Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Syariah’ Category

Habis Gelap Terbitlah Terang Armijn PaneSiapa yang tak kenal ibu Kartini, yang hari lahirnya pada 21 April selalu kita peringati. Namun demikian benarkah sudah kita mengenal dan menerima pesan-pesannya dengan baik? Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879, dan wafat di Rembang pada 1904 pada usia 25 tahun. Ia wafat hanya selang 4 hari setelah melahirkan seorang bayi laki-laki.  RA Kartini menikah pada usia 23 tahun dengan seorang bupati Rembang.

Kebanyakan orang mengenal Kartini sebatas tokoh emansipasi perempuan yang memperjuangkan pendidikan, hak dan kesetaraan kaum hawa. Karena memang itulah yang ditonjolkan dan dikehendaki Abendanon, menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan pemerintah Hindia Belanda pada saat hidup Kartini. Abendanon yang merupakan suami dari Rosa, salah satu sahabat koresponden Kartini di Belanda, adalah orang pertama  yang mengumpulkan surat-surat Kartini dan memberinya judul “Door Duisternis Tot Licht” yang berarti  “Dari Gelap Kepada Cahaya“. Buku kumpulan surat Kartini yang memuat 100 surat, 53 diantaranya ditujukan kepada keluarga Abendanon. diterbitkan pada 1911.

Surat-surat Kartini memang banyak sekali mengulang kalimat yang di kemudian hari dijadikan judul oleh Abandon tersebut. Abandon tentu saja tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut merupakan petikan ayat Al-Quran. Kemudian pada tahun 1922 buku tersebut untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Melayu oleh Penerbit Empat Sekawan. Selanjutnya yaitu pada tahun 1951 Armijn Pane, seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru menerbitkan kumpulan surat Kartini dalam Bahasa Indonesia, dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane ini tidaklah sama dengan buku terbitan sebelumnya. Selain ditambah dengan Kata Pembimbing yang memberikan arahan kepada pembaca tentang sosok Kartini dan latar belakang kehidupannya, buku itu adalah hasil terjemahan kembali dari bahasa Belanda yang berbeda sama sekali dengan terjemahan sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.

Dengan cara itu Armijn berharap pemikiran dan cita-cita Kartini menjadi semakin dapat diakses oleh masyarakat luas. Pemikiran Kartini tentang peranan perempuan dalam keluarga dan masyarakat, kegelisahannya tentang agama, dan sikapnya yang emoh terhadap budaya feodal tergambar jelas pada setiap tulisan Kartini dalam surat-suratnya.

Sikap dan pemikiran Kartini yang jauh melampaui kaum perempuan pada zamannya, dituangkan melalui surat yang dikirimkan kepada teman-teman korespondensi bangsa asing, di luar negri, serta berbahasa asing pula, tentu merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Sebagai putri seorang bupati Jepara yang berpikiran terbuka, Kartini memang beruntung berkesempatan mengenyam pendidikan resmi meski hanya sampai usia 12 tahun.

Karena setelah itu seperti umumnya anak perempuan pada zamannya, Kartini harus dipingit. Di ELS (Europese Lagere School) inilah Kartini belajar bahasa Belanda yang sudah terbiasa ia dengar karena sang ayah fasih berbahasa tersebut.  Sementara salah satu kakak Kartini, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda, kakaknya itu menguasai 26 bahasa.

Di tengah lingkungan seperti itulah Kartini tumbuh. Maka tak heran dengan modal kemampuan baca dan tulis dalam bahasa Belanda ( dan juga bahasa Inggris), Kartinipun menjalin hubungan dengan sejumlah teman pena di negri Belanda nun jauh disana. Stella diantaranya. Kartini banyak membaca buku, koran, dan majalah Eropa dari berbagai sumber. Kartini menyadari betapa berbedanya cara berpikir perempuan Jawa dengan perempuan kulit putih.

Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, agar setara dengan kaum lelaki.  Ia juga tidak menyukai adanya perbedaan derajat manusia, antara bangsawan dan rakyat biasa yang waktu itu telah menjadi budaya Jawa. Surat-surat Kartini memuat berbagai hal yang merisaukan hati dan pikirannya. Berikut beberapa surat Kartini yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya… “.(Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [ Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899].

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”. [ Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Kartini juga berani mengkritik  kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: “Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa”, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada sejumlah Departemen Pemerintah Hindia Belanda. Kepada Departemen Kesehatan Kartini menulis :

Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat mencolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab….”.

Melalui surat-suratnya diketahui Kartini sangat ingin melanjutkan sekolah di Belanda. Teman-teman korespondensinya mendukung cita-cita tinggi tersebut. Namun dengan berlalunya waktu, kegelisahan Kartinipun bertambah, yaitu tentang wawasan kebangsaan. Teman-temannya sempat kecewa mengetahui gadis tersebut tidak lagi banyak membicarakan keinginannya sekolah di luar negri. Kartini bahkan mulai mengkritisi keberadaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di tanah leluhurnya.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

”Manusia itu berusaha, Allah-lah yang menentukan” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900).

Kartini juga sempat menentang praktek kristenisasi di Hindia Belanda:

Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903).

Teman-teman Kartini makin kecewa mengetahui Kartini mau dijodohkan orang-tuanya dengan seorang lelaki yang telah beristri. Hal yang selama ini sangat ditentang Kartini. Meski nyatanya suaminya itu sangat dapat memahami keinginan Kartini. Diberinya istrinya itu kebebasan dan iapun mendukung Kartini mendirikan sekolah perempuan pertama yang dibangun di samping kompleks kantornya, yaitu kabupaten Rembang.

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Kartini yang sejak kecil sudah kritis hingga sering dimarahi guru mengajinya hanya karena menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk dibacanya?

Suatu ketika Kartini menghadiri acara pengajian bulanan khusus anggota keluarga di rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Penceramahnya, Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Ketika itu Kyai mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya menemui sang Kyai. Berikut dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

“Kyai, perkenankanlah aku menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?

Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” kata Kartini lagi.

Setelah pertemuan tersebut Kyai Sholeh tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Dan pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran) jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Terjemahan tersebut mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Maka sejak itulah Kartini mempelajari Islam lewat Al-Quran lengkap dengan artinya, secara sungguh-sungguh. Sayangnya, terjemahan Al-Quran karya Kyai Sholeh tidak pernah selesai karena tidak lama setelah itu Sang Khalik memanggilnya.

Suatu hari ketika sedang mempelajari Al-Quran terjemahan karya sang Kyai, Kartini tertegun akan ayat 257 surat Al-Baqarah yang berbunyi “Allah-lah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya” (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Kartini terkesan dengan kata-kata tersebut. Itu sebabnya surat-surat Kartini belakangan banyak menggunakan kata-kata “Dari gelap kepada cahaya” yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht”.

Prof. Haryati Soebadio, cucu tiri Kartini, Menteri Sosial pada Kabinet Pembangunan V, mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi), sebagaimana firman-Nya:

Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):257).

Dan sejak itu pula sikap Kartini terhadap Barat, Belanda sebagai penjajah khususnya, mulai berubah.

“Jalan kepada Allah dan jalan kepada padang kemerdekaan hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya jadi hamba Allah, sekali-kali tiada terikat kepada manusia, sebenar-benarnya merdekalah dia”.

Kartini bahkan bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, “ Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. Ia berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [ Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Tak heran bila di kemudian hari berkembang pendapat bahwa Kartini meninggal bukan karena sakit melainkan dibunuh. Ada dugaan Abendanon melakukan tebang pilih surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya.

Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda. Sulastin pada tahun 1972,  pernah mendapat tugas dosennya untuk menterjemahkan surat-surta Kartini yang disimpan pemerintah Belanda. Ketika itu ia sedang melanjutkan studynya di universitas Leiden Belanda, di bidang sastra. Pada tahun 1979 ia menerbitkan terjemahan surat-surat Kartini tersebut.

Kematian Kartini yang mendadak juga menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan. Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini. Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino berkesimpulan, kalau Kartini memang mati karena sudah direncanakan. Demikian pula Siti Soemandari dalam buku “Kartini, Sebuah Biografi“, menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda.

Salah tujuan politik etis adalah persamaan dan derajat yang sama antara lelaki dan perempuan. Kartini tampaknya memang tokoh yang tepat untuk tujuan tersebut. Namun benarkah tuntutan Kartini persis seperti emansipasi yang terjadi di Barat, yang hingga hari ini menjadi tujuan banyak kaum perempuan bangsa ini? Dimana kaum perempuan berbondong-bondong keluar rumah untuk bekerja dan berkarier, bersaing dengan kaum lelaki, dengan meninggalkan anak-anak di belakang mereka, meninggalkan tugas dan kodrat mereka sebagai ibu, pendidik anak yang pertama.

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Ironisnya lagi, pada suatu acara peragaan pakaian yang digelar sebagai rangkaian acara peringatan Kartini, Sukmawati Sukarnoputri membacakan puisi yang sama sekali tidak menggambarkan Kartini yang sebenarnya. Puisi tersebut sungguh mengecilkan kedudukan jilbab dan azan sebagai syariat Islam. Kartini mungkin belum sempat berhijab ketika dipanggil menjumpai Tuhannya. Tapi jika ketika belajar dan membaca terjemahan Al-Quran tidak sampai setengahnya, bahkan di surat Al-Fatihah yang merupakan pembukaan Al-Quran dan ayat 257 Al-Baqarah saja Kartini sudah demikian terkesima. Maka dapat dipastikan kalau saja Kartini sempat membaca terjemah ayat-ayat jilbab ia akan melaksanakannya, yaqqin …

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(Terjemah QS.Al-Ahzab(33):59).

Dan lagi bila saja Kartini yang hobby membaca dan menulis itu, sempat membaca terjemahan surat Al-‘Alaq yang diawali perintah “Bacalah”, ditambah dengan mempelajari asbabunuzul ayat serta sirah Nabi, tak ayal lagi, pasti Kartini akan semaksimal mungkin menjalankan syariat Islam hingga menjadi seorang Muslimah yang takwa. Masya Allah …

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(Terjemah QS. An-Nahl(16):97).

Sungguh Kartini pasti akan terkejut mendapati betapa banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang menerangkan bahwa derajat laki-laki dan perempuan, sesuai kodrat dan tanggung-jawab masing-masing, adalah sama. Keimanan, amal perbuatan dan ahlaklah yang membedakan mereka, baik yang kaya maupun yang miskin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Mei 2018.

Vien AM.

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

https://erwinisasi.wordpress.com/2013/04/21/habis-gelap-terbitlah-terang-kartini/

https://blog.al-habib.info/id/2011/04/hari-kartini-antara-emansipasi-menjadi-muslim-sejati/

http://toko-bukubekas.blogspot.co.id/2013/09/jual-buku-habis-gelap-terbitlah-terang.html

 

Advertisements

Read Full Post »

Urgensi Shalat

Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “ Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi).

Ibarat rumah, shalat adalah tiangnya. Tentu kita semua faham tanpa tiang tidak mungkin sebuah rumah atau bangunan bisa berdiri. Begitu pula dalam be-Islam, tanpa shalat sia-sialah ke-Islam-an seseorang. Inilah yang menjadi ciri seorang Muslim, yang  membedakannya dari yang lain. Itu sebabnya seorang Muslim wajib shalat apapun kondisinya, baik ia dalam keadaan sehat maupun sakit, bahkan dalam perang sekalipun.

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. …”. (QS. An-Nisa(4):102).

Maka dapat dibayangkan bila dalam keadaan perang saja shalat tetap wajib didirikan apalagi hanya karena kesibukan kantor atau dalam kemacetan lalu lintas, sesuatu yang sering menjadi alasan penduduk ibu kota yang memang selalu macet. Meski berkat Kebaikan, Kemurahan dan Kebijaksaan-Nya, ada keringanan yang diberikan kepada hamba yang begitu dicintaiNya itu. Dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, tentu saja.

Inti shalat sebenarnya adalah zikrillah yaitu mengingat Allah swt, Sang Pencipta Yang Satu. Itu sebabnya bila shalat tidak mampu mendatangkan “ingat” kita kepada-Nya,  akan sia-sialah shalat tersebut. Itulah shalat yang disebut shalat yang lalai, shalat yang dijalankan hanya karena kewajiban atau malah riya, alias pamer karena ingin dilihat orang lain.

Lalu bagaimana mungkin kita dapat mengisi suatu bangunan bila tiangnya saja rapuh atau bahkan tidak ada ?? Tanpa shalat bagaimana kita dapat mengisi rumah tangga kita dengan ketenangan, kebahagiaan dan lain sebagainya ? Karena itu hal pertama yang dihisab ketika kita meninggal nanti adalah shalat kita.

Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya buruk maka buruk pula seluruh amalnya”.(HR. Ath-Thabarani).

Shalat seharusnya dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana dalam ayat 45 surat Al-Ankabut berikut :  “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”.

Shalat yang didirikan karena Allah swt, karena takwa, yang karenanya kita ingat kepada-Nya, dijamin pasti akan mencegah perbuatan buruk. Bagaimana mungkin seseorang akan berbuat selingkuh, zina, membunuh, korupsi, meng-acuh-kan kedua orang-tua, tidak peduli kepada fakir miskin, membiarkan aurat terbuka,  dan perbuatan hina lainnya bila kita selalu ingat pada-Nya ? Bila kita yakin seyakinnya bahwa ada kehidupan lain selain di dunia, ada kehidupan setelah mati, ada surga ada neraka, ada dosa dan pahala ?

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS. Al-baqarah(2):45-46).

“ Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”.

Disinilah pentingnya hati, dan juga ilmu sebagai pedoman agar shalat kita tidak lalai, tidak percuma, tidak sia-sia. Agar kita tidak terjebak kepada pemikiran sekuler yang belakangan makin diminati, yaitu tidak penting shalat, yang penting baik, tidak korupsi dll apapun agamanya. Padahal Allah sendiri yang mengatakan shalat adalah amalan terbaik manusia. Agar Allah swt tidak memasukkan kita ke dalam golongan orang yang fasik apalagi kafir. Nudzu’billah min dzalik.

“ … Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)”, (QS. Al-Ankabut (29):45).

 “Buhul/ikatan Islam akan terputus satu demi satu. Setiap kali putus satu buhul, manusia mulai perpegang pada tali berikutnya. Buhul yang pertama-kali putus adalah adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat“. (HR.Imam Ahmad).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Maret 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Belum juga Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, wakil gubernur DKI Jokowi itu resmi dilantik naik jabatan menggantikan kursi gubernur yang ditinggalkan sang calon presiden terpilih. Tetapi pria asal Bangka ini telah nekad mengeluarkan instruksi  larangan pemotongan hewan kurban di lokasi SD.  Instruksi ini ditanda-tanganinya pada 17 Juli 2014 selaku petugas pelaksana gubernur DKI. Ketika itu Jokowi sedang sibuk pilpres.

(http://www.arrahmah.com/news/2014/09/26/instrusksi-ahok-larangan-qurban-di-sd-teror-terhadap-sekolah.html ).

Kontan hal ini memicu polemik berkepanjangan.  Sejumlah nara sumber menyebutkan instruksi tersebut jelas menyalahi  pasal 29 UUD 1945 dimana seharusnya Negara, dalam hal ini pemerintah, menjamin kebebasan beribadah bukan malah melakukan pelarangan.  Apalagi instruksi tersebut dikeluarkan tanpa alasan yang jelas. Meski beredar juga kabar bahwa alasannya adalah agar murid-murid SD yang notabene  masih berusia belia itu tidak menjadi trauma. Ahok juga sempat mengatakan bahwa hal tersebut bukan idenya, namun permintaan sejumlah kepala SD.  http://beritapopuler.com/ahok-dan-kebohongan-berlapis-soal-larangan-potong-hewan-qurban/

Apapun alasan yang dikemukakan Ahok sudah pasti membuat umat Islam bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dibalik semua ini. Ironisnya, meski MUI menyatakan bahwa calon gubernur DKI ini terlalu berlebihan dalam bersikap, ia tetap tegas mengatakan bahwa pemotongan hewan kurban di lokasi SD dilarang. Kali ini beralasan : “”Sekarang kan banyak penyakit ebola, rabies, flu burung sama macem-macem lah,” dalihnya di Gedung Balai Kota, seperti dikutip dari MetroTV, Kamis (2/10/2014).

Jadi atas dasar alasan yang mana sebenarnya Ahok berbicara ??

Kolom Opini Republika Sabtu 4 Oktober 2014 memuat artikel  menarik. Artikel itu ditulis oleh Dr Badrul Munir, seorang dokter spesialis syaraf RS Saiful Anwar Malang,. Dokter sekaligus dosen fakultas kedokteran Universitas Brawijaya ini mempertanyakan alasan Ahok bahwa penyembelihan hewan kurban dapat menyebabkan kelainan psikologi atau trauma terhadap anak.

Ilmu Psikoneurobehavior , ungkap Badrul, menyatakan bahwa usia sekolah dasar ( 7-12 tahun) saat perkembangan otak di lobus frontalis dan parietalis ( dahi dan pelipis) hal yang paling menonjol adalah mulai berkembangnya fungsi kognisi ( berpikir, logika, analisis), kreatifitas dan kemampuan berbahasa.  Jadi pada usia-usia inilah seorang anak memiliki kemampuan tinggi untuk merekam segala apa yang didengar dan dilihatnya. Artinya anak di usia tersebut harus dibekali paparan yang positif agar kelak bisa menjadi dasar prilaku positif.

Dengan kata lain, pendidikan dasar, seperti pendidikan moral dan agama, melalui contoh nyata dan penyampaian bahasa yang baik dan tepat,  di usia SD adalah waktu yang sangat tepat,  jauh lebih baik dari ketika anak sudah di tingkat SMP atau SMA.

Demikian pula  dengan ‘psikologi’ kurban. Setelah selama beberapa waktu murid-murid SD, khususnya yang  beragama Islam, mendengar kisah nabi Ibrahim dan putanya, nabi Ismail, tentang ketaatan kepada Tuhannya. Maka pada hari raya Iedul Adha, giliran murid-murid yang di ajak menyaksikan  bagaimana caranya mempraktekkan ketaatan tersebut. Jadi bila sebelumnya murid-murid belajar tentang teorinya maka kini saatnya mereka diajari tentang prakteknya. Menjadi tugas guru dan pengajar untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang syariat berkurban kepada anak, secara runtut dan utuh, tidak separuh-separuh.

Nilai-nilai HAM yang belakangan ini sedang   ‘in’ bahkan bisa ditambahkan kepada murid-murid. Bahwa pemotongan hewan bukan dimaksudkan sebagai tanda kebiadaban, keberingasan apalagi tanda pelampisan kekuasaan manusia  atau ketidak-pedulian manusia terhadap hewan hingga bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM kepada hewan. Justru kebalikannya. Pemotongan hewan kurban, selain tanda ketaatan kepada perintah Allah, juga realisasi dari keberpihakan kepada HAM.

Semua manusia berhak untuk hidup, dalam keadaan sehat jasmani rohani. Itu sebabnya setiap orang harus makan dan mengkonsumsi makanan bergizi, daging hewan contohnya. Sayangnya, tidak semua orang mampu membeli makanan hewani yang relative mahal itu. Itu sebabnya yang mampu harus berbagi, yaitu berkurban di hari raya Iedul Adha. Tentu saja ini hanya simbolis, karena berbagi kepada orang miskin tidak hanya pada hari tersebut namun bisa setiap waktu.

Itupun harus memenuhi beberapa persyaratan. Diantaranya hewan ( kambing, sapi atau unta) tidak boleh yang masih berada dibawah umur. Tidak boleh menakuti-nakuti dan mempermainkan hewan yang akan dipotong.  Itu pula sebabnya pisau harus tajam, agar hewan tidak terlampau merasa kesakitan. Ini masih ditambahkan, tidak mengasahnya di depam hewan yang akan disembelih, karena hal ini akan membuat hewan ketakutan. Ini wajib ditanamkan kepada murid-murid.

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-menyembelih-sesuai-sunah/ ).

Perlu juga disampaikan kepada murid, bahwa HAM sejati adalah milik Allah swt sebagai Pemilik Alam semesta ini. Bahwa HAM adalah bukan milik perorangan, kelompok atau golongan tertentu.  Artinya selama suatu perintah dikeluarkan oleh Sang Khalik, tidak mungkin ada pelanggaran di dalamnya.  Karena sebagai pemilik Ia pasti tahu yang terbaik untuk mahluk-Nya. Pemakaian jilbab, perintah berpuasa, kepatuhan anak kepada orang-tua, hormat istri kepada suami dll dapat diberikan sebagai contohnya.

Adapun bila dalam prakteknya ada murid yang merasa mual, takut dll ketika melihat darah keluar dari hewan yang disembelih,  ini manusiawi. Kecuali bila sampai takut secara berlebihan hingga menimbulkan phobia ataupun trauma. Namun Dr Badrul berani mengatakan bila ini sampai terjadi pada umumnya dikarenakan pola asuh yang salah sejak anak masih kecil. Jadi bukan karena menyaksikan penyembelihan kurban di sekolah.

Yang perlu dikhawatirkan, tambahnya, justru ketika anak merasa cuwek bahkan menikmati berbagai game sadis atau senang menonton film brutal yang acap kali menjadi hobby anak, dan didiamkan saja oleh orang-tuanya. Malangnya, pemerintah tidak pernah merasa ada yang salah dengan hal ini. Padahal permainan games yang mengandalkan kecepatan otak dan gerak untuk menghancurkan lawan tanding akan terekam kuat di bawah sadar, dan menjadi dasar prilaku kekerasan anak di kemudian hari.

Jadi  apabila alasan pelarangan Ahok karena trauma atau alasan negative lain yang berhubungan dengan syaraf jelas tidas dapat ditrima. Tapi jika karena alasan kebersihan, ini  adalah tanggung jawab masing-masing sekolah bagaimana agar hal tersebut bisa ditanggulangi.

Terakhir, semoga saja tidak ada alasan “lain” alias mengada-ada yang memang disengaja untuk memojokkan umat Islam. Karena bagaimanapun secara sadar atau tidak kita sebenarnya sudah memancing kemarahan Sang Khalik, karena telah menjadikannya pemimpin.  Bukankah Allah swt telah jelas-jelas melarangnya ??

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Maidah (5):51).

Ironisnya, ternyata hanya FPI yang  berani secara terang-terangan memprotes pengangkatan Ahok sebagai gubernur. Itupun diacuhkan oleh Ahok, bahkan ia menganggap FPI seharusnya dibubarkan. Lebih jauh, dengan pongah ia berkata bahwa masyarakat sekarang sudah pintar jadi tidak perlu lagi  membawa-bawa isu  SARA. Malah bikin malu, ujarnya.

Apa maksud Ahok  tidak peduli bahkan malu ?? Apakah ini berarti bahwa masyarakat khususnya umat Islam sudah tidak peduli lagi dengan agama dan ajaran mereka? Bisa jadi ia benar sekali, buktinya yaitu tadi, tidak menjadikan ayat-ayat suci sebagai pegangan.  Na’udzubillah min dzalik …

Nasi sudah menjadi bubur.  Penduduk DKI sudah memilih Ahok sebagai wakil gubernurnya Jokowi. Sementara rakyat Indonesia juga sudah memilih Jokowi untuk diangkat sebagai R1. Konsekwensinya jelas, Ahok akan menjadi gubernur begitu Jokowi resmi dilantik menjadi presiden RI. Begitulah yang tertera pada  Undang-Undang No 34 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Lalu siapa yang bisa dan berani menghalanginya bila tahun depan pak gubernur kita ini melanjutkan gebrakan maut lanjutan pelarangan pemotongan hewan kurban di lingkungan SDnya yaitu dengan melarang murid SD berpuasa karena alasan kesehatan, jilbab bagi murid sekolah dst dst . Apakah ini namanya bukan pelanggaran HAM??

“ Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. … … ”. (QS.Al-Baqarah(2):109).

Mungkinkah hanya doa saja yang dapat membuatnya berpikir benar dan tidak emosional ? Tidak ada yang tidak mustahil selama Allah menghendaki. Buktinya koalisi Prabowo yang kalah dalam pilpres beberapa waktu lalu berhasil memenangkan kursi MPR dan DPR. Allahuakbar … Semoga selanjutnya Allah swt ridho memberi mantan bupati Belitung ini hidayah-Nya, agar dapat kembali ke jalan yang benar.

Ya Allah beri kami pemimpin yang mampu melindungi kami, khususnya warga DKI, agar dapat menjalankan ibadah sebaik mungkin, aamiin aamiin aamiin YRA.

… … … Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Al-Baqarah(2):109).

Wallahu’alam bish shawwab

Jakarta , 7 Oktober 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Tanpa terasa Ramadhan sudah di depan mata. Sudahkah kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan penuh berkah tersebut ? Ataukah kita hanya akan menyambutnya dengan biasa-biasa saja, bukankah Ramadhan datang setiap tahun sebagaimana yang sudah-sudah ???

Jika ‘ya’jawabnya, cobalah bayangkan. Bagaimana perasaan kita, ketika misalnya kita mengundang handai taulan kita ke acara syukuran ulang tahun kita, namun yang diundang biasa-biasa saja, alias tidak antusias menanggapi undangan kita. Padahal istri/ibu kita tercinta telah bersusah payah menyiapkan aneka hidangan yang lezat, khusus untuk para tamu.

Mungkin ada baiknya bila kita merenung sejenak latar belakang turunnya ayat perintah puasa di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan ke 9 dalam hitungan tahun Hijriyah, bulan yang jatuh pada musim yang sedang panas-panasnya. Ramadhan sendiri mempunyai arti yang membakar, sangat terik.

Masyarakat Arab  sejak sebelum datangnya Islam telah meyakini adanya 4 bulan haram. Bulan dimana perang diharamkan. Dan secara traditional mereka mentaatinya. Bulan tersebut adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar) sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhir) dan Sya’ban”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Namun suatu hari di bulan Rajab pada tahun ke 2 Hijriyah, terjadi bentrokan antara kaum Muslimin yang baru saja hijrah ke Madinah dengan pasukan dagang  pimpinan Abu Sufyan yang ketika itu masih Musrik. Bentrokan ini menyebabkan terbunuhnya seorang Musrikin.  Sontak, orang-orang Quraisy segera memanfaatkan isu ini sebagai pelanggaran kejahatan oleh kaum Muslimin.

Tentu saja kaum Muslimin terperangah, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Beruntung tak lama kemudian turun ayat yang membela kaum Muslimin. Mereka tidak bersalah, karena sebenarnya justru merekalah yang terzalimi.  Hanya karena ingin menyembah Tuhannya, mereka malah diusir dari kota kelahiran mereka, Mekah.  Tak tanggung-tanggung, Allah swt bahkan memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi orang-orang kafir yang sudah sangat keterlaluan itu. Padahal selama ini Sang Khalik senantiasa menyuruh kaum Muslimin untuk bersabar dan menahan diri.

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah(2):217).

Akhirnya pada hari Jumat,  17 Ramadhan tahun tersebut pecahlah perang terbuka pertama antara kaum Muslimin melawan pasukan kafir Quraysin. Itulah perang Badar. Perang yang sungguh jauh dari seimbang.  Pasukan Muslimin yang jumlahnya hanya 315 orang, tidak berpengalaman perang dan tidak memiliki peralatan perang.  Melawan pasukan yang jumlahnya 1000 orang, sudah terbiasa berperang serta memiliki peralatan perang lengkap. Dalam keadaan demikian inilah tiba-tiba turun ayat perintah berpuasa !

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, (QS. Al-Baqarah(2):183).

Kita tidak dapat membayangkan bagaimana sebuah pasukan yang sedang berpuasa bisa terus berperang mengangkat pedang. Bahkan memenangkan pertempuran yang sama sekali tidak seimbang. Namun itulah janji Allah, tuhan yang tidak pernah ingkar akan janji-Nya. Sabar, adalah persyaratan yang dituntut-Nya.

« Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti ». (QS.An-Anfal(8):65).

Ayat diatas menerangkan bahwa satu orang Muslim yang sabar dapat menghadapi 10 orang kafir dan mengalahkannya. Namun demikian sebagai manusia biasa, hal ini tetap saja menimbulkan kegentaran di hati sebagian kaum Muslimin yang baru saja memeluk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Karena rasa kasih sayang-Nya, selanjutnya  Allahpun menurunkan ayat untuk menenangkan mereka, yaitu cukup satu lawan dua. Asalkan tetap sabar.

“ Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS.An-Anfal(8):66).

Disamping itu adalah doa. Diceritakan Rasulullah terus berdoa selama terjadi pertempuran hebat. “Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu, “.

Ketika pertempuran makin memuncak, Rasulullah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, terus memohon kepada Tuhannya agar Yang Maha Kuasa memberi bantuan kepada kaum Muslimin.  Air mata Rasulullah  turun hingga membasahi jenggot beliau. Pintanya, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah,  kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini”.

Begitu khusuknya Rasulullah berdoa dan memohon hingga tanpa disadari selendang beliau terjatuh dari pundak beliau. Abu Bakar yang menyaksikan hal ini sungguh tergetar hatinya. Dipungutnya  selendang tersebut, diletakkan  kembali ke pundak sahabat yang begitu dicintainya itu, seraya berucap, ”Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau. Beristirahatlah barang sejenak wahai kekasih Allah”.

Maka tak lama kemudian turunlah jawaban Allah Azza wa Jala sebagai berikut.

« (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.An-Anfal(8):9-10).

Subhanallah Allahuakbar La illaha illa Allah.

Tengoklah apa yang dilakukan Rasulullah, seorang hamba yang sudah pasti mendapatkan surga berdoa. Simak pula bagaimana para sahabat di masa lalu menjalankan perintah dan mentaati-Nya meski perintah tersebut demikian beratnya.

Bandingkan dengan keadaan kita saat ini, yang hanya menunggu Ramadhan datang tanpa persiapan khusus. Yang berpuasa hanya bersabar menahan lapar dan dahaga. Padahal tujuan berpuasa adalah agar menjadi manusia yang takwa. Dan surga adalah balasannya, ditambah tentu saja cinta dan kasih sayang Allah yang tak terkira besarnya. Dan yang demikian otomatis akan mengundang kasih sayang sesama manusia.

Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda:

Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka ” Cintailah si Fulan itu “. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah si Fulan itu. Para penghuni langit pun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah kecintaan padanya di kalangan penghuni bumi”. ( HR. Muttafaq ‘alaih)

Ramadhan kaIi ini kita disibukkan dengan hebohnya pertarungan pemilihan presiden.  Memilih pemimpin dalam Islam adalah suatu keharusan, sebagaimana umat Islam harus memiliki imam untuk memimpin shalat.

Disinilah tampaknya keimanan sekaligus kesabaran kita diuji. Apakah kita akan memilih pemimpin yang hanya mengedepankan kemajuan dan kemakmuran bangsa tanpa mengindahkan kehendak-Nya, atau memilih yang benar-benar peduli terhadap aturan-aturan dan rambu-rambu Islam. Yang mau melindungi hak Muslim, membela dan mempertahankan kemurnian ajaran Islam dari segala kesesatannya seperti Syiah, Ahmadiyah, paham JIL dll, sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para sahabat, yang rela berperang melawan kebathilan demi tegaknya kalimat Allah.

Hati2 dengan slogan Demokrasi, toleransi, HAM dll yang kerap dijadikan alasan sebagian orang untuk menyerang satu pihak dan membela  pihak yang lain. Ketiga isu tersebut adalah isu kebablasan yang sepintas kelihatannya bagus dan benar namun sebenarnya justru menabrak dan melanggar aturan Sang Khalik.

Bagaimana mungkin kita harus memberikan jalan dan tempat kepada berbagai bentuk kemaksiatan, kesesatan dan  kejahatan, seiring dengan kebaikan dan kebenaran. Sungguh mustahil menyatukan kedua hal yang bertolak belakang, satu adalah hisbullah ( pasukan Allah ) lainnya adalah hisbusyaitan (pasukan syaitan).

Bagaimana mungkin atas nama demokrasi, toleransi dan hak asasi manusia, sebuah kompleks pelacuran terbesar se-asia di republik ini, situs-situs porno dibela mati-matian. Kolom agama di KTP dihapuskan.

Hidup adalah pilihan. Kita harus memilih jalan yang sesuai dengan nurani kita. Sesal kemudian tidak ada gunanya. Kesabaran sekali lagi, harus digunakan sebaik mungkin, sejak awal, bukan hanya setelah nasi menjadi bubur.

Sejarah mencatat betapa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Turunnya ayat pertama Al-Quran dan penaklukan-penaklukan besar oleh pasukan Islam, seperti Fattu Makkah, penaklukan kota-kota besar di Spanyol, Rhodesia, pengusiran pasukan Salib di Yerusalem oleh sultan Salahuddin Al-Ayyubi dll, terjadi di bulan Ramadhan. Menjadi bukti bahwa puasa di bulan tersebut bukan alasan yang dapat dipakai umat Islam untuk malas berpikir dan bekerja, apapun alasannya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juni 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas”. (QS Al-A’raf (7):80-81).

 «  Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan fahisyah (perbuatan keji) yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah”.(QS. Al-Ahzab(33):30).

Kata Faahifyah (  فَاحِشَة ) jamaknya Fahsya’ ( فَحْشَاء ), banyak disebut dalam kitab suci kita, Al-Quranul Karim. Kata ini biasanya diterjemahkan dengan perbuatan keji. Apa sebenarnya perbuatan keji yang dimaksud itu?

Para ulama sepakat, secara umum Faahisyah adalah segala perbuatan buruk dan keji yang tidak dapat diterima baik oleh syari’at, akal sehat maupun fitrah manusia. Perbuatan itu adalah perbuatan yang berhubungan dengan alat kemaluan. Ini adalah dosa besar yang tidak hanya menjadi tanggungan orang yang bersangkutan, namun juga orang sekitar yang mendiamkannya. Contohnya adalah azab yang ditimpakan Allah swt terhadap kaum nabi Luth. Hal ini dikarenakan dampaknya yang merugikan banyak orang. Karena selain melanggar perintah Allah, juga melanggar hak perempuan, hak suami serta merusak kehidupan rumah tangga.

Zina, homoseksual dan pedofili yang belakangan ini makin merajalela adalah perbuatan Faahisyah. Dampak perbuatan keji dan hina ini sangat buruk. Zina merusak nasab ( keturunan), sementara homoseksual dan pedofili merusak moral dan memporak-porandakan perkembang-biakan manusia. Selain penyakit dan dampak serius lainnya tentunya. Demikian pula perkawinan sedarah, sesusuan. Ini yang dinamakan incest. Penelitian belakangan ini melaporkan bahwa incest menyebabkan keturunan yang cacat fisik.

Ibnu Mas’ud pernah bertanya tentang dosa-dosa besar kepada Rasulullah saw : Aku berkata : “Wahai Rasulullah.., dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?
Beliau bersabda : “Engkau menjadikan bersama Allah sekutu yang lain, padahal Dia menciptakan kamu” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata : “Kemudian apa?”. Beliau bersabda : “Engkau membunuh anak kamu karena khawatir dia makan bersama kamu”.Dia berkata :”kemudian apa?”. Beliau bersabda : “Engkau berzina dengan istri tetanggamu” 

Kemudian Rasulullah saw membacakan ayat : “Yaitu orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina. Dan barang siapa melakukan yang demikian akan mendapatkan dosa, akan dilipat gandakan adzabnya pada hari kiamat dan kekal di dalamnya dengan terhina.” (QS Al Furqan (25):68 – 69).

Namun yang ingin dibahas dalam tulisan kali ini bukan Faahisyah itu sendiri, melainkan perbuatan mendekati zina, sebagaimana ayat berikut :

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.(QS.Al-Isra’(17) :32).

Yang dimaksud mendekati zina adalah segala sesuatu yang dapat mengakibatkan terjadinya zina. Berdua-duaan di tempat sepi dan menonton serta mempertontonkan segala hal yang dapat menimbulkan gairah seksual adalah perbuatan yang masuk dalam kriteria mendekati zina. Termasuk perempuan yang tidak menutup auratnya, mengumbar dan mempertontokannya di depan umum.

Zina pada keadaan wajar, tidak akan terjadi tanpa adanya pendekatan, kecuali di tempat-tempat pelacuran yang sudah pasti haram dalam pandangan Islam. Sepasang kekasih yang baru saja ‘jadian’ tidak mungkin melakukan perbuatan ini, kecuali niatnya memang busuk.

Ironisnya, berpacaran atau punya pacar, di zaman sekarang ini tampaknya sudah lazim bahkan ‘wajib’ hukumnya. Mulanya mungkin hanya karena curhat. Tapi karena merasa cocok dan merasa mendapat perhatian, frekwensi curhatpun makin meningkat. Dan akhirnya sang curhatanpun ‘menembaknya’ hingga naik pangkatlah jadi pacar. Celakanya, ini tidak hanya terjadi pada remaja dan mereka yang masih lajang, namun juga yang sudah menikah !

Setelah resmi menjadi pacar maka curhat versi pacaranpun terus meningkat. Mulailah  sms-an, bbm-an atau apapun, yang dilakukan ntah itu pagi siang atau malam. Ini masih ditambah  lagi dengan bumbu kata-kata manis yang membuat pasangan yang sedang jatuh cinta ini merasa dunia hanya milik berdua. Yang lain numpang, begitu kata anak muda..

Maka tak ayal lagi, ketika suatu waktu mereka mempunyai kesempatan untuk bertemu dan pergi berduaan, bualan yang tadinya berjarak itupun mendorong keduanya untuk merealisasikan sensasi mereka.

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya”. (HR. Ahmad).

Berkata Umar abdul Aziz kepada Maimun bin Mihran :

Wahai Maimun, janganlah kamu menyendiri ditempat sunyi (berdua duaan) dengan seorang wanita yang bukan mahrammu walaupun kamu membaca Al-Qur’an untuknya”.

Duhai para orang-tua, sungguh berat nian tanggung jawab kita. Situasi dan kondisi saat ini sangat mendukung putra-putri kita untuk mudah terjerumus ke dalam jurang perzinahan. Acara tv, sinetron, film, internet, buku-buku bacaan bahkan syair lagupun, hampir semua dibumbui tentang indahnya berpacaran, indahnya jatuh cinta dan ber-dua-duaan.

Hingga akhirnya ketika ada orang-tua yang melarang putra-putrinya berpacaran orang-tuanyalah yang dianggap aneh, kuno dan tidak mengikuti zaman. Sialnya lagi, bila nantinya putrinya kebobolan, alias hamil, naudzubillah min dzalik, orang-tuanya lagi disalahkan.

“ Kenapa pakai dilarang-larang, malah jadi diem2 n hamil kaaan”…  ??? Astaghfirullah ….

Bagaimana dengan perbuatan mencuri, adakah juga toleransinya??

Berpacaran pada hakekatnya sama dengan mencuri, yaitu mencuri hati, mencuri start dalam menentukan jodoh. Dengan berpacaran sebenarnya seseorang telah memberikan hak suami, minimal hati, yang seharusnya hanya boleh dimiliki suami anak-anak kita nanti. Karena berpacaran, meskipun telah bertahun-tahun, belum tentu akan menjadi suami yang diharapkan akan langgeng untuk seumur hidup. Jodoh adalah urusan sang Khalik ! Jangan-jangan sebenarnya Allah swt telah menyiapkan jodoh yang terbaik bagi putra-putri kita, namun karena kita mengizinkan mereka berpacaran akhirnya itulah jodoh mereka. Masih untung kalau bukan karena ‘kecelakaan”, “mba”  istilah anak-anak kita, alias married by accident.

Jadi mencuri ya mencuri, haram ya haram. Anak-anak harus diingatkan akan hal ini. Jika mereka tetap saja melakukannya, mungkin dengan diam-diam, berarti mereka telah melanggar 2 larangan sekaligus. Mendekati zina dan berbohong …

Marilah bersama-sama kita ingatkan putra-putri kita, jangan habiskan waktu muda kalian untuk berpacaran, tutuplah aurat kalian dan jagalah pandangan. Tanamkan ini sejak dini hingga ketika mereka mencapai usia ABG nanti telah terbiasa, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan.

“Janganlah kamu ikuti pendangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.” ( HR. At Turmudzi, hadits hasan ghorib ).

Pandangan itu adalah panah beracun dari panah panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan  pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah semata, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari kiamat”. ( HR. Ahmad ).

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. ( QS. Al Mu’minun, 1 – 7 ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 May 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Putriku tercinta, tanpa terasa dirimu telah menginjak usia ke 20. Begitu banyak nikmat yang telah engkau dapat dari Tuhanmu, Allah swt. Selain nikmat rezeki, keluarga dan sehat jasmani rohani, Sang Khalik juga telah memberimu kesempatan tinggal di Eropa, yang bukan rahasia lagi adalah mimpi bagi sebagian orang Indonesia.

Sungguh banyak pengalaman berharga yang mungkin tanpa kau sadari telah membekas begitu dalam, ke dalam sanubarimu, memperkuat keimanan dan keislamanmu, modal utama dalam hidup ini. Diantaranya, pergaulanmu sebagai Muslim minoritas dengan teman-teman lintas agama dan kepercayaan, tak hanya Kristen namun juga Yahudi bahkan Atheis.

Sekarang setelah kau kembali ke tanah air, Ia ‘celupkan’ lagi dirimu ke dalam lingkungan kampus dimana Muslim dan pribumi hanya minoritas. Dimana  perdebatan masalah ‘kebenaran’ dan ‘keadilan’ tidak jarang terjadi. Bahkan dalam tugas kelompokpun di’beban’kannya kepadamu untuk menjadi juru bicara pembahasan Pancasila no 1, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang sudah pasti memancing perdebatan sengit. Subhanallah  …

Allah, Dialah Yang Sang Mengatur segalanya, Dialah Sang Pembuat Skenario yang hebat. Berdakwahlah dengan jalan yang sesuai dengan kemampuanmu.  Semoga Allah senantiasa melindungimu nak …

Usia 20 tampaknya memang bukan lagi usia belia, bukan lagi teenagers, alias remaja belasan tahun. Banyak sekali kisah didunia ini, di masa lalu maupun masa sekarang,  menceritakan bagaimana para pemuda seusia tersebut berperan dalam kehidupan. Osama bin Zaid adalah salah satu contohnya. Pemuda yang hidup di masa Rasulullah ini ditunjuk sebagai panglima perang pada usia 19 tahunan. Sementara di masa kini, di pelbagai penjuru dunia, pemuda/pemudi di usia tersebut berbondong-bondong bersyahadat, kembali ke fitrah, tanpa rasa takut dan khawatir dimusuhi keluarga dan lingkungannya. Allahuakbar …

Di Jepang usia 20 dianggap sebagai gerbang memasuki usia dewasa. Mereka tidak main-main. Ini terbukti dengan diadakannya Hari Kedewasaan, yang diberi nama Seijin Siki. Hari ini dijatuhkan pada setiap Senin ke 2 di bulan Januari, namun perayaannya diselenggarakan pada hari Minggu sebelum hari H. Pada hari itu semua pemuda pemudi yang pada tahun itu berumur 20 tahun diharapkan hadir. Para pemudi datang dengan mengenakan jubah baru dan gaya rambut  baru, sementara para pemuda biasanya cukup dengan jas.

Uniknya, upacara yang konon sudah ada sejak tahun 714 ini, diselenggarakan di setiap daerah. Jadi pada tanggal tersebut, ketika seorang pemuda/pemudi menginjak usia 20, ia harus pulang ke daerahnya masing-masing. Disana mereka akan menerima arahan, wejangan dan bimbingan dari tokoh pemerintah daerah.

Intinya, sejak usia 20 tahun, seorang pemuda/pemudi sudah harus dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Pada usia tersebut mereka dizinkan merokok, meminum minuman keras dll, tanpa harus meminta izin kedua orang-tuanya.

( baca :

http://zuhudrozaki.wordpress.com/2014/01/12/%E6%88%90%E4%BA%BA%E3%81%AE%E6%97%A5-hari-kedewasaan/ ).

Di Perancis, kebebasan tersebut diberikan lebih awal, yaitu usia 18 tahun. Di usia tersebut, mereka bahkan berhak meninggalkan rumah dan tinggal dimanapun sesuka mereka. Ironisnya, bagi sebagian besar orang tua Perancis, hal ini dianggap melegakan, karena berarti mereka tidak perlu lagi mengurus anak mereka ! Meski secara finansial tetap saja menjadi tanggung jawab orang-tua, sebelum anak tersebut bekerja dan memperoleh pendapatan sendiri.

Kesimpulannya, tampaknya usia 20 tahun memang sudah bisa dianggap sebagai usia dewasa. Di usia ini diharapkan seorang anak sudah mampu mempertanggung-jawabkan apa yang dilakukannya.

Khusus untuk kaum hawa, Islam bahkan telah mengatur cara berpakaian mereka begitu haid pertama datang, tidak perlu menunggu hingga usia 20 tahun.Yaitu mengenakan jilbab untuk menutup aurat mereka.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(QS. AlAhzab(33):59).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, … … “(QS. An-Nur(24):31).

Putriku tersayang, janganlah dirimu merasa tertekan dengan adanya aturan tersebut. Sebaliknya, ini adalah tanda betapa Allah swt begitu menyayangi dan mencintaimu. Ia ingin melindungimu dari kejahatan laki-laki yang gemar mengumbar nafsunya, dari tingkatan manapun, berpendidikan maupun tidak berpendidikan,

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). … … “. (QS.An-Nuur(24):26).

Apalagi di zaman sekarang ini, dimana ponografi dan segala aksesnya begitu mudah didapat. Hingga menyebabkan kejahatan seksual makin meraja-lela, baik yang suka sama suka maupun yang dengan paksaan. Sementara kesibukan dunia kampus dan segala macam ekskulnya, dimana mahasiswa lelaki maupun perempuan berkumpul menjadi satu, bisa baru usai ketika hari telah larut malam.

Putriku yang baik, ketahuilah, shalat 5 waktu dalam sehari memang kewajiban. Tetapi itu saja tidak cukup. Shalat adalah tali perlindungan terakhir yang ditawarkan-Nya untuk kita semua. Namun untuk melindungi kita dari kejahatan manusia, khususnya lelaki hidung belang, kita harus berusaha mencegahnya sendiri. Itulah berjilbab. Lengkapilah shalat dan keimananmu dengan jilbab, sebagai tanda syukur dan takwamu pada-Nya.

Akhir kata, putriku tercinta, jangan sia-siakan peluang yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kedua orangtuamu yang sudah mulai renta ini, dengan hadirnya dirimu putriku. Selamat menjalani kehidupan dan siaplah mempertanggung-jawabkannya.

Abu Said al-Khudri ra berkata, Rasulullah saw. bersabda “ Barangsiapa diantara kalian merawat dan mendidik dua atau tiga orang anak perempuan lalu menikahkannya dan berbuat baik kepada mereka, niscaya akan masuk surga” (HR. Abu Dawud)

Dari Abu Harairah ra, Rasulullah saw. bersabda “” Barangsiapa diantara kalian mempunyai tiga orang anak gadis lalu ia sabar merawatnya dalam keadaan susah dan senang, maka Allah akan memasukkan dia surga berkat kasih sayang orang itu kepada ketiganya”, lalu seseorang bertanya:”Bagaimana dengan dua wahai Rasulullah?”, beliau menjawab “Demikian juga dengan dua”, lalu orang itu bertanya lagi: “Bagaimana dengan satu wahai Rasulullah?” beliau menjawab “Demikian juga dengan satu” (HR. Ahmad).

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, 31 Maret 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Shalat Yang Lalai

Seperti apakah shalat yang lalai itu? Mengapa dalam ayat 4 surah Al-Maa’uun Allah SWT berfirman : ” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat ”? Bukankah shalat adalah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT ? ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”.(QS. Al-Maa’uun(107):4-5).

Allah SWT memang menjanjikan pahala dan kemudahan dalam segala urusan bagi orang yang mengerjakan shalat. Namun ada persyaratannya. Jadi bila syarat tersebut tidak terpenuhi maka yang diterimanya bukan pahala apalagi kemudahan melainkan malah kesengsaraan. Karena rahmat Allah akan menjauh darinya. Inilah yang dimaksud kecelakaan dalam ayat diatas. Allah SWT memerintahkan ’mendirikan/menegakkan ’ shalat (aqooma – yuqiimu ) bukan sekedar ’melaksanakan’ shalat ( sholla – yusholli). Menegakkan atau mendirikan shalat maknanya, dalam mengerjakan shalat harus ada niat, ada kesungguhan.

Kata ” Saahuun ” yang berarti lalai berarti adalah mengabaikan shalat, diantaranya adalah wudhu’ yang tidak sempurna, gerakan shalat ( rukuk, sujud dll yang tidak sempurna), meng-akhirkan shalat (tidak meng-awalkannya) tanpa alasan yang dapat diterima. Termasuk orang yang shalat namun tidak meyakini bahwa dengan shalat Allah akan memberinya kemudahan hidup, bahwa dengan shalat Allah SWT akan memberinya pahala. Orang-orang seperti ini shalatnya tidak khusuk dan cenderung terburu-buru.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya” . ( QS.Al-Mukminun (23):1-2).

Orang-orang yang khusyu`,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Sebaliknya shalat yang terburu-buru / lalai sesungguhnya tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan bathin serta tidak akan pula melahirkan ahklak yang baik. Padahal seharusnya dengan shalat akan muncul prilaku yang sempurna, akhlakul khorimah. Karena kunci ibadah adalah shalat. Orang yang akhlaknya buruk dapat dipastikan shalatnya juga buruk. Allah SWT bahkan memasukkan orang-orang yang lalai ini ke dalam golongan orang Munafik. Sama halnya dengan orang yang mengerjakan shalat dengan riya’, yaitu yang mengerjakan shalat bukan karena mencari ridho’Nya melainkan untuk dilihat orang lain. Ini adalah salah satu ciri orang Munafik. Akhlak mereka buruk padahal ahklak adalah cerminan hati. Lebih jauh lagi, Allah akan memasukkan orang seperti ini sebagai golongan orang yang mendustakan hari Pembalasan.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : ” Shalat yang paling berat bagi orang Munafik ialah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengerti pahala yang terdapat pada dua shalat itu, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak ”.( HR Bukhari dan Muslim).

Termasuk juga dalam kategori lalai adalah laki-laki yang menghindari shalat berjamaah di dalam masjid atau musholla, terutama shalat Isya dan Subuh.

Dari Abu Musa ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa mengerjakan shalat di dua waktu dingin (Subuh dan Isya’ secara berjamaah ) niscaya dia akan masuk surga“. ( HR Bukhari Muslim).

Hanya dengan alasan tertentu sajalah diantaranya uzur dan sakit, orang diizinkan tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Bahkan sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda bahwa orang yang shalat berjamaah namun shafnya tidak rapat saja maka berdosalah ia. Perumpamaannya seperti perempuan yang tidak menutup auratnya dengan baik.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “ Ada seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah saw dan berkata :”Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid”. Maka Rasulullah memperkenankan  (memberinya keringanan). Namun setelah ia hendak pulang, Rasululah memanggilnya kembali dan bertanya : ”Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda :”Kalau begitu datanglah.” (HR Muslim).

Satu hal penting yang harus diingat, salah satu sifat Allah yang harus kita imani adalah sifat cemburu. Allah SWT tidak ridho’ ketika seorang hamba dalam keadaan shalat namun dalam hatinya ada sesuatu yang lain disamping-Nya. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda bahwa sifat cemburu Allah jauh lebih besar dari cemburunya Sa’ad, seorang sahabat. Diriwayatkan bahwa Sa’ad segera akan mengeluarkan pedangnya begitu melihat ada lelaki yang memandang dan mendekati istrinya. Sesungguhnya sifat cemburu adalah sifat yang baik. Karena hal ini menunjukkan kebesaran cinta dan kasih-sayang seseorang. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT melaknat dan murka kepada orang yang menduakan-Nya. Tidak ada kecintaan apapun yang boleh menyamai apalagi mengalahkan kecintaan kepada-Nya, sekalipun itu cinta seorang suami / istri terhadap pasangannya maupun cinta terhadap anak atau orang tua.

Wallahu’alam bishshawab.
Jakarta, 18/2/2008.
Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »