Feeds:
Posts
Comments

Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah adalah sahabat dari golongan Al-Sabiqun Al-Awwalun‎ (orang-orang terdahulu yang pertama kali memeluk Islam) dari kaum Muhajirin. Keduanya berasal dari keluarga terpandang Quraisy, yang sampai akhir hayatnya tetap dikenal sebagai orang kaya raya berkat bakat dagang yang dikaruniakan Allah swt. Mereka adalah Pebisnis sukses, kata orang zaman sekarang.

Abdurrahman dan Thalhah dilahirkan dan tumbuh di lingkungan kota Mekah pada masa kejahiliyahan meraja lela. Pada saat itu penyembahan berhala, kebiasaan minum khamar, perzinahan, para perempuan mengumbar aurat, anak perempuan dikubur hidup-hidup, mengundi nasib, sistim riba, balas dendam dll adalah sesuatu yang biasa.

Namun pada saat datangnya Islam, Allah swt memudahkan Abdurrahman dan saudara-saudaranya untuk bersegera menjadi pengikut setia Rasulullah saw. Usia Abdurrahman ketika itu 30 tahun. Itu semua berkat ajakan Abu Bakar Siddiq, sahabat nabi sejak kecil yang langsung beriman begitu nabi memberitahukan Kerasulannya. Abu Bakar ketika itu memang dikenal sebagai orang sukses, kaya raya, didengar dan dipercaya baik karena akhlak maupun kejujurannya dalam berdagang.

Demikian pula Thalhah yang ketika itu baru berusia 16 tahun. Ia memeluk Islam berkat Abu Bakar. Namun sebelumnya ia pernah mendengar berita tentang datangnya seorang nabi baru.  Ketika itu ia sedang di Syam mengikuti kafilah dagang. Tiba-tiba seorang rahib mendatangi kafilahnya dan menanyakan apakah mereka sudah mendengar berita kedatangan seorang nabi dari semenanjung Arabia. Nabi tersebut bernama Ahmad. Sang rahib menyarankan agar mereka segera mengikutinya. Itu sebabnya begitu Thalhah kembali ke negrinya ia langsung mendatangi Abu Bakar untuk menanyakan hal tersebut.

Maka sejak itu, baik Abdurrahman maupun Thalhah, bersama sahabat yang waktu itu baru berjumlah 40 orang selalu mengikuti majlis nabi, mulai dari Al-Arqam yang merupakan majlis pertama umat Islam, hingga wafatnya Rasulullah di Madinah. Keduanya juga tercatat tidak pernah ketinggalan dalam berbagai perang baik selama hidup Rasulullah maupun setelahnya.

Seperti juga rata-rata sahabat, Abdurrahman dan Thalhah dikenal sebagai orang yang tawadhu. Meski mereka kaya raya dan sibuk dengan perniagaan, rasa takut, harap dan cinta kepada Sang Khalik tetap tertanam kuat di dalam hati sanubari mereka. Mereka menginfakkan sebagian besar kekayaan mereka untuk membebaskan budak dan berbagai kebutuhan umat demi kemajuan Islam. Tak heran bila Rasulullah menyebut kedua sahabat tersebut sebagai 2 dari 10 sahabat nabi yang telah dijanjikan surga.

Paska wafatnya Rasulullah Abdurrahman bahkan pernah menduduki posisi tinggi sebagai calon khalifah menggantikan Umar bin Khattab yang terbunuh. Namun ia menarik diri demi memberi kesempatan Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk bertarung. Sementara Thalhah yang mempunyai julukan Perisai Rasulullah berkat sepak terjangnya dalam melindungi Rasulullah dalam perang Uhud hingga harus menerima 70 tusukan tombak di lengannya, merupakan satu dari penasehat khalifah. Thalhah wafat sebagai mujahidin dalam perang Jamal yang sarat muatan politik.

Namun kisah menarik yang akan dipaparkan di bawah ini adalah kisah perselisihan antara keduanya yang sangat patut kita jadikan keteladanan. Alkisah Abdurrahman dan Thalhah mempunyai sebidang tanah yang letaknya bersebelahan. Suatu hari Abdurrahman bermaksud mengairi tanahnya lewat tanah Thalhah. Tapi oleh suatu sebab Thalhah tidak mengizinkannya. Abdurrahmanpun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Namun apa jawaban Rasulullah ?

“Bersabarlah, Thalhah adalah seseorang yang telah wajib baginya surga”.  

Abdurahmanpun menahan diri. Ia lalu mendatangi Thalhah dan mengabarkan apa yang disampaikan Rasulullah.

“Wahai saudaraku, apakah harta ini sampai membuatmu mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?!?”, tanya Thalhah.

“Tadinya memang begitu”, jawab Abdurahman tersipu.

“Aku bersaksi kepada Allah, dan kepada Rasullulah  bahwa harta itu menjadi milikmu wahai saudaraku”, seru Thalhah kemudian.

Masya Allah …  Padahal Abdurrahman ketika itu sedang kesal. Tapi dengan besar hati ia tetap menyampaikan berita gembira bagi orang yang telah membuatnya kesal. Sementara Thalhah begitu menerima kabar gembira langsung menghadiahkan tanah yang sebelumnya untuk dilewati airnya saja tidak rela.  Begitulah sahabat mengakhiri perselisihan, alangkah indahnya …

Dari kisah diatas dapat disimpulkan :

  • Pengikut awal Rasulullah bukan melulu orang-orang lemah, miskin dan tertindas, seperti yang selama ini digembar-gemborkan.
  • Untuk menjadi ahli surga tidak cukup hanya sebagai ahli ibadah. Ke 10 sahabat yang dijanjikan surga dalam hadist, selain ahli ibadah mereka sangat peduli kepada nasib dan masa depan umat Islam. Termasuk dalam hal kepemimpinan, untuk memilih maupun dipilih. Dengan penuh ikhlas mereka mempertaruhkan jiwa dan harta mereka.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.( Terjemah QS. At-Taubah (9):100).

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Untuk diingat, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali adalah khalifah terbaik sepanjang sejarah dunia.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 15 April 2018.

Vien AM.

Advertisements

Husnul Khotimah

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”. (Terjemah QS. An-Anbiya (21):35).

Mati adalah suatu kepastian yang tidak mungkin dielakkan manusia, apapun suku, ras, bangsa, agama, laki-laki ataupun perempuan. Dan semua Muslim pasti ingin ketika meninggal nanti dalam keadaan husnul khotimah, yaitu dalam keadaan terbaiknya. Itulah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Terjemah QS. Al-Fajr (89):27-30).

“ … Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. An-Nahl: 31-32).

Itu sebabnya ketika ada anggota keluarga, kawan atau kerabat yang “dipanggil menghadap” Sang Khalik, doa yang dipanjatkan sering kali adalah “semoga husnul khotimah”.

Lawan dari husnul khotimah adalah su’ul khotimah, yaitu dalam keadaan terburuknya. Itulah jiwa khomisa atau jiwa yang marah/gelisah. Su’ul khotimah akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang meninggalkan kewajiban bahkan berani melakukan dosa-dosa besar. Yang hingga ajal menjemput tidak sempat bertaubat.

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);

“Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu”. (Terjemah QS.Ah-Nahl(16):28-29).

Masalahnya Sang Khalik me-wafatkan hamba-Nya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, juga tanpa harus sakit atau menunggu tua. Betapa seringnya kita mendengar berita orang meninggal dalam usia muda, sehat pula. Jadi tidak ada jalan bagi kita selain harus selalu menyiapkan diri.

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad hasan).

Berkata Ibnul Qayyim: “Sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai  ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi”.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan  diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir”.

Artinya, orang yang suka dan terbiasa berbuat maksiat akan diwafatkan dalam keadaan yang disukainya itu, yaitu ketika bermaksiat. Sebaliknya, orang yang suka dan terbiasa beramal kebajikan akan diwafatkan dalam keadaan tersebut.

Dengan kata lain, kesiapan itu harus dimulai sedini mungkin. Sekalipun hanya kalimat ‘La ilaaha illallah’ yang kelihatannya sangat mudah. Karena kebiasaan itu tidak datang secara tiba-tiba melainkan harus dilatih, bukan sekedar ucapan di mulut tapi juga di hati, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Dalam ayat 27 surat Al-Fajr diatas, disebutkan “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. Apa yang maksud di “ ridhoi-Nya”?

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):69).

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Terjemah QS. Ar-Rad(13):28).

Al-Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa suka bertemu dengan Allah, maka Allahpun suka bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allahpun benci bertemu dengannya”

Begitulah yang dimaksud di-ridho Allah swt. Lalu dipersilahkannnya orang-orang tersebut masuk ke surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung akhirnya”. (Shahih, HR. ibnu Hibban)..

Hadist di atas menunjukkan bahwa kita harus senantiasa hati-hati, istiqomah dalam menjalani kebaikan, hingga ajal menjemput. Karena sebaik apapun amal ibadah kita, bila Allah swt membalikkan hati kita di akhir hayat nanti, sungguh celakalah kita.

Dan sebagaimana tubuh yang harus dijaga kesehatannya, demikian pula hati kita. Yaitu dengan terus hadir di majlis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, senantiasa ber-dzikir dan bermunajat kepada Allah swt agar ridho diberikan akhir yang baik. Tidak sepatutnya urusan dunia mengalahkan urusan akhirat. Urusan dunia tidak akan ada habisnya bila kita terus mengikuti nafsu dan selalu memandang ke atas.

Tengoklah mereka yang hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan hingga tidak mempunyai waktu untuk beribadah. Sebaliknya alangkah ruginya orang-orang sukses, kaya raya tapi tidak mau menyempatkan diri untuk kepentingan akhirat-Nya. Karena susah senang, sakit sehat, sukses atau tidak sukses, sejatinya hanyalah cobaan. Nikmat hidup tidak seharusnya hanya dihitung dari harta benda tapi keberkahan dan keridhoan dari Sang Khalik jauh lebih berharga.

Berikut karakter jiwa yang tenang menurut Ibnu Abbas :

  1. Yang senantiasa membenarkan ke-Esa-an Allah swt. ( QS.Al-Ikhlas(112):1)
  2. Yang penuh syukur, tidak serakah. ( QS. Ar-Rahman, QS. Lukman (31:12).
  3. Yang selalu sabar terhadap ujian Allah swt. (QS. Al-Baqarah(2):45,153), Ali Imran(3):186), Al-Ankabut (29):59) dll.
  4. Yang ridho atas takdir Allah swt. ( QS.Yasin (36):43).
  5. Yang merasa cukup/puas dengan pemberian Allah (qonaah).

”Ridholah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (HR Turmudzi).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 April 2018.

Vien AM.

 

Bagai Buih Di Lautan.

Dalam hadis Sahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah meminta Hassan bin Tsabit untuk membuat syair membalas syair orang musyrik yang menyerang nabi, bahkan nabi mendoakan agar jibril membantu Hassan bin Tsabit, ‎Rasulullah berkata,

“Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Jibril!”.

Itulah yang terjadi hari ini. Umat Muslim berbondong-bondong membuat puisi umtuk membalas puisi yang dibuat Sukmawati, putri presiden RI pertama Soekarno, yang juga adik Megawati presiden ke 4 republik ini. Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ itu dibuat dan dibacakan oleh Sukmawati dalam acara Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Jakarta. Melalui puisinya ketua PNI Marhaenisme ini mengatakan bahwa ia tidak tahu apa itu syariat Islam, konde lebih indah dari cadar dan kidung lebih merdu dari pada azan.

Sudah barang tentu puisi provokatif tersebut memancing emosi sebagian besar umat Islam di bumi pertiwi ini. Tidak hanya mereka yang biasa menulis puisi yang membalas puisi tak etis tersebut tapi juga uztad Felix Siauw dan beberapa uztad lain.

http://www.riau24.com/berita/baca/87355-ini-balasan-puisi-ibu-indonesia-sukmawati-soekarno-putri-oleh-ustaz-felix-siauw/

Islam di negri tercinta, terutama sejak adanya kasus Ahok di Pulau Seribu tahun 2016 lalu, terus saja diobok-obok. Segala macam cara terus diupayakan untuk mengolok-olok dan memojokkan ajaran yang dibawa rasulullah Muhammad saw 14 abad silam tersebut. Ironisnya, perbuatan fitnah tersebut tidak hanya dilakukan oleh musuh-musuh Islam namun juga oleh mereka yang mengaku Muslim.

Islamophobia yang selama ini menyerang dunia Barat rupanya juga telah berhasil menyerang Muslim di negri kita tercinta Indonesia. Mereka yang kurang kuat aqidah tampaknya adalah korban yang paling rentan. Isu Arabisasi dengan mudah masuk ke kepala mereka. Segala yang dianggap kearab-arab-an mereka kecam dan hina.

Kata-kata Arab seperti “akhi”, “ukhti”, “ umi”, “abah”, “syukron, “jazakillah” dll bagi mereka tidak pantas di ucapkan di negri ini. Sementara “ dear”, “sis”, “bro”, “mama”, “papa”, “thank you” dll, adalah kata yang amat sangat pantas diucapkan. Demikian juga celana jins, rok dan baju mini yang mereka anggap lebih Indonesia dari pada gamis. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana ajaran Islam mana adat Arab. Termasuk dalam hal menutup aurat yang merupakan perintah Sang Khalik.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):59).

Di UIN Yogyakarta, dengan alasan radikalisme, berwacana melarang cadar di lingkungan kampus. Padahal seperti apa yang dikatakan wakil ketua umum MUI Zainul Tauhid, radikalisme tidak bisa diukur hanya melalui simbol-simbol, seperti cadar, celana cingkrang (isybal), jenggot dll. Perbedaan pendapat dalam Islam adalah hal yang wajar, harus diterima bahkan disyukuri, selama masih dalam koridor aqidah yang lurus. Membesar-besarkan perbedaan yang tidak mendasar justru akan menimbulkan perpecahan yang pasti akan merugikan umat Islam sendiri.

https://www.liputan6.com/news/read/3356821/mui-minta-larangan-cadar-di-uin-yogya-tak-pecah-belah-umat-islam

Dari Ibnu Umar, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Lucunya lagi ketika beredar foto seorang Muslimah bercadar memeluk anjing, ntah siapa awalnya yang mengedarkan foto tersebut, pujianpun keluar berhamburan. Disiarkan, secara berulang-ulang, bahwa Muslimah tersebut berhati mulia karena mau menolong dan merawat anjing gelandangan, tak tanggung-tanggung, 11 ekor pula. Meski ternyata salah satu anjing tersebut adalah jenis Siberian Husky yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tak salah bila kemudian banyak yang berpendapat bahwa hal itu adalah rekayasa untuk mendiskreditkan Islam.

Umat Islam apalagi bila ia telah berani bercadar, pasti tahu bahwa ludah anjing adalah najis yang memerlukan ritual khusus untuk menghilangkannya sebelum seseorang yang terkena mengerjakan shalat. Adalah tugas kaum Muslimin untuk mengingatkan saudarinya yang khilaf bukan malah menjerumuskannya dengan memuji-mujinya.

Dari Ibnu Umar: “Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berburu dan bertani, akan dikurangi dari pahalanya tiap hari sebanyak dua qirath. (HR. Muslim).

Sementara ketika jamaah Kristiani bernyanyi bersama di gereja dengan jilbab panjang menutup hingga dada, tak ada satupun komentar muncul sebagai bagian dari Arabisasi. Jilbab, sejatinya memang bukan hanya ajaran Islam, tapi juga Kristen dan Yahudi. Namun selama ini yang taat memakainya hanya para biarawati. Ntah sejak kapan yang bukan biarawatipun kini mengenakannya.

Yang pasti penghinaan terhadap simbol-simbol Islam belakangan ini, tanpa mengindahkan nilai-nilai agama, moral dan tolerasi, atas dasar hak asasi seakan mendapat legitimasi dari penguasa. Laporan ke pihak kepolisian jika merugikan umat Islam tidak ditanggapi serius. Dengan dalih rasululah adalah seorang yang pemaaf, umat Islam dituntut untuk selalu memaafkan mereka yang telah seenaknya menghina dan mengolok-olok Islam dan syariatnya.

Padahal rasulullah amat sangat pemaaf ketika beliau pribadi yang diserang dan diolok-olok, tidak ketika ajaran Islam dipermainkan. Tentu kita tidak lupa bagaimana murkanya rasulullah ketika mendapat kabar bahwa surat yang dikirimkan beliau kepada raja Kisra dirobek-robek, hingga rasulullah berdoa dan memohon kepada Allah swt agar raja Persia tersebut dilaknat-Nya.

Juga ketika mengetahui seorang Muslimah dipermalukan oleh orang-orang Yahudi Qainuqa hingga mengakibatkan pertengkaran dan syahidnya seorang sahabat karena membela saudarinya. Maka sebagai kelanjutannya rasulullahpun memerintahkan bani Yahudi tersebut untuk hengkang dari kota Madinah, untuk selamanya.

Sukmawati memang akhirnya meminta maaf. Namun hukum harus tetap ditegakkan sebagai peringatan agar orang tidak seenaknya melecehkan ajaran agama. Permintaan maaf dan penyesalannya tentu dapat dijadikan peringan kesalahannya.

“Dan apabila kamu memanggil untuk shalat ( adzan), mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):58).

Apa yang terjadi hari ini sebenarnya buah dari tidak tegas dan tebang pilihnya pemberlakuan hukum. Tengok apa yang dilakukan Ade Armando, dedengkot JIL yang juga dosen UI, yang sudah sering dilaporkan atas tindakannya yang sering menyakitkan hati umat Islam. Merasa dirinya kebal hukum, dengan santainya ia mengomentari puisi kontroversial Sukmawati,

Azan tidak suci. Azan itu cuma panggilan untuk sholat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah…“, cuitnya melalui Twitter.

http://yesmuslim.blogspot.co.id/2018/04/dosen-komunikasi-ui-ade-armando-azan.html

Simak pula penggalan puisi karya Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dibacakan Gubernur Jawa Tengah dari partai PDIP Ganjar Pranowo pada sebuah acara sebagai berikut : Kau ini bagaimana. Kau bilang Tuhan sangat dekat. Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.

https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2018/04/07/puisi-ganjar-pranowo-singgung-azan-netizen-ramai-ramai-protes/

Bila hal seperti ini terus dibiarkan ntah apa yang akan terjadi terhadap nasib ke-Islam-an anak cucu kita di kemudian hari nanti. Prof Dr Yusril Mahendra dalam sebuah khutbahnya mengingatkan bahwa sejak berkuasanya rezim ini banyak ritual Islam yang telah dihilangan, diantaranya adalah peringatan Nuzulul Quran dan Isra Miraj. Padahal sejak pemerintahan Soekarno, Soeharto hingga SBY Nuzulul Quran selalu diperingati di Istana Negara, sedangkan Isra Miraj di Mesjid Istiqlal. Kedua acara tersebut dihadiri presiden dan sejumah duta- besar  negara sahabat.

Demikian juga dengan tradisi menabuh beduk di Monas pada malam Idul Fitri atau Idul Adha yang telah dihapuskan sejak Ahok menjabat sebagai gubernur DKI.

Dengan itu Yusril mengingatkan bahwa memang ada rencana secara sistimatis untuk melemahkan peran Islam dibumi Indonesia, setahap demi setahap, tanpa ada yang menyadari apalagi mempersoalkannya.

Ini masih ditambah dengan prilaku menyimpang homoseksual sebagian masyarakat yang katanya mayoritas Islam, yang makin merajalela.  UU warisan kolonial Belanda memang tidak mengatur hal tersebut secara tegas. Namun kini ketika ada wakil rakyat yang masih memiliki nurani bermaksud mengajukan ruu untuk menyikapi fenomena biadab tersebut, ternyata ada yang tidak suka. Na’udzubillah min dzalik.

Sungguh apa yang dikatakan rasulullah bahwa di akhir zaman nanti kaum Muslimin hanya seperti buih mulai memperlihatkan kebenarannya. Ini saatnya kita harus bangkit dan berjuang melawan kedzaliman. Jangan biarkan kita atau keluarga kita adalah buih tersebut. Buih yang bukan hanya tidak bermanfaat tapi bahkan merusak!

buih-di-lautanRasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 April 2018.

Vien AM.

 

Curahan Hati Imam Besar Untuk Para Pemimpin Ummat Ini

Di Tengah Gentingnya Negeri Ini

=============================

Oleh: Dr. Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, Lc.MA, DPMSS

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada saudara-saudaraku hamba-hamba Allah yang saya muliakan…

Aku sungguh merasa sangat bahagia jika musuh-musuh Islam menghina dan menghujatku…

Aku juga sangat bangga jika musuh-musuh Islam menistaku, memenjarakanku bahkan membunuhku…

Tapi jujur aku sangat sedih melihat saudaraku seaqidah yang masih banyak membenciku hanya karena masalah perbedaan pandangan yang hanya bersifat FURUIYAH (hanya perbedaan masalah cabang dalam agama / bukan perbedaan hal pokok dalam agama)…

Sadarilah wahai para pemimpin ormas Islam…

Wahai para ulama HTI…

Wahai para ulama PERSIS…

Wahai para ulama SALAFI…

Wahai para ulama JAMAAH TABLIGH…

Yang semuanya dimuliakan Allah SWT…

Sadarilah …!!!

Sadarilah…!!!

Bahwa masalah furuiyah sampai kapanpun akan tetap berbeda dan tidak akan mungkin bisa sama…

Maka kita semua sebagai muslim yang bertaqwa harus bisa menerima bahwasanya perbedaan yang bersifat furuiyah adalah BAGIAN DARI ISLAM…

Dalam hal furuiyah satu organisasi Islam dengan organisasi Islam lainnya pasti akan selalu ada perbedaan…

Maka kita sebagai pemimpin-pemimpin umat harus bisa bijak menyikapi masalah perbedaan furuiyah ini…

Jika kita sebagai pemimpin-pemimpin umat kita tidak bijak dalam menyikapi perbedaan yang bersifat FURUIYAH maka tentu hal itu akan menjadi masalah besar karena akan jadi sumber utama pemecah belah persatuan umat, sehingga akhirnya akan menghancurkan hal-hal yang bersifat USHULIYAH (hal-hal pokok dalam agama)

Dan tentunya kita semua sepakat bahwasanya UKHUWAH ISLAMIYAH adalah masalah pokok dalam agama yang harus kita junjung tinggi dan kita jaga selama-lamanya…

Untuk itu kuingatkan kepada semua para pemimpin ormas islam…!!!

Musuh kita sangat banyak bukan hanya komunis saja tapi ada syiah, ahmadiyah, kristenisasi, aliran sesat & juga kaum Islam munafik (umat Islam yang berpihak kepada kaum kufar) mereka semua  bersatu ingin melenyapkan kita…

Sementara kita masih tidak mau bersatu hanya karena perbedaan yang bersifat FURUIYAH..

Sadarilah saudaraku…

Jika masalah perbedaan furuiyah masih kita tonjolkan, maka hal itu akan membuat musuh-musuh kita bergembira karena hal itu adalah senjata utama mereka untuk memecah belah dan mengadu domba UMAT ISLAM…

Maka jangan terlambat segera sadarilah saudara-saudaraku …!!!

Jangan tunggu ulama-ulama kita habis dibantai…

Jangan tunggu masjid kosong karena orang-orang khawatir datang ke masjid…

Jangan tunggu muadzin berhenti mengumandang adzan karena takut disiksa dan dianiaya…

Aku sungguh sangat ingin membela umat ini, tapi akupun manusia biasa yang pasti tidak akan berdaya tanpa dukungan dari semua umat islam…

Sekarang semuanya terserah pada kalian para pemimpin organisasi islam ….

Apakah kalian akan bersatu merapatkan barisan bersamaku untuk melawan ancaman musuh-musuh islam, komunis, syiah, kristenisasi, aliran sesat dll…?

Ataukah kalian malah tetap akan ikut memojokanku, menghujatku, menyalahkanku hanya karena adanya perbedaan pandangan dalam masalah yang hanya bersifat FURUIYAH ???

Jika syarat untuk kita bisa bersatu mengharuskan kita untuk bisa sama dalam masalah FURUIYAH !!!

Maka jangan pernah bermimpi untuk bisa bersatu melawan begitu banyaknya musuh-musuh islam yang sudah siap menghabisi umat islam…

BERMIMPILAH untuk perpecahan umat, bermimpilah untuk kehancuran umat dan siaplah menyongsong kebinasaan umat islam…

Pikirkanlah nasib aqidah generasi  penerus kita yaitu aqidah anak-anak kita dan cucu-cucu kita nanti…

Mari jadikan momentum penyerangan dan pembunuhan para ulama ini menjadi momentum untuk kita menerima perbedaan yang hanya bersifat furuiyah…

Mulailah tanamkan dalam diri anak cucu kita bahwasanya perbedaan pandangan yang bersifat furuiyah adalah bagian dari islam yang harus diterima dan HARAM HUKUMNYA jika sampai merusak hal yang bersifat USHULIYAH…

UKHUWAH ISLAMIYAH adalah masalah paling pokok dalam agama, karena itulah sebenarnya sejatinya yang dinamakan dengan :

 “PERSATUAN ISLAM”

Akhirul kalam, saya mohon maaf jika banyak kata yang terlontar yang sudah menyakiti saudara seislamku…

Mohon maafku terhadap :

Saudaraku JAMAAH TABLIGH…

Saudaraku SALAFI…

Saudaraku HTI…

Saudaraku PERSIS…

Saudaraku MUHAMMADIYAH…

Mari kita bersama selamatkan umat ini dari ancaman kaum kuffar…

Jika nanti kita dipenjara, dihina, difitnah, dicaci dimaki, disakiti bahkan dibunuh maka berbahagialah…

Karena itu bukti pengorbanan kita yang insyaa Allah akan menjadi syafaat bagi kita di hari akhirat nanti…

Sejarah mencatat hampir semua ulama yang menegakkan nahi munkar mereka semua merasakan dingin & laparnya hidup di dalam jeruji penjara…

Mohon sebarkan pesanku ini kepada semua umat islam, insyaa Allah antum akan mendapat keberkahan karena antum sudah ikut berupaya berjuang menyatukan umat dan ikut berupaya untuk membela melindungi para ulama…

SALAM SEMANGAT 212

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Catatan:

Dr. Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, Lc.MA. DPMSS atau yg lebih dikenal dengan  Habib Rizieq Syihab (HRS) adalah :

  • Pemimpin Tertinggi ormas Front Pembela Islam (FPI) dengan gelar Imam Besar FPI.
  • Belakangan sering di sebut dengan julukan : *Imam Besar Ummat Islam Indonesia*
  • Mufti Besar Kerajaan Sulu / The Grand Mufti of Sulu dengan gelar : Datuk Paduka Maulana Syar’i Sulu (DPMSS)

Zuhud

Zuhud secara bahasa adalah lawan dari kata gemar. Gemar merupakan suatu bentuk keinginan. Sedangkan zuhud adalah hilangnya keinginan terhadap sesuatu, baik disertai kebencian ataupun hanya sekedar hilang keinginan. Dengan kata lain zuhud adalah keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian, mengosongkan diri dari kesenangan dunia demi menjalankan ibadah.

Maka tak heran bila dalam keseharian kita mendengar adanya seorang sufi ( orang yang menjalani kehidupan zuhud) yang pergi berkelana meninggalkan keluarganya, pekerjaannya, tanpa berbekal apapun, demi mendekatkan diri kepada Tuhannya. Jadi zuhud adalah berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan meskipun halal, dengan jalan berpuasa dalam segala hal, yang kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama.

Banyak pendapat mengatakan bahwa zuhud adalah pengaruh ajaran Budha dengan faham nirwananya bahwa untuk mencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Juga ajaran Hindu dan Kristen dengan rahib-rahibnya yang tidak boleh menikah.

Pertanyaannya benarkah Islam mengajarkan hal tersebut, dan mengadopsinya dari ajaran-ajaran lain?

Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi mengatakan, bahwa pengertian zuhud yang paling sempurna dan paling tepat adalah pengertian yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Menurut ulama kenamaan asal Turki tersebut, zuhud yang disyari’atkan ialah meninggalkan rasa gemar terhadap apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Yaitu terhadap perkara mubah yang berlebih dan tidak dapat digunakan untuk membantu berbuat ketaatan kepada Allah, disertai sikap percaya sepenuhnya terhadap apa yang ada di sisi Allah.

Mari kita mulai dari Imam al-Ghazali, satu-satunya ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah, yang namanya tak asing dalam dunia filsafat dan tasawuf. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali lahir di kota Thusi, Khurasan, Persia (Iran) pada tahun 1058 M / 450 H. Ketika masih kecil, ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin kain shuf ( kain dari kulit domba) telah mempercayakan pendidikan al-Ghazali dan adiknya kepada seorang ahli tasawuf yang dikaguminya. Ketika itu ilmu tasawuf memang sedang naik daun. Kondisi kerajaan yang amburadul dimana korupsi merajalela, ekonomi yang terpuruk serta moral masyarakat yang rendah, tampaknya adalah pemicunya.

Aliran-aliran zuhud yang muncul pada abad I dan II H sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar negara adalah akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Siria, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Orang melihat perbedaan besar antara hidup sederhana dari Rasul serta para sahabat.

Berbekal akhlak mulia yang  ditanamkan kedua orang-tuanya, Ghazali dengan cepat menyerap ilmu yang diberikan gurunya. Sejak kecil Ghazali tidak hanya tidak suka tapi benci kepada segala sifat buruk seperti riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela lainnya. Ia sangat kuat beribadat, wara’ dan zuhud. Dan itu semua ia lakukan demi mendapat ridha Allah SWT.

Keingin-tahuan dan kecintaannya yang begitu tinggi terhadap ilmu pengetahuan membuat Ghazali tidak cukup puas dengan 1 guru. Ia terus mengembara ke berbagai kota dan negara untuk menimba ilmu. Pada usia tiga puluhan tahun Imam Ghazali mendapat tawaran mengajar di Madrasah An-Nidzamiyah, madrasah terkenal di Baghdad Irak, hingga mencapai kedudukan yang sangat tinggi. Melalui madrasah inilah nama Imam Ghazali melambung tinggi mengharum.

Sayang kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih dan ushul, terutama ilmu filsafat kurang dibarengi dengan pengetahuan tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah saw yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Namun Allah swt berkenan memberi hidayah dan petunjuk-Nya hingga diam-diam ia merasa kurang yakin dan puas terhadap ilmu yang dimilikinya. Al-Ghazali merasa ada sesuatu yang berlebihan dan sangat berpotensi merusak akidah. Kala itu memang banyak orang yang tenggelam dalam dunia kesufian dan meninggalkan syariat.

Akhirnya pada tahun 488 H Imam Ghazali memutuskan untuk meninggalkan jabatan tingginya selaku direktur sekolah-sekolah Nizamiyah seluruh Baghdad, demi menjalani hidup zuhud, membersihkan jiwa dari segala kekotoran dan nafsu dunawi yang membelenggu.

Pada tahun itu juga ia pergi menunaikan haji ke Mekah, ziarah ke Madinah lalu berkhalwat di Masjid Baitul Maqdis Yerusalem selama beberapa waktu. Setelah itu Imam Ghazali pergi ke Damaskus dan tinggal di kota tersebut. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di pojok masjid Jami’ Umawi yang sekarang dikenal dengan nama Al-Ghazaliyah. Disanalah ia menulis kitab Ihya Ulumuddin yang fenomenal dan menjadi rujukan banyak orang. Ia berhasil meletakkan kembali posisi tasawuf ke tempat yang benar menurut syari’at Islam, membersihkannya dari pengaruh faham-faham asing yang masuk mengotori kemurnian ajaran Islam. Untuk itulah tampaknya Imam Al-Ghazali mendapat gelar Hujjatul Islam.

Imam Adz Dzahabi berkata, “Pada akhir kehidupannya, Al-Ghazali tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Setelah mengarungi lautan hidup yang luas, menyelami ilmu yang sangat dalam sekaligus mengamalkannya, maka pada tahun 1111 M ( 505 H ), Imam Al-Ghazali berpulang ke rahmatullah di kampung kelahirannya, Thusi. Ia wafat dalam usia relatif muda, yaitu sekitar 52-53 tahun.

Imam Al-Ghazali benar, zuhud telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah dan para sahabat sejak awal Islam. Namun bukan zuhud yang menjauhkan dari kehidupan dunia dan menafikannya. Karena dunia adalah ladang dimana kita bertanam yang hasilnya   akan kita petik tidak hanya di akhirat nanti saja, tapi juga di dunia ini.

“Bukanlah orang yang paling baik daripadamu itu yang meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya karena dunianya, sebab dunia itu penyampaian kepada akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia”.

Hadits yang memberitakan hal tersebut tidak terhitung banyaknya. “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”, “Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis”, “Mukmin yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah”, “Allah swt menyukai mukmin yang kuat bekerja.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Terjemah QS. Al-Qashash (28:77).

Rasulullah memang pernah berkhalwat di gua Hira selama beberapa waktu. Hal tersebut beliau lakukan karena keprihatinan yang mendalam terhadap situasi penduduk Mekah yang senantiasa bergelimang dalam kejahilan. Tapi hal tersebut terjadi sebelum Islam datang. Sayangnya inilah yang sering dijadikan pegangan para penggemar sufisme.

Adalah Abdullah, seorang sahabat Nabi yang dikenal sangat saleh. Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah. Dia biasa menghatamkan al-Quran setiap hari dan melewati hari-hari dengan berpuasa dan bangun untuk shalat malam. Ternyata Rasulullah menegur perbuatan yang tampaknya baik tersebut.

Jika kamu terus melakukan kebiasaan ini, tubuhmu akan semakin lemah dan pandangan mata-mu akan semakin pudar. Tubuh kita memiliki hak-hak yang harus kita penuhi.”

Juga kisah seorang istri sahabat yang mengadukan prilaku suaminya yang terus menerus beribadah siang dan malam. Namun ternyata Rasulullah melarangnya karena istri punya hak atas dirinya.

Sebaliknya Rasulullah tidak pernah mau menimbun uang dan harta di dalam rumah beliau saw. Suatu hari ketika Rasulullah sedang menjelang sakratul maut bertanya,

Wahai Aisyah, dimana uang yang pernah kutitipkan padamu?” Bagi-bagikan uang itu di jalan Allah. Karena Muhammad malu bertemu Allah Sang Kekasih, sedangkan dirumahnya masih ada timbunan uang”.

Pada kisah lain, suatu hari Umar bin Khattab mendapati Rasulullah terbangun dari tidurnya dengan guratan bekas tikar di pipinya. Umar menangis meihatnya dan berkata, “ Para raja dan kaisar hidup bergelimang harta dan kemewahan di istana yang megah. Tidakkah engkau sebagai manusia pilihan Allah dapat meminta kepada Allah agar bisa hidup berkecukupan?”.

Namun apa jawab Rasulullah, “Tidakkah engkau lebih senang wahai Umar, jika kita memperoleh kebahagiaan akhirat, sedangkan mereka (para raja dan kaisar) hanya memperoleh kenikmatan dunia?”

Tak heran bila para sahabatpun mencontoh sikap zuhud Rasulullah. Salah satunya yaitu ketika Umar bin Khattab datang memenuhi permintaan uskup Yerusalem untuk menerima kunci kota yang baru ditaklukan pasukan Muslim. Uskup dan rakyat kota tersebut terkejut mendapati Umar sebagai khalifah, sekaligus panglima tertinggi Islam datang sendirian dengan kudanya, tanpa pengawalan khusus, dan hanya dengan pakaian yang amat sangat sederhana.

Demikian pula Abu Bakar ash-Siddiq yang kaya raya tapi terkenal sangat dermawan. Dengan hartanya Abu Bakar membebaskan puluhan budak yang disiksa tuannya hanya karena memeluk Islam. Juga Abdurrahman ibn Auf, seorang sahabat yang dikenal amat lihai berbisnis, di tangannya batu menjadi emas. Ataupun Ustman bin Affan yang rela membeli sumber air dengan harga yang sangat tinggi demi kepentingan umat Islam.

Para sahabat sangat paham bahwa harta dan kekayaan hanyalah titipan, yang pada waktunya harus dipertanggung-jawabkan penggunaannya bahkan setiap sennya.Harta ibaratnya adalah beban berat bagi yang tidak sanggup menanggungnya.

Manusia adalah mahluk sosial yang harus saling menolong dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu manusia harus berusaha dan bekerja. Harta dan kekayaan diperlukan, bukan untuk ditimbun atau digunakan oleh diri sendiri, keluarga atau kelompoknya. Harta dan kekayaan bukan untuk disombongkan dan di banggakan, seperti juga ketiadaan dan hilangnya kemewahan bukan hal yang patut disedihkan dan disesali secara berlebihan.

Jika diperhatikan khalwatnya Rasulullah dan cara hidup sufisme di masa hidup Imam Al-Ghazalil memiliki kesamaan, yaitu keprihatinan terhadap masyarakat yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan bergelimang maksiat. Persis seperti yang kita hadapi saat ini. Namun Rasulullah tidak mencontohkan hanya berkhalwat, sekedar mengasingkan diri serta membersihkan hati dari kotoran dan dosa.

Melalui Islam Rasulullah mengajarkan kita untuk berjuang melawan keadaan agar dapat keluar dari keterpurukan, agar tercapai masyarakat yang hidup teratur, aman, damai dan sejahtera, dibawah aturan Allah swt. Itu sebabnya secara tegas Islam mengajarkan bagaimana memilih pemimpin. Karena bagaimanapun pemimpin adalah kunci sukses sebuah negara. Jadi dengan dalih apapun, sungguh tidak benar seorang Muslim tidak peduli politik, atau apapun namanya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Menjadi zuhud bukan berarti menjadi orang miskin yang hanya berdiam diri di masjid dan berzikir, meninggalkan keluarga, tanpa mempunyai pekerjaan dan hanya menggantungkan diri pada pemberian orang lain. Sufi yang baik adalah mereka yang tidak saja senantiasa berzikir siang maupun malam, pandai menjaga kesucian hatinya dari segala penyakit hati, serta banyak melakukan amal ibadah demi mencari ridho-Nya. Namun mereka juga berharta, dengan cara halal tentunya, hingga mampu menginfakkan hartanya di jalan Allah dan selalu siap membantu saudaranya yang kesulitan, syukur-syukur bisa membantu membangun ekonomi rakyat. Itulah sufi sejati.

Ada sebuah kisah menarik tentang seorang khadi Muslim kaya raya yang menaiki kudanya dengan dikawal rombongan pengawal. Di tengah jalan ia berpapasan dengan seorang Yahudi miskin. Si Yahudi menegurnya ”Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda, ‘Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir’. Engkau adalah hakim Agung Mesir. Engkau dengan rombongan pengawal seperti ini, penuh dengan kenikmatan, sementara aku di dalam penderitaan dan kesengsaraan.”

Sang khadi yang tak lain adalah Ibnu Hajr menjawab, “Aku dengan nikmat dan kemewahan yang aku rasakan ini dibandingkan dengan kenikmatan di surga adalah penjara. Adapun engkau dengan kesengsaraan yang engkau rasakan, dibandingkan dengan adzab yang akan engkau rasakan di neraka adalah surga.” … Masya Allah …

Tetapi yang lebih penting lagi, zuhud yang diajarkan Rasulullah tidak sampai hingga tingkatan Wihdatul Wujud seperti yang diajarkan Al Hallaj dan Ibn Arabi. Secara ringkas Wihdatul Wujud adalah bentuk penggambaran bahwa manusia dan Tuhan adalah bersatu, hingga pada tingkatan tertentu mencapai kesucian dan tidak perlu lagi melakukan shalat! Na’udzubillah min dzalik …

Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam karena jelas mengandung kesyirikan. Dan syirik merupakan dosa terbesar yang tidak dapat diampuni kecuali mau bertobat.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.( Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“.( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. “.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):29).

Ayat 29 surat Al-Hijr sering dijadikan kaum sufi sebagaimana pembenaran Wihdatul Wujud. Namun Rasulullah saw sendiri tidak pernah mengatakan hal yang demikian. Oleh sebab itu biarlah hal tersebut menjadi rahasia-Nya.Tugas kita sebagai hamba hanyalah menyembah-Nya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Bukankah Rasulullah yang sudah dijamin masuk surgapun selalu melakukan tidak saja shalat yang 5 waktu, namun juga shalat-shalat Sunnah lain seperti Tahajud hingga bengkak kaki beliau.

Jadi sungguh jasa Al-Ghazali dalam mengembalikan tasawuf pada jalan aslinya sangatlah besar. Ia telah berhasil membawa perubahan besar pada zamannya. Ia bersiteguh bahwa seorang yang ingin terjun dalam dunia kesufian harus terlebih dahulu menguasai ilmu syariat. Menurutnya tidak seharusnya antara syariat dan tasawuf terjadi pertentangan karena kedua ilmu ini saling melengkapi.

Masih menurutnya, ruh, hati atau jiwa bersifat Ilahiyah, sehingga cenderung pada kesucian, kebersihan, kebaikan atau kebenaran. Tetapi apabila ruh kalah dengan jasad maka yang terjadi adalah gangguan dalam kehidupan pribadinya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Maret 2018.

Vien AM.

Sumber:

https://elmisbah.wordpress.com/tasawuf-imam-ghazali/

https://almanhaj.or.id/2781-zuhud-yang-banyak-disalah-pahami.html

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)”.

Ayat 10-12 surat Al-Kahfi di atas adalah sebagian kecil dari kisah sejumlah pemuda beriman yang pergi ke sebuah gua dan berlindung di dalamnya. Al-Quran menyebut para pemuda beriman tersebut sebagai para penghuni gua Kahfi ( Ash-habul Kahfi).

Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa pemuda-pemuda tersebut bertemu di sekitar gua, secara tidak sengaja. Kerajaan Romawi dibawah raja Daqyanus, pada saat itu dipenuhi orang-orang dzalim penyembah taghut dan berhala. Pada hari-hari tertentu rakyat dipaksa untuk menyembelih ternak sebagai persembahan. Demikian pula yang dilakukan orang-tua para Ash-habul Kahfi yang tak lain adalah para pembesar kerajaan.

Namun dengan izin Allah swt, para pemuda belia tersebut lama kelamaan menyadari bahwa hal tersebut adalah sebuah kesesatan. Itu sebabnya diam-diam mereka pergi ke gua Kahfi untuk mengasingkan diri. Disanalah mereka bertemu. Di sana pula akhirnya mereka membuat tempat ibadah untuk memuja Allah swt. Namun itupun akhirnya diketahui kaumnya dan dilaporkan kepada sang raja. Di depan raja, mereka dipaksa bertobat dan kembali kepada ajaran para leluhur.

“dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. ( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:14).

Tentu saja raja dan para penguasa kerajaan sangat terkejut dan marah atas keteguhan hati para pemuda yang kukuh mempertahankan keimanan mereka. Namun dengan menahan kesal, raja memberi kesempatan para pemuda untuk memikirkan kembali pendapat mereka. Itulah skenario Sang Khalik yang dengan demikian memberikan kesempatan para pemuda untuk segera melarikan diri.

Dan atas kuasa Allah swt jua, pasukan yang kemudian dikirim untuk mengejar mereka tidak berhasil menemukan jejak para pemuda. Persis seperti yang terjadi pada Rasulullah dan Abu Bakar as Shidiq ketika bersembunyi di dalam gua, dari kejaran kaum Quraysh.

Di dalam gua Kahfi itulah Allah “menidurkan” para pemuda selama ratusan tahun tanpa ada yang mengetahuinya. Kalaupun ada yang pernah melihatnya mereka merasa ketakutan dan menganggapnya sebagai orang gila. Karena selama “tidur” ratusan tahun tersebut para pemuda kadang-kadang bergerak layaknya orang tidur, bahkan matanya kadang-kadang terbuka. Allahlah yang membolak-balikkan tubuh mereka agar terkena pancaran sinar matahari. Itu sebabnya tubuh mereka tidak rusak.

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah…. “.( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:17).

 “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. “.( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:18).

Hingga tiba saatnya Allah swt membangunkan para pemuda tersebut tanpa mereka sadar bahwa mereka telah tidur selama tiga ratus sembilan tahun. Mereka menyangka hanya tertidur sehari atau bahkan setengah hari. Dengan uang perak yang masih tersisa di tangan salah satu pemuda tersebut pergi ke pasar untuk membeli makanan. Teman-temannya mewanti-wanti agar berhati-hati, khawatir raja dan kaumnya akan memergoki mereka.

Namun ternyata tak seorangpun mengenali sang pemuda, juga uang yang dibawanya. Mereka lalu membawanya ke hadapan raja yang sudah bukan lagi raja  Daqyanus. Dan ternyata raja serta kaumnya bukan lagi penyembah taghut, mereka adalah orang-orang beriman. Setelah menceritakan kisahnya, bersama sang pemuda rajapun pergi menemui pemuda lain yang masih menunggu di dalam gua. Demikianlah Allah swt mengakhiri kisah Ash-habul Kahfi, dengan menidurkan para pemuda untuk selamanya.

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran, betapa keimanan kepada Allah Yang Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta adanya hari Kiamat, adalah hal yang amat sangat patut dipertaruhkan. Para pemuda belia yang biasa hidup di lingkungan mewah istana itu adalah salah satu buktinya.

Bukti lain adalah kisah seorang pengikut Firaun yang selama beberapa waktu menyembunyikan keimanannya. Tapi suatu hari terpaksa membuka keimanan tersebut demi melindungi orang beriman lainnya yang akan dibunuh kaumnya dengan resiko ia ikut dibunuh. Peristiwa ini diabadikan dalam surat Al-Ghofir ayat 28 sebagai berikut :

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. … … “.

Di masa awal keislaman, banyak sahabat yang rela mengorbankan harta bendanya demi Islam. Diantaranya adalah Khadijah ra, istri rasulullah, yang sebelum menikah  adalah seorang yang kaya raya, tapi ketika wafat tidak memiliki harta yang berarti. Demikian pula Abu Bakar yang rela menebus jiwa para sahabat dengan harta yang tidak sedikit. Juga Bilal bekas budak yang sering disiksa demi mempertahankan ke-islam-annya. Belum lagi para sahabat yang rela syahid di medan perang demi melawan kesyirikan dan tegaknya kalimat tauhid.

Disamping itu, ber-tauhid, adalah fitrah manusia. Itulah jalan yang lurus, jalan kebenaran. Setiap manusia yang baru lahir ke dunia sejatinya mengenali Tuhannya yang esa. Orang-tua dan lingkungannyalah yang kemudian menyesatkannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna”.(HR. Bukhari).

Sebaliknya kesyirikan adalah jalan yang bengkok, yang penuh kebathilan dan kemustahilan. Itu sebabnya para pemuda Ash-habul Kahfi meski mereka masih belia sudah dapat merasakan ketidak-nyamanan terhadap kebiasaan dan ajaran yang dianut orang-tua dan para leluhur mereka.

Itu sebabnya potensi pemuda tidak boleh diabaikan. Mereka harus dibina dan diarahkan agar hatinya tetap bersih, mau berpikir dan tidak hanya meniru apa yang dilakukan orang-tuanya. Kebenaran harus ditegakkan dan kebathilan harus dihilangkan. Itulah amar ma’ruf nahi mungkar. Dakwah tidak mengenal lelah dan tidak boleh pernah berhenti. Meski sebenarnya dengan cara-Nya sendiri, kebenaran akan senantiasa menang walau misalnya tak satupun orang mau memperjuangkannya. Manusia hanya bisa berikhtiar Allah yang menentukan hasilnya. Persis seperti yang terjadi pada para pemuda Ash-habul Kahfi yang begitu terbangun dari tidur panjangnya Sang Khalik telah memenangkan mereka.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, kalau ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau ia tidak mampu maka dengan hatinya, mengingkari (dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah.” ( HR. Muslim).

Begitu juga dengan yang terjadi saat ini, ketika perzinahan, homoseksual, riba dan khamar merajalela, ayat-ayat suci dipermainkan, ulama tidak ditaati bahkan dibully. Apa yang harus kita lakukan dan bagaimana kita harus menyikapinya? Cukupkah kita hanya berpangku tangan  menyaksikan semua itu terjadi di depan mata kita??

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 28 Februari 2018.

Vien AM.

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Terjemah QS. Ali Imran (3):110).

Ayat diatas jelas mengatakan umat Islam adalah umat yang terbaik karena menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah swt. Selanjutnya, bila ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik.

Kita tentu tahu orang yang bersyahadat dan kemudian memeluk Islam belakangan ini semakin banyak saja. Hebatnya lagi kebanyakan berasal dari kalangan berpendidikan tinggi. Dan fenomena tersebut terjadi di Barat yang notebene adalah ahli kitab, yaitu umat Nasrani dan Yahudi. Mereka juga adalah penduduk negara-negara maju, seperti Jerman, Inggris, Perancis, Rusia dll. Uniknya lagi, peristiwa tersebut terjadi di tengah hebohnya Islamophobia akut yang menyerang Barat sejak beberapa tahun ini.

https://www.konfrontasi.com/content/khazanah/pemuda-perancis-berbondong-bondong-masuk-islam

https://votreesprit.wordpress.com/2013/04/17/remaja-inggris-berbondong-bondong-masuk-islam/

Sementara di negara kita tercinta yang katanya mayoritas Muslim, Islamophobia justru membuat mereka tidak PD alias Percaya Diri. Hal ini tercermin dari pernyataan-pernyataan mereka yang sering memojokkan Islam. Ade Armando, contohnya. Dosen Fisip UI pendukung kuat Jokowi ini sering sekali mengeluarkan pernyataan nyleneh yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran yang dianutnya yaitu  Islam. Terakhir yaitu mengenai prilaku menyimpang homoseksual yang menurutnya Al-Quran tidak melarangnya. Untuk itu ia nekad berujar “Karena saya menghormati semua ciptaan Allah, saya nggak keberatan disejajarkan dengan anjing dan babi”.

Belum lagi tokoh-tokoh JIL ( Jaringan Islam Liberal) seperti alm Nurcholis Madjid, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Ulil Abshar, Komarudin Hidayat, Azumardi Azra, Siti Musdah Mulia dan lain-lain yang rata-rata adalah dosen UIN. Mereka tidak hanya melecehkan tapi juga berani meng-halal-kan yang haram dan meng-haram-kan yang halal sesuka mereka.

Di negri tercinta ini pula pemurtadan tidak sedikit terjadi. Tapi tidak seperti di Barat, kebanyakan orang yang murtad dan memilih masuk Kristen tersebut bukan dari kalangan berpendidikan melainkan dari kalangan bawah. Kemiskinan memang sasaran empuk kristenisasi yang dari hari ke hari makin menggurita. Namun, lagi-lagi JIL, hal ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung-jawab mereka. Karena merekalah yang menyebarkan ajaran bahwa semua agama adalah sama !

Ironisnya lagi, perbuatan busuk korupsi bukan lagi rahasia di negri yang katanya mayoritas Muslim ini. Pungli, sogok menyogok terjadi dimana-mana. Kejahatan, perampokan, penipuan hampir setiap hari terjadi. Hal ini juga menimpa para ulama, terutama yang dianggap tidak sejalan dengan pemerintah. Bukankah Allah swt memerintahkan kaum Muslimin untuk saling mengingatkan agar menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar. Lalu mengapa ketika ada ulama mengingatkan hal tersebut bukannya didengar malah dibully, difitnah, di teror bahkan ada yang dibunuh. Dan dengan cepatnya pihak kepolisian menyimpulkan bahwa pembunuhnya adalah orang gila. ???

http://nasional.harianterbit.com/nasional/2018/02/03/93092/0/25/Isu-Orang-Gila-Bunuh-Ulama-Meresahkan-dan-Mengerikan-Umat-Islam-Diminta-Waspada

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (Terjemah QS. Al-An’am(6):137).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):23)

Dalam suatu majlis ta’lim yang saya hadiri beberapa hari lalu, seorang jamaah menanyakan tentang pemimpin yang dzalim sebagaimana ayat di atas. Jujur saya agak terkejut dengan jawaban yang diberikan sang uztad. Beliau tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, melainkan menceritakan percakapan yang terjadi antara khalifah Ali bin Thalib dengan seorang rakyatnya.

Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak?

“Karena pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.”, jawab Ali.

Dengan kata lain, karakter seorang pemimpin tidak akan jauh dari karakter orang yang dipimpinnya. Meski dalam hal tersebut tentu tidak dapat disamakan dengan apa yang terjadi hari ini. Kita pasti tahu siapa Ali dan bagaimana zuhudnya sahabat sekaligus menantu rasulullah saw tersebut. Itu adalah cara Ali merendahkan dirinya dibanding rasulullah saw.

Intinya, dari pada sibuk melihat dan mencari kesalahan dan kekurangan pemimpin lebih baik fokus pada diri dan keluarga kita sendiri. Sudahkah kita membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Al-Quranul Karim, secara kaffah ???

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Terjemah QS.Ar-Rad(13):11).

Karena sebaik apapun sebuah kitab bila tidak diamalkan akan sia-sia belaka. Shalat misalnya, sudahkah shalat kita mampu menghilangkan kesyirikan, mencegah kebiasaan buruk seperti berbohong, yang merupakan awal korupsi, dll. Bukankah shalat seharusnya mampu menghilangkan perbuatan mungkar??  Belum lagi soal budaya kebersihan, disiplin, mengantri dan lain sebagianya? Sudahkah kita menjalankannya? Bukankah Islam mengajarkan semua itu??

Dari pengakuan para mualaf, jarang mereka masuk islam karena melihat tingkah laku Muslim yang kebanyakan, maaf, jorok, tidak disiplin, negaranya tidak maju, miskin, pejabatnya banyak yang korupsi dll. Di Barat, rata-rata mereka hanya sekedar penasaran dengan Islamophobia itu sendiri. Mereka melihat keindahan Islam setelah membaca dan mempelajari Al-Quran.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,  pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. ( Terjemah QS. Ibrahim (14:4-25).

my bougenvilleBegitulah Allah swt membuat perumpamaan. Mukmin yang baik adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain. Sebagaimana akar pohon yang kokoh yang dapat menjadi sandaran bagi yang membutuhkan, buahnya enak dimakan,  cabang dan daunnya yang rindang nyaman untuk berteduh, serta bunganya yang indah dipandang mata.

Jadi sungguh betapa ruginya kita, yang lahir dan besar sebagai Muslim tapi tidak mampu melihat keindahan dan kebenaran Islam. Bagaimana kita bisa menjadi umat terbaik bila Al-Quran hanya dijadikan pajangan, bukannya dibaca apalagi untuk dipahami.

Bila keadaan seperti ini terus dibiarkan terjadi, bisa jadi Barat juga Jepang yang notabene kafir akan terus  menjadi yang terbaik. Namun kali ini dengan izin-Nya, karena Islam telah merasuki kalbu mereka, menjadi penyempurna kemenangan mereka selama ini.

Sementara kita di Indonesia tetap menjadi pecundang. Pecundang sebenar-benar pecundang, di dunia maupun di akhirat karena satu-satunya modal yang tersisa di tengah keterpurukan kita saat ini yaitu iman, telah tergadai, menguap ntah kemana. Sungguh mengerikan … Na’udzbillah min dzalik …

Jangan kita hanya terbuai oleh kenangan sejarah keemasan masa silam dimana kekhalifahan Islam selama berabad-abad pernah menguasai hampir separuh dunia, tanpa mau berjuang merebut kembali kemenangan tersebut. Mari kita berkaca pada semangat rakyat Turki dalam memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam. Perkuat aqidah kita dan anak-anak kita, pahami Al-Quran dan As-Sunnah hingga kita mampu menilai mana saudara/i kita seiman yang baik dan patut dipilih dan dijadikan pemimpin. Semoga dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki pemimpin sekelas Sultan Erdogan yang mampu mengantar kita keluar sebagai umat terbaik sebagaimana mustinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin…

Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, kalau ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau ia tidak mampu maka dengan hatinya, mengingkari (dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah. ” {HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Februari 2018.

Vien AM.