Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Akhlak’ Category

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quranul Karim yang memerintahkan kita agar berbuat baik kepada kedua orang-tua kita. Berkat mereka, dengan izin Allah swt, kita ada di dunia ini. Melalui mereka kita jadi mempunyai kesempatan memasuki surga-Nya, dengan syarat lulus dari ujian kehidupan di dunia yang fana ini. Menariknya lagi, dalam suatu hadist Rasulullah bersabda yang mengisyaratkan bahwa ibu berhak mendapatkan perlakuan baik dari anak-anaknya 3x lebih banyak dari ayah.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab: ‘Ibumu’. ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ayahmu’.”

Para ulama sepakat mengatakan hal tersebut karena 3 hal yaitu ibu mengandung, melahirkan dan menyusui. Meski ini tidak berarti hanya sebatas itu tugas ibu. Sementara tanggung jawab terbesar ayah adalah bekerja keras menafkahi keluarganya. Yang juga bukan berarti mengecilkan peran ayah dalam keluarga.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya … … “.( Terjemah QS. Al-Ahqaf(46):15).

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. … … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah 233).

Mungkin ada sebagian ibu yang tidak menyadari bahwa mengandung, melahirkan dan menyusui mendapat penghargaan yang begitu tinggi dari Allah Azza wa Jala. Karena bukankah mengandung dan melahirkan terutama, bukan kehendak dan kemauan kita melainkan kehendak-Nya. Dengan kata lain ibu mengandung dan melahirkan adalah sunnatullah, kecuali Allah menghendaki lain. Seorang perempuan yang menikah sudah seharusnya siap mengandung dan kemudian melahirkan. Dan bagi umumnya ibu ( dan juga ayah) ini adalah sesuatu yang sangat diharapkan.

Sementara menyusui agak berbeda, karena tidak setiap ibu dianugerahi ar susu yang banyak. Meski pada umumnya seorang ibu yang baru melahirkan otomatis akan memproduksinya. Dan ternyata ilmu pengetahuan baru belakangan ini menemukan bahwa air susu ibu di hari-hari awal melahirkan mengandung zat yang sangat baik bagi bayi, yaitu kolostum. Cairan ini  mengandung antibodi penghambat pertumbuhan virus dan bakteri, protein, vitamin A dan mineral. Namun demikian menyusui bukan keharusan melainkan anjuran, yaitu hingga anak mencapai usia 2 tahun. Bahkan boleh anak di susukan perempuan lain seperti yang dialami Rasulullah saw.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“.( Terjemah QS. Al-Baqarah 233).

Lebih jauh lagi. Tentu kita sering mendengar hadist “ Surga di bawah telapak kaki ibu”. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hadist tersebut palsu. Namun ada hadist lain yang dihukumi sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani, yang isinya kurang lebih sama.

Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya datang kepada Nabi Muhammad n dan berkata, : “Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”

Sungguh betapa tingginya kedudukan ibu di sisi Allah swt. Berbahagialah wahai kaum ibu … Pertanyaannya, apakah semua ibu mempunyai kedudukan demikian? Adakah syarat dan kriteria tertentu agar ibu sebagai pintu surga anak-anaknya bisa terus terjaga?

Ayat-ayat amalan berbakti kepada orang tua hampir selalu didahului dengan perintah larangan berbuat syirik. Diantaranya adalah sebagai berikut :

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” (Terjemah QS. Al-An’am(6): 151).

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. … … “. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):23).

Artinya meski amalan bakti kepada kedua orang-tua sangat tinggi kedudukannya namun tetap dibawah perintah untuk senantiasa menyembah hanya kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala. Ini juga bisa diartikan bahwa itulah syarat minimal ibu yang memiliki kedudukan tinggi untuk dihormati anak-anaknya yaitu tauhid.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua ( ayah dan ibu) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.( Terjemah QS. Al-Isra(17):24).

Selanjutnya bila kita memperhatikan ayat di atas, mereka adalah yang yang telah mendidik anak-anaknya ketika kecil. Mendidik apa? Tentu saja untuk mengenal Tuhannya yaitu Allah Subhana wa Ta’ala sebagaimana doa yang sering kita baca sebagai berikut :

doa ortu“Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”, yang artinya :

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil”

Namun pada ayat-ayat lain dapat kita temui bahwa berbakti kepada ibu/orang-tua tidak hanya kepada ibu/orang-tua yang beriman dan mentaati segala perintah-Nya. Tapi juga kepada orang-tua yang kafir bahkan jahat sekalipun. Dengan syarat bila orang-tua menyuruh kepada kesyirikan anak harus menolak tapi dengan cara yang santun, tidak boleh kasar.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah keduanya dengan baik”. ( Terjemah QS. Luqman(31):15).

Asbabun nuzul ayat di atas adalah kisah ke-Islam-an Sa’ad bin Abi Waqqash, satu dari sepuluh sahabat yang dijamin Rasulullah masuk surga. Ketika itu Sa’ad masih ber-usia 17 tahun. Ibu Sa’ad marah dan kesal kala mengetahui anaknya masuk Islam.

Hai Sa’ad, kalau engkau tidak meninggalkan agamamu (Islam) maka aku tidak akan makan dan minum sampai mati sehingga engkau akan dikenal sebagai pembunuh ibu,” gertaknya berulang kali.

Karena merasa terus dipojokkan akhirnya Sa’ad menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan Islam apapun yang terjadi termasuk bila ibunya meninggal karena tidak mau makan. Keyakinan Sa’ad yang begitu bulat dan kuat itu ternyata membuat ibunya luluh. Sang ibupun akhirnya mengalah, dan menghentikan aksi mogoknya.

Dengan kata lain, Allah swt menjadikan ibu sebagai pintu surga anak-anaknya karena kaum ibu adalah kaum yang dipilih Allah untuk mengemban amanat berat mempertahankan kelangsungan keberadaan manusia di muka bumi. Ini adalah tugas maha berat dan mulia yang tidak mungkin diwakilkan kepada siapapun. Itu sebabnya seorang ibu ikhlas atau tidak, muslim atau kafir, sholehah ataupun tidak, semua berhak mendapat balasan perlakuan baik dari anak-anaknya. Allah  swt bahkan melarang seorang anak mengucapkan kata “ugh” atau “akh” sebagai tanda penolakan terhadap perintah orang-tua.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):23).

Begitulah Allah swt mengajarkan adab dan cara berterima-kasih kepada orang yang berjasa dalam kehidupan seseorang. Orang yang pandai berterima-kasih kepada sesama manusia biasanya juga akan lebih mudah berterima-kasih dan bersyukur kepada Yang Maha Pencipta.

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi).

Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat.” [HR Bukhari]

Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan dan dosa besar”. [HR Bukhari].

Namun demikan ibu yang baik tentu tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Ibu yang beriman dan sholehah, yang bisa mencontohkan kesholehahannya kepada anak-anaknya pasti lebih mudah bagi anak untuk berbakti kepadanya. Sebaliknya ibu yang kafir apalagi ditambah akhlak yang buruk tentu sulit bagi anak untuk menyayangi apalagi mentaatinya.

“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi).

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

Kedua hadist di atas menunjukkan bahwa doa orang-tua adalah satu dari tiga doa yang mustajab. Oleh sebab itu orang-tua, terutama ibu, harus extra hati-hati terhadap apa yang keluar dari lisannya. Kisah Imam Al-Bukhary yang sejak kecil buta dan kisah rahib Yahudi Juraij adalah bukti yang sering kita dengar.

Al-Bukhary bisa melihat kembali setelah Allah Azza wa Jala mengabulkan doa ibunya  yang sering memohon kesembuhan putra tercintanya. Sementara Juraij mengalami kesialan akibat doa buruk ibunya yang kesal melihat panggilannya tidak digubris anaknya,

Semoga Allah swt ridho menjadikan kita sebagai ibu yang mudah ditaati anak-anaknya hingga pintu surgapun mudah terbuka bagi mereka. Ibu yang senantiasa di doakan anak-anaknya yang sholeh/sholehah agar kelak dapat bertemu lagi dengan mereka di surga … aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 2 Juli 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Sejarah mencatat bahwa selama berabad-abad Islam pernah mengalami masa kejayaan. Zaman keemasan tersebut terbagi dua periode  yaitu periode Klasik (650-1250M) dan periode Pertengahan (1250-1800M). Kejayaan ini dimulai dengan berdirinya negara Madinah dibawah langsung kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw (622–632M) dan Kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (632-661M) yang 4, yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra.

Pada masa inilah dasar-dasar ajaran Islam dengan pedoman Al-Quran dan As-Sunnah diterapkan secara sungguh-sungguh. Diantaranya dengan berdirinya Baitul Maal. Pada zaman Umar bin Khattab ra berkuasa tidak ada seorangpun rakyat kelaparan. Ini terjadi karena zakat dijalankan dengan sangat baik, tidak ada sistim riba di dalamnya.

Sedangkan periode Klasik adalah masa dimana berkuasa dinasti Umayyah yang beribu-kota di Damaskus (661-750M), kekhalifahan Cordoba yang berkuasa di Andalusia (755 -1031 M), dilanjutkan periode Taifa ( kerajaan-kerajaan kecil di Andalusia ) pada 1031-1492M, serta dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama 505 tahun (750-1258 M). Pada masa tersebut, tepatnya pada abad sembilan sampai ketiga belas,  dunia Islam dipenuhi dengan era perkembangan ilmiah, religius, filsafat, dan kebudayaan dalam skala kedalaman yang tak tertandingi sejarah, baik sebelum maupun sesudah era tersebut.

Pada masa itulah bermunculan tokoh-tokoh Islam mumpuni yang hingga hari ini namanya masih terus dikenang karena jasanya yang begitu besar dalam dunia Sains. Diantaranya adalah Ibnu Sina/Avicena, Ibnu Rusyd/ Averroes, Abu Musa Jabir bin Hayyan/Geber, Ibnu Batuta dll.

Sementara periode Pertengahan adalah masa kerajaan Mughal di India, Afawiah di Persia dan yang terbesar adalah kekhalifahan Islam Turki Ottoman/Ustmaniyah (1300–1924 M). Pada masa ini kejayaan Islam secara bertahap terus menurun. Puncaknya adalah dengan jatuhnya kekhalifahan Ustmaniyah pada tahun 1924 akibat kalah perang dalam Perang Dunia I hingga tercerai berai menjadi 50 negara.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/03/om8ffh282-3-maret-1924-akhir-riwayat-kekhalifahan-islam-dunia

Expansion-Ottoman-EmpireKesultanan Turki Ottoman mencapai puncak kejayaan dibawah kepemimpinan Sulaiman I atau Sulaiman Agung (1520-1566M). Kekuasaan kesultanan ini membentang di sebagian benua Eropa, Asia, dan Afrika selama 623 tahun, dengan budaya, agama dan bahasa yang berbeda-beda.  Kejayaannya dapat disejajarkan dengan kekaisaran Romawi di masa lalu.

Kesultanan  ini runtuh secara bertahap karena banyak hal. Diantaranya adalah lemah dan tidak berwibawanya sejumlah sultan yang berkuasa di akhir abad 18. Penyebab lainnya adalah terlalu banyaknya campur tangan asing, kehidupan mewah dan berlebihan di kalangan pejabat hingga banyak terjadi penyimpangan dalam keuangan negara. Termasuk dana pertahanan militer yang terus digerogoti. Konspirasi Yahudi yang menginginkan tanah Palestina dengan jeli memanfaatkan celah tersebut. Bekerja sama dengan Barat, ia terus menekan para sultan dengan segala cara busuk.

“Selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.” Demikian jawaban surat Sultan Abdul Hamid II kepada perwakilan Zionis Yahudi yang berusaha menyogoknya.

Sultan Abdul HamidSultan Abdul Hamid II dikenal dekat dengan para ulama dan selalu menaati nasihat-nasihat mereka. Ia berusaha keras memperbaiki kesultanan yang diwarisinya dalam keadaan carut marut. Berbagai upaya ia lakukan termasuk menyatukan umat Islam yang terpuruk, dan membantu mereka agar dapat melawan para penjajah yang menjadi penguasa di negeri mereka sendiri.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/03/om8gc8282-konspirasi-yahudi-di-balik-tumbangnya-khalifah-utsmani

Dari sebuah hadist riwayat Ahmad, diberitakan tentang masalah kepemimpinan yang terbagi atas 5 bagian periode perjalanan sejarah umat manusia lebih khusus lagi umat Islam, yaitu:

  1. Manusia dipimpin oleh para nabi dan para rasul (masa kenabian).
  2. Manusia dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin (masa khilafah sesuai dengan pedoman Rasulullah SAW.
  3. Manusia dipimpin oleh raja-raja yang menggigit (masa malik ‘adhon).
  4. Manusia dipimpin oleh raja-raja ada penguasa yang diktator dan tidak berpedoman pada ajaran Islam.
  5. Manusia dipimpin kembali oleh sistem sesuai pedoman yang dibawa nabi Muhammad SAW.

https://www.dakwatuna.com/2011/12/01/16954/hadits-tentang-periodisasi-kekuasaan/#axzz6K7QBhp4H

Para ulama sepakat bahwa saat ini kita berada di akhir periode 4 menuju periode 5, periode dimana umat kembali menjalankan kehidupannya sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. Tentu tidak semudah membalik tangan. Diperlukan usaha dan keseriusan kaum Muslimin untuk bersatu demi menegakkan Islam yang kaffah, Islam yang menjadi rahmat tidak saja bagi umat Islam tapi juga bagi seluruh isi alam semesta ini.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. ( Terjemah QS. Al-Anbiya(22):107).

Untuk itu para ulama menyusun 10 karakter yang harus dimiliki setiap Muslim sebagai berikut:

  1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).

Aqidah adalah dasar utama seorang Muslim. Tanpa aqidah yang bersih tidak ada artinya seorang Muslim. Aqidah yang bersih, tidak bercampur sedikitpun dengan kesyirikan, akan melahirkan ketakwaan yang sebenarnya. Ia yakin setiap gerak-geriknya senantiasa diawasi Allah swt, dan segala sesuatu terjadi karena Allah swt.   Yang dengan demikian seseorang tidak akan takut kepada selain-Nya. Inilah yang menjadi kunci kemenangan perang Badar di awal periode Islam. Ketika itu jumlah kaum Muslimin hanya 313 orang, 1/3 jumlah musuh, tanpa peralatan perang memadai pula. Namun bisa menang karena modal keyakinan Allah swt senantiasa beserta mereka.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. ( Terjemah QS. Al-An’aam(6):62)

  1. Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar).

Yaitu ibadah sesuai dengan apa yang dicontohkan rasulullah saw, tidak mengada-ada. Ini untuk menunjukkan ketaatan tidak hanya kepada Allah swt, tapi juga kepada Rasulullah saw.

…  Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):13).

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”. (HR. Baihaqi).

  1. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh).

Yaitu dengan mencontoh akhlak rasulullah. Diantaranya yaitu jujur, amanah, sabar, tidak sombong, rendah hati dll.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

  1. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani).

Kekuatan ini tidak hanya diperlukan untuk melakukan berbagai ibadah seperti shalat, puasa, haji dll. Namun juga ketika kita harus menghadapi musuh. Bahkan cara memakai kain ihram yang dibuka pada sisi kanan bahu (idtiba’), bukannya tanpa maksud. Ini untuk menunjukkan pada musuh-musuh Islam bahwa kaum Muslimin itu kuat, jangan coba-coba meremehkannya.

Muslim yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada Muslim yang lemah.” [HR. Muslim].

  1. Mutsaqqoful Fikri (Intelek dalam berpikir).

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir. Alam semesta beserta segala isinya ini diciptakan penuh dengan perhitungan, tidak asal-asalan. Dan kita manusia diberi tugas sebagai khalifah agar dapat mengelola seluruh fasilitas tersebut dengan sebaik mungkin.

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):191).

  1. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu).

Seorang Muslim sejati harus selalu sadar bahwa musuh utama manusia adalah syaitan. Syaitan inilah yang pekerjaannya menghembus-hembuskan hawa nafsu agar tidak mentaati perintah Allah swt. Cinta yang berlebihan terhadap kenikmatan dunia adalah awal petaka yang dapat menjerumuskan manusia pada kehinaan. Inilah yang terjadi pada awal mundurnya kesultanan Ottoman.

Dan awal dari segala hawa nafsu yang harus diperangi adalah sifat sombong sebagaimana yang diabadikan ayat 13-18 surat Al-Baqarah berikut:

Allah berfirman:“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan“.

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.

Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.

  1. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu).

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. ( Terjemah QS. Al-Ashr(103):1-3)

Dari Ibnu Abbas ra: Rasulullah saw bersabda dan menasehati pada seseorang: “Gunakan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum masa matimu,” (HR Al-Hakim).

Islam mengajarkan kaum Muslimin untuk menggunakan waktunya sebaik mungkin, diantaranya shalat yang mempunyai waktu-waktu tertentu bahkan gerakan yang sudah ditentukan dan mempunyai batas waktu. Dan yang utama adalah yang di awal waktu. Inilah awal dari kedisiplinan.

  1. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan).

Dengan kedisiplinan seorang Muslim akan lebih mudah menyelesaikan segala urusan secara tertata/tertib/teratur. Apapun yang dikerjakan, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah, profesionalisme selalu diperhatikan, dikerjakan secara sungguh-sungguh. Dalam ayat 282-283 surat Al-Baqarah Allah swt menerangkan secara terperinci bagaimana cara bermualamah dalam Islam.

Dengan berbekal ilmu seorang Muslim akan mampu menyelesaikan pekerjaannya secara professional, sesuai dengan kedudukan dan jabatan masing-masing. Apakah itu sebagai kepala keluarga, ketua RT/RW/Kelurahan hingga bos perusahaan bahkan mentri dan presiden.

Demikian pula ketika berperang sebagai ayat berikut :

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh”. (Terjemah QS. Ash-Shaff(61): 4).

“Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” ( Ali bin Thalib ra).

  1. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/ mandiri).

Muslim sejati adalah yang tidak tergantung pada orang lain yang beresiko menjadikannya tergadai dan terhina. Apalagi bila ketergantungannya itu terhadap orang kafir. Karena yang demikian bisa menyebabkannya tidak saja harga diri yang tergadai tapi bahkan aqidah.

“Tangan yang diatas adalah yang memberi (mengeluarkan infaq) sedangkan tangan yang di bawah adalah yang meminta”.(HR. Bukhari).

  1. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain).

Inilah ciri Muslim sejati yang mewakili ajaran Islam Rahmatan Lil Aalamiin. Ia bagaikan pohon rindang yang bisa digunakan orang untuk berteduh, akarnya yang kuat mampu menyangga orang yang bersandar, buahnya lezat, dan bunganya indah dipandang mata.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. … “. ( Terjemah QS.Ibrahim (14):24-25).

Sayangnya saat ini kita saksikan kondisi umat Islam secara umum masih saja terpuruk dibawah pengaruh Barat yang sekuler bahkan kafir. Korupsi, khamr, perzinahan, prilaku menyimpang homoseksual  dll yang makin merajela. Belum lagi ikatan persatuan sesama Muslim yang sangat rentan hingga mudah di adu domba musuh-musuh Islam.

“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Dan beliau merekatkan jari-jemarinya”. (HR. Bukhari).

Berikut yang dikatakan  Abdallah ibn Buluggin, seorang cendekiawan yang melihat langsung awal kejatuhan Kerajaan Cordoba pada tahun 1000-an M hingga tercerai-berai menjadi kerajaan-kerajaan kecil Islam yang saling bertikai.

“Ketika dinasti Amirid (al Mansur) berakhir dan rakyat ditinggal tanpa pemimpin, maka setiap komandan militer bangkit membangun kotanya dan melindungi diri mereka sendiri dengan benteng untuk memperkuat posisinya, membangun tentara dan memperkokoh sumber dayanya sendiri. Orang-orang ini saling bersaing dengan lainnya untuk merebut kekuasaan dan mengalahkan lawan-lawannya.”

Tampaknya baru Turki dibawah Recep Tayyip Erdogan yang terlihat siap menghadapi kebangkitan Islam. Ia berhasil membawa kembali Kesultanan Turki Ustmaniyah yang ambruk nyaris 100 tahun silam ke masa kejayaannya. Hanya Erdogan satu-satunya kepala negara di dunia ini yang berani melawan kejahatan Zionis Israel terhadap Palestina secara terang-terangan. Kaum perempuan di era Erdogan juga berhasil mendapatkan kembali haknya menutup aurat dengan baik setelah puluhan tahun lamanya dilarang dibawah pemerintahan Turki yang sekuler. Demikian pula adzan yang kembali dikumandangkan di seantero negri.

Dilansir dari berbagai sumber, Turki baru dibawah Erdogan telah melakukan lompatan ekonomi yang besar, dari rangking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10 % pertahun, yang berarti masuknya Turki kedalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia.

https://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2015/06/30/73321/bagaimana-erdogan-membangun-turki-dan-menumbangkan-sekulerisme-1.html

Bahkan selama pandemi Covid19 Turki memperlihatkan kedigjayaannya dengan mengirim bantuan medis ke Italia dan Spanyol sebagai bagian dari upaya memerangi pandemi virus tersebut. Italia dan Spanyol adalah dua negara yang terdampak virus Corona paling parah di dunia. Bantuan medis yang dikirim tersebut berupa masker, pakaian pelindung dan cairan antibakteri yang diproduksi oleh pabrik serta fasilitas jahit milik Kementerian Pertahanan Turki.

https://news.detik.com/internasional/d-4961337/pandemi-virus-corona-turki-kirim-bantuan-medis-ke-italia-dan-spanyol

Semoga dengan adanya pandemi Covid19 yang menyebabkan kita terpaksa mengurung di dalam rumah masing-masing mampu membuat kita untuk segera berbenah diri, bertobat memohon ampunan-Nya hingga Allah swt pun ridho memberi kita kemenangan dan kejayaan sebagaimana yang pernah dialami para sahabat dan pendahulu-pendahulu kita, bukan sekedar bebas dari virus menular ganas tersebut.

Semoga Allah swt masukkan kita ke dalam bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari tersebut dalam keadaan bukan hanya sehat wal afiat, tapi juga aqidah yang kokoh dan hati yang bersih bebas dari segala kotoran dan buruk sangka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 April 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Kaum Muslimin sebagai kaum minoritas kembali menjadi korban kekerasan dan kebiadaban. Kali ini terjadi di India yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Pemicunya adalah Citizenship Amendment Act (CAA) sebuah RUU yang memungkinkan pemerintah India memberikan kewarganegaraan pada warga ber-agama minoritas, kecuali Islam. Kecuali Islam???

Perdana Menteri Narendra Modi berdalih undang-undang baru itu diperlukan untuk membantu dan memberi perlindungan (amnesti) kaum minoritas yang melarikan diri ke India dari penganiayaan agama di negara mayoritas Muslim di Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan yang merupakan tetangga terdekat India. Namun ia tidak menjelaskan penganiayaan yang dimaksudkannya tersebut.

Tidak semua rakyat India termasuk yang beragama Hindu menyetujui  undang-undang sepihak dan diskriminatif tersebut. Mereka berpendapat bahwa hukum tersebut sangat bertentangan dengan semangat konstitusi sekuler negara.

https://www.merdeka.com/dunia/deretan-aktor-bollywood-dukung-demo-penolakan-uu-kewarganegaraan-baru-india.html

Para kritikus bahkan meyakini bahwa RUU itu adalah bagian dari upaya partai BJP (Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata) yang merupakan pemegang kekuasaan, untuk meminggirkan Umat Islam. Ini demi mengejar agenda pro-Hindu sebagai yang dijanjikan ketika terpilih kembali sebagai PM tahun lalu. Namun demikian Modi menyangkal adanya bias terhadap populasi Muslim India yang jumlahnya lebih dari 180 juta orang itu.

Pimpinan lembaga Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet juga mengatakan undang-undang baru yang diadopsi Desember lalu itu memang “sangat memprihatinkan”. Namun, ia mengimbau agar semua pihak menghindari kekerasan.

Saya menghimbau semua pemimpin politik untuk mencegah kekerasan,” kata Bachelet dalam pidatonya di dewan HAM PBB di Jenewa, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Demo antara demonstran pendukung (Hindu) dan penolak CAA yang mayoritas beragama Islam pertama kali terjadi pada Minggu (23/02/2020). Kerusuhan demi kerusuhan terus terjadi selama kunjungan resmi pertama presiden AS Donald Trump ke India.

Dalam kerusuhan tersebut terjadi aksi pembakaran, penjarahan, penganiayaan, pelemparan batu dll. Korban terakhir tercatat 38 orang meninggal, lebih dari 150 orang mengalami luka serius, mayoritas Muslim. Dilaporkan banyak pula warga yang menderita luka tembak.

Yang juga menyedihkan adalah adanya perusakan masjid. Secara brutal mereka menaiki menara masjid dan mencabut simbol bulan sabit yang ada di atasnya lalu menggantinya dengan lambang Hanuman yang merupakan lambang sakral umat Hindu.

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1202063-pecah-kerusuhan-bendera-hanoman-dikibarkan-di-menara-masjid?medium=terpopuler-widget

india riotriot india1Dengan beringas, ber-ramai-ramai mereka pukuli orang yang sedang menuju masjid, mereka masuki rumah-rumah kaum Muslimin  yang telah puluhan tahun ditinggali, memaksa meninggalkannya bahkan selanjutnya membakarnya. Belum lagi penyerbuan polisi ke Universitas Jamia Millia Islamia. … Astaghfirullahaladzim …

Menjadi pertanyaan besar mengapa umat Islam ketika posisinya minoritas sering kali di dzalimi??? Mengapa mereka yang tidak menyukai bahkan membenci Islam bisa dan berani berbuat semena-mena terhadap saudara-saudari kita ?? Sungguh menyedihkan … Belum juga usai penderitaan kaum Muslimin di Palestina, Suriah, Rohingnya, Uighur … kini India …

Dimana ikatan persaudaraan Islam yang harusnya mampu mencegah dan melindungi saudara-saudari kita yang terdzalimi di negri dimana mereka hanya minoritas???

Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang Muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Bukankah jumlah kaum Muslimin di dunia ini cukup banyak, bukan hanya sedikit hingga tidak mampu berbuat sesuatu. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah saw berabad-abad silam.

Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati”. [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Tampaknya hanya Tayyip Erdogan, presiden Turki, satu-satunya kepala negara mayoritas Muslim yang secara lantang berani membela dan memprotes apa yang dialami kaum Muslimin. Jokowi presiden negara mayoritas Muslim terbesar tidak sedikitpun mengeluarkan pernyataan keprihatinan.

Aktivis pembela kemanusiaan, Natalius Pigai, mempertanyakan peran dari Jokowi, “Hari ini umat Islam di India dibantai, di mana Ir. Joko Widodo?” kata Pigai dalam siaran persnya kepada VIVAnews, Jumat, 28 Februari 2020.

Dalam kesempatan tersebut ia membandingkan dengan apa yang dilakukan Soekarno, presiden pertama Indonesia dalam menghadapi apa yang dilakukan India terhadap kaum Muslimin di Kashmir beberapa puluh tahun yang lalu.

“Saya bantu karena solidaritas bangsa Muslim”, begitu jawaban Soekarno terhadap pertanyaan Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India ketika itu) yang kaget dengan sikap Soekarno, sahabatnya,

https://www.vivanews.com/berita/nasional/38454-natalius-pigai-umat-islam-dibantai-di-india-di-mana-jokowi?medium=autonext

Bandingkan pula dengan pernyataan Modi di awal tulisan, yang berdalih CAA dibuat demi membantu kaumnya yang ia anggap tertindas meski anggapan tersebut tidak terbukti dan belum tentu benar. Karena Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan pemaksaan apalagi dalam hal keimanan.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Namun harus diakui tindakan partai Hindu yang mengusung Modi demi  memprioritaskan kaum Hindu yang merupakan mayoritas adalah tindakan yang patut dihargai. Caranya yang terlalu mencolok hingga menyakiti dan menimbulkan bentrokan berdarah antar kaum beragama tanpa usaha maksimal penguasa, yang harus kita cela.

Hal yang rasanya tidak mungkin terjadi di negri kita tercinta yang katanya mayoritas Islam ini. Yang mendengar kata “khilafah” saja sudah alergi. Maka tak heran ketika ormas seperti FPI, GNPF Ulama serta PA 212 melakukan demo besar-besaran di depan kedutaan India pada Jumat 6 Maret 2020 lalu tidak satupun media mainstream meliputnya. Yang ada malah sejumlah orang yang mengaku Muslim nyinyir menanggapinya … Na’udzubillah min dzalik …

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200306110017-20-481028/demo-kedubes-india-pa-212-tuntut-putus-hubungan-diplomatik

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, 9 Maret 2020.

Vien AM.

Note:

Kabar terakhir, sebuah video menunjukkan hampir 3000 warga Hindu India berbondong-bondong memeluk Islam paska kerusuhan CAA. Allahu Akbar …

Read Full Post »

Radikalisme.

Perseteruan Pilpres akhirnya berlalu sudah meski dengan proses dan hasil jauh dari memuaskan. Bahkan Prabowo Subianto sebagai mantan capres masuk ke dalam jajaran kabinet dibawah ex capres yang mengalahkannya. Sesuatu yang amat langka terjadi. Meski alasan mantan danjen tersebut menerima posisi mentri Pertahanan patut diacungi jempol. Yaitu demi untuk menjaga negara dari serangan musuh dari luar yang selama masa kampanye memang menjadi perhatian utamanya. Membuktikan kecintaannya terhadap negara jauh lebih penting dari sekedar harga diri dan gengsi pribadinya. Semoga saja Prabowo bisa tegar dan kuat memperjuangkan keinginan mulia tersebut.

Namun apa lacur belum juga sepekan susunan kabinet diumumkan beberapa mentri sudah bereaksi menyudutkan umat Islam, yaitu dengan melempar isu radikalisme.

Mahfud MD sebagai Menkopolhukam memang menyatakan bahwa radikalisme yang diperangi pemerintah bukan umat Islam, melainkan mereka yang ingin mengganti dasar dan ideologi negara dengan cara melawan aturan-aturan. Namun pada acara ILC TV-One ia menyebut anak SD sebagai virus jahat yang harus diperangi. Ini hanya lantaran ia mendapat kabar tentang seorang anak perempuan usia 11 tahun yang tidak mau keluar kelas dengan alasan ajaran agamanya melarang bertemu lelaki yang  bukan muhrimnya.

https://www.portal-islam.id/2019/10/mahfud-md-anak-kelas-5-sd-sudah.html

Apa yang salah dengan hal tsb, mengapa Mahfud seorang Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) Yogya ini begitu geram ? Usia 11 tahun bukan usia yang terlalu belia untuk bisa membedakan mana muhrim mana bukan. Bukankah anak seusia tersebut biasanya sudah haid? Agama yang dimaksud anak tersebut  sudah pasti agama Islam.  Islam memerintahkan perempuan yang sudah baligh agar menutup auratnya di hadapan laki-laki yang bukan muhrim demi menjaga kehormatannya, dan melarang agar tidak bercampur baur.

Sementara mentri Agama Fachrul Razi di hari-hari pertama tugasnya justru sibuk mengurusi soal cadar dan celana cingkrang yang menurutnya, lagi-lagi sebagai lambang radikalisme. Mantan wakil panglima TNI ini bersikukuh melarang pemakaian keduanya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) meski dihujani kritik oleh mayoritas anggota Komisi VIII DPR yang membidangi agama dalam rapat perdana di gedung parlemen.

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-50334697

Dalam khotbah perdananya pada shalat Jumat di masjid Istiqal ia mengutip ayat 13 surat Al-Hujurat sebagai berikut :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat yang sangat indah. Tapi sayangnya mentri agama tersebut mengutip ayat di atas bukan untuk menunjukkan bahwa yang paling mulia adalah yang paling takwa, yaitu umat Islam yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Melainkan untuk menekankan toleransi sebagai dalil yang harus diterapkan kepada non Muslim. Tidak salah sebenarnya karena Islam memang mengajarkan hal tersebut. Masalahnya toleransi seperti apa yang dimaksudkannya??

Untuk diingat, beberapa waktu lalu mentri tersebut mengemukakan keinginannya untuk bertemu ustad Abdul Somad (UAS) yang belakangan ini ini tampak “di incar”. UAS adalah seorang ustad kondang yang dikenal secara terang-terangan mendukung Prabowo pada pilpres yang baru lalu.

Video ceramah jawaban ustad lulusan Maroko atas pertanyaan jamaah mengenai patung dan salib contohnya, yang tiba-tiba viral padahal sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, lagi pula terjadi di dalam masjid usai ceramah. Terakhir jawaban UAS terhadap pertanyaan jamaah tentang haramnya catur dan dadu yang ditanggapi sang mentri “ tidak usah didengarkan”.

Ada apakah gerangan ?? Bukankah tugas seorang ustad/ulama berdakwah kepada umat dan menjawab pertanyaan jamaah secara jujur bedasarkan dalil, tanpa menterlibatkan kepentingan siapapun, baik pribadi apalagi sudut pandang pejabat tertentu. Soal didengarkan atau tidak bukan urusan sang ustad apalagi pak mentri agama.

Sebagai catatan, Fachrul Razi diangkat sebagai mentri agama oleh Jokowi karena  latar belakang militernya yang dianggap mampu menumpas radikalisme di Indonesia. Isu radikalisme ini memang demikian hebohnya sampai-sampai menjelang pelantikan mentri baliho dengan tema tumpas radikalisme bertebaran di sepanjang jalan utama Jakarta.

Pada acara pelantikan para mentri, Jokowi bahkan sempat melempar wacana mengubah istilah radikalisme dengan manipulator agama.

“Atau mungkin enggak tahu, apakah ada istilah lain yang bisa kita gunakan, misalnya manipulator agama. Saya serahkan kepada pak Menko Polhukam untuk mengkoordinasikan masalah ini,” jelasnya.

Sebelumnya Jokowi memang menyatakan bahwa salah satu fokus pemerintahannya lima tahun kedepan adalah pemberantasan radikalisme dan intoleransi, dan ingin agar secara konkret.

https://www.merdeka.com/peristiwa/jokowi-usul-ganti-istilah-radikalisme-jadi-manipulator-agama.html

Beberapa waktu lalu, ketua KPK memanggil seorang bawahannya yang mengundang UAS berceramah di instansinya. Padahal bila kita perhatikan tidak satupun isi ceramah UAS yang berpotensi mengundang radikalisme. Kecuali bila pernyataan penceramah kondang tersebut mengenai kehidupan dunia yang hanya senilai setengah sayap nyamuk dianggap menyinggung pihak tertentu hingga harus dimasukkan sebagai radikal ! Atau kata “kafir” yang belakangan menjadi isu sensitif ..

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi).

Maka tak heran bila ketika sang menag berwacana mengeluarkan daftar sertifikasi ulama bahkan majlis taklim yang didominasi emak-emak itu harus mendaftar maka reaksi umatpun beragam. Diantaranya adalah Din Samsudin, tokoh Muhammadiyah yang saat ini menjabat sebagai ketua MUI. Ironisnya, tokoh yang juga dikenal sebagai tokoh lintas agama ini justru di isukan masuk ke dalam daftar terorisme dunia.

https://www.wartaekonomi.co.id/read253724/din-syamsuddin-dituduh-biayai-teroris-cetus-bang-fahri-permainan-orang-sakit.html

Sertifikasi dengan alasan agar ulama lebih mengedepankan persatuan bangsa apapun agamanya, sementara majlis taklim agar pemerintah dapat mudah menyalurkan bantuan, sungguh adalah alasan yang terkesan sangat dicari-cari.

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/11/22/173941/kemenag-siapkan-program-ulama-bersertifikat.html

https://nasional.tempo.co/read/1278468/majelis-taklim-harus-daftar-kementerian-agama-untuk-pembinaan/full&view=ok

Din juga mempertanyakan urgensi wacana sertifikasi nikah yang akan dikeluarkan kemenag. Bukankah menikah adalah sunnah yang sebaiknya disegerakan bila seseorang memang sudah siap. Apalagi di zaman sekarang dimana budaya Barat sudah begitu merasuki cara berpikir dan bergaul muda mudi bangsa ini. Pernikahan seharusnya dipermudah bukan malah dipersulit.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):32).

‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).’”[HR. Al-Bukhari].

https://news.detik.com/berita/4789292/din-soal-wacana-sertifikat-nikah-jangan-hal-sakral-diikat-terlalu-formal

Terakhir adalah viralnya tentang seorang direktur BTN yang dituduh terpapar radikalisme hanya karena sang bersangkutan pada tahun 2017 lalu memposting “Gerakan 7 juta status. Kami percaya Ulama dan mendukung perjuangannya. Jangan dishare tapi di copy, agar tembus 7 jt. VIRALKAN !!! #Gerakan7jutastatus” di status medsosnya. Lengkap dengan foto Habib Rizieq yang bertuliskan, “Kami Percaya Ulama, Habib Rizieq dan Mendukung Perjuangannya.”

https://bisnis.tempo.co/read/1278425/viral-direktur-btn-terpapar-radikalisme-sikap-kementerian-bumn/full&view=ok

Semakin jelas apa sebenarnya yang dimaksud radikal/radikalisme dalam pandangan pemerintah. Na’uzubillah min dzalik …

Yaa Allah lindungi kami dan anak cucu kami dari fitnah Dajjal yang makin nekad menunjukkan keberaniannya melawan kekuasaan-Mu. Yaa Allah Jangan biarkan musuh kaum beriman itu mengadu domba kaum Muslimin dengan doktrin Islam Nusantaranya yang menyesatkan itu. Bukankah Islam itu hanya satu yaitu Islam yang rahmatan lil aa’lamiin, yang dibawa rasulullah Muhammad saw untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia dimanapun berada. Islam yang merupakan ajaran warisan para nabi, untuk tidak menyekutukan Allah swt dengan siapapun dan apapun.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Desember 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

KATA ulama adalah bentuk jama’ dari ‘alim yang artinya ahli ilmu atau ilmuwan. Sementara kata su’ adalah masdar dari sa’a-yasu’u-saw’an yang artinya jelek, buruk dan jahat. Secara bahasa arti ulama su’ adalah ahli ilmu atau ilmuwan yang buruk dan jahat.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”. [HR Ad Darimi].

Ulama hakekatnya berhubungan dengan ilmu dan kebaikannya. Harta dan tahta adalah godaan bagi ulama yang bisa menjerumuskan ke dalam kehinaan. Sayyidina Anas ra meriwayatkan :

“Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik terhadap dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul, karena itu jauhilah mereka.” [HR al Hakim]

Dari Abu Dzar berkata, ”Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan dajjal yang aku takutkan atas umatku.”. Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah selain dajjal yang paling Engkau takutkan atas umatmu ?”. Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan”. [Musnad Ahmad (35/222)]

Dalam sebuah Hadits Rasulullah mengatakan: “ Apabila seseorang di antara kamu bertasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 hal seraya mengucapkan. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, Siksa Kubur, Cobaan Hidup dan Mati, dari perlindungan dari Fitnah Dajjal” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari berbagai sumber, ada beberapa karakteristik ulama su’ sebagai bagian dari fitnah akhir zaman. Semoga karekter ini tidak ada dalam diri kita dan kita bisa terhindar dari bahaya yang mereka timbulkan. Beberapa karakter itu adalah :

MENJUAL ILMU KEPADA PENGUASA. Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para  penguasa, masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu [HR al Hakim].

MENUKAR KEBODOHAN SEBAGAI ILMU. Ibnu Rajab al Hambali mengatakan bahwa Asy Sya’bi berkata “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi suatu bentuk kejahilan dan kejahilan itu sebagai bentuk ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran [kenyataan] di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan”.

MEMBURU HARTA DAN TAHTA. Mereka adalah ulama agama untuk membedakan antara mereka dan ulama dunia, mereka adalah ulama jahat yang dengan ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia, mendapatkan pangkat dan kedudukan pada penduduk [Lihat Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Asyfiya, hal. 70 dan Sayyid Muhammad Al Husaini Az Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqien bi Syarhi Ihya’i Ulumudin, hal 348].

SOMBONG DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT. Penutut ilmu ketiga adalah orang yang kesetanan. Ia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyaknya pengikut. Ia masuk terperosok ke banyak lubang tipu daya karena karena ilmunya itu dengan harapan hajat duniawinya terpenuhi. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

BERGAYA DENGAN PAKAIAN ULAMA. Ia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulia di sisi Allah karena ia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama di saat ia secara lahir dan batin menerkam dunia semata. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

TIDAK MAU BERTOBAT. Orang ini termasuk mereka yang celaka dan dungu lagi terpedaya duniawi. Tidak ada harapan pertobatan, karena dirinya merasa sebagai orang baik [muhsinin]. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

SOMBONG DIPERMAINKAN NAFSUNYA. Sementara nafsunya saat demikian mempermainkan dirinya, menghadirkan impian, memberi harapan, mendorongnya untuk mengungkit-ungkit atas ilmunya di sisi Allah, dan memberinya ilusi bahwa ia lebih baik dari pada  sekian banyaknya hamba Allah yang lain [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

DISORIENTASI INTELEKTUAL. Tidak memiliki integritas pribadi dan tidak memiliki tanggungjawab intelektual. Sebab orientasinya hanya duniawi, sehingga menyalahgunakan ilmunya demi tujuan materialistik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah  ﷺ  bersabda,”Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi surga di akherat nanti [HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2 : 338].

MENYALAHGUNAKAN ILMU. Siapa yang makan dengan memperalat ilmu, Allah membutakan kedua matanya [atau wajahnya di dalam riwayat Ad Dailami], dan neraka lebih layak untuknya [HR Abu Nu’aim dan Ad Dailami]

DIPERBUDAK SETAN DAN HAWA NAFSU. Bencana bagi umatku (datang) dari ulama su’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan untuk mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai kesengsaraannya. Siapa saja yangb kondisinya semikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat : mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir VI/369]

MEMBELA PENGUASA ZOLIM. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir Syarah Jami’  Shogir Imam Syuyuthi, VI/369]

MEMBUAT TIPU DAYA. Hati-hatilah terhadap tipu daya ulama su’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk dari pada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang sejahat-jahat makhluk . Beliau menjawab, Ya Allah berilah ampunan”. Beliau menyebut sebanyak tiga kali, lalu bersabda,”mereka adalah ulama su’”. [Hujjatul Islam Imam al Ghazali]

MENJILAT PENGUASA. Ulama su’ orang bergelar ulama atau intelektual yang menjilat penguasa dan menjadikan kaum kafir sebagai teman karib serta menafsirkan al Qur’an sekehendak nafsunya. Dengan bahasa Umar Bin Khathab, ulama su’ adalah mereka yang munafik tapi berilmu.*

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2019.

Vien AM.

Dicopy dari :

https://m.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/09/20/150993/karakter-ulama-su-dan-fitnah-akhir-zaman.html?fbclid=IwAR0qE6HIM6e7KxrBD3U7OEXPD2FH9NWBX_FqG7r-xuwoSAnYtdTPVb_L-pY

 

 

 

 

Read Full Post »

Makna Barakah

BarakAllah-CalligraphyKita tentu sering mendengar kata “Barakallah”. Kata ini diucapkan biasanya ketika ada teman, saudara atau handai taulan yang mendapat kebahagiaan dan kesenangan. Ketika menerima hadiah misalnya.

Barakallaah adalah kalimat yang berasal dari Bahasa Arab, kalimat tersebut terdiri dari dua kata yaitu “Baraka” dan “Allah”.  Kata “baaraka” memiliki arti berkah/barokah. Jadi  “Barakallah” artinya adalah “Semoga Allah memberkahi”. Pengucapan kata yang sebenarnya merupakan doa ini lazimnya diiringi dengan kata “fiika” (untuk perempuan), “fiiki” (untuk laki-laki), atau “fiikum“(untuk lebih dari 1 orang laki-laki dan perempuan).

Para sahabat di zaman nabi biasa mengucapkan kata “Barakallah” sebagaimana yang dikisahkan umirul mukminin Aisyah ra yang diriwayat Imam An-Nasa’i sebagai berikut:

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah SAW. Maka Beliau memerintahkan, “Bagi dua-lah domba tersebut (untuk disedekahkan)”. (Maka pembantu beliau pun mengirimkan daging domba tersebut,) Dan telah menjadi suatu kebiasaan bagi Aisyah ra jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal itu, maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan (setelah kita beri)?” Pelayanannya menjawab, “Baarakallaah Fiikum”. Maka ‘Aisyah pun mengatakan, “Wa Fiihim Baarakallaah”, kita telah membalas do’a mereka dengan do’a yang semisal dan tetap bagi kita pahala atas perbuatan baik yang telah kita lakukan (memberi hadiah daging domba).

Itu sebabnya ketika seseorang yang mengucapkan “ Barakallah” maka jawaban yang paling tepat adalah “ Wa fiikum barakallah”, yang artinya “dan kepadamu juga berkah Allah”. Begitulah yang diajarkan Rasulullah, saling mendoakan. Bukankah sesama Muslim adalah bersaudara?  .

Namun  apa sebenarnya arti “Berkah” itu sendiri? Apakah ia harus selalu yang sifatnya menguntungkan dan menyenangkan seperti rezeki yang banyak, kesehatan yang baik, panjang umur atau anak-anak yang pintar misalnya?

Kalau memang ya, lalu bagaimana dengan nabi Sulaiman yang diuji dengan sakit tergeletak lemah di kursinya, nabi Ayyub yang diuji dengan sakit keras hingga istri dan anak-anaknya meninggalkannya, atau nabi Yunus yang ditelan ikan hiu??

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”.(Terjemah QS. Shad (38):34).

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Terjemah Shad (38):41-43).

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”.(Terjemah QS. As-Shaffat (37):139-144).

Sakit, mala petaka, kekurangan rezeki dan yang semacamnya sejatinya adalah cobaan dari Allah swt untuk mengetahui seberapa besar sabar dan syukur yang dimiliki seorang hamba.

Dari contoh kisah di atas dapat kita lihat pertolongan Allah swt datang bukan hanya karena mereka adalah para nabi, melainkan juga karena kesabaran dan taubat yang mereka lakukan. Demikian pula kita sebagai manusia biasa. Sakit dll bukanlah siksaan melainkan juga berkah sebagaimana kesehatan yang baik dan rezeki berlimpah yang digunakan untuk mentaati-Nya.

Kisah Tsa’labah seorang yang awalnya hidup dalam kemiskinan adalah sebuah contoh nyata yang harus selalu kita ingat. Suatu hari Tsa’labah yang sudah bosan hidup dalam keadaan miskin memohon agar Rasulullah mau mendoakannya menjadi orang kaya. Rasulullah mulanya menolak. Namun karena Tsa’labah terus merengek akhirnya Rasulullahpun mengabulkannya seraya memberinya modal 2 ekor kambing untuk modal awal.

Dalam waktu singkat kambing Tsa’labahpun terus berkembang-biak hingga ia harus pindah ke luar Madinah untuk mencari lahan yang luas. Akibatnya Tsa’labah yang tadinya rajin shalat 5 waktu di masjid Nabawi bersama Rasulullah dan para sahabat mulai jarang melakukannya. Puncaknya ia menolak membayar zakat yang kini menjadi wajib baginya. Ia bahkan marah-marah dan menuduh petugas zakat yang tak lain adalah para sahabat dengan tuduhan ingin memerasnya.

Tentu saja Rasulullah sangat kecewa melihat prilaku buruk Tsa’labah. Beliau adukan hal tersebut kepada Sang Pemilik. Tak lama Tsa’labah menyadari kesalahannya dan memohon agar Rasulullah mau menerima zakatnya. Namun Rasulullah menolaknya juga khalifah Abu Bakar dan Umar sepeninggal Rasulullah. Akhirnya Tsa’labah wafat dalam keadaan menyesal seumur hidup dan kambingnyapun semua mati bersamanya. Tidak ada keberkahan dalam seluruh harta dan kekayaan yang dimiliki dan diimpikannya  Na’udzubillah min dzalik.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.”

Dengan kata lain berkah adalah segala hal yang mampu membuat kita dekat kepada Sang Khalik. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang digunakan di jalan Allah, untuk membantu anak-anak yatim piatu, orang miskin dll. Kalaupun rezeki hendak digunakan untuk berjalan-jalan ke luar negri misalnya, selama hal tersebut dapat membuat kita lebih bersyukur, mengagumi ciptaan-Nya, lebih mengenal sifat-sifat-Nya serta membuat kita lebih takwa yaitu dengan menjauhi larangan dan mengerjakan perintah-Nya, itulah berkah.

Begitu pula sakit dan sehat. Berkah itu tidak selalu sehat dan panjang umur. Ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya, layaknya sahabat Mus’ab bin Umair dkk yang gugur syahid di medan jihad.

Tanah yang berkah itu bukan yang panoramanya indah. Makkah dimana Ka’bah berada di dalamnya, adalah contohnya. Tanah tersebut memang tandus tapi keutamaannya dihadapan Allah tidak tertandingi tanah manapun.

Makanan yang berkah bukan yang komposisi gizinya lengkap melainkan makanan yang mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah mengkonsumsinya. Demikian pula ilmu. Ilmu yg berkah itu bukan yg banyak riwayat dan catatan kakinya, melainkan yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya beramal dan berjuang untuk agama Allah

Istri yang cantik, suami yang gagah dan sukses, anak-anak yang lucu, pintar bahkan bergelar S2 atau S3 ketika dewasa bukanlah berkah bila tidak mau mentaati Rabb yang telah menciptakan mereka.  Sama halnya dengan jabatan. Jabatan yang tidak membuat seseorang menjadi dekat pada-Nya adalah bukan berkah melainkan petaka.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Terjemah QS. Al A’rof(7):96).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kita berbagai keberkahan. Amin Yaa Mujibbas Saailin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juni 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »