Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

20180620_052053CYMERA_20180620_074959Paginya, sekitar pukul 6.30 setelah sarapan ringan, dengan sekoci kami bergantian menuju pulau Padar yang kecantikannya sudah mulai terlihat. Harus dengan sekoci karena kapal tidak bisa benar-benar merapat ke pantai. Air laut yang bersih kehijauan dan udara pagi dengan kabut tipisnya menyambut kami. Sebuah tangga kayu yang lumayan terjal dan panjang terpampang di depan mata. Kamipun segera menaikinya. Suasana masih agak sepi. Rupanya tamu-tamu lain yang semalam kapalnya parkir bersama kami sudah lebih dulu naik. Tiba di ujung tangga, pak Latief berujar,

“ Ke kiri bu, pak. Ke kanan belum ada tangga. Dan lagi yang ke kiri memang yang sedang viral”.

“ Bapak ibu beruntung. Tangga ini baru beberapa bulan dibuat. Sebelum ada tangga para tamu harus trekking lumayan berat”, tambahnya. Anak-anak sudah tak terlihat, meninggalkan kami jauh di belakang. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin melihat keelokan dari puncak sana.

20180620_05331620180620_055011IMG_20180620_07304920180620_054644Sementara saya dan suami sebentar-sebentar berhenti, selain untuk mengagumi keindahannya, juga untuk mengatur nafas dan menjaga kaki supaya tidak terlalu lelah mendaki tangga yang cukup panjang dan tinggi itu …  maklum faktor U … 🙂 … Akhirnya kamipun tiba di atas bukit pulau Padar dengan mata terbelalak … Masya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu … Rasanya inilah pemandangan alam tercantik yang pernah kami saksikan selama ini.

CYMERA_20180620_07410220180706_110431-1[1]Bentuk pulau Padar dilihat dari udara memang unik. Garis pantainya yang berlekak-lekuk ditambah pasir putih, air laut yang biru kehijauan dan bukit disana-sini sungguh menakjubkan. Rerumputan kemuning akibat kekeringan yang sering melanda propinsi ini justru menambah keunikannya. Kemanapun pandangan kita alihkan, keindahannya benar-benar memukau mata dan hati ini. Sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah …

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” . (Terjemah QS. Ali Imran (3): 190-191.

Kalau tidak ingat waktu ingin rasanya berlama-lama memandangi keindahan tersebut. Apalagi ketika itu belum terlalu ramai dan mataharipun masih belum terlalu terik. Dan benar saja ketika kami mulai menuruni bukit terlihat kapal-kapal mulai merapat menurunkan tamu-tamunya dengan sekoci, dan berbondong-bondong menaiki bukit.

Tak lama kamipun sudah berada  di atas kapal kembali, dan segera berlabuh. Sambil menikmati sarapan nasi goreng buatan chef kapal, mata kami masih terus dimanjakan pemandangan indah pulau Padar dari bawah dan pulau-pulau kecil berbukit di sekitarnya.  Tujuan kami berikutnya adalah snorkling di pantai Pink pulau Komodo yang jaraknya tidak begitu jauh dari pulau Padar.

“ Silahkan bapak ibu, mas mbak bersiap snorkeling. Kita sudah sampai”, kata pak Latief mengagetkan.

Kami sama-sama ngelingukan mencari mana yang namanya pulau Pink. Sejujurnya kami agak kecewa melihat lokasi snorkeling yang menurut pak Latief terbaik di NTT. Meskipun setelah kami turun ke pantai, sekali lagi dengan sekoci, ternyata airnya yang biru kehijauan itu sangat jernih.

IMG-20180706-WA0007IMG-20180706-WA0008Demikian pula pasirnya, sesuai namanya, memang berwarna pink. Kami menyempatkan diri menaiki bukitnya yang tidak seberapa tinggi, meski hanya demi menuruti anjuran pak Latief. Dan sesuai perkiraan kami, pemandangan dari bukit tidak terlalu istimewa kecuali airnya yang bening berkilau bagaikan kristal.

“ Mungkin karena dari kemarin kita disuguhi pemandangan spektakuler kali yaa .. jadi kurang istimewa”, bisik saya kepada suami.

Namun kekecewaan kami terobati setelah bersnorkling-ria. Tanpa perlu jauh-jauh berenang ke tengah laut bahkan hanya beberapa meter dari bibir pantai keindahan dasar lautnya yang dangkal itu, dapat kita nikmati. Biolaut seperti terumbu karang dan ikan yang beraneka warna dapat kita nikmati dengan mudahnya, bahkan dapat kita raba kalau mau. Komodo bersama Raja Ampat di Papua, pada tahun 2015 ternyata memang pernah menduduki peringkat 2 dan 1  lokasi snorkeling terbaik di dunia, mengalahkan kepulauan Galapagos.

https://www.suara.com/lifestyle/2016/01/03/111803/rajaampat-dan-pulau-komodo-lokasi-snorkeling-terbaik-di-dunia

Setelah puas menikmati keindahan bawah laut pantai tersebut, kamipun berbenah. Rencananya kami akan kembali snorkeling di pulau Kanawa. Tapi karena ketika kami bertanya kepada pak Latief, bagus mana Kanawa dengan pantai Pink, “ Pantai Pink”, jawabnya tegas.  Maka kami memutuskan untuk langsung kembali ke Labuan Bojo. Dan lagi waktu memang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Untuk ke Kanawa masih dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Rasanya snorkeling jam 5 sudah terlalu sore. Apalagi tadi kami semua sudah cukup puas.

Sementara itu kapten kapal mengingatkan untuk segera menyantap makan siang yang telah disiapkan koki kapal dan telah tersedia di atas meja makan. Kapal akan menunggu kami selesai makan karena  setelah itu, yaitu perjalanan kembali ke Labuan Bajo akan menghadapi ombak yang lebih besar dari waktu berangkat. Begitu jelasnya.

CYMERA_20180620_083537CYMERA_20180624_095756[1]CYMERA_20180620_085822Dan memang CYMERA_20180620_083810benar apa yang dikatakannya. Mula-mula memang menyenangkan apalagi pemandangan yang disuguhkan sungguh mengagumkan. Bentuk pulau yang kami lewati makin bermacam-macam meski rata-rata tetap berwarna kuning keemasan. Perpaduan yang benar-benar indah, antara segarnya laut yang berwarna biru tua menandakan dalamnya laut, dan hamparan kuning laksana permadani yang lembut nan empuk. Belum lagi pantai berbatu karang yang bolak balik menyemburkan hempasan air gelombang yang menerjangnya, bagaikan air terjun kecil yang sungguh memukau. Masya Allah …

“ G kalah deh sama Islandia”, celetuk putra kami berdecak penuh kekaguman. Ia memang pernah mengunjungi negara di belahan ujung utara tersebut.

“ Sama Norway juga yaa .. g kalah kayaknya .. ”, tanggap adiknya.

“ Iyaaa … sama Santorini jugaaa, g kalah deh  ..”, sahut saya.

Suami saya hanya manggut-manggut, puas pastinya, bisa mengajak dan menyenangkan anak-istrinya tadabur alam demi mengagumi ciptaan Allah swt yang sungguh menakjubkan. Milik sekaligus ciptaan-Nya, di belahan bumi manapun memang menakjubkan, Allahu Akbar …

 “ Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Terjemah QS. Al-Mulk(67):15).

Namun goncangan kapal yang tak kalah dasyatnya dengan keindahan ciptaan-Nya tak urung membuat hati ini kecut. Beberapa kali gelombang air laut sempat masuk ke galangan kapal. Ombak bahkan juga mampu membuat gelas-gelas yang ada di atas meja makan berjatuhan. Dengan rasa khawatir saya segera masuk kamar dan berdoa sambil berbaring di atas tempat tidur. Tapi tak lama saya duduk lagi, khawatir muntah. Maklum gelombang membuat kepala dan kaki naik turun dengan cepat, bukan hanya menguncang tubuh ke kiri dan kanan.

Tiba-tiba saya teringat kecelakaan yang menimpa kapal penumpang di danau Toba Sumatra Utara,  tepat di hari pertama kami tiba di Labuan Bajo yang tidak sempat saya ikuti perkembangannya. Saya sengaja tidak menceritakan kepada anak-anak kejadian tersebut, khawatir membuat mereka takut dan merusak suasana liburan.

Sungguh menyedihkan. Apalagi penyebabnya adalah kelalaian manusia. Betapa tidak, kapasitas kapal yang hanya 43 penumpang disesaki dengan 80 bahkan ada kabar 200 penumpang! Lebih menyedihkan lagi ditempat yang sama, yaitu di danau Toba sebuah kapal motor kembali mengalami kecelakaan karena menabrak keramba ikan. Ironisnya lagi, terjadi hanya selang 4 hari kemudian. Dan penyebabnya hanya karena lampu penerangan kapal yang rusak.  Astaghfirullahaldzim …  Artinya kecelakaan terjadi karena kelalaian manusia, meski tentu saja atas izin-Nya.

https://www.suara.com/news/2018/06/21/011500/tragedi-danau-toba-km-sinar-bangun-diduga-kelebihan-muatan

Dan ternyata, ketika sorenya kami mengobrol di lobby hotel sambil menonton berita televise, pak Latief mengatakan bahwa di Taman Nasional Komodopun tidak jarang terjadi kecelakaan kapal. Bahkan kapal coklat kayu yang pernah dikomentari bagus oleh suami saya kemarin, menurut pak Latief baru saja direnovasi karena pernah tenggelam. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un …

“ Tidak usah dibahas ya”, potongnya ketika kami ingin mengetahui cerita lengkapnya.

Kami dapat memakluminya, pasti ia trauma.

“ Untung kita milih paket yang hanya satu malam di kapal yaa ”, berkata saya kepada suami dan anak-anak, bergidik ngeri.

“ Yaah namanya juga kecelakaan. Kalau memang Allah berkehendak mau apa kita. Disyukuri aja .. Alhamdulillah ”, sahut suami.

IMG_20180618_185427Malam itu kami menutup liburan penuh makna itu dengan makan malam di restoran “Tree Top” yang terletak di jalan Sukarno Hatta dimana lalu lalang turis-turis bule. Rupanya restoran ini merupakan restoran favorit di Labuan Bajo. Selain posisinya yang memang di tepi pelabuhan masakannyapun lezat. Dan yang terpenting halal, Alhamdulillah  … Meski sayangnya tidak terlihat adanya tanda Halal resmi dari MUI.

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):173).

Menurut pak Latief, ada peraturan tak tertulis bahwa restoran di sepanjang jalan tersebut dilarang menjual masakan babi. Maklum mayoritas penduduk ibu kota ibu  kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur tersebut, termasuk pulau Komodo adalah Muslim. Kebalikan dari pulau Flores yang mayoritas Kristen, meskipun Labuan Bajo sendiri terletak di pulau Flores.

Esok harinya, karena pesawat baru akan take off pukul 2 siang lebih, kami memanfaatkan pagi hari tersebut untuk mengunjungi gua yang terletak tidak jauh dari Labuan Bajo, serta mampir ke toko oleh-oleh khas NTT. Gua tersebut bernama Gua Batu Cermin, yang maaf, tidak istimewa. Sementara oleh-oleh yang istimewa dari NTT adalah kain tenun yang sudah dikenal kecantikannya, meski harganya cukup mahal.

Sekitar 2 jam sebelum keberangkatan kami sudah tiba di bandara, dengan harapan bisa makan siang dulu di bandara. Ternyata kami kecele, bandara baru yang terlihat cantik, modern dan bersih tersebut belum mempunyai tempat makan yang memadai bagi tamunya. Yang ada hanya ada 2 kedai kopi kecil dan 1 kantin terbuka yang hanya menjual makanan kecil dan pop mie yang dijual 25 ribu per cup .. olala … Untung kami naik pesawat dengan fasilitas makan siang di dalamya .. kalau tidak …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juli 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

20180618_132021Senin 18 Juni 2018 sekitar 14.30 WITA,  pesawat yang kami tumpangi selama sekitar 2 jam 20 menit, mendarat dengan aman di bandar udara internasional Komodo, Labuan Bajo. Di luar perkiraan, ternyata bandara di kota tersebut meskipun kecil, cukup bagus, modern dan bersih. Yang lebih menarik lagi adalah desain bandara yang menghadap landasan pesawat dimana foto-foto komodo dipajang secara mencolok hingga mampu mewakili “ Sang Komodo” sebagai tuan rumah.

Labuan Bajo adalah ibu  kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan titik keberangkatan wisatawan menuju Taman Nasional Komodo yang saat ini sedang ramai-ramainya diserbu wisatawan lokal maupun mancanegara. Taman Nasional ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Dengan tujuan utama demi melindungi satwa Komodo yang jumlahnya sangat terbatas.

Taman Nasional Komodo terdiri dari 3 pulau besar yaitu pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Padar serta sekitar tiga- puluhan pulau kecil lainnya.  Namun komodo hanya dapat ditemui di pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Gili Motang. Hanya di tiga pulau inilah komodo hidup secara bebas, tidak di tempat lain di belahan bumi manapun di dunia ini.

Tak heran bila pulau ini mempunyai daya tarik tersendiri, disamping keindahan dasar lautnya yang sejak lama sudah dikenal wisatawan mancanegara. Namun beberapa tahun belakangan ini wisatawan ke Taman Nasional Komodo, terutama wisatawan local, melonjak drastis. Ada apakah gerangan??  Ternyata penyebabnya adalah pulau Padar, yang keindahannya sungguh menakjubkan mata. Saya pertama kali melihat foto keindahan pulau Padar tahun 2017 lalu, berkat akun FB seorang teman.

Guide kami, pak Latief, menceritakan bahwa ia mendengar kabar tersebut justru dari wisatawan yang datang dari Jakarta. Maka ia dan beberapa teman sesama guide segera mencari lokasi yang dimaksud. Sejak itulah wisatawan lokal ke Komodo ramai berdatangan. Kini sejumlah agen perjalanan berlomba menawarkan paket liburan Taman Nasional Komodo dengan bermalam satu atau 2 malam di atas kapal.

20180618_171332IMG_20180618_175113Setelah cek-in hotel dan melihat-lihat pemandangan sekitar hotel kami berangkat menuju bukit Sylvia untuk menyaksikan sunset. Bukit yang nama aslinya bukit Cinta ini hanya berjarak sekitar setengah jam dari hotel. Nama Sylvia baru belakangan ini lebih popular dari nama aslinya karena adanya hotel bernama Sylvia di bukit tersebut. Menurut pak Latief, sebagian pulau yang ada wilayah tersebut telah dibeli dan dimiliki pihak asing. Miriiis …

IMG_20180620_171511Esok harinya, kami cek out hotel dan menuju pelabuhan untuk memulai perjalanan di atas kapal. Sebuah kapal berwarna putih ukuran sedang dengan 4 buah kamar tidur ber-AC, dan 3 ABK sudah siap menanti.  Kapalpun segera berlabuh meninggalkan pelabuhan menuju pulau Rinca.

20180619_09500220180619_101431IMG_20180619_112906Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh menakjubkan. Birunya laut ditambah menyembulnya pulau-pulau kecil berbukit tak berpenghuni dengan ilalang kuning-kecoklatan akibat kekeringan justru menambah cantik dan uniknya pemandangan.

“ Kita mampir pulau Kelor dulu ya”, kata pak Latief. “ Disana kita bisa melihat pemandangan dari atas bukit”, sambungnya lagi.

Pada awal perjalanan, saya sudah berniat hanya akan naik ke bukit di pulau Padar saja, yang sudah jelas pemandangannya terbukti cantik. Maksudnya untuk menghemat tenaga supaya tidak terlalu lelah.  Tapi anak-anak mendesak, meyakinkan saya harus naik karena pemandangan di bukit tersebut tidak kalah cantiknya dengan pulau Padar. Ditambah lagi ajakan pak Latief bahwa saya dan suami tidak perlu naik sampai ke tempat yang tertinggi.

“ Sampai pohon itu saja bapak dan ibu. Tidak sulit koq. Kalau naik bukit disini saja bisa, pulau Padar pasti lolos .. disana sudah dibuatkan tangga soalnya bu pak .. ”, tegasnya.

Hhmm .. hitung-hitung latihan deh, pikir saya. Maka jadilah kami menaikinya meskipun tetap tidak sampai puncak seperti anak-anak.20180619_11572620180619_12002120180619_115010Masya Allah … Ternyata benar apa yang dikatakan anak-anak. Bumi Allah dimanapun berada memang benar-benar menakjubkan. Dari tempat kami berdiri, pulau Kelor yang imut itu terlihat begitu indah. Laut biru gradasi tosca dengan bingkai pasir putih nan lembut membentuk tanjung serta pulau dengan deretan bukit-bukit kecoklatan dengan kontur yang begitu mempesona sebagai latar belakang, sungguh tak mampu menyembunyikan betapa tingginya “selera”  Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Semua serba paas, sesuai ukuran, tidak berlebihan hingga sungguh indah di pandang mata. Allahu Akbar …

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”.( Al-Hijr(15):19).

Puas menyaksikan pemandangan pulau Kelor, kamipun melanjutkan perjalanan ke pulau Rinca. Menurut pak Latief kalau ingin melihat hewan langka komodo sekaligus menikmati pemandangan alam, pulau Rinca lebih cantik dari pada pulau Komodo. Disamping itu karena bulan April hingga Agustus adalah musim kawin bagi komodo kecil kemungkinannya melihat binatang tersebut di pulau Komodo. Maklum pulau Komodo selain 2x lebih besar dari pulau Rinca juga lebih banyak pepohonannya, tidak seperti pulau Rinca yang merupakan savanna. Perjanjiannya kalau di pulau Rinca kita tidak bertemu kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m itu, baru kita akan ke pulau Komodo.

“ Ketika kawin komodo biasanya menyembunyikan diri. Mereka tidak suka dilihat”, kata pak Latief.

Masya Allah .. binatang saja rupanya pula malu. Betapa buruknya manusia yang tidak punya malu apalagi melakukan perbuatan intim di tempat terbuka, bukan dengan suami/istrinya pulak … Na’udzubillah min dzalik.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam tibalah kami di pulau Rinca. Kapal merapat ke Loh Buaya yang merupakan gerbang menuju pulau tersebut. Perjalanan tidak terasa melelahkan karena selain pemandangan yang menakjubkan di kapal juga kita bisa santai menikmati makan siang hasil karya koki kapal yang lumayan enak. Apalagi sambalnya, kata suami dan anak-anak yang memang menyukai sambal.

20180619_14352720180619_144317Baru memasuki gerbang selamat datang di Loh Buaya kami sudah disambut seekor komodo ukuran sedang yang akan menyebrangi jalan setapak yang kami lewati. Tak urung terselip juga rasa takut di hati melihat binatang berkulit keras dan kasar  tersebut. Apalagi kami belum bertemu ranger yang bakal mendampingi kami. Ranger adalah semacam pawang binatang dalam hal ini komodo, yang senantiasa mendamping tamu yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

“ Tenang bapak ibu mas mbak, saya pernah jadi ranger selama beberapa tahun koq sebelum jadi guide”, ujar guide asal pulau Komodo tersebut, menenangkan.

IMG_20180619_145945Dengan hati lebih tenang kamipun melanjutkan perjalanan. Ternyata kami memang beruntung. Tak lama setelah bertemu sang ranger dan di briefing, kami melihat lagi 2 ekor komodo dengan ukuran lebih besar sedang bersantai tak jauh dari tempat kami. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk secepatnya berfoto, dalam jarak aman tentunya. Dibawah pengawasan sang ranger pak Latief mengambil gambar kami, dan segera memperlihatkan hasil jepretannya. Kami semua tercengang dibuatnya karena hasilnya benar-benar di luar dugaan. Dalam foto tersebut komodo terlihat sangat dekat dengan kami. Bravo … 🙂 …

20180619_150805Selanjutnya, dalam perjalanan menuju bukit untuk menyaksikan panorama sekeliling pulau kami kembali melihat seekor komodo yang sedang berjalan pelan. Selain komodo kami juga melihat sejumlah monyet, rusa dan kerbau yang merupakan makanan komodo.  Puncaknya, tidak jauh dari sarang telur komodo terlihat pemandangan langka yaitu sepasang komodo kawin. Menurut sang ranger kedua komodo tersebut sejak pagi hari sudah dalam posisi demikian.

“Itu belum kawin. Si pejantan dengan sabar menunggu hingga si betina siap”, jelasnya.

Allahu Akbar .. hewan berpenampilan kasar bahkan kanibal karena sewaktu-waktu bisa memakan daging saudaranya bahkan anak kandungnya sendiri ternyata bisa juga sabar mengendalikan syahwatnya. Bagaimana dengan manusia?? Selain nafsu syahwatnya komodo juga dikenal dapat mengendalikan nafsu makannya. Ia bisa tahan tidak makan hingga sebulan lamanya setelah malahap seekor kerbau yang ditungguinya 3 minggu setelah ia menggigitnya. Lidah komodo yang berfungsi sebagai indra peraba mengandung racun yang bekerja lumayan lama, yaitu sekitar 3 minggu.

Komodo pertama kali ditemukan pada tahun 1910 oleh pasukan Belanda, yang kemudian melaporkan temuan tersebut kepada letnan Steyn van Hens Broek. Letnan inilah yang kemudian menamai pulau dimana hewan tersebut pertama ditemukan dengan nama Komodo. Namun demikian penduduk setempat lebih sering menyebut binatang langka tersebut dengan nama Ora. Lucunya lagi penduduk setempat juga menyebut komodo dengan buaya darat … 🙂

20180619_153843Setelah puas menyaksikan sepasang komodo yang tidak juga bergeming itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah hamparan luas dimana berdiri sebuah pondok kayu untuk beristirahat. Dengan segera kami mendekatinya. Ternyata Masya Allah …  Di depan sana terlihat  pemandangan indah teluk yang dikelilingi bukit-bukit. Disanalah kapal kami bersandar, dan dari sana pulalah tadi kami masuk.

Sekitar pukul 4 sore kami meninggalkan Loh Buaya menuju pulau Padar. Hujan rintik2 mulai membasahi bumi. Sejak kami mendarat di Labuan Bajo kemarin mendung memang terus menyertai perjalanan kami. Tapi baru hari ini hujan turun. Niat kami untuk shalat Zuhur yang digabung dengan shalat Asar di dek atas kapal terpaksa diundur, menunggu hujan berhenti. Itupun setelah akhirnya terlaksana ternyata tidaklah mudah. Gelombang yang cukup besar membuat kami tidak mampu berdiri dengan stabil.

20180619_155804Namun kami tetap dapat merasakan nikmatnya shalat dalam situasi yang tidak biasa tersebut, di bawah langit di tengah luasnya laut nan biru mempesona. Allahu Akbar …Apalagi setelah itu guide kami muncul membawakan 2 piring besar pisang goreng coklat keju yang masih panas, yang dalam waktu sekejap langsung habiiiz … Nikmatnya …

Sayang keinginan untuk shalat dibawah gemerlap cahaya bintang, baik Isya maupun Subuh tidak terpenuhi. Kapal merapat di pantai pulau Padar tak lama setelah matahari terbenam, dalam keadaan langit tertutup awan. Ini berlanjut hingga waktu Subuh esok harinya. Akhirnya kami terpaksa shalat di dalam kamar, sendiri-sendiri pula, karena tempat yang tidak memungkinkan untuk shalat berjamaa’ah, sekalipun hanya untuk berdua.

Sementara untuk kamar mandi, airnya sangat terbatas meski sebenarnya ruangannya sendiri tidak terlalu kecil dan cukup bersih. Namun kami dapat memakluminya, namanya juga di atas kapal. Sayangnya lagi, saya tidak berhasil tidur nyenyak malam itu. Pasalnya adalah gelombang air laut yang terus mengombang-ambingkan kapal kami, juga kapal-kapal lain yang parkir di pantai tersebut. Walaupun sebenarnya hanya gelombang kecil, yang setiap kali ada kapal datang memarkir maka kapal kami ikut terayun, berpindah posisi sesuai arah angin.

“ Kalau jangkarnya lepas gimana yaa “, pikir saya, ngerii … Astaghfirullahaladzim …  “Nikmatnya punya dan kenal Sang Pemilik”, batin saya sambil terus berdoa.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. .. “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):45).

Bersambung.

Read Full Post »

Namun sekali lagi bukan orang Jepang namanya kalo mudah menyerah. Paska bom yang meluluh-lantakkan sebagian besar kota Jepang, mereka segera bangkit dari keterpurukan. Tidak ada waktu untuk berlama-lama meratapi nasib dan kekalahan yang mereka alami.

IMG_0179IMG_0164Jepang segera berbenah diri dan membangun kotanya kembali. Tak terkecuali Hiroshima yang menjadi sasaran utama bom atom sekutu. Kota pelabuhan yang diapit perbukitan ini terlihat tenang dan damai seakan tidak pernah menjadi korban perang. Hiroshima hari ini bahkan dikenang dunia sebagai kota perdamaian. Di kota ini berdiri Hiroshima Peace Memorial Museum yang dibangun hanya selang 10 tahun setelah tragedy, yaitu tahun 1955. Museum ini didirikan tidak jauh dari pusat pengeboman.

IMG_0203IMG_0197Di dalam museum ini diperlihatkan selain foto keadaan kota Hiroshima baik sebelum maupun sebelum pengeboman, kisah derita para korban, juga pelajaran tentang nuklir dan bahayanya. Itu sebabnya banyak pelajar tidak hanya murid-murid lokal tapi juga pelajar manca negara yang datang mengunjungi museum tersebut. Museum ini juga menyuguhkan animasi detik-detik jatuhnya bom atom yang dalam hitungan detik menghancurkan kota tersebut.

Tak dapat dipungkiri perang memang sangat kejam. Tiba-tiba saya teringat bagaimana para orang-tua kita menceritakan penderitaan mereka.

Jaman pendudukan Jepang dulu tentaranya kejam-kejam”, ujar bapak.

Perempuan dipenggal kepalanya, terus kepalanya ditancapkan di tiang di pinggir jalan,  hanya gara-gara ketahuan ngomong Bahasa Belanda”, sambung ibu bergidik ngeri.

Ya orang-tua saya memang sempat mengalami masa-masa kelam tersebut. Banyak yang mengatakan 3 tahun dibawah penjajahan Jepang lebih sengsara dari 3.5 abad dijajah Belanda. Kekejaman dan kesadisan tentara Jepang memang bukan rahasia lagi. Tidak heran ketika akhirnya pihak Sekutu memborbardir negara matahari tersebut banyak orang yang gembira dan lega mendengarnya, termasuk rakyat Indonesia. Tentu kita semua tahu bahwa salah satu penyebab kemerdekaan Indonesia adalah karena kalahnya Jepang dalam PD II.

Itu pula sebabnya banyak pihak berasumsi bahwa Jepang yang kini menjadi salah satu negara terkaya di dunia banyak membantu negara lain adalah demi menebus dosa dan kesalahan mereka di masa silam. Ntahlah … Yang pasti orang bisa berubah. Dan Jepang membuktikan hal tersebut. Selama 8 hari berada  di beberapa kota Jepang kami merasakan kehangatan dan keramahan mereka.

20171005_113250IMG_20171002_165622Kemajuan Jepang hari ini sungguh tak dapat dipungkiri seorangpun, Dalam waktu singkat Jepang kini masuk dalam daftar negara termaju dan terkaya didunia. Jepang yang saat ini sedang bersiap-siap menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar dunia yaitu Olimpiade 2020 giat mempromosikan berbagai tour wisata Jepang. Mulai dari bunga Sakura dan gunung Fuji yang ternyata tidak selalu bersalju, kuil, hingga kuliner dan berbagai wahana permainan seperti Disneyland, aquarium dll.

IMG_052520171005_141517jepang halalMereka juga telah mempersiapkan diri menyambut tamu-tamu Muslimin dari berbagai negara.

ZHF1

Bersama penjual kebab Turki yang menguasai berbagai bahasa asing.

Diantaranya yaitu dengan makanan Halal. Meski harus dimaklumi belum semua sesuai harapan. Namun paling tidak mereka telah berusaha mengantisipasinya. Dari brosur yang kami trima dari seorang penjual kebab Turki di Tokyo, resto Halal dibagi dalam 4 kategori, yaitu 1. Seluruh makanan halal dan tidak ada minuman ber-alkohol, 2. Halal tapi menjual minuman ber-alkohol, 3. Menyediakan menu halal dan 4. Menyediakan makanan non babi.

IMG_0527IMG_0524Di sebuah resto ramen, masakan khas Jepang, berlabel halal di Kyoto kami sempat berbincang dengan seorang pramuniaganya. Ternyata ia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang bekerja paruh waktu. Mahasiswa asal Majalengka tersebut sempat bercerita tidak mengalami kesulitan untuk shalat di kampusnya. Yang juga surprised, resto dimana ia bekerja mau menjadikan sedikit pojoknya sebagai mushola ( prayer room). Meski sang pemilik ternyata bukan seorang Muslim.

Di Jepang memang terdapat banyak mahasiswa Indonesia. Sebagian ada yang dengan beasiswa pemerintah Jepang tapi tidak sedikit juga yang berangkat dengan biaya sendiri. Mahasiswa Indonesia di Jepang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut beberapa sumber, biaya hidup dan kuliah di Jepang jauh lebih rendah di banding dengan di Amerika Serikat, Australia ataupun di Eropa.

Bahkan ada pendapat tidak lebih mahal dari pada kuliah di universitas swasta bergengsi di Indonesia, Jakarta khususnya. Apalagi dengan adanya fakta bahwa penerimaan masyarakat Jepang terhadap Islam jauh lebih baik dari pada Barat yang sedang menderita Islamophobia akut itu. Mungkin sudah menjadi suratan takdir, bahwa keberadaan mahasiswa Muslim Indonesia di Jepang merupakan dakwah tersendiri agar masyarakat Jepang lebih mengenal Islam.

20171008_15402120171008_15400420171008_154038TM36Alhamdulillah selama di Tokyo Allah swt memberi kami kesempatan mengunjungi Tokyo Camii Turkish Culture Center, masjid termegah di ibu kota Jepang. Dengan menggunakan subway yang merupakan alat transportasi umum warga Tokyo kami menuju ke masjid yang dibangun pada tahun 1938 tersebut. Masjid ini merupakan masjid kedua setelah masjid Kobe. Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit dari stasiun Yoyogi-Uehara tibalah kami di bait Allah yang sungguh cantik tersebut.

Ketika kami memasuki masjid siang itu terlihat sejumlah pemuda dan pemudi Jepang dengan penuh antusias mendengarkan ceramah yang diberikan seseorang. Dugaan kami ia imam masjid tersebut.

20171008_16045020171008_160526TM46TM69Ceramah diberikan oleh dua orang dai secara bergantian, dalam Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris, memberi kesempatan para pengunjung yang tidak memahami Bahasa tuan rumah ikut mendengarkannya. Ceramah yang berlangsung dalam suasana akrab itu kemudian ditutup dengan sesi diskusi. Sungguh merupakan kehormatan bisa menjadi saksi acara tersebut. Terima-kasih ya Allah …

Hal lain, selama di Tokyo kami juga sempat merasakan gempa. Hal tersebut terjadi sekitar pukul 11 malam di tingkat 8 apartemen yang kami sewa. Guncangan terasa cukup kencang. Beberapa saat kemudian kami mendapat kabar bahwa memang baru saja terjadi gempa berkekuatan sekitar 6.3 SR. Was-was juga hati ini menghadapinya meski katanya semua gedung di Jepang dibangun siap meng-antisipasi gempa. Karena gempa yang sering melanda negri ini tidak jarang menelan korban.

Gempa Maret 2011 misalnya. Gempa berkekuatan 9,0 SR dengan lebih dari seratus gempa susulan ini mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 10 meter. Gempa ini menewaskan hampir 20.000 orang dan lebih dari 8.000 orang  lainnya hilang. Padahal sinyal peringatan awal gempa yang dikirimkan ke televise seluruh Jepang bekerja dengan baik. Gempa ini menimbulkan peringatan tsunami untuk pantai Pasifik Jepang dan sedikitnya 20 negara, termasuk seluruh pantai Pasifik Amerika dari Alaska ke Chili.

Gempa dan tsunami Maret 2011 tersebut juga memicu krisis nuklir terburuk di dunia dalam 25 tahun terakhir. Gempa ini dianggap sebagai yang terbesar mengguncang Jepang dalam kurun waktu 1.200 tahun terakhir. Gempa ini adalah salah satu yang terbesar dan paling merusak setelah gempa 8.9 SR di Fukushima pada 2007 dan menyebabkan tsunami. Gempa Fukushima 2007 mengakibatkan ditutupnya PLTN ( Pusat Listrik Tenaga Nuklir) di kota tersebut selama 21 bulan.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” … “ ( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):17).

Ya umat Islam dimanapun berada meyakini, bencana apapun tidak akan terjadi tanpa izin Yang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla. Tak ada yang kuasa mencegahnya bila Ia berkehendak.

Seperti Jepang, Indonesia juga terletak di area Ring Of Fires. Bila Jepang yang sudah mati-matian berusaha agar gempa sesedikit mungkin menelan korban, bagaimana dengan Indonesia?  Meski gempa dasyat yang terjadi di negri kita tercinta tidak sesering Jepang bukankah resiko itu tetap tinggi ??

Jadi sungguh sudah sepatutnya kita ini bersyukur atas penjagaan Sang Khalik yang menjauhkan kita dari bencana dasyat seperti gempa dll. Dan syukur tersebut tidak cukup hanya dengan ucapan, tapi juga dalam bentuk nyata.

Tapi apa yang dilakukan umat hari ini sungguh keterlaluan. Ulama dibully sementara perlakuan menyimpang homoseksual dibiarkan bahkan terkesan dilindungi. Apa itu namanya bukan menantang azab-Nya???

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. Al-A’raf(7):81).

“Mereka (malaikat) menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. Adz-Dzariyat(51):32-34).

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya Jepang yang saat ini belum begitu mengenal Islam, berbekal semangat yang tidak mengenal putus asa, semoga suatu hari nanti Allah swt ridho memberi mereka hidayah. Semoga kehadiran Islam di negri tersebut sedikit demi sedikit mampu mengeluarkan mereka dari kegelapan yang sebenarnya.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):257).

Semoga dengan ber-Islam, Jepang bukan hanya bercita-cita menjadikan negrinya maju secara fisik tetapi juga secara spiritual. Yang dengan demikian dapat mendatangkan rahmat-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Desember 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Jepang adalah negara yang tercatat paling sering mengalami gempa bumi hingga mendapat julukan negara gempa dan angin Topan. Secara geografik negri Sakura ini memang terletak tepat diatas wilayah yang disebut Cincin Api Pasifik atau Pacific Rings of Fire. Dinamakan demikian karena banyaknya  gunung berapi aktif di wilayah tersebut. Di tempat ini pulalah terjadi pertemuan antara tiga lempeng tektonik yang sangat aktif, yakni lempeng tektonik Pasifik, lempeng tektonik laut Filipina dan lempeng Eurasia. Itu sebabnya ketika ke 3 lempeng tersebut saling bergesekan gempapun rawan terjadi.

Namun bukan Jepang namanya kalau gampang menyerah. Paska gempa berkekuatan 7,9 SR yang menimpa Kanto pada tahun 1891 dan menewaskan sekitar 140.000 orang di wilayah sekitar Tokyo, negara tersebut segera berbenah diri. Jepang segera membangun kembali kota-kota yang hancur tersebut mengikuti skema alam. Mungkin di dunia, hanya Jepang yang memiliki Kementrian Penanganan Bencana (Disaster Management Ministry) yang setiap tahunnya memiliki anggaran beratus-ratus miliar guna mengantisipasi gempa demi melindungi rakyatnya dari dampak bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Seluruh gedung tinggi dan perkantoran, bahkan rumah penduduk di Jepang, didisain anti gempa. Jutaan lift yang ada di dalam gedung-gedung tinggi di desain langsung tidak berfungsi begitu gempa terjadi. Demikian pula subway yang merupakan alat transportasi umum rakyat. Juga reaktor nuklir, langsung mati begitu ada gempa. Sistem antisipasi gempa dini (Early Warning System) bekerja jauh sebelum bencana datang.

20171007_16104920171007_154919Taman-taman luas dengan kolam nan indah yang ada di setiap titik kota sejatinya selain sebagai paru-paru kota, juga adalah sebagai titik evakuasi tempat berkumpulnya warga ketika gempa terjadi. Jepang juga mewajibkan  siswa sekolah dasar agar mengikuti kurikulum Antisipasi mengatasi gempa dan tsunami. Tidak hanya teori tapi juga latihan menghadapi bencana tersebut dilakukan secara rutin.

Namun tak urung pada suatu dini hari di bulan Januari 1995, di puncak musim dingin, gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Kansai. Pusat gempa sekitar 20 km dari Kobe. Gempa yang dikenal dengan sebutan The Great Kobe Earthquake dan hanya berlangsung sekitar 20 detik ini berhasil meluluh-lantakkan seluruh kota Kobe. Meninggalkan korban sekitar 5.000 orang tewas, 35.000 orang cedera, ratusan ribu bangunan rusak parah dan 300.000 orang kehilangan tempat tinggal. Inilah gempa pertama yang menyerang kawasan Jepang modern padat penduduk. Kehancuran diperparah dengan kebakaran hebat paska gempa.

Baik pemerintah maupun penduduk Jepang tak mengira sama sekali bahwa gempa tersebut mampu menghancurkan Kobe. Perhatian Pemerintah Jepang saat itu lebih banyak pada kawasan Kanto yang puluhan tahun lalu hancur lebur. Kawasan Kansai (Osaka, Kobe, dan Kyoto) dianggap zona aman. Dari segi jumlah korban, gempa Kanto memang tetap merupakan yang terbesar dalam sejarah Jepang. Namun, gempa Kobe merupakan pukulan maha berat mengingat perbaikan dan kesiapan yang selama itu dianggap cukup memadai.

Kobe Mosque 1Kobe yang memiliki luas 546 kilometer persegi adalah kota keenam terbesar di Jepang dengan populasi 1,6 juta jiwa (1993). Pelabuhan Kobe saat itu menempati peringkat enam terbesar di dunia. Namun dalam hitungan detik kota tersebut nyaris rata dengan tanah. Kecuali …. sebuah banguan milik umat Islam. Ya, bangunan tersebut adalah masjid Kobe, satu-satunya masjid di kota tersebut, Allahu Akbar …

Tak heran bila kemudian rumah ibadah umat Islam tersebut kabarnya sempat di sakralkan masyarakat Jepang.  Masjid ini dijadikan tempat berlindung tidak hanya umat Islam Kobe tapi juga masyarakat kota Kobe yang sebagian besar kehilangan tempat tinggal.

Datangnya Islam di Jepang.

Syiar Islam di Jepang baru dimulai pada menjelang berakhirnya Perang Dunia I (1914 – 1918), dengan berdatangannya kaum Muslimin Tartar yang melarikan diri dari ekspansi Rusia. Rata-rata mereka adalah pedagang. Untuk menjaga keimanan dan keislaman, diantaranya demi menjaga shalat berjamaah, secara berkala mereka berkumpul di salah satu rumah mereka.

Kemudian ketika datang menetap sejumlah pedagang India yang kaya dan mendirikan Kobe India Club, kaum Muslimin yang sebagian besar asli Tartarpun ikut bergabung. Untuk melaksanakan acara-acara yang lebih besar, mereka menyewa aula di sebuah hotel bernama Tor.

Kobe Mosque 2Kebutuhan terhadap keberadaan masjid  yang begitu membuncah membuat kaum Muslimin yang jumlahnya makin meningkat itu berusaha mengumpulkan dana pembuatannya. Hingga pada tahun 1928 dimulailah pembangunan masjid yang  akhirnya selesai dan diresmikan pemakaiannya pada tahun 1935. Itulah masjid Kobe, masjid pertama di seantero Jepang. Rumah ibadah tersebut terletak di Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe. Disanalah selanjutnya kaum Muslimin melakukan berbagai kegiatan dan ibadah.

“ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”, ( Terjemah QS.An-Nuur (24):36).

20171002_122856KB7Kobe Mosque 3Beruntung pada bulan September yang baru lalu kami diberi kesempatan Allah swt untuk mengunjungi masjid tersebut. Dengan menumpang Shinkansen, kereta api super cepat yang ber-kecepatan rata-rata 320 km/jam, kami tiba di Kobe dari Osaka.

20171002_120508Menurut seorang mahasiswa Indonesia asal Bandung yang bekerja paruh waktu di minimarket Muslim di sebrang masjid, setiap Sabtu pagi banyak keluarga Muslim Indonesia hadir mengikuti kajian di masjid tersebut.

Masjid Kobe sebenarnya bukan sekali itu saja lolos dari bencana besar. Pada tahun 1945, menjelang berakhirnya Perang Dunia II,  bersama Hiroshima, Nagasaki, Tokyo dan Yokohama, Kobe turut menjadi sasaran bom yang dijatuhkan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya.

Kobe Mosque AftermatDalam hitungan detik sebagian besar gedung dan bangunan yang terdapat di kota-kota besar tersebut hancur berantakan. Dan dari sangat sedikit bangunan yang dilaporkan bisa bertahan, masjid Kobe adalah salah satunya. Bahkan di Kobe, nyaris hanya masjid inilah satu-satunya bangunan besar yang tidak hancur. Masjid ini hanya mengalami retak pada dinding luarnya, disamping semua kaca jendela yang pecah dan bagian luar masjid menjadi kehitaman akibat asap bom. Sementara bangunan sekolah yang terbuat dari kayu dan tempat wudhu di samping masjid rusak parah.

Perlindungan terhadap masjid Kobe sudah pasti karena kehendak Allah swt. Namun itu bukan berarti umat Islam Kobe hanya pasrah saja. Pada tahun 1939 ketika Perang Dunia II baru mulai meletus, umat Islam Kobe yang jumlahnya tidak seberapa itu, berusaha melindungi masjid yang dengan susah dibangun dan baru diresmikan 4 tahun sebelum perang, yaitu tahun 1935. Caranya yaitu dengan melapisi lantainya yang indah itu dengan kertas minyak, tatami, dan terakhir pasir setebal sekitar 2.5 cm. Hal tersebut untuk mencegah agar masjid tidak terbakar. Meski sebagai akibatnya selama perang berlangsung masjid tidak dapat digunakan untuk shalat dan kegiatan lainnya.

Selanjutnya pada tahun 1943, masjid ditutup oleh Angkatan Laut Jepang untuk dijadikan tempat berlindung tentara. Lantai dasar masjid dijadikan tempat penyimpanan barang. Paska bom 1945 rumah ibadah kaum Muslimin ini resmi dijadikan tempat pengungsian korban perang.

Masjid Kobe baru kembali ke pangkuan umat Islam 2 tahun setelah perang berakhir, yaitu pada tahun 1947. Kaum Muslimin, kebanyakan orang-orang Tartar dan India, yang selama perang mengungsi ke luar negri berbondong-bondong kembali ke Kobe. Mereka mendapati rumah mereka telah hancur lebur karena bom. Syukur Alhamdulillah Sang Khalik berkenan membuka hati mereka yang telah menyita masjid Kobe untuk diserahkan kembali kepada umat Islam. Dan dengan bantuan negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi dan Kuwait, masjid segera diperbaiki hingga dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bersambung.

Read Full Post »

Menurut sejarawan Sima Qian (145 – 90 SM), pembangunan makam agung kaisar Qin Shi Huang dimulai disekitar 246 SM, saat usia sang Kaisar baru menginjak usia 13 tahun, dengan memperkerjakan kurang lebih 700.000 pekerja.

http://harianinternasional.blogspot.co.id/2016/01/sejarah-dinasti-qin-zaman-musim-semi.html

Bergidik hati ini menyaksikan bagaimana Sang Raja Alam Semesta, Allah swt, memperlihatkan Kebesaran dan Kekuasaan-Nya dengan membongkar harta karun kaisar Qin yang telah terpendam selama ribuan tahun lamanya, dalam keadaan relative utuh. Disamping tidak mungkin juga kita menyingkirkan kenyataan, betapa pandainya manusia, yang sejak ribuan tahun lalu telah mampu membangun peradaban yang begitu tingginya.

Lulu bercerita bahwa tehnologi pembuatan patung Terracotta sangat rumit dan canggih. Sementara teknik pembuatan senjata perunggunya lebih menakjubkan lagi. Pedang perunggu yang ditemukan di dalam lubang Terakota tersebut sangat tajam dan halus, tidak berkarat bahkan berkilau seperti baru. Senjata tersebut mengandung berbagai macam logam, permukaannya adalah lapisan oksidasi garam kromium setebal 10 mikro meter, dan derajat kekerasannya setara dengan baja karbon medium yang dikeraskan. Senjata-senjata perunggu yang tergali dari lubang tersebut dibuat dengan cara tuangan (cor), bahannya terutama tembaga dan timah. Ini adalah teknik tingkat tinggi dalam sejarah metalurgi dunia.

http://indonesian.cri.cn/chinaabc/chapter22/chapter220111.htm

Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu“. ( Terjemah QS. Al-Kahfi (18):95-96).

Para ahli tafsir sepakat bahwa Dzulkarnain yang dimaksud pada kisah di atas adalah seorang raja alim yang diberi Allah swt kekuasaan sangat besar. Sebagian ada yang berpendapat Dzulkarnaen hidup sezaman dengan nabi Ibrahim as, dan pernah tawaf bersama sang nabi as. Namun ada juga yang berpendapat Dzulkarnaen hidup di masa nabi Musa as. Pendapat lain mengatakan bahwa Dzulkarnaen hidup di masa dinasti Zhou, dinasti pendahulu Qin. Catatan sejarah memang mengatakan teknologi perunggu di masa itu sedang mencapai puncaknya.

Berdasarkan kajian mendalam ayat 86-99 surat Al-Kahfi yang sarat dengan pesan sains dan ilmu alam, sebagian ahli tafsir menyimpulkan bahwa lokasi dimana Dzulkarnaen membantu suatu kaum dari ancaman kebengisan Ya’juj Ma’juj yang akan muncul di akhir zaman nanti, adalah suatu daerah di dataran tinggi Cina. Ayat-ayat di atas juga sekaligus menjadi saksi betapa Cina sejak ribuan tahun lampau telah mencapai kemajuan dan peradaban yang tinggi.

Tak dapat dipungkiri, Cina hari ini sungguh sangat berbeda dengan Cina beberapa tahun yang lalu. Selain kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk kebersihan kota-kotanya, disiplin masyarakat Cina, terutama anak-anak mudanya, patut diacungi jempol.

Berkat majunya pendidikan”, jelas Lulu tegas, ketika kami mengajukan keheranan kami. Kami juga beberapa kali melihat gadis tersebut menegur orang setengah tua Cina yang meludah atau membuang sampah sembarangan.

Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya”. ( Terjemah QS. Al-Kahfi (18):98-99).

Dominasi negara-negara Asia Timur (Cina, Jepang dan Korea) sebagaimana yang diprediksi para ahli tafsir dan ilmuwan Muslim, Cina khususnya, baru terjadi 10 tahun-an belakangan ini. Orang-orang Cina, hari ini, dapat kita saksikan, telah menyebar hampir di seluruh pelosok dunia, bercampur dengan penduduk asli tapi tetap dalam komunitasnya sendiri, yaitu China town.

Menjadi tanda tanya besar, mungkinkah yang dimaksud hancur luluhnya dinding di akhir zaman pada ayat di atas adalah temuan spektakuler sang penakluk Cina raja Qin yang telah ribuan tahun terpendam di perut bumi? Atau memang nyata dinding buatan Dzulkarnaen yang menyatukan dua puncak gunung yang kemungkinan berada di Cina itu belum ditemukan??

Siapa dan dimana kira2 kaum yang meminta pertolongan Zulkarnaen agar dibuatkan tembok sebagai benteng perlindungan dari kekejaman kaum lain? Siapa pula yang dimaksud kaum bengis itu? Mungkinkah ia adalah raja Qin, si penakluk Cina, yang pasti banyak dibuat membencinya??

Masih terngiang ucapan uztad Bahtiar Nasir pada salah satu kajiannya, “Bisa jadi hari ini adalah era kejayaan Cina. Namun tidak berarti kita harus terus mengekor Cina”.

Ya, patutkah kita tunduk kepada negara ex komunis yang kini menuju sosialis kapitalis, yang terang-terangan melarang rakyatnya (Muslim Xinjiang) menjalankan ibadah?? Yang dengan berang menantang perang Erdogan, hanya karena presiden Turki tersebut geram terhadap kebengisan tentara Myanmar terhadap Muslim Rohingya?

http://www.kabarsatu.news/2017/09/wow-china-ancam-perang-turki-jika.html

Dengan membawa sejuta pertanyaan di atas, usai sudah kunjungan ke Xian. Tiba saatnya kami menuju bandara untuk selanjutnya terbang ke Guilin sebagai penutup rihlah kali ini. Alhamdulillah Lulu menyempatkan mengantar kami ke masjid yang ada di jalur menuju bandara. Ia bahkan sempat masuk, memperhatikan kami wudhu dan membaca papan berisikan beberapa ajaran Islam yang terpampang di depan pintu masjid.

“Oh jadi orang Islam itu terbiasa ber-puasa yaa ..  pantas kamu langsing”, komentar Lulu sambil terus membaca pengumuman-pengumuman yang ada di sana. Kebetulan Lulu memang agak besar badannya, dan beberapa kali mengeluh ingin kurus. 🙂

20170429_191740Oya, di dalam pesawat kami mendapat surprised makanan halal padahal kami tidak memesannya karena memang tidak menyangka ada pilihan untuk itu. Saking terheran-herannya saya sampai melirik ke meja penumpang lain untuk mengetahui apakah hanya kami saja yang mendapat pelayanan istimewa. Ternyata tidak, semua penumpang mendapat jatah snack sama, yaitu bungkusan coklat dengan label HALAL di atasnya. Sekedar info, pesawat yang kami tumpangi adalah pesawat lokal Air China.

******

Guilin, 30 April – 2 May 2017.

Guilin adalah kota menengah di Cina Selatan yang memiliki pemandangan unik menakjubkan. Kota ini selain dikelilingi sungai dan 4 buah danau, juga oleh pegunungan kars dengan ribuan puncak, yang menjadikannya salah satu  pegunungan kars terbesar di dunia.

20170430_115839IMG_0634Kami mengawali penjelajahan dengan cruise menyusuri sungai Li yang panjangnya 83 km, menuju Yangshuo yang ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Waktu berlalu tidak terasa terlalu lama berkat pemandangan yang sungguh mencengangkan. Dari sejak awal hingga usai perjalanan, tumpukan gunung dengan bermacam bentuk dan ketinggian, menyesaki pandangan. Masya Allah …

IMG_0690Tak heran bila kemudian pemerintah setempat memanfaatkan salah satu spot cantik di tempat tersebut sebagai latar belakang uang pecahan 20 Yuan. Pepatah Cina mengatakan Guilin adalah “tempat terindah, surga dunia”.

Keberadaan pegunungan kars dengan puncak-puncak lancip bagaikan pasak /paku dan gua disana-sini, menunjukkan bahwa Guilin ratusan juta tahun yang lalu adalah merupakan dasar laut, yang disebabkan adanya perubahan alam, terangkat hingga membentuk apa yang terlihat saat ini.

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”( Terjemah QS. An-Naba’(78):6-7).

Sekitar jam 2 siang setelah cruise selesai, kami berjalan-jalan melihat-lihat aneka pernak-pernik barang lokal yang dijajakan di sepanjang jalan keluar pelabuhan. Termasuk yang paling menarik adalah cara pembuatan permen jahe, dimana jahe yang sudah diolah sedemikian rupa menyerupai gulungan besar dililitkan di sebuah tiang. Kemudian gulungan tersebut ditarik, digulung, ditarik-gulung   berkali-kali, hingga akhirnya dipotong-potong kecil dan dibungkus menjadi permen jahe yang lezat.

20170430_16545220170430_162234Selanjutnya Cory, guide kami menawarkan extra kunjungan ke sebuah bukit dimana dari sana terlihat pemandangan sungai dengan gunung-gunungnya dari ketinggian. Meski harus mengeluarkan tambahan biaya dan sedikit terengah-engah menaiki tangga, sungguh tidak percuma bukit yang ia perkenalkan dengan nama  bukit Wow itu, memang benar-benar “wow”.

“Bukan hanya wow tapi katakan Allahu Akbar”, sambil bercanda saya mengoreksinya. “Bayangkan, kalau ciptaan-Nya saja seperti ini apalagi yang menciptakan-Nya”.

20170501_110644IMG_0817Singkat cerita, Guilin ternyata mempunyai lumayan banyak tujuan wisata. Diantaranya adalah The elephant trunk hill, bukit berbentuk gajah yang agak dipaksakan, dan Reed Flute Cave, gua yang sudah dipercantik dengan lampu sorot warna-warni dengan bermacam tema hingga menampilkan pemandangan yang cantik menarik. Tak kalah cantiknya adalah pemandangan danau di dalam kota.

20170501_175915IMG_0804Namun yang di luar perkiraan adalah keberadaan masjid dan restoran halal di kota ini. Di restoran halal yang kami kunjungi untuk makan siang maupun malam itu kami berjumpa dengan rombongan 2 bus besar yang membawa turis Malaysia. Mereka datang dari Guangzhou yang jaraknya 6 jam perjalanan dengan bus. Di restoran ini dipajang lukisan menarik sepasang muda lelaki Arab khas dengan pakaian Arabnya, dan gadis Cina dengan kepang rambutnya. Mungkin pemilik restoran, bisik saya kepada suami .. sotoy … 🙂

20170501_16150320170501_16162520170501_163950IMG_0859 - Copy20170501_161352Akan halnya dengan masjid, Guilin ternyata mempunyai 6 buah masjid. Rata-rata masjid tersebut dibangun pada masa kekuasaan dinasti Qing (1644-1911 M), dinasti terakhir empurium Cina. Muslim di Guilin adalah suku Hui. Sayang Cory hanya sempat mengajak kami mengunjungi 1 masjid saja, yaitu  Guilin Chongshan Street Mosque. Karena memang inilah satu-satunya masjid yang masih terawat dan berfungsi dengan baik.

http://www.muslim2china.com/china-mosques/Guilin-Chongshan-Street-Mosque-17.html 

Menurutnya, kebetulan sejak kecil ia tinggal di sebelah masjid, dulu di lingkungan tersebut berdiri sebuah sekolah Islam. Ketika usia TK ia bahkan sempat bersekolah di sekolah tersebut. Ia tidak begitu ingat sejak kapan sekolah tersebut tutup. Yang pasti dengan nada kecut, pemuda yang mengaku tidak percaya kepada adanya Tuhan sebagaimana rata-rata orang Cina, masih menurutnya, punya pengalaman buruk dengan lingkungan orang-orang masjid.

“Kalau ketahuan ada orang membawa daging babi ke rumah, mereka memukulinya”, ceritanya.

Menurut suami saya, ia memang tampak alergi bila suami saya sekali-sekali memancing pembicaraan kearah agama. Ntah bagaimana perasaannya ketika kami meminta tolong padanya agar menjaga barang-barang kami sementara kami shalat di hadapannya, di pelataran bukit wow, karena waktu yang tidak memungkinkan shalat di hotel ataupun masjid.

Semoga suatu hari nanti Allah swt berkenan membuang citra buruk Islam yang ada di kepalanya dengan yang lebih baik, dan semoga suatu hari nanti Islam dapat ditrima di negri Tirai Bambu ini, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawab.

Jakarta, 25 September 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

IMG_0418Mendekati waktu Zuhur kami segera menuju masjid. Sebuah plang tanda arah ke masjid terlihat di persimpangan pasar yang lumayan padat tersebut. Lulu mengingatkan untuk memperhatikan tanda tersebut agar ketika pulang menuju tempat rendez-vous nanti tidak tersasar. Ia mengantar kami hingga gerbang masjid. Terlihat beberapa lelaki berteriak-teriak di tempat tersebut. Tadinya kami tidak begitu paham apa yang mereka teriakkan dan inginkan. Setelah kami dengarkan baik-baik ternyata mereka meneriakkan “ fii sabilillah fii sabilillah”, alias sedang meminta infak/sodaqoh.

Lulu bersiap mengeluarkan dompet untuk membayar tanda masuk. Di depan masjid memang terpampang papan bertuliskan tarif masuk masjid.

Tidak perlu bayar Lulu. Kami kan mau shalat. Itu khusus untuk turis yang ingin melihat-lihat masjid”, jelas suami saya. Dan tanpa menunggu jawabannya kami segera memasuki lokasi. Lulu hanya bengong sebentar kemudian berbalik meninggalkan kami.

Tapi tak lama kemudian, dengan bahasa isyarat seorang lelaki mengatakan bahwa tempat akhwat/perempuan shalat bukan di situ. Kami segera keluar lagi dan  mengikutinya menuju tempat yang dimaksud, yang lumayan jauh dari lokasi  utama.

Tempat shalat bagian perempuan tersebut rupanya adalah sebuah apartemen tingkat 2 sederhana yang sudah di sulap menjadi musola. Tempat wudhu terletak di lantai dasar, sedangkan ruang shalat berada di lantai di atasnya. Terdengar suara dzikir dan shalawat  dari pengeras suara yang terpasang di ruangan berukuran sekitar 6×6 meter tersebut. Sebuah layar televise kecil terlihat di  dinding depannya. Rupanya layar tersebutlah yang menjadi penghubung dengan masjid.  Tak tampak gambar apapun di layar tersebut, mungkin karena waktu Zuhur belum tiba.

Saya melihat hanya ada sekitar 4 muslimah di dalamnya. Tapi setengah jam kemudian setelah saya selesai shalat Tahiyatul masjid, dzikir dan berdoa separuh ruangan telah terisi. Waktu terus berlalu, saya mulai gelisah karena tanda-tanda shalat Jumat belum juga terlihat. Akhirnya dengan alasan perempuan tidak wajib menunaikan shalat tersebut saya memutuskan untuk keluar ruangan.

20170428_13292520170428_133129Alhamdulillah sebelum keluar saya sempat membagikan dulu jilbab yang sengaja saya bawa dari tanah air kepada beberapa ibu yang ada di barisan belakang. Juga  mukena berbordir cantik dari Padang yang tadi saya kenakan. Dengan bahasa isyarat saya katakan bahwa saya dari Indonesia dan hadiah saya berikan sebagai tanda ukhuwah. Mereka tampak terkejut tapi dengan senang mereka menerimanya. Sungguh bahagia hati ini melihat ekspresi dan tanggapan mereka.

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari).

Selanjutnya saya segera menuju masjid utama. Tampak orang berbondong-bondong memasukinya, termasuk juga beberapa orang perempuan. Sayapun nekad masuk bersama mereka.

20170428_13540620170428_13385020170428_13380820170428_134303Masya Allah, ternyata masjid Agung Xian ini menempati area yang cukup luas, menurut info yang saya dapat, sekitar 12.000 – 13.000 m2. Sementara luas masjid utama yang khusus digunakan untuk shalat sekitar 6.000 m2.  Bangunan mirip rumah ibadah Cina, klenteng, ini terletak di ujung lokasi. Komplek masjid ini mempunyai beberapa pendopo dan gapura ber-arsitektur khas Cina, dengan hiasan kaligrafi di sana-sini. Sangat menarik dan unik.

20170428_14070220170428_13474520170428_13551020170428_134140Masjid Agung Xi’an yang dibangun pada tahun 742 M pada masa kekuasaan dinasti Tang (618-907) ini meski sudah berusia sangat tua masih terlihat terawat dan masih berfungsi dengan baik. Pada tahun 1998 pemerintah bahkan menetapkan kompleks masjid Xian sebagai warisan Sejarah China.

20170428_13293920170428_13514320170428_134308Saya sempat ngobrol dengan ibu muda yang tadi juga berada di masjid bagian perempuan. Ia bersama putri kecilnya juga sedang menunggu suaminya shalat Jumat. Perempuan muda asli Cina ini rupanya seorang turis lokal. Masjid Agung Xi’an memang bukan hanya tujuan wisata luar negri, tapi juga dalam negri.

20170428_14100420170428_13442620170428_14020820170428_134020Menjelang waktu shalat tiba, makin banyak jamaah berbondong-bondong datang. Sungguh tak menyangka wajah-wajah bermata sipit tua maupun muda, dengan berbagai penampilan, mulai dari yang ber-jas rapi hingga yang hanya ber-kaos oblong plus tangan bertato, mereka adalah saudara seiman kita. Allahu Akbar …

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.( Terjemah QS. Al-Jumuah (62):9).

20170428_14195020170428_14330920170428_131954Tak urung merinding hati ini mendengar shalawat, dzikir dan adzan berkumandang dengan nada yang tidak biasa, terdengar di negri Tirai Bambu ini. Bahagia rasanya bisa menjadi salah satu saksi shalat Jumat dengan jamaah yang membludak hingga ke luar masjid, meski sayang tidak rapat shaftnya.

Usai shalat kami segera menuju tempat rendez-vous dengan Lulu. Kami melanjutkan kunjungan “wajib” ke Pagoda yang terdiri dari kuil dan patung Budha terbesar di Xian bahkan Cina. Diteruskan dengan makan malam meski sebenarnya masih sore, di sebuah restoran halal tidak jauh dari lokasi. Tampaknya Lulu ingin cepat menyelesaikan tugasnya dan cepat istirahat. Hmm apa boleh buat. Selanjutnya kami di antar pulang ke hotel untuk acara bebas. Kami hanya memanfaatkan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Keesokan paginya kami mengunjungi Musium Terracota yang merupakan wisata utama kota ini. Adalah sejumlah petani yang ketika itu sedang menggali tanah dan secara tidak sengaja menemukan ribuan patung kuda dan prajurit terbuat dari tanah liat, dengan ukuran sebesar aslinya, dengan tinggi rata-rata 1,8 meter.

Peristiwa tersebut terjadi pada Maret 1974, sekitar 1,6 kilometer dari makam Kaisar Qin Shi Huang yang terletak di Gunung Li Shian, sebelah utara kota Xian. Maka sejak itu proses penggalianpun terus dilakukan hingga hari ini. Penggalian tersebut merupakan lokasi penggalian arkeologi terbesar di Cina.

Selanjutnya pemerintah membangun semacam hangar pesawat raksasa di lokasi temuan spektakuler tersebut, dan menjadikannya sebagai Musium dengan nama Terracota Warrior and Horses, yang dibuka secara resmi pada tahun 1979. Musium ini dibagi menjadi tiga seksi.

20170429_10174520170429_10171520170429_11030420170429_105800Seksi pertama merupakan yang paling besar. Ada sekitar 8.000 patung prajurit dan kuda Terracotta, namun hanya sekitar 2.000 patung yang dipamerkan. Hebatnya tiap patung tersebut mempunyai ekspresi wajah dan posisi kucir rambut yang berbeda-beda. Ada yang kucir kiri, ada yang kanan dan ada yang di tengah. Masing-masing memiliki arti dan maksud tersendiri.

Seksi dua dan seksi tiga hingga kini masih dalam tahap penggalian. Kabarnya penggalian yang sekarang ini dilakukan baru 1 % dari perkiraan seluruh galian. Selain patung prajurit dengan berbagai posisi, sebagian besar tidak ada bagian kepalanya, kuda dan kereta kuda juga ditemukan berbagai senjata perang.

20170429_11241720170429_11244020170429_110134Menurut Lulu, aslinya kuda-kuda dan prajurit Terracotta tersebut tersusun pada posisi dan barisan tertentu di bawah atap sebuah bangunan. Semua dikubur menjadi satu. Namun ketika ditemukan hampir semua atapnya sudah rusak. Sementara dari sekian ribu patung yang ditemukan, hanya 1 patung prajurit yang masih utuh, bahkan warnanyapun masih relative jelas.

kaisar QinshihuangAkan halnya kaisar Qin Shi Huang, ia adalah kaisar pendiri dinasti Qin. Ia menjadi kaisar ketika usianya baru 13 tahun. Pada usia 38 tahun sang kaisar muda berhasil mempersatukan Cina, yaitu pada tahun 221 SM. Qin selain dikenal sangat berjasa dalam membangun peradaban Cina, juga dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam.

Ia pernah mengubur hidup-hidup 460 sarjana hanya karena mereka menyimpan buku filsafat yang harusnya dibakar dan dilarang untuk dimiliki rakyat. Qin ini pulalah yang memerintahkan pembangunan tembok besar Cina sepanjang 3000 km yang banyak memakan korban.( Ada yang mengatakan hanya melanjutkan pembangunan). Kabarnya karena tidak sempat diurus dengan baik, para korban tersebut dijebloskan begitu saja ke dalam tembok yang sedang dibangun itu.

20170429_11273820170429_11382920170429_112822Qin wafat pada usia 50 tahun, setelah sebelumnya mempersiapkan kematiannya dengan cara memerintahkan pembuatan ribuan patung prajurit dan ksatria lengkap dengan kereta kuda dan senjatanya, demi menemani dan menjaganya di alam kubur. Serta sebagai persiapan untuk menyambut kehidupan baru setelah kematiannya. Selain juga sebagai tanda untuk menunjukkan kejayaan sekaligus penghormatan terhadap pasukannya yang telah berjasa membantunya dalam menyatukan Cina. Hebatnya lagi patung-patung tersebut diatur sedemikian rupa hingga menyerupai pasukan yang sedang menjaga istana kekaisaran.

( Bersambung).

Read Full Post »

20170427_16130520170427_160859Dengan menumpang subway dan berjalan kaki lumayan jauh akhirnya tiba juga kami di masjid Niujie. Rupanya nama masjid tertua di Beijing ini diambil berdasarkan nama jalan dimana ia berada yaitu Niu yang berarti sapi dan Jie ( jalan). Namun ada pula sumber yang mengatakan justru nama jalan tersebut yang mengikuti  lingkungannya yang Islami. Nama Niu diambil karena banyaknya restoran halal yang notabene adalah sapi, bukan babi, yang merupakan makanan umum masyarakat Cina.

Masjid Niujie yang mampu menampung 1000 jamaah ini dibangun pada tahun 996 M pada masa Dinasti Song, sempat dihancurkan oleh Bangsa Mongol namun kemudian dibangun kembali tahun 1443 M pada masa Dinasti Ming. Mayoritas Muslim di Beijing adalah suku Hui yang merupakan suku minoritas di kota tersebut.

20170427_16191120170427_16231320170427_162519Model bangunan masjid ini benar-benar unik tidak seperti lazimnya masjid yang biasa kita lihat. Kalau saja tidak pernah melihat fotonya mungkin kami tidak mengira bahwa area seluas 6000 m² tersebut adalah sebuah kompleks masjid. Arsitektur khas Cina berwarna merah terlihat kental mendominasi masjid tersebut.

20170427_16221720170427_161427Area masjid terlihat sepi ketika kami memasuki area sekitar pukul 3 sore. Seorang lelaki setengah baya, kelihatannya penjaga masjid, bergegas menghampiri kami. Dengan bahasa isyarat kami katakan bahwa kami hendak shalat. Segera ia mengantarkan kami ke masjid bagian perempuan. Rupanya bagian laki-laki dan perempuan terpisah lumayan jauh meski masih di area yang sama.

Setelah saya wudhu suami berkata “ Shalat di masjid utama aja yuuk, g rame ini”.

20170427_16373420170427_163659Alhasil kamipun shalat di ruang utama masjid yang memang terlihat senyap. Maklum memang bukan jam shalat. Terlihat hanya ada satu orang sedang shalat. Usai shalat saya melihat ada seorang perempuan setengah baya sedang melihat-lihat masjid. Sayapun menyapanya. Ternyata perempuan tersebut juga seorang turis. Ia datang dari London bersama suaminya. Kami sempat berbincang sebentar. Dilihat dari raut wajahnya kelihatannya ia seorang keturunan Pakistan. Tak lama iapun shalat.

20170427_16250620170427_162820Setelah puas mengelilingi masjid dimana 13.000 Muslim Beijing bertempat tinggal di sekitar area tersebut, kamipun bersiap meninggalkan lokasi. Ketika itu tiba-tba seorang pria keluar mengejar kami. Rupanya lelaki tersebut adalah suami ibu dari London tadi. Pria tersebut mengantarkan jam tangan suami saya yang kami kira hilang, dan ternyata ketinggalan di toilet. Kebetulan tadi saya sempat bercerita kepada sang ibu bahwa suami saya sedang mencari jam tangannya yang tercecer ketika wudhu. Alhamduillah …

Selanjutnya dengan bantuan beberapa orang yang ada di sekitar masjid kami berhasil menyingkat waktu, yaitu dengan bus menuju ke stasiun subway. Karena ternyata jalan yang kami tempuh ketika berangkat tadi bukan jalur yang tepat. Seharusnya kami naik dan turun di stasiun Caishikou yang berada di line 4.

Sesuai rencana kami langsung menuju terminal kereta Beijing Barat untuk menukar tiket kereta cepat ke Xian yang kami beli di tanah air secara on line. Setelah sempat panik karena kesulitan bahasa akhirnya beres juga urusan tersebut. Selanjutnya kami kembali ke hotel untuk mengambil koper dan kembali ke stasiun yang sama dengan perasaan lega. Maklum terminal kereta tersebut sangat luas dan ramai. Sesuai jadwal, malam itu kamipun berangkat menuju Xian.

20170427_195041Kereta api peluru super cepat ( bullet train) yang kami tumpangi tersebut menempuh jarak  1.216 kilometers dengan kecepatan rata-rata 310 km/jam dalam waktu 4.5 jam. Tak rugi rasanya mencicipi kereta kebanggaan negri tirai bambu tersebut meski harus merogoh kocek cukup dalam yaitu CNY 513.5 (sekitar IDR 1.168.212) untuk tiket klas 2. Tak jauh beda dengan harga tiket pesawat, yang hanya 2 jam namun kabarnya bila ditambah kemacetan bandara Beijing maupun Xian bisa lebih dari 4.5 jam. Disamping kabarnya lebih sering delay dari pada bullet train yang jadwalnya hampir selalu tepat.

20170427_232033Setiba di terminal kereta yang mirip bandara tersebut guide kami telah menanti. Kami langsung menuju hotel untuk istirahat. Esoknya jam 9 pagi setelah sarapan di hotel kami menuju tembok tua kota Xian.

IMG_036820170428_101150Tembok ini dulunya adalah tembok pertahanan kota alias benteng, yang melindungi kota dari serangan musuh. Tembok tersebut dibangun pertama kalinya oleh dinasti Sui (581-617 M). Kini tembok tua yang mempunyai 4 gerbang tersebut masih dipertahankan sebagai salah satu ikon kota. Dari sela-sela tembok yang dulu sengaja dibuat agar bisa mengintai dan menembak musuh itu, pemandangan kota dapat terlihat jelas.

20170428_10334720170428_105121IMG_0386Tembok dengan tinggi 12 meter diatas fondasi 18 meter dengan lebar 15 meter ini bisa dikelilingi dengan sepeda sewaan. Namun kami hanya menyusuri salah satu sisi tembok dengan berjalan santai. Setelah itu kami segera menuju masjid Xian, disamping untuk menziarahinya juga sekaligus untuk mendirikan shalat Jum’at.

20170428_14432820170428_14435020170428_144505Masjid Agung Xian terletak di area Muslim dimana Muslim street berada. Begitu memasuki jalanan ini aroma Islami langsung terasa menyergap. Berbagai macam makanan terlihat menyesaki pedestrian lebar ini, dengan tulisan HALAL dalam huruf hijaiyah terpampang. Mulai aneka rempah-rempahan, bumbu masakan, aneka manisan hingga segala macam kue, sosis, sate dan lauk pauk ada di sini. Rasa senang, bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Sungguh tak menyangka di negri yang jauh dari tanah suci dimana Islam hanya minoritas bisa menyaksikan hal seperti ini.

Menurut guide kami, Lulu, hanya inilah satu-satunya Muslim street di  negaranya. Pusat jajan jalanan terbesar di Xian ini ternyata bukan hanya dimiliki kaum Muslimin tapi juga seluruh warga kota. Setiap hari area ini disesaki pengunjung yang ingin kuliner.

Karena waktu Zuhur masih agak lama Lulu menawarkan kami untuk makan siang dulu. Kamipun menyetujuinya. Tapi kami terpaksa harus menahan keinginan mencicipi jajanan yang ada di sepanjang jalan tersebut. Lulu tidak mau beresiko menanggung nanti kami sakit perut karena menurutnya kebersihannya kurang terjamin. Ia mengantar kami ke sebuah restoran besar yang tampaknya sudah menjadi langganan travel tempat ia bekerja.

20170428_11491620170428_114833IMG_0420the Drum BellLagi-lagi kami dibuat terpana. Restoran dengan tulisan HALAL besar 20170428_120048tersebut terlihat mewah dan bagus. Lokasinyapun sangat strategis yaitu di samping The Drum Bell yang merupakan salah satu ikon Xian. Dan yang tak kalah pentingnya adalah masakannya yang cukup lezat …. Masya Allah …

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu“.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):168).

20170428_14412220170428_144119Selesai menikmati makan siang kami langsung menuju masjid. Sekali lagi berhubung masih ada waktu, kami menyempatkan diri untuk melihat-lihat kios-kios yang ada di sepanjang jalan menuju masjid, mengingatkan suasana pasar Seng seberang Masjidil Haram yang sekarang sudah tidak ada lagi itu. Aneka kerudung, tasbih dll bercampur dengan aneka pernak-pernik pajangan khas Cina.

Tampak jelas bahwa Islam telah lama masuk ke kota ini. Tidak hanya Xian namun juga kota-kota besar Cina lainnya. Islam masuk ke negri tirai bambu ini melalui apa yang disebut jalur sutra yaitu jalur perdagangan yang membawa sutra, rempah-rempah dll dari Timur ke  Barat dan sebaliknya.

Islam pertama kali di perkenalkan di Cina pada tahun 651 M, tak sampai 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah Muhammad saw.  Ketika itu khalifah ke 3, Ustman bin Affan ra mengirim seorang utusan. Utusan tersebut diterima secara terbuka oleh Kaisar Dinasti Tang (Li Zhi atau Yung Wei).

masjid Huangsieng GuangzouSang Kaisar ini bahkan memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Agung Kanton di Guangzhou, yang merupakan masjid pertama di daratan Cina. Hingga kini masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu, merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Dengan kata lain Islam masuk ke Cina selain melalui jalur perdagangan juga jalur diplomatik.

Namun demikian Sa’ad bin Abi Waqqas, seorang sahabat kenamaan, dan beberapa orang sahabat pada tahun 615 M, sudah pernah datang ke dataran Cina, meski tidak lama. Ketika itu Rasulullah masih ada. Sa’ad kabarnya bahkan datang lagi untuk berdakwah hingga wafatnya pada tahun 635 M, dan dimakamkan di negri tersebut. Makamnya dikenal di kemudian hari dengan nama Geys’ Mazars.

Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Cina sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah dan agama Islam dikenal dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran “Buddha Ma-hia-wu” (Nabi Muhammad SAW).

Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Saat ini Islam di Cina memang tidak begitu populer bahkan cenderung ditekan. Namun pada masa dinasti Song, disusul Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M), jumlah pemeluk Islam di China semakin besar. Dinasti Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq. (Sumber : Sejarah Islam di Negeri Tirai Bambu ).

Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka. Di masa Kaisar Yong Le (Zhu Di) muncul seorang pelaut Muslim yang handal, yaitu laksamana Cheng Ho.

( Lihat :https://kanzunqalam.com/2011/01/13/sejarah-awal-mula-umat-muslim-di-china/ ).

Islam mulai mengalami kemunduran ketika berkuasanya dinasti Manchu-Qing (1644 M-1911 M). Karena dianggap sebagai pembela utama dinasti Ming sebagai dinasti pendahulu, maka semua kegiatan agama, pembangunan masjid dan ibadah hajipun dilarang. Politik “devide et impera” digunakan untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mongol. Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan.

” Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara”. ( HR. Muslim).

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” begitu kata pepatah kita.

Selanjutnya selama revolusi kebudayaan China (1966 – 1976), dengan berkuasanya partai komunis, kaum Muslimin tidak diperbolehkan menunaikan ibadah haji secara resmi, kecuali secara diam-diam melalui Pakistan. Syukur Alhamdulillah pada tahun 1979 kebijaksaan tersebut berubah. Sedikit demi nafas Islam kembali berdegup. Pada tahun 2007 adalah puncaknya. Sebanyak 10.700 jamaah China pergi menunaikan ibadah haji.

Sebagian besar Muslim Cina yaitu suku Hui, yang merupakan mayoritas Muslim, kini menetap di Xinjiang ( Daerah Otonomi Uighur Xinjiang ) yang berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur dan Rusia di utara, bergabung dengan kaum Muslimin Uighur yang sudah lebih lama menetap di wilayah tersebut. Dari total 25 juta Muslim di Cina , 8,5 juta di antaranya hidup di Xinjiang. Sementara, dari 300 ribu masjid di Cina, 23 ribu di antaranya ada di Xinjiang.

Sayangnya, pemberian status wilayah otonomi oleh pemerintah hanyalah akal-akalan belaka. Islam yang merupakan agama mayoritas masyarakat di tekan habis-habisan. Keberadaan sekolah Islam, masjid, dan imam dikontrol secara ketat. Pemerintah bahkan melarang kaum Muslimin shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Resto Uighur Halal, Paris

Restoran Uighur di Paris

Keberadaan suku Uighur makin terdesak oleh suku Han yang bukan Muslim, yang tadinya hanya 6 % hingga kini menjadi lebih dari 40 % dan diperlakukan secara istimewa oleh pemerintah. Banyak orang-orang Uighur yang akhirnya memilih meninggalkan kota kelahiran mereka dan mencari suaka ke negara lain, Perancis contohnya. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mampir dan mencicipi masakan orang Uighur yang pindah ke Paris dan membuka restoran di kota tersebut.

Sebagai info tambahan, Xinjiang adalah wilayah  yang kaya akan mineral dan minyak bumi. Cadangan gas alamnya bahkan merupakan yang terbesar di Cina. Daerah ini juga merupakan lokasi utama bagi Cina untuk melakukan uji coba nuklir.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/06/13/m5k6pb-muslim-xinjiang-bertahan-di-tengah-keterbatasan-1

https://international.sindonews.com/read/1114590/40/larang-muslim-xinjiang-puasa-ramadan-komitmen-china-diragukan-1465262380

( Bersambung).

Read Full Post »

Older Posts »