Feeds:
Posts
Comments

Jakarta kembali dilanda banjir. Orang bilang banjir 5 tahunan. Sebuah sebutan yang sama sekali tidak saya sukai. Lha wong bencana koq dijadwal, seperti ujian sekolah saja. Pasalnya karena pada tahun 2002 dan 2007 lalu ibu kota republik ini juga kebanjiran. Bahkan bulannyapun sama, sekitar Januari – Februari. Karena bulan-bulan tersebut memang bulan dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Sementara banjir kali ini terjadi pada tahun 2013. Jadi sebenarnya bukan 5 tahun tapi 6 tahun. Kesimpulannya, “ maksa.com”, kata anak gaul sekarang, alias memaksakan istilah.

Lebih ajaib lagi, kalau memang banjir bisa diprediksi mengapa tidak ada antisipasinya. Paling tidak begitulah kesannya. Dan yang lebih ajaib lagi, banjir tersebut makin tahun makin parah. Contohnya, di perumahan ibu mertua saya di Pejompongan. Kakak ipar saya menuturkan bahwa banjir pada tahun 2002 air masuk rumah ‘hanya ‘ sebatas semata kaki. Pada tahun 2007 naik hingga ke betis. Dan tahun 2013 ini hingga pangkal paha !

Pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah dengan ibu kota ini ? Bukankah hujan itu rahmat ? Bukankah Jakarta yang rata-rata temperaturnya 30 derajat, dibawah guyuran hujan terasa lumayan adem ? Bukankah Jakarta dengan jalanannya  yang selau berdebu terasa agak berkurang polusinya dengan adanya hujan ?

Secara umum setiap mahluk  hidup : manusia, tanaman dan hewan selalu  membutuhkan air. Bahkan sebagai kebutuhan utamanya. Tanpa air tanaman tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga dan berbuah. Demikian pula hewan. Tanpa air, tidak mungkin ia berkembang biak dan menghasilkan susu dan daging yang baik untuk dikonsumsi. Lalu apa yang dapat kita makan bila tanaman dan hewan berhenti berproduksi? Cukupkah hanya dengan minum saja ? Padahal tanpa hujan, sungai akan kering. Demikian pula mata air pegunungan. Tanpa makan, apalagi minum mungkinkah manusia bisa bertahan hidup ?

Jadi kesimpulannya, benar,  hujan adalah rahmat. Namun mengapa hujan yang melanda Jakarta yang tercinta ini malah menjadi petaka?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Ayat di atas menunjukkan secara jelas bahwa Allah lah yang menurunkan hujan dari langit. Diturunkan-Nya air tersebut sesuka dan sekehendak-Nya, melalui putaran angin dan awan yang dikendalikan-Nya. Dia pulalah yang mengatur agar air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terserap oleh tanah. Itulah yang orang sering menyebutnya sebagai hukum alam, Sunattullah.

Lebih dasyat lagi, secara teoritis, berdasarkan tanda-tanda, gejala dan pengalaman, semua itu dapat dipelajari. Itulah fenomena alam, yang bisa terjadi hanya karena izin-Nya. Dibuka-Nya rahasia tersebut kepada orang-orang yang mau berpikir, yang mau menggunakan akal yang diberikan-Nya.

Artinya, bila ternyata hujan yang seharusnya adalah rahmat itu ternyata malah menjadi bencana, ini adalah kesalahan manusianya. Allah swt telah menciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal kita yang amat dan nyaman. Berbagai fasilitas telah disediakan-Nya, tanpa dipungut bayaran alias gratis. Kita tinggal memanfaatkan dan memeliharanya.

Namun kenyataannya kerusakan telah terjadi dimana-mana. Pendangkalan sungai sebagai akibat berbagai ulah buruk manusia, membuang sampah ke dalam sungai, adalah contoh yang paling sederhana tetapi fatal dampaknya. Penggundulan hutan, pembangunan gedung yang tidak memperhatikan penyerapan air dll adalah contoh lainnya.

Namun demikian, pernahkah terbersit pertanyaan, mengapa bencana banjir tidak terjadi setiap kali hujan besar datang.  Secara teoritis, para ilmuwan pasti mempunyai jawaban yang beragam  tentang hal ini. Yang kemungkinan besar juga bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Tetapi. dapatkan mereka memastikan dimana, kapan dan bagaimana tepatnya bencana itu bakal terjadi?? Jawabannya pasti, “ Tidak dapat ! “, selalu ada kemungkinan lain yang diluar prediksi akal manusia.

Disinilah kekuasaan Allah swt sebagai Sang Pemilik berbicara. Tanpa izin-Nya tidak mungkin segala sesuatu  dapat terjadi. Manusia hanya bisa berusaha namun Dialah yang menentukan hasilnya. Untuk itulah ketakwaan dibutuhkan.

Jakarta tampaknya mempunyai kesulitan besar. Selain tidak bisa menjaga lingkungan, sebagian penduduk Jakarta juga telah berkhianat pada-Nya. Tengoklah bagaimana korupsi meraja-lela, perselingkuhan, homoseksual, perkosaan, bermabuk-mabukan dan lain sebagainya yang terus saja terjadi.

Kasus Hambalang, kasus yang saat ini  sedang hangat dibicarakan dan melibatkan orang-orang beken yang terpaksa di non aktifkan gara-gara kelakuan bobrok mereka seperti mentri OR, AM, anggota DPR yang pernah menyandang ratu kecantikan, AS, hanyalah contoh kecil.  Juga ‘lelucon’ yang sama sekali tidak lucu yang keluar dari mulut seorang calon hakim agung DS yang melecehkan korban perkosaan. Padahal kedudukan hakim agung semustinya  amatlah tinggi karena menjadi cerminan keadilan sebuah bangsa. Ironisnya lagi, ‘lelucon’ tersebut keluar di tengah ramainya skandal ayah yang memperkosa  putrinya sendiri yang baru berusia 11 tahun dalam keadaan istrinya sedang diopname di RS ! Na’udzubillah min dzalik …

Sungguh memalukan, bangsa Indonesia yang menurut laporan mayoritas Muaslim, lupakah mereka akan azab Tuhan yang ditimpakan bagi para pendosa ?? Tidakkah lagi mereka membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang bisa membuat mereka sadar alangkah ngerinya siksa dan kemurkaan-Nya??

“ Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan”.(QS.Fushilat(41):16).

Banjir yang menimpa di Jakarta beberapa hari lalu kabarnya bukan karena intensitas curah hujan yang tinggi bukan juga karena kiriman dari bendungan Kapulampa di Bogor. Bendungan yang awalnya direncanakan akan dibuka karena telah mencapai ketinggian maximumnya hingga dikhawatirkan  jebol.

IMG-20130117-00039Di luar perkiraan, yang jebol justru tanggul Banjir Kanal Barat Latuharhari yang terletak di pusat kota. Tak ayal lagi, daerah-daerah elit di Jakarta pusatpun terendam banjir .  Jalan raya paling bergengsi di negri ini, yaitu jalan MH Thamrin dengan bunderan HI nya dimana hotel-hotel  mewah dan gedung pusat perkantoran serta bank-bank besar berjejer terendam air hingga menyerupai sungai. Bahkan Istana kepresidenan yang hari  itu sedang menanti tamu negarapun  tak luput dari banjir, meski hanya semata kaki.

Belum lagi nasib sebuah parkiran bawah tanah yang didera ‘tsunami’ dasyat sedalam 12 meter. Bencana  yang menyerang parkiran bawah tanah hingga minus 3 gedung mewah perkantoran ini akhirnya memakan korban 2 OB dan ratusan mobil yang sedang di parkir di dalam gedung tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tidak sampai 30 jam setelah itu,  dua buah tanggul ikut jebol secara berturut-turut, satu di perumahan Bekasi satu lagi di Pluit.  Meski belakangan kabar jebolnya bendungan Pluit dibantah, bendungan tersebut ’hanya ‘ terendam banjir. Padahal bendungan terbesar di ibu kota ini amat diandalkan kemampuannya dalam mencegah banjir.  Ironisnya, areal yang awalnya mempunyai luas 80 hektar itu saat ini hanya tinggal 50 hektar saja.  Pemukiman liar bahkan mall yang dibangun dengan izin resmi Pemda DKI telah menggeroti areal vital tersebut.

Akibatnya, 3 perumahan elit di Pluit yang harganya milyaran per unit itu,  sejumlah kompleks perumahan, ratusan sekolah serta  puluhan wilayah Jakarta terendam banjir. Sebagian ada yang mencapai ketinggian 4 meter !

Tetapi  cobaan belum usai. Esoknya, Sabtu, 19 januari, tanggul sungai Citarum ikut jebol. Tanggul yang terletak di kabupaten Karawang  Jawa  Barat ini berhasil menewaskan 2 orang akibat terbawa arus air yang luar biasa deras. Disamping merendam  tak kurang dari 900 rumah warga, ratusan hektar sawah dan memutus jalan raya menuju beberapa kota sekitar tanggul.

Jebolnya sejumlah bendungan yang menyebabkan banjir dasyat Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat ini mau tidak mau mengingatkan kita pada tragedi  memilukan ribuan tahun lalu di ibu kota Yaman.  Yaman ketika itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Saba’ dengan ratunya yang terkenal, yaitu ratu Bilqis atau Balqis. Negri ini makmur karena tanahnya yang subur berkat adanya bendungan Ma’rib. Bendungan ini terletak di kota Ma’rib, yang berlokasi sekitar 120 km di sebelah timur ibukota Yaman sekarang yaitu, Sana’.

Bendungan Ma’rib memiliki ketinggian 16 meter, lebar 60 meter dan panjang 620 meter. Kabarnya bendungan ini mampu mengairi areal seluas 9.600 hektar. Bendungan ini sempat mengalami beberapa kali perbaikan hingga akhirnya runtuh pada tahun 542 M. Jebolnya bendungan ini mengakibatkan “banjir besar Arim” yang dikisahkan dalam surat Saba’ ayat 15-17 sebagai berikut.

“ Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr”.

“ Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.

Saat ini situs kota Ma’rib yang telah kandas tertelan banjir masih ada menjadi saksi bisu kebesaran Sang Khalik sekaligus tanda peringatan bagi kaum yang kafir. Juga peringatan bagi kita, penduduk Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia ini agar kita selalu takwa.

Banjir dan daerah yang terendam beberapa hari lalu, saat ini mungkin sudah surut.   Namun muncul masalah baru, berbagai keluhan dan penyakit mulai timbul.   Keluhan-keluhan yang datang dari para pengungsi yang jumlahnya mencapai puluhan ribu itu antara lain kutu air, batuk, panas, pusing, diare, masuk angin, dan pegal-pegal.  Sebagian mengeluhkan telapak kaki yang melepuh dan pecah-pecah serta  warna kulit yang menjadi pucat akibat lama terendam air  banjir.

BMKG ( Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) masih memprediksi cerah hujan yang tinggi hingga akhir bulan ini.  Ini pertanda bahwa bencana banjir masih mengancam. Sementara perbaikan bendungan dan tanggul yang rusak serta membersihkan lingkungan penyebab banjir dan kerusakan  pasti memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kita benar-benar berkejaran dengan waktu.

Maka sembari memperbaiki lingkungan mari kita bertaubat. Jangan tunggu Allah Azza wa Jalla menjatuhkan kembali azab dan peringatan-Nya yang pedih. Mari kita bermohon pada-Nya agar Ia ridho menjauhkan kita dari segala kesusahan, musibah dan bencana. Bila kita mau menurut pada perintah-Nya, bertawakal hanya pada-Nya, menjadi manusia yang takwa,  pasti pertolongan akan datang. Sebagaimana yang pernah dilakukan-Nya atas kaum nabi Nuh as ribuan tahun silam.

“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”(QS.Huud(11):41).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Januari 2013.

Vien AM.

Sepuluh hari setelah pulang dari rantau, kami langsung berkesempatan menyaksikan perayaan malam tahun baru di ibu kota, Jakarta. Malam yang diberi nama Jakarta Night Festival ini adalah malam tahun baru pertama dimana jalan raya protokol ibu kota, MH Thamrin dan Sudirman ditutup untuk kendaraan umum. Ini adalah ide gubernur DKI Jokowi  dalam memihak rakyat kecil agar mereka bisa menikmati pesta tutup  tahun. Sebelumnya gubenur  Ali Sadikin, gubernur DKI tahun 1970 an pernah melakukan hal yang sama, namun bukan dalam rangka menyambut acara tahun baru, melainkan untuk acara HUT DKI.

Mulanya ide penutupan ke 2 jalan utama paling bergengsi di depan bunderan air mancur HI tersebut  ditentang oleh pemilik sejumlah hotel berbintang yang berjejer di sepanjang jalan tersebut. Karena hal tersebut tentu akan membuat tamu-tamu hotel kesulitan. Namun akhirnya mereka  tidak dapat berbuat banyak ketika ide tersebut benar-benar terealisasi.

Malam itu, dimulai pada pukul  8 malam, penduduk Jakarta terlihat berbondong-bondong meninggalkan rumah dan menyesaki jalanan. Hujan yang turun lumayan lebat sejak pukul 7 dan mengguyur kawasan pusat kota tampaknya tidak menjadi halangan. Dengan payung di tangan, ratusan kaki bersepatu dan bersandal menapaki dan meloncati genangan air yang tampak disana-sini.

Wajah-wajah ceria tua muda besar kecil lelaki perempuan memenuhi jalanan. Gerobak dorong berbagai panganan tampak tak mau ketinggalan menikmati acara istimewa ini. Gerobak  sate, ketoprak,  gorengan pisang, tahu, tempe, ubi dan singkong, hingga gerobak penjaja minuman botolan, ramai diserbu pengunjung.

Pucaknya, sekitar  200 ribu orang terlihat tumplek di sepanjang jalan Sudirman, MH Thamrin hingga Monas. Pijaran kembang api raksasa dan sinar laser yang ditembakkan dari ujung jalan bundaran ber-air mancur tersebut membuat langit di atas  Jakarta terang benderang. Suara hiruk pikuk yang keluar dari 16 panggung musik yang didirikan di sepanjang jalan, turut membuat pesta rakyat tersebut makin hingar  bingar. Itu masih ditambah lagi dengan suara berisik tak henti-henti yang  keluar dari terompet yang banyak dijual di kawasan tersebut.

Sementara itu,  di sudut lain kota Jakarta, sejumlah masjid sibuk menyelenggarakan acara zikir akbar, dengan tujuan yang sama, menyambut datangnya  tahun baru. Meski sepintas, acara yang diisi oleh ulama-ulama dan uztadz-uztadz  kenamaan ini cukup berhasil menyedot pengunjung, tak urung suara-suara negative tetap bergema.  Apa pasal ??

Pasalnya ya tahun baru itu. Mayoritas ulama sependapat bahwa tahun baru Masehi bukanlah milik umat Islam, bukan juga budaya milik bangsa ini. Hari besar yang patut diperingati umat Islam hanya 2 yaitu Hari Raya Iedul Fitri dan Hari Raya Iedul Adha. Disamping beberapa hari lain yang biasa juga diperingati sebagian umat, diantaranya yaitu tahun baru Hijriyah.

Harus  diakui, saat ini sebagian besar negara-negara di dunia memang menggunakan kalender Masehi sebagai hitungan tahun resmi negara, termasuk Indonesia. Tapi jangan lupa, pada masa kejayaan Islam, sejak abad 7 hingga abad 20 lalu, kalender Hijriyah pernah digunakan lebih dari separoh dunia.  Kalender ini lenyap seiring dengan kejatuhan kekaisaran Turki Ottoman pada tahun 1924, paska PD I.

Indonesia sendiri  meski secara resmi menggunakan kalender Masehi, tetap mempertahankan kalender Hijriyah untuk kepentingan acara keagamaan penduduknya yang memang mayoritas Muslim. Tidak aneh, karena untuk menentukan dan memperingati hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Iedul Fitri, Hari Raya Iedul Adha, hari-hari puasa Ramadhan,  kelahiran nabi dll mutlak diperlukan kalender yang menggunakan peredaran bulan ini sebagai acuannya. ( Kalender Masehi menggunakan peredaran matahari sebagai acuan).

Itu sebabnya, sebagian Negara berpenduduk mayoritas Islam, negara-negara Timur Tengah misalnya, hingga kini tetap menggunakan kalender Hijriyah sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Jadi sungguh tidak benar bila ada sebagian orang ‘nyleneh’ yang berkeras berpendapat bahwa kalender Hijriyah adalah kalender Arab bukan kalender Islam. Meski tahun kalender ini baru digunakan umat Islam 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, tepatnya pada tahun 638 M.

Khalifah Umar bin Khattab ra yang memutuskan bahwa tahun dimana Rasulullah hijrah ( pindah) dari Mekah ke Madinah adalah awal tahun kalender yang bakal menjadi kalender resmi pemerintahan Islam. Kalender itu selanjutnya diberi nama Hijriyah, sesuai dengan alasan dasar pengambilannya. Ini adalah atas usulan Ali bin Abu Thalib.

Ketika itu Umar meminta masukan beberapa sahabat alasan dan dasar apa yang paling tepat untuk menentukan kalender resmi kekhalifahan. Pemicunya, tanggapan beberapa Negara tetangga yang menyatakan bahwa surat resmi kekhalifah dianggap tidak ‘ representatif’ karena hanya mencantumkan nama bulan dan tahun, tanpa tanggal. Hal yang lazim digunakan masyarakat Arab ketika itu.

Tahun kelahiran, tahun wafat dan tahun hijrahnya Rasulullah ditambah tahun awal turunnya ayat Al-Quran adalah beberapa usulan para sahabat yang masuk, menjawab pertanyaan sang khalifah,  ketika itu. Namun akhirnya khalifah memilih tahun hijrahnya Rasulullah karena tahun tersebut dapat dianggap sebagai awal tahun kemenangan Islam.

Tahun dimana hukum Islam mulai dapat ditegakkan. Karena di Madinah inilah untuk pertama kalinya, Rasulullah mengeluarkan aturan kenegaraan, negara Islam Madinah, yang mampu mempersatukan suku Aus dan Khazraj, dua suku di Madinah yang sejak lama selalu bertikai. Juga orang-orang Yahudi yang sejak awal selalu memusuhi islam. Meski pada akhirnya  tetap mengkhianati perjanjian. Karena  mereka menerima Rasulullah dan perjanjian yang dibuat beliau dengan berat hati.

Kalender Hijriyah sendiri yang dibuat dengan acuan pergerakan bulan itu sudah dipergunakan masyarakat Arab jauh sebelum Islam datang. Namun  9 tahun setelah peristiwa hijrah telah di revisi karena turunnya ayat 36 dan 37 surat At-Taubah yang berisi  tentang bulan-bulan Haram dan keharaman mengundur-undurkan bulan yang biasa dilakukan masyarakat Arab ketika itu.

“  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.  … … …“. ”  Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir “. (QS. At-Taubah (9): 36-37).

( Baca : http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah#Penentuan_Tahun_1_Kalender_Islam)

Sedangkan sistim kalender Masehi sebenarnya telah digunakan ribuan tahun yang lalu, yaitu sejak abad 7 SM,  sebagai kalender tradisional bangsa Romawi. Namun perayaan malam tahun baru sendiri tercatat pertama kali dirayakan baru pada tahun 45 SM, ketika Julius Caesar menjadi kaisar Romawi.

Atas saran seorang ahli astronomi dari Aleksandria, Julius merevisi kalender tersebut dengan mengikuti revolusi matahari sebagaimana yang dilakukan bangsa Mesir. Dan sejak itu ia menjadikan kalender yang kemudian diberi nama kalender Julian tersebut sebagai kalender resmi kekaisaran.

Selanjutnya pada tahun 1582 umat Nasrani dibawah pimpinan Paus Gregorius XII menjadikan kalender Julian diatas sebagai kalender umat Kristiani. Namun mereka merevisinya dengan menjadikan tahun kelahiran Yesus atau nabi Isa as sebagai patokan awal tahunnya. Alhasil lahirlah istilah SM ( sebelum Masehi) atau AD ( Anno Domini) yang artinya Tuhan kita dan M ( Masehi) atau BC ( Before Common Era). Masehi berasal dari kata Messiah ( Yesus ). Tahun 0 adalah tahun kelahiran Yesus. Dan SM adalah tahun sebelum kelahiran Yesus.

Dari keterangan diatas, jelas sudah bahwa sebenarnya kalender Masehi adalah memang benar-benar kalender yang sangat kental nuansa kristennya. Meski saat ini jarang Negara yang mengakui fakta ini. Demi kemudahan komunikasi adalah alasan yang paling sering dikemukakan negara.

Saat ini kita telah berada di abad 15 Hijriyah ( tahun 1434H) abad yang di ‘ klaim’ umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Pergantian abad ke 15 ini dimulai tepatnya pada bulan November 1980 M. Ketika itu berbagai Negara Islam menyambut pergantian tersebut dengan gegap gempita. Revolusi Iran yang mampu merobohkan kekuatan kerajaan yang sekuler menjadi republik Islam ditandai sebagai awal kebangkitan tersebut oleh sebagian orang.

( Baca : http://mekahmadinah.faa.im/kebangkitan-islam-bagaimana-dengan-dunia.xhtml )

Kini kita telah memasuki 2/3 akhir abad 15 yang menjanjikan tersebut. Masih ada waktu 66 tahun untuk membuktikan bahwa kebangkitan itu akan menjadi kenyataan. Namun kelihatannya sebagian rakyat Negara kita tercinta masih belum juga Percaya Diri. Buktinya yaitu tadi, masih saja merayakan datangnya tahun baru Masehi secara berlebihan. Mengapa kita harus latah, ikut-ikutan kebiasaan, budaya bangsa dan agama orang/bangsa lain yang tidak sesuai dengan kita ?

Padahal Perancis saja, Negara barat yang maju dan berwajah ‘kristen’ tidak merayakan tahun baru tersebut semeriah Negara kita. 3 tahun, sejak tahun 2000 hingga 2003, kami berada di sana, tak pernah sekalipun kami menyaksikan hal tersebut. Juga dari tahun 2009 hingga 2012 lalu. Tidak di sekitar Eiffel, menara kenamaan yang menjadi ikon kota Paris, tidak  juga di Champs Elysees, boulevard terkenal Paris yang belakangan ini dijadikan area mengemis oleh tidak saja Muslim imigran namun juga pemalas bule yang senang memanfaatkan anjingnya untuk memohon belas kasihan. Pemandangan yang sangat kontras dengan deretan gedung-gedung cantiknya yang dijadikan butik eksklusif oleh para desainer kenamaan dunia.

Tampaknya negri ini lebih memilih merayakan hari kemerdekaan Negaranya secara besar-besaran dari pada merayakan tahun baru. Pada hari itulah Paris gegap gempita bermandikan cahaya kembang api yang menerangi langit di atasnya. Mungkinkah ini cerminan bahwa rakyat Perancis tidak lagi agamis ? Karena nyatanya, sebagian besar dari mereka memang Atheis alias tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Apapun alasannya, rasanya sungguh tidak pantas bangsa kita yang masih miskin dan belum maju bahkan hutang negarapun masih bertumpuk merayakan tahun baru yang jelas-jelas bukan milik bangsa maupun agama kita secara berlebihan. Bila alasannya sekali-sekali ingin menyenangkan rakyat kecil, mungkin perayaan ulang tahun kota lebih bisa ditrima.

Masih banyak hal yang harus kita kejar bila kebangkitan Islam yang kita cita-citakan bersama itu ingin benar-benar terealisasi. Bila Barat yang pada zaman kegelapan dulu selama ratusan tahun pernah ketinggalan dari dunia Islam bisa mengejar ketertinggalannya maka mengapa kita yang ‘baru’ 90 tahunan tertinggal tidak mampu mengejar ketertinggalan kita ? Tidak ada salahnya kita belajar dan mengambil sesuatu yang baik dari Barat, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran kita. Sains, kedisiplinan dan kebersihan adalah contohnya. Karena sekarang ini mereka memang jauh lebih unggul dari kita.

“ … Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.(Ar-Rad(13):11).

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”(HR. Ibnu Majah)

Sebalilnya jangan mengambil ilmu ekonomi dan sistim kapitalis mereka karena sebagian besar bertentangan dengan Islam. Tidak perlu kita ikut-ikutan menerapkan sistim bunga dalam dunia perbankan.Kita telah memiliki zakat, infak dan wakaf ; ajaran yang sangat menjanjikan bila dapat dikelola secara benar. Islam telah mengajarkan bagaimana sistim ekonomi yang sehat, yang tidak merugikan orang lain.

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Baqarah(2):275).

Arab Spring, gelombang protes dan demonstrasi terhadap kebijakan sekuler Negara yang dilakukan masyarakat Negara-negara Arab sejak Desember 2010 terus berlanjut. Mesir yang berhasil menggolkan syariat Islam dibawah presidennya yang berasal dari Ikhwanul Muslimin meski belum didukung 100 % penduduknya, tampaknya bisa menjadi indikator bahwa kebangkitan Islam memang masih terus berproses meski agak lambat.

Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Muslim sudah seharusnya berpartisipasi dalam kebangkitan ini. Inilah saat yang tepat untuk bangun dari tidur panjangnya dan berhenti dari mimpi-mimpi indah. Mari kita berjuang bersama saudara-saudari kita sesama Muslim untuk mencapai kemenangan yang dijanjikan-Nya, yaitu rahmatan lil alamin.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat  bagi semesta alam”.(QS.Al-Anbiya(21):107).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Januari 2013.

Vien AM.

Copas dari : http://duniabaca.com/sejarah-islam-awal-mula-islam-di-indonesia.html

 Mempelajari sejarah masuknya islam di indonesia mungkin sudah pernah Anda pelajari saat duduk di bangku sekolah. Dimana sejarah penyebaran islam di indonesia khususnya pulau jawa yaitu dilakukan oleh para wali songo.

Dalam catatan sejarah, islam sudah berada sejak tahun 622 ketika Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Namun di Indonesia islam dikenal pada abad pertama hijaiyah atau tujuh masehi. Pengenalan islam di Indonesia dimulai dari frekuensi yang tidak terlalu besar, hanya melalui perdagangan, dan seiring berjalannya waktu pengenalan islam di Indonesia lebih intensif, terutama di Semenangjung Melayu dan Nusantara. Beberapa bukti peninggalan islam di Asia Tenggara adalah dua makam muslim dari akhir abad ke 16.

Sejarah Islam

Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.

Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.

Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang.

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijirah.

Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia.

Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) (Sumber: wikipedia)

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.

Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda.

Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut.

Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa.

Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang.

Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar). (Sumber : ummah.com)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Januri 2013.

Vien AM.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tahun ini adalah tahun ke 4 kami berada di Perancis. Selesai sudah akhirnya masa tugas suami. Begitu banyak pengalaman, suka dan duka yang kami alami selama kami berada di negri ini, baik sebagai Muslim minoritas maupun sebagai warga Indonesia di perantauan.

Disamping menjelajahi kota-kota cantik di Perancis kami juga memanfaatkan waktu kami untuk bepergian mengunjungi kota-kota lain di Negara tetangga. Inilah salah satu nikmatnya hidup di Eropa.  Kita dapat melancong ke Negara-negara tetangga ( Eropa Barat) tanpa harus mengeluarkan ongkos terlalu banyak. Perjalanan dapat dilakukan melalui darat, tanpa visa dan tidak perlu menukar uang.

Spanyol, Inggris, Belanda, Jerman, Switzerland dan Italia yang merupakan tetangga terdekat maupun Irlandia, Austria, Yunani, Turki bahkan Rusia yang lumayan jauh dari Perancispun, atas izin-Nya, sudah kami tandangi, Alhamdulillah …

« Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya … … ».(QS. Al-Mulk(67) :15).

« Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu“.(QS.Nuh(71) :19-20).

P1010795P1010875Kehl2IMG_4497P1020214IMG_3868IMG_0413

Masjid Lyon, Perancis

Masjid Lyon, Perancis

Mosquee de ParisIMG_6986

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau – France

london mosque

london mosque

Bahkan sebagian rumah-Nya sempat pula kami sambangi. Disanalah kami bersua  saudara-saudari seiman dari berbagai bangsa, berbincang  dan saling mengucapkan salam. Dari sana pula kami dapat mendengar sendiri bagaimana suka dan dukanya Muslim yang hidup sebagai minoritas di tengah kaum yang mayoritas Ahli  Kitab ataupun Ateis.

Dan ternyata Muslim Perancis lebih beruntung daripada saudara mereka Muslim di Yunani. Karena di Yunani pemerintah sama sekali tidak mengizinkan pembangunan masjid. Demikian juga pemotongan daging halal. Meski kalau dibanding Muslim di Belanda atau Jerman, Muslim Perancis tetap kalah. Di kedua negara tersebut murid-murid SMP dan SMA dapat mengenakan jilbab ke sekolah tanpa kesulitan.

Terima-kasih Ya Allah ya robbi, telah Kau berikan kami kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudari kami seiman di Eropa ini. Sungguh banyak pelajaran yang Kau berikan pada kami melalui mereka. Semoga Kau beri pula kami kemampuan untuk  memetik hikmah segala kejadian yang kami alami di benua ini.

Dari Abu Hurairah Ra berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak boleh menganiaya sesamanya, tidak boleh membiarkannya teraniaya dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa (kepatuhan kepada Allah) itu letaknya disini….” Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya. Perkataan ini diulanginya sampai tiga kali. ”Cukup besar kesalahan seseorang, apabila dia menghinakan (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap sesama muslim, terlarang menumpahkan darahnya (membunuh atau melukai), merampas hartanya dan merusak kehormatannya (nama baiknya).”

Namun saat ini yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah saat ‘packing’, alias bebenah  .. Betapa tidak, setelah nyaris 4 tahun berada di 2 kota di Perancis ini yaitu Pau, di Perancis Selatan perbatasan Spanyol dan Paris, ibu kota Negara, diberi-Nya kami kesempatan untuk ‘menguasai’ sejumlah harta benda-Nya. Hingga tiba saatnya kami harus menyortir, mana barang yang masih bisa dan bakal terpakai di tanah air nanti, mana yang lebih terpakai orang-orang disini. Baju dingin, sepatu boot dan selimut tebal adalah contohnya.

Ternyata, ‘jatah’ angkutan yang diberikan perusahaan kepada pegawainya, termasuk kami ini, ada hikmahnya. Karena dengan demikian kita harus berhati-hati memilah barang titipan tersebut. Bila tidak maka kita harus siap membayar kelebihan ‘jatah’tersebut dengan harga yang tidak murah.

Disamping itu, perlu juga diperhitungkan apakah tempat tinggal tujuan kami nanti bakal bisa memuat barang-barang pindahan tersebut. Selain itu masih ada sortir lain, yaitu barang yang mau dibawa sendiri dan yang menyusul. Karena angkutan kapal laut bisa makan waktu 2 bulan.

Kesimpulannya, sortir atau memilah-milah barang ternyata adalah hal yang paling berat. Meski sebenarnya kepulangan tersebut sudah kami perkirakan 6 bulan sebelumnya. Tiba-tiba saja hal ini mengingatkan saya akan “panggilan pulang” oleh-Nya.

Panggilan ini tidak ada peringatannya. Sewaktu-waktu Yang Maha Kuasa bisa saja memanggilkan kita. Paling sakit keras dan ketuaan yang kadang bisa menjadi tanda-tandanya. Namun itupun tidak menjadi jaminan dan kepastian.

Dapat dibayangkan bagaimana repotnya menghadapi hal ini. Bagi orang yang tidak percaya akan adanya kehidupan akhirat mungkin tidak begitu masalah. Neraka, pasti adalah tempatnya. Namun bagi kita, orang beragama,  yang yakin akan hal tersebut tentu lain ceritanya.

Kita tahu bahwa kehidupan akhirat hanya dua, yaitu surga dan neraka. Kesanalah tempat kita kembali. Sementara tiket kepulangan tersebut hanya amal ibadah kita. Lalu bagaimana dengan harta benda kita yang menumpuk tersebut ?? Kita pulang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Berarti kita tidak punya waktu untuk menyortir barang-barang yang kita miliki, yang dapat dianggap sebagai amal ibadah. Padahal kita tentu tidak ingin dijebloskan ke neraka, bukan ?

Allah swt tidak melarang hamba-Nya untuk menjadi kaya dan ‘menguasai’ serta merasakan sebagian kecil kekayaan yang merupakan titipan-Nya itu. Namun karena Ia telah menetapkan bahwa tiket ke surga hanyalah amal ibadah, maka tidak ada jalan lain, harta kekayaan tersebut harus bisa ‘berubah’menjadi amal yang dimaksudkan-Nya. Kesimpulannya, alangkah beruntungnya orang yang mendapat kesempatan memiliki kekayaan melimpah, selama ia dapat memanfaatkan kekayaan tersebut.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.(QS. Al-Qashosh(28):77).

Sebaliknya, demi mengantisipasi ‘panggilan mendadak’ dari Yang Maha Memiliki,  alangkah baiknya bila secara rutin kita senantiasa menyortir harta kekayaan tersebut. Jangan hanya puas dengan zakat yang 2.5 % saja. Jangan biarkan diri kita jalan tertatih-tatih membopong harta benda kita dan mengantri di pintu gerbang surga menjalani pemeriksaan panjang tak berkesudahan sementara harumnya surga sudah begitu dekat. Jangan sampai harta yang pada awalnya adalah kenikmatan akhirnya malah menjadi petaka.  Na’udzubullah min dzalik …L …

Akhir kata, jangan sampai kita menyesali nikmat hidup ini, yang pada hakekatnya teramat sangat pendek dan singkat. Perumpamaannya hanya satu sore atau pagi di antara tahun-tahun yang panjang.

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari”. (Qs. An-Naziat(79):46).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 10 Desember 2012.

Vien AM.

Terbunuhnya Muhammad Merah, pemuda yang dicap sebagai teroris Islamiste karena telah membunuh beberapa orang Yahudi dan militer di Toulouse beberapa bulan lalu, ternyata berbuntut panjang. Kali ini konflik keluarga yang membuat kasus ini makin kusut.

Betapa tidak, kakak lelaki Merah, Abdulghani, yang selama ini tidak dikenal umum, tiba-tiba muncul dan meluncurkan buku berjudul “Mon frère, ce terroriste “ yang berarti “ Saudara saya, teroris itu”, buku buah karangannya sendiri. Dalam buku tersebut ia menceritakan bahwa adiknya adalah korban kebencian keluarga besarnya terhadap Yahudi.

Untuk membuktikan kebenaran ceritanya ini, ia sengaja mengajak seorang reporter TV untuk menemui adik perempuannya, Souad Merah. Ia kemudian memancing adiknya itu dengan pertanyaan seputar adik mereka. Dengan modal kamera tersembunyi, maka terekamlah bagaimana reaksi dan perasaan adik perempuannya ini terhadap tindak tanduk Merah, adik lelaki yang diakuinya sangat disayanginya itu.

“ Saya bangga terhadapnya, ia telah bertempur sampai akhir !”, katanya emosional. Hasil potongan rekaman candid camera inipun lalu disebar dan diputar berulang kali di televisi nasional.

Selanjutnya mudah ditebak, sang penulis baru tersebutpun langsung diundang stasiun televisi bersangkutan dan diwawancarai  dengan bermacam pertanyaan seputar kegiatan adiknya dan keterlibatan keluarga besarnya. Rupanya lelaki yang beristrikan perempuan Perancis Yahudi ini menyimpan sakit hati terhadap keluarganya, karena perkawinannya tersebut ditentang.

Dengan tegas, ia berkata bahwa keluarga besarnyalah yang harus bertanggung-jawab atas prilaku adiknya. “ Semua keluarga Arab, sejak kecil telah dididik untuk membenci Yahudi”, “Keluarga kami adalah keluarga antisemit, yang membenci tidak saja Yahudi tapi juga orang Perancis”, katanya sengit.

Lebih menyedihkan lagi, dengan lancangnya ia juga menuduh tanpa bukti jelas bahwa itu semua adalah ulah kaum Salafis. Tampak kebencian dan dendam telah berhasil menguasai lelaki yang telah bertekuk lutut di hadapan perempuan yang menurut ajaran Islam jelas-jelas dilarang dikawininya. Meski ada juga sebagian ulama yang menyatakan hukumnya bukan haram tapi makruh bila memang tidak ada lagi Muslimah yang dapat dinikahi. Perbedaan ini disebabkan penafsiran terhadap kaum Musyrikin.

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.( QS. Al-Baqarah(2):221).

Allah swt berfirman bahwa ahli kitab yaitu kaum Nasrani dan Yahudi adalah kafir, karena mereka telah mempersekutukan-Nya (syirik). Allah azza wa jalla juga menerangkan bahwa orang kafir itu terdiri atas 2 bagian besar, yaitu orang musrik dan ahli kitab.

Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, “(QS.Al-Bayyinah)98):1).

Yang pasti, menikahi perempuan atau lelaki dari kaum yang tidak seiman pasti akan melahirkan banyak masalah. Pada kasus saudara Merah diatas, tanpa rasa malu apalagi bersalah, ia mengatakan bahwa ibu kandungnya sampai mengancam akan bunuh diri bila ia sampai membicarakan masalah keluarganya ini di depan umum. Namun ia tidak mempedulikan hal itu. Padahal Islam mengajarkan bagaimana berprilaku terhadap ke dua orang-tuanya. “Saya siap untuk dibuang dan dijauhi keluarga”, katanya dengan nada minta dikasihani, khilaf, sebenarnya siapa yang patut dikasihani.

Lagi pula atas dalil apa ia berani mengambing-hitamkan kaum Salafis. Tidak ada dalil dalam Islam yang membolehkan membunuh sesama manusia tanpa alasan yang jelas. Permusuhan antara Yahudi dan kaum Muslimin bukanlah permusuhan pribadi. Islam diturunkan untuk menegakkan keadilan dan memerangi kezaliman.

Yahudi sejak dulu, jauh sebelum Islam datang,  terbukti sering berbuat kerusakan dan kezaliman. Tak terhitung berapa banyak musuh yang dimilikinya. Bahkan Benyamin Franklin, salah satu pendiri Amerika Serikat, yang pernah menjadi anggota Freemason, pernah meramalkan kerusakan yang akan dialami Amerika bila mereka tetap ‘berteman baik’ dengan Yahudi. Ramalan tersebut ditulis berkenaan dengan Rencana Undang-Undang Negara tahun 1789 dan dimuat di Charles Pinsky Journal, South Carolina. Teks asli tersebut hingga kini bisa ditemukan di Franklin Institute Philadelphia, AS. ( Sumber : Eramuslim Digest Edisi
Koleksi 4).

Berapa banyak nabi dan utusan Allah yang mereka bunuh dan aniaya. Lebih parah lagi, kerusakan yang mereka perbuat bukan hanya terhadap sesama manusia namun juga terhadap Tuhannya ! Beraninya mereka mengubah-ngubah kitab suci dan menyembuyikan kebenaran.

“ Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2);146).

Kerusakan dan kezaliman itu tetap mereka perbuat hingga detik ini. Rakyat Palestina adalah contoh nyatanya. Yahudi dengan Zionisnya telah berbuat semena-mena terhadap mereka. Setiap hari setiap saat ada saja rakyat Palestina yang dianiaya dan dibunuh. Listrik dan air bersih sangat dibatasi. Secara sengaja pemerintahan penjajah tersebut memperlakukan rakyat Palestina secara berbeda dengan rakyat Yahudi. Ini yang membuat Muslim sedunia membenci pemerintahan Israel.

Namun Barat yang notabene memegang kekuasaan dunia saat ini tidak pernah mau tahu. Di mata mereka, Israel selalu benar dan wajib dibela. Sementara Palestina dan Islam adalah kumpulan orang barbar, teroris yang harus ditekan dan dienyahkan. Ntah atas dasar apa mereka beranggapan demikian buruknya. Padahal merekalah yang selama ini gencar memproklamirkan diri sebagai bangsa beradab yang menjunjung tinggi demokrasi, toleransi dan keadilan.

Jadi jelas, pernyataan Abdulghani mengenai Salafis adalah fitnah, adu domba antar Muslim yang sama sekali tidak lucu. Ini masih ditambah lagi dengan adanya indikasi sejumlah remaja yang menganggap perbuatan Muhammad Merah membunuh orang Yahudi adalah perbuatan mulia !

Kontan hal ini menjadi pembicaraan hangat para politikus Perancis. Manuel Valls, mentri dalam negri dan kebudayaan Perancis yang keturunan Spanyol itu dituduh tidak becus mengurus keamanan dalam negri. Kebijaksanaan terakhirnya agar status kewarganegaraan bagi kaum imigran dipermudah akhirnya juga memancing reaksi partai lawan.

« Kewarganegaraan Perancis telah di obral « , protes keras Marine Le Pen yang dikenal sangat anti Islam. Nyatanya, memang imigran di Perancis kebanyakan berasal dari negara-negara jajahan Perancis, yaitu Aljazair, Maroko dan Tunisia yang mayoritas Muslim.

Inikah skenario Sang Khalik dalam meluaskan perkembangan Islam ? Wallahu’alam. Yang pasti, bulan September lalu umat Islam patut bersyukur. Sebuah departemen baru dengan nama “L’art Islam” telah diresmikan menjadi salah satu departemen di Musee Du Louvre, museum terbesar dan bergengsi di Perancis, bahkan mungkin di dunia. Tidak tanggung-tanggung, yang meresmikanpun orang no 1 Perancis, yaitu presiden François Hollande. Yang dalam pidato sambutannya sangat menghargai Islam yang diakuinya pernah menjadi kiblat Barat di masa lalu. ( Kabar terakhir, Perancis merupakan negara Barat pertama yang menyetujui Palestina masuk sebagai anggota PBB tidak tetap).

Berbagai peninggalan seni di pamerkan di museum ini.  Potongan-potongan kaligrafi, bejana, piring,   vas, karpet dan lain-lain memenuhi ruangan yang di beri atap bergelombang indah ini. Tak ketinggalan sejarah penyebaran Islam juga dipaparkan melalui video dan skema. Berbagai model tulisan “Bismillahi Rahmani Rahim” dalam huruf-huruf Arab muncul bergantian melalui video, menghiasi dinding di sisi tangga. Demikian pula cara membaca huruf-huruf Arab dalam Al-Quran. Subhanallah …

Meski pada kenyataannya isi departemen seni Islam ini agak janggal. Karena sebagian besar peninggalan seni yang diperlihatkan dan dipamerkan di museum tersebut  adalah keramik berbagai bentuk dengan hiasan gambar-gambar mahluk hidup. Padahal kita tahu bahwa Islam melarang penggambaran seperti itu. Banyak hadist yang menerangkan hal ini, diantaranya adalah :

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Siapa yang membuat satu gambar di dunia, dia dibebani (disuruh) untuk meniupkan ruh pada gambar itu dan ia bukan peniupnya (tidak akan mampu meniup ruh untuk menghidupkan gambar tsb, red)”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Sebagian besar barang yang dipamerkan tersebut, menurut catatan yang tertulis di bawahnya,   diambil di sekitar Iran-Irak di abad 7- 10. Kelihatannya pengaruh Syiah yang banyak mendominasi isi museum tersebut. Lukisan yang diambil dari buku Syiah, book of divination “Fal”, tentang imam Reza yang sedang melindungi rakyat dalam perjalanan laut adalah contohnya. Di gambar itu imam Reza terlihat sedang duduk di atas kudanya sambil melemparkan panah ke arah mahluk berbentuk ajaib,  syetan.

Bahkan potongan-potongan patung kepala mirip yang sering ada di candi dan pura Budha dan Hindupun banyak dipajang di museum ini. Jelas, tempat ini bukan tempat yang tepat untuk belajar tentang Islam yang benar. Sama dengan tidak benarnya melihat Islam hanya dari pemeluknya, terutama bila pemeluk tersebut tidak mengerti ajarannya sendiri.

Namun bagi orang yang mau berpikir jernih, bagaimanapun keberadaan departemen baru ini pasti akan membuka mata mereka, bahwa  Islam sangat patut untuk dipelajari.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(QS.Al-Alaq(96):1-5).

Wallahu’alam bi shawwab.

Paris, 24 November 2012.

Vien AM.

http://haluanpalestin.haluan.org.my

Seorang jurnalis dan pengarang yang berasal dari Belgium, Michel Collon, mengecam media Eropah kerana sikap mereka yang telah berabad-abad berbohong kepada masyarakat awam semata-mata untuk memberi sokongan kepada negara haram Israel. Melalui buku beliau yang bertajuk Israel, let’s talk about it, Collon telah menyenaraikan “10 pembohongan besar” yang telah disebarkan oleh media Barat bagi “menjustifikasi kewujudan dan tindakan-tindakan kejam rejim Zionis Israel”.

Berikut adalah pembohongan-pembohongan yang dimaksudkan:

1. Pembohongan pertama adalah bahawa negara haram Israel tertubuh sebagai reaksi kepada pembunuhan beramai-ramai kaum Yahudi ketika peperangan dunia kedua. Dakwaan ini sangat tidak betul, kerana penubuhan Israel pada hakikatnya adalah sebuah perancangan tirani yang kejam dan otokratik, yang telah dipersetujui oleh Kongres Zionis yang pertama di Basel, Switzerland pada tahun 1897. Dari sinilah puak-puak nasionalis Yahudi memutuskan untuk menakluk dan menzalimi Palestin.

2. Justifikasi kedua bagi mereka mendirikan negara haram Israel adalah bahawa kaum Yahudi kembali ke bumi nenek moyang mereka, dari mana mereka telah dihalau pada tahun 70 A.D. Ini hanyalah satu cerita dongeng! Collon telah berbincang dengan beberapa orang tokoh sejarah Israel, termasuklah Shlomo Sand, dan mereka semua percaya bahawa tidak pernah berlaku pemindahan beramai-ramai kaum Yahudi. Jadi “kembali ke bumi asal” adalah suatu yang tidak benar. Mereka yang menetap di Palestin pada zaman lampau tidak pernah meninggalkan bumi itu.

Malahan keturunan Yahudi yang berasal dari Palestin adalah mereka yang sekarang ini tinggal di Palestin. Mereka yang mendakwa untuk kembali ke bumi Palestin adalah sebenarnya berasal daripada Barat, Eropah Timur dan Afrika Utara.

Shlomo Sand menegaskan bahawa tidak pernah wujud sebuah negara Yahudi. Malahan, puak-puak Yahudi tidak pernah mempunyai persamaan dalam sejarah, bahasa mahupun budaya. Satu-satunya perkara yang mempunyai persamaan antara mereka adalah agama, dan agama tidak membentuk sebuah negara.

3. Pembohongan ketiga adalah bahawa ketika pendatang-pendatang Yahudi memasuki dan menduduki Palestin, bumi tersebut merupakan sebuah negara yang “kosong’ dan tidak diduduki. Sesungguhnya terdapat dokumen-dokumen dan bukti-bukti yang mengesahkan terdapat transaksi mengekspot barangan pertanian daripada Palestin ke negara-negara luar, termasuk Perancis, dalam abad ke sembilan belas.

4. Keempat, ada pihak yang mendakwa bahawa rakyat Palestin meninggalkan negara mereka secara sukarela. Ini adalah satu lagi pembohongan besar yang dipercayai ramai, termasuklah Collon sendiri, sehinggalah tokoh-tokoh sejarah Israel seperti Benny Morris dan Ilan Pappe menyatakan bahawa warga Palestin telah dihalau dan dihapuskan dari tanahair mereka melalui kekerasan, jenayah dan kekejaman.

5. Dikatakan bahawa negara Zionis Israel yang wujud hari ini adalah satu-satunya negara yang mengamalkan demokrasi di Timur Tengah, jadi negara itu harus dilindungi kerana ianya adalah sebuah negara yang menegakkan undang-undang.

Tetapi menurut Collon, bukan sahaja Israel sebuah negara yang tidak menegakkan undang-undang, malahan Israel juga adalah satu-satunya negara yang tidak mempunyai undang-undang yang dapat menjelaskan di mana wilayah dan sempadan negaranya.

Semua negara di dunia ini mempunyai undang-undang atau konstitusi yang memberi denifisi jelas berkenaan wilayah dan sempadan negara mereka, tetapi perkara ini tidak pernah wujud bagi negara Israel. Israel hanyalah sebuah projek penaklukan yang berkembang tanpa mengenal sempadan, dan undang-undang yang ada bagi negara tersebut benar-benar berbentuk perkauman. Menurut undang-undang mereka, Israel adalah sebuah negara untuk Yahudi dan penduduk Israel yang bukan daripada keturunan Yahudi tidak diiktiraf sebagai manusia. Adakah undang-undang seperti ini membentuk sebuah demokrasi?

6. Amerika dikatakan cuba menegakkan demokrasi di Timur Tengah dengan membantu dan mempertahankan negara Israel. Kita semua maklum bahawa bantuan kewangan tahunan Amerika kepada Israel mencecah sehingga USD 3 bilion. Dana ini sebenarnya digunakan untuk menghancurkan negara-negara yang berjiran dengan Israel.

Amerika tidak pernah menegakkan demokrasi di Timur Tengah, mereka mungkin hanya membantu mengukuhkan pemerintah yang sedia ada dan penguasaan kekayaan minyak di wilayah tersebut.

7. Mereka mendakwa Amerika membantu usaha mencapai persetujuan dalam perjanjian antara Israel dan Palestin. Ini juga suatu yang tidak benar dan pembohongan. Mantan Ketua Polisi Luar Kesatuan Eropah, Javier Solana pernah menyebut bahawa Israel adalah negara yang ke-21 dalam Kesatuan Eropah. Industri pertahanan Eropah bekerjasama dengan industri pertahanan Israel dan malahan membantu mereka dari segi kewangan. Tetapi apabila rakyat Palestin memilih pemerintah kerajaan mereka, negara-negara Eropah tidak mahu mengiktirafnya dan membenarkan Israel menyerang dahsyat bumi Gaza.

8. Apabila seseorang bercakap tentang perkara-perkara seperti ini dan juga sejarah pergolakan Israel dan Palestin, apabila seseorang mendedahkan kepentingan Amerika terhadap isu ini, dia akan didakwa sebagai anti-semit untuk memberi tekanan supaya beliau menutup mulut.

Tetapi kita harus menyebut bahawa bilamana kita mengkritik Israel, itu bukanlah suatu bentuk perkauman atau anti-semitism. Kita mengkritik sebuah kerajaan yang tidak mengiktiraf persamaan antara pemganut-penganut Yahudi, Kristian dan Islam, dan seterusnya menghapuskan keharmonian di kalangan penganut-penganut agama yang berbeza.

9. Media massa juga mendakwa bahawa rakyat Palestin melakukan jenayah dan keganasan. Kita percaya bahawa penaklukan secara kejam yang dilakukan oleh tentera Israel adalah sebenarnya satu jenayah dan keganasan, begitu juga dengan polisi mereka merampas tanah dan rumah-rumah milik rakyat Palestin adalah satu keganasan yang nyata. Rakyat Palestin hanyalah mempertahankan hak dan bumi milik mereka daripada jenayah dan keganasan Israel.

10. Ramai yang mengatakan bahawa tidak ada langsung harapan untuk menyelesaikan konflik ini, dan tidak akan ada penyelesaikan terhadap kebencian yang terbentuk akibat aksi-aksi ganas Israel dan sekutunya.

Percayalah di sana ada satu penyelesaian. Salah satu perkaya yang dapat menghentikan konflik ini adalah dengan memberi tekanan terhadap Israel, Amerika, Eropah dan sekutu-sekutu mereka yang lain. Media massa perlu diberi tekanan supaya memberitakan apa yang benar dan menghentikan pembohongan.

Gunakan internet dan apa sahaja media yang ada bagi menyebarkan perkara yang sebenarnya berkenaan Palestin dan apa yang berlaku di sana.

Dicopi dari :
Paris, 19 November 2012.
Vien AM

7 bulan telah berlalu sejak peristiwa kontroversial Muhamnad Merah. François Hollande telah terpilih menjadi presiden Perancis menggantikan Nicolas Zarkozy yang diakhir pemerintannya makin memperlihatkan keberpihakannya pada Yahudi.

Tampaknya himbauan sekitar 700 ‘masjid’ di Perancis agar kaum Muslimin mengggunakan hak pilihnya  benar-benar didengar. Dan tentu saja, atas izin-Nya, Perancis telah memiliki pemimpin  baru yang diharapkan lebih ‘menjanjikan’’. Sekedar info,  Perancis saat ini memang dikabarkan telah memiliki  ribuan masjid. Namun sebenarnya masjid tersebut kalau di tanah air kita hanya patut disebut musholla atau langgar. Masjid sebagaimana masjid yang kita kenal dapat dihitung dengan jari tangan.

Contohnya adalah ‘masjid’ di jalan Myrha di Paris 18. Di sekitar masjid ini ada masjid lain yang berdiri tidak begitu berjauhan.  Sejak beberapa tahun belakangan, kedua masjid kecil ini tidak mampu memuat umat Islam yang ingin mendirikan kewajiban shalat Jumat. Akibatnya jamaahpun tumpah ruah ke jalan-jalan di antara dua masjid tersebut.

Ini yang akhirnya membuat pemerintah mengeluarkan larangan shalat di jalanan. Sebagai gantinya pemerintah menawarkan sebuah bekas gudang besar untuk digunakan shalat Jumat. Sayangnya, lokasi yang ditawarkan tersebut jauh dari tempat tinggal Muslim di daerah Paris 18 ini. Demikian pula, masjid Agung Paris atau Grande Mosquee de Paris yang terletak di Paris 5.

Tak dapat dipungkiri, perkembangan Islam di Perancis memang sangat pesat. Sama sekali tidak sebanding  dengan jumlah masjid yang ada. Masjid sebagai rumah ibadah jelas merupakan kebutuhan yang tak dapat diabaikan. Dengan alasan laicite, pemerintah tidak boleh memberikan bantuan keuangan untuk pembangunan peribadatan agama apapun. Untuk itu kaum Muslimin harus mencari dana sendiri.

Itu sebabnya, setiap Jumat selalu ada himbauan dari masjid agar kaum Muslimin mau mengulurkan tangan. Suami saya menceritakan, di ‘masjid tenda’ tempat ia biasa mendirikan shalat, selalu ada saja jamaah yang menginfakkan dana yang sangat besar untuk pembangunan masjid ini. Tidak tanggung-tanggung, 1000 euro per orang ! Subhanallah ..

Namun demikian, tetap saja membangun masjid bukan hal semudah membalik tangan. Ntah berapa banyak masjid yang tersendat-sendat penyelesaiannya meski dana sudah mencukupi. Grand Mosque di Toulouse adalah salah satu contohnya. Sejak 2 tahun lalu masjid ini sebenarnya tinggal menanti finishing setelah 5 tahun pembangunan yang tersendat-sendat.

Menurut seorang pemilik restoran Indonesia di kota tersebut,  penduduk setempat tidak mengizinkan adanya masjid di lingkungan mereka. Akibatnya masjidpun tetap dalam keadaan demikian. Tertutup bedeng tinggi menunggu dimakan rayap ! Padahal masjid itu dibangun tidak jauh dari lokasi masjid lama yang terselip di antara pemukiman. Sementara sekitar 2000 hingga 2500 jamaah Jumat mengantri untuk shalat di depan masjid kecil yang hanya mampu memuat 5 % dari jamaah tersebut.

Lain lagi halnya dengan Masjid Agung Strasburg. Masjid ini baru terealisasi setelah 20 tahun lamanya menjadi proyek dan wacana. Bulan September lalu masjid yang saat ini menjadi masjid terbesar di Perancis ini memperingati satu tahun hari jadinya. Hebatnya, Manuel Valls, mentri dalam negri dan kebudayaan Perancis, hadir dalam acara tersebut. Alhamdulillah …

Namun, lagi-lagi  FN ( Front Nasional) partai politik pimpinan ayah dan anak Mari dan Marine Le Pen, tokoh yang dikenal sangat memusuhi Islam, mencoba mengangkat dan mempermasalahkan sumber dana yang digunakan masjid tersebut. 25 % dana pembangunan masjid adalah hasil infak umat Islam setempat. Sedangkan sisanya adalah bantuan dari pemerintah Maroko, Arab Saudi dan Kuwait. Ini yang dijadikan masalah.

Menurut Marine, dana bantuan yang diterima dari luar negri adalah bentuk campur tangan dan tekanan terhadap negara. Apalagi dana bantuan tersebut digunakan untuk pembangunan rumah ibadah. « Ini adalah pengkhianatan terselubung terhadap prinsip negara yang sekuler », katanya. Namun Valls menolak pernyataan tersebut. « Marine Le Pen tidak berhak sesumbar mendifinisikan apa itu sekuler. Ini adalah provokasi”, ujar mentri dalam negri tersebut.

Bukan Marine Le Pen namanya kalau ia lalu surut menghadapi tanggapan negative sang mentri. Beberapa minggu kemudian, tersebar kabar bahwa masjid yang sedang dibangun di kota Poitiers  di duduki oleh sekelompok orang. Poitiers terletak di 340 km selatan Paris. Mudah ditebak, mereka adalah dari kelompok Le Pen.

Lebih mengesalkan lagi, orang-orang ini berdiri di atap masjid yang belum selesai dibangun itu sambil membentangkan spanduk raksasa bertuliskan « Charles Martel ».  Charles Martel adalah tokoh terkemuka Perancis, kakek  Charlemagne salah seorang raja Perancis,  yang dianggap sebagai pahlawan besar karena keberhasilannya menghentikan penyebaran Islam ke pelosok  Eropa, Perancis khususnya. Peristiwa pahit ini terjadi pada tahun 732 M.

 Baca : https://vienmuhadi.com/2010/06/06/menilik-jejak-islam-di-eropa-8-perancis-selatantenggara/ ).

Apa ini maksudnya?? Apakah mereka bermaksud mengulang “kemenangan” tokoh tersebut  mengusir kaum Muslimin dari negri ini ??  Astaghfirullah .. Bila saja mereka mengetahui nikmatnya Islam, pasti mereka akan menyesal, meratap sedih mengapa “pahlawan”mereka menolak kedatangan kebenaran, bahkan mengusirnya .

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; .. dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.  Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu)“.(QS. Fathir (35):15-16).

Terlihat jelas bahwa dendam kesumat masih bercokol di dada orang-orang yang mengaku bangsa maju dan beradab ini. Bayangkan, kemelut pertempuran ribuan tahun lalu masih saja  digenggam hingga detik ini.Lupakah mereka bahwa saat ini kita hidup di zaman demokrasi dimana orang bebas memilih agama. Abad modern dimana perjanjian antar Negara harus ditegakkan, dimana batas-batas Negara dan hukum tiap Negara harus dihormati. Abad dimana penjajahan dan perebutan wilayah suatu Negara adalah bentuk suatu kejahatan yang tidak dapat diampuni.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS. Al-Hujurat(49):13).

Sebenarnya tidak hanya itu saja. Bahkan mantan presiden AS George G Bush pun ternyata tetap menyimpan dendam Perang Salib yang terjadi di abad 10 – 11 lalu. Pernyataan ini, entah sengaja entah tidak, pernah diungkapkannya ketika ia masih menjabat orang no 1 negara adidaya ini. Jadi, mungkin saja, memang ada orang atau kelompok tertentu yang ingin agar rasa permusuhan di antara kaum Muslimin dan Nasrani itu tetap tumbuh subur.

Padahal demi terjaganya perdamaian dunia adalah alasan utama didirikannya PBB. Meski pada kenyataannya Israel yang selama puluhan tahun  menduduki tanah Palestina tetap saja bisa ongkang-ongkang kaki. Bahkan Barat tampak jelas mendukungnya. Ironisnya lagi, Barat yang katanya berpikiran pintar dan modern, dengan tenangnya mengeroyok Afganistan dan Irak, apapun alasannya.

Belum selesai dengan FN, ada lagi masalah lain. Adalah Jean-François Copé, calon presiden dari UMP. Beberapa waktu lalu, pada suatu pertemuan  resmi tiba-tiba ia berolok-olok tentang seorang anak muda yang bakal dirampas rotinya oleh sekelompok preman dengan alasan Ramadhan tidak boleh makan !  Apa maksudnya ?? Peristiwa yang di kemudian hari dikenal dengan nama « Pain au Chocolat » karena roti yang diceritakan dirampas itu adalah pain au chocolat, roti coklat yang populer di negri ini, tentu saja memancing reaksi di sana sini.

Untuk itu, CCIF, sebuah organisasi yang dibentuk pada tahun 2003 dan bertujuan khusus melawan Islamophobia, istilah untuk rasa takut terhadap Islam, menggelar operasi yang diberi nama « Pain au Chocolate pour tous ». Pada acara ini puluhan anggota CCIF membagi-bagikan lebih dari 400 roti coklat lezat kepada para pejalan kaki yang baru saja turun dari kereta api. Acara ini digelar di pelataran stasiun St Lazare yang setiap hari dibanjiri ribuan penumpang yang datang dan pergi dari berbagai daerah satelit kota Paris.

Acara di bulan Oktober yang ditujukan utamanya untuk menanggapi pernyataan konyol Copé diatas secara santai, juga dimaksudkan untuk sosialisasi tentang manisnya Islam. Jadi selain membagi-bagikan roti secara gratis, para anggota CCIF dan simpatisannya ini juga membuka konsultasi untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar Islam. Sebuah upaya yang patut diacungi jempol.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 10 November 2012.

Vien AM