Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Perkembangan Islam Di Perancis’ Category

Paris 7 januari 2015, terjadi penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo  di Paris 15. Dikabarkan 12 orang tewas dalam aksi rentetan serangan brutal di tengah hari bolong itu. Yang membuat orang lebih tersentak lagi, penyerangnya adalah 2 orang kakak beradik beragama Islam. Kabarnya keduanya mengklaim sebagai wakil dari Alqaeda Yaman.

Tragedi berdarah ini langsung mengingatkan saya pada peristiwa 14 tahun silam ketika kami berada di Paris, yaitu serangan 9/11. Ada kesamaan dalam peristiwa tersebut, yaitu Islamlah yang dituduh biang keroknya. Paling tidak itulah yang dipublikasikan begitu tragedi terjadi, padahal pelakunya saja belum tertangkap.

Maka tak ayal, masjidpun sontak dijadikan sasaran balas dendam. Juga kaum Muslimah yang mudah dikenali karena jilbabnya. Sebaliknya, sinagog dan sekolah-sekolah Yahudi yang ada di seluruh penjuru Perancis langsung mendapat perlindungan ketat ! Apa hubungannya???  Yang lebih mengerikan lagi adalah pernyataan George W Bush, presiden AS ketika itu, yaitu : “Either you are with us or you are with the terrorists!”. Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat berbahaya, seolah di dunia ini hanya 2 kubu, pendukung Bush sebagai orang baik, di lain pihak, yang tidak pro Bush, adalah teroris. Dan itu adalah Islam, sang teroris. Sejak itu, Islamphobia, ketakutan terhadap Islampun berkembang cepat di Barat.

Namun anehnya, justru sejak itu pula peminat Islam di Barat malah meningkat pesat. Ini benar-benar di luar dugaan siapapun.  Ternyata rasa  penasaran terhadap ajaran Islam, sebuah agama di luar sana, yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar, membuat mata mereka terbuka lebar. Harap maklum, rata-rata sekolah di Barat tidak mengajarkan dan memperkenalkan Islam sebagai salah satu agama besar di dunia. Tak heran bila tak lama kemudian merekapun bersyahadat.  Allahuakbar …

Saat ini, saat terjadinya tragedi berdarah minggu lalu, Muslim di Perancis tercatat telah mencapai 5 juta orang atau sekitar 8 % total penduduk negri ini. Sebagian besar adalah warga Perancis keturunan Maroko, Aljazair dan Tunisia yang merupakan Negara bekas jajahan Perancis. Ini tentu saja tidak terlepas dari kerja keras dan susah payah pada dai dan ulama setempat untuk memperkenalkan Islam, untuk membuang kesan dan bayangan Barat terhadap Islamophia, sekaligus memberi pencerahan bagi yang bersungguh-sungguh dan penasaran mengenal Islam.

Maka tak heran bila merekalah pihak yang paling kecewa terhadap tindakan brutal kakak beradik Kouachi. Itu pula sebabnya Tariq Ramadhan, tokoh Muslim Perancis/Swiss, cucu tokoh kenamaan Mesir Hasan Al-Banna, menyatakan bahwa tindakan keduanya adalah bentuk pengkhianatan mereka terhadap Islam.

Pertanyaannya, ada apa dengan  Charlie Hebdo ( Hebdo adalah singkatan dari hebdomadaire yang artinya mingguan), mengapa tabloid mingguan ini yang menjadi sasaran kebiadaban Kouachi bersaudara.

Bagi sebagian Muslim sepak terjang  tabloid ini mungkin tidak asing. Tabloid yang mengkhususkan diri sebagai tabloid satir ini sering menerbitkan kartun Rasulullah dengan berbagai gaya. Tapi yang paling sering adalah  yang merendahkan dan melecehkan. Tentu saja ini amat sangat menyakitkan hati kaum Muslimin. Jangankan kartun  yang buruk bahkan yang baik saja pasti beresiko mendatangkan penentangan. Karena Islam memang melarang penggambaran nabi.

Alasan utama pelarangan tersebut  adalah kekhawatiran timbulnya penyembahan/penuhanan seperti yang terjadi pada nabi Isa as. Patut diingat, patung-patung nabi Isa as dan ibunda Maryam binti Imran yang banyak ditemui di gereja di seluruh pelosok dunia diawali  dengan adanya penggambaran beliau.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian isteri beliau menyebut-nyebut sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah yang disebut dengan Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah radhiyallahu‘anhuma pernah mendatangi negeri Habasyah, mereka menyebutkan tentang kebagusannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau pun mengangkat kepalanya, lalu bersabda: “Itulah orang-orang yang bila ada orang sholih di antara mereka yang mati, mereka membangun masjid ( rumah ibadah) di atas kuburannya kemudian membuat gambar-gambarnya. Itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” [HR. Ahmad dan Al-Bukhari]

Berikut alasan mengapa Islam melarang penggambaran sosok Rasulullah.

( https://m.facebook.com/notes/cah-bagus-menjawab-fitnah-misionaris/kenapa-islam-melarang-menggambar-sosok-nabi-muhammad-saw/361202847315747/ ).

Sementara ganjaran bagi orang yang menghina Rasulllah juga jelas yaitu hukuman mati. Ini tercermin dari kisah seorang buta yang hidup di zaman Rasulullah. Orang buta ini mempunyai budak perempuan yang setiap hari selalu mengolok-olok nabi. Si orang buta berkali-kali memperingatkan agar ia menjaga mulutnya tapi ia tidak mau mendengarkannya. Hingga akhirnya habislah kesabaran si orang buta, lalu menyuruh putranya agar membunuhnya. Dan ketika akhirnya kasus ini dilaporkan kepada Rasulullah, beliau hanya berujar ““Saksikanlah bahwa darah wanita itu hadar / sia-sia” .

( Baca :http://www.arrahmah.com/kajian-islam/hukum-bunuh-atas-orang-yang-menghina-islam-allah-dan-rasul-nya.html#sthash.XuI4WBPw.dpuf ).

Hukuman berat ini bukannya tanpa dasar yang kuat. Karena sejatinya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Seperti kita ketahui,  akibat fitnah bisa merusak anak keturunan. Apalagi fitnah terhadap Rasulullah yang merupakan pemimpin bahkan panutan umat Islam. Ini bisa merusak rasa hormat dan kecintaan tidak hanya kepada Rasulullah namun juga kepada ajaran yang dibawa beliau, yaitu Islam. Itu sebabnya Al-Quran secara jelas memerintahkan kita agar menghormati, mentaati dan mencintai beliau, lebih dari kepada kedua orang-tua bahkan diri kita sendiri.

“ Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS. At-Taubah(9):24).

Dari Anas bin Malik Rasulullah bersabda  “Seseorang tidak dapat dianggap beriman sampai rasa cintanya kepadaku melebihi rasa citanya kepada anaknya, kepada orang tuanya, dan kepada semua manusia”.(HR. Bukhari Muslim).

Namun hukum ini hanya berlaku dimana hukum Islam dijalankan, itupun aparat negara yang menjalankannya, bukan perorangan. Jadi apa yang terjadi di Paris beberapa waktu lalu sama sekali tidak dapat dibenarkan.  Apalagi bila hal tersebut malah membahayakan komunitas Islam di tempat tersebut, dengan kata lain lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

Ironisnya inilah yang dimanfaatkan musuh-musuh Islam. Dengan dalih kebebasan berekspresi mereka mencemooh Rasulullah. Ini bukan kali pertama tabloid Barat memunculkan karikatur bernada melecehkan dan menghina nabi saw. Memang bukan hanya nabi Muhammad saw saja yang menjadi target pelecehan, nabi Isapun tak luput dari perbuatan konyol tersebut.

Bahkan tak sampai seminggu setelah tragedi berdarah di Paris, tabloid ini kembali nekad menerbitkan karikatur nabi sedang menangisi tragedi yang baru berlalu itu sebagai sampulnya.  Tak tanggung-tanggung mereka mencetak berkali lipat banyaknya, yaitu 5 juta eksemplar padahal biasanya hanya 60 ribu. itupun kabarnya masih juga kekurangan, karena rakyat Perancis menyerbu dan rela mengantri panjang untuk mendapatkannya.

Presiden Perancis,  Francois Hollande, dalam pidatonya menyatakan bahwa  tak ada satupun pihak yang dapat menekan kebijakan negaranya dalam kebebasan berekspresi. Sungguh ironis, Perancis yang katanya negara maju dan beradab, ternyata tidak mau menghormati dan menghargai perasaan kelompok lain. Pidato tersebut diucapkan pada acara long march yang diadakan pemerintah di Place de la Republique di Paris dan dihadiri oleh sekitar 40 wakil pemimpin Negara dunia. Long march ini diadakan beberapa hari setelah tragedi, untuk menunjukkan perang terhadap terorisme.

Lucunya  Benyamin  Netanyahu juga hadir di antara mereka. Tentu saja ini mengundang kecaman banyak orang termasuk presiden Turki , Recep Tayyip Erdogan. Sungguh tak tahu malu, Israel yang telah membantai ribuan rakyat Palestina, Gaza khususnya, berani-beraninya datang  menghadiri acara ini, begitu antara lain bunyi kecaman Erdogon lantang.

Parahnya lagi, paska tragedi tersebut lahir slogan baru “Je suis Charlie” ( “Saya Charlie”) sebagai penghormatan dan simpati mereka kepada para korban. Apakah mereka tidak sadar bahwa sebagian besar korban tersebut adalah para kartunis yang telah memprovokasi kemarahan umat Islam dan dengan begitu mereka telah menempatkan diri sebagai provokator juga ?? Meski pembantaian tersebut sama sekali menyalahi ajaran Islam dan patut dikutuk.

Bersyukur tidak semua orang Perancis bersikap seperti itu.  Charles Phillippe, seorang bangsawan Perancis dari Orleans  menyatakan, dari dulu ia tidak pernah merasa simpatik kepada Charlie Hebdo. Tabloid ini kasar, dengan berlindung dibawah slogan kebebasan berekspresi  mereka  mengadu domba pemeluk antar agama serta menjadikannya lelucon yang sama sekali tidak lucu. Menurutnya tabloid ini adalah gambaran masyarakat atheis Eropa haluan kiri yang tidak menghormati persaudaraan Perancis. Oleh karenanya saya nyatakan “ Je ne suis pas Charlie” ( Saya bukan Charlie). Saya ikut berduka kepada para korban tapi tidak untuk Charlie Hebdo, lanjutnya.

Kabar gembira juga datang dari seorang sineas Perancis bernama Isabelle Matic. Perempuan ini bersyahadat tak lama setelah tragedi berdarah tersebut terjadi. Yang menarik, di akun FB nya ia berpesan agar umat Islam tidak usah menanggapi ulah para kartunis tersebut. Karena sebenarnya yang mereka olok-olok itu bukan nabi kita tercinta Muhammad saw, tapi seseorang yang mereka ciptakan dan bayangkan sendiri. “Keheningan akan membungkam kekurang-ajaran mereka”, tulisnya.

Namun demikian ada hal penting lain yang sebaiknya kita renungkan, yaitu, pantaskah kita umat Islam yang harus menanggung kesalahan kedua Kouachi bersaudara, hanya karena mereka beragama Islam? Hingga masjid-masjid dan kaum Muslimah di seluruh Perancis harus was-was menerima pembalasan ??  Adakah terbukti bahwa mereka bersikap demikian karena tuntutan agama? Yang pasti kita akan pernah tahu jawabannya karena keduanya  telah tewas ditembak, dan dari kesaksian orang yang mengenal mereka, mereka bukan termasuk orang-orang  yang taat pada agama dan ajarannya, mereka bahkan dikenal sebagai peminum, pecandu narkotika  dan main perempuan ! Jadi jelas mereka tidak mewakili Islam.

Hal lain, ada beberapa kejanggalan pada tragedi ini, diantaranya ditemukannya kartu identitas pelaku di dalam mobil sewaan yang mereka gunakan untuk pembantaian. Ini ternyata tak luput dari perhatian Jean-Marie Le Pen, politikus Perancis yang dikenal amat sangat anti Islam. Dalam wawancaranya dengan majalah Rusia,  Komsomolskaïa Pravda, ia berkata bahwa peristiwa penembakan tersebut merupakan sebuah konspirasi tingkat tinggi. Bukan oleh pemerintah Perancis namun pemerintah merestuinya. Meski ketika dimintai konfirmasi oleh BFMTV, Marine Le Pen, putri Le Pen sekaligus presiden partai mereka, meminta agar tidak terlalui mempercayai koran Rusia tersebut.

Yang pasti, Helric Fredou, seorang deputi direktur jendral polisi yang diserahi tanggung jawab menanyai salah satu keluarga korban, telah bunuh diri dan batal menyerahkan laporan mengenai penyelidikannya tersebut.  Memang belum ada laporan resmi apakah perbuatan nekadnya itu berkaitan dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Yang juga menarik, pada tahun 2009, Maurice Sinet, 86, seorang kartunis yang bekerja di Charlie Hebdo dipecat dari kantor tempatnya bekerja. Ia dipecat karena mengolok-olok putra Sarkozy presiden Perancis waktu itu, yang menikahi seorang putri konglomerat Yahudi. Ia membuat karikatur seolah-olah putra mantan presiden itu berpindah agama mengikuti istrinya karena uang. Selanjutnya Sinet diminta untuk minta maaf dengan tuduhan telah melakukan perbuatan Anti-Semit, yaitu perbuatan mengolok-olok Yahudi, namun ia menolak. Akhirnya iapun dipecat.  Pertanyaannya, dimana kebebasan berekspresi diletakkan ???

 ( Baca : http://www.suaranews.com/2015/01/tahukah-anda-kemunafikan-charlie-hebdo.html ).

Ini pula yang terjadi pada pelawak Perancis Dieudonne. Ia ditangkap tak lama setelah pembantaian di Charlie Hebdo karena dianggap  membela terorisme. Ia rupanya memasang pernyataan di media sosial yang mendukung para penyerang tersebut. Dieudonne dikenal karena sikapnya yang blak-blakan di masa lalu, terutama karena mempopulerkan sebuah gerakan lengan yang oleh sebagian orang dianggap anti-Semit karena menyerupai tanda salut Nazi. Sementara dari Denmark dikabarkan, seorang pemuda Muslim berusia 23 tahun ditangkap dan dipenjarakan gara-gara ucapan “Alhamdulillah” di media sosial berkenaan dengan peristiwa berdarah tersebut.

Sementara itu ketika umat Islam sedang was-was karena terpaksa menerima serangan balas dendam orang-orang tak dikenal,  polisi dan tentara Perancis dikerahkan secara besar-besaran untuk melindungi sekolah-sekolahYahudi di seluruh pelosok Perancis.  Ada apakah  ini sebenarnya ???

Apapun alasannya, umat Islam harus menyadari peperangan akhir zaman yang telah diprekdisi Rasulullah 14 abad silam pasti akan terjadi. Dan peperangan itu antara kaum Muslimin vs Yahudi dengan Zionisnya dibawah Dajjal si mata satu. Sungguh ironis bila ternyata ada sebagian kaum Muslimin yang tidak mempercayai ramalan ini. Sementara orang-orang Yahudi telah mempersiapkan diri secara matang. Bukti paling mudah adalah pepohonan yang mereka tanam secara besar-besaran di tanah Palestina yang mereka duduki secara ilgal. Mereka bahkan menjualnya dengan imbalan sertifikat. Pohon apakah gerangan??

Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. ” (HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308).

( Baca :   http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/zionis-yahudi-berlomba-tanami-pohon-ghorqod-di-tanah-palestina.htm#.VL0UtdKUde4 ).

Pendudukan tanah Palestina oleh Zionis Israel juga bukannya tanpa alasan. Mereka meyakini disinilah nantinya perang akhir zaman ( Armagedon) itu bakal berlangsung.  Berdirinya kembali Kuil Yahudi ke 3 diatas pelataran Haram As-Syarif ( Masjidil Aqsho dan Masjid As-Saqroh) adalah bagian dari menyambut peperangan tersebut. Lihatlah saat ini bagaimana mereka begitu bersemangat membuat fondasi di bawah rumah milik umat Islam tersebut, mengusir dan membantai rakyat Palestina yang bersikeras tidak mau meninggalkan tanah air mereka. Dimana mereka meletakkan HAM, juga negara-negara Barat yang selalu mengklaim HAM adalah milik segala bangsa .

Mereka terus menjelek-jelekkan Islam dengan berbagai cara, dengan tujuan  agar keimanan kita runtuh, agar persatuan Islam goyah, agar jihad yang merupakan senjata terkuat umat Islam hilang. Isu kebebasan berekspresi yang kelihatannya hebat ternyata hanya milik Barat, tidak untuk umat Islam. Pelecehan nabi kita melalui karikatur memang sengaja untuk memancing emosi. Dan hasilnya, terpancing maupun tidak terpancing kita yang akan dirugikan. Ketika terpancing  maka kita disebut sebagai teroris. Namun bila tidak, lama kelamaan kecintaan kita kepada Rasulullah bisa-bisa tergerus. Ini yang mereka harapkan.

Dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah berperang secara fisik. Ini yang dinamakan Perang Pemikiran atau Gazwl Fikiri). Sayangnya, serangan tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam. JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah contohnya. Sungguh ironis, di Barat orang-orang berbondong-bondong memeluk Islam setelah tahu apa itu Islam. Sebaliknya, di Indonesia, melalui JIL banyak orang-orang Islam yang merasa maju dan pintar malah murtad. Ini adalah akibat dari rasa kurang percaya diri sebagian Muslim yang sering diolok-olok Barat sebagai tidak toleran, tidak menghormati HAM, teroris dll. Inilah toleransi kebablasan yang dipaksakan.

Sungguh perang pemikiran melalui pena yang dilancarkan musuh-musuh Islam ternyata sangat efektif, kecuali bila kita tetap yakin dan senantiasa yakin Islam adalah agama terbaik, agama yang paling benar. Subhanallah  …

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya(21):107).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Januari 2015.

Vien Muhadi.

Advertisements

Read Full Post »

Terbunuhnya Muhammad Merah, pemuda yang dicap sebagai teroris Islamiste karena telah membunuh beberapa orang Yahudi dan militer di Toulouse beberapa bulan lalu, ternyata berbuntut panjang. Kali ini konflik keluarga yang membuat kasus ini makin kusut.

Betapa tidak, kakak lelaki Merah, Abdulghani, yang selama ini tidak dikenal umum, tiba-tiba muncul dan meluncurkan buku berjudul “Mon frère, ce terroriste “ yang berarti “ Saudara saya, teroris itu”, buku buah karangannya sendiri. Dalam buku tersebut ia menceritakan bahwa adiknya adalah korban kebencian keluarga besarnya terhadap Yahudi.

Untuk membuktikan kebenaran ceritanya ini, ia sengaja mengajak seorang reporter TV untuk menemui adik perempuannya, Souad Merah. Ia kemudian memancing adiknya itu dengan pertanyaan seputar adik mereka. Dengan modal kamera tersembunyi, maka terekamlah bagaimana reaksi dan perasaan adik perempuannya ini terhadap tindak tanduk Merah, adik lelaki yang diakuinya sangat disayanginya itu.

“ Saya bangga terhadapnya, ia telah bertempur sampai akhir !”, katanya emosional. Hasil potongan rekaman candid camera inipun lalu disebar dan diputar berulang kali di televisi nasional.

Selanjutnya mudah ditebak, sang penulis baru tersebutpun langsung diundang stasiun televisi bersangkutan dan diwawancarai  dengan bermacam pertanyaan seputar kegiatan adiknya dan keterlibatan keluarga besarnya. Rupanya lelaki yang beristrikan perempuan Perancis Yahudi ini menyimpan sakit hati terhadap keluarganya, karena perkawinannya tersebut ditentang.

Dengan tegas, ia berkata bahwa keluarga besarnyalah yang harus bertanggung-jawab atas prilaku adiknya. “ Semua keluarga Arab, sejak kecil telah dididik untuk membenci Yahudi”, “Keluarga kami adalah keluarga antisemit, yang membenci tidak saja Yahudi tapi juga orang Perancis”, katanya sengit.

Lebih menyedihkan lagi, dengan lancangnya ia juga menuduh tanpa bukti jelas bahwa itu semua adalah ulah kaum Salafis. Tampak kebencian dan dendam telah berhasil menguasai lelaki yang telah bertekuk lutut di hadapan perempuan yang menurut ajaran Islam jelas-jelas dilarang dikawininya. Meski ada juga sebagian ulama yang menyatakan hukumnya bukan haram tapi makruh bila memang tidak ada lagi Muslimah yang dapat dinikahi. Perbedaan ini disebabkan penafsiran terhadap kaum Musyrikin.

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.( QS. Al-Baqarah(2):221).

Allah swt berfirman bahwa ahli kitab yaitu kaum Nasrani dan Yahudi adalah kafir, karena mereka telah mempersekutukan-Nya (syirik). Allah azza wa jalla juga menerangkan bahwa orang kafir itu terdiri atas 2 bagian besar, yaitu orang musrik dan ahli kitab.

Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, “(QS.Al-Bayyinah)98):1).

Yang pasti, menikahi perempuan atau lelaki dari kaum yang tidak seiman pasti akan melahirkan banyak masalah. Pada kasus saudara Merah diatas, tanpa rasa malu apalagi bersalah, ia mengatakan bahwa ibu kandungnya sampai mengancam akan bunuh diri bila ia sampai membicarakan masalah keluarganya ini di depan umum. Namun ia tidak mempedulikan hal itu. Padahal Islam mengajarkan bagaimana berprilaku terhadap ke dua orang-tuanya. “Saya siap untuk dibuang dan dijauhi keluarga”, katanya dengan nada minta dikasihani, khilaf, sebenarnya siapa yang patut dikasihani.

Lagi pula atas dalil apa ia berani mengambing-hitamkan kaum Salafis. Tidak ada dalil dalam Islam yang membolehkan membunuh sesama manusia tanpa alasan yang jelas. Permusuhan antara Yahudi dan kaum Muslimin bukanlah permusuhan pribadi. Islam diturunkan untuk menegakkan keadilan dan memerangi kezaliman.

Yahudi sejak dulu, jauh sebelum Islam datang,  terbukti sering berbuat kerusakan dan kezaliman. Tak terhitung berapa banyak musuh yang dimilikinya. Bahkan Benyamin Franklin, salah satu pendiri Amerika Serikat, yang pernah menjadi anggota Freemason, pernah meramalkan kerusakan yang akan dialami Amerika bila mereka tetap ‘berteman baik’ dengan Yahudi. Ramalan tersebut ditulis berkenaan dengan Rencana Undang-Undang Negara tahun 1789 dan dimuat di Charles Pinsky Journal, South Carolina. Teks asli tersebut hingga kini bisa ditemukan di Franklin Institute Philadelphia, AS. ( Sumber : Eramuslim Digest Edisi
Koleksi 4).

Berapa banyak nabi dan utusan Allah yang mereka bunuh dan aniaya. Lebih parah lagi, kerusakan yang mereka perbuat bukan hanya terhadap sesama manusia namun juga terhadap Tuhannya ! Beraninya mereka mengubah-ngubah kitab suci dan menyembuyikan kebenaran.

“ Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2);146).

Kerusakan dan kezaliman itu tetap mereka perbuat hingga detik ini. Rakyat Palestina adalah contoh nyatanya. Yahudi dengan Zionisnya telah berbuat semena-mena terhadap mereka. Setiap hari setiap saat ada saja rakyat Palestina yang dianiaya dan dibunuh. Listrik dan air bersih sangat dibatasi. Secara sengaja pemerintahan penjajah tersebut memperlakukan rakyat Palestina secara berbeda dengan rakyat Yahudi. Ini yang membuat Muslim sedunia membenci pemerintahan Israel.

Namun Barat yang notabene memegang kekuasaan dunia saat ini tidak pernah mau tahu. Di mata mereka, Israel selalu benar dan wajib dibela. Sementara Palestina dan Islam adalah kumpulan orang barbar, teroris yang harus ditekan dan dienyahkan. Ntah atas dasar apa mereka beranggapan demikian buruknya. Padahal merekalah yang selama ini gencar memproklamirkan diri sebagai bangsa beradab yang menjunjung tinggi demokrasi, toleransi dan keadilan.

Jadi jelas, pernyataan Abdulghani mengenai Salafis adalah fitnah, adu domba antar Muslim yang sama sekali tidak lucu. Ini masih ditambah lagi dengan adanya indikasi sejumlah remaja yang menganggap perbuatan Muhammad Merah membunuh orang Yahudi adalah perbuatan mulia !

Kontan hal ini menjadi pembicaraan hangat para politikus Perancis. Manuel Valls, mentri dalam negri dan kebudayaan Perancis yang keturunan Spanyol itu dituduh tidak becus mengurus keamanan dalam negri. Kebijaksanaan terakhirnya agar status kewarganegaraan bagi kaum imigran dipermudah akhirnya juga memancing reaksi partai lawan.

« Kewarganegaraan Perancis telah di obral « , protes keras Marine Le Pen yang dikenal sangat anti Islam. Nyatanya, memang imigran di Perancis kebanyakan berasal dari negara-negara jajahan Perancis, yaitu Aljazair, Maroko dan Tunisia yang mayoritas Muslim.

Inikah skenario Sang Khalik dalam meluaskan perkembangan Islam ? Wallahu’alam. Yang pasti, bulan September lalu umat Islam patut bersyukur. Sebuah departemen baru dengan nama “L’art Islam” telah diresmikan menjadi salah satu departemen di Musee Du Louvre, museum terbesar dan bergengsi di Perancis, bahkan mungkin di dunia. Tidak tanggung-tanggung, yang meresmikanpun orang no 1 Perancis, yaitu presiden François Hollande. Yang dalam pidato sambutannya sangat menghargai Islam yang diakuinya pernah menjadi kiblat Barat di masa lalu. ( Kabar terakhir, Perancis merupakan negara Barat pertama yang menyetujui Palestina masuk sebagai anggota PBB tidak tetap).

Berbagai peninggalan seni di pamerkan di museum ini.  Potongan-potongan kaligrafi, bejana, piring,   vas, karpet dan lain-lain memenuhi ruangan yang di beri atap bergelombang indah ini. Tak ketinggalan sejarah penyebaran Islam juga dipaparkan melalui video dan skema. Berbagai model tulisan “Bismillahi Rahmani Rahim” dalam huruf-huruf Arab muncul bergantian melalui video, menghiasi dinding di sisi tangga. Demikian pula cara membaca huruf-huruf Arab dalam Al-Quran. Subhanallah …

Meski pada kenyataannya isi departemen seni Islam ini agak janggal. Karena sebagian besar peninggalan seni yang diperlihatkan dan dipamerkan di museum tersebut  adalah keramik berbagai bentuk dengan hiasan gambar-gambar mahluk hidup. Padahal kita tahu bahwa Islam melarang penggambaran seperti itu. Banyak hadist yang menerangkan hal ini, diantaranya adalah :

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Siapa yang membuat satu gambar di dunia, dia dibebani (disuruh) untuk meniupkan ruh pada gambar itu dan ia bukan peniupnya (tidak akan mampu meniup ruh untuk menghidupkan gambar tsb, red)”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Sebagian besar barang yang dipamerkan tersebut, menurut catatan yang tertulis di bawahnya,   diambil di sekitar Iran-Irak di abad 7- 10. Kelihatannya pengaruh Syiah yang banyak mendominasi isi museum tersebut. Lukisan yang diambil dari buku Syiah, book of divination “Fal”, tentang imam Reza yang sedang melindungi rakyat dalam perjalanan laut adalah contohnya. Di gambar itu imam Reza terlihat sedang duduk di atas kudanya sambil melemparkan panah ke arah mahluk berbentuk ajaib,  syetan.

Bahkan potongan-potongan patung kepala mirip yang sering ada di candi dan pura Budha dan Hindupun banyak dipajang di museum ini. Jelas, tempat ini bukan tempat yang tepat untuk belajar tentang Islam yang benar. Sama dengan tidak benarnya melihat Islam hanya dari pemeluknya, terutama bila pemeluk tersebut tidak mengerti ajarannya sendiri.

Namun bagi orang yang mau berpikir jernih, bagaimanapun keberadaan departemen baru ini pasti akan membuka mata mereka, bahwa  Islam sangat patut untuk dipelajari.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(QS.Al-Alaq(96):1-5).

Wallahu’alam bi shawwab.

Paris, 24 November 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

7 bulan telah berlalu sejak peristiwa kontroversial Muhamnad Merah. François Hollande telah terpilih menjadi presiden Perancis menggantikan Nicolas Zarkozy yang diakhir pemerintannya makin memperlihatkan keberpihakannya pada Yahudi.

Tampaknya himbauan sekitar 700 ‘masjid’ di Perancis agar kaum Muslimin mengggunakan hak pilihnya  benar-benar didengar. Dan tentu saja, atas izin-Nya, Perancis telah memiliki pemimpin  baru yang diharapkan lebih ‘menjanjikan’’. Sekedar info,  Perancis saat ini memang dikabarkan telah memiliki  ribuan masjid. Namun sebenarnya masjid tersebut kalau di tanah air kita hanya patut disebut musholla atau langgar. Masjid sebagaimana masjid yang kita kenal dapat dihitung dengan jari tangan.

Contohnya adalah ‘masjid’ di jalan Myrha di Paris 18. Di sekitar masjid ini ada masjid lain yang berdiri tidak begitu berjauhan.  Sejak beberapa tahun belakangan, kedua masjid kecil ini tidak mampu memuat umat Islam yang ingin mendirikan kewajiban shalat Jumat. Akibatnya jamaahpun tumpah ruah ke jalan-jalan di antara dua masjid tersebut.

Ini yang akhirnya membuat pemerintah mengeluarkan larangan shalat di jalanan. Sebagai gantinya pemerintah menawarkan sebuah bekas gudang besar untuk digunakan shalat Jumat. Sayangnya, lokasi yang ditawarkan tersebut jauh dari tempat tinggal Muslim di daerah Paris 18 ini. Demikian pula, masjid Agung Paris atau Grande Mosquee de Paris yang terletak di Paris 5.

Tak dapat dipungkiri, perkembangan Islam di Perancis memang sangat pesat. Sama sekali tidak sebanding  dengan jumlah masjid yang ada. Masjid sebagai rumah ibadah jelas merupakan kebutuhan yang tak dapat diabaikan. Dengan alasan laicite, pemerintah tidak boleh memberikan bantuan keuangan untuk pembangunan peribadatan agama apapun. Untuk itu kaum Muslimin harus mencari dana sendiri.

Itu sebabnya, setiap Jumat selalu ada himbauan dari masjid agar kaum Muslimin mau mengulurkan tangan. Suami saya menceritakan, di ‘masjid tenda’ tempat ia biasa mendirikan shalat, selalu ada saja jamaah yang menginfakkan dana yang sangat besar untuk pembangunan masjid ini. Tidak tanggung-tanggung, 1000 euro per orang ! Subhanallah ..

Namun demikian, tetap saja membangun masjid bukan hal semudah membalik tangan. Ntah berapa banyak masjid yang tersendat-sendat penyelesaiannya meski dana sudah mencukupi. Grand Mosque di Toulouse adalah salah satu contohnya. Sejak 2 tahun lalu masjid ini sebenarnya tinggal menanti finishing setelah 5 tahun pembangunan yang tersendat-sendat.

Menurut seorang pemilik restoran Indonesia di kota tersebut,  penduduk setempat tidak mengizinkan adanya masjid di lingkungan mereka. Akibatnya masjidpun tetap dalam keadaan demikian. Tertutup bedeng tinggi menunggu dimakan rayap ! Padahal masjid itu dibangun tidak jauh dari lokasi masjid lama yang terselip di antara pemukiman. Sementara sekitar 2000 hingga 2500 jamaah Jumat mengantri untuk shalat di depan masjid kecil yang hanya mampu memuat 5 % dari jamaah tersebut.

Lain lagi halnya dengan Masjid Agung Strasburg. Masjid ini baru terealisasi setelah 20 tahun lamanya menjadi proyek dan wacana. Bulan September lalu masjid yang saat ini menjadi masjid terbesar di Perancis ini memperingati satu tahun hari jadinya. Hebatnya, Manuel Valls, mentri dalam negri dan kebudayaan Perancis, hadir dalam acara tersebut. Alhamdulillah …

Namun, lagi-lagi  FN ( Front Nasional) partai politik pimpinan ayah dan anak Mari dan Marine Le Pen, tokoh yang dikenal sangat memusuhi Islam, mencoba mengangkat dan mempermasalahkan sumber dana yang digunakan masjid tersebut. 25 % dana pembangunan masjid adalah hasil infak umat Islam setempat. Sedangkan sisanya adalah bantuan dari pemerintah Maroko, Arab Saudi dan Kuwait. Ini yang dijadikan masalah.

Menurut Marine, dana bantuan yang diterima dari luar negri adalah bentuk campur tangan dan tekanan terhadap negara. Apalagi dana bantuan tersebut digunakan untuk pembangunan rumah ibadah. « Ini adalah pengkhianatan terselubung terhadap prinsip negara yang sekuler », katanya. Namun Valls menolak pernyataan tersebut. « Marine Le Pen tidak berhak sesumbar mendifinisikan apa itu sekuler. Ini adalah provokasi”, ujar mentri dalam negri tersebut.

Bukan Marine Le Pen namanya kalau ia lalu surut menghadapi tanggapan negative sang mentri. Beberapa minggu kemudian, tersebar kabar bahwa masjid yang sedang dibangun di kota Poitiers  di duduki oleh sekelompok orang. Poitiers terletak di 340 km selatan Paris. Mudah ditebak, mereka adalah dari kelompok Le Pen.

Lebih mengesalkan lagi, orang-orang ini berdiri di atap masjid yang belum selesai dibangun itu sambil membentangkan spanduk raksasa bertuliskan « Charles Martel ».  Charles Martel adalah tokoh terkemuka Perancis, kakek  Charlemagne salah seorang raja Perancis,  yang dianggap sebagai pahlawan besar karena keberhasilannya menghentikan penyebaran Islam ke pelosok  Eropa, Perancis khususnya. Peristiwa pahit ini terjadi pada tahun 732 M.

 Baca : https://vienmuhadi.com/2010/06/06/menilik-jejak-islam-di-eropa-8-perancis-selatantenggara/ ).

Apa ini maksudnya?? Apakah mereka bermaksud mengulang “kemenangan” tokoh tersebut  mengusir kaum Muslimin dari negri ini ??  Astaghfirullah .. Bila saja mereka mengetahui nikmatnya Islam, pasti mereka akan menyesal, meratap sedih mengapa “pahlawan”mereka menolak kedatangan kebenaran, bahkan mengusirnya .

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; .. dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.  Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu)“.(QS. Fathir (35):15-16).

Terlihat jelas bahwa dendam kesumat masih bercokol di dada orang-orang yang mengaku bangsa maju dan beradab ini. Bayangkan, kemelut pertempuran ribuan tahun lalu masih saja  digenggam hingga detik ini.Lupakah mereka bahwa saat ini kita hidup di zaman demokrasi dimana orang bebas memilih agama. Abad modern dimana perjanjian antar Negara harus ditegakkan, dimana batas-batas Negara dan hukum tiap Negara harus dihormati. Abad dimana penjajahan dan perebutan wilayah suatu Negara adalah bentuk suatu kejahatan yang tidak dapat diampuni.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS. Al-Hujurat(49):13).

Sebenarnya tidak hanya itu saja. Bahkan mantan presiden AS George G Bush pun ternyata tetap menyimpan dendam Perang Salib yang terjadi di abad 10 – 11 lalu. Pernyataan ini, entah sengaja entah tidak, pernah diungkapkannya ketika ia masih menjabat orang no 1 negara adidaya ini. Jadi, mungkin saja, memang ada orang atau kelompok tertentu yang ingin agar rasa permusuhan di antara kaum Muslimin dan Nasrani itu tetap tumbuh subur.

Padahal demi terjaganya perdamaian dunia adalah alasan utama didirikannya PBB. Meski pada kenyataannya Israel yang selama puluhan tahun  menduduki tanah Palestina tetap saja bisa ongkang-ongkang kaki. Bahkan Barat tampak jelas mendukungnya. Ironisnya lagi, Barat yang katanya berpikiran pintar dan modern, dengan tenangnya mengeroyok Afganistan dan Irak, apapun alasannya.

Belum selesai dengan FN, ada lagi masalah lain. Adalah Jean-François Copé, calon presiden dari UMP. Beberapa waktu lalu, pada suatu pertemuan  resmi tiba-tiba ia berolok-olok tentang seorang anak muda yang bakal dirampas rotinya oleh sekelompok preman dengan alasan Ramadhan tidak boleh makan !  Apa maksudnya ?? Peristiwa yang di kemudian hari dikenal dengan nama « Pain au Chocolat » karena roti yang diceritakan dirampas itu adalah pain au chocolat, roti coklat yang populer di negri ini, tentu saja memancing reaksi di sana sini.

Untuk itu, CCIF, sebuah organisasi yang dibentuk pada tahun 2003 dan bertujuan khusus melawan Islamophobia, istilah untuk rasa takut terhadap Islam, menggelar operasi yang diberi nama « Pain au Chocolate pour tous ». Pada acara ini puluhan anggota CCIF membagi-bagikan lebih dari 400 roti coklat lezat kepada para pejalan kaki yang baru saja turun dari kereta api. Acara ini digelar di pelataran stasiun St Lazare yang setiap hari dibanjiri ribuan penumpang yang datang dan pergi dari berbagai daerah satelit kota Paris.

Acara di bulan Oktober yang ditujukan utamanya untuk menanggapi pernyataan konyol Copé diatas secara santai, juga dimaksudkan untuk sosialisasi tentang manisnya Islam. Jadi selain membagi-bagikan roti secara gratis, para anggota CCIF dan simpatisannya ini juga membuka konsultasi untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar Islam. Sebuah upaya yang patut diacungi jempol.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 10 November 2012.

Vien AM

Read Full Post »

Nicolas Zarkozy, presiden Perancis itu akhirnya tak tahan juga untuk menyembunyikan keberpihakannya kepada Yahudi, agama nenek moyangnya. Selama 5 tahun menduduki jabatan tertinggi Negara, sepintas ia memang tidak begitu memusuhi Islam. Paling tidak ketika ia masih menduduki posisi mentri dalam negri, ia pernah mendukung berdirinya CFCM (Conseil Français du Culte Musulman), sebuah organisasi Islam Perancis. Meski pada akhirnya sebagian Muslim negri tersebut mengklaim bahwa wadah Islam tersebut kurang berfungsi dan tidak mewakili aspirasi Islam pada umumnya.

Sebaliknya, UOIF (Union des Organisations Islamiques de France),  organisasi Islam lain, yang dikabarkan lebih dapat mewakili Muslim Perancis, baru-baru ini harus menelan pil pahit. Kongres yang sedianya diseleggarakan beberapa hari lalu terpaksa pasrah terhadap pernyataan sang presiden yang memerintahkan jajarannya untuk mencekal 6 undangan kehormatan mancanegara. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, ulama besar Mesir yang dikenal sangat keras terhadap Yahudi, DR Aidh Al-Qarni, yang di Imdonesia terkenal dengan kitab La-Tahzannya serta seorang syeikh masjid Al-Aqsho adalah termasuk 3 diantaranya.  Keenam ulama besar tersebut, melalui berbagai penyataannya  dianggap memusuhi Yahudi.

Islam beberapa minggu belakangan ini memang semakin terlihat disudutkan oleh berbagai pihak. Skandal Muhammad Merah, warga Toulouse, Muslim imigran Aljazair, telah resmi ditetapkan pemerintah sebagai penanggung jawab skandal terbunuhnya 3 militer di kota tersebut dan meledaknya bom di sekolah Yahudi yang memakan korban 3 orang anak dan 1 orang dewasa. Semuanya Yahudi. Sementara 2 diantara militer yang ditembak adalah Muslim imigran Magreban. ( Baca : https://vienmuhadi.com/2012/03/26/merncermati-perkembangan-islam-di-perancis-6/  )

Tariq Ramadhan, cucu almarhum ulama besar Mesir, Hasan Al- Banna,  yang kini menjadi warga Swis dan dikenal sebagai cendekiawan Muslim terkenal, berpendapat bahwa Muhammad Merah hanya korban konspirasi politik elit Perancis.  Masih menurut Tariq, pemuda yang mati ditembak oleh 15 anggota pasukan khusus setelah bertahan lebih dari 30 jam di apartemennya ini sama sekali tidak mewakili figur Islam. Kalaupun ia memang terbukti bersalah, tidak berarti bahwa seluruh umat Islam terutama kaum Muslimin imigran yang ada di Perancis ini harus mempertanggung-jawabkan kesalahan tersebut.

Namun dengan penuh emosi, Sarkozy malah mengeluarkan pernyataan bahwa Perancis adalah Negara Laic ( sekuler), tidak ada perbedaan pelayanan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada daging  khusus untuk golongan tertentu. Pernyataan ini jelas ditujukan bagi umat Islam yang memang membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk ibadah, dokter perempuan untuk Muslimah, daging halal dll.

Karenanya dalam kongres UOIF yang diselenggarakan beberapa hari lalu, Tariq mengingatkan agar Muslim Perancis tidak perlu menanggapi pernyataan tersebut secara serius.  Ia justru meminta agar Muslim Perancis bersatu, tidak terpecah-pecah seperti sekarang ini.  Perlu dicatat, Muslim Perancis saat ini kebanyakan adalah imigran Maroko, Aljazair dan Tunisia. Ketiga Negara bekas jajahan Perancis ini di Perancis dikenal dengan nama Magreban. Namun demikian kultur ketiga Negara di Afrika Utara tersebut  berbeda. Itu sebabnya mereka kurang bisa berbaur. Masing-masing memiliki komunitas sendiri-sendiri. Bahkan masjid dan organisasi yang ada sekarang ini sebetulnya hanya mewakili masing-masing komunitas tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat“.(QS.Al-Hujrat(49):10).

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS.At-Taubah(9):24).

Dengan kata lain, semangat kebangsaan yang sering kali menjadi ikatan terkuat dalam suatu masyarakat sebenarnya bukanlah ajaran Islam. Islam tidak mengenal batas negara, bahasa, warna kulit dan kultur. Perseteruan tersembunyi antara Negara kita tercinta, Indonesia dengan Negara tetangga, Malaysia, contohnya, harusnya tidak perlu terjadi. Benih-benih permusuhan dan kebencian dua Negara saudara seiman ini sebenarnya sangat berbahaya. Ini adalah bagian dari Ghazwl Fikri alias Perang Pemikiran yang dirancang Barat (Kristen–Yahudi) untuk mengadu domba dan mengikis persaudaraan serta dan persatuan Islam.

Pemersatu utama dalam Islam adalah ketakwaan. Hal yang wajar saja karena bumi ini seluruhnya adalah  memang milik-Nya. Tidak ada istilah Barat dan Timur. Yang ada hanya ketakwaan atau kekafiran. Yang diridhoi hanyalah Negara dan bangsa yang tunduk kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya”.

Dalam Islam tidak ada kata, kebencian karena iri dan dengki. Dakwah dilakukan berdasarkan rasa kasih sayang antara sesama manusia, untuk mengingatkan betapa banyak nikmat yang diberikan Allah swt kepada manusia yang menjadikan kita ini mahluk terbaik, termulia dan terpandai hingga pantas diberi kesempatan menduduki jabatan khalifah di muka bumi ini. Namun sebagai konsekwensinya kita harus mempertanggung-jawabkan kenikmatan tersebut.  Wajar saja bukan?

Jadi tidak ada pemisahan antara kehidupan duniawi dengan kehidupan akhirat. Keduanya saling mengikat dan saling berhubungan. Kehidupan duniawi adalah ladang sementara akhirat adalah buahnya. Dengan kata lain, semua kegiatan kita di dunia ini adalah ibadah, demi mencari ridho-Nya. Tidak ada kata sekuler dalam kamus Islam.

Namun dalam kenyataannya, sebagian besar Negara di dunia ini adalah sekuler. Dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin kita bisa memohon keberkahan, kemakmuran dan kemajuan bagi bangsa ini? JIka saat ini kita melihat Negara-negara Barat yang notabene kafir itu maju,  ini hanya bagian dari sifat Rahman Sang Khalik yang memang diberikan-Nya kepada orang yang berilmu, yang mau mencari,  mempelajari dan menggali fenomena alam ciptaan-Nya. Namun bila rahasia besar yang menakjubkan itu telah terungkap mereka tetap kafir, maka balasan-Nya pasti ada. Bisa di dunia sedangkan di akhirat pasti.

Global warming atau pemanasan global adalah contoh yang paling nyata. Begitu banyak rahasia alam semesta terungkap, dengan izin-Nya. Orang-orang pandai bermuncullan dan ilmu berkembang pesat. Namun sanggupkah ilmu tersebut mencegah datangnya bahaya dan bencana alam?

Gempa bumi, tsunami, banjir badang, kekeringan, angin topan dan puting beliung bahkan perubahan iklim yang tidak menentu, yang kelihatannya sederhana padahal dampaknya bisa fatal.  Seperti yang saat ini terjadi di Perancis, bulan April yang ‘seharusnya’sudah mulai hangat namun nyatanya, udara dingin tetap menggigit. Ini bisa berakibat kepada kacaunya musim panen yang pasti akan mengganggu kehidupan kita.

Lembaga Islam di Perancis yang biasa mengurusi jadwal shalatpun ikut menjadi pusing 7 keliling. Karena tidak mampu lagi memperkirakan waktu shalat yang tepat kecuali hanya untuk 2 hari ke depan. Padahal biasanya mereka bisa memprediksi sebulan sebelumnya. Begitupun lembaga meteo yang biasa memberikan perkiraan cuaca kepada masyarakat.

Kerusakan tidak hanya kerusakan alam, kerusakan iman alias kekafiran adalah yang paling parah. Ironisnya, dampak tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang kafir saja namun juga orang-orang beriman.

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS. Al-Anfal(8):25).

Tampaknya kita harus segera bersiap-siap menghadap hari-hari akhir alam semesta ini. Hari dimana kita harus mempertanggung-jawabkan perbuatan dan sepak terjang kita. Bukankah 14 abad silampun Rasulullah saw telah mengisyaratkan bahwa jarak hari Kiamat hanya tinggal 2 jari saja ? Jangan lupa, Al-Quran telah  memperingatkan bahwa perhitungan manusia di dunia ini tidaklah sama dengan perhitungan-Nya.

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS.Al-Hajj(22):47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS.As-Sajdah(32):5).

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”. (QS.Al-Ma’rij(70):4).

Kembali kepada sikap keras Nicolas Zarkozy terhadap umat Islam di negeri yang dipimpinnya. Jejak pendapat untuk sementara memang menempatkan Zarkozy di tempat teratas, mengungguli Francois Holland, saingan terdekatnya. Ini tampaknya yang membuat sang presiden bertahan menjadi congkak dan besar kepala hingga tiba2 berani memperlihatkan keberpihakannya yang sangat kepada Yahudi, agama nenek moyangnya, tanpa rasa khawatir kehilangan suara umat Islam yang cukup signifikan.

Untuk itu Tariq Ramadhan dalam kongresnya beberapa hari lalu mengingatkan agar seluruh Muslim Perancis yang memiliki hak suara bersatu, menggunakan haknya dengan benar, memilih pemimpin yang mempunyai harapan dapat melindungi keimanan umat. Jangan golput karena hal ini dapat menguntungkan pihak yang tidak diharapkan dan merugikan diri sendiri.

Allah swt tidak pernah melanggar janji-Nya. Makar dan tipu daya hamba tidak mungkin menyaingi tipu daya Sang Pemilik.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Menjadi Muslim adalah pilihan, sementara warna kulit dan bangsa adalah ketetapan-Nya.  Bumi Allah itu luas. Maroko, Tunisia, Aljazair, Turki, Iran, Afganistan atau bangsa apapun, dimanapun ia berada, tetap bisa hidup aman dan tentram, berbaur dengan masyarakat dimana ia berada, selama ia tetap bisa menjaga ke-Islam-annya. Menjadi Muslim tidak berarti merubah warna kulit,  bangsa dan kewarga-negaraan.  Ketakwaanlah yang menjadi perekat ukhuwah Islamiyah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 April 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Pemilihan presiden Perancis ke 10 di era Republik ke 5 yang saat ini dipimpin oleh presiden Nicolas Sarkozy, tinggal menghitung hari. 10 calon presiden dan masing-masing pendukungnya makin gencar melakukan kampanye. François Hollande sampai saat ini, masih tercatat sebagai saingan terdekat Sarkozy yang beberapa tahun terakhir pemerintahannya mulai kehilangan kepercayaan masyarakat.

Keterpurukan ekonomi adalah salah satu kegagalan yang harus dihadapi Sarkozy yang terpilih menjadi presiden pada tahun 2007. Ia adalah presiden ke 23 Perancis dan presiden ke 6 Republik ke 5. Ia mengalahkan Segolene Royal, yang ketika itu adalah ‘pasangan kumpul kebo’’ François Hollande, pesaing ketat Sarkozy saat ini.

Bagi umat Islam tampaknya Marine Le Pen adalah yang paling patut untuk diperhatikan dan dicermati. Ia adalah calon presiden yang paling jelas memperlihatkan sikap anti Islam. Tampaknya kebencian ini menurun dari ayahnya, Jean-Marie Le Pen, bekas calon presiden dari Marseilles yang pada pemilihan presiden tahun 2002 dikalahkan oleh Jacques Chirac. Selain anti Islam, baik Marine maupun ayahnya dikenal orang sebagai antisemit, yaitu orang yang membenci Yahudi. Nazisme adalah contoh antisemit yang paling mudah dilihat.

Sejak lama Marine yang merupakan satu dari tiga perempuan calon presiden ini telah memperlihatkan kebencian tersebut. Pada tahun 2009, ketika pemerintah Swiss mengeluarkan referendum tentang penting atau tidaknya menara dan kubah bagi rumah ibadah umat Islam, yaitu masjid, sontak ia mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah Perancis juga harusnya mengikuti sikap tetangganya itu.

Lucunya, Daniel Streich, sang politikus Swiss pencetus ide tersebut, tahun 2010 yang lalu malah berbalik memeluk Islam. Ia tidak peduli terhadap cap yang diberikan partainya, yaitu setan! Dalam pernyataannya, untuk menebus kesalahannya yang membuat pemerintah Swiss sekarang ini merealisasikan larangan pembuatan menara dan kubah masjid, ia berniat membangun masjid terindah di negaranya. Kalau niat ini terlaksana, ini akan menjadi masjid ke 5 di Swis. Allahuakbar …

( Note: Berita terakhir yang saya temukan melalui surfing internet dari beberapa sumber di luar negri, Daniel bukan pencetus larangan diatas, justru ia menyatakan ke-Islam-annya yang sejak beberapa tahun lalu ia sembunyikan, karena gerah dengan isu tersebut. Lihat diantaranya : http://en.wikipedia.org/wiki/Daniel_Streich )

Selanjutnya, pada periode pemilu 2012 ini, dengan lantang Marine Le Pen menyatakan bahwa kaum imigranlah ( baca Islam ) yang menyebabkan merosotnya ekonomi rakyat Perancis. Demikian juga meningkatnya kejahatan di beberapa wilayah. Ia bahkan mengajak uni eropa untuk bersatu melawan ‘Islamisasi’ dengan menjaga dan mencegah batas negara masing-masing dari masuknya imigran gelap yang dari tahun ke tahun makin membanjiri Eropa.

Sebagai catatan, sebagian besar imigran memang adalah kaum Muslimin. Mereka adalah korban berbagai perang, seperti ‘perang’ Afganistan dan Palestina. Kalau itu bisa disebut perang bukan penyerbuan ataupun pendudukan. Atau korban kerusuhan di negara-negara Arab seperti Siria, Yaman, Mesir, Tunisia, Libanon dll yang bermula Desember 2010 lalu. Di Perancis gelombang perlawanan terhadap pemerintah resmi ini dikenal dengan nama Le Printemps Arab atau Arab Spring.

Sikap anti Islam politikus Front Nasional ( FN) ini tampaknya berawal dari sikap rasisnya. Tampaknya ialah satu-satunya calon presiden yang mempermasalahkan ‘keaslian’ calon presiden lainnya. Yang dimaksudkannya adalah Eva Joly, seorang pakar ekologi yang mempunyai 2 kewarga-negaraan, yaitu Perancis dan Norwegia. Eva Joly adalah asli berdarah Norwegia. Ia datang ke Perancis pada usia 18 tahun untuk menuntut ilmu. Di negri ini ia kemudian menikah dengan seorang dokter warga asli Perancis.

Demikian pula sang presiden menjabat, Nicolas Sarkozy, yang mempunyai darah campuran Hongaria dari ayah, seorang imigran Hongaria, dan Yahudi dari ibu, seorang perempuan Perancis Yahudi. Padahal bukankah bumi ini milik Allah swt? Siapapun boleh menempati tanah Sang Khalik selama tidak berbuat kerusakan dan dapat menjaganya dengan baik.

Masalah daging halal, inilah isu terbaru yang dilontarkan Marine. Ide ini datang dari negri Belanda yang sejak beberapa bulan lalu melarang keberadaan daging halal, dengan alasan ‘humanity”. Mereka beranggapan bahwa pemotongan hewan secara Islam ( juga Yahudi) membuat hewan kesakitan. Untuk diketahui, standard pemotongan hewan di Eropa, hewan dipotong setelah dibius terlebih dahulu.

Dengan penuh emosi, Marine mengatakan bahwa 80 % daging yang ada di Perancis kalau tidak halal ya kasher ( daging halal ala Yahudi). Namun pernyataan ini ditolak oleh asosiasi daging Perancis. Katanya tidak lebih dari 50 % saja. Tetap menakjubkan, menurut saya .. Subhanallah ..

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. … ”. (QS.Al-Maidah(5):3)

Syukurlah sikap keras anti Islam ini tampaknya justru kurang menarik simpati masyarakat. Minggu lalu penduduk negri ini dikejutkan oleh tragedi penembakan militer di Toulouse dan Montauban. Di Toulouse 1 korban meninggal dunia. Sementara di Montauban, sekitar 50 km dari Toulouse, 2 korban meninggal dunia dan 1 orang koma hingga detik ini. Ke 4 orang tersebut adalah anggota pasukan terjun payung eksklusif militer Perancis. 2 diantara yang meninggal kabarnya Muslim Magreban, sebutan untuk Muslim keturunan Afrika Utara ( Maroko, Aljazair dan Tunisia).

Belum lagi misteri ini terpecahkan, 4 hari kemudian terjadi lagi peristiwa penembakan di sekolah Yahudi di Toulouse dengan korban meninggal 1 orang guru dan 3 orang murid. Beberapa hari kemudian muncul lagi berita meledaknya bom di depan kedutaan besar Indonesia di Paris. Yang terakhir ini, ntah ada hubungannya atau tidak. Alhamdulillah tidak memakan korban kecuali kaca-kaca jendela yang pecah dan 2 mobil terbakar.

Tak urung, tragedi berdarah yang terjadi sebulan sebelum pemilu presiden ini membuat orang bertanya-tanya. Apa sebetulnya motif di balik semua ini. Marine Le Pen tampaknya yang paling banyak menerima tuduhan. Karena semua orang tahu betapa seringnya ia melemparkan isu-isu antisemit dan anti Islam. Oleh sebagian orang ia dianggap telah memprovokasi kebencian ras dan agama.

Pagi ini, si pelaku terror telah tertangkap dan tertembak mati. Pemuda Perancis keturunan Aljazair ini mengklaim dirinya sebagai bagian dari Al-Qaeda. Kabarnya pemuda berusia 23 tahun ini pernah ikut berjihad di Afganistan dan Palestina. Namun anehnya lagi, ia dikabarkan sebagai pemuda umumnya pemuda Perancis lain yang suka ‘hang out’ dengan gadis-gadis, pernah masuk penjara karena kejahatan ringan dan sama sekali bukan seorang yang religius.

Jelas ini bukan ciri seorang yang berani melakukan jihad. Karena jihad dengan berperang sebenarnya adalah perbuatan mulia yang dilakukan seorang Muslim dalam rangka membantu saudaranya yang diperangi di negaranya sendiri. Contohnya dengan langsung datang ke medan perang, ke Palestina atau Afganistan misalnya. Dan ini dilakukan karena ketakwaannya. Jadi bukan membunuh orang tak berdosa dan sembarangan menyebar terror. Apapun alasannya, hal ini membuat Muslim terutama di Paris ini merasa tidak nyaman.

Di pihak lain harus diakui bahwa Islam tanpa dapat dicegah telah tersebar luas di negri ini. Di setiap sudut Paris, bucheri ( toko penjual daging) halal mudah ditemukan. Demikian juga restoran kebab halal. Bahkan restoran masakan Perancispun belakangan ini sudah mulai mudah dicari. Toko-toko kelontong penjual buah dan sayur milik orang-orang Magreban juga banyak. Bahkan demo terhadap kekejaman penguasa negara-negara Islam seperti Syria sering dilaukan di ibu kota negara ini.

Beberapa kali saya mencoba surfing mencari masjid dan musholla yang dikabarkan banyak sekali di Paris. Ternyata memang benar. Hampir di semua sudut kota ada. Meskipun ketika saya dan suami mencoba mencarinya tidak sesuai harapan. Yang disebut masjid di web tersebut hanyalah apartemen 2 tingkat yang sempit. Namun Subhanallah .. Ketika kami berusaha untuk masuk, ternyata di dalamnya telah berkumpul sejumlah Muslim yang sedang mengkaji Islam. Ada lagi ‘masjid yang ternyata hanya apartemen yang pintunya sudah rusak dan ditempeli tulisan bahwa daerah tersebut adalah daerah rawan kejahatan. Atau tulisan berisikan larangan shalat di jalanan.

Paris saat ini memang sarat dengan Muslim. Kemanapun kita berjalan akan kita temui perempuan berjilbab, dari jilbab hitam lengkap dengan abayanya maupun pakaian Muslimah ‘modern’ yang warna-warni, dengan aneka modelnya. Pengalaman saya pribadi, bila bersua wajah Muslim ( baca Arab ) hormat terhadap kita, bisa dipastikan bahwa ia seorang Muslim pratiquant. Pratiquant adalah sebutan bagi seorang yang menjalankan agama, apapun agamanya. Sebaliknya bila ia tidak ramah ( baca judes ) hampir bisa dipastikan ia bukan pratiquant, minimal tidak PD pada agamanya. Ini pendapat saya pribadi.

Namun yang paling menyedihkan adalah fakta tentang satu-satunya uztad yang berada di lingkungan kami. Uztad yang sedang menyelesaikan program beasiswa S3 di jurusan ilmu sosial di Paris ini mempunyai pikiran yang sangat liberal. Isu Sepilis ( Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) yang tadinya hanya saya ketahui dan pelajari secara teori di tanah air, ternyata benar-benar ada di depan mata. Diantaranya yaitu bahwa semua agama adalah benar dan sama !  Ya, itulah Gazwl Fikri atau Perang Pemikiran.

Sebenarnya sudah sejak lama hal ini menjadi perhatian para ulama seluruh dunia. Namun tidaklah mudah untuk menangkalnya. Apalagi yang dihadapi saat ini justru para uztad yang notabene adalah para cendekiawan Muslim. Pemikiran barat seperti Demokrasi, Feminisme, Sekulerasi dll yang tampaknya sudah merasuki pemikiran uumum ini tampaknya telah mampu menggusur hukum-hukum pokok Islam.

Akibatnya ajaran Islam seperti perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan, poligami, jihad dan hukum-hukum khas Islam seperti hukum qishos, rajam, jiziyah dll menjadi tampak bengis dan tidak manusiawi. Ironis, para cendekiawan Muslim moderat tersebut tetap berani menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk membela pemikiran baru tersebut.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Itulah hebatnya ilmu Hermeneutika, ilmu Barat yang awalnya hanya dipakai untuk mengkritisi kitab suci mereka. Dengan kelihaiannya, para orientalis tersebut berhasil mempengaruhi para cendekiawan Muslim yang belajar ilmu-ilmu sosial di barat agar mengkritisi Al-Quran dengan cara menggunakan ilmu Hermeneutika tadi. Padahal seberapa hebatkah akal manusia hingga berani menganalisa kebenaran wahyu Ilahi, apalagi bila dilandasi dengan dasar kekafiran !

Tapi itulah yang terjadi. Kita memang sedang hidup di masa Islam benar-benar terpuruk. Hampir semua negara Islam berada dibawah kekuasaan Barat.  Barat sudah menjadi kiblat sebagian besar umat meski dengan teganya mereka memberikan kita label-label miring seperti Teroris, Fundamentalis,Islamis, Jihadis dll.

Terprovokasi prilaku sesama Muslim yang tidak bertanggung-jawab, pengetahuan ke-Islam-an yang cetek, contohnya pelaku pengeboman diatas, apapun alasannya, maka dengan mudah masuklah pemikiran-pemikiran sesat tersebut. Demi menghindari perdebatan panjang, rasa tidak percaya diri akan kebenaran hukum Islam, perasaan ingin diterima Barat dan ingin dianggap ‘modern’ ini akhirnya mampu menggeser keyakinannya tentang kebenaran hukum Islam. Bahkan ada yang berbuat demikian hanya karena iming-iming imbalan yang sangat besar. Baik dalam bentuk uang, bea siswa, berbagai fasilitas dan penghargaan internasional.

“ .. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.(QS.Al-Maidah(5):44)

Tampaknya perjuangan masih panjang, terutama bagi Muslim yang tinggal di negri ini, agar mereka dapat menjalankan agama dengan baik. Perancis dengan presidennya yang berdarah Yahudi, masyarakatnya yang sebagian besar atheis alias kafir, tampaknya bakal menjadi sandungan yang tidak ringan.

Presiden Sarkozy, sepintas, kelihatannya memang cukup membela umat Islam. Ketika ia menjabat sebagai mentri dalam negeri dibawah kepresidenan Jacques Chirac, ia mendukung berdirinya CFCM ( Conseil Français du Culte Musulman), sebuah badan penasehat bagi kaum Muslimin Perancis, yang telah dicanangkan sejak tahun 1999.

Ketika Marine protes tentang daging halal, ia hanya berkomentar pendek, “ Silahkan mengkonsumi daging halal bagi yang mau, dan tinggalkan bila tidak mau”. “Harus dibedakan antara “Islamiste”dengan ajaran Islam”. Demikian komentarnya beberapa saat setelah tertangkapnya pelaku teror Toulouse. Tanpa memperdulikan bagaimana suara-suara miring di luar mempermasalahkan cara penangkapannya yang sensasional.

Namun jangan lupa, semua orang tahu bahwa Sarkozy yang sejak tahun 2003 telah tercatat sebagai anggota kehormatan Rotary, sebuah klub eksklusif milik Yahudi, adalah seorang yang keras terhadap antisemit. Untuk itu ia pernah menerima piagam penghargaan Toleransi dari sebuah dewan insitusi Israel di Perancis. Tetapi itu jangan diartikan bahwa ia membela Islam.

Pada masa pemerintahannyalah, yang katanya Laic, alias Sekuler, sekolah dan rumah ibadah Yahudi bertambah banyak. Bahkan hari raya Yahudipun diresmikan. Demikian puka daging halal ala Yahudi. ( kasher).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(QS. Al-Maidah(5):51)

Jadi sikap keberpihakan Sarkozy terhadap Islam sebenarnya bukan karena untuk membela Islam namun lebih untuk melindunginya dirinya dari pandangan publik agar tidak terlalu di cap Yahudi. Ini terbukti dengan dilarangnya jilbab, azan, hari besar Islam, sulitnya pendirian masjid, shalat Jumat di jalanan dll. Ini juga terbukti dengan dicabutnya izin tinggal 46 petugas airport Roissy yang beragama Islam gara-gara tulisan seorang politikus tentang bahaya Islam di Perancis lewat buku berjudul “Les Mosquées de Roissy” pada tahun 2006.

Namun inilah kehendak Allah swt. Suka atau tidak, Islam pasti tersebar ke seluruh penjuru dunia. Adalah tugas kita yang telah di anugerahi Islam lebih dahulu, agar berdakwah dengan cara yang baik. Dengan bekal iman dan pengetahuan yang kuat, insya Allah, Sang Khalik akan memberi jalan.

Wallahu’alam bi shawwab.

Paris, 24 Maret 2012.
Vien AM.

Read Full Post »

( sambungan)

Menurut beberapa sumber, sejak Juni lalu, kelompok Ekstrim Kanan Perancis terus melakukan aksi provokasi. Mereka mengorganisir pelemparan “saus dan anggur” di dekat masjid ketika saat shalat Jum’at berlangsung. Ironisnya, kejadian ini seolah dibiarkan oleh aparat.

Marine Le Pen, politisi Marseilles dari Front Nasional bahkan terang-terangan menuduh  perkembangan Islam di negrinya sebagai  “pendudukan (umat Islam)  atas Perancis tanpa tanks dan tentara” (“occupation without tanks or soldiers”).

Tidak seimbangnya antara jumlah masjid dan umatnya memang tidak hanya terjadi di ibu kota Perancis, namun juga di kota-kota besar lain, seperti Marseilles dan Nice. Di kedua kota  besar ini, jumlah Muslimin yang shalat Jumat di jalanan juga terlihat membludak. Harap maklum, 25 persen penduduk Marseilles adalah Muslim.

Yang lebih mengejutkan lagi, di dasari rasa penasaran yang tinggi, saya menemukan videoyoutube tentang fenomena yang sama dengan apa yang terjadi di Perancis. Tidak tanggung-tanggung, ini terjadi di Moskow, Rusia, sebuah negara komunis terbesar di dunia. Sungguh tak dinyana, kota yang selama ini tak sedikitpun terlintas dalam pikiran bahwa Muslim bisa berkembang di tempat ini, ternyata telah dipadati oleh 20 juta Muslim ! Sebagian besar berada di Rusia selatan, yaitu di Kaukasus dan Volga.

Moskow yang memiliki 3 masjid cukup megah, meski hanya berkapasitas 1000 jamaah, tak ayal lagi setiap Jumat harus kelabakan menghadapi penduduknya yang terpaksa memadati sejumlah jalan raya demi menemui Tuhannya. Subhanallah …

http://www.youtube.com/watch?v=Aihmte1DWvA&feature=related

Merinding bulu kuduk ini menyaksikan video di atas. Allahuakbar .. Maha benar firman-Nya, Ia tidak tidur dan tidak sedikitpun lengah. Tidak ada yang dapat menyaingi apalagi mengalahkan-Nya. Tak satupun yang mampu menghalangi cahaya-Nya.

Moskow, ibu kota Negara komunis dengan polisi dan aparatnya yang dikenal garang, angkuh dan dingin ternyata tidak mampu menghalangi perkembangan Islam. Dari video tersebut, tampak jelas bahwa sejak tahun 2008, umat Islam telah mampu menjalankan tidak saja shalat Jumat tetapi juga shalat Ied Fitri dan Iedul Adha, tanpa halangan. Bahkan tahun ini 500.000 jamaah shalat Iedul Fitri memenuhi jalanan.

Ironisnya, sejumlah video terang-terangan menunjukkan bahwa perkembangan Islam yang demikian pesat adalah ancaman besar bagi barat. Paris, Roma, London, Moskow juga Amerika Serikat diserukan agar extra hati-hati menghadapi fenomena ini. Dengan lancang mereka bahkan menyerukan bila negara-negara Barat tidak segera menghentikan kebijakan mereka dengan terus membiarkan imigran membanjiri negri mereka  maka yang terjadi adalah bencana, Astaghfirullah ..

http://www.youtube.com/watch?v=Jg7yTT9bkhg

Video diatas memperlihatkan dengan jelas bahwa pemeluk Islam Moskow bukan hanya imigran. Malah sebagian besar kelihatannya warga kulit putih.

“ Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):113).

“ …  Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk”.(QS.Al-Qur’an(13):33)

Rasanya kedua ayat di atas tepat sekali untuk menggambarkan keadaan sebagian besar orang barat saat ini. Karena mereka tidak mempercayai hari akhirat maka  bisikan syaitanpun masuk dengan mudah ke dalam dada mereka. Mereka mengira bahwa apa yang ada dalam pikiran mereka, ilmu dan akal mereka adalah yang benar.

Sungguh ironis, mereka merasa diri paling pintar, maju, demokrasi dll. Namun nyatanya akal mereka tidak sampai kepada yang ghaib. Bagi mereka segala yang ghaib itu adalah mustahil. Harus ada bukti empiris.

Padahal mereka menyadari bahwa alam semesta ini sungguh luas bahkan tak berbatas. Baru bumi dan bulannya plus beberapa planet saja yang berhasil mereka ketahui. Itupun tidak seluruh isi bumi, bukan? Merekapun mengakui bahwa bilangan itu tak terhingga. Ini terbukti dengan diciptakannya lambang angka tak terhingga.

Namun tetap saja mereka bersikukuh bahwa mereka mengetahui segalanya. Kebenaran adalah miliknya. Kebenaran siapa yang dimaksudnya benar ? Bukankah menyuruh mata sendiri berhenti berkedip saja kita tidak mampu?? Siapa sebenarnya pemilik diri, tanah yang kita tempati, bumi, langit dan alam semesta ini?

Siapa yang menghidupkan dan mematikan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan ? Yang mengatur hujan, siklus matahari dan bulan? Darimana datangnya perasaan cinta, senang, sedih, kecewa dll?

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumisesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Rata-rata orang Barat tidak percaya akan adanya Tuhan alias atheis. Mereka sebenarnya dapat merasakan adanya kekuatan lain yang tidak dapat mereka lawan. Namun mereka menyebutnya sebagai kekuatan alam, tidak lebih ! Tampaknya mereka tidak ingin pusing memikirkan hal-hal yang di luar kemampuannya.  Bagi mereka kematian adalah akhir segalanya. Itu sebabnya mereka tidak dapat mengerti mengapa orang harus beribadah, mengapa umat Islam harus shalat.

Yang mereka tahu, umat Islam itu mempunyai aturan dan hukum sendiri, yang berbeda dengan hukum mereka. Hukum yang menomor satukan Allah swt, sang Pencipta dan Rasul-Nya, bukan hukum orang barat maupun orang manapun. Inilah yang menjadi sumber ketakutan utama mereka.

“ Dan ta`atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”.(QS.Ali Imran(3) :132).

Sementara bagi pemeluk Nasrani, umat beragama terbesar barat, kekhawatiran mereka agak berbeda. Perlu diketahui, jumlah umat Nasrani yang mempraktekkan ajarannya dari hari ke hari makin menipis. Menurut surat kabar Katolik ‘La Croix’, 64 persen rakyat Perancis adalah Katolik. Namun berdasarakan polling yang mereka lakukan hanya 2.9 persen yang mempraktekkan ajaran. Sedangkan umat islam Perancis, 41 persen adalah pratiquant alias memprakekkan ajaran.

Begitu pula bila ditilik dari perkembangan tempat ibadahnya. Mohammed Moussaoui, Presiden Dewan Muslim Perancis, bulan lalu memperkirakan, saat ini ada 150 masjid baru yang sedang dibangun di seluruh negeri. Sebaliknya, 60 gereja telah secara resmi ditutup dan hanya 20 gereja baru dibangun selama dekade terakhir. Menurut La Croix, banyak bekas gereka yang ditutup itu sekarang menjadi masjid. Inilah yang menjadi sumber kekhawatiran dan ketakutan umat Nasrani.

Jadi, sungguh beralasan bila saat ini barat begitu ketakutan terhadap Islam. Berbagai cara mereka upayakan agar wajah Islam menjadi coreng-moreng. Mulai dari isu terorisme, jilbab dan burka yang dianggap melanggar kebebasan perempuan, masjid dan menaranya yang dianggap mengganggu ketentraman hingga yang terakhir shalat di jalanan adalah contohnya. Dengan dibungkus ‘laicite’ alias sekulerisme mereka berusaha melawan perkembangan agama yang diridhoi Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Itulah Islam, agama kedamaian. Tentu saja bila hati mereka bersih dan tidak buruk sangka.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS. Ali Imran(5):54).

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 20 September 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Satu setengah tahun setelah pemerintah Perancis berhasil meng-gol-kan larangan pemakaian burqa dengan denda hingga 150 euro atau sekitar Rp1,8 juta bagi pelanggarnya, kini larangan baru bagi kaum Muslimin kembali muncul. Kali ini adalah shalat di jalanan. Aturan ini berlaku sejak Jumat, 16 September yang baru lalu.

Padahal kebijakan mengenai larangan burka yang terdahulupun telah memancing reaksi negatif sejumlah pengamat Barat. Diantaranya Laurent Booth. Saudara perempuan istri mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair ini,  dalam wawancaranya dengan IRNA, menepis klaim para pejabat Perancis bahwa kaum perempuan yang mengenakan burka merupakan ancaman teror dan keamanan.

Dikatakannya, “Kaum perempuan berjilbab sebetulnya memang merupakan ancaman bagi negara-negara Barat. Namun ancamannya tidak dalam bentuk kekerasan seperti yang diklaim oleh para politisi Barat, melainkan karena busana Muslimah pada hakikatnya telah menyoal kebebasan kaum perempuan di Eropa dan Amerika.”

Adalah Claude Guéant. Menteri dalam negeri pimpinan Nicholas Sarkozy ini menilai bahwa perkembangan Islam yang terjadi di negrinya kini telah memasuki tahapan serius. Contohnya yaitu tadi, shalat di jalanan. Menurutnya perbuatan ini disamping mengganggu kenyamanan dan keamanan nasional juga dianggap sebagai isu sensitif yang menyakitkan hati. Karena keyakinan keberagamaan tidak untuk diperlihatkan kepada umum. Intinya, shalat di muka umum adalah bertentangan dengan prinsip laicite ( sekulerisme) yang dianut negri itu.

“Harus ada cara untuk menghentikan shalat berjamaah di jalanan, dan saya secara pribadi memprioritaskan penggunaan “kekuatan” dalam menjalankan ketentuan tersebut », tegas politikus yang dikenal anti Islam tersebut.

Padahal pada acara makan malam yang diselenggarakan sebuah institusi elit Yahudi yang dihadirinya pada bulan Juli lalu, ia menyatakan keinginannya agar hari besar Yahudi dicantumkan pada kalender nasional. Ia juga menginginkan agar pada hari itu tidak ada satupun ujian atau kegiatan belajar mengajar.

Sebaliknya, asal tahu saja, dengan alasan laicite pula, sejak dahulu tidak ada satupun hari besar Islam yang dicantumkan di kalender Perancis. Malah hari Jum’atpun, bagi sebagian besar sekolah adalah hari ujian.  Sebuah kebetulan ? Entahlah ..

” Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.Al-Jumu’ah(62):9).

Berdasarkan pegamatan, pelaksanaan shalat berjamaah, terutama shalat Jumat di jalanan, sejak 10 tahun terakhir ini memang makin mencolok. Namun hal ini bukannya tanpa alasan yang jelas. Perkembangan jumlah Muslim di negri ini tampak jauh lebih pesat dari pembangunan masjid yang merupakan rumah ibadah agama ini.  Populasi Muslim Perancis saat ini dikabarkan telah mencapai hampir 6 juta jiwa.

Dalil Baobakeur, pengurus Masjid Agung Paris, memperkirakan Muslim Perancis membutuhkan 4.000 masjid baru. Sementara baru 2.200 masjid yang ada dan tengah dibangun di seluruh negeri. Bahkan masjid terbesar di Paris yang berkapasitas 2000 jamaah yang diurusnya itu, saat ini sudah tidak mampu lagi mengatasi membludaknya jamaah shalat Jumat. Akhirnya merekapun terpaksa melaksanakan kewajiban shalat seminggu sekali tersebut di jalanan sekitar masjid.

“Sayang, negara ini memisahkan agama dan negara. Artinya dana pemerintah tidak bisa digunakan untuk pembangunan rumah ibadah. Umat harus berusaha sendiri untuk membangun tempat ibadah mereka. Itupun tergantung izin lingkungan yang konon paling berat untuk dipenuhi,” paparnya.

Di sebuah kawasan padat Muslim di kota Paris dimana berdiri dua buah masjid kecil, terjadi kesepakatan antara aparat yang berwenang dengan pengurus masjid. Jamaah yang biasa shalat di jalanan sekitar masjid karena kedua masjid tidak mampu menampung jamaah, diizinkan memanfaatkan sebuah bangunan bekas pemadam kebakaran dan gudang tentara sebagai tempat shalat berjamaah. Bangunan seluas 2000 meter persegi ini diperkirakan mampu menampung 3000 hingga 4000 jamaah.

Sayangnya, bangunan tersebut terletak jauh dari lokasi masjid lama. Sementara kedua masjid sengaja ditutup selama 3 atau 4 minggu dengan tujuan agar jamaah terbiasa shalat di tempat baru. ( Berita terbaru, dari papan pengumuman, kami baru tahu, ternyata di lokasi masjid lama akan di bangun Pusat Kultur Islam, yang bakal dibiayai pemerintah. Dibiayai pemerintah karena bangunan yang bakal didirikan adalah bangunan kultural, tidak ada hubungan dengan agama, menurut mereka. Sementara ruang shalat dibiayai oleh pihak swasta. Bukan masalah .. insya Allah, pikir saya menyenangkan diri .. 🙂  ).

Berbagai reaksipun bermunculan, ada yang pro ada yang kontra. Yang merasa puas, mengatakan lebih baik shalat di tempat tertentu meski tidak memadai dari pada shalat di jalanan, dikejar-kejar  dan mengganggu umum. Sementara sebagian lain merasa “ pemerintah telah dengan semena-mena merebut hak dan kebebasan individu untuk menjalankan keyakinan seseorang”.

Tiba-tiba saya teringat kejadian tahun lalu yang menimpa anak perempuan saya. Ketika itu saya dan suami meminta wali kelas anak kami tersebut agar menyediakan tempat shalat untuk anak kami. Iapun menjawab akan menanyakan pihak yang berwenang. Esok paginya ia menjawab, ” Silahkan menggunakan ruangan saya saja”.

Namun belum sempat putri kami melaksanakan shalat, siangnya ia meralat sendiri jawabannya. Alasannya kalau ia mengizinkan putri kami shalat nanti yang lain juga menuntut. ” Shalat saja di halaman sekolah”, begitu jawabnya tanpa perasaan. Yaaah .. namun dari sini akhirnya kami jadi tahu ternyata ada murid Muslim lain disekolah tersebut.  Merekapun pasti terpaksa shalat secara sembunyi-sembunyi … 😦 ..

(bersambung)

Read Full Post »

Older Posts »