Feeds:
Posts
Comments

Heboh kata “kafir” pernah terjadi jelang Pilkada DKI 2017. Kini polemik mengenai kata tersebut kembali mencuat menjelang Pilpres 2019. Puncaknya adalah usulan untuk mengganti kata ‘kafir’ dengan kata muwathinun atau warga negara yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama dan setara sebagaimana warga negara yang lain. Usulan tersebut dikeluarkan pada acara penutupan Munas PBNU akhir Februari 2019 lalu. Kata muwathinun dianggap “netral” dibanding kata “kafir” yang dianggap menyakitkan hati yang bersangkutan. “Kekerasan teologis”, ujar pimpinan sidang Abdul Moqsith Ghazali.

Karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tetapi muwathinun atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” sambungnya.

http://bangka.tribunnews.com/2019/03/01/kiai-nu-sepakat-tak-sebut-kafir-kepada-non-muslim-di-indonesia?page=2

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengomentari, jika memang tidak ingin menyebut kafir, maka sebutan agama secara langsung justru lebih baik dari pada menyebut non-muslim.

“Daripada menyebut Non Muslim, bagus mereka disebut dengan Identitas agamanya. Warga Negara Kristen, Dia Kristen. WNI Hindhu, Dia Hindhu.WNI Budha, Dia Budha.Warga Negara Kong Hu Chu, Dia Kong Hu Chu. Tanpa Harus Bawa2 MUSLIM. Dia Non-Muslim. Buat apa bawa-bawa Islam?”, ujarnya.

Sementara Ustad Bahtiar Nasir (UBN),  sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia), yang juga merupakan pimpinan Arrohman Quranic Learning (AQL) mengatakan sebutan kafir tidak pernah menjadi momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurut ustad yang pernah menjabat Ketua Umum GNPF MUI, sebutan kafir menjadi ramai hanya dalam masalah memilih pemimpin beberapa tahun belakangan ini saja.

Tentu kita ingat apa yang menjadi pemicu lahirnya gerakan 212 yang fenomenal itu. Kalau saja Ahok yang ketika itu adalah gubernur DKI tidak pernah mengutak-utik ayat 51 surat Al-Maidah kehebohan tentang ayat kepemimpinan tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi. Kelancangan mulut yang menyebabkannya terpaksa berurusan dengan pengadilan atas tuduhan penistaan agama, dan berakhir dengan hukuman penjara 2 tahun yang baru dilaluinya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Prilaku Ahok mempermasalahkan ayat suci yang bukan agamanya, ayat yang berisi tentang cara memilih pemimpin pula, sementara ia dalam posisi mengincar kursi kepemimpinan, dipandang dari sudut manapun,  jelas sangat tidak etis. Ironisnya, tidak sedikit orang yang mengaku Islam namun tetap mati-matian membelanya.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):73).

“Saya percaya Yesus Tuhan bukan kafir. Saya keberatan anda menganggap saya kafir, saya bertuhan dan saya terima Yesus adalah Tuhan dan hak saya di negeri Pancasila, saya berhak menjadi apapun di republik ini,” protes Ahok dalam salah satu sidangnya.

Adalah hak Ahok untuk meyakini keyakinannya. Tapi tidak mungkin ia memaksakan keyakinannya itu kepada orang lain. Apalagi memaksa mengubah isi kitab suci umat lain, Al-Quran khususnya.

Namun berkat Ahok pula kaum Muslimin tersadar akan adanya ayat tersebut, bahwa kita dilarang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Untuk diingat selama ini kita tidak mengacuhkan perintah tersebut. Hal ini tidak ada kaitan sama sekali apakah Indonesia negara Islam atau tidak seperti yang dikeluhkan sebagian orang. Karena kewajiban tersebut berlaku bagi kaum Muslimin, mereka yang mengaku Islam dan sudah semestinya menjadikan Al-Quran sebagai pegangan, dimanapun mereka berada.

Larangan Islam memilih orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin sebenarnya sangatlah wajar dan mudah ditrima akal sehat. Bagaimana mungkin kita dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah bila pemimpinnya tidak satu aqidah. Bagaimana sang pemimpin bisa memahaminya? Lebih parah lagi bila si pemimpin malah menjauhi, melarang bahkan memusuhinya?? Siapa yang rugi??

Dan lagi tidak memilih Yahudi atau Nasrani sebagai pemimpin bukan berarti memusuhi. Sebagai sesama mahluk-Nya kita bahkan wajib mendakwahi mereka. Kalaupun mereka tetap menolak kita tidak boleh memaksa apalagi memusuhi. Apalagi sebagai sesama warga negara Indonesia tercinta, kita wajib menjaga hubungan dengan baik, saling menghormati, tidak menghina dan memaki. UBN dalam kutbahnya menjelaskan kata kafir adalah untuk internal umat Islam. Kafir adalah menolak ajaran Islam. Kafir berasal dari kata tertutup, tertutup dari kebenaran.

https://www.islaminews.com/2019/03/ustadz-bachtiar-nasir-kafir-adalah-kata.html 

Pertanyaannya apa urgensi PBNU mengganti kata kafir dengan kata lain?? Muatan politiskah ?? Bukan rahasia lagi bahwa pimpinan PBNU Said Aqil Siradj berteman erat dengan Ahok. Ahok yang begitu keluar dari tahanan 2 tahun dikurangi remisi  1 bulan, langsung bergabung dengan PDIP, yang berarti satu kubu dengan PKB yang tidak dapat dipungkiri satu bendera dengan NU.

https://news.detik.com/berita/d-4158967/said-aqil-pkb-dan-pbnu-harus-sukseskan-jokowi-maruf-amin

Harus diakui NU dibawa kepemimpinan Said Aqil Siradj saat ini sedang mengalami cobaan berat. Tokoh nyleneh ini sering mengeluarkan pernyataan kontroversial, Islam Nusantara contohnya. Siradj juga suka mengolok-olok jenggot yang merupakan Sunnah nabi yang banyak ditiru kaum Muslimin. Ia juga menuduh bahwa sejumlah perguruan tinggi menyebarkan radikalisme melalui masjid.

http://kabarkampus.com/2017/05/dianggap-sebar-radikalisme-pengurus-masjid-salman-datangi-said-aqil/

Sementara Moqsith Abdul Moqsith yang memimpin sidang penutupan Munas PBNU yang baru lalu tercatat di MUI periode 2015-2020 sebagai Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama (KAUB). Padahal Moqsith adalah pentolan JIL ( Jaringan Islam Liberal), faham yang telah difatwakan sesat oleh MUI. Selain itu, Hasyim Nasution wakil Moqsith di MUI adalah wakil sekretaris umum LDII, yang juga difatwakan sesat oleh MUI. MUI sendiri hingga hari ini ( periode 2015-2020) diketuai oleh tokoh NU Ma’ruf Amin yang saat ini digandeng presiden Jokowi sebagai wakilnya.

https://www.panjimas.com/nahi-munkar/2015/10/02/menyoal-diangkatnya-moqsith-pentolan-liberal-dan-orang-ldii-menjadi-pengurus-mui-2015-2020/

Maka tak heran beberapa waktu lalu, dibentuk apa yang dinamakan Komite Khittah Nahdlatul Ulama (NU). Komite yang mengangkat Choirul Anam sebagai juru bicara tersebut mendesak segera digelarnya Muktamar Luar Biasa NU untuk mengganti kepengurusan yang ada sekarang ini. Choirul menilai Ketua Umum Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj dan mantan Rais Aam Ma’ruf Amin melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.

https://nasional.tempo.co/read/1181648/alasan-komite-khittah-mendesak-muktamar-luar-biasa-nu/full&view=ok

Sangat disayangkan NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia harus mengalami perpecahan di dalam tubuhnya. Bersyukur masih ada orang dalam yang punya keberanian untuk menjaga kelurusannya. Karena kalau tidak pasti akan makin banyak dai-dai muda yang terpaksa meninggalkan ormas tersebut. Anehnya, protes keras justru datang dari Ulil Absor, si pentolan JIL. Apa urusannya dengan NU??

“Akhir-akhir ini ada gerakan yg menamakan dirinya “NU Garis Lurus”. Namanya sendiri sudah menunjukkan bahwa yg membuat gerakan ini tak mengerti kultur NU,” ujar Ulil melalui akun twitter @Ulil.

Semoga NU terutama para sesepuhnya dapat segera menyadari kekhilafan mereka dan segera menyingkirkan orang-orang yang berniat merusak dan mengadu domba ormas tersebut dari dalam, dan juga merusak ajaran Islam secara keseluruhan.

Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada umatku adalah imam-imam (tokoh-tokoh panutan) yang menyesatkan”. (HR Abu Dawud).

Tidak cukupkah pelajaran dari si tokoh Munafikun Abdullah bin Ubay bin Salul yang selalu berusaha melindungi sahabat-sahabat kafirnya yang  memusuhi Islam dan kerap membuat kesal Rasulullah saw?

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik.“, seru Abdullah bin Ubay bin Salul memprotes keputusan Rasulullah saw.

Tanpa memperhatikan air muka Rasulullah yang kesal, hal itu terus diulanginya sampai 3 kali. Akhirnya Rasulullahpun menjawab  ketus : “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”. 

https://vienmuhadi.com/2017/02/22/abdullah-bin-ubay-bin-salul-dan-kemunafikan/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Maret 2019.

Vien AM.

Pulang (2).

Suatu hari putri kami satu-satunya bercerita bahwa ia mendapat rekomendasi novel bagus dari temannya di kantor. “ Pulang”, judulnya. Tanpa begitu memperhatikan novel tersebut saya langsung berkomentar “ Kalo di Islam pulang itu yaa ke syurga, atau neraka”. Putri kami hanya manggut-manggut seperti biasa kalau ibunya sudah mulai “berceramah”.

https://vienmuhadi.com/2009/02/04/pulang/

Beberapa hari kemudian saya melihat novel tersebut tergeletak di atas meja ruang keluarga, dan secara tak sengaja saya melihat nama Leila S Chudori sebagai penulisnya. Tiba-tiba sayapun teringat  nama yang di masa mudanya pernah sangat terkenal itu. Segera saya mengambil dan membaca resensi yang ada di sampul belakang novel tersebut.

20190228_231127-1Jantung saya langsung berdegup kencang begitu disebut sebuah restoran Indonesia di suatu sudut di kota Paris. Saya tahu persis bahwa restoran tersebut adalah milik keluarga ex tapol PKI, dedengkotnya bahkan. Dengan menahan nafas saya melanjutkan  membaca resensi novel tersebut. Dugaan saya benar. Novel tersebut mengisahkan duka cita keluarga tersebut. Sang penulis yang tak lain adalah wartawati senior majalah Tempo tersebut dengan gaya bahasa yang menarik tak diragukan pasti bakal berhasil menarik simpatik siapapun yang membacanya. Apalagi yang tidak mempunyai pengetahuan dan latar belakang tragedy mengerikan G30S/PKI.

Saya hanya dapat menghela nafas panjang dan ber-istighfar. Pantas isu komunis hari ini tidak ditanggapi serius seperti dulu-dulu. Padahal keberadaan mereka dari hari ke hari makin terlhat nyata. Mereka terus melakukan pertemuan-pertemuan konsolidasi, bahkan berani menuntut pemerintah agar meminta maaf kepada mereka. Terbitnya buku “ Aku bangga menjadi anak PKI” adalah salah satu bukti rasa percaya diri yang besar bahwa pemerintah akan menerima mereka.

Lebih parah lagi, langkah TNI yang menyita ratusan buku yang menyinggung komunisme dan PKI ditanggapi sinis oleh sejumlah anggota PDI-P, juga PSI, partai baru yang mensyaratkan 45 tahun sebagai usia maksimal anggotanya. Ditambah lagi presenter andalan Metro-TV Najwa Shihab  yang tak lain adalah putri ulama kenamaan Quraish Shihab yang dikenal sangat toleoran terhadap JIL ( Jaringan Islam Liberal).

“Pelarangan buku adalah kemubaziran akut. Di tengah rendahnya minat baca, pelarangan buku adalah kemunduran luar biasa. Indonesia bisa semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain yang selalu terbuka kepada ide-ide baru dan pengetahuan-pengetahuan baru,” ujarnya.

Tak dapat dipungkiri arus globalisasi yang melanda dunia sejak beberapa tahun belakangan ini telah membuat segalanya menjadi terbuka lebar. Segala macam info dari berbagai belahan dunia, yang benar maupun yang salah, yang pantas maupun tidak pantas, yang baik maupun buruk, yang semula tabu maupun tidak semua dapat diakses oleh siapapun, dari anak kecil hingga orang-tua. Yang dengan demikian menjadikan dunia seakan hanya seluas daun kelor,  yang dapat dijelajahi hanya dengan duduk manis di depan robot yang namanya komputer atau bahkan hp super canggih yang harganya selangit itu.

Namun apa daya gemerlap, hiruk pikuk dan kenikmatan dunia yang begitu terbuka lebar justru telah memperdaya cara dan gaya hidup anak-nak muda zaman sekarang, zaman “Now”, istilah kerennya. Diantaranya adalah Hedonisme yang mengutamakan kesenangan hidup di dunia dan cenderung melupakan kehidupan akhirat. Agama dan tata krama dianggap hanya mempersulit hidup. Mereka hidup dalam dunianya sendiri, tak acuh terhadap kehidupan sekitarnya.

Sudah bukan rahasia lagi, di negri tercinta kita Indonesia yang dulu dikenal memiliki budaya timur yang santun, hari ini guru dibully, orang-tua dilawan, ulama dilecekan, pemimpin tidak dihormati. Jelas sudah kita saat ini sudah kehilangan tokoh panutan, tokoh yang pantas untuk dijadikan keteladanan. Arus informasi dengan segala macam bentuknya telah mengubah cara berpikir sebagian anak-anak muda kita yang merupakan generasi penerus bangsa. Tak sedikit diantara mereka ini yang menjadikan tokoh berhaluan kiri seperti Nietzche yang dikenal dengan seruan “Tuhan Telah Mati” atau Karl Marx dengan ujaran “Agama adalah candu”, sebagai idola mereka.

https://news.detik.com/berita/d-3034636/eks-wapres-try-sutrisno-ingatkan-bahaya-gerakan-komunis-gaya-baru

Dalam keadaan seperti ini tak heran bila dengan mudah komunis yang notabene anti agama diam-diam menyelinap ke republik tercinta ini. Demikian pula pandangan dan cara hidup homoseksual yang jelas-jelas dilaknat agama. Prinsip “Tubuhku adalah milikku”, membuat mereka bersiteguh bahwa tidak ada yang berhak mengatur hidup mereka. Yang penting tidak mengganggu orang lain, kilah mereka.

Ini masih ditambah dengan berita-berita hoax alias palsu yang makin hari makin merajalela. Berita yang saling bertentangan, nyaris dalam hal apapun bisa kita temukan via internet. Anehnya masing-masing kelompok merasa benar. Lalu kebenaran mana yang harus kita pilih??  Kalau sudah begini siapa yang patut disalahkan dan dimintai pertangggung-jawaban? Relakah kelak kita melihat anak-cucu kita harus menanggung dosa yang mungkin tidak mereka sadari melakukannya??

“Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya)”. (Terjemah QS. Ar-Raad(13):1).

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):1).

Yaa, tidak ada jalan lain selain kembali ke Al-Quranul Karim. Inilah kebenaran yang hakiki, kebenaran dari Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Yahudi dan Nasrani sebelum kitab tersebut diselewengkan juga benar. Para nabi adalah para utusan Allah yang membawa misi yang sama yaitu menyembah hanya kepada Tuhan Yang Satu, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakan.

Ntah Tuhan dan agama apa yang dimaksud Nietzche sudah mati atau Karl Marx bagai candu. Yang pasti ajaran komunis bertentangan dengan agama apapun. Tak heran Uni Sovyet di masa lalu pernah melarang semua agama, menghancuran rumah-rumah ibadah dan memenjarakan pemeluknya. Begitu pula RRC ( Republik Rakyat Cina) yang hingga detik ini bersikap diskriminatif terhadap umat Islam di Uighur. Komunis dimanapun dan sampai kapanpun akan selalu memusuhi umat beragama.

Kembali kepada novel karya Leila S Chudori yang justru diapresiasi kalangan sastrawan.  Siapapun memang berhak menulis sesuai pengetahuan dan pengalamannya, baik yang diceritakan orang lain atau pengalaman sendiri, baik benar ataupun salah. Namun bila ia mau mendengar pengalaman keluarga korban keganasan PKI tentu akan berbeda 180 derajat. Belum lagi menyoal tragedy Mei 1998 yang juga menjadi latar belakang novel, yang hingga saat ini masih simpang siur ceritanya.

Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zen, menceritakan bahwa PKI dan sekelompok jendral yang tidak menyukai Suharto menunggangi gerakan Mei 1998 yang dipimpin tokoh reformasi Amien Rais.  Mantan purnawirawan itu berbicara dalam acara “ Para Tokoh 98 Bicara” yang diprakasai uztad Haikal Hassan, pada Senin 25 Februari 2019 di gedung AD Premier Jakarta Selatan. PKI memang jelas sangat berkepentingan untuk menjatuhkan presiden ketika itu yaitu Suharto. Karena Suhartolah yang memerangi mereka secara serius.

Untuk diingat PKI dibawah pemerintahan Soekarno merupakan partai komunis terbesar ke 3 di dunia setelah Uni Sovyet dan RRC. Yaitu pada tahun 1959-1965 ketika ideologi negara adalah Nasakom ( Nasionalis Agamis Komunis). Dibawah Orde Baru pimpinan Suharto, PKI dan segala antek-anteknya diberantas dan gerak gerik mereka diawasi.

Tidak seperti dibawah rezim sekarang ini dimana semua yang berani berbicara mengenai komunis harus siap menghadapi resiko didzalimi dengan berbagai alasan.  Jendral Kivlan pernah dituduh makar. Habib Rizak Syihab dengan FPInya yang selalu berbicara keras terhadap bahaya komunis bersama keluarga terpaksa hengkang dari tanah air tercinta atas tuduhan keji dan mengada-ada. Ustad Alfian Tanjung yang dikenal sebagai ustad spesialis komunis harus mendekam di penjara hingga detik ini padahal ia selalu berbicara dengan bukti.

Tak salah mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menyadari ancaman bangkitnya komunis suatu hari memerintahkan generasi muda agar menonton film “Pengkhianatan G30S PKI” yang sejak beberapa tahun belakangan nyaris dilupakan. Dengan tujuan agar bangsa ini tidak lengah dan mengulangi kejadian pahit di masa lalu.

Namun demikian sebagai agama yang rahmatan lilamiin, Islam yang merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia, tidak mengenal apa yang namanya balas dendam. Tengok apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw pada peristiwa Penaklukan Mekah.  Nyaris tidak ada hukuman bagi penduduk Quraisy Mekah yang sebelumnya telah memerangi Islam dengan sangat kecuali segelintir yang benar-benar berbuat keterlaluan, tetap melawan dan tidak mau betobat. Dengan cara itu mereka justru masuk Islam secara sukarela bahkan tidak sedikit yang di kemudian hari berjuang habis-habisan demi tegaknya Islam.

Semoga kita bisa mengambil hikmah atas segala kejadian yang telah berlalu, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Februari 2019.

Vien AM.

Ibrah Dari Bani Israil.

Shalat adalah kewajiban kaum Muslimin yang pertama kali di hisab di hari Akhir nanti. Uniknya baik dalam shalat wajib maupun shalat Sunnah, Al-Fatihah yang merupakan surat pertama dalam Al-Quran, wajib dibaca. Ada apa dengan surat yang juga disebut sebagai Ummul Kitab atau Ummul Quran ini??

Surat Al-Fatihah termasuk dalam kategori ayat Madaniyyah, yaitu turun setelah hijrah ke Madinah. Ayat ini terdiri atas 7 ayat. Sehubungan dengan judul di atas yaitu Ibrah dari bani Israil, maka  fokus hanya dengan ayat 6 dan 7 surat tersebut.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Mereka” yang dimaksud telah dianugerahi nikmat pada ayat di atas adalah  para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh, sebagaimana ayat berikut :

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):69).

Sementara yang dimaksud “mereka yang dimurkai” (Al-Maghdub) adalah kaum Yahudi. Allah swt memurkai mereka karena kebanyakan orang Yahudi tidak berbuat amal kebaikan padahal Allah swt telah memberi mereka bekal lmu yang banyak.  Sedangkan “mereka yang sesat” (Adh-Dholal) adalah kaum Nasrani.  Mereka beramal ibadah tapi tanpa ilmu, yaitu dengan mengatakan “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga“. Padahal baik kaum Yahudi maupun Nasrani sejatinya adalah masuk dalam golongan orang beriman.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):73).

Allah swt mengingatkan kaum Muslimin agar tidak meniru keduanya. Umat Islam tidak cukup hanya beriman tapi juga wajib beramal ibadah sesuai ilmu yang dimiliki, yaitu ilmu yang berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan kata lain orang beriman tapi tidak beramal sholeh/kebaikan seperti mendirikan shalat, zakat dll, Allah swt tidak menjamin yang bersangkutan kelak bisa masuk surga. Ayat-ayat Al-Quran yang menggandengkan iman dan ber-amal sholeh jumlahnya cukup banyak. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam” ( Terjemah QS. Ibrahim (14):23).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya”.( Terjemah QS. Al-Kahfi(18):107).

Uniknya ayat-ayat tersebut tidak hanya ditujukan khusus bagi umat Islam saja tapi juga umat agama lain.

 “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):62).

Ajaran Yahudi, Nasrani dan Islam yang sering disebut sebagai agama langit, sejatinya memang  tidak jauh berbeda. Ketiga agama tersebut sama-sama dibawa oleh malaikat yang sama yaitu malaikat Jibril as, dan disampaikan kepada manusia oleh para nabi yang merupakan utusan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Tak heran bila perintahnyapun sama, yaitu agar tidak menyembah selain Allah, berbuat baik kepada kedua orang-tua, bahkan juga shalat dan sedekah. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang menunaikan perintah tersebut.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):83).

Dan sebagai tanda besarnya kasih sayang Sang Khalik kepada umat Islam, diwajibkanlah kita membaca Al-Fatihah minimal 17 x sehari, dalam 5 x shalat wajib. Salah satu tujuannya agar kita selalu ingat apa yang dilakukan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, jangan sampai kita mengikuti perlakuan buruk kedua kaum tersebut.

Melalui sejumlah ayat, berkali-kali Allah swt menceritakan keburukan mereka, terutama kaum Yahudi. Sayangnya sering kali kita lupa bahwa hal tersebut bukan untuk sekedar mengejek dan mengolok-olok mereka. Lebih penting lagi agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka. Ayat berikut misalnya,

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” … … “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):80).

Ayat di atas menceritakan tentang ulama-ulama Yahudi yang dengan congkaknya berkata dan yakin tidak akan terkena api neraka kecuali hanya sedikit/sebentar. Padahal dengan seenaknya mereka telah menambah-nambahi dan merubah ayat-ayat suci mereka.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):79).

Ironisnya, hari ini kita bisa melihat adanya sebagian ulama Islam yang melakukan hal yang mirip dengan mereka.  Ulama Syiah contohnya, yang telah menulis kitabnya sendiri dan menisbahkannya sebagai dari Allah swt. Ataupun orang-orang Islam yang mengaku-ngaku sebagai nabi, ulama-ulama JIL ( Jaringan Liberal) yang mengatakan semua agama adalah benar, dll.

Pada Al-Baqarah ayat 67-71, Allah swt juga menceritakan kaum Yahudi yang keras kepala, suka membantah dan banyak bertanya apa yang diperintahkan rasul-Nya. Begitu juga kaum Muslimin hari ini yang suka memilah-milah ayat mana yang disukai dan mana yang tidak disukai untuk ditaati. Ayat tentang memilih pemimpin, pembagian harta waris dan kebolehan ber-poligami adalah contoh ayat yang sering enggan ditaati sebagian kaum Muslimin. Bukankah kita diperintahkan untuk kaffah ( secara menyeluruh/tidak tebang pilih) dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya??

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya/kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):208).

Hal lain adalah persaudaraan sesama Muslim yang makin hari makin diabaikan. Lupa bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat, sepanjang tidak menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa saja multi tafsir. Mengapa harus mempertajam perbedaan yang tidak seberapa dan tidak mendasar dengan mengabaikan persamaan yang jauh lebih banyak??

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga 73 golongan.” ( HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Wallahu‘alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Februari 2019.

Vien AM.

Madinah sebelum hijrahnya Rasulullah dan kaum Muhajirin, selain dihuni bangsa Arab juga orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi ini menguasai perdagangan serta perekonomian Yatsrib ( nama lama Madinah).  Mereka juga menguasai lahan-lahan pertanian terbaik dan oase-oase kota. Jumlah mereka makin lama makin besar hingga hampir separuh penduduk Yatsrib.

https://konsultasisyariah.com/29347-sejarah-yahudi-ada-di-madinah.html

Hal ini menyebabkan kabilah-kabilah Arab yang tinggal di kota tersebut membenci mereka. Ditambah lagi sikap orang-orang Yahudi yang arogan dan suka menekan orang-orang Arab. Riba dalam segala hal yang dipraktekkan Yahudi secara semena-mena membuat hubungan kedua etnis tersebut semakin buruk.

Dalam keadaan seperti itu orang-orang Yahudi masih juga suka meng-adu domba kabilah Aus dan kabilah Khajraz, dua kabilah Arab terbesar di Madinah yang sejak lama memang sudah sering bertikai. Akibat adu domba tersebut 5 tahun sebelum hijrahnya nabi dan para sahabat, pecahlah perang Buats. Perang besar ini nyaris menghancurkan seluruh harta benda yang dimiliki ke dua kabilah tersebut.

Beruntung akhirnya mereka menyadari hal tersebut. Mereka segera mengakhiri peperangan dan berjanji tidak akan mau lagi di adu domba Yahudi. Mereka mulai mendambakan seseorang yang dapat menyatukan dan memimpin mereka melawan dominasi Yahudi, dalam segala hal.

Itu sebabnya ketika mereka mendapat kabar telah datang seorang nabi di Mekah mereka sangat antusias. Merekapun mengirim utusan untuk mengetahui  kebenaran berita tersebut. Karena sejak lama orang-orang Yahudi sering menakuti-nakuti mereka dengan berkata:

“Bersama Nabi yang akan segera datang, kami akan menumpas kalian sebagaimana yang dahulu pernah dialami oleh kaum ‘Aad dan lram,”.

Orang-orang Yahudi memang meyakini bahwa di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi. Hal tersebut tersirat di kitab suci mereka, Taurat. Bahkan kedatangan orang-orang Yahudi ke Madinah, menurut beberapa sumber, memang didasarkan ciri-ciri kota dimana nabi tersebut akan datang.

Maka ketika nabi Muhammad saw datang dan hijrah ke Madinah, dengan penuh suka cita penduduk Madinah non Yahudi menyambut beliau. Mereka berbondong-bondong memeluk Islam, dan langsung menobatkan rasulullah Muhamad saw sebagai pemimpin mereka.

Sebaliknya orang-orang Yahudi yang merasa kecewa karena ternyata nabi yang di harapkan kedatangannya itu bukan dari kaumnya, mengingkari dan memusuhi rasulullah.

Kemudian setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah, yang membenarkan apa yang ada pada mereka (yakni: yang ada pada Kitab Suci mereka, Taurat, mengenai kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam), yang sebelum itu selalu mereka harapkan kedatangannya agar mereka dapat mengalahkan orang-orang kafir, namun setelah apa yang mereka ketahui itu datang, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):89).

Namun demikian rasulullah tidak pernah memaksa orang-orang Yahudi untuk menerima ajaran Islam. Rasulullah yang kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah, tetap memperlakukan mereka dengan baik. Sebagai warga Madinah, selain mendapatkan perlindungan dan berbagai hak, bersama penduduk Madinah lainnya mereka juga diberi tanggung-jawab membela dan mempertahankan kota dari musuh.

Namun apa lacur kepercayaan tersebut tidak mereka manfaatkan dengan baik. Sering kali mereka memancing keributan. Bahkan ketika Madinah diserang orang-orang Quraisy Mekah yang ingin membunuh Rasulullah dan kaum Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah ( kaum Muhajirin), orang-orang Yahudi  berkhianat.

Ironisnya lagi, pengkhianatan tersebut dibantu oleh sejumlah penduduk Madinah yang mengaku Muslim. Itulah kaum Munafikun. Tak tanggung-tanggung pentolan Munafikun Abdullah bin Ubai bin Salul, seorang tokoh Madinah yang sebelum kedatangan Islam nyaris diangkat sebagai pemimpin Madinah. Meskipun akhirnya ia ikut bersyahadat dan memeluk Islam namun tidak rela menjadikan Rasulullah sebagai panutan dan pimpinan. Rupanya ia tidak berhasil menghilangkan sakit hatinya gagal menjadi pemimpin Madinah.

https://vienmuhadi.com/2017/02/22/abdullah-bin-ubay-bin-salul-dan-kemunafikan/

Tokoh Madinah yang berkawan erat dengan orang-orang Yahudi tersebut sering sekali melawan perintah nabi. Diantaranya dalam membela teman-teman Yahudinya. Suatu hari ketika Rasulullah memerintahkan hukuman bagi bani Yahudi Qainuqa yang telah mengkhianati perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, ia membantah perintah tersebut.

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik “, serunya.

Tanpa memperhatikan air muka Rasulullah yang kesal, hal itu terus diulanginya sampai 3 kali. Akhirnya Rasulullahpun menjawab ketus : “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”. 

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. …”.  (Terjemah QS.An-Nisa (4):138-139).

Pengusiran terhadap Yahudi terpaksa dilakukan karena pengkhianatan mereka sangat membahayakan tidak saja Rasulullah namun juga perkembangan Islam secara keseluruhan. Rasulullah dengan izin Allah swt mengusir mereka dalam 3 tahap. Dan berkat kekompakan dan persatuan kaum Muhajirin dan Anshar yang kokoh Islam akhirnya dapat berkembang hingga ke seluruh semenanjung Arab.

Abdullah bin Ubai bin Salul dedengkot Munafikun memang sudah lama tiada. Namun sifat dan ciri-ciri orang seperti Abdullah bin Ubay hingga detik ini masih sangat banyak. Bahkan makin hari makin banyak !

https://www.eramuslim.com/berita/analisa/tanda-karakter-munafik-abdullah-bin-ubai-bin-salul-saat-ini.htm#.XEvyC1wzaUk      

Sikap mereka yang suka melindungi orang kafir meskipun nyata-nyata telah melecehkan syariat Islam sangat membahayakan agama yang dengan susah payah disebarkan Rasulullah dan para sahabat.

Dengan ringannya ayat-ayat Allah dikesampingkan. Ayat kepemimpinan, misalnya. Padahal ayat ini diturunkan untuk melindungi kaum Muslimin agar hak-hak mereka seperti mengerjakan shalat di masjid, berpuasa di bulan Ramadhan, pemakaian jilbab, larangan riba dll dapat dilaksanakan dengan tenang.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh tali Islam akan lepas, ikatan demi ikatan. Setiap satu ikatan lepas, maka manusia berpegang pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali lepas adalah hukum (pemerintahan) dan yang paling akhir adalah shalat.”

Kurang banyakkah bukti bahwa Muslim yang tinggal di negara dimana pemimpinnya non Muslim sulit menjalankan syariat agamanya??? Jangankan Palestina, bahkan Perancis yang sering meng-klaim sebagai negara yang mengagungkan toleransi, demokrasi dll, tidak mudah bagi kaum Muslimin untuk menjalankan syariah agama. Yang terakhir adalah Muslim Uighur dibawah pemerintah Cina. Relakah kita anak cucu kita kelak mengalami nasib seperti mereka?? Na’udzubillah min dzalik …

https://www.merdeka.com/dunia/bungkamnya-pemimpin-dunia-saat-warga-muslim-uighur-ditindas-di-china.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Januari 2019.

Vien AM.

0415145theresa-corbin-islamich780x390Usianya masih 21 tahun saat dia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Usia yang relatif muda bagi seorang perempuan yang berani mengambil keputusan untuk pindah agama. Dia adalah Theresa Corbin. Seorang feminis yang berasal dari Baton Rouge, Louisiana.

Kepada CNN dalam sebuah artikel, Corbin menceritakan kisahnya saat memutuskan menjadi seorang mualaf dan perjalanan hidupnya sebagai seorang muslimah. Corbin menjadi Mualaf pada November 2001, atau dua bulan setelah tragedi runtuhnya Gedung World Trade Center pada 9 September 2001.

Menurut dia, saat itu adalah waktu yang buruk untuk menjadi seorang Muslim. Namun, setelah empat tahun mempelajari Islam, dia memutuskan untuk mengambil risiko. Corbin merupakan perempuan yang dilahirkan dari keluarga Katolik dan ateis. Perjalanannya menuju Islam dimulai saat dia berusia sekitar 15 tahun. Saat itu, dia memiliki pertanyaan mengenai iman yang diyakininya. Dia mulai menanyakan mengenai hal tersebut kepada guru dan pendeta-pendeta, tetapi jawaban dari mereka tidak memuaskan Corbin.

Setelah bertanya tentang segala sesuatu yang telah dia pelajari untuk menjadi sebuah kebenaran, serta menggali melalui retorika, sejarah, dan dogma, Corbin menemukan sesuatu hal yang berbeda tentang Islam. Dia belajar bahwa Islam bukanlah budaya atau sekte yang sesat. Islam juga tidak dapat disebut mewakili satu bagian dari dunia, tetapi seluruh dunia.

“Saya menyadari Islam adalah agama dunia yang mengajarkan toleransi, keadilan, dan kehormatan serta memperkenalkan kesabaran, kerendahan hati, dan keseimbangan,” ucap Corbin. Ketika dia mempelajari tentang keimanan di Islam, dia sangat senang karena menemukan fakta bahwa Islam mengajarkan pemeluknya untuk menghormati semua nabi, termasuk dari Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Islam mengajarkan manusia untuk menyembah satu Tuhan dan bertingkah laku dengan tujuan menjadi manusia yang lebih baik.

Corbin sangat tertarik dengan Islam setelah mendengar seruan tentang kecerdasan dan sikap berbesar hati yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Seruan itu berbunyi, “Pengetahuan adalah wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki atau perempuan.” Dia terkejut tentang ilmu pengetahuan dan rasionalitas yang dimiliki oleh pemikir-pemikir Muslim, seperti Al-Khawarizmi yang menemukan aljabar, Ibnu Firnas yang mengembangkan mekanisme penerbangan sebelum Leonardo da Vinci, dan Abu al-Qasim al-Zahrawi, yang merupakan ayah dari operasi modern. “Di sini (Islam), agamalah yang memberitahu saya untuk mencari jawaban dan menggunakan kecerdasan saya untuk mempertanyakan dunia di sekitar saya,” ucap Corbin.

Dikutip dari:

https://internasional.kompas.com/read/2014/10/25/04174701/Kisah.Theresa.Corbin.Seorang.Feminis.yang.Masuk.Islam.karena.Penasaran

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(Terjemah QS. An-Nisa(4):1).

Menjaga hubungan silaturrahim baik dengan saudara yang sedarah maupun tidak, sangat dianjurkan dalam Islam. Lebih jauh, silaturrahim bukan hanya menjaga hubungan yang sudah baik, melainkan menyambung hubungan yang terputus. Hubungan silaturrahim yang baik sudah pasti membawa kedamaian. Tak salah bila semua agama mengajarkan hal yang satu ini.

Tapi Islam bukan hanya agama yang membumi, karena manusia memang hidup di bumi/dunia. Dalam Islam dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat beramal ibadah, tempat sementara. Tempat yang relative abadi adalah kehidupan akhirat yaitu surga atau neraka. Disanalah kita akan menuai hasil yang kita tanam di dunia.

Oleh karenanya silaturrahim dalam Islam harus karena Allah swt. Inilah yang akan dinilai sebagai amal ibadah yang kelak akan diperhitungkan di akhirat. Dalam Islam bahkan senyumpun adalah ibadah, bila dilakukan demi mencari ridho-Nya.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pada zaman Rasulullah saw masih hidup dan berdakwah di kota Mekah, kota kelahiran dimana orang-tua, sanak saudara berkumpul, Rasulullah justru dilecehkan dan dimusuhi bahkan akan dibunuh. Dukungan kepada dakwah Rasulullah malah datang dari penduduk Madinah yang bukan sanak saudara. Itu sebabnya ketika akhirmya Rasulullah hijrah ke Madinah beliau disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk Madinah. Merekapun berbondong-bondong memeluk Islam.

Al-Quran menyebut pendukung Rasulullah dari Madinah ini sebagai kaum Anshor ( yang menolong). Sedangkan pendukung Rasulullah dari Mekah yang akhirnya juga ikut berhijrah ke Madinah, disebut kaum Muhajirin ( orang-orang yang berhijrah). Kaum Anshar dengan ikhlas membantu segala kebutuhan kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka karena siksaan orang-orang Quraisy yang tidak rela mereka memeluk Islam. Dari situlah kemudian muncul apa yang disebut Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam).

Dan penduduk Madinah yang telah beriman sebelum kedatangan Rasul (kaum Anshar) sangat mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Mereka tidak pernah berkeinginan untuk mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada Muhajirin. Bahkan, kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin dibanding diri mereka sendiri, sekalipun mereka sedang dalam kesulitan. Dan orang-orang yang memelihara dirinya dari sifat kikir, itulah orang-orang yang beruntung”. (Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 9).

Sayangnya Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan dasyat milik kaum Muslim ini berangsur luntur. Sebagian orang menganggap ikatan ini dianggap sebagai pemecah bangsa bahkan radikal. Ironisnya lagi tidak sedikit umat Islam yang termakan anggapan miring tersebut. Mereka tidak menyadari ini adalah bagian dari perang pemikiran ( Ghozwl Fikri) yang dihembuskan musuh-musuh Islam untuk menggembosi Islam dari dalam. Musuh-musuh Islam yang selama berabad-abad lamanya pernah terpaksa takluk dan mengakui kebesaran Islam. Dan yang dengan izin Allah swt, di akhir zaman nanti masa kejayaan tersebut akan terulang kembali.

Islam memang mengajarkan bahwa ikatan persaudaraan tidak hanya ikatan persaudaraan Islam. Ada yang namanya Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan umat manusia) yang juga disebut Ukhuwah Insaniyah. Ketiga ukhuwah tersebut wajib dijaga.

“Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah).

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”. (HR. Al Baihaqi).

Namun ketika Islam mulai dilecehkan dan dipinggirkan, ukhuwah Islamiyah wajib didahulukan. Karena persaudaraan ini didasari kecintaan kepada Allah swt sebagai Sang Khalik, Sang Pencipta dimana nanti kita akan kembali.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):10).

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).

Tapi apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyedihkan. Ulama dilecehkan, di persekusi umat tidak peduli. Sebaliknya orang yang jelas-jelas melecehkan Al-Quranul Karim malah dibela habis-habisan. Ironisnya lagi hal ini terus berlarut hingga hari ini. Anies Bawesdan, gubernur DKI yang nyata-nyata telah mengalahkan petahana si penista dalam pilkada resmi, terus saja dibully. Dan ini berlanjut hingga ke tingkat pemilihan presiden yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan. Aroma dendam kesumat sungguh terasa kental.

Yang lebih menyedihkan lagi perpecahan dalam Islam di negri ini seperti sengaja dibiarkan terjadi, bahkan semakin disulut agar bertambah parah. Dengan alasan HAM, Demokrasi dll Islam terus disudutkan sebagai radikal, tidak toleran, anti Pancasila dll.

Tak ayal mereka yang tipis imannyapun terperangkap oleh isu busuk tersebut. Mereka menjadi tidak Percaya Diri terhadap ke-Islam-an mereka. Mereka bahkan menganggap apa-apa yang berbau Islam pasti buruk. Mereka juga tidak mampu membedakan antara Arab dan ajaran Islam. Sementara semua yang berasal dari Barat dianggap benar, bagus, modern serta perlu diikuti.

Harus diakui, sebagian besar Muslim di negri tercinta ini memang Islam keturunan, Islam karena nenek moyang. Mereka malas dan tidak merasa perlu belajar tentang Islam apalagi memperbarui ke-Islam-an mereka. Itu sebabnya mereka mudah dibodohi musuh-musuh Islam. Sungguh mengenaskan. Tidakkah mereka menyadari bahwa perpecahan adalah sumber petaka ??

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 14 Januari 2019.

Vien AM.

Great Ocean Road adalah jalur pantai pesisir selatan Australia antara Geelong dan Warrnambool di Victoria. Jalan ini dibangun pada masa Great Depression antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II sebagai upaya pemerintah Australia untuk membuka pekerjaan. Jalur yang memiliki keindahan alam mempesona ini hanya berjarak sekitar 90 menit dari pusat kota Melbourne.

Beruntung kami menemukan link tentang perjalanan  tersebut dari rumah, di Jakarta. Hingga dengan demikian dapat menikmat maha karya kecantikan buatan Sang Khalik sepanjang 200 km tersebut tanpa harus berlelah-lelah mengemudikan sendiri kendaraan yang banyak disewakan di Melbourne. Ataupun di Geelong yang sering dijadikan tempat start perjalanan ke Great Ocean Road. Melbourne – Geelong dapat ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan subway.

https://greatoceanroadmelbournetours.com.au/tours/1-day-great-ocean-road-12-apostles-tour/

Maka pada suatu hari di bulan Oktober tepat pukul 7.00 pagi, bus datang menjemput kami di depan hotel. Pak sopir merangkap guide yang akan menemani kami selama perjalanan memperkenalkan diri dengan nama Tim, warga asli Melbourne.

20181125_093059Setelah mampir di beberapa meeting point untuk menjemput para tamu sesuai daftar, bus berkapasitas 24 orang itupun langsung melaju meninggalkan kota. Sepanjang perjalanan dari Melbourne ke Geelong yang terletak di barat daya Melbourne adalah  hamparan padang rumput luas nan hijau, dengan sapi dan domba-domba berbulu lebat yang sungguh meneduhkan mata. Australia memang dikenal sebagai negara pengeksport daging dan susu kedua ternak tersebut.

Highway mulus yang kami lalui terlihat sengang. Penduduk benua di sebelah tenggara Indonesia ini memang relative sedikit dibanding luasnya. Penduduk asli Australia yang merupakan bagian dari negara persemakmuran Inggris ( commonwealth) adalah suku aborigin yang jumlahnya tidak begitu banyak dan menyebar di banyak tempat. Namun sejak kedatangan kapten Cook dan armada  Inggrisnya ke benua tersebut pada tahun 1770, dan menjadikannya tempat buangan narapidana Inggris, maka rata-rata penduduk Australia sekarang ini adalah keturunan bangsa Inggris dan Irlandia.

Selepas Geelong menuju Torquay, perjalanan indah berkelok susur pantai selatan Australiapun dimulai. Tim sambil mengemudikan kendaraan tak henti-hentinya bercerita berbagai hal. Mulai dari kopi yang merupakan bagian hidup warga Melbourne, harga rumah di Melbourne yang makin hari makin meroket, gold hunter alias perburuan emas di masa lalu, hingga kisah Tom dan Eva, warga Inggris yang mengalami kecelakaan kapal parah di tahun 1800-an.

20181125_09431120181125_111715IMG_4365Beberapa kali Tim menghentikan bus, memberi kesempatan tamu-tamunya untuk turun menikmati keindahan pantai. Kami juga berhenti sebentar di sebuah hutan kecil untuk hunting koala yang banyak menempati hutan tersebut. Dari penjelasan Tim, kami baru tahu binatang lucu yang menjadi ikon Australia disamping Kangguru tersebut ternyata termasuk jenis hewan perusak. Binatang yang tidak suka hidup berkelompok dan sangat suka bertegger di atas pohon itu, sebenarnya telah merusak batang pohon yang dikeratnya setiap hari, meski mungkin tanpa disadarinya.

Menjelang pukul 12 siang, kami tiba di Apollo Bay, dimana kami berhenti untuk makan siang di sebuah restoran. Dan sesuai brosur isian yang kami isi via internet sebelum keberangkatan, kami menerima pesanan makanan kami, Chicken Pizza dan Grill Chicken, dengan tanda khusus HALAL.  Alhamduillah …

Dari 24 orang yang berada di dalam rombongan hari itu, hanya kami ber-tiga yang Muslim. Tim sebelumnya sempat meng-absen tamu-tamunya berdasarkan negara. Dengan bangga ia memamerkan bola yang ada dalam genggamannya,

Hari ini saya menggenggam 14 negara dalam satu tangan saya”.

14 negara tersebut adalah Australia, Amerika, Mexico, Inggris, Denmark, Norwegia, Perancis, Spanyol, Italia, Korea Selatan, Vietnam dan Indonesia. Dua lagi saya lupa …

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Jujur, bangga dan bahagia rasanya sebagai Muslim sekaligus orang Indonesia bisa berada di tengah-tengah berbagai bangsa. Dakwah tidak harus dengan berbicara panjang lebar, tapi dengan penampilan, jilbab khususnya bagi kaum hawa, bisa mempunyai nilai tersendiri.

Usai makan siang, rombongan segera memasuki bus untuk memulai perjalanan menyusuri Great Ocean Road yang dipenuhi tebing-tebing terjal yang memukau. Jalur ini membentang sepanjang 200 kilometer menyusuri selat Bass yang terkenal ganas. Tim kembali menceritakan kisah Tom dan Eva yang menjadi salah satu korban keganasan gelombang laut selat tersebut, secara lebih rinci.

Pada tahun 1798, penjelajah Inggris bersuka-cita karena menemukan selat Bass, yang memisahkan daratan Australia dengan pulau Tasmania yang berada di bagian selatannya. Karena dengan demikian dapat mempersingkat perjalanan laut dari Inggris ke Sydney sejauh 1.100 kilometer, dari total 19.000 kilometer dan  memakan waktu 5 bulan perjalanan. Perjalanan tersebut sejatinya nyaris mengelilingi separuh dunia, yaitu dengan mengarungi lautan Atlantik yang memisahkan benua Eropa dengan benua Amerika, menembus selatan Amerika Latin untuk memasuki lautan Pasifik bagian selatan nan luas.

Sayangnya, angin, arus dan gelombang di selat Bass yang tinggal sejengkal ke tanah Australia tersebut sangatlah kencang dan besar. Selat ini merupakan salah satu daerah perairan yang paling berbahaya di dunia untuk dilayari. Ini masih ditambah dengan adanya terumbu karang dengan gerigi-geriginya yang sangat tajam. Terumbu tersebut terletak di tengah-tengah selat. Tak pelak bila banyak kapal yang menjadi korban dan terkapar di dasar selat yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu.

Tapi hal tersebut tidak membuat ciut orang-orang Inggris dan Irlandia datang untuk berburu emas. Ataupun untuk sekedar mencari tanah baru yang masih perawan. Termasuk kapal layar Loch Ard yang pada tanggal 1 Juni 1878 bergerak melewati kabut tebal menuju garis pantai Victoria, tanpa menyadari sebuah karang terjal setinggi 90 meter tegak berdiri pada jarak hanya sekitar dua kilometer di hadapannya. Maka dalam waktu singkat kapal Loch Ard yang telah menempuh 3 bulan perjalanan itu menabrak karang dengan kerasnya, dan tenggelam beberapa menit kemudian.

Dari 54 penumpang hanya dua yang selamat, yaitu seorang kelasi yang sedang magang bernama Tom Pearce dan penumpang bernama Eva Carmichael. Keduanya berusia sekitar 19 tahun. Tom berpegang erat pada sekoci yang terbalik selama berjam-jam di perairan laut yang dingin. Hingga akhirnya arus menyeretnya ke sebuah celah di antara karang-karang terjal. Sementara Eva yang tidak bisa berenang hanya bergayut pada pecahan kapal sebelum terseret ke tempat yang sama dengan Tom.

Selanjutnya Eva jatuh pingsan selama berjam-jam di dalam gua yang berada di dekat lokasi. Sementara itu, Tom dengan susah payah memanjat karang yang terjal yang ada dihadapannya untuk mencari bantuan. Keduanya kemudian dievakuasi ke sebuah rumah tidak jauh dari situ. Namun Eva yang kehilangan seluruh keluarganya, yaitu kedua orang tua, tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan, 3 bulan kemudian memilih pulang ke Inggris.

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

Gua tempat Eva dan Tom berlindung

20181125_173938

Tom & Eva Pillar

20181125_174729Untuk mengenang kejadian tragis tersebut tempat itu kini diberi nama Jurang Loch Ard ( Loch Ard Gorge) atau juga Tom and Eva Pilar. Tempat ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Port Campbell, yang selalu ramai dikunjungi para turis.

Bahkan menurut Tim, high way yang menyusuri Great Ocean Road sengaja dibangun untuk mengenang kedua remaja tersebut. Dan untuk memudahkan para turis yang berdatangan dari manca negara dibangun jalan setapak menuju lokasi yang relatif jauh dari jalan raya itu. Bahkan tangga curam menuju pantai berpasir kemerahan nan lembutpun telah siap menanti. Kalau saja Tim tidak menceritakan kisah tragis di atas bisa jadi tempat tersebut tidak meninggalkan kesan mendalam kecuali keindahannya yang menakjubkan.

“ We have to thank them both” , ucapnya.

20181125_17074520181125_16465320181125_18081520181125_175626Sesuai yang dijanjikan, selama perjalanan tersebut bus berhenti di 13 spot menarik termasuk Loch Ard Gorge dan Twelve Apostles yang fenomenal. Satu hari sudah pasti tidak cukup memang untuk menikmati Great Ocean Road. Tak salah bila setiap kali bus berhenti Tim selalu mengingatkan, jam berapa harus kembali ke bus. Tak pernah ia memberikan waktu lebih dari 20 menit untuk setiap spot. Tidak puas sebenarnya tapi apa boleh buat. Apalagi melihat yang lain selalu on time kembali ke bus. Akhirnya kamipun sepakat untuk tidak terlalu berlama-lama.20181125_165258

“G enak ah, malu kalo terlambat balik. Ntar kita di cap g disiplin sebagai orang Indonesia, Muslim pula!”.   

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya” (HR At-Tirmidzi).

Namun bagi saya pribadi, disamping keindahan alam yang sungguh mempesona, Tim sebagai seorang pemandu patut diacungi jempol. Pria setengah umur yang pernah melewatkan masa kecilnya di Indonesia selama beberapa tahun tersebut sangat pandai bercerita. Ia mampu menyampaikan pesan dengan sangat baik.

Pandai berterima-kasih adalah fitrah manusia, apapun agamanya. “Berkat” musibah yang dialami Tom dan Eva orang jadi bisa melihat keelokan Great Ocean Road.

Dalam hati saya berpikir, jika untuk seorang Tom dan Eva yang mengalami musibah (tanpa sengaja pastinya) orang dituntut untuk pandai berterima-kasih, bagaimana kepada Rasulullah dan para sahabat yang telah dengan rela berkorban mempertaruhkan jiwa dan raga demi menyampaikan sebuah kebenaran yang hakiki ? Cukupkah sudah kita berterima-kasih kepada mereka???

Belum lagi atas mata, telinga  juga kesempatan yang diberikan Allah swt hingga kita bisa melihat ciptaan-Nya yang demikan dasyat … Allahu Akbar …

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):46).

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, setelah makan malam express, buspun meluncur meninggalkan Great Ocean Road untuk kembali ke Melbourne.

Jakarta, 29 Desember 2018.

Wallahu’alam bish shawab.

Vien AM.