Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Menurut sejarawan Sima Qian (145 – 90 SM), pembangunan makam agung kaisar Qin Shi Huang dimulai disekitar 246 SM, saat usia sang Kaisar baru menginjak usia 13 tahun, dengan memperkerjakan kurang lebih 700.000 pekerja.

http://harianinternasional.blogspot.co.id/2016/01/sejarah-dinasti-qin-zaman-musim-semi.html

Bergidik hati ini menyaksikan bagaimana Sang Raja Alam Semesta, Allah swt, memperlihatkan Kebesaran dan Kekuasaan-Nya dengan membongkar harta karun kaisar Qin yang telah terpendam selama ribuan tahun lamanya, dalam keadaan relative utuh. Disamping tidak mungkin juga kita menyingkirkan kenyataan, betapa pandainya manusia, yang sejak ribuan tahun lalu telah mampu membangun peradaban yang begitu tingginya.

Lulu bercerita bahwa tehnologi pembuatan patung Terracotta sangat rumit dan canggih. Sementara teknik pembuatan senjata perunggunya lebih menakjubkan lagi. Pedang perunggu yang ditemukan di dalam lubang Terakota tersebut sangat tajam dan halus, tidak berkarat bahkan berkilau seperti baru. Senjata tersebut mengandung berbagai macam logam, permukaannya adalah lapisan oksidasi garam kromium setebal 10 mikro meter, dan derajat kekerasannya setara dengan baja karbon medium yang dikeraskan. Senjata-senjata perunggu yang tergali dari lubang tersebut dibuat dengan cara tuangan (cor), bahannya terutama tembaga dan timah. Ini adalah teknik tingkat tinggi dalam sejarah metalurgi dunia.

http://indonesian.cri.cn/chinaabc/chapter22/chapter220111.htm

Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu“. ( Terjemah QS. Al-Kahfi (18):95-96).

Para ahli tafsir sepakat bahwa Dzulkarnain yang dimaksud pada kisah di atas adalah seorang raja alim yang diberi Allah swt kekuasaan sangat besar. Sebagian ada yang berpendapat Dzulkarnaen hidup sezaman dengan nabi Ibrahim as, dan pernah tawaf bersama sang nabi as. Namun ada juga yang berpendapat Dzulkarnaen hidup di masa nabi Musa as. Pendapat lain mengatakan bahwa Dzulkarnaen hidup di masa dinasti Zhou, dinasti pendahulu Qin. Catatan sejarah memang mengatakan teknologi perunggu di masa itu sedang mencapai puncaknya.

Berdasarkan kajian mendalam ayat 86-99 surat Al-Kahfi yang sarat dengan pesan sains dan ilmu alam, sebagian ahli tafsir menyimpulkan bahwa lokasi dimana Dzulkarnaen membantu suatu kaum dari ancaman kebengisan Ya’juj Ma’juj yang akan muncul di akhir zaman nanti, adalah suatu daerah di dataran tinggi Cina. Ayat-ayat di atas juga sekaligus menjadi saksi betapa Cina sejak ribuan tahun lampau telah mencapai kemajuan dan peradaban yang tinggi.

Tak dapat dipungkiri, Cina hari ini sungguh sangat berbeda dengan Cina beberapa tahun yang lalu. Selain kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk kebersihan kota-kotanya, disiplin masyarakat Cina, terutama anak-anak mudanya, patut diacungi jempol.

Berkat majunya pendidikan”, jelas Lulu tegas, ketika kami mengajukan keheranan kami. Kami juga beberapa kali melihat gadis tersebut menegur orang setengah tua Cina yang meludah atau membuang sampah sembarangan.

Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya”. ( Terjemah QS. Al-Kahfi (18):98-99).

Dominasi negara-negara Asia Timur (Cina, Jepang dan Korea) sebagaimana yang diprediksi para ahli tafsir dan ilmuwan Muslim, Cina khususnya, baru terjadi 10 tahun-an belakangan ini. Orang-orang Cina, hari ini, dapat kita saksikan, telah menyebar hampir di seluruh pelosok dunia, bercampur dengan penduduk asli tapi tetap dalam komunitasnya sendiri, yaitu China town.

Menjadi tanda tanya besar, mungkinkah yang dimaksud hancur luluhnya dinding di akhir zaman pada ayat di atas adalah temuan spektakuler sang penakluk Cina raja Qin yang telah ribuan tahun terpendam di perut bumi? Atau memang nyata dinding buatan Dzulkarnaen yang menyatukan dua puncak gunung yang kemungkinan berada di Cina itu belum ditemukan??

Siapa dan dimana kira2 kaum yang meminta pertolongan Zulkarnaen agar dibuatkan tembok sebagai benteng perlindungan dari kekejaman kaum lain? Siapa pula yang dimaksud kaum bengis itu? Mungkinkah ia adalah raja Qin, si penakluk Cina, yang pasti banyak dibuat membencinya??

Masih terngiang ucapan uztad Bahtiar Nasir pada salah satu kajiannya, “Bisa jadi hari ini adalah era kejayaan Cina. Namun tidak berarti kita harus terus mengekor Cina”.

Ya, patutkah kita tunduk kepada negara ex komunis yang kini menuju sosialis kapitalis, yang terang-terangan melarang rakyatnya (Muslim Xinjiang) menjalankan ibadah?? Yang dengan berang menantang perang Erdogan, hanya karena presiden Turki tersebut geram terhadap kebengisan tentara Myanmar terhadap Muslim Rohingya?

http://www.kabarsatu.news/2017/09/wow-china-ancam-perang-turki-jika.html

Dengan membawa sejuta pertanyaan di atas, usai sudah kunjungan ke Xian. Tiba saatnya kami menuju bandara untuk selanjutnya terbang ke Guilin sebagai penutup rihlah kali ini. Alhamdulillah Lulu menyempatkan mengantar kami ke masjid yang ada di jalur menuju bandara. Ia bahkan sempat masuk, memperhatikan kami wudhu dan membaca papan berisikan beberapa ajaran Islam yang terpampang di depan pintu masjid.

“Oh jadi orang Islam itu terbiasa ber-puasa yaa ..  pantas kamu langsing”, komentar Lulu sambil terus membaca pengumuman-pengumuman yang ada di sana. Kebetulan Lulu memang agak besar badannya, dan beberapa kali mengeluh ingin kurus. 🙂

20170429_191740Oya, di dalam pesawat kami mendapat surprised makanan halal padahal kami tidak memesannya karena memang tidak menyangka ada pilihan untuk itu. Saking terheran-herannya saya sampai melirik ke meja penumpang lain untuk mengetahui apakah hanya kami saja yang mendapat pelayanan istimewa. Ternyata tidak, semua penumpang mendapat jatah snack sama, yaitu bungkusan coklat dengan label HALAL di atasnya. Sekedar info, pesawat yang kami tumpangi adalah pesawat lokal Air China.

******

Guilin, 30 April – 2 May 2017.

Guilin adalah kota menengah di Cina Selatan yang memiliki pemandangan unik menakjubkan. Kota ini selain dikelilingi sungai dan 4 buah danau, juga oleh pegunungan kars dengan ribuan puncak, yang menjadikannya salah satu  pegunungan kars terbesar di dunia.

20170430_115839IMG_0634Kami mengawali penjelajahan dengan cruise menyusuri sungai Li yang panjangnya 83 km, menuju Yangshuo yang ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Waktu berlalu tidak terasa terlalu lama berkat pemandangan yang sungguh mencengangkan. Dari sejak awal hingga usai perjalanan, tumpukan gunung dengan bermacam bentuk dan ketinggian, menyesaki pandangan. Masya Allah …

IMG_0690Tak heran bila kemudian pemerintah setempat memanfaatkan salah satu spot cantik di tempat tersebut sebagai latar belakang uang pecahan 20 Yuan. Pepatah Cina mengatakan Guilin adalah “tempat terindah, surga dunia”.

Keberadaan pegunungan kars dengan puncak-puncak lancip bagaikan pasak /paku dan gua disana-sini, menunjukkan bahwa Guilin ratusan juta tahun yang lalu adalah merupakan dasar laut, yang disebabkan adanya perubahan alam, terangkat hingga membentuk apa yang terlihat saat ini.

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”( Terjemah QS. An-Naba’(78):6-7).

Sekitar jam 2 siang setelah cruise selesai, kami berjalan-jalan melihat-lihat aneka pernak-pernik barang lokal yang dijajakan di sepanjang jalan keluar pelabuhan. Termasuk yang paling menarik adalah cara pembuatan permen jahe, dimana jahe yang sudah diolah sedemikian rupa menyerupai gulungan besar dililitkan di sebuah tiang. Kemudian gulungan tersebut ditarik, digulung, ditarik-gulung   berkali-kali, hingga akhirnya dipotong-potong kecil dan dibungkus menjadi permen jahe yang lezat.

20170430_16545220170430_162234Selanjutnya Cory, guide kami menawarkan extra kunjungan ke sebuah bukit dimana dari sana terlihat pemandangan sungai dengan gunung-gunungnya dari ketinggian. Meski harus mengeluarkan tambahan biaya dan sedikit terengah-engah menaiki tangga, sungguh tidak percuma bukit yang ia perkenalkan dengan nama  bukit Wow itu, memang benar-benar “wow”.

“Bukan hanya wow tapi katakan Allahu Akbar”, sambil bercanda saya mengoreksinya. “Bayangkan, kalau ciptaan-Nya saja seperti ini apalagi yang menciptakan-Nya”.

20170501_110644IMG_0817Singkat cerita, Guilin ternyata mempunyai lumayan banyak tujuan wisata. Diantaranya adalah The elephant trunk hill, bukit berbentuk gajah yang agak dipaksakan, dan Reed Flute Cave, gua yang sudah dipercantik dengan lampu sorot warna-warni dengan bermacam tema hingga menampilkan pemandangan yang cantik menarik. Tak kalah cantiknya adalah pemandangan danau di dalam kota.

20170501_175915IMG_0804Namun yang di luar perkiraan adalah keberadaan masjid dan restoran halal di kota ini. Di restoran halal yang kami kunjungi untuk makan siang maupun malam itu kami berjumpa dengan rombongan 2 bus besar yang membawa turis Malaysia. Mereka datang dari Guangzhou yang jaraknya 6 jam perjalanan dengan bus. Di restoran ini dipajang lukisan menarik sepasang muda lelaki Arab khas dengan pakaian Arabnya, dan gadis Cina dengan kepang rambutnya. Mungkin pemilik restoran, bisik saya kepada suami .. sotoy … 🙂

20170501_16150320170501_16162520170501_163950IMG_0859 - Copy20170501_161352Akan halnya dengan masjid, Guilin ternyata mempunyai 6 buah masjid. Rata-rata masjid tersebut dibangun pada masa kekuasaan dinasti Qing (1644-1911 M), dinasti terakhir empurium Cina. Muslim di Guilin adalah suku Hui. Sayang Cory hanya sempat mengajak kami mengunjungi 1 masjid saja, yaitu  Guilin Chongshan Street Mosque. Karena memang inilah satu-satunya masjid yang masih terawat dan berfungsi dengan baik.

http://www.muslim2china.com/china-mosques/Guilin-Chongshan-Street-Mosque-17.html 

Menurutnya, kebetulan sejak kecil ia tinggal di sebelah masjid, dulu di lingkungan tersebut berdiri sebuah sekolah Islam. Ketika usia TK ia bahkan sempat bersekolah di sekolah tersebut. Ia tidak begitu ingat sejak kapan sekolah tersebut tutup. Yang pasti dengan nada kecut, pemuda yang mengaku tidak percaya kepada adanya Tuhan sebagaimana rata-rata orang Cina, masih menurutnya, punya pengalaman buruk dengan lingkungan orang-orang masjid.

“Kalau ketahuan ada orang membawa daging babi ke rumah, mereka memukulinya”, ceritanya.

Menurut suami saya, ia memang tampak alergi bila suami saya sekali-sekali memancing pembicaraan kearah agama. Ntah bagaimana perasaannya ketika kami meminta tolong padanya agar menjaga barang-barang kami sementara kami shalat di hadapannya, di pelataran bukit wow, karena waktu yang tidak memungkinkan shalat di hotel ataupun masjid.

Semoga suatu hari nanti Allah swt berkenan membuang citra buruk Islam yang ada di kepalanya dengan yang lebih baik, dan semoga suatu hari nanti Islam dapat ditrima di negri Tirai Bambu ini, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawab.

Jakarta, 25 September 2017.

Vien AM.

Advertisements

Read Full Post »

IMG_0418Mendekati waktu Zuhur kami segera menuju masjid. Sebuah plang tanda arah ke masjid terlihat di persimpangan pasar yang lumayan padat tersebut. Lulu mengingatkan untuk memperhatikan tanda tersebut agar ketika pulang menuju tempat rendez-vous nanti tidak tersasar. Ia mengantar kami hingga gerbang masjid. Terlihat beberapa lelaki berteriak-teriak di tempat tersebut. Tadinya kami tidak begitu paham apa yang mereka teriakkan dan inginkan. Setelah kami dengarkan baik-baik ternyata mereka meneriakkan “ fii sabilillah fii sabilillah”, alias sedang meminta infak/sodaqoh.

Lulu bersiap mengeluarkan dompet untuk membayar tanda masuk. Di depan masjid memang terpampang papan bertuliskan tarif masuk masjid.

Tidak perlu bayar Lulu. Kami kan mau shalat. Itu khusus untuk turis yang ingin melihat-lihat masjid”, jelas suami saya. Dan tanpa menunggu jawabannya kami segera memasuki lokasi. Lulu hanya bengong sebentar kemudian berbalik meninggalkan kami.

Tapi tak lama kemudian, dengan bahasa isyarat seorang lelaki mengatakan bahwa tempat akhwat/perempuan shalat bukan di situ. Kami segera keluar lagi dan  mengikutinya menuju tempat yang dimaksud, yang lumayan jauh dari lokasi  utama.

Tempat shalat bagian perempuan tersebut rupanya adalah sebuah apartemen tingkat 2 sederhana yang sudah di sulap menjadi musola. Tempat wudhu terletak di lantai dasar, sedangkan ruang shalat berada di lantai di atasnya. Terdengar suara dzikir dan shalawat  dari pengeras suara yang terpasang di ruangan berukuran sekitar 6×6 meter tersebut. Sebuah layar televise kecil terlihat di  dinding depannya. Rupanya layar tersebutlah yang menjadi penghubung dengan masjid.  Tak tampak gambar apapun di layar tersebut, mungkin karena waktu Zuhur belum tiba.

Saya melihat hanya ada sekitar 4 muslimah di dalamnya. Tapi setengah jam kemudian setelah saya selesai shalat Tahiyatul masjid, dzikir dan berdoa separuh ruangan telah terisi. Waktu terus berlalu, saya mulai gelisah karena tanda-tanda shalat Jumat belum juga terlihat. Akhirnya dengan alasan perempuan tidak wajib menunaikan shalat tersebut saya memutuskan untuk keluar ruangan.

20170428_13292520170428_133129Alhamdulillah sebelum keluar saya sempat membagikan dulu jilbab yang sengaja saya bawa dari tanah air kepada beberapa ibu yang ada di barisan belakang. Juga  mukena berbordir cantik dari Padang yang tadi saya kenakan. Dengan bahasa isyarat saya katakan bahwa saya dari Indonesia dan hadiah saya berikan sebagai tanda ukhuwah. Mereka tampak terkejut tapi dengan senang mereka menerimanya. Sungguh bahagia hati ini melihat ekspresi dan tanggapan mereka.

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari).

Selanjutnya saya segera menuju masjid utama. Tampak orang berbondong-bondong memasukinya, termasuk juga beberapa orang perempuan. Sayapun nekad masuk bersama mereka.

20170428_13540620170428_13385020170428_13380820170428_134303Masya Allah, ternyata masjid Agung Xian ini menempati area yang cukup luas, menurut info yang saya dapat, sekitar 12.000 – 13.000 m2. Sementara luas masjid utama yang khusus digunakan untuk shalat sekitar 6.000 m2.  Bangunan mirip rumah ibadah Cina, klenteng, ini terletak di ujung lokasi. Komplek masjid ini mempunyai beberapa pendopo dan gapura ber-arsitektur khas Cina, dengan hiasan kaligrafi di sana-sini. Sangat menarik dan unik.

20170428_14070220170428_13474520170428_13551020170428_134140Masjid Agung Xi’an yang dibangun pada tahun 742 M pada masa kekuasaan dinasti Tang (618-907) ini meski sudah berusia sangat tua masih terlihat terawat dan masih berfungsi dengan baik. Pada tahun 1998 pemerintah bahkan menetapkan kompleks masjid Xian sebagai warisan Sejarah China.

20170428_13293920170428_13514320170428_134308Saya sempat ngobrol dengan ibu muda yang tadi juga berada di masjid bagian perempuan. Ia bersama putri kecilnya juga sedang menunggu suaminya shalat Jumat. Perempuan muda asli Cina ini rupanya seorang turis lokal. Masjid Agung Xi’an memang bukan hanya tujuan wisata luar negri, tapi juga dalam negri.

20170428_14100420170428_13442620170428_14020820170428_134020Menjelang waktu shalat tiba, makin banyak jamaah berbondong-bondong datang. Sungguh tak menyangka wajah-wajah bermata sipit tua maupun muda, dengan berbagai penampilan, mulai dari yang ber-jas rapi hingga yang hanya ber-kaos oblong plus tangan bertato, mereka adalah saudara seiman kita. Allahu Akbar …

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.( Terjemah QS. Al-Jumuah (62):9).

20170428_14195020170428_14330920170428_131954Tak urung merinding hati ini mendengar shalawat, dzikir dan adzan berkumandang dengan nada yang tidak biasa, terdengar di negri Tirai Bambu ini. Bahagia rasanya bisa menjadi salah satu saksi shalat Jumat dengan jamaah yang membludak hingga ke luar masjid, meski sayang tidak rapat shaftnya.

Usai shalat kami segera menuju tempat rendez-vous dengan Lulu. Kami melanjutkan kunjungan “wajib” ke Pagoda yang terdiri dari kuil dan patung Budha terbesar di Xian bahkan Cina. Diteruskan dengan makan malam meski sebenarnya masih sore, di sebuah restoran halal tidak jauh dari lokasi. Tampaknya Lulu ingin cepat menyelesaikan tugasnya dan cepat istirahat. Hmm apa boleh buat. Selanjutnya kami di antar pulang ke hotel untuk acara bebas. Kami hanya memanfaatkan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Keesokan paginya kami mengunjungi Musium Terracota yang merupakan wisata utama kota ini. Adalah sejumlah petani yang ketika itu sedang menggali tanah dan secara tidak sengaja menemukan ribuan patung kuda dan prajurit terbuat dari tanah liat, dengan ukuran sebesar aslinya, dengan tinggi rata-rata 1,8 meter.

Peristiwa tersebut terjadi pada Maret 1974, sekitar 1,6 kilometer dari makam Kaisar Qin Shi Huang yang terletak di Gunung Li Shian, sebelah utara kota Xian. Maka sejak itu proses penggalianpun terus dilakukan hingga hari ini. Penggalian tersebut merupakan lokasi penggalian arkeologi terbesar di Cina.

Selanjutnya pemerintah membangun semacam hangar pesawat raksasa di lokasi temuan spektakuler tersebut, dan menjadikannya sebagai Musium dengan nama Terracota Warrior and Horses, yang dibuka secara resmi pada tahun 1979. Musium ini dibagi menjadi tiga seksi.

20170429_10174520170429_10171520170429_11030420170429_105800Seksi pertama merupakan yang paling besar. Ada sekitar 8.000 patung prajurit dan kuda Terracotta, namun hanya sekitar 2.000 patung yang dipamerkan. Hebatnya tiap patung tersebut mempunyai ekspresi wajah dan posisi kucir rambut yang berbeda-beda. Ada yang kucir kiri, ada yang kanan dan ada yang di tengah. Masing-masing memiliki arti dan maksud tersendiri.

Seksi dua dan seksi tiga hingga kini masih dalam tahap penggalian. Kabarnya penggalian yang sekarang ini dilakukan baru 1 % dari perkiraan seluruh galian. Selain patung prajurit dengan berbagai posisi, sebagian besar tidak ada bagian kepalanya, kuda dan kereta kuda juga ditemukan berbagai senjata perang.

20170429_11241720170429_11244020170429_110134Menurut Lulu, aslinya kuda-kuda dan prajurit Terracotta tersebut tersusun pada posisi dan barisan tertentu di bawah atap sebuah bangunan. Semua dikubur menjadi satu. Namun ketika ditemukan hampir semua atapnya sudah rusak. Sementara dari sekian ribu patung yang ditemukan, hanya 1 patung prajurit yang masih utuh, bahkan warnanyapun masih relative jelas.

kaisar QinshihuangAkan halnya kaisar Qin Shi Huang, ia adalah kaisar pendiri dinasti Qin. Ia menjadi kaisar ketika usianya baru 13 tahun. Pada usia 38 tahun sang kaisar muda berhasil mempersatukan Cina, yaitu pada tahun 221 SM. Qin selain dikenal sangat berjasa dalam membangun peradaban Cina, juga dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam.

Ia pernah mengubur hidup-hidup 460 sarjana hanya karena mereka menyimpan buku filsafat yang harusnya dibakar dan dilarang untuk dimiliki rakyat. Qin ini pulalah yang memerintahkan pembangunan tembok besar Cina sepanjang 3000 km yang banyak memakan korban.( Ada yang mengatakan hanya melanjutkan pembangunan). Kabarnya karena tidak sempat diurus dengan baik, para korban tersebut dijebloskan begitu saja ke dalam tembok yang sedang dibangun itu.

20170429_11273820170429_11382920170429_112822Qin wafat pada usia 50 tahun, setelah sebelumnya mempersiapkan kematiannya dengan cara memerintahkan pembuatan ribuan patung prajurit dan ksatria lengkap dengan kereta kuda dan senjatanya, demi menemani dan menjaganya di alam kubur. Serta sebagai persiapan untuk menyambut kehidupan baru setelah kematiannya. Selain juga sebagai tanda untuk menunjukkan kejayaan sekaligus penghormatan terhadap pasukannya yang telah berjasa membantunya dalam menyatukan Cina. Hebatnya lagi patung-patung tersebut diatur sedemikian rupa hingga menyerupai pasukan yang sedang menjaga istana kekaisaran.

( Bersambung).

Read Full Post »

20170427_16130520170427_160859Dengan menumpang subway dan berjalan kaki lumayan jauh akhirnya tiba juga kami di masjid Niujie. Rupanya nama masjid tertua di Beijing ini diambil berdasarkan nama jalan dimana ia berada yaitu Niu yang berarti sapi dan Jie ( jalan). Namun ada pula sumber yang mengatakan justru nama jalan tersebut yang mengikuti  lingkungannya yang Islami. Nama Niu diambil karena banyaknya restoran halal yang notabene adalah sapi, bukan babi, yang merupakan makanan umum masyarakat Cina.

Masjid Niujie yang mampu menampung 1000 jamaah ini dibangun pada tahun 996 M pada masa Dinasti Song, sempat dihancurkan oleh Bangsa Mongol namun kemudian dibangun kembali tahun 1443 M pada masa Dinasti Ming. Mayoritas Muslim di Beijing adalah suku Hui yang merupakan suku minoritas di kota tersebut.

20170427_16191120170427_16231320170427_162519Model bangunan masjid ini benar-benar unik tidak seperti lazimnya masjid yang biasa kita lihat. Kalau saja tidak pernah melihat fotonya mungkin kami tidak mengira bahwa area seluas 6000 m² tersebut adalah sebuah kompleks masjid. Arsitektur khas Cina berwarna merah terlihat kental mendominasi masjid tersebut.

20170427_16221720170427_161427Area masjid terlihat sepi ketika kami memasuki area sekitar pukul 3 sore. Seorang lelaki setengah baya, kelihatannya penjaga masjid, bergegas menghampiri kami. Dengan bahasa isyarat kami katakan bahwa kami hendak shalat. Segera ia mengantarkan kami ke masjid bagian perempuan. Rupanya bagian laki-laki dan perempuan terpisah lumayan jauh meski masih di area yang sama.

Setelah saya wudhu suami berkata “ Shalat di masjid utama aja yuuk, g rame ini”.

20170427_16373420170427_163659Alhasil kamipun shalat di ruang utama masjid yang memang terlihat senyap. Maklum memang bukan jam shalat. Terlihat hanya ada satu orang sedang shalat. Usai shalat saya melihat ada seorang perempuan setengah baya sedang melihat-lihat masjid. Sayapun menyapanya. Ternyata perempuan tersebut juga seorang turis. Ia datang dari London bersama suaminya. Kami sempat berbincang sebentar. Dilihat dari raut wajahnya kelihatannya ia seorang keturunan Pakistan. Tak lama iapun shalat.

20170427_16250620170427_162820Setelah puas mengelilingi masjid dimana 13.000 Muslim Beijing bertempat tinggal di sekitar area tersebut, kamipun bersiap meninggalkan lokasi. Ketika itu tiba-tba seorang pria keluar mengejar kami. Rupanya lelaki tersebut adalah suami ibu dari London tadi. Pria tersebut mengantarkan jam tangan suami saya yang kami kira hilang, dan ternyata ketinggalan di toilet. Kebetulan tadi saya sempat bercerita kepada sang ibu bahwa suami saya sedang mencari jam tangannya yang tercecer ketika wudhu. Alhamduillah …

Selanjutnya dengan bantuan beberapa orang yang ada di sekitar masjid kami berhasil menyingkat waktu, yaitu dengan bus menuju ke stasiun subway. Karena ternyata jalan yang kami tempuh ketika berangkat tadi bukan jalur yang tepat. Seharusnya kami naik dan turun di stasiun Caishikou yang berada di line 4.

Sesuai rencana kami langsung menuju terminal kereta Beijing Barat untuk menukar tiket kereta cepat ke Xian yang kami beli di tanah air secara on line. Setelah sempat panik karena kesulitan bahasa akhirnya beres juga urusan tersebut. Selanjutnya kami kembali ke hotel untuk mengambil koper dan kembali ke stasiun yang sama dengan perasaan lega. Maklum terminal kereta tersebut sangat luas dan ramai. Sesuai jadwal, malam itu kamipun berangkat menuju Xian.

20170427_195041Kereta api peluru super cepat ( bullet train) yang kami tumpangi tersebut menempuh jarak  1.216 kilometers dengan kecepatan rata-rata 310 km/jam dalam waktu 4.5 jam. Tak rugi rasanya mencicipi kereta kebanggaan negri tirai bambu tersebut meski harus merogoh kocek cukup dalam yaitu CNY 513.5 (sekitar IDR 1.168.212) untuk tiket klas 2. Tak jauh beda dengan harga tiket pesawat, yang hanya 2 jam namun kabarnya bila ditambah kemacetan bandara Beijing maupun Xian bisa lebih dari 4.5 jam. Disamping kabarnya lebih sering delay dari pada bullet train yang jadwalnya hampir selalu tepat.

20170427_232033Setiba di terminal kereta yang mirip bandara tersebut guide kami telah menanti. Kami langsung menuju hotel untuk istirahat. Esoknya jam 9 pagi setelah sarapan di hotel kami menuju tembok tua kota Xian.

IMG_036820170428_101150Tembok ini dulunya adalah tembok pertahanan kota alias benteng, yang melindungi kota dari serangan musuh. Tembok tersebut dibangun pertama kalinya oleh dinasti Sui (581-617 M). Kini tembok tua yang mempunyai 4 gerbang tersebut masih dipertahankan sebagai salah satu ikon kota. Dari sela-sela tembok yang dulu sengaja dibuat agar bisa mengintai dan menembak musuh itu, pemandangan kota dapat terlihat jelas.

20170428_10334720170428_105121IMG_0386Tembok dengan tinggi 12 meter diatas fondasi 18 meter dengan lebar 15 meter ini bisa dikelilingi dengan sepeda sewaan. Namun kami hanya menyusuri salah satu sisi tembok dengan berjalan santai. Setelah itu kami segera menuju masjid Xian, disamping untuk menziarahinya juga sekaligus untuk mendirikan shalat Jum’at.

20170428_14432820170428_14435020170428_144505Masjid Agung Xian terletak di area Muslim dimana Muslim street berada. Begitu memasuki jalanan ini aroma Islami langsung terasa menyergap. Berbagai macam makanan terlihat menyesaki pedestrian lebar ini, dengan tulisan HALAL dalam huruf hijaiyah terpampang. Mulai aneka rempah-rempahan, bumbu masakan, aneka manisan hingga segala macam kue, sosis, sate dan lauk pauk ada di sini. Rasa senang, bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Sungguh tak menyangka di negri yang jauh dari tanah suci dimana Islam hanya minoritas bisa menyaksikan hal seperti ini.

Menurut guide kami, Lulu, hanya inilah satu-satunya Muslim street di  negaranya. Pusat jajan jalanan terbesar di Xian ini ternyata bukan hanya dimiliki kaum Muslimin tapi juga seluruh warga kota. Setiap hari area ini disesaki pengunjung yang ingin kuliner.

Karena waktu Zuhur masih agak lama Lulu menawarkan kami untuk makan siang dulu. Kamipun menyetujuinya. Tapi kami terpaksa harus menahan keinginan mencicipi jajanan yang ada di sepanjang jalan tersebut. Lulu tidak mau beresiko menanggung nanti kami sakit perut karena menurutnya kebersihannya kurang terjamin. Ia mengantar kami ke sebuah restoran besar yang tampaknya sudah menjadi langganan travel tempat ia bekerja.

20170428_11491620170428_114833IMG_0420the Drum BellLagi-lagi kami dibuat terpana. Restoran dengan tulisan HALAL besar 20170428_120048tersebut terlihat mewah dan bagus. Lokasinyapun sangat strategis yaitu di samping The Drum Bell yang merupakan salah satu ikon Xian. Dan yang tak kalah pentingnya adalah masakannya yang cukup lezat …. Masya Allah …

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu“.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):168).

20170428_14412220170428_144119Selesai menikmati makan siang kami langsung menuju masjid. Sekali lagi berhubung masih ada waktu, kami menyempatkan diri untuk melihat-lihat kios-kios yang ada di sepanjang jalan menuju masjid, mengingatkan suasana pasar Seng seberang Masjidil Haram yang sekarang sudah tidak ada lagi itu. Aneka kerudung, tasbih dll bercampur dengan aneka pernak-pernik pajangan khas Cina.

Tampak jelas bahwa Islam telah lama masuk ke kota ini. Tidak hanya Xian namun juga kota-kota besar Cina lainnya. Islam masuk ke negri tirai bambu ini melalui apa yang disebut jalur sutra yaitu jalur perdagangan yang membawa sutra, rempah-rempah dll dari Timur ke  Barat dan sebaliknya.

Islam pertama kali di perkenalkan di Cina pada tahun 651 M, tak sampai 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah Muhammad saw.  Ketika itu khalifah ke 3, Ustman bin Affan ra mengirim seorang utusan. Utusan tersebut diterima secara terbuka oleh Kaisar Dinasti Tang (Li Zhi atau Yung Wei).

masjid Huangsieng GuangzouSang Kaisar ini bahkan memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Agung Kanton di Guangzhou, yang merupakan masjid pertama di daratan Cina. Hingga kini masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu, merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Dengan kata lain Islam masuk ke Cina selain melalui jalur perdagangan juga jalur diplomatik.

Namun demikian Sa’ad bin Abi Waqqas, seorang sahabat kenamaan, dan beberapa orang sahabat pada tahun 615 M, sudah pernah datang ke dataran Cina, meski tidak lama. Ketika itu Rasulullah masih ada. Sa’ad kabarnya bahkan datang lagi untuk berdakwah hingga wafatnya pada tahun 635 M, dan dimakamkan di negri tersebut. Makamnya dikenal di kemudian hari dengan nama Geys’ Mazars.

Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Cina sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah dan agama Islam dikenal dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran “Buddha Ma-hia-wu” (Nabi Muhammad SAW).

Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Saat ini Islam di Cina memang tidak begitu populer bahkan cenderung ditekan. Namun pada masa dinasti Song, disusul Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M), jumlah pemeluk Islam di China semakin besar. Dinasti Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq. (Sumber : Sejarah Islam di Negeri Tirai Bambu ).

Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka. Di masa Kaisar Yong Le (Zhu Di) muncul seorang pelaut Muslim yang handal, yaitu laksamana Cheng Ho.

( Lihat :https://kanzunqalam.com/2011/01/13/sejarah-awal-mula-umat-muslim-di-china/ ).

Islam mulai mengalami kemunduran ketika berkuasanya dinasti Manchu-Qing (1644 M-1911 M). Karena dianggap sebagai pembela utama dinasti Ming sebagai dinasti pendahulu, maka semua kegiatan agama, pembangunan masjid dan ibadah hajipun dilarang. Politik “devide et impera” digunakan untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mongol. Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan.

” Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara”. ( HR. Muslim).

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” begitu kata pepatah kita.

Selanjutnya selama revolusi kebudayaan China (1966 – 1976), dengan berkuasanya partai komunis, kaum Muslimin tidak diperbolehkan menunaikan ibadah haji secara resmi, kecuali secara diam-diam melalui Pakistan. Syukur Alhamdulillah pada tahun 1979 kebijaksaan tersebut berubah. Sedikit demi nafas Islam kembali berdegup. Pada tahun 2007 adalah puncaknya. Sebanyak 10.700 jamaah China pergi menunaikan ibadah haji.

Sebagian besar Muslim Cina yaitu suku Hui, yang merupakan mayoritas Muslim, kini menetap di Xinjiang ( Daerah Otonomi Uighur Xinjiang ) yang berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur dan Rusia di utara, bergabung dengan kaum Muslimin Uighur yang sudah lebih lama menetap di wilayah tersebut. Dari total 25 juta Muslim di Cina , 8,5 juta di antaranya hidup di Xinjiang. Sementara, dari 300 ribu masjid di Cina, 23 ribu di antaranya ada di Xinjiang.

Sayangnya, pemberian status wilayah otonomi oleh pemerintah hanyalah akal-akalan belaka. Islam yang merupakan agama mayoritas masyarakat di tekan habis-habisan. Keberadaan sekolah Islam, masjid, dan imam dikontrol secara ketat. Pemerintah bahkan melarang kaum Muslimin shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Resto Uighur Halal, Paris

Restoran Uighur di Paris

Keberadaan suku Uighur makin terdesak oleh suku Han yang bukan Muslim, yang tadinya hanya 6 % hingga kini menjadi lebih dari 40 % dan diperlakukan secara istimewa oleh pemerintah. Banyak orang-orang Uighur yang akhirnya memilih meninggalkan kota kelahiran mereka dan mencari suaka ke negara lain, Perancis contohnya. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mampir dan mencicipi masakan orang Uighur yang pindah ke Paris dan membuka restoran di kota tersebut.

Sebagai info tambahan, Xinjiang adalah wilayah  yang kaya akan mineral dan minyak bumi. Cadangan gas alamnya bahkan merupakan yang terbesar di Cina. Daerah ini juga merupakan lokasi utama bagi Cina untuk melakukan uji coba nuklir.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/06/13/m5k6pb-muslim-xinjiang-bertahan-di-tengah-keterbatasan-1

https://international.sindonews.com/read/1114590/40/larang-muslim-xinjiang-puasa-ramadan-komitmen-china-diragukan-1465262380

( Bersambung).

Read Full Post »

Wisata ke Cina … hmmm … mungkin kurang popular, apalagi di tengah suasana paska pilkada DKI yang baru lalu, dimana semua isu yang berbau cina menjadi sangat sensitive. Tapi nyatanya keinginan menggebu yang telah lama terpendam untuk menengok saudara-saudari seiman di negri tirai bambu tersebut tidak dapat begitu saja dipadamkan. Bukankah rasulullah sendiri pernah menganjurkan agar kita mau mengunjungi Cina? Meski tidak sedikit ulama yang berpendapat bahwa hadist tersebut tingkatannya lemah. Wallahu’alam …

Dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut.” (H.R. Ibnu Abdil Bar).

http://bersamadakwah.net/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-cina-bukanlah-hadits/   

Yang pasti Islam mengajarkan bahwa menuntut ilmu itu wajib, hingga sejauh apapun jarak yang harus ditempuh. Tapi mengapa harus Cina? Ya mungkin karena Cina jaraknya sangat jauh dari jazirah Arab disamping sejak dahulu Cina telah dikenal sebagai negara besar dengan peradaban tinggi. Disamping itu sejarah juga mencatat bahwa ajaran Islam telah diperkenalkan ke negri tersebut sejak awal lahirnya Islam, yaitu ketika di bawah khalifah Ustman bin Affan ra.

Dengan berbekal itulah pada hari Selasa 25 April 2017 lalu saya dan suami berangkat menuju dataran Cina. Tujuan kami adalah Beijing dengan Great Wall dan masjid Nuijie sebagai tujuan utama, Xian dengan Terracota dan masjid Great Mosque yang merupakan salah satu masjid terbesar dan tertua di Cina, serta Guilin yang terkenal karena keindahan alamnya sebagai tadabur alam sekaligus penutup perjalanan.

Kali ini kami memutuskan untuk menggunakan jasa travel biro yaitu China Muslim Private Travel Tour yang berkedudukan di Beijing. Keputusan ini kami ambil karena itinerary yang ditawarkan travel biro lokal tidak ada yang sesuai dengan keinginan kami. Tetapi khusus selama di Beijing, dengan pertimbangan Beijing adalah kota besar, namanya juga ibu kota, jalan sendiri naik turun subway/kereta bawah tanah tentu bukan masalah.

Karena dengan demikian kita bisa lebih melihat dan merasakan kehidupan mereka sehari-hari. Disamping juga tidak perlu menghabiskan waktu ke tempat/toko wajib kunjung travel biro. Jadi selama di Beijing kami putuskan jalan sendiri. Jasa guide dari travel biro baru akan kami gunakan di Xian dan Guilin. Untuk itu kami sudah menyiapkan peta subway Beijing yang di down load dari computer.

Singkat cerita kami berduapun tiba di bandara Beijing pukul 4.30 pagi waktu setempat. Segera setelah mengambil bagasi kami ke luar bandara untuk mencari taxi. Tapi belum sempat berpikir, tiba-tiba datang seorang pria menawarkan taxi dan langsung menggiring kami menuju parkiran, tanpa menghiraukan beberapa sopir taxi lain yang sudah menanti di depan pintu keluar bandara.

Anehnya, seolah terhipnotis kami mau saja mengikutinya. Tanpa banyak bicara, suami segera menyerahkan alamat hotel. Kami pikir toh tadi sudah sempat menanyakan kepada seorang penumpang asli Beijing yang kami temui di bandara berapa kira-kira ongkos taxi menuju ke hotel tersebut, yaitu sekitar 100 yuan. Belakangan kami baru sadar bahwa taxi tersebut tidak ada argonya atau mungkin juga tidak dihidupkan. Hati kami mulai was-was.

Dan benar saja, begitu kami sampai di hotel si sopir meminta ongkos 600 yuan ! Suami segera berdalih bahwa kami tidak cukup membawa uang cash jadi akan menukar uang dulu di hotel. Dengan kesal si sopir bertanya berapa cash yang tersedia, “ 160 “, jawab suami sambil menunjukkan dompetnya. Sambil mengomel tak jelas, diambilnya uang tersebut dan langsung tancap gas … olalaa .. hari pertama sudah hampir kena tipuu …

Beruntung kekecewaan di saat pertama itu bisa langsung tertutupi dengan keramahan penjaga hotel. Yang menarik meski mereka tidak bisa berbahasa Inggris tapi dengan bantuan aplikasi terjemah Bahasa yang di install di hp mereka, lengkap dengan suara, masalah komunikasi berhasil dihilangkan. Alhamdulillah …

Tak lama setelah menitipkan koper karena kamar baru siap jam 12 siang, kami ke luar lagi untuk mencari sarapan dan langsung ke stasiun subway yang letaknya tidak jauh dari hotel, dengan tujuan Great Wall. Untuk itu kami harus menuju stasiun Huoying yang terletak di persimpangan line 8 dan 13. Dari stasiun tersebut kami harus keluar stasiun dan pindah ke stasiun kereta api Huangtudian S2 yang katanya hanya berjarak 110 meter. Turun dari kereta api bus khusus arah Great Wall tersedia secara gratis. Demikian info yang kami peroleh melalui internet.

http://www.tour-beijing.com/blog/beijing-travel/how-to-visit-great-wall-by-train

Tapi ntah kenapa ketika kami keluar dari stasiun yang kami pikir adalah Huoying ternyata kami kesulitan menemukan stasiun kereta api menuju Great Wall. Terpaksa kami bertanya kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut. Namun keterangan yang kami dapat simpang siur. Ada yang mengatakan harus naik metro lagi, ada yang mengatakan kereta api dan ada juga yang mengatakan naik bus lebih baik.

Namun yang sama sekali di luar dugaan kami, ternyata banyak warga Beijing yang kooperatif. Meski hampir semua yang kami mintai keterangan tidak bisa berbahasa Inggris, mereka berusaha keras untuk menolong kami. Meski mereka kelihatan terburu-buru berangkat ke kantor mereka mau dengan sabar tidak hanya sekedar memberi keterangan ( dengan bahasa isyarat) namun juga mengantar kami hingga ke halte, bahkan ada yang mengejar hingga ke atas bus karena ternyata ia salah memberi keterangan. Masya Allah …

20170426_12161420170426_121430IMG_0153Akhirnya setelah kami menunjukkan foto Great Wall barulah kami mendapat keterangan yang benar. Walaah rupanya mereka tidak paham apa yang sebenarnya kami tanyakan. Belakangan kami baru sadar kami tadi turun bukan di stasiun yang seharusnya. Syukur Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami di pelataran luas pintu gerbang menuju Great Wall Badaling, bagian tembok Cina yang terdekat dengan Beijing. Dari sana untuk menghemat tenaga kami memilih naik dengan cable car, nanti pulangnya baru berjalan kaki.

IMG_0204IMG_0191Dari atas cable car terlihat sebagian tembok besar tersebut tersembul meliuk di sepanjang pegunungan. Tembok sepanjang 8.851 km ini berfungsi sebagai tembok pertahanan, disamping juga sebagai jalur transportasi di atas temboknya. Sebuah karya besar yang patut diacungi jempol. Meski pada masa pembangunannya yang melalui kerja paksa itu menelan jutaan korban rakyat, dengan biaya yang tak terkira tingginya.

IMG_0273IMG_019620170426_154254Tembok spektakuler tersebut dibangun oleh beberapa dinasti, secara bertahap, selama ribuan tahun, sejak sebelum ratusan tahun sebelum Masehi. Namun yang saat ini mudah terlihat dan banyak dikunjungi wisatawan adalah yang direkonstruksi oleh dinasti Ming (1368-1644).

Setelah puas menikmati pemandangan dan sejuknya hawa pegunungan sambil berjalan menyusuri tembok raksasa yang naik turun, cukup membuat lelah kaki tersebut, kamipun beristirahat sebentar sambil menyantap makan siang sekedarnya di restoran yang ada di lokasi tersebut.

Tak terasa rupanya kami berada di sana hingga menjelang jam tutup yaitu sekitar pukul 4 sore. Berbondong-bondong bersama wisatawan lain kamipun ikut mengantri bus yang akan membawa kami pulang. Di tengah perjalanan, setelah di dalam bus, kami baru merasa kalau bus tersebut bukan bus yang tadi kami gunakan. Bus tersebut adalah bus umum yang tidak menuju ke stasiun kereta api seperti tadi ketika kami datang.

Celakanya lagi, semua penumpang termasuk keneknya tidak bisa berbahasa Inggris. Untung anak muda yang duduk di depan kami bisa berbahasa Inggris meski sedikit. Anak muda yang pergi bersama kekasih dan keluarganya tersebut meminta kami tenang, karena kebetulan mereka juga akan menuju ke stasiun metro yang sama dengan kami.  Leganya hati ini, trima-kasih ya Allah … Alhamdulillah …

IMG_0289Malamnya kami berjalan-jalan menuju Tiananmen, yaitu gerbang menuju Forbidden City, kota terlarang , yang merupakan kompleks bekas istana yang kini dijadikan museum. Cukup surprised, ternyata ikon yang terletak di jantung ibu kota tersebut pukul 10 sudah gelap dan sepi. Hanya terlihat segelintir turis di depan pintu gerbang berwarna merah khas lambang komunis dimana terpampang foto raksasa Mao Zedong, pendiri RRT.

IMG_0309IMG_033220170427_120333Ke-esokan paginya, dengan subway kami mengunjungi Summer Palace. Istana musim panas tempat keluarga kaisar berkumpul dan bersantai ini terletak kurang lebih 15 kilometer dari pusat kota Beijing. Kali ini tanpa kesulitan kami bisa mencapai tempat tersebut berkat foto yang kami tunjukkan kepada orang yang kami temui begitu kami keluar dari stasiun metro.

20170427_15432220170426_045649Harus diakui alat transportasi ibu kota Cina ini, terutama subwaynya, patut diacungi jempol. Disamping bersih, baik stasiun maupun metronya, mudah dicapai juga artistik. Yang juga di luar perkiraan kami, adalah adab mengantri para penumpang, baik ketika akan masuk subway maupun ketika akan membeli tiket. Padahal di jam sibuk masuk kantor.

Sayang untuk mendapatkan peta subway sangat sulit. Untung kami sudah mempersiapkannya dari rumah. ( Print internet). Tapi karena waktu kami tidak banyak, kami tidak terlalu menikmati istana yang saat ini telah dijadikan tempat wisata umum tersebut. Apalagi kami masih harus menukar tiket online bullet train menuju Xian yang kami beli di tanah air sebelum keberangkatan.

Maka tak lama setelah itu kamipun meninggalkan lokasi untuk menuju masjid Niujie yang memang menjadi tujuan utama kami di Beijing.

( Bersambung)

Read Full Post »

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu beliau berkata: Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Ta’ala (mengharapkan wajah-Nya) maka Allah akan membangunkan baginya rumah (istana) di Surga”. (HR. Bukhari-Muslim).

Penduduk Lombok dikenal sangat religius. Tak heran bila pulau ini diberi julukan pulau seribu masjid saking banyaknya masjid di pulau ini. Tampaknya hadist di atas begitu membekas di hati mereka hingga mereka berlomba-lomba membangun masjid. Sayang pada akhirnya masjid sering kali kekurangan jamaah, karena masjid lebih banyak dari pada jamahnya. Untuk mengatasi hal itu, agar semua masjid tetap ramai digunakan sebagaimana mustinya, dan tidak malah mubazir maka dibuatlah jadwal giliran masjid penyelenggara shalat Jumat.  Subhanalah ..

Kepedulian yang tinggi terhadap ajaran Islam dan segala yang berhubungan dengan dunia Islam juga ditunjukkan pemerintah daerah. Diantaranya yaitu target menjadi juara umum MTQ sekaligus menyiapkan bonus bagi para pemenang. Juga rencana pemerintah membuka penerbangan langsung dari Dubai ke Lombok dan sebaliknya.

https://pesonalombokntb.blogspot.co.id/2016/08/siapkan-bonus-ntb-targetkan-juara-umum.html

Menjelang siang, sesuai perkiraan jalanan bertambah padat. Motor dan kendaraan bak terbuka yang dijejali penumpang bercampur aduk memenuhi jalanan. Tujuan terakhir mereka adalah pantai yang tersebar di pulau ini. Mereka datang membawa keluarga besar dari berbagai pelosok Lombok. Polisi terlihat disiagakan di berbagai tempat. Kami sempat melihat sejumlah motor dengan pengemudi tanpa helm dan kendaraan bak terbuka yang dipenuhi penumpang dihentikan polisi.

“Kalau menurut peraturan memang tidak boleh. Tapi anehnya, pengemudi motor yang memakai ikat kepala khas Bali dibebaskan. Tidak demikian dengan yang memakai kopiah”, gerutu mas Ziyadi.

Awalnya kami tidak memahami maksudnya. Belakangan baru ngeh maksudnya yang memakai ikat kepala khas Bali itu pemeluk Hindu, sedangkan yang pakai kopiah pemeluk Islam. Judulnya toleransi yang tidak pada tempatnya, batin saya … alias g nyambung.com   .. namanya peraturan umum pemerintah yang tidak bersangkutan dengan agama, harusnya ya berlaku untuk semualah.

20160713_122828Tanpa terasa tibalah kami di tujuan yaitu pantai bagian selatan Lombok yang tak kalah cantik dengan gili Trawangan hanya saja kalah promosi. Kami memulainya dari pantai Mawun. Pantai ini dapat jelas dibedakan dari pantai lain karena bagaikan memiliki pintu gerbang, yaitu dua bukit hijau yang mengapitnya. Meski demikian gelombang dengan buihnya yang putih memukau dengan leluasa dapat memasuki pantai ini, memanjakan wisatawan yang sengaja datang dari segala penjuru dunia untuk meng-ombang-ambingkan tubuh. Dan sama dengan rata-rata pantai di pulau ini, selain pasirnya putih, airnya yang biru kehijauan sungguh jernih dan bersih.

Tak lama setelah itu kami menuju pantai Kuta. Berhubung sempitnya waktu kami hanya mampir untuk makan siang. Sebagai catatan, pantai Mawun, pantai Kuta, pantai Seger/Mandalika dan Tanjung Aan yang akan menjadi penutup liburan kami di Lombok terletak pada satu garis pantai yaitu menghadap langsung ke benua Australia dengan samudra Hindia sebagai batas lautnya. Pantai-pantai tersebut berlekak-lekuk dengan cantiknya.

IMG_3276Usai makan kami segera menuju pantai Seger atau sering juga disebut pantai Mandalika. Pantai bernama unik ini ternyata menyimpan legenda yang sungguh tragis. Alkisah, adalah seorang raja yang mempunyai putri cantik bernama Mandalika. Menjelang dewasa banyak pangeran yang jatuh hati pada sang putri dan ingin meminangnya.

IMG_3324IMG_3311Sayangnya sang putri tidak dapat memutuskan mana yang terbaik bagi dirinya. Akhirnya iapun memilih untuk menerjunkan diri ke dalam laut sebagai lambang bahwa ia lebih mencintai rakyatnya dari pada para pangeran tersebut. Anehmya tubuh sang putri tidak dapat ditemukan, sebagai gantinya justru muncullah ribuan “nyale” semacam cacing laut di laut dimana sang putri menerjunkan diri. Kabarnya, nyale-nyale tersebut adalah penjelmaan sang putri.

_MG_9327Maka sejak itu pada beberapa hari setelah bulan purnama bulan tertentu rakyat berbondong-bondong datang untuk memperingati peristiwa tragis tersebut. Di pagi buta itu, setelah subuh, mereka berburu nyale untuk dijadikan obat. Peristiwa tersebut dikenal dengan nama Bau Nyale ( Berburu Nyale).  Di tepi pantai tersebut dapat kita lihat adanya patung seorang putri yang sedang berlari dikejar tiga orang pangeran.

http://lombok-cyber4rt.blogspot.co.id/2013/01/putri-nyale-mandalika-cerita-rakyat.html

Segera setelah kendaraan di parkir, anak-anak dengan tidak sabar lagi langsung turun dan menaiki bukit yang ada di pantai tersebut. Bukit tersebut lumayan terjal padahal kami belum sampai ke bukit Merese yang merupakan tujuan utama. Jadi untuk menghemat tenaga, saya dan suami memutuskan untuk cukup menikmati keindahan pantai Seger dari pendopo yang ada di situ. Apalagi keluar dari resto tadi saya sempat terpeleset dan sedikit terkilir. Beruntung mas Ziyadi dengan cekatan membalurnya dengan ramuan tanaman khas Lombok yang rupanya selalu dibawanya. Dan kelihatannya cukup manjur, buktinya saya dapat naik ke bukit Merese tak lama setelah anak-anak puas menyaksikan keindahan pantai dari atas bukit … Alhamdulillah

Bukit Merese adalah bukit memanjang menyerupai teluk menjorok ke laut dengan permukaan datar yang cukup luas. Bukit ini menjadi batas antara pantai Seger dan tanjung Aan. Masya Allah, Allahuakbar … hanya itu rasanya yang paling pantas diucapkan untuk mengagumi pemandangan menakjubkan dari bukit ber-rumput hijau ini. Dari bukit ini pemandangan dari sisi manapun tidak akan mampu membuat kita berhenti berdecak kagum. Akses naik ke bukit ini adalah dari tanjung Aan di sisi kanan. Sampai atas, kita bisa memilih lagi ke kiri atau ke kanan.

IMG_3425IMG_3399Ke kanan kita akan di suguhi keindahan pantai Seger dan pantai serta laut dan bukit-bukit yang ada di sebelah kanan/barat tanjung Aan. Kami tiba di lokasi ini menjelang pukul setengah 4, artinya matahari sudah mulai condong turun ke arah tersebut. Akibatnya foto-foto ke arah ini “back light”. Namun demikian pesona keindahan yang terekam tetap saja mengagumkan meski harus diakui tidak seindah mata kita. Ombak yang berkejaran susul menyusul dengan buih putih dan gemuruh suaranya sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.

IMG_3364IMG_3392Sementara bila kita memandang lurus ke depan, dengan duduk-duduk santai di rumput hijaunya yang subur,  jurang yang tidak seberapa terjal akan menjadi pemandangan kita. Kami sempat melihat sekelompok sapi merumput dibawah pengawasan penggembala perempuan tak jauh dari tempat kami.

IMG_3410IMG_3403Sedangkan ke kiri, jalanan menanjak lagi sedikit. Suami mengingatkan untuk segera meninggalkan lokasi karena waktu yang sempit, disamping juga awan gelap yang tampaknya sudah dipenuhi uap air tanda hujan akan segera datang. Namun karena penasaran saya minta izin untuk sebentar saja melongok ke sisi tersebut, menyusul anak-anak yang sudah lebih dulu berada di atas sana. Dan benar saja, keindahan pantai tanjung Aan, batu Payung, gili Anakanjan serta tanjung Embuak di ujung sana, telah menanti.

Tak lama kemudian, diiringi hujan yang mulai turun kami segera meninggalkan lokasi untuk segera menuju bandara.

“Gimana mas, masih sempat g kalo mampir desa Sade, sebentar aja kalau memungkinkan”, tagih suami tanpa bisa menyembunyikan keinginan kuatnya untuk mengunjungi desa asli suku Sasak binaan pemerintah yang memang masuk dalam program terakhir kami.

Insya Allah sempat pak kalau mau sekedar mampir sebentar. Kita memang harus lewat sana koq. Pesawat take off jam 8 malam kan pak?”, jawab mas Ziyadi.

IMG_9273Maka jadilah kami mampir di desa adat dengan rumahnya yang khas itu. Kerangka rumah tersebut terbuat dari bambu tanpa paku, dindingnya dari anyaman bambu,  atapnya dari ijuk sedangkan lantainya dari campuran tanah dan kotoran kerbau. Mulanya agak terkejut juga kami mendengarnya, bagaimana mungkin kotoran hewan dijadikan lantai rumah.

“ Iiih apa g bau yaa??”, bisik putri kami.

Tapi nyatanya ketika kami diajak masuk melihat rumah yang cukup bersih itu tidak sedikitpun tecium bau tidak sedap.

“ Ada tehniknya”, kata sang pemandu sambil tersenyum simpul.

IMG_9270Kami juga menyaksikan warga desa binaan pemerintah yang dihuni kurang lebih 150 kepala keluarga dengan 400 jiwa ini, semuanya masih memiliki hubungan darah, mejadikan menenun sebagai mata pencarian mereka. Uniknya sebagian besar penenun tersebut adalah kaum hawa, yang merupakan isyarat bahwa seorang anak gadis sudah bisa “diculik” alias dinikahi. Harap maklum meski mayoritas warga desa adat ini adalah Muslim namun adat dan tradisi nenek moyang masih terasa kental sekali.

“ Kami sekarang sudah shalat lima waktu, tidak lagi seperti nenek moyang kami yang hanya shalat tiga kali sehari”, jelas bapak pemandu tanpa diminta. Alhamdulillah …

https://id.wikipedia.org/wiki/Sade,_Lombok_Tengah

Begitulah kami menyudahi liburan penuh kesan tersebut. Semoga rakyat Lombok dibawah pemimpinnya yang sholeh akan terus memperoleh keberkahan Allah swt, yang mau berpikir maju dan tidak terus terkungkung adat dan tradisi  yang kurang sesuai dengan ajaran yang mereka peluk, aamiin aamiin ya robbal ‘aalamiin ..

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah (2):170).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 September 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Tanpa terasa saking asyiknya mendengarkan penjelasan mas Ziyadi akhirnya sampailah kami di tujuan. Mobil di parkir di sebuah resto di tepi jalan. Rupanya resto  dimana kami mampir untuk makan siang ini adalah resto yang biasa dijadikan pos awal pendakian ke gunung Rinjani. Jadi agak mengherankan juga mengapa pelayanannya begitu lamban, padahal kami hanya memesan nasi goreng dengan harapan bisa menghemat waktu. Karena kami ditunggu di pos penyeberangan ke gili Trawangan pukul 19.00 sore itu.

Sekitar pukul setengah 2, usai makan dan shalat jamak qoshor Zuhur-Ashar, akhirnya kami baru bisa memulai perjalanan menuju air terjun. Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit menuruni sekitar 300 anak tangga yang terbuat dari beton, air terjun Sendang Gile pun mulai terlihat. Tetapi guide kami menyarankan untuk melihat lebih dulu air terjun Tiu Kelep, setelah itu baru Sendang Gile. Alasannya selain karena pasti nanti menyusuri rute yang sama, Tiu Kelep jauh lebih cantik dan spektakuler. Kelihatannya ia khawatir kami kehabisan waktu hingga tidak sempat melihat air terjun tersebut.

20160711_15211620160711_151639Ternyata saran tersebut tidak salah. Tiu Kelep memang sangat sayang untuk dilewatkan. Selain perjalanannya yang mengasyikkan yaitu menembus hutan, melewati dan meloncati bebatuan besar, menyusuri dan memotong aliran sungai  yang dingin nan jernih, air terjunnya sendiri memang benar-benar cantik.

Pepohonan dengan hijau daunnya yang sungguh mempesona membingkai lukisan alam tersebut menjadi semakin indah mempesona. Air terjun setinggi 42 meter ini bertingkat-tingkat dengan penampungan kolam yang tidak terlalu dalam hingga bisa digunakan untuk berendam.

IMG_3191

Tiu Kelep

Sesuai namanya yaitu Tiu yang berarti kolam dan Kelep yang berarti terbang, air terjun ini laksana kolam penampungan buih akibat air terjun yang berhamburan ditiup angin kencang. Jadi jangan heran meskipun kita tidak berendam bahkan berdiri agak jauh dari jatuhnya air, pakaian akan tetap agak basah terkena tempias air yang turun dari ketinggian dan tertiup angin.

20160711_164118

Sendang Gile

Tak lama, dengan menempuh jalan yang sama, kamipun kembali ke parkiran, tak lupa mampir ke air terjun Sendang Gile tentu saja. Sesuai perkiraan pak guide, air terjun tersebut memang tidak terlalu istimewa, terutama bila dibandingkan Tiu Kelep. Menjelang pukul 5 sore mobil meluncur menuju penyebrangan ke gili Trawangan. Kami tiba agak terlambat, akibatnya terpaksa menunggu boat lain untuk menyeberang. Syukur tidak perlu menunggu terlalu lama, Alhamdullah.

Sesuai info yang kami trima, hotel pertama yang akan kami tinggali di gili Trawangan ini, agak jauh dari pelabuhan, dan satu-satunya angkutan yang ada di pulau ini hanya andong, alias kereta kuda, cidomo orang Lombok menyebutnya. Untuk itu kami sengaja tidak membawa koper melainkan 3 tas yang tidak seberapa besar. Namun tak urung, ketar ketir juga hati ini. Karena selain lumayan jauh, sebagian besar jalanannyapun bukan jalan aspal melainkan jalan tanah yang tidak rata, gelap dan beberapa kali harus melewati celah  pepohonan pula. Belakangan kami baru tahu ini adalah jalan potong dari pada harus mengelilingi pantai. Hotel kami terletak di pantai sisi utara sementara pelabuhan di sisi timur.

Untung kami mengambil keputusan makan malam dulu di sekitar pelabuhan yang relative jauh lebih ramai dibanding sisi hotel dimana kami akan tinggal. Untuk yang mencari ketenangan hotel Jambuluwuk tampaknya memang pilihan yang tepat. Sisi timur menurut saya terlalu crowded, hampir semua resto yang berjejer di sisi tersebut tampak bersaing untuk menarik perhatian pengunjung dengan memasang musik keras-keras, baik yang life maupun yang tidak. Turis-turis bule, seperti biasa, dengan pakaian yang memamerkan aurat, berjoget dengan riangnya. Bau minuman keras terasa menyengat hidung.

“ Waduh makan dimana nih kita, halal g yaa ?” tapi tak lama kemudian terlihat tulisan “halal” terpampang di depan sebuah restoran tak jauh di depan kami. Tanpa pikir panjang kamipun segera masuk dan memilih makanan. Dan belakangan kami baru sadar ternyata tidak mudah mencari restoran yang memajang label “halal”… L …

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Baqarah (2):173).

Untungnya kami berdua berjilbab, besoknya ada saja orang yang mengingatkan dan menunjukkan mana restoran yang halal dan mana yang tidak. Untuk amannya akhirnya kami memilih restoran khusus sea food.

IMG_322820160712_11543520160712_125742Esok paginya setelah sarapan di resto hotel, seusai rencana kami langsung cek out dan cek in ke hotel tidak jauh dari pelabuhan. Selanjutnya dengan sepeda sewaan kami berkeliling pulau yang luasnya hanya sekitar 15 km2 itu dan dapat dikelilingi dalam waktu kurang lebih 1 jam.  Sesekali kami berhenti untuk menikmat indahnya pemandangan pulau berpasir putih ini. Airnya yang biru kehijauan, bersih,  jernih dan tenang ini sungguh indah di pandang mata. Belum lagi pemandangan bukit hijau di daratan Lombok sana. Allahuakbar …

Namun sayangnya, bersepeda di pulau ini tidaklah mudah karena selain padatnya turis yang lalu-lalang, banyaknya cidomo juga membuat jalanan makin crowded. Apalagi tidak jarang kuda-kuda tersebut dipacu dengan kecepatan tinggi bahkan tak jarang dikebut dan saling menyusul. Anak saya bercerita sempat melihat sebuah cidomo menabrak turis yang sedang berjalan kaki, na’udzubillah min dzalik …

20160713_091038Sekitar pukul setengah 3 perahu dengan tulisan “ Glass bottom boat” yang telah disewa Surya Travel siap menanti di pelabuhan. Maka segera setelah makan siang kami meninggalkan gili Trawangan menuju perairan antara gili tersebut dengan gili Meno dan gili Air.  Di suatu tempat sekitar 4 km dari garis pantai perahu berhenti dan kami dipersilahkan turun untuk snorkeling bila tidak puas menikmati keindahan kehidupan bawah laut melalui kaca yang ada di dasar perahu dan ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Maka di tengah perairan nan luas itu ber-empat kamipun menceburkan diri ke dalamnya. Ada terselip sedikit rasa takut tapi keinginan menyaksikan kebesaran Allah di bawah sana berhasil mengalahkan rasa tersebut. Ikan-ikan, terumbu dan karang dengan aneka bentuk dan warna yang begitu indah berhasil melupakan bahaya ombak laut yang mulai datang mengancam.

“Jangan terlalu ketengah, hari sudah mulai sore, ombak mulai membesar”, beberapa kali guide kami memperingatkan.

Sayangnya penyu yang dijanjikan bisa kami jumpai tidak juga kunjung datang, padahal beberapa kali kami melihatnya tidak jauh dari perahu yang kami tumpangi. Untuk itu perahu sempat berputar beberapa kali demi mengejar penyu-penyu tersebut. Akhirnya ketika kami sudah hampir putus asa, guide kami memutuskan untuk menghentikan perahu dan ia menerjunkan diri mengejar penyu yang terlihat sedang berenang tidak berapa jauh dari perahu kami.

“ Saya ikut mas !”, spontan anak kami yang lelaki berteriak sambil menyerahkan kamera pinjaman mas Ziyadi yang telah disiapkan untuk mengambil foto dalam air. Hal yang patut diapresiasi dari travel ini, selain disediakannya charger hp dari aneka merk dalam mobil. Hebat kaan  …

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Tak lama ayahnya anak-anakpun menyusul. Melihat antusiasme ketiganya saya dan putri kami yang tadinya tidak lagi ingin snorkeling karena lelah akhirnya ikut terjun juga.  Setelah beberapa waktu “hunting” akhirnya bisa juga kami melihat penyu tersebut. Dan itu semua berkat kerja keras mas Arnold yang mengejar dan menggiringnya ke arah kami. Hebatnya lagi ia menyelam tanpa bantuan satupun alat  menyelam. Tak salah rekan-rekan sesama  profesinya memberinya julukan manusia lumba-lumba.

Sore itu dengan perasaan puas kami kembali ke gili Trawangan. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan, trima-kasih ya Allah atas kesempatan ini. Begitu perahu merapat ke pelabuhan, saya dan suami segera kembali ke hotel untuk istirahat. Sementara anak-anak dengan bersepeda langsung menuju pantai di depan Ombak Sunset hotel. Mereka mendapat info bahwa lokasi yang berada di sisi barat gili tersebut merupakan tempat terbaik untuk menyaksikan sunset. Di pantai tersebut terdapat ayunan yang sering digunakan wisatawan untuk berfoto sunset dengan gunung Agung sebagai latar belakang. Sayang cuaca tidak kompak, langit berawan, akibatnya sunsetpun tidak terlihat.

Menjelang Subuh keesokan paginya, agak surprised, kami dibangunkan oleh alunan indah ayat-ayat Al-Quran yang keluar dari pengeras suara masjid satu-satunya yang ada di pulau tersebut. Ayat-ayat suci tersebut berkumandang hingga kami meninggalkan pulau. Usut punya usut ternyata hari tersebut adalah hari ke tujuh setelah Lebaran. Rupanya masyarakat Lombok, khususnya Lombok Utara, Lombok Barat dan Mataram,  sejak lama punya tradisi merayakan hari yang mereka namakan Hari Lebaran Ketupat ini. Bahkan seringkali perayaan lebaran ini lebih meriah dari pada hari Lebaran Iedul Fitri. Selama perjalanan dari gili Trawangan ke pantai selatan Lombok yang merupakan hari akhir liburan kami, mas Ziyadi bercerita mengenai hal tersebut.

“Itu sebabnya saya menyarankan meninggalkan gili Trawangan sepagi mungkin. Jalanan bakal macet demikian pula pantai-pantai yang pasti bakal penuh sesak”, jelasnya.

Ritual Lebaran ketupat dimulai sejak menjelang Subuh. Setelah shalat Subuh berjamaah dan berzikir, mereka beramai-ramai menyantab hidangan, biasanya ketupat dan opor, yang dibawa setiap keluarga. Setelah itu biasanya sekitar pukul 10 jamaah berbondong-bondong melakukan ziarah kubur ke makam para wali dan pemuka agama disamping makam keluarga mereka.

Makam Batu Layar salah satunya. Makam yang terletak di ketinggian tikungan jalan raya Senggigi dengan pemandangan pantai yang indah ini adalah salah satu makam yang dikeramatkan rakyat Lombok.  Kabarnya disini dimakamkan keturunan rasulullah Muhamad saw. Ada juga yang berpendapat disinilah Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami, seorang tokoh pembawa Islam asal Baghdad dimakamkan.

http://lombok.panduanwisata.id/wisata-religi/wisata-religi-ke-makam-batu-layar/

Lebaran Ketupat juga dimanfaatkan sebagian warga untuk melakukan aqiqah ( mencukur rambut bayi). Para orang-tua berbondong-bondong membawa bayi mereka ke  masjid-masjid untuk dicukur dan didoakan para sesepuh agama( kyia).

Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari KETUJUHnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan DICUKUR rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya]

Sumber: https://almanhaj.or.id/856-ahkamul-aqiqah.html

Lain lagi dengan perayaan Lebaran Ketupat di dusun Karang Langu, Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Sejak lama mereka memanfaatkan lebaran tersebut dengan  acara saur sangi (penebusan janji) atas niat yang pernah diucapkan. Mereka yang pernah bernazar dan nazarnya tercapai merayakannya dengan cara yang unik. Yaitu mengalungkan ketupat ke leher orang/binatang yang dinadzarkan, lalu warga berebut mengambil ketupat yang dikalungkan di leher orang/binatang bersangkutan. Setelah itu biasanya diikuti dengan Perang Topat, yaitu saling melempar ketupat.

http://www.lombokpost.net/2015/08/03/lebaran-topat/

Berikut adalah hukum mengenai nadzar dalam Islam.

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah : 1. Memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau 2. Memberi pakaian kepada mereka atau 3. Memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya 4. Puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)”. {QS. Al-Maidah (5):89).

“Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit”. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nadzar tersebut. Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari).

http://www.alkhoirot.net/2012/02/hukum-nadzar.html

Sebagai catatan, mayoritas penduduk Lombok adalah Muslim, biasanya mereka dari suku Sasak, yaitu 80 %. Sedangkan sekitar 15 % pemeluk Hindu. Jadi kebalikan dari Bali, yang 80 % Hindu dan 15 % Muslim. Suku Sasak sendiri adalah suku yang masih dekat dengan suku Bali hanya saja berbeda kepercayaan. Selain suku Sasak Lombok dihuni juga oleh suku Bali, Jawa, Cina dan Arab.

( Bersambung).

Read Full Post »

Liburan Lebaran tahun ini kami memilih Lombok sebagai tujuan. Sebenarnya sudah agak lama kami berniat ingin mengunjungi Lombok, yaitu sejak melihat foto-foto anak kami yang baru pulang dari hiking ke gunung Rinjani. Foto-foto gunung ke 2 tertinggi di Indonesia ( 3726m) dengan danau Segara Anakan tersebut sungguh memukau hati.

Sayangnya untuk menikmati pemandangan menakjubkan ciptaan Allah ini tidaklah mudah, karena harus dengan cara hiking lebih dari 24 jam. Itu bila dihitung dari pos pendakian terdekat. Hal yang rasanya mustahil dilakukan orang-orang seumur kami dan tidak terbiasa hiking pula. Akhirnya kandaslah keinginan tersebut. Hingga suatu hari kami mendengar kabar bahwa Lombok bukan hanya Rinjani dan danau Segara Anakan.

Setelah googling dan bertanya kesana kemari maka hatipun mantab liburan kali ini ke Lombok – Nusa Tenggara Barat. Dan Surya Travel Lombok Paket Suka-Suka adalah travel yang kami putuskan bakal mendampingi kami selama 5 hari 4 malam. Travel ini kami pilih karena dapat leluasa memilih obyek turis yang diinginkan.

Pariwisata Lombok memang sedang naik daun, menyaingi Bali yang sejak lama sudah mendunia. Lombok yang terletak tepat di sebelah timur Bali ini mempunyai luas kurang lebih sama dengan Bali, yaitu 5.435 km², selisih sedikit dengan Bali yang luasnya 5.636 km2.

Lombok terbagi atas 4 kabupaten yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara, dengan ibu kota di Mataram. Sementara dataran tinggi dimana gunung Rinjani berada terletak di Lombok Utara. Di ke 4 kabupaten tersebut tersimpan keindahan alam Lombok yang sungguh mempesona.

                                                                              *****

Dengan menumpang Citylink kami ber-empat ( saya, suami dan putra-putri ) tiba di bandara Lombok International Airport (LIA)  pada Sabtu, 9 Juli 2016 lebih kurang pukul 10.00 wit. Bandara yang diresmikan penggunaannya pada 2011 ini terletak di Praya, Lombok Tengah menggantikan bandara lama di Mataram.

Begitu keluar bandara, mas Ziyadi dari travel perjalanan yang selama 5 hari akan memandu kami sudah menunggu dan terlihat diantara para penjemput. Sesuai rencana dengan mengendarai Avanza kami langsung melaju ke Tanjung Ringgit dan pantai Pink yang letaknya tidak berjauhan. Oya karena jarak Tanjung Ringgit cukup jauh sementara disana tidak ada penjual makanan maka di bandara sebelum keluar tadi kami sengaja membeli bekal makan siang.

Harap maklum Tanjung Ringgit yang terletak di ujung tenggara Lombok kabupaten Lombok Timur itu belum begitu tersentuh. Tidak banyak travel yang bersedia mengantar wisatawan ke tempat ini, karena selain jaraknya yang jauh, jalanannyapun sebagian masih rusak parah.  Kami sempat memergoki sebuah mobil terperosok ke dalam lubang besar semacam got kering yang ada di tepi jalan. Ironisnya lagi, kelihatannya mobil tersebut sudah berada di tkp beberapa hari. Kemungkinan besar mobil derek tidak bisa datang dan mengangkatnya, karena sulitnya medan.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam tibalah kami di pertigaan menuju pantai Pink dan Tanjung Ringgit. Mas Ziadi mengusulkan untuk mengunjungi lebih dulu pantai Pink atau pantai Tangsi orang Lombok menyebutnya, baru Tanjung Ringgit.

“ Sempatkan naik ke bukit, pemandangan dari atas sangat indah”, pesan guide kami sebelum kami turun dari mobil.

Pantai Pink

Pantai Pink

Pantai Pink

Pantai Pink

Dan memang tidak salah apa yang dikatakannya itu. Pantai Pink ini sudah unik berkat pasir lembutnya yang berwarna pink. Airnya yang jernih biru tosca menambah keindahannya. Namun dilihat dari atas bukit kecantikan pantai Pink makin terlihat nyata. Perbedaan warna air laut antara yang biru, hijau kebiruan dan tosca terlihat makin jelas, yang saking jernihnya bebatuan yang ada di dalam lautpun bisa terlihat. Sejumlah perahu dengan warna dasar biru menambah semarak pantai ini.

Tak lama setelah puas menikmati pantai ini kami segera menuju Tanjung Ringgit. Ternyata perjalanan dari pantai Pink menuju Tanjung ini lebih parah lagi. Jalanan ini lebih tepat disebut jalan setapak yang menembus semak belukar. Tampaknya ini bukan jalan umum. Selain motor rasanya tidak mungkin kendaraan bisa memasuki areal ini, kecuali nekad. Itu kesan saya pribadi. Dan nyatanya memang tidak ada jalan selain jalan yang baru kami lalui ini.

Bisanya naik boat dari pantai Pink bu, kalau tidak mau lewat jalan ini”, jelas mas Ziyadi menjawab rasa penasaran saya.

“Wah pantas kebanyakan travel g mau ngantar wisatawan ke tanjung ini. Sayang mobilnyalah”, bisik suami saya.

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit

Namun begitu kendaraan muncul dari balik semak di ketinggian, dibawah sana tampak pemandangan yang benar-benar menakjubkan, mengingatan Cliff of Moher di Irlandia yang terkenal  itu. Allahuakbar. Deretan tebing batu terlihat berkelok menghiasi tepi samudra Hindia yang berwarna hijau kebiruan. Ombak putih tampak susul menyusul membenturkan diri ke  sepanjang tebing terjalnya, menimbulkan deburan ombak yang sungguh membuat hati ini tentram mendengarnya. Airnya yang begitu jernih mampu memperlihatkan bebatuan yang ada di dalamnya.

Uniknya lagi, di bawah salah satu tebing curam ini terdapat sumur air tawar yang airnya dapat diminum.  Sumur tersebut berada tak jauh dari goa raksasa yang ada di tanjung ini.

“ … … Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS. Ar-Rahman(55):16-21).

Disamping keindahannya yang begitu mempesona, Tanjung Ringgit memiliki situs sejarah peninggalan dari masa penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia, diantaranya yaitu meriam dan mercusuar yang masih aktif hingga saat ini. Tanjung Ringgit adalah wilayah pertahanan Belanda dan Jepang di wilayah selatan Indonesia yang memisahkannya dari benua Australia, dengan lautan Hindia sebagai pembatasnya.

Ingin rasanya berlama-lama menikmati keindahan alam cipta-Nya tersebut kalau tidak mengingat waktu yang terbatas. Sore ini kami masih harus menjalani perjalanan ke Senggigi dimana kami akan menginap. Juga mampir ke tempat tenun Lombok yang khas itu. Memang hari pertama ini adalah perjalanan terjauh yang akan kami tempuh. Kami masuk hotel sekitar pukul 9 malam setelah mampir makan malam di sebuah restoran di Senggigi, tak begitu jauh dari hotel.

20160823_083838

Senggigi

Senggigi

Senggigi

Senggigi

IMG_9239Esok paginya selesai sarapan kami menyempatkan diri menikmati keindahan pantai yang ada di belakang hotel. Sekali lagi kami harus mengakui betapa jernihnya air laut di pulau seribu masjid ini. Warna airnya yang biru kehijauan sungguh mempesona. Uniknya lagi, batu-batu karang yang ada di sepanjang pantai tersebut juga berwarna biru. Bentuknyapun tidak seperti umumnya yang dijumpai di  pantai lain.

Setelah itu kami segera bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke 3 gili yaitu gili Kedis, gili Sudak dan gili Nanggu. Ke tiga gili ( gili artinya pulau dalam bahasa Lombok) ternyata tak kalah indahnya dengan Gili Trawangan yang telah dikenal lebih dulu. Setidaknya ketiga gili tersebut belum seramai gili Trawangan hingga pantai dan air lautnya masih sangat bersih.

Gili Kedis yang ditempuh hanya dalam waktu 15 menit dengan perahu dari penyebrangan di tepi jalan raya Sekotong adalah benar-benar pulau yang super mungil. Tak sampai 5 menit kita bisa mengelilingi pulau imut tersebut. Pulau yang juga sering disebut pulau romantik ini tidak berpenghuni dan tidak ada satupun bangunan diatasnya. Yang ada hanya sederetan pepohonan dengan beberapa bangku panjang dan toilet dimana kita bisa salin pakaian.

Gili Kedis

Gili Kedis

Gili Kedis

Gili Kedis

Air laut di pulau berpasir putih ini sungguh mempesona yaitu gradasi biru dan hijau tosca dengan dasar laut tidak begitu dalam yang saking jernihnya bisa terlihat dasarnya. Karang-karang besar di tepi pantai yang seolah sengaja ditata sebagai pengganti kursi benar-benar menantang untuk dimanfaatkan menikmati pemandangan indah di sekeliling pantai. Yaitu perbukitan hijau yang berada di daratan Lombok yang jaraknya tidak seberapa jauh, selain gugusan pulau yang menyembul di laut lepas di balik pulau tersebut.

Gili Sudak

Gili Sudak

Tak lama dengan perahu yang sama kami melanjutkan perjalanan ke

DCIM100MEDIA

gili Sudak dan gili Nanggu yang jauh lebih besar dari gili Kedis. Setelah makan siang di satu-satunya restoran yang ada di gili Sudak yang  harganya sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kita makan, kami langsung lanjut ke gili Nanggu. Disini kami mencoba ber-snorkeling ria, hal yang belum pernah saya lakukan seumur hidup. Alhamdulillah, trima-kasih ya Allah …

Walaupun awalnya agak sulit mengatur nafas melalui snorkeling akhirnya bisa juga kami menikmati alam bawah laut ciptaan Allah di gili ini. Terus terang surprised bisa melihat keindahan terumbu, aneka warna karang laut dan ikan tanpa harus terlalu jauh berenang dari bibir pantai. Dengan bermodalkan botol kemasan berisi potongan kecil roti tawar, aneka jenis ikanpun merebut mendekat, Masya Allah …

Kami kembali menyebrang ke daratan Lombok menjelang pukul 5 sore. Setelah numpang mandi di kamar mandi penduduk tak jauh dari tempat penyeberangan dan shalat Zuhur – Ashar yang di jamak qoshor, kamipun langsung tertidur pulas di dalam kendaraan.

“Apabila Nabi bergegas untuk melakukan perjalanan maka ia mengakhirkan shalat Zhuhur sampai waktu Ashar dan menjamak keduanya. Dan mengakhirkan shalat Maghrib sampai mengumpulkan (menjamak) antara Maghrib dan Isya ketika bayang-bayang merah sudah terbenam (tanda masuk waktu Isya)”. (HR. Muslim).

Sekitar 2 jam kemudian sampailah kami di ibu kota Mataram.  Mas Ziyadi meromendasikan sate Rembiga sebagai menu malam hari ini. Tidak salah memang, karena sate yang terbuat dari daging sapi ini benar-benar lezat. Sayang pedasnya bukan main, maklum sambalnya dimasak bersama satenya, tidak bisa dipisahkan. Sebagai info, rata-rata makanan Lombok memang terkenal pedas, tidak terkecuali ayam taliwang dan kangkung plecing yang khas Lombok itu. Juga nasi balap puyung, semacam nasi rames kalau di Jakarta. Untung ayam taliwangnya bisa dipisahkan sambalnya hingga saya bisa ikut mencicipinya.  Alhamdulillah …

20160710_111202Selesai makan, kami berkeliling kota sebentar. Dengan bangga mas Ziyadi memperlihatkan masjid baru yang dalam waktu dekat akan menerima ratusan qori dan qoriah terbaik untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran ( MTQ) Nasional ke 26 di kota ini. Setelah itu kami langsung menuju hotel untuk berstirahat.

Berikutnya adalah air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep yang menjadi tujuan kami. Kedua air terjun yang letaknya berdekatan ini berada di taman nasional gunung Rinjani desa Senaru kecamatan Bayan Lombok Utara. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Senggigi ke tempat ini. Dalam perjalanan mas Ziyadi sempat bercerita tentang adanya masjid di kecamatan Bayan yang merupakan masjid pertama di Lombok.

Masjid  ini dibangun pada abad 16-17, menandakan bahwa Islam telah lama masuk dan dikenal penduduk asli Lombok yaitu suku Sasak.  Dari masa inilah dikenal istilah wetu telu yaitu shalat yang telu ( tiga) kali sehari. Hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kabarnya hal ini dikarenakan para pembawa ajaran Islam pada waktu itu sebelum sempat menyampaikan ajaran Islam secara sempurna karena alasan tertentu harus meninggalkan Lombok.

https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Bayan_Beleq

Untuk diketahui suku Sasak dulunya adalah penganut animisme, kemudian Hindu sebelum akhirnya memeluk Islam, yaitu paska runtuhnya kerajaan Majapahit. Ketika itu para wali yang datang dari Jawa diantaranya sunan Prapen mengajarkan Islam secara bertahap dengan memanfaatkan adat dan tradisi lama. Tak heran bila sampai saat ini ajaran Islam di Lombok masih sedikit menyisakan adat dan tradisi di sana sini.

Namun demikian ajaran wetu telu sendiri sudah tidak lagi dipraktekkan masyarakat Lombok kecuali generasi tua yang sudah tidak lagi banyak. Ini adalah berkat kerja keras ulama-ulama yang datang kemudian demi menyempurnakan ajaran Islam. Lombok yang juga dikenal dengan julukan pulau seribu masjid dimana ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat ( NTB) berada, kini dipimpin oleh seorang gubernur yang dikenal sangat Islami. Tokoh muda kelahiran tahun 1972 yang patut dijadikan idola di tengah krisis  keteladanan pemimpin tersebut adalah TGH M Zainul Majdi yang dikenal dengan nama  Tuan Guru Bajang, cucu pendiri organisasi Islam terbesar di NTB.

( Bersambung).

Read Full Post »

Older Posts »