Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Kata Pandemi berasal dari bahasa Yunani “Pan” yang artinya “Semua” dan “Demi” dari kata “Demos” yang artinya “Orang“. Singkat kata Pandemi adalah epidemi (wabah penyakit yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga) yang menyebar di wilayah yang sangat luas, meliputi beberapa benua, atau bahkan ke seluruh dunia, menjangkiti semua orang,  karena penularan yang sangat cepat.

Sepanjang sejarah, sejumlah pandemi penyakit telah terjadi, seperti cacar (variola) dan tuberkulosis. Salah satu pandemi yang paling menghancurkan adalah Maut Hitam ( Black Death)  yang menewaskan sekitar 75–200 juta orang atau 1/3 hingga 2/3 penduduk dunia, sebagian besar penduduk Eropa. Pandemi ini terjadi antara tahun 1400-an hingga 1700-an. Pandemi lain yang tak kalah dasyatnya adalah Pandemi Influenza 1918 ( Spanish Flue) yang menelan korban antara 50 – 100 juta penduduk dunia.

Saat ini dunia kembali gempar karena adanya virus Corona  yang muncul pada Desember 2019.  Virus yang ditularkan dari kelelawar ini bermula dari kota Wuhan, sebuah wilayah China bagian tengah. Warga China, Wuhan khususnya memang dikenal sangat suka melahap daging kelelawar.

Ironisnya tragedy ini terjadi tak lama setelah presiden China Xi Jinping dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menggoyahkan China. Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam perayaan 70 tahun kekuasaan Partai Komunis China pada 1/10/2019.

Tidak ada satu kekuatanpun yang bisa menggoyahkan landasan negara hebat ini,”.”Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang China dan negara China untuk melangkah maju”, serunya, sesumbar.

Maklum China adalah negara komunis yang menafi’kan keberadaan Tuhan. Tak heran bila kemudian Allah swt menjungkir-balikkan pernyataan pongah Jinping. Dari Wuhan virus terus menyebar tak terbendung ke berbagai penjuru kota China menyebabkan jatuhnya puluhan ribu korban. Pemerintah China segera mengeluarkan perintah untuk mengisolasi kota, penduduk dilarang keluar masuk kota yang terinfeksi.

Akhirnya WHO pun menyatakan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemik menyusul ditemukannya ratusan ribu kasus Corona di berbagai negara dan berisiko semakin menyebar luas. Tujuannya agar seluruh negara di dunia siap menghadapi kemungkinan penularan secara lebih luas dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan lain sebagainya.  Tercatat, kasus terparah di luar China hingga pertengahan Maret adalah Korea Selatan, Italia dan Iran.

Tak ayal sejumlah negarapun menyatakan Lockdown, artinya negara menutup semua perbatasannya, dengan tujuan tidak ada satupun orang bisa keluar masuk kota/negara bersangkutan. Jakarta diikuti beberapa kota besar lainnya akhirnya mengikuti jejak tersebut, meski bukan Lockdown dalam arti sebagaimana yang dilakukan negara lain.

https://wow.tribunnews.com/2020/03/14/jakarta-siaga-corona-covid-19-anies-baswedan-liburkan-sekolah-anak-anak-adalah-penular?_ga=2.191341866.1028413833.1584329569-650280403.1553788439.

Anies Bawesdan selaku gubernur DKI pada Sabtu 14 Maret dengan tegas memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sebelumnya yaitu pada hari Jumat 13 Maret, Anies juga menghimbau agar umat Islam dalam melaksanakan shalat Jumat tetap waspada dalam menghadapi bahaya virus Corona, diantaranya yaitu dengan membawa alat shalat masing-masing, yang kurang sehat memakai masker, membersihkan tangan dengan sanitizer sebelum memasuki pintu utama masjid dll.

Menariknya, gubernur DKI tersebut tidak lupa mengutip hadist yang berkaitan dengan Lockdown sebagaimana berikut,

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Dulu di zaman Rasululullah SAW, sebelum diketahui obatnya, memang pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

“Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR Bukhari).

Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab ra sekitar tahun 18H (640 M) pernah pula terjadi wabah penyakit menular. Ketika itu Umar bin Khattab bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Di perbatasan sebelum memasuki Syam mereka mendengar ada wabah Tha’un Amwas sedang melanda negeri tersebut. Tha’un Amwas adalah sebuah penyakit menular berupa benjolan diseluruh tubuh yang ketika pecah akan mengakibatkan pendarahan. Umar dan rombonganpun berhenti.

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang sahabat sekaligus gubernur Syam ketika itu segera datang menemui rombongan. Terjadilah percakapan hangat, membicarakan bagaimana sebaiknya rombongan bersikap, melanjutkan masuk Syam atau pulang kembali ke Madinah.

Umar yang bijaksana, seperti biasa meminta saran para sahabat. Mereka semua berbeda pendapat. Abu Ubaidah menginginkan rombongan tetap masuk, dan berkata :”Mengapa engkau harus lari dari takdir Allah SWT?”

Namun Umar ra menyanggahnya, dan bertanya, “Jika engkau mempunyai kambing dan ada 2 lahan, yang satu subur dan yang lain kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah”.

“Sesungguhnya dengan kami pulang, kami hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain”, lanjut Umar.

Beruntung tiba-tiba Abdurrahman bin Auf ra teringat ucapan Rasulullah SAW,

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya”.

Akhirnya rombonganpun kembali ke Madinah. Namun demikian Umar tidak kuasa meninggalkan Abu Ubaidah, sahabat yang dikaguminya itu tetap tinggal di Syam. Umar lalu menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah.

Tapi apa jawaban Abu Ubaidah?? Ternyata sahabat Rasul tersebut memilih hidup dan mati bersama rakyatnya. Umar ra pun menangis membaca surat balasan Abu Ubaidah. Tangisnya bahkan bertambah mendengar Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat mulia lainnya seperti Muadz bin Jabal dan Suhail bin Amr wafat akibat wabah Tha’un yang merenggut sekitar 20 ribu orang, hampir separuh penduduk Syam ketika itu.

Wabah baru berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Ia berkata:

Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung”.

Pendudukpun mematuhinya. Mereka berpencar dan menempati gunung2. Wabah berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan bakar.

Dari peristiwa di atas dapat disimpulkan keputusan Lockdown dan Social distancing (menjaga jarak, mengurangi perjumpaan/kontak fisik) adalah sesuai dengan ajaran Islam. Makin membuktikan Islam akan senantiasa sesuai untuk manusia hingga akhir zaman.

Sayang penduduk Jakarta yang mayoritas Muslim itu ternyata banyak yang kurang memahami ajaran agamanya sendiri. Terbukti satu hari setelah Anies me”liburkan“ sekolah, jalan menuju Puncak Bogor macet sepanjang 8 km. Alasannya karena tempat rekreasi di Jakarta ditutup ! Dan ini berlanjut hingga esok harinya, dimana antrian panjang orang yang hendak pergi bekerja mengular di jalur antrian stasiun MRT dan busway Transjakarta.  Padahal imbauan agar orang bekerja dari rumah ( Work From Home) kecuali darurat telah dikeluarkan.

https://www.liputan6.com/global/read/4204213/bedanya-lockdown-dan-social-distancing-yang-perlu-dipahami-untuk-cegah-virus-corona

Tidakkah mereka menyadari bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan orang lain?? Jika yang berdesakan di stasiun MRT dan busway dengan alasan harus bekerja demi kemaslahatan seperti para dokter, petugas medis, petugas pemadam kebakaran atau para pejabat tinggi yang memang mempunyai tanggung-jawab besar terhadap masyarakat, tentu bisa dimaklumi. Bahkan bila niatnya demi mencari ridho Allah swt pahala besar sudah pasti akan mereka raih. Tapi mereka yang hanya sekedar berjalan-jalan rekreasi ???

Sejumlah hadist mengatakan penyakit bisa jadi rahmat bahkan syahid bagi kaum Mukmimin, tapi tentunya setelah ikhtiar maksimal. Dan bersabar adalah salah satu syaratnya.

“Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin”.

“Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid”. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”. (HR Bukhari).

Akhir kata semoga kita semua bisa lulus dari ujian berat ini, dan semoga Alah swt berkenan segera mengakhirinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

“Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”.(HR. Bukhari)

96ecc4d5-bd64-4256-9d33-38db0863e78eWallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Maret 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Pertolongan Allah.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. …”, ( Al-Baqarah(2):45).

Bagi kaum Muslimin ayat di atas tentu tidak asing meski pada prakteknya mungkin tidak mudah. Karena harus diakui tidak sedikit orang yang mengerjakan shalat karena sekedar memenuhi kewajiban semata. Shalat memang adalah kewajiban yang pertama dihisab di hari akhirat nanti.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi”. (HR. Tirmidzi).

Ironisnya, dalam sebuah hadist dikatakan bahwa shalat adalah tali pertolongan terakhir yang dilepaskan manusia.  Artinya tali pertolongan Allah itu sejatinya banyak. Namun kebanyakan manusia meremehkannya yaitu dengan tidak menjalankannya. Maka bila tali terakhirpun diabaikan yaitu shalat, sungguh tidak ada artinya orang yang mengaku Islam. Allah swt tidak akan mau menolong bahkan melaknatnya dengan neraka jahanam.  Tali pertama yang dilepaskan manusia adalah hukum atau syariat Islam. Ini terbukti jelas dengan sangat banyaknya negara yang mengabaikan hukum Islam padahal penduduknya mayoritas mengaku Muslim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Buhul/ikatan Islam akan terputus satu demi satu. Setiap kali putus satu buhulan, manusia mulai perpegang pada tali berikutnya. Yang pertama-kali putus adalah adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.”

Sayangnya tidak semua shalat dapat mendatangkan petolongan Allah. Shalat yang dikerjakan bukan karena Allah swt dan yang riya (pamer) adalah diantaranya.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, ( itulah) orang-orang yang berbuat riya”. ( Terjemah QS. Al-Maun(107):4-6).

Lalu shalat yang yang bagaimanakah yang dimaksud ayat 45 surat Al-Baqarah di atas? Mari kita perhatikan kelanjutan ayat tersebut.

“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” ( Al-Baqarah(2):45-46).

Ya hanya orang yang yakin akan menemui Tuhannya dan bahwa suatu hari kelak mereka akan kembali kepada-Nya, merekalah yang akan ditolong-Nya. Keyakinan ini harus terus melekat di hati sanubari kita, dalam keadaan apapun, susah maupun senang, ketika sendiri maupun bersama orang lain.  Dan sesuai ayat di atas memang bukan hal yang mudah, bahkan amat berat.

Untuk itulah diperlukan kesabaran. Manusia hanya bisa berusaha Allah yang menentukan hasilnya. Dan wajib hukumnya kita menerima ketentuan takdir dari-Nya. Itulah cobaan Allah yang akan mengarahkan kehidupan kita kelak di akhirat, yaitu surga atau neraka.

Nabi SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sungguh segala keadaannya selalu baik buat dirinya, dan ini tidak diperoleh kecuali siapa yang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka ini baik baginya, dan bila ia ditimpa musibah, ia bersabar, ini pun baik baginya” (H.R. Muslim melalui Shuhaib Ibn Sinan).

Maka ketika suatu hari kami ( saya dan suami) menerima kabar bahwa putri kami tercinta yang sedang melanjutkan study di sebrang benua nun jauh di sana, mengalami masalah yang tidak kami ketahui secara pasti karena ia tak mengatakannya dengan jelas, kami hanya pasrah. Bukankah Allah berjanji akan menolong hambanya yang mau bersabar dan menjalankan shalat dengan khusuk?  Di akhir shalat kami hanya dapat memohon supaya Allah swt ridho memberinya jalan keluar terbaik, apapun kesulitan yang dihadapinya.

Namun tak ayal betapa shocknya kami ketika 16 hari kemudian akhirnya putri kami tersebut menceritakan apa yang sebenarnya dialaminya. Rupanya ia kehilangan dompet dengan segala isinya termasuk passport. Padahal ketika itu ia sedang berlibur bersama teman-temannya di sebuah negara Eropa Timur. Parahnya lagi instansi yang berwenang mengeluarkan passport sementara di kota tersebut hanya buka sekali sepekan ! Akibatnya ia tidak bisa meninggalkan kota untuk kembali ke Newcaste Inggris tempat ia menuntut ilmu, setidaknya selama 2 pekan-an.

Artinya selama 16 hari kami berhubungan 2 hari sekali melalui video call putri kami tersebut tidak berada di tempat yang semestinya. Yang sedihnya kami tidak menyadarinya sama sekali kecuali di hari-hari terakhir.

“Itu tulisan-tulisan di gedung belakang Dilla koq aneh yaa  .. Kayak huruf Rusia”, komentar suami selesai kami ber-video call dengannya.

Rupanya putri kami sengaja tidak mau menceritakan musibah yang dialamiya kepada kami berdua karena khawatir membuat kami risau. Kami memang sempat bertanya-tanya melihat ekspresi wajahnya yang sedikit galau. Ia mengungkapkan itu disebabkan kegundahan karena terpaksa berbohong kepada kami. Itu sebabnya ia selalu melaporkan segala kejadian kepada kakaknya yang berada di Jakarta dengan syarat tidak menyampaikannya kepada kami. Masya Allah …

dillabudapest2Tapi yang sungguh membuat kami meng-haru biru adalah prilaku teman-temannya yang sangat peduli terhadapnya. Mereka langsung bergerak cepat ada yang melapor ke kantor polisi, melapor KBRI Budapest, UK embassy serta menghubungi PPI Budapest memohon kesediaan menampung putri kami tersebut selama urusan passport belum tuntas.

Bahkan di hari besoknya yang seharusnya melanjutkan liburan ke Praha Cekoslavakia mereka batalkan demi menemaninya. Mereka rela membeli tiket baru pesawat Budapaest-Newcastle langsung tanpa mampir Praha ke esokan harinya, setelah yakin temannya itu ada yang bisa menampungnya. Belum lagi salah seorang teman yang rela meminjamkan kartu kreditnya tanpa diminta, hingga selama 16 hari di kota tersebut putri kami tidak keteteran … Allahu Akbar …

Pertanyaan besar, siapa yang kuasa membuka hati mereka untuk berbuat baik kepada putri kami tercinta tersebut??

Jangan salah, teman-teman tersebut bukanlah teman lama melainkan teman-teman yang baru 6 bulan berkenalan karena sama-sama kuliah di kampus yang jauh dari orang-orang yang mereka sayangi. Alasan kebersamaan sebagai sesama pelajar di luar negri? Bisa jadi … namun tetap bila Allah tidak mengizinkannya tidak mungkin mereka rela melakukannya.

dillabudapest1

Gul Baba Museum Budapest

Museum Gul Baba 

Demikian pula teman-teman PPI Budapest yang berkenan menerimanya tinggal di tempat mereka selama 16 hari tanpa meminta sepeserpun imbalan. Bahkan mau menghiburnya dengan berjalan-jalan menikmati kota, hiking bahkan mengajaknya mengunjungi museum Islam Gul Baba yang ada di kota tersebut.

dillabudapest3Belum lagi seorang teman yang rela terbang dari Newcastle menuju Budapest untuk membawakan beberapa baju ganti dan lap top agar putri kami tersebut tetap bisa mengikuti pelajarannya di kampus. Masya Allah … Semoga Allah swt membalas kebaikan mereka dengan yang lebih baik.

Sungguh alangkah besarnya cinta dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Diturunkannya pertolongan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Bergidik hati ini bila mengingat kejadian yang belum lama terjadi. Yaitu kisah seorang pelajar Indonesia di Manchester Inggris yang menganiaya ratusan orang dengan sangat keji. Bagaimana bila putri bungsu kami tercinta tersebut jatuh ke tangan orang seperti itu ??? Na’udzubllah min dzalik …

Ataukah ini salah satu buah kesabaran putri kami dalam menutup aurat yang jika di lakukan di tanah air mungkin hal biasa namun tidak ketika berada di lingkungan dimana Islam adalah minoritas. Apalagi di kelas yang jumlahnya ratusan hanya ia sendiri yang mengenakkan hijab?? Wallahu ‘alam …

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33:59).

Yaa Allah berilah kami dan putri kami kemampuan untuk dapat merasakan cinta-Mu yang demikian besar. Berilah pula kami kemampuan untuk dapat mengambil hikmah segala kejadian, meyakini kebesaran-Mu, agar mau lebih mendekatkan diri lagi kepada-Mu, dengan langkah nyata yaitu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Mu, hingga akhir hayat kelak.

Beri juga putri kami kepahaman dan keyakinan betapa kuatnya doa kedua orang-tua terhadap anak meski mereka tidak tahu persis kesulitan apa yang dihadapinya. Dan tolonglah kami agar tidak menjadi orang yang kufur terhadap nikmat sebagaimana ayat berikut, na’udzubillah min dzalik.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(Terjemah QS. Yunus(10):12).

Berikut kisah inspiratif bahwa ketika berdoa memohon pertolongan kepada-Nya, Allah Azza wa Jala mengizinkan kita menyebutkan amal kebaikan yang pernah kita perbuat. Karena amal sekecil apapun, seperti menolong orang yang dalam kesulitan, menuntut ilmu dll, selama diniatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, Allah swt mencatat dan pasti membalasnya.

https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 21 Februari 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Derita Uighur

592a684575c7e-negara-yang-pernah-melarang-penduduknya-berpuasa-di-bulan-ramadhan_665_374Uighur kembali menjadi sorotan dunia. Etnis Muslim penduduk asli Xinjiang ini dikabarkan mengalami penindasan, penganiayaan dan pemaksaan pikiran yang jelas-jelas melanggar hak kebebasan dan hak asasi manusia.

Nicholas Bequelin, Direktur Regional di Amnesty International, memaparkan temuan di situs Amnesty International tentang situasi di Xinjiang. Dikutip dari situs Amnesty.org, 19 Desember 2019, Amnesty International telah mewawancarai 400 lebih orang kerabat Xinjiang yang mengungsi ke luar negeri.

Mereka menyebut ada penyiksaan di Xinjiang. Amnesty International juga meneliti bukti foto satelit dan dokumen pemerintah Cina tentang program penahanan. Sementara unggahan Twitter Mesut Ozil, pemain bola klub Arsenal, yang mengecam perlakuan Cina terhadap Muslim Uighur di Xinjiang menambah sorotan dunia terhadap kekejaman tersebut.

Diperkirakan satu juta orang yang mayoritas beragama Islam, seperti Uighur dan Kazakh, telah ditahan di kamp-kamp interniran di Xinjiang, barat laut Cina. Pemerintah  Cina berulang kali menyangkal keberadaan kamp, menyebutnya sebagai pusat pendidikan kejuruan sukarela. Meski nyatanya mereka yang dikirim tidak memiliki hak untuk menentang keputusan tersebut.

https://dunia.tempo.co/read/1285496/amnesty-international-paparkan-8-fakta-kondisi-muslim-uighur?fbclid=IwAR0c6OaykhVUjcuhIiP8JTqPli2_NkyHTDsWc-Hu9I-BHY3GZV1Xs5_G4O8

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):43).

Kebiadaban rezim Cina yang memang komunis terhadap Muslim etnis Uighur sudah diluar batas. Mereka nekad melarang umat Islam melakukan shalat yang merupakan kewajiban utama, memaksa makan babi yang haram hukumnya dalam Islam, juga melarang pemakaian jilbab serta janggut. Untuk itu merekapun menangkapi ribuan pemeluk Islam dengan tuduhan radikal. Benar-benar menyakitkan hati, siapa sebenarnya yang mereka musuhi?? Kabar terakhir mereka ternyata juga melarang umat Kristiani melakukan ibadah.

https://lobakmerah.com/kami-dipaksa-makan-babi-dan-dilarang-solat-pendedahan-mengejut-seorang-etnik-uighur-terhadap-layanan-istimewa-diterima-di-kem-tahanan-xinjiang/?fbclid=IwAR02kq2nSDVUWEWwmXjbPH4zsdbTKTmD8WBY8TZOvW0bwvIKFMyJnCMRJi8

https://www.fimadani.net/2019/12/dianggap-radikal-china-tangkap-40-ribu.html?fbclid=IwAR3aFk_-V6YTsKmqwYo77hPaVwLgXOCq7Z_lxhqzYRki8jV_VJJj1rWikRI

Namun demkian pihak rezim penguasa tidak mau mengakui hal tersebut. Bahkan mengatakan sebagai hoax alias berita bohong. Tak tanggung-tanggung di Indonesia mereka mengundang dan mempersilahkan sejumlah organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama untuk datang dan menyaksikan keadaan di Xinjiang.

Kepala Hubungan Internasional MUI, Muhyiddin Junaiddin mengatakan kunjungannya ke Xinjiang pada Februari lalu sangat dipantau ketat oleh pihak berwenang Cina. Ia juga mengklaim orang-orang Uighur yang ia temui di sana terlihat ketakutan. Muhyiddin mengatakan upaya Cina mengundang tokoh-tokoh Islam berpengaruh di Indonesia ke Xinjiang didesain untuk “mencuci” otak opini publik yang semula mengkritik agar mau berbalik membela Cina dalam memperlakukan Uighur.

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20191212202601-106-456537/media-asing-china-rayu-ormas-islam-ri-agar-diam-soal-uighur?fbclid=IwAR2WmgE8jiABCd8VIQnIcpahNGJWYbl6gw0zRVg0zSw90cm4nbK8jf6sBtc

Ironisnya lagi bahkan pemerintah Indonesia yang mayoritas Muslim tidak bergabung bersama 22 negara yang menandatangani pernyataan menentang kekejaman pemerintah Cina terhadap etnis Muslim Uighur. Surat pernyataan tersebut ditujukan kepada Ketua Dewan HAM PBB dan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko berdalih, Pemerintah Indonesia tidak ikut campur urusan dalam negeri Cina terkait masalah Muslim Uighur di Xinjiang. Menurut Moeldoko, masing-masing negara punya cara dalam mengatur urusan dalam negeri.

http://itoday.co.id/politik/read/19162/RI-tak-Ikut-22-Negara-yang-Bela-Uighur-Peneliti-INSISTS-Ormas-Islam-Besar-Diam-Rezim-Ngapain-Saja?fbclid=IwAR1b6lPz_5Vtau0wO3O0qAyT58IxA30i2Y3Wjdtn3UP6Jqb0h4X1j-hClao

http://www.konfrontasi.com/content/tokoh/delegasi-uighur-dikabarkan-ditolak-jokowi-salim-said-indonesia-merdeka-apa-dijajah

Komitmen pemerintah Indonesia terhadap nasib Muslim Uighur di Xinjiang  diragukan oleh pengamat pertahanan dan keamanan, Salim Said. Pasalnya pada tahun 2016 ketika isu Uighur baru muncul Jokowi pernah menolak delegasi Uighur yang berkunjung ke istana. Delegasi tersebut dipimpin oleh ketua Muhammadiyah, Din Syamsudin.

Ini sumbernya Din Syamsudin, presiden tidak ingin menyakiti hati pemerintah Cina,” jelas Salim Said.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) ini sangat prihatin atas sikap Jokowi yang dianggapnya tak ubahnya seperti saat masih mengalami masa penjajahan.

Begitulah cerminan sikap sekuler yang makin hari makin diterapkan negri tercinta ini. Bagi mereka hal tersebut pasti dianggap tak jauh dari sikap radikal yang sedang dijadikan momok dan target utama yang dimusuhi rezim ini. Isu separatis memang yang paling mudah dijadikan alasan. Apalagi jika memikirkan hutang negara yang menggunung kepada Cina, yang sudah pasti membuat negara penghutang tersandera.

Namun yang menyedihkan adalah sikap seorang ustad kondang yang dengan santai menyatakan bahwa Uighur baik-baik aja. Itupun hanya dengan modal rekaman youtube kenalannya bukan hasil rekaman mata kepala sendiri.

https://www.eramuslim.com/berita/nasional/ini-dia-data-ngawur-yusuf-mansur-soal-uighur-yang-ditelanjangi-founder-ami-foundation.htm

Uighur bagaimanapun adalah masalah bersama, bukan umat Islam semata tapi juga semua yang peduli kemanusiaan. Persis seperti yang dihadapi rakyat Palestina yang berpuluh-puluh tahun hidup tertindas di tanah airnya sendiri. Mengenai Barat, Amerika Serikat khususnya, yang bersikap bertolak belakang  terhadap Israel yang menjajah Palestina, adalah hal lain. Bisa jadi perseteruannya dengan Cina yang membuatnya getol memberitakan kejahatan negara Tirai Bambu tersebut. Yang pasti bukankah kemerdekaan adalah hak setiap bangsa??

Menengok sedikit sejarah Uighur. Tanah Uighuristan ( sekarang Xinjiang yang dalam bahasa Cina  memiliki arti “wilayah terdepan baru”) merupakan tanah subur dengan luas 1.6 juta kilometer persegi atau hampir seperenam wilayah Tiongkok, menjadikannya provinsi terbesar di Cina. Jaraknya dengan Beijing ibu kota Cina adalah 1.500 mil dengan Kazakstan sebagai batas di utara, Mongolia Uighur di timur laut,  Kirghiztan dan Tajikistan di barat laut dan Afghanistan serta Pakistan di barat daya.

Propinsi ini masuk ke wilayah kekuasaan Repblik Rakyat Cina pada tahun 1949 yaitu sejak berdirinya republik tersebut. Bangsa Uighur sebagai mayoritas penduduk telah tinggal di tanah tersebut selama 2 ribu tahun. Sepanjang itu, mereka telah mengembangkan kebudayaan uniknya, sistem masyarakat, dan banyak menyumbang dalam peradaban dunia.

Setelah masuknya Islam ke wilayah tersebut pada tahun 934M, dominasi kebudayaan Uighur asli tetap bertahan di Asia Tengah. Karya sastra dan ilmu Uighur bahkan semakin berkembang. Beberapa karya sastra milik Kutatku bilik karya Yusuf Has Najib (1069-1070), Divani Lugarit Turk oleh Mahmud Kashari, dan Atabetul Hakayik oleh Ahmet Yukneki dikenal pada masa itu.

Bangsa Uighur berbeda dengan ras Cina-Han, mereka lebih mirip Eropa Kaukasus, sedang Han mirip Asia pada umumnya. Bangsa ini pada tahun 1933 pernah berusaha mendirikan negara Islam yaitu Turkistan Timur dengan Kashgar sebagai ibu kotanya.

Ironis pada tahun 1949 di awal masuknya kedalam RRC, 96 persen penduduk Xinjiang yang tadinya adalah klan Turki, pada sensus Cina terakhir menyebutkan kini tinggal 7,2 juta dari 15 juta warga Xinjiang. Dengan kata lain tak sampai 50 % dari jumlah penduduk.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/16/m0zcbk-siapakah-bangsa-uighur

Kenyataan di atas lagi-lagi menunjukkan bahwa nasib bangsa Uighur tak jauh beda dengan Palestina yang terjajah di negrinya sendiri. Menjadi pertanyaan besar akankah kita mengulangi kesalahan besar dengan menjadi saksi bisu saudara-saudari kita seiman mengalami kedzaliman tanpa kita berbuat apapun???

Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)”. ( HR. Muslim)

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 31 Desember 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Ashabul Ukhdud adalah sekelompok orang yang pernah menyiksa orang-orang beriman dengan cara memasukkan orang-orang tak berdosa tersebut ke dalam parit berisi kayu bakar, kemudian membakarnya hidup-hidup. Na’udzubillah min dzalik …

Al-Quran mengabadikan peristiwa keji tersebut dalam surat Al-Buruj ayat 4 – 9 berikut.

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit ( Asbabul Ukhdud), yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”.

Peristiwa kejam dan sadis yang menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya menelan 20.000 korban tersebut cukup populer di kalangan penduduk jazirah Arab ketika itu. Karena memang terjadi hanya 47 tahun sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada tahun 523 M. Tragedi tersebut terjadi di Najran, sebuah wilayah perbatasan antara Arab Saudi dan Yaman, atas perintah rajanya yang kaya raya dan memiliki kekuasaan yang amat sangat luas, yaitu Dzu Nuwaas.

Surat Al-Buruj yang turun di Mekah sebelum hijrahnya Rasulullah ini dimaksudkan sebagai hiburan bagi kaum Muslimin agar bersabar menghadapi cobaan demi cobaan yang dihadapi ketika itu. Agar kaum Muslimin bertekad kuat mempertahankan keimanan dan keislaman mereka sebagaimana orang-orang beriman di masa lalu yang meski disiksa sedemikian kejam tetap bertahan. Bahkan memilih mati dibakar hidup-hidup daripada hidup dalam kekafiran.

Ayat-ayat tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak ayat hiburan bagi umat Muhammad, bahwasanya kepahitan dan penderitaan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang baru. Kekejaman dan penindasan terhadap kaum Mukminin sudah terjadi di masa-masa para Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw.  Allah berfirman:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Terjemah QS.Al-Baqarah(2): 214)

Ketika Al-Quran menyebut Ashhabul Ukhdud Rasulullah saw mengucapkan taawuz, bermohon agar Allah swt melindungi umat Islam dari cobaan berat yang menimpa kaum tersebut. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kisah memilukan tersebut diantaranya yaitu bahwa pertolongan bisa jadi Allah swt berikan di akhirat nanti tidak di dunia.

Karena dunia hanyalah sementara sedangkan akhirat jauh lebih kekal. Jadi meskipun tampaknya di dunia tersiksa tapi di akhirat nanti terbebas dari siksa neraka yang jauh lebih mengerikan dari apapun siksa terberat di dunia ini. Keyakinan inilah yang harus tertanam kuat di setiap diri orang yang mengaku beriman. Bahwa orang beriman dan mengerjakan amal saleh pasti masuk surga sebaliknya orang kafir apalagi yang suka menyiksa orang beriman dan tidak mau bertobat pasti masuk neraka.

72452416_10157011461137054_3663444191083495424_n“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu’min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar”. (Terjemah QS. Al-Buruj (85):10).

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar”. (Terjemah QS. Al-Buruj (85):11).

Secara panjang lebar kisah Asbabul Ukhdud tertuang dalam hadist riwayat Muslim no. 3005 sebagai berikut :

Dari Shuhaib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut berada dalam usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan ia meminta agar dikirimkan anak yang akan jadi pewaris ilmu sihirnya. Maka ada seorang anak yang diutus padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya.

Di tengah perjalanan ingin belajar, anak ini bertemu seorang rahib (pendeta) dan ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia pun begitu takjub pada nasehat-nasehat yang disampaikan si rahib. Ketika ia telah mendatangi tukang sihir untuk belajar, ia pun menemui si rahib dan duduk bersamanya. Ketika terlambatnya mendatangi tukang sihir, ia dipukul, maka ia pun mengadukannya pada rahib. Rahib pun berkata, “Jika engkau khawatir pada tukang sihir tersebut, maka katakan saja bahwa keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir pada keluargamu, maka katakanlah bahwa tukang sihir telah menahanku.”

Pada suatu saat ketika di waktu ia dalam keadaan yang demikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak (di jalan yang dilalui mereka). Anak itu lalu berkata, “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu.” Ia pun mengambil sebuah batu kemudian berkata, “Ya Allah, apabila perkara rahib itu lebih dicintai di sisi-Mu daripada tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.”

Lalu ia melempar binatang tersebut dan terbunuh. Lalu orang-orang bisa lewat.  Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib tersebut pun mengatakan, “Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar demikian, janganlah menyebut namaku.”

Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia pun dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini pun sampai di telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia pun mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata pada pemuda tersebut, “Ini semua bisa jadi milikmu asalkan engkau menyembuhkanku.” Pemuda ini pun berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau mau beriman pada Allah, aku akan berdo’a pada-Nya supaya engkau bisa disembuhkan.” Ia pun beriman pada Allah, lantas Allah menyembuhkannya.

Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja dan ia duduk seperti biasanya. Raja pun bertanya padanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia pun menjawab, “Rabbku.” Raja pun kaget, “Apa engkau punya Rabb (Tuhan) selain aku?” Sahabatnya pun berkata, “Rabbku dan Rabbmu itu sama yaitu Allah.” Raja tersebut pun menindaknya, ia terus menyiksanya sampai ditunjukkan anak yang tadi. (Ketika anak tersebut datang), raja lalu berkata padanya, “Wahai anakku, telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu.” Pemuda tersebut pun menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.”

Mendengar hal itu, raja lalu menindaknya, ia terus menyiksanya, sampai ditunjukkan pada pendeta yang menjadi gurunya. (Ketika pendeta tersebut didatangkan), raja pun memerintahkan padanya, “Kembalilah pada ajaranmu!” Pendeta itu pun enggan. Lantas didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut. Setelah itu, sahabat dekat raja didatangkan pula, ia pun diperintahkan hal yang sama dengan pendeta, “Kembalilah pada ajaranmu!” Ia pun enggan. Lantas (terjadi hal yang sama), didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut.

Kemudian giliran pemuda tersebut yang didatangkan. Ia diperintahkan hal yang sama, “Kembalikan pada ajaranmu!” Ia pun enggan. Kemudian anak itu diserahkan kepada pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah kalian bersama pemuda ini ke gunung ini dan itu. Lalu dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya, lalu ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.” Lantas pasukan raja tersebut pergi bersama pemuda itu lalu mendaki gunung. Lalu pemuda ini berdo’a, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Gunung pun lantas berguncang dan semua pasukan raja akhirnya jatuh.

Lantas pemuda itu kembali berjalan menuju raja. Ketika sampai, raja berkata pada pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda tersebut menjawab, “Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.” Lalu pemuda ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja memerintahkan pada pasukannya, “Pergilah kalian bersama pemuda ini dalam sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkanlah dia.”

Mereka pun lantas pergi bersama pemuda ini. Lalu pemuda ini pun berdo’a, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Tiba-tiba sampan tersebut terbalik, lalu pasukan raja tenggelam. Pemuda tersebut kembali berjalan mendatangi raja. Ketika menemui raja, ia pun berkata pada pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda tersebut menjawab, “Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.”

Ia pun berkata pada raja, “Engkau tidak bisa membunuhku sampai engkau memenuhi syaratku.” Raja pun bertanya, “Apa syaratnya?” Pemuda tersebut berkata, “Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku di atas sebuah pelepah. Kemudian ambillah anak panah dari tempat panahku, lalu ucapkanlah, “Bismillah robbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.” Lalu panahlah aku karena jika melakukan seperti itu, engkau pasti akan membunuhku.”

Lantas rakyat pun dikumpulkan di suatu bukit. Pemuda tersebut pun disalib di pelepah, lalu raja tersebut mengambil anak panah dari tempat panahnya kemudian diletakkan di busur. Setalah itu, ia mengucapkan, “Bismillah robbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.” Lalu dilepaslah dan panah tersebut mengenai pelipisnya. Lalu pemuda tersebut memegang pelipisnya tempat anak panah tersebut menancap, lalu ia pun mati. Rakyat yang berkumpul tersebut lalu berkata, “Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut. Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut.”

Raja datang, lantas ada yang berkata, “Apa yang selama ini engkau khawatirkan? Sepertinya yang engkau khawatirkan selama ini benar-benar telah terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada Tuhan pemuda tersebut.”

Lalu raja tadi memerintahkan untuk membuat parit di jalanan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja tersebut pun berkata, “Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.” Atau dikatakan, “Masuklah ke dalamnya.” Mereka pun melakukannya, sampai ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini pun begitu tidak berani maju ketika akan masuk di dalamnya. Anaknya pun lantas berkata, “Wahai ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.”

Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan senantiasa terjadi pertikaian antara Al-haq dengan yang batil sepanjang masa dan di manapun jua. Adalah satu ketetapan pula dari Allah swt bahwa setiap orang yang mengatakan dirinya beriman tentu tidak lepas dari berbagai ujian.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.”

Yaa Allah yaa Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.

Yaa Allah kabulkan doa kami, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Berikut beberapa hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa diatas:

https://rumaysho.com/3427-kisah-orang-beriman-yang-dibakar-dalam-parit.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Oktober 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Hikmah Birul Walidain

20190918_12405120190919_124824Hari-hari ini adalah hari yang cukup berat bagi kami sebagai orang–tua yang baru melepas anak gadis satu-satunya bontot pula untuk melanjutkan stydynya jauh di seberang benua sana. Meski sebenarnya hati sudah cukup tenang karena kami sudah mengantar dan melihat  sendiri keadaan kota tempat tinggalnya, kampusnya dll.

2019-09-19 05.11.31_1570459365283Apartemen yang dekat dengan kampus, teman-teman tetangga kamarnya, teman-teman setanah-air, kampus yang ternyata memiliki masjid yang meski tidak besar namun aktif digunakan untuk shalat sehari-hari bahkan shalat Jumat. Atas izin-Nya Ia pertemukan pula ia dengan Muslimah asal Thoif Mekah yang juga sedang melanjutkan studynya. Berkatnya putri kamipun saat ini sudah bergabung dengan persaudaraan Muslim kampusnya. Restoran berlabel Halal dan toko-toko daging Halal juga tidak sulit ditemukan. Alhamdulillah …20190928_210420

Lalu mengapa hati ini tetap merasa ada yang mengganjal ??

Mungkin saya yang terlalu posesif. Selama ini hubungan saya dengan si bontot memang sangat erat. Kami biasa saling menceritakan hari-hari yang kami lalui, nyaris tanpa ada yang disembunyikan.

Hari ini berkat kecanggihan teknologi mutakhir, komunikasi bukan lagi menjadi masalah. Namun mungkin karena masalah perbedaan waktu atau kesibukan baru yang menuntut banyak waktu, putri kami tersebut tidak selalu cepat merespons WA saya meski saya tahu ia sedang “online”.

Tiba-tiba saya terhenyak, teringat kumandang adzan yang tidak selalu saya respons dengan cepat. Astaghfirullah … Bukankah adzan adalah panggilan Allah swt untuk segera menemui-Nya?? Kalau saya sebagai ibu saja sudah merasa “memiliki” dan menuntut hak saya sebagai “pemilik” untuk segera berjumpa dengan anak, apalagi Allah Azza wa Jala yang merupakan sebenar-benar pemilik !!! Ya Allah ampunilah hamba-Mu yang hina ini …

Harus diakui tidak sedikit orang-tua yang suka menuntut anak-anaknya agar patuh dan menuruti semua perintah dan keinginan orang-tua. Apalagi mereka yang merasa telah mengorbankan segala upaya, mendidik, memeras keringat, membanting tulang, mengorbankan waktu dan seluruh harta yang dimiliki demi anak-anak yang mereka sayangi dan cintai, yang dikandung ibunya selama kurang lebih 9 bulan lamanya, dan menyusuinya selama 2 tahun. Salahkah itu??

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. ( Terjemah QS. Lukman(31):14).

Masya Allah … Ternyata Al-Quran telah mengatur hal tersebut. Itulah yang dinamakan Birul Walidain yaitu perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang-tua. Tapi dengan catatan; perbuatan baik, bakti, sayang, cinta, hormat, mendahulukan orang-tua dll tersebut bukan karena tuntutan orang-tua, melainkan karena perintah Allah swt. Yaitu sebagai bagian dari adab, rasa syukur atas segala kebaikan, cinta, kasih- sayang dan pengorbanan orang-tua kepada anak yang memang sudah kodrat manusia.

Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan).

Yang dengan demikian akan melahirkan sikap dan sifat tahu diri, syukur dan trima-kasih tidak saja kepada kedua orang-tua tapi juga kepada orang yang lebih tua. Dan puncaknya kepada Sang Khalik Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Itulah setinggi-tinggi penghambaan. Allah Azza wa Jala adalah satu-satunya tempat bergantung, meminta tolong. Maka dapat dipastikan anak yang selalu mendahulukan kedua orang-tuanya ia lebih dekat dan bisa mengenal Tuhannya dibanding anak yang menyepelekan orang-tuanya.

Hal penting lain, kita sebagai orang-tua, yang selama ini merasa memiliki cinta dan kasih sayang yang begitu besar terhadap anak-anak kita, ternyata  tidak ada apa-apanya dibanding cinta dan kasih sayang Sang Khalik kepada hamba-Nya … Allahu Akbar ..

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu ( Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):186).

Yaa Allah lindungi, jaga, sayangi dan kasihanilah putri kami tercinta. Mudahkan segala urusannya, sehat dan kuatkanlah hati, iman serta islamnya. Berilah ia kemampuan untuk menimba ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya, aamiin yaa robbal ‘aalamin ..

Hebatnya lagi Birul Walidain tetap berlaku meski orang-tua tidak satu aqidah dengan anak. Tapi sebagai seorang Muslim si anak tidak boleh menuruti perintah orang-tua untuk menyembah kepada selain Allah swt.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Terjemah QS. Al-Isra’(17):23).

Ayat diatas dengan jelas  menerangkan bahkan mengatakan “ah” saja Allah swt melarangnya. Dengan demikian mengacuhkan orang-tua ketika mereka sedang berbicara kepada anak, atau kalau di zaman now ini tidak mendahulukan apalagi mengabaikan WA ketika anak tidak sedang sibuk tentu bukan perbuatan terpuji. Karena hal tersebut akan dapat menyakiti hati orang-tua. Allah swt melarang hal tersebut.

Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhir kata, alangkah beruntungnya orang yang masih memiliki orang-tua apalagi yang dalam perawatan mereka. Karena itu adalah ladang amal yang sungguh rugi bila tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Oktober 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Sebuah video ceramah UAS ( Ustad Abdul Somad) di sebuah masjid di Pekanbaru 3 tahun silam tiba-tiba menjadi viral. Ini disebabkan sejumlah mahasiswa yang mengaku wakil dari sebuah organisasi mahasiswa Kristen melaporkan UAS kepada pihak kepolisian atas tuduhan penistaan agama, dengan video tersebut sebagai alat bukti. Ada apakah gerangan, mengapa setelah 3 tahun berlalu baru dilaporkan??

Rupanya video tersebut berisi jawaban UAS tentang salib yang ditanyakan seorang jamaah. Yaitu bahwa salib adalah jin kafir. Persis seperti ayat 73 surat Al-Maidah berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Tidak ada yang salah apa yang dikatakan ustad asal Riau yang meraih gelar Lc di universitas Al-Azhar Cairo dan master di bidang hadist di sebuah universitas Rabbat Maroko tersebut. Laporan penistaan agama yang dituduhkan kepadanya sama sekali tak berdasar. Apalagi bila kemudian ada yang menyamakan hal tersebut dengan apa yang dilakukan Ahok.

Seperti yang kita ketahui, mantan wakil gubernur DKI era Jokowi yang kemudian menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi RI1 tersebut telah divonis bersalah dan masuk bui karena penistaan agama. Ketika itu ia mengatakan bahwa umat Islam telah dibohongi ayat 51 surat Al-Maidah berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

UAS, walau bagaimanapun adalah seorang uztad/ulama yang tugasnya adalah berdakwah, mengajak dan mengajarkan keyakinan agamanya yaitu Islam. Termasuk juga menjawab pertanyaan jamaah yang mungkin masih ragu dengan agamanya, atau ingin membandingkannya dengan ajaran agama lain.

Selain itu UAS berceramah di dalam masjid, rumah ibadah umat Islam, bukan di tempat umum, bukan di depan umat agama lain. Anehnya lagi peristiwa tersebut terjadi 3 tahun yang lalu. Mengapa baru sekarang dipermasalahkan??

Sememtara Ahok adalah seorang pejabat umum, pemimpin daerah khusus ibu kota yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia berbicara di depan anak buahnya yang agama dan keyakinannya beragam, di tempat umum pula, bukan di rumah ibadahnya.

Namun itulah skenario Sang Pencipta. Bila paska hebohnya kasus Ahok ayat 51 surat Al-Maidah menjadi populer, maka kini giliran ayat 73 surat Al-Maidah yang tiba-tiba dengan mudahnya di posting orang. Padahal ayat ini jauh lebih sensitif dari ayat 51 Al-Maidah.

Ayat ini dengan tegas menyebut kafir orang yang mengatakan Allah adalah satu dari Tuhan yang tiga. Padahal sebelumnya tidak banyak orang yang berani terang-terangan menyatakan ayat tersebut. Tuduhan intoleransi yang selama ini sering dialamatkan kepada kaum Muslimin jelas sesuatu yang mengada-ada.

Sejarah mencatat betapa non Muslim yang menempati negara mayoritas Muslim hampir selalu bebas menjalankan ajaran mereka. Sebaliknya Muslim yang bertempat tinggal di negara minoritas Muslim nyaris selalu sulit menjalankan ajaran agamanya.

Perancis contohnya, Hari Raya Iedul Fitri yang merupakan hari terbesar umat Islam tidak tercatat di kalender mereka. Apalagi hari-hari besar lainnya. Sementara di Indonesia hari-hari besar semua agama tercatat dengan baik di kalender, bahkan sebagai penghormatan hari-hari tersebut tercatat sebagai tanggal merah, alias diliburkan.

Tak heran paska pelaporan UAS jumlah orang yang bersyahadat malah meningkat. Ini mengingatkan prediksi Rasululah saw bahwa di akhir zaman nanti akan banyak pengikut nabi Isa as yang menyadari kesalahan dan kekhilafan mereka bahwa nabi Isa as atau Yesus adalah anak Tuhan.

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Terjemah QS.Az-Zukhruf (43):59).

Sebaliknya umat Islam yang tampaknya banyak jumlahnya itu ternyata hanya bagaikan buih yang tidak berguna bagi kemajuan Islam. Mereka berprilaku bagai musuh dalam selimut yang suka mengolok-ngolok, menghina dan memojokkan ulama bahkan ajarannya sendiri.

Na’udzubillah min dzalik … Semoga kita dan keluarga yang kita cintai bukan termasuk golongan buih seperti dimaksud hadist berikut :

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Disamping itu mungkin itu adalah peringatan Allah swt agar umat berdakwah secara total dan terbuka, tidak memilah dan memilih ayat sesuai selera dan keinginan sendiri. Jangan dengan dalih toleransi, HAM dll kita menjadi kecil dan lemah. Padahal yang demikian justru kita makin diinjak dan pertolongan Allah pun menjauh.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (Terjemah QS.Al-Hijir [15]: 94).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Pemilihan Presiden tinggal beberapa hari lagi. Bahkan di luar negri pesta rakyat tersebut sudah dimulai sejak 8 April hingga 14 April 2019 nanti. Namun tak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu di beberapa tempat di luar negri kali ini berjalan dengan berbagai keanehan.

Di Malaysia ditemukan sejumlah kantong plastik hitam berisi surat suara sudah tercoblos, sebagian sudah tercecer. Di Belanda banyak pemilih yang telah mencoblos malah menerima kembali surat suara yang harusnya langsung dikirim ke  panitia pemilihan luar negeri (PPLN). Sementara di Sydney ratusan wni membuat petisi menuntut agar pemilu di kota tsb diulang karena banyak yang belum sempat mencoblos sudah ditutup.

Kabarnya karena jumlah wni yang datang jauh lebih banyak dari perkiraan. Itu sebabnya panitia kehabisan lembar surat suara. Pemerintah secara resmi memang membolehkan mencoblos dengan passport. Namun adakah jaminan bahwa pemegang passport setelah pulang ke tanah air nanti tidak akan mencoblos lagi dengan memanfaatkan ktp??

http://riaupos.co/196600-berita-nyoblos-pemilih-boleh-pakai-paspor.html

https://news.detik.com/berita/4506134/panwaslu-laporkan-surat-suara-mayoritas-tercoblos-01-di-selangor-malaysia

https://www.liputan6.com/pileg/read/3939644/wni-di-belanda-bingung-surat-suara-sudah-dicoblos-kembali-ke-pemilih

https://www.alinea.id/pemilu/ricuh-ratusan-wni-di-sydney-tuntut-pemilu-ulang-b1Xey9jdG

Anehnya isu yang berkembang atau dikembangkan bahwa itu semua ulah kecurangan pihak paslon 02, yaitu Prabowo-Sandi. Alasannya karena Prabowo sangat berambisi menjadi presiden. Padahal jika kita mau sedikit saja berpikir; siapa penyelenggara pemilu, siapa yang mempunyai kuasa untuk mencampuri pemilu, siapa yang mencetak, menyimpan dan mendistribusi surat suara?? Bagaimana mungkin pihak Prabowo bisa merekayasa semua itu??

https://news.detik.com/berita/4506220/surat-suara-tercoblos-01-di-selangor-tkn-itu-ditemukan-02-bisa-fitnah

Harus dicatat Pemilu 2019 dari awal memang penuh intrik, hoax dan segala yang berbau negative. Diawali dengan kotak suara yang terbuat dari kardus, digembok. (?) Tak dapat disangkal preseden buruk ini terjadi sejak pilkada DKI yang berbuntut dengan kekalahan Ahok dan kemenangan Anies Bawesdan. Dan itu semua tak terlepas dari gerakan 212 Aksi Bela Islam yang pada akhirnya berhasil memenjarakan Ahok atas tuduhan penistaan agama. Sebaliknya Habib Riziek Syihab yang merupakan motor 212 berhasil dipaksa keluar dari tanah ar tercinta dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Maka sejak itu perseteruan antara 2 kubupun makin menjadi-jadi hingga detik ini.

Apapun yang dilakukan Anies sebagai gubernur DKI tidak pernah benar di mata pendukung Ahok. Sementara di kubu 212, karena rezim dibawah Jokowi berkali-kali terbukti tidak berpihak pada umat Islam bahkan cenderung memusuhi, maka bertekad mantan walikota Solo tersebut tidak pantas untuk dipilih lagi.

Merekapun memutuskan mendukung Prabowo sebagai capres, bergandengan dengan Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha muda sukses, kaya raya, yang dikenal rajin menjalankan syariah Islam. Dukungan ijma ulama terhadap mantan danjen Kopassus di era Suharto ini bukannya tanpa pertimbangan. Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma’arif, menyebut bahwa ditariknya para alim ulama dan mubaligh ke tim pemenangan Prabowo-Sandi merupakan implementasi dari pakta integritas yang diteken Prabowo setelah Ijtima Ulama 212. Dalam kontrak tersebut, satu poin penting yang membuat dukungan aktivis gerakan 212 tetap mendukung Prabowo-Sandi adalah “menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama…”

Disamping itu Prabowo meskipun tidak dikenal sebagai ahli ibadah namun sejak muda dikenal gigih membela Islam. Mantan menantu Suharto ini juga dikenal sebagai seorang patriot yang sangat cinta bangsa.  Ia sangat tidak rela banyak rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan, ditambah lagi asset besar bangsa ini digadaikan asing, aseng, asong.

Ironisnya, isu Prabowo adalah penculik dan orang yang harus bertanggung-jawab terhadap tragedy Mei 1998 selalu dihembuskan setiap kali Prabowo nyaleg. Padahal ia sudah 3x nyapres. Jika memang Prabowo bersalah mengapa kasus hanya dibuka setiap menjelang pemilu. Itupun yang selalu aktif menyerang adalah para jendral atasan Prabowo ketika itu. Bagi awam yang masih berhati bersih, ini justru menampakkan adanya ketakutan bila Prabowo sampai menang.

Sementara itu dengan semakin dekatnya hari H, makin banyak ulama yang dikenal bersih, yang selama ini tidak pernah berpihak dan bukan merupakan anggota partai, menyatakan secara terbuka dukungan mereka terhadap Prabowo Subiyanto. UAS (ustad Abdul Somad) contohnya, yang pernah diminta umat mendampingi Prabowo sebagai cawapres namun secara halus menolak karena ingin tetap berdakwah kepada umat tanpa benturan dengan kepentingan politik.

Ustad kondang dari Riau lulusan S1 Al-Azhar Kairo dan S2 Maroko ini menjumpai Prabowo tidak hanya sekedar menyatakan dukungan tapi juga menasehatinya dengan siraman rohani yang sangat menyejukkan. Pesan UAS yang paling menyentuh adalah “Kalau Bapak (Prabowo) memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. “Pertama, jangan bapak undang saya ke Istana. (Biarkan saya berdakwah) masuk hutan ke hutan. Yang kedua, jangan bapak beri saya jabatan, apa pun,”

Yang juga menarik, dalam pertemuan eksklusif tersebut Prabowo terlihat sangat serius mendengarkan dan memperhatikan dai muda itu berbicara. Sesekali ia bahkan terlihat mengusap air matanya. Pabowo yang dikabarkan garang dan kasar ternyata hatinya lembut. Prabowo telah membuktikan kontrak politiknya terhadap umat. Masya Allah …

Dalam kesempatan itu, UAS berpesan kepada Prabowo agar banyak-banyak berdzikir dan shalat tahajud.

Afdhal dzikir (dzikir terbaik) adalah dzikir “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah)”.

Laa Ilaaha Ilallah.. Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..

Mulut berdzikir, hati di sebelah kiri,” ujar UAS seraya telapak tangan kanannya menekan lama ke dada kiri Prabowo sambil berdzikir.

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/04/12/163142/uas-prabowo-presiden-jangan-undang-saya-ke-istana-jangan-beri-jabatan-apapun.html

Tak sampai 24 jam, UAH (Ustad Adi Hidayat) ustad yang tak kalah kondang dan lurusnya dari UAS juga datang memberikan dukungan. Sama dengan UAS, UAH juga memberikan wejangan yang cukup panjang sekaligus mendoakannya. Ini masih disusul dengan ulama-ulama yang dekat dengan umat seperti aa Gym, ustad Arifin Ilham,  ustazah Irene Handoko, syeikh Ali Jaber, UBN (Ustad Bahtiar Nasir) yang sudah sebelumnya secara terbuka memberikan dukungan, serta ustad Khalid Basalamah. Bahkan ustad Firanda, ustad Salafi yang selama ini mengharamkan jamaahnya mengikuti pemilu kabarnya mendorong jamaahnya untuk mendukung paslon no 02 ini.

Ironisnya, selang beberapa hari kemudian muncullah fitnah yang menyerang pribadi UAS. Sungguh mengherankan, apa yang terjadi dengan republic yang sudah bukan muda lagi ini. Mana yang namanya demokrasi? Mengapa setiap orang yang tidak mendukung paslon 01 harus dianiaya??

Dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.

Pendukung 01 sebetulnya tidak semua pro Ahok. Ada sebagian dari mereka yang tergiur dengan proyek infrastruktur besar-besaran yang saat ini sedang berjalan. Meski sebenarnya proyek-proyek tersebut bukan hanya hasil kerja rezim ini. Tapi juga hasil kerja yang berkesinambungan dari para pemimpin terdahulu, dengan mengandalkan hutang luar negri yang jumlah sangat fantastis, dan bakal membebani hidup anak cucu kita kelak.

Mereka juga seakan tidak peduli apa dan bagaimana program partai-partai pendukung 01. Disanalah berkumpul orang-orang yang memusuhi syariat Islam, yang suka mengolok-olok ajaran yang merupakan ajaran mayoritas penduduk negri ini. Dari mulai jilbab, pembagian waris, poligami hingga isu khilafah. Lupakah mereka bahwa firaun, sang maha raja Mesirpun berhasil membangun kota-kotanya dengan penuh kemegahan. Namun Allah swt meng-azabnya karena ia ingkar kepada Tuhannya.

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan pembangunan kota yang sungguh indah.  Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Peninggalan peradaban dan budaya yang tinggi di kota-kota Islam seperti Damaskus, Istanbul, Palermo, Andalusia dll masih bisa disaksikan hingga detik ini.

Saat ini Islam memang sedang mengalami keterpurukan. Kita tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari dunia Islam, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal ahlak seperti kedisiplin, kebersihan dll. Islamophobia dan label teroris yang disandangkan kepada ajaran yang dibawa Rasulullah saw 15 abad silam, sungguh menyakitkan hati. Persaudaraan Islam yang rentan hingga mudah diadu domba, ulama yang dipersekusi, satu diangkat yang lainnya difitnah. Na’udzubillah min dzalik ….

Namun sejak dimulainya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 di Monas, terlihat bahwa umat Islam mulai bangkit, bangun dari tidur panjangnya. Mereka siap bersatu membela Islam, sadar agar pentingnya menjaga shalat berjamaah dimanapun berada, seperti ketika kampanye akbar terakhir di GBK beberapa waktu lalu, serta menjaga kedisiplinan dan kebersihan.

Maka bila Allah swt ridho memberi Prabowo amanat memegang pucuk pemerintahan, bisa jadi Islam akan kembali mengalami kejayaan, sesuai yang diperkirakan Rasulullah 15 abad lalu. Dengan memanfaatkan ilmu syariat, hutang negara akan bisa diselesaikan melalui dana ZIS ( Zakat, Infak dan Sodakoh) dan Wakaf yang mempunyi potensi sangat tinggi. Atau bahkan dana haji yang merupakan tabungan umat bisa digunakan untuk keperluan negara tanpa satupun kaum Muslimin keberatan, selama pemerintah senantiasa siap melindungi kaum Muslimin. Riba yang merupakan musuh ekonomi terbesar insyaAllah bisa dihilangkan. Itulah salah satu keuntungan mau mendengarkan ulama yang merupakan pewaris para nabi.

“ … … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (Terjemah QS. Fathir(35):28).

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 April 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »