Feeds:
Posts
Comments

XIII. Hijrah ke Madinah.

Kekesalan orang-orang kafir Quraisy makin meningkat mengetahui bahwa sebagian besar pemeluk Islam Mekah telah pergi meninggalkan kota dan disambut  baik pula oleh penduduk Yatsrib ( Madinah). Dalam pertemuan darurat yang segera mereka adakan diambil keputusan bahwa Muhammad saw harus dibunuh secepatnya sebelum beliau berhasil meninggalkan Mekah. Diputuskan bahwa setiap suku harus mengirimkan seorang utusannya. Kemudian secara bersama-sama mereka akan membunuh Rasulullah. Dengan demikian keluarga besar nabi  ( bani Manaf) tidak akan berani menuntut balas kematian anggota keluarganya itu. (Menuntut balas atas kematian salah seorang anggota keluarga adalah suatu hal yang biasa terjadi di tanah Arab).

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya”. (QS.Al-Anfal(8):30).

Maka pada malam hari yang telah ditentukan merekapun berkumpul di depan pintu kamar Rasulullah. Secara kasar dan tiba-tiba mereka mendobrak pintu. Namun yang mereka dapati di atas pembaringan kamar tersebut ternyata hanya Ali bin Abu Thalib ! Karena tanpa mereka ketahui, menjelang magrib Rasulullah telah menyelinap keluar kamar dan menuju rumah Abu Bakar ra. Berdua mereka meninggalkan Mekah dengan mengendarai dua ekor unta terbaik yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh sahabat baik nabi tersebut. Beberapa riwayat menceritakan bahwa ketika Rasulullah meninggalkan kamar, beliau menaburkan sejumlah pasir ke muka orang-orang Quraisy yang ketika itu berjaga di depan kamar beliau sambil membaca ayat berikut :

“ Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat”. (QS.Yasin(36):9 ).

Tak seorangpun yang mengetahui kepergian Rasulullah kecuali Ali dan anak-anak Abu Bakar, yaitu Abdullah, Asma dan Aisyah serta pembantu setia Abu Bakar. Dengan menyewa seorang penunjuk jalan yang dapat dipercaya,  Rasulullah dan Abu Bakar menelusuri jalan yang tidak lazim digunakan. Mereka mengambil jalur berputar ke arah Yaman di selatan. Di suatu tempat sekitar 6 km Mekah, mereka berpisah, si penunjuk jalan kembali ke Mekah sedangkan Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua di sekitar tempat tersebut.

(Gua Thur,Click: http://www.youtube.com/watch?v=RMq2mYXPdsk&feature=related )

Di gua ini mereka tinggal selama 3 malam. Abdullah bin Abu Bakar yang belakangan menyusul bertugas mengawasi keadaan. Asma dan Aisyah bertugas mengirim makanan. Sedangkan pembantu Abu Bakar setiap pagi dengan berpura-pura menggembalakan kambing hingga sore hari bertugas menghapus jejak. Namun selama 3 malam di dalam gua itu bukannya tanpa kesulitan. Sejumlah riwayat menceritakan keberadaan seekor ular di balik gua tersebut.

Suatu saat Rasulullah tertidur di bahu Abu Bakar. Ketika itulah tiba-tiba Abu Bakar melihat seekor ular datang perlahan mendekatinya. Tiba-tiba ular tersebut mematuk kakinya. Abu Bakar menahan nafas. Ia tidak berani bergerak karena khawatir membangunkan Rasulullah. Setelah beberapa detik melilit kaki Abu Bakar yang berusaha tenang, ular tersebut lalu pergi menjauh.  Beberapa menit kemudian Abu Bakar merasa tubuhnya panas terbakar. Rupanya racun ular mulai bereaksi. Didorong rasa cintanya yang begitu tinggi terhadap kekasih Allah ini, Abu Bakar tetap berusaha diam. Namun karena sakitnya, tak urung air matanyapun akhirnya menetes dan jatuh mengenai Rasulullah.

Rasulullah terbangun. “ Mengapa engkau menangis, wahai sahabat? Menyesalkah engkau telah mendampingiku ? » tanya Rasulullah khawatir. «  Tentu tidak ya Rasul Allah. Tapi seekor ular telah menggigitku dan racunnya mulai menyakitiku hingga tanpa sengaja air mataku menetes », jawab Abu Bakar menyesal.

Rasulullah tersentak. «  Mengapa engkau tidak mengatakannya ? », tanya Rasul lagi. « Aku tidak ingin membuatmu terbangun « , jawab Abu Bakar pendek. Rasulullah tersenyum terharu. Betapa tinggi rasa cinta sahabat nabi ini hingga ia rela berkorban kakinya digigit ular. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi  Rasulullahpun segera mengusap bekas gigitan tadi dengan ludah beliau. Dan dengan izin-Nya luka tersebut kembali pulih. Jadi sungguh pantas bila suatu ketika Rasulullah berujar :

“Sekiranya aku mengambil seorang kekasih (khalil) niscaya Abu Bakarlah orangnya”. ( HR Muslim).

«Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS.At-Taubah (9):24).

“Tidaklah beriman salah seorang diantaramu sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan semua orang “. ( HR Muttafaq’alaih).

Sementara itu penduduk Mekah heboh. Mereka bukan saja gagal membunuh Rasulullah namun bahkan telah kehilangan jejak. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan mereka melacak semua jalur Mekah – Madinah. Gua Tsur, gua dimana Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi tidak luput dari pengamatan. Rupanya walaupun pembantu Abu Bakar telah berusaha menghapus jejak mereka, Allah swt berkehendak lain. Mereka tetap menemukan jejak hingga ke mulut gua. Tetapi sesampai di sana jejak tersebut menghilang.

“ Mungkinkah mereka bersembunyi di dalam gua ini ”, Tanya salah satu orang yang mengikuti jejak tersebut dengan nada ragu. “ Tetapi bagaimana mungkin mereka bisa masuk ?”, lanjutnya sambil memandang tak percaya ke arah seekor burung merpati yang tengah mengerami telurnya di depan gua sementara sarang laba-laba terlihat menutupi mulut gua. Ia berusaha menjengukkan kepalanya ke arah gua.

Abu Bakar mendongakkan kepalanya. Dengan suara gemetar ia berkata lirih : “ Oh kita pasti tertangkap. Bila mereka melihat ke bawah pasti kita akan terlihat”.  “ Janganlah engkau menyangka bahwa kita hanya berdua. Sesungguhnya Allah beserta kita dan Ia pasti melindungi kita”, jawab Rasulullah tenang. Peristiwa menegangkan ini kemudian diabadikan dalam ayat berikut :

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.At-Taubah(9):40).

Maksud ‘tentara yang kamu tidak melihatnya’ pada ayat di atas adalah burung merpati yang sedang mengerami telurnya serta laba-laba yang menutupi mulut gua. Akhirnya orang Quraisy tersebut meninggalkan gua dan mencari ke tempat lain. Setelah keadaan aman, Rasulullah dan Abu Bakar meneruskan perjalanan. Siang malam mereka menempuh perjalanan berjarak 434 km, dengan hanya mengendarai unta. Padang pasir panas nan luas dimana sekali-sekali terdapat bukit batu cadas itu benar-benar merupakan medan berat yang sungguh melelahkan. Namun dengan penuh kesabaran mereka melaluinya.

Sementara itu para pemuka Quraisy mengumumkan sayembara bahwa siapa yang bisa menemukan Rasulullah akan diberi hadiah 100 ekor unta. Seketika orang-orangpun berlomba mencari beliau. Salah satunya adalah Suraqah bin Malik. Dengan kudanya ia mencari dan berusaha keras memenangkan hadiah menggiurkan tersebut. Di tengah gurun pasir itulah  ia tiba-tiba melihat bayangan dua orang berunta. Karena tidak ingin berbagi hadiah, Suraqah segera mengelabui teman yang pergi bersamanya. Ia mengatakan bahwa ia melihat bayangan orang berunta namun dengan menunjukkan arah yang berlawanan! Setelah itu, sendiri, ia berbalik arah dan secepatnya mengejar Rasulullah.

Namun ketika jarak mereka tinggal beberapa meter lagi, tiba-tiba kuda Suraqah tersungkur dan iapun jatuh terpelanting. Ia segera berdiri dan kembali mengejar. Berkali-kali Abu Bakar menoleh ke belakang, khawatir terkejar. Jarak mereka makin dekat. Namun sekali lagi, tanpa sebab yang jelas, kuda Suraqah kembali terjerembab. Sayup-sayup Suraqah mendengar Rasulullah membaca sesuatu. Rupanya itu adalah bacaan Al-Quran. Suraqah kembali berdiri dan menunggangi kudanya. Tetapi tiba-tiba ia terpelanting lagi dari kudanya. Seketika muka Suraqah menjadi pucat. Dengan susah payah ia berusaha bangun dan menyingkirkan pasir yang menyelimutinya tubuhya. Suraqah berteriak-teriak meminta ampun.

Akhirnya Abu Bakar mendekatinya. Sambil memberinya sejumlah uang, sahabat nabi yang kaya raya ini menyuruhnya pergi dan berpesan untuk berpura-pura tidak melihat apalagi bertemu mereka. Dengan wajah terheran-heran, Suraqah hanya manggut-manggut  sambil mengantongi uangnya lalu pergi secepatnya.

Rasullullah kembali meneruskan perjalanannya. Dua minggu lamanya, kedua hamba Allah itu mengarungi lautan pasir nan panas membara ketika siang hari dan dingin yang menggigit hingga menusuk jauh ke tulang ketika malam hari tiba. Di dalam keheningan malam dan teriknya siang hari, di bawah naungan selimut langit luas tak bertepi mereka berdua harus menahan lapar dan haus. Ini semua demi mencari ridho Sang Khalik, demi melaksanakan amanat maha berat yang dipikulkan ke pundak Rasulullah agar menyampaikan pesan-Nya kepada umat manusia, agar menyembah hanya kepada-Nya, Allah Azza wa Jalla tanpa mempersekutukan dengan apapun.

Perjalanan hijrah bukanlah perpindahan fisik belaka dari Mekah ke Madinah. Rasulullah dan juga para sahabat hijrah dengan membawa luka yang teramat dalam. Mekah adalah kota kelahiran mereka dimana berkumpul sanak saudara dan handai taulan. Disinilah tempat mereka mencari nafkah dan kehidupan. Namun sejak Rasulullah memperkenalkan ajaran Islam, semua itu menjadi tidak berarti bila mereka tidak bisa menjalankan ajaran dengan baik.

Bagi Rasulullah lebih berat lagi. Nyaris 13 tahun beliau berdakwah ternyata hanya 70 orang-an saja penduduk Mekah yang mau menerima ajakan beliau. Sesungguhnya bukan caci maki dan penolakan yang lebih dikhawatirkan beliau namun ridho Allah yang dikhawatirkannya. Namun dengan terus turunnya ayat-ayat selama perjalanan panjang Mekah -Madinah, ini menandakan bahwa Sang Kahlik tetap ridho.

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya…“(QS.Al-Baqarah(2):272).

…  maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang“. (QS.An-Nahl(16):35).

“Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”. (QS.Asy-Syu’ara(26):124-127).

“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mu`jizat-mu`jizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna”. (QS.Ali Imran(3):184).

Allah swt sengaja menceritakan kisah-kisah para rasul yang selalu didustakan umatnya bukan saja hanya sebagai peringatan bagi kita namun juga sebagai penghibur bagi Rasulullah agar beliau bersabar. Ini yang menjadi penguat dan penghibur Rasulullah.

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui “. (QS.Al-Baqarah(2):115).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i, Ibnu Umar menceritakan bahwa ayat diatas diturunkan ketika Rasulullah dalam perjalanan hijrah tersebut. Di atas untanya, beliau mendirikan shalat kemanapun untanya menghadap.

Waktupun tak terasa berlalu. Akhirnya, atas izin-Nya, dengan selamat Rasulullahpun tiba di Quba, sebuah desa perkebunan kurma tidak jauh dari Madinah. Beliau disambut dengan suka cita oleh penduduk setempat. Selama beberapa hari beliau tinggal di kota ini. Di kota ini pula Rasulullah membangun masjid pertama bagi umat Islam.

« Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih ». (QS.At-Taubah (9) :108).

Ayat di atas diturunkan sehubungan dengan orang-orang Munafik Madinah yang meminta Rasulullah agar mau shalat di dalam masjid yang mereka dirikan. Semula Rasulullah yang ketika itu sedang bersiap-siap menuju medan perang berjanji akan memenuhi permintaan mereka begitu kembali nanti. Namun melalui ayat diatas ternyata Allah melarang Rasulullah memenuhi janji tersebut. Karena masjid tersebut di bangun tidak atas dasar takwa tidak seperti masjid Quba, masjid pertama  yang didirikan begitu Rasulullah tiba dari Mekah. Masjid Quba benar-benar murni dibangunatas  dasar ketakwaan.

Selanjutnya Rasulullah meneruskan perjalanan ke kota Madinah. Beliau memasuki kota ini tepat pada malam hari tanggal 12 Rabi’ul awal. Di kota ini beliau dielu-elukan seluruh penduduk yang begitu bersemangat ingin berjumpa dengan Sang Utusan yang belum pernah mereka lihat namun telah membuat hati mereka jatuh hati karena ayat-ayat suci Al-Quran yang sampai kepada mereka.

Semua orang tumpah ke jalanan. Mereka menarik-narik tali unta Rasulullah dengan harapan Rasulullah sudi tinggal di rumah mereka. Namun Rasulullah bersabda : “Biarkan saja tali unta itu karena ia berjalan menurut perintah.“ Untapun terus berjalan memasuki lorong-lorong Madinah hingga sampai pada sebidang tanah tempat pengeringan kurma. Tanah yang terletak di depan  rumah Abu Ayyub al-Ansary tersebut adalah milik dua anak yatim dari bani Najjar. Rasulullah kemudian bersabda: “Di sinilah tempatnya insya Allah.“

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 22 Oktober 2010.

Vien AM.

Sebelum hijrah, ekonomi Madinah didominasi Yahudi.

Surah YaasinJumlah mereka diperkirakan mencapai lima puluh persen dari penduduk. Mereka membangun ekonomi di Madinah dari nol. Semula mereka adalah gelandangan. Karena gigih, akhirnya mereka memonopoli industri besi, menguasai pertanian, serta mengendalikan keuangan dan pasar. Mereka pun makmur. Untuk mempertahankan kontrol mereka, mereka pun memprovokasi dan memecah belah masyarakat Madinah. Lain dengan Makkah. Kota ini dikuasai oleh orang Quraisy. Namun, praktik dagang yang diterapkan orang Yahudi dan orang Quraisy sama-sama ribawi dan berprinsip “dengan modal yang sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.”

Berbeda halnya praktik dagang Nabi Muhammad SAW sejak di Makkah sebelum menjadi Rasul lebih mengutamakan pelanggan daripada keuntungan. Hal ini beliau lakukan dengan selalu jujur dan mengatakan harga pokok barang dan biaya mengurus dagangannya. Biasanya beliau melakukan negosiasi dengan pembeli tentang laba yang diinginkannya. Dengan kejujurannya itu maka setiap peminat dagangannya merasa diperlakukan sebagai sahabat dan akhirnya menjadi pelanggan.

Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, praktik jual beli yang beliau lakukan berhasil mengikis habis praktik dagang riba. Kejujurannya ini akhirnya mengantarkan beliau dipercaya menjadi pemimpin Madinah. Untuk mempertahankan harmonisasi penduduk Madinah yang terdiri dari berbagai agama, suku, dan keanekaragaman lainnya, beliau pun menggagas penyusunan Piagam Madinah yang berisi komitmen kelompok-kelompok di Madinah dengan memberikan batasan hak dan kewajiban masing-masing.

Estafet perjuangan Rasulullah SAW terus berlanjut. Para ulama pun berusaha agar dakwah yang mereka lakukan berlangsung dengan damai. Ada hal penting: mereka juga memahami asbabunnuzul (sebab-sebab turunnya) surat Yasin khususnya ayat ke-9 yang pernah dibaca Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan saat dikepung oleh musuh hingga beliau dapat lolos, termasuk pada malam menjelang hijrah. Oleh karena itu, para ulama terutama yang berdakwah ke Nusantara berijtihad dengan mengadakan pembacaan surat Yasin berjama’ah tiap malam Jum’at. Berkah pembacaan surat ini berdampak pada islamisasi yang tidak dapat dilihat oleh mata hati nonmuslim hingga Nusantara jadi kawasan berpenduduk mayoritas muslim.

Namun, keadaan tersebut akhirnya berubah. Bila berabad-abad sebelumnya islamisasi tidak dapat dilihat dengan mata hati orang-orang non-muslim, maka sejak abad ke-19 di Timur Tengah dan sejak abad ke-20 di Nusantara, yahudisasi sistem ekonomi di dunia ini tidak dapat dilihat oleh mata hati sebagian besar umat Islam. Menurut Ahmad Thomson dalam Sistem Dajjal, yahudisasi tersebut bermula dari kehadiran bank-bank di Eropa yang didirikan orang-orang Yahudi.

Pada mulanya bank-bank ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) agar aman. Jika ada orang yang menitipkan uang emas atau uang peraknya di bank, sang bankir memberinya tanda terima (kertas). Bankir pun berjanji akan membayar kembali uang emas dan uang perak tersebut secara tunai kepada pembawa pada saat tanda terima itu dipertunjukkan kembali kepada bank. Kertas yang berisi tanda terima ini kemudian dapat dijadikan alat tukar meskipun belum ditukarkan dengan uang emas atau uang perak yang ada di bank. Pada perkembangan selanjutnya, bankir pun mencetak uang kertas sebanyak-banyaknya yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pada jumlah uang emas dan uang perak yang ada di bank.

Untuk memalingkan umat Islam terhadap dinar emas dan dirham perak sebagai mata uang yang sudah disyahkan oleh Rasulullah SAW sebagai alat tukar, nishab zakat, dan hudud (batasan pemberlakuan denda dan sanksi), kaum Yahudi mengupayakan agar umat Islam tidak merujuk kepada kitab-kitab kuning yang ditulis para ulama sebelum abad ke-19 yang menjelaskan fungsi kedua mata uang tersebut. Di samping itu, para ilmuwan Yahudi juga merumuskan pelajaran ilmu ekonomi dan menyusupkannya ke kalangan pelajar-pelajar baik Muslim maupun yang lain.

Istilah “ekonomi” yang mereka perkenalkan telah direkayasa sehingga menyimpang dari pengertian yang dirumuskan oleh Xenophon, ilmuwan Yunani yang hidup 3 abad SM. Para ilmuwan Yahudi mengubah makna ekonomi yang terbentuk dari kata “oikos”(rumah tangga) dan “nomos” (aturan) yang semestinya dapat dimaknai “aturan rumah tangga” menjadi dimaknai “hemat” oleh masyarakat dunia. Pengertian hemat ini diambil dari prinsip ekonomi yang mereka rumuskan yaitu: “dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”, suatu prinsip dagang yang dulu dipraktikkan kaum Yahudi dan kaum Quraisy di Arab pada zaman “jahiliyah”.

Masyarakat Indonesia pun sejak 1 abad lalu mengartikan ekonomi menjadi hemat. Kata “ekonomi” yang kita lihat di bis yang dimaknai hemat, tidak seperti bis bertuliskan “AC” yang lebih banyak mengeluarkan biaya. Di samping itu juga terdapat iklan yang berbunyi “praktis dan ekonomis” yang berarti produk-produk yang diiklankannya mudah digunakan dan “hemat” biaya.

Kaum Yahudi pun terus mengamalkan ilmu ekonomi agar mereka semakin hemat. Antara lain dengan mendirikan Dana Moneter Inernasional (IMF) dan Bank Dunia, 1944. Melalui dua lembaga ini, mereka mengatur nilai uang kertas di seluruh dunia menjadi berbeda-beda dan menjadikan dollar Amerika Serikat (AS) sebagai standar peredaran uang kertas secara internasional. Misalnya antara dolar AS dengan rupiah yang semakin jauh perbedaan nilainya. Sebagai contoh, pada 1977 nilai 1 dollar AS sama dengan 627 rupiah. Sepuluh tahun kemudian, 1987, menjadi 1.712 rupiah. Sepuluh tahun selanjutnya, terjadi peningkatan sangat drastis dari semula nilai 1 dollar AS sama dengan 2.433 rupiah pada Juli 1997 secara pluktuatif menjadi 9.700 rupiah pada Januari 1998 dan bahkan beberapa bulan berikutnya mencapai 16.000 rupiah.

Kini 1 dollar bernilai sekitar 9 ribu rupiah, 10 dollar bernilai sekitar 90 ribu rupiah, 100 dollar bernilai sekitar 900 ribu rupiah, dan seterusnya. Uang 100 dollar ini bila berjumlah 10 lembar maka bernilai sekitar 9 juta rupiah, 100 lembar bernilai sekitar 90 juta rupiah, dan seterusnya. Padahal, dollar dan rupiah sama-sama terbuat dari kertas. Sejak tahun 2000, mereka juga mengelabui masyarakat dunia dengan menciptakan mata uang euro. Hal ini juga merupakan rekayasa mereka agar euro dianggap sebagai pesaing dollar. Padahal, salah seorang arsitek pemberlakuan euro adalah Alan Greenspan, gubernur Bank Amerika dan keturunan Yahudi Jerman. Dengan demikian, kaum Yahudi semakin “hemat” berlipat ganda sebaliknya kaum non-Yahudi semakin “boros” berlipat ganda pula.

Peristiwa “hemat” dan “boros” ini sebagaimana terjadi pada kekayaan alam di Nusantara yang semakin mudah ditukar dengan kertas-kertas bertuliskan dollar, euro, dan sebagainya. Pertukaran yang zalim ini membuat sekian ton emas, sekian ton padi, hutan, gunung dan sebagainya yang ada di Nusantara menjadi lenyap. Hal ini mengakibatkan gunung-gunung di kawasan yang terdiri dari belasan ribu pulau ini menjadi gundul sehingga bila musim hujan terjadi longsor, bila musim panas terjadi kemarau yang sangat panas, dan berbagai bencana alam pun terus menerjang Nusantara secara bertubi-tubi.

Dengan demikian, para penduduk Nusantara bagaikan “mayat” sehingga tidak dapat berbuat apa-apa ketika kekayaan alam yang dimilikinya ditukar dengan setumpuk kertas yang sudah disihir menjadi uang oleh orang Yahudi. Dan, ketika spekulan Yahudi George Soros ke Indonesia Desember 2006 lalu, ia dengan mudahya datang dan pergi tanpa dapat dihadang oleh siapapun. Bahkan, justru disambut oleh pimpinan ormas Islam yang didirikan dengan misi untuk memberantas takhayul, bid’ah, dan khurofat. Padahal, Soros merupakan aktor utama di balik krisis moneter 1997.

Krisis ini terjadi tepat 1 abad setelah kongres Zionis ke-1 di Bazel Swiss, 1897. Langkah-langkah Soros tersebut berarti kebalikan 180 derajat dengan kejadian yang dialami Rasulullah SAW, para sahabat, dan para ulama ke Nusantara. Bila Rasulullah, para sahabat, dan para ulama mampu melangkah dan keluar dari kepungan orang-orang non-Muslim tanpa bisa dilihat oleh mata hati mereka. Kini kita tak bisa keluar dari krisis karena hati kita tertutup.

Oleh karena itu, sebagian besar kaum Muslimin yang kini bagaikan “mayat” harus menghidupkan baik hati yang ada dalam dirinya maupun sesama Muslim lain hingga mampu keluar dari kepungan takhayul, bid’ah, dan khurofat yang diciptakan orang Yahudi. Langkah untuk keluar dari kepungan musuh pernah dialami Rasulullah SAW di malam hari menjelang hijrah, dengan membaca surat Yasin ayat ke-9: “Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat”.

Berkenaan dengan tindakan orang yang masih hidup terhadap orang yang sudah menjadi mayat, Rasulullah SAW bersabda: “Iqrou Yasin ‘ala mautaakum!”. (Bacalah Yasin kepada orang-orang mati kalian). Sebagaimana dikutip oleh Faruq Nasution dalam buku “Tafsir Surat Yasin dan Asma’ al Husna”, Ibnu Katsir memuat sumber-sumber riwayat yang menyampaikan hadits tersebut dari Ahmad, al-Hakim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dengan pertimbangannya “tidak membantah”.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi juga mencantumkan sumber-sumber riwayat hadits ini secara lengkap dalam ensiklopedi haditsnya Al Jami’ ash Shaghir: 312 dan mempertimbangkan sanadnya dengan kode “shahih”. Imam Ahmad menyampaikan pengalaman yang disampaikan suatu kaum (kisah al-Masikhah), bahwa seseorang yang menghadapi kesusahan dalam kematian (sekarat) dapat tertolong dengan membaca surat Yasin. Dengan beberapa sumber riwayat sebelumnya, serta pengalaman yang disampaikan Imam Ahmad tersebut, dikomentari Ibnu Katsir secara bijak (tidak berpihak) dengan kaidah “probabilitas” (al-Mumkinat) yakni dengan memakai pertimbangan kalangan ulama tentang adanya khasiat Surat Yasin, antara lain dapat menurunkan rahmat dan berkah guna memudahkan ruh seseorang keluar dari jasadnya.

Semoga pembacaan surat Yasin di Nusantara tidak hanya bermanfaat kepada orang-orang yang sudah menjadi mayat di alam kubur. Namun, juga kepada orang-orang yang jasadnya masih hidup di dunia ini namun hatinya sedang sekarat bahkan menjadi mayat. Berkah bacaan ini semoga juga menerangi hati yang membacanya, yang tidak membacanya, dan bahkan yang anti dan berusaha memberantas pembacaan surat Yasin tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya, kaum Muslimin pun dapat memberlakukan kembali mata uang dinar emas dan dirham perak hingga mampu melakukan hijrah dari kepungan ajaran dan amalan orang-orang Yahudi. Amin.

Tulisan menarik oleh Nurman Kholis – Peneliti Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI

Pada tahun ke 11 kenabian atau tahun 621 M, Islam mulai tersebar di Madinah ( d/h Yatsrib). Ini berkat kaum Khahraj yang menepati janji mereka terhadap Rasulullah untuk mengajak seluruh saudara dan handai taulan mereka di Madinah untuk memeluk Islam. Tahun berikutnya, yaitu pada tahun 622 M pada musim haji, 12 orang lelaki dari suku Anshar datang menemui Rasulullah di Aqabah. Mereka datang untuk berbaiat (berjanji setia) kepada beliau. Peristiwa ini dikenal dengan nama Baiat Aqabah I atau Baiat Perempuan karena isinya sama dengan baiat yang dilakukan Rasulullah dengan kaum perempuan beberapa tahun kemudian.

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Mumtahanah(60):12).

“ Berbaitlah kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak berdusta untuk menutupi-nutupi apa yang ada di depan atau di belakangmu dan tidak akan membantah perintahku dalam hal kebaikan. Jika kamu memenuhi, pahalanya terserah kepada Allah. Jika kamu melanggar sesesuatu dari janji itu lalu dihukumdi dunia maka hukuman itu merupakan kafarat baginya.  Jika kamu melanggar sesuatu dari janji itu kemudian Allah menutupinya maka urusannya kepada Allah. Bila menghendaki, Allah akan menyiksanya atau memberi ampunan menurut kehendak-Nya”. Ubaidah bin Shamit, sebagai satu diantara 12 lelaki Anshar, mengatakan :“Kami kemudian berbait kepada Rasulullah untuk menepatinya”.

Usia berbaiat ke 12 orang lelaki tersebut kembali ke Madinah dengan didampingi Mushab bin Umair yang diutus Rasulullah agar mengajarkan Al-Quran kepada penduduk Madinah. Itu sebabnya dikemudian hari Mushab dikenal dengan nama Muqri’ul ( nara sumber ) Madinah. Mushab adalah salah seorang sahabat yang memiliki dedikasi tinggi terhadap Islam. Ia rela meninggalkan kehidupan remajanya yang serba ‘wah’ demi Islam. ( Click: http://vienmuhadi.com/2009/01/19/kisah-mush%E2%80%99ab-bin-umair/ )

Tahun berikutnya lagi, yaitu tahun 623 M, juga pada musim haji, Mush’ab kembali ke Mekkah dengan membawa 70 orang lelaki dan 2 orang perempuan, yaitu Nasibah binti Ka’ab dan Asma binti Amr bin Addi. Mereka masuk ke Mekkah dengan menyusup di tengah-tengah rombongan kaum musyrik Madinah yang pergi haji. Pada tengah malam di  hari tasyrik, secara sembunyi-sembunyi mereka menuju ke lembah di Aqabah, lembah dimana tahun sebelumnya terjadi Baiat Aqabah I. Mereka datang untuk menemui Rasulullah dan berbaiat. Baiat ini disebut Baiat Aqabah II.

“ Aku baiat kalian untuk membelaku sebagaimana kalian membela istri-istri dan anak-anakmu: demikian Rasulullah bersabda. Kemudian Barra’ bin Ma’rur menjabat tangan Rasulullah sambil berucap : “ Ya, demi Allah yang mengutusmu sebagai nabi dengan membawa kebenaran, kami berjanji akan membelamu sebagaimana kami  membela diri kami sendiri. Baiatlah kami, wahai Rasulullah ! Demi Allah, kami adalah orang-orang yang ahli perang dan ahli senjata secara turun temurun”.

Begitulah mereka berbaiat. Bila pada Baiat I dulu sekelompok orang-orang Madinah berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka dan tidak berdusta maka pada Baiat kedua ini mereka berjanji setia untuk membela dan melindungi Rasulullah.

Tampak bahwa selama 1 tahun di Madinah itu, dengan izin Allah swt, Mushab telah berhasil mengajak penduduk kota tersebut untuk mengenal Tuhan-Nya dengan sangat baik. Begitu besar rasa cinta  mereka pada-Nya hingga dengan secara sadar mereka mau berbaiat; membela dan mencintai  Rasulullah  sebagaimana mereka membela diri dan anak istri mereka. Bahkan merekapun langsung menyatakan kesediaan mereka untuk mengangkat senjata dan menyerang Mina saat itu juga bila Rasulullah menghendaki ! Namun Rasulullah menjawab bahwa Allah belum memerintahkan untuk itu.

Hasan berkata, “ Suatu saat, pada masa Rasulullah, sekelompok orang berkata, “ Wahai Rasulullah, Demi Allah, sesungguhnya kami amat mencintai Tuhan kami”. Atas hal itu, Allah lalu menurunkan ayat 31-32 surat Ali Imran, sebagai tuntunan bagi orang yang ingin mencintai Allah, yaitu dengan mencintai utusan-Nya dan berpaling dari kekafiran”. ( HR. Ibnu Mundzir).

“ Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imran(3):31-32).

Keesokan harinya, beberapa orang Quraisy mendatangi kemah mereka. Dengan penuh kemarahan orang-orang Quraisy itu menyatakan bahwa mereka mendengar orang-orang Khahraj telah berbaiat kepada Muhammad dan berniat membawa Muhammad pergi meninggalkan Mekkah. Beruntung, tiba-tiba sejumlah orang musyrik Madinah datang dan bersumpah bahwa berita tersebut sama sekali tidak benar.

Orang-orang Quraisy baru menyadari bahwa berita tersebut benar setelah rombongan haji dari Madinah tersebut telah pergi meninggalkan lokasi. Merekapun segera mengejar dan mencari orang-orang Khahraj tadi. Mereka  akhirnya berhasil menangkap dua diantara orang Khahraj. Namun salah satunya berhasil melarikan diri hingga tinggal satu yang berhasil ditangkap dan disandera kaum Quraisy. Kemudian dengan kedua tangan diikat ke leher, ia diseret ke Mekah kembali. Beruntung ia mempunyai kenalan yang dapat memberinya hak perlindungan, sebuah kebiasaan yang telah berlaku di tanah Arab, hingga akhirnya iapun dibebaskan.

Namun di lain pihak, dengan adanya berita tersebut, orang-orang Quraisy makin gencar meningkatkan penyiksaan dan tekanan mereka terhadap kaum Muslim Mekkah. Penyiksaan demi penyiksaan, cemoohan, cacian dan hinaan terjadi setiap hari. Akibatnya banyak diantara pemeluk Islam generasi awal tersebut yang akhirnya terpaksa menyembunyikan keislaman mereka.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya dakwah Islam berkembang. Bila pada tahap dakwah secara diam-diam yang berlangsung selama 3 tahun pengikut Islam terhitung sekitar 40 orang maka 9 tahun berikutnya, setelah dakwah terang-terangan pengikut Islam hanya mencapai 70 orang-an saja. Berarti selama 9 tahun, mati-matian  Rasulullah berdakwah, hanya bertambah 30 orang saja !

Akhirnya karena tidak tahan terhadap perlakuan orang Quraisy para sahabatpun mulai mengeluh, memohon kepada Rasulullah agar diperbolehkan berhijrah. Kemana saja, yang penting tidak di kota Mekah yang suasananya sama sekali tidak mendukung mereka untuk menjalankan ajaran dengan baik. Permintaan mereka terjawab karena tidak lama kemudian turunlah ayat yang memerintahkan agar umat Islam yang hanya segelintir itu untuk segera berhijrah.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS.Ali Imran(3):195).

“ Sesungguhnya akupun telah diberi tahu bahwa tempat kalian adalah Yatsrib. Barangsiapa ingin keluar maka hendaklah keluar ke Yatsrib”, demikian Rasulullah menanggapi permohonan para sahabat.

Para sahabatpun kemudian segera berkemas. Tidak sedikitpun barang dan harta benda yang dapat dibawa karena mereka harus meninggalkan Mekah, kota kelahiran dimana seluruh anggota berkumpul, dimana seluruh harta dan pekerjaan berada, secara sembunyi-sembunyi. Karena ketika keberangkatan mereka tercium oleh orang-orang Quraisy, mereka akan segera mengejarnya dan mengembalikan ke Mekah dengan paksa. Ini adalah yang dialami salah satunya oleh Ummu Salamah ra.( Click: http://vienmuhadi.com/2010/09/01/hindun-binti-suhail-ummu-salamah-ra-ummirul-mukminin/ ) .

Hanya Umat bin Khattab ra, satu-satunya sahabat yang dengan terang-terangan bahkan secara provokatif mengumukan kepergiannya ke Yatsrib (Madinah). Dibawah tatapan kesal tokoh-tokoh Quraisy, ia melakukan thawaf tujuh kali dengan pedang, busur, panah dan tongkat ditangan. Setelah itu ia menghampiri Maqam Ibrahim yang berada di salah sudut Ka’bah  seraya berkata lantang : “ Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya, ingin istrinya menjadi janda atau ingin anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini ! “. Namun tak seorangpun yang berani menghadapi tantangan calon khalifah kedua yang gagah berani tersebut.

Hijrah atau pindah dari satu kota ke kota yang lain, dengan meninggalkan sanak saudara, handaitaulan, harta benda dan pekerjaan tetap bukanlah hal mudah. Namun inilah yang dilakukan para sahabat. Karena bagi mereka kecintaan, ketaatan dan ketakwaan kepada Allah swt, Sang Khalik adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar. Karena bagi mereka Allah adalah diatas segalanya. Untuk itu dibutuhkan pengorbanan dan keberanian luar biasa.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):207).

Sa’id bin Musayyab berkata, “ Suatu hari, Shuhaib berhijrah ke Madinah. Di perjalanan ia dikejar orang-orang kafir Quraisy. Ia kemudian turun dari tunggangannya. Dengan anak panah di tangan ia berseru, ” Wahai musyrik Mekah, Demi Allah kalian tentu mengetahui bahwa aku adalah seorang pemanah ulung. Kalian tidak akan bisa menyerangku. Maka pilihlah, kalian semua mati terbunuh atau kalian dapat memiliki semua hartaku di Mekah dengan syarat kalian tidak mengganggu hijrahku ke Madinah”. Orang-orang kafir itu memilih harta Shuhaib dan membiarkannya pergi. Setibanya di Madinah, Shuhaib menceritakan peristiwa yang menimpanya itu kepada Rasulullah. Rasul kemudian bersabda : “ Engkau telah beruntung, wahai Abi Yahya”. Tak lama kemudian turun ayat di atas. ( HR Harits bin Abi Usamah).

Maka Luth membenarkan (kenabian) nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al-Ankabut(29):26).

Begitu pula yang dicontohkan nabi Ibrahim as. Beliau berhijrah ketika kota yang ditempatinya tidak mendukung perkembangan perintah Tuhannya, Allah swt.

Namun bagi mereka yang kurang begitu kokoh keimanannya hal ini tentu saja terasa amat memberatkan. Itu sebabnya ada sebagian orang yang telah menyatakan ke-Islam-annya tapi tidak berani berhijrah. Mereka khawatir bila mereka meninggalkan tanah kelahirannya maka akan susah hidupnya. Karena bagi mereka harta dan sanak saudara adalah segalanya meski mereka sulit menjalankan ibadah. Tampaknya bisikan syaitan begitu kuat hingga mereka lupa bahwa balasan bagi mereka kelak adalah neraka. Allah swt hanya mau memaafkan orang yang tidak berhijrah karena memang mereka lemah. Seperti anak-anak, perempuan, budak dan orang yang benar-benar tidak tahu jalan menuju Madinah.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun”. (QS.An-Nisa’(4):97-99).

Jadi hijrah sebenarnya selain pertolongan juga adalah cobaan. Dengan hijrah dapat dibedakan mana orang yang benar-benar takwa mana yang hanya bermain-main. Mana yang lebih menyukai dan mencintai Tuhannya mana yang lebih mencintai harta benda. Mana yang lebih menyukai kehidupan akhirat mana yang lebih memilih kehidupan dunia.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut(29):2).

Para sahabat adalah orang-orang yang mencintai Tuhannya, Allah swt, lebih dari apapun. Mereka yang hijrah dari Mekah karena sulit menjalankan ajaran Islam ke Madinah dinamakan kaum Muhajirin. Mereka siap berani mengambil resiko tak mempunyai sedikitpun harta dan kehilangan orang-orang yang mereka cintai asalkan Allah swt ridho terhadap mereka.

Sementara penduduk Madinah yang telah memeluk Islam dan siap menerima saudara-saudara mereka seiman yang hijrah demi mencari ridho-Nya disebut kaum Anshar.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi … …” (QS.Al-Anfal(8):72)

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.” (HR. Muslim).

Itulah ikatan yang terjadi antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Madinah Mereka saling menyayangi karena Allah swt. Para sahabat sebagai pemeluk Islam tahap awal dari Mekah yang selama 12 tahun hidup tertindas dan tertekan akhirnya dapat merasakan buah ketakwaan mereka. Walaupun bukan di kota kelahiran mereka melainkan di Madinah.

Padahal penduduk Madinah sendiri belum genap 2 tahun mengenal ajaran Islam. Ini adalah skenario Allah swt. Dimulai dengan kunjungan sekelompok orang Khahraj pada tahun ke 11 kenabian kemudian disusul dengan adanya Baiat Aqabah I dan II, Allah swt berkehendak bahwa Islam bakal berkembang pesat dari Madinah. Dalam waktu relatif singkat masyarakat Madinah tiba-tiba telah siap menerima kehadiran Rasulullah Muhammad saw dan ajarannya beserta para sahabat yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Dan dibalut dengan ikatan semangat persaudaraan yang sungguh mengejutkan pula !

( Bersambung ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 17 Oktober 2010.

Vien AM.

