Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

sarangan1IMG_20191216_143949Dengan disambut hujan rintik-rintik, atas izin-Nya, sampai juga kami di tepian telaga Sarangan yang cantik itu. Pemandangan gunung Lawu dengan pohon pinusnya yang menjadi latar belakang danau sungguh menambah keindahan danau yang airnya jernih tersebut. Tak salah bila telaga ini juga dinamai Cermin Raksasa. Sejumlah perahu boat dengan aneka warnanya terlihat diparkir di tepi danau, siap mengantar pengunjung mengelilingi danau berudara sejuk tersebut. Disamping juga kuda, yang siap mengitarinya dari daratan.

Sayang hujan makin lama turun makin lebat. Dengan berat hati, akhirnya kamipun meninggalkan danau yang punya kenangan indah tersendiri bagi saya itu. Kenangan puluhan tahun lalu ketika orang-tua saya mengajak kami, anak-anak yang masih kecil, mengunjungi danau tersebut …

Dalam perjalanan kembali menuju Solo, di tengah hujan yang masih mengguyur, keindahan pemandangan pegunungan masih terus menampakkan diri. Hingga ketika terlihat sederetan warung di pinggir jalan, Bimo menyeletuk “Makan mie rebus enak nih kayaknya”, “ Tambah jagung bakar sama pisang goreng”, sahut Laras penuh selera, “ plus kopi panas”, imbuh bapaknya seraya melirik saya, seolah menunggu izin.

Walhasil menepilah kami di salah satu warung yang ditunggui seorang ibu tua. Kami segera keluar dan memesan makanan. Udara terasa dingin menggigit.

Ini masih lumayan bu, paling cuma 12 drajat. Kalau malam lebih dingin lagi”, ujar si ibu pemilik warung. Kami saling pandang penuh arti,” … Waah g nyangka rupanya orang desapun tahu satuan drajat yaa .. hebring, bisik saya kagum … 🙂

sarangan3Untung tak lama, munculah kopi, mie rebus, pisang goreng dan jagung bakar pesanan kami. Sambil menikmati dinginnya udara dan cantiknya pemandangan kamipun segera menyantapnya. Angin berhembus datang pergi membawa kabut tebal “menelan” perbukitan deretan bukit hijau kekuningan yang melatar-belakangi warung.

IMG_20191216_161712Tak lama kamipun meneruskan perjalanan. Rupanya tempat kami tadi berhenti persis di depan Cemara Kandang, pos bagi mereka yang hendak mendaki ke puncak Gunung Lawu. Pos ini terletak tidak terlalu dengan perbatasan Jateng – Jatim.

Esoknya, kami mengunjungi pasar Klewer untuk membeli sekedar oleh-oleh batik. Setelah itu, dengan berjalan kaki kami menyebrangi jalan dan tiba di masjid Agung yang letaknya bersebelahan dengan kraton ( kerajaan) Solo/Surakarta.

20191217_14075220191217_140307Masjid kuno yang dibangun oleh Sunan Pakubuwono III pada tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768 ini awalnya memang milik kraton Surakarta. Selain digunakan untuk shalat Jumat sebagaimana layaknya masjid agung, masjid juga digunakan untuk berbagai kegiatan tradisi seperti Sekaten (festival memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW) dengan Garebeg sebagai acara puncaknya.

Pada puncak acara tersebut iring-iringan gunungan, yaitu susunan berbagai makanan yang biasanya terdiri dari hasil bumi, beras ketan, makanan, buah-buahan serta sayur-sayuran yang diusung sejumlah orang diarak dari istana menuju masjid Agung. Setelah didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan dan lambang keberkahan tersebut dibagikan kepada masyarakat yang sudah menunggu sejak pagi hari. Selanjutnya sebagian gunungan tersebut dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang mereka dengan harapan agar sawah\ladang mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

Menurut beberapa sumber, tradisi Garebeg telah dilakukan sejak masa kerajaan Majapahit yang menganut ajaran Hindu, dan berlanjut hingga masa kerajaan Mataram. Wali Songo yang kemudian datang memperkenalkan ajaran Islam memperbolehkan tradisi tersebut berlanjut sebagai jembatan peralihan menuju ajaran Islam.

Kami memang tidak melihat acara tersebut tapi siang itu ketika kami menuju Pasar Klewer terjadi kemacetan parah. Usut punya usut akhirnya kami mendapat info bahwa sedang berlangsung acara haul Habib Ali bin Muhammad.

Awalnya kami tidak paham acara apakah gerangan. Setelah googling kami baru tahu bahwa Habib Ali bin Muhammad adalah seorang ulama besar asal Yaman keturunan rasululah Muhammad saw dari jalur Husein bin Ali bin Abu Thalib, putra dari Fatimah Az-Zahra putri rasulullah saw. Meski ulama Yaman tersebut seumur hidupnya tidak pernah menginjakkan kakinya di Indonesia namun namanya sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, khususnya Solo. Itu disebabkan salah keturunan Habib Ali yang menetap di Solo, dan mempunyai banyak murid di kota ini.

https://www.solopos.com/gagasan-haul-dan-risalah-maulid-simtuddurar-883666

Habib Ali wafat pada tahun usia 74 tahun, bertepatan dengan 20 Rabiulakhir 1333 Hijriah atau tahun 1912 Masehi. Hari wafatnya itulah yang kemudian tiap tahunnya diperingarti masyarakat Solo. Itulah yang dinamakan Haul. Beberapa tahun terakhir, jemaah yang mengikuti Haul terus bertambah, tidak hanya dari Solo melainkan juga dari kota-kota lain di Indonesia bahkan dari negara tetangga seperti Singapur, Malaysia, Yaman dll.

Namun seperti juga Maulud ( peringatan hari kelahiran nabi Muhammad saw), Haul sejatinya adalah bagian dari tradisi masyarakat bukan ajaran Islam. Karena Islam hanya mengenal 2 hari besar yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha sebagaimana hadist berikut:

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Demikian juga upacara Cembengan yang juga dikenal dengan sebutan Tebu Manten. Ritual ini biasa dilakukan pabrik-pabrik gula di Indonesia sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus permohonan akan kelancaran selama proses penggilingan.

Cembengan berasal dari kata Ching Bing (Cheng Beng) yaitu ritual khas Cina untuk mendoakan roh nenek moyang. Istilah ini dikenalkan oleh para pekerja asal daratan Cina yang ketika itu sengaja didatangkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di berbagai perkebunan milik penjajah Belanda tersebut, termasuk pabrik-pabrik gula. Mereka itulah itulah yang pertama kali membawa tradisi Ching Bing, sebagai ritual diawal musim giling tebu.

Selanjutnya Mangkunegara IV sebagai pemilik pabrik gula Colomadu di Solo, dengan mencampurkan adat Jawa di dalamnya, meneruskan ritual tersebut. Hal ini terekam di dalam museum De Tjolomadoe yang kami kunjungi keesokan harinya.

tjolomadoe1Musium megah ini rupanya bekas pabrik gula Colomadu yang pernah mengalami kejayaan di masa lalu. Pabrik ini didirikan tahun 1861. Selain krisis ekonomi tahun 1997–1998, pergantian lahan dari perkebunan tebu menjadi persawahan di sekitar lokasi adalah pemicu berhenti beroperasinya pabrik gula tersebut.

tjolomadoe2tjolomadoe3tjolomadoe4Di dalam museum ini pengunjung selain diajak melihat proses pembuatan gula juga diajak mengenang kesuksesan pabrik pertama milik pribumi tersebut. Melalui gula hasil pengolahan pohon tebu pabrik tersebut kekeratonan Solo membiayai hampir seluruh kebutuhan kraton termasuk pemberian beasiswa pendidikan anak-anak pekerja pabrik.

Tak heran bila kemudian sang sultan mengajarkan rakyatnya untuk mensyukuri keberkahan tersebut melalui acara Cembengan. Seperti juga dalam acara Sekaten, Cembengan juga diisi dengan acara arak-arakan sesaji seperti aneka jajan pasar, hasil bumi, nasi tumpeng, nasi merah lengkap dengan tujuh kepala kerbau.

Setiba di pabrik, sesaji kemudian diletakkan di bagian bawah mesin produksi. Khusus kepala kerbau diyakini sebagai penolak bala agar proses giling tebu terhindarkan dari kejadian yang tak diinginkan.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Terjemah QS.Al-Baqarah: 186)

Ini masih dilanjutkan keesokan harinya dengan apa yang dinamakan acara Tebu Manten. Pada acara puncak tersebut, sepasang pohon tebu didandani layaknya manten/pengantin, lalu di arak dengan iringan sesaji dan kepala kerbau seperti hari sebelumnya, hingga masuk ruang giling, digiling, disusul belasan pasang tebu pengiringnya.

Filosofi dari tebu manten adalah layaknya seperti mantu. Kita ibaratkan, saat ini adalah perpaduan tebu dari pabrik dan dari petani. Harapannya adalah hasil melimpah,” ujar seorang penanggung jawab upacara.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):45).

https://www.liputan6.com/regional/read/2936185/cembengan-ritual-kuno-arakan-kepala-kerbau-di-pabrik-gula.

Demikianlah kami menutup liburan kami di Solo dan sekitarnya, yang penuh makna dan variasi, dari kulinernya yang menggugah selera, budayanya yang kental hingga pemandangan alamnya yang mempesona. Alhamdulillah …

Trima-kasih yaa Allah, beri kami kemampuan untuk mengambil pelajaran atas segala yang kami lihat dan alami … aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Januari 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Pada pertengahan Desember yang baru lalu, kami ( saya dan suami) menerima undangan mantu seorang kerabat di Salatiga, Jawa Tengah. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk sekaligus berwisata ke Solo dan sekitarnya yang memang belum pernah sama sekali kami kunjungi. Kebetulan anak lelaki kami kedua yang baru menikah beberapa bulan lalu, bersama istrinya, bisa cuti dan ingin menemani kami, bahkan menggebu ingin meng-“intertain” kami selama 4 hari liburan tersebut.

“Mumpung belum ada tanggungan. Ayah ibu yang bikin itinerynya, terserah pinginnya kemana ayah ibu … Boleh ayah ibu yaa .. “, mohon keduanya, tulus … Masya Allah … Terharu hati ini … Semoga Allah swt mencatatnya sebagai amal kebaikan yang tak terhingga nilainya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. … “. (Terjemah QS. Al-Isra’(17):23).

IMG_20191213_073600Maka jadilah kami ber-empat memulai wisata singkat kami.  Kami memulai perjalanan dari bandara Adi Soemarmo Solo dengan mobil sewaan. Di pintu keluar bandara sepasang kereta kencana keraton menyambut kami. Sementara orang yang mengantarkan mobil sewaan meng-infokan adanya museum menarik bernama De Tjolomadu yang baru dibuka tahun lalu.

Menurutnya sayang kalau dilewatkan, apalagi lokasinya tidak jauh dari bandara dan pasti dilewati. Tapi ternyata tidak semudah itu karena mbah Google menyarankan melewati jalan-jalan potong kecil hingga akhirnya malah nyasar ntah kemana. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke rencana semula yaitu, mengunjungi batik. Museum bila memungkinkan, di hari terakhir sebelum ke bandara.

Berkunjung ke Solo tanpa menyambangi batik rasanya memang kurang afdol. Ada beberapa pilihan menarik diantaranya pasar Klewer, Kampung Batik Kauman dan kampung Batik Laweyan yang merupakan tempat tinggal para pengrajin Batik Solo.

Kota berjulukan “Spirit of Java” ini memang menyimpan banyak kekayaan budaya, batik adalah salah satu contohnya. Batik telah ada sejak dulu dan masih eksis hingga kini. Motif kawung dan parang adalah dua di antara berbagai motif khas batik Solo yang mempunyai penggemar tersendiri.

IMG_20191213_084323Khusus di Kampung Batik Kauman dan kampung Batik Laweyan pengunjung selain dapat berbelanja batik dengan harga yang relative murah juga dapat melihat proses pembuatan batik. Untuk itu kami memutuskan mengunjungi salah satu darinya yaitu Kampung Batik Laweyan. Sayang ketika kami tiba di lokasi sekitar pukul 10 pagi sebagian besar toko belum buka.

“ Dari pada balik lagi mending lihat batik di tempat lain kali yaa .. Lusa tapi, balik dari Salatiga”, usul saya.

Besok dan lusa pagi sesuai rencana memang khusus disiapkan untuk menghadiri acara mantu kerabat sekaligus silaturahim keluarga besar di Salatiga.

IMG_20191213_150307IMG_20191213_150312Akhirnya kamipun berburu kuliner yang daftarnya sudah kami kantongi dari jauh-jauh hari. Solo kabarnya memang surga bagi pencinta kuliner. Mulai dari es dawet di dalam traditional Pasar Gede, serabi Notosuman, Soto Tengkleng hingga Timlo Solo, Selat Solo dan Nasi Liwet yang merupakan masakan khas kota tersebut.

Uniknya masakan yang direkomendasi umumnya bukan yang di restoran besar tapi di warung kaki lima, dengan harga yang relative murah namun rasanya tak kalah dengan yang di jual di restoran.

Namun dari sejumlah warung kaki lima dan resto yang kami kunjungi, bagi saya pribadi, rumah makan Adem Ayem yang terletak di jalan Slamet Riyadi, Laweyan adalah yang paling top. Karena selain label Halal MUI yang terpampang jelas dan besar, pilihan juga banyak dan enak, tempatnyapun bersih dan nyaman. Apalagi bila mengingat tidak sedikit restoran di kota ini yang menjual masakan babi yang jelas-jelas  haram bagi umat Islam.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):168).

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.  … … “. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):173).

Esoknya sesuai rencana kami ke Salatiga. Ada cerita cukup menarik begitu kami tiba di kota dingin ini. Beberapa meter sebelum mencapai hotel yang sengaja kami pilih berdekatan dengan lokasi acara pernikahan, ternyata jalan di tutup karena ada pawai menjelang Natal, hingga kami harus berputar-putar mencari jalan lain. Syukur Alhamdulillah akhirnya mobil berhasil menyelinap tepat di depan arak-arakan dan masuk ke lokasi acara.  Harap maklum Salatiga memang dikenal sebagai kota yang banyak pemeluk Nasraninya ( 21 %). Universitas Kristen Satya Wacana salah satu universitas Kristen swasta ternama di Indonesia, berada di kota ini.

“Itu bukti kota kami adalah kota yang toleran”, jelas kerabat kami menjawab penjelasan alasan keterlambatan kedatangan kami.

Tentu tidak menjadi masalah selama tidak ada paksaan untuk merayakan acara keagamaan yang bukan agamanya. Toleransi dalam agama adalah saling menghormati agama tanpa harus melibatkan diri ke dalamnya, apalagi yang sampai merusak akidah.

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Singkat cerita usai acara keluarga dan silaturahim, sorenya kami  melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah Tawangmangu tempat wisata pegunungan di kabupaten Karanganyar yang berjarak 21 km dari Solo, atau sekitar 80 km dari Salatiga. Objek wisata di lereng barat gunung Lawu ini sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda.

Sayang kami memasuki kawasan wisata ketika matahari telah jauh terbenam. Padahal kami harus menghadapi jalanan pegunungan kecil sempit berliku tajam nan terjal. Sementara resort hotel yang telah kami booking jauh-jauh hari tidak memberikan respons ketika kami hubungi berkali-kali. Akhirnya meski dengan susah payah, kami berhasil tiba di “resort hotel” tersebut. Namun dengan berbagai alasan kami memutuskan untuk batal dan mencari hotel lain. Alhamdulillah kami mendapatkannya meski tidak begitu sesuai harapan.

Esok harinya kami segera menuju objek wisata yang banyak dimiliki daerah tersebut. Salah satunya adalah Grojogan Sewu yang merupakan bagian dari Hutan Wisata Grojogan Sewu. Penamaan Grojogan Sewu yang berarti air terjun seribu (dalam bahasa Jawa grogojan artinya air terjun sedangkan sewu adalah seribu) merujuk pada tingginya air terjun, yaitu seribu pecak, atau sekitar 81 meter. Pecak adalah satuan jarak yang biasa digunakan ketika itu. Satu pecak sama dengan satu telapak kaki orang dewasa.

Awalnya kami sempat ragu mengunjungi grogojan tsb karena infonya jalan menuju kesana tidak mudah, harus melewati ratusan anak tangga. Apalagi ketika di Salatiga kemarin hnp alias syaraf kejepit saya sempat kambuh. Tapi setiba di Karanganyar kami mendapat info untuk menuju ke lokasi ada 2 pintu masuk. Pintu utama, yang masuk dari arah bagian atas air terjun memang harus melalui anak tangga yang jumlahnya ratusan. Sementara pintu yang satu yaitu yang dari arah bagian bawah air terjun relative mudah karena landai.

20191216_101146IMG_20191216_102034Akhirnya kami putuskan masuk lewat pintu tersebut. Jalanan terlihat lengang, kelihatannya bukan jalan umum. Bus dan mobil besar tidak bisa lewat jalan tersebut. Dan memang keputusan yang sangat tepat. Selain landai jalur tersebut mengikuti jalur sungai, sesuatu yang sangat saya sukai. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak seperti umumnya sungai di Indonesia yang kurang bersih dan banyak sampah, sungai maupun jalan setapak menuju air terjun ini benar-benar bersih, dan jernih. Batu-batu besar dan kecil menghiasi sungai tersebut … Masya Allah …

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):74).

20191216_10364520191216_111722IMG_20191216_111020Puas menikmati keindahan pemandangan dan suara gemericik air kamipun melanjutkan perjalanan ke telaga Sarangan, yang jaraknya sekitar 40 km dari Grogojan Sewu.  Telaga cantik ini terletak di kabupaten Magetan Jawa Timur, di lereng Gunung Lawu, di sisi belakang Grogojan Sewu pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, tidak jauh dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meski ini adalah rute pegunungan tak disangka ternyata jalanannya beraspal lebar dan mulus. Sayang mobil yang kami sewa ternyata kurang oke. Perkiraan suami mungkin perjalanan mendaki malam kemarin yaitu ketika kami mencari hotel adalah penyebab tipisnya cakram rem. Maka untuk mencegah kemungkinan lebih buruk terpaksa kami berhenti beberapa kali agar rem tidak terlalu panas.

(Bersambung).

Read Full Post »

Yang juga melegakan adalah banyaknya restoran halal dan toko daging halal di kota tersebut. Masjid juga ada beberapa meskipun sederhana dan agak di luar kota. Sayang tidak ditemukan data akurat tentang jumlah Muslim di kota ini. Data terakhir (2001) hanya menyebut bahwa jumlah Muslim adalah 6.3 % dari jumlah penduduk. Menjadikannya sebagai agama minoritas terbanyak di Newcastle.

 

Meski masih kalah dibanding jumlah Muslim di London yang tercatat sebanyak 12.39 %, cukup melegakan dibanding mayoritas Kristen yang 56.4% dan 27.8% mengaku tidak beragama. Jumlah yang cukup signifikan untuk ukuran Barat yang sedang mengalami Islamphobia akut.

Bahkan wali kota London sendiri adalah seorang Muslim keturunan Pakistan. Kakeknya bermigrasi dari India ke Pakistan paska pembagian India pada tahun 1947. Sadiq Aman Khan, demikian nama sang wali kota, lahir di London tak lama setelah orang tuanya bermigrasi ke Inggris. Khan yang berprofesi sebagai pengacara ini menjabat sebagai wali kota sejak 2016 lalu.  Sayang ke-Islam-annya banyak dipertanyakan orang karena selain tidak mempunyai komitmen jelas terhadap kejahatan Yahudi, juga menyetujui pernikahan sesama jenis yang jelas-jelas dikutuk Islam sebagaimana kisah kaum nabi Luth berikut.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Huud(11):82-83).

Sejarah masuknya Islam di Inggris memang agak rumit. Sejak Islam diturunkan ke muka bumi dengan diutusnya rasulullah Muhammad saw pada tahun 610 M, baru ratusan tahun kemudian tembus ke Inggris. Itupun hanya dengan masuknya 1 orang Ksatria Templar bernama Robert of St. Albans pada 1185. Begitu ber-syahadat Robert langsung bergabung dengan pasukan Raja Salahudin berbalik melawan tentara Salib. Ia wafat hanya 2 tahun setelah memeluk Islam. Semoga Allah swt meridhoinya, aamiin …

Selanjutnya Islam baru masuk ke Inggris secara bergelombang paska pecahnya Perang Dunia I tahun 1917 an. Dengan berbondong-bondong pengungsian dari berbagai negara Muslim yang terlibat perang memasuki Inggris. Banyak diantara mereka ini yang kemudian pindah kewarga-negaraan dan bergabung dengan tentara Inggris tanpa melepas ke-Islam-an mereka. Diantaranya Muslim Turki Siprus yang terkena dampak Turki Siprus Diaspora yang banyak menelan korban pembantaian.

3

London Central Mosque

7Sebelum tragedy Siprus paska dominasi Inggris, Muslim Turki Siprus datang ke Inggris sebagai pelajar dan turis. Selanjutnya setelah berhasil mengembangkan bisnis, pada tahun 1970an mereka mengajak keluarga besar mereka termasuk yang di Turki daratan, untuk membantu bisnis mereka yang berkembang pesat. Mereka inilah yang kemudian membangun masjid yang hingga kini banyak bertebaran di Inggris. Termasuk The London Central Mosque yang juga dikenal dengan nama the Islamic Cultural Centre (ICC) atau Regent’s Park Mosque karena letaknya yang memang di Regent’s Park, pusat kota London.

Disamping itu, sebagai akibat Inggris yang banyak menjajah negara-negara Muslim, maka berdatangan pula keluarga-keluarga negara jajahan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Somalia dan beberapa negara Afrika lainnya. Belakangan Malaysia yang merupakan bagian dari negara persemakmuran (Commonwealth) banyak mendatangkan pelajar-pelajarnya ke Inggris untuk memperdalam ilmu mereka di berbagai perguruan tinggi  di negara tersebut.

Namun tidak sedikit pula orang asli Inggris seperti orang-orang Skotlandia, Irlandia dan Wales yang tertarik dengan ajaran Islam lalu memeluknya. Diantaranya adalah  Marmaduke William Pickthall yang mengganti namanya menjadi Muhammad Marmaduke Pickthall  sejak masuk Islam pada akhir 1917. Jurnalis sekaligus politikus tersebut adalah orang pertama yang menterjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris. Maha karya yang ditulis pada 1930 tersebut diakui secara resmi oleh Universitas Al-Azhar Mesir, dan masih digunakan hingga detik ini. Berikut kisah ke-Islam-an beberapa tokoh Inggris era Ratu Victoria :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/07/31/ob6f7n313-cerita-muslim-inggris-era-victoria

Tak heran bila kini Islam tercatat sebagai agama paling pesat berkembang di Inggris. Antara kurun waktu 2001 – 2009 jumlah Muslim melonjak 10 kali lebih cepat dibanding agama lain. Tampaknya tragedy keji September 2001 yang meluluh lantakan WTC dan sekitarnya justru memancing keingin-tahuan Barat  untuk lebih mengenal Islam yang sesungguhnya. Allahu Akbar …

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Syukur Alhamdulillah Allah swt memberi kami bertiga kesempatan untuk mengunjungi London (beberapa tahun yang lalu) dan kini beberapa kota yang tidak terlalu jauh dari Newcastle. Dengan mengendarai mobil sewaan kami mengunjungi Durham yang hanya berjarak beberapa km dari Newcastle, Windermere dan Keswick yang terletak di Lake District, Glassgow dan Edinburg, ibu kota Skotlandia, untuk terus kembali ke Newcastle.

20190920_145241Durham menjadi daya tarik sendiri, setidaknya bagi putri kami, karena disitulah dilakukan shooting film Harry Potter. Namun sungguh tak dinyana dalam perjalanan menuju gereja abad pertengahan tempat shooting diakukan kami menemukan adanya resto dengan tulisan HALAL terpampang.

Belakangan kami baru tahu bahwa Durham University ternyata memiliki fakultas Ekonomi dan Keuangan Islam yang telah berusia 25 tahun.  Maka kamipun tak heran mengetahui universitas tertua ke 3 ( lebih dari 600 tahun) di UK ini juga memiliki masjid yang dikelola Islamic Association kampus tersebut. Sementara di Lake District kami tidak sempat menemukan restoran berlabel Halal maupun masjid. Dari hasil googling Muslim di wilayah tersebut termasuk yang paling sedikit dibandingkan wilayah lain di Inggris.

Dari Lake District kami menuju ke utara yaitu Edinburg, ibu kota di Skotlandia, dengan melalui Glasgow. Kami tiba di Glasgow, kota terbesar keempat di Eropa, setelah London, Paris dan Berlin tersebut ketika matahari sudah terbenam. Kami hanya melewati kota tersebut untuk istirahat mencari makan malam. Sayangnya ternyata tidak mudah menemukan restoran Halal di kota tersebut.

Menurut Wikipedia, berdasarkan sensus 2011,  Muslim di Skotlandia memang sedikit sekali, yaitu hanya 1.4 % dari populasi. Muslim pertama yang tercatat masuk Skotlandia adalah seorang mahasiswa India jurusan kedokteran Edinburg University pada tahun 1858. Meski demikian dari pengamatan Google map, masjid di Glasgow lumayan banyak bahkan lebih bagus dibandingkan masjid yang ada di Newcastle. Masjid juga dapat ditemukan di universitas Glasgow. Seperti juga di Newcastle dan Durham, masjid tersebut dikelola oleh Islamic Association universitas bersangkutan.

edinburg mosque20190922_19024920190922_19124420190922_132905Sementara itu di Edinburg, ibu kota Skotlandia yang sebagian kotanya adalah kota tua abad pertengahan yang terdaftar sebagai situs warisan Unesco, selain resto kebab Halal, secara tidak sengaja kami menemukan sebuah masjid megah, Masjid Central Edinburg. Masjid yang terletak tidak jauh dari universitas Edinburg ini sebagian besar dana pembangunannya berasal dari raja Fahd dari Arab Saudi. Masjid ini resmi dibuka pada tahun 1998.

Masjid Dar Al-Arqam Edinburg UKDar Al-Arqam 1Belakangan melalui google map, terlihat adanya masjid bernama Dar Al-Arqam. Masjid ini terletak di sisi lain Edinburg University. Dari kejauhan orang pasti tidak akan mengira bahwa bangunan tersebut adalah bangunan rumah ibadah umat Islam. Sayang tidak ada keterangan resmi sejak kapan bangunan yang tampaknya bekas sebuah gereja itu berubah fungsi menjadi masjid.

Tidak didapat keterangan pasti berapa jumlah Muslim di Inggris sekarang ini. Namun berita pada Maret 2018 dari London mengatakan bahwa ratusan gereja di London telah ditutup. Sementara ratusan masjid bermunculan, sebagian dari bekas gereja yang sudah tidak lagi terpakai. Meski demikian jumlah masjid yang ada tersebut tetap tidak mampu menampung jamaah yang akan melakukan shalat Jumat. Allahu Akbar …

Masih menurut sumber yang sama, hampir setengah dari Muslim Inggris berusia di bawah 25 tahun. Sementara seperempat orang Kristen berusia di atas 65 tahun. Kota-kota besar yang tercatat memiliki banyak Muslim adalah Manchester (15,8%), Birmingham (21,8%) dan Bradford (24,7%).

“Dalam 20 tahun ke depan, akan ada lebih banyak Muslim yang aktif daripada orang-orang gereja,” kata Keith Porteous Wood, direktur Sekuler Nasional Masyarakat.

https://duniaekspress.com/2018/05/31/geliat-islam-di-london-500-gereja-tutup-buka-423-mesjid/

Tampak dengan makin banyaknya pelajar Muslim dari berbagai belahan negara yang menimba ilmu di negri ini telah makin membuka mata dan hati penduduk Inggris mudah menerima Islam sebagai satu-satunya ajaran yang diridhoi-Nya. Islam yang merupakan agama tauhid yang dibawa para nabi termasuk nabi Musa nabinya umat Yahudi maupun nabi Isa nabinya umat Nasrani, yang 14 abad kemudian disempurnakan oleh rasulullah Muhammad saw.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 November 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Setelah penerbangan selama 15 jam ditambah transit 2 jam di Amsterdam, KLM yang kami tumpangipun akhirnya mendarat selamat di Newcastle, Inggris. Kota ini adalah kota di Inggris pertama yang pernah kami kunjungi selain London. Waktu menunjukkan sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Angin dingin langsung menyergap tubuh begitu kami keluar dari bandara kota tersebut. Temperatur sekitar 16 derajat. Sebenarnya temperature yang cukup ideal namun karena anginnya yang  kencang maka terasa lebih dingin dari yang sesungguhnya.

Newcastle terletak 396 km utara London, 148 km tenggara Edinburg ibukota Skotlandia. Newcastle selama ini dikenal orang karena club sepak bolanya yang mendunia, yaitu Newcastle United, disamping universitas Newcastle. Belakangan kami baru tahu ternyata di Australia, yaitu di New South Wales juga ada kota dengan nama Newcastle, yang juga memiliki universitas bernama Newcastle University. Untuk menghindari kesalahan ada baiknya yang di Inggris disebut secara lengkap , yaitu Newcastle Upon Tyne. Tyne adalah nama sungai yang mengalir di selatan kota tersebut.

IMG-20190918-WA0028Kedatangan kami ke Newcastle adalah untuk mendampingi putri bungsu kami melanjutkan study di Newcastle University. Salah satu alasan mengapa kami mengizinkan putri kami tersebut memilih Inggris, karena Inggris dikenal lebih terbuka terhadap dunia Islam dibanding negara Eropa lain.

Sejarah dan latar belakang kota Newcastle cukup menarik untuk ditelusuri. Kota ini berawal pada tahun 122 M dengan didirikannya tembok Hadrian dan jembatan yang menyebrangi sungai Tyne. Keduanya dibangun pada masa kaisar Hadrian dari Romawi yang ketika itu berhasil menaklukkan tanah Inggris dan memasukkan negara di ujung barat Eropa tersebut sebagai daerah jajahan Romawi.

Namun demikian kota Newcastle sendiri baru berdiri secara resmi sekitar abad 12. Pada saat itulah gereja, biara dll didirikan. Peninggalan pusat kota tua tersebut masih bisa kita lihat di beberapa tempat hingga sekarang. Meski sudah tidak ada yang asli, karena bangunan-bangunan religi tersebut ditutup untuk kemudian dihancurkan pada masa raja Henry VIII berkuasa. Raja Henry VIII adalah raja Inggris pertama yang berhasil memisahkan pengaruh kekuasaan Romawi pusat terhadap kerajaan Inggris.

20190916_191126 (2)

Newcastle Castle

20190928_184631 (2)

20190928_183556 (2)Saat ini bila kita ingin berjalan kaki menuju tepi sungai dimana berdiri “Gateshead Milennium Bridge” yang merupakan ikon kota, kita akan melewati apa yang dinamakanNewcastle castle”. Ini adalah bekas benteng peninggalan abad pertengahan.

Sementara jembatan gantung khusus pejalan kaki dan sepeda “Gateshead Milennium Bridge” berbentuk harpa ini baru dibangun belakangan, yaitu pada tahun 1998. Jembatan yang bisa diangkat “dawainya” ketika kapal besar akan lewat ini menghubungkan Newcastle yang merupakan kota pelabuhan dengan Gateshead yang berada di sebrangnya. Disamping jembatan tersebut ada 4 jembatan mobil yang menyebrangi Tyne, termasuk sebuah jembatan kuno yang tetap dipertahankan keberadaannya.

20190916_190952 (2)

Black Gate

Selain “Newcastle castle” ada lagi bangunan abad pertengahan lain yang berada di lokasi tersebut. Yaitu “Black Gate” yang merupakan gerbang utara benteng “Newcastle castle”. Di dalam bangunan tua tersebut hingga saat ini masih terlihat bekas ruangan-ruangan sempit tempat penyiksaan tahanan.

Di beberapa sudut kota potongan-potongan tembok tua bekas benteng juga masih dipertahankan. Di dalam benteng inilah dulunya kota tua Newcastle yang religius berada.

20190923_171144 (2)20190928_113431 (2)Di area yang kini sudah berubah menjadi Cina Town tersebut berdiri sebuah restoran mewah yang menyajikan masakan khas Inggris, dengan nama Blackfriars. Restoran ini memanfaatkan bangunan tua abad pertengahan bekas biara Blackfriars di masa lalu. Blackfriars adalah nama salah satu persatuan persaudaraan gereja ketika itu. Mereka adalah pendakwah Kristen pertama yang memasuki tanah Inggris. Di area Blackfriars itu pulalah dulu pernah berdiri penginapan yang sering digunakan raja Henry III ketika berusaha menalukkan Skotlandia.

20190917_115302 (2)

Grey Monument

Sementara Pilgrim Street yang bersambungan dengan Northumberland Street,  pedestrian dimana berjejer toko-toko, restoran, pub dll yang selalu ramai pengunjung, dulunya adalah jalur peziarah Kristen yang akan menuju gereja  yang ada di utara kota tersebut. Di sepanjang jalan tersebut dulunya berdiri banyak penginapan untuk para peziarah. Kedua jalan tersebut berujung di Grey Monument yang merupakan landmark kota.

Ironisnya, Newcastle seperti juga kebanyakan kota-kota di Barat, kini jauh dari kehidupan religi. Gereja sudah jarang dikunjungi. Kaum perempuan dengan pakaian minim tak peduli udara dingin mengigit terlihat dimana-mana. Di setiap akhir pekan, penduduk kota, bukan hanya muda mudi tapi juga yang sudah cukup berumurpun, tumpah ruah memenuhi jalanan pusat kota, resto, pub untuk  bermabuk-mabukan. Kabarnya banyak pelajar dari universitas sekitar seperti Durham University, misalnya, yang hanya butuh waktu 30 menit ber-kereta-api, tiap akhir pekan berbondong-bondong menghabiskan waktu malam mereka di kota ini.

20190928_110811(1)

Stasiun kereta Newcastle

Karena brisik, di suatu akhir pekan, suami pernah protes kepada pihak hotel tempat kami menginap (kebetulan hotel berlokasi tidak jauh dari stasun kereta api). Tampaknya kamar di depan kami malam itu dijadikan tempat pesta mabuk-mabukan. Bau alkohol terasa menyengat di gang depan kamar kami. Hingar bingar musik terdengar setiap kali pintu terbuka, menandakan adanya orang keluar masuk kamar tersebut. Namun petugas hotel hanya menjawab ringan, “ Maklum pak ini kan malam week-end”. Yaa Allah …

20190916_113959 (2)20190919_124824 (4)Hal ini sekaligus menjawab keheranan kami di awal kedatangan pada Ahad sekitar pukul 9 pagi yang terlihat lengang, nyaris tak ada kegiatan apapun. Lepas pukul 3 sore kota baru terlihat mulai ramai. Mengingatkan kami ketika mengunjungi kota pelajar Salamanca di Spanyol beberapa tahun lalu. Menurut petugas hotel, Ahad pagi hingga siang penduduk yang sebagian besar pelajar itu masih teler akibat begadang semalaman. Mungkin begitu pula Newcastle dimana di dalamnya terdapat 2 universitas besar yaitu Newcastle University dan Northumbria University.

Hhhmmm … ngeri juga kalau membayangkan menyekolahkan anak di kota seperti ini. Ini yang menjadi salah satu pertimbangan mengapa kami tidak ingin menyekolahkan anak di Barat ketika mereka baru lulus SMA. Khawatir keimanan mereka belum cukup kuat melihat budaya dan kebiasaan buruk masyarakat di sana. Meski bukan jaminan juga mahasiswa S2 pasti lolos dari godaaan tersebut.  Kabarnya, Culture Shock, itulah istilah kerennya, sering melanda mahasiswa/i Indonesia yang menimba ilmu di luar negri terutama di negri dengan budaya yang jauh berbeda dengan budaya dan ajaran agama kita.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar ( alkohol) dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”.  … .“( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):219).

Ya Allah lindungi dan beri kekuatan serta kesabaran putri kami dalam menghadapi berbagai kesulitan di tempat barunya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

20190918_13352620190918_13362920190918_134813 (2)Itu sebabnya surprised juga kami ketika mendapati Newcastle University memiliki masjid, meski tidak besar,  yang biasa digunakan shalat 5 waktu dan shalat Jumat staff dan mahasiswa kampus tersebut. Masya Allah …

Alhamdulillah, maka sebagai orang-tua siswa kamipun bisa merasakan nikmatnya shalat Zuhur berjamaah di dalam kampus yang telah berusia lebih dari 100 tahun tersebut. Kampus yang didirikan pada tahun 1834 dimana Sir Rowan Atkinson atau lebih dikenal sebagai Mr Bean pernah kuliah di dalamnya.

Masjid Newcastle University dikelola secara serius oleh Newcastle University Islamic Society (NUIS). Sekretariat komunitas ini menempati area salah sudut kampus utama di Queen Victoria Boulevard. Disitu pulalah masjid berada.

https://www.newcastleisoc.com/

IMG-20191031-WA0000_1573486240837IMG-20191031-WA0001_1573486240777 (2)NUIS tidak hanya menyediakan dan mengatur waktu shalat tapi juga berbagai kegiatan lain, seperti olah raga, seni, ketrampilan dll. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan teratur. Diantaranya pembuatan barang keramik seperti yang sempat diikuti putri kami beberapa waktu lalu.

Dalam wadah inilah bertemu dan berkenalan Muslim dari berbagai negara, yang dengan demikian akan melahirkan ikatan persaudaraan Muslim yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Persaudaraan dan solidaritas yang makin hari makin diabaikan oleh sebagian besar Muslim hingga mudah di adu domba dan dilecehkan serta menyebabkan timbulnya Islamophobia akut. Ironisnya korbannya bukan saja non Muslim tapi bahkan sebagian yang mengaku Islam.

“Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur”. (HR. Bukhari dan Muslim).

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan”. ( HR. Muttafaq ‘Alaihi).

Bersambung

Read Full Post »

Great Ocean Road adalah jalur pantai pesisir selatan Australia antara Geelong dan Warrnambool di Victoria. Jalan ini dibangun pada masa Great Depression antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II sebagai upaya pemerintah Australia untuk membuka pekerjaan. Jalur yang memiliki keindahan alam mempesona ini hanya berjarak sekitar 90 menit dari pusat kota Melbourne.

Beruntung kami menemukan link tentang perjalanan  tersebut dari rumah, di Jakarta. Hingga dengan demikian dapat menikmat maha karya kecantikan buatan Sang Khalik sepanjang 200 km tersebut tanpa harus berlelah-lelah mengemudikan sendiri kendaraan yang banyak disewakan di Melbourne. Ataupun di Geelong yang sering dijadikan tempat start perjalanan ke Great Ocean Road. Melbourne – Geelong dapat ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan subway.

https://greatoceanroadmelbournetours.com.au/tours/1-day-great-ocean-road-12-apostles-tour/

Maka pada suatu hari di bulan Oktober tepat pukul 7.00 pagi, bus datang menjemput kami di depan hotel. Pak sopir merangkap guide yang akan menemani kami selama perjalanan memperkenalkan diri dengan nama Tim, warga asli Melbourne.

20181125_093059Setelah mampir di beberapa meeting point untuk menjemput para tamu sesuai daftar, bus berkapasitas 24 orang itupun langsung melaju meninggalkan kota. Sepanjang perjalanan dari Melbourne ke Geelong yang terletak di barat daya Melbourne adalah  hamparan padang rumput luas nan hijau, dengan sapi dan domba-domba berbulu lebat yang sungguh meneduhkan mata. Australia memang dikenal sebagai negara pengeksport daging dan susu kedua ternak tersebut.

Highway mulus yang kami lalui terlihat sengang. Penduduk benua di sebelah tenggara Indonesia ini memang relative sedikit dibanding luasnya. Penduduk asli Australia yang merupakan bagian dari negara persemakmuran Inggris ( commonwealth) adalah suku aborigin yang jumlahnya tidak begitu banyak dan menyebar di banyak tempat. Namun sejak kedatangan kapten Cook dan armada  Inggrisnya ke benua tersebut pada tahun 1770, dan menjadikannya tempat buangan narapidana Inggris, maka rata-rata penduduk Australia sekarang ini adalah keturunan bangsa Inggris dan Irlandia.

Selepas Geelong menuju Torquay, perjalanan indah berkelok susur pantai selatan Australiapun dimulai. Tim sambil mengemudikan kendaraan tak henti-hentinya bercerita berbagai hal. Mulai dari kopi yang merupakan bagian hidup warga Melbourne, harga rumah di Melbourne yang makin hari makin meroket, gold hunter alias perburuan emas di masa lalu, hingga kisah Tom dan Eva, warga Inggris yang mengalami kecelakaan kapal parah di tahun 1800-an.

20181125_09431120181125_111715IMG_4365Beberapa kali Tim menghentikan bus, memberi kesempatan tamu-tamunya untuk turun menikmati keindahan pantai. Kami juga berhenti sebentar di sebuah hutan kecil untuk hunting koala yang banyak menempati hutan tersebut. Dari penjelasan Tim, kami baru tahu binatang lucu yang menjadi ikon Australia disamping Kangguru tersebut ternyata termasuk jenis hewan perusak. Binatang yang tidak suka hidup berkelompok dan sangat suka bertegger di atas pohon itu, sebenarnya telah merusak batang pohon yang dikeratnya setiap hari, meski mungkin tanpa disadarinya.

Menjelang pukul 12 siang, kami tiba di Apollo Bay, dimana kami berhenti untuk makan siang di sebuah restoran. Dan sesuai brosur isian yang kami isi via internet sebelum keberangkatan, kami menerima pesanan makanan kami, Chicken Pizza dan Grill Chicken, dengan tanda khusus HALAL.  Alhamduillah …

Dari 24 orang yang berada di dalam rombongan hari itu, hanya kami ber-tiga yang Muslim. Tim sebelumnya sempat meng-absen tamu-tamunya berdasarkan negara. Dengan bangga ia memamerkan bola yang ada dalam genggamannya,

Hari ini saya menggenggam 14 negara dalam satu tangan saya”.

14 negara tersebut adalah Australia, Amerika, Mexico, Inggris, Denmark, Norwegia, Perancis, Spanyol, Italia, Korea Selatan, Vietnam dan Indonesia. Dua lagi saya lupa …

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Jujur, bangga dan bahagia rasanya sebagai Muslim sekaligus orang Indonesia bisa berada di tengah-tengah berbagai bangsa. Dakwah tidak harus dengan berbicara panjang lebar, tapi dengan penampilan, jilbab khususnya bagi kaum hawa, bisa mempunyai nilai tersendiri.

Usai makan siang, rombongan segera memasuki bus untuk memulai perjalanan menyusuri Great Ocean Road yang dipenuhi tebing-tebing terjal yang memukau. Jalur ini membentang sepanjang 200 kilometer menyusuri selat Bass yang terkenal ganas. Tim kembali menceritakan kisah Tom dan Eva yang menjadi salah satu korban keganasan gelombang laut selat tersebut, secara lebih rinci.

Pada tahun 1798, penjelajah Inggris bersuka-cita karena menemukan selat Bass, yang memisahkan daratan Australia dengan pulau Tasmania yang berada di bagian selatannya. Karena dengan demikian dapat mempersingkat perjalanan laut dari Inggris ke Sydney sejauh 1.100 kilometer, dari total 19.000 kilometer dan  memakan waktu 5 bulan perjalanan. Perjalanan tersebut sejatinya nyaris mengelilingi separuh dunia, yaitu dengan mengarungi lautan Atlantik yang memisahkan benua Eropa dengan benua Amerika, menembus selatan Amerika Latin untuk memasuki lautan Pasifik bagian selatan nan luas.

Sayangnya, angin, arus dan gelombang di selat Bass yang tinggal sejengkal ke tanah Australia tersebut sangatlah kencang dan besar. Selat ini merupakan salah satu daerah perairan yang paling berbahaya di dunia untuk dilayari. Ini masih ditambah dengan adanya terumbu karang dengan gerigi-geriginya yang sangat tajam. Terumbu tersebut terletak di tengah-tengah selat. Tak pelak bila banyak kapal yang menjadi korban dan terkapar di dasar selat yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu.

Tapi hal tersebut tidak membuat ciut orang-orang Inggris dan Irlandia datang untuk berburu emas. Ataupun untuk sekedar mencari tanah baru yang masih perawan. Termasuk kapal layar Loch Ard yang pada tanggal 1 Juni 1878 bergerak melewati kabut tebal menuju garis pantai Victoria, tanpa menyadari sebuah karang terjal setinggi 90 meter tegak berdiri pada jarak hanya sekitar dua kilometer di hadapannya. Maka dalam waktu singkat kapal Loch Ard yang telah menempuh 3 bulan perjalanan itu menabrak karang dengan kerasnya, dan tenggelam beberapa menit kemudian.

Dari 54 penumpang hanya dua yang selamat, yaitu seorang kelasi yang sedang magang bernama Tom Pearce dan penumpang bernama Eva Carmichael. Keduanya berusia sekitar 19 tahun. Tom berpegang erat pada sekoci yang terbalik selama berjam-jam di perairan laut yang dingin. Hingga akhirnya arus menyeretnya ke sebuah celah di antara karang-karang terjal. Sementara Eva yang tidak bisa berenang hanya bergayut pada pecahan kapal sebelum terseret ke tempat yang sama dengan Tom.

Selanjutnya Eva jatuh pingsan selama berjam-jam di dalam gua yang berada di dekat lokasi. Sementara itu, Tom dengan susah payah memanjat karang yang terjal yang ada dihadapannya untuk mencari bantuan. Keduanya kemudian dievakuasi ke sebuah rumah tidak jauh dari situ. Namun Eva yang kehilangan seluruh keluarganya, yaitu kedua orang tua, tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan, 3 bulan kemudian memilih pulang ke Inggris.

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

20181125_173938

Tom & Eva Pillar

20181125_174729Untuk mengenang kejadian tragis tersebut tempat itu kini diberi nama Jurang Loch Ard ( Loch Ard Gorge) atau juga Tom and Eva Pilar. Tempat ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Port Campbell, yang selalu ramai dikunjungi para turis.

Bahkan menurut Tim, high way yang menyusuri Great Ocean Road sengaja dibangun untuk mengenang kedua remaja tersebut. Dan untuk memudahkan para turis yang berdatangan dari manca negara dibangun jalan setapak menuju lokasi yang relatif jauh dari jalan raya itu. Bahkan tangga curam menuju pantai berpasir kemerahan nan lembutpun telah siap menanti. Kalau saja Tim tidak menceritakan kisah tragis di atas bisa jadi tempat tersebut tidak meninggalkan kesan mendalam kecuali keindahannya yang menakjubkan.

“ We have to thank them both” , ucapnya.

20181125_17074520181125_16465320181125_18081520181125_175626Sesuai yang dijanjikan, selama perjalanan tersebut bus berhenti di 13 spot menarik termasuk Loch Ard Gorge dan Twelve Apostles yang fenomenal. Satu hari sudah pasti tidak cukup memang untuk menikmati Great Ocean Road. Tak salah bila setiap kali bus berhenti Tim selalu mengingatkan, jam berapa harus kembali ke bus. Tak pernah ia memberikan waktu lebih dari 20 menit untuk setiap spot. Tidak puas sebenarnya tapi apa boleh buat. Apalagi melihat yang lain selalu on time kembali ke bus. Akhirnya kamipun sepakat untuk tidak terlalu berlama-lama.20181125_165258

“G enak ah, malu kalo terlambat balik. Ntar kita di cap g disiplin sebagai orang Indonesia, Muslim pula!”.   

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya” (HR At-Tirmidzi).

Namun bagi saya pribadi, disamping keindahan alam yang sungguh mempesona, Tim sebagai seorang pemandu patut diacungi jempol. Pria setengah umur yang pernah melewatkan masa kecilnya di Indonesia selama beberapa tahun tersebut sangat pandai bercerita. Ia mampu menyampaikan pesan dengan sangat baik.

Pandai berterima-kasih adalah fitrah manusia, apapun agamanya. “Berkat” musibah yang dialami Tom dan Eva orang jadi bisa melihat keelokan Great Ocean Road.

Dalam hati saya berpikir, jika untuk seorang Tom dan Eva yang mengalami musibah (tanpa sengaja pastinya) orang dituntut untuk pandai berterima-kasih, bagaimana kepada Rasulullah dan para sahabat yang telah dengan rela berkorban mempertaruhkan jiwa dan raga demi menyampaikan sebuah kebenaran yang hakiki ? Cukupkah sudah kita berterima-kasih kepada mereka???

Belum lagi atas mata, telinga  juga kesempatan yang diberikan Allah swt hingga kita bisa melihat ciptaan-Nya yang demikan dasyat … Allahu Akbar …

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):46).

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, setelah makan malam express, buspun meluncur meninggalkan Great Ocean Road untuk kembali ke Melbourne.

Jakarta, 29 Desember 2018.

Wallahu’alam bish shawab.

Vien AM.

Read Full Post »

20180620_052053CYMERA_20180620_074959Paginya, sekitar pukul 6.30 setelah sarapan ringan, dengan sekoci kami bergantian menuju pulau Padar yang kecantikannya sudah mulai terlihat. Harus dengan sekoci karena kapal tidak bisa benar-benar merapat ke pantai. Air laut yang bersih kehijauan dan udara pagi dengan kabut tipisnya menyambut kami. Sebuah tangga kayu yang lumayan terjal dan panjang terpampang di depan mata. Kamipun segera menaikinya. Suasana masih agak sepi. Rupanya tamu-tamu lain yang semalam kapalnya parkir bersama kami sudah lebih dulu naik. Tiba di ujung tangga, pak Latief berujar,

“ Ke kiri bu, pak. Ke kanan belum ada tangga. Dan lagi yang ke kiri memang yang sedang viral”.

“ Bapak ibu beruntung. Tangga ini baru beberapa bulan dibuat. Sebelum ada tangga para tamu harus trekking lumayan berat”, tambahnya. Anak-anak sudah tak terlihat, meninggalkan kami jauh di belakang. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin melihat keelokan dari puncak sana.

20180620_05331620180620_055011IMG_20180620_07304920180620_054644Sementara saya dan suami sebentar-sebentar berhenti, selain untuk mengagumi keindahannya, juga untuk mengatur nafas dan menjaga kaki supaya tidak terlalu lelah mendaki tangga yang cukup panjang dan tinggi itu …  maklum faktor U … 🙂 … Akhirnya kamipun tiba di atas bukit pulau Padar dengan mata terbelalak … Masya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu … Rasanya inilah pemandangan alam tercantik yang pernah kami saksikan selama ini.

CYMERA_20180620_07410220180706_110431-1[1]Bentuk pulau Padar dilihat dari udara memang unik. Garis pantainya yang berlekak-lekuk ditambah pasir putih, air laut yang biru kehijauan dan bukit disana-sini sungguh menakjubkan. Rerumputan kemuning akibat kekeringan yang sering melanda propinsi ini justru menambah keunikannya. Kemanapun pandangan kita alihkan, keindahannya benar-benar memukau mata dan hati ini. Sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah …

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” . (Terjemah QS. Ali Imran (3): 190-191.

Kalau tidak ingat waktu ingin rasanya berlama-lama memandangi keindahan tersebut. Apalagi ketika itu belum terlalu ramai dan mataharipun masih belum terlalu terik. Dan benar saja ketika kami mulai menuruni bukit terlihat kapal-kapal mulai merapat menurunkan tamu-tamunya dengan sekoci, dan berbondong-bondong menaiki bukit.

Tak lama kamipun sudah berada  di atas kapal kembali, dan segera berlabuh. Sambil menikmati sarapan nasi goreng buatan chef kapal, mata kami masih terus dimanjakan pemandangan indah pulau Padar dari bawah dan pulau-pulau kecil berbukit di sekitarnya.  Tujuan kami berikutnya adalah snorkling di pantai Pink pulau Komodo yang jaraknya tidak begitu jauh dari pulau Padar.

“ Silahkan bapak ibu, mas mbak bersiap snorkeling. Kita sudah sampai”, kata pak Latief mengagetkan.

Kami sama-sama ngelingukan mencari mana yang namanya pulau Pink. Sejujurnya kami agak kecewa melihat lokasi snorkeling yang menurut pak Latief terbaik di NTT. Meskipun setelah kami turun ke pantai, sekali lagi dengan sekoci, ternyata airnya yang biru kehijauan itu sangat jernih.

IMG-20180706-WA0007IMG-20180706-WA0008Demikian pula pasirnya, sesuai namanya, memang berwarna pink. Kami menyempatkan diri menaiki bukitnya yang tidak seberapa tinggi, meski hanya demi menuruti anjuran pak Latief. Dan sesuai perkiraan kami, pemandangan dari bukit tidak terlalu istimewa kecuali airnya yang bening berkilau bagaikan kristal.

“ Mungkin karena dari kemarin kita disuguhi pemandangan spektakuler kali yaa .. jadi kurang istimewa”, bisik saya kepada suami.

Namun kekecewaan kami terobati setelah bersnorkling-ria. Tanpa perlu jauh-jauh berenang ke tengah laut bahkan hanya beberapa meter dari bibir pantai keindahan dasar lautnya yang dangkal itu, dapat kita nikmati. Biolaut seperti terumbu karang dan ikan yang beraneka warna dapat kita nikmati dengan mudahnya, bahkan dapat kita raba kalau mau. Komodo bersama Raja Ampat di Papua, pada tahun 2015 ternyata memang pernah menduduki peringkat 2 dan 1  lokasi snorkeling terbaik di dunia, mengalahkan kepulauan Galapagos.

https://www.suara.com/lifestyle/2016/01/03/111803/rajaampat-dan-pulau-komodo-lokasi-snorkeling-terbaik-di-dunia

Setelah puas menikmati keindahan bawah laut pantai tersebut, kamipun berbenah. Rencananya kami akan kembali snorkeling di pulau Kanawa. Tapi karena ketika kami bertanya kepada pak Latief, bagus mana Kanawa dengan pantai Pink, “ Pantai Pink”, jawabnya tegas.  Maka kami memutuskan untuk langsung kembali ke Labuan Bojo. Dan lagi waktu memang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Untuk ke Kanawa masih dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Rasanya snorkeling jam 5 sudah terlalu sore. Apalagi tadi kami semua sudah cukup puas.

Sementara itu kapten kapal mengingatkan untuk segera menyantap makan siang yang telah disiapkan koki kapal dan telah tersedia di atas meja makan. Kapal akan menunggu kami selesai makan karena  setelah itu, yaitu perjalanan kembali ke Labuan Bajo akan menghadapi ombak yang lebih besar dari waktu berangkat. Begitu jelasnya.

CYMERA_20180620_083537CYMERA_20180624_095756[1]CYMERA_20180620_085822Dan memang CYMERA_20180620_083810benar apa yang dikatakannya. Mula-mula memang menyenangkan apalagi pemandangan yang disuguhkan sungguh mengagumkan. Bentuk pulau yang kami lewati makin bermacam-macam meski rata-rata tetap berwarna kuning keemasan. Perpaduan yang benar-benar indah, antara segarnya laut yang berwarna biru tua menandakan dalamnya laut, dan hamparan kuning laksana permadani yang lembut nan empuk. Belum lagi pantai berbatu karang yang bolak balik menyemburkan hempasan air gelombang yang menerjangnya, bagaikan air terjun kecil yang sungguh memukau. Masya Allah …

“ G kalah deh sama Islandia”, celetuk putra kami berdecak penuh kekaguman. Ia memang pernah mengunjungi negara di belahan ujung utara tersebut.

“ Sama Norway juga yaa .. g kalah kayaknya .. ”, tanggap adiknya.

“ Iyaaa … sama Santorini jugaaa, g kalah deh  ..”, sahut saya.

Suami saya hanya manggut-manggut, puas pastinya, bisa mengajak dan menyenangkan anak-istrinya tadabur alam demi mengagumi ciptaan Allah swt yang sungguh menakjubkan. Milik sekaligus ciptaan-Nya, di belahan bumi manapun memang menakjubkan, Allahu Akbar …

 “ Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Terjemah QS. Al-Mulk(67):15).

Namun goncangan kapal yang tak kalah dasyatnya dengan keindahan ciptaan-Nya tak urung membuat hati ini kecut. Beberapa kali gelombang air laut sempat masuk ke galangan kapal. Ombak bahkan juga mampu membuat gelas-gelas yang ada di atas meja makan berjatuhan. Dengan rasa khawatir saya segera masuk kamar dan berdoa sambil berbaring di atas tempat tidur. Tapi tak lama saya duduk lagi, khawatir muntah. Maklum gelombang membuat kepala dan kaki naik turun dengan cepat, bukan hanya menguncang tubuh ke kiri dan kanan.

Tiba-tiba saya teringat kecelakaan yang menimpa kapal penumpang di danau Toba Sumatra Utara,  tepat di hari pertama kami tiba di Labuan Bajo yang tidak sempat saya ikuti perkembangannya. Saya sengaja tidak menceritakan kepada anak-anak kejadian tersebut, khawatir membuat mereka takut dan merusak suasana liburan.

Sungguh menyedihkan. Apalagi penyebabnya adalah kelalaian manusia. Betapa tidak, kapasitas kapal yang hanya 43 penumpang disesaki dengan 80 bahkan ada kabar 200 penumpang! Lebih menyedihkan lagi ditempat yang sama, yaitu di danau Toba sebuah kapal motor kembali mengalami kecelakaan karena menabrak keramba ikan. Ironisnya lagi, terjadi hanya selang 4 hari kemudian. Dan penyebabnya hanya karena lampu penerangan kapal yang rusak.  Astaghfirullahaldzim …  Artinya kecelakaan terjadi karena kelalaian manusia, meski tentu saja atas izin-Nya.

https://www.suara.com/news/2018/06/21/011500/tragedi-danau-toba-km-sinar-bangun-diduga-kelebihan-muatan

Dan ternyata, ketika sorenya kami mengobrol di lobby hotel sambil menonton berita televise, pak Latief mengatakan bahwa di Taman Nasional Komodopun tidak jarang terjadi kecelakaan kapal. Bahkan kapal coklat kayu yang pernah dikomentari bagus oleh suami saya kemarin, menurut pak Latief baru saja direnovasi karena pernah tenggelam. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un …

“ Tidak usah dibahas ya”, potongnya ketika kami ingin mengetahui cerita lengkapnya.

Kami dapat memakluminya, pasti ia trauma.

“ Untung kita milih paket yang hanya satu malam di kapal yaa ”, berkata saya kepada suami dan anak-anak, bergidik ngeri.

“ Yaah namanya juga kecelakaan. Kalau memang Allah berkehendak mau apa kita. Disyukuri aja .. Alhamdulillah ”, sahut suami.

IMG_20180618_185427Malam itu kami menutup liburan penuh makna itu dengan makan malam di restoran “Tree Top” yang terletak di jalan Sukarno Hatta dimana lalu lalang turis-turis bule. Rupanya restoran ini merupakan restoran favorit di Labuan Bajo. Selain posisinya yang memang di tepi pelabuhan masakannyapun lezat. Dan yang terpenting halal, Alhamdulillah  … Meski sayangnya tidak terlihat adanya tanda Halal resmi dari MUI.

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):173).

Menurut pak Latief, ada peraturan tak tertulis bahwa restoran di sepanjang jalan tersebut dilarang menjual masakan babi. Maklum mayoritas penduduk ibu kota ibu  kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur tersebut, termasuk pulau Komodo adalah Muslim. Kebalikan dari pulau Flores yang mayoritas Kristen, meskipun Labuan Bajo sendiri terletak di pulau Flores.

Esok harinya, karena pesawat baru akan take off pukul 2 siang lebih, kami memanfaatkan pagi hari tersebut untuk mengunjungi gua yang terletak tidak jauh dari Labuan Bajo, serta mampir ke toko oleh-oleh khas NTT. Gua tersebut bernama Gua Batu Cermin, yang maaf, tidak istimewa. Sementara oleh-oleh yang istimewa dari NTT adalah kain tenun yang sudah dikenal kecantikannya, meski harganya cukup mahal.

Sekitar 2 jam sebelum keberangkatan kami sudah tiba di bandara, dengan harapan bisa makan siang dulu di bandara. Ternyata kami kecele, bandara baru yang terlihat cantik, modern dan bersih tersebut belum mempunyai tempat makan yang memadai bagi tamunya. Yang ada hanya ada 2 kedai kopi kecil dan 1 kantin terbuka yang hanya menjual makanan kecil dan pop mie yang dijual 25 ribu per cup .. olala … Untung kami naik pesawat dengan fasilitas makan siang di dalamya .. kalau tidak …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juli 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

20180618_132021Senin 18 Juni 2018 sekitar 14.30 WITA,  pesawat yang kami tumpangi selama sekitar 2 jam 20 menit, mendarat dengan aman di bandar udara internasional Komodo, Labuan Bajo. Di luar perkiraan, ternyata bandara di kota tersebut meskipun kecil, cukup bagus, modern dan bersih. Yang lebih menarik lagi adalah desain bandara yang menghadap landasan pesawat dimana foto-foto komodo dipajang secara mencolok hingga mampu mewakili “ Sang Komodo” sebagai tuan rumah.

Labuan Bajo adalah ibu  kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan titik keberangkatan wisatawan menuju Taman Nasional Komodo yang saat ini sedang ramai-ramainya diserbu wisatawan lokal maupun mancanegara. Taman Nasional ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Dengan tujuan utama demi melindungi satwa Komodo yang jumlahnya sangat terbatas.

Taman Nasional Komodo terdiri dari 3 pulau besar yaitu pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Padar serta sekitar tiga- puluhan pulau kecil lainnya.  Namun komodo hanya dapat ditemui di pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Gili Motang. Hanya di tiga pulau inilah komodo hidup secara bebas, tidak di tempat lain di belahan bumi manapun di dunia ini.

Tak heran bila pulau ini mempunyai daya tarik tersendiri, disamping keindahan dasar lautnya yang sejak lama sudah dikenal wisatawan mancanegara. Namun beberapa tahun belakangan ini wisatawan ke Taman Nasional Komodo, terutama wisatawan local, melonjak drastis. Ada apakah gerangan??  Ternyata penyebabnya adalah pulau Padar, yang keindahannya sungguh menakjubkan mata. Saya pertama kali melihat foto keindahan pulau Padar tahun 2017 lalu, berkat akun FB seorang teman.

Guide kami, pak Latief, menceritakan bahwa ia mendengar kabar tersebut justru dari wisatawan yang datang dari Jakarta. Maka ia dan beberapa teman sesama guide segera mencari lokasi yang dimaksud. Sejak itulah wisatawan lokal ke Komodo ramai berdatangan. Kini sejumlah agen perjalanan berlomba menawarkan paket liburan Taman Nasional Komodo dengan bermalam satu atau 2 malam di atas kapal.

20180618_171332IMG_20180618_175113Setelah cek-in hotel dan melihat-lihat pemandangan sekitar hotel kami berangkat menuju bukit Sylvia untuk menyaksikan sunset. Bukit yang nama aslinya bukit Cinta ini hanya berjarak sekitar setengah jam dari hotel. Nama Sylvia baru belakangan ini lebih popular dari nama aslinya karena adanya hotel bernama Sylvia di bukit tersebut. Menurut pak Latief, sebagian pulau yang ada wilayah tersebut telah dibeli dan dimiliki pihak asing. Miriiis …

IMG_20180620_171511Esok harinya, kami cek out hotel dan menuju pelabuhan untuk memulai perjalanan di atas kapal. Sebuah kapal berwarna putih ukuran sedang dengan 4 buah kamar tidur ber-AC, dan 3 ABK sudah siap menanti.  Kapalpun segera berlabuh meninggalkan pelabuhan menuju pulau Rinca.

20180619_09500220180619_101431IMG_20180619_112906Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh menakjubkan. Birunya laut ditambah menyembulnya pulau-pulau kecil berbukit tak berpenghuni dengan ilalang kuning-kecoklatan akibat kekeringan justru menambah cantik dan uniknya pemandangan.

“ Kita mampir pulau Kelor dulu ya”, kata pak Latief. “ Disana kita bisa melihat pemandangan dari atas bukit”, sambungnya lagi.

Pada awal perjalanan, saya sudah berniat hanya akan naik ke bukit di pulau Padar saja, yang sudah jelas pemandangannya terbukti cantik. Maksudnya untuk menghemat tenaga supaya tidak terlalu lelah.  Tapi anak-anak mendesak, meyakinkan saya harus naik karena pemandangan di bukit tersebut tidak kalah cantiknya dengan pulau Padar. Ditambah lagi ajakan pak Latief bahwa saya dan suami tidak perlu naik sampai ke tempat yang tertinggi.

“ Sampai pohon itu saja bapak dan ibu. Tidak sulit koq. Kalau naik bukit disini saja bisa, pulau Padar pasti lolos .. disana sudah dibuatkan tangga soalnya bu pak .. ”, tegasnya.

Hhmm .. hitung-hitung latihan deh, pikir saya. Maka jadilah kami menaikinya meskipun tetap tidak sampai puncak seperti anak-anak.20180619_11572620180619_12002120180619_115010Masya Allah … Ternyata benar apa yang dikatakan anak-anak. Bumi Allah dimanapun berada memang benar-benar menakjubkan. Dari tempat kami berdiri, pulau Kelor yang imut itu terlihat begitu indah. Laut biru gradasi tosca dengan bingkai pasir putih nan lembut membentuk tanjung serta pulau dengan deretan bukit-bukit kecoklatan dengan kontur yang begitu mempesona sebagai latar belakang, sungguh tak mampu menyembunyikan betapa tingginya “selera”  Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Semua serba paas, sesuai ukuran, tidak berlebihan hingga sungguh indah di pandang mata. Allahu Akbar …

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”.( Al-Hijr(15):19).

Puas menyaksikan pemandangan pulau Kelor, kamipun melanjutkan perjalanan ke pulau Rinca. Menurut pak Latief kalau ingin melihat hewan langka komodo sekaligus menikmati pemandangan alam, pulau Rinca lebih cantik dari pada pulau Komodo. Disamping itu karena bulan April hingga Agustus adalah musim kawin bagi komodo kecil kemungkinannya melihat binatang tersebut di pulau Komodo. Maklum pulau Komodo selain 2x lebih besar dari pulau Rinca juga lebih banyak pepohonannya, tidak seperti pulau Rinca yang merupakan savanna. Perjanjiannya kalau di pulau Rinca kita tidak bertemu kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m itu, baru kita akan ke pulau Komodo.

“ Ketika kawin komodo biasanya menyembunyikan diri. Mereka tidak suka dilihat”, kata pak Latief.

Masya Allah .. binatang saja rupanya pula malu. Betapa buruknya manusia yang tidak punya malu apalagi melakukan perbuatan intim di tempat terbuka, bukan dengan suami/istrinya pulak … Na’udzubillah min dzalik.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam tibalah kami di pulau Rinca. Kapal merapat ke Loh Buaya yang merupakan gerbang menuju pulau tersebut. Perjalanan tidak terasa melelahkan karena selain pemandangan yang menakjubkan di kapal juga kita bisa santai menikmati makan siang hasil karya koki kapal yang lumayan enak. Apalagi sambalnya, kata suami dan anak-anak yang memang menyukai sambal.

20180619_14352720180619_144317Baru memasuki gerbang selamat datang di Loh Buaya kami sudah disambut seekor komodo ukuran sedang yang akan menyebrangi jalan setapak yang kami lewati. Tak urung terselip juga rasa takut di hati melihat binatang berkulit keras dan kasar  tersebut. Apalagi kami belum bertemu ranger yang bakal mendampingi kami. Ranger adalah semacam pawang binatang dalam hal ini komodo, yang senantiasa mendamping tamu yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

“ Tenang bapak ibu mas mbak, saya pernah jadi ranger selama beberapa tahun koq sebelum jadi guide”, ujar guide asal pulau Komodo tersebut, menenangkan.

IMG_20180619_145945Dengan hati lebih tenang kamipun melanjutkan perjalanan. Ternyata kami memang beruntung. Tak lama setelah bertemu sang ranger dan di briefing, kami melihat lagi 2 ekor komodo dengan ukuran lebih besar sedang bersantai tak jauh dari tempat kami. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk secepatnya berfoto, dalam jarak aman tentunya. Dibawah pengawasan sang ranger pak Latief mengambil gambar kami, dan segera memperlihatkan hasil jepretannya. Kami semua tercengang dibuatnya karena hasilnya benar-benar di luar dugaan. Dalam foto tersebut komodo terlihat sangat dekat dengan kami. Bravo … 🙂 …

20180619_150805Selanjutnya, dalam perjalanan menuju bukit untuk menyaksikan panorama sekeliling pulau kami kembali melihat seekor komodo yang sedang berjalan pelan. Selain komodo kami juga melihat sejumlah monyet, rusa dan kerbau yang merupakan makanan komodo.  Puncaknya, tidak jauh dari sarang telur komodo terlihat pemandangan langka yaitu sepasang komodo kawin. Menurut sang ranger kedua komodo tersebut sejak pagi hari sudah dalam posisi demikian.

“Itu belum kawin. Si pejantan dengan sabar menunggu hingga si betina siap”, jelasnya.

Allahu Akbar .. hewan berpenampilan kasar bahkan kanibal karena sewaktu-waktu bisa memakan daging saudaranya bahkan anak kandungnya sendiri ternyata bisa juga sabar mengendalikan syahwatnya. Bagaimana dengan manusia?? Selain nafsu syahwatnya komodo juga dikenal dapat mengendalikan nafsu makannya. Ia bisa tahan tidak makan hingga sebulan lamanya setelah malahap seekor kerbau yang ditungguinya 3 minggu setelah ia menggigitnya. Lidah komodo yang berfungsi sebagai indra peraba mengandung racun yang bekerja lumayan lama, yaitu sekitar 3 minggu.

Komodo pertama kali ditemukan pada tahun 1910 oleh pasukan Belanda, yang kemudian melaporkan temuan tersebut kepada letnan Steyn van Hens Broek. Letnan inilah yang kemudian menamai pulau dimana hewan tersebut pertama ditemukan dengan nama Komodo. Namun demikian penduduk setempat lebih sering menyebut binatang langka tersebut dengan nama Ora. Lucunya lagi penduduk setempat juga menyebut komodo dengan buaya darat … 🙂

20180619_153843Setelah puas menyaksikan sepasang komodo yang tidak juga bergeming itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah hamparan luas dimana berdiri sebuah pondok kayu untuk beristirahat. Dengan segera kami mendekatinya. Ternyata Masya Allah …  Di depan sana terlihat  pemandangan indah teluk yang dikelilingi bukit-bukit. Disanalah kapal kami bersandar, dan dari sana pulalah tadi kami masuk.

Sekitar pukul 4 sore kami meninggalkan Loh Buaya menuju pulau Padar. Hujan rintik2 mulai membasahi bumi. Sejak kami mendarat di Labuan Bajo kemarin mendung memang terus menyertai perjalanan kami. Tapi baru hari ini hujan turun. Niat kami untuk shalat Zuhur yang digabung dengan shalat Asar di dek atas kapal terpaksa diundur, menunggu hujan berhenti. Itupun setelah akhirnya terlaksana ternyata tidaklah mudah. Gelombang yang cukup besar membuat kami tidak mampu berdiri dengan stabil.

20180619_155804Namun kami tetap dapat merasakan nikmatnya shalat dalam situasi yang tidak biasa tersebut, di bawah langit di tengah luasnya laut nan biru mempesona. Allahu Akbar …Apalagi setelah itu guide kami muncul membawakan 2 piring besar pisang goreng coklat keju yang masih panas, yang dalam waktu sekejap langsung habiiiz … Nikmatnya …

Sayang keinginan untuk shalat dibawah gemerlap cahaya bintang, baik Isya maupun Subuh tidak terpenuhi. Kapal merapat di pantai pulau Padar tak lama setelah matahari terbenam, dalam keadaan langit tertutup awan. Ini berlanjut hingga waktu Subuh esok harinya. Akhirnya kami terpaksa shalat di dalam kamar, sendiri-sendiri pula, karena tempat yang tidak memungkinkan untuk shalat berjamaa’ah, sekalipun hanya untuk berdua.

Sementara untuk kamar mandi, airnya sangat terbatas meski sebenarnya ruangannya sendiri tidak terlalu kecil dan cukup bersih. Namun kami dapat memakluminya, namanya juga di atas kapal. Sayangnya lagi, saya tidak berhasil tidur nyenyak malam itu. Pasalnya adalah gelombang air laut yang terus mengombang-ambingkan kapal kami, juga kapal-kapal lain yang parkir di pantai tersebut. Walaupun sebenarnya hanya gelombang kecil, yang setiap kali ada kapal datang memarkir maka kapal kami ikut terayun, berpindah posisi sesuai arah angin.

“ Kalau jangkarnya lepas gimana yaa “, pikir saya, ngerii … Astaghfirullahaladzim …  “Nikmatnya punya dan kenal Sang Pemilik”, batin saya sambil terus berdoa.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. .. “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):45).

Bersambung.

Read Full Post »

Older Posts »