Feeds:
Posts
Comments

Paris, Au Revoir (3).

Apapun, masjid adalah tempat silaturahim yang baik. Disini pula suatu hari saya pernah mengantar seorang  reporter TV tanah air menemui direktur masjid ini. Dalam wawancaranya itu, beliau mengaku kagum dengan Muslim Indonesia yang terlihat kompak dan mudah diatur ketika berhaji. Dalam kesempatan itu beliau juga menyampaikan salam ukhuwahnya untuk Muslim negri kita.

Yang juga cukup membanggakan, masjid ini terletak di lokasi yang cukup bergengsi. Masjid ini terletak di sudut  jalan, di depan Jardin de Plantes, yaitu kebun raya tanaman bio yang cukup luas  dan museum National d’Histoire Naturelle, museum yang menyimpan sejarah bintang langka, seperti Dinosaurus dll. Kedua situs ini banyak dikunjungi wisatawan dan hampir setiap hari selalu ramai.

Di sudut jalan ini berdiri sebuah restoran halal ala Maroko. Berbagai makanan khas Maroko seperti kuskus dan tajin yang banyak disukai bule  Perancis dijual di tempat ini. Di restoran ini terdapat  hamam, yaitu permandian air panas ala Maroko, yang dipisahkan antara laki2 dan perempuan. Jangan heran bila melihat antrian panjang bule-bule, mengantri di sudut masjid ini. Sekedar info, orang Perancis banyak yang sangat menyukai hal-hal yang eksotis – orientalis.

Bagi kaum Muslimin penggemar masakan khas Perancis juga ada kabar gembira. Restoran yang menyajikan masakan khas seperti crepe asin isi salmon, raclette dll dapat dijumpai tak jauh dari sini. Letaknya di belakang stasiun metro Place Monge.

Sementara itu di sudut lain masjid berdiri sebuah toko buku Islam dalam berbagai bahasa, selain toko buku di depan masjid yang hanya menjual buku dalam bahasa Perancis dan Arab. Di kedua toko ini dijual pula berbagai pernak pernik berbau  ‘islam’ seperti parfum Arab, Henna cat kuku dan rambut, gamis dll, disamping tentu saja sajadah dan tasbih.

Saya sempat mengobrol lumayan sering dengan  pemilik toko buku yang di ujung jalan itu. Ia adalah seorang pria setengah umur yang ramah dan sangat santun. Istrinya adalah orang bule asli Perancis  yang menutup auratnya dengan sangat sempurna. Cadar menutupi sebagian wajahnya. Hal yang banyak dilakukan mualaf asli negri ini. Sedangkan suaminya adalah orang Syria yang sejak lama telah tinggal di Perancis dan menjadi  warga Negara Perancis. Keduanya terlihat sangat sholeh dan sholehah.  Mereka sangat menjungjung tinggi agama Islam. Kagum saya pada mereka.

Kenangan yang juga tak patut dilupakan adalah keberadaan kedutaan Indonesia.  Disinilah masyarakat Indonesia sering bertemu. Tidak hanya ketika Ramadhan, Lebaran atau Natal. Namun juga ketika kebetulan sedang mengurus passport.  Bahkan persatuan ibu-ibu pejabat yang tergabung dalam Dharma Wanita juga menyelenggarakan arisan dan pertemuan rutin bulanan. Acara ini terbuka untuk seluruh warga Indonesia, baik yang sudah puluhan tahun tinggal di Paris dan menikah dengan bule maupun yang sedang tugas mendampingi suami,  seperti saya ini.

Di bagian belakang gedung perwakilan Negara ini berdiri pula semacam koperasi merangkap kantin. Disinilah berbagai keperluan dapur khas Indonesia seperti kecap, bumbu kacang, indomie  dll dapat ditemukan.  Begitu juga  masakan jadi khas Indonesia buatan masyarakat Indonesia di Paris.

Sayangnya, masakan tersebut belum tentu halal. Biasanya, untuk mengetahui kehalalan masakan tersebut kita harus mencari tahu dulu siapa yang memasak lauk pauk tersebut.  Beruntung tahun lalu, ada istri teman sekantor suami, seorang Muslmah,  yang hobby memasak dan mau menerima pesanan masakan. Jadi terjamin halal, Alhamdulillah …

Namun dalam urusan perut, sebenarnya kaum Muslimin tidak perlu terlalu khawatir. Sekarang ini banyak sekali toko daging ( mentah) halal di Paris, orang menamakannya “ Boucheri Musulman”, baik di pusat  kota maupun di banlieu, kota-kota satelit di sekitar Paris. Malah di supermarket besarpun tidak jarang ditemukan adanya stand daging halal.  Itupun bukan hanya sebatas daging sapi, kambing dan ayam tapi juga masakan siap saji seperti lasagne, pizza, ayam goreng, sandwich, burger dll.

Begitupun bumbu dapur dan rempah-rempah, selain di kedutaan, kita juga bisa berbelanja di china town, seperti super market Tang Freres yang terletak di Paris 13. Atau toko-toko kelontong kecil milik orang Cina atau orang India yang jumlahnya lumayan banyak, bisa menjadi alternatif menarik. Jadi tidak ada alasan tinggal di Paris itu bakal sulit makan nasi atau masak masakan khas daerah kesayangan suami. … 🙂 ..  Meski memang, tentu saja,  bumbunya tidak selengkap di tanah air.

IMG_4692Yang juga tak kalah menggembirakan, di objek-objek wisata resto halal juga tidak terlalu sulit ditemui. Di Musee du Louvre misalnya, di area food court museum ini , sejak beberapa waktu lalu telah tersedia sebuah counter resto halal. 2009-07 Paris_2198Juga di Sacre Couer, sebuah resto fast food halal yang menjual ayam goreng  ala Kentucky, bisa ditemui. Lumayan, untuk pengganjal perut setelah lelah berjalan mendaki bukit kecil dimana gereja tua berwarna putih ini berdiri. Bukit ini sering disebut sebagai atapnya Paris. Karena dari sini kita bisa memandang sebagian kota.

Sementara tak terlalu jauh dari Arc de Triomph, tugu pahlawan yang terletak di bundaran jalan dimana 12 jalan raya bertemu, salah satunya adalah Champs Elysees,  sebuah resto halal yang cukup enak boleh dijajal. Di dinding resto masakan  khas Perancis ini tergantung beberapa lukisan tokoh Turki. Pemilik resto ini memang orang Turki.

Kabarnya, tak jauh dari tugu dengan relief memukau ini juga ada restoran Indonesia. Sayang,  beberapa kali saya mencari tidak menemukannya. Yang saya tahu resto Indonesia yang berada di rue Vaugirard, tidak jauh dari Palais de Luxembourg,  Paris 6.

Bagi yang suka berbelanja di Galery Lafayette, mall mewah terkenal di Paris yang memiliki kubah biru nan elok itu,  juga tidak perlu resah. Sebuah resto halal yang menyajikan masakan Perancis milik seorang Muslim asal Maroko bisa ditemui tidak terjalu jauh dari galeri yang selalu dipadati turis ini.

Sedangkan di sekitar boulevard St Germain, salah satu jalan utama kota Paris yang dirancang secara apik oleh Haussmann di akhir abad 19, sebuah resto halal yang menyajikan masakan Cina dapat menjadi obat penawar kangen masakan Asia yang lumayan enak.  Resto ini terletak di rue Dauphine, tak berapa jauh dari toko bernama « Terima-Kasih ».  Surprised ya ? Begitu juga saya … 🙂

toko terimakasihItu sebabnya, saya segera masuk dan melihat-lihat toko yang ternyata berisi pernak pernik dan sejumlah furniture kayu khas Indonesia. Kebetulan saya bertemu dengan si pemilik, seorang asli Perancis.  Usut punya usut, si pemilik memang pecinta produk negri kita. Itu sebabnya tokonya ia beri nama Terima-kasih. Ia bercerita bahwa ia sering berkunjung ke Jakarta dan Surabaya. Selain untuk urusan bisnis, ia mengaku telah jatuh cinta kepada 2 kota besar itu, dengan segala hiruk pikuknya.

Begitupun di 4temps, pusat perbelanjaan modern di ujung Paris, yang terletak di La Defense, sebuah cafe halal siap saji a la Mc Donald bernama Lal’s cafe, siap melayani kaum Muslimin yang peduli akan kehalalan makanan yang masuk ke perut mereka.

Saya jadi teringat kepada 2 orang Muslimah yang di hari-hari terakhir menghampiri saya. Dari kejauhan mereka sudah melihat ke arah saya. Awalnya saya ragu, berpikir keras apakah saya mengenal kedua perempuan cantik berwajah Arab Aljazair tersebut.  Pertanyaan saya tak lama segera terjawab. Ternyata mereka hanya ingin menanyakan letak café halal tersebut.

Tadinya saya hanya memberi ‘ancer-ancer’nya saja. Tapi kemudian saya berubah pikiran, setelah teringat pengalaman tak terlupakan diantar saudara Muslim ketika suatu hari kami nyasar di negara orang. “Cari pahala ah, selagi masih ada kesempatan”. Maka jadilah saya berbalik arah, mengejar dan mengantar keduanya hingga terlihat papan arah penujuk jalan “Lal’s café”.  Indahnya persaudaraan ..

Namun sebenarnya, untuk mendapatkan makanan halal di kota ini sama sekali tidak sulit, minimal kebab, yang terbanyak adalah kebab Turki. Makanan ini ada hampir di semua sudut kota. Bahkan di tempat-tempat terbuka model pasar kaget kalau di Jakarta, kemungkinan hot dog atau jajanan lain halal yang semacamnya selalu ada. Kuncinya perhatikan dulu penjualnya.  Bila wajahnya menunjukkan ‘wajah Islam ‘,  seperti Aljazair, Maroko, Aljazair atau Turki, 4 etnis Muslim terbanyak di kota ini, cobalah beranikan diri bertanya, apakah makanan yang dijualnya itu halal. Tanyakan dengan suara pelan saja.

Beberapa kali saya melakukan hal itu. Dan ternyata benar. “ Oui, bien sure. Je suis musulman, je m’appelle Muhammad”.  Dengan semangat tanpa ditanya ia memperkenalkan diri, bahwa ia seorang Muslim dan bernama Muhammad.  Selanjutnya, ketika saya menanyakan mengapa tidak diberi tanda halal.  Ia menjawab bahwa resikonya terlalu berat, pelanggan bule bisa menjauh dan mencibir.  Apa boleh buat .. 😦

Ada juga beberapa resto, contohnya di sekitar Sacre Couer atau di sekitar St Michel, tempat dimana turis sering ngantri mencari makan. Meski resto tidak memasang tanda halal, namun begitu melihat ada perempuan berjilbab sedang celingukan mencari resto,  secara spontan sang penjual langsung berteriak bahwa restonya halal.  Ada juga beberapa resto yang  tanpa ditanya mengatakan bahwa ayamnya halal, namun tidak sapinya. Aneh yaa, tapi begitulah …

Lepas dari Lal’s café, sayapun melanjutkan langkah menuju arah lain 4 temps. Sore itu saya janji bertemu dengan seorang teman asal Azerbaijan yang juga sedang di Paris dalam rangka menemani suaminya bertugas. Seperti kebanyakan warga Negara bekas pecahan Rusia, teman saya ini juga Muslim. Sayang ilmu ke-Islam-annya amat minim. Ia mengaku bahwa dirinya belum bisa 100 % meninggalkan kebiasaannya  mengkonsumsi alcohol, terutama bila suaminya, yang juga Muslim menawarkannya, hiks ..

Ia juga bercerita bahwa dirinya baru mulai mengerjakan shalat setahun belakangan ini. Itu sebabnya pada perjumpaan terakhir ini saya menghadiahkan mukena untuknya. Plus buku cerita anak bergambar tentang kehidupan Rasulullah saw untuk kedua putrinya yang masih balita. Dengan harapan, semoga biografi  sederhana tersebut mampu mendekatkan mereka kepada nabi-Mu serta Islam yang tampak jauuh itu. Shalawat dan salam sejahtera bagimu ya Rasul …

“ Aduh bagus sekali, koq kamu tahu kalau saya hanya punya mukena satu, yang segera saya cuci ketika saya sedang haid”, sambutnya senang, dalam bahasa Perancis yang sangat fasih.

( Bersambung)

Paris, Au Revoir (2) !

Seminggu menjelang berakhirnya masa tugas suami, apartemen yang selama ini kami tinggali sudah harus dikembalikan ke perusahaan. Kami diberi kebebasan mencari sendiri hotel apartemen, dengan tanggungan mereka. Dengan penuh semangat, saya usulkan agar suami memilih hotel di pusat keramaian kota. Ini adalah kesempatan baik dan mungkin terakhir, karena selama ini kami tinggal di apartemen di Courbevoie, tidak berapa jauh dari kantor suami di La Defense.

IMG_4637IMG_4638Maka selama seminggu itu, sungai Seine yang membelah kota Paris menjadi 2 bagian yaitu Rive Gauche ( bagian kiri ) dan Rive Droit ( bagian kanan) menjadi pemandangan kami begitu kami membuka jendela kamar kami, Alhamdulillah …

IMG_3829IMG_4787IMG_4879Stasiun metro St Michel dan stasiun Pont Neuf  terletak hanya beberapa  puluh meter  dari tempat ini. Meski sebenarnya untuk menjelajahi Quartier Latin yang terletak di Paris 5 ini, kita tidak perlu  menggunakan metro. Quartier Latin adalah  bagian tertua kota yang ramai dipadati turis. Dengan berjalan kaki, Place St Michel, Notre dame de Paris, bulevard St Germain, Sorbonne,  Pantheon bahkan Palais de Luxembourg yang agak jauh di selatanpun bisa dicapai. Menyeberangi sungai, ke arah utara, Hotel de Ville atau ke arah barat, musee du Louvre juga masih dapat digapai.

MadeleineDemikian juga Place de la Concorde, yang merupakan salah satu tempat paling bersejarah di negri ini. Pelataran terluas di Paris ini dikelilingi bangunan-bangunan penting seperti gedung Asembly National yang berhadapan dengan bangunan kembarannya yaitu gereja Madeleine, hotel Crillon, hotel paling bergengsi di Paris dimana tamu negara sering menginap serta jardin Tuleries yang fenomenal itu.

Pelataran ini juga dikelilingi oleh 8 patung yang melambangkan 8 kota besar yang menjadi batas Paris dengan kota-kota tersebut. 8 kota tersebut adalah Brest, Rouen, Lille, Strasbourg, Lyon, Marseille, Bordeaux dan Nantes. Pelataran ini terbuat dari paving block, memberi kesan kuno namun tetap cantik.

Paris de la ConcordeSementara persis di bagian tengahnya berdiri tugu Obelisk, tugu kuno peninggalan raja Ramses, yang merupakan hadiah dari raja Mesir Mohammad Ali pada tahun 1829 untuk Perancis, sebagai lambang persahabatan ke 2 negara. Tugu ini  diapit oleh 2 buah air mancur kembar nan indah mempesona, dengan patung-patung erotiknya, seperti biasa  ..

Ironisnya, dibalik kecantikan penampilannya, tempat ini menyimpan kenangan yang sungguh pahit. Disinilah raja Louis XVI dan permaisurinya, Marie Antoinette di guilotine alias hukum pancung pada tahun 1793.  Dengan cara yang sama, ratusan orang menjadi korban keganasan dan kemarahan rakyat  yang merasa terzalimi selama bertahun-tahun hidup mereka dibawah tirani kerajaan.

Alexandre Dumas, seorang penulis kenamaan Perancis berhasil mengabadikan tragedi berdarah ini melalui novelnya yang berjudul La Femme au collier de velours . Hasil karyanya ini dipublikasikan pada tahun 1850.

Suatu hari di hari-hari akhir itu, saya berjalan-jalan ke arah Chatelet, tujuan saya Centre Pompidou yang terletak di Paris 4. ( Paris terbagi atas 20  wilayah / arrondissement). Biasanya di tempat ini, tepatnya di depan pelataran di depan perpustakaan Pompidou yang merupakan perpustakaan terbesar di Eropa,  sering ada atraksi gratis. Ternyata benar, hari itu saya berkesempatan menonton pesulap Canada beraksi.  Ia menutup sulapnya dengan atraksi yang cukup memukau.  Dengan gaya lucu, khas interpreneur profesional,  di atas sepeda  tingginya ia memainkan atraksi berbahaya, yaitu melempar pisau secara bergantian di antara dua tangannya.

Pertunjukkan yang berlangsung hampir 1 jam lamanya itu diakhiri dengan tepuk tangan panjang penonton. Berkali-kali sang maestropun membungkukkan badannya dalam-dalam sambil mengucapkan « Thank you .. Thank You “. Setelah itu iapun melemparkan topinya ke atas, menangkapnya kembali lalu berkeliling mendekati penonton.

This is free, of couse .. But the trip from Canada to French is not “, serunya sambil mengedipkan mata penuh arti. “ If you are satisfied,  half euro or even 20 euro doesn’t matter”, lanjutnya lagi dengan nada kocak, memancing tawa penonton.  Sekedar info, rata-rata orang memberi setengah euro untuk pertunjukkan seperti itu.

Alhasil, topi sang maestro yang digeletakkan di lantai itupun akhirnya penuh terisi koin- koin euro,    menjadi tanda sukses pertunjukkannya hari itu. Satu hal yang lazim terjadi di kota ini. Atraksi semacam ini memang hal biasa dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis manca negara.

Setelah itu penontonpun bubar, berpencar mencari hiburan lain. Demikian juga saya. Pandangan saya tertumbuk pada bendera Palestina yang sedang berkibar, tidak jauh dari tempat saya berdiri. Saya segera mendekati tempat tersebut.  Ternyata ini aksi solidaritas untuk kemerdekaan Palestina. Sejumlah poster dan foto-foto kekejaman tentara Israel dipajang di tempat tersebut.  Sementara sebuah meja panjang dengan beberapa kursi terlihat dipenuhi pengunjung. Di atas meja terlihat sebuah kotak berisi postcard dan sebuah kotak pos bertuliskan : » Mr le president de la republique », dengan alamat lengkap istana Elysees, istana resmi kepresidenan.

Usut punya usut, ternyata ini semacam poling/ jejak pendapat terhadap berdirinya Palestina merdeka. Pengunjung dipersilahkan memilih satu atau lebih post card yang tersedia di atas meja, kemudian menuliskan apa yang ingin dikatakannya tentang post card yang dipilihnya itu.

Seperti poster dan foto-foto  yang dipajang di sekitar lokasi, post card-post card tersebut menggambarkan berbagai kekejaman tentara Israel terhadap rakyat Palestina. Yang lebih menarik, post card pilihan pengunjung tersebut ditujukan kepada presiden Perancis, dan tanpa perangko, karena penyelenggara yang akan langsung menyerahkannya kepada orang no 1 negri tersebut.

Tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga  tersebut. Kapan lagi bisa menulis surat kepada presiden, isinya tentang penderitaan saudara-saudari kita di Palestina dan harapan bagi kemerdekaan mereka pula.

Dari  An-Nu’man B. Basyir ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

 “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bantu-membantu itu seperti suatu jasad. Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain akan turut merasakan sakitnya, dengan tanpa dapat tidur dan demam.” (Shahih Muslim, no. 2586. Bab: Mencintai orang-orang beriman, bantu-mebantu, dan saling kerjasama)

11078058_10152950765662054_4149501251067377125_nTidak itu saja, penyelenggara juga menjual T-shirt bertuliskan « Boycot Israel”di bagian depan dan “Go to Hell Israel”di bagian belakangnya.  Sesuatu yang rasanya mustahil terjadi tanah air.  T-shirt berwarna hijau yang hari itu dijadikan seragam penyelenggara itu dijual dengan harga 8 euro.

Namun jangan salah duga. Aksi tersebut tidak berarti bahwa penyelenggara berpihak kepada kaum Muslimin. Ini hanyalah salah satu bentuk toleransi  mereka. Sama halnya ketika mereka berteriak  bahwa kaum LGBT ( Lesbian  Gay Biseksual Transgender) juga mempunyai hak untuk hidup dan dihormati … 😦

Oya, tidak jauh dari tempat saya berdiri ini, berdiri patung baru yang cukup menarik perhatian.  Patung tembaga tersebut adalah patung raksasa Zinedine Zidane,  sedang menyeruduk  lawannya. 😦  ..Kejadian menghebohkan ini terjadi pada tahun 2006 di pesta kejuaraan sepak bola di Berlin.  Meski keberadaan patung raksasa setinggi 5 meter ini berhasil menarik pengunjung, saya yakin, pasti sang pahlawan persepak-bolaan Perancis kelahiran  Aljazair ini tidak senang  dirinya diabadikan dalam posisi seperti itu.

Pasti ia sakit hati, sama seperti sakitnya hati ini, dan juga mungkin kawan-kawan lainnya, karena kabarnya, Zidane terprovokasi melakukan tindakan kasar tersebut karena lawannya yang asal Itali itu selama pertandingan berlangsung terus membuntutinya sambil membisikan kata-kata ejekan terhadap saudara perempuannya  yang berjilbab. Zidane memang berasal dari keluarga Muslim. Betul-betul taktik busuk yang berhasil …

Lepas dari Centre Pompidou, saya segera menuju stasiun metro. Waktu telah menunjukkan pukul 17.30. Artinya sebentar lagi masuk waktu Asar. Tujuan saya adalah Mosquee de Paris, masjid terbesar yang ada di kota ini. Masjid ini terletak di, 39 rue Geoffrey Saint-Hilaire, Paris 5.  Jika ingin naik metro dari tempat ini, kita harus menumpang metro  no 7 dan berhenti di stasiun Place Monge.

Mosquee de Paris46443_426522137053_685982053_5062294_6303357_nmosquee de parisIMG_4690Masjid ini dibangun pada tahun 1926 untuk menghormati 70.000  pahlawan Muslim Perancis yang gugur dalam perang melawan Jerman pasca perang Dunia I. Arsitektur masjid ini mirip dengan arsitektur istana Alhambra di Spanyol, lengkap  dengan Patio de Leons yang terkenal itu. Tapi ini tanpa Leons atau singanya.

Disinilah saya selama 2 tahun lebih melaksanakan shalat Jumat, bersama ratusan Muslimah Perancis. Benar-benar sebuah kenangan yang sangat indah, mendengarkan kutbah Jumat tausiyah di tanah orang kafir. Sayang, tausiyah tersebut diberikan dalam bahasa Arab. Padahal saya perhatikan meski mayoritas jamaah adalah turunan Arab, harap maklum, Maroko, Alajazair dan Tunisia adalah Negara bekas jajahan Perancis,  namun anak-anak mudanya yang merupakan generasi ke 2, ke 3 atau bahkan mungkin ke 4, tidak lagi begitu mampu berbahasa Arab.

Menjadi pertanyaan besar, mungkinkah ini disengaja, karena saya pernah mendengar bahwa masjid agung ini sangat berbau pemerintah. Oleh sebab itu pemerintah melarang menggunakan tausiyah dalam bahasa Perancis, supaya orang Perancis tidak paham. ??!?

“ Katakanlah: “… … , kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. … … “.(QS.Al-Baqarah(2):217).

Atau mungkinkah saya saja yang su’udzon, karena  sebelum khutbah resmi, katanya, ringkasan khutbah telah diberikan dalam bahasa Perancis. Maklumlah Islamphobia di Perancis sudah sangat akut. Yang pasti, masjid lain yang ada di negri ini tidak mau mengikuti aturan masjid agung ini. Bahkan kebijaksanaan UOIF, organisasi Islam terbesar di negri ini, sering bersebrangan dengan keputusan dan aturan mesjid ini. Dan sering kali melawan kebijaksanaan pemerintah. Bisa dibilang masjid agung ini adalah milik pemerintah.

Namun sebagai masjid terbesar dan masjid yang paling mudah dicapai oleh Muslim yang tinggal di pusat Paris, masjid ini tetap ramai dikunjungi jamaah. Meski, seperti apa yang telah diprediksi Rasulullah, sebagai salah satu tanda akhir zaman, setiap hari mesjid ini membuka dirinya untuk turis, untuk dilihat-lihat dan berfoto ria. Meski kalau kita mau usnudzon, bisa saja ini menjadi dakwah tersendiri.

( Bersambung).

Paris, Au Revoir (1)

Tanpa terasa, nyaris 3 bulan sudah kami meninggalkan Paris, Perancis. Begitu banyak kenangan, suka dan duka  kami lalui. Berbagai macam pengalaman kami rasakan dan saksikan. Dari sana, banyak hikmah yang dapat kami petik. Alhamdulillah …

Jakarta dan Paris tentu saja tidak sama. Hal mencolok yang paling terasa, transportasi ! Tanpa perlu dibahas panjang lebar semua orang juga tahu betapa parahnya sistim transportasi di ibu kota Jakarta ini. Jangankan bicara kendaraan umum, untuk berjalan kakipun sungguh tidak nyaman.

Selain tidak tersedia trotoar polusipun bisa bikin sesak nafas. Pejalan kaki benar-benar tidak punya hak di kota ini. Pilihan hanya 2, naik kendaraan umum yang sama sekali tidak nyaman dan tidak terjadwal atau naik kendaraan pribadi. Kalau mau diperluas, ada taxi atau sepeda motor/ ojek. Dengan kondisi, semua maceeeet .

Namun demikian tidak perlu kita terlalu berkecil hati. Karena persamaannya juga ada, yaitu sama-sama ibu kota negara .. 🙂 . Supaya lebih lega, bolehlah saya tambahkan, sama-sama banyak rampok ! 😦 ..

Saya tidak bergurau, saya benar-benar mengalaminya sendiri. Bayangkan, hanya beberapa bulan sebelum usai tugas suami, ban mobil kami, raib digondol maling. Tidak tanggung-tanggung pula, ke-empat-empatnya! Ironisnya lagi, kejadian tersebut  terjadi di garasi pribadi apartemen kami sendiri, yang beberapa hari terakhir itu memang sedang rusak, sehingga terbuka lebar, sepanjang siang dan malam.

Suami mengetahui musibah ini sekitar pukul 4 pagi, ketika hendak pergi ke mesjid untuk shalat subuh berjamaah. Pikiran pertama yang terlintas di benak suami ketika itu “ Untung rampoknya udah kabur”.    Tak dapat dibayangkan apa yang terjadi jika suami datang dan memergoki rampok sedang beraksi … Astaghfirullah hal ladzim …  Rupanya Allah swt masih melindunginya, Alhamdulillah …

Sebenarnya bukan sekali ini saja kami mengalami musibah di kota pusat mode dunia ini. Pada tahun 2001 kaca mobil pernah dipecah orang. Gara-garanya hanya sebuah tas anak kami yang masih SD ‘nampang’di jok depan mobil. Ketika itu saya baru saja menjemput anak kami tersebut. Kami berdua tidak langsung meninggalkan parkiran yang terletak  di depan sekolah melainkan berjalan-jalan dulu di taman luas yang berada di samping sekolah. Saya ingat betul namanya, Parc Monceau.

Sekembali dari jalan-jalan itulah saya melihat bahwa kaca mobil kami telah dipecah orang dari luar. Dan yang diambil ya hanya tas anak kami itu. Kebetulan tas tersebut memang rada élit’, sedikit mirip tas kantoran. Pasti si maling tadi tidak menyangka bahwa tas tersebut hanya tas yang berisi buku-buku anak SD.  Saya akui, saya memang lalai tidak menyembunyikan tas tersebut. Namun siapa yang menyangka bahwa orang Paris ‘doyan’dan gampang tergiur barang seperti itu.

Yang kedua, terjadi pada tahun 2003, yaitu 2 bulan sebelum berakhirnya masa penugasan suami, persis seperti yang terjadi pada tahun 2012 lalu. Suatu hari seperti biasa saya pergi kursus bahasa Perancis. Karena siangnya kami ada acara bersama AVF, suatu kelompok sosial untuk mengenal kehidupan kota di Perancis dimana kami tinggal, maka saya pulang dulu, untuk salin dsb.

Namun setiba di apartemen dimana kami tinggal, pintu tidak bisa dibuka. Bahkan anak kuncinya tidak berhasil saya masukkan. Tiba2 saja hati saya berdebar kencang. Pasti ada yang tidak beres. Saya segera turun dan menelpon suami di kantor, membayangkan ada orang asing di dalam sana, hiii ..

Suami berpesan untuk mengawasi saja apartemen dari luar, sambil menanti kedatangannya. Tak lama kemudian ia datang dan berusaha membuka paksa apartemen, tanpa hasil. Akhirnya kamipun melaporkan kejanggalan tersebut ke SAMU, semacam 911 nya Perancis. Tak sampai setengah jam kemudian, bantuanpun tiba. Pintu dibongkar dan kamipun segera masuk.

Astaghfirullah hal ladzim, ternyata apartemen kami telah dirampok, di siang hari bolong .. Uniknya, rampok tersebut hanya mengambil perhiasan, itupun hanya yang asli, yang imitasi dibiarkan saja tergeletak dikasur.  Bahkan kamera yang harganya lumayan mahalpun tidak disentuhnya. Rampok tersebut membongkar laci2 lemari kamar kami, dapur dan vase2 yang ada di ruang tamupun dijugkir balikkan.

Menurut beberapa teman, memang ada sebagian orang yang suka menyembunyikan perhiasan di tempar beras di dapur dan di dalam vase kembang. Hemm, rupanya, benar2 rampok perhiasan professional ini. Yang menjadi pertanyaan dari mana ia tahu kami memilki sejumlah perhiasan ? Saya  jarang sekali mengenakkan perhiasan yang memang jumlahnya tidak seberapa itu dan perhiasan tersebut bukanlah perhiasan permata berlian yang mencolok pula. Yang saya miliki hanyalah perhiasan emas berlian sederhana pemberian orang tua saya ketika kami menikah dulu.

Menurut keterangan polisi, daerah tempat kami tinggal yaitu, Neuilly sur Seine,  memang daerah yang telah lama menjadi incaran rampok perhiasan. Harap maklum, daerah ini adalah daerah elitenya Paris. Ketika kami tinggal di tempat ini, Sarkozy, mantan Presiden Perancis yang sejak kecil memang tinggal di daerah ini, adalah wali kotanya. Ketika itu ia belum terpilih sebagai presiden. Yaaah nasiiib, namanya juga cuma apartemen kontrakan kantor, mana tahu kami semua itu.

Ile st LouisGrand PalaisOpera HouseNamun Paris tetaplah Paris. Daya tarik kota ini memang benar-benar mengagumkan. Banyak sekali obyek turis yang pantas untuk dikunjungi. Kota ini memilki banyak sekali museum, yang minimal, bagi mereka yang tidak menyukai museum, bangunannyapun sudah cukup untuk dijadikan obyek berfoto-ria. Arsitektur bangunan kota ini, memang sangat patut diacungi jempol. Bahkan jembatan-jembatannyapun tak kurang indahnya dari bangunannya sendiri. IMG_4877IMG_4916IPont Alexadre 3

Alangkah beruntungnya kami ini, diberi Sang Khalik kesempatan untuk menikmati kota ini, 2 kali pula, yaitu dari tahun 2000-2003 dan 2009 hingga akhir 2012.  Lebih enaknya lagi,  buat kami kaum Muslimah, berjalan-jalan menimati keindahan kota, hanya karena kita berjilbab saja, bisa menjadi dakwah tersendiri.  Bagaimana tidak ?

Mengenakan jilbab di tanah air tentu bukan hal aneh. Tetapi di negri dimana Islam hanya minoritas bahkan sering diidentikkan dengan terorisme atau Arabisme, tentu saja berbeda.  Apalagi dibanding bule-bulenya yang biasa berpakaian buka-bukaan dimana-mana. Biarlah mereka menilai sendiri bagaimana prilaku kita, Muslimah Asia, Indonesia, tepatnya …

“ Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” .(QS.Al-Ahzab(33):59).

Jangan biarkan mereka terus berprasangka buruk terhadap kita, dengan hanya melihat misalnya, sebagian pemuda berwajah Arab yang suka berbuat kerusuhan atau Muslimah yang meminta-minta meski terpaksa. Karena seharusnya mereka juga menyadari bagaimana akibat perang, dengan Afganistan atau Irak misalnya, bukankah Barat yang menyerang dan mengeroyok Negara tersebut, hingga menyebabkan penduduknya terpaksa mengungsi dan menjadi imigran gelap yang kerap dikejar-kejar petugas?

IMG_4889Paris, seperti juga kota-kota metropolitan lain di dunia ini, memang amat rawan. Metro, alat transportasi masal terbesar kota yang telah berumur seratus tahun lebih itu tak terkecuali. Hampir setiap hari maling beroperasi di tempat ini. Biasanya turis asing yang jumlahnya amat sangat banyak itu yang menjadi sasaran utamanya.

Bagi yang sudah terbiasa menumpang Metro, maling-maling ini sebenarnya mudah dikenali. Jangan dulu membayangkan bahwa maling tersebut adalah preman bertubuh kekar dengan wajah seram. Sebaliknya, kebanyakan dari mereka adalah imigran gelap dari Eropa Timur,  ABG putri pulak ! Biasanya mereka berkelompok, sekitar 4-5 orang, namun masuk metro secara berpencar.

Pernah suatu hari saya memergoki seseorang, tangannya sedang merogoh tas teman saya, yang kebetulan memang tidak tertutup rapat. Reflek, saya langsung meloncat dari bangku dimana saya duduk dan segera menangkap tangan gadis tersebut.  Namun dasar maling, ia pura-pura tidak tahu dan berlaga tidak mengerti apa yang saya katakan.  Heuh …

Champs ElyseeSelain metro, tempat yang sering dijadikan objek incaran maling adalah tempat-tempat yang ramai dikunjungi turis.  Contohnya adalah bulevard Champs Elysees dengan Arc de Triomphnya yang terkenal itu. Di sepanjang boulevard yang memiliki trotoar sangat lebar ini berjejer puluhan rumah mode milik desainer kenamaan tingkat dunia, Louis Vitton, Hermes, Prada, Yves St Laurent dll semua ada di sini. Surga buat para pemburu belanja kelas dunia.

Namun yang paling menyedihkan, sekaligus  memalukan, adalah makin banyaknya peminta-minta perempuan berjilbab di sepanjang bulevard tersebut. Tak jarang, mereka ini mengemis dengan posisi sujud di sela-sela berjubelnya  turis yang lalu-lalang, tak peduli bahkan ketika saljupun sedang turun.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan di bawah adalah tangan peminta-minta”.(HR. Muslim).

Meski sedih juga hati ini, karena mereka pasti kenal betul hadist diatas, kalau tidak karena terpaksa saya yakin pasti merekapun enggan melakukan hal memalukan tersebut.  Harap maklum, mereka adalah para pengungsi, korban berbagai perang dan kerusuhan yang melanda Negara mereka; Afganistan, Yugoslavia, Negara-negara bekas jajahan Rusia, Syria dan Negara-negara timur tengah lainnya adalah contohnya.

2010-12 l'hiver a la Tour Eiffel_15Selain Champs Elysees, lokasi sekitar menara Eiffel yang merupakan ikon Paris juga tak luput dari incaran para  maling. art islamJuga museum terbesar di Perancis bahkan mungkin di Eropa, Musee du Louvre, yang baru beberapa bulan lalu membuka departemen barunya, yaitu Art Islam. Di tengah antrian masuk yang panjang itu, para pengunjung harus tetap awas, karena malingpun suka menyelinap diantara pengunjung.

2010-10 Chateau de Versailles_832010-10 Chateau de Versailles_46Demikian pula di Chateau de  Versailles, istana kebanggaan rakyat Perancis , dimana Napoleon Bonaparte dan Louis XIV, dua raja Perancis yang terkenal itu, pernah tinggal. Di tempat ini, tas saya pernah nyaris digerayangi copet  kalau saja suami dan anak saya tidak segera memergoki tingkah laku mereka.

Belum lagi dengan tingkah para gembel dan pemabuk yang sering terasa mengganggu kenyamanan turis dalam menikmati keindahan dan kecantikan kota ini. Ironismya, gembel-gembel yang baunya benar-benar tidak sedap itu doyan membeli miunuman keras dan bisa memelihara anjing. Mereka bau, maaf,  bukan saja karena jarang mandi tapi juga suka mabuk dan muntah sembarangan, di dalam metro sekalipun. … 😦 .  Kalau saja mereka mau memahami dan mengimani ayat berikut …

« Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”…. , »(QS.Al-Baqarah(2) :219).

Kabarnya, mereka memelihara anjing memang disengaja, dengan suatu tujuan. Anjing yang merupakan binatang kesayangan sebagian besar orang Perancis itu digunakan sebagai tameng.  Artinya, petugas tidak bisa leluasa menangkapi gembel dengan alasan siapa nanti yang memelihara anjing mereka ??

 ( Bersambung)

Kado Pernikahan

Sabtu 16 Februari 2013. Pagi itu kami dan keluarga besar telah berkumpul, siap menyaksikan upacara sakral  yang mudah-mudahan akan menjadi peristiwa penting yang terjadi sekali dalam umur hidup seorang anak manusia. Itulah akad nikah putra sulung kami.

Bukannya kami menolak Poligami yang memang tersirat di dalam ayat suci Al-Quranul Karim.  Namun kami berharap mudah-mudahan “ satu lebih baik” akan lebih cocok bagi putra kami tersebut. Karena bagai manapun memiliki istri lebih dari 1 tentu lebih repot. Maklum, perempuan adalah mahluk yang amat sensitif.

Syarat adil yang menjadi syarat utama laki-laki berpoligami bukan saja secara materi namun juga  pembagian waktu dan perhatian yang tentu bukan hal yang mudah. Yang bila tidak terpenuhi bukan saja tujuan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah gagal namun pasti malah membuat kehidupan keluarga yang sama sekali tidak nyaman dan tentram.

Kembali ke persiapan akad nikah diatas. Upacara diawali dengan pembacaan ayat 21 surat Ar-Ruum yang biasa dicantumkan di dalam undangan pernikahan. Meski ayat ini sudah sangat sering dibacakan namun suara merdu sang qori kali itu tak urung membuat hati ini merinding hingga tanpa dapat dicegah air matapun deras mengalir turun membasahi pipi dan membuat eye shadow yang hampir tidak pernah saya gunakan itu luntur. Hingga anak perempuan kami yang duduk di sebelah saya segera mengulurkan tangannya berusaha menenangkan ibunya yang cengeng itu.

Usai upacara ia berbisik lirih, “ Terharu bu yaaa .. Kehilangan satu anak deh “, ujarnya. Tapi saya segera menjawab bahwa bukan hal tersebut yang membuat ibunya menitikan air mata.

Bukan hilang dong Dil, justru tambah satu, anak perempuan, kakak baru Dilla”, jawab saya tersenyum. Tapi tampaknya ia tidak mempercayai ucapan saya. Ya sudahlah, tidak  mengapa, pikir saya. Saya tidak  berbohong. Saya memang paling tidak tahan mendengar ayat-ayat suci dibacakan apalagi dengan suara yang merdu seperti suara qori tersebut.

Yang pasti, lega hati ini berhasil mengantar anak kami ke gerbang pernikahan. Yang artinya separuh agama telah dilaluinya. Karena salah satu tujuan menikah adalah agar terhindar dari perbuatan zina. Sementara zina itu dosa yang sangat amat besar di sisi Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi).

Tetapi tak sampai 3 hari kemudian saya baru menyadari bahwa ternyata saya salah. Putra sulung kami, demi karir, setiap hari memang harus berangkat pagi pulang larut malam. Tidak jarang pula ia harus ke luar kota karena tugas kantor. Hingga tidak jarang dalam sehari kami tidak bertemu. Itu sebabnya  saya tidak merasa bakal kehilangan dirinya ketika ia menikah. Apalagi sejak kelas 2 SMA ia memang sudah nge-kos di Bandung.

Namun nyatanya tidak demikian. Karena meski ia pulang larut secara tidak sadar saya tetap menantinya pulang. Tidak demikian ketika ia telah menikah. Saya sadar bahwa kini ia telah memiliki seseorang yang sangat istimewa yang telah menjadi belahan dirinya, itulah istrinya. Dengan demikian ia tidak lagi pulang ke rumah, melainkan ke rumah mertuanya, sambil menanti kesiapan pasangan pengantin baru ini mengontrak atau bahkan mungkin mencicil rumah atau apartemen. Dan tiba-tiba saja saya merasa telah kehilangan diri anak sulung kami tersebut.

Maka di suatu sore selepas magrib, tanpa dapat lagi dibendung, tangis saya pecah di depan suami dan anak saya yang lain. Pertanyaan saya satu, «  Sudahkah kita cukup membekali anak kita ?? »

Bekal yang saya maksud tentu saja bukan sekedar bekal materi, namun justru bekal iman yang merupakan bekal utama berkeluarga, disamping pendidikan  tentu saja.  Karena jika dilihat dari sudut duniawi, mestinya ia mampu. Ia telah menyelesaikan jenjang S2nya, di bidang ekonomi. Demikian pula istrinya. Keduanyapun telah bekerja dengan gaji lumayan, Alhamdulillah … Namun tetap saja pertanyaan “ Mampukah ia mengajak istrinya untuk selalu shalat berjamaah, untuk secara teratur membaca dan mengkaji Al-Quran, untuk subuh berjamaah di masjid dll? » terus meluncur keluar dari mulut ini.

Suami sempat panik juga melihat saya sesenggukan seperti itu. Demikian pula anak perempuan kami. “Ya sudahlah buu .. Kita kan selama ini sudah memberikan contoh. Kita sekolahkan ia di sekolah Islam. Istrinyapun teman di SMP Islam kan, jadi sama-sama tahu kewajiban seorang Muslim dan Muslimah. Insya Allah mampulah”, hibur suami.

“Bukankah menjelang pernikahannyapun kita sudah sengaja menyempatkan diri mencari uztad khusus penasehat perkawinan  bagi mereka berdua ? Dan sehari menjelang pernikahannyapun kita undang beliau untuk memberikan tausiyah yang Subhanallah sangat mengena?”, lanjutnya lagi.

Memang betul, kami telah mengundang seorang uztad yang memang ahli dalam bidang tersebut, seorang mantan penghulu. Ini termasuk hal baru. Seorang tetangga, mualaf, yang memberitahu saya hal ini. Menurutnya, orang Kristen, agama lama yang dianutnya, sejak lama memiliki kebiasaan tersebut. Sepasang calon pengantin wajib memiliki semacam pelatihan sebelum menikah. Di dalam pelatihan yang biasanya berlangsung selama 1 tahun ini calon mempelai diajari apa saja kewajiban dan hak mereka sebagai seorang Kristen yang telah berkeluarga.

Saya tidak tahu pasti apakah tetangga saya yang saat ini telah menjadi seorang uztadzah, Subhanallah, yang memberi inspirasi uztad kenalannya untuk menyediakan bimbingan pra nikah atau bukan. Yang jelas darinya saya jadi mencari tahu adanya bimbingan seperti itu. Dan Alhamdulillah saya menemukannya.  Meski belakangan saya baru tahu bahwa uztad yang kami undang tersebut ternyata termasuk ulama yang tidak mewajibkan jilbab. Naudzubillah min dzalik …

« Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang ».(QS.Al-Ahzab(33) :59).

Yaaah, saya hanya berharap semoga suatu hari nanti Allah swt memberi hidayah dan menggerakkan hati menantu kami tercinta agar mau menutup auratnya secara sempurna. Toh kami juga sudah mengingatkan anak lelaki kami akan kewajibannya sebagai suami, untuk menyayangi, menafkahi, memimpin dan membimbing istrinya. Dan tentu saja kelak, anak-anaknya. Semoga Allah swt ridho memberi pasangan penganten baru ini dengan anak-anak yang sholeh dan sholehah, aamiin …

Semoga juga tausiyah hari terakhirnya sebagai bujang beberapa hari lalu akan senantiasa diingatnya. Inilah kado terindah dan paling berharga yang dapat kami persembahkan baginya.

« Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) “.

“ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. … … ”.(QS.Al-Lukman (31):17-19).

 “ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

“ Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.(QS.Al-Isra(17):23-24)

“ Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a:

” Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS.Al-Ahqaf(46):15).

Semoga anak kami akan tetap terus mengenang kami berdua sebagai kedua orang yang dititipi-Nya tugas sebagai ayah ibu yang patut mendapat perhatian dan kasih sayangnya. Sebagaimana kami berdua menyayangi dan  mencintainya,  sepenuh hati.

Meski sebagai orang tua harus kami akui bahwa  kami tidak mampu mendidik anak kami tersebut  sebagaimana orang-orang besar masa lalu mendidik dan menggembleng anak-anak mereka hingga ke Makkah atau Madinah, demi mendapatkan satu hadis. Atau seperti orang tua lain yang  ‘tega’ menitipkan belahan jiwa mereka ke pesantren-pesantren,  karena kebesaran jiwa mereka mengakui bahwa mereka tidak mampu mendidik anak-anak mereka sesuai fitrahnya sebagai hamba Allah.

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” . (QS. Adz-Zariyaat(51):56).

Ya Allah maafkan kami yang hanya mampu mendidik titipan-Mu sebatas ini.

Sungguh betapa ’iri’ hati ini membaca Republika beberapa hari lalu.

Adalah Kamil Lubudy dan Rossa, pasangan suami istri muda asal Mesir, yang dua-duanya apoteker.  Sebelum menikah keduanya tidak hafal Al-Quran. Namun setelah menikah, mereka bertekad ingin menghafal ayat-ayat suci tersebut. Ini berlangsung hingga ketika Rossa hamil dan melahirkan putra pertama yang kemudian diberi nama Taabarok.

Tekad kuat pasangan muda ini ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Tidak saja mereka berdua yang berhasil menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun juga putra mereka. Pada usia 4.5 tahun, Taabarok  dinobatkan sebagai hafidz termuda di dunia oleh Liga Muslim Dunia. Anak usia TK ini lulus diuji oleh sejumlah hafidz tingkat internasional. Hebatnya lagi, kedua adiknya yang lahir beberapa tahun kemudian juga  berhasil menyamai rekor kakak mereka. Ketiganya telah khatam Al-Quran pada usia 3.5 tahun.  Dan setahun kemudian menjadi hafidz semua. Subhanallah … Benar-benar sebuah kado pernikahan yang tak ternilai harganya …

Pelajaran bagi kita, tidak ada alasan umur apalagi kesibukan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran.  Selama niat dan tekad kuat ada dalam diri ini, insya Allah, Sang Khalik akan memudahkannya, bahkan menambahnya.

Semoga bukan mimpi kosong, bila kami berdua yang telah berusia lebih dari setengah abad ini berkeinginan memperbaiki kekurangan dalam mendidik anak yang tidak maksimal ini, suatu hari nanti bakal mendapatkan keturunan yang benar-benar berkwalitas dalam pandangan-Nya, aamiin aamiin aamiin ya robbal aalamiin ..

Jakarta, 28 Februari 2013.

Vien AM.

Jakarta kembali dilanda banjir. Orang bilang banjir 5 tahunan. Sebuah sebutan yang sama sekali tidak saya sukai. Lha wong bencana koq dijadwal, seperti ujian sekolah saja. Pasalnya karena pada tahun 2002 dan 2007 lalu ibu kota republik ini juga kebanjiran. Bahkan bulannyapun sama, sekitar Januari – Februari. Karena bulan-bulan tersebut memang bulan dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Sementara banjir kali ini terjadi pada tahun 2013. Jadi sebenarnya bukan 5 tahun tapi 6 tahun. Kesimpulannya, “ maksa.com”, kata anak gaul sekarang, alias memaksakan istilah.

Lebih ajaib lagi, kalau memang banjir bisa diprediksi mengapa tidak ada antisipasinya. Paling tidak begitulah kesannya. Dan yang lebih ajaib lagi, banjir tersebut makin tahun makin parah. Contohnya, di perumahan ibu mertua saya di Pejompongan. Kakak ipar saya menuturkan bahwa banjir pada tahun 2002 air masuk rumah ‘hanya ‘ sebatas semata kaki. Pada tahun 2007 naik hingga ke betis. Dan tahun 2013 ini hingga pangkal paha !

Pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah dengan ibu kota ini ? Bukankah hujan itu rahmat ? Bukankah Jakarta yang rata-rata temperaturnya 30 derajat, dibawah guyuran hujan terasa lumayan adem ? Bukankah Jakarta dengan jalanannya  yang selau berdebu terasa agak berkurang polusinya dengan adanya hujan ?

Secara umum setiap mahluk  hidup : manusia, tanaman dan hewan selalu  membutuhkan air. Bahkan sebagai kebutuhan utamanya. Tanpa air tanaman tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga dan berbuah. Demikian pula hewan. Tanpa air, tidak mungkin ia berkembang biak dan menghasilkan susu dan daging yang baik untuk dikonsumsi. Lalu apa yang dapat kita makan bila tanaman dan hewan berhenti berproduksi? Cukupkah hanya dengan minum saja ? Padahal tanpa hujan, sungai akan kering. Demikian pula mata air pegunungan. Tanpa makan, apalagi minum mungkinkah manusia bisa bertahan hidup ?

Jadi kesimpulannya, benar,  hujan adalah rahmat. Namun mengapa hujan yang melanda Jakarta yang tercinta ini malah menjadi petaka?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Ayat di atas menunjukkan secara jelas bahwa Allah lah yang menurunkan hujan dari langit. Diturunkan-Nya air tersebut sesuka dan sekehendak-Nya, melalui putaran angin dan awan yang dikendalikan-Nya. Dia pulalah yang mengatur agar air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terserap oleh tanah. Itulah yang orang sering menyebutnya sebagai hukum alam, Sunattullah.

Lebih dasyat lagi, secara teoritis, berdasarkan tanda-tanda, gejala dan pengalaman, semua itu dapat dipelajari. Itulah fenomena alam, yang bisa terjadi hanya karena izin-Nya. Dibuka-Nya rahasia tersebut kepada orang-orang yang mau berpikir, yang mau menggunakan akal yang diberikan-Nya.

Artinya, bila ternyata hujan yang seharusnya adalah rahmat itu ternyata malah menjadi bencana, ini adalah kesalahan manusianya. Allah swt telah menciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal kita yang amat dan nyaman. Berbagai fasilitas telah disediakan-Nya, tanpa dipungut bayaran alias gratis. Kita tinggal memanfaatkan dan memeliharanya.

Namun kenyataannya kerusakan telah terjadi dimana-mana. Pendangkalan sungai sebagai akibat berbagai ulah buruk manusia, membuang sampah ke dalam sungai, adalah contoh yang paling sederhana tetapi fatal dampaknya. Penggundulan hutan, pembangunan gedung yang tidak memperhatikan penyerapan air dll adalah contoh lainnya.

Namun demikian, pernahkah terbersit pertanyaan, mengapa bencana banjir tidak terjadi setiap kali hujan besar datang.  Secara teoritis, para ilmuwan pasti mempunyai jawaban yang beragam  tentang hal ini. Yang kemungkinan besar juga bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Tetapi. dapatkan mereka memastikan dimana, kapan dan bagaimana tepatnya bencana itu bakal terjadi?? Jawabannya pasti, “ Tidak dapat ! “, selalu ada kemungkinan lain yang diluar prediksi akal manusia.

Disinilah kekuasaan Allah swt sebagai Sang Pemilik berbicara. Tanpa izin-Nya tidak mungkin segala sesuatu  dapat terjadi. Manusia hanya bisa berusaha namun Dialah yang menentukan hasilnya. Untuk itulah ketakwaan dibutuhkan.

Jakarta tampaknya mempunyai kesulitan besar. Selain tidak bisa menjaga lingkungan, sebagian penduduk Jakarta juga telah berkhianat pada-Nya. Tengoklah bagaimana korupsi meraja-lela, perselingkuhan, homoseksual, perkosaan, bermabuk-mabukan dan lain sebagainya yang terus saja terjadi.

Kasus Hambalang, kasus yang saat ini  sedang hangat dibicarakan dan melibatkan orang-orang beken yang terpaksa di non aktifkan gara-gara kelakuan bobrok mereka seperti mentri OR, AM, anggota DPR yang pernah menyandang ratu kecantikan, AS, hanyalah contoh kecil.  Juga ‘lelucon’ yang sama sekali tidak lucu yang keluar dari mulut seorang calon hakim agung DS yang melecehkan korban perkosaan. Padahal kedudukan hakim agung semustinya  amatlah tinggi karena menjadi cerminan keadilan sebuah bangsa. Ironisnya lagi, ‘lelucon’ tersebut keluar di tengah ramainya skandal ayah yang memperkosa  putrinya sendiri yang baru berusia 11 tahun dalam keadaan istrinya sedang diopname di RS ! Na’udzubillah min dzalik …

Sungguh memalukan, bangsa Indonesia yang menurut laporan mayoritas Muaslim, lupakah mereka akan azab Tuhan yang ditimpakan bagi para pendosa ?? Tidakkah lagi mereka membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang bisa membuat mereka sadar alangkah ngerinya siksa dan kemurkaan-Nya??

“ Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan”.(QS.Fushilat(41):16).

Banjir yang menimpa di Jakarta beberapa hari lalu kabarnya bukan karena intensitas curah hujan yang tinggi bukan juga karena kiriman dari bendungan Kapulampa di Bogor. Bendungan yang awalnya direncanakan akan dibuka karena telah mencapai ketinggian maximumnya hingga dikhawatirkan  jebol.

IMG-20130117-00039Di luar perkiraan, yang jebol justru tanggul Banjir Kanal Barat Latuharhari yang terletak di pusat kota. Tak ayal lagi, daerah-daerah elit di Jakarta pusatpun terendam banjir .  Jalan raya paling bergengsi di negri ini, yaitu jalan MH Thamrin dengan bunderan HI nya dimana hotel-hotel  mewah dan gedung pusat perkantoran serta bank-bank besar berjejer terendam air hingga menyerupai sungai. Bahkan Istana kepresidenan yang hari  itu sedang menanti tamu negarapun  tak luput dari banjir, meski hanya semata kaki.

Belum lagi nasib sebuah parkiran bawah tanah yang didera ‘tsunami’ dasyat sedalam 12 meter. Bencana  yang menyerang parkiran bawah tanah hingga minus 3 gedung mewah perkantoran ini akhirnya memakan korban 2 OB dan ratusan mobil yang sedang di parkir di dalam gedung tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tidak sampai 30 jam setelah itu,  dua buah tanggul ikut jebol secara berturut-turut, satu di perumahan Bekasi satu lagi di Pluit.  Meski belakangan kabar jebolnya bendungan Pluit dibantah, bendungan tersebut ’hanya ‘ terendam banjir. Padahal bendungan terbesar di ibu kota ini amat diandalkan kemampuannya dalam mencegah banjir.  Ironisnya, areal yang awalnya mempunyai luas 80 hektar itu saat ini hanya tinggal 50 hektar saja.  Pemukiman liar bahkan mall yang dibangun dengan izin resmi Pemda DKI telah menggeroti areal vital tersebut.

Akibatnya, 3 perumahan elit di Pluit yang harganya milyaran per unit itu,  sejumlah kompleks perumahan, ratusan sekolah serta  puluhan wilayah Jakarta terendam banjir. Sebagian ada yang mencapai ketinggian 4 meter !

Tetapi  cobaan belum usai. Esoknya, Sabtu, 19 januari, tanggul sungai Citarum ikut jebol. Tanggul yang terletak di kabupaten Karawang  Jawa  Barat ini berhasil menewaskan 2 orang akibat terbawa arus air yang luar biasa deras. Disamping merendam  tak kurang dari 900 rumah warga, ratusan hektar sawah dan memutus jalan raya menuju beberapa kota sekitar tanggul.

Jebolnya sejumlah bendungan yang menyebabkan banjir dasyat Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat ini mau tidak mau mengingatkan kita pada tragedi  memilukan ribuan tahun lalu di ibu kota Yaman.  Yaman ketika itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Saba’ dengan ratunya yang terkenal, yaitu ratu Bilqis atau Balqis. Negri ini makmur karena tanahnya yang subur berkat adanya bendungan Ma’rib. Bendungan ini terletak di kota Ma’rib, yang berlokasi sekitar 120 km di sebelah timur ibukota Yaman sekarang yaitu, Sana’.

Bendungan Ma’rib memiliki ketinggian 16 meter, lebar 60 meter dan panjang 620 meter. Kabarnya bendungan ini mampu mengairi areal seluas 9.600 hektar. Bendungan ini sempat mengalami beberapa kali perbaikan hingga akhirnya runtuh pada tahun 542 M. Jebolnya bendungan ini mengakibatkan “banjir besar Arim” yang dikisahkan dalam surat Saba’ ayat 15-17 sebagai berikut.

“ Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr”.

“ Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.

Saat ini situs kota Ma’rib yang telah kandas tertelan banjir masih ada menjadi saksi bisu kebesaran Sang Khalik sekaligus tanda peringatan bagi kaum yang kafir. Juga peringatan bagi kita, penduduk Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia ini agar kita selalu takwa.

Banjir dan daerah yang terendam beberapa hari lalu, saat ini mungkin sudah surut.   Namun muncul masalah baru, berbagai keluhan dan penyakit mulai timbul.   Keluhan-keluhan yang datang dari para pengungsi yang jumlahnya mencapai puluhan ribu itu antara lain kutu air, batuk, panas, pusing, diare, masuk angin, dan pegal-pegal.  Sebagian mengeluhkan telapak kaki yang melepuh dan pecah-pecah serta  warna kulit yang menjadi pucat akibat lama terendam air  banjir.

BMKG ( Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) masih memprediksi cerah hujan yang tinggi hingga akhir bulan ini.  Ini pertanda bahwa bencana banjir masih mengancam. Sementara perbaikan bendungan dan tanggul yang rusak serta membersihkan lingkungan penyebab banjir dan kerusakan  pasti memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kita benar-benar berkejaran dengan waktu.

Maka sembari memperbaiki lingkungan mari kita bertaubat. Jangan tunggu Allah Azza wa Jalla menjatuhkan kembali azab dan peringatan-Nya yang pedih. Mari kita bermohon pada-Nya agar Ia ridho menjauhkan kita dari segala kesusahan, musibah dan bencana. Bila kita mau menurut pada perintah-Nya, bertawakal hanya pada-Nya, menjadi manusia yang takwa,  pasti pertolongan akan datang. Sebagaimana yang pernah dilakukan-Nya atas kaum nabi Nuh as ribuan tahun silam.

“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”(QS.Huud(11):41).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Januari 2013.

Vien AM.

Sepuluh hari setelah pulang dari rantau, kami langsung berkesempatan menyaksikan perayaan malam tahun baru di ibu kota, Jakarta. Malam yang diberi nama Jakarta Night Festival ini adalah malam tahun baru pertama dimana jalan raya protokol ibu kota, MH Thamrin dan Sudirman ditutup untuk kendaraan umum. Ini adalah ide gubernur DKI Jokowi  dalam memihak rakyat kecil agar mereka bisa menikmati pesta tutup  tahun. Sebelumnya gubenur  Ali Sadikin, gubernur DKI tahun 1970 an pernah melakukan hal yang sama, namun bukan dalam rangka menyambut acara tahun baru, melainkan untuk acara HUT DKI.

Mulanya ide penutupan ke 2 jalan utama paling bergengsi di depan bunderan air mancur HI tersebut  ditentang oleh pemilik sejumlah hotel berbintang yang berjejer di sepanjang jalan tersebut. Karena hal tersebut tentu akan membuat tamu-tamu hotel kesulitan. Namun akhirnya mereka  tidak dapat berbuat banyak ketika ide tersebut benar-benar terealisasi.

Malam itu, dimulai pada pukul  8 malam, penduduk Jakarta terlihat berbondong-bondong meninggalkan rumah dan menyesaki jalanan. Hujan yang turun lumayan lebat sejak pukul 7 dan mengguyur kawasan pusat kota tampaknya tidak menjadi halangan. Dengan payung di tangan, ratusan kaki bersepatu dan bersandal menapaki dan meloncati genangan air yang tampak disana-sini.

Wajah-wajah ceria tua muda besar kecil lelaki perempuan memenuhi jalanan. Gerobak dorong berbagai panganan tampak tak mau ketinggalan menikmati acara istimewa ini. Gerobak  sate, ketoprak,  gorengan pisang, tahu, tempe, ubi dan singkong, hingga gerobak penjaja minuman botolan, ramai diserbu pengunjung.

Pucaknya, sekitar  200 ribu orang terlihat tumplek di sepanjang jalan Sudirman, MH Thamrin hingga Monas. Pijaran kembang api raksasa dan sinar laser yang ditembakkan dari ujung jalan bundaran ber-air mancur tersebut membuat langit di atas  Jakarta terang benderang. Suara hiruk pikuk yang keluar dari 16 panggung musik yang didirikan di sepanjang jalan, turut membuat pesta rakyat tersebut makin hingar  bingar. Itu masih ditambah lagi dengan suara berisik tak henti-henti yang  keluar dari terompet yang banyak dijual di kawasan tersebut.

Sementara itu,  di sudut lain kota Jakarta, sejumlah masjid sibuk menyelenggarakan acara zikir akbar, dengan tujuan yang sama, menyambut datangnya  tahun baru. Meski sepintas, acara yang diisi oleh ulama-ulama dan uztadz-uztadz  kenamaan ini cukup berhasil menyedot pengunjung, tak urung suara-suara negative tetap bergema.  Apa pasal ??

Pasalnya ya tahun baru itu. Mayoritas ulama sependapat bahwa tahun baru Masehi bukanlah milik umat Islam, bukan juga budaya milik bangsa ini. Hari besar yang patut diperingati umat Islam hanya 2 yaitu Hari Raya Iedul Fitri dan Hari Raya Iedul Adha. Disamping beberapa hari lain yang biasa juga diperingati sebagian umat, diantaranya yaitu tahun baru Hijriyah.

Harus  diakui, saat ini sebagian besar negara-negara di dunia memang menggunakan kalender Masehi sebagai hitungan tahun resmi negara, termasuk Indonesia. Tapi jangan lupa, pada masa kejayaan Islam, sejak abad 7 hingga abad 20 lalu, kalender Hijriyah pernah digunakan lebih dari separoh dunia.  Kalender ini lenyap seiring dengan kejatuhan kekaisaran Turki Ottoman pada tahun 1924, paska PD I.

Indonesia sendiri  meski secara resmi menggunakan kalender Masehi, tetap mempertahankan kalender Hijriyah untuk kepentingan acara keagamaan penduduknya yang memang mayoritas Muslim. Tidak aneh, karena untuk menentukan dan memperingati hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Iedul Fitri, Hari Raya Iedul Adha, hari-hari puasa Ramadhan,  kelahiran nabi dll mutlak diperlukan kalender yang menggunakan peredaran bulan ini sebagai acuannya. ( Kalender Masehi menggunakan peredaran matahari sebagai acuan).

Itu sebabnya, sebagian Negara berpenduduk mayoritas Islam, negara-negara Timur Tengah misalnya, hingga kini tetap menggunakan kalender Hijriyah sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Jadi sungguh tidak benar bila ada sebagian orang ‘nyleneh’ yang berkeras berpendapat bahwa kalender Hijriyah adalah kalender Arab bukan kalender Islam. Meski tahun kalender ini baru digunakan umat Islam 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, tepatnya pada tahun 638 M.

Khalifah Umar bin Khattab ra yang memutuskan bahwa tahun dimana Rasulullah hijrah ( pindah) dari Mekah ke Madinah adalah awal tahun kalender yang bakal menjadi kalender resmi pemerintahan Islam. Kalender itu selanjutnya diberi nama Hijriyah, sesuai dengan alasan dasar pengambilannya. Ini adalah atas usulan Ali bin Abu Thalib.

Ketika itu Umar meminta masukan beberapa sahabat alasan dan dasar apa yang paling tepat untuk menentukan kalender resmi kekhalifahan. Pemicunya, tanggapan beberapa Negara tetangga yang menyatakan bahwa surat resmi kekhalifah dianggap tidak ‘ representatif’ karena hanya mencantumkan nama bulan dan tahun, tanpa tanggal. Hal yang lazim digunakan masyarakat Arab ketika itu.

Tahun kelahiran, tahun wafat dan tahun hijrahnya Rasulullah ditambah tahun awal turunnya ayat Al-Quran adalah beberapa usulan para sahabat yang masuk, menjawab pertanyaan sang khalifah,  ketika itu. Namun akhirnya khalifah memilih tahun hijrahnya Rasulullah karena tahun tersebut dapat dianggap sebagai awal tahun kemenangan Islam.

Tahun dimana hukum Islam mulai dapat ditegakkan. Karena di Madinah inilah untuk pertama kalinya, Rasulullah mengeluarkan aturan kenegaraan, negara Islam Madinah, yang mampu mempersatukan suku Aus dan Khazraj, dua suku di Madinah yang sejak lama selalu bertikai. Juga orang-orang Yahudi yang sejak awal selalu memusuhi islam. Meski pada akhirnya  tetap mengkhianati perjanjian. Karena  mereka menerima Rasulullah dan perjanjian yang dibuat beliau dengan berat hati.

Kalender Hijriyah sendiri yang dibuat dengan acuan pergerakan bulan itu sudah dipergunakan masyarakat Arab jauh sebelum Islam datang. Namun  9 tahun setelah peristiwa hijrah telah di revisi karena turunnya ayat 36 dan 37 surat At-Taubah yang berisi  tentang bulan-bulan Haram dan keharaman mengundur-undurkan bulan yang biasa dilakukan masyarakat Arab ketika itu.

“  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.  … … …“. ”  Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir “. (QS. At-Taubah (9): 36-37).

( Baca : http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah#Penentuan_Tahun_1_Kalender_Islam)

Sedangkan sistim kalender Masehi sebenarnya telah digunakan ribuan tahun yang lalu, yaitu sejak abad 7 SM,  sebagai kalender tradisional bangsa Romawi. Namun perayaan malam tahun baru sendiri tercatat pertama kali dirayakan baru pada tahun 45 SM, ketika Julius Caesar menjadi kaisar Romawi.

Atas saran seorang ahli astronomi dari Aleksandria, Julius merevisi kalender tersebut dengan mengikuti revolusi matahari sebagaimana yang dilakukan bangsa Mesir. Dan sejak itu ia menjadikan kalender yang kemudian diberi nama kalender Julian tersebut sebagai kalender resmi kekaisaran.

Selanjutnya pada tahun 1582 umat Nasrani dibawah pimpinan Paus Gregorius XII menjadikan kalender Julian diatas sebagai kalender umat Kristiani. Namun mereka merevisinya dengan menjadikan tahun kelahiran Yesus atau nabi Isa as sebagai patokan awal tahunnya. Alhasil lahirlah istilah SM ( sebelum Masehi) atau AD ( Anno Domini) yang artinya Tuhan kita dan M ( Masehi) atau BC ( Before Common Era). Masehi berasal dari kata Messiah ( Yesus ). Tahun 0 adalah tahun kelahiran Yesus. Dan SM adalah tahun sebelum kelahiran Yesus.

Dari keterangan diatas, jelas sudah bahwa sebenarnya kalender Masehi adalah memang benar-benar kalender yang sangat kental nuansa kristennya. Meski saat ini jarang Negara yang mengakui fakta ini. Demi kemudahan komunikasi adalah alasan yang paling sering dikemukakan negara.

Saat ini kita telah berada di abad 15 Hijriyah ( tahun 1434H) abad yang di ‘ klaim’ umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Pergantian abad ke 15 ini dimulai tepatnya pada bulan November 1980 M. Ketika itu berbagai Negara Islam menyambut pergantian tersebut dengan gegap gempita. Revolusi Iran yang mampu merobohkan kekuatan kerajaan yang sekuler menjadi republik Islam ditandai sebagai awal kebangkitan tersebut oleh sebagian orang.

( Baca : http://mekahmadinah.faa.im/kebangkitan-islam-bagaimana-dengan-dunia.xhtml )

Kini kita telah memasuki 2/3 akhir abad 15 yang menjanjikan tersebut. Masih ada waktu 66 tahun untuk membuktikan bahwa kebangkitan itu akan menjadi kenyataan. Namun kelihatannya sebagian rakyat Negara kita tercinta masih belum juga Percaya Diri. Buktinya yaitu tadi, masih saja merayakan datangnya tahun baru Masehi secara berlebihan. Mengapa kita harus latah, ikut-ikutan kebiasaan, budaya bangsa dan agama orang/bangsa lain yang tidak sesuai dengan kita ?

Padahal Perancis saja, Negara barat yang maju dan berwajah ‘kristen’ tidak merayakan tahun baru tersebut semeriah Negara kita. 3 tahun, sejak tahun 2000 hingga 2003, kami berada di sana, tak pernah sekalipun kami menyaksikan hal tersebut. Juga dari tahun 2009 hingga 2012 lalu. Tidak di sekitar Eiffel, menara kenamaan yang menjadi ikon kota Paris, tidak  juga di Champs Elysees, boulevard terkenal Paris yang belakangan ini dijadikan area mengemis oleh tidak saja Muslim imigran namun juga pemalas bule yang senang memanfaatkan anjingnya untuk memohon belas kasihan. Pemandangan yang sangat kontras dengan deretan gedung-gedung cantiknya yang dijadikan butik eksklusif oleh para desainer kenamaan dunia.

Tampaknya negri ini lebih memilih merayakan hari kemerdekaan Negaranya secara besar-besaran dari pada merayakan tahun baru. Pada hari itulah Paris gegap gempita bermandikan cahaya kembang api yang menerangi langit di atasnya. Mungkinkah ini cerminan bahwa rakyat Perancis tidak lagi agamis ? Karena nyatanya, sebagian besar dari mereka memang Atheis alias tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Apapun alasannya, rasanya sungguh tidak pantas bangsa kita yang masih miskin dan belum maju bahkan hutang negarapun masih bertumpuk merayakan tahun baru yang jelas-jelas bukan milik bangsa maupun agama kita secara berlebihan. Bila alasannya sekali-sekali ingin menyenangkan rakyat kecil, mungkin perayaan ulang tahun kota lebih bisa ditrima.

Masih banyak hal yang harus kita kejar bila kebangkitan Islam yang kita cita-citakan bersama itu ingin benar-benar terealisasi. Bila Barat yang pada zaman kegelapan dulu selama ratusan tahun pernah ketinggalan dari dunia Islam bisa mengejar ketertinggalannya maka mengapa kita yang ‘baru’ 90 tahunan tertinggal tidak mampu mengejar ketertinggalan kita ? Tidak ada salahnya kita belajar dan mengambil sesuatu yang baik dari Barat, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran kita. Sains, kedisiplinan dan kebersihan adalah contohnya. Karena sekarang ini mereka memang jauh lebih unggul dari kita.

“ … Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.(Ar-Rad(13):11).

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”(HR. Ibnu Majah)

Sebalilnya jangan mengambil ilmu ekonomi dan sistim kapitalis mereka karena sebagian besar bertentangan dengan Islam. Tidak perlu kita ikut-ikutan menerapkan sistim bunga dalam dunia perbankan.Kita telah memiliki zakat, infak dan wakaf ; ajaran yang sangat menjanjikan bila dapat dikelola secara benar. Islam telah mengajarkan bagaimana sistim ekonomi yang sehat, yang tidak merugikan orang lain.

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Baqarah(2):275).

Arab Spring, gelombang protes dan demonstrasi terhadap kebijakan sekuler Negara yang dilakukan masyarakat Negara-negara Arab sejak Desember 2010 terus berlanjut. Mesir yang berhasil menggolkan syariat Islam dibawah presidennya yang berasal dari Ikhwanul Muslimin meski belum didukung 100 % penduduknya, tampaknya bisa menjadi indikator bahwa kebangkitan Islam memang masih terus berproses meski agak lambat.

Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Muslim sudah seharusnya berpartisipasi dalam kebangkitan ini. Inilah saat yang tepat untuk bangun dari tidur panjangnya dan berhenti dari mimpi-mimpi indah. Mari kita berjuang bersama saudara-saudari kita sesama Muslim untuk mencapai kemenangan yang dijanjikan-Nya, yaitu rahmatan lil alamin.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat  bagi semesta alam”.(QS.Al-Anbiya(21):107).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Januari 2013.

Vien AM.

Copas dari : http://duniabaca.com/sejarah-islam-awal-mula-islam-di-indonesia.html

 Mempelajari sejarah masuknya islam di indonesia mungkin sudah pernah Anda pelajari saat duduk di bangku sekolah. Dimana sejarah penyebaran islam di indonesia khususnya pulau jawa yaitu dilakukan oleh para wali songo.

Dalam catatan sejarah, islam sudah berada sejak tahun 622 ketika Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Namun di Indonesia islam dikenal pada abad pertama hijaiyah atau tujuh masehi. Pengenalan islam di Indonesia dimulai dari frekuensi yang tidak terlalu besar, hanya melalui perdagangan, dan seiring berjalannya waktu pengenalan islam di Indonesia lebih intensif, terutama di Semenangjung Melayu dan Nusantara. Beberapa bukti peninggalan islam di Asia Tenggara adalah dua makam muslim dari akhir abad ke 16.

Sejarah Islam

Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.

Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.

Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang.

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijirah.

Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia.

Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) (Sumber: wikipedia)

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.

Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda.

Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut.

Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa.

Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang.

Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar). (Sumber : ummah.com)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Januri 2013.

Vien AM.