Feeds:
Posts
Comments

Ada 3 macam cara berhaji, yaitu haji Tamattu, haji Ifrad dan haji Qiran. Perbedaan utama antara ke 3 haji tersebut adalah : haji Tamattu didahului dengan  Umrah, haji Ifrad tanpa Umrah dan Haji Qiran adalah haji dan umrah dilakukan secara bersamaan.

Cara haji yang kami pilih adalah haji Tamattu. Cara ini adalah cara yang paling banyak dipilih jamaah Indonesia karena selain lebih mudah pelaksanaannya jamaah juga tidak perlu membawa hewan sembelihan ( hadyu) ke Mekah. Kita cukup mengganti harga hewan tersebut ( kambing atau unta) untuk kemudian di sembelih di Mekkah pada waktunya nanti . Rupanya ini pula yang dianjurkan Meridianis, grup bimbingan haji dimana kami bergabung.

“Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfa`at, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)”.(QS. Al-Hajj(22):33).

Karena kami datang dari Madinah maka Bir Ali (Zulhulaifah) yang terletak 12 km dari kota Madinah adalah miqatnya ( batas ihram).  Di masjid ini kami memulai ihram. Buat jamaah perempuan mungkin tidak begitu masalah, karena bagi perempuan tidak ada pakaian khusus ihram. Sebaliknya bagi jamaah lelaki, mulai tempat ini mereka wajib ber-ihram, yaitu hanya diperkenankan mengenakkan 2 helai kain tanpa jahitan ( sunnahnya warna putih ) dan sandal yang tidak menutupi tumit.

Namun sebelum ber-ihram, disunnahkan bagi seluruh jamaah untuk memotong kuku, memotong sedikit rambut , mandi besar serta memakai wewangian, khususnya jamaah lelaki. Kami melakukan semua ini di hotel, sebelum meninggalkan Madinah.

Di masjid Bir Ali, setelah ber-ihram dan berniat dengan mengucap “  Labbaika Allahumma ‘umratan ”,  kami mendirikan shalat sunnah 2 rakaat dengan membaca surat  Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kemudian naik ke bus untuk berangkat langsung menuju Mekkah.

Selama perjalanan Madinah – Mekkah yang berjarak 485 km dan dalam keadaan normal ditempuh dalam waktu  4-5 jam, kalimat talbiyah tak henti-hetinya berkumandang. “Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika La syarika laka labbaik. Innal hamda wa nikmata laka wal-mulka laa syarii kalak.”  Yang artinya adalah :  “Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini (milik-Mu), tiada sekutu bagi-Mu.”

Bahkan kemacetan panjang menjelang masuk kota suci Mekkah sehingga total perjalanan memakan waktu hampir 10 jam tidak mengurangi semangat jamaah mengucapkan talbiyah. Subhanallah .. Merinding bulu kuduk ini mengenang saat-saat indah tersebut. Bila pada awalnya semua jamaah serentak bertalbiyah dengan suara keras maka pada saat tertentu ketika mulut ini mulai merasa lelah dan rasa kantuk mulai menyerang, tanpa dikomando, para jamaahpun bergantian, sahut menyahut,  mengucap kalimat sambutan panggilan-Nya. Meski sekali-sekali terdengar sayup-sayup.

Ini masih ditambah lagi dengan pemandangan sepanjang perjalanan, gunung-gunung batu hitam dan gurun pasir nan kering kerontang. Bayangan Rasulullah saw menaiki unta didampingi Abu Bakar ra yang hijrah dari Mekkah ke Madinah lebih 14 abad silam membuat hati ini makin bergetar syahdu.

Ya, kami adalah para tamu Allah yang datang memenuhi panggilan-Nya demi ketakwaan pada-Nya, insya Allah. Alangkah indahnya. Tiba-tiba saya teringat kata-kata yang lumayan sering diucapkan teman-teman ketika ditanyakan mengapa  tidak segera pergi menunaikan haji padahal mereka mampu. “ Belum ada panggilan”, begitu jawabnya, klise.

“ … … mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.(QS.Ali Imran(3):97).

 “Barang siapa yang tidak mempunyai halangan lahiriah untuk menunaikan haji atau adanya larangan penguasa lalim,atau karena sakit yang tidak memperbolehkan melakukan perjalanan, lalu ia meninggal dunia,sedangkan ia tidak sempat menunaikan haji, maka ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani”. ( HR. ad-Darimi).

Ayat dan hadits di atas, rasanya sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa kita semua,  umat Islam, wajib mengerjakan haji, bila mampu. Panggilan ini telah ada bahkan sejak zaman nabi Ibrahim as. Haji memang adalah ritual peninggalan nabi yang sering dijuluki sebagai bapak para nabi ini.

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud“. (QS.Al-Baqarah(2):125).

Embel-embel kata ‘ sanggup’ pun rasanya juga sudah sangat jelas, sanggup atau mampu mengadakan perjalanan haji, artinya memiliki bekal untuk biaya pulang-pergi ke Mekah plus biaya hidup selama berada ditanah suci, tanpa menzalimi keluarga inti yang ditinggalkan ditanah air.

 « Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS. Al-Hajj(22):27).

Sekitar pukul 10 malam, bus memasuki Mekkah. Dari kejauhan terlihat secara mencolok sebuah menara tinggi bertuliskan “ ALLAH” dalam huruf hijaiyah tentu saja.  Ternyata itu adalah menara hotel Royal Mecca Tower Clock yang terkenal itu. Saat ini menara tersebut tercatat sebagai  menara tertinggi ke dua di dunia.  Sedangkan jamnya merupakan jam terbesar di dunia, 16 x lebih besar dan jauh lebih tinggi dari jam Big Ben di London.

Meski demikian, ntah mengapa, ada rasa khawatir di dada ini menyaksikan menara megah yang mampu menerangi langit sekitarnya melalui kilauan sinar terang hijau putih berpendar-pendar ini bakal memalingkan hamba-hamba-Nya dari  kebesaran dan daya tarik Ka’bah, rumah-Nya yang suci. Terus terang, sinar mata penuh kekaguman yang terpancar dari teman-teman sesama jamaah cukup mengganggu hati ini. Namun syukurlah, ternyata kekhawatiran yang agak berlebihan tersebut, di kemudian hari, tidak terbukti. Allahu Akbar …

Menjelang pukul 11 malam akhirnya kami tiba di pondokan di Aziziyah, sekitar 3-4 km dari Masjidil Haram di Mekkah. Bukan jarak yang dekat. Namun begitulah kondisinya. Pihak bimbingan beralasan bahwa untuk mendapatkan hotel di dekat Masjidil Haram pada hari-hari menjelang Wukuf teramat sangat mahal. Nanti, setelah puncak haji selesai yaitu 4 hari setelah wukuf, kami akan tinggal di hotel persis di depan Masjidil Haram, begitu janji mereka. Insya Allah ..

Setelah makan malam dan istirahat beberapa waktu, pukul 3.00 pagi kami meninggalkan pondokan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf. Hal penting yang ingin saya ingatkan, selama umrah belum selesai, kita tidak boleh mengenakkan wewangian ( hati-hati, berhubungan suami-istri haram lho) termasuk menggunakan sabun yang ada parfumnya. Kelihatannya sepele. Namun nyatanya, tidak. Usai makan, masuk kamar, masuk toilet dan otomatis mencuci tangan, dengan sabun yang disediakan pondokan, yang  ternyata berparfum ! Astaghfirullah … 😦  …

Segera kami menghubungi uztad. Alhamdulillah, menurut uztad, karena tidak sengaja, tidak ada sangsi yang dikenakan. Bila secara sengaja, sangsinya adalah membayar sejumlah denda ( dam). Ya Allah, kepada-Mu kami bertobat,  sungguh Engkau adalah zat yang benar-benar Maha Pemaaf dan Pemberi taubat.

Setiba di pelataran di depan pintu 1, pintu King Abdul Azis yang terletak tepat di depan pelataran luas area perhotelan dan mal-mal mewah, pembimbing kami mengadakan pengarahan singkat. Kami akan tawaf bersama, tidak berjalan terburu-buru dan tidak terpisah-pisah. Namun bila terjadi sesuatu yang mengakibatkan jamaah terpaksa terpisah, tidak usah panik. Jamaah boleh langsung mengerjakan sai boleh juga kembali ke pelataran tempat kami berkumpul saat ini. Seorang petugas dari bimbingan  menunggu dan siap membantu.

Memasuki Masjidil Haram dan tawaf sekitar pukul 3.00 pagi, di musim haji pula, jangan harap lenggang. Bayangkan, sekitar  4 juta orang berkumpul dari seluruh dunia ! Subhanallah .. Thawaf yaitu mengelilingi Ka’bah dengan arah berlawanan arah jarum jam 7 x, dimulai dari sudut Hajar Aswad, adalah lambang perputaran 7 hari dalam seminggu yang harus diikuti semua manusia, tanpa kecuali.

(baca:https://vienmuhadi.com/2009/01/26/haji-sebuah-penyempurnaan-rasa-syukur-manusia-terhadap-nikmat-nya/ )

Dulu, pada zaman rasulullah, area tawaf hanya di dekat Ka’bah. Namun saat ini, dengan makin bertambahnya jumlah umat Islam dan kesadaran bahwa haji adalah kewajiban, area tawaf semakin luas saja. Tidak saja di lantai 1 dimana Ka’bah berdiri tetapi juga di lantai 2 dan 3 masjid raksasa ini umat Islam dapat mengerjakan tawaf, baik itu tawaf haji, tawaf umrah maupun tawaf sunah. Tawaf juga adalah pengganti shalat tahiyatul masjid bagi jamaah masjid berkapasitas 730 ribu ini.

Memasuki putaran ke 4, saya merasa ingin buang air kecil. Padahal toilet sangat jauh letaknya dari Ka’bah. Demi mempersingkat waktu, akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan tawaf tidak bersama rombongan, tentu saja setelah meminta izin kepada pembimbing.

Mengerjakan tawaf tanpa rombongan memang lebih cepat. Kami bebas untuk memilih tawaf mendekati atau menjauhi Ka’bah. Tawaf jauh dari Ka’bah memang lebih tidak berdesakan namun memakan waktu lebih lama. Disamping itu kita tidak mempunyai kesempatan untuk mengusap dinding Ka’bah. Meski ini tidak disunahkan kecuali mencium Hajar Aswad dan mengusap dinding Yamani. Hal yang tak mungkin dilakukan bila kita tawaf jauh dari Ka’bah.

Mencium Hajar Aswad, apalagi pada musim haji,  memang benar-benar sulit. Sebagai gantinya disunahkan untuk mengangkat tangan kanan sambil bertakbir “ Bismillahi Allahuakbar “  dari kejauhan ketika melewati sudut ini.  Namun demikian kita akan saksikan betapa dari waktu ke waktu jamaah tetap saja berdesakan, bersikut-sikutan demi dapat mencium batu hitam yang dibawa malaikat Jibril as dari surga ini. Banyak yang mengira bahwa mencium Hajar Aswad akan mendatangkan berkah.

Umar bin Khathab RA berkata, “Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu, tidak memberi madharat dan tidak bermanfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”.

Tidak ada bacaan khusus dalam tawaf. Kecuali ketika kita melewati dinding antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad kita disunnahkan untuk membaca bacaan : “ Robbana ‘atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzab naar”.  Yang artinya : Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka

Menjelang putaran ke 7, sedikit demi sedikit kami menjauh dari Ka’bah. Tujuannya agar ketika selesai tawaf nanti, lewat sedikit dari rukun Hajar Aswad, bisa langsung keluar dari putaran yang sungguh padat ini. Kemudian di Multazam, yaitu sudut antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, kami berhenti sejenak untuk berdoa. Multazam adalah tempat paling mustajab untuk berdoa.

Usai berdoa kami bergeser sedikit menuju ke belakang makam Ibrahim. Di sini kita disunahkan untuk shalat sunnah 2 rakaat dengan membaca surat Al-Kafirun pada ayat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat ke dua. Bukan hal mudah untuk shalat di tempat dimana tawaf sedang ramai-ramainya berlangsung. Kami shalat bergantian agar ada yang menjaga ketika kita shalat terutama ketika dalam posisi sujud.

Setelah itu kami menuju zam-zam untuk minum air zam-zam dan berdoa memohon agar diberi kesehatan lahir bathin dan ilmu yang bermanfaat. Begitulah tuntunan Rasul. Langkah berikutnya adalah Sai. Namun saya ingin ke toilet. Maka ditemani suami, kami keluar dari area masjid menuju pelataran perhotelan, melalui pintu 1, pintu King Abdul Azis. Dulu orang sering menyebutnya dengan nama pelataran Hilton.  Sekarang pelataran jam besar. Seingat saya, ini adalah jalan terdekat menuju toilet.

Namun setibanya diluar, saya agak bingung. Di depan sana ada 2 tulisan ‘Toilet’ agak berdekatan. Saya tidak tahu mana yang lebih dekat. Menyesal juga, tadi  tidak menanyakannya kepada pembimbing. Akhirnya saya memilih yang sebelah kiri. Ternyata saya salah pilih. Ini adalah toilet dekat stasiun yang jauhnya bukan main. Kotor pula … 😦  Akibatnya hampir setengah jam kami kehilangan waktu.

Beruntung, sekembali dari toilet, berkat jubah biru, seragam pembagian dari bimbingan, petugas bimbingan mengenali kami. Darinya kami tahu, toilet yang satu lagi, yang sebelah kanan, jauh lebih dekat, lebih bagus dan lebih bersih.  Yaah, semoga lain kali ingat.

Ia juga memberitahu bahwa rombongan sudah memulai sai, yaitu berjalan bolak balik  7 x, dimulai  dari bukit Safa dan berhenti di bukit Marwa. Ritual ini adalah untung mengenang pengorbanan Siti Hajar, ibunda nabi Ismail as, putra nabi Ibrahim as, ketika berlari bolak balik 7 x dari bukit ke bukit dalam rangka mencari air untuk bayinya tercinta itu.

“ Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):158).

Namun demikian, jangan pernah membayangkan keadaan sai sekarang ini sama dengan zaman Siti Hajar ribuan tahun lalu. Tentu saja tidak. Meskipun tempatnya masih sama,  yaitu bukit Safa dan bukit Marwa, namun kedua bukit tersebut sekarang ini ada di dalam salah satu bagian Masjidil Haram. Ruangan bertingkat 3 ini berlantai marmer, ber-AC dan ada tempat istirahat untuk minum air zam-zam.

Melakukan sai di lantai 2 atau 3 mungkin tidak begitu melelahkan, karena ketinggiannya sama. Tetapi bila kita melakukannya di lantai 1 akan terasa sedikit lebih melelahkan karena kedua bukitnya  agak menanjak. Menurut saya pribadi, agar sai lebih berkesan, alangkah baiknya bila kita melakukannya sambil membayangkan bagaimana perasaan ibunda nabi Ismail as ini berlari bolak balik dengan rasa khawatir bahwa setiap saat putranya bisa meninggal karena kehausan atau di terkam binatang liar !

Tepat pada sai terakhir, azan Subuh terdengar berkumandang. Maka diantara padatnya gelombang jamaah yang mulai berdatangan memenuhi masjid kamipun berpisah untuk mencari tempat shalat masing-masing. Meski pada akhirnya, pada tempat-tempat tertentu, jamaah lelaki dan perempuan shalat bercampur. Fenomena ini tampaknya memang sangat sulit untuk dihindari, terutama  pada saat-saat puncak haji.

Usai sai, maka tiba saatnya untuk memotong sedikit rambut. Setelah itu usai pulalah umrah haji. Tinggal menanti saatnya haji, wukuf di 9 Zulhijjah, yang akan diumumkan pemerintah Arab Saudi.

(Bersambung)

Paris, 30 Desember 2011.

Vien AM.

Masih terbayang di benak ini, wajah kesal, letih campur kecewa para askar penjaga masjid Nabawi, terutama yang berjaga-jaga di Raudhah. Sungguh tidak mudah mengatur orang sebanyak itu, pasti.  Orang Indonesia dan Malaysia masih lumayan. Mereka masih mau dan gampang diatur. Tapi orang-orang Turki, Arab dll ? Yang terjadi adalah adu mulut dan saling dorong.

Itu sebabnya, dalam hati ini, tersimpan keinginan untuk kembali ke Raudhah namun dengan mentaati aturan para askar, yaitu untuk berada dalam kelompok. Dalam hal ini berarti bersama rombongan jamaah Indonesia.

Setengah jam sebelum azan subuh berkumandang saya dan suami sudah siap meninggalkan hotel menuju masjid. Ini adalah kesempatan terakhir karena esok siang kami sudah harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Alhamdulillah kali ini saya berhasil mendapat tempat paling depan, dari bagian perempuan tentu saja. Sengaja saya memilih shalat di ruangan pintu 25 untuk menghemat waktu ke Raudhah.

Sesuai rencana, usai subuh, saya langsung bergabung dengan kelompok jamaah dari Indonesia. Saya perhatikan rombongan ini termasuk agak di belakang dibanding rombongan jamaah negara lain. Saya duduk di barisan paling depan, tepat di bawah kaki askar perempuan yang berdiri di pinggiran pilar masjid sambil membawa spanduk bertuliskan “Indonesia”.

Di depan sana saya melihat jamaah bergerombol di depan pagar pembatas, persis seperti yang saya lakukan 2 hari yll. Para askar berteriak-teriak berusaha membubarkan gerombolan tersebut dan agar masuk ke kelompok negara-negara masing2. Tanpa hasil … 😦

Tak lama kemudian terdengar kutbah, dalam bahasa Arab, tentu saja. Ada sedikit rasa sesal, mengapa saya tidak bisa berbahasa Arab, bukankah ini bahasa Al-Quran? Bahasa yang kita pakai ketika kita shalat? Bahasa junjungan kita, Rasulullah Muhammad saw? Semoga suatu saat nanti saya mendapat kesempatan belajar bahasa agung ini, amiin …

Setelah itu, terdengar iqamat. Wah, shalat apa ini ? Ternyata ini adalah shalat Istisqa’ yaitu shalat meminta hujan. Kutbah yang baru saja diperdengarkan adalah bagian dari shalat ini. Arab Saudi adalah negri yang jarang hujan. Bisa dikatakan hujan di sini hanya terjadi bila penduduk memintanya. Paling tidak inilah yang diwariskan Rasulullah saw.

Beruntung kerajaan Arab Saudi tetap mempertahankan ajaran ini. Pada saat diperlukan, kerajaan memerintahkan seluruh penduduk negri agar mendirikan shalat istisqa. Dipimpin oleh imam Masjidil Haram, semua masjid bahkan universitas-universitas dan sekolah-sekolah dari Mekah, Madinah, Jedah hingga Riyad menyelenggarkan shalat ini, di pagi hari, setelah subuh.  Pada kesempatan ini penduduk diminta bertaubat, memohon maaf atas segala kesalahan, sebelum memohon hujan. Pada shalat sunnah 2 rakaat ini surat yang dibaca biasanya adalah surat Al-A’laa pada rakaat pertama dan surat Al-Ghaasiyyah pada rakaat ke 2.

http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/21/hukum-hukum-seputar-shalat-istisqa-meminta-hujan/

Usai shalat waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi. Sebagian besar jamaah masih tetap berada pada tempatnya, menanti giliran masuk Raudhah. Tak lama kemudian terdengar kabar bahwa pagar pembatas ke Raudah telah dibuka. Terlihat jamaah mulai berhamburan, berlarian dan berebutan menuju jalan ke Raudah. Namun tidak demikian dengan kelompok Indonesia. Semua tetap di tempatnya.

“ Jamaah kita memang paling penurut”, terang seorang jamaah yang duduk di sebelah saya, menjawab keheranan saya atas situasi tersebut.

Biasanya kita kebagian paling belakang. Alasannya sih, katanya orang Indonesia kan kecil-kecil, kasihan kalau harus berdesakan dengan orang-orang Turki, Arab dll yang biasanya hobby mendorong-dorong”, sambung jamaah lain.

“ Dan lagi ada untungnya juga koq. Karena paling belakang jadi puas shalat dan berdoa. Selain tidak ada yang dorong-dorong juga tidak perlu buru-buru karena sudah tidak ada yang antri”, timpal jamaah lain lagi. Saya hanya manggut-manggut, teringat kejadian kemarin.

“ Tapi bisa sampai jam 2 pagi baru kembali ke pondokan lho …”, katanya menambahkan. Waduuuh  … L

Menjelang pukul 8, beberapa ibu mulai pamit karena berbagai alasan. Ada yang ditunggu suaminya karena ada tausiyah di pondokan, ada yang sudah harus packing dll.

Setengah jam kemudian antrian mulai bergerak maju, lumayaan, pikir saya. Sekitar pukul 9.30 rombongan sudah berada di depan Raudhah. Namun melihat rombongan negara lain yang saya yakin tadinya ada di belakang kami tiba-tiba sudah ada di depan kami, saya menjadi ragu dalam setengah jam bisa masuk taman Rasulullah ini.

Jamaah mulai gelisah. Begitu juga uztazah kita yang sebelumnya sempat memberikan tausiyah sambil menunggu giliran masuk. Dalam tausiyah singkatnya ini saya sempat  menanyakan apakah shalat di dalam masijid Nabawi dengan shalat di halamannya sama ganjarannya, yaitu 1000 x dari shalat di masjid lain.

Ternyata jawabannya tidak sama. Ia menegaskan agar tetap meniatkan diri shalat di dalam masjid meski akhirnya tidak mendapat tempat karena penuh atau mungkin karena askar melarang kita masuk karena sudah tidak ada tempat. Jadi jangan dari pondokan memang hanya berniat shalat di halaman masjid karena malas berdesakan !  Sebuah pelajaran yang sangat berharga … niat, ya niat mendapatkan yang terbaik karena Rasulullah mengajarkannya.

Dugaan saya tepat. Pukul 10 rombongan tetap tidak bergeming. Beberapa kali saya melihat jamaah Indonesia dengan abaya hitamnya mencoba menerobos masuk. Namun segera dihentikan askar atau dipanggil uztasah agar menunggu dan bergabung dengan kami.

G mempan deh .. biar nyamar pakai abaya hitam tetap aja ketahuan kalau orang Indonesia “, beberapa jamaah berkomentar lucu disambut senyum jamaah yang mendengarnya. Hemmm ..  🙂

Akhirnya saya memutuskan untuk mundur. Perut saya sudah keroncongan. Maklum dari pukul 4 pagi tadi belum kemasukan apapun. Saya tidak mau mengambil resiko maag saya kambuh sementara kewajiban haji dimulaipun belum.  Apa boleh buat ..  Tapi saya tidak menyesal. Bagaimanapun saya telah mencoba untuk mematuhi aturan dengan tetap bergabung bersama rombongan negri kita tercinta yang dikenal gampang diatur dan menurut. Kalau saja, seluruh rakyat Indonesia mudah diatur dan mau disiplin mengikuti aturan dan hukum … tidak cuma ketika di tanah suci …

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah swt masuk Raudhah malam harinya, sekitar pukul 10 malam. Berdasarkan pengalaman pagi  tadi, saya memilih untuk bergabung dengan jamaah Eropa. Memang berdesakan, tapi tidak apa yang penting saya bisa berdoa dan shalat di tempat yang mustajab ini.  Saya juga bersyukur meski kami hanya 3 hari di Madinah, kami bisa mendirikan shalat wajib 5 kali sehari ditambah shalat rawatibnya di masjid Rasul yang sungguh indah ini. Bahkan beberapa kali saya sempat mengambil foto bagian dalam masjid lengkap dengan kubahnya yang bisa terbuka tertutup, meski dengan sembunyi-sembunyi.

Museum Madinah

Museum Madinah

Maket Raudhah ( karpet putih) dan sekitarnya

Maket Raudhah ( karpet putih) dan sekitarnya

Esok harinya, kami bersiap untuk meninggalkan Madinah dengan sejuta kenangannya. Oya, ada satu hal yang lupa saya sampaikan.

Maket Perang Khandaq

Maket Perang Khandaq

Kemarinnya, ba’da ashar, bersama rombongan kami mengunjungi museum Madinah. Saya tidak tahu apakah museum ini sudah lama atau baru. Yang jelas baru kali ini saya mengetahuinya dan sekaligus mengunjunginya. lsinya sungguh menarik. Ada maket Raudhah, maket perkembangan masjid Nabawi,  maket perang Khandaq (Parit), maket perang Uhud dll.

Sehari sebelumnya lagi, pihak bimbingan juga mengadakan kunjungan ke situs-situs bersejarah di sekitar Madinah. Diantaranya yaitu masjid Qiblatain ( masjid 2 kiblat), masjid Quba dan gunung Uhud. Akan tetapi karena kami telah beberapa kali mengunjungi tempat-tempat tersebut maka kali ini kami memutuskan untuk absen. Karenanya mohon maaf saya tidak dapat melaporkan pandangan mata situs-situs penting yang menjadi standard kunjungan haji dan umrah tersebut.

 ( Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 25 Desember 2011.

Vien AM.

Kami di Madinah hanya 3 hari, 2 malam. Waktu yang benar-benar sangat singkat. Apalagi kalau dibanding jamaah haji dari Indonesia yang biasanya bermalam di Madinah minimal 8 – 9 malam. Orang mengenalnya dengan sebutan Arbain yang artinya adalah 40.  Tujuannya agar jamaah dapat shalat jamaah 40 kali berturut-turut di masjid Nabawi tanpa terputus. Artinya shalat wajib berjamaah 5 kali sehari semalam selama 8 hari di masjid rasulullah.  Meski sebenarnya ke-shahih-an hadis mengenai hal ini masih merupakan perdebatan di kalangan ulama.

Dari Anas bin Malik yang diriwayatkan secara marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari adzab dan kemunafikan.” (HR Ahmad dan At-Tabarany).

Berikut penjelasannya,

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1195534045

Salah satu keutamaan shalat di masjid Nabawi adalah dengan adanya Raudhah. Raudhah yang artinya  taman atau kebun itu merupakan bagian kecil dari masjid dimana makam Rasulullah berada.

Dari Abi Sa’id al-Khurdri ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tempat di antara kubur dan mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) di antara beberapa kebun surga”. (Musnad Ahmad bin Hanbal)

Dari luar, Raudhah mudah diamati berkat adanya kubah berwarna hijau yang terletak di bagian selatan masjid, yang merupakan bagian depan masjid. Dari dalampun bagi jamaah lelaki mungkin tidak sulit menemukan tempat yang selalu dipadati jamaah ini. Bahkan untuk ziarah ke makam Rasulullahpun memungkinkan karena di sisi depan makam tersebut disiapkan semacam gang bagi para peziarah.

Sayangnya tidak demikian dengan jamaah perempuan. Selain tidak dibuka setiap waktu, jamaah perempuan juga harus puas menikmati sebagian Raudhah tanpa dapat melihat sisi depan makam Rasulullah. Tidak juga mihrab dan mimbar Rasulullah. Namun demikian ini masih lumayan karena musim haji tahun ini kaum perempuan mendapat tambahan waktu untuk mengunjungi Raudhah. Yang tadinya 2 x sehari menjadi sehari 3 kali, yaitu setelah subuh, setelah asar dan setelah isya. Meski nyatanya tetap tidak memadai.

Seorang jamaah dari Turki yang memberitahu saya jadwal tersebut. Ketika itu saya baru selesai shalat zuhur dan akan kembali ke hotel ketika tiba—tiba menyadari bahwa saya belum tahu jadwal terbaru kunjungan ke Raudhah. Saat itulah seseorang dengan wajah ramah lewat di depan saya. Maka sayapun bertanya kepadanya.

Awalnya ia tidak memahami apa yang saya tanyakan. Namun setelah beberapa waktu, melalui bahasa isyarat dan sedikit bahasa Inggris yang terbata-bata, akhir iapun mengerti maksud saya. Dengan tersenyum lebar ia segera mengeluarkan kertas dan pen dari tasnya. Kemudian ia menuliskan jadwal yang saya minta lengkap dengan no pintunya. Pintu 25. Inilah pintu khusus bagian perempuan untuk menuju Raudhah.

Dalam waktu saya yang sangat singkat di Madinah ini, yaitu 3 hari, empat kali saya mencoba masuk Raudhah. Pertama saya mencobanya pada hari pertama setelah usai shalat Isa. Untuk menuju pintu 25 tidak ada masalah. Segera saya larut dalam lautan jamaah yang berdesakan mengantri di depan sebuah pagar pembatas antara jamaah lelaki dan perempuan. Pagar pembatas setinggi 2 meter ini masih ditutup dan dijaga beberapa askar perempuan. Sebenarnya tidak ada tanda bahwa tempat tersebut adalah tempat menuju Raudhah. Saya hanya sekedar mengikuti arus dan percaya saja pada sesama jamaah yang mengatakan bahwa itu adalah tempat menuju Raudhah. Namun setelah menanti dalam antrian yang tidak jelas selama nyaris 2 jam akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan antrian tersebut.

Saya katakan tidak jelas karena para askar dengan nada tinggi berulang kali berusaha membubarkan antrian tanpa alasan yang dimengerti karena mereka menggunakan bahasa Arab.  Sementara para jamaah yang sebagian besar memang tidak berbahasa Arab terlihat ‘ngeyel’ dan bertahan di posisi masing-masing. Tidak jarang terjadi adu mulut antara jamaah dan askar.

Sekitar 1 jam setelah itu, setelah saya makan malam, saya kembali menuju Raudhah. Kali ini saya bersama 3 orang teman dari grup. Dua diantara mereka adalah anak dan ibu mertua. Si anak adalah seorang perempuan asli Perancis. Sementara ibu mertuanya  asli Maroko.  Dan yang seorang lagi seorang perempuan campuran Perancis dan Aljazair. Di negri pimpinan Zarkozy yang saat ini mulai digonjang-ganjing itu, memang banyak sekali turunan Maroko, Aljazair dan Tunisia. Maklum, ke tiga negara Arab di utara benua Afrika ini dulunya memang jajahan Perancis.

Setibanya di depan pintu 25,  saya meminta ke 3 teman saya tersebut untuk menunggu sebentar. Karena sebelumnya  saya sudah berjanji kepada seorang teman Indonesia yang juga berangkat dari Paris untuk bersama-sama masuk Raudhah.

Namun tampaknya ibu mertua teman saya yang sudah lumayan sepuh itu, tidak sabar, atau bisa jadi memang tidak mengerti maksud saya. Tanpa babibu, ia  langsung masuk masjid dan menyelinap di antara orang banyak. Yang paling panik tentu saja, si menantu. Segera ia mengejarnya. Dapat dibayangkan, punya ibu mertua yang hanya berbahasa Arab sementara ia sendiri hanya berbahasa Perancis. Susahnya lagi, si ibu lumayan keras kepala. Saya benar-benar salut kepada teman saya  yang selalu tampak berusaha mengerti kemauan mertuanya itu. Tak jarang ia meminta jamaah lain yang bisa berbahasa Arab agar menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

Akibatnya ketika tak lama kemudian teman Indonesia saya datang bersama seorang temannya yang juga orang Indonesia, kami ber-4 terpaksa ikut sibuk mencari mertua teman saya tadi. Namun karena semua jamaah menuju satu titik, yaitu Raudhah maka tak lama kemudian kamipun menemukan pasangan menantu mertua tersebut.

Berbeda dengan bada’ isya tadi, antrian di depan pagar pembatas dimana tadi saya mengantri telah kosong. Pembatas tersebut telah terbuka lebar. Hati saya lega. Namun ternyata ini hanya sementara. Karena tak lama kemudian setelah kami masuk lebih ke dalam lagi kami melihat gelombang antrian jamaah yang sedang duduk berkelompok-kelompok. Rupanya demikianlah para askar mengatur jamaah. Jamaah di kelompokkan berdasarkan asal negara  masing-masing.

Namun segera teman Indonesia saya mengingatkan : “ G usah ikut kelompok Indonesia mbak .. Lamaaa .. “. Saya masih terkesima, ketika dengan bergandengan tangan,  kedua teman Indonesia saya tadi tiba-tiba sudah berlari menerobos antrian. Selanjutnya saya berusaha mencegah ibu mertua teman saya agar tidak menyusul kedua teman tadi. Untuk beberapa saat kami ber- 4 celingukan tidak tahu harus berbuat apa. Sementara para askar terus mengingatkan untuk tetap sabar menanti di barisan masing-masing hingga ada aba2 dari mereka. Itu tebakan saya karena saya sama sekali tidak memahami ucapan mereka kecuali beberapa ucapan : “ Dudhuk .. dudhuk “ kepada jamaah berwajah Indonesia.

Saya ragu harus masuk barisan mana. Sementara kami melihat sejumlah jamaah yang berlarian menerobos di sana sini. Melihat ini si bule menantu langsung protes. “ Gimana kita harus mengantri sementara orang-orang menyerobot seperti teman kamu tadi ?”. Untuk orang-orang dimana antri sudah menjadi budaya hal ini memang terlihat aneh.

Belum habis rasa malu dihati ini, tahu2 teman saya tadi sudah menarik ibu mertuanya lari menerobos barisan. Saya hanya bisa bengong. Pasrah mendengar sungutan teman saya yang tinggal satu dan terus membujuk saya agar mengikuti jejak yang lain.

Saat itulah akhirmya saya memutuskan untuk duduk dibarisan jamaah Aljazair yang kebetulan ada di sisi kami. Untuk mengalihkan perhatian teman yang mengeluh terus, saya mengobrol dengan seorang jaamah Aljazair yang kebetulan bisa berbahasa Perancis. Dalam obrolan tersebut saya mendapat info bahwa di Aljazair banyak orang Indonesia. Sebagian besar adalah mahasiswa yang menuntut ilmu di kota2 terkenal  yang pada zaman keemasan Islam dahulu pernah menjadi pusat ilmu dan pengetahuan. Senang dan bangga rasanya hati ini. Allahuakbar ..

Waktu terus berlalu tanpa ada tanda-tanda kapan kelompok ini bisa masuk ke Raudhah. Saya perhatikan hampir setiap jamaah berusaha mencuri kesempatan untuk lari meninggalkan barisan. Sementara para askar juga makin terlihat kesal dan gemas melihat situasi yang tidak nyaman ini. Teman saya kembali mencolek saya agar segera bergerak.

Akhirnya bobol juga kesabaran saya. Begitu melihat ada kesempatan saya langsung menarik teman saya itu untuk lari meninggalkan tempat dan ikut berdesakan dengan kelompok yang baru saja diberi kesempatan untuk masuk Raudhah.

Maka mulailah perjuangan yang sebenarnya. Kami larut di dalam lautan manusia yang berdesakan, terombang-ambing ke kiri kanan layaknya penonton pertunjukan musik rock di tanah air. Terdengar umpatan di sana-sini :” Hey, memang kamu orang Turki? Ini kan rombongan Turki ». Ntah kepada siapa umpatan tersebut ditujukan, saya tidak yakin kepada kami. Karena umpatan tersebut terdengar agak jauh. Kalaupun iya, ya sudahlah .. pikir saya menenangkan diri. … 😦

Akhirnya kamipun memasuki area Raudhah. Raudah atau taman surga terletak antara makam Rasulullah dan mimbar dimana Rasulullah dahulu biasa memberikan tausiyah kepada para sahabat. Tempat ini dapat diamati dari warna karpetnya yang berbeda dengan karpet  di bagian lain masjid yang didominasi karpet merah tua. Selain itu, Raudhah juga dapat dibedakan dari bagian lain karena  adanya beberapa pilar marmer berwarna putih berukir yang berbeda dengan pilar-pilar lain yang banyak dijumpai di dalam masjid megah nan cantik ini.

http://orgawam.wordpress.com/2008/08/13/denah-masjid-nabawi/

Makam Rasulullah terdapat di kiri Raudah, berdampingan dengan jarak sekitar satu ukuran kepala dari makam khalifah Abu Bakar ra dan khalifah Umar bin Khatab ra. Makam Rasulullah terletak pada barisan paling depan. “ Assalammualayka yaayyuhannabi wa rahmatullahi wa barakatuh”, “ Salam sejahtera yaa nabi, semoga rahmat dan berkah Allah swt terlimpah padamu ya Rasul”. Begitulah para jamaah memberikan salamnya dengan penuh khidmat. Juga kepada ke dua sahabat yang selalu setia mentaati beliau, meski kami tidak bisa melihat makam tersebut bahkan dindingnya sekalipun. Semacam papan tipis berwarna putih dipasang menutupi area sakral tersebut. Demikian pula mimbar yang terletak sejajar dengan makam Rasulullah, kami, jamaah perempuan tidak bisa melihatnya. Sayang sekali … L

Sambil berdesakan para  jamaah terdengar bershalawat “ Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ala ali Muhammad”,   “Ya Allah, muliakan Rasul-Mu Muhammad saw dan keluarganya”.  Ditengah kerumunan inilah para jamaah berusaha untuk shalat meski tidak bisa dengan posisi sempurna karena untuk rukuk dan sujudpun sangat sulit. Untuk itu kami harus bergantian saling menjaga bila tidak ingin terinjak ketika kita sujud. L …

Usai shalat dan memberikan salam, kami  berdoa. Raudah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa.  Tak lama setelah itu kami  keluar, tanpa ingin menunggu bentakan askar yang mengusir jamaah yang terlalu lama berada  di dalam taman surga ini. Puas tidak puas, kami harus tahu diri, di luar sana sesama jamaah telah mengantri. Dalam hati saya berjanji akan kembali lagi, besok, insya Allah.  Semoga Allah swt masih memberi kesempatan.

( Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 22 Desember 2011.

Vien AM.

Jumat, 28/10/2011.

Sebelum meninggalkan rumah tak lupa kami mendirikan shalat safar (bepergian) 2 rakaat dengan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, setelah membaca surat Al-Fatihah, tentu saja.  Ini bukan bagian dari ritual haji. Karena melaksanakan shalat safar sebelum bepergian memang dicontohkan Rasulullah saw.

Pesawat Royal  Jordanian Air  dengan no penerbangan RJ118 jurusan Madinahpun  take off sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Pesawat reguler yang membawa 78 jamaah haji dari Paris, Perancis  diantara sekian ratus penumpangnya ini  melayang selama lebih kurang 5 jam, sebelum akhirnya mendarat dan transit di Airport Queen Alia, Amman – Jodania.

Ada hal kecil cukup menarik yang terjadi selama penerbangan tersebut. Ini diawali dengan posisi tempat duduk di pesawat dimana saya dan suami ternyata tidak mendapat seat sebaris. Ntah mengapa suami ketika itu koq tidak ‘ngeh’ akan hal ini. Kami baru sadar bahwa tempat duduk kami terpisah menjelang boarding.

Seketika, suami langsung berusaha mencari jalan keluar. Ternyata hal ini tidak hanya terjadi pada diri kami. Ada beberapa pasangan suami istri yang terpisah padahal mereka melakukan check in bersama dan bahkan sudah meminta agar duduk bersebelahan. Si petugas hanya menjawab silahkan diatur nanti ketika di dalam pesawat saja. Petugas disana yang akan membantu, begitu katanya .. L ..

Alhamdulillah, akhirnya masalah terselesaikan dengan baik. Ditambah pengertian seorang yang juga ternyata jamaah calon haji, saya dan suami berhasil  duduk bersebelahan, bertiga dengan bapak tersebut. Nah, bapak yang duduk di sebelah suami inilah yang ingin saya ceritakan kisahnya. Tentu saja tanpa bermaksud untuk menggunjing.

Setelah berkenalan dan berbasa-basi sejenak, tanpa diminta ia menceritakan latar belakangnya mengapa ia pergi berhaji. Muhammad demikian ia memperkenalkan dirinya.  Ia adalah warga negara Perancis berdarah Maroko. Sama seperti Aljazair dan Tunisia, Maroko adalah Negara bekas jajahan Perancis. Itu sebabnya di Perancis ini banyak sekali ditemui wajah-wajah Arab dan campuran Arab – Perancis. Mereka  adalah adalah keturunan para imigran dari ketiga negara tersebut, yang kemudian menikah dengan warga asli Perancis, atau dengan sesama mereka sendiri.

Muhammad hijrah ke negri paman Sarkozy ketika usianya masih belia, dalam  rangka menuntut ilmu. Di negri inilah ia kemudian jatuh cinta pada seorang perempuan asli Perancis hingga akhirnya mereka menikah. Sayangnya mereka mengambil keputusan penting ini tanpa mempertimbangkan perbedaan agama diantara mereka.

Akibatnya, Muhammadpun menjauh dari ajaran Islam, agama nenek moyangnya. Bahkan ia nekad berpindah mengikuti agama istrinya tercinta dan rela dibaptis.  Antony adalah nama baptisnya.  Tak aneh jadinya bila seterusnya ketiga putra-putrinyapun memeluk Nasrani, sesuai didikan sang ibu.

Bersyukur, Allah swt masih mengasihinya. Menjelang hari tuanya, yaitu pada usia 50 tahunan, Antony akhirnya menyadari kesalahannya. Ini semua berkat usaha keras ayahnya yang tak kenal jemu mengingatkan putranya itu untuk kembali ke jalan yang benar, meski hanya dari kejauhan.

Tiba-tiba saya teringat kepada kisah seorang ayah yang menasehati anaknya.  Allah swt mengabadikan kisah tersebut dalam surat Lukman, nama sang ayah. Sebuah pelajaran bagi kita, bahwa mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu.

“(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.(QS.Lukman(31):16-17).

Sayangnya,  sang istri tercinta tidak dapat menerima kenyataan ini. Percekcokanpun  tak terhindarkan, hampir setiap hari, hingga akhirnya membuahkan perceraian. Sebuah akhir pernikahan yang tidak menyenangkan, memang. Namun Antony yang di kemudian hari mengganti namanya  menjadi Muhammad, ternyata kini justru lebih tenang hidupnya. Tampak bahwa Allah swt masih ridho menerima taubatnya.

Gurat penyesalan yang dalam masih terbayang di wajah Muhammad, ketika ia menceritakan perjalanan hidupnya. Namun  dengan cepat air mukanya berubah menjadi sejuk dan tenang ketika ia mengungkapkan betapa besar rasa terima-kasihnya kepada sang ayah tercinta yang tak kenal lelah mengingatkannya.

Kini Muhammad yang telah berusia 60 tahun dan harus ditopang tongkat ketika berjalan itu telah menikah kembali. Bahkan istrinya, seorang perempuan sholehah keturunan Maroko, dengan izin Allah swt telah mengganti ke 3 anak Muhammad yang ‘hilang’ dengan 2 putra putri yang insya Allah bakal menjadi penghibur dunia akhirat bagi ke 2 orang-tuanya. Subhanalah ..

Pelajaran berharga bagi kita, agar tidak menyekolahkan anak ke negri-negri kafir tanpa bekal keimanan yang kuat dan pengawasan yang ketat.

Tak terasa, 5 jampun berlalu. Perbedaan waktu antara Paris-Amman adalah 1 jam.  Kami mendarat di airport Queen Alia, Amman pada pukul 19.00 waktu setempat, untuk transit selama 10 jam ! Padahal jarak Amman – Madinah tinggal 2 jam penerbangan. Beruntung, pihak Jordan Air memberikan fasilitas hotel bagi jamaah agar dapat sedikit beristirahat dengan baik.

Yaah, begitulah resiko menjadi penumpang pesawat bukan khusus haji. Ini hanya salah satu kesulitan agen bimbingan haji Perancis. Padahal agen bimbingan haji kami ini menangani 300an jamaah. Mereka terpaksa diterbangkan dalam  4 penerbangan yang berbeda.

Sekitar pukul 21.00 kami memasuki hotel. Setelah makan malam yang disediakan pihak hotel kami segera masuk kamar dan berusaha untuk istirahat. Pukul 3.30 pagi kami harus sudah siap berangkat ke bandara untuk meneruskan perjalanan ke tujuan yang sebenarnya, Madinah.

Sabtu, 29/10/2011. Alhamdulillah pesawat berangkat meski tidak tepat waktu. Shalat Subuh kami laksanakan di mushola airport. Sayangnya, ruang shalat bagian perempuan yang sudah sempit ini masih dijejali lagi  dengan penumpang yang numpang tidur di tempat tersebut. Yang tetap tidak mau bergeming untuk bangun meski tahu para tamu mengantri untuk shalat bahkan beberapa terpaksa sujud di atas bagian tubuhnya.

Sekitar pukul 8.30 pagi pesawat mendarat di  Madinah Airport dengan selamat, Alhamdulillah. Airport ini jauh berbeda dengan Airport Jedah, baik keadaan fisik maupun pelayanannya. Di Jedah, urusan imigrasi bisa makan waktu 10 jam-an ! Ini yang kami alami 11 tahun lalu. Dan ini sudah diingatkan para pembimbing kami. Tampaknya ini hal biasa atau memang ‘ dibiasakan”?? Di depan mata para calon jamaah kami melihat para petugas imigrasi mengobrol, jalan kesana kemari … Dan ketika melihat ada orang yang berusaha ‘mendesaknya’ agar bekerja lebih cepat, mereka langsung berteriak-teriak, membentak-bentak semua orang yang mengantri panjang, pasraaah  …

“ Sabaar, sabaar, sabaar”, hanya itu kata yang diucapkan para pembimbing,  menenangkan  para jamaah. Dan para jamaahpun hanya diam,  sadar sepenuhnya bahwa ini adalah bagian dari uji kesabaran dalam berhaji dan berumrah. Ironisnya, ternyata ini masih dialami oleh adik dan ipar saya yang kebetulan juga pergi menunaikan haji tahun ini.  Mereka datang ke tanah suci melalui bandara Jeddah dan harus menunggu 10 jam di tempat tersebut. Saya hanya bisa mengusap dada, “ Benarkah ini bagian dari sabar berhaji?”, tanya saya dalam hati, tidak yakin.

Di airport Madinah, pemeriksaan imigrasi berjalan lancar dan relative cepat. Di pintu keluar menuju deretan bus yang telah menanti, sejumlah petugas membagi-bagikan 1 set buku panduan haji.  Hebatnya, buku-buku tersebut tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi berbagai bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman dll, termasuk bahasa Indonesia. Dan semua itu tanpa dipungut biaya alias gratis. Dari salah satu buku inilah saya membaca tentang “ beberapa kesalahan dalam berhaji”. Dan yang paling menarik adalah kesalahan miqat dari airport Jedah, hal yang sering dilakukan jamaah Indonesia !  Terutama kloter-kloter yang langsung menuju Mekah. Berikut apa yang saya temukan, sesuai dengan buku petunjuk yang dibagikan di bandara  Madinah.

http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/03/23/bantahan-bagi-yang-menjadikan-jeddah-sebagai-miqat/

Selanjutnya dengan 2 bus berkapasitas 40 orang kami menuju hotel. Tidak kurang 2 kali kami berhenti untuk menerima pembagian air zamzam dan makanan kecil, semua cuma-cuma. Ini adalah bagian dari cara pemerintah Arab saudi menyambut tamu Allah swt di tanah suci ini.  Allahuakbar  …

Pukul 11 lebih kami tiba di hotel. Alhamdulillah, hotel hanya berjarak beberapa meter dari Masjid Nabawi. Kami segera turun dari bus untuk melihat-lihat sekeliling hotel. Ternyata selain dekat dengan masjid Nabawi hotel juga dekat dengan restoran Indonesia ! Wah, beruntung benar kami .. Saya langsung promosi kepada teman-teman tentang masakan Indonesia. 🙂

Selesai urusan hotel ; cek-in, pembagian  kunci kamar, mengurus bagasi serta pengumuman-pengumuman penting dari pembimbing, tak terasa waktupun cepat berlalu. Azan zuhur berkumandang kencang. Kami segera bergegas menuju masjid.

Rasanya baru 3 tahun lalu kami mengunjungi masjid ini untuk umrah, ternyata sudah ada perubahan. Di siang hari yang terik tersebut, pelataran masjid yang luas terasa jauh lebih sejuk dibanding dulu. Payung-payung raksasa cantik, berwarna biru muda terlihat meneduhi pelataran. Sejumlah kran air berputar menyemprotkan air ke udara, menambahkan kesejukan. Ini masih dimanjakan lagi dengan karpet-karpet tebal indah berwarna merah tua, menambah jamaah makin nyaman dalam mendirikan shalat.

Pintu masuk masjid yang jumlahnya 86 dan diberi no urut ini, dipisahkan pintu-pintunya bagi jamaah lelaki dan perempuan. Setelah menentukan tempat untuk bertemu kembali dengan suami nanti usai shalat, kamipun berpisah. Saya segera menuju pintu terdekat dan berusaha memasukinya.

Sejumlah askar perempuan, sebutan petugas keamanan masjid, menghadang di mulut pintu. Dengan abaya hitam lengkap dengan cadarnya, mereka memeriksa tas para jamaah. Kamera, handycam dan Hp terutama yang ada kameranya, seperti BB dan lain-lain kalau ketahuan dilarang dibawa masuk. Boleh dititipkan ke bagian penitipan atau dipersilahkan shalat di pelataran.

Lolos dari pemeriksaan, sekarang giliran mencari tempat kosong. Sungguh, perjuangan berat. Saya harus berjalan melewati shaft demi shaft, meloncati kaki orang .. Mau berbalik keluar lagi juga tidak mungkin karena di belakang sudah ada antrian panjang  seperti ular. Sejauh mata memandang rasanya padat  sudah isi masjid ini. Subhanallah ..

Hingga iqamat dikumandangankan beberapa menit kemudian, saya masih dalam keadaan seperti itu. Maka begitu saya melihat ada kesempatan keluar saya segera memutuskan untuk keluar dan akhirnya shalat di pelataran. Ada keraguan dalam hati ini, samakah antara shalat di dalam masjid yang berpahala 1000 x shalat di masjid lain ini dengan shalat di pelatarannya?

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil-Haram.” (HR Bukhari).

Wallau’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Paris, 12 Desember 2011.

Vien AM.

“ … Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.(QS.Ali Imran(3):97).

Ayat ini menunjukkan bahwa pergi ke Baitullah, minimal sekali dalam hidup, dalam rangka menunaikan haji adalah wajib, bagi mereka yang mampu, yaitu yang sanggup mengadakan perjalanan ke tempat suci tersebut.  Ibadah ini adalah merupakan rukun ke lima atau rukun terakhir dari Rukun Islam.

Alhamdulillah kami telah melaksanakan panggilan ini 11 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2000. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kewajiban ini hanya berlaku sekali dalam hidup seorang Muslim. Oleh karenanya tidak pernah terlintas dalam hati ini untuk mengulanginya kembali. Namun dengan berlalunya waktu dan juga mungkin dengan bertambahnya ilmu,  keinginan mengulang berhaji ini kembali tumbuh. Sebenarnya ini bukan keinginan yang tiba-tiba. Karena sebenarnya sejak lama ada beberapa hal yang memang masih mengganjal dalam hati. Diantaranya yaitu soal miqat dan mabit di Muzdalifah.

Ketika kami menjalankan haji pada tahun 2000 itu, miqat kami laksanakan di airport Jedah.  Sebenarnya  waktu itu suami sudah ragu, karena itu berarti kita telah melewati miqat ketika kita terbang diatasnya. Menanggapi ini sang pembimbing haji hanya mengatakan : “ Repot dong pak, kalau semua jamaah harus ber-ihram di pesawat. Apalagi bapak sebagai ketua kelompok, jangan kasih contoh begitu, nanti yang lain ikut-ikut”.

Sebagai orang awam, terpaksa kami menuruti nasehat tersebut. Dengan berat hati kami ber-ihram di bandara Jedah, menjadikannya  sebagai tempat miqat. Demikian pula sebagian besar jamaah di pesawat tersebut. Hanya sebagian kecil yang tetap berkeras ber-ihram di dalam pesawat, tepat ketika pesawat lewat di atas Yalamlam, salah satu miqat yang disebutkan Rasulullah. Namun tak urung, hingga bertahun-tahun kemudian peristiwa tersebut tetap mengganjal dalam hati kami berdua. Kami merasa hal ini tidak benar. Ingin rasanya mengulangi lagi haji kami.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah, Al-Juhfah bagi penduduk Syam, Qarnul Manazil bagi penduduk Najd, dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. Miqat-miqat itu bagi penduduk negeri itu, dan selain mereka yang melewatinya untuk pergi haji atau umrah. Dan orang yang kurang dari jarak itu maka dia berihram dari tempat dia memulai, sampai penduduk Makkah berihram dari Makkah.”(HR. Bukari Muslim)

Sementara masalah mabit di Muzdalifah. Ketika teman2  bertukar pengalaman tentang masalah haji, tidak jarang mereka mengatakan bahwa mereka mabit alias bermalam di Muzdalifah. Di bawah luasnya langit yang terbuka lebar di atas kepala, karena para jamaah memang bermalam bukan di dalam tenda seperti di Mina atau Arafah, kekuasaan Allah swt yang begitu hebat itu makin terasa.

Kami hanya bengong, terpana. Kami tidak melakukan hal tersebut. Kami hanya berhenti sebentar untuk mengambil batu kecil guna keperluan melempar Jumrah untuk esok harinya. Selanjutnya kami kembali duduk di bus dan menanti beberapa saat hingga melewati tengah malam. Setelah itu bus berangkat meninggalkan Muzdalifah menuju perkemahan Mina. Saya tidak ingat berapa lama atau pukul berapa kami memasuki Muzdalifah. Yang pasti saya ingat, ketika itu banyak bus melakukan hal yang sama dengan kami. Muzdalifah dalam benak saya ketika itu adalah sebuah tanah lapang di tepi jalan raya yang diterangi lampu-lampu.

Sepengetahuan kami ketika itu, yang dimaksud mabit di Muzdalifah adalah berhenti sejenak di tempat tersebut hingga melewati tengah malam. Setelah itu kami harus segera menuju Mina. Namun pengalaman spiritual tidur dibawah langit luas nan indah tanpa apapun yang menghalangi, sebagaimana dicontohkan Rasulullah, tak urung membuat kami merasa ada yang ‘kurang’ dalam haji kami.

Tetapi mengingat begitu banyaknya calon haji dari negri tercinta yang harus mengantri bertahun-tahun untuk dapat memenuhi panggilan-Nya, hati kamipun menciut. Disamping tentu saja, biaya yang tidak sedikit dan waktu cuti yang harus diambil suami, membuat kami terpaksa mengubur jauh-jauh keinginan menggebu tersebut.

Keinginan mengulang haji muncul lagi pada tahun 2010, setahun setelah suami ditempatkan kembali di Perancis, tepat 10 tahun setelah keberangkatan haji pertama.  Waktu itu kami berpikir, anak-anak sudah besar, berarti tidak ada masalah tentang mereka seperti dulu, yaitu harus dititipkan ke eyangnya. Kedua, dengan pergi haji melalui Perancis, berarti kami  tidak menzalimi saudara-saudari kami di tanah air yang berniat melaksanakan haji. Yang ketiga, suami mendapat kesempatan untuk memba’dalkan ayah (alm) yang ternyata menurut ibu, semasa hidupnya pernah berniat untuk melaksanakan haji namun batal karena suatu sebab yang tidak dapat dihindari.

Setelah mencari informasi kesana kemari, akhirnya kami memutuskan untuk pergi haji pada musim haji 2011 yang jatuh pada bulan November lalu. Sejak awal tahun kami sudah ingin mendaftar. Tetapi hanya mendapat jawaban bahwa pendaftaran haji baru dibuka menjelang bulan Ramadhan, berarti hanya 2 bulan sebelum musim haji. Wah … bandingkan dengan di tanah air yang harus mengantri bertahun-tahun.

Singkat cerita, pertengahan Ramadhan akhirnya kamipun terdaftar resmi sebagai calon haji 2011, Alhamdulillah… Kebetulan pada bulan suci tersebut kami pulang ke tanah air. Jadi kami bisa berbelanja kebutuhan haji. Saya bahkan secara tidak sengaja menemukan sebuah paket persiapan haji berisi sabun, odol, krim muka dan beberapa tetek bengek perlengkapan kecantikan lain yang sama sekali tidak mengandung pewangi. Sesuatu yang memang dilarang ketika kita dalam keadaan ihram, baik ihram haji maupun ihram umrah.

Disamping itu, kami juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan uztad yang kami percaya dapat membimbing kami berhaji. Meskipun ini bukan haji kami yang pertama kami tetap merasa perlu mendapatkan bimbingan haji. Apalagi bimbingan haji dimana kami akan bergabung nanti memang hanya menjanjikan dua kali pertemuan. Itupun hanya pada pertemuan pertama saja yang membahas manasik, dalam bahasa Perancis pula, yang bukan bahasa sehar-hari kami. Pertemuan berikutnya untuk membicarakan masalah tehnis.

Maka ketika kami kembali ke Paris, bersama dengan pasangan keluarga Indonesia lain yang kebetulan juga akan pergi menunaikan haji, kami mengundang uztad Indonesia yang sedang belajar di negrinya Sarkozy ini untuk manasik haji. Pada pertemuan ini ada 2 pelajaran baru yang kami dapatkan.

Pertama tentang masalah waris.  Menurut uztad yang membimbing kami, pergi haji pada dasarnya adalah memenuhi panggilan Sang Khalik. Artinya kita memang harus siap bila sewaktu-waktu Allah swt mencabut nyawa kita. Itu sebabnya calon haji dianjurkan untuk membuat warisan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Yang kedua, sebenarnya bukan hal baru, yaitu mengundang keluarga dan handai taulan dalam rangka keberangkatan ke tanah suci. Tentu kita sering mendengar undangan semacam ini, katakanlah syukuran haji atau walimatus safar. Pada haji pertama kami dulu, kami memang melakukan hal ini. Tetapi terus terang tanpa memahami maknanya, kami hanya mengikuti tradisi dan kebiasaan saja. Nah, baru kali inilah saya mendengar alasannya, yang pada dasarnya sama dengan hal pertama, yaitu dalam rangka mengantisipasi ‘kepulangan’ kita ke hadirat-Nya. Pada kesempatan tersebut, kita dianjurkan untuk meminta maaf sekaligus memaafkan kesalahan tamu yang kita undang tersebut, yaitu tetangga, keluarga dan para handai taulan.

Namun seperti juga acara tahlilan, acara syukuran seperti ini sebenarnya masih menjadi bahan perdebatan para ulama. Sebagian menyebutnya sebagai perbuatan mengada-ada alias bid’ah. Dalam kesempatan ini saya tidak ingin memperpanjang hal yang bukan merupakan hak saya. Wallahu’alam bish shawwab.

http://www.alquran-sunnah.com/haji-dan-umrah/artikel-haji-dan-umrah/617-selamatan-berangkat-haji.html

Selanjutnya, sekitar 3 minggu sebelum keberangkatan, saya menerima undangan silaturahmi dari pihak Kedutaan. Ini adalah acara rutin bulanan yang diselenggarakan persatuan ibu2 Kedutaan Perancis untuk mengumpulkan masyarakat Indonesia yang tinggal di Paris dan sekitarnya.

Berangkat dari keyakinan, bahwa meminta maaf dan memaafkan bisa kapan saja, sekaligus untuk kepentingan dakwah, maka sayapun datang memenuhi undangan tersebut. Dalam kesempatan baik tersebut saya meminta pihak tuan rumah agar memberikan saya kesempatan untuk secara resmi pamit, meminta maaf dan mohon di doakan agar keberangkatan saya bersama suami ke tanah suci diridhoi Allah swt.  Semoga  Allah swt bukan mencatatnya sebagai perbuatan riya, Na’udzubillah mindzalik …

Tak lama setelah saya kembali dari podium ke tempat saya tadi duduk, beberapa ibu menghampiri saya. Mereka menyelamati, mendoakan dan sebagian ada yang meneruskan dengan perbincangan mengenai haji. Banyak diantara ibu2 tersebut yang jujur saja, saya tidak begitu mengenalnya. Jumlah masyarakat Indonesia di Paris dan sekitarnya memang cukup banyak. Jadi lumrah saja kalau kita tidak saling mengenal. Banyak diantara mereka yang menikah dengan pria Perancis.

Dan mungkin karena sudah lama tinggal di Perancis, banyak di antara ibu itu penampilannya sudah seperti  ‘bule’ ; rambut pirang, baju terbuka disana-sini, rok mini lengkap dengan sepatu boot tingginya. Bahkan ada pula yang bertattoo. .. 😦 ..

Itu sebabnya kaget juga saya, ketika ibu dengan penampilan seperti tadi itu bercerita : “ ibu saya dulu hampir tiap tahun selalu pergi haji. Tapi sekarang dia udah mati dan dikubur di Mekah “.  “ Waduh, ibu udah lama tinggal di sini yaa … kalau orang yang meninggal jangan dibilang mati buu, apalagi ini ibu sendiri .. meninggal. Mati itu kasar, untuk binatang”, sambil menahan geli, saya menanggapi ibu tersebut. Si ibu hanya manggut-manggut.

Kalau ibu sendiri … Muslim ?”, tanya saya hati-hati. “ Iya”, jawabnya lagi.

“Alhamdulillah …”,  saya berkata, sambil mencoba melirik tattoo di punggungnya. Miris hati ini.

Lain lagi cerita ibu yang satu lagi,  «  Seneng ya, bisa pergi haji ».

« Alhamdulillah », jawab saya pelan. «  Ibu sudah ? », tanya saya setengah khawatir salah bertanya.

“ Ah boro2”, jawabnya sambil melengos. “ Sembahyang aja ngga’ pernah koq .. ».

« Waduuh ..” , gimana menanggapinya yaa .. Apalagi si ibu tadi kelihatan jelas tidak ingin memperpanjang percakapan.  Saya hanya bisa terdiam dan kemudian berlalu. «  Menyedihkan sekali », pikir saya sedih.

Saya hanya bisa berharap, semoga kehadiran saya di acara ini mampu mengingatkan saudara-saudari kita sesama Muslim akan kewajiban mereka yang mungkin selama ini lupa saking asiknya menikmati keindahan kota Paris. Shalat, zakat, puasa, menunaikan haji dll.

Saya yakin, para ibu tersebut pasti hidup dalam kecukupan. Kalau tidak, mana mungkin mereka betah bertahun-tahun tinggal di Perancis. Saya tidak tahu, apakah suami mereka Muslim atau bukan. Bila bukan, ntahlah .. saya tidak berani berkomentar. Yang pasti pasangan hidup ( baik suami ataupun istri),  anak dan harta adalah cobaan. Bahkan mungkin cobaan terbesar dalam hidup.  Karena mereka sangat berpotensi memalingkan kita dari mengingat kehidupan akhirat, berzikir kepada Allah swt, Sang Khalik.

“ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; … … … Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS.At-Taghabun(64):14-15).

( Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.

8 Desember 2011.

Oleh Dr. Mohamad Daudah.

Kronologi Terapi Suara:

Alfred Tomatis, seorang dokter warga negara Prancis, membuat eksperimen-eksperimen selama lima puluh tahun mengenai indera manusia, dan ia membuat kesimpulan bahwa indera pendengaran merupakan indera yang paling penting! Ia menemukan bahwa pendengaran mengontrol seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vitalnya, keseimbangan, dan koordinasi gerakan-gerakannya. Ia juga menemukan bahwa telinga mengontrol sistem syaraf!

Selama eksperimennya, ia menemukan bahwa syaraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh, dan ini adalah alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Telinga bagian dalam terhubung dengan seluruh organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, perut, dan usus. Hal ini menjelaskan mengapa frekuensi-frekuensi suara itu memengaruhi seluruh tubuh.

Pada tahun 1960, ilmuwan Swiss yang bernama Hans Jenny menemukan bahwa suara dapat memengaruhi berbagai Artikelal dan membentuk partikular-partikularnya, dan bahwa masing-masing sel tubuh itu memiliki suaranya sendiri, dapat terpengaruh oleh suara, dan menyusun ulang Artikelal di dalamnya. Pada tahun 1974, peneliti Fabien Maman dan Sternheimer mengumumkan penemuan mengejutkan.

Mereka menemukan bahwa setiap organ tubuh itu memiliki sistem vibrasinya sendiri, sesuai dengan hukum fisika. Beberapa tahun kemudian, Fabien dan Grimal serta peneliti lain mengungkapkan bahwa suara dapat memengaruhi sel-sel, khususnya sel kanker, dan bahwa suara-suara tertentu memiliki efek yang lebih kuat. Hal ajaib yang ditemukan dua peneliti itu adalah bahwa suara yang memiliki efek paling kuat pada sel-sel tubuh adalah suara manusia itu sendiri!

Gambar: suara bergerak dari telinga ke otak dan memengaruhi sel-sel otak. Akhir-akhir ini para ilmuwan menemukan bahwa suara memiliki daya penyembuh yang ajaib dan afek mengagumkan terhadap sel-sel otak, dimana ia bekerja untuk mengembalikan keseimbangan ke seluruh tubuh! Bacaan al-Qur’an memiliki efek luar biasa terhadap sel-sel dan dapat mengembalikan keseimbangan. Otak merupakan organ yang mengontrol tubuh, dan darinya muncul perintah untuk relaksasi organ-organ tubuh, khususnya sistem kekebalan tubuh.

Fabian, seorang peneliti sekaligus musisi, meletakkan sel-sel darah dari tubuh yang sehat dan menghadapkannya pada berbagai macam suara. Ia menemukan bahwa setiap not skala musik dapat memengaruhi medan elektromagnetik sel. Ketika ia memotret sel ini dengan kamera Kirlian, ia menemukan bahwa bentuk dan nilai medan elektromagnetik sel itu berubah sesuai dengan frekuensi-frekuensi suara dan tipe suara orang yang membaca. Kemudian ia membuat eksperimen lain dengan meletakkan darah orang sakit, memonitornya dengan kamera Kirlian, dan meminta pasien untuk membuat berbagai macam suara. Ia menemukan, sesudah memproses gambar, bahwa not tertentu dapat mengakibatkan perubahan pada medan elektromagnetiknya dan menggetarkannya secara seutuhnya dengan merespon suara pemiliknya.

Akhirnya ia menyimpulkan bahwa ada not-not tertentu yang bisa memengaruhi sel-sel dan membuatnya lebih vital dan aktif, bahkan meregenerasinya. Ia menarik suatu hasil yang penting: suara manusia memiliki pengaruh yang kuat dan unik terhadap sel-sel tubuh; pengaruh ini tidak ditemukan pada instrumen lain.

Peneliti ini menyatakan, ‘Suara manusia memiliki nada spiritual khusus yang membuatnya menjadi sarana pengobatan yang paling kuat.’ Fabien menemukan bahwa beberapa suara dapat menghancurkan sel-sel kanker, dan pada waktu yang sama dapat mengaktifkan sel-sel yang sehat.

Gambar: Sel kanker hancur hanya dengan frekuensi-frekuensi suara! Itulah mengapa bacaan al-Qur’an memiliki pengaruh yang besar terhadap kanker yang paling berbahaya dan penyakit yang sangat akut!

Tetapi, apakah pengaruh ini hanya terbatas pada sel-sel? Jelas bahwa suara dapat memengaruhi segala sesuatu di sekitar kita. Inilah yang dibuktikan Masaru Emoto, ilmuwan Jepang, dalam eksperimennya terhadap air. Ia menemukan bahwa medan elektromagnetik pada molekul-molekul air itu sangat terpengaruh oleh suara, dan ada suara-suara tertentu yang memengaruhi molekul dan membuatnya lebih teratur.

Apabila kita mengingat bahwa 70% tubuh manusia itu adalah air, maka suara yang didengar manusia itu memengaruhi keteraturan molekul-molekul air pada sel-sel tubuh, dan juga memengaruhi molekul-molekul itu bergetar, sehingga dapat memengaruhi kesehatannya.

Para peneliti lain mengonfirmasi bahwa suara manusia dapat mengobati banyak macam penyakit termasuk kanker. Para terapis juga menyetujui bahwa ada suara-suara tertentu yang lebih efektif dan memiliki kekuatan penyembuh, khususnya dalam meningkatkan sistem kekebatan tubuh.

Gambar: bentuk molekul air berubah ketika dihadapkan pada suara. Jadi, suara itu berpengaruh sangat besar terhadap air yang kita minum. Apabila Anda membacakan al-Qur’an pada air, maka karakteristiknya akan berubah dan air itu akan mentransfer efek-efek al-Qur’an itu kepada setiap sel dalam tubuh, sehingga mengakibatkannya sembuh. Dalam gambar kita melihat molekul air yang didinginkan. Medan elektromagnetik di sekitar molekul ini berubah secara kontinu disebabkan efek suara.

Bagaimana al-Qur’an mengobati?

Sekarang, mari kita jawab pertanyaan penting: apa yang terjadi pada sel-sel tubuh dan bagaimana suara itu bisa mengobati? Bagaimana suara ini berpengaruh pada sel-sel yang rusak dan mengembalikan keseimbangannya? Dengan kata lain, bagaimana mekanisme pengobatannya?

Para dokter selalu mencari jalan untuk menghancurkan beberapa virus. Apabila kita berbicara tentang mekanisme virus ini, apa yang membuatnya bergerak dan menemukan jalannya kepada sel? Siapa yang memberi virus itu informasi sehingga bisa menyerang sel dan berkembang biak di dalamnya? Apa yang menggerakkan sel-sel untuk menyerang virus agar menghancurkannya, sementara ia lemah terhadap virus lain?

Gambar: Virus dan kuman juga bergetar dan sangat terpengaruh oleh vibrasi suara, khususnya suara bacaan al-Qur’an. Suara al-Qur’an dapat menghentikan mereka, dan pada waktu yang sama meningkatkan aktivitas sel-sel sehat dan membangkitkan program yang terkacaukan di dalamnya agar siap bertempur melawan virus dan kuman.

Bacaan al-Qur’an itu terdiri dari sekumpulan frekuensi yang sampai ke telinga, lalu bergerak ke sel-sel otak, dan memengaruhinya melalui medan elektronik, lalu frekuensi-frekuensi tersebut mengaktifkan sel-sel. Sel-sel akan merespon medan itu dan memodifikasi vibrasi-vibrasinya. Perubahan pada vibrasi inilah yang kita rasakan dan pahami sesudah mengalami dan mengulangi.

Ini merupakan sistem alamiah yang diberikan Allah pada sel-sel otak. Ini merupakan sistem keseimbangan yang natural. Inilah yang difirmankan Allah kepada kita di dalam al-Qur’an al-Karim, ‘Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ (ar-Rum: 30).

Gambar: Gambaran riil sel darah yang dihadapkan pada suara sehingga medan elektromagnetik di sekitarnya berubah. Suara bacaan al-Qur’an membuat sel menjadi lebih kuat untuk melawan virus dan kerusakan akibat penyakit menular.

Ayat-Ayat Obat

Setiap ayat dalam al-Qur’an memiliki daya penyembuh untuk penyakit tertentu. Tetapi yang ditekankan Rasulullah saw adalah beberapa surat dan ayat tertentu, seperti membaca al-Fatihah 7 kali, membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir surat surat al-Baqarah, dan tiga surat terakhir al-Qur’an.

Anda juga memilih ayat-ayat yang sesuai untuk mengobati penyakit Anda. Sebagai contoh, jika anda merasa gelisah, maka fokuskan pada bacaan surat asy-Syarh. Dan jika Anda sakit kepala, maka bacalah ayat: ‘alau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.’ (al-Hasyr: 21)

Nabi saw membaca ta’awudz ratusan kali setiap hari. Beliau memohon kepada Allah untuk melindunginya dari berbagai hal buruk, termasuk penyakit. Kita juga sangat dianjurkan untuk membaca surat al-Falaq dan an-Nas setiap hari. Semoga Allah menjadikan al-Qur’an sebagai obat bagi kita dari setiap penyakit, lahir dan batin.

Diambil dari:

http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/energi-penyembuh-dalam-al-qur-an-antara-sain-dan-keyakinan-2.htm

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON–Hasil survei terbaru dari Faith Matters menyatakan penyebaran Islam di Inggris lebih cepat ketimbang di negara Eropa lainnya. Per tahun, diperkirakan ada sekitar 5.000 mualaf baru di Inggris, sementara di Jerman dan Prancis jumlah mualaf per tahunnya sekitar 4.000 orang.

Peneliti dari Faith Matters menyurvei tiap masjid yang ada di London. Hasilnya, untuk Kota London saja, selama 2010 ada 1.400 mualaf baru. Ini belum termasuk data dari kota-kota di seluruh Inggris Raya.

Direktur Faith Matters, Fiyaz Mughal, mengatakan maraknya Islam di Inggris dipicu karena tingginya sorotan publik atas umat Muslim. “Warga ingin tahu apa sebenarnya Islam. Dan ketika mereka sudah tahu, sebagian kecil ada yang menjadi mualaf. Mereka menemukan kedamaian dalam Islam,” katanya.

Simak pernyataan Hana Tajima (23 tahun) yang bekerja sebagai perancang busana. “Awalnya aku memiliki beberapa teman Muslim saat kuliah. Saat itu aneh saja. Mereka jarang keluar malam, ke klub atau nongkrong,” katanya.

“Dan ketika aku mengambil mata kuliah filsafat, aku mulai bingung dengan makna hidupku. Padahal saat itu aku cukup terkenal di kampus. Aku sudah merasa cukup. Tapi aku bertanya, betulkah ini kehidupan yang aku inginkan?” kata Tajima, panjang lebar.

“Lalu aku membaca literatur tentang Islam dan perempuan. Anehnya, ternyata mereka sangat relevan. Semakin banyak aku membaca, semakin yakin aku terhadap Islam,” katanya.

Lain lagi dengan pengalaman Denise Horsley (26) yang bekerja sebagai guru menari. Ia kenal Islam lewat pacarnya. “Saat itu banyak orang bertanya apakah aku menjadi mualaf karena pacaran? Aku jawab tidak! Aku menemukan Islam. Aku tumbuh sebagai penganut Kristen,” katanya.

Horsley kini mengenakan jilbab. Ia mengatakan, jilbab adalah konsep penting dalam Islam. “Kerudung ini bukan sekedar pakaian atau tren. Mengenakan jilbab justru menyatakan kejujuran atas diri sendiri dan apa yang akan kau lakukan,” katanya.

“Sebenarnya sih, aku masih orang yang sama dengan yang sebelumnya. Cuma aku tidak minum-minuman keras, makan babi, dan sekarang aku shalat lima kali sehari,” katanya.

Pengalaman Dawud Beale (23) lebih unik. Sebelumnya, ia adalah pemuda rasis yang menyepelekan Islam. “Lalu aku berlibur ke Maroko. Di situ pertama kali aku berkenalan dengan Islam. Aku akui sebelumnya aku penganut rasis. Tapi sepekan usai pulang dari Maroko, aku memutuskan memeluk Islam,” katanya.

Beale bermukim di Somerset. Ketika ia baru-baru menjadi mualaf, sangat sukar menemukan masjid di Somerset, yang memang tidak ada. Ia lalu bertemu dengan rekan-rekan dari Hizb-ut Tahrir, gerakan politik Islam. “Ternyata banyak yang media barat katakan tentang Islam salah,” katanya.

“Aku yakin sudah menemukan jalan hidup yang tepat dalam Islam,” katanya lagi.

Sementara Paul Martin (27) mengatakan ia menikmati gaya hidup sebagai muslim. “Awalnya aku berkenalan dengan Islam setelah mengamati gaya hidup teman-teman Muslim. Mereka tampak menikmati betul hidup, tidak merusak tubuhnya. Setelah itu, aku mendalami Alquran,” katanya.

Seorang teman Martin lantas mengenalkannya ke seorang tokoh Islam yang berprofesi sebagai dokter. Martin banyak berkonsultasi tentang Islam dengannya. Mereka mengobrolkan Islam di kafe. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat saya di kafe,” kata Martin. “Saya tahu banyak yang mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid, tapi bagi saya, Islam bukan sekedar tempat di mana kau percaya pada Allah SWT. Islam adalah tempat di hatimu,” katanya.

Redaktur: Stevy Maradona

Sumber: Telegraph

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/01/04/156298-kisah-empat-remaja-inggris-menemukan-kehidupan-dalam-islam