Feeds:
Posts
Comments

XX.Jihad Fi Sabilillah(1).

Madinah pada masa hidup Rasulullah terdiri atas tiga golongan besar manusia, yaitu kaum Muslimin ( Anshor dan Muhajirin), golongan Munafikun serta orang-orang Yahudi ( bani Nadhir, bani Quraidzah dan bani Qainuqa). Namun demikian Rasulullah berhasil mengikat dan mempersatukan ketiga golongan tersebut. Buktinya adalah adanya Piagam Madinah. Dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa demi tercapainya kemananan dan kedamaian kota, ketiga kelompok tersebut harus saling bantu dan bahu membahu ketika terjadi ancaman dan bahaya dari pihak luar. Intinya azas Toleransi harus dijaga dengan baik.

Dan sebagai pemimpin tertinggi, Rasulullah menjadikan Al-Quran sebagai dasar hukum Negara. Pada masa inilah sebagian besar ayat mengenai hukum dan tata cara bermasyarakat  diturunkan. Dengan kata lain negara Islam telah dibangun sejak zaman Rasulullah hidup. Madinah adalah Negara pertama yang didirikan atas azas Islam, atas dasar ketakwaaan kepada Sang Khalik, Allah swt, Azza wa Jalla ( Yang Maha Perkasa dan Maha Agung).

Sebelum hijrahnya Rasulullah ke Madinah Allah swt tidak pernah menurunkan ayat tentang perintah perang. Tidak ada paksaan untuk memeluk ajaran Islam. Ajaran ini hanya mengajak manusia menuju kepada kebaikan, mengingatkan apa hakikat hidup, bahwa kehidupan dunia adalah cobaan dan hanya untuk sementara. Kebahagiaan akhirat yaitu surga atau neraka adalah kehidupan abadi. Jadi memeluk Islam itu untuk kebutuhan manusia bukan kebutuhan Rasulullah Muhammad saw apalagi Allah swt.

Perintah perang baru datang setelah Rasulullah hijrah ke Madinah dan umat Islam sulit untuk melaksanakan ajarannya. Tidak saja orang-orang Quraisy Mekah yang sejak awal memang menghalangi perkembangan Islam namun juga Ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi Madinah.

Kontak senjata pertama terjadi pada tahun 2H. Perang ini terjadi pada bulan Haram. Bangsa Arab sejak dahulu telah mengenal adanya 4 bulan Haram, yaitu bulan-bulan dimana diharamkan mengadakan peperangan. Bulan tersebut adalah Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Oleh sebab itu orang-orang Quraisy bertambah geram terhadap Rasulullah yang dianggap telah melanggar kesucian bulan Haram. Namun kemudian turun ayat yang membela tindakan Rasulullah.

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…. “.(QS.Al-Baqarah(2):217).

Selanjutnya terjadilah perang Badar dan perang Uhud. ( Untuk baca Perang Badar click : http://vienmuhadi.com/2010/12/06/xv-perang-badar-perang-pertama-dalam-sejarah-islam/; untuk Perang Uhud click : http://vienmuhadi.com/2010/12/23/xvii-perang-uhud-dan-hikmah-diperintahkannya-berperang-bag-1/ ).

Dengan adanya kedua perang  tersebut maka makin kukuhlah kedudukan Islam walaupun sebenarnya pasukan Muslim tidak selalu menang. Namun dengan makin kuatnya Islam di Madinah tampaknya malah makin membuat orang-orang Musyrik yang berada di sekitar kota ini makin benci dan kesal.

Kemudian setelah terjadi beberapa peristiwa pembunuhan terhadap sejumlah dai ( 10 dai pada Tragedi Ar-Raji’ pada tahun ke 3 H dan 70 dai pada Tragedi Bi’ru Ma’unah pada tahun ke 4 H) disusul dengan pengkhianatan Yahudi yang berakibat diusirnya mereka dari Madinah maka perang terbuka antara Muslimin melawan orang-orang Musrik dan kaum Yahudipun tak terhindarkan lagi.

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”.(QS.Al-Hajj(22):39).

Melalui ayat diatas Allah swt memerintahkan kaum Muslimin untuk berperang melawan  orang-orang yang menghalangi umat Islam dalam menjalankan ajarannya. Karena yang demikian itu berarti telah membuat umat Islam teraniaya. Padahal sebenarnya sejak di Mekahpun penganiayaan itu telah terjadi. Tampak disini bahwa perintah perang itu ada tahapannya. Sang Khalik tidak menyuruh kita berperang ketika keadaan kita lemah dan tidak berdaya. Dalam keadaan demikian Allah memerintahkan umat Islam untuk bersabar. Namun begitu umat Islam dalam keadaan membaik perintah Allah untuk berperang ini menjadi wajib. Inilah yang membedakan hamba Allah antara yang taat dan yang munafik.

“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti,  jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS.At-Taubah(9):13).

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS.At-Taubah(9):14-15).

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni`matan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(.QS.At-Taubah(9):38-39).

Islam adalah agama yang cinta perdamaian. Namun itu bukan berarti bahwa ajaran ini dapat dilecehkan dan menjadi bulan-bulanan orang yang iri dan dengki. Islam bukan sekedar teori yang sarat kata dan janji indah. Sebaliknya ia harus dipraktekkan dan direalisasikan dalam kegiatan nyata, dalam  kehidupan sehari-hari. Dan hanya dengan diterapkannya hukum Islam yang tertulis dalam Al-Quran dan hadis sebagaimana dicontohkan Rasulullahlah kaum Muslimin dapat dengan tenang menjalankan ajaran-ajaran tadi. Karena hukum ini tidak hanya mengatur kehidupan pribadi saja namun juga mengatur hubungan masyarakat, hubungan kekerabatan dan silaturahmi antar manusia.

« Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu”.(QS.At-Taubah(9):8-9).

Itu sebabnya, Allah memerintahkan Rasulullah memerangi orang-orang yang melanggar perjanjian, orang-orang yang menghalangi orang yang hendak memuji-Nya, yang hendak menjalankan perintah demi kelangsungan dan keharmonisan hubungan masyarakat yang diciptakan-Nya. Kecuali bila mereka meminta perlindungan, bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui”.(.QS.At-Taubah(9):11).

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”(.QS.At-Taubah(9):6).

Allah swt tidak menghukum kaum yang tidak atau belum mendengar ayat-ayat-Nya. Semua orang di dunia ini berhak mengetahui perintah dan larangan-Nya. Itu sebabnya umat Islam harus berdakwah ; memberitahukan, menerangkan, mencontohkan dan mengajak manusia kepada jalan yang lurus menuju ketakwaaan. Walau hanya satu ayat. “ Balaghul ‘Anni walau ayah” yang artinya Sampaikanlah dariku (Muhammad), walau hanya satu ayat. Kita dilarang menyembunyikan atau memilah-milah ayat yang sesuai dengan kehendak kita.

Perang dapat dilakukan setelah ayat kita sampaikan namun mereka tetap memusuhi dan memerangi kita. Bahkan membayar jiziyah, sebagaimana umat Muslim melaksanakan zakat, pun enggan.

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.(QS.At-Taubah(9):29).

Disamping itu umat Islam itu bersaudara. Mereka dipersatukan karena mereka mempunyai satu keyakinan dan kecintaan, yaitu kecintaan kepada Sang Khalik Yang Maha Esa, yaitu Allah swt. Karenanya mereka wajib saling menyayangi dan saling melindungi kecuali dalam kemungkaran tentunya. Mereka harus saling mengingatkan dalam berbuat kebaikan.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):2-3).

“Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari).

(Bersambung).

Paris, 13 Februari 2011.

Vien AM.

REPUBLIKA.CO.ID,  Kolonel Donald S Rockwell lahir di Illinois, Amerika Serikat. Ia menyelesaikan studi d Universitas Washington dan Columbia di mana ia memperoleh banyak gelar kehormatan. Ia adalah seorang penyair, kritik sastra sekaligus pimpinan redaksi di Radio Personalities.

