Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Biografi Ummul Mukminin’ Category

Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bin Sa’yah adalah seorang wanita keturunan bangsawan, cerdas, cantik, dan taat beragama. Wanita ini berasal dari keturunan Al-Lawi, putra Ya’qub ( Israel) bin Ishak bin Ibrahim as, yang juga merupakan kakek moyang dari nabi Harun as. Ayahnya yaitu Huyay bin Akhthab bin Sa’yah adalah seorang pendeta sekaligus pembesar Yahudi bani Qurayzhah. Ibunya, Barrah binti Samaual juga seorang Yahudi dari bani yang sama. Mereka tinggal di Madinah yang ketika itu masih bernama Yatsrib.

Sejak kecil Shafiyyah sudah menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci agamanya, Taurat, ia mengetahui bahwa suatu hari nanti akan datang seorang nabi dari Jazirah Arab yang akan menjadi penutup para nabi.

Maka ketika suatu hari ia mendengar kabar bahwa di Mekah ada seorang laki-laki  yang mengaku nabi, dan saat ini sedang menuju ke kotanya, Yatsrib, ia tak heran. Yang justru ia heran adalah sikap kaumnya termasuk ayahnya yang tidak mau mempercayai hal tersebut, padahal ia adalah seorang pendeta. Bahkan dengan gigih memusuhinya.

Hal itu ia dengar sendiri ketika ayah dan pamannya baru pulang untuk mencari tahu tentang sang nabi baru yang hijrah ke Madinah dan mampir di Quba’ sebagai tamu Bani Amr bin ‘Auf. Ketika itu ayah dan paman Syafiyyah pergi meninggalkan rumah seharian penuh.

Namun ketika akhirnya keduanya pulang, sesampai di rumah mereka tidak mencari apalagi menyapa Syafiyah, anak kesayangan mereka, seperti biasanya. Sebaliknya, Syafiyyah justru melihat keduanya pulang dalam keadaan kesal, dongkol dan sangat marah. Pada saat itu ia mendengar percakapan keduanya :

“Apakah itu orangnya?” tanya paman.

“Ya, betul,” jawab ayah.

“Apa kamu mengenalnya?” tanya paman.

“Ya,” jawab ayah.

“Bagaimana pendapatmu tentang dia,” kata paman.

“Aku akan memusuhinya selama aku hidup,” kata ayah.

Dan sejak itu pula kaum Yahudi selalu memerangi nabi baru yang tak lain tak bukan adalah rasulullah Muhammad saw. Sebaliknya dengan Shafiyah, ia justru  makin yakin bahwa nabi baru tersebut adalah nabi yang dimaksud dalam kitabnya.

Syafiyyah menjadi saksi betapa besarnya kebencian ayahnya terhadap ajaran islam dan rasulnya. Beberapa kali ayahya sebagai seorang pemimpin Yahudi melanggar perjanjian yang dibuat oleh rasulullah saw. Padahal perjanjian Madinah yang diciptakan demi tercapainya keamanan kota Madinah yang bukan lagi hanya didiami suku-suku Yahudi, melainkan juga kaum Muslimin baik kaum Anshar ( Muslimin Madinah) maupun kaum Muhajirin ( Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah) itu ditanda-tangani oleh para pemimpin Yahudi.

Kebencian Huyay bin Akhtab sendiri terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi sejak diusirnya Yahudi bani Nadhir dari Madinah pada tahun ke 4 Hijriyah karena telah berusaha membunuh Rasulullah saw. Setahun kemudian, dalam perang Khandaq, ketika Madinah diserang dan kaum Muslimin sedang kesulitan melawan kaum Qurays Mekah dan suku-suku Arab lainnya, Huyay menusuk dari belakang. Ia berkhianat dengan mengadakan pertemuan rahasia dengan pihak musuh demi mengalahkan pasukan Muslimin.

Usai perang Khandaq, atas perintah Allah swt melalui malaikat Jibril as, Rasulullah saw segera menuju perkampungan bani Quraydzah. Setelah dikepung selama 15 atau 25 malam, akhirnya mereka berhasil ditundukkan. Tapi Huyay, yang juga membawa serta putri kesayangannya, Shafiyyah, sempat meloloskan diri dan pindah ke Khaibar, yang merupakan kota terbesar Yahudi. Di kota inilah Huyay bersama para pemimpin Yahudi lainnya membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum Muslimin.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xx-jihad-fi-sabilillah3/

Penaklukan Khaibar

Khaibar adalah kota terbesar Yahudi yang memiliki banyak benteng dan ladang-ladang kurma. Tanah kota tersebut dikenal amat subur, airnya berlimpah dan berbagai buah tumbuh dengan mudah di tanah ini. Kota yang merupakan  benteng utama Yahudi ini terletak sekitar 165 km utara Madinah.

Pada tahun ke 6 Hijriyah, usai perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah menerima perintah agar memerangi Khaibar. Perang ini berlangsung dahsyat dengan kemenangan di tangan kaum Muslimin. Pasukan kaum Muslimin berhasil mengalahkan benteng pertahanan terakhir dan terkuat Yahudi tersebut. Huyay mati terbunuh dalam peperangan itu. Demikian pula Kinanah, suami ke 2 Shafyiyah. Sementara Syafiyyah beserta kaum wanitanya dan anak-anaknya tertawan.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xxii-perang-khaibar/

Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa Bilal menggiring Shafiyah sebagai salah satu tawanan, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat itu, Rasulullah bangkit dan mendekati Bilal seraya berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”

Masuk Islam dan Menikah dengan Rasulullah.

Shafiyyah masuk dalam bagian pendapatan perang seorang sahabat, Dahiyyah bin Khalifah. Namun kemudian seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, engkau memberikan bagian kepada Dahiyyah, Shafiyah binti Huyay, putri pemimpin Bani Quraizhah dan Bani Nadhir, padahal ia hanya layak untuk engkau.”

Mendengar itu Rasulullahpun memanggil Dahiyyah dan menyuruhnya agar memilih tawanan yang lain. Sementara Rasulullah yang memang mempunyai hak harta perang seperlima bagian memberikan pilihan kepada Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Ternyata Shafiyah yang sejak awal sudah yakin dengan adanya nabi baru, memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan Rasulullah, dengan maskawin kemerdekaannya.

Pada saat itu, Shafiyah berkata, “Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak, dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?”

Bukti bahwa Shafiyyah sudah mengimani nabi jauh sebelum ia bertemu nabi, tercermin dari kisah berikut. Suatu hari rasulullah bertanya tentang bekas luka di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?”. Syafiyah menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah itu?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Sayang kedatangan istri ke 9 Rasulullah ini disambut sinis oleh istri-istri nabi yang lain. Ini disebabkan selain karena ia seorang Yahudi, juga karena kecemburuan para istri terhadap kecantikan Shafiyyah.

Berikut penuturan Aisyah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau meminjamkan salah satu untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?’

Di dalam hadits riwayat Tirmidzi diceritakan, “ Shafiyyah sedang menangis, kemudian Rasulullah menghampirinya dan bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’ Ia menjawab, “Hafshah mengejekku bahwa aku wanita Yahudi’. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia banggakan kepadamu?’. Kemudian Rasulullah menegur Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, wahai Hafshah!”

Sementara pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Saad, ketika istri-istri Nabi berkumpul menjelang Rasulullah wafat, Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, Rasul bersabda, “Berkumurlah!” Dengan terkejut para istri bertanya, “Dari apa?” Rasul menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”

Setelah Rasulullah wafat, yaitu 4 tahun setelah Shafiyyah dinkahi, ia merasa makin terasing di tengah kaum Muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dari Yahudi. Meski demikian, ummul Mukminin ini tetap tegar dan terus mendukung perjuangan Islam. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, Shaifiyyah berada di barisan Utsman.

Kinanah berkata, “Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak membela Utsman. Kami dihadang oleh Al-Asytar, lalu ia memukul wajah keledainya hingga miring. Melihat hal itu, Shafiyyah berkata, ‘Biarkan aku kembali, jangan sampai orang ini mempermalukanku.’ Kemudian, Shafiyyah membentangkan kayu antara rumahnya dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum”.

Hal itu terjadi ketika musuh-musuh Ustman menyandera khalifah ke 3 tersebut di kamarnya sendiri, tanpa diperbolehkan mendapat makanan dan minuman.

Shafiyyaf ra wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di Baqi’ berdampingan dengan ummul Mukminin yang lain.

Shafiyah merawikan 10 hadits dari nabi saw. Di antaranya, “Suatu malam, nabi beri’tikaf di masjid, lalu aku datang mengunjungi beliau. Setelah selesai mengobrol, aku berdiri dan hendak pulang. Beliaupun berdiri untuk mengantarku. Tiba-tiba dua laki-laki Anshar lewat. Tatkala mereka melihat nabi, mereka mempercepat langkah mereka. “Perlahankanlah langkah kalian! Sesungguhnya ini adalah Shafiyah binti Huyai!” kata nabi. “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”, kata mereka. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir, kalau-kalau setan membisikkan tuduhan dusta atau hal yang tidak baik dalam hati kalian.” (HR. Al-Bukhari).

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 22 November 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Ummul Masakin, Ibu dari orang-orang yang miskin, itulah sebutan buat Ibunda Zainab binti Jahsy, karena kemurahannya dalam bersedekah kepada orang-orang yang miskin. Beliau adalah seorang wanita cantik, yang tumbuh di tengah keluarga Quraisy yang terhormat, putri dari bibi Rasulullah SAW, yaitu Umaimah binti Abdul Munthalib. Nama lengkapnya adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau.

Ibunda Zainab binti Jahsy r.ha  wanita pilihan Allah dan RasulNya demi memberi petunjuk kepada sekalian umat Muhammad.  Diriwayatkan, pada saat Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam melamarnya buat maula (bekas hamba) baginda, Zaid bin Haritsah, hal ini  menjadi sebuah kesempitan kepada wanita ini. Bagaimana mungkin dia harus menerima pernikahan yang tidak seimbang ini? Bagaimana mungkin dia harus melangsungkan pernikahan dengan salah seorang maula padahal dia seorang wanita terhormat serta memiliki keturunan yang sangat mulia?

Lantas, beliau bersuara, ”Wahai Rasulullah, aku tidak meridhainya bagiku, karena aku seorang wanita Quraisy yang belum menikah”. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Tetapi aku meridhainya bagimu”.

Atas peristiwa ini, turunlah wahyu dari langit: ”Dan tidaklah patut bagi lelaki yang mukmin dan wanita yang mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan, barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan sesat yang nyata” [QS Al-Ahzab:36].

Atas dasar itu, Zainab tidak mempunyai alasan untuk menyalahi perintah Allah dan RasulNya. Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliyah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui hikmah di balik segala yang terjadi. Hubungan yang semakin tidak harmonis membuat  Zaid menemui Rasulullah untuk mengadukan  permasalahan rumahtangganya. Berkali-kali Zaid meminta persetujuan baginda untuk menceraikan Zainab, tetapi dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, ”Tahanlah isterimu dan bertaqwalah kepada Allah!” Sementara itu. telah disampaikan melalui Jibril, bahwa Zainab akan menjadi isteri Rasulullah dan Allah Subhanahu wa Taala akan memutuskan  pernikahan Zainab dan Zaid.

Hal ini menimbulkan keresahan di hati Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam sebagai manusia biasa yang pasti akan berhadapan dengan celaan masyarakat jahiliyyah ketika itu,  lantaran beliau  akan menikahi bekas isteri anak angkatnya. Dimana pada jaman itu kedudukan  anak angkat seperti anak kandung, termasuk di dalamnya bekas istri anak angkat tidak boleh dikawini oleh ayah angkatnya.Lalu  Allah Subhanahu wa Taala menegur Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam berkaitan dengan hal ini terkandung di dalam surah Al-Ahzab ayat  37. Tujuannya tidak lain untuk menghapus segala tradisi anak angkat dan hukum-hukum jahiliyyah yang berakar di dalam masyarakat ketika itu.

Tatkala telah selesai masa iddahnya, Rasulullah  melamarnya Ibunda Zainab buat beliau.. Ibnu Abbas r hu berkata, ” Setelah Zainab diberitahu bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam ingin menikahi beliau, maka dia pun bersujud” [Tahdzibul-asma’ wal-lughat, 2/345].

Ibunda Zainab binti Jahsy,  wanita yang penuh keutamaan, inilah tutur  kata beliau kepada Nabi, “Sesungguhnya aku benar-benar akan menunjukkan kepadamu tiga perkara yang tidak seorang pun di antara isterimu yang memilikinya; sesungguhnya kakekmu dan kakekku adalah satu, aku dinikahkan Allah denganmu dari langit ketujuh dan melalui utusannya, Jibril” [Al-Bidayah wan-nihayah, 4/146; Ansabul Asyraf, 1/435].

Hal ini  diakui  oleh Ummuhatul Mukminin, Aisyah r ha,“Semoga Allah merahmati Zainab binti Jahsy. Dia telah mendapat kemuliaan di dunia ini, yang tidak disaingi oleh kemuliaan orang lain. Sesungguhnya Allah menikahkannya dengan NabiNya di dunia dan menurunkannya di dalam Al-Quran” . Dan Aisyah r ha juga berkata “Zainab binti Jahsy sering membanggakan kedudukanku di sisi Rasulullah. Padahal aku tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih baik agamanya selain Zainab. Dia juga lebih bertakwa kepada Allah, lebih jujur perkataannya, paling banyak menyambung hubungan kekeluargaan, paling banyak sedekahnya dan paling banyak berkorban untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala.”

Ummul Mukminin, Ummu Salamah r ha juga tidak ketinggalan memberikan pujian . Beliau memuji ketakwaan dan ibadahnya dengan berkata, “Dia adalah wanita yang solehah, banyak berpuasa dan sholat malam”.

Ibunda Zainab binti Jahsy, meskipun beliau senantiasa bersaing dengan Aisyah r.ha dalam mendapatkan kedudukan istimewa di sisi Rasulullah, tetapi hal ini  tidak menjadikan beliau lantas memfitnah saat beliau ditanya Rasulullah  tentang Aisyah yang sedang ditimpa fitnah. Al-Bukhari meriwayatkan kesaksian kebaikan ini di dalam salah sebuah hadis Aisyah yang panjang tentang  fitnah tersebut. Sebagian perkataan Aisyah dinukilkan sebagai berikut,

Rasulullah Sallahu alaihi wa Sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy tentang urusanku. Baginda bertanya,’Wahai Zainab, apa yang engkau ketahui atau apa pendapatmu berkaitan Aisyah’. Beliau menjawab, ’Wahai Rasulullah, aku memelihara pendengaran dan penglihatanku. Aku tidak mengetahui kecuali yang baik

Itulah Ibunda Zainab binti Jahsy, dengan segala keutamaannya, yang terkenal dengan kedermawanannya, senantiasa bersedekah dengan harta yang diperoleh dari hasil menyamak kulit dan menjahit., Bahkan sifat ini beliau perlihatkan di saat-saat terakhir beliau di dunia, inilah kisahnya, “Aku sudah menyiapkan kain kafanku, dan boleh jadi Umar akan mengirimkan kain kafan kepadaku. Jika dia mengirimkan kain kafan, maka sedekahkanlah salah satu di antaranya. Jika kalian mampu menjulurkan kain kafan hingga menutupi jasadku, lalu kalian menyedekahkan kain selimutku, maka lakukanlah” (Thabaqat Ibn Sa’ad, 8/109).

Beliau adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, dalam usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi (ummu Yahya).

Dicopy dari :

http://alhusnakuwait.blogspot.com/2012/12/ibunda-zainab-binti-jahsy.html?showComment=1378956485034#c2153383881077963897

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 September 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Namanya adalah Hindun binti Suhail, dikenal dengan nama Ummu Salamah. Ia dibesarkan di lingkungan bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah bin Makhzurn. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya yang terkaya dan terbesar wibawanya.

Sementara Hindun sendiri dikenal kaumnya selain karena kecantikannya yang mampu  meluluhkan setiap orang yang melihatnya juga karena keelokan pribadinya yang memang telah tertanam sejak kecil.

Banyak pemuda Mekah yang ingin mempersunting Hindun. Namun yang akhirnya berhasil menikahinya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal, seorang penunggang kuda terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya bernama Barrah binti Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi saw. Abdullah adalah saudara sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab.

Hindun dan Abdullah hidup bahagia. Rumah tangga mereka diliputi kerukunan dan kesejahteraan. Tak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka sehingga mereka memeluk Islam. Dengan demikian mereka  menjadi orang-orang pertama yang masuk Islam. Maka mulailah mereka berjuang dalam mempertahankan keimanan dan hidup mereka.

Sebagaimana kita pahami, orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin generasi awal agar mereka mau meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat kondisi ini, Rasulullah saw mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah. Raja Habasyah saat itu adalah seorang pemeluk taat Nasrani yang mengakui Muhammad saw sebagai rasul. Raja tersebut adalah Najasyi.

Di kemudian hari, kelompok orang yang berhijrah ke negri ini disebut sebagai kaum Muhajirin yang pertama. Hindun dan Abdullah adalah satu diantaranya. Di Habasyah inilah Hindun melahirkan anak-anaknya, yaitu Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah. Sejak itu Hindun dikenal dengan nama Ummu Salamah atau ibunya Salamah. Dan Abdullah disebut dengan Abu Salamah, ayahnya Salamah.

Beberapa lama kemudian mendengar keislaman tokoh-tokoh besar Mekah seperti Umar bin Khattab ra dan Hamzah bin Abdul Mutthalb, para Muhajirin pertama inipun tertarik untuk pulang kampung. Namun ternyata harapan mereka meleset. Kaum Muslimin masih tetap ditekan dan disiksa orang-orang Quraisy. Beruntung sebagian besar penduduk Yatsrib ketika itu telah berbait hingga akhirnya Rasulullahpun berani mengizinkan mereka untuk hijrah ke Yatsrib, nama lama Madinah.

Namun tampaknya bukan hal yang mudah untuk berhijrah. Orang-orang Quraisy dengan kejam terus berusaha menghalangi mimpi umat islam untuk hidup tentram sambil menjalani agama baru mereka. Ditengah perjalanan kaum Bani Makhzum (kaumnya Ummu Salamah) mencegat dan menyandera Ummu Salamah. Sementara bani Asad, baninya Abu Salamah menculik anak-anaknya. Abu Salamah terpaksa  merelakan keluarganya dan meneruskan perjalanan hijrahnya tanpa orang-orang yang amat dikasihinya itu.

Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu Salamah terus-menerus menangis karena kecewa atas perbuatan kaumnya. Akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya ke Madinah. Bani Asad juga akhirnya menyerahkan kembali putranya, Salamah.

Namun kehidupan di Madinah bukanlah tanpa perjuangan. Perang demi perang terus berlangsung. Abu Salamah ikut serta dalam Perang Badar dan perang Uhud. Dalam perang Dzil Asyirah yang terjadi pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menunjuknya untuk  mewakili beliau di Madinah.

Pada perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka parah dan nyaris meninggal. Namun tak lama kemudian ia pulih kembali. Bahkan pada perang berikutnya ketika bani Asad dikabarkan akan menyerang umat Islam di Madinah, Rasulullah menunjuk sepupu sekaligus saudara susunya ini untuk memimpin penyerangan. Pasukan Abu Salamah mengalami kemenangan yang gemilang. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan perang yang banyak.

Namun luka-luka Abu Salamah kembali kambuh. Ia jatuh sakit. Rasullah beberapa kali menjenguk dan mendoakannya. Sementara itu Ummu Salamah selalu mendampingi, merawat dan menjaganya siang dan malam.

Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat. Dengan perasaan duka yang mendalam, Ummu Salamahpun berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga jika setelah itu istrinya tidak menikah lagi. Kemudian Allah akan mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika si istri yang meninggal dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku. Dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah lagi sepeninggalmu.”

Abu Salamah berkata pelan, “Maukah engkau menaati perintahku?”. Ummu Salamah  menjawab, “Adapun aku bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamahpun melanjutkan perkataannya, “Seandainya aku mati, maka menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya Allah, kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”

Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah saw selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?”

Rasulullah menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.” Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan melaksanakannya untuknya.”

Setelah itu Rasulullah saw berdo’a: “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya dan berilah pengganti yang lebih baik untuknya.”

Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia telah memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah. Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia menjadi janda dan ibu bagi anak-anak yatim.

Setelah wafatnya Abu Salarnah, para pemuka dari kalangan sahabat bersegera meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk melindungi diri Ummu Salamah. Suatu hal yang lazim dilakukan masa itu. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya. Ia terus hidup dalam kesedihan yang mendalam.

Akhirnya Rasulullah saw mendatanginya dan berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”.

Atas pertanyaan tersebut Rasulullahpun terus berpikir. Tidakkah kedua sahabatnya, yaitu  Abu Bakar dan Umar lebih baik dari Abu Salamah? Namun mengapa Ummu Salamah tetap menolak lamaran keduanya? Akhirnya Rasulullah menyadari bahwa Allah swt telah menunjuk dirinya agar menanggung beban derita perempuan yang telah begitu banyak berkorban dalam Islam ini. Rasulullahpun segera melamarnya.

Di kemudian hari, setelah menjalani kehidupan sebagai salah satu Umirul Mukminin, Ummu Salamah ra dikenang tetap istiqomah. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa wahyu yang datang sebelum pernikahan rasulullah dengan Ummu Salamah ra sering terjadi dikamar Aisyah ra. Hal ini yang sering dibanggakan istri Rasulullah termuda tersebut. Namun sejak pernikahan dengan Ummu Salamah, wahyu lebih sering datang di kamar Ummu Salamah. Untuk diketahui, Rasullah menempatkan Ummu Salamah di kamar Zainab binti Khuzaimah, istri nabi yang telah meninggal dan digelari Ummul-Masakiin (ibu bagi orang-orang miskin) karena tingkat kepeduliannya yang amat tinggi terhadap orang miskin.

Disamping itu, Ummu Salamah juga dikenal karena sifatnya yang bijak. Suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para pengikutnya masuk ke kota tersebut walaupun hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Sebenarnya sebagian besar sahabat ketika itu tidak mau menerima sikap ini. Mereka merasa bahwa mereka berniat melakukan sesuatu yang di-ridhoi Allah SWT dan pasti Allah akan membela mereka. Jadi mereka berkesimpulan mereka harus mengambil jalan kekerasan. Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau justru menyetujui untuk menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.

Kemudian setelah kesepakatan tercapai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah. Ternyata walaupun Rasulullah telah mengulangi perintah tersebut hingga 3 kali tidak seorangpun sahabat yang mentaatinya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mungkin para sahabat benar-benar kecewa atas keputusan yang diambil Rasulullah.

Rasulullah akhirnya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah yang ketika  itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurutnya lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

Pada hari tuanya, melalui surat yang ditata dengan kata yang indah, Ummu Salamah juga pernah mengingatkan Aisyah ra agar tidak turut campur dalam peperangan (perang Jamal dll) yang terjadi akibat fitnah pada masa pembunuhan Ustman bin Affan ra.

“Dari Ummu Salamah, Istri Nabi shallallahu alaihi wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.

Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia.  Amma ba’du.

Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya. Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.

Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya”.

” Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS.Al-Ahzab(33):32-33).

Ummu Salamah wafat dalam usia 84 tahun pada tahun 59 H. Ia dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping makam  Ummirul-Mukminin lainnya.

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 1 September 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Aisyah ra adalah seorang perempuan berparas cantik dengan kulit putih dan pipi kemerahan hingga Rasulullah saw sering memanggilnya dengan nama kesayangan “Humairah” yang berarti yang kemerahan. Selain cantik, Aisyah juga dikenal sebagai seorang perempuan cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau saw.

Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Putri Abu Bakar ra, sahabat Rasulullah saw sekaligus khalifah pertama ini dinikahi Rasulullah ketika berusia 18 tahun, bukan 6 tahun seperti yang selalu diberitakan selama ini. Berikut adalah hasil penelitian Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi, seorang ulama hadist dari tanah Hindustan yang lahir di Kandahla-India, tahun 1924, tentang usia Aisyah ketika dinikahi Rasulullah saw.  Tulisan tersebut diambil dari hasil riset Dr.M. Syafii Antonio dalam bukunya, Muhammad  saw The Super Leader Super Manager (2007).

https://bin99.wordpress.com/about/meluruskan-riwayat-pernikahan-rasulullah-saw-aisyah-r-a/comment-page-1/#comment-1550

Aisyah adalah satu-satunya perempuan mulia yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan gadis, hal yang sangat dibanggakannya. Namun demikian tak urung kecemburuannya pada istri satu-satunya Rasulullah hingga wafatnya yaitu Khadijah ra tak mampu disembunyikannya. Padahal ketika dinikahi Rasulullah Khadijah tidak lagi muda, yaitu 40 tahun dan sudah pernah menikah 2 x pula.

Aisyah berkata, “Dulu Rasulullah saw setiap keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’

Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.”

Sebaliknya Rasulullah, sebagai manusia biasa, pernah dilanda kecemburuan berat akibat fitnah yang dihembuskan kaum Munafikun terhadap sang istri yang begitu dicintainya itu. Fitnah tersebut terjadi saat berakhirnya perang antara kaum muslimin dengan Bani Musthakiq pada bulan Sya’ban tahun 5 Hijriyah. Peperangan ini diikuti oleh sejumlah kaum Munafik. Ketika itu kebetulan Aisyah yang mendapat giliran tugas mendampingi Rasulullah dalam perang.

Dalam perjalanan pulang, ketika rombongan berhenti sejenak untuk beristirahat, Aisyah ikut turun dari tandu untuk buang air kecil. Namun ketika hendak kembali ke tandunya Aisyah merasa kehilangan kalung yang tadi dipakainya. Maka tanpa setahu seorangpun Aisyah mencari kalung yang hilang tersebut. Sementara itu rombongan yang tidak menyadari bahwa ummul mukminin itu masih di luar tenda melanjutkan perjalanan. Alhasil Aisyahpun tertinggal, dan dengan pasrah hanya bisa menunggu orang mencarinya.

Ketika itulah muncul   Shafwan bin Mu’athal as-Sulami adz-Dzakwani ra, seorang sahabat yang bertugas menyisir anggota rombongan yang tertinggal. Alangkah terkejutnya pemuda tersebut mendapat seorang perempuan sedang tertidur di padang pasir nan luas. Dan lebih terkejut lagi mengetahui perempuan tersebut adalah  Aisyah istri Rasulullah.

Setelah Aisyah akhirnya terbangun, Shafwanpun segera memberikan tunggangan untanya kepada Aisyah. Sementara ia sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi Aisyah dengan rasa hormat, hingga memasuki kota Madinah. Saat itulah kaum Munafikun memanfaatkan kejadian tersebut dengan menghembuskan fitnah bahwa sang istri tercinta telah berselingkuh!.

Sayangnya Rasulullah yang memang sedang sangat lelah paska perang, termakan fitnah kejam tersebut, hingga selama 1 bulan sempat mendiamkan Aisyah, tanpa Aisyah menyadari penyebabnya. Dan tak urung menyebabkan Aisyah jatuh sakit dan memilih pulang ke rumah kedua orang-tuanya untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Dalam keadaan kacau itulah kemudian Allah swt menurunkan ayat 11-26 surat An-Nuur yang menerangkan bahwa perempuan muda tersebut tidaklah bersalah.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. … … Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la`nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, … …

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)“.

Alangkah lega dan bahagianya Rasulullah mendengar itu.

“Bergembiralah, wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah swt telah membersihkan dirimu”.

Lalu ibunda Aisyahpun berkata putrinya: “Bangunlah berjumpa Rasulullah !”.

“Demi Allah … Aku tidak akan bangun menjumpainya. Aku hanya akan memuji kepada Allah swt karena Dialah yang menurunkan ayat Al-Quran menyatakan kebersihanku”, jawab Aisyah.

Di usianya yang masih belia Aisyah telah dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Beliau telah meriwayatkan  2210 hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah.

Istri Rasulullah ini belajar dan mendalami ajaran Islam langsung dari lisan Rasulullah,  di dalam rumah kenabian di mana wahyu turun dan Al-Quran dibaca siang dan malam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih dan jika  berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya.

Urwah bin Az-Zubair ra  suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada  Sayyidah Aisyah ra. ”

Pada perang Khandaq, diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena keberaniannya  yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya.

Anas bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.”

Sebaliknya karena jiwa patriotnya yang sungguh menggebu itu suatu ketika ibunda kita ini pernah terpancing dalam suatu perang yaitu perang Jamal. Perang ini terjadi paska terjadinya fitnah besar yaitu terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan. Ketika itu Aisyah ra bersama Talhah dan Zubair berperang melawan Ali bin Abu Thalib. Namun kemudian Aisyah tersadar bahwa perbuatan tersebut kurang baik hingga beliau menyesalinya dan Alipun memaafkannya.

(http://www.kompasiana.com/satriarevolusi/peperangan-ali-bin-abi-talib-dengan-aisyah-radhiallahu-anha-dalam-insiden-unta_552e29c96ea83417128b4576 )

Aisyah memang berpendapat bahwa beraktifitas adalah merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya  namun tentu saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya. Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak, hingga dengan demikian dapat secara maksimal mencurahkan seluruh kehidupannya bagi masyarakat dan lingkungannya.

Beliau berkata : ” Alat tenun di tangan seorang perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang dijalan Allah SWT ”.

Di pangkuannya jua Rasulullah menghembuskan nafas terakhirnya, karena memang Rasulullah menginginkannya. Diceritakan selama beberapa hari menjelang wafatnya, dalam sakitnya, Rasulullah meminta ke-ridho-an para istri agar diperbolehkan tetap tinggal di kamar Aisyah, tidak berpindah-pindah seperti biasanya, hingga Allah swt me-wafat-kannya. Di kamar Aisyah ini pulalah Rasulullah dimakamkan. Itulah Raudhah di Masjid Nabawi sekarang ini.

Aisyah sendiri wafat pada malam Selasa 17 Ramadhan 57 H di Madinah. Beliau wafat pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat agar dishalati oleh Abu Hurairah. Lalu di makamkan di makam Baqi pada malam itu juga.

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Mei 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Nama aslinya adalah Ramlah binti Abu Sufyan. Ayahnya, yaitu Abu Sufyan adalah seorang pemuka dan pembesar Quraisy yang sangat dienggani dan ditakuti masyarakatnya. Ia bahkan baru masuk Islam setelah Fathu Makkah. Sebelumnya ia adalah salah seorang yang amat memusuhi Islam. Hanya karena keyakinannya yang begitu kuat terhadap kebenaran Islam, Ramlah berani mengambil resiko dimusuhi dan dibuang keluarga besarnya.

Untuk menghindari  paksaan keluarganya agar ia kembali musyrik, bersama sejumlah sahabat Ramlah beserta suaminya rela ikut berhijrah ke Habasyah meninggalkan segala yang dicintainya di Makkah. Tatkala itu kekejaman orang-orang musyrik  atas kaum muslimin telah mencapai puncaknya, Di negri inilah ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah hingga akhirnya ia lebih dikenal dengan nama Ummu Habibah. Sebaliknya di negri ini pula, ia diuji dengan sebuah cobaan yang lebih berat lagi.  Suaminya murtad dan selanjutnya ia terus menerus mendesak Ummu Habibah agar mengikuti jejaknya.

Dengan keteguhannya ia bertahan bahkan dengan penuh kesabaran ia berusaha menyadarkan suaminya agar kembali ke jalan yang benar. Rupanya daya tarik syaitan lebih menarik hati suaminya hingga akhirnya ia meninggal dunia karena terlalu banyak mengkonsumsi khamr. Alangkah sedihnya Ummu Habibah. Ia yang ketika mudanya terbiasa hidup bergelimang kekayaan dan kemewahan serta dimanja ayah-ibunya, kini harus hidup sendiri di negri orang sambil menanggung seorang anak yang masih balita.

Namun Ummu Habibah begitu yakin dengan adanya ayat 2 surat At-Thalaq bahwa Allah swt pasti akan memberinya jalan keluar.

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.( QS. At-Thalaq(65):2-3).

Atas kehendak-Nya, suatu ketika ia bermimpi bahwa Rasulullah melamarnya. Dan hal ini memang benar-benar terjadi. Beberapa saat setelah masa iddahnya, melalui raja Habasyah yang telah memeluk Islam,  yaitu raja  Najasyi, Rasulullah mengajukan lamaran terjadap dirinya. Bahkan raja ini dengan suka hati menawarkan uang sejumlah 400 dinar bagi Ummu Habibah sebagai mahar pernikahan mulia tersebut. Rasulullah sendiri baru bertemu dengan Ummu Habibah usia perang Khaibar pada akhir tahun 6 H. Maka pada usia 40 tahun, Ummu Habibah resmi menjadi salah satu Ummul Mukminin.

Ummu Habibah adalah seorang yang dikenal sangat wara’ (loyalitas hanya untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorangpun selaiin keduanya). Hal tersebut dibuktikan dengan sikapnya terhadap ayahnya, Abu Sufyan, tatkala suatu ketika ayahnya itu datang dan masuk ke rumahnya di Madinah. Sang ayah datang untuk meminta bantuannya agar menjadi perantara antara dirinya dengan Rasulullah saw dalam rangka memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Rasulullah, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah.

Maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan: “Wahai putriku aku tidak tahu mengapa engkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau melarang aku duduk diatasnya?”. Ummu Habibah  menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpa ada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya: “Ini adalah tikar Rasulullah. Sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau mengotorinya”. Bahkan ketika kemudian Abu Sufyan melaknati putrinya tersebut, ia dengan segera menjawab bahwa apa yang disembah ayahnya hanyalah patung yang sama sekali tidak dapat memberi baik manfaat maupun mudharat.

Beberapa tahun kemudian setelah Rasulullah menghadap ar-Rafiiqul A’la, Ummu Habibah lebih lagi menekuni  ibadahnya. Ia tidak keluar rumah kecuali untuk shalat dan  tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga wafatnya di usia  70 tahun-an. Tampak bahwa  ia betul-betul memahami isi Al-Quranul Karim.

Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia………dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya………”.(QS.Al-Ahzab(33):31-33).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Mei 2008

Vien AM.

Read Full Post »

Khadijah binti Khuwailid ra adalah seorang perempuan dari kalangan elite Quraisy yang dikenal sebagai sosok yang dermawan, jujur dan luhur budi pekertinya. Oleh karenanya ia dijuluki Ath-Thahirah (perempuan suci). Ia adalah seorang perempuan yang cerdas yang menguasai ilmu perniagaan dengan sangat baik. Ia adalah seorang saudagar perempuan sukses yang sangat dihormati dan amat dikenal. Ketertarikannya kepada Muhammad muda bermula ketika ia mendengar berita bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur dan tidak suka menghamburkan waktunya sebagaimana umumnya pemuda-pemuda Quraisy kala itu.

Ketika akhirnya mereka menikah, ketertarikan ini makin hari makin meningkat menjadi kekaguman, kecintaan, dan penghormatan yang tinggi walaupun usia Rasullullah jauh lebih muda dari dirinya sendiri. ( Usia Rasulullah saw ketika menikah adalah 25 tahun sementara Khadijah sendiri berusia 40 tahun ). Khadijah mempercayakan seluruh urusan perniagaan ke tangan sang suami tercinta yang dengan kejujurannya berhasil mengembangkan urusannya hingga mengalami perkembangan yang pesat. Khadijah sendiri selanjutnya dapat berkonsentrasi mengurusi urusan rumah tangga serta merawat dan membesarkan putra putrinya.

Selama usia pernikahan mereka yang 25 tahun itu, Allah swt mengaruniai pasangan istimewa ini dengan 4 orang putri dan 2 orang putra, yaitu Zaynab, Ruqayah, Ummi Kultsum , Fathimah, Abdullah  dan Al-Qasim.

Hanya Khadijahlah satu-satunya istri Rasulullah yang mendapat kepercayaan dari-Nya untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan putra-putrinya. Namun Allah berkehendak bahwa kedua putra Rasulullah wafat ketika mereka masih bayi.

Sementara itu di waktu-waktu luangnya, Khadijah mendapati bahwa sang suami sering merenung dan berusaha berpikir siapakah sebenarnya Sang Pencipta yang patut disembah dan diagungkan. Muhammad muda senantiasa menjauhkan diri dari ritual penyembahan berhala yang lazim dilakukan kaumnya yang dalam kesesatan. Semua ini tak terlepas dari pengamatan Khadijah. Hal ini menimbulkan kekaguman dan kesan mendalam di hati sang istri tercinta. Oleh karenanya ia tidak pernah menghalangi kepergian suaminya bermunajat di gua Hira dalam rangka merenung dan memikirkan penciptaan bumi, langit beserta seluruh isinya.

Itu sebabnya ketika sang suami dengan menggigil ketakutan pulang ke rumah sambil menceritakan bahwa ia telah didatangi ’mahluk yang memenuhi langit’ ( malaikat Jibril as), Khadijah tidak mencemoohkannya bahkan langsung mempercayainya. Beliaulah orang yang pertama beriman dan langsung mempercayai kerasulan Muhammad saw disaat yang lain masih mengingkari dan mencemoohnya.

”Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat ”.(Terjemah QS.An-Najm (53) : 1-5).

Khadijah segera menyelimuti dan menghibur sang suami dengan kata-kata yang menyejukkan dan menenangkan hati. Dalam keadaan inilah turun ayat berikut :

”Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan ”. (Terjemah QS.Al-Muzzammil(73):1-4).

Maka sejak saat itu,  Khadijahpun selalu bersiap diri rela mengorbankan waktu, jiwa serta seluruh hartanya untuk dakwah Rasullullah Muhammad saw,  sang suami tercinta. Demikian pula ketika kaum Quraisy memboikot Rasul dan para pengikutnya di lorong sempit rumah beliau selama kurang lebih 2 tahun, Khadijah senantiasa mendampingi dan menghibur Rasul dengan penuh kesetiaan. Hingga akhirnya pada usianya yang ke 65 tahun Allah swt memanggil beliau untuk kembali kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Tahun tersebut di kemudian hari dikenang dengan sebutan ‘Amul-Huzn atau Tahun Duka Cita karena pada tahun yang sama tersebut paman Rasulullah , Abu Thalib juga berpulang ke rahmatullah.

Yang juga patut dicatat, selama Khadijah masih hidup Rasulullah tidak pernah sekalipun memadu sang istri tercinta. Untuk itu Rasulullah pernah bersabda : “Demi Allah, sungguh Allah tidak memberikan kepadaku ganti yang lebih baik dari padanya”.

Rasulullah juga bersabda : “Wanita terbaik di semesta ini adalah Maryam binti ‘Imran, ‘Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah binti Muhammad” ( HR.At Tirmidzi).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, April 2009.

Vien AM.

Read Full Post »