Feeds:
Posts
Comments

Waktu adalah uang, adalah terjemah pepatah Barat “Time is Money” yang sangat sering kita dengar. Bagi kebanyakan orang pepatah ini terlihat baik karena intinya adalah jangan pernah suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan, hendaklah dalam hidup kita menghargai waktu, dan lain sebagainya.

Namun bila diperhatikan lebih mendalam, yaitu dengan membandingkan waktu dengan uang, maka akan terlihat betapa materialistisnya pepatah tersebut. Cerminan nyata bahwa orang Barat sangat mengagungkan materi (uang). Hal yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Bandingkan dengan pepatah Arab “Al-Waqtu Kassaifi” yang artinya  waktu laksana pedang. Pepatah ini sangat sesuai dengan surat ke 111 dalam Al-Quranul Karim yaitu Al-Ashr yang artinya adalah waktu. Surat tersebut mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperhatikan keberadaan waktu.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Setiap manusia, beragama atau tidak beragama, percaya atau tidak percaya akan keberadaan Tuhan, pasti menyadari dan yakin bahwa suatu saat nanti akan mati. Artinya ia tahu bahwa hidup itu terbatas waktunya. Bedanya dengan orang beragama, orang tidak beragama tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa hidup bukan hanya di dunia. Itu sebabnya orientasinya hanya seputar duniawi alias materialistis. Sedangkan orang beragama pasti yakin adanya kehidupan setelah mati, itulah kehidupan akhirat.

Dalam Islam, hidup di dunia adalah ladang amal yang hasilnya tidak hanya dinikmati di dunia tapi terlebih lagi di akhirat. Kehidupan di dunia hanya sementara dan sangat singkat. Sedangkan di akhirat jauh lebih kekal.

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Terjemah QS.Al A’laa (87): 16-17).      

Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya berlomba dengan waktu, memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat segala macam dan bentuk kebaikan. Kebaikan tersebut tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi orang lain, hewan dan tumbuhan. Termasuk juga mengingatkan dan mengajak orang lain untuk berbuat baik.

Dan uniknya semua itu atas landasan iman karena tidak semua kebaikan itu benar. Kebaikan yang benar adalah yang sesuai pandangan Sang Pencipta bukan pandangan kelompok, golongan, bangsa atau suku tertentu. Islam juga memerintahkan untuk tidak berhenti dalam kebaikan, untuk terus berusaha dan bekerja.           

 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS al-Insyirah [94]: 7).

Secara lengkap pepatah Arab diatas bunyinya adalah  “Al-Waqtu Kassaifi, Al-Waqtu Ka as-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka”, artinya waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu”.

Imam Syafi’i berkata, “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”.

Sebagaimana pisau, pedang adalah benda penting dan bermanfaat tapi tergantung penggunaannya. Di tangan yang benar ia sangat bermanfaat tapi di tangan yang tidak benar ia sangat berbahaya. Maknanya, jangan pernah sia-siakan waktu karena ia yang akan memotongnya kita jika kita tidak memotongnya.

Umur panjang yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan tidak hanya sia-sia namun juga bisa memasukannya ke api neraka bila digunakan untuk bermaksiat. Sebaliknya umur pendek tapi sarat kebaikan akan mengantarkan ke surga. 

Waktu diibaratkan bagai pedang karena sifat pedang yang cepat bagaikan kilat. Waktu sangat cepat berlalu maka jangan pernah menunda-nunda pekerjaan dan kesempatan.

… … Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu“. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):47).

Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. at-Tirmidzi).

Artinya, rata-rata umur biologis (umur yang dihitung berdasarkan kelahiran ke dunia) umat Islam bila dibandingkan dengan waktu akhirat hanya 1.5 jam. Meski tidak mustahil umur hakiki (umur kebaikan) seseorang bisa lebih panjang dari umur biologisnya. Itulah amal jariyah, amal kebaikan yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya bisa dirasakan orang lain, meski ia telah meninggal dunia. Contohnya ilmu yang bermanfaat, sedekah pembangunan masjid, sedekah air dll.

Waktu tidak akan pernah berputar ke belakang, ia akan terus maju menggerus apapun yang ada di hadapan kita. Oleh sebab itu jangan ceroboh dalam bertindak. Itu pentingnya mencari ilmu sebanyak  mungkin supaya tidak salah dalam bertindak. Dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu akhirat (agama) yang akan menuntun bukan malah menyesatkan. Jangan sampai menyesali perbuatan yang tanpa dipikirkan terlebih dahulu, karena nasi telah menjadi bubur sebagaimana ayat 38-40 surat An-Naba’ berikut,   

38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

039. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

040. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Kembali kepada pepatah Barat “ Time is Money” atau “Waktu adalah uang”, Islam bukannya melarang umatnya menjadi kaya. Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah contoh sahabat dekat Rasulullah yang kekayaannya berlimpah-ruah. Namun kekayaannya bukan ditujukan semata untuk memperkaya diri melainkan disumbangkan untuk kepentingan umat.

Ustman dan Abdurrahman adalah dua sahabat yang dijamin surga. Keduanya bukan hanya dikenal sebagai ahli ibadah tapi juga ahli sedekah. Jauh sebelum menjadi khalifah, dengan hartanya Ustman bin Affan membeli sumber air milik  Yahudi untuk kepentingan umat Islam. Sementara Aburrahman bin Auf tanpa ragu menginfakkan 500 ekor unta, 1.500 unta serta 40.000 dinar untuk keperluan jihad.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

 Jakarta, 31 Desember 2025 / 12 Rajab 1447H.

Vien AM.

Sejarah mencatat pada 1874, orang Yahudi  yang tinggal di Palestina hanya 14.000 jiwa. Sementara etnis Arab dengan jumlah 426.000 jiwa menempati rumah-rumah di atas tanah yang telah dimiliki keluarga selama beberapa generasi. Rata-rata mereka hidup dengan bertani. Jadi pada saat itu orang Yahudi hanya 3 persen dari total penduduk Palestina.

Pada saat yang sama  orang-orang Eropa, dengan berbagai alasan, sangat membenci bangsa Yahudi yang tinggal bersama mereka di tanah Eropa. Itulah yang kemudian dikenal dengan Antisemitisme. Dipicu hal tersebut para pemimpin Zionis memikirkan perlunya berdiri negara Yahudi. Dan tanah Palestina yang ketika itu merupakan bagian dari Kesultanan Turki Ottoman, dan memang sejak lama mereka impikan, adalah targetnya !!!

Maka ketika akhirnya meletus Perang Dunia I (1914-1918) dengan kekalahan blok Turki, Inggris sebagai pemenang berupaya memfasilitasi pembentukan kerajaan Arab bersatu. Ironisnya, pada Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919, negara-negara Eropa justru mencegah terciptanya kerajaan Arab bersatu tersebut.

Sebaliknya mereka justru menetapkan serangkaian mandat yang memungkinkan pembagian seluruh wilayah bekas kesultanan Ottoman yang sangat luas itu kepada pemenang PD I. Diantaranya yaitu penetapan Jalur Gaza menjadi bagian dari Mandat Inggris atas Palestina. Selanjutnya pada 1948 atas izin PBB Inggris memberikannya kepada Israel.

Maka sejak 1948 sekitar 172.973 hektare tanah milik warga Palestina diambil alih. Zionis Israel tidak hanya merampas tanah dan rumah warga Palestina tapi juga menangkap, memenjarakan bahkan menyiksa dan membunuhi warga, baik tua muda anak-anak lelaki maupun perempuan. Itulah yang kemudian dinamakan Nakba ( malapetaka).

Ratusan ribu warga Palestina menjadi pengungsi dengan nasib yang tidak jelas. Kebanyakan mereka memilih Jalur Gaza yang ketika itu berada dibawah kekuasaan Mesir. Ironisnya 19 tahun kemudian yaitu pada 1967, wilayah kantong inipun menjadi jajahan Israel paska kekalahan koalisi Arab pada perang Enam Hari melawan Israel.

Itu sebabnya wilayah Palestina terpisah dan terbagi dua yaitu Tepi Barat ( West Bank) dan Jalur Gaza. Di Tepi Barat  inilah berdiri megah Masjidil-Aqsho, masjid tersuci ke 3 umat Islam di Jerusalem yang merupakan ibu kota Palestina. Wilayah yang didalamnya terdapat beberapa kota besar seperti Hebron, Jericho, Nazareth dll ini berbatasan langsung dengan Israel, kecuali bagian timur laut dengan Yordania yang sebagiannya adalah laut Mati. 

Sementara Jalur Gaza (Gaza Strip) yang terletak 50 km barat daya Tepi Barat, berbatasan dengan  Mesir di Rafah, laut Mediterania di barat laut dan sisanya dengan Israel. Luas wilayah yang tidak sampai 1/15 Tepi Barat ini dijejali oleh  2.3 juta jiwa.

Penduduk Gaza dikenal sangat militan. Meski pembangunan di Gaza cukup maju, terbukti dengan berdirinya sejumlah gedung perkantoran, rumah sakit, universitas dll, namun itu bukan berarti mereka tunduk dan pasrah diperlakukan sebagai wilayah  jajahan.  

Adalah Universitas Islam Gaza. Universitas ini dibangun pada tahun 1983 oleh Syaikh Ahmad Yasin dengan ruh muqawamah (perlawanan) melawan  penjajah. Kuliah pertamanya dilakukan di kemah-kemah pengungsi, dibimbing para dosen yang juga terusir dari rumah-rumahnya.

Hingga pada suatu hari di bulan Desember 1987, sebuah truk militer penjajah pendudukan Israel menabrak sejumlah pekerja Palestina dari Jalur Gaza, dan mengakibatkan empat warga Palestina tewas dan lainnya mengalami luka-luka.

Insiden ini kemudian menjadi pemicu pecahnya Intifada I (1987-1993) dan Intifada II (2000 – 2006).  Intifada dalam bahasa Arab artinya melepaskan diri atau  perlawanan. Dan karena senjata yang digunakan hanyalah batu maka perlawanan tersebut dinamakan Intifada Batu. 

Perlawanan sengit yang bertujuan melepaskan diri dari penjajahan Israel tersebut akhirnya meluas tidak hanya terjadi di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas tapi juga di Tepi Barat yang dikuasai Fatah. Meski Hamas dan Fatah terlihat sering berseteru sebenarnya kedua kelompok tersebut berada dalam barisan perjuangan yang sama, yakni memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina atas tanah dan kedaulatannya.

Perbedaan ideologi, strategi perjuangan dan basis kekuatan di lapangan membuat keduanya berkembang menjadi dua entitas politik dengan orientasi yang berbeda. Fatah yang mendominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), berakar pada nasionalisme sekuler. Kelompok ini memilih jalur diplomasi dan negosiasi politik dengan komunias internasional. Sementara Hamas yang lahir pada akhir 1980-an di tengah Intifada pertama, tumbuh dari basis gerakan dakwah dan sosial yang memiliki orientasi Islamis. Hamas melihat perjuangan bersenjata sebagai bagian sah dari jihad melawan pendudukan Israel.

Pada masa itulah pemerintahan penjajajahan Israel menutup universitas yang ada di Palestina, mengusir ratusan aktivis serta menghancurkan rumah-rumah penduduk. Kemarahan dan semangat perlawanan rakyat makin memuncak ketika PM Israel ketika itu, yaitu Ariel Sharon memasuki Mesjid Al-Aqsha pada tahun 2000. Inilah  pemicu pecahnya Intifada II yang ditanggapi penjajah dengan pembangunan pagar tembok tinggi yang memisahkan wilayah Palestina dan Israel. Ini masih ditambah prilaku terhadap rakyat Palestina yang semakin diskriminatif.

Selanjutnya pada tahun 2007 ketika Hamas memenangkan pemilu Palestina secara telak, dunia internasional, Barat khususnya yang telah melabeli Hamas sebagai organisasi teroris, mengkudeta pemilu tersebut. Dan sejak itulah dengan dibangunnya tembok tinggi yang memagari Gaza membuatnya menjadi penjara terbesar dengan kepadatan tertinggi di dunia yang hanya mempunyai 1 pintu keluar masuk yaitu Rafah, Mesir.

Para pejuang Intifada yang ketika itu masih remaja tampaknya adalah cikal bakal pejuang Hamas yang tak pernah lelah berjuang merebut kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid al-Aqsa. Terakhir adalah serangan 7 Oktober  2023 dengan nama sandi “Thufan Al-Aqsa”. Serangan ini serangan lintas batas paling serius yang pernah dihadapi Israel selama lebih dari satu generasi yang dilancarkan Hamas dari Jalur Gaza. Serangan ini dikemudian dibalas Zionis secara membabi buta hingga menelan korban lebih dari 70.000 orang syahid, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai hampir 171.000 lainnya.

Namun demikian operasi Thufan Al-Aqsa ini berhasil membuka mata dunia betapa berani, tabah, dan sabarnya bangsa Palestina.  Slogan lan narhal (tidak akan pergi) menggambarkan bahwa bangsa tersebut rela mengorbankan apa saja, termasuk jiwa raga mereka dari pada harus pergi mengungsi. Slogan ini sebenarnya menggambarkan ajaran Islam tentang ribath, yaitu berjihad menjaga perbatasan suatu daerah dari serangan/rongrongan musuh dari luar.

Orang yang melakukan ribath disebut Murabith. Seorang murabith tidak berarti harus berperang membawa senjata melawan musuh tapi juga bertahan tidak meninggalkan tempat walau jiwanya diancam. Contohnya dengan menolong korban/orang yang sakit, menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari dll.

“Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan apa pun yang ada di atasnya”. (Shahih Al-Bukhari: 2892).

Meninggalkan tanah air dimana didalamnya berdiri masjid al-Aqsa sama saja dengan membiarkan Zionis mencaploknya. Meski mereka menyadari bahwa teknologi perang mereka jauh di belakang musuh apalagi dengan Amerika Serikat di belakang Zionis, mereka tetap tak mau begitu saja menyerah. Walau Israelpun akhirnya harus mengakui sistim pertahanan bawah tanah Gaza sangat rumit dan canggih. 

Dan yang lebih penting lagi, akhirnya duniapun menyadari betapa keimanan ternyata bisa mengalahkan segalanya. Tragedi Palestina bagaikan panggung besar terbuka dakwah ajaran Islam yang tidak saja indah namun juga kokoh berbobot. Pengakuan mengejutkan para sandera Israel yang ditahan Hamas dan diperlakukan dengan sangat baik selama kurang lebih 2 tahun lamanya tidak dapat begitu saja dihapus dari ingatan.

Hikmah lain perang ini berhasil membuat Hamas dan Fatah menyadari pentingnya persatuan. Itu sebabnya pasca-gencatan senjata Hamas menyatakan siap berdialog dengan hati dan tangan terbuka. Sementara Fatah juga memberikan sinyal bersedia merumuskan kembali mekanisme pemerintahan yang selama ini rapuh.  

Saat ini genjatan senjata antara Hamas – Israel yang sudah memasuki bulan ke 2 sedang berlangsung namun Zionis selama ratusan kali telah melanggarnya. Barat mulai terbuka dan tidak sedikit yang secara terbuka mulai membela Palestina. Bahkan berani mengatakan bahwa Israel adalah Negara teroris. Pertanyaan besar, akankah Palestina segera mendapatkan kemerdekaannya?? Adakah Dajjal si mata satu raja Israel telah muncul?? Bagaimana dengan Imam Mahdi dan nabi Isa as yang berdasarkan banyak riwayat hadist akan muncul di akhir zaman?? 

Lalu turunlah Isa bin Maryam … kemudian ia mengejar Dajjal hingga berhasil membunuhnya di pintu gerbang kota Ludd (Palestina).” (HR. Muslim no. 2937).

Tidak sedikit hadist-hadist panjang akhir zaman menerangkan bahwa ketika kejahatan bangsa Israel telah mencapai puncaknya, Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa AS untuk mengakhirinya. Nabi Allah yang oleh umat Nasrani disebut Yesus tersebut akan memerangi dan membunuh Dajjal di pintu kota Palestina. Setelah itu dibawah kepemimpinan Imam Mahdi, dunia akan kembali kepada keadaan damai selama beberapa waktu hingga kiamat menjelang tiba.

Kebenaran pasti akan menang mengalahkan kebathilan. Kebenaran hakiki adalah yang datang dari penguasa, pemilik alam semesta, itulah Allah Azza wa Jala. Dialah yang menurunkan dan mengutus para nabi mulai dari nabi Adam as hingga Ibrahim as ( Abraham), Yaqub, Ishaq, Ismail, Yusuf, Sulaiman ( Solomon), Musa as ( Moses), Isa as ( Yesus) hingga nabi terakhir Muhammad saw.  Para nabi dan rasul tersebut datang dengan membawa misi utama tauhid yaitu bahwa Tuhan hanya satu, tidak beranak dan tidak diperanakan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):255).

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [HR. Al-Bukhari].

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Desember 2025.

Seperti telah diketahui, pada Sidang Umum PBB 22 September 2025 di kantor pusat PBB New York, 153 dari 193 negara anggota secara resmi menyetujui solusi 2 negara Palestina dan Israel. Negara-negara besar mitra AS seperti Inggris dan Perancis termasuk di dalamnya.

Sementara pada 10 Oktober 2025 genjatan senjata antara Zionis Israel dan Gaza, paska serangan 7 Oktober 2023, juga telah disepakati meski Israel seperti biasa melanggarnya berkali-kali. Sebelumnya yaitu  pada 15 Januari 2025 genjatan senjata juga pernah terjadi namun lagi-lagi Israel melanggarnya.

PM Netanyahu beberapa kali menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak akan pernah menyetujui berdirinya Negara Palestina. Sebelumnya telah beredar pula peta baru Israel yang ia sebut sebagai Israel Raya yang wilayahnya meliputi seluruh Israel, Tepi Barat, Gaza, Suriah, Yordania, Lebanon, Mesir dan Arab Saudi. Amat sangat provokatif !!!   

Mengingat hal tersebut, sebuah pertanyaan besar akankah Palestina bisa berdiri dalam waktu dekat ini??Mungkin ada baiknya kita menengok ke belakang untuk melihat latar belakang mengapa Israel begitu bernafsu menguasai tanah Palestina dan sekitarnya.

Syeikh Imran Hosein, seorang cendekiawan Muslim sekaligus pemerhati politik asal Trinidad, dalam bukunya “Jerusalem in the Qur’an”, membeberkan keyakinan Yahudi mengenai restorasi Israel, dua ribu tahun setelah kehancuran kerajaan Israel. Orang-orang Yahudi meyakininya sebagai salah satu tanda kedatangan Messiah alias Dajjal, si mata satu raja Yahudi yang amat diharapkan kemunculannya. Restorasi Israel yang dimaksud adalah Israel dengan luas seperti pada era Nabi Daud as, yang merupakan era keemasan Bani Israil, kurang lebih seperti peta Israel Raya yang beredar baru-baru ini.

Jadi tidak sepenuhnya tepat bila dikatakan bahwa masalah Palestina – Israel bukanlah masalah agama. Di Islampun keyakinan perang akhir zaman antara yang hak (benar) dan bathil ( jahat) pasti akan terjadi, bahkan di tempat yang sama dengan keyakinan Yahudi, yaitu tanah yang diberkati, Palestina !   

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” ( Terjemah QS. Al-Isra (17):1).

Dalam hadist mengenai akhir zaman hal tersebut banyak dijumpai bahkan dengan penjelasan yang detail. Tanda-tanda akhir zaman dibagi menjadi 2 bagian, yaitu tanda-tanda kecil yang sudah terjadi dan masih berlangsung, dan yang kedua tanda-tanda besar ( belum terjadi).

https://www.rumahzakat.org/tanda-kiamat-kecil-dan-besar/

Kedatangan Dajjal masuk dalam kelompok tanda-tanda besar. Pemeluk Nasrani menyebut Dajjal dengan Antikristus. Dan sama dengan Islam, Antrikristus atau Dajjal  adalah tokoh super jahat yang akan muncul di akhir zaman. Sementara pemeluk Yahudi mengganggap Dajal ( Messiah) sebagai raja yang mereka tunggu-tunggu.

Dengan demikian dapat dibayangkan mengapa orang-orang Yahudi Israel begitu bernafsu merebut tanah Palestina dan sekitarnya. Sayangnya meski dengan dalih kitab suci dan kepercayaan mereka melakukannya dengan amat sangat keji. Betulkah itu agama? Agama mengajarkan kejahatan, mungkinkah??  Apalagi bila itu agama Yahudi yang dibawa nabi Musa as, rasul Allah swt, yang orang Yahudipun mengakuinya sebagai nabi mereka, dengan nama Moses …   

Didalam kitab suci Al-Quran banyak sekali ditemukan kisah pembangkangan kaum Yahudi terhadap perintah nabi dan Tuhannya. Diantaranya adalah sebagai berikut, sebagai berikut, 

Mereka ( orang-orang Yahudi) berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ( penduduk Jerusalem) ada di dalamnya ( Jerusalem), karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):24).

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”. ( Terjemah QS.Al-Anam (6):91).

Saat ini dunia dapat melihat dengan kasat mata kekejaman Zionis Israel terhadap Palestina, penduduk Gaza khususnya. Hanya orang yang tak punya hati yang bisa menerima prilaku Israel. Dan ini terbukti dengan banyaknya Negara berdemo menentang kejahatan Zionis Israel di Gaza dan puncaknya adalah pengakuan Palestina. Tak heran bila kemudian viral “Tak perlu menjadi Muslim untuk membela Palestina. Cukup kau menjadi manusia!”.

Israel dengan Natanyahunya tidak akan pernah mau meninggalkan Palestina, tidak akan ada genjatan senjata, serangan balik 7 Oktober hanyalah dalih agar dunia bersedia memaklumi tindakan genosida Israel. Netanyahu ( dan rabi-rabi Yahudi pendukungnya yang bisa jadi merasa bersalah karena dulu para tetuanya pernah berdosa karena menolak perintah nabi dan Tuhannya untuk memasuki Jerusalem)  sudah merasa mendekati cita-cita muluknya, tidak hanya merebut Gaza tapi juga Jerusalem di Tepi Barat dimana berdiri di dalamnya Masjidil Aqsho yang mereka yakini sebagai kuil ketiga tempat dimana sang Messiah akan muncul. Apalagi menyadari bahwa serangan brutal dan pencaplokan wilayah beberapa Negara sekitar Palestina yang mereka lakukan tidak mendapat perlawanan berarti dari Negara-negara lain.       

Yang kemudian menjadi aneh adalah justru kesiapan kaum Muslimin ( juga kaum Nasrani) yang sudah dibekali pengetahuan akan datangnya hal tersebut. Jangankan membela Palestina, ini malah membangun kerja sama dan normalisasi dengan Israel yang digagas presiden AS Trump dengan apa yang dinamakan Abraham Accord ( Kesepakatan Ibrahim). Perjanjian tersebut diberi nama Abraham ( Ibrahim) untuk mencerminkan perdamaian antar Islam, Yahudi dan Nasrani. Menjadi bukti bahwa Barat yang notabene kafir dan selalu menolak alasan agama sejatinya tidak demikian. Yang mereka inginkan hanyalah kaum Muslimin menjauhkan diri dari ajarannya, yang dengan demikian mudah mereka mengalahkan Islam. Itulah Islamophobia. Dan tampaknya memang berhasil. Persaudaraan sesama Muslim dan jihad yang sejatinya adalah senjata paling ampuh bagi umat Islam, hilang sudah.

Tak heran jika 15 abad silam Rasulullah saw  telah memperingatkan bahwa  Dajjal adalah fitnah berat, fitnah terbesar yang pernah ada. Betapa banyak manusia terperdaya melihat kekuatan yang dianggap luar biasa itu. Cinta dunia berlebihan adalah sumber masalahnya. Kemajuan teknologi dan pembagunan, kemewahan hidup meski harus dengan jalan berhutang dan riba yang jelas-jelas haram telah membuat lupa kehidupan akhirat. Itulah surga dunia yang jelas-jelas hanya sementara.    

Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang lebih besar fitnahnya dari Dajjal.” [HR. Muslim].

Sesungguhnya bersama Dajjal ada surga dan neraka. Nerakanya sebenarnya surga, dan surganya sebenarnya neraka.” [HR. Muslim no. 2934].

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Hampir saja umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Beliau pun berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, ada apa dengan pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya ,”Apa itu ‘wahn’?” Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, semoga Allah merahmatinya ).

Bandingkan dengan penduduk Palestina, Gaza khususnya, Masya Allah …

Hari ini dunia bisa melihat bagaimana tangguhnya penduduk Palestina. Penderitaan mereka bukan hanya dialami dua tahun terakhir ini tapi telah dimulai sejak tahun 1948 yaitu sejak Israel dibantu Inggris mengumumkan berdiri negaranya di atas tanah Palestina. Peristiwa mengenaskan yang ditandai dengan pengusiran besar-besaran rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri ini dikenal dengan sebutan Nakba yang artinya adalah malapetaka.

( Bersambung).

Pengakuan para tawanan Israel mengenai bagaimana pasukan Hamas memperlakukan mereka selama dalan tahanan juga menambah kekaguman Barat. Melalui video dan media social terlihat jelas kehangatan sikap para tawanan terhadap orang-orang yang menyandera mereka. Tampak aneh tapi begitulah kenyataanya.

Menurut Globe Eye News, jumlah orang yang memeluk Islam di Eropa meningkat hingga 400% sejak dimulainya serangan dan genosida oleh Zionis di Jalur Gaza, Palestina. Diawali oleh rasa penasaran akan keteguhan dan ketabahan warga Gaza dalam menghadapi kekejaman tentara penjajah Israel yang sudah sangat kelewatan, banyak orang Barat yang mulai tertarik dengan ajaran Islam kemudian membaca terjemah Al-Quran, mencoba memahami dan akhirnya bersyahadat.

Berikut adalah pengakuan seorang mantan prajurit perempuan Israel melalui wawancara berdurasi 8 menit,  “Salah satu hal yang paling mengguncang saya adalah ketika mereka mengatakan:“Kami takut kepada Allah, itulah mengapa kami tidak akan menyakiti kalian!”

“Saya terkejut, bagaimana mungkin musuh yang berperang melawan kami bisa mengatakan hal seperti itu? Saya mulai bertanya, dan mereka menjelaskan bahwa dalam Islam, mereka percaya bahwa Allah mengawasi semua perbuatan manusia dan akan meminta pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang dilakukan, bahkan terhadap musuh sekalipun. Seiring waktu, rasa takut saya berubah menjadi keingin-tahuan”.

Prajurit Israel Masuk Islam Karena Akhlak Mulia Pejuang Palestina

Kesaksian juga datang dari Wilhelmi Massay, seorang perawat Amerika yang datang ke Gaza dengan tujuan membantu meringankan penderitaan rakyat Gaza.     Bersama empat relawan medis Amerika lainnya mereka bertugas di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan dan di Rumah Sakit Indonesia di utara.

“Bayangkan seorang ayah atau ibu menggendong kedua anaknya di dalam kantong plastik setelah Israel mengebom anak tersebut, dan mereka masih berkata, ‘Alhamdulillah!’ Itulah iman,” kata Massay, dalam sebuah podcast dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (18/3/2025).

Masai menggambarkan hal tersebut sebagai sebuah keyakinan yang “tidak dapat dibom oleh Israel.”

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7828905/perawat-as-masuk-islam-usai-lihat-keimanan-warga-gaza

Tak dapat dipungkiri skenario Allah swt tidak pernah salah dan selalu ada hikmah dibalik segala peristiwa. Islam pasti akan tersebar ke seluruh pelosok dunia dan tidak akan pernah terhenti oleh apa dan siapapun. Ajaran suci yang dibawa dan diperkenalkan oeh nabi besar Muhammad saw 15 abad silam tersebut akan selalu sesuai dengan hati nurani manusia hingga hari Kiamat nanti. Ahlak mulia dibawah syariat islam itulah inti ajaran Islam. Dan ini langsung dicontohkan Rasulullah saw sebagaimana ayat 21 surat Al-Ahzab berikut,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.    

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. [HR. Al-Bukhari].

Aisyah berkata: “Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al-Quran”. [HR. Muslim no.746].

Sayangnya saat ini tidak sedikit kaum Muslimin yang lupa hal tersebut. Generasi muda bahkan lebih memilih artis Barat dan Korea sebagai idola daripada nabi mereka sendiri. Sementara para pejabat hidup bermewah-mewahan dan tanpa malu memamerkan kekayaan yang didapat dari hasil korupsi tersebut. Sebaliknya tak sedikit pula orang yang berlomba dalam berbagai kebaikan seperti menghafal ayat-ayat suci Al-Quran, membangun masjid, banyak sedekah, itikaf dan lain-lain tapi tidak memperbaiki ahlak buruk mereka seperti riya, sombong, kasar dan sebagainya.

Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):263).

Rasulullah adalah seorang yang penyayang. Tentu kita sering mendengar kisah Rasululah dan seorang lelaki Yahudi tua buta. Hampir setiap hari Rasulullah menyempatkan diri menyuapinya padahal setiap kali itu pula si lelaki buta mengumpati Rasulullah. Ia baru tahu tahu bahwa orang yang menyuapinya dengan lembut itu adalah nabi besar Muhammad saw seteah Rasululah wafat.  

Banyak ayat-ayat Al-Quran yang memberitahukan ciri-ciri hamba-hamba Allah yang penyayang ( Ibadur Rahman), diantaranya adalah ayat 63-68 surat Al-Furqon berikut,

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.

Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)”.

Dengan kata lain, Islam adalah ajaran yang tidak semata bersifat ke-akhirat-an (hubungan dengan Allah / hablu min Allah ) tapi juga keduniawian ( hubungan dengan sesama manusia/hablu min naas). Islam bukan hanya sekedar ritual ibadah seperti shalat dan puasa namun juga akhlak yang  baik. 

Dari Abu Tsa’labah Al Khusyani, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencemooh manusia dengan kata-katanya.” (HR. Ahmad no. 17077).

“Wahai Abu Hurairah, seyogyanya anda untuk berperilaku baik (husnul khuluq).”Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah husnul khuluq itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Anda menyambung (tali persaudaraan kepada) orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, dan anda memaafkan (kesalahan atas) orang yang menzalimimu, dan anda memberi orang yang enggan memberi kepadamu”. (HR.Al-Baihaqi).

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 21 November 2025.

Vien AM.

Genjatan senjata antara Hamas dan Israel yang kembali memanas sejak serangan 7 Oktober 2023 akhirnya disepakati kedua belah pihak. Kesepakatan yang diusulkan oleh Donald Trump presiden Amerika Serikat, disaksikan oleh Qatar, Mesir dan Turki, serta dihadiri delegasi Israel dan Hamas ini berlangsung di Mesir. Dan berlaku sejak Jumat 10 Oktober 2025.

Genjatan senjata tersebut terlaksana setelah munculnya desakan banyak pihak dan Negara yang tampaknya telah muak menyaksikan kebrutalan tentara penjajah Israel yang secara terbuka tanpa malu melakukan genosida terhadap penduduk Gaza. Puncaknya yaitu  pengakuan Palestina sebagai Negara pada sidang Sidang Umum PBB Senin, 22 September 2025. 153 dari 193 anggota PBB secara resmi memberikan pengakuan berdirinya Palestina. Termasuk negara-negara mitra Israel seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal. Juga Irlandia, Spanyol dan Norwegia. Namun lagi-lagi Amerika Serikat memveto hasil sidang tersebut.

Oleh sebab itu sungguh janggal bila kemudian justru Amerika Serikat yang memediasi genjatan senjata tersebut. Tentu kita tidak lupa bagaimana Donald Trump, presiden Negara adi daya tersebut membuat rencana gila menyulap Jalur Gaza menjadi pusat wisata. Dalam proposal “Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust”, atau GREAT Trust, tertulis bahwa AS akan mengelola Gaza selama setidaknya 10 tahun, membangunnya kembali menjadi resor wisata dan pusat manufaktur.

Dalam proposal setebal 38 halaman tersebut disebutkan bahwa  warga Gaza akan ditawarkan iming-iming US$5.000 ( setara Rp82 juta ) untuk keluar dari Gaza secara sukarela dan akan dirancang agar terlihat seperti “sukarela.”

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250901174522-120-1268955/rencana-gila-trump-bikin-gaza-pusat-wisata-warga-diimingi-rp82-juta

Sejumlah pengamat juga mengatakan sebagai imbalan, Israel bakal mendapatkan sebagian Tepi Barat dimana berdiri di dalamnya Masjidil Aqsho, masjid ke 3 tersuci umat Islam. Ini terbukti dengan penyerbuan tentara Israel ke banyak kota di Tepi Barat yang terus meningkat.  

Dan seperti yang sudah diduga banyak pihak, seperti biasa pihak Israel melanggar kesepakatan genjatan senjata bahkan hanya beberapa jam setelah penanda-tanganan terjadi. Dengan berbagai alasan mereka memborbardir sejumlah wilayah Gaza hingga saat ini. Otoritas Kesehatan Gaza menyebut, jumlah korban tewas tercatat sebanyak 68.234 orang yang berarti sama dengan 11% penduduk Gaza. Belum lagi jumlah korban yang masih terkubur dibawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan brutal tentara Israel.

Namun dibalik tragedy memilukan ini ada hikmah besar yang dapat kita ambil, yaitu pengakuan Palestina sebagai Negara. Ini adalah adalah sebuah jalan kemenangan yang amat patut dihargai, meski mungkin jalan masih panjang, mengingatkan Perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada masa Rasulullah.

Suatu hari di bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H, Rasulullah mengumumkan keinginan beliau untuk  menunaikan ibadah umrah. Pengumuman ini langsung disambut antusias oleh sekitar 1400 sahabat Anshar dan Muhajirin. Singkat cerita berangkatlah rombongan besar tersebut.

Namun di suatu lembah bernama Hudaibiyyah, Al-Qudwah, unta Rasulullh mogok alias tidak mau berjalan. Para sahabat panik namun dengan tenang Rasulullah bersabda unta tersebut mogok atas perintah Alah swt sebagaimana gajah-gajah pasukan Abrahah yang diperintahkan menyerang Ka’bah tapi menolak.

Ternyata benar. Di lembah tersebut terjadilah peristiwa bersejarah yang menjadi pembuka kemenangan Islam, yaitu perjanjian Hudaibiyyah. Di tempat itulah terjadi penanda-tanganan genjatan senjata antara Islam ( Rasulullah saw) dan perwakilan Quraisy yang ketika sangat memusuhi Islam. Inilah pengakuan pertama kehadiran Islam dibawah pimpinan Muhammad bin Abdullah. Kaum Quraisy ketika masih belum mau mengakui Muhammad sebagai utusan Allah swt.     

Di tempat ini utusan Quraisy mendapati betapa para sahabat menghormati sang pimpinan, Rasulullah Muhammad saw. “ Wahai kaum. Demi Allah, aku pernah menjadi tamu para raja, kaisar, kisra dan najasi. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad. Sesungguhnya, dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian. Karena itu, terimalah!”, demikian ucap Urwah, melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah kepada para pembesar Quraisy.

Langkah selanjutnya, para pemuka Quraisy memutuskan mengutus Suhail bin Amr sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian dengan kaum Muslimin. Sementara Rasulullah menunjuk Ali bin Abu Thalib ra sebagai juri tulis perjanjian yang di kemudian hari dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah ini.

“ Silahkan”, kata Suhail, “ Tuliskan suatu perjanjian antara kami dan kalian”.

“ Tulislah Bismilahir rahmanir rahim”, sabda Rasulullah kepada Ali.

“ Demi Allah, kami tidak tahu apa itu ‘ar-Rahman’. Tulislah Bismikallahumma », tukas Suhail.

« Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali  Bismilahir rahmanir rahim”, kaum Muslimin berkata.

«Tulislah Bismikallahumma. Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah », sabda Rasul lagi.

Mendengar ini Suhail sontak menolak, «  Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangimu. Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Rasul kembali mengalah, « Demi Allah, aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakanku ! Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa nabi saw memerintahkan Ali agar menghapuskannya lalu Ali berkata, « Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya». Rasulullah lalu bersabda, « Tunjukkan kepadaku mana tempatnya ». Ali lalu menunjukkan dan Rasulullahpun menghapusnya sendiri.

Perjanjian ini berlaku untuk 10 tahun. Selama itu tidak boleh terjadi peperangan antara ke dua belah pihak. Sayangnya berdasarkan perjanjian tersebut rombongan besar dibawah pimpinan Rasul saat itu tidak dapat melakukan umroh hingga sebagian besar sahabat merasa kecewa terhadap isi perjanjian yang dianggap merendahkan umat Islam yang dirasa mulai menguat itu. Umar bin Khattab ra adalah satu diantaranya.

“Bukankah engkau Nabi Allah?” tanya Umar.

“Ya, benar”, jawab Rasul.

“Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang yang mereka bunuh akan masuk neraka?” tanya Umar lagi.

“Ya, benar”, jawab Rasul tenang.

«Lalu, mengapa kita menyetujui agama kita direndahkan ? », tanya Umar bertambah penasaran.

“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti akan membelaku”, jawab Rasul sabar.

«Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf ? », cecar Umar.

«Ya, benar. Tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan datang ke sana tahun ini ? Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah », tegas Rasul.

Dengan menahan rasa kecewa Umar hanya tertunduk lesu. Namun tak lama kemudian Rasulullah memanggilnya kembali untuk mengabarkan bahwa Allah swt telah menurunkan surat Al-Fath sebagai berikut:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.

Alangkah leganya Umar dan seluruh kaum Muslimin mendengar itu. Namun demikian kemenangan tersebut tidak serta merta datang. Fathu Mekkah yaitu penaklukkan Mekah baru terjadi 2 tahun kemudian, yaitu pada tahun 8H. Pemicunya adalah pelanggaran yang dilakukan Quraisy dan sekutunya yang mengakibatkan batalnya genjatan senjata. 

Begitu pula dengan pengakuan Palestina di PBB baru-baru ini. Perjuangan belum selesai. Apalagi kita bisa melihat kasat mata bagaimana prilaku Israel yang berkali-kali telah melanggar genjata senjata tapi Amerika Serikat sebagai Negara adi daya sekaligus pemrakarsa genjatan tapi malah menutup mata bahkan ikut mengancam Hamas dan menuduhnya sebagai pihak yang melanggar perjanjinan.

Belum lagi ulah beberapa Negara Islam yang diam-diam mendukung penjajah Israel diantaranya dengan memberi izin Negara Zionis membangun pabrik senjata di negaranya. Maroko, UEA, Bahrain, Sudan dan Kazhastan adalah 5 negara Muslim yang tergabung dalam perjanjian Abraham (Abraham Accords). Sementara hanya 1 dari 8 negara yang secara resmi menyatakan bahwa Netanyahu dan puluhan pejabat Israel lain adalah penjahat perang akibat genosida Gaza, yaitu Turki. 7 negara lain adalah Slovenia, Lituania, Norwegia, Swiss, Irlandia, Italia dan Kanada.

Tapi jangan lupa, kaum Munafik yang sejatinya adalah musuh dalam selimut,  memang selalu ada bahkan sejak zaman Rasulullah. Peristiwa desersi pasukan dibawah tokoh Munafikun sejati Abdullah bin Ubay bin Salul dari Madinah pada perang Uhud di tahun 3 H adalah contohnya.  Namun tak perlu berkecil hati, pertolongan Allah swt pasti dating, bukankah Allah sebaik-baik pembalas tipu daya??

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imron(3):54).

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjama’ah (bersatu) adalah rahmat sedangkan berpecah-belah adalah adzab”. (HR. Ahmad (IV/278) dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 93).

Jakarta, 9 November 2025.

Vien AM.

Pada 7 Oktober 2025, 2 tahun genap sudah pasukan Zionis Israel melakukan genosida terhadap penduduk Gaza yang luasnya hanya setengah Jakarta (363 km2) hingga menelan sekitar 63.700 korban meninggal kebanyakan anak-anak, ratusan ribu terluka dan puluhan bangunan luluh lantak.

Bahkan rumah sakit dan antrian panjang orang yang mengantri bahan pokok makananpun tak luput jadi sasaran kekejaman Zionis. Demikian pula orang yang bermaksud membantu evakuasi ledakan bom dan drone Zionis. Dengan sengaja mereka membiarkan anjing berdatangan mengendus mayat-mayat yang berserakan tersebut … Na’udzu billah min dzalik … Sungguh biadab …   

https://international.sindonews.com/read/1627047/43/mayat-mayat-bergeletakan-di-jalanan-gaza-tentara-israel-halangi-tim-evakuasi-1759241379

Kesadisan dan kebrutalan tentara Zionis yang sudah jauh diatas batas kewajaran tersebut membuat dunia muak hingga membuahkan protes dan demo di seluruh penjuru dunia. Belanda dan Italia tercatat memecahkan rekor terbesar demo pro Palestina. Di Italia semua kota besar melakukan demo besar-besaran.  Spanyol belakangan bahkan melakukan tindakan nyata menghentikan kerja sama dengan Israel.

Tidak sedikit kejuaraan seni dan olahraga ajang dunia yang menolak keterlibatan tim Israel.  Termasuk pemerintah Indonesia yang sebentar lagi akan menjadi tuan rumah olah raga senam. Tapi anehnya tidak sedikit pula orang Indonesia yang mencemoohnya. Menurut Prof Sudarnoto, seorang cendekiawan Muslim dari Muhammadiyah,  ada dua persen pembela atau pendukung Zionisme di Indonesia.  Bukan jumlah sedikit … Alangkah menyedihkannya …

Sementara Global Sumud Flotilla ( GSF), sebuah aksi kemanusiaan kolaborasi manca Negara demi mendobrak blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang terancam bahaya kelaparan akut, kembali berani menunjukkan diri. Setidaknya 15.000 peserta yang terdiri dari aktivis, dokter, artis bahkan juga pejabat lebih dari 44 negara tercatat dalam misi kemanusiaan terbesar yang pernah ada di muka bumi ini. Dengan membawa obat-obatan, susu bayi, pampers dan kebutuhan pokok lainnya, pada Agustus hingga September 2025, sekitar 450 peserta dengan menumpang lebih dari 50 kapal berlayar menuju Gaza.

Ironisnya, pada 3 Oktober begitu mendekati tujuan, meski masih berada di wilayah lautan internasional, mereka disergap tentara Israel. Persis seperti yang dialami kapal Turki Mavi Marmara dan 5 kapal lainnya yang datang  dengan membawa misi serupa. Tragedi memilukan yang terjadi pada tahun 2010 tersebut memakan korban 10 penumpang tewas dan 50 lainnya terluka.

Kali ini tentara Israel memang tidak menembaki para aktivis, tapi mereka menangkap dan menjebloskannya ke penjara Israel. Namun karena tekanan internasional 2 hari kemudian sebagian aktivis tersebut dideportasi ke Negara masing-masing. Akan tetapi meski hanya dalam waktu sangat singkat para aktivis yang sedang menjalankan tugas mulia tersebut diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Bahkan dengan ringannya pihak Israel mengatakan bahwa misi tersebut merupakan perpanjangan Hamas yang mereka cap sebagai teroris.

https://news.detik.com/internasional/d-8145974/dideportasi-aktivis-global-sumud-flotilla-kami-diperlakukan-bak-binatang

Tampak jelas Israel tidak peduli dengan tanggapan internasional atas perbuatannya yang semena-mena tersebut. Ini terjadi karena dukungan Amerika Serikat yang selalu merestui apapun yang dilakukan mitranya itu. Bukti nyata setiap PBB melakukan sidang pembahasan kebebasan Palestina, negri paman Sam tersebut selalu memvetonya.   

Pada pra sidang KTT PBB September 2025 lalu, tak lama setelah mengumumkan persetujuannya atas solusi 2 negara Palestina dan Israel, Perancis dibawah presiden Macron dengan menggandeng Arab Saudi berinisiatif mengumpulkan puluhan pemimpin dunia demi menggalang dukungan internasional terkait solusi dua Negara tersebut. Andorra, Belgia, Luksemburg, Malta dan Monako langsung bergabung  dalam deklarasi bersama ini. Sidang tersebut berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB di pusat PBB, yaitu New York.

Alhasil pada Sidang Umum PBB pada Senin, 22 September 2025, 153 dari 193 anggota PBB secara resmi memberikan pengakuan berdirinya Palestina sebagai Negara. Termasuk negara-negara mitra Israel seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal. Sementara Irlandia, Spanyol dan Norwegia sejak Mei 2024 sudah lebih dahulu menyatakan akan menyetujui Palestina sebagai Negara, hal yang membuat PM Israel uring-uringan.

Namun lagi-lagi Amerika Serikat memveto hasil sidang tersebut. Tak ayal presiden Kolombia yang di sidang paling bergengsi di dunia itu berpidato secara berapi-api dan terang-terangan menyerang negeri adi daya tersebut langsung mengecam tindakan konyol tersebut. Begitu juga presiden Cina.

Tapi anehnya, Amerika Serikat ini pula yang dipercaya memberikan draft rencana penghentian perang Israel-Palestina (Hamas). Diantara butir-butir terdapat butir pelucutan senjata Hamas yang diberi label teroris. Sayangnya hanya Erdogan, presiden Turki yang secara nyata berani memberikan label pejuang kemerdekaan bagi Hamas, bukan teroris.  

Lain lagi dengan presiden Indonesia Prabowo, yang sepintas terlihat garang dengan gaya bicaranya yang penuh retorika menggebrak meja. Namun ternyata setelah diperhatikan meski mendukung berdirinya Negara Palestina ( yang hidup berdampingan dengan Israel) tapi juga menekankan untuk melindungi Israel !! Sebuah pertanyaan besar, melindungi dari apa?? Tidak cukupkah sebegitu banyak tindakan melanggar hukum internasional yang didiamkan saja?? Belum lagi kata sambutan Prabowo “Shalom” dalam bahasa Ibrani yang berarti “damai”. Dan ini tak lepas dari pengamatan media Israel sebagai pesan rekonsiliasi dengan Israel.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20250924124006-4-669768/media-israel-sorot-pidato-prabowo-di-pbb-soroti-shalom-palestina

Sementara presiden Palestina, dalam sidang PBB tersebut secara online mengatakan tindakan Hamas pada 7 Oktober yang dianggap sebagai pemicu perang, tidak mewakili Palestina. Mahmud Abbas yang telah menduduki jabatan tertinggi sejak 2005 adalah dari partai Fatah yang selalu berseteru dengan Hamas yang menguasai Jalur Gaza.

Tindakan Hamas menyerang dan menculik sejumlah warga Israel pada 7 Oktober 2023 yang selalu dijadikan alasan Israel melakukan genosida, sejatinya adalah salah satu usaha untuk melawan penjajah Israel yang menguasai Palestina selama 77 tahun tanpa reaksi berarti dunia. Meski tak sedikit pihak yang meragukan kabar terbunuhnya 1000 lebih warga Israel adalah benar-benar akibat serangan Hamas. Banyak video beredar bagaimana senjata-senjata canggih tentara Israel justru yang menjadi penyebab terbunuhnya korban sebanyak itu.     

Kekejaman tentara pendudukan Zionis Israel sudah terjadi jauh sebelum peristiwa 7 Oktober. Bukan rahasia lagi bahwa hampir setiap hari rakyat Palestina selama 77 tahun tersebut selalu diperlakukan dengan tidak adil bahkan kejam. Berbagai kebebasan termasuk kebebasan berpendapat yang seharusnya merupakan hak rakyat dibatasi. Rumah dan tanah rakyat digusur, diambil paksa. Ribuan rakyat ditangkap, dipenjara, disiksa secara sadis hingga cacat seumur hidup, bahkan dibunuh tanpa alasan jelas. Adakah reaksi dunia???

Sebaliknya tawanan Israel yang ditangkap Hamas diperlakukan dengan amat sangat baik. Mereka dilindungi, diberi perawatan dokter dan makanan cukup padahal penduduk Gaza menderita kelaparan hebat akibat tentara Israel yang membombardir seluruh fasilitas umum yang ada di Gaza. Pengakuan para ex sandera Israel dapat dicari dengan mudah di medsos, bila tidak diblokir tentunya.

Tindakan Hamas memperlakukan tawanan perang dengan sangat baik tak lain adalah meniru apa yang diperintahkan Al-Quran dan dicontohkan Rasulullah SAW. “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” [Terjemah QS.Al-Insan(76):8).

Aku wasiatkan agar kalian berbuat baik terhadap mereka -yaitu tawanan-.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 977).

Hamas adalah pejuang Palestina yang tidak hanya menuntut kemerdekaan Palestina tapi juga adalah para mujahidin yang berjihad demi mempertahankan Masjidil Aqsho yang merupakan rumah suci ke 3 umat Islam yang sejatinya adalah incaran utama Zionis Israel.

https://spiritofaqsa.or.id/pemukim-yahudi-serbu-masjid-al-aqsha-tentara-israel-ubah-rumah-di-tepi-barat-jadi-barak-militer.html

Kabar terbaru, kesepakatan gencatan senjata memang telah tercapai namun siapa yang berani menjamin Israel yang dikenal sering ingkar janji dan selalu melanggar hukum namun tidak pernah diadili, bakal mematuhinya? Bahkan baru beberapa jam setelah presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan awal tahap pertama gencatan senjata, tentara Israel mengebom rumah sebuah keluarga Palestina di wilayah barat Gaza menyebabkan lebih dari 70 warga sipil syahid dan terluka, sementara banyak korban lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan. Astaghfirullah …

https://spiritofaqsa.or.id/israel-lakukan-pembantaian-di-distrik-sabar-hamas-penjajah-ingin-gagalkan-implementasi-gencatan-senjata.html

Lalu sebagai umat Islam, apa yang telah dan akan kita lakukan untuk saudara/saudari kita yang terdzalimi tersebut?? Akankah kita terus diam membisu padahal sebagian besar Barat yang notabene mitra Israel telah memberikan pembelaan mereka???

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya). ‘ (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2024/ 18 Rabi’ul Akhir 1447H.     

Vien AM.