Feeds:
Posts
Comments

Gaza dan Board of Peace.

Board Of Peace adalah sebuah badan internasional keamanan yang dari namanya terdengar meneduhkan. Dalam laporannya badan ini dibentuk dengan tujuan khusus untuk membangun Gaza yang porak poranda paska genosida yang dilakukan Israel selama 2 tahun sejak 7 Oktober 2023 hingga dicapainya genjata senjata pada 10 Oktober 2025 dan telah menewaskan lebih dari 67 ribu orang meninggal. Selanjutnya badan ini mengeluarkan piagam yang harus ditanda-tangani para kepala Negara sebagai tanda persetujuan kesediaan menjadi salah satu anggotanya. Termasuk yang dilakukan presiden kita Prabowo di Davos, Swiss pada Kamis (22/1/2026).

Sayangnya pencetus lahirnya badan ini adalah Donald Trump, presiden AS sekutu dekat Israel yang selama ini selalu memveto apapun yang berhubungan dengan keselamatan dan kemerdekaan Palestina. Aneh bukan??? Apalagi ditengah genjatan senjata yang hampir setiap hari selama 3 bulan tersebut selalu dilanggar Israel hingga menambah korban meningkat menjadi lebih dari 70 ribu korban meninggal !!.

Tak dapat dipungkiri orang no 1 AS ini memang suka sekali melakukan hal-hal kontroversial. Penculikan Nicolas Meduro, presiden Venezuela, di kediamannya di Caracas ibu kotaVenezuela ini terjadi pada 3 Januari 2026 lalu. Tragedi yang menelan korban tewas 83 orang, termasuk 47 pasukan keamanan presiden ini benar-benar telah melanggar kedaulatan sebuah Negara merdeka.

Pada saat yang sama, Trump juga melontarkan ancaman serupa kepada Gustavo Petro, presiden Kolombia yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sekutu dekat dalam perang melawan narkotika. Berkali-kali Trump juga mengungkapkan keinginan menggebunya membeli paksa Green Land,  pulau terbesar di dunia milik Canada, tetangga terdekatnya, yang subur dan kaya sumber daya alam.          

Belum lagi ancamannya presiden AS tersebut untuk campur tangan di Iran dengan dalih persoalan nuklir dan tuduhan mengenai penindasan mematikan terhadap demonstran padahal belum terbukti benar. Disamping itu Trump juga membuat keputusan kenaikan tarif import barang dari Negara lain yang membuat banyak negara terbelalak karena dinilai memberatkan.

Di dalam negri ulah Trump juga membuat rakyatnya gelisah, diantaranya berkenaan dengan harga-harga yang terus naik dan masalah keimigrasian. Beberapa waktu lalu petugas imigrasi telah menembak mati 2 orang warganya serta menangkap seorang bocah imigran usia 5 tahun yang akhirnya memicu demonstrasi besar-besaran di negri paman Sam tersebut. Dan untuk yang kesekian kalinya isu pemakzulan Trump berkembang.

Isu mengenai kondisi kejiwaan Donald Trump telah beredar beberapa saat setelah ia dilantik menjadi presiden Amerika Serikat. Sedikitnya ada 10 hal terungkap dalam buku berjudul “Fire and Fury: Inside the Trump White House”, karya jurnalis Michael Wolff. Terakhir, pada acara penghargaan musik Grammy Awards, sejumlah artis mengenakan pin anti-ICE (Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS). Sementara beberapa pemenang penghargaan di atas panggung secara terbuka mengkritik berbagai kebijakan dan prilaku presiden mereka.

Termasuk host acara bergengsi tersebut, yang melontarkan lelucon yang menyinggung hubungan Trump dengan Jeffrey Epstein. Jeffrey Epstein adalah seorang  milyarder sekaligus pelaku perdagangan kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang mengguncang Amerika Serikat dan menarik perhatian dunia karena banyak melibatkan tokoh ternama. Akibatnya Trumppun mengancam akan mengejar host acara tersebut agar mempertanggung-jawabkan lelucon yang ia anggap tidak benar.

Kembali pada isu Palestina, Gaza khususnya. Pada Ahad (31/8/2025) surat kabar terkenal AS, Washington Post, melaporkan adanya proposal  “Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust”, atau GREAT, yang berisi tentang rencana gila Trump untuk menyulap Jalur Gaza menjadi pusat wisata.

https://www.antaranews.com/berita/5078313/trump-siapkan-skema-relokasi-gaza-dengan-token-digital-dan-subsidi

Dalam proposal setebal 38 halaman tersebut disebutkan ia akan mengelola Gaza selama setidaknya 10 tahun, membangunnya kembali menjadi resor wisata dan pusat manufaktur. Dan bahwa  warga Gaza akan ditawarkan iming-iming US$5.000 ( setara Rp82 juta ) untuk keluar dari Gaza secara sukarela dan akan dirancang agar terlihat seperti “sukarela”.  

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250901174522-120-1268955/rencana-gila-trump-bikin-gaza-pusat-wisata-warga-diimingi-rp82-juta.

Sebagai imbalan, Israel bakal mendapatkan sebagian Tepi Barat dimana berdiri di dalamnya Masjidil Aqsho, masjid ke 3 tersuci umat Islam. Dan memang saat ini pemerintah Israel telah mengeluarkan berbagai peraturan yang menandakan pencaplokan Tepi Barat sedang berlangsung. Itu sebabnya penyerbuan tentara Israel ke banyak kota di Tepi Barat terus meningkat. 

Rencana tersebut amat sangat sejalan dengan seruan Trump pada Mei 2025 yang menyebut akan membuat Gaza jadi resor mewah Riviera Timur Tengah. Hebatnya lagi, rencana tersebut digadang-gadang akan menghasilkan keuntungan tanpa menggunakan dana pemerintah AS. Dengan demikian tak perlu kita heran mengapa tiap peserta piagam Board of Peace buatan Trump diminta membayar 17 triyun rupiah !   

Tentu saja hal tersebut memicu protes banyak orang dan pihak di Indonesia termasuk MUI dan banyak tokoh-tokoh penting seperti diplomat Dino Patti Jalal yang meminta Prabowo agar tidak memenuhinya. Masalahnya tidak hanya iuran sebesar itu, apalagi saat ini dengan banyaknya bencana yang menimpa negri ini. Tapi juga siapa sebenarnya yang akan menikmati uang yang akan digunakan untuk membangun Gaza tersebut, betulkah rakyat Gaza??? Benarkah kota ala Barat modern dimana gedung pencakar langit bertebaran, pantai yang tadinya tenang dan damai disulap menjadi dengan resor yang dijejali bule-bule berbikini akan membuat rakyat Gaza senang dan bahagia??

Jika memang demikian impian mereka mengapa mereka rela berperang mati-matian mengorbankan begitu banyak anggota keluarga, rumah, sekolah,masjid, rumah sakit, kantor dll hancur lebur demi mempertahankan tanah air mereka??  Gaza adalah tanah milik bangsa Palestina. Mengapa tiba-tiba ada orang asing masuk, seenaknya membuat rencana pembangunannya lalu mengajak orang lain untuk berpartisipasi, bahkan ikut saweran tanpa pihak tuan rumah dilibatkan??  

Bukankah saat ini genjata senjata tahap ke 2 sedang berlangsung, ntah gencatan senjata yang keberapa dalam 2 tahun terakhir ini. Tahap yang semestinya pemerintahan transisi sedang dibentuk. Hamas yang telah memerintah wilayah tersebut sejak 2007 bahkan sudah bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Otoritas Palestina yang selama ini mengelola Tepi Barat, namun setelah mengalami reformasi nanti.  Meski Hamas tidak bersedia menyerahkan senjata sebelum pemerintahan Palestina benar-benar terbentuk demi mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkan. Sesuatu yang sangat wajar mengingat Israel yang terbukti sering melanggar janji dan memang jelas-jelas berniat mencaplok tanah Palestina secara keseluruhan.  

Dalam perjanjian genjata senjata yang ditanda-tangani AS, Qatar dan Turki tersebut juga disebutkan tidak akan ada warga Palestina yang akan dipaksa meninggalkan Gaza, mereka yang ingin pergi akan bebas kembali. Jadi bagaimana mungkin piagam BoP bisa muncul di tengah suasana demikian.

Tak heran bila kemudian Negara-negara Barat sekutu AS menolak bergabung dalam badan tesebut dengan alasan rakyat Palestina berhak menentukan nasibnya sendiri bukan didikte pihak lain. Alasan yang sama dengan Negara tetangga kita, Malaysia, yang menolak bergabung. Hal yang sungguh patut diacungi jempol. Lebih lanjut Negara-negara yang menolak begabung tersebut juga mengganggap bahwa BoP mengangkangi PBB. Meski PBB sendiri selama ini tidak berdaya menghadapi ulah Israel yang selalu didukung AS. Saat ini hanya AS satu-satunya Negara pemegang veto yang memveto kemerdekaan Palestina. Inggris belakangan mendukung kemerdekaan Palestina. Sementara PM Israel Netanyahu berkali-kali terang-terangan menolak mentah-mentah. Anehnya lagi Israel masuk sebagai anggota BoP, sedangkan Palestina tidak.

Jadi sungguh miris mendengar  presiden kita dengan lantang dan percaya diri malah berpidato di depan majlis internasional bahwa Israel harus dilindungi bila Palestina ingin mendapatkan kemerdekaannya. Bahkan hingga dua kali hal tersebut disampaikan dalam forum internasional yang sudah barang tentu langsung mendapat pujian dari Trump maupun Netanyahu.  

Menyadari gelombang protes banyak pihak, Prabowopun segera mengundang sejumlah ormas dan tokoh yang tidak setuju dengan tindakannya tersebut. Hasilnya, usai pertemuan menteri agama Nasaruddin Umar yang sebelumnya menjabat imam besar Istiqlal dan pernah menghebohkan umat karena kedekatannya dengan Israel mengumumkan bahwa 16 ormas termasuk MUI, Muhammadiyah dan NU telah merubah pendirian menjadi setuju meski dengan opsi harus dapat keluar bisa ternyata tidak sesuai tujuan utama yaitu kemerdekaan Palestina. Nasaruddin bahkan berani menyamakan tindakan Prabowo tersebut dengan perjanjian Hudaibbiyah yang tentu saja membuat umat geleng-geleng kepala.    

Sontak Muhammad Gaza seorang ustad muda yang konsiten berjuang untuk Palestina dan sempat lama tinggal di Gaza bahkan menikahi gadis setempat mengingatkan adanya upaya adu domba rakyat Indonesia antara yang pro dan kontra BoP. Dan ini sudah terbukti dengan dibullynya ustad Felix Siaw, ustad yang sejak awal konsisten membela Palestina. Untuk diingat, di negri yang katanya mayoritas Muslim ini Yahudi pesek memang cukup banyak.

Syukur Alhamdulillah berita terbaru mengabarkan bahwa Muhammadiyah meminta pemerintah untuk menunda keanggotaan di BoP. Ini dikemukakan setelah mempelajari lebih dalam isi BoP yaitu bahwa Trump adalah ketua BoP seumur hidup dan hanya ia satu-satunya pemegang hak veto. Semoga ormas lain segera menyusul dan Prabowo mau mendengar sebelum terlanjur mengirimkan 8000 pasukan ke Gaza.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imron (3):54).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 12 Februari 2026/ 24 Sya’ban 1447H.

Vien AM.

Di jantung negara bagian Texas, Amerika Serikat, di sebuah kota kecil yang seluruhnya beragama Kristen dan hampir tidak ada seorang pun yang tahu tentang Islam, hidup seorang pemuda bernama Robert DuVilla. Ia tinggal di sebuah panti asuhan Kristen.

Robert mengalami kecelakaan mobil dahsyat yang membuatnya lumpuh total dari leher ke bawah. Ia hanya dapat mengendalikan tubuhnya dengan mata dan lidahnya, dan bergantung pada komputer yang dikendalikannya dengan perintah suara untuk menjelajah dan berkomunikasi secara daring. Robert adalah seorang Kristen yang taat dan berpendidikan yang bersyukur kepada Tuhan atas karunia kehidupan meskipun memiliki cacat fisik yang parah. Namun, ia mencari jalan yang lebih dekat kepada Tuhan, jadi ia berterima kasih kepada Tuhannya dan menerima kehendak-Nya.

Kemudian datanglah penglihatan yang mengubah segala nya. Ia melihat dalam mimpinya,seorang pria yang berkata kepadanya: “Allah tidak mengutus para utusan untuk disembah selain Dia, melainkan Dia mengutus mereka agar manusia menyembah Allah semata. Yesus, semoga kedamaian menyertainya, adalah seorang nabi manusia yang makan, minum, dan perlu menggunakan kamar mandi seperti manusia lainnya. Dia bukanlah tuhan, tetapi seorang utusan dari Tuhan Semesta Alam”.

Robert terbangun dan menyadari bahwa pria dalam mimpinya adalah Nabi Muhammad ﷺ. Ia segera menggunakan perintah suara untuk membuka Google dan mencari “Muhammad, Rasulullah.” Di sana, ia menemukan Islam. Dia membaca tentangnya, menonton debat dan ceramah dari para pendakwah Amerika, dan mengikuti ceramah Syekh Noman Ali Khan, yang diikuti oleh jutaan orang di seluruh dunia (seorang pendakwah Amerika keturunan Pakistan, pendiri Institut Bayyinah untuk pengajaran Al-Quran dan bahasa Arab).

Dengan kesederhanaan yang menakjubkan, Robert masuk Islam sendirian di dalam rumah, melafalkan dua kalimat syahadat tanpa benar-benar bertemu dengan seorang Muslim pun, dan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Ia mulai belajar bahasa Arab secara otodidak, menghafal Surah Al-Fatihah dan kemudian sepuluh surah pendek lainnya, dan mulai melafalkan Al-Qur’an dengan suara yang jelas meskipun lumpuh.

Suatu hari, ketika ia sedang membaca Surah Al-Asr dengan suara lantang: “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, yang saling menasihati dalam kebenaran, dan yang saling menasihati dalam kesabaran.”

Seorang pekerja perawat asal Mesir di gedung itu mendengar suaranya. Pemuda ini telah menjauhkan diri/murtad dari Islam dan memeluk gereja, jadi dia terkejut mendengar Al-Quran di tempat yang tidak pernah dia duga.

Dia mendekat dan bertanya kepada Robert, “Apa yang sedang kamu dengarkan?

Robert menjawab: “Saya tidak mendengarkan… Saya yang membaca.”

Pemuda Mesir itu bertanya kepadanya: “Apakah Anda seorang Muslim?

Robert berkata: “Ya, saya masuk Islam.

Robert menceritakan seluruh kisahnya: visi untuk mencari Islam, dan komitmennya pada Al-Quran dan salat meskipun memiliki keterbatasan fisik. Pemuda Mesir itu sangat terpengaruh, sehingga ia kembali kepada agamanya dan memeluk Islam serta menjadi teman dekat Robert. Dia senantiasa duduk bersamanya, mengajarinya, dan berdoa kepada Tuhan agar mengabulkan keinginan Robert untuk bertemu dengan Sheikh Noman Ali Khan, yang sangat dicintai dan diidolakan Robert.

Alhamdulillah… Setelah beberapa saat, pemuda Mesir itu datang ke sebuah masjid tempat Syekh Numan datang untuk memberikan khutbah. Setelah salat Jumat, pemuda Mesir itu menceritakan seluruh kisahnya kepada Syekh Numan, dan ia berkata kepadanya: “Saya rasa Allah telah mengabulkan doa Robert dan doa saya.”

Syekh Nauman Khan memutuskan untuk segera mengunjungi Robert. Dia pergi bersama tim dari Bayna Institute ke panti jompo dan bertemu Robert, dan ia sangat gembira. Robert diminta untuk membacakan sebuah surah, lalu ia membacakan Surah Al-Asr dengan suara merdunya… dan semua orang menangis, air mata mengalir di wajah mereka.

Kemudian, Robert bersikeras untuk pergi ke salat Jumat di masjid untuk pertama kalinya. Ia merasakan sakit di tulang punggungnya karena guncangan di jalan dan iapun diberitahu bahwa ia tidak akan bisa menggunakan kursi roda selama berbulan-bulan, tetapi ia berkata: “Saya tidak pernah merasa setenang ini dalam hidup saya seperti saat berada di masjid. Nanti setelah sembuh, saya akan kembali melaksanakan salat Jumat setiap minggu, karena saya belum pernah merasakan ketenangan batin seperti ini sebelumnya.”

Syekh Nouman Ali Khan berkata tentang Robert: “Saya belum pernah melihat wajah yang secerah dan setenang wajahnya. Robert benar-benar puas dengan hidupnya, sangat bahagia. Tujuh atau delapan pidato terakhir saya berkisar pada sebuah kata yang dia ucapkan. Robert adalah guru saya, syekh saya… Jika seseorang bertanya siapa syekh saya, saya akan menjawab: Robert Duvilla.”

Kisah ini membuktikan bahwa Allah membimbing siapa pun yang Dia kehendaki, bahkan jika mereka berada dalam kesendirian dan ketidakberdayaan yang paling besar, dan bahwa Islam menyentuh hati dengan cara yang paling sederhana…

Segala puji bagi Dia yang menjadikan orang lemah sebagai alasan untuk membimbing orang lain, dan menjadikan orang cacat sebagai inspirasi bagi orang sehat. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.

Robert Devila, ia meninggal dunia pada Juli 2022.

Kami memohon kepada Allah agar mengampuninya, mengasihaninya, dan menganugerahinya taman-taman yang luas di Surga, serta menganugerahi kami dan Anda keteguhan dalam agama-Nya, agama Islam.

Wallahu’alam.

Jakarta, 11 Februari 2026.

“Life begins at 40”.

“Life begins at 40” yang diartikan dalam bahasa Indonesia dengan “hidup dimulai pada usia 40” adalah pepatah Barat yang tidak asing di telinga kita. Ini untuk menggambarkan bahwa orang di usia 40 mulai matang, siap memasuki tahapan yang stabil baik secara finansial maupun emosional. Menandakan pada usia inilah karier seseorang mulai menanjak pesat.  

Namun siapa sangka ternyata pepatah Barat diatas sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana ayat 15 surat Al-Ahqof berikut :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, “ … … sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai EMPAT PULUH TAHUN ia berdo`a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang di usia 40 akan mengalami kematangan jiwa. Ia baru menyadari betapa banyak nikmat yang Allah swt telah ia dapatkan. Mulai dari nikmat dalam perut ibu yang telah mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan ( dalam kandungan antara 6-9 bulan dan menyusui maksimal 24 bulan) hingga ia dewasa menikah dan mendapat keturunan. Untuk itu maka ia bertobat dan memohon petunjuk kepada Sang Pencipta bagaimana cara mensyukuri nikmat tersebut.    

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-’Adhim (7/280) berkata, “Umur 40 tahun adalah umur dimana akal seseorang menjadi sempurna, pemahamannya lebih matang dan cenderung lebih bijak”. 

Tak heran bila Allah swt mengangkat nabi Muhammad ﷺ  menjadi rasul pada usia 40 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan, selain kematangan finansial dan emosional, kematangan spritualpun dialami oleh orang di usia 40.

Usia 40 tahun adalah usia yang istimewa dan mengandung banyak rahasia maupun hikmah. Pada usia 40 biasanya seseorang telah berkeluarga dan memiliki anak usia remaja, sementara kedua orangtuanyapun kemungkinan besar masih ada. Hingga dengan demikian dalam waktu bersamaan ia memiliki dua generasi yang menjadi tanggung jawabnya. Yaitu anak dan dua orang tua.

Tanggung jawab yang cukup berat, karena seperti kita ketahui bersama anak usia remaja dalam rangka mencari jatinya adalah usia yang penuh tantangan. Sering kali anak suka memberontak dan melawan perintah dan keinginan orang-tua. Saat itulah ia akan teringat betapa sulitnya dulu kedua orang-tua mendidiknya.

Sementara orangtua yang sudah lanjut usia dan sudah pensiun, bisa jadi selain membutuhkan bantuan keuangan juga menginginkan perhatian lebih. Sedangkan ia sendiri sedang menuju puncak karier yang pasti memerlukan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.   

Maka tak heran bila kemudian ia tersadar bahwa ia butuh “sesuatu” yang mampu membantunya menyelesaikan permasalahannya. Itulah kebutuhan spiritual. Itu sebabnya para ulama sepakat bahwa usia 40 tahun dapat menentukan masa depan seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Bila ia bertobat dan segera memperbaiki kesalahannya, ia akan selamat. Sebaliknya bila ia tetap dalam keburukan dan kesesatannya, celakalah ia … Na’udzu billah min dzalik …

Ibnu ‘Abbās berkata, “Barang siapa telah mencapai umur 40 tahun, sedangkan perbuatan baiknya belum dapat mengalahkan perbuatan jahatnya, maka hendaklah ia bersiap-siap untuk masuk neraka.”

Diriwayatkan dari al-Qasim bin ‘Abdurrahman bahwa ia bertanya kepada Maruq, “Kapan seseorang dihukum karena dosa-dosanya?” Beliau berkata, “Jika anda sudah sampai umur 40 tahun, maka berhati-hatilah.”

Berkata al-Hajaj bin ‘Abdullah al-Hakami, salah satu Amir bani Umayah di Damaskus, “Saya meninggalkan maksiat dan dosa selama 40 tahun karena malu kepada masyarakat. Setelah itu, saya meninggalkan maksiat dan dosa, karena malu kepada Allah.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi periode kehidupan manusia dalam 4 (empat) periode, yaitu: 1. periode kanak kanak/thufuliyah (mulai lahir hingga baligh), 2. periode muda/syabab (mulai dari usia baligh sampai 40 tahun), 3. periode dewasa/kuhulah(40 tahun sampai 60 tahun) dan 5. periode tua/syaikhukhah(60-70 tahun).

Dengan kata lain, usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa kecil dan mudanya, dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa madya (paruh baya) atau kuhulah. Situasi kejiwaan yang paling menarik pada usia 40 tahun adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama/spiritualisme dibanding masa-masa sebelumnya. Para pakar psikologi menyebutnya sebagai “least religious period of life”. Usia 40 tahun merupakan titik balik untuk introspeksi dan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan yang positif tidak hanya demi masa depan dunianya tapi juga untuk bekal kehidupan di akhirat kelak.

Kabar baiknya lagi bila seseorang telah mencapai usia 40 segera bertobat dan istiqomah melakukan kebaikan maka ketika di hari tuanya  ia tidak lagi mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang biasa dilakukannya, mungkin karena sakit, pikun dll, maka Allah swt tetap mencatat kebaikan tersebut.

Ditambah lagi ketika ia meninggal nanti jika semasa hidupnya ia melakukan 3 hal yaitu sadaqah jariyah ( seperti membangun masjid yang selalu ramai digunakan, menanam pohon yang bermanfaat, membuat pompa air, dll), ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya maka pahalanya akan terus ia dapatkan.

“Apabila manusia meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim dari Abū Hurairah).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Januari 2026.

Vien AM.

Waktu adalah uang, adalah terjemah pepatah Barat “Time is Money” yang sangat sering kita dengar. Bagi kebanyakan orang pepatah ini terlihat baik karena intinya adalah jangan pernah suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan, hendaklah dalam hidup kita menghargai waktu, dan lain sebagainya.

Namun bila diperhatikan lebih mendalam, yaitu dengan membandingkan waktu dengan uang, maka akan terlihat betapa materialistisnya pepatah tersebut. Cerminan nyata bahwa orang Barat sangat mengagungkan materi (uang). Hal yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Bandingkan dengan pepatah Arab “Al-Waqtu Kassaifi” yang artinya  waktu laksana pedang. Pepatah ini sangat sesuai dengan surat ke 111 dalam Al-Quranul Karim yaitu Al-Ashr yang artinya adalah waktu. Surat tersebut mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperhatikan keberadaan waktu.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Setiap manusia, beragama atau tidak beragama, percaya atau tidak percaya akan keberadaan Tuhan, pasti menyadari dan yakin bahwa suatu saat nanti akan mati. Artinya ia tahu bahwa hidup itu terbatas waktunya. Bedanya dengan orang beragama, orang tidak beragama tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa hidup bukan hanya di dunia. Itu sebabnya orientasinya hanya seputar duniawi alias materialistis. Sedangkan orang beragama pasti yakin adanya kehidupan setelah mati, itulah kehidupan akhirat.

Dalam Islam, hidup di dunia adalah ladang amal yang hasilnya tidak hanya dinikmati di dunia tapi terlebih lagi di akhirat. Kehidupan di dunia hanya sementara dan sangat singkat. Sedangkan di akhirat jauh lebih kekal.

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Terjemah QS.Al A’laa (87): 16-17).      

Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya berlomba dengan waktu, memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat segala macam dan bentuk kebaikan. Kebaikan tersebut tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi orang lain, hewan dan tumbuhan. Termasuk juga mengingatkan dan mengajak orang lain untuk berbuat baik.

Dan uniknya semua itu atas landasan iman karena tidak semua kebaikan itu benar. Kebaikan yang benar adalah yang sesuai pandangan Sang Pencipta bukan pandangan kelompok, golongan, bangsa atau suku tertentu. Islam juga memerintahkan untuk tidak berhenti dalam kebaikan, untuk terus berusaha dan bekerja.           

 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS al-Insyirah [94]: 7).

Secara lengkap pepatah Arab diatas bunyinya adalah  “Al-Waqtu Kassaifi, Al-Waqtu Ka as-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka”, artinya waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu”.

Imam Syafi’i berkata, “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”.

Sebagaimana pisau, pedang adalah benda penting dan bermanfaat tapi tergantung penggunaannya. Di tangan yang benar ia sangat bermanfaat tapi di tangan yang tidak benar ia sangat berbahaya. Maknanya, jangan pernah sia-siakan waktu karena ia yang akan memotongnya kita jika kita tidak memotongnya.

Umur panjang yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan tidak hanya sia-sia namun juga bisa memasukannya ke api neraka bila digunakan untuk bermaksiat. Sebaliknya umur pendek tapi sarat kebaikan akan mengantarkan ke surga. 

Waktu diibaratkan bagai pedang karena sifat pedang yang cepat bagaikan kilat. Waktu sangat cepat berlalu maka jangan pernah menunda-nunda pekerjaan dan kesempatan.

… … Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu“. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):47).

Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. at-Tirmidzi).

Artinya, rata-rata umur biologis (umur yang dihitung berdasarkan kelahiran ke dunia) umat Islam bila dibandingkan dengan waktu akhirat hanya 1.5 jam. Meski tidak mustahil umur hakiki (umur kebaikan) seseorang bisa lebih panjang dari umur biologisnya. Itulah amal jariyah, amal kebaikan yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya bisa dirasakan orang lain, meski ia telah meninggal dunia. Contohnya ilmu yang bermanfaat, sedekah pembangunan masjid, sedekah air dll.

Waktu tidak akan pernah berputar ke belakang, ia akan terus maju menggerus apapun yang ada di hadapan kita. Oleh sebab itu jangan ceroboh dalam bertindak. Itu pentingnya mencari ilmu sebanyak  mungkin supaya tidak salah dalam bertindak. Dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu akhirat (agama) yang akan menuntun bukan malah menyesatkan. Jangan sampai menyesali perbuatan yang tanpa dipikirkan terlebih dahulu, karena nasi telah menjadi bubur sebagaimana ayat 38-40 surat An-Naba’ berikut,   

38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

039. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

040. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Kembali kepada pepatah Barat “ Time is Money” atau “Waktu adalah uang”, Islam bukannya melarang umatnya menjadi kaya. Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah contoh sahabat dekat Rasulullah yang kekayaannya berlimpah-ruah. Namun kekayaannya bukan ditujukan semata untuk memperkaya diri melainkan disumbangkan untuk kepentingan umat.

Ustman dan Abdurrahman adalah dua sahabat yang dijamin surga. Keduanya bukan hanya dikenal sebagai ahli ibadah tapi juga ahli sedekah. Jauh sebelum menjadi khalifah, dengan hartanya Ustman bin Affan membeli sumber air milik  Yahudi untuk kepentingan umat Islam. Sementara Aburrahman bin Auf tanpa ragu menginfakkan 500 ekor unta, 1.500 unta serta 40.000 dinar untuk keperluan jihad.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

 Jakarta, 31 Desember 2025 / 12 Rajab 1447H.

Vien AM.

Sejarah mencatat pada 1874, orang Yahudi  yang tinggal di Palestina hanya 14.000 jiwa. Sementara etnis Arab dengan jumlah 426.000 jiwa menempati rumah-rumah di atas tanah yang telah dimiliki keluarga selama beberapa generasi. Rata-rata mereka hidup dengan bertani. Jadi pada saat itu orang Yahudi hanya 3 persen dari total penduduk Palestina.

Pada saat yang sama  orang-orang Eropa, dengan berbagai alasan, sangat membenci bangsa Yahudi yang tinggal bersama mereka di tanah Eropa. Itulah yang kemudian dikenal dengan Antisemitisme. Dipicu hal tersebut para pemimpin Zionis memikirkan perlunya berdiri negara Yahudi. Dan tanah Palestina yang ketika itu merupakan bagian dari Kesultanan Turki Ottoman, dan memang sejak lama mereka impikan, adalah targetnya !!!

Maka ketika akhirnya meletus Perang Dunia I (1914-1918) dengan kekalahan blok Turki, Inggris sebagai pemenang berupaya memfasilitasi pembentukan kerajaan Arab bersatu. Ironisnya, pada Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919, negara-negara Eropa justru mencegah terciptanya kerajaan Arab bersatu tersebut.

Sebaliknya mereka justru menetapkan serangkaian mandat yang memungkinkan pembagian seluruh wilayah bekas kesultanan Ottoman yang sangat luas itu kepada pemenang PD I. Diantaranya yaitu penetapan Jalur Gaza menjadi bagian dari Mandat Inggris atas Palestina. Selanjutnya pada 1948 atas izin PBB Inggris memberikannya kepada Israel.

Maka sejak 1948 sekitar 172.973 hektare tanah milik warga Palestina diambil alih. Zionis Israel tidak hanya merampas tanah dan rumah warga Palestina tapi juga menangkap, memenjarakan bahkan menyiksa dan membunuhi warga, baik tua muda anak-anak lelaki maupun perempuan. Itulah yang kemudian dinamakan Nakba ( malapetaka).

Ratusan ribu warga Palestina menjadi pengungsi dengan nasib yang tidak jelas. Kebanyakan mereka memilih Jalur Gaza yang ketika itu berada dibawah kekuasaan Mesir. Ironisnya 19 tahun kemudian yaitu pada 1967, wilayah kantong inipun menjadi jajahan Israel paska kekalahan koalisi Arab pada perang Enam Hari melawan Israel.

Itu sebabnya wilayah Palestina terpisah dan terbagi dua yaitu Tepi Barat ( West Bank) dan Jalur Gaza. Di Tepi Barat  inilah berdiri megah Masjidil-Aqsho, masjid tersuci ke 3 umat Islam di Jerusalem yang merupakan ibu kota Palestina. Wilayah yang didalamnya terdapat beberapa kota besar seperti Hebron, Jericho, Nazareth dll ini berbatasan langsung dengan Israel, kecuali bagian timur laut dengan Yordania yang sebagiannya adalah laut Mati. 

Sementara Jalur Gaza (Gaza Strip) yang terletak 50 km barat daya Tepi Barat, berbatasan dengan  Mesir di Rafah, laut Mediterania di barat laut dan sisanya dengan Israel. Luas wilayah yang tidak sampai 1/15 Tepi Barat ini dijejali oleh  2.3 juta jiwa.

Penduduk Gaza dikenal sangat militan. Meski pembangunan di Gaza cukup maju, terbukti dengan berdirinya sejumlah gedung perkantoran, rumah sakit, universitas dll, namun itu bukan berarti mereka tunduk dan pasrah diperlakukan sebagai wilayah  jajahan.  

Adalah Universitas Islam Gaza. Universitas ini dibangun pada tahun 1983 oleh Syaikh Ahmad Yasin dengan ruh muqawamah (perlawanan) melawan  penjajah. Kuliah pertamanya dilakukan di kemah-kemah pengungsi, dibimbing para dosen yang juga terusir dari rumah-rumahnya.

Hingga pada suatu hari di bulan Desember 1987, sebuah truk militer penjajah pendudukan Israel menabrak sejumlah pekerja Palestina dari Jalur Gaza, dan mengakibatkan empat warga Palestina tewas dan lainnya mengalami luka-luka.

Insiden ini kemudian menjadi pemicu pecahnya Intifada I (1987-1993) dan Intifada II (2000 – 2006).  Intifada dalam bahasa Arab artinya melepaskan diri atau  perlawanan. Dan karena senjata yang digunakan hanyalah batu maka perlawanan tersebut dinamakan Intifada Batu. 

Perlawanan sengit yang bertujuan melepaskan diri dari penjajahan Israel tersebut akhirnya meluas tidak hanya terjadi di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas tapi juga di Tepi Barat yang dikuasai Fatah. Meski Hamas dan Fatah terlihat sering berseteru sebenarnya kedua kelompok tersebut berada dalam barisan perjuangan yang sama, yakni memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina atas tanah dan kedaulatannya.

Perbedaan ideologi, strategi perjuangan dan basis kekuatan di lapangan membuat keduanya berkembang menjadi dua entitas politik dengan orientasi yang berbeda. Fatah yang mendominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), berakar pada nasionalisme sekuler. Kelompok ini memilih jalur diplomasi dan negosiasi politik dengan komunias internasional. Sementara Hamas yang lahir pada akhir 1980-an di tengah Intifada pertama, tumbuh dari basis gerakan dakwah dan sosial yang memiliki orientasi Islamis. Hamas melihat perjuangan bersenjata sebagai bagian sah dari jihad melawan pendudukan Israel.

Pada masa itulah pemerintahan penjajajahan Israel menutup universitas yang ada di Palestina, mengusir ratusan aktivis serta menghancurkan rumah-rumah penduduk. Kemarahan dan semangat perlawanan rakyat makin memuncak ketika PM Israel ketika itu, yaitu Ariel Sharon memasuki Mesjid Al-Aqsha pada tahun 2000. Inilah  pemicu pecahnya Intifada II yang ditanggapi penjajah dengan pembangunan pagar tembok tinggi yang memisahkan wilayah Palestina dan Israel. Ini masih ditambah prilaku terhadap rakyat Palestina yang semakin diskriminatif.

Selanjutnya pada tahun 2007 ketika Hamas memenangkan pemilu Palestina secara telak, dunia internasional, Barat khususnya yang telah melabeli Hamas sebagai organisasi teroris, mengkudeta pemilu tersebut. Dan sejak itulah dengan dibangunnya tembok tinggi yang memagari Gaza membuatnya menjadi penjara terbesar dengan kepadatan tertinggi di dunia yang hanya mempunyai 1 pintu keluar masuk yaitu Rafah, Mesir.

Para pejuang Intifada yang ketika itu masih remaja tampaknya adalah cikal bakal pejuang Hamas yang tak pernah lelah berjuang merebut kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid al-Aqsa. Terakhir adalah serangan 7 Oktober  2023 dengan nama sandi “Thufan Al-Aqsa”. Serangan ini serangan lintas batas paling serius yang pernah dihadapi Israel selama lebih dari satu generasi yang dilancarkan Hamas dari Jalur Gaza. Serangan ini dikemudian dibalas Zionis secara membabi buta hingga menelan korban lebih dari 70.000 orang syahid, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai hampir 171.000 lainnya.

Namun demikian operasi Thufan Al-Aqsa ini berhasil membuka mata dunia betapa berani, tabah, dan sabarnya bangsa Palestina.  Slogan lan narhal (tidak akan pergi) menggambarkan bahwa bangsa tersebut rela mengorbankan apa saja, termasuk jiwa raga mereka dari pada harus pergi mengungsi. Slogan ini sebenarnya menggambarkan ajaran Islam tentang ribath, yaitu berjihad menjaga perbatasan suatu daerah dari serangan/rongrongan musuh dari luar.

Orang yang melakukan ribath disebut Murabith. Seorang murabith tidak berarti harus berperang membawa senjata melawan musuh tapi juga bertahan tidak meninggalkan tempat walau jiwanya diancam. Contohnya dengan menolong korban/orang yang sakit, menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari dll.

“Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan apa pun yang ada di atasnya”. (Shahih Al-Bukhari: 2892).

Meninggalkan tanah air dimana didalamnya berdiri masjid al-Aqsa sama saja dengan membiarkan Zionis mencaploknya. Meski mereka menyadari bahwa teknologi perang mereka jauh di belakang musuh apalagi dengan Amerika Serikat di belakang Zionis, mereka tetap tak mau begitu saja menyerah. Walau Israelpun akhirnya harus mengakui sistim pertahanan bawah tanah Gaza sangat rumit dan canggih. 

Dan yang lebih penting lagi, akhirnya duniapun menyadari betapa keimanan ternyata bisa mengalahkan segalanya. Tragedi Palestina bagaikan panggung besar terbuka dakwah ajaran Islam yang tidak saja indah namun juga kokoh berbobot. Pengakuan mengejutkan para sandera Israel yang ditahan Hamas dan diperlakukan dengan sangat baik selama kurang lebih 2 tahun lamanya tidak dapat begitu saja dihapus dari ingatan.

Hikmah lain perang ini berhasil membuat Hamas dan Fatah menyadari pentingnya persatuan. Itu sebabnya pasca-gencatan senjata Hamas menyatakan siap berdialog dengan hati dan tangan terbuka. Sementara Fatah juga memberikan sinyal bersedia merumuskan kembali mekanisme pemerintahan yang selama ini rapuh.  

Saat ini genjatan senjata antara Hamas – Israel yang sudah memasuki bulan ke 2 sedang berlangsung namun Zionis selama ratusan kali telah melanggarnya. Barat mulai terbuka dan tidak sedikit yang secara terbuka mulai membela Palestina. Bahkan berani mengatakan bahwa Israel adalah Negara teroris. Pertanyaan besar, akankah Palestina segera mendapatkan kemerdekaannya?? Adakah Dajjal si mata satu raja Israel telah muncul?? Bagaimana dengan Imam Mahdi dan nabi Isa as yang berdasarkan banyak riwayat hadist akan muncul di akhir zaman?? 

Lalu turunlah Isa bin Maryam … kemudian ia mengejar Dajjal hingga berhasil membunuhnya di pintu gerbang kota Ludd (Palestina).” (HR. Muslim no. 2937).

Tidak sedikit hadist-hadist panjang akhir zaman menerangkan bahwa ketika kejahatan bangsa Israel telah mencapai puncaknya, Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa AS untuk mengakhirinya. Nabi Allah yang oleh umat Nasrani disebut Yesus tersebut akan memerangi dan membunuh Dajjal di pintu kota Palestina. Setelah itu dibawah kepemimpinan Imam Mahdi, dunia akan kembali kepada keadaan damai selama beberapa waktu hingga kiamat menjelang tiba.

Kebenaran pasti akan menang mengalahkan kebathilan. Kebenaran hakiki adalah yang datang dari penguasa, pemilik alam semesta, itulah Allah Azza wa Jala. Dialah yang menurunkan dan mengutus para nabi mulai dari nabi Adam as hingga Ibrahim as ( Abraham), Yaqub, Ishaq, Ismail, Yusuf, Sulaiman ( Solomon), Musa as ( Moses), Isa as ( Yesus) hingga nabi terakhir Muhammad saw.  Para nabi dan rasul tersebut datang dengan membawa misi utama tauhid yaitu bahwa Tuhan hanya satu, tidak beranak dan tidak diperanakan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):255).

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [HR. Al-Bukhari].

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Desember 2025.

Seperti telah diketahui, pada Sidang Umum PBB 22 September 2025 di kantor pusat PBB New York, 153 dari 193 negara anggota secara resmi menyetujui solusi 2 negara Palestina dan Israel. Negara-negara besar mitra AS seperti Inggris dan Perancis termasuk di dalamnya.

Sementara pada 10 Oktober 2025 genjatan senjata antara Zionis Israel dan Gaza, paska serangan 7 Oktober 2023, juga telah disepakati meski Israel seperti biasa melanggarnya berkali-kali. Sebelumnya yaitu  pada 15 Januari 2025 genjatan senjata juga pernah terjadi namun lagi-lagi Israel melanggarnya.

PM Netanyahu beberapa kali menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak akan pernah menyetujui berdirinya Negara Palestina. Sebelumnya telah beredar pula peta baru Israel yang ia sebut sebagai Israel Raya yang wilayahnya meliputi seluruh Israel, Tepi Barat, Gaza, Suriah, Yordania, Lebanon, Mesir dan Arab Saudi. Amat sangat provokatif !!!   

Mengingat hal tersebut, sebuah pertanyaan besar akankah Palestina bisa berdiri dalam waktu dekat ini??Mungkin ada baiknya kita menengok ke belakang untuk melihat latar belakang mengapa Israel begitu bernafsu menguasai tanah Palestina dan sekitarnya.

Syeikh Imran Hosein, seorang cendekiawan Muslim sekaligus pemerhati politik asal Trinidad, dalam bukunya “Jerusalem in the Qur’an”, membeberkan keyakinan Yahudi mengenai restorasi Israel, dua ribu tahun setelah kehancuran kerajaan Israel. Orang-orang Yahudi meyakininya sebagai salah satu tanda kedatangan Messiah alias Dajjal, si mata satu raja Yahudi yang amat diharapkan kemunculannya. Restorasi Israel yang dimaksud adalah Israel dengan luas seperti pada era Nabi Daud as, yang merupakan era keemasan Bani Israil, kurang lebih seperti peta Israel Raya yang beredar baru-baru ini.

Jadi tidak sepenuhnya tepat bila dikatakan bahwa masalah Palestina – Israel bukanlah masalah agama. Di Islampun keyakinan perang akhir zaman antara yang hak (benar) dan bathil ( jahat) pasti akan terjadi, bahkan di tempat yang sama dengan keyakinan Yahudi, yaitu tanah yang diberkati, Palestina !   

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” ( Terjemah QS. Al-Isra (17):1).

Dalam hadist mengenai akhir zaman hal tersebut banyak dijumpai bahkan dengan penjelasan yang detail. Tanda-tanda akhir zaman dibagi menjadi 2 bagian, yaitu tanda-tanda kecil yang sudah terjadi dan masih berlangsung, dan yang kedua tanda-tanda besar ( belum terjadi).

https://www.rumahzakat.org/tanda-kiamat-kecil-dan-besar/

Kedatangan Dajjal masuk dalam kelompok tanda-tanda besar. Pemeluk Nasrani menyebut Dajjal dengan Antikristus. Dan sama dengan Islam, Antrikristus atau Dajjal  adalah tokoh super jahat yang akan muncul di akhir zaman. Sementara pemeluk Yahudi mengganggap Dajal ( Messiah) sebagai raja yang mereka tunggu-tunggu.

Dengan demikian dapat dibayangkan mengapa orang-orang Yahudi Israel begitu bernafsu merebut tanah Palestina dan sekitarnya. Sayangnya meski dengan dalih kitab suci dan kepercayaan mereka melakukannya dengan amat sangat keji. Betulkah itu agama? Agama mengajarkan kejahatan, mungkinkah??  Apalagi bila itu agama Yahudi yang dibawa nabi Musa as, rasul Allah swt, yang orang Yahudipun mengakuinya sebagai nabi mereka, dengan nama Moses …   

Didalam kitab suci Al-Quran banyak sekali ditemukan kisah pembangkangan kaum Yahudi terhadap perintah nabi dan Tuhannya. Diantaranya adalah sebagai berikut, sebagai berikut, 

Mereka ( orang-orang Yahudi) berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ( penduduk Jerusalem) ada di dalamnya ( Jerusalem), karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):24).

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”. ( Terjemah QS.Al-Anam (6):91).

Saat ini dunia dapat melihat dengan kasat mata kekejaman Zionis Israel terhadap Palestina, penduduk Gaza khususnya. Hanya orang yang tak punya hati yang bisa menerima prilaku Israel. Dan ini terbukti dengan banyaknya Negara berdemo menentang kejahatan Zionis Israel di Gaza dan puncaknya adalah pengakuan Palestina. Tak heran bila kemudian viral “Tak perlu menjadi Muslim untuk membela Palestina. Cukup kau menjadi manusia!”.

Israel dengan Natanyahunya tidak akan pernah mau meninggalkan Palestina, tidak akan ada genjatan senjata, serangan balik 7 Oktober hanyalah dalih agar dunia bersedia memaklumi tindakan genosida Israel. Netanyahu ( dan rabi-rabi Yahudi pendukungnya yang bisa jadi merasa bersalah karena dulu para tetuanya pernah berdosa karena menolak perintah nabi dan Tuhannya untuk memasuki Jerusalem)  sudah merasa mendekati cita-cita muluknya, tidak hanya merebut Gaza tapi juga Jerusalem di Tepi Barat dimana berdiri di dalamnya Masjidil Aqsho yang mereka yakini sebagai kuil ketiga tempat dimana sang Messiah akan muncul. Apalagi menyadari bahwa serangan brutal dan pencaplokan wilayah beberapa Negara sekitar Palestina yang mereka lakukan tidak mendapat perlawanan berarti dari Negara-negara lain.       

Yang kemudian menjadi aneh adalah justru kesiapan kaum Muslimin ( juga kaum Nasrani) yang sudah dibekali pengetahuan akan datangnya hal tersebut. Jangankan membela Palestina, ini malah membangun kerja sama dan normalisasi dengan Israel yang digagas presiden AS Trump dengan apa yang dinamakan Abraham Accord ( Kesepakatan Ibrahim). Perjanjian tersebut diberi nama Abraham ( Ibrahim) untuk mencerminkan perdamaian antar Islam, Yahudi dan Nasrani. Menjadi bukti bahwa Barat yang notabene kafir dan selalu menolak alasan agama sejatinya tidak demikian. Yang mereka inginkan hanyalah kaum Muslimin menjauhkan diri dari ajarannya, yang dengan demikian mudah mereka mengalahkan Islam. Itulah Islamophobia. Dan tampaknya memang berhasil. Persaudaraan sesama Muslim dan jihad yang sejatinya adalah senjata paling ampuh bagi umat Islam, hilang sudah.

Tak heran jika 15 abad silam Rasulullah saw  telah memperingatkan bahwa  Dajjal adalah fitnah berat, fitnah terbesar yang pernah ada. Betapa banyak manusia terperdaya melihat kekuatan yang dianggap luar biasa itu. Cinta dunia berlebihan adalah sumber masalahnya. Kemajuan teknologi dan pembagunan, kemewahan hidup meski harus dengan jalan berhutang dan riba yang jelas-jelas haram telah membuat lupa kehidupan akhirat. Itulah surga dunia yang jelas-jelas hanya sementara.    

Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang lebih besar fitnahnya dari Dajjal.” [HR. Muslim].

Sesungguhnya bersama Dajjal ada surga dan neraka. Nerakanya sebenarnya surga, dan surganya sebenarnya neraka.” [HR. Muslim no. 2934].

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Hampir saja umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Beliau pun berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, ada apa dengan pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya ,”Apa itu ‘wahn’?” Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, semoga Allah merahmatinya ).

Bandingkan dengan penduduk Palestina, Gaza khususnya, Masya Allah …

Hari ini dunia bisa melihat bagaimana tangguhnya penduduk Palestina. Penderitaan mereka bukan hanya dialami dua tahun terakhir ini tapi telah dimulai sejak tahun 1948 yaitu sejak Israel dibantu Inggris mengumumkan berdiri negaranya di atas tanah Palestina. Peristiwa mengenaskan yang ditandai dengan pengusiran besar-besaran rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri ini dikenal dengan sebutan Nakba yang artinya adalah malapetaka.

( Bersambung).