Feeds:
Posts
Comments

Umat Islam pada tanggal 2 Desember 2018 kembali menggelar aksi damai di kawasan Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat. Aksi ini masih merupakan rangkaian dari tragedy tahun 2016 dimana Ahok mengutak-atik ayat suci Al-Quranul Karim yaitu Al-Maidah 51 tentang pemilhan pemimpin. Pasalnya karena meskipun ia telah dinyatakan terbukti bersalah melecehkan ajaran umat agama lain dan telah masuk bui, nyatanya hingga 2 tahun berlalu, pelecehan Islam, seperti persekusi ulama, kecurigaan berlebihan terhadap kegiatan masjid, masalah adzan, rohis dll masih saja berlangsung. Tuduhan bahwa Islam adalah teroris, radikal dll terus saja digulirkan pihak-pihak tertentu yang kelihatannya menginginkan Indonesia sebagai rumah kaum Muslimin tampak berwajah buruk.

http://aceh.tribunnews.com/2018/11/28/jusuf-kalla-tanggapi-soal-survei-41-masjid-terpapar-radikalisme-ini-studi-yang-memprihatinkan

Terakhir, yaitu pada Senin 22 Oktober, terjadinya tragedy pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid oleh oknum anggota Banser. Ironisnya, peristiwa keji di lapangan Alun-Alun kabupaten Garut ini terjadi pada perayaan Hari Santri Nasional. Yang lebih menyedihkan lagi polisi segera mengklaim bahwa yang dibakar hanyalah bendera HTI yang sudah dibubarkan pemeritah, bukan bendera Tauhid.   Dan dengan segera polisi justru mengejar orang yang mem-viralkan video pembakaran tersebut.

Tentu saja alasan tersebut tidak dapat ditrima. Bendera tauhid yaitu bendera dengan tulisan “ Laa Ilaha ila Allah Muhammad Rasulullah” yang berarti “ Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”, baik yang berwarna dasar hitam maupun putih adalah bendera milik umat Islam, bendera lambang kebesaran Islam yang harus dihormati dan sangat tidak sepatutnya dibakar, dengan alasan apapun. Tak salah bila presiden Turki, Erdoganpun turut menyatakan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa tersebut. Itu sebabnya Aksi Bela Islam (ABI) kali ini dinamakan juga Aksi Bela Tauhid.

Yang menyedihkan adalah reaksi pemerintah yang mencurigai aksi tersebut dengan berbagai tuduhan. Mulai tuduhan makar, pemecah NKRI, deklarasi HTI hingga kampanye politik tersembunyi mendukung paslon no 2 Prabowo dan Sandiaga Uno. Untuk itu pengamanan yang berlebihanpun diselenggarakan. Kebalikan dari demo OPM ( Organisasi Papua Merdeka) persis di depan istana yang nyata-nyata menginginkan kemerdekaan dan nekad mengibarkan bendera OPM, tapi didiamkan saja.

http://wartakota.tribunnews.com/2018/12/05/ustadz-haikal-hassan-beda-perlakuan-pemerintah-ke-opm-dan-reuni-akbar-212?page=2

Namun tekad umat Islam yang bulat tidak dapat dihentikan. Dari segala pelosok daerah umat Islam berhamburan keluar menuju Jakarta. Ada yang dengan mencarter pesawat, dengan bus, kendaraan pribadi bahkan yang harus berjalan kakipun rela melakoninya.

https://hidayatullah.ga/feature/kisah-perjalanan/read/2018/12/06/156003/saya-jalan-kaki-bandung-jakarta-ikut-reuni-212.html

Anehnya, ternyata tak hanya umat islam, umat agama lainpun banyak yang hadir. KH Sobri Lubis, ketua FPI, menyatakan pihaknya memang sengaja memberikan tempat khusus bagi non Muslim karena banyaknya permintaan bahwa mereka ingin mengikuti aksi damai tersebut, termasuk sejumlah tokoh lintas agama. Di akhir acara, bahkan ada yang akhirnya bersyahadat. Tak tanggung-tanggung, mereka adalah pasangan suami istri yang jauh-jauh datang dari Australia. Masya Allah .. Pembacaan syahadat itu dilangsungkan di Mushola Nurul Huda Kelurahan Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

https://pembelaislam.com/29414

Saya sendiri dan suami, hadir di acara damai akbar ini bukanlah kali pertama. Sejak ABI 411 tahun 2016 hingga aksi yang baru lalu Alhamdulillah kami selalu menghadirinya. Dan itulah satu-satunya aksi yang pernah kami lakukan dalam umur yang sudah setengah abad lebih ini.

Pada aksi yang terakhir kami baru berangkat dari rumah setelah suami pulang dari Subuh di masjid sekitar rumah. Awalnya pukul 3 pagi suami sudah berangkat menuju masjid perkantoran Jendral Sudirman (MJS) dimana ia duduk sebagai ketua harian. Tapi begitu ia membaca WA tentang kekecewaan saya yang tidak dapat hadir karena memang sedang kurang fit, maklum baru sebulan menjalani operasi, suami segera pulang untuk menjemput saya. Masya Allah … Terima-kasih ya Allah telah Kau beri hamba pasangan yang benar-benar bisa memahami hamba …

Syukur Alhamdulillah perjalanan lancar, kendaraan bisa parkir di gedung bank Mandiri yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tkp. Kami menyempatkan ke toilet yang ada di gedung tersebut, khawatir nanti di lokasi sulit. Ternyata di depan toilet telah mengantri sejumlah ibu-ibu yang datang berombongan dengan bus-bus dari kabupaten Bandung.

abi 6Sabi 7etelah itu kami segera berjalan kaki menuju lokasi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 6 kurang 15. Gelombang manusia berpakaian putih dan sebagian hitam, dengan topi dan bendera Tauhid tampak menyemut. Kami berbaur bersama peserta yang berjalan perlahan sambil bershalawat, sekali-sekali diselingi takbir.

“ Masya Allah serasa tawaf ”, bisik saya kepada suami, terharu.

abi 4Mendekati air mancur Bank Indonesia peserta makin padat, hingga nyaris terhenti. Suara orasi dari panggung terdengar dari pengeras suara yang dipasang di sekitar lokasi. Berhubung kami berdua ingin lebih mendekati panggung maka kamipun berputar mencari jalan agar dapat tembus ke lokasi yang kami inginkan.

Ternyata kami benar-benar beruntung. Karena adik saya dan beberapa teman yang datang hampir sama waktunya dengan kami, menceritakan terpaksa berhenti di sekitar air mancur saking padatnya orang.  Mungkin karena kami hanya berdua maka lebih leluasa menyelinap ke tengah gelombang dan arus manusia yang ada saat itu. Alhamdulillah.

Meskipun tak jarang ketika ada rombongan lumayan besar datang dari luar Jawa kamipun serempak memberi jalan agar tamu-tamu dari jauh tersebut dapat mendekati podium. Dan dengan diringi takbir merekapun menyeruak masuk dengan tertib. Masya Allah … Aroma semangat mereka yang jauh-jauh datang dari luar Jawa demi membela Tauhid benar-benar terasa. Sungguh ikatan persaudaraan sesama Muslim itu sangat kental terasa.

Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

abi 8Kami juga menjadi saksi bagaimana semangatnya para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh pemandu acara dengan penuh khidmad. Sekaligus menjadi bukti betapa ngawurnya tuduhan bahwa peserta 212 adalah anti NKRI.

Sayangnya orasi yang disampaikan sejumlah tokoh masyarakat mulai gubernur DKI Anies Bawes hingga para uztad kondang seperti uztad Bahtiar Nasir, uztad Haikal Hasan dll tersebut justru kurang jelas terdengar. Padahal posisi kami sudah lumayan mendekati podium utama.

Sekitar pukul 9 kurang, setelah sempat menyaksikan pengibaran bendera raksasa bertuliskan Tauhid serta mendengarkan alunan merdu ayat-ayat suci yang dibawakan dua hafidz cilik Ahmad dan Kama, kamipun memutuskan untuk pulang. Ternyata untuk keluarpun perlu perjuangan panjang. Bahkan lebih sulit dari ketika datang pagi tadi. Dari segala arah peserta terus berdatangan. Besar, kecil, tua, muda, lelaki, perempuan bahkan ada yang dengan tongkat dan kursi roda. Allahu Akbar …

abi 3abi 1Lagi-lagi di sekitar air mancur BI, kami bersama barisan orang yang hendak keluar, selama beberapa menit, terpaksa terhenti sama sekali. Dalam hati saya berkata, dalam keadaan biasa pasti orang akan menerobos menginjak taman yang terbentang di sisi kami. Tapi nyatanya tak satupun yang mau melakukannya. Tampaknya sudah menjadi komitmen bagi seluruh peserta 212 sejak ABI I, bahwa rumput harus dijaga ! Bayangkan kalau rumput saja harus dijaga apalagi kesatuan republik tercinta ini … Masih mau menuduh kami radikal, teroris dll ??

abi 2Reuni Akbar 212 atau ABI yang manapun harus diakui adalah bukti kesantunan umat islam yang selama ini sempat hilang ntah kemana. Selain wajah-wajah ramah yang bertebaran, kedisiplinan juga menampakkan diri. Selain sedikitnya sampah, mereka yang ingin buang air juga terlihat mengantri dengan rapi. Budaya baik yang selama ini dianggap sebagai budaya Barat yang mustahil bisa diterapkan bangsa ini.

”Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At- Turmudzi).

“Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu.” (H.R. al-Hakim).

Berikut kumpulan kisah mereka yang hadir di acara Bela Tauhid 212 2018.

https://pembelaislam.com/category/reuni-212  

Ironisnya, hanya sedikit sekali media Indonesia yang mau menayangkan acara akbar yang berlangsung aman damai tersebut. Hanya TV-One satu-satunya media yang meliput acara tersebut secara utuh. Padahal tak sedikit kantor berita internasional yang melaporkannya. Ada apa ini?? Sebegitu kuatkah cengkeraman rezim ini hingga media tidak mampu menyampaikan berita yang nyata-nyata terjadi di depan mata?? Ini adalah cacat dan kegagalan kenetralan media Indonesia yang akan terus dicatat sejarah sepanjang masa. Sejarah suatu negri dimana hoax meraja-lela, dimana rakyat tak dapat membedakan mana berita yang benar dan mana yang bohong. Alangkah memalukannya …

https://www.harianterbit.com/nasional/read/2870/Reuni-212-Gempar-di-Luar-Negeri-Sepi-Berita-di-Indonesia

Pada saat yang nyaris bersamaan, di ujung dunia lain yang katanya menjunjung tinggi HAM, toleransi, disiplin dll, yaitu di Paris ibukota Perancis, terjadi demontrasi mengerikan. Demo rusuh yang dipicu karena kenaikan harga bbm ini mengakibatkan 133 orang terluka, 23 di antaranya adalah polisi. Perancis beberapa tahun belakangan ini memang sedang dilanda masalah pengangguran yang terus meningkat.

Padahal di Indonesia juga tak jauh beda. Kenaikan bbm tidak hanya sekali dua kali. Namun umat tetap berusaha menahan diri. Protes dan demo baru terjadi ketika ajaran dilecehkan. Itupun dengan cara yang baik dan santun.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Desember 2018.

Vien AM.

Kata “burung” tidak sedikit disebutkan dalam Al-Quranul Karim. Mahluk bersayap ciptaan Allah yang satu ini harus diakui memang mempunyai banyak kelebihan dibanding ciptaan Allah yang lain. Burung, hanya dengan mengandalkan kedua sayapnya mampu terbang tinggi kemanapun ia mau. Berkat mahluk yang pandai terbang ini pula manusia dapat dengan mudah menjelajahi dunia, yaitu dengan adanya pesawat terbang yang merupakan buah inspirasi dari burung.

Itulah yang dilakukan 2 bersaudara dari Amerika Serikat, Wright Bersaudara. Setelah berkali-kali melakukan percobaan, akhirnya berhasil menerbangkan pesawat ciptaan mereka meski hanya dengan waktu sangat singkat, yaitu 12 detik. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tahun 1903, dan tercatat  sebagai tonggak lahirnya burung mesin alias pesawat terbang pertama di dunia.

Ironisnya, selama lebih dari 100 tahun sejak kelahirannya, tidak jarang pesawat terbang mengalami kecelakaan. Dan itu bisa hanya gara2 seekor burung yang masuk ke ruang mesin !

Apa sebenarnya rahasia dasyat dibalik mahluk kecil ini hingga mampu merusak mesin canggih sebuah pesawat terbang yang sedang mengudara?? Menurut sebuah kabar, sekelompok burung seberat 5 kg yang menabrak pesawat yang sedang terbang memiliki kekuatan setara dengan 100 kg beban yang dijatuhkan ke atas sebuah pesawat !

“ Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu”. ( Terjemah QS. Al-Mulk(69):19).

Secara kasat mata, burung bisa terbang di udara berkat kedua sayap yang dikepak-kepakannya, yaitu mengembang dan mengatup secara bersamaan. Biasanya burung akan menghentikannya kepakan sayapnya ketika telah terbang tenang dan seimbang. Dan kembali mengepakannya begitu keseimbangannya mulai  berkurang, atau ingin mempercepat laju terbangnya. Dengan catatan, itu semua atas izin Allah Azza wa Jalla. Ialah yang sebenarnya menahan burung agar tidak terjatuh.

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (An-Nuur(24):41).

Dan seperti juga mahluk ciptaan Allah yang ada di langit dan bumi, burungpun bertasbih, bahkan shalat, dengan cara yang tidak kita ketahui. Tak salah bila sejumlah ulama memberikan perumpamaan rasa takut (khouf) dan harap (roja’) yang dimiliki seorang hamba yang takwa, seharusnya seimbang sebagaimana ke dua sayap burung.

“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Faathir: 28)

Takut yang dimaksud pada ayat diatas adalah takut yang diiringi Ma’rifatullah ( cinta kepada Allah swt). Yaitu takut bila Tuhannya meninggalkannya dan tidak lagi mencintainya, Yang dengan demikian akan membuatnya meninggalkan segala sesuatu yang dibenci-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Ketahuilah sesungguhnya  penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga, yaitu Al-Mahabbah (cinta), Al-Khouf (takut) dan Ar-Rajaa’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat.

Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat. Allah swt berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka.” (QS. Yunus: 62). Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta. Adanya rasa takut akan membantunya untuk tidak keluar dari jalan menuju sosok yang dicintainya, dan rasa harap akan menjadi pemacu perjalanannya”.

Sebaliknya, orang yang berlebihan dalam berharap akan terjebak dalam sikap merasa aman dari murka Allah. Sementara bila keterlaluan dalam rasa takut maka akan terjatuh dalam sikap putus asa terhadap rahmat Allah. Sebagian ulama berpendapat: “Seyogyanya harapan lebih didahulukan tatkala berbuat ketaatan dan diutamakan takut ketika muncul keinginan berbuat maksiat”.

Tapi dalam keadaan normal, rasa takut dan harap yang terbaik adalah dalam keadaan seimbang, layaknya burung yang mengepakkan sayap khouf dan sayap roja’nya menempuh jalan menuju ridho dan cinta-Nya. Itu sebabnya burung tidak pernah merasa takut kehilangan rezekinya. Ia terbang di pagi hari untuk mencari makan dan pulang sore untuk kembali ke sarangnya.

Ini yang seharusnya dicontoh manusia. Manusia hanya bisa berusaha Allah Azza wa Jalla yang menentukan hasilnya. Bersyukur ketika mendapatkan kebaikan, bersabar ketika mendapat kesulitan. Takut berbuat maksiat tapi ketika suatu saat tergelincir tidak mudah berputus asa karena mempunyai harapan bahwa Tuhannya akan mengampuninya, selama ia mau bertobat dan tidak mengulanginya.

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 November 2018.

Vien AM.

REPUBLIKA.CO.ID,  Sejak kecil Michelle Ashfaq bercita-cita menjadi seorang biarawati. Saat masih kecil, ia menghadiri sebuah kelas pelajaran agama Katolik. Dari situ, ia mendapatkan pelajaran mengenai kisah-kisah para nabi. Ia sangat tertarik, apalagi dengan kisah Nabi Isa AS.

Seiring waktu, wanita yang dibesarkan di kota kecil bersama sang kakek dan nenek di barat daya Virginia, Amerika Serikat (AS) pernah mengalami kegalauan hidup. Selain dibesarkan sebagai seorang Katolik, ia juga menghadiri gereja Baptis bersama kakek-neneknya. Ia memiliki dua tempat beribadah.

michelle-ashfaq-_120304075720-464Suatu perubahan terjadi saat Michelle menginjak usia yang ke-17. Ia pergi ke gereja dan tiba-tiba ia tidak diizinkan masuk ke tempat itu. Michelle merasa bingung karena tidak diizinkan untuk masuk dan beribadah. Sementara itu, ia tak mengenal agama lain. Kehidupan beragama yang ia tahu hanyalah pergi ke gereja.

Hingga akhirnya, wanita asal New York itu mengenal Islam dari suaminya. Ia tak pernah membayangkan hidup tanpa sang suami. Hampir setahun ia bingung kemana harus beribadah setelah tidak diizinkan untuk ke gereja, padahal ia merasa sangat menyukai Gereja.

Suaminya adalah orang yang membimbingnya saat ia merasa tak tahu apa-apa soal ibadah. Sang suami dengan sabar mengajarkan Michelle akhlak Islam, bahkan ketika ia belum menjadi mualaf. ”Ia mencontohkan saya banyak hal, kemudian saya mulai membaca buku-buku Islam yang dikirim dari Pakistan oleh mertua,” ujarnya seperti dikutip onislam.net. Sejak itu, ia mulai merasakan apa itu Islam.

Kesederhanaan Islam membuatnya tertarik untuk mulai belajar. Ia bisa membaca sebuah kitab suci dan mengerti isinya. Sangat berbeda ketika ia masih memeluk agamanya yang dulu. Ia mengungkapkan, ketika masih Katolik, ia tak memahami alkitab. ”Saya bahkan tak tahu apa yang saya baca,” ungkapnya.

Saat itu, ia hanya mendengarkan pastor melalui ceramah. Sementara ia harus mencerna apa yang dikatakan pastor, ia memiliki banyak pertanyaan tentang iman dan nilai-nilai ketuhanan. Pertanyaan mendasar yang selalu ada dibenaknya saat masih Katolik adalah ia harus melakukan pengakuan dosa. Ia selalu bertanya untuk apa semua pengakuan itu. Baginya aneh harus mengaku dosa ke seorang pastor. Michelle muda bertanya dalam hati, ”Tidakkah ia bisa melakukan pengakuan dosa langsung kepada Tuhan?”

Pertanyaan lain yang cukup mengusiknya adalah jika umat Nasrani tidak meyakini Yesus sebagai penyelamat, bagaimana dengan nasib umat nabi Ibrahim? Bagaimana dengan orang-orang yang mengikutinya sebelum Yesus datang, padahal Ibrahim adalah nabi yang memiliki banyak pengikut. Namun, gejolak pertanyaan itu tak pernah bisa terjawab. Semua itu membuatnya frustasi.

Kesederhanaan Islam membuatnya cepat memahami Alquran dan masuk Islam. ”Saya bisa mengerti apa yang saya baca,” ujar dia. Dari kitab suci itu, ia bisa mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan yang ada.

”Jika Anda memiliki pertanyaan ketika Anda mulai membaca Alquran dan entah bagaimana saat membuka lembaran mushafnya, semua jawabannya sudah ada.” Ia mengungkapkan Islam adalah agama yang mengobati semua penyakit hati.

Bagi Michelle, menemukan Islam adalah sebuah perdamaian yang tak terkira. Baginya, Islam telah membuat perbedaan yang paling luar biasa dalam hidup. Ia bahkan tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa ia bersyukur bisa mendapat hidayah untuk memeluk agama yang penuh kedamaian ini.

”Hubungan saya dengan Allah SWT tak bisa digambarkan.” Kini, setelah berproses, ia menjadi guru pertama sebuah Akademi Islam di Charlotte, Carolina Utara.

Baginya, belajar tentang Islam adalah seperti belajar bagaimana cara hidup sebagai manusia. ”Apapun pertanyaan yang dimiliki, semua sudah ada dalam Alquran dan hadis nabi. Bagaimana menghadapi masalah sehari-hari yang tidak dapat ditemukan dalam agama lain. Shalat baginya merupakan ibadah yang membuatnya tetap fokus.

”Agar dosa kita diampuni, kita harus melakukan shalat, untuk berpikir tentang orang-orang miskin kita berpuasa,” ujarnya. [republika].

Jakarta, 3 November 2018.

Vien AM.

Dikutip dari : https://osolihin.wordpress.com/2012/03/17/michelle-ashfaq-jatuh-cinta-pada-kesederhanaan-islam/

Ibrah Bani Israel

Kita semua pasti tahu kisah nabi Musa as dengan mukjizat tongkat dan laut Merahnya yang spektakuler. Kisah penyelamatan bani Israel dari kejaran pasukan penguasa Mesir Firaun yang dikenal kejam dan bengis ribuan tahun silam tersebut memang diabadikan tidak hanya didalam kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, tapi juga Taurat dan Injil.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (bani Israel), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):50).

Namun yang ingin dibahas kali ini adalah bagaimana kita menyikapi perlakuan buruk bani Israel setelah terlepas dari cengkeraman  maut sebagaimana ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):51).

Ayat di atas menceritakan tentang bani Israel yang menjadikan anak lembu sebagai sesembahan alias Tuhan mereka. Hal tersebut dilakukan ketika nabi Musa as sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Nabi Musa as hanya meninggalkan kaumnya selama 40 hari 40 malam. Namun sekembali dari “pertemuan” dengan Tuhannya tersebut, kaumnya sudah mengingkarinya. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan betapa hebatnya mukjizat yang diberikan nabi mereka hingga mereka bisa lolos dari maut yang berada di ujung tanduk.

Prilaku tersebut menunjukkan betapa umat nabi Musa tersebut sangatlah tercela, tidak tahu berterima-kasih. Lupakah mereka bahwa dibawah kekuasaan Firaun ribuan tahun silam nasib mereka benar-benar terpuruk?? Mereka diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan pernah suatu masa bayi-bayi lelaki harus dibunuh karena Firaun diberi tahu tukang sihirnya bahwa akan datang lelaki Yahudi merebut kekuasannya.

Allah swt, dalam ayat-ayat Al-Quran, banyak sekali menceritakan prilaku buruk bani Israel. Ini untuk mengingatkan kita, umat Islam, agar mengambil hikmahnya, agar tidak terperosok pada kesalahan yang  sama. Jadi bukan hanya sekedar mengolok-olok dan mengutuk bani Israel yang memang telah terkena kutukan-Nya tapi terlebih agar tidak meniru prilaku buruk mereka.

Sekarang mari kita amati bagaimana sikap kita ketika Allah swt memberi kita cobaan, apakah prilaku kita sama dengan bani Israel atau tidak??

Jumat, 28 September menjelang magrib, Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7.2 skala Richter. Tak lama tsunami setinggi lebih dari 10 meterpun datang menggulung wilayah Sulawesi tengah tersebut. Belum lagi guncangan dan amukan gelombang laut dasyat yang menghancurkan ribuan bangunan tersebut usai, bumipun ikut bereaksi.

Bumi tiba-tiba memuntahkan lumpur yang berada di isi perutnya dengan cara yang sungguh mengerikan. Sejumlah saksi yang selamat dari bencana menceritakan apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tanah seperti di blender, di putar, dikocok”, ujar seorang bapak. Sementara seorang ibu dengan penuh emosi mengatakan ”Seperti monster keluar masuk tanah menelan rumah, pohon dan apa saja yang ada di depannya”. Ada juga yang berkomentar “ Layaknya gelombang tsunami tapi bukan air laut melainkan tanah”, katanya bergidik.  Saksi lain juga menceritakan rumahnya berpindah sejauh 500 meter lengkap dengan pohon Mangga yang ada di halamannya.

Peristiwa mengerikan yang dikenal dengan nama fenomena pencairan tanah (likuifaksi) laksana pasir hisap ini menelan lebih dari 700 rumah di Perumnas Balaroa (Palu) dan ratusan rumah lainnya di perumahan di Petobo. Kawasan ini amblas sedalam 5 meter-an, menelan tidak hanya rumah tapi juga penghuninya.

Di lain pihak, sejumlah saksi menceritakan Palu beberapa tahun belakangan ini telah menjadi kota penuh maksiat seperti pelacuran, homoseksual, perjudian dll. Bahkan sekitar 4 bulan sebelum mala petaka terjadi, sebuah konferensi lgbt tingkat nasional diselenggarakan di kota tersebut. Tak tanggung-tanggung, konferensi yang dibuka mentri pariwisata tersebut juga dihadiri mentri agama Lukman Hakim yang memang terkesan melindungi kaum yang dilaknat sejak zaman nabi Luth ini.

“Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.

(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)“.

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):71-74).

Para pemuka agama tentu saja memprotes dan sudah berusaha mencegah konferensi tersebut tetapi tidak dapat berdaya atas alasan HAM. Penduduk juga menceritakan di Petobo hidup seorang raja judi kaya raya yang rumahnya ikut lenyap dalam tragedy tersebut. Hal mengenaskan tersebut mengingatkan mereka akan Karun, tokoh sombong kaya raya Mesir yang harta kekayaannya ditenggelamkan Allah swt.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.( Al-Qashash(28):81).

Lain lagi ceritanya dengan tsunami yang melanda pantai Talise Palu, membuat ambruk jembatan Kuning ikon Palu yang menghubungkan Sulawesi utara dan selatan serta menelan korban ribuan jiwa itu. Bencana datang menjelang dilaksanakannya festival Nomoni yang baru 3 tahun belakangan ini digalakkan kembali dengan judul “Maraton Internasional Palu”. Festival ini juga dimeriahkan dengan penampilan ritual Balia, yang merupakan bagian dari adat suku Kaili di Lembah Palu.

Ritual Balia adalah ritual permohonan kesembuhan bagi orang yang mempunyai sakit parah kepada arwah leluhur. Sesajen dan bau dupa mengiringi tarian yang membawa usungan orang yang sakit hingga puncak prosesi, yaitu penyembelihan kerbau. Darah kerbau yang disembelih itu menjadi simbol kesungguhan harapan atas kesembuhan.

https://www.benarnews.org/indonesian/slide-show/balia-ritual-pengobatan-masyarakat-kaili-01222016125749.html

Para ulama sudah berusaha mengingatkan agar ritual yang sarat kesyirikan tersebut tidak dihidupkan kembali. Tetapi dengan alasan untuk melestarikan adat dan budaya nusantara, pemerintah daerah menolak permohonan tersebut.

Kesyirikan tersebut tak jau berbeda dengan yang dilalukan bani Israel tak lama setelah lolos dari kejaran tentara Firaun ribuan tahun silam. Padahal penduduk Palu adalah rata-rata Muslim. Para ilmuwan mengatakan bahwa bencana yang melanda Palu dan sekitarnya adalah fenomena alam, yaitu karena Indonesia terletak di atas pertemuan beberapa lempengan yang ketika berbenturan menjadi penyebab gempa. Namun siapa yang kuasa menggerakan dan membenturkan lempengan-lempengan tersebut, dan mengapa harus Palu. Bukankah dari dulu letak Palu di atas lempeng-lempeng tersebut, tapi mengapa baru sekarang bencana terjadi??

Lebih menyedihkan lagi, dengan adanya sejumlah penjarahan yang terjadi tak lama paska bencana. Semoga pelakunya hanya para residivis yang lepas dari penjara karena penjara rusak terkena gempa.

Terlepas dari itu semua, penduduk daerah yang tidak terkena bencana, harusnya juga bersyukur tempat tinggalnya masih aman ditinggali. Terutama Jakarta yang sebenarnya sarat segala macam maksiat dan kesyirikan. Yang tampaknya hanya tinggal menunggu gilirannya saja. Kecuali bila penduduknya segera bertobat, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak perbuatan baik dan ibadah kepada-Nya. Lalu  Allah swt ridho menerima tobat tersebut.

Namun demikian ada juga hal yang kelihatannya sepele tapi sering sekali terjadi. Yaitu ketika seseorang dalam kesusahan, sakit misalnya. Ia berdoa secara sungguh-sungguh bahkan rela mengeluarkan ratusan juta rupiah demi kesembuhannya. Namun ketika Allah Azza wa Jalla sembuhkan dan dikeluarkannya dari kesulitan ia melupakan-Nya.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Yunus (10):12).

Semoga kita bukan orang-orang yang dimaksud ayat di atas. Semoga Allah swt jadikan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi sebagai orang-orang yang tahu diri, yang pandai berterima-kasih dan bersyukur serta mampu mengambil hikmah segala kejadian yang terjadi, baik yang di hadapan kita maupun di masa lalu, aamiin 3x yaa robbal ‘aalamiin …Jangan sampai Sang Khalik melupakan kita sebagaimana kita suka melupakan-Nya …  Na’udzubillah min dzalik ..

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. ( Terjemah QS.Thoha (20:126).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Oktober 2018.

Untuk menguatkan suatu hubungan biasanya orang membuat suatu kesepakatan yang disetujui ke dua belah pihak. Kesepakatan atau ikatan persetujuan tersebut biasanya dibuat secara tertulis lengkap dengan syarat, tanggung-jawab serta sebab akibat yang akan ditanggung jika salah satu dari pihak yang terkait melanggar persetujuan yang dibuat. Bahkan ada yang harus memakai materai. Tak jarang untuk menjadi sah tidaknya suatu kesepakatan, surat persetujuan harus dibuat didepan Notaris.

Demikian pula antara hamba yaitu manusia dengan Sang Pemilik yaitu Allah Azza wa Jala. Kesepakatan tingkat tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini terdiri dari 4 kesepakatan. Yaitu Kesepakatan Ruh, Kesepakatan Fitrah, Kesepakatan Akal dan Kesepakatan Amanah. Kesepakatan ini berlaku bagi semua manusia dari nabi Adam as sebagai manusia pertama hingga manusia terakhir yang dilahirkan ke dunia nanti. Baik para nabi, orang jahat, laki-laki, perempuan, apapun agama, bangsa dan rasnya.

1. Kesepakatan Ruh.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Al-Araf ayat 172 berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Kesepakatan Ruh dibuat ketika manusia masih berada di alam ruh sebelum lahir ke dunia. Itu sebabnya kita lupa bahwa kita pernah membuat perjanjian Tauhid tersebut. Perjanjian bahwa kelak ketika kita hidup di dunia akan tetap menyembah Tuhan Yang Satu, itulah Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Sang Pencipta Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

2. Kesepakatan Fitrah.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Ar-Rum ayat 30 berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Manusia ketika lahir ke dunia dalam keadaan bersih, jauh dari segala dosa termasuk dosa terbesar yaitu kesyirikan. Itulah fitrah/kodrat manusia. Namun dalam perjalanannya ia akan menjadi kotor tergantung sejauh mana ilmu dan amalnya. Itu sebabnya manusia harus selalu belajar dan menuntut ilmu agar tidak tersesat.

Sayangnya, kebanyakan manusia hanya belajar ilmu yang sifatnya keduniaan/materialistis, lalai terhadap kebutuhan jiwa dan ruhnya. Akibatnya ia lupa akan adanya kesepakatan Ruh yang pernah dibuatnya ketika masih di alam Ruh. Ini adalah tanggung-jawab utama kedua orang-tua yang melahirkan, merawat dan mendidiknya.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” ( HR. Bukahri dan Muslim).

Itu sebabnya, setelah dewasa setiap manusia harus mau belajar, berpikir tentang fitrahnya yang mungkin telah luntur bahkan hilang akibat orang-tua yang tidak memahami tugas dan tanggung-jawabnya. Yaitu dengan bertobat dan shalat sebagaimana lanjutan atas 30 surat Ar-Rum di atas.

 “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30): 31).

Shalat memang bukan monopoli ajaran Islam karena para nabi dan rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw pun mengajarkannya, meski mungkin tidak sama dengan shalat yang biasa dikerjakan umat Islam.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):43).

3. Kesepakatan Akal.

Kesepakatan ini adalah kesepakatan untuk menjadikan para rasul sebagai panutan dalam menjalani kehidupan di dunia. Ayat Al-Quran yang menuliskan kesepakatan ini sangat banyak jumlahnya, diantaranya adalah surat An-Nisa ayat 165 dan surat Al-Baqarah 285 berikut :

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):165).

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“.(Terjemah QS. Al-Baqarah (2):285).

Pada setiap masa Allah swt senantiasa menurunkan utusan-Nya, dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw, dengan membawa ajaran pokok Tauhid yaitu bahwa Tuhan adalah Satu, tidak beranak maupun diperanakkan. Melalui malaikat yang sama pula yaitu, Jibril as, para nabi dan rasul menerima ajaran-Nya.

Pada dasarnya ajaran tersebut hampir sama. Perbedaan hanya terletak pada tata cara yang diajarkan rasul masing-masing. Itu sebabnya kesepakatan ke 3 ini dibuat. Namun meski namanya Kesepakatan Akal tidak berarti akal adalah segala-segalanya. Karena yang dituntut kesepekatan tersebut justru memuliakan para nabi dan rasul di atas akal. Karena akal sering kali mudah kalah oleh syaitan yang merupakan musuh abadi manusia.

Untuk itu Allah swt mewajibkan umat Islam untuk selalu membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya, yang didalamnya terdapat ayat 6 dan 7 sebagai berikut :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang DIMURKAI dan bukan (pula jalan) mereka yang SESAT”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud “DIMURKAI” dalam ayat di atas adalah umat Yahudi sedangkan yang “SESAT” adalah umat Nasrani. Mengapa demikian??

Umat Yahudi disebut umat yang dimurkai karena mereka berakal tapi tidak beramal kebajikan. Rata-rata orang Yahudi bukan saja memahami kitab Taurat mereka, tapi juga Al-Quranul Karim. Bahkan hadistpun mereka percayai. Sayangnya mereka hanya merasa cukup mempercayainya tapi tidak mengamalkannya. Mereka bahkan sangat suka berbuat jahat diantaranya membunuhi para nabi.

“ … … Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):46).

Sementara umat Nasrani mereka banyak berbuat kebaikan tapi tanpa ilmu. Diantaranya keyakinan  bahwa Tuhan adalah tiga sebagaimana diabadikan ayat 73 surat Ali Imran berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Itu sebabnya kita, umat Islam senantiasa diingatkan agar jangan  meniru keduanya. Umat Islam harus berprinsip “Sami’na wa atho’na” ( kamu dengar dan kami patuh)”, yaitu berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut dengan meniru apa yang dicontohkan rasulullah. Itulah Sunnah Rasul atau yang biasa juga dinamakan Hadist.

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

4. Kesepakatan Amanah atau Kesepakatan Mengemban Amanah.

Kesepakatan ini tertulis di dalam ayat 72 surat Al-Ahzab berikut:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena amanat yang enggan ditrima oleh langit, bumi dan gunung-gunung itu amanat yang teramat sangat berat. Amanat tersebut yaitu menjadi khalifah di muka bumi, khalifah yang adil yang mampu ber-a’mar ma’ruf nahi mungkar, berbuat kebaikan dan menolak kemungkaran. Dan bila tidak mampu dan tidak mau bertobat azab adalah balasannya!

“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):73).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 September 2018.

Vien AM.

Iman Yang Lemah

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Terjemah QS. Al-Hujuraat(49):10).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR.Bukhari).

Ayat dan hadist mengenai persaudaraan sesama Muslim sangatlah banyak. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mengaku Muslim namun tidak mengamalkannya. Mereka bukan saja tidak menyayangi sesama saudara/i nya tapi bahkan tega mendzaliminya. Ada apa dengan Muslim di negri yang katanya mayoritas Muslim ini  Tidakkah lagi Al-Quran dan As-Sunnah dijadikan pegangan dan pedoman hidup? Padahal menurut catatan Indonesia termasuk pencetak hafidz dan hafidzah terbaik dunia. Apakah Al-Quran hanya dijadikan hafalan atau malah sekedar pajangan di lemari saja ?  Sungguh menyedihkan …

Paska pelecehan ayat 51 Al-Maidah yang dilakukan Ahok tahun 2016 lalu kedzaliman terhadap para ulama makin hari makin meningkat saja. Mulai dari pencegatan ulama di bandara, sertifikasi ulama yang kental keberpihakan, peraturan adzan yang berlebihan hingga ancaman dan penyerangan terhadap ulama baik secara psikis maupun fisik. Anehnya lagi perbuatan busuk tersebut seolah dibiarkan saja oleh aparat, tidak ada tindakan hukum berarti yang mampu membuat si pelaku jera. Yang lebih menyakitkan hati lagi perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian umat Islam sendiri! Astaghfirullahaldzim …

Ustad Abdul Somad atau UAS, adalah salah satu ulama yang beberapa kali menjadi korban kedzaliman tersebut. Ulama kondang kelahiran Asahan Sumatra Utara lulusan universitas Al-Azhar dan universitas di Moroko ini terpaksa membatalkan sejumlah kajiannya di Jawa Tengah baru-baru ini karena adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu. Beredar alasan ditolaknya UAS karena isi ceramah UAS selama ini dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah, tidak Pancasilais bahkan anti NKRI. Benarkah demikian??

http://jambiindependent.com/read/2018/09/04/28310/dpd-anggap-kasus-ancaman-pada-ustad-abdul-somad-sudah-kelewatan/

Dalam sebuah wawancara televisi, Ketua PP GP Ansor Korwil Jawa Tengah. Mujibrurrohman, mengatakan bahwa pihaknya mencurigai ceramah UAS ditunggangi oleh HisbuTahir Indonesia (HTI) yang dibekukan kegiatannya beberapa waktu lalu oleh pemerintah, dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal tersebut kembali ditegaskan malam ini oleh petinggi NU yang diwawancarai oleh seorang reporter televisi swasta.

“Dari sisi atribut yang dipakai oleh krunya.sebelum datang itu kan ada krunya yang menyiapkan itu dari sisi atributnya sudah menggunakan atribut HTI. Ada beberapa orang.ada bendera “La Ilaha IllAllah Muhammad Rasullullah” di topinya, di bajunya”, terang Mujiburrohman.

https://www.portal-islam.id/2018/09/miris-kata-ansor-indikasi-uas.html

Benarkah topi, baju dengan tulisan kalimat tauhid bisa diartikan begitu saja sebagai pendukung/simpatisan HTI?? Syukur Ahamdulillah pertanyaan tersebut dijawab langsung “Tidak Bisa” secara tegas oleh humas irjen kepolisian dalam acara yang sama.

Menentukan bahwa suatu acara/dakwah berbahaya atau tidak apalagi kemudian membatalkannya adalah wewenang mutlak polisi bukan ormas apapun”, imbuhnya.

“Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ada pertanyaan mengapa UAS tidak melaporkan saja langsung ke yang berwenang? Jangan lupa ulama kondang tersebut bukan sekali ini dipersekusi. Pada persekusi sebelumnya UAS pernah melapor tadi tidak ditindak lanjuti. Persis seperti laporan para ulama lain yang pernah mengalami hal yang sama.

Perseteruan antar ormas Islam, termasuk jamaah fanatik butanya, bukan rahasia lagi memang kerap terjadi. Uztad Adi Hidayat (UAH) mengalaminya beberapa hari setelah tragedi UAS. Ia diteriaki seorang jamaah Majils Ta’lim (MT) hanya karena dianggap merebut jadwal MT kelompoknya. Na’udzubillah min dzalik … Ada apa dengan umat Islam negri ini???

Bukankah seharusnya kita saling mengingatkan bila ada saudara/i kita yang melakukan kesalahan, bukan malah menghujatnya. Tidak patut suatu kelompok merasa paling benar dan lebih baik dari kelompok yang lain hingga seenaknya mengolok-olok kelompok lain. Sebaliknya yang bersalah juga mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Alangkah baiknya bila tiap orang, tiap kelompok mau terus belajar, mengkaji ulang dan meningkatkan pengetahuannya, tidak keras kepala mempertahankan pengetahuan, hanya karena ikut-ikutan atau karena menuruti ajaran nenek moyang yang belum tentu kebenarannya …

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.”(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):170).

Contoh lain adalah kasus seorang perempuan di Medan yang memprotes suara adzan yang dianggapnya terlalu nyaring. Adzan yang diprotesnya tersebut berkumandang di lingkungan tempat tinggalnya. Protes yang dilakukan secara kasar dan sinis tersebut akhirnya mengakibatkan kerusuhan yang tidak dapat dihindarkan. Setelah 2 tahun berlalu akhirnya pengadilan memutuskan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan bagi perempuan tersebut.

Hukuman dijatuhkan sebagai bagian dari pasal penghinaan dan pelecehan terhadap umat agama lain. Tujuannya agar rakyat dapat lebih saling menghargai. Protes bukannya dilarang, tapi bila dilakukan secara baik-baik, dengan alasan yang masuk akal serta tidak menyinggung perasaan umat agama lain tentu akan berbeda halnya.

http://soksinews.com/berita/detail/24485/-din-syamsuddin-protes-adzan-bisa-dilakukan-dengan-baik-

Tapi tak lama setelah itu sejumlah orangpun beramai-ramai membully keputusan pengadilan tersebut. Ironisnya, para pembully adalah orang-orang yang mengaku Muslim. Coba bandingkan bila kejadiannya di Bali. Datang seorang Muslim ke rumah ibadah umat Hindu sambil marah-marah memprotes sesajen yang banyak tersebar di sepanjang tempat dan jalan. Ketika ia dijatuhi hukuman, akankah mereka melakukan hal yang sama???

Perseteruan, perselisihan dan pertengkaran di dalam tubuh umat Islam sudah pasti terbaca umat lain yang tidak menyukai Islam berkembang dengan baik. Dan inilah yang terjadi. Mereka segera memanfaatkan hal tersebut.

Adalah pulau Lombok yang selama bulan Agustus yang baru lalu, secara bertubi-tubi mendapat cobaan berat dari Allah swt. Gempa berkekuatan 7 skala Richter disusul ratusan gempa yang yang tak kalah dasyatnya terus menghantam pulau berjulukan Seribu Masjid tersebut. Korbanpun berjatuhan hingga 400 orang korban meninggal, ribuan luka berat dan ringan serta meninggalkan trauma mendalam, terutama anak-anak.

Bantuan segera datang dari berbagai pihak, perorangan maupun ormas. Namun sayangnya pada saat sebagian besar relawan Muslim sedang mengalami kelelahan, datang ormas non Islam yang memanfaatkan bantuan sebagai jalan untuk menyebarkan keyakinannya. Padahal jelas hukumnya, tidak diperbolehkan mendakwahkan agama dan kepercayaan di daerah yang sudah berbasis agama lain. Bukan rahasia lagi Lombok adalah rumah kaum Muslimin.

Namun yang lebih menyedihkan lagi, ketika para relawan Muslim berusaha mencegah Kristenisasi yang dilakukan mereka, justru penduduk setempat yang marah dan kesal. Lucunya lagi seorang mahasiswa yang merekam kejadian tersebut untuk dijadikan bukti Kristenisasi justru diamankan aparat.

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak dapat dipungkiri bantuan ormas Nasrani yang kabarnya didukung Vatikan memang jauh melebihi bantuan ormas-ormas Muslim. Tapi lupakah bahwa sebagai Muslim, pertolongan hanyalah milik Allah Azza wa Jala?? Dan lagi jangan lupakan kerja keras relawan Muslim kita yang ada hingga meninggal karena berbagai penyebab, seperti tertimpa reruntuhan bangunan, kelelahan dan sakit.

Dan lagi apa arti segala bantuan tersebut dibanding harga sebuah keimanan? Seperti juga pembangunan infrastuktur besar-besar bagai rumah yang mewah namun penghuninya tidak merasa aman, nyaman dan tentram, yang setiap hari gontok-gontokan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):214).

Ini saatnya kita harus bersatu, saling bahu membahu menguatkan barisan. Selama masih memegang teguh kalimat tauhid dan dalam ikatan Ahlusunnah Wal Jamaah, mau NU, Muhammadiyah, Persis, DDI, FPI, Salafi dll kita adalah bersaudara dan harus berkasih sayang sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath[48] : 29).

Jangan seperti sekarang ini, antar Muslim berseteru sementara terhadap orang kafir justru berkasih sayang. Terhadap sesama Muslim tidak peduli dan tidak mau saling menolong. Sementara terhadap non Muslim walaupun melakukan kesalahan tetap dibela dan dilindungi tanpa peduli telah menyakiti saudaranya sesama Muslim.

Toleransi dan ide bahwa semua agama adalah sama yang di gembar-gemborkan JIL dan antek-anteknya tampaknya memang sengaja dikembangkan pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hasilnya, jumlah Muslim yang tadinya di atas 90 % sekarang hanya tinggal 76 % !!!

https://www.kaskus.co.id/thread/5ae90af292523386538b4568/populasi-umat-muslim-di-indonesia-tinggal-76-persen/

Tidakkah kita menyadari bahwa slogan-slogan seperti “ Lebih baik pemimpin Kafir daripada Muslim tapi korupsi”, “ Politik itu Kotor” dll adalah cara-cara busuk yang dikembangkan musuh-musuh Islam agar umat Islam malu, alergi dan tidak peduli dengan agamanya ?? Dimana ghirah ( rasa cemburu) umat Islam dalam membela agama yang dilecehkan??

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 September 2018.

Vien AM.

wahyu_soeparno_putroAwalnya, suara adzan Subuh adalah “musuh” bebuyutan Wahyu Soeparno Putro. Ia merasa, suara itu sangat terganggu tidurnya. Namun siapa nyana, suara adzan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf — seorang pemeluk Islam.

Sepenggal kesaksian spiritual itu seperti tak pernah bisa dilupakan pada ingatan lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963. Termasuk ketika berbincang santai kepada Republika yang menemuinya di sela-sela kesibukannya melakoni syuting sebuah program televisi di Jakarta, Senin (4/6) lalu.

Kenangan itu ibaratnya telah menjelma menjadi semacam sebuah napak tilas spiritual tertinggi bagi pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith. Ia antusias — walau kadang dengan berkaca-kaca — menceritakan kisah yang dilaluinya sekitar 12 tahun silam. Tepatnya, sekitar pada 1999 atau lima tahun setelah pengelanaannya ke Yogyakarta. Dale saat itu datang ke Yogyakarta dari Australia untuk mencari nafkah dari perusahaan kerajinan yang memekerjakan sedikitnya 700 karyawan.

Di Kota Gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita Dale ini kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno.

Rumah Soeparno ini letaknya hanya sepelemparan batu saja ke arah masjid. Karena tak jauh dari masjid, tak mengherankan kalau setiap pagi suara adzan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Dale selalu terbangun di pagi hari.

Bahkan setelah menetap cukup lama di rumah Soeparno itu, dia selalu terbangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ”Ini yang membuat saya heran,” katanya. ”Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.”

Di tengah proses menemukan ‘hidayah’, Dale yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun itu kemudian mulai banyak bertanya-tanya tentang Islam. Hal-hal sederhana tentang Islam seperti sholat sampai puasa menjadi pertanyaan yang mengusik batinnya. Terkadang ia pun tak sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekannya yang menganut Islam.

Pergaulan yang kian terjalin akrab dengan lingkungan Yogya itu ternyata melahirkan pula sebuah sikap toleransi beragama pada diri Dale. Ketika Ramadhan tiba dan rekan-rekannya berpuasa, dia seakan terpanggil untuk ‘ikut-ikutan’ berpuasa. ”Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,” kata dia. ”Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata sudah full hingga puasa tahun kemarin,” sambungnya dengan penuh bangga.

Eksperimentasi dalam menjalani ibadah puasa maupun rutinitas bangun pagi menjelang adzan Subuh itu kemudian memberikan pula semacam perasaan tenang yang menjalar di dalam diri Dale. ”Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,” katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia.

Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustad bernama Sigit. Ustad ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno.

”Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,”Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu’,” kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit.

Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ”Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,” kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ”Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,” ujarnya lagi. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustad itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora.

Di saat hasrat di dalam diri semakin ‘merasa’ Islam, Dale kemudian bertanya pada Soeparno. ”Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,” kata dia kepada Soeparno. ”Tetapi bagaimana caranya,” sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.

Lantas tidak membutuhkan waktu lama lagi, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi ‘hijrah’ itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap “mengganggu” tidurnya…. (akb/riol )

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Biodata

Dale Andrew Collins-Smith
Nama sekarang: Wahyu Soeparno Putro
Lahir : Skotlandia, 28 Juli 1963
Pendidikan:
Centre for the Performing Arts (Adelaide Australia)
Victorian College of the Arts (Melbourne Australia).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 September 2018.

Vien AM.

Dicopy dari:

https://kisahmuallaf.wordpress.com/2012/05/05/wahyu-soeparno-putro-adzan-subuh-pengganggu-tidurnya/