Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Akhlak’ Category

KATA ulama adalah bentuk jama’ dari ‘alim yang artinya ahli ilmu atau ilmuwan. Sementara kata su’ adalah masdar dari sa’a-yasu’u-saw’an yang artinya jelek, buruk dan jahat. Secara bahasa arti ulama su’ adalah ahli ilmu atau ilmuwan yang buruk dan jahat.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”. [HR Ad Darimi].

Ulama hakekatnya berhubungan dengan ilmu dan kebaikannya. Harta dan tahta adalah godaan bagi ulama yang bisa menjerumuskan ke dalam kehinaan. Sayyidina Anas ra meriwayatkan :

“Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik terhadap dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul, karena itu jauhilah mereka.” [HR al Hakim]

Dari Abu Dzar berkata, ”Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan dajjal yang aku takutkan atas umatku.”. Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah selain dajjal yang paling Engkau takutkan atas umatmu ?”. Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan”. [Musnad Ahmad (35/222)]

Dalam sebuah Hadits Rasulullah mengatakan: “ Apabila seseorang di antara kamu bertasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 hal seraya mengucapkan. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, Siksa Kubur, Cobaan Hidup dan Mati, dari perlindungan dari Fitnah Dajjal” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari berbagai sumber, ada beberapa karakteristik ulama su’ sebagai bagian dari fitnah akhir zaman. Semoga karekter ini tidak ada dalam diri kita dan kita bisa terhindar dari bahaya yang mereka timbulkan. Beberapa karakter itu adalah :

MENJUAL ILMU KEPADA PENGUASA. Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para  penguasa, masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu [HR al Hakim].

MENUKAR KEBODOHAN SEBAGAI ILMU. Ibnu Rajab al Hambali mengatakan bahwa Asy Sya’bi berkata “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi suatu bentuk kejahilan dan kejahilan itu sebagai bentuk ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran [kenyataan] di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan”.

MEMBURU HARTA DAN TAHTA. Mereka adalah ulama agama untuk membedakan antara mereka dan ulama dunia, mereka adalah ulama jahat yang dengan ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia, mendapatkan pangkat dan kedudukan pada penduduk [Lihat Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Asyfiya, hal. 70 dan Sayyid Muhammad Al Husaini Az Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqien bi Syarhi Ihya’i Ulumudin, hal 348].

SOMBONG DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT. Penutut ilmu ketiga adalah orang yang kesetanan. Ia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyaknya pengikut. Ia masuk terperosok ke banyak lubang tipu daya karena karena ilmunya itu dengan harapan hajat duniawinya terpenuhi. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

BERGAYA DENGAN PAKAIAN ULAMA. Ia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulia di sisi Allah karena ia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama di saat ia secara lahir dan batin menerkam dunia semata. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

TIDAK MAU BERTOBAT. Orang ini termasuk mereka yang celaka dan dungu lagi terpedaya duniawi. Tidak ada harapan pertobatan, karena dirinya merasa sebagai orang baik [muhsinin]. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

SOMBONG DIPERMAINKAN NAFSUNYA. Sementara nafsunya saat demikian mempermainkan dirinya, menghadirkan impian, memberi harapan, mendorongnya untuk mengungkit-ungkit atas ilmunya di sisi Allah, dan memberinya ilusi bahwa ia lebih baik dari pada  sekian banyaknya hamba Allah yang lain [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

DISORIENTASI INTELEKTUAL. Tidak memiliki integritas pribadi dan tidak memiliki tanggungjawab intelektual. Sebab orientasinya hanya duniawi, sehingga menyalahgunakan ilmunya demi tujuan materialistik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah  ﷺ  bersabda,”Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi surga di akherat nanti [HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2 : 338].

MENYALAHGUNAKAN ILMU. Siapa yang makan dengan memperalat ilmu, Allah membutakan kedua matanya [atau wajahnya di dalam riwayat Ad Dailami], dan neraka lebih layak untuknya [HR Abu Nu’aim dan Ad Dailami]

DIPERBUDAK SETAN DAN HAWA NAFSU. Bencana bagi umatku (datang) dari ulama su’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan untuk mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai kesengsaraannya. Siapa saja yangb kondisinya semikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat : mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir VI/369]

MEMBELA PENGUASA ZOLIM. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir Syarah Jami’  Shogir Imam Syuyuthi, VI/369]

MEMBUAT TIPU DAYA. Hati-hatilah terhadap tipu daya ulama su’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk dari pada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang sejahat-jahat makhluk . Beliau menjawab, Ya Allah berilah ampunan”. Beliau menyebut sebanyak tiga kali, lalu bersabda,”mereka adalah ulama su’”. [Hujjatul Islam Imam al Ghazali]

MENJILAT PENGUASA. Ulama su’ orang bergelar ulama atau intelektual yang menjilat penguasa dan menjadikan kaum kafir sebagai teman karib serta menafsirkan al Qur’an sekehendak nafsunya. Dengan bahasa Umar Bin Khathab, ulama su’ adalah mereka yang munafik tapi berilmu.*

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2019.

Vien AM.

Dicopy dari :

https://m.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/09/20/150993/karakter-ulama-su-dan-fitnah-akhir-zaman.html?fbclid=IwAR0qE6HIM6e7KxrBD3U7OEXPD2FH9NWBX_FqG7r-xuwoSAnYtdTPVb_L-pY

 

 

 

 

Read Full Post »

Makna Barakah

BarakAllah-CalligraphyKita tentu sering mendengar kata “Barakallah”. Kata ini diucapkan biasanya ketika ada teman, saudara atau handai taulan yang mendapat kebahagiaan dan kesenangan. Ketika menerima hadiah misalnya.

Barakallaah adalah kalimat yang berasal dari Bahasa Arab, kalimat tersebut terdiri dari dua kata yaitu “Baraka” dan “Allah”.  Kata “baaraka” memiliki arti berkah/barokah. Jadi  “Barakallah” artinya adalah “Semoga Allah memberkahi”. Pengucapan kata yang sebenarnya merupakan doa ini lazimnya diiringi dengan kata “fiika” (untuk perempuan), “fiiki” (untuk laki-laki), atau “fiikum“(untuk lebih dari 1 orang laki-laki dan perempuan).

Para sahabat di zaman nabi biasa mengucapkan kata “Barakallah” sebagaimana yang dikisahkan umirul mukminin Aisyah ra yang diriwayat Imam An-Nasa’i sebagai berikut:

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah SAW. Maka Beliau memerintahkan, “Bagi dua-lah domba tersebut (untuk disedekahkan)”. (Maka pembantu beliau pun mengirimkan daging domba tersebut,) Dan telah menjadi suatu kebiasaan bagi Aisyah ra jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal itu, maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan (setelah kita beri)?” Pelayanannya menjawab, “Baarakallaah Fiikum”. Maka ‘Aisyah pun mengatakan, “Wa Fiihim Baarakallaah”, kita telah membalas do’a mereka dengan do’a yang semisal dan tetap bagi kita pahala atas perbuatan baik yang telah kita lakukan (memberi hadiah daging domba).

Itu sebabnya ketika seseorang yang mengucapkan “ Barakallah” maka jawaban yang paling tepat adalah “ Wa fiikum barakallah”, yang artinya “dan kepadamu juga berkah Allah”. Begitulah yang diajarkan Rasulullah, saling mendoakan. Bukankah sesama Muslim adalah bersaudara?  .

Namun  apa sebenarnya arti “Berkah” itu sendiri? Apakah ia harus selalu yang sifatnya menguntungkan dan menyenangkan seperti rezeki yang banyak, kesehatan yang baik, panjang umur atau anak-anak yang pintar misalnya?

Kalau memang ya, lalu bagaimana dengan nabi Sulaiman yang diuji dengan sakit tergeletak lemah di kursinya, nabi Ayyub yang diuji dengan sakit keras hingga istri dan anak-anaknya meninggalkannya, atau nabi Yunus yang ditelan ikan hiu??

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”.(Terjemah QS. Shad (38):34).

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Terjemah Shad (38):41-43).

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”.(Terjemah QS. As-Shaffat (37):139-144).

Sakit, mala petaka, kekurangan rezeki dan yang semacamnya sejatinya adalah cobaan dari Allah swt untuk mengetahui seberapa besar sabar dan syukur yang dimiliki seorang hamba.

Dari contoh kisah di atas dapat kita lihat pertolongan Allah swt datang bukan hanya karena mereka adalah para nabi, melainkan juga karena kesabaran dan taubat yang mereka lakukan. Demikian pula kita sebagai manusia biasa. Sakit dll bukanlah siksaan melainkan juga berkah sebagaimana kesehatan yang baik dan rezeki berlimpah yang digunakan untuk mentaati-Nya.

Kisah Tsa’labah seorang yang awalnya hidup dalam kemiskinan adalah sebuah contoh nyata yang harus selalu kita ingat. Suatu hari Tsa’labah yang sudah bosan hidup dalam keadaan miskin memohon agar Rasulullah mau mendoakannya menjadi orang kaya. Rasulullah mulanya menolak. Namun karena Tsa’labah terus merengek akhirnya Rasulullahpun mengabulkannya seraya memberinya modal 2 ekor kambing untuk modal awal.

Dalam waktu singkat kambing Tsa’labahpun terus berkembang-biak hingga ia harus pindah ke luar Madinah untuk mencari lahan yang luas. Akibatnya Tsa’labah yang tadinya rajin shalat 5 waktu di masjid Nabawi bersama Rasulullah dan para sahabat mulai jarang melakukannya. Puncaknya ia menolak membayar zakat yang kini menjadi wajib baginya. Ia bahkan marah-marah dan menuduh petugas zakat yang tak lain adalah para sahabat dengan tuduhan ingin memerasnya.

Tentu saja Rasulullah sangat kecewa melihat prilaku buruk Tsa’labah. Beliau adukan hal tersebut kepada Sang Pemilik. Tak lama Tsa’labah menyadari kesalahannya dan memohon agar Rasulullah mau menerima zakatnya. Namun Rasulullah menolaknya juga khalifah Abu Bakar dan Umar sepeninggal Rasulullah. Akhirnya Tsa’labah wafat dalam keadaan menyesal seumur hidup dan kambingnyapun semua mati bersamanya. Tidak ada keberkahan dalam seluruh harta dan kekayaan yang dimiliki dan diimpikannya  Na’udzubillah min dzalik.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.”

Dengan kata lain berkah adalah segala hal yang mampu membuat kita dekat kepada Sang Khalik. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang digunakan di jalan Allah, untuk membantu anak-anak yatim piatu, orang miskin dll. Kalaupun rezeki hendak digunakan untuk berjalan-jalan ke luar negri misalnya, selama hal tersebut dapat membuat kita lebih bersyukur, mengagumi ciptaan-Nya, lebih mengenal sifat-sifat-Nya serta membuat kita lebih takwa yaitu dengan menjauhi larangan dan mengerjakan perintah-Nya, itulah berkah.

Begitu pula sakit dan sehat. Berkah itu tidak selalu sehat dan panjang umur. Ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya, layaknya sahabat Mus’ab bin Umair dkk yang gugur syahid di medan jihad.

Tanah yang berkah itu bukan yang panoramanya indah. Makkah dimana Ka’bah berada di dalamnya, adalah contohnya. Tanah tersebut memang tandus tapi keutamaannya dihadapan Allah tidak tertandingi tanah manapun.

Makanan yang berkah bukan yang komposisi gizinya lengkap melainkan makanan yang mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah mengkonsumsinya. Demikian pula ilmu. Ilmu yg berkah itu bukan yg banyak riwayat dan catatan kakinya, melainkan yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya beramal dan berjuang untuk agama Allah

Istri yang cantik, suami yang gagah dan sukses, anak-anak yang lucu, pintar bahkan bergelar S2 atau S3 ketika dewasa bukanlah berkah bila tidak mau mentaati Rabb yang telah menciptakan mereka.  Sama halnya dengan jabatan. Jabatan yang tidak membuat seseorang menjadi dekat pada-Nya adalah bukan berkah melainkan petaka.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Terjemah QS. Al A’rof(7):96).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kita berbagai keberkahan. Amin Yaa Mujibbas Saailin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juni 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah adalah sahabat dari golongan Al-Sabiqun Al-Awwalun‎ (orang-orang terdahulu yang pertama kali memeluk Islam) dari kaum Muhajirin. Keduanya berasal dari keluarga terpandang Quraisy, yang sampai akhir hayatnya tetap dikenal sebagai orang kaya raya berkat bakat dagang yang dikaruniakan Allah swt. Mereka adalah Pebisnis sukses, kata orang zaman sekarang.

Abdurrahman dan Thalhah dilahirkan dan tumbuh di lingkungan kota Mekah pada masa kejahiliyahan meraja lela. Pada saat itu penyembahan berhala, kebiasaan minum khamar, perzinahan, para perempuan mengumbar aurat, anak perempuan dikubur hidup-hidup, mengundi nasib, sistim riba, balas dendam dll adalah sesuatu yang biasa.

Namun pada saat datangnya Islam, Allah swt memudahkan Abdurrahman dan saudara-saudaranya untuk bersegera menjadi pengikut setia Rasulullah saw. Usia Abdurrahman ketika itu 30 tahun. Itu semua berkat ajakan Abu Bakar Siddiq, sahabat nabi sejak kecil yang langsung beriman begitu nabi memberitahukan Kerasulannya. Abu Bakar ketika itu memang dikenal sebagai orang sukses, kaya raya, didengar dan dipercaya baik karena akhlak maupun kejujurannya dalam berdagang.

Demikian pula Thalhah yang ketika itu baru berusia 16 tahun. Ia memeluk Islam berkat Abu Bakar. Namun sebelumnya ia pernah mendengar berita tentang datangnya seorang nabi baru.  Ketika itu ia sedang di Syam mengikuti kafilah dagang. Tiba-tiba seorang rahib mendatangi kafilahnya dan menanyakan apakah mereka sudah mendengar berita kedatangan seorang nabi dari semenanjung Arabia. Nabi tersebut bernama Ahmad. Sang rahib menyarankan agar mereka segera mengikutinya. Itu sebabnya begitu Thalhah kembali ke negrinya ia langsung mendatangi Abu Bakar untuk menanyakan hal tersebut.

Maka sejak itu, baik Abdurrahman maupun Thalhah, bersama sahabat yang waktu itu baru berjumlah 40 orang selalu mengikuti majlis nabi, mulai dari Al-Arqam yang merupakan majlis pertama umat Islam, hingga wafatnya Rasulullah di Madinah. Keduanya juga tercatat tidak pernah ketinggalan dalam berbagai perang baik selama hidup Rasulullah maupun setelahnya.

Seperti juga rata-rata sahabat, Abdurrahman dan Thalhah dikenal sebagai orang yang tawadhu. Meski mereka kaya raya dan sibuk dengan perniagaan, rasa takut, harap dan cinta kepada Sang Khalik tetap tertanam kuat di dalam hati sanubari mereka. Mereka menginfakkan sebagian besar kekayaan mereka untuk membebaskan budak dan berbagai kebutuhan umat demi kemajuan Islam. Tak heran bila Rasulullah menyebut kedua sahabat tersebut sebagai 2 dari 10 sahabat nabi yang telah dijanjikan surga.

Paska wafatnya Rasulullah Abdurrahman bahkan pernah menduduki posisi tinggi sebagai calon khalifah menggantikan Umar bin Khattab yang terbunuh. Namun ia menarik diri demi memberi kesempatan Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk bertarung. Sementara Thalhah yang mempunyai julukan Perisai Rasulullah berkat sepak terjangnya dalam melindungi Rasulullah dalam perang Uhud hingga harus menerima 70 tusukan tombak di lengannya, merupakan satu dari penasehat khalifah. Thalhah wafat sebagai mujahidin dalam perang Jamal yang sarat muatan politik.

Namun kisah menarik yang akan dipaparkan di bawah ini adalah kisah perselisihan antara keduanya yang sangat patut kita jadikan keteladanan. Alkisah Abdurrahman dan Thalhah mempunyai sebidang tanah yang letaknya bersebelahan. Suatu hari Abdurrahman bermaksud mengairi tanahnya lewat tanah Thalhah. Tapi oleh suatu sebab Thalhah tidak mengizinkannya. Abdurrahmanpun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Namun apa jawaban Rasulullah ?

“Bersabarlah, Thalhah adalah seseorang yang telah wajib baginya surga”.  

Abdurahmanpun menahan diri. Ia lalu mendatangi Thalhah dan mengabarkan apa yang disampaikan Rasulullah.

“Wahai saudaraku, apakah harta ini sampai membuatmu mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?!?”, tanya Thalhah.

“Tadinya memang begitu”, jawab Abdurahman tersipu.

“Aku bersaksi kepada Allah, dan kepada Rasullulah  bahwa harta itu menjadi milikmu wahai saudaraku”, seru Thalhah kemudian.

Masya Allah …  Padahal Abdurrahman ketika itu sedang kesal. Tapi dengan besar hati ia tetap menyampaikan berita gembira bagi orang yang telah membuatnya kesal. Sementara Thalhah begitu menerima kabar gembira langsung menghadiahkan tanah yang sebelumnya untuk dilewati airnya saja tidak rela.  Begitulah sahabat mengakhiri perselisihan, alangkah indahnya …

Dari kisah diatas dapat disimpulkan :

  • Pengikut awal Rasulullah bukan melulu orang-orang lemah, miskin dan tertindas, seperti yang selama ini digembar-gemborkan.
  • Untuk menjadi ahli surga tidak cukup hanya sebagai ahli ibadah. Ke 10 sahabat yang dijanjikan surga dalam hadist, selain ahli ibadah mereka sangat peduli kepada nasib dan masa depan umat Islam. Termasuk dalam hal kepemimpinan, untuk memilih maupun dipilih. Dengan penuh ikhlas mereka mempertaruhkan jiwa dan harta mereka.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.( Terjemah QS. At-Taubah (9):100).

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Untuk diingat, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali adalah khalifah terbaik sepanjang sejarah dunia.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 15 April 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Bagai Buih Di Lautan.

Dalam hadis Sahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah meminta Hassan bin Tsabit untuk membuat syair membalas syair orang musyrik yang menyerang nabi, bahkan nabi mendoakan agar jibril membantu Hassan bin Tsabit, ‎Rasulullah berkata,

“Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Jibril!”.

Itulah yang terjadi hari ini. Umat Muslim berbondong-bondong membuat puisi umtuk membalas puisi yang dibuat Sukmawati, putri presiden RI pertama Soekarno, yang juga adik Megawati presiden ke 4 republik ini. Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ itu dibuat dan dibacakan oleh Sukmawati dalam acara Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Jakarta. Melalui puisinya ketua PNI Marhaenisme ini mengatakan bahwa ia tidak tahu apa itu syariat Islam, konde lebih indah dari cadar dan kidung lebih merdu dari pada azan.

Sudah barang tentu puisi provokatif tersebut memancing emosi sebagian besar umat Islam di bumi pertiwi ini. Tidak hanya mereka yang biasa menulis puisi yang membalas puisi tak etis tersebut tapi juga uztad Felix Siauw dan beberapa uztad lain.

http://www.riau24.com/berita/baca/87355-ini-balasan-puisi-ibu-indonesia-sukmawati-soekarno-putri-oleh-ustaz-felix-siauw/

Islam di negri tercinta, terutama sejak adanya kasus Ahok di Pulau Seribu tahun 2016 lalu, terus saja diobok-obok. Segala macam cara terus diupayakan untuk mengolok-olok dan memojokkan ajaran yang dibawa rasulullah Muhammad saw 14 abad silam tersebut. Ironisnya, perbuatan fitnah tersebut tidak hanya dilakukan oleh musuh-musuh Islam namun juga oleh mereka yang mengaku Muslim.

Islamophobia yang selama ini menyerang dunia Barat rupanya juga telah berhasil menyerang Muslim di negri kita tercinta Indonesia. Mereka yang kurang kuat aqidah tampaknya adalah korban yang paling rentan. Isu Arabisasi dengan mudah masuk ke kepala mereka. Segala yang dianggap kearab-arab-an mereka kecam dan hina.

Kata-kata Arab seperti “akhi”, “ukhti”, “ umi”, “abah”, “syukron, “jazakillah” dll bagi mereka tidak pantas di ucapkan di negri ini. Sementara “ dear”, “sis”, “bro”, “mama”, “papa”, “thank you” dll, adalah kata yang amat sangat pantas diucapkan. Demikian juga celana jins, rok dan baju mini yang mereka anggap lebih Indonesia dari pada gamis. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana ajaran Islam mana adat Arab. Termasuk dalam hal menutup aurat yang merupakan perintah Sang Khalik.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):59).

Di UIN Yogyakarta, dengan alasan radikalisme, berwacana melarang cadar di lingkungan kampus. Padahal seperti apa yang dikatakan wakil ketua umum MUI Zainul Tauhid, radikalisme tidak bisa diukur hanya melalui simbol-simbol, seperti cadar, celana cingkrang (isybal), jenggot dll. Perbedaan pendapat dalam Islam adalah hal yang wajar, harus diterima bahkan disyukuri, selama masih dalam koridor aqidah yang lurus. Membesar-besarkan perbedaan yang tidak mendasar justru akan menimbulkan perpecahan yang pasti akan merugikan umat Islam sendiri.

https://www.liputan6.com/news/read/3356821/mui-minta-larangan-cadar-di-uin-yogya-tak-pecah-belah-umat-islam

Dari Ibnu Umar, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Lucunya lagi ketika beredar foto seorang Muslimah bercadar memeluk anjing, ntah siapa awalnya yang mengedarkan foto tersebut, pujianpun keluar berhamburan. Disiarkan, secara berulang-ulang, bahwa Muslimah tersebut berhati mulia karena mau menolong dan merawat anjing gelandangan, tak tanggung-tanggung, 11 ekor pula. Meski ternyata salah satu anjing tersebut adalah jenis Siberian Husky yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tak salah bila kemudian banyak yang berpendapat bahwa hal itu adalah rekayasa untuk mendiskreditkan Islam.

Umat Islam apalagi bila ia telah berani bercadar, pasti tahu bahwa ludah anjing adalah najis yang memerlukan ritual khusus untuk menghilangkannya sebelum seseorang yang terkena mengerjakan shalat. Adalah tugas kaum Muslimin untuk mengingatkan saudarinya yang khilaf bukan malah menjerumuskannya dengan memuji-mujinya.

Dari Ibnu Umar: “Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berburu dan bertani, akan dikurangi dari pahalanya tiap hari sebanyak dua qirath. (HR. Muslim).

Sementara ketika jamaah Kristiani bernyanyi bersama di gereja dengan jilbab panjang menutup hingga dada, tak ada satupun komentar muncul sebagai bagian dari Arabisasi. Jilbab, sejatinya memang bukan hanya ajaran Islam, tapi juga Kristen dan Yahudi. Namun selama ini yang taat memakainya hanya para biarawati. Ntah sejak kapan yang bukan biarawatipun kini mengenakannya.

Yang pasti penghinaan terhadap simbol-simbol Islam belakangan ini, tanpa mengindahkan nilai-nilai agama, moral dan tolerasi, atas dasar hak asasi seakan mendapat legitimasi dari penguasa. Laporan ke pihak kepolisian jika merugikan umat Islam tidak ditanggapi serius. Dengan dalih rasululah adalah seorang yang pemaaf, umat Islam dituntut untuk selalu memaafkan mereka yang telah seenaknya menghina dan mengolok-olok Islam dan syariatnya.

Padahal rasulullah amat sangat pemaaf ketika beliau pribadi yang diserang dan diolok-olok, tidak ketika ajaran Islam dipermainkan. Tentu kita tidak lupa bagaimana murkanya rasulullah ketika mendapat kabar bahwa surat yang dikirimkan beliau kepada raja Kisra dirobek-robek, hingga rasulullah berdoa dan memohon kepada Allah swt agar raja Persia tersebut dilaknat-Nya.

Juga ketika mengetahui seorang Muslimah dipermalukan oleh orang-orang Yahudi Qainuqa hingga mengakibatkan pertengkaran dan syahidnya seorang sahabat karena membela saudarinya. Maka sebagai kelanjutannya rasulullahpun memerintahkan bani Yahudi tersebut untuk hengkang dari kota Madinah, untuk selamanya.

Sukmawati memang akhirnya meminta maaf. Namun hukum harus tetap ditegakkan sebagai peringatan agar orang tidak seenaknya melecehkan ajaran agama. Permintaan maaf dan penyesalannya tentu dapat dijadikan peringan kesalahannya.

“Dan apabila kamu memanggil untuk shalat ( adzan), mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):58).

Apa yang terjadi hari ini sebenarnya buah dari tidak tegas dan tebang pilihnya pemberlakuan hukum. Tengok apa yang dilakukan Ade Armando, dedengkot JIL yang juga dosen UI, yang sudah sering dilaporkan atas tindakannya yang sering menyakitkan hati umat Islam. Merasa dirinya kebal hukum, dengan santainya ia mengomentari puisi kontroversial Sukmawati,

Azan tidak suci. Azan itu cuma panggilan untuk sholat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah…“, cuitnya melalui Twitter.

http://yesmuslim.blogspot.co.id/2018/04/dosen-komunikasi-ui-ade-armando-azan.html

Simak pula penggalan puisi karya Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dibacakan Gubernur Jawa Tengah dari partai PDIP Ganjar Pranowo pada sebuah acara sebagai berikut : Kau ini bagaimana. Kau bilang Tuhan sangat dekat. Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.

https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2018/04/07/puisi-ganjar-pranowo-singgung-azan-netizen-ramai-ramai-protes/

Bila hal seperti ini terus dibiarkan ntah apa yang akan terjadi terhadap nasib ke-Islam-an anak cucu kita di kemudian hari nanti. Prof Dr Yusril Mahendra dalam sebuah khutbahnya mengingatkan bahwa sejak berkuasanya rezim ini banyak ritual Islam yang telah dihilangan, diantaranya adalah peringatan Nuzulul Quran dan Isra Miraj. Padahal sejak pemerintahan Soekarno, Soeharto hingga SBY Nuzulul Quran selalu diperingati di Istana Negara, sedangkan Isra Miraj di Mesjid Istiqlal. Kedua acara tersebut dihadiri presiden dan sejumah duta- besar  negara sahabat.

Demikian juga dengan tradisi menabuh beduk di Monas pada malam Idul Fitri atau Idul Adha yang telah dihapuskan sejak Ahok menjabat sebagai gubernur DKI.

Dengan itu Yusril mengingatkan bahwa memang ada rencana secara sistimatis untuk melemahkan peran Islam dibumi Indonesia, setahap demi setahap, tanpa ada yang menyadari apalagi mempersoalkannya.

Ini masih ditambah dengan prilaku menyimpang homoseksual sebagian masyarakat yang katanya mayoritas Islam, yang makin merajalela.  UU warisan kolonial Belanda memang tidak mengatur hal tersebut secara tegas. Namun kini ketika ada wakil rakyat yang masih memiliki nurani bermaksud mengajukan ruu untuk menyikapi fenomena biadab tersebut, ternyata ada yang tidak suka. Na’udzubillah min dzalik.

Sungguh apa yang dikatakan rasulullah bahwa di akhir zaman nanti kaum Muslimin hanya seperti buih mulai memperlihatkan kebenarannya. Ini saatnya kita harus bangkit dan berjuang melawan kedzaliman. Jangan biarkan kita atau keluarga kita adalah buih tersebut. Buih yang bukan hanya tidak bermanfaat tapi bahkan merusak!

buih-di-lautanRasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 April 2018.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Zuhud

Zuhud secara bahasa adalah lawan dari kata gemar. Gemar merupakan suatu bentuk keinginan. Sedangkan zuhud adalah hilangnya keinginan terhadap sesuatu, baik disertai kebencian ataupun hanya sekedar hilang keinginan. Dengan kata lain zuhud adalah keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian, mengosongkan diri dari kesenangan dunia demi menjalankan ibadah.

Maka tak heran bila dalam keseharian kita mendengar adanya seorang sufi ( orang yang menjalani kehidupan zuhud) yang pergi berkelana meninggalkan keluarganya, pekerjaannya, tanpa berbekal apapun, demi mendekatkan diri kepada Tuhannya. Jadi zuhud adalah berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan meskipun halal, dengan jalan berpuasa dalam segala hal, yang kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama.

Banyak pendapat mengatakan bahwa zuhud adalah pengaruh ajaran Budha dengan faham nirwananya bahwa untuk mencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Juga ajaran Hindu dan Kristen dengan rahib-rahibnya yang tidak boleh menikah.

Pertanyaannya benarkah Islam mengajarkan hal tersebut, dan mengadopsinya dari ajaran-ajaran lain?

Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi mengatakan, bahwa pengertian zuhud yang paling sempurna dan paling tepat adalah pengertian yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Menurut ulama kenamaan asal Turki tersebut, zuhud yang disyari’atkan ialah meninggalkan rasa gemar terhadap apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Yaitu terhadap perkara mubah yang berlebih dan tidak dapat digunakan untuk membantu berbuat ketaatan kepada Allah, disertai sikap percaya sepenuhnya terhadap apa yang ada di sisi Allah.

Mari kita mulai dari Imam al-Ghazali, satu-satunya ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah, yang namanya tak asing dalam dunia filsafat dan tasawuf. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali lahir di kota Thusi, Khurasan, Persia (Iran) pada tahun 1058 M / 450 H. Ketika masih kecil, ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin kain shuf ( kain dari kulit domba) telah mempercayakan pendidikan al-Ghazali dan adiknya kepada seorang ahli tasawuf yang dikaguminya. Ketika itu ilmu tasawuf memang sedang naik daun. Kondisi kerajaan yang amburadul dimana korupsi merajalela, ekonomi yang terpuruk serta moral masyarakat yang rendah, tampaknya adalah pemicunya.

Aliran-aliran zuhud yang muncul pada abad I dan II H sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar negara adalah akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Siria, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Orang melihat perbedaan besar antara hidup sederhana dari Rasul serta para sahabat.

Berbekal akhlak mulia yang  ditanamkan kedua orang-tuanya, Ghazali dengan cepat menyerap ilmu yang diberikan gurunya. Sejak kecil Ghazali tidak hanya tidak suka tapi benci kepada segala sifat buruk seperti riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela lainnya. Ia sangat kuat beribadat, wara’ dan zuhud. Dan itu semua ia lakukan demi mendapat ridha Allah SWT.

Keingin-tahuan dan kecintaannya yang begitu tinggi terhadap ilmu pengetahuan membuat Ghazali tidak cukup puas dengan 1 guru. Ia terus mengembara ke berbagai kota dan negara untuk menimba ilmu. Pada usia tiga puluhan tahun Imam Ghazali mendapat tawaran mengajar di Madrasah An-Nidzamiyah, madrasah terkenal di Baghdad Irak, hingga mencapai kedudukan yang sangat tinggi. Melalui madrasah inilah nama Imam Ghazali melambung tinggi mengharum.

Sayang kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih dan ushul, terutama ilmu filsafat kurang dibarengi dengan pengetahuan tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah saw yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Namun Allah swt berkenan memberi hidayah dan petunjuk-Nya hingga diam-diam ia merasa kurang yakin dan puas terhadap ilmu yang dimilikinya. Al-Ghazali merasa ada sesuatu yang berlebihan dan sangat berpotensi merusak akidah. Kala itu memang banyak orang yang tenggelam dalam dunia kesufian dan meninggalkan syariat.

Akhirnya pada tahun 488 H Imam Ghazali memutuskan untuk meninggalkan jabatan tingginya selaku direktur sekolah-sekolah Nizamiyah seluruh Baghdad, demi menjalani hidup zuhud, membersihkan jiwa dari segala kekotoran dan nafsu dunawi yang membelenggu.

Pada tahun itu juga ia pergi menunaikan haji ke Mekah, ziarah ke Madinah lalu berkhalwat di Masjid Baitul Maqdis Yerusalem selama beberapa waktu. Setelah itu Imam Ghazali pergi ke Damaskus dan tinggal di kota tersebut. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di pojok masjid Jami’ Umawi yang sekarang dikenal dengan nama Al-Ghazaliyah. Disanalah ia menulis kitab Ihya Ulumuddin yang fenomenal dan menjadi rujukan banyak orang. Ia berhasil meletakkan kembali posisi tasawuf ke tempat yang benar menurut syari’at Islam, membersihkannya dari pengaruh faham-faham asing yang masuk mengotori kemurnian ajaran Islam. Untuk itulah tampaknya Imam Al-Ghazali mendapat gelar Hujjatul Islam.

Imam Adz Dzahabi berkata, “Pada akhir kehidupannya, Al-Ghazali tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Setelah mengarungi lautan hidup yang luas, menyelami ilmu yang sangat dalam sekaligus mengamalkannya, maka pada tahun 1111 M ( 505 H ), Imam Al-Ghazali berpulang ke rahmatullah di kampung kelahirannya, Thusi. Ia wafat dalam usia relatif muda, yaitu sekitar 52-53 tahun.

Imam Al-Ghazali benar, zuhud telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah dan para sahabat sejak awal Islam. Namun bukan zuhud yang menjauhkan dari kehidupan dunia dan menafikannya. Karena dunia adalah ladang dimana kita bertanam yang hasilnya   akan kita petik tidak hanya di akhirat nanti saja, tapi juga di dunia ini.

“Bukanlah orang yang paling baik daripadamu itu yang meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya karena dunianya, sebab dunia itu penyampaian kepada akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia”.

Hadits yang memberitakan hal tersebut tidak terhitung banyaknya. “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”, “Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis”, “Mukmin yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah”, “Allah swt menyukai mukmin yang kuat bekerja.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Terjemah QS. Al-Qashash (28:77).

Rasulullah memang pernah berkhalwat di gua Hira selama beberapa waktu. Hal tersebut beliau lakukan karena keprihatinan yang mendalam terhadap situasi penduduk Mekah yang senantiasa bergelimang dalam kejahilan. Tapi hal tersebut terjadi sebelum Islam datang. Sayangnya inilah yang sering dijadikan pegangan para penggemar sufisme.

Adalah Abdullah, seorang sahabat Nabi yang dikenal sangat saleh. Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah. Dia biasa menghatamkan al-Quran setiap hari dan melewati hari-hari dengan berpuasa dan bangun untuk shalat malam. Ternyata Rasulullah menegur perbuatan yang tampaknya baik tersebut.

Jika kamu terus melakukan kebiasaan ini, tubuhmu akan semakin lemah dan pandangan mata-mu akan semakin pudar. Tubuh kita memiliki hak-hak yang harus kita penuhi.”

Juga kisah seorang istri sahabat yang mengadukan prilaku suaminya yang terus menerus beribadah siang dan malam. Namun ternyata Rasulullah melarangnya karena istri punya hak atas dirinya.

Sebaliknya Rasulullah tidak pernah mau menimbun uang dan harta di dalam rumah beliau saw. Suatu hari ketika Rasulullah sedang menjelang sakratul maut bertanya,

Wahai Aisyah, dimana uang yang pernah kutitipkan padamu?” Bagi-bagikan uang itu di jalan Allah. Karena Muhammad malu bertemu Allah Sang Kekasih, sedangkan dirumahnya masih ada timbunan uang”.

Pada kisah lain, suatu hari Umar bin Khattab mendapati Rasulullah terbangun dari tidurnya dengan guratan bekas tikar di pipinya. Umar menangis meihatnya dan berkata, “ Para raja dan kaisar hidup bergelimang harta dan kemewahan di istana yang megah. Tidakkah engkau sebagai manusia pilihan Allah dapat meminta kepada Allah agar bisa hidup berkecukupan?”.

Namun apa jawab Rasulullah, “Tidakkah engkau lebih senang wahai Umar, jika kita memperoleh kebahagiaan akhirat, sedangkan mereka (para raja dan kaisar) hanya memperoleh kenikmatan dunia?”

Tak heran bila para sahabatpun mencontoh sikap zuhud Rasulullah. Salah satunya yaitu ketika Umar bin Khattab datang memenuhi permintaan uskup Yerusalem untuk menerima kunci kota yang baru ditaklukan pasukan Muslim. Uskup dan rakyat kota tersebut terkejut mendapati Umar sebagai khalifah, sekaligus panglima tertinggi Islam datang sendirian dengan kudanya, tanpa pengawalan khusus, dan hanya dengan pakaian yang amat sangat sederhana.

Demikian pula Abu Bakar ash-Siddiq yang kaya raya tapi terkenal sangat dermawan. Dengan hartanya Abu Bakar membebaskan puluhan budak yang disiksa tuannya hanya karena memeluk Islam. Juga Abdurrahman ibn Auf, seorang sahabat yang dikenal amat lihai berbisnis, di tangannya batu menjadi emas. Ataupun Ustman bin Affan yang rela membeli sumber air dengan harga yang sangat tinggi demi kepentingan umat Islam.

Para sahabat sangat paham bahwa harta dan kekayaan hanyalah titipan, yang pada waktunya harus dipertanggung-jawabkan penggunaannya bahkan setiap sennya.Harta ibaratnya adalah beban berat bagi yang tidak sanggup menanggungnya.

Manusia adalah mahluk sosial yang harus saling menolong dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu manusia harus berusaha dan bekerja. Harta dan kekayaan diperlukan, bukan untuk ditimbun atau digunakan oleh diri sendiri, keluarga atau kelompoknya. Harta dan kekayaan bukan untuk disombongkan dan di banggakan, seperti juga ketiadaan dan hilangnya kemewahan bukan hal yang patut disedihkan dan disesali secara berlebihan.

Jika diperhatikan khalwatnya Rasulullah dan cara hidup sufisme di masa hidup Imam Al-Ghazalil memiliki kesamaan, yaitu keprihatinan terhadap masyarakat yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan bergelimang maksiat. Persis seperti yang kita hadapi saat ini. Namun Rasulullah tidak mencontohkan hanya berkhalwat, sekedar mengasingkan diri serta membersihkan hati dari kotoran dan dosa.

Melalui Islam Rasulullah mengajarkan kita untuk berjuang melawan keadaan agar dapat keluar dari keterpurukan, agar tercapai masyarakat yang hidup teratur, aman, damai dan sejahtera, dibawah aturan Allah swt. Itu sebabnya secara tegas Islam mengajarkan bagaimana memilih pemimpin. Karena bagaimanapun pemimpin adalah kunci sukses sebuah negara. Jadi dengan dalih apapun, sungguh tidak benar seorang Muslim tidak peduli politik, atau apapun namanya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Menjadi zuhud bukan berarti menjadi orang miskin yang hanya berdiam diri di masjid dan berzikir, meninggalkan keluarga, tanpa mempunyai pekerjaan dan hanya menggantungkan diri pada pemberian orang lain. Sufi yang baik adalah mereka yang tidak saja senantiasa berzikir siang maupun malam, pandai menjaga kesucian hatinya dari segala penyakit hati, serta banyak melakukan amal ibadah demi mencari ridho-Nya. Namun mereka juga berharta, dengan cara halal tentunya, hingga mampu menginfakkan hartanya di jalan Allah dan selalu siap membantu saudaranya yang kesulitan, syukur-syukur bisa membantu membangun ekonomi rakyat. Itulah sufi sejati.

Ada sebuah kisah menarik tentang seorang khadi Muslim kaya raya yang menaiki kudanya dengan dikawal rombongan pengawal. Di tengah jalan ia berpapasan dengan seorang Yahudi miskin. Si Yahudi menegurnya ”Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda, ‘Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir’. Engkau adalah hakim Agung Mesir. Engkau dengan rombongan pengawal seperti ini, penuh dengan kenikmatan, sementara aku di dalam penderitaan dan kesengsaraan.”

Sang khadi yang tak lain adalah Ibnu Hajr menjawab, “Aku dengan nikmat dan kemewahan yang aku rasakan ini dibandingkan dengan kenikmatan di surga adalah penjara. Adapun engkau dengan kesengsaraan yang engkau rasakan, dibandingkan dengan adzab yang akan engkau rasakan di neraka adalah surga.” … Masya Allah …

Tetapi yang lebih penting lagi, zuhud yang diajarkan Rasulullah tidak sampai hingga tingkatan Wihdatul Wujud seperti yang diajarkan Al Hallaj dan Ibn Arabi. Secara ringkas Wihdatul Wujud adalah bentuk penggambaran bahwa manusia dan Tuhan adalah bersatu, hingga pada tingkatan tertentu mencapai kesucian dan tidak perlu lagi melakukan shalat! Na’udzubillah min dzalik …

Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam karena jelas mengandung kesyirikan. Dan syirik merupakan dosa terbesar yang tidak dapat diampuni kecuali mau bertobat.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.( Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“.( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. “.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):29).

Ayat 29 surat Al-Hijr sering dijadikan kaum sufi sebagaimana pembenaran Wihdatul Wujud. Namun Rasulullah saw sendiri tidak pernah mengatakan hal yang demikian. Oleh sebab itu biarlah hal tersebut menjadi rahasia-Nya.Tugas kita sebagai hamba hanyalah menyembah-Nya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Bukankah Rasulullah yang sudah dijamin masuk surgapun selalu melakukan tidak saja shalat yang 5 waktu, namun juga shalat-shalat Sunnah lain seperti Tahajud hingga bengkak kaki beliau.

Jadi sungguh jasa Al-Ghazali dalam mengembalikan tasawuf pada jalan aslinya sangatlah besar. Ia telah berhasil membawa perubahan besar pada zamannya. Ia bersiteguh bahwa seorang yang ingin terjun dalam dunia kesufian harus terlebih dahulu menguasai ilmu syariat. Menurutnya tidak seharusnya antara syariat dan tasawuf terjadi pertentangan karena kedua ilmu ini saling melengkapi.

Masih menurutnya, ruh, hati atau jiwa bersifat Ilahiyah, sehingga cenderung pada kesucian, kebersihan, kebaikan atau kebenaran. Tetapi apabila ruh kalah dengan jasad maka yang terjadi adalah gangguan dalam kehidupan pribadinya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Maret 2018.

Vien AM.

Sumber:

https://elmisbah.wordpress.com/tasawuf-imam-ghazali/

https://almanhaj.or.id/2781-zuhud-yang-banyak-disalah-pahami.html

Read Full Post »

Kedatangan raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz al-Saud, Sang Penjaga Dua Kota Suci ( Khadimul Haramain) pada hari Selasa, 1 Maret 2017, disambut meriah oleh berbagai pihak. Ini adalah kunjungan pertama setelah 47 tahun silam almarhum raja Abdullah bin Abdul Aziz mengunjungi Indonesia. Padahal selama kurun waktu tersebut presiden kita seperti Gus Dur, SBY dan Megawati telah berkunjung ke Arab Saudi. Terakhir adalah Jokowi yaitu pada September 2015.

Kunjungan kepala negara produsen minyak terbesar di dunia tersebut bagaikan oasis di padang pasir bagi sebagian besar umat Islam yang sejak beberapa bulan belakangan ini terasa terpinggirkan. Kasus penistaan agama yang berlarut-larut, menyebabkan perpecahan baik di antara umat Islam sendiri maupun dengan umat agama lain, bahkan merambat hingga ke sentiment anti Arab. Olok-olok “ sok Arab”, “ onta”, “pindah saja ke Arab” dll menjadi hal biasa di medsos. Belum lagi ulama-ulama MUI dan GNPF-MUI yang terus dicari-cari kesalahannya oleh pihak kepolisian.

( Kabar terakhir menurut ustad Bahtiar Nasir, kapolri telah menemui beliau dan menyatakan bahwa kasus beliau akan segera ditutup dan tidak akan diperpanjang. Hhmm  … semoga saja benar, Alhamdulillah … )

https://www.kaskus.co.id/thread/586a3b6d5c779832138b4568/dituduh-bantu-teroris-di-suriah-lembaga-kemanusiaan-turki-siapkan-gugatan-ke-indo/

Kedatangan raja beserta rombongan besar, dengan membawa sendiri kendaraan canggih lengkap dengan segala perlengkapannya, apalagi dengan membawa dana pinjaman yang jumlahnya sangat besar, tanpa bunga dan tanpa tenaga kerja seperti yang apa yang dilakukan RRC, sungguh membuat hati ini terhibur.  Seolah ini adalah jawaban permohonan jutaan kaum Muslimin pada aksi bela Islam 411, 212 dan 112 dari Sang Khalik.

Siapa yang berjalan untuk  membantu saudaranya sesama muslim maka Allah akan menuliskan baginya suatu  kebaikan dari tiap langkah kakinya sampai dia pulang dari menolong orang  tersebut. Jika dia telah selesai dari menolong saudaranya tersebut, maka dia  telah keluar dari segala dosa-dosanya bagaikan dia dilahirkan oleh ibunya, dan  jika dia ditimpa kecelakaan (akibat menolong orang tersebut) maka dia akan  dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab ”  (HR. Abu Ya’la ).

Seperti kita ketahui hubungan pemerintahan RRC dengan Indonesia di era Jokowi saat ini sedang berada di puncaknya.  Termasuk pinjaman hutang yang nilainya fantastis. Celakanya lagi, pinjaman tersebut juga mencakup tenaga kerja buruh dari daratan Tiongkok sana. Padahal pengangguran di negri ini semakin hari semakin menumpuk.

https://ekbis.sindonews.com/read/1005965/33/china-sebut-kerja-sama-era-jokowi-terbaik-1432716916

http://www.konfrontasi.com/content/global/utang-era-jokowi-dan-utang-raksasa-china

http://www.dakwatuna.com/2015/09/02/73984/buruh-cina-di-era-jokowi-dan-keresahan-masyarakat/#axzz4aE7UMz58

Bahkan kasus penistaan agama yang berlarut-larut itupun kabarnya ada indikasi campur tangan 9 naga/taipan cina yang mempunyai kepentingan agar proyek reklamasi berjalan lancar. Maka tak heran jalan apapun ditempuh demi terpilihnya si petahana sekaligus penista yang telah berstatus tersangka itu.

https://www.nahimunkar.com/inilah-trio-mata-sipit-biang-kerok-kongkalikong-reklamasi-teluk-jakarta-ahok-aguan-dan-trihatma/

http://www.mediabangsaku.com/2017/03/raja-salman-datang-ke-indonesia.html

Sayangnya, pada acara penyambutan raja Salman yang sangat dielu-elukan itu, Jokowi tetap mengajak orang yang telah membuat heboh negri ini. Meski memang posisinya yang masih aktif sebagai gubernur DKI memungkinkan hal tersebut. Tapi juga jangan lupa adanya Undang-Undang ( Pemda) pasal 83 ayat 1 tentang seorang pejabat dengan status tersangka harus di non aktifkan secara sementara.

Keberpihakan pemerintah terhadap orang-orang yang memusuhi Islam memang tidak dapat disembunyikan. Selain Ahok, Jokowi juga memberi kesempatan khusus  ketua umum PDIP Megawati dan putrinya, Puan Maharani yang kebetulan menjabat sebagai menko, untuk bertemu langsung dengan raja Salman. Tanpa sedikitpun merasa risih, mantan presiden RI ini menemui sang  Khadimul Haramain tanpa menutup auratnya. Padahal bahkan ratu Elizabeth dari Inggris yang notabene non Muslim saja menutupnya ketika berhadapan dengan raja Arab Saudi.

Megawati selama ini dikenal sangat memusuhi Islam dan segala yang berbau Arab. Pada pidato terakhir di acara ulang tahun partai yang dipimpinnya ia bahkan melontarkan pernyataan yang berbau komunisme yaitu mempertanyakan adanya kehidupan akhirat yang merupakan ruh semua agama.

Para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan diri mereka sebagai pembawa ‘self full filling prophecy’, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan apa yang pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, padahal notabene mereka sendiri tentu belum pernah melihatnya’.

Selanjutnya, pada acara temu ulama yang digelar di istana dimana puluhan ulama pimpinan pesantren dan ormas dundang. Ternyata nama Habib Riziek Syihab sebagai ketua ormas besar FPI dan ustad Bachtiar Nasir yang merupakan ketua umum GNPF-MUI, tidak termasuk di dalam daftar yang diundang. Padahal ke dua tokoh tersebut sedang mencuat namanya. Pasti raja Salman yang dikenal sangat peduli terhadap dunia Islam sudah mendengar kiprah keduanya. Demikian pula aa Gym, dai kondang pimpinan pesantren terkenal Darut Tauhid, yang selama ini dikenal kalem dan tidak pernak bicara politk namun belakangan ikut bicara keras tentang ayat haramnya memilih pemimpin kafir. Beliau juga tidak termasuk dalam daftar undangan.

Mungkin menjadi pertanyaan mengapa umat Muslim begitu menaruh harapan kepada raja Salman yang baru pada Januari 2015 dinobatkan sebagai raja Arab Saudi. Berikut beberapa diantara alasannya:

  1. Raja Salman adalah seorang raja yang sangat takut pada Tuhannya. Ia seorang yang taat beribadah. Pada usia 10 tahun Salman muda sudah menjadi hafizd.
  2. Jauh sebelum diangkat menjadi presiden, raja Salman sudah mendukung Mursi, presiden Mesir yang bermaksud menerapkan syariat Islam tapi kemudian dikudeta, agar diberi kesempatan menyelesaikan jabatannya.
  3. Begitu menjadi raja, raja Salman mencopoti pejabat yang diangkat berdasarkan hubungan kekerabatan. Bahkan raja tidak ragu menjatuhan hukuman pancung di hadapan khalayak terhadap keponakannya sendiri karena membunuh orang.  Raja Salman mengatakan, “Tidak ada perbedaan antara pangeran dan rakyat biasa dihadapan hukum. Semua diperlakukan sama.”
  4. Raja Salman menjalin hubungan yang sangat baik dengan Turki dibawah presiden Erdogan yang sama-sama menjunjung syariat.
  5. Dan lain-lain.

Ironisnya, di tengah hebohnya penyambutan raja Salman, mereka yang mengaku Islam tapi membenci agamanya sendiri, terus saja memojokkan Islam. Para Munafikun, bekerja sama dengan orang-orang Syiah, terlihat jelas ingin  menjatuhkan marwah dan martabat raja Salman beserta kerajaannya, diantaranya dengan isu Wahabi. Mereka juga menyebarkan foto eksotis putri Ameera yang mereka nisbatkan sebagai putri raja Salman. Padahal itu sama sekali tidak benar. Ameera adalah bekas mantu raja karena sudah bercerai dari suaminya, yaitu pangeran al-Waleed bin Thalal putra raja. Seandainyapun putri raja bersikap demikian, jangankan anak raja yang notebene manusia biasa, putra nabi Nuh as pun, bukanlah seorang yang patuh pada perintah Tuhannya.

http://www.masjumat.com/2017/03/06/princess-ameera-putri-raja-salman-yang-tidak-berjilbab/

Yang lebih menjengkelkan lagi, foto itu kemudian disandingkan dengan beberapa foto Muslimah Indonesia berhijab dan diberi komentar nyinyir “ sok Arab”. Sungguh menyakitkan. Tidakkah mereka menyadari bahwa perintah berhijab adalah perintah Allah, bukan ikut-ikutan atau latah “sok Arab” !

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS.Al-Ahzab (33):59).

wahabi-vs-wahabiMengenai Wahabi. Isu wahabi adalah isu lama yang dihembus-hembuskan musuh Islam agar sesama Muslim saling bermusuhan. Padahal aliran sesat Wahabi yang dibawa Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum al Farisi pada abad ke 2 H itu adalah ajaran Khawarij. Sedangkan “wahabi” yang dinisbatkan kepada kerajaan Arab Saudi adalah merujuk kepada Muhammad bin Abdul Wahab an-Najd yang hidup pada abad 12 H. Ulama kenamaan asal Najd ( Arab) ini adalah seorang ahlussunnah wal jamaah tulen.

http://www.jurnalmuslim.com/2016/04/buya-hamka-mereka-memusuhi-wahabi-demi-penguasa-pro-penjajah.html?m=1

http://www.voa-islam.com/read/opini/2015/05/06/36785/wahabi-versus-dan-siapa-sesat/#sthash.YkVU4t9G.M2P7Qw6y.dpbs

http://beritajatim.com/internasional/291329/sosok_tegas,_raja_salman_pernah_eksekusi_pangeran.html

Menjadi pertanyaan besar,  bagaimana kira-kira reaksi raja Salman mendengar berita ustad Dr Khalid Balsamah yang di tengarai “wahabi” digruduk banzer NU ketika sedang berceramah ??? Padahal paska pertemuan lintas agama di istana beberapa hari lalu, raja Salman memberikan pujian terhadap toleransi ber-agama di Indonesia.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. ( Terjemah QS. Al-Hujurat (49)13).

Sungguh sedih dan malu hati ini membayangkan kekecewaan yang bakal muncul dari balik wajah lembut sang khadimul Haramain. Kekecewaan demi kekecewaan, dari hari pertama penyambutan hingga hari-hari akhir yaitu ketika penanaman pohon. Seakan tidak belajar dari pengalaman, bagaimana raja Salman meninggalkan Obama yang ketika itu masih menjabat presiden negara adi daya Amerikat Serikat, demi memenuhi panggilan shalat. Pada hari penanaman pohon bersama Jokowi, setelah dibisiki ajudannya, raja Salman segera meninggalkan lokasi padahal acara belum selesai. Ada apa gerangan ?? Ternyata azan Zuhur telah berkumandang … Itu sebabnya ketika acara penyiraman pohon Jokowi terlihat tidak ditemani sang tamu agung yang lebih memilih mendahulukan panggilan Tuhannya … Allahu Akbar …

Dari ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang amal apakah yang paling dicintai oleh Allah. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’uud berkata : “Lalu apa ?”. Beliau menjawab : “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Ibnu Mas’uud berkata : “Lalu apa ?”. Beliau menjawab : “Jihad di jalan Allah”. ( HR. Bukhari Muslim).

Demikianlah Allah swt membalas hamba-Nya yang taat, yang ber-ahklak mulia dengan balasan yang setinggi-tingginya, tidak hanya di akhirat nanti tapi juga di dunia … Masya Allah …

http://www.masjumat.com/2017/01/27/kelebihan-arab-saudi-dalam-hal-suksesi-kepemimpinan/

http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2017/03/01/raja-salman-sang-penjaga-dua-kota-suci-yang-peduli-kemanusiaan-394864

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 6 Maret 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Dasyatnya fitnah akhir zaman sebagaimana diperkirakan Rasulullah 15 abad silam semakin benderang saja. Sepuluh (10) tanda besar datangnya Hari Akhir yang pasti tiba itu tampaknya nyaris di depan mata mengingat telah keluarnya seluruh tanda-tanda kecil Hari Kiamat sebagaimana yang diterangkan Rasulullah saw, perzinahan baik yang sejenis maupun tidak, adalah contohnya.

https://www.facebook.com/notes/islam-itu-agamaku/-tanda-tanda-kiamat-kecil-dan-kiamat-besar-/158720567494528/

LGBT ( Lesbian Gay Bisex Transgender) nama keren yang disandangkan kepada para pelaku Homoseksual  di negri yang katanya mayoritas Islam ini, makin saja banyak pengikutnya. Padahal prilaku menyimpang yang sudah ada jauh sebelum Islam datang ini jelas-jelas dilaknat oleh-Nya. Rasanya tak ada satupun agama di muka bumi yang membolehkannya. Bahkan Allah swt telah meng-azab negri yang menghalalkannya dengan azab yang sangat keras.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”.( Terjemah QS. Huud(11):82-83).

Ironisnya, para pentolan JIL ( Jaringan Islam Liberal) dengan santainya mengatakan bahwa homoseks tidak haram alias tidak melanggar hukum Allah.  “Buktinya itu negara-negara Barat yang menghalalkan LGBT baik-baik saja, g di azab tuuh … Azab itu karena orang zaman dahulu tidak mengenal sains. Al-Quran hanya menyesuaikan saja”, begitu kurang lebih celoteh Ulil Abshar Abdalla, si dedengkot JIL.

Tampak jelas ia malas menghubungkan segala macam kemaksiatan yang dilakukan para penghuni bumi yang makin sering mengalami bencana hebat itu. Mungkin santri NU yang pernah dua kali di DO ini lupa akan adanya azab akhirat ya  …

http://www.arrahmah.com/read/2012/02/22/18268-know-your-enemies-siapakah-ulil-abshar-abdalla.html

 “Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya Jahannam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata [kepada mereka]: “Rasailah [pembalasan dari] apa yang telah kamu kerjakan”.(Terjemah QS.Al-Ankabut (29):53-55).

Atau mungkin lupa atau memang tidak pernah tahu akan adanya tragedi yang terjadi pada tahun 1955 di sebuah desa di Banjar Negara Jawa Tengah. Singkat cerita desa tersebut sangat subur dan makmur. Ketika desa lain paceklik Dukuh Legetang demikian nama dusun tersebut, tetap bisa panen dengan baik. Sayangnya penduduknya ahli maksiat. Perzinahan, mabuk-mabukan dan lain-lain sudah menjadi kebiasaan dan tradisi.

plakat banjarnegara1955Hingga pada suatu malam 17 April 1955 penduduk sekitar dikejutkan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Keesokan harinya penduduk mendapati Dukuh Legetang sudah tertimbun irisan puncak gunung Pengamun-amun yang letaknya di seberang dukuh, terpisah jurang dan sungai. Mereka benar-benar terhenyak menyaksikan  gunung yang ujungnya sompal dan bisa berpindah tempat. 332 orang penduduk ditemukan tewas di bawah gundukan raksasa tersebut. Hingga saat ini bisa kita lihat prasastinya.

https://bambies.wordpress.com/2014/12/28/desa-yang-hilang-kisah-nyata-sodom-gomorah-di-banjarnegaradesa-yang-hilang-kisah-nyata-sodom-gomorah-di-banjarnegara/

Lain lagi cerita KH Haekal Hasan, sekretaris MIUMI yang belakangan secara tidak resmi didaulat menjadi ketua forum anti LGBT. Suatu hari ia berdebat dengan seorang homoseks. Orang tersebut dengan santainya membela diri bahwa Islam tidak melarang perbuatan tersebut dengan menyitir ayat 21 surat Ar-Rum yang biasa dilampirkan dalam undangan suatu pernikahan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang”.

Na’udzubillah min dzalik … rupanya ia seperti juga para pentolan JIL, antara lain Musdah Mulia, mengartikan kalimat “ jenismu sendiri” pada ayat diatas bukannya sesama jenis manusia ( bukan dengan jin, binatang dll), melainkan sesama jenis kelamin! Dengan ngotot ia beragumen, bukankah Al-Quran memang diturunkan untuk manusia jadi ya tidak perlulah dijelaskan lagi. Hhmm, kelihatannya benar juga yaa … Lalu bagaimana dengan perbuatan manusia di bawah ini??? Apakah Sang Khalik tidak bisa memprediksi perbuatan tak masuk akal tersebut ???

http://www.anakregular.com/2015/10/enam-pernikahan-manusia-dengan-hewan.html#

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni`mat Allah?” (Terjemah QS. An-Nahl(16):72).

Dapat dibayangkan jika orang yang katanya Islam, mengaku membaca Al-Quran bahkan meng-klaim sebagai ustad/ulama saja bisa mempunyai pendapat nyleneh seperti itu, memilah ayat sesukanya, apalagi orang yang tidak beragama, yang hanya menjadikan akal ( kalau tidak mau dikatakan nafsu kebinatangannya)!

Tampak jelas bahwa berbagai pemikiran seperti HAM, Demokrasi dan Toleransi yang terus didengungkan Barat itu telah membuahkan hasilnya. Orang baik, jujur dan bersih jadi serba salah mengemukakan pendapat murni yang keluar dari hatinya. Inilah kesempatan emas yang ditunggu-tunggu kaum Kafirun untuk masuk dan merusak kebenaran dari-Nya. Diantaranya yaitu tadi, kaum homoseks dan para pedukungnya.

Kaum Homoseksual sekarang ini tidak lagi malu-malu memperjuangkan hak mereka agar diakui dunia dan bisa melakukan pernikahan secara legal. Starbucks contohnya, yang tanpa tedeng aling-aling membuat slogan agar kaum tersebut ditrima dengan baik. Bahkan nekad mempersilahkan mereka yang tidak setuju untuk tidak usah menginjakkan kaki ke kedai kopi mereka. Mereka tidak lagi peduli dengan segala pendapat umum apalagi pendekatan agama.

Padahal jelas perbuatan mereka itu bertentangan dengan kodrat manusia. Bagaimana manusia bisa berkembang biak bila perkawinan sesama jenis di legalkan. Ini jelas pelanggaran HAM karena sama dengan perbuatan genosida/pemusnahan ras/bangsa. Dalam ilmu kesehatanpun perbuatan menyimpang mereka sangat berbahaya karena mendatangkan berbagai macam penyakit mengerikan, AIDS dan HIV contohnya. Penyakit ini menyerang sistim kekebalan manusia. Bayangkan bila sistim kekebalan tidak berfungsi manusia mana yang bisa bertahan lama hidup ??  Ironisnya, ketika suatu hari seorang homoseks penderita AIDS meninggal, dalam kondisi menjijikkan seperti lazimnya pendeita AIDS, tak satupun pengusung HAM yang mau mengurusi mereka.

Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH , dalam acara ILC ( Indonesai Lawyer Club), yang tayang pada Selasa 16 Februari lalu, dengan tegas menyatakan bahwa Homoseksual adalah bentuk suatu gangguan kejiwaan. Gangguan tersebut bisa karena organ biologisnya, bisa psikologisnya, namun bisa juga karena spiritual dan lingkungan sosialnya.

“UU Kesehatan mendefinisikan bahwa kesehatan itu terdiri dari fisik, mental, spiritual dan sosial yang tidak mungkin dipisahkan satu dari yang lainnya. Ini sangat sesuai dengan apa yang dikatakan Einstein, ilmu tanpa agama membutakan sebaliknya agama tanpa ilmu lumpuh “, ujar ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Seksi Religi, Spritualitas dan Psikiatri (RSP) PDSKJI tersebut.

Namun demikian ia optimis bahwa penyakit ini dapat disembuhkan, asal melalui terapis dan terapi yang tepat. “ Maling diterapi maling atau koruptor diterapi koruptor, tentu tidak akan sembuh”, ujarnya disambut tawa gemuruh hadirin.

“Datang dan berobatlah pada orang yang tepat, insya Allah kami siap membantu. Tidak perlu malu“, lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan  Elly Risman, psikolog yang sejak lama fokus pada masalah parenting dan pendidikan anak yang malam itu juga hadir dalam acara yang dipandu Karni Ilyas tersebut. Menurutnya, pendidikan orang-tua ketika anak masih kecil adalah kunci utama seseorang untuk membentengi diri dari wabah Homoseksual. Disamping pergaulan dan lingkungan yang bersih, yang tidak tercemar pikiran kotor kelompok pesakitan ini.

“Kehadiran kedua orang-tua, baik ayah maupun ibu sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak yang baik. Ada contoh keteladanan. Kegiatan sehari-hari seperti prilaku, kegiatan dan mainan khas antara anak laki-laki dan perempuan perlu diberikan”, begitu kurang lebih yang dianjurkan psikolog kondang ini.

Adriano Rusfi, seorang psikolog lulusan UI sekaligus motivator yang sangat peduli terhadap masalah sosial berujar,  bahwa Homoseksual bukan sekedar penyakit menular melainkan adalah sebuah gerakan yang diorganisir dengan sangat rapi dan professional. Mahasiswa dan pelajar adalah sasaran utama gerakan massif ini.

Darwis “Tereliye”, novelis kondang yang banyak menelurkan novel dan buku, juga mempunyai pendapat yang sama. Ia memberikan perbandingan bagaimana Brazil yang 90 % religius bisa mensahkan perkawinan sesama jenis. Menurutnya 20-30 tahun yang akan datang tidak mustahil Indonesia juga akan mengalami hal yang sama bila rakyat negri tercinta ini tetap bersikap acuh tak acuh dan masa bodoh terhadap fenomena LGBT.

https://officialwaru.wordpress.com/2016/02/12/lgbt-sebuah-gerakan-penularan/

Sementara Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, mantan imam besar Istiqlal, ahli hadits Indonesia yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, menyatakan kekhawatirannya bahwa Indonesia sejak lama telah dijadikan target 4 hal, yaitu  peredaran narkoba, konflik/perpecahan, terorisme dan terakhir LGBT. Pernyataan ini persis seperti apa yang dikatakan Dr. Yusron Ihza Mahendra, duta Besar RI untuk Jepang bahwa LGBT adalah  sebuah gerakan international yang mempunyai  agenda besar tertentu.

Apa yang dikatakan ke-empat tokoh tersebut tentu bukan sekedar tudingan tak beralasan apalagi bila mengingat adanya dana bantuan sebesar 108 milyar dari UNDP yang resmi tertulis ditujukan bagi kaum LGBT di negri ini.

http://www.portalpiyungan.com/2016/02/lgbt-konspirasi-dunia-oleh-dr.html

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/15/o2l1kz361-pemerintah-diminta-beberkan-dana-rp-108-miliar-untuk-lgbt

Hartoyo ustad jadijadianJuga acara yang disiarkan KompasTV dengan tajuk “LGBT: HARUSKAH DICEMASKAN” yang tayang secara live pada Kamis, 11 Februari 2016. Dengan nekad acara ini menampilkan seorang gay yang sengaja didandani sebagai “ustad”, dan menyatakan bahwa homoseksual tidak terlarang dalam Islam ! Ada apa dengan negri ini ???

http://www.portalpiyungan.com/2016/02/menguak-misteri-ustadz-jadi-jadian-lgbt.html

https://www.islampos.com/israel-amerika-dan-iran-di-balik-proyek-pecah-belah-umat-islam-95588/

http://persisalamin.com/artikel/buya-hamka-mereka-memusuhi-wahabi-demi-penguasa-pro-penjajah/

Pada sesi penutupan acara ILC,  Ali Mustafa Yakub sempat menyatakan opininya bahwa salah satu penyebab homoseks adalah kejenuhan kaum lelaki terhadap kaum perempuan yang gemar mengumbar auratnya.

… … Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali .. … . Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. ( Terjemah QS. An-Nuur (24):31).

Pada sesi tersebut pula budayawan nyentrik Jiwo Sutejo bahkan bisa berkata hilangnya peran dan sifat keibuan kaum perempuan karena kesibukannya bekerja dan berkarir, bisa jadi salah satu penyebab homoseksualisme  n lesbianisme.

“Perempuan masa kini terlalu mandiri. Kesetaraan perempuan membuat kaum lelaki menjadi minder alias tidak percaya diri. Mau dikemanain kitaa !!! ”, ujarnya dengan gaya khas yang mengundang tawa penonton.

new world order homoseksAkhir kata, dapat disimpulkan LGBT adalah sebuah gerakan international yang ingin mengacau tidak saja negri ini. Prediksi Rasulullah bahwa tidak akan datang Kiamat sebelum datangnya Dajjal si mata satu sebagai pemimpin hisbussyaitan alias pasukan syaitan tidak dapat dipungkiri. Zionisme, Freemason dan Illuminaty dengan New World Ordernya tampak makin menunjukkan taring dan wajah aslinya. Simak apa yang dikatakan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub pada Mei tahun lalu mengenai banyaknya agen Zionis di negri ini.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/07/nny9y6-ali-mustafa-yaqub-banyak-agen-zionis-di-indonesia

Georgia guidestones top-commandmentsSebuah monumen raksasa terbuat dari granit berdiri tegak di Georgia, Amerika Serikat. Monumen misterius yang didirikan pada tahun 1980-an  ini salah satunya menyebut jumlah ideal manusia di bumi, yaitu 500 juta, yang berarti hanya kurang lebih 5 % penduduk dunia !!

https://prof77.wordpress.com/2011/10/01/carved-in-stone-maintain-humanity-under-500000000-yep-they-want-us-dead/

Sedangkan homoseks sendiri adalah suatu kelainan seksual yang bisa dan harus diobati. Oleh sebab itu tidak boleh dipermainkan, diexploitasi dan dilecehkan apalagi dibully. Bahkan sebaliknya harus diobati dan disembuhkan. Dan bagi mereka yang telah berbuat kesalahan harus segera bertaubat dan memohon ampunan-Nya.

Jabir bin Abdillah  berkata bahwa Nabi  bersabda, “Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah swt”. (HR. Muslim)

“Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):39).

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):17)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Februari 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »