Feeds:
Posts
Comments

Senin, 11 Zulhijjah, ba’da Subuh, ber-4 bersama suami dan sepasang suami istri, istrinya asal Maroko dan suaminya, seorang mualaf, dokter asli Guadalope, kami berangkat menuju Mekkah Al Mukarammah untuk mentuntaskan haji yang kemarin tertunda yaitu tawaf dan sai. Fousia dkk yang kemarin pergi bersama kami rupanya masih terlalu lelah hingga memilih untuk menunggu. Hal yang diperbolehkan karena tawaf Ifadah dan sai bisa dilakukan hingga akhir hari Tasyrik yaitu tanggal 13 Zulhijjah.

Kami berjalan kaki menuju Azizyah. Dari situ kemudian kami  menumpang bus dengan biaya masing-masing 20 riyal menuju Masjidil Haram. Kelihatannya ini bukan harga normal karena terjadi sedikit percekcokan antara sejumlah penumpang dengan kenek bus. Seperti yang sudah diperkirakan, lebih dari 2 jam bus baru tiba di kompleks Masjidil Haram. Diringi bunyi klakson kendaraan di belakang bus yang berhenti sembarangan, persis ketika naik tadi, kamipun turun dari bus, dengan perasaan was-was, khawatir tertabrak kendaraan yang menyerobot dari belakang. … 😦

Kami langsung masuk Masjidil Haram. Subhanallah .. Di siang  hari bolong tersebut area tawaf benar-benar padat oleh jamaah. Ini memang saat afdolnya. Sebenarnya bila tidak ingin terlalu berdesakan dan agak santai bisa saja kita tawaf di lantai 2 atau 3. Di lantai 2 malah tidak bakal kepanasan karena tawaf dilakukan di dalam masjid yang beratap. Tetapi kami tidak ingin melakukannya. Rasanya tawaf sedekat mungkin dengan Ka’bah lebih memuaskan meski harus berdesakan.

Awalnya Raga, demikian nama teman kami, ingin agar kami selalu berdekatan, bahkan kalau mungkin ber-4 terus bergandengan. Tetapi saya tidak setuju. Bergandengan lebih dari 2 orang dalam keadaan demikian padatnya sangat berbahaya, terutama bagi jamaah lain. Ini yang sering dilakukan rombongan berbagai negara terutama rombongan Indonesia dan Turki. Biasanya kalau sudah begini, mereka tidak mau dipotong dan tidak peduli dengan jamaah lain.

Setelah berembug, akhirnya kami semua setuju untuk sebisa mungkin bersama meski bergandengan hanya berdua, suami istri. Namun bila keadaan memaksa kami harus berpisah, masing-masing akan meneruskan Sai, shalat Zuhur dan kemudian bertemu di depan jam kecil di depan pelataran mall.

Dugaan kami benar, baru pada putaran pertama saja kami sudah terpisah. Tawaf kali ini benar-benar padat. Teriknya matahari yang berada nyaris tepat di atas kepala seakan tak berpengaruh. Kami  hanyut dalam pusaran ribuan jamaah tamu Sang Khalik yang berputar lambat dengan arah berlawanan jarum jam. Bangunan kubus hitam berukuran sekitar 12x10x15 m yang menjadi pusat perputaran benar-benar bagaikan magnet dengan kekuatannya yang maha dasyat. Tarikannya mencapai hingga puluhan meter. Ini terbukti dengan adanya tawaf yang dilakukan jamaah di lantai 3 pada jarak tersebut. Allahuakbar …

Tanpa terasa usai sudah 7 putaran. Dengan tubuh bermandikan peluh kami keluar dari putaran, dengan susah payah. Padahal kami sudah berusaha keluar putaran sedikit demi sedikit. Putaran yang terasa benar-benar padat dan agak mengganggu sebenarnya hanya ketika mendekati Hajar Aswad. Karena titik tersebut adalah titik permulaan tawaf dimana jamaah disunahkan untuk mengangkat tangan sebelah kanan, sebagai ganti tanda mencium Hajar Aswad yang hampir mustahil dilakukan,sambil mengucapkan “ Bismillahi Allahuakbar “.

Di titik inilah jamaah memulai dan mengakhiri tawaf. Lampu neon hijau yang dipasang di dinding masjid, di seberang dan searah Hajar Aswad menjadi patokannya. Jamaah biasanya berjalan agak pelan di tempat ini. Inilah yang menjadi sumber kemacetan.

Setelah berhasil keluar dari putaran, kami berhenti sebentar di depan Multazam untuk berdoa. Kemudian bergeser sedikit ke kanan untuk shalat di belakang maqam Ibrahim meski tidak konsentrasi dan agak terburu-buru karena khawatir tertabrak jamaah yang sedang tawaf. Selanjutnya kami segera menuju tempat Sai. Masih ada sedikit waktu sebelum masuk waktu Zuhur.

Benar saja, memasuki sai ke 5 azan berkumandang.  Kami segera mencari tempat untuk shalat di sekitar area tersebut agar usai shalat nanti dapat segera meneruskan kekurangannya, yaitu 2 x lagi.  Jangan kaget bila mendapati jamaah lelaki dan perempuan shalat bercampur di Masjidil Haram ini. Ini memang biasa terjadi pada musim haji, terutama pada saat-saat puncaknya. Laskar, sebutan bagi penjaga masjid yang bertugas mengatur ketertiban masjid, baru akan kembali menertibkan jamaah, memisahkan jamaah lelaki dan perempuan yang akan shalat, beberapa hari setelah puncak haji. Setelah masjid tidak terlalu padat karena sebagian jamaah telah pulang ke negaranya masing-masing.

Sesuai kesepakatan, usai menyempurnakan sai kami menuju tempat rendez-vous.Ternyata Raga dan suaminya, Sa’id yang sebelumnya memiliki nama baptis Richard itu, sudah menunggu. Kami segera mencari makan siang di dalam mall yang menempel dengan pelataran masjid itu. Setelah cukup lama mengantri meja kursi yang kosong, akhirnya kami mendapatkannya juga.  Alhamdulillah …

Namun belum sempat kami menyelesaikan santapan, azab Ashar telah berkumandang. Hebatnya, tak sampai 5 menit kemudian, serentak semua penjaga restoran menutup restonya. Kemudian berbaur dengan para tamu yang segera menggelar sajadah di dalam resto dan langsung bersiap mendirikan shalat jamaah dengan  ber-imam ke Masjidil Haram ! Subhanallah, indahnya …

Usai meneruskan santapan yang tadi tertunda, kami segera menuju terminal kendaraan umum yang terletak di bawah pelataran Masjidil Haram. Rencana untuk sekedar CMK alias Cuci Mandi Kakus di pondokan terpaksa ditunda karena waktu yang tidak memungkinkan. Bahkan kalau melihat traffic Mekkah seperti tadi pagi, tampaknya kami harus menyewa taxi kalau tidak ingin terlambat sampai di Mina. Atau terpaksa kena dam. …  😦

Dan tampaknya para pengemudi kendaraan umum di Mekkah ini tak mau kehilangan kesempatan emas tersebut. Bayangkan, pengemudi taxi meminta ongkos 200 riyal atau 450 ribu rupiah hanya untuk ke Aziziyah ! Rencananya dari sini kami akan berjalan kaki menuju Mina.

“ Itu sudah murah. Lihatlah kemacetan di depan sana. Saya harus kehilangan bensin dan waktu banyak untuk itu”, begitu sang pengemudi beralasan.

Apa boleh buat, kamipun mengalah. Namun begitu kami menaiki taxi, sopir membuka jendela taxinya dan berteriak kepada sopir taxi yang melintas disampingnya, menanyakan kemana jalan menuju Aziziyah ! Wadduuh … Ternyata sopir asal Pakistan yang baru beberapa bulan mukim di Mekah ini belum hafal jalan.

Tanpa banyak bicara, kami segera turun dari taxi dan mencari taxi lain. Kali ini sopirnya sudah berpengalaman. Ini semua berkat ‘interogasi’ yang dilakukan Raga yang bisa berbahasa Arab. Alhamdulillah … Namun ongkos tetap sama, 200 riyal .. Ya sudahlah ..

Dan memang tidak percuma ..  tak sampai setengah jam kami sudah tiba di tujuan. Sang sopir benar-benar hafal jalanan. Ia menempuh jalan-jalan tikus yang dengan gesit segera berputar begitu terjebak kemacetan.

Kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Mina ada di balik terowongan. Tak sampai 15 menit kemudian kami telah berada di Mina. Ketka melihat Jamarat di depan mata, tiba-tiba kami teringat bahwa ini adalah jadwal rombongan kami untuk melontar jumrah. Waktu yang afdol untuk melontar jumrah pada hari ke 2 hingga selesai nanti adalah memang selepas Zuhur hingga menjelang Magrib.  Maka kamipun memutuskan untuk mencegat rombongan tersebut.

Kami menunggu di depan perkemahan jamaah Indonesia sambil menyantap martabak Mesir yang rasanya tidak karuan itu. Jauuuuh dari martabak kita. Plus pop mie … 🙂 … Padahal pada hari-hari biasa saya tidak membiasakan mengkonsumsi mie instan tersebut minimal setelah 3 hari berlalu.

Setengah jam lebih kami menunggu. Akhirnya kami memutuskan untuk  melempar jumrah tanpa menunggu rombongan. “ Bisa jadi mereka telah lewat tapi kita tidak melihat atau mungkin mereka merubah jadwal”, begitu kesimpulan kami.

Akhirnya kamipun pergi ke Jamarat. Hari ini kami harus melontar ke 3 jumrah dengan urutan jumrah Ula, Wustho kemudian Aqabah. Jadi tidak seperti kemarin yang hanya melontar jumrah terbesar yaitu jumrah Aqabah. Alhamdulillah, lancar tanpa kesulitan. Namun dalam perjalanan pulang tanpa pemberitahuan sama sekali tahu-tahu jalan menuju kemah yang sudah kami hafal ditutup petugas. Tentu saja kami kebingungan, begitu juga ribuan jamaah yang kemahnya berada di jalur tersebut.

Kami disuruh berputar mencari jalan lain. Namun ternyata akses ke jalur tersebut benar-benar tertutup. Tanpa penjelasan dan solusi yang jelas, komunikasi tidak lancar,  akhirnya terjadilah keributan dimana-mana. Ribuan jamaah kebingungan bagaikan kehilangan induk ayam. Puluhan penjaga yang bertugas menutup berbagai akses tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Ditanya baik-baik ada yang pura-pura tidak mendengar, ada yang menjawab seenaknya dan tidak sedikit malah yang membentak-bentak. Tampaknya mereka stres, se-stres para jamaah, termasuk saya. Apalagi hari makin bertambah gelap saja, menambah kegelisahan. Kesal rasanya hati ini melihat kami, para tamu Allah, diperlakukan semena-mena.

Karena jawaban petugas yang simpang siur akhirnya kami memutuskan untuk mencari peta saja. Setelah berjalan kesana kemari akhirnya kami menemukan sebuah peta besar Mina dipasang di tepi sebuah jalan. Di sebelahnya ada posko untuk membantu jamaah yang tersesat. Sejumlah petugas khusus dengan seragam yang berbeda bertugas di sekitar tempat tersebut. Namun nyatanya tetap tidak mudah. Setelah tersasar kesana kemari akhirnya pukul 8 malam sampai juga kami di perkemahan kami, perkemahan no 33, yang letaknya memang di ujung Mina, tak jauh dari spanduk besar «  End of Mina » … Alhamdulillah …

( Bersambung)

Jakarta, 24 Januari 2012.

Vien AM.

Minggu, 6 November 2011 / 10 Zulhijjah 1433H.

Usai subuh, saya segera merebahkan diri yang benar-benar penat ini ke atas matras lipat yang sekarang rasanya bagaikan kasur Dunlopillo ternyaman di dunia. Lega rasanya hati ini telah melewati bagian yang menurut saya tersulit yaitu mabit di Muzdalifah.

Namun baru saja saya mau memejamkan mata, saya melihat seraut wajah Abdul Rahim, jamaah Maroko suami Fousia, bule asli Perancis yang tidur di sisi kiri saya, muncul di sudut pintu tenda. Ia minta dipanggilkan istrinya yang juga sedang bersiap-siap tidur.

“ Ton marie. Il est la”, bisik saya kepada Fousia, memberitahukan bahwa suaminya memanggilnya. Fousiapun keluar menemui suaminya. Tak lama kemudian ia  kembali dan mengatakan bahwa mereka akan melempar jumrah pagi ini juga dan akan langsung menuju Mekah untuk Tawaf dan Sai. Ia menambahkan bahwa suami saya kelihatannya juga ingin ikut bergabung bila saya setuju.

Benar saja, tak lama kemudian suami saya muncul dan menyatakan keinginannya. “ Tanggung. Kita gabung aja yuk, supaya cepet beres, setelah itu baru istirahat”, ajak suami saya.

Maka berangkatlah kami ber-9 menuju Jamarat. Selain kami berdua, Abdul Rahim, Fousia, mertua Fousia dan seorang jamaah lelaki, ikut bersama kami 3 orang ibu yang menempati matras di sebelah kiri Fousia. Hari pertama melempar jumrah yaitu pada 10 Zulhijjah afdolnya adalah setelah matahari terbit. Jadi tidak heran ketika kami mendapati jutaan jamaah membentuk gelombang putih dari segenap penjuru Mina muncul mendekati Jamarat. Subhanallah .. hanya itu yang bisa keluar dari mulut ini.

Jarak dari tenda kami di Mina ke Jamarat sekitar 3.5 km. Jarak yang lumayan jauh untuk berjalan kaki. Tetapi karena jalanan amat ramai jarak tersebut tidak terasa jauh. Dan lagi karena seluruh  jalanan menuju ke tempat tersebut sangat lebar maka kepadatannya tidak membuat jamaah sampai harus merasa berdesak-desakan.

Bangunan jamarat saat ini benar-benar jauh berbeda dengan jamarat 11 tahun lalu. Tampak bahwa raja Abdullah yang saat ini memerintah Arab Saudi sangat memperhatikan kepentingan tamu-tamu Allah yang datang ke negrinya baik untuk berumrah apalagi berhaji.

Jamarat dibangun atas kerja sama arsitek lokal dan luar negri yang dikenal berpengalaman dalam pembangunan gedung bertaraf internasional seperti gedung olimpiade. Jamarat yang kabar pembangunannya menelan biaya sekitar Rp 11 triliun adalah sebuah bangunan megah berlantai 5 yang terdiri atas 3 bangunan setengah lingkaran yang saling berhubungan. Ke 3 bangunan ini dihubungkan oleh jembatan pada setiap lantainya. Sejumlah escalator melengkapi bangunan tersebut. Sementara 10 tangga naik dan 12 tangga keluar disiapkan sebagai tangga darurat.

Di dalam ke 3 bangunan inilah berdiri tegak jumrah Aqabah, jumrah Wustho dan jumrah Ula, dengan jarak masing-masing sekitar 300-an meter.  Namun ke 3 jumrah tersebut sekarang bukan lagi berbentuk tugu sederhana. Bangunan berbentuk pipih (elips) dengan panjang masing-masing 30 meter dan tinggi mencapai 10 meter telah menggantikan ke 3 tugu tersebut. Hingga dengan demikian rasanya tidak mungkin lagi seorang jamaah gagal melempar batu.

Jamarat dipersiapkan untuk menampung 500 ribu jamaah/ jam. Dengan demikian dalam waktu 6 jam, 3 juta jamaah diperkirakan dapat menuntaskan ritual melempar jumrah. Ritual yang telah berumur ribuan tahun ini adalah ritual warisan nabi Ibrahim as dalam rangka mengusir godaan syaitan yang ketika itu menganggu nabi Ibrahim as agar membatalkan perintah Sang Khalik untuk menyembelih putra satu-satunya tercinta, nabi Ismail as.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “ Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”,

Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

(QS.Ash-Shaffat(37):102-107).

Pelemparan jumrah dengan batu kerikil sebanyak 7 x ( 7 batu) untuk setiap tugu, yang dilakukan jamaah haji sejak disyariatkannya kepada umat Islam 7 abad silam adalah lambang perlawanan umat  Islam terhadap perbuatan dan sifat-sifat syaitan terkutuk. Sifat buruk yang ada di dalam hati manusia inilah yang harus dienyahkan.

Ironisnya, masih banyak orang yang menyangka bahwa jamarat itulah syaitan yang harus dilempari sehingga tak heran bila ada saja orang yang penuh nafsu melempari jamarat tersebut. Bukan hanya dengan batu kerikil saja sebagaimana  yang dianjurkan tapi batu-batu besar bahkan sandalpun ikut melayang. Saya benar-benar menyaksikan dengan kepala sendiri bagaimana sebuah sandal putih melayang.

Pada hari pertama hari Tasyrik ini, hanya jumrah Aqabah, jumrah terbesar yang dilempar batu. Dengan mengucap “ Bismillahiallahuakbar” seperti yang dicontohkan Rasulullah saw saya memulai pelemparan. Saya niatkan ini untuk membuang sifat egois saya. Selanjutnya berturut-turut hingga 7 x saya lemparkan batu ke arah jamarat tersebut dengan niat membuang sifat-sifat jelek, sifat yang hanya berhak dimiliki syaitan.   Ya Allah hilangkan dari hamba ini sifat-sifat dan kebiasaan syaitan terkutuk ini. Jangan biarkan ia datang dan bercokol lagi pada hamba-Mu yang lemah ini. Hanya kepada-Mu aku berlindung.

Berikut rekaman tentang Jamarah yang diambil dari youtube : http://www.youtube.com/watch?v=Hk1mrxWSBPI&feature=related

Selesai pelemparan jumrah, disunnahkan untuk segera menjauh dari tempat terkutuk itu, menghadap kiblat untuk berdoa kemudian meninggalkan tempat. Dengan selesainya jumrah Aqabah ini maka tahalul awalpun atau tahalul kecil sudah dapat mulai dilakukan. Bagi jamaah lelaki mencukur rambut hingga tuntas alias botak adalah yang paling afdol. Sementara bagi jamaah perempuan menggunting ujung rambut beberapa helai sudahlah mencukupi.

Dengan dilakukannya tahalul kecil berarti larangan-larangan ihrampun usai sudah kecuali hubungan suami istri yang harus menunggu hingga dilaksanakannya tahalul besar. Tahalul besar baru akan terjadi setelah jamaah melaksanakan tawaf ifadah dan sa’i.

Rencananya kami akan melaksanakan semua itu hari ini juga. Itu yang menjadi kesepakatan kami ber-9. Namun untuk memudahkan tawaf dan sai’ kami akan mampir di pondokan di Aziziyah terlebih dahulu. Para bapak ingin melepas ihram sebelum tawaf dan sa’i. Kebetulan pondokan kami memang terletak antara Mina dan Mekkah.

Jarak Mina–Makkah Al-Mukaramah sebenarnya hanya 7 kilometer. Pada keadaan normal dalam waktu 10 menit mustinya sudah sampai. Itu kalau kita menggunakan bus. Namun pada musim haji seperti ini bisa 4 jam-an baru sampai tujuan! Dan berjalan kaki biasanya malah lebih cepat dari naik bus.

Perhitungan kami karena pondokan terletak di perbatasan Mina dalam 1 jam kami akan sampai di pondokan, salin kemudian langsung ke Masjidil Haram. Tapi ternyata, tidak ada satupun diantara kami ber-9 yang hafal jalan !

Jalan ke luar dari Jamarat  begitu banyak. Semua jurusan padat jamaah dengan tujuan masing-masing yang berbeda-beda. Sebagian diantara kami memang bisa berbahasa Arab karena mereka memang keturunan Maroko meski ternyata bahasa Arab Maroko dengan bahasa Arab Saudi tidak persis sama. Akibatnya walaupun sudah bertanya-tanya tetap saja kami tersasar-sasar. Patokan kami saat itu pokoknya jurusan Makkah Al Mukarammah.

Untung akhirnya kami sampai juga meski harus makan waktu 3 jam ! Alhamdulillah .. Kami tiba di pondokan sekitar pukul 10 pagi. Rupanya kami mengambil jalan berputar. Mestinya dari Mina melewati pondokan Aziziyah baru Makkah. Ini terbalik. Kami memasuki pondokan Aziziyah setelah tersesat di jalanan Makkah yang benar-benar padat oleh bus, kendaraan umum lain, sepeda motor dan kendaraan pribadi yang terjebak kemacetan parah dan ratusan jamaah yang lalu lalang, menyelinap di antara kendaraan-kendaraan tersebut.

Wuih, benar-benar pengalaman yang membutuhkan extra kesabaran. Apalagi bila mengingat ketegangan-ketegangan yang terjadi di antara kami. Ada yang terus menerus mengeluh lelah, mengomel, menyalahkan dan berbagai kekesalan lainnya. Oya, bahkan salah satu bapak menghilang ntah kemana, hingga ketika kami sampai di pondokan rombongan tinggal 8 orang. Ya Allah semoga Kau maafkan kami semuanya …

Setelah berembug akhirnya kami sepakat untuk mengurungkan niat awal kami untuk tawaf dan sai demi menuntaskan haji kami hari itu. Kami semua terlalu lelah dan ingin istirahat terlebih dahulu. Apalagi mengingat hari ini adalah hari pertama  Tasyrik yang pasti bakal super padat. Sementara sebelum waktu Magrib kami sudah harus berada di Mina kembali. Terlalu besar resikonya. Yaah apa boleh buat .. masih ada esok hari, insya Allah.

Berdua dengan Abdul Rahim, suami saya memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mencukur habis rambut mereka sebagai bagian dari tahalul awal. Yang ternyata untuk itupun juga harus antri hingga menjelang zuhur suami saya baru masuk kamar, mandi dan istirahat sebentar. Kami sepakat akan pulang ke Mina sekitar 14.30. Sengaja agak awal demi mengantisipasi tersesat lagi seperti pagi tadi … 😦  …

Walaupun ngaret dari rencana, ba’da ashar, sekitar pukul 15.30, ber-8 kami berangkat meninggalkan pondokan. Tak sampai 15 menit kemudian kami telah berada di Mina karena ternyata pondokan benar-benar terletak di perbatasan Mina, di seberang terowongan menjelang Jamarat.

mina

mina

Kami berjalan santai sambil menikmati pemandangan Mina dari atas jembatan. Ribuan tenda putih dengan kuncupnya yang khas memadati area yang dikelilingi bukit-bukit itu. Tak ada sejengkalpun tanah kosong juga di lembah sempit diantara bukit-bukit kecuali terisi tenda. Kalau bukan tenda putih resmi milik pemerintah ya tenda-tenda kecil milik pribadi. Takjub rasanya hati ini. Saksikanlah ya Allah betapa hamba-hamba-Mu memenuhi panggilan-Mu. Allahuakbar.

Tanpa terasa kami terpisah dari rombongan. Ketika saya menengok ke belakang terlihat teman-teman tengah berbelok menuruni jembatan yang jumlahnya banyak sekali itu. Yang kalau tidak mempunyai patokan yang jelas pasti akan mudah tersesat. Mereka melambai-lambaikan tangan mengajak  kami berdua agar mengikuti mereka. Padahal saya yakin seyakin-yakinnya bahwa jalur yang kami berdua tempuh saat itu adalah jalur yang benar untuk kembali ke perkemahan.

Saya yakin hal tersebut berkat berkibarnya bendera merah putih yang dipasang berselang-seling dengan bendera  Malaysia sepanjang jembatan menuju Jamarat. Bahkan suara pembimbing kita dalam bahasa Indonesia yang berkali-kali mengingatkan agar jamaah Indonesia berhati-hati ketika melempar jumrah dan agar melindungi jamaah yang sudah sepuh tadi pagipun masih terngiang-ngiang jelas di telinga ini. Karena sebuah kompleks besar perkemahan jamaah Indonesia memang berdiri di depan jalan yang kami lalui. Perkemahan ini kalau dari Jamarat terletak sebelum terowongan yang menuju perkemahan kami. Bahagia rasanya melihat sang merah putih dan  mendengar bahasa kita terdengar di tanah suci ini. Jamaah Indonesia seperti biasa memang menempati no 1 jamaah terbanyak. Subhanallah …

Ironisnya, ntah bagaimana, koq kami semua tidak bertukar mencatat no hp. Akibatnya suami saya terpaksa menghampiri mereka dan berusaha meyakinkan bahwa jalur yang benar adalah jalur yang kami pilih. Paling tidak itulah jalur yang tadi pagi dilalui. Ntah kalau ada jalur lain yang kami tidak tahu. Sayang mereka tidak percaya dan yakin mereka yang benar … 😦   Maka demi menghindari perbantahan berkepanjangan yang memang dilarang ketika berhaji, akhirnya kami sepakat untuk berpisah dan memilih jalur yang diyakini masing-masing. Apa boleh buat …

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. … … “.(QS.Al-Baqarah(2);197).

Singkat cerita. Beberapa saat setelah Magrib, ketika saya memasuki tenda, saya disambut muka masam ke- 3 ibu tadi. Saya tidak melihat Fousia sementara  mertuanya sudah tertidur pulas di atas matrasnya. Ke 3 nya mengomeli Fousia karena ternyata mereka tadi sempat tersesat dan ia dianggap yang paling bertanggung-jawab.  Saya hanya diam saja.

Namun kemudian mereka tersadar bahwa saya kembali lebih sore lagi dari mereka. “ Kamu tersesat juga ?”, tanya salah satu ibu. “ Tidak”, jawab saya ringan. “ Kalau begitu kenapa kamu baru sampai?”, selidiknya lebih jauh. “ Kami mampir dulu untuk melihat-lihat dan membeli oleh-oleh. Kami juga berhenti sebentar untuk menikmati pop mie yang banyak dijual di depan perkemahan Indonesia”, jawab saya sambil menunjukkan tas plastik berisi  oleh-oleh yang saya beli. Terbayang pasti di sepanjang jalan tadi Fousia diomeli ke 3 ibu tersebut, pikir saya.

Tak lama kemudian Fousia masuk tanpa menoleh kepada mereka dan sedikit tersenyum kepada saya meski tanpa mengucapkan  kata sepatahpun. Saya hanya mengelus dada, berharap kejadian ini tidak merusak silaturahim apalagi sampai merusak haji kami. Na’udzubillah min dzalik …

Saya segera keluar lagi  untuk wudhu dan shalat Magrib. Sebentar lagi azan Isya akan dikumandangkan.  Sepanjang di Mina kami mendirikan shalat dengan di qashar kecuali Subuh dan Magrib, tentu saja, tanpa men-jama’nya. Begitulah yang dicontohkan Rasulullah saw.

 ( Bersambung).

Jakarta, 21 Januari 2012.

Vien AM.

Menjelang pukul 21.00 bus memasuki Muzdalifah. Awalnya saya tidak menyadari bahwa bus telah sampai tujuan. Saya hanya bertanya-tanya mengapa para jamaah hilir mudik di tepi jalan raya penuh debu beterbangan ini?  Saya sama sekali tidak mengira bahwa inilah Muzdalifah.

Terus terang saya memang tidak begitu ingat Muzdalifah. Karena ketika haji 11 tahun lalu kami hanya berhenti sebentar ditepi jalan raya. Dibawah sinar lampu kuning jalan yang terang benderang, kami turun dari bus dan mencari sejumlah batu kecil untuk keperluan melempar jumrah. Keadaan tidak begitu ramai kalau tidak mau dibilang sepi. Setelah itu kami kembali menaiki bus dan duduk manis di dalamnya, ntah berapa lama, yang pasti hingga lewat tengah malam, untuk kemudian beranjak menuju Mina. Mungkin karena saking sebentarnya itu saya sampai tidak sempat memperhatikan suasana sekeliling dan tidak menyimpan kenangan khusus.

Saya baru kembali memikirkan Muzdalifah setelah mendengar cerita teman-teman yang pergi haji dan bermalam di tempat tersebut. “ Sunahnya kan begitu.  Tidur hingga melewati tengah malam alias mabit  di atas bebatuan dengan atap langit “, jelas mereka membuat saya hanya bisa termangu. Terselip sedikit rasa kecewa mengapa dulu kami tidak melakukan hal ini. Rasa kecewa ini tanpa terasa menyelinap jauh ke dalam hati sanubari. Jujur, sebenarnya inilah salah satu penyebab utama mengapa kami ingin mengulang haji kami.

Muzdalifah dalam bayangan saya adalah suatu tempat dimana kita bisa ikut merasakan bagaimana dulu para nabi dibuat terpukau oleh Sang Khalik dengan benda-benda langit ciptaan-Nya. Yaitu dengan didekatkannya pada alam terbuka. Patut diingat sebagian besar utusan Allah pernah mengalami kehidupan sebagai penggembala. Yang dengan demikian selain kesabaran yang tinggi mereka juga sangat dekat dengan alam karena keseharian mereka berada di bawah langit nan luas, dimana milyaran bintang menghiasinya.

“ Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang”,(QS.As-Shaffat(37):6).

Berikut perjalanan spiritual nabi Ibrahim as dalam rangka mencari tuhannya yang diabadikan dalam ayat 75-79 surat Al-Anam.

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” .

Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam“.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”.

Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar“,

maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.

Dengan bekal seperti itulah saya memasuki Muzdalifah. Di bawah deretan sinar lampu kuning jalanan yang tidak terlalu terang, saya melihat ratusan jamaah lalu lalang . Sementara sederetan bus berjubel mengantri untuk menurunkan jamaah yang makin lama makin menggunung. Debu dan asap knalpot bercampur menjadi satu. Ditambah lagi angin yang lumayan kencang, membuat udara bertambah kotor. Untung bukan angin panas dan udara juga tidak panas. Alhamdulillah …

Semakin mendekat semakin terlihat jelas, mulai  dari tepi jalanan itu sampai jauh ke depan sana,  betapa ribuan bahkan mungkin jutaan jamaah dengan kain ihram kumalnya, ntah dengan alas apa,  bergeletakkan, tanpa tenda atau apapun yang melindungi.  Saya betul-betul terkesima.  Ini kumpulan manusia atau onggokan sampah yang tercecer ??

«  Kita telah tiba di Muzdalifah. Kita akan berada di tempat ini hingga menjelang subuh. Bagi yang sakit atau ada hambatan lain diperkenankan meninggalkannya mulai pukul 2 pagi », terdengar suara pembimbing membuyarkan keterhenyakan saya.

Seakan terlempar dari ketinggian, saya merasa terhempas dan benar-benar terpukul. Kepala saya terasa pening, mual terasa perut ini. Oh, manusia … bagaimana kita bisa merasa sedemikian sombong, angkuh dan memiliki derajat paling tinggi  …

“ Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.(QS.As-Sajadah(32):7-9).

Dari tanah kembali ke tanah. Ya, itulah ungkapan paling tepat bagi manusia saat itu.

Rombongan segera turun dari bus. Kami mendapat ‘kapling’ di tepi jalan menghadap toilet umum. Tak ada komentar apapun yang keluar dari mulut sesama jamaah. Perlahan saya gelar sajadah sederhana yang sengaja saya beli untuk keperluan ini. Beberapa teman ada yang menggelar tikar lebar. Ada yang membawa ‘sleeping bag’. Bahkan ada yang nekat membawa selimut tebal milik tenda Mina.

Pembimbing sebenarnya memang telah mengizinkan jamaah membawa ‘sleeping bag’. Tapi yaitu tadi, saya benar-benar tidak menyangka kondisinya seperti ini. Namun kalau dipikir pasti akan beda kesannya kalau saya tidur di dalam ‘sleeping bag’, mungkin …

Segera saya istighfar. Secara berkelompok kamipun mendirikan shalat magrib dan isya yang digabung. Inilah yang dicontohkan Rasulullah saw.

“ Tidak ada amalan khusus kecuali tidur. Berusahalah istirahat meski sebentar. Masih banyak yang harus kita lakukan setelah ini”, bisik Sabrina, jamaah muda asal Mauritania yang tidur di sebelah saya mengingatkan.  Tak lama kemudian saya lihat sahabat baru saya yang bersuamikan asli Perancis ini tertidur pulas di atas sajadahnya. Iri saya dibuatnya.

Saya memandang suami saya yang kebagian kapling di baris depan kiri saya. Saya lihat ia juga tidak tidur. Ia sedang membaca Al-Qurannya. Namun saya tidak yakin ia bisa membaca dengan baik. Karena lampu-lampu yang dipasang di padang pasir ini, meski banyak jumlahnya , tidak cukup terang untuk keperluan membaca.

Masih ada sedikit rasa khawatir di hati ini. Dengan kain ihramnya itu, ia masih terlihat pucat. Muntaber yang baru dialaminya kemarin bisa saja datang kembali. Apalagi dengan kondisi lapangan seperti ini. “ Ya Allah, mudahkanlah urusan ini. Sehatkan dan pulihkanlah kembali kesehatannya, amiin “.

Perlahan, dengan maksud agar pasir tidak terlalu berterbangan, saya membaringkan diri, mencoba untuk tidur.  Meski masker telah menutupi hidung, tak urung debu mulai mengganggu pernafasan ini. Hidung saya mulai mampet. Saya terus beristighfar, memohon agar supaya kami berdua lulus dari cobaan ini.

Berbaring terlentang memandang bintang-bintang di langit meski udara tidak terlalu bersih membuat hati menjadi tenang.  Bukit-bukit yang mengelilingi padang dimana para jamaah tergeletak pasrah seolah menjaga kami dari kejahatan dan kegelapan malam terlihat begitu gagah perkasa. Ya Allah tidak percuma Kau ciptakan semua ini ya robb.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini de ngan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS.Ali Imran(3):190-191).

Terima-kasih ya Allah telah Kau berikan kami berdua kesempatan untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Mu. Berilah kami dan seluruh jamaah yang saat ini sedang berada di padang Muzdalifah ini kemampuan untuk mengambil hikmah atas segala kejadian. Jadikanlah haji kami mabrur, ya Allah.

Tampak jelas bahwa Sang Khalik telah mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknya; yang lalu, yang sedang berlalu dan yang akan berlalu. Allah azza wa jalla adalah sebaik-baik pembuat skenario yang tak akan lekang oleh waktu, yang senantiasa akan tetap ‘up to date’ hingga akhir zaman nanti.

Padang Arafah yang merupakan puncak haji, pada zaman Rasulullah saw, adalah padang luas yang panas terik. Sama hingga kini. Bedanya, sekarang jamaah tidak perlu kepanasan karena pemerintah Arab Saudi, sebagai tuan rumah yang baik, telah mendirikan tenda-tenda bagi jamaah supaya tidak terlalu tersiksa oleh teriknya panas matahari. Apalagi mengingat bahwa puncak haji yang merupakan rukun haji  tersebut harus dilalui seluruh jamaah tanpa kecuali, mulai matahari sedikit tergelincir dari atas kepala yaitu waktu zuhur hingga matahari terbenam, yaitu waktu Magrib.

Namun sebaliknya, dengan berdirinya ribuan tenda dimana jamaah berlindung di dalamnya maka pesan penting padang Arafah jadi kurang begitu terasa. Suasana di padang Arafah mustinya merupakan cerminan pengadilan akhir zaman dimana semua manusia dikumpulkan di padang masyar untuk menanti keputusan Sang Khalik atas segala tindak tanduk kita. Manusia pada saat itu hadir hanya dengan kain kafan putih, satu-satunya bekal yang dibawa ketika kita masuk kubur. Kain ihram para jamaah lelaki inilah yang mewakili busana akhir kita kelak.

Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya  dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan”.(QS.Yunus(10):30).

Akan tetapi dengan adanya mabit di Muzdalifah, kekurangan tersebut dapat digantikan. Di tempat inilah justru saya dapat merasakan fenomena pengadilan akhir zaman di Arafah yang hilang itu. Jadi alangkah ruginya jamaah yang tidak menjalani mabit di Muzdalifah, itu pendapat saya pribadi, terutama bagi yang meyakini bahwa mabit di Muzdalifah adalah bagian dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw.

Sekitar pukul 2 pagi, suami saya mengajak mencari makanan. “ Laper nih, cari yang anget-nget yuk”, ajaknya. Beruntung di tempat tersebut ada sejumlah penjual makanan meski tidak banyak pilihannya. Paling tidak adalah penjual kopi, teh panas dan biskut, cukup untuk sekedar pengganjal rasa lapar di pagi hari yang cukup dingin itu.

Tanpa terasa waktu berlalu. Menjelang subuh kamipun meninggalkan Muzdalifah menuju tenda Mina. Tiba-tiba saja bayangan tenda dengan matras lipat dan segala keterbatasan fasilitasnya menjadi terasa begitu mewah, dibanding tidur di Muzdalifah.

Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS.Ar-Rahman(55):16).

( Bersambung)

Jakarta, 17/1/2012.

Vien AM.

Sabtu, 5 November 2011 / 9 Zulhijjah 1433H.

Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan itu. Itulah hari Arafah, hari yang ditunggu seluruh umat Islam sedunia baik yang sedang berhaji maupun yang tidak. Bagi yang sedang mengerjakan haji, inilah puncaknya.  Sedangkan bagi yang tidak berhaji, puasa pada hari tersebut adalah keutamaan.

“Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari  Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, ‘Apa keinginan mereka (akan Ku kabulkan)?‘” (HR. Muslim).

“Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Segera setelah menyelesaikan shalat subuh, kami diberangkatkan menuju padang Arafah, yang letaknya sekitar 14 km dari Mina. Kami memasuki perkemahan yang masih sepi ini dalam keadaan masih agak gelap. Udarapun masih terasa sejuk. Karena masih sepi kami bahkan dapat memilih 2 diantara kemah yang disediakan bagi kami, jamaah perempuan Meridianis, grup bimbingan haji dimana kami bergabung.

“ Jangan berdesakan. Kita akan berada di dalam tenda ini hingga magrib. Siang nanti udara bakal panas menyengat. Kita mendapat jatah 2 kemah. Silahkan pindah ke kemah sebelah”, begitu pembimbing kami mengarahkan.

Tenda di tempat ini agak berbeda dengan tenda di Mina. Tenda di Arafah tidak sebesar di Mina. Bagian dalamnya berwarna merah tua dengan motif bunga abstrak mirip batik. Begitupun karpetnya. Karpet berwarna merah tua ini jauh lebih bagus dan lebih empuk daripada karpet di Mina. Saya merasa nyaman begitu melihatnya. Semoga saya bisa berdzikir dengan khusuk, batin saya, penuh harap.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya,nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”

Tidak ada doa khusus pada hari Arafah ini. Yang dianjurkan hanyalah memperbanyak dzikir dan doa, sedapat dan sesuka kita saja. Karena shalat dan membaca kitab suci Al-Quran adalah bagian dari dzikir atau mengingat Sang Khalik maka ini juga baik kita lakukan. Terutama pada posisi sujud. Karena sujud adalah posisi penyerahan diri tertinggi seorang hamba kepada Sang Pemilik Yang Maha Agung.

Pada hari Arafah, Allah Azza wa Jalla datang mendekati para hamba yang hari itu datang dari segala penjuru dunia untuk memenuhi panggilan-Nya, dengan segala kerendahan hati, tanpa atribut keduniaan apapun. Pada hari itu, dengan hanya 2 carik kain ihram putih sederhana para hamba datang, sebagaimana ia akan kembali suatu hari nanti.

Hari Arafah adalah hari yang benar-benar sangat istimewa. Karena pada hari-hari dan keadaan biasa adalah mustahil Sang Khalik bisa mendekati mahluk ciptaan-Nya. Ini dapat dibuktikan pada kisah nabi Musa as yang diabadikan pada ayat  143 surat Al-Araf berikut,

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman“.(QS.Al-Araf(7):143).

Ya, bahkan gunungpun hancur luluh begitu Sang Khalik menampakkan diri padanya. Tak sanggup ia menghadapi kebesaran dan keagungan Tuhannya. Allahuakbar ! Namun tidak demikian dengan kita, para jamaah haji, tamu Sang Khalik, yang pada hari itu berkumpul di padang luas nan gersang bernama Arafah dimana di dalamnya berdiri tegak Jabal Rahmah. ( Menurut berbagai sumber Jabal Rahmah adalah tempat dimana nabi Adam as dan Siti Hawa bertemu untuk pertama kalinya sejak turun ke bumi. Wallahu’alam).

Pada hari itu, dengan iradah-Nya, Allah swt tidak hanya ‘menyulap’ diri-Nya agar tidak membuat kita jatuh pingsan atau hancur sebagaimana gunung pada kisah nabi Musa as di atas namun juga mendekat demi untuk mendengar dan mengabulkan doa para tamu istimewa tadi. Yang bila ibadah kita diridhoi-Nya, diterima-Nya, maka bakal bersihlah ia sebagaimana bersihnya bayi yang baru dilahirkan ke dunia.

Alangkah tingginya penghargaan yang diberikan-Nya bukan? Subhanallah .. Maka dapat dibayangkan, betapa ruginya orang yang dengan sengaja tidak mau menemui panggilan-Nya padahal ia tidak punya halangan. Sengaja atau tidak sengaja, Ia mengetahuinya. Karena Ia mengetahui  apa yang dibisikkan hati.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. (QS.Qof(50):16-17).

Menjelang zuhur, tanpa terasa tanah haram yang memiliki luas hanya 10.4 km ini sudah dipadati paling tidak 3 juta jamaah dari seluruh penjuru dunia,   221 ribu diantaranya adalah jamaah yang datang dari Indonesia. Para jamaaah akan berada di tempat ini hingga magrib nanti. Dan zuhur adalah batas terakhir jamaah masuk Arafah. Jika tidak maka bakal sia-sia hajinya. Pada tenggang waktu itulah biasanya setiap kelompok dibawah bimbingan uztadz masing-masing akan bermunajat, memanjatkan doa kepada Allah swt.

Ini mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw pada hari Arafah, 9 Zulhijjah 10 H, dihadapan hampir 124.000 umat Islam yang berkumpul untuk melaksanakan haji Wada bersama Rasulullah saw. Berikut sebagian isi kutbah yang penuh makna tersebut,

“Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini. »

… … …

“ Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya syeitan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi syetan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Syetan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik.”

… …

“Wahai manusia, takutlah Allah dalam memperlakukan kaum wanita, karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka pun mempunyai hak atas kalian”.

… …

“ Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al Quran) dan sunnah nabi-Nya (Al-Hadits)”.

… …

( Untuk baca lengkap isi kutbah Rasulullah saw, clik:

https://vienmuhadi.wordpress.com/2011/04/29/xxviii-haji-wada-khutbah-rasulullah-dan-tanda-sempurnanya-islam/  ).

Saya sendiri memulai hari agung ini dengan mencoba mengingat masa kecil saya. Mencoba mengingat apa yang telah saya perbuat dan apa yang telah saya dapat, sejak saya remaja, muda hingga dewasa dan mencapai usia setengah abad ini. Ya Allah begitu banyak nikmat yang telah Kau berikan pada hamba ini. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat masa kecil, nikmat berkeluarga, nikmat harta benda, nikmat ilmu, pengalaman dan yang terbesar adalah nikmat mengenal-Mu.

Ya, ternyata nikmat terbesar yang harus dan patut disyukuri seorang hamba adalah nikmat mengenal Tuhannya. Tuhan yang menciptakan diri dan seluruh alam semesta ini. Karena hanya dengan mengenal-Nya diri ini akan menjadi tenang seberapapun besar cobaan, baik cobaan senang maupun susah, kaya atau miskin, sehat maupun sakit.

Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman(55):13).

Namun seberapa besarkah rasa syukur hamba terhadap segala nikmat yang tak terhingga ini? Seberapa jauh hamba melangkah hingga berani melanggar dan tak acuh terhadap peringatan-Mu ? Terhadap ayat-ayat-Mu ?? Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini.  Ampuni dan maafkanlah segala kesalahan baik  yang disengaja maupun yang tidak disengaja, maafkanlah segala kekhilafan, ketidak- tahuan dan kezaliman diri ini.

“ … … “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“.(QS.Al-Baqarah(2):286).

Menjelang ashar, pembimbing kami memulai tausiyah sekaligus memimpin jamaah memohon doa bersama. Rasanya tak cukup waktu ini untuk memanfaatkan waktu yang makin sempit ini. Menjelang magrib, usai tausiyah, saya segera keluar dari tenda. Bersama suami, kami mencari tempat yang agak tenang untuk kembali memohon ampunan-Nya.

Dengan berdiri menghadap arah Kiblat, kedua belah tangan diangkat, kami bermunajat kepada Sang Pemilik agar amal ibadah kami selama ini diterima-Nya. Dijadikan mabrur haji kami. Dijadikan-Nya anak-anak kami, anak yang sholeh dan sholehah serta keluarga kami keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Tak lupa kami memohon agar umat Islam di seluruh dunia ini bersatu dan mampu menjadi khalifah di muka bumi dengan menegakkan kalimat Tauhid, tentunya dengan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

Setelah matahari terbenam, dengan penuh khidmat, semua jamaah meninggalkan padang Arafah. Padang ini akan kembali sepi, tanpa tenda-tenda dan tamu-tamu Allah,  hingga musim haji tahun depan. Kecuali jamaah umrah yang biasanya datang untuk mengunjungi Jabal Rahmah.

Dengan menaiki bus, jamaah menuju kembali ke Mina namun mampir dulu di Muzdalifah untuk mabit semalam atau minimal hingga melewati tengah malam. Jarak Arafah – Muzdalifah sebenarnya hanya sekitar 11 km. Namun dengan begitu banyaknya bus yang menuju titik yang sama, perjalanan bisa memakan waktu 2 jam, bahkan bisa lebih.

( Bersambung).

Jakarta, 12 Januari 2012.

Vien AM.

Rabu pagi, 2/11 atau 6 Zulhijjah, umrah dari haji Tamattu yang kami pilih telah selesai kami laksanakan, semoga mabrur, amiin. Tinggal menunggu waktu haji, 9 Zulhijjah.  Artinya puncak haji, yaitu hari Arafah tinggal 3 hari lagi. Harapan kami dan tentu juga semua calon jamaah adalah kesehatan yang benar-benar prima. Karena ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan mental namun juga kesiapan dan kekuatan fisik. Namun harapan tinggal harapan. Kepada Allah jua segala urusan kembali.

Usai subuh pagi itu, bersama rombongan kami kembali ke pondokan di Aziziyah. Sebelumnya kami sempat terkejut karena seorang pembimbing menegur kami berdua, meski dengan nada bercanda. Menurutnya kami tidak mentaati peraturan dengan tidak segera menuju bus yang telah lama menunggu di sekitar pelataran mall. Padahal sebenarnya bus tidak diperbolehkan parkir di lokasi tersebut.

Sebaliknya, kami juga tidak merasa bersalah. Karena usai subuh kami segera berusaha keluar masjid dan mencari bus dimana ia diparkir. Namun memang tidaklah mudah mengingat begitu penuh sesaknya masjid. Disamping itu kami juga keluar bersama rombongan. Jadi tidak mungkin bus bakal meninggalkan kami.

“ Betul … tapi kalian kan orang Indonesia. Kalian tidak bisa berbahasa Arab. Saya khawatir kalian berdua tersesat. ”, jelas sang pembimbing menanggapi keheranan kami.

Harap maklum, sebagian besar jamaah memang adalah keturunan Arab atau paling tidak pasangannya adalah  keturunan Arab. Kami hanya manggut-manggut,  berusaha mengerti kekhawatirannya. Ada rasa senang karena kami mendapat perhatian khusus. Namun dibalik itu ada juga terselip rasa malu, karena sebagai Muslim koq tidak bisa berbahasa Arab. Ada juga rasa sedikit kecewa. Dari total 300 orang jamaah Meridianis yang berangkat dari Paris, Perancis, sebagian  besar adalah turunan Arab, apakah itu bukan berarti bahwa dakwah kepada penduduk asli Perancis kurang berjalan??

Singkat cerita, bus tiba di pondokan di Aziziyah. Lega rasanya hati ini meski tubuh sangat lelah karena sejak kemarin pagi, sejak perjalanan 10 jam Madinah – Makkah, otomatis kami kurang tidur dan istirahat. Namun rasa lega ini hanya berlangsung sejekap. Karena setiba di kamar pondokan, ketika saya meminta tolong suami untuk memotong sedikit ujung rambut saya, sebagai bagian dari tahalul awal, suami saya terlihat agak kesal dan tidak sabaran. Hal yang tidak biasa. Sayangnya, saya kurang awas hingga termakan bisikan syaitan terkutuk. Sayapun terbawa kesal. Oh, sungguh tidak mudah untuk mencapai haji mabrur. Belum apa-apa sudah tidak bisa menjaga kesabaran. … 😦  Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang lemah ini.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):2-3).

Padahal ternyata sepulang subuh itu suami merasa tidak enak badan. Rupanya Allah swt sedang mencobanya dengan sakit. Ia terserang muntaber yang agak parah. Seharian ia muntah dan buang air besar berkali-kali.

Menyesal dan sedih nian rasanya hati ini. Hari Arafah sudah di depan mata. Terbayang, bagaimana kalau suami tercinta bakal terpaksa ditandu pada hari tersebut. Karena hadir di padang Arafah pada hari Arafah hukumnya adalah rukun. Tanpa kehadiran ini gugurlah haji.  Itu kalau Allah swt masih memberinya kesempatan dan umur.  Ya Allah berilah ia kesembuhan. Atau bila Engkau menghendakinya kembali, kembalikanlah ia dalam keadaan terbaiknya.

“Allahummaj’al khaira ‘umri akhirah wa khaira ‘amali khawatimah wa khaira ayyami yauma liqak”
(Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baik amalku pada ujung akhirnya, serta sebaik-baik hariku pada saat aku menemui-Mu)

Itu doa yang saya panjatkan. Segera saya kirim sms dan bbm kepada kedua orang-tua, mertua, anak-anak, keluarga dan teman-teman dekat agar ikut mendoakannya. Saya berusaha untuk tegar namun tak urung, maag saya tetap kambuh. Untung hanya sebentar dan tidak terlalu parah hingga segera pulih kembali. Terima-kasih Ya Allah.

Selain itu saya juga harus menahan keinginan yang sejak keberangkatan sudah begitu menggebu yaitu mendirikan shalat sebanyak mungkin di Masjidil Haram.

“Satu shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 shalat ditempat lain, kecuali masjidil haram, dan shalat dimasjidil haram sekali lebih utama dari 100.000 shalat ditempat lain”.(HR Bukhori Muslim). 

Menanggapi ini, pembimbing kami berkali-kali menegaskan bahwa hadits diatas berlaku di seluruh tanah haram termasuk di Aziziyah ini. Jadi tidak harus di Masjidil Haram saja. Saya memang pernah membaca pernyataan yang sama dari mentri agama kita. Namun saya tidak yakin. Setelah browsing kesana kemari akhirnya saya mendapat info bahwa memang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang yang dimaksud Masjidil Haram. Sebagian menyatakan bahwa Masjidil Haram adalah seluruh Mekah ( tanah haram) sebagian lain menyatakan Masjidil Haram hanyalah masjid dimana Ka’bah berdiri.

Saya sedikit lega. Toh kondisinya juga tidak memungkinkan. Buat apa memaksakan diri hal yang di luar kekuasaan kita.  Semoga Allah swt masih memberikan kesempatan untuk mendulang pahala 100.000 x tersebut, nanti, setelah wukuf, insya Allah. Akhirnya dengan tenang saya mendirikan shalat di pondokan, secara berjamaah bersama rombongan. Subuh, Magrib dan Isya dilakukan di lantai 7 pondokan, di ruangan terbuka, di bawah naungan langit nan luas. Sementara shalat Zuhur dan Asar diselenggarakan di basement, di musholla yang cukup luas. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi jamaah dari teriknya matahari di siang hari.

Shalat di bawah naungan bintang-bintang dan bulan dengan latar belakang bukit mengingatkan majelis Rasulullah pada masa-masa awal kerasulan. Ini terjadi pada periode Dakwah sembunyi-sembunyi ( Sirriyatud Dakwah). Ketika itu para sahabat yang jumlahnya masih sangat sedikit harus melakukan shalat jamaah secara sembunyi-sembunyi bila tidak ingin ditangkap dan dizalimi pemuka-pemuka Quraisy. Untuk itu maka Rasulullah menggunakan rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam yang terletak di atas bukit, jauh dari pantauan orang-orang Quraisy sebagai tempat berkumpul, untuk berdakwah dan shalat berjamaah.

( baca juga : https://vienmuhadi.com/2010/08/19/vii-dakwah-secara-rahasia-sirriyatud-dakwah/ ).

Sungguh merupakan kenikmatan tersendiri shalat dan berkumpul bersama saudara-saudara seiman di tempat yang dapat mengingatkan kita pada perjuangan Rasulullah dan para sahabat 14 abad silam. Ditambah lagi dengan siraman rohani tentang berbagai masalah baik yang berhubungan dengan ibadah  haji maupun masalah-masalah lain. Mungkin inilah salah satu hikmah yang ingin diberikan Sang Khalik dengan sakitnya suami. Subhanallah …

Esoknya, Kamis, 7 Zulhijjah siang kami mendapat kabar tentang kemungkinan rombongan akan diberangkatkan ke Arafah malam hari ini hingga pagi esok hari. Tidak ada kepastian jamnya, tergantung hasil undian, begitu yang kami dengar dari pihak bimbingan. Terdengar keluhan disana sini.

Dari teman-teman jamaah yang berasal dari Marokko, undian adalah hal biasa. Di negri yang dikenal dengan sebutan Magreb ini,  keberangkatan calon jamaah ditentukan berdasarkan sistim undian. Seorang teman bercerita bahwa ia mempunyai beberapa kenalan yang telah mendaftar sejak beberapa tahun lalu namun tidak berangkat-berangkat juga karena sistim undian ini.

Sementara seorang teman yang berasal dari Libia menceritakan bahwa di negaranya usia minimal 40 tahun adalah syarat utama. Ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia dan suami yang kebetulan sedang bertugas di Perancis, pergi haji sekarang ini. Begitu juga cerita teman dari negri piramid, Mesir.

Maka sore itupun kami bersiap-siap. Kami akan tinggal di Mina selama 5 malam tetapi malam ke 3, setelah wukuf, ada kemungkinan bisa kembali ke pondokan untuk sekedar mandi dan salin.

Lokasi pondokan kita tidak jauh dari Mina. Ini disengaja agar supaya memudahkan jamaah”, terang pihak bimbingan menenangkan. Selama di Mina semua jamaah akan tinggal berdesak-desakan di kemah, dengan fasilitas umum  yang benar-benar minimal.  Untuk itu kami diingatkan untuk membawa barang sesedikit mungkin.  1 tas kecil plus alas tidur untuk di Muzdalifah, itu yang disarankan.

Ba’da Isya, suami sudah siap dengan ihramnya. Tampaknya  Allah azza wa jalla telah mengabulkan doa orang-orang yang menyayanginya meski belum tuntas. Tubuhnya masih lemas  dan wajahnyapun masih tampak pucat. Tapi sudah banyak sekali kemajuan dibanding sebelumnya, Alhamdulillah.

Pukul 2 pagi keesokan harinya, yaitu tanggal 8 zulhijjah, akhirnya kami diberangkatkan ke perkemahan Mina. Kami menempati perkemahan no 33, area jamaah  Eropa Barat. Kami tiba di bumi perkemahan ini dalam keadaan masih sepi. Rupanya kami termasuk yang awal datang. Kondisi tenda putih raksasa berkapasitas 96 orang ini masih bersih. Begitu juga toilet umumnya.

Tenda-tenda raksasa yang dilengkapi AC ini dipasang berjajar dengan pintunya untuk setiap 24 orang jamaah. Tenda dikelompokkan berdasarkan grup bimbingan dan dipisahkan antara jamaah lelaki dan perempuan. Diantara tenda-tenda terdapat lorong untuk mondar mandir.

Sementara di dalam tenda setiap jamaah mendapat matras busa lipat selebar kurang lebih 60 cm yang dipasang menempel satu sama lain lengkap dengan bantal dan selimutnya. Alas tenda adalah karpet tipis yang sudah terlihat agak kumal. Namun selimut dan bantal masih terbungkus rapi dalam plastik, menandakan bahwa keduanya adalah baru. Ini jauh lebih baik dari 10 tahun lalu. Dulu tanpa matras, selimut maupun bantal. Hanya karpet, tok …

Patut dicatat, Mina adalah tempat yang sangat terbatas. Padahal semua jamaah, selama hari-hari Tasyrik yaitu pada tanggal 11,12 dan 13 Zulhijjah, harus bermalam atau mabit di tempat ini. Itu sebabnya tanah Mina harus diatur sedemikian rupa agar cukup untuk menampung semua tamu Allah yang datang dari segenap penjuru dunia. Matras dapat dilipat dengan tujuan agar jamaah bisa shalat di tempat tersebut. Karena membangun masjid ataupun musholla di Mina ini tidaklah memungkinkan.

Saya mendapat tempat di antara Fousia, muallaf asli Perancis bernama asli Francine, yang datang bersama suaminya yang asli Maroko dan ibu mertuanya, di sisi kiri saya dan Sarah, seorang jamaah asli Mesir, di sebelah kanan saya.

Disinilah kami akan bermalam selama 6 hari 5 malam. Tinggal 1 atap selama itu bersama 24 orang dengan latar belakang, kultur dan sifat masing-masing sudah barang tentu akan menjadi cerita tersendiri yang cukup seru. Ada yang suka ber-AC ada yang tidak, bahkan anti. Ada yang ingin gelap tanpa lampu ada yang ingin terang benderang. Ada yang pembersih ada yang jorok. Belum lagi dengan masalah toilet yang jumlahnya terbatas dan harus berbagi dengan ratusan jamaah dengan macam-macam bahasanya. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Masya Allah …

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”.(QS.Ar-Rum(30):22).

( Bersambung).

Jakarta, 10 Januari 2012.

Vien AM.

Ada 3 macam cara berhaji, yaitu haji Tamattu, haji Ifrad dan haji Qiran. Perbedaan utama antara ke 3 haji tersebut adalah : haji Tamattu didahului dengan  Umrah, haji Ifrad tanpa Umrah dan Haji Qiran adalah haji dan umrah dilakukan secara bersamaan.

Cara haji yang kami pilih adalah haji Tamattu. Cara ini adalah cara yang paling banyak dipilih jamaah Indonesia karena selain lebih mudah pelaksanaannya jamaah juga tidak perlu membawa hewan sembelihan ( hadyu) ke Mekah. Kita cukup mengganti harga hewan tersebut ( kambing atau unta) untuk kemudian di sembelih di Mekkah pada waktunya nanti . Rupanya ini pula yang dianjurkan Meridianis, grup bimbingan haji dimana kami bergabung.

“Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfa`at, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)”.(QS. Al-Hajj(22):33).

Karena kami datang dari Madinah maka Bir Ali (Zulhulaifah) yang terletak 12 km dari kota Madinah adalah miqatnya ( batas ihram).  Di masjid ini kami memulai ihram. Buat jamaah perempuan mungkin tidak begitu masalah, karena bagi perempuan tidak ada pakaian khusus ihram. Sebaliknya bagi jamaah lelaki, mulai tempat ini mereka wajib ber-ihram, yaitu hanya diperkenankan mengenakkan 2 helai kain tanpa jahitan ( sunnahnya warna putih ) dan sandal yang tidak menutupi tumit.

Namun sebelum ber-ihram, disunnahkan bagi seluruh jamaah untuk memotong kuku, memotong sedikit rambut , mandi besar serta memakai wewangian, khususnya jamaah lelaki. Kami melakukan semua ini di hotel, sebelum meninggalkan Madinah.

Di masjid Bir Ali, setelah ber-ihram dan berniat dengan mengucap “  Labbaika Allahumma ‘umratan ”,  kami mendirikan shalat sunnah 2 rakaat dengan membaca surat  Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kemudian naik ke bus untuk berangkat langsung menuju Mekkah.

Selama perjalanan Madinah – Mekkah yang berjarak 485 km dan dalam keadaan normal ditempuh dalam waktu  4-5 jam, kalimat talbiyah tak henti-hetinya berkumandang. “Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika La syarika laka labbaik. Innal hamda wa nikmata laka wal-mulka laa syarii kalak.”  Yang artinya adalah :  “Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini (milik-Mu), tiada sekutu bagi-Mu.”

Bahkan kemacetan panjang menjelang masuk kota suci Mekkah sehingga total perjalanan memakan waktu hampir 10 jam tidak mengurangi semangat jamaah mengucapkan talbiyah. Subhanallah .. Merinding bulu kuduk ini mengenang saat-saat indah tersebut. Bila pada awalnya semua jamaah serentak bertalbiyah dengan suara keras maka pada saat tertentu ketika mulut ini mulai merasa lelah dan rasa kantuk mulai menyerang, tanpa dikomando, para jamaahpun bergantian, sahut menyahut,  mengucap kalimat sambutan panggilan-Nya. Meski sekali-sekali terdengar sayup-sayup.

Ini masih ditambah lagi dengan pemandangan sepanjang perjalanan, gunung-gunung batu hitam dan gurun pasir nan kering kerontang. Bayangan Rasulullah saw menaiki unta didampingi Abu Bakar ra yang hijrah dari Mekkah ke Madinah lebih 14 abad silam membuat hati ini makin bergetar syahdu.

Ya, kami adalah para tamu Allah yang datang memenuhi panggilan-Nya demi ketakwaan pada-Nya, insya Allah. Alangkah indahnya. Tiba-tiba saya teringat kata-kata yang lumayan sering diucapkan teman-teman ketika ditanyakan mengapa  tidak segera pergi menunaikan haji padahal mereka mampu. “ Belum ada panggilan”, begitu jawabnya, klise.

“ … … mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.(QS.Ali Imran(3):97).

 “Barang siapa yang tidak mempunyai halangan lahiriah untuk menunaikan haji atau adanya larangan penguasa lalim,atau karena sakit yang tidak memperbolehkan melakukan perjalanan, lalu ia meninggal dunia,sedangkan ia tidak sempat menunaikan haji, maka ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani”. ( HR. ad-Darimi).

Ayat dan hadits di atas, rasanya sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa kita semua,  umat Islam, wajib mengerjakan haji, bila mampu. Panggilan ini telah ada bahkan sejak zaman nabi Ibrahim as. Haji memang adalah ritual peninggalan nabi yang sering dijuluki sebagai bapak para nabi ini.

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud“. (QS.Al-Baqarah(2):125).

Embel-embel kata ‘ sanggup’ pun rasanya juga sudah sangat jelas, sanggup atau mampu mengadakan perjalanan haji, artinya memiliki bekal untuk biaya pulang-pergi ke Mekah plus biaya hidup selama berada ditanah suci, tanpa menzalimi keluarga inti yang ditinggalkan ditanah air.

 « Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS. Al-Hajj(22):27).

Sekitar pukul 10 malam, bus memasuki Mekkah. Dari kejauhan terlihat secara mencolok sebuah menara tinggi bertuliskan “ ALLAH” dalam huruf hijaiyah tentu saja.  Ternyata itu adalah menara hotel Royal Mecca Tower Clock yang terkenal itu. Saat ini menara tersebut tercatat sebagai  menara tertinggi ke dua di dunia.  Sedangkan jamnya merupakan jam terbesar di dunia, 16 x lebih besar dan jauh lebih tinggi dari jam Big Ben di London.

Meski demikian, ntah mengapa, ada rasa khawatir di dada ini menyaksikan menara megah yang mampu menerangi langit sekitarnya melalui kilauan sinar terang hijau putih berpendar-pendar ini bakal memalingkan hamba-hamba-Nya dari  kebesaran dan daya tarik Ka’bah, rumah-Nya yang suci. Terus terang, sinar mata penuh kekaguman yang terpancar dari teman-teman sesama jamaah cukup mengganggu hati ini. Namun syukurlah, ternyata kekhawatiran yang agak berlebihan tersebut, di kemudian hari, tidak terbukti. Allahu Akbar …

Menjelang pukul 11 malam akhirnya kami tiba di pondokan di Aziziyah, sekitar 3-4 km dari Masjidil Haram di Mekkah. Bukan jarak yang dekat. Namun begitulah kondisinya. Pihak bimbingan beralasan bahwa untuk mendapatkan hotel di dekat Masjidil Haram pada hari-hari menjelang Wukuf teramat sangat mahal. Nanti, setelah puncak haji selesai yaitu 4 hari setelah wukuf, kami akan tinggal di hotel persis di depan Masjidil Haram, begitu janji mereka. Insya Allah ..

Setelah makan malam dan istirahat beberapa waktu, pukul 3.00 pagi kami meninggalkan pondokan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf. Hal penting yang ingin saya ingatkan, selama umrah belum selesai, kita tidak boleh mengenakkan wewangian ( hati-hati, berhubungan suami-istri haram lho) termasuk menggunakan sabun yang ada parfumnya. Kelihatannya sepele. Namun nyatanya, tidak. Usai makan, masuk kamar, masuk toilet dan otomatis mencuci tangan, dengan sabun yang disediakan pondokan, yang  ternyata berparfum ! Astaghfirullah … 😦  …

Segera kami menghubungi uztad. Alhamdulillah, menurut uztad, karena tidak sengaja, tidak ada sangsi yang dikenakan. Bila secara sengaja, sangsinya adalah membayar sejumlah denda ( dam). Ya Allah, kepada-Mu kami bertobat,  sungguh Engkau adalah zat yang benar-benar Maha Pemaaf dan Pemberi taubat.

Setiba di pelataran di depan pintu 1, pintu King Abdul Azis yang terletak tepat di depan pelataran luas area perhotelan dan mal-mal mewah, pembimbing kami mengadakan pengarahan singkat. Kami akan tawaf bersama, tidak berjalan terburu-buru dan tidak terpisah-pisah. Namun bila terjadi sesuatu yang mengakibatkan jamaah terpaksa terpisah, tidak usah panik. Jamaah boleh langsung mengerjakan sai boleh juga kembali ke pelataran tempat kami berkumpul saat ini. Seorang petugas dari bimbingan  menunggu dan siap membantu.

Memasuki Masjidil Haram dan tawaf sekitar pukul 3.00 pagi, di musim haji pula, jangan harap lenggang. Bayangkan, sekitar  4 juta orang berkumpul dari seluruh dunia ! Subhanallah .. Thawaf yaitu mengelilingi Ka’bah dengan arah berlawanan arah jarum jam 7 x, dimulai dari sudut Hajar Aswad, adalah lambang perputaran 7 hari dalam seminggu yang harus diikuti semua manusia, tanpa kecuali.

(baca:https://vienmuhadi.com/2009/01/26/haji-sebuah-penyempurnaan-rasa-syukur-manusia-terhadap-nikmat-nya/ )

Dulu, pada zaman rasulullah, area tawaf hanya di dekat Ka’bah. Namun saat ini, dengan makin bertambahnya jumlah umat Islam dan kesadaran bahwa haji adalah kewajiban, area tawaf semakin luas saja. Tidak saja di lantai 1 dimana Ka’bah berdiri tetapi juga di lantai 2 dan 3 masjid raksasa ini umat Islam dapat mengerjakan tawaf, baik itu tawaf haji, tawaf umrah maupun tawaf sunah. Tawaf juga adalah pengganti shalat tahiyatul masjid bagi jamaah masjid berkapasitas 730 ribu ini.

Memasuki putaran ke 4, saya merasa ingin buang air kecil. Padahal toilet sangat jauh letaknya dari Ka’bah. Demi mempersingkat waktu, akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan tawaf tidak bersama rombongan, tentu saja setelah meminta izin kepada pembimbing.

Mengerjakan tawaf tanpa rombongan memang lebih cepat. Kami bebas untuk memilih tawaf mendekati atau menjauhi Ka’bah. Tawaf jauh dari Ka’bah memang lebih tidak berdesakan namun memakan waktu lebih lama. Disamping itu kita tidak mempunyai kesempatan untuk mengusap dinding Ka’bah. Meski ini tidak disunahkan kecuali mencium Hajar Aswad dan mengusap dinding Yamani. Hal yang tak mungkin dilakukan bila kita tawaf jauh dari Ka’bah.

Mencium Hajar Aswad, apalagi pada musim haji,  memang benar-benar sulit. Sebagai gantinya disunahkan untuk mengangkat tangan kanan sambil bertakbir “ Bismillahi Allahuakbar “  dari kejauhan ketika melewati sudut ini.  Namun demikian kita akan saksikan betapa dari waktu ke waktu jamaah tetap saja berdesakan, bersikut-sikutan demi dapat mencium batu hitam yang dibawa malaikat Jibril as dari surga ini. Banyak yang mengira bahwa mencium Hajar Aswad akan mendatangkan berkah.

Umar bin Khathab RA berkata, “Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu, tidak memberi madharat dan tidak bermanfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”.

Tidak ada bacaan khusus dalam tawaf. Kecuali ketika kita melewati dinding antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad kita disunnahkan untuk membaca bacaan : “ Robbana ‘atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzab naar”.  Yang artinya : Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka

Menjelang putaran ke 7, sedikit demi sedikit kami menjauh dari Ka’bah. Tujuannya agar ketika selesai tawaf nanti, lewat sedikit dari rukun Hajar Aswad, bisa langsung keluar dari putaran yang sungguh padat ini. Kemudian di Multazam, yaitu sudut antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, kami berhenti sejenak untuk berdoa. Multazam adalah tempat paling mustajab untuk berdoa.

Usai berdoa kami bergeser sedikit menuju ke belakang makam Ibrahim. Di sini kita disunahkan untuk shalat sunnah 2 rakaat dengan membaca surat Al-Kafirun pada ayat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat ke dua. Bukan hal mudah untuk shalat di tempat dimana tawaf sedang ramai-ramainya berlangsung. Kami shalat bergantian agar ada yang menjaga ketika kita shalat terutama ketika dalam posisi sujud.

Setelah itu kami menuju zam-zam untuk minum air zam-zam dan berdoa memohon agar diberi kesehatan lahir bathin dan ilmu yang bermanfaat. Begitulah tuntunan Rasul. Langkah berikutnya adalah Sai. Namun saya ingin ke toilet. Maka ditemani suami, kami keluar dari area masjid menuju pelataran perhotelan, melalui pintu 1, pintu King Abdul Azis. Dulu orang sering menyebutnya dengan nama pelataran Hilton.  Sekarang pelataran jam besar. Seingat saya, ini adalah jalan terdekat menuju toilet.

Namun setibanya diluar, saya agak bingung. Di depan sana ada 2 tulisan ‘Toilet’ agak berdekatan. Saya tidak tahu mana yang lebih dekat. Menyesal juga, tadi  tidak menanyakannya kepada pembimbing. Akhirnya saya memilih yang sebelah kiri. Ternyata saya salah pilih. Ini adalah toilet dekat stasiun yang jauhnya bukan main. Kotor pula … 😦  Akibatnya hampir setengah jam kami kehilangan waktu.

Beruntung, sekembali dari toilet, berkat jubah biru, seragam pembagian dari bimbingan, petugas bimbingan mengenali kami. Darinya kami tahu, toilet yang satu lagi, yang sebelah kanan, jauh lebih dekat, lebih bagus dan lebih bersih.  Yaah, semoga lain kali ingat.

Ia juga memberitahu bahwa rombongan sudah memulai sai, yaitu berjalan bolak balik  7 x, dimulai  dari bukit Safa dan berhenti di bukit Marwa. Ritual ini adalah untung mengenang pengorbanan Siti Hajar, ibunda nabi Ismail as, putra nabi Ibrahim as, ketika berlari bolak balik 7 x dari bukit ke bukit dalam rangka mencari air untuk bayinya tercinta itu.

“ Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):158).

Namun demikian, jangan pernah membayangkan keadaan sai sekarang ini sama dengan zaman Siti Hajar ribuan tahun lalu. Tentu saja tidak. Meskipun tempatnya masih sama,  yaitu bukit Safa dan bukit Marwa, namun kedua bukit tersebut sekarang ini ada di dalam salah satu bagian Masjidil Haram. Ruangan bertingkat 3 ini berlantai marmer, ber-AC dan ada tempat istirahat untuk minum air zam-zam.

Melakukan sai di lantai 2 atau 3 mungkin tidak begitu melelahkan, karena ketinggiannya sama. Tetapi bila kita melakukannya di lantai 1 akan terasa sedikit lebih melelahkan karena kedua bukitnya  agak menanjak. Menurut saya pribadi, agar sai lebih berkesan, alangkah baiknya bila kita melakukannya sambil membayangkan bagaimana perasaan ibunda nabi Ismail as ini berlari bolak balik dengan rasa khawatir bahwa setiap saat putranya bisa meninggal karena kehausan atau di terkam binatang liar !

Tepat pada sai terakhir, azan Subuh terdengar berkumandang. Maka diantara padatnya gelombang jamaah yang mulai berdatangan memenuhi masjid kamipun berpisah untuk mencari tempat shalat masing-masing. Meski pada akhirnya, pada tempat-tempat tertentu, jamaah lelaki dan perempuan shalat bercampur. Fenomena ini tampaknya memang sangat sulit untuk dihindari, terutama  pada saat-saat puncak haji.

Usai sai, maka tiba saatnya untuk memotong sedikit rambut. Setelah itu usai pulalah umrah haji. Tinggal menanti saatnya haji, wukuf di 9 Zulhijjah, yang akan diumumkan pemerintah Arab Saudi.

(Bersambung)

Paris, 30 Desember 2011.

Vien AM.

Masih terbayang di benak ini, wajah kesal, letih campur kecewa para askar penjaga masjid Nabawi, terutama yang berjaga-jaga di Raudhah. Sungguh tidak mudah mengatur orang sebanyak itu, pasti.  Orang Indonesia dan Malaysia masih lumayan. Mereka masih mau dan gampang diatur. Tapi orang-orang Turki, Arab dll ? Yang terjadi adalah adu mulut dan saling dorong.

Itu sebabnya, dalam hati ini, tersimpan keinginan untuk kembali ke Raudhah namun dengan mentaati aturan para askar, yaitu untuk berada dalam kelompok. Dalam hal ini berarti bersama rombongan jamaah Indonesia.

Setengah jam sebelum azan subuh berkumandang saya dan suami sudah siap meninggalkan hotel menuju masjid. Ini adalah kesempatan terakhir karena esok siang kami sudah harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Alhamdulillah kali ini saya berhasil mendapat tempat paling depan, dari bagian perempuan tentu saja. Sengaja saya memilih shalat di ruangan pintu 25 untuk menghemat waktu ke Raudhah.

Sesuai rencana, usai subuh, saya langsung bergabung dengan kelompok jamaah dari Indonesia. Saya perhatikan rombongan ini termasuk agak di belakang dibanding rombongan jamaah negara lain. Saya duduk di barisan paling depan, tepat di bawah kaki askar perempuan yang berdiri di pinggiran pilar masjid sambil membawa spanduk bertuliskan “Indonesia”.

Di depan sana saya melihat jamaah bergerombol di depan pagar pembatas, persis seperti yang saya lakukan 2 hari yll. Para askar berteriak-teriak berusaha membubarkan gerombolan tersebut dan agar masuk ke kelompok negara-negara masing2. Tanpa hasil … 😦

Tak lama kemudian terdengar kutbah, dalam bahasa Arab, tentu saja. Ada sedikit rasa sesal, mengapa saya tidak bisa berbahasa Arab, bukankah ini bahasa Al-Quran? Bahasa yang kita pakai ketika kita shalat? Bahasa junjungan kita, Rasulullah Muhammad saw? Semoga suatu saat nanti saya mendapat kesempatan belajar bahasa agung ini, amiin …

Setelah itu, terdengar iqamat. Wah, shalat apa ini ? Ternyata ini adalah shalat Istisqa’ yaitu shalat meminta hujan. Kutbah yang baru saja diperdengarkan adalah bagian dari shalat ini. Arab Saudi adalah negri yang jarang hujan. Bisa dikatakan hujan di sini hanya terjadi bila penduduk memintanya. Paling tidak inilah yang diwariskan Rasulullah saw.

Beruntung kerajaan Arab Saudi tetap mempertahankan ajaran ini. Pada saat diperlukan, kerajaan memerintahkan seluruh penduduk negri agar mendirikan shalat istisqa. Dipimpin oleh imam Masjidil Haram, semua masjid bahkan universitas-universitas dan sekolah-sekolah dari Mekah, Madinah, Jedah hingga Riyad menyelenggarkan shalat ini, di pagi hari, setelah subuh.  Pada kesempatan ini penduduk diminta bertaubat, memohon maaf atas segala kesalahan, sebelum memohon hujan. Pada shalat sunnah 2 rakaat ini surat yang dibaca biasanya adalah surat Al-A’laa pada rakaat pertama dan surat Al-Ghaasiyyah pada rakaat ke 2.

http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/21/hukum-hukum-seputar-shalat-istisqa-meminta-hujan/

Usai shalat waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi. Sebagian besar jamaah masih tetap berada pada tempatnya, menanti giliran masuk Raudhah. Tak lama kemudian terdengar kabar bahwa pagar pembatas ke Raudah telah dibuka. Terlihat jamaah mulai berhamburan, berlarian dan berebutan menuju jalan ke Raudah. Namun tidak demikian dengan kelompok Indonesia. Semua tetap di tempatnya.

“ Jamaah kita memang paling penurut”, terang seorang jamaah yang duduk di sebelah saya, menjawab keheranan saya atas situasi tersebut.

Biasanya kita kebagian paling belakang. Alasannya sih, katanya orang Indonesia kan kecil-kecil, kasihan kalau harus berdesakan dengan orang-orang Turki, Arab dll yang biasanya hobby mendorong-dorong”, sambung jamaah lain.

“ Dan lagi ada untungnya juga koq. Karena paling belakang jadi puas shalat dan berdoa. Selain tidak ada yang dorong-dorong juga tidak perlu buru-buru karena sudah tidak ada yang antri”, timpal jamaah lain lagi. Saya hanya manggut-manggut, teringat kejadian kemarin.

“ Tapi bisa sampai jam 2 pagi baru kembali ke pondokan lho …”, katanya menambahkan. Waduuuh  … L

Menjelang pukul 8, beberapa ibu mulai pamit karena berbagai alasan. Ada yang ditunggu suaminya karena ada tausiyah di pondokan, ada yang sudah harus packing dll.

Setengah jam kemudian antrian mulai bergerak maju, lumayaan, pikir saya. Sekitar pukul 9.30 rombongan sudah berada di depan Raudhah. Namun melihat rombongan negara lain yang saya yakin tadinya ada di belakang kami tiba-tiba sudah ada di depan kami, saya menjadi ragu dalam setengah jam bisa masuk taman Rasulullah ini.

Jamaah mulai gelisah. Begitu juga uztazah kita yang sebelumnya sempat memberikan tausiyah sambil menunggu giliran masuk. Dalam tausiyah singkatnya ini saya sempat  menanyakan apakah shalat di dalam masijid Nabawi dengan shalat di halamannya sama ganjarannya, yaitu 1000 x dari shalat di masjid lain.

Ternyata jawabannya tidak sama. Ia menegaskan agar tetap meniatkan diri shalat di dalam masjid meski akhirnya tidak mendapat tempat karena penuh atau mungkin karena askar melarang kita masuk karena sudah tidak ada tempat. Jadi jangan dari pondokan memang hanya berniat shalat di halaman masjid karena malas berdesakan !  Sebuah pelajaran yang sangat berharga … niat, ya niat mendapatkan yang terbaik karena Rasulullah mengajarkannya.

Dugaan saya tepat. Pukul 10 rombongan tetap tidak bergeming. Beberapa kali saya melihat jamaah Indonesia dengan abaya hitamnya mencoba menerobos masuk. Namun segera dihentikan askar atau dipanggil uztasah agar menunggu dan bergabung dengan kami.

G mempan deh .. biar nyamar pakai abaya hitam tetap aja ketahuan kalau orang Indonesia “, beberapa jamaah berkomentar lucu disambut senyum jamaah yang mendengarnya. Hemmm ..  🙂

Akhirnya saya memutuskan untuk mundur. Perut saya sudah keroncongan. Maklum dari pukul 4 pagi tadi belum kemasukan apapun. Saya tidak mau mengambil resiko maag saya kambuh sementara kewajiban haji dimulaipun belum.  Apa boleh buat ..  Tapi saya tidak menyesal. Bagaimanapun saya telah mencoba untuk mematuhi aturan dengan tetap bergabung bersama rombongan negri kita tercinta yang dikenal gampang diatur dan menurut. Kalau saja, seluruh rakyat Indonesia mudah diatur dan mau disiplin mengikuti aturan dan hukum … tidak cuma ketika di tanah suci …

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah swt masuk Raudhah malam harinya, sekitar pukul 10 malam. Berdasarkan pengalaman pagi  tadi, saya memilih untuk bergabung dengan jamaah Eropa. Memang berdesakan, tapi tidak apa yang penting saya bisa berdoa dan shalat di tempat yang mustajab ini.  Saya juga bersyukur meski kami hanya 3 hari di Madinah, kami bisa mendirikan shalat wajib 5 kali sehari ditambah shalat rawatibnya di masjid Rasul yang sungguh indah ini. Bahkan beberapa kali saya sempat mengambil foto bagian dalam masjid lengkap dengan kubahnya yang bisa terbuka tertutup, meski dengan sembunyi-sembunyi.

Museum Madinah

Museum Madinah

Maket Raudhah ( karpet putih) dan sekitarnya

Maket Raudhah ( karpet putih) dan sekitarnya

Esok harinya, kami bersiap untuk meninggalkan Madinah dengan sejuta kenangannya. Oya, ada satu hal yang lupa saya sampaikan.

Maket Perang Khandaq

Maket Perang Khandaq

Kemarinnya, ba’da ashar, bersama rombongan kami mengunjungi museum Madinah. Saya tidak tahu apakah museum ini sudah lama atau baru. Yang jelas baru kali ini saya mengetahuinya dan sekaligus mengunjunginya. lsinya sungguh menarik. Ada maket Raudhah, maket perkembangan masjid Nabawi,  maket perang Khandaq (Parit), maket perang Uhud dll.

Sehari sebelumnya lagi, pihak bimbingan juga mengadakan kunjungan ke situs-situs bersejarah di sekitar Madinah. Diantaranya yaitu masjid Qiblatain ( masjid 2 kiblat), masjid Quba dan gunung Uhud. Akan tetapi karena kami telah beberapa kali mengunjungi tempat-tempat tersebut maka kali ini kami memutuskan untuk absen. Karenanya mohon maaf saya tidak dapat melaporkan pandangan mata situs-situs penting yang menjadi standard kunjungan haji dan umrah tersebut.

 ( Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 25 Desember 2011.

Vien AM.