Ia mendapat pangkat kolonel saat ikut wajib militer pada masa Perang Dunia II, ketika AS melawan Jerman dan Jepang. Sebagai sastrawan ia pun menulis buku, salah satunya yang terkenal berjudul  “Beyond the Brim and Bazar of Dreams.

Dalam bukunya itu ia menuliskan pandangannya tentang Islam dan mengapa akhirnya ia memilih memeluk Islam. Berikut nukilannya yang pernah dipublikasikan oleh Islamic Review pada tahun 1935.

Kesetaraan dalam Islam selalu menarik perhatian Donald. Orang kaya dan orang miskin memiliki hak yang sama di lantai masjid, bersujud dalam ibadah yang rendah hati. “Tidak ada bangku yang disewakan atau tidak ada kursi khusus yang bisa dipesan sebelumnya,”

Kesederhanaan dalam Islam, daya tarik kuat dan atmosfer yang memikat dari masjid-masjid, kesungguhan para penganut setianya, serta perwujudan meyakinkan yang menginspirasi dari jutaan pemeluknya di dunia yang menjawab panggilan lima kali sehari untuk melaksanakan shalat–semua faktor tadi menarik hati Donald pertama kali.

Namun setelah ia memutuskan untuk menjadi pemeluk Islam, ia menemukan banyak lagi alasan mendalam yang kian memperkuat keputusan tersebut. Konsep kehidupan penuh kelembutan–nasihat bijaksana, amal untuk meningkatkan rasa kasih sayang, kemanusiaan yang luas serta perintis deklarasi hak milik perempuan–adalah faktor-faktor lain dari ajaran ini–begitu impresi Donald terhadap ajaran Islam, ia pandang luar biasa.

Begitu pula ketika mendengar hadis yang menuturkan kisah seorang pria Mekah dengan Rasul Muhammad yang berbunyi”Beriman dan percayalah pada Tuhan dan ikatlah untamu”. Bagi Donald itu adalah bukti singkat paling jelas dari sebuah praktek keagamaan yang ditunjukkan tepat dalam kata-kata tak langsung Rasul Muhammad.

Dari kisah itu Donald menilai ada sistem bersikap normal dalam beriman, bukan keyakinan buta di bawah perlindungan kekuatan tak terlihat. Namun di sisi lain ia meyakini bahwa jika manusia melakukan semua dengan benar dan terbaik menurut kemampuannya, maka seseorang layak meyakini takdir baik sebagai kehendak Tuhan.

Selain faktor tadi ia juga terkesan dengan toleransi berwawasan luas Islam terhadap agama lain. Rasul Muhammad, tulis Donald, akan menegur pengikutnya yang tidak memperlakukan Ahli Kitab dengan baik, karena Ibrahim, Musa dan Isa juga diakui sebagai nabi dari Satu Tuhan. Tentu, tulis Donald, itu sikap yang sangat murah hati terhadap agama lain.

Satu juga yang digarisbawahi oleh Donald adalah praktek keagamaan dan ibadah yang bebas dari berhala dan kemusrikan. Donald memandang itu adalah inti utama dari kekuatan dan kemurnian menyehatkan dari keyakinan seorang Muslim.

Tak hanya itu, Donald juga kagum dengan kemurnian ajaran Rasul yang tidak terkooptasi dalam perubahan atau tambahan doktrin meski waktu telah terpaut jauh sejak Islam pertama kali diajarkan Rasul. Al Qur’an tetap seperti sejak pertama ia diturunkan. Kitab tersebut, ungkap Donald, justru hadir untuk membenahi umat politheis yang korup di era Rasul Muhammad. Sebagai jantung Islam itu sendiri, Al Qur’an tidak berubah.

Kesahajaan dan sikap tidak berlebihan dalam segala hal sebagai kunci utama dalam Islam diakui Donald telah memenangkan persetujuan dalam dirinya secara wajar tanpa pengecualian. Yang juga membuat ia semakin kagum, Islam juga menyentuh keseharian. Ia menyaksikan bagaimana Muslim yang sehat karena meneladani sikap Rasul, yakni hidup dalam kebersihan dan melakukan puasa untuk menekan nafsu duniawi.

Ketika Donald berdiri di depan masjid-masjid di Istanbul, Damaskus, Yerusalem, Kairo, Aljazair, Tangier, Fez dan kota-kota lain, ia menemukan hal lain yang menyentuh kesadarannya. Potensi ampuh kesederhanaan Islam lahir pada hal-hal lebih tinggi. Donald menyadari tak ada ornamen berlebih, ukiran-ukiran rumit, sosok makhluk hidup, gambar dan ritual seremoni dalam rumah ibadah tersebut.

Masjid, tulis Donald, adalah sebuah tempat kontemplasi yang sunyi dan tempat melakukan penghapusan diri ke dalam realitas yang lebih besar yakni Satu Tuhan yang Esa.

Ia juga menyukai konsep di mana Muslim tak memiliki perantara antara dirinya dan Tuhannya. Ia langsung menuju sumber tak kasat mata, pencipta kehidupan itu sendiri, Tuhan, tanpa ada ketergantungan terhadap rumus pengakuan dosa dan kepercayaan bahwa ada kekuatan seorang guru atau manusia suci sebagai penyelamat.

Terakhir namun tak kalah mengagumkan adalah persaudaraan dalam Islam. Terlepas dari warna kulit, aliran politik, ras dan negara, Donald merasa selalu menemukan rumah setiap saat dalam kehidupannya saat bersinggungan dengan Muslim dan Islam. Itulah salah satu faktor pula yang mendorong Donald untuk memeluk keyakinan tersebut.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Dikutip dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/02/09/163243-bagi-donald-rockwell-beriman-dan-ikatlah-untamu-bukan-keyakinan-buta

Paris, hingga detik ini masih tercatat sebagai kota no 1 di dunia yang menjadi target sasaran turis manca negara. Menurut catatan Wikipedia, sebanyak 29 juta turis pertahun datang mengunjungi ibu kota Perancis ini. Kota ini memiliki banyak julukan, diantaranya  Paris Lumiere ( Paris Bercahaya), Paris Capitale Romantique ( Paris kota Romantis), Paris la Mode Mondiale ( Paris Pusat Mode Dunia) dll.

Paris dengan segala kelebihan dan kekurangannya harus diakui memang pantas untuk mendapatkan segala predikat tersebut.  Turis manca negara, dari bangsa kulit putih, hitam, merah, kuning hingga sawo matang semua bercampur menjadi satu.  Yang juga cukup mencolok adalah keberadaan sejumlah Muslimah ber-abaya hitam lengkap dengan cadarnya.  Bila dilihat dari pasangan yang mendampinginya kelihatannya mereka adalah para turis Arab Saudi kaya raya yang sedang membelanjakan real mereka.  Ini kalau kita menjumpainya di daerah-darah elite, tentunya. Itulah salah satu sebab  mengapa sejumlah  kelompok menentang pelarangan ‘niqab’ atau cadar penutup wajah Muslimah.

Mereka yang menentang ini adalah para pemilik butik-butik terkenal di sepanjang Champs Elysees, Faubourg St Honore,  Place Vendome, St Germain de Pres dan banyak lagi. Bagi pemburu  ‘haute couture’ alias barang-barang mewah bermerk, seperti Yves St Laurent, Givenchy, Louis Vitton, Prada dll Paris memang surganya. Namun, dari sebuah blog yang saya baca baru-baru ini, banyak Muslimah mualaf asli Perancis, yang memilih mengenakan cadar begitu mereka memutuskan untuk memeluk Islam.  Allahuakbar ..

Paris di musim dingin terlihat ‘santun’. Karena hampir semua orang, lelaki maupun perempuan, menutup rapat-rapat auratnya saking dinginnya. Walaupun ada saja segelintir perempuan yang berbusana mini meski ber-stoking dan mantel tebal. “ Sampe’ segitunya ya dibela-belain … kita udah  hampir beku begini .. bbrr », begitu komentar ayahnya anak-anak, heran.

Namun begitu musim dingin berlalu .. waah, mata para lelaki tampaknya yang musti ganti ‘dijilbab’in … :-) .. Belum lagi melihat pasangan yang bebas bercumbu sesukanya. Di jalanan, di taman, di lift, di metro .. pokoknya dimana sajalah .. seakan dunia ini hanya milik mereka berdua. Mungkin  ini yang menyebabkan Paris dinamakan Paris Romantique .. :-(  ..

Tapi yang membuat hati lebih miris lagi  ..  Sesama jenis, baik sesama lelaki maupun sesama perempuan, bukan cuma bergandengan .. tapi juga berpelukan dan bahkan berciuman .. Na’udzubillah min dzalik .. Benar-benar keterlaluan .. zaman sudah makin edan .. Tanpa rasa malu dan risih apalagi bersalah, mereka ini melakukannya di depan umum.

Padahal tahun lalu, ketika kami masih tinggal di Pau, kota kecil di selatan Perancis, tampaknya hal seperti ini masih tabu. Saya teringat, ketika itu saya berpapasan dengan dua orang lelaki yang bergandengan mesra. Melihat ini, lelaki setengah baya yang kebetulan  berjalan di depan saya, langsung mengumpat. Sambil  menunjuk ibu-jari ke dahinya, tanda bahwa ada orang ‘miring’, sebentar-sebentar ia menengok ke arah dua orang ‘miring’ tadi sambil terus mengomel. Saya hanya bisa mengelus dada. Itu di Pau. Nah, ini kan Paris .. kota metropolitan, dimana semua orang berkumpul, berbagai budaya dan tradisi bertumpuk.

Ditambah lagi dengan mulai panasnya suhu politik dalam rangka pemilihan presiden pada 2012 yang akan datang. Dengan dalih ketinggalan dari teman-teman Barat mereka dalam hal demokrasi, lawan-lawan politik partai yang sekarang berkuasa, melempar isu agar perkawinan antar sesama jenis ( Homoseksual/Lesbian) dilegalkan! Dalam hal ini Perancis memang ketinggalan. Belanda, Belgia, Spanyol, Norwegia, Swedia, Islandia, Portugal dan Inggris sejak beberapa tahun lalu telah mengizinkan perkawinan laknat ini secara resmi.

Sedangkan cara hidup ‘kumpul kebo’ alias hidup bersama tanpa ikatan perkawinan, baik antara dua jenis kelamin berbeda maupun sama telah dilegalkan sejak tahun 1999. Hukum Negara menyatakan bahwa mereka yang hidup dalam ikatan seperti ini berhak mendapatkan sejumlah hak yang sama dengan mereka yang hidup dalam ikatan perkawinan, kecuali mengadopsi anak. Pasangan Homoseksual tidak diizinkan. Inilah yang saat ini sedang dijadikan alasan agar pemerintah mengizinkan perkawinan ‘menjijikan’ tersebut.

Sungguh ironis. Tidakkah kaum intelektual negri ini menyadari bahwa mereka sedang merusak ke-intelektual-an mereka? Tidakkah mereka khawatir bahwa hal ini bakal merusak keseimbangan yang begitu indah sekaligus rumit ini? Bukankah mereka menyadarai betapa sulit dan rumitnya penciptaan manusia itu? Tidakkah mereka berpikir bahwa hal tersebut akan menutup perkembangan biakkan manusia di dunia ini ? Belum lagi dengan berbagai ancaman penyakit seperti AIDS yang bahkan hingga detik inipun belum dapat diatasi … :-(  ..

Sementara saat ini saja saya sedang disuguhi acara televisi yang menyiarkan keraguan para bapak akan ‘keabsahan’anak yang dilahirkan pasangan mereka sendiri !! Dan dapat dibayangkan betapa pedihnya perasaan para bapak itu lebih-lebih lagi anak yang bersangkutan ketika mengetahui bahwa lelaki yang selama ini mereka panggil ‘ papa’ ternyata bukan ayah kandung mereka.

Itu baru dampak Pacs ( Pacte Civil de Solidarite) Heterogen alias ‘kumpul kebo’ antara laki-laki dan perempuan .. Bagaimana dengan ‘kumpul kebo’ sesama lelaki atau sesama perempuan ? Padahal rasanya tak satupun agama di dunia ini yang bakal mengizinkan perkawinan seperti itu. Tidak juga agama Kristen. Buktinya adalah apa yang terjadi di Uganda.

Negara yang terletak di Afrika bagian Timur ini baru saja mengeluarkan usulan undang-undang Anti Homoseksual. Tingginya tingkat penderita HIV adalah pemicunya. Tampaknya para penginjil asal Amerika Serikat yang banyak jumlahnya di negri inilah yang berhasil mempengaruhi presiden dan mentri Luar Negri Uganda yang juga beragama Kristen itu agar menerapkan undang-undang tersebut.

“Potensi homosexualitas dalam menghancurkan keluarga kita begitu besar, sehingga jika Anda tidak bertindak sekarang, masyarakat kita akan habis di tahun-tahun mendatang. Tidak ada tekanan, intimidasi maupun kegaduhan apapun, yang mampu menghentikan kita dalam membela nilai-nilai tradisi keluarga, membela anak-anak, negara dan benua kita.”

Itulah jawaban David Bahati, mentri Luar Negri Uganda, dalam menghadapi  tekanan Barat yang mempertanyakan kebijaksaan negaranya. Uganda mengancam hukuman mati bagi para Homoseksual, termasuk  kaum gay HIV-positif. Jika undang-undang baru ini berhasil diloloskan maka Negara ini akan menjadi Negara ke 38 negara di Afrika yang mendukung gerakan anti-homoseksual yang diprakasai oleh para penginjil Kristen asal Amerika itu. Anehnya, tindakan ini justru ditentang sendiri oleh Vatikan! Vatikan berpendapat bahwa mereka tidak berhak mencampuri hak pribadi seseorang … ?!?? ..

Sementara Islam jelas melarang perbuatan tersebut. Allah swt melaknatnya karena perbuatan ini melawan kodrat yang telah ditentukan-Nya. Perbuatan dzalim ini jelas bakal merusak keseimbangan dan tatanan alam semesta. Itu sebabnya, dulu, Allah swt pernah menurunkan cemeti azab.

Adalah kaum Luth, yang menempati daerah sekitar Laut Luth atau Laut Mati, Yordania, sekitar tahun 1800 SM. Kota mereka dinamakan Sodom dan Gomorah. Mereka adalah kaum pertama di dunia ini yang melakukan perbuatan seksual antar sesama jenis.

“ Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.(QS.Asy-Syuara(26):165-166).

“ Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda”. (QS.Al-Hijr(15):71-75).

Adakah tragedi ribuan tahun silam tersebut mampu membuat kapok kaum yang datang sesudahnya ? Peristiwa Pompei, di Italia pada tahun 79 M membuktikan bahwa prilaku menyimpang Homoseksual telah tumbuh subur di daerah kekuasaan raja Nero yang terkenal kejam dan sangat menikmati kemaksiatan.

( lihat : http://sayoudancity.blogspot.com/2010/11/laut-mati-dan-hancurnya-kaum-homo.html)

Sejarah juga mencatat bahwa cara hidup menyimpang seperti itu sudah ada pada abad 8 SM, yaitu pada zaman Yunani Kuno. Ironisnya, kebiasaan laknat ini menjadi lambang status para pemegang kekuasaan.  Sejak usia remaja lelaki lingkungan tersebut telah sengaja dipersiapkan dan dididik ke arah itu. Bahkan, Alexandre The Great, raja Macedonia yang pernah menyatukan Asia, Afrika dan Eropa dalam tempo hanya 10 tahun itu dikabarkan juga menjalani kehidupan menyimpang tersebut. Tampaknya inilah salah satu sebab mengapa para ilmuwan Muslim menolak adanya perkiraan bahwa raja ini adalah Zulkarnaen, hamba Allah sekaligus pemimpin kenamaan yang kisahnya tercatat dalam Al-Quran.

Kembali ke ayat Al-Hijr diatas .. Adakah orang-orang memperhatikan tanda-tanda kemurkaan Sang Khalik terhadap kaum Homoseksual? Bila jawabnya ‘Ya’ mengapa hingga detik ini perbuatan tersebut masih juga ‘exist’? Tidak hanya di Barat yang notabene Kafir atau Atheis namun juga negri kita tercinta, yang katanya negri Muslim terbesar di dunia??

Kembali ke usulan Perancis tentang perkawinan antar jenis ..  Sebenarnya dalih yang digunakan  kaum ‘beradab’ ini adalah azas Demokrasi dan Toleransi yang saat ini memang sedang menjadi dewa dan kata ampuh untuk menyerang segala hal yang dirasa kurang ‘pas. Kedengarannya memang adil karena dimaksudkan untuk membela semua kepentingan dan golongan ..

Masjid Paris, usai Jumatan

Masjid Paris, usai Jumatan

Resto Uighur Halal, Paris

Resto Uighur Halal, Paris

Toko buku2 Islam, Paris

Toko buku2 Islam, Paris

Namun bagaimana dengan keberatan para tokoh politik tingkat atas yang memperkarakan pemakaian jilbab, cadar, suara azan, menara masjid dan jamaah Jumatan yang membludak ke jalanan gara-gara masjid tidak muat menampung jamaahnya yang ingin menunaikan perintah Tuhannya?  Juga sejumlah marche, supermarket dan resto yang makin banyak menjual daging berlabel halal karena konsumen dan permintaan akan hal tersebut makin hari memang makin meningkat. Dimana semboyan Demokrasi dan Toleransi itu diletakkan ?  Oh .. maaf ya .. ke dua kata tersebut  tidak berlaku untuk dunia Islam dan segala masalahnya .. :-(

Masjid Bordeaux

Masjid Bordeaux

Masjid Genevilliers, Perancis

Masjid Genevilliers, Perancis

Persis seperti peristiwa dunia yang saat ini sedang terjadi, yaitu pergolakan politik di Mesir. Presiden yang didemo rakyatnya karena telah memerintah 30 tahun lebih ini tidak di’depak’ Barat seperti halnya Saddam Husein misalnya. Padahal dengan dalih Demokrasi Barat biasanya paling getol ikut mencampuri hal-hal seperti ini.

Mengapa? Karena ia sangat bersahabat kalau tidak mau dikatakan selalu tunduk dan patuh terhadap segala macam kebijakan Barat yang jelas-jelas tidak ingin Islam kembali berkibar  di negri ini. Jadi Demokrasi itu benar-benar tergantung .. tergantung dari mana, sudut mana dan siapa yang melihatnya .. :-( ..  Korban sipil yang terus berjatuhan di kota pusat pendidikan Islam tertua Al-Azhar ini  tidak akan membuat Barat peduli ..

Tetapi sadarkah mereka bahwa sikap tidak adil mereka ini justru malah memancing simpati terhadap Islam. Bahkan mereka sebenarnya sedang mengumumkan bahwa Islam makin diterima dan berkembang dengan pesatnya, terutama di Perancis ini. Di negri dimana masyarakat termasuk anak-anak sekolah diajari Demokrasi dan Toleransi sementara ajaran Islam dan pemeluknya terus disudutkan dengan berita-berita yang tidak proporsional.

Masjid Toulouse yg tertunda

Masjid Toulouse yg tertunda

Resto Indonesia Halal, Toulouse

Resto Indonesia Halal, Toulouse

Masjid Pau, Perancis

Masjid Pau, Perancis

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”(QS.Ali Imran(3):54).

( Baca juga :

http://www.al-ikhwan.net/pejabat-israel-orang-orang-yahudi-di-perancis-berada-di-balik-kampanye-bahaya-niqab-3523/ )

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 31 Januari 2011.

Vien AM.

Pada tahun ke 4 Hijriyah, Rasulullah mengabulkan permintaan Amir bin Malik, seorang pemimpin bani Amir, agar mengirimkan utusan ke Najd untuk mendakwahi kaumnya. Mulanya Rasululah ragu : Aku khawatir penduduk Najd akan menyerang mereka”. Namun Amir meyakinkan : “ Aku yang akan melindungi mereka dan menjamin mereka. Biarlah mereka mengajak kepada agamamu”. Maka Rasulullahpun memberangkatkan 70 orang sahabat ke negri tersebut.

Setiba di sebuah desa bernama Bi’ru Ma’unah, salah seorang utusan menemui Amir bin Thufail, pemimpin Najd, untuk menyerahkan surat dari Rasulullah. Namun utusan tersebut langsung dibunuh, bahkan tanpa membaca surat yang dibawanya. Selanjutnya Amir mengajak warganya agar menghabisi seluruh utusan. Mereka menolak karena tidak ingin mengkhianati perjanjian Amir bin Malik dengan Rasulullah.  Amir bin Thufail yang memang dikenal kejam tersebut tidak putus asa. Ia mencari dukungan kabilah lain. Keinginannya tercapai. Maka dengan bantuan beberapa kabilah yang menjadi sekutunya, ke 69 dai tersebut dibantai beramai-ramai.

Beruntung Amir bin Umaiyyah, satu diantara para dai itu berhasil meloloskan diri dan kembali ke Madinah. Tetapi ditengah perjalanan, Amir bertemu dengan dua orang yang disangkanya dari bani Amir dan sedang mengejarnya. Maka iapun membunuhnya. Setiba di Madinah ia segera menceritakan apa yang terjadi pada diri para sahabat.

Betapa berdukanya Rasulullah dan para sahabat mendengar berita buruk tersebut. Belum juga genap setahun ketika 10 orang sahabat mengalami hal yang sama. Saat itu mereka diserang, sebagian dibunuh sebagian lagi dijual dan dijadikan budak oleh musuh.

( Lihat : http://vienmuhadi.com/2011/01/14/khubaib-bin-adi-mujahid-yang-syahid-di-tiang-salib/)

Maka demi menghargai jerih payah mereka, selama satu bulan penuh, Rasulullah membacakan doa qunut pada setiap shalat subuh berjamaah yang dilakukan bersama para sahabat. Beliau memohon agar Allah swt membalas perbuatan terkutuk itu dengan balasan yang setimpal.

Sebaliknya, setelah diusut, dua orang yang dibunuh Amir Umaiyyah di perjalanan menuju Madinah, ternyata bukan dari bani Amir. Melainkan orang dari bani Kilab yang telah mendapat jaminan keamanan dari Rasulullah.

“ Aku harus membayat diyat kedua orang tersebut”, begitu Rasulullah berujar, menyesal.

Bagi kabilah-kabilah Arab, persekutuan, perjanjian dan jaminan keselamatan antar kabilah adalah hal yang umum terjadi. Ini adalah kebiasaan nenek moyang yang telah lama dipegang. Bagi mereka, ini adalah harga diri kabilah. Itu sebabnya mereka sangat menghargai dan menghormati perjanjian seperti itu.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”.(QS.Al-Baqarah(2):178).

Sebelum Islam datang, barang siapa melanggar perjanjian maka balasnya adalah kematian. Namun sejak datangnya Islam, Allah swt memberi keringanan, yaitu membayar diyat bagi pihak yang membunuh tanpa sengaja atau yang dimaafkan oleh keluarga yang dibunuh. Dan perbuatan memaafkan adalah perbuatan yang amat mulia.

Sayangnya, ketika itu keadaan keuangan pihak Islam sedang dalam kesulitan. Sementara orang-orang Yahudi yang dikenal kaya raya itu terikat perjanjian dengan Rasulullah sebagaimana tertuang dalam piagam Madinah. Itu sebabnya Rasulullah mendatangi Yahudi bani Nadhir untuk meminta bantuan keuangan dalam rangka membayar diyat kepada keluarga bani Kilab.

“ Kami akan melakukan apa yang engkau inginkan, wahai Abul Qashim”, janji pemuka bani Nadhir kepada Rasulullah. Kemudian salah seorang diantara Yahudi itu berbisik kepadanya, Aku akan naik ke bagian atas rumah kemudian menjatuhkan batu besar kepadanya”. Namun salah seorang Yahudi lainnya berkata, Janganlah kalian melakukannya ! Demi Allah, dia pasti akan diberi tahu tentang apa yang kalian rencanakan. Sesungguhnya perbuatan itu merupakan pelanggaran terhadap perjanjian antara kita dan dia « ..

Belum sempat rencana jahat itu terjadi, tiba-tiba Rasulullah meninggalkan tempat, seolah ada suatu keperluan mendadak. Walaupun dengan terheran-heran, para sahabatpun segera mengikuti langkah beliau. «  Engkau berangkat, sedangkan kami tidak menyadari .. ».

Setelah agak jauh, Rasulullah berujar : « Orang-orang Yahudi itu merencanakan pengkhianatan lalu Allah mengabarkan hal itu maka aku segera berangkat ».

Betapa sedih hati Rasulullah. Beliau diutus untuk menegakkan kalimat takwa, Tiada Tuhan yang dipatut disembah selain Allah. Beliau tidak memaksa orang-orang Yahudi itu untuk meninggalkan agama mereka. Beliau hanya menyampaikan pesan Sang Khalik agar mereka menegakkan ajaran Taurat dengan benar, tidak membelok-belokannya. Namun jawaban mereka malah hendak membunuhnya !

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”. (QS.Al-An’am(6):33).

Selanjutnya Rasulullah mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan singkat sebagai berikut : “ Keluarlah  kalian dari negriku karena kalian telah merencanakan pengkhianatan. Aku beri tempo sepuluh hari. Kalau setelah itu masih ada yang terlihat akan kupenggal batang lehernya ».

Maka dengan penuh ketakutan orang-orang Yahudi tersebut bersiap-siap meninggalkan rumah. Namun, Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka munafik Madinah yang selalu berbuat keonaran, mengirim pesan bahwa mereka tidak perlu menuruti perintah Rasulullah. Ia dan dua ribu tentaranya akan melindungi mereka. Akhirnya orang-orang Yahudi tersebut tetap bertahan di benteng-benteng mereka sambil mempersenjatai diri dengan panah dan batu.

Sepuluh hari kemudian, Rasulullah menepati janjinya. Beliau mengirim para sahabat untuk memerangi orang-orang yang dari dulu selalu menentang perintah. Tampaknya bisikan syaitan untuk tidak memperdulikan ayat-ayat Allah lebih kuat dari bisikan untuk kembali ke jalan yang benar.

Berkali-kali sejarah mencatat betapa orang-orang Yahudi selalu menjadi duri dan onak dalam suatu masyarakat. Berapa banyak nabi dan Rasul yang mereka nistakan dan bunuh, hanya karena mengajak mereka untuk bertobat. Orang-orang Yahudi memang keras kepala. Kita lihat saat ini, ketika Yahudi memegang kendali pemerintahan di Palestina, betapa tidak adilnya mereka terhadap rakyatnya. Keberpihakkan terhadap kaumnya sendiri begitu terlihat kental. Tingkat kesejahteraan antara penduduk Yahudi dan penduduk lainnya, terutama Muslim, seperti langit dan bumi. Perasaan bahwa mereka adalah bangsa yang superior tampaknya tidak bisa ditanggalkan begitu saja.. Padahal di sisi Allah, perbedaan antar hamba hanya terletak pada ketakwaannya. Bukan bangsanya, bukan kulitnya, bukan hartanya, bukan kedudukannya.

Akhirnya setelah dikepung, para sahabat lalu membabat habis semua kebun dan ladang kurma milik mereka. Sementara janji si Munafikun tidak kunjung tiba. Tampak bahwa Allah melemahkan keinginan orang yang membenci hukum-hukum-Nya.

»« Hai Muhammad, kamu dulu melarang kerusakan dan mencela orang yang melakukannya. Mengapa sekarang kamu membabat dan membakar habis ladang kurma kami ? protes Yahudi.

« Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik ».(QS.Al-Hasyr(59) :5).

Itulah jawaban Allah swt, Sang Khalik. Perbuatan mereka sudah keterlaluan. Tampaknya Allah sudah tidak ingin lagi memberi mereka tenggang waktu. Akhirnya orang-orang Yahudi bani Nadhir menyerah dan meninggalkan kota. Kalian boleh membawa harta yang dapat dibawa oleh unta kecuali senjata”, ujar Rasulullah.

Ibnu Hisyam menceritakan, “ Sebagian mereka ada yang mencopot peralatan rumah mereka untuk dibawa keluar Madinah. Mereka mengungsi antara Khaibar dan Syam. Diantara orang-orang Yahudi itu hanya ada dua orang yang masuk Islam, yaitu Yamin bin Umair bin Ka’ab, anak paman Amr bin Jihasy dan Abu Sa’ad bin Wahab. Kedua orang ini kemudian mendapatkan kembali hartanya”.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.(QS.Al-Hasyr(59) :7).

Demikianlah Rasulullah membagi harta rampasan orang-orang Yahudi Nadhir yang terusir karena kedurhakaan mereka.

(Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 27 Januari 2011.

Vien AM.

Dakwah kepada Ahli Kitab dalam rangka memurnikan penyembahan, yaitu menyembah hanya kepada  Allah Yang Esa tidak lebih ringan dari pada dakwah kepada kaum Musyrikin. Sungguh berat perjuangan Rasulullah. Hanya berkat pertolongan Allah swt jua Rasulullah bisa tetap bersabar terhadap hinaan, cemoohan, kebencian hingga rasa permusuhan yang mendalam dari orang-orang Nasrani dan Yahudi Madinah yang notabene sebenarnya telah berada di bawah kekuasaan Islam. Karena nyatanya mereka tetap enggan untuk tunduk terhadap hukum dan keputusan Rasulullah. Padahal mereka telah terikat dalam Piagam Madinah yang disusun beliau. Tampak bahwa mereka benar-benar keras kepala.

Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui”.(QS.Ali Imran(3):75).

Mereka merasa bahwa kedudukan mereka lebih tinggi dari kaum Muslimin. Bahkan ada diantara mereka yang beranggapan bahwa tidak ada dosa bagi mereka bila mereka tidak ingin mengembalikan apa-apa yang mereka pinjam dari Muslimin.

Orang-orang ini juga suka berbohong tentang isi kitab suci mereka. Secara sengaja mereka memelintir ayat-ayat dan memutar-mutar maknanya hingga pas dan sesuai dengan apa yang diinginkan mereka. Hal ini terjadi karena Rasulullah memang memberi kebebasan kepada Ahli Kitab untuk menerapkan sendiri hukum agama mereka. Inilah bukti nyata betapa tingginya toleransi Islam terhadap pemeluk agama lain.

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”.(QS.Ali Imran(3):78).

Sebagai seorang utusan Allah sekaligus pemimpin yang baik, Muhammad saw selalu menyediakan waktu untuk berkumpul, berbincang dan bertukar pendapat dengan seluruh warganya. Baik itu kaum Muslimin  maupun bukan.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)”. (QS.Al-Maidah(5):18).

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan Nu’man bin Qushay, Bahr bin ‘Umar dan Syasy bin Adi, yang suatu hari mendatangi Rasulullah dan berbincang-bincang. Rasul kemudian mengajak mereka untuk mengesakan Allah dan memperingatkan mereka dari siksaan-Nya. Merekapun berkata, “ Hai Muhammad, kau tidak perlu menakut-nakuti kami. Demi Allah, kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya”. (HR. Ibnu Ishaq).

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari`at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS.Al-Maidah(5):19).

Ibnu ‘Abbas menuturkan bahwa suatu saat Rasulullah berdakwah kepada orang-orang Yahudi agar mereka memeluk Islam. Namun mereka menolak. Dalam kesempatan itu Mu’adz bin Jabal dan Sa’ad bin ‘Ubadah, dua sahabat Anshar, berkata kepada mereka, : “ Wahai Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Karena zaman dahulu kamu pernah menjelaskan sifat-sifat beliau sebelum diutus menjadi Rasul, dan itu ternyata sesuai dengan Muhammad”. Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin Yahudza berkata , “ Kami tidak pernah menjelaskan seperti apa yang kamu jelaskan itu. Allah tidak menurunkan kitab lagi setelah Taurat dan tidak pernah mengutus nabi lagi setelah Musa.” (HR. Ibnu Ishaq).

Disamping penolakan yang dilontarkan secara terang-terangan, tidak jarang pula mereka menunjukkan ketaatan. Namun sayangnya, ketaatan tersebut hanyalah ketaatan palsu. Di siang hari mereka berpura-pura percaya kepada apa yang dikatakan Rasulullah. Tetapi malamnya mereka kembali mengingkarinya atau menyampaikannya kepada orang lain namun setelah di putar balikkan. Tujuannya tak lain tak bukan yaitu agar orang-orang yang tadinya telah beriman menjadi ragu, bimbang dan akhirnya murtad !

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)”.(QS.Ali Imran (3):72).

Namun demikian Rasulullah tetap menahan diri. Dengan penuh kesabaran, layaknya seorang bapak terhadap anak-anaknya, beliau terus mengajak agar Ahli Kitab menyadari kekhilafan dan kesalahan mereka.

Ibnu ‘Abbas berkata, “ Suatu hari para pendeta Yahudi dan Nasrani Najran berkumpul dihadapan Rasulullah. Beliau lalu mengajak mereka untuk memeluk Islam. Abu Rafi Quraidhi berkata, “ Hai, Muhammad, apakah kau ingin agar kami menyembahmu seperti kaum Nasrani menyembah Isa?”. “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan itu”, jawab Rasul. Kemudian turun kedua ayat ini” (HR.Ibnu Ishaq dan Baihaqi).

Ayat yang dimaksud hadits adalah ayat 79 dan 80 surat Ali Imran berikut :

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”

“Katakanlah ( Muhammad) : “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”.(QS.Ali Imran(3):84).

Tidak semua Ahli Kitab menolak ajakan Rasulullah untuk ber-Islam. Salman Al-Farisi, sahabat kelahiran Isfahan di Persia adalah salah satu contohnya. ( click: http://vienmuhadi.com/2009/01/19/perjuangan-salman-al-farisiy-dalam-rangka-menjemput-hidayah/ ). Bahkan bagi orang-orang yang dibukakan pintu hatinya ini Allah swt memuliakannya dengan turunnya ayat berikut :

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”.(QS.Al-Maidah(5):83).

Ironisnya, ada juga sebagian Ahli Kitab yang mengakui kebenaran Islam, bahkan merasa bahwa merekapun Islam namun tetap tidak mau menyatakan dan mempratekkannya. Salah satunya adalah pada kewajiban haji. Kewajiban ini sebenarnya telah ada sejak nabi Ibrahim diutus menjadi Rasul. Dan terus berlaku bagi pemeluk Nasrani dan Yahudi yang diwasiatkan melalui nabi Isa as dan Musa as.

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS.Ali Imran(3):97).

Ikramah berkata, Saat turun ayat 85 surat Ali Imran, kaum Yahudi menjawab, “ Kami juga termasuk golongan Muslim”. Rasulullahpun bersabda, “ Sesungguhnya Allah mewajibkan orang Islam melaksanakan ibadah haji”. Kaum Yahudi menolak dan berkata, “ Kami tidak tidak wajib beribadah haji”. Atas penolakan mereka, Allahpun menurunkan ayat ini”. (HR. Sa’id bin Manshur).

Penolakan Ahli Kitab terhadap dakwah Rasulullah ini sebenarnya telah ada sejak Rasulullah masih di Mekah. Ketika itu orang-orang Musrik Mekkah mengadukan tentang Rasulullah kepada orang Yahudi yang datang ke Mekah. Orang-orang ini merasa lebih baik dari pada Rasulullah. Maka dengan serta merta kedua orang Yahudi ini mengatakan bahwa orang Musrik Mekah memang lebih baik dan benar daripada Muhammad saw. Padahal mereka beriman kepada berhala-berhala ( Jibt dan Thaghut).

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya”. (QS.An-Nisa(4):51).

Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan perkataan orang-orang Quraisy kala Ka’ab bin Asyraf dan Hayy bin Akhtab, dua tokoh Yahudi, yang datang ke Mekah. “Apakah kalian tidak melihat orang yang berpura-pura sabar dan terputus dari kaumnya dan menganggapnya lebih baik daripada kami? Padahal kami menerima orang-orang yang beribadah haji, menjadi pelayan Ka’bah dan memberi mereka minum”. Mereka berduapun berkata, “ Ya, kalian lebih baik daripadanya ( Muhammad)”. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Hatim).

Hingga akhir hayatnya Rasulullah saw tidak pernah putus asa mengajak Ahli Kitab agar kembali ke jalan yang benar. Ayat demi ayat yang turun beliau sampaikan dengan tegas. Isa as adalah manusia biasa seperti juga para nabi yang diutus-Nya. Kelebihan dan segala macam mukjizat yang diberikan Allah kepada para Rasul adalah dalam rangka men-Agungkan-Nya, untuk menunjukkan betapa hebat dan mulianya Sang Khalik. Tiada yang tidak mungkin bagi Allah swt.

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai `Isa putra Maryam, ingatlah ni`mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”(QS.Al-Maidah(5):110).

Ayat ini menerangkan dengan jelas bahwa kelebihan dan kemampuan Isa as adalah atas izin Allah swt. Rasul ke 24 yang dinamakan Yesus oleh pemeluknya ini adalah putra Maryam bin Imran. Seorang perempuan sholehah yang diberi kepercayaan oleh Sang Khalik untuk mengandung tanpa sentuhan seorangpun lelaki. Perempuan yang disebut Rasulullah sebagai salah satu perempuan calon penghuni surga inilah yang  melahirkan, merawat dan mendidik Isa hingga dewasa.

( baca surat Maryam atau click : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

Semua manusia adalah sama disisi-Nya kecuali tingkatan ketakwaannya.Tingkat ketakwaan para nabi inilah yang menjadikan mereka lebih mulia dari manusia biasa. Adalah kebencian dan kedengkian orang-orang Yahudi yang menjadikan mereka ingin membunuh para nabi, tak terkecuali Isa as. Namun dengan izin Allah swt nabi ini selamat dari kekejaman penyaliban para pemuka Yahudi di Yerusalem. Berkat ‘tipu daya’ Sang Khalik yang diluar jangkauan pikiran manusia, diserupakannya wajah salah seorang pengikut Nasrani yang berkhianat dengan wajah nabi Isa as. Jadi sebenarnya yang disalib pemuka Yahudi itu bukanlah Isa as. Hukuman salib dalam masyarakat Yahudi ( Romawi) ketika itu adalah suatu hal yang biasa.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.(QS.Ali Imran (3):54-55).

Ironisnya, saat ini pemeluk Nasrani meyakini bahwa peristiwa penyaliban yang terjadi 2000 tahun silam itu adalah bentuk pengurbanan Tuhan mereka untuk membebaskan kesalahan dan dosa-dosa orang-orang yang mau menjadikan Yesus sebagai Tuhan mereka.   

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS.Al-Maidah(5):17).

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi .(QS.Ali Imran(3):85).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 22 Januari 2011.

Vien AM.

Meski Madinah dikatakan telah berada di bawah cahaya Islam dan Rasulpun berada di kota tersebut, namun tidak berarti bahwa dakwah dan tugas kerasulan usai sudah. Ayat-ayat suci Al-Quran yang selama kurang lebih 12 tahun turun di Mekkah tetap turun di kota yang dulunya bernama Yatsrib ini.

Ayat-ayat yang turun di kota ini biasa disebut dengan ayat-ayat Madaniyah. Meski sebenarnya tidak semua ayat Madaniyah turun di kota ini, melainkan bisa juga di kota Mekah. Karena semua ayat yang turun setelah hijrah meski turunnya di Mekah, tetap disebut ayat Madaniyah. Ayat-ayat ini biasanya panjang-panjang dan berisi tentang hukum. Kebalikan dari ayat Makkiyah, ayat yang turun di Mekkah sebelum hijrah, yang biasanya pendek-pendek dan berisi tentang surga dan neraka.

Bila ketika di Mekkah Rasulullah harus lebih banyak menghadapi kaum Musrykin maka di Madinah ini para ahli kitablah yang menjadi tantangan berat. Disamping juga orang-orang Munafik yang tampaknya mau memeluk Islam karena terpaksa, demi melanggengkan kekuasaannya.

Dalam Al-Quran, kata Ahli kitab adalah ditujukan bagi orang-orang yang sebelum datangnya Islam telah pernah menerima kitab suci dari Sang Khalik yaitu Al-Injil dan At-Taurat. Itulah orang-orang Nasrani dan Yahudi. Merekalah sebenarnya yang menjadi pemicu mengapa penduduk Madinah berbondong-bondong mau memeluk Islam dan menerima kehadiran Rasul di tengah-tengah mereka.

Dulu, sebelum datangnya Islam, orang-orang suku Aus dan Khahraj selain sering berperang melawan orang-orang Yahudi juga saling berperang diantara keduanya. Lalu dengan congkaknya, orang-orang Yahudi sering berkata bahwa akan datang seorang nabi, utusan Allah yang akan memutuskan perkara dan perselisihan diantara mereka. Mereka bahkan mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mau mengakui utusan Allah ini akan diazab sebagaimana Allah mengazab orang-orang yang durhaka di masa lalu.

Namun nyatanya ketika utusan itu datang justru sebagian besar orang-orang Yahudi dan Nasrani inilah yang mendustakannya. Mereka bukan saja enggan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah bahkan merekapun menganggap bahwa Muhammad dan apa yang dibawanya adalah sihir !

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata“. (QS.Ash-Shaaf(61):6).

Adalah sebuah mukjizat bahwa Rasulullah dapat hijrah dan diterima penduduk Madinah pada umumnya. Bahkan menjadikan Rasulullah pemimpin pula ! Dibawah kepimpinan beliau inilah  sebuah piagam kota yang isinya mengatur berbagai hal disusun. Itulah Piagam Madinah. Padahal orang-orang Yahudi yang amat membenci dan memusuhi Islam sebenarnya telah mendiami kota ini jauh sebelum hijrahnya Rasulullah dan para sahabat. Allah, Ya … Dialah Yang Maha Memiliki Rencana.

Al-Barra’ menjelaskan bahwa suatu hari, Rasulullah berpapasan dengan orang-orang Yahudi. Mereka membawa seseorang dari kalangan mereka yang dihukum jemur dan cambuk. Beliaupun bertanya : Apakah seperti ini hukuman bagi pezina di dalam Kitab kalian?” “Ya” jawab mereka. Lalu Rasul memanggil seorang pendeta mereka dan bertanya, “ Demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa. Apakah benar-benar seperti ini hukuman  bagi pezina di dalam Kitab kalian?” Pendeta itu menjawab, “ Sesungguhnya tidak seperti itu. Jika kau tadi tidak bersumpah terlebih dahulu aku takkan menjelaskan yang sebenarnya. Di dalam Kitab kami, hukuman zina adalah rajam. Namun karena banyak dari kalangan pembesar melakukannya, kamipun membiarkannya. Jika pelakunya adalah dari kalangan rakyat kami menerapkan hukuman itu atasnya. Karena itu, berdasarkan hasil musyawarah, kami menerapkan atas kalangan pembesar dan rakyat, hukuman jemur dan cambuk”. Rasulpun bersabda, “ Ya Allah, aku adalah orang pertama yang menghidupkan kembali perintah-Mu setelah dihapus mereka”. Rasulpun melakukan perajaman atas orang Yahudi yang berzina itu. Kemudian turun ayat 41 surat Al-Maidah.(HR. Ahmad dan Muslim).

“ … … … dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah”. … … … ”.(QS.Al-Maidah(5):41).

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa pada zaman jahiliyah, bani Nadhir lebih mulia dari pada bani Quraizhah. Jika seseorang dari Quraidzah membunuh  seseorang dari  bani Nadhir, baginya qishash ( balasannya dibunuh juga). Namun bila sebaliknya, hukumannya cukup membayar tebusan seratus wasaq tamar. Saat Muhammad telah menjadi Rasulullah terjadi pembunuhan di antara mereka, yaitu seorang lelaki bani Nadhir membunuh seorang lelaki dari bani Quraizhah. Saat hukuman akan ditegakkan diantara mereka ada yang berkata, “ Diantara kita ada utusan Allah. Mari kita minta fatwa kepada Muhammad”. Lalu turun ayat 42 surat Al-Maidah. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Jarir).

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”.  (QS.Al-Maidah(5):42).

Demikian pula halnya dengan pengikut Nasrani, umat nabi Isa yang menuhankan sang utusan. Nabi Allah yang oleh umatnya disebut Yesus ini kadang dianggap sebagai anak Tuhan kadang dianggap sebagai Tuhan itu sendiri. Beliau diutus kepada kaum Yahudi pada awal abad Masehi, setelah orang-orang Yahudi lama tenggelam dalam kesesatan.

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”.(QS.Al-Maidah(5):46).

Tanpa mengenal rasa lelah, bosan apalagi takut, berulang kali Rasulullah menyampaikan ayat-ayat Al-Quran yang khusus ditujukan kepada mereka itu. Rasulullah sama sekali tidak memaksa mereka untuk berpindah agama dan mengikuti syariat Islam. Karena yang dikehendaki-Nya adalah kembali ke jalan yang benar, mendudukkan hukum Taurat dan Injil sesuai aslinya sekaligus mengamalkannya.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.(QS.Al-Maidah(5):47).

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

As-Suddi menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan para sahabat Salman Al-Farisi. Mereka masih memeluk agama Nasrani dan belum sempat memeluk agama yang dibawa Rasulullah. Mereka sungguh beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, meski tetap memeluk agama semula, ibadah mereka tetap diterima dan mendapat pahala dari Allah swt.(HR.Ibnu Abi Hatim dan Al-Adni).

Tiap umat memiliki aturan dan syariat masing-masing. Kita disuruh berlomba dalam berbuat kebaikan dengan dasar keimanan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada Allah Yang Satu, Allah swt, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tiada satupun sekutu dan mitra bagi-Nya.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS.Al-Maidah(5):48).

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” .(5):49-50)

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa kedua ayat di atas turun berkenaan dengan Ka’ab bin Usaid, Abdullah bin Shuriya dan Syasy bin Qais yang suatu saat mendatangi Rasulullah dan berkata, “ Muhammad sesungguhnya kau mengetahui bahwa kami adalah para pendeta yang terhormat dan dihargai. Jika kami mengikuti engkau, orang-orang Yahudi juga akan mengikuti dan tidak akan menentang kami. Sesungguhnya antara kami dan kaum kami telah terjadi perbedaan pendapat. Karena itu, sekarang kami minta keputusan darimu atas perselisihan yang terjadi. Berilah kemenangan kepada kami dan kami akan beriman kepadamu. Namun rasul enggan melakukan itu.(HR.Ibnu Ishaq).

Dari hadits-hadits diatas dapat dilihat bahwa kaum Nasrani, orang-orang Yahudi bahkan para pendetanya itu sebenarnya percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sayangnya mereka hanya mau tunduk dan mematuhi beliau bila mereka mendapat keuntungan.

Melalui surat Al-Fatihah, sehari 17 kali kita, umat Islam, diwajibkan memohon kepada Allah swt agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Jalan yang lurus tersebut bukan jalan yang ditempuh orang-orang yang sesat yaitu jalannya kaum Nasrani yang tersesat karena menganggap Isa as adalah Tuhan. Dan bukan juga jalannya orang-orang Yahudi yang dimurkai karena mereka sengaja tidak mau menjalankan isi Taurat dan bahkan menyembunyikannya.

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”. (QS.Ali Imran(3):71).

(Bersambung).

Pada tahun ke 3 hijriyah, beberapa utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah mendatangi Rasulullah saw. Mereka mengabarkan bahwa mereka telah mendengar tentang Islam . Untuk itu mereka  meminta Rasulullah agar mengirim utusan supaya mereka bisa mempelajari Islam dengan lebih baik lagi.

Maka Rasulullahpun mengutus 10 sahabat untuk memenuhi permintaan tersebut. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai amir mereka.  Namun di suatu tempat di antara ‘Usfan dan Mekkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari bani Lihyan.  Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut.

Sebenarnya Ashim dan kawan-kawan berhasil mengelabui pasukan pemanah Musryik tersebut. Namun Allah swt berkehendak lain. Biji-biji kurma Madinah, bekal yang mereka bawa dari Madinah dan  tercecer di sepanjang perjalanan, memberi petunjuk keberadaan rombongan Ashim. Akhirnya ke sepuluh sahabat itupun terkejar.

“ Kami berjanji tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian jika kalian menyerah”, teriak salah seorang Musyr ik  yang mengepung mereka.

“ Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu”, balas Ashim tegar.

Maka rombongan Musyrik itupun menyerang dan berhasil membunuh Ashim dan 6 sahabat lain hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan seorang sahabat. Orang-orang musyrik itu kemudian menangkap dan mengikat ketiganya.

Namun sahabat yang tidak diketahui namanya itu kemudian memberontak sambil berteriak : “ Ini adalah pengkhianatan pertama !” serunya sambil berusaha melawan. Maka syahidlah ia. Selanjutnya Khubaib dan Zaid dibawa ke Mekah dan dijual sebagai budak.

Sementara itu, bani al-Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat terhadap Khubaib mendengar berita tertangkapnya Khubaib. Rupanya nama Khubaib  telah mereka hafal luar kepala karena Khubaiblah yang membunuh  Harits bin Amir, seorang pemuka Mekah, pada perang Badar. Maka dengan penuh antusias Khubaibpun mereka beli.

Maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar  yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan. Hingga suatu hari salah seorang putri keluarga tersebut berteriak terkejut , memberitakan bahwa budak sekaligus tawanan mereka sedang santai dan tenang-tenang memakan buah anggur. Padahal buah tersebut sedang tidak musim di Mekah dan Khubaibpun diikat tangannya dengan rantai besi!

“ … … … . Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.(QS.Ali Imran(3):37).

Ya itulah yang terjadi pada diri Khubaib, hamba Allah yang senantiasa bertasbih pagi dan petang, mendirikan shalat di malam hari dan berpuasa di setiap siangnya. Khubaib tidak pernah putus asa dari mengharap pertolongan dan perlindungan Sang Khalik.

Mengetahui hal ini, dengan tujuan untuk menakuti-nakuti, keluarga al-Harits segera menceritakan bahwa saudara sekaligus sahabat Khuabib, Zaid yang juga dibeli keluarga Mekah lainnya, telah dieksekusi. Ia telah dibunuh dengan cara ditusuk tombak dari lubang dubur hingga tembus ke dadanya ! Astaghfirullah halladzim ..

Namun berita kejam nan sadis ini ternyata tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanannya.  Sebaliknya hal ini justru membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Akhirnya keluarga al-Haritspun putus asa. Mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanannya yang tegar itu.

Namun sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib memohon agar diperbolehkan melakukan shalat terlebih dahulu. Maka shalatlah Khubaib 2 rakaat. Usai shalat, Khubaib menoleh kepada para algojo yang mengawasinya sambil berkata : “Seandainya bukan karena dikira takut mati, maka aku akan menambah jumlah rakaat shalatku”. Inilah shalat sunnah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian.

Kemudian Khubaib melantunkan sebuah puisi :

Mati bagiku tak menjadi masalah

Asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah

Dengan jalan apapun kematian itu terjadi

Asalkankerinduan kepada-Nya terpenuhi

Kuberserah menyerah kepada-Nya

Sesuai dengan taqdir dan kehendak-Nya

Setelah itu Khubaibpun disalib pada sebuah tiang. Lalu tanpa sedikitpun rasa belas kasih pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah.  Dalam keadaan demikian,   seorang pemuka Quraisy menghampirinya dan berkata : “ Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat walafiat bersama keluargamu?” .

“ Demi Allah, tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri !”, jawabnya sontak, seolah tersengat aliran listrik ribuan watt.  Sebuah jawaban yang persis dikatakan Zaid menjelang kematiannya.

“ Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad “, itu yang dikatakan Abu Sufyan suatu hari mengenai para sahabat.

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojopun menghabisi  Khubaib. Namun sebelumnya, Khubaib sempat berucap kepada Tuhannya: “

“Ya Allah kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami “.

Setelah itu orang-orang  Musryik meninggalkan tubuh Khubaib dalam keadaan tetap tersalib di tiangnya. Sementara  burung-burung buas pemangsa yang sejak tadi telah berputar-putar menanti mangsanya tiba-tiba juga meninggalkannya. Rupanya Sang Khalik tidak ridho hamba-Nya yang taat itu menjadi mangsa burung-burung.

Demikian pula doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Sang Pemilik dalam keadaan pasrah dan ridho pada ketetapan-Nya. Tampak jelas bahwa Sang Khalik tidak tega menolaknya. Itu sebabnya, Rasulullah yang ketika itu berada di Madinah secara mendadak mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk segera menyusul   ke tempat Khubaib disalib. Padahal ketika itu tak seorangpun orang Madinah yang mengetahui peristiwa nahas tersebut. Allahuakbar ..

Setiba di tempat yang dimaksud, Khubaib telah tiada. Senyum kedamaian tergurat di wajahnya. Dengan menahan kedukaan yang mendalam kedua utusan tadi kemudian melepaskan sang mujahid dari tiang salib kemudian membawa dan memakamkannya di suatu tempat yang hingga detik ini tak seorangpun mengetahuinya.  Sebuah fenomena yang mirip pada apa yang terjadi pada diri nabi Isa as 14 abad sebelumnya. Tak ada sesuatupun yang mustahil bagi-Nya.

“ (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“. (QS.Ali Imran(3):55).

Itulah cara Sang Khalik mengabulkan doa hamba-Nya yang takwa agar dijauhkan dari tangan orang kafir. Karena sebenarnya pemuka kaum Musyrik Mekah telah menyuruh utusan agar mereka dikirimi bagian tubuh Khubaib sebagai bukti bahwa Khubaib telah di-eksekusi ! Allahu Akbar ..

“  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Salam sejahtera wahai mujahid sejati !

Paris, 14 Januari 2011.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers