Feeds:
Posts
Comments

Peran pemimpin dalam Islam

Pesawat Air Turkish yang kami tumpangi mengudara on schedule, tinggal landas dari bandara Charles de Gaule Paris menuju Istanbul, Turki. Tujuan akhir kami adalah Jakarta, untuk berkumpul dengan keluarga besar di hari Lebaran. Sengaja kami memilih penerbangan milik Turki dengan transit sekitar 20 jam agar dapat mengunjungi BlueMosque sekaligus merasakan buka puasa di bekas ibu kota kekhalifahan Ottoman itu. Ketika itu memang bulan Ramadhan.

Sebenarnya kami pernah mengunjungi Istanbul beberapa tahun lalu. Tapi kurang begitu puas karena kami datang pada waktu yang kurang tepat, yaitu bulan Desember. Baru ketika itu kami menyadari bahwa Istanbul ternyata sama dengan kota-kota Eropa lainnya, dingin plus salju turun di bulan tersebut, meski tidak terlalu tebal. Mungkin karena hujan hampir setiap hari turun. Namun tetap saja cukup mengganggu dan mengurangi keleluasaan kami menikmati keindahan kota legendaris tersebut. Itu sebabnya pada penerbangan mudik kali ini kami memilih Air Turkish dengan tujuan utama bisa memuaskan keinginan mengunjungi lagi masjid biru yang terkenal itu.

Singkat cerita, beberapa waktu setelah pesawat mengudara, kereta dorong berisi makananpun datang, menawarkan hidangan makan siang. Pria berusia 35 tahunan yang duduk di sisi jalan deretan kursi kami segera menentukan pilihan makanan yang ditawarkan pramugari berambut pirang dengan wajah khas Turkinya.

Sementara kami berdua dengan halus mengatakan bahwa kami tidak makan karena sedang berpuasa.  Mendengar itu, sontak pria berkulit hitam itupun segera menoleh dan menunjukkan rasa jengahnya.

“ Je suis Musulman. Je ne jeune pas car je dois prendre le vol jusqu’a … », ia menyebut nama sebuah  kota yang rasanya kami tidak pernah mendengarnya. Intinya, ia adalah seorang Muslim. Namun ia tidak berpuasa karena ia masih harus melakukan perjalanan panjang ke sebuah  kota.

Itulah awal percakapan dan perkenalan kami dengan seorang Muslim, imigran Perancis asal Pantai Gading. Pantai Gading atau Cote d’Yvoire adalah sebuah negara di pantai Barat benua Afrika,  bertetangga dengan Ghana di sisi utara dan barat, laut Guinea di sisi selatan. Negara bekas jajahan Perancis ini awalnya hanyalah sebuah perkampungan terisolasi yang dihuni sekitar 60 suku bangsa.

Portugis dan Perancis yang menemukannya pada  abad 15.  Ketika itu kedua bangsa besar ini sedang berseteru mencari gading dan budak untuk dibawa ke Negara mereka. Namun akhirnya Perancislah yang berhasil menaklukkan perkampungan tersebut dan memberinya nama  Cote d’Yvoire yang artinya pantai gading. Negara ini baru memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1960, atas pemberian Negara penjajahnya itu. Jadi tak aneh bila kemudian presiden yang diangkatpun adalah orang pilihan pemerintahan Perancis, seorang pemeluk Kristen. Ia berkuasa selama 30 tahun hingga tahun 1990.

Jujur, sebelum bertemu dengan pria tetangga di pesawat di bulan Ramadhan itu, saya tidak begitu mengenal sejarah Pantai Gading. Yang saya tahu hanya kerusuhan yang sering melanda negri tersebut. Saya baru tahu bahwa kerusuhan yang terjadi adalah kerusuhan antar umat agama dari pria tadi.

Ia menceritakan bahwa mayoritas penduduk negrinya adalah Muslim. Tapi tak pernah sekalipun seorang Muslim menduduki posisi tertinggi pemerintahan. Politik adalah tabu bagi Muslim Pantai Gading. Mereka lebih senang menjadi pedagang.

Namun ia sendiri adalah seorang mantan polisi. Kerusuhan yang terjadi antara tahun 1990 an hingga 2000 menyebabkan dirinya terpaksa meninggalkan tanah air yang dicintainya. Perancis sebagai Negara yang pernah berabad-abad menjajah negrinya merupakan pilihan sebagian besar rakyat yang mengungsi. Untuk diketahui, hingga kini pantai Gading masih menjadikan bahasa Perancis sebagai bahasa persatuan mereka.

Maka sejak itu pula pria yang belakangan menikah dengan perempuan sebangsanya itu berstatus sebagai imigran gelap. Ia tidak menceritakan mengapa harus gelap. Yang pasti, status inilah yang menyebabkan dirinya sulit untuk keluar masuk Perancis.

Itu sebabnya mengapa ia menumpang Air Turki dan transit di Istanbul. Dari kota ini baru ia meneruskan perjalanan ke tujuan yang  sebenarnya.  Sementara istrinya, meski sama-sama imigran tapi bukan imigran gelap, bersama anaknya bisa terbang langsung ke tujuan. Masalah keimanan anaknya yang masih kecil ini, juga menjadi topik pembicaraan kami.

“ Saya benar-benar pesimis dengan keimanan putra kami bila kami terpaksa benar-benar tidak bisa kembali ke tanah air”, keluhnya.

Saya jadi teringat jargon “ Islam Yes Partai Islam No” yang dipopulerkan almarhum Nurcholis Madjid  beberapa belas tahun lalu. Jargon ini benar-benar berhasil membuat kalangan muda Muslim ‘alergi’ dari partai berbau Islam.  Seolah-olah partai Islam itu ketinggalan zaman, tidak rasional bahkan kampungan ! Apakah pendiri lembaga Paramadina sekaligus bapak Pluralis dan Sekuleris yang memang sempat lama menetap di Amerika dan mengambil ilmu filsafat itu tidak menyadari dampak pemikirannya yang kontroversial itu?

Pantai Gading adalah hanya salah satu buktinya. Jutaan rakyat negri ini harus menderita akibat tak pernah sekalipun mempunyai pemimpin yang seiman. Tercatat selama 52 tahun negri ini memperoleh kemerdekaan hanya satu saja calon  dari kalangan Muslim yang maju dalam pemilihan. Itupun gagal pula. Dan kegagalan ini disebabkan ia Muslim !

Adalah Alassane Ouattara, seorang tokoh Muslim mantan perdana mentri Pantai Gading. Ia tertantang untuk mengikuti pemilihan presiden karena presiden yang menjabat waktu itu sectarian. Dengan sengaja pemilik kekuasaan tertinggi Negara ini memunculkan rasa kesukuan salah satu suku rakyatnya dan menciptakan opini bahwa suku lain, dalam hal ini suku-suku Pantai Gading sebelah utara yang mayoritas Muslim, adalah bukan bangsa Pantai Gading. Persis kasus etnis Rohingya di Myanmar yang tidak diakui keberadaannya oleh pemerintah pusat yang mayoritas beragama Hindu.

Akibatnya dapat diduga, pencalonan Ouatarra tersendat. Pemberontakanpun tak terhindarkan. Timbullah berbagai kerusuhan, menuntut keadilan. Sejarah mencatat bahwa Islam datang ke negri ini pada abad 13, dibawah kejayaan kerajaan Mali. Sementara Kristen masuk pada abad 17. Dengan kata lain,  sebenarnya ajaran Islam telah masuk ke negri ini, 4 abad lebih dulu dibanding ajaran Kristen.

Patut menjadi catatan, Islam  adalah ajaran yang sangat spesifik. Ia memiliki sejumlah aturan sendiri yang wajib dipatuhi pemeluknya. Itu sebabnya umat Islam memerlukan pemimpin yang benar-benar mengerti, memahami dan menguasai kebutuhan mereka. Dan tentu saja kalau bukan dari kalangan umat Islam sendiri siapa lagi yang lebih patut menjadi pemimpin tersebut. Apalagi Allah swt dengan tegas telah memerintahkan hal tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Artinya, bila kita tetap nekad memilih pemimpin yang bukan dari kalangan kita sendiri ( baca Islam), Allah swt tidak lagi mau melindungi kita. Dan dampak perbuatan ini tidak saja ‘hanya’ kita terima di akhirat nanti, tapi juga di dunia ini. Seperti yang terjadi terhadap saudara-saudari kita di Pantai Gading diatas.

Karena, seperti yang telah disebutkan diatas, umat Islam itu membutuhkan komunitas, fasilitas  dan kebijaksanaan yang sangat khas. Misalnya, kebutuhan akan masjid, melaksanakan shalat pada jam kerja, shalat berjamaah di masjid pada hari Jum’at, menjalankan puasa pada bulan Ramadhan, penentuan hari raya iedul fitri dan iedul adha, mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-hari, pemotongan hewan halal, menjauhi riba, minuman keras, perjudian dan pelacuran, hukum waris, hukum perkawinan  dan masih banyak lagi.

Umat Islam semustinya harus tahu apa yang menjadi kebutuhan utamanya, mana yang  prioritas dan mana yang sekunder. Kebutuhan akhirat adalah yang paling utama. Meski untuk itu kemudahan duniawi berarti juga kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Karena dunia adalah tempat beramal demi bekal kehidupan akhirat kelak. Untuk itu, kemudahan hidup harus diusahakan.

Sebaliknya, seorang pemimpin harus sadar bahwa dirinya adalah pengemban terberat amanah rakyat. Amanah yang dititipkan umat agar ia mengurusi kebutuhan spiritual dan material rakyat yang dipimpinnya. Memberikan kemudahan agar umat dapat beribadah, memuji Tuhannya dengan sebaik mungkin.  Menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya, apapun agama, suku dan rasnya. Dan semuanya ini dilakukannya demi mencari ridho Sang Khalik, Allah Azza wa Jallat, penciptanya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 September 2012.

Vien AM.

Ateisme dan Fenomenanya.

Perputaran bumi serta pergantian malam dan siang adalah fenomena alam yang sangat patut untuk dicermati. Pengalaman spiritual yang dilakukan nabi Ibrahim as dalam rangka mencari Tuhannya adalah sebuah pelajaran yang sangat indah.

“ Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”.(QS. Al-An’am(6):76-78).

Perumpamaan malam hari adalah bagaikan melihat gajah secara utuh/keseluruhan. Sementara siang hari adalah laksana orang buta yang meraba hewan berbelalai ini secara partial/bagian demi bagian. Hingga beranggapan bahwa gajah itu panjang bila yang diraba kebetulan hanya belalainya. Atau gajah itu lebar dan tipis bila yang diraba hanya telinganya.

Perumpamaan lain, adalah meja belajar dengan lampu belajarnya yang dibiarkan menyala hingga menyinari sebagian kecil meja, menerangi bagian tertentu di atas meja yang menjadi focus bacaan. Meja ini berada di sebuah ruangan yang gelap dimana lampu belajar adalah satu-satunya penerangan.

Bagian kecil yang terang di atas meja dan menjadi focus bacaan adalah perumpamaan kehidupan siang hari. Pada saat itu,  segala yang ada di hadapan kita “kelihatannya”  jelas terlihat detil.  Sementara benda lain di atas meja yang tidak tersorot lampu tidak terlihat. Fenomena ini sama dengan orang buta yang meraba bagian gajah tertentu.

Jadi, pandangan di siang hari yang kelihatannya jelas itu sebenarnya justru sebaliknya. Sesungguhnya pandangan di  siang hari amat sangat terbatas. Apa buktinya ? Buktinya, benda-benda langit seperti bintang dan bulan yang menjadi perhiasan atap bumi tidak dapat kita saksikan. Ini disebabkan silaunya sinar matahari. Yang menyebabkan pandangan kita hanya mampu focus pada apa yang diteranginya. Yang hingga bentuk bumi dimana kita berpijakpun tak bisa kita lihat secara jelas.

Bentuk bumi secara jelas baru bisa kita lihat setelah matahari terbenam. Yaitu melalui bayangan yang terpantul di langit ketika malam tiba. Demikian pula benda-benda langit yang jumlahnya milyaran itu.   Itulah salah satu hikmah diciptakan-Nya malam dan siang. Betapa terasa,  alangkah kecilnya kita ini. Allahuakbar !

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS. Ali Imran(3);190-191).

Ironisnya, sebagian besar orang barat dewasa ini, yang notabene mengaku dan merasa maju ternyata tidak mampu mengambil hikmah fenomena alam terbesar ini. Dengan dalih sains dan ilmu pengetahuan mereka mengatakan bahwa semua itu hanyalah bagian dari sistim alam semesta. Bahkan dengan lancangnya berani menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Kalaupun ada hanya dalam pikiran, tidak wujud. Itulah kaum ateis tulen alias kafir sebenar-benar kafir.

Padahal asalnya orang Barat adalah penganut Kristen. Aneh tapi nyata. Tapi begitulah kenyataannya karena justru ajaran gerejalah yang sering dituding  menjadi penyebab orang Barat menjadi ateis.  Ajaran ini dianggap menghambat perkembangan sains dan ilmu pengetahuan.

Adalah Inkuisisi yaitu pengadilan terhadap orang-orang  berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan gereja. Galileo Galilei adalah satu diantaranya.  Pada tahun 1633 Galileo yang melanjutkan teori heliosentrisnya  Copernicus diadili dengan tuduhan tindakan kejahatan tingkat tinggi. Teori ini dianggap melecehkan pendapat gereja bahwa bumi adalah pusat perputaran bukan matahari.  Bahkan beberapa tahun sebelum itu, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup dengan tuduhan yang sama.

Sejak itu gerakan melawan gerejapun tumbuh meski secara sembunyi-sembunyi.  Diawali dari prilaku pastur-pasturnya yang dianggap korup dan tidak bersih hingga Al-Kitab sebagai kitab suci merekapun mulai dipertanyakan.  Dimulai dari sejarah penulisannya, isinya yang seringkali vulgar dan kasar, konsep tentang ketuhanan yang ‘njelimet’ hingga akhirnya keberadaan Tuhan itu sendiri.

Ini masih ditambah lagi dengan anggapan bahwa agama hanyalah belenggu kebebasan.  Apalagi di zaman dimana demokrasi dan kebebasan mengemukakan pendapat menjadi slogan hampir seluruh masyarakat di dunia ini. Ateis kelihatannya menjadi pilihan yang digemari orang-orang yang memimpikan hidup sebebas mungkin tanpa banyak batasan, aturan dan hukum.

Agaknya para filosof yang paling pantas dituntut mengapa banyak orang Barat tertarik menjadi ateis.  Orang-orang ‘pintar’ yang hobby bermain dengan kata-kata dan membuat difinisi rumit ini dengan lihai mampu membuat orang bertanya-tanya, sesungguhnya apakah difinisi Tuhan itu. Blaise Pascal, seorang filosof Perancis kelahiran 1623 mengatakan “ Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan”.

Hemm, lalu siapa Tuhan mereka kalau mereka memang percaya akan eksistensi Tuhan. Mungkin pernyataan seorang selebritis sebagai berikut bisa menjawab pertanyaan di atas. ” My religion is song, sex, sand and champagne”. Atau  iklan di pinggir jalan di kota Manchester Inggris ” It’s like Religion” sebagaimana dikemukakan uztad Dr. Hamid Zarkasyi dalam bukunya ” Misykat” bisa menjadi jawaban jitu. Iklan tersebut adalah iklan sebuah klub sepak bola kebanggaan Inggris.

Celakanya, di Indonesia, negri berpenduduk mayoritas Islam, juga mulai ikut tertulari virus ateis yang sangat berbahaya ini.  Meskipun  jumlahnya memang baru sangat sedikit, tidak terang-terangan dan berada di komunitas tertentu.  Namun penyebabnya kemungkinan besar adalah arus globalisasi tadi. Karena kalau ditilik dari latar belakang dan sejarah agamanya jelas berbeda dengan teman-teman ateis mereka di Barat.

Walaupun belakangan ini usaha untuk mengotori kemurnian Al-Quran juga sudah terlihat. Yaitu dengan mulai  diterapkannya ilmu Hermeneutika terhadap Al-Quran. Ilmu ini berusaha  memandang dan mengkritisi kalam Allah dengan menganggapnya sebagai bukan ayat-ayat suci ! Hal yang sungguh menggelikan sekaligus memuakkan. Bagaimana mungkin mereka ini berani melecehkan kitabnya sendiri. Parahnya lagi, pernyataan-pernyataan berbau ateis ini keluar dari kampus Islam !

Tampak bahwa sistim pola pikir Barat yang sangat mengedepankan akal dengan teori empirisnya, telah merasuk jauh ke dalam pemikiran anak-anak muda kita. Teori ini mengatakan bahwa segala sesuatu itu harus bisa dibuktikan dan teramati oleh panca indera. Akibatnya ilmu dan pengetahuan apapun bila tidak ada data empiris tidak dapat diterima alias tertolak. Termasuk ilmu agama dan ketuhanan tadi !

Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Sementara Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla. Itulah keutamaan ilmu karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT.

Ia juga berkata, “Barangsiapa yang kehilangan ilmu, maka hatinya akan sakit dan mati. Ia tidak menyadarinya karena kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan itu menampakkan kematian maka ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada akhir.”

Ucapannya itu dimaksudkan dalam menafsirkan hadis  : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”, dan ayat berikut :

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”.(QS.Qaaf(50):22).

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara kehidupan dunia dengan akhirat, ilmu dan pengetahuan keagaamaan dengan ilmu umum. Keduanya saling berkaitan erat dan tidak mungkin dipisahkan. Karena kehidupan dunia dan ilmunya pada hakekatnya adalah bekal menuju kehidupan akhirat yang relative abadi.

Orang yang mengaku memeluk Islam tidak cukup ‘hanya’  menjalankan ritualnya, seperti shalat, zakat, puasa, membaca Al-Quran dan pergi haji. Akhlak yang baik sebagai bentuk nyata penerapan ayat-ayat Al-Quran seperti menjaga silaturahmi, tidak sombong, sabar, jujur, suka bekerja keras dan lain-lain juga sangat diperlukan. Pribadi Rasulullah Muhammad saw adalah panutannya.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

Mungkin mereka yang ‘ kebarat-baratan’ ini lupa bahwa masyarakat Barat dewasa ini banyak yang merasa kehilangan ‘sesuatu’. Prilaku bebas dan demokrasi yang kebablasan sedang menuju kehancurannya. Anak-anak yang tidak lagi hormat kepada kedua orangtuanya, orang-orang muda yang enggan mendengar pendapat pendahulunya, persaingan yang tidak mengenal aturan  dan lain-lain telah membuat mereka gundah dan risau.

Kesuksesan material ternyata tidak menjadi jaminan kebahagiaan hidup.  Harta yang melimpah ruah juga tidak menjamin kepuasan dan rasa tenang.  Pun ilmu dan kemajuan teknologi, ternyata juga tidak berhasil mencegah berkembangnya  penyakit yang makin hari justru makin beragam dan mematikan.

Anehnya, pasca peristiwa 11 september 2001 yang ‘diharapkan’ mencemarkan dan mencoreng Islam malah membuat banyak orang Barat tertarik mempelajari Islam.  Dan kebanyakan adalah para ilmuwan yang kemudian berbalik dan kembali ke fitrah, bersyahadat memuji Tuhannya, Allah swt.

Dengan ilmunya yang dalam orang-orang ini dapat memahami kebenaran ayat-ayat Al-Quran. Diantaranya ayat-ayat tentang siang dan malam di awal tulisan ini. Mereka mendapati bahwa ilmu yang susah payah dipelajarinya itu ternyata telah diprediksi 14 abad silam melalui ayat-ayat-Nya dan sunnah rasul-Nya.

Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu betapa kecilnya mereka. Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu bahwa ada kekuatan raksasa di luar sana. Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu dengan ilmu dan akal saja manusia tidak akan sampai pada tuhannya. Untuk itu imanlah yang mereka butuhkan.

Menjadi bukti nyata bahwa Tuhan itu ada, tidak mati seperti apa yang dikatakan Friedrich Nietszche, filosof terkenal Jerman kelahiran 1844 dan juga teman-temannya sesama filosof ateis sezamannya.

( Baca :

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=151%3Aatheis&catid=2%3Ahamid-fahmy-zarkasyi&Itemid=17 ).

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ».(QS.Al-Hasyr(59)22-24).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 September 2012.

Vien AM.

Dunia sains modern di awal abad ke-20 M dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan berkebangsaan Jerman itu pada tahun 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat Majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory).

Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=mc2. Rumus teori relativitas yang begitu populer itu menyatakan kecepatan cahaya adalah konstan. Teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat.

Inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan dua pengamat yang bergerak relatif terhadap masing-masing akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu,isi hukum fisik akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.

“Pertamakali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas sekitar tahun lalu 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul, namun saya yakin ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,”ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University pada 4 Desember 1922.

Benarkah Einstein pencetus teori relativitas pertama? Di Barat sendiri ada yang meragukan bahwa teori relativitas pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, Ada yang berpendapat bahwa Teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada tahun 1632.

Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas. Adalah saintis dan filosof legendaris bernama Al-Kindi yang mencetuskan teori itu.

Sesungguhnya tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al-Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci Alquran. Sebab, tak diragukan lagi jika ayat-ayat Alquran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.

Aya-ayat Alquran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutpi dengan cara-cara yang sangat jahat.

Dalam Al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era kekhalifahan Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.

Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, benda semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat seperti Galileo, Descartes dan Newton menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi.

“Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda, dengan gerakan; gerakan, dengan benda,”papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, ” …jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al-Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.

Gagasan yang dilontarkan Al-Kindi itu sangat sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolute,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, kenyataannya pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya.

Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke obyek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein.

Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan seseorang yang melihat sebuah obyek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit , dia melihat pohon-pohon lebih kecil, jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar.

“Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi kita dapat mengatakan itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada obyek yang lain,” tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat.

Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al-Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya adalah relatif dan terbatas.

Meski setiap individu manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, ruang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-11 M. “Eksistensi dunia ini terbatas, meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein.

Dengan teori itu, Al-Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan, karena itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu itu pada dasarnya sama. Hanya saja, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti.

Bahkan, teori relativitasnya telah digunakan untuk pengembangan energi, bom atom dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al-Kindi mengungkapkan teorinya itu untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan Keesaannya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketahui.

Relativitas dalam Alquran
Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Alquran yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Alquran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakqwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan agar manusia berpikir.

Inilah beberapa ayat Alquran yang membuktikan teori relativitas itu:
“…. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS: Al-Hajj:47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs: As-Sajdah:5).

“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”(QS:70:3-4).

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS: An-Naml:88).

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS: 23:122-114)

Karena kebenaran Alquran itu, konon diakhir hayatnya Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam. Dalam sebuah tulisan, Einstein mengakui kebenaran Alquran.“Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Alquran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar,” ungkap Einstein. Wallahualam…[/size]

Sumber Oleh: Heri Ruslan

Diambil dari : http://mualaf-alhamdulillah.blogspot.com/2012/07/ternyata-penemu-teori-relativitas.html

 

 

 

Ramadhan yang jatuh pada musim panas tahun 2012 lalu tampaknya bakal menjadi puasa terakhir kami selama di rantau. Puasa dimana imsak jatuh pada sekitar pukul 4.30, magrib sekitar pukul 21.50 dan isya sekitar pukul 23.45 bila jatuh pada musim panas. Ini adalah tahun ke 4 kami tinggal di Paris, Perancis.

Jujur, bayangan puasa menahan lapar dan haus nyaris 18 jam ini ( di tanah air sekitar 13 jam) telah menghantui  tidak saja saya dan suami tetapi juga sebagian besar kenalan kami.  Ini masih ditambah lagi dengan cuaca panas lebih dari 30 drajat yang biasanya bertandang di bulan Juli – Agustus. Dengan alasan ini pula banyak teman kami yang memilih menjalankan kewajiban rukun Islam ke 3 ini ( banyak pula yang berpendapat puasa adalah rukun ke 4) dengan mudik ke tanah air. Disamping musim panas yang biasanya berlangsung selama 2 bulan itu, anak-anak memang selalu libur panjang.

Namun dengan berbekal pengetahuan bahwa Allah swt tidak akan membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya , maka tenanglah hati ini. Dan memang demikian nyatanya, ketika akhirnya bulan yang dinanti-nantikan  itu tiba, tanpa terlalu banyak kesulitan kami dapat melaluinya. Allahuakbar ..

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. … … “. (QS. Al-Baqarah(2):286).

Dengan izin-Nya,  suhu udara awal Ramadhan yang jatuh di pertengahan Juli itu hanya berkisar di 20 drajat Celcius. Kesejukan yang sungguh bukan hal yang ‘normal’ mengingat l’ete bahasa Perancis untuk musim panas, biasanya bisa mencapai 30 drajat lebih. Alhamdulillah …

Dan seperti juga Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, setiap malam Minggu KBRI Paris konsisten menyelenggarakan buka puasa bersama di aula gedung kedutaan yang terletak di Paris 16 itu. Bedanya, kali ini tidak ada penyelenggaraan shalat taraweh dengan alasan malam terlalu larut. Yang akibatnya terlalu merepotkan pihak kedutaan. Disamping juga khawatir kurang peminat. Maklum, kedutaan kan bukan masjid  bukan pula khusus milik kaum Muslimin dan pegawainyapun bukan semuanya Muslim.

Kenapa g sekarang aja tarawehnya?”, celetuk seorang ibu setengah kecewa mengetahui bahwa kedutaan hanya menyelenggarakan buka puasa bersama dan Magrib berjamaah.

Ya g bisa dong bu, taraweh itu kan setelah masuk waktu Isya”, jawab saya, lumayan heran juga mendengar pertanyaan polos tersebut. Si ibu tampak tidak puas dengan jawaban tersebut.

 Namun kemudian saya segera menyadari ketidak mengertiannya. Karena  beberapa waktu lalu, pada acara tanya jawab tausiyah menjelang Magrib, ia juga mengajukan pertanyaan yang naif.

“ Uztad, bagaimana caranya supaya suami saya yang non Muslim bisa mengerti  Islam dan mau menemani saya berpuasa?”, lontarnya  lugu dalam bahasa Perancis yang lumayan kacau ditambah logat Sundanya yang kental, membuat hadirin tersenyum geli. Disaksikan seorang bule di ujung sana yang juga tersenyum simpul. Belakangan saya baru tahu bahwa  ternyata bule itu adalah suami perempuan tersebut.

Kebetulan tausiyah memang diberikan oleh seorang imam andalan kedutaan berbangsa Tunisia yang hanya bisa berbahasa Inggris dan Perancis. Plus bahasa Arab tentunya.

… … Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.(QS.Al-Baqarah(2):221).

Ini masih berlanjut ketika saya mendapati bagaimana perempuan setengah baya itu melakukan  shalat Magrib. Ketika itu ia shalat di samping kanan saya. Jadi saya tahu persis bahwa ia memulai shalatnya pada rakaat ke 2. Namun saat imam mengucapkan salam pada akhir shalat ia ikut mengucapkan salam tanpa menambah kekurangan rakaatnya.

Dari pembicaraan yang kami lakukan begitu shalat usai saya jadi tahu bahwa perempuan tersebut memang sangat sedikit memahami Islam. Bahkan bacaan Al-Fatihahnyapun tidak lancar. “Lupa”,  katanya. Padahal menurutnya ibunya telah berkali-kali menunaikan ibadah haji dan wafat di tanah suci.  Sungguh ironis …

Lho, jadi apa dong yang ibu ucapkan ketika shalat?”, tanya saya heran karena bacaan Al-Fatihah itu kan wajib hukumnya.

“ Ya apa saja .. Ya Tuhan sayangi saya, sayangi suami saya yang meski bukan Islam tapi baik hatinya, ampuni saya …  begitu saja”, jawabnya enteng .

Tampak bahwa perempuan separuh baya yang sejak usia 12 tahun telah hijrah ke Paris bersama kedua orang tuanya itu tidak mendapat bekal pengetahuan agama yang cukup. Jelas, Paris memang bukan kota tujuan hijrah yang tepat. Apalagi pasangan hidup yang dipilhnyapun bukan Muslim, bule pula yang seringkali atheis.  Alangkah tragisnya ..

 Tiba-tiba saya jadi teringat kepada saudara-saudari kita seiman imigran dari berbagai Negara Muslim yang cukup banyak jumlahnya di negri bekas pimpinan Zarkozy ini. Keturunan  Aljazair, Tunisia dan Maroko yang merupakan bekas negara jajahan Perancis adalah imigran yang terbanyak menduduki Perancis. Sebagian besar generasi muda yang saat ini hidup di negri ini kemungkinan merupakan generasi ke 3.

Artinya kakek nenek mereka adalah generasi pertama yang berimigrasi ke negri ini. Merekalah yang menjadikan keturunan bangsa Arab penduduk Afrika utara ini mendominasi imigran Perancis. Baik melalui perkawinan sesama bangsa dan sesama imigran maupun perkawinan campur dengan penduduk asli Perancis sendiri.

Ini masih ditambah lagi dengan membludaknya imigran dari Negara-negara Islam korban perang di masa lalu seperti Turki dan imigran dari Negara-negara  Islam yang baru belakangan ini bergejolak seperti Iran, Irak, Mesir, Siria dan Afganistan.

Dengan kata lain, nasib ala ibu “Neneng” asli Sunda yang mengalami krisis identitas itu juga banyak dialami “neneng-neneng” bangsa lain saudara saudari kita seiman di Eropa ini. Tidak hanya di Perancis, saya yakin.

Salah satu buktinya adalah pengalaman saya di Mosquee de Paris, masjid terbesar Paris beberapa waktu lalu. Di suatu hari Jumat di bulan Ramadhan saya pergi ke masjid yang terletak di pusat kota ini untuk ikut shalat Jumat.  Tidak seperti umumnya masjid-masjid  di Jakarta, di masjid ini Muslimah punya jatah cukup besar menempati sebagian kapling masjid untuk shalat berjamaah bersama ribuan Muslim Paris dan sekitarnya.

Terus terang saya sangat menikmati saat–saat berkumpul tersebut meski saya tidak memahami bahasa Arab. Kecuali sedikit mereka-reka bila imam mengutip ayat yang kebetulan saya hafal. Maklum khotbah diberikan dalam bahasa Arab.

Pada saat saya sedang mendengarkan dan berusaha memahami khutbah imam itulah datang serombongan kecil jamaah perempuan. Setelah  beberapa saat celingukan mencari tempat  akhirnya mereka duduk berdesakan tepat di samping saya. Dari penampilannya saya menerka mereka adalah asal Afganistan. Jumlah mereka 5 orang, 1 dewasa dan 4 remaja usia 14-15 tahun.

Beberapa kali saya mendengar  perempuan yang dewasa menterjemahkan apa yang dikatakan imam ke dalam bahasa Perancis. Dari sini saya kemudian menduga bahwa mereka pasti imigran. Usai shalat, perempuan tersebut menerangkan bagaimana cara shalat yang benar. Saya juga berhasil memperhatikan bagaimana  antusiasnya  para remaja tersebut menanggapi  penjelasan dan uraian “ uztazah” mereka tentang Islam. Termasuk ungkapan salah seorang diantara mereka  yang sangat ingin membaca buku-buku mengenai hidup Rasulullah Muhammad saw ketika uztazah mengatakan bahwa di dalam masjid ada perpustakaan.  Terharu hati ini menyaksikan pemandangan indah ini.

Di masjid agung yang dibangun pada tahun 1926 atas inistiatif raja Maroko sebagai penghargaan atas gugurnya 70 ribu tentara Muslim Perancis asal Aljazair inilah beberapa kali saya dan suami bertegur sapa dengan Muslim Perancis. Diantaranya dengan seorang guru besar universitas Istanbul yang dengan bangga menceritakan bahwa baru beberapa bulan yang lalu ia kedatangan saudara seiman dari Indonesia.

Orang tersebut adalah petinggi Muhammadiyah yang tidak asing lagi bagi kita yaitu Din Samsudin. Dengan penuh antusias ia bahkan menyodorkan hpnya kepada suami saya agar suami saya mau berbicara dengan seorang temannya sesama guru besar di universitas terkenal di Turki yang kebetulan menelpon dan bisa berbahasa Indonesia !

Di masjid dimana sejumlah pengungsi Yahudi pernah berlindung dan selamat dari kejaran Nazi ini pula beberapa kali saya ditegur dan dikira Muslim Malaysia. Antara sedih dan bangga; bangga dan bahagia karena sebagai minoritas di perantauan mendapat perhatian dari saudara/inya. Sedih karena mengapa harus Malaysia bukan Indonesia .. Bukankah Indonesia Negara mayoritas terbesar di dunia .. Tambah sedih lagi mendengar desas desus bahwa Muslim Indonesia sulit bergabung dan bercampur dengan Muslim lain dibanding Muslim Malaysia. .. L

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Saya pikir mungkin desas desus tersebut ada benarnya juga. Karena selama 4 tahun di Paris jarang sekali saya berjumpa Muslim Indonesia di masjid ini. Sementara dengan Muslim Malaysia dan Filipina saya sudah beberapa kali berjumpa.

Padahal jumlah Muslim Indonesia yang tinggal di Paris tidaklah sedikit. Ini terlihat dari banyaknya  warga kita setiap kali KBRI menyelenggarakan buka puasa bersama dan shalat taraweh. Sebaliknya sungguh disayangkan melihat kenyataan betapa sedikitnya jumlah uztadz Indonesia atau uztadz yang bisa berbahasa Indonesia di Paris ini. Karena meski sebagian besar masyarakat ini telah lama tinggal di Perancis banyak juga yang tidak begitu menguasai bahasa yang dikenal sulit ini.

Jelas, mereka sangat merindukan santapan rohani, bukan hanya santapan fisik khas tanah air seperti rendang, gudeg dll.  Pada sesi tanya jawab yang biasanya diadakan di akhir tausiyah seperti yang dilakukan bu “ Neneng”  diatas sebenarrnya banyak yang ingin bertanya. Masalah bahasa tampaknya yang menjadi kendalanya. Disamping rasa percaya diri dan keberanian bertanya yang rendah,  seperti yang sering terjadi di lingkungan kita.

Adalah tugas mendesak bagi pihak kedutaan untuk menyiapkan uztad dan uztadzah demi terpenuhinya kebutuhan spiritual masyarakat Muslim di negri dimana kita adalah minoritas.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 September 2012.

Vien AM.

Menggapai Lailatul Qadar

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,(QS.Al-Baqarah(2):183).

Menjelang Ramadhan ayat diatas makin sering muncul. Berpuasalah agar kita, umat Islam menjadi orang-orang yang takwa. Ayat diatas secara jelas menegaskan bahwa berpuasa (di bulan Ramadhan) itu bukanlah sekedar menahan makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Puasa yang diperintahkan-Nya adalah puasa hingga kita bisa mencapai takwa.  Pertanyaannya, adakah semua umat Islam di dunia ini mengetahui persis bagaimanakah orang yang takwa itu?

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”.(QS.Al-Baqarah(2):2-4).

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang takwa adalah orang yang meyakini rukun Iman dan rukun Islam sebagai berikut :

1.Beriman/yakin kepada yang ghaib ( Allah swt, para malaikat dan bangsa jin)

2.Mendirikan shalat ( bukan sekedar melaksanakan shalat, artinya shalat dengan penuh kesadaran akan maknanya).

3. Berinfak sodaqoh.

4. Beriman/yakin kepada kitab-kitab suci ( Al-Quran, Injil, Taurat dan Zabur).

5. Beriman/yakin akan adanya Hari Kiamat.

Keyakinan terhadap kitab-kitab dan hal-hal ghaib diatas bukan hanya yakin sekedar yakin saja. Namun yakin yang melahirkan rasa takut, syukur, tunduk dan takluk kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla hingga dengan suka rela mau melaksanakan hukum dan menjalani  ketetapan-Nya, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya, apapun bentuknya.

Dari Abu Abdul Rahman Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khatthab, beliau berkata:  Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ lslam itu terbina atas lima perkara:  bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan menunaikan puasa pada bulan Ramadhan”.

Allah swt menciptakan  bulan Ramadhan sebagai bulan penggemblengan, bulan pelatihan sekaligus bulan cobaan, sebagai pembuktian seberapa dalam ketaatan kita pada-Nya.  Sementara 10 hari terakhir di bulan Ramadhan atau apa yang disebut Lailatul Qadar adalah hari-hari penobatan bagi siapa yang paling bertakwa. Sayangnya, hari istimewa tersebut dirahasiakan-Nya dari kita. Kitalah yang harus mencarinya.

“Carilah dengan segala upayamu malam Lailatul Qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 akhir dalam Ramadan”-( HR.Ima Bukhari).

“ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan( Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. “Barangsiapa menghidupkan (beribadat sepanjang malam) malam Lailatul-Qadar dan mendirikan shalat dua rakaat, kemudian memohon ampunan  Tuhannya, maka diampunkan dia oleh Allah swt  dan dimasukkan kedalam rahmatNya, kemudian disapukan dia oleh Jibril a.s. dengan dua sayapnya. Barangsiapa disapu oleh Jibril dengan sayapnya maka didalam syurgalah tempatnya…..”.

Dalam riwayat lain,“Barangsiapa mendirikan shalat  empat rakaat dengan membaca surah al-Fatihah, al-Kauthar dan al-Ikhlas tiga kali, dimudahkan menghadapi sakratul maut, dikecualikan daripada azab kubur dan dikurniakan empat tiang daripada nur tiap- tiap satunya terdiri 1000 mahligai“.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Masih banyak lagi hadis tentang Lailatul Qadar ini. Intinya  pada malam itu Allah swt memerintahkan para malaikat termasuk malaikat Jibril as untuk memperhatikan, mendengar  dan mencatat apa yang dilakukan dan diminta hamba-hamba-Nya.  Dan doa dan permohonan pada malam tersebut akan dikabukan-Nya.

Menurut riwayat, adalah Mujahid, seorang sahabat, yang bercerita bahwa ayat tentang Lailatul Qadar turun setelah Rasulullah berkisah tentang seorang shaleh dari bani Israel yang selama 80 tahun rajin berjihad. Riwayat lain dari Ali bin Aurah, pada satu hari Rasulullah telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikitpun tidak durhaka kepada Allah lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Para sahabat merasa iri karena tidak dapat berbuat seperti mereka.

Jibril kemudian datang memberitahukan Rasulullah saw bahwa Allah swt menurunkan ayat yang lebih baik dari amalan orang-orang Yahudi itu. Itulah  surah Al Qadar yang membuat Rasulullah dan para sahabat amat gembira. Allah Azza wa Jalla menjanjikan pahala lebih dari 1000 bulan atau sekitar 84 tahun bagi kaum Muslimin yang beribadah pada malam Lailatul Qadar. Mereka yang dengan ikhlas ikhtikaf ( berzikir minimal sejak Magrib hingga Subuh hari berikutnya di rumah-Nya), tafakur dan bermunajab, berharap malaikat Jibril as mendatangi mereka.

Namun demikian, janji Allah tersebut sesungguhnya hanya berlaku bagi hamba-hamba Allah yang selama satu tahun terakhir berhasil lolos seleksi pemilihan. Puncaknya  di 20 hari pertama Ramadhan berhasil melaksanakan puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan dengan baik.  Merekalah itulah  kandidat pemenang Lailatul Qadar yang sesungguhnya, yang tercatat dalam catatan para malaikat sebagai calon yang memenuhi persyaratan untuk di datangi, untuk menerima janji Tuhannya.

Itulah ganjaran pahala yang setara dengan beribadah selama 1000 bulan atau 84 tahun, 4 tahun lebih banyak dari ganjaran orang Yahudi yang berjihad selama 80 tahun. Jadi bukan mereka yang tafakur dan ikhtikaf hanya selama malam-malam suci di mana Al-Quran pertama kali diturunkan.

Apalagi sekedar membaca dan khatam  Al-Quran dalam bulan Ramadhan namun tanpa mengkajinya, meski pahalanya tentu saja kita dapatkan, insya Allah. Karena sesungguhnya hikmah keberadaan ayat-ayat tersebut baru terasa bila kita mau merenungkan  dan mengkajinya dengan seksama.

Demikian juga  shalat malam seperti  tarawih dan tahajud, berinfak sedekah serta amal kebajikan yang dikerjakan hanya ketika Ramadhan datang. Ini semua tidak cukup menjadi jaminan bahwa seorang hamba bakal lolos seleksi untuk ikut dalam lomba mencapai Lailatul Qadar.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda : “ Apabila masuk bulan Ramadhan, dibukakan pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka Jahannam, serta dibelenggu  syaitan-syaitan”. (HR. Bukhari).

Hadis diatas banyak disebut ketika memasuki bulan Ramadhan. Yang menjadi pertanyaan, bila selama bulan suci tersebut syaitan-syaitan dibelenggu, mengapa kejahatan tetap saja terjadi pada bulan tersebut ?

Ini sebuah kenyataan yang sungguh mengerikan.  Karena hal ini justru menjadi bukti bahwa tanpa gangguan syaitanpun ternyata manusia bisa tetap berbuat jahat. Artinya, sifat, kebiasaan dan pengaruh syaitan itu bisa menjadikan manusia menjelma menjadi syaitan itu sendiri!

Hal-hal yang tampaknya kecil dan sederhana;   tertib dalam  shalat misalnya, Ini adalah perintah rutin imam agar merapatkan dan merapikan shaf sebelum shalat jamaah dimulai, yang acap kali diabaikan makmum. Padahal bukankah dari kecil kita sering diberi tahu  bahwa shaf yang tidak rapat bakal diselipi syaitan yang akan mengganggu konsentrasi shalat kita?

Bukan sekali dua kali saja, saya melihat, terutama jamaah perempuan, memulai shalat tanpa menggubris peringatan imam. Masing-masing bersikukuh berdiri di tengah-tengah sajadah yang lebarnya bisa mencapai 50 cm. Boleh jadi sajadahnya memang rapat tapi tidak orangnya. Ini masih lebih baik. Karena sering juga terjadi, lagi-lagi biasanya di bagian perempuan, shaf yang “bolong-bolong” di sana sini.

Belum lagi, kebiasaan makmum yang sering mendahului gerakan imam. Belum juga imam selesai mengucap takbir, makmum sudah bergerak mengganti gerakan. Tiba-tiba saya teringat ucapan seorang da’i pada salah satu tausiyah Ramadhan yang  mengingatkan bahwa hal-hal tersebut beresiko mengeluarkan seseorang dari jamaah shalat yang ganjarannya 27 x lipat itu. Sungguh ironis bukan ?

Ramadhan dengan  Lailatul Qadarnya memang telah lewat. Tapi bila Allah berkehendak, saat-saat indah yang penuh berkah tersebut mungkin masih bisa kita nikmati tahun depan. Jika kita memang benar-benar ingin mendapatkan keberkahan tersebut, mengapa kita tidak mempersiapkannnya sedini mungkin.

Dengan puasa syawal yang 6 hari ini misalnya. Puasa ini sangat istimewa karena Allah swt mengganjarnya dengan puasa satu tahun penuh. Mumpung masih ada waktu.

“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dgn (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) 2 bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( HR.Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Atau dengan mulai membiasakan diri shalat subuh berjamaah di masjid ( bagi kaum laki-laki) serta tertib dalam mengerjakannya. Atau memulainya dengan berusaha  membuang sifat-sifat syaitan dan kebiasaan-kebiasaan buruk, hingga ketika Ramadhan tiba nanti kebiasaan-kebiasan tersebut benar-benar telah hilang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Agustus  2012.

Vien AM.

Buah Ramadhan

Kaum Muslimin adalah kaum yang paling beruntung di dunia ini. Sungguh, betapa banyaknya nikmat yang dilimpahkan Sang Khalik kepada umat nabi terakhir, Rasulullah Muhammad saw ini.  Bulan suci Ramadhan adalah salah satu buktinya.

Betapa tidak … Sekali dalam setahun, sebulan lamanya, Allah swt menawarkan diskon besar2an. Inilah pesta obral terbesar bagi kaum Muslimin yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Pada bulan suci ini Sang Khalik melipat gandakan balasan setiap amal perbuatan kita. Dan balasan terbesar adalah dibersihkannya kita dari segala kotoran dan dosa hingga bagaikan bersihnya hati seorang bayi yang baru dilahirkan ! Subhanallah ..

Seorang Muslim yang beruntung menerima ganjaran diatas akan terlihat dari sikap dan prilakunya, setelah berakhirnya Ramadhan. Tindak-tanduknya akan jauh lebih baik dari sebelum bulan diskon tersebut.  Bila sebelumnya ia ‘cuek’ atau tidak/kurang  peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya; khususnya kedua orang tua, orang-orang miskin dan anak-anak yatim piatu, maka setelah Ramadhan ia lebih perhatian dan peka terhadap orang-orang tersebut.

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (QS.An-Nisa(4):36).

Dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad saw bersabda : “Sebaik-baik rumah orang muslim adalah apabila di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik dan sejelek-jelek rumah orang muslim adalah apabila terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk”.

Dari  Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :“ Orang yang menolong para janda serta orang miskin sama ( pahalanya ) dengan orang yang berjihad dijalan Allah swt”.  

Ditambah lagi, ia lebih sabar dan dapat menahan amarah dari pada sebelum bulan suci Ramadhan.  Ia pandai meniru apa yang dicontohkan Rasulullah saw yang memang sudah seharusnya menjadi panutan kaum Muslimin. Yaitu segera berwudhu ketika godaan syaitan datang menggoda agar tidak menahan sabar dan amarah. Setelah itu iapun mendirikan shalat sunnah 2 rakaat.

“ Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS.Al-Baqarah(2):153).

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah  menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR.Ahmad).

“Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

Namun demikian seorang hamba yang telah dibersihkan hatinya itu tidak berarti tidak boleh marah. Bila ia telah merubah posisinya dari berdiri, duduk kemudian berbaring, setelah itu berwudhu kemudian shalat dengan khusuk, namun rasa marah tetap berada di dalam hatinya, berarti marah tersebut adalah marah yang diridhoi-Nya.

Dari Muadz bin Anas al-Juhani bahwa Rasulullah saw. bersabda: “ Barangsiapa yang memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya”.

Seseorang yang telah dibersihkan dosa dan kesalahannya jadi pandai memaafkan kesalahan orang lain. Ia tidak perlu menunggu  orang yang telah menyakiti hatinya meminta maaf terlebih dahulu. Tanpa diminta ia mampu memaafkan  saudaranya itu. Tidak ada rasa dendam dan permusuhan dalam diri orang yang bersih hatinya.  Ucapan maaf tidak hanya sekedar ucapan di bibir melainkan tulus dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas adalah kuncinya. Inilah ciri khas orang yang takwa.

“…Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Baqarah: 237).

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang takwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali Imran(3):133-134).

Islam mengajarkan “ yang terlebih dahulu datang untuk menjalin hubungan, jauh lebih utama di sisi Allah daripada yang menunggu.”

Ciri khas orang takwa yang lain adalah segera bertaubat ketika melakukan kesalahan serta tidak mengulanginya kembali. Ia tidak menunda-nundanya hingga datang kesulitan, sakit apalagi sakratul maut. Intinya ia selalu berusaha untuk mendekatkan diri ( taqarub) pada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Singkat kata, tindak tanduk orang yang berhasil mencapai takwa dalam bulan Ramadhan adalah :

1.Memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi.

2. Tidak murah marah.

3. Cepat memaafkan kesalahan orang lain.

4. Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Itulah buah Ramadhan. Dapat dibayangkan bila saja setiap tahun sejumlah hamba berhasil memetik buah ini  alangkah damainya bumi kita tercinta ini. Tidak ada korupsi, tidak ada kemiskinan, tidak ada kecurangan, kezaliman dll. Bahkan kesulitanpun akan hilang. Karena janji Allah sebagai berikut :

… … Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. … … Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya  … … … Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. … …  dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”.(QS.At-Thalaq(65):2-5).

Hal penting yang patut menjadi perhatian, malaikat Jibril as pernah meminta Rasulullah saw agar mengamini doanya. Doa tersebut adalah permintaan agar Allah tidak menerima puasa seseorang ketika :

1.  seorang hamba masih menyakiti hati kedua orang-tuanya.

2.  seorang istri masih juga membangkang suaminya atau seorang suami masih mendzalimi  istrinya.

3.  seorang hamba masih  menyimpan rasa dendam dan permusuhan terhadap hamba yang lain.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Agustus 2012.

Vien AM.

( Disarikan dari khutbah Iedul Fitri 1433 H di lapangan RS Dr. Soeyoto jln Veteran, Jakarta Selatan).

Namun yang mengejutkan, penelitian terakhir melaporkan bahwa Tutankhamon kemungkinan besar bukan putra pasangan Akhenaton dan permaisuri Nefertiti, namun dengan adik kandung Akhenaton sendiri !  Cacat fisik yang diderita fir’aun muda tersebut dan terdeteksi melalui pemeriksaan CT scan membuktikan bahwa ia lahir dari produk incest, alias hubungan seks antara saudara kandung.

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”,(QS.An-Nisa(4):23).

Zulkarnaen memang hidup jauh sebelum Al-Quran diturunkan. Tetapi sebagai seorang hamba yang dikisahkan Al-Quran sebagai sosok yang diagungkan-Nya rasanya sungguh mustahil berbuat zalim, meski pada zaman itu perkawinan antar anggota keluarga adalah hal yang lazim saja, terutama antar anggota kerajaan.

Kabar terbaru, Februari 2010, mummi Akhenaton telah ditemukan. Mummi ini sebenarnya telah lama ditemukan, yaitu pada tahun 1907, lagi2 di Wadi Al-Mulk.  Namun baru pada tahun 2005-2009 diteliti oleh tim khusus melalui pemeriksaan DNA. Dan kesimpulannya, mummi tersebut adalah  mummi Akhenaton yang selama ini dianggap raib itu.

Bagaimana dengan orang mukmin dari keluarga fir’aun yang hidup di masa nabi Musa as, pada ayat 28 surat Al-Mukminin, yang pernah dianggap sebagai Zulkarnaen? Fir’aun mana yang dimaksud ayat tersebut? Betulkah firaun yang mengejar nabi Musa ketika melintasi laut dan akhirnya ditenggelamkan-Nya?

Sejak lama orang Barat beranggapan bahwa fir’aun yang dimaksud adalah Ramses II. Ini  berdasarkan pendapat seorang pendeta Yahudi yang hidup pada tahun 300 an SM, jauh sebelum ditemukannya mummi fir’aun tersebut. Mummi  baru ditemukan pada tahun 1881 M di Wadi Al-Mulk. Namun sejak tahun1960-an dengan makin majunya ilmu pengetahuan, para arkeolog mulai meragukan kebenaran hal tersebut.

Adalah Maurice Bucaille, seorang dokter Perancis yang meminta agar pemerintahnya ‘meminjam’ mumi Ramses II yang disimpan di museum Kairo untuk diteliti melalui CTscan dinegaranya. Dari hasil penelitian inilah disimpulkan bahwa Ramses II adalah Pharaoh the Exodus atau fir’aun yang hidup di zaman nabi Musa as. Ini karena banyaknya kadar garam yang ditemukan dalam tubuh mumi tersebut.

Disimpulkan bahwa fir’aun yang tenggelam di laut Merah ini segera dimumikan dan dimakamkan di Wadi Al-Mulk, makam para fir’aun, begitu jenazahnya ditemukan mengambang di tepi laut.

“ Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.(QS.Yunus(10):92).

Kabarnya, temuan yang sangat cocok dengan ayat diatas inilah yang kemudian membuat Bucaille, sang dokter Perancis Nasrani tersebut, memeluk Islam. Subhanallah .. Meski di belakang hari, akibat pendapat dan buku2nya yang cenderung selalu mengaitkan Islam dengan sains yang dianggap berlebihan, membuat sebagian ulama meragukan ke-islam-annya itu. Karena sains, bagaimanapun bisa keliru dan terus berkembang. Sementara ayat Al-Quran adalah abadi. Sains yang harus mengikuti Al-Quran bukan sebaliknya.

Seperti juga temuan-temuan mumi fir’aun yang bisa saja keliru, Istri Ramses II, contohnya. Sains menyatakan bahwa Nefertari dan Isisnefret adalah permaisuri Ramses II. Dikatakan bahwa Nefertari memiliki 5 anak lelaki dan 4 anak perempuan. Sedangkan Isisnefret mempunyai  3 anak lelaki dan 2 anak perempuan.

Padahal Islam menyakini bahwa Asiah binti Muzahim, permaisuri kesayangan fir’aun yang hidup di zaman nabi Musa as, tidak memiliki seorangpun anak. Itu sebabnya ia memohon suaminya agar mau mengambil Musa menjadi anak angkat mereka. Yang saking sayangnya terhadap permaisurinya ini fir’aun rela menahan amarahnya ketika anak angkatnya merenggut janggutnya. Janggut yang merupakan lambang kehormatannya sebagai penguasa tertinggi. Hebatnya lagi, dikisahkan bahwa Asiah tetap ‘virgin’ hingga akhir hayatnya karena Allah swt melindunginya dari kekuasaan fir’aun zalim tersebut, sebagai seorang suami.

Disamping itu Ramses II dikenal sebagai penguasa Mesir tersukses. Ia dianggap adil dan bijaksana. Selama kekuasaannya Mesir mencapai puncak kejayaan. Kekuasaannya sangat luas dan kekayaannya melimpah. Tulisan yang tergores di patung Obelisk yang berdiri tegak di Place de la Concorde, bundaran termegah dan terkenal di Paris, adalah salah satu buktinya.

« Ramses, penakluk seluruh rakyat asing, raja dari segala raja. Ramses yang menaklukan jutaan manusia, memerintahkan agar seluruh dunia tunduk kepada kekuasaannya, tunduk berdasarkan suara ayahnya, Amon ».   

Amon adalah dewa tertinggi, tuhannya orang Mesir kuno. Obelisk sendiri adalah tugu khas Mesir. Pemerintah Mesir menghadiahkan obelisk ini kepada pemerintah Perancis pada era Napoleon Bonaparte berkuasa.

Atau mungkinkah ayat berikut dimaksudkan bagi Ramses II, penguasa terbesar Mesir tersebut?

“ Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih.”(Yunus(10):88).

Sementara Al-Quran juga menceritakan bagaimana pada suatu waktu fir’aun ini pernah memerintahkan agar para bayi lelaki yang lahir segera dibunuh karena takut akan ramalan bahwa ia bakal terguling karena adanya bayi tersebut.

“Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.(QS.Al-Qashsosh(28):4).

Alangkah indahnya bila saja para cendekiawan Muslim bersatu membuat penelitian ilmiah dengan dasar dan pegangan Al-Quran untuk menggali segala macam peninggalan sejarah di dunia ini, termasuk para fir’aun dan orang-orang yang diabadikan-Nya, baik maupun buruk. Peninggalan Karun misalnya ..

 “ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.(QS.Qashash(28):76).

Bila peninggalan Tutankhamon saja bisa sebegitu hebohnya, bisa membuat dunia terkagum-kagum dan menjadi ladang emas bagi penemunya, padahal Al-Quran tidak mengabadikannya, bagaimana dengan Karun, yang bahkan kunci-kunci gudangnya saja sampai harus dipikul sejumlah orang kuat ….

Peninggalan tersebut kabarnya memang telah ditemukan yaitu di Al-Fayyum, sekitar 150 km di barat daya Kairo. Tempat ini berdekatan dengan danau Qarun. Namun temuan tersebut masih sangat minim, mengingat Allah swt mengabadikannya dalam Al-Quran.

Adalah tugas kita sebagai Muslim yang mewarisi Al-Quran, yang dipercaya menerima  kabar ghaib itu langsung dari Sang Khalik. Agar mencari, menggali, meneliti dan membuktikan kebenaran ayat-ayat-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta,9 Agustus 2012.

Vien AM.