Feeds:
Posts
Comments

Energi Al-Maidah 51 (2).

Pada tanggal 16 November 2016 Bareskrim ( Badan Reserse Kriminal Polri ) akhirnya menetapkan Ahok sebagai tersangka. Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus penistaan agama. Ia dinilai melanggar Pasal 156a KUHP dan Pasal 28 Ayat (1) UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Langkah Bareskrim ini tentunya tak terlepas dari demo Aksi Bela Islam II yang diselenggarakan pada 4 November lalu dan diikuti jutaan umat Islam. Mengapa demikian? Karena penetapan menjadi tersangka ini tergolong lambat bila dibanding mereka yang juga diduga menista agama.

Politikus Permadi, seniman Arswendo Atmowiloto dan penulis H. B. Jassin adalah contohnya. Begitu mereka diadukan telah menistakan agama polisi langsung mengamankan mereka sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Sementara Ahok, sejak kejadian di pulau Seribu pada tanggal 27 September hingga 4 November belum juga ditanggapi. Jadi wajar bila akhirnya umat Islampun marah dan jengkel.

Apa hal itu karena Ahok adalah gubernur petahana sekaligus calon gubernur PDIP? Jadi aneh juga sebenarnya pernyataan polisi juga presiden yang menuduh demo ditunggangi muatan politik. Tidakkah itu terbalik ??

Anehnya lagi, pasal yang digunakan untuk menjadikan Ahok tersangka, mengapa pasal tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, bukannya pasal tentang penistaan agama ??? Hingga akhirnya justru Buni Yani, yang dijadikan tersangka dengan pasal yang sama dengan Ahok. Yang pastinya akan membuat orang berpikir dua kali  bila ingin melaporkan kejahatan, meski mempunyai bukti kuat rekaman video. Ironisnya,  begitu dijadikan tersangka Buni Yanipun langsung ditahan, kalau saja tidak ada protes dari masyarakat.

http://tekno.kompas.com/read/2016/11/16/12015287/uu.ite.dipakai.jerat.ahok.pengamat.sebut.aneh.dan.tidak.logis

http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/11/24/oh51ad301-pakar-hukum-pidana-ahok-tersangka-artinya-buni-yani-tidak-bohong

Disamping itu keberadaan media sosial yang tidak sedikit memamerkan foto-foto kedekatan kapolri dengan Ahok maupun Teman Ahok membuat masyarakat makin pesimis proses hukum bakal berjalan sesuai harapan. Meski sebaiknya masyarakat lebih waspada dan hati-hati menyikapinya karena berita hoax dan foto-foto editan makin meraja-lela hingga sulit dibedakan mana yang asli mana yang palsu.

Dalam rangka meng-antsipasi hal tersebut maka GNPF-MUI kembali berniat menggelar demo Aksi Bela Islam III. Rencana awal demo ini akan dilaksanakan di sepanjang jalan Thamrin-Sudirman, dengan tema gelar sajadah alias shalat Jumat. Tidak ada orasi, yang ada hanya zikir, membaca Al-Quran dan tausiyah oleh para ulama, sambil menunggu waktu shalat Jumat. Oleh sebab itu demo Aksi Belas Islam III ini disebut demo super damai, bukan hanya damai lagi.

Namun rupanya polisi tidak mengizinkan jalan protocol digunakan untuk shalat karena menganggu kepentingan umum. Dan hasilnya setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, terakhir kunjungan kapolri Jenderal Tito Karnavian ke kantor pusat MUI pada Senin 28 November, disepakati demo akan dilangsungkan di Monas, masjid Istiqlal dan sekitarnya, dengan kawalan resmi aparat keamanan. Allahu Akbar !

Pertemuan yang dihadiri wakil GNPF – MUI Habib Riziek, Ustad Bahtiar Nasir, ustad Zaitun serta Aa Gym ini dibuka oleh ketua MUI Ma’ruf Amin dengan menyebutnya sebagai Yaumun Rahman atau pertemuan kasih sayang.  Ma’ruf Amin juga menerangkan bahwa paska 211 akan diadakan rujuk nasional yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan polisi ( pemerintah) dengan MUI ( umat Islam) yang sempat terganggu dengan adanya kasus penistaan tersebut. Yang paling menyakitkan adalah pernyataan polisi ( dan presiden ) bahwa para pendemo 411 adalah teroris !

Dalam pertemuan tersebut Habib Riziek, ketua GNPF-MUI sekaligus FPI dengan legowo menerangkan alasan mengapa mereka memilih Thamrin Sudirman sebagai lokasi awal. Menurut beliau, berdasarkan pengalaman demo 411 lalu, masjid Istiqlal tidak mampu memuat peserta demo yang mencapai 2.3 juta itu. Puncaknya adalah ketika mereka harus berdesak-desakan keluar masjid hingga akhirnya banyak yang jatuh pingsan. Sementara akses ambulance yang dibutuhkan untuk membantu mereka yang membutuhkan sangatlah sulit.

Jadi bukannya kami keras kepala, ngotot ingin memaksakan kehendak”, jelas Habib Riziek.

Habib juga menegaskan, perjuangan GNPF – MUI tetap satu yaitu agar fatwa MUI bahwa Ahok telah menistakan agama ditindak lanjuti pada jalur yang benar. Demi utuhnya NKRI, tidak boleh satupun orang baik rakyat biasa apalagi pejabat melecehkan agama yang ada di negri tercinta ini. Baik itu agama minoritas apalagi agama mayoritas.

Sementara ustad Bahtiar Nasir dengan santai mempersilahkan peserta demo untuk datang lebih awal di Istiqlal agar bisa shalat Subuh berjamaah. “Semoga demo 212  ini menjadi awal momentum pembiasaan diri shalat Subuh berjamaah sebagaimana mestinya”. Masya Allah.

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

Hal ini mengingatkan Turki yang saat ini mulai menampakkan kembali cahayanya. Masjid mulai dipenuhi jamaah shalat Subuh.  Tidak hanya itu pemimpin Turki, Sultan Erdogan, telah berhasil membawa negaranya menjadi negara  yang tidak lagi bergantung kepada Barat. Pembangunan dan ekonomi negri yang dulu dikenal sebagai kerajaan Islam Ottoman ini mengalami kemajuan pesat.

http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2015/06/30/73321/bagaimana-erdogan-membangun-turki-dan-menumbangkan-sekulerisme-1.html

Membuktikan bahwa menjadi negara sekuler tidak menjamin kemajuan sebuah negara. Bosnia adalah contoh lain negara berpenduduk mayoritas Muslim yang mengalami keterpurukan karena rakyatnya  meninggalkan syariat dan memilih untuk sekuler.

http://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/16/06/30/o9jkwl336-belajar-dari-genosida-muslim-bosnia-refleksi-terhadap-toleransi-beragama

Dalam pertemuan tersebut kapolri juga menegaskan bahwa larangan bus mengangkut peserta demo akan dihapuskan. Meski di lapangan, ratusan umat Islam dari Ciamis sejak Selasa 29 November telah terlanjur menuju ibu kota, dengan berjalan kaki …

Singkat kata demo super damai 212 Aksi Bela Islam III telah disetujui polisi. Kapolri bahkan berjanji akan membantu penyelenggaraannya seperti mendirikan mimbar shalat, penyediaan toilet, air wudhu, ambulance dll. Allahu Akbar …

Terima-kasih ya Allah, semoga pelaksanaan Aksi Bela Islam III besok benar-benar lancar dan aman, dan yang terpenting tujuannya tercapai, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Berikut video lengkap pertemuan Senin 28/10/2106 di kantor MUI.

Yang juga harus diingat, janji Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang bersabar dan senantiasa mendirikan shalat, adalah pasti. Allah swt tidak akan mengecewakan doa hamba-hamba yang sholeh. Apalagi doa orang yang terdzalimi. Tengoklah apa yang terjadi di tanah Palestina, yang selama puluhan tahun diduduki dan direbut Zionis. Yang selama puluhan tahun menyiksa rakyat Palestina dengan begitu kejam dan sadisnya.

Kebakaran hebat hingga hari ke 6 tidak juga surut. Api tidak hanya melahap hutan tapi juga perumahan bahkan gudang senjata Israel yang menjadi andalan untuk menindas rakyat Palestina. Kebakaran hebat ini terjadi hanya selang beberapa hari setelah Zionis Israel melarang azan dikumandangkan di Masjidil Aqsho dan menetapkan denda 200 dollar pada setiap kali azan di semua masjid seantero negri pendudukan tersebut. Kebakaran ini juga mengakibatkan ribuan warga terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS. Terjemah QS. Al-An’am (6):123).

http://datariau.com/internasional/Merinding–Begini-Foto-foto-Kebakaran-di-Israel–Api-Ada-Dimana-mana-Laksanakan-Neraka

Semoga kejadian diatas dapat makin mempertebal keimanan kaum Muslimin, membuat kaum Munafikun berhenti mengolok-olok dan melecehkan ayat-ayat suci Al-Quran, serta kaum Kafirun berpikir 2 x bila ingin menyiksa kaum Muslimin dmanapun berada, aamiin …

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Desember 2016.

Vien AM.

Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bin Sa’yah adalah seorang wanita keturunan bangsawan, cerdas, cantik, dan taat beragama. Wanita ini berasal dari keturunan Al-Lawi, putra Ya’qub ( Israel) bin Ishak bin Ibrahim as, yang juga merupakan kakek moyang dari nabi Harun as. Ayahnya yaitu Huyay bin Akhthab bin Sa’yah adalah seorang pendeta sekaligus pembesar Yahudi bani Qurayzhah. Ibunya, Barrah binti Samaual juga seorang Yahudi dari bani yang sama. Mereka tinggal di Madinah yang ketika itu masih bernama Yatsrib.

Sejak kecil Shafiyyah sudah menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci agamanya, Taurat, ia mengetahui bahwa suatu hari nanti akan datang seorang nabi dari Jazirah Arab yang akan menjadi penutup para nabi.

Maka ketika suatu hari ia mendengar kabar bahwa di Mekah ada seorang laki-laki  yang mengaku nabi, dan saat ini sedang menuju ke kotanya, Yatsrib, ia tak heran. Yang justru ia heran adalah sikap kaumnya termasuk ayahnya yang tidak mau mempercayai hal tersebut, padahal ia adalah seorang pendeta. Bahkan dengan gigih memusuhinya.

Hal itu ia dengar sendiri ketika ayah dan pamannya baru pulang untuk mencari tahu tentang sang nabi baru yang hijrah ke Madinah dan mampir di Quba’ sebagai tamu Bani Amr bin ‘Auf. Ketika itu ayah dan paman Syafiyyah pergi meninggalkan rumah seharian penuh.

Namun ketika akhirnya keduanya pulang, sesampai di rumah mereka tidak mencari apalagi menyapa Syafiyah, anak kesayangan mereka, seperti biasanya. Sebaliknya, Syafiyyah justru melihat keduanya pulang dalam keadaan kesal, dongkol dan sangat marah. Pada saat itu ia mendengar percakapan keduanya :

“Apakah itu orangnya?” tanya paman.

“Ya, betul,” jawab ayah.

“Apa kamu mengenalnya?” tanya paman.

“Ya,” jawab ayah.

“Bagaimana pendapatmu tentang dia,” kata paman.

“Aku akan memusuhinya selama aku hidup,” kata ayah.

Dan sejak itu pula kaum Yahudi selalu memerangi nabi baru yang tak lain tak bukan adalah rasulullah Muhammad saw. Sebaliknya dengan Shafiyah, ia justru  makin yakin bahwa nabi baru tersebut adalah nabi yang dimaksud dalam kitabnya.

Syafiyyah menjadi saksi betapa besarnya kebencian ayahnya terhadap ajaran islam dan rasulnya. Beberapa kali ayahya sebagai seorang pemimpin Yahudi melanggar perjanjian yang dibuat oleh rasulullah saw. Padahal perjanjian Madinah yang diciptakan demi tercapainya keamanan kota Madinah yang bukan lagi hanya didiami suku-suku Yahudi, melainkan juga kaum Muslimin baik kaum Anshar ( Muslimin Madinah) maupun kaum Muhajirin ( Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah) itu ditanda-tangani oleh para pemimpin Yahudi.

Kebencian Huyay bin Akhtab sendiri terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi sejak diusirnya Yahudi bani Nadhir dari Madinah pada tahun ke 4 Hijriyah karena telah berusaha membunuh Rasulullah saw. Setahun kemudian, dalam perang Khandaq, ketika Madinah diserang dan kaum Muslimin sedang kesulitan melawan kaum Qurays Mekah dan suku-suku Arab lainnya, Huyay menusuk dari belakang. Ia berkhianat dengan mengadakan pertemuan rahasia dengan pihak musuh demi mengalahkan pasukan Muslimin.

Usai perang Khandaq, atas perintah Allah swt melalui malaikat Jibril as, Rasulullah saw segera menuju perkampungan bani Quraydzah. Setelah dikepung selama 15 atau 25 malam, akhirnya mereka berhasil ditundukkan. Tapi Huyay, yang juga membawa serta putri kesayangannya, Shafiyyah, sempat meloloskan diri dan pindah ke Khaibar, yang merupakan kota terbesar Yahudi. Di kota inilah Huyay bersama para pemimpin Yahudi lainnya membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum Muslimin.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xx-jihad-fi-sabilillah3/

Penaklukan Khaibar

Khaibar adalah kota terbesar Yahudi yang memiliki banyak benteng dan ladang-ladang kurma. Tanah kota tersebut dikenal amat subur, airnya berlimpah dan berbagai buah tumbuh dengan mudah di tanah ini. Kota yang merupakan  benteng utama Yahudi ini terletak sekitar 165 km utara Madinah.

Pada tahun ke 6 Hijriyah, usai perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah menerima perintah agar memerangi Khaibar. Perang ini berlangsung dahsyat dengan kemenangan di tangan kaum Muslimin. Pasukan kaum Muslimin berhasil mengalahkan benteng pertahanan terakhir dan terkuat Yahudi tersebut. Huyay mati terbunuh dalam peperangan itu. Demikian pula Kinanah, suami ke 2 Shafyiyah. Sementara Syafiyyah beserta kaum wanitanya dan anak-anaknya tertawan.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xxii-perang-khaibar/

Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa Bilal menggiring Shafiyah sebagai salah satu tawanan, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat itu, Rasulullah bangkit dan mendekati Bilal seraya berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”

Masuk Islam dan Menikah dengan Rasulullah.

Shafiyyah masuk dalam bagian pendapatan perang seorang sahabat, Dahiyyah bin Khalifah. Namun kemudian seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, engkau memberikan bagian kepada Dahiyyah, Shafiyah binti Huyay, putri pemimpin Bani Quraizhah dan Bani Nadhir, padahal ia hanya layak untuk engkau.”

Mendengar itu Rasulullahpun memanggil Dahiyyah dan menyuruhnya agar memilih tawanan yang lain. Sementara Rasulullah yang memang mempunyai hak harta perang seperlima bagian memberikan pilihan kepada Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Ternyata Shafiyah yang sejak awal sudah yakin dengan adanya nabi baru, memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan Rasulullah, dengan maskawin kemerdekaannya.

Pada saat itu, Shafiyah berkata, “Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak, dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?”

Bukti bahwa Shafiyyah sudah mengimani nabi jauh sebelum ia bertemu nabi, tercermin dari kisah berikut. Suatu hari rasulullah bertanya tentang bekas luka di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?”. Syafiyah menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah itu?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Sayang kedatangan istri ke 9 Rasulullah ini disambut sinis oleh istri-istri nabi yang lain. Ini disebabkan selain karena ia seorang Yahudi, juga karena kecemburuan para istri terhadap kecantikan Shafiyyah.

Berikut penuturan Aisyah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau meminjamkan salah satu untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?’

Di dalam hadits riwayat Tirmidzi diceritakan, “ Shafiyyah sedang menangis, kemudian Rasulullah menghampirinya dan bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’ Ia menjawab, “Hafshah mengejekku bahwa aku wanita Yahudi’. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia banggakan kepadamu?’. Kemudian Rasulullah menegur Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, wahai Hafshah!”

Sementara pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Saad, ketika istri-istri Nabi berkumpul menjelang Rasulullah wafat, Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, Rasul bersabda, “Berkumurlah!” Dengan terkejut para istri bertanya, “Dari apa?” Rasul menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”

Setelah Rasulullah wafat, yaitu 4 tahun setelah Shafiyyah dinkahi, ia merasa makin terasing di tengah kaum Muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dari Yahudi. Meski demikian, ummul Mukminin ini tetap tegar dan terus mendukung perjuangan Islam. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, Shaifiyyah berada di barisan Utsman.

Kinanah berkata, “Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak membela Utsman. Kami dihadang oleh Al-Asytar, lalu ia memukul wajah keledainya hingga miring. Melihat hal itu, Shafiyyah berkata, ‘Biarkan aku kembali, jangan sampai orang ini mempermalukanku.’ Kemudian, Shafiyyah membentangkan kayu antara rumahnya dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum”.

Hal itu terjadi ketika musuh-musuh Ustman menyandera khalifah ke 3 tersebut di kamarnya sendiri, tanpa diperbolehkan mendapat makanan dan minuman.

Shafiyyaf ra wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di Baqi’ berdampingan dengan ummul Mukminin yang lain.

Shafiyah merawikan 10 hadits dari nabi saw. Di antaranya, “Suatu malam, nabi beri’tikaf di masjid, lalu aku datang mengunjungi beliau. Setelah selesai mengobrol, aku berdiri dan hendak pulang. Beliaupun berdiri untuk mengantarku. Tiba-tiba dua laki-laki Anshar lewat. Tatkala mereka melihat nabi, mereka mempercepat langkah mereka. “Perlahankanlah langkah kalian! Sesungguhnya ini adalah Shafiyah binti Huyai!” kata nabi. “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”, kata mereka. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir, kalau-kalau setan membisikkan tuduhan dusta atau hal yang tidak baik dalam hati kalian.” (HR. Al-Bukhari).

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 22 November 2016.

Vien AM.

Energi Al-Maidah 51(1).

Tekad para ulama untuk kembali ke jalan alias berunjuk rasa pada Jumat 4 November, bila pemerintah berkeras tidak juga memanggil Ahok dan menjadikannya tersangka, menjadi kenyataan. Unjuk rasa ini tetap konsisten dengan tujuannya yaitu Ahok harus segera diadili.

Uniknya karena unjuk rasa ini dipicu oleh adanya pelecehan terhadap ayat suci Al-Quran,  tak heran bila melalui pengajian/majlis taklim persiapan unjuk rasa berawal. Melalui grup-grup WA majlis taklim pengumpulan dana bermula. Tanpa adanya paksaan infak terkumpul dengan cepat. Karena umat Islam berkeyakinan membela agama adalah jihad yang sangat tinggi nilainya.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. ( Terjemah QS.Al-Anfal (8):60).

Jihad yang berasal dari kata Jahada yang bisa berarti bersungguh-sungguh, tidak selalu berarti perang secara fisik. Tapi juga bisa segala amal perbuatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh dan maksimal demi mencari ridho-Nya. Termasuk berinfak, itulah yang disebut berinfak di jalan Allah swt.

Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan, “Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah”.

Beliau rahimahullah juga menyatakan, “Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.

demo411-2Itulah sebabnya dalam waktu singkat terkumpul uang yang kabarnya mencapai puluhan milyar rupiah. Dana inilah yang kemudian dipakai ibu-ibu sukarelawan untuk memasak makanan dan membeli minuman bagi mereka yang ber-unjuk rasa di hari Jumar, 4 November 2016.  Juga penyediaan akomodasi selama mereka berada di Jakarta, gratis. ( Dan ternyata masih bersisa hingga dapat digunakan untuk mengobati dan menyantuni mereka yang terluka akibat gas air mata di penghujung unjuk rasa. ). Jadi sungguh ngawur pernyataan bahwa dana unjuk rasa 411 berasal dari uang korupsi, apalagi bila dihubungkan dengan mantan presiden SBY, apa hubungannyaa?!??

http://beritahangat157.blogspot.com/2016/11/mengungkap-fakta-dana-terselubung-aksi.html

demo411-1Inilah energi Al-Maidah 51, sebuah energi raksasa yang berhasil menyedot 2.3 juta umat Islam di seluruh Indonesia untuk datang berkumpul di masjid Istiqal dan mengadakan long march hingga ke istana. Termasuk saya dan suami yang seumur hidup tidak pernah sekalipun ikut apa yang namanya unjuk rasa, padahal usia kami berdua sudah tidak lagi muda, melainkan sudah diatas setengah abad.

Jadi sungguh kami merasa begitu terhina ketika ada yang mengatakan bahwa orang yang ikut ber-unjuk rasa 4 November lalu adalah mereka yang ingin mencari perhatian, ingin masuk tv. Na’udzubillah min dzalik.( Lebih parah lagi, beberapa hari lalu dalam sebuah wawancara tv Australia, Ahok yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, secara sembarangan mengatakan bahwa pendemo dibayar 500 ribu oleh seseorang yang ia sebutkan Jokowi mengetahuinya. Pantaskah seorang pejabat mengatakan sesuatu yang tidak ada buktinya sama sekali ??!!? ).

https://nasional.tempo.co/read/news/2016/11/18/063821250/pernyataan-lengkap-ahok-kepada-tv-australia-soal-demo-rp-500-ribu

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut(29):69).

img-20161104-wa0005img-20161104-wa0006-1-1Keikut-sertaan kami berdua, dan sebagian besar kaum Muslimin pada aksi unjuk rasa damai beberapa hari lalu murni karena dorongan ingin membela ayat-ayat Allah yang telah dilecehkan. Memang ada sebagian Muslim yang dengan nyinyir mengatakan Islam tidak akan terhina atas perkataan Ahok di pulau Seribu 27 September lalu.

Memang tidak ! Namun ibaratnya seorang ibu yang sangat kita cintai dilecehkan orang, pantaskah seorang anak yang baik berdiam diri dan tidak membelanya ??? Persis seperti apa yang dikatakan Aa Gym, hanya orang yang mempunyai hati, yang benar-benar mencintai Al-Quran, yang menganggap bahwa Allah swt, rasulullah Muhammad saw dan kitab suci Al-Quran adalah yang paling patut dicintai dibanding apapun, yang akan merasakan sakitnya hati atas perkataan Ahok. Jadi sungguh tidak benar apa yang dikatakan Jokowi paska demo bahwa demo ditunggangi kepentingan politik.

http://www.tarbiyah.net/2016/11/apa-yang-menggerakkan-jutaan-orang-demo.html 

Itu pula sebabnya mengapa unjuk rasa atau demo besar-besaran tetap terjadi meski Jokowi beberapa hari sebelum hari H, menyempatkan diri menemui Prabowo Subiyanto, ex rival politiknya di pemilihan presiden lalu. Meski Jokowi mengatakan bahwa pertemuan tersebut hanya hal biasa, tidak ada hubungan dengan rencana demo 411.

http://www.warta.co/2016/10/pertemuan-prabowo-dan-presiden-jokowi_51.html

Sayangnya, setelah masuk Isya, demo damai ini ternodai. Yaitu ketika polisi menghujani pendemo dengan gas air mata dan peluru karet.  Anehnya, ketika kapolri memerintahkan agar polisi menghentikan tembakan, tidak ada yang mematuhi perintah tersebut!

http://www.aktual.com/tak-dengarkan-instruksi-kapolri-habib-rizieq-ada-komando-lain-kepolisian/

Namun demikian, karena tujuan demo memang bukan untuk mencari keributan, huru-hara apalagi kudeta, para pemimpin demo damai dibawah bendera GNPF-MUI ( Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – MUI) baik Habib Riziek dari FPI maupun ustad Bahtiar Nasir dari AQL, juga ustad Arifin Ilham dari Az-Zikra dan Syeih Ali Jaber yang ikut terluka terkena tembakan gas air mata, memerintahkan jamaah/pendemo agar tetap diam di tempatnya, tidak lari apalagi membalas dengan perbuatan anarkis. Dan akhirnya untuk mundur agar tidak mengakibatkan korban lebih banyak lagi.

http://www.aktual.site/2016/11/video-bukti-demonstran-duduk-damai-ketika-tiba-tiba-dihujani-tembakan-gas-airmata.html

Meski kalaupun ada sebagian pendemo yang kesal, hal itu mudah dipahami. Karena mereka itu jauh-jauh datang dari luar kota bahkan ada yang dari luar Jawa, ingin agar Jokowi sebagai orang nomor 1 di republik ini, muncul menemui wakil mereka, untuk mendengar keluhan dan aspirasi mereka. Bukankah demikian tugas dan tanggung jawab seorang presiden?

Itu sebabnya demo yang seharusnya berakhir pada pukul 18.00 sesuai izin, berakhir molor. Apalagi mereka makin menyadari bahwa sang presiden ingin melindungi si penista. Maklum rakyat sudah hampir semua tahu kedekatan hubungan antar keduanya. Siapa yang tak tahu bahwa semua kasus yang menyangkut Ahok, seperti kasus RS Sumber Waras, Transjakarta, reklamasi pulau G, tak satupun yang berhasil dibawa ke pengadilan.

Namun rakyat masih memilih diam. Juga terhadap sikap Ahok yang sering menyakitkan umat Islam. Pelarangan takbir keliling, kebijaksanaannya tentang penjualan miras dan daging anjing, olok2 tentang jilbab, penggusuran masjid dll, adalah contohnya. Namun yang paling menyakitkan adalah jargon “ lebih baik kafir tapi baik daripada muslim tapi korupsi” yang tiba-tiba menjadi populer jelang pilkada.

Tetapi ternyata Allah swt  tidak ridho. Maka dibuat-Nya Ahok tergelincir melalui ayat 51 Al-Maidah lewat lisannya yang memang tak pernah bisa dikendalikannya itu.  Dan inilah yang terjadi. Tak satupun kaum Muslimin sejati yang mau menerima dan memaafkannya.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):54).

Ironisnya, besoknya Jokowi justru sibuk mendatangi ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Mengapa pak presiden harus sibuk mendatangi ormas-ormas tersebut sementara ketika 2 jutaan rakyat dengan susah payah mendatangi istana tidak dilayani??

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memimpin urusan manusia kemudian ia menutup pintunya bagi orang yang miskin atau bagi orang yang dizhalimi atau bagi orang yang mempunyai keperluan, maka Allah akan menutup pintu kasih sayangnya bagi orang tersebut”. (HR Ahmad).

Apa sebenarnya yang dicari pak presiden, bukankah MUI sebagai lembaga ke-Islam-an tertinggi dimana NU dan Muhammadiyah sudah terwakili di dalamnya, telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahok positif telah melecehkan ajaran Al-Quran? Jangan sampai gara-gara melindungi 1 orang kita jadi terpecah-belah. Tampaknya apa yang dikatakan pangdam RI Gatot Nurmantyo di acara ILC beberapa waktu lalu harus benar-benar kita perhatikan agar bangsa ini tidak dijadikan bulan-bulanan mereka yang tidak ingin Indonesia maju dan aman.

Yang pasti, harus dicatat bahwa demo 4 November yang baru saja berlalu itu sebuah demo yang sangat indah. Dengan jumlah peserta hingga diatas 2 juta, demo terbesar sepanjang sejarah, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia, tentu tidak mudah untuk mengendalikan agar demo dapat berjalan rapi, aman dan teratur.

Bahkan dai kondang aa Gym dengan timnya, secara suka rela mau berpartisipasi pada bagian kebersihan. Beliau sama sekali tidak berorasi. Dengan modal sapu lidi, pengki dan kresek di tangan, mereka menyusuri area demo sepanjang masjid Istiqlal hingga depan istana Merdeka dari sampah makanan dan minuman gratis peserta demo. Uniknya lagi, sampah-sampah tersebut tidak sampai menunggu menggunung baru dibersihkan, tetapi merekalah yang berinisiatif berkeliling membawa kresek “ Sampah sampah” dan para pendemopun memasukkan sampah mereka ke kresek-kresek tersebut.

shalat411wudhu411Juga kisah bagaimana para pendemo membantu kelancaran pernikahan pasangan non Muslim di gereja Katedral yang memang terletak persis di depan masjid Istiqlal. Juga ketika masuk waktu Asar, para pendemo saling membantu menuangkan air mineral untuk berwudhu, bahkan antara petugas kemananan dan pendemo. Untuk kemudian shalat berjamaah, masya Allah !

injaktaman1injaktaman2Juga tentang taman, yang belakangan memang jadi isu sensitive sejak “Metrotipu” begitu para pendemo menyebut Metrotv, menjadikan head line “ taman rusak gara-gara perusuh”. Padahal itu hanyalah akal-akalan Metrotv yang sengaja men-shoot taman yang sengaja ditinggalkan rusak dan ceritanya akan dibersihkan relawan Ahok. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut para pendemo saling mengingatkan untuk tidak menginjak taman/rumput. Meski tidak di semua tempat, karena kami juga melihat mereka shalat di atas rumput, bukan taman memang.

Tapi dari semua pengalaman diatas, bagi saya pribadi yang paling berkesan adalah ketika kami berada persis di  perempatan air mancur BI.  Di tempat tersebut saking padatmya manusia, kami tidak bisa bergerak, maju maupun mundur. Dalam keadaan seperti itulah tiba-tiba ada sekelompok orang yang mulai bershalawat. Maka tanpa dikomando semua orang yang ada di sekitar kamipun ikut bershalawat. Masya Allah … nikmatnya ….

“ Ini demo atau umrah yaaa?” celetuk suami terheran-heran.

Sebelumnya ustad Andian Parlindungan, ustad yang membimbing kami umrah tahun lalu, sempat berkomentar “ Masya Allah .. serasa haji pindah ke Jakarta nih”.

Ya, kami merasakan hal yang sama. Siang itu, ba’da shalat Jumat di bilangan Kuningan tempat ustad Andian memberikan khutbah Jumat, kami langsung berangkat menuju Sarinah dan memarkir kendaraan di tempat tersebut. Dari situ kami berjalan kaki menuju istana, meski akhirnya tidak berhasil karena jalanan terlalu padat. Langkah kami terhenti di depan gedung MK yang jaraknya tinggal 600 meter dari istana.  Dari kami ber-tujuh, hanya ustad Andian dan istri yang terus berjuang menembus jalur ke istana.

Meski tak dapat dipungkiri di beberapa titik kami sempat menyaksikan ada kelompok yang ber-orasi dengan kata-kata keras, juga spanduk dengan tulisan keras seperti hukum bunuh dan yang semacamnya. Dan menurut saya tidak bisa disalahkan juga karena kalau meggunakan hukum syariah memang begitu. Itu sebabnya saya pikir apa yang dilakuan GNPF-MUI mengajukan tuntutan agar Ahok segera diadili sudah bagus. Ini sangat penting demi meredam tuntutan hukum syariah yang bisa jadi menyebabkan isu yang tidak menyenangkan.

Disamping itu, kami juga merasakan kebesaran Allah melalui udara yang begitu bersahabat. Bayangkan, berjalan kaki di Jakarta pada sekitar pukul 1 siang, tapi kami tidak merasakan panas sebagaimana biasanya. Payung dan kacamata hitam yang sudah saya siapkan dari rumah ternyata tidak perlu ke luar dari tas. Allahuakbar …

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/04/og4cwa383-bmkg-terjadi-perubahan-cuaca-mendadak-saat-demo-4-november  

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 11 November 2016.

Vien AM.

Kasus pelecehan ayat 51 surat Al-Maidah oleh Ahok, gubernur DKI yang menggantikan Jokowi karena Jokowi terpilih sebagai presiden, bergulir makin tak terkendali. Demo yang terjadi pada Jumat 14 Oktober di Jakarta dan 22 Oktober di kota-kota besar lainnya, dengan tujuan agar pemerintah segera mengadili Ahok, berbuntut panjang. Padahal demo yang diikuti ratusan ribu orang dari berbagai ormas, dengan Habib Riziek dari FPI sebagai pimpinan, berjalan damai.

Ironisnya lagi, MUI, yang beberapa hari sebelumnya mengeluarkan fatwa bahwa orang no 1 di DKI tersebut terbukti telah melecehkan Al-Quran dan ulama, justru di-bully. Demikian pula para ulama yang mayoritas memang sependapat dengan keputusan MUI.

Perbuatan Ahok jelas telah melanggar rambu-rambu toleransi. Apa maksudnya “ dibohongi (pake) Al-Maidah 51”, dengan atau tanpa kata pake”, yang isinya jelas-jelas melarang umat Islam memilih pemimpin kafir alias non Muslim sementara ia sendiri adalah si calon pemimpin kafir??? Ayat tersebut jelas merugikannya maka tak heran bila ia berkata demikian dengan tujuan agar kaum Muslimin mengabaikan ayat tersebut dan tetap memilihnya. Itu sudah teramat sangat jelas, tanpa perlu bantuan ahli bahasa awampun sudah dapat menangkapnya. Demi ambisi politiknya yang demikian menggebu dilanggarnyalah pembatas toleransi

Bila ia mengomentari ayat suci umat Islam tersebut di dalam gereja di depan para pemeluknya mungkin masih bisa ditrima. Tapi di depan pejabat negara dan warga sebuah pulau tak jauh dari daerah kekuasaannya, dengan mengenakan seragam kerja pula??

Untuk diingat, pelecehan terhadap Rasulullah dan ayat-ayat Allah sudah ada sejak zaman hidup Rasulullah, yaitu oleh orang-orang Yahudi dan musyrikin Mekah. Pengusiran perkampungan Yahudi bani Qainuqa di sekitar Madinah pada awal tahun 2 H yang akhirnya dilakukan Rasulullah, adalah buntut dari pelecehan terhadap seorang Muslimah.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/11/xvi-pengkhianatan-pertama-yahudi-dan-munculnya-tanda-tanda-kemunafikan/ .

https://almanhaj.or.id/3015-hukum-istihza-bid-din-memperolok-agama.html

“Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (Terjemah QS. At-Taubah [9]: 12)

Indonesia memang bukan negara Islam meski mayoritas penduduknya Muslim. Oleh sebab itu para ulama berusaha menahan diri untuk tidak menuntut Ahok secara hukum syariat. Namun sebagai negara hukum sudah sepantasnya bila kemudian kaum Muslimin berdemo menuntut agar pemerintah segera mengadili Ahok.

Tapi mengapa justru MUI, FPI dan para ulama yang jadi sasaran tembak? Bahkan orang yang merekam dan menyebarkan video rekaman peristiwa tersebut secara resmi telah diadukan ke kepolisian.

http://islamedia.id/din-syamsuddin-luar-biasa-hukum-negeri-kita-ini-yang-salah-itu-ahok-kok-malah-buni-yani-yang-mau-jadi-tersangka/

Anehnya lagi, hal tersebut juga dilakukan oleh orang yang mengaku Muslim. Padahal jangankan menyalahkan, membela dan sekedar mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan saja Allah melarangnya.

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu wahyu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kalau kamu tetap duduk bersama mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahanam.” (Terjemah QS. An-Nisa’ (4): 140)

Tampak jelas, Ahok secara sengaja atau tidak telah berhasil memecah-belah bangsa yang dibangun oleh darah para syuhada dengan susah payah ini. Demi mengejar ambisinya, koar-koarnya di awal agar tidak menggunakan isu SARA menjelang pilkada nyatanya justru dilanggarnya sendiri. Mungkinkah Ahok tidak menyadari akibat perbuatan busuknya itu ??? Adakah ia mempunyai tujuan dan maksud tertentu ???

Sebaiknya kita segera mengingat apa yang terjadi di sebagian negara di Timur Tengah, khususnya tragedi memilukan Suriah, yang telah memasuki tahun ke 5. Tragedi mengerikan ini diawali dengan adanya tuntutan rakyat terhadap pemerintahan Basar Assad yang dinilai tidak adil memperlakukan rakyatnya. Untuk diingat, Basar adalah penganut Syiah yang merupakan minoritas di tengah rakyatnya yang mayoritas Sunni.

Di Indonesia, Syiah baru belakangan ini saja berhasil menyusup ke tengah masyarakatnya yang mayoritas Sunni. Ini semua tak terlepas dari makin menguatnya pengaruh paham liberal dengan JILnya ( Jaringan Islam Liberal) yang terus merongrong aqidah umat Islam di bumi tercinta ini.

Nusron Wahid, contohnya, yang walaupun berlatar belakang NU, namun kenyataannya amat sangat membela Ahok. Dengan “ gagah” jurkam sekaligus ketua tim pemenangan Pilkada  Golkar untuk Ahok – Djarot ini berkata “ Yang paling tahu tentang apa yang disampaikan Ahok di Pulau Seribu, ya Ahok sendiri”.

Ia juga menyalahkan para ulama yang dianggapnya sok pintar dengan pernyataan “ “Yang namanya Alquran, yang paling sah untuk menafsirkan dan paling tahu tentang Alquran itu sendiri adalah Allah SWT dan Rasul SAW !” .

Pernyataan tersebut sungguh tidak sejalan dengan paham Liberal yang dianutnya selama ini, yaitu bahwa segala sesuatu harus sesuai dengan akal dan pikiran manusia. Bagaimana manusia harus menyikapi Al-Quran bila hanya Allah dan Rasulullah yang memahaminya. Lagi pula ayat yang di-lecehkan Ahok itu adalah ayat yang jelas, tidak perlu penafsiran khusus. Bahkan terjemah “teman setia” untuk kata “ awliya” yang dikeluarkan depag secara resmi beberapa tahun yang lalu, tidak menggugurkan keharaman memilih pemimpin kafir. Bayangkan bila teman setia saja dilarang, apa lagi pemimpin. Bukankah seorang pemimpin lebih bisa memaksakan kehendak dari pada teman setia ?? Anehnya lagi, bila hanya Allah dan Rasulullah  yang bisa memahami ayat-ayat-Nya, mengapa Ahok bisa, padahal meng-iman-inyapun tidak ???

Mungkin inilah yang Allah sering namakan “ menjual ayat” dan menukarnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Yaitu demi mensukseskan Ahok, agar tidak terjegal di pilkada apalagi gagal menjadi DKI1 maka diplintirnyalah ayat-ayat Allah, apapun resikonya.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):174).

https://rumaysho.com/14628-surat-al-maidah-ayat-51-jangan-memilih-pemimpin-non-muslim.html

Kembali kepada fenomena yang terjadi di Timur Tengah. Perpecahan dan perang saudara antar sesama Muslim, sudah pasti membuat umat ini lemah, yang akibatnya dengan mudah menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam yang telah lama mengincar dan mengharapkan jatuhnya Islam. Lihat apa yang dilakukan pasukan Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dll di negri-negri Islam tersebut?? Apa kepentingan mereka ???

Sejarah membuktikan betapa semangat jihad kaum Muslimin di masa lalu sungguh tidak terkalahkan. Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin tapi bukan berarti bisa dihina dan dilecehkan. Hukum Allah untuk ditegakkan bukan hanya untuk dibaca dan disimpan di hati. Dakwah dan ajakan untuk memeluk Islam, menyembah hanya kepada-Nya adalah demi menjalankan perintah-Nya, dan untuk kepentingan manusia sendiri, bukan untuk Nya.

Namun orang-orang yang berpenyakit hati tidak mau menerimanya, bahkan memusuhinya. Maka dicarilah strategi baru untuk mengalahkan Islam, yaitu melalui isu toleransi dan demokrasi yang berlebihan, liberalime bahwa semua agama adalah sama dan benar, dll. Syariat Islam seperti jihad membela agama dan  persaudaraan sesama muslim dicitrakan sebagai hal yang negative. Celakanya, semua itu dikemas sedemikian halusnya hingga kaum Muslimin tidak menyadarinya, hingga sedikit demi sedikit merasa malu dan merasa tidak percaya diri dengan ajarannya. Itulah yang dinamakan perang pemikiran atau Ghazwul Fikri.

Toleransi contohnya. Dengan kasat mata kita bisa menyaksikan bagaimana Barat memusuhi Islam. Bahkan calon presiden AS, Donald Trump terang-terangan tidak akan mengizinkan Islam berkembang di negaranya bila ia terpilih sebagai presiden nanti. Hak Muslim yang hidup di negara-negara yang katanya toleran itu juga tidak terpenuhi. Masjid terbatas, shalat, jilbab dipersulit dll. Demo anti Islam di negara-negara dimana Islam hanya minoritas hampir setiap hari terus berjalan. Belum lagi apa yang terjadi terhadap Muslim di Myanmar yang merupakan minoritas. Para perempuan yang diperkosa, rumah dijarah dan dibakar.

http://www.reuters.com/article/us-myanmar-rohingya-exclusive-idUSKCN12S0AP

Sebaliknya, di negara-negara mayoritas Islam demo anti agama di luar Islam hampir tidak pernah ada. Di Indonesia, gereja jumlahnya tak terhingga, orang memakai salib tidak ada yang mempermasalahkan, hari besar keagamaan libur, dll.

Ironisnya, kantor-kantor berita main stream termasuk di Indonesia, selalu memberitakan hal-hal buruk mengenai Islam, bahwa Islam adalah agama yang tidak toleran, radikal, teroris dll. Bahkan Muslim Palestina yang setiap hari ditindas Zionis Israel, di negaranya sendiri pula, tetap selalu disalahkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya Allah meridhoi kamu tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara ; Dia meridhoi kamu apabila kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah” [HR Muslim : 3236]

Dan beginilah akhirnya. Umat Muslim akhirnya terpecah belah, bahkan dalam hal memilih pemimpin padahal sangat jelas ayatnya.  Kini kita tinggal menanti, apakah para pemimpin republik ini mau mendengar seruan para ulama yang berpegang teguh pada Al-Quranul Karim dan As-Sunnah agar segera mengadili Ahok yang telah melanggar toleransi beragama, atau tetap mendiamkannya hingga kesabaran umat yang sudah memanas ini makin meluap tak terkendali. Yang  juga patut menjadi catatan, bila negri tercinta ini sampai mengalami nasib seperti Suriah, na’udzubillah min dzalik, bukan hanya umat Islam yang menderita, tapi juga umat agama lain. Sementara hidup di pengungsianpun bukan hal yang menjanjikan.

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan” [HR Tirmidzi].

Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya’ [HR Imam Malik].

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (awliya); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):57).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 24 Oktober 2016.

Vien AM.

thomas-j-abercrombie-_mualafasSiang itu bertepatan dengan hari Jumat. Di sebuah masjid di Kota Alma-Ata (Almaty), Kazakhstan, keramaian masih tampak, padahal waktu shalat Jumat telah berlalu. Di salah satu sudut bangunan masjid, seorang pria paruh baya tampak duduk bersila dikelilingi oleh para jamaah.

Laki-laki itu sedang menceritakan pengalamannya saat menunaikan ibadah haji. Sesekali ia menunjukkan koleksi fotonya saat di Tanah Suci kepada jamaah yang mengerumuninya.

Jamaah yang mengelilinginya tampak terharu mendengar kisah perjalanan pria itu saat menunaikan rukun Islam kelima. Melihat foto-foto Ka’bah, Masjidil Haram, dan orang-orang yang tawaf, banyak dari jamaah masjid itu yang menitikan air matanya. Mereka berharap mendapatkan berkah dari seorang haji agar memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Itulah sepenggal kisah yang dialami Thomas J Abercrombie saat berkunjung ke negara pecahan Uni Sovyet tersebut pada 1972. Tom, begitu pria itu akrab disapa, adalah seorang jurnalis foto majalahNational Geographic.

Ia pernah menunaikan ibadah haji dan mempunyai koleksi beberapa foto tentang Makkah dan pelaksanaan ibadah haji. Seperempat juta Muslim mengelilingi Ka’bah untuk berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Efek buram pada foto orang-orang yang mengelilingi Ka’bah tepat di tengah menciptakan bayangan tentang gerakan kosmis,”
tulis Abercrombie dalam artikelnya “The Sword and the Sermon”, yang menceritakan mengenai kisah pengalaman pertamanya saat menunaikan ibadah haji.

Thomas J Abercrombie dilahirkan di Kota Stillwater, negara bagian Minnesota, Amerika Serikat pada 13 Agustus 1930. Ia tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga kelas menengah di Negeri Paman Sam. Keluarganya adalah pemeluk Kristen. Sebagian besar hidupnya ia habiskan di Minnesota.

Ketertarikan Tom terhadap dunia fotografi dimulai ketika menginjak remaja, yakni 15 tahun. Saat itu, ia tengah menemani kakak laki-lakinya, Bruce, menyaksikan parade Hari Penebang di pusat kota Stillwater.

Di tengah keramaian parade, ia melihat seorang bocah laki-laki berdiri di tepi jalan sedang mengambar wajah para gadis yang tengah ikut berparade. Menyaksikan pemandangan tersebut, keinginan untuk mengabadikan momen tersebut muncul dalam diri Tom. Ia kemudian meminjam kamera Leica milik sang kakak dan langsung memotret anak laki-laki tersebut.

Sejak saat itu, minatnya terhadap dunia fotografi mulai tampak. Selepas menamatkan pendidikannya di Macalester College, Saint Paul, Minnesota, Tom memulai karier profesionalnya di bidang fotografi sebagai fotografer harian lokal, The Fargo Forum.

Kemudian pada 1953, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan surat kabar The Milwaukee Journal. Karya-karya foto yang dibuat Tom saat bergabung di The Milwaukee Journal telah membuat editor foto surat kabar tersebut, Bob Gilka, terkesan.

Bahkan, salah satu fotonya yang memuat gambar seekor burung murai tengah memangsa seekor cacing tanah menarik perhatian editor sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah National Geographic, Melville Bell Grosvenor. Foto itulah yang membuka jalan bagi Tom untuk bisa bergabung dengan tim redaksi National Geographic pada 1956. Tak lama setelah diterima bekerja sebagai jurnalis foto di majalah National Geographic, Tom dikirim ke Lebanon.

Baginya, ini merupakan pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri. Perjalanan ke Lebanon ini berlanjut ke kawasan Antartika hingga akhirnya ia tiba di wilayah Kutub Selatan. Mengunjungi negeri Muslim Selama hampir 38 tahun berkarier sebagai jurnalis foto di National Geographic, Tom telah menulis 43 artikel. Keseluruhan artikel tersebut merupakan hasil liputannya ke sejumlah tempat di dunia, seperti Jepang, Kamboja, Tibet, Venezuela, Spanyol, Australia, Brasil, Alaska, Kutub Selatan, Lebanon, Mesir, dan Arab Saudi. Namun, dari keseluruhan karyanya ini, 16 artikel di antaranya ia tulis ketika mengunjungi negeri-negeri Muslim dalam kurun waktu 1956 hingga 1994.

Senior Editor National Geographic, Don Belt, dalam tulisan obituarinya mengungkapkan, pada pertengahan 1960-an, Tom banyak menghabiskan waktu mengunjungi negara-negara di kawasan Timur Tengah. Petualangannya di negeri-negeri Muslim ini telah membuatnya mahir bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Selain bahasa Arab, Tom juga menguasai bahasa Jerman, Prancis, dan Spanyol.

Dengan kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya, menurut Belt, Tom tidak mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat. Saat bermukim di kawasan Timur Tengah, Tom mulai mengenal budaya dan ajaran Islam. Berawal dari sinilah, ia kemudian memiliki ketertarikan untuk mempelajari kitab suci umat Islam, Al-Quran.

Minat Tom untuk mempelajari Al-Quran pada akhirnya telah membawanya pada sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Tom menyatakan niat dan keinginannya untuk menjadi seorang Muslim. Kala itu ia tengah berada di Arab Saudi. Namun, tak banyak tulisan yang mengupas mengenai prosesi keislaman Tom. Setelah resmi masuk Islam, Tom menggunakan nama Omar sebagai nama Muslimnya.

Kedekatannya dengan lingkungan keluarga Kerajaan Arab Saudi kemudian membuka pintu rezeki bagi Tom untuk bisa memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ke Tanah Suci. Atas undangan dari pihak Kerajaan Arab Saudi, pada musim haji tahun 1965, ia pun berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Pengalaman pertamanya menunaikan ibadah haji ini kemudian dituliskannya dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Pemred Melville Grosvenor.

Dalam surat tertanggal 17 April 1965 itu, Tom menulis, “Salam dan harapan terbaik dari Kota Suci umat Islam. Saya baru saja mendapat kehormatan untuk menjadi saksi, mengabadikannya dalam foto, dan ikut berpartisipasi dalam salah satu perjalanan spiritual paling mengharukan yang pernah dikenal umat manusia, yakni berziarah ke Kota Makkah dan Padang Arafah.”

Ini merupakan pengalaman pribadi yang tak terlupakan. Dan tanpa keraguan, itu merupakan klimaks dari seluruh perjalanan mengunjungi Arab Saudi. Tak hanya melalui surat pribadi kepada atasannya, pengalaman berhaji tersebut juga kemudian Tom tuangkan dalam sebuah artikel dan foto yang diberi judul “The Sword and the Sermon”, dan dimuat dalam majalah National Geographic edisi Juli 1972.

Karyanya tersebut diharapkan Tom bisa menjadi jembatan hubungan antara dunia Islam dan Barat ke arah yang lebih baik. Berkat karya jurnalistiknya tersebut, suami dari Marilyn yang juga merupakan fotografer di majalahNational Geographic ini bisa sampai ke Kazakhstan. Ia mengunjungi sebuah masjid di Alma-Ata dan berkesempatan mengikuti shalat Jumat berjamaah di sana.

Saat berada di masjid di Kota Alma-Ata inilah, ia mengalami pengalaman yang tak akan pernah dilupakannya, selain pengalamannya berhaji.

“Saya memperkenalkan diri kepada syekh (imam masjid—Red), dan ketika kami tengah berbicara dalam bahasa Arab, tiba-tiba para jamaah sudah berkumpul di sekeliling tanpa kami sadari. Ketika saya menunjukkan kepada mereka gambar Kota Makkah dan Ka’bah, mereka nyaris menangis.”

“Banyak dari mereka yang kemudian menggosokkan tangan mereka ke pakaian yang saya kenakan dan kemudian mengusap wajah mereka,” papar Tom menceritakan pengalaman yang menurutnya penuh emosional, sebagaimana dikutip dari laman situs National Geographic.

Jurnalis Barat Pertama yang Meliput Ibadah Haji.

Lebanon menjadi negara pertama di luar tanah kelahirannya, Amerika Serikat, yang Tom kunjungi. Perjalanan ke Lebanon inilah yang kemudian membawanya hingga ke wilayah Kutub Selatan di Antartika dan menjadikannya sebagai jurnalis pertama yang berhasil mencapai wilayah tersebut.

Tom terdampar di Antartika selama tiga minggu dan harus bertahan hidup di tengah kondisi cuaca dengan suhu minus 50 derajat. Selama mengunjungi banyak tempat dan negara dalam rangka tugasnya sebagai seorang jurnalis foto, berbagai pengalaman suka dan duka pernah Tom alami.

Ia pernah terserang tipus saat di Himalaya dan harus ikut mengamputasi jari kaki salah seorang rekannya yang mengalami kebekuan akibat cuaca yang ekstrem. Bahkan, beberapa kali nyawanya hampir terenggut. Salah satunya adalah ketika Yak—sejenis sapi—yang ia tunggangi saat di Afghanistan jatuh ke dalam jurang sedalam seribu kaki. Begitu juga ketika di Venezuela, dia terjatuh dari atas kereta gantung yang dinaikinya dalam sebuah pendakian gunung.

Peristiwa tersebut bahkan meninggalkan bekas luka seumur hidupnya. Namun, dari kesemua itu, pengalaman menunaikan ibadah haji di tahun 1965, diakui ayah dari Marie dan Bruce Abercrombie ini merupakan pengalaman paling berkesan sepanjang kariernya sebagai seorang jurnalis foto.

Pengalaman berhaji ini pulalah yang menjadikan Tom sebagai jurnalis Barat pertama yang meliput pelaksanaan ibadah haji. Setelah berkarier selama 38 tahun di National Geographic, Tom memutuskan untuk pensiun pada 1994. Kemudian, waktunya lebih banyak disibukkan untuk mengajar mata kuliah geografi di Universitas George Washington.

Sepanjang kariernya sebagai seorang jurnalis foto, Tom telah menulis sebanyak 43 artikel, 16 di antaranya ia tulis ketika mengunjungi negeri-negeri Muslim dalam kurun waktu 1956 hingga 1994. Tom wafat pada 3 April 2006 di usia 75 tahun. Ia meninggal di Rumah Sakit Johns Hopkins, Baltimore, Maryland, AS akibat komplikasi pascaoperasi transplantasi jantung yang dijalaninya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2016.

Vien AM.

Dicopy dari : http://www.kisahmuallaf.com/thomas-abercrombie-hidayah-di-tanah-suci/

Musibah dan Azab Allah.

Salah satu keuntungan menjadi seorang Muslim adalah ketika mendapat musibah ia sabar bahkan berusaha memetik hikmahnya. Tentu bukan hal yang mudah. Tapi bagaimanapun sulitnya seorang Muslim yang baik akan berusaha sekuat tenaga agar dapat menerimanya. Ini dikarenakan keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini hanya dapat terjadi karena izin-Nya.’

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. …“.   ( Terjemah QS. At-Taghabun(64):11).

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya“ (H.R Muslim).

Dengan bekal inilah seorang Muslim yang mengalami musibah betapa beratnya tidak akan putus asa. Bencana dan musibah sebaliknya justru akan memperkuat imannya karena bencana bisa jadi memang ujian atas hamba-Nya untuk menaiki tingkat keimanan yang lebih tinggi. Itu sebabnya para nabi dan rasul mengalami cobaan yang maha berat.

Uniknya Allah swt juga berfirman bencana tidak akan terjadi kecuali karena kesalahan  manusia sendiri. Artinya Allah swt sebagai Zat yang Maha Adil tidak semena-mena menjatuhkan musibah atau bencana. Bencana terjadi karena manusia tidak menjaga apa yang telah diberikan-Nya, baik itu kesehatan, harta yang berlimpah, kekayaan alam bahkan iman dan islam. Bila kita dapat menjaga dan mensyukuri pemberian Allah tersebut, dengan izin-Nya, nikmat tersebut akan tetap menjadi miliknya.

“Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. … “. (Terjemah QS.An-Nisa(4):79).

Sebaliknya bila kita tidak menjaga nilmat Allah tersebut, dengan izin-Nya jua musibah akan merenggutnya. Itulah sunatullah yang tidak hanya ditujukan bagi orang beriman saja namun bagi semua orang. Atau orang awam biasa menyebutnya sebagai fenomena alam. Fenomena alam sendiri dapat didefinisikan dengan tanda-tanda atau gejala suatu peristiwa alam yang  dilandasi suatu teori/pikiran ilmiah, yang masuk akal manusia. Terjadinya gempa, gunung meletus, tsunami dll adalah contohnya.

Namun sebagai orang beriman kita harus meyakini bahwa itulah cara Allah memperkenalkan ilmu-Nya kepada manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya  yang paling pandai dan berakal. Tujuannya agar manusia mampu menaklukkan alam dimana ia berdiam, hingga dengan demikian ia bisa menghadapi dan menyesuaikan hidupnya terhadap dasyat dan garangnya alam.

Meski demikian agar manusia tidak lupa diri maka sekali-sekali Allah swt menunjukkan kekuasaan-Nya yaitu dengan bertindak menyimpang dari aturan baku yang telah diketahui manusia. Untuk mengingatkan bahwa Allah Azza wa Jalla sebagai penguasa tertinggi bisa melakukan apapun sesuka-Nya tanpa harus mengikuti aturan atau tanda-tanda yang dibuatnya itu. Karena bila manusia dibiarkan terus mengikuti illmu-Nya bisa jadi membuat manusia menjadi congkak, sombong dan takabur, hingga merasa tidak lagi memerlukan-Nya.

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. (  Terjemah QS.Al-‘Araf(7):168).

Akan tetapi sebagai Zat Yang Maha Pengasih, Ia juga tidak mau berbuat semena-mena membiarkan manusia takut dan hanya dapat berpasrah-diri menerima segala ketentuan-Nya. Karena sungguh tidak menariknya kehidupan ini bila kita hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apapun.

Untuk itulah Allah menciptakan manusia dengan sifat menyukai tantangan.  Allah menantang manusia dengan berbagai ujian dan cobaan. Uniknya, ujian dan cobaan yang diberikan-Nya itu tidak selalu dalam bentuk kesulitan namun bisa juga dengan kesenangan dan kenikmatan hidup. Siapa yang dapat melewati ujian dan cobaan surga adalah balasannya. Dan neraka bagi yang tidak berhasil melaluinya.

Sementara itu Allah swt juga menciptakan apa yang dinamakan azab. Azab ini diberikan sebagai teguran kepada orang atau kaum yang mendustakan-Nya. Contohnya yaitu apa yang terjadi terhadap kaum nabi Nuh, kaum nabi Luth dan juga kaum nabi Saleh. Penyebabnya bermacam-macam, diantaranya karena kesyirikan, perzinahan, perbuatan homoseksual dll. Al-Quran banyak sekali menceritakan hal tersebut agar kita dapat memetik pelajaran dan tidak mengulanginya.

Rasul itu berdo`a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” Allah berfirman:

“Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu”.

( Terjemah QS. Al-Mukminun(23): 39-41).

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”.  (Terjemah QS.Hud (11):37)..

“Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Ankabut(29):31).

“Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu`aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu`aib mereka itulah orang-orang yang merugi”. ( Terjemah QS. Al-‘Araf(7):91-92).

Ironisnya, tidak sedikit orang dan kaum yang hingga detik ini masih saja melakukan kemaksiatan seperti yang dikisahkan Al-Quran diatas. Diantaranya apa yang terjadi pada musibah banjir bandang di Garut yang menelan 26 korban jiwa, 23 hilang,  merusak sekitar 594 bangunan terdiri dari sekolah, asrama TNI, rumah sakit, pemukiman, PDAM dan  menghanyutkan 57 bangunan lainnya.

http://www.mongabay.co.id/2016/09/23/memprihatinkan-ternyata-ini-penyebab-banjir-bandang-garut/

Meski pemerintah daerah memang mengumumkan bahwa penyebab musibah adalah lingkungan yang rusak parah. Pembangunan besar-besaran yang tidak memperhatikan lingkungan, bantaran sungai yang dipadati rumah penduduk dsbnya. Akan tetapi demi kebaikan kita sendiri marilah kita introspeksi, dengan memperhatikan cerita seorang relawan yang bertugas di salah satu desa yang terkena bencana.

Ia menceritakan betapa parahnya keadaan desa tersebut. Korban bergelimpangan disana-sini, laki-laki perempuan tua muda. Yang paling memilukan menurutnya adalah 2 mayat bayi yang menyembul dari balik timbunan tanah. Di desa tersebut ia sempat bertemu dengan  seorang lelaki tua penduduk desa yang selamat dari bencana. Dengan mata berkaca-kaca dan suara parau, kakek berusia sekitar 60 tahun-an tersebut menceritakan betapa perzinahan dan pengguguran kandungan di desanya yang jauh dari perkotaan itu sudah menjadi hal biasa. Dengan mudahnya para ibu mengubur bayi yang dilahirkan tanpa ayah. Itu sebabnya ia yakin bahwa apa yang menimpa desanya adalah azab dari Allah swt.

“ Coba kau lihat dari jembatan, dari jembatan ke sungai jaraknya sangat jauh. Tidak masuk akal kalau air sungai bisa tumpah ke kampung kami”, jelasnya.

http://mozaik.inilah.com/read/detail/2326997/kisah-nyata-azab-zina-di-balik-bencana-garut

Ya, serusak apapun lingkungan alam dan sederas apapun hujan tanpa izin-Nya musibah tidak akan terjadi. Hanya Allah yang bisa menghentikan hujan, menyuruh tanah menyerap airnya dan menjauhkan manusia dari bencana besar. Seperti ayat 44 surat Hud berikut:

“Dan difirmankan:

“Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”

Saya jadi teringat pada sebuah kisah yang pernah terjadi di desa sekitar Dieng, Legatang nama desa tersebut. Desa tersebut dikenal sebagai desa yang paling subur di banding desa-desa tetangganya. Tak heran bila penduduknyapun hidup dalam kemakmuran.

Suatu malam 16 April 1955, seperti malam-malam sebelumnya, tampak warga baik laki perempuan dewasa maupun kanak-kanak mengerumuni panggung satu-satunya yang ada di desa tersebut. Suara tabuh musik tradisional diselingi hiruk pikuk tawa terbahak serta terkikik terdengar memecah keheningan malam. Asap rokok, asap dupa dan celoteh warga bercampur menjadi satu. Sementara bau arak tercium hingga jarak cukup jauh. Rupanya mereka sedang asik menyaksikan tari daerah yang dibawakan perempuan desa tersebut secara genit dan terkesan mengundang birahi penonton.

Di akhir acara pada tengah malam bahkan pagi hari dapat ditebak dengan mudah. Dalam keadaan mabuk mereka melampiaskan nafsu, tak peduli dengan sesama jenis bahkan dengan orang-tua dan anak mereka sendiri. Na’udzubillah min dzalik.

Namun apa yang terjadi malam itu ternyata tidak sama dengan malam-malam sebelumnya. Hujan yang awalnya hanya rintik-rintik makin lama makin lebat. Tapi seolah tersihir mereka tidak mempedulikan hal tersebut. Keramaian terus saja berlangsung. Hingga akhirnya ketika hujan berhenti tiba-tiba terdengar bunyi nyaring seperti meteor menghujam bumi. Seiring dengan itu berhenti pulalah suara hingar bingar dan kegaduhan di desa tersebut.

Suhuri, salah seorang warga desa tetangga Legatang yang kini berusia sangat lanjut mengatakan, musibah terjadi malam hari pukul 23.00 saat musim hujan. Namun warga tidak ada yang berani ke luar rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

”Saya dan beberapa teman malam itu tidur di masjid. Saya baru dengar kabar gunung Pengamun-amun longsor jam tiga pagi,” katanya.

Anehnya, desa Legatang yang sebenarnya terletak jauh dari gunung yang sejak beberapa waktu memang telah menunjukkan tanda-tanda akan longsor, justru yang terkena dampaknya. Desa tersebut dipisahkan sungai dan jurang yang hingga kini masih ada. Lebih aneh lagi, gunung Pengamun-amun yang tadinya memiliki pucuk, pagi hari setelah kejadian telah kehilangan pucuk tersebut. Sebaliknya Legatang yang tadinya berada di lembah menjadi rata bahkan cenderung menyerupai gundukan paska terjadinya tragedi nahas tersebut. Seolah pucuk gunung tersebut terbang meloncati sungai dan jurang lalu mendarat tepat menutupi Legatang yang sedang berpesta pora.

plakat banjarnegara1955Dilaporkan seluruh warga yang jumlahnya 332 kecuali satu orang, yaitu salah satu istri kepala desa, ditambah 19 orang tamu dari luar desa menjadi korban. Mereka tertimbun di dalam tanah tanpa berhasil di evakuasi, hingga saat ini, karena sangat sulit ditemukan. Istri Rana, sang ketua desa, lolos dari musibah karena sedang tidak berada di lokasi ketika musibah terjadi. Di desa tersebut kini berdiri sebuah prasasti yang menunjukkan peristiwa tragis tersebut.

http://duniatimteng.com/tragedi-legetang-legenda-kaum-sodom-gomorah-di-nusantara/

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (Terjemah QS.Al Mulk (67): 16).

Ada pertanyaan yang cukup menarik. Di Barat yang rata-rata penduduknya atheis,  perzinahan dan homoseksual sudah menjadi hal umum, namun mengapa Allah swt tidak mengazab mereka? Betulkah demikian??

Ada 2 kemungkinan. Pertama, Allah sudah tidak peduli lagi, karena kekafiran yang sudah keterlaluan. Allah mencukupkan balasannya kelak di negri akhirat. Meski bila mau berpikir lebih jauh, dampak perzinahan dan homoseksual di dunia tidak sedikit. Diantaranya praktek pengguguran kandungan yang berresiko kematian, masa depan anak yang suram karena lahir di luar harapan orang-tua, punahnya generasi manusia dll. Belum lagi berbagai penyakit seksual berbahaya seperti AIDS dll.

korban-badai-haitiKedua, Allah swt telah memberi peringatan dengan berbagai bencana yang tidak sedikit. Seperti badai Matthew yang baru kemarin menerjang Haiti dan menelan korban 283 jiwa serta menghancurkan 80% bangunan di sebuah kota utamanya. Saat ini AS bahkan sedang dalam status siaga menghadapi badai yang sedang bergerak menuju ke negara dimana Donald Trump, calon presiden yang sangat memusuhi Islam itu, berada. Kita tahu betapa bencinya ia terhadap kaum Muslimin.

http://www.mirajnews.com/id/as-siaga-korban-tewas-di-haiti-akibat-badai-matthew-melonjak-283-orang/132005

Sayangnya mereka tidak pernah merasa bahwa bisa jadi itu adalah bentuk murka Allah atas kelakuan menyimpang mereka. Karena yaitu tadi, mereka menganggapnya sebagai fenomena alam biasa. Kalaupun ada cerita atau laporan dari penduduk yang dianggap tidak masuk akal, mereka tidak mau mempercayainya. Kalau sudah demikian untuk apa lagi Sang Khalik memperingatkan mereka ??

Bagaimana dengan Jakarta atau kota-kota besar di negri yang katanya mayoritas Muslim namun kemaksiatan meraja-lela. Bahkan sang gubernur petahana baru-baru ini dengan lancangnya berani mengolok-olok ayat Al-Quran. Sudahkah Allah swt menurunkan azab-Nya??

“Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun.” (Terjemah (QS.Al-Anfal):33).

Ayat di atas berkenaan dengan orang-orang Qurasy yang menantang Rasulullah agar menurunkan azab karena kemaksiatan mereka. Namun Allah swt tidak mengabulkannya karena Rasulullah ada di antara mereka. Alasan lain karena masih ada di antara mereka yang memohon ampun. Dengan kata lain Allah swt tidak akan meng-azab suatu kaum selama ada yang ber-istighfar, ber-istighfar dengan istighfar yang sebenar-benarnya, istighfar yang dibuktikan dengan tidak mengulang kesalahan yang sama. Hingga Sang Khalik berkenan mengampuni segala dosa hamba dan memberikan ampunan-Nya.

Untuk itu mari kita perbanyak istighfar dengan harapan semoga lingkungan buruk yang mengepung kita dari segala penjuru itu mampu mendatangkan belas kasih-Nya, hingga Ia ridho membatalkan azab yang sebenarnya sangat pantas diberikan-Nya itu … Na’udzubillah min dzalik.

“Semua musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan kemaksiatan yang kalian lakukan. Dan Dia telah mengampuni banyak dosa.” (Terjemah QS.As-Syura(42): 30).

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”.

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( Terjemah QS.Al-Baqarah(2): 155-157).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Oktober 2016.

Vien AM.

“ Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja., … … ”. ( Terjemah QS. Al-Mumtahanah(60):4).

Keteguhan nabi Ibrahim dalam mempertahankan aqidah inilah yang membuat Allah swt menjadikannya sebagai keteladanan. Untuk itu pula nabi Ibrahim as disebut sebagai bapak tauhid. Juga sebagai bapak para nabi, karena semua nabi yang diutus setelah nabi Ibrahim as adalah keturunan dari kedua putra beliau, yaitu nabi Ismail as dan nabi Ishaq as. Dan ini semua tidak terlepas dari doa dan permohonan Ibrahim as yang kemudian dijabah Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.

“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):40).

“ Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya ( khalilullah)”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):125).

Maka tak salah bila Allah swt kemudian menjuluki bapak para nabi ini dengan gelar kekasih Allah ( khalilullah). Sedangkan yang dimaksud orang yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus di ayat di atas adalah nabi Muhammad saw.

Kepasrahan dan ketaatan Ibrahim  kepada Tuhannya sungguh tak dapat diragukan lagi. Puncaknya adalah ketika Allah swt memerintahkannya agar menyembelih putra beliau satu-satunya ketika itu, yaitu nabi Ismail as.  Padahal telah lama Ibrahim merindukan hadirnya seorang anak. Dan baru ketika usia lanjut, yaitu 99 tahun, beliau mendapatkannya. Untuk itu Sang Khalik maka mengabadikan peristiwa fenomenal tersebut dalam surat Asf-Shaffat (37) ayat 102 berikut :

Maka tatkala anak itu ( Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia ( Ismail ) menjawab:

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Namun yang lebih mencengangkan lagi adalah jawaban sang putra tercinta yang menurut riwayat baru berusia sekitar 7 tahun ( ada yang berpendapat 13 tahun). Bagaimana mungkin anak seusia itu sudah mempunyai tingkat ketakwaan yang begitu tinggi?? Darimana ia mendapatkan keberanian dan kesabaran rela disembelih sang ayah yang bahkan pernah “membuangnya” ke gurun sahara yang tak berpenghuni ketika bayi dulu ??

Ada baiknya kita tengok sedikit ke belakang siapa sebenarnya Ibrahim, ayah yang begitu beruntung mendapat anugerah anak yang sangat patuh, berbakti kepada orang-tua sekaligus takut pada Tuhannya.

Nabi Ibrahim as di Kaldan.

Ibrahim sejak kecil telah terbiasa menjajakan berhala buatan ayahnya, Aazar. Ketika itu penduduk Kaldan, kota dimana beliau tinggal memang  dikenal sebagai penyembah berhala, termasuk bulan, bintang, matahari dll. Namun demikian Ibrahim tidak pernah percaya bahwa segala macam sesembahan tersebut mampu memberikan manfaat. Kegelisahan Ibrahim tersebut tercatat dengan apiknya pada ayat 75-79 surat Al-An’am, yang berakhir dengan penyerahan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta sekaligus Pemilik alam semesta dan seluruh isinya.

Berangkat dari keyakinan tersebut maka Ibrahimpun mulai berani memprotes keyakinan ayahnya, dengan cara yang santun, tidak kasar, bahkan cenderung mengajak untuk berpikir. Dan ketika akhirnya ayahnya tetap menolak ajakannya bahkan mengancamnya, Ibrahim tetap mendoakannya. Ini mencerminkan betapa tingginya akhlak beliau. Berikut percakapan yang terekam dalam surat Maryam  ayat 46-48:

Berkata bapaknya:

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.

Berkata Ibrahim:

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo`a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo`a kepada Tuhanku”.

Ibrahim juga pernah dihukum bakar oleh raja Namrud karena berani memotong kepala berhala sesembahan raja dan penduduk Kaldan. Hal ini sengaja beliau lakukan untuk membuktikan bahwa berhala yang mereka sembah itu sama sekai tidak bermanfaat, yang bahkan untuk melindungi dirinya sendiri saja tidak mampu. Kisah menantang dan lucu ini diabadikan dalam surat Al-Anbiya ayat 52-66, diantaranya sebagai berikut :

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Mereka berkata:

“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata:

“Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata:

“(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya:

“Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab:

“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Nabi Ibrahim as berhijrah.

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. ( Terjemah QS. Al-Anbiyya (21):69.

Dengan rahmat Allah swt Ibrahim as dibebaskan dari panasnya kobaran api raja Namrud. Setelah itu Ibrahimpun pergi meninggalkan negri Kaldan dan tinggal selama beberapa tahun di Mesir sebelum akhirnya menetap di Palestina hingga akhir hayat beliau. Hijrah ini persis seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw yang pergi meninggalkan Makkah ke Madinah karena penduduk Mekkah semakin memusuhi nabi dan tidak mau menerima ajakan nabi untuk bertauhid, menyembah hanya kepada Allah swt, Sang Pencipta Yang Satu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Dalam pengembaraan panjang tersebut Ibrahim as tetap menjalankan dakwah menuju Tuhannya. Hingga ketika Ibrahim mencapai usia senja Allah swt tidak juga menganugerahi seorangpun keturunan, Sarah, istri Ibrahim, meminta suaminya agar mau menikahi Hajar, budak pemberian raja ketika mereka tinggal di Mesir. Dan Allahpun mengabulkan keinginan pasangan tersebut. Tidak hanya dengan lahirnya Ismail dari rahim Hajar, naum juga menyusul Ishaq yang lahir dari rahim Sarah yang telah berusia tua.

“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. ( Terjemah QS. Ibrahim (14):39-41).

Namun demikian untuk membuktikan ketakwaan keduanya, bapak maupun anak, Allah swt mengujinya lagi dengan cobaan yang maha berat, yaitu penyembelihan ! Meski akhirnya Allah berkenan mengganti sang anak yang telah pasrah sementara sang ayah dengan tegar siap melaksanakan perintah, dengan hewan sembelihan besar. Allahuakbar …

“ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. ( Terjemah QS. Asf-Shaffat(37):103-108).

Ibrahim as dan Ismail as membangun Ka’bah di Makkah.

Nabi Ibrahim as meski tetap tinggal di Palestina bersama Sarah dan putranya ishaq as namun secara berkala beliau datang mengunjungi Hajar dan Ismail di Mekah. Mekah, berkat sumber air zam-zam yang terus mengucur deras sejak peristiwa Hajar yang berlarian bolak-balik  7x demi mendapatkan air untuk putranya tercinta, tidak lagi sepi seperti ketika Ismail dan ibunya ditinggalkan Ibrahim beberapa tahun lalu.

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 37)

Ya doa nabi Ibrahim as diatas itulah tampaknya yang menjadi penyebab kota Mekah yang tadinya tandus dan tak berpenghuni berkembang menjadi kota yang subur, yang buah-buahannya menjadi sumber rezeki bagi penduduknya.  Di kota inilah Ismail tumbuh menjadi anak yang sholeh, yang senantiasa mendirikan shalat.

Ibrahim dan Ismail ini pulalah yang diberi kepercayaan Allah Azza wa Jalla agar meninggikan Ka’bah yang berdasarkan mayoritas pendapat ulama pertama kali dibangun oleh nabi Adam as. Inilah rumah ibadah tertua yang pernah ada di muka bumi.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah(2):127-128).

Dan untuk mengembalikan kesucian dan kemurnian ajaran Ibrahim as yang sepeninggal beliau telah diselewengkan selama ribuan tahun, Allahpun menurunkan rasulullah Muhammad saw dengan kitab suci Al-Quran sebagai pegangannya. Itu sebabnya hari ini bisa kita saksikan jutaan umat Islam setiap tahun berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dengan berbagai rangkaiannya, seperti tawaf, sai, lempar jumrah, potong hewan kurban dll. Jadi ritual haji yang dilakukan umat Islam setiap bulan Dzulhijjah itu sebenarnya sudah ada sejak zaman nabi Ibrahim as. Begitupun perintah-perintah lain seperti shalat, zakat dll.

“ … … (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu ( Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. ( Terjemah QS. Al-Hajj (22);78).

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS.Ali imran(3): 68).

Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “ Para nabi diperlihatkan kepadaku. Aku melihat Musa as, ternyata ia seperti seorang laki laki dari Syanuah. Aku melihat Isa ibnu Maryam as, ternyata orang yang kulihat paling mirip dengannya adalah Urwah ibnu Mas’ud. Kemudian aku juga melihat Ibrahim as, ternyata orang yang kulihat paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini ( maksudnya, Rasulullah saw sendiri). (HR Tirmidzi, Muslim dan Ahmad).

Itulah skenario Allah swt  mengapa Ibrahim meninggalkan Ismail di lembah tandus Mekah ketika bayi dulu, dan satu-satunya keturunan Ibrahim  dari jalur Ismail yang menjadi nabi hanya Muhammad saw, yang ditakdirkan sebagai nabi penutup guna meluruskan ajaran Ibrahim. Padahal dari jalur Ishaq banyak keturunan beliau yang menjadi nabi, diantaranya yaitu Musa as, Daud as dan Isa as. Sungguh betapa beruntungnya orang yang dberi hidayah agar mengenal Islam, memeluknya lalu mentaati serta mencontoh nabinya.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam. (Terjemah QS. Al Baqarah (2): 132)

Ironisnya, Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam, dan tercatat sebagai negara yang tiap tahun terbanyak mengirimkan jamaah haji, ternyata sebagian dari mereka tidak menunjukkan ke-Islam-annya dengan baik. Ini terbukti dari banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh orang yang mengaku Islam bahkan sudah berhaji, prostitusi yang makin hari makin merajalela, berbagai kejahatan seperti pemerkosaan, narkoba, perjudian dll yang makin tak terbendung.

Menjadi pertanyaan besar, sudahkah para orang-tua mendidik anak-anaknya dengan baik, dengan men-tarbiyah diri sebagaimana yang dilakukan Ibrahim terhadap putranya ? Mengajarkan dengan santun pentingnya ber-tauhid, menggantungkan diri secara total kepada Allah Yang Esa ? Yakin bahwa rezeki itu telah diatur Sang Khalik hingga tidak perlu mengemis kepada sesama manusia ? Bahwa hidup hanyalah sementara dan akhirat adalah tujuan yang dengan demikian orientasi berpikirnya tidak melulu duniawi?

Pendek kata sudahkan kita menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai panduan hidup, secara kaffah, tidak setengah-setengah dan memilah-milah sesuai keinginan dan nafsu? Tak dapat dipungkiri lingkungan memang sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang. Apalagi di zaman dimana demokrasi ala Barat yang sudah kebablasan ini. Adalah tugas orang-tua untuk mencarikan lingkungan yang baik bagi anak-anaknya, yaitu lingkungan yang bersih dari kekufuran bukan sekedar bersih secara fisik.

Semoga Allah swt memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk mengikuti rasulullah saw dalam mencontoh Ibrahim as sebagai panutan, aamiin Allahumma aamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 September 2016.

Vien AM.