Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Yang juga melegakan adalah banyaknya restoran halal dan toko daging halal di kota tersebut. Masjid juga ada beberapa meskipun sederhana dan agak di luar kota. Sayang tidak ditemukan data akurat tentang jumlah Muslim di kota ini. Data terakhir (2001) hanya menyebut bahwa jumlah Muslim adalah 6.3 % dari jumlah penduduk. Menjadikannya sebagai agama minoritas terbanyak di Newcastle.

 

Meski masih kalah dibanding jumlah Muslim di London yang tercatat sebanyak 12.39 %, cukup melegakan dibanding mayoritas Kristen yang 56.4% dan 27.8% mengaku tidak beragama. Jumlah yang cukup signifikan untuk ukuran Barat yang sedang mengalami Islamphobia akut.

Bahkan wali kota London sendiri adalah seorang Muslim keturunan Pakistan. Kakeknya bermigrasi dari India ke Pakistan paska pembagian India pada tahun 1947. Sadiq Aman Khan, demikian nama sang wali kota, lahir di London tak lama setelah orang tuanya bermigrasi ke Inggris. Khan yang berprofesi sebagai pengacara ini menjabat sebagai wali kota sejak 2016 lalu.  Sayang ke-Islam-annya banyak dipertanyakan orang karena selain tidak mempunyai komitmen jelas terhadap kejahatan Yahudi, juga menyetujui pernikahan sesama jenis yang jelas-jelas dikutuk Islam sebagaimana kisah kaum nabi Luth berikut.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Huud(11):82-83).

Sejarah masuknya Islam di Inggris memang agak rumit. Sejak Islam diturunkan ke muka bumi dengan diutusnya rasulullah Muhammad saw pada tahun 610 M, baru ratusan tahun kemudian tembus ke Inggris. Itupun hanya dengan masuknya 1 orang Ksatria Templar bernama Robert of St. Albans pada 1185. Begitu ber-syahadat Robert langsung bergabung dengan pasukan Raja Salahudin berbalik melawan tentara Salib. Ia wafat hanya 2 tahun setelah memeluk Islam. Semoga Allah swt meridhoinya, aamiin …

Selanjutnya Islam baru masuk ke Inggris secara bergelombang paska pecahnya Perang Dunia I tahun 1917 an. Dengan berbondong-bondong pengungsian dari berbagai negara Muslim yang terlibat perang memasuki Inggris. Banyak diantara mereka ini yang kemudian pindah kewarga-negaraan dan bergabung dengan tentara Inggris tanpa melepas ke-Islam-an mereka. Diantaranya Muslim Turki Siprus yang terkena dampak Turki Siprus Diaspora yang banyak menelan korban pembantaian.

3

London Central Mosque

7Sebelum tragedy Siprus paska dominasi Inggris, Muslim Turki Siprus datang ke Inggris sebagai pelajar dan turis. Selanjutnya setelah berhasil mengembangkan bisnis, pada tahun 1970an mereka mengajak keluarga besar mereka termasuk yang di Turki daratan, untuk membantu bisnis mereka yang berkembang pesat. Mereka inilah yang kemudian membangun masjid yang hingga kini banyak bertebaran di Inggris. Termasuk The London Central Mosque yang juga dikenal dengan nama the Islamic Cultural Centre (ICC) atau Regent’s Park Mosque karena letaknya yang memang di Regent’s Park, pusat kota London.

Disamping itu, sebagai akibat Inggris yang banyak menjajah negara-negara Muslim, maka berdatangan pula keluarga-keluarga negara jajahan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Somalia dan beberapa negara Afrika lainnya. Belakangan Malaysia yang merupakan bagian dari negara persemakmuran (Commonwealth) banyak mendatangkan pelajar-pelajarnya ke Inggris untuk memperdalam ilmu mereka di berbagai perguruan tinggi  di negara tersebut.

Namun tidak sedikit pula orang asli Inggris seperti orang-orang Skotlandia, Irlandia dan Wales yang tertarik dengan ajaran Islam lalu memeluknya. Diantaranya adalah  Marmaduke William Pickthall yang mengganti namanya menjadi Muhammad Marmaduke Pickthall  sejak masuk Islam pada akhir 1917. Jurnalis sekaligus politikus tersebut adalah orang pertama yang menterjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris. Maha karya yang ditulis pada 1930 tersebut diakui secara resmi oleh Universitas Al-Azhar Mesir, dan masih digunakan hingga detik ini. Berikut kisah ke-Islam-an beberapa tokoh Inggris era Ratu Victoria :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/07/31/ob6f7n313-cerita-muslim-inggris-era-victoria

Tak heran bila kini Islam tercatat sebagai agama paling pesat berkembang di Inggris. Antara kurun waktu 2001 – 2009 jumlah Muslim melonjak 10 kali lebih cepat dibanding agama lain. Tampaknya tragedy keji September 2001 yang meluluh lantakan WTC dan sekitarnya justru memancing keingin-tahuan Barat  untuk lebih mengenal Islam yang sesungguhnya. Allahu Akbar …

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Syukur Alhamdulillah Allah swt memberi kami bertiga kesempatan untuk mengunjungi London (beberapa tahun yang lalu) dan kini beberapa kota yang tidak terlalu jauh dari Newcastle. Dengan mengendarai mobil sewaan kami mengunjungi Durham yang hanya berjarak beberapa km dari Newcastle, Windermere dan Keswick yang terletak di Lake District, Glassgow dan Edinburg, ibu kota Skotlandia, untuk terus kembali ke Newcastle.

20190920_145241Durham menjadi daya tarik sendiri, setidaknya bagi putri kami, karena disitulah dilakukan shooting film Harry Potter. Namun sungguh tak dinyana dalam perjalanan menuju gereja abad pertengahan tempat shooting diakukan kami menemukan adanya resto dengan tulisan HALAL terpampang.

Belakangan kami baru tahu bahwa Durham University ternyata memiliki fakultas Ekonomi dan Keuangan Islam yang telah berusia 25 tahun.  Maka kamipun tak heran mengetahui universitas tertua ke 3 ( lebih dari 600 tahun) di UK ini juga memiliki masjid yang dikelola Islamic Association kampus tersebut. Sementara di Lake District kami tidak sempat menemukan restoran berlabel Halal maupun masjid. Dari hasil googling Muslim di wilayah tersebut termasuk yang paling sedikit dibandingkan wilayah lain di Inggris.

Dari Lake District kami menuju ke utara yaitu Edinburg, ibu kota di Skotlandia, dengan melalui Glasgow. Kami tiba di Glasgow, kota terbesar keempat di Eropa, setelah London, Paris dan Berlin tersebut ketika matahari sudah terbenam. Kami hanya melewati kota tersebut untuk istirahat mencari makan malam. Sayangnya ternyata tidak mudah menemukan restoran Halal di kota tersebut.

Menurut Wikipedia, berdasarkan sensus 2011,  Muslim di Skotlandia memang sedikit sekali, yaitu hanya 1.4 % dari populasi. Muslim pertama yang tercatat masuk Skotlandia adalah seorang mahasiswa India jurusan kedokteran Edinburg University pada tahun 1858. Meski demikian dari pengamatan Google map, masjid di Glasgow lumayan banyak bahkan lebih bagus dibandingkan masjid yang ada di Newcastle. Masjid juga dapat ditemukan di universitas Glasgow. Seperti juga di Newcastle dan Durham, masjid tersebut dikelola oleh Islamic Association universitas bersangkutan.

edinburg mosque20190922_19024920190922_19124420190922_132905Sementara itu di Edinburg, ibu kota Skotlandia yang sebagian kotanya adalah kota tua abad pertengahan yang terdaftar sebagai situs warisan Unesco, selain resto kebab Halal, secara tidak sengaja kami menemukan sebuah masjid megah, Masjid Central Edinburg. Masjid yang terletak tidak jauh dari universitas Edinburg ini sebagian besar dana pembangunannya berasal dari raja Fahd dari Arab Saudi. Masjid ini resmi dibuka pada tahun 1998.

Masjid Dar Al-Arqam Edinburg UKDar Al-Arqam 1Belakangan melalui google map, terlihat adanya masjid bernama Dar Al-Arqam. Masjid ini terletak di sisi lain Edinburg University. Dari kejauhan orang pasti tidak akan mengira bahwa bangunan tersebut adalah bangunan rumah ibadah umat Islam. Sayang tidak ada keterangan resmi sejak kapan bangunan yang tampaknya bekas sebuah gereja itu berubah fungsi menjadi masjid.

Tidak didapat keterangan pasti berapa jumlah Muslim di Inggris sekarang ini. Namun berita pada Maret 2018 dari London mengatakan bahwa ratusan gereja di London telah ditutup. Sementara ratusan masjid bermunculan, sebagian dari bekas gereja yang sudah tidak lagi terpakai. Meski demikian jumlah masjid yang ada tersebut tetap tidak mampu menampung jamaah yang akan melakukan shalat Jumat. Allahu Akbar …

Masih menurut sumber yang sama, hampir setengah dari Muslim Inggris berusia di bawah 25 tahun. Sementara seperempat orang Kristen berusia di atas 65 tahun. Kota-kota besar yang tercatat memiliki banyak Muslim adalah Manchester (15,8%), Birmingham (21,8%) dan Bradford (24,7%).

“Dalam 20 tahun ke depan, akan ada lebih banyak Muslim yang aktif daripada orang-orang gereja,” kata Keith Porteous Wood, direktur Sekuler Nasional Masyarakat.

https://duniaekspress.com/2018/05/31/geliat-islam-di-london-500-gereja-tutup-buka-423-mesjid/

Tampak dengan makin banyaknya pelajar Muslim dari berbagai belahan negara yang menimba ilmu di negri ini telah makin membuka mata dan hati penduduk Inggris mudah menerima Islam sebagai satu-satunya ajaran yang diridhoi-Nya. Islam yang merupakan agama tauhid yang dibawa para nabi termasuk nabi Musa nabinya umat Yahudi maupun nabi Isa nabinya umat Nasrani, yang 14 abad kemudian disempurnakan oleh rasulullah Muhammad saw.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 November 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Setelah penerbangan selama 15 jam ditambah transit 2 jam di Amsterdam, KLM yang kami tumpangipun akhirnya mendarat selamat di Newcastle, Inggris. Kota ini adalah kota di Inggris pertama yang pernah kami kunjungi selain London. Waktu menunjukkan sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Angin dingin langsung menyergap tubuh begitu kami keluar dari bandara kota tersebut. Temperatur sekitar 16 derajat. Sebenarnya temperature yang cukup ideal namun karena anginnya yang  kencang maka terasa lebih dingin dari yang sesungguhnya.

Newcastle terletak 396 km utara London, 148 km tenggara Edinburg ibukota Skotlandia. Newcastle selama ini dikenal orang karena club sepak bolanya yang mendunia, yaitu Newcastle United, disamping universitas Newcastle. Belakangan kami baru tahu ternyata di Australia, yaitu di New South Wales juga ada kota dengan nama Newcastle, yang juga memiliki universitas bernama Newcastle University. Untuk menghindari kesalahan ada baiknya yang di Inggris disebut secara lengkap , yaitu Newcastle Upon Tyne. Tyne adalah nama sungai yang mengalir di selatan kota tersebut.

IMG-20190918-WA0028Kedatangan kami ke Newcastle adalah untuk mendampingi putri bungsu kami melanjutkan study di Newcastle University. Salah satu alasan mengapa kami mengizinkan putri kami tersebut memilih Inggris, karena Inggris dikenal lebih terbuka terhadap dunia Islam dibanding negara Eropa lain.

Sejarah dan latar belakang kota Newcastle cukup menarik untuk ditelusuri. Kota ini berawal pada tahun 122 M dengan didirikannya tembok Hadrian dan jembatan yang menyebrangi sungai Tyne. Keduanya dibangun pada masa kaisar Hadrian dari Romawi yang ketika itu berhasil menaklukkan tanah Inggris dan memasukkan negara di ujung barat Eropa tersebut sebagai daerah jajahan Romawi.

Namun demikian kota Newcastle sendiri baru berdiri secara resmi sekitar abad 12. Pada saat itulah gereja, biara dll didirikan. Peninggalan pusat kota tua tersebut masih bisa kita lihat di beberapa tempat hingga sekarang. Meski sudah tidak ada yang asli, karena bangunan-bangunan religi tersebut ditutup untuk kemudian dihancurkan pada masa raja Henry VIII berkuasa. Raja Henry VIII adalah raja Inggris pertama yang berhasil memisahkan pengaruh kekuasaan Romawi pusat terhadap kerajaan Inggris.

20190916_191126 (2)

Newcastle Castle

20190928_184631 (2)

20190928_183556 (2)Saat ini bila kita ingin berjalan kaki menuju tepi sungai dimana berdiri “Gateshead Milennium Bridge” yang merupakan ikon kota, kita akan melewati apa yang dinamakanNewcastle castle”. Ini adalah bekas benteng peninggalan abad pertengahan.

Sementara jembatan gantung khusus pejalan kaki dan sepeda “Gateshead Milennium Bridge” berbentuk harpa ini baru dibangun belakangan, yaitu pada tahun 1998. Jembatan yang bisa diangkat “dawainya” ketika kapal besar akan lewat ini menghubungkan Newcastle yang merupakan kota pelabuhan dengan Gateshead yang berada di sebrangnya. Disamping jembatan tersebut ada 4 jembatan mobil yang menyebrangi Tyne, termasuk sebuah jembatan kuno yang tetap dipertahankan keberadaannya.

20190916_190952 (2)

Black Gate

Selain “Newcastle castle” ada lagi bangunan abad pertengahan lain yang berada di lokasi tersebut. Yaitu “Black Gate” yang merupakan gerbang utara benteng “Newcastle castle”. Di dalam bangunan tua tersebut hingga saat ini masih terlihat bekas ruangan-ruangan sempit tempat penyiksaan tahanan.

Di beberapa sudut kota potongan-potongan tembok tua bekas benteng juga masih dipertahankan. Di dalam benteng inilah dulunya kota tua Newcastle yang religius berada.

20190923_171144 (2)20190928_113431 (2)Di area yang kini sudah berubah menjadi Cina Town tersebut berdiri sebuah restoran mewah yang menyajikan masakan khas Inggris, dengan nama Blackfriars. Restoran ini memanfaatkan bangunan tua abad pertengahan bekas biara Blackfriars di masa lalu. Blackfriars adalah nama salah satu persatuan persaudaraan gereja ketika itu. Mereka adalah pendakwah Kristen pertama yang memasuki tanah Inggris. Di area Blackfriars itu pulalah dulu pernah berdiri penginapan yang sering digunakan raja Henry III ketika berusaha menalukkan Skotlandia.

20190917_115302 (2)

Grey Monument

Sementara Pilgrim Street yang bersambungan dengan Northumberland Street,  pedestrian dimana berjejer toko-toko, restoran, pub dll yang selalu ramai pengunjung, dulunya adalah jalur peziarah Kristen yang akan menuju gereja  yang ada di utara kota tersebut. Di sepanjang jalan tersebut dulunya berdiri banyak penginapan untuk para peziarah. Kedua jalan tersebut berujung di Grey Monument yang merupakan landmark kota.

Ironisnya, Newcastle seperti juga kebanyakan kota-kota di Barat, kini jauh dari kehidupan religi. Gereja sudah jarang dikunjungi. Kaum perempuan dengan pakaian minim tak peduli udara dingin mengigit terlihat dimana-mana. Di setiap akhir pekan, penduduk kota, bukan hanya muda mudi tapi juga yang sudah cukup berumurpun, tumpah ruah memenuhi jalanan pusat kota, resto, pub untuk  bermabuk-mabukan. Kabarnya banyak pelajar dari universitas sekitar seperti Durham University, misalnya, yang hanya butuh waktu 30 menit ber-kereta-api, tiap akhir pekan berbondong-bondong menghabiskan waktu malam mereka di kota ini.

20190928_110811(1)

Stasiun kereta Newcastle

Karena brisik, di suatu akhir pekan, suami pernah protes kepada pihak hotel tempat kami menginap (kebetulan hotel berlokasi tidak jauh dari stasun kereta api). Tampaknya kamar di depan kami malam itu dijadikan tempat pesta mabuk-mabukan. Bau alkohol terasa menyengat di gang depan kamar kami. Hingar bingar musik terdengar setiap kali pintu terbuka, menandakan adanya orang keluar masuk kamar tersebut. Namun petugas hotel hanya menjawab ringan, “ Maklum pak ini kan malam week-end”. Yaa Allah …

20190916_113959 (2)20190919_124824 (4)Hal ini sekaligus menjawab keheranan kami di awal kedatangan pada Ahad sekitar pukul 9 pagi yang terlihat lengang, nyaris tak ada kegiatan apapun. Lepas pukul 3 sore kota baru terlihat mulai ramai. Mengingatkan kami ketika mengunjungi kota pelajar Salamanca di Spanyol beberapa tahun lalu. Menurut petugas hotel, Ahad pagi hingga siang penduduk yang sebagian besar pelajar itu masih teler akibat begadang semalaman. Mungkin begitu pula Newcastle dimana di dalamnya terdapat 2 universitas besar yaitu Newcastle University dan Northumbria University.

Hhhmmm … ngeri juga kalau membayangkan menyekolahkan anak di kota seperti ini. Ini yang menjadi salah satu pertimbangan mengapa kami tidak ingin menyekolahkan anak di Barat ketika mereka baru lulus SMA. Khawatir keimanan mereka belum cukup kuat melihat budaya dan kebiasaan buruk masyarakat di sana. Meski bukan jaminan juga mahasiswa S2 pasti lolos dari godaaan tersebut.  Kabarnya, Culture Shock, itulah istilah kerennya, sering melanda mahasiswa/i Indonesia yang menimba ilmu di luar negri terutama di negri dengan budaya yang jauh berbeda dengan budaya dan ajaran agama kita.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar ( alkohol) dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”.  … .“( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):219).

Ya Allah lindungi dan beri kekuatan serta kesabaran putri kami dalam menghadapi berbagai kesulitan di tempat barunya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

20190918_13352620190918_13362920190918_134813 (2)Itu sebabnya surprised juga kami ketika mendapati Newcastle University memiliki masjid, meski tidak besar,  yang biasa digunakan shalat 5 waktu dan shalat Jumat staff dan mahasiswa kampus tersebut. Masya Allah …

Alhamdulillah, maka sebagai orang-tua siswa kamipun bisa merasakan nikmatnya shalat Zuhur berjamaah di dalam kampus yang telah berusia lebih dari 100 tahun tersebut. Kampus yang didirikan pada tahun 1834 dimana Sir Rowan Atkinson atau lebih dikenal sebagai Mr Bean pernah kuliah di dalamnya.

Masjid Newcastle University dikelola secara serius oleh Newcastle University Islamic Society (NUIS). Sekretariat komunitas ini menempati area salah sudut kampus utama di Queen Victoria Boulevard. Disitu pulalah masjid berada.

https://www.newcastleisoc.com/

IMG-20191031-WA0000_1573486240837IMG-20191031-WA0001_1573486240777 (2)NUIS tidak hanya menyediakan dan mengatur waktu shalat tapi juga berbagai kegiatan lain, seperti olah raga, seni, ketrampilan dll. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan teratur. Diantaranya pembuatan barang keramik seperti yang sempat diikuti putri kami beberapa waktu lalu.

Dalam wadah inilah bertemu dan berkenalan Muslim dari berbagai negara, yang dengan demikian akan melahirkan ikatan persaudaraan Muslim yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Persaudaraan dan solidaritas yang makin hari makin diabaikan oleh sebagian besar Muslim hingga mudah di adu domba dan dilecehkan serta menyebabkan timbulnya Islamophobia akut. Ironisnya korbannya bukan saja non Muslim tapi bahkan sebagian yang mengaku Islam.

“Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur”. (HR. Bukhari dan Muslim).

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan”. ( HR. Muttafaq ‘Alaihi).

Bersambung

Read Full Post »

Great Ocean Road adalah jalur pantai pesisir selatan Australia antara Geelong dan Warrnambool di Victoria. Jalan ini dibangun pada masa Great Depression antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II sebagai upaya pemerintah Australia untuk membuka pekerjaan. Jalur yang memiliki keindahan alam mempesona ini hanya berjarak sekitar 90 menit dari pusat kota Melbourne.

Beruntung kami menemukan link tentang perjalanan  tersebut dari rumah, di Jakarta. Hingga dengan demikian dapat menikmat maha karya kecantikan buatan Sang Khalik sepanjang 200 km tersebut tanpa harus berlelah-lelah mengemudikan sendiri kendaraan yang banyak disewakan di Melbourne. Ataupun di Geelong yang sering dijadikan tempat start perjalanan ke Great Ocean Road. Melbourne – Geelong dapat ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan subway.

https://greatoceanroadmelbournetours.com.au/tours/1-day-great-ocean-road-12-apostles-tour/

Maka pada suatu hari di bulan Oktober tepat pukul 7.00 pagi, bus datang menjemput kami di depan hotel. Pak sopir merangkap guide yang akan menemani kami selama perjalanan memperkenalkan diri dengan nama Tim, warga asli Melbourne.

20181125_093059Setelah mampir di beberapa meeting point untuk menjemput para tamu sesuai daftar, bus berkapasitas 24 orang itupun langsung melaju meninggalkan kota. Sepanjang perjalanan dari Melbourne ke Geelong yang terletak di barat daya Melbourne adalah  hamparan padang rumput luas nan hijau, dengan sapi dan domba-domba berbulu lebat yang sungguh meneduhkan mata. Australia memang dikenal sebagai negara pengeksport daging dan susu kedua ternak tersebut.

Highway mulus yang kami lalui terlihat sengang. Penduduk benua di sebelah tenggara Indonesia ini memang relative sedikit dibanding luasnya. Penduduk asli Australia yang merupakan bagian dari negara persemakmuran Inggris ( commonwealth) adalah suku aborigin yang jumlahnya tidak begitu banyak dan menyebar di banyak tempat. Namun sejak kedatangan kapten Cook dan armada  Inggrisnya ke benua tersebut pada tahun 1770, dan menjadikannya tempat buangan narapidana Inggris, maka rata-rata penduduk Australia sekarang ini adalah keturunan bangsa Inggris dan Irlandia.

Selepas Geelong menuju Torquay, perjalanan indah berkelok susur pantai selatan Australiapun dimulai. Tim sambil mengemudikan kendaraan tak henti-hentinya bercerita berbagai hal. Mulai dari kopi yang merupakan bagian hidup warga Melbourne, harga rumah di Melbourne yang makin hari makin meroket, gold hunter alias perburuan emas di masa lalu, hingga kisah Tom dan Eva, warga Inggris yang mengalami kecelakaan kapal parah di tahun 1800-an.

20181125_09431120181125_111715IMG_4365Beberapa kali Tim menghentikan bus, memberi kesempatan tamu-tamunya untuk turun menikmati keindahan pantai. Kami juga berhenti sebentar di sebuah hutan kecil untuk hunting koala yang banyak menempati hutan tersebut. Dari penjelasan Tim, kami baru tahu binatang lucu yang menjadi ikon Australia disamping Kangguru tersebut ternyata termasuk jenis hewan perusak. Binatang yang tidak suka hidup berkelompok dan sangat suka bertegger di atas pohon itu, sebenarnya telah merusak batang pohon yang dikeratnya setiap hari, meski mungkin tanpa disadarinya.

Menjelang pukul 12 siang, kami tiba di Apollo Bay, dimana kami berhenti untuk makan siang di sebuah restoran. Dan sesuai brosur isian yang kami isi via internet sebelum keberangkatan, kami menerima pesanan makanan kami, Chicken Pizza dan Grill Chicken, dengan tanda khusus HALAL.  Alhamduillah …

Dari 24 orang yang berada di dalam rombongan hari itu, hanya kami ber-tiga yang Muslim. Tim sebelumnya sempat meng-absen tamu-tamunya berdasarkan negara. Dengan bangga ia memamerkan bola yang ada dalam genggamannya,

Hari ini saya menggenggam 14 negara dalam satu tangan saya”.

14 negara tersebut adalah Australia, Amerika, Mexico, Inggris, Denmark, Norwegia, Perancis, Spanyol, Italia, Korea Selatan, Vietnam dan Indonesia. Dua lagi saya lupa …

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Jujur, bangga dan bahagia rasanya sebagai Muslim sekaligus orang Indonesia bisa berada di tengah-tengah berbagai bangsa. Dakwah tidak harus dengan berbicara panjang lebar, tapi dengan penampilan, jilbab khususnya bagi kaum hawa, bisa mempunyai nilai tersendiri.

Usai makan siang, rombongan segera memasuki bus untuk memulai perjalanan menyusuri Great Ocean Road yang dipenuhi tebing-tebing terjal yang memukau. Jalur ini membentang sepanjang 200 kilometer menyusuri selat Bass yang terkenal ganas. Tim kembali menceritakan kisah Tom dan Eva yang menjadi salah satu korban keganasan gelombang laut selat tersebut, secara lebih rinci.

Pada tahun 1798, penjelajah Inggris bersuka-cita karena menemukan selat Bass, yang memisahkan daratan Australia dengan pulau Tasmania yang berada di bagian selatannya. Karena dengan demikian dapat mempersingkat perjalanan laut dari Inggris ke Sydney sejauh 1.100 kilometer, dari total 19.000 kilometer dan  memakan waktu 5 bulan perjalanan. Perjalanan tersebut sejatinya nyaris mengelilingi separuh dunia, yaitu dengan mengarungi lautan Atlantik yang memisahkan benua Eropa dengan benua Amerika, menembus selatan Amerika Latin untuk memasuki lautan Pasifik bagian selatan nan luas.

Sayangnya, angin, arus dan gelombang di selat Bass yang tinggal sejengkal ke tanah Australia tersebut sangatlah kencang dan besar. Selat ini merupakan salah satu daerah perairan yang paling berbahaya di dunia untuk dilayari. Ini masih ditambah dengan adanya terumbu karang dengan gerigi-geriginya yang sangat tajam. Terumbu tersebut terletak di tengah-tengah selat. Tak pelak bila banyak kapal yang menjadi korban dan terkapar di dasar selat yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu.

Tapi hal tersebut tidak membuat ciut orang-orang Inggris dan Irlandia datang untuk berburu emas. Ataupun untuk sekedar mencari tanah baru yang masih perawan. Termasuk kapal layar Loch Ard yang pada tanggal 1 Juni 1878 bergerak melewati kabut tebal menuju garis pantai Victoria, tanpa menyadari sebuah karang terjal setinggi 90 meter tegak berdiri pada jarak hanya sekitar dua kilometer di hadapannya. Maka dalam waktu singkat kapal Loch Ard yang telah menempuh 3 bulan perjalanan itu menabrak karang dengan kerasnya, dan tenggelam beberapa menit kemudian.

Dari 54 penumpang hanya dua yang selamat, yaitu seorang kelasi yang sedang magang bernama Tom Pearce dan penumpang bernama Eva Carmichael. Keduanya berusia sekitar 19 tahun. Tom berpegang erat pada sekoci yang terbalik selama berjam-jam di perairan laut yang dingin. Hingga akhirnya arus menyeretnya ke sebuah celah di antara karang-karang terjal. Sementara Eva yang tidak bisa berenang hanya bergayut pada pecahan kapal sebelum terseret ke tempat yang sama dengan Tom.

Selanjutnya Eva jatuh pingsan selama berjam-jam di dalam gua yang berada di dekat lokasi. Sementara itu, Tom dengan susah payah memanjat karang yang terjal yang ada dihadapannya untuk mencari bantuan. Keduanya kemudian dievakuasi ke sebuah rumah tidak jauh dari situ. Namun Eva yang kehilangan seluruh keluarganya, yaitu kedua orang tua, tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan, 3 bulan kemudian memilih pulang ke Inggris.

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

20181125_173938

Tom & Eva Pillar

20181125_174729Untuk mengenang kejadian tragis tersebut tempat itu kini diberi nama Jurang Loch Ard ( Loch Ard Gorge) atau juga Tom and Eva Pilar. Tempat ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Port Campbell, yang selalu ramai dikunjungi para turis.

Bahkan menurut Tim, high way yang menyusuri Great Ocean Road sengaja dibangun untuk mengenang kedua remaja tersebut. Dan untuk memudahkan para turis yang berdatangan dari manca negara dibangun jalan setapak menuju lokasi yang relatif jauh dari jalan raya itu. Bahkan tangga curam menuju pantai berpasir kemerahan nan lembutpun telah siap menanti. Kalau saja Tim tidak menceritakan kisah tragis di atas bisa jadi tempat tersebut tidak meninggalkan kesan mendalam kecuali keindahannya yang menakjubkan.

“ We have to thank them both” , ucapnya.

20181125_17074520181125_16465320181125_18081520181125_175626Sesuai yang dijanjikan, selama perjalanan tersebut bus berhenti di 13 spot menarik termasuk Loch Ard Gorge dan Twelve Apostles yang fenomenal. Satu hari sudah pasti tidak cukup memang untuk menikmati Great Ocean Road. Tak salah bila setiap kali bus berhenti Tim selalu mengingatkan, jam berapa harus kembali ke bus. Tak pernah ia memberikan waktu lebih dari 20 menit untuk setiap spot. Tidak puas sebenarnya tapi apa boleh buat. Apalagi melihat yang lain selalu on time kembali ke bus. Akhirnya kamipun sepakat untuk tidak terlalu berlama-lama.20181125_165258

“G enak ah, malu kalo terlambat balik. Ntar kita di cap g disiplin sebagai orang Indonesia, Muslim pula!”.   

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya” (HR At-Tirmidzi).

Namun bagi saya pribadi, disamping keindahan alam yang sungguh mempesona, Tim sebagai seorang pemandu patut diacungi jempol. Pria setengah umur yang pernah melewatkan masa kecilnya di Indonesia selama beberapa tahun tersebut sangat pandai bercerita. Ia mampu menyampaikan pesan dengan sangat baik.

Pandai berterima-kasih adalah fitrah manusia, apapun agamanya. “Berkat” musibah yang dialami Tom dan Eva orang jadi bisa melihat keelokan Great Ocean Road.

Dalam hati saya berpikir, jika untuk seorang Tom dan Eva yang mengalami musibah (tanpa sengaja pastinya) orang dituntut untuk pandai berterima-kasih, bagaimana kepada Rasulullah dan para sahabat yang telah dengan rela berkorban mempertaruhkan jiwa dan raga demi menyampaikan sebuah kebenaran yang hakiki ? Cukupkah sudah kita berterima-kasih kepada mereka???

Belum lagi atas mata, telinga  juga kesempatan yang diberikan Allah swt hingga kita bisa melihat ciptaan-Nya yang demikan dasyat … Allahu Akbar …

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):46).

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, setelah makan malam express, buspun meluncur meninggalkan Great Ocean Road untuk kembali ke Melbourne.

Jakarta, 29 Desember 2018.

Wallahu’alam bish shawab.

Vien AM.

Read Full Post »

20180620_052053CYMERA_20180620_074959Paginya, sekitar pukul 6.30 setelah sarapan ringan, dengan sekoci kami bergantian menuju pulau Padar yang kecantikannya sudah mulai terlihat. Harus dengan sekoci karena kapal tidak bisa benar-benar merapat ke pantai. Air laut yang bersih kehijauan dan udara pagi dengan kabut tipisnya menyambut kami. Sebuah tangga kayu yang lumayan terjal dan panjang terpampang di depan mata. Kamipun segera menaikinya. Suasana masih agak sepi. Rupanya tamu-tamu lain yang semalam kapalnya parkir bersama kami sudah lebih dulu naik. Tiba di ujung tangga, pak Latief berujar,

“ Ke kiri bu, pak. Ke kanan belum ada tangga. Dan lagi yang ke kiri memang yang sedang viral”.

“ Bapak ibu beruntung. Tangga ini baru beberapa bulan dibuat. Sebelum ada tangga para tamu harus trekking lumayan berat”, tambahnya. Anak-anak sudah tak terlihat, meninggalkan kami jauh di belakang. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin melihat keelokan dari puncak sana.

20180620_05331620180620_055011IMG_20180620_07304920180620_054644Sementara saya dan suami sebentar-sebentar berhenti, selain untuk mengagumi keindahannya, juga untuk mengatur nafas dan menjaga kaki supaya tidak terlalu lelah mendaki tangga yang cukup panjang dan tinggi itu …  maklum faktor U … 🙂 … Akhirnya kamipun tiba di atas bukit pulau Padar dengan mata terbelalak … Masya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu … Rasanya inilah pemandangan alam tercantik yang pernah kami saksikan selama ini.

CYMERA_20180620_07410220180706_110431-1[1]Bentuk pulau Padar dilihat dari udara memang unik. Garis pantainya yang berlekak-lekuk ditambah pasir putih, air laut yang biru kehijauan dan bukit disana-sini sungguh menakjubkan. Rerumputan kemuning akibat kekeringan yang sering melanda propinsi ini justru menambah keunikannya. Kemanapun pandangan kita alihkan, keindahannya benar-benar memukau mata dan hati ini. Sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah …

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” . (Terjemah QS. Ali Imran (3): 190-191.

Kalau tidak ingat waktu ingin rasanya berlama-lama memandangi keindahan tersebut. Apalagi ketika itu belum terlalu ramai dan mataharipun masih belum terlalu terik. Dan benar saja ketika kami mulai menuruni bukit terlihat kapal-kapal mulai merapat menurunkan tamu-tamunya dengan sekoci, dan berbondong-bondong menaiki bukit.

Tak lama kamipun sudah berada  di atas kapal kembali, dan segera berlabuh. Sambil menikmati sarapan nasi goreng buatan chef kapal, mata kami masih terus dimanjakan pemandangan indah pulau Padar dari bawah dan pulau-pulau kecil berbukit di sekitarnya.  Tujuan kami berikutnya adalah snorkling di pantai Pink pulau Komodo yang jaraknya tidak begitu jauh dari pulau Padar.

“ Silahkan bapak ibu, mas mbak bersiap snorkeling. Kita sudah sampai”, kata pak Latief mengagetkan.

Kami sama-sama ngelingukan mencari mana yang namanya pulau Pink. Sejujurnya kami agak kecewa melihat lokasi snorkeling yang menurut pak Latief terbaik di NTT. Meskipun setelah kami turun ke pantai, sekali lagi dengan sekoci, ternyata airnya yang biru kehijauan itu sangat jernih.

IMG-20180706-WA0007IMG-20180706-WA0008Demikian pula pasirnya, sesuai namanya, memang berwarna pink. Kami menyempatkan diri menaiki bukitnya yang tidak seberapa tinggi, meski hanya demi menuruti anjuran pak Latief. Dan sesuai perkiraan kami, pemandangan dari bukit tidak terlalu istimewa kecuali airnya yang bening berkilau bagaikan kristal.

“ Mungkin karena dari kemarin kita disuguhi pemandangan spektakuler kali yaa .. jadi kurang istimewa”, bisik saya kepada suami.

Namun kekecewaan kami terobati setelah bersnorkling-ria. Tanpa perlu jauh-jauh berenang ke tengah laut bahkan hanya beberapa meter dari bibir pantai keindahan dasar lautnya yang dangkal itu, dapat kita nikmati. Biolaut seperti terumbu karang dan ikan yang beraneka warna dapat kita nikmati dengan mudahnya, bahkan dapat kita raba kalau mau. Komodo bersama Raja Ampat di Papua, pada tahun 2015 ternyata memang pernah menduduki peringkat 2 dan 1  lokasi snorkeling terbaik di dunia, mengalahkan kepulauan Galapagos.

https://www.suara.com/lifestyle/2016/01/03/111803/rajaampat-dan-pulau-komodo-lokasi-snorkeling-terbaik-di-dunia

Setelah puas menikmati keindahan bawah laut pantai tersebut, kamipun berbenah. Rencananya kami akan kembali snorkeling di pulau Kanawa. Tapi karena ketika kami bertanya kepada pak Latief, bagus mana Kanawa dengan pantai Pink, “ Pantai Pink”, jawabnya tegas.  Maka kami memutuskan untuk langsung kembali ke Labuan Bojo. Dan lagi waktu memang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Untuk ke Kanawa masih dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Rasanya snorkeling jam 5 sudah terlalu sore. Apalagi tadi kami semua sudah cukup puas.

Sementara itu kapten kapal mengingatkan untuk segera menyantap makan siang yang telah disiapkan koki kapal dan telah tersedia di atas meja makan. Kapal akan menunggu kami selesai makan karena  setelah itu, yaitu perjalanan kembali ke Labuan Bajo akan menghadapi ombak yang lebih besar dari waktu berangkat. Begitu jelasnya.

CYMERA_20180620_083537CYMERA_20180624_095756[1]CYMERA_20180620_085822Dan memang CYMERA_20180620_083810benar apa yang dikatakannya. Mula-mula memang menyenangkan apalagi pemandangan yang disuguhkan sungguh mengagumkan. Bentuk pulau yang kami lewati makin bermacam-macam meski rata-rata tetap berwarna kuning keemasan. Perpaduan yang benar-benar indah, antara segarnya laut yang berwarna biru tua menandakan dalamnya laut, dan hamparan kuning laksana permadani yang lembut nan empuk. Belum lagi pantai berbatu karang yang bolak balik menyemburkan hempasan air gelombang yang menerjangnya, bagaikan air terjun kecil yang sungguh memukau. Masya Allah …

“ G kalah deh sama Islandia”, celetuk putra kami berdecak penuh kekaguman. Ia memang pernah mengunjungi negara di belahan ujung utara tersebut.

“ Sama Norway juga yaa .. g kalah kayaknya .. ”, tanggap adiknya.

“ Iyaaa … sama Santorini jugaaa, g kalah deh  ..”, sahut saya.

Suami saya hanya manggut-manggut, puas pastinya, bisa mengajak dan menyenangkan anak-istrinya tadabur alam demi mengagumi ciptaan Allah swt yang sungguh menakjubkan. Milik sekaligus ciptaan-Nya, di belahan bumi manapun memang menakjubkan, Allahu Akbar …

 “ Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Terjemah QS. Al-Mulk(67):15).

Namun goncangan kapal yang tak kalah dasyatnya dengan keindahan ciptaan-Nya tak urung membuat hati ini kecut. Beberapa kali gelombang air laut sempat masuk ke galangan kapal. Ombak bahkan juga mampu membuat gelas-gelas yang ada di atas meja makan berjatuhan. Dengan rasa khawatir saya segera masuk kamar dan berdoa sambil berbaring di atas tempat tidur. Tapi tak lama saya duduk lagi, khawatir muntah. Maklum gelombang membuat kepala dan kaki naik turun dengan cepat, bukan hanya menguncang tubuh ke kiri dan kanan.

Tiba-tiba saya teringat kecelakaan yang menimpa kapal penumpang di danau Toba Sumatra Utara,  tepat di hari pertama kami tiba di Labuan Bajo yang tidak sempat saya ikuti perkembangannya. Saya sengaja tidak menceritakan kepada anak-anak kejadian tersebut, khawatir membuat mereka takut dan merusak suasana liburan.

Sungguh menyedihkan. Apalagi penyebabnya adalah kelalaian manusia. Betapa tidak, kapasitas kapal yang hanya 43 penumpang disesaki dengan 80 bahkan ada kabar 200 penumpang! Lebih menyedihkan lagi ditempat yang sama, yaitu di danau Toba sebuah kapal motor kembali mengalami kecelakaan karena menabrak keramba ikan. Ironisnya lagi, terjadi hanya selang 4 hari kemudian. Dan penyebabnya hanya karena lampu penerangan kapal yang rusak.  Astaghfirullahaldzim …  Artinya kecelakaan terjadi karena kelalaian manusia, meski tentu saja atas izin-Nya.

https://www.suara.com/news/2018/06/21/011500/tragedi-danau-toba-km-sinar-bangun-diduga-kelebihan-muatan

Dan ternyata, ketika sorenya kami mengobrol di lobby hotel sambil menonton berita televise, pak Latief mengatakan bahwa di Taman Nasional Komodopun tidak jarang terjadi kecelakaan kapal. Bahkan kapal coklat kayu yang pernah dikomentari bagus oleh suami saya kemarin, menurut pak Latief baru saja direnovasi karena pernah tenggelam. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un …

“ Tidak usah dibahas ya”, potongnya ketika kami ingin mengetahui cerita lengkapnya.

Kami dapat memakluminya, pasti ia trauma.

“ Untung kita milih paket yang hanya satu malam di kapal yaa ”, berkata saya kepada suami dan anak-anak, bergidik ngeri.

“ Yaah namanya juga kecelakaan. Kalau memang Allah berkehendak mau apa kita. Disyukuri aja .. Alhamdulillah ”, sahut suami.

IMG_20180618_185427Malam itu kami menutup liburan penuh makna itu dengan makan malam di restoran “Tree Top” yang terletak di jalan Sukarno Hatta dimana lalu lalang turis-turis bule. Rupanya restoran ini merupakan restoran favorit di Labuan Bajo. Selain posisinya yang memang di tepi pelabuhan masakannyapun lezat. Dan yang terpenting halal, Alhamdulillah  … Meski sayangnya tidak terlihat adanya tanda Halal resmi dari MUI.

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):173).

Menurut pak Latief, ada peraturan tak tertulis bahwa restoran di sepanjang jalan tersebut dilarang menjual masakan babi. Maklum mayoritas penduduk ibu kota ibu  kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur tersebut, termasuk pulau Komodo adalah Muslim. Kebalikan dari pulau Flores yang mayoritas Kristen, meskipun Labuan Bajo sendiri terletak di pulau Flores.

Esok harinya, karena pesawat baru akan take off pukul 2 siang lebih, kami memanfaatkan pagi hari tersebut untuk mengunjungi gua yang terletak tidak jauh dari Labuan Bajo, serta mampir ke toko oleh-oleh khas NTT. Gua tersebut bernama Gua Batu Cermin, yang maaf, tidak istimewa. Sementara oleh-oleh yang istimewa dari NTT adalah kain tenun yang sudah dikenal kecantikannya, meski harganya cukup mahal.

Sekitar 2 jam sebelum keberangkatan kami sudah tiba di bandara, dengan harapan bisa makan siang dulu di bandara. Ternyata kami kecele, bandara baru yang terlihat cantik, modern dan bersih tersebut belum mempunyai tempat makan yang memadai bagi tamunya. Yang ada hanya ada 2 kedai kopi kecil dan 1 kantin terbuka yang hanya menjual makanan kecil dan pop mie yang dijual 25 ribu per cup .. olala … Untung kami naik pesawat dengan fasilitas makan siang di dalamya .. kalau tidak …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juli 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

20180618_132021Senin 18 Juni 2018 sekitar 14.30 WITA,  pesawat yang kami tumpangi selama sekitar 2 jam 20 menit, mendarat dengan aman di bandar udara internasional Komodo, Labuan Bajo. Di luar perkiraan, ternyata bandara di kota tersebut meskipun kecil, cukup bagus, modern dan bersih. Yang lebih menarik lagi adalah desain bandara yang menghadap landasan pesawat dimana foto-foto komodo dipajang secara mencolok hingga mampu mewakili “ Sang Komodo” sebagai tuan rumah.

Labuan Bajo adalah ibu  kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan titik keberangkatan wisatawan menuju Taman Nasional Komodo yang saat ini sedang ramai-ramainya diserbu wisatawan lokal maupun mancanegara. Taman Nasional ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Dengan tujuan utama demi melindungi satwa Komodo yang jumlahnya sangat terbatas.

Taman Nasional Komodo terdiri dari 3 pulau besar yaitu pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Padar serta sekitar tiga- puluhan pulau kecil lainnya.  Namun komodo hanya dapat ditemui di pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Gili Motang. Hanya di tiga pulau inilah komodo hidup secara bebas, tidak di tempat lain di belahan bumi manapun di dunia ini.

Tak heran bila pulau ini mempunyai daya tarik tersendiri, disamping keindahan dasar lautnya yang sejak lama sudah dikenal wisatawan mancanegara. Namun beberapa tahun belakangan ini wisatawan ke Taman Nasional Komodo, terutama wisatawan local, melonjak drastis. Ada apakah gerangan??  Ternyata penyebabnya adalah pulau Padar, yang keindahannya sungguh menakjubkan mata. Saya pertama kali melihat foto keindahan pulau Padar tahun 2017 lalu, berkat akun FB seorang teman.

Guide kami, pak Latief, menceritakan bahwa ia mendengar kabar tersebut justru dari wisatawan yang datang dari Jakarta. Maka ia dan beberapa teman sesama guide segera mencari lokasi yang dimaksud. Sejak itulah wisatawan lokal ke Komodo ramai berdatangan. Kini sejumlah agen perjalanan berlomba menawarkan paket liburan Taman Nasional Komodo dengan bermalam satu atau 2 malam di atas kapal.

20180618_171332IMG_20180618_175113Setelah cek-in hotel dan melihat-lihat pemandangan sekitar hotel kami berangkat menuju bukit Sylvia untuk menyaksikan sunset. Bukit yang nama aslinya bukit Cinta ini hanya berjarak sekitar setengah jam dari hotel. Nama Sylvia baru belakangan ini lebih popular dari nama aslinya karena adanya hotel bernama Sylvia di bukit tersebut. Menurut pak Latief, sebagian pulau yang ada wilayah tersebut telah dibeli dan dimiliki pihak asing. Miriiis …

IMG_20180620_171511Esok harinya, kami cek out hotel dan menuju pelabuhan untuk memulai perjalanan di atas kapal. Sebuah kapal berwarna putih ukuran sedang dengan 4 buah kamar tidur ber-AC, dan 3 ABK sudah siap menanti.  Kapalpun segera berlabuh meninggalkan pelabuhan menuju pulau Rinca.

20180619_09500220180619_101431IMG_20180619_112906Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh menakjubkan. Birunya laut ditambah menyembulnya pulau-pulau kecil berbukit tak berpenghuni dengan ilalang kuning-kecoklatan akibat kekeringan justru menambah cantik dan uniknya pemandangan.

“ Kita mampir pulau Kelor dulu ya”, kata pak Latief. “ Disana kita bisa melihat pemandangan dari atas bukit”, sambungnya lagi.

Pada awal perjalanan, saya sudah berniat hanya akan naik ke bukit di pulau Padar saja, yang sudah jelas pemandangannya terbukti cantik. Maksudnya untuk menghemat tenaga supaya tidak terlalu lelah.  Tapi anak-anak mendesak, meyakinkan saya harus naik karena pemandangan di bukit tersebut tidak kalah cantiknya dengan pulau Padar. Ditambah lagi ajakan pak Latief bahwa saya dan suami tidak perlu naik sampai ke tempat yang tertinggi.

“ Sampai pohon itu saja bapak dan ibu. Tidak sulit koq. Kalau naik bukit disini saja bisa, pulau Padar pasti lolos .. disana sudah dibuatkan tangga soalnya bu pak .. ”, tegasnya.

Hhmm .. hitung-hitung latihan deh, pikir saya. Maka jadilah kami menaikinya meskipun tetap tidak sampai puncak seperti anak-anak.20180619_11572620180619_12002120180619_115010Masya Allah … Ternyata benar apa yang dikatakan anak-anak. Bumi Allah dimanapun berada memang benar-benar menakjubkan. Dari tempat kami berdiri, pulau Kelor yang imut itu terlihat begitu indah. Laut biru gradasi tosca dengan bingkai pasir putih nan lembut membentuk tanjung serta pulau dengan deretan bukit-bukit kecoklatan dengan kontur yang begitu mempesona sebagai latar belakang, sungguh tak mampu menyembunyikan betapa tingginya “selera”  Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Semua serba paas, sesuai ukuran, tidak berlebihan hingga sungguh indah di pandang mata. Allahu Akbar …

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”.( Al-Hijr(15):19).

Puas menyaksikan pemandangan pulau Kelor, kamipun melanjutkan perjalanan ke pulau Rinca. Menurut pak Latief kalau ingin melihat hewan langka komodo sekaligus menikmati pemandangan alam, pulau Rinca lebih cantik dari pada pulau Komodo. Disamping itu karena bulan April hingga Agustus adalah musim kawin bagi komodo kecil kemungkinannya melihat binatang tersebut di pulau Komodo. Maklum pulau Komodo selain 2x lebih besar dari pulau Rinca juga lebih banyak pepohonannya, tidak seperti pulau Rinca yang merupakan savanna. Perjanjiannya kalau di pulau Rinca kita tidak bertemu kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m itu, baru kita akan ke pulau Komodo.

“ Ketika kawin komodo biasanya menyembunyikan diri. Mereka tidak suka dilihat”, kata pak Latief.

Masya Allah .. binatang saja rupanya pula malu. Betapa buruknya manusia yang tidak punya malu apalagi melakukan perbuatan intim di tempat terbuka, bukan dengan suami/istrinya pulak … Na’udzubillah min dzalik.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam tibalah kami di pulau Rinca. Kapal merapat ke Loh Buaya yang merupakan gerbang menuju pulau tersebut. Perjalanan tidak terasa melelahkan karena selain pemandangan yang menakjubkan di kapal juga kita bisa santai menikmati makan siang hasil karya koki kapal yang lumayan enak. Apalagi sambalnya, kata suami dan anak-anak yang memang menyukai sambal.

20180619_14352720180619_144317Baru memasuki gerbang selamat datang di Loh Buaya kami sudah disambut seekor komodo ukuran sedang yang akan menyebrangi jalan setapak yang kami lewati. Tak urung terselip juga rasa takut di hati melihat binatang berkulit keras dan kasar  tersebut. Apalagi kami belum bertemu ranger yang bakal mendampingi kami. Ranger adalah semacam pawang binatang dalam hal ini komodo, yang senantiasa mendamping tamu yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

“ Tenang bapak ibu mas mbak, saya pernah jadi ranger selama beberapa tahun koq sebelum jadi guide”, ujar guide asal pulau Komodo tersebut, menenangkan.

IMG_20180619_145945Dengan hati lebih tenang kamipun melanjutkan perjalanan. Ternyata kami memang beruntung. Tak lama setelah bertemu sang ranger dan di briefing, kami melihat lagi 2 ekor komodo dengan ukuran lebih besar sedang bersantai tak jauh dari tempat kami. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk secepatnya berfoto, dalam jarak aman tentunya. Dibawah pengawasan sang ranger pak Latief mengambil gambar kami, dan segera memperlihatkan hasil jepretannya. Kami semua tercengang dibuatnya karena hasilnya benar-benar di luar dugaan. Dalam foto tersebut komodo terlihat sangat dekat dengan kami. Bravo … 🙂 …

20180619_150805Selanjutnya, dalam perjalanan menuju bukit untuk menyaksikan panorama sekeliling pulau kami kembali melihat seekor komodo yang sedang berjalan pelan. Selain komodo kami juga melihat sejumlah monyet, rusa dan kerbau yang merupakan makanan komodo.  Puncaknya, tidak jauh dari sarang telur komodo terlihat pemandangan langka yaitu sepasang komodo kawin. Menurut sang ranger kedua komodo tersebut sejak pagi hari sudah dalam posisi demikian.

“Itu belum kawin. Si pejantan dengan sabar menunggu hingga si betina siap”, jelasnya.

Allahu Akbar .. hewan berpenampilan kasar bahkan kanibal karena sewaktu-waktu bisa memakan daging saudaranya bahkan anak kandungnya sendiri ternyata bisa juga sabar mengendalikan syahwatnya. Bagaimana dengan manusia?? Selain nafsu syahwatnya komodo juga dikenal dapat mengendalikan nafsu makannya. Ia bisa tahan tidak makan hingga sebulan lamanya setelah malahap seekor kerbau yang ditungguinya 3 minggu setelah ia menggigitnya. Lidah komodo yang berfungsi sebagai indra peraba mengandung racun yang bekerja lumayan lama, yaitu sekitar 3 minggu.

Komodo pertama kali ditemukan pada tahun 1910 oleh pasukan Belanda, yang kemudian melaporkan temuan tersebut kepada letnan Steyn van Hens Broek. Letnan inilah yang kemudian menamai pulau dimana hewan tersebut pertama ditemukan dengan nama Komodo. Namun demikian penduduk setempat lebih sering menyebut binatang langka tersebut dengan nama Ora. Lucunya lagi penduduk setempat juga menyebut komodo dengan buaya darat … 🙂

20180619_153843Setelah puas menyaksikan sepasang komodo yang tidak juga bergeming itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah hamparan luas dimana berdiri sebuah pondok kayu untuk beristirahat. Dengan segera kami mendekatinya. Ternyata Masya Allah …  Di depan sana terlihat  pemandangan indah teluk yang dikelilingi bukit-bukit. Disanalah kapal kami bersandar, dan dari sana pulalah tadi kami masuk.

Sekitar pukul 4 sore kami meninggalkan Loh Buaya menuju pulau Padar. Hujan rintik2 mulai membasahi bumi. Sejak kami mendarat di Labuan Bajo kemarin mendung memang terus menyertai perjalanan kami. Tapi baru hari ini hujan turun. Niat kami untuk shalat Zuhur yang digabung dengan shalat Asar di dek atas kapal terpaksa diundur, menunggu hujan berhenti. Itupun setelah akhirnya terlaksana ternyata tidaklah mudah. Gelombang yang cukup besar membuat kami tidak mampu berdiri dengan stabil.

20180619_155804Namun kami tetap dapat merasakan nikmatnya shalat dalam situasi yang tidak biasa tersebut, di bawah langit di tengah luasnya laut nan biru mempesona. Allahu Akbar …Apalagi setelah itu guide kami muncul membawakan 2 piring besar pisang goreng coklat keju yang masih panas, yang dalam waktu sekejap langsung habiiiz … Nikmatnya …

Sayang keinginan untuk shalat dibawah gemerlap cahaya bintang, baik Isya maupun Subuh tidak terpenuhi. Kapal merapat di pantai pulau Padar tak lama setelah matahari terbenam, dalam keadaan langit tertutup awan. Ini berlanjut hingga waktu Subuh esok harinya. Akhirnya kami terpaksa shalat di dalam kamar, sendiri-sendiri pula, karena tempat yang tidak memungkinkan untuk shalat berjamaa’ah, sekalipun hanya untuk berdua.

Sementara untuk kamar mandi, airnya sangat terbatas meski sebenarnya ruangannya sendiri tidak terlalu kecil dan cukup bersih. Namun kami dapat memakluminya, namanya juga di atas kapal. Sayangnya lagi, saya tidak berhasil tidur nyenyak malam itu. Pasalnya adalah gelombang air laut yang terus mengombang-ambingkan kapal kami, juga kapal-kapal lain yang parkir di pantai tersebut. Walaupun sebenarnya hanya gelombang kecil, yang setiap kali ada kapal datang memarkir maka kapal kami ikut terayun, berpindah posisi sesuai arah angin.

“ Kalau jangkarnya lepas gimana yaa “, pikir saya, ngerii … Astaghfirullahaladzim …  “Nikmatnya punya dan kenal Sang Pemilik”, batin saya sambil terus berdoa.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. .. “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):45).

Bersambung.

Read Full Post »

Namun sekali lagi bukan orang Jepang namanya kalo mudah menyerah. Paska bom yang meluluh-lantakkan sebagian besar kota Jepang, mereka segera bangkit dari keterpurukan. Tidak ada waktu untuk berlama-lama meratapi nasib dan kekalahan yang mereka alami.

IMG_0179IMG_0164Jepang segera berbenah diri dan membangun kotanya kembali. Tak terkecuali Hiroshima yang menjadi sasaran utama bom atom sekutu. Kota pelabuhan yang diapit perbukitan ini terlihat tenang dan damai seakan tidak pernah menjadi korban perang. Hiroshima hari ini bahkan dikenang dunia sebagai kota perdamaian. Di kota ini berdiri Hiroshima Peace Memorial Museum yang dibangun hanya selang 10 tahun setelah tragedy, yaitu tahun 1955. Museum ini didirikan tidak jauh dari pusat pengeboman.

IMG_0203IMG_0197Di dalam museum ini diperlihatkan selain foto keadaan kota Hiroshima baik sebelum maupun sebelum pengeboman, kisah derita para korban, juga pelajaran tentang nuklir dan bahayanya. Itu sebabnya banyak pelajar tidak hanya murid-murid lokal tapi juga pelajar manca negara yang datang mengunjungi museum tersebut. Museum ini juga menyuguhkan animasi detik-detik jatuhnya bom atom yang dalam hitungan detik menghancurkan kota tersebut.

Tak dapat dipungkiri perang memang sangat kejam. Tiba-tiba saya teringat bagaimana para orang-tua kita menceritakan penderitaan mereka.

Jaman pendudukan Jepang dulu tentaranya kejam-kejam”, ujar bapak.

Perempuan dipenggal kepalanya, terus kepalanya ditancapkan di tiang di pinggir jalan,  hanya gara-gara ketahuan ngomong Bahasa Belanda”, sambung ibu bergidik ngeri.

Ya orang-tua saya memang sempat mengalami masa-masa kelam tersebut. Banyak yang mengatakan 3 tahun dibawah penjajahan Jepang lebih sengsara dari 3.5 abad dijajah Belanda. Kekejaman dan kesadisan tentara Jepang memang bukan rahasia lagi. Tidak heran ketika akhirnya pihak Sekutu memborbardir negara matahari tersebut banyak orang yang gembira dan lega mendengarnya, termasuk rakyat Indonesia. Tentu kita semua tahu bahwa salah satu penyebab kemerdekaan Indonesia adalah karena kalahnya Jepang dalam PD II.

Itu pula sebabnya banyak pihak berasumsi bahwa Jepang yang kini menjadi salah satu negara terkaya di dunia banyak membantu negara lain adalah demi menebus dosa dan kesalahan mereka di masa silam. Ntahlah … Yang pasti orang bisa berubah. Dan Jepang membuktikan hal tersebut. Selama 8 hari berada  di beberapa kota Jepang kami merasakan kehangatan dan keramahan mereka.

20171005_113250IMG_20171002_165622Kemajuan Jepang hari ini sungguh tak dapat dipungkiri seorangpun, Dalam waktu singkat Jepang kini masuk dalam daftar negara termaju dan terkaya didunia. Jepang yang saat ini sedang bersiap-siap menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar dunia yaitu Olimpiade 2020 giat mempromosikan berbagai tour wisata Jepang. Mulai dari bunga Sakura dan gunung Fuji yang ternyata tidak selalu bersalju, kuil, hingga kuliner dan berbagai wahana permainan seperti Disneyland, aquarium dll.

IMG_052520171005_141517jepang halalMereka juga telah mempersiapkan diri menyambut tamu-tamu Muslimin dari berbagai negara.

ZHF1

Bersama penjual kebab Turki yang menguasai berbagai bahasa asing.

Diantaranya yaitu dengan makanan Halal. Meski harus dimaklumi belum semua sesuai harapan. Namun paling tidak mereka telah berusaha mengantisipasinya. Dari brosur yang kami trima dari seorang penjual kebab Turki di Tokyo, resto Halal dibagi dalam 4 kategori, yaitu 1. Seluruh makanan halal dan tidak ada minuman ber-alkohol, 2. Halal tapi menjual minuman ber-alkohol, 3. Menyediakan menu halal dan 4. Menyediakan makanan non babi.

IMG_0527IMG_0524Di sebuah resto ramen, masakan khas Jepang, berlabel halal di Kyoto kami sempat berbincang dengan seorang pramuniaganya. Selidik punya selidik ternyata ia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang bekerja paruh waktu.

IMG_0140Mahasiswa  tersebut sempat bercerita tidak mengalami kesulitan untuk shalat di kampusnya. Yang juga surprised, resto dimana ia bekerja mau menjadikan sedikit pojoknya sebagai mushola ( prayer room). Meski sang pemilik ternyata bukan seorang Muslim. Sayangnya mahasiswa asal Majalengka tersebut keberatan untuk ikut berfoto bersama kami. Alhasil lagi-lagi foto hanya menampilkan gambar kami ber-4, mahasiswa yang juga keberatan memperkenalkan namanya tersebutlah yang memotret kami.

Di Jepang memang terdapat banyak mahasiswa Indonesia. Sebagian ada yang dengan beasiswa pemerintah Jepang tapi tidak sedikit juga yang berangkat dengan biaya sendiri. Mahasiswa Indonesia di Jepang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut beberapa sumber, biaya hidup dan kuliah di Jepang jauh lebih rendah di banding dengan di Amerika Serikat, Australia ataupun di Eropa.

Bahkan ada pendapat tidak lebih mahal dari pada kuliah di universitas swasta bergengsi di Indonesia, Jakarta khususnya. Apalagi dengan adanya fakta bahwa penerimaan masyarakat Jepang terhadap Islam jauh lebih baik dari pada Barat yang sedang menderita Islamophobia akut itu. Mungkin sudah menjadi suratan takdir, bahwa keberadaan mahasiswa Muslim Indonesia di Jepang merupakan dakwah tersendiri agar masyarakat Jepang lebih mengenal Islam.

20171008_15402120171008_15400420171008_154038TM36Alhamdulillah selama di Tokyo Allah swt memberi kami kesempatan mengunjungi Tokyo Camii Turkish Culture Center, masjid termegah di ibu kota Jepang. Dengan menggunakan subway yang merupakan alat transportasi umum warga Tokyo kami menuju ke masjid yang dibangun pada tahun 1938 tersebut. Masjid ini merupakan masjid kedua setelah masjid Kobe. Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit dari stasiun Yoyogi-Uehara tibalah kami di bait Allah yang sungguh cantik tersebut.

Ketika kami memasuki masjid siang itu terlihat sejumlah pemuda dan pemudi Jepang dengan penuh antusias mendengarkan ceramah yang diberikan seseorang. Dugaan kami ia imam masjid tersebut.

20171008_16045020171008_160526TM46TM69Ceramah diberikan oleh dua orang dai secara bergantian, dalam Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris, memberi kesempatan para pengunjung yang tidak memahami Bahasa tuan rumah ikut mendengarkannya. Ceramah yang berlangsung dalam suasana akrab itu kemudian ditutup dengan sesi diskusi. Sungguh merupakan kehormatan bisa menjadi saksi acara tersebut. Terima-kasih ya Allah …

Hal lain, selama di Tokyo kami juga sempat merasakan gempa. Hal tersebut terjadi sekitar pukul 11 malam di tingkat 8 apartemen yang kami sewa. Guncangan terasa cukup kencang. Beberapa saat kemudian kami mendapat kabar bahwa memang baru saja terjadi gempa berkekuatan sekitar 6.3 SR. Was-was juga hati ini menghadapinya meski katanya semua gedung di Jepang dibangun siap meng-antisipasi gempa. Karena gempa yang sering melanda negri ini tidak jarang menelan korban.

Gempa Maret 2011 misalnya. Gempa berkekuatan 9,0 SR dengan lebih dari seratus gempa susulan ini mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 10 meter. Gempa ini menewaskan hampir 20.000 orang dan lebih dari 8.000 orang  lainnya hilang. Padahal sinyal peringatan awal gempa yang dikirimkan ke televise seluruh Jepang bekerja dengan baik. Gempa ini menimbulkan peringatan tsunami untuk pantai Pasifik Jepang dan sedikitnya 20 negara, termasuk seluruh pantai Pasifik Amerika dari Alaska ke Chili.

Gempa dan tsunami Maret 2011 tersebut juga memicu krisis nuklir terburuk di dunia dalam 25 tahun terakhir. Gempa ini dianggap sebagai yang terbesar mengguncang Jepang dalam kurun waktu 1.200 tahun terakhir. Gempa ini adalah salah satu yang terbesar dan paling merusak setelah gempa 8.9 SR di Fukushima pada 2007 dan menyebabkan tsunami. Gempa Fukushima 2007 mengakibatkan ditutupnya PLTN ( Pusat Listrik Tenaga Nuklir) di kota tersebut selama 21 bulan.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” … “ ( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):17).

Ya umat Islam dimanapun berada meyakini, bencana apapun tidak akan terjadi tanpa izin Yang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla. Tak ada yang kuasa mencegahnya bila Ia berkehendak.

Seperti Jepang, Indonesia juga terletak di area Ring Of Fires. Bila Jepang yang sudah mati-matian berusaha agar gempa sesedikit mungkin menelan korban, bagaimana dengan Indonesia?  Meski gempa dasyat yang terjadi di negri kita tercinta tidak sesering Jepang bukankah resiko itu tetap tinggi ??

Jadi sungguh sudah sepatutnya kita ini bersyukur atas penjagaan Sang Khalik yang menjauhkan kita dari bencana dasyat seperti gempa dll. Dan syukur tersebut tidak cukup hanya dengan ucapan, tapi juga dalam bentuk nyata.

Tapi apa yang dilakukan umat hari ini sungguh keterlaluan. Ulama dibully sementara perlakuan menyimpang homoseksual dibiarkan bahkan terkesan dilindungi. Apa itu namanya bukan menantang azab-Nya???

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. Al-A’raf(7):81).

“Mereka (malaikat) menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. Adz-Dzariyat(51):32-34).

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya Jepang yang saat ini belum begitu mengenal Islam, berbekal semangat yang tidak mengenal putus asa, semoga suatu hari nanti Allah swt ridho memberi mereka hidayah. Semoga kehadiran Islam di negri tersebut sedikit demi sedikit mampu mengeluarkan mereka dari kegelapan yang sebenarnya.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):257).

Semoga dengan ber-Islam, Jepang bukan hanya bercita-cita menjadikan negrinya maju secara fisik tetapi juga secara spiritual. Yang dengan demikian dapat mendatangkan rahmat-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Desember 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Jepang adalah negara yang tercatat paling sering mengalami gempa bumi hingga mendapat julukan negara gempa dan angin Topan. Secara geografik negri Sakura ini memang terletak tepat diatas wilayah yang disebut Cincin Api Pasifik atau Pacific Rings of Fire. Dinamakan demikian karena banyaknya  gunung berapi aktif di wilayah tersebut. Di tempat ini pulalah terjadi pertemuan antara tiga lempeng tektonik yang sangat aktif, yakni lempeng tektonik Pasifik, lempeng tektonik laut Filipina dan lempeng Eurasia. Itu sebabnya ketika ke 3 lempeng tersebut saling bergesekan gempapun rawan terjadi.

Namun bukan Jepang namanya kalau gampang menyerah. Paska gempa berkekuatan 7,9 SR yang menimpa Kanto pada tahun 1891 dan menewaskan sekitar 140.000 orang di wilayah sekitar Tokyo, negara tersebut segera berbenah diri. Jepang segera membangun kembali kota-kota yang hancur tersebut mengikuti skema alam. Mungkin di dunia, hanya Jepang yang memiliki Kementrian Penanganan Bencana (Disaster Management Ministry) yang setiap tahunnya memiliki anggaran beratus-ratus miliar guna mengantisipasi gempa demi melindungi rakyatnya dari dampak bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Seluruh gedung tinggi dan perkantoran, bahkan rumah penduduk di Jepang, didisain anti gempa. Jutaan lift yang ada di dalam gedung-gedung tinggi di desain langsung tidak berfungsi begitu gempa terjadi. Demikian pula subway yang merupakan alat transportasi umum rakyat. Juga reaktor nuklir, langsung mati begitu ada gempa. Sistem antisipasi gempa dini (Early Warning System) bekerja jauh sebelum bencana datang.

20171007_16104920171007_154919Taman-taman luas dengan kolam nan indah yang ada di setiap titik kota sejatinya selain sebagai paru-paru kota, juga adalah sebagai titik evakuasi tempat berkumpulnya warga ketika gempa terjadi. Jepang juga mewajibkan  siswa sekolah dasar agar mengikuti kurikulum Antisipasi mengatasi gempa dan tsunami. Tidak hanya teori tapi juga latihan menghadapi bencana tersebut dilakukan secara rutin.

Namun tak urung pada suatu dini hari di bulan Januari 1995, di puncak musim dingin, gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Kansai. Pusat gempa sekitar 20 km dari Kobe. Gempa yang dikenal dengan sebutan The Great Kobe Earthquake dan hanya berlangsung sekitar 20 detik ini berhasil meluluh-lantakkan seluruh kota Kobe. Meninggalkan korban sekitar 5.000 orang tewas, 35.000 orang cedera, ratusan ribu bangunan rusak parah dan 300.000 orang kehilangan tempat tinggal. Inilah gempa pertama yang menyerang kawasan Jepang modern padat penduduk. Kehancuran diperparah dengan kebakaran hebat paska gempa.

Baik pemerintah maupun penduduk Jepang tak mengira sama sekali bahwa gempa tersebut mampu menghancurkan Kobe. Perhatian Pemerintah Jepang saat itu lebih banyak pada kawasan Kanto yang puluhan tahun lalu hancur lebur. Kawasan Kansai (Osaka, Kobe, dan Kyoto) dianggap zona aman. Dari segi jumlah korban, gempa Kanto memang tetap merupakan yang terbesar dalam sejarah Jepang. Namun, gempa Kobe merupakan pukulan maha berat mengingat perbaikan dan kesiapan yang selama itu dianggap cukup memadai.

Kobe Mosque 1Kobe yang memiliki luas 546 kilometer persegi adalah kota keenam terbesar di Jepang dengan populasi 1,6 juta jiwa (1993). Pelabuhan Kobe saat itu menempati peringkat enam terbesar di dunia. Namun dalam hitungan detik kota tersebut nyaris rata dengan tanah. Kecuali …. sebuah banguan milik umat Islam. Ya, bangunan tersebut adalah masjid Kobe, satu-satunya masjid di kota tersebut, Allahu Akbar …

Tak heran bila kemudian rumah ibadah umat Islam tersebut kabarnya sempat di sakralkan masyarakat Jepang.  Masjid ini dijadikan tempat berlindung tidak hanya umat Islam Kobe tapi juga masyarakat kota Kobe yang sebagian besar kehilangan tempat tinggal.

Datangnya Islam di Jepang.

Syiar Islam di Jepang baru dimulai pada menjelang berakhirnya Perang Dunia I (1914 – 1918), dengan berdatangannya kaum Muslimin Tartar yang melarikan diri dari ekspansi Rusia. Rata-rata mereka adalah pedagang. Untuk menjaga keimanan dan keislaman, diantaranya demi menjaga shalat berjamaah, secara berkala mereka berkumpul di salah satu rumah mereka.

Kemudian ketika datang menetap sejumlah pedagang India yang kaya dan mendirikan Kobe India Club, kaum Muslimin yang sebagian besar asli Tartarpun ikut bergabung. Untuk melaksanakan acara-acara yang lebih besar, mereka menyewa aula di sebuah hotel bernama Tor.

Kobe Mosque 2Kebutuhan terhadap keberadaan masjid  yang begitu membuncah membuat kaum Muslimin yang jumlahnya makin meningkat itu berusaha mengumpulkan dana pembuatannya. Hingga pada tahun 1928 dimulailah pembangunan masjid yang  akhirnya selesai dan diresmikan pemakaiannya pada tahun 1935. Itulah masjid Kobe, masjid pertama di seantero Jepang. Rumah ibadah tersebut terletak di Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe. Disanalah selanjutnya kaum Muslimin melakukan berbagai kegiatan dan ibadah.

“ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”, ( Terjemah QS.An-Nuur (24):36).

20171002_122856KB7Kobe Mosque 3IMG_0128Beruntung pada bulan September yang baru lalu kami diberi kesempatan Allah swt untuk mengunjungi masjid tersebut. Dengan menumpang Shinkansen, kereta api super cepat yang ber-kecepatan rata-rata 320 km/jam, kami tiba di Kobe dari Osaka.

20171002_120508Menurut seorang mahasiswa Indonesia asal Bandung yang bekerja paruh waktu di minimarket Muslim di sebrang masjid, setiap Sabtu pagi banyak keluarga Muslim Indonesia hadir mengikuti kajian di masjid tersebut.

20171002_115602IMG-20171012-WA0010Di kota pelabuhan tersebut kami juga sempat melewati beberapa toko berlabel Halal. Meski kami harus sedikit menahan kecewa karena tidak berhasil menemukan kebab Turki kesukaan si bungsu.

Masjid Kobe sebenarnya bukan sekali itu saja lolos dari bencana besar. Pada tahun 1945, menjelang berakhirnya Perang Dunia II,  bersama Hiroshima, Nagasaki, Tokyo dan Yokohama, Kobe turut menjadi sasaran bom yang dijatuhkan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya.

Kobe Mosque AftermatDalam hitungan detik sebagian besar gedung dan bangunan yang terdapat di kota-kota besar tersebut hancur berantakan. Dan dari sangat sedikit bangunan yang dilaporkan bisa bertahan, masjid Kobe adalah salah satunya. Bahkan di Kobe, nyaris hanya masjid inilah satu-satunya bangunan besar yang tidak hancur. Masjid ini hanya mengalami retak pada dinding luarnya, disamping semua kaca jendela yang pecah dan bagian luar masjid menjadi kehitaman akibat asap bom. Sementara bangunan sekolah yang terbuat dari kayu dan tempat wudhu di samping masjid rusak parah.

Perlindungan terhadap masjid Kobe sudah pasti karena kehendak Allah swt. Namun itu bukan berarti umat Islam Kobe hanya pasrah saja. Pada tahun 1939 ketika Perang Dunia II baru mulai meletus, umat Islam Kobe yang jumlahnya tidak seberapa itu, berusaha melindungi masjid yang dengan susah dibangun dan baru diresmikan 4 tahun sebelum perang, yaitu tahun 1935. Caranya yaitu dengan melapisi lantainya yang indah itu dengan kertas minyak, tatami, dan terakhir pasir setebal sekitar 2.5 cm. Hal tersebut untuk mencegah agar masjid tidak terbakar. Meski sebagai akibatnya selama perang berlangsung masjid tidak dapat digunakan untuk shalat dan kegiatan lainnya.

Selanjutnya pada tahun 1943, masjid ditutup oleh Angkatan Laut Jepang untuk dijadikan tempat berlindung tentara. Lantai dasar masjid dijadikan tempat penyimpanan barang. Paska bom 1945 rumah ibadah kaum Muslimin ini resmi dijadikan tempat pengungsian korban perang.

Masjid Kobe baru kembali ke pangkuan umat Islam 2 tahun setelah perang berakhir, yaitu pada tahun 1947. Kaum Muslimin, kebanyakan orang-orang Tartar dan India, yang selama perang mengungsi ke luar negri berbondong-bondong kembali ke Kobe. Mereka mendapati rumah mereka telah hancur lebur karena bom. Syukur Alhamdulillah Sang Khalik berkenan membuka hati mereka yang telah menyita masjid Kobe untuk diserahkan kembali kepada umat Islam. Dan dengan bantuan negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi dan Kuwait, masjid segera diperbaiki hingga dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bersambung.

Read Full Post »

Older Posts »