Feeds:
Posts
Comments

Muhammad saw  dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi’ul awal di tahun Gajah atau tahun 570 M di kota Mekah. Beliau lahir hanya berselang sekitar  50 hari setelah peristiwa penyerangan pasukan gajah dibawah pimpinan Abrahah.

Muhammad saw lahir sebagai anak yatim. Ibunya, Aminah binti Wahb  meskipun ketika melahirkan dalam keadaan duka yang mendalam karena ditinggal wafat sang suami tercinta, Abdullah bin Abdul Mutthalib, menyambut kelahiran bayinya dengan suka cita. Mimpinya melihat istana Buchara di Syam dalam taburan cahaya ditambah suara bisikan bahwa ia akan melahirkan orang besar lah yang mempengaruhi semangat hidupnya.

Aminah terkenang, baru beberapa bulan  Abdullah yang ketika itu belum mengawininya terbebas dari kematian. Karena nazar ayahnya yang berbahaya tersebut   dapat  ditebus dengan 100 ekor unta. Namun hanya selang 3 bulan setelah pernikahannya Abdullah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Apa hikmah semua ini? “ Allah sengaja menunda kematian Abdullah agar ia dapat membuahiku dan menitipkan janinnya dalam rahimku. Ini adalah skenario besar Allah. Anak yang aku lahirkan ini pasti anak yang memilki kedudukan istimewa disisi-Nya ”, begitu pikir Aminah yakin.

Hal pertama yang dilakukan Aminah begitu ia melahirkan adalah mengutus seseorang untuk melaporkannya kepada sang kakek, Abdul Mutthalib, seorang pemuka Quraisy yang amat dihormati. Sang kakek inilah yang kemudian memilihkan nama ‘Muhammad’ kepada sang bayi. Abdul Mutthalib memilih nama ini karena ia pernah mendengar beberapa ahli nujum  yang meramalkan akan datangnya nabi di Hijaz dengan nama Muhammad. Perlu diketahui, Ahmad atau Muhammad dalam bahasa Arab berasal dari akar kata “ Hamida “, yang berarti syukur atau yang terpuji. Namun demikian sebelum kelahiran Muhammad saw, ini bukanlah nama yang lazim digunakan.

“ Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS.As-Shaaf (61):6).

Muhammad kecil hanya beberapa hari berada di pelukan ibunda tercinta. Adalah kebiasaan orang Arab zaman dahulu untuk menyusukan bayi-bayi mereka kepada perempuan-perempuan Badawi dengan sejumlah imbalan tertentu. Mengapa Badawi? Karena masyarakat Badawi yang biasanya hidup di pedalaman yang udaranya masih bersih, dianggap berperangai lurus dan jujur. Jauh dari sifat-sifat buruk yang lazim terdapat di kalangan masyarakat  perkotaan seperti Mekkah. Orang-orang Quraisy sendiri biasanya memilih perempuan Badawi dari Bani Sa’ad karena mereka dikenal baik budi bahasa maupun tutur katanya.

Maka ketika suatu hari datang serombongan perempuan dari bani Sa’ad mencari anak untuk disusukan, Aminahpun segera menawarkan bayinya untuk disusui. Namun apa yang terjadi ? Perempuan-perempuan tersebut menolaknya dengan alasan Aminah hanyalah seorang janda yang tidak mewarisi harta yang cukup banyak dari suaminya.

Dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam itulah tiba-tiba salah seorang perempuan yang baru pagi tadi menolak tawaran menyusui putranya datang kembali. Perempuan tersebut bernama Halimah As-Sa’diyyah. Ia kembali setelah tidak menemui seorang bayipun yang dapat disusuinya. Ia mengatakan kepada  suaminya, Al-Harits bin Abdul ‘Uzza , yang mendampingi Halimah ke Mekkah, bahwa ia memutuskan akan menyusui anak yatim cucu Abdul Mutthalib yang ditolaknya pagi tadi.

Ketika itu Al-Harits hanya berkata  :  “ Tidak ada jeleknya egkau lakukan hal itu, mudah-mudahan Allah memberkahi penghidupan kita dengan keberadaan anak yatim itu di tengah keluarga kita”.

Dan nyatanya  memang itulah yang terjadi. Keberkahan bermula dengan unta yang ditunggangi Halimah. Begitu Halimah naik ke atas punggung unta dengan Muhammad kecil di dekapannya, unta kurus yang tadinya selalu tertinggal jauh di belakang itu  tiba-tiba mampu berlari kencang meninggalkan  teman-teman Halimah jauh di belakang.

Demikian juga air susu Halimah yang tadinya tidak terlalu deras tiba-tiba menjadi berlimpah. Hingga tidak saja Muhammad kecil yang puas menyusu tetapi juga bayi Halimah sendiri juga demikian. Tidak itu saja. Bahkan unta dan kambing peliharaan keluarga Halimah yang tadinya kurus kering tiba-tiba menjadi subur. Padahal itu musim paceklik. Tak satupun unta dan kambing tetangga Halimah yang mampu sedikitpun menghasilkan susu.

Muhammad hidup di tengah keluarga ini hingga usia 5 tahun. Ia belajar bahasa Arab yang tinggi dan murni dari kabilah bani Sa’ad yang halus tutur katanya.  Tampak bahwa Muhammad kecil  sangat menghayati kehidupan di pedalaman Badawi  ini dengan  jiwa yang bebas merdeka. Pengalamannya menggembala kambing di padang rumput yang memang menuntut kesabaran tinggi  amat membekas di hati. Demikian pula kedekatannya kepada alam bebas terbuka. Hal ini membuat pikirannya jauh lebih dewasa dibanding  anak-anak seusianya yang hidup di kota besar.

Perasaan dan pengalamannya ini pada suatu hari pernah diutarakannya sendiri. “ Hampir semua nabi pernah menggembalakan kambing. Ibrahim dan Isa adalah penggembala kambing. Musa juga pernah menjadi penggembala kambing. Demikian pula aku “.

Tampak nyata bahwa lama berada langsung di bawah naungan langit terbuka dapat membuat seseorang lebih bijaksana baik dalam berpikir maupun berprilaku.

“ Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan ”.(QS.Al-An’am (6):75-79).

Bagi keluarga Halimah, selama 5 tahun itu ada sebuah peristiwa yang tak mungkin mereka lupakan begitu saja.

“ Suatu ketika Muhammad sedang menggembala kambing di belakang rumah. Tiba-tiba Abdullah, saudaranya laki-laki ( anak lelaki Halimah yang sebaya dengan Muhammad) lari pulang sambil berteriak-teriak. Ia memberitahu bahwa Muhammad diajak oleh dua lelaki berpakaian serba putih. Kemudian ia dibelah perutnya . …. Aku bersama suamiku segera menuju ke tempat kejadian. Disana kami melihat Muhammad sedang  berdiri dan wajahnya tampak pucat pasi. Ia segera kami peluk dan kami tanyakan apa yang baru saja terjadi. Ia menjawab : “ Dua orang lelaki berpakaian serba putih datangkepadaku. Kemudian aku dipegang dan dibaringkan lalu perutku dibedah. Aku tidak tahu apa yang dicari oleh kedua orang itu ! ”.

Muhammad   kembali ke pangkuan ibundanya tercinta pada usia 5 tahun. Tahun berikutnya dengan ditemani Ummu Aiman, pembantu setianya, Aminah mengajak putra tunggalnya itu ke Madinah untuk berziarah ke makam ayahnya. Mereka bertiga  selama 1 bulan penuh berada  di tengah keluarga besar Aminah.

Kalau saja Aminah  tidak mengingat  bahwa kakek dan keluarga besar Hasyim menanti  kepulangan putranya, ia tentu memilih untuk tetap tinggal di Madinah. Apa boleh buat ia harus kembali.  Sayangnya di tengah perjalanan antara Madinah – Makkah, di sebuah desa bernama Abwa’ ( sekitar 37 km Madinah) Aminah mengalami sakit parah. Tak lama kemudian iapun wafat. Beliau dimakamkan  ditempat itu juga.

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata: “Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Dengan menangis pilu Muhammad kecil yang kini telah menjadi yatim piatu itu terpaksa harus menurut dan patuh saja ketika Ummi Aiman mengajaknya untuk segera pulang ke Mekkah.

Di kemudian hari, Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda  mendekati kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya”.

( Bersambung )

“ Allah senantiasa memindahkan diriku dari tulang-tulang sulbi yang baik ke dalam rahim-rahim yang suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua, aku berada di dalam yang terbaik dari dua tulang sulbi itu “. ( Hadits Syarif).

Muhammad saw lahir dari seorang ibu bernama Aminah binti Wahb. Hadist diatas adalah cerminan bahwa Aminah adalah seorang perempuan yang suci dan terpelihara.  Ayah Aminah adalah seorang terkemuka dari bani Zuhrah.  Moyangnya adalah berasal dari bani ‘Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Sementara moyang ibu Aminah adalah  ‘Abdu ‘Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Jadi nasab mereka bertemu di Kilab.

Sementara itu ayah Muhammad saw adalah Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin ‘Abdu ‘Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Dari sini dapat kita ketahui bahwa nasab Rasulullah dari pihak ayah dan ibu juga bertemu di Kilab. Mereka adalah  termasuk ke dalam kabilah Quraisy yang dikenal selain sebagai keluarga pedagang yang handal dan sukses juga dihormati sebagai penjaga Ka’bah yang baik dan bijaksana. Kilab sendiri adalah 15 generasi dibawah Adnan, keturunan Ismail as.

Untuk diketahui, menjadi penjaga Ka’bah termasuk menjaga sumber air zam-zam adalah merupakan suatu kehormatan. Itu sebabnya sejak wafatnya nabi Ismail as sekitar 4000 tahun silam perselisihan  dalam rangka merebut hak untuk menjaga rumah yang disucikan tersebut sering kali terjadi. Diantara tugas penting penjaga Ka’bah adalah bertanggung-jawab terhadap kelangsungan upacara haji seperti tawaf, sai, pembagian air zam-zam, pembagian makanan, keamanannya dll.

Tak seorangpun yang tak kenal Abdul Mutthalib. Ia adalah seorang kabilah Quraisy dari bani Hasyim sejati, penjaga Ka’bah yang amat dihormati. Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang anak lelaki.  Abdullah adalah yang termuda.

Menurut kabar, tiga puluh tahun sebelum kelahiran Abdullah lelaki gagah ini pernah bernazar bahwa ia akan berkurban dengan menyembelih salah satu putranya bila ia memiliki 10 anak lelaki. Pada waktu itu masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa anak lelaki adalah lambang kehormatan. Sebaliknya anak perempuan adalah lambang kegagalan, kenistaan dan keterpurukan.

“ Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”.(QS. An-Nahl(16):58-59).

Hingga saat itu nazar tokoh Quraisy ini memang belum dipenuhi walaupun ia telah memilki 10 anak lelaki. Namun orang yang mengenalnya dengan baik yakin bahwa suatu saat nanti pasti Abdul Mutthalib akan melaksanakan nazar tersebut. Bagi masyarakat Arab apalagi bila yang bernazar itu adalah pemuka Mekah dan penjaga Ka’bah, nazar baik itu untuk kebaikan atau keburukan adalah suatu janji tertinggi terhadap Sang Khalik. Menurut keyakinan mereka tidak memenuhi nazar adalah dosa besar. Sementara bagi pemuka masyarakat tidak memenuhi nazar sama dengan mencoreng muka sendiri. Kehormatan adalah taruhannya.

Itu sebabnya suatu hari Abdul Muttahlib mengumpulkan ke 10 anaknya untuk diundi siapa yang harus disembelih. Abdul Mutthalib sebenarnya bukanlah lelaki kasar dan jahat. Ia hanya terikat dengan nazarnya sendiri yang di belakang hari ternyata amat membuatnya tertekan. Ia amat berharap kalau saja undian itu tidak jatuh ke putra bungsunya, Abdullah yang sangat disayanginya itu sudah merupakan keberuntungan yang besar baginya.

Namun apa boleh buat undian justru jatuh kepada Abdullah. Walaupun kecewa, Abdul Mutthalib tetap terlihat tegar melaksanakan nazarnya. Tampak bahwa kecintaannya kepada  Sang Khalik dan harga dirinya lebih tinggi daripada hatinya yang hancur.

Di tengah suasana tegang itulah tiba-tiba terdengar bisik-bisik bahwa masyarakat tidak setuju terhadap perbuatannya itu. Seorang pemuka Quraisy lainnya akhirnya tampil dan mengingatkan bahwa perbuatan Abdul Mutthalib itu dapat menjadi contoh yang tidak baik. Bagaimanapun mereka tidak setuju, menyembelih  anak sendiri apalagi anak lelaki adalah suatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Mereka menganjurkan agar Abdul Muthalib segera pergi mencari seorang ahli nujum untuk menanyakan apa yang sebaiknya ia perbuat.

Beruntunglah, ternyata sang ahli nujum yang dipercaya masyarakat itu menganjurkan agar Abdul Mutthalib menebus anak lelaki kesayangannya itu dengan menyembelih 100 ekor unta. Dengan demikian maka Abdul Mutthalibpun bebas dari nazarnya.

Pernikahan dan kehidupan Abdullah bin  Abdul Mutthalib dengan  Aminah binti Wahb.

Abdul Muthalib telah bebas dari nazarnya. Sekarang ia dapat hidup dan berpikir lebih tenang. Abdullah, putra bungsunya telah cukup dewasa. Sudah waktunya ia menikah dan berkeluarga. Sebagai ayah yang baik ia tahu betul siapa jodoh yang paling tepat bagi putranya itu.

Sejak kecil Abdullah telah mengenal Aminah binti Juhra dengan sangat baik. Keluarga Aminah adalah keluarga yang memiliki reputasi baik di mata masyarakat Mekkah. Kedua keluarga telah menjalin hubungan sejak lama. Sebagai ayah yang penuh perhatian, walaupun ia sibuk dengan berbagai urusan kota Mekkah yang dipimpinnya, ia menyadari bahwa putranya itu memiliki perasaan khusus terhadap Aminah. Karena kebiasaan dan adat Arab, keduanya memang sejak lama tidak pernah bertemu lagi. Sesuai adat yang berlaku turun temurun, begitu Aminah menginjak usia remaja, ia tidak lagi dapat keluar rumah secara bebas. Ia dipingit hingga seorang lelaki melamarnya.

Itu sebabnya masyarakat tidak terkejut ketika suatu ketika Abdul Mutthalib datang menemui keluarga Aminah untuk melamarnya. Gayungpun bersambut. Dengan suka cita, atas persetujuan sang gadis, keluarga Aminahpun menerima lamaran tersebut. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi menikahlah keduanya.  Tentu saja masyarakat kota Mekkah ikut berbahagia mendengar pernikahan dua anggota kabilah Quraisy dari bani Hasyim dan bani Zuhrah yang mereka hormati tersebut.

Sayangnya bulan madu yang dilalui pasangan muda tersebut amatlah singkat. Tak lebih dari sepuluh hari kemudian tugas telah menanti. Abdullah harus segera kembali bergabung dengan kafilah dagang keluarganya. Mereka akan mengadakan perjalanan jauh  yang telah lama dijalani keluarga besar Quraisy, yaitu ke Syam. Orang-orang Quraisy memang terbiasa pergi berdagang ke utara ( Syam)pada musim panas dan ke selatan ( Yaman ) pada musim dingin.

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka`bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (QS.Quraisy(106):1-4).

Namun waktu yang amat singkat tersebut bukannya berarti tidak memiliki makna penting. Karena beberapa hari setelah pernikahan Aminah sempat bercerita kepada suaminya tercinta bahwa ia bermimpi melihat sinar terang benderang memancar di sekeliling dirinya. Sinar itu begitu terang hingga seakan ia bisa melihat istana Buchara di Syam. Kemudian ia mendengar suara : “ Engkau telah hamil dan akan melahirkan orang termulia di kalangan umat ini”.

Tampaknya mimpi inilah yang menjadi penyemangat hidup Aminah selama kepergian Abdullah. Ia benar-benar menyadari bahwa perjalanan dagang yang dijalani suaminya bakal memakan waktu berminggu-minggu bahkan mungkin bulanan. Ya Aminah harus sabar. Hingga suatu hari di bulan kedua ia mendengar kabar kedatangan rombongan dagang suaminya. Sungguh senang hati Aminah. Ia segera mempersiapkan diri menyambut kepulangan suami tercinta.

Namun kegembiraan itu segera sirna karena ternyata Abdullah tidak berada di antara rombongan tersebut. Abdul Mutthaliblah yang langsung datang mengabarkan bahwa Abdullah tiba-tiba menderita demam tinggi ketika dalam perjalanan pulang. Akhirnya ia terpaksa ditinggalkan di Yatsrib ( Madinah).

“ Tidak usah terlalu khawatir anakku. Suamimu akan segera kembali begitu ia pulih. Aku telah meminta Al-Harits, saudaranya, agar menjaganya selama ia sakit. Bersabarlah Aminah, berdoalah agar ia segera sehat ”, begitu hibur Abdul Mutthalib kepada menantunya.

Tetapi rupanya Allah berkehendak lain. Setelah menanti dua bulan lamanya akhirnya Al-Harits pulang ke Mekkah sendirian dengan membawa kabar duka bahwa adik bungsunya yang baru beberapa bulan lalu lolos dari nazar ayahnya yang mengerikan itu, telah meninggal dunia.

Betapa berdukanya Aminah. Dalam usianya yang masih demikian muda ia harus kehilangan suami yang telah memberinya kebahagiaan walau hanya sejenak. Dan dalam keadaan hamil pula.

( Bersambung )

Adalah Abrahah, seorang penguasa Habasyah (Ethiopia)yang berhasil menguasai Yaman, sebuah negri yang sekarang ini  berada di semenanjung selatan Arabia. Di negri jajahan barunya ini ia membangun sebuah gereja besar yang dinamainya Qullais. Abrahah membangun gereja tersebut  bukan semata-mata sebagai tempat ibadah umat Nasrani.  Ia mempunyai maksud lain.

Hal ini terlihat jelas dalam surat yang dikirimkannya kepada raja Habasyah ketika itu yaitu Najasyi ( Negus).

“ Baginda, kami telah membangun sebuah gereja yang tiada taranya sebelum itu. Kami tidak akan berhenti sebelum dapat mengalihkan perhatian  orang-orang Arab kepadanya dalam  melakukan peribadatan yang selama ini mereka adakan di Ka’bah “.

Ketika itu Ka’bah di Mekkah memang sudah merupakan pusat peribadatan terbesar  di semenanjung Arabia. Mendengar berita ini, seorang Arab yang menjadi penjaga Ka’bah sengaja mendatangi Qullais dengan maksud mempermalukan Abrahah. Ia dikabarkan mengotori bagian-bagian penting gereja megah tersebut dengan tinja.

Tentu saja tindakan tersebut  membuat Abrahah marah besar. Ia bersumpah akan membalas perbuatan kotor tersebut dengan menghancurkan Ka’bah yang dari semula memang sudah dibencinya. Maka berangkatlah Abrahah dengan membawa pasukan gajahnya yang besar menuju Mekkah.

Pasukan Abrahah adalah pasukan yang amat kuat dan sangat  ditakuti musuh. Selama perjalanan pasukan ini berhasil menaklukan orang-orang yang berusaha melawannya. Hingga akhirnya sampailah ia di gerbang  kota  Mekkah tanpa perlawanan yang berarti.

Di tempat ini ia berhadapan dengan penguasa Mekkah yaitu Abdul Mutthalib bin Hasyim, seorang pemuka Quraisy yang disegani. Ialah yang selama ini bertanggung jawab terhadap Ka’bah termasuk pelaksanaan ibadat haji yang telah dikenal sejak dahulu kala. Abrahah mengatakan bahwa kedatangannya ke Mekkah bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah. Ia juga menambahkan apabila mereka tidak melawan maka ia tidak akan menumpahkan darah.

Kami tidak berniat hendak memerangi Abrahah karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim as.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”, begitu jawaban diplomatis  Abdul Mutthalib.

Dengan demikian pasukan Abrahahpun mustinya tanpa hambatan dapat melaksanakan keinginan menggebu-gebu pemimpin mereka untuk menghancurkan bait Allah. Sementara itu Abdul Mutthalib sebagai pemimpin Mekkah hanya dapat memerintahkan penduduk untuk segera pergi dan berlindung.

Namun apa yang kemudian terjadi? Dari balik persembunyian di tebing-tebing tinggi batu cadas yang mengelilingi kota Mekkah, penduduk dengan mata kepala sendiri dapat menyaksikan betapa ribuan burung kecil bernama Ababil berterbangan cepat menuju Ka’bah. Sementara itu ada laporan bahwa gajah-gajah yang dibawa pasukan Abrahah itu mogok.  Ketika gajah dihadapkan kea rah Ka’bah, ia segera bersimpuh dan tidak mau berdiri. Dan ketika ia dihadapkan ke arah Yaman, ia segera lari tergopoh-gopoh.

Yang lebih mencengangkan lagi, burung-burung kecil tersebut masing-masing membawa 3 buah batu kecil. Satu di paruh  dua lainnnya di kaki kanan dan kiri mereka. Anehnya walaupun batu-batu tersebut sebenarnya hanya sebesar biji gandum namun ketika mengenai tubuh orang yang dijatuhinya iapun binasa!

Dalam keadaan panik pasukan Abrahah berlarian kian kemari. Banyak diantara mereka yang meninggal dunia.  Sementara Abrahah sendiri  dalam keadaan luka parah di gotong pasukannya kembali ke negrinya. Darah dan nanah terus mengucur dari sekujur tubuh dan kepalanya. Ia wafat begitu tiba d Shan’a karena jantungnya pecah hingga mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya.

Beberapa tahun kemudian  peristiwa yang makin membuat harum nama bani Quraisy sebagai penjaga Ka’bah yang dilindungi Tuhannya ini diabadikan-Nya dalam salah satu surat Al- Quranul Karim, yaitu surat Al-Fiil yang berarti gajah. Surat ke 105 ini diturunkan di Mekkah.

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

Tahun di waktu terjadi peristiwa tersebut kemudian dinamakan tahun Gajah. Tahun ini bersamaan dengan tahun 571 M. Di tahun inilah Rasulullah Muhammad saw  dilahirkan.

( Bersambung )

( Dari : http://abibakarblog.com/agama/ahlak-terhadap-orang-kafir/ )

Bagaimana akhlak Rasulullah saw ketika bergaul dengan orang-orang kafir? Akhlak nabi saw adalah Al-Qur’an sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah ra ketika ditanya akhlak nabi saw, beliau menjawab:

“Akhlak beliau (nabi saw) adalah Al-Qur’an”. Kemudian ‘Aisyah ra membacakan ayat:

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al Qalam:4).

Kata “Khuluqin ‘azhim” (budi pekerti yang agung) dalam ayat ini, mencakup seluruh ahlak terhadap semua mahluk. Rahmat (rasa kasih sayang) merupakan ahlak yang paling tinggi, motivator serta motor penggerak utama suatu ahlak.

Jika contoh-contoh dan riwayat-riwayat yang telah dibawakan dalam ceramah tersebut berkaitan dengan ahlak beliau saw, terhadap orang-orang kafir saat peperangan, maka bagaimana kita akan menggambarkan ahlak beliau saw terhadap mereka dalam kondisi damai?

Berikut tiga hadits tentang hal itu.

Yang pertama, sabda Rasulullah saw:

“…Sesungguhnya para utusan (duta) itu tidak boleh dibunuh.” ( Riwayat Abu Dawud).

Maksudnya adalah, para utusan yang dikirim oleh orang-orang kafir sebagai duta dan penghubung antara kaum Muslimin dengan kaum Kafir.

Keadilan dan kasih-sayang Islam tidak memperbolehkan untuk membunuh dan menyakiti mereka. Karena, dalam Islam terdapat ajaran (agar menjaga dan menataati) perjanjian dan ikatan janji.

Ini di antara gambaran cara bergaul tingkat tinggi dari kaum Muslimin, atau dariagama Islam, atau dari nabi Islam kepada orang-orang Kafir, non Islam.

Kedua, yaitu dalam wasiat nabi saw kepada Mu’adz bin Jabal ra, beliau bersabda:

…dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik.” (Hr Ahmad, Tirmidzi, Darimi).

Dalam hadits ini, Rasulullah saw tidak mengatakan “pergaulillah kaum Muslimin, atau orang-orang shalih(salih) atau orang-orang yang mengerjakan shalat”, akan tetapi beliau mengatakan”…dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik”.

Maksudnya adalah semua agama, yang kafir, yang muslim, yang mushlih (muslih;yang melakukan perbaikan), yang faajir (jahat) dan yang shalih, sebagai bentuk keluasaan rahmat dan kelengkapannya dengan ahlak din (agama).

Ketiga, yaitu hadis tentang seorang Yahudi, tetangga nabi saw, yangsering menyakiti beliau saw.

Suatu ketika, nabi mengetahui bahwa orang yang selalu menyakitinya ini memiliki seorang anak yang sedang sekarat. Maka nabi saw datang berkunjung kerumahnya dan mengajaknya menuju jalan Rabb-nya, dengan harapan semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan orang ini.

Beliau saw membalas keburukan dengan kebaikan, meskipun terhadap orangkafir, Rasulullah saw bersabda kepada si anak, sementara bapaknya juga ada bersama mereka:

Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah, itu akan menyelamatkanmu dari api neraka.”

Mendengar seruan ini, si anak memandang ke arah bapaknya dan memperhatikannya. Rasulullah saw mengulangi lagi:

“Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah!”

Si anak memandang ke arah bapaknya lagi. Kejadian yang sama juga terjadi antara Rasulullah saw dengan pamannya, Abu Thalib, yang senantiasa membantu dan menolong din Islam, kaum Muslimin dan Rasulullah saw, akantetapi, dia tidak masuk Islam. Rasulullah saw bersabda kepadanya:

“Wahai paman, katakanlah laa ilaaha illallah…”

Mendengar seruan ini, Abu Thalib memandang para pembesar Qurays. Lalu mereka mengatakan:

“Apakah kamu benci terhadap agama nenek moyangmu?” (Hadis riwayat Imam Bukhari).

Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam kekafiran.

Sedangkan orang Yahudi (dalam cerita ini) yang mendengar nabi saw mengajak anaknya agar masuk Islam, Allah menceritakan kondisi mereka:

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yangmerugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).” (QS Al An’aam :20)

Bagaimana jawaban dan responnya? Orang Yahudi itu mengatakan:

“Wahai anakku, taatlah kepada Abul Qasim (Muhammad saw)!”

Maka si anak mengucapkan syahadatain. Sebelum menghembuskan napas terakhir. Mendapat respon positif ini, Rasulullah bersabda:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka dengan sebabku.” (Hr Bukhari, 1356, Abu Dawud).

Inilah ahlak Rasulullah saw yang muliah, adab beliau yang luhur terhadaporang-orang non Muslim, ketika kondisi perang dan dalam keadaan damai. Kitamemohon kepada Allah SWT, agar menjadikan ahlak kita sama seperti ahlak beliau saw, dan semoga Allah menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan terbaik kita. Allah Berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” ( QS. Al Ahzab :21)

(Syaikh Ali bin Abdul Hamid Hasan al Halaby dalam muhadharah di Masjid Istiqlal, 19 febuari 2006).

Tulisan ini dikutip dari rubrik Soal-Jawab majalah As-Sunnah halaman 10, Edisi 02/X/1427 H/2006 M.

Catatan tambahan :

Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa dalam keadaan perang sekalipun ketika musuh  bersyahadat walaupun mungkin hanya dengan tujuan agar terbebas dari ancaman pedang maka kaum Muslimin tidak boleh lagi membunuhnya. Karena hati adalah milik-Nya maka Dialah yang lebih mengetahui maksud dan niat orang yang bersyahadat tersebut. Kita hanya bisa menilai dari apa yang terlihat dan terdengar saja.

Wallahu’alam bishshawwab.

Jakarta, 31 Juli 2010.

Vien AM.

“ … …  Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir”. (QS.Ali Imran (3): (140-141).

Dari ayat diatas saja paling tidak ada 6 alasan yang dapat ditarik mengapa Sang Khalik mempergilirkan manusia pada masa kejayaan dan kehancurannya. Namun sebelum kita memulai membahas hal tersebut di atas ada baiknya kita samakan dahulukan persepsi kita tentang apa itu kejayaan dan apa itu kehancuran.

Sebagian orang menganggap bahwa kejayaan itu identik dengan kesuksesan atau kemenangan yang sifatnya materialistis atau kebendaan.  Menurut kelompok ini ciri kesuksesan seseorang terlihat secara kasat mata dengan banyak dan besarnya  harta yang dimiliki orang yang sukses tersebut. Orang-orang yang berpikir seperti ini biasanya juga memotivasi anak cucunya dengan kesuksesan yang sifatnya materialistis. Berdasarkan pandangan ini mereka menganggap uang dan harta adalah segalanya. Karena dengan uang segalanya dapat diperoleh.

Sebaliknya, masih menurut pendapat kelompok diatas, orang yang tak mampu mengumpulkan  uang dan harta yang menumpuk, berarti ia gagal dalam hidup. Itulah kehancuran.

Namun pandangan yang  lazim disebut dengan Teori Materialistik ini di belakang hari ternyata banyak melahirkan masalah. Karena nyatanya tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Contohnya antara lain kebahagiaan dan ketenangan hidup. Celakanya lagi, justru seperti inilah pendapat  sebagian besar orang yang merasa dirinya orang modern.

Mereka bahkan secara sembrono telah menilai Tuhannya dengan pandangan yang salah.

“ Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.(QS.Al-Fajr(89):15-16).

Mereka mengira bahwa uang ,harta, kesuksesan, kekuasaan dan kesenangan hidupnya itu sebuah pertanda bahwa Tuhannya mencintainya, memuliakannya serta melebihkannya dari yang lain. Sebaliknya ketika usaha mereka tidak berhasil mengeruk hasil yang melimpah berarti Tuhan telah meninggalkannya. Bagi mereka kemiskinan dan  kesusahan adalah hinaan.

Betulkah pendapat tersebut menurut Islam? Islam tidak perah mengajarkan hal ini. Uang, harta, kekuasaan dan kesuksesan hanyalah cobaan hidup. Begitu pula kemiskinan, kekurangan dan kesusahan hidup. Karena  hak meluaskan dan menyempitkan rezeki adalah semata milik-Nya.

“ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman”.(QS.Ar-Rum(30):37).

“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” .(QS.Al-Baqarah (2):155-156).

Yang dituntut dari Sang Khalik hanyalah pengakuan bahwa Dia-lah Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan.  Pengakuan ini harus pula dibarengi dengan ketakwaan, sabar dalam menghadapi musibah dan bersyukur ketika dalam kesenangan.

Jadi, kembali  kepada surat Ali Imran ayat 140-141 di awal bahasan ini, Allah swt menerangkan  bahwa ada 6 alasan mengapa Allah mempergilirkan kejayaan dan kejatuhan seseorang atau suatu kelompok. Walaupun ayat tersebut menurut para mufasir diturunkan sehubungan dengan kemenangan yang diperoleh kaum Muslimin ketika Perang Badar dan kekalahan mereka ketika terjadi Perang Uhud.

“ Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. … … “. (QS.Ali Imran (3): (140).

Enam alasan  mengapa Allah mempergilirkan kejayaan dan kejatuhan yang dimaksud ayat tersebut adalah :

  1. Agar manusia dapat merasakan kemenangan disamping kekalahan.
  2. Agar supaya Allah dapat membedakan mana orang yang beriman dan mana yang kafir.
  3. Agar orang yang beriman mendapat kesempatan untuk membuktikan ketakwaannya, antara lain yaitu dengan gugur sebagai syuhada. (*).
  4. Agar manusia mengerti bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim.
  5. Cara Allah membersihkan dosa-dosa orang-orang yang gugur sebagai syuhada. (*).
  6. Sebagai jalan untuk membinasakan orang-orang yang kafir.

Melalui ayat diatas pula dapat disimpulkan bahwa perputaran antara kejayaan dan kejatuhan yang ditetapkan oleh-Nya itu tidak hanya berlaku bagi kaum Materialistis saja namun juga berlaku bagi semua lapisan masyarakat dan juga dalam keadaan perang.

“ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya “.(QS.Ali Imran (3): (142-143).

Wallahu’alam bishshawab.

Jakarta, 25 Juli 2010.

Vien AM.

(*) Syuhada adalah orang beriman yang gugur dalam perang/jihad. Namun jihad dapat pula berarti: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.

Azraq bin Qais ra mengatakan bahwa suatu hari ada seorang pendeta dari Najran beserta seorang pengikutnya datang menemui Nabi saw. Ketika Nabi menjelaskan kepada mereka tentang Islam, mereka berkata :  “Kami juga Muslim jauh sebelum kamu”.  Nabi menjawab , “ Kalian berdusta karena sesungguhnya ada tiga ajaran kalian yang bertentangan dengan Islam yaitu kalian menisbatkan seorang anak pada Allah, kalian memakan daging babi dan kalian menyembah berhala”. Mereka lalu bertanya, “Siapakah ayah Isa ?”. Rasul tidak segera menjawab karena menunggu petunjuk Allah.  Kemudian turunlah ketiga ayat ini “. ( Hadist shohih, menurut Hakim, Bukhari dan Muslim ).

Demikianlah (kisah `Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur’an yang penuh hikmah. Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”.(QS.Ali imran(3): 58-60).

Hadist diatas menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga kriteria yang dapat dijadikan tolok ukur Islam tidaknya seseorang.  Yang utama adalah ke-Esa-an Allah swt. Inilah ajaran Tauhid.

Selama ini Barat ( Nasrani )biasa mengkategorikan tiga agama besar dunia yaitu Nasrani, Yahudi dan Islam sebagai ajaran Monotheisme. Ajaran yang juga  mendapat julukan agama samawi ( agama langit ) ini dianggap lebih ‘modern’ dan tinggi dibanding ajaran Polytheisme yang dulu  dianut oleh banyak peradaban kuno. Polytheisme adalah ajaran yang  menganggap bahwa Tuhan itu lebih dari satu. Sementara Monotheisme adalah ajaran yang meyakini bahwa Tuhan itu hanya ada satu.

Sebuah pertanyaan yang sungguh menggelitik, bagaimana mungkin orang-orang Nasrani itu bisa mengklaim bahwa   ajaran mereka itu ajaran Monotheisme. Sementara mereka tetap menganggap Tuhan itu tiga, Tuhan mempunyai anak, Tuhan bapak Tuhan anak,  Tiga dalam satu atau apapun istilah semacam itu.

” Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS.At-Taubah(9):30)

Sementara Islam secara tegas mengecam pengakuan tersebut. Allah swt adalah Esa, Tunggal. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada yang menyerupainya, tidak ada yang menyertainya.

“ Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Kembali ke hadist  diatas. Para pendeta Nasrani di masa Rasulullah mengklaim bahwa mereka Muslim bahkan jauh sebelum  Islam datang. Apa yang dimaksud para pendeta ini? Mengapa mereka mengatakan demikian? Apa yang dimaksud Muslim oleh mereka?

Muslim berasal   dari kata Salama yang berarti berserah diri. Artinya berserah diri kepada ketetapan Allah swt Yang Maha Esa, Sang Khalik yang menciptakan langit, bumi dan segala apa yang ada diantaranya. Para nabi dan rasul diutus Sang Khalik dengan misi, tugas dan tanggung jawab utama yang sama yaitu  menyembah hanya kepada-Nya tanpa  mempersekutukan-Nya dengan apapun. Orang-orang  yang demikian inilah yang dinamakan ‘ Muslim ‘.

Maka jika para pendeta mengklaim bahwa mereka adalah Muslim sementara mereka tetap mengatakan Yesus ( Isa as ) sebagai anak Tuhan, pantaskah mereka menyebut diri sebagai Muslim ?

“ Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.(QS.Al-Maidah (5):72-73).

“ Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim ( yang berserah diri)”. (QS.Ali imran(3): 52).

Adalah Ibrahim as. Rasul Allah ini sering disebut sebagai bapak para nabi. Ibrahim as mempunyai 2 istri. Yang pertama adalah Sarah. Dari rahimnyalah lahir nabi Ishak as, bapak nabi Yakub as. Nabi Yakub yang memiliki nama lain Israel ini  adalah kakek moyang bangsa Yahudi. Dari garis Yakub ini lahir para nabi, diantaranya yaitu Yusuf as, Musa as, Daud as, Sulaiman as, Yahya as dan Isa as.

Sementara Siti Hajar, istri kedua Ibrahim melahirkan nabi Ismail as. Dari garis ini lahir satu-satunya nabi yaitu Muhammad saw yang merupakan nabi dan rasul penutup. Muhammad saw yang diutus menyampaikan kitab suci Al-Quran ini datang  sekitar 6 abad setelah wafatnya Isa as.

“ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.(QS.Al-Baqarah(2):124)

Lucunya, kaum Yahudi maupun Nasrani masing-masing mengklaim bahwa Ibrahim adalah penganut agama mereka.

“ Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?  Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang  yang lurus lagi Muslim ( berserah diri kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS.Ali imran(3): 65-67).

“ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“.(QS.Al-Baqarah(2):132)

Allah swt mengutus para nabi dan rasul dengan misi dan  tugas utama yang sama, yaitu memurnikan penyembahan hanya kepada-Nya. Mengingatkan manusia agar meyakini keberadaan Tuhan Yang Satu dan berserah diri kepada-Nya, yaitu menjadi Muslim.

“ Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-beda kan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.(QS.Ali imran(3): 84).

Demikian pula nabi Musa as yang diutus kepada bangsa Yahudi dengan membawa Taurat, nabi Isa as dengan membawa Injil mengingatkan orang-orang Yahudi agar tidak menyelewengkan dan menyembunyikan sebagian ayat-ayat Taurat. Sementara nabi Muhammad saw sebagai nabi penutup  diutus menyampaikan Al-Quranul Karim yang menyempurnakan kitab-kitab terdahulu kepada seluruh umat di akhir zaman.

Para nabi dan rasul ini selain diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah juga ditugaskan untuk mengajarkan,  menerangkan sekaligus mencontohkan bagaimana penerapan ayat-ayat tersebut. Manusia-manusia pilihan ini adalah panutan dan  merupakan contoh keteladanan bagi setiap umat yang didatanginya.   Allah swt berfirman :   “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya”.

“ Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS.Ali imran(3): 32).

Dan ta`atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (QS.Ali imran(3): 132).

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu  maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.(QS.Asy-Syuara(26):105-108).

“Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku”. (QS.Asy-Syuara(26):124-126).

“Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”. (QS.Asy-Syuara(26):142-144).

“ Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”.(QS.Zukhruf(43):63).

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”(QS.Al-Hadid(57):28).

Selain perintah meng-Esa-kanNya,ternyata  Allah juga menyuruh manusia agar melaksanakan shalat. Dari hadits kita mengetahui bahwa umat nabi Musa diperintahkan untuk melaksanakan shalat 50 kali dalam sehari. Malah tampaknya perintah shalat dengan gerakan-gerakannya yang khusus itupun telah Allah ajarkan sejak  dulu. Demikian pula perintah zakat, puasa bahkan pergi haji ke ke Bait Allah di Mekah.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.(QS.Ali imran(3): 43).

“ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS.Ali imran(3): 96-97).

“ Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan “. (QS.Al-Baqarah(2):141).

Begitulah Allah berfirman mengenai Muslim terdahulu melalui ayat-ayat Al-Quran yang mulia. Maka adalah kewajiban kita sebagai umat Islam, Muslim generasi terakhir  yang mendapat kehormatan menerima ayat-ayat suci Al-Quran melalui perantaraan Rasulullah Muhammad saw agar mentaati rasul-Nya yang ummi ini.

“ Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.(QS.Al-Araf (7):158).

Dan sungguh beruntung para sahabat sejati yang dengan setia mentaati, menjaga serta melindungi Rasullullah dalam berbagai peperangan itu telah mencatat segala tindakan dan perkataan Rasul. Itulah hadits yang dengan demikian kita yang hidup 15 abad setelah wafatnya Rasulullah tetap dapat mentaati, meneladani dan mencontoh bagaimana Nabi sebagai Muslim melaksanakan perintah Allah swt … Allahuakbar !!!

( Baca juga : http://vienmuhadi.com/2009/04/15/urgensi-mematuhi-hadis/ dan

http://vienmuhadi.com/2009/06/30/hadis-dan-perang-pemikiran/ )

“ Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS.Ali imran(3): 68).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.Al-Ahzab(33):21)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim  ( yang berserah diri kepada Allah)”. (QS.Ali imran(3): 64).

“ Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”. (QS.Ali imran(3): 83).

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS.Ali imran(3): 19).

Wallahu’alam bishshawab.

Jakarta, 20 Juli 2010.

Vien AM.

Mengetahui kebesaran dan kejayaan Islam di masa lalu sungguh merupakan  kebahagiaan tersendiri. Ini bagaikan setitik embun di padang pasir nan gersang. Apalagi di saat ini dimana Islam memang sedang dalam keadaan terpuruk. Citra Islam yang berkembang atau sengaja dikembangkan di barat hanyalah citra buruknya saja.

Terorisme, kediktatoran, korupsi, kejahatan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan sebagian orang atau negara-negara yang mengaku Muslim namun tidak bertanggung jawab terus dibesar-besarkan. Hal ini membuat kaum Muslim yang kurang teguh keimanannya makin tidak percaya diri.  Akibatnya dapat dibayangkan. Mereka ini akhirnya bukan saja enggan mentaati dan menjalankan hukum dan syariat ajarannya namun bahkan mengakui ke-Islamannyapun ragu …

Itu sebabnya saya sengaja menuliskan pengalaman saya dalam rangka mencari jejak peninggalan Islam di Eropa Barat ini. Menurut pendapat saya, tidak sepatutnya kita ‘minder’. Islam selama beberapa abad pernah berada di puncak kejayaannya. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang baru 2 abad ini saja menguasai percaturan dunia.

Barat belakangan ini bahkan terpaksa harus mengakui bahwa berkat kekuasaan Islam di Spanyollah mereka saat ini bisa keluar dari zaman kegelapannya di abad pertengahan. Di era globalisasi ini dimana informasi dapat dengan mudah diakses, tampaknya tak mungkin lagi mereka menutup-nutupi keberadaan para ilmuwan Muslim dan berbagai penemuannya yang menginsipirasi Barat menjadi maju seperti sekarang ini.

Ibnu Musa Al-Khawarizmi (770-840 M ), penemu Algoritma dan Aljabar,  Avveroes atau Ibnu Rushdi (1126-1198 M), hakim/kadhi sekaligus  fisikawan, Ibnu Sina( 980 -1037 M ),  filsuf sekaligus  dokter kenamaan dan  Ibnu Khaldun ( 1332-1406 M), bapak sosiologi dan ekonomi dunia hanyalah segelintir diantaranya. Mereka adalah para penemu yang banyak menelurkan karya–karya tulis penting.

Kalaupun mereka ini menggunakan dasar dan referensi dari ilmuwan terdahulu, seperti ilmuwan-ilmuwan terkenal Yunani seperti Socrates, (469-399 SM), Plato (428-348 SM) dan  Aristoteles (384-322 SM) selalu mencantumkan sumbernya dalam karya mereka. Ini kebalikan dari para ilmuwan barat yang sering secara sengaja membuang sumbernya bila itu berasal dari dunia Islam.

(Baca:http://www.scribd.com/doc/28593682/Makalah-Sejarah-Peradaban-Islam-Sumbangan-Islam-Terhadap-Sains-Dan-Peradaban-Dunia ).

Hebatnya lagi, para ilmuwan Muslim tersebut tidak hanya lihai dalam ilmu duniawinya saja namun juga ilmu ukhrowinya. Mereka adalah ahli ibadah yang betul-betul menguasai ajaran Islam dengan baik. Tampaknya inilah yang menjadi rahasia kesuksesan dunia Islam di masa lalu.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan “.(QS.Al-Qashash (28):77).

Berikut pengakuan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte ( 1769 – 1821) : “Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

Sementara itu Goethe,filsuf Jerman (1794–1832M) berkomentar sebagai  berikut :

Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur (Byzantium) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. (hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Islam menyinari semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugis sekarang) tak sampai 100 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw. Bahkan pada tahun 732 M cahaya  Islam nyaris menerangi jantung Eropa di Perancis tengah kalau saja pasukan pimpinan Musa bin Nushair ini tidak dikalahkan pasukan Perancis di Poitier.

Padahal ketika itu Islam telah berhasil menaklukkan salah satu kerajaan adikuasa masa itu yaitu, Persia. Ini terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Di masa-masa berikutnya melalui para pedagang Islam menyebar ke timur, yaitu India, Cina dan  Indonesia melalui Aceh yang mendapat julukan serambi Mekah. Dan juga ke barat, yaitu pesisir utara Afrika termasuk Mesir, Maroko,Tunisia dan Aljazair. Ketika itu di bawah dinasti Umayah, Damaskus menjadi ibu kota kekhalifahan.

Dari Maroko inilah pasukan Islam masuk ke benua Eropa. Di benua ini selain Spanyol dan Portugal, Islam juga menyiratkan sinarnya ke Perancis selatan dan Italia ( kepulauan Sisilia dan Sardinia). Pada masa kekuasaan Turki Ottoman yang berhasil menaklukkan Istanbul ( Konstantinopel ) yang ketika itu merupakan negara adikuasa ( Romawi timur), negara-negara eropa timur seperti Albania, sebagian Yugoslavia dan Bulgariapun masuk Islam.

Hebatnya lagi, toleransi benar-benar dijunjung tinggi. Tidak ada paksaan masuk Islam. Kaum Nasrani, Yahudi, orang-orang Armenia bahkan orang-orang Zoroasterpun bebas menjalankan ajaran agama mereka. Mereka hanya diwajibkan membayar jiziyah.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah(2):256).

Berikut pengakuan Voltaire (1694-1778), penulis legendaris Perancis berikut :

“ ... Saya telah mengunjungi London, Hamburg, Danzig, Venezia. Namun apa yang saya lihat lebih mendidik adalah apa yang terjadi di Konstantinopel. .. Lima puluh tahun yang lalu saya mendapat kehormatan untuk mengikuti  sebuah prosesi pelantikan patriak ( kepala gereja) Yunani oleh Sultan Ahmed III, semoga Tuhan memberkatinya. Sultan menyerahkan sendiri cincin dan tongkat kepada sang pendeta Kristen. … Sungguh menyenangkan saya dapat berkomunikasi secara terbuka di acara tersebut.

Namun sekembali saya ke Marseilles, saya sangat terkejut. Saya tidak menemukan satupun masjid. Saya ungkapkan keterkejutan saya itu kepada Uskup Marseilles. Bila orang-orang Turki saja mau menyediakan gereja bagi orang-orang Kristen mengapa kita tidak ”.

Saya juga beberapa kali menemukan pengakuan cendekiawan barat, diantaranya rektor universitas Madrid, Spanyol. Dengan nada getir ia mengatakan bahwa bila saja pada pertempuran Poitiers pasukan Islam memenangkan pertempuran, tentu masyarakat Eropa saat ini telah mengenal ajaran Islam secara baik.

Saya pikir, Voltaire juga pasti kecewa seandainya ia masih hidup. Betapa tidak, harapannya 2.5 abad lalu ternyata hingga kini tetap tidak terealisasi. Masjid di Perancis benar-benar langka. Bahkan Marseilles yang jumlah muslimnya relative lumayan banyak hingga detik ini umat Islam hanya bisa melaksanakan shalat Jumat di jalan-jalan yang sempit. Masjid besar yang katanya sudah disetujui pemerintah dan pada Idhul Adha bulan april yang baru saja lewat dikabarkan sudah bisa dipakai ternyata bahkan tanahnya saja belum dibebaskan!

Masjid Toulouse

Masjid Toulouse 1

Masjid Toulouse

Masjid Toulouse 2

Demikian pula di Toulouse. Masjid besar yang tidak sengaja kami lewati beberapa bulan lalu, ternyata sudah 2 tahun terbengkalai. Padahal bila dilihat fisiknya tinggal tahap ‘finishing’ saja. Menurut informasi yang saya dapat, katanya masyarakat sekitar tidak mengizinkannya.

Grande Mosquee de Paris

Grande Mosquee de Paris

Grande Mosquee de Paris (2)

Grande Mosquee de Paris (2)

Saat ini di Perancis masjid yang cukup megah berdiri hanya ada di Paris saja. Beruntung masjid yang dibangun pada tahun 1920 dan diberi nama “ Grande Mosquee de Paris” ini memiliki menara cukup tinggi. Karena belakangan ini Perancis menetapkan peraturan bahwa masjid tidak boleh memiliki menara lebih dari 3 meter. Ini masih ditambah lagi bahwa suara azan tidak boleh terdengar hingga keluar area masjid !!

Belum lagi bila kita bicara soal jilbab dan nikab. Sejak tahun 2004 pemerintah melarang anak sekolah dan pegawai negri mengenakan jilbab di area sekolah dan kantor pemerintahan. Untuk sementara memang masih aman bila kita memakai di jalan umum.

Namun tidak demikian dengan nikab ( penutup muka kecuali mata). Ada peraturan baru bahwa mereka yang mengenakan nikab bakal dikenai sangsi hukum. Saat ini peraturan tersebut masih dalam tahap percobaan.

Sungguh aneh, bukan? Barat yang katanya menjunjung tinggi demokrasi, kebebasan dan toleransi hingga harus menyerang Afganistan dan  Irak karena dianggap tidak demokrasi, nyatanya seperti itu. Yang  katanya menjunjung tinggi keadilan dan HAM, namun ternyata hanya tinggal diam ketika rakyat Palestina diperlakukan semena-mena oleh pemerintah pendudukan Israel.

Hal lain yang cukup menarik adalah bahasa. Kita semua tentu setuju bahwa bahasa adalah hal terpenting dalam melakukan komunikasi. Bagaimana kita dapat berkomunikasi, berinteraksi, bertukar pendapat, menambah wawasan dan pengetahuan tanpa adanya bahasa pemersatu. Bahasa isyarat mungkin bisa tapi hanya dalam batas tertentu saja.

Perancis dan Spanyol adalah negara bertetangga. Namun terlihat jelas bahwa masing-masing ingin mempertahankan bahasanya sendiri-sendiri. Demikian pula  Italia, yang menjadi tetangga  keduanya. Juga Jerman dan Belanda yang merupakan tetangga Perancis. Bahasa Inggris yang selama ini sering di’klaim’ dan meng’klaim’ sebagai bahasa pemersatu, bahasa internasional dalam forum-forum resmi ternyata dalam kehidupan sehari-hari tidak berfungsi. Dapat dibayangkan bagaimana repot dan sulitnya bepergian ke suatu tempat dimana kita tidak dapat berkomunikasi secara baik dengan  penduduknya.

Berbeda dengan ketika Islam berada di puncak kejayaannya. Bahasa Arab menjadi bahasa pemersatu. Jadi bahasa ini tidak hanya digunakan ketika shalat dan membaca ayat-ayat Al-Quran saja namun menjadi bahasa sehari-hari seluruh kekhalifahan Islam yang amat luas itu. Bahasa ini bahkan juga digunakan secara internasional.

Kembali kepada kekalahan Islam di Poitiers pada tahun 732 M. Apa sebenarnya hikmah di balik kekalahan tersebut? Mengapa Allah swt tidak mengizinkan Islam berkembang di jantung Eropa? Mengapa kejayaan Islam di semenanjung Iberia hanya bertahan selama 8 abad saja? Sementara di Indonesia yang relative lebih jauh dari tanah kelahiran Islam bisa tetap bertahan hingga kini ?

Mungkinkah Allah sengaja berbuat demikian agar kita umat Islam Indonesia mendapat kesempatan untuk berdakwah dan memperkenalkan ajaran ini ke benua tersebut? Roma, pusat Kristen yang disebut Rasulullah bakal takluk ke pelukan Islam setelah Konstantinopel hingga saat ini belum juga terealisasi.

Siapkah kita menjalankan tugas mulia ini? Bagaimana caranya? Sulit dan mahalkah? Bukankah berkat izin-Nya tehnologi di dunia maya telah berkembang begitu maju? Mengapa kita tidak memaksimalkannya ?

Janji Allah pasti terjadi, dengan atau tanpa partisipasi kita. Di akhir zaman nanti Islam akan menyinari seluruh bumi Allah yang luas ini. Fenomena ini sebenarnya telah mulai terlihat. Ketakutan barat yang berlebihan bukannya tanpa penyebab. Di setiap kota Eropa yang kami kunjungi hampir selalu terlihat  adanya perempuan berjilbab. Anak-anak usia sekolah walaupun dilarang berjilbab namun begitu keluar sekolah tetap mengenakan jilbabnya. Masjid meskipun dilarang namun sejumlah musholla tetap saja bermuncullan. Bahkan orang yang bersyahadatpun makin hari makin banyak saja.

Akankah kita memanfaatkan kesempatan emas ini?

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 10 Juli 2010.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers