Feeds:
Posts
Comments

Awalnya, musisi Dewa Putu Sutrisna adalah seorang mahasiswa yang kuliah di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH). Lulusan dari kampus itu bisa dikatakan langsung menjadi pendeta Hindu. Dia kuliah hingga tiga tahun.

Saya asli Bali. Keluarga pun keluarga Bali. Tidak ada campurannya. Ibu bapak Bali. Mereka berdua Hindu,” katanya mulai berkisah beberapa waktu lalu di penghujung tahun 2017.

Kakeknya adalah pendeta tertinggi di Bali. Baginya ini adalah cobaan berat. Namun begitu, ia justru menemukan Islam dari kitab agamanya sendiri (Hindu).

Saya tidak pernah membaca Alquran. Saya tidak pernah mencari tahu tentang Islam. Buat saya, Islam itu kebencian waktu itu,” ungkap Putu Sutrisna.

Ia berpandangan demikian sebab ia teringat dengan tragedi bom Bali sekitar tahun 2002, yang membuat perekonomian, pariwisata hancur, banyak korban dan efeknya cukup besar.

Islam tidak pernah saya pandang. Di STAH saya banyak membaca Weda dan kitab pendukung lainnya,” kata dia.

Dari kitab tersebut ia malah menemukan Islam. Bukan dari seorang sahabat, ustadz atau dari mana pun. Di Weda banyak membicarakan tentang Kalki Awatara. Setelah dipelajari, sepanjang di kitab Hindu, siapa itu Kalki Awatara, bagaimana silsilahnya Kalki Awatara dan semua Kalki Awatara.

Di Weda disebutkan Kalki Awatara itu lahir di tanggal 12 di awal bulan. Kita tahu sendiri Nabi Muhammad SAW lahir di tanggal 12 Rabiul Awal. Kemudian ciri-cirinya, dia datang dengan naik unta, menggunakan pedang dan tanah, berperang bersama empat sahabatnya”.

“Kalki memiliki ayah bernama Vishnuyash dan ibu bernama Sumatti.  Jika diterjemahkan dari bahasa Sansekerta, “Vishnuyash” yang berarti “hamba Tuhan”, dalam bahasa Arab “Abdullah”. Abdullah ayahanda Rasulullah SAW.  Sementara, “Sumatti” memiliki makna “lemah lembut”. Aminah, ibunda Rasulullah SAW memiliki makna yang sama yaitu “lemah lembut”.

Dari cara berpakaian, menyisir rambutnya dan cara lainnya sama dengan Rasulullah SAW, tertera dalam Weda,” ungkap Putu Sutrisna yang getol dengan dunia musik ini.

Setelah lima tahun mencari tahu tentang Islam dan mencari tahu siapa itu Rasulullah SAW,  Dewa Putu pun memutuskan masuk Islam.  Uniknya, meski ia mengikuti apa yang diteladankan Rasulullah SAW selama lima tahun itu, ia belum mengucapkan syahadat sama sekali.

Alhamdulillah saya bertemu dengan Mualaf Center Darussalam, kemudian saya dituntun syahadat. Tepat saat kedatangan Dokter Zakir Naik di Bekasi,” ungkap pria bertato ini.

Dua tahun setelah bersyahadat yaitu pada tahun 2019, dalam suatu acara bertajuk ‘Dialog Iman’, Putu Sutrisna menceritakan kisah terberat yang dialaminya sejak menjadi mualaf. Yaitu tiga bulan setelah mengucapkan Syahadat, ketika itu istrinya sedang hamil tua anak kedua, dan akan melahirkan.

Dalam kondisi sudah menjadi muallaf, ia tinggalkan 2 label music, yang didalamnya ada 45 artis yang ia besarkan namanya. Ia tinggalkan itu semua dan mulai belajar Islam, sembari mendalami studi film. Tak hanya meninggalkan mata pencahariannya yang berhubungan dengan musik. Bahkan, ketika berpindah keyakinan, Dewa mengaku masih memiliki total hutang mencapai 16 Miliar, sedangkan saat itu ia belum memiliki penghasilan lain.

Istrinya masuk ke rumah sakit karena usia kandungan yang sudah tua. Pihak rumah sakit menyarankan untuk dilakukan operasi caesar, dengan biaya yang tidak murah. Dewa hanya bisa melihat wajah istrinya yang pucat dan menahan sakit yang sangat, sedangkan ia hanya bisa menggenggam tangan istrinya yang mulai melemah.

Setelah sholat Subuh, Dewa meninggalkan istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. “Karena pada saat itu punya uang hanya dua puluh enam ribu, saya tinggalkan istri saya. Saya datangi teman-teman yang mereka artis besar, dan saya tahu saldo mereka, saya cari. Tunggu di depan rumahnya hingga setengah jam, karena sudah tidak dianggap lagi saya. Saya cari uang pinjaman. Jangankan diberikan, dipinjamkan saja tidak,” ujar Dewa dengan nafas tertahan.

Bukan hanya teman-teman artis saja yang menjauhinya. Dewa mengaku beberapa label musik bahkan memusuhinya karena dianggap mengajak talent label itu hijrah dan meninggalkan musik.

Dalam keadaan demikian Dewa ditelepon pihak rumah sakit untuk menandatangani suatu perjanjian.

Saya dikasih surat sama suster, suratnya itu menandakan bahwa jika terjadi kematian janin atau ibu, saya tidak boleh menuntut rumah sakit. Saya ingat sekali wajah istri saya kesakitan,” ujarnya, kini dengan sedikit terisak.

Waktu itu saya telepon Ustadz Khalid Bassalamah, minta petunjuk saat itu, bukan minta, bukan ngemis. Saya bilang sedang cari solusi untuk masalah saya, tidak bilang istri saya lagi hamil dan butuh uang,” ungkap Dewa.

Atas pertanyaan Dewa, ustadz Khalid Bassalamah menjawab “Untuk apa cari solusi, Allah ciptakan manusia untuk ibadah. Jika kita punya masalah dan kesulitan, cek ibadah kita.”

Seketika itu juga Dewa tersadar, sholat Dhuha terlewatkan, sholat Dhuhur terlambat ia tunaikan. Seharian yang terbayang hanya wajah pucat istrinya di rumah sakit. “Saya ditampar dengan chat itu. Saya cari mushola di belakang rumah sakit, Saya hanya minta pada Allah ‘ya Allah, ampuni saya, saya orang dzalim, saya minta ya Allah selamatkan istri saya, selamatkan anak saya’,” doa itu terus Dewa panjatkan sampai setelah sholat Ashar.

Singkat cerita, setelah melalui beberapa proses, pertolonganpun datang melalui seorang yang tak diduga.

“ … … Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):2-3).

Demi Allah, tidak sampai dua menit, uang itu sampai. Anak saya lahir, perempuan sehat, istri saya sehat juga.

Ia pun menyampaikan hikmah dari kejadian yang menurutnya adalah yang paling berat dalam hidupnya itu. “Ini sebenarnya kelemahan kita, kita lupa sama Allah, kita sibuk sama dunia. Nanti kalau kita sudah susah, kalau sudah kesulitan, sudah mentok, sudah sangat terpojok sekali, baru kita ingat Allah,” ujarnya.

Dewa pun mengungkapkan seharusnya manusia bersyukur, Allah mengingatkan hambanya untuk sholat lima kali sehari, bukan tiga kali atau satu kali. Supaya selalu ingat, bahwa harus selalu ingat kepada Allah.

Sibuk dunia, sibuk dunia, sibuk dunia, kita lupa sama Allah, kita lupa kenapa Allah ciptakan Qiyamullail, kenapa kita disuruh sholat sunnah dua rokaat sebelum subuh, kenapa Allah suruh kita sholat Subuh. Allah ingin kita ingat DIA dulu, sebelum kita sekolah, kerja, atau aktivitas lain. inget Allah dulu, kalau kita sudah inget Allah, semua yang kita kerjakan akan dituntun sama Allah, semua yang kita kerjakan,” ujarnya.

Ia sempat meminta maaf karena menyampaikan cerita itu dalam keadaan yang cukup emosional, karena cerita yang ia sampaikan sudah lama tidak diceritakan, dan kisahnya adalah yang paling berat dalam hidupnya. Karena dulunya, Dewa adalah orang yang cukup dipandang dan sering foya-foya. “Ketika susah, orang gak mau lihat saya. Tapi di sini saya dapat pelajaran yang luar biasa, kita tidak boleh lupakan Allah”, tutupnya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Vien AM.

Diambil dari :

https://news.bersamadakwah.net/2018/01/unik-putu-sutrisna-putuskan-masuk-islam.html

https://www.kiblat.net/2019/08/26/kisah-muallaf-untuk-apa-cari-solusi-allah-ciptakan-manusia-untuk-beribadah/

Delapan abad lamanya peradaban Islam pernah mengalami kejayaannya, puncaknya pada abad 8 hingga 13.  Jejak peninggalan dalam berbagai bentuk seperti masjid, istana, museum, gedung perpustakaan, universitas, rumah sakit dll tersebar dimana-mana. Diantaranya di Andalusia (Spanyol), Baghdad (Irak), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, Syria, dan sebagainya.

Pada masa itu kemajuan di berbagai bidang, mulai dari seni, bangunan, perbintangan hingga ilmu pengetahuan seperti kedokteran, sains dll berkembang sangat pesat. Orang dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang ke pusat-pusat kota tersebut untuk menimba ilmu dan pengetahuan.

Tokoh-tokoh Islam yang hingga kini masih dikenang sejarah karena jasa-jasa besarnya antara lain adalah Al-Kindi (194-260 H/809-873 M), Al-Farabi (w 390 H/961 M), Ibnu Thufail (w 581 H),  Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M), Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M) dll.

Ibnu Sina selain dikenal ahli filsafat, juga dikenal sebagai bapak kedokteran Islam. Ia banyak menulis karya kedokteran yang dijadikan referensi hingga hari ini. Demikian juga Ibnu Rusyd, seorang dokter yang banyak menulis  dalam bidangnya, Al-Hawi adalah karyanya yang paling fenomenal.

Tokoh lainnya adalah Jabir bin Hayyan (w 161 H/778 M), Ar-Razi (251-313 H/809-873 M) seorang ahli matematika, Umar Al-Farukhan (arsitek pembangunan Kota Baghdad) dan Al-Khawarizmi (pengarang kitab Al-Jabar yang juga mengembangkan angka nol (0)).

Hari ini anak cucu kita bisa jadi tidak pernah mengira bahwa Islam pernah menjadi negara adidaya layaknya Amerika Serikat saat ini. Dan berasumsi sebuah negara akan maju bila kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi, yaitu kebutuhan primer seperti pangan (makanan), sandang ( pakaian) dan papan ( tempat tinggal). Menyusul kemudian rasa keadilan yaitu hukum yang adil bagi semua lapisan masyarakat, bukan yang tajam kebawah namun tumpul ke atas. Berikutnya adalah kebutuhan sekunder yaitu pendidikan, akses kesehatan, keamanan serta hiburan.

Orang Barat biasa menjadikan museum sebagai salah satu tujuan hiburan atau refreshing dari rutinitas sehari-hari mereka. Itu sebabnya museum biasanya ramai pengunjung bahkan menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Mereka meyakini museum adalah konsumsi orang berperadaban tinggi.   

Anehnya, tingkat stress dan bunuh diri di negara-negara yang notabene maju, aman dan nyaman tersebut ternyata tinggi, jauh lebih tinggi dari negara-negara Muslim yang hampir tak satupun masuk kategori negara maju. Contohnya adalah Korea Selatan, Jepang, Rusia, Amerika Serikat, Belgia, Finlandia dan Swedia yang berada di 50 negara paling tinggi tingkat bunuh diri ( Wikipedia 2015).

Dilansir dari New Europe, Rabu (31/10/2018), selalu ada satu petani yang bunuh diri setiap dua hari sekali di Prancis. Salah satu penyebabnya adalah kesepian karena semakin banyak anak-anak petani yang tidak lagi mau menjalani bisnis keluarga dan meninggalkan rumah mereka. Rata-rata jumlah bunuh diri di Prancis lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Pertanyaan besar .. Bukankah kehidupan aman, nyaman dan tentram adalah sebuah kehidupan yang dicita-citakan. Apa lagi yang kurang dan salah???

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Terjemah QS. An Nisa(4): 29-30).

 “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Terjemah QS. Al-Isra'(17):31).

Islam jelas-jelas melarang bunuh diri apapun alasannya. Ganjarannyapun tak tanggung-tanggung, yaitu neraka. Untuk mengatasi stress Islam mengajarkan shalat. Dengan shalat hati menjadi tenang.

 “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”.  (Al-Baqarah : 153)

Rasulullah setiap dirundung kegelisahan, beliau selalu melaksanakan shalat, karena shalat benar-benar merupakan penyejuk hati dan sumber kebahagian. “Wahai, Bilal. Kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya”. [Hadits hasan, Shahihu al Jami’ : 7892]

Shalat demi “menemui” Sang Khaliq adalah ibarat istirahat/refreshing pulang ke rumah untuk melepaskan penat, bertemu dan curhat kepada orang-orang yang kita cintai dan percayai.

Tak salah pada zaman kejayaan Islam masjid agung selalu berada di jantung kota, berdampingan dengan pusat pemerintahan dan alun-alun kota. Di dalam masjid inilah kaum Muslimin berkumpul untuk shalat dan saling mengingatkan kembali apa sebenarnya tujuan hidup berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist.

Oleh sebab itu Muslim sejati, yaitu yang shalatnya bukan karena terpaksa melainkan karena kebutuhan akan Tuhannya, tidak mungkin korupsi, mabuk-mabukan yang di Barat sudah menjadi kebiasaan, makan uang riba yang makin menjauhkan jurang si kaya dan si miskin, zina dan homoseksual yang jelas-jelas merusak moral, serta melakukan perbuatan-perbuatan buruk lain yang tidak hanya dibenci-Nya, tapi juga merugikan diri sendiri dan orang lain.   

Uniknya, masjid bukan hanya tempat shalat saja, tapi juga merupakan tempat berkumpul para pujangga, ahli pikir, dan para sarjana untuk mendiskusikan berbagai topik ilmiah.

Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, peradaban Islam adalah peradaban ilmu. ‘‘Substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis,” ujarnya.

‘Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Al-Quran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam,” terangnya.

Tak heran bila akhirnya kekuatan Islam yang bersendi pada Al-Quran dan Al-Hadits, ditambah ikatan persaudaraan Islam yang tinggi, mampu menaklukkan berbagai wilayah negara dan membentuk peradaban Islam yang mulia, mencakup dunia akhirat. Di mulai dari masa Rasulullah, kemudian diteruskan di masa Khulafaur Rasyidin, hingga masa tabiin dan munculnya berbagai dinasti Islam di sejumlah negara, seperti Dinasti Abbasiyah, Umayyah, Fatimiyyah, Ottoman, Mamluk, dan sebagainya.

Saat ini kita bisa menyaksikan saudara-saudari kita yang terdzalimi di Palestina, Suriah dll. Mereka hidup di bawah penindasan Zionis Israel,  listrik dan air dibatasi. Namun kita juga bisa menyaksikan betapa tingginya  kesabaran mereka. Dalam salah satu laporannya, bang Oniem, seorang koresponden Indonesia di Palestina menceritakan kisah seorang penjaja makanan keliling di pelabuhan Gaza yang terlihat selalu menggenggam Al-Quran kemanapun ia pergi.

Alhamdulillah ini harta paling berharga dalam hidup saya, saya tak bisa hidup tanpa Al-Qur’an akhi”, jelas anak muda yang hidup bersama istri dan 2 anaknya di rumah kontrakan tua tak jauh dari pelabuhan, tenang, seakan tidak punya masalah. Allahu Akbar …

Akhir kata, menyambut bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini semoga kita bisa introspeksi, memperbaiki kwalitas shalat kita agar shalat tersebut bisa benar-benar membuahkan Muslim sejati. Yang pada saatnya nanti mampu mengembalikan peradaban Islam yang saat ini telah luntur digerus peradaban Barat yang hanya berorientasi duniawi dan terbukti  tidak mampu membawa kedamaian hakiki yang sejatinya fitrah bagi semua manusia.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 30 Maret 2021/ 16 Sya’ban 1442 H.

Vien AM.

Hari ini kita telah memasuki bulan Sya’ban, bulan pemanasan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan Sya’ban banyak memilki keutamaan, diantaranya yaitu memperbanyak puasa sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasai’).

Namun meski Rasulullah berpuasa penuh selama satu bulan pada bulan tersebut, tidak berarti bahwa puasa tersebut adalah wajib. Para ulama sepakat bahwa puasa Sya’ban kedudukannya bisa disandingkan dengan shalat rawatib. Bila shalat rawatib gandengannya adalah shalat-shalat wajib, maka puasa Sya’ban gandengannya adalah puasa Ramadhan.     

Bulan Sya’ban juga sering dinamakan sebagai bulan pembaca Alquran. Pada bulan tersebut dianjurkan untuk lebih banyak membaca Al-Quran dibanding bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan.

Salamah bin Kahiil berkata, “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan para qurra’ (pembaca Alquran).”

Yang menarik adalah hadist berikut yang menyatakan bahwa manusia banyak yang lalai pada hari itu. Mengapa bisa demikian ???

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i).

Kaum Muslimin sangat peduli terhadap bulan Ramadhan, tapi sedikit yang peduli terhadap bulan Syaban. Mereka bersemangat menjalankan puasa dan shalat tarawih pada bulan bulan Ramadhan, paling tidak d awal-awal bulan, untuk kemudian semangat pula menyambut Hari Raya Iedul Fitri sebagai hari kemenangan. Pertanyaannya dari kemenangan apa??        

Allah Azza wa Jala memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dengan tujuan agar menjadi hamba yang takwa. Untuk itu puasa yang dimaksud bukan yang hanya sekedar menahan makan, minum, merokok dan hubungan suami istri di siang hari, tanpa melibatkan Sang Khaliq didalamnya. Karena pada dasarnya ibadah itu tergantung pada niatnya.   

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” ( Terjmah QS. Al-Baqarah(2):183).

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy).

Pada bulan suci tersebut itu pulalah kaum Muslimin berlomba menjalankan tidak saja puasa tapi juga ibadah-ibadah lain seperti shalat tarawih, iktikaf, membaca Al-Quranul Karim, berinfak-sodaqoh dan amal perbuatan baik lainnya. Dan puncaknya adalah di 10 hari terakhirnya, yaitu hari dimana Al-Quranul Karim diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit dunia, itulah malam Lailatul Qadar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. ( Terjmah QS. Al-Qadr (97)1-5).

Maka ketika Ramadhan berakhir, kemenanganpun akan di dapat bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh mau mencapainya. Hari kemenangan tersebut adalah Hari Raya Iedul Fitri. Hari dimana manusia kembali ke fitrahnya yang bersih, jauh dari kesyirikan. Dengan kata lain, bulan Ramadhan adalah ibarat ujian akhir tahun bagi kaum Muslimin.

Namun seperti juga dalam semua lomba dan ujian/test, diperlukan persiapan yang baik jika memang sungguh ingin meraih kemenangan. Yaitu dengan melakukan  pemanasan di bulan Sya’ban ini.

Abu Bakr Al-Balkhi berkata, “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadan saatnya menuai hasil.”

Pada akhir bulan ini hutang puasa Ramadhan tahun lalu harus sudah tuntas dibayar. Pada bulan Sya’ban ini juga memperbanyak puasa dan sedekah, shalat di awal lengkap dengan shalat rawatibnya, mentadaburi ayat-ayat Al-Quran, meluruskan niat ibadah hanya untuk-Nya, serta perbuatan baik lainnya dibiasakan kembali, agar memasuki Ramadhan kita bisa memenangkan lomba dengan lebih mudah.

Para ulama terdahulu memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Di antaranya adalah Imam Hanafi (80-148 H) yang dikenal dengan nama Abu Hanifah, yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an 61 kali dalam satu bulan Ramadhan.

Tak heran bila hari inipun banyak Majlis Ta’lim yang meliburkan diri pada Ramadhan terutama pada 10 hari terakhir. Karena para ustad/ustadzahnya mengkhususkan diri berlomba untuk mengkhatamkan Al-Quran. Para ulama sepakat mengatakan Sya’ban ( dan juga bulan-bulan lain) untuk tadabbur Al-Quran sedangkan khusus Ramadhan berlomba mengkhatamkannya sebanyak mungkin.

Pandemi yang sudah lebih dari setahun berjalan ini pasti ada hikmahnya. Ramadhan tahun ini mungkin kita tetap belum bisa shalat tarawih maupun iktikaf di masjid. Namun dengan tetap tinggal di rumah kecuali ada keperluan mendesak, kita dapat maksimal menjalankan ibadah kita dengan lebih baik, bahkan kajianpun tetap bisa kita ikuti via online. Bukankah Rasulullahpun hanya 3 hari pertama shalat tarawih berjamaah di masjid karena khawatir dianggap sebagai kewajiban. Semoga Ramadhan tahun depan kita bisa kembali menjalaninya secara normal, tarawih berjamaah di masjid sebagaimana yang dianjurkan para khulafaur-rasyidin sebagai bagian dari syiar Islam.  

Akhir kata, semoga Allah Subhana wa Ta’ala memudahkan kita dalam  menjalankan seluruh amal ibadah kita, baik selama Sya’ban maupun setelah memasuki Ramadhan nanti, aamiin allahumma aamiin.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Maret 2021 / 9 Syaban 1442 H.

Vien AM.

Ayana Jihye Moon, adalah seorang muslimah asal Korea Selatan yang namanya cukup di kenal di kalangan muslimah, Indonesia dan Malaysia khususnya. Selebgram berparas cantik khas K-Pop ini pernah menjadi brand  ambassador Wardah, beberapa kali muncul sebagai tamu acara televisi, serta menjadi pembicara sejumlah kajian. Terakhir Ayana terlihat di Istora Senayan Islamic Book Fair (IBF) di JCC Jakarta pada acara peluncuran bukunya yang berjudul ‘Ayana Journey To Islam’. Kisah ke-Islaman gadis Korea kelahiran tahun 1995 ini memang menarik untuk diikuti. 

Ayana lahir dan besar di tengah keluarga ekonomi menengah atas yang tidak begitu peduli agama di sebuah kota di Korea Selatan. Ia mendengar adanya agama Islam pertama kali karena keluarganya sering membicarakan aksi teror 911 dan perang Amerika di Irak dan Afghanistan. Ketika itu usia Ayana baru 7 tahun. Namun ia juga mendengar bahwa kaum Muslimin berpuasa, shalat dan berjilbab. Kebetulan salah satu pamannya ada yang telah lama memeluk Islam. Hal yang amat sangat langka terjadi di negaranya. Islam adalah kaum minoritas dan tidak banyak orang mengenal agama ini. Rata-rata orang Korea Selatan adalah atheis.  

Untuk mengatasi rasa penasaran dan keingin-tahuannya yang begitu tinggi menjelang remaja Ayana sering googling. Hebatnya lagi karena ketika itu ia belum fasih berbahasa Inggris iapun menggunakan kamus untuk belajar memahami apa yang ingin diketahuinya. Selama beberapa tahun ia melakukan hal tersebut.  Berkat Googling pula Allah swt mempertemukannya dengan seorang profesor yang menguasai ajaran Islam.

Maka setelah dirasa cukup memahami konsep Islam, ditambah bantuan dari pamannya, pada usia 16 tahun akhirnya Ayanapun memeluk Islam. Namun sayang keinginannya untuk mengenakan hijab yang merupakan kewajiban bagi kaum Muslimah untuk sementara terpaksa ia singkirkan. Di negaranya tidak mungkin murid sekolah memakai hijab ke sekolah. Ayana ketika itu duduk di bangku sekolah menengah atas.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Menjelang lulus SMA orang-tuanya baru mengetahui bahwa putri mereka satu-satunya itu telah berganti keyakinan. Merekapun tidak mau lagi menanggung kehidupan finansialnya. Namun Ayana tidak mau menyerah meski menyadari pasti akan sangat berat. Apalagi ia ingin sekali meneruskan pendidikan ke yang lebih tinggi, yaitu berkuliah.

Saat itu aku tidak punya pilihan. Aku tahu orangtuaku tidak akan menanggung biaya kehidupanku jika aku pindah ke agama lain, atau menjadi ateis seperti mereka. Sehingga dengan situasi ekstrem seperti itu, justru menguatkanku. Aku lakukan apa yang bisa aku lakukan,” kenangnya.

Bahkan, sebelum aku pergi ke Malaysia, aku harus melakukan banyak sekali pekerjaan sampingan di Korea Selatan, seperti menjadi guru les matematika, menjual ikan kering di pasar, menjadi part-timer di restoran kecil, dan sebagainya. Meski begitu, alhamdulillah aku bisa dapat beasiswa penuh karena aku adalah siswa teladan,” tambahnya.

Berkat kegigihannya mempertahanlan ke-Islam-annya tak heran bila Allah Azza wa Jala memberinya jalan keluar. Apalagi Ayana memang seorang anak yang cerdas hingga berhasil mendapatkan beasiswa.  Dengan modal beasiswa dan tekad kuat pada tahun 2014 di usianya yang ke 19 tahun, Ayanapun meninggalkan negaranya menuju Malaysia. Sebelumnya ia sempat mempertimbangkan Mesir sebagai tujuan kuliah sambil memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Disana sudah pasti ia bisa memakai hijab, sesuatu yang diimpikannya.  Tapi karena situasi politik yang tidak memungkinkan ia memilih Malaysia sebagai gantinya.  

Sebagai gadis muda yang baru pertama kali hidup sendiri jauh dari orang-tua dan keluarga di negara dimana ia tidak mengenal seorangpun, tanpa restu dan bekal orang tua pula, dapat dipahami bila suatu ketika ia sempat mengalami kesulitan dan sempat nyaris putus asa. Ibunya bahkan khusus datang menjemputnya untuk membawanya pulang ke negaranya. Namun Allah subhana wa ta’ala kembali menyelamatkannya. Seorang kenalan instagramnya di Indonesia menawarkan pekerjaan sebagai bintang iklan kosmetika Wardah di Jakarta. Iapun langsung menerima tawaran tersebut.

Dan selama kontrak tersebut Ayana merasa ditrima dengan sangat baik. Ia banyak menerima undangan wawancara terutama tentang kisah ke-Islamannya. Ayanapun lebih tenang dan mendapatkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat goyah. Usai kontrak 1 tahun Ayana kembali ke Malaysia untuk melanjutkan kembali kuliahnya di program studi komunikasi. Ayana dapat merasakan betapa bedanya kehidupannya di Korea Selatan dengan di Malaysia dan di Indonesia.

Rasanya menyenangkan karena bisa menjalani shalat di mana pun. Aku bisa makan makanan halal, rasanya menyenangkan“. “Di Korea aku tidak bisa shalat di mana saja dan tidak ada makanan halal. Aku cuma bisa makan seafood, sangat sulit,” ujarnya.

Dalam pengakuannya, kini ia lebih bisa tersenyum, hidup lebih bermakna, dan selalu bersyukur. Hingga sang adik, heran dengan sifat kakaknya yang tadinya galak dan mudah marah berubah menjadi baik. Maka berita gembirapun datang. Aydin, adik satu-satunya dengan beda usia 8 tahun, pada tahun 2019 lalu mengikuti jejaknya memeluk Islam.

Dalam Instagramnya Ayana memamerkan foto diri dan adiknya yang menjalani Ramadhan di rumah mereka di Korea Selatan. Orang-tua mereka tampaknya sudah bisa menerima ke-Islaman keduanya.  

Ramadhan pertama kita yang sangat spesial, dia adalah satu-satunya yang selalu membuatku nyaman. Aku bertanya pendapatnya dalam segala hal. My very smart tutor and the best sister till Jannah,” tulis Aydin dalam keterangan fotonya.

Ayana juga memamerkan sebuah video bersama ibu dan adiknya di dalam sebuah masjid. Ibunya memang belum bersedia masuk Islam tapi Ayana sangat mengharapkan doa orang-orang yang melihat video tersebut.

“Ini adalah masjid tempat aku dan Aydin sering berkunjung. Aku berharap ibu akan lebih sering ke sini, Insya Allah, Aku harap,” ujar Ayana menutup videonya.    

Dalam salah satu wawancaranya, Ayana menceritakan rencana masa depannya.  Ia juga menjawab sebuah pertanyaan apakah ia sudah cukup merasa puas dengan aktifitasnya sebagai Selebgram yang memiliki lebih dari 3 juta followers. Ayana menjawab bahwa profesi tersebut hanya batu loncatan. Lingkungan keluarganya yang banyak berkecimpung dalam dunia politik menyebabkannya ikut tertarik memikirkan hal tersebut. Minimal ia ingin agar muslimah berhijab di negaranya bisa mendapat kemudahan dalam mencari pekerjaan dan kesetaraan.  

Aku ada rencana ingin melanjutkan jenjang pendidikan di bidang politik ke Inggris, setelah menyelesaikan pendidikan di Malaysia. Ada banyak cara aku berkontribusi bagi negaraku. Misalnya, membantu politisi dalam membuat kebijakan, tanpa harus terjun ke dunia politik,”, jelasnya.

Barakallah Ayana, semoga Allah swt senantiasa memudahkan perjalanan hidupnya. Semoga dapat menjadi inspirasi para muslimah yang terlahir Islam agar dapat menjadi muslimah yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.      

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Maret 2021.

Vien AM.

Note.

– Usia 7 tahun adalah usia seorang anak mulai kritis. Ia menjadi pemerhati segala kejadian yang dilihatnya. Oleh sebab itu orang-tua  harus waspada. Tak salah bila pada usia ini Islam mulai mengajarkan anak untuk shalat.

Ajarilah anak kalian mengerjakan salat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah ia jika telah mencapai 10 tahun ia mengabaikannya” (HR Abu Daud, Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan Ibn Khuzaimah). 

– Menjadi Islam sejak lahir adalah suatu anugerah yang harus disyukuri. Tentu kita sering mendengar bagaimana beratnya perjuangan menuju Islam seperti yang dialami Ayana di atas.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi”. Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim).

Mukjizat yang diberikan Allah subhanallah wa ta’ala kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya tidak hanya setelah Allah azza wa Jala mengangkat beliau sebagai nabi. Tapi juga sudah diberikan sejak nabi masih kecil, bahkan pada hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut beberapa kisahnya :

1. Jin Tidak Lagi Bisa Mencuri Berita.

Dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah di larang untuk naik”, berkata bangsa Jin. Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian di muka bumi, dari barat sampai timur, dan perhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya telah terjadi!

Mereka lalu menyebar. Setelah mengeliling bumi dari timur ke barat, sampailah mereka ke kota Mekah. Di sana tampak oleh mereka seorang bayi yang baru dilahirkan sedang dikelilingi para malaikat, dan memancar cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit, sedangkan para malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan yang lain.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Terjemah QS. Al-Azhab(33): 56).

“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”. ( Terjemah Al-Jin (72):9).

2. Bintang Besar Bercahaya.

Para ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) melihat bintang besar dan bercahaya seperti berlensa tepat di hari kelahiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam., sebelumnya bintang itu tidak pernah terlihat. Di antara mereka ada yang berseru, “Nabi penutup zaman sudah lahir”.

Ka’bul Akhbar ra berkata; “Saya telah melihat di dalam Taurat bahwa Allah ta’ala telah mengabarkan kepada Kaum Musa tentang saat keluarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya bintang tetap yang telah kamu ketahui itu, bila ia bergerak dari tempatnya menandakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keluar

3. Keberkahan menyelimuti keluarga Halim As Sa’diyah, ibu susu Rasulullah.

Sebelum menjadi ibu susu nabi, keluarga Halimah selalu dalam kesusahan. Bahkan air susu Halimahpun kering. Begitu pula kambing-kambing peliharaan mereka.

Namun begitu nabi tinggal bersama mereka mendadak keberkahan menyelimuti keluarga ibu susu Rasulullah tersebut. Air susu Halimah menjadi berlimpah hingga cukup tidak hanya untuk Muhammad yang ketika baru berusia beberapa bulan tapi juga bagi bayi Halimah As Sa’diyah dan Al-Harits, suami Halimah. Demikian pula kambing-kambing yang tadinya kurus kering tiba-tiba melimpah air susunya.  

4. Dilindungi awan.   

Ketika Muhammad berusia 12 tahun pernah diajak Abu Thalib paman beliau ke Syam untuk menjalankan perjalanan dagang. Namun di tengah perjalanan Bukhairah, seorang rahib Nasrani mengundang rombongan Abu Thalib untuk singgah di kediamannya. Pendeta tersebut mengundang mereka karena heran melihat awan yang senantiasa menaungi rombongan tersebut. Usut punya usut akhirnya terbukti bahwa awan tersebut mengikuti Muhammad kecil. Bukhairah juga akhirnya menemukan tanda kenabian yang terdapat pada pundak ponakan Abu Thalib tersebut sesuai yang tertulis pada kitab sucinya.

Bukahirapun lalu mengingatkan Abu Thalib agar segera kembali ke Mekah dan menjaga sang keponakan dengan baik karena ia meyakini bahwa semua nabi akan diganggu bahkan dicoba untuk dibunuh.      

Beberapa tahun kemudian Maysaroh budak lelaki yang pernah menemani Rasulullah ke Syam membawa dagangan Khadijah, juga merasakan awan yang selalu menaungi mereka selama perjalanan jauh tersebut.  Peristiwa tersebut tidak luput dari pengamatan Nestor pendeta Nasrani pengganti  Bukhairah yang kemudian juga mengingatkan Maysarah agar menjaga majikannya sebaik mungkin. Kejadian ini terjadi sebelum Muhammad menikahi Khadijah, jauh sebelum kerasulan.    

Begitulah sebagian mukjizat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, satu dari 5 ulul azmi ( nabi dan rasul yang paling diutamakan yaitu Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Nuh sholawatullah wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin) sekaligus nabi dan rasul terakhir.

Sayangnya mukjizat dasyat yang sengaja diberikan Allah subhanallah wa ta’ala kepada para manusia pilihan agar manusia mau mempercayai para utusan tersebut tidak membuat semua orang mau mengimaninya. Bahkan tidak sedikit orang yang mengalami dan melihat mukjizat para nabi terjadi di depan mereka tetap saja mereka dustakan.

Hal tersebut bukan hanya terjadi pada para nabi terdahulu tapi juga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya adalah orang-orang Quraisy Mekah termasuk para paman dan kerabat Rasul. Bahkan Abu Thalib paman nabi yang merawat nabi sejak kecil dan sangat menyayangi beliau. Meski sebenarnya di akhir hidupnya sangat ingin bersyahadat tetapi karena pengaruh dan tekanan orang-orang yang berada di sekelilingnya maka batal. Sungguh ironis …    

Hidayah memang milik Allah Yang Maha Tinggi, yang diberikan kepada yang Ia kehendaki. Namun tidak berarti manusia hanya bisa pasrah dan tidak berusaha menggapainya. Karena hidayah diberikan hanya kepada mereka yang menghendaki, yang berusaha mencari.       

Mungkin apa yang suatu hari dikatakan Syeikh Ali Jabber kepada sopir ojek online yang sering nongkrong di sekitar mesjid ada benarnya. Sopir tersebut menolak ajakan shalat sang ulama dengan alasan khawatir kehilangan peluang mendapatkan pelanggan yang datang ketika ia sedang shalat.

Kenapa g pasrah aja mas … rezeki kan sudah ditentukan?”, sindir Syeikh sambil tersenyum penuh arti.

Akhir kata, semoga kita yang hidup jauuuh dari zaman Rasulullah, tidak pernah melihat apalagi bertemu, mau mengimaninya dengan sebaik-baik iman. Karena sejatinya berbagai mukjizat di atas sifatnya adalah lokal, yaitu hanya bisa dilihat saat itu. Tidak seperti mukizat Al-Quranul Karim yang terasa hingga akhir zaman nanti.  

Sesungguhnya orang-orang yang paling menakjubkan keimanannya di mata Allah adalah mereka yang datang sepeninggalanku, lalu mereka beriman kepadaku dan mempercayaiku meski tidak pernah melihatku. Maka mereka itulah saudara-saudaraku”.  (HR. Bukhari).

Semoga kelak Allah subhanallah wa ta’ala membalasnya dengan sebaik-baik  dan setinggi-tinggi balasan.  

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. ( Terjemah QS. Al-Bayyinah (98):7-8).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Maret 2021.

Vien AM.

7. Air sedikit menjadi banyak.

Dalam sebuah perjalanan, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya kehabisan bekal air. Padahal tidak ada air di sekitar mereka. Tak lama mereka bertemu seorang perempuan yang membawa sedikit air. Lalu  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kantung air milik perempuan tersebut. Kemudian para shahabat yang kehausan itu meminumnya. Jumlah mereka 40 orang. Setelah puas minum, mereka mengisi kantung air masing-masing hingga juga penuh.(HR. Al-Bukhari, no. 3571).

8.Berbicara dengan unta.

Dari Abdullah bin Ja’far ra, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam kebun salah seorang laki-laki Anshar. Tiba-tiba di tempat itu ada seekor unta . Ketika Rasulullah  melihatnya, unta itu merintih dan bercucuran air matanya. Rasulullah kemudian mendatangi unta itu seraya mengusapnya dari perut sampai ke punuh dan tulang telinga unta itu hingga menjadi tenanglah unta itu. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Siapakah pemilik unta ini ?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata : “Unta itu milikku, wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda pula : “Tidakkah engkau bertaqwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah. Binatang ini telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar disebabkan membebani punggungnya dengan beban yang terlampau berat”. (HR. Ahmad & Abu Dawud).

9. Makanan sedikit cukup untuk orang banyak.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lemas karena menahan lapar. Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu yang mendengar hal itu akhirnya menemui istrinya. Abu Thalhah dan istrinya berniat mengundang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk makan.

Singkat cerita, Abu Thalhah dan istrinya ternyata hanya memiliki makanan yang sedikit. Padahal Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak banyak sahabat untuk ikut makan di rumah Abu Thalhah. Abu Thalhah menjadi cemas; makanan sedikit apakah cukup untuk menjamu tamu sebanyak itu? Dengan perasaan gundah pasangan suami istri tersebut hanya bisa pasrah menyambut kedatangan Rasulullah beserta para sahabat. Sebelum acara makan dimulai, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan makanan yang dihidangkan. Setelah itu para tamu diminta makan bergantian. Yang pertama makan adalah 10 sahabat. Lalu, 10 sahabat berikutnya, kemudian 10 sahabat berikutnya, begitu seterusnya.

Akhirnya semua sahabat yang datang itu makan sampai kenyang, sedangkan jumlah mereka waktu itu 70 atau 80 orang. Setelah itu, barulah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga Tholhah makan pula hingga kenyang pula. (Sumber: H.r. Al-Bukhari, no. 3385; Muslim, no. 2040)

10. Berbicara dengan jin dan mengikatnya.  

Dalam sebuah Hadist dikisahkan bahwa suatu hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak memasuki masjid, terlihat iblis sedang melongok-longok di sisi pintu masjid.

Wahai Iblis apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Maka iblis itu menjawab, “Aku hendak masuk masjid dan akan merusak shalat orang yang sedang shalat ini, tetapi aku takut pada lelaki yang tengah tidur ini.

Lalu Nabi berkata, “Wahai Iblis, kenapa kamu bukannya takut pada orang yang sedang shalat, padahal dia dalam keadaan ibadah dan bermunajat pada Tuhannya, dan justru takut pada orang yang sedang tidur, padahal ia dalam posisi tidak sadar?” Iblis pun menjawab, “Orang yang sedang shalat ini bodoh, mengganggu shalatnya begitu mudah. Akan tetapi orang yang sedang tidur ini orang alim (pandai).”

Dalam riwayat lain, dari Muhammad bin Ja’far dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang bersabda, “Sesungguhnya Ifrit dari kalangan jin tadi malam telah datang kepadaku dan berusaha mengganggu shalatku, tetapi Allah memberiku kemampuan untuk mengalahkannya. Aku ingin mengikatnya di salah satu pilar masjid, agar pada waktu subuh kalian dapat melhatnya, tetapi aku teringat kata-kata saudara Sulaiman, (seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an), ‘Ya Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah aku kerajaan yang tiada seorang pun sesudahku patut memilikinya.’ (Shad: 35)”. Lalu berkata, “Kemudian beliau mengusirnya dalam keadaan hina.” (HR Al-Bukhari).

11. Dapat melihat orang yang disiksa dalam kubur.

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, Nabi saw pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau berkata; “Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar melainkan karena dia tidak menyucikan diri dari kencingnya, sedangkan yang lain karena suka mengadu domba.”

Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Masing-masing ditancapkannya di dua kuburan tersebut. Para sahabat lantas bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?” Beliau bersabda, “Semoga diringankan siksa kubur keduanya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Bukhari).

Saat itu pula, ketika Rasulullah berjalan, tiba – tiba saja awan menaungi beliau. Rahib pun semakin yakin dengan kenabian Muhammad SAW. Di Syam

12. Hilang dari pandangan manusia.

“ Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat”.(QS.Yasin(36):9 ).

Riwayat menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum meninggalkan kamar menaburkan pasir ke muka orang-orang kafir Quraisy yang ketika itu ditugaskan mengawasi Rasulullah dan berjaga di depan kamar beliau sambil membaca ayat di atas.

Peristiwa tersebut terjadi pada malam Rasulullah secara diam-diam  meninggalkan rumah beliau di Mekah untuk menuju Madinah demi meloloskan diri dari pembunuhan yang telah direncanakan secara matang oleh pejabat-pejabat Mekah yang sangat memusuhi Islam. Beberapa hari kemudian ketika Rasulullah yang ditemani Abu Bakar bersembunyi di dalam gua para pengejarnya kembali tidak berhasil menemukan mereka berdua. Padahal para pengejar tersebut telah berdiri tepat di depan gua.  Dengan kuasa Allah Azza wa Jala gua yang baru dimasuki keduanya tiba-tiba tertutup sarang laba-laba. Seekor burung besar berjaga di mulut gua.

13. Mengetahui berbagai berita gaib.

Ketika terjadi Perang Mu’tah, komandan pasukan perang yang ditunjuk  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memimpin pasukan muslimin terbunuh. Yang pertama terbunuh adalah Zaid bin Haritsah. Setelah Zaid terbunuh, komandan pasukan digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Kemudian, Ja’far bin Abi Thalib juga terbunuh. Sebelum kematian dua komandan itu sampai ke Madinah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan kematian Zaid bin haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib kepada para shahabatnya. Inilah salah satu mukjizat  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam; Allah beri wahyu kepada beliau tentang berita gaib. (Sumber: H.r. Al-Bukhari,  no. 3630)

14. Berbagai hadist nabi yang terbukti benar belakangan ini baik karena terbukti terjadi maupun yang  sesuai ilmu pengetahuan, kedokteran dan sains.

Contohnya adalah tentang jatuhnya Konstatinopel pada 1453 M atau 7 abad setelah prediksi nabi. Kemudian manfaat berpuasa 3 hari dalam sebulan, manfaat habatus sauda ( Jintan hitam), cara tidur dan makan nabi, terakhir bahkan cara menghadapi pandemi dengan cara karantina seperti yang saat ini sedang melanda dunia yaitu covid 19, terlepas  adanya teori konspirasi ataupun tidak.

“Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Khattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu Umar bin Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR Bukhari dan Muslim).

15. dan masih banyak lagi.

Bersambung.