Feeds:
Posts
Comments

Makna Barakah

Kita tentu sering mendengar kata “Barakallah”. Kata ini diucapkan biasanya ketika ada teman, saudara atau handai taulan yang mendapat kebahagiaan dan kesenangan. Ketika menerima hadiah misalnya.

Barakallaah adalah kalimat yang berasal dari Bahasa Arab, kalimat tersebut terdiri dari dua kata yaitu “Baraka” dan “Allah”.  Kata “baaraka” memiliki arti berkah/barokah. Jadi  “Barakallah” artinya adalah “Semoga Allah memberkahi”. Pengucapan kata yang sebenarnya merupakan doa ini lazimnya diiringi dengan kata “fiika” (untuk perempuan), “fiiki” (untuk laki-laki), atau “fiikum“(untuk lebih dari 1 orang laki-laki dan perempuan).

Para sahabat di zaman nabi biasa mengucapkan kata “Barakallah” sebagaimana yang dikisahkan umirul mukminin Aisyah ra yang diriwayat Imam An-Nasa’i sebagai berikut:

“Aku menghadiahkan seekor domba kepada Rasulullah SAW. Maka Beliau memerintahkan, “Bagi dua-lah domba tersebut (untuk disedekahkan)”. (Maka pembantu beliau pun mengirimkan daging domba tersebut,) Dan telah menjadi suatu kebiasaan bagi Aisyah ra jika pembantunya telah pulang dari melakukan hal yang semisal itu, maka ia akan menanyakan, “Apa yang mereka katakan (setelah kita beri)?” Pelayanannya menjawab, “Baarakallaah Fiikum”. Maka ‘Aisyah pun mengatakan, “Wa Fiihim Baarakallaah”, kita telah membalas do’a mereka dengan do’a yang semisal dan tetap bagi kita pahala atas perbuatan baik yang telah kita lakukan (memberi hadiah daging domba).

Itu sebabnya ketika seseorang yang mengucapkan “ Barakallah” maka jawaban yang paling tepat adalah “ Wa fiikum barakallah”, yang artinya “dan kepadamu juga berkah Allah”. Begitulah yang diajarkan Rasulullah, saling mendoakan. Bukankah sesama Muslim adalah bersaudara?  .

Namun  apa sebenarnya arti “Berkah” itu sendiri? Apakah ia harus selalu yang sifatnya menguntungkan dan menyenangkan seperti rezeki yang banyak, kesehatan yang baik, panjang umur atau anak-anak yang pintar misalnya?

Kalau memang ya, lalu bagaimana dengan nabi Sulaiman yang diuji dengan sakit tergeletak lemah di kursinya, nabi Ayyub yang diuji dengan sakit keras hingga istri dan anak-anaknya meninggalkannya, atau nabi Yunus yang ditelan ikan hiu??

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”.(Terjemah QS. Shad (38):34).

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Terjemah Shad (38):41-43).

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”.(Terjemah QS. As-Shaffat (37):139-144).

Sakit, mala petaka, kekurangan rezeki dan yang semacamnya sejatinya adalah cobaan dari Allah swt untuk mengetahui seberapa besar sabar dan syukur yang dimiliki seorang hamba.

Dari contoh kisah di atas dapat kita lihat pertolongan Allah swt datang bukan hanya karena mereka adalah para nabi, melainkan juga karena kesabaran dan taubat yang mereka lakukan. Demikian pula kita sebagai manusia biasa. Sakit dll bukanlah siksaan melainkan juga berkah sebagaimana kesehatan yang baik dan rezeki berlimpah yang digunakan untuk mentaati-Nya.

Kisah Tsa’labah seorang yang awalnya hidup dalam kemiskinan adalah sebuah contoh nyata yang harus selalu kita ingat. Suatu hari Tsa’labah yang sudah bosan hidup dalam keadaan miskin memohon agar Rasulullah mau mendoakannya menjadi orang kaya. Rasulullah mulanya menolak. Namun karena Tsa’labah terus merengek akhirnya Rasulullahpun mengabulkannya seraya memberinya modal 2 ekor kambing untuk modal awal.

Dalam waktu singkat kambing Tsa’labahpun terus berkembang-biak hingga ia harus pindah ke luar Madinah untuk mencari lahan yang luas. Akibatnya Tsa’labah yang tadinya rajin shalat 5 waktu di masjid Nabawi bersama Rasulullah dan para sahabat mulai jarang melakukannya. Puncaknya ia menolak membayar zakat yang kini menjadi wajib baginya. Ia bahkan marah-marah dan menuduh petugas zakat yang tak lain adalah para sahabat dengan tuduhan ingin memerasnya.

Tentu saja Rasulullah sangat kecewa melihat prilaku buruk Tsa’labah. Beliau adukan hal tersebut kepada Sang Pemilik. Tak lama Tsa’labah menyadari kesalahannya dan memohon agar Rasulullah mau menerima zakatnya. Namun Rasulullah menolaknya juga khalifah Abu Bakar dan Umar sepeninggal Rasulullah. Akhirnya Tsa’labah wafat dalam keadaan menyesal seumur hidup dan kambingnyapun semua mati bersamanya. Tidak ada keberkahan dalam seluruh harta dan kekayaan yang dimiliki dan diimpikannya  Na’udzubillah min dzalik.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.”

Dengan kata lain berkah adalah segala hal yang mampu membuat kita dekat kepada Sang Khalik. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang digunakan di jalan Allah, untuk membantu anak-anak yatim piatu, orang miskin dll. Kalaupun rezeki hendak digunakan untuk berjalan-jalan ke luar negri misalnya, selama hal tersebut dapat membuat kita lebih bersyukur, mengagumi ciptaan-Nya, lebih mengenal sifat-sifat-Nya serta membuat kita lebih takwa yaitu dengan menjauhi larangan dan mengerjakan perintah-Nya, itulah berkah.

Begitu pula sakit dan sehat. Berkah itu tidak selalu sehat dan panjang umur. Ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya, layaknya sahabat Mus’ab bin Umair dkk yang gugur syahid di medan jihad.

Tanah yang berkah itu bukan yang panoramanya indah. Makkah dimana Ka’bah berada di dalamnya, adalah contohnya. Tanah tersebut memang tandus tapi keutamaannya dihadapan Allah tidak tertandingi tanah manapun.

Makanan yang berkah bukan yang komposisi gizinya lengkap melainkan makanan yang mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah mengkonsumsinya. Demikian pula ilmu. Ilmu yg berkah itu bukan yg banyak riwayat dan catatan kakinya, melainkan yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya beramal dan berjuang untuk agama Allah

Istri yang cantik, suami yang gagah dan sukses, anak-anak yang lucu, pintar bahkan bergelar S2 atau S3 ketika dewasa bukanlah berkah bila tidak mau mentaati Rabb yang telah menciptakan mereka.  Sama halnya dengan jabatan. Jabatan yang tidak membuat seseorang menjadi dekat pada-Nya adalah bukan berkah melainkan petaka.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Terjemah QS. Al A’rof(7):96).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kita berbagai keberkahan. Amin Yaa Mujibbas Saailin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juni 2018.

Vien AM.

Advertisements

Abu Dzar al Ghifari RA, yang nama aslinya Jundub bin Janadah berasal dari Bani Ghifar yang tinggal jauh dari kota Makkah, tetapi ia merupakan kelompok sahabat yang pertama memeluk Islam (as sabiqunal awwalun). Ia termasuk orang yang menentang pemujaan berhala pada jaman jahiliah, karena itu ia langsung tertarik ketika mendengar kabar tentang seorang nabi yang mencela berhala dan para pemujanya.

Ia merupakan orang dewasa ke lima atau ke enam yang memeluk Islam. Ketika ia menceritakan kepada Nabi SAW bahwa ia berasal dari Ghifar, beliau tersenyum penuh kekaguman. Bani Ghifar terkenal sebagai perampok yang suka mencegat kafilah dagang di belantara padang pasir. Mereka sangat ahli melakukan perjalanan di malam hari, gelap gulita bukan halangan bagi mereka, karena itu kabilah ini sangat ditakuti oleh kafilah dagang. Nabi SAW makin takjub ketika mengetahui bahwa Abu Dzar datang sendirian hanya untuk mendengar dan mengikuti risalah Islam yang beliau bawa, yang sebenarnya baru didakwahkan secara sembunyi-sembunyi. Beliau hanya bisa berkata, “Sungguh Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya…”

Setelah keislamannya, beliau menyarankan agar ia menyembunyikan keimanannya dan kembali kepada kaumnya sampai waktunya Allah memberikan kemenangan. Karena sebagai perantau yang sendirian, akan sangat berbahaya jika diketahui ia telah memeluk agama baru yang menentang penyembahan berhala. Ia bisa memahami saran beliau tersebut, tetapi jiwa seorang Ghifar yang pantang takut dan menyerah seolah memberontak, ia berkata, “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, aku takkan pulang sebelum meneriakkan keislamanku di Masjid.”

Ia berjalan ke Masjidil Haram, dan di sana ia meneriakkan syahadat sekeras-kerasnya. Itulah teriakan dan lantunan keras syahadat yang pertama di masjidil haram, dan mungkin juga yang pertama di bumi ini. Tak ayal lagi orang-orang musyrik merubung dan memukulinya hingga ia jatuh pingsan.

Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW yang mendengar kabar tersebut segera datang ke masjid, tetapi melihat kondisinya, tidak mudah melepaskan Abu Dzar dari kemarahan massa, karena itu ia berkata diplomatis, “Wahai orang Quraisy, dia adalah orang dari Kabilah Bani Ghifar. Dan kalian semua adalah kaum pedagang yang selalu melewati daerah mereka. Apa jadinya jika mereka tahu kalian telah menyiksa anggota keluarganya??”

Merekapun melepaskannya. Tetapi pada hari berikutnya, ketika Abu Dzar melihat dua wanita mengelilingi berhala Usaf dan Na-ilah sambil bermohon, lagi-lagi jiwa tauhidnya terusik. Ia mencegat dua wanita tersebut dan menghina dua berhala itu sejadi-jadinya, sehingga dua wanita itu menjerit ketakutan. Tak pelak orang-orang musyrik berkumpul dan sekali lagi menghajarnya beramai-ramai hingga pingsan. Melihat kejadian tersebut, sekali lagi Rasulullah SAW memerintahkannya untuk segera pulang ke kabilahnya.

Kembali ke daerahnya, Abu Dzar mendakwahkan risalah Islam kepada kaumnya, sehingga sedikit demi sedikit mereka memeluk Islam. Ia juga mendakwahkan kepada kabilah tetangganya, Bani Aslam, sehingga cahaya hidayah menerangi kabilah ini. Beberapa tahun kemudian ketika Nabi SAW sudah tinggal di Madinah, serombongan besar manusia datang dengan suara gemuruh, kalau tidaklah gema takbir yang terdengar, pastilah mereka mengira sedang diserang musuh. Ternyata mereka adalah Kabilah Bani Ghifar dan Bani Aslam, dua kabilah yang terkenal jadi momok perampokan kafilah dagang di belantara padang pasir, berkamuflase menjadi raksasa pembela kebenaran dan penebar kebaikan. Dan hidayah Allah tersebut datang melalui tangan Abu Dzar.

Ketika dua rombongan besar ini menghadap Nabi SAW, beliau berkaca-kaca diliputi keharuan, suka cita dan rasa kasih berlimpah. Beliau bersabda kepada Kabilah Bani Ghifar, “Ghifaarun ghafarallahu laha….” (Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah).

Kemudian beliau berpaling kepada Kabilah Bani Aslam sambil bersabda, “Wa Aslamu Saalamahallahu….” (Suku Aslam telah diterima dengan selamat (damai) oleh Allah).

Pada perang Tabuk yang terkenal dengan nama Jaisyul Usrah (Pasukan di masa sulit), beberapa orang tertinggal dari rombongan besar Rasulullah SAW. Dan ketika ini dilaporkan, beliau bersabda, “Biarkanlah! Andaikan ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah kepada kalian. Dan jika tidak, Allah telah membebaskan kalian dari dirinya.”

Salah seorang yang tertinggal tersebut adalah Abu Dzar. Keledai yang ditungganginya sangat lelah sehingga tidak bisa bergerak lagi. Berbagai cara dicoba Abu Dzar agar keledainya berjalan lagi tetapi tidak berhasil, bahkan akhirnya mati.

Sementara itu rombongan Nabi SAW sedang beristirahat ketika pagi tiba. Seorang sahabat melaporkan ada satu sosok terlihat berjalan sendiri di jauh di ufuk. Nabi SAW bersabda, “Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar…!!”

Setelah dekat dan sampai di hadapan Nabi SAW, ternyata memang Abu Dzar-lah orangnya. Ia memanggul barang dan perbekalan di punggungnya dan meneruskan perjalanan menyusul rombongan Nabi SAW dengan berjalan kaki. Walau jelas terlihat kelelahannya, tetapi wajahnya bersinar gembira bisa bertemu dengan Nabi SAW dan anggota pasukan lainnya. Beliau menatapnya penuh takjub, kemudian dengan senyum yang santun dan penuh kasih, beliau bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Abu Dzar, ia berjalan sendirian, ia meninggal sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian…”

Sebuah bentuk pujian, atau sebuah ramalan, atau sebuah bentuk rasa kasihan, atau apapun itu, hanyalah sebuah gambaran tentang apa yang telah dan akan dijalani oleh Abu Dzar, bahkan pada hari kebangkitan nanti.

Dari sejak pertama memeluk Islam, keberaniannya mengeksplorasi keimanannya di saat dan tempat yang bisa membahayakan dirinya, Nabi SAW langsung mengetahui watak dan karakter Abu Dzar, apalagi dengan kondisi lingkungan Bani Ghifar yang mendidiknya. Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepadanya, “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk keperluan pribadinya.”

Dengan tegas Abu Dzar menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku akan luruskan mereka dengan pedangku!”

Beliau tersenyum, kemudian bersabda, “Maukah aku beri jalan yang lebih baik dari itu…”

Abu Dzar mengangguk, Nabi SAW bersabda, “Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!”

Inilah gambaran situasi yang akan dihadapi oleh Abu Dzar sepeninggal Nabi SAW. Tetapi di masa khalifah Abu Bakar dan Umar, tidak ada sesuatu yang mengusik kehidupan Abu Dzar, situasi tidak jauh berbeda seperti masa hidupnya Nabi SAW.

Setelah wafatnya Umar bin Khaththab, yang memang digelari Nabi SAW dengan istilah “Pintunya Fitnah” atau “Gemboknya Fitnah”, sedikit demi sedikit fitnah duniawiah menjalari umat Islam. Apalagi wilayah Islam makin luas dan harta kekayaan melimpah ruah. Gaya hidup Romawi dan Persi sedikit demi sedikit diadopsi oleh para penguasa muslim. Jurang pemisah antara kaum fakir miskin dan penguasa atau hartawan mulai terbentuk. Pada keadaan seperti inilah jiwa Abu Dzar terusik. Abu Dzar menerawang jauh ke belakang, teringat akan waktu bersama Nabi SAW dan apa yang beliau sabdakan tentang dirinya. Beliau sudah mewasiatkan dirinya untuk bersabar dan tidak menggunakan pedangnya. Tetapi jiwa perjuangan untuk menegakkan kebenaran seakan tidak bisa terbendung. “Nabi SAW melarang aku untuk meluruskan mereka dengan pedang, tetapi beliau tidak pernah melarang untuk meluruskan dengan lidah dan nasihat,” begitu pikirnya.

Maka dimulailah babak baru perjuangannya. Abu Dzar mendatangi pusat-pusat kekuasaan dan kekayaan, para penguasa dan hartawan, khususnya yang tidak lagi meneladani Nabi SAW dalam mengemban amanat harta dan jabatan. Dalam menyampaikan kebenaran, lidahnya tak kalah tajamnya dengan pedangnya. Ia mengutip Surah at Taubah ayat 34-35, dan merangkaikannya menjadi syair singkat yang segera saja menjadi simbol perjuangannya, “Berilah kabar gembira para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak, mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat….”

Segera saja Abu Dzar mendapat sambutan hangat di seluruh penjuru negeri yang dikunjunginya. Banyak sekali orang yang bergabung dan berdiri di belakangnya untuk mendukung perjuangannya. Kalau orang Islam biasa yang mengucapkan kalimat tersebut di hadapan penguasa dan para hartawan, tentulah tidak begitu besar pengaruhnya. Tetapi seorang sahabat sekaliber Abu Dzar, yang berdiri kokoh menghadapi penguasa dan hartawan, dengan tegas dan tanpa gentar sedikitpun menasehati mereka, seolah memunculkan kutub baru, kutub kaum tertindas dan teraniaya dalam negeri Islam yang begitu kaya dan melimpah.

Inilah rahasianya, kenapa Nabi SAW dalam menasehatinya langsung pada titik tertinggi, “Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!”

Dan beliau tidak menasehatinya untuk berjuang dengan lisannya. Kutub baru yang terjadi karena perjuangannya bisa menimbulkan fitnah baru yang lebih besar daripada fitnah yang telah ada, yakni perpecahan umat. Dan Abu Dzar menyadari satu hal, tidak semua orang tulus dan murni berjuang untuk menegakkan kalimat dan agama Allah. Ada sebagian orang yang memanfaatkan perjuangannya menegakkan kebenaran, untuk memenuhi ambisi dan keinginan nafsunya. Maka ketika Khalifah Utsman memanggilnya untuk kembali ke Madinah, ia segera memenuhinya.

Tiba di Madinah, Khalifah Utsman memintanya dengan halus untuk tinggal bersamanya, segala kebutuhannya akan dipenuhi. Tentu saja tawaran seperti itu ditolaknya, ia hanya meminta izin untuk mengasingkan diri di pedalaman padang pasir di Rabadzah. Ia ingin melaksanakan wasiat Nabi SAW kepadanya untuk bersabar di tempat terpencil, sehingga tidak terganggu dengan fitnah-fitnah yang mulai menyebar. Khalifah Utsman mengijinkannya.

Sebagian riwayat menyebutkan, Khalifah Utsman-lah yang memberikan pilihan kepadanya, tinggal di Madinah dengan segela kebutuhannya dicukupi, atau ia akan diasingkan ke pedalaman Rabadzah. Tujuan jelas, agar ia tidak lagi berkeliling wilayah Islam mendakwahi para penguasa dan hartawan. Dan Abu Dzar sebagai seorang muslim sejati tetap taat kepada Utsman sebagai Amirul Mukminin, dan mengambil pilihan ke dua.

Abu Dzar tinggal di Rabadzah bersama istri, anak dan pembantunya yang sudah tua, dan beberapa ekor unta sebagai sumber kehidupannya. Suatu ketika datang seseorang dari Bani Sulaim menemuinya dan berkata “Saya ingin tinggal bersama engkau, agar aku dapat mendalami pengetahuan tentang perintah Allah, dan juga mengenal sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. Saya bersedia membantu hambamu yang sudah tua itu dalam memelihara onta-ontamu!”

“Aku tidak mau tinggal dengan orang yang tidak menuruti kehendakku,” Kata Abu Dzar, “Jika kamu berjanji akan melakukan apa yang suruh, aku akan mengijinkanmu tinggal bersamaku.”

“Bagaimana cara menuruti kehendak-kehendakmu?” Tanya orang Bani Sulaim itu.

“Apabila aku menyuruh membelanjakan hartaku, hendaknya engkau membelanjakan yang terbaik dari hartaku itu.” Kata Abu Dzar. Orang itu menyetujuinya, dan ia tinggal bersama Abu Dzar sambil menggembalakan unta-untanya.

Suatu ketika ada kabar bahwa ada sekelompok orang-orang miskin yang kehabisan bekal makanan, berkemah di dekat mata air. Abu Dzar memerintahkan pembantunya dari bani Sulaim untuk menyembelih satu ekor unta buat mereka. Ia memilih yang terbaik dari unta yang dimiliki Abu Dzar, dan ternyata ada dua, salah satunya tampak lebih bagus untuk ditunggangi. Karena dimaksudkan untuk bekal makanan dan akan disembelih, ia memilih unta yang satunya kemudian dibawa menghadap Abu Dzar. Ketika melihat unta tersebut, Abu Dzar berkata, “Engkau mengkhianati janjimu dulu?”

Orang tersebut sadar apa yang dimaksudkan Abu Dzar, ia membawa kembali unta tersebut dan menukarnya dengan unta yang lebih bagus untuk ditunggangi. Abu Dzar menyuruh dua pembantunya menyembelih unta tersebut dan membagikan dagingnya. Untuk keluarganya, sama banyaknya dengan keluarga dalam kelompok orang miskin tersebut.

Saat akhir kehidupannya, ketika Abu Dzar mengalami sakaratul maut, istri yang menungguinya menangis. Ia berkata, “Apa yang engkau tangisi, padahal maut itu pasti datang??”

“Bukan itu,” Kata istrinya, “Engkau meninggal, padahal tidak ada kain untuk mengkafani jenazahmu!!”

Abu Dzar tersenyum sambil matanya menerawang jauh, seolah mengingat sesuatu. Ia berkata, “Aku ingat, junjunganku, Rasulullah SAW berkata pada sekelompok sahabat termasuk aku, ‘Ada salah satu dari kalian yang meninggal di padang pasir yang liar dan terpencil, yang akan disaksikan oleh serombongan orang beriman.’ Semua sahabat yang hadir di majelis tersebut telah meninggal syahid atau di hadapan kaum muslimin, kecuali aku. Nah, kalau aku telah meninggal, perhatikanlah jalan (riwayat lain, letakkan aku di sisi jalan), agar rombongan orang beriman itu melihatku. Demi Allah aku tidak bohong, dan tidak pula dibohongi (oleh Nabi SAW)…”

Ternyata benar, tidak lama setelah kewafatannya, sebuah kafilah lewat tak jauh dari tempatnya, dan kemudian membelokkan arah menuju sosok mayat yang sedang ditangisi oleh dua orang, istri dan anak Abu Dzar, berada. Sahabat Abdullah bin Mas’ud yang memimpin rombongan tersebut langsung mengenalinya sebagai Abu Dzar. Ia berurai air mata melihat keadaan sahabatnya tersebut, sambil berkata, “Benarlah Rasulullah SAW, anda berjalan seorang diri, anda meninggal seorang diri, dan anda akan dibangkitkan pula seorang diri…”

Sebagian riwayat menyebutkan, ketika kafilah yang dipimpin Abdullah bin Mas’ud itu sampai di tempatnya, ia masih hidup dalam keadaan sakaratul maut. Ia berkata kepada mereka, “..seandainya aku dan istriku mempunyai kain, tentu aku ingin dikafani dengan kainku atau milik istriku. Tetapi aku minta dengan nama Allah, janganlah seseorang yang pernah menjabat gubernur, walikota, atau penguasa apapun yang mengafani aku!!”

Ternyata hampir semua anggota kafilah tersebut pernah memangku jabatan yang disebutkannya, kecuali satu orang sahabat Anshar. Dia berkata, “Wahai pamanku, akulah yang tidak pernah menjabat seperti yang engkau sebutkan, aku yang akan mengafani jenazahmu dengan sorbanku dan dua bajuku yang ditenun sendiri oleh ibuku!!”

“Hanya engkau yang boleh mengafani jenazahku,” Kata Abu Dzar.

Setelah Abu Dzar wafat, mereka merawat jenazahnya dan sahabat Anshar tadi yang mengafaninya. Setelah itu mereka pulang ke Madinah dengan gembira, terutama sahabat Anshar tersebut, karena mereka telah masuk dalam bagian dari realisasi sabda Nabi SAW seperti yang disampaikan Abu Dzar. Dan kegembiraan apalagi yang lebih besar, bahwa Nabi SAW menyebut dan menjamin mereka sebagai “rombongan orang beriman.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2018.

Vien AM.

Diambil dari https://kisahsahabat-nabi.blogspot.com/2017/02/abu-dzar-al-ghifari-ra.html

 

Beberapa hari menjelang Ramadhan 1439H/2018 M, umat Islam kembali harus menelan pil pahit. Yaitu dengan adanya tragedi busuk diledakannya bom di 3 gereja di Surabaya pada hari Minggu 13 Mei 2018. Tagedi bom bunuh diri tersebut merenggut 13 korban meninggal dan 41 luka-luka. Ini terjadi hanya selang beberapa hari sebelum Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok diserang sekelompok orang tak dikenal hingga menewaskan 5 petugas kepolisian yang sedang menjalankan tugas.

https://news.detik.com/berita/4014659/kapolri-berduka-5-polisi-gugur-saat-rusuh-di-rutan-mako-brimob

http://solo.tribunnews.com/2018/05/13/kapolri-sebut-pelaku-bom-bunuh-diri-di-3-gereja-surabaya-merupakan-satu-keluarga 

Namun berbeda dengan tragedi penyerangan Novel Bawesdan tahun lalu yang hingga hari ini belum juga terungkap siapa pelakunya, pelaku bom gereja langsung teridentikasi hari itu juga. Pelaku bom bunuh diri dikabarkan adalah satu keluarga yang diduga kuat terhubung dengan ISIS, jaringan teroris internasional yang mengatas-namakan Islam.

Sementara rentetan serangan terhadap ulama bahkan ada yang sampai meninggal dibacok, dengan ringannya dilaporkan hanya ulah orang gila. Para ulama tersebut diserang sepulang shalat Subuh di masjid sekitar rumah masing-masing.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180221184614-20-277856/din-syamsuddin-heran-penyerang-tokoh-agama-divonis-gila

Kabar lain juga menyebutkan anggota ISIS di negri kita tercinta ini dari hari ke hari semakin saja bertambah. Namun demikian kapolri yang sebelumnya menyatakan bahwa pelaku bom bunuh diri dan keluarganya pernah tinggal di Suriah mengoreksi pernyataan tersebut.

https://regional.kompas.com/read/2018/05/15/17141491/video-klarifikasi-kapolri-soal-keluarga-pelaku-bom-gereja-pernah-ke-suriah

Patut dicermati, kedua tragedi memilukan tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum dipindahkannya kedutaan-besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hal ini merupakan bukti nyata dukungan AS terhadap segala keputusan yang diambil Israel,  termasuk pemindahan ibu kota ke kota suci 3 umat ber-agama tersebut. Prilaku negara adi daya dibawah kekuasaan Trump ini makin membuktikan ketidak-peduliannya terhadap nasib rakyat Palestina.

Yerusalem sampai kapanpun adalah milik Palestina dan umat Islam, yang digadang sebagai calon ibu kota negara yang hingga kini masih mengalami penjajahan. Sesuatu yang tidak patut terjadi di era sekarang ini dimana kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Disini pulalah berada masjid suci ketiga umat Islam yaitu kompleks Al-Quds dimana di dalamnya berdiri Masjidil Asqho dan Masjid As-Saqroh atau Masjid Kubah Emas.

Itu sebabnya sejumlah ormas Islam pada hari Jumat 11 Mei, 2 hari sebelum tragedi bom Surabaya, melakukan aksi menentang pemindahan kedutaan besar AS ke ibu kota tersebut. Aksi yang berlangsung di Monas dengan tertib dan diberi nama “Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis“ ini dimotori oleh uztad Bahtiar Nasir, dan dihadiri ulama-ulama kondang seperti Aa Gym, ustadz Abdul Somad, uztad Felix Siauw  dll.

https://lampungpro.com/post/11992/catatat-11-mei-aksi-bela-baitul-maqdis-akan-putihkan-monas

Acara yang juga dihadiri oleh sebagian besar alumni 212 tersebut diawali dengan shalat Subuh berjamaah di masjid Istiqlal, dan ditutup shalat Jumat. Usai shalat Subuh, para peserta melakukan long march menuju Monas untuk ber-dzikir pagi, mendengarkan orasi para ulama, serta mendengarkan alunan surat Al Isra’ dan surat Al Kahfi oleh 1000 hafidz/hafidzah yang sungguh menggetarkan hati. Pemilihan kedua surat tersebut, surat Al-Isra, khususnya, tentu bukannya tanpa maksud dan tujuan. Di dalam surat itulah Allah swt menerangkan kedudukan, keberkahan dan kesucian Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama umat Islam.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Terjemah QS. Al-Isra (17):1).

Selanjutnya pada ayat 4 dan 5 surat Al-Isra, Allah swt menerangkan tentang kerusakan yang akan dilakukan kaum Yahudi (bani Israil) dengan penuh kesombongan, dan balasan hukum yang bakal mereka terima sebagai akibatnya.

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”

“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”.

Lalu pada ayat 6 tentang kekalahan bani Israil oleh kaum Muslimin.

”Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”.

Sebuah pertanyaan menggelitik, mungkinkah bom bunuh diri Surabaya itu adalah rekayasa yang terjadi sebagai reaksi aksi di Monas?? Sebagai reaksi berang dan kemarahan Zionis Yahudi dan antek-anteknya atas doa kaum Muslimin yang menyudutkan mereka?? Bukankah bukan rahasia lagi bahwa ISIS adalah ciptaan mereka??

http://spionase-news.com/2018/05/19/akhirnya-terungkap-pimpinan-isis-ternyata-agen-mossad-israel/

Tengok pula apa yang dilakukan Zionis Israel terhadap penduduk Palestina yang bertekad kembali ke kampung halaman setelah terusir sejak tahun 1948, pada waktu yang hampir bersamaan dengan serangan Surabaya. Tekad rakyat Palestina tersebut telah berlangsung sejak Maret 2018 sebagai protes atas rencana AS memindahkan kedubesnya ke Yerusalem. Ironisnya tak satupun media utama Indonesia yang memberitakan hal tersebut. Padahal tak kurang dari 62 korban meninggal dunia dan sekitar 2800 rakyat Palestina terluka.

Namun yang lebih menyedihkan adalah reaksi berlebihan pemerintah, dalam hal ini, mentri agama Lukman Hakim, yang mengeluarkan daftar sertifikasi ulama, seolah ulamalah yang harus bertanggung-jawab atas terorisme yang baru saja terjadi.

Dan anehnya lagi, daftar yang hanya memuat 200 ulama rekomendasi kementrian agama tersebut tidak memasukkan sejumlah ulama yang nyata-nyata memiliki nama besar, banyak mempunyai jamaah dan juga lulusan universitas terkemuka di Timur Tengah. Diantaranya yaitu uztad Abdul Somad, uztad Felix Siauw, uztad Adi Hidayat, dan uztad Bahtiar Nasir, ketua “Aksi Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis”.

Ntah kebetulan atau tidak, ulama-ulama tersebut, belakangan memang sering bersuara keras mengkritisi kinerja pemerintah. Kejatuhan BTP pada tahun 2016 lalu atas tuduhan penistaan agama (Islam) tak lepas dari rentetan aksi damai 212 yang dimotori Habib Riziek Shihab dan uztad Bahtiar Nasir sebagai ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), yang juga adalah sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia).

Aksi fenomenal yang melibatkan jutaan peserta tersebut diabadikan dalam layar lebar dengan judul “212 the Power of Love”, yang tayang di bioskop nasional sejak 9 Mei 2018, beberapa hari sebelum terjadinya bom Surabaya.

http://senggang.republika.co.id/berita/senggang/film/18/05/11/p8iz1s374-film-212-the-power-of-love-diapresiasi

Pertanyaannya, pantaskah pemerintah seenaknya mendepak dan mengucilkan ulama-ulama tersebut hanya karena alasan di atas?? Atau mungkinkah pemerintah mendapat tekanan dari pihak-pihak yang merasa kepentingannya terusik?? Bukankah salah satu tugas ulama adalah mengawal para pemimpin negri agar tidak melenceng dari tugasnya?? Agar Allah Azza wa Jala tidak menahan turunnya keberkahan atas negri yang penduduknya mayoritas Islam ini??

… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”.(Terjemah QS. Fathir(35):28).

“… Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. … “. (Terjemah QS.Al-Maaidah(5): 32).

Yang pasti apapun alasannya tindakan membunuh, termasuk bom bunuh diri, di luar kancah perang adalah hal yang tidak dibenarkan dalam Islam. Dan yang juga tak kalah pentingnya, jangan pernah kaum Muslimin dimanapun berada mau terkecoh dan bergabung dengan organisasi teroris ISIS yang sengaja diciptakan musuh-musuh Islam untuk mendiskreditkan wacana kekhalifahan Islam dibawah Imam Mahdi yang telah diprediksi Rasulullah ribuan tahun silam, dan tampaknya sudah nyaris tiba waktunya.

Dunia tidak akan lenyap atau tidak akan sirna hingga seseorang dari keluargaku menguasai bangsa Arab. Namanya sama dengan namaku.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).

Ibnu Katsir mengatakan, “Imam Mahdi akan muncul di akhir zaman. Saya mengira bahwa munculnya Imam Mahdi adalah sebelum turunnya Nabi ‘Isa, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang menyebutkan hal ini”.

https://rumaysho.com/725-kedatangan-imam-mahdi-yang-dinanti-nanti.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Mei 2018.

Vie AM.

“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. ( Terjemah QS. Al-Hajj(22):54).

Kitab Suci Alquran memiliki sejumlah nama. Salah satu di antaranya adalah al-Huda yang berarti “petunjuk”. Bagi Torquato Cardilli, nama tersebut menjadi bukti nyata atas hidayah Islam yang diperolehnya, dua dekade yang silam.

“Saya benar-benar meyakini kebenaran Islam setelah membaca Alquran secara rutin,” ungkap mantan duta besar Italia untuk Arab Saudi itu, seperti dikutip laman I Found Islam.

torquato-cardilliCardilli lahir di Provinsi L’Aquila, Italia, pada 24 November 1942. Pria yang fasih berbahasa Arab itu merupakan lulusan Universitas Naples di bidang linguistik dan kebudayaan timur. Dia mengawali kariernya di Kementerian Luar Negeri Italia pada 1967. Selanjutnya, ditugaskan sebagai diplomat Italia untuk Sudan, Suriah, Irak, Libya, Albania, dan Tanzania. Seperti mayoritas penduduk di negeri asalnya, Cardilli lahir dan dibesarkan sebagai pemeluk Katolik. Agama itu terus ia anut hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Namun, pada 15 November 2001 atau hanya berselang beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-59, Cardilli mengungkapkan keputusannya menjadi mualaf. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai dubes Italia untuk Arab Saudi. Cardilli secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melakukan penelitian tentang Islam selama bertahun-tahun. Yang lebih menarik lagi, keputusan itu ia buat bertepatan dengan malam 1 Ramadhan 1422 H.

“Saya merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian dari kaum Muslimin,” ucapnya.

Sensitif

Bisa dikatakan, keputusan Cardilli tersebut muncul pada waktu yang sensitif. Pasalnya, dua bulan sebelum itu, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menyebut peradaban Kristen Barat lebih unggul dari Islam. Pernyataan semacam itu jelas-jelas menyakiti hati kaum Muslimin. Namun demikian, kabar beralihnya keyakinan Cardilli dari Katolik ke Islam ketika itu justru menjadi ‘tamparan’ bagi Berlusconi dan dunia Barat.

Dalam sebuah wawancara dengan Saudi Gazette, Cardilli mengatakan tujuan awalnya mempelajari bahasa Arab–ketika masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Naples–adalah supaya bisa bekerja di bisnis perminyakan Arab. Namun, takdir malah mengantarkannya menjadi diplomat. Dan, tanpa disangka-sangka ilmu yang dipelajarinya di kampus dulu justru sangat membantunya dalam memahami Alquran dan ajaran Islam.

Cardilli mengaku, merasakan kesucian dan keagungan Alquran yang kerap dibacanya ketika masih memeluk agama Katolik.

Setelah membaca Alquran berkali-kali, saya menyadari bahwa Islam adalah agama yang benar dan lurus. Alquran sangat menakjubkan dan tak ada yang mampu meragukannya,” ungkap bapak dua anak itu lagi.

Sebelum menjadi Muslim, Cardilli diketahui kerap mengikuti kelas-kelas kajian Islam yang diselenggarakan oleh The Batha Center, sebuah lembaga yang berfokus pada program pembinaan calon mualaf.

Dia (Cardilli) sering mengikuti kelas kajian Alquran dan studi mengenai kebudayaan Islam,” ujar Direktur The Batha Center, Nouh bin Nasser, kepada kantor berita Prancis, AFP.

Nasser menjelaskan, Cardilli masuk Islam dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

“Tak ada paksaan sama sekali. Ia masuk Islam atas keinginannya sendiri. Apalagi, agama Islam memang tidak pernah memaksakan seseorang untuk menjadi Muslim,” imbuh Nouh.

Cardilli bukan satu-satunya diplomat Italia yang masuk Islam. Pada pengujung 1988 Mario Scialoja sempat mengejutkan publik Italia atas keputusannya menjadi mualaf. Ketika itu, Scialoja tengah ditugaskan sebagai perwakilan permanen Italia untuk PBB di New York. Ia kemudian dikirim ke Arab Saudi sebagai Dubes Italia pada 1994-1995. Pada tahun 20112 Scialoja diangkat sebagai ketua Pusat Kebudayaan Islam Italia.

Dengan begitu, Cardilli tercatat sebagai mualaf Italia kedua yang pernah memegang jabatan dubes di Arab Saudi.

Sebaliknya, menurut keterangan Kedutaan Besar Arab Saudi di Roma, tidak ada satu pun dubes Saudi di Italia yang pernah berpindah keyakinan dari Islam ke Katolik,” tulis CNN.

Menurut badan statistik Istat, jumlah populasi Muslim di Italia saat ini diperkirakan mencapai 1,7 juta jiwa. Sebanyak 20 ribu di antara mereka adalah mualaf, seperti halnya Cardilli. Dalam sembilan tahun terakhir, Islam mengalami pertumbuhan pesat di Italia. Pada 2006 lalu jumlah Muslim hanya 1,9 persen dari total penduduk Italia. Hari ini, angka tersebut naik menjadi 2,6 persen

Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 19 Mei 2018.
Vien AM.
Dicopy dari:

Habis Gelap Terbitlah Terang Armijn PaneSiapa yang tak kenal ibu Kartini, yang hari lahirnya pada 21 April selalu kita peringati. Namun demikian benarkah sudah kita mengenal dan menerima pesan-pesannya dengan baik? Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879, dan wafat di Rembang pada 1904 pada usia 25 tahun. Ia wafat hanya selang 4 hari setelah melahirkan seorang bayi laki-laki.  RA Kartini menikah pada usia 23 tahun dengan seorang bupati Rembang.

Kebanyakan orang mengenal Kartini sebatas tokoh emansipasi perempuan yang memperjuangkan pendidikan, hak dan kesetaraan kaum hawa. Karena memang itulah yang ditonjolkan dan dikehendaki Abendanon, menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan pemerintah Hindia Belanda pada saat hidup Kartini. Abendanon yang merupakan suami dari Rosa, salah satu sahabat koresponden Kartini di Belanda, adalah orang pertama  yang mengumpulkan surat-surat Kartini dan memberinya judul “Door Duisternis Tot Licht” yang berarti  “Dari Gelap Kepada Cahaya“. Buku kumpulan surat Kartini yang memuat 100 surat, 53 diantaranya ditujukan kepada keluarga Abendanon. diterbitkan pada 1911.

Surat-surat Kartini memang banyak sekali mengulang kalimat yang di kemudian hari dijadikan judul oleh Abandon tersebut. Abandon tentu saja tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut merupakan petikan ayat Al-Quran. Kemudian pada tahun 1922 buku tersebut untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Melayu oleh Penerbit Empat Sekawan. Selanjutnya yaitu pada tahun 1951 Armijn Pane, seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru menerbitkan kumpulan surat Kartini dalam Bahasa Indonesia, dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane ini tidaklah sama dengan buku terbitan sebelumnya. Selain ditambah dengan Kata Pembimbing yang memberikan arahan kepada pembaca tentang sosok Kartini dan latar belakang kehidupannya, buku itu adalah hasil terjemahan kembali dari bahasa Belanda yang berbeda sama sekali dengan terjemahan sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.

Dengan cara itu Armijn berharap pemikiran dan cita-cita Kartini menjadi semakin dapat diakses oleh masyarakat luas. Pemikiran Kartini tentang peranan perempuan dalam keluarga dan masyarakat, kegelisahannya tentang agama, dan sikapnya yang emoh terhadap budaya feodal tergambar jelas pada setiap tulisan Kartini dalam surat-suratnya.

Sikap dan pemikiran Kartini yang jauh melampaui kaum perempuan pada zamannya, dituangkan melalui surat yang dikirimkan kepada teman-teman korespondensi bangsa asing, di luar negri, serta berbahasa asing pula, tentu merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Sebagai putri seorang bupati Jepara yang berpikiran terbuka, Kartini memang beruntung berkesempatan mengenyam pendidikan resmi meski hanya sampai usia 12 tahun.

Karena setelah itu seperti umumnya anak perempuan pada zamannya, Kartini harus dipingit. Di ELS (Europese Lagere School) inilah Kartini belajar bahasa Belanda yang sudah terbiasa ia dengar karena sang ayah fasih berbahasa tersebut.  Sementara salah satu kakak Kartini, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda, kakaknya itu menguasai 26 bahasa.

Di tengah lingkungan seperti itulah Kartini tumbuh. Maka tak heran dengan modal kemampuan baca dan tulis dalam bahasa Belanda ( dan juga bahasa Inggris), Kartinipun menjalin hubungan dengan sejumlah teman pena di negri Belanda nun jauh disana. Stella diantaranya. Kartini banyak membaca buku, koran, dan majalah Eropa dari berbagai sumber. Kartini menyadari betapa berbedanya cara berpikir perempuan Jawa dengan perempuan kulit putih.

Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, agar setara dengan kaum lelaki.  Ia juga tidak menyukai adanya perbedaan derajat manusia, antara bangsawan dan rakyat biasa yang waktu itu telah menjadi budaya Jawa. Surat-surat Kartini memuat berbagai hal yang merisaukan hati dan pikirannya. Berikut beberapa surat Kartini yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya… “.(Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [ Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899].

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”. [ Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Kartini juga berani mengkritik  kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: “Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa”, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada sejumlah Departemen Pemerintah Hindia Belanda. Kepada Departemen Kesehatan Kartini menulis :

Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat mencolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab….”.

Melalui surat-suratnya diketahui Kartini sangat ingin melanjutkan sekolah di Belanda. Teman-teman korespondensinya mendukung cita-cita tinggi tersebut. Namun dengan berlalunya waktu, kegelisahan Kartinipun bertambah, yaitu tentang wawasan kebangsaan. Teman-temannya sempat kecewa mengetahui gadis tersebut tidak lagi banyak membicarakan keinginannya sekolah di luar negri. Kartini bahkan mulai mengkritisi keberadaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di tanah leluhurnya.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

”Manusia itu berusaha, Allah-lah yang menentukan” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900).

Kartini juga sempat menentang praktek kristenisasi di Hindia Belanda:

Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903).

Teman-teman Kartini makin kecewa mengetahui Kartini mau dijodohkan orang-tuanya dengan seorang lelaki yang telah beristri. Hal yang selama ini sangat ditentang Kartini. Meski nyatanya suaminya itu sangat dapat memahami keinginan Kartini. Diberinya istrinya itu kebebasan dan iapun mendukung Kartini mendirikan sekolah perempuan pertama yang dibangun di samping kompleks kantornya, yaitu kabupaten Rembang.

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Kartini yang sejak kecil sudah kritis hingga sering dimarahi guru mengajinya hanya karena menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk dibacanya?

Suatu ketika Kartini menghadiri acara pengajian bulanan khusus anggota keluarga di rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Penceramahnya, Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Ketika itu Kyai mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya menemui sang Kyai. Berikut dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

“Kyai, perkenankanlah aku menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?

Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” kata Kartini lagi.

Setelah pertemuan tersebut Kyai Sholeh tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Dan pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran) jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Terjemahan tersebut mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Maka sejak itulah Kartini mempelajari Islam lewat Al-Quran lengkap dengan artinya, secara sungguh-sungguh. Sayangnya, terjemahan Al-Quran karya Kyai Sholeh tidak pernah selesai karena tidak lama setelah itu Sang Khalik memanggilnya.

Suatu hari ketika sedang mempelajari Al-Quran terjemahan karya sang Kyai, Kartini tertegun akan ayat 257 surat Al-Baqarah yang berbunyi “Allah-lah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya” (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Kartini terkesan dengan kata-kata tersebut. Itu sebabnya surat-surat Kartini belakangan banyak menggunakan kata-kata “Dari gelap kepada cahaya” yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht”.

Prof. Haryati Soebadio, cucu tiri Kartini, Menteri Sosial pada Kabinet Pembangunan V, mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi), sebagaimana firman-Nya:

Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):257).

Dan sejak itu pula sikap Kartini terhadap Barat, Belanda sebagai penjajah khususnya, mulai berubah.

“Jalan kepada Allah dan jalan kepada padang kemerdekaan hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya jadi hamba Allah, sekali-kali tiada terikat kepada manusia, sebenar-benarnya merdekalah dia”.

Kartini bahkan bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, “ Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. Ia berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [ Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Tak heran bila di kemudian hari berkembang pendapat bahwa Kartini meninggal bukan karena sakit melainkan dibunuh. Ada dugaan Abendanon melakukan tebang pilih surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya.

Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda. Sulastin pada tahun 1972,  pernah mendapat tugas dosennya untuk menterjemahkan surat-surta Kartini yang disimpan pemerintah Belanda. Ketika itu ia sedang melanjutkan studynya di universitas Leiden Belanda, di bidang sastra. Pada tahun 1979 ia menerbitkan terjemahan surat-surat Kartini tersebut.

Kematian Kartini yang mendadak juga menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan. Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini. Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino berkesimpulan, kalau Kartini memang mati karena sudah direncanakan. Demikian pula Siti Soemandari dalam buku “Kartini, Sebuah Biografi“, menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda.

Salah tujuan politik etis adalah persamaan dan derajat yang sama antara lelaki dan perempuan. Kartini tampaknya memang tokoh yang tepat untuk tujuan tersebut. Namun benarkah tuntutan Kartini persis seperti emansipasi yang terjadi di Barat, yang hingga hari ini menjadi tujuan banyak kaum perempuan bangsa ini? Dimana kaum perempuan berbondong-bondong keluar rumah untuk bekerja dan berkarier, bersaing dengan kaum lelaki, dengan meninggalkan anak-anak di belakang mereka, meninggalkan tugas dan kodrat mereka sebagai ibu, pendidik anak yang pertama.

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Ironisnya lagi, pada suatu acara peragaan pakaian yang digelar sebagai rangkaian acara peringatan Kartini, Sukmawati Sukarnoputri membacakan puisi yang sama sekali tidak menggambarkan Kartini yang sebenarnya. Puisi tersebut sungguh mengecilkan kedudukan jilbab dan azan sebagai syariat Islam. Kartini mungkin belum sempat berhijab ketika dipanggil menjumpai Tuhannya. Tapi jika ketika belajar dan membaca terjemahan Al-Quran tidak sampai setengahnya, bahkan di surat Al-Fatihah yang merupakan pembukaan Al-Quran dan ayat 257 Al-Baqarah saja Kartini sudah demikian terkesima. Maka dapat dipastikan kalau saja Kartini sempat membaca terjemah ayat-ayat jilbab ia akan melaksanakannya, yaqqin …

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(Terjemah QS.Al-Ahzab(33):59).

Dan lagi bila saja Kartini yang hobby membaca dan menulis itu, sempat membaca terjemahan surat Al-‘Alaq yang diawali perintah “Bacalah”, ditambah dengan mempelajari asbabunuzul ayat serta sirah Nabi, tak ayal lagi, pasti Kartini akan semaksimal mungkin menjalankan syariat Islam hingga menjadi seorang Muslimah yang takwa. Masya Allah …

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(Terjemah QS. An-Nahl(16):97).

Sungguh Kartini pasti akan terkejut mendapati betapa banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang menerangkan bahwa derajat laki-laki dan perempuan, sesuai kodrat dan tanggung-jawab masing-masing, adalah sama. Keimanan, amal perbuatan dan ahlaklah yang membedakan mereka, baik yang kaya maupun yang miskin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Mei 2018.

Vien AM.

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

https://erwinisasi.wordpress.com/2013/04/21/habis-gelap-terbitlah-terang-kartini/

https://blog.al-habib.info/id/2011/04/hari-kartini-antara-emansipasi-menjadi-muslim-sejati/

http://toko-bukubekas.blogspot.co.id/2013/09/jual-buku-habis-gelap-terbitlah-terang.html

 

Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah adalah sahabat dari golongan Al-Sabiqun Al-Awwalun‎ (orang-orang terdahulu yang pertama kali memeluk Islam) dari kaum Muhajirin. Keduanya berasal dari keluarga terpandang Quraisy, yang sampai akhir hayatnya tetap dikenal sebagai orang kaya raya berkat bakat dagang yang dikaruniakan Allah swt. Mereka adalah Pebisnis sukses, kata orang zaman sekarang.

Abdurrahman dan Thalhah dilahirkan dan tumbuh di lingkungan kota Mekah pada masa kejahiliyahan meraja lela. Pada saat itu penyembahan berhala, kebiasaan minum khamar, perzinahan, para perempuan mengumbar aurat, anak perempuan dikubur hidup-hidup, mengundi nasib, sistim riba, balas dendam dll adalah sesuatu yang biasa.

Namun pada saat datangnya Islam, Allah swt memudahkan Abdurrahman dan saudara-saudaranya untuk bersegera menjadi pengikut setia Rasulullah saw. Usia Abdurrahman ketika itu 30 tahun. Itu semua berkat ajakan Abu Bakar Siddiq, sahabat nabi sejak kecil yang langsung beriman begitu nabi memberitahukan Kerasulannya. Abu Bakar ketika itu memang dikenal sebagai orang sukses, kaya raya, didengar dan dipercaya baik karena akhlak maupun kejujurannya dalam berdagang.

Demikian pula Thalhah yang ketika itu baru berusia 16 tahun. Ia memeluk Islam berkat Abu Bakar. Namun sebelumnya ia pernah mendengar berita tentang datangnya seorang nabi baru.  Ketika itu ia sedang di Syam mengikuti kafilah dagang. Tiba-tiba seorang rahib mendatangi kafilahnya dan menanyakan apakah mereka sudah mendengar berita kedatangan seorang nabi dari semenanjung Arabia. Nabi tersebut bernama Ahmad. Sang rahib menyarankan agar mereka segera mengikutinya. Itu sebabnya begitu Thalhah kembali ke negrinya ia langsung mendatangi Abu Bakar untuk menanyakan hal tersebut.

Maka sejak itu, baik Abdurrahman maupun Thalhah, bersama sahabat yang waktu itu baru berjumlah 40 orang selalu mengikuti majlis nabi, mulai dari Al-Arqam yang merupakan majlis pertama umat Islam, hingga wafatnya Rasulullah di Madinah. Keduanya juga tercatat tidak pernah ketinggalan dalam berbagai perang baik selama hidup Rasulullah maupun setelahnya.

Seperti juga rata-rata sahabat, Abdurrahman dan Thalhah dikenal sebagai orang yang tawadhu. Meski mereka kaya raya dan sibuk dengan perniagaan, rasa takut, harap dan cinta kepada Sang Khalik tetap tertanam kuat di dalam hati sanubari mereka. Mereka menginfakkan sebagian besar kekayaan mereka untuk membebaskan budak dan berbagai kebutuhan umat demi kemajuan Islam. Tak heran bila Rasulullah menyebut kedua sahabat tersebut sebagai 2 dari 10 sahabat nabi yang telah dijanjikan surga.

Paska wafatnya Rasulullah Abdurrahman bahkan pernah menduduki posisi tinggi sebagai calon khalifah menggantikan Umar bin Khattab yang terbunuh. Namun ia menarik diri demi memberi kesempatan Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk bertarung. Sementara Thalhah yang mempunyai julukan Perisai Rasulullah berkat sepak terjangnya dalam melindungi Rasulullah dalam perang Uhud hingga harus menerima 70 tusukan tombak di lengannya, merupakan satu dari penasehat khalifah. Thalhah wafat sebagai mujahidin dalam perang Jamal yang sarat muatan politik.

Namun kisah menarik yang akan dipaparkan di bawah ini adalah kisah perselisihan antara keduanya yang sangat patut kita jadikan keteladanan. Alkisah Abdurrahman dan Thalhah mempunyai sebidang tanah yang letaknya bersebelahan. Suatu hari Abdurrahman bermaksud mengairi tanahnya lewat tanah Thalhah. Tapi oleh suatu sebab Thalhah tidak mengizinkannya. Abdurrahmanpun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Namun apa jawaban Rasulullah ?

“Bersabarlah, Thalhah adalah seseorang yang telah wajib baginya surga”.  

Abdurahmanpun menahan diri. Ia lalu mendatangi Thalhah dan mengabarkan apa yang disampaikan Rasulullah.

“Wahai saudaraku, apakah harta ini sampai membuatmu mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?!?”, tanya Thalhah.

“Tadinya memang begitu”, jawab Abdurahman tersipu.

“Aku bersaksi kepada Allah, dan kepada Rasullulah  bahwa harta itu menjadi milikmu wahai saudaraku”, seru Thalhah kemudian.

Masya Allah …  Padahal Abdurrahman ketika itu sedang kesal. Tapi dengan besar hati ia tetap menyampaikan berita gembira bagi orang yang telah membuatnya kesal. Sementara Thalhah begitu menerima kabar gembira langsung menghadiahkan tanah yang sebelumnya untuk dilewati airnya saja tidak rela.  Begitulah sahabat mengakhiri perselisihan, alangkah indahnya …

Dari kisah diatas dapat disimpulkan :

  • Pengikut awal Rasulullah bukan melulu orang-orang lemah, miskin dan tertindas, seperti yang selama ini digembar-gemborkan.
  • Untuk menjadi ahli surga tidak cukup hanya sebagai ahli ibadah. Ke 10 sahabat yang dijanjikan surga dalam hadist, selain ahli ibadah mereka sangat peduli kepada nasib dan masa depan umat Islam. Termasuk dalam hal kepemimpinan, untuk memilih maupun dipilih. Dengan penuh ikhlas mereka mempertaruhkan jiwa dan harta mereka.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.( Terjemah QS. At-Taubah (9):100).

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Untuk diingat, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali adalah khalifah terbaik sepanjang sejarah dunia.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 15 April 2018.

Vien AM.

Husnul Khotimah

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”. (Terjemah QS. An-Anbiya (21):35).

Mati adalah suatu kepastian yang tidak mungkin dielakkan manusia, apapun suku, ras, bangsa, agama, laki-laki ataupun perempuan. Dan semua Muslim pasti ingin ketika meninggal nanti dalam keadaan husnul khotimah, yaitu dalam keadaan terbaiknya. Itulah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Terjemah QS. Al-Fajr (89):27-30).

“ … Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. An-Nahl: 31-32).

Itu sebabnya ketika ada anggota keluarga, kawan atau kerabat yang “dipanggil menghadap” Sang Khalik, doa yang dipanjatkan sering kali adalah “semoga husnul khotimah”.

Lawan dari husnul khotimah adalah su’ul khotimah, yaitu dalam keadaan terburuknya. Itulah jiwa khomisa atau jiwa yang marah/gelisah. Su’ul khotimah akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang meninggalkan kewajiban bahkan berani melakukan dosa-dosa besar. Yang hingga ajal menjemput tidak sempat bertaubat.

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);

“Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu”. (Terjemah QS.Ah-Nahl(16):28-29).

Masalahnya Sang Khalik me-wafatkan hamba-Nya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, juga tanpa harus sakit atau menunggu tua. Betapa seringnya kita mendengar berita orang meninggal dalam usia muda, sehat pula. Jadi tidak ada jalan bagi kita selain harus selalu menyiapkan diri.

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad hasan).

Berkata Ibnul Qayyim: “Sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai  ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi”.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan  diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir”.

Artinya, orang yang suka dan terbiasa berbuat maksiat akan diwafatkan dalam keadaan yang disukainya itu, yaitu ketika bermaksiat. Sebaliknya, orang yang suka dan terbiasa beramal kebajikan akan diwafatkan dalam keadaan tersebut.

Dengan kata lain, kesiapan itu harus dimulai sedini mungkin. Sekalipun hanya kalimat ‘La ilaaha illallah’ yang kelihatannya sangat mudah. Karena kebiasaan itu tidak datang secara tiba-tiba melainkan harus dilatih, bukan sekedar ucapan di mulut tapi juga di hati, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Dalam ayat 27 surat Al-Fajr diatas, disebutkan “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. Apa yang maksud di “ ridhoi-Nya”?

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):69).

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Terjemah QS. Ar-Rad(13):28).

Al-Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa suka bertemu dengan Allah, maka Allahpun suka bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allahpun benci bertemu dengannya”

Begitulah yang dimaksud di-ridho Allah swt. Lalu dipersilahkannnya orang-orang tersebut masuk ke surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung akhirnya”. (Shahih, HR. ibnu Hibban)..

Hadist di atas menunjukkan bahwa kita harus senantiasa hati-hati, istiqomah dalam menjalani kebaikan, hingga ajal menjemput. Karena sebaik apapun amal ibadah kita, bila Allah swt membalikkan hati kita di akhir hayat nanti, sungguh celakalah kita.

Dan sebagaimana tubuh yang harus dijaga kesehatannya, demikian pula hati kita. Yaitu dengan terus hadir di majlis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, senantiasa ber-dzikir dan bermunajat kepada Allah swt agar ridho diberikan akhir yang baik. Tidak sepatutnya urusan dunia mengalahkan urusan akhirat. Urusan dunia tidak akan ada habisnya bila kita terus mengikuti nafsu dan selalu memandang ke atas.

Tengoklah mereka yang hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan hingga tidak mempunyai waktu untuk beribadah. Sebaliknya alangkah ruginya orang-orang sukses, kaya raya tapi tidak mau menyempatkan diri untuk kepentingan akhirat-Nya. Karena susah senang, sakit sehat, sukses atau tidak sukses, sejatinya hanyalah cobaan. Nikmat hidup tidak seharusnya hanya dihitung dari harta benda tapi keberkahan dan keridhoan dari Sang Khalik jauh lebih berharga.

Berikut karakter jiwa yang tenang menurut Ibnu Abbas :

  1. Yang senantiasa membenarkan ke-Esa-an Allah swt. ( QS.Al-Ikhlas(112):1)
  2. Yang penuh syukur, tidak serakah. ( QS. Ar-Rahman, QS. Lukman (31:12).
  3. Yang selalu sabar terhadap ujian Allah swt. (QS. Al-Baqarah(2):45,153), Ali Imran(3):186), Al-Ankabut (29):59) dll.
  4. Yang ridho atas takdir Allah swt. ( QS.Yasin (36):43).
  5. Yang merasa cukup/puas dengan pemberian Allah (qonaah).

”Ridholah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (HR Turmudzi).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 April 2018.

Vien AM.