Feeds:
Posts
Comments

Bahagiakah anda ??? Pertanyaan yang mudah namun ternyata tidak mudah menjawabnya.

Tiap orang berbeda dalam mempersepsikan rasa bahagia yang dialaminya. Sebagian orang menjadikan tolok ukur kebahagiaan dengan apa yang terlihat secara kasat mata/materi, seperti harta yang melimpah, karir yang melejit, ketenaran nama, anak yang pintar, dan yang semacamnya. Sebagian lain berpendapat bahagia itu sehat dan punya banyak teman.

Sementara ada juga berpendapat bahagia itu letaknya di hati. Yaitu hati yang tenang, senang dan damai, bisa menolong dan berbagi dengan orang lain. Dan ada juga sebagian orang yang memaknai bahagia  itu dengan membandingkan antara bayaknya kejadian yang menyenangkan dengan kejadian yang menyedihkan. Ada juga yang ketika cita-cita atau tujuan hidup sudah tercapai, itulah bahagia.

Yang pasti semua orang dapat dipastikan ingin hidupnya bahagia. Dengan kata lain kebahagiaan adalah tujuan utama manusia. Untuk itu manusia berusaha keras agar tujuan tersebut bisa tercapai.

Beberapa tahun belakangan ini bermunculan berbagai lembaga survey tentang kebahagiaan yang dicapai tiap negara. Ide tersebut pertama kali digagas pada tahun 1972 oleh Raja Bhutan ke 4, yang memasukan kebahagiaan rakyat atau Gross National Happiness (GNH) sebagai target pencapaian pemerintah. Ia berpendapat bahwa pembangunan suatu negara sebaiknya tidak hanya fokus kepada pencapaian produk domestik bruto ( PDB/GDP) semata.

Selanjutnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan resolusi berjudul “Kebahagiaan, Menuju pendekatan holistik untuk pembangunan yang menyatakan bahwa “mengejar kebahagiaan adalah tujuan dasar manusia”, dan, “Mengakui bahwa indikator produk domestik bruto secara alami tidak dirancang untuk dan tidak cukup mencerminkan kebahagiaan dan kesejahteraan orang-orang di suatu Negara”.

Selama ini memang PDB yang bertujuan menghitung pendapatan nasional dijadikan standard kebahagiaan. Namun pada kenyataannya tidak sedikit ditemukan kasus paradox bahwa negara dengan PDB tinggi masyarakatnya tidak bahagia.

Selain itu ditemukan bahwa kebahagiaan penduduk pedesaan lebih tinggi dibanding kebahagiaan penduduk perkotaan. Namun minat penduduk desa untuk pindah ke kota tetap tinggi karena harapan akan kesempatan kerja dan upah yang lebih tinggi. Meski pada akhirnya ada titik di mana peningkatan pendapatan tidak mampu lagi meningkatkan kesejahteraan. Studi pengukuran tingkat kebahagiaan berbagai negara menemukan kebahagiaan bervariasi tergantung kondisi sosial ekonomi saat itu.

Happiness Research Institute, sebuah survei yang bertugas menilai tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup masyarakat suatu negara, pada 2021 menetapkan Finlandia, Denmark, Swiss dan Islandia di urutan 1 sd 4 dari 156 negara yang diteliti. Indonesia berada di urutan ke 82. Sedangkan jajak pendapat yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar yang berbasis di Prancis, Ipsos, dengan mengukur tingkat kebahagiaan di 27 negara di seluruh dunia, pada tahun 2020 lalu menetapkan bahwa Arab Saudi menempati peringkat negara paling bahagia ketiga, setelah China dan Belanda.

Seorang tenaga ahli Indonesia di Jeddah, Saudi Arabia, menceritakan bahwa ada 2 hal yang membuatnya terheran-heran atas sikap rekan-rekan kerjanya yang asli Arab, yang sering dikatakan orang malas dll.

Yang pertama, begitu azan berkumandang mereka akan segera meninggalkan kantor untuk shalat. Tidak peduli sedang meeting ataupun pekerjaan penting lainnya.  Yang kedua, mereka sangat patuh pada ibu mereka. Mereka akan segera pulang begitu mendengar kabar ibu mereka sakit atau ada keperluan penting. Dua hal yang memang diajarkan Islam agar menjadi orang yang takwa.

Mereka terlihat begitu percaya diri, seolah tidak memerlukan pekerjaan dan tidak takut di pecat. Dan hal tersebut ternyata dilakukan mayoritas penduduk Arab Saudi. Toko-toko tutup begitu adzan terdengar. Ayat berikut tampaknya yang membuat mereka seperti itu,

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”.  ( Terjemah QS. At-Tholaq (65):2-3).

Dapat kita saksikan betapa kayanya Arab Saudi yang hingga hari ini masih mampu bertahan menggunakan syariat Islam dalam sistim pemerintahannya. Bagaimana mewah dan megahnya Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah yang setiap saat selalu ramai didatangi jamaah dari seluruh penjuru dunia. Tanah mereka yang kering dan tandus atas izin-Nya ternyata menyimpan kekayaan minyak bumi yang berlimpah mampu membuatnya rakyatnya bahagia.

Sementara Indeks Kebahagiaan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 menyatakan Yogyakarta berada di peringkat delapan sebagai provinsi paling bahagia se-Indonesia. Padahal pada saat yang sama BPS menyatakan bahwa Yogyakarta berada di urutan 12 angka kemiskinan tertinggi se Indonesia, termiskin di Pulau Jawa. Ini disebabkan propinsi tersebut sejak lama menjadikan upah rendah sebagai daya tarik investasi. Dan ini diterima warganya dengan lapang dada.

“Nrima ing pandum” yang artinya menerima segala pemberian memang adalah falsafah Jawa yang sejak lama dianut masyarakat Jawa. Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap manusia sebaiknya bisa ikhlas atas apa yang diterima dalam kehidupan atau legowo dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan.

Pertanyaan menggelitik, bagaimana definisi bahagia dalam Islam? Samakah dengan standar umum manusia di dunia ini??

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram ( sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah)  dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”  (Terjemah QS. Ar-Rum(30):21).

Islam mengajarkan awal kebahagiaan hidup adalah menikah, sesuai syariah, karena Allah swt. Maka Ialah nanti yang akan mendatangkan rasa tentram/damai (sakinah), kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah).

Rasa tentram dan damai akan datang ketika ada perasaan aman dari segala gangguan, baik fisik maupun mental. Apalagi bila tercukupi pangan, sandang dan papan yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Sedangkan rasa kasih dan sayang akan muncul diawali dengan adanya rasa saling memiliki, saling memberi dan saling memahami diantara keduanya.

Namun kebahagiaan tertinggi yang seharusnya dimiliki manusia adalah adanya rasa syukur sebagai manusia yang diciptakan Allah swt, dengan segala keunikannya. Yang menyadari bahwa dirinya adalah mahluk yang sangat istimewa. Perumpamaannya adalah sebuah jam tangan Swiss edisi khusus yang diciptakan penciptanya khusus bagi dirinya semata, yang tidak memiliki persamaan sedikitpun dengan jam tangan milik orang lain.

Harus diakui manusia adalah memang mahluk istimewa. Tak satupun manusia dari zaman nabi Adam as hingga akhir zaman nanti yang memiliki sidik jari yang sama. Manusia diciptakan atas dasar kasih sayang yang sangat besar dari Tuhannya, Allah Azza wa Jala. Maka sebagai manusia yang tahu diri harusnya ia akan rela menjalankan perintah dan larangan-Nya, yang dengan demikian Sang Pencipta kelak akan memasukannya ke surga-Nya. Orang yang demikian tidak akan takut menghadapi hidupnya betapapun sulitnya hidup.

“Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ (kaya) adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Sebaliknya selama harta dipergunakan untuk kebaikan, untuk menolong orang yang kesulitan, berinfak dan berjihad di jalan Allah, untuk menjaga silaturahim dll, ini lebih utama.  Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah 2 contoh tokoh Muslim takwa dan kaya raya yang hartanya bermanfaat bagi manusia hingga hari ini.

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69.

Hebatnya lagi, kebahagiaan dalam Islam bukan milik perorangan tapi juga tanggung jawab pemimpin/penguasa. Itu sebabnya zakat yang bertujuan agar harta tidak hanya beredar di antara kelompok tertentu, penguasalah yang harus mengambilnya. Penguasa juga diberi tanggung-jawab mengatur agar riba yang merupakan dosa besar dan merugikan rakyat kecil untuk dicegah.  

Demikian pula pengadaan lembaga pendidikan dan pesantren, rumah sakit, penyelenggaraan shalat Jumat yang sekaligus sebagai ajang silaturahim mingguan, pengadaan pemakaman Islam dll. Ini yang terjadi pada ke-khalifahan dan kesultanan Islam pada masa keemasannya berabad-abad silam yang terkenal dengan Baitul Maalnya yang berfungsi semacam lembaga keuangan negara.

Syukur Alhmdulillah Uni Emirat Arab (UEA) baru-baru ini membawa kabar gembira. Yaitu bahwa hanya dengan menunjukkan kartu penduduk negara bersangkutan, mereka akan mendapatkan berbagai fasilitas seperti tanah/rumah, pendidikan, kesehatan, bahkan upacara pernikahan dan pemakaman. Dan itu semua gratiiis !!!

Namun apabila warga negara tersebut menikah dengan warga negara lain semua fasilitas istimewa tersebut tidak berlaku. Harap maklum, pendatang asing di UEA jauh lebih banyak dibanding penduduk asli. Di Dubai yang merupakan kota terpadat dan termodern di negara tersebut pendatang asing mencapai 85% dari total penduduk.

Dubai kaya berkat kekayaan minyak bumi yang melimpah. Namun sejak tahun 2000, sektor property, industry penerbangan, pelabuhan serta parawisata menjadi penyumbang pendapatan terbesar negara. Produksi minyak bumi tercata hanya 7 persen dari total pendapatan negara

Gedung-gedung megahnya seperti, Burj Khalifa yang merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia,  Burj Al-Arab hotel super mewah termahal di dunia,  Museum of the Future yang sangat futuristic serta Jumeirah Village sebuah kompleks kepulauan mewah berbentuk  kelapa yang dibangun di atas laut yang dikeruk berhasil memancing turis mancanegara untk berdatangan ke negara tersebut.

Namun yang lebih menarik lagi adalah adanya monument berbentuk kepalan dengan 3 jari terangkat yaitu ibu jari, telunjuk serta jari tengah. Monumen yang terletak di depan museum of the Future ini melambangkan bahwa UEA sangat menghargai agamanya yaitu Islam. Monumen ini menunjukkan hadist Rasulullah tentang makan dengan 3 jari.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sunnahnya adalah makan dengan tiga jari, sekalipun lebih dari tiga jari dibolehkan”. (Fathul Bari).

Pemerintahan UEA memang kurang berhasil mempertahankan kota-kota besarnya dari serangan kultur Barat. Tapi Sarjah yang merupakan kota ke 3 terbesar UEA berhasil mempertahankannya, yaitu dengan larangan alohol, hari libur tetap Jumat dan Sabtu, tidak seperti kebijakan pemerintah baru-baru ini bahw Sabtu dan Minggu adalah hari libur resmi.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. … “ (Terjemah QS. Az-Zumar (39):23).

Jadi bahagia dalam kamus Islam adalah orang yang mampu mengenal Tuhannya hingga rela menjalankan perintah dan larangan-Nya, termasuk di dalamnya membaca ayat-ayat suci Al-Quran dan juga menjaga silaturahim dengan saudaranya.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Sedangkan sehat, makmur, tenang bersama  keluarga yang harmonis, dalam lingkungan yang aman dan nyaman, adalah sempurnanya kebahagiaan yang sifatnya duniawi.  

Itulah dasyatnya Islam, Buthan sebagai negara pertama di dunia memelopori berdirinya negara yang rakyatnya bahagia pada tahun 1972, Islam telah melakukannya sejak datangnya Islam 15 abad lalu!  

Semoga tidak lama lagi negara-negara mayoritas berpenduduk Islam termasuk negara kita tercinta Indonesia, mampu bangun dari tidur panjang mereka demi terbentuknya negara dengan rakyat yang bahagia sesuai syariat Islam.  Yaitu diawali dengan kesadaran rakyat dalam  memilih pemimpin yang takwa yang benar-benar memahami syariat Islam dan mengamalkanya secara kaffah, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 November 2022.

Vien AM.

Ibnu Al Haitham dikenal sebagai kamera pertama di dunia dan juga bapak optik modern. Nama sebenarnya adalah Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Namun para sarjana dan kalangan ilmuwan Barat atau Eropa mengenalnya dengan nama Alhazen. Ibnu Al Haitham adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia dikenal sangat ahli dalam bidang bidang ilmu optik khususnya penyelidikannya mengenai cahaya.

Tak mengerankan bila ia disebut sebagai Bapak Optik Modern karena jasanya dalam bidang optik. Ia juga memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah kamera obscura atau kamera kamar gelap.

Ibnu Al Haitham dilahirkan di Basra, Irak pada tanggal 1 Juli 965 M. Beliau memulai pendidikan awalnya di Basra, Irak sebelum diangkat menjadi pegawai pemerintah di tanah kelahirannya. Setelah beberapa lama bekerja dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan fokus perhatian pada penulisan.

Berangkat ke Mesir.

Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan melakukan beberapa penyelidikan mengenai aliran dan saluran Sungai Nil. Ia juga menyalin buku-buku mengenai matematika dan ilmu falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar. Kemudian hasil usahanya itu membuat beliau telah menjadi seo­rang yang amat mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, pengobatan, dan falsafah.

Tulisannya mengenai mata telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang kajian sains di Barat. Malahan kajiannya mengenai pengobatan mata telah menjadi asas kepada pengajian pengobatan modern mengenai mata.

Karya dan Penelitian Ibnu Al Haitham.

Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler mencipta mikroskop serta teleskop. Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemui berbagai data penting mengenai cahaya.

Beberapa buku Ibnu Al Haitham mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antaranya ialah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang bayang dan gerhana. Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila mata­hari berada di garis 19 derajat di ufuk timur.

Warna merah pada senja pula akan hilang apabila mata­hari berada di garis 19 derajat di ufuk barat. Dalam kajiannya, beliau juga telah menjelaskan bagaimana kedudukan atau siffat cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Teori Lensa Pembesar.

Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar. Dan dari situ ia kemudian menemukan teori lensa pembesar. Teori Ibnu Haitham ini telah digunakan oleh para ilmuwan di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.

Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara. Ini jauh sebelum seorang ilmuwan yang bernama Trricella mengetahui hal itu 500 tahun kemudian.

Ibnu Haitham juga telah menemukan model tarikan gravitasi sebelum Sir Isaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Hai­tham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur. Ini kemudian memberikan ilham kepada saintis barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori Ibnu Haitham ini telah membawanya kepada penemuan gulungan film yang kemudiannya disambung-sambung dan ditayangkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat pada masa kini.

Filsafat Ibnu Al Haitham.

Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logika, metafisik, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Penulisan falsafahnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Padanya pertikaian dan pertelingkahan mengenai sesuatu perkara daripada pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya.

Beliau juga berpendapat bahawa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang telah ada. Jadi, pandangannya mengenai falsafah amat menarik untuk disoroti. Bagi Ibnu Haitham, filsafat tidak boleh dipisahkan daripada matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

Karya Ibnu Al Haitham.

Ibnu Haitham membuktikan pandangannya dengan begitu bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Sehingga kini namanya terus dikenal dunia dan ia juga banyak menghasilkan banyak buku dan makalah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametika dan analisanya.
  • Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri.
  • Kitab Tahlil ai’masa^il al ‘Adadiyah tentang aljabar.
  • Makalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi para musafir.
  • Makalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum islam
  • Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan filsafat amat banyak. Karena itulah Ibnu Haitham dikenal sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan sehingga ke hari ini.

Penemu Kamera Pertama di Dunia.

Gambar berikut adalah Kamera Obscura atau dalam bahasa Latin berarti disebut dengan kamera kamar gelap. Kamera Obscura Ini adalah kamera pengembangan hasil penemuan Ibnu Al Haitham yang didasarkan atas prinsip menangkap pantulan cahaya dari sebuah benda.

Walau bagaimanapun sebagian karyanya telah “dicuri” dan “diklaim” oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada beliau. Sesungguhnya barat patut berterima kasih kepada Ibnu Al Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka kemungkinan dunia Eropa masih diselubungi dengan kegelapan.

Kajian Ibnu Al Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama, tulisannya mengenai filsafat telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut. Dan tidak lagi dibelenggu oleh pemikiran filsafat Yunani.

Masa ilmuwan-ilmuwan Islam.

Islam sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang mundur dan memundurkan. Islam juga dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.

Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.Walaupun tokoh itu lebih dikenali dalam bidang sains dan pengobatan tetapi dia juga memiliki kemahiran yang tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan sebagainya. Ibnu Al Haitham adalah salah satunya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Oktober 2022.

Vien AM.

Diambil dari : https://www.biografiku.com/biografi-ibnu-al-haitham.

Al-Quran Sebagai Cahaya.

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Secara Bahasa Al-Qur’an memiliki arti bacaan. Sedangkan secara istilah, Al-Quran memiliki arti firman Allah SWT yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an bagi umat Islam adalah kitab suci yang bukan hanya wajib dibaca, tetapi juga dipelajari, diterapkan, diamalkan, dan dijadikan petunjuk bagi kehidupan manusia.

Al-Quran mempunyai beberapa nama lain. Diantaranya yaitu Al-Furqan yang artinya pembeda, At-Tanzil yang  artinya  diturunkan langsung dari Allah,  Az-Zikri yang artinya pemberi peringatan, Al-Huda yang artinya petunjuk, As-Syifa artinya penyembuh, An-Nuur artinya cahaya dan lain sebagianya.

Al-Quran sebagai cahaya atau An-Nuur. Kita semua pasti tahu betapa pentingnya cahaya bagi kehidupan. Tanpa cahaya meski kita memiliki mata, kita tidak akan dapat melihat apapun. Dalam ilmu kesehatan kita diajarkan bahwa  tubuh kita memerlukan sinar matahari  diantaranya agar tulang kita kuat. Tumbuh2an perlu sinar matahari untuk proses fotosintesis. Demikian pula dalam dunia fotografi, tanpa cahaya keindahan suatu objek foto akan berkurang.

Tak dapat dipungkiri kita amat sangat tergantung pada cahaya. Siang hari Allah swt anugerahkn kita matahari. Bagaimana dengan malam hari. Bersyukur Allah kirimkan Thomas Alva Edison sang penemu lampu hingga dng demikian kita tetap bisa beraktivitas pada malam hari.

Meski sebenarnya ada hikmah besar dibalik gelapnya malam hari. Yaitu selain untuk istirahat juga agar kita memiliki waktu untuk merenungi luasnya langit nan indah dimana milyaran bintang-bintang bertaburan. Malam hari nan pekat gelap gulita dimana benda-benda langit dapat terlihat jelas. Mengingatkan bahwa ada kehidupan lain selain di dunia yang fana ini.

Allah swt berfirman dalam ayat 191 surat Ali Imran sebagai berikut :

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Tidak sedikit ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah cahaya, diantaranya adalah :

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an)”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):174).

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. ( Terjemah QS.Ibrahim (14):1)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Terjemah QS. Asy-Syuraa (42):52).

Demikian pula hadist yang menyiratkan bahwa Al-Quran adalah cahaya. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Sesungguhnya, rumah yang dibacakan di dalamnya Alquran, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi” (HR Ahmad).

Masya Allah … kita penduduk bumi yang senantiasa terkagum-kagum akan indahnya bintang-bintang di langit. Ternyata malaikat sebagai penduduk langit bisa memandang kita penduduk bumi sebagaimana kita bintang-bintang di langit … Allahu Akbar …

Dengan kata lain Al-Quran akan menjadi cahaya ketika kita baca. Apalagi bila dibaca dengan tartil, dengan tajwij yang benar maka akan sempurnalah cahaya tersebut.

Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat Hasanat/ kebaikan dan tiap Hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR. Attirmidzy).

Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim).

Pada tahun 2003, Masaru Emoto seorang seorang peneliti dari Jepang, melalui penelitiannya mengungkapkan bahwa susunan partikel molekul air bisa berubah ketika dibacakan kata-kata ke dalamnya. Bila yang disebutkan kata-kata yang baik partikel air tersebut membentuk kristal yang indah. Sebaliknya bila kata-kata buruk yang terbentuk adalah susunan kristal air yang juga buruk .

Apabila kata-kata baik saja mampu membentuk susunan molekul yang indah apalagi bacaan Al-Quranul Karim !

Sementara dalam penelitian lain diketahui, hanya dengan mendengarkan lantunan ayat suci Quran, ternyata mampu menimbulkan efek terapeutik sekalipun pada orang yang tak mengerti isi ataupun arti dari ayat-ayat Quran yang didengarnya.

Seorang dokter spesialis kanker dari rumah sakit Beirut, Lebanon, menyatakan bahwa bacaan ayat suci Al-Quran mampu meningkatkan aktivitas sel-sel sehat dan membangkitkan sistem imun yang melemah agar dapat bertempur melawan sel-sel tumor atau kanker yang paling berbahaya sekalipun. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Dan kami turunkan Alquran sebagai penawar ( as-syifa)  dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Terjemah QS. Al-Isra (17): 82).

Al-Quran adalah As-Syifa yang artinya penawar atau penyembuh penyakit. Sungguh dasyat energy yang dikeluarkan orang yang membaca Al-Quran sekalipun yang bersangkutan tidak memahaminya. Ia mampu mengeluarkan yang membacanya dari segala macam kegelapan seperti penyakit, menuju cahaya yang terang, yaitu kesembuhan.

Pada ayat 35 surat An-Nuur (24) Allah berfirman,

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Nuur ala nuur, cahaya di atas cahaya. Tidak seperti sinar matahari ataupun sinar lampu yang dapat terhalang oleh sesuatu, seperti awan, gunung, bangunan, topi dll, cahaya Al-Quran tidak mungkin dihalangi dan terhalangi oleh apapun. Cahaya Al-Quran tidak hanya mampu menembus batu hitam yang berada di dasar lautan nan gelap gulita tapi juga hati manusia. Dengan Al-Quran hati siapapun yang membacanya secara berulang-ulang akan menjadi tenang. Ayat 23 surat Az-Zumar menyiratkan hal tersebut.  

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”. ( Terjemah QS. Az-Zumar (39):23).

Dengan cahaya inilah kita dapat dapat berjalan kemanapun/ kapanpun, dengan tenang tanpa khawatir tersesat. Di bawah cahaya Al-Quran inilah kita dapat membedakan mana yang baik/haqq dan mana yang buruk/bathil. Itu sebabnya Al-Quran juga disebut dengan Al-Furqon yang artinya adalah Pembeda.  

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika makan siang sering kali saya tidak menyalakan lampu karena saya pikir sudah cukup terang. Namun rupanya putri kami tidak menyukainya. Sambil menyalakan lampu ia berkata ”Bukannya enak gini bu,  teraaang”. Spontan sambil tersenyum saya mencadainya, “ Naah persis nih Al-Quran sebagai cahaya … jadi kelihatan jelas semuaa … bayam beda dengan kangkung, buncis g sama dengan kacang, wortel orange, tomat merah”.      

Bicara mengenai cahaya, Rasulullah pernah bersabda bahwa umatnya nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka.

Di akhirat nanti, cahaya tersebut akan menerangi kubur orang Mukmin, menolong perjalanannya menyeberangi jembatan Shiratal Mustaqin serta membelanya pada pengadilan hari akhir nanti. Cahaya ini akan sangat kita butuhkan karena pada hari Kiamat nanti,  matahari yang selama ini menjadi sumber cahaya bumi akan hilang. Pada hari itu bumi menjadi rata dan gelap gulita.

Jadi sungguh benar, cahaya adalah sesuatu yang mutlak kita butuhkan, baik ketika kita masih di dunia apalagi di akhirat nanti. Namun demikian hanya membaca Al-Quran dengan tujuan agar kita mendapatkan cahaya-Nya tidaklah cukup. Kita harus mentadaburi agar kita benar-benar faham apa yang dikehendaki-Nya, agar menjadi petunjuk atau Al-Huda … kemudian mengamalkannya agar Allah swt meridhoi kita agar kelak bisa masuk ke surga-Nya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 3 Oktober 2022.

Vien AM.

Jawab Rasulullah: “Perbanyak bersedekah niscaya kakimu menjadi ringan untuk masuk surga!

Tidak bergeser kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal … tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan”. (HR. Tirmidzi no.2417, di-shahih-kan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 3592)

Sesungguhnya harta dan anakmu adalah ujian”. (Terjemah QS. At-Taghabun(64):15).

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Terjemah QS. Al- Isro (17):36).

Abdurrahman segera melaksanakan nasehat tersebut. Ia sedekahkan separuh hartanya. Pernah juga ia bagikan 700 ekor unta miliknya kepada penduduk Madinah.  Pada perang Tabuk ketika Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka, dengan segera Abdurrahman memenuhi seruan tersebut. Ia memeloporinya dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas.

Hingga Umar bin Al-Khathabpun tak tahan untuk berbisik kepada Rasulullah,”Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”

Lalu Rasulullahpun bertanya kepada Abdurrahman, “Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?”

Ya,” jawabnya. “Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan.”

Berapa?” tanya Rasulullah lagi.

Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.”

Namun demikian kekayaan Abdurrahman bin Auf tidak pernah habis,  jatuh miskin apalagi bangkrut. Sebaliknya hartanya malah makin menggunung.

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Terjemah QS. Ibrahim (14): 7).

Selanjutnya pada perang tersebut, Allah swt memuliakannya dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah terlambat datang. Maka Abdurrahman menjadi imam. Tak lama Rasulullahpun tiba, lalu shalat di belakangnya sebagai makmum!

Sebagai seorang Muslim sejati, Abdurrahman juga tidak pernah lupa akan kewajibannya untuk berjihad, berperang melawan musuh-musuh Islam. Ia bergabung bersama para pasukan Muslim dalam berbagai perang, seperti perang Badar dan perang lainnya. Dalam perang-perang tersebut ia mengalami puluhan luka dan 2 giginya pernah tanggal. Dalam perang Uhud ia tercatat  sebagai yang tetap bertahan di samping Rasulullah ketika tentara Muslimin banyak yang meninggalkan medan perang.

Paska wafatnya Rasulullah, Abdurrahman selalu menjadi  satu diantara sahabat yang dipilih umat untuk memimpin umat Islam menggantikan Rasulullah. Pada saat pemilihan khalifah ketiga paska wafatnya khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar bin Khattab, ia kembali terpilih sebagai calon khalifah bersama Ustman Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Namun kemudian ia mengundurkan diri dan memilih menjadi juri bagi ke dua calon lawannya. Dengan perhitungan dan pemikiran yang cermat akhirnya ia memilih Ustman bin Affan sebagai khalifah ke tiga. Selanjutnya Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian.

Suatu ketika Abdurrahman membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan kepadanya, ia bertanya, “Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?”

Abdurrahman bin Auf,” jawab si petugas.

Aisyah berkata, “Rasulullah pernah bersabda, Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar.

Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 31 H atau 652 M, saat usianya menginjak 72 tahun. Tercatat pada akhir hayatnya tersebut bahwa ia meninggalkan harta sebesar 2.560.000 dinar (setara Rp 3.072 triliun). Ia meninggalkan wasiat bahwa hartanya dibagi menjadi 3 bagian: 1/3 dibagikan untuk modal usaha sahabatnya; 1/3 untuk melunasi hutang-hutangnya dan 1/3 lagi untuk dibagikan kepada fakir miskin. Abdurrahman berwasiat agar setiap Muslim yang ikut perang Badar dan masih hidup diberi 400 dinar dari hartanya.

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):180).

Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan limpahan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah swt kepadanya. Ketika meninggal dunia, jenazahnya diiringi oleh para sahabat mulia seperti Sa’ad bin Abi Waqqash dan yang lain.

Dalam kata sambutannya, khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, “Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu.”

Salam sejahtera bagi Abdurrahman bin Auf, sang calon penghuni surga. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Hingga Allah Azza wa Jala ridho menjaga jiwanya dengan iman dan takwa … Masya Allah …

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;  (sambil mengucapkan): “Salamun `alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. ( Terjemah QS. Ar-Raad (13):22).

Akhir kata, semoga Allah swt memberi kita kemampuan untuk mencontoh dan mengikuti apa yang dilakukan Abdurrahman bin Auf, Sang Sahabat Bertangan Emas …  aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 September 2022.

Vien AM.

Abdurrahman bin Auf adalah seorang pengusaha kaya raya dari kalangan sahabat yang  sukses menjalankan usahanya. Ia tercatat sebagai sahabat yang terkaya di antara seluruh sahabat. Kekayaan tersebut didapat berkat anugerah Allah swt berkat kemahirannya berdagang yang sangat luar biasa. Namun demikian ia tidak lupa diri. Ia dikenal sebagai pribadi yang takwa dan dermawan. Tak salah bila Rasulullah memasukkannya sebagai satu diantara 10 sahabat yang dijamin Rasulullah SAW masuk surga.

Abdurrahman bin Auf lahir 10 tahun setelah tahun Gajah dengan nama Abdul Ka’bah atau Abd Amr dalam riwayat lain. Ia memeluk Islam pada usia 30 dan tercatat sebagai orang ke lima yang masuk  Islam atas ajakan Abu Bakar, teman dekatnya. Rasulullahlah yang memberinya nama Abdurrahman begitu ia memeluk Islam.

Seperti juga sahabat lain yang memeluk Islam pada awal ke-Islaman, Abdurrahman juga mengalami penyiksaan dari orang-orang musyrik Mekah. Ia termasuk di antara mereka yang berhijrah ke Habasyah (sekarang dikenal dengan nama Ethiopia) dua kali (yaitu hijrah pertama dan kedua). Pada saat hijrah dari Makkah ke Madinah, Abdurrahman membawa seluruh kekayaan hasil perdagangannya. Namun dalam perjalanan kekayaannya tersebut dirampas oleh pemuka-pemuka Quraisy.

Sementara itu untuk memperkokoh rasa persaudaraan antara kaum Muhajirin ( pendatang dari Mekkah) dengan kaum Anshar ( penduduk Madinah) Rasulullah mempersaudarakan sejumlah sahabat Muhajirin dengan sahabat Anshar, termasuk Abdurrahman bin Auf. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’ad Ibn Rabiah, seorang Anshar kaya raya.

Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka kawinilah ia …”, ucap Sa’ad sebagai tanda kasih sayangnya terhadap saudara barunya itu.

Akan tetapi Abdurrahman yang belum menikah itu dengan halus menolak tawaran tersebut. Ia tidak ingin merepotkannya. Sebaliknya ia hanya berkata, “Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini. Semoga Allah memberkahimu atas keluarga dan hartamu”.

Lalu kaum Ansharpun menunjukkannya pasar Bani Qainuqa. Abdurrahman memulainya dengan berjualan minyak samin dan keju di tempat tersebut. Berkat ketekunan dan kemahirannya berdagang, dan tentu atas izin Allah swt,  Abdurrahman selalu kembali ke rumah dengan membawa keuntungan yang tidak sedikit. Tak lama menjalani usahanya, Abdurrahman mendatangi Rasulullah seraya berkata, “ Yaa Rasulullah saya ingin menikah”.

Apa mahar yang akan kau berikan pada calon istrimu?” tanya Rasulullah.

Emas seberat biji kurma,” jawabnya.

Rasulullahpun bersabda, “Laksanakanlah walimah walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu.”

Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya hingga ia mendapat julukan “Sahabat Bertangan Emas”.

Abdurrahman bin Auf sering memborong dagangan dari kota Syam untuk dibawa ke Madinah.  Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, Abdurrahman bin Auf seringkali membawa pulang 700 kontainer dagangan seperti barisan pawai yang tak ada putusnya.

Hingga suatu hari dalam sebuah majlis ilmu, ia mendengar Rasulullah menerangkan tentang perbedaan waktu hisab antara orang kaya dan orang miskin. “Kelak dihari kiamat, orang kaya akan lebih lama menjalani perhitungan amal dibandingkan orang miskin. Dan aku ada berada di barisan orang-orang miskin.”

Abdurrahman terhenyak. Sejak itu ia menjadi resah dan selalu merenung. Ia sering menangis setiap teringat apa yang dikatakan Rasulullah. “Aku tidak mau berlama-lama di Yaumul Hisab hanya karena kekayaan yang aku punya.’

Ya Allah, aku mohon miskinkanlah diriku dan masukkanlah aku ke dalam barisan orang-orang miskin bersama Rasulullah di hari akhir nanti”.

Yaa Allah jadikan aku ini miskin. Aku ingin seperti Mus’ab bin Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain pada saat meninggal dunia. Mus’ab bin Umair ketika jasadnya dibungkus kafan, kakinya tertutup tapi kepalanya terbuka. Ketika ditarik ke atas, kepalanya tertutup tapi kakinya terbuka”, rintihnya.

Abdurrahman bin Auf mencoba berbagai cara untuk dapat memiskinkan dirinya. Namun Rasulullah  mengatakan bahwa sahabatnya tersebut akan masuk surga dengan cara merangkak.

Kenapa ia masuk dengan merangkak tidak seperti sahabat lain yang berjalan sangat cepat ketika memasuki surga?”, tanya para sahabat keheranan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sebab ia memiliki harta yang melimpah ruah. Ia harus mempertanggung-jawabkan titipan tersebut”.

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. ( Terjemah QS. At Takatsur (102): 8).

Betapa galaunya hati Abrurrahman. Suatu hari usai perang Tabuk, ia mendengar kabar bahwa kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahmanpun segera menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga setara kurma yang bagus. Betapa senangnya sang sahabat  mendapati semua kurmanya masih bisa menghasilkan uang meskipun busuk. Sementara Abdurrahman bin Auf juga gembira telah berhasil memiskinkan dirinya.

Tapi apa yang terjadi?? Tiba-tiba datang utusan dari Yaman membawa berita bahwa raja Yaman sedang mencari kurma busuk. Karena di negaranya sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang bisa menyembuhkannya hanya kurma busuk. Utusan Raja Yaman segera datang menemui Abdul Rahman dan memborong semua kurma busuknya dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahu Akbar … Disaat Abdurrahman merelakan semua hartanya agar ia jatuh miskin, disaat itu pula Allah memberikan keberlimpahan harta berkali-kali lipat untuknya. Di saat orang lain berusaha keras menjadi kaya, di saat itu pula Abdurrahman berusaha keras menjadi miskin, namun selalu gagal.

Allah takdirkan Abdurrahman menjadi orang kaya selama hidupnya. Itu adalah ketetapan Allah yang harus ia terima dan jalani. Untuk itu maka ia memohon nasehat Rasulullah, bagaimana agar ia dapat masuk ke surga minimal berjalan kaki, tidak merangkak.

( Bersambung).

5. Mau mendengarkan nasihat orang lain.

– Suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para sahabat masuk ke kota tersebut meski hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Rasulullahpun membatalkan niat tersebut. Bahkan malah menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.Mengetahui hal tersebut para sahabat sangat kecewa. Mereka merasa tidak seharusnya Rasulullah mengalah kepada orang-orang seperti mereka. Umrah adalah perbuatan yang di-ridhoi Allah SWT mengapa harus dibatalkan? Begitu pikir mereka.

Maka ketika kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah, tak seorangpun sahaat yang mau melakukannya. Hingga 3 kali Rasulullah mengulang perintah tersebut namun tak seorangpun bergeming.Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Rasulullah akhirnya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah yang ketika  itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurutnya lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Tanpa merasa gengsi Rasulullahpun menuruti nasehat tersebut. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

6. Suka memberi nasihat.

Rasulullah selalu memberi nasihat kepada para sahabat agar jangan hasad, iri dan dengki. Juga jangan mudah berselisih. Bila ada sesama Muslim berselisih Rasulullah mendamaikannya.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” ( QS. Al-Hujurat (49):10).

Itu sebabnya yang dilakukan begitu tiba di Madinah adalah mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshor.  

7. Suka Membantu Pekerjaan Rumah.

Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039).

“Tidaklah beliau itu seperti manusia pada umumnya, beliau menjahit bajunya, memerah kambing dan melayani dirinya sendiri. (HR. Tirmidzi).

HR At-Tirmidzi, “Sesungguhnya di antara orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling baik kepada keluarganya”.

8. Sayang pada anak2.

Disebutkan bahwa Ya’la bin Murrah pergi bersama Nabi untuk menghadiri undangan makan. Di tengah perjalanan, beliau melihat Husain sedang bermain di jalanan. Beliau langsung maju dan membentangkan kedua tangannya (untuk mendekapnya), sementara Husain berusaha menghindar kesana-kemari, beliau sengaja mencandainya. Akhirnya beliau menangkapnya. Beliau pun memegang dagu dan kepala Husain, lalu menciumnya. (HR Ibnu Majah).

Abu Hurairah menuturkan, suatu ketika kami sholat Isya bersama Rasulullah ﷺ. Saat sujud, Hasan dan Husain naik ke punggung beliau. Saat bangkit, beliau meraih keduanya yang ada di belakang dengan lembut, lalu meletakkan keduanya secara perlahan. Saat kembali sujud, keduanya kembali naik ke punggung beliau. Seusai sholat, beliau meletakkan keduanya di pangkuan paha beliau. (HR Al Hakim).

9. Sekali2 bergurau.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Muhammad SWA, “Wahai, Rasullullah! Apakah Engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Rasulullah SAW menjawab, “Benar. Hanya saja saya selalu berkata benar.” (HR Ahmad).

Rasulullah tidak melarang umat Islam untuk bersenda gurau. Namun beliau mengingatkan untuk tidak melontarkan lelucon bohong, dusta, atau merendahkan orang lain. Juga tidak berlebihan. Cukup hanya sebatas pelepas kesuntukan sesaat. Materinyapun  sarat dengan pelajaran dan ilmu pengetahuan.

“Celakalah bagi mereka yang berbicara, lalu berdusta supaya dengannya orang banyak yang tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR Ahmad).

Rasulullah tidak pernah tertawa sampai terbahak-bahak. Tertawanya hanya sampai terlihat gigi taringnya saja. Beliau bahkan menganjurkan umatnya untuk lebih banyak menangis ketimbang tertawa. Seorang Muslim hendaknya lebih menyibukkan diri dengan muhasabah dan mengevaluasi dirinya.

Berikut gurauan Rasulullah:

-Dalam suatu riwayat, seorang wanita tua mendatangi Rasulullah SAW. Ia menanyakan perihal surga.

“Wanita tua tidak ada di surga,” sabda Rasulullah SAW.

Mendengar ucapan itu, si nenek pun menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW segera menghiburnya dan menjelaskan makna sabdanya tersebut itu. “Sesungguhnya ketika masa itu tiba, Anda bukanlah seorang wanita tua seperti sekarang.”

Rasulullah pun kemudian membacakan ayat, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.“ (QS al-Waaqi’ah [56]: 35-36).

Si nenek tuapun tersenyum bahagia.

Dari Muadz bin Jabal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Penghuni surga kelak masuk ke dalamnya dalam keadaan tak berbulu, muda, dan bercelak mata, sekira usia 33 tahun.” (HR At-Tirmidzi).

– Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bahwa suatu hari Rasulullah sedang makan kurma bersama sahabat Ali bin Abu Thalib dalam satu ruangan. Kebiasaan zaman dulu ketika makan kurma maka akan menaruh bijinya tidak jauh dari samping tempat duduknya.

Pada saat itu Rasulullah Saw memakan satu biji kurma dan meletakkan biji kurma tersebut di pinggir tidak jauh dari wadah kurma dekat dengan tempat duduknya. Sementara Ali memakan kurma dengan banyak sakali sehingga bijinya tak terhitung.

Lantas saja seketika itu muncul keisengan dan humor Ali. Ia menaruh biji-biji kurma bekas kurma yang dimakannya dipinggir samping dekat dengan Rasulullah. Sehingga di samping Ali tidak terlihat satu biji kurmapun.

Ali berkata kepada Rasulullah, “Ya Nabi, engkau memakan kurma banyak sekali. Lihatlah biji-biji kurma itu banyak ada di samping engkau. Sedang aku belum memakannya sama sekali.”

Sambi tersenyum nabi menjawab, “Wahai Ali,  kamulah yang telah memakan kurma lebih banyak dariku. Kamu makan kurma bersama biji-bijinya, sedangkan aku hanya memakan kurmanya saja.”

-Diriwayatkan Zayd bin Aslam sebagaimana dimuat Hadist Riwayat Abdari. Diceritakan suatu ketika seorang perempuan datang menghadap Nabi Muhammad SAW. Perempuan ini menyampaikan keinginan suaminya untuk mengundang Rasulullah. Perempuan ini mengaku suaminya sedang sakit.

Mendengar permintaan itu, Rasulullah tak langsung mengiyakan. “Siapa suamimu? Bukankah suamimu adalah orang yang di matanya terdapat warna putih?” tanya Nabi dengan nada gurauan.

Mendengar pernyataan Nabi, perempuan itu setengah terkaget. “Demi Allah, mata suamiku tidak ada warna putihnya!” tegas perempuan tersebut.

Nabi lantas menegaskan, “Sungguh di mata suamimu ada warna putihnya.”

Tanpa menyadari Rasulullah sedang bercanda, perempuan itu bersikeras menanggapi gurauan Nabi. Perempuan itu terus membela suaminya dengan mengatakan tidak ada warna putih di mata suaminya.

Sambil tersenyum Nabipun bersabda, “Tidak ada seorang pun yang di matanya tidak terdapat warna putih.” Dalam riwayat Ibnu Abi Rasulullah berkata “Bukankah di setiap mata terdapat warna putih?.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Agustus 2022.

Vien M.