Feeds:
Posts
Comments

Buat saya pribadi, pengalaman paling menyedihkan ketika kita di negri minoritas Muslim adalah ketika Lebaran. Lebaran atau Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah sebulan lamanya kita berpuasa, mengendalikan hawa nafsu. Makan minum dan seks adalah diantara yang harus dijaga, meski hanya ketika siang hari saja.

Pada hari kemenangan ini Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk mendirikan shalat Ied sebanyak 2 rakaat, sebaiknya di lapangan terbuka. Di tanah air biasanya ritual ini diteruskan dengan acara silaturahmi. Bermaaf-maafan, ‘sungkeman’, berbincang dan ‘guyon’  melepas rindu sambil menyantap ketupat lebaran beserta kelengkapannya adalah sebuah kesempatan indah yang rasanya sulit untuk ditinggalkan begitu saja.

Bahkan tidak jarang, Lebaran adalah momen langka dimana seluruh anggota keluarga besar bisa berkumpul. Kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, anak, ponakan, cucu semua berbaur menjadi satu. Ini yang menjadi penyebab mengapa ‘tradisi’ pulkam alias pulang kampung menjadi suatu ‘keharusan’.

Meski beberapa kali para ulama mengingatkan bahwa acara kumpul-kumpul tersebut bukan bagian dari syariat tapi tetap saja ritual tersebut berjalan lancar tiap tahunnya.  Setiap menjelang lebaran kita bisa menyaksikan betapa berjuta-juta orang Indonesia rela bermacet-macet ria demi menjalani acara tahunan pulkam ini. Tidak hanya dari dan ke daerah namun juga yang tinggal jauh di negri seberangpun tak mau ketinggalan momen istimewa ini.

Nah, buat kita-kita yang dengan berbagai alasan tidak pulkam nih … Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun ada semacam perasaan ‘terlupakan’ .. L .. Itu sebabnya sebisa mungkin biasanya mereka-mereka ini berusaha menemukan suasana penggantinya. Kedutaan Besar biasanya adalah tempat berlabuhnya.

Begitu juga kami. Saya dan keluarga sempat mengalami hal ini beberapa kali. Beruntung kami tinggal di kota dimana kedutaan negri kita tercinta berkedudukan. Itulah Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI di Paris, Perancis.

Dua minggu sekali pihak KBRI mengadakan acara buka puasa bersama. Ta’jil seperti kolak, es cendol dll adalah menu yang bisa dibilang selalu hadir. Sementara shalat taraweh hanya diadakan pada setiap malam minggu. Namun bila mau kita dapat pergi ke Mosquee de Paris. Masjid terbesar di Paris ini menyelenggarakan shalat taraweh setiap hari. Juga beberapa masjid kecil di sekitar kota tersebut. Sayangnya, tausiyah diberikan dalam bahasa Arab. Harap maklum, sebagian besar jamaah masjid-masjid tersebut memang orang Arab atau keturunan Arab.

Beruntung KBRI menyelenggarakan shalat Ied. Meski shalat hanya diadakan di dalam ruang aula yang letaknya di bawah tanah. Sementara shalat yang diizinkan oleh pemerintah setempat hanya yang diselenggarakan di dalam lingkungan masjid, tidak di lapangan terbuka.

Yang menjadi masalah adalah anak-anak sekolah. Di negri paman Sarkozy ini tidak ada yang namanya libur Idul Fitri. Padahal negri yang mengaku diri berazaskan demokrasi dan ‘laic’ alias sekuler ini secara resmi merayakan sejumlah hari besar keagamaan termasuk beberapa hari besar Yahudi, tentu saja di luar hari-hari besar Kristen. Namun nyatanya tak satupun hari besar Islam yang diberi tempat dan penghormatan yang layak, meski jumlah Muslim jauh lebih banyak daripada penganut Yahudi. Akibatnya, anak-anak , juga para karyawan Muslim terpaksa harus meminta izin atau kalau perlu terpaksa bolos ketika akan mendirikan shalat Ied, shalat hari kemenangan yang hanya setahun sekali diselenggarakan itu.

Beruntung tahun ini, kami sekeluarga diberi keleluasaan untuk menekuni Ramadhan di tanah air. Alhamdulillah kami dapat mendirikan shalat taraweh di masjid setiap hari, kalau mau. Tetapi tak urung ternyata ada sedikit kekecewaan menyelinap di hati ini.

Di kampung halaman yang dirindukan ini, dimana sebagian besar penduduk adalah Muslim, shalat taraweh ternyata malah tidak seindah di negri non Muslim. Mengapa bisa begitu?

Pertama, brisik.

Ya, brisik. Di masjid Paris, nyaris tidak ada seorangpun berani berbicara bahkan berbisik-bisikpun tidak ketika tausiyah sedang diberikan. Semua orang terlihat memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan sang uztad. Malah, begitu nama Muhammad Rasulullah disebut, langsung gumaman shalawat terdengar khidmat diucapkan. Subhanallah .. Betapa indahnya …

Bagi saya, shalat di masjid–masjid Paris laksana shalat di tanah suci. Ini bukan hanya karena imamnya fasih berbahasa Arab namun juga suasananya. Benar-benar khusuk !  Dalam hati saya berpikir, apa ini karena mereka memahami bahasanya? Oh, alangkah beruntungnya kalau saja saya dapat memahami bahasa Arab. Bukankah kitab suci kitapun berbahasa Arab? Bukankah Rasulullah dan para sahabat yang membela mati-matian Islam juga orang Arab? Bahkan shalatpun haram membaca terjemahannya meski kita tidak paham, bukan ?

Yang juga membuat saya heran, kenapa di tanah air, orang, terutama para ibu, sering mengajak anak-anaknya yang masih kecil ke masjid tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu adab dan sopan santun di masjid. Anak-anak berteriak-teriak, bermain kejar-kejar bahkan diatas sajadah kita ! Ya Allah ..

Tentu saja ini tidak terjadi di semua masjid. Namun fenomena ini ada dan yang jelas ini saya alami sendiri.

Yang kedua, shaf-shaf yang kosong dan berjarak.

“ Sebaik-baik shaf pria adalah shaf terdepan dan seburuk-buruk shaf adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf perempuan adalah shaf terakhir dan seburuk-buruk shaf perempuan adalah yang terdepan”. 

Hadits diatas berlaku ketika tempat shalat antara kaum lelaki dan kaum perempuan tidak terdapat tirai pembatas. Jika ada, shaf terbaik kaum perempuan sama dengan kaum lelaki, yaitu shaf terdepan.

Namun meski setiap kali sebelum shalat dimulai imam mengumumkan agar barisan dirapikan, tetap saja para perempuan tidak bergeming dari kedudukan awalnya. Seolah pengumumam tersebut hanya berlaku untuk kaum lelaki. Beberapa kali saya mencoba mengingatkan untuk merapatkan shaf, nihil hasilnya. Dengan sajadahnya masing-masing yang berlebar kurang lebih 60 cm malah mungkin lebih, masing-masing bertahan di tempatnya yang satu sama lain berjauhan.

Sedihnya lagi, ini juga terjadi ketika shalat Ied. Shaf kosong tidak segera diisi. Jamaah yang baru datang lebih memilih tempat terdekat yang dicapai atau tempat teduh daripada jauh-jauh harus menyelinap dan mengisi shaf kosong. Meski seringkali dengan alasan shaf telah terisi tumpukan sandal jamaah.

” Yaah .. emang sandal ikut shalat apa? Kenapa bukannya bawa tas plastik atau menyembunyikannya  dibawah sajadah aja sih?”, pikir saya kesal.

Sungguh terbalik dengan apa yang terjadi di masjid Paris. Di sana, bahkan untuk duduk miring pada tahiyat akhirpun hampir mustahil. Bahu kami saling bersentuhan, persis seperti yang dianjurkan syariat. Tak ada sedikitpun lowongan bagi syaitan untuk menyelinap diantara kami dan mengganggu shalat kami.

Yang terakhir, salam yang mendahului imam.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Selesai shalat beliau menghadap kepada kami dan berkata : “Wahai sekalian manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku ketika ruku’, sujud, berdiri, dan salam. Karena aku dapat melihat kalian di hadapanku maupun di belakangku.” 

Hadits diatas jelas mengajarkan kita untuk tidak mendahului gerakan imam. Namun sering saya jumpai ‘tetangga’ saya sudah menoleh ke kiri sebelum imam selesai mengucap salam.  Padahal di masjid Paris, salam ini mampu membuat saya merinding haru. Secara serempak makmum mengucap salam agak keras sambil menoleh ke kanan dan kiri begitu imam usai mengucap salamnya yang kedua, bukan yang pertama. Dan karena salam diucapkan dengan agak keras saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh didoakan ‘tetangga’ dengan ikhlas bukan sekedar ritual.

Yaah, begitulah .. dibalik sebuah kesusahan pasti ada juga hikmahnya.

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS.Al-Insirah(94):6).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Agustus 2011.

Vien AM.

Mempelajari Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab sucinya saja. Mengapa demikian? Ada beberapa penyebab mengapa untuk mengenal ajaran Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab suci agama tersebut.

Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw melalui perantaraan malaikat Jibril as. Sebelum kitab ini Allah swt pernah menurunkan beberapa kitab kepada para rasul, diantaranya kitab Zabur kepada nabi Daud as, kitab Taurat kepada nabi Musa as dan kitab Injil kepada nabi Isa as. Kitab-kita tersebut diturunkan melalui malaikat yang sama, yaitu Jibril as.

Diantara kitab-kitab tersebut terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan. Persamaan yang mendasar adalah perintah untuk menyembah hanya kepada Allah swt. Sedangkan perbedaan mencolok terletak dari cara turunnya.

Al-Quran turun secara berangsur-angsur, yaitu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Ayat –ayat tersebut turun tidak dengan urutan seperti yang kita lihat saat ini. Malaikat  Jibrillah  yang memberitahukan langsung kepada Rasulullah bagaimana letak dan susunan ayat dalam surat harus diletakkan.

Perumpamaannya adalah seperti rak lemari kosong yang telah diberi sekat, no dan tanda. Kemudian Rasulullah tinggal memasukkan dan menyelipkannya sesuai no dan tanda yang tertera. Susunan Al-Quran yang seperti  ini sesuai dengan kitab yang ada disisi-Nya dan dijaga ketat oleh para malaikat, yaitu yang ada  di Lauh-Mahfuz.

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. (22 tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat-ayat Al-Quran turun begitu saja tanpa penyebab tetapi tidak jarang pula  diturunkan sebagai jawaban suatu permasalahan atau keadaan tertentu dan  bahkan ada yang turun atas pertanyaan pribadi. Ini yang menjadi penyebab utama  mengapa kitab suci ini tidak dapat dibaca layaknya kitab-kitab lain, yaitu dibaca berurut dari depan ke belakang lalu memahaminya secara tekstual.

Untuk dapat  memahami dengan baik apa yang dimaksud ayat-ayat Al-Quran diperlukan pemahaman latar belakang, keadaan dan  suasana ketika ayat turun disamping memahami bahasa Arab, arti secara bahasa maupun secara istilah, khususnya yang berlaku umum pada masa itu.

Itulah urgensi mengenal, mengetahui dan memahami  sejarah kehidupan  Muhammad saw, nabi yang mendapat kehormatan untuk menerima kitab suci ini. Itulah yang disebut Sirah Nabawiyah.

Muhammad saw adalah seorang hamba Allah yang sejak kecil bahkan calon ayah ibunyapun telah dipersiapkan secara matang oleh Sang Khalik. Beliau adalah seorang hamba pilihan yang telah ditunjuk secara terhormat untuk mengemban tugas maha berat, yaitu menerima wahyu Allah dan kemudian menyampaikannya kepada umat manusia.  Yang tak lama setelah menunaikan misi suci tersebut dengan sangat memuaskan maka Allahpun memanggilnya. Subhanallah …

Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah inilah kita dapat mengetahui makna sebenarnya perintah dan maksud ayat-ayat suci al-Quran. Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah kita dapat mengetahui bagaimana Rasulullah memahami dan merespons perintah-perintah Tuhannya. Uniknya, kadang perintah tersebut direspons Rasulullah tidak secara kontekstual. Contohnya  adalah cara berwudhu.

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,… ”. (QS Al-Maidah (5): 6).

Dalam prakteknya Rasulullah menyempurnakan wudhu dengan membasuh tapak tangan, berkumur, memasukkan dan megeluarkan air dari hidung serta membasuk kedua telinga. Dan Allah swt  tidak melarang hal tersebut. Artinya Sang Khalik meridhoi apa yang dilakukan nabi.

Jadi selama Allah swt  mendiamkan dan tidak menegur apa yang dilakukan Rasulullah, wajib kita mencontohnya.

Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS.An-Nisa(4):80).

Dari sini tampak jelas bahwa  untuk memahami  Al-Quran tidak cukup hanya dengan sekedar membacanya kemudian mengartikan dan  menafsirkannya sesuai pengetahuan dan pengertian akal kita.

Para sahabat yang ketika itu sedang berada di sisi Rasulullah adalah saksi turunnya ayat-ayat. Mereka tahu persis bunyi ayat yang turun karena Rasulullah memang selalu langsung menyampaikan apa yang diterimanya itu. Beliau bahkan memerintahkan mereka untuk segera menghafalnya. Meski demikian dalam penerapannya  mereka tetap mengerjakan apa yang dicontohkan junjungan mereka itu.

Sebaliknya, bila dalam perjalanannya ternyata ada sejumlah perbedaan penafsiran, ini harus dimaklumi. Karena Rasulullah pada awalnya memang  melarang  menuliskan apa yang dikatakan, dikerjakan dan diamnya Rasulullah  karena khawatir bercampur dengan ayat-ayat Al-Quran itu sendiri.

Namun Rasulullah  tetap memerintahkan  para sahabat agar mengingat, mencatat dalam  hati dan kemudian meneruskan serta menyampaikannya kepada yang lain. Yang juga harus diingat, ada saat-saat dalam  keadaan dan situasi tertentu dimana  Rasulullah menyikapinya dengan sikap dan cara berbeda.

Ini yang menjadi penyebab menambahnya perbedaan hadits. Beruntung beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah, sejumlah sahabat dan  para  tabi’in segera memutuskan untuk menuliskannya. Ini dilakukan  demi menjaga agar hadist tetap terjaga ( dengan bermacam perbedaannya) dan tidak makin sering dipalsukan baik sengaja maupun tidak.

Tampaknya ini sudah menjadi sunatullah. Perbedaan selama bukan mengenai hal-hal yang pokok dan masih mengikuti apa yang pernah dicontohkan Rasulullah tetap dibenarkan. Kita tidak boleh saling merasa bahwa kitalah yang benar dan pihak lain salah.

Perbedaan pendapat (di kalangan) umatku adalah rahmat”.(HR. Al-Baihaqi).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549

Sebaliknya orang  yang suka mencari-cari perbedaan secara sengaja, diantaranya dengan mentakwilkan ayat-ayat Mutasyabihat, Allah melaknatmya. Tempat mereka adalah neraka jahanam. ( Ayat  Mutasyabihat adalah  ayat-ayat yang samar, yang seringkali  membutuhkan pemikiran yang bahkan seringkali memang tidak dapat ditakwilkan. Contohnya adalah “Mim”, “ Nuun”, “ Alif Laam Miim” ) dan yang semacamnya.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah”.(QS.Ali Imran(3):7).

Rasulullah saw telah lama meninggalkan kita. Demikian pula para sahabat dan para tabi’in beserta generasinya. Allah swt memerintahkan umat Islam tidak hanya mematuhi Allah dan rasul-Nya namun juga para ulil amri atau pemimpin yang menjunjung tinggi ayat-ayat-Nya. Demi mencegah perpecahan dan  memberi  manfaat yang banyak bagi umat, mereka diberi keleluasaan memaknai ayat-ayat suci Al-Quran  dan hadits. Inilah ijma dan istihad yang bisa menjadi rujukan umat.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS.An-Nisa’(4)59).

Adalah tugas kita, umat Islam, saat ini,  untuk menjaga kesucian dan keutuhan Al-Quran, isi dan maknanya. Para hafidz adalah garda terdepannya. Sementara kaum Muslimin dan Muslimat, secara keseluruhan, wajib menjaganya minimal dengan mengetahui bagaimana Rasulullah menyikapi dan memaknai isi Al-Quran tersebut. Inilah urgensi mengenal Sirah Nabawiyah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Agustus 2011.

Vien AM.

Tak sampai satu minggu lagi bulan suci Ramadhan yang dinanti-nanti kaum Muslimin akan tiba. Bagi yang benar-benar memahami arti keberkahan dan kesucian bulan dimana ayat Al-Quran pertama kali diturunkan ini, tentu telah memikirkan dan mempersiapkan apa kira-kira yang akan dilakukannya.

Sebagai perbandingan. Karena kebetulan suami saya saat ini sedang mendapat kesempatan ‘mengais ‘ rezeki di Paris, Perancis, maka sayapun mendapat kesempatan untuk menyaksikan ‘pesta diskon’ di kota ini. Tampaknya sudah menjadi kesepakatan antar Negara Eropa bahwa di benua ini ‘sale’ dilakukan setahun 2 kali., yaitu di awal musim panas dan di musim dingin.

Kesempatan emas ini tentu saja tidak disia-siakan penduduknya. Malah saya dengar ada saja sejumlah orang yang berbelanja khusus hanya pada saat-saat tersebut. Tidak mengherankan karena ‘sale’ yang dilakukan memang benar-benar dengan harga miring. Bahkan di sejumlah butik terkenal, orang rela antri berjam-jam sejak subuh, sekalipun di musim salju! Kabarnya, biasanya mereka sudah ‘mengincar’ barang yang disukainya itu berbulan-bulan sebelumnya.

Lalu apa hubungan pesta diskon alias obral di Negara-negara tersebut dengan bulan Ramadhan ? Bulan Ramadhan adalah bulan obral yang ditawarkan Sang Khalik. Obral apa? Obral pahala ! Di bulan yang suci ini sebenarnya Allah swt bukan hanya sekedar memerintahkan umat Muslim untuk berpuasa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. … … ”.(QS.Al-Baqarah(2):183-184).

Ayat di atas memerintahkan kita berpuasa agar kita menjadi manusia yang bertakwa. Artinya puasa yang bukan sekedar menahan lapar dan haus. Melainkan mengisinya dengan berbagai hal yang dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik agar Ia meridhoi setiap jengkal derap langkah kita. Memperbanyak zakat, infak dan sedekah, mengerjakan shalat-shalat sunnah seperti shalat rawatib ( qobla’ dan ba’da shalat wajib), shalat malam, membaca, memahami, menghafal dan mempraktekkan ayat-ayat suci Al-Quran adalah diantaranya. Istimewanya, semua amal kebaikan tersebut diganjar dengan pahala yang berlipat ganda ! Subhanallah ..

Jadi sungguh betapa ruginya bila kita tidak memanfaatkan kesempatan emas ini. Jika orang mau bersusah payah mengantri sejak subuh di musim dingin yang menggigit demi mendapatkan kesenangan duniawinya yang hanya sesaat saja, mengapa untuk kebahagiaan yang lebih abadi kita tidak mau ??

Dari Salman Al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain”.

“ Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun ».

“ Kami berkata : »Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa ? ». Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka”. (HR Al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani).

Di bulan Ramadhan yang agung ini pula untuk kali pertama Allah menurunkan Al-Qur’anul Al-Karim, Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS.Al-Qodar(97):1).

(ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (QS.Ibrahim(14):1).

“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan di dalamnya Al-Qur’an membawa petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk tersebut dan membawa Al-Furqan (pembeda antara yang hak dan yang bathil)”. (QS.Al-Baqarah(2):185).

Tak dapat disangkal lagi, betapa tingginya kedudukan Al-Quran disisi Allah. Allah berjanji bahwa kitab suci ini akan senantiasa terjaga baik kesucian maupun kemurniannya hingga akhir zaman nanti. Yang lebih menakjubkan lagi, bukan hanya para malaikat saja yang diberi kehormatan untuk menjaganya. Namun juga manusia ! Itulah para hafiz.

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang akan runtuh “.(HR Tirmizi).

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah(kehormatan), Al-Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan“.(HR Tirmizi).

Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” (HR. Al Hakim dan Ahmad).

Begitulah Allah swt membalas jerih payah para penghafal Al-Quran. Tak satupun kitab di dunia ini yang dihafal oleh begitu banyak manusia, persis dalam urutannya tepat pula panjang pendeknya ! Kedudukan para hafiz ini sangat tinggi di sisi Allah. Juga di sisi manusia. Mengapa ? Karena mereka adalah pasukan khusus penjaga kitab suci yang menjadi pegangan dan panutan umat Islam di seluruh pelosok penjuru bumi ini, hingga akhir zaman nanti.

Berkat para hafiz inilah, dengan izin Sang Khalik, detik ini kita dapat membaca, mengkaji dan mempraktekkan isi Al-Quranul Karim. Subhanallah …Ya Allah, sungguh pantas balasan yang Kau janjikan bagi mereka itu.

Dari Imam Syafi’i, aku mengeluhkan buruknya hafalanku. ” Jauhilah maksiat”, pesan guruku. ” Karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah bukan untuk pelaku dosa”.

Ramadhan adalah bulan suci dimana Allah memenjarakan syaitan dan bala tentaranya hingga ia jauh dari kita. Ini adalah kesempatan untuk menjauhi segala macam maksiat. Ya Allah, jadikan bulan Ramadhan kali ini sebagai penyemangat untuk menghafal ayat-ayat-Mu. Ya Allah, beri hamba dan anak cucu hamba kemampuan dan kemauan untuk mencontoh para hafiz.  Beri pula hamba ini kemampuan untuk menahan godaan ‘pesta diskon’ berbagai produk kebutuhan duniawi yang berpotensi membuat kami silau dan menjauh dari-Mu. Amiin .. amiin .. amiin ya robbal ‘alamin ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 27 Juli 2011.

Vien AM.

“ Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. ” (QS.AlMudatsir(76(4).

Ayat di atas turun pada awal masa kenabian, memerintahkan Rasulullah agar segera menyampaikan peringatan-Nya kepada kaumnya. Rasulullah diperintahkan agar membersihkan pakaian (diri) terlebih dahulu. Artinya, kebersihan adalah hal yang sangat utama dan penting, baik itu kebersihan hati, diri maupun lingkungan.

Kita juga tentu tahu, bagaimana Allah swt memerintahkan umat Islam untuk membersihkan dan mensucikan diri terlebih dahulu sebelum menemui-Nya, yaitu berwudhu sebelum shalat. Meski suci disini tidak sama dengan suci dan bersih berdasarkan pendapat umum. Karena sesuatu yang bersih belum tentu suci menurut Islam. 

Contoh paling jelas adalah tayamum, yang merupakan pengganti wudhu. Tayamum dilakukan ketika air sulit ditemukan. Tayamum dilakukan dengan menepukkan debu ke tangan dan wajah. Sungguh aneh bukan, bagaimana mungkin debu dapat menggantikan air? Dapatkah debu membersihkan kotoran ??

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS Al-Maidah (5): 6).

Ternyata jawabannya dapat ! Belakangan ini Ilmu Pengetahuan dan Sains membuktikan bahwa debu mampu mengangkat kotoran yaitu kotoran ‘elektron’ yang menempel pada tubuh kita. Untuk diketahui, kotoran jenis ini berpotensi mengganggu keseimbangan tubuh. Inilah yang dimaksudkan-Nya demi ‘menyempurnakan’ nikmat-Nya. Subhanalllah !

( baca : https://vienmuhadi.com/2011/07/12/hikmah-dibalik-tayamum/ ).

Temuan tersebut juga berhasil memberikan jawaban mengapa perintah wudhu ( dengan air) itu  cukup hanya dengan membasuhnya, bukan menyiram apalagi sampai menggunakan sabun. Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa suci yang selama ini biasa diartikan sebagai bersih dari hadats/kotoran ternyata juga bersih dari kotoran’elektron’.  

Begitu pula dengan pepatah “Kebersihan Sebagian Dari Iman” yang sering dianggap sebagai hadits. Karena yang tepat Rasulullah bersabda “ Bersuci Adalah Sebagian Dari Iman”.

 “Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi)

Hadits diatas jelas mencerminkan betapa Allah swt mencintai kebersihan. Bahkan saking pentingnya Ia merasa perlu menyebutkan “ bersihkan halaman rumah”. Maka bila halaman rumah saja harus bersih apalagi bagian dalam rumahnya …

Ironisnya, dalam kehidupan keseharian kita di negri yang mayoritas penduduknya mengaku Muslim ini, kebersihan tampaknya hanyalah sebuah isapan jempol belaka. Ini tercermin dari toilet-toilet umum yang sebagian besar terlihat jorok, kotor dan bau. Bahkan mukena, pakaian Muslimah yang biasa digunakan untuk menghadap-Nya, yang tersedia di masjid-masjid, sering terlihat kotor dan apek !

Tidak jarang pula lingkungan sekolah, pesantren dan masjid  yang notabene adalah tempat  orang berilmupun keadaannya setali tiga uang alias sama kotor dan joroknya dengan tempat umum.  Lupakah umat Islam bahwa tempat yang kotor dan jorok adalah tempat yang paling disukai jin dan syaitan, musuh terbesar manusia ?

Begitupun berbagai bencana dan malapetaka seperti banjir misalnya, yang seringkali terjadi akibat tidak terjaganya kebersihan. Ini terjadi karena orang membuang sampah di bantaran sungai. Hingga akhirnya sungai menjadi dangkal dan tidak mampu menampung air yang melimpah ketika hujan datang.

Ataupun bebagai jenis penyakit yang timbul karena orang tidak menjaga kebersihan. Misalnya tidak mencuci tangan sebelum makan, tidak menutup atau membungkus makanan dengan cukup baik hingga lalatpun datang mencicipinya. Atau meludah dan buang air sembarangan, tidak disiram pula ..  hingga kumanpun bebas berkembang biak.

Lalu kapan Islam akan kembali mencapai puncaknya bila untuk menjaga kebersihan saja  tidak mampu atau tidak mau ??? Bagaimana  kita bisa berharap pertolongan Allah akan datang bila sifat dan keinginan-Nya saja kita tidak tahu ?

” Allah Ta’ala adalah bersih dan mencintai kebersihan”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Juli 2011.

Vien AM. 

Hikmah dibalik Tayamum

Assalaamu’alaikum, wr, wb.

Teman saya bertanya kepada saya, “Kamu sering kesetrum listrik statis waktu memegang handle pintu kantor kita?”

Saya jawab, “Iya, betul sekali. Tetapi hanya waktu winter saja.”

Setiap musim winter tiba, saya memang sering merasa kesetrum ketika memegang handle pintu yang terbuat dari bahan logam seperti almunium.

Ia bertanya, “Tahukah kamu mengapa hal ini tidak terjadi di musim yang lain?”

Saya jawab, “Tidak tahu.”

Kata teman saya, “Karena udara sangat kering di musim winter.”

Saya tanya, “Kok bisa begitu?”

Jawab dia, “Karena molekul air yang mengembun di tubuh kita akan menetralkan listrik statis yang terakumulasi di tubuh kita. Di musim winter, udara sangat kering, sehingga tidak ada molekul air di permukaan kulit kita. Elektron yang terkumpul di tubuh kita, yang kebanyakan berasal dari gesekan jaket yang kita kenakan, akan terus terakumulasi. Dan begitu tangan kita menyentuh logam yang merupakan konduktor yang baik, elektron yang terakumulasi tadi langsung “meloncat” dari tubuh kita ke logam tsb.

Itu adalah fenomena “petir mini”, dan ujung jarimu yang merasa seperti tersambar petir. Hal ini mirip dengan fenomena penangkal petir. Di atas ada gumpalan uap air yang kaya akan elektron. Elektron elektron itu akan “meloncat” ke bumi melalui titik titik terdekat dengan awan dan bahan konduktor yang bagus.”

Saya terkesima, dan berujar, “Oooo, begitu ya, ceritanya.”

Ia pun dengan semangat meneruskan kuliahnya, “Jadi, kalau kamu tidak ingin tersambar petir mini alias kesetrum listrik statis, sebelum kau memegang handle pintu, basahilah dulu tanganmu dengan air. Atau, kalau tidak ada air, salurkanlah elektron di tubuhmu ke bumi dengan menebakkan tanganmu ke tanah atau tembok.”

Saya terperangah dengan kalimat terakhir itu. Saya terperanjat. Saya terkagum kagum. Saya bertakbir: Allahu Akbar!

Berpuluh puluh tahun saya bertanya tanya tentang tayamum sebagai pengganti wudhu, berpuluh puluh tahun naluri keingintahuan saya pendam. Hari ini, temanku yang notabene seorang atheis yang menjelaskannya dengan gamblang dengan teori listrik statis; sebuah ilmu sederhana yang sudah aku pelajari sejak bangku SD dan selalu kudapatkan pelajaran itu di jenjang sekolah berikutnya.

Dulu, saya mengira bahwa (satu satunya) hikmah berwudhu adalah membersihkan badan dari kotoran yang menempel di tubuh kita. Tetapi saya tidak habis fikir, bagaimana bisa wudhu diganti dengan tayammum yang dilakukan dengan membasuhkan debu ke wajah dan telapak tangan? Ternyata “kotoran” yang ada di dalam tubuh kita ternyata bukan hanya debu yang menempel ke tubuh kita.

Ada jenis “kotoran” yang tidak terlihat oleh mata, jauh lebih berbahaya bilatidak segera di”buang”. “Kotoran” itu bernama elektron, yang apabila terlalu banyak terakumulasi di tubuh kita bisa merusak keseimbangansistem elektrolit cairan di dalam tubuh kita.

Molekul molekul air H2O yang bersifat polar sangat mudah menyerap elektron-elektron yang terakumulasi di tubuh kita. Hanya dengan mengusapkan air ke permukaan kulit saja, maka “kotoran” elektron itu dengan mudah “terbuang” dari tubuh kita. Sekarang saya faham, mengapa Rasulullah SAW pernah “mandi besar” hanya dengan menggunakan air satu ciduk saja, kurang lebih satu liter saja.

Rupa rupanya yang dibutuhkan hanyalah membasahi seluruh permukaan tubuh dengan air, tanpa harus mengguyurnya; dan itu pulalah sebenarnya definisi syar’i wudhu dan mandi besar, hanya perlu membasuh saja, dan bukan mengguyur. Ternyata, hanya dengan membasuh kulit tubuh dengan air itulah kelebihan elektron di permukaan tubuh kita akan dinetralkan.

Dengan teori “kotoran” elektron listrik statis inilah akhirnya rahasia di balik tayamum sebagai pengganti wudhu menjadi terang benderang di mata saya; bahwa air yang dibasuhkan ke kulit tubuh akan menetralkan listrik statis di tubuh kita, dan penetralan itu bisa diganti dengan menebakkan tangan ke tanah dan mengusapkan debu wajah dan telapak tangan.

Pernah ada kisah seorang sahabat bergulung gulung di tanah karena ia harus mandi besar dan tidak ada air. Ia mengira, bahwa ia harus melumuri tubuhnya dengan debu, sebab ia beranalogi dengan wudhu dan tayamum. Kalau wudhu yang mengusap hanya wajah, kepala, tangan dan kaki difanti dengan tayamum yang mengusap wajah dan telapak tangan, maka mandi janabat yang harus membasuh seluruh tubuh diganti dengan tayamum seluruh tubuh.

Rasulullah pun menjelaskan bahwa tayamum untuk mandi janabah dilakukan sama persis dengan tayamum sebagai pengganti wudhu, yaitu cukup wajah dan telapak tangan saja.

Subhaanallaah. … Satu lagi Allah tunjukkan kepada saya bukti kebenaran Alqur’an sebagai wahyu Allah dan bukan karangan manusia:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS Al-Maidah (5):6).

Merasa mendapatkan “ilmu baru”, saya pun mengklarifikasi hal ini ke mbah Google. Rupa rupanya saya ketinggalan jaman. Ternyata literatur mengenai wudhu, tayamum dan listrik statis ini sudah berjibun jumlahnya. Inilah salah satunya:

http://fountainmaga zine.net/ article.php? ARTICLEID= 435

Untungnya saya melakukan literatur search kecil kecilan sebelum membagi pengalaman saya di atas. Jika tidak, bisa bisa saya mendapat gelar baru Plagiator!

Alaa kulli haal, above all, mudah mudahan sharing pengalaman saya ini bisa menambah keyakinan bagi rekan rekan semua akan kebenaran Alqur’an. Sukur-sukur ada yang bersedia menjelaskan lebih detail. Amin.

Wassalam,

Rois Fatoni

Dosen Teknik Kimia Univ. Muhammadiyah Surakarta

(Subhanallah .. sebelumnya mohon maaf tulisan diatas saya kutip tanpa izin, dengan keyakinan demi memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Juli 2011.

Vien AM.

Berbicara mengenai perempuan selalu mengundang banyak perhatian. Tidak dapat dipungkiri, mahluk yang satu ini memang sungguh menarik. Bila perempuan adalah perhiasan maka berlian adalah perumpamaan yang paling tepat baginya. Rasanya tak satupun jenis perhiasan yang dapat mengalahkan ketinggian nilai batu mulia ini.

Itu sebabnya tidak pernah ada cerita berlian di perjual-belikan sembarangan, di pinggir jalan. Toko berlian dapat dipastikan pasti berada di kawasan mewah dan dijaga satpam pula. Tidak cuma itu, berlian-berlian tersebut bahkan ditempatkan di dalam kaca yang terkunci ! Bila ada berlian yang dijual, diobral dan boleh di bolak balik oleh sembarangan calon pembeli, berlian tersebut patut dicurigai sebagai berlian palsu.

Begitulah  perumpamaan perempuan. Ia harus dijaga, dilindungi dan dirawat dengan hati-hati. Ia terlalu berharga dan mulia untuk dibiarkan terbuka, tercecer apalagi disentuh dan dicolek tangan-tangan jahil lelaki hidung belang yang bukan menjadi haknya.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Ahzab(33):59).

Perempuan, pada umumnya, baik fisik maupun hatinya adalah lemah lembut. Oleh itu, maka Sang Khalik menjadikan lelaki sebagai pelindung, pengayom sekaligus pendidiknya. Lelaki itu adalah lelaki yang secara resmi menjadi suami, ayah anak-anaknya, yang menyayangi, mencintai dan menanggung segala kebutuhannya, baik materi maupun spiritualnya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka …”(QS.An-Nisa’(4):34).

Sebaliknya, dibalik kelembutan seorang perempuan, sebenarnya tersimpan ketegaran yang jauh melebihi kaum lelaki. Gabungan sifat unik inilah yang menjadikan kaum perempuan sangat pas memegang peran sebagai ibu. Menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui anak adalah tugas khas perempuan yang tidak mungkin dapat digantikan kaum lelaki.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, .. “.(QS.Al-Ahqaf(46):15).

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Datang seseorang kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kpd siapakah aku hrs berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia berta lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut berta kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “[Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Itulah hukum dan aturan Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla yang ditujukan untuk kaum perempuan yang begitu disayangi-Nya. Sungguh beruntung bukan kaum perempuan ? Subhanallah ..

Sayangnya, dalam kenyataannya, yang terjadi seringkali adalah yang sebaliknya. Perempuan menjadi bulan-bulanan kaum lelaki yang tidak bertanggung-jawab. Perempuan berkeliaran tanpa menutup auratnya dengan baik. Sementara Barat dengan ringannya mengatakan Islam telah memasung kebebasan perempuan !

Padahal, bila kaum perempuan Muslim mencapai titik terendahnya hanya ‘baru’ beberapa puluh tahun belakangan ini maka perempuan Barat telah menerima  perlakuan buruk sejak ribuan tahun lalu! Tanpa mereka sendiri menyadarinya.

Perempuan, khususnya di semenanjung Arabia, terangkat dari keterpurukannya sejak tahun 600-an, yaitu dengan datangnya Islam. Perempuan di tanah tersebut sebelum lahirnya Islam adalah aib. Kehadiran perempuan dianggap hanya menjadi pemicu berbagai masalah. Itu sebabnya bayi-bayi perempuan sering dikubur hidup-hidup begitu mereka dilahirkan.

“ dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur  hidup-hidup, ditanya, karena dosa apa ia dibunuh ?“.(QS.At-Takwir(81):8-9).

Pada zaman dahulu, para lelaki hampir di seluruh pelosok dunia terbiasa hidup berpoligami, tanpa batas. Apalagi di kalangan kerajaan. Adalah hal biasa bahwa para raja dan penguasa memiliki istri yang sangat banyak, Bahkan seringkali tanpa ikatan perkawinan!

Para raja biasa menempatkan istri pertama sebagai permaisuri sedangkan istri-istri yang lain adalah selir. Kedudukan dan hak antara permaisuri dan selir jelas tidak sama. Demikian pula anak-anak mereka.

Inilah yang kemudian diatur ketika Islam datang. Boleh berpoligami asal tidak lebih dari 4 serta mampu memenuhi persyaratannya. Diantaranya adalah berbuat adil, baik kepada para istri maupun anak-anaknya. Tidak ada istilah permaisuri dan selir. Semua memiliki hak dan kedudukan yang sama.

Sebaliknya dengan Barat. Gereja masa lalu, lama beranggapan bahwa perempuan adalah mahluk jahat yang keberadaannya sangat membahayakan. Perempuan adalah penggoda iman.  Perempuan adalah ahli sihir. Itu sebabnya pada masa lalu, banyak perempuan yang harus mati di atas tiang kayu bakar.

Lalu bagaimana dengan citra perempuan Barat saat ini? Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sejumlah gereja di beberapa negri Eropa. Bahkan beberapa waktu lalu, saya juga mendapat kesempatan mengunjungi gedung walikota Paris dan melihat bagian dalam beberapa ruang pertemuannya.

Naúdzubillah min dzalik. Saya rasa itulah kata yang paling tepat untuk mengomentari apa yang saya saksikan. Persamaan mencolok pemandangan dalam gereja dan gedung walikota adalah gambar-gambar dan patung-patung  perempuan setengah telanjang!

Sungguh ironis. Rumah ibadah, tempat suci dimana umat beragama berusaha mensucikan diri demi ‘bertemu’Tuhannya, koq malah dikotori gambar-gambar dan patung perempuan telanjang, apapun dalih dan alasannya. Bahkan tidak sedikit juga lukisan dan patung tersebut benar-benar terlihat tidak senonoh !

Begitu juga gedung wali kota, dimana duduk para pimpinan terhormat sebuah negara/kota yang bertugas memutuskan berbagai masalah penting pemerintahan.  Ternyata dinding-dinding dan bahkan langit-langitnyapun dipenuhi lukisan perempuan setengah bugil.  “Ini gedung pemerintahan atau tempat hiburan atau bahkan pelacuran”, pikir saya, bingung.

Saya hanya bisa ‘bengong’ mendengar jawaban : “Kenapa tidak .. itu adalah gabungan keindahan antara perempuan dan suasana musim panas”. Begitulah jawaban yang saya terima ketika saya melontarkan keheranan saya atas salah satu lukisan  raksasa yang melukiskan danau dengan perempuan-perempuan yang sedang mandi di dalamnya.

Kalau lukisan dipajang di museum, mungkin masih bisa saya maklukmi. Ini di depan pintu masuk ruangan pertemuan gedung pemerintahan ! Yang lebih mengherankan lagi, jawaban itu dikeluarkan oleh seorang perempuan paruh baya pula. Olala .. L

Pikiran saya langsung melayang ke seorang pejabat tinggi negri pimpinan Sarkozy ini. Lelaki berkeluarga yang sudah tidak muda ini, kalau tidak mau dibilang ‘sepuh’ terjegal kasus pelecehan seksual di puncak karirnya. Ia dilaporkan seorang pelayan hotel dimana ia menginap bahwa ia telah memperkosanya. Selanjutnya ia bahkan diberitakan sering melakukan tindakan pelecehan terhadap pegawai-pegawai perempuan di kantornya. “Pantaaaass”,  batin saya lagi.

Ironisnya lagi, nilai-nilai Barat yang sering dianggap atau menganggap diri maju itu, saat ini justru ditiru dan didewakan negri-negri Muslim. Mengapa masyarakat Muslim dewasa ini begitu tidak percaya diri ya ??   Tidakkah kita menyadari bahwa sebagian perempuan Barat belakangan ini justru sudah mulai muak dan mencoba melirik Islam?

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 5 Juli 2010.

Vien AM.

Makan apa aja deh, g usah banyak pilih-pilih, udah siang ini, ntar sakit lho “, kata seorang ibu kepada ke dua putra-putri remajanya. Ketika itu mereka sedang berada di depan sebuah resto siap saji yang rupanya menjadi pilihan si remaja putri. 

Makan itu kan hak, bu .. apalagi makan enak, itu hak tubuh kita  “, jawab si sulung yang kelihatannya memang doyan makan dan kurang setuju dengan pilihan adiknya.

 “ Tapi ini makan wajib nak, udah hampir jam 3 ini. Kasihan dong perutnya”, bujuk ibu lagi.

Tak urung, percakapan ringan yang terjadi di depan saya siang itu ternyata cukup menjadi beban pikiran saya. Makan, kewajiban atau hak ya .. Orang hidup jelas butuh makan, pikir saya.  Tapi apakah hidup itu hanya untuk makan?? Ironis sekali ya kedengarannya .. Atau orang makan supaya hidup??

Hak dan kewajiban … hemm … Keduanya memiliki keterikatan yang sangat erat, bukan? Setahu saya, hak baru didapat ketika kewajiban ditunaikan. Artinya bila makan adalah hak, maka kewajibannya apa?

Yang jelas tubuh adalah bagian dari kehidupan. Sedang kehidupan datang dari Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla, Sang Pemilik Langit, Bumi dan segala isinya, termasuk manusia.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Al-Dzariyat(51):56).

Jadi, apapun tindakan kita selama di dunia ini mustinya harus selalu berorientasi kepada-Nya. Dan perbuatan tersebut senantiasa dalam pengawasan-Nya. Melalui ayat-ayat Al-Quran, kita juga diberitahu bahwa hidup adalah ujian yang pada saatnya harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan.

“ Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun ».(QS.Al-Mulk( 67):2-3).

Artinya kesehatan tubuh sebagai sarana fisik manusia adalah wajib dijaga, jika kita memang benar-benar ingin menjadi manusia terbaik. Untuk itulah tubuh memerlukan makan. Dengan kata lain, makan itu kewajiban.

Sebaliknya, bila kita berprinsip bahwa tubuh telah lelah bekerja, beramal kebaikan demi menunaikan kewajibannya maka makan adalah haknya ! Bahkan sekali-sekali makan enakpun masih boleh dibilang adalah haknya .. J

Jadi, benar juga si ibu tadi, makan itu ada 2 kategori. Makan yang sifatnya wajib dan makan yang merupakan hak. Saya jadi teringat sebuah pemikiran. Kata orang, orang modern atau orang maju adalah orang yang telah terpenuhi hak makannya. Karena hanya dengan perut kenyang atau minimal tidak kelaparan, artinya makan sebagai kewajiban, orang baru dapat berpikir ke hal-hal lain.

Contohnya adalah orang Barat. Makan bagi mereka sudah bukan lagi hal yang perlu dirisaukan. Bahkan bukan cuma makan kewajiban tapi juga makan sebagai hak. Itu sebabnya bila kita jalan-jalan di kota Paris, ( kebetulan saya dan keluarga memang sedang diberi kesempatan oleh-Nya untuk tinggal dan menikmati kota ini), akan kita lihat betapa resto di kota tersebut hampir selalu penuh. Terutama week-end, yaitu Sabtu dan Minggu.

Bahkan saya dengar, sebagian besar gaji dan penghasilan orang Perancis itu dihabiskan untuk makan ( enak ) !  Selain makan, berlibur ke luarkota/ negri tampaknya juga menjadi prioritas mereka.  Musium dengan berbagai sejarah yang dituangkan melalui lukisannya adalah tujuan utama mereka disamping keindahan alam dan wisata kulinernya, tentunya.  Sementara biaya pendidikan anak tidak perlu dirisaukan karena pemerintah yang menangani hal ini.

Sebaliknya dengan negara kita, yang sebagian besar penduduknya masih banyak yang kelaparan.  Makan bagi mereka adalah kewajiban. Mungkin itu sebabnya Negara kita ini tidak maju-maju juga. Karena ya itu tadi, bagaimana bisa berpikir ke hal lain kalau perut saja masih kelaparan … L ..  Meski, bagi Muslim sejati, kelaparan bukanlah alasan untuk menjadi tidak peduli dan mengabaikan urusan akhirat mereka.

“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqarah(2):155).

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.(QS.An-Nahl(16): 112).

Namun bagaimana dengan sebagian kecil bangsa Indonesia yang perutnya kenyang, tidurpun nyenyak? Mampukah orang-orang yang beruntung ini memikirkan hal-hal lain? Misalnya memikirkan saudara-saudara sebangsa setanah air yang hidup dalam kesusahan? Memikirkan masa depan akhiratnya dengan berbuat amal kebaikan sebanyak mungkin? Ataukah cukup seperti orang-orang Barat yang notabene sebagian memang tidak percaya adanya akhirat alias kafir itu, dengan menambah porsi menikmati lezatnya kehidupan duniawi, seperti memenuhi hak makan enaknya,  berlibur, berfoya-foya dan berbelanja barang-barang mewah  yang sebenarnya tidak begitu diperlukan ?

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,Yang (naik) sampai hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka”. (QS.Al-Humazah (104) :1-8).

Ironisnya, yang saya pernah dengar, gaya hidup berbelanja barang mewah orang kaya kita justru lebih ‘wah’dari pada orang Barat sendiri. Malah kalau mau jujur, sebenarnya kepedulian orang Barat terhadap orang kecil dan miskinpun jauh lebih baik dari rata-rata orang kita. Tidak ada perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin, antara sopir, tukang sampah, pelayan resto dan para esksekutif.

Kekurangan rata-rata orang Barat yang mendasar sebenarnya ‘hanya’ kesombongan mereka terhadap adanya Tuhan. Itulah kekafiran, yang dalam penilaian-Nya adalah fatal. Jadi, bagaimanapun sudah sepantasnya bila kita ini, bangsa Indonesia yang sebagian besarnya adalah Muslim, bersyukur. Sayangnya, syukur inilah yang dalam pengamalannya sering tidak tepat.

Hai anak Adam, pakailah pakainmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.(QS. Al-Araf(7):31).

“Tidaklah beriman seseorang bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan”.(Al-Adabul Mufrad no 112, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani).

Tiba-tiba saya teringat status FB seorang teman pagi tadi : “ Seorang nenek berusia 92 tahun di Jombang, ditemukan meninggal dalam keadaan kelaparan di tengah sawah ketika sedang berusaha mengais sisa gabah !”. Naudzubillah min dzalik .. Fenomena apa pula ini .. Sungguh mengenaskan .. L

Kembali ke masalah awal,  manakah jawaban yang benar dan tepat? Hidup untuk makan atau makan untuk hidup ??

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Juli 2011.

Vien AM.