Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Semangat Hijrah(2).

Persaudaraan sesama Muslim adalah hikmah yang sering dilupakan orang ketika berbicara tentang hijrah. Padahal tak lama setelah Rasulullah tiba di kota Madinah ketika hijrah 14 abad silam, beliau segera mempersaudarakan kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah dengan kaum Muhajirin yaitu para sahabat yang hijrah dari Mekah ke Madinah. Contohnya yaitu Umar bin Khattab ( Muhajirin) dipersaudarakan dengan Itban bin Malik al-Khazraji (Anshar) dan Abdurrahman bin Auf ( Muhajirin) dengan Sa’ad bin Rabi (Anshar).

Berikut salah satu kisah menarik tentang persaudaaan antar kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang diabadikan dalam ayat 9 surat Al-Hasyr :

Suatu hari datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (dalam keadaan lapar), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada para istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?”

Salah seorang kaum Anshâr berseru: “Saya,” lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshâr itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu. Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.

Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung –Qs. al-Hasyr/59 ayat 9. [HR Bukhari] 

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):9).

Kisah persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi berikut juga tak kalah menariknya. 

Sa’ad ra berkata kepada Abdurrahman ra, “Aku adalah kaum Anshâr yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa ‘iddahnya, engkau bisa menikahinya”. Mendengar pernyataan saudaranya itu, ‘Abdurrahmân menjawab: “Aku tidak membutuhkan hal itu. Adakah pasar (di sekitar sini) tempat berjual-beli?” Lalu Sa’ad menunjukkan pasar Qainuqa’. Maka mulai saat itu Abdurrahmân sering pergi ke pasar untuk berniaga hingga akhirnya ia berkecukupan dan tidak lagi tergantung  bantuan Sa’ad, saudaranya, atau siapapun. [HR. Bukhari].

Tak dapat dipungkiri rasa persatuan dan rasa persaudaraan diantara sesama Muslim pada periode tersebut adalah kunci kemenangan Islam dalam menghadapi dominasi kekuatan kaum Kuffar. Kaum Muslimin yang waktu itu hanya menguasai kota Madinah namun berhasil mempecundangi  dua super power dunia ketika itu yaitu Romawi Timur dan Byzantium.

Dibawah kekhalifahan yang 4 yaitu para Khulafaur Rasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan rad an Ali bin Abu Thalib ra) yang merupakan generasi sahabat terbaik, dakwah Islam secara cepat berkembang hingga ke separuh belahan dunia. Simak apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte kaisar kenamaan Perancis yang terekam dalam “Bonaparte et L’Islam” karya Christian Cherfils pada hal 105.     

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia … Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentausaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat … Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separuh bola bumi … Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”.

Kejayaan Islam selama berabad-abad dimulai pada periode Madinah yaitu sejak hijrahnya rasulullah pada tahun 622 M hingga akhir kekhalifahan Ottoman pada tahun 1923. Kejayaan ini terbagi atas beberapa periode dan fase. Kejatuhan kejayaan Islam terjadi secara bertahap, tidak secara tiba-tiba. Penyebab utamanya adalah lemahnya rasa persatuan umat hingga mudah diadu domba oleh mereka yang tidak menyukai Islam. Cinta dunia dan takut mati yang berlebihan seperti gila harta dan kekuasaan hingga tidak mau berjuang untuk Islam, makin mempercepat kejatuhan Islam. Dan hal tersebut terus berlanjut hingga detik ini. 

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Oleh sebab itu fenomena banyaknya pemuda yang hijrah belakangan ini merupakan angin segar tanda kebangkitan Islam yang telah lama dinantikan. Namun demikian hal yang harus dicatat, hijrah haruslah 100 % alias hijrah total, tidak setengah-setengah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Jangan kita memilah-milah hukum Allah, ditaati hukum yang kita sukai dan ditinggalkan hukum yang tidak kita sukai. Hukum menutup aurat, hukum waris, hukum riba, poligami dan jihad perang adalah beberapa contoh hukum yang sering ditolak sebagian kaum Muslimin.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):216).

Allah swt memerintahkan kita untuk tuntas dalam melakukan segala sesuatu, tidak setengah-setengah. Dalam ilmu kedokteran mungkin kita bisa menyetarakannya dengan pasien yang minum antibiotic. Semua orang pasti tahu bahwa minum antibiotik harus sampai habis. Kalau tidak maka akan percuma, dan harus diulang dari awal.

Contohnya dalam shalat. Waktu dan jumlah rakaat tiap shalat sudah tertentu. Subuh 2 rakaat, haram hukumnya kita menambahnya menjadi 3 atau 4 rakaat dengan alasan 2 rakaat terlalu sedikit misalnya. Atau shalat yang sudah nyaris selesai tinggal salam, tetapi tiba-tiba buang angin. Sah kah shalat kita??? Tidak … kita harus mengulang dari awal, bahkan dari wudhu. Bahkan wudhupun harus sesuai syariat, tidak boleh sesuka hati.

Begitulah syariah Islam. Janji Allah Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin, kebaikan untuk seisi alam semesta, akan terpenuhi bila syariah dijalankan secara keseluruhan/tuntas tidak sebagian-sebagian. Bangsa Indonesia adalah mayoritas Muslim, merupakan jamaah haji terbesar seluruh dunia. Tapi adakah keberkahan di bumi kita tercinta?? Bukankah Allah swt telah menganugerahi bangsa ini tanah yang sangat subur, dengan sumber kekayaan alamnya yang tak terhingga?

Mari kita introspeksi, tingkat berapakah korupsi negara kita di dunia? Bagaimana dengan sistim per-bank-an kita yang sarat riba itu?? Bagaimana pula tingkat kriminalitas, perkosaan, pedophili, prilaku menyimpang seperti homoseksualitas, perzinaan, pengguguran kandungan dll yang semua jelas-jelas terlarang dalam Islam??? Belum lagi perpecahan antar kelompok Islam yang makin lama meruncing seolah tidak ada rasa kasih sayang antar mereka.  

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Harus diingat musuh kita bukan “cuma” syaitan yang membisik-bisiki hati, tapi juga musuh nyata yang menyerang berbagai lini kehidupan, yang popular dengan sebutan 7 F( Fashion, Food, Film, Free thingking, Free sex, Fun dan Friction).

Jadi bila kita memang sungguh-sungguh ingin kembali mencapai kejayaan Islam seperti dulu maka tidak ada jalan lain selain harus hijrah sebenar-benar hijrah, hijrah dalam segala hal, dengan niat murni demi menggapai ridho-Nya.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 September 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Semangat Hijrah(1).

Belakangan ini, kata hijrah makin populer di kalangan anak muda yang sedang bersemangat mengikuti berbagai kajian ke-Islam-an. Hijrah biasanya ditandai dengan berubahnya penampilan. Yang perempuan dengan jilbab syar’i-nya, yang lelaki dengan jenggot dan celana cingkrangnya. Sudah sepantasnya kita sambut gembira perubahan tersebut, dengan catatan bila hijrah dilakukan karena dan hanya untuk Allah Azza wa Jala.

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam sejarah Islam, hijrah adalah perpindahan yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw bersama para sahabat, dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan untuk mempertahankan dan menegakkan risalah Islam. Karena selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah dan kaum Muslimin yang ketika itu baru berjumlah sedikit sering mengalami cobaan yang berat dan perlakuan keji dari kaum Quraisy. Puncaknya adalah konspirasi pembunuhan Rasulullah saw.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab ra perpindahan tersebut diabadikan dengan ditetapkannya sebagai permulaan kalender Islam yang disebut dengan tahun Hijriyah. Tahun tersebut bertepatan dengan tahun 622 Masehi.

Hijrah terbagi atas dua macam, yaitu hijrah Makaniyah dan hijrah Maknawiyah. Hijrah Makaniyah atau hijrah fisik yaitu pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Atau bisa dimaknai dengan berubah dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik. Diantaranya dengan penampilan yang lebih baik, lebih Islami, lebih mengikuti syariah.

Sedang hijrah Maknawiyah atau hijrah batin adalah berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari kebathilan menuju ketaatan, dari berharap kepada makhluk menuju hanya berharap kepada Allah SWT. Hal ini dapat ditandai dengan perubahan sikap yang nyata, seperti lebih dekat dengan Al-Quranul Karim, mengkuti kajian-kajian, shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki dll.

Hijrah terbaik adalah yang melibatkan keduanya, hati dan jasad. Sebagian ulama bahkan berkata hijrah bukan sekedar mengerjakan yang sunnah tapi lebih penting lagi meninggalkan segala yang haram. Karena tidak sedikit anak-anak muda yang mengaku hijrah melakukan hal-hal yang sunnah seperti memelihara jenggot, memakai celana cingkrang, melakukan shalat Dhuha tapi tetap berduaan berpacaran, makan makanan yang tidak halal, masih tetap menyimpan uangnya di bank konvensional, bahkan shalat Subuhpun masih sering lalai.

Namun demikian, tak dapat dipungkiri banyaknya pemuda/i yang berhijrah di saat tanda-tanda Hari Kiamat makin bermunculan membuat hati ini lega. Bagi yang suka mengikuti tausiyah para ulama spesialis akhir zaman pasti tahu bahwa kerusakan moral seperti makin merajalelanya perzinahan dan prilaku menyimpang seksual adalah salah satu tanda-tandanya. Jadi sungguh patut diacungi jempol mereka yang berani mengambil keputusan berhijrah di tengah suasana yang demikian.

Mengambil ibrah hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat, hijrah itu harus dipersiapkan. Hijrah ke Madinah diawali dengan baiat Aqabah yaitu ikrarnya 12 penduduk Yatsrib (Madinah) yang ketika itu sedang berziarah ke Mekah, kemudian disusul tahun depannya dengan 75 penduduk Yatsrib yang juga ber-ikrar membela perjuangan rasulullah saw. Itu sebabnya rasulullah dan para sahabat setibanya di Madinah disambut dengan sangat antusias dan baik sekali oleh penduduk Yatsrib.

Yang juga perlu dicatat, Rasulullah hijrah bukan sekedar menghindar dari kedzaliman penduduk Mekah. Namun juga untuk melancarkan, memantabkan sekaligus menyiapkan kaum Muslimin agar suatu hari nanti bisa kembali ke Mekah dan menaklukannya sebagai kota suci bagi seluruh umat Islam.

Telah dikalahkan bangsa Rum, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30):2-5).

Ayat di atas turun di Mekah, sebelum hijrahnya Rasulullah. Ayat tersebut mengabarkan bahwa Rum akan dikalahkan namun beberapa tahun kemudian akan membalas kekalahannya. Rum yang dimaksud ayat tersebut adalah imperium Rumawi Timur atau Byzantium yang ketika itu merupakan negara adi daya. Sedang yang dihadapi adalah imperium Persia yang sejak bertahun-tahun sering berperang berebut kekuasaan menguasai dunia dengan kemenangan yang silih berganti. Yaman dan Irak ketika itu di bawah kekuasaan Persia, sedang Mesir hingga ke Syam ( Lebanon, Suriah, Palestina dan Yordania) berada di bawah kekuasaan Rumawi Timur.

Tak lama setelah turunnya ayat di atas tersiar kabar bahwa Persia telah mengalahkan Rumawi Timur. Sontak orang-orang Quraisypun bersorak girang dan makin merasa congkak. Pasalnya mereka menyetarakan Persia dengan mereka karena Persia adalah negara majusi penyembah api. Sementara Rumawi Timur yang merupakan ahli kitab mewakili kaum Muslimin sebagai orang beriman.

Sebaliknya ketika beberapa tahun kemudian Rumawi Timur berhasil mengalahkan balik Persia merekapun terdiam. Bahkan banyak diantara orang-orang Quraisy yang akhirnya memeluk Islam. Mereka mulai merasakan kebenaran Al-Quran. Hal tersebut terjadi ketika kaum Muslimin telah hijrah ke Madinah.

Pada saat kerajaan tersebut sedang merayakan kemenangan itulah Rasulullah mengutus seorang kepercayaan untuk menyampaikan surat kepada Heraclius kaisar Rumawi Timur yang isinya sebagai berikut:

Bismillahir rahmanir rahiim …

Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya. Kepada Heraklius, raja Romawi. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, selanjutnya:

Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling (tidak menerima) maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin. Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).

Sebuah pertanyaan menggelitik bagaimana Rasulullah yang ketika itu baru menguasai Madinah sebagai kota yang tidak mempunyai pengaruh dunia tapi berani mengirimkan surat kepada seorang kaisar negara adi daya yang baru saja memenangkan pertempuran bergengsi, dengan isinya yang bisa dibilang “lancang’‘ dalam pandangan mereka.

Sejarah juga mencatat beberapa tahun kemudian wilayah kekuasaan Rumawi Timur maupun Persia keduanya jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Allahu Akbar …

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.  (Terjemah QS. Ali Imran(3):26).

Itulah kekuatan dasyat hijrah, yang menjadikan Al-Quranul Karim sebagai pegangan dan pelindung dari segala kejahatan manusia dan jin. Allah swt adalah Yang Maha Besar, tidak ada yang perlu ditakuti selain-Nya. Kepatuhan dan ketaatan hanya kepada-Nya.

Selain persiapan yang matang hijrah juga memerlukan lingkungan yang kondusif. Pengalaman mengatakan bagaimana seorang yang hijrah tapi tetap berada di lingkungan lama yang tidak baik mudah terperosok kembali ke dalam kegelapan.

Sebaliknya tidak sedikit selebritis muda yang hijrah, berani meninggalkan dunia gemerlap maka Allahpun memberi jalan keluar.  Betapa banyak kaum muda yang tadinya berkiprah di dunia per-bank-an dan keuangan yang sarat riba kemudian berhijrah lalu Allah menolong mereka dengan rezeki yang halal.

Pemuda bagaimanapun adalah ujung tombak berbagai perjuangan termasuk perjuangan melawan kebathilan. Sejarah mencatat bagaimana di hari-hari akhir rasulullah menunjuk Usamah bin Zaid bin Harits yang ketika itu baru berusia 18 tahun untuk menjadi panglima perang melawan Rumawi Timur.

“Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.”[HR. Bukhari Muslim].

Begitupun penakluk Konstatinopel ibu kota Byzantium/Rumawi Timur pada tahun 1453. Ia adalah seorang pemuda yang baru berusia 22 tahun. Itulah Muhammad Al Fatih yang juga dikenal dengan nama Sultan Mehmed II, yang memiliki nama besar sejajar dengan Sultan Salahuddin Ayyubi yang berhasil merebut kembali Yerusalem dengan Baitul Aqshonya dari cengkeraman tentara Salib. Salahuddin berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah yang memiliki kekuasaan yang sangat luas pada usia relative muda, yaitu 36 tahun.

Berikut adalah daftar 11 pemuda Islam terbaik sepanjang sejarah.

https://www.islampos.com/inilah-11-pemuda-islam-terbaik-sepanjang-sejarah-91801/

Akhir kata kalaupun seorang pemuda tidak memiliki kemampuan untuk melawan kedzaliman dan kekafiran paling tidak ia harus berusaha menghindarinya sebagaimana kisah para pemuda penghuni gua Kahfi yang diabadikan panjang lebar dalam surat Al-Kahfi. Allah swt tidurkan mereka selama 309 tahun dan terbangun ketika kekuasaan telah Allah pindahkan kepada orang beriman.

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu”. (Terjemah QS.Al-Kahfi(18):16).

Mari kita sambut tahun baru Hijriyah 1442 ini dengan semangat meneladani Rasulullah, para sahabat dan para pemuda di masa lalu.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Muharam 1442H.

Vien AM.

Read Full Post »

TRIBUNSTYLE.COM – Cerita haru seorang mualaf asal Austria yang putuskan memeluk agama Islam saat krisis pandemi corona.

Kisah para mualaf memang selalu menarik perhatian. Beberapa mualaf kerap membagikan perjalanan hidup mereka sebelum memeluk agama Islam. Cerita perjalanan hidup mereka bisa menjadi motivasi agar kita lebih taat dalam menjalankan ibadah.

Kisah mualaf kali ini datang dari seorang atlet seni bela diri asal Austria, Wilhelm (Willi) Ott. Dilansir dari AboutIslam.net, Wilhelm mengaku bahwa dirinya belajar tentang Islam saat krisis pandemi corona.

belajar-islam-saat-pandemi-corona-pria-ini-putuskan-jadi-mualaf-krisis-ini-adalah-hal-terbaikSebelumnya, Wilhelm telah mengumumkan bahwa kini dirinya memeluk agama Islam melalui akun Instagramnya. Wilhelm pun membagikan kisah awal dirinya tertarik dengan agama Islam. Willi Ott, yang memilih nama Muslim Khalid, mengatakan bahwa ia tertarik pada Islam sejak lama. Namun, dirinya tak pernah punya kesempatan untuk mempelajari agama Islam lebih dalam.

Ada kalanya, saya tidak bisa terhubung dengan agama. Dan saya juga membiarkan diri saya dipengaruhi oleh politik, ” tulis Khalid di akun Instagram-nya.

Politik Austria sangat bermusuhan dengan minoritas Muslim Austria, mengakibatkan pelarangan niqab dan undang-undang lain yang membatasi kebebasan beragama Muslim di negara tersebut.

Siapa sangka, selama pandemi corona, ia merasakan imannya mulai tumbuh. Lebih lanjut, dirinya mengaku keyakinannya semakin kuat untuk melafalkan kalimat syahadat. Wilhelm pun resmi menjadi mualaf beberapa hari sebelum awal Ramadhan, di pertengahan April 2020.

“Saya bangga menjadi seorang Muslim,” tulisnya.

“Saya memposting syahadat saya karena saya ingin teman-teman dan sekitarnya tahu bahwa saya menjadi Muslim,” lanjutnya.

Ia tidak hanya melafalkan kalimat syahadat, tetapi juga langsung melaksanakan ibadah sholat. Bersama dengan teman-teman Muslimnya, ia menunaikan ibadah sholat Jumat untuk pertama kalinya. Salah seorang temannya memberinya Al-Quran dalam terjemahan Jerman dan sajadah.

“Saya tidak tahu harus berkata apa tentang umpan balik positif yang saya dapatkan setelah pertobatan saya,” ungkapnya.

Ramadhan 2020 ini tahun ini merupakan tahun pertama dirinya melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Dirinya mengaku sangat menikmati menjalankan ibadah puasa untuk pertama kalinya.

“Tidak makan dan minum sepanjang hari membutuhkan disiplin diri yang kuat. Tetapi menjadi lebih indah setiap hari. Saya menikmati puasa setiap hari lebih dari hari sebelumnya,”

Ia mengungkapkan bahwa dirinya tak jarang diundang ke rumah salah satu temannya untuk berbuka bersama. Meskipun dirinya baru memeluk Islam sekitar satu bulan yang lalu, Wilhelm sudah aktif dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Perlahan, ia menghafal surat-surat pendek lainnya dan melakukan sholat lima waktu. Al-Ikhlas adalah salah satu surat yang ia hafal. Menurutnya, krisis pandemi corona berhasil mengubah hidupnya. Setelah memeluk agama Islam, ia merasa seperti terlahir kembali.

“Sekarang semuanya mulai kembali normal, banyak hal akan menjadi seperti sebelumnya  Hidup akan berlanjut. Banyak orang hanya akan melanjutkan hidup mereka seperti sebelumnya. Namun, bagi saya, semuanya berubah. Krisis ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Saya merasa seperti dilahirkan kembali. Saya merasa sangat kuat seperti yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Alhamdulillah.” pungkasnya

Dikutip dari : https://style.tribunnews.com/amp/2020/05/19/pria-austria-menemukan-islam-saat-pandemi-corona-putuskan-mualaf-bersahadat-dan-tobat-nasuha?page=4

Jakarta, 13 Agustus 2020.

Vien AM,

 

 

Read Full Post »