Feeds:
Posts
Comments

Menjelang pukul 19.00 WIB kami memasuki kota Malang. Setelah sepintas mengelilingi kota, bernostalgia melewati sekolah dan rumah masa kecil dimana selama 2 tahun saya pernah tinggal, kamipun bersantap makan malam di sebuah restoran yang cukup dikenal di kota dingin tersebut. Selanjutnya kamipun beristirahat di sebuah hotel.

Esoknya, kembali kami berkeliling kota. Sekitar pukul 11 siang kami meninggalkan Malang untuk menuju Bromo, tujuan utama liburan kami. Perjalanan memakan waktu hampir 5 jam, termasuk makan siang. Kami tiba di lokasi Bromo, yang dinamakan Park Nasional Tengger-Bromo-Semeru pada pukul 4 sore.

Subhanallah .. hanya itu yang dapat kami katakan. Pemandangan kawasan gunung yang kami saksikan di depan mata kali ini tidak seperti umumnya pemandangan pegunungan yang biasanya hijau, teduh dan damai.  Gunung Bromo dan gunung Batok yang merupakan bagian dari pegunungan Tengger dengan gunung Semeru yang menjadi latar belakang pegunungan ini dikellingi lautan pasir seluas 5.250 hektar. Pasir hitam abu-abu kering terlihat beterbangan hingga mengotori jalanan bahkan halaman hotel tempat kami menginap. Yang saking tebalnya maka pengunjungpun terpaksa harus menutup hidung dan mulut dengan masker yang banyak dijual penduduk setempat.

Dengan demikian kesan pertama yang tertangkap, menurut saya pribadi, adalah keindahan misterius. Ditambah lagi dengan  gunung Bromo yang terlihat terus mengeluarkan asap tebal dari kawahnya serta bentuk gunung Batok yang terlihat kering bergerigi, kesannya adalah angker. Bayangan yang dipantulkan sore hari menjelang magrib tersebut terlihat begitu berbahaya dan mengancam. Sungguh terasa, betapa lemah dan tidak berartinya kita ini. Deretan perkasa gunung hitam kelam tak berpenghuni tersebut seolah berseru menantang “ Bersiaplah ! Bumi akan berguncang begitu Ia mencabutku ! “

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, …”(QS.An-Nahl(16):15).

Bromo, gunung api berketinggian 2.392 meter ini adalah gunung yang masih aktif dan cukup berbahaya. Gunung ini telah meletus beberapa kali, yang terakhir terjadi pada bulan November tahun 2010 yang baru lalu. Selama 3 bulan, hingga Januari 2011 kemarin, gunung ini memuntahkan isi perutnya.

Nama Bromo sendiri, berdasarkan beberapa sumber, diambil dari nama dewa tertinggi Hindu, yaitu Brahma, tuhannya pemeluk Hindu. Wilayah pegunungan ini, hingga detik ini, memang adalah rumah bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu.  Sementara nama Tengger sendiri memiliki legenda yang cukup menarik.

Hikayat, adalah Roro Anteng, seorang putri raja Majapahit yang cantik jelita. Kecantikannya amat termasyur hingga banyak ksatria gagah berani datang untuk melamarnya. Termasuk seorang raksasa. Karena tidak berani menolak, akhirnya sang putri mengajukan persyaratan. Yaitu agar sang raksasa membangun lautan di sekitar pegunungan Bromo, dalam satu malam!.

Namun menjelang matahari terbit, sang putri terkejut, mendapati bahwa lautan yang dimintanya itu nyaris terlaksana. Maka demi menggagalkan lamaran raksasa  yang menyeramkan itu, Roro Antengpun segera memerintahkan rakyatnya agar cepat bangun dan menumbuk padi. Mendengar padi ditumbuk maka ayampun berkokok, mengira matahari telah terbit.

Dengan demikan maka gagallah lamaran sang raksasa. Ia terpaksa  pergi dengan meninggalkan gunung Batok yang digunakannya sebagai gayung untuk mengambil air dari kawah gunung Bromo. Kawah gunung Bromo sendiri terlihat begitu lebar akibat airnya yang terus dikeruk. Sementara lautan pasir yang luas terlihat mengelilingi kawasan pegunungan tersebut.

Selanjutnya Rara Antengpun menikah dengan ksatria yang dicintainya. Yaitu Joko Seger, salah satu putra Brahma. Di kemudian hari keturunan pasangan berbahagia ini dinamakan Tengger, singkatan dari Roro AnTENG dan Joko SeGER.

Yang tak kalah menarik, masyarakat Tengger, hingga detik ini, masih suka menyelenggarakan upacara ritual tahunan. Ritual bernama Kasodo yang dikabarkan menjadi salah satu daya tarik turis tersebut diadakan pada setiap bulan purnama pada tanggal 14 dan 15 bulan ke sepuluh ( kasodo) kalender Jawa. Pada upacara itu mereka memohon antara lain panen yang berlimpah dan kesembuhan berbagai penyakit.

Upacara ini dimulai pada tengah malam dari pura yang terletak di tengah lautan pasir. Dari sini arak-arakan yang membawa berbagai sesajen tersebut berjalan menuju kawah Bromo. Selanjutnya sesajen yang berupa berbagai hasil sawah, ladang dan ternak seperti padi, sapi dll itu di lemparkan ke dalam kawah sebagai persembahan kepada Tuhan mereka.

Yang lebih menegangkan lagi, adalah adanya sebagian masyarakat Tengger yang harus menangkap apa yang dilemparkan ke dalam kawah tadi. Dengan menyusuri bibir kawah, mereka menuruninya dan berusaha meraih sesajen tadi. Padahal tidak jarang ada saja korban yang terjatuh ke dalam kawah yang masih mengepulkan asap panas itu.

Tampaknya, ritual melempar sesajen ala agama Hindu inilah yang hingga kini menjadi contoh dan ditiru oleh sebagian pemeluk Islam di beberapa gunung di pulau Jawa, contohnya gunung Merapi di Jawa Tengah. Sungguh ironis, bukan ?

Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’ (QS. Al-An’aam: 162-163).

Dalam sebuah hadits shahih, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selainNya.” (HR. Muslim).

Kurban yang diizinkan dalam Islam hanyalah menyembelih hewan kurban dalam rangka ketaatan kepada Allah swt, Sang Khalik.  Persis seperti apa yang pernah dicontohkan nabi Ibrahim as ketika akan menyembelih satu-satunya putra kesayangan beliau, nabi Ismail as. Selanjutnya, hasil sembelihan tersebut harus disalurkan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya. Pada hari raya kurban, kita boleh memakannya sebagian. Jadi kurban tidak boleh disia-siakan dengan di buang ( ke dalam kawah dsb ) atau dipersembahkan kepada sesembahan apapun.

Lagi pula, bila kita kembali kepada sejarah, masyarakat Tengger mulanya adalah penduduk kerajaan Majapahit Hindu yang kalah perang melawan Islam pada masa awal pembentukan kerajaan Islam, Demak. Mereka tidak mau menerima ajaran Islam dan memilih mengasingkan diri ke kawasan pegunungan ini. Sebagian lain memilih pulau Bali sebagai tempat tinggal.

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman”, dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS.Yunus(10):104-105).

Itulah tujuan utama dakwah Islam, yaitu memperkenalkan Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang Esa, yang tidak bersekutu, tidak beranak maupun diperanakan, yang menghidupkan dan mematikan manusia. Itulah Allah swt. Jadi alangkah ironisnya, bila ternyata ada manusia yang kemudian menolak ajakan ini. Namun tidak ada paksaan dalam beragama. Bukan Dia yang rugi, sebaliknya manusia itu sendiri yang mendzalimi dirinya.

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.  Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Yunus(10):106-107).

Tiba-tiba saya teringat kepada apa yang dikatakan para wali tentang ritual Jawa yang di’isi’ dengan semangat ke’Islam’an. ( pada bagian 1 artikel ini ). Percakapan itu terjadi 5 abad silam namun nyatanya hingga kini ritual tersebut masih saja terjadi. Sungguh, pasti para wali tersebut bakal amat sangat kecewa mengetahui hal ini .. L

“ Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.(QS.Al-Isra’(17):44)

Demikian pula gunung-gunung, mereka semua bertasbih kepada-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Libur, terutama bagi anak-anak pasti amat dinantikan kehadirannya. Karena dengan adanya  libur berarti mereka bisa santai, tidak perlu dikejar-kejar bangun pagi hari, pergi sekolah dan mengerjakan berbagai tugas sekolah.

Apalagi yang namanya liburan panjang, liburan Lebaran misalnya. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia liburan ini biasanya digunakan untuk pulang kampung, bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan keluarga besar. Tempat-tempat hiburan dan obyek wisatapun biasanya menjadi ramai bukan kepalang.

Demikian pula dengan kami sekeluarga. Beberapa hari setelah hari Raya Iedul Fitri kamipun pergi meninggalkan kota untuk berlibur ke Jawa Timur. Tujuan utama kami adalah gunung Bromo.

Dengan menumpang pesawat kami berempat menuju Surabaya. Dari airport kami langsung menuju pulau Madura untuk melihat jembatan yang menghubungkan ke dua pulau tersebut. Namun sebelumnya kami sempat menengok masjid Jami’ Sunan Ampel yang terkenal itu.

Masjid ini didirikan oleh Raden Ahmad Rahmatullah, nama asli Sunan Ampel, pada tahun 1481 M. Menurut supir sekaligus guide yang mendampingi kami, masjid yang terletak di tengah perkampungan Arab ini telah lama menjadi salah satu daya tarik wisata religius.

Masjid yang memiliki gaya arsitektur khas jawa ini hingga saat ini masih terlihat terawat dengan baik.  Bangunan ini sengaja dibangun dengan 5 pintu masuk dan diberi nama sesuai dengan rukun Islam. Yaitu pintu Syahadat, pintu Shalat, pintu Zakat, pintu Puasa dan pintu Haji.

Yang menarik, jalan menuju pintu Haji yang sengaja dibuat meniru Pasar Seng, di Mekah. Jadi memang tidak salah ketika saya berkomentar «  Koq serasa di Pasar Seng ya « , sebelum saya diberi tahu bahwa itu adalah Pintu Haji. J .. ada-ada saja .. Sayangnya,  Pasar Seng sekarang sudah dibongkar.

Sementara itu di sebelah Barat masjid berdiri kompleks pemakaman yang lumayan luas. Ternyata salah satu makam tersebut adalah makam sang pendiri masjid. Untuk memasuki wilayah yang dibatasi pagar besi ini para pengunjung diharuskan menanggalkan sandal/sepatu. Dari balik pagar ini tampak banyak orang sedang berkumpul dan berzikir bersama.

Tiba-tiba saya teringat pada sebuah artikel yang pernah saya baca beberapa waktu lalu. Ketika itu para wali sedang membahas bagaimana caranya mengajarkan Islam ke masyarakat Jawa yang waktu itu memang belum mengenal ajaran Islam. Sunan Kalijagapun  mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersesaji, seni wayang  dll yang sejak lama telah menjadi kebiasaan masyarakat dimasuki rasa ke-Islam-an saja.

“Apakah tidak mengkhawatirkan dikemudian hari ? Bahwa adat isitadat dan upacara-upacara lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sebab kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid’ah?”, tanggap Sunan Ampel terhadap usulan itu, ragu.

Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim).  Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”. 

Namun Sunan Kudus menjawab : “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, sebab menurut pelajaran agama Budha itu ada persamaannya dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong kepada fakir miskin. Adapun mengenai kekhawatiran tuan, saya mempunyai keyakinan bahwa dikemudian hari akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya”.

Pertanyaannya, sudahkah ada orang yang dimaksud Sunan Kalijaga tersebut??

Hal lain yang juga tak kalah menarik. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah putra raja kerajaan Islam Champa, yang merupakan keturunan bangsa Han/Tionghoa dan bangsa Samarkand di  Asia Tengah.

Sebuah pelajaran, bahwa Islam ternyata telah masuk daratan Cina sejak lama. Menurut catatan, delegasi pertama yang datang ke negri tirai bambu ini terjadi pada tahun ke 29 hijriyah. Utusan itu datang di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqash. Beliau diutus khalifah ke 3 Utsman bin Affan untuk menemui kaisar Cina, Yung Wei agar memeluk Islam. Namun demikian hubungan kedua negara besar ini sebelumnya telah terjalin erat yaitu melalui jalur perdagangan.

Sumber lain mengatakan bahwa  Sunan Ampel adalah masih turunan Imam Bukhari, ulama hadits dari Samarkand, yang sangat terkenal itu.  Champa sendiri adalah sebuah kerajaan di Kamboja. ( Sumber lain mengatakan Champa adalah suatu daerah di Aceh).

Sunan bernama asli  Raden Ahmad Rahmatullah ini, pergi ke ibu kota kerajaan Majapahit dalam rangka menjenguk saudarinya yang dinikahi raja Majapahit ketika itu. Selanjutnya saudarinya itu meminta agar Sunan Ampel mengajarkan anak-anaknya tentang akhak dan moral yang baik.

Maka atas izin sang raja, Sunan Ampelpun mengajarkan ajaran Islam yang dianutnya. Bahkan belakangan beliau mendapat izin untuk menyebarkan ajaran yang mulia ini kepada masyarakat Jawa yang ketika itu masih memeluk Hindu dan Budha.

Hasil didikan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo-Limo atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu: Main judi, Minum arak atau bermabuk-mabukkan, Mencuri, Madat atau menghisap madu dan Madon atau main perempuan yang bukan isterinya.

Jasa besar lain Sunan Ampel yang juga patut dicatat, beliau adalah pendiri kerajaan Islam Demak yang dipimpin raden Patah, menantu beliau.

Setelah melaksanakan shalat zuhur dan puas menikmati masjid legendaris ini kamipun melanjutkan perjalanan. Yaitu menyeberangi jembatan Suramadu menuju pulau Madura. Tidak ada yang istimewa di tempat ini kecuali jembatan yang menjadi penghubung antara 2 pulau ini memiliki jalur khusus sepeda motor. Sesuatu yang benar-benar jarang, saya rasa.

Selanjutnya kami langsung menuju Malang, dengan melalui Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Astaghfirullah .. Hanya itu yang dapat saya katakan. Lautan lumpur panas ini membentang luas di tepi jalan raya antara Surabaya dan Malang yang kami lalui. Setelah memarkir kendaraan kamipun menaiki tangga kayu sederhana setinggi kurang lebih 11 meter yang berdiri salah satu bagian tembok di sepanjang jalan raya tersebut. Tembok ini sengaja dibangun agar lautan lumpur tidak membanjiri jalanan.

Mulanya saya agak ragu naik. Karena sekelompok orang tampak berdiri di mulut tangga, menghalangi jalanan. Ternyata mereka adalah ‘penjaga’ lautan lumpur, yang secara ilegal, tentu saja, memungut bayaran tiap orang yang ingin melihat lokasi bencana. Tak urung tadinya mengomel juga mulut ini. «  Dasar orang Indonesia, bisa aja cari celah untuk dapetin uang. Ini sih judulnya berdiri di atas penderitaan orang lain ».

Namun setelah melihat lokasi dan bertemu sejumlah orang yang menjajakan video urutan kejadian bencana, luluh juga hati ini. Mungkin mereka adalah korban bencana yang telah kehilangan mata pencarian, pikir saya trenyuh.

Bayangkan, di dalam lautan lumpur setengah kering seluas 800 heltar dan berkedalaman 11 meter tersebut terkubur belasan desa padat penduduk, puluhan rumah ibadah dan beberapa pabrik yang menjadi tumpuan hidup masyarakat setempat. Sementara di kejauhan masih terlihat asap putih membumbung tinggi ke udara. Tampak bahwa ancaman semburan gas dan lumpur panas yang dimulai pada tahun 2006 itu belum bisa dihentikan.

« Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik ».(QS.Al-‘Araf(7):56).

Secara resmi pemerintah memang menetapkan bahwa apa yang terjadi di Porong adalah bencana nasional. Namun apapun alasannya, harus diakui bahwa bencana tersebut mulanya adalah kesalahan atau keteledoran manusia.

Suami saya bercerita, beberapa waktu setelah kejadian Porong, di suatu tempat di Amerika juga telah terjadi peristiwa yang mirip dengan bencana Porong. Namun dengan usaha yang disertai tehnologi dan dana yang demikian tinggi, akhirnya masalah tersebut dapat dengan cepat ditanggulangi. Tentu saja, dengan izin Yang Maha Kuasa.

Nasi telah menjadi bubur. Sesal kemudian tidak ada gunanya. Senang tidak senang, itulah ketetapan yang harus dihadapi. Inilah cobaan berat yang harus dihadapi bangsa ini, masyarakat Porong dan sekitarnya, khususnya. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46)

( Bersambung)

Paris, 29 September 2011.

Vien AM.

( sambungan)

Menurut beberapa sumber, sejak Juni lalu, kelompok Ekstrim Kanan Perancis terus melakukan aksi provokasi. Mereka mengorganisir pelemparan “saus dan anggur” di dekat masjid ketika saat shalat Jum’at berlangsung. Ironisnya, kejadian ini seolah dibiarkan oleh aparat.

Marine Le Pen, politisi Marseilles dari Front Nasional bahkan terang-terangan menuduh  perkembangan Islam di negrinya sebagai  “pendudukan (umat Islam)  atas Perancis tanpa tanks dan tentara” (“occupation without tanks or soldiers”).

Tidak seimbangnya antara jumlah masjid dan umatnya memang tidak hanya terjadi di ibu kota Perancis, namun juga di kota-kota besar lain, seperti Marseilles dan Nice. Di kedua kota  besar ini, jumlah Muslimin yang shalat Jumat di jalanan juga terlihat membludak. Harap maklum, 25 persen penduduk Marseilles adalah Muslim.

Yang lebih mengejutkan lagi, di dasari rasa penasaran yang tinggi, saya menemukan videoyoutube tentang fenomena yang sama dengan apa yang terjadi di Perancis. Tidak tanggung-tanggung, ini terjadi di Moskow, Rusia, sebuah negara komunis terbesar di dunia. Sungguh tak dinyana, kota yang selama ini tak sedikitpun terlintas dalam pikiran bahwa Muslim bisa berkembang di tempat ini, ternyata telah dipadati oleh 20 juta Muslim ! Sebagian besar berada di Rusia selatan, yaitu di Kaukasus dan Volga.

Moskow yang memiliki 3 masjid cukup megah, meski hanya berkapasitas 1000 jamaah, tak ayal lagi setiap Jumat harus kelabakan menghadapi penduduknya yang terpaksa memadati sejumlah jalan raya demi menemui Tuhannya. Subhanallah …

http://www.youtube.com/watch?v=Aihmte1DWvA&feature=related

Merinding bulu kuduk ini menyaksikan video di atas. Allahuakbar .. Maha benar firman-Nya, Ia tidak tidur dan tidak sedikitpun lengah. Tidak ada yang dapat menyaingi apalagi mengalahkan-Nya. Tak satupun yang mampu menghalangi cahaya-Nya.

Moskow, ibu kota Negara komunis dengan polisi dan aparatnya yang dikenal garang, angkuh dan dingin ternyata tidak mampu menghalangi perkembangan Islam. Dari video tersebut, tampak jelas bahwa sejak tahun 2008, umat Islam telah mampu menjalankan tidak saja shalat Jumat tetapi juga shalat Ied Fitri dan Iedul Adha, tanpa halangan. Bahkan tahun ini 500.000 jamaah shalat Iedul Fitri memenuhi jalanan.

Ironisnya, sejumlah video terang-terangan menunjukkan bahwa perkembangan Islam yang demikian pesat adalah ancaman besar bagi barat. Paris, Roma, London, Moskow juga Amerika Serikat diserukan agar extra hati-hati menghadapi fenomena ini. Dengan lancang mereka bahkan menyerukan bila negara-negara Barat tidak segera menghentikan kebijakan mereka dengan terus membiarkan imigran membanjiri negri mereka  maka yang terjadi adalah bencana, Astaghfirullah ..

http://www.youtube.com/watch?v=Jg7yTT9bkhg

Video diatas memperlihatkan dengan jelas bahwa pemeluk Islam Moskow bukan hanya imigran. Malah sebagian besar kelihatannya warga kulit putih.

“ Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):113).

“ …  Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk”.(QS.Al-Qur’an(13):33)

Rasanya kedua ayat di atas tepat sekali untuk menggambarkan keadaan sebagian besar orang barat saat ini. Karena mereka tidak mempercayai hari akhirat maka  bisikan syaitanpun masuk dengan mudah ke dalam dada mereka. Mereka mengira bahwa apa yang ada dalam pikiran mereka, ilmu dan akal mereka adalah yang benar.

Sungguh ironis, mereka merasa diri paling pintar, maju, demokrasi dll. Namun nyatanya akal mereka tidak sampai kepada yang ghaib. Bagi mereka segala yang ghaib itu adalah mustahil. Harus ada bukti empiris.

Padahal mereka menyadari bahwa alam semesta ini sungguh luas bahkan tak berbatas. Baru bumi dan bulannya plus beberapa planet saja yang berhasil mereka ketahui. Itupun tidak seluruh isi bumi, bukan? Merekapun mengakui bahwa bilangan itu tak terhingga. Ini terbukti dengan diciptakannya lambang angka tak terhingga.

Namun tetap saja mereka bersikukuh bahwa mereka mengetahui segalanya. Kebenaran adalah miliknya. Kebenaran siapa yang dimaksudnya benar ? Bukankah menyuruh mata sendiri berhenti berkedip saja kita tidak mampu?? Siapa sebenarnya pemilik diri, tanah yang kita tempati, bumi, langit dan alam semesta ini?

Siapa yang menghidupkan dan mematikan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan ? Yang mengatur hujan, siklus matahari dan bulan? Darimana datangnya perasaan cinta, senang, sedih, kecewa dll?

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumisesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Rata-rata orang Barat tidak percaya akan adanya Tuhan alias atheis. Mereka sebenarnya dapat merasakan adanya kekuatan lain yang tidak dapat mereka lawan. Namun mereka menyebutnya sebagai kekuatan alam, tidak lebih ! Tampaknya mereka tidak ingin pusing memikirkan hal-hal yang di luar kemampuannya.  Bagi mereka kematian adalah akhir segalanya. Itu sebabnya mereka tidak dapat mengerti mengapa orang harus beribadah, mengapa umat Islam harus shalat.

Yang mereka tahu, umat Islam itu mempunyai aturan dan hukum sendiri, yang berbeda dengan hukum mereka. Hukum yang menomor satukan Allah swt, sang Pencipta dan Rasul-Nya, bukan hukum orang barat maupun orang manapun. Inilah yang menjadi sumber ketakutan utama mereka.

“ Dan ta`atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”.(QS.Ali Imran(3) :132).

Sementara bagi pemeluk Nasrani, umat beragama terbesar barat, kekhawatiran mereka agak berbeda. Perlu diketahui, jumlah umat Nasrani yang mempraktekkan ajarannya dari hari ke hari makin menipis. Menurut surat kabar Katolik ‘La Croix’, 64 persen rakyat Perancis adalah Katolik. Namun berdasarakan polling yang mereka lakukan hanya 2.9 persen yang mempraktekkan ajaran. Sedangkan umat islam Perancis, 41 persen adalah pratiquant alias memprakekkan ajaran.

Begitu pula bila ditilik dari perkembangan tempat ibadahnya. Mohammed Moussaoui, Presiden Dewan Muslim Perancis, bulan lalu memperkirakan, saat ini ada 150 masjid baru yang sedang dibangun di seluruh negeri. Sebaliknya, 60 gereja telah secara resmi ditutup dan hanya 20 gereja baru dibangun selama dekade terakhir. Menurut La Croix, banyak bekas gereka yang ditutup itu sekarang menjadi masjid. Inilah yang menjadi sumber kekhawatiran dan ketakutan umat Nasrani.

Jadi, sungguh beralasan bila saat ini barat begitu ketakutan terhadap Islam. Berbagai cara mereka upayakan agar wajah Islam menjadi coreng-moreng. Mulai dari isu terorisme, jilbab dan burka yang dianggap melanggar kebebasan perempuan, masjid dan menaranya yang dianggap mengganggu ketentraman hingga yang terakhir shalat di jalanan adalah contohnya. Dengan dibungkus ‘laicite’ alias sekulerisme mereka berusaha melawan perkembangan agama yang diridhoi Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Itulah Islam, agama kedamaian. Tentu saja bila hati mereka bersih dan tidak buruk sangka.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS. Ali Imran(5):54).

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 20 September 2011.

Vien AM.

Satu setengah tahun setelah pemerintah Perancis berhasil meng-gol-kan larangan pemakaian burqa dengan denda hingga 150 euro atau sekitar Rp1,8 juta bagi pelanggarnya, kini larangan baru bagi kaum Muslimin kembali muncul. Kali ini adalah shalat di jalanan. Aturan ini berlaku sejak Jumat, 16 September yang baru lalu.

Padahal kebijakan mengenai larangan burka yang terdahulupun telah memancing reaksi negatif sejumlah pengamat Barat. Diantaranya Laurent Booth. Saudara perempuan istri mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair ini,  dalam wawancaranya dengan IRNA, menepis klaim para pejabat Perancis bahwa kaum perempuan yang mengenakan burka merupakan ancaman teror dan keamanan.

Dikatakannya, “Kaum perempuan berjilbab sebetulnya memang merupakan ancaman bagi negara-negara Barat. Namun ancamannya tidak dalam bentuk kekerasan seperti yang diklaim oleh para politisi Barat, melainkan karena busana Muslimah pada hakikatnya telah menyoal kebebasan kaum perempuan di Eropa dan Amerika.”

Adalah Claude Guéant. Menteri dalam negeri pimpinan Nicholas Sarkozy ini menilai bahwa perkembangan Islam yang terjadi di negrinya kini telah memasuki tahapan serius. Contohnya yaitu tadi, shalat di jalanan. Menurutnya perbuatan ini disamping mengganggu kenyamanan dan keamanan nasional juga dianggap sebagai isu sensitif yang menyakitkan hati. Karena keyakinan keberagamaan tidak untuk diperlihatkan kepada umum. Intinya, shalat di muka umum adalah bertentangan dengan prinsip laicite ( sekulerisme) yang dianut negri itu.

“Harus ada cara untuk menghentikan shalat berjamaah di jalanan, dan saya secara pribadi memprioritaskan penggunaan “kekuatan” dalam menjalankan ketentuan tersebut », tegas politikus yang dikenal anti Islam tersebut.

Padahal pada acara makan malam yang diselenggarakan sebuah institusi elit Yahudi yang dihadirinya pada bulan Juli lalu, ia menyatakan keinginannya agar hari besar Yahudi dicantumkan pada kalender nasional. Ia juga menginginkan agar pada hari itu tidak ada satupun ujian atau kegiatan belajar mengajar.

Sebaliknya, asal tahu saja, dengan alasan laicite pula, sejak dahulu tidak ada satupun hari besar Islam yang dicantumkan di kalender Perancis. Malah hari Jum’atpun, bagi sebagian besar sekolah adalah hari ujian.  Sebuah kebetulan ? Entahlah ..

” Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.Al-Jumu’ah(62):9).

Berdasarkan pegamatan, pelaksanaan shalat berjamaah, terutama shalat Jumat di jalanan, sejak 10 tahun terakhir ini memang makin mencolok. Namun hal ini bukannya tanpa alasan yang jelas. Perkembangan jumlah Muslim di negri ini tampak jauh lebih pesat dari pembangunan masjid yang merupakan rumah ibadah agama ini.  Populasi Muslim Perancis saat ini dikabarkan telah mencapai hampir 6 juta jiwa.

Dalil Baobakeur, pengurus Masjid Agung Paris, memperkirakan Muslim Perancis membutuhkan 4.000 masjid baru. Sementara baru 2.200 masjid yang ada dan tengah dibangun di seluruh negeri. Bahkan masjid terbesar di Paris yang berkapasitas 2000 jamaah yang diurusnya itu, saat ini sudah tidak mampu lagi mengatasi membludaknya jamaah shalat Jumat. Akhirnya merekapun terpaksa melaksanakan kewajiban shalat seminggu sekali tersebut di jalanan sekitar masjid.

“Sayang, negara ini memisahkan agama dan negara. Artinya dana pemerintah tidak bisa digunakan untuk pembangunan rumah ibadah. Umat harus berusaha sendiri untuk membangun tempat ibadah mereka. Itupun tergantung izin lingkungan yang konon paling berat untuk dipenuhi,” paparnya.

Di sebuah kawasan padat Muslim di kota Paris dimana berdiri dua buah masjid kecil, terjadi kesepakatan antara aparat yang berwenang dengan pengurus masjid. Jamaah yang biasa shalat di jalanan sekitar masjid karena kedua masjid tidak mampu menampung jamaah, diizinkan memanfaatkan sebuah bangunan bekas pemadam kebakaran dan gudang tentara sebagai tempat shalat berjamaah. Bangunan seluas 2000 meter persegi ini diperkirakan mampu menampung 3000 hingga 4000 jamaah.

Sayangnya, bangunan tersebut terletak jauh dari lokasi masjid lama. Sementara kedua masjid sengaja ditutup selama 3 atau 4 minggu dengan tujuan agar jamaah terbiasa shalat di tempat baru. ( Berita terbaru, dari papan pengumuman, kami baru tahu, ternyata di lokasi masjid lama akan di bangun Pusat Kultur Islam, yang bakal dibiayai pemerintah. Dibiayai pemerintah karena bangunan yang bakal didirikan adalah bangunan kultural, tidak ada hubungan dengan agama, menurut mereka. Sementara ruang shalat dibiayai oleh pihak swasta. Bukan masalah .. insya Allah, pikir saya menyenangkan diri ..🙂  ).

Berbagai reaksipun bermunculan, ada yang pro ada yang kontra. Yang merasa puas, mengatakan lebih baik shalat di tempat tertentu meski tidak memadai dari pada shalat di jalanan, dikejar-kejar  dan mengganggu umum. Sementara sebagian lain merasa “ pemerintah telah dengan semena-mena merebut hak dan kebebasan individu untuk menjalankan keyakinan seseorang”.

Tiba-tiba saya teringat kejadian tahun lalu yang menimpa anak perempuan saya. Ketika itu saya dan suami meminta wali kelas anak kami tersebut agar menyediakan tempat shalat untuk anak kami. Iapun menjawab akan menanyakan pihak yang berwenang. Esok paginya ia menjawab, ” Silahkan menggunakan ruangan saya saja”.

Namun belum sempat putri kami melaksanakan shalat, siangnya ia meralat sendiri jawabannya. Alasannya kalau ia mengizinkan putri kami shalat nanti yang lain juga menuntut. ” Shalat saja di halaman sekolah”, begitu jawabnya tanpa perasaan. Yaaah .. namun dari sini akhirnya kami jadi tahu ternyata ada murid Muslim lain disekolah tersebut.  Merekapun pasti terpaksa shalat secara sembunyi-sembunyi …😦 ..

(bersambung)

Dunia Islam di zaman kekhalifahan sempat menjelma sebagai pusat studi astronomi dan astrologi. Studi astronomi dan astrologi mulai berkembang pada era kepemimpinan Khalifah Al-Mansyur sebagai penguasa ketiga Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-8 M. Studi astronomi dan astrologi di dunia Islam kian menggeliat sejak ditemukannya astrolabe oleh Al-Fazari. 

observatorium samarkand

observatorium samarkand

Menurut sejarawan sains, Donald Routledge, kedua ilmu yang telah menguak rahasia langit itu mencapai puncak kejayaannya dalam peradaban Islam dari tahun 1025 M hingga 1450 M. Pada masa itu, di berbagai wilayah kekuasaan Islam telah lahir sederet astronom dan astrolog Muslim serta sejumlah observatorium yang besar dan megah. Tak dapat dimungkiri bahwa sederet astronom dan astrolog Muslim terkemuka, seperti Nasiruddin at-Tusi, Ulugh Beg, Al-Batanni, Ibnu Al-Haitham, Ibnu Al-Syatir, Abdur Rahman as-Sufi, Al-Biruni, Ibnu Yunus, Al-Farghani, Al-Zarqali, Jabir Ibnu Aflah, Abu Ma’shar, dan lainnya, telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan astronomi dan astrologi.

Bukti kejayaan yang diraih peradaban Islam dalam astronomi dan astrologi dapat dibuktikan melalui penamaan bintang dan sederet kawah bulan dengan nama-nama yang berasal dari bahasa Arab. Muslim Heritage Foundation mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari peradaban Islam. Para astronom Muslim pada awalnya mengenal nama-nama bintang dari Almagest karya Ptolemeus–astronom Yunani yang hidup pada abad ke-2 M. Setelah menguasai pengetahuan serta teknologi dalam bidang astronomi dan astrologi, para ilmuwan Muslim pun mulai memberi nama bintang-bintang yang berhasil mereka temukan.

Sejarawan Jerman yang juga ahli dalam penamaan bintang dalam astronomi Islam, Paul Kunitzsch, mengungkapkan, ada dua tradisi penamaan bintang yang diwariskan oleh peradaban Islam. Pertama penamaan bintang melalui dongeng. Paul menyebut penamaan bintang secara tradisional ini sebagai indigenous-Arabic. Yang kedua, menurut Paul, penamaan bintang secara ilmiah (scientific-Arabic). Sayangnya, penamaan bintang yang dilakukan para ilmuwan Muslim telah dibelokkan oleh peradaban Barat. Hal itu dilakukan saat buku-buku teks bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12 M. Buku-buku teks bahasa Arab yang ditulis para astronom dan astrolog Muslim dengan sengaja dirusak sehingga maknanya pun berubah.

Selain itu, perusakan alih bahasa itu juga membuat nama-nama bintang yang ditemukan peradaban Islam kehilangan arti. Tak cuma itu, nama bintang juga secara sengaja dipindahkan dari satu ke yang lain. Sehingga, posisi bintang yang telah ditetapkan oleh para astronom dan astrolog Muslim itu berada dalam peta bintang yang berbeda. Untungnya, sebagian besar nama bintang yang diadopsi masyarakat Barat sejak bergulirnya Renaisans masih dalam bahasa Arab yang asli.

Salah seorang astronom Muslim yang sangat berpengaruh dalam penamaan bintang adalah Abu al-Husain `Abd Al-Rahma-n Al-Sufi (903 M-986 M). Orang Barat mengenalnya dengan panggilan Azophi. Al-Sufi secara sistematis berhasil merevisi katalog bintang yang dibuat Ptolemeus. Ia mengubah Almagest yang populer itu dengan Kitab Suwar al-Kawakib (Kitab Bintang-Bintang Tetap). Kitab yang dirampungkannya pada 964 M itu memang berbasis pada warisan astronomi Yunani. Meski begitu, nama-nama bintang yang tercatat dalam kitabnya itu berasal dari penemuannya sendiri dan diberi nama dalam bahasa Arab. Salinan kitab karya Al-Sufi itu sempat ditulis ulang olah putranya sekitar tahun 1010 M. Kini, kitab itu tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford.

Menurut Paul, tradisi masyarakat lokal di negeri Muslim yang tersebar di Semenanjung Arab dan Timur Tengah memiliki nama tersendiri untuk beragam bintang yang terang, salah satunya adalah Aldebaran. Paul menambahkan, kerap kali masyarakat Muslim memperlakukan bintang tunggal seperti orang atau binatang. Bintang yang dikenal sebagai Alpha dan Beta Ophiuchi, tutur dia, dianggapnya sebagai anjing gembala. Paul menemukan fakta adanya penamaan bintang dalam bahasa Arab yang terdapat dalam buku Almagest karya Ptolemeus. “Contohnya nama bintang Fomalhaut berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘mulut ikan dari selatan’,” ungkap Paul.

Dalam kitab yang ditulisnya, astronom Muslim, Al-Sufi, telah mencatat hasil observasinya tentang Galaxi Andromeda. Ia menyebutnya sebagai ‘awan kecil’. Al-Sufi pun tercatat sudah berhasil melakukan observasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak, dan warna bintang-bintang itu. Ia juga mampu membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni Kitab Suwar al-Kawakib itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12, baik penjelasan teksnya maupun gambarnya.

Dari kitab inilah, masyarakat Barat salah satunya mengenal nama-nama bintang. Nama-nama bintang di luar angkasa yang ditemukan para ilmuwan Islam itu merupakan salah satu jejak kejayaan Islam. Nama Islam di Galaxi Peradaban Islam telah turut memberi nama ratusan hingga ribuan bintang dalam populasi galaksi. Dari sederet nama bintang yang ditemukan dan dinamai ilmuwan Muslim itu, hingga kini masih ada yang dipakai, bahkan ada pula yang sudah lenyap dan tak digunakan lagi oleh peradaban modern.

Berikut ini beberapa contoh nama bintang yang berasal dari warisan kejayaan Islam.

No  Nama Populer          Nama Arab                  Bintang

1.   Acamar                     Akhir an-Nahr              Theta Eri

2.   Achernar                 Akhir an-Nahr              Alpha Eri
3.   Acrab                        Al-‘Aqrab                        Beta Sco
4.   Acubens                   Az-Zubana                     Alpha Cnc
5.   Adhafera                  Ad-Dafirah                     Zeta Leo
6.   Adhara                     Al-‘Adhara                      Epsilon CMa
7.   Ain                             ‘Ain                                    Epsilon Tau
8.   Albali                       Al-Bali’                               Epsilon Aqr
9.   Alchibah                 Al-Khiba’                          Alpha Crv
10. Aldebaran             Ad-Dabaran                    Alpha Tau

11.  Alderamin            Adh-Dhira’ al-Yamin?   Alpha Cep
12.  Alfirk                      Al-Firq                                Beta Cep
13.  Algedi                    Al-Jady                               Alpha Cap
14.  Algenib                  Al-Janb                              Gamma Peg
15.  Algieba                  Al-Jabhah                         Gamma Leo
16.  Algebar                  Al-Jabbar                         Beta Ori
17.  Algol                       Al-Ghul                              Beta Per
18.  Algorab                 Al-Ghurab                         Delta Crv
19.  Alhena                  Al-Han’ah                           Gamma Gem
20.  Alioth                    Al-Jawn                             Epsilon UMa

21.  Alkaid                    Al-Qa’id                               Eta UMa
22.  Alkes                      Al-Ka’s                                Alpha Crt
23.  Almak                   ‘Anaq al-Ard                     Gamma And
24.  Almeisan              Al-Maisan                         Gamma Gem
25.  Alnair                    An-Nayyir                        Alpha Gru
26.  Alnair                    An-Nayyir                        Zeta Cen
27.  Alnilam                 An-Nidham                      Epsilon Ori
28.  Alnitak                  An-Nitaq                            Zeta Ori
29.  Alphard                Al-Fard                               Alpha Hya

30.  Alphecca              Al-Fakkah                         Alpha CrB

( sumber: Muslim Heritage).

 Abadi di Kawah Bulan.

 Sebagai bentuk pengakuan dunia terhadap sumbangan peradaban Islam, sebanyak 24 ilmuwan dan ulama Muslim terkemuka di era kejayaan telah diabadikan menjadi nama kawah bulan. Pemberian nama ke-24 ilmuwan Muslim itu pun telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Hanya satu nama tokoh Muslim yang tak diakui IAU menjadi nama kawah bulan, yakni Muhammad Abduh (1849 M-1905 M). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970, dan 1976.

Pada awalnya, nama ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan itu disebut dalam bahasa Latin, seperti Alhazen, Azophi, Alpetragius, Albataneus, Alfraganus, dan lainnya. Namun, kemudian diberi nama aslinya dalam bahasa Arab.

Berikut nama-nama tokoh dan ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan.

 1. Abulfeda. (1273 M-1331 M).

Nama lengkapnya Isma’il Ibn Abu al-Fida. Ia adalah ahli geologi dari Suriah

2. Abulwafa. (940 M-998 M).

Bernama lengkap Abu al-Wafa al-Buzajani. Matematikus dan astronom asal Persia

3. Al-Bakri. (1010 M-1094 M).

Geografer Muslim asal Andalusia itu bernama Abu `Ubayd Abdallah Ibn `Abd al-Aziz Ibn Muhammad al-Bakri.

4. Al-Biruni. (973 M-1048 M).

Ilmuwan serba bisa yang populer di Afghanistan dan India itu bernama lengkap Abu ar-Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. Dia seorang astronom, matematikus, dan geografer

5. Al-Khwarizmi.

Matematikus dan astronom kelahiran Khwarizmi itu bernama lengkap Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi.Al-Marrakushi.

6. Abu `Ali al-Hasan Ibn `Ali al-Marrakushi adalah astronom dan matematikus asal Maroko dan bekerja di Mesir pada abad ke-13 M.

7. Albategnius.

Muhammed bin Jaber Al-Battani dikenal di dunia Barat dengan panggilan Albategnius. Dia seorang astronom dan matematikus yang berasal dari Harran, Mesopotamia.Alfraganus.

8. Abu ‘l-‘Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Kathir al-Farghani adalah astronom terkemuka di Baghdad yang berasal dari Iran pada abad ke-9 M.

9. Alhazen. (987 M-1038 M).

Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan Ibn al Haytham. Ahli fisika, matematika, dan astronomi itu mengabdikan hidupnya di Mesir

10. Almanon. Ini merupakan nama panggilan orang Barat terhadap Abu Ja’far Abdallah al-Ma’mun ibnu Harun al-Rashid. Khalifah Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang berkuasa pada 813 M-833 M.

11. Alpetragius. Astronom asal Andalusia itu bernama Abu Ishaq Nur al-Din Al-Bitruji Al-Ishbili.Arzachel. Nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash al-Zarqalluh or al-Zarqali. Matematikus terkemuka ini berasal dari Toledo, Andalusia.

12. Avicenna. (980 M-1037 M).

Ilmuwan legendaris Muslim itu bernama Abu `Ali al-Hussayn Ibn Sina Azophi. Nama lengkapnya Abdurrahman Al-Sufi. Dia adalah astronom terkemuka yang menulis tentang bintang.Geber. Astronom abad ke-12 M asal Andalusia itu sebenarnya bernama Abu Muhammad Jabir Ibn Aflah al-Ishbili.

13. Ibnu Battuta.

Penjelajah dan geografer Muslim asal Maroko itu bernama Abu Abd Allah Muhammad

Ibn `Abd Allah Ibn Battuta.

14. Ibnu Firnas. Orang Barat menyebutnya Armen Firman. Insinyur pencipta kapal terbang itu bernama lengkap Abbas Ibn Firnas.

15. Ibnu Yunus. (950 M-1009).

Astronom Mesir itu bernama Abu al-Hasan bin Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi.

16. Ibnu-Rushd. Dokter dan filsuf Muslim asal Andalusia ini bernama Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rushd.

17. Messala.Nama lengkapnya adalah Ma-sha’ Allah ibnu Athari al-Basri. Dia adalah astronom asal Irak.

18. Nasiruddin.

Ilmuwan terkemuka asal kota Tus, Khurasan, ini bernama lengkap Muhammad ibnu Muhammad ibnu al-Hasan al-Tusi.

19. Omar Khayyam. Dia adalah sastrawan, astronom, dan matematikus terkemuka asal Persia yang hidup pada abad ke-11 M. Dia juga dikenal dengan panggilan al-Khayyami. 20. Thebit. Ilmuwan asal Irak ini bernama lengkap Thabit Ibn Qurrah al-Sabi’ al-Harrani 21. Thabit Ibn Qurra. Ia hidup pada abad ke-9 M.

22. Ulugh Beigh. Dia adalah penguasa Dinasti Timurid yang juga mencintai astronomi serta sempat membangun observatorium. Nama lengkapnya adalah Mirza Mohammad Taragai bin Shahrukh.

REPUBLIKA – Selasa, 21 Oktober 2008.

Diambil dari :

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/03/20/38903-jejak-kejayaan-islam-di-luar-angkasa

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 19 September 2011.

Vien AM.

Knud Valdemar Gylding Holmboe lahir pada 22 April 1902, sebagai anak tertua dari keluarga pedagang yang terpandang di kota Horsens, Denmark. Sejak remaja, Knud sudah tertarik dengan ilmu filsafat dan agama dan dalam usia muda, Knud sudah bekerja sebagai wartawan magang dan menulis untuk sejumlah koran lokal di Denmark.

Pada usia 20 tahun, Knud menyatakan memeluk agama Katolik dan tinggal di sebuah seminari di Clairvaux, Prancis. Dengan cepat ia membaur dalam kehidupan biara dan ingin memperdalam ilmu agamanya ke tempat lain. Tahun 1924, ia pun pergi ke Maroko dan di negara inilah ia malah mengenal Islam.

Knud sering menemui seorang syaikh di sebuah masjid kecil di kawasan pegunungan di negara itu. Dari pertemuan-pertemuan itu, Knud menyadari bahwa hatinya terpaut pada Islam. Setahun kemudian, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Pulang ke Denmark, Knud menerbitkan buku pertamanya “Poems” berisi tulisan-tulisannya tentang kematian, kehidupan, keyakinan dan gurun pasir. Tak lama setelah buku pertama, Knud menerbitkan buku tentang pengalamannya selama tinggal di Maroko berjudul “Between the Devil and The Deep Sea – a dash by plane to seething Morocco”.

Tahun 1925, Knud melakukan perjalanan ke Timur Tengah, mulai dari Suriah, Palestina, Yordania, Irak dan Persia. Ia menyaksikan sendiri pertikaian politik di Baghdad dan Palestina, yang menjadi cikal bakal ketidakstabilan situasi Timur Tengah hingga sekarang.

Setelah Timur Tengah, pada tahun 1927, ia mengunjungi kawasan Balkan bersama isterinya yang baru dinikahinya. Di Albania, ia menyaksikan bagaimana orang-orang Italia menindas komunitas Muslim. Knud menulis dan mengirimkan banyak artikel serta foto apa yang ia saksikan di Albania ke media massa di Denmark. Salah satunya yang memicu kontroversial adalah artikel Knud tentang tindakan penguasa Italia menggantung seorang pendeta Katolik terkemuka Albania. Cerita itu menyebar ke seluruh Eropa dan membuat otoritas Italia marah besar.

Saat kembali ke Denmark, Knud mencoba keberuntungannya dengan menjadi editor di sebuah koran lokal. Tapi kesulitan ekonomi membuatnya memilih meninggalkan Denmark. Bersama istrinya, Nora dan puterinya, Aisha, Knud pindah ke Maroko. Knud juga mengganti namanya menjadi Ali Ahmed El Gheseiri, yang merupakan terjemahan bebas nama asli Knud ke dalam bahasa Arab.

Ikut Jihad Melawan Italia.

Tahun 1930, Knud melakukan perjalanan yang membuatnya menjadi terkenal. Dengan menggunakan mobil Chevrolet Model 1929 dari Maroko melintasi gurun Sahara menuju Mesir. Saat melewati Libya, Knud lagi-lagi menyaksikan perlakun buruk penguasa Italia yang saat itu menjajah Libya, terhadap masyarakat Muslim di negeri itu. Orang-orang Italia itu menggantung, mengeksekusi, menyerang, menyiksa penduduk Muslim serta merusak sumber nafkah mereka sehingga penduduk Muslim di Libya hidup dalam kemiskinan. Knud menulis dan mengambil foto-foto apa yang disaksikannya di Libya.

Pengusa Italia di Libya tidak tinggal diam. Mereka menangkap Knud di kota Derna dan mengusir Knud dari Libya. Sejak itu, Knud memutuskan untuk bergabung dengan gerakan perlawanan rakyat Libya yang dipimpin oleh Syaikh Omar Al-Mokhtar.

Knud tetap melanjutkan perjalanannya ke Mesir. Di negeri Piramida itu, ia berjuang keras meyakinkan masyarakat Muslim di Mesir untuk membantu jihad muslim Libya melawan penjajahan Italia. Knud sedang bersiap-siap membawa bantuan dengan karavan ke kota Al-Kufra, Libya, ketika duta besar Italia untuk Mesir meminta otoritas Inggris dan Mesir menangkap dan menjebloskan Knud ke penjara. Sebulan lamanya ia mendekam di penjara, lalu dipulangkan dengan kapal laut ke negara asalnya, Denmark.

Di Denmark, Knud menuliskan kekejaman penjajahan Italia di Libya dalam bukunya “Desert Encounter”, yang dengan cepat menjadi buku terlaris di Denmark dan beberapa negara Eropa lainnya, serta di AS. Di Italia, buku itu dinyatakan terlarang hingga tahun 2004. Pemerintah Italia menghabiskan dana ribuan dollar untuk melakukan kampanye hitam terhadap buku Knud tersebut dan memanfaatkan media massa di Italia untuk membantah semua tulisan-tulisan Knud tentang kejahatan perang Italia di Libya.

Tahun 1931, Knud kembali melakukan perjalanan. Kali ini ia berencana ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanannya, ia menyempatkan diri bertemu dengan para pemimpin dan tokoh perlawanan Libya yang diasingkan ke Turki, Yordania dan Suriah. Saat berada di Suriah, masyarakat Arab sedang melakukan demonstrasi besar-besaran di depan kantor konsulat Italia di Damaskus. Lagi-lagi Knud diusir dari Suriah. Knud boleh masuk ke Yordania dan melanjutkan perjalanannya ke Mekkah, setelah kantor konsulat Denmark di Istanbul menyampaikan proters keras atas perlakuan terhadap Knud.

Dibunuh Saat Menuju Mekkah.

Pemerintah Italia masih menyimpan rasa khawatir terhadap Knud. Mereka takut Knud akan menyerukan jihad melawan Italia sesampainya di Mekkah. Untuk itu, Italia melakukan berbagai cara untuk mencegah Knud agar tak sampai ke Mekkah. Knud mengalami berbagai macam percobaan pembunuhan ketika masih berada di Amman, Yordania. Namun Knud tetap pada rencananya semula untuk pergi ke Mekkah. Ia membeli seekor unta dan melanjutkan perjalanannya ke Aqaba. Di sini, ia harus menunggu izin masuk ke wilayah Kerajaan Saudi.

Tanggal 11 Oktober 1931, Knud meninggalkan untanya di dekat perbatasan Saudi. Ia konon sedang bermalam di dekat oasis Haql ketika sekelompok suku Arab Badui mendatanginya. Suku di Saudi itu dikenal sebagai sekutu orang-orang Italia yang menguasai wilayah itu. Mereka menyuruh Knud untuk melanjutkan perjalanan sendirian dan di tengah jalan antara Al-Haql dan Humayda, Knud diserang dan disergap. Tapi malam itu juga, Knud berhasil meloloskan diri, ia berenang menjauhi bibir pantai. Saat kelelahan dan terdapar di sebuah pesisir pantai, suku Arab Badui menemukan Knud dan langsung menembaknya hingga tewas. Usia Knud saat itu baru 29 tahun. Jenazahnya dikubur di dekat pantai.

Petugas perbatasan Yordania Arif Saleem berusaha mengejar seorang syaikh, pemimpin kelompok yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan terhadap Knud. Saleem berhasil menangkapnya di wilayah Aqaba dan menginterogasinya selama beberapa jam. Tapi atas perintah komandan pasukan Inggris John Glubb, syaikh itu akhirnya dibebaskan. Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa sejumlah anggota suku yang membunuh Knud, melakukan bunuh diri massal ketika tentara-tentara yang setia dengan Raja Ibnu Saud menghancurkan kamp-kamp mereka.

Tulisan, buku-buku dan foto-foto karya Knud menjadi warisan bersejarah yang sangat penting. Setelah Perang Dunia II usai, Italia diseret ke pengadilan internasional, tapi masyarakat Muslim di Libya tidak pernah menerima kompensasi atas kekejaman yang dilakukan pemerintah Italia selama menjajah Libya. Jenazah Knud juga tidak pernah dipulangkan ke Denmark.

sumber : eramuslim.

Diambil dari :

http://muallaf-online.blogspot.com/2011/03/knud-valdemar-mualaf-asal-denmark-yang.html

Jakarta, 22 Agustus 2011.

Vien AM.

Semoga Allah swt membalas perjuangan hebat sang mualaf dengan balasan sebaik-baiknya. Dan semoga dapat menjadi pemicu kita, yang terlahir Muslim, agar peduli terhadap penderitaan saudara-saudara kita seiman, dimanapun berada.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Buat saya pribadi, pengalaman paling menyedihkan ketika kita di negri minoritas Muslim adalah ketika Lebaran. Lebaran atau Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah sebulan lamanya kita berpuasa, mengendalikan hawa nafsu. Makan minum dan seks adalah diantara yang harus dijaga, meski hanya ketika siang hari saja.

Pada hari kemenangan ini Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk mendirikan shalat Ied sebanyak 2 rakaat, sebaiknya di lapangan terbuka. Di tanah air biasanya ritual ini diteruskan dengan acara silaturahmi. Bermaaf-maafan, ‘sungkeman’, berbincang dan ‘guyon’  melepas rindu sambil menyantap ketupat lebaran beserta kelengkapannya adalah sebuah kesempatan indah yang rasanya sulit untuk ditinggalkan begitu saja.

Bahkan tidak jarang, Lebaran adalah momen langka dimana seluruh anggota keluarga besar bisa berkumpul. Kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, anak, ponakan, cucu semua berbaur menjadi satu. Ini yang menjadi penyebab mengapa ‘tradisi’ pulkam alias pulang kampung menjadi suatu ‘keharusan’.

Meski beberapa kali para ulama mengingatkan bahwa acara kumpul-kumpul tersebut bukan bagian dari syariat tapi tetap saja ritual tersebut berjalan lancar tiap tahunnya.  Setiap menjelang lebaran kita bisa menyaksikan betapa berjuta-juta orang Indonesia rela bermacet-macet ria demi menjalani acara tahunan pulkam ini. Tidak hanya dari dan ke daerah namun juga yang tinggal jauh di negri seberangpun tak mau ketinggalan momen istimewa ini.

Nah, buat kita-kita yang dengan berbagai alasan tidak pulkam nih … Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun ada semacam perasaan ‘terlupakan’ .. L .. Itu sebabnya sebisa mungkin biasanya mereka-mereka ini berusaha menemukan suasana penggantinya. Kedutaan Besar biasanya adalah tempat berlabuhnya.

Begitu juga kami. Saya dan keluarga sempat mengalami hal ini beberapa kali. Beruntung kami tinggal di kota dimana kedutaan negri kita tercinta berkedudukan. Itulah Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI di Paris, Perancis.

Dua minggu sekali pihak KBRI mengadakan acara buka puasa bersama. Ta’jil seperti kolak, es cendol dll adalah menu yang bisa dibilang selalu hadir. Sementara shalat taraweh hanya diadakan pada setiap malam minggu. Namun bila mau kita dapat pergi ke Mosquee de Paris. Masjid terbesar di Paris ini menyelenggarakan shalat taraweh setiap hari. Juga beberapa masjid kecil di sekitar kota tersebut. Sayangnya, tausiyah diberikan dalam bahasa Arab. Harap maklum, sebagian besar jamaah masjid-masjid tersebut memang orang Arab atau keturunan Arab.

Beruntung KBRI menyelenggarakan shalat Ied. Meski shalat hanya diadakan di dalam ruang aula yang letaknya di bawah tanah. Sementara shalat yang diizinkan oleh pemerintah setempat hanya yang diselenggarakan di dalam lingkungan masjid, tidak di lapangan terbuka.

Yang menjadi masalah adalah anak-anak sekolah. Di negri paman Sarkozy ini tidak ada yang namanya libur Idul Fitri. Padahal negri yang mengaku diri berazaskan demokrasi dan ‘laic’ alias sekuler ini secara resmi merayakan sejumlah hari besar keagamaan termasuk beberapa hari besar Yahudi, tentu saja di luar hari-hari besar Kristen. Namun nyatanya tak satupun hari besar Islam yang diberi tempat dan penghormatan yang layak, meski jumlah Muslim jauh lebih banyak daripada penganut Yahudi. Akibatnya, anak-anak , juga para karyawan Muslim terpaksa harus meminta izin atau kalau perlu terpaksa bolos ketika akan mendirikan shalat Ied, shalat hari kemenangan yang hanya setahun sekali diselenggarakan itu.

Beruntung tahun ini, kami sekeluarga diberi keleluasaan untuk menekuni Ramadhan di tanah air. Alhamdulillah kami dapat mendirikan shalat taraweh di masjid setiap hari, kalau mau. Tetapi tak urung ternyata ada sedikit kekecewaan menyelinap di hati ini.

Di kampung halaman yang dirindukan ini, dimana sebagian besar penduduk adalah Muslim, shalat taraweh ternyata malah tidak seindah di negri non Muslim. Mengapa bisa begitu?

Pertama, brisik.

Ya, brisik. Di masjid Paris, nyaris tidak ada seorangpun berani berbicara bahkan berbisik-bisikpun tidak ketika tausiyah sedang diberikan. Semua orang terlihat memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan sang uztad. Malah, begitu nama Muhammad Rasulullah disebut, langsung gumaman shalawat terdengar khidmat diucapkan. Subhanallah .. Betapa indahnya …

Bagi saya, shalat di masjid–masjid Paris laksana shalat di tanah suci. Ini bukan hanya karena imamnya fasih berbahasa Arab namun juga suasananya. Benar-benar khusuk !  Dalam hati saya berpikir, apa ini karena mereka memahami bahasanya? Oh, alangkah beruntungnya kalau saja saya dapat memahami bahasa Arab. Bukankah kitab suci kitapun berbahasa Arab? Bukankah Rasulullah dan para sahabat yang membela mati-matian Islam juga orang Arab? Bahkan shalatpun haram membaca terjemahannya meski kita tidak paham, bukan ?

Yang juga membuat saya heran, kenapa di tanah air, orang, terutama para ibu, sering mengajak anak-anaknya yang masih kecil ke masjid tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu adab dan sopan santun di masjid. Anak-anak berteriak-teriak, bermain kejar-kejar bahkan diatas sajadah kita ! Ya Allah ..

Tentu saja ini tidak terjadi di semua masjid. Namun fenomena ini ada dan yang jelas ini saya alami sendiri.

Yang kedua, shaf-shaf yang kosong dan berjarak.

“ Sebaik-baik shaf pria adalah shaf terdepan dan seburuk-buruk shaf adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf perempuan adalah shaf terakhir dan seburuk-buruk shaf perempuan adalah yang terdepan”. 

Hadits diatas berlaku ketika tempat shalat antara kaum lelaki dan kaum perempuan tidak terdapat tirai pembatas. Jika ada, shaf terbaik kaum perempuan sama dengan kaum lelaki, yaitu shaf terdepan.

Namun meski setiap kali sebelum shalat dimulai imam mengumumkan agar barisan dirapikan, tetap saja para perempuan tidak bergeming dari kedudukan awalnya. Seolah pengumumam tersebut hanya berlaku untuk kaum lelaki. Beberapa kali saya mencoba mengingatkan untuk merapatkan shaf, nihil hasilnya. Dengan sajadahnya masing-masing yang berlebar kurang lebih 60 cm malah mungkin lebih, masing-masing bertahan di tempatnya yang satu sama lain berjauhan.

Sedihnya lagi, ini juga terjadi ketika shalat Ied. Shaf kosong tidak segera diisi. Jamaah yang baru datang lebih memilih tempat terdekat yang dicapai atau tempat teduh daripada jauh-jauh harus menyelinap dan mengisi shaf kosong. Meski seringkali dengan alasan shaf telah terisi tumpukan sandal jamaah.

” Yaah .. emang sandal ikut shalat apa? Kenapa bukannya bawa tas plastik atau menyembunyikannya  dibawah sajadah aja sih?”, pikir saya kesal.

Sungguh terbalik dengan apa yang terjadi di masjid Paris. Di sana, bahkan untuk duduk miring pada tahiyat akhirpun hampir mustahil. Bahu kami saling bersentuhan, persis seperti yang dianjurkan syariat. Tak ada sedikitpun lowongan bagi syaitan untuk menyelinap diantara kami dan mengganggu shalat kami.

Yang terakhir, salam yang mendahului imam.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Selesai shalat beliau menghadap kepada kami dan berkata : “Wahai sekalian manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku ketika ruku’, sujud, berdiri, dan salam. Karena aku dapat melihat kalian di hadapanku maupun di belakangku.” 

Hadits diatas jelas mengajarkan kita untuk tidak mendahului gerakan imam. Namun sering saya jumpai ‘tetangga’ saya sudah menoleh ke kiri sebelum imam selesai mengucap salam.  Padahal di masjid Paris, salam ini mampu membuat saya merinding haru. Secara serempak makmum mengucap salam agak keras sambil menoleh ke kanan dan kiri begitu imam usai mengucap salamnya yang kedua, bukan yang pertama. Dan karena salam diucapkan dengan agak keras saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh didoakan ‘tetangga’ dengan ikhlas bukan sekedar ritual.

Yaah, begitulah .. dibalik sebuah kesusahan pasti ada juga hikmahnya.

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS.Al-Insirah(94):6).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Agustus 2011.

Vien AM.