Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Lain-lain.’ Category

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 150,000 times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 6 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Advertisements

Read Full Post »

Pemilu 2014 tahap 1 yaitu pemilihan calon legislatif telah berlalu, dengan hasil yang diluar perkiraan. PDIP yang dipimpin putri mantan presiden pertama kita Soekarno, yaitu Megawati memang tetap bisa keluar sebagai pemenang. Namun partai yang di luar kebiasaan mengusung capres di luar keluarga Soekarno, yaitu Jokowi, dengan tujuan agar bisa mencapai target mendekati 30 %, ternyata tidak sampai 20%. Sementara partai Islam yang jumlahnya ada 5 itu, yang belakangan ini dianggap bakal collapse ternyata secara total dapat mengumpulkan lebih dari 30 %. Subhanallah …

Dengan adanya peraturan bahwa sebuah partai baru boleh mencalonkan presiden bila pemilu caleg mencapai 25 %, maka dalam pemilu kali ini tak satupun partai bisa melakukan hal tersebut. Artinya diperlukan koalisi. Demikian pula PDIP sebagai partai pemenang. Tampaknya ini saat yang tepat bagi ke 5 partai Islam untuk berkoalisi. Sebuah mimpi besar bagi umat Islam yang mendambakan munculnya kepemimpinan Islam tentunya. Mungkinkah ini bisa menjadi kenyataan ?? Pertanyaan besar lain yang juga menjadi hambatan, kalaupun ini terjadi maukah rakyat Indonesia memilih capres dari koalisi tersebut?

Tampaknya tidaklah terlalu mudah. Meski mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, ternyata hanya sebagian rakyatnya yang sudi memilih partai berlandaskan Islam. Ini terbukti dengan hasil pemilu yang baru saja berlalu. Partai Islam paling tinggi hanya menduduki urutan ke 5. Mungkin ini tugas dari para pimpinan partai yang selama ini tidak mampu memperlihatkan wajah indah Islam yang sesungguhnya.

Jargon « Islam Yes Partai Islam No” yang dimunculkan cak Nur, panggilan akrab Nurkholis Majid, di tahun 70 an, tampaknya masih sangat memberikan dampaknya. Jargon berbau sekuler ini jelas ingin memisahkan umat Islam dari dunia perpolitikan yang identik dengan kepemimpinan. Padahal Islam sejatinya tidak memisah-misahkan perkara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang menuju nikmatnya akhirat. Artinya umat Islam wajib mempunyai pemimpin yang juga tahu persis apa itu Islam. Bahkan tidak hanya tahu tapi juga mengamalkannya. Jadi bekal ilmu duniawi saja tidaklah cukup.

Sebaliknya, orang non Muslim juga seharusnya tidak perlu khawatir hak-hak mereka tidak terpenuhi bila sang presiden mengamalkan ajarannya dengan baik. Rasulullah ketika memimpin negara Madinah, Negara pertama berbasis Islam, telah membuktikan hal tersebut. Undang-undang Islam yang menjadi dasar undang-undang pertama di dunia yang memuat pasal toleransi itu, menyebutkan bahwa non Muslim sebagai minoritas, berhak dilindungi bahkan untuk menjalankan ajaran agamanya, asal benar-benar sesuai dengan kitabnya. Meski dengan catatan, selama mereka tidak mengganggu umat Islam. Itulah ketegasan ajaran Islam.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan lain-lain, yang bersumberdari al-Barra’ bin ‘Azib. Bahwa di depan Rasulullah saw., berlalulah orang-orang Yahudi membawa seorang terhukum yang dijemur dan dipukuli. Rasulullah saw. memanggil mereka dan bertanya:

Apakah demikian hukuman terhadap orang berzina yang kalian dapati di dalam kitab kalian?”

Mereka menjawab: “Ya.”

Kemudian Rasulullah memanggil seorang ulama mereka dan bersabda: “Aku bersumpah atas Nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah demikian kamu dapati hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitabmu?

Ia menjawab: “Tidak. Demi Allah, jika engkau tidak bersumpah lebih dulu, tidak akan kuterangkan. Sesungguhnya hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitab kami adalah dirajam. Akan tetapi karena banyak pembesar-pembesar kami yang melakukan zina, maka kami mengabaikannya. Namun apabila seorang hina berzina, kami tegakkan hukum sesuai dengan kitab. Kemudian kami berkumpul dan mengubah hukuman tersebut dengan menetapkan hukuman yang ringan dilaksanakan, baik bagi orang hina dan pembesar, yaitu menjemur dan memukuliya.”

Bersabdalah Rasulullah saw.: “Ya Allah, sesungguhnya saya yang pertama menghidupkan perintah-Mu setelah dihapus oleh mereka.”

Kemudian Rasulullah menetapkan hukum rajam, kemudian dirajamlah Yahudi pezina itu. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 41).

Saat ini, 3 bulan setelah pemilu legistatif, pesta rakyat dalam rangka memilih presiden dan waklinya akan segera digelar. Syukur Alhamdulillah, dengan izin Allah, akhirnya 4 dari 5 partai islam yang ada bersedia untuk berkoalisi. Meski harus berkoalisi dengan partai sekuler karena tetap tidak dapat memenuhi target minimum.

Partai tersebut adalah partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subiyanto, yang sekaligus juga dicalonkan sebagai presidennya. Maka jadilah mantan danjen Kopassus itu bertarung melawan gubernur DKI non aktif Jokowi yang didukung partai PDIP sebagai partai pendukung utamanya, disamping partai Nasdem pimpinan Surya Paloh, Hanura pimpinan Wiranto dan PKB yang dipimpin Muhaimin Iskandar.

Menjadi pertanyaan menarik, mengapa koalisi partai Islam ini memilh bergabung dengan Gerindra , bukan PDIP dengan Jokowinya. Tentu mereka punya alasan kuat. Yang pasti, mereka tidak mungkin mau mendukung Jokowi , karena bila Jokowi terpilih sebagai R1, otomatis Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan wakil Jokowi akan naik menggantikan posisi Jokowi. Padahal semiua orang juga tahu bahwa Ahok adalah non Muslim.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Hal lain, tidak mungkin menyatukan kebijaksanaan PDIP dengan kebijaksanaan partai Islam. Partai berlambang kepala banteng ini kerap menolak gagasan ruu yang diajukan ke DPR bila bernafas Islami. Mereka memilih walk out ketika usulan tentang uu bank syariah, uu pornografi pornoaksi, uu jaminan halal diajukan.

Maklum partai ini memang dipenuhi anggota yang non Muslim. Kalaupun Muslim kebanyakan dari golongan Syiah dan orang-orang JIL ( jaringan Islam Liberal). Mereka adalah orang-orang berilmu, jika ditilik dari profesi mereka, yaitu staf pengajar di universitas-universitas yang notabene Islam, seperti UIN dan Paramadina pimpinan alm Nurcholis Majid, namun sangat liberal. Mereka seenaknya saja menafsirkan ayat-ayat Al-Quran menurut akalnya, tanpa peduli bagaimana dulu Rasulullah dan para sahabat menyikapi sebuah ayat suci. Lupa apa artinya akal dan kepintaran manusia dibanding kepintaran-Nya.

Bahkan dedengkot Syiah, Jalaludin Rahmat berada di nomor urut 1. Kabarnya ia telah diusulkan sebagai mentri agama bila Jokowi menang ! Tengoklah Suriah, dimana perang saudara selama 3 tahun ini terus berperang. Ketika Syiah berkuasa maka rakyat yang Sunni pasti akan tertindas. Jangan lupa, mayoritas rakyat Indonesia adalah Sunni. Maukah kita mengalami ini ??

Belum lagi Musdah Mulia, seorang feminis dosen di UIN Syarif Hidayatullah. Perempuan bergelar professor yang pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2008 ini kerap melontarkan gagasan yang kontrovesial. Diantaranya bahwa Islam tidak pernah melarang perkawinan antar sesama jenis alias homoseksual dan lesbianisme !

Apalagi belakangan ini tim sukses Jokowi terang-terangan mengatakan tidak akan mengizinkan lagi lahirnya propinsi dengan syariat Islam seperti DI Aceh, menghapuskan syarat minimum pendirian rumah ibadah ( khususnya gereja ) dll bila ia terpilih sebagai presiden nanti. Belum lagi rumor tentang bakal dihapuskannya kolom agama di KTP. Juga ucapannya mengenai keberpihakannya kepada kaum minoritas yang ’terzalimi’, seperti Syiah dan Ahmadiyah.

(Baca : http://www.islampos.com/fuui-pdip-larang-perda-syariah-umat-haram-pilih-jokowi-jk-114107/).

Ini masih ditambah dengan slogannya tentang prularisme yang spanduknya banyak dipasang dimana-mana. Mengingatkan pada Sepilis singkatan Sekuler, Pluralis dan Liberalis. Sebuah paham yang lahir pada tahun 2005 dan telah diharamkan oleh MUI.

( Baca http://felixsiauw.com/home/bahaya-sekulerisme-pluralisme-dan-liberalisme/).

Sebaliknya, dukungan koalisi partai Islam kepada Prabowo juga bukannya tanpa alasan yang tidak jelas. Meski tidak ada laporan khusus tentang kesolehan dan kealiman Prabowo, namun kepeduliannya kepada dunia Islam sangatlah tinggi. Dalam salah satu manifestonya, tercantum bahwa partai ini menolak penistaan dan penodaan agama.

Patut menjadi catatan, Amerika Serikatpun yang meng-klaim diri sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi nyatanya menolak aliran Kristen Klux Klux Klan dan Children of God yang kontroversial itu. Jadi harusnya Indonesia tidak perlu ragu menyatakan kesesatan Syiah, Ahmadiyah dll bila memang MUI menyatakan hal tersebut.

Mengenai Palestina, Hidayat Nur Wahid dari PKS mengatakan bahwa Prabowo pernah menyumbangkan uangnya sebesar 500 juta rupiah untuk rakyat Palestina. Ini bukan dalam rangka pencitraan, karena terjadinya sudah tahun lalu. Dan bukan karena laporan Gerindra, tapi ucapan langsung dubes Palestina kepada Nurwahid.

Selain itu Prabowo juga pernah melatih pasukan Yordania dalam perang melawan Israel, dan juga pasukan Afganistan dalam melawan pasukan Amerika.

Pelanggaran HAM yang kerap dialamatkan kepada Prabowo, ternyata juga bernafaskan isu Islam. Banyak sumber yang memberitakan bahwa mantan danjen Kopassus ini ketika itu justru menyelamatkan NKRI dari rongrongan atasannya, jendral Benny Moerdani yang non Muslim, dan sangat membenci Islam itu. Lihat bagaimana ia merekrut sebagian besar bawahannya yang juga non Muslim. Atau sekalipun Muslim yang dianggapnya tidak fanatik.

(Baca:

 http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/06/30/30575/innalillah-jenderaljenderal-dalang-kerusuhan-mei-1998-mendukung-jokowi/#sthash.rBlKS1h6.8simunl3.dpbs

Itu sebabnya Barat begitu bernafsu mendiskreditkan Prabowo. Tampak bahwa Barat begitu takut dan khawatir bila Prabowo memenangkan pesta demokrasi ini. Demikian juga para mantan atasannya di TNI. Mereka tentu merasa sangat terancam bila Prabowo yang pernah mereka kambing-hitamkan itu berhasil menjadi orang nomor satu di republik ini.

Fitnah terhadap Prabowo telah terjadi selama bertahun-tahun, dan dengat sangat terorganisir. Citra Prabowo sebagai danjen Kopassus yang suka menculik, yang jahat, ganas dan tidak berperikemanusiaan begitu meresap di sebagian besar hati rakyat Indonesia. Perceraian dengan sang istri, yang merupakan putri mantan presiden Suharto, di tahun 1998 dan tidak pernah ter-expose, sering dijadikan alasan betapa mengurus keluarga saja tidak mampu.

Namun dalam debat capres cawapres yang beberapa kali ditayangkan televisi itu sifat brutal tersebut sama sekali tidak muncul. Yang tampak justru kebalikannya, yaitu santun, sabar dan cenderung tidak suka memojokkan lawan. Malah mantan istri dan putranya juga hadir, tanpa terlihat ada masalah di dalamnya.

Kelembutan hati sang mantan danjen Kopassus ini juga tercermin dari dibinanya 8000 anak asuh di Papua, membebaskan seorang TKW yang terancam hukuman mati di Malaysia, menyediakan sekitar 400 ambulans gratis di seluruh Indonesia. Hebatnya, kesemuanya itu tidak pernah diliput berita koran apalagi tv. Jelas ini bukan sekedar  ‘jaim’ alias jaga image, kata anak muda zaman sekarang.

Anehnya lagi, isu HAM yang ditudingkan kepada Prabowo tersebut hanya muncul pada saat-saat pilpres seperti hari ini. Di luar itu tidak pernah ditindak-lanjuti secara serius. Bahkan pada pilpres sebelum ini ketika Prabowo berpasangan dengan Megawati, ketua umum PDIP ini terlihat melindunginya. Juga ketika putri mantan presiden pertama ini menjadi presiden, ia tidak pernah berusaha mentuntaskan kasus yang sering diklaim bahwa PDIP adalah pihak yang terzalimi. Aneh bukan??

Dan lagi, kita juga melihat kenyataan bahwa orang yang dulu pernah ’diculik’ sekarang ini berada di dalam tubuh Gerindra. Begitupun para mantan bawahan Prabowo di Kopassuspun tidak pernah menceritakan keganasan dan kesadisan atasannya. Di benak mereka yang ada hanyalah ketegasan dan kedisiplinan. Dua hal pokok yang harus ada di militer. Mereka justru mendukung Prabowo.

Tampak bahwa koalisi partai Islam memang benar-benar telah memikirkan hal ini. Mereka tampaknya tidak salah pilih. Apalagi dukungan juga datang dari para ulama yang tidak hanya senang berwacana. Aa Gym, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Bahtiar Nasir, Daud Rasyid, Adian Husaini dan juga uztad-uztad yang lain adalah contohnya. Sementara bila saat ini kita melihat sejumlah ulama dan tokoh Islam kenamaan berada di pihak lawan, silahkan diperhatikan dari sudut mana mereka memandang Islam.

Abdullah Ibnu Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “ Yang mengikutiku dan para sahabatku.” HR Imam Tirmizi.

Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”.
Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”.
Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.”
Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?
Beliau saw menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.

Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja, beramal dan berusaha sekuat tenaga. Namun hasil akhirnya adalah takdir, ketentuan Allah Azza wa Jalla yang tak dapat dihindarkan. Ini adalah hak prerogatif Sang Khalik. Akan tetapi usaha inilah yang mendapat nilai, yang akan diperhitungkan di hari pembalasan nanti.

Memilih pemimpin seperti presiden saat ini adalah bagian dari usaha kita dalam rangka menjalankan perintah-Nya. Ini adalah bagian dari ibadah yang tinggi nilainya. Itu sebabnya jangan golput, marilah kita berpikir, jauhkan buruk sangka, dan pilih mana yang terbaik nilainya disisi-Nya. Hasilnya, serahkan pada Allah swt. Karena Dialah sang pemilik ketetapan. Dan itulah potret rakyat kita.

Tidak perlu terlalu khawatir terhadap segala fitnah dan kecurangan yang terjadi. Biarkan mereka yang berbuat itu menerima akibat dan ganjarannya langsung dari Sang Khalik. Semoga Ia berkenan memberi keberkahan kepada negri kita tercinta ini, aamin YRA.

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS. Ali Imran(3):54).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Juli 2014.
Vien AM.

Read Full Post »

Isu SARA ( Suku, Agama dan Ras )adalah isu yang paling ditakuti bangsa ini. Ia bagaikan momok menakutkan yang pantang untuk dibicarakan.  Mereka yang tetap nekat membahasnya akan dikategorikan ke dalam tindak kejahatan subversi yang dapat ditangkap dan perlu diamankan. Menurut catatan, banyak kerusuhan diakibatkan hal ini.  Meski ada laporan bahwa kerusuhan dan konflik yang dimaksud tak pernah diusut secara tuntas,  apa substansinya,  hingga terkesan  bahwa konflik di masyarakat karena SARA sarat dengan kepentingan politik.

Istilah SARA pertama kali dipopulerkan oleh Laksamana Sudomo, Panglima Kopkamtib di masa Orde Baru, yang telah berakhir pada tahun 1998 lalu. Pada masa itulah benturan antara mayoritas dan minoritas bangsa ini, baik agama maupun suku dan ras, kerap terjadi. Padahal sejatinya, justru perbedaan sikap pemerintah yang mencolok terhadap kedua kelompok  inilah yang menjadi penyebab konflik. Bukan SARA yang tampaknya sengaja dikambing-hitamkan.

Yang menjadi pertanyaan, adakah hari ini, isu SARA yang maha heboh itu masih pantas untuk dipertahankan, sakral untuk dibahas dan dibicarakan. Terutama untuk unsur agamanya. Karena bagaimanapun agama tidak sama fungsi dan kedudukannya dengan suku ataupun ras.

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat49):13).

Suku dan ras adalah ketetapan, takdir yang tidak bisa dan tidak mungkin kita memilihnya. Ini benar-benar hak prerogative Sang Khalik, Allah swt sebagai pemilik. Ia yang memilihkan kita, siapa orangtua kita, dari suku dan ras mana kita dilahirkan. Sementara agama, bila ia mau, dengan akal dan hati nuraninya,  bisa memilih apa yang dianggapnya paling benar, baik dan sesuai dengan dirinya. Meski sepintar dan sepandai apapun, ilmu agama tidak sepenuhnya dapat dicerna oleh akal sehat manusia.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani).

Pada tahap-tahap  tertentu, manusia  bisa saja menggunakan akalnya untuk mengikuti ‘cara kerja’ Tuhannya.  Bagi orang pandai, dengan catatan hatinya bersih dari segala prasangka buruk, makin pandai dan tinggi ilmu pengetahuan dan sainsnya, ia akan makin menyadari betapa kecilnya manusia itu. Betapa makin digali, teori dan ilmunya itu ternyata akan ‘mentok’, terhalang oleh sesuatu yang tidak dilihatnya, sesuatu yang ghaib. Itu sebabnya, bahkan Einsteinpun menambahkan factor X didepan teori relativitasnya yang fenomenal itu.

Disadari atau tidak, agama adalah kebutuhan setiap manusia normal. Jadi sebenarnya adalah wajar bila manusia mencarinya. Namun dengan adanya isu SARA di negri ini, orang jadi sulit memenuhi kebutuhan tersebut.  Bagaimana orang dapat mencari kebenaran sebuah agama bila membicarakannya saja tabu bahkan dianggap melakukan subversi. Padahal sejatinya agama adalah pengetahuan dasar,  yang bisa dan boleh dibicarakan dimanapun kita berada. Tidak bisa dikekang, dikerangkeng hanya di dalam masjid.

Mayoritas rakyat negri kita adalah Muslim. Islam mengajarkan agama adalah nafas kehidupan. Itu sebabnya apapun kegiatan kita adalah karena-Nya dan untuk Nya, yang nilainya sama dengan ibadah. Islam bukan hanya kegiatan ritual seperti shalat dan puasa, tapi segala aspek kehidupan. Termasuk dalam hal memilih pemimpin.  Meskipun Negara kita bukan Negara syariat Islam tapi bukan juga Negara sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Ini adalah hak seluruh Muslim.

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An-Nisa(4):144).

Para pendiri Republik Indonesia tercinta sangat menyadari pentingnya agama dalam kehidupan. Tanpa ridho Tuhannya, mustahil Negara kita bisa maju dan berkembang.  Itu sebabnya sila pertama Pancasila adalah tentang ketuhanan, yaitu Ketuhanan yang Esa. Artinya, setiap warga wajib memiliki agama. Di dalam piagam Jakarta yang merupakan cikal bakal pembukaan UUD 45, sila pertama tersebut aslinya bahkan menyebut Islam sebagai agama resmi rakyatnya.

Yang patut diingat, Islam tidak pernah mengajarkan permusuhan kepada umat agama lain. Konsep negara Madinah, negara pertama islam dalam sejarah dunia, menjadi buktinya. Setiap umat wajib mematuhi hukum agamanya. Pengusiran terhadap umat Yahudi baru terjadi setelah terbukti mereka mengkhianati perjanjian yang ditanda-tangani Rasulullah saw sebagai kepala Negara, dengan perwakilan Yahudi. Itupun bertahap, tidak semua suku Yahudi, namun suku yang bersangkutan saja. Meski semua suku agama yang dibawa oleh nabi Yakub as dan keturunannya seperti nabi Yusuf as, nabi Musa as, nabi Daud as, nabi Sulaiman as dan nabi Isa as atau Yesus orang Kristen menyebutnya, pada akhirnya terpaksa harus hengkang dari Madinah dan Makah. Ini dikarenakan mereka sendiri yang berkomplot memusuhi Islam dan nabi Muhammad saw sebagai nabinya.

Bangsa Indonesia sebagai Negara mayoritas Muslim mustinya mencontoh hal ini. Muslim sebagai mayoritas harus dapat melindungi kaum minoritas. Sebaliknya kaum minoritas harus menghormati kaum mayoritas. Keadilan mustinya proposional sesuai jumlah pemeluk agama, hingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Patut diingat bahwa kaum minoritas mempunyai hak sebagai tetangga yang harus  dihormati dan diperhatikan.

Dakwah atau ajakan masuk Islam, yang merupakan kewajiban Muslim harus dilakukan dengan santun, tidak memaksa. Karena sejatinya kebaikannya untuk yang diajak bukan yang mengajak. Jadi dakwah harus dilandasi rasa kasih sayang agar saudara/saudari atau kenalan kita selamat dari azab dan kemurkaan Allah swt.

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.(QS. Al-An’am(6):108).

Mungkin ada baiknya urusan tiap agama itu dibawah pengawasan direktorat agama masing-masing. Ini agar supaya kemurnian tiap agama dapat dijaga sebaik mungkin, agar kesesatannya dapat diantisipasi. Karena tidak dapat dipungkiri dalam setiap zaman, kesesatan dalam agama selalu saja muncul, apapun motivasinya.

Amerika Serikat, negara besar mayoritas Kristen yang mengklaim diri sebagai Negara demokrasi, jelas-jelas melarang aliran sesat Kluxklux clan dan Children of god.  Namun di Indonesia, pelarangan Syiah, Ahmadiyah, JIL dll dianggap melanggar demokrasi dan toleransi beragama. Padahal MUI sebagai lembaga pengawasan agama yang resmi diakui negara sudah mengeluarkan instruksi bahwa aliran-aliran tersebut sesat. Sama dengan mayoritas  negara2 islam seperti  Malaysia dll.

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sesungguhnya (ummat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim dan  ad-Darimi).

Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud  dan at-Tirmidzi).

Perpecahan dalam tubuh Islam makin hari makin makin menjadi-jadi sebagaimana telah diprediksi Rasulullah. Sebagai contoh sederhana, penetapan Hari Raya Iedul Fitri saja belakangan ini kerap tidak bersamaan. Padahal teori yang digunakan dari dulu sama yaitu hilal dan hishab, tidak pernah berubah.   NU dan Muhammadiyah yang merupakan dua lembaga besar Islam yang memiliki pengaruh besar di mata rakyat Indonesia, dari dulu juga sudah ada. Lalu apa yang salah di negri ini??

Hukum di Indonesia sudah cukup banyak, rasanya tidak perlu ditambah lagi. Tinggal pelaksanaannya. Kita bisa melihat betapa pelanggaran hukum sering sekali terjadi tanpa ada hukumannya. Dari pelanggaran berat yang dilakukan pejabat sampai pelanggaran ringan yang dilakukan rakyat jelata secara masal pula. Contoh sederhananya yaitu para pengendara sepeda motor yang tanpa rasa bersalah sedikitpun menjalankan kendaraannya melawan arah dan melanggar lampu lalu lintas. Kuncinya jelas, tidak ada ketegasan dari penegak hukum!

Tampaknya inilah saat yang tepat untuk memilih pemimpin yang tegas, selain tentu saja yang bisa melindungi hak dan kewajiban kita sebagai Muslim. Yang dapat memimpin dan mengarahkan arah demokrasi yang benar,  bukan demokrasi kebablasan tanpa batas, yang dapat membuat para PSK merasa berhak menjalankan kegiatan prostitusi dll.  Naudzubillah min dzalik.

Ikuti apa kata mayoritas ulama yang jelas ke-shaleh-annya, ulama yang bukan hanya menjadikan Islam sebagai wacana dan perdebatan publik. Kalau perlu ulama yang bukan simpatisan partai bila kurang percaya kepada partai Islam. Biarkan mereka yang mempertanggung-jawabkan ajakan/pilihan mereka.

… …  Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. … … “.  (QS. Fathir(35):28).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Juni 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Pemilu legislatif 2014 tinggal satu hari. Tapi hingga detik ini kelihatannya sebagian besar umat islam belum bisa menentukan pilihannya. Bisa dimaklumi, karena hingga saat ini, siapapun presiden dan partai yang memenangkan pemilu belum pernah berhasil membawa rakyat ke arah yang lebih baik. Tidak hanya partai sekuler, partai Islampun sami mawon. Korupsi dan tidak amanah seperti berlomba menjangkiti para anggotanya. Makin tahun bahkan makin menggurita. Sungguh menyedihkan. Ini yang menjadi penyebab makin banyaknya rakyat yang golput, alias tidak memilih.

Pertanyaannya, benarkah tindakan golput seperti itu? Apakah Islam mengizinkannya?

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya pemimpin. Dalam kehidupan rumah tangga, diperlukan adanya pemimpin atau kepala keluarga, begitu pula halnya di masjid sehingga shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan adanya orang yang bertindak sebagai imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim, harus mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin perjalanan. Ini menunjukkan betapa pentingnya pemimpin dalam kacamata Islam, baik dalam skala kecil seperti dalam rumah tangga, apalagi dalam skala besar seperti dalam masyarakat suatu negara.

Malah sebenarnya kebutuhan akan kepemimpinan dan panutan tidak hanya monopoli Islam, namun juga umat agama lain. Orang Nasrani atau orang Hindu yang taat, pasti juga akan mengidolakan pemimpin yang satu kepercayaan dengan diri mereka. Karena setiap diri yang yakin akan keyakinannya, pasti akan lebih nyaman berada di lingkungan yang sama, yang kondusif, agar dapat menjalankan kepercayaannya tersebut.

Apalagi kita sebagai umat Islam, yang memiliki banyak sekali ritual yang membutuhkan pengayoman. Setiap Muslim yang baik, pasti tahu bahwa shalat 5 waktu bagi kaum lelaki, afdolnya adalah di Masjid. Shalat Jumat malah wajib di masjid, kecuali ada halangan. Sementara shalat Ied Fitri dan shalat Iedul Adha diperlukan lapangan yang luas, yang bila sewaktu-waktu hujan bisa masuk ke dalam masjid.

Belum lagi kewajiban memakai jilbab bagi kaum perempuannya. Ini masih ditambah lagi dengan berbagai hukum khas Islam mengenai riba’, waris, tata cara pernikahan, kematian, penguburan, sertifikasi halal dll. Semua itu memerlukan perangkat negara sebagai hukum tertinggi yang selalu mengacu kepada Al-Quran dan hadist. Artinya, wajib hukumnya orang Islam mempunyai pemimpin seiman dan memilihnya. Dan kita harus mempertanggung-jawabkan pilihan tersebut di hari akhirat nanti.

Ironisnya, banyak diantara kita yang mengaku Muslim namun ternyata tidak menyadari hal ini. Dengan bermacam alasan, seperti toleransi dan demokrasi, mereka memilih pemimpin yang dimata mereka baik, tanpa memperhatikan apa dan kwalitas agamanya, warna dan kebijakan partai yang mendukungnya.

Pemilu periode ini yang jatuh besok, Rabu, 9 April 2014, tampaknya semakin rawan saja. Bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, kelihatannya sudah harus bersiap diri ’dijajah di negrinya sendiri.  Ini bisa terjadi karena ketika sebagian Muslim banyak yang masih ragu memilih partai Islam bahkan ingin golput, maka sebaliknya umat Nasrani telah berhasil diarahkan para pemimpin dan pendetanya agar berbondong-bondong mencoblos partai sekuler yang mempunyai caleg non Muslim terbesar. Ini disebabkan partai agama mereka tidak lolos seleksi. Jadi ya wajar saja.

Kebetulannya, capres yang diusung partai tersebut adalah seorang yang selama ini telah menjadi idola sebagian masyarakat, karena kejujuran, kesederhaan dan keluguan beliau. Hal yang amat sangat sulit dicari di zaman ini. Seorang yang seharusnya patut dijadikan panutan, karena beliau memang juga seorang Muslim. Tak heran, bila sebagian Muslim juga mencalonkan beliau.

Namun demikian, tampaknya ada hal penting yang lolos dari perhatian umat. Selama dua kali periode kepemimpinan beliau sebagai gubernur, Solo dan Jakarta, wakilnya adalah non Muslim. Dan keduanya ditinggalkannya sebelum habis masa jabatan. Artinya, sang wakilpun akhirnya naik jabatan menggantikan beliau sebagai pimpinan tertinggi. Sebagai Muslim, tidak sengaja atau tidak tahukah beliau ayat-ayat berikut ini ?

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Kabarkanlah kepada orang-orang Munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”.(QS.An-Nisa(4):138-139).

Jangan sampai Allah swt sebagai kekuatan tertinggi di alam semesta ini memasukkan kita ke dalam golongan orang Munafik. Yang menyebabkan kita susah, di dunia apalagi di akhirat. Bila di dunia ini Sang Khalik memberi kesuksesan dan keberhasilan, sebagaimana majunya negara-negara barat yang notabene kafir, yakinlah bahwa itu hanya sementara, hanya cobaan untuk menjatuhkan kita ke dalam lembah yang lebih hina dina dan kejam tak terkira, di akhirat kelak, yaitu neraka jahanam.

Karena tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan dalam Islam tidak hanya bersifat materialistis. Namun ridho-Nya. Ini yang bisa membuat negara dan rakyat tenang dan aman dibawah limpahan kasih sayang-Nya. Sebagai balasan karena rakyat dapat secara tenang mengabdi dan beramal ibadah, sesuai tuntunan Quran dan hadist.

Akhir kata, dalam rangka menunaikan kewajiban kita sebagai Muslim yang baik, berhati-hatilah memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang kaffah, yang tidak setengah-setengah dalam ber-Islam, disamping kemampuannya memimpin tentunya. Yang gigih membela umat Islam dan  PD terhadap ke-Islam-annya. Pilih diantara yang ada, meski tidak sempurna dan mempunyai kekurangan. Minimal yang paling sedikit cacatnya. Biarlah mereka yang terpilih mempertanggung-jawabkan kepemimpinan mereka di depan rakyat dan Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Tiada seorang ( pemimpin )yang diamanahkan oleh Allah memimpin rakyatnya, kemudian ketika ia mati didapati telah menipu rakyatnya (berlaku tidak adil ), maka Allah pasti akan mengharamkan baginya syurganya”. (HR. Bukhari Muslim).

( Bersambung ke

https://vienmuhadi.com/2014/07/07/memilih-pemimpin-dalam-islam-2/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 April 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Copas dari : http://duniabaca.com/sejarah-islam-awal-mula-islam-di-indonesia.html

 Mempelajari sejarah masuknya islam di indonesia mungkin sudah pernah Anda pelajari saat duduk di bangku sekolah. Dimana sejarah penyebaran islam di indonesia khususnya pulau jawa yaitu dilakukan oleh para wali songo.

Dalam catatan sejarah, islam sudah berada sejak tahun 622 ketika Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Namun di Indonesia islam dikenal pada abad pertama hijaiyah atau tujuh masehi. Pengenalan islam di Indonesia dimulai dari frekuensi yang tidak terlalu besar, hanya melalui perdagangan, dan seiring berjalannya waktu pengenalan islam di Indonesia lebih intensif, terutama di Semenangjung Melayu dan Nusantara. Beberapa bukti peninggalan islam di Asia Tenggara adalah dua makam muslim dari akhir abad ke 16.

Sejarah Islam

Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.

Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.

Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang.

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijirah.

Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia.

Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) (Sumber: wikipedia)

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.

Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda.

Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut.

Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa.

Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang.

Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar). (Sumber : ummah.com)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Januri 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Christoforo Colombo (lidah Barat menyebutnya Christophorus Colombus ) menjejakkan kakinya di Amerika di akhir abad ke-15 Masehi. Lima abad sebelum Colombus tiba, para pelaut Muslim dari Granada dan Afrika Barat sudah menjejakkan kaki di daratan-benua yang masih perawan dan hanya ditinggali oleh suku-suku asli yang tersebar di beberapa bagiannya.

Imigran Muslim pertama di daratan ini tiba sekira tahun 900 Masehi sampai setengah abad kemudian pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Salah satunya bernama Khasykhasy Ibn Said Ibnu Aswad dari Cordova. Orang-orang Islam inilah yang mendakwahkan Islam pada suku-suku asli Amerika. Sejumlah suku Indian Amerika pun telah memeluk Islam saat itu antara lain suku Iroquois dan Alqonquin.

Lalu, setelah jatuhnya Granada tahun 1492, yang kemudian disusul oleh gerakan Inkuisisi yang dilakukan Gereja terhadap orang-orang Islam dan Yahudi di Spanyol, maka imigran kedua tiba di Amerika sekira pertengahan abad ke-16 Masehi. Tahun 1539, Raja Spanyol, Carlos V, melarang bagi Muslim Spanyol hijrah ke Amerika.

Menurut prasasti berbahasa Arab yang ditemukan di Mississipi Valey dan Arizona, dikatakan jika orang-orang Islam yang datang ke daratan ini juga membawa gajah dari Afrika.

Colombus sendiri datang ke Amerika lima abad kemudian. Dalam ekspedisi pertamanya, Colombus dibantu dua nakhoda Muslim bersaudara bernama Martin Alonzo Pizon yang memimpin kapal Pinta dan Vicente Yanez Pizon yang ada di kapal Nina. Kedua bersaudara ini masih kerabat dari Sultan Maroko dari Dinasti Marinid, Abuzayan Muhammad III (1362-1366).

Catatan harian Colombus menyatakan jika pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika berlayar di dekat Gibara di tenggara pantai Kuba, mereka mengaku telah melihat sebuah masjid dengan menaranya yang tinggi yang berdiri di atas puncak bukit yang indah.

Doktor Barry Fell dari Oxford University juga menemukan jika berabad sebelum Colombus tiba di Amerika, sekolah-sekolah Islam sudah tersebar di banyak wilayah. Antara lain di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Mesa Verde di Colorado, Hickison Summit Pass di Nevada, Mimbres Valley di Mexico, dan Tipper Canoe-Indiana. Di berbagai kota besar Amerika Serikat. Di tengah kota Los Angeles, terdapat daerah bernama Alhambra, juga nama Teluk El-Morro dan Alamitos. Juga nama-nama seperi Andalusia, Aladdin, Alla, Albani, Alameda, Almansor, Almar, Amber, Azure, dan La Habra. Semuanya nama Islam.

Di tengah Amerika, dari selatan hingga Illinois, terdapat nama-nama kota kecil seperti Albany, Atalla, Andalusia, Tullahoma, dan Lebanon. Di negara bagian Washington juga ada nama daerah Salem. Di Karibia yang juga berasal dari kata Arab, terdapat nama Jamaika dan Kuba, yang berasal dari bahasa Arab “Quba”. Ibukota Kuba, Havana juga berasal dari bahasa Arab “La Habana”.

Seorang sejarawan bernama Dr. Yousef Mroueh menghitung, di Amerika Utara ada sekurangnya 565 nama Islam pada nama kota, sungai, gunung, danau, dan desa. Di Amerika Serikat sendiri ada 484 dan di Canada ada 81.

Dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, nama keduanya juga telah  ditorehkan para pionir Muslim di tanah Amerika jauh sebelum Colombus lahir. Nama Mecca ada di Indiana, lalu Medina ada di Idaho, New York, North Dakota, Ohio, Tenesse, Texas, Ontario-Canada. Bahkan di Illinois ada kota kecil bernama Mahomet yang berasal dari nama Muhammad.

Suku-suku asli Amerika ternyata juga banyak yang berasal dari nama Arab, antara lain Suku Apache, Anasazi, Arawak, Cherokee, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mohigan, Mohawk, Nazca, Zulu dan Zuni. Bahkan kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Se-quo-yah yang menciptakan silabel huruf Indian yang disebut Cherokee Syllabari pada 1821 ternyata seorang Muslim dan senantiasa mengenakan sorban, bukan ikat kepala dari bulu burung seperti yang ada di film-film wild-west ala Hollywood.

Beberapa kepala suku Indian yang juga selalu mengenakan sorban di antaranya Sioux, Chippewa, Yuchi, Iowa, Sauk, Creek, Kansas, Miami, Potawatomi, Fox, Seminole, dan Winnebago. Foto-foto para kepala suku Indian tersebut yang bersorban saat ini masih disimpan di berbagai museum dan arsip nasional Amerika, antara lain yang ada di Philadelphia. Foto-foto itu berasal dari tahun 1835 dan 1870.

Wallahu’alam bishawwab.

Pau – France, 23 march 2010.

Vien AM.

Dikutip dari: http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/indian-sudah-memeluk-islam.htm

Read Full Post »

Kepiting: Halal atau Haram?

GATRA.com – PERBINCANGAN seputar hukum makan kepiting pada masyarakat Islam Indonesia selama ini terasa setengah hati dan kontroversial. Banyak yang bertanya, tapi dapat jawaban sekenanya. Ada yang yakin hukumnya haram, halal, atau makruh, tapi tidak dilengkapi kajian memadai. Nelayan di Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur, misalnya, juga mengakui bahwa soal ini masih simpang-siur. Namun berdasarkan pengalaman seadanya, mereka memilih berpendapat halal.

“Di sini hampir sembilan puluh persen nelayan memilih halal,” kata Haji Nur Arifin, seorang nelayan. “Sepengetahuan saya, kepiting hanya hidup di air,” Arifin menambahkan. Berbeda dengan pendapat KH Mutawakil Alalloh yang memandang kepiting haram dimakan. Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, ini beralasan, kepiting bisa hidup di darat dan air (amfibi). Ia menganalogkan dengan haramnya katak yang juga binatang amfibi. “Untuk lebih hati-hati, saya memilih haram,” katanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) diam-diam melakukan kajian lebih teliti untuk merumuskan fatwa halal-haramnya kepiting. Ketua MUI Prof. Dr. Umar Shihab mengemukakan itu dalam Muktamar VIII Alkhairaat di Palu, Senin pekan lalu. Sebenarnya Umar hanya memaparkan lembaga MUI secara umum. Ketika dijelaskan bahwa MUI mempunyai Komisi Fatwa ada hadirin yang bertanya fatwa terbaru MUI. “Paling akhir, Komisi Fatwa memutuskan fatwa tentang kepiting,” jawab Umar.

Rupanya, kajian kepiting ini disebabkan membanjirnya produk berbahan baku kepiting yang mengajukan sertifikasi halal ke Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) – MUI. “Kami ragu hukum kepiting, karena di masyarakat masih ada silang pendapat, maka kami tanyakan ke Komisi Fatwa,” kata Osmena, Wakil Sekretaris LPPOM. Maka, 29 Mei lalu, Komisi Fatwa mengundang Prof. Dr. Hasanuddin AF, Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Jakarta, untuk presentasi makalah berjudul “Kepiting: Halal atau Haram?”

Dalam makalahnya, Hasanuddin menyebutkan tiga patokan untuk menyatakan halal atau haramnya makanan. Pertama, ada dalil berupa nash (Al-Quran atau hadis) yang menyatakan makanan itu halal. Kedua, ada nash yang menyatakan haram. Ketiga, tidak ada nash yang menyatakan haram atau halal. Makanan yang dinyatakan halal oleh nash, antara lain, binatang laut. “Semua jenis binatang laut hukumnya halal kecuali yang mengandung racun dan membahayakan jasmani rohani kita,” tulis Hasanuddin.

Hasanuddin merujuk Al-Quran surah Al-Maidah ayat 96: “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut, sebagai makanan yang lezat bagimu …” Hadis riwayat Abu Hurairah juga menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Laut itu airnya suci dan bangkainya halal.” Sedangkan makanan yang ditetapkan haram oleh nash antara lain bangkai, darah, dan daging babi (Al-Maidah ayat 3). Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal mengecualikan, ada dua bangkai (ikan dan belalang) dan dua darah (hati dan limfa) yang halal.

Ada lagi makanan yang dinyatakan haram berdasarkan hadis. Misalnya, hadis riwayat Muslim melansir pernyataan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah mengharamkan setiap binatang buas yang bertaring dan jenis burung yang bercakar tajam. Bagaimana dengan makanan yang didiamkan nash: tidak diharamkan dan tidak dihalalkan? Hasanuddin mengacu pada kaidah bahwa hukum dasar segala sesuatu adalah halal, selama tidak ada nash yang mengharamkan.

Kaidah itu disarikan dari surah Al-Baqarah ayat 29, “Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di bumi ini untuk kalian semua.” Serta dari hadis riwayat Ibnu Majah dan Turmuzi, “Halal adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya, haram adalah yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya, sedangkan apa yang tidak dinyatakan halal atau haram, maka itu termasuk yang dimaafkan untuk kalian makan.” Di sinilah Hasanuddin menempatkan hukum kepiting.

“Kepiting termasuk binatang yang tidak ditegaskan oleh nash tentang halal atau haramnya,” tulis Hasanuddin. Maka ketentuan hukumnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu yang pada dasarnya adalah halal –sepanjang tidak berdampak buruk bagi jasmani dan rohani. Hasan menyarankan dilakukan uji laboratorium untuk memastikan apakah kepiting aman dikonsumsi atau tidak. Makalah guru besar ushul fikih ini mengundang perdebatan baru tentang hukum makhluk amfibi.

Argumen mereka yang menilai kepiting haram adalah karena statusnya yang diduga amfibi. Pandangan demikian banyak dipegangi ulama pesantren penganut mazhab Syafi’iyah. “Di madrasah-madrasah Alkhairaat, baik aliyah, tsanawiyah, maupun ibtidaiyah, selalu diajarkan bahwa binatang yang hidup di dua alam hukumnya haram,” kata Ketua Pengurus Besar Alkhairaat Prof. Dr. Huzaimah Tahido.

Ketua Komisi Fatwa KH Makruf Amin dan beberapa anggota komisi seperti KH Ghozali Masruri juga cenderung ke pendapat itu. Kiai Makruf menyitir kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam Romli yang menyebutkan bahwa makhluk yang bisa hidup langgeng (hayyan daiman) di air dan darat hukumnya haram. “Kitab-kitab fikih Syafi’iyah kebanyakan menyatakan begitu, dan kitab Nihayah ini yang paling tegas,” kata Makruf. Ibnu Arabi, menurut Hasanuddin, juga berpendapat demikian.

Namun Hasanuddin menandaskan bahwa pendapat yang mengharamkan makhluk amfibi tidak memiliki dasar yang kuat dalam nash. “Lagi pula apa hubungannya antara halal-haram dengan kondisi bisa hidup di laut dan di darat?” tanya Hasanuddin. Menurut guru besar Fakultas Syari’ah IAIN Surabaya, Prof. Syechul Hadi Permono, ajaran bahwa makhluk amfibi itu haram bukan berasal dari Al-Quran, melainkan dari agama Yahudi.

Perdebatan internal ahli agama ini kemudian dikonfrontasikan dengan penjelasan pakar kepiting dari Institut Pertanian Bogor (IPB). MUI menghadirkan Dr. Sulistiono dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, 15 Juni lalu. Ia membawa makalah berjudul “Eko-Biologi Kepiting Bakau”. Pembantu Dekan III FPIK ini membatasi bahasan pada jenis kepiting yang banyak dikenal masyarakat. Di Indonesia ada 2.500-an spesies, sementara di dunia lebih dari 4.500 spesies.

Dari ribuan spesies itu, ada tiga jenis kepiting yang dikenal masyarakat Indonesia. Pertama, rajungan, yang hidup di perairan laut. Kedua, kepiting kecil yang hidup di darat, biasa dipakai makanan ternak. Ketiga, kepiting yang hidup di tambak air payau, sering disebut kepiting tambak atau kepiting bakau. Masyarakat mengenal kepiting tambak ini hanya satu jenis. “Bentuknya memang persis sama tapi sebenarnya ada empat jenis,” kata Sulistiono.

Keempatnya paling banyak dikonsumsi masyarakat karena dagingnya yang enak. Empat jenis kepiting itu adalah Scylla serrata, Scylla paramamosain, Scylla tranquebarica, dan Scylla olivacea. Ada dua hal untuk membedakan keempatnya, yaitu duri yang ada di sikut dan duri di dahinya (lihat tabel ciri-ciri). Menurut Sulistiono, dari keempat jenis itu, yang paling banyak dikonsumsi adalah Scylla serrata dan Scylla tranquebarica. “Di daerah Cilacap, Scylla tranquebarica ini sudah menjadi makanan sehari-hari,” katanya.

Sulistiono memastikan bahwa kepiting bukan hewan amfibi seperti katak. Katak bisa hidup di darat dan air karena bernapas dengan paru-paru dan kulit. Kepiting hanya bernapas dengan insang. Kepiting memang bisa tahan di darat selama 4-5 hari, kata Sulistiono, karena insangnya menyimpan air, sehingga masih bisa bernapas. “Tapi kalau tidak ada airnya sama sekali, akan terjadi evaporasi, akhirnya akan mati. Jadi, kepiting tidak bisa lepas dari air,” kata Sulistiono kepada Tata Haidar Riza dari Gatra.

Komisi Fatwa MUI akhirnya menetapkan empat jenis kepiting itu halal karena jenis binatang air. “Di luar itu, kami akan teliti lagi status hukumnya,” kata Kiai Makruf. Sulistiono juga belum bisa memastikan jenis yang lain. “Selain keempat jenis itu, saya nggak tahu pasti. Yang jelas, jenisnya buanyak sekali, tapi penelitiannya masih sedikit,” katanya. Bahkan untuk kepiting jenis pemakan kelapa, MUI belum memutuskan statusnya. Yang pasti, kepiting jenis beracun dinyatakan haram.

Sampai akhir pekan lalu, MUI belum mengeluarkan fatwa tertulis. “Kami masih menunggu kelengkapan data tentang ciri-ciri spesies yang halal dan yang beracun dari pakarnya,” kata Sekretaris Komisi Fatwa, Maulana Hasanuddin. MUI kemudian akan menyebarkannya ke masyarakat.

[Asrori S. Karni, Amran Amier (Palu), dan Rachmat Hidayat (Surabaya)]
[Agama, GATRA Nomor 34 Beredar 08 Juli 2002]  

Dikutip dari :

http://www.mail-archive.com/fupm-ejip@usahamulia.net/msg00128.html

********************************************************

Read Full Post »

Older Posts »