Feeds:
Posts
Comments

Shalat dan Urgensinya.

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”. (HR. Muslim).

Rukun Islam adalah lima pilar dasar amalan lahiriah umat Muslim yang wajib dijalankan yaitu 1. Syahadat, 2. Shalat, 3. Zakat, 4. Puasa Ramadan dan 5. Haji bagi yang mampu. Rukun ini menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim untuk mencapai ridho Allah SWT dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kesempurnaan iman.

Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251).

Hadist diatas secara jelas menerangkan bahwa Islam memiliki sejumlah tali ikatan yang dengannya seorang Muslim bergantung, menjadikannya seorang Muslim sejati. Ikatan-ikatan tersebut adalah tali  syariah/hukum Islam, tali puasa, tali zakat, tali ukhuwah Islamiyah, tali shalat dan tali-tali lain. Yang dimaksud tali syariah/hukum Islam diantaranya adalah hukum ekonomi seperti riba, hukum muamalah/berdagang, hukum politik seperti memilih pemimpin/presiden, hukum menutup aurat dll yang semuanya itu jelas tertulis dalam kitab suci Al-Quran.

Namun dapat kita saksikan sendiri saat ini sebagian besar hukum Islam sudah tidak lagi dipegang erat oleh sebagian besar Muslim di didunia ini. Hukum-hukum tersebut diganti dengan hukum Barat yang sifatnya melulu duniawi. Sangat dapat dipahami karena Barat yang notabene kafir menganggap bahwa kehidupan hanyalah di dunia sebagaimana ayat 37 surat Al-Mukminun berikut, “ Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi”.

Jadi sungguh tidak masuk akal, seorang yang mengaku Muslim yang sudah seharusnya meyakini kehidupan akhirat bisa terperangkap dan dengan sukarela mau mengikuti hukum kafir. Tapi itulah yang terjadi. Selanjutnya adalah shalat. Berdasarkan hadist di atas, hanya shalat inilah yang masih dipegang umat ini. Inilah tali ikatan terakhir umat Islam yang bila ditinggalkan juga celakalah sudah.  

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya”. (Umar bin Khotob radhiallahu anhu).

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu”.

Jika diperhatikan dengan seksama, perintah shalat yaitu shalat malam telah diturunkan sejak awal dakwah Rasulullah. Perintah tersebut turun  melalui surat Al-Muzzamil ayat 1-4 sebagai berikut, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”.

Ayat-ayat tersebut turun di Mekah pada awal dakwah Rasulullah jauh sebelum hijrah.  Turun sebagai surat ke 3 setelah 5 ayat pertama Al-Alaq dan 7 ayat awal surat Al-Qalam, yaitu ketika Rasulullah sedang merasa ketakutan karena didatangi malaikat Jibril yang menyampaikan ayat-ayat sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi dan pentingnya kedudukan shalat. Shalat terutama shalat malam dapat menenangkan jiwa seperti yang dialami Rasulullah pada awal-awal dakwah.

Dalam Shahih Bukhori, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Pada awalnya, shalat itu diwajibkan dua rakaat. Kemudian setelah beliau -Shallallahu‘alaihi wasallam – hijrah, shalat diwajibkan menjadi empat rakaat. Hanya saja ketentuan sholat untuk orang yang safar, seperti ketentuan sholat sebelumnya (yakni 2 rakaat untuk sholat yang 4 rakaat)“.

Sebagian yang lain menerangkan, waktu itu sudah ada kewajiban shalat. Yaitu dua raka’at di waktu fajar dan dua raka’at di sore hari. Hal itu berdasarkan ayat 130 surat Thaha berikut, “Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya”.

Sejarah mencatat, antara tahun ke 4-6 hijriyah terdapat 3 kejadian penting berkenaan dengan shalat. Pertama, ketika Rasulullah Muhammad saw sedang shalat di Hijr Ismail yang merupakan bagian dari Ka’bah di Mekah, beliau diserang secara brutal oleh seorang musrik Quraisy. Abu Bakar ra yang melihat kejadian tersebut segera datang menolong tapi sahabat setia nabi tersebutpun tak luput dari serangan bertubi-tubi hingga jatuh tak sadarkan diri. Namun begitu sadar ia langsung menanyakan keadaan rasul hingga membuat ayahnya jengkel. Akan tetapi karena keinginan kerasnya, dengan dibopong ia berhasil menjenguk Rasulullah yang juga dalam keadaan masih lemah. Di kemudian hari Abu Bakar berkata tidak ada kejadian yang lebih melegakan hatinya kecuali hari dimana ia bisa melihat Rasulullah dalam keadaan masih hidup meski sangat lemah.

Kedua, ketika Rasulullah sedang shalat, beliau didatangi dan dicekik oleh menantunya sendiri yaitu Uthbah bin Abu Lahab. Namun beliau berhasil membebaskan diri dan kemudian bersabda bahwa ia akan mati dimakan binatang. Dua tahun kemudian hal tersebut benar-benar terjadi. Uthbah mati dimakan seekor srigala dalam perjalanan pulang dari berdagang di negri Syam yang biasa ia lalui. Dan yang lebih mengerikan beberapa saat sebelum kejadian ia sempat ketakutan teringat kutukan tersebut.

Ketiga, ketika Rasulullah sedang shalat di Kabah beliau didatangi orang-orang musrik Quraisy. Dan tepat ketika beliau sedang sujud, mereka menaruh kotoran binatang di kepala beliau. Fathimah, putri Rasul yang melihat kejadian tersebut sontak menangis dan memarahi orang-orang tersebut sambil membersihkan kotoran di atas kepala ayahnya tercinta. Ketika itu Fathimah masih berusia 5 tahun.

Rasulullah dan para sahabat baru melakukan shalat wajib 5x sehari seperti shalat yang dilakukan umat Islam saat ini satu setengah tahun sebelum hijrah, yaitu setelah peristiwa Isra’ Miraj sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut,“Pada malam isra’ mi’raj, tepatnya satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian secara berangsur, Allah terangkan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta hal-hal yang berkaitan dengan shalat”.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam penentuan waktu tepat terjadinya Isra‘ Mi’raj. Namun sebagian besar berpendapat antara satu setengah tahun hingga tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Peristiwa  Isra‘ Mi’raj  dimana Allah swt secara langsung memberikan perintah shalat 5 waktu, diabadikan Allah swt melalui ayat 1 surat Al-Isra’ berikut,“Maha suci Allah yang telah meng-Isra’-kan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya, untuk kami tunjukkan kepadanya tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Kami. Sesungguhnya (Allah) Maha Mendengar dan Melihat”.

Sekembali dari Miraj’, Rasulullah menceritakan, pada awalnya jumlah shalat yang diwajibkan adalah lima puluh kali dalam sehari semalam. Namun dalam perjalanan, nabi Musa as mengatakan bahwa umat Islam tidak akan sanggup melakukannya dan menyarankan Rasulullah memohon kepada Allah swt agar menguranginya. Maka setelah beberapa kali “pertemuan”, Allah swt menetapkan shalat wajib bagi umat Islam adalah lima waktu sehari semalam dengan pahala setara dengan lima puluh kali shalat. “ Maka akupun malu untuk memohon menguranginya lagi meski nabi Musa tetap berkeras umat Islam tidak akan sanggup melakukannya”, lanjut Rasulullah.

”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (Terjemah QS. Al-Isra’(17): 78).

Ayat diatas turun bertepatan dengan peristiwa Isra’ Mira dimana Allah swt memerintahkan shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam. Ketika itu Rasulullah baru menyampaikannya secara lisan dan waktu-waktu pelaksanaannyapun belum tercantum di dalam Al-Qur’an, hingga turunlah ayat diatas yang menegaskan tentang pelaksanaan shalat wajib tersebut.

Yang dimaksud “sesudah matahari tergelincir” adalah waktu untuk shalat Zuhur dan Asar, sedangkan “sampai gelap malam” adalah waktu salat Magrib, Isya dan Subuh. Inilah yang menjadi dasar pelaksanaan shalat lima waktu dalam Islam.

Sementara yang dimaksud “disaksikan” adalah hadist berikut, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.’” (HR. Muslim, no. 656)

Shalat adalah simbol ketundukan dan kepatuhan seorang Muslim terhadap Tuhannya Yang Satu, Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Namun shalat bukan hanya sekadar ibadah ritual tetapi juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt agar mendapatkan ketenangan batin. Shalat juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan berbagai nilai kehidupan seorang Muslim. Diantaranya yaitu nilai kebersihan yang diawali dengan wudhu, memakai pakaian dan alas shalat yang bersih. Nilai kedisiplinan, shalat memiliki nilai plus apabila dilaksanakan pada awal waktu. Nilai keadilan, dalam pelaksanaannya shalat tidak membedakan status sosial seseorang. Nilai kesejahteraan, pertemuan antara Muslim yang rutin pada shalat jamaah mengajarkan kesetaraan, persatuan dan kerukunan demi tercapainya ikatan ukhuwah sesama Muslim. Serta nilai toleransi, untuk saling menghargai antara imam dan makmum.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Ayat diatas turun berkenaan dengan Yahudi Madinah yang sangat keras kepala menentang ajaran Islam. Untuk itu Allah mengajarkan agar meminta pertolongan-Nya dengan sabar dan shalat. Sekaligus mengingatkan bahwa pada saatnya nanti setiap orang akan kembali menemui Tuhannya. Shalat sejatinya adalah cara berkomunikasi dengan Sang Pencipta yang paling effektif. Sehubungan dengan orang-orang Yahudi yang keras kepala, ternyata setelah 15 abad berlalu mereka tidak berubah. Bahkan saat ini dunia dapat menyaksikan secara jelas betapa makin kejamnya mereka, terutama terhadap rakyat Palestina.    

Yang juga tak kalah penting, ibadah shalat juga menjadi penentu dari semua amal di hari akhir kelak. Rasulullah bersabda yang artinya “Pertama kali yang akan dihisab atas seorang hamba Allah di hari kiamat adalah shalat. Apabila ia baik, niscaya baik semua amalnya. Dan apabila ia buruk niscaya buruk semua amalnya”. (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab Al-Ausath dan Dilya’ dalam kitab Al-Mukhtarah dari sahabat Anaa ra dengan isnad hasan).  

Perintah shalat yang diberikan Allah swt secara langsung kepada Rasulullah, bukan melalui turunnya ayat yang disampaikan melalui malaikat Jibril sebagaimana perintah lain, memiliki hikmah mendalam. Selain untuk menekankan tinggi dan pentingnya kedudukan shalat juga sebagai pengingat pentingnya hadist. Begitu juga dengan gerakan shalat dan jumlah rakaat dalam shalat yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran melainkan melalui hadist. Demikian pula shalat rawatib yang sangat dianjurkan dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi).

Jadi sungguh merugi orang-orang yang mengaku Muslim namun merasa cukup dengan Al-Quran dan mengabaikan hadist secara keseluruhan. Karena mengabaikan hadist sama dengan tidak mentaati Rasul. Meski harus diakui hadist memang mempunyai beberapa tingkatan, mulai dari shahih, hasan, dhaif hingga maudhu alias palsu. Itu sebabnya kita harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, bukan malah mengabaikannya. Apalagi tidak sedikit ayat Al-Quran yang memerintahkan umat untuk mentaati Rasul, diantaranya adalah ayat 32 surat Ali Imran berikut,

“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

Yang juga menarik adalah perintah shalat malam melalui ayat 1-4 surat Al Muzammil yang telah diterangkan di awal tulisan ini. Perintah sholat malam yang awalnya adalah wajib, dihapus menjadi sunnah setelah datangnya perintah shalat wajib 5 waktu. Jadi alangkah beruntungnya umat Islam yang saat ini tidak merasakan shalat malam sebagai kewajiban. Karena bahkan para sahabat di masa lalupun merasakan beratnya shalat malam sebagai shalat wajib. 

Sedangkan perintah shalat Tahajud secara khusus turun beberapa saat sebelum peristiwa hijrah melalui ayat 79 surat Al-Isra’ berikut, “Pada sebagian malam lakukanlah shalat Tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (maqāman maḥmūdan)”. 

Bahwasanya Nabi saw ditanya seseorang, “Shalat manakah yang paling utama setelah shalat yang diwajibkan (shalat lima waktu).” Rasulullah SAW menjawab, “Sholat Tahajud.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).

Perintah shalat Tahajud diatas turun sebagai bekal persiapan hijrah ke Madinah. Karena hijrah memerlukan persiapan mental dan fisik yang kuat demi menghadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi di tempat baru tersebut. Namun demikian shalat tersebut hukumnya sunnah bagi kaum Muslimin akan tetapi khusus bagi Rasulullah wajib. Para ulama sepakat wajib bagi Rasul karena Allah swt hendak mengangkat Rasul ke tempat terpuji/ maqāman maḥmūdan, yaitu pemberian syafaat. Syafaat Rasul inilah yang nantinya akan membantu kaum Muslimin di hari Perhitungan nanti. Tentu saja bagi yang menginginkannya yaitu dengan membanyak shalawat.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):56).

Akhir kata, jangan pernah tinggalkan shalat baik shalat wajib yang 5 waktu maupun shalat-shalat sunnah yang merupakan tali pertolongan terakhir bagi umat ini.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Agustus 2026/ 27 Safar 1448H.

Vien AM.

Sumber:

https://lampung.nu.or.id/syiar/sejarah-shalat-lima-waktu-dan-keutamaannya-m923F

https://muslim.or.id/27120-kapan-shalat-5-waktu-mulai-diwajibkan.html

Sekulerisasi Islam

Adalah tabiat manusia mencintai kehidupan dunia dengan segala kesenangan, hingar bingar, gemerlap serta kemegahannya. Wajar, karena manusia memang hidup nyata di dunia. Tapi ketika kemudian ada kelompok manusia yang berbuat sesuka hati melanggar hak orang lain tentunya sudah tidak wajar. Itu sebabnya diperlukan adanya hukum yang mengatur prilaku manusia.   

Namun yang lebih penting lagi ternyata hidup tidak hanya di dunia melainkan juga ada akhirat, yaitu kehidupan setelah mati. Di akhirat inilah orang akan mendapatkan balasan yang sesungguhnya atas apa yang telah dikerjakan di dunia baik dalam kebaikan maupun kejahatan. Dan pada akhirnya adalah surga dan neraka tempat kembali.

Sayangnya tidak banyak orang yang meyakini hal tersebut kecuali orang beragama. Meski sebenarnya bagi orang yang mau berpikir, banyak sekali kejadian yang dapat membuktikan hal tersebut. Salah satunya adalah adanya alam semesta yang maha luas ini, yang dibandingkan bumi tempat kita tinggal, bumi tidak ada apa-apanya secuilpun. Setidaknya itulah yang tertulis dalam Al-Quran, kitab suci umat Islam.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Terjemah QS. Ali Imron (3):190-191).

Untuk diingat, ayat Al-Quran yang pertama kali turun adalah “Iqro !” yang artinya “Bacalah!” Ini menekankan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk selalu berpikir, membaca. Temuan Sains dan Teknologi belakangan ini membuktikan bahwa untuk percaya pada sesuatu tidak harus melihat dengan mata kepala sendiri karena pandangan mata manusia amat sangat terbatas.  

Baca : https://vienmuhadi.com/2023/02/28/satu-hari-akhirat-sama-dengan-seribu-tahun-dunia/

Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Namun Ketika seseorang telah menyatakan memeluknya tidak ada pilihan lain selain wajib mematuhi semua syariatnya (hukum-hukumnya) sesuai Al-Quran dan sunnah Rasul.

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”. (HR. Muslim).

Namun untuk memasuki syurga-Nya, Allah swt menuntut hamba-Nya untuk memurnikan ketaatan dan penyembahan, yaitu taat dan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Satu, yaitu Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.        

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya”. ( Terjemah QS. Az-Zumar (39):2).

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”. Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku“. (Terjemah QS.Az-Zumar (39):11-14).

Yang dimaksud “memurnikan” ketaatan (dari kata dasar ikhlas yang berarti murni) adalah tidak mencampur ketaatan dan penyembahan kepada Allah swt dengan yang lain, dalam segala hal maupun bentuk. Lawan ikhlas adalah syirik (mempersekutukan Allah).

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48).

Sementara itu dalam sebuah hadist dikatakan,  Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251).

Tali ikatan Islam yang dimaksud adalah segala hukum yang mengikat seseorang menjadi seorang Muslim. Dan hal yang lebih dulu dan mudah diabaikan seorang Muslim adalah mengabaikan hukum Islam seperti riba’ (bunga bank), khamar (alkohol), perzinaan, homoseksual, jilbab dll. Sementara shalat adalah yang terakhir putus, karena bila seorang mengaku Muslim tapi tidak menjalankan shalat secara sengaja/sadar maka hilanglah ke-Islamannya. Shalat adalah satu-satunya kewajiban yang harus dikerjakan, dalam keadaan apapun. Bila sedang sakit atau darurat boleh dikerjakan sambil duduk, berbaring bahkan di atas kuda sekalipun.

Barang siapa berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya”. (Umar bin Khattab radhiallahu anhu).   

https://hidayatullah.com/kajian/oase-iman/2016/05/16/94896/tali-terakhir-bernama-shalat.html

Inilah yang terjadi hari ini. Shalat di belahan dunia manapun Muslim berada mungkin masih bisa terlihat. Namun hukum Islam seperti yang disebutkan diatas masihkah terjaga baik??? Berapa banyak negara berpenduduk Islam di dunia ini yang tidak terjerat sistim Barat yang materialistis, yang pada dasarnya mengandung riba, perjudian, pelacuran, alkohol, pajak yang berlebihan, dll??

Islamophobia yang melanda Barat yang sengaja diciptakan pihak-pihak yang membenci Islam, sejatinya adalah suatu usaha untuk menjauhkan umat Islam dari hukum-hukumnya, bukan hanya agar orang Barat tidak menerimanya. Mereka membenci bukan hanya ritualnya seperti shalat, puasa, haji tapi terlebih lagi hukum-hukum Islamnya.

Hukum Islam dianggap sebagai hambatan besar bagi kemajuan yang sifatnya materialistis. Bunga bank, perjudian, alkohol, narkoba, bisnis pelacuran, lbgt dan yang semacamnya adalah sumber keuangan yang paling menjanjikan dan mudah didapat.

Untuk itu agama harus dipisahkan dari kehidupan dunia. Agama adalah urusan akhirat dengan Tuhannya, tidak boleh dicampur adukkan dengan kepentingan dunia yang materialistis. Itulah prinsip sekulerisme yang akhirnya diikuti oleh hampir semua negara di dunia ini termasuk negara-negara berpenduduk Islam. Ketakutan terhadap kemiskinan dan dalih modernisasi membuat negara-negara tersebut tunduk patuh pada Barat yang 250 tahun terakhir ini memang sedang berada di puncak kejayaan.   

Islamophobia dimunculkan untuk mencitrakan ajaran Islam sebagai ajaran yang menyimpang, yang dipenuhi dengan ekstremisme dan kekerasan. Yang ironisnya tidak hanya dipercaya oleh non Muslim tapi juga Muslim yang kurang ilmu dan keimanannya, sungguh mengerikan.

Padahal Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang membedakan jelas antara kejahatan dan kebaikan. Islam adalah agama yang santun dan adil namun tegas, yang menghargai perbedaan pendapat tanpa harus mencampur-adukkannya, yang membela orang lemah dan miskin, menghormati orang-tua dan kaum perempuan, tidak mengajarkan menumpuk harta, dll.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”. (Terjemah QS. Al-Humazah (104): 1-2).

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. (Terjemah QS. Al-Maa’un (107): 1-3).

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. [HR. Bukhari].

Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”. [HR. Bukhari Muslim].

Ironisnya hari ini dapat kita lihat jelas bagaimana sikap negara-negara Timur Tengah menghadapi genosida terhadap rakyat Palestina, Gaza khususnya, yang dilakukan Israel dengan izin AS. Negara-negara tetangga dekat Palestina tersebut adalah negara-negara Islam. Namun demi kepentingan materialistis mereka mengizinkan AS membangun pangkalan militer di negara mereka. Yang dengan demikian memudahkan negara adi daya tersebut, dengan segala dalihnya, menyerang Iran, satu-satunya negara yang secara terbuka membela Palestina.

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (Terjemah QS. Zukhruf (43):36-37).

Akhir kata semoga Allah Azza wa Jala ridho membuka hati manusia terutama para pemimpin negara untuk menyadari kesalahannya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bishawwab.

Jakarta, 15 JuIi 2024 / 1 Safar 1448 H.

Vien AM.

Peradaban Islam pernah memimpin dunia dalam bidang kesehatan. Bukan hanya dalam teori medis atau kehebatan para dokter, tetapi juga dalam pelaksanaan sistem kesehatan yang berkeadilan dan tanpa diskriminasi. Salah satu bukti nyata keagungan ini adalah keberadaan Bimaristan atau rumah sakit yang tersebar di berbagai kota besar di dunia Islam.

Rumah sakit dalam peradaban Islam bukan sekadar tempat berobat. Ia adalah pusat pelayanan kesehatan, pendidikan medis dan penelitian ilmu kedokteran. Setiap orang, tanpa melihat status agama atau ekonomi, berhak mendapatkan pelayanan terbaik. Semua tindakan medis, obat-obatan, hingga makanan pasien diberikan secara gratis. Negara menanggung seluruh pembiayaan melalui Baitul Mal.

‘Bimaristan’ atau ‘Maristan’ sendiri merupakan serapan dari bahasa Persia. ‘Bimar’ berarti penyakit, dan ‘stan’ berarti lokasi atau tempat. Meskipun pengorganisasian ‘Bimaristan’ ini baru tahap awal dan belum sempurna, namun konstribusinya sangatlah besar. Kelak kemudian dikenal dengan istilah modernnya disebut sebagai  ‘Rumah Sakit’ atau ‘al-Mustasyfa’.

Pada masa awal dakwah Rasulullah SAW tanah Arab belum mengenal apa itu Bimaristan. Hingga suatu ketika datang delapan orang suku Baduy Urainah ke Madinah untuk menyatakan keislaman dan ketundukkan mereka pada Islam. Namun iklim Madinah yang tidak cocok membuat mereka terserang penyakit (sering disebut penyakit busung air atau demam). Atas perintah Rasullah mereka dikirim ke suatu tempat khusus untuk mendapatkan perawatan khusus, yaitu satu kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Mal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul Mal yang digembalakan di sana. Selama masa perawatan,  mereka disediakan susu unta untuk dikonsumsi, hingga akhirnya mereka kembali pulih dan sehat.

Ironisnya, mereka bukannya bersyukur tapi malah berkhianat. Karena keimanan yang sangat tipis mereka berburuk sangka bahwa penyakit yang mereka derita akibat mereka memeluk Islam. Akan tetapi yang lebih mengerikan lagi mereka bahkan membunuh pemilik unta, merampas unta-untanya lalu melarikan diri.   

Selanjutnya ketika Raja Mesir, Muqauqis, menghadiahkan seorang dokter kepada Rasullullah S.A.W., beliau kemudian menugaskan dokter tersebut untuk melayani masyarakat tanpa dipungut biaya. Seiring perjalanan waktu, atas kepentingan dakwah dan jihad, serta semakin bertambah dan luasnya wilayah Islam, maka perhatian terhadap urusan kesehatan dan pengadaan fasilitas penunjang lainnya menjadi hal yang sangat penting. Diceritakan bahwa terdapat tenda berjalan atau bangunan semi permanen untuk keperluan medis yang mengikuti pasukan Rasulullah S.A.W. kemanapun pergi.

Adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah, dialah perempuan pertama yang meminta kepada Rasulullah S.A.W. untuk ikut serta dalam peperangan, guna melakukan tindakan  pengobatan dan perawatan kepada para sahabat yang terluka di medan jihad. Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan pusat kesehatan (sejenis tenda pengobatan). Ketika masa perang datang, Rufaidah mampu menghimpun dan mengorganisir kalangan perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang, termasuk diantaranya perang Badar, Khaibar dan perang Khandaq.

Rasulullah SAW pernah memerintahkan untuk mengevakuasi Sa’ad ibn Mu’adz yang terkena panah pada lengannya saat perang Khandaq berlangsung ke tenda rufaidah agar diberi pertolongan. Pada peristiwa tersebut Rasulullah SAW menemui pasukan yang terluka di tenda Rufaidah beberapa kali dalam sehari. Keberadaan tenda tersebut terkenal luas di kalangan pasukan kaum muslimin dengan nama “Khaimah Rufaidah”. Keberadaan tenda pengobatan berjalan yang sangat sederhana tersebut terus berlangsung hingga masa sahabat.

Pada masa sahabat sistem penggajian bagi mereka yang terlibat berjalan sebagaimana gaji para tentara yang dibayar sesuai tingkatan dan keahlian, pembiayaannya diambil dari kas Baitul Mal. Sebagaimana yang berlangsung di masa Khalifah Umar bin al-Kaththab, beliau menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari kas Baitul Mal.

Demikian seterusnya hingga di era Bani Umayyah, masa kepemimpinan Khalifah al Walid- bin Abdul Malik pada tahun 710 M, pola penanganan kesehatan sudah mulai dilakukan secara terorganisir. Diawali dengan pembangunan Bimaristan di Damaskus Suriah untuk pengobatan para penderita lepra serta kebutaan. Tenaga dokter dan tenaga perawat mendapatkan gaji yang juga diambil dari kas Baitul Mal.

Pada era Abbasiyah, Rumah Sakit Islam benar-benar terwujud keberadaanya. Khalifah Harun al Rasyid yang sangat popular pada masa kejayaan Khilafah Abbasiyah memiliki Rumah Sakit Modern dengan bangunan megah di Baghdad sekitar tahun 786 M. Pelayanan Rumah Sakit Islam Modern tersebut sudah mencakup kesehatan jiwa, kebidanan dan kandungan.  Khalifah Harun al Rasyid juga membangun Baitul Hikmah, yang berfungsi sebagai pusat penelitian penyakit, perpustakaan, dan observatorium.

Rumah Sakit lainnya yang sangat terkenal adalah Rumah Sakit Al-A’dudi. Muhammad ibn Zakariya al-Razi dipercaya A’du al Dawlah ibn Buwayh pada tahun 981 M untuk membangun Rumah Sakit Al-A’dudi tersebut. Konsep pembangunan dan pemilihan lokasi beberapa Rumah Sakit di Baghdad merupakan ide brilian dari ar-Razi, dokter Muslim terkemuka yang dikenal oleh Barat dengan nama Razes.

Demi memilih lokasi terbaik untuk bangunannya, sebuah eksperimen dilakukan untuk mengetahui kondisi kebersihan lingkungannya. Ar-Razi menempatkan empat buah daging mentah selama satu malam di beberapa penjuru, tempat daging yang paling segar dipilih sebagai tempat berdirinya Rumah Sakit.

Pada masa itu, ar-Razi sudah menggunakan obat sirup untuk pasiennya. Selain itu, konsep diet dari dapur Rumah Sakit, pengaturan udara dan suhu ruangan pasien, ruang isolasi penyakit menular, serta upaya pencegahan suatu penyakit juga merupakan buah pemikiran al-Razi.

Rumah Sakit ini kemudian berkembang menjadi pusat pengobatan dengan berbagai macam penambahan struktur organisasi. Dalam prosesnya ditambahkan tenaga medis dan staf serta memberikan tambahan fasilitas lain seperti gudang obat, dapur makanan, serta perahu ‘ambulance’. Perahu ‘ambulance’ disediakan dalam jumlah banyak dan disediakan untuk orang miskin. Ini semua menjadi cikal bakal melahirkan Rumah Sakit lainnya di seluruh wilayah Khilafah Islam.

Selanjutnya di sekitaran tahun 1156 M, Imam Nuruddin Zanki membangun Rumah Sakit al Nuri. Dalam sejarah perkembangan Rumah Sakit, Rumah Sakit inilah yang pertama kali di dunia menggunakan rekam medis pasien. Di Rumah Sakit ini pula pertama kalinya operasional Rumah Sakit berlangsung 24 jam dengan kata lain berfungsi sebagai Unit Gawat Darurat pertama di dunia. Saat itu, fakultas kedokteran berkembang pesat dengan perpustakaan terlengkap. Rumah sakit ini banyak terinspirasi oleh karya Ibnu Sina yang literaturnya hingga 450 buku yang disalin ulang dan dikembangkan pada fakultas kedokteran tersebut.

Sementara itu, pada tahun 1190 M, di kawasan Afrika Utara tepatnya di Maroko terdapat Rumah Sakit Marakesh yang dibangun oleh al-Manshur Ya’qub ibn Yusuf. Saat itu Marakesh merupakan Rumah Sakit besar nan indah. Halamannya dipenuhi bunga dan pepohonan yang menghasilkan beraneka jenis buah-buahan untuk dikonsumsi.

Tak kalah hebat, di tahun 1285 M, Sultan Qalaun al-Mashur membangun rumah sakit yang sangat mewah di Kairo (al Fustat), popular dengan nama Rumah Sakit Qalawun. Rumah sakit ini terkenal dengan kualitas akurasi dan pengorganisasiannya. Mampu menampung lebih dari empat ribu pasien setiap harinya. Sistem yang dibangun termasuk perawatan (penyakit umum, bedah, patah tulang, demam, penyakit mata, dlsb) dan memberi makan pasien di bangsal serta mendidik perawat dan dokter sejak usia muda dengan proses seleksi.

Di penggalan tahun1366 M, di Andalusia terdapat rumah sakit yang juga terkenal, yakni Rumah Sakit Granada, satu dari sekian banyak rumah sakit yang ada di masa itu. Tercatat, di ibu kota Cordoba saja ada lebih dari lima puluh rumah sakit lainnya dengan kualitas yang hampir merata.

Berlanjut kisah di era Muhammad al Fatih di kisaran tahun 1453  M, perhatian sang Khalifah terhadap keberadaan rumah sakit sangat mengesankan. Al Fatih mewakafkan sebagian besar hartanya untuk membangun fasilitas publik termasuk rumah sakit. Ada beberapa rumah sakit terkenal saat itu, diantaranya Darusy Syifa, Darul ‘Afiyah dan Darush Shihah.

Untuk memberikan pelayan yang prima kepada warga, Muhammad al Fatih menerapkan beberapa kebijakan untuk rumah sakit. Rumah sakit tidak boleh memungut bayaran sedikitpun dari pasien. Hal ini berlaku bagi siapa saja tanpa melihat latar belakang pasien. Dalam proses rekrutmen pegawai rumah sakit khususnya bagi juru masak, disyaratkan  memahami segala bentuk makanan yang cocok dengan kondisi pasien dari sisi kandungan protein, vitamin dan gizinya. Para dokter wajib mengunjungi pasien dua kali dalam sehari dan melarang dokter untuk memberikan obat tertentu kepada pasien kecuali setelah melakukan diagnose yang detail.

Di setiap Rumah Sakit ada dua orang dokter umum dan ditambah dengan tenaga spesialis di bidangnya seperti ahli penyakit dalam, ahli bedah, ahli farmasi, sejumlah perawat dan pengawas keamanan. al Fatih mensyaratkan pada semua yang bertugas di Rumah Sakit untuk memiliki sifat qana’ah, rasa asih dan kemanusiaan. Di masa peradaban pemerintahan Islam, ‘Bimaristan’ tak hanya menjadi pusat pengobatan, tetapi juga berfungsi sebagai kampus, tempat menimba ilmu dan riset di bidang kesehatan. Sebuah tempat dimana pendidikan para tenaga kesehatan yang profesional berlangsung.

Dari kisah ini kita memahami bahwa Islam mempunyai sejarah yang kuat dalam membangun dunia. Keberadaan ‘Bimaristan’ menjadi bukti rekaman sejarah tentang betapa tingginya peradaban Islam. Fakta ini sekaligus memberikan gambaran kemajuan negara Khilafah dalam mengembangkan sains dan teknologi di bidang kesehatan, mendahului peradaban Barat. Sistem pengobatan dan pelayanan warga negara dilaksanakan secara manusiawi berdasarkan bimbingan Ilahi. Hal ini karena Islam sejak lahirnya 15 abad silam telah sangat memperhatikan berbagai  urusan manusia termasuk kesehatan yang merupakan hak semua manusia apapun agama dan bangsanya.

“Dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, Setiap penyakit ada obatnya. Maka apabila obat itu tepat mengenai penyakitnya, ia akan sembuh dengan izin Allah.”

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti”. (Terjemah QS. Al-Hujurat(49:13).

Jadi sungguh mengenaskan di zaman modern seperti saat ini masih banyak rumah sakit yang menetapkan tarif sangat tinggi seolah rumah sakit hanya milik orang kaya. Namun yang lebih mengerikan lagi ketika dunia dengan PBBnya menggaungkan toleransi dan persamaan hak dan kemerdekaan begitu kerasnya namun ketika Zionis Israel memborbardir begitu banyak rumah sakit di Gaza, tidak berbuat sesuatu yang berarti. 

Bahkan anehnya lagi Islamophobia masih saja terjadi. Padahal kebiadaban Zionis Israel terhadap dunia Islam terutama di Gaza terjadi terang-terangan di depan mata dunia. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat perawatan dan penyembuhan teraman bagi orang sakit dan korban perang malah dijadikan sasaran pemboman. Meski harus disyukuri, belakangan orang  dari berbagai belahan dunia mulai menyadari siapa sebenarnya teroris sejati, dan mulai berani secara terbuka melakukan aksi protes.

Semoga cahaya peradaban Islam dapat segera kembali menerangi bumi Allah yang makin redup dan renta ini, aamiin yaa robbal ‘aalamin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Juni 2026/ 14 Muharram 1448H.

Vien AM.     

Dikutip dari :

https://iainews.net/bimaristan-jejak-sejarah-peradaban-islam-cikal-bakal-lahirnya-rumah-sakit/

https://narasipost.com/syiar/07/2025/bimaristan-warisan-peradaban-islam-yang-terlupakan

Menjadi pemimpin bagi sebagian orang, dengan berbagai alasan, adalah sebuah impian dan cita-cita. Ada yang karena ingin memperbaiki/merubah keadaan, ada yang karena kewajiban dan tanggung-jawab sebagai pemilik suatu usaha, ada yang karena ingin membantu dan mengembangkan orang lain, tapi ada juga yang karena ambisi pribadi semata ingin berkuasa. Islam tidak melarangnya bahkan menganjurkannya, namun dengan syarat-syarat tertentu. Diantaranya harus adil, jujur, tidak zhalim dll.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam/pemimpin, bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):124).

Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Abu Sa’id al Khudri menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang zhalim.” (Hadits Riwayat Imam Tirmidzi no.1329)

Sayangnya tidak semua orang yang ingin menjadi pemimpin mempunyai kemampuan untuk memimpin dengan baik. Ciri-ciri pemimpin yang baik diantaranya adalah yang tidak egois, mau mendengar pendapat orang lain, sabar, tidak cepat marah ketika dikritik dan tidak segan turun menemui orang yang dipimpinnya. Namun sebaliknya ia harus tetap tegas, tidak mudah terpengaruh pendapat dan percaya laporan bawahannya.  

Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. ( Terjemah QS.Al-Ahzab (33:21).

Rasulullah Muhammad saw adalah contoh keteladanan terbaik sepanjang masa. Tidak saja akhlaknya namun sebagai pemimpinpun beliau amat sangat patut dicontoh. Rasulullah selalu bermusyawarah dalam menghadapi semua masalah besar. Pada perang Khandaq ( Parit) beliau tidak segan menerima usulan Salman Al-Farisi agar menggunakan parit sebagai pertahanan kota. Padahal Al-Farisi adalah orang Persia yang belum lama memeluk Islam hingga banyak sabahat yang meragukannya. Namun Rasulullah mempercayainya karena Al-Farisi mengajukan usulan berdasarkan pengalaman negrinya ketika sukses melawan musuh yang menyerangnya. Tampak jelas untuk urusan dunia Rasulullah tidak ingin mencampur-adukkannya dengan urusan akhirat yang beliau ketahui.    

Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim, no. 2363).

Sementara itu pada perang Uhud ketika Rasulullah meminta pendapat para sahabat untuk bertahan di dalam kota ( Madinah) atau keluar menghadapi musuh di luar kota, Rasulullah mengalah pada keputusan mayoritas, yaitu keluar kota. Padahal sebetulnya Rasulullah lebih memilih bertahan di dalam kota.

Begitu pula dalam mengangkat pemimpin, Rasulullah selalu mempertimbangkan banyak hal. Contohnya adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat yang memohon agar ia diberi kepercayaan mendapat sebuah jabatan kepemimpinan.

Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sedangkan kepemimpinan adalah sebuah amanah. Dan kepemimpinan itu pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil haknya dan menunaikan kewajiban yang ada padanya.”

Abu Dzar al-Ghifari adalah seorang sahabat ahli ibadah yang dikenal zuhud (hidup sangat sederhana dan tidak memikirkan kenikmatan dunia). Beliau juga seorang yang tegas dalam membela kebenaran serta selalu bersikap jujur tanpa kompromi. Namun ternyata Rasulullah tidak memandangnya sebagai modal yang cukup untuk menjadikannya sebagai pemimpin.

Rasulullah justru memandangnya sebagai kelemahan dalam hal diplomasi karena seorang pemegang kekuasaan dituntut memiliki keluwesan, strategi dan kesabaran dalam menghadapi keragaman masyarakat. Kepemimpinan membutuhkan kombinasi antara iman, akhlak dan kemampuan/keterampilan mengelola manusia yang beragam serta membangun sistem yang baik.

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”

Ayat 72 surah Al-Ahzab di atas menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah amanat yang begitu berat, sampai-sampai gunung yang kokohpun menolaknya. Tetapi, manusia dengan segala kelemahannya justru berani memikulnya sering kali bahkan bukan karena kemampuannya melainkan karena kesombongan dan ambisi semata. Hingga akhirnya membuahkan kehancuran bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga orang-orang yang dipimpinnya.

Jabatan dan kepemimpinan sering dianggap sebagai simbol kehormatan, kekuasaan dan kekayaan. Padahal seorang pemimpin harus mempertanggungkan jawabkan kekuasaannya tidak hanya kepada yang dipimpinnya tapi juga kepada Allah swt. Imbalan bagi pemimpin yang adil dan amanah adalah surga tertinggi. Sebaliknya neraka Jahanam bagi yang zhalim.   

Pemimpin zhalim juga telah didoakan agar mengalami kesukaran oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan, “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Sayangnya hari ini kita dapat melihat banyak pemimpin yang mengaku Muslim namun zhalim. Bahkan sesama Muslimpun mereka tidak saling menjaga hubungan dengan baik. Mereka tampaknya lupa betapa pentingnya persatuan antar sesama Muslim yang sejatinya adalah kunci kekuatan Islam yang telah terbukti nyata pada masa-masa kejayaan Islam di masa lalu.

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling memutuskan hubungan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang terjadi di Palestina selama puluhan tahun, sungguh merupakan buah tidak bersatunya umat Islam hingga mudah diperdaya musuh-musuh Islam. Juga dengan yang terjadi di Sudan belakangan ini dimana sesama Muslim saling menumpahkan darah, na’udzubillah min dzalik …

Perpecahan dan peperangan sesama Muslim dalam sejarah Islam bukanlah hal baru. Bahkan pada masa nabipun telah ada, itulah kaum munafikun. Sejarahpun mencatat hal tersebut membuat lemah dan kalahnya umat Islam. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah balasannya, yaitu neraka Jahanam yang merupakan neraka terdasyat, bersama dengan orang-orang kafir yang selama di dunia mereka jadikan teman akrab bahkan pelindung, na’udzu billah min dzalik …

“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal”, ( Terjemah QS. At-Taubah (9):68).

Bila saat ini para pemimpin dzalim terus saja meneruskan kedzalimannya, tidak berlaku adil kepada rakyatnya, tidak segera bertobat bahkan terus menjalin hubungan mesra dengan musuh-musuh Islam yang nyata-nyata telah menyakiti kaum Muslimin seperti yang terjadi di Palestina, jangan lupa keadilan hakiki pasti terjadi.

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”. (Terjemah QS.Ibrahim (14):42).

Dan lebih menariknya lagi, adil tidak hanya kepada sesama Muslim tapi juga kepada umat agama lain selama tidak memusuhi Muslim.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Juni 2026 / 29 Dzulhijjah 1447 H.

Vien AM.

Untuk kesekian kalinya, GSF, sebuah gerakan solidaritas maritim internasional yang digagas oleh masyarakat sipil global untuk menembus blokade laut Israel di Jalur Gaza, mengalami hambatan besar.  Global Sumud Flotilla 2.0 yang terdiri lebih dari 54 kapal dari berbagai negara dan mengangkut 428 aktivis dari 50 negara tersebut dibajak oleh tentara Zionis Israel di perairan internasional dekat pulau Siprus pada 18 Mei 2026. GSF 2.0 dengan membawa bantuan medis, pangan, dan logistik untuk masyarakat Gaza memulai pelayaran globalnya dari pelabuhan Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026.

Tentara Israel menembaki sejumlah kapal setelah akhirnya membajak seluruh kapal dan tanpa rasa bersalah menculik semua aktivis yang berada dalam kapal-kapal tersebut. Termasuk 9 aktivis asal Indonesia yang tengah menjalankan tugas jurnalistik. Ironisnya lagi, Netanyahu dengan bangga memberikan ucapan selamat kepada pasukannya yang telah melakukan operasi illegal tersebut. Ia menuduh armada kemanusiaan tersebut hanya sebagai aksi propaganda yang melayani kepentingan Hamas.

https://news.republika.co.id/berita/tfb24k393/seluruh-wni-peserta-armada-global-sumud-akhirnya-diculik-israel

Tak cukup itu saja, setiba di pelabuhan Ashdod menuju ke penjara, dengan tangan terikat ke belakang punggung mereka dipaksa bersujud, ditendang dan dipukul bila menolak. Sementara telinga mereka harus menerima maki-makian Itamar Ben-Gvir, menteri Keamanan Nasional Israel berhaluan sayap kanan, yang terus menunjuk-nunjuk para aktivis sebagai teroris. Ironisnya lagi, perbuatan busuk tersebut secara sengaja direkam dan kemudian diunggah ke media sosial.

Sujud yaitu posisi ujung jari kaki, lutut dan kepala menempel di tanah di hadapan seseorang, adalah posisi tertinggi merendahkan diri seseorang. Dan semua manusia apapun bangsa dan agamanya mengakui hal tersebut. Itu sebabnya para raja yang otoriter hampir selalu menuntut rakyatnya sujud kepadanya sebagai bentuk ketundukkan dan ketaatan..

Namun Islam melarang hal tersebut. Sujud hanya diperkenankan kepada Sang Pencipta Allah Azza wa Jala, satu-satunya tuhan segala yang ada di langit maupun di bumi. Malaikat, burung bahkan bayang-bayangpun bersujud kepada-Nya. Satu-satunya mahluk yang menolak bersujud pada-Nya hanya Iblis, dedengkot jin berhati syaitan. Ini tertulis pada ayat 30 dan 31 surat Al-Hijr berikut, “ Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu”.

Begitu pula Maryam ibu nabi Isa as yang umat Nasrani menyebutnya Yesus Kristus. Allah swt memerintahkannya sujud kepada-Nya, sebagaimana ayat 43 surat Maryam berikut, ” Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”. Begitupun para nabi.

Itu sebabnya umat Islam melakukan sujud minimal 34x sehari semalam yang dibagi dalam 5x shalat wajib sebagai bentuk ketundukan hamba kepada Tuhannya. Dan sekaligus demi menjalankan perintah dan meraih ridho dan kasih-sayang-Nya.

Maka wajar saja bila sikap pongah Ben-Gvir yang menganggap dirinya seolah-olah tuhan menimbulkan kecaman lebih dari 20 negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Kanada, juga Indonesia. Beruntung 3 hari kemudian berkat sejumlah diplomasi yang dilakukan sejumlah pihak, para aktivis tersebut berhasil dideportasi menuju Turki untuk kemudian dipulangkan ke negara masing-masing.     

Selanjutnya dari pengakuan para aktivis itulah diketahui selama 3 hari mereka diperlakukan dengan semena-mena, dengan amat sangat tidak manusiawi. Pemerintah Kanada mengatakan telah menerima informasi yang merinci perlakuan mengerikan terhadap warganya. Adapun pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi bahwa sejumlah warga mereka mengalami cedera.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni melontarkan kritik keras terhadap Uni Eropa. Di hadapan para pengusaha Italia, Meloni menuding Brussel telah berubah menjadi raksasa birokrasi yang terlalu sibuk mengatur berbagai aspek kehidupan, tetapi lemah dalam menghadapi tantangan global. Sementara Perancis menjatuhkan sanksi khusus larangan masuk Perancis bagi Ben-Gvir. Sedangkan presiden terpilih Irlandia Catherine Connolly yang sejak lama telah menyuarakan dukungannya terhadap Palestina, secara terang-terangan menyebut Israel sebagai negara teroris.

Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 menyatakan setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual serta perlakuan keji lainnya. “Setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. Ada yang ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang“.

Tapi hebatnya semua aktivis yang mengalami siksaan berkata, “Kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari“. Mereka juga menyatakan tidak kapok dan terus akan meneruskan cita-cita mulia untuk membantu penderitaan rakyat Palestina. 

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c0r2j2zznqzo

Namun dibalik itu semua ternyata Israel tidak melepas seluruh aktivis GSF. Seorang Perempuan usia 54 tahun bernama Zohar Regev Chamberlain, adalah satu-satunya aktivis yang tetap yang ditahan dan ditolak pembebasannya oleh pihak berwenang Israel. Zohar lahir sebagai sebagai Yahudi, tumbuh dan besar di sebuah pemukiman Israel. Hingga pada suatu hari di tahun 2004, diusianya yang ke  34, ia memutuskan meninggalkan tempat asalnya untuk berpindah ke Spanyol, lalu menetap lama di Belanda dan Jerman.

Dua tahun kemudian, diawali karena sedih melihat penderitaan rakyat Palestina, Gaza khususnya, iapun memeluk Islam. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2008 untuk pertama kalinya bergabung dengan GSF demi membela Gaza. Menambah deretan bukti bahwa serangan brutal Israel ke Gaza bukan sekedar balasan serangan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Tahun 2026 ini Zohar kembali bergabung dalam GSF 2.0 dan ikut ditahan pemerintah Israel. Tapi karena ia masih memegang paspor dan kewarganegaraan Israel, nasibnya berbeda dari rekan‑rekannya. Hingga detik ini ia masih ia ditahan dan akan diseret ke pengadilan dengan dakwaan berat pengkhianatan terhadap negara.

Sungguh mengenaskan. Sementara masih banyak Muslim yang tidak peduli terhadap penderitaan saudaranya di Palestina, seorang Israel berdarah Yahudi berani mengorbankan dirinya untuk Palestina. Padahal dalam pengakuannya ia mengatakan bahwa ia memiliki kehidupan yang sangat nyaman, aman dan makmur di Eropa. Ia bisa saja diam dan menikmati hidupnya. Namun hatinya tak kuat menahan rasa sakit hati melihat penderitaan anak Gaza yang setiap hari kehilangan orang-orang yang dikasihi, kehilangan rumah, sekolah dll.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. ( Terjemah QS. Al-Hajj(22):46).  

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” [HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599].

GSF yang merupakan kepanjangan Global Sumud Flotilla, “Sumud” yang berasal dari bahasa Arab yang artinya keteguhan, ketabahan atau daya tahan, Flotilla dalam Bahasa Spanyol artinya armada kecil kapal, sungguh nama yang tepat untuk menunjukkan solidaritas dunia dalam melihat keteguhan rakyat Palestina terutama Gaza dalam menghadapi krisis. Koalisi kemanusiaan diluar batas agama, wilayah dan kebangsaan ini terdiri dari ribuan relawan, aktivis hak asasi manusia, dokter dan jurnalis dari puluhan negara ini bersatu untuk membela dan membantu penderitaan Palestina yang sudah bertahun-tahun.

Israel dengan dibantu AS sebagai pelindungnya, telah benar-benar keterlaluan dalam kebiadaban dan kesewenang-wenangannya. Gaza Palestina meski katanya sedang dalam keadaan gencatan senjata tapi setiap hari korban terus berjatuhan karena gempuran tentara Israel terus saja terjadi. Yang paling menderita sudah pasti adalah kaum perempuan dan anak-anak. Mereka kehilangan segalanya, tidak hanya orang-tua dan orang-orang yang dikasihinya tapi juga kesehatan dan mental mereka.

Laporan menyebutkan lebih dari 1 juta anak Gaza menderita trauma akut. Saking ketakutannya banyak diantara mereka yang secara mendadak kehilangan kemampuan untuk berbicara. Hampir setiap hari menyaksikan orang-orang yang disayangi meregang nyawa di depan mata, melihat darah berceceran bahkan ikut mencari potongan2 tubuh manusia sungguh bukan hal mudah untuk dilupakan begitu saja. 

Ironisnya karena merasa tak satupun negara berani melawan tindakan brutal yang dilakukan tentara Israel dan maka demi nafsu merealisasikan mimpi membentuk Israel Raya, sejak beberapa bulan terakhir gempuranpun merambah ke negara-negara tetangga seperti Lebanon, Yaman dan Iran. Dan seperti juga serangan di Gaza, sipilpun ikut menjadi korban. 

Langkah perjuangan GSF tidak berhenti pada pembebasan aktivis. Saat ini fokus GSF telah beralih pada upaya hukum pidana internasional guna menyeret para petinggi militer dan politik Israel ke pengadilan. Hal ini merujuk pada sejumlah sanksi dan perintah penangkapan yang sudah mulai diterbitkan oleh sotoritas internasional.

Membangun kasus untuk dibawa ke pengadilan. Sudah ada 35 arrest warrant (perintah tangkap) kepada IDF (Israel Defense Forces) dan pemimpin-pemimpinnya karena terkait dengan Gerakan Sumud atas berbagai pelanggaran yang mereka lakukan,” ujar Steering Committee GSF, Maimon Herawati, yang juga merupakan dosen tetap Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, pada Ahad, 24 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa misi utama dari pelayaran kemanusiaan ini adalah kemerdekaan mutlak bagi para tahanan Palestina. Juga untuk membantu kekejaman sistemis yang dihadapi oleh ribuan warga asli Palestina yang ditahan tanpa kepastian hukum.

9.000 lebih saat ini dalam penjara dan saya harap teman-teman media meng-highlight ini semua. 400 di antaranya adalah anak-anak. Lebih dari 200 adalah perempuan. Dan semua mengalami penyiksaan yang di luar batas kemanusiaan. Kami ingin membebaskan tahanan Palestina, kerja belum selesai sampai seluruh tahanan Palestina bebas,” pungkasnya.

Berita terakhir, selain mengutuk keras tindakan Israel yang berencana memperluas wilayahnya di Gaza dan merebut tanah wilayah Lebanon selatan, akhirnya PBB juga berani memasukkan Israel ke dalam daftar hitam kekerasan seksual di zona konflik (29 Mei 2026). Pelapor khusus PBB tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, Reem Alsalem, mengatakan keputusan ini sebenarnya sudah lama tertunda. Semoga keputusan PBB tersebut mampu membuat Israel ciut.

Saya sebelumnya telah menyatakan kekecewaan saya karena Israel belum tercantum, mengingat kekerasan seksual sistematis, berskala besar, dan mengerikan yang dilakukan Israel terhadap perempuan, laki-laki, dan anak-anak Palestina yang telah didokumentasikan dan diverifikasi secara independen,” imbuhnya.

https://news.detik.com/internasional/d-8512710/daftar-hitam-yang-bikin-israel-berang-ke-sekjen-pbb

https://www.jpnn.com/news/pbb-kecam-israel-yang-berencana-memperluas-kendali-wilayah-gaza

Akhir kata sebagai manusia sekaligus Muslim mari kita minimal mendoakan agar usaha mulia GSF membuahkan hasil sesuai harapan. Semoga Palestina segera merdeka dan semoga Allah swt membalas kebaikan para aktivis baik yang Muslim maupun yang bukan dengan balasan yang lebih baik di dunia, dan akhirat sebagai tambahan khusus bagi yang Muslim, aamiin yaa robbal ‘aalamiin … Syukur Alhmdulillh bila Sang Khaliq ridho memberi bonus hidayah bagi yang non Muslim. Allahu Akbar …     

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 2 Juni 2026 / 17 Dzulhijjah 1447 H.

Al-‘Aliyyu yang artinya Yang Maha Tinggi, adalah satu dari 99 nama Allah  sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qu’ran berikut, “Allah memiliki Asmaul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna (nama-nama terbaik) itu. … ” (Terjemah QS.Al-A’raf(7):180).

“(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)”. (Terjemah QS.Toha(20):8).

Nama-nama tersebut menunjukkan macam ragam sifat Allah yang menunjukkan kebesaran, ketinggian, keindahan, keagungan dan kesempurnaan Allah SWT, dan wajib kaum Muslimin mengimaninya. Dengan mengimani Asmaul Husna, berarti kita mengakui dan meyakini bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah satu-satunya pemilik sekaligus penguasa alam semesta dengan segala isinya. Keutamaan membaca Asmaul Husna adalah membuat kita senantiasa mengingat keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang mampu menghafal dan menjaganya pasti akan masuk surga“. [Hadis sahih] – [Muttafaq ‘alaih]

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait jumlah nama-nama Allah. Sebagian mengatakan bahwa nama Allah pada dasarnya tidak terbatas pada angka tertentu. Ada pula yang berpendapat, bahwa jumlah nama itu terbatas di angka tertentu (100, 1000, 99, dan lainnya) meskipun sebagian nama-nama-Nya tidak diketahui manusia secara keseluruhan. Pendapat bahwa Asmaul Husna berjumlah 99 adalah paling populer dengan berpatokan pada hadits di atas.

Allah Azza wa Jala menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang meyakini adanya Allah, melakukan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, serta yang mampu menghafal dan menjaga 99 nama-indah-Nya. Dengan membaca dan mengimani Asmaul Husna, secara tidak langsung, kita telah mendekatkan diri kepada Allah swt. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menyebut salah satu asma Allah ketika kita berdoa sesuai dengan muatan doa kita. Jadi sungguh suatu keuntungan besar bila kita hafal nama-nama tersebut.

*Al-`Aliyyu العَلِيُّ Yang Maha Tinggi*

Sebagai salah satu dari 99 Asmaul Husna, nama ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki ketinggian mutlak dalam zat, sifat, kekuasaan dan derajat, jauh melampaui segala makhluk-Nya. Dalam ayat 59 surat Al-Furqon disebutkan bahwasanya Allah Aza wa Jala bersemayam di atas Arsy,

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy … “.

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”. (Terjemah QS. Al-Haqqah (69):17).

Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (Terjemah QS. Al-Buruj(85):14-16).

Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya? Beliau menjawab, ‘Dia berada di ‘amaa, tidak ada diatas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya di atas air”.[ HR. Tirmidzi].

Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah ‘Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga”. [ HR Bukhari].

Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, sesuatu yang amat sangat jauh dari jangkauan kita. Oleh sebab itu sudah seharusnya untuk tidak mempertanyakannya. Yang pasti ilmuwan dengan peralatan super canggihnya baru belakangan ini mengetahui bahwa alam semesta ini amat sangat luas. Bahwasanya galaksi Bima Sakti dimana bumi berada hanya salah satu dari trilyunan galaksi yang ada di alam semesta ini. Bahkan matahari yang terlihat begitu jauh dari pandangan kita dan merupakan pusat perputaran tata surya kita sejatinya hanyalah salah satu bintang yang ada di galaksi Bima Sakti.

Mari kita simak ayat 143 surat Al-‘Araf yang secara bahasa berarti “tempat tertinggi” atau “tempat tertinggi yang dibatasi oleh dinding” berikut,

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Sementara dalam hadits Qudsi Allah berfirman kepada para malaikat: “Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihat-Ku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”.

Hadist diatas merujuk pada keadaan Wukuq di Arafah pada saat musim Haji yang dilakukan umat Islam yang merupakan kewajiban bagi yang mampu. Saat itu Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada hamba-hamba-Nya yang wuquf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka.

“ . . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?

Ayat dan hadist diatas menunjukkan 2 sifat sekaligus yang tampak berlawanan yaitu Al-‘Aliyyu yang artinya yang maha Tinggi dan Al-Qoribu ( yang maha dekat). Ayat 143 surat Al-‘Araf diatas menerangkan secara gamblang bahwasanya gunung selaku salah satu mahluk Allah hancur luluh ketika Ia menampakkan diri. Sebaliknya hadist diatas menceritakan umat Islam yang sedang berhaji tetap utuh seperti semula ketika Ia tidak hanya menampakkan diri tapi bahkan mendekatinya. Allah dengan segala kehendak-Nya mampu berbuat segalanya. Jadi sungguh alangkah tinggi dan beruntungnya umat Islam.

Akan halnya Al-Qoribu ( Yang Maha Dekat), meski umumnya tidak masuk dalam tabel Asmaul Husna namun sifat Allah tersebut beberapa kali muncul dalam Al-Quranul Karim, diantaranya pada ayat 186 surat Al-Baqarah sebagai berikut,“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Sementara pada ayat 19 surat Al-Alaq, Allah swt memerintahkan umat Islam untuk mendirikan shalat (sujud) dan mendekatkan diri pada-Nya. Ayat tersebut  adalah ayat sajadah ( ayat yang mengandung perintah sujud). Ayat yang ketika umat Islam mendengar atau membacanya dianjurkan untuk melakukan sujud tilawah sebagai bentuk ketundukan dan penghormatan terhadap ayat tersebut, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Menariknya, bacaan sujud yang dilakukan umat Islam minimal 34 x dalam sehari ( dalam 5x shalat wajib), adalah “ Subhanallah robbiyal a’la wa bi hamdi ” yang artinya “Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala puji bagi-Nya”. Untuk diingat sujud, yaitu posisi dimana dahi menempel ke tanah adalah posisi terdekat dengan Allah swt. Secara umumpun tanpa merujuk agama, orang mengartikan sujud sebagai bentuk penyembahan dan penghambaan, penghinaan bagi orang yang sujud kepada benda/mahluk yang di-sujud-inya.  

Dalam Islam penyembahan dan penghambaan hanya berlaku kepada Sang Pencipta, Allah Subhanallah Wa Ta’ala, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi karena manusia memang hamba Allah. Sujud kepada mahluk lain selain Allah adalah bentuk kesyirikan yang merupakan dosa besar yang tiada ampun baginya.  

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Terjemah QS.An-Nissa(4):48).

Demikianlah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-‘Aliyyu melalui Asmaul Husna. Dan dengan mengimani Asmaul Husna, salah satu hikmah yang akan kita dapat adalah dirahmati oleh Allah SWT. Allah akan melindungi hambanya yang mendekatkan diri pada-Nya. Dengan mengetahui makna Asmaul Husna maka Allahpun akan memudahkan segala urusan kita, untuk selalu berperilaku baik tidak hanya kepada-Nya tapi juga kepada sesama manusia hingga Allahpun ridho dan hidup kitapun tenang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Mei 2026 / 25 Dzulhijjah 1447 H.

Vien AM.