Feeds:
Posts
Comments

Untuk menguatkan suatu hubungan biasanya orang membuat suatu kesepakatan yang disetujui ke dua belah pihak. Kesepakatan atau ikatan persetujuan tersebut biasanya dibuat secara tertulis lengkap dengan syarat, tanggung-jawab serta sebab akibat yang akan ditanggung jika salah satu dari pihak yang terkait melanggar persetujuan yang dibuat. Bahkan ada yang harus memakai materai. Tak jarang untuk menjadi sah tidaknya suatu kesepakatan, surat persetujuan harus dibuat didepan Notaris.

Demikian pula antara hamba yaitu manusia dengan Sang Pemilik yaitu Allah Azza wa Jala. Kesepakatan tingkat tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini terdiri dari 4 kesepakatan. Yaitu Kesepakatan Ruh, Kesepakatan Fitrah, Kesepakatan Akal dan Kesepakatan Amanah. Kesepakatan ini berlaku bagi semua manusia dari nabi Adam as sebagai manusia pertama hingga manusia terakhir yang dilahirkan ke dunia nanti. Baik para nabi, orang jahat, laki-laki, perempuan, apapun agama, bangsa dan rasnya.

1. Kesepakatan Ruh.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Al-Araf ayat 172 berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Kesepakatan Ruh dibuat ketika manusia masih berada di alam ruh sebelum lahir ke dunia. Itu sebabnya kita lupa bahwa kita pernah membuat perjanjian Tauhid tersebut. Perjanjian bahwa kelak ketika kita hidup di dunia akan tetap menyembah Tuhan Yang Satu, itulah Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Sang Pencipta Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

2. Kesepakatan Fitrah.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Ar-Rum ayat 30 berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Manusia ketika lahir ke dunia dalam keadaan bersih, jauh dari segala dosa termasuk dosa terbesar yaitu kesyirikan. Itulah fitrah/kodrat manusia. Namun dalam perjalanannya ia akan menjadi kotor tergantung sejauh mana ilmu dan amalnya. Itu sebabnya manusia harus selalu belajar dan menuntut ilmu agar tidak tersesat.

Sayangnya, kebanyakan manusia hanya belajar ilmu yang sifatnya keduniaan/materialistis, lalai terhadap kebutuhan jiwa dan ruhnya. Akibatnya ia lupa akan adanya kesepakatan Ruh yang pernah dibuatnya ketika masih di alam Ruh. Ini adalah tanggung-jawab utama kedua orang-tua yang melahirkan, merawat dan mendidiknya.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” ( HR. Bukahri dan Muslim).

Itu sebabnya, setelah dewasa setiap manusia harus mau belajar, berpikir tentang fitrahnya yang mungkin telah luntur bahkan hilang akibat orang-tua yang tidak memahami tugas dan tanggung-jawabnya. Yaitu dengan bertobat dan shalat sebagaimana lanjutan atas 30 surat Ar-Rum di atas.

 “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30): 31).

Shalat memang bukan monopoli ajaran Islam karena para nabi dan rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw pun mengajarkannya, meski mungkin tidak sama dengan shalat yang biasa dikerjakan umat Islam.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):43).

3. Kesepakatan Akal.

Kesepakatan ini adalah kesepakatan untuk menjadikan para rasul sebagai panutan dalam menjalani kehidupan di dunia. Ayat Al-Quran yang menuliskan kesepakatan ini sangat banyak jumlahnya, diantaranya adalah surat An-Nisa ayat 165 dan surat Al-Baqarah 285 berikut :

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):165).

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“.(Terjemah QS. Al-Baqarah (2):285).

Pada setiap masa Allah swt senantiasa menurunkan utusan-Nya, dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw, dengan membawa ajaran pokok Tauhid yaitu bahwa Tuhan adalah Satu, tidak beranak maupun diperanakkan. Melalui malaikat yang sama pula yaitu, Jibril as, para nabi dan rasul menerima ajaran-Nya.

Pada dasarnya ajaran tersebut hampir sama. Perbedaan hanya terletak pada tata cara yang diajarkan rasul masing-masing. Itu sebabnya kesepakatan ke 3 ini dibuat. Namun meski namanya Kesepakatan Akal tidak berarti akal adalah segala-segalanya. Karena yang dituntut kesepekatan tersebut justru memuliakan para nabi dan rasul di atas akal. Karena akal sering kali mudah kalah oleh syaitan yang merupakan musuh abadi manusia.

Untuk itu Allah swt mewajibkan umat Islam untuk selalu membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya, yang didalamnya terdapat ayat 6 dan 7 sebagai berikut :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang DIMURKAI dan bukan (pula jalan) mereka yang SESAT”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud “DIMURKAI” dalam ayat di atas adalah umat Yahudi sedangkan yang “SESAT” adalah umat Nasrani. Mengapa demikian??

Umat Yahudi disebut umat yang dimurkai karena mereka berakal tapi tidak beramal kebajikan. Rata-rata orang Yahudi bukan saja memahami kitab Taurat mereka, tapi juga Al-Quranul Karim. Bahkan hadistpun mereka percayai. Sayangnya mereka hanya merasa cukup mempercayainya tapi tidak mengamalkannya. Mereka bahkan sangat suka berbuat jahat diantaranya membunuhi para nabi.

“ … … Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):46).

Sementara umat Nasrani mereka banyak berbuat kebaikan tapi tanpa ilmu. Diantaranya keyakinan  bahwa Tuhan adalah tiga sebagaimana diabadikan ayat 73 surat Ali Imran berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Itu sebabnya kita, umat Islam senantiasa diingatkan agar jangan  meniru keduanya. Umat Islam harus berprinsip “Sami’na wa atho’na” ( kamu dengar dan kami patuh)”, yaitu berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut dengan meniru apa yang dicontohkan rasulullah. Itulah Sunnah Rasul atau yang biasa juga dinamakan Hadist.

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

4. Kesepakatan Amanah atau Kesepakatan Mengemban Amanah.

Kesepakatan ini tertulis di dalam ayat 72 surat Al-Ahzab berikut:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena amanat yang enggan ditrima oleh langit, bumi dan gunung-gunung itu amanat yang teramat sangat berat. Amanat tersebut yaitu menjadi khalifah di muka bumi, khalifah yang adil yang mampu ber-a’mar ma’ruf nahi mungkar, berbuat kebaikan dan menolak kemungkaran. Dan bila tidak mampu dan tidak mau bertobat azab adalah balasannya!

“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):73).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 September 2018.

Vien AM.

Iman Yang Lemah

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Terjemah QS. Al-Hujuraat(49):10).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR.Bukhari).

Ayat dan hadist mengenai persaudaraan sesama Muslim sangatlah banyak. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mengaku Muslim namun tidak mengamalkannya. Mereka bukan saja tidak menyayangi sesama saudara/i nya tapi bahkan tega mendzaliminya. Ada apa dengan Muslim di negri yang katanya mayoritas Muslim ini  Tidakkah lagi Al-Quran dan As-Sunnah dijadikan pegangan dan pedoman hidup? Padahal menurut catatan Indonesia termasuk pencetak hafidz dan hafidzah terbaik dunia. Apakah Al-Quran hanya dijadikan hafalan atau malah sekedar pajangan di lemari saja ?  Sungguh menyedihkan …

Paska pelecehan ayat 51 Al-Maidah yang dilakukan Ahok tahun 2016 lalu kedzaliman terhadap para ulama makin hari makin meningkat saja. Mulai dari pencegatan ulama di bandara, sertifikasi ulama yang kental keberpihakan, peraturan adzan yang berlebihan hingga ancaman dan penyerangan terhadap ulama baik secara psikis maupun fisik. Anehnya lagi perbuatan busuk tersebut seolah dibiarkan saja oleh aparat, tidak ada tindakan hukum berarti yang mampu membuat si pelaku jera. Yang lebih menyakitkan hati lagi perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian umat Islam sendiri! Astaghfirullahaldzim …

Ustad Abdul Somad atau UAS, adalah salah satu ulama yang beberapa kali menjadi korban kedzaliman tersebut. Ulama kondang kelahiran Asahan Sumatra Utara lulusan universitas Al-Azhar dan universitas di Moroko ini terpaksa membatalkan sejumlah kajiannya di Jawa Tengah baru-baru ini karena adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu. Beredar alasan ditolaknya UAS karena isi ceramah UAS selama ini dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah, tidak Pancasilais bahkan anti NKRI. Benarkah demikian??

http://jambiindependent.com/read/2018/09/04/28310/dpd-anggap-kasus-ancaman-pada-ustad-abdul-somad-sudah-kelewatan/

Dalam sebuah wawancara televisi, Ketua PP GP Ansor Korwil Jawa Tengah. Mujibrurrohman, mengatakan bahwa pihaknya mencurigai ceramah UAS ditunggangi oleh HisbuTahir Indonesia (HTI) yang dibekukan kegiatannya beberapa waktu lalu oleh pemerintah, dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal tersebut kembali ditegaskan malam ini oleh petinggi NU yang diwawancarai oleh seorang reporter televisi swasta.

“Dari sisi atribut yang dipakai oleh krunya.sebelum datang itu kan ada krunya yang menyiapkan itu dari sisi atributnya sudah menggunakan atribut HTI. Ada beberapa orang.ada bendera “La Ilaha IllAllah Muhammad Rasullullah” di topinya, di bajunya”, terang Mujiburrohman.

https://www.portal-islam.id/2018/09/miris-kata-ansor-indikasi-uas.html

Benarkah topi, baju dengan tulisan kalimat tauhid bisa diartikan begitu saja sebagai pendukung/simpatisan HTI?? Syukur Ahamdulillah pertanyaan tersebut dijawab langsung “Tidak Bisa” secara tegas oleh humas irjen kepolisian dalam acara yang sama.

Menentukan bahwa suatu acara/dakwah berbahaya atau tidak apalagi kemudian membatalkannya adalah wewenang mutlak polisi bukan ormas apapun”, imbuhnya.

“Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ada pertanyaan mengapa UAS tidak melaporkan saja langsung ke yang berwenang? Jangan lupa ulama kondang tersebut bukan sekali ini dipersekusi. Pada persekusi sebelumnya UAS pernah melapor tadi tidak ditindak lanjuti. Persis seperti laporan para ulama lain yang pernah mengalami hal yang sama.

Perseteruan antar ormas Islam, termasuk jamaah fanatik butanya, bukan rahasia lagi memang kerap terjadi. Uztad Adi Hidayat (UAH) mengalaminya beberapa hari setelah tragedi UAS. Ia diteriaki seorang jamaah Majils Ta’lim (MT) hanya karena dianggap merebut jadwal MT kelompoknya. Na’udzubillah min dzalik … Ada apa dengan umat Islam negri ini???

Bukankah seharusnya kita saling mengingatkan bila ada saudara/i kita yang melakukan kesalahan, bukan malah menghujatnya. Tidak patut suatu kelompok merasa paling benar dan lebih baik dari kelompok yang lain hingga seenaknya mengolok-olok kelompok lain. Sebaliknya yang bersalah juga mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Alangkah baiknya bila tiap orang, tiap kelompok mau terus belajar, mengkaji ulang dan meningkatkan pengetahuannya, tidak keras kepala mempertahankan pengetahuan, hanya karena ikut-ikutan atau karena menuruti ajaran nenek moyang yang belum tentu kebenarannya …

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.”(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):170).

Contoh lain adalah kasus seorang perempuan di Medan yang memprotes suara adzan yang dianggapnya terlalu nyaring. Adzan yang diprotesnya tersebut berkumandang di lingkungan tempat tinggalnya. Protes yang dilakukan secara kasar dan sinis tersebut akhirnya mengakibatkan kerusuhan yang tidak dapat dihindarkan. Setelah 2 tahun berlalu akhirnya pengadilan memutuskan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan bagi perempuan tersebut.

Hukuman dijatuhkan sebagai bagian dari pasal penghinaan dan pelecehan terhadap umat agama lain. Tujuannya agar rakyat dapat lebih saling menghargai. Protes bukannya dilarang, tapi bila dilakukan secara baik-baik, dengan alasan yang masuk akal serta tidak menyinggung perasaan umat agama lain tentu akan berbeda halnya.

http://soksinews.com/berita/detail/24485/-din-syamsuddin-protes-adzan-bisa-dilakukan-dengan-baik-

Tapi tak lama setelah itu sejumlah orangpun beramai-ramai membully keputusan pengadilan tersebut. Ironisnya, para pembully adalah orang-orang yang mengaku Muslim. Coba bandingkan bila kejadiannya di Bali. Datang seorang Muslim ke rumah ibadah umat Hindu sambil marah-marah memprotes sesajen yang banyak tersebar di sepanjang tempat dan jalan. Ketika ia dijatuhi hukuman, akankah mereka melakukan hal yang sama???

Perseteruan, perselisihan dan pertengkaran di dalam tubuh umat Islam sudah pasti terbaca umat lain yang tidak menyukai Islam berkembang dengan baik. Dan inilah yang terjadi. Mereka segera memanfaatkan hal tersebut.

Adalah pulau Lombok yang selama bulan Agustus yang baru lalu, secara bertubi-tubi mendapat cobaan berat dari Allah swt. Gempa berkekuatan 7 skala Richter disusul ratusan gempa yang yang tak kalah dasyatnya terus menghantam pulau berjulukan Seribu Masjid tersebut. Korbanpun berjatuhan hingga 400 orang korban meninggal, ribuan luka berat dan ringan serta meninggalkan trauma mendalam, terutama anak-anak.

Bantuan segera datang dari berbagai pihak, perorangan maupun ormas. Namun sayangnya pada saat sebagian besar relawan Muslim sedang mengalami kelelahan, datang ormas non Islam yang memanfaatkan bantuan sebagai jalan untuk menyebarkan keyakinannya. Padahal jelas hukumnya, tidak diperbolehkan mendakwahkan agama dan kepercayaan di daerah yang sudah berbasis agama lain. Bukan rahasia lagi Lombok adalah rumah kaum Muslimin.

Namun yang lebih menyedihkan lagi, ketika para relawan Muslim berusaha mencegah Kristenisasi yang dilakukan mereka, justru penduduk setempat yang marah dan kesal. Lucunya lagi seorang mahasiswa yang merekam kejadian tersebut untuk dijadikan bukti Kristenisasi justru diamankan aparat.

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak dapat dipungkiri bantuan ormas Nasrani yang kabarnya didukung Vatikan memang jauh melebihi bantuan ormas-ormas Muslim. Tapi lupakah bahwa sebagai Muslim, pertolongan hanyalah milik Allah Azza wa Jala?? Dan lagi jangan lupakan kerja keras relawan Muslim kita yang ada hingga meninggal karena berbagai penyebab, seperti tertimpa reruntuhan bangunan, kelelahan dan sakit.

Dan lagi apa arti segala bantuan tersebut dibanding harga sebuah keimanan? Seperti juga pembangunan infrastuktur besar-besar bagai rumah yang mewah namun penghuninya tidak merasa aman, nyaman dan tentram, yang setiap hari gontok-gontokan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):214).

Ini saatnya kita harus bersatu, saling bahu membahu menguatkan barisan. Selama masih memegang teguh kalimat tauhid dan dalam ikatan Ahlusunnah Wal Jamaah, mau NU, Muhammadiyah, Persis, DDI, FPI, Salafi dll kita adalah bersaudara dan harus berkasih sayang sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath[48] : 29).

Jangan seperti sekarang ini, antar Muslim berseteru sementara terhadap orang kafir justru berkasih sayang. Terhadap sesama Muslim tidak peduli dan tidak mau saling menolong. Sementara terhadap non Muslim walaupun melakukan kesalahan tetap dibela dan dilindungi tanpa peduli telah menyakiti saudaranya sesama Muslim.

Toleransi dan ide bahwa semua agama adalah sama yang di gembar-gemborkan JIL dan antek-anteknya tampaknya memang sengaja dikembangkan pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hasilnya, jumlah Muslim yang tadinya di atas 90 % sekarang hanya tinggal 76 % !!!

https://www.kaskus.co.id/thread/5ae90af292523386538b4568/populasi-umat-muslim-di-indonesia-tinggal-76-persen/

Tidakkah kita menyadari bahwa slogan-slogan seperti “ Lebih baik pemimpin Kafir daripada Muslim tapi korupsi”, “ Politik itu Kotor” dll adalah cara-cara busuk yang dikembangkan musuh-musuh Islam agar umat Islam malu, alergi dan tidak peduli dengan agamanya ?? Dimana ghirah ( rasa cemburu) umat Islam dalam membela agama yang dilecehkan??

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 September 2018.

Vien AM.

wahyu_soeparno_putroAwalnya, suara adzan Subuh adalah “musuh” bebuyutan Wahyu Soeparno Putro. Ia merasa, suara itu sangat terganggu tidurnya. Namun siapa nyana, suara adzan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf — seorang pemeluk Islam.

Sepenggal kesaksian spiritual itu seperti tak pernah bisa dilupakan pada ingatan lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963. Termasuk ketika berbincang santai kepada Republika yang menemuinya di sela-sela kesibukannya melakoni syuting sebuah program televisi di Jakarta, Senin (4/6) lalu.

Kenangan itu ibaratnya telah menjelma menjadi semacam sebuah napak tilas spiritual tertinggi bagi pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith. Ia antusias — walau kadang dengan berkaca-kaca — menceritakan kisah yang dilaluinya sekitar 12 tahun silam. Tepatnya, sekitar pada 1999 atau lima tahun setelah pengelanaannya ke Yogyakarta. Dale saat itu datang ke Yogyakarta dari Australia untuk mencari nafkah dari perusahaan kerajinan yang memekerjakan sedikitnya 700 karyawan.

Di Kota Gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita Dale ini kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno.

Rumah Soeparno ini letaknya hanya sepelemparan batu saja ke arah masjid. Karena tak jauh dari masjid, tak mengherankan kalau setiap pagi suara adzan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Dale selalu terbangun di pagi hari.

Bahkan setelah menetap cukup lama di rumah Soeparno itu, dia selalu terbangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ”Ini yang membuat saya heran,” katanya. ”Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.”

Di tengah proses menemukan ‘hidayah’, Dale yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun itu kemudian mulai banyak bertanya-tanya tentang Islam. Hal-hal sederhana tentang Islam seperti sholat sampai puasa menjadi pertanyaan yang mengusik batinnya. Terkadang ia pun tak sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekannya yang menganut Islam.

Pergaulan yang kian terjalin akrab dengan lingkungan Yogya itu ternyata melahirkan pula sebuah sikap toleransi beragama pada diri Dale. Ketika Ramadhan tiba dan rekan-rekannya berpuasa, dia seakan terpanggil untuk ‘ikut-ikutan’ berpuasa. ”Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,” kata dia. ”Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata sudah full hingga puasa tahun kemarin,” sambungnya dengan penuh bangga.

Eksperimentasi dalam menjalani ibadah puasa maupun rutinitas bangun pagi menjelang adzan Subuh itu kemudian memberikan pula semacam perasaan tenang yang menjalar di dalam diri Dale. ”Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,” katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia.

Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustad bernama Sigit. Ustad ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno.

”Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,”Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu’,” kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit.

Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ”Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,” kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ”Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,” ujarnya lagi. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustad itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora.

Di saat hasrat di dalam diri semakin ‘merasa’ Islam, Dale kemudian bertanya pada Soeparno. ”Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,” kata dia kepada Soeparno. ”Tetapi bagaimana caranya,” sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.

Lantas tidak membutuhkan waktu lama lagi, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi ‘hijrah’ itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap “mengganggu” tidurnya…. (akb/riol )

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Biodata

Dale Andrew Collins-Smith
Nama sekarang: Wahyu Soeparno Putro
Lahir : Skotlandia, 28 Juli 1963
Pendidikan:
Centre for the Performing Arts (Adelaide Australia)
Victorian College of the Arts (Melbourne Australia).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 September 2018.

Vien AM.

Dicopy dari:

https://kisahmuallaf.wordpress.com/2012/05/05/wahyu-soeparno-putro-adzan-subuh-pengganggu-tidurnya/

Khusyuk Dan Makrifatullah.

Pada suatu kajian seorang jamaah bertanya “ Mengapa saya sulit khusyuk dalam shalat uztad ya?”. Sang uztad lalu menanyakan kepada jamaah yang bertanya tersebut, apakah ia mempunyai sahabat. Ketika dijawab “punya”, sang uztad kembali mengajukan beberapa pertanyaan. Diantaranya, apakah ia mau membantu sahabatnya ketika sang sahabat dalam kesulitan. Katakan, meminjamkan uang dalam jumlah cukup besar, dengan penuh kerelaan.

Asma-ul-HusnaSebaliknya bila yang meminta pertolongan yang sama bukan sahabat yang ia kenal baik, apakah ia mau menolongnya dengan ikhlas? Intinya, jawaban sang uztad, shalat hanya bisa khusyuk bila kita benar-benar mengenal Allah swt, Sang Pencipta;  sifat serta nama-nama-Nya (Asma’ul Husna). Itulah Makrifatullah.

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib (Al-Ghoib) dan yang nyata ( Asy-Syahadah), Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (Ar-Rahim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Malik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salaam), Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mukmin), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa (Al-Aziz), Yang Maha Kuasa (Al- Jabbar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Kholiq), Yang Mengadakan (Al-Bari), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushowwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik (Asma’ul Husna). Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim)”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):22-24).

Sebagai contoh, ketika kita memakai barang pemberian seorang teman, otomatis tentu kita akan teringat teman yang memberi barang  tersebut bukan? Itulah salah sebab mengapa Allah swt sangat menyukai orang yang pandai ber-terimakasih.  Orang yang pandai berterima-kasih adalah mereka yang tidak mudah melupakan jasa dan kebaikan orang lain, serta mudah melupakan keburukan orang lain, dan senantiasa berusaha membalas kebaikan yang ditrimanya dengan yang lebih baik. Orang yang seperti itu Allah akan mudahkan urusannya.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.

Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

“Iya kalo pemberian orang/teman gampang, kelihatan soalnya … nah kalo Allah ??”, celetuk seorang jamaah.

Allah swt Sang Pencipta memang tidak bisa kita lihat secara kasat mata. Tetapi seperti juga teman yang jauh di mata, yang dengan melihat pemberiannya saja mampu membuat kita teringat padanya, demikian pula Allah.

Ini tampaknya yang harus kita latih, menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah Azza wa Jala, yang pada saatnya nanti harus dipertanggung-jawabkan dan dikembalikan, yaitu ketika kita dipanggil untuk menemui-Nya. Seringkali kita lupa bahwa penglihatan, pendengaran dan seluruh yang ada di tubuh kita adalah pinjaman dari Allah swt. Demikian pula air dan sinar matahari yang merupakan kebutuhan pokok manusia. Yang tanpa itu semua mustahil tanaman bisa berbuah, ternak yang biasa kita konsumsi dll bisa hidup.

Simak apa yang dikatakan ayat 71 dan 72 surat Al-Qashah berikut :

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” 

Hati pada awalnya adalah bersih. Namun bila tidak dijaga dengan baik ia akan menjadi kotor dan lama kelamaan akan menjadi penyakit yang sulit untuk dsembuhkan. Iri dan dengki adalah contoh penyakit hati yang sering menyerang manusia. Dan adab pandai berterima-kasih terhadap kebaikan sesama manusia, sekecil apapun, adalah salah satu penangkal mujarab penyakit hati. Dengan bekal hati yang bersih dan sehat kita akan lebih mudah mengenal Sang Khaik. Dan dengan mengenal Allah ( makrifatullah) shalatpun akan lebih khusyuk.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 45-46).

Suatu hari Nabi s.a.w masuk masjid kemudian masuk pula seseorang ke dalam masjid lalu ia shalat dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi saw menjawab salamnya dan bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi,  sebab kamu belum shalat.” Serta merta orang itu pun shalat lalu mengucapkan salam kepada Nabi saw dan beliau bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belum shalat,” tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa lebih baik dari itu, maka ajarilah aku.” Beliau bersabda, “Apabila kamu hendak shalat beratkbirlah lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (Al-Fatihah). Lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar tenang dalam ruku’, kemudian angkatlah sampai tegak berdiri, lalu sujudlah sampai tenang dalam sujud, kemudian bangunlah sampai kamu tenang dalam duduk, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujud. Lakukan hal itu dalam semua shalatmu.

Maka tak salah bila Al-Qurthubi mengatakan bahwa khusyuk adalah keadaan di dalam jiwa yang nampak pada anggota badan dalam bentuk ketenangan dan kerendahan. Sementara Qatadah mengatakan bahwa khusyuk adalah rasa takut dan menahan pandangan dalam shalat.

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”. ( Terjemah QS. Al-Muzzammil (73):6).

Jumhur ulama memang sepakat bahwa khusyuk dalam shalat tidak termasuk syarat, rukun atau pun wajib. Khusyuk dalam shalat adalah sunnah, tidak terkait dengan sah dan tidaknya sholat. Namun demikian harus disadari shalat yang dilakukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban tidak akan melahirkan Islam yang Rahmatan Lillamiin, Islam yang dapat mendatangkan kebaikan sekaligus mencegah kemungkaran, seperti korupsi dll. Untuk itulah shalat sepantasnya dilakukan secara khusyuk. Meski tidak mudah pastinya melakukan shalat khusyuk seperti shalatnya rasulullah maupun para sahabat.

Diriwayatkan, dalam suatu peperangan, Ali bin Abi Thalib ra, terkena panah pada salah satu anggota tubuhnya. Ketika para sahabat akan mencabut panah tersebut, Ali berkata: ”Keluarkanlah panah ketika aku sedang berada ditengah sholatku”. Alhasil, panahpun berhasil dicabut tanpa sang Amirul Mukminin merasa kesakitan … Allahu Akbar …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 Agustus 2018.

Vien AM.

Islamophobia ternyata bukan hanya ada sejak peristiwa 911 yaitu peristiwa diledakkannya menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001, dengan tuduhan pelakunya adalah orang Islam. Yang lebih ironis lagi, meskipun tuduhan tersebut tidak terbukti kuat bahkan sejumlah penelitian canggih membuktikan bahwa gedung tersebut bukan runtuh akibat ditabrak pesawat seperti yang dituduhkan, melainkan oleh sejumlah bom yang sengaja dipasang di kaki gedung, tuduhan tetap saja melekat kuat bahwa Islamlah pelakunya.

Islamophobia ternyata sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Serangan dan fitnah buruk terhadap citra Islam dilakukan musuh-musuh Islam melalui berbagai cara, diantaranya lewat dunia perfilman.

Hampir semua orang pasti tahu dan pernah mendengar cerita legenda Dracula si mahluk jahat  vampire penghisap darah manusia. Cerita Dracula bermula dari novel karya penulis Irlandia bernama Bram Stoker. Novel tersebut ditulis  pada tahun 1881 , dan membutuhkan 7 tahun untuk penyelesaiannya. Selepas itu ntah sudah berapa banyak Hollywood memproduksi film tentang tokoh antagonis itu.  Namun berapa banyakkah orang yang menyadari bahwa tokoh Dracula ternyata nyata, bukan hanya fiktif dan sekedar khayalan alias mengada-ada.

Sebuah buku berjudul  “Dracula, the Impaler Muslims in the Crusades” karya Hyphatia Cneajna, diterjemahkan “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib”,  terbit pada tahun 2009, membongkar hal tersebut. Karya tersebut melengkapi Wikipedia yang mencatat hal tersebut, bahwa nama asli Dracula adalah Vlad Țepeș, seorang raja Wallachia dengan gelar Vlad III.

https://id.wikipedia.org/wiki/Vlad_%C5%A2epe%C5%9F

http://djaloezakie.blogspot.com/2011/01/sultan-mehmed-ii-conqueror-of.html

https://redfox69.wordpress.com/2009/04/26/dracula-pembantai-umat-islam-dalam-perang-salib/

Intinya Dracula alias Vlad III adalah seorang raja Wallachia ( sekarang Rumania) yang memerintah pada tahun 1456-1562 M. Namun kekuasaannya yang hanya 6 tahun itu penuh dengan kekejaman, sesuai dengan gelar “Tepes” yang disandangnya. Tepes artinya adalah penyula, yaitu cara penyiksaan dengan menusukkan kayu sebesar tangan manusia dengan ujung runcing, lewat dubur hingga tembus ke kepala. Astaghfirullahaldzim …

Pada masa kekuasaan ayah Dracula, Vad II, kerajaannya takluk dibawah Sultan Murad II dari kerajaan Turki Ottoman. Sang ayah kemudian mengirim Dracula dan adiknya Randu yang ketika itu masih remaja untuk mengenyam pendidikan di Istanbul. Namun rupanya Dracula yang sejak kecil sudah mempunyai watak tidak baik, diam-diam menaruh dendam pada kerajaan Turki. Randu, sebaliknya, berkawan baik dengan putra mahkota Turki, Sultan Mehmed II, dan akhirnya memeluk Islam.

Sayang kerajaan Turki tidak menyadari kebencian yang ada dalam diri Dracula. Ketika kerajaan Wallachia dikudeta, sang ayah terbunuh, Turki membantu pemulihan kerajaan tersebut, bahkan mengangkat Dracula sebagai rajanya. Itulah awal mala petaka.

Setelah menjadi raja, Dracula tidak hanya menangkapi dan menyula para bangsawan yang telah memberontak dan membunuh ayahnya, namun juga menabuh genderang perang terhadap Turki. 300 ribu tentara Muslim Turki Ottoman menjadi korban kebiadaban “ si penghisap darah” Dracula. Tentu saja bukan dengan cara dihisap darahnya seperti dalam film-film Dracula, namun lewat penyulaan. Ironisnya, hari ini Dracula dielu-elukan sebagai pahlawan oleh rakyat Rumania.

Dracula akhirnya dapat dikalahkan pasukan Sultan Mehmed II. Kepalanya dipancung dan dibawa ke ibu kota kesultanan Turki. Sedangkan tubuhnya yang akhirnya ditemukan pasukannya dikuburkan di sebuah gereja di negaranya.

Anehnya, pada tahun 2014 lalu, beredar film “Dracula, The Untold Story” dengan cerita yang berbeda sama sekali dengan film-film Dracula yang beredar selama ini. Dracula si vampire penghisap darah itu dikisahkan sebagai seorang raja yang harus bertempur melawan seorang sultan jahat. Dan siapa lagi sultan yang dimaksud kalau bukan Sultan Yang Agung, Sultan Mehmed II.

Dari sini terlihat jelas bahwa para musuh Islam tidak pernah merasa malu untuk berbohong, memutar balikkan sejarah, menelan sendiri ludah yang sudah keluar. Bagaimana mungkin tokoh yang selama ini dicitrakan sebagai tokoh yang kejam tiba-tiba berubah 180 derajat. Tampaknya mereka tidak menyangka bahwa tipu daya mereka selama ini, yaitu mencitrakan Dracula sebagai tokoh khayalan, ternyata terbongkar, dengan hadirnya buku karya Hyphatia Cneajna.

Untuk itulah uztad Felix Siauw, uztad muda yang hobby menulis dan sangat menguasai sejarah Turki bereaksi keras. Bersama rekannya iapun mengeluarkan buku tentang Sultan Mehmed II, lengkap dengan kisah Dracula yang memusuhi Sang Sultan.  Hal ini ia lakukan untuk mengantisipasi distrosi sejarah yang semakin liar. Agar umat Islam tidak semakin mudah dibohongi musuh-musuh Islam yang sejak kekalahan mereka dalam Perang Salib senantiasa mencari celah untuk mengalahkan umat Islam. Yaitu lewat Islamophobia ( takut kepada ajaran Islam), Hoax ( Berita bohong yang diulang terus menerus hingga menyerupai kebenaran) dan lewat Perang Pemikiran ( Ghawzl Fikri).

http://hiburan.metrotvnews.com/read/2014/10/21/308162/ustaz-felix-siauw-kritisi-film-dracula-untold

Contoh lain adalah Zombie, film yang identik dengan ketegangan dan terror yang sekarang ini sedang “in”. Intinya film ini menceritakan seramnya hidup di tengah dunia mayat hidup berbentuk seram pemangsa manusia. Yang dengan satu gigitan zombie, orang yang dgigit bakal berubah menjadi zombie juga. Film ini tidak selalu dibuat sebagai film horror, namun kadang juga sebagai film komedi.

Film Zombie pertama tercatat diproduksi pada tahun 1932 oleh sutradara Halperin bersaudara. Sutradara asal Amerika Serikat ini terinspirasi oleh pementasan teater Broadway berjudul “Zombie”.  Namun tahukan kita bahwa di Brazil pada tahun 1643 M pernah berdiri tegak Negara Islam Brazil selama lebih dari 50 tahun ? Dan pendirinya adalah seorang panglima Muslim bernama … Zombie !

Islam masuk Brazilia dalam  beberapa tahapan. Tahapan pertama pada abad 15 melalui budak-budak yang dibawa orang-orang Portugis yang menjajah tanah yang berada di Amerika Selatan ini. Budak-budak tersebut adalah orang-orang Islam dari Afrika utara dan Spanyol korban Reconquista (penaklukan Iberia oleh kerajaan Kristen dari Muslim Moor) tahun 1492M.

http://wartasejarah.blogspot.com/2015/06/sejarah-masuknya-islam-di-brasilbrazil.html

Dari situlah Islam makin lama makin berkembang hingga akhirnya meresahkan penguasa. Maka dengan segala macam cara perkembangan Islampun dihentikan. Tapi beberapa puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1643M, ketika penguasa merasa Islam telah punah, tiba-tiba muncul seorang gagah berani yang berhasil membangkitkan kembali ajaran yang nyaris musnah tersebut. Itulah Zombie, yang akhirnya berhasil menegakkan Negara Islam Brazilia.

Sayang setelah 50 tahun berlalu negara yang susah payah didirikan itu mengalami kehancuran. Umat Islam dipaksa mengganti keyakinan mereka atau dibunuh. Bahkan nama Zombiepun dihapuskan dari catatan sejarah. Dan baru terungkap dengan terbitnya tulisan “Jihad Al-Turbani” berjudul “Miatu min Udzoma” ummah al-Islam Ghoiru Majro at-Tarikh. Tulisan tersebut dikeluarkan sebagai reaksi atas munculnya buku tentang 100 orang berpengaruh di dunia karya orientalis.

http://www.tarbiyah.net/2015/06/ternyata-zombie-adalah-pahlawan-islam.html

Anehnya, muncul pula berita yang mengatakan bahwa Zombie pahlawan Islam adalah hoax. Dan mengatakan kalaupun benar hanyalah sebuah kebetulan. Persis seperti beredarnya film “Dracula, The Untold Story” yang berusaha memutar balikan fakta.

Pertempuran antara yang hak dan yang bathil seperti perang Salib yang meletus pertama kali pada tahun 1095M, memang akan terus berlanjut hingga akhir zaman nanti. Hal tersebut sudah menjadi ketetapan Allah Azza wa Jalla sebagai kelanjutan perseteruan antara Iblis sebagai kakek moyang bangsa jin dan nabi Adam as sebagai kakek moyang bangsa manusia yang waktu itu masih hidup di alam surga.

“Allah berfirman: “Keluarlah kamu ( Iblis) dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ( manusia) mengikuti kamu (Iblis), benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. ( Terjemah QS. Al-A’raf(7):18).

Media komunikasi seperti koran, majalah, radio, televise, dan film terbukti ampuh menyebarkan aneka berita kepada orang banyak, baik berita yang benar maupun yang tidak benar, alias hoax atau kebohongan. Itu sebabnya penguasaan terhadap media komunikasi selalu menjadi rebutan. Siapa yang berhasil menguasainya ialah yang menang. Ironisnya, saat ini Yahudilah yang memegang hal tersebut. Hampir semua media komunikasi mereka kuasai hingga kaum Muslimin tidak tahu persis mana berita yang benar dan mana yang hoax.

Rasanya cukup sudah kita di bully dengan berita-berita hoax yang makin lama makin menyakitkan. Sudah tiba waktunya kita harus keluar dan memenangkan pertempuran. Sesama Muslim adalah bersaudara, mari kita satukan dan rapatkan barisan. Tidak perlu memperbesar dan memperlebar perbedaan pendapat diantara kita. Jangan biarkan musuh-musuh Islam menari-nari dan mentertawakan kita sementara kita hanya sibuk dengan perbedaan yang tidak mendasar, hingga terus terpuruk hingga detik ini. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjama’ah (bersatu) adalah rahmat sedangkan berpecah-belah adalah adzab”. ( HR. Ahmad ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Agustus 2018.

Vien AM.

Tak sampai 9 bulan lagi Pemilu 2019 akan segera diselenggarakan. Puncak pesta demokrasi rakyat 5 tahun-an tersebut rencananya akan dilaksanakan pada 17 April 2019. Pada acara akbar tersebut selain presiden dan wakilnya, rakyat juga akan memilih anggota dewan legislatif DPR RI, DPD RI dan DPRD.

Namun seperti juga pemilu 2014 dan pilgub DKI 2017, pesta demokrasi tersebut tampaknya akan mengalami fenomena yang sama, yaitu perseteruan 2 kubu yang sama sekali tidak sehat. Tak dapat dipungkiri detik-detik menjelang pilgub DKI 2017, pendukung Ahok sebagai petahana dan pendukung Anies sebagai penantang, bagai anjing dan kucing yang sama sekali tidak dapat berdamai. Ironisnya hal ini terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan Sandiaga yang merupakan wakil gubernur DKI Anies yang memenangkan pemilu berkomentar bahwa kebijakan apapun yang diakukan pemprov DKI selalu dicela PDI-P. Partai berlambang kepala banteng ini memang dikenal sebagai pendukung berat Jokowi-Ahok.

https://www.konfrontasi.com/content/politik/sandiaga-uno-apa-yang-kami-lakukan-pasti-dibilang-salah-oleh-pdi-p

Anis-Sandiaga yang merupakan pasangan yang dijagokan koalisi Gerindra, PKS dan PAN, serta direstui sebagian besar ulama dan umat Islam yang merasa tersinggung oleh pernyataan Ahok tentang ayat 51 surat Al-Maidah beberapa waktu lalu, memang mampu membuktikan keberpihakannya kepada rakyat kecil.  Program Ok-Oce adalah salah satu contohnya.  Program ini adalah program pelatihan bagi para pengusaha kelas menengah dan bawah agar mampu bersaing membuka lapangan kerja baru di DKI Jakarta.

http://suarajakarta.co/news/pemilu/apa-itu-program-ok-oce-anies-sandi-ini-penjelasannya/

Sementara itu, belum lagi kedua pihak yang akan bertarung berhasil mengajukan capres dan cawapres mereka, meski waktu yang tersisa hanya tinggal 1 bulan, perseteruan antar pendukung dan simpatisan di sosmed terus memanas. Misalnya, dengan bermunculannya hashtag #2019Gantipresiden, yang tidak hanya dicetak/sablon di t-shirt namun juga dalam bentuk lagu, dan menjadi viral.

Tentu saja kubu lawan tidak mau trima hal tersebut. Mereka pun menanggapinya dengan t-shirt  #2019TetapJokowi. Sebenarnya sah-sah saja prilaku tersebut asal jangan sampai memancing keributan, seperti pemaksaan pendapat apalagi saling serang secara fisik.

Sayangnya itulah yang terjadi baru-baru ini. Kendaraan milik Neno Warisman, mantan artis yang sejak beberapa tahun ini aktif sebagai pendakwah, dibakar oleh orang tak dikenal pada tengah malam. Padahal mobil Daihatsu Xenia berwarna hitam tersebut diparkir di depan rumahnya. Ironisnya lagi, kejadian tersebut terjadi tak lama setelah tragedy pelemparan bom Molotov ke kediaman Mardani Ali Sera, seorang politisi PKS. Untuk diketahui Mardani Ali Sera adalah salah satu deklarator gerakan #2019GantiPresiden bersama dengan Neno Warisman.

https://fajar.co.id/2018/07/21/usai-mardani-giliran-neno-warisman-yang-diteror/

Lain lagi yang terjadi dengan Gerindra yang menjadikan slogan “Rebut Kembali Indonesia” sebagai jargon mereka. Melalui medsos kubu lawan berusaha membakar emosi pembaca bahwa slogan tersebut sangat provokatif.

“ Merebut dari siapa dan untuk siapa?? Bukankah Indonesia itu milik seluruh rakyat Indonesia??”, begitu salah satu bunyi protesnya. Berikut keterangan Fadli Zon sebagai wakil ketua umum Gerindra.

https://www.kaskus.co.id/thread/5a8b8cdc507410666d8b4568/ini-maksud-semboyan-quotrebut-kembali-indonesiaquot-dari-gerindra/

Tak dapat dipungkiri terutama bagi yang tinggal di Jakarta dan hidup berkecukupan, ibu kota tercinta ini kelihatannya memang baik-baik saja. Apa saja ada, dan mudah didapat, selama ada uang. Gedung-gedung pencakar langit yang megah, pusat-pusat perbelanjaan mewah dimana berbagai butik terkenal mancanegara dan restoran local maupun internasional berada di dalamnya, sangat mudah ditemui.

Namun sadarkah kita siapa sebenarnya pemilik gedung-gedung megah, mall-mall, perumahan-perumahan mewah yang setiap hari kita lihat dan lewati tersebut??  Bahkan sekedar mini market yang jumlahnya tak terhitung di sekitar kita tinggal, dan kalau mau sedikit diingat hanya itu-itu saja … Kalau bukan Indomart yaa Alfamart yang pemiliknya sama saja dengan pemilik yang disebutkan di atas. Bukankah ini yang namanya monopoli, hal yang amat sangat dibenci dan dilarang dalam Islam …

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. … … “.(Terjemah QS. Al-Hasyr(59):7).

Saya jadi teringat kakak ipar saya yang mengeluh sejak menjamurnya 2 minimarket tersebut warung kecil yang didirikannya di halaman rumah jadi tidak laku. Juga prt saya yang suatu hari saya tegur karena membeli sayur lebih sedikit dari kebutuhan kami sehari-hari. Saya memang biasa meminta prt kami belanja sayuran di tukang sayur yang mangkal tidak jauh dari rumah

“ Tukang sayurnya sekarang g berani bawa sayuran banyak-banyak bu … katanya mahal banget, takut pada g mau beli. Jadi ya harus bagi-bagi sama pembeli lain”, kilahnya.

Iya juga, pikir saya, yang paling menderita tukang sayurnya kalau bawa banyak tapi tidak laku terjual.

Jarak antara si kaya dan si miskin di negri kita tercinta ini harus diakui sangat “jomplang” alias jauuuh bagaikan bumi dan langit. Bayangkan, tidak sedikit kongomerat kita yang masuk deretan 100 besar orang terkaya di dunia. Sementara banyak rakyat kita yang makan 3x sehari saja tidak mampu. Tidak jarang saya menemui orang “kecil” yang ketika kami beri makan siang menolak. Alasannya takut kebiasaan … Miriiis …

Untuk itulah Alumni 212 membentuk Koperasi Syariah 212 yang membawahi Mart 212. Tujuannya agar umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia bisa hidup sejahtera dan mandiri. Koperasi ini dibawah pengawasan langsung pakar ekonomi syariah DR.M.Syafii Antonio, dengan penasehat uztad Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), uztad Arifin Ilham dll. Kepemilikannya adalah seluruh anggota koperasi dengan modal minimal 50 ribu rupiah, maksimal 15 juta rupiah.

https://koperasisyariah212.co.id/koperasi-syariah-212/

Dengan demikian hashtag #gantipresiden2019 memang sungguh beralasan. Meski belum jelas siapa sebenarnya sosok terbaik yang patut menggantikan Jokowi. Yang pasti, umat Islam sangat mendambakan sosok yang mau peduli terhadap Islam yang beberapa tahun belakangan ini, khususnya sejak peristiwa Al-Maidah 51, makin terpojokkan. Setidaknya itulah yang diinginkan Alumni 212.

https://news.detik.com/berita/3963104/gerindra-belum-tentu-prabowo-yang-diinginkan-2019gantipresiden

Itu sebabnya pernyataan terbuka dukungan Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) terhadap Jokowi sungguh mengecewakan sebagian besar umat Islam dan para ulama. Terutama uztad Abdul Somad dan rekan-rekan sesama alumni  universitas Al-Azhar yang sebelumnya sempat menjagokan gubernur NTB 2 kali itu untuk menggantikan Jokowi sebagai RI1. Juga partai Demokrat yang belakangan menjadi tempat bernaung dan sukses mengantar TGB sebagai gubernur NTB. Sebaliknya, PKS meskipun sesama oposisi bisa memaklumi keputusan tersebut.

“Tidak mengagetkan. Di politik semua bisa terjadi. Tapi umat akan mencatat dengan baik,” kata Mardani.

Sementara PBB yang mengantar TGB menduduki jabatan tertinggi NTB periode pertama, berkomentar lebih panjang:

“Dulu baru selesai kuliah kembali ke Indonesia pas milih momen bergabung dengan PBB dan duduk sebagai anggota DPR RI. Kemudian di momen yang pas dapat dukungan maju pilgub dari PBB dan menang,” tutur Sukmo.

“Berikutnya tinggalkan PBB gabung ke Demokrat untuk dapat maju lagi di pilgub periode kedua. Sekarang setelah hampir habis jabatannya sangat cerdas berbeda pendapat dengan Demokrat, beliau mendukung Pak Jokowi,” imbuhnya.

https://news.detik.com/berita/4099225/tgb-dukung-jokowi-pro-jokowi-gembira-oposisi-terkaget-kaget

Yang pasti pilihan merapat ke PDIP jelas sangat menyakitkan umat Islam. Betapa tidak … ketua umum  partai yang tak lain adalah Megawati itu, pernah berucap bahwa partainya tidak memerlukan suara umat Islam.

https://www.nahimunkar.org/umat-islam-yang-ada-di-pdip-dihimbau-keluar/

Meloncatnya TGB ke kubu Jokowi menambah potensi perpecahan umat Islam yang semakin melebar. Belum lagi wacana Islam Nusantara yang diprakasai Said Aqil Siraj beberapa tahun terakhir ini. Ulama yang dikenal memang nyleneh ini sambil tertawa ringan menerangkan kepada grand syeikh Al-Azhar Ahmad Thayyib bahwa Islam Nusantara adalah Islam orang Nusantara Indonesia, Malaysia, Brunei yang penuh toleransi anti ektrimisme dan radikal, tidak seperti islam Arab. Ini dikatakan ketika sang syeikh datang memenuhi undangan ke kantor PBNU.

Namun secara tegas syeikh tersebut langsung menjawab, “Seandainya saja Allah tahu bahwa bangsa Indonesia lebih pantas dari bangsa Arab untuk menerima dan mengemban Risalah penutup kenabian, maka Risalah tidak akan diturunkan kepada Nabi Muhammad saw,”.

http://www.mantabz.com/bangga-dengan-islam-nusantara-said-aqil-di-skakmat-grand-syekh-al-azhar/

Lupakah ketua PBNU itu bahwa sesama Muslim adalah bersaudara? Mengapa kita harus merasa lebih hebat dari saudara kita yang lain apalagi yang dari Timur Tengah?? Mempersatukan sesama Muslim pendukung Jokowi/Ahok dan Prabowo/Anies saja tidak mampu! Bukankah ulama adalah pewaris para nabi yang seharusnya perkataan maupun sikapnya harus kita jadikan panutan? Bukan membuat kita saling gontok-gontokan yang akhirnya malah membuat kita lemah dan mudah dikalahkan dan dilecehkan umat agama lain …

Dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan mendzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Sayangnya itu pula yang terjadi antar partai Islam yang ada di negri yang katanya mayoritas Islam ini. Mengapa PKB dan PPP harus berada di posisi berlawanan dengan PKS, PAN maupun PBB yang sama-sama bernafaskan Islam? Mengapa mereka tidak mau bersatu dan berjuang menjadikan seorang Muslim terbaik sebagai pimpinan tertinggi negri ini? Yang mungkin bersama Sultan Erdogan dari Turki dan Mahathir dari Malaysia mampu mengembalikan kejayaan Islam yang pernah mencapai masa keemasan selama 8 abad lebih.

Mari bersama kita bermunajat kepada Allah swt agar para pemuka partai-partai tersebut mau bersatu, mengingatkan apa sebenarnya tujuan mereka mendirikan partai Islam. Setidaknya, bila hanya PKS, PAN dan PBB bersama Gerindra yang mau memperjuangkan keinginan umat, semoga Prabowo yang merupakan orang terkuat di kubu tersebut mau benar-benar memikirkan dan mengajukan capres dan cawapres yang kira-kira bisa ditrima dan bisa mengalahkan sang petahana tanpa harus memaksakan diri untuk maju sendiri sebagai RI1.

Sekaligus memohon agar umat Islam sadar akan pentingnya memilih pemimpin yang seakidah, yang menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pegangan hidup, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga dalam menjalankan kekuasaan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu ( Yahudi dan Nasrani), dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):57).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juli 2018.

Vien AM.

20180620_052053CYMERA_20180620_074959Paginya, sekitar pukul 6.30 setelah sarapan ringan, dengan sekoci kami bergantian menuju pulau Padar yang kecantikannya sudah mulai terlihat. Harus dengan sekoci karena kapal tidak bisa benar-benar merapat ke pantai. Air laut yang bersih kehijauan dan udara pagi dengan kabut tipisnya menyambut kami. Sebuah tangga kayu yang lumayan terjal dan panjang terpampang di depan mata. Kamipun segera menaikinya. Suasana masih agak sepi. Rupanya tamu-tamu lain yang semalam kapalnya parkir bersama kami sudah lebih dulu naik. Tiba di ujung tangga, pak Latief berujar,

“ Ke kiri bu, pak. Ke kanan belum ada tangga. Dan lagi yang ke kiri memang yang sedang viral”.

“ Bapak ibu beruntung. Tangga ini baru beberapa bulan dibuat. Sebelum ada tangga para tamu harus trekking lumayan berat”, tambahnya. Anak-anak sudah tak terlihat, meninggalkan kami jauh di belakang. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin melihat keelokan dari puncak sana.

20180620_05331620180620_055011IMG_20180620_07304920180620_054644Sementara saya dan suami sebentar-sebentar berhenti, selain untuk mengagumi keindahannya, juga untuk mengatur nafas dan menjaga kaki supaya tidak terlalu lelah mendaki tangga yang cukup panjang dan tinggi itu …  maklum faktor U … 🙂 … Akhirnya kamipun tiba di atas bukit pulau Padar dengan mata terbelalak … Masya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu … Rasanya inilah pemandangan alam tercantik yang pernah kami saksikan selama ini.

CYMERA_20180620_07410220180706_110431-1[1]Bentuk pulau Padar dilihat dari udara memang unik. Garis pantainya yang berlekak-lekuk ditambah pasir putih, air laut yang biru kehijauan dan bukit disana-sini sungguh menakjubkan. Rerumputan kemuning akibat kekeringan yang sering melanda propinsi ini justru menambah keunikannya. Kemanapun pandangan kita alihkan, keindahannya benar-benar memukau mata dan hati ini. Sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah …

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” . (Terjemah QS. Ali Imran (3): 190-191.

Kalau tidak ingat waktu ingin rasanya berlama-lama memandangi keindahan tersebut. Apalagi ketika itu belum terlalu ramai dan mataharipun masih belum terlalu terik. Dan benar saja ketika kami mulai menuruni bukit terlihat kapal-kapal mulai merapat menurunkan tamu-tamunya dengan sekoci, dan berbondong-bondong menaiki bukit.

Tak lama kamipun sudah berada  di atas kapal kembali, dan segera berlabuh. Sambil menikmati sarapan nasi goreng buatan chef kapal, mata kami masih terus dimanjakan pemandangan indah pulau Padar dari bawah dan pulau-pulau kecil berbukit di sekitarnya.  Tujuan kami berikutnya adalah snorkling di pantai Pink pulau Komodo yang jaraknya tidak begitu jauh dari pulau Padar.

“ Silahkan bapak ibu, mas mbak bersiap snorkeling. Kita sudah sampai”, kata pak Latief mengagetkan.

Kami sama-sama ngelingukan mencari mana yang namanya pulau Pink. Sejujurnya kami agak kecewa melihat lokasi snorkeling yang menurut pak Latief terbaik di NTT. Meskipun setelah kami turun ke pantai, sekali lagi dengan sekoci, ternyata airnya yang biru kehijauan itu sangat jernih.

IMG-20180706-WA0007IMG-20180706-WA0008Demikian pula pasirnya, sesuai namanya, memang berwarna pink. Kami menyempatkan diri menaiki bukitnya yang tidak seberapa tinggi, meski hanya demi menuruti anjuran pak Latief. Dan sesuai perkiraan kami, pemandangan dari bukit tidak terlalu istimewa kecuali airnya yang bening berkilau bagaikan kristal.

“ Mungkin karena dari kemarin kita disuguhi pemandangan spektakuler kali yaa .. jadi kurang istimewa”, bisik saya kepada suami.

Namun kekecewaan kami terobati setelah bersnorkling-ria. Tanpa perlu jauh-jauh berenang ke tengah laut bahkan hanya beberapa meter dari bibir pantai keindahan dasar lautnya yang dangkal itu, dapat kita nikmati. Biolaut seperti terumbu karang dan ikan yang beraneka warna dapat kita nikmati dengan mudahnya, bahkan dapat kita raba kalau mau. Komodo bersama Raja Ampat di Papua, pada tahun 2015 ternyata memang pernah menduduki peringkat 2 dan 1  lokasi snorkeling terbaik di dunia, mengalahkan kepulauan Galapagos.

https://www.suara.com/lifestyle/2016/01/03/111803/rajaampat-dan-pulau-komodo-lokasi-snorkeling-terbaik-di-dunia

Setelah puas menikmati keindahan bawah laut pantai tersebut, kamipun berbenah. Rencananya kami akan kembali snorkeling di pulau Kanawa. Tapi karena ketika kami bertanya kepada pak Latief, bagus mana Kanawa dengan pantai Pink, “ Pantai Pink”, jawabnya tegas.  Maka kami memutuskan untuk langsung kembali ke Labuan Bojo. Dan lagi waktu memang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Untuk ke Kanawa masih dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Rasanya snorkeling jam 5 sudah terlalu sore. Apalagi tadi kami semua sudah cukup puas.

Sementara itu kapten kapal mengingatkan untuk segera menyantap makan siang yang telah disiapkan koki kapal dan telah tersedia di atas meja makan. Kapal akan menunggu kami selesai makan karena  setelah itu, yaitu perjalanan kembali ke Labuan Bajo akan menghadapi ombak yang lebih besar dari waktu berangkat. Begitu jelasnya.

CYMERA_20180620_083537CYMERA_20180624_095756[1]CYMERA_20180620_085822Dan memang CYMERA_20180620_083810benar apa yang dikatakannya. Mula-mula memang menyenangkan apalagi pemandangan yang disuguhkan sungguh mengagumkan. Bentuk pulau yang kami lewati makin bermacam-macam meski rata-rata tetap berwarna kuning keemasan. Perpaduan yang benar-benar indah, antara segarnya laut yang berwarna biru tua menandakan dalamnya laut, dan hamparan kuning laksana permadani yang lembut nan empuk. Belum lagi pantai berbatu karang yang bolak balik menyemburkan hempasan air gelombang yang menerjangnya, bagaikan air terjun kecil yang sungguh memukau. Masya Allah …

“ G kalah deh sama Islandia”, celetuk putra kami berdecak penuh kekaguman. Ia memang pernah mengunjungi negara di belahan ujung utara tersebut.

“ Sama Norway juga yaa .. g kalah kayaknya .. ”, tanggap adiknya.

“ Iyaaa … sama Santorini jugaaa, g kalah deh  ..”, sahut saya.

Suami saya hanya manggut-manggut, puas pastinya, bisa mengajak dan menyenangkan anak-istrinya tadabur alam demi mengagumi ciptaan Allah swt yang sungguh menakjubkan. Milik sekaligus ciptaan-Nya, di belahan bumi manapun memang menakjubkan, Allahu Akbar …

 “ Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Terjemah QS. Al-Mulk(67):15).

Namun goncangan kapal yang tak kalah dasyatnya dengan keindahan ciptaan-Nya tak urung membuat hati ini kecut. Beberapa kali gelombang air laut sempat masuk ke galangan kapal. Ombak bahkan juga mampu membuat gelas-gelas yang ada di atas meja makan berjatuhan. Dengan rasa khawatir saya segera masuk kamar dan berdoa sambil berbaring di atas tempat tidur. Tapi tak lama saya duduk lagi, khawatir muntah. Maklum gelombang membuat kepala dan kaki naik turun dengan cepat, bukan hanya menguncang tubuh ke kiri dan kanan.

Tiba-tiba saya teringat kecelakaan yang menimpa kapal penumpang di danau Toba Sumatra Utara,  tepat di hari pertama kami tiba di Labuan Bajo yang tidak sempat saya ikuti perkembangannya. Saya sengaja tidak menceritakan kepada anak-anak kejadian tersebut, khawatir membuat mereka takut dan merusak suasana liburan.

Sungguh menyedihkan. Apalagi penyebabnya adalah kelalaian manusia. Betapa tidak, kapasitas kapal yang hanya 43 penumpang disesaki dengan 80 bahkan ada kabar 200 penumpang! Lebih menyedihkan lagi ditempat yang sama, yaitu di danau Toba sebuah kapal motor kembali mengalami kecelakaan karena menabrak keramba ikan. Ironisnya lagi, terjadi hanya selang 4 hari kemudian. Dan penyebabnya hanya karena lampu penerangan kapal yang rusak.  Astaghfirullahaldzim …  Artinya kecelakaan terjadi karena kelalaian manusia, meski tentu saja atas izin-Nya.

https://www.suara.com/news/2018/06/21/011500/tragedi-danau-toba-km-sinar-bangun-diduga-kelebihan-muatan

Dan ternyata, ketika sorenya kami mengobrol di lobby hotel sambil menonton berita televise, pak Latief mengatakan bahwa di Taman Nasional Komodopun tidak jarang terjadi kecelakaan kapal. Bahkan kapal coklat kayu yang pernah dikomentari bagus oleh suami saya kemarin, menurut pak Latief baru saja direnovasi karena pernah tenggelam. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un …

“ Tidak usah dibahas ya”, potongnya ketika kami ingin mengetahui cerita lengkapnya.

Kami dapat memakluminya, pasti ia trauma.

“ Untung kita milih paket yang hanya satu malam di kapal yaa ”, berkata saya kepada suami dan anak-anak, bergidik ngeri.

“ Yaah namanya juga kecelakaan. Kalau memang Allah berkehendak mau apa kita. Disyukuri aja .. Alhamdulillah ”, sahut suami.

IMG_20180618_185427Malam itu kami menutup liburan penuh makna itu dengan makan malam di restoran “Tree Top” yang terletak di jalan Sukarno Hatta dimana lalu lalang turis-turis bule. Rupanya restoran ini merupakan restoran favorit di Labuan Bajo. Selain posisinya yang memang di tepi pelabuhan masakannyapun lezat. Dan yang terpenting halal, Alhamdulillah  … Meski sayangnya tidak terlihat adanya tanda Halal resmi dari MUI.

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):173).

Menurut pak Latief, ada peraturan tak tertulis bahwa restoran di sepanjang jalan tersebut dilarang menjual masakan babi. Maklum mayoritas penduduk ibu kota ibu  kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur tersebut, termasuk pulau Komodo adalah Muslim. Kebalikan dari pulau Flores yang mayoritas Kristen, meskipun Labuan Bajo sendiri terletak di pulau Flores.

Esok harinya, karena pesawat baru akan take off pukul 2 siang lebih, kami memanfaatkan pagi hari tersebut untuk mengunjungi gua yang terletak tidak jauh dari Labuan Bajo, serta mampir ke toko oleh-oleh khas NTT. Gua tersebut bernama Gua Batu Cermin, yang maaf, tidak istimewa. Sementara oleh-oleh yang istimewa dari NTT adalah kain tenun yang sudah dikenal kecantikannya, meski harganya cukup mahal.

Sekitar 2 jam sebelum keberangkatan kami sudah tiba di bandara, dengan harapan bisa makan siang dulu di bandara. Ternyata kami kecele, bandara baru yang terlihat cantik, modern dan bersih tersebut belum mempunyai tempat makan yang memadai bagi tamunya. Yang ada hanya ada 2 kedai kopi kecil dan 1 kantin terbuka yang hanya menjual makanan kecil dan pop mie yang dijual 25 ribu per cup .. olala … Untung kami naik pesawat dengan fasilitas makan siang di dalamya .. kalau tidak …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Juli 2018.

Vien AM.