Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Akhlak’ Category

Menjadi pemimpin bagi sebagian orang, dengan berbagai alasan, adalah sebuah impian dan cita-cita. Ada yang karena ingin memperbaiki/merubah keadaan, ada yang karena kewajiban dan tanggung-jawab sebagai pemilik suatu usaha, ada yang karena ingin membantu dan mengembangkan orang lain, tapi ada juga yang karena ambisi pribadi semata ingin berkuasa. Islam tidak melarangnya bahkan menganjurkannya, namun dengan syarat-syarat tertentu. Diantaranya harus adil, jujur, tidak zhalim dll.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam/pemimpin, bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):124).

Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Abu Sa’id al Khudri menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang zhalim.” (Hadits Riwayat Imam Tirmidzi no.1329)

Sayangnya tidak semua orang yang ingin menjadi pemimpin mempunyai kemampuan untuk memimpin dengan baik. Ciri-ciri pemimpin yang baik diantaranya adalah yang tidak egois, mau mendengar pendapat orang lain, sabar, tidak cepat marah ketika dikritik dan tidak segan turun menemui orang yang dipimpinnya. Namun sebaliknya ia harus tetap tegas, tidak mudah terpengaruh pendapat dan percaya laporan bawahannya.  

Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. ( Terjemah QS.Al-Ahzab (33:21).

Rasulullah Muhammad saw adalah contoh keteladanan terbaik sepanjang masa. Tidak saja akhlaknya namun sebagai pemimpinpun beliau amat sangat patut dicontoh. Rasulullah selalu bermusyawarah dalam menghadapi semua masalah besar. Pada perang Khandaq ( Parit) beliau tidak segan menerima usulan Salman Al-Farisi agar menggunakan parit sebagai pertahanan kota. Padahal Al-Farisi adalah orang Persia yang belum lama memeluk Islam hingga banyak sabahat yang meragukannya. Namun Rasulullah mempercayainya karena Al-Farisi mengajukan usulan berdasarkan pengalaman negrinya ketika sukses melawan musuh yang menyerangnya. Tampak jelas untuk urusan dunia Rasulullah tidak ingin mencampur-adukkannya dengan urusan akhirat yang beliau ketahui.    

Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim, no. 2363).

Sementara itu pada perang Uhud ketika Rasulullah meminta pendapat para sahabat untuk bertahan di dalam kota ( Madinah) atau keluar menghadapi musuh di luar kota, Rasulullah mengalah pada keputusan mayoritas, yaitu keluar kota. Padahal sebetulnya Rasulullah lebih memilih bertahan di dalam kota.

Begitu pula dalam mengangkat pemimpin, Rasulullah selalu mempertimbangkan banyak hal. Contohnya adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat yang memohon agar ia diberi kepercayaan mendapat sebuah jabatan kepemimpinan.

Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sedangkan kepemimpinan adalah sebuah amanah. Dan kepemimpinan itu pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil haknya dan menunaikan kewajiban yang ada padanya.”

Abu Dzar al-Ghifari adalah seorang sahabat ahli ibadah yang dikenal zuhud (hidup sangat sederhana dan tidak memikirkan kenikmatan dunia). Beliau juga seorang yang tegas dalam membela kebenaran serta selalu bersikap jujur tanpa kompromi. Namun ternyata Rasulullah tidak memandangnya sebagai modal yang cukup untuk menjadikannya sebagai pemimpin.

Rasulullah justru memandangnya sebagai kelemahan dalam hal diplomasi karena seorang pemegang kekuasaan dituntut memiliki keluwesan, strategi dan kesabaran dalam menghadapi keragaman masyarakat. Kepemimpinan membutuhkan kombinasi antara iman, akhlak dan kemampuan/keterampilan mengelola manusia yang beragam serta membangun sistem yang baik.

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”

Ayat 72 surah Al-Ahzab di atas menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah amanat yang begitu berat, sampai-sampai gunung yang kokohpun menolaknya. Tetapi, manusia dengan segala kelemahannya justru berani memikulnya sering kali bahkan bukan karena kemampuannya melainkan karena kesombongan dan ambisi semata. Hingga akhirnya membuahkan kehancuran bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga orang-orang yang dipimpinnya.

Jabatan dan kepemimpinan sering dianggap sebagai simbol kehormatan, kekuasaan dan kekayaan. Padahal seorang pemimpin harus mempertanggungkan jawabkan kekuasaannya tidak hanya kepada yang dipimpinnya tapi juga kepada Allah swt. Imbalan bagi pemimpin yang adil dan amanah adalah surga tertinggi. Sebaliknya neraka Jahanam bagi yang zhalim.   

Pemimpin zhalim juga telah didoakan agar mengalami kesukaran oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan, “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Sayangnya hari ini kita dapat melihat banyak pemimpin yang mengaku Muslim namun zhalim. Bahkan sesama Muslimpun mereka tidak saling menjaga hubungan dengan baik. Mereka tampaknya lupa betapa pentingnya persatuan antar sesama Muslim yang sejatinya adalah kunci kekuatan Islam yang telah terbukti nyata pada masa-masa kejayaan Islam di masa lalu.

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling memutuskan hubungan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang terjadi di Palestina selama puluhan tahun, sungguh merupakan buah tidak bersatunya umat Islam hingga mudah diperdaya musuh-musuh Islam. Juga dengan yang terjadi di Sudan belakangan ini dimana sesama Muslim saling menumpahkan darah, na’udzubillah min dzalik …

Perpecahan dan peperangan sesama Muslim dalam sejarah Islam bukanlah hal baru. Bahkan pada masa nabipun telah ada, itulah kaum munafikun. Sejarahpun mencatat hal tersebut membuat lemah dan kalahnya umat Islam. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah balasannya, yaitu neraka Jahanam yang merupakan neraka terdasyat, bersama dengan orang-orang kafir yang selama di dunia mereka jadikan teman akrab bahkan pelindung, na’udzu billah min dzalik …

“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal”, ( Terjemah QS. At-Taubah (9):68).

Bila saat ini para pemimpin dzalim terus saja meneruskan kedzalimannya, tidak berlaku adil kepada rakyatnya, tidak segera bertobat bahkan terus menjalin hubungan mesra dengan musuh-musuh Islam yang nyata-nyata telah menyakiti kaum Muslimin seperti yang terjadi di Palestina, jangan lupa keadilan hakiki pasti terjadi.

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”. (Terjemah QS.Ibrahim (14):42).

Dan lebih menariknya lagi, adil tidak hanya kepada sesama Muslim tapi juga kepada umat agama lain selama tidak memusuhi Muslim.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Juni 2026 / 29 Dzulhijjah 1447 H.

Vien AM.

Read Full Post »

“Life begins at 40”.

“Life begins at 40” yang diartikan dalam bahasa Indonesia dengan “hidup dimulai pada usia 40” adalah pepatah Barat yang tidak asing di telinga kita. Ini untuk menggambarkan bahwa orang di usia 40 mulai matang, siap memasuki tahapan yang stabil baik secara finansial maupun emosional. Menandakan pada usia inilah karier seseorang mulai menanjak pesat.  

Namun siapa sangka ternyata pepatah Barat diatas sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana ayat 15 surat Al-Ahqof berikut :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, “ … … sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai EMPAT PULUH TAHUN ia berdo`a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang di usia 40 akan mengalami kematangan jiwa. Ia baru menyadari betapa banyak nikmat yang Allah swt telah ia dapatkan. Mulai dari nikmat dalam perut ibu yang telah mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan ( dalam kandungan antara 6-9 bulan dan menyusui maksimal 24 bulan) hingga ia dewasa menikah dan mendapat keturunan. Untuk itu maka ia bertobat dan memohon petunjuk kepada Sang Pencipta bagaimana cara mensyukuri nikmat tersebut.    

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-’Adhim (7/280) berkata, “Umur 40 tahun adalah umur dimana akal seseorang menjadi sempurna, pemahamannya lebih matang dan cenderung lebih bijak”. 

Tak heran bila Allah swt mengangkat nabi Muhammad ﷺ  menjadi rasul pada usia 40 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan, selain kematangan finansial dan emosional, kematangan spritualpun dialami oleh orang di usia 40.

Usia 40 tahun adalah usia yang istimewa dan mengandung banyak rahasia maupun hikmah. Pada usia 40 biasanya seseorang telah berkeluarga dan memiliki anak usia remaja, sementara kedua orangtuanyapun kemungkinan besar masih ada. Hingga dengan demikian dalam waktu bersamaan ia memiliki dua generasi yang menjadi tanggung jawabnya. Yaitu anak dan dua orang tua.

Tanggung jawab yang cukup berat, karena seperti kita ketahui bersama anak usia remaja dalam rangka mencari jatinya adalah usia yang penuh tantangan. Sering kali anak suka memberontak dan melawan perintah dan keinginan orang-tua. Saat itulah ia akan teringat betapa sulitnya dulu kedua orang-tua mendidiknya.

Sementara orangtua yang sudah lanjut usia dan sudah pensiun, bisa jadi selain membutuhkan bantuan keuangan juga menginginkan perhatian lebih. Sedangkan ia sendiri sedang menuju puncak karier yang pasti memerlukan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.   

Maka tak heran bila kemudian ia tersadar bahwa ia butuh “sesuatu” yang mampu membantunya menyelesaikan permasalahannya. Itulah kebutuhan spiritual. Itu sebabnya para ulama sepakat bahwa usia 40 tahun dapat menentukan masa depan seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Bila ia bertobat dan segera memperbaiki kesalahannya, ia akan selamat. Sebaliknya bila ia tetap dalam keburukan dan kesesatannya, celakalah ia … Na’udzu billah min dzalik …

Ibnu ‘Abbās berkata, “Barang siapa telah mencapai umur 40 tahun, sedangkan perbuatan baiknya belum dapat mengalahkan perbuatan jahatnya, maka hendaklah ia bersiap-siap untuk masuk neraka.”

Diriwayatkan dari al-Qasim bin ‘Abdurrahman bahwa ia bertanya kepada Maruq, “Kapan seseorang dihukum karena dosa-dosanya?” Beliau berkata, “Jika anda sudah sampai umur 40 tahun, maka berhati-hatilah.”

Berkata al-Hajaj bin ‘Abdullah al-Hakami, salah satu Amir bani Umayah di Damaskus, “Saya meninggalkan maksiat dan dosa selama 40 tahun karena malu kepada masyarakat. Setelah itu, saya meninggalkan maksiat dan dosa, karena malu kepada Allah.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi periode kehidupan manusia dalam 4 (empat) periode, yaitu: 1. periode kanak kanak/thufuliyah (mulai lahir hingga baligh), 2. periode muda/syabab (mulai dari usia baligh sampai 40 tahun), 3. periode dewasa/kuhulah(40 tahun sampai 60 tahun) dan 5. periode tua/syaikhukhah(60-70 tahun).

Dengan kata lain, usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa kecil dan mudanya, dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa madya (paruh baya) atau kuhulah. Situasi kejiwaan yang paling menarik pada usia 40 tahun adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama/spiritualisme dibanding masa-masa sebelumnya. Para pakar psikologi menyebutnya sebagai “least religious period of life”. Usia 40 tahun merupakan titik balik untuk introspeksi dan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan yang positif tidak hanya demi masa depan dunianya tapi juga untuk bekal kehidupan di akhirat kelak.

Kabar baiknya lagi bila seseorang telah mencapai usia 40 segera bertobat dan istiqomah melakukan kebaikan maka ketika di hari tuanya  ia tidak lagi mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang biasa dilakukannya, mungkin karena sakit, pikun dll, maka Allah swt tetap mencatat kebaikan tersebut.

Ditambah lagi ketika ia meninggal nanti jika semasa hidupnya ia melakukan 3 hal yaitu sadaqah jariyah ( seperti membangun masjid yang selalu ramai digunakan, menanam pohon yang bermanfaat, membuat pompa air, dll), ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya maka pahalanya akan terus ia dapatkan.

“Apabila manusia meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim dari Abū Hurairah).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Januari 2026.

Vien AM.

Read Full Post »

Waktu adalah uang, adalah terjemah pepatah Barat “Time is Money” yang sangat sering kita dengar. Bagi kebanyakan orang pepatah ini terlihat baik karena intinya adalah jangan pernah suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan, hendaklah dalam hidup kita menghargai waktu, dan lain sebagainya.

Namun bila diperhatikan lebih mendalam, yaitu dengan membandingkan waktu dengan uang, maka akan terlihat betapa materialistisnya pepatah tersebut. Cerminan nyata bahwa orang Barat sangat mengagungkan materi (uang). Hal yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Bandingkan dengan pepatah Arab “Al-Waqtu Kassaifi” yang artinya  waktu laksana pedang. Pepatah ini sangat sesuai dengan surat ke 111 dalam Al-Quranul Karim yaitu Al-Ashr yang artinya adalah waktu. Surat tersebut mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperhatikan keberadaan waktu.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Setiap manusia, beragama atau tidak beragama, percaya atau tidak percaya akan keberadaan Tuhan, pasti menyadari dan yakin bahwa suatu saat nanti akan mati. Artinya ia tahu bahwa hidup itu terbatas waktunya. Bedanya dengan orang beragama, orang tidak beragama tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa hidup bukan hanya di dunia. Itu sebabnya orientasinya hanya seputar duniawi alias materialistis. Sedangkan orang beragama pasti yakin adanya kehidupan setelah mati, itulah kehidupan akhirat.

Dalam Islam, hidup di dunia adalah ladang amal yang hasilnya tidak hanya dinikmati di dunia tapi terlebih lagi di akhirat. Kehidupan di dunia hanya sementara dan sangat singkat. Sedangkan di akhirat jauh lebih kekal.

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Terjemah QS.Al A’laa (87): 16-17).      

Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya berlomba dengan waktu, memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat segala macam dan bentuk kebaikan. Kebaikan tersebut tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi orang lain, hewan dan tumbuhan. Termasuk juga mengingatkan dan mengajak orang lain untuk berbuat baik.

Dan uniknya semua itu atas landasan iman karena tidak semua kebaikan itu benar. Kebaikan yang benar adalah yang sesuai pandangan Sang Pencipta bukan pandangan kelompok, golongan, bangsa atau suku tertentu. Islam juga memerintahkan untuk tidak berhenti dalam kebaikan, untuk terus berusaha dan bekerja.           

 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS al-Insyirah [94]: 7).

Secara lengkap pepatah Arab diatas bunyinya adalah  “Al-Waqtu Kassaifi, Al-Waqtu Ka as-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka”, artinya waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu”.

Imam Syafi’i berkata, “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”.

Sebagaimana pisau, pedang adalah benda penting dan bermanfaat tapi tergantung penggunaannya. Di tangan yang benar ia sangat bermanfaat tapi di tangan yang tidak benar ia sangat berbahaya. Maknanya, jangan pernah sia-siakan waktu karena ia yang akan memotongnya kita jika kita tidak memotongnya.

Umur panjang yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan tidak hanya sia-sia namun juga bisa memasukannya ke api neraka bila digunakan untuk bermaksiat. Sebaliknya umur pendek tapi sarat kebaikan akan mengantarkan ke surga. 

Waktu diibaratkan bagai pedang karena sifat pedang yang cepat bagaikan kilat. Waktu sangat cepat berlalu maka jangan pernah menunda-nunda pekerjaan dan kesempatan.

… … Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu“. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):47).

Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. at-Tirmidzi).

Artinya, rata-rata umur biologis (umur yang dihitung berdasarkan kelahiran ke dunia) umat Islam bila dibandingkan dengan waktu akhirat hanya 1.5 jam. Meski tidak mustahil umur hakiki (umur kebaikan) seseorang bisa lebih panjang dari umur biologisnya. Itulah amal jariyah, amal kebaikan yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya bisa dirasakan orang lain, meski ia telah meninggal dunia. Contohnya ilmu yang bermanfaat, sedekah pembangunan masjid, sedekah air dll.

Waktu tidak akan pernah berputar ke belakang, ia akan terus maju menggerus apapun yang ada di hadapan kita. Oleh sebab itu jangan ceroboh dalam bertindak. Itu pentingnya mencari ilmu sebanyak  mungkin supaya tidak salah dalam bertindak. Dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu akhirat (agama) yang akan menuntun bukan malah menyesatkan. Jangan sampai menyesali perbuatan yang tanpa dipikirkan terlebih dahulu, karena nasi telah menjadi bubur sebagaimana ayat 38-40 surat An-Naba’ berikut,   

38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

039. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

040. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Kembali kepada pepatah Barat “ Time is Money” atau “Waktu adalah uang”, Islam bukannya melarang umatnya menjadi kaya. Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah contoh sahabat dekat Rasulullah yang kekayaannya berlimpah-ruah. Namun kekayaannya bukan ditujukan semata untuk memperkaya diri melainkan disumbangkan untuk kepentingan umat.

Ustman dan Abdurrahman adalah dua sahabat yang dijamin surga. Keduanya bukan hanya dikenal sebagai ahli ibadah tapi juga ahli sedekah. Jauh sebelum menjadi khalifah, dengan hartanya Ustman bin Affan membeli sumber air milik  Yahudi untuk kepentingan umat Islam. Sementara Aburrahman bin Auf tanpa ragu menginfakkan 500 ekor unta, 1.500 unta serta 40.000 dinar untuk keperluan jihad.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

 Jakarta, 31 Desember 2025 / 12 Rajab 1447H.

Vien AM.

Read Full Post »

Pengakuan para tawanan Israel mengenai bagaimana pasukan Hamas memperlakukan mereka selama dalan tahanan juga menambah kekaguman Barat. Melalui video dan media social terlihat jelas kehangatan sikap para tawanan terhadap orang-orang yang menyandera mereka. Tampak aneh tapi begitulah kenyataanya.

Menurut Globe Eye News, jumlah orang yang memeluk Islam di Eropa meningkat hingga 400% sejak dimulainya serangan dan genosida oleh Zionis di Jalur Gaza, Palestina. Diawali oleh rasa penasaran akan keteguhan dan ketabahan warga Gaza dalam menghadapi kekejaman tentara penjajah Israel yang sudah sangat kelewatan, banyak orang Barat yang mulai tertarik dengan ajaran Islam kemudian membaca terjemah Al-Quran, mencoba memahami dan akhirnya bersyahadat.

Berikut adalah pengakuan seorang mantan prajurit perempuan Israel melalui wawancara berdurasi 8 menit,  “Salah satu hal yang paling mengguncang saya adalah ketika mereka mengatakan:“Kami takut kepada Allah, itulah mengapa kami tidak akan menyakiti kalian!”

“Saya terkejut, bagaimana mungkin musuh yang berperang melawan kami bisa mengatakan hal seperti itu? Saya mulai bertanya, dan mereka menjelaskan bahwa dalam Islam, mereka percaya bahwa Allah mengawasi semua perbuatan manusia dan akan meminta pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang dilakukan, bahkan terhadap musuh sekalipun. Seiring waktu, rasa takut saya berubah menjadi keingin-tahuan”.

Prajurit Israel Masuk Islam Karena Akhlak Mulia Pejuang Palestina

Kesaksian juga datang dari Wilhelmi Massay, seorang perawat Amerika yang datang ke Gaza dengan tujuan membantu meringankan penderitaan rakyat Gaza.     Bersama empat relawan medis Amerika lainnya mereka bertugas di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan dan di Rumah Sakit Indonesia di utara.

“Bayangkan seorang ayah atau ibu menggendong kedua anaknya di dalam kantong plastik setelah Israel mengebom anak tersebut, dan mereka masih berkata, ‘Alhamdulillah!’ Itulah iman,” kata Massay, dalam sebuah podcast dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (18/3/2025).

Masai menggambarkan hal tersebut sebagai sebuah keyakinan yang “tidak dapat dibom oleh Israel.”

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7828905/perawat-as-masuk-islam-usai-lihat-keimanan-warga-gaza

Tak dapat dipungkiri skenario Allah swt tidak pernah salah dan selalu ada hikmah dibalik segala peristiwa. Islam pasti akan tersebar ke seluruh pelosok dunia dan tidak akan pernah terhenti oleh apa dan siapapun. Ajaran suci yang dibawa dan diperkenalkan oeh nabi besar Muhammad saw 15 abad silam tersebut akan selalu sesuai dengan hati nurani manusia hingga hari Kiamat nanti. Ahlak mulia dibawah syariat islam itulah inti ajaran Islam. Dan ini langsung dicontohkan Rasulullah saw sebagaimana ayat 21 surat Al-Ahzab berikut,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.    

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. [HR. Al-Bukhari].

Aisyah berkata: “Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al-Quran”. [HR. Muslim no.746].

Sayangnya saat ini tidak sedikit kaum Muslimin yang lupa hal tersebut. Generasi muda bahkan lebih memilih artis Barat dan Korea sebagai idola daripada nabi mereka sendiri. Sementara para pejabat hidup bermewah-mewahan dan tanpa malu memamerkan kekayaan yang didapat dari hasil korupsi tersebut. Sebaliknya tak sedikit pula orang yang berlomba dalam berbagai kebaikan seperti menghafal ayat-ayat suci Al-Quran, membangun masjid, banyak sedekah, itikaf dan lain-lain tapi tidak memperbaiki ahlak buruk mereka seperti riya, sombong, kasar dan sebagainya.

Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):263).

Rasulullah adalah seorang yang penyayang. Tentu kita sering mendengar kisah Rasululah dan seorang lelaki Yahudi tua buta. Hampir setiap hari Rasulullah menyempatkan diri menyuapinya padahal setiap kali itu pula si lelaki buta mengumpati Rasulullah. Ia baru tahu tahu bahwa orang yang menyuapinya dengan lembut itu adalah nabi besar Muhammad saw seteah Rasululah wafat.  

Banyak ayat-ayat Al-Quran yang memberitahukan ciri-ciri hamba-hamba Allah yang penyayang ( Ibadur Rahman), diantaranya adalah ayat 63-68 surat Al-Furqon berikut,

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.

Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)”.

Dengan kata lain, Islam adalah ajaran yang tidak semata bersifat ke-akhirat-an (hubungan dengan Allah / hablu min Allah ) tapi juga keduniawian ( hubungan dengan sesama manusia/hablu min naas). Islam bukan hanya sekedar ritual ibadah seperti shalat dan puasa namun juga akhlak yang  baik. 

Dari Abu Tsa’labah Al Khusyani, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencemooh manusia dengan kata-katanya.” (HR. Ahmad no. 17077).

“Wahai Abu Hurairah, seyogyanya anda untuk berperilaku baik (husnul khuluq).”Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah husnul khuluq itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Anda menyambung (tali persaudaraan kepada) orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, dan anda memaafkan (kesalahan atas) orang yang menzalimimu, dan anda memberi orang yang enggan memberi kepadamu”. (HR.Al-Baihaqi).

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 21 November 2025.

Vien AM.

Read Full Post »

Disebutkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri, pada suatu hari, Rasulullah saw masuk ke masjid. Ternyata di sana sudah ada seorang laki-laki Anshar yang bernama Abu Umamah. Beliau kemudian menyapanya: “Hai Abu Umamah, ada apa aku melihatmu duduk di masjid di luar waktu shalat?”. Abu Umamah menjawab : “Kebingungan dan hutang-hutangku yang membuatku (begini), ya Rasul”.

Rasulullah kembali bertanya: “Maukah kamu jika aku ajarkan suatu bacaan yang jika kamu membacanya, Allah akan menghapuskan kebingunganmu dan memberi kemampuan melunasi hutang?” 

Umamah menjawab : “Tentu, ya Rasul”. Nabi pun menyatakan: “Jika memasuki waktu pagi dan sore hari, maka bacalah:

Allâhumma innî a‘ûdzu bika minal hammi wal hazan. Wa a‘ûdzu bika minal ‘ajzi wal kasal. Wa a‘ûdzu bika minal jubni wal bukhl. Wa a‘ûdzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijâl “ 

Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang-orang.  

Abu Umamah lalu menuturkan: “Setelah aku mengamalkan doa itu, Allah benar-benar menghilangkan kebingunganku dan memberi kemampuan melunasi hutangku”.

Bingung, sedih, lemah, malas, takut, kikir, lilitan hutang dan tekanan manusia lain adalah 8 perkara tidak menyenangkan tapi sering dialami manusia. Namun demikian bagi seorang Muslim yang baik, tidak sepatutnya perasaan dan sikap yang seperti itu dipelihara. Muslim yang baik harus kuat, tabah dan sabar menghadapi segala cobaan. 

Karenanya tak heran bila kemudian Rasulullah mengajarkan doa yang tidak khusus hanya untuk Abu Umamah namun juga berlaku untuk semua umatnya. Doa sejatinya adalah senjata kaum Muslimin yang paling ampuh dalam menghadapi segala masalah. Allah swt memasukkan orang yang tidak mau memohon doa padaNya sebagai orang yang sombong dan tempatnya adalah neraka Jahanam.

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina”. (Terjemah QS. Ghafir (40):60).

Hidup adalah cobaan, ujian dari Sang Pencipta sebagaimana ayat 155 surat Al-Baqarah “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”.

Allah swt menguji manusia untuk mengetahui mana hamba-Nya yang sabar dan takwa mana yang tidak. Ialah yang menganugerahkan hidayah, rezeki, jodoh, keturunan dll kepada siapa yang Ia kehendaki. Namun manusia wajib berusaha untuk menggapainya. Al-Quran secara tegas memerintahkan manusia untuk aktif dan produktif dalam melakukan sesuatu. Hal tersebut guna menghindari waktu luang yang umumnya kerap diisi dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Menghidari waktu luang bukan berarti menghilangkan porsi istirahat setelah mengisi hari dengan ibadah, bekerja, belajar, dan kegiatan lainnya.

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (Terjemah QS. Al-Insyirah (94):7).

Buya Hamka melalui Tafsir Al-Azhar, beliau menjelaskan bahwa Allah mengingatkan pada Rasulullah saw dan umatnya untuk tidak cepat berpuas hati dengan hasil usahanya. Oleh karenanya, apabila seseorang telah selesai suatu urusan (urusan dunia serta kesibukannya) maka segera mengerjakan urusan yang lain. Inilah yang akan menjadikan orang menjadi kuat, tidak lemah dan tidak mudah mengeluh.

Allah swt sangat membenci orang malas hingga bisa jadi rezekinyapun Ia batasi. Akibatnya orang bersangkutan susah hidupnya sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Maka dalam keadaan galau, sedih, takut dan kikir karena memang tidak memiliki apapun, ia terjebak dalam hutang.

Dan ketika akhirnya hutang melilitnya apapun terpaksa dilakukan. Tergadai sudah nyawanya. Hilanglah kemerdekaan dirinya padahal kemerdekaan adalah hal terpenting dalam hidup. Inilah yang dimaksud “min qahrir rijâl” ( dari tekanan orang) pada akhir doa yang diajarkan Rasulullah di atas, yaitu orang yang memberinya hutang dengan tujuan memeras.

Ini pula salah satu penyebab penderitaan berkepanjangan rakyat Palestina, Gaza khususnya, hingga detik ini. Negara-negara Timur Tengah tetangga Palestina seperti Yordania, Mesir, Arab Saudi dll, tak mampu berbuat banyak untuk menolong saudaranya yang terdzalimi, adalah akibat tersandera hutang dan kepentingan politik Israel dan Amerika Serikat.

Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Tangan diatas maksudnya adalah memberi, sedangkan tangan dibawah adalah meminta.

Selanjutnya pada ayat 8 surat Al-Insyirah “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” menunjukkan bahwa manusia hanya bisa berusaha sedangkan hasilnya adalah milik Allah swt.

Artinya, bila setelah berusaha maksimal hasilnya tidak sesuai keinginan tidak sepatutnya seorang Muslim menjadi kecewa, galau, sedih berkepanjangan apalagi sampai putus asa dan bunuh diri.

Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi harta karena Allah, menahan harta karena Allah, maka telah sempurna imannya”. (HR. Abu Daud no.4681, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril alaihi salam seraya berseru: “Hai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah ia!”’

Rasulullah bersabda: “Akhirnya orang tersebut pun dicintai Jibril. Setelah itu, Jibril berseru di atas langit; “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah ia!  Kemudian para penghuni langit pun mulai mencintainya pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setelah itu para penghuni bumi juga mencintainya”.

Sebaliknya, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril dan berseru kepadanya: “Sesungguhnya Aku membenci si fulan. Oleh karena itu, bencilah ia”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Lalu malaikat Jibril berseru di langit; “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci si fulan. OIeh karena bencilah ia!“. Kemudian para penghuni langit membencinya. Setelah itu para penghuni dan penduduk bumi juga membencinya.

Dua hadist diatas menunjukkan betapa cinta dan benci Allah swt kepada seorang hamba akan sangat mempengaruhi cinta dan benci manusia kepada kita. Oleh sebab itu jangan pernah berharap pada manusia, berharap pada imbalannya. Lakukan semua perintahNya, jauhi segala laranganNya sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah saw, maka kebahagiaan dunia dan akhiratpun kita raih.

Dan ta`atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat“. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):132).

Sekecil apapun amal kebaikan kita Allah swt pasti akan melihat dan membalasnya sebagaimana ayat 7 dan 8 surat Al-Zalzalah, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.(Terjemah QS.Al.Qashash (28):77).

Wallahu’alam bi shawwab. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Jakarta, 24 Agustus 2025, 29 Rabi’ul Awal 1446 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Sering kali orang beranggapan bahwa nikmat tertinggi dalam hidup adalah sehat, apalagi ketika seseorang dalam keadaan sakit, apapun sakitnya, bahkan ketika hanya terserang flue batuk pilek ataupun sakit gigi, apalagi sakit parah yang macamnya makin hari makin beragam.

Akan tetapi dalam keadaan normal dan sehat, orang baru menyadari bahwa rasa aman ternyata lebih tinggi tingkatannya daripada sehat. Lingkungan yang tidak aman membuat orang tidak nyaman meski ia sehat. Sedangkan orang yang sedang sakit ketika datang penjahat atau kebakaran tanpa sadar pasti akan berusaha lari menghindar.

Tak jarang orang yang sehat tiba-tiba menjadi sakit akibat rasa takut yang menderanya. Sebaliknya orang yang sedang sakit tapi hatinya tenang lebih cepat sembuh dari pada yang hatinya tidak tenang dan ketakutan.

Maka tak heran demi mendapatkan rasa aman orang rela membayar mahal satpam, memasang cctv, memelihara anjing dll. Meski ternyata semua itu tidak menjamin yang bersangkutan menjadi tenang dan bebas dari rasa takut dan khawatir. Mengapa demikian?? Banyak penyebabnya, bisa jadi satpam bekerja sama alias kongkalikong dengan si penjahat, cctv rusak atau dirusak, anjing diracun dsbnya. Tak sedikit cerita bahwa makin canggih penjagaan makin tinggi pula derajat ketakutan seseorang. Ada apakah gerangan???

Mari kita tengok Gaza. Wilayah kantong di Palestina ini adalah contoh ekstrim situasi super mencekam dan sangat mengerikan di abad ini. Betapa tidak, selama hampir 2 tahun terakhir ini setiap hari siang malam mereka dihujani bom.  Tapi takutkah mereka?? Mengapa mereka bisa memilih tetap bertahan di tanah yang sarat reruntuhan puing bangunan dimana makanan dan air bersih sulit didapat?? Tanah dimana tidak ada satupun tempat aman dari incaran bom tentara penjajah Israel yang secara kejam menteror mereka.

“ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. ( Terjemah QS. Al-Isra (17):1).

Ayat di atas itulah salah satu penyebabnya. Tanah Palestina dimana berdiri didalamnya Masjidil Aqsho, sebagaimana janji Allah swt sebagai satu-satunya pencipta manusia, langit bumi dan segala isinya, adalah tanah yang diberkahi. Disanalah ladang pahala berlimpah ruah dengan surga sebagai balasannya. Itu sebabnya rakyat Palestina rela berkorban dan berjuang mempertahankan tanah air mereka seberat apapun tekanan terhadap mereka.

Rakyat Palestina adalah hamba-hamba pilihan Allah yang mendapat hak sekaligus tugas untuk menjaga kesucian Masjidil Aqsho, kiblat pertama umat Islam. Tingkat keimanan yang begitu tinggi memberi mereka keyakinan bahwa dunia hanyalah cobaan dan kampung akhirat adalah tujuan utama. Segala kesedihan, ketakutan, kelaparan, kesakitan di dunia tidak ada apa-apanya dibanding kepedihan akhirat yaitu neraka jahanam.

Jaminan keamanan di akhirat inilah yang membuat mereka tegar menghadapi segala cobaan maha berat tersebut.  Itulah nikmat terbesar manusia yang sayangnya hanya sedikit manusia menyadarinya. Meski tidak berarti kita, umat Islam yang tinggal di luar tanah Palestina, boleh hanya diam pasrah menyaksikan penderitaan saudara/i kita tersebut. Karena sejatinya Allah swt sedang menguji kita bagaimana reaksi kita ketika saudara/i seiman mengalami ujian maha berat.

Dari An-Nu’man bin Bisyir dia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kedua hadist diatas jelas bahwa seorang Muslim tidak cukup sekedar ikut merasakan penderitaan saudaranya tapi bahkan dianggap memiliki iman yang tidak sempurna bila hanya diam melihat saudara/i didzalimi. Apalagi para pemimpin yang sejatinya memiliki kemampuan untuk menyerukan jihad melawan kedzaliman. Jihad adalah senjata ampuh kaum Muslimin yang paling ditakuti musuh-musuh Islam. Tak heran bila musuh-musuh Islam tersebut sering mengecam jihad dan memojokkan pelakunya.  

Lagi pula janji keamanan dari Allah bagi orang beriman dan beramal salih sebenarnya bukan hanya untuk kehidupan akhirat tapi juga kehidupan di dunia sebagaimana firman-Nya dalam ayat 55 surat An-Nur berikut,

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. 

Itulah yang terjadi pada masa kejayaan Islam di abad 7-18 sebelum jatuhnya kesultanan  Turki Ustmani yang berkedudukan pusat di Istambul paska PD I. Pada masa keemasan tersebut umat Islam bersatu, saling mengasihi, menyayangi dan bantu membantu hingga terbentuklah masyarakat yang kokoh. Hukum-hukum Islam ditegakkan dengan sangat baik termasuk hukum riba yang saat ini justru marak terjadi di Negara-negara mayoritas Muslim. Pada zaman itu musuh-musuh Islam yang notabene orang-orang kafir takut dan tidak berani menentang dominasi Islam.

“ Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):151).

Berkat jaminan keamanan inilah seorang hamba terbebas dari rasa takut dan khawatir dari mahluk lain selain Allah Azza wa Jala, hingga dengan demikian mampu beribadah memenuhi perintah Tuhannya dengan tenang dan sempurna. Demikian pula keamanan lingkungan yang mampu membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati.

“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun janji Allah tersebut tidak berlaku bagi orang beriman yang suka mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman/kesyirikan. Orang beriman yang meyakini keberadaan satpam, pengawasan cctv, penjagaan anjing dll adalah sumber keamanan yang mereka rasakan adalah contohnya. Allah swt akan menyelipkan rasa was-was yang terus menghantui mereka.

Sebaliknya orang beriman yang tidak mencampuradukkan iman dengan kezaliman/kesyirikan, akan mendapatkan jaminan keamanan karena ridho-Nya. Bukan berarti mereka tidak berusaha meraih keamanan tapi usahanya tersebut adalah bagian dari niat mencari ridho Allah swt. Untuk itu mereka akan mendapatkan rasa aman serta mendapatkan petunjuk di dunia maupun di akhirat. Di dunia, mereka akan mendapatkan keamanan berupa ketenangan hati, sedangkan di akhirat mereka akan bebas dari api neraka.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang berhak mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang berhak mendapatkan petunjuk.” (Terjemah QS. Al An’am(6): 82).

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah Ta’ala menurunkan untuk umatku dua jaminan keamanan.”

Beliau kemudian membacakan ayat, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun (beristighfar).” (Terjemah QS.Al-Anfâl(8):33).

Maka, sambung Rasulullah saw, “Jika aku sudah tiada, aku telah meninggalkan istighfar di tengah-tengah mereka sampai hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi)

Dengan demikian, agar hidup kita terjamin aman, hadirkanlah Rasulullah saw dalam keseharian kita, yaitu dengan membanyak shalawat kepadanya, menjaga dan menghidupkan sunnahnya, serta memperbanyak istighfar (memohon ampunan) kepada-Nya. Sungguh, inilah dua kunci keselamatan sekaligus kebahagiaan seorang Muslim.

Wallahu’alam bishawwab.

Jakarta, 7 Juni 2025.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »