Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Roger Garaudy lahir di Marseille pada 17 Juli 1913, di sebuah kota pelabuhan yang sejak lama menjadi persilangan bangsa-bangsa, tempat angin Afrika dan Eropa berpapasan, dan tempat Timur jauh terasa lebih dekat dari peta mana pun. Dari lingkungan pekerja yang sederhana, ia menyerap nilai keteguhan dan spiritualitas Kristen, yang kelak menjadi fondasi awal pencariannya. Namun sejak muda ia sudah merasa bahwa iman yang diajarkan kepadanya bukanlah sesuatu yang final. Ada ruang kosong, semacam rongga eksistensial yang tidak terisi oleh dogma gereja. Dalam Appels aux Vivants ia menulis bahwa masa kecilnya adalah “iman yang rapuh, yang mengajarkan kasih, tetapi kehilangan keberanian untuk memerangi ketidakadilan.” Kata-kata ini mengungkapkan benih yang kelak menuntunnya ke perjalanan panjang lintas ideologi.

Ketika Eropa terguncang oleh krisis ekonomi dan kebangkitan fasisme, Garaudy muda melihat penderitaan di mana-mana. Ia tidak menemukan gereja berdiri tegak membela kaum terhina, sehingga ia berpaling kepada Marxisme—bukan karena menolak agama, melainkan karena mencari keadilan yang lebih konkret. Marx, terutama dalam Manuskrip 1844, memberinya bahasa baru tentang keterasingan manusia dan harapan akan tatanan sosial yang adil. Ia bergabung dengan Partai Komunis Prancis, bukan karena ingin memusuhi agama, tetapi karena ingin membela manusia. Dalam Dieu est Mort (1962) ia menulis bahwa langkah itu “bukan pemberontakan terhadap Tuhan, melainkan terhadap mereka yang menjadikan Tuhan pembenaran status quo.”

Perang Dunia II mengubah hidupnya. Ia ditangkap Nazi dan dipenjarakan di Aljazair. Di dalam penjara yang sunyi, ia mengajar sesama tahanan membaca dan berdiskusi, sementara ia sendiri bergulat dengan keheningan yang memaksa seseorang memeriksa kedalaman dirinya. Ia menyaksikan manusia dalam keadaan paling rapuh dan paling kuat sekaligus. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa ideologi—apa pun bentuknya—dapat berubah menjadi berhala jika tidak disinari oleh hati nurani. Dari penjara itu, ia keluar bukan sebagai seorang komunis yang patuh, tetapi seorang manusia yang mulai mencurigai “kepastian-kepastian” yang terlalu sempurna.

Namun jalan itu belum selesai. Selepas perang, ia kembali ke pangkuan partai dan menjadi salah satu pemikir resmi mereka, hingga akhirnya duduk di Komite Pusat PCF. Di mata banyak orang, ia mencapai puncak karier seorang intelektual kiri. Tetapi hatinya kembali retak pada tahun 1956 ketika tank-tank Soviet memasuki Budapest. Ia mengutuk kezaliman itu dengan lantang dalam esai-esai dan perdebatan internal. Bukunya Le Communisme et la Morale (1959) menjadi kritik tajam yang membuatnya diawasi dan akhirnya dikeluarkan dari partai pada 1970. Dari pengusiran itu, ia menemukan sebuah kebebasan moral yang selama ini dirindukannya. Ia memunggungi ideologi, bukan karena membencinya, tetapi karena telah menemukan bahwa kebenaran tidak dapat dipenjarakan dalam satu kerangka sistem.

Tahun-tahun berikutnya menjadi masa pencarian spiritual yang sangat mendalam. Ia membaca Rumi, Ibnu Arabi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Muhammad Iqbal, Syekh Ahmad al-Alawi, René Guénon, Frithjof Schuon—serta tekun menelaah Louis Massignon yang memperkenalkan dunia mistik Islam. Ia merasa tradisi intelektual Islam memiliki keluasan yang tidak ia temukan di Barat modern: sebuah peradaban yang dapat menyatukan ilmu astronomi dengan puisi, matematika dengan musik, rasionalitas dengan keindahan batin, politik dengan etika spiritual.

Karya Promesses de l’Islam (1981) adalah tanda bahwa pintu itu sudah terbuka. Ia menulis tentang tauhid bukan sebagai konsep teologis semata, tetapi sebagai prinsip yang menyatukan Tuhan, manusia, dan alam. Islam baginya adalah “peradaban kesaksian”—kesaksian bahwa hidup tidak boleh dipisahkan dari makna, dan makna tidak boleh dipisahkan dari keadilan. Ia menemukan bahwa Islam tidak memutus jembatan antara akal dan wahyu, antara realitas dan nilai-nilai, antara dunia dan Tuhan.

Dan pada tahun 1982, setelah pergulatan panjang dan tenang, Roger Garaudy memeluk Islam. Ia memilih nama Ragaa, “harapan.” Dalam wawancaranya, ia berkata, “Saya tidak berpindah agama. Saya pulang dari pengembaraan panjang.” Islam baginya bukan pelabuhan akhir, melainkan laut luas yang akhirnya mampu menampung seluruh pencariannya. Ia menemukan kembali apa yang hilang dari kekristenan masa kecilnya: spritualitas yang menggugah dan keberpihakan terhadap kaum tertindas sekaligus. Ia menemukan apa yang tidak memuaskannya dari Marxisme: etika transenden yang tidak tunduk kepada agenda politik.

Setelah masuk Islam, karya-karyanya memasuki fase paling matang. Ia menulis L’Islam habité; Appel aux Vivants yang menjadi semacam wasiat intelektual dan spiritual; Histoire des Civilisations yang menempatkan Islam dalam lintasan sejarah manusia; dan karya yang paling kontroversial Les Mythes fondateurs de la politique israélienne (1996), yang membuatnya dipenjara opini di Prancis. Ia kehilangan ruang bicara, kehilangan dukungan media, dan dicerca oleh kalangan tertentu. Tetapi ia tidak kehilangan keberanian. “Jika kebenaran membuatku sendirian,” katanya, “biarkan aku sendirian bersama kebenaran.”

Garaudy berkelana ke dunia Islam, dari Teheran hingga Rabat, dari Kairo hingga Damaskus. Ia berdialog dengan ulama, cendekiawan, mahasiswa, dan seniman. Dalam setiap kunjungannya, ia selalu menekankan bahwa Islam tidak akan bangkit hanya dengan retorika, melainkan dengan ilmu, kreativitas, dan keberanian moral. Ia sering mengutip Rumi: “Di mana engkau berdiri, jadilah jiwa dunia itu.”

Dalam kajian tentang seni Islam (L’Art de l’Islam), ia menegaskan bahwa peradaban Islam tidak pernah membuat seni untuk meniru dunia, tetapi untuk menyingkapkan ruh dunia. Dalam kritiknya terhadap Barat, ia tidak anti-ilmu, tidak anti-modernitas; ia hanya menolak peradaban yang memutus manusia dari makna, merusak bumi, dan memuja pasar. Ia menawarkan visi alternatif: peradaban berbasis tauhid, yang menjadikan manusia penjaga bumi, bukan penghisapnya.

Nasihat-nasihat Garaudy menyebar luas dalam dunia Islam. Di antara pesan-pesannya yang terkenal adalah:
“Jika engkau ingin memahami Islam, bukalah hatimu lebih dahulu sebelum membuka pustakamu.”
“Keadilan tanpa spiritualitas akan melahirkan kekerasan; spiritualitas tanpa keadilan akan melahirkan kemunafikan.”
“Jadilah manusia yang tidak tunduk kepada uang, pujian, atau ketakutan—karena tiga itulah berhala modern.”
“Islam adalah janji masa depan, bukan nostalgia masa silam.”

Tahun-tahun terakhir hidupnya adalah masa sunyi yang damai. Ia terus menulis, membaca, dan menerima tamu. Ia wafat pada 13 Juni 2012, dengan penuh ketenangan. Di Prancis, berita tentangnya mungkin dingin. Namun di dunia Islam, namanya dikenang dengan cinta dan penghormatan: sebagai jembatan hidup antara dua dunia, sebagai musafir kebenaran yang jujur sampai akhir, sebagai bukti bahwa hati manusia akan menemukan rumahnya jika ia cukup berani untuk mencari.

Hidupnya mengajarkan bahwa kebenaran bukan hadiah bagi mereka yang berhenti bertanya, tetapi bagi mereka yang berani kehilangan segalanya demi nurani. Garaudy menunjukkan bahwa akal yang jujur akan selalu mencari cahaya, dan cahaya itu dapat muncul dari tempat yang tidak pernah kita duga. Tauhid—yang ditemukannya setelah panjang berkelana—menjadi jawaban bagi pencarian seumur hidupnya: kesatuan antara Tuhan, manusia, dan alam dalam satu simfoni yang tak terputus.

Karya-Karya Penting Roger Garaudy

Beberapa karya utama yang memuat pemikirannya tentang spiritualitas, filsafat, seni, dan kritik peradaban:

Promesses de l’Islam (1981)
L’Islam Habité (1987)
Appel aux Vivants (1979–1995)
Histoire des Civilisations
Le Communisme et la Morale (1959)
Pour un Dialogue des Civilisations
L’Art de l’Islam
Les Mythes fondateurs de la politique israélienne (1996)
Dieu est Mort (1962)
Parole d’Homme
Danse du Feu: Dialogue avec Rumi

Daftar Referensi Utama:

Karya Primer Roger Garaudy

  1. Roger Garaudy, Promesses de l’Islam, Paris: Seuil, 1981.
  2. Roger Garaudy, Appel aux Vivants, Paris: Robert Laffont, 1979–1995.
  3. Roger Garaudy, L’Islam Habité, Paris: Seuil, 1987.
  4. Roger Garaudy, Le Communisme et la Morale, Paris: PUF, 1959.
  5. Roger Garaudy, Parole d’Homme, Paris: Laffont, 1975.
  6. Roger Garaudy, Histoire des Civilisations, Paris: Bordas.
  7. Roger Garaudy, L’Art de l’Islam, Paris: Desclée de Brouwer.
  8. Roger Garaudy, Les Mythes fondateurs de la politique israélienne, 1996.
  9. Roger Garaudy, Danse du Feu: Dialogue avec Rumi, Paris: Seghers, 1990.
  10. Roger Garaudy, Dieu est Mort, Paris: Seuil, 1962.

Sumber Sekunder, Biografis, dan Kajian Tentang Garaudy

  1. Jean Daniel, L’Itinérance de la Vérité: Entretiens autour de Roger Garaudy.
  2. Mohammed Arkoun, Lectures du Monde Arabe et Islamique.
  3. Louis Massignon, Opera Minora.
  4. Darius Shayegan, Les Illusions de l’identité.
  5. Henry Corbin, Histoire de la Philosophie Islamique.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Diambil dari : https://qotrunnada-depok.ponpes.id/web/manaqib/2025/12/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya/

Manaqib edisi Desember 2025.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.

Read Full Post »

Sekulerisasi Islam

Adalah tabiat manusia mencintai kehidupan dunia dengan segala kesenangan, hingar bingar, gemerlap serta kemegahannya. Wajar, karena manusia memang hidup nyata di dunia. Tapi ketika kemudian ada kelompok manusia yang berbuat sesuka hati melanggar hak orang lain tentunya sudah tidak wajar. Itu sebabnya diperlukan adanya hukum yang mengatur prilaku manusia.   

Namun yang lebih penting lagi ternyata hidup tidak hanya di dunia melainkan juga ada akhirat, yaitu kehidupan setelah mati. Di akhirat inilah orang akan mendapatkan balasan yang sesungguhnya atas apa yang telah dikerjakan di dunia baik dalam kebaikan maupun kejahatan. Dan pada akhirnya adalah surga dan neraka tempat kembali.

Sayangnya tidak banyak orang yang meyakini hal tersebut kecuali orang beragama. Meski sebenarnya bagi orang yang mau berpikir, banyak sekali kejadian yang dapat membuktikan hal tersebut. Salah satunya adalah adanya alam semesta yang maha luas ini, yang dibandingkan bumi tempat kita tinggal, bumi tidak ada apa-apanya secuilpun. Setidaknya itulah yang tertulis dalam Al-Quran, kitab suci umat Islam.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Terjemah QS. Ali Imron (3):190-191).

Untuk diingat, ayat Al-Quran yang pertama kali turun adalah “Iqro !” yang artinya “Bacalah!” Ini menekankan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk selalu berpikir, membaca. Temuan Sains dan Teknologi belakangan ini membuktikan bahwa untuk percaya pada sesuatu tidak harus melihat dengan mata kepala sendiri karena pandangan mata manusia amat sangat terbatas.  

Baca : https://vienmuhadi.com/2023/02/28/satu-hari-akhirat-sama-dengan-seribu-tahun-dunia/

Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Namun Ketika seseorang telah menyatakan memeluknya tidak ada pilihan lain selain wajib mematuhi semua syariatnya (hukum-hukumnya) sesuai Al-Quran dan sunnah Rasul.

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”. (HR. Muslim).

Namun untuk memasuki syurga-Nya, Allah swt menuntut hamba-Nya untuk memurnikan ketaatan dan penyembahan, yaitu taat dan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Satu, yaitu Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.        

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya”. ( Terjemah QS. Az-Zumar (39):2).

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”. Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku“. (Terjemah QS.Az-Zumar (39):11-14).

Yang dimaksud “memurnikan” ketaatan (dari kata dasar ikhlas yang berarti murni) adalah tidak mencampur ketaatan dan penyembahan kepada Allah swt dengan yang lain, dalam segala hal maupun bentuk. Lawan ikhlas adalah syirik (mempersekutukan Allah).

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48).

Sementara itu dalam sebuah hadist dikatakan,  Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251).

Tali ikatan Islam yang dimaksud adalah segala hukum yang mengikat seseorang menjadi seorang Muslim. Dan hal yang lebih dulu dan mudah diabaikan seorang Muslim adalah mengabaikan hukum Islam seperti riba’ (bunga bank), khamar (alkohol), perzinaan, homoseksual, jilbab dll. Sementara shalat adalah yang terakhir putus, karena bila seorang mengaku Muslim tapi tidak menjalankan shalat secara sengaja/sadar maka hilanglah ke-Islamannya. Shalat adalah satu-satunya kewajiban yang harus dikerjakan, dalam keadaan apapun. Bila sedang sakit atau darurat boleh dikerjakan sambil duduk, berbaring bahkan di atas kuda sekalipun.

Barang siapa berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya”. (Umar bin Khattab radhiallahu anhu).   

https://hidayatullah.com/kajian/oase-iman/2016/05/16/94896/tali-terakhir-bernama-shalat.html

Inilah yang terjadi hari ini. Shalat di belahan dunia manapun Muslim berada mungkin masih bisa terlihat. Namun hukum Islam seperti yang disebutkan diatas masihkah terjaga baik??? Berapa banyak negara berpenduduk Islam di dunia ini yang tidak terjerat sistim Barat yang materialistis, yang pada dasarnya mengandung riba, perjudian, pelacuran, alkohol, pajak yang berlebihan, dll??

Islamophobia yang melanda Barat yang sengaja diciptakan pihak-pihak yang membenci Islam, sejatinya adalah suatu usaha untuk menjauhkan umat Islam dari hukum-hukumnya, bukan hanya agar orang Barat tidak menerimanya. Mereka membenci bukan hanya ritualnya seperti shalat, puasa, haji tapi terlebih lagi hukum-hukum Islamnya.

Hukum Islam dianggap sebagai hambatan besar bagi kemajuan yang sifatnya materialistis. Bunga bank, perjudian, alkohol, narkoba, bisnis pelacuran, lbgt dan yang semacamnya adalah sumber keuangan yang paling menjanjikan dan mudah didapat.

Untuk itu agama harus dipisahkan dari kehidupan dunia. Agama adalah urusan akhirat dengan Tuhannya, tidak boleh dicampur adukkan dengan kepentingan dunia yang materialistis. Itulah prinsip sekulerisme yang akhirnya diikuti oleh hampir semua negara di dunia ini termasuk negara-negara berpenduduk Islam. Ketakutan terhadap kemiskinan dan dalih modernisasi membuat negara-negara tersebut tunduk patuh pada Barat yang 250 tahun terakhir ini memang sedang berada di puncak kejayaan.   

Islamophobia dimunculkan untuk mencitrakan ajaran Islam sebagai ajaran yang menyimpang, yang dipenuhi dengan ekstremisme dan kekerasan. Yang ironisnya tidak hanya dipercaya oleh non Muslim tapi juga Muslim yang kurang ilmu dan keimanannya, sungguh mengerikan.

Padahal Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang membedakan jelas antara kejahatan dan kebaikan. Islam adalah agama yang santun dan adil namun tegas, yang menghargai perbedaan pendapat tanpa harus mencampur-adukkannya, yang membela orang lemah dan miskin, menghormati orang-tua dan kaum perempuan, tidak mengajarkan menumpuk harta, dll.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”. (Terjemah QS. Al-Humazah (104): 1-2).

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. (Terjemah QS. Al-Maa’un (107): 1-3).

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. [HR. Bukhari].

Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”. [HR. Bukhari Muslim].

Ironisnya hari ini dapat kita lihat jelas bagaimana sikap negara-negara Timur Tengah menghadapi genosida terhadap rakyat Palestina, Gaza khususnya, yang dilakukan Israel dengan izin AS. Negara-negara tetangga dekat Palestina tersebut adalah negara-negara Islam. Namun demi kepentingan materialistis mereka mengizinkan AS membangun pangkalan militer di negara mereka. Yang dengan demikian memudahkan negara adi daya tersebut, dengan segala dalihnya, menyerang Iran, satu-satunya negara yang secara terbuka membela Palestina.

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (Terjemah QS. Zukhruf (43):36-37).

Akhir kata semoga Allah Azza wa Jala ridho membuka hati manusia terutama para pemimpin negara untuk menyadari kesalahannya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bishawwab.

Jakarta, 15 JuIi 2024 / 1 Safar 1448 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Untuk pertama kalinya sejak 1967, Masjidil Aqsho di Al-Quds (Yerusalem)  yang merupakan masjid tersuci ke 3 setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, ditutup. Penutupan oleh otoritas Israel ini dimulai pada 28 Februari 2026  bertepatan dengan 10 Ramadhan 1447 H. Penutupan tersebut berlanjut hingga akhir Ramadhan membuat ribuan warga Palestina tidak bisa menunaikan shalat Iedul Fitri yang merupakan hari raya umat Islam terpenting disamping hari raya Iedul Adha.

Syekh Ekrima Sabri, khatib Masjid Al-Aqsho dan mantan mufti besar Yerusalem, mengeluarkan fatwa agar umat Islam melaksanakan shalat Ied di titik terdekat yang bisa dijangkau dari masjid tersebut. Namun, kehadiran militer yang masif di lorong-lorong Kota Tua membuat situasi tetap mencekam dan rawan bentrokan.

Penutupan dengan dalih keamanan yang diberlakukan tepat pada saat dimulainya serangan AS-Israel ke Iran tersebut tentu saja memicu kemarahan dan kesedihan tidak saja warga Yerusalem namun juga umat Islam seluruh dunia. Hamas menilai penutupan itu sebagai bagian dari kebijakan sistematis yang bertujuan memaksakan kendali penuh atas kompleks Al-Aqsha yang selama 60 tahun berada dibawah kendali otoritas Palestina.

Negara2 Arab tetangga seperti Yordania, Arab Saudi, Qatar, UAE, Kuwait, Bahrain dll segera mengutuk tindakan yang dinilai melanggar kesepakatan internasional tersebut. Sayangnya seperti juga tindakan brutal dan biadab yang selama ini dilakukan Israel terhadap Palestina, Gaza khususnya, Lebanon, Yaman dll hanya sekedar dikutuk tanpa tindakan nyata dan upaya serius untuk menghentikannya. Bahkan atas izin negara-negara teluk dimana pangkalan militer  AS bercokol, AS bisa leluasa menyerang Iran.

Itu sebabnya kemudian Iran menyerang balik pangkalan-pangkalan militer tersebut. Namun sayangnya sekali lagi, negara-negara teluk berpenduduk mayoritas Islam tersebut tidak mau trima,  dengan alasan serangan Iran menimpa sejumlah fasilitas vital meski Iran menyangkalnya. Belakangan terbukti bahwa itu adalah perbuatan sengaja AS !! Sungguh sebuah upaya adu domba yang tidak lucu.   

Ajaibnya lagi tanpa sedikitpun rasa malu Israel mengadu kepada PBB bahwa Iran telah melanggar perjanjian internasional dengan mengebom kota-kota Israel hingga mengakibatkan korban sipil. Lupa seolah dunia tidak melihat apa yang dilakukannya di Gaza dimana kota luluh lantak, puluhan ribu korban meninggal sebagian besar anak-anak dan perempuan.    

Di saat yang sama ketika perhatian dunia tersedot ke arah perang AS-Israel melawan Iran, pemukim Yahudi dengan dibantu tentara Israel seenaknya menyerobot lahan dan rumah penduduk Palestina di kota-kota Tepi Barat serta mengusir sang pemilik bahkan menganiaya dan membunuhnya. Mereka juga seenaknya memasuki area Masjidil Aqsho dan melakukan ritual agama mereka.

Begitupun Gaza yang katanya sedang dalam keadaan genjatan senjata, namun tak henti-hentinya pasukan Israel menjatuhinya bom hingga detik ini. Truk-truk bantuan makanan dan obat-obatan yang merupakan bagian dari perjanjian genjatan senjata  juga mengalami pemblokiran membuat rakyat Gaza terus menderita kelaparan akut dan kesengsaraan berkepanjangan.    

Sejumlah ulama spesialis akhir zaman, termasuk Shamsi Ali, imam besar asal Indonesia yang berdomisili di New York, Amerika Serikat, secara tegas menyatakan bahwa tindakan provokatif Israel merupakan usaha demi terwujudnya impian Zionis yaitu Israel Raya dengan Yerusalem sebagai ibukota. Lebih khusus lagi demi tegaknya kembali the Kingdom of David alias Temple of Solomon yang berdiri tepat di atas Masjidil Aqsha, persis prediksi Rasulullah s.a.w ribuan abad silam.  

Padahal perbuatan biadab dan kekejian yang dilakukan Yahudi Israel dibantu sekutu sejatinya AS yang sudah sangat keterlaluan itu, sesungguhnya hanyalah akan mempercepat datangnya siksaan dan hukuman Allah sebagaimana ayat 7 surat Al-Isra’ berikut,

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

Ayat diatas memastikan akan lenyapnya bangsa Yahudi dari permukaan bumi ini. Maha Suci Allah yang memberitahukan kepada kaum Muslimin bahwa kaum Muslimin akan memasuki Masjidil Aqsa, sebagaimana pertama kali dahulu (di masa pemerintahan Umar bin Khathab r.a menaklukan bumi Palestina). Namun dengan catatan bila kaum Muslimin bersatu sebagaimana penaklukan pertama. Allah swt bahkan telah menjanjikan pertolongan dengan batu yang dapat berbicara.

“Kaum Yahudi nanti akan memerangi kalian. Akan tetapi, kalian (diberi kekuatan) menguasai (mengalahkan) mereka, kemudian (sampai) batu pun berkata, ‘Wahai Muslim, ada orang Yahudi di belakangku, bunuhlah dia.‘” (HR Tirmidzi No. 2236).

Dr. Bassam Nahad Jarrar dalam buku terjemahan “Kehancuran Israel tahun 2022” menguraikan bahwa dua janji Allah kepada Bani Israil yang diturunkan dalam kitab Taurat dan Al-Quran baru terlaksana sekali. Berarti masih akan terjadi sekali lagi. Menurutnya, dalam Kitab Taurat, Allah telah memutuskan bahwa bani Israil akan memasuki bumi yang diberkati, yaitu Palestina. Bahkan di sana mereka akan mendirikan pemerintahan. Tetapi kemudian mereka membuat kerusakan besar sehingga menyebabkan Allah swt menghukum mereka dengan cara mengirim hamba-hamba-Nya yang tangguh, itulah umat Islam. Setelah kerajaan mereka binasa, mereka diusir dan dicerai-beraikan.

Masalahnya, akankah umat Islam bersatu, dalam waktu dekat ini?? Sampai kapan umat Islam akan terus tunduk dan mengekor AS dan Israel yang saat ini memang sedang diberi Allah swt kejayaan yang menyesatkan??  Padahal negara-negara Nato sekutu dekat AS seperti Spanyol, Italia, Inggris, Perancis dan Jermanpun sudah menyatakan kemuakannya dan tidak ingin telibat perang melawan Iran. Dan Iranpun sudah secara terbuka mengajak negara-negara Muslim untuk bersatu melawan kejahatan AS dan Israel.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):51).

Atau akankah Iran yang dengan gagah berani sendirian terus menghadapi Yahudi Israel hingga memborong balasan pahala tertinggi dari-Nya tanpa satupun kita mendapatkan bagian pahala? Alangkah meruginya !!! Karena sesungguhnya ketetapan Allah Azza wa Jala pasti terjadi meski tak satupun manusia di dunia ini berpartisipasi.

Kami tidak berniat hendak memerangi Abrahah karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim a.s.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”.

Itulah jawaban pemuka Quraisy penguasa Mekah  penjaga Ka’bah, Abdul Mutthalib kakek Rasulullah Muhammad s.a.w atas tantangan Abrahah penguasa Yaman yang datang ke Mekah dengan pasukan gajahnya yang bertujuan menghancurkan Ka’bah. Maka Allah swt mendatangkan pertolonganNya sebagaimana terekam dalam surat Al-Fill berikut,

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.  

Akhir kata, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, menjadi bagian kemenangan semampu kita meski hanya dengan doa yang sejatinya adalah senjata terkuat umat Islam, aamiin …

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2026 / 6 Syawal 1447 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Trump kembali berulah. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama sekutu dekatnya, Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran setelah sebelumnya berulang kali mengeluarkan sejumlah ancaman. Serangan brutal tersebut selain memakan korban ratusan murid sekolah dasar meninggal juga menyebabkan wafatnya Ali Khamenei, pimpinan tertinggi spiritual Iran.   

Sudah pasti Iran murka dan langsung membalas serangan tersebut. Sasarannya selain wilayah Israel juga pangkalan militer AS yang berada di negara-negara teluk seperti UEA, Qatar, Kuwait dll. Ironisnya, negara-negara teluk berpenduduk mayoritas Muslim tersebut tidak mau trima dan bersumpah akan membalasnya. Meski memang kabarnya ada target fasilitas umum yang terdampak.   

Sebaliknya negara-negara NATO ragu-ragu mengabulkan permintaan Trump agar pangkalan militer mereka diizinkan untuk digunakan menyerang Iran. Mereka beralasan tindakan kedua negara tersebut tidak sejalan dengan PBB dan dianggap mengabaikan sistim hukum internasional yang berlaku. Sejumlah negara bahkan berani memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara beberapa negara menarik duta besar mereka, Spanyol salah satunya.  

Di Indonesia sendiri umat Islam berbeda pendapat, antara yang berpihak kepada AS-Israel dan kepada Iran. Alasan utamanya karena Iran adalah Syiah yang selama ini dianggap tidak sama dengan Islam bahkan memusuhi Islam Sunni yang merupakan mayoritas di Indonesia. Sementara itu Prabowo terlihat ragu memberikan pernyataan duka cita atas wafatnya Khameini, dan akhirnya baru mengirimkan pernyataan tersebut 5 hari setelah tragedi. Padahal sejak awal dubes Iran di Indonesia secara resmi telah memohon dukungan resmi Indonesia.  

Di luar itu banyak pihak termasuk ikatan dosen UGM, Unpad, wakil presiden Jusuf Kalla, MUI dll tak lama setelah serangan brutal tersebut kembali meminta Prabowo agar keluar dari BoP yang baru ditanda-tangani beberapa waktu lalu. Dengan alasan selain isi perjanjian yang sangat tidak seimbang bahkan cenderung memberatkan rakyat, tidak melibatkan  Palestina juga prilaku Amerika sebagai pencetus ide perdamaian namun justru bertindak sebagai biang kericuhan.

Kabar terakhir berkenaan dengan Trump adalah ancamannya kepada Kuba sebagai next target setelah Iran. Usut punya usut ternyata pada (5/9/2025) dalam konferensi pers di Gedung Putih secara resmi ia mengumumkan perubahan nama Departemen Pertahanan Amerika Serikat menjadi Departemen Perang. Alasannya mengikuti apa yang pernah dilakukan pendahulunya. “Dengan nama inilah Departemen Perang, bersama dengan Departemen Angkatan Laut yang kemudian dibentuk, memenangkan Perang 1812, Perang Dunia I, dan Perang Dunia II, yang menginspirasi kekaguman dan kepercayaan diri pada militer negara kita, dan memastikan kebebasan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Amerika,” ucap Trump pongah, jelas mencerminkan kesukaannya dengan perang!

Sehubungan dengan Syiahnya Iran, sejumlah ulama besar seperti UBN ( ust Bahtiar Nasir) dan UAH ( ust Adi Hidayat) mengemukakan pendapat bahwa tindakan AS dan Israel bukan asal dasar pertimbangan agama melainkan politik. Sebagaimana tindakan keji Trump menculik presiden Venezuela yang berlatar politik maka seharusnya kitapun mencelanya. Mengenai menshalati almarhum Khameini secara ghaib karena tidak sesuai syariah sebaiknya tidak usah dilakukan.

Namun Iran tetap perlu dibela apalagi kita semua tahu Iran adalah satu-satunya negara yang secara aktif berpihak kepada Palestina. Palestina dimana didalamnya berdiri Masjidil Aqsho yang harus dijaga keberadaannya bukan hanya oleh rakyat Palestina namun juga oleh seluruh umat Islam, jangan sampai jatuh ke tangan pihak lain apalagi Israel. Jadi isu Palestina tidak cuma sekedar kemerdekaan Palestina tapi juga jaminan keamanan dan kepemilikannya.

Iran dibawah bendera Republik Islam Iran juga dikenal sebagai satu-satunya negara yang tidak mau tunduk kepada AS. Maka tak heran AS dan Israel begitu bernafsu menjatuhkan pemerintahan Iran agar dapat segera menggantinya dengan Reza Pahlevi, putra mahkota syah Iran yang dilengserkan melalui revolusi Iran pada tahun 1979, dan yang sejak itu terpaksa mengasingkan diri ke AS.

Iran dibawah dinasti Pahlevi yang sekuler, yang berkuasa sejak tahun 1925 hingga 1979 dikenal sangat loyal pada Barat, AS khususnya. Dinasti ini berkuasa melalui kudeta yang dibantu Inggris dan AS. Dibawah syah Iran Reza yang sangat memuja Koresy agung, pendiri empurium Persia, ia mengubah awal kalender Iran dari Kalender Hijriyah ke tahun penobatan sang pujaan hati.  

Dan kini secara terang-terangan putra mahlota tersebut telah menyatakan kesiapannya untuk memimpin kembali Iran. Dalam rekaman yang viral di media sosial X, Jumat (6/3/2026), ia bahkan mengajak Eropa bergabung dengan AS dan Israel untuk “perang Salib “ melawan Iran. Menjadi pertanyaan besar, perang Salib yang pernah terjadi beberapa kali pada lampau itu, adalah perang antara pasukan Islam melawan pasukan Kristen. Artinya ia secara jelas menempatkan diri sebagai musuh Islam !

https://www.cnbcindonesia.com/news/20260306120442-4-716614/putra-shah-iran-serukan-perang-salib-lawan-teheran-minta-eropa-ikut

Belum lagi dengan wacana yang dilontarkan PM Israel Netanyahu yang mengajak negara-negara Teluk untuk memerangi Syiah-Sunni. Apa maksudnya?? Apa yang ada di benaknya tentang negara-negara Teluk? Apakah ia tidak melihatnya sebagai pemeluk Islam???    

Sementara itu pada waktu yang sama Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama umat Islam hari ini memasuki hari ke 8 ditutup baik untuk shaalat Isya, Taraweh maupun shalat Jumat. Shalat Jumat bahkan sudah tiga kali Jumat. Ustad Hasan Gaza pada Jumat 6 Maret juga mengabarkan bahwa ia mendapat bocoran video yang menampilkan Yusif Izrai seorang rabbi Yahudi, bahwa masjid utama ke 3 termulia tersebut akan dihancurkan lewat skenario drone Iran yang tersasar. Na’udzubillah min dzalik.

Tak dapat disangkal Israel adalah bangsa yang sejak dulu suka berbuat berbagai fitnah kejahatan. Antisemit ( kebencian bangsa Eropa terhadap bangsa Israel) yang sempat lama melanda Eropa adalah salah satu buktinya. Mohammad Safa, seorang direktur eksekutif non pemerintah (PVA) yang juga anggota perwakilan utama PBB, melaporkan bahwa rudal yang membidik pasukan PBB di Lebanon adalah hasil kerja rahasia Israel yang berusaha mengadu domba antar negara teluk. Persis seperti skandal Lavon Affair yang pernah dilakukan Israel untuk mengadu domba Mesir dan AS pada tahun 1954.    

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Fenomena diatas telah diprediksi Rasululah saw ribuan tahun silam. Saat ini kita berada di tahap 4 dari 5 sistim pemerintahan yaitu Mulkan Jabariyyah ( raja/ penguasa dzalim yang tidak memegang teguh Al-Quranul Karim). Saat dimana dunia dengan segala kenikmatan dan gemerlapnya membutakan kita dari hari akhirat. Saat semua negara tergoda untuk berlomba mencapai kemajuan dalam segala bidang kehidupan tak peduli harus berhutang sebesar apapun, tak peduli kepada siapa kita berhutang, pun bila harus membayar bunga pinjaman berkali lipat pinjaman padahal Islam jelas-jelas melarangnya.   

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. …” ( Terjemah Al-Baqarah (2):249).

Sungguh berat tugas seorang pemimpin menjaga amanah apalagi memasuki akhir zaman ini. Tak heran bila syurga tertinggi adalah balasannya jika bisa berbuat adil namun neraka bila zalim.

Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Terjemah QS Asy-Syura (42: 42).

Sebaliknya bagi umatpun berat hidup di masa ini, perlu kesabaran extra menghadapinya. Tetap berjalan di atas kebenaran, mengikuti arus zaman namun kokoh tidak hanyut dalam arus kenikmatan yang menyesatkan serta tetap berbuat sesuai kemampuan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49).      

“Sebab di belakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar, sabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalnya, ia menambahkan untukku, “seperti amalan selainnya.” Abu Tsa’labah bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka!” beliau menjawab: “(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (Riwayat Abu Dawud 3778).

Semoga Ramadhan kali ini Allah swt benar-benar ridho mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadah kita, tidak saja amal pribadi seperti shalat, puasa, tilawah, zakat infak sodaqoh namun juga kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang sedang diuji dengan ujian maha berat seperti yang dialami rakyat Palestina, Gaza khususnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …  

Jakarta, 22 Ramadhan 1447 H/ 12 Maret 2026 M.

Wallahu’alam bi shawwab.

Vien AM.

Read Full Post »

Barat sering menuduh Islam disebarkan dengan pedang, atau dengan kata lain dengan perang (kekerasan dan kekuatan). Benarkah demikian??

“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. ( Terjemah QS An-Nuur(24:55).

Ayat di atas adalah janji Allah swt bahwa jika orang-orang beriman mengerjakan amal perbuatan baik maka :

1. Allah akan menjadikan mereka penguasa di muka bumi. 2. Allah tegakkan Islam, 3. Aman dan sentausa, 4. Tidak menyekutukan Allah swt dengan apapun.

Itulah yang terjadi pada era terakhir kehidupan Rasulullah, sahabat khualarrasyidin, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, selama kurang lebih 8 abad hingga jatuhnya Turki Ustmani pada 1924. Zaman kejayaan Islam yang daerah kekuasaannya membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara ( Maroko, Aljazair, Tunisia, Libia dan Mesir), seluruh semenanjung Arab ( Arab Saudi, Kuwait, UEA, Bahrain, Qatar, Yaman, Oman), Asia Tengah (Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan),  Asia Kecil (Turki, Suriah, Palestina, Yordania dan Lebanon), Asia Barat ( Irak dan Iran), Eropa Timur ( Bulgaria, Yunani, Albania, Makedonia dan Yunani) hingga perbatasan barat negri China.

Dalam buku berjudul “Bonaparte et L’Islam” yang ditulis oleh Christian Cherfils, Napoleon Bonaparte (Napoleon I), pendiri Empirium Perancis (1769-1821 M) berkata,

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. … Muhammad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi. … Muhammad memang seorang manusia besar”.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

Pada saat itu orang-orang beriman benar-benar menjalankan seluruh isi Al-Quran sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw, tidak memilih dan hanya mengamalkan ayat-ayat yang mereka sukai saja.        

Yang dimaksud penguasa di muka bumi pada ayat di atas adalah pemerintah dibawah pimpinan tertinggi baik itu presiden atau raja/sultan, yang taat pada Tuhannya. Itulah tahta. Sedangkan harta yang dimaksud pada judul di atas adalah harta yang didapat para pengusaha dengan cara yang halal dan menggunakannya sesuai syariat.

Jadi makna tahta dan harta adalah perisai pada judul tulisan ini yaitu bahwa penguasa dan pengusaha yang takwa adalah jaminan tegak dan teguhnya agama tanpa sedikitpun adanya kesyirikan. Yang dengan demikian rakyat akan dapat menjalankan kehidupan yang baik sesuai syariat. Hingga Allah swt pun ridho memberikan perlindungan dan menjadikan tanahnya aman sentausa, rakyatnya sejahtera.

Karena tak dapat dipungkiri untuk menjalankan syariat Islam dibutuhkan perlindungan yang kuat, yaitu penguasa. Sementara pengusaha sangat dibutuhkan tidak saja agar rakyat tidak kelaparan namun juga agar dapat menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan sains.

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. ( Terjemah QS. At-Taubah(9):122).  

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191).

Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu” ( HR. Ahmad).

Artinya pendapat Barat bahwa  Islam disebarkan dengan pedang atau perisai tidaklah benar. Yang benar dan tepat, penguasa ( tahta) dan pengusaha (harta) adalah perisai berdirinya ajaran Islam.  Perang-perang  yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat adalah pertahanan/defensive demi tersebarnya kalimat Allah agar bumi ini damai dibawah lindungan Allah swt.   

Itu sebabnya mengapa Rasulullah saw bersusah-payah mendatangi Thaif, kota sejuk 95 km sebelah timur Mekah, tempat para petinggi Quraysi menghabiskan waktu senggangnya. Rasulullah berusaha mendapatkan dukungan penguasa agar risalah Islam yang diembannya dapat ditrima dan berkembang dengan baik. Meski ternyata penduduk Thaif menolak bahkan mengusir beliau.

Begitu juga paska penaklukan Mekah, Rasulullah memperlakukan petinggi Mekah, Abu Sufyan yang ketika itu belum memeluk Islam, dengan sangat istimewa, “Siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Demikian pula pernikahan Rasulullah dengan Shafiyyah binti Huyay, putri penguasa Yahudi Khaibar yang dikalahkan pasukan Islam. Sebagai bentuk penghargaan Rasulullah memberikan Shafiyyah 2 pilihan yaitu menikah dengan Rasulullah dan masuk Islam atau dikembalikan kepada keluarganya. Ternyata putri penguasa Yahudi tersebut memilih menikah dengan Rasulullah dan memeluk Islam. Namun selain itu Rasulullah sangat berharap agar pernikahan tersebut dapat melunakkan hati orang-orang Yahudi untuk mau menerima Islam.   

Para sahabat utama seperti Abu Bakar ra, Ustman bin Affan ra dan Abdurrahman bin Auf ra yang keislamannya tidak diragukan lagi, sejatinya adalah pengusaha sukses di zamannya. Ketiganya dikenal sebagai orang-orang yang sangat dermawan. Namun ketiganya memiliki cara masing-masing dalam menginfakkan harta mereka.

Abu Bakar tercatat wafat dalam keadaan tidak memiliki harta sedikitpun. Khalifah pertama ini menginfakkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Islam. Sesuatu yang diizinkan Rasulullah khusus untuk Abu Bakar. Semasa hidupnya, ketika masih di Mekah, jauh sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar sering sekali membebaskan para budak Muslim dengan menebusnya dari tuannya. Tak kurang dari 70 budak ia bebaskan. Bilal adalah salah satu diantaranya.

Sementara Ustman bin Affan, khalifah khulafaur rasyidin ke tiga, tercatat sebagai orang kaya raya hingga akhir hayatnya. Ketika wafat, ia mewariskan harta peninggalan yang jika diakumulasikan totalnya mencapai lebih dari Rp 2,5 triliun.  Semasa hidupnya, Ustman banyak sekali membantu perjuangan Islam. Diantaranya yaitu pada perang Tabuk melawan Romawi. Ia menyumbangkan 300 ekor unta dan 1000 dinar dari kantong pribadinya untuk bekal perang.

Dengan hartanya yang berlimpah, Ustman bin Affan pernah membeli sumur air milik Yahudi dengan harga sangat tinggi. Itupun dengan syarat Ustman hanya boleh mengambil airnya 2 hari sekali, bergantian dengan si Yahudi yang menjual air tersebut kepada kaum Muslimin dengan harga tinggi.

Ustman tidak kehabisan akal, jatahnya ia berikan kepada kaum Muslimin secara cuma-cuma. Akibatnya Yahudi tersebut tidak mendapatkan apapun karena kaum Muslimin hanya mengambil air di hari-hari milik Ustman. Akhirnya iapun menjual seluruh sumur tersebut. Sumur yang dikenal dengan nama sumur Raumah tersebut hingga hari ini masih mengalir. Menjadikannya satu-satunya sumur pada zaman Rasulullah yang masih berfungsi, selain sumur zamzam tentunya.

Akan halnya Abdurrahman bin Auf, sahabat yang mempunyai julukan “ Sahabat bertangan Emas” dan merupakan sahabat terkaya diantara para sahabat tetap kaya hingga akhir hayatnya. Abdurrahman bin Auf sering memborong dagangan dari kota Syam untuk dibawa ke Madinah. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, Abdurrahman bin Auf seringkali membawa pulang 700 kontainer dagangan seperti barisan pawai yang tak ada putusnya.

Hingga suatu hari Abdurahman mendengar Rasulullah menerangkan tentang perbedaan waktu hisab antara orang kaya dan orang miskin. “Kelak dihari kiamat, orang kaya akan lebih lama menjalani perhitungan amal dibandingkan orang miskin. Dan aku ada berada di barisan orang-orang miskin”.

Sejak itu ia menjadi resah dan selalu merenung. Ia sering menangis setiap teringat apa yang dikatakan Rasulullah. “Aku tidak mau berlama-lama di Yaumul Hisab hanya karena kekayaan yang aku punya. Ya Allah, aku mohon miskinkanlah diriku dan masukkanlah aku ke dalam barisan orang-orang miskin bersama Rasulullah di hari akhir nanti”,rintihnya.

Berbagai cara ia lakukan agar hartanya habis, cara yang baik tentunya. Namun Allah swt telah takdirkan Abdurrahman menjadi orang kaya selama hidupnya. Itu adalah ketetapan Allah yang harus ia terima dan jalani.

Abu Bakar ra, Ustman bin Affan ra dan Abdurrahman bin Auf ra adalah sedikit contoh dari banyak sahabat yang notebene adalah orang-orang beriman dengan akidah kokoh yang mengerjakan amal-amal saleh sebagaimana ayat 55 surat An-Nuur di awal tulisan. Mereka adalah pejuang tangguh sekaligus pengusaha sukses yang Allah beri amanah memegang kekuasaan di muka bumi ini.

Sayangnya hari ini tidak sedikit kaum Muslimin yang tidak mau menteladani jejak Rasulullah saw dan para sahabat. Dan lebih sayangnya lagi banyak musuh-musuh Islam yang mengetahui hal tersebut. Contohnya adalah ucapan Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis yang terekam dalam buku tulisan Cherfils yang sama dengan di atas :

“Selama Al-Quran ini berkuasa di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mereka hidup di bawah naungan ajaran-ajarannya yang sangat istimewa, maka kaum Muslimin tidak akan tunduk kepada kita, kecuali bila kita pisahkan antara mereka dengan Al-Quran.” 

https://www.goriau.com/ragam/kaisar-prancis-napoleon-bonaparte-mualaf.html

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 September / 20 Rabi’ul Awal 1447H.

Vien AM.

Read Full Post »

– Kalender Hijriyah dan Asal Usulnya.

Kalender Hijriyah adalah kalender/penanggalan yang dimiliki umat Islam. Kalender ini menggunakan sistem lunar atau qamariyah, yaitu penanggalan yang berdasarkan pada peredaran bulan, bukan matahari seperti kalender Masehi.

Oleh sebab itu jumlah hari dalam satu tahun kalender Hijriyah tidak sama dengan jumlah hari dalam satu tahun kalender Masehi yang 365 hari. Jumlah hari dalam kalender Hijriyah antara 354-355 hari, 1 bulan 29 atau 30 hari. Penetapan bulan-bulan Hijriah dimulai ketika hilal (bulan sabit pertama) terlihat, sedangkan perubahan hari/ tanggal dimulai pada waktu Magrib ( terbenamnya matahari) bukan pada jam 12 malam seperti kalender Masehi.

Sebagaimana kalender Masehi, kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan. Bulan-bulan tersebut adalah Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.

Tahun Hijriyah ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra,  yaitu pada tahun ke-16 setelah hijrah dengan dasar hijrahnya Rasulullah ( 622 M) sebagai awal penetapannya. Ketika itu khalifah Umar merasa kesulitan menetapkan suatu perkara tanda adanya angka tahun.

Sang khalifah lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior, di antaranya Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam  dan Thalhah bin Ubaidillah, untuk mengadakan rapat syura. Sejumlah usulanpun masuk, ada yang mengusulkan berdasarkan kelahiran Rasulullah, ada yang berdasarkan pengangkatan menjadi Rasul dan ada pula yang  berdasarkan waktu hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah).

– Kalender Hijriyah dan Al-Quran.

Kalender Hijriyah dengan jumlah bulannya yang 12, sangat sesuai dengan Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 36 berikut, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Empat bulan haram yang dimaksud ayat diatas adalah  Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Keempat bulan ini memiliki keistimewaan dan kemuliaan tersendiri.

Sistim kalender Hijriyah sangat dibutuhkan umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Banyak sekali perintah dalam Al-Quran yang berdasarkan sistim kalender ini. Puasa Ramadhan selama 1 bulan ditutup dengan shalat Iedul Fitri adalah salah satu contohnya. Tanpa mengenal kalender Hijriyah mustahil umat Islam bisa menjalankan kewajiban tersebut.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, … …”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):185).

Demikian pula perintah berhaji yang wajib dilakukan seorang Muslim sekali dalam hidupnya bila mampu. Kewajiban pergi haji dan shalat Iedul Adha tersebut hanya bisa dilakukan pada bulan Dzulhijjah. Kemudian puasa sunnah 10 dan 11 Muharam, belum lagi puasa sunnah Ayyamul Bidh yang dilaksanakan selama 3 hari di setiap pertengahan bulan Hijriah.

Sebuah pertanyaan besar mengapa Indonesia sebagai Negara mayoritas Muslim tidak menggunakan kalender Hijriyah melainkan kalender Masehi??? Jawabannya adalah akibat penjajahan Belanda selama 350 tahun. Jauh sebelum Islam datang, Belanda dan Negara-negara Barat telah menggunakan kalender Masehi, yaitu kalender yang menggunakan tahun kelahiran Yesus ( nabi Isa as) yang mereka tuhankan, sebagai patokan tahun 0. Dalam bahasa Inggris kalender Masehi adalah AD (Anno Domini) bahasa Latin yang artinya tahun Tuhan kita. Tahun sebelum lahirnya Yesus disebut BC ( Before Centuri). Sedangkan nama hari “Minggu”, berasal dari bahasa Portugis, yaitu Domingo yang berakar pada kata Latin “Dies Dominicus” yang berarti hari Tuhan.

Sementara masyarakat Arab pada masa pra Islam menggunakan metode tahun Hijrah dengan jumlah dan nama-nama bulan yang sama. Akan tetapi tanpa nomor tahunnya. Penamaan tahun diberikan sesuai dengan kejadian besar yang terjadi pada tahun bersangkutan. Contohnya adalah tahun Gajah ( 570 M) yaitu tahun lahirnya Rasulullah saw.

Namun sejak khalifah Umar bin Khattab menetapkan kalender Hijriyah, seluruh wilayah Islampun menggunakan kalender tersebut.  Di Indonesia para ulama yang membawa Islam inilah yang memperkenalkan kalender Hijriyah, meski sebelumnya telah dikenal kalender Jawa. Sultan Agung (1613-1645), Sultan Mataram Islam, kabarnya yang kemudian mengadopsi kalender Hijriyah ke kalender Jawa. Itu sebabnya terdapat kemiripan antara kedua kalender tersebut.

– Semangat Hijrah dan Muhasabbah.

Penetapan tahun Hijriyah atas dasar awal hijrahnya Rasulullah bukannya tanpa alasan.  Hijrah dari Mekah ke Madinah memiliki nilai dan hikmah yang sangat dalam. Hijrah yang artinya pindah, adalah sebuah perjuangan berat untuk berpindah dari tanah kelahiran ke tanah orang lain, dari tempat yang menolak kebenaran ke tempat yang menerima kebenaran, dari lingkungan jahiliyah menuju lingkungan Islami.

Semangat inilah yang diharapkan khalifah Umar dan para sahabat senior agar dapat memotivasi kaum Muslimin kapan dan  dimanapun berada untuk mengambil hikmahnya dan bermuhasabah. Agar dalam menjalankan perintah dan larangan Allah swt tidak semata karena kewajiban namun juga karena kecintaan dan penghormatan atas jasa besar dan pengorbanan maha berat Rasulullah saw.

Untuk itulah perlunya memahami siroh nabawyah ( sejarah kehidupan Rasulullah ) yang sangat erat kaitannya dengan Al-Quran serta asbun-nuzulnya ( sebab-sebab turunnya ayat). Bagaimana Rasulullah menyikapi ayat-ayat yang turun, bagaimana Rasulullah menghadapi perbedaan pandang umatnya dll. Intinya ibadah harus mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw yaitu As-Sunnah. Muhasabah atau introspeksi diri sangat dianjurkan dalam Islam sebagaimana ayat 18-19 Al-Hasyr berikut,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Muhasabah diperlukan agar kita bisa memperbaiki prilaku dan ibadah kita. Dimulai dari merenung atas apa yang telah kita perbuat selama ini, memohon ampunan/taubat kepada Allah swt sebagai Sang Pencipta dan  meminta maaf kepada orang yang telah kita sakiti.

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” ( Terjemah QS.An-Nur (24):31).

Karena sebagai manusia biasa tidak mungkin kita bebas dari kesalahan dan dosa. Selanjutnya adalah menyusun program apa yang akan kita lakukan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Umar bin Khattab meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab“.

Hisablah dirimu sebelum amalmu dihisab dan persiapkanlah dirimu untuk menghadapi hari dimana semua mahluk dihadapkan kepada Allah, sungguh hisab terasa ringan dihari kiamat bagi orang-orang yang gemar mengoreksi dirinya di dunia”, nasehat sang khalifah.

Muhasabah seringkali dilaksanakan pada setiap tahun baru Hijriyah meski sebenarnya bisa dilakukan kapanpun. Momen tahun baru bisa menjadi pengingat penting untuk melakukan introspeksi diri atas segala perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Selain juga bisa menjadi momentum untuk menetapkan tujuan dan tekad baru dalam menjalani kehidupan yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Akhir kata, semoga tahun baru 1 Muharam 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat 27 Juni 2025 lalu mampu menjadikan kita lebih baik dari hari-hari yang lalu, tidak asal ikut-ikutan dan meniru yang bukan milik kita. Dengan kata lain menjadi umat Islam yang kaffah ( menyeluruh, sempurna, tidak tebang pilih) dalam menjalankan ajarannya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Juli 2025/ 24 Muharam 1147H.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »