Feeds:
Posts
Comments

Hikmah Qurban.

Tanpa terasa kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dalam sistim penanggalan Hijriyah. Beberapa hari lagi umat Islam di seluruh dunia akan merayakan hari Raya Idul Adha 1441 H yang diperingati sebagian umat Islam secara lebih meriah dari Hari Raya Idul Fitri. Bagi umat Islam hari raya hanya ada 2 yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai).

Hari Raya Iedul Adha diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Seperti juga Hari Raya Iedul Fitri yang diagungkan dengan shalat berjamaah di lapangan terbuka, demikian pula Hai Raya Iedul Adha. Usai shalat Iedul Adha lalu dimulailah pemotongan hewan kurban selama 4 hari berturut-turut hingga 13 Dzulhijjah. Itulah hari-hari yang dinamakan hari Tasyrik, hari dimana jamaah yang sedang menunaikan ibadah haji berada di Mina untuk melempar jumrah.

Hari Raya Iedul Adha yang juga sering disebut Hari Raya Haji memang sangat erat hubungannya dengan ibadah haji. Hari Raya ini adalah puncak rangkaian ibadah haji, ibadah yang sudah sangat tua usianya yaitu sejak zaman nabi Ibrahim as.

https://vienmuhadi.com/2009/01/26/haji-sebuah-penyempurnaan-rasa-syukur-manusia-terhadap-nikmat-nya/

Diawali dengan ujian yang dihadapi nabi Ibrahim as untuk menyembelih nabi Ismail as, satu-satunya putra beliau ketika itu. Namun berkat kesabaran dan ketabahan keduanya Allah swt pun mengganti nabi Ismail yang sudah siap disembelih ayahnya tercinta, dengan seekor domba besar. Itu sebabnya Allah swt menganugerahi gelar kehormatan “Khalilullah” yang artinya kekasih Allah bagi nabi Ibrahim as.

“ … … Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Terjemah QS Ash-Shaffat(37):102)

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (Terjemah QS Ash-Shaffat(37):107)

Itu pula sebabnya Hari Raya Iedul Adha disebut juga “Iedul Nahr” atau hari raya penyembelihan. Ada juga yang biasa menyebutnya “Idul Qurban”. Qurban diambil dari kata “qurba ” yang berarti mendekatkan diri. Yaitu menyembelih hewan yang di syariatkan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq sebagai bukti ketakwaan seseorang.

Maka shalatlah kepada Rabbmu dan sembelihlah kurban bagi-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Kautsar(108):2).

Hari Raya Iedul Adha juga sering disebut sebagai hari makan minum. Pada hari itu ( termasuk juga hari Tasyrik) haram bagi kaum Muslimin berpuasa. Ini dimaksudkan agar kaum Muslimin dimanapun berada dapat menikmati hewan-hewan kurban yang disembelih pada hari-hari tersebut, baik yang mampu maupun yang tidak. Bagi yang berkurban dengan syarat tidak mengambil lebih dari 1/3 bagiannya.

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allah” (HR. Muslim)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berqurban. Jumhur ulama, yaitu: madzhab Imam Malik, Imam Asy-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya menyatakan Sunnah. Madzhab Imam Asy-Syafii mengatakan Sunnah Muakkadah (sangat ditekankan dan diusahakan tidak ditinggalkan kecuali ada ‘udzur). Sedangkan madzhab Imam Abu Hanifah mengatakan Wajib bila mampu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami”. [ HR. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam At-Tirimidzi].

Dari Aisyah RA Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari Nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban). Hewan itu nanti pada hari Kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan pahala qurban yang menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah. Maka hiasilah dirimu dengan ibadah qurban.” [HR.Imam at-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah].

Sayangnya tidak sedikit umat Islam yang menyangka bahwa Hari Raya Haji hanya khusus bagi mereka yang sudah berhaji, dan ber-qurban “hanya” Sunnah hukumnya. Padahal ini adalah bagian dari syiar Allah yang seharusnya diperhatikan dan diagungkan oleh seluruh umat Islam. Islam adalah rahmatan lil‘aalamiin, keberkahan bagi seluruh alam semesta. Itu sebabnya bahkan cara menyembelih hewan qurbanpun diatur sedemikian rupa, dengan tujuan agar hewan bersangkutan tidak ketakutan dan kesakitan.

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik/ihsan atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah) maka berbuat ihsanlah dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih maka berbuat ihsanlah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya”. [HR. Muslim].

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.”[ HR. Ahmad, Ibnu Majah].

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):32).

Halnya dengan hukum Sunnah, tidak seharusnya amalan dengan hukum Sunnah diremehkan dengan hanya memilih menjalankan amalan yang hukumnya Wajib. Yakinkah amalan wajib kita ditrima oleh-Nya??  Karena salah satu fungsi amalan Sunnah dapat menutup kekurangan amalan Wajib kita. Jadi sungguh alangkah meruginya seorang yang mengaku Muslim tapi tidak mampu memanfaatkan amalan-amalan Sunnah.

Lagi pula apa arti kurban seekor kambing/domba/sapi dibanding pengorbanan yang dilakukan nabi Ibrahim as yang tegar menyembelih putra tercintanya demi meraih cinta dan ridho’Nya. Bukankah dunia ini hanya sementara? Ibaratnya adalah orang yang berteduh di bawah pohon sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjang pulang ke rumah untuk menemui orang-orang yang kita cintai.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Terjemah QS.Al-An’am(6):32).

Yang juga jangan dilupakan, 10 hari di awal bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang amat mulia dan puasa di tanggal 9 bulan tersebut dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang, sebagaimana hadist berikut :

Tiada hari-hari yang amal-amal shalih lebih Allah cintai dari hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah)”. Beliau ditanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau bersabda: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang pergi dengan diri dan hartanya kemudian tidak kembali sama sekali”. [HR. Bukhari].

Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim].

Akhir kata semoga Allah swt mudahkan kita semua untuk menjalankan syariat berqurban ini, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juli 2020.

Vien AM.

P1010763Jumat 10 Juli 2020 umat Muslim, khususnya Muslim Turki mencatat sejarah besar. Hagia/Aya Sophia yang selama 85 tahun tercatat sebagai museum kembali menjadi masjid. Hal ini berkat kegigihan presiden Turki Recep Erdogan yang berusaha keras mengembalikan status bangunan bersejarah tersebut.

Meski mendapat banyak tekanan internasional, Pengadilan Tinggi Turki pada Jumat tersebut memutuskan untuk membatalkan dekrit Kabinet 1934 tentang status Aya Sophia yang mengubah status masjid menjadi museum. Dekrit ini dikeluarkan oleh pendiri Turki Sekuler Kemal Attaturk  10 tahun setelah jatuhnya kekhalifahan Turki Ottoman.

Menurut undang-undang wakaf, apa yang diwakafkan harus difungsikan sesuai tujuannya,” tegas Menteri Kehakiman Turki yang mengungkapkan Aya Sophia secara hukum dimiliki oleh yayasan yang didirikan oleh Sultan Al-Fatih, Sang Penakluk. Sultan Al-Fatih dikenal juga dengan sebutan Sultan Muhammad II atau Sultan Mehmed.

“Aya Sophia diwakafkan oleh Muhammad Al-Fatih khusus untuk tempat ibadah umat Islam, yaitu masjid. Jadi sudah seharusnya penguasa Turki menjaga hak hukum terhadap warisan tersebut”, imbuhnya. Untuk itu Erdogan menyerukan seluruh dunia agar menghormati keputusan pengadilan Turki. Presiden Turki ke 12 itu juga menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hak kedaulatan Turki.

Langkah pemerintah sekuler Turki tahun 1934 yang saat itu dipimpin Mustafa Kemal Attaturk mentranformasi Hagia Sofia dari masjid menjadi museum adalah pengkhianatan terhadap sejarah. Aya Sophia bukan milik negara atau yayasan manapun namun milik Sultan Muhammad Al-Fatih”, tegasnya.

Langkah Erdogan memperjuangkan kembalinya status Aya Sophia menjadi masjid bukan sekedar keinginan pribadi tapi juga didasari keluhan rakyat Turki yang mempermasalahkan hal yang berpuluh tahun mengganjal hati mereka. Gugatan telah dimulai sejak 16 tahun yang lalu. Bahkan 10 tahun sebelumnya yaitu ketika Erdogan masih menjabat walikota Istanbul ia pernah menjanjikan kebebasan bangunan warisan penakluk Konstatinopel tersebut.

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):114).

Selanjutnya Erdogan bahkan berani berkata bahwa tranformasi Aya Sophia menjadi masjid adalah langkah awal menuju pembebasan Baitul Maqdis.  Pengembalian Aya Sophia setelah 85 tahun sempat menjadi museum mengingatkan  Baitul Maqdis yang selama 88 tahun pernah dikuasai kaum Salibis. Baitul Maqdis kembali ke pangkuan kaum Muslimin dibawah pasukan Sultan Salahuddin Al-Ayuubi pada tahun 1187M.

https://tirto.id/janji-salahuddin-merebut-yerusalem-dalam-perang-salib-cqJF

Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.” [HR.Bukhari dan Muslim].

Makmurnya Baitul Maqdis (yakni dengan banyak penduduk, bangunan dan harta) adalah tanda keruntuhan kota Madinah, runtuhnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar, terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal”. [HR. Abu Daud].

Dua prediksi Rasulullah 15 abad lalu di atas inilah yang telah banyak meng-inspirasi kaum Muslimin untuk membebaskan Istanbul dari cengkeraman kaum Kuffar. Beberapa kali pasukan Muslimin mencoba menguasai ibu kota Bizantium/Romawi Timur tersebut tapi gagal. Dibawah komando Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 barulah kota tersebut berhasil ditaklukan.

https://kisahmuslim.com/4287-muhammad-al-fatih-penakluk-konstantinopel.html

Tak heran keputusan pengadilan tinggi Turki tersebut menyulut kontroversi internasional. Amerika Serikat, Rusia, Yunani serta beberapa petinggi gereja menentang pengubahan status bangunan bersejarah yang sejak abad 6 sudah merupakan ikon Istanbul tersebut.

Namun Erdogan tidak bergeming, apalagi keputusan tersebut didukung 86% rakyat Turki. Sesuai dengan semboyan negaranya “Kedaulatan tanpa syarat adalah milik Bangsa”, secara tegas mengatakan setiap intervensi asing atas musyawarah internal Turki termasuk status Aya Sophia adalah serangan terhadap kedaulatan negaranya. Turki sebagai negara mayoritas Muslim akan selalu melindungi hak-hak Muslim tanpa mengesampingkan minoritas yang tinggal di negaranya. Ia juga menambahkan Turki tak pernah ikut campur dalam urusan keagamaan negara lain.

Begitu juga, tak ada pihak asing yang berhak untuk mencampuri masalah yang menyangkut tempat ibadat kami,” tekan Erdogan.

Ada sekitar 435 gereja dan sinagog di Turki. Semua orang menikmati hak mereka untuk menjalankan kepercayaan mereka”, imbuhnya.

Erdogan juga menyindir bahwa bangsa Turki tak memiliki sifat penghancur unsur budaya sebelumnya, seperti yang dilakukan Spanyol dan Portugal, yang suka menghancurkan masjid-masjid yang ada di negara mereka.

https://republika.co.id/berita/qdbage2097364635/hagia-sophia-jadi-masjid-setelah-jeda-85-tahun-pesan-apa-yang-diberikan-turki

Tentu kita tahu apa yang terjadi paska kejatuhan Islam di Andalusia (Spanyol dan Portugal) pada tahun 1492. Ini adalah dampak kekalahan yang berkali-kali dialami pasukan Salib dalam melawan pasukan Muslim. Perang yang diberi nama Perang Salib ini pertama terjadi pada tahun 1099 atas perintah Paus Urbanus yang berkedudukan di Avignon Perancis. Tujuan utamanya untuk merebut Yerusalem yang ketika itu telah dikuasai Muslimin.

katedral Lisbon

Katedral Lisbon Portugal

seville-cathedral

Katedral Sevilla, Spanyol

katedral Toledo Spanyol

Katedral Toledo Spanyol

2009-11 Jerez_4

Katedral Jerez – Spanyol

 

Katedral Malaga, Spanyol

Katedral Malaga, Spanyol

masjid katedral cordoba-

Katedral Cordoba

Maka ketika akhirnya mereka berhasil mengalahkan kerajaan Islam di Andalusia dengan semena-mena mereka menghancurkan masjid-masjid, disamping mengusir dan membantai kaum Muslimin.

Masjid-masjid yang besar dan bagus mereka ubah menjadi katedral, hingga detik ini. Adakah dunia international peduli???

masjid-al-ahmar Palestina

masjid-al-ahmar Palestina

Yang juga tak kalah mengesalkan, baru-baru ini sebuah masjid di sebuah kota Palestina yang dikuasai Yahudi  bahkan dijadikan klub malam. Masjid bernama Al-Ahmar tersebut padahal masjid yang paling bersejarah di kota tersebut. Pada tahun 1948 masjid tersebut pernah menjadi rumah bagi 12 ribu warga Palestina yang dipaksa keluar dari rumah mereka oleh Zionis Israel. Sekretariat Islamic Centre yang ada di kita tersebut telah mengajukan protes. Adakah dunia international peduli???

https://aceh.tribunnews.com/2020/07/18/gaduh-hagia-sophia-menjadi-masjid-israel-ubah-masjid-bersejarah-jadi-bar-dan-aula-pernikhan

Umat Islam shalat di antara puing-puing masjid

Umat Islam shalat di antara puing-puing masjid

Demikian pula dengan masjid Babri di India. Masjid bersejarah peninggalan dinasti Mughal yang didirikan pada tahun 1527 itu dihancurkan oleh kelompok Hindu garis keras pada tahun 1992. Kerusuhanan tersebut menelan 2000 korban sebagian besar Muslim yang merupakan minoritas di negri tersebut. Ironisnya lagi PM India yang saat ini berkuasa telah menjanjikan berdirinya kuil megah di atas reruntuhan masjid tersebut. Adakah dunia international peduli???

https://tirto.id/amarah-dan-kebencian-yang-menghancurleburkan-masjid-babri-b7GH

Sementara paska kejatuhan Konstatinopel di tahun 1453, katedral Aya Sophia yang dibangun pada tahun 537 tidak semerta-merta dialih fungsikan menjadi masjid. Sultan Al-Fatih membelinya terlebih dahulu dari pihak penguasa gereja sebelum akhirnya diwakafkan menjadi masjid.

Ketika Al-Fatih membeli katedral tersebut keadaannya sudah tidak terawat bahkan sebagian sudah hancur. Aya Sophia memang pernah beberapa kali mengalami gempa. Karena tak sanggup memperbaikinya akibat keadaan ekonomi yang buruk, penguasa  Bizantium sempat menutup tempat ibadah itu selama beberapa periode.

Empat menara raksasa yang mempercantik bangunan kuno tersebut dibangun pada masa Ottoman berkuasa. Begitu pula beberapa kubah kecil yang terletak di sekitarnya, yang dibangun sebagai tempat wudhu, berdzikir dll. Menara dan kubah-kubah tersebut dibangun oleh Mimar Sinan, arsitek kenamaan Ottoman yang hidup pada abad 16. Kehebatannya diakui dunia setara dengan Michelangelo arsitek kenamaan Italia yang banyak membangun gereja. Mimar adalah satu dari sekian banyak orang Turki Kristen yang menjadi saksi keagungan Islam. Itu sebabnya ia kemudian memeluk Islam di usia dewasanya.

Sedangkan kaitannya dengan warisan dunia dan landmark kota, berapa banyaknya kota-kota besar dunia yang menjadikan katedral sebagai landmark. Katedral Notre Dame dan Basilika Sacre-Coeur di Paris, contohnya. Disamping membuka diri bagi turis, kedua tempat tersebut tetap aktif sebagai tempat ibadah umat Nasrani. Ini yang akan dilakukan Erdogan. Hagia Sophia selain berfungsi sebagai tempat ibadah kaum Mulimin akan tetap terbuka untuk turis mancanegara.

Akan halnya Yunani, negara tetangga Turki yang paling vokal menentang perubahan status Hagia Sophia, tercatat sebagai satu-satunya negara di dunia yang di ibukota negaranya tidak memiliki masjid yang dibiayai pemerintah. Muslim di Athena dan juga turis yang bertandang ke kota tersebut harus rela hanya bisa shalat di mushola-mushola kecil yang sulit dicari keberadaannya.

Link dibawah ini adalah pengalaman menyedihkan  kami ketika berada di Yunani (Athena dan Santorini).

https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/

https://www.aa.com.tr/id/dunia/erdogan-tidak-ada-satu-pun-masjid-yang-tersisa-di-athena/1860376

Pertarungan antara Islam dan Kristen/Yahudi, antara yang haq dan yang bathil, sampai kapanpun memang tidak akan bisa dihindarkan. Barat yang notabene Kristen/Yahudi namun selalu terlihat menggaungkan sekulerisasi sejatinya tidak pernah lupa akan kekalahan mereka terhadap pasukan Muslim. Kekalahan Romawi Timur yang ketika itu beribu kota di Konstatinopel yang juga berarti jatuhnya katedral Hagia Sophia sudah pasti sangat menyakitkan hati mereka.

Oleh sebab itu ketika Ottoman jatuh pada tahun 1924, dan 10 tahun kemudian Kemal Attaturk merubah status Hagia Sophia yang selama 481 tahun berstatus masjid menjadi museum, mereka sangat senang dan lega. Apalagi ketika kemudian Attaturk sebagai pendiri sekaligus presiden pertama Republik Turki menghapus seluruh jejak Islam yang ada di negara eks kekhalifahan tersebut, diantaranya pelarangan jilbab dan haji, azan diganti dengan Bahasa Turki, digantinya huruf Hijaiyah menjadi huruf abjad Latin, dll. Itulah Turki sekuler yang kita temukan hingga di awal berkuasanya Recep Tayeb Erdogan.

Apa daya Barat kini terpaksa gigit jari mendapati sejumlah kebijakan Erdogan yang banyak berpihak kepada Muslim yang sampai saat ini memang masih mayoritas Muslim. Tak heran bila selama berkuasa 18 tahun ( sebagai perdana mentri sejak tahun 2003 hingga 2014, presiden 2014 hingga saat ini) telah berkali-kali mengalami percobaan kudeta dan pembunuhan. Namun berkat dukungan rakyatnya yang solid, dan dengan izin Allah swt tentu saja, Erdogan lolos dari ancaman-ancaman tersebut.

Akhir kata mari kita doakan semoga Allah swt senantiasa melindungi dan menjaga singa Turki tersebut dari segala fitnah. Semoga ia tidak mengalami nasib buruk seperti Adnan Menderes, PM Turki periode 1950-1960 yang banyak merubah kebijakan sekuler hingga di kudeta dan dijatuhi hukuman gantung, atau Muhammad Mursi mantan presiden Mesir yang juga di kudeta karena alasan yang sama. Jangan biarkan Barat terus menjejalkan paham sekuler/kafirnya ke dunia internasional, dunia Islam khususnya.

“Katakanlah “Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” ( QS. Al-Kafirun(109):1-6).

 

151435Masjid Aya Sophia akan menyelenggarakan shalat Jumat perdananya pada Jumat pekan depan, yaitu 24 Juli 2020. Semoga Allah swt meridhoinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin … ( Foto di upload pada 24 Juli 2020),

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 17 Juli 2020.

Vien AM.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quranul Karim yang memerintahkan kita agar berbuat baik kepada kedua orang-tua kita. Berkat mereka, dengan izin Allah swt, kita ada di dunia ini. Melalui mereka kita jadi mempunyai kesempatan memasuki surga-Nya, dengan syarat lulus dari ujian kehidupan di dunia yang fana ini. Menariknya lagi, dalam suatu hadist Rasulullah bersabda yang mengisyaratkan bahwa ibu berhak mendapatkan perlakuan baik dari anak-anaknya 3x lebih banyak dari ayah.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab: ‘Ibumu’. ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ayahmu’.”

Para ulama sepakat mengatakan hal tersebut karena 3 hal yaitu ibu mengandung, melahirkan dan menyusui. Meski ini tidak berarti hanya sebatas itu tugas ibu. Sementara tanggung jawab terbesar ayah adalah bekerja keras menafkahi keluarganya. Yang juga bukan berarti mengecilkan peran ayah dalam keluarga.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya … … “.( Terjemah QS. Al-Ahqaf(46):15).

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. … … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah 233).

Mungkin ada sebagian ibu yang tidak menyadari bahwa mengandung, melahirkan dan menyusui mendapat penghargaan yang begitu tinggi dari Allah Azza wa Jala. Karena bukankah mengandung dan melahirkan terutama, bukan kehendak dan kemauan kita melainkan kehendak-Nya. Dengan kata lain ibu mengandung dan melahirkan adalah sunnatullah, kecuali Allah menghendaki lain. Seorang perempuan yang menikah sudah seharusnya siap mengandung dan kemudian melahirkan. Dan bagi umumnya ibu ( dan juga ayah) ini adalah sesuatu yang sangat diharapkan.

Sementara menyusui agak berbeda, karena tidak setiap ibu dianugerahi ar susu yang banyak. Meski pada umumnya seorang ibu yang baru melahirkan otomatis akan memproduksinya. Dan ternyata ilmu pengetahuan baru belakangan ini menemukan bahwa air susu ibu di hari-hari awal melahirkan mengandung zat yang sangat baik bagi bayi, yaitu kolostum. Cairan ini  mengandung antibodi penghambat pertumbuhan virus dan bakteri, protein, vitamin A dan mineral. Namun demikian menyusui bukan keharusan melainkan anjuran, yaitu hingga anak mencapai usia 2 tahun. Bahkan boleh anak di susukan perempuan lain seperti yang dialami Rasulullah saw.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“.( Terjemah QS. Al-Baqarah 233).

Lebih jauh lagi. Tentu kita sering mendengar hadist “ Surga di bawah telapak kaki ibu”. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hadist tersebut palsu. Namun ada hadist lain yang dihukumi sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani, yang isinya kurang lebih sama.

Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya datang kepada Nabi Muhammad n dan berkata, : “Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”

Sungguh betapa tingginya kedudukan ibu di sisi Allah swt. Berbahagialah wahai kaum ibu … Pertanyaannya, apakah semua ibu mempunyai kedudukan demikian? Adakah syarat dan kriteria tertentu agar ibu sebagai pintu surga anak-anaknya bisa terus terjaga?

Ayat-ayat amalan berbakti kepada orang tua hampir selalu didahului dengan perintah larangan berbuat syirik. Diantaranya adalah sebagai berikut :

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” (Terjemah QS. Al-An’am(6): 151).

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. … … “. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):23).

Artinya meski amalan bakti kepada kedua orang-tua sangat tinggi kedudukannya namun tetap dibawah perintah untuk senantiasa menyembah hanya kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala. Ini juga bisa diartikan bahwa itulah syarat minimal ibu yang memiliki kedudukan tinggi untuk dihormati anak-anaknya yaitu tauhid.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua ( ayah dan ibu) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.( Terjemah QS. Al-Isra(17):24).

Selanjutnya bila kita memperhatikan ayat di atas, mereka adalah yang yang telah mendidik anak-anaknya ketika kecil. Mendidik apa? Tentu saja untuk mengenal Tuhannya yaitu Allah Subhana wa Ta’ala sebagaimana doa yang sering kita baca sebagai berikut :

doa ortu“Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”, yang artinya :

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil”

Namun pada ayat-ayat lain dapat kita temui bahwa berbakti kepada ibu/orang-tua tidak hanya kepada ibu/orang-tua yang beriman dan mentaati segala perintah-Nya. Tapi juga kepada orang-tua yang kafir bahkan jahat sekalipun. Dengan syarat bila orang-tua menyuruh kepada kesyirikan anak harus menolak tapi dengan cara yang santun, tidak boleh kasar.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah keduanya dengan baik”. ( Terjemah QS. Luqman(31):15).

Asbabun nuzul ayat di atas adalah kisah ke-Islam-an Sa’ad bin Abi Waqqash, satu dari sepuluh sahabat yang dijamin Rasulullah masuk surga. Ketika itu Sa’ad masih ber-usia 17 tahun. Ibu Sa’ad marah dan kesal kala mengetahui anaknya masuk Islam.

Hai Sa’ad, kalau engkau tidak meninggalkan agamamu (Islam) maka aku tidak akan makan dan minum sampai mati sehingga engkau akan dikenal sebagai pembunuh ibu,” gertaknya berulang kali.

Karena merasa terus dipojokkan akhirnya Sa’ad menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan Islam apapun yang terjadi termasuk bila ibunya meninggal karena tidak mau makan. Keyakinan Sa’ad yang begitu bulat dan kuat itu ternyata membuat ibunya luluh. Sang ibupun akhirnya mengalah, dan menghentikan aksi mogoknya.

Dengan kata lain, Allah swt menjadikan ibu sebagai pintu surga anak-anaknya karena kaum ibu adalah kaum yang dipilih Allah untuk mengemban amanat berat mempertahankan kelangsungan keberadaan manusia di muka bumi. Ini adalah tugas maha berat dan mulia yang tidak mungkin diwakilkan kepada siapapun. Itu sebabnya seorang ibu ikhlas atau tidak, muslim atau kafir, sholehah ataupun tidak, semua berhak mendapat balasan perlakuan baik dari anak-anaknya. Allah  swt bahkan melarang seorang anak mengucapkan kata “ugh” atau “akh” sebagai tanda penolakan terhadap perintah orang-tua.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):23).

Begitulah Allah swt mengajarkan adab dan cara berterima-kasih kepada orang yang berjasa dalam kehidupan seseorang. Orang yang pandai berterima-kasih kepada sesama manusia biasanya juga akan lebih mudah berterima-kasih dan bersyukur kepada Yang Maha Pencipta.

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi).

Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat.” [HR Bukhari]

Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan dan dosa besar”. [HR Bukhari].

Namun demikan ibu yang baik tentu tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Ibu yang beriman dan sholehah, yang bisa mencontohkan kesholehahannya kepada anak-anaknya pasti lebih mudah bagi anak untuk berbakti kepadanya. Sebaliknya ibu yang kafir apalagi ditambah akhlak yang buruk tentu sulit bagi anak untuk menyayangi apalagi mentaatinya.

“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi).

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

Kedua hadist di atas menunjukkan bahwa doa orang-tua adalah satu dari tiga doa yang mustajab. Oleh sebab itu orang-tua, terutama ibu, harus extra hati-hati terhadap apa yang keluar dari lisannya. Kisah Imam Al-Bukhary yang sejak kecil buta dan kisah rahib Yahudi Juraij adalah bukti yang sering kita dengar.

Al-Bukhary bisa melihat kembali setelah Allah Azza wa Jala mengabulkan doa ibunya  yang sering memohon kesembuhan putra tercintanya. Sementara Juraij mengalami kesialan akibat doa buruk ibunya yang kesal melihat panggilannya tidak digubris anaknya,

Semoga Allah swt ridho menjadikan kita sebagai ibu yang mudah ditaati anak-anaknya hingga pintu surgapun mudah terbuka bagi mereka. Ibu yang senantiasa di doakan anak-anaknya yang sholeh/sholehah agar kelak dapat bertemu lagi dengan mereka di surga … aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 2 Juli 2020.

Vien AM.

Kedasyatan Al-Quran.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.  Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( Terjemah QS. Al-‘Alaq(96):1-5).

Ayat di atas adalah ayat yang pertama turun kepada Rasulullah Muhammad saw. Disampaikan oleh malaikat Jibril as ketika Rasulullah sedang berkhalwat di gua Hira yang telah menjadi kegiatan rutin karena prihatin terhadap prilaku penduduk Mekah yang makin hari terperosok dalam kemaksiatan. Sejak itu ayat-ayatpun terus turun selama nyaris 23 tahun hingga menjelang wafatnya Rasulullah.

Awalnya Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Ayat-ayat disampaikan hanya kepada orang-orang terdekat seperti Khadijah sang istri tercinta satu-satunya, keponakan yang masih muda belia Ali bin Abu Thalib serta sahabat-sahabat dekat seperti Abu Bakar dll.

Namun setelah 3 tahun berlalu turun ayat yang memerintahkan agar rasul berdakwah secara terbuka dan terang-terangan. Maka Rasulpun mengumpulkan penduduk Mekah di suatu tempat terbuka, mengumumkan kerasulan beliau sekaligus memperkenalkan ajaran Islam.

Sayang ajakan tersebut ditolak mentah-mentah, terutama oleh para pembesar Mekah. Perlu diketahui keadaan Mekah ketika itu adalah merupakan pusat peribadatan dengan Ka’bah sebagai pusatnya. Ka’bah memang sudah ada jauh sebelum Islam datang. Ibadah haji termasuk thawaf dan sa’i adalah ritual ibadah peninggalan nabi Ibrahim as dan putranya nabi Ismail as yang sudah berumur ribuan tahun.

Namun dengan berlalunya waktu ibadah tersebut telah diselewengkan sedemikian rupa hingga menjadi penyembahan berhala. Sebagai pusat peribadatan, Mekah banyak didatangi peziarah dari segala penjuru tanah Arab. Selain beribadah mereka juga datang untuk berlomba memamerkan kemahiran mereka bersyair, sekaligus juga untuk berniaga.

Puncaknya adalah musim haji. Pada saat itu, pasar-pasar Arab dibuka lebar-lebar. Yang paling terkenal adalah Pasar Ukaz. Di Ukaz inilah terdapat mimbar khusus tempat para penyair Arab adu kepiawaian. Disamping itu, Ukaz juga memiliki tempat penjualan budak dari berbagai ras dan bangsa, mulai yang berkulit hitam, kuning, coklat hingga berkulit putih.

Para pembesar Mekah sudah pasti adalah yang paling merasakan keuntungannya. Itu sebabnya mereka adalah yang paling takut kehilangan pengaruh dan kekuasaan bila  datang agama baru ke daerah kekuasaan mereka.

Namun Rasulullah tidak menyerah, ayat-ayat Al-Quranul Karim tetap beliau perdengarkan kepada penduduk Mekah. Dan tak sedikit diantara para penyair handal yang mau tak mau harus mengakui kehebatan dan keindahan ayat-ayat tersebut.  Bahkan Walid bin Mughirah, seorang pembesar Mekah yang juga ahli syair, mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah merasa tersentuh.

Demi Allah, tak seorangpun diantara kalian yang melebihi pengetahuanku tentang syair, puisi dan sajak, bahkan dari kalangan jinpun. Demi Allah apa yang diucapkan Muhammad tak sedikitpun menyerupai semua itu. Sungguh perkataannya indah dan menyejukkan. Kata-katanya sangat tinggi dan tak mungkin tertandingi”, aku Walid kagum.

Hal ini menyebabkan pembesar Mekah lain bertambah kesal dan marah. Fitnahpun disebarkan, Muhammad adalah penyihir, orang gila, maka harus dijauhi. Muhammad adalah pemecah bangsa, pengkhianat agama nenek moyang.

Tidak cukup puas hanya dengan menyebar fitnah mereka juga mengolok-olok bahkan melempari Rasulullah dengan kotoran binatang.

Suatu hari Umar bin Khattab seorang pembesar Mekah yang dikenal garang bermaksud menemui Rasulullah untuk membunuhnya.

“Aku akan menemui Muhammad! Dia yang menukar agama nenek moyang kita. Dia yang memecah belah masyarakat Quraisy. Dia memiliki banyak angan-angan bodoh. Dia yang mencaci tuhan-tuhan kita. Untuk semua kesalahannya itu, aku akan menebas lehernya!“, serunya geram.

Namun dalam perjalanannya menuju Darul Arqam dimana Rasulullah sering berkumpul dengan para sahabat ia mendapat kabar bahwa adik perempuan yang sangat ia cintai yaitu Fatimah dan suaminya Sa’id bin Zaid telah masuk Islam. Segera Umarpun merubah haluan menuju rumah pasangan tersebut untuk memastikan kebenarannya. Singkat cerita saking marahnya Umar memukul adiknya hingga terjatuh dan darahpun mengucur dari wajahnya.  Melihat itu Umar menyesal, lalu meminta adiknya untuk memperlihatkan lembaran-lembaran Al-Quran yang sempat disembunyikan di bawah kursinya. Lembaran-lembaran tersebut adalah lembaran surat Thaahaa berikut :

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”. (Terjemah QS. Thaahaa(20):1-6).

Umar tertegun, hatinya tersentuh, tubuhnya bergetar hebat, tangannya terkulai dan matanya menerawang jauh. Tiba-tiba ia teringat suatu malam secara tidak sengaja mendengar Rasulullah membaca ayat berikut:

“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”   (Terjemah QS. Al-Haqqah(69):41).

Ketika itu ia berpikir “Jika bukan perkataan penyair pasti perkataan Muhammad sendiri”. Didorong rasa keingin-tahuan yang tinggi, keesokan malamnya diam-diam ia menyelinap ke dekat rumah Rasulullah. Atas kehendak Allah swt ternyata yang dibaca Rasulullah adalah kelanjutan ayat yang didengarnya kemarin.

“Ia (Al Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.”

Segera Umarpun meninggalkan adiknya yang memandangnya penuh harap, dan pergi menuju Darul Arqam. Tapi kali ini bukan untuk membunuh Rasulullah melainkan untuk menyatakan ke-Islam-annya. Allahu Akbar …

Sebuah pertanyaan besar mengapa Umar yang dikenal temperamen, keras kepala dan tidak sudi mendengarkan pendapat orang lain begitu mudah luluh mendengar ayat-ayat Allah dibacakan?

Sama halnya dengan bangsa jin sebagaimana ayat berikut :

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan,” (Terjemah QS. Al-Jinn(72):1).

Al-Quran juga mampu membuat orang tergetar hebat menangis meski ia tidak memahami bahasa apalagi maknanya. Kita juga bisa melihat betapa orang di seluruh penjuru dunia, lelaki perempuan besar kecil hafal Al-Quran, bahkan  bacaan panjang pendeknyapun sesuai dengan yang tertulis.

Yaa … Al-Quran adalah mukjizat terbesar Rasulullah. Jika nabi Musa as dengan tongkat ajaibnya yang bisa berubah menjadi ular mampu membuat para penyihir bertekuk lutut. Nabi Isa as dengan kemampuan menyembuhkan orang lepra bahkan Allah swt pernah suatu kali mengizinkan beliau menghidupkan seorang yang mati. Nabi Ibrahim as yang berhasil keluar dari hukuman api dari rajanya. Nabi Saleh dengan unta betina yang muncul dari batu. Maka selain mukjizat-mukjizat kecil yang tidak jauh beda dari mukjizat nabi yang lain, Allah swt membekali Rasulullah dengan Al-Quranul Karim sebagai mukjizat terbesarnya.

Al-Quran adalah kitab suci yang bukan hanya indah rangkaian kata dan susunan kalimatnya. Tapi terlebih lagi makna dan kandungan yang ada di dalamnya. Kitab ini bukan hanya berisi perintah dan larangan, cerita para nabi dan umat-umat terdahulu, tapi juga berita-berita langit yang sungguh sangat visioner, menembus batas akal dan pikiran manusia yang sulit dipahami manusia pada waktu itu. Ayat-ayat yang seperti itu baru belakangan ini terbukti ternyata sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan dan sains yang makin hari makin terkuak itu. Ini makin membuktikan bahwa Al-Quran bukan buatan manusia.  Ia adalah kumpulan Firman Allah Azza wa Jala Yang Maha Tinggi di atas sana. Allahu Akbar.

Tak heran jika hingga saat ini, 15 abad sejak awal diturunkannya, mukjizat Al-Quran masih bisa terus dirasakan. Betapa banyaknya orang yang mau memeluk Islam setelah membaca dan mempelajari Al-Quran. Para ilmuwan dari berbagai negara maju tak terhitung banyaknya yang terkagum-kagum membaca ayat-ayat Al-Quran yang ternyata sesuai dengan ilmu yang selama bertahun-tahun mereka geluti.

Jadi, sungguh beruntung kita yang sejak lahir sudah mengenal Al-Quran. Sebaliknya alangkah sialnya bila kita tidak mampu merasakan kedasyatannya. Untuk itu marilah kita maksimalkan pengenalan kita terhadap kitab suci ini, tidak dengan hanya membacanya siang dan malam, tapi juga dengan mentaddaburi serta mengamalkannya,  agar kita dapat memperoleh ridho dan ampunan-Nya.

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah saw bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Quran. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib, Syarah Ihya)

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah,

Aku adalah Alquran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Juni 2020.

Vien AM.

Di tengah pandemi virus corona ternyata mendorong sebuah penemuan yang luar biasa yakni alat tes cepat virus corona. Rupanya alat tersebut ditemukan seorang ilmuwan muslim Profesor Jackie Ying. Saat ini ia menjadi Kepala Laboratorium NanoBio di Agency for Science, Technology and Research, Singapura.

Dilansir dari website Rahyafteha, Selasa (21/4/2020), Profesor Jackie Ying, 46 tahun, lahir di Taiwan namun ia dan keluarganya pindah ke Singapura. Ia juga merupakan seorang pakar kimia dan telah memenangkan banyak penghargaan termasuk di antaranya 100 insinyur era modern yang dinobatkan oleh American Institute of Chemical Engineers, dan satu dari 100 anak muda di dunia yang diharapkan menjadi inovator terkemuka abad ke-21 oleh Technology Review, majalah inovasi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika.

 Jackie Ying

Profesor Jackie Ying memang muslimah yang luar biasa. Ia menjadi profesor di MIT pada usia 35 tahun dan terpilih untuk Leopoldina (Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Jerman) pada usia 39 tahun.

Ia juga telah menulis ratusan artikel di bidangnya tentang bahan dan perangkat berstruktur nano dan memiliki lebih dari 130 paten yang diterbitkan atau ditangguhkan. Profesor Jackie Ying baru-baru ini terpilih sebagai Fellow Masyarakat Riset Material 2013. Menurutnya, masyarakat adalah organisasi peneliti, dan bahan penelitian terbesar di dunia.

Sebagai seseorang yang memiliki kecerdasan luar biasa Profesor Jackie Ying selalu haus akan ilmu pengetahuan. Bahkan sejak sekolah menengah pertama di Singapura, ia belajar berbagai agama, termasuk Islam.

Tepat pada tahun 2004, Profesor Jackie Ying memutuskan untuk memeluk agama Islam saat usianya yang telah memasuki umur 30-an. Ia juga sudah melaksanakan umroh pada 2013 lalu dan memutuskan untuk menggunakan hijab setelah kembali dari Makkah.

Bagi Profesor Jackie Ying, memakai hijab merupakan kewajiban agama. Ia tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentangnya sebab agama adalah masalah personal. Hal yang mendorong ia memutuskan menjadi mualaf, karena Islam mendorong umatnya untuk terus belajar dan selalu mencari pengetahuan. Melalui ilmu pengetahuan maka seorang muslim bisa bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Ini jika dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah SWT maka akan mendapatkan pahala karena sebagai bentuk ibadah.

Saat mempelajari ilmu pengetahuan, saya selalu berpikir keberadaan Allah SWT. Ia merupakan Tuhan yang menciptakan segalanya, termasuk ilmu pengetahuan, jadi bagi saya sejatinya agama dan ilmu pengetahuan itu tak saling bertentangan,” ujar Profesor Jackie Ying.

Profesor Jackie Ying menceritakan, memang ada tantangan sebagai seorang peneliti perempuan dan juga seorang muslim. Kedua hal ini merupakan minoritas. Namun ia menilai dalam hidup selalu ada tantangan dan perjuangan yang harus dijalani tanpa putus asa.

Ia juga mengaku bekerja dua kali lebih keras dan beruntung dipromosikan dengan cepat sebagi profesor. Selama bertahun-tahun ia juga selalu berinisiatif untuk memperkenalkan sains kepada generasi muda agar lebih tertarik dan mencintai sains. Profesor Jackie Ying sering membawa para siswa ke laboratorium dan memberikan mereka pemahaman dan juga pentingnya keberadaan sains. Nampaknya usaha yang dilakukannya tidak sia-sia, 134 siswa telah mengambil beasiswa sains dan 34 dari mereka telah bergabung dengannya sebagai staf. Alhamdulillah, pencapaian yang luar biasa ya!

Jakarta, 9 Juni 2020.

Vien AM.

Dikutip dari :

https://muslim.okezone.com/read/2020/04/21/614/2202543/kisah-profesor-jackie-ying-penemu-alat-tes-cepat-virus-corona-masuk-islam?page=2

Bagi sebagian orang Lebaran tanpa tradisi mudik rasanya kurang afdol. Tak terkecuali Lebaran 2020 atau Iedul Fitri 1441 H yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang sukses membuat heboh sebagian besar penduduk dunia. Para pemudik tampaknya tidak peduli terhadap bahaya penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan dan telah menyebabkan ribuan korban jiwa melayang termasuk nyawa para petugas medis yang sedang berjuang menolong korban penyakit tersebut.

Kebijakan yang tumpang tindih antara pusat dan daerah seperti karantina daerah (lock down), Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB), dan terakhir larangan mudik namun layanan transportasi justru di aktifkan kembali, disinyalir adalah salah satu penyebabnya.

https://mediaindonesia.com/read/detail/305730-regulasi-tumpang-tindih-dan-bertentangan-persulit-penegakan-hukum

Kepatuhan dan ketidak-patuhan memang tidak dapat dilepaskan dari krisis kepercayaan. Diawali dari pemerintahan yang korup yang sudah mendarah daging di bumi pertiwi ini, hutang pemerintah yang menumpuk hingga tersandera si negara pemberi hutang, angka pengangguran dan kiminalitas yang terus melonjak dll, menambah parahnya krisis kepercayaan masyarakat. Krisis ini tidak hanya kepada instansi tapi juga sosok individu.

Tentu kita semua pernah mendengar kisah klasik tentang seorang penggembala kambing yang untuk mengatasi rasa bosannya membohongi penduduk dengan mengatakan ada srigala datang menyerang kampung mereka.

Awalnya si penggembala berhasil mengecoh penduduk dan puas mentertawai mereka. Namun setelah berkali-kali mengulangi perbuatan buruk tersebut akhirnya pendudukpun sadar bahwa mereka telah dikerjai. Hingga suatu hari ketika benar-benar datang segerombolan srigala maka tak seorangpun mau percaya dan menolong si penggembala.

Sebuah hikmah, jangan pernah berbohong. Karena suatu ketika kita bicara jujur tak seorangpun akan mempercayai kita lagi. Apalagi kita sebagai umat Islam, pasti tahu perbuatan bohong sekecil apapun adalah dosa. Apalagi korupsi dll. Bersyukur kita memiliki panutan yang amat sangat pantas dijadikan keteladanan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Al-Ahzab(33):21).

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. [HR. Al-Bukhari].

Rasulullah adalah seorang yang amanah, siddiq, tabligh dan fathonah. Seorang Muslim seharusnya mencontohnya.  Dengan amanah seseorang akan selalu menepati janji, dengan siddiq ia akan jujur, tidak korupsi, tidak berbohong apalagi membuat berita hoax untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya. Dengan tabligh ia akan berani menyampaikan kebenaran betapapun pahitnya, dan dengan fathonah seseorang akan mampu menyelesaikan segala masalah dengan sebaik mungkin.

Rasulullah Muhammad saw juga dikenal memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat menonjol, tapi juga suka dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Beliau biasa menyelesaikan masalah secara musyawarah. Kasih sayangnya kepada umat jauh lebih besar dari pada kepada keluarga apalagi diri sendiri. Rasulullah tidak marah bila pribadi beliau yang dihina. Sebaliknya bila menyangkut kepentingan umat Rasulullah membelanya mati-matian.

Dengan berbekal inilah Rasulullah menyampaikan Islam hingga bisa berkembang dan menyebar ke segala penjuru dunia. Ajaran yang diturunkan Allah swt melalui malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw ini sejatinya adalah mengajarkan ahlak yang mulia dengan dasar ketundukan, kepatuhan serta penyembahan murni hanya kepada Tuhan Yang Satu, itulah Allah Azza wa Jala.

Tuhan Yang Satu, Tunggal, tidak beranak dan diperanakkan, tidak berkolaborasi dengan apa dan siapapun. Ia tidak membutuhkan dan tidak punya sedikitpun kepentingan atas kita. Ini menunjukkan ke-absolutan kekuasaan sebuah kerajaan yang abadi, kerajaan Allah, penguasa langit, bumi dan seluruh alam semesta, dengan para malaikat sebagai bala tentara yang siap tunduk patuh menjalankan perintah-Nya.

“Hai manusia, kamulah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS. Fathir(35):15).

“Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS.Ibrahim(14): 8)

Sebaliknya dengan penguasa negara di dunia, selain terbatas waktu dan wilayah kekuasaannya, ia memerlukan bantuan dan kerja sama mentri-mentrinya. Juga dukungan rakyat bila ingin pemerintahannya berjalan mulus. Rakyat dengan sendirinya akan patuh ketika merasa  diperhatikan, dilindungi haknya, dijaga keamanan dan dipenuhi kebutuhannya.

Namun bila hal itu tidak juga terjadi tidak heran juga. Bila kerajaan Allah yang begitu dasyat dan rasulullah sebagai penyampai ajaran yang tak diragukan lagi ahlaknya saja bisa di dustakan apalah arti seorang pemimpin negri.

Semoga dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan yang seharusnya membuahkan umat yang takwa, mampu membuat kita memahami apa arti kepatuhan, kepemimpinan dan kepercayaan.  Meyakini betapa pentingnya peran seorang pemimpin. Oleh karenanya tidak sepatutnya seorang Muslim tidak peduli dan asal-asalan dalam memilih pemimpin.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpin kalian jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):23).

Semoga di masa pandemi yang menyebabkan kita harus tetap di rumah beserta keluarga akan melahirkan generasi yang benar-benar memahami ayat-ayat Al-Quranul Karim, bagaimana Rasulullah menyikapinya,  hingga mampu membawa kita kembali ke masa kejayaan Islam dan mampu memimpin kita melawan kejahatan Dajjal yang makin memperlihatkan taringnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Juni 2020.

Vien AM.