Feeds:
Posts
Comments

Umat Islam memiliki dua hari besar yaitu Hari Raya Iedul Fitri dan Hari Raya Haji atau Hari Raya Iedul Adha. Hari Raya  Iedul Fitri jatuh pada 1 Syawal, 1 hari setelah usainya bulan suci Ramadhan. Sementara Hari Raya Iedul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah, 1 hari setelah jamaah haji wukuf di Arafah.

Untuk merayakan hari raya tersebut Allah swt mengharamkan umat Islam berpuasa di hari tersebut. Bahkan hingga 3 hari setelah Iedul Adha Allah masih mengharamkannya. Itulah yang di sebut hari-hari Tasryk atau hari makan minum yang jatuh pada 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Dan tidak seperti di Indonesia, umat Islam di Timur Tengah pada umumnya merayakan Iedul Adha jauh lebih meriah daripada Iedul Fitri.

Hari-hari Tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1141).

“Tidak diberi keringanan di hari Tasyriq untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan hadyu.” (HR. Bukhari no. 1998).

Hari Raya Iedul Adha juga dinamakan sebagai Hari Raya Kurban. Karena pada hari tersebut umat Islam disunahkan untuk memotong hewan kurban. Hari istimewa tersebut sejatinya adalah untuk mengenang peristiwa nabi Ibrahim as yang diperintah Tuhannya untuk menyembelih nabi Ismail as, putra satu-satunya ketika itu.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia (Ismail)  menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.(Terjemah QS. Ash-Shaffaat(37):102).

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyembelih sendiri hewan kurbannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (11/8/2019). (Foto: iNews.id/Irfan Ma'ruf)

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyembelih sendiri hewan kurbannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (11/8/2019). (Foto: iNews.id/Irfan Ma’ruf)

Jadi syariat penyembelihan hewan kurban adalah syariat Islam yang juga merupakan syariat para nabi yang telah lama dikerjakan. Yang tampaknya telah dilupakan oleh umat pengikut nabi-nabi lain. Karena nyatanya hari ini hanya umat pengikut nabi Muhammad saw yang masih menjalankannya.

Namun beberapa tahun belakangan ini ada sejumlah tokoh yang mengaku Muslim tapi getol mempermasalahkan syariat tersebut. Diantaranya adalah Ulil Abshor si dedengkot JIL ( Jaringan Islam Liberal). Melalui cuitannya ia menyarankan agar syariat kurban diganti dengan pembagian uang untuk dana pendidikan dan yang semacamnya.

https://www.portal-islam.id/2019/08/tokoh-liberal-ulil-sarankan-hewan.html

Fenomena penolakan terhadap berbagai syariat Islam, dengan bermacam  alasan, sejak beberapa tahun ini memang makin saja santer. Mulai dari berhaji yang biayanya sangat tinggi dengan alasan rakyat lebih membutuhkan uang untuk biaya hidup, kurban yang dianggap sebagai “hari pembantaian”, jilbab, nikah beda agama, poligami hingga hukum potong tangan dll yang dianggap tidak manusiawi dan bertentangan dengan HAM dan Demokrasi.

Padahal syariat adalah hukum yang sengaja diturunkan Sang Pencipta agar manusia dapat hidup di dunia ini dengan tenang. Syariat tersebut disampaikan rasulullah Muhammad saw lebih 15 abad yang lalu, jauh dari ilmu pengetahuan dan Sains yang saat ini telah berkembang pesat.

Namun ternyata para ilmuwan dewasa ini telah berani membuktikan bahwa syariat-syariat tersebut sesuai dengan temuan mereka. Pemotongan kurban misalnya. Barat selama ini menerapkan cara pemingsanan hewan sebelum dipotong, dengan tujuan agar hewan tidak merasa sakit ketika disembelih. Sementara syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah,-pent) maka berbuat ihsanlah dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih maka berbuat ihsanlah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya”. {HR. Muslim}.

Untuk menjawab pertanyaan “Manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit untuk hewan ketika disembelih?”, dua staf ahli peternakan dari Hannover University, Jerman, yaitu Prof.Dr. Schultz dan koleganya Dr. Hazim, melakukan sebuah penelitian ilmiah.

Mereka menggunakan microchip Electro-Encephalograph (EEG) dan Electro Cardiograph (ECG) yang dipasang pada pada permukaan otak kecil sapi. EEG digunakan untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Sedangkan ECG untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Di luar dugaan, rekaman EEG ternyata menunjukkan bahwa cara yang dilakukan secara Islam tidak sedikitpun meninggalkan rasa sakit pada hewan sembelihan.  Sedangkan rekaman ECG menunjukkan adanya aktivitas luar biasa jantung yang memompa keluar darah sebanyak mungkin dari seluruh anggota tubuh hewan bersangkutan.

Dan dengan terpompanya darah sebanyak mungkin keluar dari tubuh hewan adalah merupakan syarat penting standard healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP). Hebatnya lagi, selain sehat ternyata daging juga jauh lebih empuk dibanding cara pemingsanan yang dianut Barat.

https://www.islampos.com/ketika-barat-terkejut-dengan-cara-islam-sembelih-hewan-kurban-44740/

Screenshot_2019-08-11-04-57-31Jadi sungguh aneh ketika ada orang yang mengaku Muslim tapi hobby mempertanyakan, mengolok-olok bahkan menolak syariat Islam yang jelas-jelas adalah perintah Allah Azza wa Jala. Dengan kata lain menolak syariat sama saja dengan menantang-Nya. Na’udzubillah min dzalik …

Sebaliknya tak heran ketika banyak ilmuwan Barat yang kemudian memeluk Islam setelah mengetahui syariat Islam ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan dan Sains. Meski tak selamanya syariat dapat dibuktikan dengan hal tersebut. Apalah arti ilmu dan kepintaran manusia dibanding Penciptanya???

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Agustus 2019.

Vien AM.

Jalan Kebenaran.

DSC04132Adalah hal yang sangat wajar bila seorang pemeluk agama meyakini bahwa agamanya adalah yang terbaik, yang paling benar. Dan bahwa keyakinannya itu akan menjaminnya masuk surga, dan menghindarkannya dari pedihnya siksa api neraka. Keyakinan inilah tentunya yang membuat seseorang sudi memeluk suatu agama tertentu.  Dan ini berlaku bagi seluruh agama, tidak hanya Islam, tapi juga Yahudi maupun Nasrani.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani“. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):111).

Keyakinan inilah yang membuat mereka berani mencemooh dan mentertawakan kaum Muslimin yang mereka anggap sesat. Mereka yakin berada di jalan kebenaran sementara umat Islam berada di jalan kesesatan sebagaimana yang diceritakan ayat 29-32 surat Al-Muthafifin berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, ( Terjemah QS. (83):29-32).

Pertanyaannya benarkah prasangkaan mereka itu ?? Yang pasti semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Namun ketika prinsip dasar tentang ke-Tuhan-annya saja rancu, tidak jelas bahkan salah, bagaimana mungkin orang bisa begitu yakin bahwa agamanya itu benar …

Kebenaran sejati adalah milik Sang Pencipta. Tuhan pencipta manusia, langit, bumi dan segala isinya. Tuhan yang mustahil menyerupai apapun yang diciptakannya. Tuhan yang tidak beranak maupun diperanakkan. Tuhan yang tidak mempunyai kepentingan apapun terhadap segala ciptaannya.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):255).

Kebenaran berdasarkan akal manusia yang merupakan mahluk ciptaan tentu relative, sangat beragam dan pasti sangat rapuh. Oleh karenanya untuk mengetahui dan meyakini kebenaran suatu agama tidak ada jalan lain kecuali dengan memahami isi kitab sucinya, siapa pembawanya, bukan dari sikap pemeluk agamanya yang bisa saja salah memahami ajarannya.

Agama Nasrani dan Yahudi yang merupakan agama samawi pada dasarnya sama dengan agama Islam, yaitu mengimani Tuhan Yang Satu, Allah swt. Namun seiring dengan berjalan waktu agama yang dibawa nabi Isa as dan nabi Musa as melalui malaikat Jibril as sebagai perantara tersebut, mengalami berbagai penyelewengan yang parah.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. … “. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):73).

Sebaliknya aneh bin ajaib ketika ada pemeluk suatu agama namun meyakini bahwa semua agama adalah sama, semua benar, dan bahwa semua orang bisa masuk surga, asalkan baik. Sepintas kelihatannya mungkin benar, bahkan terkesan sangat bijak dan penuh toleransi.

Tapi bila dipikir lebih jauh, baik itu menurut siapa?? Menurut sesama manusia? Manusia yang mana?? Bukankah antar suku saja kriteria sebuah kebaikan tidak selalu sama ?? Apalagi penduduk bumi yang jumlahnya milyaran dengan jutaan suku, etnis dan kultur yang berbeda-beda. Lagi pula kalau semua agama adalah sama tidak perlu orang memilih satu agama. Ikuti saja semua peraturan agama yang pastinya akan membuat kewalahan dirinya sendiri. Mungkinkah???

Lebih mengerikan lagi, bila orang itu adalah seorang pemeluk agama Islam, yang mengaku Islam tapi suka mengejek dan mentertawakan saudaranya sesama Muslim, sangat bisa jadi Allah Azza wa Jala memasukkan yang bersangkutan sebagai golongan orang Munafik.  Padahal orang Munafik itu derajatnya lebih rendah dari orang Kafir. Tempatnya adalah di kerak neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Bersyukurlah kita yang telah Allah Azza wa Jala pilihkan Islam sebagai agama kita. Biarlah orang-orang kafir mencemooh dan mentertawakan kita di dunia ini. Tidak perlu kita berkecil hati, sakit hati apalagi marah. Karena pada akhirnya merekalah yang akan kecewa dan menyesali perbuatan mereka.

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang ( orang-orang kafir, yang diganjar). Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Terjemah QS. Al-Muthafifin(83):34-36).

Pada kelanjutan ayat 111 Al-Baqarah di awal tulisan, Allah swt berfirman :

“ Demikian itu (hanya) angan-angan mereka ( Nasrani dan Yahudi) yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

Dilanjutkan dengan :

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Namun demikian kita tetap tidak boleh lengah dan terbuai dengan janji surga dan ampunan-Nya yang seluas langit dan bumi dengan ke-Islam-an kita. Karena modal iman dan Islam saja tidak cukup untuk meraih semua itu. Diperlukan juga amal ibadah. Hebatnya lagi bukan hanya ibadah shalat, puasa yang bernilai ukhrowi namun juga segala amal kebaikan kepada sesama manusia seperti zakat, infak, menolong orang yang dalam kesusahan, silaturahmi, sabar dll sebagainya.

Jangan sampai Allah swt memasukkan kita sebagai golongan yang sama dengan orang yang dimurkai-Nya yaitu kaum Yahudi karena  berilmu tapi tidak beramal. Atau kaum Nasrani yang sesat karena beramal tapi tanpa ilmu yang benar, sebagaimana firman Allah swt di ayat 6 dan 7 Al-Fatihah yang selalu kita baca setiap shalat.

“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Agustus 2019.

Vien AM.

mualaf-_140820144457-124REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA.

“Aku bagai lahir kembali, bebas dari segala sesuatu. Segala dosa yang menjerat dan semua hal yang telah terjadi di dalam hidupku, tak penting lagi,” ucap Alicia, tepat sehari setelah ia memeluk Islam.

Berjilbab rapi, wajahnya cerah bak mentari terbit. Senyumnya pun mengembang laksana bunga mekar di pagi hari. Melihat binar wajahnya, tak akan ada yang menyangka bahwa ia memiliki sederet catatan hitam dalam hidupnya.

Alicia Brown, wanita asal Texas, AS, tersebut menemukan cahaya hidayah setelah bertahun-tahun kekacauan melanda hidupnya. Ia terjerumus dalam kubangan dosa. Alkohol, narkoba, hingga seks bebas menjadi teman hidupnya. Mengapa ia lakukan semua itu? Alicia memang ingin merusak hidup yang sangat ia benci. Ia sangat membenci dirinya, membenci segala sesuatu di sekitarnya.

Dunia gelap membelenggu Alicia setelah musibah melanda keluarganya. Orang tuan Alicia bercerai. Saat itu, usianya baru 10 tahun. Terpaksa, Alicia tinggal dengan ayah yang sangat membencinya dan sangat ia benci. Caci-maki menjadi kalimat rutin yang ia dengar dari sang ayah setiap hari selama enam tahun.

“Ayah sangat kejam kepadaku dan adik laki-lakiku. Dia tak terlalu kejam pada adik perempuanku, tapi dia benar-benar kejam padaku, sangat kejam. Mungkin karena aku mengingatkannya pada ibuku,” tutur Alicia.

Di usia 16 tahun, Alicia pindah ke rumah kakek neneknya. Namun terlambat, karena didikan kejam sang ayah, saat itu Alicia telah benar-benar diselimuti kebencian. Ia pun mulai merusak hidupnya dengan kesenangan semu. Ia memulai gaya hidup merusak diri.

“Aku membenci diriku dan semua yang ada di sekitarku.  Aku ingin melakukan apapun yang bisa untuk menyakiti diri sendiri. Aku coba narkoba, alkoho, dan seks bebas.”

Setahun dengan gaya hidup itu, Alicia tak merasa batinnya terpuaskan. Ketika usianya 17 tahun, ia tinggal dengan sang ibu. Alicia sempat berpikir, tinggal dengan ibu mungkin bisa membuatnya berbenah diri. Tapi rupanya, Alicia telah terjatuh sangat dalam pada jerat dunia hitam. Ia tak bisa lepas bahkan terus memburuk dari hari ke hari.

Di sekolah menengah atas, ia bertemu dengan seorang pria. Ia lalu tinggal bersama pria itu selama bertahun-tahun tanpa ikatan pernikahan. Lagi-lagi Alicia berharap itu menjadi kehidupan baru yang membentangkannya kesempatan untuk berubah. Celakanya, pasangan Alicia pun memiliki kebiasaan sama. Ia peminum dan pecandu.

Masalah pun kian rumit ketika Alicia hamil. “Awalnya, itu tak terlalu masalah. Setidaknya, kami memiliki seseorang untuk saling dimiliki. Tapi, saat bayiku lahir, ketika itulah pacarku dan ayahnya benar-benar menjadi pecandu berat,” kisahnya.

Hari demi hari, keuangan keluarga ini kian menipis digerogoti alkohol dan narkoba. Beruntung, kehadiran si jabang bayi membuat Alicia tersadar bahwa ia harus menghentikan kecanduannya demi tumbuh kembang sang buah hati. Sementara, kekasihnya tak mau peduli. Dia tetap saja menjadi pecandu narkoba. Karena kesal, Alicia pun meninggalkan kekasihnya yang juga ayah biologis putrinya.

Hari-hari pertemuan Alicia dengan hidayah Islam kian dekat. Hal itu bermula ketika putri kecilnya divonis menderita sindroma Guillain-Barre, suatu kelainan berupa sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf pusat. Akibatnya, penderita mengalami pelemahan otot dan tak mampu bergerak.  Tak pelak, anaknya harus dirawat di rumah sakit.

Saat di rumah sakit menemani putrinya itulah, Alicia berkenalan dengan beberapa Muslimin, salah satunya bernama Hayat. Dari Hayat, ia mulai mengenal agama Islam. Alicia pun banyak mengajukan pertanyaan tentang Islam pada kenalan barunya ini.

Ketika kondisi putrinya membaik dan boleh dirawat di rumah, Alicia tetap menjaga kontak dengan Hayat. Jelas sekali, Alicia mulai tertarik dengan Islam. Ia pun menyadari bahwa banyak orang mendapat informasi yang salah tentang Islam. “Aku pikir banyak orang mengira bahwa itu (Islam) seperti agama Hindu. Aku pun tadinya berpikir, Islam merupakan agamanya orang Timur Tengah.”

Alicia memang buta sama sekali tentang Islam. Sejak kecil ia dibesarkan di tengah keluarga yang jauh dari agama. Meski mengaku sebagai Kristen, keluarga Alicia sangat jarang ke gereja. “Mereka Kristen Baptis, tapi kami tipe keluarga yang tidak pergi ke gereja secara teratur,” ujarnya.

Sejak bertemu Hayat, Alicia baru mengetahui bahwa Islam berasal dari akar yang sama dengan agama yang dianutnya. Namun, berangkat dari perenungan dan diskusi panjangnya dengan beberapa Muslimin, Alicia mulai mendapat kejelasan arah yang harus ia tuju. Ya, arah yang jelas itu adalah Islam.

NamunAlicia tak serta-merta berislam. Alicia sangat takut karena selama ini ia meyakini bahwa mengatakan Yesus bukan anak Allah merupakan sebuah penghujatan. Sementara, penghujatan merupakan dosa tak terampuni. “Artinya, Anda akan masuk neraka,” tuturnya.

Diakui Alicia, selama ini pun ia telah bergelimang dosa. Hanya saja, dalam keyakinannya, itu bukan dosa yang tak terampuni. Dicekam kebingungan dan ketakutan, Alicia setiap malam senantiasa menengadahkan tangan, berdoa meminta petunjuk. “Ya Allah, tolong beri petunjuk. Petunjuk yang jelas untuk mengetahui bahwa inilah jalan yang harus hamba tuju.’”

Suatu hari, Alicia bertemu ibunda Hayat, Hana. Ia membacakan ayat Alquran. Alicia tak ingat ayat apa yang dibaca saat itu. Yang pasti, di ayat tersebut Yesus berkata, “Saya bukan anak Tuhan.”  Kemudian, di akhir ayat, kata Alicia, disebutkan, “Untuk setiap pencari petunjuk, terdapat petunjuk dari dirinya sendiri. Bagiku ini sungguh luar biasa. Aku pun menangis karena merasa ini merupakan petunjuk untukku.”

Setelah mendapat petunjuk yang jelas dari ayat Alquran itu, Alicia tak ragu lagi untuk memeluk Islam. Jalan hidup baru sebagai Muslimah pun terbentang.

Islam membuka lembaran hidup baru bagi Alicia. Ia benar-benar meninggalkan dunia hitamnya, bertaubat, dan memperbaiki diri. Tak pernah ia merasakan kebahagiaan, kecuali setelah memeluk Islam. “Aku benar-benar merasakan kasih dan dukungan.”

Selama ini, Alicia hidup dalam suramnya dunia. Ia yang sebelumnya senantiasa berselimut dosa, kini merasakan iman yang begitu menyegarkan. Belenggu ketakutan dan kecemasan pun serta-merta lenyap. Ia bagai terlahir kembali.

“Aku benar-benar merasa jauh lebih baik. Aku merasa beban berat telah diangkat. Aku pun bisa bernapas lebih lega dari sebelumnya,” ungkapnya.

Jika sebelum berislam teman setianya adalah alkohol, narkoba, dan seks bebas, kini Alicia hanya bersandar kepada Allah. Alquranlah yang menjadi teman setianya sehari-hari. Ia sangat suka membaca Alquran. Baginya, kitab suci umat Islam ini sangat memesona.

“Alquran terasa begitu asli dan mudah dipahami,” katanya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Juli 2019.

Vien AM.

Dicopas dari:

https://khazanah.republika.co.id/berita/plf63x313/alicia-brown-temukan-hidayah-di-rumah-sakit

Indonesia adalah negara yang kaya raya. Selain sumber daya alam yang melimpah seperti minyak, gas dan lain lain, sumber daya manusianyapun tak terkira banyaknya. Indonesia saat ini tercatat sebagai  Negara no 4 terbanyak penduduk di dunia. Dan sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan jumlah lebih dari 87% Muslim, sekitar 237 juta orang, kekayaan zakat, infak, sodaqoh dan wakaf di Indonesia patut diperhitungkan. Zakat sebesar 2.5 % yang merupakan kewajiban kaum Muslimin yang bila dikumpulkan dan dikelola dengan baik dan difungsikan secara maksimal tidak perlu lagi bangsa ini mengemis pinjaman ke negara lain.

Sementara wakaf yang selama ini hanya dianggap sebagai tanah wakaf untuk masjid, sebenarnya bisa digunakan untuk mendirikan fasilitas umum yang lebih besar manfaatnya untuk masyarakat luas. Saat ini Dompet Dhuafa, salah satu lembaga Amil Zakat milik masyarakat, telah membangun sarana pro dhuafa yang mencakup pendidikan seperti Sekolah Smart Ekselensia, Masjid Al-Madinah, dan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa dan masih banyak lagi sarana serta aset wakaf Dompet Dhuafa.

Kekayaan yang terlalu jomplang dan hanya menumpuk di suatu kelompok sudah pasti akan menciptakan kesenjangan sosial yang berpotensi memicu kebencian, iri, dengki dll. Itu sebabnya ZIS ( Zakat, Infak, Sodaqoh) amat sangat diperlukan, tidak hanya sebagai hubungan dengan Tuhannya, tapi juga sebagai hubungan baik sesama manusia. Harus diingat semua perintah dan larangan Allah swt dapat dipastikan berguna baik kita sendiri, baik di dunia apalagi di akhirat nanti.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS.Al-Baqarah (2): 261)

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan rakyat senantiasa berlomba dalam kebaikan. Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Era tersebut telah berakhir sejak kejatuhan kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah/Ottoman pada tahun 1924. Era tersebut adalah era ke 3 yaitu era Mulkan Adlon (kerajaan yang menggigit) yang kemudian memasuki era ke 4 yang dinamakan era Mulkan Jabariyyah (kerajaan diktator).

Sejak itulah Islam mengalami keterpurukan. Penguasa negara tidak lagi peduli kepada ajaran Islam meskipun penduduknya mayoritas Islam. Mereka ini bahkan takluk dan sangat takut kepada Barat. Hukum Islam diabaikan, ulama tidak hanya tidak dihargai tapi bahkan di dzalimi. Huru-hara dan kejahatan dimana-mana, maksiat merajalela, nyanyi-nyanyian serta alat musik bahkan perzinaan, khamr dan riba menjadi hal yang lazim.

Tak ayal Islamphobia dan label terorispun dengan mudahnya disandangkan kepada umat Islam. Belum lagi hilangnya persaudaraan Islam yang merupakan kekuatan yang sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Isu toleransi dan demokrasi yang sejatinya sesuatu yang baik dan sah-sah saja dijadikan alat sebagai alat adu domba untuk memecah persaudaaran tersebut.

Kita juga jauh tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari keberhasilan Islam di masa lalu, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal akhlak seperti kedisiplin, kebersihan dll.

Namun sejak  terjadinya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016  yang berlangsung rapi, bersih, tertib dan aman, perlahan umat mulai menyadari kekurangan-kekurangan tersebut. Umat mulai merasakan pentingnya menerapkan isi Al-Quran dan hadist dalam kehidupan sehari-hari, perlunya persatuan dan persaudaraan, serta mandiri tidak tergantung kepada pihak lain.

Adakah ini pertanda kebangkitan umat yang telah diprediksi sebagai tanda datangnya akhir zaman, masa kembalinya kejayaan khilafah yang sangat ditakuti pemegang kekuasaan saat ini?? Apalagi semua tanda-tanda kecil datangnya hari Kiamat telah bermunculan hari demi hari. Gempa yang terus bermunculan susul menyusul di seantero jagad adalah salah satunya. Dan ini akan terus terjadi hingga  puncaknya munculah tanda-tanda kiamat besar, seperti Dajjal, Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan Ya’juj Ma’juj.

Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin al-Yaman r.a, berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Masa kenabian itu berada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang sombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam,”(H.R Ahmad).

Hadist diatas menunjukan bahwa Akhir Zaman akan melalui 5 masa, yaitu:

1.Masa kenabian.

2.Masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khulafahur Rasyidin)

3.Masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adlon)

4.Masa kerajaan diktator (Mulkan Jabariyyah)

5.Masa kembali pada Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah

http://faseakhirzaman.blogspot.com/2016/09/5-fase-akhir-zaman-berdasarkan-hadist.html

Tanda-tanda kebangkitan Islam tidak hanya terasa di negri kita tercinta Indonesia. Hukum-hukum Islam mulai diterapkan di beberapa negara, bahkan yang bukan mayoritas Islam. Termasuk juga perbankan syariah yang mulai merambah Barat.

Berikut jawaban Rasulullah Muhammad SAW  atas pertanyaan khalifah Umar bin Khattab yang bermaksud mewakafkan tanahnya di Khaibar. “Jika engkau suka tahanlah pangkalnya dan sedekahkan hasilnya”. Ini menyiratkan, harta yang diwakafkan itu perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat menyejahterakan orang yang membutuhkan.

Di Amerika Serikat misalnya, Muslim di negara tersebut telah berhasil mengembangkan wakaf yang ada secara produktif. Awalnya mereka memang mengandalkan bantuan dana dari negara-negara Timur Tengah. Namun sejak tahun 1990 terutama setelah Perang Teluk yang menghabiskan dana yang tidak sedikit, mereka mulai mandiri. Sementara di Indonesia wakaf yang jumlahnya cukup banyak itu, belakangan ini mulai dikelola secara produktif.

Demikian pula halnya dengan dana haji yang sempat heboh karena akan digunakan pemerintah untuk keperluan infrastuktur. Umat dijamin sebetulnya tidak akan keberatan dana tersebut digunakan untuk kepentingan umum tidak hanya kepentingan khusus umat Islam seperti masjid atau pondok pesantren misalnya. Tapi juga sekolah, rumah sakit bahkan jalanan, perumahan, apartemen, pertokoan dll sebagainya. Yang dengan demikian tidak perlu lagi negara ini berhutang kepada pihak atau negara lain hingga menyebabkan kita berhutang budi, atau terpaksa menggadaikan asset negara. Dengan syarat pemerintah benar-benar menunjukkan keberpihakan pada umat, tidak semena-mena terhadap ulama dan rakyat kecil yang mayoritas Islam itu. Dan tentu saja tidak mengganggu jadwal keberangkatan para pemilik tabungan haji.

Memang tidak semudah membalik tangan, perjuangan masih panjang dan berliku. Fitnah Dajjal dan kekejaman Ya’juj Ma’juj yang dalam hadist digambarkan sebagai suatu bangsa bermata sipit berhidung pesek harus kita hadapi.

https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/12/19/156703/bangsa-bermata-sipit-dan-tanda-akhir-zaman.html

Indonesia memiliki sejumlah permasalahan serius seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, keterbelakangan, korupsi yang merajalela, dan pengelolaan sumber daya alam yang buruk. Berdasarkan data Global Wealth Report tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara paling timpang di dunia, dimana 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Di dalam urusan membaca pun Indonesia menempati posisi buncit. Dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University di New Britain dari tahun 2003 sampai 2014, Indonesia menempati posisi ke-60 atau nomer dua dari belakang terkait dengan minat baca masyarakat. Dalam hal korupsi, Indonesia menempati urutan ke-90 dari 176 negara yang disurvei oleh Transparancy International dalam data Indeks Persepsi Korupsi.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59:7).

Namun kita harus optimis, dengan adanya kesadaran persatuan persaudaraan Islam, pentingnya menerapkan ajaran Islam serta tidak mau lagi tergantung kepada pihak lain, adalah merupakan kunci awal menuju kembalinya kejayaan Islam, Islam yang rahmatan lilalamiiin, yang mengayomi semua rakyatnya apapun agama, kepercayaan, ras dan sukunya, dengan izin dan ridho Allah swt.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2019.

Vien AM.

KATA ulama adalah bentuk jama’ dari ‘alim yang artinya ahli ilmu atau ilmuwan. Sementara kata su’ adalah masdar dari sa’a-yasu’u-saw’an yang artinya jelek, buruk dan jahat. Secara bahasa arti ulama su’ adalah ahli ilmu atau ilmuwan yang buruk dan jahat.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”. [HR Ad Darimi].

Ulama hakekatnya berhubungan dengan ilmu dan kebaikannya. Harta dan tahta adalah godaan bagi ulama yang bisa menjerumuskan ke dalam kehinaan. Sayyidina Anas ra meriwayatkan :

“Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik terhadap dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul, karena itu jauhilah mereka.” [HR al Hakim]

Dari Abu Dzar berkata, ”Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan dajjal yang aku takutkan atas umatku.”. Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah selain dajjal yang paling Engkau takutkan atas umatmu ?”. Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan”. [Musnad Ahmad (35/222)]

Dalam sebuah Hadits Rasulullah mengatakan: “ Apabila seseorang di antara kamu bertasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 hal seraya mengucapkan. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, Siksa Kubur, Cobaan Hidup dan Mati, dari perlindungan dari Fitnah Dajjal” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari berbagai sumber, ada beberapa karakteristik ulama su’ sebagai bagian dari fitnah akhir zaman. Semoga karekter ini tidak ada dalam diri kita dan kita bisa terhindar dari bahaya yang mereka timbulkan. Beberapa karakter itu adalah :

MENJUAL ILMU KEPADA PENGUASA. Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para  penguasa, masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu [HR al Hakim].

MENUKAR KEBODOHAN SEBAGAI ILMU. Ibnu Rajab al Hambali mengatakan bahwa Asy Sya’bi berkata “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi suatu bentuk kejahilan dan kejahilan itu sebagai bentuk ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran [kenyataan] di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan”.

MEMBURU HARTA DAN TAHTA. Mereka adalah ulama agama untuk membedakan antara mereka dan ulama dunia, mereka adalah ulama jahat yang dengan ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia, mendapatkan pangkat dan kedudukan pada penduduk [Lihat Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Asyfiya, hal. 70 dan Sayyid Muhammad Al Husaini Az Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqien bi Syarhi Ihya’i Ulumudin, hal 348].

SOMBONG DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT. Penutut ilmu ketiga adalah orang yang kesetanan. Ia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyaknya pengikut. Ia masuk terperosok ke banyak lubang tipu daya karena karena ilmunya itu dengan harapan hajat duniawinya terpenuhi. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

BERGAYA DENGAN PAKAIAN ULAMA. Ia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulia di sisi Allah karena ia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama di saat ia secara lahir dan batin menerkam dunia semata. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

TIDAK MAU BERTOBAT. Orang ini termasuk mereka yang celaka dan dungu lagi terpedaya duniawi. Tidak ada harapan pertobatan, karena dirinya merasa sebagai orang baik [muhsinin]. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

SOMBONG DIPERMAINKAN NAFSUNYA. Sementara nafsunya saat demikian mempermainkan dirinya, menghadirkan impian, memberi harapan, mendorongnya untuk mengungkit-ungkit atas ilmunya di sisi Allah, dan memberinya ilusi bahwa ia lebih baik dari pada  sekian banyaknya hamba Allah yang lain [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

DISORIENTASI INTELEKTUAL. Tidak memiliki integritas pribadi dan tidak memiliki tanggungjawab intelektual. Sebab orientasinya hanya duniawi, sehingga menyalahgunakan ilmunya demi tujuan materialistik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah  ﷺ  bersabda,”Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi surga di akherat nanti [HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2 : 338].

MENYALAHGUNAKAN ILMU. Siapa yang makan dengan memperalat ilmu, Allah membutakan kedua matanya [atau wajahnya di dalam riwayat Ad Dailami], dan neraka lebih layak untuknya [HR Abu Nu’aim dan Ad Dailami]

DIPERBUDAK SETAN DAN HAWA NAFSU. Bencana bagi umatku (datang) dari ulama su’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan untuk mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai kesengsaraannya. Siapa saja yangb kondisinya semikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat : mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir VI/369]

MEMBELA PENGUASA ZOLIM. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir Syarah Jami’  Shogir Imam Syuyuthi, VI/369]

MEMBUAT TIPU DAYA. Hati-hatilah terhadap tipu daya ulama su’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk dari pada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang sejahat-jahat makhluk . Beliau menjawab, Ya Allah berilah ampunan”. Beliau menyebut sebanyak tiga kali, lalu bersabda,”mereka adalah ulama su’”. [Hujjatul Islam Imam al Ghazali]

MENJILAT PENGUASA. Ulama su’ orang bergelar ulama atau intelektual yang menjilat penguasa dan menjadikan kaum kafir sebagai teman karib serta menafsirkan al Qur’an sekehendak nafsunya. Dengan bahasa Umar Bin Khathab, ulama su’ adalah mereka yang munafik tapi berilmu.*

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2019.

Vien AM.

Dicopy dari :

https://m.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/09/20/150993/karakter-ulama-su-dan-fitnah-akhir-zaman.html?fbclid=IwAR0qE6HIM6e7KxrBD3U7OEXPD2FH9NWBX_FqG7r-xuwoSAnYtdTPVb_L-pY

 

 

 

 

Aqimus Shalaah.

Al-Quran menggunakan kata “Aqimus shalaah” untuk perintah shalat, bukan “if’alus shalaah” (kerjakan shalat). Begitu pula dalam seruan iqomah yang dikumandangkan setelah adzan sesaat sebelum shalat, kata yang digunakan adalah kata “qodqoomati sholat” yang artinya sama dengan “Aqimus shalaah”, yaitu dirikanlah sholat.

… Aqiimu sholah (dirikanlah sholat), tunaikanlah zakat….” (Terjemah QS. An-Nisaa(4):77).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, aqimus shalaah (mendirikan shalat) dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. … “.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):277).

Mendirikan shalat dan mengerjakan shalat tidaklah sama. Mendirikan shalat ibarat bangunan, adalah fondasi atau tiang agar bangunan di atasnya dapat berdiri kokoh dan kuat. Atau ibarat pohon, mendirikan shalat adalah akar yang kuat, yang mampu menopang batang dan rantingnya. Jadi shalat yang membuahkan hasil yang baik, yang mampu mencegah dari perbuatan jahat, menjauhkan dari segala sesuatu yang dibenci dan diharamkan-Nya, seperti mencuri, korupsi, berzinah dll, itulah yang dimaksud mendirikan shalat.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar…”. (Terjemah QS.Al-Ankabuut(29):45).

Perintah shalat telah turun sejak awal kenabian, yaitu melalui ayat 1-3 surat Al-Muzzammil berikut :

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)”.  

Namun perintah shalat 5 waktu sehari baru turun setelah 10 tahun kenabian. Perintah tersebut langsung Allah swt turunkan kepada Rasulullah saw pada peristiwa spektakuler Isra Mi’raj.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda:”… Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah dalam keadaan kesedihan yang luar biasa. Paman Rasulullah yaitu Abu Thalib yang selalu melindungi Rasulullah dari kejahatan orang-orang  Quraisy, dan Khadijah ra, satu-satunya istri Rasulullah yang selalu mendukung dakwah Rasul sekaligus menghibur beliau, dipanggil menghadap Sang Khalik dalam 1 tahun yang sama. Peristiwa menyedihkan tersebut disebut  Amul Huzni ( Tahun Kesedihan).

Dari kisah di atas dapat disimpulkan shalat sebenarnya adalah kewajiban sekaligus hak kaum Muslimin sebagai cara berkomunikasi langsung dengan Tuhannya, dimana ia dapat mengadukan nasib dan segala keluh kesahnya. Itu sebabnya shalat yang didirikan atas dasar kebutuhan akan Tuhannya mampu membersihkan diri dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, cepat marah dan sebagainya.

Disamping itu shalat yang didirikan atas dasar ketaatan sekaligus harap akan ridho-Nya, sudah pasti akan mendatangkan kenikmatan tersendiri. Cahaya ma’rifatullah akan terus menyertainya hingga iapun mampu menjadi cahaya di tengah masyarakatnya. Ibarat pohon, batangnya mampu menjadi sandaran, daun dan rantingnya mampu memberikan keteduhan, buahnya mampu memberikan kelezatan dan bunganya mampu menyegarkan mata yang memandangnya.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):24-25).

Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (H.R. At-Thabrani)

Sebaliknya shalat yang dilakukan sekedar menghilangkan kewajiban, sekedar penggugur dosa, karena adanya unsur keterpaksaan, tanpa niat untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya, tidak akan mampu membuahkan kebaikan. Itulah beda “mendirikan shalat” dan “melakukan shalat”.

… wa aqimis shalat ( dan dirikanlah sholat) untuk mengingat-Ku. ” QS Thoha (20: 14).

Namun demikian shalat sejatinya bukan monopoli kaum Muslimin. Karena para nabi sebelum Islam datangpun telah menerima perintah tersebut, meski tidak dengan cara yang sama dengan apa yang diperintahkan kepada kaum Muslimin. Inilah yang dinamakan syariat. Setiap nabi membawa syariatnya masing-masing.

Pada awal datangnya Islam, kiblat shalat kaum Muslimin sama dengan kiblat umat nabi lain yaitu Masjidil Aqsho di Palestina. Namun seiring dengan berjalannya waktu Rasulullah sangat menginginkan suatu hari nanti Sang Khalik menganugerahi umat beliau kiblat khusus yang berbeda dengan umat nabi lain. Kiblat yang diharapkan Rasulullah tak lain adalah Ka’bah di Mekah yang sudah tak asing bagi beliau. Dan karena kasih sayang-Nya yang begitu besar, Allah kabulkan keinginan tersebut. Masya Allah …

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):144).

Sejak itulah kaum Muslimin senantiasa menghadap ke Ka’bah di Mekah ketika shalat. Dan sebagai pemeluk sekaligus pengikut yang baik, wajib bagi kita sebagai umat Islam untuk mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw, termasuk dalam hal shalat dan persiapannya yaitu wudhu. Uniknya shalat maupun wudhu  yang dilakukan Rasulullah tersebut tidak dijelaskan di dalam Al-Quran. Tidak ada satupun ayat dalam Al-Quranul Karim yang menerangkan jumlah rakaat dalam tiap shalat. Demikian pula gerakan-gerakan shalat seperti rukuk, wujud dll. Juga keterangan tentang shalat wajib dan sunnah. Itulah pentingnya umat Islam menjadikan Hadist sebagai pegangan.

Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.”

Yang juga patut menjadi catatan, ternyata orang yang shalatpun bisa jadi Allah masukkan sebagai orang yang celaka, sebagaimana ayat berikut :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Terjemah QS. Al-Maa’uun(107):4-5)

Ibnu Mas’ud mengatakan, demi Allah, mereka tidak meninggalkan semua shalat. Andai mereka sama sekali tidak shalat, mereka kafir. Namun mereka tidak menjaga waktu shalat. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makna ayat’ adalah mereka mengakhirkan shalat hingga keluar waktu. (Zadul Masir, 6/194).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut shalatnya orang munafik. Dia secara sengaja menunda-nunda waktu shalat, hingga mendekati berakhirnya waktu shalat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Itulah shalatnya orangn munafik .. duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai shalat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit”. (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).

Na’udzubillah min dzalik, semoga kita bukan termasuk orang yang lalai, aamiin …

Terakhir, shalat dapat memperkokoh tali persaudaraan dan silaturahmi sesama muslim. Yaitu dengan digalakannya shalat berjamaah di masjid atau mushola, khususnya bagi laki-laki.

Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656).

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur”. [HR. Bukhâri dan Muslim,

Itulah persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) yang belakangan sangat kendur hingga mudah di adu domba. Padahal yang demikian akan membuat kita lemah dan mudah diserang musuh-musuh Islam.

Dari Muadz bin Jabal Rasulullah bersabda :

“Pucuk urusan adalah Islam, tiangnya adalah Sholat dan punuknya adalah Jihad”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 2 Mei 2019.

Vien AM.

Pemilihan Presiden tinggal beberapa hari lagi. Bahkan di luar negri pesta rakyat tersebut sudah dimulai sejak 8 April hingga 14 April 2019 nanti. Namun tak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu di beberapa tempat di luar negri kali ini berjalan dengan berbagai keanehan.

Di Malaysia ditemukan sejumlah kantong plastik hitam berisi surat suara sudah tercoblos, sebagian sudah tercecer. Di Belanda banyak pemilih yang telah mencoblos malah menerima kembali surat suara yang harusnya langsung dikirim ke  panitia pemilihan luar negeri (PPLN). Sementara di Sydney ratusan wni membuat petisi menuntut agar pemilu di kota tsb diulang karena banyak yang belum sempat mencoblos sudah ditutup.

Kabarnya karena jumlah wni yang datang jauh lebih banyak dari perkiraan. Itu sebabnya panitia kehabisan lembar surat suara. Pemerintah secara resmi memang membolehkan mencoblos dengan passport. Namun adakah jaminan bahwa pemegang passport setelah pulang ke tanah air nanti tidak akan mencoblos lagi dengan memanfaatkan ktp??

http://riaupos.co/196600-berita-nyoblos-pemilih-boleh-pakai-paspor.html

https://news.detik.com/berita/4506134/panwaslu-laporkan-surat-suara-mayoritas-tercoblos-01-di-selangor-malaysia

https://www.liputan6.com/pileg/read/3939644/wni-di-belanda-bingung-surat-suara-sudah-dicoblos-kembali-ke-pemilih

https://www.alinea.id/pemilu/ricuh-ratusan-wni-di-sydney-tuntut-pemilu-ulang-b1Xey9jdG

Anehnya isu yang berkembang atau dikembangkan bahwa itu semua ulah kecurangan pihak paslon 02, yaitu Prabowo-Sandi. Alasannya karena Prabowo sangat berambisi menjadi presiden. Padahal jika kita mau sedikit saja berpikir; siapa penyelenggara pemilu, siapa yang mempunyai kuasa untuk mencampuri pemilu, siapa yang mencetak, menyimpan dan mendistribusi surat suara?? Bagaimana mungkin pihak Prabowo bisa merekayasa semua itu??

https://news.detik.com/berita/4506220/surat-suara-tercoblos-01-di-selangor-tkn-itu-ditemukan-02-bisa-fitnah

Harus dicatat Pemilu 2019 dari awal memang penuh intrik, hoax dan segala yang berbau negative. Diawali dengan kotak suara yang terbuat dari kardus, digembok. (?) Tak dapat disangkal preseden buruk ini terjadi sejak pilkada DKI yang berbuntut dengan kekalahan Ahok dan kemenangan Anies Bawesdan. Dan itu semua tak terlepas dari gerakan 212 Aksi Bela Islam yang pada akhirnya berhasil memenjarakan Ahok atas tuduhan penistaan agama. Sebaliknya Habib Riziek Syihab yang merupakan motor 212 berhasil dipaksa keluar dari tanah ar tercinta dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Maka sejak itu perseteruan antara 2 kubupun makin menjadi-jadi hingga detik ini.

Apapun yang dilakukan Anies sebagai gubernur DKI tidak pernah benar di mata pendukung Ahok. Sementara di kubu 212, karena rezim dibawah Jokowi berkali-kali terbukti tidak berpihak pada umat Islam bahkan cenderung memusuhi, maka bertekad mantan walikota Solo tersebut tidak pantas untuk dipilih lagi.

Merekapun memutuskan mendukung Prabowo sebagai capres, bergandengan dengan Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha muda sukses, kaya raya, yang dikenal rajin menjalankan syariah Islam. Dukungan ijma ulama terhadap mantan danjen Kopassus di era Suharto ini bukannya tanpa pertimbangan. Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma’arif, menyebut bahwa ditariknya para alim ulama dan mubaligh ke tim pemenangan Prabowo-Sandi merupakan implementasi dari pakta integritas yang diteken Prabowo setelah Ijtima Ulama 212. Dalam kontrak tersebut, satu poin penting yang membuat dukungan aktivis gerakan 212 tetap mendukung Prabowo-Sandi adalah “menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama…”

Disamping itu Prabowo meskipun tidak dikenal sebagai ahli ibadah namun sejak muda dikenal gigih membela Islam. Mantan menantu Suharto ini juga dikenal sebagai seorang patriot yang sangat cinta bangsa.  Ia sangat tidak rela banyak rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan, ditambah lagi asset besar bangsa ini digadaikan asing, aseng, asong.

Ironisnya, isu Prabowo adalah penculik dan orang yang harus bertanggung-jawab terhadap tragedy Mei 1998 selalu dihembuskan setiap kali Prabowo nyaleg. Padahal ia sudah 3x nyapres. Jika memang Prabowo bersalah mengapa kasus hanya dibuka setiap menjelang pemilu. Itupun yang selalu aktif menyerang adalah para jendral atasan Prabowo ketika itu. Bagi awam yang masih berhati bersih, ini justru menampakkan adanya ketakutan bila Prabowo sampai menang.

Sementara itu dengan semakin dekatnya hari H, makin banyak ulama yang dikenal bersih, yang selama ini tidak pernah berpihak dan bukan merupakan anggota partai, menyatakan secara terbuka dukungan mereka terhadap Prabowo Subiyanto. UAS (ustad Abdul Somad) contohnya, yang pernah diminta umat mendampingi Prabowo sebagai cawapres namun secara halus menolak karena ingin tetap berdakwah kepada umat tanpa benturan dengan kepentingan politik.

Ustad kondang dari Riau lulusan S1 Al-Azhar Kairo dan S2 Maroko ini menjumpai Prabowo tidak hanya sekedar menyatakan dukungan tapi juga menasehatinya dengan siraman rohani yang sangat menyejukkan. Pesan UAS yang paling menyentuh adalah “Kalau Bapak (Prabowo) memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. “Pertama, jangan bapak undang saya ke Istana. (Biarkan saya berdakwah) masuk hutan ke hutan. Yang kedua, jangan bapak beri saya jabatan, apa pun,”

Yang juga menarik, dalam pertemuan eksklusif tersebut Prabowo terlihat sangat serius mendengarkan dan memperhatikan dai muda itu berbicara. Sesekali ia bahkan terlihat mengusap air matanya. Pabowo yang dikabarkan garang dan kasar ternyata hatinya lembut. Prabowo telah membuktikan kontrak politiknya terhadap umat. Masya Allah …

Dalam kesempatan itu, UAS berpesan kepada Prabowo agar banyak-banyak berdzikir dan shalat tahajud.

Afdhal dzikir (dzikir terbaik) adalah dzikir “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah)”.

Laa Ilaaha Ilallah.. Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..

Mulut berdzikir, hati di sebelah kiri,” ujar UAS seraya telapak tangan kanannya menekan lama ke dada kiri Prabowo sambil berdzikir.

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/04/12/163142/uas-prabowo-presiden-jangan-undang-saya-ke-istana-jangan-beri-jabatan-apapun.html

Tak sampai 24 jam, UAH (Ustad Adi Hidayat) ustad yang tak kalah kondang dan lurusnya dari UAS juga datang memberikan dukungan. Sama dengan UAS, UAH juga memberikan wejangan yang cukup panjang sekaligus mendoakannya. Ini masih disusul dengan ulama-ulama yang dekat dengan umat seperti aa Gym, ustad Arifin Ilham,  ustazah Irene Handoko, syeikh Ali Jaber, UBN (Ustad Bahtiar Nasir) yang sudah sebelumnya secara terbuka memberikan dukungan, serta ustad Khalid Basalamah. Bahkan ustad Firanda, ustad Salafi yang selama ini mengharamkan jamaahnya mengikuti pemilu kabarnya mendorong jamaahnya untuk mendukung paslon no 02 ini.

Ironisnya, selang beberapa hari kemudian muncullah fitnah yang menyerang pribadi UAS. Sungguh mengherankan, apa yang terjadi dengan republic yang sudah bukan muda lagi ini. Mana yang namanya demokrasi? Mengapa setiap orang yang tidak mendukung paslon 01 harus dianiaya??

Dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.

Pendukung 01 sebetulnya tidak semua pro Ahok. Ada sebagian dari mereka yang tergiur dengan proyek infrastruktur besar-besaran yang saat ini sedang berjalan. Meski sebenarnya proyek-proyek tersebut bukan hanya hasil kerja rezim ini. Tapi juga hasil kerja yang berkesinambungan dari para pemimpin terdahulu, dengan mengandalkan hutang luar negri yang jumlah sangat fantastis, dan bakal membebani hidup anak cucu kita kelak.

Mereka juga seakan tidak peduli apa dan bagaimana program partai-partai pendukung 01. Disanalah berkumpul orang-orang yang memusuhi syariat Islam, yang suka mengolok-olok ajaran yang merupakan ajaran mayoritas penduduk negri ini. Dari mulai jilbab, pembagian waris, poligami hingga isu khilafah. Lupakah mereka bahwa firaun, sang maha raja Mesirpun berhasil membangun kota-kotanya dengan penuh kemegahan. Namun Allah swt meng-azabnya karena ia ingkar kepada Tuhannya.

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan pembangunan kota yang sungguh indah.  Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Peninggalan peradaban dan budaya yang tinggi di kota-kota Islam seperti Damaskus, Istanbul, Palermo, Andalusia dll masih bisa disaksikan hingga detik ini.

Saat ini Islam memang sedang mengalami keterpurukan. Kita tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari dunia Islam, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal ahlak seperti kedisiplin, kebersihan dll. Islamophobia dan label teroris yang disandangkan kepada ajaran yang dibawa Rasulullah saw 15 abad silam, sungguh menyakitkan hati. Persaudaraan Islam yang rentan hingga mudah diadu domba, ulama yang dipersekusi, satu diangkat yang lainnya difitnah. Na’udzubillah min dzalik ….

Namun sejak dimulainya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 di Monas, terlihat bahwa umat Islam mulai bangkit, bangun dari tidur panjangnya. Mereka siap bersatu membela Islam, sadar agar pentingnya menjaga shalat berjamaah dimanapun berada, seperti ketika kampanye akbar terakhir di GBK beberapa waktu lalu, serta menjaga kedisiplinan dan kebersihan.

Maka bila Allah swt ridho memberi Prabowo amanat memegang pucuk pemerintahan, bisa jadi Islam akan kembali mengalami kejayaan, sesuai yang diperkirakan Rasulullah 15 abad lalu. Dengan memanfaatkan ilmu syariat, hutang negara akan bisa diselesaikan melalui dana ZIS ( Zakat, Infak dan Sodakoh) dan Wakaf yang mempunyi potensi sangat tinggi. Atau bahkan dana haji yang merupakan tabungan umat bisa digunakan untuk keperluan negara tanpa satupun kaum Muslimin keberatan, selama pemerintah senantiasa siap melindungi kaum Muslimin. Riba yang merupakan musuh ekonomi terbesar insyaAllah bisa dihilangkan. Itulah salah satu keuntungan mau mendengarkan ulama yang merupakan pewaris para nabi.

“ … … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (Terjemah QS. Fathir(35):28).

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 April 2019.

Vien AM.