Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

IMG_0418Mendekati waktu Zuhur kami segera menuju masjid. Sebuah plang tanda arah ke masjid terlihat di persimpangan pasar yang lumayan padat tersebut. Lulu mengingatkan untuk memperhatikan tanda tersebut agar ketika pulang menuju tempat rendez-vous nanti tidak tersasar. Ia mengantar kami hingga gerbang masjid. Terlihat beberapa lelaki berteriak-teriak di tempat tersebut. Tadinya kami tidak begitu paham apa yang mereka teriakkan dan inginkan. Setelah kami dengarkan baik-baik ternyata mereka meneriakkan “ fii sabilillah fii sabilillah”, alias sedang meminta infak/sodaqoh.

Lulu bersiap mengeluarkan dompet untuk membayar tanda masuk. Di depan masjid memang terpampang papan bertuliskan tarif masuk masjid.

Tidak perlu bayar Lulu. Kami kan mau shalat. Itu khusus untuk turis yang ingin melihat-lihat masjid”, jelas suami saya. Dan tanpa menunggu jawabannya kami segera memasuki lokasi. Lulu hanya bengong sebentar kemudian berbalik meninggalkan kami.

Tapi tak lama kemudian, dengan bahasa isyarat seorang lelaki mengatakan bahwa tempat akhwat/perempuan shalat bukan di situ. Kami segera keluar lagi dan  mengikutinya menuju tempat yang dimaksud, yang lumayan jauh dari lokasi  utama.

Tempat shalat bagian perempuan tersebut rupanya adalah sebuah apartemen tingkat 2 sederhana yang sudah di sulap menjadi musola. Tempat wudhu terletak di lantai dasar, sedangkan ruang shalat berada di lantai di atasnya. Terdengar suara dzikir dan shalawat  dari pengeras suara yang terpasang di ruangan berukuran sekitar 6×6 meter tersebut. Sebuah layar televise kecil terlihat di  dinding depannya. Rupanya layar tersebutlah yang menjadi penghubung dengan masjid.  Tak tampak gambar apapun di layar tersebut, mungkin karena waktu Zuhur belum tiba.

Saya melihat hanya ada sekitar 4 muslimah di dalamnya. Tapi setengah jam kemudian setelah saya selesai shalat Tahiyatul masjid, dzikir dan berdoa separuh ruangan telah terisi. Waktu terus berlalu, saya mulai gelisah karena tanda-tanda shalat Jumat belum juga terlihat. Akhirnya dengan alasan perempuan tidak wajib menunaikan shalat tersebut saya memutuskan untuk keluar ruangan.

20170428_13292520170428_133129Alhamdulillah sebelum keluar saya sempat membagikan dulu jilbab yang sengaja saya bawa dari tanah air kepada beberapa ibu yang ada di barisan belakang. Juga  mukena berbordir cantik dari Padang yang tadi saya kenakan. Dengan bahasa isyarat saya katakan bahwa saya dari Indonesia dan hadiah saya berikan sebagai tanda ukhuwah. Mereka tampak terkejut tapi dengan senang mereka menerimanya. Sungguh bahagia hati ini melihat ekspresi dan tanggapan mereka.

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari).

Selanjutnya saya segera menuju masjid utama. Tampak orang berbondong-bondong memasukinya, termasuk juga beberapa orang perempuan. Sayapun nekad masuk bersama mereka.

20170428_13540620170428_13385020170428_13380820170428_134303Masya Allah, ternyata masjid Agung Xian ini menempati area yang cukup luas, menurut info yang saya dapat, sekitar 12.000 – 13.000 m2. Sementara luas masjid utama yang khusus digunakan untuk shalat sekitar 6.000 m2.  Bangunan mirip rumah ibadah Cina, klenteng, ini terletak di ujung lokasi. Komplek masjid ini mempunyai beberapa pendopo dan gapura ber-arsitektur khas Cina, dengan hiasan kaligrafi di sana-sini. Sangat menarik dan unik.

20170428_14070220170428_13474520170428_13551020170428_134140Masjid Agung Xi’an yang dibangun pada tahun 742 M pada masa kekuasaan dinasti Tang (618-907) ini meski sudah berusia sangat tua masih terlihat terawat dan masih berfungsi dengan baik. Pada tahun 1998 pemerintah bahkan menetapkan kompleks masjid Xian sebagai warisan Sejarah China.

20170428_13293920170428_13514320170428_134308Saya sempat ngobrol dengan ibu muda yang tadi juga berada di masjid bagian perempuan. Ia bersama putri kecilnya juga sedang menunggu suaminya shalat Jumat. Perempuan muda asli Cina ini rupanya seorang turis lokal. Masjid Agung Xi’an memang bukan hanya tujuan wisata luar negri, tapi juga dalam negri.

20170428_14100420170428_13442620170428_14020820170428_134020Menjelang waktu shalat tiba, makin banyak jamaah berbondong-bondong datang. Sungguh tak menyangka wajah-wajah bermata sipit tua maupun muda, dengan berbagai penampilan, mulai dari yang ber-jas rapi hingga yang hanya ber-kaos oblong plus tangan bertato, mereka adalah saudara seiman kita. Allahu Akbar …

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.( Terjemah QS. Al-Jumuah (62):9).

20170428_14195020170428_14330920170428_131954Tak urung merinding hati ini mendengar shalawat, dzikir dan adzan berkumandang dengan nada yang tidak biasa, terdengar di negri Tirai Bambu ini. Bahagia rasanya bisa menjadi salah satu saksi shalat Jumat dengan jamaah yang membludak hingga ke luar masjid, meski sayang tidak rapat shaftnya.

Usai shalat kami segera menuju tempat rendez-vous dengan Lulu. Kami melanjutkan kunjungan “wajib” ke Pagoda yang terdiri dari kuil dan patung Budha terbesar di Xian bahkan Cina. Diteruskan dengan makan malam meski sebenarnya masih sore, di sebuah restoran halal tidak jauh dari lokasi. Tampaknya Lulu ingin cepat menyelesaikan tugasnya dan cepat istirahat. Hmm apa boleh buat. Selanjutnya kami di antar pulang ke hotel untuk acara bebas. Kami hanya memanfaatkan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Keesokan paginya kami mengunjungi Musium Terracota yang merupakan wisata utama kota ini. Adalah sejumlah petani yang ketika itu sedang menggali tanah dan secara tidak sengaja menemukan ribuan patung kuda dan prajurit terbuat dari tanah liat, dengan ukuran sebesar aslinya, dengan tinggi rata-rata 1,8 meter.

Peristiwa tersebut terjadi pada Maret 1974, sekitar 1,6 kilometer dari makam Kaisar Qin Shi Huang yang terletak di Gunung Li Shian, sebelah utara kota Xian. Maka sejak itu proses penggalianpun terus dilakukan hingga hari ini. Penggalian tersebut merupakan lokasi penggalian arkeologi terbesar di Cina.

Selanjutnya pemerintah membangun semacam hangar pesawat raksasa di lokasi temuan spektakuler tersebut, dan menjadikannya sebagai Musium dengan nama Terracota Warrior and Horses, yang dibuka secara resmi pada tahun 1979. Musium ini dibagi menjadi tiga seksi.

20170429_10174520170429_10171520170429_11030420170429_105800Seksi pertama merupakan yang paling besar. Ada sekitar 8.000 patung prajurit dan kuda Terracotta, namun hanya sekitar 2.000 patung yang dipamerkan. Hebatnya tiap patung tersebut mempunyai ekspresi wajah dan posisi kucir rambut yang berbeda-beda. Ada yang kucir kiri, ada yang kanan dan ada yang di tengah. Masing-masing memiliki arti dan maksud tersendiri.

Seksi dua dan seksi tiga hingga kini masih dalam tahap penggalian. Kabarnya penggalian yang sekarang ini dilakukan baru 1 % dari perkiraan seluruh galian. Selain patung prajurit dengan berbagai posisi, sebagian besar tidak ada bagian kepalanya, kuda dan kereta kuda juga ditemukan berbagai senjata perang.

20170429_11241720170429_11244020170429_110134Menurut Lulu, aslinya kuda-kuda dan prajurit Terracotta tersebut tersusun pada posisi dan barisan tertentu di bawah atap sebuah bangunan. Semua dikubur menjadi satu. Namun ketika ditemukan hampir semua atapnya sudah rusak. Sementara dari sekian ribu patung yang ditemukan, hanya 1 patung prajurit yang masih utuh, bahkan warnanyapun masih relative jelas.

kaisar QinshihuangAkan halnya kaisar Qin Shi Huang, ia adalah kaisar pendiri dinasti Qin. Ia menjadi kaisar ketika usianya baru 13 tahun. Pada usia 38 tahun sang kaisar muda berhasil mempersatukan Cina, yaitu pada tahun 221 SM. Qin selain dikenal sangat berjasa dalam membangun peradaban Cina, juga dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam.

Ia pernah mengubur hidup-hidup 460 sarjana hanya karena mereka menyimpan buku filsafat yang harusnya dibakar dan dilarang untuk dimiliki rakyat. Qin ini pulalah yang memerintahkan pembangunan tembok besar Cina sepanjang 3000 km yang banyak memakan korban.( Ada yang mengatakan hanya melanjutkan pembangunan). Kabarnya karena tidak sempat diurus dengan baik, para korban tersebut dijebloskan begitu saja ke dalam tembok yang sedang dibangun itu.

20170429_11273820170429_11382920170429_112822Qin wafat pada usia 50 tahun, setelah sebelumnya mempersiapkan kematiannya dengan cara memerintahkan pembuatan ribuan patung prajurit dan ksatria lengkap dengan kereta kuda dan senjatanya, demi menemani dan menjaganya di alam kubur. Serta sebagai persiapan untuk menyambut kehidupan baru setelah kematiannya. Selain juga sebagai tanda untuk menunjukkan kejayaan sekaligus penghormatan terhadap pasukannya yang telah berjasa membantunya dalam menyatukan Cina. Hebatnya lagi patung-patung tersebut diatur sedemikian rupa hingga menyerupai pasukan yang sedang menjaga istana kekaisaran.

( Bersambung).

Advertisements

Read Full Post »

Wisata ke Cina … hmmm … mungkin kurang popular, apalagi di tengah suasana paska pilkada DKI yang baru lalu, dimana semua isu yang berbau cina menjadi sangat sensitive. Tapi nyatanya keinginan menggebu yang telah lama terpendam untuk menengok saudara-saudari seiman di negri tirai bambu tersebut tidak dapat begitu saja dipadamkan. Bukankah rasulullah sendiri pernah menganjurkan agar kita mau mengunjungi Cina? Meski tidak sedikit ulama yang berpendapat bahwa hadist tersebut tingkatannya lemah. Wallahu’alam …

Dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut.” (H.R. Ibnu Abdil Bar).

http://bersamadakwah.net/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-cina-bukanlah-hadits/   

Yang pasti Islam mengajarkan bahwa menuntut ilmu itu wajib, hingga sejauh apapun jarak yang harus ditempuh. Tapi mengapa harus Cina? Ya mungkin karena Cina jaraknya sangat jauh dari jazirah Arab disamping sejak dahulu Cina telah dikenal sebagai negara besar dengan peradaban tinggi. Disamping itu sejarah juga mencatat bahwa ajaran Islam telah diperkenalkan ke negri tersebut sejak awal lahirnya Islam, yaitu ketika di bawah khalifah Ustman bin Affan ra.

Dengan berbekal itulah pada hari Selasa 25 April 2017 lalu saya dan suami berangkat menuju dataran Cina. Tujuan kami adalah Beijing dengan Great Wall dan masjid Nuijie sebagai tujuan utama, Xian dengan Terracota dan masjid Great Mosque yang merupakan salah satu masjid terbesar dan tertua di Cina, serta Guilin yang terkenal karena keindahan alamnya sebagai tadabur alam sekaligus penutup perjalanan.

Kali ini kami memutuskan untuk menggunakan jasa travel biro yaitu China Muslim Private Travel Tour yang berkedudukan di Beijing. Keputusan ini kami ambil karena itinerary yang ditawarkan travel biro lokal tidak ada yang sesuai dengan keinginan kami. Tetapi khusus selama di Beijing, dengan pertimbangan Beijing adalah kota besar, namanya juga ibu kota, jalan sendiri naik turun subway/kereta bawah tanah tentu bukan masalah.

Karena dengan demikian kita bisa lebih melihat dan merasakan kehidupan mereka sehari-hari. Disamping juga tidak perlu menghabiskan waktu ke tempat/toko wajib kunjung travel biro. Jadi selama di Beijing kami putuskan jalan sendiri. Jasa guide dari travel biro baru akan kami gunakan di Xian dan Guilin. Untuk itu kami sudah menyiapkan peta subway Beijing yang di down load dari computer.

Singkat cerita kami berduapun tiba di bandara Beijing pukul 4.30 pagi waktu setempat. Segera setelah mengambil bagasi kami ke luar bandara untuk mencari taxi. Tapi belum sempat berpikir, tiba-tiba datang seorang pria menawarkan taxi dan langsung menggiring kami menuju parkiran, tanpa menghiraukan beberapa sopir taxi lain yang sudah menanti di depan pintu keluar bandara.

Anehnya, seolah terhipnotis kami mau saja mengikutinya. Tanpa banyak bicara, suami segera menyerahkan alamat hotel. Kami pikir toh tadi sudah sempat menanyakan kepada seorang penumpang asli Beijing yang kami temui di bandara berapa kira-kira ongkos taxi menuju ke hotel tersebut, yaitu sekitar 100 yuan. Belakangan kami baru sadar bahwa taxi tersebut tidak ada argonya atau mungkin juga tidak dihidupkan. Hati kami mulai was-was.

Dan benar saja, begitu kami sampai di hotel si sopir meminta ongkos 600 yuan ! Suami segera berdalih bahwa kami tidak cukup membawa uang cash jadi akan menukar uang dulu di hotel. Dengan kesal si sopir bertanya berapa cash yang tersedia, “ 160 “, jawab suami sambil menunjukkan dompetnya. Sambil mengomel tak jelas, diambilnya uang tersebut dan langsung tancap gas … olalaa .. hari pertama sudah hampir kena tipuu …

Beruntung kekecewaan di saat pertama itu bisa langsung tertutupi dengan keramahan penjaga hotel. Yang menarik meski mereka tidak bisa berbahasa Inggris tapi dengan bantuan aplikasi terjemah Bahasa yang di install di hp mereka, lengkap dengan suara, masalah komunikasi berhasil dihilangkan. Alhamdulillah …

Tak lama setelah menitipkan koper karena kamar baru siap jam 12 siang, kami ke luar lagi untuk mencari sarapan dan langsung ke stasiun subway yang letaknya tidak jauh dari hotel, dengan tujuan Great Wall. Untuk itu kami harus menuju stasiun Huoying yang terletak di persimpangan line 8 dan 13. Dari stasiun tersebut kami harus keluar stasiun dan pindah ke stasiun kereta api Huangtudian S2 yang katanya hanya berjarak 110 meter. Turun dari kereta api bus khusus arah Great Wall tersedia secara gratis. Demikian info yang kami peroleh melalui internet.

http://www.tour-beijing.com/blog/beijing-travel/how-to-visit-great-wall-by-train

Tapi ntah kenapa ketika kami keluar dari stasiun yang kami pikir adalah Huoying ternyata kami kesulitan menemukan stasiun kereta api menuju Great Wall. Terpaksa kami bertanya kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut. Namun keterangan yang kami dapat simpang siur. Ada yang mengatakan harus naik metro lagi, ada yang mengatakan kereta api dan ada juga yang mengatakan naik bus lebih baik.

Namun yang sama sekali di luar dugaan kami, ternyata banyak warga Beijing yang kooperatif. Meski hampir semua yang kami mintai keterangan tidak bisa berbahasa Inggris, mereka berusaha keras untuk menolong kami. Meski mereka kelihatan terburu-buru berangkat ke kantor mereka mau dengan sabar tidak hanya sekedar memberi keterangan ( dengan bahasa isyarat) namun juga mengantar kami hingga ke halte, bahkan ada yang mengejar hingga ke atas bus karena ternyata ia salah memberi keterangan. Masya Allah …

20170426_12161420170426_121430IMG_0153Akhirnya setelah kami menunjukkan foto Great Wall barulah kami mendapat keterangan yang benar. Walaah rupanya mereka tidak paham apa yang sebenarnya kami tanyakan. Belakangan kami baru sadar kami tadi turun bukan di stasiun yang seharusnya. Syukur Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami di pelataran luas pintu gerbang menuju Great Wall Badaling, bagian tembok Cina yang terdekat dengan Beijing. Dari sana untuk menghemat tenaga kami memilih naik dengan cable car, nanti pulangnya baru berjalan kaki.

IMG_0204IMG_0191Dari atas cable car terlihat sebagian tembok besar tersebut tersembul meliuk di sepanjang pegunungan. Tembok sepanjang 8.851 km ini berfungsi sebagai tembok pertahanan, disamping juga sebagai jalur transportasi di atas temboknya. Sebuah karya besar yang patut diacungi jempol. Meski pada masa pembangunannya yang melalui kerja paksa itu menelan jutaan korban rakyat, dengan biaya yang tak terkira tingginya.

IMG_0273IMG_019620170426_154254Tembok spektakuler tersebut dibangun oleh beberapa dinasti, secara bertahap, selama ribuan tahun, sejak sebelum ratusan tahun sebelum Masehi. Namun yang saat ini mudah terlihat dan banyak dikunjungi wisatawan adalah yang direkonstruksi oleh dinasti Ming (1368-1644).

Setelah puas menikmati pemandangan dan sejuknya hawa pegunungan sambil berjalan menyusuri tembok raksasa yang naik turun, cukup membuat lelah kaki tersebut, kamipun beristirahat sebentar sambil menyantap makan siang sekedarnya di restoran yang ada di lokasi tersebut.

Tak terasa rupanya kami berada di sana hingga menjelang jam tutup yaitu sekitar pukul 4 sore. Berbondong-bondong bersama wisatawan lain kamipun ikut mengantri bus yang akan membawa kami pulang. Di tengah perjalanan, setelah di dalam bus, kami baru merasa kalau bus tersebut bukan bus yang tadi kami gunakan. Bus tersebut adalah bus umum yang tidak menuju ke stasiun kereta api seperti tadi ketika kami datang.

Celakanya lagi, semua penumpang termasuk keneknya tidak bisa berbahasa Inggris. Untung anak muda yang duduk di depan kami bisa berbahasa Inggris meski sedikit. Anak muda yang pergi bersama kekasih dan keluarganya tersebut meminta kami tenang, karena kebetulan mereka juga akan menuju ke stasiun metro yang sama dengan kami.  Leganya hati ini, trima-kasih ya Allah … Alhamdulillah …

IMG_0289Malamnya kami berjalan-jalan menuju Tiananmen, yaitu gerbang menuju Forbidden City, kota terlarang , yang merupakan kompleks bekas istana yang kini dijadikan museum. Cukup surprised, ternyata ikon yang terletak di jantung ibu kota tersebut pukul 10 sudah gelap dan sepi. Hanya terlihat segelintir turis di depan pintu gerbang berwarna merah khas lambang komunis dimana terpampang foto raksasa Mao Zedong, pendiri RRT.

IMG_0309IMG_033220170427_120333Ke-esokan paginya, dengan subway kami mengunjungi Summer Palace. Istana musim panas tempat keluarga kaisar berkumpul dan bersantai ini terletak kurang lebih 15 kilometer dari pusat kota Beijing. Kali ini tanpa kesulitan kami bisa mencapai tempat tersebut berkat foto yang kami tunjukkan kepada orang yang kami temui begitu kami keluar dari stasiun metro.

20170427_15432220170426_045649Harus diakui alat transportasi ibu kota Cina ini, terutama subwaynya, patut diacungi jempol. Disamping bersih, baik stasiun maupun metronya, mudah dicapai juga artistik. Yang juga di luar perkiraan kami, adalah adab mengantri para penumpang, baik ketika akan masuk subway maupun ketika akan membeli tiket. Padahal di jam sibuk masuk kantor.

Sayang untuk mendapatkan peta subway sangat sulit. Untung kami sudah mempersiapkannya dari rumah. ( Print internet). Tapi karena waktu kami tidak banyak, kami tidak terlalu menikmati istana yang saat ini telah dijadikan tempat wisata umum tersebut. Apalagi kami masih harus menukar tiket online bullet train menuju Xian yang kami beli di tanah air sebelum keberangkatan.

Maka tak lama setelah itu kamipun meninggalkan lokasi untuk menuju masjid Niujie yang memang menjadi tujuan utama kami di Beijing.

( Bersambung)

Read Full Post »

Liburan Lebaran tahun ini kami memilih Lombok sebagai tujuan. Sebenarnya sudah agak lama kami berniat ingin mengunjungi Lombok, yaitu sejak melihat foto-foto anak kami yang baru pulang dari hiking ke gunung Rinjani. Foto-foto gunung ke 2 tertinggi di Indonesia ( 3726m) dengan danau Segara Anakan tersebut sungguh memukau hati.

Sayangnya untuk menikmati pemandangan menakjubkan ciptaan Allah ini tidaklah mudah, karena harus dengan cara hiking lebih dari 24 jam. Itu bila dihitung dari pos pendakian terdekat. Hal yang rasanya mustahil dilakukan orang-orang seumur kami dan tidak terbiasa hiking pula. Akhirnya kandaslah keinginan tersebut. Hingga suatu hari kami mendengar kabar bahwa Lombok bukan hanya Rinjani dan danau Segara Anakan.

Setelah googling dan bertanya kesana kemari maka hatipun mantab liburan kali ini ke Lombok – Nusa Tenggara Barat. Dan Surya Travel Lombok Paket Suka-Suka adalah travel yang kami putuskan bakal mendampingi kami selama 5 hari 4 malam. Travel ini kami pilih karena dapat leluasa memilih obyek turis yang diinginkan.

Pariwisata Lombok memang sedang naik daun, menyaingi Bali yang sejak lama sudah mendunia. Lombok yang terletak tepat di sebelah timur Bali ini mempunyai luas kurang lebih sama dengan Bali, yaitu 5.435 km², selisih sedikit dengan Bali yang luasnya 5.636 km2.

Lombok terbagi atas 4 kabupaten yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara, dengan ibu kota di Mataram. Sementara dataran tinggi dimana gunung Rinjani berada terletak di Lombok Utara. Di ke 4 kabupaten tersebut tersimpan keindahan alam Lombok yang sungguh mempesona.

                                                                              *****

Dengan menumpang Citylink kami ber-empat ( saya, suami dan putra-putri ) tiba di bandara Lombok International Airport (LIA)  pada Sabtu, 9 Juli 2016 lebih kurang pukul 10.00 wit. Bandara yang diresmikan penggunaannya pada 2011 ini terletak di Praya, Lombok Tengah menggantikan bandara lama di Mataram.

Begitu keluar bandara, mas Ziyadi dari travel perjalanan yang selama 5 hari akan memandu kami sudah menunggu dan terlihat diantara para penjemput. Sesuai rencana dengan mengendarai Avanza kami langsung melaju ke Tanjung Ringgit dan pantai Pink yang letaknya tidak berjauhan. Oya karena jarak Tanjung Ringgit cukup jauh sementara disana tidak ada penjual makanan maka di bandara sebelum keluar tadi kami sengaja membeli bekal makan siang.

Harap maklum Tanjung Ringgit yang terletak di ujung tenggara Lombok kabupaten Lombok Timur itu belum begitu tersentuh. Tidak banyak travel yang bersedia mengantar wisatawan ke tempat ini, karena selain jaraknya yang jauh, jalanannyapun sebagian masih rusak parah.  Kami sempat memergoki sebuah mobil terperosok ke dalam lubang besar semacam got kering yang ada di tepi jalan. Ironisnya lagi, kelihatannya mobil tersebut sudah berada di tkp beberapa hari. Kemungkinan besar mobil derek tidak bisa datang dan mengangkatnya, karena sulitnya medan.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam tibalah kami di pertigaan menuju pantai Pink dan Tanjung Ringgit. Mas Ziadi mengusulkan untuk mengunjungi lebih dulu pantai Pink atau pantai Tangsi orang Lombok menyebutnya, baru Tanjung Ringgit.

“ Sempatkan naik ke bukit, pemandangan dari atas sangat indah”, pesan guide kami sebelum kami turun dari mobil.

Pantai Pink

Pantai Pink

Pantai Pink

Pantai Pink

Dan memang tidak salah apa yang dikatakannya itu. Pantai Pink ini sudah unik berkat pasir lembutnya yang berwarna pink. Airnya yang jernih biru tosca menambah keindahannya. Namun dilihat dari atas bukit kecantikan pantai Pink makin terlihat nyata. Perbedaan warna air laut antara yang biru, hijau kebiruan dan tosca terlihat makin jelas, yang saking jernihnya bebatuan yang ada di dalam lautpun bisa terlihat. Sejumlah perahu dengan warna dasar biru menambah semarak pantai ini.

Tak lama setelah puas menikmati pantai ini kami segera menuju Tanjung Ringgit. Ternyata perjalanan dari pantai Pink menuju Tanjung ini lebih parah lagi. Jalanan ini lebih tepat disebut jalan setapak yang menembus semak belukar. Tampaknya ini bukan jalan umum. Selain motor rasanya tidak mungkin kendaraan bisa memasuki areal ini, kecuali nekad. Itu kesan saya pribadi. Dan nyatanya memang tidak ada jalan selain jalan yang baru kami lalui ini.

Bisanya naik boat dari pantai Pink bu, kalau tidak mau lewat jalan ini”, jelas mas Ziyadi menjawab rasa penasaran saya.

“Wah pantas kebanyakan travel g mau ngantar wisatawan ke tanjung ini. Sayang mobilnyalah”, bisik suami saya.

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Namun begitu kendaraan muncul dari balik semak di ketinggian, dibawah sana tampak pemandangan yang benar-benar menakjubkan, mengingatan Cliff of Moher di Irlandia yang terkenal  itu. Allahuakbar. Deretan tebing batu terlihat berkelok menghiasi tepi samudra Hindia yang berwarna hijau kebiruan. Ombak putih tampak susul menyusul membenturkan diri ke  sepanjang tebing terjalnya, menimbulkan deburan ombak yang sungguh membuat hati ini tentram mendengarnya. Airnya yang begitu jernih mampu memperlihatkan bebatuan yang ada di dalamnya.

Uniknya lagi, di bawah salah satu tebing curam ini terdapat sumur air tawar yang airnya dapat diminum.  Sumur tersebut berada tak jauh dari goa raksasa yang ada di tanjung ini.

“ … … Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS. Ar-Rahman(55):16-21).

Disamping keindahannya yang begitu mempesona, Tanjung Ringgit memiliki situs sejarah peninggalan dari masa penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia, diantaranya yaitu meriam dan mercusuar yang masih aktif hingga saat ini. Tanjung Ringgit adalah wilayah pertahanan Belanda dan Jepang di wilayah selatan Indonesia yang memisahkannya dari benua Australia, dengan lautan Hindia sebagai pembatasnya.

Ingin rasanya berlama-lama menikmati keindahan alam cipta-Nya tersebut kalau tidak mengingat waktu yang terbatas. Sore ini kami masih harus menjalani perjalanan ke Senggigi dimana kami akan menginap. Juga mampir ke tempat tenun Lombok yang khas itu. Memang hari pertama ini adalah perjalanan terjauh yang akan kami tempuh. Kami masuk hotel sekitar pukul 9 malam setelah mampir makan malam di sebuah restoran di Senggigi, tak begitu jauh dari hotel.

20160823_083838

Senggigi

Senggigi

Senggigi

Senggigi

IMG_9239Esok paginya selesai sarapan kami menyempatkan diri menikmati keindahan pantai yang ada di belakang hotel. Sekali lagi kami harus mengakui betapa jernihnya air laut di pulau seribu masjid ini. Warna airnya yang biru kehijauan sungguh mempesona. Uniknya lagi, batu-batu karang yang ada di sepanjang pantai tersebut juga berwarna biru. Bentuknyapun tidak seperti umumnya yang dijumpai di  pantai lain.

Setelah itu kami segera bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke 3 gili yaitu gili Kedis, gili Sudak dan gili Nanggu. Ke tiga gili ( gili artinya pulau dalam bahasa Lombok) ternyata tak kalah indahnya dengan Gili Trawangan yang telah dikenal lebih dulu. Setidaknya ketiga gili tersebut belum seramai gili Trawangan hingga pantai dan air lautnya masih sangat bersih.

Gili Kedis yang ditempuh hanya dalam waktu 15 menit dengan perahu dari penyebrangan di tepi jalan raya Sekotong adalah benar-benar pulau yang super mungil. Tak sampai 5 menit kita bisa mengelilingi pulau imut tersebut. Pulau yang juga sering disebut pulau romantik ini tidak berpenghuni dan tidak ada satupun bangunan diatasnya. Yang ada hanya sederetan pepohonan dengan beberapa bangku panjang dan toilet dimana kita bisa salin pakaian.

Gili Kedis

Gili Kedis

Gili Kedis

Gili Kedis

Air laut di pulau berpasir putih ini sungguh mempesona yaitu gradasi biru dan hijau tosca dengan dasar laut tidak begitu dalam yang saking jernihnya bisa terlihat dasarnya. Karang-karang besar di tepi pantai yang seolah sengaja ditata sebagai pengganti kursi benar-benar menantang untuk dimanfaatkan menikmati pemandangan indah di sekeliling pantai. Yaitu perbukitan hijau yang berada di daratan Lombok yang jaraknya tidak seberapa jauh, selain gugusan pulau yang menyembul di laut lepas di balik pulau tersebut.

Gili Sudak

Gili Sudak

Tak lama dengan perahu yang sama kami melanjutkan perjalanan ke

DCIM100MEDIA

gili Sudak dan gili Nanggu yang jauh lebih besar dari gili Kedis. Setelah makan siang di satu-satunya restoran yang ada di gili Sudak yang  harganya sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kita makan, kami langsung lanjut ke gili Nanggu. Disini kami mencoba ber-snorkeling ria, hal yang belum pernah saya lakukan seumur hidup. Alhamdulillah, trima-kasih ya Allah …

Walaupun awalnya agak sulit mengatur nafas melalui snorkeling akhirnya bisa juga kami menikmati alam bawah laut ciptaan Allah di gili ini. Terus terang surprised bisa melihat keindahan terumbu, aneka warna karang laut dan ikan tanpa harus terlalu jauh berenang dari bibir pantai. Dengan bermodalkan botol kemasan berisi potongan kecil roti tawar, aneka jenis ikanpun merebut mendekat, Masya Allah …

Kami kembali menyebrang ke daratan Lombok menjelang pukul 5 sore. Setelah numpang mandi di kamar mandi penduduk tak jauh dari tempat penyeberangan dan shalat Zuhur – Ashar yang di jamak qoshor, kamipun langsung tertidur pulas di dalam kendaraan.

“Apabila Nabi bergegas untuk melakukan perjalanan maka ia mengakhirkan shalat Zhuhur sampai waktu Ashar dan menjamak keduanya. Dan mengakhirkan shalat Maghrib sampai mengumpulkan (menjamak) antara Maghrib dan Isya ketika bayang-bayang merah sudah terbenam (tanda masuk waktu Isya)”. (HR. Muslim).

Sekitar 2 jam kemudian sampailah kami di ibu kota Mataram.  Mas Ziyadi meromendasikan sate Rembiga sebagai menu malam hari ini. Tidak salah memang, karena sate yang terbuat dari daging sapi ini benar-benar lezat. Sayang pedasnya bukan main, maklum sambalnya dimasak bersama satenya, tidak bisa dipisahkan. Sebagai info, rata-rata makanan Lombok memang terkenal pedas, tidak terkecuali ayam taliwang dan kangkung plecing yang khas Lombok itu. Juga nasi balap puyung, semacam nasi rames kalau di Jakarta. Untung ayam taliwangnya bisa dipisahkan sambalnya hingga saya bisa ikut mencicipinya.  Alhamdulillah …

20160710_111202Selesai makan, kami berkeliling kota sebentar. Dengan bangga mas Ziyadi memperlihatkan masjid baru yang dalam waktu dekat akan menerima ratusan qori dan qoriah terbaik untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran ( MTQ) Nasional ke 26 di kota ini. Setelah itu kami langsung menuju hotel untuk berstirahat.

Berikutnya adalah air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep yang menjadi tujuan kami. Kedua air terjun yang letaknya berdekatan ini berada di taman nasional gunung Rinjani desa Senaru kecamatan Bayan Lombok Utara. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Senggigi ke tempat ini. Dalam perjalanan mas Ziyadi sempat bercerita tentang adanya masjid di kecamatan Bayan yang merupakan masjid pertama di Lombok.

Masjid  ini dibangun pada abad 16-17, menandakan bahwa Islam telah lama masuk dan dikenal penduduk asli Lombok yaitu suku Sasak.  Dari masa inilah dikenal istilah wetu telu yaitu shalat yang telu ( tiga) kali sehari. Hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kabarnya hal ini dikarenakan para pembawa ajaran Islam pada waktu itu sebelum sempat menyampaikan ajaran Islam secara sempurna karena alasan tertentu harus meninggalkan Lombok.

https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Bayan_Beleq

Untuk diketahui suku Sasak dulunya adalah penganut animisme, kemudian Hindu sebelum akhirnya memeluk Islam, yaitu paska runtuhnya kerajaan Majapahit. Ketika itu para wali yang datang dari Jawa diantaranya sunan Prapen mengajarkan Islam secara bertahap dengan memanfaatkan adat dan tradisi lama. Tak heran bila sampai saat ini ajaran Islam di Lombok masih sedikit menyisakan adat dan tradisi di sana sini.

Namun demikian ajaran wetu telu sendiri sudah tidak lagi dipraktekkan masyarakat Lombok kecuali generasi tua yang sudah tidak lagi banyak. Ini adalah berkat kerja keras ulama-ulama yang datang kemudian demi menyempurnakan ajaran Islam. Lombok yang juga dikenal dengan julukan pulau seribu masjid dimana ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat ( NTB) berada, kini dipimpin oleh seorang gubernur yang dikenal sangat Islami. Tokoh muda kelahiran tahun 1972 yang patut dijadikan idola di tengah krisis  keteladanan pemimpin tersebut adalah TGH M Zainul Majdi yang dikenal dengan nama  Tuan Guru Bajang, cucu pendiri organisasi Islam terbesar di NTB.

( Bersambung).

Read Full Post »

Mekah dan Madinah dingiiin .. bbbrrr … Buat sebagian orang mungkin aneh, tapi begitulah nyatanya. Musim Dingin ternyata bukan hanya monopoli negara Barat, tetapi juga di Arab Saudi. Negara gurun pasir  ini mengenal 2 musim yaitu musim dingin dan musim panas.

Musim Dingin di negara ini terjadi antara bulan November – Februari. Puncaknya di bulan Desember dengan suhu bisa mencapai 2 % C dengan kelembaban udara sekitar 32% – 35 %.  Bahkan beberapa tahun belakangan salju beberapa kali turun di jazirah ini. Sedangkan musim Panas berkisar antara Mei – Agustus. Puncaknya di bulan Juni- Juli dengan suhu sekitar 50 % C.

bandara Madinah

Bandara Madinah

Dengan menumpang Arab Saudi Airways yang melakukan penerbangan 9 jam nonstop Jakarta – Madinah, kami mendarat di bandara Madinah pada tanggal 27 Desember malam  disambut udara sejuk sekitar 18% C disertai angin yang cukup kencang. Artinya lebih dingin dibanding ruang ber-AC yang biasanya dipasang pada 21 – 22% C.

Masjid Bir Ali (2)

Masjid Bir Ali

Setelah mengurus bagasi dan melalui urusan imigrasi yang relative singkat dibanding kalau mendarat di bandara Jedah kami langsung naik bus menuju hotel. Alhamdulillah kami mendapat hotel yang relative cukup dekat dengan area Masjid Nabawi.  Recananya kami akan berada 3 hari 3 malam di Madinah, sebelum menuju Mekah untuk ber-umrah dengan mengambil miqat di Bir Ali.

Nabawi1 (2)Satu diantara banyak keistimewaan masjid Nabawi selain ganjaran 1000 x shalat di masjid lain adalah adanya Raudhah. Raudhah berada di bawah kubah berwarna hijau dimana bernaung makam rasulullah Muhammad saw, bersisihan dengan makam sahabat sekaligus khalifah yaitu Abu Bakar Shiddiq ra dan Umar Ibnul Khattab ra.

Tidak ada perubahan berarti baik masjid secara keseluruhan maupun Raudhah yang berarti kebun sebagaimana hadist berikut : “Dari Abi Sa’id al-Khurdri ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tempat di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhoh (yaitu) taman dari surga, dan mimbarku di atas kolam”. ( HR. Bukhari).

Di dalam Raudhah selain terdapat makam yang dulunya adalah kamar Aisyah dimana rasulullah wafat, terdapat juga mihrab Nabi dimana Rasulullah dulu selalu berkhutbah. Di dalam ruangan ini terdapat enam tiang bersejarah, yaitu “Tiang Utusan” yang digunakan Nabi dahulu sebagai tempat menerima utusan yang datang, “Tiang Pengawal” tempat berdirinya para pengawal Nabi,  “Tiang Tempat Tidur” yang merupakan tempat Nabi tidur selama i’tikaf, “Tiang Abu Lubabah” yaitu tiang tempat Abu Lubabah mengikatkan diri karena menyesal telah  membocorkan rahasia kepada orang Yahudi, “Tiang Aisyah” yang diyakini ditunjuk Aisyah sebagai tempat Rosulullah mengimami shalat berjamaah dan “Tiang Mukholaqah” yaitu tempat bersandar Nabi ke batang pohon kurma saat khutbah Jum’at.

Secara khusus sebenarnya tidak ditemukan dalil tentang keutamaan shalat atau berdo’a di Raudhoh selain pernyataan Rasulullah saw dalam hadits di atas. Namun ntah mengapa Raudhah setiap waktu selalu disesaki jamaah yang seringkali ntah sengaja atau tidak saling sikut dan dorong demi dapat melaksanakan shalat atau berdoa di tempat ini. Meski pihak masjid tampak telah berusaha keras mengatur jadwal kunjungan jamaah yang jumlahnya jauh melebihi kapasitas yang sangat terbatas ini. Apakah usaha tersebut kurang maksimal, atau mungkin memang jamaah yang sulit diatur ? Ntahlah …

Tidak dapat dipungkiri umrah kali ini memang amat crowded layaknya musim haji. Hal ini diakui ustad  yang membimbing kami. “ Selama saya membimbing umrah baru kali ini saya lihat umrah seperti haji saja. Biasanya hanya umrah Ramadhan yang dapat mengalahkan kepadatan musim haji”.

Jabal Rahmah (2)

Jabal Rahmah

Dan ini terjadi dimana saja baik di Madinah, Mekah maupun obyek religius lain seperti Jabal Rahmah dll. Hebatnya lagi, sebagian besar jamaah tersebut adalah jamaah Indonesia kecuali jamaah yang di Mekah. Tampaknya ini karena musim libur sekolah yang bersamaan dengan libur akhir tahun. Memang ada trend baru di kalangan masyarakat Indonesia kelas menengah atas yang telah memiliki kesadaran beragama untuk memanfaatkan libur natal dan tahun baru dengan ber-umrah. Langkah yang patut diacungi jempol dari pada berhura-hura merayakan sesuatu yang tidak Islami.

Masjidil Haram Desember 2015Tanpa sadar kami melewati peralihan tahun baru Masehi di Masjidil Haram dengan suasana yang benar-benar berbeda. Tanpa sedikitpun bunyi terompet maupun petasan tidak juga pijar kembang api. Namun itu semua tidak mengurangi “ kemeriahan” suasana masjid yang setiap hari terang benderang baik oleh lampu-lampu masjid, pelataran masjid yang sangat luas dengan lantai marmer putihnya, hotel-hotel yang bertebaran mengelilingi masjid maupun lampu jalanan. Tidak ada musik selain alunan suara indah ayat-ayat suci Al-Quran.

Di dalam masjid sendiri, karena kebetulan tahun baru jatuh pada malam Jumat maka masjidpun makin ramai saja, yaitu oleh penduduk setempat yang datang dengan membawa anak cucu mereka. Maklum Jumat adalah hari libur bagi warga Timur Tengah seperti hari Minggu bagi kita yang di Indonesia. Dan hari Kamis biasanya banyak warga yang berpuasa. Itu sebabnya mengapa banyak warga lokal yang datang menjelang Magrib dengan berbagai panganan dan minuman. Rupanya mereka bersilaturahim sekaligus berbuka puasa …

Nuansa Mekah dan Madinah sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memang lain dari pada yang lain. Seluruh denyut kegiatan berpusat pada shalat dan shalat. Setiap menjelang waktu shalat semua kegiatan terhenti. Toko-toko dan restoran tutup, semua pegawainya berhamburan untuk shalat, meski tidak harus ke masjid melainkan bisa hanya di sekitar toko dan restoran mereka. Maka mau tidak mau tamunyapun harus demikian, menunda makan dan belanja untuk shalat, dimanapun, untuk kemudian diteruskan lagi, Allahu Akbar …

Selama di Mekah 4 hari 4 malam saya dan putri kami sempat sekali melakukan hal tersebut, sementara suami tetap berada di dalam masjid. Waktu itu kami berdua ingin memanfaatkan waktu luang diantara waktu shalat untuk mencari oleh-oleh di mall yang banyak didapati sekitar masjid. Kami keluar mall agak terlambat, akibatnya jalan keluar mallpun sudah dipadati jamaah yang hendak menunaikan shalat, padahal kami belum wudhu dan ingin buang air kecil dulu. Dengan susah payah akhirnya kami bisa mendapat “ kapling” shalat di pelataran  masjid, tidak jauh dari wc, dan terpaksa ketika shalatpun pasrah membiarkan beberapa orang, laki maupun perempuan yang terlambat shalat, berlarian melintasi kami demi mencari “ kapling” untuk shalat.

“Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat, maka shalatlah dengan sutrah/pembatas, dan mendekatlah kepada sutrah itu. Dan jangan biarkan seorang pun lewat di depannya”. (HR Ibnu Majah).

Kalau seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui (keburukan) apa yang dia dapatkan maka berdiri menanti empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Walaupun mungkin, tampaknya hukum sutrah diatas tidak bisa dipratekkan dalam keadaan darurat seperti kasus diatas. Sama dengan bercampur atau adanya bagian shaft tertentu perempuan yang ada di depan bagian shaft laki-laki di Masjidil Haram, mengingat luar biasa padatnya masjid di waktu-waktu tertentu. Contohnya ketika shalat Jumat.

Harap maklum shalat Jumat di masjid ini memang agak berbeda  dengan di tanah air. Disini kaum perempuanpun berlomba datang untuk shalat Jumat. Dalam khutbahnya imam Masjidil Haram tak lupa mendoakan saudara/i kita yang tertindas baik di Palestina, Suriah dan belahan bumi manapun agar diberi kesabaran dan dapat segera keluar  dari kesulitan.

Kami bertiga juga pernah shalat Isya di pelataran antara masjid dan mall setelah makan malam yang agak terburu-buru. Kami disambut udara lumayan dingin dan angin yang kencang begitu keluar pintu mall .. bbrr .. Namun Subhanallah, semua itu tidak mengurangi kekhusukan kami shalat. Karena begitu imam memulai takbir suasana seketika menjadi hening. Tak dapat dipungkiri sound system yang terpasang di masjid memang benar-benar patut mendapat acungan jempol, gemanya benar-benar bersih membahana hingga  ke relung hati yang terdalam.

Masjid Nabawi terutama Masjidil Haram memang sedang menjalani renovasi besar-besaran. Khadimul Haramain (Pelayan Dua Tanah Suci), yaitu raja Arab Saudi, pada 26 Agustus 2011, meletakkan batu pertama dimulainya proyek akbar perluasan Masjidil Haram. Rencananya masjid ini akan mengalami penambahan seluas 400 ribu m2 hingga daya tampungnya akan menjadi 1.2 juta jamaah.

Umrah Desember2015Saat ini puluhan crane masih terlihat di seputar masjid, sejumlah akses banyak yang masih terlihat ditutup, kegiatan proyek pembangunan masih berjalan, tak jarang para pekerja proyek dengan helm dan sepatu botnya berseliweran diantara jamaah. Area tawaf baru yang dibangun di lantai 1 melingkari Ka’bah sudah terlihat bisa digunakan. Sayang kami tidak berhasil mencobanya karena pintu masuk jembatan ditutup.

“ Penuh bu jadi pintu dibuka-tutup “, ujar seorang pekerja Indonesia yang kebetulan sedang disana, dengan logat Jawa yang kental. Memang PT Waskita Karya, sebuah perusahaan kontraktor Indonesia sejak tahun 2013 ikut terlibat dalam proyek dibawa pengawasan Saudi Bin Ladin Grup ini, Alhamdulillah, ikut bangga juga hati ini.

(Baca : http://www.suara-islam.com/read/tab/168/Proyek-Akbar-Perluasan-Masjidil-Haram ).

Hal lain yang juga cukup menarik perhatian adalah keberadaan pepohonan di sekitar Mekah dan Madinah, yang menunjukkan kesuburan tanah di gurun yang dulunya dikenal tandus dan gersang itu. Air yang begitu berlimpah baik di Masid Nabawi maupun Masjidil Haram adalah salah satu buktinya. Meski sayangnya karunia Allah tersebut kurang dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan toilet kota, toilet bandara Jeddah misalnya. Padang rumput dan juga turunnya salju di jazirah ini, sekali lagi menjadi bukti kebenaran apa yang dikatakan Rasulullah 15 abad silam.

“Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai (HR Muslim)“.

(Baca : http://www.rumahallah.com/2014/01/salju-dan-menghijaunya-tanah-arab.html#sthash.elu8B9H0.dpuf )

Namun dari semua yang paling indah dan berkesan di hati adalah dikabulkannya doa kami berdua agar Allah swt membuka mata hati anak gadis kami semata wayang supaya ia mau menutup auratnya dengan baik.

Saya merasakan tanda awal tersebut ketika berada di salah satu ruang menuju Raudhah. Saat itu kami sedang berada di antara jamaah Indonesia dan Malaysa yang sedang mengantri giliran masuk Raudhah ketika tiba-tiba terdengar senandung shalawat nabi yang makin lama makin kencang bergaung indah. Tampaknya alunan shalawat inilah yang mengawali terbukanya hati putri kami tersebut. Subhanallah …

Malu bu .. rasanya Dilla cuma berdoa mulu tapi g mau nurut perintah Allah”, begitu jawabnya suatu ketika saya menanyakan apa yang membuat hatinya terbuka. Alhamdulillah betapa leganya hati kami berdua, terima-kasih ya Allah, semoga Engkau selalu menjaga dan melindungi putri kami tercinta, agar ia istiqomah hingga akhir hayat, semoga perubahan ini juga berimbas kepada kedua kakak lelakinya dan kakak ipar perempuannya, aamiin aamiin aamiin YRA  …

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, …… “. ( Terjemah QS. An-Nuur(24):31).

Hal lain yang juga cukup berkesan adalah tausiyah pembimbing kami mengenai bekal 2 gelas. Beliau menasehati jamaah agar kemanapun pergi senantiasa membawa bekal 2 gelas, 1 gelas kosong dan gelas satunya lagi berisi penuh. Gelas-gelas ini diumpamakan sebagai hati yang siap berbagi untuk memberi dan menerima. Orang sombong cenderung suka membawa 2 gelas berisi penuh hingga tidak bisa menerima nasehat dan pendapat orang lain. Sementara orang yang tidak memiliki pendirian suka membawa 2 gelas kosong hingga hanya bisa menerima tanpa mampu memberi.

Sebaliknya jujur saya kurang setuju dengan doa pembimbing kami agar diberi kesempatan kembali mengunjungi Baitullah, kecuali bila baru beberapa kali umrah. Ini hanya pendapat pribadi, apakah tidak lebih baik bila kelebihan rezeki tersebut diberikan kepada seseorang yang sangat ingin berumrah namun kesulitan biaya daripada digunakan sendiri setiap tahun misalnya.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani ).

Kecuali bila sudah bertahun-tahun tidak melakukan umrah mungkin tidak mengapa. Karena bagaimanapun wajar saja bila seseorang dikarunia kesempatan dan rezeki berlebih ingin membersihkan dirinya kembali dari dosa-dosa.

Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta 13 Januari 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan ” Legenda Yunani; Santorini, Athena dan Hikmahnya (3)“).

Tiba saatnya untuk kembali, dengan tanda tanya besar dan rasa penasaran karena tidak berhasil menemukan satupun restoran halal di pulau milik Yunani ini. Namun ternyata jawaban itu ada di Yunani daratan yang kami temukan esok harinya.

Kami tiba di Athena, ibu kota Yunani, setelah setengah jam terbang dari Santorini. Setelah cek in hotel dan meletakkan koper serta barang bawaan, kami segera keluar kembali untuk melihat-lihat suasana kota sekaligus mencari makan malam. Maklum kami hanya semalam menginap di kota tua ini. Jadi harus benar-benar memanfaat kesempatan ini.

Untuk itu kami sengaja memilih hotel yang dekat dengan pusat daya tarik utama kota ini. Itulah Parthenon.  Parthenon  adalah kuil, rumah milik dewi Athena, putri kesayangan Zeus, dewa tertinggi Yunani. Nama ibu kota Negara ini memang diambil dari nama dewi yang dikenal sebagai dewi pelindung kota di pada abad 5 SM. Parthenon sendiri berada di pelataran tertinggi kompleks reruntuhan kuno Acropolis.

Athena menjelang tengah malam masih sangat ramai. Mungkin karena malam itu adalah malam minggu. Dan mungkin karena kami berada di pusat turis. Dengan mudah kami menemukan lokasi yang dari kejauhanpun sudah terlihat itu. Apalagi dibantu penduduk setempat yang rata-rata ramah. Dengan bahasa Inggris yang cukup baik, dengan senang hati mereka mau menjawab pertanyaan dan membantu menunjukkan jalan.

Restoran adalah tujuan pertama kami. Kami memasuki sebuah restoran cepat saji ala Mc Donald. Bingung juga kami melihat menu berbahasa Yunani dengan hurufnya yang tampak asing bagi kami. Alphabet Yunani adalah alphabet paling tua di dunia yang masih digunakan hingga saat ini.

Akhirnya kami hanya melihat dan menunjuk gambar. Pertanyaan kami hanya satu, apakah itu daging babi atau bukan. “No, it’s chicken”, katanya sambil lalu, setelah sempat bingung apa yang kami tanyakan. Tampak bahwa ia tidak begitu menguasai bahasa Inggris. Sayang sekali … 😦

Apa boleh buat, meski sempat ragu, kami habiskan juga sajian di hadapan kami tersebut. Bismillah … Semoga kami tidak salah. Setelah itu kami segera keluar dan menuju Parthenon yang terletak tidak begitu jauh dari tempat kami makan.

IMG_3237Beruntung kami sempat menyaksikan Parthenon di malam hari. Karena kuil yang terletak di atas bukit di tengah kota itu terlihat sangat megah ketika bermandikan cahaya lampu di malam hari. Namun tak lama kami berada di tempat tersebut. Selain memang tutup hari juga sudah terlalu larut malam. Sayangnya kami juga tidak berhasil mengambil gambar yang cukup bagus.

« Besok bangun pagi ya .. Kita naik ke kereta mini ke Parthenon, lihat Athena dari atas, okay ?”, kata suami mengingatkan.

Pada saat kami hendak kembali ke hotel itulah, tiba-tiba seseorang menegur kami “ Assalamualaykum .. Glad to see you wearing the hijab. But why do not your daughter?”. Kaget kami dibuatnya. Saya dan suami hanya tersenyum sambil memandang anak gadis kami yang wajahnya terlihat memerah, tidak menyangka bakal ditegur sedemikian rupa, di kota berpenduduk mayoritas Kristen pulak. Ia memang belum siap menutup auratnya dengan sempurna.

Akhirnya kamipun terlibat percakapan. Ternyata orang yang menegur kami tadi adalah seorang imigran Ajjazair. Ia makin semangat mengobrol mengetahui bahwa kami tinggal di Perancis. Maklum, Aljazair adalah negara bekas jajahan Perancis. Itu sebabnya banyak sekali imigran Negara Arab di ujung utara Afrika ini di kota-kota Perancis, beranak pinak dan membuat semarak Muslim di negri bekas pimpinan Zarkozy ini. Demikian pula lelaki ini, ia mempunyai beberapa sanak saudara yang tinggal di Perancis.

Darinya pula kami jadi tahu bahwa Muslim di negri ini kurang beruntung. Karena selain tidak memiliki satupun masjid, pemotongan daging halalpun tidak ada. Yunani yang katanya merupakan bapak demokrasi karena disinilah sejarah awal demokrasi muncul namun nyatanya tidak mengizinkan Muslim berkembang.

Konstitusi Yunani menyatakan bahwa setiap anggota masyarakat secara mutlak dijamin kebebasannya dalam beragama. Dan bahwa setiap orang yang tinggal di wilayah Yunani akan menikmati perlindungan penuh akan kepercayaan mereka. Namun nyatanya tidak ada satupun masjid yang dapat ditemukan di Athena. Karena pendirian tempat ibadah agama lain ditentang oleh kalangan Kristen fundamentalis. Bahkan kabarnya, setiap aktivitas yang berhubungan dengan pembangunan rumah ibadah resmi harus disetujui terlebih dahulu oleh Gereja Ortodoks. Sekedar informasi, mayoritas penduduk Yunani adalah Kristen Ortodoks Timur (94%).

Untuk itu, ternyata kami harus bersyukur. Perancis yang nyaris selama 4 tahun ditambah 3 tahun lagi yaitu dari tahun 2000 hingga 2003 telah menjadi tempat tinggal kami sementara, masih memiliki sejumlah masjid. Bahkan pemotongan daging halal resmipun sudah ada sejak beberapa tahun belakangan ini meski protes tetap saja ada.

“ Kami disini tidak punya pilihan. Yang bisa kami hindari hanya tidak mengkonsumsi babi saja. Yah, baca Bismillah sajalah ketika memakannya, apa boleh buat”, keluhnya sedih.

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS.Al-An’am(6):121).

“Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut asma’ Allah atasnya, maka makanlah dia.” (Riwayat Bukhari).

Selanjutnya ia bercerita. Suatu ketika datang satu rombongan turis dari Arab Saudi ke sekitar Parthenon. Tamu perempuan yang ada diantara mereka seperti biasa mengenakan abaya hitam lengkap dengan cadarnya. Menunjukkan jelas bahwa mereka adalah Muslim. Mereka mendatangi sebuah restoran untuk makan malam dan memesan menu ayam. Kebetulan hari memang telah sangat larut malam. Wajar bila ternyata restoran kehabisan stok yang diminta. Namun tampaknya pihak restoran tidak mau menolak rezeki.

Lalu apa yang mereka lakukan. Dicucinya bersih-bersih daging tersisa yang mereka punya. Lalu dimasaklah dengan bumbu-bumbu beraroma kuat dengan maksud agar hilang bau dan rasa khas daging tersebut.  Kemudian dihidangkannyalah masakan ‘ayam’ tersebut. Dan tanpa sedikitpun rasa curiga para tamupun melahap pesanan mereka.

“Tahukah anda, daging apa yang mereka masak?”, “Babiii”, begitu jawab si bapak Aljazair tersebut menjawab pertanyaannya sendiri tanpa menunggu jawaban kami. Naúdzubillah min dzalik … Benar-benar keterlaluan. Pasti orang-orang restoran tersebut tahu persis bahwa tamu mereka adalah kaum Muslimin yang haram mengkonsumsi daging yang satu itu.

Selanjutnya mengenai masjid. Ia menerangkan meski di Athena ini tidak ada satupun masjid namun beberapa komunitas Muslim tetap melaksanakan shalat berjamaah di tempat-tempat tertentu. Contohnya Muslimin Pakistan, yang banyak mendiami area yang tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Ia menunjuk ke suatu arah tertentu.

Rasulullah s.a.w. bersabda “Shalat jamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri” (HR. Bukhari Muslim).

Utsman ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda “Barang siapa shalat Isya’ dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam, barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia laksana shalat semalam suntuk” .(H.R. Muslim).

Tampaknya kesadaran umat Islam untuk mendirikan shalat secara berjamaah di Yunani, Athena khususnya, tidak dapat ditekan begitu saja. Ini terbukti dengan adanya 100 an masjid kecil di kota ini. Tentu saja semua masjid temporer tersebut tidak memiliki izin resmi dari pemerintah. Tercatat di Yunani ini ada sekitar 500 ribu Muslim, 40 % diantaranya berdomisili di Athena.

Keinginan agar pemerintah merealisasikan janji menyediakan rumah ibadah khusus bagi mereka hingga detik ini belum juga tercapai. Bahkan pernah suatu ketika terjadi di akhir shalat Iedul Fitri yang diselenggerakan di lapangan sebuah universitas, sejumlah orang melempari mereka dengan telur dan yoghurt ! Astaghfirullah haladzim .. Ya Allah berilah saudara-saudari kami itu kesabaran yang benar-benar tebal, amiiin ..

“ Bangunan di belakang anda itu dulunya juga masjid”, katanya mengejutkan “Namun duluuuu sekali ya, ketika Yunani masih berada di bawah kekuasaan Turki Ottoman”, lanjutnya lagi.

Saya jadi teringat sebuah blog yang pernah saya baca sebelum keberangkatan kami. Blog ini menceritakan pengalaman bagaimana ia dan sejumlah temannya mencari alamat masjid yang mereka temukan di internet. Mereka kecele karena masjid yang dimaksud tersebut adalah bangunan di belakang kami yang sekarang sudah dijadikan museum.

Sebaliknya mereka juga beruntung. Karena Allah swt mempertemukan mereka dengan seseorang yang menunjukkan letak ‘masjid rahasia’, dimana mereka dapat shalat berjamaah dengan tenang. Tidak semua orang bisa menemukan apalagi memasuki masjid tersebut, namanya juga rahasia. “Masjid” tersebut kalau bisa dibilang masjid karena sebenarnya hanya bekas sebuah gudang yang sudah disulap, terletak di bawah tanah. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat membuka rolling door kios makanan halal dimana masjid rahasia tersebut tersembunyi. Allahuakbar !

( Baca : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/08/24/menjadi-marbot-di-masjid-bawah-tanah-di-athena-lawatan-ke-masjid-masjid-di-mancanegara-10-390724.html

( Bersambung  : https://vienmuhadi.com/2012/11/02/yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-tamat/ )

Read Full Post »

Kami tiba di kota pelabuhan tersebut pada pukul 15.30 waktu setempat. Kamipun langsung  memanfaatkan waktu yang tersisa di hari itu dengan berjalan-jalan melihat pusat kota. Danau dimana kita dapat memberi makan angsa yang bebas berenang di atasnya tampaknya menjadi hiburan tersendiri bagi warga Stavanger. Danau ini terletak diantara pelabuhan yang cukup ramai dan pusat perbelanjaan. Tak kalah menarik adalah deretan restoran dengan arsitektur bangunan kayu yang di cat warna-warni. Restoran ini berdiri berjajar di sepanjang pedestrian berbatu yang mengikuti kontur tanah naik turun.

Kami sempat beberapa kali melihat dan berpapasan dengan Muslimah, berkat jilbabnya, Subhanallah … Sayang kami tidak mempunyai informasi tentang Muslim di kota ini. Namun tanpa sengaja  kami menemukan resto halal siap saji hanya beberapa puluh meter dari hotel tempat kami menginap.

Hanya kami satu-satunya restoran yang seluruh sajiannya halal”, tegas sang pemilik resto yang menyediakan masakan lumayan bervariasi selain kebab.

« Kebab itu kayak masakan Padang kalo di Indonesia kali ya, tapi ini versi internasionalnya », begitu komentar anak-anak setengah bergurau.

Hmm, benar juga ya, kebab memang bisa di jumpai hampir di seluruh pelosok dunia lho, paling tidak di negara-negara yang sudah kami kunjungi. Dan yang lebih melegakan kebab yang kami kunjungi selalu halal, hingga kamipun mengambil kesimpulan kedai kebab sudah pasti halal karena biasanya pemiliknya Muslim Turki, Maroko atau Tunisia. Paling tidak itulah kesimpulan kami saat itu.

Esoknya, sesuai rencana kami menuju pelabuhan untuk memulai cruise kami menyusuri Lysefyord. Fyord sepanjang 42 km ini akan ditempuh selama 3 jam  dengan kapal Rodne Fyord Cruise. Tepat pukul 11 siang kapal berkapasitas 40 – 45  penumpang ini berlabuh meninggalkan pelabuhan. Alhamdulillah udara cerah meski tetap saja di luar lumayan dingin dan berangin.

IMG_7108IMG_2627IMG_2593Kapal berlayar keluar dari pelabuhan awalnya perlahan, melewati kapal-kapal yang di parkir dan bangunan-bangunan yang berdiri di tepi pelabuhan. Setelah melewati jembatan panjang yang menghubungkan daratan satu ke daratan yang lain, kapalpun mulai melaju pesat membelah sungai menuju laut dengan latar belakang Subhanallah, bukan cuma deretan bukit, tapi bukit yang bertumpuk, saling tumpah tindih memamerkan keindahannya. Belum lagi airnya yang begitu bening dan bersih bagaikan kristal, ditambah  pantulan cahaya matahari.

IMG_7029IMG_7045IMG_7069

Pulpit Rock dari bawah

Pulpit Rock dari bawah

Angin kencang yang makinIMG_7095 lama makin dingin segera menerpa wajah-wajah penumpang yang nekad bertahan di dek kapal.  Akhirnya sebagian besar penumpangpun menyerah, dengan terpaksa harus puas menikmati keindahan ciptaan-Nya dari dalam kapal yang dilengkapi heater itu. Namun ternyata kapal lebih sering berjalan perlahan bahkan berhenti sejenak, ketika mendekati obyek menarik. Diantaranya air terjun, tebing-tebing yang cantik, perkampungan penduduk, adanya sekawanan kambing yang sedang menuruni tebing dan lain-lain, termasuk Pulpit Rock atau Preikestolen yang termasyur itu. Kami segera membayangkan bagaimana rasanya berada diatas sana, di tepi tebing yang menjorok ke laut tersebut.

Semoga udara tetap cerah”, itulah harapan kami.

Namun ternyata Sang Khalik berkehendak lain. Sekitar 20 menit menjelang kapal merapat ke pelabuhan hujan rintik-rintik turun bahkan makin lama makin deras. Kami terpaksa berlarian ketika turun dari kapal, menuju restoran siap saji yang ada di sekitar lokasi. Padahal rencananya kami akan take away dan menyantapnya di dalam mobil, sebagai bekal sebelum mendaki tebing.

Sampai kami selesai makan siang, dan melanjutkan perjalanan ke Tau, dengan ferry selama kurang lebih 1 jam, hujan tetap tidak berhenti. Apa boleh buat tampaknya kami harus merubah rencana. Tidak tega sebenarnya melihat wajah anak-anak yang tidak mampu menyembunyikan kekecewaan mereka. Dengan berat hati, akhirnya diputuskan hiking besok pagi saja, sepagi mungkin. Dengan catatan rute perjalanan turistik Stavanger – Bergen sepulang hiking terpaksa dibatalkan.

“Kasian ayah, habis hiking pasti kan cape banget kalo harus nyetir 6 jam-an jalur pegunungan pula. Kita lewat tol aja, ok” bujuk saya.

IMG-20141023-WA003IMG_7136Setelah semua setuju maka mobilpun melancar mantab menuju penginapan di sekitar Tau, sebuah kota kecil tak jauh dari Pilpit Rock. Pemandangan alam yang disuguhkan negri ini memang benar-benar mengagumkan. Pegunungan yang terlihat tumpang tindih bukan sekedar berderet saja, sungai dan danau yang airnya amat jernih menjadi pemandangan utama kami. Tak sampai setengah jam kemudian sampailah kami di “ The Wathne Feriesenter “, penginapan ala bumi perkemahan yang terdiri dari beberapa rumah kayu berwarna merah lengkap dengan terasnya.  Bumi perkemahan ini terletak di ujung danau panjang Tysdalvalnet seluas 3.74 km2, dan di apit jejeran gunung yang sungguh menakjubkan.

Waduuh, kalau di dunia ini ada pemandangan yang begitu menakjubkan, gimana di surga yaa, Subhanallah. Ayo berlomba kita dalam kebaikan supaya bisa lihat keindahan di surga sana ”, setengah bercanda berkata saya kepada suami dan anak-anak.

Lebay deh ibu “, jawab anak-anak sontak. 🙂 …

Sore itu, setelah hujan reda kami mensurvey perjalanan menuju Pulpit Rock yang katanya hanya setengah jam dengan mobil. Dengan petunjuk GPS kamipun menyusuri jalan-jalan kecil, naik turun, sempit dan berkelak-kelok menuju kesana. Sesuai perkiraan memang benar sekitar setengah jam. Namun yang lebih menyenangkan lagi pemandangannya itu lho, benar-benar sulit untuk dilukiskan. Meski ketika pulang kami sempat tersesat karena hari telah gelap. Tak urung waswas juga hati ini berjalan menyusuri tebing-tebing tinggi di pinggir laut dengan pemandangan bayangan gunung-gunung dan bukit gagah namun terkesan angker saking gelapnya.  Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami di penginapan, leganya hati ini.

Esok paginya sesuai rencana kami berangkat menuju Pulpit Rock, agak ngaret, karena berfoto-foto dulu di tepi danau. Akibatnya sesampai di Preikestolen Fjellstue, pos terdekat untuk mencapai tujuan, parkiran sudah dipenuhi kendaraan para wisatawan, termasuk bus-bus besar turis dari mancanegara. Pos yang dilengkapi youth hostel ini terletak agak tinggi di pegunungan menghadap danau. Berdasarkan info yang tercantum di papan informasi dibutuhkan waktu kurang lebih 4 jam pulang pergi.

IMG_7151IMG_1182IMG_7168IMG_7186Maka dimulailahIMG_7264 pendakian ini dengan penuh semangat. Meski jujur bagi saya, track sepanjang 3.8 km ini lumayan berat. Track memang sudah disiapkan dengan baik dan relative aman, tetapi tetap saja di beberapa tempat lumayan terjal, cukup membuat nafas saya tersengal-sengal. Maklum selain faktor U alias umur, juga kurang execise … 🙂  Track ini lumayan bervariasi, ada yang relative landai, ada yang terdiri dari tumpukan batu-batu sedang kadang cukup runcing, ada yang besar tapi ada juga yang super besar, yang bahkan untuk melaluinya saja terpaksa setengah merangkak.  Beruntung kedua putra-putri kami cukup kuat dan gesit menolong ibunya yang semangat 45. Pemandangan selama perjalanan tidak perlu diceritakan, silahkan dinikmati saja sendiri.

IMG_7205IMG_2722IMG_7251IMG_7234IMG_2713Kurang lebih 2.5 jam kemudian sampailah kami di puncak tebing Preikestolen atau Pulpit Rock yang selama beberapa bulan ini hanya kami pandang lewat foto. Tebing berbentuk persegi panjang ini memiliki pelataran datar seluas 25×25 meter. Diatas pelataran inilah dengan berbagai pose seolah berani melawan alam, para wisatawan mancanegara itu bergaya di tepi jurang yang tak berpengaman itu.  Batu besar yang menjorok ke selat yang kemarin kami arungi itu, dimana di hadapannnya berdiri kokoh daratan tinggi berkarang besar, mampu memberikan sensasi yang sungguh luar biasa. Subhanallah …

Hebatnya, meski tak berpagar sama sekali, tidak pernah ada laporan korban terjatuh atau kecelakaan lain. Satu-satunya laporan hanyalah pasangan asal Austria yang sengaja datang ke tempat ini untuk bunuh diri bersama, dengan meloncat ke dalam kedalaman jurang sungai yang tak terlihar dasarnya itu.  Naudzubillamin dzalik …

Setelah puas menikmati keindahan kebesaran Allah, kamipun kembali.  Kami menempuh perjalanan pulang tersebut persis sama dengan ketika berangkat, yaitu 2.5 jam. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, kami belum sempat makan siang, pantas saja kalau perut terasa keroncongan. Ketika itu kami berada di Joperland, sebuah kota kecil tidak jauh dari Pulpit Rock. Kebetulan hari itu hari Minggu jadi kota sepi, tidak ada satupun toko dan restoran yang kami lalui buka. Alhasil begitu melihat ada resto kebab, yang selama ini kami anggap pasti halal, tanpa berpikir panjang kamipun masuk. Tak lama kamipun sudah asik menikmati makan siang kami sambil berceloteh tentang pengalaman kami tadi siang. Hingga ketika kami hampir selesai makan, tiba-tiba anak kami berkata pelan:

“Yah bu lihat…”, bisik anak kami sambil diam-diam menunjuk ke arah dapur resto. Sontak kamipun segera melirik ke arah yang ditunjuknya. Disana, di dinding dapur restoran cepat saji tersebut, terlihat sebuah salib tergantung.

“Astaghfirullahaldzim … “, seru kami nyaris bersamaan.

Koq aneh ya, tadi Dilla kan udah tanya halal g nih …  Jawabnya halal”, keluh putri kami kecewa.

Ntahlah, Allah Maha tahu, pasti Ia mengetahui bahwa kami sama sekali tidak bermaksud mengkonsumsi apa yang diharamkannya. Yah, setidaknya bukan babi ajalah, celetuk anak-anak lagi mencoba menenangkan diri.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah(2):173).

Akhirnya kamipun mengakhiri perjalanan di salah satu Negara Skandivania itu dengan menempuh perjalanan ke Bergen. Bergen adalah kota ke 2 terbesar di Norwegia setelah Oslo, ibu kota Norwegia. Kota yang terletak di utara Stavanger ini sebenarnya hanya berjarak 210 km dari Stavanger namun harus ditempuh dalam waktu 5 jam-an. Ini disebabkan kecepatan kendaraan maksimal yang dizinkan pemerintah setempat, yaitu hanya 80 km/jam, termasuk di jalur tol.

Tak dapat dipungkiri, pemandangan sepanjang perjalanan tersebut sungguh indah dipandang mata.  Jalur dibuat sedemikan rupa memotong laut, selat, danau, sungai dan pegunungan, kadang menyeberang dengan ferry sering kali menerobos terowongan yang sangat panjang. Terakhir, sebelum masuk Bergen, mobil naik ferry, dan selama 1 jam kami berada diatasnya. Di ferry ini kita dapat turun dari kendaraan dan naik ke lobby ferry yang mempunyai fasilitas lengkap, seperti restoran, wc dll.

Akhir kata, ya Allah jadikan segala kesempatan yang Engkau berikan kepada kami sekeluarga untuk menikmati keindahan-Mu sebagai bekal untuk lebih mendekatkan lagi kepada-Mu.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran(5):190-191).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 November 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Fyord, dari bahasa Norwegia fjord, adalah bagian panjang dan sempit dari laut yang berada di antara tebing, bukit terjal atau gunung, hingga membentuk semacam teluk sempit memanjang. Fyord terbentuk ketika bongkahan es raksasa di puncak gunung ( gletser) memotong lembah berbentuk  U karena terjadinya pengikisan alam baik abrasi maupun erosi terhadap batuan dasar di sekitarnya. Proses ini terjadi secara perlahan selama jutaan tahun hingga akhirnya terbentuklah aliran sungai di sela-sela bukit, tebing, gunung sebagai dampak mencairnya gletser yang jatuh dan meleleh di lembah sempit tersebut dan juga area sekitarnya. Itu sebabnya air fyord sangat bersih dan jernih.

Itu pula sebabnya fyord bisa sangat dalam dan sangat panjang, dengan kedalaman bisa mencapai 1.300 m di bawah permukaan laut. Contohnya adalah fyord Sognefjord di Norwegia yang mempunyai panjang 205 kilometer dan kedalaman 1308 meter (4291 kaki ) di bawah permukaan laut, serta memiliki lebar sekitar 2.8 mil.

Fyord memiliki nilai ekonomis sangat tinggi karena selain merupakan daya tarik wisata yang sangat mengagumkan, fyord yang kaya akan sedimen ini menarik untuk diteliti demi mengungkap keberadaan minyak bumi ataupun jenis mineral-mineral bumi lainnya. Ini masih ditambah lagi dengan adanya terumbu karang dan berbagai jenis ikan, diantaranya ikan salmon yang terkenal mahal itu.

Geirangerfjord Norway

Geirangerfjord Norway

Hardangerfjor Norway

Hardangerfjor Norway

Milford Sound1 New Zealand

Milford Sound1 New Zealand

Fyord banyak ditemukan di negara-negara  Skandinavia, Islandia, Greenland dan New Zealand.  Menurut catatan resmi, fjord terpanjang di dunia adalah Scoresby Sund di Greenland (350 km), disusul Greely/Tanquary Fiord di Canada (230 km) dan Sognefjord di Norwegia  (203 km). Sedangkan fyord terdalam di dunia adalah Skelton Inlet di Antartika (-1, 933 m ), kemudian Sognefjord di Norwegia ( -1,308 m ) dan Messier Channel di Cili (-1,288 m). Ukuran minus di dalam kurung menunjukkan ukuran di bawah permukaan laut.

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.(QS. An-Nuur(24):43).

Subhanallah, sungguh luar biasa cantiknya fyord buatan-Mu Ya Allah. Kecantikan alam ciptaan-Nya inilah yang membuat kami memutuskan untuk mengunjungi Norwegia. Kebetulan kami memang telah berniat menghadiri wisuda S2 putra kami ke 2 di Leiden, Belanda.  Dan setelah searching internet kesana kemari, Pulpit Rock atau Preikestolen, tebing terjal di Norwegia dengan pemandangan spektakuler fyord bernama Lyse atau Lysefyord di bawahnya, menjadi pilihan tujuan utama kami.

Wah lumayan nih bisa sekalian jadi ladang dakwah ibu, kayaknya Muslim belum terlalu dikenal disana deh”, itu mimpi saya. Dengan modal minimal jilbab saja sebenarnya tidak sulit bagi Muslimah untuk berdakwah. Paling tidak untuk sekedar menunjukkan bahwa Islam itu exist, dan lebih penting lagi bahwa Islam bukan cuma milik dunia Arab seperti bayangan kebanyakan orang Barat.

“ Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (QS. Al-Ahzab(59):33).

Rencananya waktu 3 hari yang sebenarnya terlalu singkat itu akan kami gunakan untuk hiking ke tebing berketinggian 600 meter tersebut, menyusuri Lysefyord dengan kapal dan terakhir menyisir rute turistik 6 jam Stavanger – Bergen dengan mobil sewaan. Tiket kapal telah kami beli jauh-jauh hari melalui internet karena lebih murah dibanding membeli langsung di lokasi.

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya …”. (QS. Al-Mulk (67):15).

Maka pada tanggal 15 September 2014 lalu saya, suami dan putri bungsu kami, jadilah terbang meninggalkan tanah air menuju daratan Eropa. Kami menumpang Qatar Airways yang transit 4 jam di Doha. Total perjalanan kurang lebih 18 jam. Kami mendarat di bandara Charles de Gaule Paris sekitar pukul 7 pagi waktu setempat.

Dari ibu kota Perancis ini kami langsung melanjutkan perjalanan ke Denhag Belanda dengan mengendarai mobil sewaan yang telah di booking suami dari tanah air.  Perjalanan dengan jarak tempuh 472 km ini ditempuh dalam waktu kurang lebih 6 jam. Syukur Alhamdulillah Allah swt memberi kekuatan dan kemampuan suami tercinta menyetir setelah penerbangan panjang malam sebelumnya. Trima-kasih ayaaah …

Dua malam kami menginap di Denhag yang jaraknya hanya 22 km dari Leiden dimana wisuda bakal dilaksanakan. Acara wisuda di universitas tertua di Belanda ini ternyata amat sangat sederhana, tidak ada toga dan atribut lain seperti di negri kita. Di Indonesia, bahkan wisuda TK pun memakai toga … 🙂

Wisuda diselenggarakan 2x dalam setahun. Namun penyelenggaraannya bukan di hall atau ruang besar seperti umumnya wisuda di Indonesia, melainkan di beberapa ruangan kelas.  Wisudawan dipanggil satu persatu untuk masuk ke dalam ruangan sesuai jadwal yang telah diberikan sebelumnya. Ia berhak mengundang maksimal 15 orang sahabat dan handai taulan untuk duduk di deretan kursi di belakangnya. Sementara duduk di seberang wisudawan, dosen pembimbing dan rektor fakultas.

Disanalah keduanya, selama 10 menit memberikan speech : penilaian, kesan, nasehat serta saran kepada si wisudawan. Keduanya berbicara dengan suara cukup kencang hingga semua yang hadir bisa ikut mendengarkan. Suasananya demikian hidup, akrab dan santai. Setelah itu disertai jabat tangan, ijazahpun diserahkan. Bravo Bimo, semoga ilmunya bermanfaat dunia akhirat, bagi diri, keluarga dan lingkungan, aamiin YRA.

Esoknya, kami menyempatkan mengunjungi Delft dan Roterdam yang jaraknya hanya beberapa puluh km dari Denhag. Jarak antar kota di Belanda memang sangat berdekatan, maklum negara ini luasnya hanya sekitar 41 ribu km2. Bandingkan dengan Indonesia yang luasnya 1.990.250 km2.

Belanda,  Netherlands dalam bahasa Inggris, Nederland dalam bahasa Belanda,  artinya adalah  tanah yang rendah. Ini dikarenakan seperempat tanah negara ini memang berada di bawah permukaan laut. Rata-rata kota di negara ini berada di 1 m dibawah permukaan laut, bahkan ada yang 7 m. Tentu saja hal ini sangat berbahaya. Itu sebabnya bendungan menjadi semacam keharusan. Berkat dinding-dinding bendungan inilah Belanda  aman dari ancaman air laut yang sewaktu-waktu bisa mendatangkan bencana.

Disamping itu untuk menambah luas tanah negaranya, pemerintah berikhtiar maksimal dengan mereklamasi laut serta mengembangkan sistim tata air yaitu dengan kanal dan kincir angin yang kemudian menjadi ciri khas negara ini. Alhasil, hampir setengah dari penduduk Belanda sekarang ini hidup di darat yang telah direklamasi.

“God created the world, but the Dutch created Holland” ujar Rene Descartes, seorang filsuf Perancis kenamaan mencoba menggambarkan bagaimana orang Belanda mengeringkan daratan yang digenangi air agar dapat menjadi permukiman yang layak didiami.

Leiden

Leiden

Delf

Delf

di depan Leiden Univ, Leiden

di depan Leiden Univ, Leiden

Setelah puas berkeliling menikmati indahnya kanal-kanal kotaIMG_6566, siangnya kami melanjutkan perjalanan ke Paris. Perjalanan bertambah seru karena putra kami yang baru saja diwisuda ikut bergabung.  Di Paris kami hanya satu malam, dan rencananya kami akan menutup perjalanan kali ini dengan kembali ke Paris untuk 2 malam yaitu sekembalinya dari Norwegia nanti. Sebagai catatan, kami menggunakan penerbangan Jakarta – Paris – Jakarta atas permintaan si bontot yang ingin bernostalgia, mengingat hari-harinya di kota ini.

Sedangkan kota tujuan utama kami di Norwegia adalah Stavanger. Stavanger adalah kota ke 3 terbesar dan ke 4 terpadat penduduk di Norwegia.  Kota ini mempunyai luas 71 km2 dan sekitar 125 ribu penduduk ( 2010) bandingkan dengan Jakarta yang berluas sekitar 662 km2 dan 10 juta penduduk ( 2011).

Kota ini terletak di Norwegia bagian barat daya, tak jauh dari Laut Utara yang kaya minyak itu. Bagi sebagian besar orang Indonesia mungkin nama ini terdengar asing. Namun tidak bagi kami, terutama suami yang bekerja di perusahaan minyak. Karena Stavanger adalah kota minyak. Oil Capital of Norway adalah julukannya, disebabkan banyaknya perusahaan minyak dunia berkantor di kota ini, termasuk perusahaan dimana suami bekerja.

IMG_6880IMG_6960IMG_6883Namun yang diluar dugaan suami ternyata Stavanger tidak se’angker’yang dibayangkannya. Selama ini bila ada sejawat yang ditempatkan di Stavanger, yang terbayang adalah kota antah berantah di ujung dunia yang sepiii, dingiiin dan jauh dari keramaian. Nyatanya Stavanger cukup ramai, kotanya juga menarik dan unik, terutama bentuk rumahnya yang terbuat dari kayu.

Tetapi yang paling menakjubkan, kontur alamnya itu lho, Subhanallah … Dimana-mana terlihat bukit yang menyembul di tengah atau di balik laut dan danau … Dan yang lebih menguntungkan lagi, udara yang cukup ideal, yaitu sekitar 20 derajat, padahal ini sudah masuk musim gugur, biasanya bulan September maksimal hanya  15 derajat. Alhamdulillah,  terima-kasih ya Allah …

Meski belakangan saya baru tahu ternyata Norwegia memiliki iklim yang lebih besahabat dibandingkan dengan Negara lain dengan posisi ketinggian yang sama yaitu Alaska, Greenland dan Siberia.

( Bersambung).

Read Full Post »

Older Posts »