Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Mualaf’ Category

BincangSyariah.Com – Prof. Jonathan Andrew Cleveland Brown adalah sarjana muslim asal Amerika Serikat yang popular dengan penelitian-penelitiannya di bidang hadis dan sejarah Islam. Cendekia yang masuk Islam saat masih kuliah tingkat sarjana (S1) ini aktif menulis berbagai buku dan jurnal, serta aktif berbicara tentang Islam dan peradaban di berbagai forum.

Ia adalah penulis beberapa buku seperti Misquoting Muhammad : The Challenges and Choices of Interpreting the Prophet’s Legacy; Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World; Muhammad: A Very Short Introduction; The Canonization of al-Bukhari and Muslim.

Bincangsyariah memutuskan untuk menerjemahkan salah satu wawancaranya dengan Ahsen Utku untuk portal thelastprophet.info pada tahun 2010, terkait kisah hidupnya memeluk Islam sampai pandangannya tentang Nabi Muhammad Saw. dan respon dunia Barat terhadap muslim.

Bisa cerita kisah anda saat memeluk Islam?

Saya besar di keluarga yang menganut Kristen Anglikan, aliran gereja Inggris yang berada di Amerika, tapi keluarga saya tidak terlalu religius. Sehingga, saya tidak tumbuh di keluarga sebagai seorang kristiani yang taat. Tapi saya percaya adanya Tuhan, saya selalu percaya itu. Ketika saya masuk universitas, di tahun pertama di Georgetown (nama Universitas), saya mengambil mata kuliah “Islam” dan gurunya adalah seorang muslimah.

Saya sangat tertarik dengan yang ia sampaikan. Saya kira apa yang beliau sampaikan adalah apa yang saya yakini sepanjang hidup, sifat Tuhan, masalah sebab akibat, agama seharusnya sesuai dengan segala zaman, agama menguatkan kehidupan, bukan malah mempersulit. Di akhir semester, saya benar-benar merasa seperti orang muslim. Di musim panas, tahun 1997, saya menghabiskan waktu untuk membaca banyak buku tentang Islam dan pergi ke Eropa dan Maroko. Ketika saya kembali ke kampus di awal semester baru, saya memutuskan masuk Islam.

Sebelumnya, apakah anda mempunyai relasi dengan orang-orang Islam?

Tidak, saya kira saya belum pernah bertemu orang Islam sebelum mengambil kuliah waktu itu.

Buku-buku anda banyak berkaitan dengan Nabi Muhammad, dan saya baru saja tahu kalau anda sedang menulis buku baru?

Ya, buku ini adalah bagian dari serial terbit Oxford University Press yang bernama Very Short Introduction (VSI); mereka memiliki tema saja yang disajikan dalam bentuk VSI, seperti “VSI to The European Union”, dan sebagainya. Saya menulis satu tentang Nabi Muhammad, dan saya sudah menyelesaikannya. Naskah yang saya tulis akan terbit menjadi satu buku dan menjadi bagian dari rangkaian serial buku. Saat ini sayangnya penerbitan buku tersebut ditunda, karena mereka mengirimkan terlebih dahulu ke kantor penerbitan cabang Pakistan, untuk meninjau apakah isinya ofensif terhadap muslim.

Saya ingin mengatakan kepada mereka, “Saya seorang muslim dan semua yang di dalamnya saya ambil dari rujukan-rujukan orang Islam. Tidak ada isinya yang menyerang orang Islam. Saya memang membicarakan pendapat sejarawan Barat dan bagaimana mereka membicarakan tentang Nabi Saw., tapi itu hanya di level diskusi saja. Semua hal terkait kehidupan Nabi saya gali dari buku-buku sejarah/sirah dan hadis.”

Kenapa mereka masih khawatir?

Karena buku yang dianggap ofensif kepada Nabi Saw. biasanya menimbulkan sekian problem. Tapi biasanya bagi penerbit, problem berarti makin banyak menarik minat pembeli. Saya tidak apa yang dipikirkan penerbit selanjutnya.

Apa yang paling mempengaruhi anda dari sosok Nabi Muhammad Saw.?

Mungkin, sosok beliau sebagai orang yang mampu melakukan terbaik di setiap situasi. Bagi saya, ini sangat inspiratif. Di banyak kesempatan tokoh-tokoh agama yang kita miliki di Amerika Serikat selalu menampilkan sikap yang sama – contohnya sosok Yesus yang selalu baik dan pemaaf. Namun, adakalanya anda tidak bisa memaafkan. Anda tidak boleh begitu (bersikap selalu baik), terkadang anda harus menjadi sosok yang halus dan manis, kadang harus bersikap to the point dan tegas; terkadang anda harus sabar dan di lain waktu harus bergerak cepat.

Tidak boleh hanya ada satu aturan yang anda terapkan dalam hidup dan mengarahkan bagaimana anda bertindak. Anda harus mampu membaca situasi dan melakukan yang terbaik dalam merespon situasi itu. Dan, Nabi Muhammad adalah sosok yang mengetahui hal itu, dan ini adalah sesuatu yang sangat inspiring. Saya kira itu.

Menurut anda, apakah Muslim hari ini bisa menerapkan ajaran-ajaran Nabi di kehidupan sehari-hari?

Tentu saja. Saya kira muslim hari ini mesti berpikir bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah sosok yang idealis dan efektif di waktu yang sama. Beliau memiliki sejumlah prinsip yang dia pegang, namun beliau juga mengetahui bagaimana “menawarkan” ajarannya serta cara berdialog dengan orang-orang tertentu untuk meyakinkan mereka; dia juga tahu bagaimana berdialog dengan seseorang untuk menjadikannya sebagai kawan.

Beliau tidak selalu hanya bersikap tegas dan ketat. Beliau tahu bagaimana menyesuaikan pesan-pesannya ke orang-orang yang berbeda, bukan untuk merubah pesannya, tapi mengemasnya agar diterima orang tertentu. Itu bukan merubah isi, hanya cara menyampaikannya saja. Ini sangat berguna. Saya kira saat ini ketika orang-orang Islam merasa mereka sangat religius, mereka cenderung membuat banyak pernyataan tentang apa yang haram. Untuk benar-benar mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi Saw., sebenarnya adalah berpikir untuk menyatakan apa yang sesungguhnya benar dan baik dilakukan. Itu yang saya kira sangat bermanfaat hari ini.

Harus seimbang ya?

Ya, menjadi muslim yang utuh, sosok yang multi dimensi.

Lalu mengapa – menurut anda – di Eropa dan Amerika sosok nabi Muhammad seringkali menjadi sasaran kritik bagi sebagian orang?

Pertama-tama, itu adalah tanda mereka tidak tahu apa-apa tentang Muhammad. Orang-orang di Eropa dan Amerika memang banyak yang tidak tahu apa-apa tentang Islam dan Nabi Muhammad. Mereka hanya mendengat bahwa orang Islam adalah teroris sehingga Islam adalah agama kekerasan. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad adalah simbol kekerasan. Itulah akar masalah terbesarnya. Sisanya kebanyakan bersifat politis.

Alasan kenapa masih adalah konflik antara negara-negara Barat dengan negara Muslim adalah karena negara Barat masih menginvasi dan mencengkeram. Tindakan itu berimpilkasi kepada aneka masalah poitik. Orang barat menggambarkan orang Islam sebagai orang keras karena orang Islam sebenarnya sedang bereaksi terhadap invasi orang Barat. Ada sejarah panjang konflik antara negara Barat dan Muslim, namun penggambaran satir terhadap Nabi hari ini, yang berwajah kebencian, hanya bisa dipahami sebagai produk konflik politik.

Anda mengatakan tentang para akademisi Barat terdahulu yang menulis sosok Nabi Muhammad. Jika kita asumsikan generasi hari ini tumbuh dengan membaca tulisan-tulisan tersebut lalu mereka dengan mudah menjustifikasi dengan buruk, apakah situasi ini adalah sesuatu yang normal dan biasa saja?

Ya, saya kira begitu. Hari ini jika anda bertanya seseorang di jalan tentang Islam, tanya mereka satu kata yang ada di pikiran tentang Muhammad Saw, maka mereka akan mengatakan, teroris, ekstrimis, penghunus pedang, dan agama kekerasan. Generasi hingga generasi terus mengulang mitos ini.

Apa yang seharusnya muslim lakukan?

Lakukan yang terbaik untuk mengedukasi semua orang. Masyarakat umum di Barat tidak mengetahui apa-apa. Jika anda menjelaskan kepada orang biasa hal-hal menarik tentang kehidupan Nabi, misalnya bagaimana ia hidup di Mekkah selama tiga belas tahun tanpa melakukan kekerasan, tidak berkonflik dengan orang Mekkah yang menekannya, mereka akan terkejut dan kagum. Saya kira di kehidupan sehari-hari baik itu dalam bentuk buku ataupun artikel di internet kita harus berupaya meningkatkan perhatian orang terhadap sosok Nabi Muhammad.

Anda menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi muslim di Eropa, yang terus meningkat setiap harinya termasuk sikap dari media. Apakah kondisi yang sama ada di Amerika Serikat?

Penjagaan hak-hak kebebasan beragama di USA sangat kuat. Anda secara konstitusional dilindungi untuk dapat menjalankan ajaran agama. Di USA, mudah saja bagi muslim untuk meninggalkan kelas atau kantor untuk alasan beribadah. Anda secara konstitusi diijinkan melakukannya. Jika anda ingin menggunakan penutup kepala/peci lalu atasan anda tidak suka kemudian memecat anda, anda bisa menuntut mereka karena dianggap melanggar undang-undang. Jadi kondisinya lebih mudah karena hak asasi anda dilindung.

Tapi, karena kekhawatiran terhadap terorisme yang semakin meningkat, pemerintah mulai melakukan investigasi terhadap umat muslim tanpa alasan yang benar-benar jelas. Mereka menyimpulkan bahwa muslim yang taat adalah ancaman, atau mereka menjadi ancaman karena tidak setuju dengan kebijakan luar negeri USA. Ngomong-ngomong, sebenarnya setiap orang di USA berhak tidak setuju dengan kebijakan luar negeri negaranya, dan banyak yang seperti itu.

Namun jika yang melakukannya adalah muslim, segera disimpulkan, “orang ini berpotensi radikal !”. Memang setelah peristiwa 9/11, The Patriot Act (UU Terorisme di USA) disahkan yang mana bisa membuat pemerintah lebih bebas memburu orang-orang atas dasar keamanan nasional. Penyadapan tanpa izin atau surat tuntunan langsung dari Departemen Hukum (Justice Departement) menjadi dibebaskan. Inilah yang menyebabkan penyiksaan beberapa orang Islam di Penjara Guantanamo.

Informasi baru-baru ini muncul kabar bahwa seluruh mahasiswa Muslim data-datanya sudah diterima CIA?

Hal-hal seringsekali terjadi. Sebenarnya di USA hal seperti masih diperdebatkan. Ada banyak orang Amerika – yang tidak Islam – menyetujui hal itu karena mencederai nilai-nilai konstitusi. Pemerintah seharusnya tidak diizinkan untuk melakukan penyadapan tanpa izin dari hakim pengadilan. Maka anda tidak boleh menyadap rekaman rekaman dari mahasiswa – misalnya. Setelah adanya Patriot Act, jika anda pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku, pemerintah dapat “masuk” ke dalam perpustakaan dan melihat apa yang anda baca.

Hari ini, Amerika dapat mengekstradisi orang-orang Islam untuk diinterogasi tanpa alasan yang jelas. Banyak orang Amerika yang bukan muslim juga mengkritisi halini karena mereka melihat ini sebagai pencederaan terhadap hak-hak konsitusi. Ini adalah perdebatan yang besar sekali, muslim menentangnya, begitu juga orang-orang Amerika pada umumnya

Apakah anda secara pribadi menghadapi masalah sebagai akademisi yang beragama Islam?

Tidak saya kira. Saya bukan contoh yang baik untuk pertanyaan ini. Nama saya adalah Jonathan Brown dan saya tidak terlihat seperti berasal dari negara muslim, hehe. Saya tidak pernah mendapatkan persekusi akibat nama atau tampilan saya. Saya juga tidak pernah menghadapi problem sebagai sarjana muslim. Orang-orang secara umum sebenarnya tertarik pendapat-pendapat yang disampaikan oleh orang Islam.

Apa yang anda lihat dari Turki sebagai negara muslim?

Saya senang sekali. Saya memahami muslim di negara ini masih mengalami sejumlah kesulitan. Namun saya masih senang karena kita dapat berjalan dan shalat kapanpun saya mau. Makanannya juga enak. Saya berharap saya mengetahui bahasa Turki. Saya ingin belajar lebih banyak. Secara keagamaan, memang Turki adalah negara yang rumit. Saya respek sekali dengan orang-orang Turki. Tapi sekali lagi, ini adalah negara yang rumit.

Apa pandangan anda soal sulitnya persatuan dunia Islam?

Ya, jurang menuju persatuan masih sangat besar. Salah satu problemnya adalah orang-orang hanya tertarik dengan keuntungan pribadi dan gagal untuk menyatu menjadi sebuah kelompok. Mereka berpikir bahwa jika mereka tidak setuju dengan seseorang untuk satu permasalahan, maka mereka tidak bisa bekerja bersama. “Saya tidak ingin bersama mereka, saya tidak ingin di ruang yang sama, saya tidak ingin bekerjasa, ..dst” Tapi itu adalah sebuah kepandiran karena anda tidak mungkin setuju serratus persen dengan siapapun. Tapi seharusnya anda melihat kesempatan untuk bekerjasama dan membangun relasi, bukan malah menjauh.

Apa anda melihat bahwa harus ada satu atau dua kekuatan politik yang memimpin negara-negara muslim ini? Misalnya, haruskah negara-negara tersebut menyatu dibawah koordinasi konferensi Islam misalnya?

Itu masuk akal. Saya kira secara politis orang Islam di seluruh dunia memiliki permasalahan bersama yang mereka perhatikan, begitu juga permasalahan seputar gaya hidup, dan saya kira mereka seharusnya mampu melakukan lobi sebagai satu kelompok besar. Contohnya adalah jika sebuah negara, seperti Prancis, yang menetapkan bahwa perempuan tidak boleh menggunakan jilbab di universitas, negara-negara muslim bisa melakukan langkah “boikot” atau memberi pernyataan.

Sebagai orang Amerika saya tidak menyetujui langkah pemerintah Prancis ini. Saya tidak berpikir ada orang Amerika yang akan setuju bahwa seseorang tidak boleh diizinkan untuk mempraktikkan agama mereka secara bebas; jika Anda ingin mengenakan atribut keagamaan, ini adalah hak Anda. Saya kira ini satu hal yang bisa mereka lakukan dan hal lainnya harus memiliki dampak yang lebih kuat secara politik, bagi kebijakan luar negeri.

Misalnya jika sebuah negara ingin menginvasi sebuah negara Muslim, maka tidak ada satupun negara muslim yang akan mendukungnya. Negara-negara muslim lain kemudian membuat kebijakan tidak mengizinkan penginvasi menggunakan wilayah udara atau daratnya untuk kepentingan militernya.

Betul, bahkan tidak akan melakukan kerjasama komersial dan militer dengan negara yang menginvasi …

Perlu diketahui itu lebih baik bagi Amerika. Kebanyakan orang Amerika hari ini akan mengatakan bahwa menginvasi Irak adalah ide yang sangat buruk. Dan jika negara-negara Muslim menghambat Amerika sehingga sulit menginvasi Irak dengan menolak kerjasama atau menerima tawaran Amerika, itu akan menyelamatkan Amerika dari berbagai masalah, miliaran dolar dan nyawa akan terselamatkan. Karena, ketika ada seseorang yang memberikan anda nasihat dan menyarakan untuk tidak melakukan sesuatu, itu baik buat anda.

Jakarta, 3 November 2026, 23 Jumadil Awal 1448H.

Vien AM.

Dicopy dari : https://bincangsyariah.com/khazanah/wawancara/jonathan-c-brown-nabi-muhammad-saw-adalah-pribadi-yang-inspiratif/

Read Full Post »

Di jantung negara bagian Texas, Amerika Serikat, di sebuah kota kecil yang seluruhnya beragama Kristen dan hampir tidak ada seorang pun yang tahu tentang Islam, hidup seorang pemuda bernama Robert DuVilla. Ia tinggal di sebuah panti asuhan Kristen.

Robert mengalami kecelakaan mobil dahsyat yang membuatnya lumpuh total dari leher ke bawah. Ia hanya dapat mengendalikan tubuhnya dengan mata dan lidahnya, dan bergantung pada komputer yang dikendalikannya dengan perintah suara untuk menjelajah dan berkomunikasi secara daring. Robert adalah seorang Kristen yang taat dan berpendidikan yang bersyukur kepada Tuhan atas karunia kehidupan meskipun memiliki cacat fisik yang parah. Namun, ia mencari jalan yang lebih dekat kepada Tuhan, jadi ia berterima kasih kepada Tuhannya dan menerima kehendak-Nya.

Kemudian datanglah penglihatan yang mengubah segala nya. Ia melihat dalam mimpinya,seorang pria yang berkata kepadanya: “Allah tidak mengutus para utusan untuk disembah selain Dia, melainkan Dia mengutus mereka agar manusia menyembah Allah semata. Yesus, semoga kedamaian menyertainya, adalah seorang nabi manusia yang makan, minum, dan perlu menggunakan kamar mandi seperti manusia lainnya. Dia bukanlah tuhan, tetapi seorang utusan dari Tuhan Semesta Alam”.

Robert terbangun dan menyadari bahwa pria dalam mimpinya adalah Nabi Muhammad ﷺ. Ia segera menggunakan perintah suara untuk membuka Google dan mencari “Muhammad, Rasulullah.” Di sana, ia menemukan Islam. Dia membaca tentangnya, menonton debat dan ceramah dari para pendakwah Amerika, dan mengikuti ceramah Syekh Noman Ali Khan, yang diikuti oleh jutaan orang di seluruh dunia (seorang pendakwah Amerika keturunan Pakistan, pendiri Institut Bayyinah untuk pengajaran Al-Quran dan bahasa Arab).

Dengan kesederhanaan yang menakjubkan, Robert masuk Islam sendirian di dalam rumah, melafalkan dua kalimat syahadat tanpa benar-benar bertemu dengan seorang Muslim pun, dan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Ia mulai belajar bahasa Arab secara otodidak, menghafal Surah Al-Fatihah dan kemudian sepuluh surah pendek lainnya, dan mulai melafalkan Al-Qur’an dengan suara yang jelas meskipun lumpuh.

Suatu hari, ketika ia sedang membaca Surah Al-Asr dengan suara lantang: “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, yang saling menasihati dalam kebenaran, dan yang saling menasihati dalam kesabaran.”

Seorang pekerja perawat asal Mesir di gedung itu mendengar suaranya. Pemuda ini telah menjauhkan diri/murtad dari Islam dan memeluk gereja, jadi dia terkejut mendengar Al-Quran di tempat yang tidak pernah dia duga.

Dia mendekat dan bertanya kepada Robert, “Apa yang sedang kamu dengarkan?“

Robert menjawab: “Saya tidak mendengarkan… Saya yang membaca.”

Pemuda Mesir itu bertanya kepadanya: “Apakah Anda seorang Muslim?“

Robert berkata: “Ya, saya masuk Islam.“

Robert menceritakan seluruh kisahnya: visi untuk mencari Islam, dan komitmennya pada Al-Quran dan salat meskipun memiliki keterbatasan fisik. Pemuda Mesir itu sangat terpengaruh, sehingga ia kembali kepada agamanya dan memeluk Islam serta menjadi teman dekat Robert. Dia senantiasa duduk bersamanya, mengajarinya, dan berdoa kepada Tuhan agar mengabulkan keinginan Robert untuk bertemu dengan Sheikh Noman Ali Khan, yang sangat dicintai dan diidolakan Robert.

Alhamdulillah… Setelah beberapa saat, pemuda Mesir itu datang ke sebuah masjid tempat Syekh Numan datang untuk memberikan khutbah. Setelah salat Jumat, pemuda Mesir itu menceritakan seluruh kisahnya kepada Syekh Numan, dan ia berkata kepadanya: “Saya rasa Allah telah mengabulkan doa Robert dan doa saya.”

Syekh Nauman Khan memutuskan untuk segera mengunjungi Robert. Dia pergi bersama tim dari Bayna Institute ke panti jompo dan bertemu Robert, dan ia sangat gembira. Robert diminta untuk membacakan sebuah surah, lalu ia membacakan Surah Al-Asr dengan suara merdunya… dan semua orang menangis, air mata mengalir di wajah mereka.

Kemudian, Robert bersikeras untuk pergi ke salat Jumat di masjid untuk pertama kalinya. Ia merasakan sakit di tulang punggungnya karena guncangan di jalan dan iapun diberitahu bahwa ia tidak akan bisa menggunakan kursi roda selama berbulan-bulan, tetapi ia berkata: “Saya tidak pernah merasa setenang ini dalam hidup saya seperti saat berada di masjid. Nanti setelah sembuh, saya akan kembali melaksanakan salat Jumat setiap minggu, karena saya belum pernah merasakan ketenangan batin seperti ini sebelumnya.”

Syekh Nouman Ali Khan berkata tentang Robert: “Saya belum pernah melihat wajah yang secerah dan setenang wajahnya. Robert benar-benar puas dengan hidupnya, sangat bahagia. Tujuh atau delapan pidato terakhir saya berkisar pada sebuah kata yang dia ucapkan. Robert adalah guru saya, syekh saya… Jika seseorang bertanya siapa syekh saya, saya akan menjawab: Robert Duvilla.”

Kisah ini membuktikan bahwa Allah membimbing siapa pun yang Dia kehendaki, bahkan jika mereka berada dalam kesendirian dan ketidakberdayaan yang paling besar, dan bahwa Islam menyentuh hati dengan cara yang paling sederhana…

Segala puji bagi Dia yang menjadikan orang lemah sebagai alasan untuk membimbing orang lain, dan menjadikan orang cacat sebagai inspirasi bagi orang sehat. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.

Robert Devila, ia meninggal dunia pada Juli 2022.

Kami memohon kepada Allah agar mengampuninya, mengasihaninya, dan menganugerahinya taman-taman yang luas di Surga, serta menganugerahi kami dan Anda keteguhan dalam agama-Nya, agama Islam.

Wallahu’alam.

Jakarta, 11 Februari 2026.

Read Full Post »

AISHA Bhutta, seorang muslimah yang juga dikenal dengan nama aslinya, Debbie Rogers, punya cerita menakjubkan tentang bagaimana dirinya memeluk Islam dan mengantarkan hidayah kepada 30 orang keluarga dan kerabatnya.

Keluarga Rogers adalah orang-orang Kristen yang taat. Mereka secara rutin menghadiri pertemuan Salvation Army. Ketika semua remaja di Inggris mencium poster George Michael (artis), Debbie Rogers lebih suka memasang foto-foto Yesus di dindingnya. Namun dia menemukan bahwa kekristenan tidak cukup; ada terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan dia merasa tidak puas dengan kurangnya struktur disiplin untuk keyakinannya.

“Pasti ada lebih banyak yang harus kupatuhi daripada sekadar berdoa ketika aku menginginkannya,” kata dia.

Debbie Rogers masih seorang gadis Kristen taat berusia belia saat mengenal Muhammad, pria yang kini menjadi suaminya. Aisha pertama kali bertemu calon suaminya, Mohammad Bhutta, ketika dia berusia 10 tahun. Muhammad merupakan pelanggan toko yang dikelola oleh keluarga Rogers. Aisha melihatnya sholat di ruang belakang.

“Ada kepuasan dan kedamaian dalam apa yang dia lakukan. Dia mengatakan dia adalah seorang Muslim. Saya berkata: Apa itu seorang Muslim?” tutur Aisha.

Kemudian dengan bantuan Muhammad, dia mulai mencari lebih dalam tentang Islam. Pada usia 17, dia telah membaca seluruh isi Alquran dalam bahasa Arab. “Semua yang saya baca,” katanya, “masuk akal.”

Debbie Rogers yang kemudian bernama Aisha, membuat keputusan untuk masuk Islam pada saat dirinya masih berusia 16. “Ketika aku mengucapkan kata-kata itu, rasanya seperti beban besar yang kubawa di pundakku terlempar. Aku merasa seperti bayi yang baru lahir,” ungkap Aisha.

Meskipun dia telah jadi mualaf, orang tua Muhamad ternyata menentang pernikahan mereka. Mereka melihatnya sebagai wanita Barat yang akan menyesatkan putra tertua mereka dan memberi nama keluarga yang buruk.

Meski demikian, pasangan itu menikah di masjid setempat. Aisha mengenakan gaun yang dijahit tangan oleh ibu dan saudara perempuan Muhamad yang menyelinap ke upacara melawan keinginan ayahnya yang menolak untuk hadir. Nenek tuanya yang membuka jalan untuk ikatan di antara para wanita. Dia tiba dari Pakistan di mana pernikahan campuran ras bahkan lebih tabu. Neneknya bersikeras ingin bertemu Aisha. Dia sangat terkesan oleh fakta bahwa calon cucu menantunya itu mempelajari Alquran dan kultur keluarga Muhammad. Neneknya lah yang meyakinkan keluarga untuk menerima Aisha.

Sementara orang tua Aisha, Michael dan Marjory Rogers, meskipun menghadiri pernikahan, lebih peduli dengan pakaian yang sekarang dipakai oleh putri mereka (shalwaar kameez tradisional) dan apa yang akan dipikirkan tetangga. Enam tahun kemudian, Aisha memulai sebuah misi untuk mengantarkan hidayah kepada mereka dan anggota keluarganya lainnya.

“Suami saya dan saya berdakwah pada ibu dan ayah saya, memberi tahu mereka tentang Islam dan mereka melihat perubahan dalam diri saya,” ungkap Aisha.

Ibunya segera mengikuti jejaknya. Marjory Rogers mengubah namanya menjadi Sumayyah dan menjadi seorang Muslim yang taat. “Dia mengenakan jilbab dan melakukan shalat tepat waktu dan tidak ada yang berarti baginya kecuali hubungannya dengan Tuhan,” kata Aisha.

Ayah Aisha lebih sulit didakwahi, jadi dia meminta bantuan ibunya yang baru masuk Islam (yang sejak itu meninggal karena kanker). “Ibu saya, saya biasa berbicara dengan ayah saya tentang Islam dan suatu hari kami duduk di sofa di dapur dan dia berkata, “Apa kata yang kamu ucapkan ketika kamu menjadi seorang Muslim?” “Aku dan ibuku terkejut dibuatnya. Tiga tahun kemudian, saudara laki-laki Aisha masuk Islam melalui telepon, – terima kasih kepada BT,” cerita Aisha.

Kemudian istri dan anak-anak dari saudara lelaki Aisha itu turut masuk Islam, diikuti oleh putra saudara perempuannya. Itu tidak berhenti di situ. Setelah keluarganya menjadi mualaf, Aisha mengalihkan perhatiannya ke lingkungan kediamanannya di Cowcaddens, yang penuh dengan deretan flat rumah petak abu-abu. Setiap hari Senin selama 13 tahun terakhir sejak dirinya masuk Islam, Aisha telah membuka masjlis di sana. Islam untuk wanita Skotlandia. Sejauh ini dia telah membantu untuk mengkonversi lebih dari 30 orang.

Para wanita datang dari berbagai latar belakang yang membingungkan. Trudy, seorang dosen di Universitas Glasgow dan mantan Katolik, menghadiri kelas-kelas Aisha murni karena dia ditugaskan untuk melakukan penelitian. Tetapi setelah enam bulan belajar, dia pindah agama. Kekristenan penuh dengan “inkonsistensi logis”. “Saya tahu dia mulai terpengaruh oleh pembicaraan”, kata Aisha. Bagaimana dia bisa tahu? “Aku tidak tahu, itu hanya perasaan.”

Kelas-kelas itu termasuk gadis-gadis Muslim yang tergoda oleh cita-cita Barat dan kebutuhan akan keselamatan, mempraktikkan wanita Muslim yang menginginkan forum terbuka untuk diskusi menolak mereka di masjid yang didominasi pria setempat, dan mereka yang hanya tertarik pada Islam.

Aisha menyambut pertanyaan. “Kita tidak bisa berharap orang membabi buta percaya,” kata dia.

Suaminya, Mohammad Bhutta, tampaknya tidak begitu terdorong untuk mengubah pemuda Skotlandia menjadi saudara Muslim. Dia sesekali membantu di restoran keluarga, tetapi tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memastikan kelima anaknya tumbuh sebagai Muslim.

Yang tertua, Safia, “hampir 14, Al-Humdlillaah (Alhamdulillah!)”, Tidak membenci majlis. Suatu hari dia bertemu seorang wanita di jalan dan membawa belanjaannya, wanita itu menghadiri kelas-kelas Aisha dan sekarang seorang Muslim.

“Jujur saya bisa mengatakan saya tidak pernah menyesalinya,” kata Aisha tentang perjalanannya ke Islam.

“Setiap pernikahan mengalami pasang surut dan kadang-kadang Anda membutuhkan sesuatu untuk menarik Anda keluar dari kesulitan apa pun. Tetapi Nabi SAW bersabda, mengatakan: ‘Setiap kesulitan memiliki kemudahan.’ Jadi, ketika Anda melewati tahap yang sulit, Anda sebetulnya sedang bekerja untuk kemudahan yang akan datang.”

Mohammed lebih romantis: “Saya merasa kita sudah saling kenal selama berabad-abad dan tidak boleh berpisah satu sama lain. Menurut Islam, Anda bukan hanya mitra seumur hidup, Anda bisa menjadi mitra di surga juga, selamanya. Ini hal indah,” kenang Aisha. []

Wallahu a’lam bish shawwab.

Jakarta, 6 Maret 2024.

Vien AM.

Dicopy dari : https://www.islampos.com/kisah-aisha-bhutta-seorang-mualaf-yang-mengislamkan-30-orang-188533/

Read Full Post »

Hidayatullah.com – Megan B Rice hobi membaca. Ia memulai sebuah klub novel roman di platform Discord dan mengunggah ulasan buku di TikTok. Bulan lalu, Rice, yang berusia 34 tahun dan tinggal di Chicago, menggunakan akun media sosialnya untuk menyuarakan krisis kemanusiaan di Gaza.

“Saya ingin berbicara tentang keimanan orang-orang Palestina, bagaimana iman mereka begitu kuat, dan mereka masih menemukan ruang untuk menjadikannya sebagai prioritas untuk berterima kasih kepada Tuhan, bahkan ketika segalanya telah diambil dari mereka,” katanya dalam sebuah wawancara.

Beberapa follower Muslim menyarankannya untuk membaca Al-Qur’an, kitab suci agama Islam, untuk mendapatkan lebih banyak pemahaman tentang Islam. Maka Rice, yang tidak dibesarkan dalam lingkungan religius, mengorganisir “Klub Buku Agama Dunia” di Discord, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang dapat mempelajari Al Qur’an bersamanya.

Semakin banyak Rice membaca, semakin banyak isi teks yang selaras dengan sistem keyakinannya. Ia menemukan bahwa Al-Qur’an adalah anti-konsumerisme, anti-penindasan, dan feminis. Dalam waktu satu bulan, Rice mengucapkan syahadat, membeli jilbab, dan menjadi seorang Muslim.

Rice tidak sendirian dalam keinginannya untuk merasakan Al-Qur’an. Di TikTok, anak-anak muda AS membaca teks tersebut untuk lebih memahami agama yang telah lama dijelek-jelekkan oleh media Barat, dan untuk menunjukkan solidaritas dengan banyak Muslim di Gaza. Video-video di bawah tagar “quranbookclub” – yang telah ditonton sebanyak 1,9 juta kali di aplikasi ini – menunjukkan para pengguna sedang memegang kitab suci yang baru mereka beli dan membaca ayat-ayatnya untuk pertama kali.

Ada juga yang mencari versi gratisnya secara online, atau mendengarkan seseorang melantunkan ayat-ayat tersebut saat mereka berkendara ke tempat kerja. Tidak semua orang yang membaca Al-Qur’an di TikTok adalah perempuan, tetapi sebagian besar mereka mengikut #BookTok, sebuah sub-komunitas di mana sebagian besar pengguna perempuan berkumpul untuk mendiskusikan buku.

Zareena Grewal adalah seorang profesor di Yale yang sedang mengerjakan sebuah buku tentang kitab suci Islam dan toleransi beragama dalam budaya Amerika. Ia mengatakan bahwa ketertarikan terhadap TikTok ini bukan tidak pernah terjadi sebelumnya.

Setelah peristiwa 9/11, Al-Qur’an menjadi buku terlaris secara instan, meskipun pada saat itu banyak orang Amerika yang membelinya untuk mengkonfirmasi bias yang mereka pegang tentang Islam sebagai agama yang pada dasarnya penuh dengan kekerasan.

“Perbedaannya adalah bahwa pada saat ini, orang-orang tidak beralih ke Al-Qur’an untuk memahami serangan 7 Oktober oleh Hamas,” kata Grewal. “Mereka berpaling kepada Al-Qur’an untuk memahami ketangguhan, keimanan, kekuatan moral, dan karakter yang luar biasa yang mereka lihat dalam diri Muslim Palestina.”

Hal itulah yang membuat Nefertari Moonn, seorang wanita berusia 35 tahun dari Tampa Florida, membaca Al Qur’an milik suaminya. Moonn menganggap dirinya spiritual, bukan religius, dan menggambarkan suaminya sebagai seorang Muslim yang tidak taat. “Saya ingin melihat apa yang membuat orang memanggil Allah ketika mereka menghadapi kematian,” katanya. “Melihat bagian demi bagian beresonansi dengan saya. Saya mulai memiliki keterikatan emosional dengannya.”

Karena itu, Moonn pun memutuskan untuk bersyahadat, kembali kepada fitrahnya menjadi seorang Muslim.

“Saya tidak bisa menjelaskannya, tapi ada kedamaian yang muncul saat membaca Al-Qur’an,” katanya. “Saya merasa ringan, seperti kembali kepada sesuatu yang selalu ada dan menunggu saya untuk kembali.”

Misha Euceph, seorang penulis dan host podcast keturunan Pakistan-Amerika yang mempelajari penafsiran progresif Al-Qur’an, telah menyelenggarakan serial Instagram Qur’an Book Club sejak tahun 2020. Ia mengatakan bahwa tema-tema tertentu dalam teks tersebut sesuai dengan nilai-nilai kaum muda Amerika yang berhaluan kiri.

“Al-Qur’an penuh dengan metafora alam dan mendorong Anda untuk menjadi pencinta lingkungan,” kata Euceph. “Al-Qur’an juga memiliki sikap anti-konsumerisme, dalam arti bahwa kita semua adalah penjaga bumi yang tidak boleh menjalin hubungan yang eksploitatif dengan dunia atau sesama manusia.”

Dalam Al-Qur’an, laki-laki dan perempuan adalah setara di mata Tuhan, dan Rice serta para pengguna TikTok lainnya mengatakan bahwa penafsiran mereka terhadap teks tersebut mendukung prinsip-prinsip feminis mereka. Ia juga terlibat dengan penjelasan ilmiah tentang penciptaan, dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang membahas dentuman besar dan teori-teori lainnya.

“Biasanya, kita sudah terbiasa dengan komunitas agama yang memerangi ilmu pengetahuan,” kata Rice. “Sekarang saya melihat sebuah agama merangkul sains dan menggunakan teks-teks sucinya untuk mendukungnya.”

Sylvia Chan-Malik sedang berkualiah di sekolah pascasarjana setelah peristiwa 9/11 di tengah-tengah lonjakan kejahatan kebencian terhadap Muslim dan bahasa xenofobia yang digunakan di media. “Saya sangat tertarik dengan apa yang sedang terjadi, membandingkannya dengan sejarah orang Jepang-Amerika setelah Pearl Harbor,” katanya. “Saya mulai mencari tahu sendiri, bertemu dengan orang-orang Islam, dan saya sangat terkejut ketika saya mengerjakan pekerjaan rumah tentang Islam.”

Dalam perjalanannya, Chan-Malik memeluk agama Islam. Dia sekarang menjadi profesor di Rutgers University yang penelitiannya berfokus pada sejarah Islam dan Islamofobia di AS. “Saya memiliki pengalaman yang sangat mirip dengan apa yang terjadi di TikTok sekarang,” katanya. “Pada saat itu, saya bertanya-tanya mengapa orang-orang yang saya temui yang beragama Islam sangat berbeda dengan apa yang saya dengar di berita. Saya tidak pernah mengalami perbedaan yang begitu besar antara persepsi populer dan kebenaran.”

Grewal, profesor dari Yale, percaya bahwa orang sering kali mulai membaca teks dengan harapan dapat mendukung pandangan dunia yang sudah mereka miliki. “Sama seperti orang-orang rasis yang mencari ayat-ayat untuk mengkonfirmasi bias rasial mereka, orang-orang yang berhaluan kiri mencari buku ini untuk mengkonfirmasi pesan-pesan progresif,” katanya. “Setiap kitab suci itu rumit dan mengundang banyak pembacaan,” dan para TikTokers “datang ke teks untuk mencari apa yang mereka harapkan”.

Tumbuh di bawah bayang-bayang peristiwa 9/11, kata Rice, ia menolak Islamofobia dan diskriminasi yang menjadikan warga Muslim Amerika sebagai target. “Sebagai seorang wanita kulit hitam, saya terbiasa dengan pemerintah Amerika yang menyebarkan stereotip berbahaya yang mengarah pada kesalahpahaman yang dimiliki orang-orang di luar komunitas saya,” katanya. “Saya tidak pernah percaya dengan stereotip yang disebarkan tentang komunitas Muslim pasca 9/11, tetapi baru setelah saya mulai membaca Al-Qur’an, saya menyadari bahwa saya telah menginternalisasi kesalahpahaman tersebut, karena saya percaya bahwa Islam adalah agama yang sangat keras dan ketat.”

Membaca Al-Qur’an dimulai sebagai cara Rice menunjukkan empati kepada warga Palestina yang terjebak di Gaza. Kini, hal tersebut telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama. “Menurut saya, tidak masalah apa latar belakang agama Anda,” katanya. “Anda bisa menumbuhkan empati kepada seseorang dengan mempelajari bagian paling intim dari mereka, termasuk keyakinan mereka.”

The Guardian

Read Full Post »

Membaca kisah perjalanan mualaf dari berbagai negara dalam menemukan hidayahNya selalu menarik untuk diikuti. Allah SWT lah yang memberi hidayah dan petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan ini berlaku sepanjang masa sejak diciptakannya manusia pertama hingga akhir dunia nanti.

Termasuk juga para sahabat di zaman awal lahirnya Islam seperti Abu Bakar ra dll. Bahkan Umar ibnul Khattab pemuda gagah berani bertemparamen keras yang sangat membenci Islam hingga berniat membunuh Rasulullah Muhammad SAW. Namun ketika kemudian ia diberi tahu bahwa adik perempuannya sendiri diam-diam memeluk Islam. Maka ia membelokkan langkahnya menuju rumah adiknya tersebut untuk mendampratnya. Namun apa yang terjadi?? Ketika adiknya menunjukkan potongan surat Thoha ayat 1 hingga 8, hatinyapun tiba-tiba luluh.

“ Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.  (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)”.

Umar segera mengayunkan langkahnya menuju Darul Arqam dimana Rasulullah biasa berkumpul bersama para sahabat untuk mengkaji Al-Quranul Karim. Begitu mengetahui Umar yang terkenal keji berada di depan pintu, para sahabat segera bersiap dengan pedang mereka.

Namun ternyata Umar  yang di kemudian hari menjabat sebagai amirul mukminin dengan gelar Al-Faruq yang artinya pemisah antara yang haq (benar) dan batil (salah) itu datang tidak dengan menghunuskan pedang melainkan untuk menyatakan ke-Islam-annya.

Rupanya Allah swt tengah mengabulkan doa Rasulullah sebagai berikut, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang yang lebih Engkau cintai dari kedua laki-laki ini, Abu Jahal atau Umar bin Al-Khaththab.”

Demikianlah Allah Azza wa Jala memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki, dengan cara apapun yang Ia kehendaki.

**********

Pada suatu hari di tahun 2009, seorang pria bertubuh tinggi kekar berjalan menuju masjid dengan kepala tertunduk dan wajah merah padam menyimpan kemarahan yang siap meledak. Hari itu adalah hari Jumat dan masjid dipenuhi jemaah yang bersiap melaksanakan shalat Magrib.

Pria bertato itu adalah Richard McKinney, seorang mantan anggota Angkatan Laut AS yang membenci Islam sejak bertempur di Irak dan Afghanistan. Kebencian dan kemarahannya semakin memuncak ketika ia pulang ke kampung halamannya di Muncie, Indiana, Amerika Serikat, melihat banyak Muslim di kotanya.

Ia memasuki masjid tentu saja bukan untuk beribadah melainkan  untuk menghancurkan tempat suci tersebut dengan bom. Ia menyebutnya sebagai misi terakhirnya dengan taruhan rela mati.  Sore itu ia pergi ke masjid dengan niat untuk mengamati lokasi dimana ia akan meletakkan bom yang dibawanya sekaligus mengumpulkan informasi intelijen untuk mendukung asumsinya bahwa Islam adalah ideologi kejam. 

“ Islam adalah kanker dan saya seorang dokter bedah yang akan mengobatinya,” ujarnya sesumbar kepada banyak orang yang ditemuinya.

Dalam benaknya terbayang pemandangan indah meledak dan matinya para teroris Islam, dari tempat parkirnya.

Namun begitu memasuki masjid, terjadi sesuatu yang tak disangkanya.  Beberapa orang jamaah masjid yang tampaknya menaruh curiga terhadapnya, mendekati dan bahkan melucutinya tanpa ia bisa berbuat sesuatu.  

Dan sebelum ia sempat berpikir panjang, Mohammad S Bahrami, warga Afghanistan salah satu pendiri Islamic Center tersebut datang memeluknya dan menangis. Kemudia ia memberinya Al-Quran, dan meminta untuk membaca dan mempelajarinya. Serta menawarkannya untuk datang kapan saja ke masjid tersebut untuk menanyakan apapun yang ia ingin ketahui tentang Islam.

McKinney benar-benar dibuat terpukau atas apa yang terjadi. Istri Mohammad S Bahrami, Bibi Bahrami, yang diberi julukan “Ibu Teresa” oleh komunitas Muslim di Muncie bahkan mengundangnya datang ke rumah mereka. Dan menghidangkannya hidangan lezat khas Afghanistan.

8 bulan kemudian setelah yakin akan kebenaran Islam, McKinney pun bersyahadat. Kini McKinney bukan lagi orang asing yang berdiri di gerbang masjid. Ia telah menemukan ikatan persaudaraan di sana, bukan dalam panasnya pertempuran, tapi dalam keyakinan. Ia bahkan sempat menjabat sebagai Presiden Islamic Center Muncie selama dua tahun.

Sebuah pelajaran menarik, disamping hidayah, doa dari orang-orang sholeh yang menginginkan seseorang memeluk Islam adalah penting.

Beberapa tahun kemudian, Josh Seftel seorang sutradara film yang memproduksi film seri documenter berjudul “The Secret Life of Muslims” tertarik dengan kisah Mc Kinney. Maka iapun mengangkat kisah tersebut menjadi film pendek dokumenter berjudul “Stranger at the Gate”. Film ini memenangkan penghargaan khusus di Festival Film Tribeca 2022.

“ Film ini bukan sekedar berbagi kisah nyata dalam ber-Islam. Tetapi untuk  memotivasi agar orang mau bertindak melawan kebencian”, McKinney menjelaskan alasannya bersedia kisahnya didokumentasikan dalam film.

“Itu untuk semua orang. Dengan semua ‘isme’ yang harus kita hadapi setiap hari di negara ini”, imbuhnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Mei 2023.

Vien AM.

Sumber :

https://www.merdeka.com/dunia/tentara-itu-masuk-ke-masjid-membawa-bom-tapi-calon-korbannya-malah-mengubah-hidupnya.html

Read Full Post »

Pada suatu pagi di dataran tinggi Skotlandia, beberapa mobil mulai berdatangan ke parkiran A890 di sebuah hutan di Glen Caron. Prakiraan cuaca mengatakan hari itu akan hujan, tetapi matahari menyembul sejenak ketika sekelompok pendaki bersiap-siap untuk menempuh perjalanan menanjak sejauh 10 kilometer di Gleann Fhiodhaig, Wester Ross, Skotlandia.

Pemandangan seperti ini dapat ditemukan di ratusan parkiran mobil di seluruh Skotlandia setiap akhir pekan. Bedanya, kelompok yang terdiri dari 20 pendaki ini adalah peziarah. Mereka hendak mengunjungi makam seorang aristokrat dari zaman Ratu Victoria.

Mereka datang dari Edinburgh, Liverpool, Leicester, dan tempat-tempat lain yang lebih jauh untuk memberi penghormatan pada Lady Evelyn Cobbold – orang yang dianggap sebagai perempuan mualaf pertama yang lahir di Inggris dan melakukan ibadah haji ke Mekah.

Kegiatan keagamaan itu diselenggarakan oleh The Convert Muslim Foundation, yayasan berbasis di Britania Raya yang memberikan sokongan bagi orang-orang yang baru masuk Islam. Yayasan tersebut didirikan oleh Batool Al-Toma, seorang mualaf dari Irlandia. Perempuan itulah yang mengundang para mualaf untuk mendaki gunung.

“Sejak saya mendengar tentang Lady Evelyn, saya tertarik pada ceritanya. Dia wanita tangguh yang tidak membiarkan dirinya diremehkan hanya karena dia perempuan,” kata Al-Toma.

Tidak lama setelah mereka berjalan, hujan mulai turun. Topi dan tudung tahan air pun menutupi kepala dan hijab. Seiring angin dan hujan menerpa, para peziarah merenungkan perjalanan terakhir Lady Evelyn di lembah itu menuju tempat peristirahatan terakhirnya.

Ia meninggal pada Januari 1963 pada musim dingin yang lebih dingin dari biasanya dan dikubur di lereng bukit terpencil di perkebunan Glencarron miliknya. Dalam pemakamannya, seorang peniup bagpipe yang “gemetaran karena kedinginan” memainkan MacCrimmon’s Lament (lagu ratapan Skotlandia untuk orang yang meninggal dunia). Kemudian seorang Imam dari Woking, Surrey melakukan ritual penguburan, menurut kesaksian yang dipublikasikan di situs web Masjid Inverness.

Kaitan dengan Woking itu masih ada. Seorang perwakilan dari masjid di kota tersebut ikut serta dalam ziarah ke kuburan Lady Evelyn hampir 60 tahun kemudian.

Lahir di Edinburgh pada akhir 1800-an, Lady Evelyn menghabiskan masa kecilnya di Skotlandia dan Afrika Utara. Di Afrika, ia pertama kali mengenal Islam, berkunjung ke masjid bersama kawan-kawannya dari Aljazair. Lady Evelyn menikah dengan John Cobbold pada 1891 setelah bertemu saat melancong di Kairo.

“Tanpa disadari, dalam hati saya sudah sedikit Muslim,” tulisnya di kemudian hari.

Tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan itu mulai memeluk Islam. Namun pertemuan kebetulan dengan Paus saat ia berkunjung ke Roma tampaknya menguatkan keyakinannya.

“Ketika Yang Mulia tiba-tiba berbicara kepada saya dengan bertanya apakah saya seorang Katolik, saya terkejut sejenak kemudian menjawab bahwa saya Muslim,” ujarnya.

“Entah apa yang merasuki saya, saya sama sekali tidak tahu karena saya sudah bertahun-tahun tidak memikirkan Islam.”

Di Timur Tengah, Lady Evelyn dikenal dengan nama Lady Zainab oleh kawan-kawan Arabnya. Ia punya akses luas dan pernah menulis tentang “pengaruh dominan perempuan di budaya Muslim”.

Pada usia 65 tahun, ia menunaikan haji ke Mekah, perempuan Inggris pertama yang melakukan ibadah ini.

Salah seorang Mualaf yang berziarah ke makam Lady Zainab adalah Yvonne Ridley, yang tinggal di perbatasan Skotlandia. Ridley masuk Islam setelah bekerja sebagai jurnalis di Afghanistan dan ditangkap oleh Taliban pada 2001.

“Keputusan saya untuk masuk Islam dipicu, dengan banyak cara, oleh penangkapan dan penahanan saya oleh Taliban. Pengalaman itu mengarahkan saya pada jalan yang awalnya sekadar kegiatan akademik namun menuntun saya pada perjalanan spiritual,” ujarnya.

Dalam memoarnya, In the Hands of the Taliban, Ridley mengatakan ia kagum dengan sikap hormat dan kesopanan yang ditunjukkan para pria Taliban kepadanya. Selama penahanannya ia berjanji akan mempelajari Al-Quran dan melakukannya setelah ia dilepaskan.

Ridley belajar tentang Lady Evelyn dari Al-Toma ketika mereka di Turki. “Saya mulai membaca lebih banyak tentang perempuan Skotlandia yang luar biasa ini, kemudian Batool dan saya memutuskan kami akan mengajak sekelompok mualaf untuk berziarah ke makamnya,” kata Ridley.

Setelah tiga jam pendakian dalam cuaca dingin dan basah, para peziarah beristirahat sejenak sementara pemandu mereka, Ismail Hewitt, yang mengenakan kilt, berjalan lebih jauh untuk mencari tempat peristirahatan terakhir Lady Evelyn.

Semangat mereka bangkit ketika ia melambai dari kejauhan, memberi sinyal bahwa tempatnya sudah kelihatan, tidak jauh di atas bukit. Kelompok mualaf itu berjalan ke sana kemudian berkumpul dan berlutut di sekeliling batu nisannya.

Satu per satu dari mereka memberi penghormatan sebelum berdoa bersama. Momen ini sungguh mengharukan dan beberapa orang bahkan sampai menangis. Al-Toma menutup upacara tersebut dengan membacakan cuplikan dari buku yang ditulis Lady Evelyn tentang perjalanan hajinya ke Mekah.

“Apakah yang terjadi dalam beberapa hari ke belakang selain minat, keajaiban, dan keindahan yang tak ada habisnya. Bagi saya, sebuah dunia baru yang menakjubkan telah terungkap.”

Setelah berjalan kembali ke jalanan, para peziarah diundang ke masjid di Iverness untuk makan bersama dan merenungkan perjalanan yang baru mereka lakukan. Ridley berkata ia merasa letih sehabis perjalanan, namun doa bersama di makam Lady Evelyn “menggetarkan jiwa”.

“Ada seekor rusa yang muncul di bukit di atas kuburannya, yang cukup simbolis dan menggugah,” ujarnya.

“Inilah perempuan yang hatinya berada di Highlands, tapi juga sangat mendalami Islam.”

Al-Toma setuju bahwa Lady Evelyn adalah contoh bagaimana para mualaf dapat tetap mempertahankan identitas dan budayanya.

“Dia adalah mualaf yang sangat penting di sini,” imbuhnya.

“Saya senang membaca bukunya dan melakukan perjalanan ini karena saya mengagumi keberaniannya dan jiwa petualangnya. Dia seorang perintis sejati.”

Jakarta, 20 Juli 2022.

Vien AM.

Diambil dari : https://www.bbc.com/indonesia/majalah-61809297

Read Full Post »

Older Posts »