Feeds:
Posts
Comments

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda :”…Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

Perintah shalat 5 waktu dalam sehari semalam diatas diterima Rasulullah saw ketika beliau melakukan Isra ( dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho ) dan Mi’raj ( dari Masjidil Aqsho ke Sidratul Muntaha di lapisan tertinggi langit). Perjalanan spektakuler dengan mengendarai buraq ( kendaraan terbang yang dikisahkan terbuat dari cahaya dan berbentuk kuda ) ini merupakan imbalan bagi kesabaran Rasulullah yang selama lebih dari 10 tahun telah bersabar menyampaikan pesan Sang Khalik kepada masyarakat Mekah meskipun hasilnya tidak terlalu memuaskan. Puncak cobaan bagi beliau adalah dipanggilnya kedua orang terdekat beliau yang selama ini selalu mendukung dakwah Rasulullah yaitu Khadijah ra, sang istri tercinta dan Abu Thalib, paman beliau serta peristiwa Thaif dimana dakwah Rasulullah di tolak mentah-mentah. Bahkan beliaupun sempat dikejar-kejar dan dilempari penduduk kota tersebut hingga mengalami luka di beberapa tempat.

(Lihat : http://vienmuhadi.com/2010/09/19/riwayat-singkat-kehidupan-rasulullah-saw-9/).

Undangan perjalanan malam ke Sidratul Muntaha ini benar-benar sebuah penghargaan istimewa dari Sang Khalik kepada seorang hamba. Karena sebelumnya tak satupun rasul apalagi manusia biasa yang pernah mengalaminya.

Selama ini Rasulullah tidak pernah menuntut apapun kecuali keridhoan Sang Khalik. Ketika malaikat gunung menawarkan untuk menjatuhkan gunung yang berada di Thaif karena keingkaran penduduknya beliau malah mendoakan agar hati orang-orang tersebut dibuka dalam menerima dakwah beliau. Tampak bahwa tak terbesit sedikitpun di hati beliau rasa putus asa apalagi dendam.

“ Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. ( QS. As-Shaffat(37):139-144).

Ayat di atas berkisah tentang nabi Yunus as yang suatu ketika merasa putus asa karena sedikitnya jumlah orang yang mau mendengar dakwahnya. Ia kemudian lari dan menaiki sebuah kapal. Namun ternyata Allah swt tidak meridhoi perbuatannya. Maka Allahpun kemudian menjatuhkan hukuman yaitu dengan ditelannya Yunus as oleh seekor ikan raksasa.  Yunus segera menyadari kesalahannya dan segera bertaubat hingga Allahpun menerima taubatnya dan memberinya kemudahan.

Selain ayat diatas ada beberapa ayat yang menceritakan bagaimana para rasul memohon agar Allah mengazab orang yang mendustakan mereka. Sementara dua ayat berikut adalah ayat yang menceritakan bagaimana nabi Ibrahim as dan nabi Musa as memohon bukti akan kekuasaan-Nya agar keimanan mereka lebih kuat lagi. Hal yang tak pernah sekalipun terpikir oleh Rasulullah saw.

“ Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS. Al-Baqarah (2):260).

“ Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.(QS.Al-Araf (7):143).

Peristiwa Isra Mi’raj adalah mukjizat terbesar bagi Rasulullah Muhammad saw setelah Al-Quranul Karim. Hanya orang beriman saja yang dapat menerima berita ini tanpa syarat. Walaupun di zaman modern ini sebenarnya bukan hal yang istimewa ketika orang dapat melakukan perjalanan dari ujung dunia satu ke ujung dunia yang lain dalam semalam, yaitu dengan pesawat terbang.

Pembahasan apakah Rasulullah melakukan perjalanan tersebut dengan jiwa dan raganya ataupun hanya dengan jiwa tanpa raga sebenarnya juga bukan merupakan cerminan orang beriman. Karena perjalanan dengan raga sekalipun bukanlah hal yang mustahil bagi Sang Khalik, Yang Maha Cerdas, Yang Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu.

Demikian pula dengan adanya sejumlah hadits yang menceritakan pertemuan Rasulullah dengan sejumlah nabi di lapisan-lapisan tertentu di langit. Tidak perlu kita membahas masalah tersebut secara rinci karena akal dan daya pikir kita tidak akan sampai. Bukankah sains berkata bahwa  bahkan bintang yang saat ini kita pandangpun sebenarnya sudah tidak berada ditempat ketika kita melihatnya? Jadi yang terbaik cukuplah kita mengimaninya saja.

Anas bin Malik r.a. berkata, “Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan mengoperasi dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya.

Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia. Ketika aku tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Siapakah ini?’ Ia (jibril) menjawab, ‘Ini Jibril.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah Anda bersama seseorang?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku bersama Muhammad saw.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah dia diutus?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Tiba tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelah kanannya ada hitam-hitam (banyak orang) dan disebelah kirinya ada hitam-hitam (banyak orang).

Apabila ia memandang ke kanan, ia tertawa, dan apabila ia berpaling ke kiri, ia menangis, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak laki-laki yang saleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah orang ini?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Adam dan hitam-hitam yang di kanan dan kirinya adalah adalah jiwa anak cucunya. Yang di sebelah kanan dari mereka itu adalah penghuni surga dan hitam-hitam yang di sebelah kainya adalah penghuni neraka.’ Apabila ia berpaling ke sebelah kanannya, ia tertawa, dan apabila ia melihat ke sebelah kirinya, ia menangis, sampai Jibril menaikkan aku ke langit yang ke dua, lalu dia berkata kepada penjaganya, ‘Bukalah.’ Berkatalah penjaga itu kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh penjaga pertama, lalu penjaga itu membukakannya.”

Anas berkata, “Beliau menyebutkan bahwasanya di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menetapkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya saja beliau tidak menyebutkan bahwasanya beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.” Anas berkata, “Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw melewati Idris, Idris berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.’ Aku (Rasulullah) bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Idris.’ Aku melewati Musa lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Musa.’ Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Isa.’ Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya,’Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Ibrahim as..’” (HR. Bukhari no. 192)

Namun demikian ini tidak berarti bahwa kepergian Rasulullah ke Masjidil Aqsho dan Sidratul Muntaha langsung membuat dakwah beliau lancar. Karena hal tersebut justru membuat penduduk Mekah mentertawakan dan mengejek beliau. Mereka bahkan menantang Rasulullah agar menggambarkan Baitul tersebut secara detil dan rinci jika beliau memang telah pergi dan shalat didalamnya.

Tentu saja Rasulullah agak terkejut mendengar permintaan tersebut. Karena Rasulullah memang tidak memperhatikan Baitul tersebut ; bagaimana bentuk bangunan, berapa jumlah pilar-pilarnya dsb. Namun Allah swt segera menolong rasul-Nya tersebut.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah sab bersabda :“Ketika kaum Quraisy mendustakan aku, aku sedang berdiri di Hijr (Ismail). Lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat”.

Dengan itu maka Rasulullahpun berhasil menjawab semua pertanyaan kaum Quraisy dengan baik dan tepat. Tetapi mereka  tetap tidak mempercayai apa yang dikatakan Rasulullah. Mereka lalu pergi menemui Abu Bakar dan menceritakan apa yang dikatakan Rasulullah dengan harapan agar sahabat Rasulullah tersebut menolak berita beliau.

Jika memang benar Muhammad yang mengatakannya, dia telah berkata benar dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari itu”, begitu tanggapan singkat Abu Bakar.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. (QS.Al-Isra (17):1).

Pernyataan Abu Bakar dan juga turunnya ayat yang menjelaskan perjalanan  Isra Mi’raj Rasulullah ternyata tidak mengubah prilaku penduduk Mekah. Mereka tetap berkeras memegang agama nenek moyang mereka. Kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah malah makin menjadi-jadi. Kemanapun Rasulullah pergi selalu dikuntitnya. “ Jangan kalian mengikutinya. Sesungguhnya dia seorang murtad dan pendusta !”. Demikian pula istrinya, Ummi Jamil, yang setiap hari selalu menebarkan duri di tempat-tempat  yang akan dilalui Rasulullah. Itu sebabnya Allah swt menurunkan ayat berikut :

“Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut”. (QS. Al-Lahab(111):4-5).

Namun Rasulullah tak pantang menyerah. Ayat demi ayat yang setiap hari turun terus disampaikannya kepada penduduk Mekah meski tak satupun yang mau mendengarkannya. Mereka tetap memperolokkan dan malah menantang mengapa Allah tidak menurunkan malaikat saja atau mengapa Al-Quran bukannya turun saja dalam bentuk tulisan.

Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan”. (QS.Al-An’am(6):4-5).

“Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-Iaki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu.”.(QS.Al-An’am(6):7-9).

Bahkan peringatan dan azab keras yang pernah diturunkan Allah swt kepada kaum yang mendustakan para rasul dan nabi pada masa lampaupun tidak membuat mereka takut.

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”.(QS.Al-An’am(6):6).

Hingga pada suatu hari di tahun ke sebelas ke-nabian, Rasulullah bertemu dengan sekelompok orang dari kabilah Khazraj yang telah dibukakan hatinya oleh Sang Khalik untuk menerima kebenaran. Mereka ternyata adalah orang-orang yang telah sejak lama bertetangga dengan orang-orang Yahudi. Orang Yahudi ketika itu dikenal sebagai ahli agama dan ahli pengetahuan.  Mereka bercerita bahwa setiap kali terjadi pertentangan antara kaumnya dengan orang-orang Yahudi, orang-orang Yahudi tersebut selalu berkata :

“Sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya akan dibangkitkan seorang nabi. Kami akan mengikutinya dan bersamanya kami akan memerangi kalian sebagaimana pembunuhan ‘Aad dan ‘Iram”.

Maka setelah orang-orang dari suku Khazraj itu bertemu dan mendengar sendiri ayat-ayat Al-Quran dibacakan oleh Rasulullah, seraya saling berpandangan merekapun segera berujar : “ Demi Allah, ketahuilah bahwa dia adalah Nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepada kita. Jangan sampai mereka mendahului kita”.

Demikianlah akhirnya mereka ber-syahadat, mengakui bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Mereka juga berjanji akan mengajak keluarga dan handai taulan mereka di Yatrib ( Madinah ) agar mengikuti jejak mereka dalam ber-Islam.  Kemudian mereka pulang dan berjanji akan datang menemui Rasulullah kembali pada musim haji mendatang.

( Bersambung ).

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 29 September 2010.

Perasaan lega setelah 3 tahun lamanya di boikot secara ekonomi dan sosial tampaknya hanya berlangsung sekejap saja. Karena pada tahun ke 10 kenabian Khadijah ra, istri tercinta yang selama ini selalu setia mendukung, menyemangati, membesarkan dan menghibur Rasulullah dalam menjalankan tugas maha berat itu jatuh sakit. Dan tak lama kemudian Allah swtpun memanggil perempuan yang selama 25 tahun itu telah menemani Rasulullah, sebagai istri satu-satunya, sebagai ibu dari 4 anak perempuan dan 2 anak lelaki dari Rasulullah.

Betapa berdukanya Rasulullah saw. Bagaimanapun beliau adalah manusia biasa yang membutuhkan pendukung, pendamping, penyemangat dan penghibur dari orang yang dicintai dan mencintainya. Tugas yang diembannya adalah tugas yang maha berat. Mengajak orang menuju kebenaran bukanlah hal ringan. Orang-orang Quraisy terlalu keras kepala. Mereka suka berdebat namun dengan tujuan hanya ingin mentertawakan dan melecehkan Rasulullah.

“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”.(QS.Az-Zukhruf(43):57-58).

Kedua ayat diatas menceritakan kembali kejadian ketika Rasulullah di hadapan orang-orang, membacakan ayat 98 surat Al-Anbiya yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya”.  Sontak, salah satu orang Quraisy itu menanyakan tentang nasib Isa as yang disembah orang Nasrani, akankah ia menjadi kayu bakar neraka jahanam seperti berhala sesembahan mereka.

Rasulullah terdiam dan orang-orang Quraisy itupun menertawakannya. Padahal ayat diatas sebenarnya hanya ditujukan kepada sesembahan mereka bukan Isa as. Selanjutnya mereka kembali bertanya mana lebih baik, sesembahan mereka atau Isa Al-Masih. Maka dengan turunnya ayat 57 dan 58 diatas, Rasulullahpun menjadi faham bahwa pertanyaan mereka tidak perlu ditanggapi.

Menjadi utusan Allah memang perlu kesabaran extra. Hanya dengan pertolongan-Nya saja para utusan ini dapat menyelesaian misinya. Nabi Adam, nabi Nuh, nabi Yunus, nabi Ibrahim, nabi Daud, nabi Musa dan juga nabi-nabi lain suatu saat pernah berbuat ‘kesalahan’ di dalam pandangan-Nya. Begitupun nabi Muhammad saw. Sebagaimana seorang utusan Allah yang memiliki tanggung jawab tinggi, beliau begitu menginginkan agar dakwahnya mendapat sambutan.

Suatu hari ketika beliau sedang berdakwah di hadapan para pembesar Quraisy tiba-tiba datang seorang sahabat dan langsung menanyakan sesuatu. Tentu saja kehadiran sahabat tersebut mengganggu jalannya pertemuan. Maka Rasulullahpun tidak menanggapinya dan tanpa sengaja air mukanya agak berubah. Namun ternyata Allah swt tidak ridho terhadap reaksi beliau dan langsung menegurnya.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya“. (QS.Abasa(80):1-10).

Betapa menyesalnya Rasulullah. Ini bukanlah kebiasaan dan sifatnya. Beliaupun segera bertaubat. Menghadapi hal-hal seperti ini biasanya beliau tumpahkan isi hatinya kepada istrinya tercinta yang selalu bisa menghiburnya. Ini yang membuat beliau merasa begitu kehilangan.

Apalagi ketika beberapa bulan kemudian, Abu Thalib, paman yang selama ini selalu melindunginya juga wafat.  Rasulullah tak dapat membayangkan apa yang bakal diperbuat orang-orang Quraisy terhadap dirinya tanpa perlindungan Abu Thalib. Namun yang juga membuat diri Rasulullah gundah adalah sikap Abu Thalib. Pamannya ini walapun selalu melindungi beliau namun ia sendiri sebenarnya tidak pernah mengucap syahadat.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS.Al-Qashash (28):56).

Abu Hurairah ( dan Sa’id bin Musayyab ) menerangkan bahwa  ayat diatas diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib ketika mendekati ajalnya. Ia didatangi Rasulullah. Di sisinya ada Abu Jahal dan Abdillah bin Abu Umayah. Rasul bersabda : “ Wahai paman, ucapkanlah La ilaha illallah . Kalimat ini akan kujadikan argument di akhirat kelak bahwa kau adalah orang beriman”. Namun Abu Jahal dan Abdillah menentang. “ Hai Abu Thalib, apa kau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?”. Hal ini terjadi berulang kali hingga pada hembusan nafas terakhirnya, Abu Thalib bersaksi tetap pada agama  Abdul Muththalib. Rasul sungguh sedih dan berkata : “ Aku akan terus meminta ampunan untukmu paman sebelum Allah melarang hal ini”. ( HR Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam”. (QS.At-Taubah(9):113

Ketika itu ayat di atas memang belum turun. Itu sebabnya Rasulullah berani berkata demikian. Di kemudian hari tahun dimana Khadijah dan Abu Thalib wafat dinamakan Tahun Duka Cita atau ‘Amul Huzni.

Kekhawatiran dan dugaan Rasulullah tidak salah. Begitu keduanya wafat, kebencian dan permusuhan orang-orang Quraisy terhadap Islam makin menjadi. Berbagai penghinaan dan kekerasan makin meningkat. Niat untuk menyingkirkan Rasulullah yag dulu pernah terhalang karena perlindungan Abu Thalib kini makin tampak nyata. Berbagai cara mereka coba, diantaranya dengan kekuatan tenung dan hipnotis.

“ Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (QS.Al-Qalam (68):51).

Orang-orang Arab pada masa lalu adalah masyaratat jahiliyah. Ketika mereka merasa tidak senang atau membenci sesuatu mereka terbiasa menggunakan kekuatan pandangan mata atau apa yang sekarang biasa di sebut Hipnotis untuk mengalahkan lawannya. Ini yang hendak mereka lakukan terhadap Rasulullah. Namun melalui ayat 67 surat Al-Maidah Allah menjanjikan bahwa kekuatan tersebut tidak akan mempan terhadap diri Rasulullah. Oleh karenanya Rasulullah yang semula selalu didampingi para sahabat ketika berdakwah menyuruh para sahabat untuk membiarkannya seorang diri tanpa kawalan ketat.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.(QS. Al Maidah(5):67).

“ Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”.(QS.At-Thur (52):30).

Ibnu Abbas menegaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaum Quraisy yang berkumpul di Darun Nadwah sambil membicarakan Rasulullah. Salah satu dari mereka berkata : “ Ikat dan penjarakan saja ia hingga mati seperti para ahli syair yang juga temannya terdahulu, Zuhair dan an-Nabighah”.( HR Ibnu Jarir).

Sungguh betapa pedihnya hati Rasulullah. Kemana beliau harus mencari perlindungan? Namun dengan turunnya ayat berikut hati Rasulullah agak lega. Karena paling tidak bukan diri dan pribadinyalah yang dimusuhi melainkan tugasnya sebagai Rasul Allah, seperti juga rasul-rasul lain yang selalu didustakan. Tugas para rasul hanyalah menyampaikan, Allah yang menentukan siapa yang mau mengikuti petunjuk dan mempercayai peringatan-Nya.

“ Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.  Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu`jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”.(QS.Al-An’am(6):33-35).

Namun demikian Rasulullah menyadari bahwa dakwah harus dijalankan secara maksimal. Manusia harus berusaha mencari jalan bagaimana mengajak kepada kebaikan. Situasi dan kondisi kota Mekah tanpa adanya perlindungan dari seseorang yang memiliki wibawa dan pengaruh kuat terhadap masyarakat akan sangat sulit.

Rasulullah akhirnya memutuskan menuju Tha’if, kota peristirahatan sejuk di bukit dimana sebagian pembesar Mekah melewatkan waktu santainya. Di kota yang berjarak 70 km dari Mekah inilah Rasulullah akan mencari perlindungan dan dukungan dari bani Tsaqif. Siapa tahu dalam keadaan santai hati mereka bisa lebih lunak dan lembut sehingga ayat-ayat Allah bisa lebih mengena, begitu pikir Rasulullah. Maka berangkatlah beliau dengan ditemani Zaid bin Haritsah. Sepuluh hari lamanya mereka menetap di Tha’if.

Tetapi apa yang terjadi sungguh menyakitkan. Selama sepuluh hari itu tak satu orangpun mau mendengarkan ajakan beliau. Para pembesar itu tidak hanya menolak ajakan Rasulullah dengan kasar namun bahkan memerintahkan para preman dan budak untuk melempari beliau dengan batu hingga mengakibatkan luka-luka di kedua kaki beliau. Zaid berusaha melindungi tetapi kewalahan dan malah terluka di kepalanya.

Orang-orang biadab tersebut terus mengejar Rasulullah hingga mereka berdua sampai di sebuah kebun anggur milik Uqbah bin Rabi’ah. Ditempat ini barulah mereka berhenti dan membiarkan Rasulullah berlindung. Betapa sedih dan kecewanya Rasulullah hingga beliau akhirnya berdoa, mengadukan perasaan dan kegundahan hati beliau sebagai berikut ini :

Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku,

Dan sedikitnya kemampuanku,
Serta kehinaanku dihadapan manusia.

Wahai Sebaik-baik pemberi kasih sayang,
Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.

Kepada siapakah Engkau serahkan diriku,
Kepada orang yang jauh yang menggangguku,
Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku,

Asalkan Engkau tidak marah padaku maka tiadalah keberatan bagiku,
Akan tetapi kemurahan-Mu jauh lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi seluruh kegelapan,

Dan yang akan memberikan kebaikan segala urusan dunia dan akhirat,
Untuk melepaskan aku dari Marah-Mu,
Atau menghilangkan Murka-Mu dariku.

Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridloan-Mu,
Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.

Begitu khusuknya beliau berdoa hingga tidak menyadari bahwa ternyata dua anak Rabi’ah memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah. Tampak jelas bahwa Sang Khalik sangat tersentuh dengan doa khusuk hamba-Nya yang sedang berduka tersebut hingga Ia kemudian berkenan menggerakkan hati si pemilik kebun untuk menyuruh pelayannya yang bernama Addas, seorang pemeluk Nasrani yang taat, agar mengambilkan buah anggur untuk diberikan kepada Rasulullah dan Zaid.

Rasulullahpun mengulurkan tangannya seraya mengucapkan : “ Bismillahirohmanirohim”.

Mendengar itu Addas bertanya: “ Demi Allah, kata-kata itu tidak pernah diucapkan oleh penduduk daerah ini”. Maka terjadilah percakapan antara Rasulullah dengan Addas. Akhirnya Rasulullah menerangkan bahwa beliau adalah utusan Allah, sama dengan utusan-utusan yang dulu pernah dikirim-Nya. Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah, lalu mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki Rasulullah hingga Rasulullah terharu dibuatnya.

Beliau teringat pada janji Allah bahwa Ia akan selalu melindunginya. Tetapi bentuk perlindungan itu bukan berarti beliau bakal bebas dari hinaan dan cacian sebagaimana juga rasul-rasul lain. Namun perlindungan itu dari  segala bentuk kejahatan seperti pengaruh hipnotis, makar dan pembunuhan yang beresiko menggagalkan perkembangan Islam. Hinaan dan cacian memang membuat beliau sedih namun Allah swt telah memberinya jalan untuk mengatasi hal tersebut,yaitu dengan shalat dan doa.

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat) dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.(QS.Al-Hijr(15):97-99).

Namun demikian Allah swt ternyata tetap mengutus malaikat Jibril untuk menemui beliau, “ Sesungguhnya Allah mendengar perkataan kaummu terhadapmu dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu”.

Kemudian malaikat gunungpun datang dan berseru : “ Wahai Muhammad ! Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka”.

Aku bahkan menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukannya  dengan sesuatupun”, itulah jawaban Rasulullah. Betapa mulianya beliau. Tak tampak kebencian dan keinginan balas dendam terhadap kaum yang telah berbuat keji kepada beliau.

Selanjutnya dalam perjalanan menuju Mekah, Rasulullah mampir terlebih dahulu disuatu tempat. Ditempat ini beliau mendirikan shalat dan membaca Al-Quranul Karim. Ketika itulah sekumpulan jin mendengar ayat-ayat Allah dan kemudian merekapun beriman.

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan “.(QS.Al-Ahqaf(46):29).

Rasulullah sempat mengalami kesulitan untuk masuk kembali ke Mekah. Baru setelah mendapat jaminan perlindungan dari Muth’am bin Adi, Rasulullah dapat memasuki kembali kota dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan itu dengan aman.

Tiba di Mekah, tanpa mengenal lelah Rasulullah kembali berdakwah mengajak kaum Quraisy untuk menyembah hanya kepada Allah.  Namun mereka menjawab bahwa bila mereka mengikuti Rasullah mereka khawatir akan diusir dari Mekah.

“ Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.(QS.Al-Qashash(28):57).

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS.Ali Imran(3):31-32).

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 19 September 2010.

Vien AM.

Sedikit Tidur, itu Lebih Baik

Oleh : Ir. Abdeldaem Al Kaheel

Tidur selama delapan jam setiap hari atau hampir setiap hari, sudah lama dianggap sebagai rentang waktu tidur yang ideal sebagai waktu yang diperlukan oleh tubuh manusia.Tetapi penelitian baru mengatakan, bila tidur selama itu jika dilakukan setiap hari atau hampir setiap hari, justru lebih dapat mempersingkat masa hidup. Sebuah studi yang dilakukan atas lebih dari satu juta orang yang tidur delapan jam atau lebih dalam sehari menunjukkan mereka meninggal di usia yang lebih muda dari rekan-rekan mereka yang tidur dengan jam yang lebih sedikit.

Sebagaimana tidur empat jam setiap hari atau hampir setiap hari, juga kemungkinannya untuk meninggal lebih cepat. Tapi mereka yang tidur enam jam sehari, menurut penelitian dapat hidup lebih lama. Para Ilmuwan di University of California mengatakan, studi ini menunjukkan hubungan antar jarak waktu tidur dan tingkat kematian yang tinggi. Namun, tim peneliti belum berhasil mendapat jawaban di balik hubungan ini.

Profesor Jim Horne dari Sleep Research Centre di University of Loughborough mengatakan, bahwa mereka yang berpendapat tidur lama, itu tidak benar. Kami dapat mengkorfirmasi bahwa tidur enam atau tujuh jam satu hari sudah cukup lama. Jarak waktu atau jam tidur yang dibutuhkan oleh tubuh adalah jika Anda dalam kondisi terjaga lalu merasa ingin untuk tidur di siang hari.

Lagi-lagi, kita ucapkan Subhanallah. Al Qur’an telah diturunkan di tengah masa, di mana banyak sekali utopi yang menyebutkan bahwa tidur dalam waktu lama itulah yang paling baik. Sampai datang penelitian di abad 21 yang menegaskan bahwa waktu tidur yang pendek itulah yang lebih baik bagi manusia. Bukankah ini seperti yang telah ditegaskan dalam Al Qur’an di banyak ayat-ayatnya saat menerangkan tentang salah satu kebiasaan orang-orang yang bertakwa :

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS Adz-Szariyat : 17-18)

Seperti itu juga ALLah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk tidak banyak tidur, dan mengganti apa yang telah dikurangi dari waktu tidur di malam, pada waktu siang. ALLah swt berfirman :

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih bereksan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (QS Al Muzzamil : 1-7)

Dalam ayat ini dijelaskan perintah untuk tidak banyak tidur di waktu malam, dan menggantikannya di waktu siang. Ini juga menegaskan apa yang telah ditemukan para peneliti saat sekarang. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa serangan jantung umumnya datang setelah pagi hari sampai terbitnya matahari. Kita jadi mengerti kenapa Nabi yang mulia itu melewati waktu paginya hingga matahari terbit, dengan berdzikir, bertsbih dan tilawah Al Qur’an.

Ada lagi penelitian lain yang menjelaskan bahwa bangun di tengah malam itu bermanfaat bagi kesehatan, khususnya bagi jantung. Tidur yang panjang akan merusak dan membahayakan jantung. Jantung terkadang kekurangan oksigen akibat tidur yang terlalu lama, dan karenanya para ilmuwan mengatakan : “Bangun di malam hari, meski hanya satu kali, itu bermanfaat bagi jantung untuk memasok oksigen yang memadai dan untuk menghindari kematian mendadak.

Subhanallah. Ini juga telah dikonfirmasikan oleh Al Qur’an dan Rasulullah saw, ketika ia bangun di malam hari untuk tafakkur terhadap penciptaan ALLah swt, dan melakukan shalat malam.

Tidur di Siang Hari, Sama Pentingnya dengan Tidur di Malam Hari

Para peneliti mengatakan tidur siang hari sebentar — yang disebut dalam Islam dengan istilah qailulah – itu sangat berguna, sama seperti tidur di malam hari. Mereka mengatakan, bahwa dari perspektif perbaikan sikap dan perilaku, tidur siang berguna, sama sebagaimana tidur malam, terkait dengan fungsi kognitif seesorang. Sebuah tim peneliti dari Universitas Lubech, Jerman, melakukan tes diagnostik pada 52 sukarelawan. Para sukarelawan diminta untuk tidur dalam rentang waktu tertentu, tanpa membedakan waktu siang atau malam. Dan hasilnya, kondisi mereka sama dan tidak berbeda.

Di sini kita diingatkan kembali ingat dengan apa yang disampaikan oleh Al Qur’anul Karim, untuk tidur di malam hari dan siang hari. Bahkan tidur siang sebentar itu tidak kalah pentingnya sebagaimana tidur malam.

“Dan di antara ayat-ayat-Nya tidur di malam hari dan siang hari.”

Ini adalah tanda keajaiban Al Qur’an sebagai Kitab yang diturunk an dari ALLah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Karena informasi ini baru bagi para ilmuwan, bahkan mereka tidak tahu pentingnya tidaur siang kecuali di abad kedua puluh satu. Sedangkan Al Qur’an telah menekankan pentingnya tidur malam dan siang, sebagai suatu keajaiban dan tanda kekuasaan ALLah, sejak empat belas abad lalu!

Subhanallah. Apakah setalah semua fakta ini masih ada yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah karangan manusia?

Memori Otak Lemah, Saat Seseorang Baru Saja Bangun Tidur

Para ilmuwan Universitas Harvard melakukan penelitian terkait hubungan antara memori ingatan dan tidur. Mereka menggunakan alat scan resonansi MRI fungsional magnet, hingga mereka mendapati adanya aktivitas otak di kawasan yang spesifik. Kemudian aktivitas itu bergerak ke wilayah kedua dan begitulah seterusnya bahwa otak melakukan penataan informasi, berkoordinasi, dan menyimpan informasi sehingga mudah diambil kembali setelah seseorang bangun dari tidur. Namun studi selanjutnya menunjukkan bahwa fokus otak seseorang ada pada tahap minimum ketika ia baru saja bangun tidur. Dibutuhkan waktu antara 15-30 menit untuk dapat mengembalikan kemampuan pikiran. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar seseorang segera setalah bangun tidur melakukan beberapa latihan ringan untuk memulihkan aktivitas otak.

Di sini, kita juga bisa memahami mengapa Nabi saw banyak mengingat ALLah langsung setelah bangun dari tidur. Beliau kemudian berwudhu, berdo’a, lalu shalat. Jadi beliau menggunakan bagian waktunya setelah tidur untuk berdo’a dan berdzikir, sebelum melakukan aktivitas lain atau menentukan keputusan. Jika ktia kaji pandangan para ilmuwan dewasa ini, mereka menegaskan bahwa memori manusia berada pada posisi terendah setelah baru saja bangun dari tidur.

Para peneliti memperingatkan dokter yang berjaga malam, juga petugas pemadam kebakaran dan pekerja di malam hari yang pekerjaannya membutuhkan pengambilan keputusan penting setelah bangun. Disarankan mereka untuk tidak mengambil keputusan atau tidak mengambil tindakan apapaun sampai setelah seperempat jam setelah bangun tidur.

Itu sebabnya ALLah berfirman :

“ALLAh memegang jiwa (seseorang) pada saat kematiannya dan jiwa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) ALLah bagi kaum yang berpikir.” (QS Az-Zumar : 42)

Ayat ini menjelaskan tentang pentingnya tidur dan kaitan antara tidur dengan mati. Karena itu, kita harus perhatikan kondisi tidur kita, dengan berdzikir kepada ALLah swt sebelum tidur dan setelah bangun dari tidur. Bercermin pada apa yang dilakukan Rasulullah saw.

Apa Pelajaran yang Kita Petik dari Studi ini?

1. Jangan terlalu banyak tidur, dan bangunlah di saat shalat Subuh. Ini akan menambah kekuatan jantung dan meningkatkan kesehatan serta menambah kegairahan untuk beraktivitas. Gantilah sebagian kekurangan tidur kita di waktu malam dengan tidur sejenaj di waktu siang.

2. Manfaatkan waktu tidur kita dengan mendengarkan tilawah AL Qur’an murattal. Otak akan bekerja menyimpan ayat-ayat yang dibacakan itu saat kita tidur. Ini adalah salah satu cara untuk membantu kita menghafal Kitabullah. Saya menerapkan cara ini dan saya telah mampu menghafal Al Qur’an tanpa kesulitan yang berarti. Alhamdulillah.

3. Hal pertama yang harus dilakukan setelah bangun langsung adalah berdo’a sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw,

“Segala puji bagi ALLah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah kami dikumpulkan.”

Lalu berwudhulah, shalat sekitar 15 menit minimal. Aktivitas seperti ini akan menambah kemampuan kita untuk bisa tepat mengambil keputusan penting dalam hidup.

Akhirnya, saya memohon kepada ALLah swt agar mengokohkan ktia di atas kebenaran ini. Menjadikan seluruh kemukjizatan ini sebagai sarana yang bisa meyakinkan hati siapapun yang ragu terhadap hakikat Islam. Agar mereka mengetahui kemuliaan agama ini. Agar mereka tahu kasih sayang yang telah dibawa Rasulullah saw.

Saya tutup artikel ini, dengan firman ALLah swt,

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagaian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS Ar-Rum : 23).

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan “.( QS.An-Nahl(16):127)

Maka (apakah) barangkali engkau ( Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini”.(QS.Al-Kahfi(18):6)

“Janganlah sekali-kali engkau ( Muhammad) menujukan pandanganmu kepada keni`matan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”.(QS.Al-Hijr(15):88).

Ayat-ayat diatas adalah ayat-ayat yang diturunkan ketika Rasululllah dalam keadaan duka yang mendalam. Rasulullah bersedih karena para pemimpin Quraisy dan penduduk Mekah mendustakannya. Namun dengan pertolongan-Nya jualah Rasulullah bisa menahan kesabarannya. Waktu demi waktu berlalu. Tak satupun ayat-ayat Al-Quran mampu menggugah hati orang-orang Mekah untuk meninggalkan kesyirikan mereka.  Mereka tetap dalam keraguan yang mendalam.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.(QS.Al-Baqarah(2):23).

Lima tahun setelah wahyu pertama turun berlalu sudah. Karena penyiksaan tidak juga berkurang, akhirnya Rasulullah mengizinkan sejumlah Muslimin untuk mencari suaka ke Habasyah. Mereka terdiri dari 12 Muslim  dan 4 Muslimah, termasuk diantaranya adalah Ruqayah, putri kedua Rasulullah dan suaminya, Ustman bin Affan. Negri di Afrika yang sekarang bernama Ethiopia ini ketika itu berada dibawah pemerintahan seorang raja Nasrani alim yang sangat bijaksana, yaitu Najasyi.

Baru beberapa waktu mereka menetap  di negri tersebut, ketika kemudian mereka mendengar kabar bahwa beberapa orang kuat Quraisy, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib  dan Umar bin Khattab telah memeluk Islam. Maka merekapun berniat kembali ke Mekah. Namun ditengah perjalanan mereka terpaksa kembali ke Habasyah karena ternyata ke-Islaman dua tokoh tersebut malah makin membuat orang Quraisy memperkuat tekanan terhadap orang-orang Islam. Mereka bahkan mengirim beberapa wakilnya untuk pergi ke Habasyah dan meminta secara langsung kepada raja Najasyi agar mengembalikan orang-orang Islam yang meminta suaka kepadanya.

Namun bagaimana tanggapan raja tersebut? Najasyi malah menangis terharu ketika mendengar Ja’far bin Abu Thalib, salah seorang Muslim yang ikut hijrah, membacakan surat Maryam.

“ Kaaf Haa Yaa `Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” ….. …. …. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi belah dan gunung-gunung runtuh karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba “… hingga akhir surat.

( Click : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

“ Aku tidak akan menyerahkan  orang-orang yang mencari kebenaran ini kepada kalian. Mereka adalah orang yang benar. Demikian pula nabimu”, demikian jawaban Najasyi. Menurut  beberapa sumber Najasyi bahkan bersumpah akan mengakui Islam dan ajarannya bila ia sempat bertemu Rasulullah.

Habis sudah kesabaran para pembesar Quraisy. Betapa kesalnya mereka menghadapi kenyataan ini. Sejumlah riwayat mengatakan bahwa para pemuka Quraisy berkumpul dan sepakat bahwa Muhammad harus dibunuh. Keputusan ini disampaikan kepada bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib. Namun mereka menolak menyerahkan anggota keluarganya ini. Selama Abu Thalib masih hidup tak mungkin mereka berani mengganggu apalagi membunuh ponakan yang amat disayanginya itu. Akhirnya mereka bersepakat bahwa jalan satu-satunya yang memungkinkan hanyalah memboikot kehidupan Muhammad dan seluruh keluarga yang mendukungnya hingga Muhammad diserahkan.

Selama tiga tahun keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib diasingkan dan dikucilkan dari pergaulan dan perekonomian. Suku Quraisy yang terdiri atas beberapa bani ini dilarang mengadakan jual beli dengan kedua keluarga bani tersebut. Tidak boleh ada perdamaian, belas kasih, pertemanan, persahabatan apalagi perkawinan dengan anggota Bani Hasyim maupun Bani Muthalib.

Mereka dipaksa hidup di pemukiman ( syi’ib) bani Muthalib tanpa bisa keluar. Ditempat inilah berkumpul semua anggota bani Hasyim dan bani Abu Muthalib, baik yang telah memeluk Islam maupun yang masih kafir, kecuali Abu Lahab. Bagi yang masih kafir, mereka bertahan karena dorongan semangat fanatisme kekabilahan. Ini adalah sesuatu yang khas telah dimiliki masyarakat Arab sejak dulu.

Sejumlah riwayat menceritakan bahwa selama tiga tahun itu mereka beberapa kali terpaksa makan dedaunan karena kekurangan makanan. Begitu pula keluarga Rasulullah termasuk Fatimah yang ketika itu baru berusia sebelas tahun-an. Tangis kelaparan anak-anak sering terdengar hingga ke luar kota Mekah.

Hingga suatu ketika pada awal tahun ke tiga pemboikotan, bani Qushayyi mulai mengecam perbuatan biadab tersebut. Sementara itu Rasulllah mengatakan pada Abu Thalib bahwa surat perjanjian yang ditanda tangani para pemuka Quraisy dan ditempel di salah satu dinding Ka’bah itu telah dimakan rayap kecuali beberapa kalimat yang menyebutkan kata Allah.

“ Apakah Tuhanmu yang memberitahukan itu kepadamu?”, tanya Abu Thalib heran. “ Ya”, jawab Rasulullah singkat. “ Allah telah mengirim sejumlah anai-anai untuk menghancurkannya”. Maka Abu Thalibpun segera pergi menemui  para pemuka Quraisy dan menyatakan bahwa pemboikotan telah usai karena surat perjanjiannya telah rusak. Dengan terheran-heran mereka terpaksa menerima kenyataan yang berada di luar perkiraan mereka tersebut.

Tak lama setelah itu,sejarah mencatat bahwa sekitar tiga puluh orang dari kaum Nasrani Habasyah datang menemui Rasulullah untuk mengetahui Islam lebih jauh. Mereka datang bersama Ja’far bin Abu Thalib yang telah membuat raja Najasyi menangis ketika mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan kepadanya.

Setelah bertemu dengan Rasulullah, berbincang dan mendengar ayat-ayat Al-Quran merekapun segera beriman. Abu Jahal yang mengetahui hal tersebut langsung bersungut-sungut. “ Kami belum pernah melihat utusan yang paling bodoh kecuali kalian. Kalian diutus oleh kaum kalian untuk menyelidiki orang ini. Tetapi belum sempat kalian duduk dengan tenang di hadapannya, kalian sudah melepaskan agama kalian dan membenarkan apa yang diucapkannya”.

Mereka menjawab : “ Semoga keselamatan atasmu. Kami tidak mau  bertindak bodoh seperti kamu. Biarlah kami mengikuti pendirian kami dan kamupun bebas mengikuti pendirianmu. Kami tidak ingin kehilangan kesempatan yang baik ini”.

Berkaitan dengan itu maka Allah berfirman :

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.(QS. Al-Qashah(28):52-55).

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 13 September 2010.

Vien AM.

Tiga tahun lamanya Rasulullah berdakwah secara diam-diam. Rumah Abu Abdillah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam menjadi madrasah pertama tempat berkumpulnya  Muslimin generasi awal. Dibawah ajaran dan pengawasan langsung Rasulullah saw, meski jumlah mereka ketika itu hanya 40 orang mereka adalah orang-orang yang benar-benar  taat dan sangat pandai menjaga kerahasiaan pertemuan mereka.

Setiap menjelang shalat mereka datang secara sembunyi-sembunyi menuju madrasah  yang tersembunyi di atas bukit Shafa ini. Ketika itu belum turun perintah shalat 5 kali sehari. Mereka hanya melaksanakan shalat 2 kali sehari, yaitu di awal pagi hari ( Subuh ) dan di awal menjelang  malam ( Magrib).

Hingga suatu hari turun  ke tiga ayat berikut :

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.  (QS.Al-Hijir [15]: 94).

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman “.(QS.Asy-Syuara’(26): 214-215).

“Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”.(QS.Al-Hijir [15]: 89).

Maka begitu menerima ketiga perintah di atas, Rasulullahpun segera menuju bukit Shafa. Dari atas bukit ini beliau berseru memanggil :   “ Wahai Bani Fihr, wahai Bani Adya, wahai Bani Kaab, wahai Fathimah binti Muhammad, wahai Bani Abdul Muththalib, wahai semua orang Quraisy .. ”

Seruan ini ditujukan kepada semua suku Quraisy  hingga mereka berkumpul semua. Bahkan ketika ada yang berhalangan hadir maka orang tersebutpun mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.

Rasulullah kemudian melanjutkan seruannya : “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada sepasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?

“ Tentu kami percaya “, jawab mereka. “ Kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran.

Rasulullah kembali bersabda : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku pemberi peringatan kepada kalian dari azab yang pedih. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak dapat membela kalian di hadapan Allah selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya ”.

Mendengar ini, Abu Lahab serta merta menyahut kesal : Celakalah engkau selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”.

Tak lama kemudian turunlah  dua ayat  berikut :

“ Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa “. ( QS. Al-Lahab (111): 1).

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (QS.As-Saba’(34):46).

Itulah yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu Abbas ra dan Muslim dari Abu Hurairah ra dengan redaksi yang kurang lebih sama.

Disamping itu ada juga riwayat yang mengatakan bahwa setelah turun ayat :” Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu” Rasulullah segera mengumpulkan keluarga besarnya di rumah Abu Thalib, paman yang selalu menyayangi dan melindungi beliau. Namun belum sempat Rasulullah berkata panjang lagi-lagi Abu Lahab memotongnya. Ini terjadi hingga dua kali.

Rasulullah menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab yang diembannya amatlah berat dan penuh tantangan. Untuk menghibur Rasulullah Allah swt mengingatkan bahwa semua Rasul dan nabipun menghadapi hal yang sama.

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya”. (QS.Al-Hijr (15):10-11).

Akan tetapi yang paling menyakitkan tantangan dan permusuhan kuat justru datang dari pihak keluarga beliau sendiri yang notabene merupakan para pemuka Quraisy yang disegani masyarakat. Terutama Abu Lahab yang juga merupakan besannya. Dengan penuh kesombongan ia bahkan memerintahkan kedua anaknya untuk segera menceraikan istri-istri mereka,yaitu Zainab dan Ruqqayah binti Muhammad. Dapat dibayangkan betapa sakit hati, malu dan sedihnya Khadijah dan kedua putri Rasulullah ini. Namun demikian mereka tetap tegar dan terus mendukung perjuangan suami dan ayah mereka tercinta, apapun akibatnya, terutama Khadijah ra.

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa suatu ketika Rasulullah berkata dihadapan Abu Thalib dan pamannya yang lain  : “ Aku ingin mereka mengucapkan satu kalimat yaitu La ilaha illallah ( tiada tuhan selain Allah )”. Seketika merekapun mengejek,  “ Satu Tuhan? Ini sesuatu yang sangat mengherankan”. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i dan Hakim).

Kemudian turun ayat berikut :

“ Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini (maksudnya agama Nasrani yaitu meng-esakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan. Mengapa Al Qur’an itu diturunkan kepadanya di antara kita?” Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur’an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku”.( QS. Shad(38): 4-8).

Maka sejak itulah orang-orang Islam yang jumlahnya belum begitu banyak itu mengalami siksaan dan tekanan. Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari bahan ejekan. Kemana beliau  melangkah Abu Lahab selalu mengikutinya sambil mengatakan bahwa ponakannya itu orang gila.

Suatu hari Rasulullah sedang melaksanakan shalat di depan Kabah. Sementara Abu Jahal dan teman-temannya terlihat berada di ujung lain tempat tersebut. Mereka memperhatikan gerak gerik Rasulullah sambil mentertawakan dan mengolok-ngolok beliau. Tak lama kemudian Abu Jahal  berkata menantang  : ‘Siapa di antara kalian yang bisa mendapatkan usus binatang sembelihan untuk kita campakkan kepada Muhammad?’

Uqbah bin Abi Muayt, orang yang paling keji di antara mereka, menawarkan diri dan bergegas pergi untuk melakukan perkara keji  tersebut. Uqbah kembali dengan usus binatang sembelihan lalu melemparkannya ke atas bahu Rasulullah saw ketika beliau sedang sujud.

Fatimah, putri bungsu Rasulullah yang melihat  kejadian tersebut langsung berlari  dan membuang kotoran tersebut sambil menangis. Kemudian Rasulullah kembali berdiri dan menyempurnakan shalatnya. Sementara Fatimah yang ketika itu baru berusia 10 tahun memarahi kumpulan orang Quraisy tadi.

Usai shalat dengan suara keras Rasulullah berdoa : “ Ya Allah, hukumlah orang-orang Quraisy itu!”,sebanyak tiga kali. “ Semoga Kau menghukum Utbah, Uqbah, Abu Jahl dan Shaybah “. Mendengar  ini orang-orang Quraisy tadi hanya diam  tak bereaksi. Terlihat adanya rasa takut dan khawatir dalam diri mereka. (Beberapa tahun kemudian,  dalam perang Badar, mereka yang disebut Rasulullah di dalam doa di atas terbunuh secara mengenaskan).

Penyiksaan terhadap pemeluk Islam makin hari menjadi-jadi. Hampir setiap hari selalu ada Muslim yang disiksa dan dipaksa kembali ke ajaran nenek moyang mereka. Namun demikian ini tidak berarti bahwa dakwah tidak berkembang.

Rasulullah yang kerap shalat didepan Kabah bersama Khadijah dan Ali bin Abu Thalib yang ketika itu masih belia walaupun banyak orang yang tidak menyukainya, tidak dapat dipungkiri merupakan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang masih bersih hatinya. Sama halnya dengan penyiksaan yang terjadi. Kejadian yang sangat memprihatinkan ini justru merupakan magnit bagi perkembangan agama baru ini.

Bagi mereka yang masih bersih  hatinya, prilaku dan akhlak Muhammad yang sejak lama telah dikenal berkat kejujuran, kesabaran dan kesantunannya sungguh sangat menjanjikan. Sejak muda beliau telah pandai menjaga silaturahmi, tidak mau menyembah berhala, tidak suka mabuk-mabukan apalagi pesta-pesta dan bermain-main dengan perempuan. Beliau dikenal sebagai seorang suami yang setia dan sangat menyayangi keluarganya. Di mata mereka Muhammad adalah benar-benar patut dijadikan sebagai panutan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (QS. Al-Ahzab(33):21).

Belum lagi dengan pengaruh bacaan Al-Quran yang begitu memikat. Kota Mekah sejak lama telah dikenal sebagai tempat berkumpulnya para penyair terkenal. Setiap bulan haji para penyair dari segenap penjuru tanah Arab berdatangan untuk mempertontonkan kehebatan mereka menggubah berbagai bentuk dan gaya syair.

Ketika Rasulullah membacakan ayat-ayat Al-Quran banyak orang yang terpengaruh dengan keindahan ayat-ayat tersebut, baik dari segi isi maupun gaya bahasanya. Oleh karenanya banyak orang yang kemudian tertarik dan akhirnya memeluk Islam. Maka dengan keji Abu Jahalpun melempar fitah bahwa Muhammad adalah seorang penyihir sekaligus penyair gila. Selanjutnya ia berusaha keras menghalangi orang dari mendengar ayat-ayat suci tersebut.

Adalah Walid bin Mughirah, seorang pembesar Mekah. Setelah mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah, ia merasa tersentuh. Abu Jahal segera mendesak temannya itu agar tidak terpengaruh. “Ucapkan sesuatu yang membuktikan pengingkaranmu kepada Muhammad “, ujarnya.

“Apa yang harus kukatakan? Demi Allah, tak seorangpun diantara kalian yang melebihi pengetahuanku tentang syair, puisi dan sajak, bahkan dari kalangan jinpun. Demi Allah apa yang diucapkan Muhammad tak sedikitpun menyerupai semua itu. Sungguh perkataannya indah dan menyejukkan. Kata-katanya sangat tinggi dan tak mungkin tertandingi”, aku Walid kagum.

Hai Walid, kaummu takkan rela hingga kau mengatakan sesuatu yang mencela Muhammad”, desak Abu Jahal lagi.

” Beri aku waktu untuk berpikir”, jawab Walid pada akhirnya.

Setelah berpikir sejenak, Walidpun berkata dalam hati, ” Mungkin memang benar, ucapan Muhammad itu adalah sihir yang berkesan”.

Kisah diatas diriwayatkan oleh Hakim dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa setelah kejadian diatas turunlah ayat berikut :

“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya” . (QS.Al-Mudatstsir(74):11).

Namun demikian Rasulullah berusaha tetap menjaga kesabarannya. Apalagi ketika Allah swt menurunkan ayat berikut :

” Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka”. (QS.Al-Insan(76):24).

Qatadah menuturkan bahwa ayat diatas berkenaan dengan Abu Jahal yang suatu ketika berkata,  ” Jika  aku melihat Muhammad mendirikan shalat pasti aku akan menginjak batang lehernya “. ( HR Abdurrazaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir)

Para penguasa kota Mekah terlihat makin kesal dengan perkembangan Islam.  Apalagi dengan masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Keduanya adalah tokoh Quraisy yang selama ini dikenal gagah berani dan berpendirian kokoh. (Umar bin Khattab adalah satu diantara banyak orang yang tertarik dengan ajaran Islam berkat bacaan Al-Quran).

“ Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.( QS. Fathir(35):8).

Ibnu Abbas menegaskan bahwa ayat diatas diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika berdoa, “ Ya Allah, kukuhkan agama-Mu dengan Umar bin al-khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Lalu Allah memberi hidayah kepada Umar bin al Khattab  dan menyesatkan Abu Jahal. ( HR Juwaibir).

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 6 September 2010.

Vien AM.

Namanya adalah Hindun binti Suhail, dikenal dengan nama Ummu Salamah. Ia dibesarkan di lingkungan bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah bin Makhzurn. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya yang terkaya dan terbesar wibawanya.

Sementara Hindun sendiri dikenal kaumnya selain karena kecantikannya yang mampu  meluluhkan setiap orang yang melihatnya juga karena keelokan pribadinya yang memang telah tertanam sejak kecil.

Banyak pemuda Mekah yang ingin mempersunting Hindun. Namun yang akhirnya berhasil menikahinya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal, seorang penunggang kuda terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya bernama Barrah binti Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi saw. Abdullah adalah saudara sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab.

Hindun dan Abdullah hidup bahagia. Rumah tangga mereka diliputi kerukunan dan kesejahteraan. Tak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka sehingga mereka memeluk Islam. Dengan demikian mereka  menjadi orang-orang pertama yang masuk Islam. Maka mulailah mereka berjuang dalam mempertahankan keimanan dan hidup mereka.

Sebagaimana kita pahami, orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin generasi awal agar mereka mau meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat kondisi ini, Rasulullah saw mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah. Raja Habasyah saat itu adalah seorang pemeluk taat Nasrani yang mengakui Muhammad saw sebagai rasul. Raja tersebut adalah Najasyi.

Di kemudian hari, kelompok orang yang berhijrah ke negri ini disebut sebagai kaum Muhajirin yang pertama. Hindun dan Abdullah adalah satu diantaranya. Di Habasyah inilah Hindun melahirkan anak-anaknya, yaitu Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah. Sejak itu Hindun dikenal dengan nama Ummu Salamah atau ibunya Salamah. Dan Abdullah disebut dengan Abu Salamah, ayahnya Salamah.

Beberapa lama kemudian mendengar keislaman tokoh-tokoh besar Mekah seperti Umar bin Khattab ra dan Hamzah bin Abdul Mutthalb, para Muhajirin pertama inipun tertarik untuk pulang kampung. Namun ternyata harapan mereka meleset. Kaum Muslimin masih tetap ditekan dan disiksa orang-orang Quraisy. Beruntung sebagian besar penduduk Yatsrib ketika itu telah berbait hingga akhirnya Rasulullahpun berani mengizinkan mereka untuk hijrah ke Yatsrib, nama lama Madinah.

Namun tampaknya bukan hal yang mudah untuk berhijrah. Orang-orang Quraisy dengan kejam terus berusaha menghalangi mimpi umat islam untuk hidup tentram sambil menjalani agama baru mereka. Ditengah perjalanan kaum Bani Makhzum (kaumnya Ummu Salamah) mencegat dan menyandera Ummu Salamah. Sementara bani Asad, baninya Abu Salamah menculik anak-anaknya. Abu Salamah terpaksa  merelakan keluarganya dan meneruskan perjalanan hijrahnya tanpa orang-orang yang amat dikasihinya itu.

Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu Salamah terus-menerus menangis karena kecewa atas perbuatan kaumnya. Akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya ke Madinah. Bani Asad juga akhirnya menyerahkan kembali putranya, Salamah.

Namun kehidupan di Madinah bukanlah tanpa perjuangan. Perang demi perang terus berlangsung. Abu Salamah ikut serta dalam Perang Badar dan perang Uhud. Dalam perang Dzil Asyirah yang terjadi pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menunjuknya untuk  mewakili beliau di Madinah.

Pada perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka parah dan nyaris meninggal. Namun tak lama kemudian ia pulih kembali. Bahkan pada perang berikutnya ketika bani Asad dikabarkan akan menyerang umat Islam di Madinah, Rasulullah menunjuk sepupu sekaligus saudara susunya ini untuk memimpin penyerangan. Pasukan Abu Salamah mengalami kemenangan yang gemilang. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan perang yang banyak.

Namun luka-luka Abu Salamah kembali kambuh. Ia jatuh sakit. Rasullah beberapa kali menjenguk dan mendoakannya. Sementara itu Ummu Salamah selalu mendampingi, merawat dan menjaganya siang dan malam.

Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat. Dengan perasaan duka yang mendalam, Ummu Salamahpun berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga jika setelah itu istrinya tidak menikah lagi. Kemudian Allah akan mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika si istri yang meninggal dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku. Dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah lagi sepeninggalmu.”

Abu Salamah berkata pelan, “Maukah engkau menaati perintahku?”. Ummu Salamah  menjawab, “Adapun aku bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamahpun melanjutkan perkataannya, “Seandainya aku mati, maka menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya Allah, kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”

Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah saw selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?”

Rasulullah menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.” Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan melaksanakannya untuknya.”

Setelah itu Rasulullah saw berdo’a: “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya dan berilah pengganti yang lebih baik untuknya.”

Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia telah memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah. Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia menjadi janda dan ibu bagi anak-anak yatim.

Setelah wafatnya Abu Salarnah, para pemuka dari kalangan sahabat bersegera meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk melindungi diri Ummu Salamah. Suatu hal yang lazim dilakukan masa itu. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya. Ia terus hidup dalam kesedihan yang mendalam.

Akhirnya Rasulullah saw mendatanginya dan berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”.

Atas pertanyaan tersebut Rasulullahpun terus berpikir. Tidakkah kedua sahabatnya, yaitu  Abu Bakar dan Umar lebih baik dari Abu Salamah? Namun mengapa Ummu Salamah tetap menolak lamaran keduanya? Akhirnya Rasulullah menyadari bahwa Allah swt telah menunjuk dirinya agar menanggung beban derita perempuan yang telah begitu banyak berkorban dalam Islam ini. Rasulullahpun segera melamarnya.

Di kemudian hari, setelah menjalani kehidupan sebagai salah satu Umirul Mukminin, Ummu Salamah ra dikenang tetap istiqomah. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa wahyu yang datang sebelum pernikahan rasulullah dengan Ummu Salamah ra sering terjadi dikamar Aisyah ra. Hal ini yang sering dibanggakan istri Rasulullah termuda tersebut. Namun sejak pernikahan dengan Ummu Salamah, wahyu lebih sering datang di kamar Ummu Salamah. Untuk diketahui, Rasullah menempatkan Ummu Salamah di kamar Zainab binti Khuzaimah, istri nabi yang telah meninggal dan digelari Ummul-Masakiin (ibu bagi orang-orang miskin) karena tingkat kepeduliannya yang amat tinggi terhadap orang miskin.

Disamping itu, Ummu Salamah juga dikenal karena sifatnya yang bijak. Suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para pengikutnya masuk ke kota tersebut walaupun hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Sebenarnya sebagian besar sahabat ketika itu tidak mau menerima sikap ini. Mereka merasa bahwa mereka berniat melakukan sesuatu yang di-ridhoi Allah SWT dan pasti Allah akan membela mereka. Jadi mereka berkesimpulan mereka harus mengambil jalan kekerasan. Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau justru menyetujui untuk menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.

Kemudian setelah kesepakatan tercapai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah. Ternyata walaupun Rasulullah telah mengulangi perintah tersebut hingga 3 kali tidak seorangpun sahabat yang mentaatinya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mungkin para sahabat benar-benar kecewa atas keputusan yang diambil Rasulullah.

Rasulullah akhirnya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah yang ketika  itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurutnya lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

Pada hari tuanya, melalui surat yang ditata dengan kata yang indah, Ummu Salamah juga pernah mengingatkan Aisyah ra agar tidak turut campur dalam peperangan (perang Jamal dll) yang terjadi akibat fitnah pada masa pembunuhan Ustman bin Affan ra.

“Dari Ummu Salamah, Istri Nabi shallallahu alaihi wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.

Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia.  Amma ba’du.

Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya. Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.

Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya”.

” Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS.Al-Ahzab(33):32-33).

Ummu Salamah wafat dalam usia 84 tahun pada tahun 59 H. Ia dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping makam  Ummirul-Mukminin lainnya.

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 1 September 2010.

Vien AM.

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Berikut 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Siddiq ra.

Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”.

Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadiets.

2. Umar Bin Khatab ra.

Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.

Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.

Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.

5. Thalhah Bin Abdullah ra.

Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

6. Zubair Bin Awaam

Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

7. Sa’ad bin Abi Waqqas

Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

8. Sa’id Bin Zaid

Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar. Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun dikuburkan di Baqi’.

9. Abdurrahman Bin Auf

Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’.

10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah

Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw. Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 31 Agustus 2010.

Vien AM.

Sumber : dakwatuna.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers