Feeds:
Posts
Comments

Siapa yang tak kenal legenda Malin Kundang. Cerita rakyat dari tanah Minangkabau ini diceritakan secara turun temurun  hingga kadang orang mengira peristiwa tersebut nyata terjadi.

Padahal cerita tersebut kabarnya dibuat oleh masyarakat Minang yang sejak dulu dikenal senang merantau agar agar perantau tidak lupa dengan tanah kelahiran mereka sebagaimana seorang anak yang lupa kepada ibunya hingga menjadikannya anak durhaka.

Legenda Malin Kundang menggambarkan seorang anak bernama Malin Kundang yang hidup berdua dengan ibunya di perkampungan nelayan yang miskin. Mereka berdua saling menyayangi. Hingga suatu hari ketika Malin telah cukup dewasa ingin berlayar  mencari pengalaman. 

Awalnya sang ibu tidak mengizinkannya. Namun karena kuatnya tekad Malin akhirnya dengan berat hati ibunyapun mengizinkannya. Di kemudian hari ternyata Malin melupakan ibunya yang makin hari makin renta. Padahal hampir setiap hari ibunya selalu menunggu kepulangan anak semata mayangnya tersebut.

Hingga suatu hari setelah bertahun-tahun lewat, ibunya mendapat kabar bahwa putranya telah menjadi orang yang sukses, kaya raya dan telah mempersunting seorang perempuan kaya raya nan cantik jelita. Pasangan tersebut sedang berlabuh menuju kota dimana sang ibu tinggal. 

Dengan suka cita iapun segera menyambutnya. Namun apa lacur ternyata Malin tidak mau mengakui ibunya. Ia malu terhadap istrinya melihat penampilan ibunya yang sangat jelas memperlihatkan kemiskinannya. Ia bahkan tega menghardik dan menuduh ibu kandung sendiri sebagai perempuan gila.

Sungguh sakit hati ibu Malin Kundang. Hingga akhirat ia berdoa bila laki-laki muda tersebut benar-benar putranya Allah swt bersedia mengganjarnya. Maka tak lama setelah itu kapal yang ditumpangi pasangan muda tersebut dihempas ombak besar. Keesokan harinya orang melihat sebuah batu mirip orang sedang berjongkok memohon ampun. Itulah akhir kisah Malin Kundang, anak yang durhaka.

Untuk diingat masyarakat Minangkabau adalah masyarakat Islam yang taat pada agamanya. Kisah yang mereka buat bukan sekedar mengingatkan perantau supaya tidak lupa dengan tanah kelahiran mereka. Namun lebih dalam lagi yaitu mengingatkan bahwa durhaka terhadap orang-tua adalah dosa besar. Betapa banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan agar berbuat baik kepada ke dua orang-tua.

Yang bahkan mengucapkan perkataan “Ah” sebagai kata penolakan saja dilarang-Nya. Apalagi mengucapkan kata yang dapat menyakitkan hati keduanya. Ibu yang telah melahirkan dan menyusui, bersama ayah yang tak kalah sayangnya menghabiskan seluruh waktu dan tenaga untuk bekerja menafkahi keluarga.  

“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Terjemah QS. Al-Isra (17):23).

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Terjemah QS. Lukman (31):14).

Begitu pula hadist. Diantaranya hadist berikut. Imam Bukhari dan Imam Muslim serta sejumlah perawi hadits lainnya mengabarkan hadits dari Abu Bakar RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara? Kami menjawab, Ya, Rasulullah. Rasulullah berkata: Menyekutukan Allah, dan mendurhakai dua orang tua. Rasulullah sedang bersandar lalu duduk, maka berkata Rasulullah: Tidak mengatakan kebohongan dan kesaksian palsu”.

Durhaka terhadap kedua orangtua hanya 1 tingkat dibawah dosa syirik dan kekafiran. Karena pada dasarnya sama yaitu sombong dan tidak tahu ber-terimakasih. Orang yang tidak bisa ber-terimakasih terutama kepada kedua orangtuanya dapat dipastikan tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jala.

Padahal kasih sayang Allah swt jauh lebih besar dibanding kasih sayang orangtua. Kalau bukan karena kasih sayangNya mana  mungkin orang bisa hidup di dunia ini. Siapa yang menyediakan udara segar, air bersih dan sinar matahari yang sangat diperlukan manusia, gratis tanpa harus membayar sepeserpun ? Pernahkah kita memikirkan ayat 71 dan 72 surat Al-Qashash berikut ?

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Belum lagi aneka binatang yang dagingnya dapat dimakan dan mengenyangkan perut, beragam macam buah-buahan dan sayur-sayuran yang mampu memanjakan lidah kita.         

Yang juga perlu diingat, jangan pernah merasa mampu membalas jasa kebaikan kedua orang-tua karena hingga mati sekalipun  tidak mungkin kita mampu membalasnya. Apalagi tehadap segala nikmat yang telah diberikan Allah swt. Segala perbuatan baik termasuk shalat sehari semalam dan puasa seumur hidup, zakat infak sedekah sebesar apapun tidak mungkin kita bisa menebusnya.

Surga adalah milik-Nya yang dapat kita masuki hanya karena rahmat-Nya bukan sekedar amal ibadah kita. Sebanyak apapun kebaikan tapi kufur terhadapNya, tidak mengakuiNya sebagai satu-satuya Zat yang disembah maka hanguslah segalanya. Kesyirikan dan kekafiran adalah dosa terbesar dalam kacamata Islam yang tidak akan diampuniNya.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Namun sebagian ulama mengatakan dosa syirik masih mungkin diampuni bila sempat bertaubat sebelum kematian menjemput. Taubat yang dimaksud adalah taubat nasuha sebagaimana ayat 8 surat At-Tahrim berikut:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Sementara untuk menebus dosa dan kesalahan terhadap kedua orangtua yang telah meninggal adalah dengan menziarahi makam keduanya serta mendoakannya.

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya sekali setiap Jumat, maka niscaya Allah SWT menghapus dosanya. Dan ia pun dinilai sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya.” (HR. Al-Hakim).

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh seseorang yang durhaka ketika kedua orang tuanya wafat, lalu ia mendoakan keduanya selepas keduanya berpulang, maka niscaya Allah SWT akan mencatatnya sebagai anak yang berbakti.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juni 2022.

Vien AM.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

Wanita itu dinikahi karena empat hal yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung”.

Hadist diatas menunjukkan kecenderungan manusia dalam memilih pasangan hidup, yaitu karena kekayaan/harta, keturunan, kecantikan dan terakhir agamanya. Islam tidak menafikkan   kecenderungan tersebut. Akan tetapi memperingatkan tidak mendahulukan bahkan menomor belakangkan pilihan berdasarkan agama sudah pasti akan merugikan diri sendiri.

Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka dan janganlah pula menikahi wanita karena harta-harta mereka, karena bisa jadi hartanya menjadikan mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya, seorang wanita budak berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama dari mereka.” (HR Ibnu Majah). 

Agama yang dimaksud pada hadist di atas sudah barang tentu adalah Islam karena menikah dengan penganut selain Islam haram hukumnya sebagaimana ayat 221 surat Al-Baqarah berikut :

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Pernikahan adalah menyatukan seorang lelaki dan seorang perempuan dalam ikatan pernikahan, yang tidak jarang berbeda latar latar belakang, kebiasaan, budaya dan pendidikan, yang hampir dapat dipastikan memerlukan usaha untuk menyerasikannya agar di kemudian hari tidak timbul permasalahan. Bahkan sering kali bukan cuma yang bersangkutan tapi juga keluarga besar yang bersangkutan. Jadi tidak perlu lagi menambah permasalahan beda keyakinan dan agama.

Pernikahan dalam Islam adalah hal yang sangat sakral. Ia tidak sekedar menyatukan sepasang lelaki dan perempuan dalam sebuah ikatan. Lebih lagi menyatukannya dibawah kesaksian Tuhannya, yaitu Allah Aza wa Jala.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hati-hati terhadap perempuan. Kamu mengambilnya dengan amanat Allah dan menghalalkan untuk menggaulinya dengan kalimat Allah.

Dengan demkian jelas tujuan pernikahan adalah dunia dan akhirat. Tak salah bila doa yang ditujukan bagi sepasang pengantin Muslim adalah “Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah”. Inilah sebaik-baik doa. Doa ini berdasarkan ayat berikut,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram ( sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah)  dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”  (Terjemah QS. Ar-Rum(30):21).

Kata sakinah dari akar kata sakakan – yaskunu, memiliki arti kedamaian, ketenangan, ketentraman, dan keamanan. Bisa juga diartikan dengan kata senang berdasarkan ayat berikut,

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang (sakina) kepadanya.” (Terjemah QS. Al-A’raf(7):189).

Sedangkan mawaddah yang berasal dari kata wadda -yawaddu, diartikan sebagai rasa sayang atau cinta yang membara/ menggebu. Adanya hasrat dan nafsu yang merupakan kodrat manusia ini ketika dibingkai indah dalam sebuah ikatan pernikahan akan melahirkan energi positif. Energi dasyat yang sangat penting dalam perjalanan panjang pernikahan.

Suami maupun istri sebaiknya dapat saling menyenangkan dan memuaskan pasangannya hingga tercipta rasa saling memiliki dan menyayangi. Ikatan yang demikian inilah yang dapat menambah kuatnya ikatan dan keharmonisan rumah tangga. Baik antar suami dan istri maupun dengan anak-anak yang merupakan titipan dari-Nya.

Patut diingat salah satu perintah Islam untuk menikah adalah demi perkembang-biakkan manusia di muka bumi ini. Ucapan ijab kabul  “Saya nikahkan dan saya kawinkan” yang lazim diucapkan wali calon pengantin perempuan dan dijawab “Saya terima nikah dan kawinnya” oleh calon pengantin lelaki dalam suatu upacara pernikahan (akad nikah) menegaskan hal tersebut.  

Itu pula sebabnya Allah swt melaknat hubungan sesama jenis yang sangat berbahaya bagi  perkembang-biakan manusia.

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. A-Araf(7):81).  

Sementara kata rahmah dari akar kata rahima – yarhamu, diartikan sebagai kasih, ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia dari Allah SWT. Sebuah keluarga yang penuh rahmah akan saling memahami dan saling perhatian. Rahmah tidak akan terwujud jika pasangan saling menyakiti satu sama lain.

Dengan demikian doa sakinah, mawaddah wa rahmah dapat diartikan “Semoga menjadi keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta dan kasih sayang dibawah lindungan Allah SWT”. Atau singkatnya ” Semoga menjadi keluarga bahagia di dunia maupun di akhirat”.

Namun doa juga harus dibarengi usaha. Antara lain suami sebagai kepala keluarga, agar bekerja maksimal mencari nafkah yang baik dan halal. Sekaligus sebagai imam, nakhoda dalam shalat maupun kehidupan sehari-hari, agar dapat membimbing dan mencontohkan kesholehan kepada istri dan anak-anaknya. Demikian juga istri dan anak yang mempunyai kewajiban dan hak masing-masing.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang sholehah, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). … … ”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):34)

Akhir kata, keluarga adalah satuan terkecil masyarakat. Maka ketika keluarga yang baik (sakinah mawaddah wa rahmah) terbentuk akan terbentuk pula bangsa/masyarakat baik. Dan bila keluarga tidak baik, maka akan lahir pula bangsa/masyarakat yang tidak baik.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2022.

Vien AM.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.

1. Menggapai Derajat Takwa

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.

Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.

Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.

Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.

2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia

Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.[3]

Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:

Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.

Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.

Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.

Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4] Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.[5]

3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik

Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]

Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”[7]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[11]

Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[12]

Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]

4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka

Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.

Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]

Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]

Hikmah Puasa yang Keliru

Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]

Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”[19]

Adapun hadits yang mengatakan,

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]

Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Taisir Karimir Rahman, hal. 86.

[2] Hadits qudsi adalah hadits yang maknanya dari Allah Ta’ala, lafazhnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[3] HR. Muslim no. 1151

[4] HR. Bukhari no. 7171 dan Muslim no. 2174

[5] Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 276-277.

[6] HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid.

[7] HR. Bukhari no. 1903.

[8] HR. Ibnu Khuzaimah 3/242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih.

[9] Perkataan Al Akhfasy, dinukil dari Fathul Bari, 2/414.

[10] Perkataan Al Azhari, dinukil dari Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/114, 9/119.

[11] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/119.

[12] HR. Muslim no. 782.

[13] Lathoif Al Ma’arif, 378.

[14] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9906

[15] Lathoif Al Ma’arif, 369

[16] Lihat http://swaramuslim.net

[17] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim Surat Al Baqoroh, 1/317.

[18] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/422.

[19] HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini dalam Tuhfatul Ahwadzi, 7/139-140.

[20] Al Hafzih Al ‘Iroqiy dalam Takhrij Al Ihya’ (5/453) mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Awsath, Abu Nu’aim dalam Ath Thib An Nabawiy dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah (dho’if). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadits Adh Dho’ifah no. 253 mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).

Di copas dari: https://muslim.or.id/4010-hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html

Kemuliaan Semu.

Abu Lahab bin Abdul Muthalib bin Hasyim adalah seorang pemuka Quraisy kaya raya yang dimuliakan dan disegani kaumnya. Namun ia dimuliakan dan disegani bukan hanya karena hartanya tapi juga karena ia berasal dari suku yang terhormat. Suku Quraisy dimuliakan karena kedudukannya sebagai penjaga Ka’bah di Makkah. Disinilah pusat peribadatan haji yang umurnya sudah ribuan tahun itu dilakukan, baik oleh penduduk Makkah maupun penduduk jazirah Arab.

Berhaji lengkap dengan tawaf dan sainya adalah ritual ibadah yang diwariskan oleh nabi Ibrahim as dan putranya yaitu nabi Ismail as. Meskipun dengan akidah yang sudah diselewengkan. Selain peribadatan, suku Quraisy  juga mendapat kehormatan untuk mengelola air Zam-zam yang juga telah ribuan tahun usianya.  

Pada saat Abdul Mutholib, ayah Abu Lahab, menjabat sebagai penjaga Ka’bah, terjadi peristiwa menakjubkan. Yaitu berhamburannya pasukan yang terdiri dari ribuan burung Ababil yang mencerai-beraikan pasukan gajah pimpinan Abrahah yang bermaksud  menghancurkan Ka’bah. Penguasa Habasyah ( Ethiopia) di Yaman ini marah besar karena gereja besar yang dibangun olehnya dikotori tinja oleh orang Quraisy. Padahal ia membangun gereja megah di Yaman tersebut demi menyaingi Ka’bah yang selalu ramai dikunjungi jamaah manca negara. 

 “Kami tidak berniat melawan pasukan tuan karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim as.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”, begitu jawaban diplomatis  Abdul Mutthalib menjawab pernyataan Abrahah yang ketika itu mengatakan bahwa kedatangannya ke Mekkah bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah yang dibencinya. Ia juga menambahkan apabila mereka tidak melawan maka ia tidak akan menumpahkan darah.

Jawaban Abdul Mutholib di atas menyiratkan bahwa orang-orang Quraisy sebenarnya telah mengenal Allah sebagai Tuhan mereka. Tapi syaitan telah menyesatkan mereka dengan menjadikan berhala sebagai sesembahan disamping Allah swt. Ini tercermin dari nama Abu Uzza nama asli Abu Lahab yaitu hamba Uzza. Uzza adalah nama salah satu berhala yang mereka sembah.       

Peristiwa spektakuler tersebut akhirnya malah membuat  Abdul Mutholib dengan Ka’bahnya makin harum namanya. Tahun dimana peristiwa tersebut terjadi dikenal dengan nama tahun Gajah. Pada tahun itu pulalah lahir Rasulullah Muhammad saw. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Al-Fiil yang artinya gajah, sebagai berikut:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

Suku Quraisy juga terkenal sebagai pedagang ulung yang terbiasa melakukan perniagaan barang-barang berkwalitas tinggi ke kota-kota yang jaraknya ribuan kilometer. Dari Mekah ke Syam pada musim dingin dan dari Mekah ke Yaman pada musim panas. Surat Al-Quraisy menceritakan hal tersebut.

Dalam keadaan itulah Abu Lahab hidup, dengan segala kemewahan dan kekuasaan, dikelilingi oleh orang-orang yang tunduk patuh pada segala perintahnya. Istrinya yang juga seorang perempuan Quraisy terhormat, dijuluki ummu Jamil yang artinya ibu yang cantik. Ia adalah saudara perempuan Abu Sufyan.

Pasangan suami istri ini sangat menyayangi Muhammad, keponakan mereka, sejak lahir hingga sebelum diangkat menjadi utusan-Nya. Ketika budaknya menyampaikan berita kelahiran sang keponakan, Abu Lahab langsung membebaskan budaknya tersebut. Ini sebagai tanda suka cita mereka karena Muhammad adalah putra dari Abdullah bin Abdul Mutholib, adik bungsu yang sangat dicintainya. Abdullah wafat dalam usia muda ketika Rasulullah masih dalam kandungan Aminah, ibundanya. Bahkan ketika Rasulullah telah menikah dan memiliki beberapa putri, Abu Lahab menikahkan kedua putranya dengan dua putri Rasulullah, yaitu Ruqayah dan ummu Kultsum binti Muhammad.

Namun sejak Rasulullah diangkat menjadi utusan Allah Abu Lahab dan istrinya mulai membencinya. Ajaran yang disampaikan Rasulullah itu dianggap melecehkan berhala sesembahan mereka sekaligus mengancam  kedudukan dan kehormatan mereka sebagai pemuka agama. Untuk itu mereka tidak saja memerintahkan orang-orangnya untuk mengejek Rasulullah namun juga rela membuntuti Rasulullah kemanapun pergi untuk mengejek sang keponakan.  

“Hai bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian memecat Lata dan ‘Uzza serta jin teman-teman kalian dari kalangan bani Malik ibnu Aqyasy dan mengikuti bid’ah dan kesesatan yang disampaikannya. Maka janganlah kalian dengar dan jangan pula kalian ikuti”, ucap Abu Lahab penuh kebencian.

Sementara istrinya, ia suka menebarkan duri ke jalan-jalan yang biasa dilalui Rasulullah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa istri Abu Lahab ini memiliki sebuah kalung berharga. Dengan kalungnya itu ia bersumpah akan berusaha sekuat tenaga menentang dakwah Rasulullah.

Hingga suatu hari turun ayat Al-Quran yang memerintahkan Rasulullah agar secara terbuka mendakwahi keluarga dekat beliau. Maka Rasulullahpun naik ke atas bukit Shafa lalu memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul. Kemudian Rasulullah berseru, ‘Sekiranya aku sekarang mengatakan kepada kalian bahwa pasukan musuh akan menyerang kalian di pagi ini atau sore ini, apakah kalian akan mempercayainya?’

Mereka serentak menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku sekarang memberi peringatan kepada kalian terhadap akan datangnya azab yang pedih.’

Mendengar ucapan tersebut, Abu Lahab yang hadir di tempat tersebut langsung mengumpat, ‘Celaka engkau, apakah hanya untuk menyampaikan hal ini engkau mengumpulkan kami!?’ sambil meninggalkan tempat.

Tak lama turunlah surat Al-Lahab yang berisi laknat Allah Azza wa Jala kepada Abu Lahab dan istrinya sebagai berikut:

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

4. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.

5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Demikian yang dikisahkan Ibnu Abbas ra dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim. Ke 5 ayat surat Al-Lahab diatas adalah balasan atas segala prilaku busuk pasangan suami istri pemuka Quraisy tersebut. Surah Al-Lahab secara harfiah berarti ”yang menyala-nyala” atau ” gejolak api’ sesuai dengan nama Abu Lahab. Nama yang diberikan karena wajahnya yang sejak kecil tampak selalu cerah kemerahan. Julukan yang indah namun ternyata adalah calon ahli neraka yang apinya bergejolak dan menyala-nyala seperti wajahnya.  

Ayat 1 “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” menunjuk pada perbuatan yang dilakukan tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh Abu Lahab yang terus menerus menteror dakwah Rasulullah. Yang akibatnya akan membinasakan dan merugikan dirinya sendiri. Yaitu masuk neraka sebagaimana ayat 3.

Ayat 2 yang berbunyi “Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” adalah tanggapan Allah swt atas perkataan Abu Lahab. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ketika Rasulullah SAW menyeru kaumnya kepada iman. Abu Lahab berkata, “Jika apa yang dikatakan oleh keponakanku ini benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku kelak di hari kiamat dari azab dengan harta dan anak-anakku.”

Rupanya Abu Lahab merasa bahwa hartanya yang berlimpah dan anak-anaknya dapat menyelamatkannya dari kemurkaan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala. Karena kesombongannya ia lupa bahwa harta dan anak hanyalah titipan-Nya.

Sementara ayat 4 dan 5 adalah tanggapan Allah swt atas sumpah istri Abu Lahab tentang kalung berharganya yang akan ia tebus mati-matian demi menentang dakwah Rasulullah. Ibnu Jarir mengatakan bahwa al-masadd dalam ayat 5 tersebut artinya sabut. Urwah ibnuz Zubair mengatakan bahwa al-masadd artinya rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sedangkan As-Sauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kalung api yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Alangkah marah dan kesalnya Abu Lahab dan istrinya mendengar hal itu. Segera mereka memerintahkan kedua anak lelaki mereka untuk menceraikan istri-istri mereka. Kebencian merekapun semakin memuncak.

Kebencian kepada Rasulullah juga diperlihatkan salah satu anak Abu Lahab, yang tak lain adalah bekas menantu Rasulullah. Hingga suatu hari karena sudah keterlaluan Rasullah memohon agar Allah swt mengirim azab-Nya.

“Ya Allah, kuasakan atasnya anjing di antara anjing-anjing-Mu.”

Abu Lahab dan putranya sangat ketakutan. Apalagi kafilah dagang mereka akan melakukan perjalanan jauh. Maka Abu Lahabpun memerintahkan pengawalan extra ketat untuk putranya. Namun ternyata Allah swt mengabulkan permohonan rasul-Nya. Maka terjadilah apa yang diminta Rasul. Ia diterkam seekor singa ketika sedang tidur. Ironisnya hal tersebut tidak membuat jera Abu Lahab dan istrinya. Kebencian mereka bahkan makin menjadi-jadi. 

Sepuluh tahun kemudian yaitu pada tahun 2 H terjadilah  Perang Badar yang berakhir dengan kekalahan pihak musyrikin Quraisy dengan sangat memalukan. Pada perang tersebut Abu Lahab tidak ikut berperang. Ia hanya menyetor 4.000 dirham dan meminta seseorang menggantikannya di medan perang.

Sepekan setelah itu Abu Lahab diserang penyakit lepra hingga dijauhi sanak keluarganya dan akhirnya tewas mengenaskan. Selama tiga hari jasadnya tidak segera dikuburkan karena tak seorangpun tahan dengan bau menyengat yang keluar dari mayatnya. Tidak juga orang-orang yang dulu selalu mengelilingi dan memujanya. Ini yang juga terjadi terhadap Kemal Ataturk, Yahudi pendiri Turki sekuler. Hingga hari ini bau busuk tetap keluar dari kuburnya hingga terpaksa diberi pewangi sepanjang waktu.

Dengan terpaksa para tetangganya akhirnya memasukkan mayat pemuka Quraisy tersebut ke dalam sebuah kotak kayu dan menguburkannya dalam-dalam. Sesudah itu mereka melemparinya dengan kerikil dan tanah hingga rata.

Dalam sebuah riwayat dikabarkan setiap hari Senin mantan pemuka tersebut dibebaskan dari siksa kubur. Ini sebagai penghargaan atas kebaikannya membebaskan budak yang mengabarkan kelahiran Rasulullah.

Beberapa kesimpulan dan hikmah yang bisa diambil:

  1. Harta kekayaan, anak, kehormatan, jabatan dll hanyalah cobaan dan titipan. Ia tidak dapat menyelamatkan seseorang dari siksa neraka. Kecuali digunakan di jalan yang diridhoi-Nya.
  2. Laknat dan janji Allah pasti terjadi. Bisa di dunia maupun di akhirat ataupun di akhirat saja kelak.  Abu Lahab merasakan keduanya , di dunia dan akhirat.       
  3. Pemimpin mendapat balasan berlipat atas kebaikan dan keburukannya. Tak seperti biasanya Allah swt melaknat langsung nama seseorang. Ini menunjukkan bahwa tindakan yang bersangkutan sudah ketelaluan. Abu Lahab adalah seorang pemuka yang dengan kedudukannya seharusnya bisa mengajak ke jalan yang lurus. Tapi ia malah  bersengkongkol bersama istri dan anaknya mati-matian memusuhi dakwah Rasulullah, pada awal dakwah Islam pula. Mirip dengan apa yang dilakukan Iblis yang melawan nabi Adam as pada awal penciptaan. Dan Allahpun melaknatnya.
  4. Hati-hati dengan memberi nama anak. Abu Uzza yang artinya hamba Uzza berhala sesembahan Quraisy membuat hatinya keras membatu tidak mampu menerima kebenaran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Maret 2022.

Vien AM.

SIBAQ

“Fastabiqul khoirot” (maka berlombalah kamu dalam kebaikan ).  

Ini adalah potongan ayat 148 surat Al-Baqarah yang sudah sepatutnya dijadikan pegangan umat Islam dalam mengarungi kehidupannya. Stabiqu berasal dari kata dasar yang sama dengan Sibaq, Musabaqoh yaitu Sabaqo – Yasbiqu yang arti harfiahnya adalah  memenangkan suatu lomba.

Hidup sejatinya adalah berlomba dalam kebaikan. Siapa yang menang ia akan memasuki surga dan siapa yang kalah akan masuk neraka. Tidak ada pilihan lain, senang atau tidak, terpaksa atau tidak, hanya itu pilihannya.

Lomba adalah fitrah manusia yang tidak dapat dihindarkan. Setiap manusia sadar atau tidak sebenarnya memiliki nafsu untuk menang dalam lomba, lomba apapun. Lomba ini bahkan telah dimulai sejak awal kehidupan seorang anak manusia. Yaitu pada awal proses pembuahan dimana satu dari 100 juta sperma memenangkan lomba menggapai sebuah sel telur. Sperma pemenang ini sudah pasti adalah sperma kuat dan sehat, bibit unggul cikal bakal anak manusia yang nantinya akan siap melakukan lomba yang diperintahkan Tuhannya, Allah Azza wa Jala.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. ( Terjemah QS. Al-Mulk(67):2).

Lomba ini juga dimaksudkan sebagai ujian, siapa yang amalnya lebih baik (bukan lebih banyak) itulah yang lulus. Uniknya ujian tidak hanya dalam bentuk kesusahan namun juga kesenangan. Karena sesungguhnya susah maupun senang adalah dari-Nya. Allah subhana wa ta’ala ingin mengetahui bagaimana reaksi kita ketika diberi kesusahan, apakah kita bisa bersabar dan tetap mensyukurinya.

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.(Terjemah QS. Al-Mulk(67):23).

Dan ketika diberi kesenangan apakah menjadi lupa diri, sombong, pongah, bahkan takabur dan riya. Karena kesenangan dan kesuksesan sejatinya adalah uji kepekaan, jangan sampai orang lain yang dalam kesulitan menjadi tersinggung. Di hari Pengadilan nanti kita harus mempertanggung-jawabkan semua itu.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu”.(Terjemah QS. At-Takasuur(102):8).

Tapi apa sebenarnya yang dimaksud amal yang baik pada ayat di atas. Definisi baik mungkin banyak, tergantung sudut pandang. Namun Islam menegaskan bahwa baik adalah segala sesuatu yang sumbernya dari Allah subhana wa ta’ala. Karena ‘kebenaran hakiki itu hanya 1, yaitu yang dari-Nya. Jadi jangan pernah merasa ragu dengan banyaknya orang atau golongan yang berusaha membujuk rayu bahwa kebenaran itu relative. 

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):147).

Apapun perintah dan larangan-Nya pasti baik, dan pasti bermanfaat bagi manusia. Meski bisa jadi kelihatannya tidak sesuai dengan akal apalagi nafsu manusia. Ajaran Islam sejatinya adalah fitrah manusia, tidak ada yang menyimpang dari fitrahnya. Ia hanya mengukuhkan yang sudah ada, membatasi agar tidak berlebihan serta mengarahkan supaya tetap berada di rel yang benar. Yang baik/haqq pasti dari Allah swt sedangkan yang buruk/bathil dari yang selain –Nya.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, …” (Terjemah QS. Al-Isa(17):7).

Keyakinan yang demikian itulah yang pasti akan melahirkan manusia yang takwa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):102).

Takwa terdiri atas 2 macam, takwa pertama adalah takwa dalam hal  meninggalkan larangan sejauh-jauhnya/sekuat-kuatnya dan takwa kedua adalah dalam menjalankan perintah semampunya. Yang dimaksud menjalankan perintah semampunya adalah dalam hal ibadah sunnah bukan ibadah wajib, kecuali ada halangan yang dibenarkan secara syar’i. Misal shalat ketika sakit. Dalam keadaan normal harus berdiri, namun bila tidak sanggup boleh duduk, bila tidak sanggup juga boleh dalam posisi tidur. Dan bila tidak sanggup juga dengan kedipan matapun diperbolehkan.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu…. …”. ( Terjemah QS. At-Taghaabun(64):16).

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah 2:148).

Ayat diatas membuktikan bahwa lomba dalam kebaikan tidak hanya terhadap sesama muslim tapi juga dengan umat lain. Termasuk juga arah kiblatnya. Setiap orang/umat pasti mempunyai tujuan dan minat masing-masing. Akan tetapi prinsip dasar/orientasi seorang Muslim harus sama, yaitu bahwa hidup adalah untuk menyembah kepada Allah Azza wa Jala.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. ( Terjemah QS.Ads-Dzariyah (21):56)

Seperti kita ketahui kiblat pertama umat Islam adalah menghadap Masjidil Aqsho. Perintah pemindahan kiblat ke arah Ka’bah di Masjidil Haram di Mekah untuk menguji ketaatan sekaligus untuk membedakan dari umat Yahudi dan Nasrani yang memang berkiblat ke Masjidil Aqsho. Ka’bah bukan tujuan apalagi untuk disembah sebagaimana yang sering dituduhkan orang-orang kafir. Apa yang dikatakan Umar bin Khattab ra di hadapan Hajar Aswad yang terletak di salah satu sisi Ka’bah adalah bentuk ketaatan sekaligus ketauhidan yang harus kita contoh.

“Demi Allah aku akan benar-benar menciumnya dan aku sungguh tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu. Sungguh, kau tak bisa mendatangkan marabahaya dan tak bisa memberikan keuntungan. Sandainya aku tak pernah melihat Rasulullah mencium kamu tentu aku tak akan mencium.” 

Ketaatan dasar dalam bentuk perbuatan yang wajib dikerjakan umat Islam adalah mendirikan shalat wajib 5x sehari sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. Namun jangn lupa Allah swt juga mewajibkan umat yahudi dn nasrani untuk shalat, rukuk dan sujud sebagaimana umat Islam. Walaupun Al-Quran tidak menrangkan persisnya bagaimana. Dan itu tidak penting bagi kita. Yang pasti ternyata Allah melaknat mrk. Tidak sedikit ayat2 quran menerangkn hal tsb diantaranya yg sering kita baca adalah ayat 6 Alfatihah. Pelajaran bagi kita agar kita mampu mengambil hikmah kesalahan mereka. Jangn sampai kita malah mengulang kesalahan tersebut.  

“Katakanlah, maukah kalian kuberi tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Mereka adalah orang-orang yang sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (Terjemah QS.Al-Kahfi (18):103-104).

Shalat yang merupakan tiang agama itu sebenarnya bukan sekedar bentuk ketaatan kepda-Nya, namun juga latihan kedisiplinan. Shalat berjamaah ke arah yang sama yaitu Ka’bah adalah lambang persatuan. Sementara wudhu/thoharoh,  gerakan, bacaan dan waktu shalat memiliki cara dan urutan yang tertentu, tidak boleh sesukanya. Maka sudah sewajarnya shalat yang benar akan membuahkan ahlak yang baik. Dalam ayat 1-11 surat Al-Mukminun diterangkan kriteria ahlak seorang yang Mukmin.

Artinya shalat memiliki filosofi yang dalam yaitu hidup harus dinamis, semangat dengan ilmu yang benar dalam segala bidang, tidak boleh mudah menyerah dan putus asa. Bukankah hidup adalah ujian sebagaimana dijelaskan di atas. Umat Islam wajib bersatu agar dapat memenangkan lomba. Jangan pernah menunda amal baik.Umat Islam harus punya skala prioritas amal.

“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”(HR Muslim).

Sementara ayat 4-8 surat Al-Maaun menjelaskan tentang shalat yang lalai. Diantaranya yaitu riya. Riya adalah amal ibadah yang dikerjakan untuk dilihat orang lain bukan karena ketaatan kepada-Nya, Sebaliknya Allh jg menegaskn bahwa kita adalah umat terbaik. Mak dengan berbekal modal itu semua seharusnya kita, umat Muslim dapat memenangkn lomba ini dan memasuki surga Firdaus yang dijanjikan bagi sang pemenang.

Hikmah Sibaq:

1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan kebaikan dan tugas.

2. Effektif dalam waktu. Usia biologis harus melampaui usia manfaat. Bisa jadi usia biologis seseorang pendek namun tabungan pahalanya melebihi usianya. Contohnya, ganjaran malam Lailatul qadar yang 1000 bulan atau 86 tahun, shalat jamaah 27x ganjaran, shalat 2 rakaat sebelum Subuh dll.

3. Meminimalisir godaan syetan. Dengan banyak berbuat baik ruang keburukan menjadi berkurang.

4. Terwujudnya self control dan integritas yang tinggi.

“Barangsiapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang terlaknat.” (Ali bin Abi Thalib ra).

“Siapa yang hidup untuk orang lain  maka akan hidup sebagai orang besar. Dan siapa yang hidup untuk diri sendiri maka akan hidup sebagai orang kecil”. (Sayyid Qutb).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Februari 2022.

Vien AM.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607).

Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

Hadist diatas menunjukkan bahwa Allah swt menghitung amalan seseorang tergantung pada amalan akhirnya, bukan jumlah amalan selama hidupnya. Artinya kita sebagai umat Islam jangan pernah merasa puas dengan segala amal kebajikan kita. Karena bisa jadi menjelang ajal kita justru lalai, banyak berbuat amal keburukan seperti menggunjing, riya, buruk sangka dll, hingga berakhir dengan su’ul khotimah … Na’udzubillah min dzalik …

Untuk itu jangan kita sibuk menilai perbuatan orang lain apalagi mencari-cari kesalahannya. Meski tidak jarang kita mendengar berita adanya sejumlah orang yang selama ini dianggap sebagai tokoh Muslim tiba-tiba mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tugas kita minimal adalah saling mengingatkan, tergantung dimana kedudukan kita berada. Tidak boleh kita masa bodoh, membiarkan kejahatan terjadi di depan kita tanpa kita berusaha mencegahnya.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(Terjemah QS. Al-Ashr(103){2-3).

Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Yang lebih mengerikan, di akhir zaman nanti seseorang yang di pagi hari masih dalam keadaan beriman, sore harinya berubah menjadi kafir.

Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [HR. Muslim]

Hal yang bukan mustahil terjadi mengingat hari ini kita dapat melihat betapa mudahnya orang mendapatkan info dari media sosial, info baik maupun buruk, yang mencerahkan maupun yang menyesatkan. Begitupun ilmu agama. Bila sebelumnya untuk mencari ilmu harus pada orang yang benar-benar menguasai ilmunya maka hari ini ilmu bisa di dapat secara mudah, sesuai yang kita inginkan. Karena orang tanpa ilmu yang benar, dengan mudah dapat berbicara sesukanya dan menyebarkan ilmu maupun pendapatnya melalui medsos. Mereka menjual agamanya demi mendapatkan kenimatan dunia, seperti mencari popularitas dll, yang sebenarnya sangat jauh dibanding kenikmatan akhirat. 

Contohnya yaitu orang-orang liberal yang mengatakan bahwa semua agama adalah benar, bahwa kita adalah Muslim Indonesia maka berislamlah secara Indonesia, tidak harus berbahasa Arab ketika berdoa dll.    

Hadist di atas menekankan agar bersegara dalam melakukan amal ibadah, tidak menunda-nundanya hingga akhirnya kehabisan waktu dan ajalpun menjemput.  Namun demikian amal ibadah harus dilakukan berdasarkan ilmu, tidak asal-asalan apalagi tanpa hati.

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Para ulama berpendapat bahwa yang dimaksud hati yang baik adalah hati yang di dalamnya mempunyai rasa takut pada Allah swt termasuk siksa-Nya, hati yang ikhlas beramal ibadah karena ingin mendekatkan diri pada-Nya, yang meninggalkan maksiat demi meraih ridho-Nya. Termasuk juga di dalamnya yang meyakini para rasul dan mentaati serta beramal ibadah seperti apa yang dicontohkan Rasulullah Muhammad saw.

Islam mengajarkan umatnya agar istiqomah ( konsisten) menjalankan amal ibadah hingga akhir hayat. “Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda, “Tujulah (kebenaran), mendekatlah dan bergembiralah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga karena amalnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, tidak juga aku, kecuali bila Allah swt melimpahkan rahmat dan karunia padaku. Dan ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa seringnya kita mendengar kabar seseorang yang tadinya begitu membenci Islam, atau juga seseorang yang mengaku Muslim meski prilakunya tidak menunjukkan keislamannya, tiba-tiba berubah 180 derajat, menjadi begitu mencintai Islam bahkan mampu berdakwah dengan sangat baik.

Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek.

Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal”.

Para sahabat lalu bertanya,“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad, Bukhari – Muslim).

Hadist di atas menerangkan adanya satu kebaikan yang nilainya sangat tinggi, yaitu hidayah. Hidayah ini adalah mutlak milik Allah swt yang akan diberikan kepada siapa saja yang dikehedaki-Nya.

Contoh paling ekstrim yang sering disampaikan adalah kisah seorang pelacur yang memberikan minuman kepada seekor anjing yang kehausan padahal dirinya sendiri sedang sangat membutuhkannya. Kisah ini bukan berarti menghalalkan pelacuran seperti yang sering dituduhkan kaum Islam Liberal. Melainkan untuk menunjukkan bahwa sekecil apapun nilai kebaikan mempunyai nilai tersendiri dalam pandangan Allah Azza wa Jala.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”. (Terjemah QS. Al-Zalzalah(99):7).

Nilai kebaikan yang menyebabkan turunnya hidayah. Dengan bekal hidayah inilah hati seseorang menjadi terbuka hingga mampu mengenal Tuhannya. Yang kemudian dengan suka rela menjalankan amal ibadah, istiqomah hingga akhir hayatnya. Hingga Allah swt pun ridho memasukannya ke surga-Nya. Itulah husnul khotimah yang seharusnya menjadi cita-cita tertinggi seorang hamba.

Untuk itu Rasulullah mengajarkan umatnya agar senantiasa membaca doa berikut:

Yaa Muqallibal-qulub, tsabbit qulubina ‘ala dinik (Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami  atas agama-Mu).” (HR Ahmad).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 27 Januari 2022.

Vien AM.