Feeds:
Posts
Comments

Pada tahun ke 4 Hijriyah, Rasulullah mengabulkan permintaan Amir bin Malik, seorang pemimpin bani Amir, agar mengirimkan utusan ke Najd untuk mendakwahi kaumnya. Mulanya Rasululah ragu : Aku khawatir penduduk Najd akan menyerang mereka”. Namun Amir meyakinkan : “ Aku yang akan melindungi mereka dan menjamin mereka. Biarlah mereka mengajak kepada agamamu”. Maka Rasulullahpun memberangkatkan 70 orang sahabat ke negri tersebut.

Setiba di sebuah desa bernama Bi’ru Ma’unah, salah seorang utusan menemui Amir bin Thufail, pemimpin Najd, untuk menyerahkan surat dari Rasulullah. Namun utusan tersebut langsung dibunuh, bahkan tanpa membaca surat yang dibawanya. Selanjutnya Amir mengajak warganya agar menghabisi seluruh utusan. Mereka menolak karena tidak ingin mengkhianati perjanjian Amir bin Malik dengan Rasulullah.  Amir bin Thufail yang memang dikenal kejam tersebut tidak putus asa. Ia mencari dukungan kabilah lain. Keinginannya tercapai. Maka dengan bantuan beberapa kabilah yang menjadi sekutunya, ke 69 dai tersebut dibantai beramai-ramai.

Beruntung Amir bin Umaiyyah, satu diantara para dai itu berhasil meloloskan diri dan kembali ke Madinah. Tetapi ditengah perjalanan, Amir bertemu dengan dua orang yang disangkanya dari bani Amir dan sedang mengejarnya. Maka iapun membunuhnya. Setiba di Madinah ia segera menceritakan apa yang terjadi pada diri para sahabat.

Betapa berdukanya Rasulullah dan para sahabat mendengar berita buruk tersebut. Belum juga genap setahun ketika 10 orang sahabat mengalami hal yang sama. Saat itu mereka diserang, sebagian dibunuh sebagian lagi dijual dan dijadikan budak oleh musuh.

( Lihat : http://vienmuhadi.com/2011/01/14/khubaib-bin-adi-mujahid-yang-syahid-di-tiang-salib/)

Maka demi menghargai jerih payah mereka, selama satu bulan penuh, Rasulullah membacakan doa qunut pada setiap shalat subuh berjamaah yang dilakukan bersama para sahabat. Beliau memohon agar Allah swt membalas perbuatan terkutuk itu dengan balasan yang setimpal.

Sebaliknya, setelah diusut, dua orang yang dibunuh Amir Umaiyyah di perjalanan menuju Madinah, ternyata bukan dari bani Amir. Melainkan orang dari bani Kilab yang telah mendapat jaminan keamanan dari Rasulullah.

“ Aku harus membayat diyat kedua orang tersebut”, begitu Rasulullah berujar, menyesal.

Bagi kabilah-kabilah Arab, persekutuan, perjanjian dan jaminan keselamatan antar kabilah adalah hal yang umum terjadi. Ini adalah kebiasaan nenek moyang yang telah lama dipegang. Bagi mereka, ini adalah harga diri kabilah. Itu sebabnya mereka sangat menghargai dan menghormati perjanjian seperti itu.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”.(QS.Al-Baqarah(2):178).

Sebelum Islam datang, barang siapa melanggar perjanjian maka balasnya adalah kematian. Namun sejak datangnya Islam, Allah swt memberi keringanan, yaitu membayar diyat bagi pihak yang membunuh tanpa sengaja atau yang dimaafkan oleh keluarga yang dibunuh. Dan perbuatan memaafkan adalah perbuatan yang amat mulia.

Sayangnya, ketika itu keadaan keuangan pihak Islam sedang dalam kesulitan. Sementara orang-orang Yahudi yang dikenal kaya raya itu terikat perjanjian dengan Rasulullah sebagaimana tertuang dalam piagam Madinah. Itu sebabnya Rasulullah mendatangi Yahudi bani Nadhir untuk meminta bantuan keuangan dalam rangka membayar diyat kepada keluarga bani Kilab.

“ Kami akan melakukan apa yang engkau inginkan, wahai Abul Qashim”, janji pemuka bani Nadhir kepada Rasulullah. Kemudian salah seorang diantara Yahudi itu berbisik kepadanya, Aku akan naik ke bagian atas rumah kemudian menjatuhkan batu besar kepadanya”. Namun salah seorang Yahudi lainnya berkata, Janganlah kalian melakukannya ! Demi Allah, dia pasti akan diberi tahu tentang apa yang kalian rencanakan. Sesungguhnya perbuatan itu merupakan pelanggaran terhadap perjanjian antara kita dan dia « ..

Belum sempat rencana jahat itu terjadi, tiba-tiba Rasulullah meninggalkan tempat, seolah ada suatu keperluan mendadak. Walaupun dengan terheran-heran, para sahabatpun segera mengikuti langkah beliau. «  Engkau berangkat, sedangkan kami tidak menyadari .. ».

Setelah agak jauh, Rasulullah berujar : « Orang-orang Yahudi itu merencanakan pengkhianatan lalu Allah mengabarkan hal itu maka aku segera berangkat ».

Betapa sedih hati Rasulullah. Beliau diutus untuk menegakkan kalimat takwa, Tiada Tuhan yang dipatut disembah selain Allah. Beliau tidak memaksa orang-orang Yahudi itu untuk meninggalkan agama mereka. Beliau hanya menyampaikan pesan Sang Khalik agar mereka menegakkan ajaran Taurat dengan benar, tidak membelok-belokannya. Namun jawaban mereka malah hendak membunuhnya !

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”. (QS.Al-An’am(6):33).

Selanjutnya Rasulullah mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan singkat sebagai berikut : “ Keluarlah  kalian dari negriku karena kalian telah merencanakan pengkhianatan. Aku beri tempo sepuluh hari. Kalau setelah itu masih ada yang terlihat akan kupenggal batang lehernya ».

Maka dengan penuh ketakutan orang-orang Yahudi tersebut bersiap-siap meninggalkan rumah. Namun, Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka munafik Madinah yang selalu berbuat keonaran, mengirim pesan bahwa mereka tidak perlu menuruti perintah Rasulullah. Ia dan dua ribu tentaranya akan melindungi mereka. Akhirnya orang-orang Yahudi tersebut tetap bertahan di benteng-benteng mereka sambil mempersenjatai diri dengan panah dan batu.

Sepuluh hari kemudian, Rasulullah menepati janjinya. Beliau mengirim para sahabat untuk memerangi orang-orang yang dari dulu selalu menentang perintah. Tampaknya bisikan syaitan untuk tidak memperdulikan ayat-ayat Allah lebih kuat dari bisikan untuk kembali ke jalan yang benar.

Berkali-kali sejarah mencatat betapa orang-orang Yahudi selalu menjadi duri dan onak dalam suatu masyarakat. Berapa banyak nabi dan Rasul yang mereka nistakan dan bunuh, hanya karena mengajak mereka untuk bertobat. Orang-orang Yahudi memang keras kepala. Kita lihat saat ini, ketika Yahudi memegang kendali pemerintahan di Palestina, betapa tidak adilnya mereka terhadap rakyatnya. Keberpihakkan terhadap kaumnya sendiri begitu terlihat kental. Tingkat kesejahteraan antara penduduk Yahudi dan penduduk lainnya, terutama Muslim, seperti langit dan bumi. Perasaan bahwa mereka adalah bangsa yang superior tampaknya tidak bisa ditanggalkan begitu saja.. Padahal di sisi Allah, perbedaan antar hamba hanya terletak pada ketakwaannya. Bukan bangsanya, bukan kulitnya, bukan hartanya, bukan kedudukannya.

Akhirnya setelah dikepung, para sahabat lalu membabat habis semua kebun dan ladang kurma milik mereka. Sementara janji si Munafikun tidak kunjung tiba. Tampak bahwa Allah melemahkan keinginan orang yang membenci hukum-hukum-Nya.

»« Hai Muhammad, kamu dulu melarang kerusakan dan mencela orang yang melakukannya. Mengapa sekarang kamu membabat dan membakar habis ladang kurma kami ? protes Yahudi.

« Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik ».(QS.Al-Hasyr(59) :5).

Itulah jawaban Allah swt, Sang Khalik. Perbuatan mereka sudah keterlaluan. Tampaknya Allah sudah tidak ingin lagi memberi mereka tenggang waktu. Akhirnya orang-orang Yahudi bani Nadhir menyerah dan meninggalkan kota. Kalian boleh membawa harta yang dapat dibawa oleh unta kecuali senjata”, ujar Rasulullah.

Ibnu Hisyam menceritakan, “ Sebagian mereka ada yang mencopot peralatan rumah mereka untuk dibawa keluar Madinah. Mereka mengungsi antara Khaibar dan Syam. Diantara orang-orang Yahudi itu hanya ada dua orang yang masuk Islam, yaitu Yamin bin Umair bin Ka’ab, anak paman Amr bin Jihasy dan Abu Sa’ad bin Wahab. Kedua orang ini kemudian mendapatkan kembali hartanya”.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.(QS.Al-Hasyr(59) :7).

Demikianlah Rasulullah membagi harta rampasan orang-orang Yahudi Nadhir yang terusir karena kedurhakaan mereka.

(Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 27 Januari 2011.

Vien AM.

Dakwah kepada Ahli Kitab dalam rangka memurnikan penyembahan, yaitu menyembah hanya kepada  Allah Yang Esa tidak lebih ringan dari pada dakwah kepada kaum Musyrikin. Sungguh berat perjuangan Rasulullah. Hanya berkat pertolongan Allah swt jua Rasulullah bisa tetap bersabar terhadap hinaan, cemoohan, kebencian hingga rasa permusuhan yang mendalam dari orang-orang Nasrani dan Yahudi Madinah yang notabene sebenarnya telah berada di bawah kekuasaan Islam. Karena nyatanya mereka tetap enggan untuk tunduk terhadap hukum dan keputusan Rasulullah. Padahal mereka telah terikat dalam Piagam Madinah yang disusun beliau. Tampak bahwa mereka benar-benar keras kepala.

Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui”.(QS.Ali Imran(3):75).

Mereka merasa bahwa kedudukan mereka lebih tinggi dari kaum Muslimin. Bahkan ada diantara mereka yang beranggapan bahwa tidak ada dosa bagi mereka bila mereka tidak ingin mengembalikan apa-apa yang mereka pinjam dari Muslimin.

Orang-orang ini juga suka berbohong tentang isi kitab suci mereka. Secara sengaja mereka memelintir ayat-ayat dan memutar-mutar maknanya hingga pas dan sesuai dengan apa yang diinginkan mereka. Hal ini terjadi karena Rasulullah memang memberi kebebasan kepada Ahli Kitab untuk menerapkan sendiri hukum agama mereka. Inilah bukti nyata betapa tingginya toleransi Islam terhadap pemeluk agama lain.

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”.(QS.Ali Imran(3):78).

Sebagai seorang utusan Allah sekaligus pemimpin yang baik, Muhammad saw selalu menyediakan waktu untuk berkumpul, berbincang dan bertukar pendapat dengan seluruh warganya. Baik itu kaum Muslimin  maupun bukan.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)”. (QS.Al-Maidah(5):18).

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan Nu’man bin Qushay, Bahr bin ‘Umar dan Syasy bin Adi, yang suatu hari mendatangi Rasulullah dan berbincang-bincang. Rasul kemudian mengajak mereka untuk mengesakan Allah dan memperingatkan mereka dari siksaan-Nya. Merekapun berkata, “ Hai Muhammad, kau tidak perlu menakut-nakuti kami. Demi Allah, kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya”. (HR. Ibnu Ishaq).

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari`at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS.Al-Maidah(5):19).

Ibnu ‘Abbas menuturkan bahwa suatu saat Rasulullah berdakwah kepada orang-orang Yahudi agar mereka memeluk Islam. Namun mereka menolak. Dalam kesempatan itu Mu’adz bin Jabal dan Sa’ad bin ‘Ubadah, dua sahabat Anshar, berkata kepada mereka, : “ Wahai Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Karena zaman dahulu kamu pernah menjelaskan sifat-sifat beliau sebelum diutus menjadi Rasul, dan itu ternyata sesuai dengan Muhammad”. Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin Yahudza berkata , “ Kami tidak pernah menjelaskan seperti apa yang kamu jelaskan itu. Allah tidak menurunkan kitab lagi setelah Taurat dan tidak pernah mengutus nabi lagi setelah Musa.” (HR. Ibnu Ishaq).

Disamping penolakan yang dilontarkan secara terang-terangan, tidak jarang pula mereka menunjukkan ketaatan. Namun sayangnya, ketaatan tersebut hanyalah ketaatan palsu. Di siang hari mereka berpura-pura percaya kepada apa yang dikatakan Rasulullah. Tetapi malamnya mereka kembali mengingkarinya atau menyampaikannya kepada orang lain namun setelah di putar balikkan. Tujuannya tak lain tak bukan yaitu agar orang-orang yang tadinya telah beriman menjadi ragu, bimbang dan akhirnya murtad !

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)”.(QS.Ali Imran (3):72).

Namun demikian Rasulullah tetap menahan diri. Dengan penuh kesabaran, layaknya seorang bapak terhadap anak-anaknya, beliau terus mengajak agar Ahli Kitab menyadari kekhilafan dan kesalahan mereka.

Ibnu ‘Abbas berkata, “ Suatu hari para pendeta Yahudi dan Nasrani Najran berkumpul dihadapan Rasulullah. Beliau lalu mengajak mereka untuk memeluk Islam. Abu Rafi Quraidhi berkata, “ Hai, Muhammad, apakah kau ingin agar kami menyembahmu seperti kaum Nasrani menyembah Isa?”. “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan itu”, jawab Rasul. Kemudian turun kedua ayat ini” (HR.Ibnu Ishaq dan Baihaqi).

Ayat yang dimaksud hadits adalah ayat 79 dan 80 surat Ali Imran berikut :

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”

“Katakanlah ( Muhammad) : “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”.(QS.Ali Imran(3):84).

Tidak semua Ahli Kitab menolak ajakan Rasulullah untuk ber-Islam. Salman Al-Farisi, sahabat kelahiran Isfahan di Persia adalah salah satu contohnya. ( click: http://vienmuhadi.com/2009/01/19/perjuangan-salman-al-farisiy-dalam-rangka-menjemput-hidayah/ ). Bahkan bagi orang-orang yang dibukakan pintu hatinya ini Allah swt memuliakannya dengan turunnya ayat berikut :

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”.(QS.Al-Maidah(5):83).

Ironisnya, ada juga sebagian Ahli Kitab yang mengakui kebenaran Islam, bahkan merasa bahwa merekapun Islam namun tetap tidak mau menyatakan dan mempratekkannya. Salah satunya adalah pada kewajiban haji. Kewajiban ini sebenarnya telah ada sejak nabi Ibrahim diutus menjadi Rasul. Dan terus berlaku bagi pemeluk Nasrani dan Yahudi yang diwasiatkan melalui nabi Isa as dan Musa as.

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS.Ali Imran(3):97).

Ikramah berkata, Saat turun ayat 85 surat Ali Imran, kaum Yahudi menjawab, “ Kami juga termasuk golongan Muslim”. Rasulullahpun bersabda, “ Sesungguhnya Allah mewajibkan orang Islam melaksanakan ibadah haji”. Kaum Yahudi menolak dan berkata, “ Kami tidak tidak wajib beribadah haji”. Atas penolakan mereka, Allahpun menurunkan ayat ini”. (HR. Sa’id bin Manshur).

Penolakan Ahli Kitab terhadap dakwah Rasulullah ini sebenarnya telah ada sejak Rasulullah masih di Mekah. Ketika itu orang-orang Musrik Mekkah mengadukan tentang Rasulullah kepada orang Yahudi yang datang ke Mekah. Orang-orang ini merasa lebih baik dari pada Rasulullah. Maka dengan serta merta kedua orang Yahudi ini mengatakan bahwa orang Musrik Mekah memang lebih baik dan benar daripada Muhammad saw. Padahal mereka beriman kepada berhala-berhala ( Jibt dan Thaghut).

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya”. (QS.An-Nisa(4):51).

Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan perkataan orang-orang Quraisy kala Ka’ab bin Asyraf dan Hayy bin Akhtab, dua tokoh Yahudi, yang datang ke Mekah. “Apakah kalian tidak melihat orang yang berpura-pura sabar dan terputus dari kaumnya dan menganggapnya lebih baik daripada kami? Padahal kami menerima orang-orang yang beribadah haji, menjadi pelayan Ka’bah dan memberi mereka minum”. Mereka berduapun berkata, “ Ya, kalian lebih baik daripadanya ( Muhammad)”. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Hatim).

Hingga akhir hayatnya Rasulullah saw tidak pernah putus asa mengajak Ahli Kitab agar kembali ke jalan yang benar. Ayat demi ayat yang turun beliau sampaikan dengan tegas. Isa as adalah manusia biasa seperti juga para nabi yang diutus-Nya. Kelebihan dan segala macam mukjizat yang diberikan Allah kepada para Rasul adalah dalam rangka men-Agungkan-Nya, untuk menunjukkan betapa hebat dan mulianya Sang Khalik. Tiada yang tidak mungkin bagi Allah swt.

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai `Isa putra Maryam, ingatlah ni`mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”(QS.Al-Maidah(5):110).

Ayat ini menerangkan dengan jelas bahwa kelebihan dan kemampuan Isa as adalah atas izin Allah swt. Rasul ke 24 yang dinamakan Yesus oleh pemeluknya ini adalah putra Maryam bin Imran. Seorang perempuan sholehah yang diberi kepercayaan oleh Sang Khalik untuk mengandung tanpa sentuhan seorangpun lelaki. Perempuan yang disebut Rasulullah sebagai salah satu perempuan calon penghuni surga inilah yang  melahirkan, merawat dan mendidik Isa hingga dewasa.

( baca surat Maryam atau click : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

Semua manusia adalah sama disisi-Nya kecuali tingkatan ketakwaannya.Tingkat ketakwaan para nabi inilah yang menjadikan mereka lebih mulia dari manusia biasa. Adalah kebencian dan kedengkian orang-orang Yahudi yang menjadikan mereka ingin membunuh para nabi, tak terkecuali Isa as. Namun dengan izin Allah swt nabi ini selamat dari kekejaman penyaliban para pemuka Yahudi di Yerusalem. Berkat ‘tipu daya’ Sang Khalik yang diluar jangkauan pikiran manusia, diserupakannya wajah salah seorang pengikut Nasrani yang berkhianat dengan wajah nabi Isa as. Jadi sebenarnya yang disalib pemuka Yahudi itu bukanlah Isa as. Hukuman salib dalam masyarakat Yahudi ( Romawi) ketika itu adalah suatu hal yang biasa.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.(QS.Ali Imran (3):54-55).

Ironisnya, saat ini pemeluk Nasrani meyakini bahwa peristiwa penyaliban yang terjadi 2000 tahun silam itu adalah bentuk pengurbanan Tuhan mereka untuk membebaskan kesalahan dan dosa-dosa orang-orang yang mau menjadikan Yesus sebagai Tuhan mereka.   

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS.Al-Maidah(5):17).

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi .(QS.Ali Imran(3):85).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 22 Januari 2011.

Vien AM.

Meski Madinah dikatakan telah berada di bawah cahaya Islam dan Rasulpun berada di kota tersebut, namun tidak berarti bahwa dakwah dan tugas kerasulan usai sudah. Ayat-ayat suci Al-Quran yang selama kurang lebih 12 tahun turun di Mekkah tetap turun di kota yang dulunya bernama Yatsrib ini.

Ayat-ayat yang turun di kota ini biasa disebut dengan ayat-ayat Madaniyah. Meski sebenarnya tidak semua ayat Madaniyah turun di kota ini, melainkan bisa juga di kota Mekah. Karena semua ayat yang turun setelah hijrah meski turunnya di Mekah, tetap disebut ayat Madaniyah. Ayat-ayat ini biasanya panjang-panjang dan berisi tentang hukum. Kebalikan dari ayat Makkiyah, ayat yang turun di Mekkah sebelum hijrah, yang biasanya pendek-pendek dan berisi tentang surga dan neraka.

Bila ketika di Mekkah Rasulullah harus lebih banyak menghadapi kaum Musrykin maka di Madinah ini para ahli kitablah yang menjadi tantangan berat. Disamping juga orang-orang Munafik yang tampaknya mau memeluk Islam karena terpaksa, demi melanggengkan kekuasaannya.

Dalam Al-Quran, kata Ahli kitab adalah ditujukan bagi orang-orang yang sebelum datangnya Islam telah pernah menerima kitab suci dari Sang Khalik yaitu Al-Injil dan At-Taurat. Itulah orang-orang Nasrani dan Yahudi. Merekalah sebenarnya yang menjadi pemicu mengapa penduduk Madinah berbondong-bondong mau memeluk Islam dan menerima kehadiran Rasul di tengah-tengah mereka.

Dulu, sebelum datangnya Islam, orang-orang suku Aus dan Khahraj selain sering berperang melawan orang-orang Yahudi juga saling berperang diantara keduanya. Lalu dengan congkaknya, orang-orang Yahudi sering berkata bahwa akan datang seorang nabi, utusan Allah yang akan memutuskan perkara dan perselisihan diantara mereka. Mereka bahkan mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mau mengakui utusan Allah ini akan diazab sebagaimana Allah mengazab orang-orang yang durhaka di masa lalu.

Namun nyatanya ketika utusan itu datang justru sebagian besar orang-orang Yahudi dan Nasrani inilah yang mendustakannya. Mereka bukan saja enggan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah bahkan merekapun menganggap bahwa Muhammad dan apa yang dibawanya adalah sihir !

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata“. (QS.Ash-Shaaf(61):6).

Adalah sebuah mukjizat bahwa Rasulullah dapat hijrah dan diterima penduduk Madinah pada umumnya. Bahkan menjadikan Rasulullah pemimpin pula ! Dibawah kepimpinan beliau inilah  sebuah piagam kota yang isinya mengatur berbagai hal disusun. Itulah Piagam Madinah. Padahal orang-orang Yahudi yang amat membenci dan memusuhi Islam sebenarnya telah mendiami kota ini jauh sebelum hijrahnya Rasulullah dan para sahabat. Allah, Ya … Dialah Yang Maha Memiliki Rencana.

Al-Barra’ menjelaskan bahwa suatu hari, Rasulullah berpapasan dengan orang-orang Yahudi. Mereka membawa seseorang dari kalangan mereka yang dihukum jemur dan cambuk. Beliaupun bertanya : Apakah seperti ini hukuman bagi pezina di dalam Kitab kalian?” “Ya” jawab mereka. Lalu Rasul memanggil seorang pendeta mereka dan bertanya, “ Demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa. Apakah benar-benar seperti ini hukuman  bagi pezina di dalam Kitab kalian?” Pendeta itu menjawab, “ Sesungguhnya tidak seperti itu. Jika kau tadi tidak bersumpah terlebih dahulu aku takkan menjelaskan yang sebenarnya. Di dalam Kitab kami, hukuman zina adalah rajam. Namun karena banyak dari kalangan pembesar melakukannya, kamipun membiarkannya. Jika pelakunya adalah dari kalangan rakyat kami menerapkan hukuman itu atasnya. Karena itu, berdasarkan hasil musyawarah, kami menerapkan atas kalangan pembesar dan rakyat, hukuman jemur dan cambuk”. Rasulpun bersabda, “ Ya Allah, aku adalah orang pertama yang menghidupkan kembali perintah-Mu setelah dihapus mereka”. Rasulpun melakukan perajaman atas orang Yahudi yang berzina itu. Kemudian turun ayat 41 surat Al-Maidah.(HR. Ahmad dan Muslim).

“ … … … dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah”. … … … ”.(QS.Al-Maidah(5):41).

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa pada zaman jahiliyah, bani Nadhir lebih mulia dari pada bani Quraizhah. Jika seseorang dari Quraidzah membunuh  seseorang dari  bani Nadhir, baginya qishash ( balasannya dibunuh juga). Namun bila sebaliknya, hukumannya cukup membayar tebusan seratus wasaq tamar. Saat Muhammad telah menjadi Rasulullah terjadi pembunuhan di antara mereka, yaitu seorang lelaki bani Nadhir membunuh seorang lelaki dari bani Quraizhah. Saat hukuman akan ditegakkan diantara mereka ada yang berkata, “ Diantara kita ada utusan Allah. Mari kita minta fatwa kepada Muhammad”. Lalu turun ayat 42 surat Al-Maidah. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Jarir).

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”.  (QS.Al-Maidah(5):42).

Demikian pula halnya dengan pengikut Nasrani, umat nabi Isa yang menuhankan sang utusan. Nabi Allah yang oleh umatnya disebut Yesus ini kadang dianggap sebagai anak Tuhan kadang dianggap sebagai Tuhan itu sendiri. Beliau diutus kepada kaum Yahudi pada awal abad Masehi, setelah orang-orang Yahudi lama tenggelam dalam kesesatan.

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”.(QS.Al-Maidah(5):46).

Tanpa mengenal rasa lelah, bosan apalagi takut, berulang kali Rasulullah menyampaikan ayat-ayat Al-Quran yang khusus ditujukan kepada mereka itu. Rasulullah sama sekali tidak memaksa mereka untuk berpindah agama dan mengikuti syariat Islam. Karena yang dikehendaki-Nya adalah kembali ke jalan yang benar, mendudukkan hukum Taurat dan Injil sesuai aslinya sekaligus mengamalkannya.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.(QS.Al-Maidah(5):47).

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

As-Suddi menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan para sahabat Salman Al-Farisi. Mereka masih memeluk agama Nasrani dan belum sempat memeluk agama yang dibawa Rasulullah. Mereka sungguh beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, meski tetap memeluk agama semula, ibadah mereka tetap diterima dan mendapat pahala dari Allah swt.(HR.Ibnu Abi Hatim dan Al-Adni).

Tiap umat memiliki aturan dan syariat masing-masing. Kita disuruh berlomba dalam berbuat kebaikan dengan dasar keimanan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada Allah Yang Satu, Allah swt, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tiada satupun sekutu dan mitra bagi-Nya.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS.Al-Maidah(5):48).

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” .(5):49-50)

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa kedua ayat di atas turun berkenaan dengan Ka’ab bin Usaid, Abdullah bin Shuriya dan Syasy bin Qais yang suatu saat mendatangi Rasulullah dan berkata, “ Muhammad sesungguhnya kau mengetahui bahwa kami adalah para pendeta yang terhormat dan dihargai. Jika kami mengikuti engkau, orang-orang Yahudi juga akan mengikuti dan tidak akan menentang kami. Sesungguhnya antara kami dan kaum kami telah terjadi perbedaan pendapat. Karena itu, sekarang kami minta keputusan darimu atas perselisihan yang terjadi. Berilah kemenangan kepada kami dan kami akan beriman kepadamu. Namun rasul enggan melakukan itu.(HR.Ibnu Ishaq).

Dari hadits-hadits diatas dapat dilihat bahwa kaum Nasrani, orang-orang Yahudi bahkan para pendetanya itu sebenarnya percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sayangnya mereka hanya mau tunduk dan mematuhi beliau bila mereka mendapat keuntungan.

Melalui surat Al-Fatihah, sehari 17 kali kita, umat Islam, diwajibkan memohon kepada Allah swt agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Jalan yang lurus tersebut bukan jalan yang ditempuh orang-orang yang sesat yaitu jalannya kaum Nasrani yang tersesat karena menganggap Isa as adalah Tuhan. Dan bukan juga jalannya orang-orang Yahudi yang dimurkai karena mereka sengaja tidak mau menjalankan isi Taurat dan bahkan menyembunyikannya.

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”. (QS.Ali Imran(3):71).

(Bersambung).

Pada tahun ke 3 hijriyah, beberapa utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah mendatangi Rasulullah saw. Mereka mengabarkan bahwa mereka telah mendengar tentang Islam . Untuk itu mereka  meminta Rasulullah agar mengirim utusan supaya mereka bisa mempelajari Islam dengan lebih baik lagi.

Maka Rasulullahpun mengutus 10 sahabat untuk memenuhi permintaan tersebut. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai amir mereka.  Namun di suatu tempat di antara ‘Usfan dan Mekkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari bani Lihyan.  Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut.

Sebenarnya Ashim dan kawan-kawan berhasil mengelabui pasukan pemanah Musryik tersebut. Namun Allah swt berkehendak lain. Biji-biji kurma Madinah, bekal yang mereka bawa dari Madinah dan  tercecer di sepanjang perjalanan, memberi petunjuk keberadaan rombongan Ashim. Akhirnya ke sepuluh sahabat itupun terkejar.

“ Kami berjanji tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian jika kalian menyerah”, teriak salah seorang Musyr ik  yang mengepung mereka.

“ Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu”, balas Ashim tegar.

Maka rombongan Musyrik itupun menyerang dan berhasil membunuh Ashim dan 6 sahabat lain hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan seorang sahabat. Orang-orang musyrik itu kemudian menangkap dan mengikat ketiganya.

Namun sahabat yang tidak diketahui namanya itu kemudian memberontak sambil berteriak : “ Ini adalah pengkhianatan pertama !” serunya sambil berusaha melawan. Maka syahidlah ia. Selanjutnya Khubaib dan Zaid dibawa ke Mekah dan dijual sebagai budak.

Sementara itu, bani al-Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat terhadap Khubaib mendengar berita tertangkapnya Khubaib. Rupanya nama Khubaib  telah mereka hafal luar kepala karena Khubaiblah yang membunuh  Harits bin Amir, seorang pemuka Mekah, pada perang Badar. Maka dengan penuh antusias Khubaibpun mereka beli.

Maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar  yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan. Hingga suatu hari salah seorang putri keluarga tersebut berteriak terkejut , memberitakan bahwa budak sekaligus tawanan mereka sedang santai dan tenang-tenang memakan buah anggur. Padahal buah tersebut sedang tidak musim di Mekah dan Khubaibpun diikat tangannya dengan rantai besi!

“ … … … . Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.(QS.Ali Imran(3):37).

Ya itulah yang terjadi pada diri Khubaib, hamba Allah yang senantiasa bertasbih pagi dan petang, mendirikan shalat di malam hari dan berpuasa di setiap siangnya. Khubaib tidak pernah putus asa dari mengharap pertolongan dan perlindungan Sang Khalik.

Mengetahui hal ini, dengan tujuan untuk menakuti-nakuti, keluarga al-Harits segera menceritakan bahwa saudara sekaligus sahabat Khuabib, Zaid yang juga dibeli keluarga Mekah lainnya, telah dieksekusi. Ia telah dibunuh dengan cara ditusuk tombak dari lubang dubur hingga tembus ke dadanya ! Astaghfirullah halladzim ..

Namun berita kejam nan sadis ini ternyata tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanannya.  Sebaliknya hal ini justru membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Akhirnya keluarga al-Haritspun putus asa. Mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanannya yang tegar itu.

Namun sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib memohon agar diperbolehkan melakukan shalat terlebih dahulu. Maka shalatlah Khubaib 2 rakaat. Usai shalat, Khubaib menoleh kepada para algojo yang mengawasinya sambil berkata : “Seandainya bukan karena dikira takut mati, maka aku akan menambah jumlah rakaat shalatku”. Inilah shalat sunnah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian.

Kemudian Khubaib melantunkan sebuah puisi :

Mati bagiku tak menjadi masalah

Asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah

Dengan jalan apapun kematian itu terjadi

Asalkankerinduan kepada-Nya terpenuhi

Kuberserah menyerah kepada-Nya

Sesuai dengan taqdir dan kehendak-Nya

Setelah itu Khubaibpun disalib pada sebuah tiang. Lalu tanpa sedikitpun rasa belas kasih pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah.  Dalam keadaan demikian,   seorang pemuka Quraisy menghampirinya dan berkata : “ Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat walafiat bersama keluargamu?” .

“ Demi Allah, tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri !”, jawabnya sontak, seolah tersengat aliran listrik ribuan watt.  Sebuah jawaban yang persis dikatakan Zaid menjelang kematiannya.

“ Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad “, itu yang dikatakan Abu Sufyan suatu hari mengenai para sahabat.

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojopun menghabisi  Khubaib. Namun sebelumnya, Khubaib sempat berucap kepada Tuhannya: “

“Ya Allah kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami “.

Setelah itu orang-orang  Musryik meninggalkan tubuh Khubaib dalam keadaan tetap tersalib di tiangnya. Sementara  burung-burung buas pemangsa yang sejak tadi telah berputar-putar menanti mangsanya tiba-tiba juga meninggalkannya. Rupanya Sang Khalik tidak ridho hamba-Nya yang taat itu menjadi mangsa burung-burung.

Demikian pula doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Sang Pemilik dalam keadaan pasrah dan ridho pada ketetapan-Nya. Tampak jelas bahwa Sang Khalik tidak tega menolaknya. Itu sebabnya, Rasulullah yang ketika itu berada di Madinah secara mendadak mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk segera menyusul   ke tempat Khubaib disalib. Padahal ketika itu tak seorangpun orang Madinah yang mengetahui peristiwa nahas tersebut. Allahuakbar ..

Setiba di tempat yang dimaksud, Khubaib telah tiada. Senyum kedamaian tergurat di wajahnya. Dengan menahan kedukaan yang mendalam kedua utusan tadi kemudian melepaskan sang mujahid dari tiang salib kemudian membawa dan memakamkannya di suatu tempat yang hingga detik ini tak seorangpun mengetahuinya.  Sebuah fenomena yang mirip pada apa yang terjadi pada diri nabi Isa as 14 abad sebelumnya. Tak ada sesuatupun yang mustahil bagi-Nya.

“ (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“. (QS.Ali Imran(3):55).

Itulah cara Sang Khalik mengabulkan doa hamba-Nya yang takwa agar dijauhkan dari tangan orang kafir. Karena sebenarnya pemuka kaum Musyrik Mekah telah menyuruh utusan agar mereka dikirimi bagian tubuh Khubaib sebagai bukti bahwa Khubaib telah di-eksekusi ! Allahu Akbar ..

“  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Salam sejahtera wahai mujahid sejati !

Paris, 14 Januari 2011.

Vien AM.

Palermo saat ini adalah kota yang amat padat. Kemacetan terlihat dimana-mana. Seperti juga di Jakarta, ‘pak ogah’ tampaknya sudah membudaya di kota ini. Tanpa bantuan mereka rasanya mustahil mendapatkan tempat parkir. Setelah dorong sana dorong sini akhirya kami dapat memarkir mobil tak jauh dari lokasi yang strategis, yaitu di depan taman luas antara Katedral Palermo, Royal palace dan kapel Palatin.

Ketiga bangunan tua sarat sejarah ini terlihat kotor dan kurang terawat kecuali katedralnya. Katedral ini dibangun pada tahun 1185 M diatas bekas bangunan masjid yang tadinya juga dibangun di bekas basilika ( bangunan umum Romawi) pada abad 9. Hingga saat ini sisa-sisa arsitektur Arab Normandia masih terlihat kental di ketiga bangunan tersebut.

Namun seperti juga umumnya gereja di seluruh dunia, lukisan dan patunglah yang menjadi daya tarik utama. Lukisan dan patung-patung ini adalah lukisan Tuhan mereka, Yesus alias nabi Isa as, para orang suci umat Nasrani seperti Maria, ibunda Yesus dan patung-patung malaikat lengkap dengan sayapnya. Jujur saja, sebenarnya lukisan dan patung-patung tersebut sungguh indah dan mirip sekali dengan manusia betulan. Yang saking miripnya kesannya sering kali menjadi ‘seram’. Yang juga patut disesalkan, mengapa lukisan dan patung yang seringkali terlihat kurang santun karena tidak berpakaian lengkap itu bisa dipajang di dalam tempat ibadah ya … :-(

Setelah puas melihat-lihat bagian luar katedral kami meneruskan perjalanan ke Monreal yang jaraknya tak sampai 10 km dari tempat ini. Sayangnya, ternyata kami tiba di katedral yang lagi-lagi bekas masjid ini persis jam istirahat … :-(  Apa boleh buat .. bersama para turis lain yang juga ‘kecele’ kami terpaksa menanti selama 1.5 jam di bawah hujan yang cukup lebat. Beruntung, di sekitar katedral banyak terdapat restoran. Rupanya tempat ini memang menjadi pusat wisata.

Kami masuk ke sebuah resto special pizza, makanan khas andalan Italia yang terkenal itu. Karena pelayan tidak bisa berbahasa Inggris sementara kamipun tidak bisa berbahasa Italia akhirya dengan bantuan salah seorang tamu yang bisa berbicara Perancis,  kamipun memesan pizza sayuran yang relative aman, daripada salah pesan pizza yang mengandung unsur babi … Walaupun ternyata rasanya ‘nano’nano’ .. J ..

Tepat pukul 14.30 kami telah mengantri didepan katedral. Sepasang patung berhadapan yang sedang membawa pedang menyambut kami di depan pintu masuknya. Patung tersebut terlihat aneh dan seram karena kepalanya tertutup. Sementara di seberang satu lagi sebuah patung terlihat sedang ‘menatap’ kearah para pengunjung. Tiba-tiba saya teringat apa yang diperintahkan Rasulullah kepada para sahabat begitu memasuki Ka’bah pada saat penaklukkan Mekah,yaitu menurunkan patung-patung yang menghiasi dinding-dindingnya. Ka’bah dan juga masjid adalah rumah ibadah. Sang Khalik tidak ridho dengan keberadaan segala patung dan berhala di bait-Nya. Penyembahan hanya murni milik-Nya. Tidak ada satupun sekutu bagi-Nya.

“ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa(4):116).

Itulah inti ajaran Islam, agama milik Allah swt, Tuhan Yang Tunggal, Yang Tiada Beranak dan Diperanakkan, Tuhan semesta Alam yang memiliki langit, bumi dan segala yang ada diantara keduanya. Para nabi sejak nabi Adam as hingga nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Isa as (Yesus) hingga nabi terakhir, Rasulullah Muhammad saw diutus dalam rangka menegakkan penyembahan hanya kepada-Nya, semata.

Namun dalam perjalanannya, ntah mengapa, bisikan syaitan ternyata lebih kuat dan indah dalam penglihatan dan pendengaran orang-orang yang berlebihan dalam mencintai kehidupan dunianya. Tuhan yang satu dirasa kurang memuaskan hingga mereka mencari sesembahan lain.   Mereka berdalih bahwa penyembahan kepada yang selain Allah itu adalah dalam rangka untuk  mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada-Nya!

“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”……. ”.(QS.Az-Zumar(39):3).

Kami terus melangkah masuk ke dalam katedral yang dibangun pada pertengahan abad 12 oleh raja Norman, Wiliam II. Namun demikian pengaruh gaya arsitektur Islam Fatimiyah dan Moor yang ketika itu sedang naik daun tidak dapat dihilangkan begitu saja. Lantai dan dinding mozaik, lekuk dan pilar dengan gambar alam seperti bunga-bungaan dan dedaunan khas arsitektur Islam terlihat menjadi dasar dan latar belakang pemandangan.

Sementara gambar-gambar Yesus dengan ukuran raksasa, bunda  Maria, para malaikat dengan sayapnya, orang-orang suci Nasrani dan rangkaian kejadian yang tertulis dalam kitab Injil terlihat mendominasi dinding dan langit-langit katedral. Dengan warnanya yang kuning keemasan mencolok mata sungguh tidak mungkin bagi para pengunjung untuk menghindarinya.

Dalam hati saya berpikir, “ kalau masjid seperti ini bagaimana bisa konsentrasi ?”. Dalam sebuah hadits yang pernah saya baca, dikatakan bahwa bila masjid diperindah sedemikian rupa dengan warna-warna kuning, itu adalah awal tanda kiamat.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu melarang menghiasi masjid dan memperindahnya, karena yang demikian itu dapat mengganggu shalat seseorang. Dan ketika beliau memerintahkan merehab Masjid Nabawi, beliau berkata, “Lindungilah manusia dari hujan, dan janganlah engkau beri warna merah atau kuning karena akan memfitnah (mengganggu) manusia”[HR.Bukhari].

Kami terus jalan berkeliling sambil mencari-cari bekas letak mihrab, tanpa hasil. Setelah puas kami lalu menuju ke bagian atas katedral melalui tangga sempit berkelok untuk melihat taman yang memang di’declare’ sebagai taman a la Islam.

Sore harinya, kami meneruskan perjalanan ke Catanya melaui Cefalu dan Edna.  Kami tiba di kota terbesar kedua Sisilia ini lewat tengah malam. Anehnya, di tengah remang dan kusamnya kota yang kurang penerangan ini keramaian orang masih terlihat dimana-mana. Sebagian besar muda-mudi yang tampaknya penduduk setempat itu berkumpul di bar-bar yang kami perhatikan banyak sekali bertebaran. Demikian pula esok malamnya. Padahal ini bukan week-end lho .. .

Saking penasarannya, besok malamnya saya tanyakan keanehan tersebut kepada seorang pelayan restoran dimana kami bersantap. Kebetulan sang pelayan parlente yang mengenakan jas hitam rapi itu bisa berbahasa Inggris dengan bagus sekali.

“ Why there are a lot of young people in this late night? Is tomorrow a holiday? I think they are not tourists, do they?”

Ia menjawab bahwa hal tersebut memang telah menjadi tradisi muda-mudi kotanya. Kongkow sambil minum-minum di bar setiap hari walaupun bukan hari libur adalah hal biasa. Dengan sedikit rasa sesal pria setengah baya yang doyan ngobrol ini mengeluh “ Jumlah bar di kota ini sudah kelewatan banyaknya. Ini yang menyebabkan para pelajar selalu berkeliaran siang dan malam”.

“ Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu”.(QS.Al-Maidah(5):91).

Sejarah Catanya ternyata sama kelamnya dengan kebiasaan penduduknya yang doyan minum minuman beralkohol. Kota ini sering dilanda gempa dan tertimpa letusan gunung Etna yang berdiri tak jauh dari kota. Beberapa kali kota ini harus mengalami penataan ulang karena hancur, rata dengan tanah. Itu sebabnya bangunan di Catanya didominasi bangunan berwarna hitam dan putih  yang terbuat dari lava dan berbagai material muntahan gunung.

Ironisnya, hingga detik ini penduduk kota tetap menjadikan orang-orang suci agama mereka sebagai sesembahan. Perayaan yang dilakukan tiap bulan Februari ini menjadi daya tarik tidak saja penduduk lokal namun juga penduduk kota Sisilia dan Italia lainnya.

Taormina, Mesina – 28/10/2010.

Pagi itu kami menyusuri pantai timur Sisilia. Taormina dan Messina adalah kota tujuan terakhir perjananan 5 hari kami selama berada di pulau tersebut. Subhanallah .. letak geografis kota kecil Taormina sungguh menakjubkan. Kota wisata ini berada di atas bukit dengan pemandangan laut dan gunung yang mengelilinginya. Di puncak perbukitan inilah berdiri teater Yunani kuno ‘ Teatro Greco’.  Teater ini diperkirakan dibangun pada masa kekuasaan Romawi pada abad 7 SM diatas  bekas reruntuhan teater Yunani. Arsiktektur Romawi memang banyak dipengaruhi budaya Yunani. Pada masa itu baik kerajaan Romawi maupun Yunani telah menjadikan pertarungan antara manusia (biasanya residivis) dengan binatang buas sebagai tontonan dan hiburan masyarakat.

IMG_4705IMG_4707Teater yunani dengan latar belakang menakjubkan tersebut ternyata telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para seniman dan pelukis di masa lalu. Lukisan tersebut kini dapat kita saksikan di dalam musee Louvre Paris. Namun yang lebih surprising, koleksi berharga tersebut disimpan dan dipajang di bagian koleksi Islam musium  bergengsi tersebut. Divisi Islam ini adalah divisi terbaru yang menjadi bagian dari musium, yang baru dibuka pada September 2012 lalu.

Kekejaman yang dijadikan hiburan ini tiba-tiba mengingatkan saya pada diri nabi Ibrahim as. Yaitu ketika raja yang berkuasa ketika itu memerintahkan para pembantunya agar membakar sang utusan. Ini disebabkan Ibrahim as dituduh telah ‘menganiaya’ Tuhan mereka. Kisah ini diabadikan dalam ayat 58-68 surat Al-Anbiya sebagai berikut :

“ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)” kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”.

Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa`at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”.

Saat ini teater Taormina masih digunakan namun hanya sebagai tempat pertunjukkan musik dan drama. Setelah puas menikmati keindahan alam dari teater ini kamipun melanjutkan perjalanan ke ujung utara pulau yaitu Messina. Waktu kami tidak banyak.

Tujuan utama kami adalah  gereja  Annunziata dei Catalani. Gereja ini ternyata tidak lagi digunakan. Bekas masjid ini dikabarkan sebagai satu diantara sedikit bangunan penting yang bebas dari keganasan gempa 1906. Itu sebabnya saat ini bangunan tidak dipakai dan dipagari dengan pagar besi. Alhamdulillah .. maka dengan demikian kami masih bisa melihat sisa-sisa jejak Islam di kota tua ini.

Esok paginya, setelah berkeliling sebentar melihat Catanya yang tidak sempat kami jelajahi, kamipun terbang meninggalkan Sisilia. Ibrah terpenting yang dapat kami ambil, «  Islam telah datang ke bagian paling selatan Italia untuk memperingatkan bahwa manusia  diperintahkan untuk memurnikan penyembahan, yaitu hanya kepada Allah swt, yang tidak beranak. Namun tampaknya penduduk negri ini terlalu angkuh untuk mengakui kebenaran Islam. Mereka malah lebih memilih mempercayai kitab lain yang jelas-jelas telah dimanipulasi sejak berabad-abad yang lalu … Sayang sekali … »

« Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya ».(QS.Ali Imran(3) :19)

«  Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS. AtTaubah(9):30).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Januari 2011.

Vien AM.

Senin, 24/10/2010, 17.30 waktu Sisilia. Pesawat EasyJet yang kami tumpangi mendarat di bandara  Boccadifalco, Palermo – Sisilia. Setelah mengambil bagasi dan mengambil kunci mobil sewaan kami segera menuju pelataran parkir bandara. Kami sempat agak lama  celingukan mencari tempat ini karena selain tanda pengumuman tidak jelas bertanyapun sulit. Maklum, kami berdua tidak paham bahasa Italia sementara penduduk setempat tidak berbahasa Inggris .. :-(

Namun baru beberapa detik merasa lega setelah menemukan lokasi mobil sewaan kami kembali tersentak kaget. GPS ( Global Positioning System), sang pemandu jalan elektronik yang selama ini setia menemani kemanapun kami pergi ternyata tidak berhasil menangkap signal. Dengan segera kamipun memutuskan untuk menyewa alat canggih tersebut. Tetapi ternyata juga habis ! Terpaksalah dengan bantuan peta kecil seadanya plus GPS HP yang kurang begitu saya kenal, kamipun memulai perjalanan di pulaunya para Mafioso ini.

Jarak dari bandara yang diapit pegunungan kecil berbatu dan pantai laut Tirenia ke pusat kota sekitar 25 km. Melalui jalan tol yang lumayan gelap akhirnya kami sampai juga di hotel dengan selamat ..  Alhamdulillah.

Setelah check in kami keluar lagi untuk mencari makan malam sambil melihat suasana sekitar hotel. Ketika masih di dalam pesawat, suami pernah berkata sepintas bahwa beberapa teman Perancisnya yang keturunan Italia mengatakan bahwa Sisilia walaupun merupakan bagian dari Italia tapi tidak menunjukkan ke-Italian-nya. Namun yang pasti kesan pertama yang  saya tangkap Palermo itu gelap, agak kotor dan lumayan kumuh.

Padahal Ibn Hawqal, seorang ahli geografi kenamaan yang telah berhasil membuat peta bumi menyatakan kekagumannya yang begitu tinggi terhadap kota ini. Ia bahkan berani membandingkannya dengan Baghdad yang ketika itu menjadi pusat daya tarik dunia. Ilmuwan Muslim kelahiran Turki ini mengunjungi Palermo pada tahun 950M dalam rangka lawatannya ke seluruh negri guna memperbaiki peta yang digunakan umum ketika itu.

Dalam buku “ The History of Arabs”  karya Philip Khuri Hitti, Ibn Hawqal yang juga seorang saudagar ini menceritakan bahwa Palermo memiliki istana yang sangat indah di pusat kota. Istana yang berdampingan dengan masjid besar yang juga tak kalah indahnya ini berdiri di atas bekas Katedral Romawi. Di kota ini berdiri tak kurang dari 300 masjid, madrasah ( sekolah), pemandian, taman dll. Ia juga melaporkan adanya universitas bernama Balerm.

Namun tentu saja kami belum dapat membuktikan itu semua karena hari telah larut malam. Rencananya kami baru akan keliling Palermo esok lusa. Besok kami akan mengunjungi beberapa kota yang berada di sebelah barat kota ini.

Palermo, 25/10/2010.

Wuih, kalah Jakarta  .. Muacetnya bukan main. Ternyata kota tua ini padat penduduk. Untuk menuju jalan ke luar kota saja butuh waktu hampir 2 jam ! Itupun setelah menempuh jalan berputar menghindari kemacetan. Akibatnya kunjungan ke Monreal, kota kecil barat daya Palermo yang jaraknya tak lebih dari 10 km dari Palermo itu terpaksa harus di jadwal ulang.

Teater Segesta

Teater Segesta

Kami langsung menuju ke Segesta dan Selinunte yang berada di tengah dan selatan Sisilia. Di kedua kota di atas bukit ini, seperti juga di banyak tempat di Sisilia ini, kami menyaksikan reruntuhan peninggalan Romawi yang dibangun sekitar abad 5 hingga 3 sebelum Masehi, berupa temple (kuil kuno) dan teater Romawi. Kompleks reruntuhan ini amat mirip dengan kompleks reruntuhan yang banyak dijumpai di Roma maupun di Yunani. Sejarah Sisilia memang unik.

Pulau berbentuk menyerupai segi tiga seluas 25.708 km persegi ini terletak di selatan Italia daratan yang bentuknya seperti sepatu boot. Pulau terbesar di laut Mediterania ini terletak  di sebelah timur laut Tunisia di Afrika Utara. Meskipun Sisilia saat ini berada di bawah wilayah kekuasaanItalia, pulau ini memiliki kultur khas yang berbeda dengan wilayah-wilayah Italia lain pada umumnya.

Tampak bahwa pengaruh beberapa peradaban besar seperti Romawi, Byzantium, Islam dan Spanyol yang pernah menguasai Sisilia tidak bisa dihapuskan begitu saja. Pada masa Romawi dan Byzantium inilah kuil-kuil dan teater-teater Romawi dibangun. Kuil yang berdiri di Segesta dan Selinunte dibangun pada abad yang sama yaitu, pada abad 5 SM. Kuil-kuil di  Selinunte adalah kuil Yunani yang dipersembahkan kepada dewa Hera. Sedangkan teater di Segesta dibangun 2 abad setelah itu.

Kuil Selinunte

Kuil Selinunte

Pada masa lalu, kuil Yunani dan Romawi yang hampir selalu dibangun di atas bukit ini adalah tempat ibadah para kaum pagan ( penyembah berhala). Di tempat inilah biasanya diadakan ritual persembahan korban bagi para dewa. Korban pada umumnya adalah remaja perempuan.  Ironisnya,  sejarah ritual ini ternyata sebenarnya berkaca dari kisah penyembelihan nabi Ibrahim as terhadap putranya, Ismail as !

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)”.(QS.An-Nisa(4):49-50).

Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat diatas diturunkan berkenaan dengan kebiasaan kaum Yahudi yang menyuruh anak-anak mereka untuk memimpin ibadah mereka dan mempersembahkan kurban-kurban mereka . Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka tidak mempunyai dosa-dosa. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Fenomena yang kurang lebih sama dengan para Musrykin Mekah sebelum datangnya Islam. Dengan dalih demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik, mereka melakukan semua ini. Karena sebenarnya mereka ini pada dasarnya mengakui Tuhan Semesta Alam Yang Satu yaitu, Allah swt.

… … Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.  … … “. (QS.Az-Zmar(39):3).

Kemudian karena bujukan syaitan dan nafsu ingin menguasai manusia lain, orang-orang ini menciptakan Tuhan-tuhan sendiri sesuai dengan kehendaknya.   Maka jadilah Zeus, Yupiter, Shiwa, Latta, Uzza, Manna dsbnya sebagai tuhan yang mereka sembah. Dewa-dewa ini masing-masing mereka gambarkan memiliki kekuasaannya sendiri-sendiri.

Ironisnya lagi, ternyata penyembahan dan ritual pengurbanan cara barbar ini masih ‘eksis’ hingga detik ini. Bagi penggemar novel-novel karya Dan Brown seperti The Da Vinci Code, The Lost Symbol pasti kata Freemason, Illluminaty dll bukanlah sesuatu yang asing.  Dengan berani penulis kelahiran Amerika Serikat ini membeberkan bahwa organisasi-organisasi elit dunia yang masih mempraktekkan ritual mengerikan ini benar-benar ada di dunia nyata!   Na’udzubillah min dzalik ..

Hal lain yang juga menarik, di Segesta, tak berapa jauh dari teaternya, terpampang sebuah papan keterangan yang menerangkan bahwa di lokasi tersebut dulunya berdiri sebuah  masjid. Masjid tersebut memang kecil namun tetap saja cukup membuat hati senang. Apalagi ketika mengetahui bahwa mihrab masjidnya juga diberi tanda.

Setelah puas melihat kedua kota tersebut, kami kembali ke Palermo. Namun sebelumnya kami sempatkan mampir dulu ke Monreal yang tadi pagi tertunda. Kota ini berdiri di atas bukit. Pemandangan menuju ke tempat tersebut sungguh cantik. Lampu-lampu kota berkedip-kedip dibawah sana. Sementara matahari yang mulai menyembunyikan dirinya ke balik laut menambah indahnya pemandangan.

Setelah melalui jalanan yang berkelak-kelok akhirnya kami tiba di tujuan, Duomo ( Cathedral ) de Monreale. Inilah salah satu tujuan utama wisatawan ke Sisilia. Kami menyadari bahwa kami tak mungkin mengunjungi bekas masjid yang dikabarkan masih banyak menyimpan sisa-sisa ke-Islaman-nya ini. Malam itu kami hanya berkeliling dan melihat-lihat dari luar saja.

Palermo, Monreal, Cefalu- 26/10/2010.

Di tengan kepadatan lalu lintas Palermo, akhirnya sampai juga kami ke tujuan utama kota ini. Selama perjalanan dari hotel ke tempat tersebut kami sempat menangkap sisa nafas Islam berserakan dimana-mana. Bangunan-bangunan tuanya meski kotor dan terkesan kurang dirawat  masih menyisakan ‘bau’ arsitektur Arab-Muslim. Ternyata sejarah memang mencatat bahwa raja-raja Katolik Normandi yang menguasai Sisilia tak lama setelah mengalahkan kerajaan Islam pada tahun 1071 berhasil mempertahankan budaya toleransi yang diwariskan kerajaan Muslim tersebut. Selama jangka waktu tertentu, umat Islam dan Yahudi tetap diizinkan melaksanakan kegiatan di tempat ibadah masing-masing meski dengan catatan tunduk kepada peraturan penguasa. Begitu pula dengan bangunan-bangunannya. Masing-masing saling terpengaruh dan dipengaruhi kultur agama dan budaya lain.

Sebelum Islam berkuasa di Sisilia, pulau ini menjadi bagian dari Byzantium di bawah raja Justinian I. Bahasa Yunani adalah bahasa resmi mereka. Pada tahun 652, di masa kejayaan kalifah Ustman bin Affan, pulau ini sempat dikuasai  walaupun hanya dalam waktu singkat karena pasukan Arab tersebut kemudian meninggalkannya. Selanjutnya, sejak sekitar tahun 700-an, setelah pasukan Islam dibawah kekhalifahan Umayah berhasil menaklukkan Afrika Utara, pasukan ini beberapa kali mencoba menguasai Sisilia. Namun selalu gagal.

Pada tahun 826 M, Euphemius, seorang laksamana Byzantium berontak dan kemudian menjadi penguasa di Siracus, salah satu kota penting di Sisilia. Karena khawatir akan diserang Byzantium, ia memohon bantuan Ziyadat Allah, emir Aghlabid dari Tunisia agar menaklukkan Sisilia. Maka Ziyadatpun mengutus Asad ibn-Furat, seorang kadi ( hakim ) yang pernah menjadi murid Imam Malik untuk memenuhi permohonan tersebut.

Setahun kemudian, sang panglima senior yang ketika itu usianya telah mencapai 60 tahun itupun  berhasil melaksanakan misinya dengan sukses besar. Ia berangkat dengan membawa 10.000 pasukan infanteri, 700 kavaleri dan 100 kapal. Sejak itulah dimulai dominasi Islam, yaitu Emirat Sisilia, selama 200 tahun. Sayangnya, Asad sendiri tidak lama menikmati kejayaan tersebut. Ia gugur di pertempuran.

Sementara Euphemius dibunuh satu tahun kemudian oleh seorang penjaga kerajaannya sendiri  di Enna, sebuah kota di kaki gunung Etna, salah satu gunung berapi berbahaya di dunia. Menurut mitos Yunani kuno, di gunung inilah, monster Typhon, dipenjarakan oleh Zeus, dewa langit dan petir yang disembah oleh bangsaYunani kuno. Zeus bagi mereka adalah King of Gods alias Tuhan langit dan bumi !

Sebenarnya inilah yang menjadi latar belakang penaklukkan pasukan Islam. Islam mengajarkan bahwa penyembahan hanya kepada Allah swt, Tuhan seluruh alam semesta. Penduduk Sisilia, sebagaimana umumnya orang-orang Byzantium adalah penyembah berhala ( kaum Pagan). Inilah agama warisan Yunani kuno yang mempercayai dewa-dewa seperti Zeus, Hera, Athena, Apollo dll.

“… … Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila`nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untukku) dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka … … “.(QS.An-Nisa(4):116-119).

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. QS.Al-Anfal(8):39).

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. “.(QS.An-Nisa(4):76).

Penaklukkan Sisilia dalam rangka menegakkan kalimat Tauhid tidaklah semudah membalikkan tangan. Selama bertahun-tahun para hamba pilihan Allah itu harus bertempur sengit, berjihad mendirikan semangat baru “ Allahuakbar La illaha illa Allah wa ashadu an Muhammad Rasulullah “ , Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Palermo baru berhasil ditaklukkan 4 tahun kemudian yaitu pada tahun 831. Penaklukkan alot ini terjadi setelah didatangkannya bantuan mujahidin sebanyak 30.000 pasukan dari Afrika dan Andalusia. Setelah itu Palermopun dijadikan ibu kota Emirat Sisilia dengan nama “ Al-Madinah” yang berarti “ The City”  atau kota. Sementara Taormina baru jatuh pada tahun 902 dan seluruh pulau akhirnya takluk pada tahun 965. Allahuakbar ..

Dibawah kekuasaan Islam inilah Sisilia mengalami kejayaan dan kemegahan. Islam tidak saja mengajarkan pentingnya tunduk kepada Sang Khalik namun juga mengajarkan bagaimana caranya memanfaatkan alam yang merupakan berkah dari-Nya. Dengan izin-Nya, maka jeruk, pistachio ( sejenis kacang) dan tebu yang diperkenalkan ke daerah tersebut menjadi sumber kekayaan Sisilia. Ini semua berkat sistim pengairan yang diajarkan kepada mereka.

( Bersambung)

Paris, 4 Januari 2011.

Vien AM.

Tentu saja berita ini membuat pasukan Muslim makin panik. Panji segera berpindah ke tangan Ali bin Abu Thalib. Para sahabat dekat yang hanya tinggal beberapa itu segera berkumpul  melindungi Rasulullah. Mereka bertempur mati-matian demi keselamatan sang Rasul yang amat mereka cintai itu. Namun keadaan sungguh sulit hingga tidak mungkin bagi mereka untuk terus menerus berkumpul di sekeliling nabi. Pertempuran berdarah yang tidak seimbang terjadi di sekitar beliau. Dalam rangka menjaga keselamatan utusan Allah inilah satu persatu tujuh orang sahabat mati syahid dihadapan Rasul.

Anas bin Nadar syahid dengan tujuh puluh tusukan pada badannya. Saudarinya dapat mengenal badannya hanya dengan tanda di ujung jarinya. Talha bin Ubaidillah pada saat kritis dengan gagah berani menjadikan dadanya tameng bagi Rasulullah. Tirmidzi meriwayatkan, Nabi saw berkata, “Jika seseorang ingin melihat Syuhada berjalan di bumi ini, lihatlah Talha bin Ubaidullah.”

Sementara Abu Dujana membiarkan punggungnya menjadi sasaran panah demi melindungi Rasululllah. Sejumlah anak panah musuh menancap di punggungnya tetapi tak sejengkalpun ia  bergeming.  Seolah tak mau ketinggalan dengan kaum lelaki,  ummu Amara beserta suami dan dua orang putranya juga bertempur disekeliling Rasulullah ketika hanya beberapa sahabat saja yang berada di sekeliling beliau.

Dengan pedang terhunus bersama Rasul perempuan ini mempertahan diri dari serangan yang datang dari semua arah. Demikian pula suami dan kedua anaknya. Mereka mempertunjukkan keberanian yang sungguh luar biasa. Hingga dalam suatu kesempatan Rasul saw berkata, “Ya Allah, sayangilah keluarga ini.” Beliau juga mendoakan mereka, “Ya Allah jadikanlah mereka sekeluarga sahabatku di surga.”

Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Ummu Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.

Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa pada perang Uhud, “Utbah bin Abi Waqqash melempar Rasulullah hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bagian bawah dan juga melukai bibir beliau. Abdullah bin Syihab az-Zuhri melukai kening beliau. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua buah mata rantai besi masuk ke bagian atas pipi beliau. Rasulullah terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Kemudian Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan yakni Abu Sa’id al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Barang-siapa yang darahnya menyentuh darahku, niscaya ia tidak akan disentuh api Neraka.”

Bukhari meriwayatkan, Saad bin Abi Waqas berkata, “Pada hari peperangan Uhud aku melihat dua orang berpakaian putih disekitar Nabi saw. Mereka sedang bertempur dengan dahsyat atas nama Nabi saw. Aku tidak pernah melihat mereka sebelum dan setelah kesempatan tersebut.” Dalam riwayat yang lain, dikatakan bahwa mereka adalah malaikat Jibril as dan Mikail as. Sementara itu tiga puluh orang sahabat mendatangi dengan cepat tempat tersebut …  Allahuakbar ..

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran(3):151).

Dengan datangnya bala bantuan tersebut maka perangpun usai. Pasukan Quraisy pergi meninggalkan medan perang dengan rasa takut. ( sebagaimana diterangkan ayat di atas). Setelah itu Abu Obaida bin Jarrah dengan giginya mencoba mencabut cincin pengikat helm yang menancap di pipi Rasulullah hingga ia harus kehilangan gigi bawahnya. Berikutnya ia juga  kehilangan gigi bawah lainnya saat mencabut cincin pengikat helm kedua.

Selanjutnya tinggallah Rasulullah didampingi sisa sahabat yang masih hidup berkeliling melihat keadaan para sahabat yang syahid. Melalui firman-Nya, para mujahidin sejati tersebut mendapat pujian dan penghargaan dari Allah swt.

“ Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.  … “.(QS.Al-Ahzab(33):23).

Ketika Rasulullah melihat jenazah Mush’ab dengan sedih beliau berucap : “ Ketika di Mekah dulu tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah”.

Bagi Handhalah bin Abu Amir, Rasulullah bersabda :  “Sungguh sahabat kalian, Handhalah, pasti akan dimandikan para malaikat”. Itu sebabnya ia kemudian mendapat julukan Handhalah bin Abu Amir al-Ghasil  yang artinya yang dimandikan para malaikat. Lalu para sahabat menanyakan perihal Handhalah kepada istrinya: “Ada apa dengan Handhalah bin Abi Amir?” Istrinya menjawab bahwa Handhalah bin Abi Amir keluar dari rumah dalam keadaan junub ketika mendengar panggilan jihad. Mereka berdua memang pasangan pengantin baru.

Selanjutnya ketika Rasul melihat keadaan Hamzah bin Abu Thalib, wajah beliau berubah merah seketika itu juga. Betapa tidak .. perut paman Rasul ini telah di bedah dan diaduk-aduk !  Dengan menahan marah, beliau bersabda :

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Namun kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut :

Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar). Dan hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan. Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu”.(QS.An-Nahl(16:):126-127).

Maka Rasulpun segera memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan dilarangnya orang melakukan penganiayaan. Kemudian Rasulullah menyelimuti jenazah Hamzah dengan mantel beliau lalu men-sholat-kannya. Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan supaya jenazah para mujahidin yang mencapai 70 orang itu dikuburkan di tempat mereka menemui ajalnya. Setelah melayangkan pandangan duka ke arah medan perang serta para syuhada,  Rasulullah berseru :

“ Sungguh aku akan menjadi saksi di hari Kiamat nanti, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, beliau bersabda,

“ Hai manusia, berziarahlah dan berkunjung kepada mereka serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai jiwaku, tak seorang Muslimpun sampai hari Kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya”.

Sesudah itu Rasulullah diikuti para sahabat yang tersisa meninggalkan medan pertempuran  dan kembali ke Madinah. Kepedihan dan kehancuran yang dirasa pasukan Muslim kali ini sungguh terasa amat sangat memalukan. Kehancuran dan kekalahan yang mereka alami seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja sebagian pasukan tidak silau oleh banyaknya harta benda yang ditinggalkan musuh yang sebenarnya telah mereka kalahkan dengan telak. Dengan kata lain, kekalahan ini adalah karena sebagian besar pasukan pemanah telah melanggar perintah nabinya.

Rasulullah memasuki rumah dalam keadaan galau. Pikiran beliau bercampur aduk membayangkan reaksi orang-orang Yahudi, orang-orang munafik dan musyrik Madinah menyaksikan kekalahan dan kehancuran pasukan Muslim yang dipimpinnya itu.

Jabir bin Abdullah menjelaskan bahwa ketika Rasulullah mengalami kekalahan perang Abdullah bin Ubay, si tokoh Munafik Madinah, berkata : “  Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak akan mati sia-sia di medan perang”. Ia menganggap Rasul tidak tahu strategi perang. Atas hal itu Allah menurunkan ayat 168 surat Ali Imran.(HR. Ibnu Ishaq).

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” QS. Ali Imran(3):168).

“Sekiranya kami mengetahui ( bagaimana cara )berperang, tentulah kami mengikuti kamu”.

Itulah jawaban yang diberikan orang-orang Munafik ketika Rasullullah memerintahkan mereka untuk berperang di jalan Allah. Ucapan tersebut adalah sindiran bahwa Rasulullah tidak mengerti strategi perang karena memerintahkan berperang ketika jumlah pasukan hanya sedikit.

“dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara), tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. QS. Ali Imran(3):167).

Itulah ancaman Allah swt atas ucapan orang-orang yang mengaku Muslim namun menolak ketika diperintahkan berperang oleh Rasul-Nya. Perbuatan tersebut menunjukkan bahwa hati mereka lebih menyerupai orang kafir daripada orang yang mengaku telah beriman.

Ditengah kekecewaan pada sebagian pasukan yang tidak mematuhi perintah dan silau dengan harta benda ditambah lagi ejekan dan sindiran orang-orang Munafik itulah kemudian turun turun ayat 152 dan 153 surat Ali Imran. Ayat ini memberitahukan bahwa Allah swt telah memaafkan kesalahan dan kelalaian para sahabat yang menyebabkan pasukan Muslim kalah dalam perang kali ini. Allah ridho.

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Ali Imran(3):152-153).

Dan sebagai bukti bahwa Allah swt ridho dan telah memaafkan kelalaian dan kecerobohan mereka Allah menganugerahkan rasa kantuk yang amat sangat. Malam itu Rasul dan para sahabat yang memiliki keimanan super tinggi tertidur dengan nyenyak hingga keesokan subuhnya bangun dalam keadaan segar bugar. Sebaliknya sebagian lainnya, yaitu golongan Muslim yang kurang kuat keimanannya tetap diselimuti keraguan dan tidak bisa tidur. Mereka ragu bila Muhammad saw memang utusan Allah mengapa Allah membiarkan nabinya kalah! Mereka terus menyesali diri mengapa mau menuruti perintah berperang hingga mereka harus terbunuh! Padahal kematian adalah rahasia Sang Khalik. Tak satu orangpun dapat menghindarinya sekalipun ia terus mengurung di dalam rumah. Sebaliknya mati ketika dalam keadaan menjalankan perintah-Nya seperti berjihad ( baik jihad dalam perang maupun berdakwah mengajak pada kebenaran) surga adalah balasannya.

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. … … … Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati”. (QS. Ali Imran(3):154).

Keesokan harinya, usai subuh berjamaah Rasulullah memerintahkan para sahabat yang kemarin baru saja kembali dari Perang Uhud untuk mengejar pasukan Quraisy yang mengalahkan mereka. Pasalnya, Rasulullah mendengar kabar bahwa para pemimpin Quraisy telah memanasi-manasi pasukannya agar kembali ke Madinah untuk membunuh beliau dan merampas gadis-gadis Madinah! Hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja karena akan membuat orang-orang munafik Madinah dan Yahudi makin melecehkan beliau.

Maka tanpa banyak bicara, Ali bin Abu Thalib yang diserahi memimpin pasukan langsung melesat mengejar pasukan Quraisy yang pagi itu masih berpesta merayakan kemenangan mereka di perkemahan antara Madinah – Makkah. Sebaliknya, mendengar bahwa pasukan Muslim mengejar pasukan Quraisy, mereka segera meninggalkan perkemahan dan pulang menuju Makkah.

Pasukan pimpinan Ali baru kembali ke Madinah setelah 3 hari 2 malam bermalam di wilayah sekitar tersebut. Pasukan ini menyalakan obor besar untuk mengelabui musuh agar disangka membawa pasukan besar. Maka untuk menghargai keberanian mereka Allahpun menurunkan ayat berikut :

… Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar”. QS. Ali Imran(3):171-172).

“ (Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung“. QS. Ali Imran(3):173)

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Paris, 23 Desember 2010.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers