Feeds:
Posts
Comments

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(Terjemah QS. An-Nisa(4):1).

Menjaga hubungan silaturrahim baik dengan saudara yang sedarah maupun tidak, sangat dianjurkan dalam Islam. Lebih jauh, silaturrahim bukan hanya menjaga hubungan yang sudah baik, melainkan menyambung hubungan yang terputus. Hubungan silaturrahim yang baik sudah pasti membawa kedamaian. Tak salah bila semua agama mengajarkan hal yang satu ini.

Tapi Islam bukan hanya agama yang membumi, karena manusia memang hidup di bumi/dunia. Dalam Islam dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat beramal ibadah, tempat sementara. Tempat yang relative abadi adalah kehidupan akhirat yaitu surga atau neraka. Disanalah kita akan menuai hasil yang kita tanam di dunia.

Oleh karenanya silaturrahim dalam Islam harus karena Allah swt. Inilah yang akan dinilai sebagai amal ibadah yang kelak akan diperhitungkan di akhirat. Dalam Islam bahkan senyumpun adalah ibadah, bila dilakukan demi mencari ridho-Nya.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pada zaman Rasulullah saw masih hidup dan berdakwah di kota Mekah, kota kelahiran dimana orang-tua, sanak saudara berkumpul, Rasulullah justru dilecehkan dan dimusuhi bahkan akan dibunuh. Dukungan kepada dakwah Rasulullah malah datang dari penduduk Madinah yang bukan sanak saudara. Itu sebabnya ketika akhirmya Rasulullah hijrah ke Madinah beliau disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk Madinah. Merekapun berbondong-bondong memeluk Islam.

Al-Quran menyebut pendukung Rasulullah dari Madinah ini sebagai kaum Anshor ( yang menolong). Sedangkan pendukung Rasulullah dari Mekah yang akhirnya juga ikut berhijrah ke Madinah, disebut kaum Muhajirin ( orang-orang yang berhijrah). Kaum Anshar dengan ikhlas membantu segala kebutuhan kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka karena siksaan orang-orang Quraisy yang tidak rela mereka memeluk Islam. Dari situlah kemudian muncul apa yang disebut Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam).

Dan penduduk Madinah yang telah beriman sebelum kedatangan Rasul (kaum Anshar) sangat mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Mereka tidak pernah berkeinginan untuk mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada Muhajirin. Bahkan, kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin dibanding diri mereka sendiri, sekalipun mereka sedang dalam kesulitan. Dan orang-orang yang memelihara dirinya dari sifat kikir, itulah orang-orang yang beruntung”. (Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 9).

Sayangnya Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan dasyat milik kaum Muslim ini berangsur luntur. Sebagian orang menganggap ikatan ini dianggap sebagai pemecah bangsa bahkan radikal. Ironisnya lagi tidak sedikit umat Islam yang termakan anggapan miring tersebut. Mereka tidak menyadari ini adalah bagian dari perang pemikiran ( Ghozwl Fikri) yang dihembuskan musuh-musuh Islam untuk menggembosi Islam dari dalam. Musuh-musuh Islam yang selama berabad-abad lamanya pernah terpaksa takluk dan mengakui kebesaran Islam. Dan yang dengan izin Allah swt, di akhir zaman nanti masa kejayaan tersebut akan terulang kembali.

Islam memang mengajarkan bahwa ikatan persaudaraan tidak hanya ikatan persaudaraan Islam. Ada yang namanya Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan umat manusia) yang juga disebut Ukhuwah Insaniyah. Ketiga ukhuwah tersebut wajib dijaga.

“Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah).

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”. (HR. Al Baihaqi).

Namun ketika Islam mulai dilecehkan dan dipinggirkan, ukhuwah Islamiyah wajib didahulukan. Karena persaudaraan ini didasari kecintaan kepada Allah swt sebagai Sang Khalik, Sang Pencipta dimana nanti kita akan kembali.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):10).

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).

Tapi apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyedihkan. Ulama dilecehkan, di persekusi umat tidak peduli. Sebaliknya orang yang jelas-jelas melecehkan Al-Quranul Karim malah dibela habis-habisan. Ironisnya lagi hal ini terus berlarut hingga hari ini. Anies Bawesdan, gubernur DKI yang nyata-nyata telah mengalahkan petahana si penista dalam pilkada resmi, terus saja dibully. Dan ini berlanjut hingga ke tingkat pemilihan presiden yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan. Aroma dendam kesumat sungguh terasa kental.

Yang lebih menyedihkan lagi perpecahan dalam Islam di negri ini seperti sengaja dibiarkan terjadi, bahkan semakin disulut agar bertambah parah. Dengan alasan HAM, Demokrasi dll Islam terus disudutkan sebagai radikal, tidak toleran, anti Pancasila dll.

Tak ayal mereka yang tipis imannyapun terperangkap oleh isu busuk tersebut. Mereka menjadi tidak Percaya Diri terhadap ke-Islam-an mereka. Mereka bahkan menganggap apa-apa yang berbau Islam pasti buruk. Mereka juga tidak mampu membedakan antara Arab dan ajaran Islam. Sementara semua yang berasal dari Barat dianggap benar, bagus, modern serta perlu diikuti.

Harus diakui, sebagian besar Muslim di negri tercinta ini memang Islam keturunan, Islam karena nenek moyang. Mereka malas dan tidak merasa perlu belajar tentang Islam apalagi memperbarui ke-Islam-an mereka. Itu sebabnya mereka mudah dibodohi musuh-musuh Islam. Sungguh mengenaskan. Tidakkah mereka menyadari bahwa perpecahan adalah sumber petaka ??

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 14 Januari 2019.

Vien AM.

Great Ocean Road adalah jalur pantai pesisir selatan Australia antara Geelong dan Warrnambool di Victoria. Jalan ini dibangun pada masa Great Depression antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II sebagai upaya pemerintah Australia untuk membuka pekerjaan. Jalur yang memiliki keindahan alam mempesona ini hanya berjarak sekitar 90 menit dari pusat kota Melbourne.

Beruntung kami menemukan link tentang perjalanan  tersebut dari rumah, di Jakarta. Hingga dengan demikian dapat menikmat maha karya kecantikan buatan Sang Khalik sepanjang 200 km tersebut tanpa harus berlelah-lelah mengemudikan sendiri kendaraan yang banyak disewakan di Melbourne. Ataupun di Geelong yang sering dijadikan tempat start perjalanan ke Great Ocean Road. Melbourne – Geelong dapat ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan subway.

https://greatoceanroadmelbournetours.com.au/tours/1-day-great-ocean-road-12-apostles-tour/

Maka pada suatu hari di bulan Oktober tepat pukul 7.00 pagi, bus datang menjemput kami di depan hotel. Pak sopir merangkap guide yang akan menemani kami selama perjalanan memperkenalkan diri dengan nama Tim, warga asli Melbourne.

20181125_093059Setelah mampir di beberapa meeting point untuk menjemput para tamu sesuai daftar, bus berkapasitas 24 orang itupun langsung melaju meninggalkan kota. Sepanjang perjalanan dari Melbourne ke Geelong yang terletak di barat daya Melbourne adalah  hamparan padang rumput luas nan hijau, dengan sapi dan domba-domba berbulu lebat yang sungguh meneduhkan mata. Australia memang dikenal sebagai negara pengeksport daging dan susu kedua ternak tersebut.

Highway mulus yang kami lalui terlihat sengang. Penduduk benua di sebelah tenggara Indonesia ini memang relative sedikit dibanding luasnya. Penduduk asli Australia yang merupakan bagian dari negara persemakmuran Inggris ( commonwealth) adalah suku aborigin yang jumlahnya tidak begitu banyak dan menyebar di banyak tempat. Namun sejak kedatangan kapten Cook dan armada  Inggrisnya ke benua tersebut pada tahun 1770, dan menjadikannya tempat buangan narapidana Inggris, maka rata-rata penduduk Australia sekarang ini adalah keturunan bangsa Inggris dan Irlandia.

Selepas Geelong menuju Torquay, perjalanan indah berkelok susur pantai selatan Australiapun dimulai. Tim sambil mengemudikan kendaraan tak henti-hentinya bercerita berbagai hal. Mulai dari kopi yang merupakan bagian hidup warga Melbourne, harga rumah di Melbourne yang makin hari makin meroket, gold hunter alias perburuan emas di masa lalu, hingga kisah Tom dan Eva, warga Inggris yang mengalami kecelakaan kapal parah di tahun 1800-an.

20181125_09431120181125_111715IMG_4365Beberapa kali Tim menghentikan bus, memberi kesempatan tamu-tamunya untuk turun menikmati keindahan pantai. Kami juga berhenti sebentar di sebuah hutan kecil untuk hunting koala yang banyak menempati hutan tersebut. Dari penjelasan Tim, kami baru tahu binatang lucu yang menjadi ikon Australia disamping Kangguru tersebut ternyata termasuk jenis hewan perusak. Binatang yang tidak suka hidup berkelompok dan sangat suka bertegger di atas pohon itu, sebenarnya telah merusak batang pohon yang dikeratnya setiap hari, meski mungkin tanpa disadarinya.

Menjelang pukul 12 siang, kami tiba di Apollo Bay, dimana kami berhenti untuk makan siang di sebuah restoran. Dan sesuai brosur isian yang kami isi via internet sebelum keberangkatan, kami menerima pesanan makanan kami, Chicken Pizza dan Grill Chicken, dengan tanda khusus HALAL.  Alhamduillah …

Dari 24 orang yang berada di dalam rombongan hari itu, hanya kami ber-tiga yang Muslim. Tim sebelumnya sempat meng-absen tamu-tamunya berdasarkan negara. Dengan bangga ia memamerkan bola yang ada dalam genggamannya,

Hari ini saya menggenggam 14 negara dalam satu tangan saya”.

14 negara tersebut adalah Australia, Amerika, Mexico, Inggris, Denmark, Norwegia, Perancis, Spanyol, Italia, Korea Selatan, Vietnam dan Indonesia. Dua lagi saya lupa …

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Jujur, bangga dan bahagia rasanya sebagai Muslim sekaligus orang Indonesia bisa berada di tengah-tengah berbagai bangsa. Dakwah tidak harus dengan berbicara panjang lebar, tapi dengan penampilan, jilbab khususnya bagi kaum hawa, bisa mempunyai nilai tersendiri.

Usai makan siang, rombongan segera memasuki bus untuk memulai perjalanan menyusuri Great Ocean Road yang dipenuhi tebing-tebing terjal yang memukau. Jalur ini membentang sepanjang 200 kilometer menyusuri selat Bass yang terkenal ganas. Tim kembali menceritakan kisah Tom dan Eva yang menjadi salah satu korban keganasan gelombang laut selat tersebut, secara lebih rinci.

Pada tahun 1798, penjelajah Inggris bersuka-cita karena menemukan selat Bass, yang memisahkan daratan Australia dengan pulau Tasmania yang berada di bagian selatannya. Karena dengan demikian dapat mempersingkat perjalanan laut dari Inggris ke Sydney sejauh 1.100 kilometer, dari total 19.000 kilometer dan  memakan waktu 5 bulan perjalanan. Perjalanan tersebut sejatinya nyaris mengelilingi separuh dunia, yaitu dengan mengarungi lautan Atlantik yang memisahkan benua Eropa dengan benua Amerika, menembus selatan Amerika Latin untuk memasuki lautan Pasifik bagian selatan nan luas.

Sayangnya, angin, arus dan gelombang di selat Bass yang tinggal sejengkal ke tanah Australia tersebut sangatlah kencang dan besar. Selat ini merupakan salah satu daerah perairan yang paling berbahaya di dunia untuk dilayari. Ini masih ditambah dengan adanya terumbu karang dengan gerigi-geriginya yang sangat tajam. Terumbu tersebut terletak di tengah-tengah selat. Tak pelak bila banyak kapal yang menjadi korban dan terkapar di dasar selat yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu.

Tapi hal tersebut tidak membuat ciut orang-orang Inggris dan Irlandia datang untuk berburu emas. Ataupun untuk sekedar mencari tanah baru yang masih perawan. Termasuk kapal layar Loch Ard yang pada tanggal 1 Juni 1878 bergerak melewati kabut tebal menuju garis pantai Victoria, tanpa menyadari sebuah karang terjal setinggi 90 meter tegak berdiri pada jarak hanya sekitar dua kilometer di hadapannya. Maka dalam waktu singkat kapal Loch Ard yang telah menempuh 3 bulan perjalanan itu menabrak karang dengan kerasnya, dan tenggelam beberapa menit kemudian.

Dari 54 penumpang hanya dua yang selamat, yaitu seorang kelasi yang sedang magang bernama Tom Pearce dan penumpang bernama Eva Carmichael. Keduanya berusia sekitar 19 tahun. Tom berpegang erat pada sekoci yang terbalik selama berjam-jam di perairan laut yang dingin. Hingga akhirnya arus menyeretnya ke sebuah celah di antara karang-karang terjal. Sementara Eva yang tidak bisa berenang hanya bergayut pada pecahan kapal sebelum terseret ke tempat yang sama dengan Tom.

Selanjutnya Eva jatuh pingsan selama berjam-jam di dalam gua yang berada di dekat lokasi. Sementara itu, Tom dengan susah payah memanjat karang yang terjal yang ada dihadapannya untuk mencari bantuan. Keduanya kemudian dievakuasi ke sebuah rumah tidak jauh dari situ. Namun Eva yang kehilangan seluruh keluarganya, yaitu kedua orang tua, tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan, 3 bulan kemudian memilih pulang ke Inggris.

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

20181125_173938

Tom & Eva Pillar

20181125_174729Untuk mengenang kejadian tragis tersebut tempat itu kini diberi nama Jurang Loch Ard ( Loch Ard Gorge) atau juga Tom and Eva Pilar. Tempat ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Port Campbell, yang selalu ramai dikunjungi para turis.

Bahkan menurut Tim, high way yang menyusuri Great Ocean Road sengaja dibangun untuk mengenang kedua remaja tersebut. Dan untuk memudahkan para turis yang berdatangan dari manca negara dibangun jalan setapak menuju lokasi yang relatif jauh dari jalan raya itu. Bahkan tangga curam menuju pantai berpasir kemerahan nan lembutpun telah siap menanti. Kalau saja Tim tidak menceritakan kisah tragis di atas bisa jadi tempat tersebut tidak meninggalkan kesan mendalam kecuali keindahannya yang menakjubkan.

“ We have to thank them both” , ucapnya.

20181125_17074520181125_16465320181125_18081520181125_175626Sesuai yang dijanjikan, selama perjalanan tersebut bus berhenti di 13 spot menarik termasuk Loch Ard Gorge dan Twelve Apostles yang fenomenal. Satu hari sudah pasti tidak cukup memang untuk menikmati Great Ocean Road. Tak salah bila setiap kali bus berhenti Tim selalu mengingatkan, jam berapa harus kembali ke bus. Tak pernah ia memberikan waktu lebih dari 20 menit untuk setiap spot. Tidak puas sebenarnya tapi apa boleh buat. Apalagi melihat yang lain selalu on time kembali ke bus. Akhirnya kamipun sepakat untuk tidak terlalu berlama-lama.20181125_165258

“G enak ah, malu kalo terlambat balik. Ntar kita di cap g disiplin sebagai orang Indonesia, Muslim pula!”.   

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya” (HR At-Tirmidzi).

Namun bagi saya pribadi, disamping keindahan alam yang sungguh mempesona, Tim sebagai seorang pemandu patut diacungi jempol. Pria setengah umur yang pernah melewatkan masa kecilnya di Indonesia selama beberapa tahun tersebut sangat pandai bercerita. Ia mampu menyampaikan pesan dengan sangat baik.

Pandai berterima-kasih adalah fitrah manusia, apapun agamanya. “Berkat” musibah yang dialami Tom dan Eva orang jadi bisa melihat keelokan Great Ocean Road.

Dalam hati saya berpikir, jika untuk seorang Tom dan Eva yang mengalami musibah (tanpa sengaja pastinya) orang dituntut untuk pandai berterima-kasih, bagaimana kepada Rasulullah dan para sahabat yang telah dengan rela berkorban mempertaruhkan jiwa dan raga demi menyampaikan sebuah kebenaran yang hakiki ? Cukupkah sudah kita berterima-kasih kepada mereka???

Belum lagi atas mata, telinga  juga kesempatan yang diberikan Allah swt hingga kita bisa melihat ciptaan-Nya yang demikan dasyat … Allahu Akbar …

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):46).

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, setelah makan malam express, buspun meluncur meninggalkan Great Ocean Road untuk kembali ke Melbourne.

Jakarta, 29 Desember 2018.

Wallahu’alam bish shawab.

Vien AM.

Umat Islam pada tanggal 2 Desember 2018 kembali menggelar aksi damai di kawasan Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat. Aksi ini masih merupakan rangkaian dari tragedy tahun 2016 dimana Ahok mengutak-atik ayat suci Al-Quranul Karim yaitu Al-Maidah 51 tentang pemilhan pemimpin. Pasalnya karena meskipun ia telah dinyatakan terbukti bersalah melecehkan ajaran umat agama lain dan telah masuk bui, nyatanya hingga 2 tahun berlalu, pelecehan Islam, seperti persekusi ulama, kecurigaan berlebihan terhadap kegiatan masjid, masalah adzan, rohis dll masih saja berlangsung. Tuduhan bahwa Islam adalah teroris, radikal dll terus saja digulirkan pihak-pihak tertentu yang kelihatannya menginginkan Indonesia sebagai rumah kaum Muslimin tampak berwajah buruk.

http://aceh.tribunnews.com/2018/11/28/jusuf-kalla-tanggapi-soal-survei-41-masjid-terpapar-radikalisme-ini-studi-yang-memprihatinkan

Terakhir, yaitu pada Senin 22 Oktober, terjadinya tragedy pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid oleh oknum anggota Banser. Ironisnya, peristiwa keji di lapangan Alun-Alun kabupaten Garut ini terjadi pada perayaan Hari Santri Nasional. Yang lebih menyedihkan lagi polisi segera mengklaim bahwa yang dibakar hanyalah bendera HTI yang sudah dibubarkan pemeritah, bukan bendera Tauhid.   Dan dengan segera polisi justru mengejar orang yang mem-viralkan video pembakaran tersebut.

Tentu saja alasan tersebut tidak dapat ditrima. Bendera tauhid yaitu bendera dengan tulisan “ Laa Ilaha ila Allah Muhammad Rasulullah” yang berarti “ Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”, baik yang berwarna dasar hitam maupun putih adalah bendera milik umat Islam, bendera lambang kebesaran Islam yang harus dihormati dan sangat tidak sepatutnya dibakar, dengan alasan apapun. Tak salah bila presiden Turki, Erdoganpun turut menyatakan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa tersebut. Itu sebabnya Aksi Bela Islam (ABI) kali ini dinamakan juga Aksi Bela Tauhid.

Yang menyedihkan adalah reaksi pemerintah yang mencurigai aksi tersebut dengan berbagai tuduhan. Mulai tuduhan makar, pemecah NKRI, deklarasi HTI hingga kampanye politik tersembunyi mendukung paslon no 2 Prabowo dan Sandiaga Uno. Untuk itu pengamanan yang berlebihanpun diselenggarakan. Kebalikan dari demo OPM ( Organisasi Papua Merdeka) persis di depan istana yang nyata-nyata menginginkan kemerdekaan dan nekad mengibarkan bendera OPM, tapi didiamkan saja.

http://wartakota.tribunnews.com/2018/12/05/ustadz-haikal-hassan-beda-perlakuan-pemerintah-ke-opm-dan-reuni-akbar-212?page=2

Namun tekad umat Islam yang bulat tidak dapat dihentikan. Dari segala pelosok daerah umat Islam berhamburan keluar menuju Jakarta. Ada yang dengan mencarter pesawat, dengan bus, kendaraan pribadi bahkan yang harus berjalan kakipun rela melakoninya.

https://hidayatullah.ga/feature/kisah-perjalanan/read/2018/12/06/156003/saya-jalan-kaki-bandung-jakarta-ikut-reuni-212.html

Anehnya, ternyata tak hanya umat islam, umat agama lainpun banyak yang hadir. KH Sobri Lubis, ketua FPI, menyatakan pihaknya memang sengaja memberikan tempat khusus bagi non Muslim karena banyaknya permintaan bahwa mereka ingin mengikuti aksi damai tersebut, termasuk sejumlah tokoh lintas agama. Di akhir acara, bahkan ada yang akhirnya bersyahadat. Tak tanggung-tanggung, mereka adalah pasangan suami istri yang jauh-jauh datang dari Australia. Masya Allah .. Pembacaan syahadat itu dilangsungkan di Mushola Nurul Huda Kelurahan Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

https://pembelaislam.com/29414

Saya sendiri dan suami, hadir di acara damai akbar ini bukanlah kali pertama. Sejak ABI 411 tahun 2016 hingga aksi yang baru lalu Alhamdulillah kami selalu menghadirinya. Dan itulah satu-satunya aksi yang pernah kami lakukan dalam umur yang sudah setengah abad lebih ini.

Pada aksi yang terakhir kami baru berangkat dari rumah setelah suami pulang dari Subuh di masjid sekitar rumah. Awalnya pukul 3 pagi suami sudah berangkat menuju masjid perkantoran Jendral Sudirman (MJS) dimana ia duduk sebagai ketua harian. Tapi begitu ia membaca WA tentang kekecewaan saya yang tidak dapat hadir karena memang sedang kurang fit, maklum baru sebulan menjalani operasi, suami segera pulang untuk menjemput saya. Masya Allah … Terima-kasih ya Allah telah Kau beri hamba pasangan yang benar-benar bisa memahami hamba …

Syukur Alhamdulillah perjalanan lancar, kendaraan bisa parkir di gedung bank Mandiri yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tkp. Kami menyempatkan ke toilet yang ada di gedung tersebut, khawatir nanti di lokasi sulit. Ternyata di depan toilet telah mengantri sejumlah ibu-ibu yang datang berombongan dengan bus-bus dari kabupaten Bandung.

abi 6Sabi 7etelah itu kami segera berjalan kaki menuju lokasi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 6 kurang 15. Gelombang manusia berpakaian putih dan sebagian hitam, dengan topi dan bendera Tauhid tampak menyemut. Kami berbaur bersama peserta yang berjalan perlahan sambil bershalawat, sekali-sekali diselingi takbir.

“ Masya Allah serasa tawaf ”, bisik saya kepada suami, terharu.

abi 4monas 212Mendekati air mancur Bank Indonesia peserta makin padat, hingga nyaris terhenti. Suara orasi dari panggung terdengar dari pengeras suara yang dipasang di sekitar lokasi. Berhubung kami berdua ingin lebih mendekati panggung maka kamipun berputar mencari jalan agar dapat tembus ke lokasi yang kami inginkan.

Ternyata kami benar-benar beruntung. Karena adik saya dan beberapa teman yang datang hampir sama waktunya dengan kami, menceritakan terpaksa berhenti di sekitar air mancur saking padatnya orang.  Mungkin karena kami hanya berdua maka lebih leluasa menyelinap ke tengah gelombang dan arus manusia yang ada saat itu. Alhamdulillah.

Meskipun tak jarang ketika ada rombongan lumayan besar datang dari luar Jawa kamipun serempak memberi jalan agar tamu-tamu dari jauh tersebut dapat mendekati podium. Dan dengan diringi takbir merekapun menyeruak masuk dengan tertib. Masya Allah … Aroma semangat mereka yang jauh-jauh datang dari luar Jawa demi membela Tauhid benar-benar terasa. Sungguh ikatan persaudaraan sesama Muslim itu sangat kental terasa.

Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

abi 8Kami juga menjadi saksi bagaimana semangatnya para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh pemandu acara dengan penuh khidmad. Sekaligus menjadi bukti betapa ngawurnya tuduhan bahwa peserta 212 adalah anti NKRI.

Sayangnya orasi yang disampaikan sejumlah tokoh masyarakat mulai gubernur DKI Anies Bawes hingga para uztad kondang seperti uztad Bahtiar Nasir, uztad Haikal Hasan dll tersebut justru kurang jelas terdengar. Padahal posisi kami sudah lumayan mendekati podium utama.

Sekitar pukul 9 kurang, setelah sempat menyaksikan pengibaran bendera raksasa bertuliskan Tauhid serta mendengarkan alunan merdu ayat-ayat suci yang dibawakan dua hafidz cilik Ahmad dan Kama, kamipun memutuskan untuk pulang. Ternyata untuk keluarpun perlu perjuangan panjang. Bahkan lebih sulit dari ketika datang pagi tadi. Dari segala arah peserta terus berdatangan. Besar, kecil, tua, muda, lelaki, perempuan bahkan ada yang dengan tongkat dan kursi roda. Allahu Akbar …

abi 3abi 1Lagi-lagi di sekitar air mancur BI, kami bersama barisan orang yang hendak keluar, selama beberapa menit, terpaksa terhenti sama sekali. Dalam hati saya berkata, dalam keadaan biasa pasti orang akan menerobos menginjak taman yang terbentang di sisi kami. Tapi nyatanya tak satupun yang mau melakukannya. Tampaknya sudah menjadi komitmen bagi seluruh peserta 212 sejak ABI I, bahwa rumput harus dijaga ! Bayangkan kalau rumput saja harus dijaga apalagi kesatuan republik tercinta ini … Masih mau menuduh kami radikal, teroris dll ??

abi 2Reuni Akbar 212 atau ABI yang manapun harus diakui adalah bukti kesantunan umat islam yang selama ini sempat hilang ntah kemana. Selain wajah-wajah ramah yang bertebaran, kedisiplinan juga menampakkan diri. Selain sedikitnya sampah, mereka yang ingin buang air juga terlihat mengantri dengan rapi. Budaya baik yang selama ini dianggap sebagai budaya Barat yang mustahil bisa diterapkan bangsa ini.

”Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At- Turmudzi).

“Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu.” (H.R. al-Hakim).

Berikut kumpulan kisah mereka yang hadir di acara Bela Tauhid 212 2018.

https://pembelaislam.com/category/reuni-212  

Ironisnya, hanya sedikit sekali media Indonesia yang mau menayangkan acara akbar yang berlangsung aman damai tersebut. Hanya TV-One satu-satunya media yang meliput acara tersebut secara utuh. Padahal tak sedikit kantor berita internasional yang melaporkannya. Ada apa ini?? Sebegitu kuatkah cengkeraman rezim ini hingga media tidak mampu menyampaikan berita yang nyata-nyata terjadi di depan mata?? Ini adalah cacat dan kegagalan kenetralan media Indonesia yang akan terus dicatat sejarah sepanjang masa. Sejarah suatu negri dimana hoax meraja-lela, dimana rakyat tak dapat membedakan mana berita yang benar dan mana yang bohong. Alangkah memalukannya …

https://www.harianterbit.com/nasional/read/2870/Reuni-212-Gempar-di-Luar-Negeri-Sepi-Berita-di-Indonesia

Pada saat yang nyaris bersamaan, di ujung dunia lain yang katanya menjunjung tinggi HAM, toleransi, disiplin dll, yaitu di Paris ibukota Perancis, terjadi demontrasi mengerikan. Demo rusuh yang dipicu karena kenaikan harga bbm ini mengakibatkan 133 orang terluka, 23 di antaranya adalah polisi. Perancis beberapa tahun belakangan ini memang sedang dilanda masalah pengangguran yang terus meningkat.

Padahal di Indonesia juga tak jauh beda. Kenaikan bbm tidak hanya sekali dua kali. Namun umat tetap berusaha menahan diri. Protes dan demo baru terjadi ketika ajaran dilecehkan. Itupun dengan cara yang baik dan santun.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Desember 2018.

Vien AM.

Kata “burung” tidak sedikit disebutkan dalam Al-Quranul Karim. Mahluk bersayap ciptaan Allah yang satu ini harus diakui memang mempunyai banyak kelebihan dibanding ciptaan Allah yang lain. Burung, hanya dengan mengandalkan kedua sayapnya mampu terbang tinggi kemanapun ia mau. Berkat mahluk yang pandai terbang ini pula manusia dapat dengan mudah menjelajahi dunia, yaitu dengan adanya pesawat terbang yang merupakan buah inspirasi dari burung.

Itulah yang dilakukan 2 bersaudara dari Amerika Serikat, Wright Bersaudara. Setelah berkali-kali melakukan percobaan, akhirnya berhasil menerbangkan pesawat ciptaan mereka meski hanya dengan waktu sangat singkat, yaitu 12 detik. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tahun 1903, dan tercatat  sebagai tonggak lahirnya burung mesin alias pesawat terbang pertama di dunia.

Ironisnya, selama lebih dari 100 tahun sejak kelahirannya, tidak jarang pesawat terbang mengalami kecelakaan. Dan itu bisa hanya gara2 seekor burung yang masuk ke ruang mesin !

Apa sebenarnya rahasia dasyat dibalik mahluk kecil ini hingga mampu merusak mesin canggih sebuah pesawat terbang yang sedang mengudara?? Menurut sebuah kabar, sekelompok burung seberat 5 kg yang menabrak pesawat yang sedang terbang memiliki kekuatan setara dengan 100 kg beban yang dijatuhkan ke atas sebuah pesawat !

“ Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu”. ( Terjemah QS. Al-Mulk(69):19).

Secara kasat mata, burung bisa terbang di udara berkat kedua sayap yang dikepak-kepakannya, yaitu mengembang dan mengatup secara bersamaan. Biasanya burung akan menghentikannya kepakan sayapnya ketika telah terbang tenang dan seimbang. Dan kembali mengepakannya begitu keseimbangannya mulai  berkurang, atau ingin mempercepat laju terbangnya. Dengan catatan, itu semua atas izin Allah Azza wa Jalla. Ialah yang sebenarnya menahan burung agar tidak terjatuh.

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (An-Nuur(24):41).

Dan seperti juga mahluk ciptaan Allah yang ada di langit dan bumi, burungpun bertasbih, bahkan shalat, dengan cara yang tidak kita ketahui. Tak salah bila sejumlah ulama memberikan perumpamaan rasa takut (khouf) dan harap (roja’) yang dimiliki seorang hamba yang takwa, seharusnya seimbang sebagaimana ke dua sayap burung.

“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Faathir: 28)

Takut yang dimaksud pada ayat diatas adalah takut yang diiringi Ma’rifatullah ( cinta kepada Allah swt). Yaitu takut bila Tuhannya meninggalkannya dan tidak lagi mencintainya, Yang dengan demikian akan membuatnya meninggalkan segala sesuatu yang dibenci-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Ketahuilah sesungguhnya  penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga, yaitu Al-Mahabbah (cinta), Al-Khouf (takut) dan Ar-Rajaa’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat.

Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat. Allah swt berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka.” (QS. Yunus: 62). Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta. Adanya rasa takut akan membantunya untuk tidak keluar dari jalan menuju sosok yang dicintainya, dan rasa harap akan menjadi pemacu perjalanannya”.

Sebaliknya, orang yang berlebihan dalam berharap akan terjebak dalam sikap merasa aman dari murka Allah. Sementara bila keterlaluan dalam rasa takut maka akan terjatuh dalam sikap putus asa terhadap rahmat Allah. Sebagian ulama berpendapat: “Seyogyanya harapan lebih didahulukan tatkala berbuat ketaatan dan diutamakan takut ketika muncul keinginan berbuat maksiat”.

Tapi dalam keadaan normal, rasa takut dan harap yang terbaik adalah dalam keadaan seimbang, layaknya burung yang mengepakkan sayap khouf dan sayap roja’nya menempuh jalan menuju ridho dan cinta-Nya. Itu sebabnya burung tidak pernah merasa takut kehilangan rezekinya. Ia terbang di pagi hari untuk mencari makan dan pulang sore untuk kembali ke sarangnya.

Ini yang seharusnya dicontoh manusia. Manusia hanya bisa berusaha Allah Azza wa Jalla yang menentukan hasilnya. Bersyukur ketika mendapatkan kebaikan, bersabar ketika mendapat kesulitan. Takut berbuat maksiat tapi ketika suatu saat tergelincir tidak mudah berputus asa karena mempunyai harapan bahwa Tuhannya akan mengampuninya, selama ia mau bertobat dan tidak mengulanginya.

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 November 2018.

Vien AM.

REPUBLIKA.CO.ID,  Sejak kecil Michelle Ashfaq bercita-cita menjadi seorang biarawati. Saat masih kecil, ia menghadiri sebuah kelas pelajaran agama Katolik. Dari situ, ia mendapatkan pelajaran mengenai kisah-kisah para nabi. Ia sangat tertarik, apalagi dengan kisah Nabi Isa AS.

Seiring waktu, wanita yang dibesarkan di kota kecil bersama sang kakek dan nenek di barat daya Virginia, Amerika Serikat (AS) pernah mengalami kegalauan hidup. Selain dibesarkan sebagai seorang Katolik, ia juga menghadiri gereja Baptis bersama kakek-neneknya. Ia memiliki dua tempat beribadah.

michelle-ashfaq-_120304075720-464Suatu perubahan terjadi saat Michelle menginjak usia yang ke-17. Ia pergi ke gereja dan tiba-tiba ia tidak diizinkan masuk ke tempat itu. Michelle merasa bingung karena tidak diizinkan untuk masuk dan beribadah. Sementara itu, ia tak mengenal agama lain. Kehidupan beragama yang ia tahu hanyalah pergi ke gereja.

Hingga akhirnya, wanita asal New York itu mengenal Islam dari suaminya. Ia tak pernah membayangkan hidup tanpa sang suami. Hampir setahun ia bingung kemana harus beribadah setelah tidak diizinkan untuk ke gereja, padahal ia merasa sangat menyukai Gereja.

Suaminya adalah orang yang membimbingnya saat ia merasa tak tahu apa-apa soal ibadah. Sang suami dengan sabar mengajarkan Michelle akhlak Islam, bahkan ketika ia belum menjadi mualaf. ”Ia mencontohkan saya banyak hal, kemudian saya mulai membaca buku-buku Islam yang dikirim dari Pakistan oleh mertua,” ujarnya seperti dikutip onislam.net. Sejak itu, ia mulai merasakan apa itu Islam.

Kesederhanaan Islam membuatnya tertarik untuk mulai belajar. Ia bisa membaca sebuah kitab suci dan mengerti isinya. Sangat berbeda ketika ia masih memeluk agamanya yang dulu. Ia mengungkapkan, ketika masih Katolik, ia tak memahami alkitab. ”Saya bahkan tak tahu apa yang saya baca,” ungkapnya.

Saat itu, ia hanya mendengarkan pastor melalui ceramah. Sementara ia harus mencerna apa yang dikatakan pastor, ia memiliki banyak pertanyaan tentang iman dan nilai-nilai ketuhanan. Pertanyaan mendasar yang selalu ada dibenaknya saat masih Katolik adalah ia harus melakukan pengakuan dosa. Ia selalu bertanya untuk apa semua pengakuan itu. Baginya aneh harus mengaku dosa ke seorang pastor. Michelle muda bertanya dalam hati, ”Tidakkah ia bisa melakukan pengakuan dosa langsung kepada Tuhan?”

Pertanyaan lain yang cukup mengusiknya adalah jika umat Nasrani tidak meyakini Yesus sebagai penyelamat, bagaimana dengan nasib umat nabi Ibrahim? Bagaimana dengan orang-orang yang mengikutinya sebelum Yesus datang, padahal Ibrahim adalah nabi yang memiliki banyak pengikut. Namun, gejolak pertanyaan itu tak pernah bisa terjawab. Semua itu membuatnya frustasi.

Kesederhanaan Islam membuatnya cepat memahami Alquran dan masuk Islam. ”Saya bisa mengerti apa yang saya baca,” ujar dia. Dari kitab suci itu, ia bisa mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan yang ada.

”Jika Anda memiliki pertanyaan ketika Anda mulai membaca Alquran dan entah bagaimana saat membuka lembaran mushafnya, semua jawabannya sudah ada.” Ia mengungkapkan Islam adalah agama yang mengobati semua penyakit hati.

Bagi Michelle, menemukan Islam adalah sebuah perdamaian yang tak terkira. Baginya, Islam telah membuat perbedaan yang paling luar biasa dalam hidup. Ia bahkan tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa ia bersyukur bisa mendapat hidayah untuk memeluk agama yang penuh kedamaian ini.

”Hubungan saya dengan Allah SWT tak bisa digambarkan.” Kini, setelah berproses, ia menjadi guru pertama sebuah Akademi Islam di Charlotte, Carolina Utara.

Baginya, belajar tentang Islam adalah seperti belajar bagaimana cara hidup sebagai manusia. ”Apapun pertanyaan yang dimiliki, semua sudah ada dalam Alquran dan hadis nabi. Bagaimana menghadapi masalah sehari-hari yang tidak dapat ditemukan dalam agama lain. Shalat baginya merupakan ibadah yang membuatnya tetap fokus.

”Agar dosa kita diampuni, kita harus melakukan shalat, untuk berpikir tentang orang-orang miskin kita berpuasa,” ujarnya. [republika].

Jakarta, 3 November 2018.

Vien AM.

Dikutip dari : https://osolihin.wordpress.com/2012/03/17/michelle-ashfaq-jatuh-cinta-pada-kesederhanaan-islam/

Kita semua pasti tahu kisah nabi Musa as dengan mukjizat tongkat dan laut Merahnya yang spektakuler. Kisah penyelamatan bani Israel dari kejaran pasukan penguasa Mesir Firaun yang dikenal kejam dan bengis ribuan tahun silam tersebut memang diabadikan tidak hanya didalam kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, tapi juga Taurat dan Injil.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (bani Israel), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):50).

Namun yang ingin dibahas kali ini adalah bagaimana kita menyikapi perlakuan buruk bani Israel setelah terlepas dari cengkeraman  maut sebagaimana ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):51).

Ayat di atas menceritakan tentang bani Israel yang menjadikan anak lembu sebagai sesembahan alias Tuhan mereka. Hal tersebut dilakukan ketika nabi Musa as sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Nabi Musa as hanya meninggalkan kaumnya selama 40 hari 40 malam. Namun sekembali dari “pertemuan” dengan Tuhannya tersebut, kaumnya sudah mengingkarinya. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan betapa hebatnya mukjizat yang diberikan nabi mereka hingga mereka bisa lolos dari maut yang berada di ujung tanduk.

Prilaku tersebut menunjukkan betapa umat nabi Musa tersebut sangatlah tercela, tidak tahu berterima-kasih. Lupakah mereka bahwa dibawah kekuasaan Firaun ribuan tahun silam nasib mereka benar-benar terpuruk?? Mereka diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan pernah suatu masa bayi-bayi lelaki harus dibunuh karena Firaun diberi tahu tukang sihirnya bahwa akan datang lelaki Yahudi merebut kekuasannya.

Allah swt, dalam ayat-ayat Al-Quran, banyak sekali menceritakan prilaku buruk bani Israel. Ini untuk mengingatkan kita, umat Islam, agar mengambil hikmahnya, agar tidak terperosok pada kesalahan yang  sama. Jadi bukan hanya sekedar mengolok-olok dan mengutuk bani Israel yang memang telah terkena kutukan-Nya tapi terlebih agar tidak meniru prilaku buruk mereka.

Sekarang mari kita amati bagaimana sikap kita ketika Allah swt memberi kita cobaan, apakah prilaku kita sama dengan bani Israel atau tidak??

Jumat, 28 September menjelang magrib, Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7.2 skala Richter. Tak lama tsunami setinggi lebih dari 10 meterpun datang menggulung wilayah Sulawesi tengah tersebut. Belum lagi guncangan dan amukan gelombang laut dasyat yang menghancurkan ribuan bangunan tersebut usai, bumipun ikut bereaksi.

Bumi tiba-tiba memuntahkan lumpur yang berada di isi perutnya dengan cara yang sungguh mengerikan. Sejumlah saksi yang selamat dari bencana menceritakan apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tanah seperti di blender, di putar, dikocok”, ujar seorang bapak. Sementara seorang ibu dengan penuh emosi mengatakan ”Seperti monster keluar masuk tanah menelan rumah, pohon dan apa saja yang ada di depannya”. Ada juga yang berkomentar “ Layaknya gelombang tsunami tapi bukan air laut melainkan tanah”, katanya bergidik.  Saksi lain juga menceritakan rumahnya berpindah sejauh 500 meter lengkap dengan pohon Mangga yang ada di halamannya.

Peristiwa mengerikan yang dikenal dengan nama fenomena pencairan tanah (likuifaksi) laksana pasir hisap ini menelan lebih dari 700 rumah di Perumnas Balaroa (Palu) dan ratusan rumah lainnya di perumahan di Petobo. Kawasan ini amblas sedalam 5 meter-an, menelan tidak hanya rumah tapi juga penghuninya.

Di lain pihak, sejumlah saksi menceritakan Palu beberapa tahun belakangan ini telah menjadi kota penuh maksiat seperti pelacuran, homoseksual, perjudian dll. Bahkan sekitar 4 bulan sebelum mala petaka terjadi, sebuah konferensi lgbt tingkat nasional diselenggarakan di kota tersebut. Tak tanggung-tanggung, konferensi yang dibuka mentri pariwisata tersebut juga dihadiri mentri agama Lukman Hakim yang memang terkesan melindungi kaum yang dilaknat sejak zaman nabi Luth ini.

“Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.

(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)“.

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):71-74).

Para pemuka agama tentu saja memprotes dan sudah berusaha mencegah konferensi tersebut tetapi tidak dapat berdaya atas alasan HAM. Penduduk juga menceritakan di Petobo hidup seorang raja judi kaya raya yang rumahnya ikut lenyap dalam tragedy tersebut. Hal mengenaskan tersebut mengingatkan mereka akan Karun, tokoh sombong kaya raya Mesir yang harta kekayaannya ditenggelamkan Allah swt.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.( Al-Qashash(28):81).

Lain lagi ceritanya dengan tsunami yang melanda pantai Talise Palu, membuat ambruk jembatan Kuning ikon Palu yang menghubungkan Sulawesi utara dan selatan serta menelan korban ribuan jiwa itu. Bencana datang menjelang dilaksanakannya festival Nomoni yang baru 3 tahun belakangan ini digalakkan kembali dengan judul “Maraton Internasional Palu”. Festival ini juga dimeriahkan dengan penampilan ritual Balia, yang merupakan bagian dari adat suku Kaili di Lembah Palu.

Ritual Balia adalah ritual permohonan kesembuhan bagi orang yang mempunyai sakit parah kepada arwah leluhur. Sesajen dan bau dupa mengiringi tarian yang membawa usungan orang yang sakit hingga puncak prosesi, yaitu penyembelihan kerbau. Darah kerbau yang disembelih itu menjadi simbol kesungguhan harapan atas kesembuhan.

https://www.benarnews.org/indonesian/slide-show/balia-ritual-pengobatan-masyarakat-kaili-01222016125749.html

Para ulama sudah berusaha mengingatkan agar ritual yang sarat kesyirikan tersebut tidak dihidupkan kembali. Tetapi dengan alasan untuk melestarikan adat dan budaya nusantara, pemerintah daerah menolak permohonan tersebut.

Kesyirikan tersebut tak jau berbeda dengan yang dilalukan bani Israel tak lama setelah lolos dari kejaran tentara Firaun ribuan tahun silam. Padahal penduduk Palu adalah rata-rata Muslim. Para ilmuwan mengatakan bahwa bencana yang melanda Palu dan sekitarnya adalah fenomena alam, yaitu karena Indonesia terletak di atas pertemuan beberapa lempengan yang ketika berbenturan menjadi penyebab gempa. Namun siapa yang kuasa menggerakan dan membenturkan lempengan-lempengan tersebut, dan mengapa harus Palu. Bukankah dari dulu letak Palu di atas lempeng-lempeng tersebut, tapi mengapa baru sekarang bencana terjadi??

Lebih menyedihkan lagi, dengan adanya sejumlah penjarahan yang terjadi tak lama paska bencana. Semoga pelakunya hanya para residivis yang lepas dari penjara karena penjara rusak terkena gempa.

Terlepas dari itu semua, penduduk daerah yang tidak terkena bencana, harusnya juga bersyukur tempat tinggalnya masih aman ditinggali. Terutama Jakarta yang sebenarnya sarat segala macam maksiat dan kesyirikan. Yang tampaknya hanya tinggal menunggu gilirannya saja. Kecuali bila penduduknya segera bertobat, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak perbuatan baik dan ibadah kepada-Nya. Lalu  Allah swt ridho menerima tobat tersebut.

Namun demikian ada juga hal yang kelihatannya sepele tapi sering sekali terjadi. Yaitu ketika seseorang dalam kesusahan, sakit misalnya. Ia berdoa secara sungguh-sungguh bahkan rela mengeluarkan ratusan juta rupiah demi kesembuhannya. Namun ketika Allah Azza wa Jalla sembuhkan dan dikeluarkannya dari kesulitan ia melupakan-Nya.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Yunus (10):12).

Semoga kita bukan orang-orang yang dimaksud ayat di atas. Semoga Allah swt jadikan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi sebagai orang-orang yang tahu diri, yang pandai berterima-kasih dan bersyukur serta mampu mengambil hikmah segala kejadian yang terjadi, baik yang di hadapan kita maupun di masa lalu, aamiin 3x yaa robbal ‘aalamiin …Jangan sampai Sang Khalik melupakan kita sebagaimana kita suka melupakan-Nya …  Na’udzubillah min dzalik ..

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. ( Terjemah QS.Thoha (20:126).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Oktober 2018.

Untuk menguatkan suatu hubungan biasanya orang membuat suatu kesepakatan yang disetujui ke dua belah pihak. Kesepakatan atau ikatan persetujuan tersebut biasanya dibuat secara tertulis lengkap dengan syarat, tanggung-jawab serta sebab akibat yang akan ditanggung jika salah satu dari pihak yang terkait melanggar persetujuan yang dibuat. Bahkan ada yang harus memakai materai. Tak jarang untuk menjadi sah tidaknya suatu kesepakatan, surat persetujuan harus dibuat didepan Notaris.

Demikian pula antara hamba yaitu manusia dengan Sang Pemilik yaitu Allah Azza wa Jala. Kesepakatan tingkat tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini terdiri dari 4 kesepakatan. Yaitu Kesepakatan Ruh, Kesepakatan Fitrah, Kesepakatan Akal dan Kesepakatan Amanah. Kesepakatan ini berlaku bagi semua manusia dari nabi Adam as sebagai manusia pertama hingga manusia terakhir yang dilahirkan ke dunia nanti. Baik para nabi, orang jahat, laki-laki, perempuan, apapun agama, bangsa dan rasnya.

1. Kesepakatan Ruh.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Al-Araf ayat 172 berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Kesepakatan Ruh dibuat ketika manusia masih berada di alam ruh sebelum lahir ke dunia. Itu sebabnya kita lupa bahwa kita pernah membuat perjanjian Tauhid tersebut. Perjanjian bahwa kelak ketika kita hidup di dunia akan tetap menyembah Tuhan Yang Satu, itulah Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Sang Pencipta Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

2. Kesepakatan Fitrah.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Ar-Rum ayat 30 berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Manusia ketika lahir ke dunia dalam keadaan bersih, jauh dari segala dosa termasuk dosa terbesar yaitu kesyirikan. Itulah fitrah/kodrat manusia. Namun dalam perjalanannya ia akan menjadi kotor tergantung sejauh mana ilmu dan amalnya. Itu sebabnya manusia harus selalu belajar dan menuntut ilmu agar tidak tersesat.

Sayangnya, kebanyakan manusia hanya belajar ilmu yang sifatnya keduniaan/materialistis, lalai terhadap kebutuhan jiwa dan ruhnya. Akibatnya ia lupa akan adanya kesepakatan Ruh yang pernah dibuatnya ketika masih di alam Ruh. Ini adalah tanggung-jawab utama kedua orang-tua yang melahirkan, merawat dan mendidiknya.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” ( HR. Bukahri dan Muslim).

Itu sebabnya, setelah dewasa setiap manusia harus mau belajar, berpikir tentang fitrahnya yang mungkin telah luntur bahkan hilang akibat orang-tua yang tidak memahami tugas dan tanggung-jawabnya. Yaitu dengan bertobat dan shalat sebagaimana lanjutan atas 30 surat Ar-Rum di atas.

 “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30): 31).

Shalat memang bukan monopoli ajaran Islam karena para nabi dan rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw pun mengajarkannya, meski mungkin tidak sama dengan shalat yang biasa dikerjakan umat Islam.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):43).

3. Kesepakatan Akal.

Kesepakatan ini adalah kesepakatan untuk menjadikan para rasul sebagai panutan dalam menjalani kehidupan di dunia. Ayat Al-Quran yang menuliskan kesepakatan ini sangat banyak jumlahnya, diantaranya adalah surat An-Nisa ayat 165 dan surat Al-Baqarah 285 berikut :

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):165).

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“.(Terjemah QS. Al-Baqarah (2):285).

Pada setiap masa Allah swt senantiasa menurunkan utusan-Nya, dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw, dengan membawa ajaran pokok Tauhid yaitu bahwa Tuhan adalah Satu, tidak beranak maupun diperanakkan. Melalui malaikat yang sama pula yaitu, Jibril as, para nabi dan rasul menerima ajaran-Nya.

Pada dasarnya ajaran tersebut hampir sama. Perbedaan hanya terletak pada tata cara yang diajarkan rasul masing-masing. Itu sebabnya kesepakatan ke 3 ini dibuat. Namun meski namanya Kesepakatan Akal tidak berarti akal adalah segala-segalanya. Karena yang dituntut kesepekatan tersebut justru memuliakan para nabi dan rasul di atas akal. Karena akal sering kali mudah kalah oleh syaitan yang merupakan musuh abadi manusia.

Untuk itu Allah swt mewajibkan umat Islam untuk selalu membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya, yang didalamnya terdapat ayat 6 dan 7 sebagai berikut :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang DIMURKAI dan bukan (pula jalan) mereka yang SESAT”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud “DIMURKAI” dalam ayat di atas adalah umat Yahudi sedangkan yang “SESAT” adalah umat Nasrani. Mengapa demikian??

Umat Yahudi disebut umat yang dimurkai karena mereka berakal tapi tidak beramal kebajikan. Rata-rata orang Yahudi bukan saja memahami kitab Taurat mereka, tapi juga Al-Quranul Karim. Bahkan hadistpun mereka percayai. Sayangnya mereka hanya merasa cukup mempercayainya tapi tidak mengamalkannya. Mereka bahkan sangat suka berbuat jahat diantaranya membunuhi para nabi.

“ … … Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):46).

Sementara umat Nasrani mereka banyak berbuat kebaikan tapi tanpa ilmu. Diantaranya keyakinan  bahwa Tuhan adalah tiga sebagaimana diabadikan ayat 73 surat Ali Imran berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Itu sebabnya kita, umat Islam senantiasa diingatkan agar jangan  meniru keduanya. Umat Islam harus berprinsip “Sami’na wa atho’na” ( kamu dengar dan kami patuh)”, yaitu berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut dengan meniru apa yang dicontohkan rasulullah. Itulah Sunnah Rasul atau yang biasa juga dinamakan Hadist.

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

4. Kesepakatan Amanah atau Kesepakatan Mengemban Amanah.

Kesepakatan ini tertulis di dalam ayat 72 surat Al-Ahzab berikut:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena amanat yang enggan ditrima oleh langit, bumi dan gunung-gunung itu amanat yang teramat sangat berat. Amanat tersebut yaitu menjadi khalifah di muka bumi, khalifah yang adil yang mampu ber-a’mar ma’ruf nahi mungkar, berbuat kebaikan dan menolak kemungkaran. Dan bila tidak mampu dan tidak mau bertobat azab adalah balasannya!

“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):73).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 September 2018.

Vien AM.