Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Mualaf’ Category

Awalnya, musisi Dewa Putu Sutrisna adalah seorang mahasiswa yang kuliah di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH). Lulusan dari kampus itu bisa dikatakan langsung menjadi pendeta Hindu. Dia kuliah hingga tiga tahun.

Saya asli Bali. Keluarga pun keluarga Bali. Tidak ada campurannya. Ibu bapak Bali. Mereka berdua Hindu,” katanya mulai berkisah beberapa waktu lalu di penghujung tahun 2017.

Kakeknya adalah pendeta tertinggi di Bali. Baginya ini adalah cobaan berat. Namun begitu, ia justru menemukan Islam dari kitab agamanya sendiri (Hindu).

Saya tidak pernah membaca Alquran. Saya tidak pernah mencari tahu tentang Islam. Buat saya, Islam itu kebencian waktu itu,” ungkap Putu Sutrisna.

Ia berpandangan demikian sebab ia teringat dengan tragedi bom Bali sekitar tahun 2002, yang membuat perekonomian, pariwisata hancur, banyak korban dan efeknya cukup besar.

Islam tidak pernah saya pandang. Di STAH saya banyak membaca Weda dan kitab pendukung lainnya,” kata dia.

Dari kitab tersebut ia malah menemukan Islam. Bukan dari seorang sahabat, ustadz atau dari mana pun. Di Weda banyak membicarakan tentang Kalki Awatara. Setelah dipelajari, sepanjang di kitab Hindu, siapa itu Kalki Awatara, bagaimana silsilahnya Kalki Awatara dan semua Kalki Awatara.

Di Weda disebutkan Kalki Awatara itu lahir di tanggal 12 di awal bulan. Kita tahu sendiri Nabi Muhammad SAW lahir di tanggal 12 Rabiul Awal. Kemudian ciri-cirinya, dia datang dengan naik unta, menggunakan pedang dan tanah, berperang bersama empat sahabatnya”.

“Kalki memiliki ayah bernama Vishnuyash dan ibu bernama Sumatti.  Jika diterjemahkan dari bahasa Sansekerta, “Vishnuyash” yang berarti “hamba Tuhan”, dalam bahasa Arab “Abdullah”. Abdullah ayahanda Rasulullah SAW.  Sementara, “Sumatti” memiliki makna “lemah lembut”. Aminah, ibunda Rasulullah SAW memiliki makna yang sama yaitu “lemah lembut”.

Dari cara berpakaian, menyisir rambutnya dan cara lainnya sama dengan Rasulullah SAW, tertera dalam Weda,” ungkap Putu Sutrisna yang getol dengan dunia musik ini.

Setelah lima tahun mencari tahu tentang Islam dan mencari tahu siapa itu Rasulullah SAW,  Dewa Putu pun memutuskan masuk Islam.  Uniknya, meski ia mengikuti apa yang diteladankan Rasulullah SAW selama lima tahun itu, ia belum mengucapkan syahadat sama sekali.

Alhamdulillah saya bertemu dengan Mualaf Center Darussalam, kemudian saya dituntun syahadat. Tepat saat kedatangan Dokter Zakir Naik di Bekasi,” ungkap pria bertato ini.

Dua tahun setelah bersyahadat yaitu pada tahun 2019, dalam suatu acara bertajuk ‘Dialog Iman’, Putu Sutrisna menceritakan kisah terberat yang dialaminya sejak menjadi mualaf. Yaitu tiga bulan setelah mengucapkan Syahadat, ketika itu istrinya sedang hamil tua anak kedua, dan akan melahirkan.

Dalam kondisi sudah menjadi muallaf, ia tinggalkan 2 label music, yang didalamnya ada 45 artis yang ia besarkan namanya. Ia tinggalkan itu semua dan mulai belajar Islam, sembari mendalami studi film. Tak hanya meninggalkan mata pencahariannya yang berhubungan dengan musik. Bahkan, ketika berpindah keyakinan, Dewa mengaku masih memiliki total hutang mencapai 16 Miliar, sedangkan saat itu ia belum memiliki penghasilan lain.

Istrinya masuk ke rumah sakit karena usia kandungan yang sudah tua. Pihak rumah sakit menyarankan untuk dilakukan operasi caesar, dengan biaya yang tidak murah. Dewa hanya bisa melihat wajah istrinya yang pucat dan menahan sakit yang sangat, sedangkan ia hanya bisa menggenggam tangan istrinya yang mulai melemah.

Setelah sholat Subuh, Dewa meninggalkan istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. “Karena pada saat itu punya uang hanya dua puluh enam ribu, saya tinggalkan istri saya. Saya datangi teman-teman yang mereka artis besar, dan saya tahu saldo mereka, saya cari. Tunggu di depan rumahnya hingga setengah jam, karena sudah tidak dianggap lagi saya. Saya cari uang pinjaman. Jangankan diberikan, dipinjamkan saja tidak,” ujar Dewa dengan nafas tertahan.

Bukan hanya teman-teman artis saja yang menjauhinya. Dewa mengaku beberapa label musik bahkan memusuhinya karena dianggap mengajak talent label itu hijrah dan meninggalkan musik.

Dalam keadaan demikian Dewa ditelepon pihak rumah sakit untuk menandatangani suatu perjanjian.

Saya dikasih surat sama suster, suratnya itu menandakan bahwa jika terjadi kematian janin atau ibu, saya tidak boleh menuntut rumah sakit. Saya ingat sekali wajah istri saya kesakitan,” ujarnya, kini dengan sedikit terisak.

Waktu itu saya telepon Ustadz Khalid Bassalamah, minta petunjuk saat itu, bukan minta, bukan ngemis. Saya bilang sedang cari solusi untuk masalah saya, tidak bilang istri saya lagi hamil dan butuh uang,” ungkap Dewa.

Atas pertanyaan Dewa, ustadz Khalid Bassalamah menjawab “Untuk apa cari solusi, Allah ciptakan manusia untuk ibadah. Jika kita punya masalah dan kesulitan, cek ibadah kita.”

Seketika itu juga Dewa tersadar, sholat Dhuha terlewatkan, sholat Dhuhur terlambat ia tunaikan. Seharian yang terbayang hanya wajah pucat istrinya di rumah sakit. “Saya ditampar dengan chat itu. Saya cari mushola di belakang rumah sakit, Saya hanya minta pada Allah ‘ya Allah, ampuni saya, saya orang dzalim, saya minta ya Allah selamatkan istri saya, selamatkan anak saya’,” doa itu terus Dewa panjatkan sampai setelah sholat Ashar.

Singkat cerita, setelah melalui beberapa proses, pertolonganpun datang melalui seorang yang tak diduga.

“ … … Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):2-3).

Demi Allah, tidak sampai dua menit, uang itu sampai. Anak saya lahir, perempuan sehat, istri saya sehat juga.

Ia pun menyampaikan hikmah dari kejadian yang menurutnya adalah yang paling berat dalam hidupnya itu. “Ini sebenarnya kelemahan kita, kita lupa sama Allah, kita sibuk sama dunia. Nanti kalau kita sudah susah, kalau sudah kesulitan, sudah mentok, sudah sangat terpojok sekali, baru kita ingat Allah,” ujarnya.

Dewa pun mengungkapkan seharusnya manusia bersyukur, Allah mengingatkan hambanya untuk sholat lima kali sehari, bukan tiga kali atau satu kali. Supaya selalu ingat, bahwa harus selalu ingat kepada Allah.

Sibuk dunia, sibuk dunia, sibuk dunia, kita lupa sama Allah, kita lupa kenapa Allah ciptakan Qiyamullail, kenapa kita disuruh sholat sunnah dua rokaat sebelum subuh, kenapa Allah suruh kita sholat Subuh. Allah ingin kita ingat DIA dulu, sebelum kita sekolah, kerja, atau aktivitas lain. inget Allah dulu, kalau kita sudah inget Allah, semua yang kita kerjakan akan dituntun sama Allah, semua yang kita kerjakan,” ujarnya.

Ia sempat meminta maaf karena menyampaikan cerita itu dalam keadaan yang cukup emosional, karena cerita yang ia sampaikan sudah lama tidak diceritakan, dan kisahnya adalah yang paling berat dalam hidupnya. Karena dulunya, Dewa adalah orang yang cukup dipandang dan sering foya-foya. “Ketika susah, orang gak mau lihat saya. Tapi di sini saya dapat pelajaran yang luar biasa, kita tidak boleh lupakan Allah”, tutupnya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Vien AM.

Diambil dari :

https://news.bersamadakwah.net/2018/01/unik-putu-sutrisna-putuskan-masuk-islam.html

https://www.kiblat.net/2019/08/26/kisah-muallaf-untuk-apa-cari-solusi-allah-ciptakan-manusia-untuk-beribadah/

Read Full Post »

Ayana Jihye Moon, adalah seorang muslimah asal Korea Selatan yang namanya cukup di kenal di kalangan muslimah, Indonesia dan Malaysia khususnya. Selebgram berparas cantik khas K-Pop ini pernah menjadi brand  ambassador Wardah, beberapa kali muncul sebagai tamu acara televisi, serta menjadi pembicara sejumlah kajian. Terakhir Ayana terlihat di Istora Senayan Islamic Book Fair (IBF) di JCC Jakarta pada acara peluncuran bukunya yang berjudul ‘Ayana Journey To Islam’. Kisah ke-Islaman gadis Korea kelahiran tahun 1995 ini memang menarik untuk diikuti. 

Ayana lahir dan besar di tengah keluarga ekonomi menengah atas yang tidak begitu peduli agama di sebuah kota di Korea Selatan. Ia mendengar adanya agama Islam pertama kali karena keluarganya sering membicarakan aksi teror 911 dan perang Amerika di Irak dan Afghanistan. Ketika itu usia Ayana baru 7 tahun. Namun ia juga mendengar bahwa kaum Muslimin berpuasa, shalat dan berjilbab. Kebetulan salah satu pamannya ada yang telah lama memeluk Islam. Hal yang amat sangat langka terjadi di negaranya. Islam adalah kaum minoritas dan tidak banyak orang mengenal agama ini. Rata-rata orang Korea Selatan adalah atheis.  

Untuk mengatasi rasa penasaran dan keingin-tahuannya yang begitu tinggi menjelang remaja Ayana sering googling. Hebatnya lagi karena ketika itu ia belum fasih berbahasa Inggris iapun menggunakan kamus untuk belajar memahami apa yang ingin diketahuinya. Selama beberapa tahun ia melakukan hal tersebut.  Berkat Googling pula Allah swt mempertemukannya dengan seorang profesor yang menguasai ajaran Islam.

Maka setelah dirasa cukup memahami konsep Islam, ditambah bantuan dari pamannya, pada usia 16 tahun akhirnya Ayanapun memeluk Islam. Namun sayang keinginannya untuk mengenakan hijab yang merupakan kewajiban bagi kaum Muslimah untuk sementara terpaksa ia singkirkan. Di negaranya tidak mungkin murid sekolah memakai hijab ke sekolah. Ayana ketika itu duduk di bangku sekolah menengah atas.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Menjelang lulus SMA orang-tuanya baru mengetahui bahwa putri mereka satu-satunya itu telah berganti keyakinan. Merekapun tidak mau lagi menanggung kehidupan finansialnya. Namun Ayana tidak mau menyerah meski menyadari pasti akan sangat berat. Apalagi ia ingin sekali meneruskan pendidikan ke yang lebih tinggi, yaitu berkuliah.

Saat itu aku tidak punya pilihan. Aku tahu orangtuaku tidak akan menanggung biaya kehidupanku jika aku pindah ke agama lain, atau menjadi ateis seperti mereka. Sehingga dengan situasi ekstrem seperti itu, justru menguatkanku. Aku lakukan apa yang bisa aku lakukan,” kenangnya.

Bahkan, sebelum aku pergi ke Malaysia, aku harus melakukan banyak sekali pekerjaan sampingan di Korea Selatan, seperti menjadi guru les matematika, menjual ikan kering di pasar, menjadi part-timer di restoran kecil, dan sebagainya. Meski begitu, alhamdulillah aku bisa dapat beasiswa penuh karena aku adalah siswa teladan,” tambahnya.

Berkat kegigihannya mempertahanlan ke-Islam-annya tak heran bila Allah Azza wa Jala memberinya jalan keluar. Apalagi Ayana memang seorang anak yang cerdas hingga berhasil mendapatkan beasiswa.  Dengan modal beasiswa dan tekad kuat pada tahun 2014 di usianya yang ke 19 tahun, Ayanapun meninggalkan negaranya menuju Malaysia. Sebelumnya ia sempat mempertimbangkan Mesir sebagai tujuan kuliah sambil memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Disana sudah pasti ia bisa memakai hijab, sesuatu yang diimpikannya.  Tapi karena situasi politik yang tidak memungkinkan ia memilih Malaysia sebagai gantinya.  

Sebagai gadis muda yang baru pertama kali hidup sendiri jauh dari orang-tua dan keluarga di negara dimana ia tidak mengenal seorangpun, tanpa restu dan bekal orang tua pula, dapat dipahami bila suatu ketika ia sempat mengalami kesulitan dan sempat nyaris putus asa. Ibunya bahkan khusus datang menjemputnya untuk membawanya pulang ke negaranya. Namun Allah subhana wa ta’ala kembali menyelamatkannya. Seorang kenalan instagramnya di Indonesia menawarkan pekerjaan sebagai bintang iklan kosmetika Wardah di Jakarta. Iapun langsung menerima tawaran tersebut.

Dan selama kontrak tersebut Ayana merasa ditrima dengan sangat baik. Ia banyak menerima undangan wawancara terutama tentang kisah ke-Islamannya. Ayanapun lebih tenang dan mendapatkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat goyah. Usai kontrak 1 tahun Ayana kembali ke Malaysia untuk melanjutkan kembali kuliahnya di program studi komunikasi. Ayana dapat merasakan betapa bedanya kehidupannya di Korea Selatan dengan di Malaysia dan di Indonesia.

Rasanya menyenangkan karena bisa menjalani shalat di mana pun. Aku bisa makan makanan halal, rasanya menyenangkan“. “Di Korea aku tidak bisa shalat di mana saja dan tidak ada makanan halal. Aku cuma bisa makan seafood, sangat sulit,” ujarnya.

Dalam pengakuannya, kini ia lebih bisa tersenyum, hidup lebih bermakna, dan selalu bersyukur. Hingga sang adik, heran dengan sifat kakaknya yang tadinya galak dan mudah marah berubah menjadi baik. Maka berita gembirapun datang. Aydin, adik satu-satunya dengan beda usia 8 tahun, pada tahun 2019 lalu mengikuti jejaknya memeluk Islam.

Dalam Instagramnya Ayana memamerkan foto diri dan adiknya yang menjalani Ramadhan di rumah mereka di Korea Selatan. Orang-tua mereka tampaknya sudah bisa menerima ke-Islaman keduanya.  

Ramadhan pertama kita yang sangat spesial, dia adalah satu-satunya yang selalu membuatku nyaman. Aku bertanya pendapatnya dalam segala hal. My very smart tutor and the best sister till Jannah,” tulis Aydin dalam keterangan fotonya.

Ayana juga memamerkan sebuah video bersama ibu dan adiknya di dalam sebuah masjid. Ibunya memang belum bersedia masuk Islam tapi Ayana sangat mengharapkan doa orang-orang yang melihat video tersebut.

“Ini adalah masjid tempat aku dan Aydin sering berkunjung. Aku berharap ibu akan lebih sering ke sini, Insya Allah, Aku harap,” ujar Ayana menutup videonya.    

Dalam salah satu wawancaranya, Ayana menceritakan rencana masa depannya.  Ia juga menjawab sebuah pertanyaan apakah ia sudah cukup merasa puas dengan aktifitasnya sebagai Selebgram yang memiliki lebih dari 3 juta followers. Ayana menjawab bahwa profesi tersebut hanya batu loncatan. Lingkungan keluarganya yang banyak berkecimpung dalam dunia politik menyebabkannya ikut tertarik memikirkan hal tersebut. Minimal ia ingin agar muslimah berhijab di negaranya bisa mendapat kemudahan dalam mencari pekerjaan dan kesetaraan.  

Aku ada rencana ingin melanjutkan jenjang pendidikan di bidang politik ke Inggris, setelah menyelesaikan pendidikan di Malaysia. Ada banyak cara aku berkontribusi bagi negaraku. Misalnya, membantu politisi dalam membuat kebijakan, tanpa harus terjun ke dunia politik,”, jelasnya.

Barakallah Ayana, semoga Allah swt senantiasa memudahkan perjalanan hidupnya. Semoga dapat menjadi inspirasi para muslimah yang terlahir Islam agar dapat menjadi muslimah yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.      

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Maret 2021.

Vien AM.

Note.

– Usia 7 tahun adalah usia seorang anak mulai kritis. Ia menjadi pemerhati segala kejadian yang dilihatnya. Oleh sebab itu orang-tua  harus waspada. Tak salah bila pada usia ini Islam mulai mengajarkan anak untuk shalat.

Ajarilah anak kalian mengerjakan salat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah ia jika telah mencapai 10 tahun ia mengabaikannya” (HR Abu Daud, Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan Ibn Khuzaimah). 

– Menjadi Islam sejak lahir adalah suatu anugerah yang harus disyukuri. Tentu kita sering mendengar bagaimana beratnya perjuangan menuju Islam seperti yang dialami Ayana di atas.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi”. Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim).

Read Full Post »

Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Eropa dan Amerika Serikat.” —New York Times

Lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) Pew Research Center (PRC) memprediksi, Islam akan menjadi agama terbesar di dunia pada 2075. Hal ini terjadi seiring dengan terus bertambahnya kelahiran di keluarga Muslim. Hasil riset yang dilansir the Guardian, beberapa waktu lalu itu juga menyebut, selama dua dekade mendatang jumlah bayi yang lahir dari keluarga Muslim akan menyalip jumlah bayi yang lahir dari keluarga Kristen.

Pada 2020, jumlah Muslim mencapai kurang lebih 25 persen dari sekitar 7.7  miliar jiwa penduduk dunia. Pertumbuhan Islam itu, harus diakui banyak disumbang dari proses perpindahan iman (mualaf) yang mulai marak pasca tragedi 9/11 di Amerika. Namun sejatinya perpindahan iman tersebut telah terjadi jauh sebelum itu. Berikut 5 tokoh mualaf manca negara yang mampu membawa perubahan dalam sejarah dunia.

1.  Berke Khan (1209- 1266), penakluk Eropa Timur dari Mongol.

Berke Khan adalah cucu Jenghis Khan, penakluk kenamaan Mongol.  Ia adalah orang Mongol pertama yang memeluk Islam. Ia berkuasa pada tahun 1257 hingga syahidnya di medan perang pada 1266. Kekuasaannya meliputi Rusia, Bulgaria, Rumania dan wilayah Kaukasus. Selanjutnya Berke memperluas kekuasaannya hingga ke Polandia dan Lithuania.

Berke bersama saudaranya Batu Khan, mendapatkan mandat untuk menaklukan Eropa Timur, bersamaan dengan Hulaghu Khan, cucu Jengis Khan lain yang mendapatkan tugas untuk menaklukan Asia Tengah dan Timur Tengah  yang ketika itu dibawah kekuasaan dinasti Muslim Abbasiyah.

Dalam perjalanannya menuju Rusia, rombongan Berke berpapasan dengan kafilah dagang Muslim di kota Bukhara. Pasukannya lalu menginterogasi mereka, dan Berke sangat terkesan oleh keberanian, ketenangan, dan ketangkasan ulama yang menjadi juru bicara dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan pasukannya. Berkepun kemudian memeluk Islam, diikuti banyak pengikutnya.

Pada saat yang sama ia mendengar berita kebrutalan yang dilakukan Hulaghu pada saat menaklukan wilayah dinasti Abbasiyah. Sepupunya itu melakukan pembantaian terhadap penduduk yang tidak berdosa, merusak warisan ilmu yang dimiliki, serta menghancurkan berbagai bangunan bersejarah. Berke sangat marah dan kecewa bercampur malu.

Maka ketika Syaifudin Qutuz, sultan Mamluk penguasa Mesir, memintanya untuk membantu menghadapi pasukan Hulaghu, Berke dengan senang hati mengabulkan permintaan tersebut. Di kemudian hari pasukan gabungan Berke dan Mamluk dalam perang Ain Jalut yang fenomenal tersebut dikenang sebagai penyelamat dunia Islam dari kebrutalan bangsa Mongol. Mereka berhasil menghentikan laju pasukan  Hulaghu dan mempertahankan wilayah Mesir, Syria, dan Hijaz dari serangan pasukan Mongol yang kejam.

2. Zaganos Pasha ( 1446 – 1461 M), penasehat Sultan Muhammad al-Fatih.

Zaganos Pasha adalah seorang penganut Kristen asal Albania. Ia direkrut menjadi Yenicheri, pasukan elit kesultanan Turki Utsmani. Seperti Yenicheri lainnya, ia dibekali ilmu agama Islam, administrasi pemerintahan, dan pelatihan militer. Ia ditunjuk menjadi mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Muhammad al-Fatih yang ketika itu masih sangat belia.

Saat al-Fatih dilantik sebagai raja Utsmani, Zaganos yang juga masih relative muda diangkat menjadi seorang menteri. Zaganos selalu dilibatkan dalam semua urusan negara, terutama rencana penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Dalam pengepungan Konstantinopel, pasukannya yang pertama kali berhasil mencapai menara benteng yang dikenal sangat kokoh tersebut. Zaganoslah yang menancapkan bendera Turki di atap Menara. Dan atas prestasinya itu, salah satu menara di benteng Konstantinopel dinamakan dengan namanya yaitu Menara Zaganos Pasha.

Zaganos dikenal sangat loyal dan penuh semangat. Ia berhasil membantu mengembalikan tekad dan semangat para pasukan yang pada saat itu sempat dilanda keputus-asaan karena selama beberapa bulan pengepungan tidak juga  berhasil membobol pertahanan kota bersejarah tersebut. Peninggalan-peninggalan Zaganos masih tersisa di wilayah Edrine berupa masjid, dapur umum, dan pemandian umum. Sayang awal ke-Islam-an Zaganos tidak diketahui secara umum. 

3. Ibrahim Muteferrika (1674 – 1745 M), duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia

Ibrahim Muteferrika adalah seorang berdarah Hungaria yang di kemudian hari memeluk Islam. Ia menjabat sebagai duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia pada saat dinasti tersebut sedang mengalami stagnansi inovasi.

Usai tugas di kedua negara Eropa Barat tersebut, Muteferrinka kembali ke Istanbul membawa ide Renaisans dan penggunaan mesin cetak. Dengan bantuan alat tersebut ia berhasil mengkopi atlas, kamus, dan buku-buku Islam.  Di antara banyak karya yang dicetaknya, ada atlas buatan ahli geografi terkenal Katip Çelebi yang dibuat pada tahun 1728. Atlas tersebut memuat ilustrasi dunia dengan detail dan tingkat presisi yang mengagumkan untuk ukuran saat itu. Satu diantara isi dari serial Cihannuma (Geografi Alam Semesta) yang diilustrasikan oleh  buku peta cetakan pertama tersebut adalah peta Indonesia.  

Muteferrinka juga menulis dan mencetak buku-buku dengan berbagai topik, seperti sejarah, teologi, sosiologi, dan astronomi. Muteferrika meninggal di Istanbul. Patungnya hingga kini berdiri tegak di Sahaflar Çarşısı, Grand Bazaar,  Istanbul.

4. Alexander Russel Webb (1846 – 1916 M), diplomat Amerika.

Di akhir abad 19, dunia jurnalistik Amerika mulai memasuki era baru. Pengaruh dunia tulis-menulis sangat besar dan efektif dalam membentuk opini di masyarakat. Salah seorang yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Alexander Russel Webb.

Webb dilahirkan dari orang-tua beragama Kristen, namun semakin hari agama tersebut malah menimbulkan keraguan baginya, hingga hilanglah kepercayaannya dengan agamanya tersebut. Setelah kepercayaan terhadap agama Kristen hilang, ia mulai membuka diri dan mempelajari agama-agama selain Kristen.

Penunjukkan dirinya sebagai seorang pejabat kedutaan Amerika di Philipina pada tahun 1887, makin membuka ketertarikannya pada Islam. Ia mengawalinya ke-Islam-annya melalui paham Ahmadiyah. Namun ia terus belajar dan memperdalam ke-Islam-annya dengan menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam dan bertemu dengan para ulama sehingga ia mendapatkan pemahaman yang baik tentang Islam dan terlepas dari pengaruh Ahmadiyah.

Tahun 1893, ia mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan kembali ke Amerika. Di negeri Paman Sam inilah ia memulai dakwahnya menyeru kepada Islam. Dengan kemampuan jurnalistiknya, ia menulis sejumlah buku dan kolom-kolom opini di media masa menjelaskan kepada masyarakat Amerika tentang Islam. Di awal abad 20, ia semakin dikenal sebagai seorang Muslim yang giat dan vokal dalam mendakwahkan Islam di Amerika, bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, memberinya gelar kehormatan dari kerajaan sebagai apresiasi terhadap apa yang telah ia lakukan.

5. Muhammad Marmaduke Pickthall (1875-1936), jurnalis novelis Inggris.

Pickthall lahir dari keluarga kelas menengah Inggris dengan nama William Pickthall. Ayahnya adalah seorang pendeta Anglikan yang meninggal ketika ia masih kanak-kanak. Pada usia muda Pickthall mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu Bahasa termasuk bahasa Arab. Ia berharap suatu saat bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang konsuler di Palestina. Di usianya yang belum genap 18 tahun, ia memutuskan untuk berlayar ke Port Said, Mesir.

Perjalanan ke Port Said ini menjadi awal mula petualangannya ke negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah dan Turki. Keahliannya dalam berbahasa Arab telah memikat penguasa Ottoman. Atas undangan dari pihak Kesultanan Ottoman, Pickthall yang kala itu belum menjadi seorang Muslim, mendapat tawaran untuk belajar mengenai kebudayaan Timur. Hasinya, selama masa Perang Dunia I tahun 1914-1918, ia banyak menulis surat dukungan untuk Turki Usmaniyah.

Setelah akhirnya memutuskan memeluk Islam pada tahun 1917, Pickthall aktif dalam berbagai kegiatan dakwah.  Ia mempunyai cita-cita besar untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Ia berkeyakinan adalah tanggungjawab semua umat Muslim untuk memahami Al-Quran secara utuh. Cita-cita mulia tersebut  akhirnya terealisasi 11 tahun kemudia, yaitu pada tahun 1928.

Karya Pickthall ini menjadi karya pertama penulisan makna Al-Quran dalam bahasa Inggris oleh orang Inggris asli. Karya mulia tersebut tercatat sebagai salah satu dari dua karya terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris yang sangat populer. Karya lainnya ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali dari India.

Terjemah Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris juga pernah dilakukan seorang mualaf, yaitu Leopold Weiss ( Muhammad Asad), jurnalis asal Austria/Hungaria yang tadinya memeluk Yahudi. Asad bahkan melengkapi terjemahan yang berjudul “The Message of the Qur’an” itu dengan tafsir singkat berdasarkan pengetahuannya dalam bahasa Arab klasik dan tafsir-tafsir klasik. “Road To Mecca” adalah salah satu buku tulisannya yang terkenal.

Akhir kata semoga Islam terus berkembang menyinari seluruh sudut-sudut dunia yang fana ini, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 11 Januari 2021.

Vien AM.

Diambil dari beberapa sumber:

https://rmol.id/read/2020/04/07/429203/mengenang-berke-khan-muslim-mongol-pertama-penyelamat-dunia-islam

https://republika.co.id/berita/ocdg6b313/4-mualaf-ini-pengaruhi-sejarah-dunia

https://republika.co.id/berita/q65cfd440/muhammad-marmaduke-pickthall-sang-mualaf-penerjemah-alquran

https://republika.co.id/berita/qhakr4320/kala-pohon-bicara-dengan-rasulullah-saw-dan-islamkan-badui

Read Full Post »

Siapa yang tak kenal Jenghis Khan, kaisar Mongol yang terkenal karena kebengisan dan kebrutalannya dalam menaklukkan tanah dan negri yang dimasukinya termasuk negri-negri Islam. Pada puncak kekuasaannya, Jenghis dan anak cucunya berhasil menaklukkan wilayah Asia Tengah, China, Rusia, sebagian Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Namun karena penaklukkannya tersebut tidak berlandaskan ideology apapun kecuali bermodalkan kekuatan militer dan nafsu menguasai maka banyak di antara mereka yang pada akhirnya terpengaruh oleh budaya dan agama bangsa/penduduk yang mereka jajah. Bahkan kemudian memeluk Islam. Tughluk Timur adalah salah satunya. Sementara yang pertama masuk Islam adalah Berke Khan (w. 1266). Ia adalah cucu Jenghis Khan dari anak pertamanya, Jochi. Berke Khan masuk Islam di tangan Saifuddin Boharzi, seorang Syeikh sufi dari Bukhara,

Tughluk Timur merupakan keturunan Jenghis Khan yang ketujuh, dari jalur Chagatai. Ia hidup lebih dari satu abad setelah Jenghis Khan. Kekuasaannya pada jaman sekarang ini mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, Kazakhstan, dan Barat Laut China (Xinjiang) yang penduduknya ketika itu mayoritas beragama Budha.

Sejarah pemerintahan Tughluk Timur dan keturunannya secara khusus tertulis dalam buku Tarikh-i-Rashidi yang disusun oleh Mirza Muhammad Haidar, seorang emir dari keluarga Dughlat. Mirza sendiri sempat memimpin wilayah Kashmir dan meninggal di wilayah itu.

Tarikh-i-Rashidi menceritakan kisah masuk Islam-nya Tughluk Timur. Pada suatu hari, Tughluk Timur yang masih berumur 18 tahun pergi berburu bersama beberapa orang bawahannya. Ketika itu tampaknya ia baru menjelang diangkat sebagai khan atau pemimpin Moghulistan. Tughluk memerintahkan orang-orang untuk menyertainya berburu, tidak boleh ada yang absen.

Ketika itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk beristirahat tak jauh dari tempatnya berburu. Maka ia pun memerintahkan agar orang-orang ini ditangkap, karena mereka telah melanggar perintahnya untuk ikut serta berburu. Mereka kemudian dibawa ke hadapan Tughluk Timur.

Orang-orang yang ditangkap ini adalah rombongan kecil yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin, seorang ulama keturunan Tajik. Saat berada di hadapannya, Tughluk bertanya kepadanya, “Mengapa kalian melawan perintah saya?”

Syeikh Jamaluddin kemudian menjawab, “Kami ini orang asing yang meninggalkan reruntuhan kota Katak. Kami tidak mengerti tentang perburuan dan aturan dalam berburu, karena itu kami tidak melanggar perintahmu.”

Apa yang dikatakan Syeikh Jamaluddin memang benar, sehingga Tughluk tidak memiliki alasan untuk menahan atau menghukumnya. Ia pun memutuskan untuk membebaskan mereka. Tapi mungkin masih ada rasa kesal dalam hatinya terhadap Syeikh Jamaluddin, sehingga ia mengajukan pertanyaan terakhir yang bertujuan menghinakannya. Ketika itu ia sedang memberi makan anjingnya dengan potongan daging babi. Maka ia pun bertanya kepada Syeikh Jamaluddin, “Apakah kamu lebih baik daripada anjing ini; atau anjing ini yang lebih baik daripada kamu?”

Syeikh Jamaluddin memberikan jawaban yang bijak, “Kalau saya memiliki iman, maka saya lebih baik daripada anjing ini; tapi kalau saya tidak memiliki iman, maka anjing ini lebih baik daripada saya.”

Tughluk rupanya terkesan dengan jawaban ini. Setelah selesai dari aktivitasnya, ia memutuskan untuk pulang dan ia memerintahkan anak buahnya untuk menaikkan Syeikh Jamaluddin ke atas kuda dan membawanya untuk menemuinya. Anak buah Tughluk kemudian membawa seekor kuda dan mempersilahkan Syeikh Jamaluddin naik ke atasnya. Saat melihat ada bekas darah babi pada sadel kuda itu, Syeikh Jamaluddin memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi karena terus didesak, ia akhirnya mengendarai kuda itu dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas sadel kuda itu.

Saat tiba di hadapan Tughluk, ia kembali ditanya, “Apa itu tadi yang sekiranya dimiliki oleh seseorang ia akan lebih baik daripada anjing?”

Iman,” jawab Syeikh Jamaluddin. Beliau kemudian menjelaskan apa itu iman dan menjelaskan tentang Islam kepada Tughluk Timur sehingga yang terakhir ini tersentuh dan menangis.

Tughluk kemudian berkata kepada Syeikh Jamaluddin, “Kalau nanti saya menjadi seorang Khan dan memiliki kekuasaan yang mutlak, kamu harus datang lagi kepada saya, dan saya berjanji akan menjadi seorang Muslim.” Ia kemudian menyuruh orang-orangnya untuk membawa pergi Syeikh Jamaluddin dengan penuh penghormatan.

Tak lama setelah kejadian itu, sebelum Tughluk diangkat menjadi seorang penguasa, Syeikh Jamaluddin meninggal dunia. Namun sebelum meninggalnya, ia menceritakan pengalamannya itu kepada anaknya yang bernama Arshaduddin yang juga alim dan soleh.

Ia berpesan kepada anaknya itu, “Karena saya mungkin akan meninggal dunia tak lama lagi, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kamu. Jika pemuda itu menjadi seorang Khan, ingatkan dia tentang janjinya untuk menjadi seorang Muslim; dengan begitu berkah kebaikan ini mudah-mudahan terjadi dengan perantaraanmu, dan karenanya dunia akan menjadi terang benderang (dengan cahaya Islam, pen.).”

Tidak lama setelah itu, Tughluk Timur diangkat menjadi seorang Khan yang berkuasa penuh atas wilayah Moghulistan. Saat mendengar hal ini, Syeikh Arshaduddin segera berangkat ke Moghulistan dan mencari jalan untuk bertemu dengan Tughluk Khan. Tetapi berkali-kali mencoba, ia tetap tidak berhasil menjumpainya.

Ia terus menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Khan yang baru diangkat itu. Sementara itu, ia punya kebiasaan melantunkan azan subuh setiap pagi di tempat yang tidak terlalu jauh dari tenda tempat tinggal Tughluk Khan. Pada suatu pagi, Tughluk Khan memanggil seorang pengawalnya dan berkata, “Ada orang yang bersuara keras seperti ini setiap pagi, pergi dan bawalah ia ke sini.”

Syeikh Arshaduddin masih di tengah lantunan azannya ketika pengawal itu datang dan terus menangkap dan membawanya ke hadapan Tughluk Khan. Tughluk kemudian bertanya kepadanya, “Siapa kamu yang selalu mengganggu tidur saya setiap pagi di waktu yang awal ini?”

Saya putra seseorang yang pada satu ketika dulu Anda berjanji kepadanya untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Syeikh Arshaduddin. Ia pun menceritakan apa yang dahulu pernah terjadi antara ayahnya dan Tughluk Khan sehingga yang terakhir ini ingat.

Engkau diterima,” kata Tughluk Khan, “dan dimana ayahmu?”

Ayah saya telah meninggal dunia, tetapi ia memberikan amanah misi ini kepada saya,” jawab Syeikh Arshad.

Sejak saya naik ke tampuk kepemimpinan saya ingat bahwa saya mempunyai sebuah janji, tetapi orang yang saya beri janji itu tidak pernah datang. Sekarang saya menerimamu. Apa yang mesti saya lakukan?”

Maka Syeikh Arshaduddin membimbingnya untuk melakukan wudhu dan mengucapkan kalimat syahadat selepasnya. Kemudian ia mengajarinya hal-hal yang mendasar dalam Islam. Mereka juga sepakat untuk mengajak setiap emir di pemerintahan Tughluk Khan untuk masuk Islam. Satu demi satu emir-emir kepercayaannya diseru kepada Islam dan mereka menerima ajakan ini. Ternyata beberapa emir itu ada yang sudah masuk Islam secara diam-diam sebelumnya. Mereka merahasiakan hal ini karena khawatir Tughluk Khan tidak akan menyukainya.

Keislaman Tughluk Timur Khan telah membawa perubahan besar dalam pemerintahan di Moghulistan. Ia lah yang secara resmi untuk pertama kalinya menjadikan Islam sebagai agama negara di wilayah ini. Semuanya berawal dari pertemuannya dengan seorang Syeikh yang soleh dan mampu menjelaskan kepadanya tentang hakikat iman; bahwa iman itulah yang menentukan nilai kemuliaan seorang hamba dan membedakannya dari seekor hewan.

https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2013/05/17/1376/kisah-islamnya-tughluk-timur-khan.html

Tughluk Timur gugur bersama putra mahkotanya Ilyas Khoja pada tahun 1363M ketika harus menghadapi Timur Lenk, penakluk Mongol yang tak kalah kejamnya dengan Jenghis Khan, padahal ia telah masuk Islam. Tughuk Timur berperang untuk mempertahankan kekuasaannya di Transoxiana (Uzbekistan dan Turkmenistan) yang ingin dikuasai calon penakluk Mongol tersebut. Mungkin saking senangnya Timur Lenk berperang ia tidak pernah sempat membaca dan mempelajari bahwa Islam melarang manusia berbuat zalim kepada siapapun, dan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara.

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan“. (Terjemah QS. Al-Isra(17):33).

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).

Atau bisa jadi ajaran Islam yang ditrimanya tidak benar karena kabarnya Timur Lenk adalah seorang penganut Syiah yang menghalalkan darah penganut Suni. Na’udzubillah min dzalik …

https://ihram.co.id/berita/qaqpqy385/kisah-islam-dalam-rentang-kejayaan-kekaisaran-mongol-part1

https://almanhaj.or.id/3630-pokok-pokok-kesesatan-aqidah-syiah.html


Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 Desember 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Gary Miller merupakan seorang profesor matematika.

Dia dibesarkan di Kanada. Sekolah-sekolah keagamaan adalah tempatnya menimba ilmu. Selain mendapatkan pengetahuan, dia di sana juga mendapatkan keimanan. Dia kemudian belajar teologi di Universitas Wheeling Jesuit, Amerika Serikat. Prestasi akademik banyak diraihnya di sana. Anugerah kecerdasan telah memudahkannya memahami berbagai ilmu pengetahuan. Berkat kecerdasan dan bakatnya, dia menjadi pendukung penyebaran agamanya yang aktif dalam berbagai kesempatan.

Dia menyebarkan keyakinannya kepada khalayak ramai. Dengan penuh semangat, lelaki itu berdiri di podium dan menjelaskan ajaran keimanan yang ketika itu diyakininya benar. Ceramahnya juga ditayangkan di televisi. Kemudian, ia mendapat gelar doktor dalam bidang matematika dari Universitas Toronto. Pemikiran ilmiah Miller kerap berbenturan dengan ajaran agama yang dianut. Hal ini membuatnya tidak nyaman sehingga dia lebih memutuskan untuk berpindah ke agama lain. Dia juga berpidah-pindah rumah ibadahnya selama sembilan tahun karena tidak mendapatkan jawaban dari pemuka agama soal ketuhanan.

Pertanyaan dan penjelasan Miller kerap membuat pusing pemuka agama. Mereka yang seharusnya mampu memberikan jawaban untuk menambah keimanan masyarakat, malah terdiam. Pemuka agama itu tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada Miller. Ketidakpuasan yang muncul karena jawaban itu tidak didiamkan. Miller mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban yang dapat menghilangkan rasa penasarannya. Kali ini dia tidak lagi menghujani pemuka agama dengan berbagai pertanyaan mengenai ketuhanan. Dia mem baca buku-buku tentang Islam karangan orientalis.

Ketika membaca buku itu, Miller tidak melepaskan sikap kritis. Dia tetap mempertanyakan kesimpulan-kesimpulan orientalis yang kerap memojokkan ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Bagaimana mungkin seorang nabi yang ajarannya kini mendunia disebut tidak waras. Apakah mungkin sosok utusan Sang Pencipta yang membawa dan menyebarkan risalah Ilahiyah hidup dengan abnormal. Kesimpulan-kesimpulan semacam itu sama sekali tidak masuk akal. Dia mengabaikannya.

Miller menginginkan kebenaran. Jika Muhammad adalah orang yang baik dan cerdas, mengapa dia harus berbohong untuk mengklaim kenabiannya. Atau, jika Rasul gila sehingga tidak sadar dengan tindakannya, bagaimana mungkin dia memahami wahyu Ilahi. Jawaban tentang semua kegelisahan Miller ternyata ada dalam Alquran surah az-Zariyat ayat 52-53. Bunyinya adalah,

“Tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Sindiran Allah dalam firman itu menyadarkannya bahwa tudingan orientalis bukan hal baru. Mereka hanya mengulang apa yang dilakukan masyarakat dahulu yang menolak risalah Islam. Alquran jelas menerangkan Rasulullah tidak berdusta. Kemudian, pandangannya kembali terbuka ketika membaca kisah anak Rasul Ibrahim yang meninggal dunia. Ibrahim meninggal bersamaan dengan gerhana matahari yang terjadi. Seorang sahabat Nabi pernah berkata, matahari hilang karena anak Rasulullah telah wafat. Rasulullah pun membantah perkataan sahabat,

“Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hilangnya nyawa seseorang.” Jawaban itu adalah bukti yang jelas bahwa Nabi Muhammad bukan pembohong ataupun orang gila.

Inspirasi dari kalam Ilahi itu menghadirkan kepuasan tersendiri. Miller kemudian makin semangat mendalami Islam. Pada tahun 1977 dia memutuskan untuk membaca Alquran. Dia juga mencari tahu apa yang benar dan salah di dalamnya. Dalam tiga hari dia membaca ayat-ayat Ilahi. Setelah selesai, dia berkata kepada diri sendiri, “Inilah keyakinan yang telah saya katakan dan percaya selama 15 tahun terakhir ini.”

Pada mulanya dia meyakini, Alquran merupakan otobiografi yang membahas kehidupan Nabi Muhammad, keluarga, dan lingkungannya. Dia menganggapnya seperti kitab agama sebelumnya yang berisi hikayat orang-orang dulu. Namun, ia terkejut menemukan hal yang tak terduga. Ternyata Alquran hanya menyebutkan nama Rasulullah sebanyak lima kali. Sementara, Alquran menyebutkan nama Nabi Isa sebanyak 25 kali. Adapun nabi Musa disebutkan lebih dari seratus kali.

Dia makin tercengang ketika menemukan surah Maryam. Sebaliknya, dia tidak menemukan satu surah pun dengan nama Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Dia juga tidak menemukan cerita yang berhubungan dengan perasaan pribadi Rasulullah. Selain itu, tak ada ayat Alquran yang menceritakan euforia kemenangan Perang Badar atau penderitaan setelah Perang Uhud. Miller menemukan tidak ada satu kata pun yang disebutkan dalam Alquran tentang kesedihan yang menimpa Rasulullah. Karena kitab ini berasal dari Allah, bukan Muhammad.

Pada saat pertama kali mengetahui Alquran, dia sempat berpikir bahwa konten di dalamnya adalah pengetahuan kuno yang dibuat oleh pria gurun pasir ribuan tahun lalu. Setelah membaca ayat-ayat di dalamnya, dia menyadari prediksi itu tidak tepat.

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Miller kemudian memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Alquran.

Dua ratus tahun lalu, ilmuwan Belanda Antony Leeuwenhoek telah menemukan bahwa 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Dia tidak tahu bahwa Alquran telah lebih dahulu menyebutkannya. Allah mengatakan hal itu dalam surah al-Anbiya ayat 30 dan Fussilat ayat 11.

Hal yang sama terjadi di tahun 2011 ketika Saul Perlmutter, Adam Riess, dan Brian Schmidt telah memenangkan Nobel fisika. Penghargaan yang mereka terima adalah untuk menemukan fenomena percepatan ekspansi alam semesta. Sekali lagi, fakta ilmiah ini sudah ada di dalam Alquran dalam surah az-Zariyat ayat 47. 

Ayat Embrio.

Al-Quran juga telah berbicara tentang tahap-tahap embrio. Surah al-Hajj ayat 5 menarik perhatian Profesor Keith Moore, rekan sejawat Miller di Universitas Toronto. Moore adalah profesor embriologi dan penulis buku terkenal, The Developing Human. Buku ini merupakan referensi mahasiswa fakultas kedokteran dunia. Al-Quran membuat tanda di buku-buku Profesor Keith Moore. Dalam edisi selanjutnya, dia menambahkan informasi yang dia pelajari dari Alquran tentang embriologi.

Namun, dunia telah bangkit saat Keith Moore mengeluarkan buku tentang embriologi klinis. Di dalamnya, dia menulis tentang diutamakannya Alquran dalam menyebutkan fakta perkembangan embrio. Miller kagum dengan kesepakatan penulis Barat bahwa Alquran tidak dapat ditulis oleh Rasulullah. Karena ini adalah buku pengetahuan berisikan topik yang menakjubkan. Kesimpulan tersebut menunjukkan dengan arif bahwa Alquran adalah wahyu Ilahi.

Klaim yang paling mudah adalah bahwa beberapa komite anonim membantu Rasul mengerjakannya. Namun, ada yang bilang, setan membantunya mengarangnya. Ini adalah kesimpulan yang penuh fitnah. Miller memikirkan secara mendalam tentang klaim terakhir dan menganggapnya sebagai semacam pelarian dan kegagalan untuk menghadapi kebenaran.

Jika Alquran diilhami setan, mengapa iblis mengisi bukunya dalam penghinaan terhadap setan. Makhluk pengganggu manusia itu selalu mengajak manusia untuk mengingkari perintah Allah sehingga mereka akan masuk ke dalam neraka penuh siksa. Banyak buku tidak dapat menyuguhkan penjelasan yang dapat diterima tentang keajaiban Quran. Berbagai kesimpulan buruk tentang Islam selalu dilontarkan dalam berbagai media. Namun, itu semua justru menjadi pemicu orang untuk lebih mendalami hakikat Islam.

Gary Miller memeluk Islam pada tahun 1978. Dia memilih nama mualaf Abdul Wahid Omar. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya di departemen matematika dan lebih memilih mengabdi untuk berdakwah di Kanada. Buku yang ditulisnya menarik perhatian banyak orang berjudul The Stunning Quran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 27 September 2020.

Vien AM.

Dicopas dari :

https://republika.co.id/berita/qgin9s430/kisah-profesor-matematika-jadi-mualaf-sebab-surat-azzariyat

Read Full Post »

Di tengah pandemi virus corona ternyata mendorong sebuah penemuan yang luar biasa yakni alat tes cepat virus corona. Rupanya alat tersebut ditemukan seorang ilmuwan muslim Profesor Jackie Ying. Saat ini ia menjadi Kepala Laboratorium NanoBio di Agency for Science, Technology and Research, Singapura.

Dilansir dari website Rahyafteha, Selasa (21/4/2020), Profesor Jackie Ying, 46 tahun, lahir di Taiwan namun ia dan keluarganya pindah ke Singapura. Ia juga merupakan seorang pakar kimia dan telah memenangkan banyak penghargaan termasuk di antaranya 100 insinyur era modern yang dinobatkan oleh American Institute of Chemical Engineers, dan satu dari 100 anak muda di dunia yang diharapkan menjadi inovator terkemuka abad ke-21 oleh Technology Review, majalah inovasi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika.

 Jackie Ying

Profesor Jackie Ying memang muslimah yang luar biasa. Ia menjadi profesor di MIT pada usia 35 tahun dan terpilih untuk Leopoldina (Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Jerman) pada usia 39 tahun.

Ia juga telah menulis ratusan artikel di bidangnya tentang bahan dan perangkat berstruktur nano dan memiliki lebih dari 130 paten yang diterbitkan atau ditangguhkan. Profesor Jackie Ying baru-baru ini terpilih sebagai Fellow Masyarakat Riset Material 2013. Menurutnya, masyarakat adalah organisasi peneliti, dan bahan penelitian terbesar di dunia.

Sebagai seseorang yang memiliki kecerdasan luar biasa Profesor Jackie Ying selalu haus akan ilmu pengetahuan. Bahkan sejak sekolah menengah pertama di Singapura, ia belajar berbagai agama, termasuk Islam.

Tepat pada tahun 2004, Profesor Jackie Ying memutuskan untuk memeluk agama Islam saat usianya yang telah memasuki umur 30-an. Ia juga sudah melaksanakan umroh pada 2013 lalu dan memutuskan untuk menggunakan hijab setelah kembali dari Makkah.

Bagi Profesor Jackie Ying, memakai hijab merupakan kewajiban agama. Ia tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentangnya sebab agama adalah masalah personal. Hal yang mendorong ia memutuskan menjadi mualaf, karena Islam mendorong umatnya untuk terus belajar dan selalu mencari pengetahuan. Melalui ilmu pengetahuan maka seorang muslim bisa bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Ini jika dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah SWT maka akan mendapatkan pahala karena sebagai bentuk ibadah.

Saat mempelajari ilmu pengetahuan, saya selalu berpikir keberadaan Allah SWT. Ia merupakan Tuhan yang menciptakan segalanya, termasuk ilmu pengetahuan, jadi bagi saya sejatinya agama dan ilmu pengetahuan itu tak saling bertentangan,” ujar Profesor Jackie Ying.

Profesor Jackie Ying menceritakan, memang ada tantangan sebagai seorang peneliti perempuan dan juga seorang muslim. Kedua hal ini merupakan minoritas. Namun ia menilai dalam hidup selalu ada tantangan dan perjuangan yang harus dijalani tanpa putus asa.

Ia juga mengaku bekerja dua kali lebih keras dan beruntung dipromosikan dengan cepat sebagi profesor. Selama bertahun-tahun ia juga selalu berinisiatif untuk memperkenalkan sains kepada generasi muda agar lebih tertarik dan mencintai sains. Profesor Jackie Ying sering membawa para siswa ke laboratorium dan memberikan mereka pemahaman dan juga pentingnya keberadaan sains. Nampaknya usaha yang dilakukannya tidak sia-sia, 134 siswa telah mengambil beasiswa sains dan 34 dari mereka telah bergabung dengannya sebagai staf. Alhamdulillah, pencapaian yang luar biasa ya!

Jakarta, 9 Juni 2020.

Vien AM.

Dikutip dari :

https://muslim.okezone.com/read/2020/04/21/614/2202543/kisah-profesor-jackie-ying-penemu-alat-tes-cepat-virus-corona-masuk-islam?page=2

Read Full Post »

Older Posts »