Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Pada Kamis 9 April 2026, tepat 40 hari setelah ditutup, penjajah Israel membuka kembali Masjidi Aqsho, Alhmdulillah wa syukurillah.  Hal ini dilakukan bersamaan dengan genjatan senjata antara AS-Israel vs Iran setelah perang berlangsung selama 40 hari. Memang karena alasan itulah Israel menutup masjid ke 3 tersuci tersebut. Selain Masjidil Aqsho mereka juga menutup gereja Makam Kudus yang merupakan salah satu situs paling suci bagi umat Kristen, selama periode yang sama dan alasan yang sama.

Pembukaan kembali masjid tepat di waktu azan Subuh  tersebut disambut penduduk dengan perasaan lega. Banyak diantara mereka yang menitikan air mata dan melakukan sujud Syukur. Dengan berbondong-bondong mereka memasuki masjid untuk melakukan shalat Subuh berjamaah.  

Namun demikian patut dicermati bahwasanya masjid dibuka dan ditutup sesuka pihak penjajah Israel. Imam masjidil Aqsho memang sempat meminta perhatian kaum Muslimin agar ikut berpikir dan bertanggung jawab atas penutupan masjid tersebut. Namun nyatanya Masjidil Aqsho dibuka kembali  tanpa satupun campur tangan atau tekanan berarti dari kaum Muslimin.

Artinya bukan mustahil Israel suatu saat akan menutupnya kembali sesuka mereka. Apalagi beberapa hari sebelum Israel memutuskan membukanya, mentri Israel secara terbuka telah berani terang-terangan meminta dunia internasional agar umat Yahudi dapat melakukan ibadah di dalam masjid tersebut. Sebelumnyapun beberapa kali ia telah memprovokasi pemukim Israel melakukan hal tersebut. Bahkan pada Agustus 2024, di bawah perlindungan polisi Israel pula, ia memimpin ratusan orang Yahudi memasuki kompleks masjid Aqsho untuk melakukan ritual Yahudi. Dengan sesumbar ia juga mengatakan akan membangun rumah suci di kompleks tersebut.

Kita harus memenangkan perang ini. Kita harus menang dan tidak pergi ke perundingan di Doha atau Kairo,” serunya, menunjukkan jelas tujuan sebenarnya perang melawan Palestina.  

Sontak kementerian Luar Negeri Yordania tegas mengutuk hal tersebut, dan menyebutnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional. Yordania adalah penanggung-jawab situs-situs suci di Yerusalem termasuk kompleks Masjidil Aqsho. Hal itu disepakati pada perjanjian damai Yordania-Israel tahun 1994. Status tersebut diperkuat lagi dalam perjanjian Yordania-Palestina pada tahun 2013, yang menegaskan raja Yordania sebagai penjaga situs suci di Yerusalem yang bertugas melindungi, melestarikan, mengelola, dan mewakili kepentingan situs suci pada forum internasional.

Namun kenyataanya Zionis Yahudi Israel tidak pernah berhenti berusaha untuk mencaplok dan merubah status kompleks Masjidil Aqsho, bahkan semakin hari semakin mencolok. Sejumlah arkeolog melaporkan bahwa saat ini sebagian struktur Masjid Al-Aqsa berpotensi mengalami keruntuhan. Ini disebabkan aktivitas penggalian yang dilakukan otoritas Israel di sekitar kompleks suci dan kawasan Kota Tua Yerusalem. Dengan dalih penelitian arkeologis, sejak beberapa tahun terakhir, otoritas Israel secara sistematis menggali terowongan di bawah Al-Aqsa dan sekitarnya.

Lebih parah lagi tidak hanya kompleks masjid namun juga tanah Palestina secara keseluruhan. Ini terbukti dari beredarnya peta baru Israel dengan nama Israel Raya yang wilayahnya meliputi seluruh Israel, Tepi Barat, Gaza, Suriah, Yordania, Lebanon, Mesir dan Arab Saudi.

Jadi apa yang dituduhkan kepada Zionis Israel bahwa mereka sedang melakukan genosida terhadap rakyat Palestina memang sangat masuk akal. Pada akhir Januari 2026 jumlah korban meninggal tercatat mencapai 72 ribu padahal genjatan senjata diberlakukan sejak Oktober 2024. Sementara ribuan korban hilang tak berbekas tak dapat ditemukan hingga hari ini. Itupun masih terus bertambah karena hampir setiap hari secara sporadis tentara Israel terus melakukan pembunuhan hingga detik ini, tidak hanya di Gaza tapi juga di kota-kota Tepi Barat.      

Ditambah lagi dengan adanya Board of Peace buatan Trump serta adanya proposal  “Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust”, atau GREAT, yang berisi tentang rencana gila Trump untuk menyulap Jalur Gaza menjadi resor mewah Riviera Timur Tengah.

https://www.antaranews.com/berita/5078313/trump-siapkan-skema-relokasi-gaza-dengan-token-digital-dan-subsidi

Alasan AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari lalu karena nuklir hanyalah mengada-ada. Persis yang pernah dilakukan AS terhadap Irak pada 2003. Ironisnya lagi serangan pertama ke Teheran tersebut menyasar sekolah anak perempuan usia SD hingga menewaskan ratusan siswanya. Demikian juga serangan Israel ke Lebanon yang dilakukan hanya selang beberapa jam usai genjatan senjata hingga memakan korban lebih 2000 rakyat sipil serta hilangnya ratusan kota/desa di Lebanon, tak syak lagi adalah bagian dari realisasi peta tersebut.        

Maka tak heran bila hari ini negara-negara sekutu Nato mulai menunjukkan keengganannya mengabulkan permintaan Trump agar membantu memboikot Iran. Sejak beberapa hari lalu orang nomor 1 AS tersebut memblokade selat Hormuz setelah gagalnya negosiasi antar ke 2 negara tersebut. Trump menyebutnya sebagai bagian upayanya untuk “mengambil kembali selat Hormuz” yang ditutup Iran, dan memboikot ekonomi Iran.

Anehnya justru negara-negara tetangga Timur Tengah berpenduduk mayoritas Islam yang malah bersekutu membela AS dan Israel. Termasuk juga negara kita tercinta Indonesia. Buktinya cukup banyak, diantaranya dengan tetap menjadi anggota BoP, pidato yang jelas mengatakan “ Israel harus dijamin keselamatannya”, tidak mengutuk langsung AS dan Israel atas gugurnya 3 prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL)  di Lebanon Selatan, tidak spontan menyampaikan duka cita atas gugurnya pimpinan tertinggi Iran. Belakangan bahkan mengecam Iran keras kepala karena tidak mau tunduk kepada AS yang langsung dibalas pejabat Iran karena mereka punya martabat … Masya Allah ..  

Sejarah mencatat bagaimana nasib pemimpin negara yang tidak mau tunduk pada kemauan dan dominasi AS. Diantaranya adalah Fidel Castro dari Kuba (1961), Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi (1973), Saddam Hussein dari Irak (2003),  Muammar Gaddafi dari Libia (2011) dan terakhir Nicolas Maduro serta istri dari Venezuela ( 2026).

https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8412000/11-pemimpin-dunia-yang-pernah-dikudeta-atau-diserang-amerika-serikat.

Namun tampaknya baru kali ini ada seorang pemimpin yang berani secara terbuka mengecam perbuatan ala preman jalanan tersebut. Ia adalah Lukashenko, presiden Belarusia. Di dalam negri AS rakyat sudah mulai muak dengan prilaku presiden mereka. Demo “No King” yang ditujukan kepada kediktatoran Trump merebak di berbagai kota besar AS. Sementara banyak pimpinan tertinggi negara-negara Barat seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia, Belanda dll mengecam tindakan brutal Israel. Apalagi setelah parlemen Israel pada awal April ini mengesahkan undang-undang yang sangat kontroversial mengenai hukuman mati bagi tahanan Palestina tanpa perlu proses pengadilan. Untuk diingat,  jumlah tahanan Palestina di penjara Israel per April 2026 dilaporkan melampaui 9.600 orang termasuk perempuan dan anak-anak.      

Menjadi seorang pemimpin memang maha berat apalagi dalam pandangan Islam. Tanggung-jawabnya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.  Pemimpin harus bisa bersikap adil, jujur, dan tidak semena-mena, tidak boleh zalim. Pemimpin tidak boleh menyusahkan rakyat dan bangsanya.

Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”(Terjemah QS. Asy-Syura : 42).

“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Umar bin Khattab ra adalah contoh pemimpin terbaik yang pernah dimiliki dalam Sejarah Islam. Khalifah ke dua ini tidak saja piawai dalam memimpin negara yang wilayah kekuasaannya sangat luas, namun juga seorang ahli ibadah yang jujur, amanah dan sangat peduli kepada rakyatnya. Dibawah kekuasaannya Islam mencapai kejayaannya.

Pada masa itu pula Palestina dibawah panglima perang Khalid bin Walid ditaklukan dengan cara damai. Sang khalifah dengan pakaian lusuh datang dari Madinah dengan mengendarai kuda memasuki Yerusalem dengan hanya ditemani seorang ajudannya. Beliau datang untuk memenuhi permintaan Sophronius, patriarch (uskup agung) Yerusalem sekaligus panglima Romawi yang meminta agar perjanjian penyerahan Yerusalem ditandatangani langsung oleh sang khalifah.

Perjanjian tersebut menjanjikan jaminan keamanan penduduk Yerusalem. Tidak ada pertumpahan darah, tidak ada gereja yang dimusnahkan, tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Dan Umarpun memenuhinya hingga Sophroniuspun tanpa ragu menyerahkan kunci kota langsung ke tangan Umar. Penaklukan yang terjadi pada tahun 637 M (15 H) inilah yang membuka jalan bagi penyebaran Islam di Palestina dan menjadikannya wilayah aman di bawah naungan kekhalifahan Islam.

Demikian juga dengan Shalahuddin Al-Ayyubi, penguasa Mesir yang menaklukkan Palestina untuk kedua kalinya. Penaklukan berlangsung dengan damai, menunjukkan perbedaan mencolok antara penaklukan Islam dan penaklukan Salib 88 tahun sebelumnya.

Masjidil Aqsha adalah satu dari tiga masjid paling mulia dalam Islam, tempat yang Allah kaitkan langsung dengan perjalanan Isra’rasulullah. Di tanah suci ini para nabi pernah hidup, berdakwah, bahkan dimakamkan, menjadikannya pusat sejarah dan peradaban tauhid. Masjidil Aqsho Adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Allah swt memerintahkannya berpindah ke Masjidil Haram di Mekah.

Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha” (HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397).

Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Adalah tanggung jawab kaum Muslimin, bukan hanya penduduk Palestina, untuk menjaga dan membela Masjidil Aqsha sebagai amanah hingga akhir zaman. Jadi sungguh tidak pantas ketika masjid agung tersebut ditutup oleh penjajah Israel kita hanya berdiam diri bahkan tidak peduli.

Semoga Allah swt ridho membuka hati kaum Muslimin dimanapun berada agar mau bersatu dan berani melawan penjajah Israel dan sekutunya. Kalaupun tidak seberani dan sedasyat saudara-saudara kita di Gaza dan Iran setidaknya seperti mereka yang saat ini berpartisipasi dalam Global Sumud Flotilla yang didukung lebih dari 70 kapal dan sekitar 1.000 peserta dari berbagai negara. Karena tidak perlu menjadi Islam untuk membela rakyat Palestina dan memahami kejahatan Zionis Israel.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 21 April 2026/ 4 Dzulkaedah 1447H.

Vien AM.    

Read Full Post »

Hafshah adalah putri ‘Umar Abu Hafsh, Amirul Mukminin. Nama lengkap dengan nasabnya adalah Hafshah Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khatthab bin Nufail bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lui bin Ghalib Al-Qurasyi Al-‘Adawi.

Ibunya adalah Zainab binti Mazh’un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzafah bin Juma’.

Hafshah lahir lima tahun sebelum nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi dan dibangun Ka’bah. Sebelumnya ia telah menikah dengan Khunais bin Hudzafah bin Qais. Keduanya sempat berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agamanya dari serangan orang-orang Quraisy. Lalu mereka kembali untuk selanjutnya hijrah menuju Madinah.

Pada usia Hafshah yang ke 18 tahun, Khunais bin Hudzafah mengikuti perang Badar dan meninggal dunia setelah perang Badar dikarenakan luka parah yang ia alami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolatkannya dan memakamkannya di pekuburan Baqi’ di samping sahabat yang agung, Utsman bin Mazh’un, saudara ibu Hafshah.

Umar radhiyallahu ‘anhu sungguh terpukul menerima nasib putrinya  yang harus menjadi janda dalam usia sangat muda. Untuk itu ia menawarkan putri tercintanya tersebut kepada Abu Bakar maupun Utsman bin ‘Affan untuk dinikahi. Namun keduanya enggan karena tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan melamarnya.

Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah pada tahun 3 H (sebelum perang Uhud) dengan mahar sebesar 400 dirham. Saat itu pula, Utsman bin Affan menikahi Ummu Kultsum setelah meninggalnya Ruqayyah, putri rasulullah, yang menjadi istri Utsman sebelumnya.

Setelah Umar menikahkan Hafshah, Abu Bakar menemuinya dan menyampaikan alasannya mengapa ia menolak Hafshah, َ“Jangan kesal kepadaku, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebut nama Hafshah. Aku tidak mau mengungkapkan rahasia beliau. Dan seandainya beliau meninggalkannya, niscaya aku menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122).

Keutamaan Hafshah binti ‘Umar.

Pertama: Ia sangat mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buktinya adalah Hafshah selalu mencari ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjalankan apa yang ia inginkan, juga menjauhi apa yang beliau benci. Hafshah tidak pernah surut dalam upaya membahagiakan dan menggembirakan beliau. Setiap saat yang ia lalui disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu ia manfaatkan untuk semakin mendekat dan mendekat lagi kepada Allah. Ia mempelajari semua bentuk ketaatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendekatkannya kepada Allah.

Seperti itulah kehidupan suami istri yang mewujudkan kebahagiaan yang selalu menyeruak di rumah mereka. Apa yang dijalankan Hafshah ingin merealisasikan hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Kedua: Hafshah dikenal sangat cerdas karena ia diajarkan khusus oleh Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, sampai ia mahir dalam kitabah (penulisan) karena diajarkan oleh Asy-Syifa’ binti ‘Abdillah.

Di antara bukti kecerdasan Hafshah pula dapat dilihat dari peristiwa berikut. Hafshah pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Aku berharap tidak ada seorang pun yang masuk neraka dengan kehendak Allah bagi yang menghadiri perang Badar dan menghadiri Hudaibiyah.” Kalimat tersebut terasa aneh oleh Hafshah karena seolah-olah bertentangan dengan ayat, “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Terjemah QS.Maryam(19):71). [Di antara tafsiran ayat ini adalah orang beriman akan melewati shirath pada hari kiamat]. Hafshah membacakan ayat ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat kepada Hafshah, “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”(Terjemah QS. Maryam(19):72).

Akhirnya Hafshah memahami apa yang dimaksud dengan ayat tersebut. (HR. Ibnu Majah, no.3473. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketiga: Hafshah jadi sebab turunnya ayat, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1).

Dalam Shahihain dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum madu di tempat Zainab binti Jahsy dan tinggal bersamanya. Aku membuat kesepakatan dengan Hafshah bahwa siapa pun dari kami yang ditemui beliau hendaknya ia menanyakan kepada beliau, apakah engkau makan maghafir? Aku mencium bau maghafir darimu. Beliau pun mengatakan, “Tidak, akan tetapi aku minum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulangi lagi. Aku pun sudah bersumpah. Jangan diberitahukan itu kepada siapa pun.” (HR. Bukhari, no. 4912 dan Muslim, no. 1474).

Kemudian Allah pun menurunkan ayat (yang artinya), “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.At-Tahrim: 1).

Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mentalak Hafshah lalu rujuk lagi dan Hafshah diberikan kabar gembira menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Kelima: Hafshah dikenal rajin beribadah, rajin shalat malam dan rajin berpuasa di siang harinya. Dalam hadits dari Anas bin Malik dan Qais bin Zaid, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Jibril berkata kepadaku, ‘Kembalilah (rujuklah) kepada Hafshah karena ia adalah wanita yang rajin berpuasa, rajin shalat malam, dan ia akan jadi istrimu di surga.’” (Diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, no. 6061.Hadits ini shahih)

Keenam: Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam, Hafshah tetap dikenal rajin dalam ibadah termasuk juga rajin bersedekah pada fakir miskin yang membutuhkan. Ia juga sering jadi tempat bertanya para sahabat lainnya.

Al-Qur’an yang telah dikumpulkan berawal dari masa Abu Bakr, lalu berpindah pada Umar. Lalu setelah bapaknya wafat, Al-Qur’an tersebut berpindah pada Hafshah.

Wafatnya.

Hafshah meninggal dunia tahun 45 Hijriyah pada khilafah Mu’awiyah. Yang menyolatkannya ketika meninggal dunia adalah Marwan bin Al-Hakam yang menjabat di Madinah ketika itu.

Yang menurunkan jenazahnya dalam kubur ketika itu adalah dua saudaranya ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ashim bin ‘Umar, juga putra-putra dari Ibnu ‘Umar yaitu Salim, ‘Abdullah, dan Hamzah.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 26 September 2025.

Referensi:

Read Full Post »

Rabat, ibu kota Maroko, pusat pemerintahan.

Menjelang pukul 5 sore kami tiba di Rabat. Melalui jendela mobil kami menikmati pemandangan kota yang terletak di tepi laut Atlantik ini. Rabat tampak lebih modern, teratur dan bersih dari kota-kota lain di Maroko yang kami kunjungi.

Secara harfiah Rabat berarti tempat berbenteng, dari kata bahasa Arab ribath yang artinya menjaga. Ar-Rabat atau Ar-Ribat berarti tempat berbenteng. Faktanya memang Rabat telah menjadi benteng Muslim sejak masa Khulafaur Rasyidin, sekitar tahun 700 M. Itu sebabnya kota ini mendapat julukan Kota Seribu Benteng.  Maroko juga termasuk negara yang unik, karena memiliki 2 ibu kota. Yaitu Rabat sebagai ibu kota administrasi dan Casablanca sebagai ibu kota industri.

Maroko adalah Negara Islam berbentuk kerajaan dengan bendera berwarna merah darah dengan bagian tengah bintang berwarna hijau. Warna merah memiliki arti keberanian dan bintang hijau dengan sudutnya yang 5, menggambarkan 5 rukun Islam. Sedangkan lambang negaranya adalah bintang berwarna hijau dengan latar belakang warna merah pegunungan Atlas dan matahari terbit yang diapit oleh dua singa.

Dilambang Negara tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Arab “Tansurul laaha yansurkum” yang artinya “Jika Anda memuliakan Tuhan, Dia akan memuliakan Anda“. Kalimat tersebut merupakan penggalan ayat 7 surat Muhammad.

Kepala negara Maroko saat ini adalah raja Mohammed VI. Raja Maroko memegang kekuasaan eksekutif dan legislatif yang luas, terutama dalam militer, kebijakan luar negeri dan urusan agama. Bahasa resmi yang diakui Negara ada tiga yaitu Arab, Amazigh ( Berber) dan Perancis. Mengapa Perancis? Karena Maroko pernah berada dibawah kekuasaan Perancis selama 44 tahun yaitu sejak tahun 1912 hingga kemerdekaannya pada tahun 1956. 

Setelah melewati istana raja dengan halamannya yang sangat luas dan dilindungi tembok besar, menara pensil Muhammad VI dan gedung teater opera yang diarsiteki seorang muslimah kelahiran Irak bernama Zaha Hadid, Muhammad menurunkan kami di Kasbah Udaya.

Kasbah Udaya adalah benteng kota yang dibangun pada abad 11 dan merupakan Warisan Dunia UNESCO sejak 2012. Dari Kasbah inilah pemandangan indah samudra Atlantik dan kota modern Rabat dengan bangunan-bangunan berarsitektur modern seperti menara Muhammad VI dan gedung teater Opera sekaligus menara kuno Hassan terlihat. Sementara di sisi gerbang utama terletak old medina Rabat. Sungguh sebuah perpaduan yang menarik.

Dari Kasbah Udaya kami menuju menara Hassan  yang terletak pada pelataran yang sama dengan mausoleum Mohammed V. Menara Hassan mulai dibangun pada tahun 1195 oleh Sultan Yakub al-Mansur dengan tujuan menjadikannya masjid terbesar di dunia pada saat itu. Namun 4 tahun kemudian, kalifah Almohad ketiga tersebut meninggal dunia dan pembangunan masjidpun dihentikan.

Padahal pembangunan masih jauh dari target. Tinggi menara ( 44m) baru setengah dari yang diinginkan bahkan masjidnya sendiri baru berupa tiang meski sudah banyak, yaitu 200 tiang. Orang awam yang menyaksikannya pasti tidak mengira bahwa hal tersebut tidak disengaja. Karena tiang-tiang tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri untuk spot foto wisatawan yang berdatangan.

Sementara itu Mausoleum Muhammad V yang merupakan makam kerajaan berada di pelataran yang sama dengan menara Hassan baru dibangun ratusan tahun kemudian, yaitu antara tahun 1961 dan 1971. Bangunan modern dengan sentuhan arsitektur khas Maroko ini menampung makam raja Muhammad V dan 2 putranya, yaitu pangeran Moulay Abdallah dan Raja Hassan II. Bersama menara Hassan, mausoleum ini menjadi bagian Situs Warisan Budaya UNESCO.

UNESCO baru-baru ini juga menetapkan Rabat sebagai World Book Capital 2026. Artinya kota ini telah diakui berhasil membudayakan penduduknya untuk cinta buku. Ini dibuktikan dengan banyaknya perpustakaan dan taman bacaan berkwalitas serta berhasil tampil di forum internasional. Sungguh sebuah prestasi bergengsi. Sebelum Rabat, gelar World Book Capital 2025 diberikan kepada Rio de Janeiro di Brasil dan Strasbourg di Prancis untuk tahun 2024.   

Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke Casablanca yang hanya berjarak sekitar 90 km dari Rabat. Sekali lagi kami disuguhi lukisan indah ciptaan-Nya tapi kali ini pemandangan susur pantai lautan Atlantik bukan pegunungan seperti sebelumnya.

Di Casablanca kami langsung menuju Ricks’s Café karena rasa penasaran mengapa semua travel Indonesia ke Maroko merekomendasikannya. Ternyata keistimewaan café ini karena pernah menjadi tempat shooting film berjudul “Casablanca” yang menurut sebuah survey masuk peringkat teratas dalam daftar film lawas yang ‘wajib’ ditonton.

Film bertemakan cinta dengan latar belakang PD II ini dibuat pada tahun 1942 dibintangi 2 pemain film kenamaan pada masanya, yaitu Humphrey Bogart dan Ingrid Bergman. Ketika kami tiba di tempat terlihat antrian turis yang datang dengan bus-bus turis. Kami hanya berfoto dan menyempatkan “mengintip” menu masakannya yang harganya selangit itu.

Selanjutnya dengan mobil kami menyusuri “ la corniche” alias jalan susur laut Casablanca dengan jalur pejalan kakinya yang super lebar hingga keindahan laut dapat dinikmati semua orang tanpa dipungut bayaran sepeserpun. Temperatur sekitar 15 derajat di awal museum Dingin ini menambah kenyamanan menikmati kota ini. Di muslim Panas temperatur bisa mencapai 40 derajat Celcius. Boulevard ini dimulai dari ujung teluk dimana masjid Hassan II berdiri megah tinggi menjulang hingga melewati mercu suar di ujung teluk di sisi seberangnya. 

Dari la corniche kami langsung diantar ke stasiun kereta api Casa Voyajeur untuk menuju Marrakech. Jarak Casablanca – Marrakech 242 km ditempuh sekitar 3 jam dengan kereta api.

Marrakech, kota pariwisata.            

Marrakech mempunyai banyak julukan selain kota pariwisata. Yaitu  kota merah karena bangunan di kota ini semua terbuat dari tanah merah dan juga kota tujuh orang saleh” ( Sebaatou Rizjel) karena disanalah tujuh sufi terkenal berkiprah dan dikebumikan. Marrakech juga mempunyai julukan mutiara dari selatan.

Kota ini terletak di barat daya Maroko, di kaki pegunungan High Atlas. Marrakech ialah kata Berber yang artinya negeri Tuhan.  Mayoritas penduduk di kota yang didirikan pada tahun 1062 dan pernah menjadi ibu kota Maroko ini ialah suku Berber. Atinya Marrakech telah menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan selama berabad-abad.

Seperti kota-kota di Maroko lainnya, Marrakech memiliki 2 bagian utama: old medina alias kota tua dan kota modern. Di kota ini terutama di kota tuanya berdiri banyak sekali bangunan peninggalan bersejarah, tak salah bila kota menjadi salah satu kota budaya yang dilindungi UNESCO.

Sekitar pukul 3 sore kami tiba di stasiun kereta api Marrakech yang berada di bangunan modern di kota baru Marrakech. Selanjutnya dengan taxi ( orang Maroko menyebutnya Grand Taxi/Petit Taxi) kami diantar ke kota tua yang jaraknya tidak begitu jauh dari stasiun. Lalu dengan berjalan kaki sambil menyeret koper menyusuri jalan-jalan kecil diantara keriuhan souk/pasar, akhirnya tiba kami di riad yang telah kami pesan sebelumnya.

Setelah cek-in kami langsung menuju Djemaa el-Fna yang ternyata sangat dekat dengan riad yang kami tinggali.  Djemaa el-Fna adalah alun-alun terbesar dan teramai tidak saja di Maroko tapi juga Afrika. Turis manca negara dan turis lokal terlihat hiruk pikuk berbaur dengan para pedagang yang menjual berbagai barang dagangan. Disana-sini terlihat orang bergerombol menyaksikan penduduk asli memamerkan bermacam atraksi seperti bermain musik tradisional, bernyanyi, menari, pertunjukkan api, sulap, monyet bahkan ularpun ikut beraksi. Tenda-tenda makanan yang menyajikan makanan tradisional seperti tajin, kuskus dll disesaki para tamu. Pedagang berbagai buah-buahan segar untuk diolah menjadi jus tak mau kalah berteriak-teriak menawarkan dagangannya.

Puas menikmati keramaian Djemaa el-Fna kami berjalan menuju masjid Koutubia yang merupakan ikon Marrakech. Masjid ini merupakan simbol kekayaan sejarah dan budaya kota ini. Masjid Koutubia dibangun pada tahun 1150 dengan batu pasir merah, dengan desain campuran arsitektur Islam Andalusia dan Spanyol yang dikenal dengan nama Hispano-Moresque.

Menara masjid setinggi 77 meter yang dijuluki “Roof of Marrakech” ini puncaknya dihiasi dengan 4 bola bersusun dari emas murni. Menara masjid ini menjadi model untuk pembangunan menara Masjid Giralda di Kota Sevilla, Spanyol dan menara Masjid Hassan II di Rabat, Maroko. Karena kemiripan bentuk dan desainnya, ketiga menara ini kerap disebut sebagai tiga seri menara kembar. Tampaknya julukan “Roof of Marrakech” ini yang menjadi alasan bahwa gedung di kota ini tidak boleh melebihi tinggi masjid Koutubia. 

Sesuai namanya yaitu masjid Koutubia ( Koutub dari kata Kitab dalam bahasa Arab yang artinya buku) masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat namun juga sebagai tempat belajar karena memiliki perpustakaan dengan buku bermacam topik tidak hanya tentang Islam.

Lagi-lagi sayangnya, begitu tiba di depan masjid, seperti juga masjid di kota-kota lain di Maroko, masjid tutup dan hanya bisa dimasuki menjelang waktu shalat wajib. Apa boleh buat, kami terpaksa harus puas memandangnya dari luar, dilanjutkan dengan berjalan-jalan di taman sekitarnya. Marrakech dikenal mempunyai banyak taman luas.

Esok paginya, ketika melewati alun-alun Djemaa el-Fna, kami dibuat takjub melihat alun-alun yang kemarin malam begitu ramai, pagi ini telah terlihat bersih dari segala sampah. Dan Alhamdulillah kami berdua sempat mendirikan shalat Zuhur ( dan Asar ) secara berjamaah di masjid Kuotubia begitu adzan berkumandang. Dari penjaga riad, kami baru mengetahui ternyata masjid tersebut baru dibuka kembali beberapa hari lalu akibat gempa yang terjadi pada September 2023 lalu.  Gempa dahsyat berskala 6,8 Richter di barat daya Marrakech tersebut menewaskan nyaris 3.000 orang, kebanyakan di desa-desa terpencil pegunungan High Atlas. Sejumlah bangunan bersejarah di Marrakech dan juga sekitar masjid Koutubia runtuh tapi masjid Koutubia sendiri hanya mengalami sedikit kerusakan.

( Bersambung).

Read Full Post »