Feeds:
Posts
Comments

Archive for August 6th, 2023

Pemerintah kolonial Belanda kewalahan menghadapi pasukan pangeran Diponegoro yang berperang dengan menggunakan berbagai cara tersebut. Pasukan Diponegoro dikenal sangat gesit, cepat dan lincah berkat semangat perang Sabilillah.

Terpaksa pemerintah Hindia Belanda mengirimkan banyak jenderal, kolonel dan mayor ke Pulau Jawa, diantaranya adalah gubernur jendral De Kock. Cara licikpun dilakukan. Mereka mengeluarkan sayembara bahwa siapapun yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro baik hidup atau mati, akan diberi hadiah sebesar 50.000 Gulden, beserta tanah dan penghormatan. Sebuah jumlah yang sangat menggiurkan untuk ukuran ketika itu.

Upaya licik tersebut berhasil menarik mereka yang lemah iman dan rasa kebangsaan yang kerdil. Pasukan pangeran Diponegoro dengan rasa sedih dan kecewa terpaksa melawan mati-matian saudara mereka setanah air dan seiman.

Sayang pada akhir tahun ke 3 perang yang banyak sekali menelan korban, menguras tenaga dan biaya tersebut, Kiai Mojo tertangkap. Hal ini membuat semangat perlawanan pasukan Diponegoro melemah. Disusul tahun depannya lagi yaitu tahun 1829, dengan tertangkapnya para panglima, istri dan putra sang pangeran. Disamping juga karena kesulitan biaya yang makin membengkak.

Akhirnya terjadilah gencatan senjata dan perundingan yang membuat musuh mampu menjebak pangeran Diponegoro dalam situasi yang rumit. Tepat pada hari Raya Iedul tahun 1830M, pangeran Diponegoro ditangkap di kediamannya sendiri, langsung oleh gubernur jendral Belanda Jenderal De Kock yang berpura-pura datang untuk bersilaturahim.

Selanjutnya Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado bersama istri serta para pengikutnya. Kemudian  dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam pada Januari 1855.

Perang Diponegoro tercatat sebagai perang yang menelan korban terbanyak dalam sejarah Indonesia, yakni 15 ribu korban serdadu Hindia Belanda termasuk 7 ribu pribumi pengkhianat di dalamnya, 200 ribu pasukan Diponegoro serta kerugian materi 25 juta Gulden.

Di kemudian hari diketahui, selama dalam pengasingan di Manado, pangeran Diponegoro menuliskan biografinya melalui seorang juru tulisnya. Biografi tersebut diberi nama “Babad Diponegoro” yang merupakan kumpulan puisi tradisional Jawa/tembang setebal 1.170 halaman folio, yang menceritakan sejarah kehidupan Rasulullah saw, sejarah Pulau Jawa dari zaman Majapahit hingga Perjanjian Giyanti (Mataram).

Di buku tersebut dapat juga kita temui gambar stempel yang biasa digunakan pangeran Diponegoro dalam berkorespondasi dengan pihak lain. Menariknya lagi, buku tersebut ditulis dalam aksara Arab gundul (tanpa tanda baca) dan aksara Jawa. Sayang naskah asli Babad Diponegoro, menurut sejarawan Peter Carey, sudah hilang. Yang ada hanyalah salinan yang saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional di Rotterdam, Belanda.

Keberadaan buku tersebut menjadi bukti betapa tinggi kecintaan dan kekaguman pangeran Diponegoro terhadap Rasulullah Muhammad saw.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):21).

Selain “Babad Diponegoro” yang mendapatkan penghargaan tertinggi oleh UNESCO pada 21 Juni 2013. UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World), pangeran Diponegoro teryata juga menyempatkan diri menulis sebuah Al-Quran. Al-Qur’an berumur ratusan tahun tersebut ditemukan di Pondok Pesantren Nurul Falah, Salaman, Kabupaten Magelang.

Penangkapan Diponegoro telah mengakhiri perlawanan secara militer. Pangeran Diponegoro diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada November 1973 melalui Keppres No 87/TK/1973. Tapi, perjuangan melawan penjajah tidak berakhir.

Para panglima perang pasukan Diponegoro yang masih hidup melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda melalui pendidikan, yakni melalui pondok-pondok pesantren yang hingga kini masih berdiri tegak. Pondok-pondok pesantren yang mencetak bukan hanya para santri yang mahir membaca Al-Quran namun juga memahami dan melaksanakannya dengan baik.   

Akhir kata, semoga kita bisa mengambil hikmah perjuangan sang pangeran, tidak hanya sebagai pahlawan nasional tapi juga sebagai sosok agamis yang mampu mendudukkan dirinya sebagai hamba Allah yang kaffah.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. ( Terjemah QS. Al-Baqoroh (2):208).

Hamba yang kaffah adalah hamba Allah yang memeluk Islam secara keseluruhan tidak setengah-setengah, memilah dan memilih ayat yang disukai dan mengabaikan ayat yang tidak disukai sesuka hati. Seperti contohnya ayat tentang memilih pemimpin, kewajiban berhijab dll.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Ayat 51 surat Al-Maidah di atas adalah ayat yang memerintahkan bagaimana umat Islam harus memilih pemimpin, terutama pemimpin tertinggi pemerintahan. Ayat ini sangat penting diterapkan karena seorang pemimpin bukan hanya suri keteladanan tapi juga pemegang kekuasaan yang keputusan-keputusannya harus kita patuhi.

Oleh sebab itu ketika kita salah dalam memilih pemimpin kemudian pemimpin terpilih tersebut membuat keputusan-keputusan yang menyusahkan rakyat apalagi bertentangan dengan hukum yang kita yakini maka kita sendirilah yang rugi. Meski Allah swt yang akan menghukumnya.       

“Tidaklah seseorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga” (HR Bukhari-Muslim).

Itulah sebabnya pangeran Diponegoro berani berjuang dan  mempertaruhkan nyawanya demi melepaskan diri dari pemerintahan penjajah Belanda yang kafir, dzalim, suka merusak ahlak dan budaya rakyat serta suka memecah belah dan mengadu domba rakyat.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Juli 2023.

Vien AM.

Diambil dari sumber-sumber berikut:

https://id.wikipedia.org/wiki/Diponegoro

https://nasional.okezone.com/read/2021/04/29/337/2402568/kisah-laskar-pangeran-diponegoro-menyebar-di-pulau-jawa-dirikan-pesantren

https://www.adianhusaini.id/detailpost/beginilah-para-prajurit-diponegoro-melanjutkan-perjuangan-melalui-pondok-pesantren

https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6675254/inilah-al-quran-tulisan-tangan-pangeran-diponegoro-di-ponpes-magelang.

Read Full Post »