Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Mualaf’ Category

Pada suatu pagi di dataran tinggi Skotlandia, beberapa mobil mulai berdatangan ke parkiran A890 di sebuah hutan di Glen Caron. Prakiraan cuaca mengatakan hari itu akan hujan, tetapi matahari menyembul sejenak ketika sekelompok pendaki bersiap-siap untuk menempuh perjalanan menanjak sejauh 10 kilometer di Gleann Fhiodhaig, Wester Ross, Skotlandia.

Pemandangan seperti ini dapat ditemukan di ratusan parkiran mobil di seluruh Skotlandia setiap akhir pekan. Bedanya, kelompok yang terdiri dari 20 pendaki ini adalah peziarah. Mereka hendak mengunjungi makam seorang aristokrat dari zaman Ratu Victoria.

Mereka datang dari Edinburgh, Liverpool, Leicester, dan tempat-tempat lain yang lebih jauh untuk memberi penghormatan pada Lady Evelyn Cobbold – orang yang dianggap sebagai perempuan mualaf pertama yang lahir di Inggris dan melakukan ibadah haji ke Mekah.

Kegiatan keagamaan itu diselenggarakan oleh The Convert Muslim Foundation, yayasan berbasis di Britania Raya yang memberikan sokongan bagi orang-orang yang baru masuk Islam. Yayasan tersebut didirikan oleh Batool Al-Toma, seorang mualaf dari Irlandia. Perempuan itulah yang mengundang para mualaf untuk mendaki gunung.

“Sejak saya mendengar tentang Lady Evelyn, saya tertarik pada ceritanya. Dia wanita tangguh yang tidak membiarkan dirinya diremehkan hanya karena dia perempuan,” kata Al-Toma.

Tidak lama setelah mereka berjalan, hujan mulai turun. Topi dan tudung tahan air pun menutupi kepala dan hijab. Seiring angin dan hujan menerpa, para peziarah merenungkan perjalanan terakhir Lady Evelyn di lembah itu menuju tempat peristirahatan terakhirnya.

Ia meninggal pada Januari 1963 pada musim dingin yang lebih dingin dari biasanya dan dikubur di lereng bukit terpencil di perkebunan Glencarron miliknya. Dalam pemakamannya, seorang peniup bagpipe yang “gemetaran karena kedinginan” memainkan MacCrimmon’s Lament (lagu ratapan Skotlandia untuk orang yang meninggal dunia). Kemudian seorang Imam dari Woking, Surrey melakukan ritual penguburan, menurut kesaksian yang dipublikasikan di situs web Masjid Inverness.

Kaitan dengan Woking itu masih ada. Seorang perwakilan dari masjid di kota tersebut ikut serta dalam ziarah ke kuburan Lady Evelyn hampir 60 tahun kemudian.

Lahir di Edinburgh pada akhir 1800-an, Lady Evelyn menghabiskan masa kecilnya di Skotlandia dan Afrika Utara. Di Afrika, ia pertama kali mengenal Islam, berkunjung ke masjid bersama kawan-kawannya dari Aljazair. Lady Evelyn menikah dengan John Cobbold pada 1891 setelah bertemu saat melancong di Kairo.

“Tanpa disadari, dalam hati saya sudah sedikit Muslim,” tulisnya di kemudian hari.

Tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan itu mulai memeluk Islam. Namun pertemuan kebetulan dengan Paus saat ia berkunjung ke Roma tampaknya menguatkan keyakinannya.

“Ketika Yang Mulia tiba-tiba berbicara kepada saya dengan bertanya apakah saya seorang Katolik, saya terkejut sejenak kemudian menjawab bahwa saya Muslim,” ujarnya.

“Entah apa yang merasuki saya, saya sama sekali tidak tahu karena saya sudah bertahun-tahun tidak memikirkan Islam.”

Di Timur Tengah, Lady Evelyn dikenal dengan nama Lady Zainab oleh kawan-kawan Arabnya. Ia punya akses luas dan pernah menulis tentang “pengaruh dominan perempuan di budaya Muslim”.

Pada usia 65 tahun, ia menunaikan haji ke Mekah, perempuan Inggris pertama yang melakukan ibadah ini.

Salah seorang Mualaf yang berziarah ke makam Lady Zainab adalah Yvonne Ridley, yang tinggal di perbatasan Skotlandia. Ridley masuk Islam setelah bekerja sebagai jurnalis di Afghanistan dan ditangkap oleh Taliban pada 2001.

“Keputusan saya untuk masuk Islam dipicu, dengan banyak cara, oleh penangkapan dan penahanan saya oleh Taliban. Pengalaman itu mengarahkan saya pada jalan yang awalnya sekadar kegiatan akademik namun menuntun saya pada perjalanan spiritual,” ujarnya.

Dalam memoarnya, In the Hands of the Taliban, Ridley mengatakan ia kagum dengan sikap hormat dan kesopanan yang ditunjukkan para pria Taliban kepadanya. Selama penahanannya ia berjanji akan mempelajari Al-Quran dan melakukannya setelah ia dilepaskan.

Ridley belajar tentang Lady Evelyn dari Al-Toma ketika mereka di Turki. “Saya mulai membaca lebih banyak tentang perempuan Skotlandia yang luar biasa ini, kemudian Batool dan saya memutuskan kami akan mengajak sekelompok mualaf untuk berziarah ke makamnya,” kata Ridley.

Setelah tiga jam pendakian dalam cuaca dingin dan basah, para peziarah beristirahat sejenak sementara pemandu mereka, Ismail Hewitt, yang mengenakan kilt, berjalan lebih jauh untuk mencari tempat peristirahatan terakhir Lady Evelyn.

Semangat mereka bangkit ketika ia melambai dari kejauhan, memberi sinyal bahwa tempatnya sudah kelihatan, tidak jauh di atas bukit. Kelompok mualaf itu berjalan ke sana kemudian berkumpul dan berlutut di sekeliling batu nisannya.

Satu per satu dari mereka memberi penghormatan sebelum berdoa bersama. Momen ini sungguh mengharukan dan beberapa orang bahkan sampai menangis. Al-Toma menutup upacara tersebut dengan membacakan cuplikan dari buku yang ditulis Lady Evelyn tentang perjalanan hajinya ke Mekah.

“Apakah yang terjadi dalam beberapa hari ke belakang selain minat, keajaiban, dan keindahan yang tak ada habisnya. Bagi saya, sebuah dunia baru yang menakjubkan telah terungkap.”

Setelah berjalan kembali ke jalanan, para peziarah diundang ke masjid di Iverness untuk makan bersama dan merenungkan perjalanan yang baru mereka lakukan. Ridley berkata ia merasa letih sehabis perjalanan, namun doa bersama di makam Lady Evelyn “menggetarkan jiwa”.

“Ada seekor rusa yang muncul di bukit di atas kuburannya, yang cukup simbolis dan menggugah,” ujarnya.

“Inilah perempuan yang hatinya berada di Highlands, tapi juga sangat mendalami Islam.”

Al-Toma setuju bahwa Lady Evelyn adalah contoh bagaimana para mualaf dapat tetap mempertahankan identitas dan budayanya.

“Dia adalah mualaf yang sangat penting di sini,” imbuhnya.

“Saya senang membaca bukunya dan melakukan perjalanan ini karena saya mengagumi keberaniannya dan jiwa petualangnya. Dia seorang perintis sejati.”

Jakarta, 20 Juli 2022.

Vien AM.

Diambil dari : https://www.bbc.com/indonesia/majalah-61809297

Read Full Post »

1. Alexander Russel Webb, ilmuwan Amerika Serikat.

Nama lengkapnya adalah Alexander Russel Webb. Dia seorang mualaf yang tadinya memegang teguh doktrin-doktrin lama tentang ketuhanan maupun sekularisme yang dia anut. Berkenalan dengan Islam, cahaya Illahi masuk ke relung jiwanya melalui jalur intelektualitas yang ia geluti.

Berdasarkan buku Tujuh Mualaf yang Mengharumkan Islam karya Tofik Pram dijelaskan, Russel mulai tertarik dengan Islam saat dirinya mempelajari agama-agama timur. Dia membaca buku-buku karya Mill, Kant, Locke, Hegel, Fitchte, Huxley yang kesemuanya membahas tentang protoplasma (unsur-unsur atom dalam pembentukan jasad makhluk hidup). Namun demikian, dia tak mendapati seorang pun yang dapat menerangkan tentang jiwa/ruh sesudah jasad manusia mati.

Setelah mengenal Islam, dia pun menyadari bahwa selain jasad terdapat hal krusial yang juga dimintai pertanggung jawaban kelak usai kematian. Proses perkenalan kepada Islam pun terus dia jalankan. Dia juga menegaskan dan memilih Islam sebagai agama yang dia anut dan percaya.

Dia menyebut bahwa ketika memilih menjadi seorang Muslim, hal itu bukan karena ikut-ikutan buta atau dorongan emosi semata. Akan tetapi, memeluk Islam adalah hasil dari penelitian dan pelajaran yang sungguh-sungguh, jujur, tekun, dan bebas yang disertai penelidikan mendalam olehnya. Dia menyimpulkan, inti dari ajaran Islam adalah akidah yang murni yaitu berserah kepada Allah SWT. Adapun tanda penjelmaan berserah diri adalah melalui shalat. Islam mengajak pada persaudaraan dan kecintaan umat manusia di seluruh dunia agar dapat berbuat baik pada sesama.

Berlatar belakang sebagai seorang intelektual, semangat Islam itulah yang kemudian ditelurkan Russel dalam aksi. Dialah tokoh penting yang membangun Islamic Center di New York. Islamic Center yang didirikannya ini terbukti banyak membantu pendirian masjid dan perpustakaan-perpustakaan Islam di Amerika.

Adapun sumber pendanaan pendirian Islamic Center kala itu bersumber dari Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Dari ikhtiar Russel inilah Islam mulai bertumbuh di kota-kota Amerika.

Alexander Russel juga akhirnya didaulat sebagai wakil utama Islam di konferensi agama-agama tingkat dunia yang didakan di Chicago, pada 1893. Dia juga lah yang menjadi juru bicara Islam di Amerika pada masanya. Bahkan, banyak pemikir-pemikir terkemuka yang telah menyimak paparannya perihal pengaruh Islam terhadap keadaan sosial pada 1893. Inilah ihwal pokok ajaran Islam yang dia sampaikan dan mempengaruhi pemikiran penulis besar, Mark Twain. Russel wafat pada 1916.

2. Laurence Brown, dokter yang ditinggalkan istrinya karena menjadi Islam.

“Saya kira adalah hal yang sulit bagi siapapun ketika membuat perubahan drastis dalam hidup mereka. Terutama di dunia Barat ketika Anda menjadi Muslim, maka pastinya Anda akan menghadapi kesulitan,” kata Laurence Brown, dikutip dari YouTube Ayatuna Ambassador, Rabu (27/1/2021).

Diakui Laurence, saat memutuskan memeluk Islam, ia merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hidupnya.

“Saya ingat pada masa awal jadi Muslim, saya merasakan kedamaian dan kenyamanan luar biasa. Perasaan itu tidak pernah lekang dari saya,” tuturnya.

Hanya saja, keputusannya memeluk Islam itu bukanlah perkara mudah. Langkah besar yang diambilnya tersebut menyebabkan banyak perubahan terjadi dalam hidupnya. Salah satunya dijauhi orang tuanya.

“Tapi kehidupan dunia saya hancur, orang tua saya tidak bisa mengerti akan pilihan saya,” ungkapnya.

Kata Laurence, ia dikenalkan Islam oleh saudara laki-lakinya yang lebih dahulu menjadi Muslim. Itu sebabnya, saat Laurence memutuskan jadi mualaf, orang tuanya merasa sangat kehilangan.

“Kami hanya dua bersaudara, saya dan saudara laki-laki saya. Maka ketika saya menjadi Muslim, orang tua saya merasa kehilangan anak yang satunya lagi karena Islam,” ucapnya.

“Orang tua saya ketika saya masih bersama mereka, mereka bukan Kristen yang taat. Tapi sama saja, mereka merasa, perpindahan saya ke Islam adalah kehancuran dalam hidup mereka,” sambungnya.

Tak hanya dijauhi orang tuanya, dokter Laurence Brown juga sampai diceraikan sang istri.

Keputusan dr.Laurence Brown memeluk Islam berakhir dengan perceraian. Ia bahkan harus kehilangan anak-anaknya karena hak asuh jatuh ke tangan mantan istrinya.

“Ketika saya jadi Muslim, saya diceraikan, lalu Allah beri saya istri yang lain. Saya kehilangan anak-anak saya karena putusan pengadilan di keluarga sebelumnya, Allah beri saya anak yang lain dan keluarga baru,” ungkapnya.

Meski demikian, diakui Laurence, perceraian tersebut tidak membuatnya sedih. Sebaliknya, ia merasa bahagia karena mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Dalam film, ketika Anda bercerai, Anda jadi merana, mulai memukul tembok sampai berlubang, dan dengan sengaja menabrakkan mobil Anda, tidak berdaya. Tapi, saya malah bahagia,” katanya.

Lebih lanjut, Laurence juga mengungkapkan kehilangan lainnya yang ia hadapi setelah memeluk Islam. Bersamaan dengan hal baik yang Allah SWT gantikan untuknya.

“Saya lepaskan pekerjaan saya, Allah beri saya pekerjaan yang lebih baik. Saya kehilangan rumah karena perceraian, Allah berikan saya rumah di kota suci Madinah. Saya kehilangan harta, Allah ganti dan lipat gandakan,” ujarnya.

Sebenarnya Laurence tidak benar-benar merasa kehilangan. Karena ia percaya bahwa Allah mengganti hal tersebut dengan yang lebih baik. Begitu pula terkait hubungan dengan orang tuanya yang juga membaik.

“Saya tidak kehilangan orang tua saya selamanya. Akhirnya, kami berbicara kembali, dan saya merasa hubungan kami sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya,” katanya.

Islam di mata dokter Laurence Brown.

Bagi dr.Laurence Brown, Islam adalah agama yang damai. Ia bahkan mengaku sebelum masuk Islam, tidak menemukan kedamaian dalam hidupnya.

“Seingat saya, saya tidak pernah merasakan kedamaian sampai saya masuk Islam. Setelah masuk Islam, saya merasakan ketenangan dalam setiap perbuatan saya,” ujarnya.

Sebelum masuk Islam, ia terlena dengan kehidupan dunia. Namun setelah masuk Islam, ia kehilangan hasrat untuk kehidupan gaya Barat tersebut.

“Saya tertarik pada pisau, senjata api, main paintball, saya ada dalam militer, itu yang kami lakukan, sesuatu yang kami nikmati di Barat. Saya nonton film Rambo, Commando, James Bond, saya memimpikan kehidupan seperti itu,” tuturnya.

Kini, Laurence merasa hidupnya yang dahulu tidak beraturan dan paranoid berubah jadi damai. Ia juga kini menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

“Saya menjadi diri saya yang sekarang, seorang yang berdamai dengan diri, orang di sekitar, dan masyarakat umum,” katanya.

3. Nicole Queen, dari kehidupan malam menjadi pendakwah,

Hidayah dapat datang kapan saja kepada siapa pun. Tak ada yang tidak mungkin ketika Allah SWT sudah berkehendak. Bahkan hati manusia yang gelap dapat berubah seketika.

Dunia malam sudah bukan hal tabu di negara bebas seperti Amerika Serikat. Klub dan berbagai jenis bar ramai didatangi orang-orang di malam hari. Termasuk Nicole Queen, penggemar pesta yang kini menjadi hijaber dan tokoh muslimah inspiratif.

Nicole Queen hanyut dalam gemerlap dunia malam di tahun 2005 silam. Wanita asal Dallas, Amerika Serikat itu kerap berdandan dan pergi berkeliaran dengan teman-temannya. Ia selalu berpesta dan mencoba berbagai jenis aktivitas dunia malam. Nicole yang kala itu berprofesi sebagai seorang fotografer sering berpindah-pindah dari satu klub ke klub lain di sekitar Kota Dallas.

“Saya bekerja di industri malam dan telah menghabiskan banyak waktu di sekitar orang-orang yang minum dan berpesta,” ungkap Nicole, dikutip dari The National News, Jumat (05/03/21).

Selama menjalankan profesi sebagai fotografer dunia malam, Nicole Queen terpengaruh gaya hidup bebas yang membuatnya jadi ketagihan minum dan berpesta. Parasnya yang cantik serta kemampuan memotret yang andal membuat Nicole juga dilirik oleh para artis Hollywood.

Ia mendapatkan banyak pesohor sebagai kliennya, seperti Justin Timberlake dan Kate Hudson. Hal itu membuatnya semakin terjerumus di kehidupan malam. Hal itu membuat Nicole merasakan pergolakan batin. Ia merasa hidupnya hampa hingga kemudian bertemu Hasan, pria muslim asal Yordania yang kini menjadi suaminya.

Ketertarikan Nicole terhadap Hasan membawanya ke dunia Islam. Nicole bertemu dengan sejumlah teman muslim. Hatinya pun terketuk sehingga ia mulai tertarik untuk mempelajari Islam. Nicole kemudian mulai mengikuti kelas agama Islam di sebuah masjid yang berlokasi di sekitar tempat tinggalnya. Simak kisah Nicole Queen di halaman berikutnya ya, Bunda.

Nicole Queen membutuhkan waktu enam bulan belajar Islam. Ia akhirnya resmi menjadi mualaf pada tahun 2007. Tak lama kemudian, Nicole juga memutuskan untuk memakai hijab. Ia menutup tubuhnya dengan busana muslim. Namun perjalanan Nicole menjadi muslimah inspiratif masih panjang, Bunda. Berbagai cobaan mulai menghampiri Nicole Queen usai memeluk Islam. Hatinya hancur ketika keluarganya tidak menerima keputusan Nicole untuk menjadi mualaf.

Kariernya pun ikut tenggelam. Ia banyak ditolak saat melamar pekerjaan karena mengenakan hijab. Kini hidup sebagai golongan minoritas di Negeri Paman Sam, Nicole kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang di sekitarnya.

Selain diskriminasi, ia juga menjadi sasaran empuk kebencian. Nicole pernah mendapat perlakuan buruk ketika pelayan restoran dengan sengaja menaruh potongan daging babi ke dalam minumannya. Cobaan demi cobaan terus Nicole lalui. Namun hatinya tidak pernah goyah dan tetap berpegang teguh pada Islam. Kegigihan Nicole membuatnya tumbuh semakin kuat, Bunda. Nicole percaya bahwa Islam dapat memberikannya kedamaian hidup. Perlahan-lahan, ia kembali menggeluti profesinya sebagai fotografer. Namun ia sudah tidak lagi berhubungan dengan kehidupan dunia malam.

Mantap memeluk Islam, Nicole kerap mengunggah konten seputar agama di YouTube. Ia banyak membicarakan topik seputar menjadi mualaf, mendidik anak hingga persahabatan antara orang berbeda agama. Ia kini menjadi sosok muslimah inspiratif. Nicole beberapa kali tampil sebagai pembicara di masjid. Di sana, ia bertemu dengan hijaber lainnya. Nicole pun bersahabat dengan wanita bernama Monica Traverzo itu.

“Kami sangat cocok. Di perjalanan pulang ke rumah, kami banyak mengobrol dan bahkan tetap berada di apartemen untuk berbincang,” kata Nicole.

Kedua muslimah inspiratif itu sepakat berkolaborasi meluncurkan tayangan podcast yang diberi nama Salam Girl! Bersama-sama, mereka memperkenalkan Islam kepada komunitas non-muslim di Dallas, Texas. Nicole membawakan dakwah dengan gaya yang modern sehingga sesuai dengan masyarakat Amerika Serikat. Ia juga memakai istilah umum ketika berbicara di hadapan non-muslim, seperti mengganti nama ‘Allah’ dengan ‘Tuhan’.

Podcast Salam Girl! kini sudah diunduh lebih dari 60 ribu kali lewat aplikasi Apple Podcast dan Spotify. Jumlah pendengar podcast mereka juga telah bertambah banyak sejak 10 episode pertama. Nicole dan Monica juga banyak membahas soal fashion muslim. Mereka bahkan sengaja merancang feed Instagram yang didominasi oleh tone warna pink pastel agar terlihat estetik dan menarik perhatian publik. Mereka mengunggah berbagai foto OOTD hijab, perlengkapan sholat seperti tasbih, Al-Quran hingga interior Masjid.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2021.

Diambil dari :

https://www.republika.co.id/berita/q8qdei320/alexander-russel-mualaf-as-di-balik-karya-besar-mark-twain

https://www.haibunda.com/trending/20210305122153-93-196511/kisah-mualaf-bule-hijaber-dari-terjerumus-dunia-malam-hingga-jadi-pendakwah

Read Full Post »

Awalnya, musisi Dewa Putu Sutrisna adalah seorang mahasiswa yang kuliah di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH). Lulusan dari kampus itu bisa dikatakan langsung menjadi pendeta Hindu. Dia kuliah hingga tiga tahun.

Saya asli Bali. Keluarga pun keluarga Bali. Tidak ada campurannya. Ibu bapak Bali. Mereka berdua Hindu,” katanya mulai berkisah beberapa waktu lalu di penghujung tahun 2017.

Kakeknya adalah pendeta tertinggi di Bali. Baginya ini adalah cobaan berat. Namun begitu, ia justru menemukan Islam dari kitab agamanya sendiri (Hindu).

Saya tidak pernah membaca Alquran. Saya tidak pernah mencari tahu tentang Islam. Buat saya, Islam itu kebencian waktu itu,” ungkap Putu Sutrisna.

Ia berpandangan demikian sebab ia teringat dengan tragedi bom Bali sekitar tahun 2002, yang membuat perekonomian, pariwisata hancur, banyak korban dan efeknya cukup besar.

Islam tidak pernah saya pandang. Di STAH saya banyak membaca Weda dan kitab pendukung lainnya,” kata dia.

Dari kitab tersebut ia malah menemukan Islam. Bukan dari seorang sahabat, ustadz atau dari mana pun. Di Weda banyak membicarakan tentang Kalki Awatara. Setelah dipelajari, sepanjang di kitab Hindu, siapa itu Kalki Awatara, bagaimana silsilahnya Kalki Awatara dan semua Kalki Awatara.

Di Weda disebutkan Kalki Awatara itu lahir di tanggal 12 di awal bulan. Kita tahu sendiri Nabi Muhammad SAW lahir di tanggal 12 Rabiul Awal. Kemudian ciri-cirinya, dia datang dengan naik unta, menggunakan pedang dan tanah, berperang bersama empat sahabatnya”.

“Kalki memiliki ayah bernama Vishnuyash dan ibu bernama Sumatti.  Jika diterjemahkan dari bahasa Sansekerta, “Vishnuyash” yang berarti “hamba Tuhan”, dalam bahasa Arab “Abdullah”. Abdullah ayahanda Rasulullah SAW.  Sementara, “Sumatti” memiliki makna “lemah lembut”. Aminah, ibunda Rasulullah SAW memiliki makna yang sama yaitu “lemah lembut”.

Dari cara berpakaian, menyisir rambutnya dan cara lainnya sama dengan Rasulullah SAW, tertera dalam Weda,” ungkap Putu Sutrisna yang getol dengan dunia musik ini.

Setelah lima tahun mencari tahu tentang Islam dan mencari tahu siapa itu Rasulullah SAW,  Dewa Putu pun memutuskan masuk Islam.  Uniknya, meski ia mengikuti apa yang diteladankan Rasulullah SAW selama lima tahun itu, ia belum mengucapkan syahadat sama sekali.

Alhamdulillah saya bertemu dengan Mualaf Center Darussalam, kemudian saya dituntun syahadat. Tepat saat kedatangan Dokter Zakir Naik di Bekasi,” ungkap pria bertato ini.

Dua tahun setelah bersyahadat yaitu pada tahun 2019, dalam suatu acara bertajuk ‘Dialog Iman’, Putu Sutrisna menceritakan kisah terberat yang dialaminya sejak menjadi mualaf. Yaitu tiga bulan setelah mengucapkan Syahadat, ketika itu istrinya sedang hamil tua anak kedua, dan akan melahirkan.

Dalam kondisi sudah menjadi muallaf, ia tinggalkan 2 label music, yang didalamnya ada 45 artis yang ia besarkan namanya. Ia tinggalkan itu semua dan mulai belajar Islam, sembari mendalami studi film. Tak hanya meninggalkan mata pencahariannya yang berhubungan dengan musik. Bahkan, ketika berpindah keyakinan, Dewa mengaku masih memiliki total hutang mencapai 16 Miliar, sedangkan saat itu ia belum memiliki penghasilan lain.

Istrinya masuk ke rumah sakit karena usia kandungan yang sudah tua. Pihak rumah sakit menyarankan untuk dilakukan operasi caesar, dengan biaya yang tidak murah. Dewa hanya bisa melihat wajah istrinya yang pucat dan menahan sakit yang sangat, sedangkan ia hanya bisa menggenggam tangan istrinya yang mulai melemah.

Setelah sholat Subuh, Dewa meninggalkan istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. “Karena pada saat itu punya uang hanya dua puluh enam ribu, saya tinggalkan istri saya. Saya datangi teman-teman yang mereka artis besar, dan saya tahu saldo mereka, saya cari. Tunggu di depan rumahnya hingga setengah jam, karena sudah tidak dianggap lagi saya. Saya cari uang pinjaman. Jangankan diberikan, dipinjamkan saja tidak,” ujar Dewa dengan nafas tertahan.

Bukan hanya teman-teman artis saja yang menjauhinya. Dewa mengaku beberapa label musik bahkan memusuhinya karena dianggap mengajak talent label itu hijrah dan meninggalkan musik.

Dalam keadaan demikian Dewa ditelepon pihak rumah sakit untuk menandatangani suatu perjanjian.

Saya dikasih surat sama suster, suratnya itu menandakan bahwa jika terjadi kematian janin atau ibu, saya tidak boleh menuntut rumah sakit. Saya ingat sekali wajah istri saya kesakitan,” ujarnya, kini dengan sedikit terisak.

Waktu itu saya telepon Ustadz Khalid Bassalamah, minta petunjuk saat itu, bukan minta, bukan ngemis. Saya bilang sedang cari solusi untuk masalah saya, tidak bilang istri saya lagi hamil dan butuh uang,” ungkap Dewa.

Atas pertanyaan Dewa, ustadz Khalid Bassalamah menjawab “Untuk apa cari solusi, Allah ciptakan manusia untuk ibadah. Jika kita punya masalah dan kesulitan, cek ibadah kita.”

Seketika itu juga Dewa tersadar, sholat Dhuha terlewatkan, sholat Dhuhur terlambat ia tunaikan. Seharian yang terbayang hanya wajah pucat istrinya di rumah sakit. “Saya ditampar dengan chat itu. Saya cari mushola di belakang rumah sakit, Saya hanya minta pada Allah ‘ya Allah, ampuni saya, saya orang dzalim, saya minta ya Allah selamatkan istri saya, selamatkan anak saya’,” doa itu terus Dewa panjatkan sampai setelah sholat Ashar.

Singkat cerita, setelah melalui beberapa proses, pertolonganpun datang melalui seorang yang tak diduga.

“ … … Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):2-3).

Demi Allah, tidak sampai dua menit, uang itu sampai. Anak saya lahir, perempuan sehat, istri saya sehat juga.

Ia pun menyampaikan hikmah dari kejadian yang menurutnya adalah yang paling berat dalam hidupnya itu. “Ini sebenarnya kelemahan kita, kita lupa sama Allah, kita sibuk sama dunia. Nanti kalau kita sudah susah, kalau sudah kesulitan, sudah mentok, sudah sangat terpojok sekali, baru kita ingat Allah,” ujarnya.

Dewa pun mengungkapkan seharusnya manusia bersyukur, Allah mengingatkan hambanya untuk sholat lima kali sehari, bukan tiga kali atau satu kali. Supaya selalu ingat, bahwa harus selalu ingat kepada Allah.

Sibuk dunia, sibuk dunia, sibuk dunia, kita lupa sama Allah, kita lupa kenapa Allah ciptakan Qiyamullail, kenapa kita disuruh sholat sunnah dua rokaat sebelum subuh, kenapa Allah suruh kita sholat Subuh. Allah ingin kita ingat DIA dulu, sebelum kita sekolah, kerja, atau aktivitas lain. inget Allah dulu, kalau kita sudah inget Allah, semua yang kita kerjakan akan dituntun sama Allah, semua yang kita kerjakan,” ujarnya.

Ia sempat meminta maaf karena menyampaikan cerita itu dalam keadaan yang cukup emosional, karena cerita yang ia sampaikan sudah lama tidak diceritakan, dan kisahnya adalah yang paling berat dalam hidupnya. Karena dulunya, Dewa adalah orang yang cukup dipandang dan sering foya-foya. “Ketika susah, orang gak mau lihat saya. Tapi di sini saya dapat pelajaran yang luar biasa, kita tidak boleh lupakan Allah”, tutupnya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Vien AM.

Diambil dari :

https://news.bersamadakwah.net/2018/01/unik-putu-sutrisna-putuskan-masuk-islam.html

https://www.kiblat.net/2019/08/26/kisah-muallaf-untuk-apa-cari-solusi-allah-ciptakan-manusia-untuk-beribadah/

Read Full Post »

Ayana Jihye Moon, adalah seorang muslimah asal Korea Selatan yang namanya cukup di kenal di kalangan muslimah, Indonesia dan Malaysia khususnya. Selebgram berparas cantik khas K-Pop ini pernah menjadi brand  ambassador Wardah, beberapa kali muncul sebagai tamu acara televisi, serta menjadi pembicara sejumlah kajian. Terakhir Ayana terlihat di Istora Senayan Islamic Book Fair (IBF) di JCC Jakarta pada acara peluncuran bukunya yang berjudul ‘Ayana Journey To Islam’. Kisah ke-Islaman gadis Korea kelahiran tahun 1995 ini memang menarik untuk diikuti. 

Ayana lahir dan besar di tengah keluarga ekonomi menengah atas yang tidak begitu peduli agama di sebuah kota di Korea Selatan. Ia mendengar adanya agama Islam pertama kali karena keluarganya sering membicarakan aksi teror 911 dan perang Amerika di Irak dan Afghanistan. Ketika itu usia Ayana baru 7 tahun. Namun ia juga mendengar bahwa kaum Muslimin berpuasa, shalat dan berjilbab. Kebetulan salah satu pamannya ada yang telah lama memeluk Islam. Hal yang amat sangat langka terjadi di negaranya. Islam adalah kaum minoritas dan tidak banyak orang mengenal agama ini. Rata-rata orang Korea Selatan adalah atheis.  

Untuk mengatasi rasa penasaran dan keingin-tahuannya yang begitu tinggi menjelang remaja Ayana sering googling. Hebatnya lagi karena ketika itu ia belum fasih berbahasa Inggris iapun menggunakan kamus untuk belajar memahami apa yang ingin diketahuinya. Selama beberapa tahun ia melakukan hal tersebut.  Berkat Googling pula Allah swt mempertemukannya dengan seorang profesor yang menguasai ajaran Islam.

Maka setelah dirasa cukup memahami konsep Islam, ditambah bantuan dari pamannya, pada usia 16 tahun akhirnya Ayanapun memeluk Islam. Namun sayang keinginannya untuk mengenakan hijab yang merupakan kewajiban bagi kaum Muslimah untuk sementara terpaksa ia singkirkan. Di negaranya tidak mungkin murid sekolah memakai hijab ke sekolah. Ayana ketika itu duduk di bangku sekolah menengah atas.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Menjelang lulus SMA orang-tuanya baru mengetahui bahwa putri mereka satu-satunya itu telah berganti keyakinan. Merekapun tidak mau lagi menanggung kehidupan finansialnya. Namun Ayana tidak mau menyerah meski menyadari pasti akan sangat berat. Apalagi ia ingin sekali meneruskan pendidikan ke yang lebih tinggi, yaitu berkuliah.

Saat itu aku tidak punya pilihan. Aku tahu orangtuaku tidak akan menanggung biaya kehidupanku jika aku pindah ke agama lain, atau menjadi ateis seperti mereka. Sehingga dengan situasi ekstrem seperti itu, justru menguatkanku. Aku lakukan apa yang bisa aku lakukan,” kenangnya.

Bahkan, sebelum aku pergi ke Malaysia, aku harus melakukan banyak sekali pekerjaan sampingan di Korea Selatan, seperti menjadi guru les matematika, menjual ikan kering di pasar, menjadi part-timer di restoran kecil, dan sebagainya. Meski begitu, alhamdulillah aku bisa dapat beasiswa penuh karena aku adalah siswa teladan,” tambahnya.

Berkat kegigihannya mempertahanlan ke-Islam-annya tak heran bila Allah Azza wa Jala memberinya jalan keluar. Apalagi Ayana memang seorang anak yang cerdas hingga berhasil mendapatkan beasiswa.  Dengan modal beasiswa dan tekad kuat pada tahun 2014 di usianya yang ke 19 tahun, Ayanapun meninggalkan negaranya menuju Malaysia. Sebelumnya ia sempat mempertimbangkan Mesir sebagai tujuan kuliah sambil memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Disana sudah pasti ia bisa memakai hijab, sesuatu yang diimpikannya.  Tapi karena situasi politik yang tidak memungkinkan ia memilih Malaysia sebagai gantinya.  

Sebagai gadis muda yang baru pertama kali hidup sendiri jauh dari orang-tua dan keluarga di negara dimana ia tidak mengenal seorangpun, tanpa restu dan bekal orang tua pula, dapat dipahami bila suatu ketika ia sempat mengalami kesulitan dan sempat nyaris putus asa. Ibunya bahkan khusus datang menjemputnya untuk membawanya pulang ke negaranya. Namun Allah subhana wa ta’ala kembali menyelamatkannya. Seorang kenalan instagramnya di Indonesia menawarkan pekerjaan sebagai bintang iklan kosmetika Wardah di Jakarta. Iapun langsung menerima tawaran tersebut.

Dan selama kontrak tersebut Ayana merasa ditrima dengan sangat baik. Ia banyak menerima undangan wawancara terutama tentang kisah ke-Islamannya. Ayanapun lebih tenang dan mendapatkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat goyah. Usai kontrak 1 tahun Ayana kembali ke Malaysia untuk melanjutkan kembali kuliahnya di program studi komunikasi. Ayana dapat merasakan betapa bedanya kehidupannya di Korea Selatan dengan di Malaysia dan di Indonesia.

Rasanya menyenangkan karena bisa menjalani shalat di mana pun. Aku bisa makan makanan halal, rasanya menyenangkan“. “Di Korea aku tidak bisa shalat di mana saja dan tidak ada makanan halal. Aku cuma bisa makan seafood, sangat sulit,” ujarnya.

Dalam pengakuannya, kini ia lebih bisa tersenyum, hidup lebih bermakna, dan selalu bersyukur. Hingga sang adik, heran dengan sifat kakaknya yang tadinya galak dan mudah marah berubah menjadi baik. Maka berita gembirapun datang. Aydin, adik satu-satunya dengan beda usia 8 tahun, pada tahun 2019 lalu mengikuti jejaknya memeluk Islam.

Dalam Instagramnya Ayana memamerkan foto diri dan adiknya yang menjalani Ramadhan di rumah mereka di Korea Selatan. Orang-tua mereka tampaknya sudah bisa menerima ke-Islaman keduanya.  

Ramadhan pertama kita yang sangat spesial, dia adalah satu-satunya yang selalu membuatku nyaman. Aku bertanya pendapatnya dalam segala hal. My very smart tutor and the best sister till Jannah,” tulis Aydin dalam keterangan fotonya.

Ayana juga memamerkan sebuah video bersama ibu dan adiknya di dalam sebuah masjid. Ibunya memang belum bersedia masuk Islam tapi Ayana sangat mengharapkan doa orang-orang yang melihat video tersebut.

“Ini adalah masjid tempat aku dan Aydin sering berkunjung. Aku berharap ibu akan lebih sering ke sini, Insya Allah, Aku harap,” ujar Ayana menutup videonya.    

Dalam salah satu wawancaranya, Ayana menceritakan rencana masa depannya.  Ia juga menjawab sebuah pertanyaan apakah ia sudah cukup merasa puas dengan aktifitasnya sebagai Selebgram yang memiliki lebih dari 3 juta followers. Ayana menjawab bahwa profesi tersebut hanya batu loncatan. Lingkungan keluarganya yang banyak berkecimpung dalam dunia politik menyebabkannya ikut tertarik memikirkan hal tersebut. Minimal ia ingin agar muslimah berhijab di negaranya bisa mendapat kemudahan dalam mencari pekerjaan dan kesetaraan.  

Aku ada rencana ingin melanjutkan jenjang pendidikan di bidang politik ke Inggris, setelah menyelesaikan pendidikan di Malaysia. Ada banyak cara aku berkontribusi bagi negaraku. Misalnya, membantu politisi dalam membuat kebijakan, tanpa harus terjun ke dunia politik,”, jelasnya.

Barakallah Ayana, semoga Allah swt senantiasa memudahkan perjalanan hidupnya. Semoga dapat menjadi inspirasi para muslimah yang terlahir Islam agar dapat menjadi muslimah yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.      

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Maret 2021.

Vien AM.

Note.

– Usia 7 tahun adalah usia seorang anak mulai kritis. Ia menjadi pemerhati segala kejadian yang dilihatnya. Oleh sebab itu orang-tua  harus waspada. Tak salah bila pada usia ini Islam mulai mengajarkan anak untuk shalat.

Ajarilah anak kalian mengerjakan salat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah ia jika telah mencapai 10 tahun ia mengabaikannya” (HR Abu Daud, Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan Ibn Khuzaimah). 

– Menjadi Islam sejak lahir adalah suatu anugerah yang harus disyukuri. Tentu kita sering mendengar bagaimana beratnya perjuangan menuju Islam seperti yang dialami Ayana di atas.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi”. Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim).

Read Full Post »

Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Eropa dan Amerika Serikat.” —New York Times

Lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) Pew Research Center (PRC) memprediksi, Islam akan menjadi agama terbesar di dunia pada 2075. Hal ini terjadi seiring dengan terus bertambahnya kelahiran di keluarga Muslim. Hasil riset yang dilansir the Guardian, beberapa waktu lalu itu juga menyebut, selama dua dekade mendatang jumlah bayi yang lahir dari keluarga Muslim akan menyalip jumlah bayi yang lahir dari keluarga Kristen.

Pada 2020, jumlah Muslim mencapai kurang lebih 25 persen dari sekitar 7.7  miliar jiwa penduduk dunia. Pertumbuhan Islam itu, harus diakui banyak disumbang dari proses perpindahan iman (mualaf) yang mulai marak pasca tragedi 9/11 di Amerika. Namun sejatinya perpindahan iman tersebut telah terjadi jauh sebelum itu. Berikut 5 tokoh mualaf manca negara yang mampu membawa perubahan dalam sejarah dunia.

1.  Berke Khan (1209- 1266), penakluk Eropa Timur dari Mongol.

Berke Khan adalah cucu Jenghis Khan, penakluk kenamaan Mongol.  Ia adalah orang Mongol pertama yang memeluk Islam. Ia berkuasa pada tahun 1257 hingga syahidnya di medan perang pada 1266. Kekuasaannya meliputi Rusia, Bulgaria, Rumania dan wilayah Kaukasus. Selanjutnya Berke memperluas kekuasaannya hingga ke Polandia dan Lithuania.

Berke bersama saudaranya Batu Khan, mendapatkan mandat untuk menaklukan Eropa Timur, bersamaan dengan Hulaghu Khan, cucu Jengis Khan lain yang mendapatkan tugas untuk menaklukan Asia Tengah dan Timur Tengah  yang ketika itu dibawah kekuasaan dinasti Muslim Abbasiyah.

Dalam perjalanannya menuju Rusia, rombongan Berke berpapasan dengan kafilah dagang Muslim di kota Bukhara. Pasukannya lalu menginterogasi mereka, dan Berke sangat terkesan oleh keberanian, ketenangan, dan ketangkasan ulama yang menjadi juru bicara dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan pasukannya. Berkepun kemudian memeluk Islam, diikuti banyak pengikutnya.

Pada saat yang sama ia mendengar berita kebrutalan yang dilakukan Hulaghu pada saat menaklukan wilayah dinasti Abbasiyah. Sepupunya itu melakukan pembantaian terhadap penduduk yang tidak berdosa, merusak warisan ilmu yang dimiliki, serta menghancurkan berbagai bangunan bersejarah. Berke sangat marah dan kecewa bercampur malu.

Maka ketika Syaifudin Qutuz, sultan Mamluk penguasa Mesir, memintanya untuk membantu menghadapi pasukan Hulaghu, Berke dengan senang hati mengabulkan permintaan tersebut. Di kemudian hari pasukan gabungan Berke dan Mamluk dalam perang Ain Jalut yang fenomenal tersebut dikenang sebagai penyelamat dunia Islam dari kebrutalan bangsa Mongol. Mereka berhasil menghentikan laju pasukan  Hulaghu dan mempertahankan wilayah Mesir, Syria, dan Hijaz dari serangan pasukan Mongol yang kejam.

2. Zaganos Pasha ( 1446 – 1461 M), penasehat Sultan Muhammad al-Fatih.

Zaganos Pasha adalah seorang penganut Kristen asal Albania. Ia direkrut menjadi Yenicheri, pasukan elit kesultanan Turki Utsmani. Seperti Yenicheri lainnya, ia dibekali ilmu agama Islam, administrasi pemerintahan, dan pelatihan militer. Ia ditunjuk menjadi mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Muhammad al-Fatih yang ketika itu masih sangat belia.

Saat al-Fatih dilantik sebagai raja Utsmani, Zaganos yang juga masih relative muda diangkat menjadi seorang menteri. Zaganos selalu dilibatkan dalam semua urusan negara, terutama rencana penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Dalam pengepungan Konstantinopel, pasukannya yang pertama kali berhasil mencapai menara benteng yang dikenal sangat kokoh tersebut. Zaganoslah yang menancapkan bendera Turki di atap Menara. Dan atas prestasinya itu, salah satu menara di benteng Konstantinopel dinamakan dengan namanya yaitu Menara Zaganos Pasha.

Zaganos dikenal sangat loyal dan penuh semangat. Ia berhasil membantu mengembalikan tekad dan semangat para pasukan yang pada saat itu sempat dilanda keputus-asaan karena selama beberapa bulan pengepungan tidak juga  berhasil membobol pertahanan kota bersejarah tersebut. Peninggalan-peninggalan Zaganos masih tersisa di wilayah Edrine berupa masjid, dapur umum, dan pemandian umum. Sayang awal ke-Islam-an Zaganos tidak diketahui secara umum. 

3. Ibrahim Muteferrika (1674 – 1745 M), duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia

Ibrahim Muteferrika adalah seorang berdarah Hungaria yang di kemudian hari memeluk Islam. Ia menjabat sebagai duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia pada saat dinasti tersebut sedang mengalami stagnansi inovasi.

Usai tugas di kedua negara Eropa Barat tersebut, Muteferrinka kembali ke Istanbul membawa ide Renaisans dan penggunaan mesin cetak. Dengan bantuan alat tersebut ia berhasil mengkopi atlas, kamus, dan buku-buku Islam.  Di antara banyak karya yang dicetaknya, ada atlas buatan ahli geografi terkenal Katip Çelebi yang dibuat pada tahun 1728. Atlas tersebut memuat ilustrasi dunia dengan detail dan tingkat presisi yang mengagumkan untuk ukuran saat itu. Satu diantara isi dari serial Cihannuma (Geografi Alam Semesta) yang diilustrasikan oleh  buku peta cetakan pertama tersebut adalah peta Indonesia.  

Muteferrinka juga menulis dan mencetak buku-buku dengan berbagai topik, seperti sejarah, teologi, sosiologi, dan astronomi. Muteferrika meninggal di Istanbul. Patungnya hingga kini berdiri tegak di Sahaflar Çarşısı, Grand Bazaar,  Istanbul.

4. Alexander Russel Webb (1846 – 1916 M), diplomat Amerika.

Di akhir abad 19, dunia jurnalistik Amerika mulai memasuki era baru. Pengaruh dunia tulis-menulis sangat besar dan efektif dalam membentuk opini di masyarakat. Salah seorang yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Alexander Russel Webb.

Webb dilahirkan dari orang-tua beragama Kristen, namun semakin hari agama tersebut malah menimbulkan keraguan baginya, hingga hilanglah kepercayaannya dengan agamanya tersebut. Setelah kepercayaan terhadap agama Kristen hilang, ia mulai membuka diri dan mempelajari agama-agama selain Kristen.

Penunjukkan dirinya sebagai seorang pejabat kedutaan Amerika di Philipina pada tahun 1887, makin membuka ketertarikannya pada Islam. Ia mengawalinya ke-Islam-annya melalui paham Ahmadiyah. Namun ia terus belajar dan memperdalam ke-Islam-annya dengan menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam dan bertemu dengan para ulama sehingga ia mendapatkan pemahaman yang baik tentang Islam dan terlepas dari pengaruh Ahmadiyah.

Tahun 1893, ia mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan kembali ke Amerika. Di negeri Paman Sam inilah ia memulai dakwahnya menyeru kepada Islam. Dengan kemampuan jurnalistiknya, ia menulis sejumlah buku dan kolom-kolom opini di media masa menjelaskan kepada masyarakat Amerika tentang Islam. Di awal abad 20, ia semakin dikenal sebagai seorang Muslim yang giat dan vokal dalam mendakwahkan Islam di Amerika, bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, memberinya gelar kehormatan dari kerajaan sebagai apresiasi terhadap apa yang telah ia lakukan.

5. Muhammad Marmaduke Pickthall (1875-1936), jurnalis novelis Inggris.

Pickthall lahir dari keluarga kelas menengah Inggris dengan nama William Pickthall. Ayahnya adalah seorang pendeta Anglikan yang meninggal ketika ia masih kanak-kanak. Pada usia muda Pickthall mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu Bahasa termasuk bahasa Arab. Ia berharap suatu saat bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang konsuler di Palestina. Di usianya yang belum genap 18 tahun, ia memutuskan untuk berlayar ke Port Said, Mesir.

Perjalanan ke Port Said ini menjadi awal mula petualangannya ke negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah dan Turki. Keahliannya dalam berbahasa Arab telah memikat penguasa Ottoman. Atas undangan dari pihak Kesultanan Ottoman, Pickthall yang kala itu belum menjadi seorang Muslim, mendapat tawaran untuk belajar mengenai kebudayaan Timur. Hasinya, selama masa Perang Dunia I tahun 1914-1918, ia banyak menulis surat dukungan untuk Turki Usmaniyah.

Setelah akhirnya memutuskan memeluk Islam pada tahun 1917, Pickthall aktif dalam berbagai kegiatan dakwah.  Ia mempunyai cita-cita besar untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Ia berkeyakinan adalah tanggungjawab semua umat Muslim untuk memahami Al-Quran secara utuh. Cita-cita mulia tersebut  akhirnya terealisasi 11 tahun kemudia, yaitu pada tahun 1928.

Karya Pickthall ini menjadi karya pertama penulisan makna Al-Quran dalam bahasa Inggris oleh orang Inggris asli. Karya mulia tersebut tercatat sebagai salah satu dari dua karya terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris yang sangat populer. Karya lainnya ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali dari India.

Terjemah Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris juga pernah dilakukan seorang mualaf, yaitu Leopold Weiss ( Muhammad Asad), jurnalis asal Austria/Hungaria yang tadinya memeluk Yahudi. Asad bahkan melengkapi terjemahan yang berjudul “The Message of the Qur’an” itu dengan tafsir singkat berdasarkan pengetahuannya dalam bahasa Arab klasik dan tafsir-tafsir klasik. “Road To Mecca” adalah salah satu buku tulisannya yang terkenal.

Akhir kata semoga Islam terus berkembang menyinari seluruh sudut-sudut dunia yang fana ini, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 11 Januari 2021.

Vien AM.

Diambil dari beberapa sumber:

https://rmol.id/read/2020/04/07/429203/mengenang-berke-khan-muslim-mongol-pertama-penyelamat-dunia-islam

https://republika.co.id/berita/ocdg6b313/4-mualaf-ini-pengaruhi-sejarah-dunia

https://republika.co.id/berita/q65cfd440/muhammad-marmaduke-pickthall-sang-mualaf-penerjemah-alquran

Read Full Post »

Siapa yang tak kenal Jenghis Khan, kaisar Mongol yang terkenal karena kebengisan dan kebrutalannya dalam menaklukkan tanah dan negri yang dimasukinya termasuk negri-negri Islam. Pada puncak kekuasaannya, Jenghis dan anak cucunya berhasil menaklukkan wilayah Asia Tengah, China, Rusia, sebagian Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Namun karena penaklukkannya tersebut tidak berlandaskan ideology apapun kecuali bermodalkan kekuatan militer dan nafsu menguasai maka banyak di antara mereka yang pada akhirnya terpengaruh oleh budaya dan agama bangsa/penduduk yang mereka jajah. Bahkan kemudian memeluk Islam. Tughluk Timur adalah salah satunya. Sementara yang pertama masuk Islam adalah Berke Khan (w. 1266). Ia adalah cucu Jenghis Khan dari anak pertamanya, Jochi. Berke Khan masuk Islam di tangan Saifuddin Boharzi, seorang Syeikh sufi dari Bukhara,

Tughluk Timur merupakan keturunan Jenghis Khan yang ketujuh, dari jalur Chagatai. Ia hidup lebih dari satu abad setelah Jenghis Khan. Kekuasaannya pada jaman sekarang ini mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, Kazakhstan, dan Barat Laut China (Xinjiang) yang penduduknya ketika itu mayoritas beragama Budha.

Sejarah pemerintahan Tughluk Timur dan keturunannya secara khusus tertulis dalam buku Tarikh-i-Rashidi yang disusun oleh Mirza Muhammad Haidar, seorang emir dari keluarga Dughlat. Mirza sendiri sempat memimpin wilayah Kashmir dan meninggal di wilayah itu.

Tarikh-i-Rashidi menceritakan kisah masuk Islam-nya Tughluk Timur. Pada suatu hari, Tughluk Timur yang masih berumur 18 tahun pergi berburu bersama beberapa orang bawahannya. Ketika itu tampaknya ia baru menjelang diangkat sebagai khan atau pemimpin Moghulistan. Tughluk memerintahkan orang-orang untuk menyertainya berburu, tidak boleh ada yang absen.

Ketika itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk beristirahat tak jauh dari tempatnya berburu. Maka ia pun memerintahkan agar orang-orang ini ditangkap, karena mereka telah melanggar perintahnya untuk ikut serta berburu. Mereka kemudian dibawa ke hadapan Tughluk Timur.

Orang-orang yang ditangkap ini adalah rombongan kecil yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin, seorang ulama keturunan Tajik. Saat berada di hadapannya, Tughluk bertanya kepadanya, “Mengapa kalian melawan perintah saya?”

Syeikh Jamaluddin kemudian menjawab, “Kami ini orang asing yang meninggalkan reruntuhan kota Katak. Kami tidak mengerti tentang perburuan dan aturan dalam berburu, karena itu kami tidak melanggar perintahmu.”

Apa yang dikatakan Syeikh Jamaluddin memang benar, sehingga Tughluk tidak memiliki alasan untuk menahan atau menghukumnya. Ia pun memutuskan untuk membebaskan mereka. Tapi mungkin masih ada rasa kesal dalam hatinya terhadap Syeikh Jamaluddin, sehingga ia mengajukan pertanyaan terakhir yang bertujuan menghinakannya. Ketika itu ia sedang memberi makan anjingnya dengan potongan daging babi. Maka ia pun bertanya kepada Syeikh Jamaluddin, “Apakah kamu lebih baik daripada anjing ini; atau anjing ini yang lebih baik daripada kamu?”

Syeikh Jamaluddin memberikan jawaban yang bijak, “Kalau saya memiliki iman, maka saya lebih baik daripada anjing ini; tapi kalau saya tidak memiliki iman, maka anjing ini lebih baik daripada saya.”

Tughluk rupanya terkesan dengan jawaban ini. Setelah selesai dari aktivitasnya, ia memutuskan untuk pulang dan ia memerintahkan anak buahnya untuk menaikkan Syeikh Jamaluddin ke atas kuda dan membawanya untuk menemuinya. Anak buah Tughluk kemudian membawa seekor kuda dan mempersilahkan Syeikh Jamaluddin naik ke atasnya. Saat melihat ada bekas darah babi pada sadel kuda itu, Syeikh Jamaluddin memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi karena terus didesak, ia akhirnya mengendarai kuda itu dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas sadel kuda itu.

Saat tiba di hadapan Tughluk, ia kembali ditanya, “Apa itu tadi yang sekiranya dimiliki oleh seseorang ia akan lebih baik daripada anjing?”

Iman,” jawab Syeikh Jamaluddin. Beliau kemudian menjelaskan apa itu iman dan menjelaskan tentang Islam kepada Tughluk Timur sehingga yang terakhir ini tersentuh dan menangis.

Tughluk kemudian berkata kepada Syeikh Jamaluddin, “Kalau nanti saya menjadi seorang Khan dan memiliki kekuasaan yang mutlak, kamu harus datang lagi kepada saya, dan saya berjanji akan menjadi seorang Muslim.” Ia kemudian menyuruh orang-orangnya untuk membawa pergi Syeikh Jamaluddin dengan penuh penghormatan.

Tak lama setelah kejadian itu, sebelum Tughluk diangkat menjadi seorang penguasa, Syeikh Jamaluddin meninggal dunia. Namun sebelum meninggalnya, ia menceritakan pengalamannya itu kepada anaknya yang bernama Arshaduddin yang juga alim dan soleh.

Ia berpesan kepada anaknya itu, “Karena saya mungkin akan meninggal dunia tak lama lagi, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kamu. Jika pemuda itu menjadi seorang Khan, ingatkan dia tentang janjinya untuk menjadi seorang Muslim; dengan begitu berkah kebaikan ini mudah-mudahan terjadi dengan perantaraanmu, dan karenanya dunia akan menjadi terang benderang (dengan cahaya Islam, pen.).”

Tidak lama setelah itu, Tughluk Timur diangkat menjadi seorang Khan yang berkuasa penuh atas wilayah Moghulistan. Saat mendengar hal ini, Syeikh Arshaduddin segera berangkat ke Moghulistan dan mencari jalan untuk bertemu dengan Tughluk Khan. Tetapi berkali-kali mencoba, ia tetap tidak berhasil menjumpainya.

Ia terus menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Khan yang baru diangkat itu. Sementara itu, ia punya kebiasaan melantunkan azan subuh setiap pagi di tempat yang tidak terlalu jauh dari tenda tempat tinggal Tughluk Khan. Pada suatu pagi, Tughluk Khan memanggil seorang pengawalnya dan berkata, “Ada orang yang bersuara keras seperti ini setiap pagi, pergi dan bawalah ia ke sini.”

Syeikh Arshaduddin masih di tengah lantunan azannya ketika pengawal itu datang dan terus menangkap dan membawanya ke hadapan Tughluk Khan. Tughluk kemudian bertanya kepadanya, “Siapa kamu yang selalu mengganggu tidur saya setiap pagi di waktu yang awal ini?”

Saya putra seseorang yang pada satu ketika dulu Anda berjanji kepadanya untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Syeikh Arshaduddin. Ia pun menceritakan apa yang dahulu pernah terjadi antara ayahnya dan Tughluk Khan sehingga yang terakhir ini ingat.

Engkau diterima,” kata Tughluk Khan, “dan dimana ayahmu?”

Ayah saya telah meninggal dunia, tetapi ia memberikan amanah misi ini kepada saya,” jawab Syeikh Arshad.

Sejak saya naik ke tampuk kepemimpinan saya ingat bahwa saya mempunyai sebuah janji, tetapi orang yang saya beri janji itu tidak pernah datang. Sekarang saya menerimamu. Apa yang mesti saya lakukan?”

Maka Syeikh Arshaduddin membimbingnya untuk melakukan wudhu dan mengucapkan kalimat syahadat selepasnya. Kemudian ia mengajarinya hal-hal yang mendasar dalam Islam. Mereka juga sepakat untuk mengajak setiap emir di pemerintahan Tughluk Khan untuk masuk Islam. Satu demi satu emir-emir kepercayaannya diseru kepada Islam dan mereka menerima ajakan ini. Ternyata beberapa emir itu ada yang sudah masuk Islam secara diam-diam sebelumnya. Mereka merahasiakan hal ini karena khawatir Tughluk Khan tidak akan menyukainya.

Keislaman Tughluk Timur Khan telah membawa perubahan besar dalam pemerintahan di Moghulistan. Ia lah yang secara resmi untuk pertama kalinya menjadikan Islam sebagai agama negara di wilayah ini. Semuanya berawal dari pertemuannya dengan seorang Syeikh yang soleh dan mampu menjelaskan kepadanya tentang hakikat iman; bahwa iman itulah yang menentukan nilai kemuliaan seorang hamba dan membedakannya dari seekor hewan.

https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2013/05/17/1376/kisah-islamnya-tughluk-timur-khan.html

Tughluk Timur gugur bersama putra mahkotanya Ilyas Khoja pada tahun 1363M ketika harus menghadapi Timur Lenk, penakluk Mongol yang tak kalah kejamnya dengan Jenghis Khan, padahal ia telah masuk Islam. Tughuk Timur berperang untuk mempertahankan kekuasaannya di Transoxiana (Uzbekistan dan Turkmenistan) yang ingin dikuasai calon penakluk Mongol tersebut. Mungkin saking senangnya Timur Lenk berperang ia tidak pernah sempat membaca dan mempelajari bahwa Islam melarang manusia berbuat zalim kepada siapapun, dan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara.

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan“. (Terjemah QS. Al-Isra(17):33).

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).

Atau bisa jadi ajaran Islam yang ditrimanya tidak benar karena kabarnya Timur Lenk adalah seorang penganut Syiah yang menghalalkan darah penganut Suni. Na’udzubillah min dzalik …

https://ihram.co.id/berita/qaqpqy385/kisah-islam-dalam-rentang-kejayaan-kekaisaran-mongol-part1

https://almanhaj.or.id/3630-pokok-pokok-kesesatan-aqidah-syiah.html


Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 Desember 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »