Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Hikmah Birul Walidain

20190918_12405120190919_124824Hari-hari ini adalah hari yang cukup berat bagi kami sebagai orang–tua yang baru melepas anak gadis satu-satunya bontot pula untuk melanjutkan stydynya jauh di seberang benua sana. Meski sebenarnya hati sudah cukup tenang karena kami sudah mengantar dan melihat  sendiri keadaan kota tempat tinggalnya, kampusnya dll.

2019-09-19 05.11.31_1570459365283Apartemen yang dekat dengan kampus, teman-teman tetangga kamarnya, teman-teman setanah-air, kampus yang ternyata memiliki masjid yang meski tidak besar namun aktif digunakan untuk shalat sehari-hari bahkan shalat Jumat. Atas izin-Nya Ia pertemukan pula ia dengan Muslimah asal Thoif Mekah yang juga sedang melanjutkan studynya. Berkatnya putri kamipun saat ini sudah bergabung dengan persaudaraan Muslim kampusnya. Restoran berlabel Halal dan toko-toko daging Halal juga tidak sulit ditemukan. Alhamdulillah …20190928_210420

Lalu mengapa hati ini tetap merasa ada yang mengganjal ??

Mungkin saya yang terlalu posesif. Selama ini hubungan saya dengan si bontot memang sangat erat. Kami biasa saling menceritakan hari-hari yang kami lalui, nyaris tanpa ada yang disembunyikan.

Hari ini berkat kecanggihan teknologi mutakhir, komunikasi bukan lagi menjadi masalah. Namun mungkin karena masalah perbedaan waktu atau kesibukan baru yang menuntut banyak waktu, putri kami tersebut tidak selalu cepat merespons WA saya meski saya tahu ia sedang “online”.

Tiba-tiba saya terhenyak, teringat kumandang adzan yang tidak selalu saya respons dengan cepat. Astaghfirullah … Bukankah adzan adalah panggilan Allah swt untuk segera menemui-Nya?? Kalau saya sebagai ibu saja sudah merasa “memiliki” dan menuntut hak saya sebagai “pemilik” untuk segera berjumpa dengan anak, apalagi Allah Azza wa Jala yang merupakan sebenar-benar pemilik !!! Ya Allah ampunilah hamba-Mu yang hina ini …

Harus diakui tidak sedikit orang-tua yang suka menuntut anak-anaknya agar patuh dan menuruti semua perintah dan keinginan orang-tua. Apalagi mereka yang merasa telah mengorbankan segala upaya, mendidik, memeras keringat, membanting tulang, mengorbankan waktu dan seluruh harta yang dimiliki demi anak-anak yang mereka sayangi dan cintai, yang dikandung ibunya selama kurang lebih 9 bulan lamanya, dan menyusuinya selama 2 tahun. Salahkah itu??

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. ( Terjemah QS. Lukman(31):14).

Masya Allah … Ternyata Al-Quran telah mengatur hal tersebut. Itulah yang dinamakan Birul Walidain yaitu perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang-tua. Tapi dengan catatan; perbuatan baik, bakti, sayang, cinta, hormat, mendahulukan orang-tua dll tersebut bukan karena tuntutan orang-tua, melainkan karena perintah Allah swt. Yaitu sebagai bagian dari adab, rasa syukur atas segala kebaikan, cinta, kasih- sayang dan pengorbanan orang-tua kepada anak yang memang sudah kodrat manusia.

Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan).

Yang dengan demikian akan melahirkan sikap dan sifat tahu diri, syukur dan trima-kasih tidak saja kepada kedua orang-tua tapi juga kepada orang yang lebih tua. Dan puncaknya kepada Sang Khalik Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Itulah setinggi-tinggi penghambaan. Allah Azza wa Jala adalah satu-satunya tempat bergantung, meminta tolong. Maka dapat dipastikan anak yang selalu mendahulukan kedua orang-tuanya ia lebih dekat dan bisa mengenal Tuhannya dibanding anak yang menyepelekan orang-tuanya.

Hal penting lain, kita sebagai orang-tua, yang selama ini merasa memiliki cinta dan kasih sayang yang begitu besar terhadap anak-anak kita, ternyata  tidak ada apa-apanya dibanding cinta dan kasih sayang Sang Khalik kepada hamba-Nya … Allahu Akbar ..

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu ( Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):186).

Yaa Allah lindungi, jaga, sayangi dan kasihanilah putri kami tercinta. Mudahkan segala urusannya, sehat dan kuatkanlah hati, iman serta islamnya. Berilah ia kemampuan untuk menimba ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya, aamiin yaa robbal ‘aalamin ..

Hebatnya lagi Birul Walidain tetap berlaku meski orang-tua tidak satu aqidah dengan anak. Tapi sebagai seorang Muslim si anak tidak boleh menuruti perintah orang-tua untuk menyembah kepada selain Allah swt.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Terjemah QS. Al-Isra’(17):23).

Ayat diatas dengan jelas  menerangkan bahkan mengatakan “ah” saja Allah swt melarangnya. Dengan demikian mengacuhkan orang-tua ketika mereka sedang berbicara kepada anak, atau kalau di zaman now ini tidak mendahulukan apalagi mengabaikan WA ketika anak tidak sedang sibuk tentu bukan perbuatan terpuji. Karena hal tersebut akan dapat menyakiti hati orang-tua. Allah swt melarang hal tersebut.

Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhir kata, alangkah beruntungnya orang yang masih memiliki orang-tua apalagi yang dalam perawatan mereka. Karena itu adalah ladang amal yang sungguh rugi bila tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Oktober 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Sebuah video ceramah UAS ( Ustad Abdul Somad) di sebuah masjid di Pekanbaru 3 tahun silam tiba-tiba menjadi viral. Ini disebabkan sejumlah mahasiswa yang mengaku wakil dari sebuah organisasi mahasiswa Kristen melaporkan UAS kepada pihak kepolisian atas tuduhan penistaan agama, dengan video tersebut sebagai alat bukti. Ada apakah gerangan, mengapa setelah 3 tahun berlalu baru dilaporkan??

Rupanya video tersebut berisi jawaban UAS tentang salib yang ditanyakan seorang jamaah. Yaitu bahwa salib adalah jin kafir. Persis seperti ayat 73 surat Al-Maidah berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Tidak ada yang salah apa yang dikatakan ustad asal Riau yang meraih gelar Lc di universitas Al-Azhar Cairo dan master di bidang hadist di sebuah universitas Rabbat Maroko tersebut. Laporan penistaan agama yang dituduhkan kepadanya sama sekali tak berdasar. Apalagi bila kemudian ada yang menyamakan hal tersebut dengan apa yang dilakukan Ahok.

Seperti yang kita ketahui, mantan wakil gubernur DKI era Jokowi yang kemudian menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi RI1 tersebut telah divonis bersalah dan masuk bui karena penistaan agama. Ketika itu ia mengatakan bahwa umat Islam telah dibohongi ayat 51 surat Al-Maidah berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

UAS, walau bagaimanapun adalah seorang uztad/ulama yang tugasnya adalah berdakwah, mengajak dan mengajarkan keyakinan agamanya yaitu Islam. Termasuk juga menjawab pertanyaan jamaah yang mungkin masih ragu dengan agamanya, atau ingin membandingkannya dengan ajaran agama lain.

Selain itu UAS berceramah di dalam masjid, rumah ibadah umat Islam, bukan di tempat umum, bukan di depan umat agama lain. Anehnya lagi peristiwa tersebut terjadi 3 tahun yang lalu. Mengapa baru sekarang dipermasalahkan??

Sememtara Ahok adalah seorang pejabat umum, pemimpin daerah khusus ibu kota yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia berbicara di depan anak buahnya yang agama dan keyakinannya beragam, di tempat umum pula, bukan di rumah ibadahnya.

Namun itulah skenario Sang Pencipta. Bila paska hebohnya kasus Ahok ayat 51 surat Al-Maidah menjadi populer, maka kini giliran ayat 73 surat Al-Maidah yang tiba-tiba dengan mudahnya di posting orang. Padahal ayat ini jauh lebih sensitif dari ayat 51 Al-Maidah.

Ayat ini dengan tegas menyebut kafir orang yang mengatakan Allah adalah satu dari Tuhan yang tiga. Padahal sebelumnya tidak banyak orang yang berani terang-terangan menyatakan ayat tersebut. Tuduhan intoleransi yang selama ini sering dialamatkan kepada kaum Muslimin jelas sesuatu yang mengada-ada.

Sejarah mencatat betapa non Muslim yang menempati negara mayoritas Muslim hampir selalu bebas menjalankan ajaran mereka. Sebaliknya Muslim yang bertempat tinggal di negara minoritas Muslim nyaris selalu sulit menjalankan ajaran agamanya.

Perancis contohnya, Hari Raya Iedul Fitri yang merupakan hari terbesar umat Islam tidak tercatat di kalender mereka. Apalagi hari-hari besar lainnya. Sementara di Indonesia hari-hari besar semua agama tercatat dengan baik di kalender, bahkan sebagai penghormatan hari-hari tersebut tercatat sebagai tanggal merah, alias diliburkan.

Tak heran paska pelaporan UAS jumlah orang yang bersyahadat malah meningkat. Ini mengingatkan prediksi Rasululah saw bahwa di akhir zaman nanti akan banyak pengikut nabi Isa as yang menyadari kesalahan dan kekhilafan mereka bahwa nabi Isa as atau Yesus adalah anak Tuhan.

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Terjemah QS.Az-Zukhruf (43):59).

Sebaliknya umat Islam yang tampaknya banyak jumlahnya itu ternyata hanya bagaikan buih yang tidak berguna bagi kemajuan Islam. Mereka berprilaku bagai musuh dalam selimut yang suka mengolok-ngolok, menghina dan memojokkan ulama bahkan ajarannya sendiri.

Na’udzubillah min dzalik … Semoga kita dan keluarga yang kita cintai bukan termasuk golongan buih seperti dimaksud hadist berikut :

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Disamping itu mungkin itu adalah peringatan Allah swt agar umat berdakwah secara total dan terbuka, tidak memilah dan memilih ayat sesuai selera dan keinginan sendiri. Jangan dengan dalih toleransi, HAM dll kita menjadi kecil dan lemah. Padahal yang demikian justru kita makin diinjak dan pertolongan Allah pun menjauh.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (Terjemah QS.Al-Hijir [15]: 94).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Pemilihan Presiden tinggal beberapa hari lagi. Bahkan di luar negri pesta rakyat tersebut sudah dimulai sejak 8 April hingga 14 April 2019 nanti. Namun tak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu di beberapa tempat di luar negri kali ini berjalan dengan berbagai keanehan.

Di Malaysia ditemukan sejumlah kantong plastik hitam berisi surat suara sudah tercoblos, sebagian sudah tercecer. Di Belanda banyak pemilih yang telah mencoblos malah menerima kembali surat suara yang harusnya langsung dikirim ke  panitia pemilihan luar negeri (PPLN). Sementara di Sydney ratusan wni membuat petisi menuntut agar pemilu di kota tsb diulang karena banyak yang belum sempat mencoblos sudah ditutup.

Kabarnya karena jumlah wni yang datang jauh lebih banyak dari perkiraan. Itu sebabnya panitia kehabisan lembar surat suara. Pemerintah secara resmi memang membolehkan mencoblos dengan passport. Namun adakah jaminan bahwa pemegang passport setelah pulang ke tanah air nanti tidak akan mencoblos lagi dengan memanfaatkan ktp??

http://riaupos.co/196600-berita-nyoblos-pemilih-boleh-pakai-paspor.html

https://news.detik.com/berita/4506134/panwaslu-laporkan-surat-suara-mayoritas-tercoblos-01-di-selangor-malaysia

https://www.liputan6.com/pileg/read/3939644/wni-di-belanda-bingung-surat-suara-sudah-dicoblos-kembali-ke-pemilih

https://www.alinea.id/pemilu/ricuh-ratusan-wni-di-sydney-tuntut-pemilu-ulang-b1Xey9jdG

Anehnya isu yang berkembang atau dikembangkan bahwa itu semua ulah kecurangan pihak paslon 02, yaitu Prabowo-Sandi. Alasannya karena Prabowo sangat berambisi menjadi presiden. Padahal jika kita mau sedikit saja berpikir; siapa penyelenggara pemilu, siapa yang mempunyai kuasa untuk mencampuri pemilu, siapa yang mencetak, menyimpan dan mendistribusi surat suara?? Bagaimana mungkin pihak Prabowo bisa merekayasa semua itu??

https://news.detik.com/berita/4506220/surat-suara-tercoblos-01-di-selangor-tkn-itu-ditemukan-02-bisa-fitnah

Harus dicatat Pemilu 2019 dari awal memang penuh intrik, hoax dan segala yang berbau negative. Diawali dengan kotak suara yang terbuat dari kardus, digembok. (?) Tak dapat disangkal preseden buruk ini terjadi sejak pilkada DKI yang berbuntut dengan kekalahan Ahok dan kemenangan Anies Bawesdan. Dan itu semua tak terlepas dari gerakan 212 Aksi Bela Islam yang pada akhirnya berhasil memenjarakan Ahok atas tuduhan penistaan agama. Sebaliknya Habib Riziek Syihab yang merupakan motor 212 berhasil dipaksa keluar dari tanah ar tercinta dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Maka sejak itu perseteruan antara 2 kubupun makin menjadi-jadi hingga detik ini.

Apapun yang dilakukan Anies sebagai gubernur DKI tidak pernah benar di mata pendukung Ahok. Sementara di kubu 212, karena rezim dibawah Jokowi berkali-kali terbukti tidak berpihak pada umat Islam bahkan cenderung memusuhi, maka bertekad mantan walikota Solo tersebut tidak pantas untuk dipilih lagi.

Merekapun memutuskan mendukung Prabowo sebagai capres, bergandengan dengan Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha muda sukses, kaya raya, yang dikenal rajin menjalankan syariah Islam. Dukungan ijma ulama terhadap mantan danjen Kopassus di era Suharto ini bukannya tanpa pertimbangan. Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma’arif, menyebut bahwa ditariknya para alim ulama dan mubaligh ke tim pemenangan Prabowo-Sandi merupakan implementasi dari pakta integritas yang diteken Prabowo setelah Ijtima Ulama 212. Dalam kontrak tersebut, satu poin penting yang membuat dukungan aktivis gerakan 212 tetap mendukung Prabowo-Sandi adalah “menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama…”

Disamping itu Prabowo meskipun tidak dikenal sebagai ahli ibadah namun sejak muda dikenal gigih membela Islam. Mantan menantu Suharto ini juga dikenal sebagai seorang patriot yang sangat cinta bangsa.  Ia sangat tidak rela banyak rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan, ditambah lagi asset besar bangsa ini digadaikan asing, aseng, asong.

Ironisnya, isu Prabowo adalah penculik dan orang yang harus bertanggung-jawab terhadap tragedy Mei 1998 selalu dihembuskan setiap kali Prabowo nyaleg. Padahal ia sudah 3x nyapres. Jika memang Prabowo bersalah mengapa kasus hanya dibuka setiap menjelang pemilu. Itupun yang selalu aktif menyerang adalah para jendral atasan Prabowo ketika itu. Bagi awam yang masih berhati bersih, ini justru menampakkan adanya ketakutan bila Prabowo sampai menang.

Sementara itu dengan semakin dekatnya hari H, makin banyak ulama yang dikenal bersih, yang selama ini tidak pernah berpihak dan bukan merupakan anggota partai, menyatakan secara terbuka dukungan mereka terhadap Prabowo Subiyanto. UAS (ustad Abdul Somad) contohnya, yang pernah diminta umat mendampingi Prabowo sebagai cawapres namun secara halus menolak karena ingin tetap berdakwah kepada umat tanpa benturan dengan kepentingan politik.

Ustad kondang dari Riau lulusan S1 Al-Azhar Kairo dan S2 Maroko ini menjumpai Prabowo tidak hanya sekedar menyatakan dukungan tapi juga menasehatinya dengan siraman rohani yang sangat menyejukkan. Pesan UAS yang paling menyentuh adalah “Kalau Bapak (Prabowo) memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. “Pertama, jangan bapak undang saya ke Istana. (Biarkan saya berdakwah) masuk hutan ke hutan. Yang kedua, jangan bapak beri saya jabatan, apa pun,”

Yang juga menarik, dalam pertemuan eksklusif tersebut Prabowo terlihat sangat serius mendengarkan dan memperhatikan dai muda itu berbicara. Sesekali ia bahkan terlihat mengusap air matanya. Pabowo yang dikabarkan garang dan kasar ternyata hatinya lembut. Prabowo telah membuktikan kontrak politiknya terhadap umat. Masya Allah …

Dalam kesempatan itu, UAS berpesan kepada Prabowo agar banyak-banyak berdzikir dan shalat tahajud.

Afdhal dzikir (dzikir terbaik) adalah dzikir “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah)”.

Laa Ilaaha Ilallah.. Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..

Mulut berdzikir, hati di sebelah kiri,” ujar UAS seraya telapak tangan kanannya menekan lama ke dada kiri Prabowo sambil berdzikir.

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/04/12/163142/uas-prabowo-presiden-jangan-undang-saya-ke-istana-jangan-beri-jabatan-apapun.html

Tak sampai 24 jam, UAH (Ustad Adi Hidayat) ustad yang tak kalah kondang dan lurusnya dari UAS juga datang memberikan dukungan. Sama dengan UAS, UAH juga memberikan wejangan yang cukup panjang sekaligus mendoakannya. Ini masih disusul dengan ulama-ulama yang dekat dengan umat seperti aa Gym, ustad Arifin Ilham,  ustazah Irene Handoko, syeikh Ali Jaber, UBN (Ustad Bahtiar Nasir) yang sudah sebelumnya secara terbuka memberikan dukungan, serta ustad Khalid Basalamah. Bahkan ustad Firanda, ustad Salafi yang selama ini mengharamkan jamaahnya mengikuti pemilu kabarnya mendorong jamaahnya untuk mendukung paslon no 02 ini.

Ironisnya, selang beberapa hari kemudian muncullah fitnah yang menyerang pribadi UAS. Sungguh mengherankan, apa yang terjadi dengan republic yang sudah bukan muda lagi ini. Mana yang namanya demokrasi? Mengapa setiap orang yang tidak mendukung paslon 01 harus dianiaya??

Dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.

Pendukung 01 sebetulnya tidak semua pro Ahok. Ada sebagian dari mereka yang tergiur dengan proyek infrastruktur besar-besaran yang saat ini sedang berjalan. Meski sebenarnya proyek-proyek tersebut bukan hanya hasil kerja rezim ini. Tapi juga hasil kerja yang berkesinambungan dari para pemimpin terdahulu, dengan mengandalkan hutang luar negri yang jumlah sangat fantastis, dan bakal membebani hidup anak cucu kita kelak.

Mereka juga seakan tidak peduli apa dan bagaimana program partai-partai pendukung 01. Disanalah berkumpul orang-orang yang memusuhi syariat Islam, yang suka mengolok-olok ajaran yang merupakan ajaran mayoritas penduduk negri ini. Dari mulai jilbab, pembagian waris, poligami hingga isu khilafah. Lupakah mereka bahwa firaun, sang maha raja Mesirpun berhasil membangun kota-kotanya dengan penuh kemegahan. Namun Allah swt meng-azabnya karena ia ingkar kepada Tuhannya.

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan pembangunan kota yang sungguh indah.  Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Peninggalan peradaban dan budaya yang tinggi di kota-kota Islam seperti Damaskus, Istanbul, Palermo, Andalusia dll masih bisa disaksikan hingga detik ini.

Saat ini Islam memang sedang mengalami keterpurukan. Kita tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari dunia Islam, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal ahlak seperti kedisiplin, kebersihan dll. Islamophobia dan label teroris yang disandangkan kepada ajaran yang dibawa Rasulullah saw 15 abad silam, sungguh menyakitkan hati. Persaudaraan Islam yang rentan hingga mudah diadu domba, ulama yang dipersekusi, satu diangkat yang lainnya difitnah. Na’udzubillah min dzalik ….

Namun sejak dimulainya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 di Monas, terlihat bahwa umat Islam mulai bangkit, bangun dari tidur panjangnya. Mereka siap bersatu membela Islam, sadar agar pentingnya menjaga shalat berjamaah dimanapun berada, seperti ketika kampanye akbar terakhir di GBK beberapa waktu lalu, serta menjaga kedisiplinan dan kebersihan.

Maka bila Allah swt ridho memberi Prabowo amanat memegang pucuk pemerintahan, bisa jadi Islam akan kembali mengalami kejayaan, sesuai yang diperkirakan Rasulullah 15 abad lalu. Dengan memanfaatkan ilmu syariat, hutang negara akan bisa diselesaikan melalui dana ZIS ( Zakat, Infak dan Sodakoh) dan Wakaf yang mempunyi potensi sangat tinggi. Atau bahkan dana haji yang merupakan tabungan umat bisa digunakan untuk keperluan negara tanpa satupun kaum Muslimin keberatan, selama pemerintah senantiasa siap melindungi kaum Muslimin. Riba yang merupakan musuh ekonomi terbesar insyaAllah bisa dihilangkan. Itulah salah satu keuntungan mau mendengarkan ulama yang merupakan pewaris para nabi.

“ … … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (Terjemah QS. Fathir(35):28).

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 April 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Umat Islam pada tanggal 2 Desember 2018 kembali menggelar aksi damai di kawasan Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat. Aksi ini masih merupakan rangkaian dari tragedy tahun 2016 dimana Ahok mengutak-atik ayat suci Al-Quranul Karim yaitu Al-Maidah 51 tentang pemilhan pemimpin. Pasalnya karena meskipun ia telah dinyatakan terbukti bersalah melecehkan ajaran umat agama lain dan telah masuk bui, nyatanya hingga 2 tahun berlalu, pelecehan Islam, seperti persekusi ulama, kecurigaan berlebihan terhadap kegiatan masjid, masalah adzan, rohis dll masih saja berlangsung. Tuduhan bahwa Islam adalah teroris, radikal dll terus saja digulirkan pihak-pihak tertentu yang kelihatannya menginginkan Indonesia sebagai rumah kaum Muslimin tampak berwajah buruk.

http://aceh.tribunnews.com/2018/11/28/jusuf-kalla-tanggapi-soal-survei-41-masjid-terpapar-radikalisme-ini-studi-yang-memprihatinkan

Terakhir, yaitu pada Senin 22 Oktober, terjadinya tragedy pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid oleh oknum anggota Banser. Ironisnya, peristiwa keji di lapangan Alun-Alun kabupaten Garut ini terjadi pada perayaan Hari Santri Nasional. Yang lebih menyedihkan lagi polisi segera mengklaim bahwa yang dibakar hanyalah bendera HTI yang sudah dibubarkan pemeritah, bukan bendera Tauhid.   Dan dengan segera polisi justru mengejar orang yang mem-viralkan video pembakaran tersebut.

Tentu saja alasan tersebut tidak dapat ditrima. Bendera tauhid yaitu bendera dengan tulisan “ Laa Ilaha ila Allah Muhammad Rasulullah” yang berarti “ Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”, baik yang berwarna dasar hitam maupun putih adalah bendera milik umat Islam, bendera lambang kebesaran Islam yang harus dihormati dan sangat tidak sepatutnya dibakar, dengan alasan apapun. Tak salah bila presiden Turki, Erdoganpun turut menyatakan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa tersebut. Itu sebabnya Aksi Bela Islam (ABI) kali ini dinamakan juga Aksi Bela Tauhid.

Yang menyedihkan adalah reaksi pemerintah yang mencurigai aksi tersebut dengan berbagai tuduhan. Mulai tuduhan makar, pemecah NKRI, deklarasi HTI hingga kampanye politik tersembunyi mendukung paslon no 2 Prabowo dan Sandiaga Uno. Untuk itu pengamanan yang berlebihanpun diselenggarakan. Kebalikan dari demo OPM ( Organisasi Papua Merdeka) persis di depan istana yang nyata-nyata menginginkan kemerdekaan dan nekad mengibarkan bendera OPM, tapi didiamkan saja.

http://wartakota.tribunnews.com/2018/12/05/ustadz-haikal-hassan-beda-perlakuan-pemerintah-ke-opm-dan-reuni-akbar-212?page=2

Namun tekad umat Islam yang bulat tidak dapat dihentikan. Dari segala pelosok daerah umat Islam berhamburan keluar menuju Jakarta. Ada yang dengan mencarter pesawat, dengan bus, kendaraan pribadi bahkan yang harus berjalan kakipun rela melakoninya.

https://hidayatullah.ga/feature/kisah-perjalanan/read/2018/12/06/156003/saya-jalan-kaki-bandung-jakarta-ikut-reuni-212.html

Anehnya, ternyata tak hanya umat islam, umat agama lainpun banyak yang hadir. KH Sobri Lubis, ketua FPI, menyatakan pihaknya memang sengaja memberikan tempat khusus bagi non Muslim karena banyaknya permintaan bahwa mereka ingin mengikuti aksi damai tersebut, termasuk sejumlah tokoh lintas agama. Di akhir acara, bahkan ada yang akhirnya bersyahadat. Tak tanggung-tanggung, mereka adalah pasangan suami istri yang jauh-jauh datang dari Australia. Masya Allah .. Pembacaan syahadat itu dilangsungkan di Mushola Nurul Huda Kelurahan Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

https://pembelaislam.com/29414

Saya sendiri dan suami, hadir di acara damai akbar ini bukanlah kali pertama. Sejak ABI 411 tahun 2016 hingga aksi yang baru lalu Alhamdulillah kami selalu menghadirinya. Dan itulah satu-satunya aksi yang pernah kami lakukan dalam umur yang sudah setengah abad lebih ini.

Pada aksi yang terakhir kami baru berangkat dari rumah setelah suami pulang dari Subuh di masjid sekitar rumah. Awalnya pukul 3 pagi suami sudah berangkat menuju masjid perkantoran Jendral Sudirman (MJS) dimana ia duduk sebagai ketua harian. Tapi begitu ia membaca WA tentang kekecewaan saya yang tidak dapat hadir karena memang sedang kurang fit, maklum baru sebulan menjalani operasi, suami segera pulang untuk menjemput saya. Masya Allah … Terima-kasih ya Allah telah Kau beri hamba pasangan yang benar-benar bisa memahami hamba …

Syukur Alhamdulillah perjalanan lancar, kendaraan bisa parkir di gedung bank Mandiri yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tkp. Kami menyempatkan ke toilet yang ada di gedung tersebut, khawatir nanti di lokasi sulit. Ternyata di depan toilet telah mengantri sejumlah ibu-ibu yang datang berombongan dengan bus-bus dari kabupaten Bandung.

abi 6Sabi 7etelah itu kami segera berjalan kaki menuju lokasi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 6 kurang 15. Gelombang manusia berpakaian putih dan sebagian hitam, dengan topi dan bendera Tauhid tampak menyemut. Kami berbaur bersama peserta yang berjalan perlahan sambil bershalawat, sekali-sekali diselingi takbir.

“ Masya Allah serasa tawaf ”, bisik saya kepada suami, terharu.

abi 4monas 212Mendekati air mancur Bank Indonesia peserta makin padat, hingga nyaris terhenti. Suara orasi dari panggung terdengar dari pengeras suara yang dipasang di sekitar lokasi. Berhubung kami berdua ingin lebih mendekati panggung maka kamipun berputar mencari jalan agar dapat tembus ke lokasi yang kami inginkan.

Ternyata kami benar-benar beruntung. Karena adik saya dan beberapa teman yang datang hampir sama waktunya dengan kami, menceritakan terpaksa berhenti di sekitar air mancur saking padatnya orang.  Mungkin karena kami hanya berdua maka lebih leluasa menyelinap ke tengah gelombang dan arus manusia yang ada saat itu. Alhamdulillah.

Meskipun tak jarang ketika ada rombongan lumayan besar datang dari luar Jawa kamipun serempak memberi jalan agar tamu-tamu dari jauh tersebut dapat mendekati podium. Dan dengan diringi takbir merekapun menyeruak masuk dengan tertib. Masya Allah … Aroma semangat mereka yang jauh-jauh datang dari luar Jawa demi membela Tauhid benar-benar terasa. Sungguh ikatan persaudaraan sesama Muslim itu sangat kental terasa.

Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

abi 8Kami juga menjadi saksi bagaimana semangatnya para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh pemandu acara dengan penuh khidmad. Sekaligus menjadi bukti betapa ngawurnya tuduhan bahwa peserta 212 adalah anti NKRI.

Sayangnya orasi yang disampaikan sejumlah tokoh masyarakat mulai gubernur DKI Anies Bawes hingga para uztad kondang seperti uztad Bahtiar Nasir, uztad Haikal Hasan dll tersebut justru kurang jelas terdengar. Padahal posisi kami sudah lumayan mendekati podium utama.

Sekitar pukul 9 kurang, setelah sempat menyaksikan pengibaran bendera raksasa bertuliskan Tauhid serta mendengarkan alunan merdu ayat-ayat suci yang dibawakan dua hafidz cilik Ahmad dan Kama, kamipun memutuskan untuk pulang. Ternyata untuk keluarpun perlu perjuangan panjang. Bahkan lebih sulit dari ketika datang pagi tadi. Dari segala arah peserta terus berdatangan. Besar, kecil, tua, muda, lelaki, perempuan bahkan ada yang dengan tongkat dan kursi roda. Allahu Akbar …

abi 3abi 1Lagi-lagi di sekitar air mancur BI, kami bersama barisan orang yang hendak keluar, selama beberapa menit, terpaksa terhenti sama sekali. Dalam hati saya berkata, dalam keadaan biasa pasti orang akan menerobos menginjak taman yang terbentang di sisi kami. Tapi nyatanya tak satupun yang mau melakukannya. Tampaknya sudah menjadi komitmen bagi seluruh peserta 212 sejak ABI I, bahwa rumput harus dijaga ! Bayangkan kalau rumput saja harus dijaga apalagi kesatuan republik tercinta ini … Masih mau menuduh kami radikal, teroris dll ??

abi 2Reuni Akbar 212 atau ABI yang manapun harus diakui adalah bukti kesantunan umat islam yang selama ini sempat hilang ntah kemana. Selain wajah-wajah ramah yang bertebaran, kedisiplinan juga menampakkan diri. Selain sedikitnya sampah, mereka yang ingin buang air juga terlihat mengantri dengan rapi. Budaya baik yang selama ini dianggap sebagai budaya Barat yang mustahil bisa diterapkan bangsa ini.

”Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At- Turmudzi).

“Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu.” (H.R. al-Hakim).

Berikut kumpulan kisah mereka yang hadir di acara Bela Tauhid 212 2018.

https://pembelaislam.com/category/reuni-212  

Ironisnya, hanya sedikit sekali media Indonesia yang mau menayangkan acara akbar yang berlangsung aman damai tersebut. Hanya TV-One satu-satunya media yang meliput acara tersebut secara utuh. Padahal tak sedikit kantor berita internasional yang melaporkannya. Ada apa ini?? Sebegitu kuatkah cengkeraman rezim ini hingga media tidak mampu menyampaikan berita yang nyata-nyata terjadi di depan mata?? Ini adalah cacat dan kegagalan kenetralan media Indonesia yang akan terus dicatat sejarah sepanjang masa. Sejarah suatu negri dimana hoax meraja-lela, dimana rakyat tak dapat membedakan mana berita yang benar dan mana yang bohong. Alangkah memalukannya …

https://www.harianterbit.com/nasional/read/2870/Reuni-212-Gempar-di-Luar-Negeri-Sepi-Berita-di-Indonesia

Pada saat yang nyaris bersamaan, di ujung dunia lain yang katanya menjunjung tinggi HAM, toleransi, disiplin dll, yaitu di Paris ibukota Perancis, terjadi demontrasi mengerikan. Demo rusuh yang dipicu karena kenaikan harga bbm ini mengakibatkan 133 orang terluka, 23 di antaranya adalah polisi. Perancis beberapa tahun belakangan ini memang sedang dilanda masalah pengangguran yang terus meningkat.

Padahal di Indonesia juga tak jauh beda. Kenaikan bbm tidak hanya sekali dua kali. Namun umat tetap berusaha menahan diri. Protes dan demo baru terjadi ketika ajaran dilecehkan. Itupun dengan cara yang baik dan santun.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Desember 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Kita semua pasti tahu kisah nabi Musa as dengan mukjizat tongkat dan laut Merahnya yang spektakuler. Kisah penyelamatan bani Israel dari kejaran pasukan penguasa Mesir Firaun yang dikenal kejam dan bengis ribuan tahun silam tersebut memang diabadikan tidak hanya didalam kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, tapi juga Taurat dan Injil.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (bani Israel), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):50).

Namun yang ingin dibahas kali ini adalah bagaimana kita menyikapi perlakuan buruk bani Israel setelah terlepas dari cengkeraman  maut sebagaimana ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):51).

Ayat di atas menceritakan tentang bani Israel yang menjadikan anak lembu sebagai sesembahan alias Tuhan mereka. Hal tersebut dilakukan ketika nabi Musa as sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Nabi Musa as hanya meninggalkan kaumnya selama 40 hari 40 malam. Namun sekembali dari “pertemuan” dengan Tuhannya tersebut, kaumnya sudah mengingkarinya. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan betapa hebatnya mukjizat yang diberikan nabi mereka hingga mereka bisa lolos dari maut yang berada di ujung tanduk.

Prilaku tersebut menunjukkan betapa umat nabi Musa tersebut sangatlah tercela, tidak tahu berterima-kasih. Lupakah mereka bahwa dibawah kekuasaan Firaun ribuan tahun silam nasib mereka benar-benar terpuruk?? Mereka diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan pernah suatu masa bayi-bayi lelaki harus dibunuh karena Firaun diberi tahu tukang sihirnya bahwa akan datang lelaki Yahudi merebut kekuasannya.

Allah swt, dalam ayat-ayat Al-Quran, banyak sekali menceritakan prilaku buruk bani Israel. Ini untuk mengingatkan kita, umat Islam, agar mengambil hikmahnya, agar tidak terperosok pada kesalahan yang  sama. Jadi bukan hanya sekedar mengolok-olok dan mengutuk bani Israel yang memang telah terkena kutukan-Nya tapi terlebih agar tidak meniru prilaku buruk mereka.

Sekarang mari kita amati bagaimana sikap kita ketika Allah swt memberi kita cobaan, apakah prilaku kita sama dengan bani Israel atau tidak??

Jumat, 28 September menjelang magrib, Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7.2 skala Richter. Tak lama tsunami setinggi lebih dari 10 meterpun datang menggulung wilayah Sulawesi tengah tersebut. Belum lagi guncangan dan amukan gelombang laut dasyat yang menghancurkan ribuan bangunan tersebut usai, bumipun ikut bereaksi.

Bumi tiba-tiba memuntahkan lumpur yang berada di isi perutnya dengan cara yang sungguh mengerikan. Sejumlah saksi yang selamat dari bencana menceritakan apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tanah seperti di blender, di putar, dikocok”, ujar seorang bapak. Sementara seorang ibu dengan penuh emosi mengatakan ”Seperti monster keluar masuk tanah menelan rumah, pohon dan apa saja yang ada di depannya”. Ada juga yang berkomentar “ Layaknya gelombang tsunami tapi bukan air laut melainkan tanah”, katanya bergidik.  Saksi lain juga menceritakan rumahnya berpindah sejauh 500 meter lengkap dengan pohon Mangga yang ada di halamannya.

Peristiwa mengerikan yang dikenal dengan nama fenomena pencairan tanah (likuifaksi) laksana pasir hisap ini menelan lebih dari 700 rumah di Perumnas Balaroa (Palu) dan ratusan rumah lainnya di perumahan di Petobo. Kawasan ini amblas sedalam 5 meter-an, menelan tidak hanya rumah tapi juga penghuninya.

Di lain pihak, sejumlah saksi menceritakan Palu beberapa tahun belakangan ini telah menjadi kota penuh maksiat seperti pelacuran, homoseksual, perjudian dll. Bahkan sekitar 4 bulan sebelum mala petaka terjadi, sebuah konferensi lgbt tingkat nasional diselenggarakan di kota tersebut. Tak tanggung-tanggung, konferensi yang dibuka mentri pariwisata tersebut juga dihadiri mentri agama Lukman Hakim yang memang terkesan melindungi kaum yang dilaknat sejak zaman nabi Luth ini.

“Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.

(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)“.

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):71-74).

Para pemuka agama tentu saja memprotes dan sudah berusaha mencegah konferensi tersebut tetapi tidak dapat berdaya atas alasan HAM. Penduduk juga menceritakan di Petobo hidup seorang raja judi kaya raya yang rumahnya ikut lenyap dalam tragedy tersebut. Hal mengenaskan tersebut mengingatkan mereka akan Karun, tokoh sombong kaya raya Mesir yang harta kekayaannya ditenggelamkan Allah swt.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.( Al-Qashash(28):81).

Lain lagi ceritanya dengan tsunami yang melanda pantai Talise Palu, membuat ambruk jembatan Kuning ikon Palu yang menghubungkan Sulawesi utara dan selatan serta menelan korban ribuan jiwa itu. Bencana datang menjelang dilaksanakannya festival Nomoni yang baru 3 tahun belakangan ini digalakkan kembali dengan judul “Maraton Internasional Palu”. Festival ini juga dimeriahkan dengan penampilan ritual Balia, yang merupakan bagian dari adat suku Kaili di Lembah Palu.

Ritual Balia adalah ritual permohonan kesembuhan bagi orang yang mempunyai sakit parah kepada arwah leluhur. Sesajen dan bau dupa mengiringi tarian yang membawa usungan orang yang sakit hingga puncak prosesi, yaitu penyembelihan kerbau. Darah kerbau yang disembelih itu menjadi simbol kesungguhan harapan atas kesembuhan.

https://www.benarnews.org/indonesian/slide-show/balia-ritual-pengobatan-masyarakat-kaili-01222016125749.html

Para ulama sudah berusaha mengingatkan agar ritual yang sarat kesyirikan tersebut tidak dihidupkan kembali. Tetapi dengan alasan untuk melestarikan adat dan budaya nusantara, pemerintah daerah menolak permohonan tersebut.

Kesyirikan tersebut tak jau berbeda dengan yang dilalukan bani Israel tak lama setelah lolos dari kejaran tentara Firaun ribuan tahun silam. Padahal penduduk Palu adalah rata-rata Muslim. Para ilmuwan mengatakan bahwa bencana yang melanda Palu dan sekitarnya adalah fenomena alam, yaitu karena Indonesia terletak di atas pertemuan beberapa lempengan yang ketika berbenturan menjadi penyebab gempa. Namun siapa yang kuasa menggerakan dan membenturkan lempengan-lempengan tersebut, dan mengapa harus Palu. Bukankah dari dulu letak Palu di atas lempeng-lempeng tersebut, tapi mengapa baru sekarang bencana terjadi??

Lebih menyedihkan lagi, dengan adanya sejumlah penjarahan yang terjadi tak lama paska bencana. Semoga pelakunya hanya para residivis yang lepas dari penjara karena penjara rusak terkena gempa.

Terlepas dari itu semua, penduduk daerah yang tidak terkena bencana, harusnya juga bersyukur tempat tinggalnya masih aman ditinggali. Terutama Jakarta yang sebenarnya sarat segala macam maksiat dan kesyirikan. Yang tampaknya hanya tinggal menunggu gilirannya saja. Kecuali bila penduduknya segera bertobat, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak perbuatan baik dan ibadah kepada-Nya. Lalu  Allah swt ridho menerima tobat tersebut.

Namun demikian ada juga hal yang kelihatannya sepele tapi sering sekali terjadi. Yaitu ketika seseorang dalam kesusahan, sakit misalnya. Ia berdoa secara sungguh-sungguh bahkan rela mengeluarkan ratusan juta rupiah demi kesembuhannya. Namun ketika Allah Azza wa Jalla sembuhkan dan dikeluarkannya dari kesulitan ia melupakan-Nya.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Yunus (10):12).

Semoga kita bukan orang-orang yang dimaksud ayat di atas. Semoga Allah swt jadikan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi sebagai orang-orang yang tahu diri, yang pandai berterima-kasih dan bersyukur serta mampu mengambil hikmah segala kejadian yang terjadi, baik yang di hadapan kita maupun di masa lalu, aamiin 3x yaa robbal ‘aalamiin …Jangan sampai Sang Khalik melupakan kita sebagaimana kita suka melupakan-Nya …  Na’udzubillah min dzalik ..

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. ( Terjemah QS.Thoha (20:126).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Oktober 2018.

Read Full Post »

Islamophobia ternyata bukan hanya ada sejak tragedi 911 yaitu tragedi diledakkannya menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001, dengan tuduhan pelakunya adalah orang Islam. Islamophobia ternyata sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Serangan dan fitnah buruk terhadap citra Islam dilakukan musuh-musuh Islam melalui berbagai cara, diantaranya lewat dunia perfilman. Itulah antara lain contoh dari Perang Pemikiran ( Ghazwl Fikri), perang yang dirancang Barat sebagai ajang balas dendam kekalahan mereka di berbagai perang fisik. Sayangnya sebagian besar kaum Muslimin tidak menyadarinya.

Hampir semua orang pasti tahu dan pernah mendengar cerita legenda Dracula si mahluk jahat  vampire penghisap darah manusia. Cerita Dracula bermula dari novel karya penulis Irlandia bernama Bram Stoker. Novel tersebut ditulis  pada tahun 1881 , dan membutuhkan 7 tahun untuk penyelesaiannya. Selepas itu ntah sudah berapa banyak Hollywood memproduksi film tentang tokoh antagonis itu.  Namun berapa banyakkah orang yang menyadari bahwa tokoh Dracula ternyata nyata, bukan hanya fiktif dan sekedar khayalan alias mengada-ada.

Sebuah buku berjudul  “Dracula, the Impaler Muslims in the Crusades” karya Hyphatia Cneajna, diterjemahkan “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib”,  terbit pada tahun 2009, membongkar hal tersebut. Karya tersebut melengkapi Wikipedia yang mencatat hal tersebut, bahwa nama asli Dracula adalah Vlad Țepeș, seorang raja Wallachia dengan gelar Vlad III.

https://id.wikipedia.org/wiki/Vlad_%C5%A2epe%C5%9F

http://djaloezakie.blogspot.com/2011/01/sultan-mehmed-ii-conqueror-of.html

https://redfox69.wordpress.com/2009/04/26/dracula-pembantai-umat-islam-dalam-perang-salib/

Intinya Dracula alias Vlad III adalah seorang raja Wallachia ( sekarang Rumania) yang memerintah pada tahun 1456-1562 M. Namun kekuasaannya yang hanya 6 tahun itu penuh dengan kekejaman, sesuai dengan gelar “Tepes” yang disandangnya. Tepes artinya adalah penyula, yaitu cara penyiksaan dengan menusukkan kayu sebesar tangan manusia dengan ujung runcing, lewat dubur hingga tembus ke kepala. Astaghfirullahaldzim …

Pada masa kekuasaan ayah Dracula, Vad II, kerajaannya takluk dibawah Sultan Murad II dari kerajaan Turki Ottoman. Sang ayah kemudian mengirim Dracula dan adiknya Randu yang ketika itu masih remaja untuk mengenyam pendidikan di Istanbul. Namun rupanya Dracula yang sejak kecil sudah mempunyai watak tidak baik, diam-diam menaruh dendam pada kerajaan Turki. Randu, sebaliknya, berkawan baik dengan putra mahkota Turki, Sultan Mehmed II, dan akhirnya memeluk Islam.

Sayang kerajaan Turki tidak menyadari kebencian yang ada dalam diri Dracula. Ketika kerajaan Wallachia dikudeta, sang ayah terbunuh, Turki membantu pemulihan kerajaan tersebut, bahkan mengangkat Dracula sebagai rajanya. Itulah awal mala petaka.

Setelah menjadi raja, Dracula tidak hanya menangkapi dan menyula para bangsawan yang telah memberontak dan membunuh ayahnya, namun juga menabuh genderang perang terhadap Turki. 300 ribu tentara Muslim Turki Ottoman menjadi korban kebiadaban “ si penghisap darah” Dracula. Tentu saja bukan dengan cara dihisap darahnya seperti dalam film-film Dracula, namun lewat penyulaan. Ironisnya, hari ini Dracula dielu-elukan sebagai pahlawan oleh rakyat Rumania.

Dracula akhirnya dapat dikalahkan pasukan Sultan Mehmed II. Kepalanya dipancung dan dibawa ke ibu kota kesultanan Turki. Sedangkan tubuhnya yang akhirnya ditemukan pasukannya dikuburkan di sebuah gereja di negaranya.

Anehnya, pada tahun 2014 lalu, beredar film “Dracula, The Untold Story” dengan cerita yang berbeda sama sekali dengan film-film Dracula yang beredar selama ini. Dracula si vampire penghisap darah itu dikisahkan sebagai seorang raja yang harus bertempur melawan seorang sultan jahat. Dan siapa lagi sultan yang dimaksud kalau bukan Sultan Yang Agung, Sultan Mehmed II.

Dari sini terlihat jelas bahwa para musuh Islam tidak pernah merasa malu untuk berbohong, memutar balikkan sejarah, menelan sendiri ludah yang sudah keluar. Bagaimana mungkin tokoh yang selama ini dicitrakan sebagai tokoh yang kejam tiba-tiba berubah 180 derajat. Tampaknya mereka tidak menyangka bahwa tipu daya mereka selama ini, yaitu mencitrakan Dracula sebagai tokoh khayalan, ternyata terbongkar, dengan hadirnya buku karya Hyphatia Cneajna.

Untuk itulah uztad Felix Siauw, uztad muda yang hobby menulis dan sangat menguasai sejarah Turki bereaksi keras. Bersama rekannya iapun mengeluarkan buku tentang Sultan Mehmed II, lengkap dengan kisah Dracula yang memusuhi Sang Sultan.  Hal ini ia lakukan untuk mengantisipasi distrosi sejarah yang semakin liar. Agar umat Islam tidak semakin mudah dibohongi musuh-musuh Islam yang sejak kekalahan mereka dalam Perang Salib senantiasa mencari celah untuk mengalahkan umat Islam. Yaitu lewat Islamophobia ( takut kepada ajaran Islam), Hoax ( Berita bohong yang diulang terus menerus hingga menyerupai kebenaran) dan lewat Perang Pemikiran ( Ghawzl Fikri).

http://hiburan.metrotvnews.com/read/2014/10/21/308162/ustaz-felix-siauw-kritisi-film-dracula-untold

Contoh lain adalah Zombie, film yang identik dengan ketegangan dan terror yang sekarang ini sedang “in”. Intinya film ini menceritakan seramnya hidup di tengah dunia mayat hidup berbentuk seram pemangsa manusia. Yang dengan satu gigitan zombie, orang yang dgigit bakal berubah menjadi zombie juga. Film ini tidak selalu dibuat sebagai film horror, namun kadang juga sebagai film komedi.

Film Zombie pertama tercatat diproduksi pada tahun 1932 oleh sutradara Halperin bersaudara. Sutradara asal Amerika Serikat ini terinspirasi oleh pementasan teater Broadway berjudul “Zombie”.  Namun tahukan kita bahwa di Brazil pada tahun 1643 M pernah berdiri tegak Negara Islam Brazil selama lebih dari 50 tahun ? Dan pendirinya adalah seorang panglima Muslim bernama … Zombie !

Islam masuk Brazilia dalam  beberapa tahapan. Tahapan pertama pada abad 15 melalui budak-budak yang dibawa orang-orang Portugis yang menjajah tanah yang berada di Amerika Selatan ini. Budak-budak tersebut adalah orang-orang Islam dari Afrika utara dan Spanyol korban Reconquista (penaklukan Iberia oleh kerajaan Kristen dari Muslim Moor) tahun 1492M.

http://wartasejarah.blogspot.com/2015/06/sejarah-masuknya-islam-di-brasilbrazil.html

Dari situlah Islam makin lama makin berkembang hingga akhirnya meresahkan penguasa. Maka dengan segala macam cara perkembangan Islampun dihentikan. Tapi beberapa puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1643M, ketika penguasa merasa Islam telah punah, tiba-tiba muncul seorang gagah berani yang berhasil membangkitkan kembali ajaran yang nyaris musnah tersebut. Itulah Zombie, yang akhirnya berhasil menegakkan Negara Islam Brazilia.

Sayang setelah 50 tahun berlalu negara yang susah payah didirikan itu mengalami kehancuran. Umat Islam dipaksa mengganti keyakinan mereka atau dibunuh. Bahkan nama Zombiepun dihapuskan dari catatan sejarah. Dan baru terungkap dengan terbitnya tulisan “Jihad Al-Turbani” berjudul “Miatu min Udzoma” ummah al-Islam Ghoiru Majro at-Tarikh. Tulisan tersebut dikeluarkan sebagai reaksi atas munculnya buku tentang 100 orang berpengaruh di dunia karya orientalis.

http://www.tarbiyah.net/2015/06/ternyata-zombie-adalah-pahlawan-islam.html

Anehnya, muncul pula berita yang mengatakan bahwa Zombie pahlawan Islam adalah hoax. Dan mengatakan kalaupun benar hanyalah sebuah kebetulan. Persis seperti beredarnya film “Dracula, The Untold Story” yang berusaha memutar balikan fakta.

Pertempuran antara yang hak dan yang bathil seperti perang Salib yang meletus pertama kali pada tahun 1095M, memang akan terus berlanjut hingga akhir zaman nanti. Hal tersebut sudah menjadi ketetapan Allah Azza wa Jalla sebagai kelanjutan perseteruan antara Iblis sebagai kakek moyang bangsa jin dan nabi Adam as sebagai kakek moyang bangsa manusia yang waktu itu masih hidup di alam surga.

“Allah berfirman: “Keluarlah kamu ( Iblis) dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ( manusia) mengikuti kamu (Iblis), benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. ( Terjemah QS. Al-A’raf(7):18).

Media komunikasi seperti koran, majalah, radio, televise, dan film terbukti ampuh menyebarkan aneka berita kepada orang banyak, baik berita yang benar maupun yang tidak benar, alias hoax atau kebohongan. Itu sebabnya penguasaan terhadap media komunikasi selalu menjadi rebutan. Siapa yang berhasil menguasainya ialah yang menang. Ironisnya, saat ini Yahudilah yang memegang kunci tersebut. Hampir semua media komunikasi mereka kuasai hingga kaum Muslimin tidak tahu persis mana berita yang benar dan mana yang hoax.

Contohnya antara lain yaitu tadi, tragedi 911. Meskipun tidak terbukti bahwa Muslim adalah dalang tragedi, sebaliknya bahkan sejumlah penelitian canggih membuktikan bahwa gedung WTC runtuh bukan akibat ditabrak pesawat seperti yang dituduhkan, melainkan oleh sejumlah bom yang sengaja dipasang di kaki gedung, tuduhan tetap saja melekat kuat bahwa Islamlah pelakunya.

Rasanya cukup sudah kita di bully dengan berita-berita hoax yang makin lama makin menyakitkan. Sudah tiba waktunya kita harus keluar dan memenangkan pertempuran. Sesama Muslim adalah bersaudara, mari kita satukan dan rapatkan barisan. Tidak perlu memperbesar dan memperlebar perbedaan pendapat diantara kita. Jangan biarkan musuh-musuh Islam menari-nari dan mentertawakan kita sementara kita hanya sibuk dengan perbedaan yang tidak mendasar, hingga terus terpuruk hingga detik ini. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjama’ah (bersatu) adalah rahmat sedangkan berpecah-belah adalah adzab”. ( HR. Ahmad ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Agustus 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Tak sampai 9 bulan lagi Pemilu 2019 akan segera diselenggarakan. Puncak pesta demokrasi rakyat 5 tahun-an tersebut rencananya akan dilaksanakan pada 17 April 2019. Pada acara akbar tersebut selain presiden dan wakilnya, rakyat juga akan memilih anggota dewan legislatif DPR RI, DPD RI dan DPRD.

Namun seperti juga pemilu 2014 dan pilgub DKI 2017, pesta demokrasi tersebut tampaknya akan mengalami fenomena yang sama, yaitu perseteruan 2 kubu yang sama sekali tidak sehat. Tak dapat dipungkiri detik-detik menjelang pilgub DKI 2017, pendukung Ahok sebagai petahana dan pendukung Anies sebagai penantang, bagai anjing dan kucing yang sama sekali tidak dapat berdamai. Ironisnya hal ini terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan Sandiaga yang merupakan wakil gubernur DKI Anies yang memenangkan pemilu berkomentar bahwa kebijakan apapun yang diakukan pemprov DKI selalu dicela PDI-P. Partai berlambang kepala banteng ini memang dikenal sebagai pendukung berat Jokowi-Ahok.

https://www.konfrontasi.com/content/politik/sandiaga-uno-apa-yang-kami-lakukan-pasti-dibilang-salah-oleh-pdi-p

Anis-Sandiaga yang merupakan pasangan yang dijagokan koalisi Gerindra, PKS dan PAN, serta direstui sebagian besar ulama dan umat Islam yang merasa tersinggung oleh pernyataan Ahok tentang ayat 51 surat Al-Maidah beberapa waktu lalu, memang mampu membuktikan keberpihakannya kepada rakyat kecil.  Program Ok-Oce adalah salah satu contohnya.  Program ini adalah program pelatihan bagi para pengusaha kelas menengah dan bawah agar mampu bersaing membuka lapangan kerja baru di DKI Jakarta.

http://suarajakarta.co/news/pemilu/apa-itu-program-ok-oce-anies-sandi-ini-penjelasannya/

Sementara itu, belum lagi kedua pihak yang akan bertarung berhasil mengajukan capres dan cawapres mereka, meski waktu yang tersisa hanya tinggal 1 bulan, perseteruan antar pendukung dan simpatisan di sosmed terus memanas. Misalnya, dengan bermunculannya hashtag #2019Gantipresiden, yang tidak hanya dicetak/sablon di t-shirt namun juga dalam bentuk lagu, dan menjadi viral.

Tentu saja kubu lawan tidak mau trima hal tersebut. Mereka pun menanggapinya dengan t-shirt  #2019TetapJokowi. Sebenarnya sah-sah saja prilaku tersebut asal jangan sampai memancing keributan, seperti pemaksaan pendapat apalagi saling serang secara fisik.

Sayangnya itulah yang terjadi baru-baru ini. Kendaraan milik Neno Warisman, mantan artis yang sejak beberapa tahun ini aktif sebagai pendakwah, dibakar oleh orang tak dikenal pada tengah malam. Padahal mobil Daihatsu Xenia berwarna hitam tersebut diparkir di depan rumahnya. Ironisnya lagi, kejadian tersebut terjadi tak lama setelah tragedy pelemparan bom Molotov ke kediaman Mardani Ali Sera, seorang politisi PKS. Untuk diketahui Mardani Ali Sera adalah salah satu deklarator gerakan #2019GantiPresiden bersama dengan Neno Warisman.

https://fajar.co.id/2018/07/21/usai-mardani-giliran-neno-warisman-yang-diteror/

Lain lagi yang terjadi dengan Gerindra yang menjadikan slogan “Rebut Kembali Indonesia” sebagai jargon mereka. Melalui medsos kubu lawan berusaha membakar emosi pembaca bahwa slogan tersebut sangat provokatif.

“ Merebut dari siapa dan untuk siapa?? Bukankah Indonesia itu milik seluruh rakyat Indonesia??”, begitu salah satu bunyi protesnya. Berikut keterangan Fadli Zon sebagai wakil ketua umum Gerindra.

https://www.kaskus.co.id/thread/5a8b8cdc507410666d8b4568/ini-maksud-semboyan-quotrebut-kembali-indonesiaquot-dari-gerindra/

Tak dapat dipungkiri terutama bagi yang tinggal di Jakarta dan hidup berkecukupan, ibu kota tercinta ini kelihatannya memang baik-baik saja. Apa saja ada, dan mudah didapat, selama ada uang. Gedung-gedung pencakar langit yang megah, pusat-pusat perbelanjaan mewah dimana berbagai butik terkenal mancanegara dan restoran local maupun internasional berada di dalamnya, sangat mudah ditemui.

Namun sadarkah kita siapa sebenarnya pemilik gedung-gedung megah, mall-mall, perumahan-perumahan mewah yang setiap hari kita lihat dan lewati tersebut??  Bahkan sekedar mini market yang jumlahnya tak terhitung di sekitar kita tinggal, dan kalau mau sedikit diingat hanya itu-itu saja … Kalau bukan Indomart yaa Alfamart yang pemiliknya sama saja dengan pemilik yang disebutkan di atas. Bukankah ini yang namanya monopoli, hal yang amat sangat dibenci dan dilarang dalam Islam …

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. … … “.(Terjemah QS. Al-Hasyr(59):7).

Saya jadi teringat kakak ipar saya yang mengeluh sejak menjamurnya 2 minimarket tersebut warung kecil yang didirikannya di halaman rumah jadi tidak laku. Juga prt saya yang suatu hari saya tegur karena membeli sayur lebih sedikit dari kebutuhan kami sehari-hari. Saya memang biasa meminta prt kami belanja sayuran di tukang sayur yang mangkal tidak jauh dari rumah

“ Tukang sayurnya sekarang g berani bawa sayuran banyak-banyak bu … katanya mahal banget, takut pada g mau beli. Jadi ya harus bagi-bagi sama pembeli lain”, kilahnya.

Iya juga, pikir saya, yang paling menderita tukang sayurnya kalau bawa banyak tapi tidak laku terjual.

Jarak antara si kaya dan si miskin di negri kita tercinta ini harus diakui sangat “jomplang” alias jauuuh bagaikan bumi dan langit. Bayangkan, tidak sedikit kongomerat kita yang masuk deretan 100 besar orang terkaya di dunia. Sementara banyak rakyat kita yang makan 3x sehari saja tidak mampu. Tidak jarang saya menemui orang “kecil” yang ketika kami beri makan siang menolak. Alasannya takut kebiasaan … Miriiis …

Untuk itulah Alumni 212 membentuk Koperasi Syariah 212 yang membawahi Mart 212. Tujuannya agar umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia bisa hidup sejahtera dan mandiri. Koperasi ini dibawah pengawasan langsung pakar ekonomi syariah DR.M.Syafii Antonio, dengan penasehat uztad Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), uztad Arifin Ilham dll. Kepemilikannya adalah seluruh anggota koperasi dengan modal minimal 50 ribu rupiah, maksimal 15 juta rupiah.

https://koperasisyariah212.co.id/koperasi-syariah-212/

Dengan demikian hashtag #gantipresiden2019 memang sungguh beralasan. Meski belum jelas siapa sebenarnya sosok terbaik yang patut menggantikan Jokowi. Yang pasti, umat Islam sangat mendambakan sosok yang mau peduli terhadap Islam yang beberapa tahun belakangan ini, khususnya sejak peristiwa Al-Maidah 51, makin terpojokkan. Setidaknya itulah yang diinginkan Alumni 212.

https://news.detik.com/berita/3963104/gerindra-belum-tentu-prabowo-yang-diinginkan-2019gantipresiden

Itu sebabnya pernyataan terbuka dukungan Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) terhadap Jokowi sungguh mengecewakan sebagian besar umat Islam dan para ulama. Terutama uztad Abdul Somad dan rekan-rekan sesama alumni  universitas Al-Azhar yang sebelumnya sempat menjagokan gubernur NTB 2 kali itu untuk menggantikan Jokowi sebagai RI1. Juga partai Demokrat yang belakangan menjadi tempat bernaung dan sukses mengantar TGB sebagai gubernur NTB. Sebaliknya, PKS meskipun sesama oposisi bisa memaklumi keputusan tersebut.

“Tidak mengagetkan. Di politik semua bisa terjadi. Tapi umat akan mencatat dengan baik,” kata Mardani.

Sementara PBB yang mengantar TGB menduduki jabatan tertinggi NTB periode pertama, berkomentar lebih panjang:

“Dulu baru selesai kuliah kembali ke Indonesia pas milih momen bergabung dengan PBB dan duduk sebagai anggota DPR RI. Kemudian di momen yang pas dapat dukungan maju pilgub dari PBB dan menang,” tutur Sukmo.

“Berikutnya tinggalkan PBB gabung ke Demokrat untuk dapat maju lagi di pilgub periode kedua. Sekarang setelah hampir habis jabatannya sangat cerdas berbeda pendapat dengan Demokrat, beliau mendukung Pak Jokowi,” imbuhnya.

https://news.detik.com/berita/4099225/tgb-dukung-jokowi-pro-jokowi-gembira-oposisi-terkaget-kaget

Yang pasti pilihan merapat ke PDIP jelas sangat menyakitkan umat Islam. Betapa tidak … ketua umum  partai yang tak lain adalah Megawati itu, pernah berucap bahwa partainya tidak memerlukan suara umat Islam.

https://www.nahimunkar.org/umat-islam-yang-ada-di-pdip-dihimbau-keluar/

Meloncatnya TGB ke kubu Jokowi menambah potensi perpecahan umat Islam yang semakin melebar. Belum lagi wacana Islam Nusantara yang diprakasai Said Aqil Siraj beberapa tahun terakhir ini. Ulama yang dikenal memang nyleneh ini sambil tertawa ringan menerangkan kepada grand syeikh Al-Azhar Ahmad Thayyib bahwa Islam Nusantara adalah Islam orang Nusantara Indonesia, Malaysia, Brunei yang penuh toleransi anti ektrimisme dan radikal, tidak seperti islam Arab. Ini dikatakan ketika sang syeikh datang memenuhi undangan ke kantor PBNU.

Namun secara tegas syeikh tersebut langsung menjawab, “Seandainya saja Allah tahu bahwa bangsa Indonesia lebih pantas dari bangsa Arab untuk menerima dan mengemban Risalah penutup kenabian, maka Risalah tidak akan diturunkan kepada Nabi Muhammad saw,”.

http://www.mantabz.com/bangga-dengan-islam-nusantara-said-aqil-di-skakmat-grand-syekh-al-azhar/

Lupakah ketua PBNU itu bahwa sesama Muslim adalah bersaudara? Mengapa kita harus merasa lebih hebat dari saudara kita yang lain apalagi yang dari Timur Tengah?? Mempersatukan sesama Muslim pendukung Jokowi/Ahok dan Prabowo/Anies saja tidak mampu! Bukankah ulama adalah pewaris para nabi yang seharusnya perkataan maupun sikapnya harus kita jadikan panutan? Bukan membuat kita saling gontok-gontokan yang akhirnya malah membuat kita lemah dan mudah dikalahkan dan dilecehkan umat agama lain …

Dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan mendzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Sayangnya itu pula yang terjadi antar partai Islam yang ada di negri yang katanya mayoritas Islam ini. Mengapa PKB dan PPP harus berada di posisi berlawanan dengan PKS, PAN maupun PBB yang sama-sama bernafaskan Islam? Mengapa mereka tidak mau bersatu dan berjuang menjadikan seorang Muslim terbaik sebagai pimpinan tertinggi negri ini? Yang mungkin bersama Sultan Erdogan dari Turki dan Mahathir dari Malaysia mampu mengembalikan kejayaan Islam yang pernah mencapai masa keemasan selama 8 abad lebih.

Mari bersama kita bermunajat kepada Allah swt agar para pemuka partai-partai tersebut mau bersatu, mengingatkan apa sebenarnya tujuan mereka mendirikan partai Islam. Setidaknya, bila hanya PKS, PAN dan PBB bersama Gerindra yang mau memperjuangkan keinginan umat, semoga Prabowo yang merupakan orang terkuat di kubu tersebut mau benar-benar memikirkan dan mengajukan capres dan cawapres yang kira-kira bisa ditrima dan bisa mengalahkan sang petahana tanpa harus memaksakan diri untuk maju sendiri sebagai RI1.

Sekaligus memohon agar umat Islam sadar akan pentingnya memilih pemimpin yang seakidah, yang menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pegangan hidup, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga dalam menjalankan kekuasaan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu ( Yahudi dan Nasrani), dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):57).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juli 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »