Feeds:
Posts
Comments

Semangat Hijrah(2).

Persaudaraan sesama Muslim adalah hikmah yang sering dilupakan orang ketika berbicara tentang hijrah. Padahal tak lama setelah Rasulullah tiba di kota Madinah ketika hijrah 14 abad silam, beliau segera mempersaudarakan kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah dengan kaum Muhajirin yaitu para sahabat yang hijrah dari Mekah ke Madinah. Contohnya yaitu Umar bin Khattab ( Muhajirin) dipersaudarakan dengan Itban bin Malik al-Khazraji (Anshar) dan Abdurrahman bin Auf ( Muhajirin) dengan Sa’ad bin Rabi (Anshar).

Berikut salah satu kisah menarik tentang persaudaaan antar kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang diabadikan dalam ayat 9 surat Al-Hasyr :

Suatu hari datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (dalam keadaan lapar), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada para istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?”

Salah seorang kaum Anshâr berseru: “Saya,” lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshâr itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu. Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.

Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung –Qs. al-Hasyr/59 ayat 9. [HR Bukhari] 

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):9).

Kisah persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi berikut juga tak kalah menariknya. 

Sa’ad ra berkata kepada Abdurrahman ra, “Aku adalah kaum Anshâr yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa ‘iddahnya, engkau bisa menikahinya”. Mendengar pernyataan saudaranya itu, ‘Abdurrahmân menjawab: “Aku tidak membutuhkan hal itu. Adakah pasar (di sekitar sini) tempat berjual-beli?” Lalu Sa’ad menunjukkan pasar Qainuqa’. Maka mulai saat itu Abdurrahmân sering pergi ke pasar untuk berniaga hingga akhirnya ia berkecukupan dan tidak lagi tergantung  bantuan Sa’ad, saudaranya, atau siapapun. [HR. Bukhari].

Tak dapat dipungkiri rasa persatuan dan rasa persaudaraan diantara sesama Muslim pada periode tersebut adalah kunci kemenangan Islam dalam menghadapi dominasi kekuatan kaum Kuffar. Kaum Muslimin yang waktu itu hanya menguasai kota Madinah namun berhasil mempecundangi  dua super power dunia ketika itu yaitu Romawi Timur dan Byzantium.

Dibawah kekhalifahan yang 4 yaitu para Khulafaur Rasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan rad an Ali bin Abu Thalib ra) yang merupakan generasi sahabat terbaik, dakwah Islam secara cepat berkembang hingga ke separuh belahan dunia. Simak apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte kaisar kenamaan Perancis yang terekam dalam “Bonaparte et L’Islam” karya Christian Cherfils pada hal 105.     

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia … Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentausaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat … Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separuh bola bumi … Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”.

Kejayaan Islam selama berabad-abad dimulai pada periode Madinah yaitu sejak hijrahnya rasulullah pada tahun 622 M hingga akhir kekhalifahan Ottoman pada tahun 1923. Kejayaan ini terbagi atas beberapa periode dan fase. Kejatuhan kejayaan Islam terjadi secara bertahap, tidak secara tiba-tiba. Penyebab utamanya adalah lemahnya rasa persatuan umat hingga mudah diadu domba oleh mereka yang tidak menyukai Islam. Cinta dunia dan takut mati yang berlebihan seperti gila harta dan kekuasaan hingga tidak mau berjuang untuk Islam, makin mempercepat kejatuhan Islam. Dan hal tersebut terus berlanjut hingga detik ini. 

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Oleh sebab itu fenomena banyaknya pemuda yang hijrah belakangan ini merupakan angin segar tanda kebangkitan Islam yang telah lama dinantikan. Namun demikian hal yang harus dicatat, hijrah haruslah 100 % alias hijrah total, tidak setengah-setengah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Jangan kita memilah-milah hukum Allah, ditaati hukum yang kita sukai dan ditinggalkan hukum yang tidak kita sukai. Hukum menutup aurat, hukum waris, hukum riba, poligami dan jihad perang adalah beberapa contoh hukum yang sering ditolak sebagian kaum Muslimin.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):216).

Allah swt memerintahkan kita untuk tuntas dalam melakukan segala sesuatu, tidak setengah-setengah. Dalam ilmu kedokteran mungkin kita bisa menyetarakannya dengan pasien yang minum antibiotic. Semua orang pasti tahu bahwa minum antibiotik harus sampai habis. Kalau tidak maka akan percuma, dan harus diulang dari awal.

Contohnya dalam shalat. Waktu dan jumlah rakaat tiap shalat sudah tertentu. Subuh 2 rakaat, haram hukumnya kita menambahnya menjadi 3 atau 4 rakaat dengan alasan 2 rakaat terlalu sedikit misalnya. Atau shalat yang sudah nyaris selesai tinggal salam, tetapi tiba-tiba buang angin. Sah kah shalat kita??? Tidak … kita harus mengulang dari awal, bahkan dari wudhu. Bahkan wudhupun harus sesuai syariat, tidak boleh sesuka hati.

Begitulah syariah Islam. Janji Allah Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin, kebaikan untuk seisi alam semesta, akan terpenuhi bila syariah dijalankan secara keseluruhan/tuntas tidak sebagian-sebagian. Bangsa Indonesia adalah mayoritas Muslim, merupakan jamaah haji terbesar seluruh dunia. Tapi adakah keberkahan di bumi kita tercinta?? Bukankah Allah swt telah menganugerahi bangsa ini tanah yang sangat subur, dengan sumber kekayaan alamnya yang tak terhingga?

Mari kita introspeksi, tingkat berapakah korupsi negara kita di dunia? Bagaimana dengan sistim per-bank-an kita yang sarat riba itu?? Bagaimana pula tingkat kriminalitas, perkosaan, pedophili, prilaku menyimpang seperti homoseksualitas, perzinaan, pengguguran kandungan dll yang semua jelas-jelas terlarang dalam Islam??? Belum lagi perpecahan antar kelompok Islam yang makin lama meruncing seolah tidak ada rasa kasih sayang antar mereka.  

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Harus diingat musuh kita bukan “cuma” syaitan yang membisik-bisiki hati, tapi juga musuh nyata yang menyerang berbagai lini kehidupan, yang popular dengan sebutan 7 F( Fashion, Food, Film, Free thingking, Free sex, Fun dan Friction).

Jadi bila kita memang sungguh-sungguh ingin kembali mencapai kejayaan Islam seperti dulu maka tidak ada jalan lain selain harus hijrah sebenar-benar hijrah, hijrah dalam segala hal, dengan niat murni demi menggapai ridho-Nya.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 September 2020.

Vien AM.

Semangat Hijrah(1).

Belakangan ini, kata hijrah makin populer di kalangan anak muda yang sedang bersemangat mengikuti berbagai kajian ke-Islam-an. Hijrah biasanya ditandai dengan berubahnya penampilan. Yang perempuan dengan jilbab syar’i-nya, yang lelaki dengan jenggot dan celana cingkrangnya. Sudah sepantasnya kita sambut gembira perubahan tersebut, dengan catatan bila hijrah dilakukan karena dan hanya untuk Allah Azza wa Jala.

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam sejarah Islam, hijrah adalah perpindahan yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw bersama para sahabat, dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan untuk mempertahankan dan menegakkan risalah Islam. Karena selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah dan kaum Muslimin yang ketika itu baru berjumlah sedikit sering mengalami cobaan yang berat dan perlakuan keji dari kaum Quraisy. Puncaknya adalah konspirasi pembunuhan Rasulullah saw.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab ra perpindahan tersebut diabadikan dengan ditetapkannya sebagai permulaan kalender Islam yang disebut dengan tahun Hijriyah. Tahun tersebut bertepatan dengan tahun 622 Masehi.

Hijrah terbagi atas dua macam, yaitu hijrah Makaniyah dan hijrah Maknawiyah. Hijrah Makaniyah atau hijrah fisik yaitu pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Atau bisa dimaknai dengan berubah dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik. Diantaranya dengan penampilan yang lebih baik, lebih Islami, lebih mengikuti syariah.

Sedang hijrah Maknawiyah atau hijrah batin adalah berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari kebathilan menuju ketaatan, dari berharap kepada makhluk menuju hanya berharap kepada Allah SWT. Hal ini dapat ditandai dengan perubahan sikap yang nyata, seperti lebih dekat dengan Al-Quranul Karim, mengkuti kajian-kajian, shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki dll.

Hijrah terbaik adalah yang melibatkan keduanya, hati dan jasad. Sebagian ulama bahkan berkata hijrah bukan sekedar mengerjakan yang sunnah tapi lebih penting lagi meninggalkan segala yang haram. Karena tidak sedikit anak-anak muda yang mengaku hijrah melakukan hal-hal yang sunnah seperti memelihara jenggot, memakai celana cingkrang, melakukan shalat Dhuha tapi tetap berduaan berpacaran, makan makanan yang tidak halal, masih tetap menyimpan uangnya di bank konvensional, bahkan shalat Subuhpun masih sering lalai.

Namun demikian, tak dapat dipungkiri banyaknya pemuda/i yang berhijrah di saat tanda-tanda Hari Kiamat makin bermunculan membuat hati ini lega. Bagi yang suka mengikuti tausiyah para ulama spesialis akhir zaman pasti tahu bahwa kerusakan moral seperti makin merajalelanya perzinahan dan prilaku menyimpang seksual adalah salah satu tanda-tandanya. Jadi sungguh patut diacungi jempol mereka yang berani mengambil keputusan berhijrah di tengah suasana yang demikian.

Mengambil ibrah hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat, hijrah itu harus dipersiapkan. Hijrah ke Madinah diawali dengan baiat Aqabah yaitu ikrarnya 12 penduduk Yatsrib (Madinah) yang ketika itu sedang berziarah ke Mekah, kemudian disusul tahun depannya dengan 75 penduduk Yatsrib yang juga ber-ikrar membela perjuangan rasulullah saw. Itu sebabnya rasulullah dan para sahabat setibanya di Madinah disambut dengan sangat antusias dan baik sekali oleh penduduk Yatsrib.

Yang juga perlu dicatat, Rasulullah hijrah bukan sekedar menghindar dari kedzaliman penduduk Mekah. Namun juga untuk melancarkan, memantabkan sekaligus menyiapkan kaum Muslimin agar suatu hari nanti bisa kembali ke Mekah dan menaklukannya sebagai kota suci bagi seluruh umat Islam.

Telah dikalahkan bangsa Rum, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30):2-5).

Ayat di atas turun di Mekah, sebelum hijrahnya Rasulullah. Ayat tersebut mengabarkan bahwa Rum akan dikalahkan namun beberapa tahun kemudian akan membalas kekalahannya. Rum yang dimaksud ayat tersebut adalah imperium Rumawi Timur atau Byzantium yang ketika itu merupakan negara adi daya. Sedang yang dihadapi adalah imperium Persia yang sejak bertahun-tahun sering berperang berebut kekuasaan menguasai dunia dengan kemenangan yang silih berganti. Yaman dan Irak ketika itu di bawah kekuasaan Persia, sedang Mesir hingga ke Syam ( Lebanon, Suriah, Palestina dan Yordania) berada di bawah kekuasaan Rumawi Timur.

Tak lama setelah turunnya ayat di atas tersiar kabar bahwa Persia telah mengalahkan Rumawi Timur. Sontak orang-orang Quraisypun bersorak girang dan makin merasa congkak. Pasalnya mereka menyetarakan Persia dengan mereka karena Persia adalah negara majusi penyembah api. Sementara Rumawi Timur yang merupakan ahli kitab mewakili kaum Muslimin sebagai orang beriman.

Sebaliknya ketika beberapa tahun kemudian Rumawi Timur berhasil mengalahkan balik Persia merekapun terdiam. Bahkan banyak diantara orang-orang Quraisy yang akhirnya memeluk Islam. Mereka mulai merasakan kebenaran Al-Quran. Hal tersebut terjadi ketika kaum Muslimin telah hijrah ke Madinah.

Pada saat kerajaan tersebut sedang merayakan kemenangan itulah Rasulullah mengutus seorang kepercayaan untuk menyampaikan surat kepada Heraclius kaisar Rumawi Timur yang isinya sebagai berikut:

Bismillahir rahmanir rahiim …

Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya. Kepada Heraklius, raja Romawi. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, selanjutnya:

Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling (tidak menerima) maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin. Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).

Sebuah pertanyaan menggelitik bagaimana Rasulullah yang ketika itu baru menguasai Madinah sebagai kota yang tidak mempunyai pengaruh dunia tapi berani mengirimkan surat kepada seorang kaisar negara adi daya yang baru saja memenangkan pertempuran bergengsi, dengan isinya yang bisa dibilang “lancang’‘ dalam pandangan mereka.

Sejarah juga mencatat beberapa tahun kemudian wilayah kekuasaan Rumawi Timur maupun Persia keduanya jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Allahu Akbar …

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.  (Terjemah QS. Ali Imran(3):26).

Itulah kekuatan dasyat hijrah, yang menjadikan Al-Quranul Karim sebagai pegangan dan pelindung dari segala kejahatan manusia dan jin. Allah swt adalah Yang Maha Besar, tidak ada yang perlu ditakuti selain-Nya. Kepatuhan dan ketaatan hanya kepada-Nya.

Selain persiapan yang matang hijrah juga memerlukan lingkungan yang kondusif. Pengalaman mengatakan bagaimana seorang yang hijrah tapi tetap berada di lingkungan lama yang tidak baik mudah terperosok kembali ke dalam kegelapan.

Sebaliknya tidak sedikit selebritis muda yang hijrah, berani meninggalkan dunia gemerlap maka Allahpun memberi jalan keluar.  Betapa banyak kaum muda yang tadinya berkiprah di dunia per-bank-an dan keuangan yang sarat riba kemudian berhijrah lalu Allah menolong mereka dengan rezeki yang halal.

Pemuda bagaimanapun adalah ujung tombak berbagai perjuangan termasuk perjuangan melawan kebathilan. Sejarah mencatat bagaimana di hari-hari akhir rasulullah menunjuk Usamah bin Zaid bin Harits yang ketika itu baru berusia 18 tahun untuk menjadi panglima perang melawan Rumawi Timur.

“Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.”[HR. Bukhari Muslim].

Begitupun penakluk Konstatinopel ibu kota Byzantium/Rumawi Timur pada tahun 1453. Ia adalah seorang pemuda yang baru berusia 22 tahun. Itulah Muhammad Al Fatih yang juga dikenal dengan nama Sultan Mehmed II, yang memiliki nama besar sejajar dengan Sultan Salahuddin Ayyubi yang berhasil merebut kembali Yerusalem dengan Baitul Aqshonya dari cengkeraman tentara Salib. Salahuddin berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah yang memiliki kekuasaan yang sangat luas pada usia relative muda, yaitu 36 tahun.

Berikut adalah daftar 11 pemuda Islam terbaik sepanjang sejarah.

https://www.islampos.com/inilah-11-pemuda-islam-terbaik-sepanjang-sejarah-91801/

Akhir kata kalaupun seorang pemuda tidak memiliki kemampuan untuk melawan kedzaliman dan kekafiran paling tidak ia harus berusaha menghindarinya sebagaimana kisah para pemuda penghuni gua Kahfi yang diabadikan panjang lebar dalam surat Al-Kahfi. Allah swt tidurkan mereka selama 309 tahun dan terbangun ketika kekuasaan telah Allah pindahkan kepada orang beriman.

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu”. (Terjemah QS.Al-Kahfi(18):16).

Mari kita sambut tahun baru Hijriyah 1442 ini dengan semangat meneladani Rasulullah, para sahabat dan para pemuda di masa lalu.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Muharam 1442H.

Vien AM.

TRIBUNSTYLE.COM – Cerita haru seorang mualaf asal Austria yang putuskan memeluk agama Islam saat krisis pandemi corona.

Kisah para mualaf memang selalu menarik perhatian. Beberapa mualaf kerap membagikan perjalanan hidup mereka sebelum memeluk agama Islam. Cerita perjalanan hidup mereka bisa menjadi motivasi agar kita lebih taat dalam menjalankan ibadah.

Kisah mualaf kali ini datang dari seorang atlet seni bela diri asal Austria, Wilhelm (Willi) Ott. Dilansir dari AboutIslam.net, Wilhelm mengaku bahwa dirinya belajar tentang Islam saat krisis pandemi corona.

belajar-islam-saat-pandemi-corona-pria-ini-putuskan-jadi-mualaf-krisis-ini-adalah-hal-terbaikSebelumnya, Wilhelm telah mengumumkan bahwa kini dirinya memeluk agama Islam melalui akun Instagramnya. Wilhelm pun membagikan kisah awal dirinya tertarik dengan agama Islam. Willi Ott, yang memilih nama Muslim Khalid, mengatakan bahwa ia tertarik pada Islam sejak lama. Namun, dirinya tak pernah punya kesempatan untuk mempelajari agama Islam lebih dalam.

Ada kalanya, saya tidak bisa terhubung dengan agama. Dan saya juga membiarkan diri saya dipengaruhi oleh politik, ” tulis Khalid di akun Instagram-nya.

Politik Austria sangat bermusuhan dengan minoritas Muslim Austria, mengakibatkan pelarangan niqab dan undang-undang lain yang membatasi kebebasan beragama Muslim di negara tersebut.

Siapa sangka, selama pandemi corona, ia merasakan imannya mulai tumbuh. Lebih lanjut, dirinya mengaku keyakinannya semakin kuat untuk melafalkan kalimat syahadat. Wilhelm pun resmi menjadi mualaf beberapa hari sebelum awal Ramadhan, di pertengahan April 2020.

“Saya bangga menjadi seorang Muslim,” tulisnya.

“Saya memposting syahadat saya karena saya ingin teman-teman dan sekitarnya tahu bahwa saya menjadi Muslim,” lanjutnya.

Ia tidak hanya melafalkan kalimat syahadat, tetapi juga langsung melaksanakan ibadah sholat. Bersama dengan teman-teman Muslimnya, ia menunaikan ibadah sholat Jumat untuk pertama kalinya. Salah seorang temannya memberinya Al-Quran dalam terjemahan Jerman dan sajadah.

“Saya tidak tahu harus berkata apa tentang umpan balik positif yang saya dapatkan setelah pertobatan saya,” ungkapnya.

Ramadhan 2020 ini tahun ini merupakan tahun pertama dirinya melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Dirinya mengaku sangat menikmati menjalankan ibadah puasa untuk pertama kalinya.

“Tidak makan dan minum sepanjang hari membutuhkan disiplin diri yang kuat. Tetapi menjadi lebih indah setiap hari. Saya menikmati puasa setiap hari lebih dari hari sebelumnya,”

Ia mengungkapkan bahwa dirinya tak jarang diundang ke rumah salah satu temannya untuk berbuka bersama. Meskipun dirinya baru memeluk Islam sekitar satu bulan yang lalu, Wilhelm sudah aktif dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Perlahan, ia menghafal surat-surat pendek lainnya dan melakukan sholat lima waktu. Al-Ikhlas adalah salah satu surat yang ia hafal. Menurutnya, krisis pandemi corona berhasil mengubah hidupnya. Setelah memeluk agama Islam, ia merasa seperti terlahir kembali.

“Sekarang semuanya mulai kembali normal, banyak hal akan menjadi seperti sebelumnya  Hidup akan berlanjut. Banyak orang hanya akan melanjutkan hidup mereka seperti sebelumnya. Namun, bagi saya, semuanya berubah. Krisis ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Saya merasa seperti dilahirkan kembali. Saya merasa sangat kuat seperti yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Alhamdulillah.” pungkasnya

Dikutip dari : https://style.tribunnews.com/amp/2020/05/19/pria-austria-menemukan-islam-saat-pandemi-corona-putuskan-mualaf-bersahadat-dan-tobat-nasuha?page=4

Jakarta, 13 Agustus 2020.

Vien AM,

 

 

Hikmah Qurban.

Tanpa terasa kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dalam sistim penanggalan Hijriyah. Beberapa hari lagi umat Islam di seluruh dunia akan merayakan hari Raya Idul Adha 1441 H yang diperingati sebagian umat Islam secara lebih meriah dari Hari Raya Idul Fitri. Bagi umat Islam hari raya hanya ada 2 yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai).

Hari Raya Iedul Adha diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Seperti juga Hari Raya Iedul Fitri yang diagungkan dengan shalat berjamaah di lapangan terbuka, demikian pula Hai Raya Iedul Adha. Usai shalat Iedul Adha lalu dimulailah pemotongan hewan kurban selama 4 hari berturut-turut hingga 13 Dzulhijjah. Itulah hari-hari yang dinamakan hari Tasyrik, hari dimana jamaah yang sedang menunaikan ibadah haji berada di Mina untuk melempar jumrah.

Hari Raya Iedul Adha yang juga sering disebut Hari Raya Haji memang sangat erat hubungannya dengan ibadah haji. Hari Raya ini adalah puncak rangkaian ibadah haji, ibadah yang sudah sangat tua usianya yaitu sejak zaman nabi Ibrahim as.

https://vienmuhadi.com/2009/01/26/haji-sebuah-penyempurnaan-rasa-syukur-manusia-terhadap-nikmat-nya/

Diawali dengan ujian yang dihadapi nabi Ibrahim as untuk menyembelih nabi Ismail as, satu-satunya putra beliau ketika itu. Namun berkat kesabaran dan ketabahan keduanya Allah swt pun mengganti nabi Ismail yang sudah siap disembelih ayahnya tercinta, dengan seekor domba besar. Itu sebabnya Allah swt menganugerahi gelar kehormatan “Khalilullah” yang artinya kekasih Allah bagi nabi Ibrahim as.

“ … … Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Terjemah QS Ash-Shaffat(37):102)

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (Terjemah QS Ash-Shaffat(37):107)

Itu pula sebabnya Hari Raya Iedul Adha disebut juga “Iedul Nahr” atau hari raya penyembelihan. Ada juga yang biasa menyebutnya “Idul Qurban”. Qurban diambil dari kata “qurba ” yang berarti mendekatkan diri. Yaitu menyembelih hewan yang di syariatkan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq sebagai bukti ketakwaan seseorang.

Maka shalatlah kepada Rabbmu dan sembelihlah kurban bagi-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Kautsar(108):2).

Hari Raya Iedul Adha juga sering disebut sebagai hari makan minum. Pada hari itu ( termasuk juga hari Tasyrik) haram bagi kaum Muslimin berpuasa. Ini dimaksudkan agar kaum Muslimin dimanapun berada dapat menikmati hewan-hewan kurban yang disembelih pada hari-hari tersebut, baik yang mampu maupun yang tidak. Bagi yang berkurban dengan syarat tidak mengambil lebih dari 1/3 bagiannya.

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allah” (HR. Muslim)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berqurban. Jumhur ulama, yaitu: madzhab Imam Malik, Imam Asy-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya menyatakan Sunnah. Madzhab Imam Asy-Syafii mengatakan Sunnah Muakkadah (sangat ditekankan dan diusahakan tidak ditinggalkan kecuali ada ‘udzur). Sedangkan madzhab Imam Abu Hanifah mengatakan Wajib bila mampu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami”. [ HR. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam At-Tirimidzi].

Dari Aisyah RA Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari Nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban). Hewan itu nanti pada hari Kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan pahala qurban yang menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah. Maka hiasilah dirimu dengan ibadah qurban.” [HR.Imam at-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah].

Sayangnya tidak sedikit umat Islam yang menyangka bahwa Hari Raya Haji hanya khusus bagi mereka yang sudah berhaji, dan ber-qurban “hanya” Sunnah hukumnya. Padahal ini adalah bagian dari syiar Allah yang seharusnya diperhatikan dan diagungkan oleh seluruh umat Islam. Islam adalah rahmatan lil‘aalamiin, keberkahan bagi seluruh alam semesta. Itu sebabnya bahkan cara menyembelih hewan qurbanpun diatur sedemikian rupa, dengan tujuan agar hewan bersangkutan tidak ketakutan dan kesakitan.

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik/ihsan atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah) maka berbuat ihsanlah dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih maka berbuat ihsanlah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya”. [HR. Muslim].

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.”[ HR. Ahmad, Ibnu Majah].

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):32).

Halnya dengan hukum Sunnah, tidak seharusnya amalan dengan hukum Sunnah diremehkan dengan hanya memilih menjalankan amalan yang hukumnya Wajib. Yakinkah amalan wajib kita ditrima oleh-Nya??  Karena salah satu fungsi amalan Sunnah dapat menutup kekurangan amalan Wajib kita. Jadi sungguh alangkah meruginya seorang yang mengaku Muslim tapi tidak mampu memanfaatkan amalan-amalan Sunnah.

Lagi pula apa arti kurban seekor kambing/domba/sapi dibanding pengorbanan yang dilakukan nabi Ibrahim as yang tegar menyembelih putra tercintanya demi meraih cinta dan ridho’Nya. Bukankah dunia ini hanya sementara? Ibaratnya adalah orang yang berteduh di bawah pohon sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjang pulang ke rumah untuk menemui orang-orang yang kita cintai.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Terjemah QS.Al-An’am(6):32).

Yang juga jangan dilupakan, 10 hari di awal bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang amat mulia dan puasa di tanggal 9 bulan tersebut dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang, sebagaimana hadist berikut :

Tiada hari-hari yang amal-amal shalih lebih Allah cintai dari hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah)”. Beliau ditanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau bersabda: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang pergi dengan diri dan hartanya kemudian tidak kembali sama sekali”. [HR. Bukhari].

Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim].

Akhir kata semoga Allah swt mudahkan kita semua untuk menjalankan syariat berqurban ini, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juli 2020.

Vien AM.

P1010763Jumat 10 Juli 2020 umat Muslim, khususnya Muslim Turki mencatat sejarah besar. Hagia/Aya Sophia yang selama 85 tahun tercatat sebagai museum kembali menjadi masjid. Hal ini berkat kegigihan presiden Turki Recep Erdogan yang berusaha keras mengembalikan status bangunan bersejarah tersebut.

Meski mendapat banyak tekanan internasional, Pengadilan Tinggi Turki pada Jumat tersebut memutuskan untuk membatalkan dekrit Kabinet 1934 tentang status Aya Sophia yang mengubah status masjid menjadi museum. Dekrit ini dikeluarkan oleh pendiri Turki Sekuler Kemal Attaturk  10 tahun setelah jatuhnya kekhalifahan Turki Ottoman.

Menurut undang-undang wakaf, apa yang diwakafkan harus difungsikan sesuai tujuannya,” tegas Menteri Kehakiman Turki yang mengungkapkan Aya Sophia secara hukum dimiliki oleh yayasan yang didirikan oleh Sultan Al-Fatih, Sang Penakluk. Sultan Al-Fatih dikenal juga dengan sebutan Sultan Muhammad II atau Sultan Mehmed.

“Aya Sophia diwakafkan oleh Muhammad Al-Fatih khusus untuk tempat ibadah umat Islam, yaitu masjid. Jadi sudah seharusnya penguasa Turki menjaga hak hukum terhadap warisan tersebut”, imbuhnya. Untuk itu Erdogan menyerukan seluruh dunia agar menghormati keputusan pengadilan Turki. Presiden Turki ke 12 itu juga menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hak kedaulatan Turki.

Langkah pemerintah sekuler Turki tahun 1934 yang saat itu dipimpin Mustafa Kemal Attaturk mentranformasi Hagia Sofia dari masjid menjadi museum adalah pengkhianatan terhadap sejarah. Aya Sophia bukan milik negara atau yayasan manapun namun milik Sultan Muhammad Al-Fatih”, tegasnya.

Langkah Erdogan memperjuangkan kembalinya status Aya Sophia menjadi masjid bukan sekedar keinginan pribadi tapi juga didasari keluhan rakyat Turki yang mempermasalahkan hal yang berpuluh tahun mengganjal hati mereka. Gugatan telah dimulai sejak 16 tahun yang lalu. Bahkan 10 tahun sebelumnya yaitu ketika Erdogan masih menjabat walikota Istanbul ia pernah menjanjikan kebebasan bangunan warisan penakluk Konstatinopel tersebut.

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):114).

Selanjutnya Erdogan bahkan berani berkata bahwa tranformasi Aya Sophia menjadi masjid adalah langkah awal menuju pembebasan Baitul Maqdis.  Pengembalian Aya Sophia setelah 85 tahun sempat menjadi museum mengingatkan  Baitul Maqdis yang selama 88 tahun pernah dikuasai kaum Salibis. Baitul Maqdis kembali ke pangkuan kaum Muslimin dibawah pasukan Sultan Salahuddin Al-Ayuubi pada tahun 1187M.

https://tirto.id/janji-salahuddin-merebut-yerusalem-dalam-perang-salib-cqJF

Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.” [HR.Bukhari dan Muslim].

Makmurnya Baitul Maqdis (yakni dengan banyak penduduk, bangunan dan harta) adalah tanda keruntuhan kota Madinah, runtuhnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar, terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal”. [HR. Abu Daud].

Dua prediksi Rasulullah 15 abad lalu di atas inilah yang telah banyak meng-inspirasi kaum Muslimin untuk membebaskan Istanbul dari cengkeraman kaum Kuffar. Beberapa kali pasukan Muslimin mencoba menguasai ibu kota Bizantium/Romawi Timur tersebut tapi gagal. Dibawah komando Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 barulah kota tersebut berhasil ditaklukan.

https://kisahmuslim.com/4287-muhammad-al-fatih-penakluk-konstantinopel.html

Tak heran keputusan pengadilan tinggi Turki tersebut menyulut kontroversi internasional. Amerika Serikat, Rusia, Yunani serta beberapa petinggi gereja menentang pengubahan status bangunan bersejarah yang sejak abad 6 sudah merupakan ikon Istanbul tersebut.

Namun Erdogan tidak bergeming, apalagi keputusan tersebut didukung 86% rakyat Turki. Sesuai dengan semboyan negaranya “Kedaulatan tanpa syarat adalah milik Bangsa”, secara tegas mengatakan setiap intervensi asing atas musyawarah internal Turki termasuk status Aya Sophia adalah serangan terhadap kedaulatan negaranya. Turki sebagai negara mayoritas Muslim akan selalu melindungi hak-hak Muslim tanpa mengesampingkan minoritas yang tinggal di negaranya. Ia juga menambahkan Turki tak pernah ikut campur dalam urusan keagamaan negara lain.

Begitu juga, tak ada pihak asing yang berhak untuk mencampuri masalah yang menyangkut tempat ibadat kami,” tekan Erdogan.

Ada sekitar 435 gereja dan sinagog di Turki. Semua orang menikmati hak mereka untuk menjalankan kepercayaan mereka”, imbuhnya.

Erdogan juga menyindir bahwa bangsa Turki tak memiliki sifat penghancur unsur budaya sebelumnya, seperti yang dilakukan Spanyol dan Portugal, yang suka menghancurkan masjid-masjid yang ada di negara mereka.

https://republika.co.id/berita/qdbage2097364635/hagia-sophia-jadi-masjid-setelah-jeda-85-tahun-pesan-apa-yang-diberikan-turki

Tentu kita tahu apa yang terjadi paska kejatuhan Islam di Andalusia (Spanyol dan Portugal) pada tahun 1492. Ini adalah dampak kekalahan yang berkali-kali dialami pasukan Salib dalam melawan pasukan Muslim. Perang yang diberi nama Perang Salib ini pertama terjadi pada tahun 1099 atas perintah Paus Urbanus yang berkedudukan di Avignon Perancis. Tujuan utamanya untuk merebut Yerusalem yang ketika itu telah dikuasai Muslimin.

katedral Lisbon

Katedral Lisbon Portugal

seville-cathedral

Katedral Sevilla, Spanyol

katedral Toledo Spanyol

Katedral Toledo Spanyol

2009-11 Jerez_4

Katedral Jerez – Spanyol

 

Katedral Malaga, Spanyol

Katedral Malaga, Spanyol

masjid katedral cordoba-

Katedral Cordoba

Maka ketika akhirnya mereka berhasil mengalahkan kerajaan Islam di Andalusia dengan semena-mena mereka menghancurkan masjid-masjid, disamping mengusir dan membantai kaum Muslimin.

Masjid-masjid yang besar dan bagus mereka ubah menjadi katedral, hingga detik ini. Adakah dunia international peduli???

masjid-al-ahmar Palestina

masjid-al-ahmar Palestina

Yang juga tak kalah mengesalkan, baru-baru ini sebuah masjid di sebuah kota Palestina yang dikuasai Yahudi  bahkan dijadikan klub malam. Masjid bernama Al-Ahmar tersebut padahal masjid yang paling bersejarah di kota tersebut. Pada tahun 1948 masjid tersebut pernah menjadi rumah bagi 12 ribu warga Palestina yang dipaksa keluar dari rumah mereka oleh Zionis Israel. Sekretariat Islamic Centre yang ada di kita tersebut telah mengajukan protes. Adakah dunia international peduli???

https://aceh.tribunnews.com/2020/07/18/gaduh-hagia-sophia-menjadi-masjid-israel-ubah-masjid-bersejarah-jadi-bar-dan-aula-pernikhan

Umat Islam shalat di antara puing-puing masjid

Umat Islam shalat di antara puing-puing masjid

Demikian pula dengan masjid Babri di India. Masjid bersejarah peninggalan dinasti Mughal yang didirikan pada tahun 1527 itu dihancurkan oleh kelompok Hindu garis keras pada tahun 1992. Kerusuhanan tersebut menelan 2000 korban sebagian besar Muslim yang merupakan minoritas di negri tersebut. Ironisnya lagi PM India yang saat ini berkuasa telah menjanjikan berdirinya kuil megah di atas reruntuhan masjid tersebut. Adakah dunia international peduli???

https://tirto.id/amarah-dan-kebencian-yang-menghancurleburkan-masjid-babri-b7GH

Sementara paska kejatuhan Konstatinopel di tahun 1453, katedral Aya Sophia yang dibangun pada tahun 537 tidak semerta-merta dialih fungsikan menjadi masjid. Sultan Al-Fatih membelinya terlebih dahulu dari pihak penguasa gereja sebelum akhirnya diwakafkan menjadi masjid.

Ketika Al-Fatih membeli katedral tersebut keadaannya sudah tidak terawat bahkan sebagian sudah hancur. Aya Sophia memang pernah beberapa kali mengalami gempa. Karena tak sanggup memperbaikinya akibat keadaan ekonomi yang buruk, penguasa  Bizantium sempat menutup tempat ibadah itu selama beberapa periode.

Empat menara raksasa yang mempercantik bangunan kuno tersebut dibangun pada masa Ottoman berkuasa. Begitu pula beberapa kubah kecil yang terletak di sekitarnya, yang dibangun sebagai tempat wudhu, berdzikir dll. Menara dan kubah-kubah tersebut dibangun oleh Mimar Sinan, arsitek kenamaan Ottoman yang hidup pada abad 16. Kehebatannya diakui dunia setara dengan Michelangelo arsitek kenamaan Italia yang banyak membangun gereja. Mimar adalah satu dari sekian banyak orang Turki Kristen yang menjadi saksi keagungan Islam. Itu sebabnya ia kemudian memeluk Islam di usia dewasanya.

Sedangkan kaitannya dengan warisan dunia dan landmark kota, berapa banyaknya kota-kota besar dunia yang menjadikan katedral sebagai landmark. Katedral Notre Dame dan Basilika Sacre-Coeur di Paris, contohnya. Disamping membuka diri bagi turis, kedua tempat tersebut tetap aktif sebagai tempat ibadah umat Nasrani. Ini yang akan dilakukan Erdogan. Hagia Sophia selain berfungsi sebagai tempat ibadah kaum Mulimin akan tetap terbuka untuk turis mancanegara.

Akan halnya Yunani, negara tetangga Turki yang paling vokal menentang perubahan status Hagia Sophia, tercatat sebagai satu-satunya negara di dunia yang di ibukota negaranya tidak memiliki masjid yang dibiayai pemerintah. Muslim di Athena dan juga turis yang bertandang ke kota tersebut harus rela hanya bisa shalat di mushola-mushola kecil yang sulit dicari keberadaannya.

Link dibawah ini adalah pengalaman menyedihkan  kami ketika berada di Yunani (Athena dan Santorini).

https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/

https://www.aa.com.tr/id/dunia/erdogan-tidak-ada-satu-pun-masjid-yang-tersisa-di-athena/1860376

Pertarungan antara Islam dan Kristen/Yahudi, antara yang haq dan yang bathil, sampai kapanpun memang tidak akan bisa dihindarkan. Barat yang notabene Kristen/Yahudi namun selalu terlihat menggaungkan sekulerisasi sejatinya tidak pernah lupa akan kekalahan mereka terhadap pasukan Muslim. Kekalahan Romawi Timur yang ketika itu beribu kota di Konstatinopel yang juga berarti jatuhnya katedral Hagia Sophia sudah pasti sangat menyakitkan hati mereka.

Oleh sebab itu ketika Ottoman jatuh pada tahun 1924, dan 10 tahun kemudian Kemal Attaturk merubah status Hagia Sophia yang selama 481 tahun berstatus masjid menjadi museum, mereka sangat senang dan lega. Apalagi ketika kemudian Attaturk sebagai pendiri sekaligus presiden pertama Republik Turki menghapus seluruh jejak Islam yang ada di negara eks kekhalifahan tersebut, diantaranya pelarangan jilbab dan haji, azan diganti dengan Bahasa Turki, digantinya huruf Hijaiyah menjadi huruf abjad Latin, dll. Itulah Turki sekuler yang kita temukan hingga di awal berkuasanya Recep Tayeb Erdogan.

Apa daya Barat kini terpaksa gigit jari mendapati sejumlah kebijakan Erdogan yang banyak berpihak kepada Muslim yang sampai saat ini memang masih mayoritas Muslim. Tak heran bila selama berkuasa 18 tahun ( sebagai perdana mentri sejak tahun 2003 hingga 2014, presiden 2014 hingga saat ini) telah berkali-kali mengalami percobaan kudeta dan pembunuhan. Namun berkat dukungan rakyatnya yang solid, dan dengan izin Allah swt tentu saja, Erdogan lolos dari ancaman-ancaman tersebut.

Akhir kata mari kita doakan semoga Allah swt senantiasa melindungi dan menjaga singa Turki tersebut dari segala fitnah. Semoga ia tidak mengalami nasib buruk seperti Adnan Menderes, PM Turki periode 1950-1960 yang banyak merubah kebijakan sekuler hingga di kudeta dan dijatuhi hukuman gantung, atau Muhammad Mursi mantan presiden Mesir yang juga di kudeta karena alasan yang sama. Jangan biarkan Barat terus menjejalkan paham sekuler/kafirnya ke dunia internasional, dunia Islam khususnya.

“Katakanlah “Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” ( QS. Al-Kafirun(109):1-6).

 

151435Masjid Aya Sophia akan menyelenggarakan shalat Jumat perdananya pada Jumat pekan depan, yaitu 24 Juli 2020. Semoga Allah swt meridhoinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin … ( Foto di upload pada 24 Juli 2020),

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 17 Juli 2020.

Vien AM.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quranul Karim yang memerintahkan kita agar berbuat baik kepada kedua orang-tua kita. Berkat mereka, dengan izin Allah swt, kita ada di dunia ini. Melalui mereka kita jadi mempunyai kesempatan memasuki surga-Nya, dengan syarat lulus dari ujian kehidupan di dunia yang fana ini. Menariknya lagi, dalam suatu hadist Rasulullah bersabda yang mengisyaratkan bahwa ibu berhak mendapatkan perlakuan baik dari anak-anaknya 3x lebih banyak dari ayah.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab: ‘Ibumu’. ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ayahmu’.”

Para ulama sepakat mengatakan hal tersebut karena 3 hal yaitu ibu mengandung, melahirkan dan menyusui. Meski ini tidak berarti hanya sebatas itu tugas ibu. Sementara tanggung jawab terbesar ayah adalah bekerja keras menafkahi keluarganya. Yang juga bukan berarti mengecilkan peran ayah dalam keluarga.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya … … “.( Terjemah QS. Al-Ahqaf(46):15).

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. … … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah 233).

Mungkin ada sebagian ibu yang tidak menyadari bahwa mengandung, melahirkan dan menyusui mendapat penghargaan yang begitu tinggi dari Allah Azza wa Jala. Karena bukankah mengandung dan melahirkan terutama, bukan kehendak dan kemauan kita melainkan kehendak-Nya. Dengan kata lain ibu mengandung dan melahirkan adalah sunnatullah, kecuali Allah menghendaki lain. Seorang perempuan yang menikah sudah seharusnya siap mengandung dan kemudian melahirkan. Dan bagi umumnya ibu ( dan juga ayah) ini adalah sesuatu yang sangat diharapkan.

Sementara menyusui agak berbeda, karena tidak setiap ibu dianugerahi ar susu yang banyak. Meski pada umumnya seorang ibu yang baru melahirkan otomatis akan memproduksinya. Dan ternyata ilmu pengetahuan baru belakangan ini menemukan bahwa air susu ibu di hari-hari awal melahirkan mengandung zat yang sangat baik bagi bayi, yaitu kolostum. Cairan ini  mengandung antibodi penghambat pertumbuhan virus dan bakteri, protein, vitamin A dan mineral. Namun demikian menyusui bukan keharusan melainkan anjuran, yaitu hingga anak mencapai usia 2 tahun. Bahkan boleh anak di susukan perempuan lain seperti yang dialami Rasulullah saw.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“.( Terjemah QS. Al-Baqarah 233).

Lebih jauh lagi. Tentu kita sering mendengar hadist “ Surga di bawah telapak kaki ibu”. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hadist tersebut palsu. Namun ada hadist lain yang dihukumi sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani, yang isinya kurang lebih sama.

Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya datang kepada Nabi Muhammad n dan berkata, : “Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”

Sungguh betapa tingginya kedudukan ibu di sisi Allah swt. Berbahagialah wahai kaum ibu … Pertanyaannya, apakah semua ibu mempunyai kedudukan demikian? Adakah syarat dan kriteria tertentu agar ibu sebagai pintu surga anak-anaknya bisa terus terjaga?

Ayat-ayat amalan berbakti kepada orang tua hampir selalu didahului dengan perintah larangan berbuat syirik. Diantaranya adalah sebagai berikut :

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” (Terjemah QS. Al-An’am(6): 151).

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. … … “. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):23).

Artinya meski amalan bakti kepada kedua orang-tua sangat tinggi kedudukannya namun tetap dibawah perintah untuk senantiasa menyembah hanya kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala. Ini juga bisa diartikan bahwa itulah syarat minimal ibu yang memiliki kedudukan tinggi untuk dihormati anak-anaknya yaitu tauhid.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua ( ayah dan ibu) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.( Terjemah QS. Al-Isra(17):24).

Selanjutnya bila kita memperhatikan ayat di atas, mereka adalah yang yang telah mendidik anak-anaknya ketika kecil. Mendidik apa? Tentu saja untuk mengenal Tuhannya yaitu Allah Subhana wa Ta’ala sebagaimana doa yang sering kita baca sebagai berikut :

doa ortu“Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”, yang artinya :

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil”

Namun pada ayat-ayat lain dapat kita temui bahwa berbakti kepada ibu/orang-tua tidak hanya kepada ibu/orang-tua yang beriman dan mentaati segala perintah-Nya. Tapi juga kepada orang-tua yang kafir bahkan jahat sekalipun. Dengan syarat bila orang-tua menyuruh kepada kesyirikan anak harus menolak tapi dengan cara yang santun, tidak boleh kasar.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah keduanya dengan baik”. ( Terjemah QS. Luqman(31):15).

Asbabun nuzul ayat di atas adalah kisah ke-Islam-an Sa’ad bin Abi Waqqash, satu dari sepuluh sahabat yang dijamin Rasulullah masuk surga. Ketika itu Sa’ad masih ber-usia 17 tahun. Ibu Sa’ad marah dan kesal kala mengetahui anaknya masuk Islam.

Hai Sa’ad, kalau engkau tidak meninggalkan agamamu (Islam) maka aku tidak akan makan dan minum sampai mati sehingga engkau akan dikenal sebagai pembunuh ibu,” gertaknya berulang kali.

Karena merasa terus dipojokkan akhirnya Sa’ad menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan Islam apapun yang terjadi termasuk bila ibunya meninggal karena tidak mau makan. Keyakinan Sa’ad yang begitu bulat dan kuat itu ternyata membuat ibunya luluh. Sang ibupun akhirnya mengalah, dan menghentikan aksi mogoknya.

Dengan kata lain, Allah swt menjadikan ibu sebagai pintu surga anak-anaknya karena kaum ibu adalah kaum yang dipilih Allah untuk mengemban amanat berat mempertahankan kelangsungan keberadaan manusia di muka bumi. Ini adalah tugas maha berat dan mulia yang tidak mungkin diwakilkan kepada siapapun. Itu sebabnya seorang ibu ikhlas atau tidak, muslim atau kafir, sholehah ataupun tidak, semua berhak mendapat balasan perlakuan baik dari anak-anaknya. Allah  swt bahkan melarang seorang anak mengucapkan kata “ugh” atau “akh” sebagai tanda penolakan terhadap perintah orang-tua.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):23).

Begitulah Allah swt mengajarkan adab dan cara berterima-kasih kepada orang yang berjasa dalam kehidupan seseorang. Orang yang pandai berterima-kasih kepada sesama manusia biasanya juga akan lebih mudah berterima-kasih dan bersyukur kepada Yang Maha Pencipta.

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi).

Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat.” [HR Bukhari]

Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan dan dosa besar”. [HR Bukhari].

Namun demikan ibu yang baik tentu tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Ibu yang beriman dan sholehah, yang bisa mencontohkan kesholehahannya kepada anak-anaknya pasti lebih mudah bagi anak untuk berbakti kepadanya. Sebaliknya ibu yang kafir apalagi ditambah akhlak yang buruk tentu sulit bagi anak untuk menyayangi apalagi mentaatinya.

“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi).

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

Kedua hadist di atas menunjukkan bahwa doa orang-tua adalah satu dari tiga doa yang mustajab. Oleh sebab itu orang-tua, terutama ibu, harus extra hati-hati terhadap apa yang keluar dari lisannya. Kisah Imam Al-Bukhary yang sejak kecil buta dan kisah rahib Yahudi Juraij adalah bukti yang sering kita dengar.

Al-Bukhary bisa melihat kembali setelah Allah Azza wa Jala mengabulkan doa ibunya  yang sering memohon kesembuhan putra tercintanya. Sementara Juraij mengalami kesialan akibat doa buruk ibunya yang kesal melihat panggilannya tidak digubris anaknya,

Semoga Allah swt ridho menjadikan kita sebagai ibu yang mudah ditaati anak-anaknya hingga pintu surgapun mudah terbuka bagi mereka. Ibu yang senantiasa di doakan anak-anaknya yang sholeh/sholehah agar kelak dapat bertemu lagi dengan mereka di surga … aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 2 Juli 2020.

Vien AM.