memutuskan akan menyusui anak yatim cucu Abdul Mutthalib yang ditolaknya pagi tadi.

Ketika itu Al-Harits hanya berkata  :  “ Tidak ada jeleknya egkau lakukan hal itu, mudah-mudahan Allah memberkahi penghidupan kita dengan keberadaan anak yatim itu di tengah keluarga kita”.

Dan nyatanya  memang itulah yang terjadi. Keberkahan bermula dengan unta yang ditunggangi Halimah. Begitu Halimah naik ke atas punggung unta dengan Muhammad kecil di dekapannya, unta kurus yang tadinya selalu tertinggal jauh di belakang itu  tiba-tiba mampu berlari kencang meninggalkan  teman-teman Halimah jauh di belakang.

Demikian juga air susu Halimah yang tadinya tidak terlalu deras tiba-tiba menjadi berlimpah. Hingga tidak saja Muhammad kecil yang puas menyusu tetapi juga bayi Halimah sendiri juga demikian. Tidak itu saja. Bahkan unta dan kambing peliharaan keluarga Halimah yang tadinya kurus kering tiba-tiba menjadi subur. Padahal itu musim paceklik. Tak satupun unta dan kambing tetangga Halimah yang mampu sedikitpun menghasilkan susu.

Muhammad hidup di tengah keluarga ini hingga usia 5 tahun. Ia belajar bahasa Arab yang tinggi dan murni dari kabilah bani Sa’ad yang halus tutur katanya.  Tampak bahwa Muhammad kecil  sangat menghayati kehidupan di pedalaman Badawi  ini dengan  jiwa yang bebas merdeka. Pengalamannya menggembala kambing di padang rumput yang memang menuntut kesabaran tinggi  amat membekas di hati. Demikian pula kedekatannya kepada alam bebas terbuka. Hal ini membuat pikirannya jauh lebih dewasa dibanding  anak-anak seusianya yang hidup di kota besar.

Perasaan dan pengalamannya ini pada suatu hari pernah diutarakannya sendiri. “ Hampir semua nabi pernah menggembalakan kambing. Ibrahim dan Isa adalah penggembala kambing. Musa juga pernah menjadi penggembala kambing. Demikian pula aku “.

Tampak nyata bahwa lama berada langsung di bawah naungan langit terbuka dapat membuat seseorang lebih bijaksana baik dalam berpikir maupun berprilaku.

“ Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan ”.(QS.Al-An’am (6):75-79).

Bagi keluarga Halimah, selama 5 tahun itu ada sebuah peristiwa yang tak mungkin mereka lupakan begitu saja.

“ Suatu ketika Muhammad sedang menggembala kambing di belakang rumah. Tiba-tiba Abdullah, saudaranya laki-laki ( anak lelaki Halimah yang sebaya dengan Muhammad) lari pulang sambil berteriak-teriak. Ia memberitahu bahwa Muhammad diajak oleh dua lelaki berpakaian serba putih. Kemudian ia dibelah perutnya . …. Aku bersama suamiku segera menuju ke tempat kejadian. Disana kami melihat Muhammad sedang  berdiri dan wajahnya tampak pucat pasi. Ia segera kami peluk dan kami tanyakan apa yang baru saja terjadi. Ia menjawab : “ Dua orang lelaki berpakaian serba putih datangkepadaku. Kemudian aku dipegang dan dibaringkan lalu perutku dibedah. Aku tidak tahu apa yang dicari oleh kedua orang itu ! ”.

Muhammad   kembali ke pangkuan ibundanya tercinta pada usia 5 tahun. Tahun berikutnya dengan ditemani Ummu Aiman, pembantu setianya, Aminah mengajak putra tunggalnya itu ke Madinah untuk berziarah ke makam ayahnya. Mereka bertiga  selama 1 bulan penuh berada  di tengah keluarga besar Aminah.

Kalau saja Aminah  tidak mengingat  bahwa kakek dan keluarga besar Hasyim menanti  kepulangan putranya, ia tentu memilih untuk tetap tinggal di Madinah. Apa boleh buat ia harus kembali.  Sayangnya di tengah perjalanan antara Madinah – Makkah, di sebuah desa bernama Abwa’ ( sekitar 37 km Madinah) Aminah mengalami sakit parah. Tak lama kemudian iapun wafat. Beliau dimakamkan  ditempat itu juga.

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata: “Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Dengan menangis pilu Muhammad kecil yang kini telah menjadi yatim piatu itu terpaksa harus menurut dan patuh saja ketika Ummi Aiman mengajaknya untuk segera pulang ke Mekkah.

Di kemudian hari, Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda  mendekati kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya”.

( Bersambung )

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers