Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Mualaf’ Category

“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. ( Terjemah QS. Al-Hajj(22):54).

Kitab Suci Alquran memiliki sejumlah nama. Salah satu di antaranya adalah al-Huda yang berarti “petunjuk”. Bagi Torquato Cardilli, nama tersebut menjadi bukti nyata atas hidayah Islam yang diperolehnya, dua dekade yang silam.

“Saya benar-benar meyakini kebenaran Islam setelah membaca Alquran secara rutin,” ungkap mantan duta besar Italia untuk Arab Saudi itu, seperti dikutip laman I Found Islam.

torquato-cardilliCardilli lahir di Provinsi L’Aquila, Italia, pada 24 November 1942. Pria yang fasih berbahasa Arab itu merupakan lulusan Universitas Naples di bidang linguistik dan kebudayaan timur. Dia mengawali kariernya di Kementerian Luar Negeri Italia pada 1967. Selanjutnya, ditugaskan sebagai diplomat Italia untuk Sudan, Suriah, Irak, Libya, Albania, dan Tanzania. Seperti mayoritas penduduk di negeri asalnya, Cardilli lahir dan dibesarkan sebagai pemeluk Katolik. Agama itu terus ia anut hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Namun, pada 15 November 2001 atau hanya berselang beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-59, Cardilli mengungkapkan keputusannya menjadi mualaf. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai dubes Italia untuk Arab Saudi. Cardilli secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melakukan penelitian tentang Islam selama bertahun-tahun. Yang lebih menarik lagi, keputusan itu ia buat bertepatan dengan malam 1 Ramadhan 1422 H.

“Saya merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian dari kaum Muslimin,” ucapnya.

Sensitif

Bisa dikatakan, keputusan Cardilli tersebut muncul pada waktu yang sensitif. Pasalnya, dua bulan sebelum itu, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menyebut peradaban Kristen Barat lebih unggul dari Islam. Pernyataan semacam itu jelas-jelas menyakiti hati kaum Muslimin. Namun demikian, kabar beralihnya keyakinan Cardilli dari Katolik ke Islam ketika itu justru menjadi ‘tamparan’ bagi Berlusconi dan dunia Barat.

Dalam sebuah wawancara dengan Saudi Gazette, Cardilli mengatakan tujuan awalnya mempelajari bahasa Arab–ketika masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Naples–adalah supaya bisa bekerja di bisnis perminyakan Arab. Namun, takdir malah mengantarkannya menjadi diplomat. Dan, tanpa disangka-sangka ilmu yang dipelajarinya di kampus dulu justru sangat membantunya dalam memahami Alquran dan ajaran Islam.

Cardilli mengaku, merasakan kesucian dan keagungan Alquran yang kerap dibacanya ketika masih memeluk agama Katolik.

Setelah membaca Alquran berkali-kali, saya menyadari bahwa Islam adalah agama yang benar dan lurus. Alquran sangat menakjubkan dan tak ada yang mampu meragukannya,” ungkap bapak dua anak itu lagi.

Sebelum menjadi Muslim, Cardilli diketahui kerap mengikuti kelas-kelas kajian Islam yang diselenggarakan oleh The Batha Center, sebuah lembaga yang berfokus pada program pembinaan calon mualaf.

Dia (Cardilli) sering mengikuti kelas kajian Alquran dan studi mengenai kebudayaan Islam,” ujar Direktur The Batha Center, Nouh bin Nasser, kepada kantor berita Prancis, AFP.

Nasser menjelaskan, Cardilli masuk Islam dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

“Tak ada paksaan sama sekali. Ia masuk Islam atas keinginannya sendiri. Apalagi, agama Islam memang tidak pernah memaksakan seseorang untuk menjadi Muslim,” imbuh Nouh.

Cardilli bukan satu-satunya diplomat Italia yang masuk Islam. Pada pengujung 1988 Mario Scialoja sempat mengejutkan publik Italia atas keputusannya menjadi mualaf. Ketika itu, Scialoja tengah ditugaskan sebagai perwakilan permanen Italia untuk PBB di New York. Ia kemudian dikirim ke Arab Saudi sebagai Dubes Italia pada 1994-1995. Pada tahun 20112 Scialoja diangkat sebagai ketua Pusat Kebudayaan Islam Italia.

Dengan begitu, Cardilli tercatat sebagai mualaf Italia kedua yang pernah memegang jabatan dubes di Arab Saudi.

Sebaliknya, menurut keterangan Kedutaan Besar Arab Saudi di Roma, tidak ada satu pun dubes Saudi di Italia yang pernah berpindah keyakinan dari Islam ke Katolik,” tulis CNN.

Menurut badan statistik Istat, jumlah populasi Muslim di Italia saat ini diperkirakan mencapai 1,7 juta jiwa. Sebanyak 20 ribu di antara mereka adalah mualaf, seperti halnya Cardilli. Dalam sembilan tahun terakhir, Islam mengalami pertumbuhan pesat di Italia. Pada 2006 lalu jumlah Muslim hanya 1,9 persen dari total penduduk Italia. Hari ini, angka tersebut naik menjadi 2,6 persen

Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 19 Mei 2018.
Vien AM.
Dicopy dari:
Advertisements

Read Full Post »

Kisah ini adalah kisah nyata seorang mualaf keturunan Tionghoa yang diuji keimanannya oleh Allah Azza wa Jalla dengan ujian yang maha berat. Kisah ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2006 oleh Retno ( nama samaran), seorang mahasiswi arsitektur sebuah universitas, atas izin yang bersangkutan. Sengaja saya menuliskannya kembali dalam versi lebih ringkas agar tidak terlalu bertele-tele. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya, terutama bagi yang lahir sebagai Muslim tapi sering kali kurang mensyukuri nikmat ke-Islam-an tersebut. Na’uzubillah bin dzalik …

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):214).

                                                            **********

masjid-jami-pontianakSuatu hari Retno mendapat tugas dari kampus untuk mendampingi seorang mahasiswi arsitektur sebuah universitas di Australia yang ingin membuat penelitian terhadap masjid tertua di sebuah kota di Kalimantan Barat. Masjid kuno ber-arsitektur Melayu tersebut memang sering kedatangan tamu mancanegara.

Setiba di masjid, mereka disambut seorang pak tua yang telat bertahun-tahun bertugas sebagai penjaga masjid. Ialah yang biasanya menerangkan sejarah masjid kepada tamu-tamu yang datang. Tugas Retno adalah menterjemahkan apa yang dikatakan pak tua kepada tamunya.

Tapi ntah mengapa tamunya itu tampak kurang puas dengan hasil terjemahan Retno. Retno sempat panik melihat reaksi tamunya. Dalam keadaan seperti itulah ia melihat seorang ibu muda berpenampilan amat sangat sederhana yang sejak awal hanya duduk dan memperhatikan mereka, tiba-tiba datang mendekat. Tanpa disangka, ibu muda dengan jilbab menutupi sebagian wajah dan matanya yang sipit itu menawarkan diri untuk membantunya.

Dan tak lama kemudian ibu tersebut sudah asik menerangkan sejarah masjid dalam Bahasa Inggris yang sangat fasih. Retno tentu saja lega mendengarnya. Tapi ia tetap penasaran siapa sebenarnya perempuan tersebut. Apalagi ketika ia mendengar pengakuan bahwa ibu muda tersebut pernah kuliah di negri tamunya itu, yaitu Australia.

Alhasil, usai kunjungan Retno mengatakan akan kembali menemui sang ibu muda, yang memperkenalkan diri dengan nama Mawar tersebut. Beberapa hari kemudian Retno datang memenuhi janjinya.

                                                                     **********

Mawar adalah seorang gadis yang keturunan Tionghoa yang hidup dalam kemewahan. Ia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Kedua orang-tuanya adalah pengusaha super sukses yang saking kaya rayanya sering khawatir bila mereka meninggal tak ada yang dapat menjaga kekayaan dan meneruskan usaha mereka. Itu sebabnya ketika mereka bepergian bersama dengan menggunakan pesawat terbang, mereka memilih untuk terbang secara terpisah. Dengan tujuan bila terjadi musibah tidak semua mengalaminya.

Mawar melewati pendidikan dasar hingga SMA di kota kelahirannya dengan penuh kebahagiaan. Ia bersekolah di sekolah swasta bergengsi yang murid-muridnya kebanyakan anak pejabat dan pengusaha kaya. Namun demikian Mawar bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka.

Hal paling berkesan pada masa sekolah menurut Mawar adalah pelajaran agama Islam meski ia seorang non Muslim. Kebetulan sekolahnya memberikan murid kebebasan untuk mengikuti pelajaran agama yang bukan agamanya sendiri. Ia sangat menikmati pelajaran tersebut. Ia bahkan selalu mencatat apa yang didengarnya dengan rapi. Pernah suatu hari ia ketakutan karena ibu guru agamanya tiba-tiba datang mendekatinya.  Ketika itu ia sedang mencatat tata cara pelaksaan haji. Namun ternyata ibu gurunya tersebut hanya tersenyum sambil berkata :” Semoga suatu hari nanti kamu bisa berhaji bersama ibumu”. Maka sejak hubungan keduanya menjadi sangat akrab, layaknya ibu dan anak.

Ketertarikan Mawar terhadap Islam tidak hanya sebatas di sekolah. Di rumah, ketika ia sendirian, karena kedua kakak lelakinya sekolah di luar negri, sementara kedua orang tuanya lebih sering di Jakarta mengurus usaha mereka yang makin hari makin maju saja, Mawar sering mendengarkan lantunan bacaan Al-Quran yang disiarkan di televisi. Ia juga sering merasa sendu ketika mendengar suara adzan dikumandangkan.

Bahkan memasuki usia remaja ketika teman-teman sebayanya sibuk berpacaran, ia selalu membayangkan kekasihnya adalah seorang asli pribumi Muslim yang taat beragama. Bayangan lelaki dengan wajah yang basah karena air wudhu selalu membuatnya terkesan.

Lulus SMA, Mawar melanjutkan sekolah ke Australia, kemudian ke Amerika Serikat menyusul kakak-kakaknya. Setelah 5 tahun berlalu Mawar kembali ke kota kelahiran dengan membawa predikat master dalam bidang ekonomi dan keuangan. Iapun lalu bekerja di perusahaan milik orang-tuanya, dengan gaji standard yang tidak seberapa. Namun di luar itu, secara rutin ia masih menerima jatah bulanan dari orang-tuanya yang besarya 20 x lipat gajinya.

Sebagai gadis dewasa pertengahan 20 tahun-an, dengan penampilan menarik, tinggi, kulit putih lazimnya gadis Tionghoa, ditambah kekayaan yang tak terkira, tak heran bila banyak lelaki mengincarnya. Namun impian masa remajanya yaitu pemuda pribumi Muslim yang taat, tidak dapat terhapus begitu saja. Itu sebabnya Mawar bertahan untuk tetap melajang.

Hingga suatu hari, datang seorang pemuda sesuai impiannya, di perusahaan tempat ia bekerja. Pemuda tersebut berasal dari Jawa, Fariz namanya. Mawar tidak bisa menipu hatinya bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi ketika suatu hari, ketika keduanya harus berada dalam satu mobil karena urusan pekerjaan, ia melihat Fariz minta izin mampir sebentar di masjid untuk shalat.  Beberapa kali ia berusaha menarik perhatian pemuda yang terlihat cuwek tersebut.

Singkat cerita keduanya menjadi dekat. Setahun berlalu namun tak pernah sekalipun Fariz menyatakan cintanya terhadap Mawar. Mawar dapat memakluminya, karena mereka memang berlainan status, etnis dan agama.

Hingga suatu hari Fariz mengajaknya bertemu di suatu tempat. Disanalah ia menyatakan cintanya. Mawar tentu saja langsung menyambutnya. Ia bahkan berjanji akan memeluk Islam, karena sejak lama ia sudah tertarik dengan ajaran tersebut. Fariz menangis haru mendengar hal tersebut, dan berjanji akan mengajarinya tentang Islam. Mawar makin yakin bahwa pemuda tersebut adalah calon suaminya, soul matenya.

Secara diam-diam akhirnya merekapun berpacaran. Di kantor mereka berusaha menutupi hubungan tersebut. Sedikit demi sedikit Fariz mengajari Mawar shalat dan menghafal bacaan-bacaan pendek.  Satu hal yang sangat dikagumi Mawar, dengan sopan, Fariz selalu menolak ajakan Mawar untuk bermesraan. “Sabarlah, semua ada waktunya”, begitu Fariz selalu berujar.

Hingga pada suatu hari tiba-tiba ayahnya mendatangi meja kerja Mawar. Padahal selama ini bila ada keperluan Mawarlah yang dipanggil datang ke ruang kerja ayahnya, yang merangkap sebagai boss sekaligus  owner perusahaan.

Awalnya ayahnya hanya berbasa-basi menanyakan pekerjaan Mawar. Namun lama kelamaan ayahnya berusaha mengorek hubungan rahasianya dengan sang pujaan hati yang rupanya sudah mulai terendus di lingkungan kantornya. Mawar tak kuasa menjawab pertanyaan ayahnya. Ia tidak sanggup untuk berbohong, sebaliknya bila ia mengakuinya, ia khawatir Fariz akan kehilangan pekerjaan. Akhirnya ia hanya menangis. Maka tanpa berkata sepatah katapun ayahnya meninggalkannya.

Keesokan harinya Mawar mendapati meja kerja Fariz kosong. Teman-temannya mengatakan bahwa Fariz dipindahkan ke Jawa. Mawar sangat terpukul tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Seminggu kemudian Fariz menelponnya, mengatakan bahwa ia telah dipindahkan. Dengan sedih, pemuda tersebut menceritakan bahwa nyaris semua orang di kantor menggunjingkannya memacari Mawar karena mengincar kekayaan sang ayah yang tak lain boss mereka.  Fariz bersumpah bahwa hal tersebut tidak benar, ia benar-benar mencintai Mawar. Itu sebabnya Fariz memutuskan keluar dari perusahaan, dan berjanji akan mencari pekerjaaan di kota kelahiran Mawar agar tetap dapat berhubungan dengannya.

Fariz tidak memungkiri janjinya. Atas kehendak Allah swt, tiga bulan kemudian ia mendapat pekerjaan di kota tersebut. Maka jalinan asmara keduanya kembali berlanjut, kali ini secara terang-terangan. Karena sekarang Fariz merasa tidak perlu khawatir kehilangan pekerjaan. Namun rupanya kedua orang-tua Mawar tidak dapat menerima hal tersebut. Mereka merasa curiga bahwa anak gadis mereka tidak hanya sekedar jatuh cinta kepada Fariz, namun juga kepada Islam ! Hal yang sama sekali tidak dapat mereka terima.

Dengan berbagai cara mereka membujuk putrinya itu agar mau meninggalkan Fariz. Hingga akhirnya mereka benar-benar murka dan kehabisan kesabaran ketika Mawar menjawab dengan tegar bahwa ia sudah cukup dewasa dan bisa memilih mana yang terbaik baginya. Mawarpun mulai dikucilkan, ia tidak diajak bicara bahkan tidak diajak makan bersama keluarga. Ia baru dipanggil pembantu untuk makan setelah semua anggota keluarga selesai makan dan meninggalkan tempat, dengan lauk pauk sisa seadanya tanpa pembantu boleh menambahnya. Sakit hati Mawar menjalaninya namun ia tetap teguh pada pendiriannya. Ia malah makin semangat mempelajari Islam.

Berkali-kali kedua-orang tua Mawar mengingatkan bahwa kalau tidak karena jerih payah mereka Mawar tidak mungkin bisa hidup enak seperti sekarang ini, dimana semua fasilitas kenikmatan bisa ia dapatkan. Hampir setiap hari Mawar bersitegang dengan kedua orang-tuanya. Dan semua itu tidak lepas dari pengamatan Fariz. Akhirnya Fariz menganjurkan Mawar agar berbicara baik-baik dan menerangkan keinginannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka menuduh putrinya itu telah terkena guna-guna.

Mereka bahkan akhirnya menantang Mawar untuk meninggalkan semua fasilitas yang mereka berikan kalau ia tetap berkeras pada pendiriannya. Mawar menyadari bahwa cepat atau lambat ia memang harus memilih salah satu darinya. Akhirnya iapun menyerahkan semua pemberian orang-tuanya termasuk semua tabungan dan perhiasannya. Sayang ia lupa menyelamatkan ijazah kuliah, sementara kedua orang-tua yang dikasihinya itu justru sengaja menahan ijazah tersebut. Tapi tekad Mawar sudah bulat, ia tidak mau kembali.

Selanjutnya Mawar tinggal di kosan dekat kantornya. Namun tak lama kemudian setelah gajinya tak diberikan perusahaan, pertahanan Mawarpun jebol. Ia mengadu kepada Fariz yang selama ini selalu memintanya untuk sabar dan taat kepada orang-tua. Gadis itu memohon kepada Fariz selaku satu-satunya pelindungnya, agar mau membimbingnya memeluk Islam dan segera menikahinya.

Mawarpun bersyahadat di masjid di kotanya, dan karena kebetulan Fariz akan dipindahkan ke kota kelahirannya di Jawa, merekapun pindah ke Jawa dan menikah di hadapan keluarga besar Fariz.

Empat tahun berlalu. Pasangan muda tersebut telah dikarunia seorang anak lelaki berusia tiga tahun. Selama itu Mawar hidup bahagia sebagai ibu rumah tangga yang senantiasa berusaha berbakti dan menyenangkan suami. Fariz sempat beberapa kali menyuruh Mawar menghubungi kedua orang-tuanya untuk bersilaturahmi. Namun mereka tidak menanggapinya. Hingga suatu hari Allah swt berkehendak lain. Fariz terkena Demam Berdarah dan meninggal dunia.

Mawar sangat terpukul dan berusaha terus bertahan. Namun akhirnya ia tidak tahan melihat semua hal yang mengingatkannya pada sang suami tercinta. Rumah dan motor yang dibeli Fariz beberapa saat sebelum meninggal dijualnya. Selama beberapa bulan ia mengungsi ke rumah mertuanya.  Namun akhirnya Mawar memutuskan bahwa ia harus mandiri. Bersama anaknya ia terbang kembali ke kota kelahirannya.

Di kota tersebut Mawar berusaha memulai babak baru kehidupannya. Ia mengontrak rumah dan membuka warung kecil-kecilan di bagian depan rumahnya. Namun itupun tak lama karena kemudian usahanya bangkrut. Akhirnya ia benar-benar tidak punya uang sepeserpun. Sempat terpikir untuk kembali ke  rumah orang-tuanya namun cepat dibatalkannya karena tidak ingin jadi bahan ejekan.

“Kadangkala aku sering bertanya pada Allah, apakah karena aku mualaf sehingga Allah kurang percaya dengan keimananku, sehingga perlu mengujinya dengan ujian yang amat berat?”, bisik Mawar,  lirih.

Dalam keadaan setengah putus-asa tiba-tiba Mawar teringat masjid tempat ia dulu berikrar. Disana dulu aku memulai jalan hidupku, seandainya harus berakhir, aku ingin pula mengakhirinya di tempat mulai tersebut, begitu pikir Mawar. Segera iapun menuju masjid tersebut lalu shalat dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Ia menangis sesenggukan memikirkan nasib anaknya yang terlunta-lunta. Rupanya tangisan tersebut didengar sang imam masjid yang dulu membimbingnya berikrar. Setelah bercerita panjang lebarnya pak imam menawarkan sebuah bekas gudang berukuran 2×2 m yang ada di samping masjid untuk ia tempati.

Mawar sangat berterima-kasih atas kebaikan imam tersebut. Sebagai imbalannya dengan ikhlas setiap hari Mawar membantu pak tua yang menjaga masjid tersebut dengan membersihkan halaman dan kaca-kaca jendela masjid. Mawar bersyukur hidupmya sekarang tenang. Ketika hatinya gundah dengan mudah ia bisa masuk masjid, shalat lalu mengadukan nasibnya kepada Sang Khalik.

Ia juga sering diminta istri pak imam membantu pekerjaan rumah tangga dengan sedikit imbalan. Anaknya bahkan tanpa terasa sudah sekolah di yayasan masjid tersebut tanpa sedikitpun ditarik iuran. Hal tersebut berlangsung selama kurang lebih 2 tahun.

Hingga suatu hari datang dua orang yang sangat dikenalnya. Mereka adalah pengacara keluarga sekaligus perusahaan orang-tuanya. Rupanya selama ini ayah dan ibunya tahu bahwa Mawar tinggal di masjid tersebut.

Mereka datang dengan membawa sebuah amplop besar berisi surat-surat berharga termasuk buku bank, ijazah kuliah, dan semua miliknya yang dulu ia kembalikan kepada orang-tuanya. Mawar sempat terkejut dan merasa bahagia karena akhirnya mereka mau menerimanya kembali.

“ Tapi dengan satu syarat”, kata tante Grace, lirih.

“ Kedua orang-tuamu menghendaki kau kembali ke keyakinan keluargamu”, sambung om Albert dengan suara bergetar, melihat tante Grace tidak sanggup meneruskan kata-katanya sendiri. Air mata nyaris keluar dari ujung kelopak matanya.

Mawar terhenyak. Ternyata perkiraannya salah. Mereka masih seperti dulu. Dengan sopan Mawar menjawab bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Tante Grace dan om Albert segera meminta maaf atas ketidak-nyamanan tersebut. Mawar mengerti mereka hanya menjalankan tugas. Keduanyapun lalu pamit.

Namun tak lama setelah itu mereka kembali lagi. Mawar mengira mereka masih ingin berusaha membujuknya.

“ Maafkan kami Mawar. Hanya ini yang dapat kami lakukan. Semoga bisa cukup membantumu”,    ujar tante Grace sambil menyerahkan foto copy ijazah masternya.

Alangkah leganya Mawar mendengar itu. “ Alhamdulillah”, bisiknya.

Mawar merasa sedang dimanjakan oleh Tuhannya yang selama ini telah mengujinya dengan ujian yang maha berat. Ia dapat merasakan betapa “tangan” tersebut sedang menuntunnya menuju jalan yang terang. Allahu Akbar ….

Mawar segera mengucapkan trima-kasih yang tak terhingga kepada keduanya. Ia tahu bahwa mereka sedang mempertaruhkan pekerjaan mereka. Pasti orang-tuanya bakal marah besar kalau sampai tahu apa yang telah mereka lakukan.

                                                        *********

 “Bu Mawar, kebetulan rektorat tempat saya kuliah sedang membutuhkan beberapa tenaga honorer. Cobalah membuat surat lamaran dengan melampirkan ijazah ibu. Saya akan sampaikan sendiri ke bagian administrasi. Saya yakin dengan latar pendidikan ibu pasti ibu akan ditrima bekerja di sana”, ujar Retno, beberapa hari setelah ia berhasil mengorek Mawar agar membuka rahasia dan menceritakan kisah perjalanannya. Gadis itu tersentuh untuk segera menolong Mawar keluar dari kesulitan hidupnya.

Mawar benar-benar bersyukur atas jalan terang yang diberikan padanya. Ia yakin bahwa itu adalah pertolongan Allah swt atas kesabarannya selama ini.

Dan benar saja, setelah melalui beberapa prosedur Mawarpun ditrima bekerja. Bahkan tidak sampai satu tahun Mawar telah diangkat sebagai pegawai tetap. Ia juga sering diminta untuk membantu menterjemahkan  litelatur2 asing untuk dipergunakan para mahasiswa.

Tak lama setelah bekerja Mawar pamitan kepada pak imam yang telah berbaik hati mau menampungnya di masjid. Sebelum meninggalkan masjid ia sempatkan shalat di dalamnya, lalu memandangi kamar yang selama 2 tahun ditinggalinya itu. Selanjutnya Mawar membawa putranya pindah ke rumah kontrakan. Di waktu luang ia ajak putranya berkeliling kota dengan motor yang dibelinya. Tak jarang ia melewati depan rumah orang-tuanya dengan harapan suatu hari nanti mereka mau membuka hati untuknya, atau minimal mau menerima putranya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…. “. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):286).

Saat ini bu Mawar mungkin telah berusia 46 atau 47 tahun. Semoga Allah swt senantiasa melindunginya dan semoga bu Mawar mampu istiqamah menjalani kehidupannya hingga akhir hayatnya nanti, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Sebuah pelajaran yang amat sangat berharga, betapa kekayaan dan kesuksesan bukanlah apa-apa dibanding dengan nilai sebuah keimanan. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Januari 2018.

Vien AM.

Disarikan dari : https://menyentuhhati.com/2016/02/12/kisah-nyata-paling-sedih-dari-wanita-mualaf-keturunan-china/comment-page-1/

Read Full Post »

Bos-Maspion-Herman-HalimMendapatkan ketenangan dan kebahagiaan setelah menjadi muslim. Inilah yang dirasakan Herman Halim, Direktur Utama Bank Maspion yang menyandang status mualaf sejak 2004 lalu. Banyak berkah yang didapat setelah hijrahnya dari keyakinan lama ke ajaran Islam.

Arek Suroboyo bernama asli Lim Xiao Ming kelahiran 1953 ini menyatakan, peralihannya menjadi seorang muslim, bukan tanpa sebab. Ada satu contoh yang sangat nyata yang terjadi di depan matanya, yaitu perubahan sikap total dari putra bungsunya, Andrew, yang sejak kecil hidup dan tinggal di Australia. “Kami berjauhan sejak lama. Dia di sana dengan kakak dan mamanya, sementara saya di sini.”

“Namun, saya berkomunikasi intens dengan dia meski kami hanya melakukannya dengan ngobrol di telepon atau ketemu dua-tiga kali setahun kalau saya ke Australia,” ujar bankir bersahaja.

Dia mengaku, meski berjauhan dan jarang bertemu, hubungannya dengan keduanya tidak ubahnya seperti teman main bola yang baru saja memenangkan pertandingan. Selalu seru dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Dari curhat-curhatan yang demikian hangat, sebagai seorang ayah, Herman Halim mengetahui benar kondisi anaknya yang tinggal di Negeri Kanguru itu tidak baik.

Andrew yang saat itu beranjak remaja mulai sering bercerita, dia sering melakukan hal yang buruk. Mulai dari tawuran sampai minum-minuman keras dilakoninya. “Saya sudah merasa khawatir juga dengan sikap anak saya yang masih berumur kurang dari 15 tahun, tapi sudah ‘super nakal’ seperti itu.

Namun, saya juga bingung karena tidak punya pegangan. Apalagi, anak saya ini bukan tipe orang yang dibilangi jangan A terus tidak melakukan A. Dia harus mendapat jawaban yang pasti dan argumentasi yang kuat untuk bisa diyakinkan,” ungkapnya.

Karena kesupernakalan ini pula Herman sempat pesimistis dengan masa depan sang anak. Dari beberapa kali percakapan lewat telepon, Andrew menyatakan sudah tidak berminat meneruskan pendidikannya. Andrew tidak ingin masuk ke sekolah setingkat SMA, apalagi kuliah. Tujuan hidupnya juga tidak jelas.

Beruntung, meski memiliki sikap keras, Andrew dan kakaknya adalah anak supel dan tidak mau hanya berkutat dengan teman-temannya sesama orang Indonesia di Australia. Karena mudah bergaul ini, Andrew mendapatkan banyak teman. Mulai dari anak-anak Australia tulen, sampai rekan-rekan perantau dari Singapura, HongKong, Malaysia, Eropa, bahkan dari negara-negara Timur Tengah seperti Iran, Irak, Lebanon, dan beberapa negara Islam lainnya.

Herman menuturkan, saat bergaul dengan banyak teman ini, Andrew sering diajak beribadah di beberapa agama secara bergantian oleh kawan-kawannya. Kadang ke Gereja, hari lain dia ke tempat pemujaan agama lain. Sampai suatu hari pada 2000, Andrew menelepon sang ayah dan menyatakan akan memeluk agama Islam.

“Saat itu saya terkejut juga waktu dia bilang, Pa, aku mau memeluk Islam’. Karena perangainya yang harus yakin benar untuk bisa berbuat sesuatu, saya tidak bertanya banyak soal niatnya itu. Saya hanya nanya apa you yakin mau jadi muslim? Dia jawab, yakin,” ujarnya.

Pertanyaan selanjutnya, tentu saja adalah alasan bungsu supernakalnya tersebut untuk memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu. Tak disangka, sang anak bisa memberikan jawaban yang rasional. “Dia bilang sudah baca kitab-kitab agama-agama lain. Menurut dia, semuanya bagus-bagus, tidak ada yang buruk. Namun, saat akan menyampaikan ke oranglain, dia bilang susah. Beda dengan ajaran Islam, kata dia, lebih mudah disampaikan,” ungkapnya.

Yang mengejutkan, setelah memeluk Islam, Andrew yang dulu begitu suka berkelahi dan membuat onar bisa berubah 180 derajat. Sikapnya sangat santun, lembut, dan alim. Takzim Andrew kepada ayahnya terasa kental setiap kali pertemuan atau saling sapa lewat telepon. Andrew bahkan mengungkapkan niatnya untuk terus sekolah hingga jenjang perguruan tinggi, yang saat ini sudah dibuktikan dengan kelulusannya sebagai sarjana Accounting dari University Murdoch Australia.

Perubahan sikap sang putra membuat Herman Halim penasaran dengan ajaran Islam. Lalu ia mulai mencari berbagai referensi dan berdiskusi dengan putranya soal Islam. “Tadinya, bertahun-tahun keyakinan saya tidak jelas. Kadang jadi seorang pemeluk Budha, kadang jadi Nasrani, kadang Hindu. Kemudian saya belajar soal Islam dan menemukan kesejukan di sana,” ujarnya.

Pada 2004, Halim resmi menjadi seorang muslim. Saat itu keluarga dan kerabatnya terkaget-kaget. Dalam ingatannya, pada tahun-tahun pertama menjadi mualaf, berkali-kali ia mendapat kecaman dan kritik dari kawan-kawannya yang nonmuslim. la juga berulang-ulang ditarik untuk kembali ke ajaran-ajaran yang sebelumnya ia peluk.

Apalagi, saat itu kondisi umat Islam menurutnya sedang berada di titik nadir, yaitu benar-benar terpojok oleh situasi keamanan global dari maraknya terorisme seperti pada peristiwa 11 September di NewYork dan rangkaian ledakan bom di Bali.

“Karena itu, banyak kerabat yang khawatir dengan keislaman saya. Ada yang khawatir saya dicekal kalau mau ke Amerika atau dari sini sudah tidak diberi paspor sehingga tidak bisa bepergian ke luar negeri, sementara pekerjaan saya membutuhkan itu,” ucapnya merunut cerita.

Ia tetap yakin memeluk agama Islam. Sebab, dari beberapa pengalaman, ada keajaiban setelah ia menjadi muslim. Salah satunya saat grup usaha Maspion didera persoalan pada 2005. Bank Maspion yang sebenarnya tidak memiliki sangkut paut, mau tidak mau ikut merasakan kegelisahan. “Waktu itu dengan keyakinan kalau memang kami tidak bermasalah pasti akan datang pertolongan dari Allah dan kondisi akan kembali normal. Terbukti, bank terhindar dari masalah. Herannya, waktu itu saya bisa mendapat dukungan dari semua pihak dan saya kok ya bisa mempersatukan pandangan karyawan saya yang saat itu juga panik,” ungkapnya lagi.

Belum berhenti di sini. Setelah memeluk Islam, Herman juga menemukan berkah yang luar biasa. Ini dirasakannya dua tahun pasca memeluk Islam, yaitu bertemu dengan wanita cantik yang kemudian di persuntingnya pada 2006. “Karena sudah merasakan tidak enak jadi duda, saat bertemu wanita yang cocok, langsung saya pinang. Wanita ini 24 tahun lebih muda dari saya, tapi baik hati dan sangat sabar kepada saya. Dan yang membuat saya lebih percaya kebesaran Allah adalah kesediaan dia untuk beralih dari agamanya yang dulu dan menjadi seorang muslimah. Saya benar-benar mendapatkan kebahagiaan atas izin Allah,” ungkapWakil Ketua II Yayasan Masjid Cheng Hoo Surabaya ini.

Satu lagi yang membuat Herman Halim semakin mantap memeluk Islam, yaitu adanya kesetaraan dalam melihat derajat manusia. “Ini paling terasa kalau masuk masjid. Rasanya sejuk karena kita yang beda profesi, beda rezeki, bisa sejajar. Yang bos, tukang becak, bakul dawet, posisinya sama, terutama saat mengerjakan salat,” tuturnya. Karena itulah, pada Ramadan tahun keempatnya kali ini ia benar-benar berusaha berpuasa satu bulan penuh, mengulangi rekornya pada Ramadan tahun lalu. Ia mengaku, di tahun pertama dan keduanya menjadi mualaf, puasa adalah hal yang paling berat. “Jadi, waktu itu masih bolong-bolong, kalau sekarang insya Allah penuh,” ucapnya ungguh-sungguh.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Juni 2017.

Vien AM.

Di copas dari : http://www.kompasiana.com/bara-biri-buru/anak-badungnya-memilih-islam-sang-ayah-mengikutinya-pula-herman-halim-direktur_552a2f87f17e619268d62415

Read Full Post »

Arisa mualaf JepangNamaku Arisa. Sejak awal aku ingin belajar bahasa asing yang tidak banyak dikenal oleh orang Jepang. Pada April 2011, aku pun memilih universitas terbaik di Jepang untuk belajar bahasa asing dan budayanya. Sayangnya, aku saat itu masih bingung bahasa dan budaya asing mana yang ingin kupelajari. Syukurlah, ibuku memberiku masukan untuk mempelajari bahasa Malaysia.

Awalnya, usul tersebut sangat mengejutkanku. Aku tidak menyangka ibuku memunyai ketertarikan terhadap bahasa Malaysia. Tak menunggu lama, aku langsung jatuh cinta terhadap bahasa Melayu yang satu ini. Karena belum bisa pergi ke luar negeri, kumaksimalkan saja belajarku di negeri sendiri agar menjadi yang nomor satu di studi bahasa Malaysia.

April 2012, tepat setahun setelah belajar bahasa Malaysia, aku masih saja menemukan kata-kata yang sulit kupahami di dalamnya. Sepertinya kata-kata itu ada hubungannya dengan Islam. Jadilah aku mengambil studi Islam untuk membuatku semakin paham bahasa Malaysia.

Februari 2014 adalah momen ketika aku pertama kali masuk masjid dan memakai hijab. Saat itu teman-teman dari Malaysia mengundangku untuk hadir di masjid Tokyo Camii. Dan itulah pertama kalinya aku menyaksikan teman-temanku melakukan gerakan yang bernama salat. Apa yang kulihat itu sempat membuatku shock. Meskipun aku belajar Islam selama 2 tahun, tapi ternyata aku merasa belum tahu apa-apa tentang Islam. Misalnya saja, keherananku tentang salat dan waktunya yang 5 kali sehari. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa mereka melakukannya.

…aku suka memakai pakaian yang seksi ketika bepergian. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ingin berpakaian lebih tertutup sejak saat itu. Ada keinginan supaya lebih dihormati dan dikenal aku apa adanya, bukan karena penampilan saja…

Baiklah, itu semua untuk Allah. Inilah jawaban yang sering aku terima. Tetapi tetap, mengapa mereka ingin melakukan itu semua?

Ini juga merupakan momen aku memakai hijab pertama kali. Mengapa? Karena teman-teman Malaysia memberiku hijab sehingga aku pun memakainya. Saat itu aku merasa bahagia dan lega. Memang sih, aku suka memakai pakaian yang seksi ketika bepergian. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ingin berpakaian lebih tertutup sejak saat itu. Ada keinginan supaya lebih dihormati dan dikenal aku apa adanya, bukan karena penampilan saja.

Agustus 2014 aku memutuskan untuk belajar Islam di Malaysia selama satu bulan. Aku pun menginap di rumah salah satu teman dari Malaysia. Banyak hal yang bisa kupelajari dari perjalananku kali ini. Aku pun mencoba ‘tantangan 1 bulan’ yaitu berhijab dan menutup auratku dengan sempurna setiap hari selama 1 bulan. Kadang aku merasa kegerahan dan merasa tak kuat dengan panasnya. Tapi anehnya, di dalam hatiku rasanya begitu bahagia yang membuncah.

Aku juga mulai salat setiap hari dan mencoba menghapal doa Iftitah, tahiyat awal dan akhir. Kalau untuk surat Al Fatihah aku sudah hapal karena sebelum datang ke Malaysia, aku sudah menghapalnya dibantu oleh Hpku setiap malam. Alhamdulillah banyak orang yang mendoakanku. Tapi saat itu aku belum siap untuk mengucapkan syahadat sebagai sayarat sahnya seseorang masuk Islam. Aku masih memunyai begitu banyak masalah: keluarga, teman, pacar, dan pekerjaan. Yang penting aku percaya pada Allah dan mengucap syahadat dalam hati saja. Aku juga berdoa agar semua masalahku dimudahkanNya.

Tepat tanggal 17 Januari 2015, aku pun bersyahadat. Alhamdulillah. Semua berawal dari setelah membaca Al Quran dalam terjemahan bahasa Jepang, aku tak bisa berhenti menangis. Saat itulah kurasa hidayah menyapaku. Aku belum tahu bagaimana cara mengucapkan syahadat secara resmi supaya aku benar-benar menjadi seorang muslim. Aku pun langsung berangkat ke masjid tanpa tahu apakah aku bisa bersyahadat hari itu atau tidak.

Semua orang di masjid menyambutku dengan suka cita. Ada lebih dari 10 muslimah yang hadir di masjid untuk menyaksikan keislamanku. Prof. Misbah ur-Rahman Yousfi yang menuntunku bersyahadat. Setelah bersyahadat, aku memilih Nur Arisa Maryam sebagai nama hijrahku. Airmata tak henti mengalir tanda bahagia. Dan di malam itu pula, aku bisa mendirikan salat Isya dengan kondisi diriku sudah muslim untuk pertama kalinya.

Bila ada orang bertanya tentang aku yang sekarang, ya…hidupku banyak perubahan sejak aku masuk Islam. Sebelumya aku mudah marah dan merasa tidak nyaman bila sendirian tanpa ada yang menemani. Tapi sejak menjadi muslimah, aku lebih tenang karena selalu ada Allah yang menemani. Aku memang masih jauh dari sempurna, karena itu aku masih terus belajar tentang Islam. Tapi hingga di titik ini, tak ada yang bisa kuucapkan selain Alhamdulillah dan Allahu Akbar. (riafariana/thenewmuslim/voa-islam.com)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2017.

Vien AM.

Dicopas dari :

http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2016/01/02/41453/kisah-mualaf-arisa-dari-jepang-berawal-shock-melihat-muslim-salat-5-waktu/#sthash.oaKnQaWX.dpbs

Read Full Post »

… …  mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):97).

Ya ibadah haji adalah kewajiban bagi yang mengaku Muslim dan memiliki kemampuan untuk melakukannya. Kemampuan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukannya harus kaya raya dalam arti mempunyai harta yang berlimpah. Melainkan cukup memiliki biaya untuk mengadakan perjalanan pulang pergi ke tanah suci, biaya hidup selama disana dan biaya cukup bagi keluarga yang ditinggalkan selama yang bersangkutan berhaji. Serta yang utama dalam keadaan sehat sehingga ia mampu melakukan seluruh rentetan rukun dan wajib haji.

Haji adalah impian bagi seorang Muslim sejati. Puncaknya adalah wukuf di Arafah. Itulah saat dimana semua orang berkumpul dalam kedudukan yang sama di hadapan Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. Baik yang kaya maupun miskin, raja maupun rakyat biasa, lelaki maupun perempuan, tua maupun muda, apapun warna kulitnya, semua bersimpuh, rukuk dan sujud memohon ampunan dan ridho-Nya. Bagi seorang Muslim, hari-hari haji adalah hari-hari yang merupakan puncak spiritual yang sungguh tinggi nilainya dihadapan Sang Khalik. Pada hari itu para jamaah memandangi langit Arafah. Disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman kepada para malaikat:

Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihat-Ku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”.

Saat itu Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada hamba-hamba-Nya yang wuquf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka. Nabi Muhammad saw bersabda :

“ . . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ? “

Maka tak heran bila kita sering mendengar kisah seorang Muslim, dengan segala keterbatasannya, pergi menunaikan haji. Keterbatasan tersebut bermacam-macam, ada yang kurang mampu secara harta, ada yang secara fisik, dan ada juga yang dengan perjuangan berat dengan berbagai alasan. Perjalanan haji di jaman modern ini tidaklah begitu sulit dilakukan. Akan tetapi, tidak semua orang seberuntung itu, ada sebagian orang yang harus menempuh perjalanan berbulan-bulan untuk sampai ke Mekah. Berikut adalah diantara kisahnya :

1. Bulat Nassib Abdulla , seorang pemuda Rusia.

mualaf-rusia-berhaji-dng-bersepedaPada tanggal 8 September 2016, Bulat  Nassib Abdulla, seorang pemuda Rusia,  tiba di Makkah, setelah bersepeda menempuh jarak 6600 km dari tempat tinggalnya.  Ia diterima sebagai tamu kehormatan dan mendapat banyak penghargaan dari organisasi pramuka Saudi. Selain melakukan ibadah haji, pemuda berusia 24 tahun tersebut mendapatkan kehormatan bergabung dalam tim relawan yang bertugas melayani para jamaah dari berbagai negara. Pemuda tersebut dimasukkan ke dalam kloter peziarah Pramuka Hulaifah Saudi.

Bulat meninggalkan Rusia pada hari pertama Ramadhan, 6 Juni 2016. Setelah melewati beberapa negara seperti Azerbaizan, Yordania, Cyprus, Turki. Tiga bulan kemudian, akhirnya ia berhasil sampai di Madinah.

Haji diwajibkan untuk sekali dalam seumur hidup bagi semua umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahun Muslim di seluruh dunia mengunjungi Makkah untuk melakukan ibadah tersebut. Pada haji tahun 2016 ini, semoga Allah menerima ibadah haji dan doa kami serta melindungi kita dari setiap hal yang buruk,” ujarnya.

2. Mohammad, dari RRC.

muslim-cinaMohammad, demikian nama lelaki setengah baya yang melakukan perjalanan sejauh 8.150 kilometer dengan mengayuh sepeda dari rumahnya di provinsi Xinjiang menuju Arab Saudi. Setelah menempuh perjalanan 2 bulan, pada tanggal 21 Agustus 2016, tibalah Muhammad di tujuan.

Mohammad berkisah bahwa ia termasuk orang yang tak mampu membayar biaya berhaji secara normal. Namun hal tersebut tak membuatnya putus asa. Ia mengumpulkan bekal sebisanya, kemudian sebagai seorang yang terbiasa bersepeda iapun mengkomunikasikan perjalanan spektakulernya kepada komunitas sepeda di Arab Saudi. Alhasil, begitu ia sampai di kota Thaif, kota peristirahatan  tak jauh dari Makkah, ia pun disambut oleh kelompok bersepeda kota itu dan mengiringinya hingga ke Mekah.

Kami adalah klub sepeda pertama di Arab Saudi yang menyambut pesepeda Muslim Cina, dan kami berharap pada klub-klub sepeda lokal lainnya untuk dapat menerima Mohammad dengan hangat serta memperkenalkannya dengan kota-kota mereka,” kata Nayef Al Rawas, Ketua klub sepeda lokal di kota Taif.

3. Senad Hadzic dari Bosnia.

senadhadzic-haji-berjalankakiPada tahun 2012, demi mencapai impian melaksanakan haji, Senad Hadzic (47 tahun), berjalan kaki sejauh 5.900 km dari desanya di Bosnia menuju Mekah. Ia meninggalkan kota kelahirannya, Banovici, Bosnia, dan berjalan kaki sekitar 3.540 mil melintasi Bosnia, Serbia, Bulgaria, Turki, Suriah, Yordania dan Arab Saudi untuk akhirnya mencapai Mekah.

Saya berjalan atas nama Allah, untuk Islam, untuk Bosnia-Herzegovina, untuk orang tua saya, dan untuk kakak perempuan saya,” jelas Hadzic.

Berbekal ransel seberat 20 kg berisi peralatan hidup sekedarnya dan uang 200 euro di tangan, Hadzic memulai perjalanan spiritualnya. Bila ia lelah atau malam hari tiba ia istirahat dan tidur di masjid yang ditemuinya, atau di taman kota, dan kadang-kadang juga di jalanan. Namun demikian ia menyatakan perjalanannya yang berat itu terasa ringan begitu akhirnya ia tiba di Mekah : “Aku benar-benar sangat senang dan menurutku ini adalah tempat yang paling indah di dunia.”

4. Nathim Cairncross dan Imtiyaz Ahmad Haron, dari Cape Town

afrika-selatanPada tahun 2010, Nathim Cairncross (28) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25), dua orang pemuda dari Cape Town, Afrika Selatan mengayuh sepeda ke Arab Saudi untuk melakukan perjalanan haji.

“Mengayuh sepeda ke Arab Saudi dari Cape Town adalah pengalaman yang melelahkan. Kami memang berniat melakukan perjalanan haji dengan cara ini agar kami bisa merasakan sendiri kerasnya melakukan ibadah haji,” kata Cairncross, seorang pemuda yang berprofesi sebagai perencana tata kota.

Ketika ditanya mengapa mereka memilih untuk naik sepeda, Cairncross berkata: “Ini memberi kita banyak kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang dari negara yang berbeda. Selain itu, selama perjalanan kami bisa berdakwah di mana pun kami berhenti untuk menginap.”

5.Salim Moumou, seorang pemuda Perancis.

salim-moumou-eljeddahoui-monasPada tahun 2007, Salim Moumou, seorang mahasiswa Perancis berusia 25 tahun melakukan perjalanan sejauh 4800 km ke tanah suci dengan bersepeda. Ia memulai perjalanannya dari kota asalnya di Perancis. Ia melalui Belgia, Swiss dan Italia lalu dari Italia berlayar ke Turki. Ia mengakui bahwa perjalanan spiritual tersebut termotivasi oleh kisah kakeknya yang mengayuh sepeda mulai dari Suriah, Jordania, kemudian Arab Saudi.

Kakek saya butuh waktu enam bulan untuk sampai ke Mekah, saat itu kondisi untuk makan dan tidur masih sangat sulit. Saya ingin merasakan kondisi yang sama dan kesulitan yang sama.” katanya penuh semangat.

6. Dzhanar Aliyev Magomed Ali dari Chechnya.

dzhanar-aliyev-magomed-ali-monasMagomed Ali membutuhkan sekitar 10 minggu perjalanan dari Urus-Martan, sebuah desa kecil di Chechnya, ke kota suci Mekah di Arab Saudi. “Aku hanya takut kepada Allah, dan kemungkinan bahwa aku tidak akan sampai ke tujuan,” kata Magomed Ali setelah pulang dari perjalanan ibadah hajinya.

Magomed Ali bukanlah seorang yang masih muda namun semangat dan kemauannya yang begitu tinggi sangat patut diacungi jempol. Dalam usianya yang sudah 63 tahun, ia mencari pengalaman spiritual terbesar dalam hidupnya. Pada tahun 2007 dengan sepedanya yang sudah karatan, ia berhasil melakukan perjalanan sepanjang 12 ribu kilometer, dengan melintasi 13 negara untuk kemudian bergabung dengan hampir tiga juta Muslim dari seluruh dunia untuk melakukan ibadah haji.

Rupanya perjalanan tersebut adalah bentuk nazar Magomed kepada sang ibu, yaitu jika ada sedikit rezeki untuk bertamu ke Baitullah, maka dia ingin melakukannya lewat jalan darat.

7. Konvoi sepeda motor rombongan dari Malaysia.

Pada Mei 2014 serombongan calon jamaah dari Malaysia bersepeda motor dari Kuala Lumpur menuju Madinah. Rombongan berjumlah 12 orang ini berhasil memasuki tanah suci dengan mengendarai 8 sepeda motor dan satu mobil kecil,setelah melewati 12 negara dan mampir di 53 kota.

Pengalaman dua bulan di jalan nyaris tanpa kendala, kecuali ketika tiba di perbatasan antarnegara. Kedutaan Besar Malaysia di masing-masing negara transit harus selalu turun tangan untuk membantu memfasilitasi perjalanan mereka. “Kebanyakan soal prosedur perbatasan saja,” kata mereka.

Perjalanan spiritual dengan cara konvoi sepeda motor yang dilakukan rombongan ini adalah untuk yang ke 3 kalinya.

Tentu masih banyak lagi kisah perjalanan haji mereka yang berangkat tidak secara yang biasa kita dengar.  Bahkan saking menggebunya tidak jarang calon jamaah nekad melakukan perjalanan tanpa izin resmi. Choiron Nasichin, adalah salah satu contohnya. Pada tahun 1992, lelaki asal Jombang Indonesia ini nekad menyusup ke dalam pesawat jamaah haji yang berangkat dari bandara Juanda Surabaya. Aksinya baru ketahuan menjelang pesawat turun di bandara King Abdul Aziz Jedah, hingga akhirnya terpaksa dipulangkan ke tanah air. Namun demikian perbuatan kurang baik yang dilandasi keinginan yang begitu tinggi agar bisa beribadah di rumah-Nya ini berbuah menyenangkan. Dua kali ia dibiayai seseorang untuk berhaji, yaitu pada tahun 1994 dan 2005. Allahu Akbar …

Sementara dari Pakistan dilaporkan satu kelompok yang tidak memiliki izin resmi berhasil memasuki  pegunungan Taif yang terletak 80 km dari Mekkah. Mereka ini bahkan tak memakai alas kaki dan bekal yang cukup. Dan kalau kita perhatikan di sana memang banyak sekali jamaah yang keadaannya demikian, terutama dari Pakistan dan India.

Jadi sungguh aneh bila di zaman modern ini masih saja ada orang yang mengaku Muslim tapi dengan berbagai alasan enggan menjalankan rukun Islam ke 5 ini padahal ia mampu melakukannya. Apa sebenarnya yang menghalanginya???

Semoga kisah perjuangan para jamaah haji di atas mampu menggerakkan hati mereka yang belum ingin pergi haji segera melakukannya, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Desember 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

thomas-j-abercrombie-_mualafasSiang itu bertepatan dengan hari Jumat. Di sebuah masjid di Kota Alma-Ata (Almaty), Kazakhstan, keramaian masih tampak, padahal waktu shalat Jumat telah berlalu. Di salah satu sudut bangunan masjid, seorang pria paruh baya tampak duduk bersila dikelilingi oleh para jamaah.

Laki-laki itu sedang menceritakan pengalamannya saat menunaikan ibadah haji. Sesekali ia menunjukkan koleksi fotonya saat di Tanah Suci kepada jamaah yang mengerumuninya.

Jamaah yang mengelilinginya tampak terharu mendengar kisah perjalanan pria itu saat menunaikan rukun Islam kelima. Melihat foto-foto Ka’bah, Masjidil Haram, dan orang-orang yang tawaf, banyak dari jamaah masjid itu yang menitikan air matanya. Mereka berharap mendapatkan berkah dari seorang haji agar memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Itulah sepenggal kisah yang dialami Thomas J Abercrombie saat berkunjung ke negara pecahan Uni Sovyet tersebut pada 1972. Tom, begitu pria itu akrab disapa, adalah seorang jurnalis foto majalahNational Geographic.

Ia pernah menunaikan ibadah haji dan mempunyai koleksi beberapa foto tentang Makkah dan pelaksanaan ibadah haji. Seperempat juta Muslim mengelilingi Ka’bah untuk berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Efek buram pada foto orang-orang yang mengelilingi Ka’bah tepat di tengah menciptakan bayangan tentang gerakan kosmis,”
tulis Abercrombie dalam artikelnya “The Sword and the Sermon”, yang menceritakan mengenai kisah pengalaman pertamanya saat menunaikan ibadah haji.

Thomas J Abercrombie dilahirkan di Kota Stillwater, negara bagian Minnesota, Amerika Serikat pada 13 Agustus 1930. Ia tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga kelas menengah di Negeri Paman Sam. Keluarganya adalah pemeluk Kristen. Sebagian besar hidupnya ia habiskan di Minnesota.

Ketertarikan Tom terhadap dunia fotografi dimulai ketika menginjak remaja, yakni 15 tahun. Saat itu, ia tengah menemani kakak laki-lakinya, Bruce, menyaksikan parade Hari Penebang di pusat kota Stillwater.

Di tengah keramaian parade, ia melihat seorang bocah laki-laki berdiri di tepi jalan sedang mengambar wajah para gadis yang tengah ikut berparade. Menyaksikan pemandangan tersebut, keinginan untuk mengabadikan momen tersebut muncul dalam diri Tom. Ia kemudian meminjam kamera Leica milik sang kakak dan langsung memotret anak laki-laki tersebut.

Sejak saat itu, minatnya terhadap dunia fotografi mulai tampak. Selepas menamatkan pendidikannya di Macalester College, Saint Paul, Minnesota, Tom memulai karier profesionalnya di bidang fotografi sebagai fotografer harian lokal, The Fargo Forum.

Kemudian pada 1953, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan surat kabar The Milwaukee Journal. Karya-karya foto yang dibuat Tom saat bergabung di The Milwaukee Journal telah membuat editor foto surat kabar tersebut, Bob Gilka, terkesan.

Bahkan, salah satu fotonya yang memuat gambar seekor burung murai tengah memangsa seekor cacing tanah menarik perhatian editor sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah National Geographic, Melville Bell Grosvenor. Foto itulah yang membuka jalan bagi Tom untuk bisa bergabung dengan tim redaksi National Geographic pada 1956. Tak lama setelah diterima bekerja sebagai jurnalis foto di majalah National Geographic, Tom dikirim ke Lebanon.

Baginya, ini merupakan pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri. Perjalanan ke Lebanon ini berlanjut ke kawasan Antartika hingga akhirnya ia tiba di wilayah Kutub Selatan. Mengunjungi negeri Muslim Selama hampir 38 tahun berkarier sebagai jurnalis foto di National Geographic, Tom telah menulis 43 artikel. Keseluruhan artikel tersebut merupakan hasil liputannya ke sejumlah tempat di dunia, seperti Jepang, Kamboja, Tibet, Venezuela, Spanyol, Australia, Brasil, Alaska, Kutub Selatan, Lebanon, Mesir, dan Arab Saudi. Namun, dari keseluruhan karyanya ini, 16 artikel di antaranya ia tulis ketika mengunjungi negeri-negeri Muslim dalam kurun waktu 1956 hingga 1994.

Senior Editor National Geographic, Don Belt, dalam tulisan obituarinya mengungkapkan, pada pertengahan 1960-an, Tom banyak menghabiskan waktu mengunjungi negara-negara di kawasan Timur Tengah. Petualangannya di negeri-negeri Muslim ini telah membuatnya mahir bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Selain bahasa Arab, Tom juga menguasai bahasa Jerman, Prancis, dan Spanyol.

Dengan kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya, menurut Belt, Tom tidak mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat. Saat bermukim di kawasan Timur Tengah, Tom mulai mengenal budaya dan ajaran Islam. Berawal dari sinilah, ia kemudian memiliki ketertarikan untuk mempelajari kitab suci umat Islam, Al-Quran.

Minat Tom untuk mempelajari Al-Quran pada akhirnya telah membawanya pada sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Tom menyatakan niat dan keinginannya untuk menjadi seorang Muslim. Kala itu ia tengah berada di Arab Saudi. Namun, tak banyak tulisan yang mengupas mengenai prosesi keislaman Tom. Setelah resmi masuk Islam, Tom menggunakan nama Omar sebagai nama Muslimnya.

Kedekatannya dengan lingkungan keluarga Kerajaan Arab Saudi kemudian membuka pintu rezeki bagi Tom untuk bisa memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ke Tanah Suci. Atas undangan dari pihak Kerajaan Arab Saudi, pada musim haji tahun 1965, ia pun berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Pengalaman pertamanya menunaikan ibadah haji ini kemudian dituliskannya dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Pemred Melville Grosvenor.

Dalam surat tertanggal 17 April 1965 itu, Tom menulis, “Salam dan harapan terbaik dari Kota Suci umat Islam. Saya baru saja mendapat kehormatan untuk menjadi saksi, mengabadikannya dalam foto, dan ikut berpartisipasi dalam salah satu perjalanan spiritual paling mengharukan yang pernah dikenal umat manusia, yakni berziarah ke Kota Makkah dan Padang Arafah.”

Ini merupakan pengalaman pribadi yang tak terlupakan. Dan tanpa keraguan, itu merupakan klimaks dari seluruh perjalanan mengunjungi Arab Saudi. Tak hanya melalui surat pribadi kepada atasannya, pengalaman berhaji tersebut juga kemudian Tom tuangkan dalam sebuah artikel dan foto yang diberi judul “The Sword and the Sermon”, dan dimuat dalam majalah National Geographic edisi Juli 1972.

Karyanya tersebut diharapkan Tom bisa menjadi jembatan hubungan antara dunia Islam dan Barat ke arah yang lebih baik. Berkat karya jurnalistiknya tersebut, suami dari Marilyn yang juga merupakan fotografer di majalahNational Geographic ini bisa sampai ke Kazakhstan. Ia mengunjungi sebuah masjid di Alma-Ata dan berkesempatan mengikuti shalat Jumat berjamaah di sana.

Saat berada di masjid di Kota Alma-Ata inilah, ia mengalami pengalaman yang tak akan pernah dilupakannya, selain pengalamannya berhaji.

“Saya memperkenalkan diri kepada syekh (imam masjid—Red), dan ketika kami tengah berbicara dalam bahasa Arab, tiba-tiba para jamaah sudah berkumpul di sekeliling tanpa kami sadari. Ketika saya menunjukkan kepada mereka gambar Kota Makkah dan Ka’bah, mereka nyaris menangis.”

“Banyak dari mereka yang kemudian menggosokkan tangan mereka ke pakaian yang saya kenakan dan kemudian mengusap wajah mereka,” papar Tom menceritakan pengalaman yang menurutnya penuh emosional, sebagaimana dikutip dari laman situs National Geographic.

Jurnalis Barat Pertama yang Meliput Ibadah Haji.

Lebanon menjadi negara pertama di luar tanah kelahirannya, Amerika Serikat, yang Tom kunjungi. Perjalanan ke Lebanon inilah yang kemudian membawanya hingga ke wilayah Kutub Selatan di Antartika dan menjadikannya sebagai jurnalis pertama yang berhasil mencapai wilayah tersebut.

Tom terdampar di Antartika selama tiga minggu dan harus bertahan hidup di tengah kondisi cuaca dengan suhu minus 50 derajat. Selama mengunjungi banyak tempat dan negara dalam rangka tugasnya sebagai seorang jurnalis foto, berbagai pengalaman suka dan duka pernah Tom alami.

Ia pernah terserang tipus saat di Himalaya dan harus ikut mengamputasi jari kaki salah seorang rekannya yang mengalami kebekuan akibat cuaca yang ekstrem. Bahkan, beberapa kali nyawanya hampir terenggut. Salah satunya adalah ketika Yak—sejenis sapi—yang ia tunggangi saat di Afghanistan jatuh ke dalam jurang sedalam seribu kaki. Begitu juga ketika di Venezuela, dia terjatuh dari atas kereta gantung yang dinaikinya dalam sebuah pendakian gunung.

Peristiwa tersebut bahkan meninggalkan bekas luka seumur hidupnya. Namun, dari kesemua itu, pengalaman menunaikan ibadah haji di tahun 1965, diakui ayah dari Marie dan Bruce Abercrombie ini merupakan pengalaman paling berkesan sepanjang kariernya sebagai seorang jurnalis foto.

Pengalaman berhaji ini pulalah yang menjadikan Tom sebagai jurnalis Barat pertama yang meliput pelaksanaan ibadah haji. Setelah berkarier selama 38 tahun di National Geographic, Tom memutuskan untuk pensiun pada 1994. Kemudian, waktunya lebih banyak disibukkan untuk mengajar mata kuliah geografi di Universitas George Washington.

Sepanjang kariernya sebagai seorang jurnalis foto, Tom telah menulis sebanyak 43 artikel, 16 di antaranya ia tulis ketika mengunjungi negeri-negeri Muslim dalam kurun waktu 1956 hingga 1994. Tom wafat pada 3 April 2006 di usia 75 tahun. Ia meninggal di Rumah Sakit Johns Hopkins, Baltimore, Maryland, AS akibat komplikasi pascaoperasi transplantasi jantung yang dijalaninya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2016.

Vien AM.

Dicopy dari : http://www.kisahmuallaf.com/thomas-abercrombie-hidayah-di-tanah-suci/

Read Full Post »

Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi, sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? ” (HR. Bukhari).

alexander-pert 1Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi.

Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun. Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan. Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun.

Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil. Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu,

Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?” Wartawan itu berkata: ”Tidak”.

Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya. Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”.

Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan- kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat.

Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.” Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”.

Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan. 

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita.  Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad.

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan.

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”.

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?” .

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”

”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad.

alexander-pert-shalatKemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan. Allahuakbar !

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 Agustus 2016.

Vien AM.

Dicopy dari:

http://www.voa-islam.com/read/upclose/2011/01/19/12852/muhammad-alexander-pertz-kisah-bocah-amerika-menemukan-islam-dalam-buku/#sthash.I9WkHzdm.dpbs

Read Full Post »

Older Posts »