Feeds:
Posts
Comments

Makna Kebenaran

Tiada kebenaran yang hakiki selain kebenaran yang berasal dan datang dari-Nya karena memang Dialah yang menciptakan, dari yang tiada menjadi ada dan dari yang ada menjadi tiada. Bukti-bukti begitu berlimpah bila manusia mau berpikir dan memperhatikan sehingga tidak mungkin bagi kita sebagai manusia, sebagai salah satu mahluk ciptaan-Nya, untuk menyangkal keberadaan dan ke-Esaan-Nya.  Begitu pula dengan kitab suci-Nya, Al-Quranul Karim yang telah demikian banyak menerangkan dan membuktikan kekuasaan-Nya secara meyakinkan.  Oleh sebab itu  tiada jalan lain bagi kita selain harus menjadikan kitab tersebut sebagai satu-satunya petunjuk dan pedoman bagi hidup ini bila kita ingin selamat dan memenangkan permainan. Dan kemenangan tersebut hanya dapat dicapai dengan berpegang teguh pada agama yang benar, agama yang lurus,  yaitu Islam.

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”.(QS.Al-Zurkhuf(43):43).

Ilmu pengetahuan dan sains serta  segala ilmu yang berhubungan langsung dengan kehidupan duniawi jelas memang diperlukan. Namun pengetahuan tersebut hendaknya dapat menjadikan kita makin sadar bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, bagai sebuah permainan namun dengan taruhan yang bukan lagi hanya nyawa  akan tetapi kehidupan kekal yang tak terbatas. Suatu kehidupan yang berada di luar jangkauan pemikiran duniawi. Kehidupan ghaib, yang tidak dapat dibuktikan dengan akal semata melainkan dibutuhkan adanya  keyakinan dan keimanan.

Namun bila ilmu pengetahuan dan sains saat ini telah berhasil membuka berbagai tabir rahasia yang 14 abad silam tidak pernah terpikirkan dan terbayangkan, itu semua berkat Allah swt, Sang Khalik Yang Maha Cerdas memang telah berkenan  memperlihatkan sistim serta aturan kerja-Nya kepada kita, manusia yang diciptakan-Nya. Dan sebagai konsekwensinya, mustinya kita menyadari pula betapa hebat dan canggihnya ilmu Allah.

Kemudian menyatu dengan  pemahaman Al-Quranul Karim serta pemahaman ilmu hadis yang baik, seharusnya kitapun menyadari bahwa saat ini kita semua sedang menuju kepada sebuah  akhir dari sebuah  perjalanan, perjalanan Sang Khalifah dalam menjalankan misinya. Misi perorangan yang diawali dengan adanya perjanjian manusia di alam ruh hingga berakhirnya kehidupan di dunia menuju alam kubur serta misi universal yang diawali dengan adanya peristiwa pembentukan alam semesta ”Big Bang ” hingga hancurnya alam semesta ” Big Crunch”. Maka dimulailah kehidupan akhirat yang diawali dengan pelaksanaan mahkamah peradilan akhirat untuk mempertanggung-jawabkan apa yan telah dilakukan manusia selama hidupnya di muka bumi ini sebagai khalifah.

Tugas sebagai khalifah di muka bumi yang dibebankan kepada manusia memang bukan tugas mudah. Untuk itulah maka pada setiap zaman Allah swt menurunkan para Rasul dan kitab kepada manusia. Semua ini dimaksudkan agar manusia mempunyai pegangan dan landasan yang jelas bagaimana menjalani kehidupan ini. Inilah agama yang benar. Akan tetapi orang yang menyatakan bahwa dirinya telah menjalankan agamanya dengan benar namun ternyata prilakunya tidak baik, tidak dapat dikatakan ia telah beragama dengan benar.  Karena dengan beragama seharusnya lingkungannya, baik lingkungan antar sesama manusia maupun alam sekitarnya akan menjadi aman dan tentram, bukan malah sebaliknya.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”; “Agama adalah akhlak yang baik”; “Seorang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna ahklaknya”; “Rasulullah ditanya: “Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga ?”. Rasulullah menjawab : “Akhlak yang baik”; “Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka?”. Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan”. (HR Tarmidzi).

Jadi orang yang menjalankan agamanya dengan baik semestinya tercermin dari prilakunya. Mereka pandai menjaga kehormatan dan menjaga lisannya. Mereka tidak mau menyakiti hati orang lain serta mudah meminta maaf sekaligus memaafkan kesalahan orang lain. Mereka juga tidak suka menggunjing dan menyebar fitnah. Mereka adalah juga orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala cobaan. Mereka adalah orang-orang yang pandai menjaga amanah dan menepati janji.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna dan orang-orang yangmenunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yangmemelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya dan orang-orang yang memelihara shalat-shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,(ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Mukminun(23):1-11).

Mereka juga gemar membantu meringankan kesulitan orang lain, saling nasehat menasehati dalam kebaikan  serta tidak dengki maupun sombong. Kita harus selalu ingat bahwa kemurkaan Allah SWT yang menyebabkan diturunkannya hukuman dan kutukan Allah SWT terhadap Iblis adalah dikarenakan kesombongannya padahal mulanya Iblis adalah seorang hamba yang shaleh dan takwa.  Ringkas kata, orang yang menjalankan agama dengan penuh ketaatan dan menyempurnakannya, hidup dan kehadirannya benar-benar  terasa manfaatnya bagi orang lain.

Dalam kehidupan ini dapat kita lihat sebenarnya  ada beberapa macam prilaku manusia  pada saat seseorang meninggal dunia. Yang pertama, begitu banyak orang yang merasa bersedih dan merasa kehilangan atas dirinya. Yang kedua, hanya keluarganya saja yang merasa sedih dan berduka ketika ditinggalkannya. Yang ketiga, tak seorangpun merasa kehilangan akan dirinya. Artinya, orang ini baik ketika hidup maupun mati tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada orang lain. Tak seorangpun yang merasa ia pernah ada. Dan yang terakhir adalah seseorang yang ketika ia meninggal dunia semua orang merasa senang, bersuka cita dan lega atas kepergiannya. Orang seperti ini tidak saja tidak bermanfaat namun justru selalu membuat keonaran, kejengkelan bahkan kebencian. Keberadaannya sungguh tidak diharapkan.

Sebaliknya, untuk menjadi orang yang selalu diharapkan kehadirannya, tentu saja harus memiliki prilaku yang baik. Dan prilaku  tersebut sebenarnya akan muncul dengan sendirinya ketika seseorang menjalankan agamanya berdasarkan ilmu yang benar. Kemudian ditambah dengan kemauan yang kuat dan kemampuan yang terus diusahakan dan ditingkatkan maka  akan lahir akhlak yang mulia dan terpuji. Satu hal yang harus dicatat, agama Islam tidak hanya semata-mata menekankan tercapainya tujuan yang baik, namun niat dan caranyapun harus baik dan benar. Sebagai contoh : seseorang yang memberikan hartanya kepada orang miskin. Tujuannya sudah baik, namun bila harta yang diberikan tersebut tidak halal atau ia memberikan harta tersebut karena ingin dipuji orang lain, maka Allah SWT tidak akan memberikan balasan atau pahala baginya.

Jadi tindakan dan perbuatan apapun dalam Islam harus berdasarkan kecintaan dan ketaatan kepada-Nya semata. Shalat, zakat dan infak, puasa, patuh dan taat kepada Rasul, hormat dan taat kedua orang-tua, kepada suami, kepada para pemimpin bahkan belajar, menuntut ilmu, bekerja dan berusaha serta saling mencinta diantara suami-istri, saling menyayangi diantara sesama manusia dan bahkan peduli terhadap alam semesta beserta seluruh isinya, bila itu semua dikarenakan oleh-Nya  maka Allah SWT akan menghitungnya sebagai ibadah dan baginya  pahala yang tak terkira. Oleh sebab itu, apapun tindakannya harus berlandaskan perintahNya. Hukum yang berlakupun adalah hukumNya. Ini adalah bagian dari sistim yang diciptakan-Nya.

Maka dengan demikian alam semesta akan terus berputar dengan segala keteraturan dan kesempurnaannya mengikuti sistim yang telah berjalan sejak milyaran tahun yang lalu hingga waktu yang telah ditentukan-Nya.

Akhir kata, semoga ilmu pengetahuan yang kita peroleh tidak menjadikan kita malah menjadi sombong serta congkak dan semoga kita tidak termasuk hambanya yang menyesal kelak di kemudian hari,  amin.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalahsyaitan itu tidak mau menolong manusia”.(QS.Al-Furqon(25):27-29).

Wallahu’alam bishshawab.

Diambil dari eBook : ” Perjalanan Sang Khalifah  2 – The True Game”, Epilog.

Baca Lengkap : http://vienmuhadisbooks.wordpress.com/2010/07/10/daftar-isi-perjalanan-sang-khalifah-2-the-true-game/

Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

Kata-kata ini terus terngiang di telinga dan semoga tak akan terlupakan … selamanya, Insya Allah. Kata-kata ini lebih terasa lagi ‘adem’ dan berkesan karena yang mengatakannya adalah orang yang tinggal di lingkungan kafir. Orang itu adalah petugas medis, warga Perancis keturunan Maroko yang telah lama menetap di negri pemilik menara Eiffel yang terkenal itu.

Ceritanya begini. Suatu hari dokter yang memeriksa saya merujuk agar saya menjalani pemeriksaan tulang. Maka sesuai dengan ‘rendez-vous’ yang saya peroleh, sayapun pergi ke laboratorium yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari apartemen dimana kami tinggal itu. Namun ntah mengapa saat itu tak terpikirkan sama sekali bahwa petugas medis bisa jadi seorang laki-laki, yang berarti bukan muhrim dan tidak berhak melihat aurat perempuan.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nur(24):31).

Dan sialnya, itulah yang terjadi. Saya baru sadar setelah petugas tersebut menerangkan prosedur yang harus dijalani. Apa boleh buat … terlanjur. Di Perancis ini memang ada aturan, walaupun tidak tertulis, bahwa dokter atau petugas medis maupun pasien sama-sama tidak berhak memilih-milih dokter atau pasien menurut jenis kelamin. Bisa-bisa kita malah dituduh homo atau lesbian ! Na’udzu billah min dzalik ..

Singkat cerita, di tengah pemeriksaan sang petugas menanyakan apakah saya seorang Muslim. Ketika saya mengiyakan iapun menyambung bahwa ia juga Muslim. Alhamdulillah .. Maka dengan rasa bersalah saya menanyakan apakah di laboratorium itu tidak ada petugas perempuan. “ Ada”, jawabnya tegas.“ Yaah ..”, hanya itu yang bisa saya katakan. Sesal kemudian tidak ada gunanya ..:-(( … Pantas tadi ketika ia menerangkan prosedur pemeriksaan wajahnya sedikit mencerminkan keraguan.

Tidak perlu terlalu khawatir .. saya yakin, jika tujuannya untuk kebaikan dan kesehatan Allah swt pasti mau memahami dan memaafkan”, katanya berusaha menghibur. Saya tidak tahu harus menjawab apa. “ Salah sendiri tadi g tanya dulu .. minimal usahalah”, pikir saya benar-benar menyesal.

Selesai pemeriksaan, kami sedikit berbincang tentang Islam di negri ini. Ketika saya menceritakan bahwa anak saya menemui kesulitan dalam menjalankan shalat di sekolah, ia menjawab bahwa iapun dulu begitu. Shalat harus sembunyi-sembunyi. Shalat Jumat malah hampir tidak mungkin. Sekarang, tidak saja shalat Zuhur dan Ashar,  shalat Jumatpun tidak pernah ketinggalan.  “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”, katanya mantap sambil tersenyum kecil seolah menyindir saya yang lalai karena tidak mencari petugas medis perempuan … L . “ Ya Allah, Ya robbi, semoga Engkau mengampuni hamba-Mu  yang lalai ini”.

Saya jadi teringat suami saya. Ia bercerita bahwa tim kerjanya di kantor terbiasa mengadakan meeting setiap Jumat ba’da makan siang. Suatu hari,  setelah tiga kali berturut-turut ia selalu absen, akhirnya salah seorang dari timnya menegur. “ Saya kan sudah katakan bahwa setiap Jumat siang saya pasti tidak berada di kantor. Saya punya kewajiban untuk menunaikan ajaran agama saya yang tidak mungkin ditinggalkan”. Maka sejak saat itu meetingpun dipindahkan ke hari lain. Subhanallah .. Sekali lagi terbukti : “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar … “. (QS.Ath-Thalak(65):2-3).

Demikian juga pengalaman anak-anak saya. Ketika anak perempuan saya baru masuk ke sekolah barunya, para orang-tua menganjurkan anak-anaknya agar shalat di dalam bus saja (bus antar jemput sekolah) bila shalat di sekolah tidak memungkinkan. Waktu musim panas memang tidak masalah karena anak-anak tiba di rumah waktu ashar masih ada. Tetapi di musim dingin tidak mungkin. Karena mereka ( yang usia SMA) pulang sekolah waktu ashar sudah habis. Namun ternyata beberapa minggu kemudian anak saya melaporkan bahwa ia bisa shalat zuhur dan ashar di perpustakaan walaupun hanya dengan duduk …  :-(

Padahal sebenarnya beberapa hari yang lalu, begitu melihat ada kesempatan, saya menawarkan untuk mengirim email kepada kepala sekolah supaya menyediakan ruangan kecil yang bersih dan tenang, agar anak-anak bisa menjalankan shalat di dalamnya. Namun anak saya keberatan. “ Udah mending kali bu kita shalat didiemin aja .. ntar malah dilarang gimana .. “, begitu katanya ragu. Akhirnya sayapun membatalkan niat tersebut. Dengan alasan laic ( sekuler) sekolah ( baca pemerintah Perancis) memang melarang adanya kegiatan keagamaan di lingkungan umum termasuk sekolah. Yaah .. apa mau dikata ..

Sebaliknya anak lelaki saya yang sedang menuntut ilmu di benua Kanguru melaporkan bahwa selama kuliah ia bisa menjalankan shalat tanpa kesulitan berarti. Ia dapat mencari dan memanfaatkan ruangan-ruangan kampus yang jarang dipakai. Alhamdulillah ..

Namun saya pikir mungkin masalahnya agak berbeda. Anak perempuan perlu keberanian lebih dibanding anak laki. Karena anak perempuan  harus menutup auratnya dengan sempurna. Orang Indonesia biasanya memakai mukena.

Lain lagi halnya dengan pengakuan seorang teman yang tinggal di salah satu kota Perancis. Teman saya ini berniat mengikuti kegiatan masak memasak yang diselenggarakan seorang temannya yang non Muslim. Wajar bila kemudian ia ragu dengan kehalalan daging yang digunakan untuk memasak.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah …”.(QS.Al-Baqarah(2):173).

Namun ia juga ragu bagaimana sebaiknya bersikap. Antara keinginan yang menggebu karena teman saya ini doyan sekali masak dan rasa takut kepada-Nya, mendorongnya mengadukan keresahan tersebut dengan berkirim email kepada saya. Belum sempat saya membalas email tersebut, ia mengabarkan bahwa setelah bermunajat kepada Sang Khalik, ia membulatkan tekad untuk langsung meminta temannya itu agar menggunakan daging halal. Anehnya, tanpa banyak tanya, sang ‘chef’ yang biasanya sulit diajak kompromi itu menyetujuinya! Subhanallah .. ( Saya mendapat kabar bahwa hanya beberapa hari sebelum peristiwa tersebut teman saya itu mulai menutup auratnya dengan baik alias berjilbab .. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya .. )

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS.Al-Baqarah(2):186).

Bicara soal makanan halal. Pagi tadi saya baru menerima info tentang website yang memuat daftar resto halal di seluruh dunia. Menurut web bernama Zabihah ini (http://www.zabihah.com/ ) Perancis adalah negara no 1 di Eropa yang mempunyai retoran halal (165 ). Peringkat 2 diduduki Jerman ( 154) dan peringkat 3 adalah Spanyol (108).

Web ini juga mencamtumkan daftar masjid di seluruh dunia lengkap dengan alamat dan petanya ! Allahuakbar … Tampaknya sudah tidak ada lagi alasan bagi Muslim yang bepergian ke luar negri untuk tidak shalat di masjid dan makan di restoran yang tidak menyajikan masakan halal. Walaupun seringkali, berdasarkan pengalaman, tidak mudah menemukan alamat masjid meski dengan pertolongan GPS sekalipun.  Karena kebanyakan masjid-masjid tersebut ( khususnya di Perancis) hanyalah masjid kecil yang letaknya betul-betul terpencil dan sulit dicapai …:-((

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 15 Desember 2010.

Vien AM.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa“.

Pengakuan Abu Jahal terhadap kerasulan Muhammad pun diungkapkan Abu Dzar Al-Ghifari. Saat itu Abu Dzar belum memeluk Islam dan ia pun menjadi sahabat dekat Abu Jahal. Keduanya dipersatukan dalam kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Setiap kali Abu Dzar datang ke kota Mekah, ia selalu membawa barang-barang dagangan yang akan ia jual melalui perantaraan Abu Jahal.

Alkisah diceritakan bahwa terjadi sesuatu di luar kebiasaan. Suatu ketika Abu Dzar datang ke Mekah tanpa membawa barang dagangan satu pun, termasuk uang perniagaan. Hal ini tentu saja membuat Abu Jahal heran. la pun bertanya kepada Abu Dzar, “Apakah kau membawa barang dagangan, hai sahabatku?”

Abu Dzar menjawab, “Seperti yang kaulihat, aku tidak membawa apa pun.

Apakah engkau membawa uang?” tanya Abu Jahal kembali.

“Tidak juga,” jawab Abu Dzar singkat.

Melihat ada sesuatu yang tidak biasa pada sahabatnya, Abu Jahal kembali bertanya, “Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu datang jauh-jauh ke Mekah tanpa membawa barang dagangan atau uang? Adakah tujuanmu yang lain?”

Melihat kerisauan sahabatnya, Abu Dzar mencoba menenangkannya dengan menjawab, “Sahabatku Abu Jahal, kali ini kedatanganku bukan untuk mengadu untung dalam perdagangan.”

“Lantas untuk apa?” tanya Abu Jahal yang makin penasaran.

Aku ingin bertemu dengan kemenakanmu.”

Jawaban Abu Dzar makin membingungkan Abu Jahal. Abu Jahal pun kembali bertanya, “Kemenakanku? Siapakah yang kaumaksud?”

“Muhammad,” jawab Abu Dzar singkat.

“Muhammad?” ulang Abu Jahal untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya. Kudengar dari beberapa sahabatku bahwa Muhammad, kemenakanmu itu telah diangkat menjadi seorang rasul. Engkau harus bangga mempunyai kemenakan semulia itu, sahabatku!” jelas Abu Dzar panjang lebar. Ia tidak tahu bahwa sang paman tidak menyukai risalah yang dibawa kemenakannya, Muhammad.

Abu Jahal yang tidak ingin Islam memengaruhi sahabatnya segera mencegah Abu Dzar untuk bertemu Rasulullah saw dan berkata, “Sahabatku, dengarkanlah aku jika kau ingin selamat, jangan kautemui dia! Sekali-kali jangan pernah kau menemui kemenakanku itu!”

“Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Abu Dzar Al-Ghifari heran.

Abu Jahal menjelaskan, “Kautahu, Muhammad itu sangat menarik. Ia sangat memesona. Sekali berjumpa dengannya, aku jamin kaupasti akan benar-benar terpikat dengannya. Wajahnya bersih, perkataannya berisi mutiara indah dan selalu benar. Perilakunya sangat lembut dan sopan membacakan wahyu. Semua kalimatnya menyentuh jiwa.”

Tentu saja jawaban Abu Jahal sangat berlawanan dengan sarannya untuk tidak menemui Rasulullah saw. Di satu sisi ia melarang Abu Dzar untuk bertemu kemenakannya, tetapi di sisi lain ia memberikan alasan yang baik-baik tentang Rasulullah saw.

Abu Dzar mengungkap keheranannya seraya berkata, “Aku tidak mengerti, tetapi apa itu berarti kau yakin dia seorang rasul?”

Abu Jahal langsung mengiyakan. Katanya, “Jelas. Mustahil rasanya jika ia bukan seorang rasul. Ia baik kepada semua orang tua dan muda, begitu pula budi pekerti dan akhlaknya sangat mulia. Satu hal lagi yang perlu kauketahui, ia sangat tabah menghadapi apa pun yang terjadi padanya. Ia mempunyai daya tarik yang hebat sekali.”

“Aku tidak habis mengerti terhadapmu, Abu Jahal sahabatku,” tandas Abu Dzar, “kaubilang bahwa kauyakin kemenakanmu itu adalah seorang rasul.”

“Yakin betul. Aku tidak pernah meragukannya sedikit pun,” tegas Abu Jahal.

“Apakah kaupercaya bahwa ia benar?” tanya Abu Dzar kembali.

“Lebih dari sekadar percaya,” Jawab Abu Jahal.

“Tapi engkau melarangku untuk menemuinya …,” tanya Abu Dzar masih dengan keheranan.

Abu Jahal menjawab “Begitulah ….”

“Lalu, apakah engkau mengikuti ajaran agamanya?”

Abu Jahal tersentak dengan pertanyaan sang sahabat. “Ulangi sekali lagi pertanyaanmu …,” pinta Abu Jahal.

“Apakah engkau mengikuti agamanya menjadi pemeluk Islam?” Abu Dzar kembali mengulangi pertanyaannya seperti permintaan Abu Jahal.

Tidak bisa mengelak, Abu Jahal berkilah, “Sahabatku, sampai kapan pun aku tetap Abu Jahal. Aku bukanlah orang gila. Aku masih waras. Berapa pun kaubayar aku, aku tidak akan menjadi pengikut Muhammad!”

Abu Jahal melanjutkan, “Meskipun aku yakin bahwa Muhammad itu benar, aku tetap akan melawan Muhammad sampai kapan pun. Sampai titik darah penghabisanku.”

“Apa sebabnya?” tanya Abu Dzar.

Kautahu sahabatku, jika aku menjadi pengikut kemenakanku sendiri, kedudukan dan wibawaku akan hancur. Akan kuletakan di mana mukaku di hadapan bangsa Quraisy?”

Abu Dzar menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan pemikiran sahabatnya, ” Pendirianmu keliru, sahabatku.”

“Aku tahu aku memang keliru,” ujar Abu Jahal.

Abu Dzar mengingatkan sahabatnya, “Kelak, engkau akan dikalahkan oleh kekeliruanmu.”

Baik, biar saja aku kalah. Bahkan, aku tahu diakhirat kelak akan dimasukkan ke dalamneraka jahanam. Namun, aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia walaupun di akhirat sana aku pasti dikalahkan,” jawab Abu Jahal sambil berlalu meninggalkan Abu Dzar yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Abu Jahal tetap dalam pendiriannya. Ketika Perang Badar berlangsung, ia ditanya oleh Akhnas bin Syariq, “Hai, Abu Jahal! Di sini hanya kita berdua dan tidak ada orang lain, ceritakanlah tentang diri Muhammad, apakah benar dia itu orang yang jujur atau pendusta?”

Demi Tuhan! Sesungguhnya Muhammad itu adalah orang yang benar dan tidak pernah berdusta!

=========== =============== ================= ============

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Desember 2010.

Vien AM.

Diambil dari :

http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/pengakuan-abu-jahal.html#comment-form

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far bahwa seorang perempuan Arab datang membawa perhiasannya ke pasar Yahudi Bani Qainuqa. Ia mendatangi tukang sepuh (Yahudi) untuk menyepuh perhiasannya. Sambil menunggu tukang sepuh menyelesaikan pekerjaannya, ia pun duduk. Tiba-tiba datang sekelompok pemuda Yahudi ke dekatnya seraya memintanya untuk membuka penutup wajahnya. Tentu saja perempuan itu menolak.

Namun tanpa diketahuinya, si tukang sepuh itu kemudian secara diam-diam menyangkutkan ujung pakaian yang menutupi tubuh perempuan itu ke bagian punggungnya. Akibatnya, tatkala ia berdiri, tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Orang-orang Yahudi itu pun tertawa terbahak-bahak. Secara spontan perempuan tersebut kemudian menjerit meminta tolong. Mendengar jeritan itu, salah seorang Muslim yang ada di pasar tersebut segera menyerang tukang sepuh itu dan membunuhnya. Namun orang-orang Yahudi tadi berbalik membunuh pemuda Muslim tadi.

Selanjutnya kejadian yang terjadi pada pertengahan bulan Syawal tahun kedua Hijriah ini memicu peperangan antara Yahudi Bani Qainuqa dan kaum Muslimin. Inilah peristiwa pengkhianatan pertama kaum Yahudi terhadap Piagam Madinah. Namun sebelum terjadinya peristiwa diatas, Ibnu Ishaq meriwayatkan:

”Pada suatu kesempatan Rasulullah saw mengumpulkan Banu Qunaiqa‘ di pasar Qunaiqa‘ kemudian bersabda: “Wahai kaum Yahudi, takutlah kalian kepada murka Allah yang pernah ditimpahkan-Nya kepada kaum Quraisy. Masuklah kalian ke dalam Islam karena sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku adalah Nabi yang diutus (Allah), sebagaimana kalian dapati di dalam Kitab kalian dan Janji Allah kepada kalian!“

Mereka menjawab, “Wahai Muhammad, apakah engkau mengira kami ini seperti kaummu? Janganlah engkau membanggakan kemenangan atas suatu kaum yang tidak mengerti ilmu peperangan. Demi Allah, seandainya kami yang engkau hadapi dalam peperangan, niscaya engkau akan mengetahui siapa kami ini sebenarnya.”

Perang yang dimaksud oleh Yahudi tersebut adalah Perang Badar yang berlangsung tidak lama sebelum terjadinya pelecehan Muslimah di pasar diatas. Perang melawan pasukan Musrikin Mekah ini memang dimenangkan oleh Muslimin. Padahal jumlah Muslimin ketika itu hanya 1/3 dari musuh, yaitu 314 : 1000.

Ini tampaknya yang membuat kebencian dan kedengkian Yahudi terhadap Islam makin menjadi-jadi. Mereka sengaja memancing perpecahan dan permusuhan. Orang-orang ini sebenarnya tidak ridho Rasulullah memegang tampuk pimpinan di Madinah. Dengan cara ini mereka ingin menunjukkan bahwa Piagam Madinah tidak perlu dihormati. (Lihat : http://vienmuhadi.com/2010/11/22/xiv-pembentukan-masyarakat-madinah/ )

Hukum harus ditegakkan. Rasulullahpun segera memerintahkan salah seorang sahabat untuk mengepung perkampungan bani Qainuqa. Karena ketakutan dua minggu kemudian orang-orang Yahudi tersebut akhirnya menyerah. Mereka pasrah terhadap hukuman yang bakal diputuskan Rasulullah. Dalam keadaan itulah tiba-tiba datang Abdullah bin Ubay seraya berkata:

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik.“

Melihat Rasulullah tidak mengacuhkannya, pemuka Madinah inipun mengulang lagi perkataannya beberapa kali hingga akhirnya dengan wajah merah menahan kemarahan, Rasulullahpun menjawab ketus: Celaka engkau, tinggalkan aku!“.

Namun Abdullah bin Ubay tetap bersikeras : “Tidak, demi Allah, aku tidak akan melepaskan anda sebelum anda mau memperlakukan para sahabatku itu dengan baik. Empat ratus orang tanpa perisai dan tiga ratus orang bersenjata lengkap telah membelaku terhadap semua musuhku itu, apakah hendak anda habisi nyawanya dalam waktu sehari? Demi Allah, aku betul-betul mengkhawatirkan terjadinya bencana itu!“.

Mendengar itu Rasulullah akhirnya berkata: “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”.

Maka bebas dan pergilah orang-orang Yahudi Banu Qainuqa‘ itu meninggalkan Madinah menuju sebuah pedusunan bernama ‘Adzara‘at di daerah Syam. Namun belum berapa lama orang-orang ini menetap disana, terdengar kabar bahwa sebagian besar dari mereka mati ditimpa bencana. Itulah balasan bagi orang-orang yang mendurhakai utusan Allah swt. Allahuakbar !

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa saja di antara kamu mengambil mereka menjadi pimpinan, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafiq) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana“. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Oleh sebab itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.“QS.Al-Maidah(5):51-52.

Perlu mendapat catatan, prilaku Abdullah bin Ubay sebagai seorang yang telah menyatakan ke-islamannya namun berani melawan, berkata kasar bahkan menentang keputusan Rasulullah karena ke-loyal-annya terhadap sahabat-sahabat non Muslimnya  adalah masuk kategori Munafik. Tanda-tanda kemunafikan sebenarnya telah terlihat sejak awal perkembangan Islam. Allah swt pernah menegur kaum Muslimin Mekah yang tidak berani pindah meninggalkan Mekah ( hijrah) ke Madinah karena takut dianiaya keluarga besarnya di Mekah. Padahal mereka jelas-jelas tidak dapat melaksanakan ajaran dengan baik. Hanya dengan alasan-alasan tertentu sajalah Allah dapat memaafkan orang-orang yang tidak berhijrah, yaitu orang yang tertindas yang tidak mampu berdaya upaya ( para budak) dan orang yang tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah) mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun” (QS.An-Nisa( 4):100).

Allah swt sendiri yang memberitakan bahwa orang-orang munafik masuk Islam karena terpaksa, hanya demi melindungi harta dan jiwa mereka. Mereka adalah pendusta.

“ Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”.(QS.Al-Munafikun(63):1-2).

Abdullah bin Ubay sendiri adalah gembong orang Munafik padahal ia adalah pemuka Madinah. Ia sering kali menghasut orang agar tidak mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.  Qatadah memaparkan bahwa suatu ketika datang seseorang kepadanya seraya mengusulkan : “ Andai kau menghadap Rasulullah tentu dia akan memintakan ampunan untukmu”. Namun dengan congkak ia menolak.( HR. Ibnu Jarir). Kemudian turun ayat berikut :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. ”.(QS.Al-Munafikun(63):5).

Zaid bin Arqam juga pernah berkata, usai perang Tabuk, ia mendengar Abdullah bin Ubay berkata kepada teman-temannya, orang-orang Anshar : “ Kalian jangan menafkahi orang-orang yang dekat dengan Muhammad sebelum mereka keluar dari agama mereka”. Tak lama kemudian turun ayat berikut :

Mereka orang-orang yang mengatakan :”Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami”.(QS.Al-Munafikun(63):7).

Terlihat jelas bahwa pemuka Madinah ini amat tidak menyukai Rasulullah. Ia merasa kedatangan Islam telah membuatnya kehilangan gengsi dan kekuasaan. Itu sebabnya ia amat berharap agar orang Muhajirin yang dianggapnya sebagai orang lemah dan miskin itu kalah dan terusir dari Madinah.

Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui”.(QS.Al-Munafikun(63):8).

Beberapa kali ia menolak pergi berperang. Parahnya lagi, ia mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang sama. Maka dengan berbagai dalih dan alasan para Munafikun itu tidak mau mengangkat senjata. Dari udara yang panas, tidak ada kendaraan hingga takut tergoda oleh perempuan musuh yang cantik rupawan adalah dalih yang mereka ajukan.

Ibnu ‘Abbas menuturkan bahwa kala akan berangkat menuju medan perang Tabuk, Rasulullah bertanya kepada Jadd bin Qais: “ Hai Jadd bin Qais! Bagaimana pendapatmu tentang memerangi orang-orang Bani Ashfar (kulit kuning/orang-orang Romawi.” Maka Jadd bin Qais menjawab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang banyak memiliki wanita (istri). Bilamana saya melihat wanita orang-orang kulit kuning saya pasti terfitnah oleh mereka, maka janganlah engkau menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Berilah saya keizinan tidak pergi berperang dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.’..” (Q.S. At-Taubah 49).

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)”, jikalau mereka mengetahui”.(QS.At-Taubah(9):81).

Kemunafikan juga terlihat jelas ketika turun ayat yang memerintahkan Rasululah berpindah arah kiblat yaitu ke arah Masjidil Haram. Padahal bahkan orang-orang Yahudi dan Nasranipun tahu bahwa itu adalah perintah Tuhan.

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS.Al-Baqarah(2):144).

Al Barra’ berkata, “ Rasulullah shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Saat shalat, beliau sering memandang langit menanti perintah Allah. Kemudian Allah menurunkan ayat ini”. (HR Bukhari).

“Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Baqarah(2):149).

Ayat yang bunyinya memerintahkan agar Rasulullah berpindah kiblat tidak hanya 1 ayat namun hingga beberapa kali. Tetapi orang-orang Munafik bukan saja tetap meragukan perintah tersebut namun juga mencemoohkan. Rasulullah kemudian memerintahkan para sahabat agar memindahkan arah kiblat ketika mereka sedang shalat di masjid Qubba.

Ibnu Umar berkata: Ketika orang-orang sedang melakukan salat di Qubba, tiba-tiba datang orang yang membawa kabar bahwa semalam Rasulullah saw. mendapat wahyu berupa perintah untuk menghadap Kabah. Seketika itu mereka menghadap ke Kabah. Sebelumnya mereka menghadap ke arah Syam, kemudian mereka berputar menghadap ke Kakbah. (Shahih Muslim No.820).

Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni`mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS.Al-Baqarah(2):150).

As-Suddi berkata, “ Ketika Rasulullah diperintahkan memidahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah, orang-orang musyrik Mekah berkata, “ Muhammad bingung dengan agamanya. Sekarang ia menghadap ke arah kiblat yang sama dengan kalian. Ia sadar bahwa kalian lebih benar. Ia bingung dan ingin masuk agama kalian”. Lalu turunlah ayat diatas”.(HR. Ibnu Jarir).

Banyak sekali ayat-ayat yang menceritakan betapa murkanya Allah swt terhadap orang munafik. ( Lihat surat At-Taubah  dan Al-Munafikun). Namun demikian Rasulullah tidak pernah menghukum orang-orang yang seperti ini. Para ulama berpendapat bahwa ini untuk mengajarkan bahwa adalah bukan hak kita sebagai manusia untuk menghukum hati seseorang. Biarlah Sang Khalik yang menentukannya. Wallahu’alam ..

Bahkan ketika salah satu anak Abdullah bin Ubay meminta Rasulullah agar mensholati almarhum ayahnya, Rasulullahpun menyanggupinya!  Walaupun setelah itu barulah turun ayat yang melarang seseorang menshalati orang Munafik yang meninggal dunia.

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo`akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”.(QS.At-Taubah(9):84).

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung)

Paris, 10 Desember 2010.

Vien AM.

Perang ini adalah perang yang pertama dilakukan umat Islam. Beberapa sejarahwan Muslim memasukkan perang ini sebagai Perang Defensif atau perang yang dilaksanakan dalam rangka membela diri. Sebagaimana kita ketahui permusuhan dan kebencian Musrikin Mekah terhadap Islam dari hari ke hari semakin memuncak. Hingga akhirnya umat Islam yang ketika itu  masih sedikit terpaksa meninggalkan Mekah, kota kelahiran mereka. Termasuk Rasulullah sendiri. Mereka meninggalkan kota secara diam-diam hingga tak secuilpun harta benda yang dapat dibawa.

Maka pada tahun kedua Hijriyah, ketika Rasulullah mendengar kabar bahwa rombongan kafilah dagang Abu Sufyan, pembesar Quraisy yang ketika itu amat memusuhi Islam,  akan melewati Madinah, beliaupun memerintahkan para sahabat untuk mencegatnya. Abu Sufyan yang mendengar kabar tersebut kemudian mengirim utusan ke Mekah agar segera melindunginya.

Namun Allah swt berkehendak lain. Sebelum bala bantuan Quraisy datang, Abu Sufyan telah berhasil meloloskan diri dan kembali ke Mekah, lengkap dengan kafilah perniagaannya, secara utuh dan selamat. Sementara itu Abu Jahal, pemimpin Quraisy yang kejam itu, meski telah dikabari bahwa Abu Sufyan dan rombongan telah kembali dengan selamat, tetap berkeras memberangkatkan pasukannya. Tak seoranpun pemimpin Quraisy yang mau tertinggal kecuali Abu Lahab. Mereka membawa sekitar 1000 orang personil, lengkap dengan peralatan perang dan perempuan-perempuannya. Adalah sudah menjadi tradisi orang Arab jahiliyah bahwa ketika berperang mereka membawa sejumlah besar kaum perempuannya. Tujuannya tak lain adalah sebagai penyemangat.

Demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badr. Di sana kami akan tinggal selama tiga hari memotong ternak, makan beramai-ramai dan minum arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah seluruh orang Arab mendengar tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap gentar kepada kita selama-lamanya.“ Demikian Abu Jahal dengan congkak berujar.

Tampak disini bahwa Allah menghendaki adanya perang. Karena perang adalah jauh lebih terhormat daripada  pencegatan atau perampokan, apapun alasannya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah saw disertai 314 sahabat meninggalkan Madinah dengan membawa 70 ekor unta. Setiap ekor unta ditunggangi secara bergantian oleh dua atau tiga orang. Ini terjadi di suatu malam di bulan Ramadan.

Pada suatu tempat di lembah Badr, Rasulullah kemudian memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Habbab bin Mundzir, salah satu sahabat yang dikenal menguasai strategi dalam berperang kemudian bertanya : ”Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah swt, yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan tipu muslihat peperangan?” Rasulullah saw menjawab: “Tempat ini kupilih berdasarkan pendapatku pribadi”.

Mendengar itu Al-Habbab mengusulkan: “Ya Rasulullah saw, jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh, kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum.“ berpikir Setelah berpikir sejenak kemudian Rasulullah saw menjawab: “Pendapatmu sungguh baik.“

Singkat cerita, maka bertemulah kedua pasukan tersebut di lembah Badr. Rasulullah memulai pertempuran tersebut dengan mengambil segenggam pasir dan meniupkannya ke arah muka musuh seraya berkata : “Hancurlah wajah-wajah mereka.“

Rasulullah kemudian mengawasi pertempuran tersebut dari balik kemah yang didirikan tidak jauh dari medan pertempuran. Pada Jum‘at 17-Ramadhan itu, dengan khusyu’ Rasulullah  terus berdoa. Memohon kepada Allah swt agar pasukan Muslim yang hanya berjumlah 1/3 musuh dan tanpa perlengkapan senjata memadai itu dapat memenangkan pertempuran.  Diantara doa tersebut adalah sebagai berikut :

“Ya, Allah. Inilah kaum Quraisy yang datang dengan segala kecongkakan dan kesombongan untuk memerangi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya, Allah kalahkanlah mereka esok hari.“

Beliau terus memanjatkan do’a kepada Allah swt, dengan merendahkan diri seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas. Air mata menetes dari sudut kedua mata beliau hingga membasahi jenggot hingga Abu Bakarpun trenyuh  melihatnya. “ Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepadamu”.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Rasulullah sempat pingsan beberapa saat di dalam kemahnya. Namun begitu sadar kembali beliau berujar kepada Abu Bakar: ” Hai, Abu Bakar, gembiralah, pertolongan Allah swt telah datang kepadamu. Itulah Jibril memegang tali kekang dan menuntun kudanya.“

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al-Anfal(8):9-10).

Allah swt mendukung kaum Muslimin dengan mengirim bala bantuan tentara Malaikat yang tak terlihat oleh mata biasa. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan suatu kemenangan yang besar. Dari pihak kaum Musyrikin, terbunuh 70 orang dan yang tertawan 70 orang. Abu Jahal, yang sering dijuluki sebagai Fir’aun oleh Rasulullah, termasuk diantaranya. Sementara Abu Lahab, meninggal begitu mendengar kekalahan tersebut. Ia diberitakan meninggal dalam keadaan mengenaskan dengan penyebab yang tak jelas di kotanya sendiri, Mekah. Sedangkan dari pihak Muslimin 14 orang syahid.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu’min: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”. Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda”.(QS.Ali Imran(3):123-125).

Tiba saatnya sekarang bagi Rasulullah untuk memutuskan nasib para tawanan yang masih hidup dan selamat. Rasulullah meminta pendapat para sahabatnya. Abu Bakar ra, mengusulkan agar Rasulullah membebaskan para tawanan tersebut dengan syarat memakai tebusan. Dengan harapan agar tebusan tersebut dapat menjadi pemasok kekuatan material bagi kaum Muslimin yang memang masih lemah. Disamping itu juga dimaksudkan agar para tawanan luluh hatinya hingga mau memeluk Islam.

Sebaliknya Umar Bin Khathab ra, mengusulkan agar mereka dibunuh saja, karena mereka adalah tokoh dan gembong kekafiran. Setelah mempertimbangkan kedua masukan tersebut akhirnya Rasulullah memilih pendapat dan usulan Abu Bakar ra. Maka para tawananpun dibebaskan. Tetapi beberapa saat kemudian turun ayat berikut :

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil“. (QS Al-Anfal (8) : 67-68).

Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khathab ra, ia berkata : “Aku masuk menemui Rasulullah saw, setelah beliau memutuskan penebusan tawanan. Tiba-tiba aku dapati Rasulullah saw bersama Abu Bakar ra sedang menangis. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah saw ceritakanlah kepadaku kenapakah anda dan sahabat anda menagis? Jika aku dapati alasan untuk menangis maka aku akan menangis. Jika tidak ada alasan untuk menangis maka aku akan memaksakan diri untuk menangis karena tangis anda berdua.” Jawab Rasulullah saw: “Aku menangis karena usulan pengambilan tebusan yang diajukan oleh sahabatmu kepadaku, padahal siksa mereka telah diajukan kepadaku lebih dekat dari pohon ini (pohon di dekat Nabi saw) .. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :
“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi..“, sampai firman Allah :“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu ….“

Artinya, Allah swt sebenarnya tidak meridhoi keputusan Rasulullah membebaskan para tawanan dan mengambil tebusan. Namun kemudian Allah memaafkan tindakan tersebut dengan turunnya ayat 69 :

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-Anfal (8) : 69).

Sementara di luar sana para sahabat berebut harta perang yang ditinggalkan musuh dan jumlahnya sangat banyak. Ketika itu ayat tentang cara pembagian harta tersebut memang belum turun. Ini adalah perang pertama bagi umat Islam. Merekapun akhirnya bertanya kepada Rasulullah bagaimana cara pembagiannya. Maka turunlah ayat berikut :

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS Al-Anfal (8) :1-2).

Itulah jawabnya. Allah swt menyerahkan keputusan tentang hal ini kepada Rasulullah. Umat Islam diperintahkan untuk lebih dahulu bertakwa kepada Allah swt dan memperbaiki silaturahmi. Kemudian taat kepada keputusan Rasullullah.

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 6 Desember 2010.

Vien AM.

Tanda-Tanda Kiamat

dakwatuna.com – Sesungguhnya setiap makhluk hidup –apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan– memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia. Tanda-tanda dekatnya kematian manusia adalah rambut beruban, tua, sakit, lemah. Begitu juga halnya dengan hewan, hampir sama dengan manusia. Sedangkan tumbuhan warna menguning, kering, jatuh, lalu hancur. Demikian juga alam semesta, memiliki tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan.Saa’ah asalnya adalah sebagian malam atau siang. Dikatakan juga: Saa’at segala sesuatu berarti waktunya hilang dan habis. Dari makna ini, maka saa’ah atau kiamat mengandung dua macam, yaitu : Saa’ah khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman binatang dan manusia ketika mati; dan bagi sebuah umat jika datang ajalnya. Itu semua dikatakan telah datang saatnya. Saa’ah umum bagi dunia secara keseluruhan ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.

Bagaimana dengan kiamat yang sebenarnya? Tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan lebih mengerikan. Dan Alquran banyak menyebutkan tentang kejadian di hari kiamat. Terjadinya kiamat adalah hal yang gaib. Hanya Allah saja yang tahu. Tidak satu pun dari makhlukNya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat. Allah SWT. Berfirman, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.” (Luqman 34).

Maka ketika ditanya tentang hal ini, Rasulullah saw. Mengembalikannya kepada Allah swt., “Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.” (Fushilat: 47)

Allah merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba.“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’.” (Al-A’raaf: 187)

Namun demikian, sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya telah menjadikan kiamat memiliki alamat yang menunjukkan ke arah itu dan tanda-tanda yang mengantarkannya. “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (Muhammad: 18)

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula’).”(Al-An’am: 158)

Maka tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya kiamat tersebut. Dan tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.

Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.

Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa a.s., Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.

Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar. Tetapi Ibnu Hajar berkata, “Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa a.s. Sedangkan terbitnya matahari dari Barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.” Ibnu Hajar melanjutkan, ”Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.” (Fathul Bari)

Tanda-Tanda Kiamat Kecil

Tanda-tanda kiamat kecil terbagi menjadi dua: Pertama, kejadian sudah muncul dan sudah selesai; seperti diutusnya Rasulullah saw., terbunuhnya Utsman bin ‘Affan, terjadinya fitnah besar antara dua kelompok orang beriman. Kedua, kejadiannya sudah muncul tetapi belum selesai bahkan semakin bertambah; seperti tersia-siakannya amanah, terangkatnya ilmu, merebaknya perzinahan dan pembunuhan, banyaknya wanita dan lain-lain.

Di antara tanda-tanda kiamat kecil adalah:

1. Diutusnya Rasulullah saw

Jabir r.a. berkata, ”Adalah Rasulullah saw. jika beliau khutbah memerah matanya, suaranya keras, dan penuh dengan semangat seperti panglima perang, beliau bersabda, ‘(Hati-hatilah) dengan pagi dan sore kalian.’ Beliau melanjutkan, ‘Aku diutus dan hari Kiamat seperti ini.’ Rasulullah saw. mengibaratkan seperti dua jarinya antara telunjuk dan jari tengah. (HR Muslim)

2. Disia-siakannya amanat

Jabir r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat ?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya.” Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar.” Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata lelaki Badui itu, ”Saya, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. Berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.” Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasulullah saw. Menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR Bukhari)

3. Penggembala menjadi kaya

Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang tanda-tanda kiamat, lalu beliau menjawab, “Seorang budak melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala binatang berlomba-lomba saling tinggi dalam bangunan.” (HR Muslim)

4. Sungai Efrat berubah menjadi emas

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sampai Sungai Eufrat menghasilkan gunung emas, manusia berebutan tentangnya. Dan setiap seratus 100 terbunuh 99 orang. Dan setiap orang dari mereka berkata, ”Barangkali akulah yang selamat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

5. Baitul Maqdis dikuasai umat Islam

”Ada enam dari tanda-tanda kiamat: kematianku (Rasulullah saw.), dibukanya Baitul Maqdis, seorang lelaki diberi 1000 dinar, tapi dia membencinya, fitnah yang panasnya masuk pada setiap rumah muslim, kematian menjemput manusia seperti kematian pada kambing dan khianatnya bangsa Romawi, sampai 80 poin, dan setiap poin 12.000.” (HR Ahmad dan At-Tabrani dari Muadz).

6. Banyak terjadi pembunuhan

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada akan terjadi kiamat, sehingga banyak terjadi haraj.. Sahabat bertanya apa itu haraj, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab, “Haraj adalah pembunuhan, pembunuhan.” (HR Muslim)

7. Munculnya kaum Khawarij

Dari Ali ra. berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan keluar di akhir zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di mana saja kamu jumpai, maka bunuhlah mereka. Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR Bukhari).

8. Banyak polisi dan pembela kezhaliman

“Di akhir zaman banyak polisi di pagi hari melakukan sesuatu yang dimurkai Allah, dan di sore hari melakukan sesutu yang dibenci Allah. Hati-hatilah engkau jangan sampai menjadi teman mereka.” (HR At-Tabrani)

9. Perang antara Yahudi dan Umat Islam

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai ada seorang yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia.’ Kecuali pohon Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)

10. Dominannya Fitnah

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat, sampai dominannya fitnah, banyaknya dusta dan berdekatannya pasar.” (HR Ahmad).

11. Sedikitnya ilmu

12. Merebaknya perzinahan

13. Banyaknya kaum wanita

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda. “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu diangkat, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu lelaki.” (HR Bukhari)

14. Bermewah-mewah dalam membangun masjid

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Diantara tanda kiamat adalah bahwa manusia saling membanggakan dalam keindahan masjid.” (HR Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

15. Menyebarnya riba dan harta haram

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu waktu, setiap orang tanpa kecuali akan makan riba, orang yang tidak makan langsung, pasti terkena debu-debunya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu saat di mana seseorang tidak peduli dari mana hartanya didapat, apakah dari yang halal atau yang haram.” (HR Ahmad dan Bukhari)

Tanda-Tanda Kiamat Besar

Sedangkan tanda-tanda kiamat besar yaitu kejadian sangat besar dimana kiamat sudah sangat dekat dan mayoritasnya belum muncul, seperti munculnya Imam Mahdi, Nabi Isa, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj.

Ayat-ayat dan hadits yang menyebutkan tanda-tanda kiamat besar di antaranya:

Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 82)

“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)

Dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari ra, berkata: Rasulullah saw. muncul di tengah-tengah kami pada saat kami saling mengingat-ingat. Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang sedang kamu ingat-ingat?” Sahabat menjawab, “Kami mengingat hari kiamat.” Rasulullah saw. bersabda,”Kiamat tidak akan terjadi sebelum engkau melihat 10 tandanya.” Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan: Dukhan (kabut asap), Dajjaal, binatang (pandai bicara), matahari terbit dari barat, turunnya Isa as. Ya’juj Ma’juj dan tiga gerhana, gerhana di timur, barat dan Jazirah Arab dan terakhir api yang keluar dari Yaman mengantar manusia ke Mahsyar. (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Hari tidak akan berakhir, dan tahun belum akan pergi sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang dari keluargaku, namanya sama dengan namaku.” (HR Ahmad)

Perbedaan antara tanda-tanda kiamat kecil dan kiamat besar adalah :

Tanda-tanda kiamat kecil secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda kiamat besar.

Tanda-tanda kiamat kecil sebagiannya sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan terjadi. Sedangkan tanda-tanda kiamat besar belum terjadi.

Tanda kiamat kecil bersifat biasa dan tanda kiamat besar bersifat luar biasa.

Tanda kiamat kecil berupa peringatan agar manusia sadar dan bertaubat. Sedangkan kiamat besar jika sudah datang, maka tertutup pintu taubat.

Tanda-tanda kiamat besar jika muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya. Dan yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari Barat.

[]

Diambil dari : http://www.dakwatuna.com/2007/tanda-tanda-kiamat/

Penduduk Yatsrib, nama lama kota Madinah, sebelum hijrahnya Rasulullah selalu berada dalam perselisihan.  Menurut beberapa sumber, penduduk kota ini adalah para pendatang dari Yaman, semenanjung Arab bagian Selatan. Mereka adalah suku Aus dan suku Khazraj yang termasuk kedalam bani Qailah, salah satu kaum negri Saba’. Mereka berbondong-bondong berpindah dan menetap di Yatsrib sejak ambruknya bendungan raksasa Ma’arib yang selama ratusan tahun menjadi tumpuan dan sumber kehidupan masyarakat negri tersebut. Di kemudian hari, Allah swt menceritakan peristiwa nahas tersebut dalam ayat berikut, tujuannya tak lain agar orang-orang yang datang kemudian dapat mengambil hikmahnya :

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr”. (QS.Saba’(34):16).

Dalam pengembaraanya itu, kedua suku tersebut menemukan kota Yatsrib dan segera mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Mereka hidup dengan mengandalkan kemampuan lama mereka yaitu bertani. Hal ini menyebabkan kaum Yahudi yang sudah lebih dulu menetap di Yatsrib merasa tidak senang. Dengan sekuat tenaga mereka terus berusaha mengadu domba kedua suku yang ketika itu masih menyembah berhala ini. Mereka berhasil. Hampir setiap waktu suku Aus dan Khazraj terus bertikai dan berperang.

Keduanya baru bersatu dan berdamai setelah Islam datang. Ajaran ini dalam sekejap membuat mereka merasa bersaudara. Dan karena mereka menjadikan Al-Quran sebagai pegangan maka otomatis merekapun menjadikan Rasulullah sebagai panutan, sebagai pemimpin mereka dalam segala hal.

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.(QS.Al’Araf(7):158).

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. ( QS.An-Nur (24):52).

Selanjutnya mereka mendapat sebutan penghormatan sebagai kaum Anshor. Ini disebabkan jasa mereka yang telah dengan suka rela mau membantu dan menampung kaum Muhajirin yang diusir dari kota kelahiran mereka, Mekkah.

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(QS.Al-Hasyr(59):9).

Sejak itu nama kota Yatsribpun berubah menjadi Madinah Al-Munawarah. Di kota inilah Rasulullah mulai menata kehidupan masyarakat Madinah berdasarkan petunjuk Allah swt yang disampaikan melalui malaikat Jibril dan tertulis dalam kitab-Nya, Al-Quranul Karim.

Hal pertama yang dilakukan Rasulullah begitu beliau menginjakkan kaki di kota Madinah adalah mendirikan  masjid. Masjid ini tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah ritual melainkan juga sebagai pusat segala aktifitas masyarakat Islam, baik dalam bidang spiritual maupun keduniaan. Di dalam lingkungan masjid inilah masyarakat  Madinah menimba berbagai ilmu  pengetahuan. Mulai ilmu pengetahuan keagamaan hingga ilmu pengetahuan umum.

Tempat ini selalu terbuka untuk umum, siapa saja, besar kecil, kaya miskin, lelaki atau perempuan,  berhak masuk dan menerima pengajaran baik langsung dari  Rasulullah maupun dari para sahabat.

Barangsiapa mendatangi masjidku ini dan ia tidak mendatanginya melainkan  untuk mempelajari suatu kebaikan dan mengajarkannya maka kedudukannya laksana pejuang fi sabilillah. Namun barangsiapa datang bukan dengan tujuan tersebut maka ia seperti orang yang melihat harta orang lain” (HR Bukhari).

Masjid ini didirikan di atas sebidang tanah dimana unta Rasulullah berhenti untuk pertama kalinya. Tanah tersebut milik 2 anak yatim piatu yang berada di bawah pengawasan As’ad bin Zurarah. Ketika Rasulullah tiba di tempat tersebut, tanah tersebut telah dijadikan mushola oleh As’ad.

Oleh karenanya, Rasulullah kemudian memanggil kedua anak yatim tersebut untuk menanyakan harga tanah mereka. Namun keduanya menjawab serempak : “ Tanah ini kami hibahkan saja, wahai Rasulullah”. Akan tetapi Rasulullah menolak tawaran tersebut dan membelinya dengan harga tertentu.

Selanjutnya secara gotong royong para sahabat membangun masjid dengan ukuran 100 hasta dikali 100 hasta. Masjid yang ketika itu masih berkibat ke arah Baitul Maqdis itu dindingnya terbuat dari batu bata, tiang dan atapnya dari batang dan pelepah kurma. Masjid tersebut tetap dalam keadaan demikian hingga akhir masa pemerintahan khalifah Abu Bakar ra.

Di dalam masjid inilah terbangun ukhuwah dan mahabbah sesama kaum Muslimin. Selama itu pulalah 5 kali dalam sehari para sahabat bertemu dan berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah. Di bawah pimpinan dan bimbingan Rasulullah saw dengan adanya komitmen terhadap sistem, aqidah dan tatanan serta disiplin Islam yang tinggi maka akhirnya lahirlah rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan yang begitu erat. Tidak ada perbedaan pangkat, kedudukan, kekayaan, status, warna kulit dan atribut sosial apapun. Keadilan dan persamaan hak benar-benar terjamin. Dan semua ini diikat karena ketaatan dan kecintaan kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla Yang Esa.

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS.At-Taubah(9):24).

Langkah selanjutnya secara khusus Rasulullah mempersaudarakan kaum Anshor dan kaum Muhajirin. Beliau mempersaudarakan Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, Hamzah bin Abdul Muthalib dengan Zaid bin Haritsah, Abu Bakar ash-Shiddiq dengan Khariyab bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Uthbah bin Malik, Abdulrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’dll.

“ Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari).

Pada tahap awal pembentukkan masyarakat Madinah ini ikatan persaudaraan tersebut berada di atas persaudaraan sedarah daging. Termasuk juga dalam hak waris.

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya … … “(QS.An-Nisa(4):33).

Namun hak waris kepada kerabat ini hanya berlaku hingga terjadi Perang Badar. Setelah turun ayat  75 surat Al-Anfal, hukum waris terhadap orang-orang yang mempunyai hubungan darah kembali lebih utama dari pada hubungan kekerabatan.

“Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS.Al-Anfal(8):75).

Disamping itu Rasulullah juga mengatur hukum dan tata cara pergaulan dan hubungan  antar sesama penduduk Madinah, baik antar Muslim,  antar Yahudi maupun antara Muslim dengan Yahudi. Hal ini sangat penting karena masyarakat Arab sejak dahulu telah dikenal sebagai bangsa yang memiliki sifat kesukuan yang teramat kental. Rasulullah menyadari bahwa hal tersebut tidak boleh dibiarkan karena hal yang demikian berpotensi menjadi penghalang persatuan umat.

Secara detail Rasulullah bahkan menuangkan segala peraturan dan hukum tersebut dalam sebuah perjanjian yang terkenal dengan nama ” Piagam Madinah ”. Sebagai produk yang lahir dari rahim peradaban Islam, piagam ini belakang hari diakui sebagai piagam yang mampu membentuk sekaligus menciptakan perjanjian dan kesepakatan bersama bagi membangun masyarakat  yang plural, adil, dan berkeadaban. Hal ini diakui sejumlah sejarahwan dan sosiolog Barat diantaranya adalah Robert N. Bellah, seorang sosiolog jebolan Harvard University, Amerika Serikat. Ia menilai bahwa piagam Madinah adalah sebuah konstitusi pertama dan  termodern yang pernah dibuat di zamannya.

Piagam inilah yang di kemudian hari menjadi pegangan dasar kekhalifahan Islam di masa lalu. Demikian juga umumnya negara-negara dimana Islam menjadi agama mayoritas penduduknya, seperti di Indonesia. Andalusia di Spanyol dan Sisilia di Italia adalah contoh bekas kerajaan Islam di benua Eropa yang hingga kini tak mungkin dipungkiri bahwa toleransi di kedua kerajaan tersebut betul-betul dijunjung tinggi. Islam,  Nasrani dan Yahudi dapat berdiri berdampingan tanpa masalah berarti.

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah, agamaku”.(QS.Al-Kafirun(109):1-6).

Demikianlah Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi menjalankan pemerintahan. Ahli kitab ( Nasrani dan Yahudi) yang memang merupakan penduduk Madinah sebelum datangnya Islam diizinkan tidak saja tinggal dengan aman di Madinah namun juga untuk menjalankan ibadah dan mengikuti aturan dan hukum agamanya masing-masing, secara benar.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan Imam Ahmad dan Muslim, disampaikan bahwa suatu ketika Rasulullah saw melewati sekelompok orang Yahudi yang sedang menghukum seseorang. Orang tersebut dihukum jemur dan dipukuli. Lalu Rasulullah memanggil mereka dan bertanya : ”Apakah demikian hukuman terhadap orang yang berzina yang kalian dapat dalam kitab kalian?”

Mereka menjawab ,”Ya.

Rasulullah kemudian memanggil seorang ulama mereka dan bersabda, ”Aku bersumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah demikian kamu dapati hukuman kepada orang yang berzina di dalam kitabmu?”

Ulama (Yahudi) itu menjawab, ”Tidak. Demi Allah jika engkau tidak bersumpah lebih dahulu niscaya tidak akan kuterangkan. Hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitab kami adalah dirajam (dilempari batu sampai mati). Namun, karena banyak di antara pembesar-pembesar kami yang melakukan zina, maka kami biarkan, dan apabila seorang berzina kami tegakkan hukum sesuai dengan kitab. Kemudian kami berkumpul dan mengubah hukum tersebut dengan menetapkan hukum yang ringan dilaksanakan, bagi yang hina maupun pembesar yaitu menjemur dan memukulinya.”

Rasulullah lalu bersabda, ”Ya Allah, sesungguhnya saya yang pertama menghidupkan perintah-Mu setelah dihapuskan oleh mereka.”

Selanjutnya Rasulullah menetapkan hukum rajam, dan dirajamlah Yahudi pezina itu. Dari riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang-orang Yahudi (non-Muslim) tetap diwajibkan menjalankan hukum-hukum mereka (Taurat). Mereka dilarang membuat-buat hukum sendiri, meskipun mereka menyepakatinya.

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 22 November 2010.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers