Feeds:
Posts
Comments

Jumat, 28/10/2011.

Sebelum meninggalkan rumah tak lupa kami mendirikan shalat safar (bepergian) 2 rakaat dengan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, setelah membaca surat Al-Fatihah, tentu saja.  Ini bukan bagian dari ritual haji. Karena melaksanakan shalat safar sebelum bepergian memang dicontohkan Rasulullah saw.

Pesawat Royal  Jordanian Air  dengan no penerbangan RJ118 jurusan Madinahpun  take off sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Pesawat reguler yang membawa 78 jamaah haji dari Paris, Perancis  diantara sekian ratus penumpangnya ini  melayang selama lebih kurang 5 jam, sebelum akhirnya mendarat dan transit di Airport Queen Alia, Amman – Jodania.

Ada hal kecil cukup menarik yang terjadi selama penerbangan tersebut. Ini diawali dengan posisi tempat duduk di pesawat dimana saya dan suami ternyata tidak mendapat seat sebaris. Ntah mengapa suami ketika itu koq tidak ‘ngeh’ akan hal ini. Kami baru sadar bahwa tempat duduk kami terpisah menjelang boarding.

Seketika, suami langsung berusaha mencari jalan keluar. Ternyata hal ini tidak hanya terjadi pada diri kami. Ada beberapa pasangan suami istri yang terpisah padahal mereka melakukan check in bersama dan bahkan sudah meminta agar duduk bersebelahan. Si petugas hanya menjawab silahkan diatur nanti ketika di dalam pesawat saja. Petugas disana yang akan membantu, begitu katanya .. L ..

Alhamdulillah, akhirnya masalah terselesaikan dengan baik. Ditambah pengertian seorang yang juga ternyata jamaah calon haji, saya dan suami berhasil  duduk bersebelahan, bertiga dengan bapak tersebut. Nah, bapak yang duduk di sebelah suami inilah yang ingin saya ceritakan kisahnya. Tentu saja tanpa bermaksud untuk menggunjing.

Setelah berkenalan dan berbasa-basi sejenak, tanpa diminta ia menceritakan latar belakangnya mengapa ia pergi berhaji. Muhammad demikian ia memperkenalkan dirinya.  Ia adalah warga negara Perancis berdarah Maroko. Sama seperti Aljazair dan Tunisia, Maroko adalah Negara bekas jajahan Perancis. Itu sebabnya di Perancis ini banyak sekali ditemui wajah-wajah Arab dan campuran Arab – Perancis. Mereka  adalah adalah keturunan para imigran dari ketiga negara tersebut, yang kemudian menikah dengan warga asli Perancis, atau dengan sesama mereka sendiri.

Muhammad hijrah ke negri paman Sarkozy ketika usianya masih belia, dalam  rangka menuntut ilmu. Di negri inilah ia kemudian jatuh cinta pada seorang perempuan asli Perancis hingga akhirnya mereka menikah. Sayangnya mereka mengambil keputusan penting ini tanpa mempertimbangkan perbedaan agama diantara mereka.

Akibatnya, Muhammadpun menjauh dari ajaran Islam, agama nenek moyangnya. Bahkan ia nekad berpindah mengikuti agama istrinya tercinta dan rela dibaptis.  Antony adalah nama baptisnya.  Tak aneh jadinya bila seterusnya ketiga putra-putrinyapun memeluk Nasrani, sesuai didikan sang ibu.

Bersyukur, Allah swt masih mengasihinya. Menjelang hari tuanya, yaitu pada usia 50 tahunan, Antony akhirnya menyadari kesalahannya. Ini semua berkat usaha keras ayahnya yang tak kenal jemu mengingatkan putranya itu untuk kembali ke jalan yang benar, meski hanya dari kejauhan.

Tiba-tiba saya teringat kepada kisah seorang ayah yang menasehati anaknya.  Allah swt mengabadikan kisah tersebut dalam surat Lukman, nama sang ayah. Sebuah pelajaran bagi kita, bahwa mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu.

“(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.(QS.Lukman(31):16-17).

Sayangnya,  sang istri tercinta tidak dapat menerima kenyataan ini. Percekcokanpun  tak terhindarkan, hampir setiap hari, hingga akhirnya membuahkan perceraian. Sebuah akhir pernikahan yang tidak menyenangkan, memang. Namun Antony yang di kemudian hari mengganti namanya  menjadi Muhammad, ternyata kini justru lebih tenang hidupnya. Tampak bahwa Allah swt masih ridho menerima taubatnya.

Gurat penyesalan yang dalam masih terbayang di wajah Muhammad, ketika ia menceritakan perjalanan hidupnya. Namun  dengan cepat air mukanya berubah menjadi sejuk dan tenang ketika ia mengungkapkan betapa besar rasa terima-kasihnya kepada sang ayah tercinta yang tak kenal lelah mengingatkannya.

Kini Muhammad yang telah berusia 60 tahun dan harus ditopang tongkat ketika berjalan itu telah menikah kembali. Bahkan istrinya, seorang perempuan sholehah keturunan Maroko, dengan izin Allah swt telah mengganti ke 3 anak Muhammad yang ‘hilang’ dengan 2 putra putri yang insya Allah bakal menjadi penghibur dunia akhirat bagi ke 2 orang-tuanya. Subhanalah ..

Pelajaran berharga bagi kita, agar tidak menyekolahkan anak ke negri-negri kafir tanpa bekal keimanan yang kuat dan pengawasan yang ketat.

Tak terasa, 5 jampun berlalu. Perbedaan waktu antara Paris-Amman adalah 1 jam.  Kami mendarat di airport Queen Alia, Amman pada pukul 19.00 waktu setempat, untuk transit selama 10 jam ! Padahal jarak Amman – Madinah tinggal 2 jam penerbangan. Beruntung, pihak Jordan Air memberikan fasilitas hotel bagi jamaah agar dapat sedikit beristirahat dengan baik.

Yaah, begitulah resiko menjadi penumpang pesawat bukan khusus haji. Ini hanya salah satu kesulitan agen bimbingan haji Perancis. Padahal agen bimbingan haji kami ini menangani 300an jamaah. Mereka terpaksa diterbangkan dalam  4 penerbangan yang berbeda.

Sekitar pukul 21.00 kami memasuki hotel. Setelah makan malam yang disediakan pihak hotel kami segera masuk kamar dan berusaha untuk istirahat. Pukul 3.30 pagi kami harus sudah siap berangkat ke bandara untuk meneruskan perjalanan ke tujuan yang sebenarnya, Madinah.

Sabtu, 29/10/2011. Alhamdulillah pesawat berangkat meski tidak tepat waktu. Shalat Subuh kami laksanakan di mushola airport. Sayangnya, ruang shalat bagian perempuan yang sudah sempit ini masih dijejali lagi  dengan penumpang yang numpang tidur di tempat tersebut. Yang tetap tidak mau bergeming untuk bangun meski tahu para tamu mengantri untuk shalat bahkan beberapa terpaksa sujud di atas bagian tubuhnya.

Sekitar pukul 8.30 pagi pesawat mendarat di  Madinah Airport dengan selamat, Alhamdulillah. Airport ini jauh berbeda dengan Airport Jedah, baik keadaan fisik maupun pelayanannya. Di Jedah, urusan imigrasi bisa makan waktu 10 jam-an ! Ini yang kami alami 11 tahun lalu. Dan ini sudah diingatkan para pembimbing kami. Tampaknya ini hal biasa atau memang ‘ dibiasakan”?? Di depan mata para calon jamaah kami melihat para petugas imigrasi mengobrol, jalan kesana kemari … Dan ketika melihat ada orang yang berusaha ‘mendesaknya’ agar bekerja lebih cepat, mereka langsung berteriak-teriak, membentak-bentak semua orang yang mengantri panjang, pasraaah  …

“ Sabaar, sabaar, sabaar”, hanya itu kata yang diucapkan para pembimbing,  menenangkan  para jamaah. Dan para jamaahpun hanya diam,  sadar sepenuhnya bahwa ini adalah bagian dari uji kesabaran dalam berhaji dan berumrah. Ironisnya, ternyata ini masih dialami oleh adik dan ipar saya yang kebetulan juga pergi menunaikan haji tahun ini.  Mereka datang ke tanah suci melalui bandara Jeddah dan harus menunggu 10 jam di tempat tersebut. Saya hanya bisa mengusap dada, “ Benarkah ini bagian dari sabar berhaji?”, tanya saya dalam hati, tidak yakin.

Di airport Madinah, pemeriksaan imigrasi berjalan lancar dan relative cepat. Di pintu keluar menuju deretan bus yang telah menanti, sejumlah petugas membagi-bagikan 1 set buku panduan haji.  Hebatnya, buku-buku tersebut tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi berbagai bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman dll, termasuk bahasa Indonesia. Dan semua itu tanpa dipungut biaya alias gratis. Dari salah satu buku inilah saya membaca tentang “ beberapa kesalahan dalam berhaji”. Dan yang paling menarik adalah kesalahan miqat dari airport Jedah, hal yang sering dilakukan jamaah Indonesia !  Terutama kloter-kloter yang langsung menuju Mekah. Berikut apa yang saya temukan, sesuai dengan buku petunjuk yang dibagikan di bandara  Madinah.

http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/03/23/bantahan-bagi-yang-menjadikan-jeddah-sebagai-miqat/

Selanjutnya dengan 2 bus berkapasitas 40 orang kami menuju hotel. Tidak kurang 2 kali kami berhenti untuk menerima pembagian air zamzam dan makanan kecil, semua cuma-cuma. Ini adalah bagian dari cara pemerintah Arab saudi menyambut tamu Allah swt di tanah suci ini.  Allahuakbar  …

Pukul 11 lebih kami tiba di hotel. Alhamdulillah, hotel hanya berjarak beberapa meter dari Masjid Nabawi. Kami segera turun dari bus untuk melihat-lihat sekeliling hotel. Ternyata selain dekat dengan masjid Nabawi hotel juga dekat dengan restoran Indonesia ! Wah, beruntung benar kami .. Saya langsung promosi kepada teman-teman tentang masakan Indonesia. 🙂

Selesai urusan hotel ; cek-in, pembagian  kunci kamar, mengurus bagasi serta pengumuman-pengumuman penting dari pembimbing, tak terasa waktupun cepat berlalu. Azan zuhur berkumandang kencang. Kami segera bergegas menuju masjid.

Rasanya baru 3 tahun lalu kami mengunjungi masjid ini untuk umrah, ternyata sudah ada perubahan. Di siang hari yang terik tersebut, pelataran masjid yang luas terasa jauh lebih sejuk dibanding dulu. Payung-payung raksasa cantik, berwarna biru muda terlihat meneduhi pelataran. Sejumlah kran air berputar menyemprotkan air ke udara, menambahkan kesejukan. Ini masih dimanjakan lagi dengan karpet-karpet tebal indah berwarna merah tua, menambah jamaah makin nyaman dalam mendirikan shalat.

Pintu masuk masjid yang jumlahnya 86 dan diberi no urut ini, dipisahkan pintu-pintunya bagi jamaah lelaki dan perempuan. Setelah menentukan tempat untuk bertemu kembali dengan suami nanti usai shalat, kamipun berpisah. Saya segera menuju pintu terdekat dan berusaha memasukinya.

Sejumlah askar perempuan, sebutan petugas keamanan masjid, menghadang di mulut pintu. Dengan abaya hitam lengkap dengan cadarnya, mereka memeriksa tas para jamaah. Kamera, handycam dan Hp terutama yang ada kameranya, seperti BB dan lain-lain kalau ketahuan dilarang dibawa masuk. Boleh dititipkan ke bagian penitipan atau dipersilahkan shalat di pelataran.

Lolos dari pemeriksaan, sekarang giliran mencari tempat kosong. Sungguh, perjuangan berat. Saya harus berjalan melewati shaft demi shaft, meloncati kaki orang .. Mau berbalik keluar lagi juga tidak mungkin karena di belakang sudah ada antrian panjang  seperti ular. Sejauh mata memandang rasanya padat  sudah isi masjid ini. Subhanallah ..

Hingga iqamat dikumandangankan beberapa menit kemudian, saya masih dalam keadaan seperti itu. Maka begitu saya melihat ada kesempatan keluar saya segera memutuskan untuk keluar dan akhirnya shalat di pelataran. Ada keraguan dalam hati ini, samakah antara shalat di dalam masjid yang berpahala 1000 x shalat di masjid lain ini dengan shalat di pelatarannya?

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil-Haram.” (HR Bukhari).

Wallau’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Paris, 12 Desember 2011.

Vien AM.

“ … Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.(QS.Ali Imran(3):97).

Ayat ini menunjukkan bahwa pergi ke Baitullah, minimal sekali dalam hidup, dalam rangka menunaikan haji adalah wajib, bagi mereka yang mampu, yaitu yang sanggup mengadakan perjalanan ke tempat suci tersebut.  Ibadah ini adalah merupakan rukun ke lima atau rukun terakhir dari Rukun Islam.

Alhamdulillah kami telah melaksanakan panggilan ini 11 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2000. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kewajiban ini hanya berlaku sekali dalam hidup seorang Muslim. Oleh karenanya tidak pernah terlintas dalam hati ini untuk mengulanginya kembali. Namun dengan berlalunya waktu dan juga mungkin dengan bertambahnya ilmu,  keinginan mengulang berhaji ini kembali tumbuh. Sebenarnya ini bukan keinginan yang tiba-tiba. Karena sebenarnya sejak lama ada beberapa hal yang memang masih mengganjal dalam hati. Diantaranya yaitu soal miqat dan mabit di Muzdalifah.

Ketika kami menjalankan haji pada tahun 2000 itu, miqat kami laksanakan di airport Jedah.  Sebenarnya  waktu itu suami sudah ragu, karena itu berarti kita telah melewati miqat ketika kita terbang diatasnya. Menanggapi ini sang pembimbing haji hanya mengatakan : “ Repot dong pak, kalau semua jamaah harus ber-ihram di pesawat. Apalagi bapak sebagai ketua kelompok, jangan kasih contoh begitu, nanti yang lain ikut-ikut”.

Sebagai orang awam, terpaksa kami menuruti nasehat tersebut. Dengan berat hati kami ber-ihram di bandara Jedah, menjadikannya  sebagai tempat miqat. Demikian pula sebagian besar jamaah di pesawat tersebut. Hanya sebagian kecil yang tetap berkeras ber-ihram di dalam pesawat, tepat ketika pesawat lewat di atas Yalamlam, salah satu miqat yang disebutkan Rasulullah. Namun tak urung, hingga bertahun-tahun kemudian peristiwa tersebut tetap mengganjal dalam hati kami berdua. Kami merasa hal ini tidak benar. Ingin rasanya mengulangi lagi haji kami.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah, Al-Juhfah bagi penduduk Syam, Qarnul Manazil bagi penduduk Najd, dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. Miqat-miqat itu bagi penduduk negeri itu, dan selain mereka yang melewatinya untuk pergi haji atau umrah. Dan orang yang kurang dari jarak itu maka dia berihram dari tempat dia memulai, sampai penduduk Makkah berihram dari Makkah.”(HR. Bukari Muslim)

Sementara masalah mabit di Muzdalifah. Ketika teman2  bertukar pengalaman tentang masalah haji, tidak jarang mereka mengatakan bahwa mereka mabit alias bermalam di Muzdalifah. Di bawah luasnya langit yang terbuka lebar di atas kepala, karena para jamaah memang bermalam bukan di dalam tenda seperti di Mina atau Arafah, kekuasaan Allah swt yang begitu hebat itu makin terasa.

Kami hanya bengong, terpana. Kami tidak melakukan hal tersebut. Kami hanya berhenti sebentar untuk mengambil batu kecil guna keperluan melempar Jumrah untuk esok harinya. Selanjutnya kami kembali duduk di bus dan menanti beberapa saat hingga melewati tengah malam. Setelah itu bus berangkat meninggalkan Muzdalifah menuju perkemahan Mina. Saya tidak ingat berapa lama atau pukul berapa kami memasuki Muzdalifah. Yang pasti saya ingat, ketika itu banyak bus melakukan hal yang sama dengan kami. Muzdalifah dalam benak saya ketika itu adalah sebuah tanah lapang di tepi jalan raya yang diterangi lampu-lampu.

Sepengetahuan kami ketika itu, yang dimaksud mabit di Muzdalifah adalah berhenti sejenak di tempat tersebut hingga melewati tengah malam. Setelah itu kami harus segera menuju Mina. Namun pengalaman spiritual tidur dibawah langit luas nan indah tanpa apapun yang menghalangi, sebagaimana dicontohkan Rasulullah, tak urung membuat kami merasa ada yang ‘kurang’ dalam haji kami.

Tetapi mengingat begitu banyaknya calon haji dari negri tercinta yang harus mengantri bertahun-tahun untuk dapat memenuhi panggilan-Nya, hati kamipun menciut. Disamping tentu saja, biaya yang tidak sedikit dan waktu cuti yang harus diambil suami, membuat kami terpaksa mengubur jauh-jauh keinginan menggebu tersebut.

Keinginan mengulang haji muncul lagi pada tahun 2010, setahun setelah suami ditempatkan kembali di Perancis, tepat 10 tahun setelah keberangkatan haji pertama.  Waktu itu kami berpikir, anak-anak sudah besar, berarti tidak ada masalah tentang mereka seperti dulu, yaitu harus dititipkan ke eyangnya. Kedua, dengan pergi haji melalui Perancis, berarti kami  tidak menzalimi saudara-saudari kami di tanah air yang berniat melaksanakan haji. Yang ketiga, suami mendapat kesempatan untuk memba’dalkan ayah (alm) yang ternyata menurut ibu, semasa hidupnya pernah berniat untuk melaksanakan haji namun batal karena suatu sebab yang tidak dapat dihindari.

Setelah mencari informasi kesana kemari, akhirnya kami memutuskan untuk pergi haji pada musim haji 2011 yang jatuh pada bulan November lalu. Sejak awal tahun kami sudah ingin mendaftar. Tetapi hanya mendapat jawaban bahwa pendaftaran haji baru dibuka menjelang bulan Ramadhan, berarti hanya 2 bulan sebelum musim haji. Wah … bandingkan dengan di tanah air yang harus mengantri bertahun-tahun.

Singkat cerita, pertengahan Ramadhan akhirnya kamipun terdaftar resmi sebagai calon haji 2011, Alhamdulillah… Kebetulan pada bulan suci tersebut kami pulang ke tanah air. Jadi kami bisa berbelanja kebutuhan haji. Saya bahkan secara tidak sengaja menemukan sebuah paket persiapan haji berisi sabun, odol, krim muka dan beberapa tetek bengek perlengkapan kecantikan lain yang sama sekali tidak mengandung pewangi. Sesuatu yang memang dilarang ketika kita dalam keadaan ihram, baik ihram haji maupun ihram umrah.

Disamping itu, kami juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan uztad yang kami percaya dapat membimbing kami berhaji. Meskipun ini bukan haji kami yang pertama kami tetap merasa perlu mendapatkan bimbingan haji. Apalagi bimbingan haji dimana kami akan bergabung nanti memang hanya menjanjikan dua kali pertemuan. Itupun hanya pada pertemuan pertama saja yang membahas manasik, dalam bahasa Perancis pula, yang bukan bahasa sehar-hari kami. Pertemuan berikutnya untuk membicarakan masalah tehnis.

Maka ketika kami kembali ke Paris, bersama dengan pasangan keluarga Indonesia lain yang kebetulan juga akan pergi menunaikan haji, kami mengundang uztad Indonesia yang sedang belajar di negrinya Sarkozy ini untuk manasik haji. Pada pertemuan ini ada 2 pelajaran baru yang kami dapatkan.

Pertama tentang masalah waris.  Menurut uztad yang membimbing kami, pergi haji pada dasarnya adalah memenuhi panggilan Sang Khalik. Artinya kita memang harus siap bila sewaktu-waktu Allah swt mencabut nyawa kita. Itu sebabnya calon haji dianjurkan untuk membuat warisan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Yang kedua, sebenarnya bukan hal baru, yaitu mengundang keluarga dan handai taulan dalam rangka keberangkatan ke tanah suci. Tentu kita sering mendengar undangan semacam ini, katakanlah syukuran haji atau walimatus safar. Pada haji pertama kami dulu, kami memang melakukan hal ini. Tetapi terus terang tanpa memahami maknanya, kami hanya mengikuti tradisi dan kebiasaan saja. Nah, baru kali inilah saya mendengar alasannya, yang pada dasarnya sama dengan hal pertama, yaitu dalam rangka mengantisipasi ‘kepulangan’ kita ke hadirat-Nya. Pada kesempatan tersebut, kita dianjurkan untuk meminta maaf sekaligus memaafkan kesalahan tamu yang kita undang tersebut, yaitu tetangga, keluarga dan para handai taulan.

Namun seperti juga acara tahlilan, acara syukuran seperti ini sebenarnya masih menjadi bahan perdebatan para ulama. Sebagian menyebutnya sebagai perbuatan mengada-ada alias bid’ah. Dalam kesempatan ini saya tidak ingin memperpanjang hal yang bukan merupakan hak saya. Wallahu’alam bish shawwab.

http://www.alquran-sunnah.com/haji-dan-umrah/artikel-haji-dan-umrah/617-selamatan-berangkat-haji.html

Selanjutnya, sekitar 3 minggu sebelum keberangkatan, saya menerima undangan silaturahmi dari pihak Kedutaan. Ini adalah acara rutin bulanan yang diselenggarakan persatuan ibu2 Kedutaan Perancis untuk mengumpulkan masyarakat Indonesia yang tinggal di Paris dan sekitarnya.

Berangkat dari keyakinan, bahwa meminta maaf dan memaafkan bisa kapan saja, sekaligus untuk kepentingan dakwah, maka sayapun datang memenuhi undangan tersebut. Dalam kesempatan baik tersebut saya meminta pihak tuan rumah agar memberikan saya kesempatan untuk secara resmi pamit, meminta maaf dan mohon di doakan agar keberangkatan saya bersama suami ke tanah suci diridhoi Allah swt.  Semoga  Allah swt bukan mencatatnya sebagai perbuatan riya, Na’udzubillah mindzalik …

Tak lama setelah saya kembali dari podium ke tempat saya tadi duduk, beberapa ibu menghampiri saya. Mereka menyelamati, mendoakan dan sebagian ada yang meneruskan dengan perbincangan mengenai haji. Banyak diantara ibu2 tersebut yang jujur saja, saya tidak begitu mengenalnya. Jumlah masyarakat Indonesia di Paris dan sekitarnya memang cukup banyak. Jadi lumrah saja kalau kita tidak saling mengenal. Banyak diantara mereka yang menikah dengan pria Perancis.

Dan mungkin karena sudah lama tinggal di Perancis, banyak di antara ibu itu penampilannya sudah seperti  ‘bule’ ; rambut pirang, baju terbuka disana-sini, rok mini lengkap dengan sepatu boot tingginya. Bahkan ada pula yang bertattoo. .. 😦 ..

Itu sebabnya kaget juga saya, ketika ibu dengan penampilan seperti tadi itu bercerita : “ ibu saya dulu hampir tiap tahun selalu pergi haji. Tapi sekarang dia udah mati dan dikubur di Mekah “.  “ Waduh, ibu udah lama tinggal di sini yaa … kalau orang yang meninggal jangan dibilang mati buu, apalagi ini ibu sendiri .. meninggal. Mati itu kasar, untuk binatang”, sambil menahan geli, saya menanggapi ibu tersebut. Si ibu hanya manggut-manggut.

Kalau ibu sendiri … Muslim ?”, tanya saya hati-hati. “ Iya”, jawabnya lagi.

“Alhamdulillah …”,  saya berkata, sambil mencoba melirik tattoo di punggungnya. Miris hati ini.

Lain lagi cerita ibu yang satu lagi,  «  Seneng ya, bisa pergi haji ».

« Alhamdulillah », jawab saya pelan. «  Ibu sudah ? », tanya saya setengah khawatir salah bertanya.

“ Ah boro2”, jawabnya sambil melengos. “ Sembahyang aja ngga’ pernah koq .. ».

« Waduuh ..” , gimana menanggapinya yaa .. Apalagi si ibu tadi kelihatan jelas tidak ingin memperpanjang percakapan.  Saya hanya bisa terdiam dan kemudian berlalu. «  Menyedihkan sekali », pikir saya sedih.

Saya hanya bisa berharap, semoga kehadiran saya di acara ini mampu mengingatkan saudara-saudari kita sesama Muslim akan kewajiban mereka yang mungkin selama ini lupa saking asiknya menikmati keindahan kota Paris. Shalat, zakat, puasa, menunaikan haji dll.

Saya yakin, para ibu tersebut pasti hidup dalam kecukupan. Kalau tidak, mana mungkin mereka betah bertahun-tahun tinggal di Perancis. Saya tidak tahu, apakah suami mereka Muslim atau bukan. Bila bukan, ntahlah .. saya tidak berani berkomentar. Yang pasti pasangan hidup ( baik suami ataupun istri),  anak dan harta adalah cobaan. Bahkan mungkin cobaan terbesar dalam hidup.  Karena mereka sangat berpotensi memalingkan kita dari mengingat kehidupan akhirat, berzikir kepada Allah swt, Sang Khalik.

“ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; … … … Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS.At-Taghabun(64):14-15).

( Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.

8 Desember 2011.

Oleh Dr. Mohamad Daudah.

Kronologi Terapi Suara:

Alfred Tomatis, seorang dokter warga negara Prancis, membuat eksperimen-eksperimen selama lima puluh tahun mengenai indera manusia, dan ia membuat kesimpulan bahwa indera pendengaran merupakan indera yang paling penting! Ia menemukan bahwa pendengaran mengontrol seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vitalnya, keseimbangan, dan koordinasi gerakan-gerakannya. Ia juga menemukan bahwa telinga mengontrol sistem syaraf!

Selama eksperimennya, ia menemukan bahwa syaraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh, dan ini adalah alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Telinga bagian dalam terhubung dengan seluruh organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, perut, dan usus. Hal ini menjelaskan mengapa frekuensi-frekuensi suara itu memengaruhi seluruh tubuh.

Pada tahun 1960, ilmuwan Swiss yang bernama Hans Jenny menemukan bahwa suara dapat memengaruhi berbagai Artikelal dan membentuk partikular-partikularnya, dan bahwa masing-masing sel tubuh itu memiliki suaranya sendiri, dapat terpengaruh oleh suara, dan menyusun ulang Artikelal di dalamnya. Pada tahun 1974, peneliti Fabien Maman dan Sternheimer mengumumkan penemuan mengejutkan.

Mereka menemukan bahwa setiap organ tubuh itu memiliki sistem vibrasinya sendiri, sesuai dengan hukum fisika. Beberapa tahun kemudian, Fabien dan Grimal serta peneliti lain mengungkapkan bahwa suara dapat memengaruhi sel-sel, khususnya sel kanker, dan bahwa suara-suara tertentu memiliki efek yang lebih kuat. Hal ajaib yang ditemukan dua peneliti itu adalah bahwa suara yang memiliki efek paling kuat pada sel-sel tubuh adalah suara manusia itu sendiri!

Gambar: suara bergerak dari telinga ke otak dan memengaruhi sel-sel otak. Akhir-akhir ini para ilmuwan menemukan bahwa suara memiliki daya penyembuh yang ajaib dan afek mengagumkan terhadap sel-sel otak, dimana ia bekerja untuk mengembalikan keseimbangan ke seluruh tubuh! Bacaan al-Qur’an memiliki efek luar biasa terhadap sel-sel dan dapat mengembalikan keseimbangan. Otak merupakan organ yang mengontrol tubuh, dan darinya muncul perintah untuk relaksasi organ-organ tubuh, khususnya sistem kekebalan tubuh.

Fabian, seorang peneliti sekaligus musisi, meletakkan sel-sel darah dari tubuh yang sehat dan menghadapkannya pada berbagai macam suara. Ia menemukan bahwa setiap not skala musik dapat memengaruhi medan elektromagnetik sel. Ketika ia memotret sel ini dengan kamera Kirlian, ia menemukan bahwa bentuk dan nilai medan elektromagnetik sel itu berubah sesuai dengan frekuensi-frekuensi suara dan tipe suara orang yang membaca. Kemudian ia membuat eksperimen lain dengan meletakkan darah orang sakit, memonitornya dengan kamera Kirlian, dan meminta pasien untuk membuat berbagai macam suara. Ia menemukan, sesudah memproses gambar, bahwa not tertentu dapat mengakibatkan perubahan pada medan elektromagnetiknya dan menggetarkannya secara seutuhnya dengan merespon suara pemiliknya.

Akhirnya ia menyimpulkan bahwa ada not-not tertentu yang bisa memengaruhi sel-sel dan membuatnya lebih vital dan aktif, bahkan meregenerasinya. Ia menarik suatu hasil yang penting: suara manusia memiliki pengaruh yang kuat dan unik terhadap sel-sel tubuh; pengaruh ini tidak ditemukan pada instrumen lain.

Peneliti ini menyatakan, ‘Suara manusia memiliki nada spiritual khusus yang membuatnya menjadi sarana pengobatan yang paling kuat.’ Fabien menemukan bahwa beberapa suara dapat menghancurkan sel-sel kanker, dan pada waktu yang sama dapat mengaktifkan sel-sel yang sehat.

Gambar: Sel kanker hancur hanya dengan frekuensi-frekuensi suara! Itulah mengapa bacaan al-Qur’an memiliki pengaruh yang besar terhadap kanker yang paling berbahaya dan penyakit yang sangat akut!

Tetapi, apakah pengaruh ini hanya terbatas pada sel-sel? Jelas bahwa suara dapat memengaruhi segala sesuatu di sekitar kita. Inilah yang dibuktikan Masaru Emoto, ilmuwan Jepang, dalam eksperimennya terhadap air. Ia menemukan bahwa medan elektromagnetik pada molekul-molekul air itu sangat terpengaruh oleh suara, dan ada suara-suara tertentu yang memengaruhi molekul dan membuatnya lebih teratur.

Apabila kita mengingat bahwa 70% tubuh manusia itu adalah air, maka suara yang didengar manusia itu memengaruhi keteraturan molekul-molekul air pada sel-sel tubuh, dan juga memengaruhi molekul-molekul itu bergetar, sehingga dapat memengaruhi kesehatannya.

Para peneliti lain mengonfirmasi bahwa suara manusia dapat mengobati banyak macam penyakit termasuk kanker. Para terapis juga menyetujui bahwa ada suara-suara tertentu yang lebih efektif dan memiliki kekuatan penyembuh, khususnya dalam meningkatkan sistem kekebatan tubuh.

Gambar: bentuk molekul air berubah ketika dihadapkan pada suara. Jadi, suara itu berpengaruh sangat besar terhadap air yang kita minum. Apabila Anda membacakan al-Qur’an pada air, maka karakteristiknya akan berubah dan air itu akan mentransfer efek-efek al-Qur’an itu kepada setiap sel dalam tubuh, sehingga mengakibatkannya sembuh. Dalam gambar kita melihat molekul air yang didinginkan. Medan elektromagnetik di sekitar molekul ini berubah secara kontinu disebabkan efek suara.

Bagaimana al-Qur’an mengobati?

Sekarang, mari kita jawab pertanyaan penting: apa yang terjadi pada sel-sel tubuh dan bagaimana suara itu bisa mengobati? Bagaimana suara ini berpengaruh pada sel-sel yang rusak dan mengembalikan keseimbangannya? Dengan kata lain, bagaimana mekanisme pengobatannya?

Para dokter selalu mencari jalan untuk menghancurkan beberapa virus. Apabila kita berbicara tentang mekanisme virus ini, apa yang membuatnya bergerak dan menemukan jalannya kepada sel? Siapa yang memberi virus itu informasi sehingga bisa menyerang sel dan berkembang biak di dalamnya? Apa yang menggerakkan sel-sel untuk menyerang virus agar menghancurkannya, sementara ia lemah terhadap virus lain?

Gambar: Virus dan kuman juga bergetar dan sangat terpengaruh oleh vibrasi suara, khususnya suara bacaan al-Qur’an. Suara al-Qur’an dapat menghentikan mereka, dan pada waktu yang sama meningkatkan aktivitas sel-sel sehat dan membangkitkan program yang terkacaukan di dalamnya agar siap bertempur melawan virus dan kuman.

Bacaan al-Qur’an itu terdiri dari sekumpulan frekuensi yang sampai ke telinga, lalu bergerak ke sel-sel otak, dan memengaruhinya melalui medan elektronik, lalu frekuensi-frekuensi tersebut mengaktifkan sel-sel. Sel-sel akan merespon medan itu dan memodifikasi vibrasi-vibrasinya. Perubahan pada vibrasi inilah yang kita rasakan dan pahami sesudah mengalami dan mengulangi.

Ini merupakan sistem alamiah yang diberikan Allah pada sel-sel otak. Ini merupakan sistem keseimbangan yang natural. Inilah yang difirmankan Allah kepada kita di dalam al-Qur’an al-Karim, ‘Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ (ar-Rum: 30).

Gambar: Gambaran riil sel darah yang dihadapkan pada suara sehingga medan elektromagnetik di sekitarnya berubah. Suara bacaan al-Qur’an membuat sel menjadi lebih kuat untuk melawan virus dan kerusakan akibat penyakit menular.

Ayat-Ayat Obat

Setiap ayat dalam al-Qur’an memiliki daya penyembuh untuk penyakit tertentu. Tetapi yang ditekankan Rasulullah saw adalah beberapa surat dan ayat tertentu, seperti membaca al-Fatihah 7 kali, membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir surat surat al-Baqarah, dan tiga surat terakhir al-Qur’an.

Anda juga memilih ayat-ayat yang sesuai untuk mengobati penyakit Anda. Sebagai contoh, jika anda merasa gelisah, maka fokuskan pada bacaan surat asy-Syarh. Dan jika Anda sakit kepala, maka bacalah ayat: ‘alau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.’ (al-Hasyr: 21)

Nabi saw membaca ta’awudz ratusan kali setiap hari. Beliau memohon kepada Allah untuk melindunginya dari berbagai hal buruk, termasuk penyakit. Kita juga sangat dianjurkan untuk membaca surat al-Falaq dan an-Nas setiap hari. Semoga Allah menjadikan al-Qur’an sebagai obat bagi kita dari setiap penyakit, lahir dan batin.

Diambil dari:

http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/energi-penyembuh-dalam-al-qur-an-antara-sain-dan-keyakinan-2.htm

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON–Hasil survei terbaru dari Faith Matters menyatakan penyebaran Islam di Inggris lebih cepat ketimbang di negara Eropa lainnya. Per tahun, diperkirakan ada sekitar 5.000 mualaf baru di Inggris, sementara di Jerman dan Prancis jumlah mualaf per tahunnya sekitar 4.000 orang.

Peneliti dari Faith Matters menyurvei tiap masjid yang ada di London. Hasilnya, untuk Kota London saja, selama 2010 ada 1.400 mualaf baru. Ini belum termasuk data dari kota-kota di seluruh Inggris Raya.

Direktur Faith Matters, Fiyaz Mughal, mengatakan maraknya Islam di Inggris dipicu karena tingginya sorotan publik atas umat Muslim. “Warga ingin tahu apa sebenarnya Islam. Dan ketika mereka sudah tahu, sebagian kecil ada yang menjadi mualaf. Mereka menemukan kedamaian dalam Islam,” katanya.

Simak pernyataan Hana Tajima (23 tahun) yang bekerja sebagai perancang busana. “Awalnya aku memiliki beberapa teman Muslim saat kuliah. Saat itu aneh saja. Mereka jarang keluar malam, ke klub atau nongkrong,” katanya.

“Dan ketika aku mengambil mata kuliah filsafat, aku mulai bingung dengan makna hidupku. Padahal saat itu aku cukup terkenal di kampus. Aku sudah merasa cukup. Tapi aku bertanya, betulkah ini kehidupan yang aku inginkan?” kata Tajima, panjang lebar.

“Lalu aku membaca literatur tentang Islam dan perempuan. Anehnya, ternyata mereka sangat relevan. Semakin banyak aku membaca, semakin yakin aku terhadap Islam,” katanya.

Lain lagi dengan pengalaman Denise Horsley (26) yang bekerja sebagai guru menari. Ia kenal Islam lewat pacarnya. “Saat itu banyak orang bertanya apakah aku menjadi mualaf karena pacaran? Aku jawab tidak! Aku menemukan Islam. Aku tumbuh sebagai penganut Kristen,” katanya.

Horsley kini mengenakan jilbab. Ia mengatakan, jilbab adalah konsep penting dalam Islam. “Kerudung ini bukan sekedar pakaian atau tren. Mengenakan jilbab justru menyatakan kejujuran atas diri sendiri dan apa yang akan kau lakukan,” katanya.

“Sebenarnya sih, aku masih orang yang sama dengan yang sebelumnya. Cuma aku tidak minum-minuman keras, makan babi, dan sekarang aku shalat lima kali sehari,” katanya.

Pengalaman Dawud Beale (23) lebih unik. Sebelumnya, ia adalah pemuda rasis yang menyepelekan Islam. “Lalu aku berlibur ke Maroko. Di situ pertama kali aku berkenalan dengan Islam. Aku akui sebelumnya aku penganut rasis. Tapi sepekan usai pulang dari Maroko, aku memutuskan memeluk Islam,” katanya.

Beale bermukim di Somerset. Ketika ia baru-baru menjadi mualaf, sangat sukar menemukan masjid di Somerset, yang memang tidak ada. Ia lalu bertemu dengan rekan-rekan dari Hizb-ut Tahrir, gerakan politik Islam. “Ternyata banyak yang media barat katakan tentang Islam salah,” katanya.

“Aku yakin sudah menemukan jalan hidup yang tepat dalam Islam,” katanya lagi.

Sementara Paul Martin (27) mengatakan ia menikmati gaya hidup sebagai muslim. “Awalnya aku berkenalan dengan Islam setelah mengamati gaya hidup teman-teman Muslim. Mereka tampak menikmati betul hidup, tidak merusak tubuhnya. Setelah itu, aku mendalami Alquran,” katanya.

Seorang teman Martin lantas mengenalkannya ke seorang tokoh Islam yang berprofesi sebagai dokter. Martin banyak berkonsultasi tentang Islam dengannya. Mereka mengobrolkan Islam di kafe. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat saya di kafe,” kata Martin. “Saya tahu banyak yang mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid, tapi bagi saya, Islam bukan sekedar tempat di mana kau percaya pada Allah SWT. Islam adalah tempat di hatimu,” katanya.

Redaktur: Stevy Maradona

Sumber: Telegraph

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/01/04/156298-kisah-empat-remaja-inggris-menemukan-kehidupan-dalam-islam

La Randonnée (2).

Randonnée dimulai dari Lac de Bious-Artiques yang terletak di kaki gunung Pic du Midi d’Ossau. Danau ini merupakan bendungan air dari sejumlah air sungai yang mengalir dari gunung Pic du d’Ossau.  Airnya yang berwarna biru dan terlihat sangat bersih dan jernih ini juga merupakan sumber air yang bakal diolah agar menjadi air siap minum atau orang Perancis menyebutnya eau potable.

Subhanallah .. Maha benar Allah atas segala firman-Nya. Perhatikanlah ayat berikut :

« Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? » (QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Meski sejumlah kendaraan pribadi terlihat diparkiran namun kami tidak melihat banyak tamu di tempat tersebut. Mungkin mereka sudah berada di atas sana. Di depan gerbang terpampang beberapa pengumuman. Diantaranya larangan membuang sampah dan memetik tanaman. Tidak jauh dari tempat tersebut terlihat tiga tong sampah besar dan WC umum.

Sandy mengingatkan bahwa setelah itu tidak ada lagi toilet. Maka saya memutuskan untuk buang air terlebih dahulu. Sepintas saya membaca tulisan di depan pintu wc “ wc non chimique » tanpa berusaha memahami maksudnya. Namun setelahnya, saya bingung mencari alat penyiramnya.

Ah, menyesal kenapa tadi g tanya Sandy dulu, pikir saya. Yang saya temukan hanyalah keterangan bahwa untuk menyiram wc cukup hanya dengan menginjak kuat-kuat pedal yang ada di bawah wc, sebanyak 7 kali. Saya kembali bengong, karena tetap tidak ada air yang keluar. Ternyata inilah yang dimaksud wc non chimique. Kotoran tidak disiram dengan air melainkan dengan udara. Tujuannya agar tidak mengotori lingkungan, terutama saluran air dalam tanah ! Wah, benar-benar mereka pintar sekali menjaga alam ciptaan Allah ini. Mestinya kita nih, umat Islam yang berpikiran begitu ..  😦

Singkat cerita, sambil berbincang santai, kamipun mendaki jalanan setapak pegunungan. Sekali-sekali kami berpapasan dengan sesama pendaki atau penjaga hutan yang berkeliling menaiki kendaraan khusus.  Sandy mengingatkan untuk selalu menyapa ramah “ Bonjour” kepada mereka. Itu etika disini, lanjut nya bangga.

Udara cukup bersahabat, tidak terlalu dingin untuk ukuran musim gugur di bulan Oktober ini. Sementara sinar matahari yang cerah menerangi alam pegunungan yang tampak bersih dari segala kotoran itu. Tak secuilpun sampah tampak di antara rontokan daun-daun kering yang berguguran. Warna-warni dedaunan di pepohonan:  hijau, kuning, merah, orange sungguh menakjubkan mata dan hati. Belum lagi  gemericik suara air sungai, burung-burung yang bernyanyi serta suara lonceng kalung sapi di kejauhan .. Masya Allah .. alangkah merdunya …

“ Mana nih, puncak gunungnya udah kelihatan, belum ”, tanya saya kepada Sandy..” Si “, jawabnya sambil menunjuk puncak gunung Pic du Midi yang mempunyai ketinggian 2885 m itu. “ Il nous survey, toujours”, tambahnya sambil tertawa.

Memang benar jawabannya, puncak gunung batu tersebut terlihat dari manapun kami berada, seolah terus mengawasi orang-orang yang berada di bawahnya.

Tak lama kemudian kami memasuki kawasan hutan, menjauh dari aliran sungai. Ini lokasi tersulit karena jalanan terus mendaki. Dengan bantuan akar-akar pohon yang membentuk tangga alami kami terus melanjutkan perjalanan. Saya mulai kehabisan nafas. Sebentar-sebentar kami terpaksa berhenti, duduk di bebatuan besar atau akar pohon sambil minum .. dan tentu saja, mengambil gambar ! 

“ haha .. kamu curang yaa ”, komentar Sandy tertawa terbahak-bahak. “ Kamu berlagak kagum melihat keindahan hutan padahal sebenarnya kamu kecapean”. Ia bahkan menghitung setiap jepretan yang saya lakukan. Saya hanya tertawa menanggapi ejekannya itu. Saya memang teler tapi sungguh mati saya benar-benar mengagumi keindahan hutan tersebut.

Dan berhubung tak kuat menahan lapar jika harus menunggu sampai di tempat terbuka baru makan, akhirya kamipun membuka bekal makanan kami di tengah hutan tersebut. Kami makan di atas batu besar di bawah rindangnya hutan. Hemm, nikmat juga .. Beberapa pengunjung tersenyum melihat kami makan di tempat yang tidak lazim tersebut. Biasanya mereka makan sambil berjemur di bawah matahari.

Setelah agak kenyang kami kembali meneruskan perjalanan. Ternyata tak sampai setengah jam kemudian kami telah keluar dari hutan dimana matahari tampak cerah menerangi alam sekitar. Terlihat beberapa orang sedang menyantap bekal makan siang mereka. Oh, pantas mereka tersenyum melihat kami makan di dalam hutan tadi.

“ Courage Vivin .. danau udah deket tuh .. di balik bukit itu”, terdengar Sandy menyemangati. Di kejauhan tampak jalanan meliuk menyusuri ladang berbukit yang  terhampar luas di hadapan kami. Beberapa orang terlihat sedang menaiki bukit kecil tersebut. Pada musim panas biasanya para penggembala menggembalakan ternak mereka di tempat ini. Saat ini tak terlihat satupun sapi atau domba. Ternak-ternak tersebut telah dipindahkan ke ladang di dataran rendah yang lebih hangat. Dalam hati saya berkata “ Hebat juga, sapi dan domba bisa naik turun gunung seperti ini”.

Namun saya lebih kagum lagi dengan sejumlah orang setengah umur yang mendaki gunung. Bahkan kami berpapasan dengan seorang kakek yang mendaki dengan dibantu tongkat yang menyangga salah satu kakinya. Ia berjalan bersama istrinya yang juga sudah setengah umur. Sandy kembali meledek saya “ Ayo jangan  kalah sama mereka”.

Di saksikan untaian pegunungan cantik yang mengepung kami, dengan susah payah saya berusaha menjejeri Sandy. Hingga akhirnya tibalah kami di dataran landai. Sebuah danau nan cantik jelita menanti di ujung sana. Airnya yang biru jernih memantulkan bayangan deretan pegunungan yang mengelilinginya. Masya Allah … Sungguh indah ciptaan-Mu ..

“ Lihat itu “, tunjuk Sandy sambil menunjuk puncak gunung Pic du Midi d’Ossau yang ada di belakang kami. “ Comme je dit, il nous survey, non?”. Katanya dengan mata berbinar, menandakan kekagumannya pada gunung tersebut.

«  Kalau saya akan bilang «  Allahu Akbar », jawab saya tak kalah kagumnya. «  Dialah yang menciptakan semua ini ».  «  Yaaa, betul sih. Tapi tetep aja gunung itu yang paling terlihat berkuasa kan”, katanya lagi setelah sempat terdiam sejenak.

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa`at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”.(QS.As-Sajadah(32):4).

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”.(QS.Al-Anbiyya(21):16).

“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.”(QS.Al-Ahqof(46):3).

Saya tertawa. “ Kamu bilang, gunung itu mengawasi kita. Betul. Tapi itu kan selama kita ada di sekitar sini. Kalau Allah, dia mengawasi kita dimanapun kita berada. Bahkan Dia tahu apa yang ada dalam hati kita”, terus saya. Sandy hanya manggut-manggut saja. 

“Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan”.(QS.Al-An’am(6):3).

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati indahnya pemandangan kamipun kembali turun.  Saya memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. Karena sebenarnya di balik bukit berikutnya masih ada dua danau lagi. Tapi saya menyerah. Selain lelah hari juga sudah menjelang sore. Saya pikir Sandy harus menjemput putrinya. Meski berkali-kali ia mengatakan telah meminta orang tuanya agar menjemput putrinya itu.

Di saat saya sedang berpikir, mempertimbangkan apakah saya shalat di tempat ini atau di rumah saja, tiba-tiba Sandy bertanya “ Kamu mau shalat dulu?”. Saya tidak kaget, karena ia memang tahu kalau saya sebagai Muslim mempunyai kewajiban mendirikan shalat. Bahkan jika kami ( saya, suami dan putri kami) berkunjung ke rumahnya ia selalu menawarkan kamarnya untuk kami shalati.

Akhirnya saya memutuskan untuk shalat dulu. Kami mencari tempat yang agak teduh dan ada air bersih. Di tepi sebuah sungai kecil kami berhenti. Dengan air yang lumayan dingin tersebut saya mengambil wudhu.

“ Kamu tahu kemana kiblatnya?” tanya Sandy lagi.

“ Kemana sajalah, namanya juga di perjalanan. Allah maklum koq”, jawab saya diplomatis.

Kemudian ia menunjuk ke arah puncak gunung yang terlihat ada diatas kami.

Enak saja”, jawab saya sambil tersenyum. Segera ia mengeluarkan hpnya dan mencari kompas di dalamnya. “ Lihat ini saja. Nah, cari tuh kemana kiblatnya”. Saya jadi tersipu. Iya ya .. kenapa tidak terpikir sejak tadi ..  😦

“ haha .. apa kata saya”, begitu komentarnya begitu kompas ternyata menunjukkan bahwa kiblat ke arah puncak gunung. “ Kebetulan, tahuuu ..” , omel saya lagi.

Sayapun kemudian menggelar sajadah kecil yang sengaja dibawa dari rumah lalu shalat, Zuhur dan Ashar yang digabung. Sementara Sandy meneruskan makan siangnya tidak jauh dari tempat saya shalat.

Selesai shalat, saya menghampirinya dan ikut meneruskan makan yang tadi belum habis. “ Tadi kamu shalat yang ke berapa?, tanyanya. “ Kedua dan ketiga. Boleh digabung karena kita sedang dalam perjalanan”, jawab saya.

Tak lama kemudian ia bertanya lagi “ Kenapa orang Islam g boleh makan babi? Karena kotor ya?”. Saya berpikir sebentar sebelum menjawab. Saya teringat kata-kata suami saya yang mengatakan bahwa beberapa temannya sering menanyakan hal yang sama. Namun belakangan mereka mengatakan bahwa babi sekarang sudah bersih dan bebas cacing pita. “ Jadi boleh dimakan dong …” 

Setelah memutar otak sejenak, akhirnya saya menjawab, Bismillah, ” Bagi orang beriman, tidak selamanya larangan Allah itu ada alasannya. Namun belakangan ini, para saintis menemukan fakta bahwa tabi’at babi itu buruk. Dalam keadaan terpaksa ia tega memakan anaknya sendiri. Ia juga biseksual. Pasti kamu setuju bahwa itu perbuatan amoral kan? Selain itu ternyata DNA babi mirip manusia. Akibatnya, kalau kita mengkonsumsi dagingnya, ini akan menjadi sumber berbagai penyakit. Ini yang paling berbahaya”.

Sandy hanya manggut-mangut lalu menyambung“ Tapi menurut saya, babi memang binatang yang paling kotor dan jorok.  Yang saya tahu, sapi dan kuda tidak pernah mau makan di tempat ia membuang kotorannya. Sementara babi .. ia tidak peduli”, katanya sambil menyeringai, tanda jijik.

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging bab — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.Al-An’am(6):145).

Saya hanya mengangkat bahu. Sering saya berharap agar sahabat Perancis saya ini mendapat hidayah dari Allah swt. Suatu kali saya pernah menghadiahinya Al-Quran. Namun ya hanya sebatas itu. Saya tidak pernah tahu apakah kitab mukjizat tersebut dibacanya  atau tidak. Putrinya yang juga sahabat putri kami, dulu juga termasuk yang sering membela putri kami bila ada orang melecehkan Islam. Yaah, semoga saja hidayah itu datang  … Tapi bila mereka tidak mencarinya ?? Wallahu’alam ..

Perjalanan mengesankan ini akhirnya selesai. Tepat pukul 18.30 Sandy mengantarkan saya kembali ke hotel dimana saya menginap. Beberapa hari kemudian kami ( saya dan suami) kembali ke Paris.

Laporan perjalanan ini tampaknya akan menjadi penutup sementara blog ini, insya Allah. Insya Allah Lusa saya dan suami akan berangkat memenuhi panggilan-Nya ke tanah suci.

Merupakan suatu keberkahan bagi kami sehingga diberi-Nya kami berdua kesempatan kedua untuk menemui-Nya di padang Arafah tanpa harus menzalimi saudara-saudara di tanah air yang belum berkesempatan melakukan kewajiban ini. Berangkat haji melalui Eropa, khususnya Paris, memang tidak perlu mengantri karena kwotanya berlebih. Jadi silahkan, siapa yang benar-benar berniat melaksanakan haji demi kecintaan dan ketaatan pada-Nya, berangkat dari Eropa tampaknya patut dipertimbangkan.

Akhir kata, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan khilaf kami. Semoga dengan demikian Sang Khalik juga ridho menerima taubat dan permohonan maaf kami, amiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 26 Oktober 2011.

Vien AM.

Lihat : http://www.randonnee-passion.com/ossau.htm

La Randonnée (1).

Randonnée atau hiking bagi kebanyakan masyarakat Perancis adalah olah raga yang digemari hampir semua lapisan umur, terutama pada musim panas. Jadi jangan heran, bila sekali waktu mendapat kesempatan hiking di negri ini, kita bakal sering jumpa dengan orang yang tidak lagi muda. Walaupun mungkin bukan track-track yang sulit.

Saya pikir, orang Perancis ( atau mungkin kebanyakan orang Barat ya ?) suka hiking mungkin karena fasilitasnya tersedia. Selain juga mungkin karena kesadaran mereka agar menjaga kesehatan sudah tinggi. Dan hiking termasuk olah raga yang murah meriah, terutama buat yang tinggal tidak jauh dari pegunungan. Selain itu kebanyakan orang Barat adalah orang yang sangat menghargai dan mengagumi keindahan alam.

Itu yang saya alami selama 1 tahun lebih tinggal di negri ini. 2 kali sudah saya mencoba ikut hiking. Padahal sebelumnya, selama di tanah air, hampir tidak pernah saya melakukannya.

Sungguh saya merasa sangat beruntung karena di usia yang sudah tidak lagi muda ini masih mendapat kesempatan menikmati keindahan ciptaan-Nya melalui kegiatan yang menyehatkan tubuh ini. Alhamdulillah. Sementara hampir setiap week-end kami bisa berjalan-jalan ke pegunungan. Kebetulan kami memang tinggal di Pau, kota kecil di kaki pegunungan Pyrenee, pegunungan ke 2 terkenal di Eropa.

Pegunungan sepanjang 430 km ini adalah  pembatas antara Perancis di bagian selatan dengan Spanyol di utara. Rangkaian pegunungan yang di musim dingin menjadi tujuan olah raga ski ini dibagi atas 3 bagian, yaitu Pyrenee Atlantik, Pyrenee Sentral dan Pyrenee Oriental. Pegunungan cantik ini membujur dari lautan Atlantik di sebelah barat hingga laut Mediterania di timur. Tercatat sebanyak 48 puncak gunungnya memiliki ketinggian lebih dari 3000 meter. Sementara lebih dari 30 lainnya berketinggian sekitar 2000 meter.

Ketika kami masih tinggal di Pau inilah, kami pernah berencana randonnee ke Pic du Midi d’Ossau ( 2885 m), salah satu puncak gunung di jajaran pegunungan Pyrenee Atlantik. Namun rencana tersebut tidak kesampaian hingga kami pindah ke Paris. Maka begitu saya mendapat kabar bahwa suami mendapat tugas ke Pau selama 5 hari, segera saya mengontak teman saya yang dulu pernah mengajak kami randonnee.

Teman tersebut adalah orang asli Perancis, namanya Sandy. Kami berkenalan dengannya karena putrinya adalah sahabat putri kami satu-satunya ketika ia bersekolah di Pau. Tentu saja Sandy sangat senang mendengar ajakan saya itu. Sayang, seorang teman yang dulu pernah berniat pergi bersama kami sudah pulang ke Indonesia. Sementara teman yang satu lagi tidak dapat meninggalkan kegiatan rutinnya. Singkat cerita, pergilah kami berdua ke Pic du Midi d’Ossau pada pukul 9.30 waktu setempat.

Perjalanan dengan kendaraan pribadi yang dikemudikan sendiri oleh Sandy ini bergerak menuju arah kota Laruns. Awalnya kami agak kecewa karena hari tampak mendung, awan terlihat menutupi sinar matahari. Bahkan tak berapa lama kemudian hujanpun mulai turun.

“ Gimana nih, kita terusin g ya ..”, tanya saya. “ Coba aja dulu .. belum tentu di atas sana hujan koq karena bisa jadi awan malah ada di bawah kita ..”, jawab Sandy yang sudah sering sekali hiking itu.

Ternyata perkiraannya benar. Tak sampai setengah jam kemudian, setelah kami memasuki daerah pegunungan, matahari mulai menampakkan dirinya. Alhamdulillah.  Meski saking asiknya kami ngobrol ‘ngalor ngidul’ kami sempat salah jalan. Akibatnya kami terpaksa kehilangan sekitar setengah jam perjalanan karena terpaksa mengambil jalan agak berputar.

Dari percakapan ‘ngalor ngidul’ tadi ada satu yang rasanya patut untuk dicatat dan di share di sini. Obrolan tersebut mengenai sistim pendidikan di Perancis. Sahabat saya ini mempunyai 2 putri. Yang sulung seumur dengan anak gadis saya, yaitu 17 tahun. Sedangkan yang kecil berumur 13 tahun. Namanya Cloue.

Gadis kecil ini sejak usia dini memang sangat mencintai kuda. Saking cintanya orang-tuanya menyewakan seekor kuda betina untuknya. Suatu hal yang biasa karena harga kuda mahal sekali. Setiap minggu Cloue datang ke tempat pelatihan kuda dimana ia menyewa dan menitipkan kudanya itu. Tahun lalu mereka berhasil memaksa kami ( saya dan suami) untuk datang melihat acara pelantikan Cloue sebagai penuntun kuda.

Awalnya terus terang, kami agak ragu untuk datang. Karena teman saya itu menyebutnya acara le Baptême atau bahasa Indonesianya baptis, yang kami pikir tentu saja acara yang berbau keagamaan. Namun setelah diberi tahu apa yang dimaksud baptême maka demi menjaga silaturahmi, kamipun menyanggupinya untuk hadir.

Menurut Sandy, le Baptême dalam bahasa Perancis adalah istilah yang dipakai untuk pengukuhan pertama atas sebuah peristiwa besar dalam hidup. Sementara istilah baptis pada umumnya agama Nasrani adalah peristiwa pembersihan dosa anak yang baru lahir. Karena menurut keyakinan agama ini setiap anak yang baru lahir telah menanggung dosa.

Jadi terbalik dengan keyakinan ajaran Islam yang menyatakan bahwa semua anak yang baru lahir adalah bersih alias tidak menanggung dosa apapun.  Ia sebersih kain putih tanpa sedikitpun noda di atasnya.

“Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci dan bersih) maka kedua ibu-bapanyalah yang menjadikannya berperangai dengan perangai Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Beruntung Sandy dan keluarganya mau menerima dan menghargai pendapat kami. Dengan halus kami katakan bahwa kami tidak mau dan tidak ingin mencampur adukkan antara persahabatan dengan keimanan. Bila itu acara keagamaan dengan sangat menyesal kami tidak dapat hadir. Alhamdulillah ia dapat mengerti.

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.(QS.Al-Kafirun(109):1-6).

Baptême sehubungan dengan kuda yang dimaksud Sandy ternyata adalah pengukuhan Cloue dalam rangka keberhasilannya menuntun kuda. Ah, aya-aya wae .. J .. Meski ternyata tidak hanya itu. Karena akhirnya mereka berhasil memaksa kami berdua untuk menunggang kuda dengan dituntun sang putri tercinta. Padahal sungguh mati, saya ini penakutnya bukan main .. Olala … 😦 …

Nah, berhubungan dengan hobby putrinya ini, Sandy bercerita bahwa sejak awal tahun ajaran yang baru lalu, Cloue keluar dari sekolah normal demi mengejar cita-citanya sebagai pelatih kuda professional ! “ Wow “, itulah reaksi pertama saya. “ Mungkin ya .. ?”, tanya saya keheranan.

Pikiran saya tiba-tiba melayang ke obrolan anak perempuan saya tahun lalu. Ketika itu ia bercerita bahwa beberapa teman Perancisnya tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan resmi hingga ke perguruan tinggi. Salah satu ada yang mengatakan bahwa ia bercita-cita menjadi seorang ahli dalam memelihara ikan di aquarium !

Saya juga teringat kepada seorang yang pernah menjadi pemandu arung jeram kami sekeluarga di sebuah kota kecil di Spanyol yang bercita-cita menjadikan profesi pemandu arung jeram sebagai profesi profesional. Begitu juga cerita seorang pensiunan yang menjadikan pelatih ski sebagai profesi barunya.

Bagi saya ini benar-benar menarik. Mengapa tidak? Pengalaman kita di tanah air, hampir semua orang tua memaksa anaknya agar masuk perguruan tinggi dan kuliah. Tujuannya, rata-rata, agar dapat bekeja dengan imbalan gaji tinggi. Namun pada kenyataannya, benarkah hal ini terjadi ?

Yang saya tahu, di negri kita banyak sarjana yang menganggur. Ironisnya lagi, banyak yang akhirnya ‘hanya’ menjadi guru atau ‘uztad’ yang sering kali disejajarkan dengan guru mengaji, karena terpaksa. … 😦 .. Padahal profesi guru apalagi uztad adalah profesi terhormat ! Nah, dapat dibayangkan, kalau para pendidik menjalankan pekerjaan mengajar karena terpaksa, bagaimana mutu dan mental mereka, baik sang pengajar maupun murid itu sendiri ?

Menariknya lagi. Dari obrolan ‘ngalor ngidul’tadi, saya jadi tahu bahwa gaji atau pendapatan profesi para pelatih itu, baik pelatih kuda maupun ski dll itu tidaklah ‘wah’. Karena, masih menurut Sandy, bukan itu yang mereka kejar. Bagi mereka, uang bukanlah segalanya.

Saya benar-benar terpana dan hanya bisa manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Pada akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa bekerja itu tidak melulu hanya untuk mencari uang yang banyak saja. Faktor kepuasan dan rasa berbagi ( menyayangi dan memelihara kuda atau ikan, menjadi dokter bedah yang bukan tergiur karena pendapatannya yang ‘wow’ melainkan karena rasa kemanusiaan, misalnya) juga faktor yang tak kalah pentingnya.

Subhanallah .. saya pikir ini sangatlah islami. Kalau saja bangsa Indonesia sebagai umat Muslim terbesar di dunia mempunyai cara berpikir seperti ini, tentu Islam yang mempunyai ciri ‘Rahmatan lil ‘Alamin’ itu pasti akan terasa sekali dampaknya bagi alam semesta ini. Alangkah indahnya bukan ? Tidak ada yang namanya perbedaan tingkat dalam kedudukan, kekayaan, kehormatan, pendidilkan dll kecuali semuanya itu adalah ujian dari Allah swt.

« Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ».(QS.Al-An’am(6) :165).

Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Kendaraan terus melaju, menembus keindahan alam yang sungguh menakjubkan. Bila dari jalan tol saja deretan pegunungan Pyrene sudah mampu membuat kita terkagum-kagum, apalagi  bila kita melalui jalan non tol seperti yang kami lalui saat ini. Sungguh betapa cantiknya ciptaan-Mu Ya Allah … Masya Allah …

Dari kejauhan jalanan terlihat mulai mengecil, mendaki serta meliuk. Pepohonan di musim semi dengan warnanya yang mulai menguning membuat makin indahnya pemandangan. Sekitar pukul 12.30 siang kamipun tiba di tepi danau bernama Lac de Bious-Artiques yang terletak di kaki gunung Pic du Midi d’Ossau. Ini adalah tempat pemberhentian resmi terakhir para tamu yang ingin mendaki gunung tersebut.

“ Ini sih g masuk itungan danau yang dicari turis. Kalau mau dihitung juga judulnya danau nomer nol ”, jawab Sandy tertawa atas kekaguman saya terhadap danau yang diapit pegunungan tersebut. Belakangan saya baru ngeh bahwa maksud Sandy diluar hitungan itu karena orang tidak perlu mendaki untuk mencapai dan menikmati danau cantik tersebut.

“ Heuh .. tiwas g saya potret banyak-banyak ”, sesal saya kemudian. Meski saya pikir mungkin itu cara Sandy saja agar kami segera mendaki gunung dan melihat danau yang menjadi tujuan utama kami, bukan malah terkagum-kagum dan lama berhenti lama di tempat tersebut 🙂

( Bersambung).

Malam itu kami santap malam di restoran hotel. Dari tempat duduk kami di resto pemandangan gunung yang fantastis tidak terlihat meski sebenarnya gunung Bromo dan gunung Batok berdiri kokoh persis di depan kami. Yang terlihat hanya kegelapan malam yang gulita. Udara di luar sangat dingin, mungkin sekitar 10 derajat Celcius.

Saat itulah kami baru terpikir bahwa udara di pagi hari, esok menjelang subuh pasti akan lebih dingin lagi. Setelah bertukar pikiran, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa jaket saja ke hotel. Paling tidak untuk saya dan suami. Menyewa? Ya, menyewa .. Tadinya kami juga ragu, masak jaket saja menyewa. Lalu bagaimana dong?

Mau membeli tidak mungkin. Karena selain di sekitar hotel tidak ada yang jual, juga mubazir. Di rumah, jaket kan sudah banyak. Demikian pula topi wool dan sarung tangan. Beruntung, akhirnya kami di beri tahu bahwa pihak hotel telah meng-antisipasi kemungkinan tersebut. Maka jadilah kami berempat berama-ramai menyewa jaket, yang Alhamdulillah cukup bersih.

Selanjutnya kami segera masuk kamar dan berusaha untuk istirahat, tidur. Rencananya, pukul 3.00 esok pagi, kami akan di bangunkan pihak hotel untuk melihat tujuan utama para tamu Park National Tengger Bromo Semeru ini, yaitu sun rise atau le lever du soleil alias matahari terbit.

Pukul 3.30 kami keluar kamar. Berr … angin dingin langsung menyergap wajah dan tubuh kami. “ Untung, kita nyewa jaket bu ya”, begitu komentar anak gadis kami. Serentak kami mengangguk, meng-iya-kanya. Tapi ternyata kami agak terlambat. Deretan jeep yang ketika kami bangun tadi masih diparkir di pelataran hotel, ternyata saat kami keluar kamar tinggal dua saja. Yang lain telah berangkat. Kamipun segera memasuki jeep.

Jeep 4×4 berwarna orange yang dikemudikan penduduk asli Tengger inipun langsung tancap gas, menembus kegelapan malam. Kami melewati sejumlah turis, kebanyakan turis asing, yang memilih berjalan kaki. Beberapa kali pak sopir terlihat mengoper kopling agar laju jeep tidak terhambat jalanan berpasir yang cukup menanjak itu.

Setengah jam kemudian mobil berhenti. Belasan jeep sewaan dengan berbagai warna telah lebih dahulu diparkir di tempat tersebut. Selanjutnya bersama puluhan turis lainnya kami berjalan mendaki gunung. Uniknya, sejumlah kuda dengan dituntun empunya, ikut berdesakan bersama kami. Rupanya ini adalah salah satu pendapatan masyarakat setempat, yaitu menyewakan kuda.

Tidak nyaman sebenarnya. Mereka terus menerus mengikuti dan membujuk para tamu agar mau menaiki kudanya. Sementara kami harus jalan berhati-hati di tengah kegelapan karena kotoran kuda yang berserakan di jalanan ! Sungguh patut disayangkan ..

Sebaliknya, begitu saya mendongakkan  kepala ke langit .. Subhanallah .. bulan beserta berjuta-juta bintang dengan cahayanya yang cemerlang menghiasi langit yang terbuka lebar.  Bintang-bintang tersebut terlihat begitu dekat seakan dapat digapai dengan mudahnya.

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (QS.Al-Furqon(25):61)

Setelah berpikir sejenak, “ Alangkah ruginya bila hanya harus memandang pasir bercampur kotoran sementara di atas sana jutaan bintang nan cantik jelita berkedip memamerkan keindahannya yang sungguh mempesona”, akhirnya saya memutuskan untuk menaiki kuda saja. Maka dengan demikian sayapun bebas memandang ciptaan-Nya itu, meski dengan kedua tangan tegang memegang tali kendali kuda dan hati was-was karena sungguh mati saya adalah seorang pengecut yang takut naik kuda. Allahuakbar .. J

Tidak berapa lama kemudian, kami tiba di tujuan. Sebuah tangga menanti di ujung jalan. Sayapun turun dari kuda. Bersama yang lain kami menaiki anak tangga untuk menuju pelataran gunung Pananjakan. Langit mulai terlihat memerah menandakan bahwa fajar telah muncul.

“ Waktu shalat subuh mulai terbit fajar sampai terbitnya matahari. Jika matahari telah terbit maka hentikanlah shalat karena ia terbit di antara kedua tanduk setan.” ( HR Muslim).

Maka begitu kami sampai di pelataran, kami segera mencari tempat yang agak bersih dan datar. Setelah menggelar sajadah kamipun mendirikan shalat shubuh berjamaah. Sebelum berangkat suami memang telah mengingatkan agar mengambil wudhu terlebih dahulu. Usai shalat, seorang anak muda menghampiri kami untuk meminjam sajadah. Alhamdulillah ..

Sementara seorang anak muda lain bertanya-tanya karena ia tidak mempunyai wudhu. Apa boleh buat, karena kami tidak melihat adanya air, suamipun menganjurkan untuk tayamum saja. Semburat merah makin terang tanda matahari akan segera terbit. Artinya waktu subuh sudah nyaris habis.

Kami segera mencari posisi terbaik untuk menyambut terbitnya lampu alami terbesar ciptaan-Nya itu. Pemandangan sungguh menakjubkan. Rasanya kita seperti berada di awang-awang karena ke dua gunung tersebut ( Bromo dan Batok ) terlihat di bawah kita, secara utuh, bahkan dengan gunung Semeru sebagai latar belakangnya.

Namun tenyata ini bukan tempat yang terbaik. Sebelum Bromo mengeluarkan asap tebalnya pada November lalu, jeep dapat di parkir hingga puncak gunung Pananjakan, atau biasa dinamakan Pananjakan 1. Pada saat kami mengunjungi kompleks pegunungan ini, jeep hanya boleh mendaki hingga di Pananjakan 2.

Setelah puas memandangi matahari yang muncul sedikit demi sedikit dan memberikan pesona dan semburat merahnya yang begitu indah kepada pemandangan di sekitarnya kamipun kembali turun.  Sungguh .. betapa indahnya ciptaan-Mu, Ya Allah ..

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS.Ali Imran (3):190-191).

Selanjutnya kami menuju tempat dimana jeep tadi diparkir. Dari sini jeep melaju turun dan  selanjutnya mengarungi lautan pasir seluas 5.250 hektar. Sebuah pemandangan yang  spektakuler terhampar di depan mata.

Bila tadi kita melihat pemandangan Bromo dan sekitarnya dengan lautan pasirnya dari atas gunung Pananjakan maka sekarang kita berada di lautan pasir itu sendiri. Sepanjang mata memandang hanya gunung-gunung pasir yang terlihat mengepung kami. Kami turun dari jeep kemudian melanjutkannya dengan berjalan kaki menuju kawah Bromo.

Sama dengan ketika berada di Pananjakan, di lautan ini, sejumlah kuda dengan empunya juga terus membuntuti kami. Namun kali ini hanya anak perempuan kami yang berminat menunggang kuda karena memang ia menyukainya. Dengan bebas iapun berkuda melilingi lautan pasir hingga sampai ke tangga yang menuju kawah..

Tangga ini memiliki 150 anak tangga. Sebenarnya tangga ini tidak begitu terjal. Namun sekali lagi karena dampak letusan terakhir, tangga jadi penuh oleh pasir. Akibatnya agak sulit dinaiki. Alhamdulillah kami berhasil menaikinya. Maka tibalah kami di mulut kawah yang masih tetap mengeluarkan asap itu, meski tidak banyak.

Kami tidak berani berlama-lama menikmati kawah. Karena selain harus bergantian dengan tamu lain, mulut kawah tidak diberi pagar atau jaring pengaman. Padahal tempatnya sempit, jadi agak berbahaya.

Tak lama kemudian, setelah mandi dan sarapan di hotel, kami meninggalkan lokasi dan langsung menuju kota Malang. Tujuan kami adalah Jawa Timur Parc. Tempat hiburan yang relative baru ini cukup mengesankan, terutama kebun binatangnya. Selain koleksinya lumayan lengkap, cara penataannya juga bagus.

Sayang di akhir kunjungan, ada ‘oleh-oleh’ yang cukup mengganggu. Awalnya anak lelaki kami yang memperhatikan bahwa salah satu koleksi binatang buas, semacam anak macan, yang terlihat terus gelisah, dari siang hingga siang kembali. Kebetulan kami memang menginap di hotel di dalam zoo tersebut.

Demikian pula ketika malam tiba. Berkali-kali kami mendengar lenguhan suara gajah yang kedengarannya seperti kesakitan. Puncaknya, adalah panther yang dipajang di ruang kaca ruang makan hotel.

Rasanya sungguh ironis, raja hutan yang dikenal gagah, garang dan ditakuti seluruh penghuni hutan, koq hanya menjadi hiasan tamu resto. Kedua panther tersebut hanya bisa mondar mandir di dalam ruang kaca sempit tanpa mampu berbuat sesuatu.

“ Kalau emang mau bikin zoo kayak begini, kayaknya binatangnya jangan lama-lama dikurung kali yaa .. waktunya dibatasi, gantian sama yang lain, dilepas dihutan  .. mungkin g yaa ?”, begitu komentar anak kami.

Tiba-tiba saya jadi teringat kepada salah satu ayat tentang kerusakan bumi. Apakah ini namanya bukan memasung sifat dan keperkasaan salah satu mahluk Allah? Yang juga berarti merusak ciptaan-Nya, meski mungkin tanpa disadari ?

“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”(QS.Al-Baqarah(2):11).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 20 Oktober 2011.

Vien AM.