Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Derita Uighur

592a684575c7e-negara-yang-pernah-melarang-penduduknya-berpuasa-di-bulan-ramadhan_665_374Uighur kembali menjadi sorotan dunia. Etnis Muslim penduduk asli Xinjiang ini dikabarkan mengalami penindasan, penganiayaan dan pemaksaan pikiran yang jelas-jelas melanggar hak kebebasan dan hak asasi manusia.

Nicholas Bequelin, Direktur Regional di Amnesty International, memaparkan temuan di situs Amnesty International tentang situasi di Xinjiang. Dikutip dari situs Amnesty.org, 19 Desember 2019, Amnesty International telah mewawancarai 400 lebih orang kerabat Xinjiang yang mengungsi ke luar negeri.

Mereka menyebut ada penyiksaan di Xinjiang. Amnesty International juga meneliti bukti foto satelit dan dokumen pemerintah Cina tentang program penahanan. Sementara unggahan Twitter Mesut Ozil, pemain bola klub Arsenal, yang mengecam perlakuan Cina terhadap Muslim Uighur di Xinjiang menambah sorotan dunia terhadap kekejaman tersebut.

Diperkirakan satu juta orang yang mayoritas beragama Islam, seperti Uighur dan Kazakh, telah ditahan di kamp-kamp interniran di Xinjiang, barat laut Cina. Pemerintah  Cina berulang kali menyangkal keberadaan kamp, menyebutnya sebagai pusat pendidikan kejuruan sukarela. Meski nyatanya mereka yang dikirim tidak memiliki hak untuk menentang keputusan tersebut.

https://dunia.tempo.co/read/1285496/amnesty-international-paparkan-8-fakta-kondisi-muslim-uighur?fbclid=IwAR0c6OaykhVUjcuhIiP8JTqPli2_NkyHTDsWc-Hu9I-BHY3GZV1Xs5_G4O8

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):43).

Kebiadaban rezim Cina yang memang komunis terhadap Muslim etnis Uighur sudah diluar batas. Mereka nekad melarang umat Islam melakukan shalat yang merupakan kewajiban utama, memaksa makan babi yang haram hukumnya dalam Islam, juga melarang pemakaian jilbab serta janggut. Untuk itu merekapun menangkapi ribuan pemeluk Islam dengan tuduhan radikal. Benar-benar menyakitkan hati, siapa sebenarnya yang mereka musuhi?? Kabar terakhir mereka ternyata juga melarang umat Kristiani melakukan ibadah.

https://lobakmerah.com/kami-dipaksa-makan-babi-dan-dilarang-solat-pendedahan-mengejut-seorang-etnik-uighur-terhadap-layanan-istimewa-diterima-di-kem-tahanan-xinjiang/?fbclid=IwAR02kq2nSDVUWEWwmXjbPH4zsdbTKTmD8WBY8TZOvW0bwvIKFMyJnCMRJi8

https://www.fimadani.net/2019/12/dianggap-radikal-china-tangkap-40-ribu.html?fbclid=IwAR3aFk_-V6YTsKmqwYo77hPaVwLgXOCq7Z_lxhqzYRki8jV_VJJj1rWikRI

Namun demkian pihak rezim penguasa tidak mau mengakui hal tersebut. Bahkan mengatakan sebagai hoax alias berita bohong. Tak tanggung-tanggung di Indonesia mereka mengundang dan mempersilahkan sejumlah organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama untuk datang dan menyaksikan keadaan di Xinjiang.

Kepala Hubungan Internasional MUI, Muhyiddin Junaiddin mengatakan kunjungannya ke Xinjiang pada Februari lalu sangat dipantau ketat oleh pihak berwenang Cina. Ia juga mengklaim orang-orang Uighur yang ia temui di sana terlihat ketakutan. Muhyiddin mengatakan upaya Cina mengundang tokoh-tokoh Islam berpengaruh di Indonesia ke Xinjiang didesain untuk “mencuci” otak opini publik yang semula mengkritik agar mau berbalik membela Cina dalam memperlakukan Uighur.

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20191212202601-106-456537/media-asing-china-rayu-ormas-islam-ri-agar-diam-soal-uighur?fbclid=IwAR2WmgE8jiABCd8VIQnIcpahNGJWYbl6gw0zRVg0zSw90cm4nbK8jf6sBtc

Ironisnya lagi bahkan pemerintah Indonesia yang mayoritas Muslim tidak bergabung bersama 22 negara yang menandatangani pernyataan menentang kekejaman pemerintah Cina terhadap etnis Muslim Uighur. Surat pernyataan tersebut ditujukan kepada Ketua Dewan HAM PBB dan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko berdalih, Pemerintah Indonesia tidak ikut campur urusan dalam negeri Cina terkait masalah Muslim Uighur di Xinjiang. Menurut Moeldoko, masing-masing negara punya cara dalam mengatur urusan dalam negeri.

http://itoday.co.id/politik/read/19162/RI-tak-Ikut-22-Negara-yang-Bela-Uighur-Peneliti-INSISTS-Ormas-Islam-Besar-Diam-Rezim-Ngapain-Saja?fbclid=IwAR1b6lPz_5Vtau0wO3O0qAyT58IxA30i2Y3Wjdtn3UP6Jqb0h4X1j-hClao

http://www.konfrontasi.com/content/tokoh/delegasi-uighur-dikabarkan-ditolak-jokowi-salim-said-indonesia-merdeka-apa-dijajah

Komitmen pemerintah Indonesia terhadap nasib Muslim Uighur di Xinjiang  diragukan oleh pengamat pertahanan dan keamanan, Salim Said. Pasalnya pada tahun 2016 ketika isu Uighur baru muncul Jokowi pernah menolak delegasi Uighur yang berkunjung ke istana. Delegasi tersebut dipimpin oleh ketua Muhammadiyah, Din Syamsudin.

Ini sumbernya Din Syamsudin, presiden tidak ingin menyakiti hati pemerintah Cina,” jelas Salim Said.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) ini sangat prihatin atas sikap Jokowi yang dianggapnya tak ubahnya seperti saat masih mengalami masa penjajahan.

Begitulah cerminan sikap sekuler yang makin hari makin diterapkan negri tercinta ini. Bagi mereka hal tersebut pasti dianggap tak jauh dari sikap radikal yang sedang dijadikan momok dan target utama yang dimusuhi rezim ini. Isu separatis memang yang paling mudah dijadikan alasan. Apalagi jika memikirkan hutang negara yang menggunung kepada Cina, yang sudah pasti membuat negara penghutang tersandera.

Namun yang menyedihkan adalah sikap seorang ustad kondang yang dengan santai menyatakan bahwa Uighur baik-baik aja. Itupun hanya dengan modal rekaman youtube kenalannya bukan hasil rekaman mata kepala sendiri.

https://www.eramuslim.com/berita/nasional/ini-dia-data-ngawur-yusuf-mansur-soal-uighur-yang-ditelanjangi-founder-ami-foundation.htm

Uighur bagaimanapun adalah masalah bersama, bukan umat Islam semata tapi juga semua yang peduli kemanusiaan. Persis seperti yang dihadapi rakyat Palestina yang berpuluh-puluh tahun hidup tertindas di tanah airnya sendiri. Mengenai Barat, Amerika Serikat khususnya, yang bersikap bertolak belakang  terhadap Israel yang menjajah Palestina, adalah hal lain. Bisa jadi perseteruannya dengan Cina yang membuatnya getol memberitakan kejahatan negara Tirai Bambu tersebut. Yang pasti bukankah kemerdekaan adalah hak setiap bangsa??

Menengok sedikit sejarah Uighur. Tanah Uighuristan ( sekarang Xinjiang yang dalam bahasa Cina  memiliki arti “wilayah terdepan baru”) merupakan tanah subur dengan luas 1.6 juta kilometer persegi atau hampir seperenam wilayah Tiongkok, menjadikannya provinsi terbesar di Cina. Jaraknya dengan Beijing ibu kota Cina adalah 1.500 mil dengan Kazakstan sebagai batas di utara, Mongolia Uighur di timur laut,  Kirghiztan dan Tajikistan di barat laut dan Afghanistan serta Pakistan di barat daya.

Propinsi ini masuk ke wilayah kekuasaan Repblik Rakyat Cina pada tahun 1949 yaitu sejak berdirinya republik tersebut. Bangsa Uighur sebagai mayoritas penduduk telah tinggal di tanah tersebut selama 2 ribu tahun. Sepanjang itu, mereka telah mengembangkan kebudayaan uniknya, sistem masyarakat, dan banyak menyumbang dalam peradaban dunia.

Setelah masuknya Islam ke wilayah tersebut pada tahun 934M, dominasi kebudayaan Uighur asli tetap bertahan di Asia Tengah. Karya sastra dan ilmu Uighur bahkan semakin berkembang. Beberapa karya sastra milik Kutatku bilik karya Yusuf Has Najib (1069-1070), Divani Lugarit Turk oleh Mahmud Kashari, dan Atabetul Hakayik oleh Ahmet Yukneki dikenal pada masa itu.

Bangsa Uighur berbeda dengan ras Cina-Han, mereka lebih mirip Eropa Kaukasus, sedang Han mirip Asia pada umumnya. Bangsa ini pada tahun 1933 pernah berusaha mendirikan negara Islam yaitu Turkistan Timur dengan Kashgar sebagai ibu kotanya.

Ironis pada tahun 1949 di awal masuknya kedalam RRC, 96 persen penduduk Xinjiang yang tadinya adalah klan Turki, pada sensus Cina terakhir menyebutkan kini tinggal 7,2 juta dari 15 juta warga Xinjiang. Dengan kata lain tak sampai 50 % dari jumlah penduduk.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/16/m0zcbk-siapakah-bangsa-uighur

Kenyataan di atas lagi-lagi menunjukkan bahwa nasib bangsa Uighur tak jauh beda dengan Palestina yang terjajah di negrinya sendiri. Menjadi pertanyaan besar akankah kita mengulangi kesalahan besar dengan menjadi saksi bisu saudara-saudari kita seiman mengalami kedzaliman tanpa kita berbuat apapun???

Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)”. ( HR. Muslim)

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 31 Desember 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Ashabul Ukhdud adalah sekelompok orang yang pernah menyiksa orang-orang beriman dengan cara memasukkan orang-orang tak berdosa tersebut ke dalam parit berisi kayu bakar, kemudian membakarnya hidup-hidup. Na’udzubillah min dzalik …

Al-Quran mengabadikan peristiwa keji tersebut dalam surat Al-Buruj ayat 4 – 9 berikut.

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit ( Asbabul Ukhdud), yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”.

Peristiwa kejam dan sadis yang menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya menelan 20.000 korban tersebut cukup populer di kalangan penduduk jazirah Arab ketika itu. Karena memang terjadi hanya 47 tahun sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada tahun 523 M. Tragedi tersebut terjadi di Najran, sebuah wilayah perbatasan antara Arab Saudi dan Yaman, atas perintah rajanya yang kaya raya dan memiliki kekuasaan yang amat sangat luas, yaitu Dzu Nuwaas.

Surat Al-Buruj yang turun di Mekah sebelum hijrahnya Rasulullah ini dimaksudkan sebagai hiburan bagi kaum Muslimin agar bersabar menghadapi cobaan demi cobaan yang dihadapi ketika itu. Agar kaum Muslimin bertekad kuat mempertahankan keimanan dan keislaman mereka sebagaimana orang-orang beriman di masa lalu yang meski disiksa sedemikian kejam tetap bertahan. Bahkan memilih mati dibakar hidup-hidup daripada hidup dalam kekafiran.

Ayat-ayat tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak ayat hiburan bagi umat Muhammad, bahwasanya kepahitan dan penderitaan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang baru. Kekejaman dan penindasan terhadap kaum Mukminin sudah terjadi di masa-masa para Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw.  Allah berfirman:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Terjemah QS.Al-Baqarah(2): 214)

Ketika Al-Quran menyebut Ashhabul Ukhdud Rasulullah saw mengucapkan taawuz, bermohon agar Allah swt melindungi umat Islam dari cobaan berat yang menimpa kaum tersebut. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kisah memilukan tersebut diantaranya yaitu bahwa pertolongan bisa jadi Allah swt berikan di akhirat nanti tidak di dunia.

Karena dunia hanyalah sementara sedangkan akhirat jauh lebih kekal. Jadi meskipun tampaknya di dunia tersiksa tapi di akhirat nanti terbebas dari siksa neraka yang jauh lebih mengerikan dari apapun siksa terberat di dunia ini. Keyakinan inilah yang harus tertanam kuat di setiap diri orang yang mengaku beriman. Bahwa orang beriman dan mengerjakan amal saleh pasti masuk surga sebaliknya orang kafir apalagi yang suka menyiksa orang beriman dan tidak mau bertobat pasti masuk neraka.

72452416_10157011461137054_3663444191083495424_n“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu’min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar”. (Terjemah QS. Al-Buruj (85):10).

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar”. (Terjemah QS. Al-Buruj (85):11).

Secara panjang lebar kisah Asbabul Ukhdud tertuang dalam hadist riwayat Muslim no. 3005 sebagai berikut :

Dari Shuhaib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut berada dalam usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan ia meminta agar dikirimkan anak yang akan jadi pewaris ilmu sihirnya. Maka ada seorang anak yang diutus padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya.

Di tengah perjalanan ingin belajar, anak ini bertemu seorang rahib (pendeta) dan ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia pun begitu takjub pada nasehat-nasehat yang disampaikan si rahib. Ketika ia telah mendatangi tukang sihir untuk belajar, ia pun menemui si rahib dan duduk bersamanya. Ketika terlambatnya mendatangi tukang sihir, ia dipukul, maka ia pun mengadukannya pada rahib. Rahib pun berkata, “Jika engkau khawatir pada tukang sihir tersebut, maka katakan saja bahwa keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir pada keluargamu, maka katakanlah bahwa tukang sihir telah menahanku.”

Pada suatu saat ketika di waktu ia dalam keadaan yang demikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak (di jalan yang dilalui mereka). Anak itu lalu berkata, “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu.” Ia pun mengambil sebuah batu kemudian berkata, “Ya Allah, apabila perkara rahib itu lebih dicintai di sisi-Mu daripada tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.”

Lalu ia melempar binatang tersebut dan terbunuh. Lalu orang-orang bisa lewat.  Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib tersebut pun mengatakan, “Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar demikian, janganlah menyebut namaku.”

Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia pun dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini pun sampai di telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia pun mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata pada pemuda tersebut, “Ini semua bisa jadi milikmu asalkan engkau menyembuhkanku.” Pemuda ini pun berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau mau beriman pada Allah, aku akan berdo’a pada-Nya supaya engkau bisa disembuhkan.” Ia pun beriman pada Allah, lantas Allah menyembuhkannya.

Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja dan ia duduk seperti biasanya. Raja pun bertanya padanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia pun menjawab, “Rabbku.” Raja pun kaget, “Apa engkau punya Rabb (Tuhan) selain aku?” Sahabatnya pun berkata, “Rabbku dan Rabbmu itu sama yaitu Allah.” Raja tersebut pun menindaknya, ia terus menyiksanya sampai ditunjukkan anak yang tadi. (Ketika anak tersebut datang), raja lalu berkata padanya, “Wahai anakku, telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu.” Pemuda tersebut pun menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.”

Mendengar hal itu, raja lalu menindaknya, ia terus menyiksanya, sampai ditunjukkan pada pendeta yang menjadi gurunya. (Ketika pendeta tersebut didatangkan), raja pun memerintahkan padanya, “Kembalilah pada ajaranmu!” Pendeta itu pun enggan. Lantas didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut. Setelah itu, sahabat dekat raja didatangkan pula, ia pun diperintahkan hal yang sama dengan pendeta, “Kembalilah pada ajaranmu!” Ia pun enggan. Lantas (terjadi hal yang sama), didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut.

Kemudian giliran pemuda tersebut yang didatangkan. Ia diperintahkan hal yang sama, “Kembalikan pada ajaranmu!” Ia pun enggan. Kemudian anak itu diserahkan kepada pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah kalian bersama pemuda ini ke gunung ini dan itu. Lalu dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya, lalu ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.” Lantas pasukan raja tersebut pergi bersama pemuda itu lalu mendaki gunung. Lalu pemuda ini berdo’a, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Gunung pun lantas berguncang dan semua pasukan raja akhirnya jatuh.

Lantas pemuda itu kembali berjalan menuju raja. Ketika sampai, raja berkata pada pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda tersebut menjawab, “Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.” Lalu pemuda ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja memerintahkan pada pasukannya, “Pergilah kalian bersama pemuda ini dalam sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkanlah dia.”

Mereka pun lantas pergi bersama pemuda ini. Lalu pemuda ini pun berdo’a, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Tiba-tiba sampan tersebut terbalik, lalu pasukan raja tenggelam. Pemuda tersebut kembali berjalan mendatangi raja. Ketika menemui raja, ia pun berkata pada pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda tersebut menjawab, “Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.”

Ia pun berkata pada raja, “Engkau tidak bisa membunuhku sampai engkau memenuhi syaratku.” Raja pun bertanya, “Apa syaratnya?” Pemuda tersebut berkata, “Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku di atas sebuah pelepah. Kemudian ambillah anak panah dari tempat panahku, lalu ucapkanlah, “Bismillah robbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.” Lalu panahlah aku karena jika melakukan seperti itu, engkau pasti akan membunuhku.”

Lantas rakyat pun dikumpulkan di suatu bukit. Pemuda tersebut pun disalib di pelepah, lalu raja tersebut mengambil anak panah dari tempat panahnya kemudian diletakkan di busur. Setalah itu, ia mengucapkan, “Bismillah robbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.” Lalu dilepaslah dan panah tersebut mengenai pelipisnya. Lalu pemuda tersebut memegang pelipisnya tempat anak panah tersebut menancap, lalu ia pun mati. Rakyat yang berkumpul tersebut lalu berkata, “Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut. Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut.”

Raja datang, lantas ada yang berkata, “Apa yang selama ini engkau khawatirkan? Sepertinya yang engkau khawatirkan selama ini benar-benar telah terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada Tuhan pemuda tersebut.”

Lalu raja tadi memerintahkan untuk membuat parit di jalanan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja tersebut pun berkata, “Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.” Atau dikatakan, “Masuklah ke dalamnya.” Mereka pun melakukannya, sampai ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini pun begitu tidak berani maju ketika akan masuk di dalamnya. Anaknya pun lantas berkata, “Wahai ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.”

Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan senantiasa terjadi pertikaian antara Al-haq dengan yang batil sepanjang masa dan di manapun jua. Adalah satu ketetapan pula dari Allah swt bahwa setiap orang yang mengatakan dirinya beriman tentu tidak lepas dari berbagai ujian.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.”

Yaa Allah yaa Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.

Yaa Allah kabulkan doa kami, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Berikut beberapa hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa diatas:

https://rumaysho.com/3427-kisah-orang-beriman-yang-dibakar-dalam-parit.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Oktober 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Hikmah Birul Walidain

20190918_12405120190919_124824Hari-hari ini adalah hari yang cukup berat bagi kami sebagai orang–tua yang baru melepas anak gadis satu-satunya bontot pula untuk melanjutkan stydynya jauh di seberang benua sana. Meski sebenarnya hati sudah cukup tenang karena kami sudah mengantar dan melihat  sendiri keadaan kota tempat tinggalnya, kampusnya dll.

2019-09-19 05.11.31_1570459365283Apartemen yang dekat dengan kampus, teman-teman tetangga kamarnya, teman-teman setanah-air, kampus yang ternyata memiliki masjid yang meski tidak besar namun aktif digunakan untuk shalat sehari-hari bahkan shalat Jumat. Atas izin-Nya Ia pertemukan pula ia dengan Muslimah asal Thoif Mekah yang juga sedang melanjutkan studynya. Berkatnya putri kamipun saat ini sudah bergabung dengan persaudaraan Muslim kampusnya. Restoran berlabel Halal dan toko-toko daging Halal juga tidak sulit ditemukan. Alhamdulillah …20190928_210420

Lalu mengapa hati ini tetap merasa ada yang mengganjal ??

Mungkin saya yang terlalu posesif. Selama ini hubungan saya dengan si bontot memang sangat erat. Kami biasa saling menceritakan hari-hari yang kami lalui, nyaris tanpa ada yang disembunyikan.

Hari ini berkat kecanggihan teknologi mutakhir, komunikasi bukan lagi menjadi masalah. Namun mungkin karena masalah perbedaan waktu atau kesibukan baru yang menuntut banyak waktu, putri kami tersebut tidak selalu cepat merespons WA saya meski saya tahu ia sedang “online”.

Tiba-tiba saya terhenyak, teringat kumandang adzan yang tidak selalu saya respons dengan cepat. Astaghfirullah … Bukankah adzan adalah panggilan Allah swt untuk segera menemui-Nya?? Kalau saya sebagai ibu saja sudah merasa “memiliki” dan menuntut hak saya sebagai “pemilik” untuk segera berjumpa dengan anak, apalagi Allah Azza wa Jala yang merupakan sebenar-benar pemilik !!! Ya Allah ampunilah hamba-Mu yang hina ini …

Harus diakui tidak sedikit orang-tua yang suka menuntut anak-anaknya agar patuh dan menuruti semua perintah dan keinginan orang-tua. Apalagi mereka yang merasa telah mengorbankan segala upaya, mendidik, memeras keringat, membanting tulang, mengorbankan waktu dan seluruh harta yang dimiliki demi anak-anak yang mereka sayangi dan cintai, yang dikandung ibunya selama kurang lebih 9 bulan lamanya, dan menyusuinya selama 2 tahun. Salahkah itu??

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. ( Terjemah QS. Lukman(31):14).

Masya Allah … Ternyata Al-Quran telah mengatur hal tersebut. Itulah yang dinamakan Birul Walidain yaitu perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang-tua. Tapi dengan catatan; perbuatan baik, bakti, sayang, cinta, hormat, mendahulukan orang-tua dll tersebut bukan karena tuntutan orang-tua, melainkan karena perintah Allah swt. Yaitu sebagai bagian dari adab, rasa syukur atas segala kebaikan, cinta, kasih- sayang dan pengorbanan orang-tua kepada anak yang memang sudah kodrat manusia.

Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan).

Yang dengan demikian akan melahirkan sikap dan sifat tahu diri, syukur dan trima-kasih tidak saja kepada kedua orang-tua tapi juga kepada orang yang lebih tua. Dan puncaknya kepada Sang Khalik Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Itulah setinggi-tinggi penghambaan. Allah Azza wa Jala adalah satu-satunya tempat bergantung, meminta tolong. Maka dapat dipastikan anak yang selalu mendahulukan kedua orang-tuanya ia lebih dekat dan bisa mengenal Tuhannya dibanding anak yang menyepelekan orang-tuanya.

Hal penting lain, kita sebagai orang-tua, yang selama ini merasa memiliki cinta dan kasih sayang yang begitu besar terhadap anak-anak kita, ternyata  tidak ada apa-apanya dibanding cinta dan kasih sayang Sang Khalik kepada hamba-Nya … Allahu Akbar ..

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu ( Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):186).

Yaa Allah lindungi, jaga, sayangi dan kasihanilah putri kami tercinta. Mudahkan segala urusannya, sehat dan kuatkanlah hati, iman serta islamnya. Berilah ia kemampuan untuk menimba ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya, aamiin yaa robbal ‘aalamin ..

Hebatnya lagi Birul Walidain tetap berlaku meski orang-tua tidak satu aqidah dengan anak. Tapi sebagai seorang Muslim si anak tidak boleh menuruti perintah orang-tua untuk menyembah kepada selain Allah swt.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Terjemah QS. Al-Isra’(17):23).

Ayat diatas dengan jelas  menerangkan bahkan mengatakan “ah” saja Allah swt melarangnya. Dengan demikian mengacuhkan orang-tua ketika mereka sedang berbicara kepada anak, atau kalau di zaman now ini tidak mendahulukan apalagi mengabaikan WA ketika anak tidak sedang sibuk tentu bukan perbuatan terpuji. Karena hal tersebut akan dapat menyakiti hati orang-tua. Allah swt melarang hal tersebut.

Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhir kata, alangkah beruntungnya orang yang masih memiliki orang-tua apalagi yang dalam perawatan mereka. Karena itu adalah ladang amal yang sungguh rugi bila tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Oktober 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Sebuah video ceramah UAS ( Ustad Abdul Somad) di sebuah masjid di Pekanbaru 3 tahun silam tiba-tiba menjadi viral. Ini disebabkan sejumlah mahasiswa yang mengaku wakil dari sebuah organisasi mahasiswa Kristen melaporkan UAS kepada pihak kepolisian atas tuduhan penistaan agama, dengan video tersebut sebagai alat bukti. Ada apakah gerangan, mengapa setelah 3 tahun berlalu baru dilaporkan??

Rupanya video tersebut berisi jawaban UAS tentang salib yang ditanyakan seorang jamaah. Yaitu bahwa salib adalah jin kafir. Persis seperti ayat 73 surat Al-Maidah berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Tidak ada yang salah apa yang dikatakan ustad asal Riau yang meraih gelar Lc di universitas Al-Azhar Cairo dan master di bidang hadist di sebuah universitas Rabbat Maroko tersebut. Laporan penistaan agama yang dituduhkan kepadanya sama sekali tak berdasar. Apalagi bila kemudian ada yang menyamakan hal tersebut dengan apa yang dilakukan Ahok.

Seperti yang kita ketahui, mantan wakil gubernur DKI era Jokowi yang kemudian menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi RI1 tersebut telah divonis bersalah dan masuk bui karena penistaan agama. Ketika itu ia mengatakan bahwa umat Islam telah dibohongi ayat 51 surat Al-Maidah berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

UAS, walau bagaimanapun adalah seorang uztad/ulama yang tugasnya adalah berdakwah, mengajak dan mengajarkan keyakinan agamanya yaitu Islam. Termasuk juga menjawab pertanyaan jamaah yang mungkin masih ragu dengan agamanya, atau ingin membandingkannya dengan ajaran agama lain.

Selain itu UAS berceramah di dalam masjid, rumah ibadah umat Islam, bukan di tempat umum, bukan di depan umat agama lain. Anehnya lagi peristiwa tersebut terjadi 3 tahun yang lalu. Mengapa baru sekarang dipermasalahkan??

Sememtara Ahok adalah seorang pejabat umum, pemimpin daerah khusus ibu kota yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia berbicara di depan anak buahnya yang agama dan keyakinannya beragam, di tempat umum pula, bukan di rumah ibadahnya.

Namun itulah skenario Sang Pencipta. Bila paska hebohnya kasus Ahok ayat 51 surat Al-Maidah menjadi populer, maka kini giliran ayat 73 surat Al-Maidah yang tiba-tiba dengan mudahnya di posting orang. Padahal ayat ini jauh lebih sensitif dari ayat 51 Al-Maidah.

Ayat ini dengan tegas menyebut kafir orang yang mengatakan Allah adalah satu dari Tuhan yang tiga. Padahal sebelumnya tidak banyak orang yang berani terang-terangan menyatakan ayat tersebut. Tuduhan intoleransi yang selama ini sering dialamatkan kepada kaum Muslimin jelas sesuatu yang mengada-ada.

Sejarah mencatat betapa non Muslim yang menempati negara mayoritas Muslim hampir selalu bebas menjalankan ajaran mereka. Sebaliknya Muslim yang bertempat tinggal di negara minoritas Muslim nyaris selalu sulit menjalankan ajaran agamanya.

Perancis contohnya, Hari Raya Iedul Fitri yang merupakan hari terbesar umat Islam tidak tercatat di kalender mereka. Apalagi hari-hari besar lainnya. Sementara di Indonesia hari-hari besar semua agama tercatat dengan baik di kalender, bahkan sebagai penghormatan hari-hari tersebut tercatat sebagai tanggal merah, alias diliburkan.

Tak heran paska pelaporan UAS jumlah orang yang bersyahadat malah meningkat. Ini mengingatkan prediksi Rasululah saw bahwa di akhir zaman nanti akan banyak pengikut nabi Isa as yang menyadari kesalahan dan kekhilafan mereka bahwa nabi Isa as atau Yesus adalah anak Tuhan.

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Terjemah QS.Az-Zukhruf (43):59).

Sebaliknya umat Islam yang tampaknya banyak jumlahnya itu ternyata hanya bagaikan buih yang tidak berguna bagi kemajuan Islam. Mereka berprilaku bagai musuh dalam selimut yang suka mengolok-ngolok, menghina dan memojokkan ulama bahkan ajarannya sendiri.

Na’udzubillah min dzalik … Semoga kita dan keluarga yang kita cintai bukan termasuk golongan buih seperti dimaksud hadist berikut :

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Disamping itu mungkin itu adalah peringatan Allah swt agar umat berdakwah secara total dan terbuka, tidak memilah dan memilih ayat sesuai selera dan keinginan sendiri. Jangan dengan dalih toleransi, HAM dll kita menjadi kecil dan lemah. Padahal yang demikian justru kita makin diinjak dan pertolongan Allah pun menjauh.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (Terjemah QS.Al-Hijir [15]: 94).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Pemilihan Presiden tinggal beberapa hari lagi. Bahkan di luar negri pesta rakyat tersebut sudah dimulai sejak 8 April hingga 14 April 2019 nanti. Namun tak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu di beberapa tempat di luar negri kali ini berjalan dengan berbagai keanehan.

Di Malaysia ditemukan sejumlah kantong plastik hitam berisi surat suara sudah tercoblos, sebagian sudah tercecer. Di Belanda banyak pemilih yang telah mencoblos malah menerima kembali surat suara yang harusnya langsung dikirim ke  panitia pemilihan luar negeri (PPLN). Sementara di Sydney ratusan wni membuat petisi menuntut agar pemilu di kota tsb diulang karena banyak yang belum sempat mencoblos sudah ditutup.

Kabarnya karena jumlah wni yang datang jauh lebih banyak dari perkiraan. Itu sebabnya panitia kehabisan lembar surat suara. Pemerintah secara resmi memang membolehkan mencoblos dengan passport. Namun adakah jaminan bahwa pemegang passport setelah pulang ke tanah air nanti tidak akan mencoblos lagi dengan memanfaatkan ktp??

http://riaupos.co/196600-berita-nyoblos-pemilih-boleh-pakai-paspor.html

https://news.detik.com/berita/4506134/panwaslu-laporkan-surat-suara-mayoritas-tercoblos-01-di-selangor-malaysia

https://www.liputan6.com/pileg/read/3939644/wni-di-belanda-bingung-surat-suara-sudah-dicoblos-kembali-ke-pemilih

https://www.alinea.id/pemilu/ricuh-ratusan-wni-di-sydney-tuntut-pemilu-ulang-b1Xey9jdG

Anehnya isu yang berkembang atau dikembangkan bahwa itu semua ulah kecurangan pihak paslon 02, yaitu Prabowo-Sandi. Alasannya karena Prabowo sangat berambisi menjadi presiden. Padahal jika kita mau sedikit saja berpikir; siapa penyelenggara pemilu, siapa yang mempunyai kuasa untuk mencampuri pemilu, siapa yang mencetak, menyimpan dan mendistribusi surat suara?? Bagaimana mungkin pihak Prabowo bisa merekayasa semua itu??

https://news.detik.com/berita/4506220/surat-suara-tercoblos-01-di-selangor-tkn-itu-ditemukan-02-bisa-fitnah

Harus dicatat Pemilu 2019 dari awal memang penuh intrik, hoax dan segala yang berbau negative. Diawali dengan kotak suara yang terbuat dari kardus, digembok. (?) Tak dapat disangkal preseden buruk ini terjadi sejak pilkada DKI yang berbuntut dengan kekalahan Ahok dan kemenangan Anies Bawesdan. Dan itu semua tak terlepas dari gerakan 212 Aksi Bela Islam yang pada akhirnya berhasil memenjarakan Ahok atas tuduhan penistaan agama. Sebaliknya Habib Riziek Syihab yang merupakan motor 212 berhasil dipaksa keluar dari tanah ar tercinta dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Maka sejak itu perseteruan antara 2 kubupun makin menjadi-jadi hingga detik ini.

Apapun yang dilakukan Anies sebagai gubernur DKI tidak pernah benar di mata pendukung Ahok. Sementara di kubu 212, karena rezim dibawah Jokowi berkali-kali terbukti tidak berpihak pada umat Islam bahkan cenderung memusuhi, maka bertekad mantan walikota Solo tersebut tidak pantas untuk dipilih lagi.

Merekapun memutuskan mendukung Prabowo sebagai capres, bergandengan dengan Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha muda sukses, kaya raya, yang dikenal rajin menjalankan syariah Islam. Dukungan ijma ulama terhadap mantan danjen Kopassus di era Suharto ini bukannya tanpa pertimbangan. Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma’arif, menyebut bahwa ditariknya para alim ulama dan mubaligh ke tim pemenangan Prabowo-Sandi merupakan implementasi dari pakta integritas yang diteken Prabowo setelah Ijtima Ulama 212. Dalam kontrak tersebut, satu poin penting yang membuat dukungan aktivis gerakan 212 tetap mendukung Prabowo-Sandi adalah “menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama…”

Disamping itu Prabowo meskipun tidak dikenal sebagai ahli ibadah namun sejak muda dikenal gigih membela Islam. Mantan menantu Suharto ini juga dikenal sebagai seorang patriot yang sangat cinta bangsa.  Ia sangat tidak rela banyak rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan, ditambah lagi asset besar bangsa ini digadaikan asing, aseng, asong.

Ironisnya, isu Prabowo adalah penculik dan orang yang harus bertanggung-jawab terhadap tragedy Mei 1998 selalu dihembuskan setiap kali Prabowo nyaleg. Padahal ia sudah 3x nyapres. Jika memang Prabowo bersalah mengapa kasus hanya dibuka setiap menjelang pemilu. Itupun yang selalu aktif menyerang adalah para jendral atasan Prabowo ketika itu. Bagi awam yang masih berhati bersih, ini justru menampakkan adanya ketakutan bila Prabowo sampai menang.

Sementara itu dengan semakin dekatnya hari H, makin banyak ulama yang dikenal bersih, yang selama ini tidak pernah berpihak dan bukan merupakan anggota partai, menyatakan secara terbuka dukungan mereka terhadap Prabowo Subiyanto. UAS (ustad Abdul Somad) contohnya, yang pernah diminta umat mendampingi Prabowo sebagai cawapres namun secara halus menolak karena ingin tetap berdakwah kepada umat tanpa benturan dengan kepentingan politik.

Ustad kondang dari Riau lulusan S1 Al-Azhar Kairo dan S2 Maroko ini menjumpai Prabowo tidak hanya sekedar menyatakan dukungan tapi juga menasehatinya dengan siraman rohani yang sangat menyejukkan. Pesan UAS yang paling menyentuh adalah “Kalau Bapak (Prabowo) memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. “Pertama, jangan bapak undang saya ke Istana. (Biarkan saya berdakwah) masuk hutan ke hutan. Yang kedua, jangan bapak beri saya jabatan, apa pun,”

Yang juga menarik, dalam pertemuan eksklusif tersebut Prabowo terlihat sangat serius mendengarkan dan memperhatikan dai muda itu berbicara. Sesekali ia bahkan terlihat mengusap air matanya. Pabowo yang dikabarkan garang dan kasar ternyata hatinya lembut. Prabowo telah membuktikan kontrak politiknya terhadap umat. Masya Allah …

Dalam kesempatan itu, UAS berpesan kepada Prabowo agar banyak-banyak berdzikir dan shalat tahajud.

Afdhal dzikir (dzikir terbaik) adalah dzikir “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah)”.

Laa Ilaaha Ilallah.. Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..

Mulut berdzikir, hati di sebelah kiri,” ujar UAS seraya telapak tangan kanannya menekan lama ke dada kiri Prabowo sambil berdzikir.

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/04/12/163142/uas-prabowo-presiden-jangan-undang-saya-ke-istana-jangan-beri-jabatan-apapun.html

Tak sampai 24 jam, UAH (Ustad Adi Hidayat) ustad yang tak kalah kondang dan lurusnya dari UAS juga datang memberikan dukungan. Sama dengan UAS, UAH juga memberikan wejangan yang cukup panjang sekaligus mendoakannya. Ini masih disusul dengan ulama-ulama yang dekat dengan umat seperti aa Gym, ustad Arifin Ilham,  ustazah Irene Handoko, syeikh Ali Jaber, UBN (Ustad Bahtiar Nasir) yang sudah sebelumnya secara terbuka memberikan dukungan, serta ustad Khalid Basalamah. Bahkan ustad Firanda, ustad Salafi yang selama ini mengharamkan jamaahnya mengikuti pemilu kabarnya mendorong jamaahnya untuk mendukung paslon no 02 ini.

Ironisnya, selang beberapa hari kemudian muncullah fitnah yang menyerang pribadi UAS. Sungguh mengherankan, apa yang terjadi dengan republic yang sudah bukan muda lagi ini. Mana yang namanya demokrasi? Mengapa setiap orang yang tidak mendukung paslon 01 harus dianiaya??

Dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.

Pendukung 01 sebetulnya tidak semua pro Ahok. Ada sebagian dari mereka yang tergiur dengan proyek infrastruktur besar-besaran yang saat ini sedang berjalan. Meski sebenarnya proyek-proyek tersebut bukan hanya hasil kerja rezim ini. Tapi juga hasil kerja yang berkesinambungan dari para pemimpin terdahulu, dengan mengandalkan hutang luar negri yang jumlah sangat fantastis, dan bakal membebani hidup anak cucu kita kelak.

Mereka juga seakan tidak peduli apa dan bagaimana program partai-partai pendukung 01. Disanalah berkumpul orang-orang yang memusuhi syariat Islam, yang suka mengolok-olok ajaran yang merupakan ajaran mayoritas penduduk negri ini. Dari mulai jilbab, pembagian waris, poligami hingga isu khilafah. Lupakah mereka bahwa firaun, sang maha raja Mesirpun berhasil membangun kota-kotanya dengan penuh kemegahan. Namun Allah swt meng-azabnya karena ia ingkar kepada Tuhannya.

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan pembangunan kota yang sungguh indah.  Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Peninggalan peradaban dan budaya yang tinggi di kota-kota Islam seperti Damaskus, Istanbul, Palermo, Andalusia dll masih bisa disaksikan hingga detik ini.

Saat ini Islam memang sedang mengalami keterpurukan. Kita tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari dunia Islam, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal ahlak seperti kedisiplin, kebersihan dll. Islamophobia dan label teroris yang disandangkan kepada ajaran yang dibawa Rasulullah saw 15 abad silam, sungguh menyakitkan hati. Persaudaraan Islam yang rentan hingga mudah diadu domba, ulama yang dipersekusi, satu diangkat yang lainnya difitnah. Na’udzubillah min dzalik ….

Namun sejak dimulainya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 di Monas, terlihat bahwa umat Islam mulai bangkit, bangun dari tidur panjangnya. Mereka siap bersatu membela Islam, sadar agar pentingnya menjaga shalat berjamaah dimanapun berada, seperti ketika kampanye akbar terakhir di GBK beberapa waktu lalu, serta menjaga kedisiplinan dan kebersihan.

Maka bila Allah swt ridho memberi Prabowo amanat memegang pucuk pemerintahan, bisa jadi Islam akan kembali mengalami kejayaan, sesuai yang diperkirakan Rasulullah 15 abad lalu. Dengan memanfaatkan ilmu syariat, hutang negara akan bisa diselesaikan melalui dana ZIS ( Zakat, Infak dan Sodakoh) dan Wakaf yang mempunyi potensi sangat tinggi. Atau bahkan dana haji yang merupakan tabungan umat bisa digunakan untuk keperluan negara tanpa satupun kaum Muslimin keberatan, selama pemerintah senantiasa siap melindungi kaum Muslimin. Riba yang merupakan musuh ekonomi terbesar insyaAllah bisa dihilangkan. Itulah salah satu keuntungan mau mendengarkan ulama yang merupakan pewaris para nabi.

“ … … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (Terjemah QS. Fathir(35):28).

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 April 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Umat Islam pada tanggal 2 Desember 2018 kembali menggelar aksi damai di kawasan Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat. Aksi ini masih merupakan rangkaian dari tragedy tahun 2016 dimana Ahok mengutak-atik ayat suci Al-Quranul Karim yaitu Al-Maidah 51 tentang pemilhan pemimpin. Pasalnya karena meskipun ia telah dinyatakan terbukti bersalah melecehkan ajaran umat agama lain dan telah masuk bui, nyatanya hingga 2 tahun berlalu, pelecehan Islam, seperti persekusi ulama, kecurigaan berlebihan terhadap kegiatan masjid, masalah adzan, rohis dll masih saja berlangsung. Tuduhan bahwa Islam adalah teroris, radikal dll terus saja digulirkan pihak-pihak tertentu yang kelihatannya menginginkan Indonesia sebagai rumah kaum Muslimin tampak berwajah buruk.

http://aceh.tribunnews.com/2018/11/28/jusuf-kalla-tanggapi-soal-survei-41-masjid-terpapar-radikalisme-ini-studi-yang-memprihatinkan

Terakhir, yaitu pada Senin 22 Oktober, terjadinya tragedy pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid oleh oknum anggota Banser. Ironisnya, peristiwa keji di lapangan Alun-Alun kabupaten Garut ini terjadi pada perayaan Hari Santri Nasional. Yang lebih menyedihkan lagi polisi segera mengklaim bahwa yang dibakar hanyalah bendera HTI yang sudah dibubarkan pemeritah, bukan bendera Tauhid.   Dan dengan segera polisi justru mengejar orang yang mem-viralkan video pembakaran tersebut.

Tentu saja alasan tersebut tidak dapat ditrima. Bendera tauhid yaitu bendera dengan tulisan “ Laa Ilaha ila Allah Muhammad Rasulullah” yang berarti “ Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”, baik yang berwarna dasar hitam maupun putih adalah bendera milik umat Islam, bendera lambang kebesaran Islam yang harus dihormati dan sangat tidak sepatutnya dibakar, dengan alasan apapun. Tak salah bila presiden Turki, Erdoganpun turut menyatakan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa tersebut. Itu sebabnya Aksi Bela Islam (ABI) kali ini dinamakan juga Aksi Bela Tauhid.

Yang menyedihkan adalah reaksi pemerintah yang mencurigai aksi tersebut dengan berbagai tuduhan. Mulai tuduhan makar, pemecah NKRI, deklarasi HTI hingga kampanye politik tersembunyi mendukung paslon no 2 Prabowo dan Sandiaga Uno. Untuk itu pengamanan yang berlebihanpun diselenggarakan. Kebalikan dari demo OPM ( Organisasi Papua Merdeka) persis di depan istana yang nyata-nyata menginginkan kemerdekaan dan nekad mengibarkan bendera OPM, tapi didiamkan saja.

http://wartakota.tribunnews.com/2018/12/05/ustadz-haikal-hassan-beda-perlakuan-pemerintah-ke-opm-dan-reuni-akbar-212?page=2

Namun tekad umat Islam yang bulat tidak dapat dihentikan. Dari segala pelosok daerah umat Islam berhamburan keluar menuju Jakarta. Ada yang dengan mencarter pesawat, dengan bus, kendaraan pribadi bahkan yang harus berjalan kakipun rela melakoninya.

https://hidayatullah.ga/feature/kisah-perjalanan/read/2018/12/06/156003/saya-jalan-kaki-bandung-jakarta-ikut-reuni-212.html

Anehnya, ternyata tak hanya umat islam, umat agama lainpun banyak yang hadir. KH Sobri Lubis, ketua FPI, menyatakan pihaknya memang sengaja memberikan tempat khusus bagi non Muslim karena banyaknya permintaan bahwa mereka ingin mengikuti aksi damai tersebut, termasuk sejumlah tokoh lintas agama. Di akhir acara, bahkan ada yang akhirnya bersyahadat. Tak tanggung-tanggung, mereka adalah pasangan suami istri yang jauh-jauh datang dari Australia. Masya Allah .. Pembacaan syahadat itu dilangsungkan di Mushola Nurul Huda Kelurahan Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

https://pembelaislam.com/29414

Saya sendiri dan suami, hadir di acara damai akbar ini bukanlah kali pertama. Sejak ABI 411 tahun 2016 hingga aksi yang baru lalu Alhamdulillah kami selalu menghadirinya. Dan itulah satu-satunya aksi yang pernah kami lakukan dalam umur yang sudah setengah abad lebih ini.

Pada aksi yang terakhir kami baru berangkat dari rumah setelah suami pulang dari Subuh di masjid sekitar rumah. Awalnya pukul 3 pagi suami sudah berangkat menuju masjid perkantoran Jendral Sudirman (MJS) dimana ia duduk sebagai ketua harian. Tapi begitu ia membaca WA tentang kekecewaan saya yang tidak dapat hadir karena memang sedang kurang fit, maklum baru sebulan menjalani operasi, suami segera pulang untuk menjemput saya. Masya Allah … Terima-kasih ya Allah telah Kau beri hamba pasangan yang benar-benar bisa memahami hamba …

Syukur Alhamdulillah perjalanan lancar, kendaraan bisa parkir di gedung bank Mandiri yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tkp. Kami menyempatkan ke toilet yang ada di gedung tersebut, khawatir nanti di lokasi sulit. Ternyata di depan toilet telah mengantri sejumlah ibu-ibu yang datang berombongan dengan bus-bus dari kabupaten Bandung.

abi 6Sabi 7etelah itu kami segera berjalan kaki menuju lokasi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 6 kurang 15. Gelombang manusia berpakaian putih dan sebagian hitam, dengan topi dan bendera Tauhid tampak menyemut. Kami berbaur bersama peserta yang berjalan perlahan sambil bershalawat, sekali-sekali diselingi takbir.

“ Masya Allah serasa tawaf ”, bisik saya kepada suami, terharu.

abi 4monas 212Mendekati air mancur Bank Indonesia peserta makin padat, hingga nyaris terhenti. Suara orasi dari panggung terdengar dari pengeras suara yang dipasang di sekitar lokasi. Berhubung kami berdua ingin lebih mendekati panggung maka kamipun berputar mencari jalan agar dapat tembus ke lokasi yang kami inginkan.

Ternyata kami benar-benar beruntung. Karena adik saya dan beberapa teman yang datang hampir sama waktunya dengan kami, menceritakan terpaksa berhenti di sekitar air mancur saking padatnya orang.  Mungkin karena kami hanya berdua maka lebih leluasa menyelinap ke tengah gelombang dan arus manusia yang ada saat itu. Alhamdulillah.

Meskipun tak jarang ketika ada rombongan lumayan besar datang dari luar Jawa kamipun serempak memberi jalan agar tamu-tamu dari jauh tersebut dapat mendekati podium. Dan dengan diringi takbir merekapun menyeruak masuk dengan tertib. Masya Allah … Aroma semangat mereka yang jauh-jauh datang dari luar Jawa demi membela Tauhid benar-benar terasa. Sungguh ikatan persaudaraan sesama Muslim itu sangat kental terasa.

Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

abi 8Kami juga menjadi saksi bagaimana semangatnya para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh pemandu acara dengan penuh khidmad. Sekaligus menjadi bukti betapa ngawurnya tuduhan bahwa peserta 212 adalah anti NKRI.

Sayangnya orasi yang disampaikan sejumlah tokoh masyarakat mulai gubernur DKI Anies Bawes hingga para uztad kondang seperti uztad Bahtiar Nasir, uztad Haikal Hasan dll tersebut justru kurang jelas terdengar. Padahal posisi kami sudah lumayan mendekati podium utama.

Sekitar pukul 9 kurang, setelah sempat menyaksikan pengibaran bendera raksasa bertuliskan Tauhid serta mendengarkan alunan merdu ayat-ayat suci yang dibawakan dua hafidz cilik Ahmad dan Kama, kamipun memutuskan untuk pulang. Ternyata untuk keluarpun perlu perjuangan panjang. Bahkan lebih sulit dari ketika datang pagi tadi. Dari segala arah peserta terus berdatangan. Besar, kecil, tua, muda, lelaki, perempuan bahkan ada yang dengan tongkat dan kursi roda. Allahu Akbar …

abi 3abi 1Lagi-lagi di sekitar air mancur BI, kami bersama barisan orang yang hendak keluar, selama beberapa menit, terpaksa terhenti sama sekali. Dalam hati saya berkata, dalam keadaan biasa pasti orang akan menerobos menginjak taman yang terbentang di sisi kami. Tapi nyatanya tak satupun yang mau melakukannya. Tampaknya sudah menjadi komitmen bagi seluruh peserta 212 sejak ABI I, bahwa rumput harus dijaga ! Bayangkan kalau rumput saja harus dijaga apalagi kesatuan republik tercinta ini … Masih mau menuduh kami radikal, teroris dll ??

abi 2Reuni Akbar 212 atau ABI yang manapun harus diakui adalah bukti kesantunan umat islam yang selama ini sempat hilang ntah kemana. Selain wajah-wajah ramah yang bertebaran, kedisiplinan juga menampakkan diri. Selain sedikitnya sampah, mereka yang ingin buang air juga terlihat mengantri dengan rapi. Budaya baik yang selama ini dianggap sebagai budaya Barat yang mustahil bisa diterapkan bangsa ini.

”Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At- Turmudzi).

“Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu.” (H.R. al-Hakim).

Berikut kumpulan kisah mereka yang hadir di acara Bela Tauhid 212 2018.

https://pembelaislam.com/category/reuni-212  

Ironisnya, hanya sedikit sekali media Indonesia yang mau menayangkan acara akbar yang berlangsung aman damai tersebut. Hanya TV-One satu-satunya media yang meliput acara tersebut secara utuh. Padahal tak sedikit kantor berita internasional yang melaporkannya. Ada apa ini?? Sebegitu kuatkah cengkeraman rezim ini hingga media tidak mampu menyampaikan berita yang nyata-nyata terjadi di depan mata?? Ini adalah cacat dan kegagalan kenetralan media Indonesia yang akan terus dicatat sejarah sepanjang masa. Sejarah suatu negri dimana hoax meraja-lela, dimana rakyat tak dapat membedakan mana berita yang benar dan mana yang bohong. Alangkah memalukannya …

https://www.harianterbit.com/nasional/read/2870/Reuni-212-Gempar-di-Luar-Negeri-Sepi-Berita-di-Indonesia

Pada saat yang nyaris bersamaan, di ujung dunia lain yang katanya menjunjung tinggi HAM, toleransi, disiplin dll, yaitu di Paris ibukota Perancis, terjadi demontrasi mengerikan. Demo rusuh yang dipicu karena kenaikan harga bbm ini mengakibatkan 133 orang terluka, 23 di antaranya adalah polisi. Perancis beberapa tahun belakangan ini memang sedang dilanda masalah pengangguran yang terus meningkat.

Padahal di Indonesia juga tak jauh beda. Kenaikan bbm tidak hanya sekali dua kali. Namun umat tetap berusaha menahan diri. Protes dan demo baru terjadi ketika ajaran dilecehkan. Itupun dengan cara yang baik dan santun.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Desember 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Kita semua pasti tahu kisah nabi Musa as dengan mukjizat tongkat dan laut Merahnya yang spektakuler. Kisah penyelamatan bani Israel dari kejaran pasukan penguasa Mesir Firaun yang dikenal kejam dan bengis ribuan tahun silam tersebut memang diabadikan tidak hanya didalam kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, tapi juga Taurat dan Injil.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (bani Israel), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):50).

Namun yang ingin dibahas kali ini adalah bagaimana kita menyikapi perlakuan buruk bani Israel setelah terlepas dari cengkeraman  maut sebagaimana ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):51).

Ayat di atas menceritakan tentang bani Israel yang menjadikan anak lembu sebagai sesembahan alias Tuhan mereka. Hal tersebut dilakukan ketika nabi Musa as sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Nabi Musa as hanya meninggalkan kaumnya selama 40 hari 40 malam. Namun sekembali dari “pertemuan” dengan Tuhannya tersebut, kaumnya sudah mengingkarinya. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan betapa hebatnya mukjizat yang diberikan nabi mereka hingga mereka bisa lolos dari maut yang berada di ujung tanduk.

Prilaku tersebut menunjukkan betapa umat nabi Musa tersebut sangatlah tercela, tidak tahu berterima-kasih. Lupakah mereka bahwa dibawah kekuasaan Firaun ribuan tahun silam nasib mereka benar-benar terpuruk?? Mereka diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan pernah suatu masa bayi-bayi lelaki harus dibunuh karena Firaun diberi tahu tukang sihirnya bahwa akan datang lelaki Yahudi merebut kekuasannya.

Allah swt, dalam ayat-ayat Al-Quran, banyak sekali menceritakan prilaku buruk bani Israel. Ini untuk mengingatkan kita, umat Islam, agar mengambil hikmahnya, agar tidak terperosok pada kesalahan yang  sama. Jadi bukan hanya sekedar mengolok-olok dan mengutuk bani Israel yang memang telah terkena kutukan-Nya tapi terlebih agar tidak meniru prilaku buruk mereka.

Sekarang mari kita amati bagaimana sikap kita ketika Allah swt memberi kita cobaan, apakah prilaku kita sama dengan bani Israel atau tidak??

Jumat, 28 September menjelang magrib, Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7.2 skala Richter. Tak lama tsunami setinggi lebih dari 10 meterpun datang menggulung wilayah Sulawesi tengah tersebut. Belum lagi guncangan dan amukan gelombang laut dasyat yang menghancurkan ribuan bangunan tersebut usai, bumipun ikut bereaksi.

Bumi tiba-tiba memuntahkan lumpur yang berada di isi perutnya dengan cara yang sungguh mengerikan. Sejumlah saksi yang selamat dari bencana menceritakan apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tanah seperti di blender, di putar, dikocok”, ujar seorang bapak. Sementara seorang ibu dengan penuh emosi mengatakan ”Seperti monster keluar masuk tanah menelan rumah, pohon dan apa saja yang ada di depannya”. Ada juga yang berkomentar “ Layaknya gelombang tsunami tapi bukan air laut melainkan tanah”, katanya bergidik.  Saksi lain juga menceritakan rumahnya berpindah sejauh 500 meter lengkap dengan pohon Mangga yang ada di halamannya.

Peristiwa mengerikan yang dikenal dengan nama fenomena pencairan tanah (likuifaksi) laksana pasir hisap ini menelan lebih dari 700 rumah di Perumnas Balaroa (Palu) dan ratusan rumah lainnya di perumahan di Petobo. Kawasan ini amblas sedalam 5 meter-an, menelan tidak hanya rumah tapi juga penghuninya.

Di lain pihak, sejumlah saksi menceritakan Palu beberapa tahun belakangan ini telah menjadi kota penuh maksiat seperti pelacuran, homoseksual, perjudian dll. Bahkan sekitar 4 bulan sebelum mala petaka terjadi, sebuah konferensi lgbt tingkat nasional diselenggarakan di kota tersebut. Tak tanggung-tanggung, konferensi yang dibuka mentri pariwisata tersebut juga dihadiri mentri agama Lukman Hakim yang memang terkesan melindungi kaum yang dilaknat sejak zaman nabi Luth ini.

“Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.

(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)“.

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):71-74).

Para pemuka agama tentu saja memprotes dan sudah berusaha mencegah konferensi tersebut tetapi tidak dapat berdaya atas alasan HAM. Penduduk juga menceritakan di Petobo hidup seorang raja judi kaya raya yang rumahnya ikut lenyap dalam tragedy tersebut. Hal mengenaskan tersebut mengingatkan mereka akan Karun, tokoh sombong kaya raya Mesir yang harta kekayaannya ditenggelamkan Allah swt.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.( Al-Qashash(28):81).

Lain lagi ceritanya dengan tsunami yang melanda pantai Talise Palu, membuat ambruk jembatan Kuning ikon Palu yang menghubungkan Sulawesi utara dan selatan serta menelan korban ribuan jiwa itu. Bencana datang menjelang dilaksanakannya festival Nomoni yang baru 3 tahun belakangan ini digalakkan kembali dengan judul “Maraton Internasional Palu”. Festival ini juga dimeriahkan dengan penampilan ritual Balia, yang merupakan bagian dari adat suku Kaili di Lembah Palu.

Ritual Balia adalah ritual permohonan kesembuhan bagi orang yang mempunyai sakit parah kepada arwah leluhur. Sesajen dan bau dupa mengiringi tarian yang membawa usungan orang yang sakit hingga puncak prosesi, yaitu penyembelihan kerbau. Darah kerbau yang disembelih itu menjadi simbol kesungguhan harapan atas kesembuhan.

https://www.benarnews.org/indonesian/slide-show/balia-ritual-pengobatan-masyarakat-kaili-01222016125749.html

Para ulama sudah berusaha mengingatkan agar ritual yang sarat kesyirikan tersebut tidak dihidupkan kembali. Tetapi dengan alasan untuk melestarikan adat dan budaya nusantara, pemerintah daerah menolak permohonan tersebut.

Kesyirikan tersebut tak jau berbeda dengan yang dilalukan bani Israel tak lama setelah lolos dari kejaran tentara Firaun ribuan tahun silam. Padahal penduduk Palu adalah rata-rata Muslim. Para ilmuwan mengatakan bahwa bencana yang melanda Palu dan sekitarnya adalah fenomena alam, yaitu karena Indonesia terletak di atas pertemuan beberapa lempengan yang ketika berbenturan menjadi penyebab gempa. Namun siapa yang kuasa menggerakan dan membenturkan lempengan-lempengan tersebut, dan mengapa harus Palu. Bukankah dari dulu letak Palu di atas lempeng-lempeng tersebut, tapi mengapa baru sekarang bencana terjadi??

Lebih menyedihkan lagi, dengan adanya sejumlah penjarahan yang terjadi tak lama paska bencana. Semoga pelakunya hanya para residivis yang lepas dari penjara karena penjara rusak terkena gempa.

Terlepas dari itu semua, penduduk daerah yang tidak terkena bencana, harusnya juga bersyukur tempat tinggalnya masih aman ditinggali. Terutama Jakarta yang sebenarnya sarat segala macam maksiat dan kesyirikan. Yang tampaknya hanya tinggal menunggu gilirannya saja. Kecuali bila penduduknya segera bertobat, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak perbuatan baik dan ibadah kepada-Nya. Lalu  Allah swt ridho menerima tobat tersebut.

Namun demikian ada juga hal yang kelihatannya sepele tapi sering sekali terjadi. Yaitu ketika seseorang dalam kesusahan, sakit misalnya. Ia berdoa secara sungguh-sungguh bahkan rela mengeluarkan ratusan juta rupiah demi kesembuhannya. Namun ketika Allah Azza wa Jalla sembuhkan dan dikeluarkannya dari kesulitan ia melupakan-Nya.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Yunus (10):12).

Semoga kita bukan orang-orang yang dimaksud ayat di atas. Semoga Allah swt jadikan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi sebagai orang-orang yang tahu diri, yang pandai berterima-kasih dan bersyukur serta mampu mengambil hikmah segala kejadian yang terjadi, baik yang di hadapan kita maupun di masa lalu, aamiin 3x yaa robbal ‘aalamiin …Jangan sampai Sang Khalik melupakan kita sebagaimana kita suka melupakan-Nya …  Na’udzubillah min dzalik ..

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. ( Terjemah QS.Thoha (20:126).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Oktober 2018.

Read Full Post »

Older Posts »