Feeds:
Posts
Comments

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS.Al-HUjurat(49):13).

Ya, salah satu hikmah terbesar mendapat kesempatan tinggal di luar negri memang adalah mengenal dan mengetahui keberadaan bangsa-bangsa lain. Sungguh merupakan nikmat yang kecil kemungkinannya bisa didapat bila kita tetap terus berada di dalam negri. Karena meski di kota-kota besar negri kita, apalagi Jakarta sebagai ibu kota Negara, bule bisa kita jumpai, nuansa dan suasananya sangatlah berbeda.

Di dalam metro ( transportasi umum bawah tanah Perancis), di pertokoan, di restoran, di jalanan apalagi di obyek-obyek wisata, yang jumlahnya banyak di kota pusat mode dunia ini, warna kulit dan bahasa yang bermacam-macam itu bisa menjadi daya tarik tersendiri.  Sungguh terasa, betapa hebatnya Sang Pencipta!

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”.(QS.Ruum(30):22).

Paris adalah kota tujuan utama wisatawan manca Negara. Di kota ini bermacam bangsa, warna kulit dan  bahasa berbaur. Tentu saja tidak sama dengan berbaurnya umat Islam di kota suci Mekah yang berbaur karena landasan ketakwaaan. Di Paris, pada umumnya, orang berkunjung selain untuk mengagumi keindahan kota yang terkenal dengan menara Eiffelnya ini, juga  untuk berbelanja barang-barang mewah ber-merk.

Buktinya, lihat saja butik mewah kenamaan Louis Vuitton, rumah mode barang-barang kulit asli Perancis yang terletak di Champs-Elysees  itu. Orang rela berduyun-duyun mengantri di depan pintu butik ini demi membeli sebuah tas yang harganya bisa mencapai belasan juta rupiah ! Orang-orang Asia seperti Jepang, Cina, Korea dan juga orang Indonesia adalah termasuk mereka yang doyan mengantri. Malu juga sebenarnya hati ini, menyadari bahwa negara kita adalah negara miskin ntah, ke berapa di dunia ini. Bahkan mayoritas penduduknyapun Muslim, yang diajarkan agar hidup tidak berlebihan, tidak bermegah-megahan.

“ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,”(QS.At-Takatsur(102):1).

Paris memang dikenal sebagai pusat mode dunia, kota yang juga dikenal romantis, tujuan bagi pasangan pengantin baru yang memiliki uang berlebih, untuk sekedar berbulan madu.

Namun demikian ternyata Paris juga bukan hanya tujuan orang-orang kaya. Buktinya, peminta-minta, dari hari ke hari, makin banyak saja, dan kebanyakan dari mereka adalah imigran. Yang lebih menyedihkan,  mereka adalah kaum imigran, korban perang dan kerusuhan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim ! Afganistan,  Palestina, Irak, Iran adalah contohnya. Untungnya, imigran dari Eropa Timur yang notabene bukan mayoritas Muslim ternyata yang tercatat sebagai imigran yang paling sering melakukan pencurian di metro.

Secara pribadi, terus terang saya tidak habis berpikir, mengapa para korban perang dan kerusuhan tersebut memilih Perancis sebagai tempat tujuan. Karena selain sulit menjalankan ibadah, iklim di negri ini sebenarnya juga kurang bersahabat, terutama pada saat musim dingin tiba. Tidak jarang saya melihat, ibu dengan bayi atau putra/putrinya yang masih kecil, mengemis di sudut-sudut jalan, sambil menahan rasa dingin yang betul-betul menggigit hingga ke tulang. Apalagi kalau hari Jum’at, di sepanjang jalan menuju masjid Mosque de Paris, berjejer mengemis para perempuan;  tua muda, dengan anak-anaknya ataupun sendiri saja.

Dari Hakim bin Hizam r.a katanya:”Tangan yang di atas (tangan yang memberi) lebih baik dari pada  tangan yang di bawah (tangan yang menerima atau meminta). Maka karena itu mulailah memberi kepada keluargamu. Sebaik-baik sedekah ialah ketika kaya. Barangsiapa  yang memohon dipelihara (agar ia tidak sampai meminta-minta) Allah akan memeliharanya dan barangsiapa yang memohon dicukupkan (agar ia tidak bergantung selain kepada Allah) Allah akan mencukupkannya.”

Jika mereka Muslim yang baik, pasti mereka tahu persis hadist di atas. Artinya, kalau tidak karena terpaksa pasti mereka tidak akan melakukan hal tersebut. Sungguh menyedihkan, bukan ?

Namun yang juga harus dicatat, kaum imigran tidak selalu orang miskin alias orang tidak mampu. Anak saya pernah memperkenalkan teman sekolahnya, seorang imigran asal Chechnya.  Ia dan keluarganya meninggalkan Negara bekas jajahan Rusia ini karena kerusuhan yang terjadi di negrinya. Demi memperjuangkan kemerdekaannya, negara berpenduduk  mayoritas Islam ini harus menderita hebat selama 2 x perang melawan Rusia.

Bella, demikan nama gadis teman putri saya ini, bersama keluarganya, hanya dengan bekal sejumlah uang tunai yang dapat mereka bawa, terpaksa meninggalkan harta kekayaan dan tanah air mereka tercinta. Menurut cerita putri saya, ayah dan abang Bella sesekali masih suka pulang ke negaranya untuk membantu perjuangan saudara-saudaranya di negri yang hingga detik ini masih juga bergejolak.

Tapi jangan dikira bahwa selama mereka di Perancis inipun mereka dapat hidup tenang. Karena sebagai imigran gelap yang tidak memiliki surat-surat resmi, sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan.  Pada saat-saat seperti ini sungguh terasa betapa tidak berartinya uang berapapun besarnya.

Saya juga mempunyai kenalan seorang warga Azerbaijan, yang juga bekas jajahan Rusia. Ia memang bukan imigran. Ia tinggal di Perancis  dalam rangka mendampingi suaminya bekerja di negri ini. Darinya saya menjadi tahu bahwa jumlah imigran asal negaranya di Perancis ini relative cukup banyak. Melalui  perkenalan ini pula saya jadi tahu sedikit tentang Azerbaijan.

Sama dengan Chechnya, negri ini juga sering dilanda kerusuhan.  Tidak hanya perang terhadap Rusia dalam rangka meraih kemerdekaannya  tetapi juga dengan Armenia, negri tetangganya.

Selama ini Holocaust yaitu peristiwa pembersihan ras Yahudi oleh Nazi paska PD II selalu dibesar-besarkan Barat. Menyusul baru-baru ini, Israel menuduh Turki harus mempertanggung-jawabkan peristiwa terbunuhnya sejumlah besar orang-orang Armenia. Padahal peristiwa tersebut telah terjadi pada awal tahun 1900-an. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan menyebutkan Genosida. Meski tentu saja hal ini tidak terbukti dan masih menjadi bahan perdebatan.  Namun pernahkah kita mendengar apa yang pernah dilakukan bangsa Rusia dan bangsa Armenia terhadap bangsa Arzeri  di Armenia, yang dilakukan belum terlalu lama ini, yaitu pada  1987-1988 ?

Arzeri yang rata-rata pemeluk Islam adalah nama penduduk Azerbaijan. Sebelum  tahun 1828, mereka merupakan 80 %  penduduk wilayah yang  saat ini menjadi wiayah Armenia yang mayoritas Kristen. Namun secara bertahap, mulai Rusia menguasai wilayah ini hingga Armenia melepaskan diri dari Rusia pada tahun 1918, bangsa Azeri  terus tersingkir.  Malah berdasarkan beberapa sumber, pernah pada suatu saat dilaporkan, tak satupun orang Arzeri hidup di Armenia.  Oleh pemerintah setempat dibantu Rusia, mereka dideportasi ke Azerbaijan.

Saat ini bangsa Arzeri di Armenia adalah bangsa minoritas. Permusuhan sengit antara keduanya terus terjadi hingga detik ini. Masing-masing saling mengklaim bahwa bangsa mereka telah berusaha untuk dipunahkan. Namun Barat tampaknya tidak mau peduli terhadap keluhan dan penderitaan Arzeri. Persis seperti yang terjadi atas bangsa Palestina oleh Yahudi di Yerusalem, khususnya  dan hampir seluruh wilayah Palestina yang direbut Israel.

Sementara pengalaman dan cerita saudara-saudari kita asal Magreban (Aljazair, Maroko dan Tunisia) lain lagi. Pada awal abad 19, penduduk ketiga Negara bekas jajahan Perancis ini awalnya didatangkan ke Perancis karena Perancis kekurangan tenaga kerja dan kecilnya angka kelahiran. Karena di negrinya sendiri lapangan pekerjaan juga sulit akhirnya secara bergelombang mereka datang memenuhi kebutuhan tersebut. Mereka beranak pinak di negri ini, mencintai dan menganggap Perancis sebagai negrinya sendiri. Bahkan pada beberapa kali perang,  banyak diantara bapak dan kakek mereka gugur dalam perang demi mempertahankan bangsa ( Perancis).

Ironisnya, detik ini, sejumlah tokoh politik Perancis mempermasalahkan masalah imigran ini. Para imigran dianggap tidak bisa berintegrasi dengan baik ( baca tidak mau meninggalkan ajaran Islam sebagai ajaran nenek moyang ! ). Seperti biasa, laicite, adalah alasannya.

« Saya berbahasa Perancis, saya bersekolah di sekolah umum Perancis, teman-teman sayapun banyak orang Perancis. Tinggal Islam, agama saya, yang tidak saya tinggalkan”, begitu keluh sebagian mereka.

Di klub dimana saya menjadi salah satu anggotanya, saya mempunyai 2 orang kenalan asli Jerman yang bersuamikan orang Islam Maroko, warga Perancis. Saya tidak yakin kalau ke 2 orang kenalan saya itu berpindah memeluk Islam.  Anak-anaknyapun saya tidak tahu, dididik dalam agama apa mereka itu.

“ Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.(QS.Al-Baqarah(2):221).

“ Kami beri nama anak kami Maryam Yasmin dengan panggilan Yasmin. Eh, sekarang setelah dewasa ia tidak mau dipanggil Yasmin, maunya Maryam”, demikian keluh salah satu kenalan saya itu. Sayang, saya tidak begitu paham maksud keluhannya. Apakah itu berarti anaknya telah memilih Islam sebagai agamanya dan merasa lebih nyaman dengan nama Maryam yang lebih islami daripada Yasmin ? Wallahu’alam.

Kenalan saya yang lain, suami-istri asli Perancis, bermenantukan gadis India Muslim. Itu sebabnya mereka berdua terutama sang ibu, sangat memahami saya. « Kamu tidak usah khawatir, saya sengaja masak makanan laut, agar kamu bisa makan. … Kue inipun tidak mengandung alkohol … Kalau kamu mau shalat, di kamar ini saja. Ini bersih”, kata kenalan saya tersebut, sambil menunjukkan kamar dimana saya bisa shalat..

Namun jangan heran juga, kalau dalam sebuah perdebatan, ia kukuh membela prilaku Homoseksual! Alasannya sederhana saja, setiap orang kan bebas memilih mengikuti kehendaknya. Itulah toleransi. Yaah, beginilah cara berpikir orang yang tidak beragama, yang tidak percaya akan adanya Tuhan, tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian, bahwa suatu saat nanti akan dibangkitkan dari kematiannya. Cara berpikirnya hanya kebaikan dimensi duniawi.

“ Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (QS.Al-Isra(17):49).

“ Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?”(QS.At-Taubah(9):125-126).

Bergidik hati ini, membayangkan kemurkaan Sang Khalik. Perancis di akhir April, malah di awal Maret mustinya sudah memasuki musim semi, waktu dimana daun-daun mulai tumbuh dan bunga2 mulai bersemi setelah 3 bulan lamanya bersembunyi dari dinginnya salju. Dengan mulai naiknya suhu udara, matahari yang menghangati permukaan bumi, mustinya, inilah masa-masa indah yang paling dinanti-nanti.

Namun bagaimana nyatanya? Hingga detik ini, di pagi hari suhu masih berkisar antara 3-6 drajat, siang antara 7-12 drajat. Bagi orang asing atau pendatang mungkin hal ini tidak begitu terasa. Tetapi bagi penduduk atau ilmuwan, terutama  yang bergerak di bidang meteorologi, ini bukan hal yang biasa. Lebih jauh lagi, ini bisa berakibat fatal, karena akan sangat mengganggu ekosistim. Perubahan cuaca akan mengganggu berbagai hal, diantaranya panen, yang pasti sangat dibutuhkan manusia. Tidakkah mereka menyadari bahwa ini adalah peringatan dari-Nya??

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS.Al-Qashash(28):71-72).

Dulu, pada zaman nabi Musa as yang diberi mukjizat tongkat menjadi ular kepada penduduk Fir’aun di Mesir yang ahli shir, para ahli sihirlah yang paling dahulu beriman. Sekarang, di zaman dimana sains dan ilmu pengetahuan berkembang pesat,  siapakah yang kira-kira akan beriman terlebih dahulu ?

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 24 April 2012.

Vien AM.

Advertisements

Sebut saja namanya Khadija, nama yang digunakannya setelah masuk Islam. Ia seorang profesor keturunan Yahudi yang menemukan cahaya Islam setelah menyaksikan kematian seorang sutradara bernama Tony Richardson akibat penyakit AIDS. Khadija mengagumi Richardson sebagai sutradara panggung drama yang profesional, brilian dan diakui kalangan seniman internasional.

Kehidupan Richardson sebagai homoseks menularkannya penyakit AIDS yang mematikan. Dari situlah Khadija mulai memikirkan gaya hidup masyarakat Barat dan masyarakat Amerika terutama dalam masalah moralitas. Khadija pun mulai melirik ajaran Islam.

Khadija memulainya dengan mempelajari sejarah Islam. Sebagai seorang Yahudi, ia masih mengingat sejarah nenek moyangnya, Yahudi Spanyol yang hidup di tengah masyarakat Muslim dan terusir pada masa inkuisisi pada tahun 1942. Khadija mempelajari bagaimana kekhalifahan Turki Ustmani memperlakukan para pengungsi Yahudi dengan cara yang manusiawi pada masa pengusiran orang-orang Yahudi dari daratan Eropa.

“Allah membimbing saya dalam belajar dan saya belajar Islam dari banyak tokoh seperti Imam Siddiqi dari South Bay Islamic Association, Hussein Rahima dan kakak angkat saya, Maria Abidin, seorang muslim orang Amerika asli dan bekerja sebagai penulis di majalah SBIA, IQRA,” kisah Khadija mengawali ceritanya sebelum menjadi seorang muslim.

Saat melakukan riset tentang Islam, Khadija mewawancarai seorang pemilik toko daging halal di sebuah distrik di San Francisco. Di toko itu ia bertemu dengan seorang pembeli, perempuan berjilbab yang kemudian sangat mempengaruhinya dalam memahami ajaran Islam. Khadija terkesan dengan perilaku perempuan itu yang lembut dan ramah, apalagi perempuan berjilbab itu ternyata menguasai empat bahasa asing.

“Kecerdasannya, membuat saya merasa terbebas dari sikap arogan dan memberikan kesan mendalam di masa-masa awal saya mempelajari bagaimana Islam bisa mempengaruhi perilaku manusia,” ujar Khadija.

“Riset yang saya lakukan membuat saya tahu lebih banyak tentang Islam dari sekedar sekumpulan fakta, bahwa Islam adalah agama yang hidup. Saya belajar bagaimana kaum Muslimin memperlakukan diri mereka sendiri dengan penuh martabat dan kebaikan sehingga bisa mengangkat mereka dari kekerasan dan perbudakan di Amerika …”

“Saya belajar bahwa lelaki dan perempuan Muslim bisa saling mendukung keberadaan masing-masing, tanpa harus merusak keduanya secara verbal maupun fisik. Saya juga belajar bahwa busana yang pantas menunjukkan semangat spiritualitas dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia,” papar Khadija.

Kondisi itu sangat berbeda dengan apa yang dialami Khadija selama ini, sebagai perempuan yang hidup di tengah budaya masyarakat Amerika. Seperti perempuan Amerika pada umumnya, ia ibarat hidup di tengah perbudakan seksual. Sejak usia dini, Khadija belajar bahwa masyarakat AS pada umumnya menilai manusia semata-mata dari penampilan luarnya saja sehingga banyak remaja, baik perempuan maupun laki-laki yang putus asa karena merasa tidak diterima oleh teman sebayanya.

Setelah mengetahui lebih banyak tentang Islam dan bergaul dengan beberapa muslim Amerika, Khadija makin mencintai dan menghormati Islam. “Saya mendukung dan mengagumi Islam karena Islam memberikan hak yang sama dalam masalah pendidikan untuk laki-laki dan perempuan, menghormati hak laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan ajaran tentang cara berbusana yang pantas serta aturan Islam tentang perkawinan,” tukas Khadija.

“Islam mengajarkan untuk menghargadi diri kita sendiri sebagai makhluk ciptaanNya yang dianugerahi kemampuan untuk bertanggung jawab dalam hubungan kita dengan orang lain. Lewat salat dan zakat, serta komitmen keimanan dan pendidikan, jika kita mengikuti jalan Islam, kita memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anak yang akan terbebas dari ancaman kekerasan dan eksploitasi,” sambungnya.

Dalam perjalanannya memeluk Islam, Khadija aktif di organisasi AMILA (American Muslims Intent on Learning and Activism) dan ikut mengelola situs organisasi itu. Khadija dengan jujur mengakui bahwa komunitas Muslim adalah komunitas yang mengagumkan. “Islam memberi petunjuk pada kita agar terhindar dari api neraka,” kata Khadija.

Khadija pun bertekad bulat untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. “Sang Pencipta dikenal dengan banyak nama. Rahmat-Nya kita rasakan dan kehadiran-Nya dimanifestasikan dengan cinta, toleransi dan kasih sayang yang hadir di tengah kehidupan masyarakat,” tandas Khadija. (ln/oi)

Diambil dari :

http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/kagum-pada-ajaran-islam-soal-moral-profesor-yahudi-bersyahadat.htm

Nicolas Zarkozy, presiden Perancis itu akhirnya tak tahan juga untuk menyembunyikan keberpihakannya kepada Yahudi, agama nenek moyangnya. Selama 5 tahun menduduki jabatan tertinggi Negara, sepintas ia memang tidak begitu memusuhi Islam. Paling tidak ketika ia masih menduduki posisi mentri dalam negri, ia pernah mendukung berdirinya CFCM (Conseil Français du Culte Musulman), sebuah organisasi Islam Perancis. Meski pada akhirnya sebagian Muslim negri tersebut mengklaim bahwa wadah Islam tersebut kurang berfungsi dan tidak mewakili aspirasi Islam pada umumnya.

Sebaliknya, UOIF (Union des Organisations Islamiques de France),  organisasi Islam lain, yang dikabarkan lebih dapat mewakili Muslim Perancis, baru-baru ini harus menelan pil pahit. Kongres yang sedianya diseleggarakan beberapa hari lalu terpaksa pasrah terhadap pernyataan sang presiden yang memerintahkan jajarannya untuk mencekal 6 undangan kehormatan mancanegara. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, ulama besar Mesir yang dikenal sangat keras terhadap Yahudi, DR Aidh Al-Qarni, yang di Imdonesia terkenal dengan kitab La-Tahzannya serta seorang syeikh masjid Al-Aqsho adalah termasuk 3 diantaranya.  Keenam ulama besar tersebut, melalui berbagai penyataannya  dianggap memusuhi Yahudi.

Islam beberapa minggu belakangan ini memang semakin terlihat disudutkan oleh berbagai pihak. Skandal Muhammad Merah, warga Toulouse, Muslim imigran Aljazair, telah resmi ditetapkan pemerintah sebagai penanggung jawab skandal terbunuhnya 3 militer di kota tersebut dan meledaknya bom di sekolah Yahudi yang memakan korban 3 orang anak dan 1 orang dewasa. Semuanya Yahudi. Sementara 2 diantara militer yang ditembak adalah Muslim imigran Magreban. ( Baca : https://vienmuhadi.com/2012/03/26/merncermati-perkembangan-islam-di-perancis-6/  )

Tariq Ramadhan, cucu almarhum ulama besar Mesir, Hasan Al- Banna,  yang kini menjadi warga Swis dan dikenal sebagai cendekiawan Muslim terkenal, berpendapat bahwa Muhammad Merah hanya korban konspirasi politik elit Perancis.  Masih menurut Tariq, pemuda yang mati ditembak oleh 15 anggota pasukan khusus setelah bertahan lebih dari 30 jam di apartemennya ini sama sekali tidak mewakili figur Islam. Kalaupun ia memang terbukti bersalah, tidak berarti bahwa seluruh umat Islam terutama kaum Muslimin imigran yang ada di Perancis ini harus mempertanggung-jawabkan kesalahan tersebut.

Namun dengan penuh emosi, Sarkozy malah mengeluarkan pernyataan bahwa Perancis adalah Negara Laic ( sekuler), tidak ada perbedaan pelayanan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada daging  khusus untuk golongan tertentu. Pernyataan ini jelas ditujukan bagi umat Islam yang memang membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk ibadah, dokter perempuan untuk Muslimah, daging halal dll.

Karenanya dalam kongres UOIF yang diselenggarakan beberapa hari lalu, Tariq mengingatkan agar Muslim Perancis tidak perlu menanggapi pernyataan tersebut secara serius.  Ia justru meminta agar Muslim Perancis bersatu, tidak terpecah-pecah seperti sekarang ini.  Perlu dicatat, Muslim Perancis saat ini kebanyakan adalah imigran Maroko, Aljazair dan Tunisia. Ketiga Negara bekas jajahan Perancis ini di Perancis dikenal dengan nama Magreban. Namun demikian kultur ketiga Negara di Afrika Utara tersebut  berbeda. Itu sebabnya mereka kurang bisa berbaur. Masing-masing memiliki komunitas sendiri-sendiri. Bahkan masjid dan organisasi yang ada sekarang ini sebetulnya hanya mewakili masing-masing komunitas tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat“.(QS.Al-Hujrat(49):10).

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS.At-Taubah(9):24).

Dengan kata lain, semangat kebangsaan yang sering kali menjadi ikatan terkuat dalam suatu masyarakat sebenarnya bukanlah ajaran Islam. Islam tidak mengenal batas negara, bahasa, warna kulit dan kultur. Perseteruan tersembunyi antara Negara kita tercinta, Indonesia dengan Negara tetangga, Malaysia, contohnya, harusnya tidak perlu terjadi. Benih-benih permusuhan dan kebencian dua Negara saudara seiman ini sebenarnya sangat berbahaya. Ini adalah bagian dari Ghazwl Fikri alias Perang Pemikiran yang dirancang Barat (Kristen–Yahudi) untuk mengadu domba dan mengikis persaudaraan serta dan persatuan Islam.

Pemersatu utama dalam Islam adalah ketakwaan. Hal yang wajar saja karena bumi ini seluruhnya adalah  memang milik-Nya. Tidak ada istilah Barat dan Timur. Yang ada hanya ketakwaan atau kekafiran. Yang diridhoi hanyalah Negara dan bangsa yang tunduk kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya”.

Dalam Islam tidak ada kata, kebencian karena iri dan dengki. Dakwah dilakukan berdasarkan rasa kasih sayang antara sesama manusia, untuk mengingatkan betapa banyak nikmat yang diberikan Allah swt kepada manusia yang menjadikan kita ini mahluk terbaik, termulia dan terpandai hingga pantas diberi kesempatan menduduki jabatan khalifah di muka bumi ini. Namun sebagai konsekwensinya kita harus mempertanggung-jawabkan kenikmatan tersebut.  Wajar saja bukan?

Jadi tidak ada pemisahan antara kehidupan duniawi dengan kehidupan akhirat. Keduanya saling mengikat dan saling berhubungan. Kehidupan duniawi adalah ladang sementara akhirat adalah buahnya. Dengan kata lain, semua kegiatan kita di dunia ini adalah ibadah, demi mencari ridho-Nya. Tidak ada kata sekuler dalam kamus Islam.

Namun dalam kenyataannya, sebagian besar Negara di dunia ini adalah sekuler. Dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin kita bisa memohon keberkahan, kemakmuran dan kemajuan bagi bangsa ini? JIka saat ini kita melihat Negara-negara Barat yang notabene kafir itu maju,  ini hanya bagian dari sifat Rahman Sang Khalik yang memang diberikan-Nya kepada orang yang berilmu, yang mau mencari,  mempelajari dan menggali fenomena alam ciptaan-Nya. Namun bila rahasia besar yang menakjubkan itu telah terungkap mereka tetap kafir, maka balasan-Nya pasti ada. Bisa di dunia sedangkan di akhirat pasti.

Global warming atau pemanasan global adalah contoh yang paling nyata. Begitu banyak rahasia alam semesta terungkap, dengan izin-Nya. Orang-orang pandai bermuncullan dan ilmu berkembang pesat. Namun sanggupkah ilmu tersebut mencegah datangnya bahaya dan bencana alam?

Gempa bumi, tsunami, banjir badang, kekeringan, angin topan dan puting beliung bahkan perubahan iklim yang tidak menentu, yang kelihatannya sederhana padahal dampaknya bisa fatal.  Seperti yang saat ini terjadi di Perancis, bulan April yang ‘seharusnya’sudah mulai hangat namun nyatanya, udara dingin tetap menggigit. Ini bisa berakibat kepada kacaunya musim panen yang pasti akan mengganggu kehidupan kita.

Lembaga Islam di Perancis yang biasa mengurusi jadwal shalatpun ikut menjadi pusing 7 keliling. Karena tidak mampu lagi memperkirakan waktu shalat yang tepat kecuali hanya untuk 2 hari ke depan. Padahal biasanya mereka bisa memprediksi sebulan sebelumnya. Begitupun lembaga meteo yang biasa memberikan perkiraan cuaca kepada masyarakat.

Kerusakan tidak hanya kerusakan alam, kerusakan iman alias kekafiran adalah yang paling parah. Ironisnya, dampak tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang kafir saja namun juga orang-orang beriman.

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS. Al-Anfal(8):25).

Tampaknya kita harus segera bersiap-siap menghadap hari-hari akhir alam semesta ini. Hari dimana kita harus mempertanggung-jawabkan perbuatan dan sepak terjang kita. Bukankah 14 abad silampun Rasulullah saw telah mengisyaratkan bahwa jarak hari Kiamat hanya tinggal 2 jari saja ? Jangan lupa, Al-Quran telah  memperingatkan bahwa perhitungan manusia di dunia ini tidaklah sama dengan perhitungan-Nya.

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS.Al-Hajj(22):47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS.As-Sajdah(32):5).

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”. (QS.Al-Ma’rij(70):4).

Kembali kepada sikap keras Nicolas Zarkozy terhadap umat Islam di negeri yang dipimpinnya. Jejak pendapat untuk sementara memang menempatkan Zarkozy di tempat teratas, mengungguli Francois Holland, saingan terdekatnya. Ini tampaknya yang membuat sang presiden bertahan menjadi congkak dan besar kepala hingga tiba2 berani memperlihatkan keberpihakannya yang sangat kepada Yahudi, agama nenek moyangnya, tanpa rasa khawatir kehilangan suara umat Islam yang cukup signifikan.

Untuk itu Tariq Ramadhan dalam kongresnya beberapa hari lalu mengingatkan agar seluruh Muslim Perancis yang memiliki hak suara bersatu, menggunakan haknya dengan benar, memilih pemimpin yang mempunyai harapan dapat melindungi keimanan umat. Jangan golput karena hal ini dapat menguntungkan pihak yang tidak diharapkan dan merugikan diri sendiri.

Allah swt tidak pernah melanggar janji-Nya. Makar dan tipu daya hamba tidak mungkin menyaingi tipu daya Sang Pemilik.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Menjadi Muslim adalah pilihan, sementara warna kulit dan bangsa adalah ketetapan-Nya.  Bumi Allah itu luas. Maroko, Tunisia, Aljazair, Turki, Iran, Afganistan atau bangsa apapun, dimanapun ia berada, tetap bisa hidup aman dan tentram, berbaur dengan masyarakat dimana ia berada, selama ia tetap bisa menjaga ke-Islam-annya. Menjadi Muslim tidak berarti merubah warna kulit,  bangsa dan kewarga-negaraan.  Ketakwaanlah yang menjadi perekat ukhuwah Islamiyah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 April 2012.

Vien AM.

Telekomunikasi, dari hari ke hari, makin canggih saja. Dewasa ini, di pelosok kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dll  hampir semua orang bisa dibilang mempunyai apa yang disebut telpon genggam, telpon seluler atau HP ( Hand Phone). Alat telekomunikasi canggih yang beberapa tahun lalu masih dianggap barang mewah ini sekarang sudah menjadi hal yang biasa-biasa saja. Dari presiden hingga sopir, kenek bus, pembantu rumah tangga dan tukang sampah. Dari orang dewasa, kakek-nenek hingga anak SD, laki-laki maupun perempuan, semua punya HP, dengan berbagai merk, model dan tingkat kecanggihannya masing-masing.

Bukan lagi pemandangan yang aneh, ketika dalam kemacetan, kita tengok kiri kanan kita, semua memegang HP, termasuk yang sedang mengemudikan kendaraan ! Ada yang untuk keperluan dasar yaitu menelpon, ada yang sms-an atau bbm-an, namun ada juga yang main game. Bahkan pada acara kumpul-kumpul, katakanlah reunian teman lama, yang belakangan ini memang sedang marak,  HP seolah sudah menjadi bagian dari tubuh. Sambil mengobrol kesana kemari, tangan tetap lincah ‘ berzikir”, alias ber-sms ria atau ber-BB ria.

HP di zaman super canggih ini, memang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Tetapi juga sebagai alat pemotret, perekam suara, surfing di dunia maya, game, musik dan  film,  GPS alias penunjuk jalan, juga untuk membaca Al-Quran, bila kita mau.

Namun fenomena HP yang paling membuat saya  tertegun adalah ketika HP disambungkan dengan head phone, sementara HP itu sendiri diselipkan di saku pakaian hingga tidak terlihat dari luar ( HP wireless; bluetooth). Yang dengan demikian, seseorang yang sedang menelpon tidak tampak sedang menelpon. Sepintas mungkin seperti orang ‘miring’ karena ia tampak sedang bercakap-cakap  bahkan tersenyum-senyum atau tertawa-tawa, sendiri !

Syukurlah ketertegunan tersebut segera hilang. Yang muncul kemudian adalah perasaan takjub. Ingatan saya langsung berbalik kepada saat-saat ketika seseorang sedang shalat atau berdoa. Tentu saja bukan dalam hal tertawa-tawa atau tersenyum-senyumnya, melainkan ‘seolah’ berbicara sendirinya itu. Untuk kita, orang Indonesia, yang sebagian besar memang orang beriman mungkin hal ini tidak terpikirkan.  Apalagi yang hampir tidak pernah bersinggungan dengan orang  Barat.

Sebagian besar orang Barat dewasa ini adalah atheis alias tidak percaya akan adanya Tuhan. Bagi mereka Tuhan adalah absurb, mistik. Orang beragama dan mempercayai adanya Tuhan bagi mereka adalah kuno, ketinggalan zaman, terbelakang dan jauh dari kata modern. Bagi mereka orang modern adalah orang berakal, yang berpikiran kritis dan tidak mempercayai hal-hal ghaib, hal-hal yang tidak dapat dibuktikan keberadaanya dengan data-data empiris.

Kembali kepada orang yang sedang menelpon, dengan kedua tangan berada di dalam saku celana, head phone mini nyaris tak terlihat. Namun ia terlihat serius berbicara sendiri, sekali-kali berteriak, mengeluarkan salah satu tangannya dari saku lalu memukul kepalanya sendiri. Atau tiba-tiba tertawa keras. Orang gilakah ini?

Tidak ! Ia sedang berbicara dengan seseorang di ujung dunia sana. Tahunya? Ambil saja head phonenya  .. Ada suara orang kan? Iya sih .. tapi bagaimana bisa yakin ada seseorang di ujung kabel sana?? Bagaimana kalau itu hanya suara rekaman seperti answering machine , misalnya, yang tidak jarang bisa mengecoh seseorang. Itulah tehnologi telekomunikasi yang makin hari makin canggih saja.

Patut dicatat, perusahaan telpon pertama di dunia baru ada pada tahun 1875.  Adalah Alexander Bell yang umumnya dikenal sebagai penemu tehnologi telpon yang ketika itu berhak mendapatkan paten atas penemuan Antonio Meucci, sang penemu aslinya. Dua tahun setelah berdirinya perusahaan tersebut, baru 300 buah telpon yang dapat dihasilkan. Tahun berikutnya menjadi 10.000 telpon dihasilkan.

Sementara telepon tanpa kabel atau wireless, pertama kali digunakan pada tahun 1915, yaitu pada waktu Perang Dunia I berkecamuk. Itulah pertama kalinya komunikasi telpon lintas negara mulai terjalin. Selanjutnya tahun 1971 barulah perusahaan telekomunikasi mandiri untuk keperluan bisnis mendapat izin untuk dikembangkan. Maka berjuta-juta saluran teleponpun  mulai digunakan masyarakat luas.

Dua tahun kemudian yaitu, tahun 1973, ponsel alias telepon seluler alias telepon genggam atau hp ( Hand Phone)  pertama berhasil diciptakan, dengan berat 2 kg dan biaya US$1 juta atau 9 milyard rupiah !  Sedangkan telepon genggam ringan nan canggih yang mampu browsing internet dengan harga relative terjangkau baru lahir belakangan saja, yaitu tahun 2000-an.

Artinya, kemudahan fasilitas telekomunikasi yang sehari-hari kita nikmati saat ini sebenarnya adalah benar-benar hasil kerja keras dan percobaan berkali-kali sejumlah pakar teknologi yang menghabiskan waktu hingga puluhan tahun dengan biaya luar biasa besarnya. Suara yang dikeluarkan orang yang berbicara di depan mike telepon diubah menjadi sinyal listrik dan menjadi energi gelombang radio. Energi tersebut kemudian dikirim melalui jalur khusus tertentu di udara agar sampai ke tempat tujuan yang diminta, untuk kemudian diubah lagi menjadi suara yang dapat di dengar orang di seberang  sana.

« Demi langit yang mempunyai jalan-jalan, » (QS.Adz-Dzariyat(51) :7).

Bagi orang awam mungkin ayat di atas biasa-biasa saja, alias tidak istimewa. Tetapi bagi para ilmuwan, khususnya para peneliti teknologi komunikasi diatas pasti ayat diatas membuat mereka terpana. Karena ‘jalan-jalan di langit’ itu memang benar adanya, diantaranya yaitu tadi, jalur komunikasi telepon, jalur dimana gelombang suara yang begitu rumit itu berseliweran, tanpa khawatir saling bersinggungan, kecuali sekali-sekali saja. Padahal ayat di atas sudah ada sejak 14 abad yang silam ! Allahuakbar …

Tak dapat dipungkiri, alangkah besarnya jasa para penemu komunikasi telepon ini.  Berkat teknologi HP, kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang kita cintai di ujung dunia manapun ia berada. Bahkan jika mau, kita dapat mengikuti dan mengetahui apa yang mereka sedang kerjakan dan lakukan, dari waktu ke waktu. Begitulah kira-kira Sang Khalik yang tidak pernah mengantuk dan tidur mengawasi hamba-hamba-Nya. Sungguh, bukan hal yang mustahil bagi-Nya !

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.( QS. Al-Baqarah(2):255).

Jadi sebenarnya agak aneh juga bila di zaman modern ini sebagian besar orang Barat yang mengaku sebagai orang pandai dan maju masih juga tidak mempercayai adanya Tuhan. Padahal telah tercatat  betapa banyaknya ilmuwan Barat yang  takluk terhadap kebenaran Al-Quran dan kemudian memeluk Islam berkat temuan ilmiah yang mereka temukan, yang ternyata kemudian cocok dengan ayat-ayat Al-Quran. Albert Einstein, fisikawan terkemuka asal Jerman yang pada tahun 1905 memperkenalkan teori Relatifitas, adalah salah satu contohnya.

click:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/03/09/m0lv5f-subhanallah-inilah-kemukjizatan-alquran-tentang-teori-relativitas.

Sementara dari Jepang, seorang dokter bernama Masaru Emoto, pada tahun 1992, menerima sebuah sertifikat bergengsi berkat pengobatan alternatifnya dengan air. Dalam tesisnya ia berhasil membuktikan bahwa air bersih ternyata bereaksi terhadap bacaan.  Bila bacaan tersebut bacaan yang positif maka akan terbentuk kristal hexagon yang sangat indah. Kristal ini mampu membuang racun dalam darah serta mampu meningkatkan effisiensi metabolisme cairan dalam tubuh. Sebaliknya bila dibacakan bacaan buruk/kasar  maka kristal akan menjadi berantakan, tanpa bentuk.

Saya juga pernah membaca berita bahwa ruangan yang di dalamnya selalu dibacakan bacaan positif, ruangan akan menjadi lebih hangat dan adem. Masjid adalah contoh yang paling nyata.

“ Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.(QS.Al-Araf(7):204-205).

Kembali kepada fenomena HP canggih di awal tulisan ini. Bila saat ini banyak orang terlihat cuek berteriak-teriak seolah sedang berbicara sendiri mengapa pula kita, umat Islam, harus malu ketika sedang shalat, berzikir atau berdoa dengan suara agak keras hingga terdengar oleh telinga sendiri, seolah berbicara sendiri, padahal kepada Allah kita sedang berbicara. Yang bahkan telah terbukti melalui berbagai penelitian mampu membuat kita dan aura di sekitar kita menjadi teduh, bila dilakukan dengan benar.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. … “.(QS.Az-Zumar(39):23).

Jadi, komunikasi dengan Sang Pencipta, raja dari segala raja, melalui shalat, zikir dan doa, bukan sekedar keimanan belaka namun juga bagian dari teknologi canggih, teknologi milik-Nya.  Al ‘Alim, Yang Menguasai Segala Ilmu, yang sengaja dibuka-Nya bagi orang-orang yang mau mencari dan memikirkan  kehebatan dan kedasyatan jagad raya ciptaan-Nya ini. Allahuakbar …

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan“.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Sudah tiba waktunya umat Islam ini harus percaya diri, diantaranya dengan membaca Al-Quranul Karim, dimanapun berada, di dalam kendaraan pribadi, kendaraan umum, ruang tunggu, atau di tempat umum manapun, sebagaimana orang Barat membaca buku apapun, dimanapun.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 5 April 2012.

Vien AM.

Pemilihan presiden Perancis ke 10 di era Republik ke 5 yang saat ini dipimpin oleh presiden Nicolas Sarkozy, tinggal menghitung hari. 10 calon presiden dan masing-masing pendukungnya makin gencar melakukan kampanye. François Hollande sampai saat ini, masih tercatat sebagai saingan terdekat Sarkozy yang beberapa tahun terakhir pemerintahannya mulai kehilangan kepercayaan masyarakat.

Keterpurukan ekonomi adalah salah satu kegagalan yang harus dihadapi Sarkozy yang terpilih menjadi presiden pada tahun 2007. Ia adalah presiden ke 23 Perancis dan presiden ke 6 Republik ke 5. Ia mengalahkan Segolene Royal, yang ketika itu adalah ‘pasangan kumpul kebo’’ François Hollande, pesaing ketat Sarkozy saat ini.

Bagi umat Islam tampaknya Marine Le Pen adalah yang paling patut untuk diperhatikan dan dicermati. Ia adalah calon presiden yang paling jelas memperlihatkan sikap anti Islam. Tampaknya kebencian ini menurun dari ayahnya, Jean-Marie Le Pen, bekas calon presiden dari Marseilles yang pada pemilihan presiden tahun 2002 dikalahkan oleh Jacques Chirac. Selain anti Islam, baik Marine maupun ayahnya dikenal orang sebagai antisemit, yaitu orang yang membenci Yahudi. Nazisme adalah contoh antisemit yang paling mudah dilihat.

Sejak lama Marine yang merupakan satu dari tiga perempuan calon presiden ini telah memperlihatkan kebencian tersebut. Pada tahun 2009, ketika pemerintah Swiss mengeluarkan referendum tentang penting atau tidaknya menara dan kubah bagi rumah ibadah umat Islam, yaitu masjid, sontak ia mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah Perancis juga harusnya mengikuti sikap tetangganya itu.

Lucunya, Daniel Streich, sang politikus Swiss pencetus ide tersebut, tahun 2010 yang lalu malah berbalik memeluk Islam. Ia tidak peduli terhadap cap yang diberikan partainya, yaitu setan! Dalam pernyataannya, untuk menebus kesalahannya yang membuat pemerintah Swiss sekarang ini merealisasikan larangan pembuatan menara dan kubah masjid, ia berniat membangun masjid terindah di negaranya. Kalau niat ini terlaksana, ini akan menjadi masjid ke 5 di Swis. Allahuakbar …

( Note: Berita terakhir yang saya temukan melalui surfing internet dari beberapa sumber di luar negri, Daniel bukan pencetus larangan diatas, justru ia menyatakan ke-Islam-annya yang sejak beberapa tahun lalu ia sembunyikan, karena gerah dengan isu tersebut. Lihat diantaranya : http://en.wikipedia.org/wiki/Daniel_Streich )

Selanjutnya, pada periode pemilu 2012 ini, dengan lantang Marine Le Pen menyatakan bahwa kaum imigranlah ( baca Islam ) yang menyebabkan merosotnya ekonomi rakyat Perancis. Demikian juga meningkatnya kejahatan di beberapa wilayah. Ia bahkan mengajak uni eropa untuk bersatu melawan ‘Islamisasi’ dengan menjaga dan mencegah batas negara masing-masing dari masuknya imigran gelap yang dari tahun ke tahun makin membanjiri Eropa.

Sebagai catatan, sebagian besar imigran memang adalah kaum Muslimin. Mereka adalah korban berbagai perang, seperti ‘perang’ Afganistan dan Palestina. Kalau itu bisa disebut perang bukan penyerbuan ataupun pendudukan. Atau korban kerusuhan di negara-negara Arab seperti Siria, Yaman, Mesir, Tunisia, Libanon dll yang bermula Desember 2010 lalu. Di Perancis gelombang perlawanan terhadap pemerintah resmi ini dikenal dengan nama Le Printemps Arab atau Arab Spring.

Sikap anti Islam politikus Front Nasional ( FN) ini tampaknya berawal dari sikap rasisnya. Tampaknya ialah satu-satunya calon presiden yang mempermasalahkan ‘keaslian’ calon presiden lainnya. Yang dimaksudkannya adalah Eva Joly, seorang pakar ekologi yang mempunyai 2 kewarga-negaraan, yaitu Perancis dan Norwegia. Eva Joly adalah asli berdarah Norwegia. Ia datang ke Perancis pada usia 18 tahun untuk menuntut ilmu. Di negri ini ia kemudian menikah dengan seorang dokter warga asli Perancis.

Demikian pula sang presiden menjabat, Nicolas Sarkozy, yang mempunyai darah campuran Hongaria dari ayah, seorang imigran Hongaria, dan Yahudi dari ibu, seorang perempuan Perancis Yahudi. Padahal bukankah bumi ini milik Allah swt? Siapapun boleh menempati tanah Sang Khalik selama tidak berbuat kerusakan dan dapat menjaganya dengan baik.

Masalah daging halal, inilah isu terbaru yang dilontarkan Marine. Ide ini datang dari negri Belanda yang sejak beberapa bulan lalu melarang keberadaan daging halal, dengan alasan ‘humanity”. Mereka beranggapan bahwa pemotongan hewan secara Islam ( juga Yahudi) membuat hewan kesakitan. Untuk diketahui, standard pemotongan hewan di Eropa, hewan dipotong setelah dibius terlebih dahulu.

Dengan penuh emosi, Marine mengatakan bahwa 80 % daging yang ada di Perancis kalau tidak halal ya kasher ( daging halal ala Yahudi). Namun pernyataan ini ditolak oleh asosiasi daging Perancis. Katanya tidak lebih dari 50 % saja. Tetap menakjubkan, menurut saya .. Subhanallah ..

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. … ”. (QS.Al-Maidah(5):3)

Syukurlah sikap keras anti Islam ini tampaknya justru kurang menarik simpati masyarakat. Minggu lalu penduduk negri ini dikejutkan oleh tragedi penembakan militer di Toulouse dan Montauban. Di Toulouse 1 korban meninggal dunia. Sementara di Montauban, sekitar 50 km dari Toulouse, 2 korban meninggal dunia dan 1 orang koma hingga detik ini. Ke 4 orang tersebut adalah anggota pasukan terjun payung eksklusif militer Perancis. 2 diantara yang meninggal kabarnya Muslim Magreban, sebutan untuk Muslim keturunan Afrika Utara ( Maroko, Aljazair dan Tunisia).

Belum lagi misteri ini terpecahkan, 4 hari kemudian terjadi lagi peristiwa penembakan di sekolah Yahudi di Toulouse dengan korban meninggal 1 orang guru dan 3 orang murid. Beberapa hari kemudian muncul lagi berita meledaknya bom di depan kedutaan besar Indonesia di Paris. Yang terakhir ini, ntah ada hubungannya atau tidak. Alhamdulillah tidak memakan korban kecuali kaca-kaca jendela yang pecah dan 2 mobil terbakar.

Tak urung, tragedi berdarah yang terjadi sebulan sebelum pemilu presiden ini membuat orang bertanya-tanya. Apa sebetulnya motif di balik semua ini. Marine Le Pen tampaknya yang paling banyak menerima tuduhan. Karena semua orang tahu betapa seringnya ia melemparkan isu-isu antisemit dan anti Islam. Oleh sebagian orang ia dianggap telah memprovokasi kebencian ras dan agama.

Pagi ini, si pelaku terror telah tertangkap dan tertembak mati. Pemuda Perancis keturunan Aljazair ini mengklaim dirinya sebagai bagian dari Al-Qaeda. Kabarnya pemuda berusia 23 tahun ini pernah ikut berjihad di Afganistan dan Palestina. Namun anehnya lagi, ia dikabarkan sebagai pemuda umumnya pemuda Perancis lain yang suka ‘hang out’ dengan gadis-gadis, pernah masuk penjara karena kejahatan ringan dan sama sekali bukan seorang yang religius.

Jelas ini bukan ciri seorang yang berani melakukan jihad. Karena jihad dengan berperang sebenarnya adalah perbuatan mulia yang dilakukan seorang Muslim dalam rangka membantu saudaranya yang diperangi di negaranya sendiri. Contohnya dengan langsung datang ke medan perang, ke Palestina atau Afganistan misalnya. Dan ini dilakukan karena ketakwaannya. Jadi bukan membunuh orang tak berdosa dan sembarangan menyebar terror. Apapun alasannya, hal ini membuat Muslim terutama di Paris ini merasa tidak nyaman.

Di pihak lain harus diakui bahwa Islam tanpa dapat dicegah telah tersebar luas di negri ini. Di setiap sudut Paris, bucheri ( toko penjual daging) halal mudah ditemukan. Demikian juga restoran kebab halal. Bahkan restoran masakan Perancispun belakangan ini sudah mulai mudah dicari. Toko-toko kelontong penjual buah dan sayur milik orang-orang Magreban juga banyak. Bahkan demo terhadap kekejaman penguasa negara-negara Islam seperti Syria sering dilaukan di ibu kota negara ini.

Beberapa kali saya mencoba surfing mencari masjid dan musholla yang dikabarkan banyak sekali di Paris. Ternyata memang benar. Hampir di semua sudut kota ada. Meskipun ketika saya dan suami mencoba mencarinya tidak sesuai harapan. Yang disebut masjid di web tersebut hanyalah apartemen 2 tingkat yang sempit. Namun Subhanallah .. Ketika kami berusaha untuk masuk, ternyata di dalamnya telah berkumpul sejumlah Muslim yang sedang mengkaji Islam. Ada lagi ‘masjid yang ternyata hanya apartemen yang pintunya sudah rusak dan ditempeli tulisan bahwa daerah tersebut adalah daerah rawan kejahatan. Atau tulisan berisikan larangan shalat di jalanan.

Paris saat ini memang sarat dengan Muslim. Kemanapun kita berjalan akan kita temui perempuan berjilbab, dari jilbab hitam lengkap dengan abayanya maupun pakaian Muslimah ‘modern’ yang warna-warni, dengan aneka modelnya. Pengalaman saya pribadi, bila bersua wajah Muslim ( baca Arab ) hormat terhadap kita, bisa dipastikan bahwa ia seorang Muslim pratiquant. Pratiquant adalah sebutan bagi seorang yang menjalankan agama, apapun agamanya. Sebaliknya bila ia tidak ramah ( baca judes ) hampir bisa dipastikan ia bukan pratiquant, minimal tidak PD pada agamanya. Ini pendapat saya pribadi.

Namun yang paling menyedihkan adalah fakta tentang satu-satunya uztad yang berada di lingkungan kami. Uztad yang sedang menyelesaikan program beasiswa S3 di jurusan ilmu sosial di Paris ini mempunyai pikiran yang sangat liberal. Isu Sepilis ( Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) yang tadinya hanya saya ketahui dan pelajari secara teori di tanah air, ternyata benar-benar ada di depan mata. Diantaranya yaitu bahwa semua agama adalah benar dan sama !  Ya, itulah Gazwl Fikri atau Perang Pemikiran.

Sebenarnya sudah sejak lama hal ini menjadi perhatian para ulama seluruh dunia. Namun tidaklah mudah untuk menangkalnya. Apalagi yang dihadapi saat ini justru para uztad yang notabene adalah para cendekiawan Muslim. Pemikiran barat seperti Demokrasi, Feminisme, Sekulerasi dll yang tampaknya sudah merasuki pemikiran uumum ini tampaknya telah mampu menggusur hukum-hukum pokok Islam.

Akibatnya ajaran Islam seperti perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan, poligami, jihad dan hukum-hukum khas Islam seperti hukum qishos, rajam, jiziyah dll menjadi tampak bengis dan tidak manusiawi. Ironis, para cendekiawan Muslim moderat tersebut tetap berani menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk membela pemikiran baru tersebut.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Itulah hebatnya ilmu Hermeneutika, ilmu Barat yang awalnya hanya dipakai untuk mengkritisi kitab suci mereka. Dengan kelihaiannya, para orientalis tersebut berhasil mempengaruhi para cendekiawan Muslim yang belajar ilmu-ilmu sosial di barat agar mengkritisi Al-Quran dengan cara menggunakan ilmu Hermeneutika tadi. Padahal seberapa hebatkah akal manusia hingga berani menganalisa kebenaran wahyu Ilahi, apalagi bila dilandasi dengan dasar kekafiran !

Tapi itulah yang terjadi. Kita memang sedang hidup di masa Islam benar-benar terpuruk. Hampir semua negara Islam berada dibawah kekuasaan Barat.  Barat sudah menjadi kiblat sebagian besar umat meski dengan teganya mereka memberikan kita label-label miring seperti Teroris, Fundamentalis,Islamis, Jihadis dll.

Terprovokasi prilaku sesama Muslim yang tidak bertanggung-jawab, pengetahuan ke-Islam-an yang cetek, contohnya pelaku pengeboman diatas, apapun alasannya, maka dengan mudah masuklah pemikiran-pemikiran sesat tersebut. Demi menghindari perdebatan panjang, rasa tidak percaya diri akan kebenaran hukum Islam, perasaan ingin diterima Barat dan ingin dianggap ‘modern’ ini akhirnya mampu menggeser keyakinannya tentang kebenaran hukum Islam. Bahkan ada yang berbuat demikian hanya karena iming-iming imbalan yang sangat besar. Baik dalam bentuk uang, bea siswa, berbagai fasilitas dan penghargaan internasional.

“ .. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.(QS.Al-Maidah(5):44)

Tampaknya perjuangan masih panjang, terutama bagi Muslim yang tinggal di negri ini, agar mereka dapat menjalankan agama dengan baik. Perancis dengan presidennya yang berdarah Yahudi, masyarakatnya yang sebagian besar atheis alias kafir, tampaknya bakal menjadi sandungan yang tidak ringan.

Presiden Sarkozy, sepintas, kelihatannya memang cukup membela umat Islam. Ketika ia menjabat sebagai mentri dalam negeri dibawah kepresidenan Jacques Chirac, ia mendukung berdirinya CFCM ( Conseil Français du Culte Musulman), sebuah badan penasehat bagi kaum Muslimin Perancis, yang telah dicanangkan sejak tahun 1999.

Ketika Marine protes tentang daging halal, ia hanya berkomentar pendek, “ Silahkan mengkonsumi daging halal bagi yang mau, dan tinggalkan bila tidak mau”. “Harus dibedakan antara “Islamiste”dengan ajaran Islam”. Demikian komentarnya beberapa saat setelah tertangkapnya pelaku teror Toulouse. Tanpa memperdulikan bagaimana suara-suara miring di luar mempermasalahkan cara penangkapannya yang sensasional.

Namun jangan lupa, semua orang tahu bahwa Sarkozy yang sejak tahun 2003 telah tercatat sebagai anggota kehormatan Rotary, sebuah klub eksklusif milik Yahudi, adalah seorang yang keras terhadap antisemit. Untuk itu ia pernah menerima piagam penghargaan Toleransi dari sebuah dewan insitusi Israel di Perancis. Tetapi itu jangan diartikan bahwa ia membela Islam.

Pada masa pemerintahannyalah, yang katanya Laic, alias Sekuler, sekolah dan rumah ibadah Yahudi bertambah banyak. Bahkan hari raya Yahudipun diresmikan. Demikian puka daging halal ala Yahudi. ( kasher).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(QS. Al-Maidah(5):51)

Jadi sikap keberpihakan Sarkozy terhadap Islam sebenarnya bukan karena untuk membela Islam namun lebih untuk melindunginya dirinya dari pandangan publik agar tidak terlalu di cap Yahudi. Ini terbukti dengan dilarangnya jilbab, azan, hari besar Islam, sulitnya pendirian masjid, shalat Jumat di jalanan dll. Ini juga terbukti dengan dicabutnya izin tinggal 46 petugas airport Roissy yang beragama Islam gara-gara tulisan seorang politikus tentang bahaya Islam di Perancis lewat buku berjudul “Les Mosquées de Roissy” pada tahun 2006.

Namun inilah kehendak Allah swt. Suka atau tidak, Islam pasti tersebar ke seluruh penjuru dunia. Adalah tugas kita yang telah di anugerahi Islam lebih dahulu, agar berdakwah dengan cara yang baik. Dengan bekal iman dan pengetahuan yang kuat, insya Allah, Sang Khalik akan memberi jalan.

Wallahu’alam bi shawwab.

Paris, 24 Maret 2012.
Vien AM.

Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung… , dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal-semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….” Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti. Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil. Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman…. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah…. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya alashsholaati hayya alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam. Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Sholallahu alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Sholallahu alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu…. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
Al-Hakam bin Abu al-‘Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali,

“Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..

Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedihnya hati ini….”

Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. ” Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,

“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…

Muhammad dan sahabat-sahabatnya

Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…

Muhammad dan sahabat-sahabatnya”. (km) www.suaramedia.com

Diambil dari :

http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/20406-kisah-bilal-bin-rabah-sang-muadzin-rasulullah.html

Tepat dua belas tahun yang lalu, saya dan ke tiga anak kami ikut mendampingi suami tugas di Paris, Perancis. Si sulung ketika itu berusia 14 tahun, yang kedua 11 tahun dan si bontot, satu-satunya anak perempuan kami, berusia 6 tahun. Mereka bersekolah di sekolah international Perancis.

Secara umum, setidaknya dalam pandangan kami ketika itu, ketiganya tidak mengalami masalah serius baik dalam masalah pelajaran di sekolah maupun pergaulan.

Namun memasuki tahun ke tiga, ketika si sulung memasuki usia 17 tahun, saya perhatikan bahwa ada kegelisahan dalam dirinya. Selama ini, hampir setiap hari libur, bila tidak acara keluarga, ia sering ‘hang out’ bersama teman-teman sekolahnya. Ia mempunyai 2 sahabat, yang satu orang Austria, yang satu lagi, campuran Amerika -Perancis. Kami sekeluarga mengenal baik keduanya. Beberapa kali mereka sempat makan bersama kami di rumah.

Hingga suatu hari libur,  anak kami tersebut tidak mau ke luar rumah. “ G jalan sama Philip n Jonas, mas? Tumben …”, tanya saya. “ G ah, males”, jawabnya pendek.

Tetapi beberapa lama kemudian, terdengar ia berbicara sendiri, dengan nada jengkel « Sebel .. enak banget temen-temen pada jalan .. « .

Lhoh, kaget juga saya mendengar keluhan tersebut.

Ibu kan g ngelarang mas pergi, kalau mas pingin jalan-jalan, ya jalan aja  .. yang penting ati-ati jaga diri ”.

“Nah itu dia .. Nggi sebel .. sekarang mereka pada suka ke bar, minum bir .. masak Nggi cuma minum jus ? kan g lucu ..”, lanjutnya lagi, kesal.

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.(QS.Al-Maidah(5):91).

Astaghfirullahaladzim .. Rupanya itulah masalahnya.

Puji syukur hanya pada-Mu, Ya Allah  .. Karena tahun ajaran berikutnya, ketika saya dan suami, meski dengan berat hati, mengusulkan anak sulung kami tersebut untuk melanjutkan SMA nya di tanah air, ia mau menerima usulan tersebut.

“Enak banget sekolah di sini, lagi jalan rame-rame, kalo waktunya shalat pada saling ngingetin”, begitu komentarnya ketika beberapa bulan kemudian saya tanyakan bagaimana keadaannya. Alhamdulillah, lega nian hati ini. Meski berat berpisah dengannya namun yakin ini pasti lebih baik dari pada tetap bersama kami tapi pergaulannya beresiko tinggi.

Pengalaman 9 tahun silam ini ternyata terulang lagi tahun yang lalu. Bedanya, kali ini menimpa si  bontot.  Pada tahun 2009 suami kembali mendapat tugas ke Perancis. Namun kali ini ke Pau, kota kecil di Perancis Selatan, beberapa puluh kilometer dari perbatasan Spanyol. Dan hanya si bontot yang turut bersama kami.  Kedua kakaknya tidak ikut karena si sulung sedang menyelesaikan program S2nya di Australia, sementara si tengah juga sudah kuliah di perguruan tinggi negri  di Jakarta.

Karena sekolah international di kota kecil ini relatif masih baru, hingga belum membuka kelas untuk murid seusia anak perempuan kami, akhirnya ia kami masukkan ke sekolah lokal terbaik yang disarankan perusahaan. Sayangnya, sekolah tersebut ternyata sekolah kristen,  yang bahkan kepala sekolahnyapun seorang pendeta.

Setelah bertahan satu tahun dengan segala ke-tidak-nyaman-annya, termasuk program sekolah dengan pengantar bahasa Perancis yang sangat complicated tata bahasanya itu, berkat usaha gigih suami untuk dipindahkan ke kantor pusat, akhirnya kamipun pindah ke Paris. Tentu saja atas izin Allah swt. Meski sebenarnya beberapa kenalan Perancis suami mengingatkan bahwa pergaulan remaja di ibu kota akan lebih menyulitkan anak dari pada di Pau.

Singkat cerita, masuklah ia ke sekolah bertaraf international, sekolah yang sama dengan kakak-kakaknya dulu. Tahun pertama berjalan relatif lancar. Namun tahun berikutnya, ketika putri kami memasuki usia 17 tahun, timbullah masalah yang sama yang dihadapi putra sulung kami sembilan tahun lalu.

« Aduh bu, Dilla dipaksa-paksa untuk trima botol minuman alkohol yang disodorin temen-temen. Yaudah, akhirnya Dilla trima aja .. tapi trus dilla kasihin lagi ke temen lain”, begitu critanya seru, sepulang sekolah pada hari ulang tahunnya ke 17.

Hari-hari berikutnya, anak gadis kami tersebut mulai sering mengadukan hal-hal yang tidak disukainya. Ajakan teman-temannya untuk bermalam minggu di diskotek, merokok dll. Bahkan sahabatnya, seorang gadis Korea yang jago dance itu, mulai dikeluhkannya. Menurutnya, hobby dance sahabatnya itu agak tersendat karena rasa sungkannya terhadap dirinya. Ini membuatnya sedikit merasa tidak nyaman.

Pengalaman yang cukup menarik. Ibu Noa, begitu nama sahabatnya itu, tidak suka cara pergaulan barat. Ia adalah penganut Kristen yang taat, yang setiap Minggu selalu ke gereja. Noa bercerita, tahun lalu ia merayakan ulang tahunnya di gereja bersama keluarga. Sementara anak saya sendiri juga termasuk anak yang taat menjalankan agama. Biasanya Noa inilah yang melindungi anak saya ketika ia harus shalat secara diam-diam di sekolah. Harap maklum, di sekolah ada peraturan untuk tidak memperlihatkan keagamaan seseorang termasuk shalat ini. Sekuler atau dalam bahasa Perancis, laicite yaitu memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan keberagamaan adalah alasannya.

Inilah salah satu penyebab mengapa ibu Noa begitu menyayangi Dilla, putri kami. Ia berharap dengan landasan keagamaan yang kuat, pertemanan putrinya dengan putri kami, dapat menjauhkan putrinya itu dari pergaulan bebas remaja yang tidak disukainya. Termasuk dance itu tadi. Oleh karenanya dapat dibayangkan, betapa marah dan kecewanya sang ibu melihat penampilan dance putrinya yang begitu wow di acara sekolah yang dihadiri orang tua murid. Rupanya secara diam-diam Noa tetap melatih bakat tarinya.

“Dilla jadi g enak deh bu .. Kayaknya ibunya Noa ikut marah sama Dilla”, keluhnya sepulang acara tersebut.

Hingga akhirnya datanglah suatu hari yang saya khawatirkan. Anak gadis kami mulai berpikir untuk melanjutkan sekolah di tanah air saja tanpa harus menunggu kami, orang tuanya, selesai tugas.

“ Nanti kalau Dilla kebawa temen-temen gimana .. emang ayah ibu mau .. “, tantangnya setengah bercanda.

Sebenarnya kami ingin ia sabar menghadapi tantangan tersebut. Namun sebagai orang tua, kami juga memahami jiwa mudanya yang suka mencoba-coba. Ini yang kami khawatirkan. Kalau yang bersangkutan saja sudah ragu apalagi kami. Ia juga menambahkan betapa parahnya pacaran di lingkungan sekolahnya. Berpelukan, berpangku-pangkuan dan berciuman di sekolah bahkan di depan gurupun, bagi mereka bukan masalah !

“Pokoknya ngga banget deh bu .. risih lihatnya juga “, begitu ia berkomentar. Bergidik rasanya bulu kuduk ini.

Saya pikir, biar sampai berbusa mulut ini mengingatkan bahwa berpacaran itu tidak ada dalam kamus Islam, tapi bila realita yang dihadapinya tidak mendukung, bagaimana mampu ia menghadapinya?

Tiba-tiba saya teringat cerita salah satu adik saya yang pernah lama tinggal di Jerman dan Belanda. Ia bercerita bahwa di Belanda, perbuatan zina di depan umum adalah hal biasa. Ia pernah, secara tidak sengaja, dengan mata kepala sendiri menyaksikan sepasang manusia, kalau masih bisa dikatakan manusia, melakukan adegan seks di taman, di saksikan dan ditepuki sejumlah penonton !! . “ Mau muntah mb aku rasanya. “

“ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.(QS.Al-Isra(17):32)

Selain ayat diatas saya juga menasehati apa dampak negatifnya pacaran. Diantaranya yaitu, tidak sucinya lagi hati kita bagi pasangan yang ditakdirkan Allah swt bagi kita kelak. Berpacaran, ibaratnya adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Berarti sama dengan mencuri, yang hukumnya jelas, haram.

Berpacaran dengan seseorang yang di kemudian hari ternyata bukan jodoh kita, juga bisa berpotensi menjadi duri berbahaya dalam perkawinan kelak. Masalahnya kita tidak pernah tahu siapakah jodoh kita nanti. Belum lagi bila pacaran sampai harus berdua-dua-an di tempat sepi.

Singkat cerita, akhirnya kami terpaksa merelakan si bontot pulang ke tanah air. « Tenang aja bu, di sini gampang mau shalat .. hampir semua temen sekolah shalat, di sekolah ada masjid, di mall-mall juga ada musholla .. », persis komentar si sulung beberapa tahun lalu.

Hati saya lebih tenang lagi, ketika suatu hari suami bercerita bahwa ia mendengar kabar bahwa pemerintah Perancis belakangan ini menggalakkan sekolah agar membagi-bagikan kondom secara gratis kepada lyceen, bahasa Perancis untuk murid SMA ! Na’udzubillah min dzalik … Untung anak kami sudah tidak bersekolah lagi di kota penuh kemaksiatan ini  … Hiii …

Pertanyaannya, dimana lalu perbedaan manusia sebagai mahluk yang tertinggi derajatnya karena diberi-Nya akal agar mampu mengendalikan nafsunya dengan, maaf, binatang yang bergerak hanya berdasarkan nafsu belaka  … Astaghfirulllah hal adzim …

Semakin jelas bahwa musuh orang beriman itu adalah hisbusyaitan  alias bisikan syaitan, iblis dengan pasukannya yang terdiri atas jin dan manusia jahat, yang suka berbuat kerusakan, yang tidak mau tunduk pada perintah Sang Pencipta dan cenderung selalu melawan nilai-nilai umum kebaikan  …

Harapan saya, semoga Allah swt memberi kami kesabaran dalam menjalani cobaan ini. Kekuatan kepada putri ABG kami dalam menghadapi kehidupannya tanpa kedua orang-tuanya meski di negri sendiri. Karena meski mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, bisikan syaitan itu tetap dasyat.

“Kapan nih Dilla mau pake jilbab”, pertanyaan yang sering saya lontarkan dan mungkin merupakan pertanyaan yang paling membuatnya BT alias Butuh Teman, istilah remaja untuk menunjukkan perasaan sebal mereka.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang“.(QS. Al-Ahzab(33):59).

“ G jaminan lho bu, anak yang pake jilbab itu g pacaran”, jawabnya sedikit sinis, tahu persis arah pembicaraan saya.

“Tapi tenang aja bu, Dilla ngerti koq .. insya Allah suatu hari nanti pake, tapi g sekarang, Dilla belum siap bu“, tambahnya buru-buru sambil tersenyum, berusaha meredakan kekhawatiran ibunya.

“Amiin, asal masih dikasih  umur aja de“, jawab saya’penuh arti, berharap Allah swt menyelipkan rasa takut pada hatinya hingga ia mau bersegera melaksanakan niat baiknya itu.

Oiya bu, mas Ian pernah bilang, kebanyakan laki-laki itu bangsat, betul g sih?”, tanyanya, polos.

Ups, kaget saya. Saya memang pernah meminta tolong kakaknya agar menasehati satu-satunya adik perempuannya itu untuk tidak berpacaran. Namun tentu saja saya tidak pernah menyuruhnya berkata  demikian.

Pernah suatu hari, ketika sedang menonton TV, anak lelaki kedua saya tersebut berkomentar: “Woi, pahe tuh”. “Ya jangan dipelototin dong mas“, nasehat saya. “Siapa suruh di buka-buka kayak gitu”, katanya lagi sambil membuang muka, jengah.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“.(QS.An-Nuur(24):30).

Menurut adik saya, yang kebetulan menjadi guru sebuah SMP Islam di Tangerang, sebagian muridnya berpacaran meski mereka berjilbab. Sulit melarang anak-anak untuk menjauhi hal yang satu ini. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari, anak-anak disuguhi acara TV yang merupakan hiburan utama keluarga dengan film dan sinetron percintaan remaja,  lagu lengkap dengan klip videonya yang seronok. Belum lagi toko-toko buku yang rak-raknya selalu dipenuhi oleh novel-novel percintaan remaja.

Ya Allah, berilah kesadaran bagi pemimpin negri ini agar mau bertanggung-jawab terhadap perkembangan mental para remaja yang merupakan generasi penerus bangsa.

Akhir kata, kalau boleh saya mengambil kesimpulan, usia remaja, khususnya 17 tahun, adalah benar-benar usia yang sangat rawan, terutama bagi mereka yang tinggal di barat, paling tidak di Perancis ini. Oleh karenanya, secara pribadi, saya berani katakan jangan mengirim anak kita untuk mengambil S1 di barat, tanpa pengawasan orang-tua, apalagi bila keimanan masih tipis.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 13 Maret 2012.

Vien AM.