Banyak hal menarik terjadi pada hari-hari terakhir kami di Pau. Sebenarnya sudah sejak agak lama saya punya keluhan di punggung, di sekitar tulang belikat. Orang sering menyebutnya syaraf kejepit. Demikian pula yang dikatakan dokter Perancis beberapa tahun yang lalu. Sudah berulang kali saya menjalani beberapa terapi namun hingga kini keluhan tersebut tidak juga sembuh secara tuntas. Hingga suatu hari dokter yang menangani saya merujuk agar pergi menemui seorang Kinetherapi.

Kalau di tanah air, Kinetherapi kurang lebih adalah seorang ‘tukang urut’. Tapi jangan salah, bila tukang urut di negri kita biasanya turun temurun maka di Perancis ini mereka harus kuliah dulu selama 3 tahun ! Itu sebabnya seorang dokter bisa merujuk mereka sebagai partner kerja.   Hebat ya .. J ..

Tapi bukan ini lho yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Kinetherapeuse ( sebutan untuk ‘ tukang urut’ perempuan ) saya adalah seorang perempuan bule asli Perancis yang berusia sekitar 30 tahunan. Badannya tinggi besar dan penampilannyapun tomboy alias kelaki-lakian. Harus diakui ia menguasai ilmunya dengan baik. Ia memulai perawatan dengan mencatat keluhan saya. Setelah itu baru ia memulai pengobatan / mengurut.

Ketika ia mengurut itulah kemudian saya katakan bahwa saya sering duduk lama keasyikan di depan komputer. Ia menerangkan posisi duduk yang seperti itu kemungkinan besar bisa menjadi penyebab keluhan saya. Ia lalu menanyakan apa yang saya kerjakan. Setelah saya menerangkan bahwa saya mempunyai blog yang isinya tentang ajaran Islam akhirnya pembicaraanpun mengarah pada masalah keagamaan.

Ia bercerita bahwa dulu ia adalah seorang Kristen pratiquant. ( Pratiquant adalah sebutan bagi orang yang menjalankan ajaran agama, agama apapun ). Ayahnya adalah seorang pendeta Kristen. Setiap hari Minggu ia bersama teman-teman dan saudara-saudaranya selalu pergi ke gereja dan berdoa. Namun menginjak usia SMA ia mulai meragukan kebenaran ajarannya tersebut. Sejak itu ia jarang ke gereja. Bahkan kini ia tidak pernah pergi lagi ke tempat tersebut. Meski demikian ia berkata bahwa ia tetap yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi ya hanya sebatas itu saja. ( Harap dicatat, sebagian besar orang Perancis saat ini adalah Atheis alias tidak percaya akan adanya Tuhan alias kafir ).

Saya menjalani perawatan hingga 6 kali pertemuan. Dan hampir pada setiap pertemuan tersebut kami selalu membahas hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Menurutnya sebagian orang Perancis sebenarnya tidak percaya bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kekerasan dan terorisme.  Ia bahkan ikut prihatin mengapa pemerintahnya harus seperti orang kebakaran jenggot dengan cara berpakaian Muslimah. “ Negri kami adalah negri demokrasi yang menjunjung tinggi nilai kebebasan. Saya tidak mengerti mengapa sekarang mereka sibuk memikirkan penampilan Muslim ”, begitu ujarnya setengah kecewa.

Pada pertemuan terakhir, setelah cukup lama bimbang, akhirnya saya menghadiahinya sebuah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Perancis yang saya beli di sebuah toko buku di dekat rumah. ( Saya cukup surprised ternyata toko buku terbesar di Perancis tersebut menjual sejumlah buku tentang Islam,termasuk Al-Quran dan hadits. Hal yang tidak mungkin saya temui beberapa tahun yang lalu). Sungguh puas hati ini mengetahui bahwa ia benar-benar gembira menerima hadiah tersebut. “ Kalau anda ada waktu lowong dibaca ya”, demikian saya berpesan.

Namun ternyata itu bukan hari terakhir kami bertemu karena dokter merujuk agar saya meneruskan perawatan satu putaran lagi supaya keluhan saya tuntas. Tetapi berhubung sang kine sedang cuti jadi saya dirawat oleh koleganya. Padahal dalam hati saya ingin mendengar komentarnya … L

Pada pertemuan ke 5 sesi kedua akhirnya saya bertemu lagi dengannya. Namun demikian saya berusaha untuk bersabar dan menunggu ia yang memulai pembicaraan. Setelah menunggu beberapa waktu dengan hati berdebar, tiba-tiba ia menanyakan “ Ayat tentang hijab di Al-Quran ada di surat mana ya?”, tanyanya mengagetkan.

“ Mengapa anda  menanyakan hal tersebut, bukannya hal lain?”, tanya saya penasaran. “ Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja”, jawabnya tenang. Untung kebetulan saya hafal letak ayat tersebut, Alhamdulillah …

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(QS.Al-Ahzab (33):59).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya … … ”.(QS.An-Nuur(24):31).

Selanjutnya ia bercerita tentang temannya,seorang Muslimah keturunan Maroko yang baru saja menikah. “ Asyik juga menghadiri pernikahan dimana tamu laki-laki dan perempuan dipisahkan. Kita, tamu-tamu perempuan berpesta sambil menari-nari tanpa seorangpun lelaki di dalamnya ”, ceritanya seru. Saya hanya manggut-manggut karena memang tidak pernah menghadiri acara walimah yang sangat Islami itu.

Ia juga bercerita bahwa ketika ia liburan kemarin ia dan kakak lelakinya sempat berbincang lama dengan kenalan orang-tuanya, seorang Muslim Aljazair, tentang Al-Quran !  Dengan tersenyum ia mengatakan entah mengapa ia sekarang jadi suka berbicara mengenai Islam.

Di akhir pertemuan saya memberinya referensi tentang surat Maryam yang bercerita tentang ibunda nabi Isa as. Dengan semangat ia langsung mencatat di buku kecil miliknya. Saya sering mendengar bahwa surat ini sering menjadi penyebab kembalinya pemeluk Nasrani ke Islam. Allahuakbar ..

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Saya hanya berharap semoga Allah swt mencatat dakwah saya ini apapun hasilnya. Pesan saya padanya kali ini :”  Sempatkan untuk membacanya “, bukan “ Bacalah kalau ada waktu “.

( Click untukmendengarkan surat Maryam : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

Pengalaman mengesankan lain adalah ketika seorang teman menelpon dan sambil tersenyum menanyakan apakah saya ingin ikut terlibat dalam proyek akhirat dengannya. Tentu saja saya jawab cepat : “ Mau banget dong .. apa tuh Ndah ?“.

Teman saya itu kemudian mengatakan bahwa ada teman bulenya yang tiba-tiba menelpon dan minta diajari cara shalat. Subhanallah .. Sayapun segera mencari buku cara shalat dalam bahasa Perancis. Alhamdulillah tanpa kesulitan saya segera mendapatkannya, lagi-lagi di Fnac, toko buku terbesar di Perancis dimana sebelumnya saya membeli Al-Quran untuk sang Kine beberapa minggu yang lalu. Tapi di kota yang berbeda. Karena hari itu kebetulan kami memang sedang bepergian ke luar kota. Saya benar-benar puas karena buku panduan shalat tersebut bergambar dan berwarna pula. Lengkap dengan cara wudhu, bacaan doa dalam bahasa Arab dan cara bacanya plus artinya dalam bahasa Perancis.

Singkat kata,pada hari yang telah ditentukan kami berduapun menuju ke rumah teman bule tersebut. Selidik punya selidik ternyata bule tersebut sudah memeluk Islam sejak 8 tahun yang lalu. Ironisnya, suaminya yang seorang Muslim asal Aljazair itu tidak pernah mengajarkannya cara shalat. Bahkan masih menurutnya, suaminya itu tidak pernah mengerjakan shalat ! Astaghfirullah .. Yang juga menyedihkan, di apartemen tempatnya tinggal itu sebenarnya ada sejumlah warga keturunan Maroko Muslim dan Muslimah namun ia tidak yakin apakah mereka menjalankan shalat atau tidak .. L

Tiba-tiba saya jadi teringat pengalaman beberapa minggu yang lalu. Ketika itu saya bersama suami, anak dan beberapa teman sedang bepergian ke suatu kota tidak jauh dari tempat tinggal kami. Salah satu dari mereka adalah keluarga Perancis, sahabat baik anak perempuan saya.

Ketika kami sedang berjalan sambil asyik bercengkerama, dua anak muda berwajah Arab menghampiri kami. Keduanya menyapa ramah dengan ucapan “ Assalamualykum”. Belum sempat kami menjawab tiba-tiba salah satu dari mereka berkata : ” Indonesia, Malaysia ? Selamat Pagi “.

Tentu saja kami terkejut dibuatnya. Ternyata mereka adalah warga Perancis keturunan Aljazair yang telah lama mukim di kota tersebut. Keduanya pernah tinggal dan bekerja di Indonesia dan Malaysia selama beberapa tahun. Akhirnya kamipun terlibat percakapan cukup hangat.

Namun sayang kelihatannya telah terjadi kesalah pahaman. Anak perempuan saya diam-diam mencolek saya hingga beberapa kali. Ia berbisik : “ Bu, jangan dilayani .. orang itu kurang ajar. Dia gangguin kita, cewek-cewek ..”. Haah .. tersentak saya dibuatnya.

Tiba-tiba saya tersadar akan maksud pertanyaan anak muda tersebut “ Kamu dah kahwin ?” .. “ Kamu ? .. Kamu ?” sambil bergantian menunjuk ke arah anak-anak perempuan kami. Ketika ia bertambah nekat hendak mencolek Emily, teman bule anak kami, suami saya langsung mendampratnya. “ Hei .. jaga sikap kamu sebagai Muslim .. Jangan bikin malu !! “.

Anak muda tersebut berusaha membela diri sambil terus memandang kurang ajar ke arah gadis yang mulai pucat ketakutan itu. Kami segera meninggalkan anak muda tersebut sementara suami saya terus berusaha menasehatinya. Beruntung temannya segera menyadari kelakuan buruk temannya itu dan mengajaknya pergi menjauh.

Selanjutnya orang tua Emily bercerita bahwa ini bukan kali pertama mereka diganggu oleh anak-anak muda berparas Arab seperti kedua orang tadi. Dengan penuh penyesalan mereka mengaku bahwa sebagian besar orang Perancis memang mengganggap orang Muslim ( dari wajah Arabnya) adalah orang yang mempunyai kebisaan buruk .. Astaghfirullah .. sedihnya hati ini. Menurut mereka kalau tadi itu yang menegur ayah Emily pasti bakal panjang urusannya .. L.

Sebenarnya kami telah berulang kali mengatakan kepada kenalan dan teman-teman non Muslim agar jangan menilai sebuah agama dari prilaku orang-orangnya. Islam memang lahir ditanah Arab bahkan Al-Quranpun  berbahasa Arab. Namun ini bukan jaminan bahwa orang Arab adalah orang yang alim dan patut dijadikan sebagai contoh keteladanan umat Islam.

Belum juga kami berhasil menghapus image buruk Islam .. eh, selang beberapa bulan kemudian terjadi hal yang lebih memalukan lagi. Kali ini kejadiannya di tanah air, negri kita, Indonesia tercinta.

Suatu hari di bulan Agustus, Emily beserta ayah, ibu dan adiknya berlibur ke Indonesia; Bali dan Sulawesi. Tentu saja kami senang dan dengan bangga memamerkan keindahan alam dan keramah-tamahan bangsa kita.

Namun apa lacur, baru beberapa hari berlalu, mereka telah menelpon kami dan dengan suara panik meminta tolong agar mencarikan penerbangan pulang ke Perancis secepat mungkin. Ya Allah , apa yang terjadi, pikir kami ikut prihatin.

Selidik punya selidik, akhirnya mereka mengaku bahwa mereka telah ‘dipalak’ dan ‘dikerjai’  penduduk setempat. Bahkan di Sulawesi tengah, selama perjalanan 8 jam (dari Luwuk ke Ampana; tujuan mereka adalah kepulauan Togian) mereka diteror dengan iring-iringan 3 kendaraan yang terus membuntuti taxi yang mereka sewa !

Yaah .. apa mau dikata .. mengapa umat Islam ini ( bagaimanapun saya merasa bahwa Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini mustinya bisa menjadi teladan Muslim ) tidak bisa menjaga prilaku Islami mereka.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (QS.Asy Syu’araa (28):183).

“Tetangga itu ada tiga macam; di antara mereka itu ada yang mempunyai tiga hak, di antaranya lagi ada yang mempunyai dua hak dan di antaranya lagi ada yang hanya mempunyai satu hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak adalah tetanggamu yang masih kerabat dan muslim; tetangga yang mempu-nyai dua hak adalah tetanggamu yang muslim; dan tetanggamu yang hanya mempunyai satu hak adalah tetanggamu yang dzimmi (non-muslim)”. (Tanbihul Ghafilin)

“Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman. Mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” . (HR Bukhari).

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 12 Oktober 2010.

Vien AM.

Meningkatkan Rasa Syukur

by Lutfi S Fauzan on Thursday, October 7, 2010 at 12:51am

Tidak diragukan lagi, untuk meraih sukses kita perlu meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Bagaimana tidak, kita sudah belajar bagaimana manfaat syukur yang luar biasa dalam kehidupan kita. Namun, yang menjadi pertanyaan, kenapa masih banyak orang yang tidak atau kurang bersyukur? Atau ada juga orang yang merasa sudah bersyukur, tetapi dia merasa tidak ada tambahan nikmat sesuai dengan janji Allah. Padahal janji Allah tidak mungkin salah. Artinya cara bersyukur kita yang salah, kita merasa bersyukur padahal kita belum bersyukur.

Tiga Kesalahan Dalam Bersyukur

Jika kita bersyukur, nikmat kita akan ditambah oleh Allah. Mungkin, kita sudah hafal ayat Al Quran yang menjelaskan hal ini:

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS Ibrahim:7)

Lalu, mengapa ada orang yang merasa sudah bersyukur tetapi merasa tidak mendapatkan nikmat tambahan? Karena janji Allah tidak mungkin salah, artinya ada yang salah dengan diri kita. Ada tiga kemungkinan:

  • Pertama: cara kita bersyukur yang salah.
  • Kedua: kita kurang peka terhadap nikmat yang sebenarnya sudah Allah berikan kepada kita.
  • Ketiga: Allah memberikan nikmat lain yang terbaik bagi kita, tapi kita tidak menyadarinya.

Pada artikel kali ini, saya akan fokus menyoroti tentang point kedua dan ketiga. Dengan dua penyebab itu, kita akan kurang bersyukur. Jika kita kurang bersyukur, maka wajar jika nikmat tidak kunjung datang. Kita harus terus meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah. Insya Allah, poin pertama, cara bersyukur akan dibahas pada artikel lain.

Bagaimana cara meningkatkan rasa syukur?

1.Luangkan waktu untuk merenungkan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita.

Nikmat itu sangat banyak, bahkan tidak akan terhitung. Lalu mengapa banyak orang yang merasa tidak mendapatkan nikmat? Karena mereka kurang memberikan perhatian terhadap nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan. Allah mengulang-ngulang ayat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” dalam surah ar Rahmaan, dimana salah satu hikmahnya adalah agar kita lebih memperhatikan nikmat-nikmat. Saat kita memberikan perhatian terhadap nikmat, kita akan melihat, kita akanngeh, bahwa nikmat Allah yang kita terima sangat banyak.

2.Berprasangka baiklah kepada Allah.

Banyak nikmat yang tidak terlihat bagi kita. Kita sering menganggap bahwa nikmat itu harus dalam bentuk materi, padahal lebih luas dari itu. Seringkali kita menganggap bahwa nikmat itu adalah sebuah pemberian, padahal bisa saja Allah sudah menghindarkan kita dari suatu musibah yang asalnya akan menimpa kita. Mungkin tidak ada yang bertambah pada diri kita, tetapi terhindar dari musibah bukankan sebuah nikmat yang besar? Renungkanlah…

3.Setelah kita mengetahui bahwa nikmat Allah begitu banyaknya, maka langkah selanjutnya ialah memasukan pengetahuan ini ke dalam hati. Agar melekat dengan diri kita sehingga rasa syukur kita akan bertambah. Caranya ialah terus menerus mengingat nikmat dalam berbagai kesempatan. Semakin sering kita mengingat nikmat, akan semakin tertancap dalam hati, maka rasa syukur pun akan meningkat.

Jadi cara meningkatkan rasa syukur diawali dengan pengetahuan akan nikmat yang telah kita terima. Namun tidak cukup hanya pengetahuan saja, karena banyak orang yang tahu tetapi kurang bersyukur. Pengetahuan akan nikmat ini harus tertanam dalam hati kita.

Kita sudah mengetahui bagaimana cara meningkatkan rasa syukur. Muda-mudahan dengan meningkat rasa syukur, nikmat kita akan bertambah.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda :”…Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

Perintah shalat 5 waktu dalam sehari semalam diatas diterima Rasulullah saw ketika beliau melakukan Isra ( dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho ) dan Mi’raj ( dari Masjidil Aqsho ke Sidratul Muntaha di lapisan tertinggi langit). Perjalanan spektakuler dengan mengendarai buraq ( kendaraan terbang yang dikisahkan terbuat dari cahaya dan berbentuk kuda ) ini merupakan imbalan bagi kesabaran Rasulullah yang selama lebih dari 10 tahun telah bersabar menyampaikan pesan Sang Khalik kepada masyarakat Mekah meskipun hasilnya tidak terlalu memuaskan. Puncak cobaan bagi beliau adalah dipanggilnya kedua orang terdekat beliau yang selama ini selalu mendukung dakwah Rasulullah yaitu Khadijah ra, sang istri tercinta dan Abu Thalib, paman beliau serta peristiwa Thaif dimana dakwah Rasulullah di tolak mentah-mentah. Bahkan beliaupun sempat dikejar-kejar dan dilempari penduduk kota tersebut hingga mengalami luka di beberapa tempat.

(Lihat : http://vienmuhadi.com/2010/09/19/riwayat-singkat-kehidupan-rasulullah-saw-9/).

Undangan perjalanan malam ke Sidratul Muntaha ini benar-benar sebuah penghargaan istimewa dari Sang Khalik kepada seorang hamba. Karena sebelumnya tak satupun rasul apalagi manusia biasa yang pernah mengalaminya.

Selama ini Rasulullah tidak pernah menuntut apapun kecuali keridhoan Sang Khalik. Ketika malaikat gunung menawarkan untuk menjatuhkan gunung yang berada di Thaif karena keingkaran penduduknya beliau malah mendoakan agar hati orang-orang tersebut dibuka dalam menerima dakwah beliau. Tampak bahwa tak terbesit sedikitpun di hati beliau rasa putus asa apalagi dendam.

“ Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. ( QS. As-Shaffat(37):139-144).

Ayat di atas berkisah tentang nabi Yunus as yang suatu ketika merasa putus asa karena sedikitnya jumlah orang yang mau mendengar dakwahnya. Ia kemudian lari dan menaiki sebuah kapal. Namun ternyata Allah swt tidak meridhoi perbuatannya. Maka Allahpun kemudian menjatuhkan hukuman yaitu dengan ditelannya Yunus as oleh seekor ikan raksasa.  Yunus segera menyadari kesalahannya dan segera bertaubat hingga Allahpun menerima taubatnya dan memberinya kemudahan.

Selain ayat diatas ada beberapa ayat yang menceritakan bagaimana para rasul memohon agar Allah mengazab orang yang mendustakan mereka. Sementara dua ayat berikut adalah ayat yang menceritakan bagaimana nabi Ibrahim as dan nabi Musa as memohon bukti akan kekuasaan-Nya agar keimanan mereka lebih kuat lagi. Hal yang tak pernah sekalipun terpikir oleh Rasulullah saw.

“ Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS. Al-Baqarah (2):260).

“ Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.(QS.Al-Araf (7):143).

Peristiwa Isra Mi’raj adalah mukjizat terbesar bagi Rasulullah Muhammad saw setelah Al-Quranul Karim. Hanya orang beriman saja yang dapat menerima berita ini tanpa syarat. Walaupun di zaman modern ini sebenarnya bukan hal yang istimewa ketika orang dapat melakukan perjalanan dari ujung dunia satu ke ujung dunia yang lain dalam semalam, yaitu dengan pesawat terbang.

Pembahasan apakah Rasulullah melakukan perjalanan tersebut dengan jiwa dan raganya ataupun hanya dengan jiwa tanpa raga sebenarnya juga bukan merupakan cerminan orang beriman. Karena perjalanan dengan raga sekalipun bukanlah hal yang mustahil bagi Sang Khalik, Yang Maha Cerdas, Yang Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu.

Demikian pula dengan adanya sejumlah hadits yang menceritakan pertemuan Rasulullah dengan sejumlah nabi di lapisan-lapisan tertentu di langit. Tidak perlu kita membahas masalah tersebut secara rinci karena akal dan daya pikir kita tidak akan sampai. Bukankah sains berkata bahwa  bahkan bintang yang saat ini kita pandangpun sebenarnya sudah tidak berada ditempat ketika kita melihatnya? Jadi yang terbaik cukuplah kita mengimaninya saja.

Anas bin Malik r.a. berkata, “Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan mengoperasi dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya.

Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia. Ketika aku tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Siapakah ini?’ Ia (jibril) menjawab, ‘Ini Jibril.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah Anda bersama seseorang?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku bersama Muhammad saw.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah dia diutus?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Tiba tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelah kanannya ada hitam-hitam (banyak orang) dan disebelah kirinya ada hitam-hitam (banyak orang).

Apabila ia memandang ke kanan, ia tertawa, dan apabila ia berpaling ke kiri, ia menangis, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak laki-laki yang saleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah orang ini?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Adam dan hitam-hitam yang di kanan dan kirinya adalah adalah jiwa anak cucunya. Yang di sebelah kanan dari mereka itu adalah penghuni surga dan hitam-hitam yang di sebelah kainya adalah penghuni neraka.’ Apabila ia berpaling ke sebelah kanannya, ia tertawa, dan apabila ia melihat ke sebelah kirinya, ia menangis, sampai Jibril menaikkan aku ke langit yang ke dua, lalu dia berkata kepada penjaganya, ‘Bukalah.’ Berkatalah penjaga itu kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh penjaga pertama, lalu penjaga itu membukakannya.”

Anas berkata, “Beliau menyebutkan bahwasanya di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menetapkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya saja beliau tidak menyebutkan bahwasanya beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.” Anas berkata, “Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw melewati Idris, Idris berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.’ Aku (Rasulullah) bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Idris.’ Aku melewati Musa lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Musa.’ Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Isa.’ Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya,’Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Ibrahim as..’” (HR. Bukhari no. 192)

Namun demikian ini tidak berarti bahwa kepergian Rasulullah ke Masjidil Aqsho dan Sidratul Muntaha langsung membuat dakwah beliau lancar. Karena hal tersebut justru membuat penduduk Mekah mentertawakan dan mengejek beliau. Mereka bahkan menantang Rasulullah agar menggambarkan Baitul tersebut secara detil dan rinci jika beliau memang telah pergi dan shalat didalamnya.

Tentu saja Rasulullah agak terkejut mendengar permintaan tersebut. Karena Rasulullah memang tidak memperhatikan Baitul tersebut ; bagaimana bentuk bangunan, berapa jumlah pilar-pilarnya dsb. Namun Allah swt segera menolong rasul-Nya tersebut.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah sab bersabda :“Ketika kaum Quraisy mendustakan aku, aku sedang berdiri di Hijr (Ismail). Lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat”.

Dengan itu maka Rasulullahpun berhasil menjawab semua pertanyaan kaum Quraisy dengan baik dan tepat. Tetapi mereka  tetap tidak mempercayai apa yang dikatakan Rasulullah. Mereka lalu pergi menemui Abu Bakar dan menceritakan apa yang dikatakan Rasulullah dengan harapan agar sahabat Rasulullah tersebut menolak berita beliau.

Jika memang benar Muhammad yang mengatakannya, dia telah berkata benar dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari itu”, begitu tanggapan singkat Abu Bakar.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. (QS.Al-Isra (17):1).

Pernyataan Abu Bakar dan juga turunnya ayat yang menjelaskan perjalanan  Isra Mi’raj Rasulullah ternyata tidak mengubah prilaku penduduk Mekah. Mereka tetap berkeras memegang agama nenek moyang mereka. Kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah malah makin menjadi-jadi. Kemanapun Rasulullah pergi selalu dikuntitnya. “ Jangan kalian mengikutinya. Sesungguhnya dia seorang murtad dan pendusta !”. Demikian pula istrinya, Ummi Jamil, yang setiap hari selalu menebarkan duri di tempat-tempat  yang akan dilalui Rasulullah. Itu sebabnya Allah swt menurunkan ayat berikut :

“Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut”. (QS. Al-Lahab(111):4-5).

Namun Rasulullah tak pantang menyerah. Ayat demi ayat yang setiap hari turun terus disampaikannya kepada penduduk Mekah meski tak satupun yang mau mendengarkannya. Mereka tetap memperolokkan dan malah menantang mengapa Allah tidak menurunkan malaikat saja atau mengapa Al-Quran bukannya turun saja dalam bentuk tulisan.

Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan”. (QS.Al-An’am(6):4-5).

“Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-Iaki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu.”.(QS.Al-An’am(6):7-9).

Bahkan peringatan dan azab keras yang pernah diturunkan Allah swt kepada kaum yang mendustakan para rasul dan nabi pada masa lampaupun tidak membuat mereka takut.

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”.(QS.Al-An’am(6):6).

Hingga pada suatu hari di tahun ke sebelas ke-nabian, Rasulullah bertemu dengan sekelompok orang dari kabilah Khazraj yang telah dibukakan hatinya oleh Sang Khalik untuk menerima kebenaran. Mereka ternyata adalah orang-orang yang telah sejak lama bertetangga dengan orang-orang Yahudi. Orang Yahudi ketika itu dikenal sebagai ahli agama dan ahli pengetahuan.  Mereka bercerita bahwa setiap kali terjadi pertentangan antara kaumnya dengan orang-orang Yahudi, orang-orang Yahudi tersebut selalu berkata :

“Sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya akan dibangkitkan seorang nabi. Kami akan mengikutinya dan bersamanya kami akan memerangi kalian sebagaimana pembunuhan ‘Aad dan ‘Iram”.

Maka setelah orang-orang dari suku Khazraj itu bertemu dan mendengar sendiri ayat-ayat Al-Quran dibacakan oleh Rasulullah, seraya saling berpandangan merekapun segera berujar : “ Demi Allah, ketahuilah bahwa dia adalah Nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepada kita. Jangan sampai mereka mendahului kita”.

Demikianlah akhirnya mereka ber-syahadat, mengakui bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Mereka juga berjanji akan mengajak keluarga dan handai taulan mereka di Yatrib ( Madinah ) agar mengikuti jejak mereka dalam ber-Islam.  Kemudian mereka pulang dan berjanji akan datang menemui Rasulullah kembali pada musim haji mendatang.

( Bersambung ).

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 29 September 2010.

Perasaan lega setelah 3 tahun lamanya di boikot secara ekonomi dan sosial tampaknya hanya berlangsung sekejap saja. Karena pada tahun ke 10 kenabian Khadijah ra, istri tercinta yang selama ini selalu setia mendukung, menyemangati, membesarkan dan menghibur Rasulullah dalam menjalankan tugas maha berat itu jatuh sakit. Dan tak lama kemudian Allah swtpun memanggil perempuan yang selama 25 tahun itu telah menemani Rasulullah, sebagai istri satu-satunya, sebagai ibu dari 4 anak perempuan dan 2 anak lelaki dari Rasulullah.

Betapa berdukanya Rasulullah saw. Bagaimanapun beliau adalah manusia biasa yang membutuhkan pendukung, pendamping, penyemangat dan penghibur dari orang yang dicintai dan mencintainya. Tugas yang diembannya adalah tugas yang maha berat. Mengajak orang menuju kebenaran bukanlah hal ringan. Orang-orang Quraisy terlalu keras kepala. Mereka suka berdebat namun dengan tujuan hanya ingin mentertawakan dan melecehkan Rasulullah.

“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”.(QS.Az-Zukhruf(43):57-58).

Kedua ayat diatas menceritakan kembali kejadian ketika Rasulullah di hadapan orang-orang, membacakan ayat 98 surat Al-Anbiya yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya”.  Sontak, salah satu orang Quraisy itu menanyakan tentang nasib Isa as yang disembah orang Nasrani, akankah ia menjadi kayu bakar neraka jahanam seperti berhala sesembahan mereka.

Rasulullah terdiam dan orang-orang Quraisy itupun menertawakannya. Padahal ayat diatas sebenarnya hanya ditujukan kepada sesembahan mereka bukan Isa as. Selanjutnya mereka kembali bertanya mana lebih baik, sesembahan mereka atau Isa Al-Masih. Maka dengan turunnya ayat 57 dan 58 diatas, Rasulullahpun menjadi faham bahwa pertanyaan mereka tidak perlu ditanggapi.

Menjadi utusan Allah memang perlu kesabaran extra. Hanya dengan pertolongan-Nya saja para utusan ini dapat menyelesaian misinya. Nabi Adam, nabi Nuh, nabi Yunus, nabi Ibrahim, nabi Daud, nabi Musa dan juga nabi-nabi lain suatu saat pernah berbuat ‘kesalahan’ di dalam pandangan-Nya. Begitupun nabi Muhammad saw. Sebagaimana seorang utusan Allah yang memiliki tanggung jawab tinggi, beliau begitu menginginkan agar dakwahnya mendapat sambutan.

Suatu hari ketika beliau sedang berdakwah di hadapan para pembesar Quraisy tiba-tiba datang seorang sahabat dan langsung menanyakan sesuatu. Tentu saja kehadiran sahabat tersebut mengganggu jalannya pertemuan. Maka Rasulullahpun tidak menanggapinya dan tanpa sengaja air mukanya agak berubah. Namun ternyata Allah swt tidak ridho terhadap reaksi beliau dan langsung menegurnya.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya“. (QS.Abasa(80):1-10).

Betapa menyesalnya Rasulullah. Ini bukanlah kebiasaan dan sifatnya. Beliaupun segera bertaubat. Menghadapi hal-hal seperti ini biasanya beliau tumpahkan isi hatinya kepada istrinya tercinta yang selalu bisa menghiburnya. Ini yang membuat beliau merasa begitu kehilangan.

Apalagi ketika beberapa bulan kemudian, Abu Thalib, paman yang selama ini selalu melindunginya juga wafat.  Rasulullah tak dapat membayangkan apa yang bakal diperbuat orang-orang Quraisy terhadap dirinya tanpa perlindungan Abu Thalib. Namun yang juga membuat diri Rasulullah gundah adalah sikap Abu Thalib. Pamannya ini walapun selalu melindungi beliau namun ia sendiri sebenarnya tidak pernah mengucap syahadat.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS.Al-Qashash (28):56).

Abu Hurairah ( dan Sa’id bin Musayyab ) menerangkan bahwa  ayat diatas diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib ketika mendekati ajalnya. Ia didatangi Rasulullah. Di sisinya ada Abu Jahal dan Abdillah bin Abu Umayah. Rasul bersabda : “ Wahai paman, ucapkanlah La ilaha illallah . Kalimat ini akan kujadikan argument di akhirat kelak bahwa kau adalah orang beriman”. Namun Abu Jahal dan Abdillah menentang. “ Hai Abu Thalib, apa kau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?”. Hal ini terjadi berulang kali hingga pada hembusan nafas terakhirnya, Abu Thalib bersaksi tetap pada agama  Abdul Muththalib. Rasul sungguh sedih dan berkata : “ Aku akan terus meminta ampunan untukmu paman sebelum Allah melarang hal ini”. ( HR Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam”. (QS.At-Taubah(9):113

Ketika itu ayat di atas memang belum turun. Itu sebabnya Rasulullah berani berkata demikian. Di kemudian hari tahun dimana Khadijah dan Abu Thalib wafat dinamakan Tahun Duka Cita atau ‘Amul Huzni.

Kekhawatiran dan dugaan Rasulullah tidak salah. Begitu keduanya wafat, kebencian dan permusuhan orang-orang Quraisy terhadap Islam makin menjadi. Berbagai penghinaan dan kekerasan makin meningkat. Niat untuk menyingkirkan Rasulullah yag dulu pernah terhalang karena perlindungan Abu Thalib kini makin tampak nyata. Berbagai cara mereka coba, diantaranya dengan kekuatan tenung dan hipnotis.

“ Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (QS.Al-Qalam (68):51).

Orang-orang Arab pada masa lalu adalah masyaratat jahiliyah. Ketika mereka merasa tidak senang atau membenci sesuatu mereka terbiasa menggunakan kekuatan pandangan mata atau apa yang sekarang biasa di sebut Hipnotis untuk mengalahkan lawannya. Ini yang hendak mereka lakukan terhadap Rasulullah. Namun melalui ayat 67 surat Al-Maidah Allah menjanjikan bahwa kekuatan tersebut tidak akan mempan terhadap diri Rasulullah. Oleh karenanya Rasulullah yang semula selalu didampingi para sahabat ketika berdakwah menyuruh para sahabat untuk membiarkannya seorang diri tanpa kawalan ketat.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.(QS. Al Maidah(5):67).

“ Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”.(QS.At-Thur (52):30).

Ibnu Abbas menegaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaum Quraisy yang berkumpul di Darun Nadwah sambil membicarakan Rasulullah. Salah satu dari mereka berkata : “ Ikat dan penjarakan saja ia hingga mati seperti para ahli syair yang juga temannya terdahulu, Zuhair dan an-Nabighah”.( HR Ibnu Jarir).

Sungguh betapa pedihnya hati Rasulullah. Kemana beliau harus mencari perlindungan? Namun dengan turunnya ayat berikut hati Rasulullah agak lega. Karena paling tidak bukan diri dan pribadinyalah yang dimusuhi melainkan tugasnya sebagai Rasul Allah, seperti juga rasul-rasul lain yang selalu didustakan. Tugas para rasul hanyalah menyampaikan, Allah yang menentukan siapa yang mau mengikuti petunjuk dan mempercayai peringatan-Nya.

“ Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.  Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu`jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”.(QS.Al-An’am(6):33-35).

Namun demikian Rasulullah menyadari bahwa dakwah harus dijalankan secara maksimal. Manusia harus berusaha mencari jalan bagaimana mengajak kepada kebaikan. Situasi dan kondisi kota Mekah tanpa adanya perlindungan dari seseorang yang memiliki wibawa dan pengaruh kuat terhadap masyarakat akan sangat sulit.

Rasulullah akhirnya memutuskan menuju Tha’if, kota peristirahatan sejuk di bukit dimana sebagian pembesar Mekah melewatkan waktu santainya. Di kota yang berjarak 70 km dari Mekah inilah Rasulullah akan mencari perlindungan dan dukungan dari bani Tsaqif. Siapa tahu dalam keadaan santai hati mereka bisa lebih lunak dan lembut sehingga ayat-ayat Allah bisa lebih mengena, begitu pikir Rasulullah. Maka berangkatlah beliau dengan ditemani Zaid bin Haritsah. Sepuluh hari lamanya mereka menetap di Tha’if.

Tetapi apa yang terjadi sungguh menyakitkan. Selama sepuluh hari itu tak satu orangpun mau mendengarkan ajakan beliau. Para pembesar itu tidak hanya menolak ajakan Rasulullah dengan kasar namun bahkan memerintahkan para preman dan budak untuk melempari beliau dengan batu hingga mengakibatkan luka-luka di kedua kaki beliau. Zaid berusaha melindungi tetapi kewalahan dan malah terluka di kepalanya.

Orang-orang biadab tersebut terus mengejar Rasulullah hingga mereka berdua sampai di sebuah kebun anggur milik Uqbah bin Rabi’ah. Ditempat ini barulah mereka berhenti dan membiarkan Rasulullah berlindung. Betapa sedih dan kecewanya Rasulullah hingga beliau akhirnya berdoa, mengadukan perasaan dan kegundahan hati beliau sebagai berikut ini :

Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku,

Dan sedikitnya kemampuanku,
Serta kehinaanku dihadapan manusia.

Wahai Sebaik-baik pemberi kasih sayang,
Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.

Kepada siapakah Engkau serahkan diriku,
Kepada orang yang jauh yang menggangguku,
Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku,

Asalkan Engkau tidak marah padaku maka tiadalah keberatan bagiku,
Akan tetapi kemurahan-Mu jauh lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi seluruh kegelapan,

Dan yang akan memberikan kebaikan segala urusan dunia dan akhirat,
Untuk melepaskan aku dari Marah-Mu,
Atau menghilangkan Murka-Mu dariku.

Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridloan-Mu,
Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.

Begitu khusuknya beliau berdoa hingga tidak menyadari bahwa ternyata dua anak Rabi’ah memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah. Tampak jelas bahwa Sang Khalik sangat tersentuh dengan doa khusuk hamba-Nya yang sedang berduka tersebut hingga Ia kemudian berkenan menggerakkan hati si pemilik kebun untuk menyuruh pelayannya yang bernama Addas, seorang pemeluk Nasrani yang taat, agar mengambilkan buah anggur untuk diberikan kepada Rasulullah dan Zaid.

Rasulullahpun mengulurkan tangannya seraya mengucapkan : “ Bismillahirohmanirohim”.

Mendengar itu Addas bertanya: “ Demi Allah, kata-kata itu tidak pernah diucapkan oleh penduduk daerah ini”. Maka terjadilah percakapan antara Rasulullah dengan Addas. Akhirnya Rasulullah menerangkan bahwa beliau adalah utusan Allah, sama dengan utusan-utusan yang dulu pernah dikirim-Nya. Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah, lalu mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki Rasulullah hingga Rasulullah terharu dibuatnya.

Beliau teringat pada janji Allah bahwa Ia akan selalu melindunginya. Tetapi bentuk perlindungan itu bukan berarti beliau bakal bebas dari hinaan dan cacian sebagaimana juga rasul-rasul lain. Namun perlindungan itu dari  segala bentuk kejahatan seperti pengaruh hipnotis, makar dan pembunuhan yang beresiko menggagalkan perkembangan Islam. Hinaan dan cacian memang membuat beliau sedih namun Allah swt telah memberinya jalan untuk mengatasi hal tersebut,yaitu dengan shalat dan doa.

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat) dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.(QS.Al-Hijr(15):97-99).

Namun demikian Allah swt ternyata tetap mengutus malaikat Jibril untuk menemui beliau, “ Sesungguhnya Allah mendengar perkataan kaummu terhadapmu dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu”.

Kemudian malaikat gunungpun datang dan berseru : “ Wahai Muhammad ! Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka”.

Aku bahkan menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukannya  dengan sesuatupun”, itulah jawaban Rasulullah. Betapa mulianya beliau. Tak tampak kebencian dan keinginan balas dendam terhadap kaum yang telah berbuat keji kepada beliau.

Selanjutnya dalam perjalanan menuju Mekah, Rasulullah mampir terlebih dahulu disuatu tempat. Ditempat ini beliau mendirikan shalat dan membaca Al-Quranul Karim. Ketika itulah sekumpulan jin mendengar ayat-ayat Allah dan kemudian merekapun beriman.

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan “.(QS.Al-Ahqaf(46):29).

Rasulullah sempat mengalami kesulitan untuk masuk kembali ke Mekah. Baru setelah mendapat jaminan perlindungan dari Muth’am bin Adi, Rasulullah dapat memasuki kembali kota dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan itu dengan aman.

Tiba di Mekah, tanpa mengenal lelah Rasulullah kembali berdakwah mengajak kaum Quraisy untuk menyembah hanya kepada Allah.  Namun mereka menjawab bahwa bila mereka mengikuti Rasullah mereka khawatir akan diusir dari Mekah.

“ Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.(QS.Al-Qashash(28):57).

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS.Ali Imran(3):31-32).

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 19 September 2010.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers