Feeds:
Posts
Comments

Ramadhan yang jatuh pada musim panas tahun 2012 lalu tampaknya bakal menjadi puasa terakhir kami selama di rantau. Puasa dimana imsak jatuh pada sekitar pukul 4.30, magrib sekitar pukul 21.50 dan isya sekitar pukul 23.45 bila jatuh pada musim panas. Ini adalah tahun ke 4 kami tinggal di Paris, Perancis.

Jujur, bayangan puasa menahan lapar dan haus nyaris 18 jam ini ( di tanah air sekitar 13 jam) telah menghantui  tidak saja saya dan suami tetapi juga sebagian besar kenalan kami.  Ini masih ditambah lagi dengan cuaca panas lebih dari 30 drajat yang biasanya bertandang di bulan Juli – Agustus. Dengan alasan ini pula banyak teman kami yang memilih menjalankan kewajiban rukun Islam ke 3 ini ( banyak pula yang berpendapat puasa adalah rukun ke 4) dengan mudik ke tanah air. Disamping musim panas yang biasanya berlangsung selama 2 bulan itu, anak-anak memang selalu libur panjang.

Namun dengan berbekal pengetahuan bahwa Allah swt tidak akan membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya , maka tenanglah hati ini. Dan memang demikian nyatanya, ketika akhirnya bulan yang dinanti-nantikan  itu tiba, tanpa terlalu banyak kesulitan kami dapat melaluinya. Allahuakbar ..

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. … … “. (QS. Al-Baqarah(2):286).

Dengan izin-Nya,  suhu udara awal Ramadhan yang jatuh di pertengahan Juli itu hanya berkisar di 20 drajat Celcius. Kesejukan yang sungguh bukan hal yang ‘normal’ mengingat l’ete bahasa Perancis untuk musim panas, biasanya bisa mencapai 30 drajat lebih. Alhamdulillah …

Dan seperti juga Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, setiap malam Minggu KBRI Paris konsisten menyelenggarakan buka puasa bersama di aula gedung kedutaan yang terletak di Paris 16 itu. Bedanya, kali ini tidak ada penyelenggaraan shalat taraweh dengan alasan malam terlalu larut. Yang akibatnya terlalu merepotkan pihak kedutaan. Disamping juga khawatir kurang peminat. Maklum, kedutaan kan bukan masjid  bukan pula khusus milik kaum Muslimin dan pegawainyapun bukan semuanya Muslim.

Kenapa g sekarang aja tarawehnya?”, celetuk seorang ibu setengah kecewa mengetahui bahwa kedutaan hanya menyelenggarakan buka puasa bersama dan Magrib berjamaah.

Ya g bisa dong bu, taraweh itu kan setelah masuk waktu Isya”, jawab saya, lumayan heran juga mendengar pertanyaan polos tersebut. Si ibu tampak tidak puas dengan jawaban tersebut.

 Namun kemudian saya segera menyadari ketidak mengertiannya. Karena  beberapa waktu lalu, pada acara tanya jawab tausiyah menjelang Magrib, ia juga mengajukan pertanyaan yang naif.

“ Uztad, bagaimana caranya supaya suami saya yang non Muslim bisa mengerti  Islam dan mau menemani saya berpuasa?”, lontarnya  lugu dalam bahasa Perancis yang lumayan kacau ditambah logat Sundanya yang kental, membuat hadirin tersenyum geli. Disaksikan seorang bule di ujung sana yang juga tersenyum simpul. Belakangan saya baru tahu bahwa  ternyata bule itu adalah suami perempuan tersebut.

Kebetulan tausiyah memang diberikan oleh seorang imam andalan kedutaan berbangsa Tunisia yang hanya bisa berbahasa Inggris dan Perancis. Plus bahasa Arab tentunya.

… … Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.(QS.Al-Baqarah(2):221).

Ini masih berlanjut ketika saya mendapati bagaimana perempuan setengah baya itu melakukan  shalat Magrib. Ketika itu ia shalat di samping kanan saya. Jadi saya tahu persis bahwa ia memulai shalatnya pada rakaat ke 2. Namun saat imam mengucapkan salam pada akhir shalat ia ikut mengucapkan salam tanpa menambah kekurangan rakaatnya.

Dari pembicaraan yang kami lakukan begitu shalat usai saya jadi tahu bahwa perempuan tersebut memang sangat sedikit memahami Islam. Bahkan bacaan Al-Fatihahnyapun tidak lancar. “Lupa”,  katanya. Padahal menurutnya ibunya telah berkali-kali menunaikan ibadah haji dan wafat di tanah suci.  Sungguh ironis …

Lho, jadi apa dong yang ibu ucapkan ketika shalat?”, tanya saya heran karena bacaan Al-Fatihah itu kan wajib hukumnya.

“ Ya apa saja .. Ya Tuhan sayangi saya, sayangi suami saya yang meski bukan Islam tapi baik hatinya, ampuni saya …  begitu saja”, jawabnya enteng .

Tampak bahwa perempuan separuh baya yang sejak usia 12 tahun telah hijrah ke Paris bersama kedua orang tuanya itu tidak mendapat bekal pengetahuan agama yang cukup. Jelas, Paris memang bukan kota tujuan hijrah yang tepat. Apalagi pasangan hidup yang dipilhnyapun bukan Muslim, bule pula yang seringkali atheis.  Alangkah tragisnya ..

 Tiba-tiba saya jadi teringat kepada saudara-saudari kita seiman imigran dari berbagai Negara Muslim yang cukup banyak jumlahnya di negri bekas pimpinan Zarkozy ini. Keturunan  Aljazair, Tunisia dan Maroko yang merupakan bekas negara jajahan Perancis adalah imigran yang terbanyak menduduki Perancis. Sebagian besar generasi muda yang saat ini hidup di negri ini kemungkinan merupakan generasi ke 3.

Artinya kakek nenek mereka adalah generasi pertama yang berimigrasi ke negri ini. Merekalah yang menjadikan keturunan bangsa Arab penduduk Afrika utara ini mendominasi imigran Perancis. Baik melalui perkawinan sesama bangsa dan sesama imigran maupun perkawinan campur dengan penduduk asli Perancis sendiri.

Ini masih ditambah lagi dengan membludaknya imigran dari Negara-negara Islam korban perang di masa lalu seperti Turki dan imigran dari Negara-negara  Islam yang baru belakangan ini bergejolak seperti Iran, Irak, Mesir, Siria dan Afganistan.

Dengan kata lain, nasib ala ibu “Neneng” asli Sunda yang mengalami krisis identitas itu juga banyak dialami “neneng-neneng” bangsa lain saudara saudari kita seiman di Eropa ini. Tidak hanya di Perancis, saya yakin.

Salah satu buktinya adalah pengalaman saya di Mosquee de Paris, masjid terbesar Paris beberapa waktu lalu. Di suatu hari Jumat di bulan Ramadhan saya pergi ke masjid yang terletak di pusat kota ini untuk ikut shalat Jumat.  Tidak seperti umumnya masjid-masjid  di Jakarta, di masjid ini Muslimah punya jatah cukup besar menempati sebagian kapling masjid untuk shalat berjamaah bersama ribuan Muslim Paris dan sekitarnya.

Terus terang saya sangat menikmati saat–saat berkumpul tersebut meski saya tidak memahami bahasa Arab. Kecuali sedikit mereka-reka bila imam mengutip ayat yang kebetulan saya hafal. Maklum khotbah diberikan dalam bahasa Arab.

Pada saat saya sedang mendengarkan dan berusaha memahami khutbah imam itulah datang serombongan kecil jamaah perempuan. Setelah  beberapa saat celingukan mencari tempat  akhirnya mereka duduk berdesakan tepat di samping saya. Dari penampilannya saya menerka mereka adalah asal Afganistan. Jumlah mereka 5 orang, 1 dewasa dan 4 remaja usia 14-15 tahun.

Beberapa kali saya mendengar  perempuan yang dewasa menterjemahkan apa yang dikatakan imam ke dalam bahasa Perancis. Dari sini saya kemudian menduga bahwa mereka pasti imigran. Usai shalat, perempuan tersebut menerangkan bagaimana cara shalat yang benar. Saya juga berhasil memperhatikan bagaimana  antusiasnya  para remaja tersebut menanggapi  penjelasan dan uraian “ uztazah” mereka tentang Islam. Termasuk ungkapan salah seorang diantara mereka  yang sangat ingin membaca buku-buku mengenai hidup Rasulullah Muhammad saw ketika uztazah mengatakan bahwa di dalam masjid ada perpustakaan.  Terharu hati ini menyaksikan pemandangan indah ini.

Di masjid agung yang dibangun pada tahun 1926 atas inistiatif raja Maroko sebagai penghargaan atas gugurnya 70 ribu tentara Muslim Perancis asal Aljazair inilah beberapa kali saya dan suami bertegur sapa dengan Muslim Perancis. Diantaranya dengan seorang guru besar universitas Istanbul yang dengan bangga menceritakan bahwa baru beberapa bulan yang lalu ia kedatangan saudara seiman dari Indonesia.

Orang tersebut adalah petinggi Muhammadiyah yang tidak asing lagi bagi kita yaitu Din Samsudin. Dengan penuh antusias ia bahkan menyodorkan hpnya kepada suami saya agar suami saya mau berbicara dengan seorang temannya sesama guru besar di universitas terkenal di Turki yang kebetulan menelpon dan bisa berbahasa Indonesia !

Di masjid dimana sejumlah pengungsi Yahudi pernah berlindung dan selamat dari kejaran Nazi ini pula beberapa kali saya ditegur dan dikira Muslim Malaysia. Antara sedih dan bangga; bangga dan bahagia karena sebagai minoritas di perantauan mendapat perhatian dari saudara/inya. Sedih karena mengapa harus Malaysia bukan Indonesia .. Bukankah Indonesia Negara mayoritas terbesar di dunia .. Tambah sedih lagi mendengar desas desus bahwa Muslim Indonesia sulit bergabung dan bercampur dengan Muslim lain dibanding Muslim Malaysia. .. L

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Saya pikir mungkin desas desus tersebut ada benarnya juga. Karena selama 4 tahun di Paris jarang sekali saya berjumpa Muslim Indonesia di masjid ini. Sementara dengan Muslim Malaysia dan Filipina saya sudah beberapa kali berjumpa.

Padahal jumlah Muslim Indonesia yang tinggal di Paris tidaklah sedikit. Ini terlihat dari banyaknya  warga kita setiap kali KBRI menyelenggarakan buka puasa bersama dan shalat taraweh. Sebaliknya sungguh disayangkan melihat kenyataan betapa sedikitnya jumlah uztadz Indonesia atau uztadz yang bisa berbahasa Indonesia di Paris ini. Karena meski sebagian besar masyarakat ini telah lama tinggal di Perancis banyak juga yang tidak begitu menguasai bahasa yang dikenal sulit ini.

Jelas, mereka sangat merindukan santapan rohani, bukan hanya santapan fisik khas tanah air seperti rendang, gudeg dll.  Pada sesi tanya jawab yang biasanya diadakan di akhir tausiyah seperti yang dilakukan bu “ Neneng”  diatas sebenarrnya banyak yang ingin bertanya. Masalah bahasa tampaknya yang menjadi kendalanya. Disamping rasa percaya diri dan keberanian bertanya yang rendah,  seperti yang sering terjadi di lingkungan kita.

Adalah tugas mendesak bagi pihak kedutaan untuk menyiapkan uztad dan uztadzah demi terpenuhinya kebutuhan spiritual masyarakat Muslim di negri dimana kita adalah minoritas.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 September 2012.

Vien AM.

Advertisements

Menggapai Lailatul Qadar

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,(QS.Al-Baqarah(2):183).

Menjelang Ramadhan ayat diatas makin sering muncul. Berpuasalah agar kita, umat Islam menjadi orang-orang yang takwa. Ayat diatas secara jelas menegaskan bahwa berpuasa (di bulan Ramadhan) itu bukanlah sekedar menahan makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Puasa yang diperintahkan-Nya adalah puasa hingga kita bisa mencapai takwa.  Pertanyaannya, adakah semua umat Islam di dunia ini mengetahui persis bagaimanakah orang yang takwa itu?

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”.(QS.Al-Baqarah(2):2-4).

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang takwa adalah orang yang meyakini rukun Iman dan rukun Islam sebagai berikut :

1.Beriman/yakin kepada yang ghaib ( Allah swt, para malaikat dan bangsa jin)

2.Mendirikan shalat ( bukan sekedar melaksanakan shalat, artinya shalat dengan penuh kesadaran akan maknanya).

3. Berinfak sodaqoh.

4. Beriman/yakin kepada kitab-kitab suci ( Al-Quran, Injil, Taurat dan Zabur).

5. Beriman/yakin akan adanya Hari Kiamat.

Keyakinan terhadap kitab-kitab dan hal-hal ghaib diatas bukan hanya yakin sekedar yakin saja. Namun yakin yang melahirkan rasa takut, syukur, tunduk dan takluk kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla hingga dengan suka rela mau melaksanakan hukum dan menjalani  ketetapan-Nya, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya, apapun bentuknya.

Dari Abu Abdul Rahman Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khatthab, beliau berkata:  Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ lslam itu terbina atas lima perkara:  bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan menunaikan puasa pada bulan Ramadhan”.

Allah swt menciptakan  bulan Ramadhan sebagai bulan penggemblengan, bulan pelatihan sekaligus bulan cobaan, sebagai pembuktian seberapa dalam ketaatan kita pada-Nya.  Sementara 10 hari terakhir di bulan Ramadhan atau apa yang disebut Lailatul Qadar adalah hari-hari penobatan bagi siapa yang paling bertakwa. Sayangnya, hari istimewa tersebut dirahasiakan-Nya dari kita. Kitalah yang harus mencarinya.

“Carilah dengan segala upayamu malam Lailatul Qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 akhir dalam Ramadan”-( HR.Ima Bukhari).

“ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan( Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. “Barangsiapa menghidupkan (beribadat sepanjang malam) malam Lailatul-Qadar dan mendirikan shalat dua rakaat, kemudian memohon ampunan  Tuhannya, maka diampunkan dia oleh Allah swt  dan dimasukkan kedalam rahmatNya, kemudian disapukan dia oleh Jibril a.s. dengan dua sayapnya. Barangsiapa disapu oleh Jibril dengan sayapnya maka didalam syurgalah tempatnya…..”.

Dalam riwayat lain,“Barangsiapa mendirikan shalat  empat rakaat dengan membaca surah al-Fatihah, al-Kauthar dan al-Ikhlas tiga kali, dimudahkan menghadapi sakratul maut, dikecualikan daripada azab kubur dan dikurniakan empat tiang daripada nur tiap- tiap satunya terdiri 1000 mahligai“.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Masih banyak lagi hadis tentang Lailatul Qadar ini. Intinya  pada malam itu Allah swt memerintahkan para malaikat termasuk malaikat Jibril as untuk memperhatikan, mendengar  dan mencatat apa yang dilakukan dan diminta hamba-hamba-Nya.  Dan doa dan permohonan pada malam tersebut akan dikabukan-Nya.

Menurut riwayat, adalah Mujahid, seorang sahabat, yang bercerita bahwa ayat tentang Lailatul Qadar turun setelah Rasulullah berkisah tentang seorang shaleh dari bani Israel yang selama 80 tahun rajin berjihad. Riwayat lain dari Ali bin Aurah, pada satu hari Rasulullah telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikitpun tidak durhaka kepada Allah lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Para sahabat merasa iri karena tidak dapat berbuat seperti mereka.

Jibril kemudian datang memberitahukan Rasulullah saw bahwa Allah swt menurunkan ayat yang lebih baik dari amalan orang-orang Yahudi itu. Itulah  surah Al Qadar yang membuat Rasulullah dan para sahabat amat gembira. Allah Azza wa Jalla menjanjikan pahala lebih dari 1000 bulan atau sekitar 84 tahun bagi kaum Muslimin yang beribadah pada malam Lailatul Qadar. Mereka yang dengan ikhlas ikhtikaf ( berzikir minimal sejak Magrib hingga Subuh hari berikutnya di rumah-Nya), tafakur dan bermunajab, berharap malaikat Jibril as mendatangi mereka.

Namun demikian, janji Allah tersebut sesungguhnya hanya berlaku bagi hamba-hamba Allah yang selama satu tahun terakhir berhasil lolos seleksi pemilihan. Puncaknya  di 20 hari pertama Ramadhan berhasil melaksanakan puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan dengan baik.  Merekalah itulah  kandidat pemenang Lailatul Qadar yang sesungguhnya, yang tercatat dalam catatan para malaikat sebagai calon yang memenuhi persyaratan untuk di datangi, untuk menerima janji Tuhannya.

Itulah ganjaran pahala yang setara dengan beribadah selama 1000 bulan atau 84 tahun, 4 tahun lebih banyak dari ganjaran orang Yahudi yang berjihad selama 80 tahun. Jadi bukan mereka yang tafakur dan ikhtikaf hanya selama malam-malam suci di mana Al-Quran pertama kali diturunkan.

Apalagi sekedar membaca dan khatam  Al-Quran dalam bulan Ramadhan namun tanpa mengkajinya, meski pahalanya tentu saja kita dapatkan, insya Allah. Karena sesungguhnya hikmah keberadaan ayat-ayat tersebut baru terasa bila kita mau merenungkan  dan mengkajinya dengan seksama.

Demikian juga  shalat malam seperti  tarawih dan tahajud, berinfak sedekah serta amal kebajikan yang dikerjakan hanya ketika Ramadhan datang. Ini semua tidak cukup menjadi jaminan bahwa seorang hamba bakal lolos seleksi untuk ikut dalam lomba mencapai Lailatul Qadar.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda : “ Apabila masuk bulan Ramadhan, dibukakan pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka Jahannam, serta dibelenggu  syaitan-syaitan”. (HR. Bukhari).

Hadis diatas banyak disebut ketika memasuki bulan Ramadhan. Yang menjadi pertanyaan, bila selama bulan suci tersebut syaitan-syaitan dibelenggu, mengapa kejahatan tetap saja terjadi pada bulan tersebut ?

Ini sebuah kenyataan yang sungguh mengerikan.  Karena hal ini justru menjadi bukti bahwa tanpa gangguan syaitanpun ternyata manusia bisa tetap berbuat jahat. Artinya, sifat, kebiasaan dan pengaruh syaitan itu bisa menjadikan manusia menjelma menjadi syaitan itu sendiri!

Hal-hal yang tampaknya kecil dan sederhana;   tertib dalam  shalat misalnya, Ini adalah perintah rutin imam agar merapatkan dan merapikan shaf sebelum shalat jamaah dimulai, yang acap kali diabaikan makmum. Padahal bukankah dari kecil kita sering diberi tahu  bahwa shaf yang tidak rapat bakal diselipi syaitan yang akan mengganggu konsentrasi shalat kita?

Bukan sekali dua kali saja, saya melihat, terutama jamaah perempuan, memulai shalat tanpa menggubris peringatan imam. Masing-masing bersikukuh berdiri di tengah-tengah sajadah yang lebarnya bisa mencapai 50 cm. Boleh jadi sajadahnya memang rapat tapi tidak orangnya. Ini masih lebih baik. Karena sering juga terjadi, lagi-lagi biasanya di bagian perempuan, shaf yang “bolong-bolong” di sana sini.

Belum lagi, kebiasaan makmum yang sering mendahului gerakan imam. Belum juga imam selesai mengucap takbir, makmum sudah bergerak mengganti gerakan. Tiba-tiba saya teringat ucapan seorang da’i pada salah satu tausiyah Ramadhan yang  mengingatkan bahwa hal-hal tersebut beresiko mengeluarkan seseorang dari jamaah shalat yang ganjarannya 27 x lipat itu. Sungguh ironis bukan ?

Ramadhan dengan  Lailatul Qadarnya memang telah lewat. Tapi bila Allah berkehendak, saat-saat indah yang penuh berkah tersebut mungkin masih bisa kita nikmati tahun depan. Jika kita memang benar-benar ingin mendapatkan keberkahan tersebut, mengapa kita tidak mempersiapkannnya sedini mungkin.

Dengan puasa syawal yang 6 hari ini misalnya. Puasa ini sangat istimewa karena Allah swt mengganjarnya dengan puasa satu tahun penuh. Mumpung masih ada waktu.

“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dgn (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) 2 bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( HR.Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Atau dengan mulai membiasakan diri shalat subuh berjamaah di masjid ( bagi kaum laki-laki) serta tertib dalam mengerjakannya. Atau memulainya dengan berusaha  membuang sifat-sifat syaitan dan kebiasaan-kebiasaan buruk, hingga ketika Ramadhan tiba nanti kebiasaan-kebiasan tersebut benar-benar telah hilang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Agustus  2012.

Vien AM.

Buah Ramadhan

Kaum Muslimin adalah kaum yang paling beruntung di dunia ini. Sungguh, betapa banyaknya nikmat yang dilimpahkan Sang Khalik kepada umat nabi terakhir, Rasulullah Muhammad saw ini.  Bulan suci Ramadhan adalah salah satu buktinya.

Betapa tidak … Sekali dalam setahun, sebulan lamanya, Allah swt menawarkan diskon besar2an. Inilah pesta obral terbesar bagi kaum Muslimin yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Pada bulan suci ini Sang Khalik melipat gandakan balasan setiap amal perbuatan kita. Dan balasan terbesar adalah dibersihkannya kita dari segala kotoran dan dosa hingga bagaikan bersihnya hati seorang bayi yang baru dilahirkan ! Subhanallah ..

Seorang Muslim yang beruntung menerima ganjaran diatas akan terlihat dari sikap dan prilakunya, setelah berakhirnya Ramadhan. Tindak-tanduknya akan jauh lebih baik dari sebelum bulan diskon tersebut.  Bila sebelumnya ia ‘cuek’ atau tidak/kurang  peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya; khususnya kedua orang tua, orang-orang miskin dan anak-anak yatim piatu, maka setelah Ramadhan ia lebih perhatian dan peka terhadap orang-orang tersebut.

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (QS.An-Nisa(4):36).

Dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad saw bersabda : “Sebaik-baik rumah orang muslim adalah apabila di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik dan sejelek-jelek rumah orang muslim adalah apabila terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk”.

Dari  Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :“ Orang yang menolong para janda serta orang miskin sama ( pahalanya ) dengan orang yang berjihad dijalan Allah swt”.  

Ditambah lagi, ia lebih sabar dan dapat menahan amarah dari pada sebelum bulan suci Ramadhan.  Ia pandai meniru apa yang dicontohkan Rasulullah saw yang memang sudah seharusnya menjadi panutan kaum Muslimin. Yaitu segera berwudhu ketika godaan syaitan datang menggoda agar tidak menahan sabar dan amarah. Setelah itu iapun mendirikan shalat sunnah 2 rakaat.

“ Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS.Al-Baqarah(2):153).

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah  menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR.Ahmad).

“Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

Namun demikian seorang hamba yang telah dibersihkan hatinya itu tidak berarti tidak boleh marah. Bila ia telah merubah posisinya dari berdiri, duduk kemudian berbaring, setelah itu berwudhu kemudian shalat dengan khusuk, namun rasa marah tetap berada di dalam hatinya, berarti marah tersebut adalah marah yang diridhoi-Nya.

Dari Muadz bin Anas al-Juhani bahwa Rasulullah saw. bersabda: “ Barangsiapa yang memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya”.

Seseorang yang telah dibersihkan dosa dan kesalahannya jadi pandai memaafkan kesalahan orang lain. Ia tidak perlu menunggu  orang yang telah menyakiti hatinya meminta maaf terlebih dahulu. Tanpa diminta ia mampu memaafkan  saudaranya itu. Tidak ada rasa dendam dan permusuhan dalam diri orang yang bersih hatinya.  Ucapan maaf tidak hanya sekedar ucapan di bibir melainkan tulus dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas adalah kuncinya. Inilah ciri khas orang yang takwa.

“…Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Baqarah: 237).

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang takwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali Imran(3):133-134).

Islam mengajarkan “ yang terlebih dahulu datang untuk menjalin hubungan, jauh lebih utama di sisi Allah daripada yang menunggu.”

Ciri khas orang takwa yang lain adalah segera bertaubat ketika melakukan kesalahan serta tidak mengulanginya kembali. Ia tidak menunda-nundanya hingga datang kesulitan, sakit apalagi sakratul maut. Intinya ia selalu berusaha untuk mendekatkan diri ( taqarub) pada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Singkat kata, tindak tanduk orang yang berhasil mencapai takwa dalam bulan Ramadhan adalah :

1.Memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi.

2. Tidak murah marah.

3. Cepat memaafkan kesalahan orang lain.

4. Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Itulah buah Ramadhan. Dapat dibayangkan bila saja setiap tahun sejumlah hamba berhasil memetik buah ini  alangkah damainya bumi kita tercinta ini. Tidak ada korupsi, tidak ada kemiskinan, tidak ada kecurangan, kezaliman dll. Bahkan kesulitanpun akan hilang. Karena janji Allah sebagai berikut :

… … Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. … … Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya  … … … Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. … …  dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”.(QS.At-Thalaq(65):2-5).

Hal penting yang patut menjadi perhatian, malaikat Jibril as pernah meminta Rasulullah saw agar mengamini doanya. Doa tersebut adalah permintaan agar Allah tidak menerima puasa seseorang ketika :

1.  seorang hamba masih menyakiti hati kedua orang-tuanya.

2.  seorang istri masih juga membangkang suaminya atau seorang suami masih mendzalimi  istrinya.

3.  seorang hamba masih  menyimpan rasa dendam dan permusuhan terhadap hamba yang lain.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Agustus 2012.

Vien AM.

( Disarikan dari khutbah Iedul Fitri 1433 H di lapangan RS Dr. Soeyoto jln Veteran, Jakarta Selatan).

Namun yang mengejutkan, penelitian terakhir melaporkan bahwa Tutankhamon kemungkinan besar bukan putra pasangan Akhenaton dan permaisuri Nefertiti, namun dengan adik kandung Akhenaton sendiri !  Cacat fisik yang diderita fir’aun muda tersebut dan terdeteksi melalui pemeriksaan CT scan membuktikan bahwa ia lahir dari produk incest, alias hubungan seks antara saudara kandung.

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”,(QS.An-Nisa(4):23).

Zulkarnaen memang hidup jauh sebelum Al-Quran diturunkan. Tetapi sebagai seorang hamba yang dikisahkan Al-Quran sebagai sosok yang diagungkan-Nya rasanya sungguh mustahil berbuat zalim, meski pada zaman itu perkawinan antar anggota keluarga adalah hal yang lazim saja, terutama antar anggota kerajaan.

Kabar terbaru, Februari 2010, mummi Akhenaton telah ditemukan. Mummi ini sebenarnya telah lama ditemukan, yaitu pada tahun 1907, lagi2 di Wadi Al-Mulk.  Namun baru pada tahun 2005-2009 diteliti oleh tim khusus melalui pemeriksaan DNA. Dan kesimpulannya, mummi tersebut adalah  mummi Akhenaton yang selama ini dianggap raib itu.

Bagaimana dengan orang mukmin dari keluarga fir’aun yang hidup di masa nabi Musa as, pada ayat 28 surat Al-Mukminin, yang pernah dianggap sebagai Zulkarnaen? Fir’aun mana yang dimaksud ayat tersebut? Betulkah firaun yang mengejar nabi Musa ketika melintasi laut dan akhirnya ditenggelamkan-Nya?

Sejak lama orang Barat beranggapan bahwa fir’aun yang dimaksud adalah Ramses II. Ini  berdasarkan pendapat seorang pendeta Yahudi yang hidup pada tahun 300 an SM, jauh sebelum ditemukannya mummi fir’aun tersebut. Mummi  baru ditemukan pada tahun 1881 M di Wadi Al-Mulk. Namun sejak tahun1960-an dengan makin majunya ilmu pengetahuan, para arkeolog mulai meragukan kebenaran hal tersebut.

Adalah Maurice Bucaille, seorang dokter Perancis yang meminta agar pemerintahnya ‘meminjam’ mumi Ramses II yang disimpan di museum Kairo untuk diteliti melalui CTscan dinegaranya. Dari hasil penelitian inilah disimpulkan bahwa Ramses II adalah Pharaoh the Exodus atau fir’aun yang hidup di zaman nabi Musa as. Ini karena banyaknya kadar garam yang ditemukan dalam tubuh mumi tersebut.

Disimpulkan bahwa fir’aun yang tenggelam di laut Merah ini segera dimumikan dan dimakamkan di Wadi Al-Mulk, makam para fir’aun, begitu jenazahnya ditemukan mengambang di tepi laut.

“ Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.(QS.Yunus(10):92).

Kabarnya, temuan yang sangat cocok dengan ayat diatas inilah yang kemudian membuat Bucaille, sang dokter Perancis Nasrani tersebut, memeluk Islam. Subhanallah .. Meski di belakang hari, akibat pendapat dan buku2nya yang cenderung selalu mengaitkan Islam dengan sains yang dianggap berlebihan, membuat sebagian ulama meragukan ke-islam-annya itu. Karena sains, bagaimanapun bisa keliru dan terus berkembang. Sementara ayat Al-Quran adalah abadi. Sains yang harus mengikuti Al-Quran bukan sebaliknya.

Seperti juga temuan-temuan mumi fir’aun yang bisa saja keliru, Istri Ramses II, contohnya. Sains menyatakan bahwa Nefertari dan Isisnefret adalah permaisuri Ramses II. Dikatakan bahwa Nefertari memiliki 5 anak lelaki dan 4 anak perempuan. Sedangkan Isisnefret mempunyai  3 anak lelaki dan 2 anak perempuan.

Padahal Islam menyakini bahwa Asiah binti Muzahim, permaisuri kesayangan fir’aun yang hidup di zaman nabi Musa as, tidak memiliki seorangpun anak. Itu sebabnya ia memohon suaminya agar mau mengambil Musa menjadi anak angkat mereka. Yang saking sayangnya terhadap permaisurinya ini fir’aun rela menahan amarahnya ketika anak angkatnya merenggut janggutnya. Janggut yang merupakan lambang kehormatannya sebagai penguasa tertinggi. Hebatnya lagi, dikisahkan bahwa Asiah tetap ‘virgin’ hingga akhir hayatnya karena Allah swt melindunginya dari kekuasaan fir’aun zalim tersebut, sebagai seorang suami.

Disamping itu Ramses II dikenal sebagai penguasa Mesir tersukses. Ia dianggap adil dan bijaksana. Selama kekuasaannya Mesir mencapai puncak kejayaan. Kekuasaannya sangat luas dan kekayaannya melimpah. Tulisan yang tergores di patung Obelisk yang berdiri tegak di Place de la Concorde, bundaran termegah dan terkenal di Paris, adalah salah satu buktinya.

« Ramses, penakluk seluruh rakyat asing, raja dari segala raja. Ramses yang menaklukan jutaan manusia, memerintahkan agar seluruh dunia tunduk kepada kekuasaannya, tunduk berdasarkan suara ayahnya, Amon ».   

Amon adalah dewa tertinggi, tuhannya orang Mesir kuno. Obelisk sendiri adalah tugu khas Mesir. Pemerintah Mesir menghadiahkan obelisk ini kepada pemerintah Perancis pada era Napoleon Bonaparte berkuasa.

Atau mungkinkah ayat berikut dimaksudkan bagi Ramses II, penguasa terbesar Mesir tersebut?

“ Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih.”(Yunus(10):88).

Sementara Al-Quran juga menceritakan bagaimana pada suatu waktu fir’aun ini pernah memerintahkan agar para bayi lelaki yang lahir segera dibunuh karena takut akan ramalan bahwa ia bakal terguling karena adanya bayi tersebut.

“Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.(QS.Al-Qashsosh(28):4).

Alangkah indahnya bila saja para cendekiawan Muslim bersatu membuat penelitian ilmiah dengan dasar dan pegangan Al-Quran untuk menggali segala macam peninggalan sejarah di dunia ini, termasuk para fir’aun dan orang-orang yang diabadikan-Nya, baik maupun buruk. Peninggalan Karun misalnya ..

 “ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.(QS.Qashash(28):76).

Bila peninggalan Tutankhamon saja bisa sebegitu hebohnya, bisa membuat dunia terkagum-kagum dan menjadi ladang emas bagi penemunya, padahal Al-Quran tidak mengabadikannya, bagaimana dengan Karun, yang bahkan kunci-kunci gudangnya saja sampai harus dipikul sejumlah orang kuat ….

Peninggalan tersebut kabarnya memang telah ditemukan yaitu di Al-Fayyum, sekitar 150 km di barat daya Kairo. Tempat ini berdekatan dengan danau Qarun. Namun temuan tersebut masih sangat minim, mengingat Allah swt mengabadikannya dalam Al-Quran.

Adalah tugas kita sebagai Muslim yang mewarisi Al-Quran, yang dipercaya menerima  kabar ghaib itu langsung dari Sang Khalik. Agar mencari, menggali, meneliti dan membuktikan kebenaran ayat-ayat-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta,9 Agustus 2012.

Vien AM.

Kompleks makam para firaun periode Kerajaan Baru ( the New Kingdom) di Wadi Al-Mulk ( Valley of the King atau Lembah para raja) yang dibangun sejak abad 16 SM hingga 11 SM jauh lebih baru dibanding makam fir’aun berbentuk piramid di Mesir. Piramid yang jumlahnya 135 ( yang sudah ditemukan ) dan tersebar di negri berjulukan 1000 menara  ini dibangun pada abad 20 SM, antara tahun 2575 SM – 2150 SM pada periode Kerajaan Lama ( the Old Kingdom) yang terdiri dari dinasti 4, 5 dan 6.  Yang paling terkenal adalah kompleks makam piramid Giza Necropolis  di Kairo.

Expedisi pencarian dan penggalian makam para fir’aun sebenarnya telah terjadi sejak lama. Tercatat, pada tahun 1799 anggota expedisi Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis kala itu, pernah membuat peta makam firaun di Wadi Al-Mulk. Jadi terungkapnya makam keluarga besar para raja dari New Kingdom ini sebenarnya berlangsung  selama bertahun-tahun dan secara bertahap pula. Namun temuan Howard pada tahun 1922 atas makam raja yang di kemudian hari diidentifikasikan sebagai firaun Tutankhamon adalah yang terbesar dan terheboh. Dengan adanya temuan spektakuler ini ditutup sudah penggalian kompleks  makam di Wadi Al-Mulk. Makam ini dianggap sebagai makam terakhir di lembah tersebut.

Temuan inilah yang kami saksikan pamerannya sambil ngabuburit minggu lalu. Pameran yang  diberi judul “Tutankhamon ; makam dan harta peninggalannya “ ini kabarnya memakan waktu 5 tahun untuk persiapannya saja. Pertunjukkan diawali dengan sajian film dokumenter tentang sejarah singkat Mesir era para firaun. Dilanjutkan lagi dengan film, juga dokumenter, tentang proses penemuan dan penggalian pemakaman. Juga film tentang riwayat singkat penemunya, Howard Carter, yang pada usia 17 tahun telah bergabung dengan tim expedisi penggalian makam para firaun.

Selanjutnya adalah pameran harta peninggalan itu sendiri. Meski sebagian besar temuan  yang kami saksikan di pameran tersebut hanya duplikatnya saja tetap saja mampu membuat para penonton berdecak kagum. Duplikat tersebut dibuat sedemikian rupa menyerupai aslinya, baik bentuk, ukuran maupun detailnya. Bahkan bahan dan metodenyapun diusahakan sedapat mungkin mirip dengan aslinya.

Demikian pula nasib mummi sang firaun itu sendiri. Mummi ini baru berhasil dibuat duplikatnya setelah mengalami penelitian 2 tahun lamanya. Sementara topeng muka Tuthankamon yang asli baru pada tahun 2005 diputuskan untuk tidak lagi dibawa berkeliling dunia untuk dipamerkan.  Pihak pemerintah Mesir  memutuskan hal ini, demi mencegah makin rusaknya barang berharga tersebut.

Duplikat inilah yang kemudian dipamerkan di berbagai  expo di sejumlah kota-kota besar dunia. Amerika Serikat,  Rusia, Jepang, Kanada dan Jerman adalah diantaranya. Tercatat expo pada tahun 1972 di British Museum, London adalah penyelenggaraan tersukses temuan Howard tersebut.

Akan halnya expo Paris, kami disuguhi sebanyak 1000 macam peninggalan berharga  Tutankhamon. Mulai peti raksasa pertama hingga peti ketiga dimana tersimpan mummi sang firaun, peti tempat penyimpanan organ dalam,   tempat penyimpanan mummi 4 janin anak2  Tutankhamon, kursi kerajaan, kereta kuda hingga pernak-pernik perhiasan semua berada di tempat tersebut.  Sebagian besar harta tersebut  berlapiskan emas dan bertahtakan batu- batu mulia warna-warni yang sungguh cantik.

Termasuk  juga yang paling menarik perhatian  yaitu  topeng dan peti mumi sang raja belia, Tutankhamon yang pada usia 8 atau 9 tahun telah diangkat menjadi raja dan pada usia 18 tahun telah meninggal dunia.

Ini yang sebenarnya membuat temuan tersebut menjadi buah bibir di seluruh penjuru dunia.  Sang raja yang telah dibalsem dan dijadikan mumi itu ditemukan terkubur bersama 5000 macam barang tetek bengek, yang kesemuanya nyaris terbuat dari emas murni. Mumi itu sendiri ditemukan tersimpan rapi di dalam peti emas berukir berukuran 187 cm x 51 cm x 51 cm dengan berat 110.5 kg ! Peti ini terletak di di dalam peti ke 3 yang kesemuanya adalah  emas murni. Sementara hartanya tersimpan didalam 2 ruang lain di sisi kiri dan kanan ruang “tidurnya”. Saat ini, seluruh temuan tersebut disimpan dan dipamerkan di Museum Kairo, Mesir. Legenda mengatakan bahwa sebagian harta tersebut adalah harta yang bakal diperlukan sang penguasa di dunia selanjutnya, setelah ia dibangunkan lagi. Itulah alam akhirat, nanti …

Merinding bulu kuduk ini, mengingat bagaimana nantinya nasib orang yang menyimpan harta, emas dan peraknya .. apalagi bila tanpa di zakatkan. Kalau saja firaun ini mengetahui ayat dan hadis dibawah ini, akankah ia tetap mengubur harta karunnya bersama dirinya seperti itu ?? Hiii … L

 “ … … Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,(QS.At-taubah(9):34).

Rasulullah bersabda : “ Tidaklah pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya (perak) darinya (yaitu zakat), kecuali jika telah terjadi hari kiamat (perak) dijadikan lempengan-lempengan di neraka, kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu dilakukan pada hari kiamat), yang satu hari ukurannya 50 ribu tahun, sehingga diputuskan (hukuman) diantara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau: akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju neraka.”

Nama Tutankhamon sendiri sebagai firaun sebenarnya sama sekali tidak dikenal kecuali setelah penemuan spektakuler tersebut.  Untuk  saya pribadi, yang lebih menarik dari firaun muda ini adalah kenyataan bahwa Tutankhamon yang memerintah Mesir pada  1337 SM hingga 1327 SM itu adalah putra dari Akhenaton. Akhenaton atau Amenhotep IV adalah firaun yang dianggap oleh sejumlah cendekiawan Muslim Mesir sebagai Dzuqarnaen, raja adil yang tersebut dalam Al-Qur’an, pada surat Al-Kahfi ayat 83 hingga 101.

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya“.(QS.Al-Kahfi(18):83).

Akhenaton memang secara umum dikenal sebagai satu-satunya penguasa negri para firaun yang menyembah Tuhan yang satu, yaitu Aton. Padahal semua firaun menyembah banyak tuhan bahkan sebagian mengganggap dirinya sendiri Tuhan, sebagaimana juga Tutankhamon. Demi menegakkan keyakinannya ini pulalah Akhenaton yang mulanya memiliki julukan Amenhotep IV mengganti gelarnya dengan Akhenaton yang artinya hamba Aton dan memindahkan ibu kota lamanya yang penuh berbagai patung dan sesembahan ke Amarna, sebelah selatan ibu kota lama, Thebes.

Ironisnya, begitu firaun yang dianggap kontroversial karena pendiriannya itu wafat, kota Amarna dihancurkan oleh putra mahkotanya sendiri, yaitu Tutankhamon. Sang firaun yang masih belia ini mengembalikan penyembahan kepada sesembahan lama, yaitu para dewa-dewi, Amon yang terbesar. Bahkan malah menganggap dirinya sebagai penjelmaan dewa itu sendiri.

Yang juga dijadikan alasan sebagian cendekiawan Muslim yang menduga bahwa Akhenaton adalah Zulkarnaen adalah kenyataan sejarah tentang fakta tidak adanya makam Akhenaton. Yang ‘ mustinya’ berada di Walid Al-Mulk, seperti lazimnya firaun2 lainnya yang pada umumnya dimakamkan di lembah tersebut.

Dengan demikian ini cocok  dengan ayat 83 hingga 96 surat Al-Kahfi, yang menyatakan kepergian hamba Allah yang shaleh tersebut ke suatu negri jauh diujung sana ( di timur, tempat matahari terbit) dimana ia tidak dapat memahami bahasanya. Negri dimana Zulkarnaen membangun tembok besi agar penduduknya terlindung dari kezaliman Ya’juj dan Ma’juj.

“Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu”,(QS.Al-Kahfi(18):90).

( bila berminat dengan analisa tentang Zulkarnaen ini silahkan baca «  Munculnya Ya’juj dan Ma’juj di Asia “ oleh Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid).

( Bersambung)

Sabtu, 21 Juli 2012, saya berdua suami ‘ngabuburit ‘, istilah bahasa Sunda untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa, dengan mengunjungi expo « Tutankhamon,  makam dan harta peninggalannya ». Pameran ini diselenggarkan Paris Expo, di hall 8 Porte De Versailles, Paris,  selama 3.5 bulan, sejak tanggal 12 Mei 2012 hingga 1 September 2012. Tujuan utama pameran ini adalah untuk  memperlihatkan hasil temuan Howard Carter, arkeolog Inggris pada tahun 1922 lalu, lengkap dengan prosesnya, melalui video serta replika temuan spektakuler tersebut.

Tak dapat dipungkiri, berita mengenai Mesir dengan fir’aun dan temuannya selalu menarik untuk disimak. Bahkan sampai muncul imu untuk mempelajari hal ini. Egyptology, begitulah nama ilmu tersebut. Ilmu ini secara khusus mempelajari sejarah Mesir kuno, yaitu Mesir sejak tahun 5000 SM hingga abad 4 AD. Termasuk didalamnya tentang bahasa, agama, seni dan segala hal yang berhubungan dengannya.

Saya sendiri secara pribadi tertarik mengikuti sejarah firáun karena  Al-Quran dan juga hadist banyak menyinggung hal ini. Kisah nabi Ibrahim as bersama istri pertamanya Saras, pergi ke Mesir hingga akhirnya kembali ke negri asalnya dengan membawa Siti Hajar yang merupakan hadiah dari fir’aun, nabi Yusuf as dengan kisah panjang hidupnya hingga diangkat menjadi penasehat fir’aun di Mesir dan yang paling ‘heboh’ adalah kisah nabi Musa as.

Kisah nabi bertubuh gagah perkasa ini diabadikan dalam Al-Quran dalam banyak surat, secara acak. Dari beliau masih bayi dan dihanyutkan di sungai hingga dewasa, menikah dan berdakwah melawan kekejaman fir’aun yang tak lain ayah angkatnya sendiri.

« Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir`aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa`at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak“, sedang mereka tiada menyadari ».(QS.Al-Qashash(28) :8-9).

Rasulullah bersabda, “Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia. Mereka adalah Asiah binti Muzahim, istri Fir’aun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwalid, istri Rasulullah SAW; dan Fatimah binti Muhammad” (HR Bukhari).

Istri fir’aun yang dimaksud ayat 9 surat .Al-Qashash di atas adalah Asiah binti Muzahim, sebagaimana sabda Rasulullah di atas. Rasulullah saw menyebutkan bahwa Asiah sederajat dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwalid, dan Fatimah binti Muhammad, putri Rasulullah karena  meski suami Asiah seorang tokoh yang sangat kejam, zalim dan menuhankan diri, Asiah tetap kokoh berani mempertahankan keimanannya.

“Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.”.  ( QS. An-Naziyat (79):20-24).

Pada beberapa kisah nabi Musa juga disinggung adanya Karun, pembesar Mesir kaya raya yang bahkan kunci-kunci gudang hartanya saja harus dipikul sejumlah bodyguard, saking beratnya.

“ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.(QS.Qashash(28):76).

Sementara kehidupan nabi Yusuf as diabadikan dalam surat 12 dengan nama yang sama yaitu, surat Yusuf.  Ini merupakan satu-satunya kisah nabi Allah yang diceritakan secara utuh dan berurut  dalam satu surat Al-Quranul Karim. Ayat 54 dan ayat 55 surat Yusuf berikut adalah ayat yang menunjukkan bahwa nabi yang dikisahkan sebagai nabi yang paling tampan ini, pernah menduduki jabatan penting di Mesir.

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”.

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”  

Sedangkan kisah nabi Ibrahim di Mesir diceritakan oleh Rasulullah melalui beberapa hadist. Disamping itu masih ada ayat lain tentang negri Mesir yang juga cukup menarik. Yaitu kisah Dzul Qarnain, yang berarti si pemilik dua tanduk. Dikisahkan bahwa Dzul Qarnain adalah seorang  raja yang sangat adil dan bijaksana. Kekuasaannya meluas hingga ke dataran tinggi Cina dimana disana ia membangun tembok besi. Al-Quran menceritakan bahwa di akhir zaman nanti tembok ini akan dihancurkan oleh Ya’juj Ma’juj, orang-orang jahat bermata sipit pembuat kerusakan,  sebagai salah satu tanda datangnya Hari Kiamat.

Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” “.(QS.Al-Kahfi(18):94).

Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar“.(QS.Al-Kahfi(18):98).

Meski Al-Quran tidak menerangkan lebih jauh siapa raja adil tersebut, namun ada sebagian cendekiawan Muslim yang memperkirakan bahwa raja tersebut adalah salah satu fir’aun, yaitu Akhenaton. Sejarah mengatakan bahwa Akhenaton adalah satu-satunya raja Mesir yang menganut Monotheisme ( satu tuhan), berlawanan dengan fir’aun lain yang Polytheisme ( banyak tuhan) dan Paganisme.

Menariknya lagi, raja tersebut ada kemungkinan adalah orang dekat fir’aun yang hidup pada zaman nabi Musa as dan diam-diam calon raja tersebut telah beriman kepada Tuhan-nya Musa. Dengan lantang, laki-laki ini berani menantang fir’aun, sang tirani, dengan membela Musa dan ajaran Tauhidnya.

 “ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”.(QS.Al-Ghafir(40):28).

Pendapat lain mengatakan bahwa Dzulqarnaen kemungkinan adalah Alexander the great, raja dari Masedonia yang terkenal itu. Namun mayoritas ulama menolaknya.

Kembali ke expo tentang Tutankhamon. Howard Carter ( 1874-1939) memulai karirnya di Mesir pada tahun 1891 di usianya yang ke  17 tahun sebagai seorang seniman. Ia dipekerjakan tim expedisi penggalian makam para firáun karena keahliannya dalam menggambar dan meniru dekorasi peninggalan barang-barang berharga temuan tim. Ia mewarisi bakat seni tersebut dari darah ayahnya, yang memang seorang seniman.

Howard mulai bergabung pada tahun 1907 dengan tim expedisi yang dipimpin Lord Carnavon, seorang bangsawan milyarder Inggris yang sangat terobsesi dengan sejarah para firaun. Pada tahun 1922, setelah melalui perjuangan yang panjang dan sempat terhenti oleh adanya PD I ( 1914 – 1917 ) akhirnya Howard dan timnya berhasil menemukan makam Tutankhamon, fir’aun ke 11 dari dinasti ke 18, Kerajaan Baru ( the New Kingdom).

Kompleks pemakaman spektakuler ini ditemukan di Valley of the king ( Wadi Al-Mulk atau lembah para raja) yang  terletak  di bukit Theban di tepi sungai Nil, Thebes ( Luxor)  900 km di selatan Kairo. Ini adalah kompleks makam raksasa milik para firaun dari dinasti 18- dinasti 19 yang berlangsung selama 5 abad, yaitu dari 16 SM hingga 11 SM. Di bawah lembah inilah selama kurang lebih 3700 tahun tersembunyi 63 makam dan ratusan ruangan berisi peninggalan berharga para firaun, penguasa Mesir yang sering dianggap dan menggagap diri tuhan itu.

Sesuai adat dan kebiasaan Mesir kuno, jenasah para fir’aun itu ditemukan dalam keadaan sudah dibalsem alias dibuat menjadi mumi. Diantara mumi para fir’aun ini terdapat mumi Ramses II, fir’aun terakhir The New Kingdom. Ramses II terdaftar sebagai firaun ke 3 dari dinasti ke 19.  Ia  memerintah Mesir dari tahun 1279 SM hingga 1213 SM. Ia mendapat julukan Ramses the Great karena dianggap sebagai firaun yang paling sukses dan terkenal.

Lebih menarik lagi, Ramses II inilah yang paling sering dianggap sebagai firaun yang hidup pada zaman nabi Musa as. Dasarnya adalah karena muminya mengandung kadar garam yang sangat banyak, cocok dengan firaun yang ditenggemkan Sang Khalik di laut Merah.

“ Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”. Maka Fir`aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka”. (QS. Toha(20):77-78).

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

( Bersambung).

 “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)”. (QS.Al-Anbiya(21):1).

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata: Aku mendengar Nabi saw. bersabda sambil memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah: Waktu aku diutus (menjadi rasul) dan waktu hari kiamat adalah seperti ini (mengisyaratkan dekatnya waktu kiamat). (Shahih Muslim No.5244)

Ayat dan peringatan Rasulullah diatas telah terjadi 14 abad silam. Bagi sebagian orang, mungkin hal ini agak membingungkan. Karena hingga hari ini ternyata hari Kiamat belum juga terjadi.  Mungkinkah Allah swt menyalahi janji-Nya ? Jawabnya jelas tidak mungkin. Sebaliknya, kita tampaknya yang harus lebih teliti dalam mengamati dan memaknai ayat-ayat dan hadist tentang hari Kiamat dan segala yang berkaitan dengannya.

Para ulama, berdasarkan Al-Quran dan hadist yang mereka kuasai, tentu saja, membagi Kiamat menjadi 2, yaitu Kiamat besar atau Kiamat Kubro dan Kiamat kecil atau Kiamat Sugro.  Kiamat besar adalah hari berakhirnya dunia dan alam semesta ini, secara keseluruhan. Sedangkan Kiamat kecil adalah hari kematian seseorang, yaitu berakhirnya kehidupan seorang manusia di dunia ini.

Kiamat kecil ini pasti akan mendatangi tiap yang berjiwa, termasuk manusia. Ia akan datang secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dan pasti akan terjadi; kapan, dimana dan kemanapun kita bersembunyi.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung …. … ”.(QS.Ali Imran(3) :185)

 “ Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, … “(An-Nisa (4):78)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al-Munafikun(63):11).

Selanjutnya setelah Kiamat besar terjadi barulah Sang Khalik akan memperhitungkan apa yang  telah kita kerjakan didunia, untuk dibalas dengan pahala atau siksa. Kiamat akan terjadi begitu terdengar tiupan sangkakala. Sangkakala ini ditiup oleh malaikat Israfil atas perintah Sang Khalik.

“ Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,”.(QS.Al-Haqqah(69):13-15).

Maka terjadilah hari Kiamat yang didustakan orang-orang yang kafir itu. Pada hari bumi berguncang hebat, membuat manusia berlarian ketakutan bagaikan anai-anai yang bertebaran, melupakan kekerabatan bahkan anak yang sedang disusuinya !

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”.(QS.Al-Hajj(22):2).

Dibenturkan-Nya gunung-gunung terhadap bumi tempat kita selama in tinggal hingga hancur-luluh, bagaikan debu dan bulu yang beterbangan. Bumi bergetar sehebat-hebatnya, memusnahkan semua yang ada dan memuntahkan segala isinya. Bahkan matahari yang selama ini sering dijadikan sesembahan beberapa peradaban kunopun digulung-Nya hingga kegelapan total yang sungguh mencekam menyelimuti seluruh permukaan bumi ini.

Dalam suasana kepanikan hebat itulah langit terbelah, menghancurkan gugusan mliyaran bintang yang menghiasinya hingga jatuh berserakan. Kemudian muncullah 8 malaikat menjunjung Sang Khalik di atas Ársy-Nya ke hadapan para hamba-Nya.

 «  Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan,” (QS.At-Takwir(81) :1-3)

  “ Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan”, (QS.Al-Waqiyah(56):4-6).

“ Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.(Al-Qaryah(101):4-5).

« Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”.(QS.Al-Haqqah(69):17-18).

Selanjutnya, atas kehendak-Nya matilah semua yang ada di alam semesta ini. Yang tinggal hanyalah Sang Kekuatan Dasyat, Sang Maha Pemilik, Allah Azza wa Jalla. Di tengah keheningan dan kegelapan mencekam itu kemudian Ia memerintahkan malaikat Israfil yang dibangunkan-Nya kembali agar meniup sangkakala, untuk kedua kalinya.

Maka keluarlah seluruh manusia, mulai dari nabi Adam as sebagai manusia pertama, dari tidur panjangnya di alam kubur hingga manusia terakhir yang baru saja dimatikan-Nya itu.  Inilah saat dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya selama hidup di dunia. Bagi orang-orang yang selama hidup selalu mendustakan hal ini, hati mereka benar-benar kecut dan gentar menghadapi kenyataan yang harus mereka hadapi.

“ Pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”. (QS.An-Naziat(79):6-10)

“ Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”.(Az-Zumar(39):68).

“ Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka”.(QS.Al-Zalzalah(99):6).

Kembali ke ayat  1 surat Al-Anbiya di awal artikel, apa sebenarnya yang dimaksud “ telah dekat“ pada ayat tersebut. Mari kita perhatikan ayat-ayat berikut:

“… Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS. Al-Hajj(22):47).

“ Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS. As-Sajdah(32):5).

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.(QS. Al-Al-Ma’rij(70):4).

Ya, seribu tahun atau bahkan lima ribu tahun menurut kita sama dengan sehari saja  dalam perhitungan Allah Azza wa Jala. Sungguh, betapa kecilnya kita ini, bukan?? Allahuakbar ..

Ayat-ayat Al-Quran turun sekitar 1400 tahun silam. Berarti tidak sampai satu setengah hari menurut perhitungan-Nya, bila kita mengambil patokan 1 hari adalah 1000 tahun. Bila 5000 tahun? Bahkan 1/3 haripun tidak sampai ! Subhanallah ..

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan”.(QS.Thoha(20):15).

Meski Allah swt merahasiakan waktu tepat terjadinya Kiamat  namun Rasulullah saw, sebagai utusan terakhir-Nya, diberi-Nya informasi tentang tanda-tanda datangnya hari yang sungguh dasyat tersebut. Tanda-tanda tersebut terbagi 2 yaitu tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar.

Tanda-tanda kecil sejak lama sudah semua keluar dan akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Munculnya nabi-nabi palsu, perzinahan yang meraja lela, alat musik dimana-mana, berlomba dan berbangga dalam menghias masjid, hubungan tetangga yang buruk, orang hina mendapat kedudukan terhormat, banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang  adalah beberapa contohnya. Bahkan fenomena menjadi suburnya tanah Arab belakangan ini ternyata adalah bagian dari tanda kecil datangnya Kiamat.

”Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan”sungai-sungai. (HR. Sahih Muslim).

Sementara tanda-tanda besar kedatangan Kiamat adalah sebagai berikut,

Suatu saat, ketika para sahabat sedang berkumpul dan berbicang perihal hari Kiamat, datanglah Rasulullah. Segera mereka menanyakan hal tersebut, maka Rasulullahpun bersabda : “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga kalian melihat sepuluh tanda : Terbit Matahari dari arah Barat, kabut, Binatang melata, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya Isa putra Maryam, Dajjal dan tiga gerhana : gerhana di timur, di Barat, dan di jazirah Arab dan api yang keluar dari jurang Adn yang akan menggiring manusia atau mengumpulkan manusia. Api itu akan menginap bersama mereka di manapun mereka menginap dan akan beristirahat siang dengan mereka tatkala mereka tidur siang”.

Yang juga patut mendapat catatan, riwayat mengatakan bahwa datangnya tanda-tanda besar Kiamat itu bagaikan untaian kalung. Begitu salah satu tandanya muncul maka yang lainnya akan berhamburan keluar, layaknya untaian kalung yang terlepas.

”Peristiwa –peristiwa ajaib laksana untaian kalung, saling berdekatan satu sama lainya.” sabda Rasulullah saw ketika menjelaskan tanda-tanda kiamat.

( Untuk mengetahui tanda-tanda Kiamat secara lengkap, click web berikut :

 http://ilmuislam2011.wordpress.com/2012/03/01/tanda-tanda-kiamat/  )

Disamping itu, berdasarkan sains, tanda-tanda berakhirnya alam semesta juga dapat diikuti. Global warming atau Pemanasan Global atas suhu rata-rata atmosfer, bumi dan laut adalah buktinya. Dampaknya benar-benar dapat dirasakan kita semua. Temperatur dan iklim yang tidak menentu dan berbagai bencana alam seperti bencana Tsunami, meletusnya gunung-gunung secara beruntun, asteroid raksasa yang diperkirakan bakal jatuh menabrak bumi adalah contoh yang nyata.

”Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,dan apabila lautan dipanaskan,”.(QS.At-Takwir (81):1-6).

” dan apabila lautan dijadikan meluap ”,(QS.Al-Infithar(82):3).

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi) ». (QS. Al-Ma’ rij(70):5-7).

« Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung»..(QS.Al-Baqarah(2) :1-5).

Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. Alangkan beruntungnya kaum Muslimin, yang mau membaca kitab-Nya dan menjadikannya pegangan. Dalam suatu hadis dikatakan bahwa Muslim yang hidup di akhir zaman tidak akan mengalami huru-hara mengerikan Hari Akhir ini. Dengan rahmat-Nya, mereka akan dimatikan sebelum kejadian tersebut berlangsung.

“Tiba-tiba Allah mengirimkan angin yang baik lantas menerpa mereka lewat ketiak mereka,  kemudian mengambil ruh tiap-tiap orang mukmin dan muslim dan tinggallah manusia-manusia jahat yang keadaannya kacau balau seperti himar. Maka pada zaman mereka inilah hari kiamat terjadi “.( HR.Shahih Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 24 Juli 2012.

Vien AM.