Feeds:
Posts
Comments

BincangSyariah.Com – Prof. Jonathan Andrew Cleveland Brown adalah sarjana muslim asal Amerika Serikat yang popular dengan penelitian-penelitiannya di bidang hadis dan sejarah Islam. Cendekia yang masuk Islam saat masih kuliah tingkat sarjana (S1) ini aktif menulis berbagai buku dan jurnal, serta aktif berbicara tentang Islam dan peradaban di berbagai forum.

Ia adalah penulis beberapa buku seperti Misquoting Muhammad : The Challenges and Choices of Interpreting the Prophet’s Legacy; Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World; Muhammad: A Very Short Introduction; The Canonization of al-Bukhari and Muslim.

Bincangsyariah memutuskan untuk menerjemahkan salah satu wawancaranya dengan Ahsen Utku untuk portal thelastprophet.info pada tahun 2010, terkait kisah hidupnya memeluk Islam sampai pandangannya tentang Nabi Muhammad Saw. dan respon dunia Barat terhadap muslim.

Bisa cerita kisah anda saat memeluk Islam?

Saya besar di keluarga yang menganut Kristen Anglikan, aliran gereja Inggris yang berada di Amerika, tapi keluarga saya tidak terlalu religius. Sehingga, saya tidak tumbuh di keluarga sebagai seorang kristiani yang taat. Tapi saya percaya adanya Tuhan, saya selalu percaya itu. Ketika saya masuk universitas, di tahun pertama di Georgetown (nama Universitas), saya mengambil mata kuliah “Islam” dan gurunya adalah seorang muslimah.

Saya sangat tertarik dengan yang ia sampaikan. Saya kira apa yang beliau sampaikan adalah apa yang saya yakini sepanjang hidup, sifat Tuhan, masalah sebab akibat, agama seharusnya sesuai dengan segala zaman, agama menguatkan kehidupan, bukan malah mempersulit. Di akhir semester, saya benar-benar merasa seperti orang muslim. Di musim panas, tahun 1997, saya menghabiskan waktu untuk membaca banyak buku tentang Islam dan pergi ke Eropa dan Maroko. Ketika saya kembali ke kampus di awal semester baru, saya memutuskan masuk Islam.

Sebelumnya, apakah anda mempunyai relasi dengan orang-orang Islam?

Tidak, saya kira saya belum pernah bertemu orang Islam sebelum mengambil kuliah waktu itu.

Buku-buku anda banyak berkaitan dengan Nabi Muhammad, dan saya baru saja tahu kalau anda sedang menulis buku baru?

Ya, buku ini adalah bagian dari serial terbit Oxford University Press yang bernama Very Short Introduction (VSI); mereka memiliki tema saja yang disajikan dalam bentuk VSI, seperti “VSI to The European Union”, dan sebagainya. Saya menulis satu tentang Nabi Muhammad, dan saya sudah menyelesaikannya. Naskah yang saya tulis akan terbit menjadi satu buku dan menjadi bagian dari rangkaian serial buku. Saat ini sayangnya penerbitan buku tersebut ditunda, karena mereka mengirimkan terlebih dahulu ke kantor penerbitan cabang Pakistan, untuk meninjau apakah isinya ofensif terhadap muslim.

Saya ingin mengatakan kepada mereka, “Saya seorang muslim dan semua yang di dalamnya saya ambil dari rujukan-rujukan orang Islam. Tidak ada isinya yang menyerang orang Islam. Saya memang membicarakan pendapat sejarawan Barat dan bagaimana mereka membicarakan tentang Nabi Saw., tapi itu hanya di level diskusi saja. Semua hal terkait kehidupan Nabi saya gali dari buku-buku sejarah/sirah dan hadis.”

Kenapa mereka masih khawatir?

Karena buku yang dianggap ofensif kepada Nabi Saw. biasanya menimbulkan sekian problem. Tapi biasanya bagi penerbit, problem berarti makin banyak menarik minat pembeli. Saya tidak apa yang dipikirkan penerbit selanjutnya.

Apa yang paling mempengaruhi anda dari sosok Nabi Muhammad Saw.?

Mungkin, sosok beliau sebagai orang yang mampu melakukan terbaik di setiap situasi. Bagi saya, ini sangat inspiratif. Di banyak kesempatan tokoh-tokoh agama yang kita miliki di Amerika Serikat selalu menampilkan sikap yang sama – contohnya sosok Yesus yang selalu baik dan pemaaf. Namun, adakalanya anda tidak bisa memaafkan. Anda tidak boleh begitu (bersikap selalu baik), terkadang anda harus menjadi sosok yang halus dan manis, kadang harus bersikap to the point dan tegas; terkadang anda harus sabar dan di lain waktu harus bergerak cepat.

Tidak boleh hanya ada satu aturan yang anda terapkan dalam hidup dan mengarahkan bagaimana anda bertindak. Anda harus mampu membaca situasi dan melakukan yang terbaik dalam merespon situasi itu. Dan, Nabi Muhammad adalah sosok yang mengetahui hal itu, dan ini adalah sesuatu yang sangat inspiring. Saya kira itu.

Menurut anda, apakah Muslim hari ini bisa menerapkan ajaran-ajaran Nabi di kehidupan sehari-hari?

Tentu saja. Saya kira muslim hari ini mesti berpikir bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah sosok yang idealis dan efektif di waktu yang sama. Beliau memiliki sejumlah prinsip yang dia pegang, namun beliau juga mengetahui bagaimana “menawarkan” ajarannya serta cara berdialog dengan orang-orang tertentu untuk meyakinkan mereka; dia juga tahu bagaimana berdialog dengan seseorang untuk menjadikannya sebagai kawan.

Beliau tidak selalu hanya bersikap tegas dan ketat. Beliau tahu bagaimana menyesuaikan pesan-pesannya ke orang-orang yang berbeda, bukan untuk merubah pesannya, tapi mengemasnya agar diterima orang tertentu. Itu bukan merubah isi, hanya cara menyampaikannya saja. Ini sangat berguna. Saya kira saat ini ketika orang-orang Islam merasa mereka sangat religius, mereka cenderung membuat banyak pernyataan tentang apa yang haram. Untuk benar-benar mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi Saw., sebenarnya adalah berpikir untuk menyatakan apa yang sesungguhnya benar dan baik dilakukan. Itu yang saya kira sangat bermanfaat hari ini.

Harus seimbang ya?

Ya, menjadi muslim yang utuh, sosok yang multi dimensi.

Lalu mengapa – menurut anda – di Eropa dan Amerika sosok nabi Muhammad seringkali menjadi sasaran kritik bagi sebagian orang?

Pertama-tama, itu adalah tanda mereka tidak tahu apa-apa tentang Muhammad. Orang-orang di Eropa dan Amerika memang banyak yang tidak tahu apa-apa tentang Islam dan Nabi Muhammad. Mereka hanya mendengat bahwa orang Islam adalah teroris sehingga Islam adalah agama kekerasan. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad adalah simbol kekerasan. Itulah akar masalah terbesarnya. Sisanya kebanyakan bersifat politis.

Alasan kenapa masih adalah konflik antara negara-negara Barat dengan negara Muslim adalah karena negara Barat masih menginvasi dan mencengkeram. Tindakan itu berimpilkasi kepada aneka masalah poitik. Orang barat menggambarkan orang Islam sebagai orang keras karena orang Islam sebenarnya sedang bereaksi terhadap invasi orang Barat. Ada sejarah panjang konflik antara negara Barat dan Muslim, namun penggambaran satir terhadap Nabi hari ini, yang berwajah kebencian, hanya bisa dipahami sebagai produk konflik politik.

Anda mengatakan tentang para akademisi Barat terdahulu yang menulis sosok Nabi Muhammad. Jika kita asumsikan generasi hari ini tumbuh dengan membaca tulisan-tulisan tersebut lalu mereka dengan mudah menjustifikasi dengan buruk, apakah situasi ini adalah sesuatu yang normal dan biasa saja?

Ya, saya kira begitu. Hari ini jika anda bertanya seseorang di jalan tentang Islam, tanya mereka satu kata yang ada di pikiran tentang Muhammad Saw, maka mereka akan mengatakan, teroris, ekstrimis, penghunus pedang, dan agama kekerasan. Generasi hingga generasi terus mengulang mitos ini.

Apa yang seharusnya muslim lakukan?

Lakukan yang terbaik untuk mengedukasi semua orang. Masyarakat umum di Barat tidak mengetahui apa-apa. Jika anda menjelaskan kepada orang biasa hal-hal menarik tentang kehidupan Nabi, misalnya bagaimana ia hidup di Mekkah selama tiga belas tahun tanpa melakukan kekerasan, tidak berkonflik dengan orang Mekkah yang menekannya, mereka akan terkejut dan kagum. Saya kira di kehidupan sehari-hari baik itu dalam bentuk buku ataupun artikel di internet kita harus berupaya meningkatkan perhatian orang terhadap sosok Nabi Muhammad.

Anda menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi muslim di Eropa, yang terus meningkat setiap harinya termasuk sikap dari media. Apakah kondisi yang sama ada di Amerika Serikat?

Penjagaan hak-hak kebebasan beragama di USA sangat kuat. Anda secara konstitusional dilindungi untuk dapat menjalankan ajaran agama. Di USA, mudah saja bagi muslim untuk meninggalkan kelas atau kantor untuk alasan beribadah. Anda secara konstitusi diijinkan melakukannya. Jika anda ingin menggunakan penutup kepala/peci lalu atasan anda tidak suka kemudian memecat anda, anda bisa menuntut mereka karena dianggap melanggar undang-undang. Jadi kondisinya lebih mudah karena hak asasi anda dilindung.

Tapi, karena kekhawatiran terhadap terorisme yang semakin meningkat, pemerintah mulai melakukan investigasi terhadap umat muslim tanpa alasan yang benar-benar jelas. Mereka menyimpulkan bahwa muslim yang taat adalah ancaman, atau mereka menjadi ancaman karena tidak setuju dengan kebijakan luar negeri USA. Ngomong-ngomong, sebenarnya setiap orang di USA berhak tidak setuju dengan kebijakan luar negeri negaranya, dan banyak yang seperti itu.

Namun jika yang melakukannya adalah muslim, segera disimpulkan, “orang ini berpotensi radikal !”. Memang setelah peristiwa 9/11, The Patriot Act (UU Terorisme di USA) disahkan yang mana bisa membuat pemerintah lebih bebas memburu orang-orang atas dasar keamanan nasional. Penyadapan tanpa izin atau surat tuntunan langsung dari Departemen Hukum (Justice Departement) menjadi dibebaskan. Inilah yang menyebabkan penyiksaan beberapa orang Islam di Penjara Guantanamo.

Informasi baru-baru ini muncul kabar bahwa seluruh mahasiswa Muslim data-datanya sudah diterima CIA?

Hal-hal seringsekali terjadi. Sebenarnya di USA hal seperti masih diperdebatkan. Ada banyak orang Amerika – yang tidak Islam – menyetujui hal itu karena mencederai nilai-nilai konstitusi. Pemerintah seharusnya tidak diizinkan untuk melakukan penyadapan tanpa izin dari hakim pengadilan. Maka anda tidak boleh menyadap rekaman rekaman dari mahasiswa – misalnya. Setelah adanya Patriot Act, jika anda pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku, pemerintah dapat “masuk” ke dalam perpustakaan dan melihat apa yang anda baca.

Hari ini, Amerika dapat mengekstradisi orang-orang Islam untuk diinterogasi tanpa alasan yang jelas. Banyak orang Amerika yang bukan muslim juga mengkritisi halini karena mereka melihat ini sebagai pencederaan terhadap hak-hak konsitusi. Ini adalah perdebatan yang besar sekali, muslim menentangnya, begitu juga orang-orang Amerika pada umumnya

Apakah anda secara pribadi menghadapi masalah sebagai akademisi yang beragama Islam?

Tidak saya kira. Saya bukan contoh yang baik untuk pertanyaan ini. Nama saya adalah Jonathan Brown dan saya tidak terlihat seperti berasal dari negara muslim, hehe. Saya tidak pernah mendapatkan persekusi akibat nama atau tampilan saya. Saya juga tidak pernah menghadapi problem sebagai sarjana muslim. Orang-orang secara umum sebenarnya tertarik pendapat-pendapat yang disampaikan oleh orang Islam.

Apa yang anda lihat dari Turki sebagai negara muslim?

Saya senang sekali. Saya memahami muslim di negara ini masih mengalami sejumlah kesulitan. Namun saya masih senang karena kita dapat berjalan dan shalat kapanpun saya mau. Makanannya juga enak. Saya berharap saya mengetahui bahasa Turki. Saya ingin belajar lebih banyak. Secara keagamaan, memang Turki adalah negara yang rumit. Saya respek sekali dengan orang-orang Turki. Tapi sekali lagi, ini adalah negara yang rumit.

Apa pandangan anda soal sulitnya persatuan dunia Islam?

Ya, jurang menuju persatuan masih sangat besar. Salah satu problemnya adalah orang-orang hanya tertarik dengan keuntungan pribadi dan gagal untuk menyatu menjadi sebuah kelompok. Mereka berpikir bahwa jika mereka tidak setuju dengan seseorang untuk satu permasalahan, maka mereka tidak bisa bekerja bersama. “Saya tidak ingin bersama mereka, saya tidak ingin di ruang yang sama, saya tidak ingin bekerjasa, ..dst” Tapi itu adalah sebuah kepandiran karena anda tidak mungkin setuju serratus persen dengan siapapun. Tapi seharusnya anda melihat kesempatan untuk bekerjasama dan membangun relasi, bukan malah menjauh.

Apa anda melihat bahwa harus ada satu atau dua kekuatan politik yang memimpin negara-negara muslim ini? Misalnya, haruskah negara-negara tersebut menyatu dibawah koordinasi konferensi Islam misalnya?

Itu masuk akal. Saya kira secara politis orang Islam di seluruh dunia memiliki permasalahan bersama yang mereka perhatikan, begitu juga permasalahan seputar gaya hidup, dan saya kira mereka seharusnya mampu melakukan lobi sebagai satu kelompok besar. Contohnya adalah jika sebuah negara, seperti Prancis, yang menetapkan bahwa perempuan tidak boleh menggunakan jilbab di universitas, negara-negara muslim bisa melakukan langkah “boikot” atau memberi pernyataan.

Sebagai orang Amerika saya tidak menyetujui langkah pemerintah Prancis ini. Saya tidak berpikir ada orang Amerika yang akan setuju bahwa seseorang tidak boleh diizinkan untuk mempraktikkan agama mereka secara bebas; jika Anda ingin mengenakan atribut keagamaan, ini adalah hak Anda. Saya kira ini satu hal yang bisa mereka lakukan dan hal lainnya harus memiliki dampak yang lebih kuat secara politik, bagi kebijakan luar negeri.

Misalnya jika sebuah negara ingin menginvasi sebuah negara Muslim, maka tidak ada satupun negara muslim yang akan mendukungnya. Negara-negara muslim lain kemudian membuat kebijakan tidak mengizinkan penginvasi menggunakan wilayah udara atau daratnya untuk kepentingan militernya.

Betul, bahkan tidak akan melakukan kerjasama komersial dan militer dengan negara yang menginvasi …

Perlu diketahui itu lebih baik bagi Amerika. Kebanyakan orang Amerika hari ini akan mengatakan bahwa menginvasi Irak adalah ide yang sangat buruk. Dan jika negara-negara Muslim menghambat Amerika sehingga sulit menginvasi Irak dengan menolak kerjasama atau menerima tawaran Amerika, itu akan menyelamatkan Amerika dari berbagai masalah, miliaran dolar dan nyawa akan terselamatkan. Karena, ketika ada seseorang yang memberikan anda nasihat dan menyarakan untuk tidak melakukan sesuatu, itu baik buat anda.

Jakarta, 3 November 2026, 23 Jumadil Awal 1448H.

Vien AM.

Dicopy dari : https://bincangsyariah.com/khazanah/wawancara/jonathan-c-brown-nabi-muhammad-saw-adalah-pribadi-yang-inspiratif/

Pada masa Islam baru masuk tanah Arab, hiduplah Walid bin Mughirah. Ia adalah seorang pemuka Quraisy Mekah kaya raya sekaligus ahli syair yang ketika itu merupakan keahlian yang sangat dikagumi masyarakat Arab. Tak heran bila pengikut dan pengagumnya sangat banyak.

Lomba membaca unjuk kemahiran syair dan puisi diselenggarakan tiap tahun di pekan raya terkemuka Pasar Ukaz (Souq ‘Ukadz). Pasar kuno yang terletak di antara Mekah dan Taif ini bukan sekadar tempat transaksi perdagangan melainkan juga ajang festival kebudayaan, sastra sekaligus panggung politik bagi bangsa Arab.

Bahkan mendekati musim haji, tradisi yang sudah ada jauh sebelum datangnya Islam, lokasi lomba menyebar ke pasar lain di kota Mekah, seperti Majannah dan Dzul Majaz. Festival tersebut diadakan pada bulan-bulan suci (bulan haram) yang dilarang untuk berperang, yakni dimulai dari awal bulan Zulkaidah.

Peserta tidak hanya dari Mekah tapi juga dari seluruh penjuru semenanjung Arab. Mereka datang mewakili kabilah dan suku Arab yang ada. Hadiahnyapun tidak main-main, yaitu  kehormatan tertinggi tertulis dengan tinta emas pada kain sutra yang kemudian digantungkan di dinding Ka’bah.

Hingga suatu hari Mekah gempar karena datangnya seorang suku Quraisy yang mengaku rasul dan membacakan ayat-ayat yang indah di pasar Ukadz. Orang-orangpun berkumpul dan ramai membicarakannya. Banyak orang terkagum-kagum mendengarnya. Orang tersebut tak lain tak bukan adalah Rasulullah Muhammad saw dan yang dibacakan adalah ayat-ayat Al-Quran.  

Para pemuka Mekah murka mendengarnya. Mereka merasa bait-bait tersebut membahayakan posisi para pemuka dan orang-orang kaya seperti mereka. Diantara pemuka tersebut adalah Abu Jahal. Segera ia meminta Walid bin Mughirah untuk menanggapi dan mencemooh bait-bait tersebut. Dengan kejamnya ia menuduh bahwa Muhammad adalah seorang penyihir.

Namun apa yang terjadi?? Setelah mendengar ayat-ayat tersebut Walid bin Mughirah malah merasa tersentuh. “Apa yang harus kukatakan? Demi Allah, tak seorangpun diantara kalian yang melebihi pengetahuanku tentang syair, puisi dan sajak, bahkan dari kalangan jinpun. Demi Allah apa yang diucapkan Muhammad tak sedikitpun menyerupai semua itu. Sungguh perkataannya indah dan menyejukkan. Kata-katanya sangat tinggi dan tak mungkin tertandingi”, aku Walid kagum.

Betapa terkejutnya Abu Jahal mendengar itu. Namun dengan segera ia mendesak Walid agar tidak mudah terpengaruh. “ Hai Walid, kaummu takkan rela hingga kau mengatakan sesuatu yang mencela Muhammad”, desak Abu Jahal.” Beri aku waktu untuk berpikir”, jawab Walid pada akhirnya.

Setelah berpikir sejenak, Walidpun berkata dalam hati, ” Mungkin memang benar, ucapan Muhammad itu adalah sihir yang berkesan”.

Kisah diatas diriwayatkan oleh Hakim dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa setelah kejadian diatas turunlah ayat yang artinya berikut : “Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya” . (Terjemah QS.Al-Mudatstsir(74):11).

Dan juga ayat 1-6 Al-Qalam yang merupakan pembelaan kepada Rasulullah, yang artinya berikut,

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat ni’mat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesunggu ya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila”.

Yang dilanjutkan ayat 7-16 surat yang sama sebagai kecaman atas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Al-Quran seperti Walid bin Mughirah yang artinya sebagai berikut,

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak maka mereka bersikap lunak pula”.

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala”. Kelak akan kami beri tanda dia di belalai-(nya)”.

Walid bin Mughiroh selain dikenal kaya raya juga memiliki banyak anak yaitu 11 orang, sesuatu yang di masa itu merupakan kebanggaan. Di akhir masa penaklukan Mekah dimana orang berbondong-bondong masuk Islam ternyata hanya 3 orang anaknya yang masuk Islam. Yang paling terkenal dan hingga kini selalu dikenang umat adalah Khalid bin Walid sang Pedang Allah (Saifullah) panglima perang pasukan Islam yang di bawah pimpinannya pasukan selalu menang, dengan izin Allah tentunya.

Masa Walid bin Mughiroh hidup sudah berlalu 15 abad lamanya. Kini dengan makin majunya teknologi Islam telah tersebar ke seluruh belahan dunia. Dengan sangat mudah Al-Quranul Karim dapat dibaca oleh siapapun dimanapun berada. Namun tidak sedikit orang seperti Walid yang membaca dan mungkin mengaguminya namun karena kekerasan hati dan gengsinya tidak mau mengakui bahkan mencemoohnya. Meski tidak sedikit juga orang yang luluh kemudian bersyahadat dan kembali ke jalan yang benar.

“Saya tidak berpindah agama. Saya pulang dari pengembaraan panjang”, demikian pengakuan seorang cendekiawan Perancis, Roger Garaudy, yang memeluk Islam pada usia 70 tahun dan sejak itu menulis banyak sekali buku tentang Islam.

Sementara Marine Le Pen dan ayahnya yaitu Mari Le Pen adalah contoh politikus Perancis yang sangat keras perlawanannya terhadap Islam. Marine bahkan dengan pongahnya berjanji akan melarang pemakaian hijab di semua tempat di Perancis bila partainya memenangkan pemilu tahun depan (2027). Sungguh pernyataan yang amat sangat berbahaya sekaligus sembrono. Tampaknya ia lupa, tidak menyadari atau tidak mau tahu betapa Islam sudah menyebar luas di negrinya. Pengadaan makan halal di sekolah-sekolah negri Perancis yang sangat ditentangnya adalah salah satu buktinya.

Pada tahun 2010 dengan alasan menjunjung nilai-nilai sekularisme (laïcité), kesetaraan gender serta menolak simbol-simbol yang dianggap mengekang kebebasan perempuan, presiden Perancis Zarkozy  secara tidak tegas melarang pemakaian burka di tempat umum. Namun ternyata banyak pemilik usaha besar ( terutama toko pakaian wanita kelas atas/high couture) merasa keberatan. Mengapa?? Ternyata karena sebagian besar pelanggan mereka adalah Muslimah pemakai burka, yaitu Muslimah kaya raya asal Arab Saudi. 

Tahun ini (2025), pernyataan Marine tentang pelarangan hijab di tempat umum ditanggapi dengan demo tidak hanya kaum Hawa ( non Muslim) tapi juga kaum Adam yaitu dengan cara memakai hijab sebagai tanda solidaritas kepada Muslimah berhijab di negri mereka baik itu kawan, kenalan, saudari atau bukan.

Sebaliknya pada sekitar tahun 2014, Maxence Buttey, seorang anggota sayap kanan Prancis ( partainya Marine Le Pen), melalui video mengumumkan bahwa ia telah memeluk Islam. Di video itu, ia memuji Al-Quran, dan mengajak anggota sayap kanan lainnya untuk memeluk Islam. “Seperti Front National (FN), i Islam membela yang lemah, menolak suku bunga tinggi sebagai dampak utang negara, dan Islam sangat menentang praktik riba,” kata Buttey seperti dilansir onislam.net, Ahad (26/10).

https://khazanah.republika.co.id/berita/ne1tdz/alhamdulillahanggota-partai-sayap-kanan-prancis-ini-peluk-islam

Begitupun di Belanda. Dua orang anggota partai pimpinan Geert Wilders yang dikenal sangat anti Islam yaitu Arnoud Van Doorn dan Joram van Klaveren, secara mengejutkan mengumumkan ke-Islam-an mereka. Sebelumnya kedua orang tersebut dikenal sebagai orang dibalik publikasi film berjudul Fitna yang menghina Rasulullah saw.

Arnoud Van Doorn memeluk Islam pada tahun 2013 dan selanjutnya ia mendirikan partai Islam di Belanda. Sedangkan Joram van Klaveren pada tahun 2018 di usia 40 tahun. Ia dulu pernah mengatakan bahwa Islam adalah “kebohongan” dan Al-Quran adalah “racun”.  Ia menceritakan bahwa ia telah mengubah pikirannya saat menulis buku anti-Islam.

Menurut Biro Pusat Statistik Belanda (CBS) sekitar lima persen dari populasi Belanda yang berjumlah 17 juta, yaitu sekitar 850.000 orang adalah Muslim. Meskipun penentangan terhadap Islam terus berlanjut hingga detik ini, Islam terus berkembang. Para ahli memperkirakan jumlah itu akan berlipat ganda pada tahun 2050.

Baca artikel detiknews, “Mantan Politisi Sayap Kanan Belanda yang Anti-Islam Kini Jadi Mualaf” selengkapnya https://news.detik.com/dw/d-4417217/mantan-politisi-sayap-kanan-belanda-yang-anti-islam-kini-jadi-mualaf.

Atas izin Allah swt Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia dengan cara apapun yang Ia kehendaki. Pada tahun 2025 lalu berkat kandungan Al-Quran yang sesuai dengan temuan sains dan ilmu pengetahuan, 20 ilmuwan Korea Selatan terdiri dari ilmuwan, profesor dan doctor menyatakan diri masuk Islam. Mereka serentak bersyahadat di Seoul Central Mosque. Bahkan tragedy genosida yang mengerikan di Gaza yang sedang terjadi saat inipun ternyata justru menarik simpati orang untuk mempelajari ajaran Islam hingga membuat orang berbondong-bondong memeluk Islam. Meski harus diakui juga tidak sedikit orang Islam di negri-negri minoritas Muslim mengalami perlakuan buruk dari penduduk setempat yang membenci Islam. Yang kemungkinan besar karena tidak mengenal Islam alias hanya terprovokasi, ikut-ikutan.  

Akhir kata, sebagai pemeluk Islam karena orang-tua (sejak lahir), semoga kita mampu mengambil hikmahnya. Jangan jadikan Al-Quran hanya sebagai ritual bacaan tanpa mengerti arti dan tidak pula memahaminya. Karena tanpa mengerti dan memahaminya, ilmu dan pengetahuan Al-Quran yang begitu luas dan dalam tidak akan kita dapatkan. Bukankah Al-Quran adalah petunjuk hidup yang harusnya kita amalkan? Lalu bagaimana kita mengamalkan bila tidak memahami bahkan tahu artinyapun tidak.

Sebaliknya bagi orang non Islam, hati yang bersih jauh dari perasaan dengki, dengan mempelajari Al-Quran, semoga Allah swt memudahkan dan memberinya hidayah untuk memeluk Islam, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu’alam bish shawab.

Vien AM.

Jakarta, 7 Oktober 2026/26 Rabiul Awal 1448H.

Roger Garaudy lahir di Marseille pada 17 Juli 1913, di sebuah kota pelabuhan yang sejak lama menjadi persilangan bangsa-bangsa, tempat angin Afrika dan Eropa berpapasan, dan tempat Timur jauh terasa lebih dekat dari peta mana pun. Dari lingkungan pekerja yang sederhana, ia menyerap nilai keteguhan dan spiritualitas Kristen, yang kelak menjadi fondasi awal pencariannya. Namun sejak muda ia sudah merasa bahwa iman yang diajarkan kepadanya bukanlah sesuatu yang final. Ada ruang kosong, semacam rongga eksistensial yang tidak terisi oleh dogma gereja. Dalam Appels aux Vivants ia menulis bahwa masa kecilnya adalah “iman yang rapuh, yang mengajarkan kasih, tetapi kehilangan keberanian untuk memerangi ketidakadilan.” Kata-kata ini mengungkapkan benih yang kelak menuntunnya ke perjalanan panjang lintas ideologi.

Ketika Eropa terguncang oleh krisis ekonomi dan kebangkitan fasisme, Garaudy muda melihat penderitaan di mana-mana. Ia tidak menemukan gereja berdiri tegak membela kaum terhina, sehingga ia berpaling kepada Marxisme—bukan karena menolak agama, melainkan karena mencari keadilan yang lebih konkret. Marx, terutama dalam Manuskrip 1844, memberinya bahasa baru tentang keterasingan manusia dan harapan akan tatanan sosial yang adil. Ia bergabung dengan Partai Komunis Prancis, bukan karena ingin memusuhi agama, tetapi karena ingin membela manusia. Dalam Dieu est Mort (1962) ia menulis bahwa langkah itu “bukan pemberontakan terhadap Tuhan, melainkan terhadap mereka yang menjadikan Tuhan pembenaran status quo.”

Perang Dunia II mengubah hidupnya. Ia ditangkap Nazi dan dipenjarakan di Aljazair. Di dalam penjara yang sunyi, ia mengajar sesama tahanan membaca dan berdiskusi, sementara ia sendiri bergulat dengan keheningan yang memaksa seseorang memeriksa kedalaman dirinya. Ia menyaksikan manusia dalam keadaan paling rapuh dan paling kuat sekaligus. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa ideologi—apa pun bentuknya—dapat berubah menjadi berhala jika tidak disinari oleh hati nurani. Dari penjara itu, ia keluar bukan sebagai seorang komunis yang patuh, tetapi seorang manusia yang mulai mencurigai “kepastian-kepastian” yang terlalu sempurna.

Namun jalan itu belum selesai. Selepas perang, ia kembali ke pangkuan partai dan menjadi salah satu pemikir resmi mereka, hingga akhirnya duduk di Komite Pusat PCF. Di mata banyak orang, ia mencapai puncak karier seorang intelektual kiri. Tetapi hatinya kembali retak pada tahun 1956 ketika tank-tank Soviet memasuki Budapest. Ia mengutuk kezaliman itu dengan lantang dalam esai-esai dan perdebatan internal. Bukunya Le Communisme et la Morale (1959) menjadi kritik tajam yang membuatnya diawasi dan akhirnya dikeluarkan dari partai pada 1970. Dari pengusiran itu, ia menemukan sebuah kebebasan moral yang selama ini dirindukannya. Ia memunggungi ideologi, bukan karena membencinya, tetapi karena telah menemukan bahwa kebenaran tidak dapat dipenjarakan dalam satu kerangka sistem.

Tahun-tahun berikutnya menjadi masa pencarian spiritual yang sangat mendalam. Ia membaca Rumi, Ibnu Arabi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Muhammad Iqbal, Syekh Ahmad al-Alawi, René Guénon, Frithjof Schuon—serta tekun menelaah Louis Massignon yang memperkenalkan dunia mistik Islam. Ia merasa tradisi intelektual Islam memiliki keluasan yang tidak ia temukan di Barat modern: sebuah peradaban yang dapat menyatukan ilmu astronomi dengan puisi, matematika dengan musik, rasionalitas dengan keindahan batin, politik dengan etika spiritual.

Karya Promesses de l’Islam (1981) adalah tanda bahwa pintu itu sudah terbuka. Ia menulis tentang tauhid bukan sebagai konsep teologis semata, tetapi sebagai prinsip yang menyatukan Tuhan, manusia, dan alam. Islam baginya adalah “peradaban kesaksian”—kesaksian bahwa hidup tidak boleh dipisahkan dari makna, dan makna tidak boleh dipisahkan dari keadilan. Ia menemukan bahwa Islam tidak memutus jembatan antara akal dan wahyu, antara realitas dan nilai-nilai, antara dunia dan Tuhan.

Dan pada tahun 1982, setelah pergulatan panjang dan tenang, Roger Garaudy memeluk Islam. Ia memilih nama Ragaa, “harapan.” Dalam wawancaranya, ia berkata, “Saya tidak berpindah agama. Saya pulang dari pengembaraan panjang.” Islam baginya bukan pelabuhan akhir, melainkan laut luas yang akhirnya mampu menampung seluruh pencariannya. Ia menemukan kembali apa yang hilang dari kekristenan masa kecilnya: spritualitas yang menggugah dan keberpihakan terhadap kaum tertindas sekaligus. Ia menemukan apa yang tidak memuaskannya dari Marxisme: etika transenden yang tidak tunduk kepada agenda politik.

Setelah masuk Islam, karya-karyanya memasuki fase paling matang. Ia menulis L’Islam habité; Appel aux Vivants yang menjadi semacam wasiat intelektual dan spiritual; Histoire des Civilisations yang menempatkan Islam dalam lintasan sejarah manusia; dan karya yang paling kontroversial Les Mythes fondateurs de la politique israélienne (1996), yang membuatnya dipenjara opini di Prancis. Ia kehilangan ruang bicara, kehilangan dukungan media, dan dicerca oleh kalangan tertentu. Tetapi ia tidak kehilangan keberanian. “Jika kebenaran membuatku sendirian,” katanya, “biarkan aku sendirian bersama kebenaran.”

Garaudy berkelana ke dunia Islam, dari Teheran hingga Rabat, dari Kairo hingga Damaskus. Ia berdialog dengan ulama, cendekiawan, mahasiswa, dan seniman. Dalam setiap kunjungannya, ia selalu menekankan bahwa Islam tidak akan bangkit hanya dengan retorika, melainkan dengan ilmu, kreativitas, dan keberanian moral. Ia sering mengutip Rumi: “Di mana engkau berdiri, jadilah jiwa dunia itu.”

Dalam kajian tentang seni Islam (L’Art de l’Islam), ia menegaskan bahwa peradaban Islam tidak pernah membuat seni untuk meniru dunia, tetapi untuk menyingkapkan ruh dunia. Dalam kritiknya terhadap Barat, ia tidak anti-ilmu, tidak anti-modernitas; ia hanya menolak peradaban yang memutus manusia dari makna, merusak bumi, dan memuja pasar. Ia menawarkan visi alternatif: peradaban berbasis tauhid, yang menjadikan manusia penjaga bumi, bukan penghisapnya.

Nasihat-nasihat Garaudy menyebar luas dalam dunia Islam. Di antara pesan-pesannya yang terkenal adalah:
“Jika engkau ingin memahami Islam, bukalah hatimu lebih dahulu sebelum membuka pustakamu.”
“Keadilan tanpa spiritualitas akan melahirkan kekerasan; spiritualitas tanpa keadilan akan melahirkan kemunafikan.”
“Jadilah manusia yang tidak tunduk kepada uang, pujian, atau ketakutan—karena tiga itulah berhala modern.”
“Islam adalah janji masa depan, bukan nostalgia masa silam.”

Tahun-tahun terakhir hidupnya adalah masa sunyi yang damai. Ia terus menulis, membaca, dan menerima tamu. Ia wafat pada 13 Juni 2012, dengan penuh ketenangan. Di Prancis, berita tentangnya mungkin dingin. Namun di dunia Islam, namanya dikenang dengan cinta dan penghormatan: sebagai jembatan hidup antara dua dunia, sebagai musafir kebenaran yang jujur sampai akhir, sebagai bukti bahwa hati manusia akan menemukan rumahnya jika ia cukup berani untuk mencari.

Hidupnya mengajarkan bahwa kebenaran bukan hadiah bagi mereka yang berhenti bertanya, tetapi bagi mereka yang berani kehilangan segalanya demi nurani. Garaudy menunjukkan bahwa akal yang jujur akan selalu mencari cahaya, dan cahaya itu dapat muncul dari tempat yang tidak pernah kita duga. Tauhid—yang ditemukannya setelah panjang berkelana—menjadi jawaban bagi pencarian seumur hidupnya: kesatuan antara Tuhan, manusia, dan alam dalam satu simfoni yang tak terputus.

Karya-Karya Penting Roger Garaudy

Beberapa karya utama yang memuat pemikirannya tentang spiritualitas, filsafat, seni, dan kritik peradaban:

Promesses de l’Islam (1981)
L’Islam Habité (1987)
Appel aux Vivants (1979–1995)
Histoire des Civilisations
Le Communisme et la Morale (1959)
Pour un Dialogue des Civilisations
L’Art de l’Islam
Les Mythes fondateurs de la politique israélienne (1996)
Dieu est Mort (1962)
Parole d’Homme
Danse du Feu: Dialogue avec Rumi

Daftar Referensi Utama:

Karya Primer Roger Garaudy

  1. Roger Garaudy, Promesses de l’Islam, Paris: Seuil, 1981.
  2. Roger Garaudy, Appel aux Vivants, Paris: Robert Laffont, 1979–1995.
  3. Roger Garaudy, L’Islam Habité, Paris: Seuil, 1987.
  4. Roger Garaudy, Le Communisme et la Morale, Paris: PUF, 1959.
  5. Roger Garaudy, Parole d’Homme, Paris: Laffont, 1975.
  6. Roger Garaudy, Histoire des Civilisations, Paris: Bordas.
  7. Roger Garaudy, L’Art de l’Islam, Paris: Desclée de Brouwer.
  8. Roger Garaudy, Les Mythes fondateurs de la politique israélienne, 1996.
  9. Roger Garaudy, Danse du Feu: Dialogue avec Rumi, Paris: Seghers, 1990.
  10. Roger Garaudy, Dieu est Mort, Paris: Seuil, 1962.

Sumber Sekunder, Biografis, dan Kajian Tentang Garaudy

  1. Jean Daniel, L’Itinérance de la Vérité: Entretiens autour de Roger Garaudy.
  2. Mohammed Arkoun, Lectures du Monde Arabe et Islamique.
  3. Louis Massignon, Opera Minora.
  4. Darius Shayegan, Les Illusions de l’identité.
  5. Henry Corbin, Histoire de la Philosophie Islamique.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Diambil dari : https://qotrunnada-depok.ponpes.id/web/manaqib/2025/12/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya/

Manaqib edisi Desember 2025.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.

3. Ummu Kultsum binti Muhammad.

Ummu Kultsum adalah putri ke 3 Rasulullah saw dan Khadijah binti Khuwailid ra. Ia dikenal sebagai seorang perempuan yang cantik dan sabar. la sangat senang memakai jubah sutra yang bergaris.

Seperti juga ibunda dan saudari-saudarinya yang lain ia memeluk Islam begitu Rasulullah diangkat menjadi nabi. Taksiran selisih umur dengan Ruqayyah tidak jauh sehingga kerap disebut sebagai saudara kembar. Hubungan keduanya sangat akrab hingga ketika Ruqayyah dipersunting Utsman bin Affan ia harus ikhlas melepas kepergian sang kakak.

Ketika Ruqayyah, kakandanya yang sangat dicintai dan mencintainya wafat pada tahun 2 H, ia dinikahi mantan suami saudarinya tersebut, yaitu Ustman bin Affan ra. Pernikahan agung tersebut terjadi atas perintah Allah swt sebagaimana hadist berikut,   

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Utsman, “Hai Utsman, ini Jibril. Ia mengabarkan kepadaku bahwa Allah menikahkanmu dengan Ummu Kultsum dengan mahar yang sama dengan Ruqayyah. Sama dengan pergaulanmu dengan Ruqayyah.”

Said bin Al-Musayab mengatakan, “Utsman bin Affan ditinggal wafat Ruqayah binti Rasulullah dan Hafshah binti Umar ditinggal wafat suaminya. Umar datang kepada Utsman dan berkata, “Apakah kamu mau menikah dengan Hafshah?” Utsman telah mendengar Rasulullah yang menyebut Hafshah. Karena itu, Utsman tidak menanggapi tawaran Umar ini.

Umar kemudian menuturkan hal ini kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Apakah kamu menginginkan yang lebih baik daripada itu? Aku menikahi Hafshah dan aku menikahkan Utsman dengan perempuan yang lebih baik daripada Hafshah, (yakni) Ummu Kultsum.”

Ummu Kultsum dinikahi Utsman bin Affan ra pada tahun ke-3 Hijriah setelah Ruqayyah meninggal dunia. Itu sebabnya Utsman digelari Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya) yaitu kakak beradik putri-putri Rasulullah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Saat menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Utsman, Rasulullah berkata kepada putrinya itu, “Sungguh suamimu adalah orang yang paling mirip dengan kakekmu, Ibrahim. Dan ayahmu, Muhammad.”

Namun sebelumnya yaitu sebelum masa kenabian, Ummu Kultsum pernah menikah dengan Utaibah bin Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Akan tetapi belum sempat keduanya tinggal serumah, Rasulullah diutus menjadi Rasul. Sama dengan yang dialami saudarinya yaitu Ruqqayah, Abu Lahab memerintahkan anaknya agar segera menceraikan putri Rasulullah tersebut.   

“Kepalaku tidak halal bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan putri Nabi“. Maka dia pun menceraikan Ummu Kultsum begitu saja. Utaibah mendatangi Nabi dan mengatakan kata-kata yang menyakitkan hati Rasulullah. Atas perilaku itu maka Rasulullah berdoa kepada Allah agar mengirimkan anjing-anjing-Nya untuk membinasakan Utaibah. Dan hal itu itu benar-benar teriadi. Dalam suatu perjalanan seekor singa yang ganas telah memilih Utaibah di antara teman-temannya untuk diterkam kepalanya. Utaibah mati dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Setelah bercerai Ummu Kultsum kembali tinggal bersama Rasulullah di Mekkah. Ia ikut hijrah ke Madinah ketika Rasulullah berhijrah dan kemudian tinggal bersama Rasulullah. Ummu Kultsum dan Ruqayyah adalah dua orang saudara yang perjalanan hidup mereka hampir sama. Mereka berdua terlahir dari bapak yang sama, ibu yang sama, suami mereka pun kakak beradik yang namanya mempunyai arti yang sama yaitu Utbah dan Utaibah, mempunyai mertua yang sama, masuk Islam pada hari yang sama, bercerai pada hari yang sama dalam keadaan suci ( perawan) dan setelah perceraian mereka mempunyai suami yang sama pula.

Ummu Kultsum dan Utsman bin Affan menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik hingga 6 tahun lamanya meski tanpa satupun anak. Hingga akhirnya maut memisahkan keduanya. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 H/630 M di Madinah. Utsman merasa terpukul dengan kematiannya dan merasa sangat sedih karena berpisah dari belahan hatinya. Rasulullah dapat melihat Utsman berjalan dengan kesedihan. Kesedihan yang dapat terbaca dengan jelas dari raut wajahnya.

Maka beliau mendekati Utsman dan bersabda, “Jika kami memiliki putri yang ketiga, maka kami akan menikahkannya denganmu wahai Utsman”. Redaksi lain mengatakan “Seandainya aku mempunyai sepuluh orang putri maka aku akan tetap menikahkan mereka dengan Utsman”.

Namun ketika itu putri bungsu Rasulullah yaitu Fathimah, telah menikah dengan Ali bin Thalib. Yang pasti hal tersebut untuk menunjukkan kecintaan Rasulullah SAW terhadap Utsman dan menunjukkan kesetiaan serta penghormatan Utsman terhadap beliau.

Pada hari wafatnya, jenazahnya dimandikan oleh Asma’ binti Umais dan Shafiah binti Abdul Muthalib. Jenazahnya ditempatkan di atas sebuah keranda yang terbuat dari batang pohon palem yang baru dipotong. Dan pada saat penguburannya Rasulullah duduk di dekat makamnya dengan berlinangan air mata. Beliau berkata, “Siapa di antara kalian yang tidak bercampur dengan istrinya tadi malam?’ Abu Thalhah ra. berkata, Aku, ya Rasulullah lalu beliau menyuruhnya, “Turunlah kamu.” Maka Abu Thalhah turun dan menguburkan Ummu Kultsum.

Dari Abu Umamah berkata, “Saat Jinazah Ummu Kultsum binti Rasulullah berbaring di kubur. Rasulullah membacakan ayat: “Dari situlah Kami menciptakan kamu, dan ke situlah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari situlah Kami akan mengeluarkan kamu kembali”.

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang polos”. ( Terjemah QS. Thaha (20):55).

4. Fathimah binti Muhammad.

Fathimah, putri bungsu pasangan Rasulullah dan Khadijah adalah satu-satunya putra-putri Rasulullah yang masih hidup ketika Rasullah wafat. Ia lahir sekitar lima tahun sebelum Nabi menerima wahyu dan meninggal dunia 6 bulan setelah Rasulullah wafat.

Sejak usia belia, Fathimah telah menyaksikan perjuangan ayahnya dalam menyebarkan pesan Islam. Perjuangan ini mengajarkan Fatimah makna sejati dari keberanian dan keteguhan menghadapi tantangan. Ia dikenal sebagai sosok dengan kepribadiannya yang lembut, sederhana,  ketaatan yang mendalam terhadap ajaran agama Islam serta kepemimpinan yang luar biasa hingga memperoleh julukan indah Az-Zahra (yang Cemerlang) dan At-Thahirah (Perempuan Suci).

Ketika masih kecil Fathimah dengan penuh keberanian ia memarahi orang-orang Quraisy yang tega menaruh kotoran binatang ke kepala ayahnya tercinta ketika sedang shalat posisi sujud di depan Ka’bah. Ia pulalah yang sambil menangis membersihkan kotoran tersebut.

Pada usia 15 tahun ketika ke 3 kakak perempuannya telah menikah semua Fathimah kembali harus menunjukkan ketabahannya. Yaitu dengan wafatnya ibundanya tercinta. Bahkan ketika ibundanya itu merasakan ajalnya semakin dekat ia memanggilnya dan berbisik, “Wahai Fathimah puteriku, aku yakin ajalku hampir tiba dan aku takut akan siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu agar beliau memberikan kain sorbannya untuk dijadikan kain kafanku”.

Betapa sedihnya Fathimah mendengar itu. Tak lama ibunyapun menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah yang mendekapnya dengan perasaan pilu yang teramat sangat.

Selanjutnya ia ikut hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin. Sekitar 2 tahun setelah hijrah (623M), 4 bulan setelah perang Badar, Rasulullah menikahkan Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib yang dikemudian hari menjadi khalifah Rasyidin ke 4. Ali bukan orang asing bagi Fathimah karena ia adalah sepupu Rasulullah yang sejak kecil telah tinggal satu rumah dengan Rasulullah dan keluarga. Ali bukan orang berharta, mas kawinnya hanyalah baju perang yang merupakan harta satu-satunya sekaligus senjatanya dalam menerjuni berbagai macam peperangan.

Namun Rasulullah sangat mencintainya bagai anak sendiri. Ali adalah seorang mujahid sejati, orang pertama yang masuk Islam dari kalangan pemuda, seorang yang mencintai Allah dan rasulNya dan dicintai oleh Allah dan rasulNya hingga masuk dalam daftar 10 orang yang dijamin masuk surga (Al-‘Asyratul Mubasysyirin bil-Jannah). Seperti juga kakak iparnya yaitu Ustman biun Affan ra.

Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad (bin Abi Waqqash).”

Meski hidup dalam keadaan serba kekurangan, pasangan muda tersebut menjalani kehidupan bahagia dengan 2 orang putra yaitu Hasan dan Husein serta 2 putri yaitu Zaenab dan Ummu Kultsum. Hingga suatu hari Fathimah memberanikan diri mengadukan halnya kepada Aisyah, istri Rasulullah. Ketika itu Rasulullah sedang sibuk membagikan harta rampasan perang termasuk para budak bagi kaum Muslimin yang memerlukan.     

“Maukah kalian berdua aku ajari apa yang lebih baik dari apa yang kalia berdua minta kepadaku, jika kalian berdua hendak tidur, bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, ia lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu.”

Namun itulah jawaban tegas Rasulullah atas permintaan putri tercintanya. Sesuatu yang hingga hari ini masih dijadikan pegangan bagi kaum Muslimin yang merasa kekurangan.

Rasulullah sangat menyayangi Fathimah. Pulang bepergian, Rasulullah lebih dulu menemui putri bungsunya sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fathimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah datang mengunjunginya”.

Jika tiba dari safar atau pulang dari suatu peperangan, pertama kali yang dilakukan Rasulullah adalah shalat dua rakaat di masjid kemudian menemui Fathimah. Setelah itu baru menemui istri-istrinya. Rasulullah bersabda,“Wanita-wanita terbaik di surga yaitu; Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam bintu Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun.” (HR. Ibnu Abdil Bar, al-Isti’ab 2/113).

Rasulullah bersabda:”Sungguh Fathimah bagian dariku, siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti”.

Fathimah juga dikenal karena keberaniannya. Ketika perang Uhud berkecamuk, Fathimah bersama Aisyah dan kaum Muslimah ikut membantu dalam pertempuran. Mereka mendapat tugas memenuhi kebutuhan prajurit diantaranya yaitu membantu mengangkat air, memberi minum dan merawat prajurit yang terluka.

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah menceritakan kepada mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad berkata, telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Urwah bin Az Zubair dari Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah ﷺ sakit, beliau memanggil putrinya, Fathimah lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya dan ia pun menangis. Kemudian beliau membisikkan sesuatu lalu ia tertawa. Aku pun bertanya akan hal itu; ia menjawab, “Aku menangis karena beliau memberitahuku bahwasanya beliau akan meninggal. Kemudian beliau memberitahuku bahwasanya aku adalah keluarganya yang pertama kali menyusul beliau, aku pun tertawa”.

Perkataan Rasulullah terbukti benar. Berselang enam bulan setelah Rasulullah wafat, Fathimahpun wafat. Ia wafat dalam usia 27 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’Madinah.

Ibrahim bin Muhammad dan gerhana matahari.

Ibrahim bin Muhammad adalah satu-satunya putra Rasulullah yang lahir dari selain Khadijah binti Khuwailid.  Ia lahir di Madinah pada tahun 8 H dari istri nabi yang bernama Mariyah al-Qibthiyah. Saat Ibrahim lahir tidak seperti Khadijah yang menyusui dan merawat sendiri semua putra-putrinya, Rasulullah mencarikan ibu susu bagi bayi tersebut, yaitu Khualah binti Mundzir bin Zaid dari Najjar, istri Barra’ bin Aus dan ibu Bardah. Ini adalah tradisi Arab pada saat itu meski Khadijah tidak melakukannya.

Sejak itu Ibrahim tinggal terpisah dari ayahnya. Rasulullah disamping Masjid Nabawi, ditengah kota Madinah sedangkan Ibrahim bersama ibu susuannya di dataran tinggi Madinah. Namun setiap hari Rasulullah mengunjungi putranya itu. Beliau singgah beberapa saat di rumah Khaulah, mengajak Ibrahim bercanda dan berbicara lembut. Namun ternyata Allah berkehendak lain, Ibrahim wafat pada tahun 10 H ketika usia dua tahun. Alangkah berdukanya Rasulullah atas kembali hilangnya putra yang sangat dicintainya itu. Apalagi putra tersebut datang ketika beliau sudah berusia lanjut dan semua putri-putrinya sudah menikah, sementara dua putranya telah wafat sejak lama.

Para sahabat dapat dengan jelas merasakan kesedihan mendalam yang tercatat abadi melalui hadist berikut, “Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hati ini sedang dirundung duka. Namun, kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” (HR Bukhari)

Kebetulan wafatnya Ibrahim bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari. Hal tersebut membuat heboh para sahabat. Mereka kemudian menghubungkannya dengan wafatnya Ibrahim.  Namun kemudian Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa gerhana matahari adalah murni fenomena alam yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah swt tidak ada hubungannya dengan wafatnya putranya tercinta atau siapapun juga.

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari).

Dari kisah nyata di atas dapat kita ketahui betapa beratnya cobaan yang dialami Rasulullah. Bukan hanya penolakan dan permusuhan dari orang-orang Quraisy dan Yahudi namun juga dengan diwafatkannya satu-satunya istri tercinta, putra-putri bahkan cucu-cucu ketika usia mereka sangat muda. Namun Rasulullah tidak pernah sekalipun memprotes ketentuan Allah swt tersebut bahkan sebaliknya makin tunduk dan patuh kepada-Nya.    

Meski Rasulullah sedih dan menangis ( bukan meratap) hal itu adalah hal yang manusiawi, sebatas bagian dari kasih sayang karena harus berpisah di dunia. Bukan kecewa atau marah melawan kehendak Allah swt.

Sementara itu para ulama berusaha menjelaskan hikmah dibalik wafatnya semua putra-putra Rasulullah pada saat masih balita adalah agar setelah Rasulullah wafat tidak ada seorangpun dari keturunan beliau yang dapat dikultuskan sebagai pewaris kenabian, hal yang sangat mungkin akan terjadi jika Allah swt beri mereka hidup.

Allah Azza wa Jala telah menetapkan bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah nabi terakhir, beliaulah penutup para nabi sebagimana tertulis pada ayat 40 surat Al-Ahzab yang artinya sebagai berikut,“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Shalawat dan salam sejahtera senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang telah menjadi suri teladan bagi umat manusia sepanjang masa, membawa risalah Islam sebagai petunjuk hidup menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan juga kepada keluarga Rasulullah dan semua yang meneladani beliau hingga akhir zaman nanti.

Akhir kata semoga kita bisa meneladani dan mengambi hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Rabi’ul Awal1448H/ 8 September 2026

Vien AM.

Untuk membaca Sirah Nabawiyah secara lengkap click : DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

Khadijah binti Khuwailid ra adalah satu-satunya istri Rasulullah saw yang dipercaya menjaga amanah dari Allah Azza wa Jala untuk mengandung benih Rasulullah dan melahirkannya dengan baik, kecuali Maryah Al-Qibthiyyah. Hamba sahaya Rasulullah pemberian Muqauqis, penguasa Iskandaria, yang dinikahi beberapa tahun setelah wafatnya Khadijah ini melahirkan seorang putra yang diberi nama Ibrahim, namun wafat pada usia 2 tahun.

Di dalam Islam, keluarga Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang Istimewa, dan menyebut keluarga mulia ini dengan kata “ahlul bait”. “Dan terhadap ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.” (HR. Ahmad, No.18464).

Sebuah pesan yang dalam sehingga beliau merasa perlu mengulanginya tiga kali agar benar-benar diperhatikan.Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku lebih senang menyambung tali kekerabatan kepada keluarga Rasulullah ﷺ daripada keluargaku sendiri.” (HR. Bukhari, No. 3712).

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya“. (Terjemah QS. Al-Ahzab (33):33).

Allah swt mengaruniai pasangan Rasulullah dan Khadijah, 2 putra yaitu Qasim dan Abdullah serta 4 putri yaitu Zainab, Ruqayah, Ummi Kultsum dan Fathimah Az-Zahra. Keenam putra-putri tersebut lahir sebelum masa kenabian. Putra pertama adalah Qasim. Dari sinilah Rasulullah mendapat panggilan Abu Qasim yang artinya ayahnya Qasim. Namun pada usia 2 tahun Allah swt mengambil bocah yang sedang lucu-lucunya tersebut. Tapi tak lama kemudian Allah Azza wa Jala menggantikannya dengan kelahiran seorang putra yang diberi nama Abdullah ( Ath-Thayyib/ Ath-Thahir). Akan tetapi kemudian Allah pun memanggilnya dalam usia masih sangat kecil. Setelah itu Allah swt menggantikannya dengan 4 putri yang lahir secara berurutan yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.

Selama 15 tahun pernikahan Rasulullah beserta istri dan ke 4 putri hidup bahagia. Rasulullah menjalankan kehidupan sebagai sebagai seorang pedagang yang sukses dan dapat menjaga amanah dengan sangat baik hingga disukai banyak orang. Meski demikian beliau tetap rendah hati. Beliau tidak pernah sungkan membantu sang istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Rasulullah juga dikenal sangat mencintai putri-putri mereka meski orang Quraisy mencemoohnya. Karena bagi mereka anak perempuan adalah aib.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar atas mereka, memberi mereka makan dan pakaian, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka”. Dalam riwayat lain, “… memiliki dua anak perempuan, … “.

Ketika Rasulullah berkhalwat di gua Hiro karena prihatin memikirkan prilaku dan kebiasaan masyarakat Mekah yang buruk, ketiga anak perempuan inilah yang mewakili ibunya membawakan masakan sang ibu ke gua yang letaknya tidak mudah itu. Peristiwa tersebut terjadi sebelum Rasulullah diangkat sebagai rasul.Fathimah ketika itu masih sangat kecil.

Sementara Khadijah yang telah menyerahkan segala urusan dagang kepada suami tercinta, menjalani peran istri dan ibu yang baik bagi suami dan putri-putrinya. Hingga suatu hari datang malaikat Jibril menyampaikan tugas kenabian dari Tuhannya, Allah swt. Khadijah ra sebagai seorang istri yang baik menyambut tugas mulia tersebut dengan penuh kesabaran. Melihat Rasulullah yang ketakutan melihat sosok asli malaikat Jibril yang tiba-tiba muncul di ufuk langit, mendatangi dan mengajak bicara, sang istri tercinta segera menyelimuti dan menghiburnya, hingga turun kemudian turun ayat 1-5 surat Al-Muzzamil berikut,

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”.

Maka sejak itulah kehidupan mereka berubah terutama sejak turun perintah untuk berdakwah secara terbuka.       

Putri-putri Rasulullah dan Pernikahan Mereka.

1.Zainab binti Muhammad.

Zainab lahir di Mekah sekitar 23 tahun sebelum Hijrah (600 M). Ia dikenal sebagai perempuan yang cerdas, berbudi luhur dan penuh kasih sayang. Pernikahan  Zainab terjadi sebelum masa kenabian, yaitu dengan Abul Ash bin ar-Rabi’, seorang pemuda Quraisy. Pada masa itu Abul Ash yang merupakan keponakan Khadijah, terkenal sebagai pribadi yang kaya, amanah dan pintar berdagang. Karenanya tak heran bila kemudian ibunda Khadijah membujuk sang suami, Rasulullah saw, agar menikahkan putri pertama mereka Zainab dengan keponakannya itu. Rasulullah saw pun setuju.

Paska kenabian, Zainab segera masuk Islam. Sementara suaminya, Abul Ash bin al-Rabi’, enggan mengikutinya. Namun demikian pasangan tersebut tidak otomatis bercerai karena ayat tentang perbedaan agama dalam pernikahan belum turun. Ayat tersebut baru turun pasca Perjanjian Hudaibiyah, tepatnya pada tahun ke-6 setelah hijrah Rasulullah saw ke Madinah sebagaimana ayat 10 surat Al-Mumtahanah berikut, “Wanita muslimah tidak halal bagi lelaki nonmuslim dan lelaki nonmuslim otomatis tidak boleh menikahi wanita Muslimah”.

Pada tahun ke 3 kenabian, setelah turun ayat yang memerintahkan agar Rasulullah saw berdakwah secara terang-terangan, orang-orang Quraisy segera menentangnya, bahkan mengintimidasinya. Di antaranya yang paling berat adalah dengan memutus seluruh hubungan pernikahan yang berkaitan dengan putri-putri Rasulullah saw, termasuk Abul Ash. Ia dibujuk agar menceraikan Zainab dengan iming-iming wanita lain, namun ia menolak. Ia teguh pada cintanya, “Mâ uhibbu anna li bimraati imra’atan min quraisy”, aku tak tergiur perempuan Quraisy satupun, sungguh aku sudah punya istri.”

Selanjutnya ketika terjadi perang Badar pada tahun ke-2 setelah hijrah, yang dimenangkan kaum Muslimin, Abul Ash yang berperang di pihak Quraisy tertawan, lalu dibawa ke Madinah.  Kaum Quraisypun bergegas menebus para tawanan yang dibawa ke Madinah, termasuk juga Zainab. Ia menebus suaminya tercinta dengan sejumlah barang tebusan, diantara adalah kalung hadiah pernikahan dari ibunya ketika dinikahkan dengan Abul Ash.

Melihat kalung itu, tersentuhlah hati Rasulullah saw teringat istrinya, lalu menyarankan kepada para sahabatnya agar melepaskan Abul Ash tanpa tebusan dan mengembalikan kalung itu kepada Zainab putrinya yang tinggal jauh di Makkah, namun dengan syarat Abul Ash membebaskan Zainab untuk hijrah ke Madinah. Setelah bebas Abul Ash segera pulang ke Makkah dan mempersilakan istrinya untuk hijrah ke Madinah menyusul ayahnya, Rasulullah saw. Setelah melakukan persiapan yang cukup dengan menghadapi sedikit kendala, Zainab akhirnya sukses hijrah ke Madinah untuk hidup bersama ayahnya.

Sepeninggal Zainab, Abul Ash melakukan aktivitas seperti biasanya. Hingga menjelang terjadinya peristiwa Fathu Makkah di tahun ke 8 setelah hijrah, setelah sukses menjalankan perdagangan di Syam iapun pulang ke Mekkah. Namun di perjalanan ia terkena patroli tentara Madinah dan harta dagangannya dirampas. Namun ia masih bisa lari menyelamatkan diri.

Malamnya mantan suami Zainab ini menyelinap ke Madinah mencari Zainab untuk meminta perlindungan sekaligus melobinya untuk membantu mengambil kembali hartanya yang dirampas. Usahanya berhasil. Maka ia segera pulang membawa harta dagangannya ke Makkah. Setiba di Makkah ia segera membagikan keuntungannya kepada semua mitra bisnisnya, yaitu orang-orang Quraisy yang berhak menerima bagian.

Tanpa diduga, setelah semua amanah ditunaikan, Abul Ash tiba-tiba mendeklarasikan syahadat, masuk Islam di depan kaum Quraisy secara gagah dan terang terangan. “Sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sungguh Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk masuk Islam di sisi Muhammad (kemarin saat di Madinah), kecuali karena aku khawatir kalian akan menyangka bahwa maksudku masuk Islam hanyalah karena ingin memakan seluruh harta kalian (yang aku bawa). Setelah Allah takdirkan seluruh harta itu sampai pada kalian dan aku terlepas dari tanggung jawab menjaganya, maka aku masuk Islam sekarang.” 

Setelah itu Abul Ash kembali lagi ke Madinah, hijrah menghadap Rasulullah saw. Alangkah bahagianya kaum Muslimin terutama Zainab hingga kemudian Rasullah saw pun menikahkan kembali Zainab dengan pujaan hatinya dengan mahar dan akad yang baru, sebagaimana diriwayatkan Amru bin Syu’iab, dari ayahnya, dari kakeknya, “ Sungguh Rasulullah saw mengembalikan putrinya sendiri yaitu Zainab ra kepada mantan suaminya Al-‘Ashi bin ar-Rabi’ dengan mahar dan akad nikah yang baru,” (HR At-Tirmidzi).

Zainab wafat pada tahun 8 H/ 629 M di Madinah pada usia 29 tahun dan dikuburkan di pemakaman Jannatul Baqi, kota Madinah. Zainab dan Abul Ash dikarunia dua orang anak.

2.Ruqayyah binti Muhammad.

Putri ke 2 Rasulullah ini lahir sekitar 20 tahun sebelum hijrah, saat Rasulullah berusia 33 tahun. Ketika Rasulullah diangkat sebagai nabi, ia segera memeluk Islam bersama Khadijah sang ibu, serta ke 3 putri Rasulullah yang lain.  Ruqayyah adalah salah satu putri Rasulullah yang menjadi simbol ketegaran, kesetiaan dan kejujuran.

Saat Ruqayyah menginjak usia pernikahan (tradisi waktu itu begitu haid di usia 9-10 tahun) Abu Thalib, paman Rasulullah datang kepada Rasul melamar Ruqayyah dan adiknya Ummu Kaltsum yang usia tidak terpaut jauh, untuk dinikahkan dengan putra-putra saudaranya yang tak lain adalah Abu Lahab.  Rasulullah begitu pula Khadijah, Ruqayyah dan Ummi Kultsum terkejut karena mengetahui bagaimana buruknya dari keluarga Abu Lahab.

“Kami berharap engkau tak mempersulit pernikahan mereka dengan sepupu-sepupumu, Utbah dan Utaibah putra Abdul Uzza (Abu Lahab),” kata Abu Thalib.

Mendengar hal tersebut Rasulullah SAW menjawab, “Paman, berilah aku waktu agar bisa berbicara dengan putri-putriku.”

Namun akhirnya setelah berembug, dengan memohon petunjuk Allah swt dan demi menjaga  hubungan kekeluargaan terutama paman yang sangat dihormatinya, Rasulullahpun menerimanya meski dengan berat hati.

Akan tetapi tak lama setelah nabi diangkat menjadi Rasul, Abu Lahab dan istrinya sangat marah. Mereka beranggapan bahwa Rasulullah telah merusak tatanan masyarakat Mekah dimana ia dan istrinya sebagai petinggi diperlakukan dengan hormat. Keduanya sangat khawatir kedudukan tersebut akan lepas dengan datangnya Islam.

Maka merekapun berusaha mencari jalan untuk mempermalukan Rasulullah. Mereka berpikir dengan menikahnya dua putri Rasulullah dengan dua putra mereka Rasulullah merasa aman dan nyaman karena sudah tidak menanggung biaya hidup ke dua putrinya tersebut. Maka dengan dicerai dan dikembalikannya Ruqayyah dan Ummu Kalstum, beban nabi akan bertambah selain adanya rasa malu.

Oleh sebab itu dengan iming-iming akan menggantinya dengan istri baru, petinggi Quraisy itu segera meminta putranya untuk membatalkan pernikahan dan mengembalikan Ruqayyah ke rumah orang-tuanya. Dan Uthbahpun menuruti keinginan sang ayah maka bercerailah keduanya.

Tentu saja Rasulullah sangat terpukul. Namun dengan dikembalikannya Ruqayyah kepada orang-tuanya bukan menjadi suatu aib bagi Rasulullah, beliau justru sangat bersyukur. Apalagi mengetahui kedua putrinya tersebut kembali dalam keadaan masih gadis. Bukti bahwa Allah swt mengabulkan doa Rasulullah dan Khadijah agar menjaga keduanya. Bahkan, Allah SWT telah memilihkan suami yang lebih terhormat untuk Ruqayyah. Dia adalah Utsman bin Affan ra, seorang sahabat senior yang memeluk Islam ( orang ke 8 masuk Islam) di awal keislaman yang dikemudian hari diangkat menjadi Khulaur Rasyidin ke 3. Ustman adalah keturunan bangsawan Quraisy yang sangat baik akhlaknya, santun, dermawan, tampan, kaya dan sangat setia pada agama, Rasul dan Tuhannya. Ruqayyah sangat bahagia dengan pernikahan barunya dan dengan segera dapat melupakan luka hatinya. Suaminya sangat mencintai dan memperlakukannya dengan sangat baik.

Dan ketika  gangguan Abu Lahab dan istrinya yaitu Ummu Jamil bertambah keras, diantaranya dengan menyebarkan duri di jalan-jalan tempat Rasulullah lewat, turunlah surat Al-Lahab sebagai berikut,

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.“

Selanjutnya pada tahun ke 5 dakwah ketika kebencian kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin yang ketika itu masih sedikit makin menjadi-jadi, Rasulullah mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah/Abyssinia (sekarang Ethiopia dan Sudan) yang ketika itu berada dibawah pimpinan raja Najasi, seorang pemeluk Kristen yang dikenal adil. Dibawah pimpinan Ustman bin Affan sekelompok kecil Muslimin yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang perempuan termasuk Ruqqayah berhijrah ke negri tersebut. Tanpa berbekal apapun secara diam-diam agar tidak diketahui orang-orang Quraisy mereka meninggalkan tanah kelahiran dan keluarga yang mereka cintai. Mereka menyebrangi laut Merah dengan perahu demi dapat menjalankan agama dengan baik.      

Di Habasyah, mereka mendapatkan perlakuan yang baik dan hidup dengan damai. Namun sekitar 3 tahun kemudian, setelah mendengar kabar bahwa keadaan di Mekkah membaik, pasangan muda tersebut memutuskan untuk kembali. Sayangnya, kabar tersebut tidak benar. Setiba di Mekah penindasan terhadap kaum Muslimin ternyata malah makin parah. Akan tetapi yang membuat Ruqayah makin berduka adalah wafatnya sang ibunda tercinta. Tahun tersebut di kemudian hari dinamakan Tahun Kesedihan ( Amul Huzn) karena selain Khadijah paman Rasulullah yang selama ini selalu melindungi Rasulullah dan keluarga, yaitu Abu Thalib juga meninggal dunia.

Pada tahun 622 M ketika Rasulullah mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Madinah, pasangan Ruqayyah dan Ustman yang telah dianugerahi seorang putra ikut pula berhijrah. Itu sebabnya Ruqayyah mendapat julukan Dzu Hijratain yang artinya dua kali berhijrah. Di Madinah pasangan muda tersebut hidup bahagia diantara kaum Muhajirin ( pendatang dari Mekah) dan Anshar (penduduk asli Madinah). Namun tak lama kebahagiaan tersebut sirna. Allah swt menguji mereka dengan dipanggilnya Abdullah, putra satu-satunya yang ketika itu menginjak usia 6 tahun.

Ruqayyah kembali mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Kepergian Abdullah membuat Ruqayyah jatuh sakit. Padahal ketika itu Rasulullah sedang mempersiapkan diri untuk Perang Badar. Rasulullahpun meminta Utsman untuk tetap tinggal di Madinah agar dapat merawat istrinya. Ustman mematuhinya dan iapun merawat istrinya tercinta dengan penuh kesabaran.

Namun, takdir berkata lain. Sakit Ruqayyah bertambah parah hingga akhirnya wafat ketika ayahnya masih di medan perang. Ia wafat di pangkuan suaminya. Zaid bin Haritsah segera menyampaikan berita duka tersebut langsung kepada ayahnya. Alangkah sedihnya Rasulullah mendengar kabar tersebut. Kemenangan kaum Muslimin di Badar disambut dengan berita duka yang tak terkira. Seluruh kaum Muslimin turut merasa kehilangan.

Saat kabar kemenangan dari medan perang tiba, beliau justru berduka. Tangis Rasulullah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kasih sayang dan kemanusiaan beliau sebagai seorang ayah. Namun demikian Rasulullah tetap menunjukkan ketegaran luar biasa. Beliau tidak mengeluh atas takdir, melainkan menerima dengan lapang dada dan menjadikan duka itu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Ruqayyah wafat pada tahun 2H, pada usia 22 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’ al-Gharqad, Madinah.

( Bersambung).

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”. (HR. Muslim).

Rukun Islam adalah lima pilar dasar amalan lahiriah umat Muslim yang wajib dijalankan yaitu 1. Syahadat, 2. Shalat, 3. Zakat, 4. Puasa Ramadan dan 5. Haji bagi yang mampu. Rukun ini menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim untuk mencapai ridho Allah SWT dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kesempurnaan iman.

Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251).

Hadist diatas secara jelas menerangkan bahwa Islam memiliki sejumlah tali ikatan yang dengannya seorang Muslim bergantung, menjadikannya seorang Muslim sejati. Ikatan-ikatan tersebut adalah tali  syariah/hukum Islam, tali puasa, tali zakat, tali ukhuwah Islamiyah, tali shalat dan tali-tali lain. Yang dimaksud tali syariah/hukum Islam diantaranya adalah hukum ekonomi seperti riba, hukum muamalah/berdagang, hukum politik seperti memilih pemimpin/presiden, hukum menutup aurat dll yang semuanya itu jelas tertulis dalam kitab suci Al-Quran.

Namun dapat kita saksikan sendiri saat ini sebagian besar hukum Islam sudah tidak lagi dipegang erat oleh sebagian besar Muslim di didunia ini. Hukum-hukum tersebut diganti dengan hukum Barat yang sifatnya melulu duniawi. Sangat dapat dipahami karena Barat yang notabene kafir menganggap bahwa kehidupan hanyalah di dunia sebagaimana ayat 37 surat Al-Mukminun berikut, “ Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi”.

Jadi sungguh tidak masuk akal, seorang yang mengaku Muslim yang sudah seharusnya meyakini kehidupan akhirat bisa terperangkap dan dengan sukarela mau mengikuti hukum kafir. Tapi itulah yang terjadi. Selanjutnya adalah shalat. Berdasarkan hadist di atas, hanya shalat inilah yang masih dipegang umat ini. Inilah tali ikatan terakhir umat Islam yang bila ditinggalkan juga celakalah sudah.  

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya”. (Umar bin Khotob radhiallahu anhu).

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu”.

Jika diperhatikan dengan seksama, perintah shalat yaitu shalat malam telah diturunkan sejak awal dakwah Rasulullah. Perintah tersebut turun  melalui surat Al-Muzzamil ayat 1-4 sebagai berikut, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”.

Ayat-ayat tersebut turun di Mekah pada awal dakwah Rasulullah jauh sebelum hijrah.  Turun sebagai surat ke 3 setelah 5 ayat pertama Al-Alaq dan 7 ayat awal surat Al-Qalam, yaitu ketika Rasulullah sedang merasa ketakutan karena didatangi malaikat Jibril yang menyampaikan ayat-ayat sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi dan pentingnya kedudukan shalat. Shalat terutama shalat malam dapat menenangkan jiwa seperti yang dialami Rasulullah pada awal-awal dakwah.

Dalam Shahih Bukhori, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Pada awalnya, shalat itu diwajibkan dua rakaat. Kemudian setelah beliau -Shallallahu‘alaihi wasallam – hijrah, shalat diwajibkan menjadi empat rakaat. Hanya saja ketentuan sholat untuk orang yang safar, seperti ketentuan sholat sebelumnya (yakni 2 rakaat untuk sholat yang 4 rakaat)“.

Sebagian yang lain menerangkan, waktu itu sudah ada kewajiban shalat. Yaitu dua raka’at di waktu fajar dan dua raka’at di sore hari. Hal itu berdasarkan ayat 130 surat Thaha berikut, “Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya”.

Sejarah mencatat, antara tahun ke 4-6 hijriyah terdapat 3 kejadian penting berkenaan dengan shalat. Pertama, ketika Rasulullah Muhammad saw sedang shalat di Hijr Ismail yang merupakan bagian dari Ka’bah di Mekah, beliau diserang secara brutal oleh seorang musrik Quraisy. Abu Bakar ra yang melihat kejadian tersebut segera datang menolong tapi sahabat setia nabi tersebutpun tak luput dari serangan bertubi-tubi hingga jatuh tak sadarkan diri. Namun begitu sadar ia langsung menanyakan keadaan rasul hingga membuat ayahnya jengkel. Akan tetapi karena keinginan kerasnya, dengan dibopong ia berhasil menjenguk Rasulullah yang juga dalam keadaan masih lemah. Di kemudian hari Abu Bakar berkata tidak ada kejadian yang lebih melegakan hatinya kecuali hari dimana ia bisa melihat Rasulullah dalam keadaan masih hidup meski sangat lemah.

Kedua, ketika Rasulullah sedang shalat, beliau didatangi dan dicekik oleh menantunya sendiri yaitu Uthbah bin Abu Lahab. Namun beliau berhasil membebaskan diri dan kemudian bersabda bahwa ia akan mati dimakan binatang. Dua tahun kemudian hal tersebut benar-benar terjadi. Uthbah mati dimakan seekor srigala dalam perjalanan pulang dari berdagang di negri Syam yang biasa ia lalui. Dan yang lebih mengerikan beberapa saat sebelum kejadian ia sempat ketakutan teringat kutukan tersebut.

Ketiga, ketika Rasulullah sedang shalat di Kabah beliau didatangi orang-orang musrik Quraisy. Dan tepat ketika beliau sedang sujud, mereka menaruh kotoran binatang di kepala beliau. Fathimah, putri Rasul yang melihat kejadian tersebut sontak menangis dan memarahi orang-orang tersebut sambil membersihkan kotoran di atas kepala ayahnya tercinta. Ketika itu Fathimah masih berusia 5 tahun.

Rasulullah dan para sahabat baru melakukan shalat wajib 5x sehari seperti shalat yang dilakukan umat Islam saat ini satu setengah tahun sebelum hijrah, yaitu setelah peristiwa Isra’ Miraj sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut,“Pada malam isra’ mi’raj, tepatnya satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian secara berangsur, Allah terangkan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta hal-hal yang berkaitan dengan shalat”.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam penentuan waktu tepat terjadinya Isra‘ Mi’raj. Namun sebagian besar berpendapat antara satu setengah tahun hingga tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Peristiwa  Isra‘ Mi’raj  dimana Allah swt secara langsung memberikan perintah shalat 5 waktu, diabadikan Allah swt melalui ayat 1 surat Al-Isra’ berikut,“Maha suci Allah yang telah meng-Isra’-kan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya, untuk kami tunjukkan kepadanya tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Kami. Sesungguhnya (Allah) Maha Mendengar dan Melihat”.

Sekembali dari Miraj’, Rasulullah menceritakan, pada awalnya jumlah shalat yang diwajibkan adalah lima puluh kali dalam sehari semalam. Namun dalam perjalanan, nabi Musa as mengatakan bahwa umat Islam tidak akan sanggup melakukannya dan menyarankan Rasulullah memohon kepada Allah swt agar menguranginya. Maka setelah beberapa kali “pertemuan”, Allah swt menetapkan shalat wajib bagi umat Islam adalah lima waktu sehari semalam dengan pahala setara dengan lima puluh kali shalat. “ Maka akupun malu untuk memohon menguranginya lagi meski nabi Musa tetap berkeras umat Islam tidak akan sanggup melakukannya”, lanjut Rasulullah.

”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (Terjemah QS. Al-Isra’(17): 78).

Ayat diatas turun bertepatan dengan peristiwa Isra’ Mira dimana Allah swt memerintahkan shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam. Ketika itu Rasulullah baru menyampaikannya secara lisan dan waktu-waktu pelaksanaannyapun belum tercantum di dalam Al-Qur’an, hingga turunlah ayat diatas yang menegaskan tentang pelaksanaan shalat wajib tersebut.

Yang dimaksud “sesudah matahari tergelincir” adalah waktu untuk shalat Zuhur dan Asar, sedangkan “sampai gelap malam” adalah waktu salat Magrib, Isya dan Subuh. Inilah yang menjadi dasar pelaksanaan shalat lima waktu dalam Islam.

Sementara yang dimaksud “disaksikan” adalah hadist berikut, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh”. (HR. Muslim, no. 656)

Shalat adalah simbol ketundukan dan kepatuhan seorang Muslim terhadap Tuhannya Yang Satu, Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Namun shalat bukan hanya sekadar ibadah ritual tetapi juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt agar mendapatkan ketenangan batin. Shalat juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan berbagai nilai kehidupan seorang Muslim. Diantaranya yaitu nilai kebersihan yang diawali dengan wudhu, memakai pakaian dan alas shalat yang bersih. Nilai kedisiplinan, shalat memiliki nilai plus apabila dilaksanakan pada awal waktu. Nilai keadilan, dalam pelaksanaannya shalat tidak membedakan status sosial seseorang. Nilai kesejahteraan, pertemuan antara Muslim yang rutin pada shalat jamaah mengajarkan kesetaraan, persatuan dan kerukunan demi tercapainya ikatan ukhuwah sesama Muslim. Serta nilai toleransi, untuk saling menghargai antara imam dan makmum.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Ayat diatas turun berkenaan dengan Yahudi Madinah yang sangat keras kepala menentang ajaran Islam. Untuk itu Allah mengajarkan agar meminta pertolongan-Nya dengan sabar dan shalat. Sekaligus mengingatkan bahwa pada saatnya nanti setiap orang akan kembali menemui Tuhannya. Shalat sejatinya adalah cara berkomunikasi dengan Sang Pencipta yang paling effektif. Sehubungan dengan orang-orang Yahudi yang keras kepala, ternyata setelah 15 abad berlalu mereka tidak berubah. Bahkan saat ini dunia dapat menyaksikan secara jelas betapa makin kejamnya mereka, terutama terhadap rakyat Palestina.    

Yang juga tak kalah penting, ibadah shalat juga menjadi penentu dari semua amal di hari akhir kelak. Rasulullah bersabda yang artinya “Pertama kali yang akan dihisab atas seorang hamba Allah di hari kiamat adalah shalat. Apabila ia baik, niscaya baik semua amalnya. Dan apabila ia buruk niscaya buruk semua amalnya”. (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab Al-Ausath dan Dilya’ dalam kitab Al-Mukhtarah dari sahabat Anaa ra dengan isnad hasan).  

Perintah shalat yang diberikan Allah swt secara langsung kepada Rasulullah, bukan melalui turunnya ayat yang disampaikan melalui malaikat Jibril sebagaimana perintah lain, memiliki hikmah mendalam. Selain untuk menekankan tinggi dan pentingnya kedudukan shalat juga sebagai pengingat pentingnya hadist. Begitu juga dengan gerakan shalat dan jumlah rakaat dalam shalat yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran melainkan melalui hadist. Demikian pula shalat rawatib yang sangat dianjurkan dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi).

Jadi sungguh merugi orang-orang yang mengaku Muslim namun merasa cukup dengan Al-Quran dan mengabaikan hadist secara keseluruhan. Karena mengabaikan hadist sama dengan tidak mentaati Rasul. Meski harus diakui hadist memang mempunyai beberapa tingkatan, mulai dari shahih, hasan, dhaif hingga maudhu alias palsu. Itu sebabnya kita harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, bukan malah mengabaikannya. Apalagi tidak sedikit ayat Al-Quran yang memerintahkan umat untuk mentaati Rasul, diantaranya adalah ayat 32 surat Ali Imran berikut,

“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

Yang juga menarik adalah perintah shalat malam melalui ayat 1-4 surat Al Muzammil yang telah diterangkan di awal tulisan ini. Perintah sholat malam yang awalnya adalah wajib, dihapus menjadi sunnah setelah datangnya perintah shalat wajib 5 waktu. Jadi alangkah beruntungnya umat Islam yang saat ini tidak merasakan shalat malam sebagai kewajiban. Karena bahkan para sahabat di masa lalupun merasakan beratnya shalat malam sebagai shalat wajib. 

Sedangkan perintah shalat Tahajud secara khusus turun beberapa saat sebelum peristiwa hijrah melalui ayat 79 surat Al-Isra’ berikut, “Pada sebagian malam lakukanlah shalat Tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (maqāman maḥmūdan)”. 

Bahwasanya Nabi saw ditanya seseorang, “Shalat manakah yang paling utama setelah shalat yang diwajibkan (shalat lima waktu).” Rasulullah SAW menjawab, “Sholat Tahajud.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).

Perintah shalat Tahajud diatas turun sebagai bekal persiapan hijrah ke Madinah. Karena hijrah memerlukan persiapan mental dan fisik yang kuat demi menghadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi di tempat baru tersebut. Namun demikian shalat tersebut hukumnya sunnah bagi kaum Muslimin akan tetapi khusus bagi Rasulullah wajib. Para ulama sepakat wajib bagi Rasul karena Allah swt hendak mengangkat Rasul ke tempat terpuji/ maqāman maḥmūdan, yaitu pemberian syafaat. Syafaat Rasul inilah yang nantinya akan membantu kaum Muslimin di hari Perhitungan nanti. Tentu saja bagi yang menginginkannya yaitu dengan membanyak shalawat.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):56).

Akhir kata, jangan pernah tinggalkan shalat baik shalat wajib yang 5 waktu maupun shalat-shalat sunnah yang merupakan tali pertolongan terakhir bagi umat ini.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Agustus 2026/ 27 Safar 1448H.

Vien AM.

Sumber:

https://lampung.nu.or.id/syiar/sejarah-shalat-lima-waktu-dan-keutamaannya-m923F

https://muslim.or.id/27120-kapan-shalat-5-waktu-mulai-diwajibkan.html