Feeds:
Posts
Comments

Tepat dua belas tahun yang lalu, saya dan ke tiga anak kami ikut mendampingi suami tugas di Paris, Perancis. Si sulung ketika itu berusia 14 tahun, yang kedua 11 tahun dan si bontot, satu-satunya anak perempuan kami, berusia 6 tahun. Mereka bersekolah di sekolah international Perancis.

Secara umum, setidaknya dalam pandangan kami ketika itu, ketiganya tidak mengalami masalah serius baik dalam masalah pelajaran di sekolah maupun pergaulan.

Namun memasuki tahun ke tiga, ketika si sulung memasuki usia 17 tahun, saya perhatikan bahwa ada kegelisahan dalam dirinya. Selama ini, hampir setiap hari libur, bila tidak acara keluarga, ia sering ‘hang out’ bersama teman-teman sekolahnya. Ia mempunyai 2 sahabat, yang satu orang Austria, yang satu lagi, campuran Amerika -Perancis. Kami sekeluarga mengenal baik keduanya. Beberapa kali mereka sempat makan bersama kami di rumah.

Hingga suatu hari libur,  anak kami tersebut tidak mau ke luar rumah. “ G jalan sama Philip n Jonas, mas? Tumben …”, tanya saya. “ G ah, males”, jawabnya pendek.

Tetapi beberapa lama kemudian, terdengar ia berbicara sendiri, dengan nada jengkel « Sebel .. enak banget temen-temen pada jalan .. « .

Lhoh, kaget juga saya mendengar keluhan tersebut.

Ibu kan g ngelarang mas pergi, kalau mas pingin jalan-jalan, ya jalan aja  .. yang penting ati-ati jaga diri ”.

“Nah itu dia .. Nggi sebel .. sekarang mereka pada suka ke bar, minum bir .. masak Nggi cuma minum jus ? kan g lucu ..”, lanjutnya lagi, kesal.

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.(QS.Al-Maidah(5):91).

Astaghfirullahaladzim .. Rupanya itulah masalahnya.

Puji syukur hanya pada-Mu, Ya Allah  .. Karena tahun ajaran berikutnya, ketika saya dan suami, meski dengan berat hati, mengusulkan anak sulung kami tersebut untuk melanjutkan SMA nya di tanah air, ia mau menerima usulan tersebut.

“Enak banget sekolah di sini, lagi jalan rame-rame, kalo waktunya shalat pada saling ngingetin”, begitu komentarnya ketika beberapa bulan kemudian saya tanyakan bagaimana keadaannya. Alhamdulillah, lega nian hati ini. Meski berat berpisah dengannya namun yakin ini pasti lebih baik dari pada tetap bersama kami tapi pergaulannya beresiko tinggi.

Pengalaman 9 tahun silam ini ternyata terulang lagi tahun yang lalu. Bedanya, kali ini menimpa si  bontot.  Pada tahun 2009 suami kembali mendapat tugas ke Perancis. Namun kali ini ke Pau, kota kecil di Perancis Selatan, beberapa puluh kilometer dari perbatasan Spanyol. Dan hanya si bontot yang turut bersama kami.  Kedua kakaknya tidak ikut karena si sulung sedang menyelesaikan program S2nya di Australia, sementara si tengah juga sudah kuliah di perguruan tinggi negri  di Jakarta.

Karena sekolah international di kota kecil ini relatif masih baru, hingga belum membuka kelas untuk murid seusia anak perempuan kami, akhirnya ia kami masukkan ke sekolah lokal terbaik yang disarankan perusahaan. Sayangnya, sekolah tersebut ternyata sekolah kristen,  yang bahkan kepala sekolahnyapun seorang pendeta.

Setelah bertahan satu tahun dengan segala ke-tidak-nyaman-annya, termasuk program sekolah dengan pengantar bahasa Perancis yang sangat complicated tata bahasanya itu, berkat usaha gigih suami untuk dipindahkan ke kantor pusat, akhirnya kamipun pindah ke Paris. Tentu saja atas izin Allah swt. Meski sebenarnya beberapa kenalan Perancis suami mengingatkan bahwa pergaulan remaja di ibu kota akan lebih menyulitkan anak dari pada di Pau.

Singkat cerita, masuklah ia ke sekolah bertaraf international, sekolah yang sama dengan kakak-kakaknya dulu. Tahun pertama berjalan relatif lancar. Namun tahun berikutnya, ketika putri kami memasuki usia 17 tahun, timbullah masalah yang sama yang dihadapi putra sulung kami sembilan tahun lalu.

« Aduh bu, Dilla dipaksa-paksa untuk trima botol minuman alkohol yang disodorin temen-temen. Yaudah, akhirnya Dilla trima aja .. tapi trus dilla kasihin lagi ke temen lain”, begitu critanya seru, sepulang sekolah pada hari ulang tahunnya ke 17.

Hari-hari berikutnya, anak gadis kami tersebut mulai sering mengadukan hal-hal yang tidak disukainya. Ajakan teman-temannya untuk bermalam minggu di diskotek, merokok dll. Bahkan sahabatnya, seorang gadis Korea yang jago dance itu, mulai dikeluhkannya. Menurutnya, hobby dance sahabatnya itu agak tersendat karena rasa sungkannya terhadap dirinya. Ini membuatnya sedikit merasa tidak nyaman.

Pengalaman yang cukup menarik. Ibu Noa, begitu nama sahabatnya itu, tidak suka cara pergaulan barat. Ia adalah penganut Kristen yang taat, yang setiap Minggu selalu ke gereja. Noa bercerita, tahun lalu ia merayakan ulang tahunnya di gereja bersama keluarga. Sementara anak saya sendiri juga termasuk anak yang taat menjalankan agama. Biasanya Noa inilah yang melindungi anak saya ketika ia harus shalat secara diam-diam di sekolah. Harap maklum, di sekolah ada peraturan untuk tidak memperlihatkan keagamaan seseorang termasuk shalat ini. Sekuler atau dalam bahasa Perancis, laicite yaitu memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan keberagamaan adalah alasannya.

Inilah salah satu penyebab mengapa ibu Noa begitu menyayangi Dilla, putri kami. Ia berharap dengan landasan keagamaan yang kuat, pertemanan putrinya dengan putri kami, dapat menjauhkan putrinya itu dari pergaulan bebas remaja yang tidak disukainya. Termasuk dance itu tadi. Oleh karenanya dapat dibayangkan, betapa marah dan kecewanya sang ibu melihat penampilan dance putrinya yang begitu wow di acara sekolah yang dihadiri orang tua murid. Rupanya secara diam-diam Noa tetap melatih bakat tarinya.

“Dilla jadi g enak deh bu .. Kayaknya ibunya Noa ikut marah sama Dilla”, keluhnya sepulang acara tersebut.

Hingga akhirnya datanglah suatu hari yang saya khawatirkan. Anak gadis kami mulai berpikir untuk melanjutkan sekolah di tanah air saja tanpa harus menunggu kami, orang tuanya, selesai tugas.

“ Nanti kalau Dilla kebawa temen-temen gimana .. emang ayah ibu mau .. “, tantangnya setengah bercanda.

Sebenarnya kami ingin ia sabar menghadapi tantangan tersebut. Namun sebagai orang tua, kami juga memahami jiwa mudanya yang suka mencoba-coba. Ini yang kami khawatirkan. Kalau yang bersangkutan saja sudah ragu apalagi kami. Ia juga menambahkan betapa parahnya pacaran di lingkungan sekolahnya. Berpelukan, berpangku-pangkuan dan berciuman di sekolah bahkan di depan gurupun, bagi mereka bukan masalah !

“Pokoknya ngga banget deh bu .. risih lihatnya juga “, begitu ia berkomentar. Bergidik rasanya bulu kuduk ini.

Saya pikir, biar sampai berbusa mulut ini mengingatkan bahwa berpacaran itu tidak ada dalam kamus Islam, tapi bila realita yang dihadapinya tidak mendukung, bagaimana mampu ia menghadapinya?

Tiba-tiba saya teringat cerita salah satu adik saya yang pernah lama tinggal di Jerman dan Belanda. Ia bercerita bahwa di Belanda, perbuatan zina di depan umum adalah hal biasa. Ia pernah, secara tidak sengaja, dengan mata kepala sendiri menyaksikan sepasang manusia, kalau masih bisa dikatakan manusia, melakukan adegan seks di taman, di saksikan dan ditepuki sejumlah penonton !! . “ Mau muntah mb aku rasanya. “

“ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.(QS.Al-Isra(17):32)

Selain ayat diatas saya juga menasehati apa dampak negatifnya pacaran. Diantaranya yaitu, tidak sucinya lagi hati kita bagi pasangan yang ditakdirkan Allah swt bagi kita kelak. Berpacaran, ibaratnya adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Berarti sama dengan mencuri, yang hukumnya jelas, haram.

Berpacaran dengan seseorang yang di kemudian hari ternyata bukan jodoh kita, juga bisa berpotensi menjadi duri berbahaya dalam perkawinan kelak. Masalahnya kita tidak pernah tahu siapakah jodoh kita nanti. Belum lagi bila pacaran sampai harus berdua-dua-an di tempat sepi.

Singkat cerita, akhirnya kami terpaksa merelakan si bontot pulang ke tanah air. « Tenang aja bu, di sini gampang mau shalat .. hampir semua temen sekolah shalat, di sekolah ada masjid, di mall-mall juga ada musholla .. », persis komentar si sulung beberapa tahun lalu.

Hati saya lebih tenang lagi, ketika suatu hari suami bercerita bahwa ia mendengar kabar bahwa pemerintah Perancis belakangan ini menggalakkan sekolah agar membagi-bagikan kondom secara gratis kepada lyceen, bahasa Perancis untuk murid SMA ! Na’udzubillah min dzalik … Untung anak kami sudah tidak bersekolah lagi di kota penuh kemaksiatan ini  … Hiii …

Pertanyaannya, dimana lalu perbedaan manusia sebagai mahluk yang tertinggi derajatnya karena diberi-Nya akal agar mampu mengendalikan nafsunya dengan, maaf, binatang yang bergerak hanya berdasarkan nafsu belaka  … Astaghfirulllah hal adzim …

Semakin jelas bahwa musuh orang beriman itu adalah hisbusyaitan  alias bisikan syaitan, iblis dengan pasukannya yang terdiri atas jin dan manusia jahat, yang suka berbuat kerusakan, yang tidak mau tunduk pada perintah Sang Pencipta dan cenderung selalu melawan nilai-nilai umum kebaikan  …

Harapan saya, semoga Allah swt memberi kami kesabaran dalam menjalani cobaan ini. Kekuatan kepada putri ABG kami dalam menghadapi kehidupannya tanpa kedua orang-tuanya meski di negri sendiri. Karena meski mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, bisikan syaitan itu tetap dasyat.

“Kapan nih Dilla mau pake jilbab”, pertanyaan yang sering saya lontarkan dan mungkin merupakan pertanyaan yang paling membuatnya BT alias Butuh Teman, istilah remaja untuk menunjukkan perasaan sebal mereka.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang“.(QS. Al-Ahzab(33):59).

“ G jaminan lho bu, anak yang pake jilbab itu g pacaran”, jawabnya sedikit sinis, tahu persis arah pembicaraan saya.

“Tapi tenang aja bu, Dilla ngerti koq .. insya Allah suatu hari nanti pake, tapi g sekarang, Dilla belum siap bu“, tambahnya buru-buru sambil tersenyum, berusaha meredakan kekhawatiran ibunya.

“Amiin, asal masih dikasih  umur aja de“, jawab saya’penuh arti, berharap Allah swt menyelipkan rasa takut pada hatinya hingga ia mau bersegera melaksanakan niat baiknya itu.

Oiya bu, mas Ian pernah bilang, kebanyakan laki-laki itu bangsat, betul g sih?”, tanyanya, polos.

Ups, kaget saya. Saya memang pernah meminta tolong kakaknya agar menasehati satu-satunya adik perempuannya itu untuk tidak berpacaran. Namun tentu saja saya tidak pernah menyuruhnya berkata  demikian.

Pernah suatu hari, ketika sedang menonton TV, anak lelaki kedua saya tersebut berkomentar: “Woi, pahe tuh”. “Ya jangan dipelototin dong mas“, nasehat saya. “Siapa suruh di buka-buka kayak gitu”, katanya lagi sambil membuang muka, jengah.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“.(QS.An-Nuur(24):30).

Menurut adik saya, yang kebetulan menjadi guru sebuah SMP Islam di Tangerang, sebagian muridnya berpacaran meski mereka berjilbab. Sulit melarang anak-anak untuk menjauhi hal yang satu ini. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari, anak-anak disuguhi acara TV yang merupakan hiburan utama keluarga dengan film dan sinetron percintaan remaja,  lagu lengkap dengan klip videonya yang seronok. Belum lagi toko-toko buku yang rak-raknya selalu dipenuhi oleh novel-novel percintaan remaja.

Ya Allah, berilah kesadaran bagi pemimpin negri ini agar mau bertanggung-jawab terhadap perkembangan mental para remaja yang merupakan generasi penerus bangsa.

Akhir kata, kalau boleh saya mengambil kesimpulan, usia remaja, khususnya 17 tahun, adalah benar-benar usia yang sangat rawan, terutama bagi mereka yang tinggal di barat, paling tidak di Perancis ini. Oleh karenanya, secara pribadi, saya berani katakan jangan mengirim anak kita untuk mengambil S1 di barat, tanpa pengawasan orang-tua, apalagi bila keimanan masih tipis.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 13 Maret 2012.

Vien AM.

Advertisements

Dalam “Arriyadh Annadhirah Fi Manaqibil Asyarah“ tertulis, dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At-Taubah(9):100).

Itulah janji Sang Khalik terhadap para sahabat yang selama hidup sejak mereka memeluk Islam hingga akhir hayat senantiasa membela Rasulullah dengan taruhan seluruh jiwa raga, mengorbankan harta dan rela berperang demi menegakkan ajaran Islam. Sebuah ganjaran yang amat pantas. Sebaliknya, sungguh tak pantas bila kemudian ada orang yang meragukan keimanan para sahabat tersebut.

Namun nyatanya itulah yang terjadi. Sejumlah sahabat dekat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra difitnah telah murtad tak lama setelah Rasulullah wafat. Khalifah ke 3, Ustman bin Affan ra bahkan dianggap telah memanipulasi dan merekayasa isi ayat-ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan beliau dan kelompoknya, yaitu suku Quraisy. Sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Lupakah mereka bahwa justru orang-orang Quraisy, penentang terbesar Rasulullah pada masa awal keislaman, inilah penyebab hijrahnya kaum Muhajirin ? Dan bukankah Allah swt sendiri yang menjamin pemeliharaan kitab suci umat Islam ini?

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. AL Hijr (15):9).

Ironisnya, penyebar fitnah tersebut adalah orang-orang yang mengaku Islam !

Adalah kaum Khawarij, mereka adalah kaum yang pertama kali tercatat sebagai penyebar fitnah dalam tubuh Islam. Mereka adalah kaum yang memberontak terhadap pemerintahan Ustman bin Affan ra hingga menyebabkan terbunuhnya sang khalifah. Kaum yang mulanya membela kubu Ali bin Thalib ra, pengganti khalifah terbunuh, akhirnyapun membelot.  Mereka mulai mengkafirkan Ali dan sahabat-sahabat lain.

Parahnya lagi, hingga detik ini, fitnah keji tersebut  dipercaya dan diterima oleh sejumlah kelompok yang juga mengaku Islam. Diantaranya yaitu cendekiawan Muslim yang belajar dan menimba ilmu keagamaan Islam di Barat. Barat yang notabene Kristen dan memandang Islam sebagai ancaman, melihat jelas perpecahan di dalam tubuh Islam ini. Alhasil, dengan cepat merekapun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan terus mengipasi umat Islam.

Kata “kritis” adalah kunci dasar pemikiran Barat. Maka dengan penuh percaya diri, para “cendekiawan” yang menamakan kelompoknya sebagai kelompok pembaharu itu, mulai nekad meng-“kritis”-i ( baca meragukan) ayat-ayat suci Al-Quranul Karim. JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah hanya satu diantara beberapa kelompok yang memiliki paham sesat tersebut.

Sementara kelompok Syiah, aliran Islam tertua yang berkembang pesat di Iran dan memiliki banyak pengikut di negri para mullah ini, terang-terangan mengajarkan ritual untuk mengutuk dan menghujat para sahabat. Bahkan dua istri Rasulullah, ibu umat Islam, yaitu Aisyah ra, putri Abu Bakar ra dan Hafsah ra, putri Umar bin Khattab,  tak luput pula dari fitnah keji yang mereka lemparkan. Yaitu, selain sebagai pelacur, na’udzubillah min dzalik, juga dituduh sebagai penyebab wafatnya Rasulullah saw, yaitu dengan cara meracuni Rasulullah !

( Untuk catatan, Syiah masuk kedalam kelompok aliran sesat diantaranya karena memiliki beberapa kitab suci disamping Al-Quran, diantaranya yaitu mushab Fatimah. Kitab ini, menurut mereka, berisikan firman Allah swt yang khusus  diturunkan kepada Fatimah ra, putri Rasulullah dan ditulis oleh Ali bin Abu Thalib ra, menantu Rasulullah.)

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka…. “.(QS.Al-Ahzab(33):6).

« Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.(QS.Al-Ahzab(33) :57).

Bila Rasulullah saw masih ada, tak dapat dibayangkan betapa akan sakit hatinya beliau mendengar fitnah yang menimpa orang-orang yang beliau sayangi tersebut.

Adanya ritual keji ini diakui sendiri oleh pengikut Syiah yang tampaknya masih mempunyai hati nurani. Karena betapapun buruknya sebuah ajaran, mengutuk dan menghujat sesama manusia bukanlah hal yang terpuji. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan hal seperti itu.

Penyebab awal kebencian Syiah, sejatinya adalah tentang hak kepemimpinan. Menurut kelompok ini hanya garis keturunan Husein bin Ali bin Thalib sebagai cucu Rasulullah saw, yang berhak meneruskan kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah. Itu sebabnya mereka tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab maupun Ustman bin Affan. Dengan teganya, Abu Lu’lua, yang membunuh Umar ketika khalifah ke dua ini sedang shalat Subuh, bahkan mereka elu-elukan sebagai pahlawan. Selanjutnya, hadits-hadits yang bukan berasal dari Ali bin Abu Thalib dan dianggap tidak memihak kepentingan mereka, tidak mereka jadikan pegangan.

Keyakinan tersebut berdasarkan keyakinan kepada apa yang dikatakan Rasulullah pada suatu hari yang kelak mereka namakan Idul Ghadir, yang mereka rayakan setiap tahun, tak terkecuali di Republik tercinta ini. Ketika itu mereka mendengar bahwa Rasulullah telah menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai pengganti Rasulullah bila wafat nanti. Peristiwa itu terjadi pada perjalanan pulang Rasulullah dari Haji Wa’da dimana berkumpul ratusan ribu kaum Muslimin dari segala penjuru.  Kalau memang Rasulullah menghendaki Ali sebagai pengganti beliau saw, tentu akan beliau ungkapkan pada Haji Wa’da bukan sepulangnya, ketika sebagian besar kaum Muslimin telah berpencar pulang ke rumah masing-masing.

Ucapan Rasulullah itu sejatinya ditujukan untuk pasukan Ali ra yang tidak mau menuruti perintah menantu Rasulullah tersebut. Ketika itu Ali mengadu kepada Rasulullah bahwa pasukannya itu tidak mau mentaati Ali yang saat itu sedang menjalankan amanat Rasulullah di negri Yaman.

https://www.youtube.com/watch?v=pghJsKrFeNc

Apapun pendapat kelompok-kelompok yang membenci para sahabat, yang notabene adalah orang-orang Muhajirin dan Anshar, Allah telah ridho terhadap mereka dan telah memaafkan segala kesalahan mereka, yang tentu saja sangat manusiawi.

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, “(QS.At-Taubah(9):117).

Menjadi catatan penting, menghujat apalagi meng-kafirkan para sahabat yang terbukti mendapat ampunan dan pujian dari Allah swt adalah bukan hal sepele. Ini adalah awal bencana. Karena para sahabat adalah saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quran kepada Rasulullah. Merekalah yang mengetahui kapan, bagaimana Rasulullah dan masyarakat menanggapi ayat-ayat tersebut.

Jangan lupa, ayat-ayat Al-Quran turun dalam bentuk lisan bukan tulisan seperti yang kita saksikan sekarang ini. Urutan turunnyapun tidak sama dengan apa yang kita baca hari ini. Para sahabatlah yang menuliskan ayat-ayat tersebut, dengan urutan sesuai petunjuk Rasulullah saw. Dengan kata lain, menghujat dan mengkafirkan para sahabat bisa beresiko pada hilangnya kepercayaan terhadap ayat-ayat  suci itu sendiri.

Sejarah mencatat, betapa tingginya keimanan para sahabat. Abu Bakar adalah seorang yang dikenal sangat jujur. Ia telah menjadi sahabat Rasulullah jauh sebelum kerasulan. Ia termasuk orang yang pertama memeluk Islam. Ia tidak pernah meragukan apapun yang dikatakan sahabatnya itu. Itu sebabnya ia mendapat julukan Ash-shiddiq. ( yang selalu membenarkan). Tak heran bila Rasulullah suatu ketika pernah mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling beliau cintai. Ini pula yang menjadi salah satu sebab mengapa Rasulullah menikahi putrinya, Aisyah ra. Allah swt mengabadikan ketinggian keimanan Abu Bakar ra yang pernah memerdekakan 7 budak agar mereka dapat mengenal Islam dengan ayat-ayat berikut:

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (QS.Al-Lail(92):17-21).

Sementara dengan Umar bin Khattab ra, sebelum memeluk Islam, Rasulullah pernah bersabda:

Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.

Allah swt juga beberapa kali menurunkan ayat-ayat Al-Quran berkenaan dengan sikap Umar. . Diantaranya adalah ayat 67 surat Al-anfal. Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah meminta pendapat para sahabat tentang apa yang harus diperbuat terhadap tawanan perang Badar. Abu Bakar berpendapat bahwa sebaiknya tawanan dibebaskan dengan tebusan. Sementara Umar berpendapat sebaiknya mereka dibunuh. Awalnya Rasulullah setuju dengan Abu Bakar. Namun ternyata kemudian turun ayat 67 diatas yang isinya sesuai dengan anjuran Umar.

Namun demikian ini bukan berarti bahwa Umar adalah seorang yang sadis. Suatu ketika pada masa Umar menjadi khalifah, beliau pernah berujar : “Janganlah kamu mengira sifat kerasku tetap bercokol. Sejak awal ketika aku bersama Rasulullah saw, aku selalu menjaga keamanan dan ketentraman negri ( mentri dalam negri). Di masa Abu Bakarpun tetap demikian. Tetapi kini setelah urusan diserahkan kepadaku, akulah orang yang paling lemah dihadapan yang haq”.

Ini dibuktikannya dengan berbagai tindakannya yang sangat berpihak kepada rakyat kecil. Diantaranya yaitu dengan menyamar sebagai orang biasa dan berkeliling melihat keadaan rakyatnya.

Abbas ra berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku memiliki dua penasehat dari ahli langit dan dua penasehat dari ahli bumi. Yang dari langit ialah malaikat Jibril dan Mikail sedangkan yang dari bumi adalah Abu Bakar dan Umar. Merekalah pendengaran dan penglihatanku”. (HR. Alhaakim, Ibnu Asaakir dan Abu Na’ím dalam Fadhailus Sohabah).

Selanjutnya adalah Ustman bin Affan ra, sahabat sekaligus menantu Rasulullah yang di kemudian hari menjadi khalfah ke 3 dan mendapat julukan  Dzunnur’ain (seorang. yang memiliki dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah.  Ustman menikahi Ruqayah, putri ke 2 Rasulullah sebelum datangnya Islam. Kemudian setelah istrinya tercinta ini wafat, Rasulullah menikahkan beliau dengan adik Ruqayah yaitu Ummu Kaltsum.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa ?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya ?”

Ustman adalah seorang kaya raya namun amat dermawan. Suatu ketika di Madinah, kaum Muslimin sedang menghadapi kesulitan air. Sebenarnya ada sebuah sumur yang diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut. Namun  air sumur milik Yahudi tersebut diperjual belikan padahal kaum Muslimin tidak cukup memiliki uang. Maka datanglah Ustman membeli sumur tersebut dengan harga 20 ribu dirham, harga yang sangat tinggi. Hebatnya, sumur tersebut diberikan airnya kepada kaum Muslimin secara cuma-cuma.

Selain Ustman, sahabat kaya raya yang juga dikenal banyak menginfakkan hartanya untuk membantu saudara-saudaranya yang kesusahan adalah Abdul Rahman bin Auf. Juga Arqam bin Abi Arqam yang merelakan rumahnya dijadikan pusat dakwah Rasulullah. Rasulullah saw memuji Amr bin Ash dengan sabdanya: “Manusia sekedar masuk Islam, tapi Amr Bin Ash masuk Islam dengan iman”. (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Tirmidzi).

Akan halnya Ali bin Abu Thalib, tak satupun orang meragukan ketakwaan menantu Rasulullah yang sejak kecil telah menjadi bagian dari keluarga Rasulullah saw ini. Ali ditunjuk Rasulullah untuk tidur di atas tempat tidur beliau ketika orang-orang Quraisy bersekongkol membunuh Rasulullah. Dan Ali rela melakukan tugas mulia tersebut.

Dalam perang Khandaq, dengan agak memaksa Ali memohon agar Rasulullah mengizinkan beliau melayani tantangan Amru bin Wudd, seorang pimpinan pasukan berkuda Quraisy yang dikenal sangat kuat dan gagah perkasa.

“”Aku mengajak kamu ke jalan Allah, ke jalan Rasulullah dan kepada Islam“, seru Ali .

“Aku tidak memerlukan itu semua“, jawab Amru congkak.

“Kalau begitu, aku mengajak kamu bertempur“, tanggap Ali lagi.

“Mengapa hai anak saudaraku, demi berhala Allata aku tidak ingin membunuhmu“, jawab Amru lagi.

“Tapi demi Allah, aku ingin membunuhmu“, tantang Ali lantang.

Akhirnya terjadilah pertempuran yang mengakibatkan jatuhnya Amru dan usailah perang dimana Madinah bertahan dengan sistim paritnya yang diprakasai Salman Alfaritsi itu.

Dari pihak Anshar juga tak kalah hebatnya. Ada seorang rabbi di Madinah  yang cerdik-pandai, yaitu Abdullah bin Sallam. Setelah berkonsultasi dengan Rasulullah  iapun lalu memeluk Islam dan mengajak pula keluarganya untuk mengikuti jejaknya. Lalu merekapun bersama-sama mengikuti cahaya Islam. Sementara pada suatu peristiwa penting, yang dikenal dengan nama Baitur Ridwan ( perjanjian di bawah pohon),  para sahabat Anshar membuktikan ketakwaan mereka .

( Tentang baitur Ridwan, click :

http://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/  )

“ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”(QS.Al-Fath(48):18).

 “ Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS.An-Nisa (4): 69-70).

Menurut Masruq, kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan para sahabat yang suatu ketika berkata kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, kami tidak mau berpisah denganmu. Sesungguhnya jika engkau mendahului kami, engkau pasti akan mendapatkan tempat yang lebih tinggi bersama para nabi lain sehingga kami tidak akan dapat melihatmu”. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Sungguh orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar adalah orang-orang yang dikasihi Allah swt dan patut menjadi panutan.

Wallahua’lam bish shawwab.

Paris, 8 Maret 2012.

Vien AM.

Islam memang sebuah ajaran yang unik. Ajaran yang disampaikan kepada Rasulullah saw sebagai nabi penutup, melalui malaikat Jibril as, ini mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang tempat bekerja, beribadah berbuat kebaikan demi mengumpulkan bekal akhirat nanti. Karena akhirat adalah tujuan, yang ujungnya hanya 2 : surga atau neraka. Itu sebabnya, ketika lingkungan tidak memungkinkan kita untuk beribadah, bekerja dan menjalani hidup tenang dibawah aturan yang dikehendaki-Nya maka hijrah adalah solusinya.

Mekah dan Madinah meski sama-sama berada di tanah Saudi dengan jarak sekitar 450 km adalah dua kota yang benar-benar berbeda. Mekah adalah kota yang sangat gersang dan panas. Sebagian besar penduduknya hidup dari berdagang. Sedangkan Madinah adalah kota yang tanahnya subur dan relative lebih dingin dibanding Mekah. Mayoritas penduduknya hidup sebagai petani.

Tentu saja perbedaan kebiasaan ini menimbulkan permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik secara ekonomi, sosial kemasyarakatan maupun kesehatan. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Pada saat yang sama mereka juga harus mencari penghidupan, padahal mereka  tidak memiliki modal. Namun dengan semangat persaudaraan muslim yang baru saja mereka terima semua itu dapat diatasi dengan baik.

Ketika itu Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Diantaranya Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, Umar bin Khattab dengan  Uthbah bin Malik, Utsman bin Affan dengan seorang laki-laki dari bani Zuraiq bin Sa`ad Az-Zuraqi,  Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, Hamzah bin Abdul Muthalib dengan Zaid bin Zuhair, Abdul Rahman bin Auf dengan Sa’id bin Rabi’, Zubair  dengan Ka`ab bin Malik, Abdullah bin Zaid bin Tsa`labah bin Abdi Rabbih dengan Balharits bin Al-Khazraj dll.

Bahkan antara suku Aus dan suku Khazraj, dua suku penduduk Madinah yang sejak lama selalu bermusuhan, sejak datangnya Islam tidak pernah lagi bertikai. Kecuali suatu hari orang-orang Yahudi pernah mengadu-domba mereka hingga hampir saja terjadi pertumpahan darah kalau saja Rasulullah tidak segera mengingatkan bahwa sesama muslim adalah bersaudara.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat (49):10).

Hebatnya lagi, pada awal hijrah ikatan persaudaraan tersebut berlaku hingga ke hukum waris. Namun hal ini tak lama berlangsung karena kemudian turun ayat yang menjelaskan bahwa kerabat lebih berhak mendapatkan waris dari pada yang bukan kerabat ( Muhajirin).

“ … Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)”.(QS.Al-Ahzab(33):6).

Zubair ra berkata:

“Allah Azza wa Jalla, menurunkan ayat khusus tentang kami orang-orang Muhajirin dan Anshar, QS. Al-Anfaal :75, “ … … Orang-orang yang mempunyai hubungan (kerabat) itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.( QS. Al-Anfaal(8) :75).

Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Ketika kaum Muhajirin datang ke Madinah seorang Muhajir mewarisi seorang Anshar tanpa adanya hubungan keluarga, karena Ukhuwwah yang telah dijalin oleh Nabi saw ketika turun ayat (artinya) : “Bagi tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ….“ Terhapuslah hukum tersebut.

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”(QS.An-Nisa(4):33).

Dari peristiwa diatas, satu lagi hikmah turunnya ayat-ayat Al-Quran secara bertahap dapat diambil. Karena ternyata ada beberapa ayat yang hanya berlaku pada saat tertentu. Itulah yang disebut ayat-ayat yang di-nasakh dan di-mansukh. Dan ini hanya dapat diketahui bila kita mempelajari Al-Quran bersamaan dengan mempelajari sejarah kehidupan Rasulullah saw ( sirah nabawiyah). Disinilah pentingnya kita mempelajari hadits. Karena ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari itu amatlah erat kaitannya dengan kehidupan Rasulullah. Hanya dengan cara inilah kita dapat mengetahui asal usul, kapan dan dalam keadaan bagaimana ayat diturunkan. Artinya, mempelajari Al-Quran ayat per ayat, surat per surat secara berurut layaknya mempelajari kitab biasa, secara otodidak pula, adalah hal yang benar-benar mustahil.

Riwayat juga menceritakan, betapa kebaikan orang-orang Anshar yang tanpa pamrih tersebut sempat membuat kaum Muhajirin merasa khawatir bahwa kasih sayang Allah swt akan terlimpah hanya kepada kaum Anshar.

Diriwayatkan dari Anas radiallahu`anhu, ia berkata:

“Kaum Muhajirin datang kepada Nabi saw  seraya berkata: “Wahai Rasulullah!, kami belum pernah menemui suatu kaum yang memberikan harta mereka dalam jumlah yang banyak dan berbagi rata ketika jumlahnya sedikit. Mereka telah mencukupi keperluan kami dan ikut dalam kesusahan kami, kami khawatir hanya mereka saja yang mendapatkan seluruh pahala“. Rasulullah saw bersabda:“Kalian juga mendapatkan bagian pahala, selagi kalian ber- terima kasih dengan kebajikan mereka dan mendoa`kan mereka”. (HR. Ahmad).

Disamping itu ada lagi golongan lain, yaitu golongan Ash-Shuffa (Penghuni Shuffa). Mereka adalah orang-orang Muhajirin yang benar-benar tidak mampu. Mereka adalah golongan fakir-miskin yang membutuhkan bantuan. Untuk itu keperluan mereka ini diambilkan dari harta kaum Muslimin yang mampu, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshor. Rasulullah menempatkan mereka di selasar masjid yaitu shuffa (bahagian mesjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Bagi yang pernah mengunjungi Masjid Nabawi, tempat tersebut kini berada di samping Raudhah, di bagian yang sangat indah, dimana rak-rak buku tinggi berlapis kuning keemasan menghiasi dinding-dindingnya.

Namun anehnya, kebaikan dan kekhususan ikatan persaudaraan muslim di awal keislaman yang terjalin antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar ini  harus menanggung pelecehan dan penghinaan. Ironisnya lagi, ini dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Muslim.

Menjadi catatan penting, tidak semua penduduk Madinah ketika itu, mempunyai kebaikan seperti kaum Anshor. Madinah sejak sebelum hijrahnya kaum Muslimin telah dipenuhi orang-orang Yahudi yang dikenal kaya raya. Tak heran bila pembesar-pembesar kota tersebut, meski telah memeluk Islam, tetap berhubugan baik dengan orang-orang Yahudi, meski mereka ini jelas–jelas sangat memusuhi ajaran Islam. Salah satunya yang paling mencolok adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh Munafikun Madinah yang dikenal sangat memusuhi Islam. Saking dekatnya hubungan dengan orang-orang Yahudi, ia sering mencemooh ayat-ayat yang turun kepada Rasulullah saw.

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar”.(QS.Al-Baqarah(2):101).

Orang-orang munafik tersebut selain mencela dan mempermainkan ayat-ayat-Nya juga suka mencemooh apapun yang dilakukan kaum Muslimin. Untuk itu Allah swt menurunkan sejumlah ayat diantaranya adalah ayat 74 hingga 87 surat At-Taubah. Dan puncaknya, ketika akhirnya turun perintah perang, dengan berbagai alasan mereka menolak perintah tersebut.

Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk“.”.(QS.Al-Baqarah(2):86).

Bahkan Abdullah bin Ubay melindungi orang-orang Yahudi yang jelas-jelas memusuhi kaum Muslimin dan menjadi duri yang sangat berbahaya bagi perkembangan Islam di Madinah. Tidak cukup itu. Aisyah ra, istri tercinta Rasulullahpun tak luput dari fitnah yang dimotori  olehnya. Namun Allah swt sendiri yang kemudian membela beliau, yaitu dengan turunnya ayat 11 hingga 20 surat An-Nuur yang menerangkan bahwa umirul mukminin yang dikenal banyak meriwayatkan hadits, dimana ayat-ayat suci sering turun di kamar beliau, adalah tidak bersalah. Dalam kesempatan itu, Allah swt bahkan membuka kedok tokoh Munafikun tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”.(QS.An-Nur(24):11).

Anehnya, perbuatan terkutuk tersebut tidak menjadikan orang-orang Munafik menjadi kapok. Malah dengan  wafatnya Rasulullah saw 14 abad silam, fitnah tersebut makin menjadi-jadi, hingga detik ini. Ini adalah fitnah terbesar dalam sejarah Islam. Bagaimana mungkin para sahabat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra yang selama hidup Rasulullah telah terbukti begitu setia membela Rasulullah dan ajaran Islam dapat tiba-tiba murtad begitu Rasulullah wafat? Atas alasan apa?? Padahal Allah swt sendiri telah menjamin ampunan dan surga bagi mereka  …

“ Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin), dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshar, kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.( QS. Al-Anfaal(8) :74).

Wallahuálam bish shawwab.

( Bersambung)

Paris, 2 Maret 2012.

Vien AM.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At-Taubah(9):100).

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin) , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshor kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.(QS.Al-Anfal(8):74).

Orang-orang muhajirin adalah orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah pada masa kerasulan saw 14 abad silam. Mereka adalah sahabat-sahabat sejati Rasulullah, diantaranya para cikal bakal khalifah yaitu Ustman bin Affan ra, Umar bin Khattab ra, Abu Bakar ra dan Ali bin Abu Thalib ra.

Sementara orang-orang anshar adalah penduduk Madinah yang pada masa kerasulan ridho menerima kedatangan orang-orang muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka tercinta yaitu Mekah untuk menuju Madinah. Orang-orang anshar terdiri atas 2 suku yaitu suku Aus dan suku Khazraj yang sebelum kedatangan Islam selalu bertikai. Mereka berbondong-bondong mulai memeluk Islam berkat adanya Bai’at ( sumpah setia atau ikrar) Aqabah. Bai’at inilah yang menjadi perintis jalannya hijrah.

Bai’ait Aqabah terjadi pada tahun ke duabelas kerasulan ( 621 M) . Ketika itu 12 orang dari Madinah yang waktu itu masih bernama Yatsrib datang menemui Rasul untuk bertanya tentang ajaran yang dibawa beliau.. Tak lama kemudian merekapun berbai’at kepada Sang Rasul saw bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, melaksanakan apapun yang diperintahkan dan meninggalkan apapun yang dilarang Sang Khalik, Azza wa Jalla.

Dengan suka cita Rasulullah langsung mengutus Mush’ab bin Umair dan Amr bin Ummi Maktum untuk segera pergi ke Madinah mendampingi ke 12 tamu dari Madinah tadi untuk mengajarkan Islam, termasuk membaca Al-Quran, shalat dsbnya.

Tahun berikutnya Mush’aib kembali ke Mekah dengan membawa 70 orang lelaki dan 2 orang perempuan dari Madinah. Kedua perempuan tersebut adalah Nusaibah bintu Ka’ab dan Asma’ bintu ‘Amr bin ‘Adiy. Mereka menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman mereka. Di Aqabah, tempat di antara Mekah dan Mina, tidak jauh dari jumrah Aqabah sekarang inilah terjadi perjanjian Aqabah yang disebut Aqabah ke 2. Dengan disaksikan paman Rasulullah, ‘Abbas bin ‘Abdil Muthallib yang ketika itu belum memeluk Islam, mereka bersumpah setia untuk mendukung Rasulullah saw.

Berikut isi Bai’at Aqabah 2 :
1. Untuk mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci.
2.Untuk berinfak baik dalam keadaan sempit maupun lapang.
3.Untuk beramar ma’ruf nahi munkar.
4.Agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah.
5.Agar mereka melindungi Muhammad saw sebagaimana mereka melindungi perempuan-perempuan dan anak-anak mereka sendiri.

Itu sebabnya ketika tekanan, penganiayaan dan penyiksaan orang-orang Quraisy terhadap kaum Muslimin Mekah generasi awal yang dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). makin meningkat, Rasulullah memilih Madinah sebagai tempat hijrah. Ketika itu para sahabat mulai mengeluh dan memohon kepada Rasulullah agar mereka diizinkan berhijrah, kemanapun, yang penting keluar dari Mekah, agar mereka dapat menjalankan ajaran dengan sebaik mungkin. Meski harus kehilangan sanak keluarga, harta benda serta pekerjaan di kota kelahiran mereka tercinta.

“ Sesungguhnya akupun telah diberi tahu bahwa tempat kalian adalah Yatsrib. Barangsiapa ingin keluar maka hendaklah keluar ke Yatsrib”, demikian Rasulullah menanggapi permohonan para sahabat.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS.Ali Imran(3):195).

Hijrah yang dilakukan para sahabat ke Madinah tersebut sebenarnya bukanlah hijrah pertama. Karena para sahabat sebelumnya pernah hijrah ke Habasyah ( Ethiopia). Hijrah yang terjadi pada tahun ke 5 kerasulan ini dilakukan oleh 11 lelaki dan 4 perempuan. Ustman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah, putri Rasulullah,adalah termasuk orang-orang yang hijrah pada hijrah ini.

Hijrah ke Habasyah kedua terjadi 2 tahun kemudian, yaitu pada tahun ke 7 kerasulan. Pada tahun tersebut berangkatlah rombongan dengan jumlah yang lebih besar, yaitu 101 orang. Rombongan ini terdiri dari 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Hijrah ini dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.

Rasulullah mengizinkan para sahabat hijrah hingga 2 kali ke negri ini karena mendengar bahwa raja Habasyah ketika itu yaitu Najasyi ( Negus) adalah seorang pemeluk Nasrani yang alim, yang mau melindungi orang-orang yang dalam kesulitan. Pada peristiwa tersebut raja ini dikabarkan rela memeluk Islam andai saja berkesempatan bertemu dan mendengar dakwah Rasulullah. Ini berkat surat Maryam yang dibacakan Ja’far bin Abu Thalib di hadapan sang raja. Dengan air mata haru ia mengatakan bahwa kitabnya memang menceritakan bakal datangnya seorang rasul akhir zaman yang ternyata sesuai dengan apa yang digambarkan para sahabat yang berhijrah itu.

Click : surat Maryam

http://www.dailymotion.com/video/xdejgk_sura-maryam-19-27-65-mishary-alafas_lifestyle

Pada hijrah selanjutnya yaitu ke Madinah, Abu Salamah bin ‘Abdil Asad, Mush’ab bin ‘Umair, ‘Amr bin Ummi Maktum disusul oleh Bilal bin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ammar bin Yasir, dan Umar bin Khatthab tercatat sebagai sebagian sahabat yang mula-mula berhijrah. Jumlah mereka ketika itu sekitar 20 orang. Mereka berhijrah ada yang secara diam-diam di malam hari ada yang terang-terangan di siang hari seperti yang dilakukan Umar bin Khattab.

“Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya, ingin istrinya menjadi janda atau ingin anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini ! “, tantang calon khalifah ke 2 yang dikenal amat ditakuti musuh itu sambil mengangkat pedang, busur, panah dan tongkatnya tinggi-tinggi.

Rasulullah saw dikawal Abu Bakar ra menyusul kemudian. Setelah itu menyusul pula Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lain. Sementara itu sebagian besar penduduk Madinah yang ketika itu sudah memeluk Islam, benar-benar menepati ikrar mereka. Dengan suka cita mereka menyambut dan menerima saudara-saudara baru mereka seiman.

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(QS.Al-Hasyr(59):9).

Berkaitan dengan ayat di atas, terdapat sebuah kisah sangat masyhur yang melatar belakangi turunnya ayat tersebut. Abu Hurairah ra menceritakan: Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw (dalam keadaan lapar), lalu beliau mengirim utusan ke para istri beliau. Para istri Rasulullah saw menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah saw bersabda:“Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru: “Saya“, lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah“. Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshar itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu. Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah saw, Beliau bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’jub dengan perilaku kalian berdua”. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.QS. Al-Hasyr/59 ayat 9. (HR Imam Bukhari).

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Hasyr(59:10).

Itu hanya salah satu contoh bagaimana orang-orang Anshar rela berkorban demi saudaranya yang kesulitan. Mereka dapat memahami bagaimana sulitnya harus meninggalkan tanah kelahiran dimana sanak saudara berkumpul, dimana lahan pekerjaan menanti. Tanah dimana mereka mengumpulkan harta benda sekaligus menikmati setiap tetes keringat jerih payah mereka. Uniknya, itu semua demi menegakkan ajaran yang baru mereka terima, yaitu Islam.

( Bersambung).

Asal muasal Adzan

Ketika keberadaan Rasulullah saw di Madinah mulai tetap, saudara-saudaranya dari kaum Anshar dan Muhajirin sudah berpadu, Islam mulai kokoh, shalat didirikan, zakat dan puasa diwajibkan, hukum had dilaksanakan, halal dan haram dijelaskan. Dan diawal kedatangan Rasulullah saw, para sahabat berkumpul di masjid Nabawi di awal waktu tanpa ada seruan.

Lalu Rasulullah saw meminta pendapat mereka tentang panggilan Shalat. Ada yang mengusulkan meniup terompet, tetapi beliau membencinya karena itu tradisi Yahudi. Ada yang mengusulkan lonceng, tetapi beliau juga tidak menyukainya karena itu tradisi Nasrani.

Ketika itu Abdullah bin Zaid bin Tsa`labah bin Abdi Rabbih saudara Balharits bin Al-Khazraj bermimpi tentang suatu seruan, lalu ia mendatangi Rasulullah saw, seraya berkata: “Wahai Rasulullah, tadi malam aku bermimpi ada seorang laki-laki yang mengitariku, lalu melintas seorang laki-laki berpakaian gamis berwarna hijau, dia membawa lonceng di tangannya“

Lalu aku berkata: “Apa gunanya lonceng ini bagimu?“
Aku berkata: “Untuk memanggil orang shalat“
Ia berkata: “Maukah engkau kutunjukan yang lebih baik dari ini?“
Aku menjawab: “Apa itu?“
Ia berkata: “Ucapkanlah“:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Aku bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah 2x
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah 2x
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
Marilah shalat 2x
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Marilah menuju kemenangan 2x
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
Allah maha besar 2x
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah

Tatkala ia memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah saw , beliau bersabda:
“Sungguh ini adalah mimpi yang benar insya Allah, berdirilah engkau dan Bilal dan ajarkan ia bacaan tersebut agar dia mengumandangkannya karena suaranya lebih merdu darimu“

Ketika Bilal ra mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khattab ra mendengar seruan tersebut dari rumahnya, lalu ia keluar menuju Rasulullah saw sambil menarik sorbannya dia berkata: “Wahai nabi Allah, Demi yang mengutusmu dengan kebenaran! Sungguh aku telah bermimpi seperti mimpinya.“

Rasulullah bersabda:
“Falillahi alhamd (segala puji bagi Allah)” Al-bidayah wa An-nihayah jili.IV hal 573-574.

Dalam riwayat Tirmidzi dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid dari bapaknya, ia berkata: “Ketika paginya aku mendatangi Rasulullah saw memberitahukan mimpiku, beliau bersabda:“ Sungguh ini adalah mimpi yang benar, berdirilah engkau dan Bilal karena suaranya lebih merdu dan nafasnya lebih panjang darimu dan ajarkan dia bacaan tersebut agar dia mengumandangkannya“

Ketika Bilal ra mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khattab ra mendengar seruan untuk shalat, lalu dia keluar menuju Rasulullah saw sambil menarik sarungnya, dia berkata:
“Wahai Rasulullah, Demi yang mengutusmu dengan kebenaran! Sungguh aku telah bermimpi seperti yang dia ucapkan.“

Rasulullah saw bersabda:
“Segala puji hanya bagi Allah, ini semakin kuat” HR. Tirmidzi no.189.

Menghisab Diri ( Muhasabah)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Hasry(59):18).

Ayat diatas adalah ayat yang isinya perintah agar kita mau ‘introspeksi’, muhasabah alias menghisab diri atas apa yang telah kita perbuat selama hidup di dunia ini. Ini adalah hal yang sangat penting. Karena tanpanya kita bisa terlena dan lupa akan hakikat hidup yang sebenarnya. Apalagi dengan keadaan dunia saat ini yang begitu materialistis, hedonis dimana kepuasan, kesenangan dan keberhasilan hidup hanya diukur dari kaca mata materialistis. Sebuah lingkungan yang sungguh berbahaya bagi perkembangan jiwa yang pada akhirnya akan berujung pada penyesalan.

Hidup pada zaman sekarang, bila tidak berhati-hati memilih kawan dan lingkungan, amat berpotensi ‘lupa diri’. Lupa bahwa kehidupan dunia hanya sementara. Lupa bahwa ada kehidupan setelah kematian, yaitu kehidupan akhirat..Lupa bahwa kita, semua manusia, adalah hanya hamba yang mendapat tugas maha berat, yaitu tugas ke-khalifahan, dari Yang Menciptakan kita. Lupa bahwa tugas tersebut harus dipertanggung-jawabkan kepada Sang Pemilik.

Padahal Allah swt menciptakan kita ini sebagai mahluk terbaik di dunia. Untuk itu kita diberi tugas agar menjadi khalifah bumi. Agar membangun peradaban dunia yang aman, tentram dan damai dengan landasan ketakwaan kepada Sang pencipta, Allah Azza wa Jalla. Yaitu dengan menjalankan hukum-hukum-Nya bukan malah menyembunyikannya. Bahkan wajib kita memperlihatkan nikmat dan kebesaran-Nya kepada semesta alam. Inilah puncak ketakwaan yang sebenarnya.

“Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”.(QS.Adh-Dhuha(93):11).

Ironisnya, tidak jarang pula kita lupa bahwa waktu kita sangat terbatas. Bahwa suatu waktu Sang Khalik dapat memanggil kita, tanpa adanya pemberitahuan. Karena semua yang pergi pasti akan kembali, yang terlahir ke dunia yang fana ini pasti bakal meninggalkannya kembali, menuju asal. Dari tanah kembali ke tanah.

”Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.” (QS.Al-Ghasiyah( 88): 25-26).

Bersamaan dengan berhentinya kehidupan kita di dunia makan dimulailah waktu perhitungan atau pertanggung-jawaban. Apa saja yang telah kita kerjakan selama di hidup di dunia, bagaimana kita menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati kita.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS.Al-Isra(17):36).

Ali bin Abu Thalib ra berkata, ”Dunia itu selalu bergerak menjauh dari kehidupan manusia sedangkan akhirat selalu bergerak mendekatinya. Masing-masing dari keduanya mempunyai budak yang setia kepadanya. Maka, jadilah kamu sekalian sebagai budak akhirat dan janganlah kamu sekalian menjadi budak dunia. Sesungguhnya di dunia inilah tempat beramal dan tidak ada penghisaban sedangkan di akhirat nanti adalah saat penghisaban dan bukan tempat beramal.”

”Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menghisab dirinya di dunia dan beramal untuk kehidupan setelah mati sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya suka berharap kepada Allah tanpa melakukan apa-apa.” (HR Tirmidzi).

Untuk itulah, melalui ayat 18 surat Al-Hasry diatas Allah swt mengingatkan kita untuk menghisab diri kita sebelum datang penghisaban yang sebenarnya. Allah swt bahkan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk bertaubat. Dengan catatan, kita bertaubat secara sungguh-sungguh atau taubat nasuha, bukan taubat-taubatan, taubat yang dilakukan secara bermain-main.

“Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”.(QS.Al-Furqon(25):71).

Jadi taubat yang diterima oleh-Nya adalah taubat yang dilakukan karena rasa penyesalan yang dalam, yang kemudian diikuti dengan perbuatan yang dapat menebus atau memperbaiki kesalahan yang diperbuatnya, bila memungkinkan. Namun bila tidak mungkin, maka ia akan berbuat sebaik mungkin dengan harapan Sang Khalik mau memaafkan kesalahan tersebut. Yang terus menerus berdoa dengan harapan Allah Azza wa Jalla memaklumi kesalahan sekaligus mempunyai rasa cemas Ia tidak ridho memaafkan kesalahan tersebut.

Kesalahan bukan hanya kesalahan besar, seperti pembunuhan, perzinahan dsb. Karena shalatpun bisa juga salah, bila karena riya, alias pamer agar orang kagum. Jadi bukan karena mengharap ridho-Nya. Shalatnya yang hanya ritual, tidak memiliki ruh.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya”. (QS.Al-Maaun(107) :4-6).

Kesalahan lain adalah kesyirikan dan kekafiran. Ini adalah dosa terbesar yang hampir tidak dapat diampuni bila tidak segera bertaubat. Harus diingat, Allah swt tidak akan menerima taubat yang dilakukan ketika nyawa telah di kerongkongan, seperti yang dilakukan Fir’aun beribu-ribu tahun yang silam.

« Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih ».(QS.An-Nisa(4) :18).

Yang juga harus menjadi catatan. Perhitungan tidak hanya atas apa yang kita lakukan terhadap-Nya. Namun juga perbuatan kita terhadap sesama manusia dan lingkungan sekitar kita. Malah tampaknya prilaku kita kepada sesama lebih sulit dipertanggung-jawabkan dari pada prilaku kepada Sang Ghofur. Karena sesuai dengan nama-Nya, Ia Maha Pemberi Maaf. Sementara manusia biasanya lebih ‘pelit’ memaafkan.

“Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah swt menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah swt melainkan diangkat oleh Allah swt.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda,  ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim).

Orang yang paling penting kita perhatikan adalah kedua orang-tua kita. Jangan sampai kita menyakiti mereka apapun alasannya. Bahkan ketika mereka sulit diingatkan dalam ketakwaan, misalnya. Diperlukan cara yang santun dalam menghadapi mereka

Selanjutnya adalah tetangga, baik tetangga tersebut Muslim ataupun bukan. Karena bagaimanapun mereka tetap memiliki hak sebagai tetangga. Kita harus pandai menjaga lidah agar tidak menyakiti hati siapapun. Karena lidah itu bagaikan pedang yang sulit untuk diperbaiki ketika salah digunakan. Fitnah dan mengguncing adalah hal yang benar-benar harus dihindari.

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubah lagi Maha Penyayang,” (Al-Hujarat: 12).

“Apabila apa yang kamu katakan itu memang ada pada dirinya berarti engkau telah menggunjingnya dan apabila apa yang katakan itu tidak benar berarti kamu telah memfitnahnya,” (HR Muslim [2589]).

Dengan kata lain muhasabah diperlukan antara lain :

1. Untuk mengingatkan kembali kedudukan kita di dunia ini, yaitu sebagai hamba Allah sekaligus juga khalifah bumi. Oleh karenanya muhasabah bukan berarti meninggalkan kehidupan duniawi. Justru sebaliknya, yaitu meningkatkan amal kehidupan duniawi demi bekal kehidupan akhirat. Dunia adalah ladang akhirat. Jadi apapun ilmu yang kita tuntut atau pekerjaan yang kita jalani harus sesuai dengan keinginan-Nya.

Rasulullah pernah bersabda :” Siapa yang menghendaki kebahagiaan hidup dunia, harus dengan ilmu, dan siapa yang menghendaki kebahagian akhirat harus dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) juga harus dengan ilmu. (HR Tabrani).

2. Memperbaiki sekaligus meningkatkan amal ibadah kita. Dari yang tidak shalat menjadi shalat, dari yang shalat tidak 5 waktu menjadi 5 waktu dan di awal waktu, menambah shalat-shalat sunnah seperti shalat rawatib, witir, tahajud dll. Atau shalat berjamaah di masjid, terutama bagi lelaki ketika shalat Subuh dan Isya. Membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya, dari khatam hanya dalam bulan Ramadhan, khatam 2 x setahun hingga khatam tiap bulan. Dari berpuasa hanya di bulan Ramadhan, hingga menambah dengan puasa-puasa sunnah seperti puasa senin-kamis dll.

3. Memperbaiki akhlak dan silaturahmi.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”;“Agama adalah akhlak yang baik”;“Seorang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna ahklaknya”;“Rasulullah ditanya:“Apa yang paling banyakmengantarkan manusia ke surga ?”. Rasulullah menjawab:“Akhlak yang baik”;“Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka?”. Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan”. (HR Tarmidzi).

4. Mengingatkan umur yang terbatas.

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):60).

Dengan demikian ketika kelak datang hari penghisaban yang sesungguhnya, Allah akan memudahkan segala urusan. Itulah orang-orang yang diberikan kitab catatan amalnya dari sebelah kanannya.

‘Adapun orang yang diberikan kitab (catatan) amalnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan penghisaban yang mudah.” (QS.Al-Insyiqaq(84):7-8).

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya ke mana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.” (HR. Turmudzi).

Namun harus diingat, sebesar apapun amal seseorang sesungguhnya tidak mungkin kita mampu membalas kasih sayang Sang Khalik. Sama halnya dengan mustahilnya seorang anak membalas kasih sayang ke dua orangtuanya. Karena hanya berkat rahmat-Nya jua seseorang bisa masuk surga.

( Click http://vienmuhadisbooks.com/2012/01/26/amal-seorang-hamba-dan-rahmat-allah-swt/ untuk membaca kisah seorang hamba yang beribadah terus menerus selama 500 tahun. )

“Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)”.(QS.An-Nuur(24:10).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Februari 2012.
Vien AM.

THUFAIL bin Amr Ad-Dausy adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk bangsawan Arab yang terpandang, seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku. Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur.

Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karya-karyanya mempesona bagaikan sihir.

Pada suatu ketika, thufail meninggalkan negrinya, tihmah (dataran rendah sepanjang laut merah) menuju Makkah. Waktu itu pertentangan antara Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu, senjata Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam hanya berdo’a kepada Tuhannya,disertai iman dan kebenaran yang dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakan impian mereka dengan kekuatan senjata,dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke makkah itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.

Thufail Ke Makkah
Kedatangannya ke Makkah di sambut dengan hangat. Ia ditempatkan di sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuinya. “Hai thufail, kami sangat gembira Anda datang ke Negeri kami,walaupun negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang mendakwahkan diri menjadi Nabi itu (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) telah merusak agama kita,merusak kerukunan kita,dan memecah belah persatuan kita semua. Kami khawatir dia akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan kepemimpinan Anda, di pengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami.”

Pesan Orang Quraisy kepada Thufail
“karena itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan kata-katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir. Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara dan menceraikan istri dengan suami”

Mereka terus menceritakan hal yang aneh-aneh kepada Thufail. mereka menakut-nakutkannya dengan keanehan-keanehan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad. Thufail dilarang bicara bahkan mendengar ucapan Nabi Muhammad dan kaum muslimin sedikitpun.

Thufail bertemu Nabi Muhammad  saw.
Pada suatu pagi Thufail pergi ke masjid hendak tawaf di Ka’bah,dan mengambil berkah dari berhala-berhala yang ia puja. Hal seperti itu biasa dia lakukan ketika musim haji. Ia menyumbat telinganya dengan kapas,karena takut mendengar suara Nabi Muhammad dan pengikutnnya.

Tetapi ketika masuk ke masjid, ia melihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Thufail terpesona melihat shalat Nabi yang tidak sama dengan shalatnya. Sedikit demi sedikit ia bergerak menghampiri Nabi, sehingga akhirnya ia berada dekat sekali dengannya. Alloh subhanahu wa Ta’ala menakdirkan Thufail mendengar apa yang dibaca nabi.

Thufail berkata kepada dirinya sendiri , “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang pujangga dan penyair. Engkau tahu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana yang buruk tinggalkan!”

Thufail bagaikan terpaku di tempatnya. Ketika Rasululloh pulang,ia pun mengikutinya sampai ke rumah dan memuinya. Di hadapan Rasululloh ia bertanta, “Ya Muhammad, sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda begini dan begitu. Mereka menakut-nakutiku dengan urusan agama Anda. Oleh karena itu, aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar sesuatu dari Anda. Tetapi Alloh menghendaki supaya aku mendengar sesuatu dari Anda. Ternyata apa yang Anda ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!”

Thufail Masuk Islam

Rasulullah SAW mengajarkan kepadanya agama islam. Dibacakannya AL ikhlas dan AL falaq . sejak saat itu ia masuk Islam. Dan menetap di makah beberapa lama,mempelajari Agama Islam. Ia mengahafal Ayat-ayat Al- qur’an yang dapat ia hafal.

Ketika hendak bermaksud kembali kepada kaumnya,”Ya Rasulullah, aku ini pemimpin yang dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Tolonglah do’akan kepada Allah SWT semoga Allah memberiku bukti bukti nyata yang dapat memperkuiat dakhwahku kepada mereka,supaya mereka masuk Islam. Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam pun segera berdo’a agar Thufail dijadikan baginya tanda supaya kaumnya semakin percaya kepada Thufail.

Mendapat Cahaya di Tongkatnya
Ditengah perjalanan pulang,keluarlah suatu cahaya diantara kedua mata Thufail seperti lampu. Thufail berdo’a “Ya Alloh, pindahkan lah cahaya ini ke tempat lain ,karena kalau cahaya ini terletak di antara kedua mataku,aku hawatir kalau-kalau kaumku manyangka mataku telah kena sihir lantaran meninggalkan agama berhala”

Dengan izin Alloh cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatnya,bagaikan sebuah kendil tergantung. Setelah berada di tengah-tengah kaumnya, yang pertama tama mendatanginya adalah bapaknya sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.

Keluarga Thufail masuk Islam

Ketika Thufail menawarkan Islam kepada bapak dan istrinya, mereka mau mengikuti ajaran Islam. Namun saat ia menyeru kaumnya tak seorang pun dari mereka yang mau mendengar seruan Thufail, kecuali Abu Hurairah. Dia paling cepat memenuhi panggilan Islam.

Thufail datang memenuhi Rasulullah SAW di Mekah bersama Abu Hurairah. Rasulullah SAW bertanya, “bagaimanakah perkembangan dakwahmu, hai Thufail?”
“Hati kaumku masih tertutup dan sangat kafir.Sungguh seluruh kaumku, Kabilah Daus, masih sesat durhaka,” jawab Thufail.
Rasulullah SAW pergi mengambil wudhu’,kemudian beliau shalat. Sesudah shalar beliau menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu berdo’a. Pada saat itu Abu Hurairah merasa khawatir jangan-jangan Rasulullah mendo’akan agar kabilah daus celaka. Tetapi sebaliknya, Rasulullah mendo’akan agar Allah memberikan hidayah kepada kaum Daus.

Rasulullah segera menyuruh pulang. Dan benar saja, saat Thufail menyeru kaumnya, mereka segera menyambut ajakan Thufail. Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, Thufail meneap di negrinya.

Perang Badar
Sementara Itu terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq. Thufail datang menghadap Rasulullah SAW dengan membawa 80 keluarga muslim Daus, yang keislamannya tidak diasingkan lagi.

Rasulullah menyambut gembira kedatangan mereka. Dan sesuai dengan permohonan Thufail dan kaumnya, Rasulullah menempatkan mereka di sayap kanan pasukan Nabi. Dan kompi muslimin Daus ini dinamakan “Kompi Mabrur.” Sejak saat itu, Thufail selalu mendampingi Rasulullah.

Fathu Makkah
Setalah pembebasan kota Mekah, Thufail minta izin kepada Rasulullah, agar dibolehkan pergi ke Dzil Kafain untuk musnahkan berhala-berhala yang ada di sana. Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan satu regu tentara dari pasukannya. Sewaktu sampai disana dan mereka bersiap handak membakar berhala Dzil Kafain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak sekitar mereka, menunggu-nuggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kafain itu.

Tetapi Thufaildengan menatap menuju berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Beliau menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kafail, sambil bersajak :
“Hai Dzil Kafain, kami bukanlah pemujamu. Kelahiran kami lebih dahulu dari pada keberadaanmu. Inilah aku, menyulutkn api di jantungmu!”

Setelah api melahap habis patung-patung Dzil Kafain, sirna pulalah sisa-sisa kemusyrikan dalam kabilah Daus. Seluruh kabiah Daus masuk Islam, dan menjadi muslim-muslim sejati. Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy senantiasa mendampingi Rasulullah SAW sampai beliau wafat. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah. Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk peperenganmembasmi orang-orang murtad, Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentara muslimmemerengi musailamah Al-Kadzhab (Musailamah si Pembohong). Begitu putra beliau, Amr bin Thufail yang selalu saja tak mau ketinggalan.

Thufail bermimpi ketika menuju Yamamah
Ketika Thufail dalam perjalanan menuju ke Yamamah (kawasan tempat musailamah menyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi,
“Aku bermimpi. Cobalah kalian ta’birkan mimpiku ini,” kata Thufail kepada sahabat-sahabatnya
“Bagaimana mimpi anda? Tanya kawan-kawanya.
“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang perempuan memasukanku ke dalam perutnya. Anakku Amr menuntut dengan sungguh-sungguh supaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuet apa-apa karena antara aku dan dia ada dinding.”

“Sebuh mimpi nan indah!” komentar kawan-kawan tanpa membarikan penafsiran sedikit pun.

Akhirnya Thufail sendiri yang menta’birkan, ”Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalaku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku dari jasadku. Seorang perempuan memasukanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang, lalu dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan anakku, dia juga berharap mati syahid seperti aku. Tetapi permintaanya dikabulkan kemudian.”

Thufail Meninggal
Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al-Kadzab di Yamamah, sahabat yang mulia ini, yaitu Thufail Ibnu Amr Ad-Dausy, mendapat cidera sehingga dia terbanting dan tewas di medan tempur. Putranya, Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu dia kembali ke Madinah meninggalkan tangan sebalah dan jenazah bapaknya di medan tempur Yamamah.

Tatkalah Khalifah Umar bin Khatthab memerintah, Amr binti Thufail (putera Thufail) pernah datang ke majlis Khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makanan pun dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak Amr supaya turut makanbersama-sama. Tetapi ‘Amrmenolak dan menjauh.

“Mengapa?” tanya Khalifah. Barangkali engkau lebih senang makan belakangan, karena malu dengan tanganmu itu.”
“Betul, ya Amirul Mu’minin!” jawab Amr.
Kata Khalifah, “Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang pun juga yang sebagian tubuhnya telah berada di syurga, melainkan hanya engkau”.

Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, Amr bin Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. Amr tewas dalam peperangan itu sebagai syuhada’,seperti yang diharapkan bapaknya. Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail yang gugur diperang Yamamah dan putranya, Amr, yang syahid di medan tempur Yarmuk.

Sumber : kisah 101 sahabat oleh Heppy Andi

Jakarta, 5 Februari 2012.

Vien AM.

Diambil dari : http://www.usahamaju.com/2011/10/21/biografi-thufail-bin-amr-addausy/