Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.

1. Menggapai Derajat Takwa

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.

Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.

Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.

Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.

2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia

Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.[3]

Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:

Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.

Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.

Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.

Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4] Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.[5]

3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik

Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]

Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”[7]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[11]

Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[12]

Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]

4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka

Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.

Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]

Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]

Hikmah Puasa yang Keliru

Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]

Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”[19]

Adapun hadits yang mengatakan,

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]

Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Taisir Karimir Rahman, hal. 86.

[2] Hadits qudsi adalah hadits yang maknanya dari Allah Ta’ala, lafazhnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[3] HR. Muslim no. 1151

[4] HR. Bukhari no. 7171 dan Muslim no. 2174

[5] Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 276-277.

[6] HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid.

[7] HR. Bukhari no. 1903.

[8] HR. Ibnu Khuzaimah 3/242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih.

[9] Perkataan Al Akhfasy, dinukil dari Fathul Bari, 2/414.

[10] Perkataan Al Azhari, dinukil dari Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/114, 9/119.

[11] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/119.

[12] HR. Muslim no. 782.

[13] Lathoif Al Ma’arif, 378.

[14] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9906

[15] Lathoif Al Ma’arif, 369

[16] Lihat http://swaramuslim.net

[17] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim Surat Al Baqoroh, 1/317.

[18] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/422.

[19] HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini dalam Tuhfatul Ahwadzi, 7/139-140.

[20] Al Hafzih Al ‘Iroqiy dalam Takhrij Al Ihya’ (5/453) mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Awsath, Abu Nu’aim dalam Ath Thib An Nabawiy dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah (dho’if). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadits Adh Dho’ifah no. 253 mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).

Di copas dari: https://muslim.or.id/4010-hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html

Read Full Post »

Kemuliaan Semu.

Abu Lahab bin Abdul Muthalib bin Hasyim adalah seorang pemuka Quraisy kaya raya yang dimuliakan dan disegani kaumnya. Namun ia dimuliakan dan disegani bukan hanya karena hartanya tapi juga karena ia berasal dari suku yang terhormat. Suku Quraisy dimuliakan karena kedudukannya sebagai penjaga Ka’bah di Makkah. Disinilah pusat peribadatan haji yang umurnya sudah ribuan tahun itu dilakukan, baik oleh penduduk Makkah maupun penduduk jazirah Arab.

Berhaji lengkap dengan tawaf dan sainya adalah ritual ibadah yang diwariskan oleh nabi Ibrahim as dan putranya yaitu nabi Ismail as. Meskipun dengan akidah yang sudah diselewengkan. Selain peribadatan, suku Quraisy  juga mendapat kehormatan untuk mengelola air Zam-zam yang juga telah ribuan tahun usianya.  

Pada saat Abdul Mutholib, ayah Abu Lahab, menjabat sebagai penjaga Ka’bah, terjadi peristiwa menakjubkan. Yaitu berhamburannya pasukan yang terdiri dari ribuan burung Ababil yang mencerai-beraikan pasukan gajah pimpinan Abrahah yang bermaksud  menghancurkan Ka’bah. Penguasa Habasyah ( Ethiopia) di Yaman ini marah besar karena gereja besar yang dibangun olehnya dikotori tinja oleh orang Quraisy. Padahal ia membangun gereja megah di Yaman tersebut demi menyaingi Ka’bah yang selalu ramai dikunjungi jamaah manca negara. 

 “Kami tidak berniat melawan pasukan tuan karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim as.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”, begitu jawaban diplomatis  Abdul Mutthalib menjawab pernyataan Abrahah yang ketika itu mengatakan bahwa kedatangannya ke Mekkah bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah yang dibencinya. Ia juga menambahkan apabila mereka tidak melawan maka ia tidak akan menumpahkan darah.

Jawaban Abdul Mutholib di atas menyiratkan bahwa orang-orang Quraisy sebenarnya telah mengenal Allah sebagai Tuhan mereka. Tapi syaitan telah menyesatkan mereka dengan menjadikan berhala sebagai sesembahan disamping Allah swt. Ini tercermin dari nama Abu Uzza nama asli Abu Lahab yaitu hamba Uzza. Uzza adalah nama salah satu berhala yang mereka sembah.       

Peristiwa spektakuler tersebut akhirnya malah membuat  Abdul Mutholib dengan Ka’bahnya makin harum namanya. Tahun dimana peristiwa tersebut terjadi dikenal dengan nama tahun Gajah. Pada tahun itu pulalah lahir Rasulullah Muhammad saw. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Al-Fiil yang artinya gajah, sebagai berikut:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

Suku Quraisy juga terkenal sebagai pedagang ulung yang terbiasa melakukan perniagaan barang-barang berkwalitas tinggi ke kota-kota yang jaraknya ribuan kilometer. Dari Mekah ke Syam pada musim dingin dan dari Mekah ke Yaman pada musim panas. Surat Al-Quraisy menceritakan hal tersebut.

Dalam keadaan itulah Abu Lahab hidup, dengan segala kemewahan dan kekuasaan, dikelilingi oleh orang-orang yang tunduk patuh pada segala perintahnya. Istrinya yang juga seorang perempuan Quraisy terhormat, dijuluki ummu Jamil yang artinya ibu yang cantik. Ia adalah saudara perempuan Abu Sufyan.

Pasangan suami istri ini sangat menyayangi Muhammad, keponakan mereka, sejak lahir hingga sebelum diangkat menjadi utusan-Nya. Ketika budaknya menyampaikan berita kelahiran sang keponakan, Abu Lahab langsung membebaskan budaknya tersebut. Ini sebagai tanda suka cita mereka karena Muhammad adalah putra dari Abdullah bin Abdul Mutholib, adik bungsu yang sangat dicintainya. Abdullah wafat dalam usia muda ketika Rasulullah masih dalam kandungan Aminah, ibundanya. Bahkan ketika Rasulullah telah menikah dan memiliki beberapa putri, Abu Lahab menikahkan kedua putranya dengan dua putri Rasulullah, yaitu Ruqayah dan ummu Kultsum binti Muhammad.

Namun sejak Rasulullah diangkat menjadi utusan Allah Abu Lahab dan istrinya mulai membencinya. Ajaran yang disampaikan Rasulullah itu dianggap melecehkan berhala sesembahan mereka sekaligus mengancam  kedudukan dan kehormatan mereka sebagai pemuka agama. Untuk itu mereka tidak saja memerintahkan orang-orangnya untuk mengejek Rasulullah namun juga rela membuntuti Rasulullah kemanapun pergi untuk mengejek sang keponakan.  

“Hai bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian memecat Lata dan ‘Uzza serta jin teman-teman kalian dari kalangan bani Malik ibnu Aqyasy dan mengikuti bid’ah dan kesesatan yang disampaikannya. Maka janganlah kalian dengar dan jangan pula kalian ikuti”, ucap Abu Lahab penuh kebencian.

Sementara istrinya, ia suka menebarkan duri ke jalan-jalan yang biasa dilalui Rasulullah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa istri Abu Lahab ini memiliki sebuah kalung berharga. Dengan kalungnya itu ia bersumpah akan berusaha sekuat tenaga menentang dakwah Rasulullah.

Hingga suatu hari turun ayat Al-Quran yang memerintahkan Rasulullah agar secara terbuka mendakwahi keluarga dekat beliau. Maka Rasulullahpun naik ke atas bukit Shafa lalu memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul. Kemudian Rasulullah berseru, ‘Sekiranya aku sekarang mengatakan kepada kalian bahwa pasukan musuh akan menyerang kalian di pagi ini atau sore ini, apakah kalian akan mempercayainya?’

Mereka serentak menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku sekarang memberi peringatan kepada kalian terhadap akan datangnya azab yang pedih.’

Mendengar ucapan tersebut, Abu Lahab yang hadir di tempat tersebut langsung mengumpat, ‘Celaka engkau, apakah hanya untuk menyampaikan hal ini engkau mengumpulkan kami!?’ sambil meninggalkan tempat.

Tak lama turunlah surat Al-Lahab yang berisi laknat Allah Azza wa Jala kepada Abu Lahab dan istrinya sebagai berikut:

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

4. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.

5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Demikian yang dikisahkan Ibnu Abbas ra dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim. Ke 5 ayat surat Al-Lahab diatas adalah balasan atas segala prilaku busuk pasangan suami istri pemuka Quraisy tersebut. Surah Al-Lahab secara harfiah berarti ”yang menyala-nyala” atau ” gejolak api’ sesuai dengan nama Abu Lahab. Nama yang diberikan karena wajahnya yang sejak kecil tampak selalu cerah kemerahan. Julukan yang indah namun ternyata adalah calon ahli neraka yang apinya bergejolak dan menyala-nyala seperti wajahnya.  

Ayat 1 “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” menunjuk pada perbuatan yang dilakukan tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh Abu Lahab yang terus menerus menteror dakwah Rasulullah. Yang akibatnya akan membinasakan dan merugikan dirinya sendiri. Yaitu masuk neraka sebagaimana ayat 3.

Ayat 2 yang berbunyi “Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” adalah tanggapan Allah swt atas perkataan Abu Lahab. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ketika Rasulullah SAW menyeru kaumnya kepada iman. Abu Lahab berkata, “Jika apa yang dikatakan oleh keponakanku ini benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku kelak di hari kiamat dari azab dengan harta dan anak-anakku.”

Rupanya Abu Lahab merasa bahwa hartanya yang berlimpah dan anak-anaknya dapat menyelamatkannya dari kemurkaan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala. Karena kesombongannya ia lupa bahwa harta dan anak hanyalah titipan-Nya.

Sementara ayat 4 dan 5 adalah tanggapan Allah swt atas sumpah istri Abu Lahab tentang kalung berharganya yang akan ia tebus mati-matian demi menentang dakwah Rasulullah. Ibnu Jarir mengatakan bahwa al-masadd dalam ayat 5 tersebut artinya sabut. Urwah ibnuz Zubair mengatakan bahwa al-masadd artinya rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sedangkan As-Sauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kalung api yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Alangkah marah dan kesalnya Abu Lahab dan istrinya mendengar hal itu. Segera mereka memerintahkan kedua anak lelaki mereka untuk menceraikan istri-istri mereka. Kebencian merekapun semakin memuncak.

Kebencian kepada Rasulullah juga diperlihatkan salah satu anak Abu Lahab, yang tak lain adalah bekas menantu Rasulullah. Hingga suatu hari karena sudah keterlaluan Rasullah memohon agar Allah swt mengirim azab-Nya.

“Ya Allah, kuasakan atasnya anjing di antara anjing-anjing-Mu.”

Abu Lahab dan putranya sangat ketakutan. Apalagi kafilah dagang mereka akan melakukan perjalanan jauh. Maka Abu Lahabpun memerintahkan pengawalan extra ketat untuk putranya. Namun ternyata Allah swt mengabulkan permohonan rasul-Nya. Maka terjadilah apa yang diminta Rasul. Ia diterkam seekor singa ketika sedang tidur. Ironisnya hal tersebut tidak membuat jera Abu Lahab dan istrinya. Kebencian mereka bahkan makin menjadi-jadi. 

Sepuluh tahun kemudian yaitu pada tahun 2 H terjadilah  Perang Badar yang berakhir dengan kekalahan pihak musyrikin Quraisy dengan sangat memalukan. Pada perang tersebut Abu Lahab tidak ikut berperang. Ia hanya menyetor 4.000 dirham dan meminta seseorang menggantikannya di medan perang.

Sepekan setelah itu Abu Lahab diserang penyakit lepra hingga dijauhi sanak keluarganya dan akhirnya tewas mengenaskan. Selama tiga hari jasadnya tidak segera dikuburkan karena tak seorangpun tahan dengan bau menyengat yang keluar dari mayatnya. Tidak juga orang-orang yang dulu selalu mengelilingi dan memujanya. Ini yang juga terjadi terhadap Kemal Ataturk, Yahudi pendiri Turki sekuler. Hingga hari ini bau busuk tetap keluar dari kuburnya hingga terpaksa diberi pewangi sepanjang waktu.

Dengan terpaksa para tetangganya akhirnya memasukkan mayat pemuka Quraisy tersebut ke dalam sebuah kotak kayu dan menguburkannya dalam-dalam. Sesudah itu mereka melemparinya dengan kerikil dan tanah hingga rata.

Dalam sebuah riwayat dikabarkan setiap hari Senin mantan pemuka tersebut dibebaskan dari siksa kubur. Ini sebagai penghargaan atas kebaikannya membebaskan budak yang mengabarkan kelahiran Rasulullah.

Beberapa kesimpulan dan hikmah yang bisa diambil:

  1. Harta kekayaan, anak, kehormatan, jabatan dll hanyalah cobaan dan titipan. Ia tidak dapat menyelamatkan seseorang dari siksa neraka. Kecuali digunakan di jalan yang diridhoi-Nya.
  2. Laknat dan janji Allah pasti terjadi. Bisa di dunia maupun di akhirat ataupun di akhirat saja kelak.  Abu Lahab merasakan keduanya , di dunia dan akhirat.       
  3. Pemimpin mendapat balasan berlipat atas kebaikan dan keburukannya. Tak seperti biasanya Allah swt melaknat langsung nama seseorang. Ini menunjukkan bahwa tindakan yang bersangkutan sudah ketelaluan. Abu Lahab adalah seorang pemuka yang dengan kedudukannya seharusnya bisa mengajak ke jalan yang lurus. Tapi ia malah  bersengkongkol bersama istri dan anaknya mati-matian memusuhi dakwah Rasulullah, pada awal dakwah Islam pula. Mirip dengan apa yang dilakukan Iblis yang melawan nabi Adam as pada awal penciptaan. Dan Allahpun melaknatnya.
  4. Hati-hati dengan memberi nama anak. Abu Uzza yang artinya hamba Uzza berhala sesembahan Quraisy membuat hatinya keras membatu tidak mampu menerima kebenaran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Maret 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

SIBAQ

“Fastabiqul khoirot” (maka berlombalah kamu dalam kebaikan ).  

Ini adalah potongan ayat 148 surat Al-Baqarah yang sudah sepatutnya dijadikan pegangan umat Islam dalam mengarungi kehidupannya. Stabiqu berasal dari kata dasar yang sama dengan Sibaq, Musabaqoh yaitu Sabaqo – Yasbiqu yang arti harfiahnya adalah  memenangkan suatu lomba.

Hidup sejatinya adalah berlomba dalam kebaikan. Siapa yang menang ia akan memasuki surga dan siapa yang kalah akan masuk neraka. Tidak ada pilihan lain, senang atau tidak, terpaksa atau tidak, hanya itu pilihannya.

Lomba adalah fitrah manusia yang tidak dapat dihindarkan. Setiap manusia sadar atau tidak sebenarnya memiliki nafsu untuk menang dalam lomba, lomba apapun. Lomba ini bahkan telah dimulai sejak awal kehidupan seorang anak manusia. Yaitu pada awal proses pembuahan dimana satu dari 100 juta sperma memenangkan lomba menggapai sebuah sel telur. Sperma pemenang ini sudah pasti adalah sperma kuat dan sehat, bibit unggul cikal bakal anak manusia yang nantinya akan siap melakukan lomba yang diperintahkan Tuhannya, Allah Azza wa Jala.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. ( Terjemah QS. Al-Mulk(67):2).

Lomba ini juga dimaksudkan sebagai ujian, siapa yang amalnya lebih baik (bukan lebih banyak) itulah yang lulus. Uniknya ujian tidak hanya dalam bentuk kesusahan namun juga kesenangan. Karena sesungguhnya susah maupun senang adalah dari-Nya. Allah subhana wa ta’ala ingin mengetahui bagaimana reaksi kita ketika diberi kesusahan, apakah kita bisa bersabar dan tetap mensyukurinya.

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.(Terjemah QS. Al-Mulk(67):23).

Dan ketika diberi kesenangan apakah menjadi lupa diri, sombong, pongah, bahkan takabur dan riya. Karena kesenangan dan kesuksesan sejatinya adalah uji kepekaan, jangan sampai orang lain yang dalam kesulitan menjadi tersinggung. Di hari Pengadilan nanti kita harus mempertanggung-jawabkan semua itu.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu”.(Terjemah QS. At-Takasuur(102):8).

Tapi apa sebenarnya yang dimaksud amal yang baik pada ayat di atas. Definisi baik mungkin banyak, tergantung sudut pandang. Namun Islam menegaskan bahwa baik adalah segala sesuatu yang sumbernya dari Allah subhana wa ta’ala. Karena ‘kebenaran hakiki itu hanya 1, yaitu yang dari-Nya. Jadi jangan pernah merasa ragu dengan banyaknya orang atau golongan yang berusaha membujuk rayu bahwa kebenaran itu relative. 

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):147).

Apapun perintah dan larangan-Nya pasti baik, dan pasti bermanfaat bagi manusia. Meski bisa jadi kelihatannya tidak sesuai dengan akal apalagi nafsu manusia. Ajaran Islam sejatinya adalah fitrah manusia, tidak ada yang menyimpang dari fitrahnya. Ia hanya mengukuhkan yang sudah ada, membatasi agar tidak berlebihan serta mengarahkan supaya tetap berada di rel yang benar. Yang baik/haqq pasti dari Allah swt sedangkan yang buruk/bathil dari yang selain –Nya.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, …” (Terjemah QS. Al-Isa(17):7).

Keyakinan yang demikian itulah yang pasti akan melahirkan manusia yang takwa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):102).

Takwa terdiri atas 2 macam, takwa pertama adalah takwa dalam hal  meninggalkan larangan sejauh-jauhnya/sekuat-kuatnya dan takwa kedua adalah dalam menjalankan perintah semampunya. Yang dimaksud menjalankan perintah semampunya adalah dalam hal ibadah sunnah bukan ibadah wajib, kecuali ada halangan yang dibenarkan secara syar’i. Misal shalat ketika sakit. Dalam keadaan normal harus berdiri, namun bila tidak sanggup boleh duduk, bila tidak sanggup juga boleh dalam posisi tidur. Dan bila tidak sanggup juga dengan kedipan matapun diperbolehkan.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu…. …”. ( Terjemah QS. At-Taghaabun(64):16).

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah 2:148).

Ayat diatas membuktikan bahwa lomba dalam kebaikan tidak hanya terhadap sesama muslim tapi juga dengan umat lain. Termasuk juga arah kiblatnya. Setiap orang/umat pasti mempunyai tujuan dan minat masing-masing. Akan tetapi prinsip dasar/orientasi seorang Muslim harus sama, yaitu bahwa hidup adalah untuk menyembah kepada Allah Azza wa Jala.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. ( Terjemah QS.Ads-Dzariyah (21):56)

Seperti kita ketahui kiblat pertama umat Islam adalah menghadap Masjidil Aqsho. Perintah pemindahan kiblat ke arah Ka’bah di Masjidil Haram di Mekah untuk menguji ketaatan sekaligus untuk membedakan dari umat Yahudi dan Nasrani yang memang berkiblat ke Masjidil Aqsho. Ka’bah bukan tujuan apalagi untuk disembah sebagaimana yang sering dituduhkan orang-orang kafir. Apa yang dikatakan Umar bin Khattab ra di hadapan Hajar Aswad yang terletak di salah satu sisi Ka’bah adalah bentuk ketaatan sekaligus ketauhidan yang harus kita contoh.

“Demi Allah aku akan benar-benar menciumnya dan aku sungguh tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu. Sungguh, kau tak bisa mendatangkan marabahaya dan tak bisa memberikan keuntungan. Sandainya aku tak pernah melihat Rasulullah mencium kamu tentu aku tak akan mencium.” 

Ketaatan dasar dalam bentuk perbuatan yang wajib dikerjakan umat Islam adalah mendirikan shalat wajib 5x sehari sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. Namun jangn lupa Allah swt juga mewajibkan umat yahudi dn nasrani untuk shalat, rukuk dan sujud sebagaimana umat Islam. Walaupun Al-Quran tidak menrangkan persisnya bagaimana. Dan itu tidak penting bagi kita. Yang pasti ternyata Allah melaknat mrk. Tidak sedikit ayat2 quran menerangkn hal tsb diantaranya yg sering kita baca adalah ayat 6 Alfatihah. Pelajaran bagi kita agar kita mampu mengambil hikmah kesalahan mereka. Jangn sampai kita malah mengulang kesalahan tersebut.  

“Katakanlah, maukah kalian kuberi tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Mereka adalah orang-orang yang sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (Terjemah QS.Al-Kahfi (18):103-104).

Shalat yang merupakan tiang agama itu sebenarnya bukan sekedar bentuk ketaatan kepda-Nya, namun juga latihan kedisiplinan. Shalat berjamaah ke arah yang sama yaitu Ka’bah adalah lambang persatuan. Sementara wudhu/thoharoh,  gerakan, bacaan dan waktu shalat memiliki cara dan urutan yang tertentu, tidak boleh sesukanya. Maka sudah sewajarnya shalat yang benar akan membuahkan ahlak yang baik. Dalam ayat 1-11 surat Al-Mukminun diterangkan kriteria ahlak seorang yang Mukmin.

Artinya shalat memiliki filosofi yang dalam yaitu hidup harus dinamis, semangat dengan ilmu yang benar dalam segala bidang, tidak boleh mudah menyerah dan putus asa. Bukankah hidup adalah ujian sebagaimana dijelaskan di atas. Umat Islam wajib bersatu agar dapat memenangkan lomba. Jangan pernah menunda amal baik.Umat Islam harus punya skala prioritas amal.

“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”(HR Muslim).

Sementara ayat 4-8 surat Al-Maaun menjelaskan tentang shalat yang lalai. Diantaranya yaitu riya. Riya adalah amal ibadah yang dikerjakan untuk dilihat orang lain bukan karena ketaatan kepada-Nya, Sebaliknya Allh jg menegaskn bahwa kita adalah umat terbaik. Mak dengan berbekal modal itu semua seharusnya kita, umat Muslim dapat memenangkn lomba ini dan memasuki surga Firdaus yang dijanjikan bagi sang pemenang.

Hikmah Sibaq:

1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan kebaikan dan tugas.

2. Effektif dalam waktu. Usia biologis harus melampaui usia manfaat. Bisa jadi usia biologis seseorang pendek namun tabungan pahalanya melebihi usianya. Contohnya, ganjaran malam Lailatul qadar yang 1000 bulan atau 86 tahun, shalat jamaah 27x ganjaran, shalat 2 rakaat sebelum Subuh dll.

3. Meminimalisir godaan syetan. Dengan banyak berbuat baik ruang keburukan menjadi berkurang.

4. Terwujudnya self control dan integritas yang tinggi.

“Barangsiapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang terlaknat.” (Ali bin Abi Thalib ra).

“Siapa yang hidup untuk orang lain  maka akan hidup sebagai orang besar. Dan siapa yang hidup untuk diri sendiri maka akan hidup sebagai orang kecil”. (Sayyid Qutb).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Februari 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

Kisah YouTuber asal Inggris Jay Palfrey jadi muallaf menarik untuk disimak. YouTuber terkenal ini mendapat hidayah Islam setelah traveling ke banyak negara di belahan dunia. Jay Palfrey membagikan pengalamannya menemukan Islam dan memutuskan untuk mengucapkan Syahadat.

Sebelum menjadi Mualaf, Jay kerap dikenal dengan unggahan video yang seringkali berisi reaksi dirinya terhadap indahnya ajaran Islam. YouTuber yang memiliki lebih dari 1.26M subscribers ini memberi jawaban atas pertanyaan pengikutnya perihal keputusannya untuk menjadi mualaf.

Dalam video “I became Muslim – why?” Jay menceritakan bahwa dirinya hidup di sebuah kota kecil dekat London yang mayoritas penduduknya adalah non-muslim. Dilansir dari laman Muslimahdaily, satu-satunya hal yang mempengaruhinya untuk mengetahui soal Islam dalam lingkungan tempat tinggalnya adalah acara-acara televisi, juga gerakan ekstrimisme orang UK (United Kingdom) perihal kejadian 9/11 yang membuat mereka memiliki tanggapan buruk terhadap Islam.

Jay menceritakan tentang kondisi dirinya dahulu yang memaksanya untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Saat remaja, pemikiran Jay penuh dengan hal-hal negatif, lingkungannya yang selalu menyudutkan Islam membuatnya mudah terpengaruh. Ia juga tumbuh dengan kondisi ekonomi keluarga yang kurang dari cukup, bahkan hal ini membuatnya menjadi bahan bully teman-teman sekolahnya karena seragam yang ia kenakan sudah koyak. Kehilangan orang yang terkasihi dalam keluarganya juga menjadikan pemikiran Jay akan masa depan dan kehidupannya semakin buruk.

Untuk keluar dari situasi itu, ia memutuskan untuk pergi dari lingkungan tempat tinggalnya dan kuliah untuk membentuk hidup yang lebih baik lagi seorang diri. Dari sana lah ia mulai bekerja keras dan jatuh cinta dengan traveling. Dari traveling itulah, perjalanan menuju Islam Jay Palfrey terjawab. Ia mengunjungi negara-negara dengan mayoritas penduduk Islam seperti Irak dan Turki.

Dalam perjalanannya yang sekadar iseng, tak sengaja ia merasa bahwa perjalanan ini seperti membawanya ke arah yang religius sebagaimana ia merasa telah membuktikan bahwa Islam bukanlah agama yang buruk, melainkan agama yang penuh keindahan, perdamaian, dan orang-orang yang baik.

“Aku memulai perjalananku ke negara-negara dengan mayoritas muslim, seperti Irak dan Turki, dan (aku) mulai mengerti bahwa Islam itu penuh kedamaian, mencintai satu kesatuan dan kebersamaan sehingga (membuatku) merasa seperti bagian dari mereka,” kisahnya.

Menemukan kedamaian setelah mengunjungi negara-negara dengan mayoritas muslim, awalnya Jay hanya ingin mengetahui kebenaran dari perkataan orang-orang Inggris tentang Islam, namun nyatanya hal ini membuatnya jatuh cinta dengan Islam.

Hingga saat ini, Jay aktif membagikan perjalanan di kanal YouTubenya mengenai negara-negara yang ia kunjungi. Tak hanya itu, Jay juga masih kerap membagikan video akan reaksinya mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dalam salah satu video yang diunggahnya sebelum muallaf, Jay sempat terharu dan menangis saat mendengar Abdur Rahman Al Qossi membacakan ayat Qur’an.

“Ini adalah sesuatu yang paling menggugah emosiku dibandingkan apapun yang pernah saya dengar. Saya tak pernah ‘secengeng’ ini ketika melihat sebuah video, dan sekarang aku sama sekali tidak bisa berkata apa-apa,” ujar Jay sambil menangis, terenyuh dengan lantunan ayat yang dibacakan.

Setelah masuk Islam, Jay mengunggah sebuah video berisikan trailer mengenai konten-konten yang akan ia persiapkan untuk selanjutnya. Jay mengatakan bahwa ia hanya akan mengunggah sesuatu yang membuatnya hidup bahagia dan menginspirasi banyak orang sebagaimana tulisan ‘Stay Happy’ yang tertera pada thumbnail teaser videonya tersebut.

Meskipun pada awalnya sempat meragukan reaksi ibu dan kakaknya akan keputusannya untuk mualaf, Jay pun dikejutkan dengan reaksi ibunya yang tidak terduga. Saat menerima telfon dari Jay, ibunya sendiri tidak percaya bahwa Jay telah mualaf. Walau sempat kaget, menurut sang ibu, Jay telah melakukan hal yang terbaik untuk kedamaian dirinya. Sang ibu juga mengatakan bahwa ia akan mendukung apapun keputusan Jay selagi itu yang terbaik.

Ibu Jay juga sempat menyinggung suara adzan yang berkumandang ketika ia sedang dalam panggilan suara dengan Jay. “Menakjubkan!” ujar ibunya yang ikut mendengarkan adzan. Reaksi ibunya membuat Jay bahagia, karena sebelumnya, ia juga kerap bertukar opini tentang Islam dengan ibu dan kakaknya. Dan perspektifnya mengenai Islam berubah setelah ia merasa bahwa Islam telah mengajarkan sesuatu yang indah ke dalam dirinya, sebab itu ia mantab mualaf dan memeluk Islam.

Jay juga mengunggah videonya ketika bersyahadat di sebuah masjid di Istanbul Turki pada 17 Agustus 2020. Dalam video itu, ia dibimbing dan dituntun untuk mengucapkan kalimat Tauhid ditemani beberapa orang.

Berikut pesannya: “Saya telah melalui jalan penemuan spiritual yang sangat dalam selama bertahun-tahun. Banyak pengalaman yang saya dapat melalui perjalanan dan bertemu orang-orang luar biasa di seluruh dunia. Tinggal di negara-negara Muslim dan belajar lebih banyak tentang agama yang damai, namun sangat disalahpahami, ini membuat saya menyadari bahwa inilah jalan yang ingin saya jelajahi”.

“Banyak orang di seluruh dunia mengkritik dan salah memahami Islam yang sebenarnya, yaitu perdamaian, kebersamaan/kesatuan dan cinta.Sebagai manusia, kita sering takut akan hal-hal yang tidak sepenuhnya kita pahami, terutama ketika sebagian kecil dari mereka mengambil tindakan ekstrem”.

“Sepanjang perjalanan saya di seluruh dunia, saya akan terus menyebarkan hal positif dari cara hidup ini, dan menunjukkan kisah orang-orang yang terus membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Terima kasih kepada semua orang atas dukungannya dan untuk pesan-pesan penuh kasih selama ini.”

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 18 Januari 2022.

Diambil dari :

httpst://kalam.sindonews.com/read/651451/786/kisah-youtuber-inggris-jay-palfrey-memeluk-islam-setelah-traveling-1641654078/10

Read Full Post »

Nabi Yahya as adalah putra nabi Zakariya yang lahir berkat doa yang dikabulkan Allah swt. Nabi Zakariya as yang sudah amat renta sangat merindukan keturunan. Kisah ini diabadikan dalam ayat 2-11 surat Maryam sebagai berikut :

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,  yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia”. 

Nabi Yahya as tinggal di Palestina( dulu Yudea).  Di tempat itu, ia melanjutkan tugas sang ayah berdakwah kepada bani lsrail yang tinggal wilayah tersebut agar teguh menjalankan ajaran Taurat. Kala itu, negeri Palestina berada di bawah kekuasaan Yahudi Romawi yang beribu kota Roma. Raja Herodus Antipatros adalah yang berkuasa di Palestina pada 20 SM–39 M.

Keshalehan Nabi Yahya ini sudah terlihat sejak masa anak-anak, Abdullah bin al Mubarok mengatakan : Ma’mar mengatakan bahwa suatu ketika ada seorang anak yang mengatakan kepada Yahya bin Zakaria,”Mari kita bermain bersama.” Lalu Yahya menjawab,”Sesungguhnya kita diciptakan bukan untuk bermain”. Para ulama sepakat hal tersebut yang dimaksudkan ayat 12 surat Maryam sebagai berikut : “Dan kami berikan kepadanya ( Yahya)  hikmah selagi ia masih kanak-kanak”. 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang anak Adam kecuali dia akan melakukan sebuah kesalahan atau berkeinginan untuk melakukan kesalahan namun tidak pada diri Yahya bin Zakaria”.

Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat dari Qotadah bahwa al Hasan berkata bahwa ketika Isa dan Yahya bertemu lalu Isa berkata kepada Yahya,”Mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku sesungguhnya engkau lebih baik dariku.” Yahya berkata,” ,”Mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku sesungguhnya engkau lebih baik dariku.” Lalu Isa pun mengatakan kepadanya lagi,”Engkau lebih baik dariku, aku memberikan salam kepada diriku sendiri sementara Allah memberikan salam kepadamu.” Dan Allah pun memberikan keutamaan kepada mereka berdua.

Nabi Yahya as adalah sepupu nabi Isa as. Nabi Yahya hanya selisih beberapa bulan lebih tua dari nabi Isa as. Keduanya lahir di tahun yang sama yaitu tahun 0 Masehi. Tahun Masehi dalam bahasa latinnya adalah AD ( Anno Domini) yang berarti tahun dari Tuhan kita. Sebagaimana kita ketahui nabi Isa as adalah Yesus yang dianggap Tuhan oleh umat Nasrani. Tak salah bila kemudian khalifah Umar bin Khattab ra menetapkan tahun sendiri bagi kaum Muslimin, yaitu kalender Hijriyah. Permulaan tahun ini diambil dari tahun hijrahnya nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah, yaitu 622 Masehi.     

Suatu hari negeri Palestina gempar. Pasalnya, Raja Herodus ingin mempersunting Herodia, keponakannya sendiri. Padahal hukum Taurat jelas melarang hal tersebut. Maka nabi Yahya sebagai seorang pemuka agama menentang hal tersebut.  Herodus yang dikenal menghormati agama ingin membatalkan rencananya. Namun tidak dengan  Herodia. Perempuan muda yang sudah lama mendambakan menjadi ratu itu dengan menggunakan bujukan mautnya merayu agar raja mau menghukum nabi Yahya as. Tak tanggung-tanggung ia bahkan menginginkan kepala sang nabi sebagai persembahan. Na’udzubllah min dzalik.    

Herodus takluk tak berdaya. Ia memerintahkan pasukannya agar segera mengeksekusi keinginan perempuan cantik yang telah membuatnya mabuk kepayang itu. Nabi Yahyapun ditangkap, kepalanya dipenggal dan penggalannya diletakkan di atas  sebuah nampan untuk dipersembahkan kepada Herodia.

Herodia akhirnya menjadi permaisuri raja Herodus. Tapi tidak lama karena Herodus terguling hingga menyebabkan keduanya harus hidup di pengasingan.   

Al-Qurnul Karim memang tidak menceritakan tragedy tragis tersebut. Tak heran bila tidak semua ulama meyakini peristiwa tersebut. Namun Ibnu Katsir berpendapat tidak mustahil hal tersebut benar-benar terjadi. Karena pada masa itu banyak raja Yahudi yang menikahi perempuan yang merupakan mahram mereka meski Taurat melarangnya. Apalagi tidak sedikit ayat Al-Quran yang menceritakan kejahatan orang-orang Yahudi, seperti tidak mentaati kitab suci mereka, membunuh para nabi dll.

… …  Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”.( Terjemah QS. Al-Baqarah():61).

“ … …  Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?“( Terjemah QS. Al-Baqarah():91).

“… … Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar”.(Terjemah QS. Ali Imran(3):183).

Kisah tragis dipenggalnya utusan Allah yang oleh kaum Nasrani disebut Yohannes Sang Pembatis ini diceritakan secara gamblang dalam Perjanjian Baru yang merupakan bagian dari Al-Kitab dimana terdapat di dalamnya Perjanjian Lama ( Taurat) dan Injil, kitab suci umat Nasrani. Seperti juga digergajinya nabi Zakariya yang terperangkap dalam sebuah pohon, dan tentu saja peristiwa penyaliban Yesus dengan segala rangkaiannya. Ini menunjukkan kebiasaan orang-orang Israil merendahkan dan mengecilkan para nabiyullah.

Berita-berita yang dinukil dari bani Israil, baik yang beragama Yahudi atau Nasrani inilah yang disebut sebagai berita Israiliyat. Rasulullah Muhammad saw tidak melarang kita, umat Islam, untuk tidak mempercayai berita-berita Israiliyat, selama tidak bertentangan dengan Al-Quran, dan tidak untuk diimani secara semerta-merta.

“Janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, namun ucapkan: Kami beriman dengan kitab yang diturunkan kepada kami (alquran) dan kitab yang diturunkan kepada kalian.” (HR. Bukhari, 4485).

https://konsultasisyariah.com/11701-pengertian-israiliyat.html

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Terjemah QS. Yusuf(12): 111).

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Betapa beratnya tugas yang diemban para nabi dan rasul. Kesabaran mereka di luar kemampuan bayangan kita. Itu sebabnya Allah swt senantiasa membekali mereka mukjizat.   

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Terjemah QS. Ghofir(40):51-52).

Bagaimana Allah menolong para Rasul dan Nabi-Nya serta orang-orang yang bersamanya? Allah swt lebih mengetahui mana yang terbaik, Ia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Manusia hanya dituntut untuk mengambil berbagai pelajaran yang ada di dalamnya, diantaranya keteguhan dan kesabaran para nabi dan rasul, memuliakan serta mentaati mereka. Jangan seperti orang-orang Yahudi yang suka melecehkan ayat-ayat Allah, mengotak-atik dan menggabung-gabungkan kitab suci, bahkan membunuh para utusan. Atau seperti orang-orang Nasrani yang menuhankan nabinya dan meng-ekor orang-orang Yahudi secara membabi buta.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 27 Desember 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

Devide et Impera adalah kosa kata bahasa Spanyol (atau Prancis ??)yang dalam bahasa Indonesia biasa diartikan dengan pecah belah atau adu domba. Devide berarti memecah belah, et berarti dan, impera berarti menguasai.

Devide et Impera digunakan untuk menunjuk sebuah strategi perang yang diterapkan oleh bangsa-bangsa kolonialis seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis sejak abad 15. Bangsa-bangsa Eropa tersebut melakukan ekspansi dan penaklukan untuk mencari sumber-sumber kekayaan alam, terutama di wilayah khatulistiwa, seperti Indonesia.

Caranya yaitu dengan menimbulkan perpecahan di wilayah yang dituju hingga mudah untuk dikuasai dan ditaklukkan. Atau dengan mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat hingga berpotensi mengadakan perlawanan. Dengan cara inilah Belanda berhasil menguasai negara kita tercinta. Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang luas, komunikasi dan transportasi antar pulau yang sulit, terpaksa takluk tak berkutik.

Hanya atas izin Allah swt, dengan memanfaatkan momen kalahnya Jepang pada PD II, perjuangan panjang para pejuang akhirnyapun membuahkan hasil. Pada 17 Agustus 1945, di rumah Faradj Martak, seorang pengusaha Arab Indonesia kelahiran Yaman, Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan. Di pekarangan rumah jalan Pegangsaan Timur ( sekarang jalan Proklamasi) no 56 Jakarta Pusat yang  kemudian dihibahkan kepada pemerintah Indonesia tersebut itulah berkibarlah bendera Merah Putih untuk pertama kalinya. Rumah tersebut sekarang telah berubah menjadi Gedung Perintis Kemerdekaan.

Kini kita telah merdeka, lepas dari penjajahan. 75 tahun berlalu sudah, namun benarkah kita bisa benar-benar lepas dari strategi pecah belah tersebut?? Strategi yang seiring dengan berjalannya waktu telah mengalami perkembangan. Pecah belah tidak lagi sekadar sebagai strategi perang namun telah menjadi strategi politik, yang menggabungkannya dengan strategi militer , ekonomi dan budaya.

Tak dapat dipungkiri penduduk Indonesia beberapa tahun belakangan ini dalam keadaan terpecah, yaitu sejak adanya kasus Al-Maidah.  Kasus Al-Maidah adalah kasus yang disebabkan pernyataan Basuki Cahaya Purnama (Ahok) yang ketika itu menjabat sebagai gubernur DKI, bahwa orang Indonesia tidak boleh dibohongi oleh orang-orang yang menggunakan surah Al-Ma’idah ayat 51 supaya tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin mereka. Pernyataan kontrovesial ini terjadi pada tahun 2016 di kepulauan pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, di hadapan pada para nelayan dan penduduk lokal lainnya.  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Kasus tersebut tentu saja memicu kemarahan kaum Muslimin yang merupakan mayoritas penduduk. Maka terjadilah demo yang melibatkan jutaan orang, menjadikannya demo terbesar yang pernah terjadi di seantero dunia. Demo yang kemudian dikenal dengan nama Aksi Damai 4 November (411) dan Aksi Damai 2 Desember (212) ini diikuti tidak saja umat Islam namun juga mereka yang merasa bahwa pernyataan tersebut sangat tidak pantas, dan berpotensi memecah persatuan. Aksi Damai yang selanjutnya diperingati tiap 2 Desember sebagai Reuni 2012 ini menuntut penahanan Ahok atas tuduhan menista dan menghujat Al-Qur’an.

Ahok memang akhirnya menjalani vonis penjara namun dampak dari pernyataannya ternyata masih terus bergaung bahkan lebih hebat lagi. Penduduk Indonesia hingga saat ini bisa dibilang terpecah menjadi 2 kelompok. Perseteruan antara pemilih Jokowi dan Prabowo pada pilpres 2019 seolah mencerminkan antara pembela dan penentang Ahok. Lebih parah lagi pembela Ahok diposisikan sebagai Pancasilais, cinta NKRI dll. Sebaliknya penentang Ahok adalah kaum Muslimin pro kekhalifahan pemecah NKRI yang ingin men-Suriah-kan Indonesia.  Ada apakah gerangan???

Isu ini terus digodog dengan berbagai cara hingga makin lama makin terkuak bahwa sejatinya Islamlah sasaran tembak. Namun yang lebih menyedihkan lagi banyak kaum Muslimin yang tidak menyadarinya.

Tengoklah berbagai prilaku dan pernyataan yang memojokkan Islam. Contohnya ditangkapinya sejumlah ulama oleh petugas khusus yang menangani masalah terorisme hanya karena alasan pernah di Afganistan, pernah memberi bantuan ke Suriah dll.  Pernyataan jangan merasa bahwa agama hanya Islam yang benar, berdoa tidak perlu harus bahasa Arab, berbusana tidak perlu meniru bangsa Arab dll. Bahkan dimunculkan pula Islam Nusantara sebagai Islam yang sesuai dengan orang Indonesia. Inilah Devide et Impera gaya baru yang harus kita waspadai. Siapa sebenarnya yang paling diuntungkan bila kita berpecah belah???  

Saat ini umat Islam di seluruh penjuru dunia memang sedang dalam keadaan terpuruk. Cahaya Islam nyaris tidak menampakkan semburatnya. Budaya Barat mulai dari cara pergaulan, cara berpakaian hingga sistim ekonomi yang jauh dari syariah telah merasuki kehidupan sebagian besar kaum Muslimin dimanapun berada. Belum lagi isu teroris yang terus dihembuskan musuh-musuh Islam. Membuat kaum Muslimin makin tidak percaya diri. Lupa, bahwa delapan abad lamanya Islam pernah menguasai dunia, menjadi negara super power layaknya AS saat ini.

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):109).

Thomas W. Arnold (1864-1930), seorang orientalis berkebangsaan Inggris dalam bukunya “The Preaching of Islam” mengungkapkan bahwa satu di antara faktor suksesnya Islam adalah ketinggian moral umat Islam dibandingkan dengan umat Kristen. Disamping juga kemakmuran rakyatnya. Hingga rakyat Italiapun ingin menjadi bagian dari Turki Ustmani melihat tetangga mereka, Yunani, menjadi makmur dibawah kekhalifahan Islam tersebut. Bahkan perseteruan antara sesama umat Kristen yang sebelum sering terjadi, menjadi sangat berkurang. Ini membuktikan betapa toleransinya umat Islam.

Bukan rahasia lagi bahwa salah satu kunci utama kejayaan Islam adalah kuatnya persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Hal ini diketahui musuh-musuh Islam. Tak heran bila akhirnya musuh-musuh Islam menggunakan politik Devide et Impera untuk menjatuhkan Islam. Diantaranya yaitu dengan cara menggunakan isu kebangsaan, persamaan hak, demokrasi, HAM dll.  

Ditambah lagi dengan adanya peristiwa 911 yang menyudutkan umat Islam hingga melahirkan Islamophobia akut, tidak hanya bagi orang lain tapi terlebih lagi sebagian umat Islam sendiri. Padahal tidak sedikit orang Barat yang justru memeluk Islam setelah tragedy mengerikan tersebut karena rasa penasaran.    

Pertanyaannya sampai kapan kaum Muslimin mau terus diperlakukan seperti ini?? Tidak dapatkah kita bersatu menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan Islam seperti di masa kejayaan Islam? Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah, Islam yang kaffah yaitu yang tidak memilih-milah ayat sesuai hawa nafsu dan keinginan, Islam yang benar-benar rahmatan lillalamin, Islam yang penuh kedamaian, yang tidak hanya milik kaum Muslimin namun juga pemeluk agama lain yang menginginkan hal yang sama, dan juga seluruh isi dunia ini, termasuk binatang, tumbuhan dan alam ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Desember 2021.

Vien AM. 

Read Full Post »

Older Posts »