Feeds:
Posts
Comments

“ Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. ” (QS.AlMudatsir(76(4).

Ayat di atas turun pada awal masa kenabian, memerintahkan Rasulullah agar segera menyampaikan peringatan-Nya kepada kaumnya. Rasulullah diperintahkan agar membersihkan pakaian (diri) terlebih dahulu. Artinya, kebersihan adalah hal yang sangat utama dan penting, baik itu kebersihan hati, diri maupun lingkungan.

Kita juga tentu tahu, bagaimana Allah swt memerintahkan umat Islam untuk membersihkan dan mensucikan diri terlebih dahulu sebelum menemui-Nya, yaitu berwudhu sebelum shalat. Meski suci disini tidak sama dengan suci dan bersih berdasarkan pendapat umum. Karena sesuatu yang bersih belum tentu suci menurut Islam. 

Contoh paling jelas adalah tayamum, yang merupakan pengganti wudhu. Tayamum dilakukan ketika air sulit ditemukan. Tayamum dilakukan dengan menepukkan debu ke tangan dan wajah. Sungguh aneh bukan, bagaimana mungkin debu dapat menggantikan air? Dapatkah debu membersihkan kotoran ??

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS Al-Maidah (5): 6).

Ternyata jawabannya dapat ! Belakangan ini Ilmu Pengetahuan dan Sains membuktikan bahwa debu mampu mengangkat kotoran yaitu kotoran ‘elektron’ yang menempel pada tubuh kita. Untuk diketahui, kotoran jenis ini berpotensi mengganggu keseimbangan tubuh. Inilah yang dimaksudkan-Nya demi ‘menyempurnakan’ nikmat-Nya. Subhanalllah !

( baca : https://vienmuhadi.com/2011/07/12/hikmah-dibalik-tayamum/ ).

Temuan tersebut juga berhasil memberikan jawaban mengapa perintah wudhu ( dengan air) itu  cukup hanya dengan membasuhnya, bukan menyiram apalagi sampai menggunakan sabun. Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa suci yang selama ini biasa diartikan sebagai bersih dari hadats/kotoran ternyata juga bersih dari kotoran’elektron’.  

Begitu pula dengan pepatah “Kebersihan Sebagian Dari Iman” yang sering dianggap sebagai hadits. Karena yang tepat Rasulullah bersabda “ Bersuci Adalah Sebagian Dari Iman”.

 “Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi)

Hadits diatas jelas mencerminkan betapa Allah swt mencintai kebersihan. Bahkan saking pentingnya Ia merasa perlu menyebutkan “ bersihkan halaman rumah”. Maka bila halaman rumah saja harus bersih apalagi bagian dalam rumahnya …

Ironisnya, dalam kehidupan keseharian kita di negri yang mayoritas penduduknya mengaku Muslim ini, kebersihan tampaknya hanyalah sebuah isapan jempol belaka. Ini tercermin dari toilet-toilet umum yang sebagian besar terlihat jorok, kotor dan bau. Bahkan mukena, pakaian Muslimah yang biasa digunakan untuk menghadap-Nya, yang tersedia di masjid-masjid, sering terlihat kotor dan apek !

Tidak jarang pula lingkungan sekolah, pesantren dan masjid  yang notabene adalah tempat  orang berilmupun keadaannya setali tiga uang alias sama kotor dan joroknya dengan tempat umum.  Lupakah umat Islam bahwa tempat yang kotor dan jorok adalah tempat yang paling disukai jin dan syaitan, musuh terbesar manusia ?

Begitupun berbagai bencana dan malapetaka seperti banjir misalnya, yang seringkali terjadi akibat tidak terjaganya kebersihan. Ini terjadi karena orang membuang sampah di bantaran sungai. Hingga akhirnya sungai menjadi dangkal dan tidak mampu menampung air yang melimpah ketika hujan datang.

Ataupun bebagai jenis penyakit yang timbul karena orang tidak menjaga kebersihan. Misalnya tidak mencuci tangan sebelum makan, tidak menutup atau membungkus makanan dengan cukup baik hingga lalatpun datang mencicipinya. Atau meludah dan buang air sembarangan, tidak disiram pula ..  hingga kumanpun bebas berkembang biak.

Lalu kapan Islam akan kembali mencapai puncaknya bila untuk menjaga kebersihan saja  tidak mampu atau tidak mau ??? Bagaimana  kita bisa berharap pertolongan Allah akan datang bila sifat dan keinginan-Nya saja kita tidak tahu ?

” Allah Ta’ala adalah bersih dan mencintai kebersihan”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Juli 2011.

Vien AM. 

Hikmah dibalik Tayamum

Assalaamu’alaikum, wr, wb.

Teman saya bertanya kepada saya, “Kamu sering kesetrum listrik statis waktu memegang handle pintu kantor kita?”

Saya jawab, “Iya, betul sekali. Tetapi hanya waktu winter saja.”

Setiap musim winter tiba, saya memang sering merasa kesetrum ketika memegang handle pintu yang terbuat dari bahan logam seperti almunium.

Ia bertanya, “Tahukah kamu mengapa hal ini tidak terjadi di musim yang lain?”

Saya jawab, “Tidak tahu.”

Kata teman saya, “Karena udara sangat kering di musim winter.”

Saya tanya, “Kok bisa begitu?”

Jawab dia, “Karena molekul air yang mengembun di tubuh kita akan menetralkan listrik statis yang terakumulasi di tubuh kita. Di musim winter, udara sangat kering, sehingga tidak ada molekul air di permukaan kulit kita. Elektron yang terkumpul di tubuh kita, yang kebanyakan berasal dari gesekan jaket yang kita kenakan, akan terus terakumulasi. Dan begitu tangan kita menyentuh logam yang merupakan konduktor yang baik, elektron yang terakumulasi tadi langsung “meloncat” dari tubuh kita ke logam tsb.

Itu adalah fenomena “petir mini”, dan ujung jarimu yang merasa seperti tersambar petir. Hal ini mirip dengan fenomena penangkal petir. Di atas ada gumpalan uap air yang kaya akan elektron. Elektron elektron itu akan “meloncat” ke bumi melalui titik titik terdekat dengan awan dan bahan konduktor yang bagus.”

Saya terkesima, dan berujar, “Oooo, begitu ya, ceritanya.”

Ia pun dengan semangat meneruskan kuliahnya, “Jadi, kalau kamu tidak ingin tersambar petir mini alias kesetrum listrik statis, sebelum kau memegang handle pintu, basahilah dulu tanganmu dengan air. Atau, kalau tidak ada air, salurkanlah elektron di tubuhmu ke bumi dengan menebakkan tanganmu ke tanah atau tembok.”

Saya terperangah dengan kalimat terakhir itu. Saya terperanjat. Saya terkagum kagum. Saya bertakbir: Allahu Akbar!

Berpuluh puluh tahun saya bertanya tanya tentang tayamum sebagai pengganti wudhu, berpuluh puluh tahun naluri keingintahuan saya pendam. Hari ini, temanku yang notabene seorang atheis yang menjelaskannya dengan gamblang dengan teori listrik statis; sebuah ilmu sederhana yang sudah aku pelajari sejak bangku SD dan selalu kudapatkan pelajaran itu di jenjang sekolah berikutnya.

Dulu, saya mengira bahwa (satu satunya) hikmah berwudhu adalah membersihkan badan dari kotoran yang menempel di tubuh kita. Tetapi saya tidak habis fikir, bagaimana bisa wudhu diganti dengan tayammum yang dilakukan dengan membasuhkan debu ke wajah dan telapak tangan? Ternyata “kotoran” yang ada di dalam tubuh kita ternyata bukan hanya debu yang menempel ke tubuh kita.

Ada jenis “kotoran” yang tidak terlihat oleh mata, jauh lebih berbahaya bilatidak segera di”buang”. “Kotoran” itu bernama elektron, yang apabila terlalu banyak terakumulasi di tubuh kita bisa merusak keseimbangansistem elektrolit cairan di dalam tubuh kita.

Molekul molekul air H2O yang bersifat polar sangat mudah menyerap elektron-elektron yang terakumulasi di tubuh kita. Hanya dengan mengusapkan air ke permukaan kulit saja, maka “kotoran” elektron itu dengan mudah “terbuang” dari tubuh kita. Sekarang saya faham, mengapa Rasulullah SAW pernah “mandi besar” hanya dengan menggunakan air satu ciduk saja, kurang lebih satu liter saja.

Rupa rupanya yang dibutuhkan hanyalah membasahi seluruh permukaan tubuh dengan air, tanpa harus mengguyurnya; dan itu pulalah sebenarnya definisi syar’i wudhu dan mandi besar, hanya perlu membasuh saja, dan bukan mengguyur. Ternyata, hanya dengan membasuh kulit tubuh dengan air itulah kelebihan elektron di permukaan tubuh kita akan dinetralkan.

Dengan teori “kotoran” elektron listrik statis inilah akhirnya rahasia di balik tayamum sebagai pengganti wudhu menjadi terang benderang di mata saya; bahwa air yang dibasuhkan ke kulit tubuh akan menetralkan listrik statis di tubuh kita, dan penetralan itu bisa diganti dengan menebakkan tangan ke tanah dan mengusapkan debu wajah dan telapak tangan.

Pernah ada kisah seorang sahabat bergulung gulung di tanah karena ia harus mandi besar dan tidak ada air. Ia mengira, bahwa ia harus melumuri tubuhnya dengan debu, sebab ia beranalogi dengan wudhu dan tayamum. Kalau wudhu yang mengusap hanya wajah, kepala, tangan dan kaki difanti dengan tayamum yang mengusap wajah dan telapak tangan, maka mandi janabat yang harus membasuh seluruh tubuh diganti dengan tayamum seluruh tubuh.

Rasulullah pun menjelaskan bahwa tayamum untuk mandi janabah dilakukan sama persis dengan tayamum sebagai pengganti wudhu, yaitu cukup wajah dan telapak tangan saja.

Subhaanallaah. … Satu lagi Allah tunjukkan kepada saya bukti kebenaran Alqur’an sebagai wahyu Allah dan bukan karangan manusia:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS Al-Maidah (5):6).

Merasa mendapatkan “ilmu baru”, saya pun mengklarifikasi hal ini ke mbah Google. Rupa rupanya saya ketinggalan jaman. Ternyata literatur mengenai wudhu, tayamum dan listrik statis ini sudah berjibun jumlahnya. Inilah salah satunya:

http://fountainmaga zine.net/ article.php? ARTICLEID= 435

Untungnya saya melakukan literatur search kecil kecilan sebelum membagi pengalaman saya di atas. Jika tidak, bisa bisa saya mendapat gelar baru Plagiator!

Alaa kulli haal, above all, mudah mudahan sharing pengalaman saya ini bisa menambah keyakinan bagi rekan rekan semua akan kebenaran Alqur’an. Sukur-sukur ada yang bersedia menjelaskan lebih detail. Amin.

Wassalam,

Rois Fatoni

Dosen Teknik Kimia Univ. Muhammadiyah Surakarta

(Subhanallah .. sebelumnya mohon maaf tulisan diatas saya kutip tanpa izin, dengan keyakinan demi memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Juli 2011.

Vien AM.

Berbicara mengenai perempuan selalu mengundang banyak perhatian. Tidak dapat dipungkiri, mahluk yang satu ini memang sungguh menarik. Bila perempuan adalah perhiasan maka berlian adalah perumpamaan yang paling tepat baginya. Rasanya tak satupun jenis perhiasan yang dapat mengalahkan ketinggian nilai batu mulia ini.

Itu sebabnya tidak pernah ada cerita berlian di perjual-belikan sembarangan, di pinggir jalan. Toko berlian dapat dipastikan pasti berada di kawasan mewah dan dijaga satpam pula. Tidak cuma itu, berlian-berlian tersebut bahkan ditempatkan di dalam kaca yang terkunci ! Bila ada berlian yang dijual, diobral dan boleh di bolak balik oleh sembarangan calon pembeli, berlian tersebut patut dicurigai sebagai berlian palsu.

Begitulah  perumpamaan perempuan. Ia harus dijaga, dilindungi dan dirawat dengan hati-hati. Ia terlalu berharga dan mulia untuk dibiarkan terbuka, tercecer apalagi disentuh dan dicolek tangan-tangan jahil lelaki hidung belang yang bukan menjadi haknya.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Ahzab(33):59).

Perempuan, pada umumnya, baik fisik maupun hatinya adalah lemah lembut. Oleh itu, maka Sang Khalik menjadikan lelaki sebagai pelindung, pengayom sekaligus pendidiknya. Lelaki itu adalah lelaki yang secara resmi menjadi suami, ayah anak-anaknya, yang menyayangi, mencintai dan menanggung segala kebutuhannya, baik materi maupun spiritualnya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka …”(QS.An-Nisa’(4):34).

Sebaliknya, dibalik kelembutan seorang perempuan, sebenarnya tersimpan ketegaran yang jauh melebihi kaum lelaki. Gabungan sifat unik inilah yang menjadikan kaum perempuan sangat pas memegang peran sebagai ibu. Menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui anak adalah tugas khas perempuan yang tidak mungkin dapat digantikan kaum lelaki.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, .. “.(QS.Al-Ahqaf(46):15).

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Datang seseorang kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kpd siapakah aku hrs berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia berta lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut berta kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “[Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Itulah hukum dan aturan Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla yang ditujukan untuk kaum perempuan yang begitu disayangi-Nya. Sungguh beruntung bukan kaum perempuan ? Subhanallah ..

Sayangnya, dalam kenyataannya, yang terjadi seringkali adalah yang sebaliknya. Perempuan menjadi bulan-bulanan kaum lelaki yang tidak bertanggung-jawab. Perempuan berkeliaran tanpa menutup auratnya dengan baik. Sementara Barat dengan ringannya mengatakan Islam telah memasung kebebasan perempuan !

Padahal, bila kaum perempuan Muslim mencapai titik terendahnya hanya ‘baru’ beberapa puluh tahun belakangan ini maka perempuan Barat telah menerima  perlakuan buruk sejak ribuan tahun lalu! Tanpa mereka sendiri menyadarinya.

Perempuan, khususnya di semenanjung Arabia, terangkat dari keterpurukannya sejak tahun 600-an, yaitu dengan datangnya Islam. Perempuan di tanah tersebut sebelum lahirnya Islam adalah aib. Kehadiran perempuan dianggap hanya menjadi pemicu berbagai masalah. Itu sebabnya bayi-bayi perempuan sering dikubur hidup-hidup begitu mereka dilahirkan.

“ dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur  hidup-hidup, ditanya, karena dosa apa ia dibunuh ?“.(QS.At-Takwir(81):8-9).

Pada zaman dahulu, para lelaki hampir di seluruh pelosok dunia terbiasa hidup berpoligami, tanpa batas. Apalagi di kalangan kerajaan. Adalah hal biasa bahwa para raja dan penguasa memiliki istri yang sangat banyak, Bahkan seringkali tanpa ikatan perkawinan!

Para raja biasa menempatkan istri pertama sebagai permaisuri sedangkan istri-istri yang lain adalah selir. Kedudukan dan hak antara permaisuri dan selir jelas tidak sama. Demikian pula anak-anak mereka.

Inilah yang kemudian diatur ketika Islam datang. Boleh berpoligami asal tidak lebih dari 4 serta mampu memenuhi persyaratannya. Diantaranya adalah berbuat adil, baik kepada para istri maupun anak-anaknya. Tidak ada istilah permaisuri dan selir. Semua memiliki hak dan kedudukan yang sama.

Sebaliknya dengan Barat. Gereja masa lalu, lama beranggapan bahwa perempuan adalah mahluk jahat yang keberadaannya sangat membahayakan. Perempuan adalah penggoda iman.  Perempuan adalah ahli sihir. Itu sebabnya pada masa lalu, banyak perempuan yang harus mati di atas tiang kayu bakar.

Lalu bagaimana dengan citra perempuan Barat saat ini? Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sejumlah gereja di beberapa negri Eropa. Bahkan beberapa waktu lalu, saya juga mendapat kesempatan mengunjungi gedung walikota Paris dan melihat bagian dalam beberapa ruang pertemuannya.

Naúdzubillah min dzalik. Saya rasa itulah kata yang paling tepat untuk mengomentari apa yang saya saksikan. Persamaan mencolok pemandangan dalam gereja dan gedung walikota adalah gambar-gambar dan patung-patung  perempuan setengah telanjang!

Sungguh ironis. Rumah ibadah, tempat suci dimana umat beragama berusaha mensucikan diri demi ‘bertemu’Tuhannya, koq malah dikotori gambar-gambar dan patung perempuan telanjang, apapun dalih dan alasannya. Bahkan tidak sedikit juga lukisan dan patung tersebut benar-benar terlihat tidak senonoh !

Begitu juga gedung wali kota, dimana duduk para pimpinan terhormat sebuah negara/kota yang bertugas memutuskan berbagai masalah penting pemerintahan.  Ternyata dinding-dinding dan bahkan langit-langitnyapun dipenuhi lukisan perempuan setengah bugil.  “Ini gedung pemerintahan atau tempat hiburan atau bahkan pelacuran”, pikir saya, bingung.

Saya hanya bisa ‘bengong’ mendengar jawaban : “Kenapa tidak .. itu adalah gabungan keindahan antara perempuan dan suasana musim panas”. Begitulah jawaban yang saya terima ketika saya melontarkan keheranan saya atas salah satu lukisan  raksasa yang melukiskan danau dengan perempuan-perempuan yang sedang mandi di dalamnya.

Kalau lukisan dipajang di museum, mungkin masih bisa saya maklukmi. Ini di depan pintu masuk ruangan pertemuan gedung pemerintahan ! Yang lebih mengherankan lagi, jawaban itu dikeluarkan oleh seorang perempuan paruh baya pula. Olala .. L

Pikiran saya langsung melayang ke seorang pejabat tinggi negri pimpinan Sarkozy ini. Lelaki berkeluarga yang sudah tidak muda ini, kalau tidak mau dibilang ‘sepuh’ terjegal kasus pelecehan seksual di puncak karirnya. Ia dilaporkan seorang pelayan hotel dimana ia menginap bahwa ia telah memperkosanya. Selanjutnya ia bahkan diberitakan sering melakukan tindakan pelecehan terhadap pegawai-pegawai perempuan di kantornya. “Pantaaaass”,  batin saya lagi.

Ironisnya lagi, nilai-nilai Barat yang sering dianggap atau menganggap diri maju itu, saat ini justru ditiru dan didewakan negri-negri Muslim. Mengapa masyarakat Muslim dewasa ini begitu tidak percaya diri ya ??   Tidakkah kita menyadari bahwa sebagian perempuan Barat belakangan ini justru sudah mulai muak dan mencoba melirik Islam?

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 5 Juli 2010.

Vien AM.

Makan apa aja deh, g usah banyak pilih-pilih, udah siang ini, ntar sakit lho “, kata seorang ibu kepada ke dua putra-putri remajanya. Ketika itu mereka sedang berada di depan sebuah resto siap saji yang rupanya menjadi pilihan si remaja putri. 

Makan itu kan hak, bu .. apalagi makan enak, itu hak tubuh kita  “, jawab si sulung yang kelihatannya memang doyan makan dan kurang setuju dengan pilihan adiknya.

 “ Tapi ini makan wajib nak, udah hampir jam 3 ini. Kasihan dong perutnya”, bujuk ibu lagi.

Tak urung, percakapan ringan yang terjadi di depan saya siang itu ternyata cukup menjadi beban pikiran saya. Makan, kewajiban atau hak ya .. Orang hidup jelas butuh makan, pikir saya.  Tapi apakah hidup itu hanya untuk makan?? Ironis sekali ya kedengarannya .. Atau orang makan supaya hidup??

Hak dan kewajiban … hemm … Keduanya memiliki keterikatan yang sangat erat, bukan? Setahu saya, hak baru didapat ketika kewajiban ditunaikan. Artinya bila makan adalah hak, maka kewajibannya apa?

Yang jelas tubuh adalah bagian dari kehidupan. Sedang kehidupan datang dari Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla, Sang Pemilik Langit, Bumi dan segala isinya, termasuk manusia.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Al-Dzariyat(51):56).

Jadi, apapun tindakan kita selama di dunia ini mustinya harus selalu berorientasi kepada-Nya. Dan perbuatan tersebut senantiasa dalam pengawasan-Nya. Melalui ayat-ayat Al-Quran, kita juga diberitahu bahwa hidup adalah ujian yang pada saatnya harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan.

“ Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun ».(QS.Al-Mulk( 67):2-3).

Artinya kesehatan tubuh sebagai sarana fisik manusia adalah wajib dijaga, jika kita memang benar-benar ingin menjadi manusia terbaik. Untuk itulah tubuh memerlukan makan. Dengan kata lain, makan itu kewajiban.

Sebaliknya, bila kita berprinsip bahwa tubuh telah lelah bekerja, beramal kebaikan demi menunaikan kewajibannya maka makan adalah haknya ! Bahkan sekali-sekali makan enakpun masih boleh dibilang adalah haknya .. J

Jadi, benar juga si ibu tadi, makan itu ada 2 kategori. Makan yang sifatnya wajib dan makan yang merupakan hak. Saya jadi teringat sebuah pemikiran. Kata orang, orang modern atau orang maju adalah orang yang telah terpenuhi hak makannya. Karena hanya dengan perut kenyang atau minimal tidak kelaparan, artinya makan sebagai kewajiban, orang baru dapat berpikir ke hal-hal lain.

Contohnya adalah orang Barat. Makan bagi mereka sudah bukan lagi hal yang perlu dirisaukan. Bahkan bukan cuma makan kewajiban tapi juga makan sebagai hak. Itu sebabnya bila kita jalan-jalan di kota Paris, ( kebetulan saya dan keluarga memang sedang diberi kesempatan oleh-Nya untuk tinggal dan menikmati kota ini), akan kita lihat betapa resto di kota tersebut hampir selalu penuh. Terutama week-end, yaitu Sabtu dan Minggu.

Bahkan saya dengar, sebagian besar gaji dan penghasilan orang Perancis itu dihabiskan untuk makan ( enak ) !  Selain makan, berlibur ke luarkota/ negri tampaknya juga menjadi prioritas mereka.  Musium dengan berbagai sejarah yang dituangkan melalui lukisannya adalah tujuan utama mereka disamping keindahan alam dan wisata kulinernya, tentunya.  Sementara biaya pendidikan anak tidak perlu dirisaukan karena pemerintah yang menangani hal ini.

Sebaliknya dengan negara kita, yang sebagian besar penduduknya masih banyak yang kelaparan.  Makan bagi mereka adalah kewajiban. Mungkin itu sebabnya Negara kita ini tidak maju-maju juga. Karena ya itu tadi, bagaimana bisa berpikir ke hal lain kalau perut saja masih kelaparan … L ..  Meski, bagi Muslim sejati, kelaparan bukanlah alasan untuk menjadi tidak peduli dan mengabaikan urusan akhirat mereka.

“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqarah(2):155).

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.(QS.An-Nahl(16): 112).

Namun bagaimana dengan sebagian kecil bangsa Indonesia yang perutnya kenyang, tidurpun nyenyak? Mampukah orang-orang yang beruntung ini memikirkan hal-hal lain? Misalnya memikirkan saudara-saudara sebangsa setanah air yang hidup dalam kesusahan? Memikirkan masa depan akhiratnya dengan berbuat amal kebaikan sebanyak mungkin? Ataukah cukup seperti orang-orang Barat yang notabene sebagian memang tidak percaya adanya akhirat alias kafir itu, dengan menambah porsi menikmati lezatnya kehidupan duniawi, seperti memenuhi hak makan enaknya,  berlibur, berfoya-foya dan berbelanja barang-barang mewah  yang sebenarnya tidak begitu diperlukan ?

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,Yang (naik) sampai hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka”. (QS.Al-Humazah (104) :1-8).

Ironisnya, yang saya pernah dengar, gaya hidup berbelanja barang mewah orang kaya kita justru lebih ‘wah’dari pada orang Barat sendiri. Malah kalau mau jujur, sebenarnya kepedulian orang Barat terhadap orang kecil dan miskinpun jauh lebih baik dari rata-rata orang kita. Tidak ada perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin, antara sopir, tukang sampah, pelayan resto dan para esksekutif.

Kekurangan rata-rata orang Barat yang mendasar sebenarnya ‘hanya’ kesombongan mereka terhadap adanya Tuhan. Itulah kekafiran, yang dalam penilaian-Nya adalah fatal. Jadi, bagaimanapun sudah sepantasnya bila kita ini, bangsa Indonesia yang sebagian besarnya adalah Muslim, bersyukur. Sayangnya, syukur inilah yang dalam pengamalannya sering tidak tepat.

Hai anak Adam, pakailah pakainmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.(QS. Al-Araf(7):31).

“Tidaklah beriman seseorang bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan”.(Al-Adabul Mufrad no 112, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani).

Tiba-tiba saya teringat status FB seorang teman pagi tadi : “ Seorang nenek berusia 92 tahun di Jombang, ditemukan meninggal dalam keadaan kelaparan di tengah sawah ketika sedang berusaha mengais sisa gabah !”. Naudzubillah min dzalik .. Fenomena apa pula ini .. Sungguh mengenaskan .. L

Kembali ke masalah awal,  manakah jawaban yang benar dan tepat? Hidup untuk makan atau makan untuk hidup ??

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Juli 2011.

Vien AM.

Sekitar 400 petani Perancis bunuh diri setiap tahunnya !  Data ini tercatat terjadi sejak 10 tahun terakhir ini. Penyebabnya adalah masalah kekeringan, berjangkitnya bakteri yang menyerang tanaman mereka serta turunnya harga jual hasil panen.

Seorang petani strowberi yang pernah mencoba bunuh diri namun gagal bercerita. Ia memulai karirnya dengan susah payah.Namun pada tahun 1999, ketika ia sedang berada di puncak kesuksesannya, ladang strowberinya ludes diterjang keganasan angin topan. Ia berusaha bangkit. Namun belum sempat ia bangkit kuat, kekeringan melanda seluruh dataran Perancis.

Ini terjadi pada bulan Agustus tahun 2003. Ketika itu panas udara mencapai hingga lebih dari 40 derajat Celcius! Dikabarkan bahwa untuk menggoreng telurpun tidak perlu wajan dan minyak atau mentega panas. Cukup letakkan saja telur di atas jalanan! Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tragisnya, kekeringan dan panas menyengat di setiap musim panas tersebut terus berlanjut hingga saat ini.

Dampak kekeringan rupanya tidak hanya melanda para petani. Para peternak juga terkena imbasnya. Para peternak ini terpaksa hanya memberikan jerami sebagai ganti rumput hijau untuk makanan ternaknya. Bahkan karena merasa berat memelihara dan membesarkan ternak-ternaknya, banyak diantara mereka yang terpaksa merelakan ’harta’ mereka itu dipotong meski masih muda.

Saya jadi teringat kata-kata anak lelaki saya. ” Kasihan banget bu .. sapi masih muda udah dipotong. Kalo begini terus lama-lama bisa habis dong populasi sapi ..”. Inikah salah satu tanda kerusakan di muka bumi yang dibenci-Nya? Wallahu’alam bish shawwab.

Sejumlah surat kabar memberitakan bahwa masalah bunuh diri di kalangan para petani tidak pernah ter-’ekspos’ secara tajam. Sebaliknya, bunuh diri di kalangan pegawai perkantoran lebih sering mencuat ke permukaan. Meski sebenarnya tingkat bunuh diri di kalangan ini ’hanya’ 1/3 kalangan petani. Penyebab utamanya adalah stress dan depresi alias tertekannya perasaan. Mayoritas adalah stress dalam masalah pekerjaan dan kegagalan dalam membina keluarga.

Sebagai catatan, perceraian di negri Sarkozy ini makin hari makin meningkat. Sementara persentase pernikahan makin menurun. Ini yang menjadi dasar pemikiran orang Perancis, ” lebih baik tidak usah menikah dari pada nanti bercerai ”. . Akibatnya dapat ditebak .. hidup bersama alias kumpul kebo atau hidup bersama tanpa ikatan pernikahanpun makin diminati. …😦

… Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. … ”. (QS. An-Nisa(4):24).

Bukan itu saja. Bahkan hidup ala homoseksual yang jelas-jelas dikutuk itupun makin terbuka lebar saja. Meski untuk sementara pernikahan antar sesama jenis yang di beberapa negara Eropa telah di-legal-kan, di Perancis masih belum di terima secara legal.

Di sisi lain, benua Eropa saat ini tengah diguncang masalah lain. Yaitu terkontaminasinya sejumlah sayuran oleh bakteri E.coli. Sejak 2 minggu terakhir ini, timun asal Spanyol yang beredar di Jerman dicurigai telah terkontaminasi bakteri yang mematikan. Bakteri yang menyerang ginjal tersebut  telah menelan puluhan korban meninggal di Jerman, Swedia dan Spanyol sendiri. Sementara ribuan lain harus menjalani pengobatan cukup serius.

Beberapa negara segera melakukan penelitian namun hingga detik ini tidak dapat memastikan dari mana sayuran tersebut bisa terkontaminasi. Untuk sementara mereka memperkirakan adanya kemungkinan bahwa taoge adalah sumbernya, meski masih diragukan. Dampak yang paling terasa adalah bagi Spanyol. Karena hampir semua negara Eropa telah membatalkan import timun dari negeri matador ini. Celakanya, tidak hanya timun namun juga tomat, slada dan paprika.

Kabar terakhir, tidak hanya sayuran di atas yang ’disalahkan’ menjadi penyebab meninggalnya korban. Namun juga daging sapi cincang yang dibekukan atau dalam bahasa Perancisnya dinamakan ’steak hache’ juga telah terkontaminasi bakterio E.coli. Beberapa anak Perancis telah menjadi korban. Mereka harus masuk RS dan menjalani pemeriksaan serius.

Sebagai hamba yang tinggal di negri ini meski hanya untuk sementara, sungguh prihatin hati ini. Berbagai bencana dan cobaan terus melanda negri yang sebagian pendududknya kafir bahkan atheis alias tidak percaya akan keberadaan Tuhan, penguasa alam semesta.

Peristiwa petani strowberi di awal tulisan di atas mengingatkan saya akan ayat di bawah ini.

”Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan: “In syaa Allah“, lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,  lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:

Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya“.

Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu”.

Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)”.

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?”

Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.(QS.Al-Qalam(68):17-29).

Sementara berbagai musibah dan bencana alam mengingatkan saya akan azab Allah terhadap kaum Fir’aun di Mesir, berabad-abad lalu. Ketika itu Allah swt menurunkan berbagai cemeti azab diantaranya hama yang menyerang tanaman. Hal ini dikarenakan kaum Fir’aun adalah kaum yang mendustakan nabi Musa as.

”Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta“.(QS.Al-Qashash(28)”38).

Atau kaum Aad dan kaum Tsamud yang tidak mau mendengar seruan para nabi dan utusan Allah swt, Sang Khalik.

”Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud“. (QS.Al-Fushilat(41):13).

Anak perempuan saya yang bersekolah di Paris menceritakan betapa guru bahasa Perancisnya amat sangat anti pati terhadap agama, agama apapun. Anehnya, ia sering memancing pembicaraan ke arah itu. Tentu saja anak saya tidak dapat terima. Begitu saja beberapa teman Kristen dan Yahudinya.

Masih menurut anak saya, gurunya itu sangat menikmati perdebatan yang terjadi di antara muridnya yang multi agama itu. Dengan semangat ia menceritakan apa yang terjadi di kelasnya. Ada hal yang membuat saya cukup terkejut. Yaitu cerita mengenai teman Yahudinya yang dengan semangat menggebu menyatakan bahwa ia tidak sabar untuk segera pergi mengunjungi Yerusalem. Untuk apa? Untuk berperang melawan orang-orang yang memusuhi agamanya !

Allahuakbar .. seorang remaja Yahudi yang tinggal di kota metropolitan Paris bisa  begitu menggebu ingin mempertahan keyakinannya, meski keyakinannya tersebut ternyata tidak benar. Bagaimana dengan kita, kaum Muslimin ? Adakah diantara kita yang  ridho pergi berperang ke tanah Palestina demi membela agama, tanah suci dimana rumah suci Al-Aqsho berdiri? Demi membela saudara-saudara seiman yang tertindas di negrinya sendiri? Ironisnya lagi, kalaupun jawaban ada, tentu ia telah ditangkap dan diinterogasi karena dianggap Teroris!!

Kembali ke perdebatan di kelas anak saya. Mendengar kata-kata remaja Yahudi tadi, si guru langsung menyelak ” Buat apa ada agama, ada Tuhan .. kalo selalu terjadi pertumpahan darah .. Percayalah .. Tuhan itu tidak ada!! ” , begitu ia mengakhiri perdebatan. ” Kesel deh bu ..”, dengan jengkel anak saya mengeluh.

Suatu kali ia juga bercerita betapa murid-murid dicekoki pelajaran tentang seks bebas, demokrasi yang kebablasan dll. Astaghfirullah haladzim … Saya hanya bisa mengelus dada, betapa beratnya tantangan anak-anak muda di negri ini.

” Ya Allah, lindungilah dan teguhkanlah keimanan dan keislaman anak-anak kami”.

Dalam hati saya bertanya-tanya, Ya Allah, mengapa bebal betul orang-orang Barat yang mengaku modern dan berilmu ini? Kurang berat dan kurang hebatkah azab-Mu? Tiba-tiba saya teringat ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengazab suatu kaum selama ada orang Muslim di antara mereka atau selama dakwah belum mencapai tempat tersebut.

Terlintas beberapa daerah di Paris ini dimana saya katakan ” serasa di pasar Seng euy .. ” . Di tempat ini berbagai barang keperluan Muslim bisa didapat, seperti sajadah, Al-Quran, henna semir rambut dan kuku serta barang-barang kelontong lain. Ini memang  daerah dimana Muslim banyak bermukim.

Sementara pasar Seng adalah pasar di Mekah dimana berbagai barang oleh-oleh haji banyak di dapat. Ini adalah tempat kesukaan jamaah haji Indonesia. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi karena tergusur proyek perluasan Masjidil Haram.

Namun betulkah ayat-ayat Allah belum menyentuh Eropa? Tidak juga .. Buktinya Tony Blair, mantan perdana mentri Inggris yang sekarang menjadi penasehat Timur tengah itu, katanya, membaca Al-Quran setiap hari!  Apapun tujuannya, bukan hak kita untuk menghukuminya.

”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (QS.Al-Anfal(8):33).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 16 juni 2011.

Vien AM.

What does mean “’ the highest power outside this universe”?, bisik salah seorang peserta ” English Conversation Class” yang saya ikuti setiap hari Selasa. Ia bertanya maksud baris terakhir tulisan saya hari itu kepada seorang peserta lain yang kebetulan duduk di sebelahnya. Keduanya adalah orang Perancis.

Setengah ragu, yang ditanya kemudian menatap saya ” Maksud kamu Tuhan kan?”.  ” Tepat sekali ”, jawab saya tegas, membuat wajah peserta yang bertanya  tadi, mengkerutkan kedua alisnya, tanda heran dan bingung.

Sayapun kemudian menoleh dan bertanya kepada peserta lain yang duduk disebelah saya, juga orang Perancis, ” Kamu pemeluk Nasrani? Kamu percaya pada Tuhan kan ?”. ” Ya”, jawabnya perlahan, seakan tidak terlalu yakin … atau tidak PD ??

Itu baru salah satu contoh betapa mayoritas orang Perancis ( atau orang Barat) adalah Atheis alias kafir atau tidak mempercayai adanya Tuhan. Bagi mereka   percaya akan beradaan Tuhan, adalah lambang kemunduran dan kebodohan, lambang ke-takhayul-an. Kehidupan, dalam pandangan mereka, ya di dunia ini. Kehidupan itu hanyalah dimulai dari lahirnya seorang bayi dan diakhiri dengan matinya seseorang. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada itu istilah kebangkitan dalam kamus mereka. Kehidupan akhirat bagi mereka adalah hal yang sungguh mustahil dan tidak masuk akal.

Mulanya saya heran juga koq ada ya orang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Namun begitulah kenyataannya. Sungguh, persis seperti apa yang dikatakan orang-orang kafir sejak dahulu. Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana perasaan mereka jika mereka membaca ayat-ayat dibawah ini? Akankah hati mereka tersentuh dan menyadari kesalahan mereka ?

”Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan“.(QS.Al-An’am(6):29).

”Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?”(QS.Al-Waqiyah(56):47-48).

Hati ini bertambah miris, ketika suatu saat, seorang diantara peserta, secara bercanda mengatakan bahwa temannya itu ’kuno’ karena tidak setuju pada kehidupan dan perkawinan Homoseksual … Astaghfirullahaladzim  …

Dalam hati saya hanya bisa berkata ” Alangkah malangnya orang-orang ini. Merasa pintar, modern dan maju .. Namun nyatanya akalnya tidak sampai pada yang ghaib ”…

Pantas saja, Barat sering protes terhadap kebijaksanaan negara-negara Islam yang menerapkan hukum Islam, tentunya. Lhah, cara berpikirnya saja memang berbeda. Persis seperti ketika kita menghadapi anak kecil, yang dunianya memang hanya bermain.

” Wis .. sing waras ngalah ae ”, itu canda sehari-hari suami saya bila kami menemui orang keras kepala yang suka mempertahankan pendapat yang salah. Artinya kurang lebih , orang gila tidak usah ditanggapi …

Kali lain, yaitu pada kelas percakapan bahasa Perancis, saya menulis tentang latar belakang berdirinya Indonesia. Bersama, terutama  dari sudut bahasanya, kami mengoreksi tulisan tersebut. Tiba pada suatu bagian, dimana saya menerangkan bahwa landasan utama Indonesia adalah Ketuhanan Yang Esa.

” Aneh … bagaimana mungkin sebuah negara koq memaksa rakyatnya untuk percaya pada adanya Tuhan .. mengapa pula harus satu … Apakah itu berarti bahwa orang yang tidak percaya pada Tuhan tidak berhak hidup di negara kamu?”, tanya seorang peserta dari Italia, terheran-heran.

Belum juga saya sempat menjawab pertanyaan tersebut saking terkejutnya, seorang peserta lain, kali ini orang Perancis, menimpali :

”Lucunya lagi, orang di negara kamu harus mencantumkan agamanya di dalam KTP-nya, iya kan”.

” Bagi kami, yang aneh justru kalian .. bagaimana mungkin kalian melarang orang untuk mempercayai adanya Tuhan, bagaimana mungkin kalian melarang orang shalat di tempat umum, melarang perempuan-perempuan Muslim mengenakan jilbab ?”, balas saya berusaha menahan emosi.

” Itu hal yang berbeda. Ketahuilah bahwa Perancis adalah negara laic ( sekuler). Negri kami berprinsip bahwa agama adalah hak pribadi. Jangan dicampur adukkan dengan kehidupan bermasyarakat. Itu sebabnya di depan umum, orang tidak boleh memperlihatkan kepercayaannya”, jelas si Parisienne, sebutan bagi orang Paris, sok bijaksana.

”Dan lagi, ingat tulisan kamu minggu lalu tentang masalah kebenaran? Bagaimana mungkin kamu memaksakan ’kebenaran’ kamu adalah ’kebenaran’ bagi semua orang? Semua orang kan punya ’kebenaran’ masing-masing”, serang si orang Italia lagi.

… Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan)”. (QS.Al-Mukmin(40):74-75)

Minggu lalu saya memang sempat mengutip surat Al-Ashr dalam tulisan saya. Dan memang ia sempat merasa terganggu dengan maksud ’kebenaran’ dalam ayat tersebut.

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):1-3).

Astaghfirullah … berat nian ujian ini … kalau saja saat itu ada sesama Muslim yang sama-sama ’care’ terhadap Islam .. tentu akan lebih mudah menghadapi ’kroyokan’ orang-orang kafir ini …   Apa boleh buat .. Bismillah ..

” Justru itu”, jawab saya berusaha tegar. ” Karena setiap orang merasa mempunyai ’kebenaran’ masing-masing maka ’kebenaran’ mana sebenarnya yang paling benar. Ya tentu saja ’kebenaran’ Dia yang mempunyai alam semesta ini, Dia yang menciptakan kita semua ini. Dialah pasti yang paling benar”.

” Nah, kamu berbicara soal agama itu”, potong si Perancis.

Haaah?!?!?  … saya langsung terdiam, tidak menyangka bahwa ia memotong pembicaraan dengan kalimat seperti itu. Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Yaaah .. sayang sekali .. ternyata jam ’terbang’ saya benar-benar sedikit sekali. Dengan penguasaan bahasa asing yang masih terbatas sungguh sulit untuk berbicara dan membahas masalah agama, dalam hal ini Islam. Saya benar-benar merasa kecewa tidak mampu meneruskan perdebatan tersebut.

Padahal bila saja bisa sedikit menahan emosi, seharusnya itu bukan kendala besar. Bukankah itu justru bukti betapa antara agama dan arus kehidupan sehari-hari tidaklah mungkin dipisahkan ?? … L

Ironisnya, 2 minggu setelah pembicaraan diatas, saya belum tergerak untuk kembali menghadiri klas percakapan berbahasa Perancis tersebut. Saya masih merasa malas dan rasanya rasa kesal bercampur putus asa masih bercokol dalam hati ini. Meski, kebetulan saya memang masih sibuk dengan urusan lain hingga saya masih mempunyai alasan untuk tidak hadir.

Pertanyaan saya ” Sanggupkah saya meneruskan dakwah ini” ? Ya, Allah bantulah hamba ini untuk menata emosi dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi disamping juga kemampuan untuk berkomunikasi dan berdebat dalam bahasa asing yang tidak gampang ini …

Terngiang ditelinga ini, kata-kata Yusuf Qurdhowi, cendekiawan Muslim Mesir ternama itu, ” Adalah wajib hukumnya bagi seorang Muslim yang tinggal di negri kafir untuk mendakwahkan Islam. Bila tidak, itu sama dengan menganiaya diri sendiri”.

Ya Allah, berat niaaan ..😦 ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 6 juni 2011.

Vien AM.

XXX. Penutup.

Rasulullah saw telah pergi meninggalkan para sahabat yang selama hampir 23 tahun menyaksikan dengan kepala sendiri, ayat demi ayat turun melalui malaikat Jibril as kepada hamba pilihan-Nya itu. Rasulullah kembali ke haribaan Sang Khalik Azza wa Jalla dengan perasaan puas. Sebuah senyum terukir di bibir Rasulullah. Bayangan Abu Bakar ra yang sedang memimpin kaum Muslimin shalat Subuh berjamaah menjadi kenangan terakhir yang ada di benak Rasulullah saw. Missi utama beliau dalam menyampaikan pesan Tuhannya, Tuhan semesta alam beserta seluruh isinya, untuk menyembah hanya kepada-Nya, melalui shalat, tampaknya telah terpenuhi.

Semoga kita, umat Islam yang hidup 14 abad setelah peristiwa fenomenal tersebut, mampu menjaga dan melaksanakan pesan penting tersebut. Yaitu shalat, shalat dan shalat ! Semoga kita tidak mengecewakan Rasulullah  saw dengan menghapus kenangan manis di detik-detik terakhir beliau.

“Salah satu batas (yang membedakan) antara Muslim dengan Kafir adalah Shalat.” (HR. Muslim).

“Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, apabila shalatnya baik maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak maka rusaklah segala amalan yang lain” (H.R. Thabrani).

Ibarat bangunan, shalat adalah tiangnya. Itu sebabnya Allah tidak menghitung amalan orang yang tidak mendirikan shalat. Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Syahadat dan shalat adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Bila syahadat adalah pengakuan atas keberadaan Tuhan Yang Esa, Allah swt dan Muhammad adalah utusan-Nya maka shalat adalah bukti dari pengakuan tersebut.

Ajaran Tauhid, pengakuan akan Tuhan Yang Maha Esa adalah tugas utama yang diemban semua rasul, dari nabi  Adam as hingga nabi Muhammad saw. Inilah yang dilakukan Rasulullah terhadap orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy adalah orang-orang yang mengakui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam. Ini adalah peninggalan ajaran nabi ismail as yang memang lahir di kota Mekah ribuan tahun lalu. Namun dengan berlalunya waktu ajaran tersebut telah diselewengkan sedemikian rupa. Kesyirikan telah merasuk jauh ke dalam diri mereka. Penyembahan terhadap berhala-berhala  dianggap sebagai cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Padahal telah nyata bahwa sesembahan yang selain Allah itu jelas tidak mampu mendatangkan mudharat apalagi manfaat !

“Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan”.(QS.Al-Ahqaf(46):28).

Sedangkan shalat dan syariat ( hukum ) setiap agama yang dibawa para rasul tidak sama. Inilah yang membedakan agama Yahudi yang dibawa nabi Musa as, Nasrani yang dibawa nabi Isa dan Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad saw.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

“ … … Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS.Al-Maidah(5):48).

Setiap umat mempunyai nabi yang harus dijadikan contoh dan suri teladan. Itu sebabnya kita, sebagai umat Islam,harus mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah Muhammad saw. Termasuk cara shalat, puasa dan haji yang juga sebenarnya telah dilakukan oleh umat para rasul terdahulu.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Ahzab(33):21).

Selanjutnya agar bangunan memberikan manfaat dan indah dipandang, seorang Muslim harus menjalankan amal kebajikan. Orang yang paling takwa adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Jadi jelas, bahwa shalat saja tidaklah cukup. Shalat hanyalah tiang bangunan yang pasti amat diperlukan namun belum bisa memberikan manfaatnya. Pada detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah, beliau tersenyum bahagia karena paling tidak dasar/tiang tersebut telah mampu berdiri. Sepeninggal Rasulullah, adalah tugas setiap kaum Muslimin untuk mengisi bangunan tersebut.

Namun dengan berlalunya waktu bahkan sebenarnya menjelang hari-hari akhir Rasulullahpun, keingkaran sudah mulai menampakkan diri. Sejumlah orang mengaku-ngaku sebagai nabi. Orang-orang Munafik yang memang telah ada sejak periode Madinah, begitu Rasulullah wafat, kemunafikannya makin menjadi-jadi. Orang-orang yang semenjak diwajibkannya perang sudah enggan melakukannya juga makin memperlihatkan karakter aslinya.

Kekhalifahan khalifah yang 4,yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib yang notabene adalah sahabat-sahabat terbaik Rasulullah juga tidak luput dari kekisruhan dan berbagai fitnah. Beberapa perbedaan pendapat yang sebenarnya tidak terlalu mendasar, dipicu orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, seperti si tokoh Munafikun Madinah, Muhammad bin Ubay bin Salul dkk maupun orang-orang Khawarij yang begitu memusuhi Ali Bin Thalib, menjadikan pecahnya persatuan dan persaudaraan dalam tubuh Islam yang sebenarnya masih relative rentan. Para sahabat yang merupakan saksi turunnya ayat-ayat Al-Quranpun tidak luput dari fitnah.

Demikian juga pembukuan Al-Quran yang dilakukan pada masa Ustman bin Affan. Padahal dalam firman-Nya Allah menjamin bahwa Al-Quran itu senantiasa dalam penjagaan dan pengawasan-Nya. Tak ada satupun yang dapat merubahnya , hingga kapanpun. Ini terbukti secara akal sehat bahwa sejak awal turunnya selalu ada kaum Muslimin yang hafal seluruh ayat-ayat suci, bahkan secara sempurna hingga bacaan panjang pendeknya! Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada satupun buku di dunia ini.

“Katakanlah: “Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. ….” (QS.Al-Furqon(25):6)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.(QS.Al-Baqarah(2):23).

Maka tidaklah mengherankan bila dari hari ke hari. fenomena semacam itu tetap ada dan bahkan makin memarah.  Jika ayat-ayat Al-Quran saja bisa menjadi bahan perdebatan apalagi hadist yang memang jumlahnya ribuan itu. Meski sebenarnya tidak semua hadits itu bisa dijadikan pegangan. Karena hadits ada berbagai tingkatan. Dari mutawatir, shahih, hasan, dhaif hingga maudhu’ atau palsu. Itupun masih dibagi dengan berbagai kriteria dan persyaratan yang sangat rumit.

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.(QS.Al-Baqarah(2):151).

Al-Quran dan Al-Hikmah ( As-Sunnah) adalah dua hal yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Ayat-ayat suci Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril as. Para sahabat adalah saksinya. Meski mereka memang tidak mendengar sendiri namun mereka menyaksikan peristiwa tersebut. Rasulullahlah yang kemudian memberitahukan dan menyampaikan wahyu tersebut kepada mereka. Selanjutnya beliau memerintahkan para sahabat agar menghafal dan mencatatnya pada media apapun yang dapat ditulisi, seperti batu, kayu, tulang dan kulit binatang dsbnya.

Diluar itu, para sahabat juga terbiasa menghafal apa yang dikatakan, dilihat dan dirasakan Rasulullah saw. Termasuk juga mengamati apa dan bagaimana reaksi Rasulullah dan kaum Muslimin ketika ayat-ayat turun. Juga bagaimana situasi dan keadaan saat itu. Rasulullah bahkan juga menyuruh para sahabat menghafalnya. Tetapi beliau mewanti-wanti agar tidak mencatatnya karena khawatir akan rancu dan tercampur dengan ayat-ayat suci Al-Quran.

Bersabda Rasulullah SAW: Janganlah kalian tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang (telanjur) menuliskan ucapanku selain al Qur’an hendaklah dihapuskan. Dan kamu boleh meriwayatkan (secara lisan) perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah di neraka. (HR Muslim dari Abu Al Khudri).

Ucapan, tindakan serta reaksi diam dan tidaknya Rasulullah itu baru dibukukan kurang lebih 50 tahun setelah beliau wafat, yaitu pada zaman khalifah Umar bin Abdul Azis (63 – 101 H) dan khalifah-khalifah penerusnya.  Ini dilakukan demi mencegah timbulnya kesalahan, kekhilafan ataupun kesalah-pahaman yang sangat mungkin terjadi akibat berjalannya waktu. Juga sebagai cara untuk menjaga musuh-musuh Islam dalam memanfaatkan kelemahan As-Sunnah bila tidak segera dituliskan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan Al-Quran telah ditulis dan dibukukan secara sempurna. Mengingat inilah satu-satunya alasan mengapa Rasulullah semasa hidup beliau melarang para sahabat menuliskan ucapan-ucapan beliau. Apa yang kemudian dibukukan tersebut dinamakan Al-Hadits.

Ilmu hadits adalah ilmu yang sangat rumit dan luas. Tak ada satupun ilmu di dunia ini yang mempunyai ilmu seperti ini. Ilmu ini sangat menggantungkan pada akhlak dan pribadi seseorang, yaitu si perawi (orang yang menceritakan peristiwa yang terjadi). Salah satu contohnya, seorang perawi yang diketahui pernah berbohong, meski ia sholeh sekalipun, riwayatnya bisa tidak diterima!

Bukhari ( 194-256 H) dan Muslim ( 204-262 H) adalah 2 orang periwayat yang diakui paling baik meriwayatkan hadits. Selama puluhan tahun keduanya berkelana dari kota ke kota di berbagai negri untuk mencari jejak para sahabat. Mereka ingin mendapatkan berita apa yang para sahabat dengar dan ketahui mengenai apa yang dikatakan, dilihat dan dirasakan Rasulullah. Apa dan bagaimana reaksi Rasulullah ketika turun sebuah ayat. Apa dan bagaimana pula reaksi para sahabat dan bagaimana Rasulullah menanggapi prilaku para sahabat tersebut. Kemudian keduanya bekerja extra keras untuk menyaring dan mengelompokkan berita-berita tersebut.

Selain Bukhari dan Muslim, masih ada beberapa periwayat lain yang riwayatnya juga sering dijadikan pegangan para ulama. Diantaranya adalah Malik bin Anas (93-179 H), Abu Dawud (202-275 H), At-Turmudzi (209-279 H), An-Nasa’i (215-303 H), Ibnu Majah (209-273) dll. Sementara kaum Syiah hanya mengakui hadits yang diriwayatkan keluarga Rasulullah seperti putri Rasulullah, Fatimah az-Zahra ataupun sahabat yang dianggap tidak pernah memusuhi Ali bin Abi Thalib. Aisyah, Umirul Mukminin, adalah salah satu orang yang tidak diterima haditsnya oleh kaum Syiah karena memusuhi Ali, dalam perang Jamal. Begitupun sahabat-sahabat besar seperti Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan. Namun apapun alasannya, sungguh tidak sepatutnya seorang Muslim itu, secara keseluruhan meninggalkan hadits, melecehkan apalagi tidak mengakuinya.

Orang-orang Anshar dan Muhajirin adalah orang-orang yang dikenal sangat mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Mereka senantiasa bersegera dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.(QS.An-Nuur(24):36-38).

‘Abdillah bin Umar menerangkan, bahwa ketiga ayat diatas diturunkan berkenaan dengan kebiasaan kaum Muslimin yang segera menutup toko mereka jika mendengar azan meskipun mereka sedang sibuk berniaga di pasar. Mereka pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah.( HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir).

Begitu pula ketika turun ayat yang melarang khamr (minuman keras). Kaum Muslimin segera menumpahkan minuman tersebut ke saluran-saluran got yang ada di kota Madinah. Anas meriwayat­kan bahwa sejumlah orang tengah minum khamr di rumah Abu Thalhah; begitu mendengar diharamkannya khamr, mereka langsung menumpahkan dan memecah­kan semua bejana khamr.  Jumhur ulama bersepakat bahwa khamr, banyak maupun sedikit, adalah haram. [Suryan A. Jamrah]

Sementara kaum perempuan Anshar langsung menyobek kain-kain gordein mereka untuk dijadikan kerudung begitu turun ayat 31 surat An-Nur.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, … … Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nur(24):31).

Itulah yang dilakukan para sahabat yang hidup dan menjadi saksi turunnya ayat-ayat Al-Quran, 14 abad lalu. Kini, Rasulullah Muhammad saw telah tiada. Ayat-ayat Al-Quran telah sempurna diturunkan bahkan telah dibukukan dengan baik. Demikian pula As-sunnah yang telah selesai diabadikan menjadi Al-Hadits. Maka umat Islam sekarang ini sebenarnya tinggal menjalankan keduanya saja. Bahkan bila ternyata kini terjadi perbedaan pendapat, para alim ulama yang berkompetenpun telah diberi keleluasaan memberikan jalan keluar melalui Ijtihad.

 “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS.Al-Bayyinah(98):5).

Semoga kita tidak menyia-nyiakan petunjuk tersebut dan semoga Allah swt ridho memberikan hidayah-Nya hingga kita mampu dan mau menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Shalawat dan salam sejahtera bagi Rasulullah Muhammad saw yang telah berjuang sepanjang hidup beliau demi menyampaikan perintah dan larangan-Nya, amiiin Ya Robbal ‘Alamin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 23 May 2011.

Vien AM.

Sumber :

1.  Sirah Nabawiyah oleh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

2. Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW oleh HMH Al Hamid Alhusaini

3. Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 80 other followers