Feeds:
Posts
Comments

( Sambungan : https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/  )

Begitulah kami mengakhiri malam itu dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Esok paginya, sesuai rencana kami kembali lagi ke Parthenon. Resepsionis hotel memberi saran, dengan waktu yang hanya 3-4 jam kami hanya memiliki 2 pilihan. Mengunjungi Parthenon dan the New Acropolis Museum yang letaknya masih di kompleks Acropolis. Atau mengunjugi Parthenon dan berkeliling kompleks Acropolis serta sebagian kota dengan kereta mini. Pilihan kompak, jatuh pada piihan ke 2, Alhamdulillah ..

Di depan sebuah bangunan di kaki bukit menuju Acropolis dimana kami bertemu dengan pria Muslim asli Aljazair kemarin, kami berhenti dan berfoto sebentar. Bangunan yang sebagiannya dipagari karena sudah menjadi puing tersebut adalah bekas masjid dan sejak lama telah berubah fungsi menjadi sebuah museum.IMG_3265

Setelah puas memandang bekas masjid ber-arsitektur Usmaniyah ini kamipun segera menuju kereta mini merah yang di parkir tidak jauh dari tempat tersebut. Singkat cerita, kereta lalu bergerak perlahan menaiki bukit dimana kompleks reruntuhan bangunan peninggalan Yunani/Romawi kuno berdiri tegak. Kereta ini berhenti di beberapa situs penting. Penumpang dapat turun dan naik lagi sesuka hati. Namun kereta baru akan datang lagi setiap setengah jam sekali. Sesuai kesepakatan, kamipun lalu turun di Parthenon yang terletak di puncak tertinggi bukit.

Dari ketinggian  ini kota Athena yang berada di pinggir laut Aegea dapat kita nikmati. Demikian juga sisa-sisa peninggalan kuno Yunani yang berada di kompleks ini. Diantaranya yaitu amphiteater kuno dimana pertunjukkan barbar di masa lalu, antara para tahanan dan binatang buas sering dipertontonkan.

Parthenon

Parthenon

Ketika kami sedang asyik-asyiknya mengamati Parthenon, kuil marmer berwarna putih gading,  berpilar raksasa tanpa atap, tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencangnya. Refleks, saya langsung berpegangan pada tambang yang sengaja dipasang memagari kuil agar pengunjung tidak menjamah dinding-dindingnya. Saya sempat melihat beberapa pengunjung yang hampir jatuh terpeleset. Maklum, sisa lantai yang sempal disana sini memang terbuat dari marmer yang amat licin.

Saat itulah saya melihat papan keterangan tentang Parthenon. Dari situ saya baru tahu ternyata Parthenon pernah dijadikan masjid, yaitu pada era Ottoman berkuasa di Yunani. Yunani memang memiliki sejarah yang teramat panjang. Negri ini pernah menjadi bagian dari kekaisaran Romawi, Byzantium dan kesultanan Ottoman.

Kekuasaan Turki Ottoman mulai menjamah Yunani di akhir abad ke 14, yaitu pasca jatuhnya Konstatinopel ( Istanbul) dari Romawi Timur di tahun 1453. Romawi sejak dulu memang memiliki arti khusus bagi kaum Muslimin.

« Telah dikalahkan bangsa Rumawi,di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). ” (QS.Ar-Ruum(30):2-4).

Ayat yang turun di abad ke 7 ini menjadi salah satu bukti kebenaran Al-Quran, sekaligus tanda awal kemenangan dan kejayaan Islam. Karena, Rumawi yang ketika itu adalah kerajaan besar memang jatuh tak lama setelah turunnya ayat di atas. Yaitu ketika Rumawi kalah terhadap kerajaan Parsia/Byzantium yang selalu bermusuhan dan secara silih berganti mereka kalah dan menang. Peperangan yang melelahkan ini akhirnya membuat keduanya mudah dijatuhkan oleh pasukan Muslim. Dan sejak itulah Islam berkibar.

Rasulullah bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad].

Hadist diatas baru terealisasi pada tahun 1453 M dan penakluknya adalah Sultan Muhammad al-Fatih. Inilah awal Islam memasuki bumi Yunani. Sementara Parthenon, kuil yang awalnya dipergunakan untuk memuja dewi Yunani kuno ternyata juga pernah digunakan sebagai gereja oleh umat Kristen Ortodoks, sebelum penaklukan Ottoman. Yaitu pada masa Byzantium berkuasa.

Parthenon menjadi seperti sekarang ini, tanpa atap dan hancur disana sini setelah pasukan Venesia membombardir Ottoman di Athena pada abad 17 lalu. Ketika itu orang-orang Ottoman menjadikan Parthenon yang masih berfungsi sebagai masjid sebagai tempat perlindungan.  Padahal di salah satu bagian bangunan raksasa itu pula pasukan Ottoman menyimpan bubuk mesiu. Akibatnya dapat dibayangkan. Parthenon hancur bersama ratusan orang yang bersembunyi di dalamnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiún ..

The Parthenon

The Parthenon

Namun, Parthenon tidak sepenuhnya hancur. Bagian tengahnya memang rusak parah, tetapi pilar-pilar luarnya masih banyak yang berdiri kokoh dan tegak. Seolah menantang orang-orang yang memandangnya. Menjadi saksi bisu kebrutalan orang-orang yang menyerang mereka yang berlindung di rumah-Nya.

Sejak itulah kesultanan Islam Ottoman dan pengaruhnya lenyap dari bumi Yunani. Tidak pernah ada satupun masjid berdiri di negri yang konon dipercaya sebagai tempat lahirnya Demokrasi ini. Tidak ada bukti bahwa toleransi pernah ada di negri ini. Kecuali di Santorini. Di pulau yang terbentuk melalui proses yang memilukan tersebut terdapat bukti nyata bagaimana Islam dibawah Ottoman merealisasikan toleransi.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS.An-Nahl(16):125).

Penduduk pulau yang mayoritas beragama Kristen Orthodox itu dibiarkan menjalankan agama mereka. Puluhan gereja cantik berwarna putih biru menjadi lambang kemakmuran dan kejayaan pulau ini. Santorini faktanya memang mencapai puncak kemakmuran di era Ottoman. Padahal pulau ini sangat jauh letaknya dari pusat pemerintahan Konstantinopel yang Islam. Namun kebutuhan penduduknya tetap menjadi prioritas dan perhatian pusat.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari).

Akhirnya kamipun menutup perjalanan ini dengan berkeliling kota, dengan perasaan yang kacau. Dengan meneruskan menaiki kereta mini berwarna merah itu, kami beruntuing karena sempat menyaksikan pertukaran penjaga kediaman resmi sang presiden.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 2 November 2012.

Vien AM.

IMG_2456IMG_2691IMG_3079IMG_2864Santorini saat ini adalah bagian dari Yunani yang mampu mendatangkan devisa yang tidak sedikit. Tiap tahun jutaan turis datang mengunjungi pulau ini untuk mengagumi keindahannya yang begitu eksotis. Tak sedikitpun tampak kepedihan atau kenangan buruk dimasa lalu. Semuanya terkubur dan menguap ntah kemana.

Seolah tak mampu mengambil pelajaran dan hikmah hilangnya separuh pulau ini, Mykonos, salah satu pulau di kepulauan Cyclades yang lebih dekat letaknya dengan Athena, kabarnya adalah surga bagi kaum Homoseksual yang makin lama makin populer diduna yang fana ini. Perbuatan ini persis seperti yang dilakukan kaum nabi Luth yang kemudian di azab oleh Yang Maha Kuasa. Di pulau yang kabarnya tak kalah cantiknya dengan Santorini ini mereka berkumpul dan berpesta tanpa sedikitpun rasa khawatir azab bakal menerkam sebagaimana tetangga mereka ribuan tahun lalu. Naúdzubillah min dzalik.

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,  yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”.(QS.Huud(11):81-83).

Dan disinilah kami berada. Semoga banyak hikmah yang dapat kami ambil, aamiin. Di pagi hari bulan Juni, dibawah matahari yang bersinar cerah itu, kami bertiga menyusuri Santorini bagian utara. Dengan mengendarai mobil kecil yang kami sewa di bandara kami memulai penjelajahan, dimulai dari bandara yang terletak di pesisir timur pantai bagian tengah menuju lokasi-lokasi menarik yang biasa dikunjungi wisatawan. Bersyukur petugas yang mengurus mobil sewaan kami orang yang benar-benar ramah. Apalagi mengetahui kami datang dari Perancis dan bisa berbahasa Perancis. Sontak, dengan bahasa Perancisnya yang lumayan lancar, ia menandai tempat-tempat tersebut di atas peta kami, sembari berceloteh panjang.

« Jangan khawatir. Semua makanan di pulau ini halal koq », katanya mengejutkan, yakin tamunya pasti Muslim. Apalagi mengetahui bahwa kami adalah orang Indonesia. « Asal tidak lupa membaca Basmallah », lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya. “Mau shalat juga g masalah, bukankah bumi Allah ini luas”, tambahnya lagi, sambil mengutip sebuah ayat Al-Quran, dalam bahasa Arabnya pula, membuat kami terbelalak kagum.

Usut punya usut, ternyata ia pernah 9 tahun tinggal dan bekerja di Riyad. “ Santorini juga aman lho, bebas dari kejahatan. Karena disini hukum pancung dan potong tangan juga berlaku”, sindirnya lagi sambil tersenyum-senyum.

Saya dan suami hanya saling pandang, sama sekali tidak berminat menanggapi ocehannya itu. Pernyataannya tentang kehalalan makanan di pulau ini lebih menarik untuk dicari maksudnya apa.

Fira, ibu kota Santorini; Imerovigli, kota dimana hotel kami berada, hingga Oia, kota yang paling disenangi turis di ujung utara kepala pulau dan  Amoudi bay di ujung selatan kepala pulau kami tandangi pagi hingga menjelang sore hari itu juga. Ini berarti setengah Santorini bisa dijelajahi dalam satu hari saja. Santorini memang hanya pulau kecil. Namun sungguh mati, pemandangannya benar-benar menakjubkan. Subhanallah .. Alangkah indahnya ciptaan-Mu ya Allah ..

Kemanapun kami berjalan, laut biru tua tenang nan jernih dengan tebing-tebing panjang curamnya yang berliku-liku memenuhi pandangan mata kami. Beberapa kali kami berpapasan dengan motor-motor besar yang di kendarai pasangan-pasangan bule bercelana pendek, berkaos tank top lengkap dengan topi dan kaca mata hitamnya. Santorini dengan mataharinya yang bersinar terik tampaknya benar-benar surga bagi mereka, mengingat matahari yang demikian hanya berlangsung 2 atau 3 bulan saja, yaitu pada waktu musim panas.

Setelah makan siang yang kesorean di salah satu restoran sea food dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan kamipun menuju hotel untuk beristirahat. Selama perjalanan tersebut rasanya tak satupun resto berlabel “Halal”kami lewati.

Besok kita cari kebab yuk, mungkin baru tuuh halal ”, ucap suami, menghibur.

Sorenya, menjelang magrib kami kembali meninggalkan hotel untuk kembali berkeliling menikmati keindahan pulau. Magrib sengaja kami niatkan untuk digabung dengan Isya, nanti sepulang bepergian. Kami kan musafir, jadi tidak masalah.

Sun set kami lewati di tengah perjalanan, di antara kelokan-kelokan  tajam jalanan. Sayang, info  tempat terbaik untuk menyaksikan sun set ini terlambat kami dapatkan. Mustinya Ioa adalah tempatnya. Namun kami cukup puas. Malam itu kami kembali ke hotel dan tidur dengan lelap. Sarapan di teras dengan pemandangan super menakjubkan telah menanti keesokan paginya.

“ Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.(QS.Ar-Rahman(55):13).

Hari-hari berikutnya kami memuaskan mata dan hati menikmati kebesaran-Nya dengan berkeliling pulau, baik dengan kendaraan maupun berjalan kaki. Permukaan pulau yang sama sekali tidak datar memaksa penduduk Santorini agar membangun rumah tinggal mereka dengan cara memahat dan memotong tebing-tebing curamnya. Hotel, villa, toko dan rumah penduduk setempat berbaur menjadi satu, berdiri berdempetan di gang-gang sempit yang juga berkelak-kelok dan naik turun. Tembok yang diwarnai putih dan biru terlihat mendominasi Santorini. Demikian pula puluhan gereja sederhananya yang bertebaran di seantero pulau berpenduduk mayoritas Kristen ini.

Tapi jangan membayangkan hotel atau villa bertingkat 5, misalnya, sama dengan hotel pada umumnya. Karena  rata-rata hotel dan villa disini setiap lantainya hanya mempunyai dua bahkan ada yang cuma 1 kamar. Villa 2 kamar yang kami tempati tercatat di lantai 5. Namun ternyata kami bukannya harus naik tapi sebaliknya malah harus turun tangga, bukan lift, hingga 5 lantai ke bawah. Itupun tangganya benar-benar super terjal. Jadi siap-siap saja badan pegal-pegal dan tangan ber-spir karena kita harus mengangkat sendiri koper dan barang bawaan kita. .. 🙂 …

3 hari 2 malam puas sudah kami menikmati pulau cantik karya-Nya meski melalui latar belakang yang memilukan. Pemandangan dari bagian atas pulau baik dari gang-gang sempit di sela-sela rumah-rumah penduduk dan villa-villanya maupun dari atas cable car, dari pelabuhan tua di bagian terendah pulau hingga pesisir pantai putih maupun pantai tanah merahnya dengan airnya yang biru, tenang dan super jernih, semuanya sungguh mengagumkan mata dan hati ini. Subhanallah .. Sungguh indah ciptaan-Mu ya Allah .. Semoga Kau berikan orang yang memandangnya kemampuan untuk mengambil hikmah dibalik semua itu. Allahu Akbar !

(Bersambung : https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/ )

Berdasarkan situs arkeologis Santorini, kehadiran manusia di pulau ini dimulai pada masa Neolitik, fase-fase akhir zaman batu menuju zaman perunggu. Di tahun 3600 SM peradaban penting di pulau ini telah lahir. Peradaban yang sama dengan peradaban yang ada di pulau Kreta, 110 km selatan pulau ini.

Peradaban tersebut adalah peradaban Minoa. Penemuan di sekitar kota Akrotiri dan pantai Merah di pulau Santorini adalah buktinya. Pada masa itu peradaban ini telah bersentuhan dengan kerajaan lama Mesir, Mesopotamia, Syria, Kanaan dan Siprus Peradaban ini baru ditemukan lagi pada awal abad 20-an oleh Sir Arthur Evans, seorang arkeolog Inggris. Ia menyimpulkan bahwa peradaban kuno yang telah lama hilang ini merupakan cikal bakal peradaban barat yang ada sekarang ini.

Masyarakat Minoa dilaporkan telah memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi di bidang kelautan. Mereka membangun koloni-koloni ke pulau-pulau lain dilautan Aegea bahkan hingga ke Yunani daratan. Dalam bidang arsitektur mereka juga sudah maju. Mereka telah berhasil membangun kota-kota beraspal batu dan memiliki selokan serta saluran air yang baik.

Mereka menghias dinding-dinding mereka dengan lukisan-lukisan. Tembikar adalah bentuk seni yang dominan pada bangsa Minoa. Istana-istananya yang indah menambah bukti bahwa Santorini pernah mengalami masa keemasan. Ini tampaknya yang menjadi alasan mengapa banyak sainstis beranggapan bahwa Santorini adalah kota Atlantis yang hilang itu.

Lomba Lompat Banteng

Lomba Lompat Banteng

Lomba lompat banteng yang dilakukan baik oleh kaum lelaki maupun perempuan dalam berbagai festival keagamaan yang diadakan menunjukkan bukti bahwa kedudukan lelaki dan perempuan kala itu adalah sama. Mungkin ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa Evans menganggap peradaban Minoa adalah awal mata rantai peradaban Barat sekarang ini. Disamping budaya Demokrasi yang tampaknya sudah ada pada masa itu.

“ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al-Baqarah(2):228).

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.  … … “. (QS.An-Nisa(4):34).

Sementara Islam mengajarkan bahwa kedudukan lelaki dan perempuan tidak sama persis. Namun perbedaan satu tingkat tersebut tidak menjadikan arti bahwa perempuan adalah mahluk yang rendah apalagi hina. Perbedaan tersebut proposional karena adanya perbedaan fisik, fungsi dan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Ada tali keterikatan, ketergantungan dan kebutuhan antara keduanya.

Image Dewi

Image Dewi

Bangsa Minoa menyimpan kelebihan hasil panen mereka di dalam istana-istananya. Istana-istana ini juga berfungsi sebagai altar para dewi. Ya, masyarakat Minoa memang menyembah dewi-dewi. Dewi Potnia adalah dewi tertinggi mereka. Para dewi dilambangkan dengan simbol ular, banteng, burung, kuncup bunga, dan bentuk-bentuk hewan aneh di atas kepala mereka.

Dan seperti juga peradaban-peradaban kuno lainnya, orang-orang Minoa juga mempunyai tradisi upacara kurban bagi sesembahan mereka. Ironisnya, kurban tersebut adalah manusia!

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do`a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do`a mereka?”(QS.Al-Ahqaf(46):5).

Mungkin ini yang menjadi penyebab lenyapnya peradaban Minoa. Tentu kita tahu, berapa banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang menceritakan agar suatu kaum tidak mengambil sesembahan lain selain Allah azza wa jalla. Untuk itu dikirim-Nya utusan-utusan untuk mengingatkan hal tersebut. Penyembahan dan pengagungan hanyalah milik-Nya semata. Dewa-dewi atau sesembahan apapun bentuknya tidak akan dapat memberikan manfaat apapun. Tidak pula mudarat.

Dan lagi mana mungkin Tuhan memerintahkan pengurbanan manusia. Perintah yang pernah diberikan Sang Khalik ribuan tahun lalu kepada nabi Ibrahim as agar menyembelih putra satu-satunya hanyalah ujian dan cobaan. Allah swt hanya ingin mengetahui dan menguji seberapa jauh ketakwaan nabi kesayangan-Nya itu. Ini terbukti dengan segera digantinya putra semata beliau dengan domba besar, begitu beliau mengayunkan pedangnya.

Kisah menarik tersebut diabadikan dalam surat As-Shafaat ayat 102 hingga  111 berikut :

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Begitulah cara orang-orang beriman mensyukuri apa yang telah dikaruniakan Tuhannya. Tidak demikian dengan bangsa Minoa. Kemakmuran, kebesaran dan kejayaan yang dilimpahkan kepada mereka malah membuat mereka lalai. Hingga tibalah keputusan-Nya. Peradaban Minoa tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Ia harus mengalami nasib seperti peradaban kaum yang telah dimusnahkan-Nya, yaitu hilang lenyap tanpa bekas.

“ Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain. Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu). Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS.Al-Hajj(22);42-44).

Peradaban Minoa lenyap kemudian muncullah peradaban Mikenai. Perpindahan peradaban ini ditandai dengan lahirnya peralatan dari besi menggantikan peralatan dari perunggu yang biasa digunakan bangsa Minoa. Peradaban Mikenai inilah yang mencoba menceritakan kembali bahwa di dunia ini pernah ada peradaban yang dinamai peradaban Minoa. Namun hingga detik ini sistim penulisan bahasa bekas penduduk Santorini di masa lalu itu belum juga berhasil di temukan.

(Bersambung)

Siapa yang tak kenal Yunani, negri para dewa-dewi yang sering disebut sebagai tempat lahirnya peradaban dan budaya  barat. Peradaban ini masuk ke barat melalui peradaban Romawi yang menaklukannya ribuan tahun lalu. Di negri inilah olimpiade untuk pertama kalinya diselenggarakan. Kabarnya, olimpiade  kuno yang menjadi inspirasi olimpiade modern, diadakan untuk menghormati dewa tertinggi Yunani, yaitu dewa Zeus. Karena dewa ini bermukim di gunung bernama Olimpia maka pertandingan inipun dinamakan Olimpiade.

Sementara Athena, ibu kota Yunani, adalah nama dewi penolong yang tercatat dalam mitologi Yunani. Kuil Parthenon yang terletak di atas bukit kota Athena adalah kuil persembahan bagi dewi perawan ini. Kuil ini dibangun pada tahun 5 SM.

Kata Yunani sendiri, Greece dalam bahasa Inggrisnya, menurut kamus Indonesia berasal dari bahasa Arab, yang diambil dari nama Ionia. Ionia adalah pesisir barat negara yang sekarang disebut Turki. Mungkin disinilah letak ikatan antara Yunani dengan Islam, Turki Ottoman yang pernah menguasai negri ini selama hampir 400 tahun.

Sejujurnya, saya sebenarnya tidak begitu tertarik untuk mengunjungi negri ini bila saja tidak ada keterikatan dengan Islam. Apalagi mengetahui bahwa negri di ujung tenggara Eropa dan timur laut Tengah ini sejak akhir tahun 2000-an mengalami krisis ekonomi yang cukup parah. Ditambah lagi cerita beberapa teman yang mengatakan Athena hanya tinggal puing dan kenangan.

Beruntung ada Santorini. Jangan salah duga dulu. Santorini bukan nama seseorang. Ini adalah nama pulau yang diambil dari gereja yang ada di pulau tersebut, yaitu gereja Santa Irene. Al-Idris, ahli geografi Islam kenamaan yang memberi nama pulau tersebut menjadi Santorini.

Santorini adalah salah satu pulau milik Yunani yang terletak di kepulauan Cyclades di laut Tengah/Mediterania. Pulau yang terletak 200 km sebelah tenggara daratan Yunani ini merupakan pulau paling selatan Yunani sebelum pulau Kreta. Pulau ini terkenal karena keindahannya yang sungguh menakjubkan hingga menarik jutaan wisatawan dunia datang ke tempat ini.

Maka, di bulan Juni 2012  itu jadilah saya, suami dan putri kami terbang menuju Santorini dengan transit di Athena selama 4 jam. Padahal Paris – Athena sendiri hampir 4 jam dan Athena – Santorini hanya sekitar 45 menit. Karena pesawat take off pukul 10 malam dan tiba di bandara Athena  menjelang pukul 2 pagi maka kamipun memanfaatkan waktu 4 jam menunggu di bandara dengan berusaha tidur di bangku-bangku panjang yang banyak tersedia di tempat tersebut.

Setelah shalat subuh di bandara, pukul 6.20 kamipun terbang meninggalkan bandara Athena menuju Santorini. Dalam penerbangan pendek di atas laut Tengah, laut Aegea tepatnya, di sela kantuknya mata ini, saya sempat terhenyak melihat keindahan kontur pulau dari dalam pesawat yang melintas sangat dekat tepat di atasnya, Subhanallah …

Di tengah lautan biru nan luas tersebut muncul sebuah dataran tinggi dengan tebing-tebingnya yang terlihat sangat terjal. Yang saking terjalnya memberikan kesan bahwa dataran tersebut seperti tiba-tiba terpotong/terbelah, secara melingkar. Ribuan bangunan berwarna putih yang terlihat berhimpitan di pinggiran pulau tersebut membuat pulau ini makin tampak indah dan unik.

Dilihat dari bentuknya saja, pulau ini memang unik, mirip kuda laut dengan kakinya yang amat melengkung cenderung melingkar. Dan ternyata, pulau ini dulunya memang bernama Strongili, kata Yunani yang artinya bundar.

Namun pada tahun 1500 SM, terjadilah gempa bumi dasyat diikuti meletusnya gunung berapi Thera yang terletak di tengah pulau tersebut. Selanjutnya tsunami raksasa dengan gelombang setinggi 210 meterpun mengandaskan bagian tengah pulau tersebut. Hingga akhirnya bentuk Santorinipun terlihat seperti yang ada hari ini, Santorini yang terbagi menjadi 3 bagian. Bagian terbesar, Santorini itu sendiri atau  sering juga disebut Thira, Therasia dan Nea Kameni di bagian tengah. Letusan gunung tersebut digambarkan sebagai salah satu letusan gunung terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Yang lebih mengerikan lagi, paska letusan maha dasyat tersebut hingga detik ini tak ditemukan sedikitpun tanda-tanda kemana sebenarnya penghuni pulau ini lenyap. Yang jelas, tanah seluas 83 km2 di sekitar kawah amblas ke dalam kawah berkedalaman 800 m dan selanjutnya tertelan gelombang air laut yang mengelilinginya. Sementara luas pulau yang tersisa saat ini adalah 73 km2. Artinya letusan tersebut telah berhasil menguburkan lebih dari setengah pulau tersebut !

Sungguh mengerikan, tampaknya laut Aegea berwarna biru tua, nan cantik jelita dan terlihat begitu tenang dan jernih yang ada di depan mata kami ini, tampaknya adalah kuburan misterius itu. Bahkan F.Fouque, seorang geologis Perancis berani mengatakan bahwa Santorini adalah “Pompei dari laut Aegea”. Dari sini pula lahir pendapat bahwa Santorini adalah “The lost Atlantis” yang fenomenal itu.

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.(QS. Al-Ankabut(29):40).

Betapa banyak Al-Quran mengisahkan negri-negri yang di azab karena berbuat kerusakan. Kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Fir’aun dan bala tentaranya, kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan banjir raksasa adalah contohnya. Juga kaum nabi Luth, kaum yang pertama kali mempraktekkan homoseksual di dunia ini.

Namun kerusakan terbesar yang paling dimurkai-Nya adalah ketika penghuninya tidak mau menyembah Sang Pencipta, itulah Allah Azza wa Jalla, sebagai satu-satunya Pemilik Alam Semesta ini. Padahal betapa banyaknya Rasul-rasul telah diutus untuk mengingatkan hal ini namun penduduknya tetap berpaling.

“ Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?  Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.(QS.As-Syu’ara(26:)106-110).

Itulah yang dikatakan semua nabi, mulai nabi Adam as hingga nabi penutup, Rasulullah Muhammad saw, yaitu agar bertakwa kepada Allah dan taat kepada mereka, para rasul sebagai utusan Sang Khalik, yang satu, Allah swt.

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Baqarah(2):163).

Menjadi pertanyaan besar, adakah mala petaka yang merenggut Santorini juga merupakan peringatan-Nya ? Wallahu’alam .. Mungkin patut juga menjadi pertanyaan, sudahkah Sang Khalik  mengirimkan utusan kepada penduduk Santorini guna memberi mereka peringatan ? Karena janji-Nya, tidak akan datang azab kepada suatu negri atau kaum, sebelum datang pemberi peringatan. Mungkinkah pemberi peringatan itu telah datang namun mereka mengabaikannya ?

( Bersambung).

Teror A La Barat (2).

In any war between the civilized man and the savage, support the civilized man. Support Israel defeat Jihad” .

Tak kurang dari 10, poster besar berisikan kata-kata di atas  tertempel di stasiun subway ( kereta bawah tanah) di New York. Tulisan ini jelas memihak Israel.  Dan siapapun pasti tahu, yang diserang siapa lagi kalau bukan Islam, dengan Jihadnya. Dan yang menyakitkan lagi, perseteruan tersebut di analogikan dengan Israel sebagai orang  beradab, sementara Islam adalah liar !

Lebih menyesakkan lagi, poster yang beresiko besar memancing emosi umat Islam ini terang-terangan didukung oleh pemerintah Amerika, yang katanya toleran terhadap semua agama, minimal wali kota New Yorknya. Buktinya, begitu melihat seseorang berusaha menghapus tulisan rasis tersebut, polisipun langsung menangkapnya. Alasannya klasik, kebebasan berekspresi.

Semakin  jelas terlihat bahwa Islamophobia alias takut terhadap Islam tetap masih menguasai Barat. Dan Israel kelihatannya yang paling diuntungkan. Barat mendudukannya sebagai civilzed people alias masyarakat beradab. Sementara Islam dengan Jihadnya semakin dipojokkan. Jihad yang awalnya merupakan perbuatan mulia didudukkan sebagai savage alias perbuatan liar.

Padahal rakyat Palestina dibawah pendudukan Israel jelas-jelas tertindas dan diperlakukan semena-mena. Bahkan air dan listrikpun amat dibatasi. Ketidak adilan dan keberpihakan terhadap ras Yahudi sangat kentara. Tetapi Barat seolah buta dan tidak mau peduli akan hal ini. Meski protes dan penolakan rasis diteriakkan.

Ironisnya, tidak sedikit kaum Muslimin yang termakan isu tersebut. Akibatnya mereka menjadi tidak PD alias Percaya Diri. Bagi mereka, kata Jihad menjadi momok yang sungguh memalukan dan menakutkan. Jihad yang di awal Islam terbagi atas jihad dalam arti perang fisik dan mental sekarang ini hanya dimaknai umat Islam lebih sebagai jihad mental. Jihad dalam arti perang secara fisik, diartikan sebagai perbuatan tak beradab dan melambangkan keterbelakangan. Persis seperti yang dicekokkan Barat.

Padahal jihad dalam arti perang menurut kamus Islam bukanlah perang sembarang perang yang tanpa tujuan dan hanya berdasarkan nafsu  kebinatangan. Perang dalam Islam adalah demi menegakkan keadilan dan melawan kemungkaran.

“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. … “(QS.An-Nahl(16):90).

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”.(QS.At-Taubah(9)’:112).

Islam mengajarkan umatnya untuk beramal ibadah. Mendirikan shalat dan  puasa adalah salah satu contoh ibadah yang dimaksudkan-Nya. Sementara berbuat baik seperti menghormati kedua orang–tua, menjaga silaturahim, berinfak, berbuat adil dan saling memaafkan adalah beberapa contoh amal kebaikan yang wajib dilakukan umat Islam. Itulah perbuatan ma’ruf. Sedangkan mengingatkan dan mencegah orang agar tidak berbuat jahat adalah bagian dari mencegah kemungkaran. Itulah ciri orang Mukmin.

“ Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):2-3).

Ayat diatas memberitahukan ciri orang yang merugi. Yaitu orang yang tidak beriman, tidak mengerjakan amal saleh dan tidak saling menasehati agar mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Artinya kebenaran harus ditegakkan dengan kesabaran yang benar.  Jadi kesabaran itu ada juga yang tidak benar.

Islam adalah agama yang sempurna. Ia memiliki hukum-hukum yang harus ditegakkan. Dan hanya dengan ditegakkan hukum inilah tujuan ber-Islam dapat dipenuhi. Yaitu rahmatan lil alamin atau keamanan dan ketenangan bagi alam semesta. Persis dengan negara yang menegakkan hukum dengan baik, bukan sekedar memiliki berbagai hukum dan perangkatnya, namun hukum tersebut tidak dijalankan secara baik dan sempurna.

Kedisiplinan, contohnya dalam berpuasa Ramadhan dan mendirikan shalat pada waktunya; kebersihan, contohnya dalam berwudhu; menutup aurat, yaitu jilbab bagi perempuan; adalah contoh kecilnya.

Kesabaran memang ciri khas Muslim. Orang-orang yang tidak menyukai dan membenci umat Islam sangat memahami hal ini. Itu sebabnya, musuh-musuh Islam sering berusaha memanfaatkan hal tersebut. Pelecehan dan penghinaan terhadap Rasulullah adalah buktinya.

“ Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (QS.Al-Araf(7):156).

“  (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” . (QS.Al-Araf(7):157).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.(QS.Al-Hujurat(49):2).

Ayat-ayat diatas jelas menerangkan bagaimana harusnya kita, umat Islam bersikap terhadap Rasulullah saw. Bahkan meninggikan suarapun atau berbicara dengan nada marah, tidak diizinkan-Nya. Apalagi ketika beliau saw dilecehkan, ketika hukum dan ayat-ayat Al-Quran dipersulit pelaksanaannya. Menolong, membela dan membersihkan nama Rasulullah dari fitnah keji, wajib hukumnya !

Periode Mekah, ketika kedudukan Islam masih lemah, adalah contoh yang sangat tepat dalam menjaga kesabaran. Contoh kesabaran Rasulullah yang dianiaya Musrikin Quraisy bahkan dianggap gila ketika itu memang patut ditiru bila kita tidak memilki kuasa untuk melawan.

Namun pada periode Madinah, karena umat telah cukup kuat, maka hukum harus ditegakkan. Negosiasi dan metode pendekatan yang lunak adalah tahap awal. Pemboikotan situs-situs yang sering digunakan sebagai alat propaganda mereka adalah cara yang paling jitu. Tetapi jika tahapan jalan damai tidak berjalan mulus, perang adalah jalan terakhir yang harus diambil. Inilah jihad terberat dan terbesar umat. Karena taruhannya memang jiwa dan kemewahan hidup, yang menjadi tujuan utama rata-rata manusia.

Artinya, menjauhkan jihad dari kamus umat Islam memang senjata jitu musuh-musuh Islam yang sangat ampuh. Dengan santainya, mereka sekarang ini dapat bebas mengolok-olok Islam dan seluruh perangkatnya, tanpa khawatir dibalas. Demokrasi dan kebebasan berpendapat serta berekspresi adalah perantaranya. Perumpamaannya, seperti mengganggu macan yang terbelenggu, atau macan tidur, atau macan malas dan penakut, atau macan lumpuh. Sementara terorisme adalah alasan yang paling mudah dilemparkan musuh. Islam radikal, itulah julukan yang disematkan mereka yang berusaha melawan kejahatan terselubung musuh.

Saat ini, Perancis, negara sekuler yang  melarang azan berkumandang dan murid sekolah mengenakan jilbab, dihebohkan  oleh sekelompok orang yang membuat kerusakan di lingkungan Yahudi. Seperti biasa, pemerintah langsung menuduh perbuatan yang lazim disebut Antisemitism ini, sebagai perbuatan orang-orang Islam radikal. Segera diputuskan, semua rumah ibadah, sekolah dan pemukiman Yahudi harus dilindungi dan dijaga ketat.

Selanjutnya, polisi menggeledah dan menyerbu sejumlah masjid dan pemukiman Muslim yang dicurigai sebagai sarang teroris.  Hasilnya, seorang meninggal dan 11 ditangkap. Ironisnya, di luar dugaan mereka, ke 12 orang tersebut ternyata Muslim warga negara Perancis asli,bukan orang-orang Arab sebagaimana yang diharapkan. Sungguh betapa kecewanya mereka.

Diluar betul tidaknya perbuatan mereka, menjadi bukti bahwa ajaran Islam ternyata lebih menarik dari pada ajaran Ateis yang saat ini menjadi primadona Barat. Barat dan Yahudinya yang mengaku negara beradab, padahal suka mengolok-olok dan menghina ajaran lain, yang bahkan berani menelanjangi Tuhan dan orang-orang suci mereka sendiri melalui lukisan-lukisan kebanggaan mereka yang dipajang di gereja-gereja dan gedung perkantoran, membuat anak-anak mereka berani melawan ibu-ibu mereka; tampaknya harus mengakui bahwa Islam adalah agama fitrah seluruh manusia, bukan cuma milik orang-orang ‘terbelakang’seperti orang-orang Timur apalagi khusus orang-orang Arab.

“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS.Ar-Ruum(30):30).

“ Tiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, bapaknya lah yang menjadikan dia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi”.  (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 8 Oktober 2012.

Vien AM.

Teror ala Barat (1).

Sebuah film pelecehan terhadap Rasulullah kembali di ungguh Youtube dan membuat umat Islam seluruh dunia bagai kebakaran jenggot. Protes dan demo besar-besaranpun segera digelar.  Dapat dibayangkan betapa kecewa, gusar dan sakit hatinya umat Islam. Jangankan pelecehan apalagi fitnah, penggambaran wajah Rasulullah, meski tanpa niat jelekpun sebenarnya tidak dibenarkan dalam Islam.

Ini bukan kali pertama Barat dan musuh-musuh Islam mengeluarkan film dan gambar-gambar pelecehan yang amat menyakitkan hati umat. Berlindung dibalik kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat ( freedom of speech), Barat membiarkan anggota masyarakatnya menghina, memfitnah dan melecehkan junjungan umat Islam, Rasulullah Muhammad saw dan ajarannya.

Jyllands-Posten, surat kabar terbesar di Denmark adalah surat kabar pertama yang tercatat menerbitkan karikatur Rasulullah saw. Pada akhir September 2005, surat kabar ini menerbitkan 12 gambar hasil lomba karikatur Rasulullah. 3 bulan kemudian yaitu Desember 2005 OKI ( Organisasi Konferensi Islam) mulai menyatakan keberatannya. Sejak itulah kontroversi ini kemudian menghangat di seantero dunia.

Sejak semula, Islam telah melarang penggambaran benda hidup seperti manusia dan binatang. Ini diawali dengan pembersihan gambar dan patung-patung yang berada di dalam Ka’bah, segera begitu Rasulullah berhasil menaklukan kota Mekah dari dominasi kaum musrikin Quraisy. Meski dalam perjalannya, ntah bagaimana dan sejak kapan, pelarangan ini tidak lagi begitu diindahkan. Kecuali bangunan masjid.

Itu sebabnya dekorasi rumah ibadah umat Islam dimanapun, selain kaligrafi ayat-ayat suci hanya diisi oleh gambar dan bentuk bunga dan dedaunan. Penggambaran mahluk bernyawa apalagi sosok dan wajah Rasulullah sama sekali tidak dibenarkan bahkan dilarang.

Dari Ibnu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupkannya.’” [HR. Bukhari].

Rasulullah mewanti-wanti umatnya agar tidak mengkultuskan diri beliau seperti umat Nasrani mengkultuskan nabi mereka, nabi Isa as atau Yesus Kristus. Diantaranya yaitu dengan tidak menggambar wajah beliau.

Namun demi alasan demokrasi dan kebebasan berpendapat dan berekspresi, Barat yang merasa diri dan mengaku  berperadaban paling tinggi di dunia, tidak mau memahami hal ini. Pelecehan dan fitnah terhadap Rasulullah saw dan kitab suci umat Islam melalui karikatur, foto dan film  terus berlanjut hingga detik ini.

Protes umat Islam dari seluruh pelosok dunia, mulai dari yang kasar dan penuh kekerasan hingga jalur diplomatik yang santun, tak ada satupun yang digubris. Inilah demokrasi kebablasan, kalau kita, umat Islam, orang timur sebagai pihak yang terkalahkan alias pecundang boleh menyuarakan pendapat.

Karena nyatanya, Holocaust, peristiwa pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman puluhan tahun lalu, dilarang diprotes. Padahal beberapa sumber menyatakan bahwa peristiwa tersebut sengaja dibesar-besarkan agar dunia jatuh simpati kepada Yahudi. Yang dengan demikian mereka punya alasan untuk menyerang dan merebut tanah Palestina yang semua orang juga tahu betapa rasisnya prilaku mereka terhadap penduduk asli non Yahudi. Inilah konspirasi busuk Zionis dengan Amerika Serikat sebagai Negara pelindung mereka.

Gerard Fredick Toben, pendiri universitas Adelaide, seorang Jerman kelahiran Australia adalah salah satu buktinya. Ia dijatuhi hukuman 7 bulan masuk penjara gara-gara berani mengemukakan pendapat bahwa Holocaust terlalu di besar-besarkan. Ia beragumentasi bahwa korban Holocaust bukan semuanya orang Yahudi.

Sementara Robert Forison, seorang ilmuwan Perancis staf pengajar di Lyon Universite, diberhentikan dari tempatnya mengajar.  Penyebabnya adalah karena ia mempertanyakan kebenaran Holocaust serta keberadaan ruang gas ( gaz chamber) lewat bukunya «  Ruangan gas : fiktif atau nyata ? ».  Ini terjadi pada tahun 1978.

Pertanyaannya, mengapa Barat bisa melarang seluruh dunia memprotes dan melindungi Holocaust hingga sedemikian rupa. Sementara protes dan permintaan umat Islam agar nabinya dilindungi diabaikan. Malah seenaknya saja dijadikan bahan olok-olok keji tanpa boleh sedikitpun memprotes !

Jelas, kebebasan berpendapat yang didengungkan Barat itu tidak berlaku umum. Ada standard ganda di sini. Karena itu tadi, tidak jelas batas-batasnya. Siapa yang berhak dilindungi siapa yang tidak.

Beberapa waktu lalu di Paris, Perancis, begitu sebuah surat kabar memuat gambar pelecehan Rasulullah, Mosque de Paris, masjid agung Paris, sebagai masjid terbesar, langsung dijaga ketat. Puluhan mobil polisi disiagakan demi mengantisipasi jamaah umat Islam berkumpul dan memprotes hal tersebut.

Artinya mereka sepenuhnya sadar bahwa pemuatan gambar seperti itu bakal memicu emosi umat Islam dan beresiko tinggi melahirkan amarah dan kerusuhan. Bahkan baru beberapa minggu yang lalu salah seorang duta besar mereka terpaksa menanggung kemarahan sebagian umat yang benar-benar tidak mampu menahan kekesalan dan kekecewaan. Ini hanya  gara-gara sebuah film keluaran Amerika yang berisi lagi-lagi, fitnah keji terhadap Rasulullah saw. Sesuatu yang tidak masuk akal.

«  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ».(QS.Al-Ahzab(33) :21).

Beberapa hari lalu ada lagi berita menyesakkan.  Adalah Mona Eltahawy, seorang wartawati Amerika asal Mesir. Ia ditangkap polisi gara-gara kedapatan sedang menyemprotkan cat ke poster raksasa di sebuah stasiun subway di New York. Poster yang menurut kabar tersebar di 10 stasiun dan bertuliskan :   In any war between the civilized man and the savage, support the civilized man. Support Israel defeat Jihad” ini ingin ditutupnya dengan cat semprot agar tidak menimbulkan ketidak nyamanan, terutama bagi umat Islam, tentunya.

Poster yang dialamatkan ke arah umat Islam dengan ‘Jihad’nya ini jelas-jelas berisi hasutan dan sangat berbau rasisme. Tapi orang yang berusaha mencegahnya malah ditangkap polisi dan dipenjarakan. Sementara pembuat film sampah Amerika yang membuat jutaan umat Islam marah dan tersinggung dibiarkan melenggang dan dilindungi negara.

Tampak bahwa ini memang disengaja. Disengaja supaya terjadi keributan dan kerusuhan, supaya ada kesempatan memberi cap « teroris » bagi umat Islam. Agar orang Barat makin takut dan membenci Islam. Menjadi bukti nyata bahwa Islamophobia memang diciptakan secara sengaja. Apalagi melihat kenyataan bahwa Islam makin dilirik orang Barat yang berilmu, yang masih bersih hatinya alias tidak menyimpan dengki.

Mereka tampaknya lupa bahwa peristiwa 11 september 2002 lalu, yang sengaja diciptakan dengan tujuan sama itu, sebenarnya  telah gagal. Lupa akan adanya berbagai bukti bahwa peristiwa kejam tersebut adalah hasil konspirasi jahat tingkat tinggi mereka. Ironisnya,  kejadian memilukan tersebut justru membuat penasaran banyak orang untuk mengetahui dan mempelajari lebih dalam apa itu Islam. Alhasil, sebagianpun kembali ke fitrah ; bersyahadat dan memeluk Islam. Subhanallah ..

«  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS.Ali Imran(3) :54).

Semakin jelas, siapa sebenarnya yang teroris itu, siapakah penyebar aksi teror.  Jadi, masih patutkah kita menganggap dan menjadikan Barat kiblat dan panutan peradaban? Peradaban pemuja kebebasan mengkritik, menghasut, menghina dan memprovokasi kerusuhan dan kejahatan atas nama kebebasan berekspresi tanpa mengindahkan norma-norma. Sementara di hadapan kita jelas nabi yang mereka hina mengajarkan dan mencontohkan yang sebaliknya ??

Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: «Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara «  ( HR. Shahih Muslim).

Wallahu’alam  bish shawwab.

Paris, 28 September 2012.

Vien AM.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

Sejarahnya panjang,

Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

Dicopy dari :   http://cahyaimancahayakebenaranislam.wordpress.com/

Jakarta, 24 September 2012.

Vien AM.