Feeds:
Posts
Comments

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Terjemah QS. Ali Imran (3):110).

Ayat diatas jelas mengatakan umat Islam adalah umat yang terbaik karena menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah swt. Selanjutnya, bila ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik.

Kita tentu tahu orang yang bersyahadat dan kemudian memeluk Islam belakangan ini semakin banyak saja. Hebatnya lagi kebanyakan berasal dari kalangan berpendidikan tinggi. Dan fenomena tersebut terjadi di Barat yang notebene adalah ahli kitab, yaitu umat Nasrani dan Yahudi. Mereka juga adalah penduduk negara-negara maju, seperti Jerman, Inggris, Perancis, Rusia dll. Uniknya lagi, peristiwa tersebut terjadi di tengah hebohnya Islamophobia akut yang menyerang Barat sejak beberapa tahun ini.

https://www.konfrontasi.com/content/khazanah/pemuda-perancis-berbondong-bondong-masuk-islam

https://votreesprit.wordpress.com/2013/04/17/remaja-inggris-berbondong-bondong-masuk-islam/

Sementara di negara kita tercinta yang katanya mayoritas Muslim, Islamophobia justru membuat mereka tidak PD alias Percaya Diri. Hal ini tercermin dari pernyataan-pernyataan mereka yang sering memojokkan Islam. Ade Armando, contohnya. Dosen Fisip UI pendukung kuat Jokowi ini sering sekali mengeluarkan pernyataan nyleneh yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran yang dianutnya yaitu  Islam. Terakhir yaitu mengenai prilaku menyimpang homoseksual yang menurutnya Al-Quran tidak melarangnya. Untuk itu ia nekad berujar “Karena saya menghormati semua ciptaan Allah, saya nggak keberatan disejajarkan dengan anjing dan babi”.

Belum lagi tokoh-tokoh JIL ( Jaringan Islam Liberal) seperti alm Nurcholis Madjid, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Ulil Abshar, Komarudin Hidayat, Azumardi Azra, Siti Musdah Mulia dan lain-lain yang rata-rata adalah dosen UIN. Mereka tidak hanya melecehkan tapi juga berani meng-halal-kan yang haram dan meng-haram-kan yang halal sesuka mereka.

Di negri tercinta ini pula pemurtadan tidak sedikit terjadi. Tapi tidak seperti di Barat, kebanyakan orang yang murtad dan memilih masuk Kristen tersebut bukan dari kalangan berpendidikan melainkan dari kalangan bawah. Kemiskinan memang sasaran empuk kristenisasi yang dari hari ke hari makin menggurita. Namun, lagi-lagi JIL, hal ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung-jawab mereka. Karena merekalah yang menyebarkan ajaran bahwa semua agama adalah sama !

Ironisnya lagi, perbuatan busuk korupsi bukan lagi rahasia di negri yang katanya mayoritas Muslim ini. Pungli, sogok menyogok terjadi dimana-mana. Kejahatan, perampokan, penipuan hampir setiap hari terjadi. Hal ini juga menimpa para ulama, terutama yang dianggap tidak sejalan dengan pemerintah. Bukankah Allah swt memerintahkan kaum Muslimin untuk saling mengingatkan agar menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar. Lalu mengapa ketika ada ulama mengingatkan hal tersebut bukannya didengar malah dibully, difitnah, di teror bahkan ada yang dibunuh. Dan dengan cepatnya pihak kepolisian menyimpulkan bahwa pembunuhnya adalah orang gila. ???

http://nasional.harianterbit.com/nasional/2018/02/03/93092/0/25/Isu-Orang-Gila-Bunuh-Ulama-Meresahkan-dan-Mengerikan-Umat-Islam-Diminta-Waspada

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (Terjemah QS. Al-An’am(6):137).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):23)

Dalam suatu majlis ta’lim yang saya hadiri beberapa hari lalu, seorang jamaah menanyakan tentang pemimpin yang dzalim sebagaimana ayat di atas. Jujur saya agak terkejut dengan jawaban yang diberikan sang uztad. Beliau tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, melainkan menceritakan percakapan yang terjadi antara khalifah Ali bin Thalib dengan seorang rakyatnya.

Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak?

“Karena pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.”, jawab Ali.

Dengan kata lain, karakter seorang pemimpin tidak akan jauh dari karakter orang yang dipimpinnya. Meski dalam hal tersebut tentu tidak dapat disamakan dengan apa yang terjadi hari ini. Kita pasti tahu siapa Ali dan bagaimana zuhudnya sahabat sekaligus menantu rasulullah saw tersebut. Itu adalah cara Ali merendahkan dirinya dibanding rasulullah saw.

Intinya, dari pada sibuk melihat dan mencari kesalahan dan kekurangan pemimpin lebih baik fokus pada diri dan keluarga kita sendiri. Sudahkah kita membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Al-Quranul Karim, secara kaffah ???

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Terjemah QS.Ar-Rad(13):11).

Karena sebaik apapun sebuah kitab bila tidak diamalkan akan sia-sia belaka. Shalat misalnya, sudahkah shalat kita mampu menghilangkan kesyirikan, mencegah kebiasaan buruk seperti berbohong, yang merupakan awal korupsi, dll. Bukankah shalat seharusnya mampu menghilangkan perbuatan mungkar??  Belum lagi soal budaya kebersihan, disiplin, mengantri dan lain sebagianya? Sudahkah kita menjalankannya? Bukankah Islam mengajarkan semua itu??

Dari pengakuan para mualaf, jarang mereka masuk islam karena melihat tingkah laku Muslim yang kebanyakan, maaf, jorok, tidak disiplin, negaranya tidak maju, miskin, pejabatnya banyak yang korupsi dll. Di Barat, rata-rata mereka hanya sekedar penasaran dengan Islamophobia itu sendiri. Mereka melihat keindahan Islam setelah membaca dan mempelajari Al-Quran.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,  pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. ( Terjemah QS. Ibrahim (14:4-25).

my bougenvilleBegitulah Allah swt membuat perumpamaan. Mukmin yang baik adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain. Sebagaimana akar pohon yang kokoh yang dapat menjadi sandaran bagi yang membutuhkan, buahnya enak dimakan,  cabang dan daunnya yang rindang nyaman untuk berteduh, serta bunganya yang indah dipandang mata.

Jadi sungguh betapa ruginya kita, yang lahir dan besar sebagai Muslim tapi tidak mampu melihat keindahan dan kebenaran Islam. Bagaimana kita bisa menjadi umat terbaik bila Al-Quran hanya dijadikan pajangan, bukannya dibaca apalagi untuk dipahami.

Bila keadaan seperti ini terus dibiarkan terjadi, bisa jadi Barat juga Jepang yang notabene kafir akan terus  menjadi yang terbaik. Namun kali ini dengan izin-Nya, karena Islam telah merasuki kalbu mereka, menjadi penyempurna kemenangan mereka selama ini.

Sementara kita di Indonesia tetap menjadi pecundang. Pecundang sebenar-benar pecundang, di dunia maupun di akhirat karena satu-satunya modal yang tersisa di tengah keterpurukan kita saat ini yaitu iman, telah tergadai, menguap ntah kemana. Sungguh mengerikan … Na’udzbillah min dzalik …

Jangan kita hanya terbuai oleh kenangan sejarah keemasan masa silam dimana kekhalifahan Islam selama berabad-abad pernah menguasai hampir separuh dunia, tanpa mau berjuang merebut kembali kemenangan tersebut. Mari kita berkaca pada semangat rakyat Turki dalam memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam. Perkuat aqidah kita dan anak-anak kita, pahami Al-Quran dan As-Sunnah hingga kita mampu menilai mana saudara/i kita seiman yang baik dan patut dipilih dan dijadikan pemimpin. Semoga dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki pemimpin sekelas Sultan Erdogan yang mampu mengantar kita keluar sebagai umat terbaik sebagaimana mustinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin…

Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, kalau ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau ia tidak mampu maka dengan hatinya, mengingkari (dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah. ” {HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Februari 2018.

Vien AM.

Advertisements

Ber-husnuzhan atau berbaik sangka kepada Allah swt adalah perbuatan yang sangat tinggi nilai ibadahnya. Baik sangka kepada Sang Pencipta, terutama ketika terjadi musibah atau hal-hal yang tidak kita sukai, tidak hanya membuat hati menjadi tenang, namun juga mendatangkan pahala yang tak terkira dari-Nya. Allah swt sangat mencintai orang yang berbaik sangka pada-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu dikeramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Kasih sayang Allah swt jauh lebih besar dari kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.  Oleh karena itu tidak mungkin Allah swt men-dzalimi hamba-Nya. Dia akan mengabulkan doa dan permintaan orang yang memintanya. Masalahnya banyak orang yang berdoa dan meminta sesuatu yang dianggapnya baik dan bakal menyenangkannya. Padahal Dia mengetahui apa yang paling baik bagi hamba-Nya. Ia memperkenankan doa melalui apa yang Ia anggap patut untuk kita, dengan cara-Nya.

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Terjemah QS. Ghofir(40): 60).

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam; ‘Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan (doanya).’ (HR. Tirmizi).

Berikut kisah khalifah Umar bin Khattab ra yang suatu ketika pernah kecewa karena tawarannya kepada khalifah Abu Bakar ra maupun khalifah Ustman bin Affan untuk menikahi putrinya, Hafsah, ditolak dengan alasan yang tidak begitu jelas.

“Hafsah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan Ustman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafsah (yaitu putri beliau Ummu Kultsum)”, begitu jawaban Rasulullah ketika Umar mengadu hal yang merisaukannya itu.

Dan ternyata laki-laki yang dimaksud Rasulullah lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman tak lain dan tak bukan adalah Rasulullah sendiri. Betapa bahagianya Umar mendengar jawaban tersebut. Dikemudian hari Umar mengungkapkan penyesalannya atas buruk sangkanya pada Allah swt.

Sementara itu beberapa waktu sebelum turunnya surat Al-Kautsar, orang-orang Quraisy mengejek dan mentertawakan nasib yang menimpa rasulullah. Pasalnya adalah putra-putri yang dimiliki rasulullah. Allah swt menganugerahi rasulullah 4 putri dan 2 putra dari rahim satu-satunya istri Rasulullah ketika itu, yaitu Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Dan seorang putra yang lahir dari Maria al-Qibtiyah. Malangnya ketiga putra rasulullah tersebut wafat sebelum usia mereka mencapai 2 tahun. Padahal ketika itu putra laki-laki adalah lambang kehormatan. Sedangkan anak perempuan adalah aib dan lambang kehinaan.

https://kisahmuslim.com/4279-mengenal-putra-dan-putri-rasulullah.html

Dengan turunnya surat Al-Kautsar, Allah swt menerangkan bahwa keyakinan orang-orang Quraisy tersebut tidak benar. Barang siapa bersikukuh dengan pendirian jahiliyah tersebut maka terputuslah ia dari rahmat Allah swt.

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.( Terjemah QS. Al-Kautsar(108):3).

Turunnya surat tersebut juga merupakan hiburan tersendiri bagi rasulullah. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Diantaranya contoh kesabaran rasulullah dalam menghadapi wafatnya anggota keluarga, tidak hanya 3 putra tapi juga ke 4 putrinya yang tidak berumur panjang. Wafatnya putra-putra rasulullah juga bisa diambil hikmahnya agar di kemudian hari orang tidak mengkultuskan mereka. Karena sebagaimana kita ketahui Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib yang “hanya” cucu saja telah dikultuskan orang-orang Syiah.

Demikian pula dengan adanya ayat warisan 2:1 untuk anak laki-laki. Tidak sepatutnya kita berburuk sangka pada Sang Khalik. Ia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Laki-laki bertanggung-jawab terhadap istri, anak-anak dan kedua orang-tuanya. Bahkan saudarinya bila saudarinya tersebut belum menikah. Jadi harta yang 2 bagian tersebut harus dibagikan kepada mereka.

Sementara perempuan hanya bertanggung-jawab pada dirinya sendiri. Jadi bagian yang hanya 1 itu tidak perlu dibagi kepada siapapun, bahkan bisa dan boleh ia habiskan sendiri.

Namun demikian tidak sedikit ketentuan Allah yang tidak dapat kita ikuti melalui akal dan pikiran kita. Oleh sebab itu agar kita tidak sakit hati dan putus asa ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita, lebih baik kita pasrahkan segalanya pada-Nya. Tidak perlu kita menerka-nerka apa yang tidak kita miliki ilmunya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. … … “.(Terjemah QS.Al-Baqarah (2):286).

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Terjemah QS.Al-Baqarah(2:216).

Itulah yang terjadi terhadap Shalahuddin al Ayyubi, pahlawan besar sang penakluk Yerusalem pada tahun 1187M. Shalahudin seperti layaknya anak muda pada masanya sangat mencintai dunia sepak bola. Sedikitpun tidak pernah terlintas dalam pikirannya suatu ketika ia harus berperang apalagi menjadi pemimpin perang dalam suatu perang besar yang menjadi titik balik kebesaran Islam. Meskipun Shalahuddin tidak membencinya, karena sebenarnya ayah dan bahkan pamannya waktu itu adalah seorang panglima perang.

http://manfaatputih.blogspot.co.id/2013/08/sejarah-singkat-salahuddin-al-ayyubi.html

Namun demikian ber-husnuzhan itu tidak lantas kita bisa bertindak semau kita. Husnuzhan harus diiringi dengan perbuatan yang sesuai dengan syariat, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya dan mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Telah jelas perbedaan antara husnuzhan dan ghurur (terpedaya diri sendiri). Berprasangka baik mendorong lahirnya amal, menganjurkan, membantu dan menuntun untuk melakukannya. Inilah sikap yang benar. Tapi kalau mengajak kepada pengangguran dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah ghurur (terpedaya diri sendiri). Berprasangka baik itu adalah pengharapan (raja), barangsiapa pengharapannya membawa kepada ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, maka itu adalah pengharapan yang benar. Dan barangsiapa yang keengganannya beramal dianggap sebagai sikap berharap, dan sikap berharapnya berarti enggan beramal atau meremehkan, maka itu termasuk terpedaya.‘ (Al-Jawab Al-Kafi, hal. 24)

Syekh ShAleh Al-Fauzan hafizahullah berkata: “Prasangka yang baik kepada Allah harus disertai meninggalkan kemaksiatan. Kalau tidak, maka itu termasuk sikap merasa aman dari azab Allah. Jadi, prasangka baik kepada Allah harus disertai dengan melakukan sebab datangnya kebaikan dan sebab meninggalkan kejelekan, itulah pengharapan yang terpuji. Sedangkan prasangka baik kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan yang diharamkan, maka itu adalah pengharapan yang tercela. Ini termasuk sifat merasa aman dari makar Allah.”

Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata, Aku mendengar Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tiga hari sebelum wafat bersabda: “Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim, 2877)

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Januari 2018.

Vien AM.

Keimanan Yang Teruji.

Kisah ini adalah kisah nyata seorang mualaf keturunan Tionghoa yang diuji keimanannya oleh Allah Azza wa Jalla dengan ujian yang maha berat. Kisah ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2006 oleh Retno ( nama samaran), seorang mahasiswi arsitektur sebuah universitas, atas izin yang bersangkutan. Sengaja saya menuliskannya kembali dalam versi lebih ringkas agar tidak terlalu bertele-tele. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya, terutama bagi yang lahir sebagai Muslim tapi sering kali kurang mensyukuri nikmat ke-Islam-an tersebut. Na’uzubillah bin dzalik …

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):214).

                                                            **********

masjid-jami-pontianakSuatu hari Retno mendapat tugas dari kampus untuk mendampingi seorang mahasiswi arsitektur sebuah universitas di Australia yang ingin membuat penelitian terhadap masjid tertua di sebuah kota di Kalimantan Barat. Masjid kuno ber-arsitektur Melayu tersebut memang sering kedatangan tamu mancanegara.

Setiba di masjid, mereka disambut seorang pak tua yang telat bertahun-tahun bertugas sebagai penjaga masjid. Ialah yang biasanya menerangkan sejarah masjid kepada tamu-tamu yang datang. Tugas Retno adalah menterjemahkan apa yang dikatakan pak tua kepada tamunya.

Tapi ntah mengapa tamunya itu tampak kurang puas dengan hasil terjemahan Retno. Retno sempat panik melihat reaksi tamunya. Dalam keadaan seperti itulah ia melihat seorang ibu muda berpenampilan amat sangat sederhana yang sejak awal hanya duduk dan memperhatikan mereka, tiba-tiba datang mendekat. Tanpa disangka, ibu muda dengan jilbab menutupi sebagian wajah dan matanya yang sipit itu menawarkan diri untuk membantunya.

Dan tak lama kemudian ibu tersebut sudah asik menerangkan sejarah masjid dalam Bahasa Inggris yang sangat fasih. Retno tentu saja lega mendengarnya. Tapi ia tetap penasaran siapa sebenarnya perempuan tersebut. Apalagi ketika ia mendengar pengakuan bahwa ibu muda tersebut pernah kuliah di negri tamunya itu, yaitu Australia.

Alhasil, usai kunjungan Retno mengatakan akan kembali menemui sang ibu muda, yang memperkenalkan diri dengan nama Mawar tersebut. Beberapa hari kemudian Retno datang memenuhi janjinya.

                                                                     **********

Mawar adalah seorang gadis yang keturunan Tionghoa yang hidup dalam kemewahan. Ia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Kedua orang-tuanya adalah pengusaha super sukses yang saking kaya rayanya sering khawatir bila mereka meninggal tak ada yang dapat menjaga kekayaan dan meneruskan usaha mereka. Itu sebabnya ketika mereka bepergian bersama dengan menggunakan pesawat terbang, mereka memilih untuk terbang secara terpisah. Dengan tujuan bila terjadi musibah tidak semua mengalaminya.

Mawar melewati pendidikan dasar hingga SMA di kota kelahirannya dengan penuh kebahagiaan. Ia bersekolah di sekolah swasta bergengsi yang murid-muridnya kebanyakan anak pejabat dan pengusaha kaya. Namun demikian Mawar bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka.

Hal paling berkesan pada masa sekolah menurut Mawar adalah pelajaran agama Islam meski ia seorang non Muslim. Kebetulan sekolahnya memberikan murid kebebasan untuk mengikuti pelajaran agama yang bukan agamanya sendiri. Ia sangat menikmati pelajaran tersebut. Ia bahkan selalu mencatat apa yang didengarnya dengan rapi. Pernah suatu hari ia ketakutan karena ibu guru agamanya tiba-tiba datang mendekatinya.  Ketika itu ia sedang mencatat tata cara pelaksaan haji. Namun ternyata ibu gurunya tersebut hanya tersenyum sambil berkata :” Semoga suatu hari nanti kamu bisa berhaji bersama ibumu”. Maka sejak hubungan keduanya menjadi sangat akrab, layaknya ibu dan anak.

Ketertarikan Mawar terhadap Islam tidak hanya sebatas di sekolah. Di rumah, ketika ia sendirian, karena kedua kakak lelakinya sekolah di luar negri, sementara kedua orang tuanya lebih sering di Jakarta mengurus usaha mereka yang makin hari makin maju saja, Mawar sering mendengarkan lantunan bacaan Al-Quran yang disiarkan di televisi. Ia juga sering merasa sendu ketika mendengar suara adzan dikumandangkan.

Bahkan memasuki usia remaja ketika teman-teman sebayanya sibuk berpacaran, ia selalu membayangkan kekasihnya adalah seorang asli pribumi Muslim yang taat beragama. Bayangan lelaki dengan wajah yang basah karena air wudhu selalu membuatnya terkesan.

Lulus SMA, Mawar melanjutkan sekolah ke Australia, kemudian ke Amerika Serikat menyusul kakak-kakaknya. Setelah 5 tahun berlalu Mawar kembali ke kota kelahiran dengan membawa predikat master dalam bidang ekonomi dan keuangan. Iapun lalu bekerja di perusahaan milik orang-tuanya, dengan gaji standard yang tidak seberapa. Namun di luar itu, secara rutin ia masih menerima jatah bulanan dari orang-tuanya yang besarya 20 x lipat gajinya.

Sebagai gadis dewasa pertengahan 20 tahun-an, dengan penampilan menarik, tinggi, kulit putih lazimnya gadis Tionghoa, ditambah kekayaan yang tak terkira, tak heran bila banyak lelaki mengincarnya. Namun impian masa remajanya yaitu pemuda pribumi Muslim yang taat, tidak dapat terhapus begitu saja. Itu sebabnya Mawar bertahan untuk tetap melajang.

Hingga suatu hari, datang seorang pemuda sesuai impiannya, di perusahaan tempat ia bekerja. Pemuda tersebut berasal dari Jawa, Fariz namanya. Mawar tidak bisa menipu hatinya bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi ketika suatu hari, ketika keduanya harus berada dalam satu mobil karena urusan pekerjaan, ia melihat Fariz minta izin mampir sebentar di masjid untuk shalat.  Beberapa kali ia berusaha menarik perhatian pemuda yang terlihat cuwek tersebut.

Singkat cerita keduanya menjadi dekat. Setahun berlalu namun tak pernah sekalipun Fariz menyatakan cintanya terhadap Mawar. Mawar dapat memakluminya, karena mereka memang berlainan status, etnis dan agama.

Hingga suatu hari Fariz mengajaknya bertemu di suatu tempat. Disanalah ia menyatakan cintanya. Mawar tentu saja langsung menyambutnya. Ia bahkan berjanji akan memeluk Islam, karena sejak lama ia sudah tertarik dengan ajaran tersebut. Fariz menangis haru mendengar hal tersebut, dan berjanji akan mengajarinya tentang Islam. Mawar makin yakin bahwa pemuda tersebut adalah calon suaminya, soul matenya.

Secara diam-diam akhirnya merekapun berpacaran. Di kantor mereka berusaha menutupi hubungan tersebut. Sedikit demi sedikit Fariz mengajari Mawar shalat dan menghafal bacaan-bacaan pendek.  Satu hal yang sangat dikagumi Mawar, dengan sopan, Fariz selalu menolak ajakan Mawar untuk bermesraan. “Sabarlah, semua ada waktunya”, begitu Fariz selalu berujar.

Hingga pada suatu hari tiba-tiba ayahnya mendatangi meja kerja Mawar. Padahal selama ini bila ada keperluan Mawarlah yang dipanggil datang ke ruang kerja ayahnya, yang merangkap sebagai boss sekaligus  owner perusahaan.

Awalnya ayahnya hanya berbasa-basi menanyakan pekerjaan Mawar. Namun lama kelamaan ayahnya berusaha mengorek hubungan rahasianya dengan sang pujaan hati yang rupanya sudah mulai terendus di lingkungan kantornya. Mawar tak kuasa menjawab pertanyaan ayahnya. Ia tidak sanggup untuk berbohong, sebaliknya bila ia mengakuinya, ia khawatir Fariz akan kehilangan pekerjaan. Akhirnya ia hanya menangis. Maka tanpa berkata sepatah katapun ayahnya meninggalkannya.

Keesokan harinya Mawar mendapati meja kerja Fariz kosong. Teman-temannya mengatakan bahwa Fariz dipindahkan ke Jawa. Mawar sangat terpukul tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Seminggu kemudian Fariz menelponnya, mengatakan bahwa ia telah dipindahkan. Dengan sedih, pemuda tersebut menceritakan bahwa nyaris semua orang di kantor menggunjingkannya memacari Mawar karena mengincar kekayaan sang ayah yang tak lain boss mereka.  Fariz bersumpah bahwa hal tersebut tidak benar, ia benar-benar mencintai Mawar. Itu sebabnya Fariz memutuskan keluar dari perusahaan, dan berjanji akan mencari pekerjaaan di kota kelahiran Mawar agar tetap dapat berhubungan dengannya.

Fariz tidak memungkiri janjinya. Atas kehendak Allah swt, tiga bulan kemudian ia mendapat pekerjaan di kota tersebut. Maka jalinan asmara keduanya kembali berlanjut, kali ini secara terang-terangan. Karena sekarang Fariz merasa tidak perlu khawatir kehilangan pekerjaan. Namun rupanya kedua orang-tua Mawar tidak dapat menerima hal tersebut. Mereka merasa curiga bahwa anak gadis mereka tidak hanya sekedar jatuh cinta kepada Fariz, namun juga kepada Islam ! Hal yang sama sekali tidak dapat mereka terima.

Dengan berbagai cara mereka membujuk putrinya itu agar mau meninggalkan Fariz. Hingga akhirnya mereka benar-benar murka dan kehabisan kesabaran ketika Mawar menjawab dengan tegar bahwa ia sudah cukup dewasa dan bisa memilih mana yang terbaik baginya. Mawarpun mulai dikucilkan, ia tidak diajak bicara bahkan tidak diajak makan bersama keluarga. Ia baru dipanggil pembantu untuk makan setelah semua anggota keluarga selesai makan dan meninggalkan tempat, dengan lauk pauk sisa seadanya tanpa pembantu boleh menambahnya. Sakit hati Mawar menjalaninya namun ia tetap teguh pada pendiriannya. Ia malah makin semangat mempelajari Islam.

Berkali-kali kedua-orang tua Mawar mengingatkan bahwa kalau tidak karena jerih payah mereka Mawar tidak mungkin bisa hidup enak seperti sekarang ini, dimana semua fasilitas kenikmatan bisa ia dapatkan. Hampir setiap hari Mawar bersitegang dengan kedua orang-tuanya. Dan semua itu tidak lepas dari pengamatan Fariz. Akhirnya Fariz menganjurkan Mawar agar berbicara baik-baik dan menerangkan keinginannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka menuduh putrinya itu telah terkena guna-guna.

Mereka bahkan akhirnya menantang Mawar untuk meninggalkan semua fasilitas yang mereka berikan kalau ia tetap berkeras pada pendiriannya. Mawar menyadari bahwa cepat atau lambat ia memang harus memilih salah satu darinya. Akhirnya iapun menyerahkan semua pemberian orang-tuanya termasuk semua tabungan dan perhiasannya. Sayang ia lupa menyelamatkan ijazah kuliah, sementara kedua orang-tua yang dikasihinya itu justru sengaja menahan ijazah tersebut. Tapi tekad Mawar sudah bulat, ia tidak mau kembali.

Selanjutnya Mawar tinggal di kosan dekat kantornya. Namun tak lama kemudian setelah gajinya tak diberikan perusahaan, pertahanan Mawarpun jebol. Ia mengadu kepada Fariz yang selama ini selalu memintanya untuk sabar dan taat kepada orang-tua. Gadis itu memohon kepada Fariz selaku satu-satunya pelindungnya, agar mau membimbingnya memeluk Islam dan segera menikahinya.

Mawarpun bersyahadat di masjid di kotanya, dan karena kebetulan Fariz akan dipindahkan ke kota kelahirannya di Jawa, merekapun pindah ke Jawa dan menikah di hadapan keluarga besar Fariz.

Empat tahun berlalu. Pasangan muda tersebut telah dikarunia seorang anak lelaki berusia tiga tahun. Selama itu Mawar hidup bahagia sebagai ibu rumah tangga yang senantiasa berusaha berbakti dan menyenangkan suami. Fariz sempat beberapa kali menyuruh Mawar menghubungi kedua orang-tuanya untuk bersilaturahmi. Namun mereka tidak menanggapinya. Hingga suatu hari Allah swt berkehendak lain. Fariz terkena Demam Berdarah dan meninggal dunia.

Mawar sangat terpukul dan berusaha terus bertahan. Namun akhirnya ia tidak tahan melihat semua hal yang mengingatkannya pada sang suami tercinta. Rumah dan motor yang dibeli Fariz beberapa saat sebelum meninggal dijualnya. Selama beberapa bulan ia mengungsi ke rumah mertuanya.  Namun akhirnya Mawar memutuskan bahwa ia harus mandiri. Bersama anaknya ia terbang kembali ke kota kelahirannya.

Di kota tersebut Mawar berusaha memulai babak baru kehidupannya. Ia mengontrak rumah dan membuka warung kecil-kecilan di bagian depan rumahnya. Namun itupun tak lama karena kemudian usahanya bangkrut. Akhirnya ia benar-benar tidak punya uang sepeserpun. Sempat terpikir untuk kembali ke  rumah orang-tuanya namun cepat dibatalkannya karena tidak ingin jadi bahan ejekan.

“Kadangkala aku sering bertanya pada Allah, apakah karena aku mualaf sehingga Allah kurang percaya dengan keimananku, sehingga perlu mengujinya dengan ujian yang amat berat?”, bisik Mawar,  lirih.

Dalam keadaan setengah putus-asa tiba-tiba Mawar teringat masjid tempat ia dulu berikrar. Disana dulu aku memulai jalan hidupku, seandainya harus berakhir, aku ingin pula mengakhirinya di tempat mulai tersebut, begitu pikir Mawar. Segera iapun menuju masjid tersebut lalu shalat dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Ia menangis sesenggukan memikirkan nasib anaknya yang terlunta-lunta. Rupanya tangisan tersebut didengar sang imam masjid yang dulu membimbingnya berikrar. Setelah bercerita panjang lebarnya pak imam menawarkan sebuah bekas gudang berukuran 2×2 m yang ada di samping masjid untuk ia tempati.

Mawar sangat berterima-kasih atas kebaikan imam tersebut. Sebagai imbalannya dengan ikhlas setiap hari Mawar membantu pak tua yang menjaga masjid tersebut dengan membersihkan halaman dan kaca-kaca jendela masjid. Mawar bersyukur hidupmya sekarang tenang. Ketika hatinya gundah dengan mudah ia bisa masuk masjid, shalat lalu mengadukan nasibnya kepada Sang Khalik.

Ia juga sering diminta istri pak imam membantu pekerjaan rumah tangga dengan sedikit imbalan. Anaknya bahkan tanpa terasa sudah sekolah di yayasan masjid tersebut tanpa sedikitpun ditarik iuran. Hal tersebut berlangsung selama kurang lebih 2 tahun.

Hingga suatu hari datang dua orang yang sangat dikenalnya. Mereka adalah pengacara keluarga sekaligus perusahaan orang-tuanya. Rupanya selama ini ayah dan ibunya tahu bahwa Mawar tinggal di masjid tersebut.

Mereka datang dengan membawa sebuah amplop besar berisi surat-surat berharga termasuk buku bank, ijazah kuliah, dan semua miliknya yang dulu ia kembalikan kepada orang-tuanya. Mawar sempat terkejut dan merasa bahagia karena akhirnya mereka mau menerimanya kembali.

“ Tapi dengan satu syarat”, kata tante Grace, lirih.

“ Kedua orang-tuamu menghendaki kau kembali ke keyakinan keluargamu”, sambung om Albert dengan suara bergetar, melihat tante Grace tidak sanggup meneruskan kata-katanya sendiri. Air mata nyaris keluar dari ujung kelopak matanya.

Mawar terhenyak. Ternyata perkiraannya salah. Mereka masih seperti dulu. Dengan sopan Mawar menjawab bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Tante Grace dan om Albert segera meminta maaf atas ketidak-nyamanan tersebut. Mawar mengerti mereka hanya menjalankan tugas. Keduanyapun lalu pamit.

Namun tak lama setelah itu mereka kembali lagi. Mawar mengira mereka masih ingin berusaha membujuknya.

“ Maafkan kami Mawar. Hanya ini yang dapat kami lakukan. Semoga bisa cukup membantumu”,    ujar tante Grace sambil menyerahkan foto copy ijazah masternya.

Alangkah leganya Mawar mendengar itu. “ Alhamdulillah”, bisiknya.

Mawar merasa sedang dimanjakan oleh Tuhannya yang selama ini telah mengujinya dengan ujian yang maha berat. Ia dapat merasakan betapa “tangan” tersebut sedang menuntunnya menuju jalan yang terang. Allahu Akbar ….

Mawar segera mengucapkan trima-kasih yang tak terhingga kepada keduanya. Ia tahu bahwa mereka sedang mempertaruhkan pekerjaan mereka. Pasti orang-tuanya bakal marah besar kalau sampai tahu apa yang telah mereka lakukan.

                                                        *********

 “Bu Mawar, kebetulan rektorat tempat saya kuliah sedang membutuhkan beberapa tenaga honorer. Cobalah membuat surat lamaran dengan melampirkan ijazah ibu. Saya akan sampaikan sendiri ke bagian administrasi. Saya yakin dengan latar pendidikan ibu pasti ibu akan ditrima bekerja di sana”, ujar Retno, beberapa hari setelah ia berhasil mengorek Mawar agar membuka rahasia dan menceritakan kisah perjalanannya. Gadis itu tersentuh untuk segera menolong Mawar keluar dari kesulitan hidupnya.

Mawar benar-benar bersyukur atas jalan terang yang diberikan padanya. Ia yakin bahwa itu adalah pertolongan Allah swt atas kesabarannya selama ini.

Dan benar saja, setelah melalui beberapa prosedur Mawarpun ditrima bekerja. Bahkan tidak sampai satu tahun Mawar telah diangkat sebagai pegawai tetap. Ia juga sering diminta untuk membantu menterjemahkan  litelatur2 asing untuk dipergunakan para mahasiswa.

Tak lama setelah bekerja Mawar pamitan kepada pak imam yang telah berbaik hati mau menampungnya di masjid. Sebelum meninggalkan masjid ia sempatkan shalat di dalamnya, lalu memandangi kamar yang selama 2 tahun ditinggalinya itu. Selanjutnya Mawar membawa putranya pindah ke rumah kontrakan. Di waktu luang ia ajak putranya berkeliling kota dengan motor yang dibelinya. Tak jarang ia melewati depan rumah orang-tuanya dengan harapan suatu hari nanti mereka mau membuka hati untuknya, atau minimal mau menerima putranya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…. “. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):286).

Saat ini bu Mawar mungkin telah berusia 46 atau 47 tahun. Semoga Allah swt senantiasa melindunginya dan semoga bu Mawar mampu istiqamah menjalani kehidupannya hingga akhir hayatnya nanti, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Sebuah pelajaran yang amat sangat berharga, betapa kekayaan dan kesuksesan bukanlah apa-apa dibanding dengan nilai sebuah keimanan. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Januari 2018.

Vien AM.

Disarikan dari : https://menyentuhhati.com/2016/02/12/kisah-nyata-paling-sedih-dari-wanita-mualaf-keturunan-china/comment-page-1/

Namun sekali lagi bukan orang Jepang namanya kalo mudah menyerah. Paska bom yang meluluh-lantakkan sebagian besar kota Jepang, mereka segera bangkit dari keterpurukan. Tidak ada waktu untuk berlama-lama meratapi nasib dan kekalahan yang mereka alami.

IMG_0179IMG_0164Jepang segera berbenah diri dan membangun kotanya kembali. Tak terkecuali Hiroshima yang menjadi sasaran utama bom atom sekutu. Kota pelabuhan yang diapit perbukitan ini terlihat tenang dan damai seakan tidak pernah menjadi korban perang. Hiroshima hari ini bahkan dikenang dunia sebagai kota perdamaian. Di kota ini berdiri Hiroshima Peace Memorial Museum yang dibangun hanya selang 10 tahun setelah tragedy, yaitu tahun 1955. Museum ini didirikan tidak jauh dari pusat pengeboman.

IMG_0203IMG_0197Di dalam museum ini diperlihatkan selain foto keadaan kota Hiroshima baik sebelum maupun sebelum pengeboman, kisah derita para korban, juga pelajaran tentang nuklir dan bahayanya. Itu sebabnya banyak pelajar tidak hanya murid-murid lokal tapi juga pelajar manca negara yang datang mengunjungi museum tersebut. Museum ini juga menyuguhkan animasi detik-detik jatuhnya bom atom yang dalam hitungan detik menghancurkan kota tersebut.

Tak dapat dipungkiri perang memang sangat kejam. Tiba-tiba saya teringat bagaimana para orang-tua kita menceritakan penderitaan mereka.

Jaman pendudukan Jepang dulu tentaranya kejam-kejam”, ujar bapak.

Perempuan dipenggal kepalanya, terus kepalanya ditancapkan di tiang di pinggir jalan,  hanya gara-gara ketahuan ngomong Bahasa Belanda”, sambung ibu bergidik ngeri.

Ya orang-tua saya memang sempat mengalami masa-masa kelam tersebut. Banyak yang mengatakan 3 tahun dibawah penjajahan Jepang lebih sengsara dari 3.5 abad dijajah Belanda. Kekejaman dan kesadisan tentara Jepang memang bukan rahasia lagi. Tidak heran ketika akhirnya pihak Sekutu memborbardir negara matahari tersebut banyak orang yang gembira dan lega mendengarnya, termasuk rakyat Indonesia. Tentu kita semua tahu bahwa salah satu penyebab kemerdekaan Indonesia adalah karena kalahnya Jepang dalam PD II.

Itu pula sebabnya banyak pihak berasumsi bahwa Jepang yang kini menjadi salah satu negara terkaya di dunia banyak membantu negara lain adalah demi menebus dosa dan kesalahan mereka di masa silam. Ntahlah … Yang pasti orang bisa berubah. Dan Jepang membuktikan hal tersebut. Selama 8 hari berada  di beberapa kota Jepang kami merasakan kehangatan dan keramahan mereka.

20171005_113250IMG_20171002_165622Kemajuan Jepang hari ini sungguh tak dapat dipungkiri seorangpun, Dalam waktu singkat Jepang kini masuk dalam daftar negara termaju dan terkaya didunia. Jepang yang saat ini sedang bersiap-siap menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar dunia yaitu Olimpiade 2020 giat mempromosikan berbagai tour wisata Jepang. Mulai dari bunga Sakura dan gunung Fuji yang ternyata tidak selalu bersalju, kuil, hingga kuliner dan berbagai wahana permainan seperti Disneyland, aquarium dll.

IMG_052520171005_141517jepang halalMereka juga telah mempersiapkan diri menyambut tamu-tamu Muslimin dari berbagai negara.

ZHF1

Bersama penjual kebab Turki yang menguasai berbagai bahasa asing.

Diantaranya yaitu dengan makanan Halal. Meski harus dimaklumi belum semua sesuai harapan. Namun paling tidak mereka telah berusaha mengantisipasinya. Dari brosur yang kami trima dari seorang penjual kebab Turki di Tokyo, resto Halal dibagi dalam 4 kategori, yaitu 1. Seluruh makanan halal dan tidak ada minuman ber-alkohol, 2. Halal tapi menjual minuman ber-alkohol, 3. Menyediakan menu halal dan 4. Menyediakan makanan non babi.

IMG_0527IMG_0524Di sebuah resto ramen, masakan khas Jepang, berlabel halal di Kyoto kami sempat berbincang dengan seorang pramuniaganya. Ternyata ia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang bekerja paruh waktu. Mahasiswa asal Majalengka tersebut sempat bercerita tidak mengalami kesulitan untuk shalat di kampusnya. Yang juga surprised, resto dimana ia bekerja mau menjadikan sedikit pojoknya sebagai mushola ( prayer room). Meski sang pemilik ternyata bukan seorang Muslim.

Di Jepang memang terdapat banyak mahasiswa Indonesia. Sebagian ada yang dengan beasiswa pemerintah Jepang tapi tidak sedikit juga yang berangkat dengan biaya sendiri. Mahasiswa Indonesia di Jepang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut beberapa sumber, biaya hidup dan kuliah di Jepang jauh lebih rendah di banding dengan di Amerika Serikat, Australia ataupun di Eropa.

Bahkan ada pendapat tidak lebih mahal dari pada kuliah di universitas swasta bergengsi di Indonesia, Jakarta khususnya. Apalagi dengan adanya fakta bahwa penerimaan masyarakat Jepang terhadap Islam jauh lebih baik dari pada Barat yang sedang menderita Islamophobia akut itu. Mungkin sudah menjadi suratan takdir, bahwa keberadaan mahasiswa Muslim Indonesia di Jepang merupakan dakwah tersendiri agar masyarakat Jepang lebih mengenal Islam.

20171008_15402120171008_15400420171008_154038TM36Alhamdulillah selama di Tokyo Allah swt memberi kami kesempatan mengunjungi Tokyo Camii Turkish Culture Center, masjid termegah di ibu kota Jepang. Dengan menggunakan subway yang merupakan alat transportasi umum warga Tokyo kami menuju ke masjid yang dibangun pada tahun 1938 tersebut. Masjid ini merupakan masjid kedua setelah masjid Kobe. Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit dari stasiun Yoyogi-Uehara tibalah kami di bait Allah yang sungguh cantik tersebut.

Ketika kami memasuki masjid siang itu terlihat sejumlah pemuda dan pemudi Jepang dengan penuh antusias mendengarkan ceramah yang diberikan seseorang. Dugaan kami ia imam masjid tersebut.

20171008_16045020171008_160526TM46TM69Ceramah diberikan oleh dua orang dai secara bergantian, dalam Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris, memberi kesempatan para pengunjung yang tidak memahami Bahasa tuan rumah ikut mendengarkannya. Ceramah yang berlangsung dalam suasana akrab itu kemudian ditutup dengan sesi diskusi. Sungguh merupakan kehormatan bisa menjadi saksi acara tersebut. Terima-kasih ya Allah …

Hal lain, selama di Tokyo kami juga sempat merasakan gempa. Hal tersebut terjadi sekitar pukul 11 malam di tingkat 8 apartemen yang kami sewa. Guncangan terasa cukup kencang. Beberapa saat kemudian kami mendapat kabar bahwa memang baru saja terjadi gempa berkekuatan sekitar 6.3 SR. Was-was juga hati ini menghadapinya meski katanya semua gedung di Jepang dibangun siap meng-antisipasi gempa. Karena gempa yang sering melanda negri ini tidak jarang menelan korban.

Gempa Maret 2011 misalnya. Gempa berkekuatan 9,0 SR dengan lebih dari seratus gempa susulan ini mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 10 meter. Gempa ini menewaskan hampir 20.000 orang dan lebih dari 8.000 orang  lainnya hilang. Padahal sinyal peringatan awal gempa yang dikirimkan ke televise seluruh Jepang bekerja dengan baik. Gempa ini menimbulkan peringatan tsunami untuk pantai Pasifik Jepang dan sedikitnya 20 negara, termasuk seluruh pantai Pasifik Amerika dari Alaska ke Chili.

Gempa dan tsunami Maret 2011 tersebut juga memicu krisis nuklir terburuk di dunia dalam 25 tahun terakhir. Gempa ini dianggap sebagai yang terbesar mengguncang Jepang dalam kurun waktu 1.200 tahun terakhir. Gempa ini adalah salah satu yang terbesar dan paling merusak setelah gempa 8.9 SR di Fukushima pada 2007 dan menyebabkan tsunami. Gempa Fukushima 2007 mengakibatkan ditutupnya PLTN ( Pusat Listrik Tenaga Nuklir) di kota tersebut selama 21 bulan.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” … “ ( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):17).

Ya umat Islam dimanapun berada meyakini, bencana apapun tidak akan terjadi tanpa izin Yang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla. Tak ada yang kuasa mencegahnya bila Ia berkehendak.

Seperti Jepang, Indonesia juga terletak di area Ring Of Fires. Bila Jepang yang sudah mati-matian berusaha agar gempa sesedikit mungkin menelan korban, bagaimana dengan Indonesia?  Meski gempa dasyat yang terjadi di negri kita tercinta tidak sesering Jepang bukankah resiko itu tetap tinggi ??

Jadi sungguh sudah sepatutnya kita ini bersyukur atas penjagaan Sang Khalik yang menjauhkan kita dari bencana dasyat seperti gempa dll. Dan syukur tersebut tidak cukup hanya dengan ucapan, tapi juga dalam bentuk nyata.

Tapi apa yang dilakukan umat hari ini sungguh keterlaluan. Ulama dibully sementara perlakuan menyimpang homoseksual dibiarkan bahkan terkesan dilindungi. Apa itu namanya bukan menantang azab-Nya???

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. Al-A’raf(7):81).

“Mereka (malaikat) menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. Adz-Dzariyat(51):32-34).

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya Jepang yang saat ini belum begitu mengenal Islam, berbekal semangat yang tidak mengenal putus asa, semoga suatu hari nanti Allah swt ridho memberi mereka hidayah. Semoga kehadiran Islam di negri tersebut sedikit demi sedikit mampu mengeluarkan mereka dari kegelapan yang sebenarnya.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):257).

Semoga dengan ber-Islam, Jepang bukan hanya bercita-cita menjadikan negrinya maju secara fisik tetapi juga secara spiritual. Yang dengan demikian dapat mendatangkan rahmat-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Desember 2017.

Vien AM.

Jepang adalah negara yang tercatat paling sering mengalami gempa bumi hingga mendapat julukan negara gempa dan angin Topan. Secara geografik negri Sakura ini memang terletak tepat diatas wilayah yang disebut Cincin Api Pasifik atau Pacific Rings of Fire. Dinamakan demikian karena banyaknya  gunung berapi aktif di wilayah tersebut. Di tempat ini pulalah terjadi pertemuan antara tiga lempeng tektonik yang sangat aktif, yakni lempeng tektonik Pasifik, lempeng tektonik laut Filipina dan lempeng Eurasia. Itu sebabnya ketika ke 3 lempeng tersebut saling bergesekan gempapun rawan terjadi.

Namun bukan Jepang namanya kalau gampang menyerah. Paska gempa berkekuatan 7,9 SR yang menimpa Kanto pada tahun 1891 dan menewaskan sekitar 140.000 orang di wilayah sekitar Tokyo, negara tersebut segera berbenah diri. Jepang segera membangun kembali kota-kota yang hancur tersebut mengikuti skema alam. Mungkin di dunia, hanya Jepang yang memiliki Kementrian Penanganan Bencana (Disaster Management Ministry) yang setiap tahunnya memiliki anggaran beratus-ratus miliar guna mengantisipasi gempa demi melindungi rakyatnya dari dampak bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Seluruh gedung tinggi dan perkantoran, bahkan rumah penduduk di Jepang, didisain anti gempa. Jutaan lift yang ada di dalam gedung-gedung tinggi di desain langsung tidak berfungsi begitu gempa terjadi. Demikian pula subway yang merupakan alat transportasi umum rakyat. Juga reaktor nuklir, langsung mati begitu ada gempa. Sistem antisipasi gempa dini (Early Warning System) bekerja jauh sebelum bencana datang.

20171007_16104920171007_154919Taman-taman luas dengan kolam nan indah yang ada di setiap titik kota sejatinya selain sebagai paru-paru kota, juga adalah sebagai titik evakuasi tempat berkumpulnya warga ketika gempa terjadi. Jepang juga mewajibkan  siswa sekolah dasar agar mengikuti kurikulum Antisipasi mengatasi gempa dan tsunami. Tidak hanya teori tapi juga latihan menghadapi bencana tersebut dilakukan secara rutin.

Namun tak urung pada suatu dini hari di bulan Januari 1995, di puncak musim dingin, gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Kansai. Pusat gempa sekitar 20 km dari Kobe. Gempa yang dikenal dengan sebutan The Great Kobe Earthquake dan hanya berlangsung sekitar 20 detik ini berhasil meluluh-lantakkan seluruh kota Kobe. Meninggalkan korban sekitar 5.000 orang tewas, 35.000 orang cedera, ratusan ribu bangunan rusak parah dan 300.000 orang kehilangan tempat tinggal. Inilah gempa pertama yang menyerang kawasan Jepang modern padat penduduk. Kehancuran diperparah dengan kebakaran hebat paska gempa.

Baik pemerintah maupun penduduk Jepang tak mengira sama sekali bahwa gempa tersebut mampu menghancurkan Kobe. Perhatian Pemerintah Jepang saat itu lebih banyak pada kawasan Kanto yang puluhan tahun lalu hancur lebur. Kawasan Kansai (Osaka, Kobe, dan Kyoto) dianggap zona aman. Dari segi jumlah korban, gempa Kanto memang tetap merupakan yang terbesar dalam sejarah Jepang. Namun, gempa Kobe merupakan pukulan maha berat mengingat perbaikan dan kesiapan yang selama itu dianggap cukup memadai.

Kobe Mosque 1Kobe yang memiliki luas 546 kilometer persegi adalah kota keenam terbesar di Jepang dengan populasi 1,6 juta jiwa (1993). Pelabuhan Kobe saat itu menempati peringkat enam terbesar di dunia. Namun dalam hitungan detik kota tersebut nyaris rata dengan tanah. Kecuali …. sebuah banguan milik umat Islam. Ya, bangunan tersebut adalah masjid Kobe, satu-satunya masjid di kota tersebut, Allahu Akbar …

Tak heran bila kemudian rumah ibadah umat Islam tersebut kabarnya sempat di sakralkan masyarakat Jepang.  Masjid ini dijadikan tempat berlindung tidak hanya umat Islam Kobe tapi juga masyarakat kota Kobe yang sebagian besar kehilangan tempat tinggal.

Datangnya Islam di Jepang.

Syiar Islam di Jepang baru dimulai pada menjelang berakhirnya Perang Dunia I (1914 – 1918), dengan berdatangannya kaum Muslimin Tartar yang melarikan diri dari ekspansi Rusia. Rata-rata mereka adalah pedagang. Untuk menjaga keimanan dan keislaman, diantaranya demi menjaga shalat berjamaah, secara berkala mereka berkumpul di salah satu rumah mereka.

Kemudian ketika datang menetap sejumlah pedagang India yang kaya dan mendirikan Kobe India Club, kaum Muslimin yang sebagian besar asli Tartarpun ikut bergabung. Untuk melaksanakan acara-acara yang lebih besar, mereka menyewa aula di sebuah hotel bernama Tor.

Kobe Mosque 2Kebutuhan terhadap keberadaan masjid  yang begitu membuncah membuat kaum Muslimin yang jumlahnya makin meningkat itu berusaha mengumpulkan dana pembuatannya. Hingga pada tahun 1928 dimulailah pembangunan masjid yang  akhirnya selesai dan diresmikan pemakaiannya pada tahun 1935. Itulah masjid Kobe, masjid pertama di seantero Jepang. Rumah ibadah tersebut terletak di Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe. Disanalah selanjutnya kaum Muslimin melakukan berbagai kegiatan dan ibadah.

“ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”, ( Terjemah QS.An-Nuur (24):36).

20171002_122856KB7Kobe Mosque 3Beruntung pada bulan September yang baru lalu kami diberi kesempatan Allah swt untuk mengunjungi masjid tersebut. Dengan menumpang Shinkansen, kereta api super cepat yang ber-kecepatan rata-rata 320 km/jam, kami tiba di Kobe dari Osaka.

20171002_120508Menurut seorang mahasiswa Indonesia asal Bandung yang bekerja paruh waktu di minimarket Muslim di sebrang masjid, setiap Sabtu pagi banyak keluarga Muslim Indonesia hadir mengikuti kajian di masjid tersebut.

Masjid Kobe sebenarnya bukan sekali itu saja lolos dari bencana besar. Pada tahun 1945, menjelang berakhirnya Perang Dunia II,  bersama Hiroshima, Nagasaki, Tokyo dan Yokohama, Kobe turut menjadi sasaran bom yang dijatuhkan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya.

Kobe Mosque AftermatDalam hitungan detik sebagian besar gedung dan bangunan yang terdapat di kota-kota besar tersebut hancur berantakan. Dan dari sangat sedikit bangunan yang dilaporkan bisa bertahan, masjid Kobe adalah salah satunya. Bahkan di Kobe, nyaris hanya masjid inilah satu-satunya bangunan besar yang tidak hancur. Masjid ini hanya mengalami retak pada dinding luarnya, disamping semua kaca jendela yang pecah dan bagian luar masjid menjadi kehitaman akibat asap bom. Sementara bangunan sekolah yang terbuat dari kayu dan tempat wudhu di samping masjid rusak parah.

Perlindungan terhadap masjid Kobe sudah pasti karena kehendak Allah swt. Namun itu bukan berarti umat Islam Kobe hanya pasrah saja. Pada tahun 1939 ketika Perang Dunia II baru mulai meletus, umat Islam Kobe yang jumlahnya tidak seberapa itu, berusaha melindungi masjid yang dengan susah dibangun dan baru diresmikan 4 tahun sebelum perang, yaitu tahun 1935. Caranya yaitu dengan melapisi lantainya yang indah itu dengan kertas minyak, tatami, dan terakhir pasir setebal sekitar 2.5 cm. Hal tersebut untuk mencegah agar masjid tidak terbakar. Meski sebagai akibatnya selama perang berlangsung masjid tidak dapat digunakan untuk shalat dan kegiatan lainnya.

Selanjutnya pada tahun 1943, masjid ditutup oleh Angkatan Laut Jepang untuk dijadikan tempat berlindung tentara. Lantai dasar masjid dijadikan tempat penyimpanan barang. Paska bom 1945 rumah ibadah kaum Muslimin ini resmi dijadikan tempat pengungsian korban perang.

Masjid Kobe baru kembali ke pangkuan umat Islam 2 tahun setelah perang berakhir, yaitu pada tahun 1947. Kaum Muslimin, kebanyakan orang-orang Tartar dan India, yang selama perang mengungsi ke luar negri berbondong-bondong kembali ke Kobe. Mereka mendapati rumah mereka telah hancur lebur karena bom. Syukur Alhamdulillah Sang Khalik berkenan membuka hati mereka yang telah menyita masjid Kobe untuk diserahkan kembali kepada umat Islam. Dan dengan bantuan negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi dan Kuwait, masjid segera diperbaiki hingga dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bersambung.

Reuni 212, Perlukah ??

Jutaan-massa-Reuni-akumni-212-di-monas-by-syakur-DSC_4856-354gv87auea5a5a1t9i0hsSesuai rencana, acara Reuni 212 yang digelar bersamaan dengan peringatan  Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung aman, lancar dan tertib. Perhelatan yang diawali di masjid Istiqlal pukul 3.00 dengan  shalat Tahajud, dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah ini kemudian dilanjutkan dengan berkumpul di Monas untuk mendengarkan tausiyah yang diberikan oleh sejumlah ulama.  Ketua GNPF –MUI uzt Bahtiar Nasir dan wakilnya yaitu ust Zaitun Rasmin yang merupakan penggerak ABI 2016 lalu terlihat bersama uztad-uztad kondang seperti uzt Abdul Somad, uzt Fadzlan Garamatan, uzt Felix Siauw, uzt  Didin Hafihuddin dll, disamping tokoh-tokoh alumni 212 seperti Amien Rais, Fahri Hamzah, Fadli Zon dll. Acara ini diikuti para alumni 212 dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa yang kabarnya mencapai bilangan jutaan. Allahu Akbar …

reuni212areuni212bLantunan shalawat serta pekik takbir menggema di halaman luar Masjid Istiqlal. Semangat mengikuti Reuni 212 terpancar dari setiap raut wajah peserta yang hadir. Dengan pakaian serba putih, warna kesukaan Rasulullah sebagai dress code, jamaah silih berganti memasuki Masjid Istiqlal. Harap maklum karena rupanya tidak semua pintu masjid dibuka untuk umum.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar,” pekik para peserta Reuni Akbar saat memasuki halaman Masjid Istiqlal.

Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Lapangan Monas, setelah menghadiri Subuh berjamaah di masjid Istiqlal yang rupanya tidak terdeteksi jamaah masjid, mendapat sambutan hangat dan menambah semangat jamaah yang hadir di tempat tersebut.

Dalam kesempatan tersebut sang gubernur memohon doa dari para peserta agar bisa menjalankan amanah memimpin Jakarta dan menuntaskan janji dengan sebaik-baiknya. “Kami ingin membangun Jakarta menjadi kota yang maju, yang warganya bahagia, yang warganya merasakan suasana tenang, nyaman berdasarkan iman dan takwa,” imbuhnya.

Sementara Ustadz Zaitun Rasmin yang mewakili GNPF –MUI mengungkapkan bahwa pendapat sebagian orang bahwa Islam itu radikal, intoleransi, anti-NKRI, anti-Pancasila dll, terbantah dengan terlaksananya reuni 212 yang tertib, aman dan damai. Persatuan Islam yang selama ini ingin dkoyak musuh-musuh Islam paska 212 justru terlihat solid. Baik peserta maupun tokoh dari berbagai ormas yang hadir pada kesempatan tersebut mampu membuktikan meski terdapat perbedaan pendapat, mereka bisa saling menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada.

Wakil GNPF –MUI tersebut juga mengingatkan untuk tidak menanggapi mereka yang berkomentar negatif terhadap Reuni Alumni 212. Diantaranya Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyebutkan reuni itu bermotif politik. “Ini (Reuni 212) juga enggak akan jauh-jauh dari politik juga, politik 2018. Ini pastinya ke arah politik 2018 dan 2019,” tandas Tito di Hotel Bidakara, Kamis (30/11).

Atau komentar Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (29/11), “Gubernur DKI kan sudah dilantik, hal temporer sudah selesai. Beda dengan reuni sekolah. Kalau temporer reuni dan alasannya saya belum tahu”.

Mungkin ke 2 petinggi diatas lupa atau tidak mau tahu bahwa pemicu Aksi Bela Islam yang terjadi tahun lalu itu adalah lisan Ahok yang mengutak-atik ayat suci umat Islam, yaitu ayat 51 surat Al-Quran tentang persyaratan memilih pemimpin. Padahal Ahok sendiri adalah kandidat pemimpin yang berdasarkan ayat tersebut haram untuk dipilih!

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Artinya secara sadar atau tidak, Ahok sendiri yang sudah menantang umat Islam untuk berpolitik. Begitulah tampaknya Sang Khalik Allah swt menyentil umat Islam yang selama ini tertidur, lalai dalam menjalankan perintah Tuhannya dalam menjalankan sistim kepemimpinan/pemerintahan. Atau berpolitk dalam istilah “keren”nya.

Umat Islam rupanya telah lama terbius dengan slogan “ Islam Yes Partai Islam No” yang dipopulerkan almarhum Nurcholis Madjid belasan tahun lalu. Sebuah propaganda busuk Barat dan kaum sekuler yang ingin memisahkan umat Islam dari kepemimpinan/politik. Maklum Barat pernah lama trauma dengan kekalahannya dalam memimpin dunia oleh umat Islam. Itulah zaman ke-emasan ke-khalifahan Islam yang detik ini menjadi momok menakutkan, ironisnya bukan hanya bagi Barat tapi juga bagi sebagian orang yang mengaku Islam !

Tak terkecuali umat Islam di negri tercinta kita, Indonesia, yang katanya mayoritas Islam itu. Kriminalsasi ulama, pengakuan aliran kepercayaan dalam kolom agama di ktp, penerimaan kaum Homoseksual hingga pembubaran ormas yang dianggap ingin menghidupkan sistim ke-khalifahan. Lucunya semua itu dengan embel-embel demi membela Pancasila dan NKRI. Padahal sila pertama Pancasila, sejak dulu adalah “ Ketuhahan Yang  Maha Esa”, pasal 29 UUD memberi kebebasan dan hak warga negara untuk melaksanakan ajaran agama masing-masing. Dan agama yang diakui negara ada 6 yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.

Namun yang lebih menyedihkan lagi adalah adanya persepsi yang kelihatannya sengaja diarahkan bahwa mereka yang pro212 adalah anti NKRI dan anti Pancasila. Sementara yang anti212 berarti cinta NKRI dan Pancasila. Sungguh cara adu domba yang sangat menyakitkan dan sama sekali tidak lucu.

Ini masih ditambah dengan diberikannya penghargaan acara dakwah Islam kepada Metro TV. Penghargaan ini langsung diserahkan oleh mentri agama Lukman Hakim Saifuddin pada November yang baru lalu. Padahal selama ini media tv milik politikus Nasdem Surya Paloh tersebut sering sekali memberitakan berita mengenai dunia Islam secara tidak seimbang bahkan terkesan mengadu-domba sesama Muslim. Apalagi yang berkenaan dengan kegiatan 212. Tak heran bila kantor berita tersebut sering diplesetkan dengan julukan Metrotipu.

Pada liputan Reuni 212 yang baru lalu, pembawa berita media tv tersebut dengan nada dan gaya bahasa mengesalkan menyebut para peserta reuni sebagai orang-orang yang tidak toleran. Dengan santai ia mengatakan bahwa acara tersebut sangat menyakitkan hati pendukung Ahok. Padahal harusnya peserta Reuni 212 sudah puas dengan menangnya jagoan mereka dan dipenjarakanya sang saingan !?!?  HHmmm hanya sebegitu sajakah menurutnya Reuni212, juga arti toleransi baginya???

Anehnya lagi, Metro TV yang selama ini sering memojokkan berita-berita mengenai kerjaan Arab Saudi termasuk isu Wahabi yang mempunyai pengikut cukup banyak di tanah air, tiba-tiba membuat acara dakwah di stasiunnya dengan pembicara uztad yang sering dituduh sebagai Wahabi. Apa maksud dibalik semua itu? Wahabi seperti juga yang di Arab Saudi memang berprinsip tidak boleh melawan pemerintah yang sedang berkuasa. Oleh sebab itu mereka tidak menganjurkan pengikutnya untuk berpartipasi dalam Reuni 212. Tapi mengapa tiba-tiba Metro memunculkannya di tengah suasana ini ?? Apa itu namanya bukan adu domba??

“Sesungguhnya setan telah kehilangan harapan untuk disembah oleh orang Islam, untuk itu setan memecah-belah mereka” (HR Bukhari).

Belum lagi pernyataan Azyumardi Azra pada acara ILC bertajuk “ Reuni 212, perlukah?” yang baru lalu. Dengan santai tokoh JIl (jaringan Islam Liberal) itu malah mempermasalah peringatan Maulud Nabi yang menurutnya bi’dah. Padahal hampir semua ulama sepakat bahwa hal tersebut adalah khilafiyah ( ada perbedan pendapat). Bukan saatnya lagi umat Islam memperdebatkan hal-hal yang sifatnya bukan aqidah. Tapi ya maklumlah, bukan JIL kalau tidak demikian.

http://forum1dakwah.blogspot.co.id/2013/04/azyumardi-azra-melontarkan-pernyataan.html 

Nabi pernah keluar sedangkan sebagian shahabat sedang berdebat tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau, lalu beliau bersabda : “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan ayat dengan ayat !! Karena inilah umat-umat sebelum kalian Hancur !!” (HR Ahmad, asalnya dari Shahih Muslim).

Imam Ahmad berkata : “Jangan duduk dengan orang yang suka berdebat (dengan sesama Muslim) meskipun dia membela kebenaran, sebab sesungguhnya yang demikian tidak akan berubah menuju kebaikan.”

Sementara Lukman Hakim sendiri sebagai seorang mentri agama tidak jarang mengecewakan umat Islam. Diantaranya adalah dukungan kentalnya terhadap kaum Homoseksual, yang dibuktikan dengan kehadirannya di acara mereka. Selain memberikan sambutan kabarnya Lukman Hakim juga menangis mendengar curhatan kaum nabi Luth yang jelas-jelas dilaknat Al-Quran karena prilaku menyimpangnya. Sebaliknya terhadap acara Reuni 212, alih-alih menunjukkan simpati, Lukman justru mempertanyakan urgensi acara tersebut.

http://www.panjimas.com/news/2016/08/30/innalillahi-menteri-agama-hadiri-acara-pemberian-penghargaan-kaum-lgbt/

Dengan adanya berbagai fakta di atas jelas bahwa reuni 212 itu penting untuk dilakukan. Agar umat Islam senantiasa ingat dan sadar akan hak dan tanggung-jawabnya, serta agar selalu besatu. Tujuan ABI baik 411 maupun 212 tahun lalu bukan sekedar menuntut Ahok dipenjarakan karena menistakan ajaran Islam. Lebih dari itu, yaitu agar umat Islam mau kembali mentaati Al-Quran dan hadist. Apalagi sebentar lagi pemilihan presiden sudah hampir tiba.

Persis seperti yang sering dikatakan uztad Abdul Somad, sampai berbuih mulut para uztad dan ulama menyampaikan ajaran Islam bila pemimpinnya tidak mau tunduk pada ajarannya, percuma semua itu. Sebaliknya, tanda tangan seorang pemimpin, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, mampu membuat apa yang disampaikan para uztad dan ulama berjalan. Itu sebabnya Allah swt memerintahkan umat Islam agar memilih pemimpin sesama Muslim. Agar dengan demikian hukum dan peraturan bisa sesuai ajaran kita, seperti haramnya riba, judi dan pelacuran, pentingnya kehalalalan suatu makanan, tentang perlindungan terhadap kaum hawa seperti menutup aurat, warisan dan lain-lain sebagainya. Diadakannya musola di halte bus way misalnya. Itu adalah contoh yang kelihatannya sepele dari kepemimpinan Anis Bawesdan sebagai gubernur DKI yang baru 2 bulan.

ABI berseri yang terjadi tahun lalu sejatinya adalah bagaikan membangunkan harimau yang sedang tidur. Itulah umat Islam yang selama ini abai terhadap hak politik, mudah dipecah belah dan hanya sibuk dengan perbedaan-perbedaan amalan yang tidak mendasar. Umat Islam telah membuktikan bila kita bersatu pasti Allah swt akan membantu memenangkan kita meskipun musuh-musuh Islam lebih banyak dan lebih kuat. Ajaran Islam bukan hanya mengenai akhirat namun juga urusan dunia.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.( Terjemah QS. Al-Qashash(28):77).

Bukankah Islam itu rahmatan lil aalamiin, oleh sebab itu adalah fitrah harus menjadi pemimpin/khalifah di muka bumi. Bagi seorang Muslim dunia itu ladang tempat kita beramal yang akan menentukan hidup kita di akhirat nanti. Tidak penting apa partai dan siapa orangnya. Namun selama ia mau tunduk pada Tuhannya Yang Esa, dan bersedia berkomitmen menjalankan kepemimpinan sesuai Al-Quran dan Hadist sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw maka orang tersebut patut kita pilih dan jadikan pemimpin tertinggi kita.

Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)”. ( Terjemah QS. An-Naml(27):62).

Reuni 212 juga adalah “show of force” untuk menunjukkan bahwa kita kuat dan mampu bersatu. Persis yang dicontohkan Rasulullah saw ketika kaum Muslimin ber-ihram. Yaitu dengan memperlihatkan bahu kanannya. Padahal ketika itu para sahabat sedang dalam kondisi amat lelah akibat perang bertubi-tubi yang harus mereka hadapi. Islam itu rahmatan lil aalamiin, sejuk, aman, sabar. Tapi bukan berarti mudah untuk dilecehkan apalagi dipermainkan.

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” ( Terjemah QS. Al Anfaal (8): 46).

Dan untuk kesekian kalinya umat Islam di Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Aksi yang diikuti jutaan orang tersebut berjalan tenang, aman dan tertib tanpa sampah tertinggal berserakan. Bahkan rumputpun dijaga agar tidak terinjak.  Masya Allah ….

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Desmber 2017.

Vien AM.

Sultan Abdul HamidTanggal 10 Februari 1918 adalah hari duka bagi kaum muslimin. Saat itu dunia Islam kehilangan salah satu pejuang terbaiknya. Dialah Sultan Abdul Hamid II, legenda terakhir dari silsilah umara besar yang pernah ada. Sultan ke 34 dari wangsa Utsmaniyah ini naik tahta pada 31 Agustus 1876 M. Putra Abdul Majid I yang menguasai bahasa Turki, Arab dan Persia ini menggantikan abangnya Sultan Murad V yang hanya berkuasa selama 93 hari.

Sang khalifah muncul di era kemerosotan institusi khilafah. Inilah masa krisis menjelang keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani dimana negara adikuasa itu disindir bangsa Eropa sebagai The Sick Man of Europe. Dalam kondisi negara yang karut-marut, ia hadir bagai pelita yang kembali menerangi Istana Topkapi. Ia tampil memperpanjang napas peradaban Islam yang kala itu terengah-engah diserang dari luar dan dalam. Dengan jerih payahnya umur keruntuhan khilafah tertangguh 30 tahun lamanya. Realitas tunggakan utang luar negeri yang terus membengkak, parlemen yang tidak produktif, birokrasi pemerintahan yang korup dan kuatnya intervensi tak membuatnya menyerah.

Memang diakui banyak sejarawan Barat memberikan predikat negatif padanya. Namun patut diketahui bahwa namanya ditulis dengan tinta merah dalam berbagai literatur sejarah hanyalah karena penentangannya terhadap Konspirasi Zionisme. Kaum Yahudi yang saat itu (bahkan hingga kini) menguasai media massa dan informasi dunia memberikan stigma sebagai pemimpin otoriter yang haus darah sebab tidak mengizinkan berdirinya negara Israel. Tak ayal, sejumlah penulis Barat menjulukinya sebagai “Sultan Merah” atau “Abdul Terkutuk”. Bahkan sejarawan Muslim, Tamim Ansary dalam Dari Puncak Baghdad ikut menyebutnya sebagai “pria lemah dan konyol”. Begitupun, ia tetap bintang yang dipuja di hati kaum muslimin.

Melawan Konspirasi Asing

Semasa muda, Abdul Hamid pernah turut bersama delegasi Utsmani dalam lawatan ke Prancis, Inggris, Belgia, Austria dan Hongaria. Ia bertemu raja-raja top seperti Napoleon III, Ratu Victoria, Leopold II dan Franz Joseph II. Di sela kunjungan kenegaraan itu, catat Muhammad Ash-Shallaby dalam Ad-Daulah al-Utsmaniyyah; Awamil an-Nuhudh wa as-Suquth, ia mendengar Menteri Utsmani menjawab pertanyaan beberapa pembesar Eropa Barat tersebut. “Berapa kalian jual Pulau Kreta?” tanya mereka. Maka Fuad menjawab lantang, “Dengan harga seperti kami membelinya!”. Maksudnya ialah Utsmani menguasai pulau itu selama 27 tahun dan penuh dengan perang.

Bukan itu saja. Ketika ditanya, “Negara apa yang terkuat di dunia saat ini?” jawaban Fuad sungguh mencengangkan. “Negara terkuat adalah Turki Utsmani. Itu karena kalian berusaha menghancurkannya dari luar. Adapun kami berusaha merusaknya dari dalam. Namun nyatanya kita sama-sama belum berhasil melenyapkannya,” ujarnya. Tentu dari sini Abdul Hamid mengambil banyak hikmah dan kearifan.

Pasca penobatannya yang berlangsung gempita dan membuat Istanbul berwarna, segunung masalah langsung menyambut. Salah satu yang paling krusial adalah esksistensi Gerakan Turki Muda yang sangat kuat dalam kabinet, hingga melampaui otoritas khalifah. Adalah Midhat Pasha sekalu Menteri Besar yang jadi pemimpinnya. Dialah yang dimaksud Ernest E. Ramsaur dalam The Young Turks sebagai aktor intelektual penggulingan dua sultan sebelumnya sekaligus dalang pembunuhan pamannya.

Menurut Eugene Rogan dalam The Fall of Khilafah, gerakan ini tak bisa dilepaskan dari campur tangan gerakan Freemasonry. Organisasi rahasia Yahudi ini menghendaki Turki baru yang menganut Demokrasi Barat dan mencampakkan Islam sebagai sistem hidup. Merekapun sukses mencuci otak banyak anak muda Turki sampai mereka kagum dan tergila-gila kepada apa yang mereka sebut sebagai “kemajuan” dan “modernitas” Eropa. Isu-isu kebebasan serta intoleransi terhadap minoritas juga menjadi beberapa isu utama mereka. Padahal Sultan amat protektif terhadap minoritas Armenia dan Kurdistan. Menyikapi hal itu, Abdul Hamid seperti tertuang dalam Mudzakarat As-Sulthan Abdul Hamid Ats-Tsani yang disusun Dr. Muhammad Harb mengritik keras, “Turki Utsmani adalah negeri berkumpulnya berbagai bangsa dan demokrasi (versi Barat) di negeri ini hanya akan mematikan etnis asli dalam negeri. Apakah ada di parlemen Britania anggota resmi dari penduduk India atau di Parlemen Prancis, anggota dewan dari keturunan Aljazair?”

Membela Al-Quds

Selain keteguhan hatinya, ia juga dikenal sangat peduli pada Tanah Suci Al-Quds. Pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu tegas ditolak Sultan. Tak mau menyerah, Theodor Hertzl, penggagas berdirinya Negara Yahudi yang menulis buku Der Judenstaat, pada 1896 memberanikan diri menemui Abdul Hamid sambil meminta izin mendirikan gedung di Al-Quds. Permohonan itu kembali dijawab Sultan dengan penolakan. “Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu, simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri,” tegas Sultan. Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Utsmani.

Mengingat gencarnya aktivitas Zionis, akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II juga mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas. Setahun berikutnya Sultan menerbitkankan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap. Kedatangannya kali ini untuk menyuap sang sultan. Hertzl menyodorkan hadiah yang sangat menggiurkan yakni uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan pribadi; membayar semua utang pemerintah Utsmani yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta franc; memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Utsmani di Palestina.

Namun semua tawaran itu ditolaknya tegas. Bahkan Sultan tak sudi menemui Hertzl, lalu mewakilkan kepada PM Tahsin Basya, dengan pesan, “Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Usmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya.”

Lain waktu, pernah pula pemerintah Inggris mengajukan proposal penggalian benda-benda purbakala di wilayah kekuasaan Utsmani. Namun ternyata penggalian benda-benda purbakala itu hanya kedok belaka, karena sejatinya mereka ingin mengeruk tambang-tambang minyak. Karena itu Sultan marah luar biasa dan mencabut proyek kerjasama tersebut.

Pelajaran untuk Indonesia

Berbagai turbulensi yang dialami oleh Sultan Abdul Hamid II ini sangat relevan dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Siapapun yang berkuasa, jika ia tak mau mengikuti perintah asing, apalagi mempunyai misi menegakkan Islam, maka akan bernasib sama sebagaimana sang sultan pada masa lalu. Kekuasaan yang dipegang oleh sosok pemimpin muslim yang tegas dalam menjalankan pemerintahan dengan nilai-nilai Islam, akan selalu dirongrong dan digoyang sampai tumbang. Inilah yang kita saksikan saat PM Ismail Haniyah dari HAMAS memenangan Pemilu Palestina. Begitu pula Presiden Mursi di Mesir yang sekeluarganya penghafal Qur’an itu dikudeta dengan zalim oleh militer yang disokong asing.

Saat kekuatan asing tampak mencengkeramkan cakarnya ke tengah bangsa, tentu kita rindu pemimpin bermental Abdul Hamid II. Ketika utang luar negeri terus ditambah, liberalisasi undang-undang migas dan minerba, kepemilikan properti oleh asing, penguasaaan asing hingga 85% saham modal ventura hingga bolehnya 100% saham restoran dan jalan tol dikuasai asing, ada gelora untuk memiliki pemimpin sekuat Abdul Hamid II.

Negara yang berbhineka ini layak belajar darinya. Meski tegas menolak intervensi asing, Abdul Hamid II tetap bisa mengurangi utang Utsmani dari 300 juta lira hingga tinggal sepersepuluhnya saja yakni 30 juta lira. Kitapun jangan sampai latah mengikut polah Gerakan Turki Muda yang membebek budaya Barat, termasuk sisi negatifnya yang bertabur jumlahnya. Seperti yang diakui Abdullah Cevdet, “Yang ada hanya satu peradaban yakni peradaban Eropa. Karena itu kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya maupun durinya sekaligus.”

Mari kita doakan para pemimpin bangsa semakin istiqamah menjaga kedaulatan bangsa. Tidak harus anti asing, tapi tak boleh didikte dan tuduk pada asing.

Dicopas dari :

https://www.kompasiana.com/anugrahroby/teladan-abdul-hamid-ii-melawan-konspirasi-asing_58a13741309773d10531a488

https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_II

Wallahu’alam bis shawwab.

Jakarta, 29 November 2017.

Vien AM.