Feeds:
Posts
Comments

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At-Taubah(9):100).

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin) , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshor kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.(QS.Al-Anfal(8):74).

Orang-orang muhajirin adalah orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah pada masa kerasulan saw 14 abad silam. Mereka adalah sahabat-sahabat sejati Rasulullah, diantaranya para cikal bakal khalifah yaitu Ustman bin Affan ra, Umar bin Khattab ra, Abu Bakar ra dan Ali bin Abu Thalib ra.

Sementara orang-orang anshar adalah penduduk Madinah yang pada masa kerasulan ridho menerima kedatangan orang-orang muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka tercinta yaitu Mekah untuk menuju Madinah. Orang-orang anshar terdiri atas 2 suku yaitu suku Aus dan suku Khazraj yang sebelum kedatangan Islam selalu bertikai. Mereka berbondong-bondong mulai memeluk Islam berkat adanya Bai’at ( sumpah setia atau ikrar) Aqabah. Bai’at inilah yang menjadi perintis jalannya hijrah.

Bai’ait Aqabah terjadi pada tahun ke duabelas kerasulan ( 621 M) . Ketika itu 12 orang dari Madinah yang waktu itu masih bernama Yatsrib datang menemui Rasul untuk bertanya tentang ajaran yang dibawa beliau.. Tak lama kemudian merekapun berbai’at kepada Sang Rasul saw bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, melaksanakan apapun yang diperintahkan dan meninggalkan apapun yang dilarang Sang Khalik, Azza wa Jalla.

Dengan suka cita Rasulullah langsung mengutus Mush’ab bin Umair dan Amr bin Ummi Maktum untuk segera pergi ke Madinah mendampingi ke 12 tamu dari Madinah tadi untuk mengajarkan Islam, termasuk membaca Al-Quran, shalat dsbnya.

Tahun berikutnya Mush’aib kembali ke Mekah dengan membawa 70 orang lelaki dan 2 orang perempuan dari Madinah. Kedua perempuan tersebut adalah Nusaibah bintu Ka’ab dan Asma’ bintu ‘Amr bin ‘Adiy. Mereka menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman mereka. Di Aqabah, tempat di antara Mekah dan Mina, tidak jauh dari jumrah Aqabah sekarang inilah terjadi perjanjian Aqabah yang disebut Aqabah ke 2. Dengan disaksikan paman Rasulullah, ‘Abbas bin ‘Abdil Muthallib yang ketika itu belum memeluk Islam, mereka bersumpah setia untuk mendukung Rasulullah saw.

Berikut isi Bai’at Aqabah 2 :
1. Untuk mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci.
2.Untuk berinfak baik dalam keadaan sempit maupun lapang.
3.Untuk beramar ma’ruf nahi munkar.
4.Agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah.
5.Agar mereka melindungi Muhammad saw sebagaimana mereka melindungi perempuan-perempuan dan anak-anak mereka sendiri.

Itu sebabnya ketika tekanan, penganiayaan dan penyiksaan orang-orang Quraisy terhadap kaum Muslimin Mekah generasi awal yang dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). makin meningkat, Rasulullah memilih Madinah sebagai tempat hijrah. Ketika itu para sahabat mulai mengeluh dan memohon kepada Rasulullah agar mereka diizinkan berhijrah, kemanapun, yang penting keluar dari Mekah, agar mereka dapat menjalankan ajaran dengan sebaik mungkin. Meski harus kehilangan sanak keluarga, harta benda serta pekerjaan di kota kelahiran mereka tercinta.

“ Sesungguhnya akupun telah diberi tahu bahwa tempat kalian adalah Yatsrib. Barangsiapa ingin keluar maka hendaklah keluar ke Yatsrib”, demikian Rasulullah menanggapi permohonan para sahabat.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS.Ali Imran(3):195).

Hijrah yang dilakukan para sahabat ke Madinah tersebut sebenarnya bukanlah hijrah pertama. Karena para sahabat sebelumnya pernah hijrah ke Habasyah ( Ethiopia). Hijrah yang terjadi pada tahun ke 5 kerasulan ini dilakukan oleh 11 lelaki dan 4 perempuan. Ustman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah, putri Rasulullah,adalah termasuk orang-orang yang hijrah pada hijrah ini.

Hijrah ke Habasyah kedua terjadi 2 tahun kemudian, yaitu pada tahun ke 7 kerasulan. Pada tahun tersebut berangkatlah rombongan dengan jumlah yang lebih besar, yaitu 101 orang. Rombongan ini terdiri dari 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Hijrah ini dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.

Rasulullah mengizinkan para sahabat hijrah hingga 2 kali ke negri ini karena mendengar bahwa raja Habasyah ketika itu yaitu Najasyi ( Negus) adalah seorang pemeluk Nasrani yang alim, yang mau melindungi orang-orang yang dalam kesulitan. Pada peristiwa tersebut raja ini dikabarkan rela memeluk Islam andai saja berkesempatan bertemu dan mendengar dakwah Rasulullah. Ini berkat surat Maryam yang dibacakan Ja’far bin Abu Thalib di hadapan sang raja. Dengan air mata haru ia mengatakan bahwa kitabnya memang menceritakan bakal datangnya seorang rasul akhir zaman yang ternyata sesuai dengan apa yang digambarkan para sahabat yang berhijrah itu.

Click : surat Maryam

http://www.dailymotion.com/video/xdejgk_sura-maryam-19-27-65-mishary-alafas_lifestyle

Pada hijrah selanjutnya yaitu ke Madinah, Abu Salamah bin ‘Abdil Asad, Mush’ab bin ‘Umair, ‘Amr bin Ummi Maktum disusul oleh Bilal bin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ammar bin Yasir, dan Umar bin Khatthab tercatat sebagai sebagian sahabat yang mula-mula berhijrah. Jumlah mereka ketika itu sekitar 20 orang. Mereka berhijrah ada yang secara diam-diam di malam hari ada yang terang-terangan di siang hari seperti yang dilakukan Umar bin Khattab.

“Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya, ingin istrinya menjadi janda atau ingin anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini ! “, tantang calon khalifah ke 2 yang dikenal amat ditakuti musuh itu sambil mengangkat pedang, busur, panah dan tongkatnya tinggi-tinggi.

Rasulullah saw dikawal Abu Bakar ra menyusul kemudian. Setelah itu menyusul pula Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lain. Sementara itu sebagian besar penduduk Madinah yang ketika itu sudah memeluk Islam, benar-benar menepati ikrar mereka. Dengan suka cita mereka menyambut dan menerima saudara-saudara baru mereka seiman.

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(QS.Al-Hasyr(59):9).

Berkaitan dengan ayat di atas, terdapat sebuah kisah sangat masyhur yang melatar belakangi turunnya ayat tersebut. Abu Hurairah ra menceritakan: Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw (dalam keadaan lapar), lalu beliau mengirim utusan ke para istri beliau. Para istri Rasulullah saw menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah saw bersabda:“Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru: “Saya“, lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah“. Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshar itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu. Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah saw, Beliau bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’jub dengan perilaku kalian berdua”. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.QS. Al-Hasyr/59 ayat 9. (HR Imam Bukhari).

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Hasyr(59:10).

Itu hanya salah satu contoh bagaimana orang-orang Anshar rela berkorban demi saudaranya yang kesulitan. Mereka dapat memahami bagaimana sulitnya harus meninggalkan tanah kelahiran dimana sanak saudara berkumpul, dimana lahan pekerjaan menanti. Tanah dimana mereka mengumpulkan harta benda sekaligus menikmati setiap tetes keringat jerih payah mereka. Uniknya, itu semua demi menegakkan ajaran yang baru mereka terima, yaitu Islam.

( Bersambung).

Advertisements

Asal muasal Adzan

Ketika keberadaan Rasulullah saw di Madinah mulai tetap, saudara-saudaranya dari kaum Anshar dan Muhajirin sudah berpadu, Islam mulai kokoh, shalat didirikan, zakat dan puasa diwajibkan, hukum had dilaksanakan, halal dan haram dijelaskan. Dan diawal kedatangan Rasulullah saw, para sahabat berkumpul di masjid Nabawi di awal waktu tanpa ada seruan.

Lalu Rasulullah saw meminta pendapat mereka tentang panggilan Shalat. Ada yang mengusulkan meniup terompet, tetapi beliau membencinya karena itu tradisi Yahudi. Ada yang mengusulkan lonceng, tetapi beliau juga tidak menyukainya karena itu tradisi Nasrani.

Ketika itu Abdullah bin Zaid bin Tsa`labah bin Abdi Rabbih saudara Balharits bin Al-Khazraj bermimpi tentang suatu seruan, lalu ia mendatangi Rasulullah saw, seraya berkata: “Wahai Rasulullah, tadi malam aku bermimpi ada seorang laki-laki yang mengitariku, lalu melintas seorang laki-laki berpakaian gamis berwarna hijau, dia membawa lonceng di tangannya“

Lalu aku berkata: “Apa gunanya lonceng ini bagimu?“
Aku berkata: “Untuk memanggil orang shalat“
Ia berkata: “Maukah engkau kutunjukan yang lebih baik dari ini?“
Aku menjawab: “Apa itu?“
Ia berkata: “Ucapkanlah“:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Aku bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah 2x
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah 2x
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
Marilah shalat 2x
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Marilah menuju kemenangan 2x
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
Allah maha besar 2x
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah

Tatkala ia memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah saw , beliau bersabda:
“Sungguh ini adalah mimpi yang benar insya Allah, berdirilah engkau dan Bilal dan ajarkan ia bacaan tersebut agar dia mengumandangkannya karena suaranya lebih merdu darimu“

Ketika Bilal ra mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khattab ra mendengar seruan tersebut dari rumahnya, lalu ia keluar menuju Rasulullah saw sambil menarik sorbannya dia berkata: “Wahai nabi Allah, Demi yang mengutusmu dengan kebenaran! Sungguh aku telah bermimpi seperti mimpinya.“

Rasulullah bersabda:
“Falillahi alhamd (segala puji bagi Allah)” Al-bidayah wa An-nihayah jili.IV hal 573-574.

Dalam riwayat Tirmidzi dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid dari bapaknya, ia berkata: “Ketika paginya aku mendatangi Rasulullah saw memberitahukan mimpiku, beliau bersabda:“ Sungguh ini adalah mimpi yang benar, berdirilah engkau dan Bilal karena suaranya lebih merdu dan nafasnya lebih panjang darimu dan ajarkan dia bacaan tersebut agar dia mengumandangkannya“

Ketika Bilal ra mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khattab ra mendengar seruan untuk shalat, lalu dia keluar menuju Rasulullah saw sambil menarik sarungnya, dia berkata:
“Wahai Rasulullah, Demi yang mengutusmu dengan kebenaran! Sungguh aku telah bermimpi seperti yang dia ucapkan.“

Rasulullah saw bersabda:
“Segala puji hanya bagi Allah, ini semakin kuat” HR. Tirmidzi no.189.

Menghisab Diri ( Muhasabah)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Hasry(59):18).

Ayat diatas adalah ayat yang isinya perintah agar kita mau ‘introspeksi’, muhasabah alias menghisab diri atas apa yang telah kita perbuat selama hidup di dunia ini. Ini adalah hal yang sangat penting. Karena tanpanya kita bisa terlena dan lupa akan hakikat hidup yang sebenarnya. Apalagi dengan keadaan dunia saat ini yang begitu materialistis, hedonis dimana kepuasan, kesenangan dan keberhasilan hidup hanya diukur dari kaca mata materialistis. Sebuah lingkungan yang sungguh berbahaya bagi perkembangan jiwa yang pada akhirnya akan berujung pada penyesalan.

Hidup pada zaman sekarang, bila tidak berhati-hati memilih kawan dan lingkungan, amat berpotensi ‘lupa diri’. Lupa bahwa kehidupan dunia hanya sementara. Lupa bahwa ada kehidupan setelah kematian, yaitu kehidupan akhirat..Lupa bahwa kita, semua manusia, adalah hanya hamba yang mendapat tugas maha berat, yaitu tugas ke-khalifahan, dari Yang Menciptakan kita. Lupa bahwa tugas tersebut harus dipertanggung-jawabkan kepada Sang Pemilik.

Padahal Allah swt menciptakan kita ini sebagai mahluk terbaik di dunia. Untuk itu kita diberi tugas agar menjadi khalifah bumi. Agar membangun peradaban dunia yang aman, tentram dan damai dengan landasan ketakwaan kepada Sang pencipta, Allah Azza wa Jalla. Yaitu dengan menjalankan hukum-hukum-Nya bukan malah menyembunyikannya. Bahkan wajib kita memperlihatkan nikmat dan kebesaran-Nya kepada semesta alam. Inilah puncak ketakwaan yang sebenarnya.

“Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”.(QS.Adh-Dhuha(93):11).

Ironisnya, tidak jarang pula kita lupa bahwa waktu kita sangat terbatas. Bahwa suatu waktu Sang Khalik dapat memanggil kita, tanpa adanya pemberitahuan. Karena semua yang pergi pasti akan kembali, yang terlahir ke dunia yang fana ini pasti bakal meninggalkannya kembali, menuju asal. Dari tanah kembali ke tanah.

”Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.” (QS.Al-Ghasiyah( 88): 25-26).

Bersamaan dengan berhentinya kehidupan kita di dunia makan dimulailah waktu perhitungan atau pertanggung-jawaban. Apa saja yang telah kita kerjakan selama di hidup di dunia, bagaimana kita menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati kita.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS.Al-Isra(17):36).

Ali bin Abu Thalib ra berkata, ”Dunia itu selalu bergerak menjauh dari kehidupan manusia sedangkan akhirat selalu bergerak mendekatinya. Masing-masing dari keduanya mempunyai budak yang setia kepadanya. Maka, jadilah kamu sekalian sebagai budak akhirat dan janganlah kamu sekalian menjadi budak dunia. Sesungguhnya di dunia inilah tempat beramal dan tidak ada penghisaban sedangkan di akhirat nanti adalah saat penghisaban dan bukan tempat beramal.”

”Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menghisab dirinya di dunia dan beramal untuk kehidupan setelah mati sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya suka berharap kepada Allah tanpa melakukan apa-apa.” (HR Tirmidzi).

Untuk itulah, melalui ayat 18 surat Al-Hasry diatas Allah swt mengingatkan kita untuk menghisab diri kita sebelum datang penghisaban yang sebenarnya. Allah swt bahkan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk bertaubat. Dengan catatan, kita bertaubat secara sungguh-sungguh atau taubat nasuha, bukan taubat-taubatan, taubat yang dilakukan secara bermain-main.

“Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”.(QS.Al-Furqon(25):71).

Jadi taubat yang diterima oleh-Nya adalah taubat yang dilakukan karena rasa penyesalan yang dalam, yang kemudian diikuti dengan perbuatan yang dapat menebus atau memperbaiki kesalahan yang diperbuatnya, bila memungkinkan. Namun bila tidak mungkin, maka ia akan berbuat sebaik mungkin dengan harapan Sang Khalik mau memaafkan kesalahan tersebut. Yang terus menerus berdoa dengan harapan Allah Azza wa Jalla memaklumi kesalahan sekaligus mempunyai rasa cemas Ia tidak ridho memaafkan kesalahan tersebut.

Kesalahan bukan hanya kesalahan besar, seperti pembunuhan, perzinahan dsb. Karena shalatpun bisa juga salah, bila karena riya, alias pamer agar orang kagum. Jadi bukan karena mengharap ridho-Nya. Shalatnya yang hanya ritual, tidak memiliki ruh.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya”. (QS.Al-Maaun(107) :4-6).

Kesalahan lain adalah kesyirikan dan kekafiran. Ini adalah dosa terbesar yang hampir tidak dapat diampuni bila tidak segera bertaubat. Harus diingat, Allah swt tidak akan menerima taubat yang dilakukan ketika nyawa telah di kerongkongan, seperti yang dilakukan Fir’aun beribu-ribu tahun yang silam.

« Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih ».(QS.An-Nisa(4) :18).

Yang juga harus menjadi catatan. Perhitungan tidak hanya atas apa yang kita lakukan terhadap-Nya. Namun juga perbuatan kita terhadap sesama manusia dan lingkungan sekitar kita. Malah tampaknya prilaku kita kepada sesama lebih sulit dipertanggung-jawabkan dari pada prilaku kepada Sang Ghofur. Karena sesuai dengan nama-Nya, Ia Maha Pemberi Maaf. Sementara manusia biasanya lebih ‘pelit’ memaafkan.

“Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah swt menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah swt melainkan diangkat oleh Allah swt.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda,  ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim).

Orang yang paling penting kita perhatikan adalah kedua orang-tua kita. Jangan sampai kita menyakiti mereka apapun alasannya. Bahkan ketika mereka sulit diingatkan dalam ketakwaan, misalnya. Diperlukan cara yang santun dalam menghadapi mereka

Selanjutnya adalah tetangga, baik tetangga tersebut Muslim ataupun bukan. Karena bagaimanapun mereka tetap memiliki hak sebagai tetangga. Kita harus pandai menjaga lidah agar tidak menyakiti hati siapapun. Karena lidah itu bagaikan pedang yang sulit untuk diperbaiki ketika salah digunakan. Fitnah dan mengguncing adalah hal yang benar-benar harus dihindari.

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubah lagi Maha Penyayang,” (Al-Hujarat: 12).

“Apabila apa yang kamu katakan itu memang ada pada dirinya berarti engkau telah menggunjingnya dan apabila apa yang katakan itu tidak benar berarti kamu telah memfitnahnya,” (HR Muslim [2589]).

Dengan kata lain muhasabah diperlukan antara lain :

1. Untuk mengingatkan kembali kedudukan kita di dunia ini, yaitu sebagai hamba Allah sekaligus juga khalifah bumi. Oleh karenanya muhasabah bukan berarti meninggalkan kehidupan duniawi. Justru sebaliknya, yaitu meningkatkan amal kehidupan duniawi demi bekal kehidupan akhirat. Dunia adalah ladang akhirat. Jadi apapun ilmu yang kita tuntut atau pekerjaan yang kita jalani harus sesuai dengan keinginan-Nya.

Rasulullah pernah bersabda :” Siapa yang menghendaki kebahagiaan hidup dunia, harus dengan ilmu, dan siapa yang menghendaki kebahagian akhirat harus dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) juga harus dengan ilmu. (HR Tabrani).

2. Memperbaiki sekaligus meningkatkan amal ibadah kita. Dari yang tidak shalat menjadi shalat, dari yang shalat tidak 5 waktu menjadi 5 waktu dan di awal waktu, menambah shalat-shalat sunnah seperti shalat rawatib, witir, tahajud dll. Atau shalat berjamaah di masjid, terutama bagi lelaki ketika shalat Subuh dan Isya. Membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya, dari khatam hanya dalam bulan Ramadhan, khatam 2 x setahun hingga khatam tiap bulan. Dari berpuasa hanya di bulan Ramadhan, hingga menambah dengan puasa-puasa sunnah seperti puasa senin-kamis dll.

3. Memperbaiki akhlak dan silaturahmi.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”;“Agama adalah akhlak yang baik”;“Seorang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna ahklaknya”;“Rasulullah ditanya:“Apa yang paling banyakmengantarkan manusia ke surga ?”. Rasulullah menjawab:“Akhlak yang baik”;“Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka?”. Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan”. (HR Tarmidzi).

4. Mengingatkan umur yang terbatas.

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):60).

Dengan demikian ketika kelak datang hari penghisaban yang sesungguhnya, Allah akan memudahkan segala urusan. Itulah orang-orang yang diberikan kitab catatan amalnya dari sebelah kanannya.

‘Adapun orang yang diberikan kitab (catatan) amalnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan penghisaban yang mudah.” (QS.Al-Insyiqaq(84):7-8).

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya ke mana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.” (HR. Turmudzi).

Namun harus diingat, sebesar apapun amal seseorang sesungguhnya tidak mungkin kita mampu membalas kasih sayang Sang Khalik. Sama halnya dengan mustahilnya seorang anak membalas kasih sayang ke dua orangtuanya. Karena hanya berkat rahmat-Nya jua seseorang bisa masuk surga.

( Click http://vienmuhadisbooks.com/2012/01/26/amal-seorang-hamba-dan-rahmat-allah-swt/ untuk membaca kisah seorang hamba yang beribadah terus menerus selama 500 tahun. )

“Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)”.(QS.An-Nuur(24:10).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Februari 2012.
Vien AM.

THUFAIL bin Amr Ad-Dausy adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk bangsawan Arab yang terpandang, seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku. Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur.

Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karya-karyanya mempesona bagaikan sihir.

Pada suatu ketika, thufail meninggalkan negrinya, tihmah (dataran rendah sepanjang laut merah) menuju Makkah. Waktu itu pertentangan antara Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu, senjata Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam hanya berdo’a kepada Tuhannya,disertai iman dan kebenaran yang dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakan impian mereka dengan kekuatan senjata,dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke makkah itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.

Thufail Ke Makkah
Kedatangannya ke Makkah di sambut dengan hangat. Ia ditempatkan di sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuinya. “Hai thufail, kami sangat gembira Anda datang ke Negeri kami,walaupun negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang mendakwahkan diri menjadi Nabi itu (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) telah merusak agama kita,merusak kerukunan kita,dan memecah belah persatuan kita semua. Kami khawatir dia akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan kepemimpinan Anda, di pengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami.”

Pesan Orang Quraisy kepada Thufail
“karena itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan kata-katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir. Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara dan menceraikan istri dengan suami”

Mereka terus menceritakan hal yang aneh-aneh kepada Thufail. mereka menakut-nakutkannya dengan keanehan-keanehan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad. Thufail dilarang bicara bahkan mendengar ucapan Nabi Muhammad dan kaum muslimin sedikitpun.

Thufail bertemu Nabi Muhammad  saw.
Pada suatu pagi Thufail pergi ke masjid hendak tawaf di Ka’bah,dan mengambil berkah dari berhala-berhala yang ia puja. Hal seperti itu biasa dia lakukan ketika musim haji. Ia menyumbat telinganya dengan kapas,karena takut mendengar suara Nabi Muhammad dan pengikutnnya.

Tetapi ketika masuk ke masjid, ia melihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Thufail terpesona melihat shalat Nabi yang tidak sama dengan shalatnya. Sedikit demi sedikit ia bergerak menghampiri Nabi, sehingga akhirnya ia berada dekat sekali dengannya. Alloh subhanahu wa Ta’ala menakdirkan Thufail mendengar apa yang dibaca nabi.

Thufail berkata kepada dirinya sendiri , “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang pujangga dan penyair. Engkau tahu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana yang buruk tinggalkan!”

Thufail bagaikan terpaku di tempatnya. Ketika Rasululloh pulang,ia pun mengikutinya sampai ke rumah dan memuinya. Di hadapan Rasululloh ia bertanta, “Ya Muhammad, sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda begini dan begitu. Mereka menakut-nakutiku dengan urusan agama Anda. Oleh karena itu, aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar sesuatu dari Anda. Tetapi Alloh menghendaki supaya aku mendengar sesuatu dari Anda. Ternyata apa yang Anda ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!”

Thufail Masuk Islam

Rasulullah SAW mengajarkan kepadanya agama islam. Dibacakannya AL ikhlas dan AL falaq . sejak saat itu ia masuk Islam. Dan menetap di makah beberapa lama,mempelajari Agama Islam. Ia mengahafal Ayat-ayat Al- qur’an yang dapat ia hafal.

Ketika hendak bermaksud kembali kepada kaumnya,”Ya Rasulullah, aku ini pemimpin yang dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Tolonglah do’akan kepada Allah SWT semoga Allah memberiku bukti bukti nyata yang dapat memperkuiat dakhwahku kepada mereka,supaya mereka masuk Islam. Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam pun segera berdo’a agar Thufail dijadikan baginya tanda supaya kaumnya semakin percaya kepada Thufail.

Mendapat Cahaya di Tongkatnya
Ditengah perjalanan pulang,keluarlah suatu cahaya diantara kedua mata Thufail seperti lampu. Thufail berdo’a “Ya Alloh, pindahkan lah cahaya ini ke tempat lain ,karena kalau cahaya ini terletak di antara kedua mataku,aku hawatir kalau-kalau kaumku manyangka mataku telah kena sihir lantaran meninggalkan agama berhala”

Dengan izin Alloh cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatnya,bagaikan sebuah kendil tergantung. Setelah berada di tengah-tengah kaumnya, yang pertama tama mendatanginya adalah bapaknya sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.

Keluarga Thufail masuk Islam

Ketika Thufail menawarkan Islam kepada bapak dan istrinya, mereka mau mengikuti ajaran Islam. Namun saat ia menyeru kaumnya tak seorang pun dari mereka yang mau mendengar seruan Thufail, kecuali Abu Hurairah. Dia paling cepat memenuhi panggilan Islam.

Thufail datang memenuhi Rasulullah SAW di Mekah bersama Abu Hurairah. Rasulullah SAW bertanya, “bagaimanakah perkembangan dakwahmu, hai Thufail?”
“Hati kaumku masih tertutup dan sangat kafir.Sungguh seluruh kaumku, Kabilah Daus, masih sesat durhaka,” jawab Thufail.
Rasulullah SAW pergi mengambil wudhu’,kemudian beliau shalat. Sesudah shalar beliau menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu berdo’a. Pada saat itu Abu Hurairah merasa khawatir jangan-jangan Rasulullah mendo’akan agar kabilah daus celaka. Tetapi sebaliknya, Rasulullah mendo’akan agar Allah memberikan hidayah kepada kaum Daus.

Rasulullah segera menyuruh pulang. Dan benar saja, saat Thufail menyeru kaumnya, mereka segera menyambut ajakan Thufail. Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, Thufail meneap di negrinya.

Perang Badar
Sementara Itu terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq. Thufail datang menghadap Rasulullah SAW dengan membawa 80 keluarga muslim Daus, yang keislamannya tidak diasingkan lagi.

Rasulullah menyambut gembira kedatangan mereka. Dan sesuai dengan permohonan Thufail dan kaumnya, Rasulullah menempatkan mereka di sayap kanan pasukan Nabi. Dan kompi muslimin Daus ini dinamakan “Kompi Mabrur.” Sejak saat itu, Thufail selalu mendampingi Rasulullah.

Fathu Makkah
Setalah pembebasan kota Mekah, Thufail minta izin kepada Rasulullah, agar dibolehkan pergi ke Dzil Kafain untuk musnahkan berhala-berhala yang ada di sana. Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan satu regu tentara dari pasukannya. Sewaktu sampai disana dan mereka bersiap handak membakar berhala Dzil Kafain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak sekitar mereka, menunggu-nuggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kafain itu.

Tetapi Thufaildengan menatap menuju berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Beliau menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kafail, sambil bersajak :
“Hai Dzil Kafain, kami bukanlah pemujamu. Kelahiran kami lebih dahulu dari pada keberadaanmu. Inilah aku, menyulutkn api di jantungmu!”

Setelah api melahap habis patung-patung Dzil Kafain, sirna pulalah sisa-sisa kemusyrikan dalam kabilah Daus. Seluruh kabiah Daus masuk Islam, dan menjadi muslim-muslim sejati. Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy senantiasa mendampingi Rasulullah SAW sampai beliau wafat. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah. Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk peperenganmembasmi orang-orang murtad, Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentara muslimmemerengi musailamah Al-Kadzhab (Musailamah si Pembohong). Begitu putra beliau, Amr bin Thufail yang selalu saja tak mau ketinggalan.

Thufail bermimpi ketika menuju Yamamah
Ketika Thufail dalam perjalanan menuju ke Yamamah (kawasan tempat musailamah menyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi,
“Aku bermimpi. Cobalah kalian ta’birkan mimpiku ini,” kata Thufail kepada sahabat-sahabatnya
“Bagaimana mimpi anda? Tanya kawan-kawanya.
“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang perempuan memasukanku ke dalam perutnya. Anakku Amr menuntut dengan sungguh-sungguh supaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuet apa-apa karena antara aku dan dia ada dinding.”

“Sebuh mimpi nan indah!” komentar kawan-kawan tanpa membarikan penafsiran sedikit pun.

Akhirnya Thufail sendiri yang menta’birkan, ”Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalaku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku dari jasadku. Seorang perempuan memasukanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang, lalu dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan anakku, dia juga berharap mati syahid seperti aku. Tetapi permintaanya dikabulkan kemudian.”

Thufail Meninggal
Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al-Kadzab di Yamamah, sahabat yang mulia ini, yaitu Thufail Ibnu Amr Ad-Dausy, mendapat cidera sehingga dia terbanting dan tewas di medan tempur. Putranya, Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu dia kembali ke Madinah meninggalkan tangan sebalah dan jenazah bapaknya di medan tempur Yamamah.

Tatkalah Khalifah Umar bin Khatthab memerintah, Amr binti Thufail (putera Thufail) pernah datang ke majlis Khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makanan pun dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak Amr supaya turut makanbersama-sama. Tetapi ‘Amrmenolak dan menjauh.

“Mengapa?” tanya Khalifah. Barangkali engkau lebih senang makan belakangan, karena malu dengan tanganmu itu.”
“Betul, ya Amirul Mu’minin!” jawab Amr.
Kata Khalifah, “Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang pun juga yang sebagian tubuhnya telah berada di syurga, melainkan hanya engkau”.

Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, Amr bin Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. Amr tewas dalam peperangan itu sebagai syuhada’,seperti yang diharapkan bapaknya. Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail yang gugur diperang Yamamah dan putranya, Amr, yang syahid di medan tempur Yarmuk.

Sumber : kisah 101 sahabat oleh Heppy Andi

Jakarta, 5 Februari 2012.

Vien AM.

Diambil dari : http://www.usahamaju.com/2011/10/21/biografi-thufail-bin-amr-addausy/

Kesiapan tuan rumah dalam menyambut tamu-tamu Allah mulai dari pembagian konsumsi selama kami di Mina dan Arafah, pembagian air minum dalam kemasan dan snack sejak dari perjalanan masuk ke kota Mekah, berlimpahnya buah-buahan dan air baik di toilet maupun di tempat-tempat wudhu, jujur, membuat saya takjub. Takjub karena tanah Arab adalah tanah yang gersang. Belum lagi dengan adanya program penghijauan di sejumlah tempat. Inilah cara Sang Khalik memenuhi janji-Nya.

Dulu, sebelum datangnya Islam, Mekah dengan Ka’bahnya sudah menjadi pusat berkumpulnya jamaah paganisme. Mereka tidak hanya melakukan tawaf dan sa’i, yang merupakan ritual warisan nenek moyang, namun juga berkumpul untuk memamerkan kebolehan dan kehebatan mereka dalam bersyair.  Juga sebagai tempat pusat pertukaran perdagangan.

Tentu saja ini merupakan tambahan pendapatan bagi penduduk Mekah. Apalagi Mekah bukanlah tanah yang subur. Jadi, bagi mereka, berdatangannya para tamu dari negri-negri yang jauh, bukan hanya sekedar gengsi dan kehormatan namun juga berkah.

Itu sebabnya ketika Islam datang, dan Allah swt kemudian melarang orang-orang musyrik datang ke Makah untuk berhaji, banyak penduduk kota ini yang keberatan. Mereka khawatir mereka akan hidup dalam kesulitan dan jatuh miskin.

Kini, terbuktikah kekhawatiran mereka ?? Sama sekali tidak !! Justru sebaliknya …

Tiap tahun berbondong-bondong umat Islam dari seluruh penjuru dunia datang untuk memenuhi panggilan haji. Tiap waktu umat Islam datang untuk ber-umrah. Arab Saudi kini benar-benar kaya raya. Pendapatan tidak saja datang dari kegiatan ibadah namun juga dari isi buminya yang dilimpahi minyak oleh Sang Pemilik Alam semesta ini,  Allah Azza wa Jalla. Masya Allah … Inilah balasan nyata bagi orang-orang yang takwa.

“Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.(QS.Al-Baqarah(2):1-5).

Hotel-hotel mewah, jalan-jalan layang dan yang terakhir rencana pembangunan jalur kereta api cepat semacam metro di Perancis atau subway di Singapore sedang dibangun. Ini semua demi kenyamanan para tamu Allah yang begitu dimuliakan oleh-Nya. Begitupun Royal Mecca Tower Clock Hotel, hotel mewah dengan tulisan raksasa “ALLAH” dimana kami tinggal. Tepat di atas tempat tidur masing-masing kamar hotel tersebut, terpasang sebuah pengeras suara yang siap mengumandangkan suara azan dari Masjidil Haram. Termasuk azan yang berkumandang 1 jam sebelum subuh. Allahuakbar !  Tidak ada yang lebih besar dan lebih penting dari Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla, Yang Maha Suci dan Terpuji.

Pergi berhaji berdua dengan suami juga mempunyai arti lain. Perjalanan religius ini bisa menjadi honey moon alias bulan madu dengan nuansa yang benar-benar menakjubkan. Hadist yang bunyinya “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan (tidak memberi) karena Allah. Sungguh ia telah menyempurnakan keimanan.” benar-benar pas dan berkesan sangat dalam. Meski tidak dapat dipungkiri, hal-hal kecil seperti perbedaan pendapat, sedikit keras kepala dan kurang sabar kadang-kadang juga bisa saja timbul. Maklum kami kan hanya manusia biasa  . … 🙂

Selain beribadah kegiatan lain yang juga biasa dilakukan jamaah adalah belanja, mencari oleh-oleh untuk handai taulan. Biasanya tasbih, sajadah dan kurma yang menjadi sasaran utama. Juga abaya, pakaian Muslimah khas Arab Saudi yang biasanya berwarna hitam itu.

“ Lihat apa yang saya beli”, kata Fousia suatu pagi, sambil menunjukkan isi tas plastik besar bawaannya. “ Kamu ini ngapain sih,” potong suaminya setengah marah. “ Buat apa kamu beli pakaian sebanyak itu”.Ini kan bagus dan lagi murah .. G sampai 10 euro !”, jawab Fousia membela diri.

Saya dan suami tersenyum melihat keduanya berdebat. Saya hanya berharap semoga mualaf bule bernama asli Francine ini sekembalinya ke Perancis nanti mau mengenakan pakaian muslimah yang dapat menutup auratnya dengan baik. Teringat kata-katanya suatu hari di tenda Mina beberapa hari lalu : “ Saya pergi haji bukan karena mau menutup aurat tetapi untuk menjalankan rukun Islam ke 5”. Ini adalah jawaban pertanyaan saya kepadanya apakah sepulang haji nanti ia mau memakai pakaian Muslimah.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Ahzab(33):59).

Saya sendiri hal yang paling saya kejar adalah mencari wall paper gambar Ka’bah. Ketika haji 11 tahun lalu, kami membeli wall paper Masjidil Haram ukuran sekitar 2×4 meter. Wall paper tersebut hingga saat ini masih menjadi hiasan dinding musholla mini rumah kami di Jakarta. Sayangnya gambar Ka’bah di dalam wall paper tersebut terlalu kecil. Itu sebabnya pada kesempatan haji kali ini saya merengek suami tercinta agar mau menemani saya ‘hunting’ wall paper bergambar besar Ka’bah. Meski tidak mudah akhirnya kami menemukannya di sebuah toko yang lumayan jauh dari pintu Masjidil Haram yang menjadi ‘daerah kekuasaan’ kami, yaitu pintu 1 atau pintu King Abdul Azis. … Alhamdulillah.

Kini tibalah saatnya untuk kembali ke kehidupan sehari-hari. Selasa, 15 November, usai shalat subuh kami langsung melaksanakan thawaf Wada atau thawaf perpisahan. Thawaf ini wajib dilakukan oleh semua jamaah.  Sekitar pukul 10 pagi kami meninggalkan Mekah dan langsung menuju Jedah. Di bandara khusus haji ini kami harus menunggu selama hampir 13 jam sebelum akhirnya diterbangkan menuju Paris dengan transit terlebih dahulu di Amman, Yordania.

Namun perjuangan kesabaran dalam rangka meraih ridho’Nya belum selesai. Di bandara Amman kami masih harus menunggu lagi 5 jam. Sambil menunggu subuh, dengan beralaskan jaket dingin masing-masing para jamaah memanfaatkan waktu tersebut dengan tidur di kursi-kursi bandara. Bahkan ada juga yang di lantai bandara. Paris saat ini adalah musim dingin. Itu sebabnya jamaah membekali diri dengan jaket dingin.

Sekitar pukul 7 pagi pesawat take off. Penerbangan berjalan lancar. Hingga 1 jam sebelum tiba di Paris, awak penerbangan mengumumkan bahwa pesawat terbang terpaksa harus berbalik menuju Jenerwa, Switzerland ! Karena bandara Charles de Gaulle – Paris, tertutup kabut tebal hingga menyulitkan pendaratan.

Kami hanya bisa ber-istighfar. Yakin, bahwa ini adalah ketetapan Allah yang terbaik. Alhamdulillah, setelah 2 jam menanti di dalam pesawat di bandara Jenewa, pesawat kembali mengangkasa. Sekitar pukul 2 siang kami tiba di Paris dalam keadaan selamat.

Kamipun kemudian saling bersalaman dan berpelukan, tentu saja yang muslimah dengan muslimah dan yang muslimin dengan muslimin, saling meminta maaf dan akhirnya saling bertukar email address dengan saudara-saudari seiman yang selama 18 hari ini selalu bersama, dalam susah dan senang.

Ya Allah, terimalah ibadah haji kami ini. Bersihkanlah kami sebagaimana bersihnya bayi yang baru dilahirkan. Berilah kami kemauan dan kemampuan untuk mengisi sisa hidup ini dengan amal kebajikan yang Engkau ridhoi dengan mencontoh keteladanan Rasulullah Muhammad saw. Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Amiiin Ya Robbal ‘Alamiin …

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat”.(QS.Al-Baqarah(2):200).

“Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka“..(QS.Al-Baqarah(2):201).

Yang tertinggal kini hanya flue yang terus betah menempel di tubuh ini hingga sebulan lebih. Tampaknya guyonan khas sesama haji “ Hanya unta yang tidak terkena flue” memang benar adanya. Semoga Allah membalas kesabaran dalam menghadapi penyakit ringan tapi cukup mengganggu ini dengan yang lebih baik, amiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Semoga bermanfaat.

Jakarta, 1 Februari 2012.

Vien AM.

« Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? » (QS.Ar-Rahman(55):28-30).

Dimulai dari Muzdalifah, lautan pasir dengan sajadah sebagai alas dan langit sebagai atapnya lalu Mina, bumi perkemahan dengan matras lipat sebagai alas dan tenda sebagai atapnya, kemudian pondokan Aziziyah, pondokan sederhana 5 km dari Mekkah dan terakhir Royal Mecca Tower Clock Hotel, hotel mewah bintang 5 yang terletak di pekarangan Masjidil Haram. Subhanallah … Alangkah nikmatnya ! Ini baru contoh kecil yang terjadi selama 18 hari perjalanan haji kami. Belum lagi segala nikmat yang telah diberikan Sang Khalik selama setengah abad lebih umur ini … Masya Allah …

«  Eits, hati-hati … jangan sampai kemewahan ini membuat kita lalai. Paling tidak, 1 jam sebelum azan sebaiknya kita sudah siap menuju Masjidil Haram”, begitu Raga mengingatkan.

“ Iya nih, bahaya .. Ini  bukan saat yang tepat untuk berleha-leha”, sambung suami saya sambil memandang sekeliling kamar hotel yang betul-betul mewah ini.

Sementara di bawah sana terlihat kompleks Masjidil Haram dengan Ka’bahnya yang tak pernah sepi dari jamaah yang thawaf mengelilinginya. Bahkan bukit-bukit batu cadas gagah perkasa yang seakan senantiasa siap melindungi kota suci ini dari segala kejahatan terlihat jelas dari kamar hotel kami. Begitupun Jabal Nur, bukit dengan bentuknya yang khas dimana terdapat gua yang sering dikunjungi Rasulullah, terlihat di ujung kanan kamar kami. Di gua inilah Rasulullah menerima perintah pertama Sang Khalik melalui malaikat Jibril as.

Subhanallah, bersujud saya di depan jendela besar yang terlihat kotor sekali karena memang pasti sulit dibersihkan. Merinding hati ini menyaksikan bait Allah dari ketinggian hotel. Secara fisik, dibanding puluhan hotel dan bangunan yang mengelilinginya, ‘rumah’ berbentuk kubus  ini  memang tidak ada artinya.

Namun justru inilah keistimewaannya. Ka’bah bukanlah bait (rumah) Allah dalam arti sesungguhnya. Ka’bah adalah rumah, lambang keberadaan-Nya dimana seluruh umat Islam harus menujukan arah dan pandangan, terutama ketika shalat. Ka’bah adalah lambang pemersatu umat Islam di seluruh dunia. Sang Khalik sendiri sebenarnya bersemayam di singgasana-Nya yang agung, yaitu Al-Arsy.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa`at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? “ (QS.Yunus(10):3

“ (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”.(QS.Thaaha(20):5-6).

“ (Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala”,(QS.Al-Ghofir(40):7).

Demikianlah, sebagaimana penduduk bumi, para malaikatpun ber-thawaf. Bahkan mereka ini thawaf jauh sebelum manusia diciptakan. Sejumlah hadist meriwayatkan bahwa setiap hari, 70 ribu malaikat berthawaf mengelilingi Baitul Makmur. Baitul Makmur ini terletak di bawah Arsy, di langit ke 7, tepat di atas Ka’bah.

Rasulullah bersabda ” Baitul Makmur adalah masjid yang berada di langit dan ia betul-betul diatas Ka’bah. Seandainya ia jatuh maka ia akan menghempaskan Ka’bah”.

“ Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling `Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.(QS.Az-Zumar(39):75).

Itu sebabnya, ketika thawaf, saya suka sekali memandang langit dimana Ka’bah dinaungi. Sungguh, betapa besar nikmat dan kehornatan yang diberikan Sang Khalik kepada kaum Muslimin, khususnya para jamaah haji dan umrah yang mau memahaminya. Allahuakbar !

Selama 6 hari 5 malam kami berada di Mekkah, kota suci yang dalam Al-Quran juga dinamakan Bakkah atau juga Ummul Qura’ ( ibu negri). Banyak sekali hikmah yang kami dapat selama itu. Berbaur dengan sekitar 3 juta saudara-saudari seiman yang datang dari segenap penjuru dunia, dengan tujuan yang sama yaitu demi memenuhi panggilan Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla, benar-benar merupakan kesempatan yang amat langka.

“ Selamat menjalankan ibadah. Semoga Allah mempertemukan kita lagi, di surga nanti”, demikian yang dikatakan seorang jamaah dari Aljazair, sambil memeluk saya, usai shalat di Masjidil Haram.

“ Kalian sungguh beruntung. Meski kalian tidak mengerti bahasa Arab kalian tetap mengimani Al-Quran yang diturunkan kepada seorang nabi yang juga bukan berasal dari bangsa kalian”, puji seorang jamaah dari Syria mengomentari keterangan saya bahwa sebagian besar Muslim Indonesia dapat membaca Al-Quran meski tidak bisa berbahasa Arab.

“ Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, lalu berbahagialah ( Rasul mengulang 3 kali) orang  yang tidak melihatku tetapi beriman kepadaku”. (HR. Ahmad dari Abi Sa’id al Khudri).

Belum lagi berbagai cerita saudari-saudari kita yang datang dari belahan bumi lain. Seperti seorang jamaah asal Pakistan dari Amerika Serikat yang menceritakan betapa setiap Jumat seminggu sekali ada saja orang yang bersyahadat di masjid dekat dimana ia tinggal.

Ada juga beberapa pengalaman mengenai jamaah yang tidak begitu memahami cara shalat. Diantaranya, datang terlambat dan ketinggalan shalat namun tidak menambah kekurangan rakaatnya. Maka berbekal “ Sampaikan walau satu ayat” saya beranikan diri untuk memberitahukan kekurangan tersebut meski ternyata ia tidak memahami apa yang saya katakan.

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membuka komunikasi demi mengais ridho’Nya. Dengan berbagi sajadah misalnya. Suatu hari saya membeli sajadah sulaman buatan India yang sangat cantik. Sengaja saya memilih sajadah berukuran kecil karena berdasarkan pengalaman, terutama di tanah air, sering orang shalat berjamaah di atas sajadah masing-masing yang lebarnya rata-rata 60 cm, tanpa merapatkan barisan. Hal yang sama sekali tidak dianjurkan. Karena tempat yang renggang tersebut akan digunakan syaitan untuk mengganggu shalat kita.

Pada saat pertama akan menggunakan sajadah yang lama saya idamkan itu, ada rasa ragu untuk berbagi. Padahal jamaah di sebelah saya tidak membawa sajadah. Alhamdulillah dengan pertolongan bisikan Allah akhirnya saya membagi sajadah tersebut kepada ‘tetangga’ dengan posisi sajadah bagian kepala untuknya. Di akhir shalat, perbuatan yang tidak seberapa itu ternyata mampu membuahkan kebahagiaan tersendiri. Dengan tulus sambil tersenyum ‘tetangga’ tersebut mengucapkan terima-kasih, dalam bahasa yang tidak saya pahami tapi saya yakin maksudnya.

Atau dengan berbagi ‘kapling’. Shalat di bagian dalam Masjidil Haram pada musim haji, bukanlah hal yang mudah terutama bagi kaum perempuan. Betul-betul perlu tekad, keberanian dan kesabaran extra. Ini dikarenakan saking padatnya jamaah. Kita harus rela berdesak-desakan, menyelinap di antara jamaaah pada shaf-shaf yang super padat, bahkan tidak jarang terpaksa melompati kaki jamaah. Tetapi terus terang saya tidak mau melompati orang yang sedang shalat atau menekan kepala jamaah, hal yang sering dilakukan  jamaah non Asia.

Belum lagi bila kemudian diusir askar, penjaga Masjidil Haram, karena dianggap mengganggu jalanan atau bercampur dengan jamaah lelaki. Terpaksa kita harus keluar dan berjuang lagi mencari tempat shalat. Kalau ingin aman, shalat di lantai 3 yaitu di pelataran masjid memang lebih dijamin banyak tempat kosong, Namun untuk tembus menuju ke pintunyapun tetap perlu perjuangan keras, apalagi bila sudah dekat waktu shalat.

Bahkan pernah pada suatu hari Jum’at satu-satunya kami di Masjidil Haram, kami tidak bisa keluar dari mall dimana hotel kami berada. Pintu sengaja ditutup dan dijaga para askar demi mencegah jamaah dari pelataran masjid masuk ke mall untuk shalat Jumat. Rupanya bahkan pelataran masjidpun sudah tidak mampu menampung jamaah yang membludak. Padahal ketika itu masih 1 jam dari azan. Terpaksa kami shalat di dalam mall…. L

Ironisnya, ternyata banyak jamaah yang kelihatannya memang berniat shalat di pelataran bahkan di dalam mall. Ini terbukti jelas karena jauh sebelum azan mereka sudah memadati pelataran dan lantai mall padahal area di depan Masjidil Haram masih kosong. Malah saya dengar ada saja jamaah yang memilih shalat di dalam kamar hotel dengan alasan Ka’bah kan terlihat dari tempatnya shalat !.

( Bersambung)

Jakarta, 1 Februari 2012.

Vien AM.

Selasa, 12 Zulhijjah. Flue yang mulai menyerang saya ketika  mabit di Muzdalifah makin terasa mengganggu. Untuk itu pagi ini kami berniat ke pondokan Aziziyah agar bisa sedikit beristirahat. Ikut bersama kami, Raga dan suami yang kemarin sama-sama batal MCK alias Mandi Cuci Kakus ke pondokan.

Namun setelah istirahat hingga siang hari di kamar pondokan yang relative jauh lebih nyaman daripada tenda Mina, ternyata kondisi kesehatan saya bukannya membaik sebaliknya malah memburuk. Padahal saya sudah menelan obat, baik obat yang diberikan dokter bimbingan maupun yang diberikan oleh suami Raga yang kebetulan seorang dokter.

Hal ini membuat hati saya ciut untuk kembali ke tenda Mina. Apalagi bila membayangkan kondisi Mina yang makin hari makin memprihatinkan. Sampah yang menumpuk dimana-mana dan mulai menyebarkan baunya yang tak sedap. Kamar mandi dan toilet yang juga makin kotor, maklum digunakan ratusan orang dan tampaknya selama 3 hari ini tidak pernah dibersihkan.

Saya mulai berpikir untuk mengubah niat awal dari nafar tsani menjadi nafar awal. Saya mendapat info bahwa nafar awal, yaitu mabit di Mina dan melontar jumrah hingga tanggal 12 Zulhijjah, hanya diperbolehkan bagi jamaah yang memiliki halangan, sakit misalnya. Bila tidak ada halangan mabit hingga tanggal 13 adalah lebih utama. Namun  saya juga mendengar bahwa hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):203).

Yang jelas, pada haji yang kami lakukan 11 tahun lalu, kami mengambil nafar awal, padahal tidak ada halangan. Dan setahu saya inilah yang sering dilakukan sebagian besar bimbingan jamaah dari Indonesia.

Namun apapun keputusannya, kami tetap harus kembali ke Mina, karena hari ini kami belum melontar jumrah. Kami sengaja tidak melakukan jumrah pagi tadi sebelum ke pondokan karena afdolnya memang setelah Zuhur, hingga menjelang Magrib.

Kami juga mendapat kabar cukup menggembirakan, jamaah yang akan mengambil nafar awal akan diantar bus meninggalkan Mina menuju pondokan Aziziyah, beberapa saat sebelum Magrib. Karena bila setelah memasuki Magrib jamaah masih berada di Mina maka ia harus mengambil nafar tsani.

Segera setelah makan siang kamipun berkemas menuju jamarat. Seperti kemarin, kami harus melempar ke 3 jamarat, Ula, Wustho dan Aqabah. Menjelang memasuki terowongan terdapat sedikit perubahan. Jamaah yang menuju terowongan dan jamaah yang meninggalkan terowongan dipisahkan. “ Kenapa g dari kemarin ya .. begini kan lebih aman”, komentar suami saya.

Namun belum juga kami merespons komentarnya tiba-tiba kami melihat sejumlah kendaraan, dengan laju cepat, mendahului kami. Harap maklum, terowongan ini memang bukan terowongan khusus pejalan kaki. Terpaksa kami harus menyingkir dan berjalan super hati-hati.

Ini belum seberapa, karena sesampai di ujung terowongan, bus-bus dan kendaraan-kendaraan  pribadi tersebut memblokir jalanan hingga menyulitkan pejalan kaki. Sejumlah petugas berusaha mengatur lalu lintas.

“ Lihat” , celetuk Raga menunjuk jeep mewah yang berhenti persis di depan kami, karena tidak bisa bergerak “ nyonya di depan itu pasti istri pejabat .. trus yang di belakang itu pembantunya”. Saya hanya manggut-manggut sambil berpikir, yang duduk dikursi belakang itu wajah Indonesia, pasti TKW. Bossnya orang kulit hitam, mungkin pejabat, kalau di lihat gayanya. Nasibbb … orang kita jauh-jauh pergi ke luar negri cuma jadi pembantu, kapan bisa maju ya ..

“ Kenapa sih, udah tahu jalanan padat gini koq bisa-bisanya naik mobil .. nyusahin aja ..Pasti malu banget tuh,  jadi tontonan orang banyak “, terdengar suara-suara berkomentar di belakang kami.

Saya jadi teringat. Ketika saya dan suami berhaji tahun 2000 lalu, di tengah-tengah keramaian menuju Jamarat, ada kendaraan pribadi lengkap dengan sirenenya datang. Katanya pejabat mau lewat … Orang-orang tentu saja mengomel karena merasa terzalimi …  Usut punya usut, eh, ternyata sang pejabat itu tak lain tak bukan adalah mantan presiden kita yang waktu itu sedang menjabat yaitu Megawati ! Addduuuh, malunya … salaaaah lagi, L

Singkat cerita, selesai sudah kewajiban lontar jamarat hari ini, Alhamdulillah. Sekarang  tinggal memastikan bahwa kami tidak ketinggalan bus. Kami segera bergegas pulang menuju tenda. Sepanjang perjalanan, mulai dari Jamarat hingga perkemahan, terlihat sampah luar biasa menumpuk. Saya merasakan suasana agak sepi. Ternyata sebagian besar jamaah sudah pergi meninggalkan perkemahan.

“ Waduh, jangan-jangan bus kita juga sudah berangkat nih”, saya berucap, benar-benar khawatir. Apalagi melihat langit sudah terlihat mulai gelap, tanda sebentar lagi Magrib.

Benar saja, ternyata bus sudah pergi, membawa separuh lebih teman-teman seperjuangan. Saya lihat kiri kanan tempat saya selama beberapa ini tidur, kosong. Sebagian jejeran matras yang biasanya memenuhi tenda sudah terlipat rapi.

« Ada pengumuman dari panitia. Katanya malam ini panitia tidak menyediakan konsumsi”, begitu seorang jamaah memberitahukan. Hah ?? Bingung saya dibuatnya. Katanya afdolnya malam ini masih mabit tapi mengapa sebagian besar jamaah sudah pulang dan panitia tidak menyediakan konsumsi pula bagi yang mabit. Selama di Mina ini pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah menyediakan konsumsi, 3 x sehari, lengkap, ada buah, snack dan inuman kalengan. Semua gratis … Subhanaallah …

“ Sudah, tidak mengapa, tenang saja .. Nanti kita bisa beli makanan di luar. Kalau tidak, roti sisa sarapan tadi juga masih ada “, begitu hibur sesama jamaah. Ya sudahlah, saya tidak mau ribet, jalani saja. Tampaknya Allah azza wa jalla tidak meridhoi saya merubah niat awal dari nafar tsani menjadi nafar awal. Dialah yang mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Harapan saya  mudah-mudahan malam ini saya bisa istirahat, tidur nyenyak dan besok bangun pagi flue saya sudah berkurang … amiiin ya robbal ‘alamin.

Malam itu kami makan seadanya. Suami saya yang malam itu keluar untuk mencari makan bersama Sa’id, suami Raga hanya berhasil membeli 2 bungkus nasi ayam. Maka Raga membagi nasi bungkus tersebut menjadi 2 bagian dengan saya. Demikian pula teman-teman yang lain. Suasana persaudaraan sungguh terasa malam itu. Setelah menelan obat flue, saya bersiap-siap tidur. Saat itulah tiba-tiba, datang panitia membagi-bagikan kotak makanan. Rupanya ada kesalahan informasi. Tapi saya sudah terlanjur tidak ingin makan dan tetap pergi tidur. Besok pagi kami akan melakukan lontar jumrah terakhir. Saya ingin dalam keadaan fit.

Sesuai rencana, ba’da subuh, dengan membawa semua barang ( sebenarnya hanya 1 tas kecil saja karena kami memang tidak membawa banyak bawaan, sesuai anjuran pembimbing) saya dan suami berangkat ke Jamarat untuk melontar jumrah. Jalanan sepanjang menuju Jamarat terlihat betul-betul lengang begitu pula di Jamarat karena sebagian jamaah sudah meninggalkan Mina. Betul-betul pemandangan yang sangat berbeda dengan beberapa hari sebelumnya.

jamarat

jamarat

Bahkan para penjaja segala macam barang jualan yang biasa memenuhi pinggiran jalananpun sudah raib. Yang terlihat hanya para petugas kebersihan yang terlihat sibuk membersihkan sampah yang menggunung. Mulai batu-batu kecil yang berserakan di sekitar Jamarat, sandal-sandal yang tercecer, botol-botol plastik hingga kain ihram dan alas tidur yang ditinggalkan begitu saja.

Alhamdulillah, lontar ke 3 jumrah berjalan lancar. Dengan demikian usai sudah rentetan ritual haji. Lega sudah hati ini. Sekarang tinggal menanti tawaf Wada’ atau tawaf perpisahan yang menjadi tanda berakhirnya kunjungan jamaah ke Mekah. Ini berlaku baik bagi yang melakukan haji maupun umrah di tanah suci ini. Rencananya kami akan meninggalkan pondokan Aziziyah menuju Mekkah Al-Mukaramah sore atau malam ini. Belum ada kepastian jamnya.

Namun sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid Khoif yang sempat tertunda beberapa kali. Masjid ini sebenarnya hanya terletak di seberang Jamarat. Namun karena jalan masuknya agak jauh dan harus berputar, ditambah lagi waktu yang sempit dan selalu terburu-buru maka keinginan tersebut terpaksa tertunda terus hingga hari ini.

masjid khoif

masjid khoif

Menurut riwayat, di dalam masjid ini Rasulullah pernah mengerjakan shalat. Demikian pula para nabi as. Ketika kami berdua mengunjungi masjid yang cukup megah ini, masjid terlihat kumuh dan kotor. Masjid ini sesak oleh jamaah yang numpang tidur selama musim haji. Hingga karena saking penuhnya agak sulit kami mendapatkan tempat kosong untuk shalat. Kami kembali meneruskan perjalanan setelah menunaikan shalat sunnah 2 rakaat.

Malamnya, sesuai rencana, dengan 2 bus kami diberangkatkan ke Mekkah Al Mukarammah. Yang di luar rencana, ntah atas sebab jelas apa, jamaah yang datang berpasangan atau ber-3 dalam satu keluarga, kebagian menginap di hotel Royal Mecca Tower Clock ! Hotel yang terletak di pelataran Masjidil Haram ini adalah hotel mewah bintang 5 terbaru dimana kata “ALLAH’ dengan ukuran raksasa terpampang di atasnya.

Hotel yang memiliki jam extra besar dan biasa dijadikan tempat ‘rendez-vous’ para jamaah ini memiliki pengeras suara yang mampu mengumandangkan azan dari Masjidil Haram hingga sejauh 7 km. Sementara ribuan lampunya yang memancarkan cahaya hijau dan putih mampu menjangkau hingga jarak 28 kilometer. Sinar lampu ini sangat berguna dalam membantu orang-orang yang mempunyai masalah pendengaran hingga kurang dapat mendengar panggilan shalat alias azan.

Subhanallah .. Hanya itu yang dapat keluar dari mulut ini. Dari kamar kami di lantai 25, lantai tertinggi hotel, kami dapat memandang Masjidil Haram dengan Ka’bahnya, juga gua Hira, di kejauhan. Gua dimana Rasulullah untuk pertama kali menerima perintah «  Bacalah !”

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(QS.Al-Alaq(96):1-5).

( Bersambung)

Jakarta, 28 januari 2012.

Vien AM.