Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Reuni 212, Perlukah ??

Jutaan-massa-Reuni-akumni-212-di-monas-by-syakur-DSC_4856-354gv87auea5a5a1t9i0hsSesuai rencana, acara Reuni 212 yang digelar bersamaan dengan peringatan  Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung aman, lancar dan tertib. Perhelatan yang diawali di masjid Istiqlal pukul 3.00 dengan  shalat Tahajud, dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah ini kemudian dilanjutkan dengan berkumpul di Monas untuk mendengarkan tausiyah yang diberikan oleh sejumlah ulama.  Ketua GNPF –MUI uzt Bahtiar Nasir dan wakilnya yaitu ust Zaitun Rasmin yang merupakan penggerak ABI 2016 lalu terlihat bersama uztad-uztad kondang seperti uzt Abdul Somad, uzt Fadzlan Garamatan, uzt Felix Siauw, uzt  Didin Hafihuddin dll, disamping tokoh-tokoh alumni 212 seperti Amien Rais, Fahri Hamzah, Fadli Zon dll. Acara ini diikuti para alumni 212 dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa yang kabarnya mencapai bilangan jutaan. Allahu Akbar …

reuni212areuni212bLantunan shalawat serta pekik takbir menggema di halaman luar Masjid Istiqlal. Semangat mengikuti Reuni 212 terpancar dari setiap raut wajah peserta yang hadir. Dengan pakaian serba putih, warna kesukaan Rasulullah sebagai dress code, jamaah silih berganti memasuki Masjid Istiqlal. Harap maklum karena rupanya tidak semua pintu masjid dibuka untuk umum.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar,” pekik para peserta Reuni Akbar saat memasuki halaman Masjid Istiqlal.

Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Lapangan Monas, setelah menghadiri Subuh berjamaah di masjid Istiqlal yang rupanya tidak terdeteksi jamaah masjid, mendapat sambutan hangat dan menambah semangat jamaah yang hadir di tempat tersebut.

Dalam kesempatan tersebut sang gubernur memohon doa dari para peserta agar bisa menjalankan amanah memimpin Jakarta dan menuntaskan janji dengan sebaik-baiknya. “Kami ingin membangun Jakarta menjadi kota yang maju, yang warganya bahagia, yang warganya merasakan suasana tenang, nyaman berdasarkan iman dan takwa,” imbuhnya.

Sementara Ustadz Zaitun Rasmin yang mewakili GNPF –MUI mengungkapkan bahwa pendapat sebagian orang bahwa Islam itu radikal, intoleransi, anti-NKRI, anti-Pancasila dll, terbantah dengan terlaksananya reuni 212 yang tertib, aman dan damai. Persatuan Islam yang selama ini ingin dkoyak musuh-musuh Islam paska 212 justru terlihat solid. Baik peserta maupun tokoh dari berbagai ormas yang hadir pada kesempatan tersebut mampu membuktikan meski terdapat perbedaan pendapat, mereka bisa saling menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada.

Wakil GNPF –MUI tersebut juga mengingatkan untuk tidak menanggapi mereka yang berkomentar negatif terhadap Reuni Alumni 212. Diantaranya Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyebutkan reuni itu bermotif politik. “Ini (Reuni 212) juga enggak akan jauh-jauh dari politik juga, politik 2018. Ini pastinya ke arah politik 2018 dan 2019,” tandas Tito di Hotel Bidakara, Kamis (30/11).

Atau komentar Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (29/11), “Gubernur DKI kan sudah dilantik, hal temporer sudah selesai. Beda dengan reuni sekolah. Kalau temporer reuni dan alasannya saya belum tahu”.

Mungkin ke 2 petinggi diatas lupa atau tidak mau tahu bahwa pemicu Aksi Bela Islam yang terjadi tahun lalu itu adalah lisan Ahok yang mengutak-atik ayat suci umat Islam, yaitu ayat 51 surat Al-Quran tentang persyaratan memilih pemimpin. Padahal Ahok sendiri adalah kandidat pemimpin yang berdasarkan ayat tersebut haram untuk dipilih!

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Artinya secara sadar atau tidak, Ahok sendiri yang sudah menantang umat Islam untuk berpolitik. Begitulah tampaknya Sang Khalik Allah swt menyentil umat Islam yang selama ini tertidur, lalai dalam menjalankan perintah Tuhannya dalam menjalankan sistim kepemimpinan/pemerintahan. Atau berpolitk dalam istilah “keren”nya.

Umat Islam rupanya telah lama terbius dengan slogan “ Islam Yes Partai Islam No” yang dipopulerkan almarhum Nurcholis Madjid belasan tahun lalu. Sebuah propaganda busuk Barat dan kaum sekuler yang ingin memisahkan umat Islam dari kepemimpinan/politik. Maklum Barat pernah lama trauma dengan kekalahannya dalam memimpin dunia oleh umat Islam. Itulah zaman ke-emasan ke-khalifahan Islam yang detik ini menjadi momok menakutkan, ironisnya bukan hanya bagi Barat tapi juga bagi sebagian orang yang mengaku Islam !

Tak terkecuali umat Islam di negri tercinta kita, Indonesia, yang katanya mayoritas Islam itu. Kriminalsasi ulama, pengakuan aliran kepercayaan dalam kolom agama di ktp, penerimaan kaum Homoseksual hingga pembubaran ormas yang dianggap ingin menghidupkan sistim ke-khalifahan. Lucunya semua itu dengan embel-embel demi membela Pancasila dan NKRI. Padahal sila pertama Pancasila, sejak dulu adalah “ Ketuhahan Yang  Maha Esa”, pasal 29 UUD memberi kebebasan dan hak warga negara untuk melaksanakan ajaran agama masing-masing. Dan agama yang diakui negara ada 6 yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.

Namun yang lebih menyedihkan lagi adalah adanya persepsi yang kelihatannya sengaja diarahkan bahwa mereka yang pro212 adalah anti NKRI dan anti Pancasila. Sementara yang anti212 berarti cinta NKRI dan Pancasila. Sungguh cara adu domba yang sangat menyakitkan dan sama sekali tidak lucu.

Ini masih ditambah dengan diberikannya penghargaan acara dakwah Islam kepada Metro TV. Penghargaan ini langsung diserahkan oleh mentri agama Lukman Hakim Saifuddin pada November yang baru lalu. Padahal selama ini media tv milik politikus Nasdem Surya Paloh tersebut sering sekali memberitakan berita mengenai dunia Islam secara tidak seimbang bahkan terkesan mengadu-domba sesama Muslim. Apalagi yang berkenaan dengan kegiatan 212. Tak heran bila kantor berita tersebut sering diplesetkan dengan julukan Metrotipu.

Pada liputan Reuni 212 yang baru lalu, pembawa berita media tv tersebut dengan nada dan gaya bahasa mengesalkan menyebut para peserta reuni sebagai orang-orang yang tidak toleran. Dengan santai ia mengatakan bahwa acara tersebut sangat menyakitkan hati pendukung Ahok. Padahal harusnya peserta Reuni 212 sudah puas dengan menangnya jagoan mereka dan dipenjarakanya sang saingan !?!?  HHmmm hanya sebegitu sajakah menurutnya Reuni212, juga arti toleransi baginya???

Anehnya lagi, Metro TV yang selama ini sering memojokkan berita-berita mengenai kerjaan Arab Saudi termasuk isu Wahabi yang mempunyai pengikut cukup banyak di tanah air, tiba-tiba membuat acara dakwah di stasiunnya dengan pembicara uztad yang sering dituduh sebagai Wahabi. Apa maksud dibalik semua itu? Wahabi seperti juga yang di Arab Saudi memang berprinsip tidak boleh melawan pemerintah yang sedang berkuasa. Oleh sebab itu mereka tidak menganjurkan pengikutnya untuk berpartipasi dalam Reuni 212. Tapi mengapa tiba-tiba Metro memunculkannya di tengah suasana ini ?? Apa itu namanya bukan adu domba??

“Sesungguhnya setan telah kehilangan harapan untuk disembah oleh orang Islam, untuk itu setan memecah-belah mereka” (HR Bukhari).

Belum lagi pernyataan Azyumardi Azra pada acara ILC bertajuk “ Reuni 212, perlukah?” yang baru lalu. Dengan santai tokoh JIl (jaringan Islam Liberal) itu malah mempermasalah peringatan Maulud Nabi yang menurutnya bi’dah. Padahal hampir semua ulama sepakat bahwa hal tersebut adalah khilafiyah ( ada perbedan pendapat). Bukan saatnya lagi umat Islam memperdebatkan hal-hal yang sifatnya bukan aqidah. Tapi ya maklumlah, bukan JIL kalau tidak demikian.

http://forum1dakwah.blogspot.co.id/2013/04/azyumardi-azra-melontarkan-pernyataan.html 

Nabi pernah keluar sedangkan sebagian shahabat sedang berdebat tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau, lalu beliau bersabda : “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan ayat dengan ayat !! Karena inilah umat-umat sebelum kalian Hancur !!” (HR Ahmad, asalnya dari Shahih Muslim).

Imam Ahmad berkata : “Jangan duduk dengan orang yang suka berdebat (dengan sesama Muslim) meskipun dia membela kebenaran, sebab sesungguhnya yang demikian tidak akan berubah menuju kebaikan.”

Sementara Lukman Hakim sendiri sebagai seorang mentri agama tidak jarang mengecewakan umat Islam. Diantaranya adalah dukungan kentalnya terhadap kaum Homoseksual, yang dibuktikan dengan kehadirannya di acara mereka. Selain memberikan sambutan kabarnya Lukman Hakim juga menangis mendengar curhatan kaum nabi Luth yang jelas-jelas dilaknat Al-Quran karena prilaku menyimpangnya. Sebaliknya terhadap acara Reuni 212, alih-alih menunjukkan simpati, Lukman justru mempertanyakan urgensi acara tersebut.

http://www.panjimas.com/news/2016/08/30/innalillahi-menteri-agama-hadiri-acara-pemberian-penghargaan-kaum-lgbt/

Dengan adanya berbagai fakta di atas jelas bahwa reuni 212 itu penting untuk dilakukan. Agar umat Islam senantiasa ingat dan sadar akan hak dan tanggung-jawabnya, serta agar selalu besatu. Tujuan ABI baik 411 maupun 212 tahun lalu bukan sekedar menuntut Ahok dipenjarakan karena menistakan ajaran Islam. Lebih dari itu, yaitu agar umat Islam mau kembali mentaati Al-Quran dan hadist. Apalagi sebentar lagi pemilihan presiden sudah hampir tiba.

Persis seperti yang sering dikatakan uztad Abdul Somad, sampai berbuih mulut para uztad dan ulama menyampaikan ajaran Islam bila pemimpinnya tidak mau tunduk pada ajarannya, percuma semua itu. Sebaliknya, tanda tangan seorang pemimpin, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, mampu membuat apa yang disampaikan para uztad dan ulama berjalan. Itu sebabnya Allah swt memerintahkan umat Islam agar memilih pemimpin sesama Muslim. Agar dengan demikian hukum dan peraturan bisa sesuai ajaran kita, seperti haramnya riba, judi dan pelacuran, pentingnya kehalalalan suatu makanan, tentang perlindungan terhadap kaum hawa seperti menutup aurat, warisan dan lain-lain sebagainya. Diadakannya musola di halte bus way misalnya. Itu adalah contoh yang kelihatannya sepele dari kepemimpinan Anis Bawesdan sebagai gubernur DKI yang baru 2 bulan.

ABI berseri yang terjadi tahun lalu sejatinya adalah bagaikan membangunkan harimau yang sedang tidur. Itulah umat Islam yang selama ini abai terhadap hak politik, mudah dipecah belah dan hanya sibuk dengan perbedaan-perbedaan amalan yang tidak mendasar. Umat Islam telah membuktikan bila kita bersatu pasti Allah swt akan membantu memenangkan kita meskipun musuh-musuh Islam lebih banyak dan lebih kuat. Ajaran Islam bukan hanya mengenai akhirat namun juga urusan dunia.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.( Terjemah QS. Al-Qashash(28):77).

Bukankah Islam itu rahmatan lil aalamiin, oleh sebab itu adalah fitrah harus menjadi pemimpin/khalifah di muka bumi. Bagi seorang Muslim dunia itu ladang tempat kita beramal yang akan menentukan hidup kita di akhirat nanti. Tidak penting apa partai dan siapa orangnya. Namun selama ia mau tunduk pada Tuhannya Yang Esa, dan bersedia berkomitmen menjalankan kepemimpinan sesuai Al-Quran dan Hadist sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw maka orang tersebut patut kita pilih dan jadikan pemimpin tertinggi kita.

Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)”. ( Terjemah QS. An-Naml(27):62).

Reuni 212 juga adalah “show of force” untuk menunjukkan bahwa kita kuat dan mampu bersatu. Persis yang dicontohkan Rasulullah saw ketika kaum Muslimin ber-ihram. Yaitu dengan memperlihatkan bahu kanannya. Padahal ketika itu para sahabat sedang dalam kondisi amat lelah akibat perang bertubi-tubi yang harus mereka hadapi. Islam itu rahmatan lil aalamiin, sejuk, aman, sabar. Tapi bukan berarti mudah untuk dilecehkan apalagi dipermainkan.

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” ( Terjemah QS. Al Anfaal (8): 46).

Dan untuk kesekian kalinya umat Islam di Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Aksi yang diikuti jutaan orang tersebut berjalan tenang, aman dan tertib tanpa sampah tertinggal berserakan. Bahkan rumputpun dijaga agar tidak terinjak.  Masya Allah ….

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Desmber 2017.

Vien AM.

Advertisements

Read Full Post »

Sultan Abdul HamidTanggal 10 Februari 1918 adalah hari duka bagi kaum muslimin. Saat itu dunia Islam kehilangan salah satu pejuang terbaiknya. Dialah Sultan Abdul Hamid II, legenda terakhir dari silsilah umara besar yang pernah ada. Sultan ke 34 dari wangsa Utsmaniyah ini naik tahta pada 31 Agustus 1876 M. Putra Abdul Majid I yang menguasai bahasa Turki, Arab dan Persia ini menggantikan abangnya Sultan Murad V yang hanya berkuasa selama 93 hari.

Sang khalifah muncul di era kemerosotan institusi khilafah. Inilah masa krisis menjelang keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani dimana negara adikuasa itu disindir bangsa Eropa sebagai The Sick Man of Europe. Dalam kondisi negara yang karut-marut, ia hadir bagai pelita yang kembali menerangi Istana Topkapi. Ia tampil memperpanjang napas peradaban Islam yang kala itu terengah-engah diserang dari luar dan dalam. Dengan jerih payahnya umur keruntuhan khilafah tertangguh 30 tahun lamanya. Realitas tunggakan utang luar negeri yang terus membengkak, parlemen yang tidak produktif, birokrasi pemerintahan yang korup dan kuatnya intervensi tak membuatnya menyerah.

Memang diakui banyak sejarawan Barat memberikan predikat negatif padanya. Namun patut diketahui bahwa namanya ditulis dengan tinta merah dalam berbagai literatur sejarah hanyalah karena penentangannya terhadap Konspirasi Zionisme. Kaum Yahudi yang saat itu (bahkan hingga kini) menguasai media massa dan informasi dunia memberikan stigma sebagai pemimpin otoriter yang haus darah sebab tidak mengizinkan berdirinya negara Israel. Tak ayal, sejumlah penulis Barat menjulukinya sebagai “Sultan Merah” atau “Abdul Terkutuk”. Bahkan sejarawan Muslim, Tamim Ansary dalam Dari Puncak Baghdad ikut menyebutnya sebagai “pria lemah dan konyol”. Begitupun, ia tetap bintang yang dipuja di hati kaum muslimin.

Melawan Konspirasi Asing

Semasa muda, Abdul Hamid pernah turut bersama delegasi Utsmani dalam lawatan ke Prancis, Inggris, Belgia, Austria dan Hongaria. Ia bertemu raja-raja top seperti Napoleon III, Ratu Victoria, Leopold II dan Franz Joseph II. Di sela kunjungan kenegaraan itu, catat Muhammad Ash-Shallaby dalam Ad-Daulah al-Utsmaniyyah; Awamil an-Nuhudh wa as-Suquth, ia mendengar Menteri Utsmani menjawab pertanyaan beberapa pembesar Eropa Barat tersebut. “Berapa kalian jual Pulau Kreta?” tanya mereka. Maka Fuad menjawab lantang, “Dengan harga seperti kami membelinya!”. Maksudnya ialah Utsmani menguasai pulau itu selama 27 tahun dan penuh dengan perang.

Bukan itu saja. Ketika ditanya, “Negara apa yang terkuat di dunia saat ini?” jawaban Fuad sungguh mencengangkan. “Negara terkuat adalah Turki Utsmani. Itu karena kalian berusaha menghancurkannya dari luar. Adapun kami berusaha merusaknya dari dalam. Namun nyatanya kita sama-sama belum berhasil melenyapkannya,” ujarnya. Tentu dari sini Abdul Hamid mengambil banyak hikmah dan kearifan.

Pasca penobatannya yang berlangsung gempita dan membuat Istanbul berwarna, segunung masalah langsung menyambut. Salah satu yang paling krusial adalah esksistensi Gerakan Turki Muda yang sangat kuat dalam kabinet, hingga melampaui otoritas khalifah. Adalah Midhat Pasha sekalu Menteri Besar yang jadi pemimpinnya. Dialah yang dimaksud Ernest E. Ramsaur dalam The Young Turks sebagai aktor intelektual penggulingan dua sultan sebelumnya sekaligus dalang pembunuhan pamannya.

Menurut Eugene Rogan dalam The Fall of Khilafah, gerakan ini tak bisa dilepaskan dari campur tangan gerakan Freemasonry. Organisasi rahasia Yahudi ini menghendaki Turki baru yang menganut Demokrasi Barat dan mencampakkan Islam sebagai sistem hidup. Merekapun sukses mencuci otak banyak anak muda Turki sampai mereka kagum dan tergila-gila kepada apa yang mereka sebut sebagai “kemajuan” dan “modernitas” Eropa. Isu-isu kebebasan serta intoleransi terhadap minoritas juga menjadi beberapa isu utama mereka. Padahal Sultan amat protektif terhadap minoritas Armenia dan Kurdistan. Menyikapi hal itu, Abdul Hamid seperti tertuang dalam Mudzakarat As-Sulthan Abdul Hamid Ats-Tsani yang disusun Dr. Muhammad Harb mengritik keras, “Turki Utsmani adalah negeri berkumpulnya berbagai bangsa dan demokrasi (versi Barat) di negeri ini hanya akan mematikan etnis asli dalam negeri. Apakah ada di parlemen Britania anggota resmi dari penduduk India atau di Parlemen Prancis, anggota dewan dari keturunan Aljazair?”

Membela Al-Quds

Selain keteguhan hatinya, ia juga dikenal sangat peduli pada Tanah Suci Al-Quds. Pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu tegas ditolak Sultan. Tak mau menyerah, Theodor Hertzl, penggagas berdirinya Negara Yahudi yang menulis buku Der Judenstaat, pada 1896 memberanikan diri menemui Abdul Hamid sambil meminta izin mendirikan gedung di Al-Quds. Permohonan itu kembali dijawab Sultan dengan penolakan. “Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu, simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri,” tegas Sultan. Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Utsmani.

Mengingat gencarnya aktivitas Zionis, akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II juga mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas. Setahun berikutnya Sultan menerbitkankan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap. Kedatangannya kali ini untuk menyuap sang sultan. Hertzl menyodorkan hadiah yang sangat menggiurkan yakni uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan pribadi; membayar semua utang pemerintah Utsmani yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta franc; memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Utsmani di Palestina.

Namun semua tawaran itu ditolaknya tegas. Bahkan Sultan tak sudi menemui Hertzl, lalu mewakilkan kepada PM Tahsin Basya, dengan pesan, “Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Usmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya.”

Lain waktu, pernah pula pemerintah Inggris mengajukan proposal penggalian benda-benda purbakala di wilayah kekuasaan Utsmani. Namun ternyata penggalian benda-benda purbakala itu hanya kedok belaka, karena sejatinya mereka ingin mengeruk tambang-tambang minyak. Karena itu Sultan marah luar biasa dan mencabut proyek kerjasama tersebut.

Pelajaran untuk Indonesia

Berbagai turbulensi yang dialami oleh Sultan Abdul Hamid II ini sangat relevan dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Siapapun yang berkuasa, jika ia tak mau mengikuti perintah asing, apalagi mempunyai misi menegakkan Islam, maka akan bernasib sama sebagaimana sang sultan pada masa lalu. Kekuasaan yang dipegang oleh sosok pemimpin muslim yang tegas dalam menjalankan pemerintahan dengan nilai-nilai Islam, akan selalu dirongrong dan digoyang sampai tumbang. Inilah yang kita saksikan saat PM Ismail Haniyah dari HAMAS memenangan Pemilu Palestina. Begitu pula Presiden Mursi di Mesir yang sekeluarganya penghafal Qur’an itu dikudeta dengan zalim oleh militer yang disokong asing.

Saat kekuatan asing tampak mencengkeramkan cakarnya ke tengah bangsa, tentu kita rindu pemimpin bermental Abdul Hamid II. Ketika utang luar negeri terus ditambah, liberalisasi undang-undang migas dan minerba, kepemilikan properti oleh asing, penguasaaan asing hingga 85% saham modal ventura hingga bolehnya 100% saham restoran dan jalan tol dikuasai asing, ada gelora untuk memiliki pemimpin sekuat Abdul Hamid II.

Negara yang berbhineka ini layak belajar darinya. Meski tegas menolak intervensi asing, Abdul Hamid II tetap bisa mengurangi utang Utsmani dari 300 juta lira hingga tinggal sepersepuluhnya saja yakni 30 juta lira. Kitapun jangan sampai latah mengikut polah Gerakan Turki Muda yang membebek budaya Barat, termasuk sisi negatifnya yang bertabur jumlahnya. Seperti yang diakui Abdullah Cevdet, “Yang ada hanya satu peradaban yakni peradaban Eropa. Karena itu kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya maupun durinya sekaligus.”

Mari kita doakan para pemimpin bangsa semakin istiqamah menjaga kedaulatan bangsa. Tidak harus anti asing, tapi tak boleh didikte dan tuduk pada asing.

Dicopas dari :

https://www.kompasiana.com/anugrahroby/teladan-abdul-hamid-ii-melawan-konspirasi-asing_58a13741309773d10531a488

https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_II

Wallahu’alam bis shawwab.

Jakarta, 29 November 2017.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Pribumi Oh Pribumi …

Selasa 17 Oktober 2017 Anies Bawesdan dan Sandiaga Uno resmi menjabat sebagai gubernur dan wagub DKI Jakarta. Ironisnya, hanya selang beberapa jam setelah pelantikan, sebuah ormas sayap PDIP berencana melaporkan Anies ke polisi. Hal ini disebabkan kata pribumi yang digunakan dalam pidato perdana sang gubernur. Alasannya kata yang dianggap berbau rasis ini telah dilarang penggunaannya dalam Inpres Nomor 26 tahun 1998.

Padahal bahkan Jokowi, Yusuf Kalla dan mentri Susipun pernah menggunakan kata tersebut. Tapi mereka tidak mempermasalahkannya. Lucunya lagi, setelah heboh pidato Anies, berita pernyataan Jokowipun segera di edit.

http://nusantarakini.com/2017/10/17/pengeditan-berita-tentang-jokowi-yang-juga-sebut-pribumi/

https://www.gemarakyat.id/ini-jejak-digital-megawati-dan-jokowi-juga-gunakan-istilah-pribumi/

https://www.kaskus.co.id/thread/59e573901854f702488b4567/menteri-susi-pemerintah-akan-bangun-konglomerasi-pribumi/

Lagi pula bila kita cermati, kata pribumi digunakan Anies untuk menunjuk pada situasi masa penjajahan kolonial, yaitu pertempuran merebut kemerdekaan antara bangsa Indonesia ( pribumi) melawan penjajah.  Perlu mendapat catatan, Anies yang berhasil memperkenalkan program “ Indonesia Mengajar” itu adalah wni keturunan Arab yang lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kata pribumi yang digunakan Anies dalam pidatonya, sejatinya justru menjadi bukti bahwa sang gubernur baru ini tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah non pribumi. Maklum sang ayah yaitu Abdurrahman Bawesdan yang dilahirkan di Surabaya itu adalah seorang  nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, sekaligus sastrawan Indonesia.

Abdurrahman Baswedan bahkan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante. Ia adalah salah satu diplomat pertama Indonesia, dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.

https://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Baswedan

Tapi ya begitulah, tampaknya tidak mudah meninggalkan jejak perseteruan pilkada DKI beberapa waktu lalu.  Kekalahan Ahok yang notabene wni keturunan Cina alias non pribumi tampak jelas masih mengganjal partai pendukung dan simpatisannya. Jadi apapun yang dilakukan dan dikatakan Anies maupun Sandi kelihatannya tidak akan mampu memuaskan mereka.

Padahal substansi dari pidato Anies pada pelantikan tersebut sangatlah dalam. Selain memperlihatkan ciri sebagai seorang Muslim bahwa jabatan adalah amanah, juga memperlihatkan kepedulian yang tinggi terhadap keadilan bagi seluruh warga. Tentu kita semua mahfum bahwa kekayaan dan keadilan saat ini sangat timpang. Hampir semua sektor penting dipegang dan dikendalikan segelintir orang/pihak, termasuk tanah, real estate, supermarket bahkan minimarket sekalipun. Inilah yang tidak diinginkan sang gubernur terjadi.

“ Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.  … … “. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):7).

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160915175459-20-158611/komnas-ham-minta-negara-ambil-tanah-yang-dikuasai-konglomerat/

Saya jadi teringat pada ucapan seorang pensiunan jendral pada suatu pertemuan yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Waktu itu yang sedang dibahas adalah maraknya isu kembalinya PKI. Secara singkat ia menjabarkan bahwa Indonesia diincar pihak asing karena Indonesia selain negara yang kaya sumber alam juga terletak di posisi yang strategis, yaitu penghubung antara Asia dan Australia. Paling tidak ada 2 kekuatan yang memperebutkan Indonesia, yaitu Amerika Serikat dan Cina.

Salah satu bukti dominasi Amerika Serikat di Indonesia yang terbesar adalah keberadaan Freeport. Perusahaan tambang raksasa terbesar di dunia ini terletak di Mimika, bumi Papua. Amerika Serikat yang telah mengelola perusahaan tambang emas, perak dan tembaga sejak tahun 1967, dan telah menjadikannya sumber kekayaan mereka, sudah pasti tidak akan mau melepaskan cengkeramannya yang harusnya berakhir pada tahun 2021 mendatang. Banyak pihak berpendapat, penguasaan AS terhadap sumber alam tambang ini tidak jauh beda dengan VOC yang dimasa lalu menjajah negri kita tercinta melalui rempah-rempah.

https://www.kaskus.co.id/thread/50af524d20d719b14900006b/freeport-adalah-voc-masa-kini/

Lain halnya dengan Cina. Hubungan ekonomi dan politik dengan negara komunis yang belakangan mengklaim sebagai sosialis kapitalis ini baru resmi dilakukan di era pemerintahan Jokowi. Kerja sama ini dimulai dengan adanya kunjungan kenegaraan Jokowi ke Beijing pada awal tahun 2015 atas undangan Presiden Cina, Xi Jinping.

Dalam perjanjian tersebut, antara lain disebutkan bahwa kedua negara mendorong kerja sama antar BUMN dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah Indonesia memberikan kesempatan kepada Cina untuk menggarap proyek infrastruktur. Di antaranya: membangun 24 pelabuhan, 15 bandara, dan pembangkit listrik berkapasitas 35.000 Mega Watt. Ditambah lagi, pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung yang hampir seluruh dananya dari Cina.

Model investasi yang ditawarkan oleh Cina menggunakan prinsip “Turnkey Project Management”. Model ini adalah sebuah bentuk investasi yang ditawarkan dan disyaratkan oleh Cina kepada negara peminta dengan “sistem satu paket,” artinya: mulai top management, pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, hingga metode dan tenaga (kuli) kasarnya di datangkan dari Cina.

Tak pelak, ekspansi Cina ke Indonesia baik dari sisi hutang, investasi, dan tenaga kerja dua tahun terakhir ini menjadi semakin masif. Peningkatan jumlah tenaga kerja Cina juga ditopang dari kebijakan pemerintah yang lebih terbuka terhadap pekerja asing. Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 1 Tahun 2015 terhadap revisi Permenaker Nomor 12 Tahun 2013 tentang tata cara penggunaan tenaga kerja asing adalah contohnya. Aturan ini sempat menuai kontroversi karena ketentuan pekerja asing tidak wajib berbahasa Indonesia bila mencari nafkah di Indonesia.

https://nusantara.news/sejarah-dominasi-etnis-cina-di-indonesia/

Namun dominasi Cina di negri tercinta ini sebenarnya telah terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu melalui etnis Cina yang telah beranak pinak sejak ratusan tahun lalu. Dominasi tersebut baik dalam politik ( meski bukan politik praktis) maupun ekonomi yang telah terjadi sejak zaman VOC.

Tingkat ekonomi etnis Cina sebelum kedatangan VOC tidak beda dengan tingkat ekonomi pribumi. Namun hal tersebut berubah sejak penjajah Belanda memperlakukan etnis Cina secara khusus. Selain secara ekonomi mereka juga diberi posisi dalam pemerintahan. Tak heran bila kemudian mereka lebih berpihak kepada penjajah dari pada memperjuangkan kemerdekaan.

Milisi bersenjata “Pao An Tui” adalah contohnya. Mereka ini dilatih dan dipersenjatai oleh tentara Belanda (KNIL) sehingga pada masa perang kemerdekaan pasukan ini tidak berpihak kepada republik.

Hal tersebut terus berlanjut pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, dengan bermunculannya para cukong yang notabene adalah orang-orang Cina konglomerat yang menguasai berbagai sektor perdagangan. Hal ini tentu saja mengakibatkan kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial yang makin lama makin tajam. Parahnya lagi saking kuatnya pengaruh mereka, para taipan ini bahkan mampu mempengaruhi kebijaksanaan politik negri kita tercinta!

Di era pemerintahan Jokowi saat ini, dominasi etnis Cina dalam ekonomi nasional, utamanya dalam pembangunan megaproyek, semakin kuat. Salah satunya pembangunan reklamasi teluk Jakarta dan Meikarta. Kedua proyek raksasa ini disokong para taipan etnis Cina, diantaranya adalah James Riyadi, Jacob Soetoyo, Tahir, Anthony Salim dan Tommy Winata yang juga dikenal dengan sebutan 9 naga.

http://berita360.com/9-naga-taipan-paling-berpengaruh-di-indonesia/

 “Semoga saja tidak ada Sukanta Tanoto lain”, ujar sang pensiunan jendral sedikit geram.

Sukanta Tanoto adalah seorang konglomerat Cina yang pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah bapak angkat sementara Cina adalah bapak kandungnya.

https://www.kaskus.co.id/thread/57c435bf98e31b72178b456a/soal-indonesia-bapak-angkat-dan-china-bapak-kandung-dpr-kecam-taipan-sukanto-tanoto/

Rezim Jokowi secara resmi juga telah meminta Jack Ma menjadi penasehat e-commerce Indonesia. Jack Ma, yang lagi-lagi adalah orang Cina, adalah milyarder pendiri Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Cina.

http://tekno.kompas.com/read/2017/08/23/09063567/jack-ma-resmi-jadi-penasihat-e-commerce-indonesia

Pak pensiunan jendral tersebut juga sempat mengingatkan betapa kuatnya pengaruh psikologis antar pimpinan suatu negara. Contohnya presiden Sukarno, yang pada tahun 1956 dulu tiba-tiba mencetuskan konsep politik Nasakom ( Nasionalis Agama Komunis). Kedekatan hubungan presiden pertama RI ini dengan para presiden ke 3 negara sosialis komunis Cina, Rusia dan Yugoslavia tidak dapat diabaikan begitu saja. Tragedi mengerikan G30S PKI adalah buahnya.

Begitu juga dengan fenomena hari ini, dimana para keluarga dan simpatisan PKI telah berani menampakkan jati diri mereka secara terbuka. Hal ini dimulai pada November 2015 melalui Dewan Tribunal Den Hag, Belanda. Mereka menuntut pemerintah agar mau meminta maaf dan merehabilitasi bahwa mereka tidak bersalah. Hal tersebut terus berlanjut dengan keberanian mereka membuat berbagai simposium dan menerbitkan buku, “ Aku Bangga Menjadi Anak PKI”, dll. Ada apa gerangan ??

Selain Amerika Serikat dan Cina, pak pensiunan jendral sebenarnya juga menyebut Arab sebagai salah satu pihak yang ingin menguasai Indonesia, yaitu dengan Khalifah Islamiyahnya. Namun begitu ia menyebut Habib Riziek sebagai dalangnya, saya langsung tidak mempercayai pernyataan tersebut. Mengapa??

Ayah dan ibu Habib Riziek adalah orang Betawi keturunan Hadramaut (Yaman).  Ibunya bahkan sepupu dari pendekar Betawi, Si Pitung. Pada tahun 1937, Habib Husein, ayah Habib bersama beberapa temannya mendirikan Gerakan Pandu Arab Indonesia dengan tujuan agar para pemuda keturunan Arab bersatu mengabdi pada bangsa melalui bidang kepanduan. Gerakan kepanduan ini merupakan cikal bakal Pandu Islam Indonesia (PII).

Habib Husein juga pernah ditahan tentara Belanda dan divonis hukuman mati. Itu terjadi karena ia sering kedapatan memberikan makanan dan pakaian kepada para pejuang yang bergerilya di sekitar Jakarta. Waktu ia bekerja di bagian logistik Rode Kruis (sekarang Palang Merah Indonesia). Beruntung ia berhasil kabur meski sempat tertembak di bagian belakang.

Sementara Habib Rizieq yang merupakan pimpinan tertinggi FPI kiprahnya sudah banyak diketahui umum. Meski tidak sedikit orang yang memusuhinya, namun keberpihakannya kepada rakyat kecil tidak dapat dipungkiri. Pilihannya untuk berjihad melawan kemungkaran yang makin hari makin memprihatinkan ibu kota, juga perlawanannya sengitnya terhadap komunisme, jelas tidak ada hubungannya dengan dominasi Arab ataupun Khalifah Islamiyah sebagaimana tudingan pak jendral. Tapi lebih karena memenuhi perintah Tuhannya.

“… dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. ( Terjemah QS. Lukman(31):17).

Disamping itu keterlibatannya pada tragedi Poso dan Ambon tahun 1999 yang sangat mengenaskan dan menyebabkan meninggalnya 2000 Muslim itu sudah cukup membuktikan betapa pedulinya Riziek pada nasib bangsa ini.

http://dewisaladin.blogspot.co.id/2011/09/tragedi-poso.html

Singkat kata, heboh pidato Anies Bawesdan beberapa waktu lalu hanyalah mengada-ada.  Rasa cinta dan rasa memiliki bangsa inilah yang membuat Anies menggunakan kata pribumi, untuk memancing dan menggugah rasa kebangsaan warganya agar bisa mandiri, tidak bergantung kepada pihak lain hingga bangsa ini benar-benar bisa merdeka lepas dari segala bentuk penjajahan.

Disamping Anies Bawesdan, Habib Riziek dan ayah mereka, masih banyak lagi tokoh-tokoh wni non pribumi seperti ekonom Kwiek Kian Gie, mantan menlu Ali Alatas,  mantan menkeu Mar’ie Muhammad,  aktivis Soe Hok Gie,  pengarang lagu Syukur sekaligus mantan dubes Vatikan H. Mutahar, dll yang tidak perlu lagi diragukan rasa kebangsaan mereka.

Semoga Allah swt menjauhkan kita dari segala prasangka buruk yang mengakibatkan bangsa ini tidak maju-maju.

Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah olehmu purbasangka, sesungguhnya purbasangka itu pendusta benar (sedusta-dusta pembicaraan). Dan janganlah kamu mendengar rahasia orang, jangan mengintip aib orang, jangan tambah menambahi harga untuk menipu, jangan saling mendengki, benci membenci dan jangan pula bermusuhan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara”. (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 23 Oktober 2017.

Read Full Post »

Umat Islam kembali harus mengelus dada. Pasalnya yaitu keinginan Jokowi untuk menggunakan dana haji milik umat Islam yang jumlahnya trilyunan itu, untuk mempercepat pembangunan.

“Ini sebuah potensi yang sangat besar. Kurang lebih ada Rp80 sampai Rp90 triliun. Jumlahnya triliun, bukan miliar, Rp 93 triliun yang ini kalau dimanfaatkan dengan baik, ditaruh di tempat-tempat yang memberikan keuntungan yang besar, juga akan mempercepat pembangunan negara kita,” kata Jokowi dalam sambutannya di peluncuran Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan peresmian pembukaan Silatnas Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (27/7/2017).

Di luar pro kontra, setuju tidak dan halal tidaknya dana haji dimanfaatkan untuk pembangunan negara, yang jelas umat Islam merasa sakit hati. Bagaimana mungkin dana yang dikumpulkan secara susah payah sedikit demi sedikit oleh sebagian umat yang bermimpi ingin menunaikan rukun Islam ke 5 itu bakal digunakan untuk sesuatu yang bukan tujuannya. Sementara pemerintah selama ini dirasa tidak adil memperlakukan umat Islam.

Kita bisa melihat sendiri bagaimana sikap dan prilaku pemerintah paska gagalnya Ahok dalam pilkada yang baru lalu. Kegagalan mantan gubernur DKI yang naik jabatan lantaran Jokowi terpilih menjadi RI1 itu sebenarnya banyak disebabkan lisannya sendiri yang mengutak-atik ayat suci Al-Quranul Karim. Ialah yang memprovokasi kemarahan umat Islam, bagaikan membangunkan singa tidur yang selama ini tidak begitu memperdulikan ayat-ayat kepemimpinan yang sudah ada sejak 15 abad silam.

Ironisnya, pemerintah malah menyalahkan para ulama, tokoh dan mereka yang ikut dalam demo ABI ( Aksi Bela Islam) meskipun demo tersebut terbukti berjalan rapi dan santun. Maka sejak itulah dimulai kriminalisasi para ulama dan tokoh ABI, pemblokiran situs-situs Islam dll. Mereka tak henti-hentinya difitnah dengan segala macam tudingan, seperti makar, anti Pancasila, anti NKRI, Islam radikal dll. Mereka ini juga  dibenturkan dengan umat agama lain, dituduh intoleran dll. Sesama umat Islam akhirnya saling menjelekkan dan saling tuduh. Inilah tehnik adu domba sesama Muslim yang benar-benar keji dan merusak persaudaraan Islam yang sejatinya merupakan kekuatan yang maha dasyat.

“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur ”. (HR.Bukhori).

Terakhir adalah pembubaran HTI dengan alasan makar. FPI beserta 14 ormas lainnya adalah target selanjutnya. Sementara ormas yang jelas-jelas telah mengancam ulama bahkan ada ormas di Papua yang berani mengibarkan bendera Israel bebas dari ancaman pembubaran.

Anehnya lagi, pegawai negri yang dicurigai pernah mendukung kegiatan HTI yang diperkirakan mempunyai anggota dan partisan puluhan ribu orang itu diancam untuk segera mengundurkan diri dari instansi dimana mereka bekerja. Padahal organisasi tersebut selama itu telah mengantongi izin resmi dari pemerintah, dan baru dibubarkan belum lama ini.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/07/25/otn2ab377-pns-disuruh-keluar-hti-ini-komentar-yusril

Dapat dibayangkan bagaimana kesal dan kecewanya umat Islam diperlakukan seperti itu. Belum lagi ancaman menkeu Sri Mulyani “ Pilih potong gaji pns atau hutang??”.

http://www.gemarakyat.id/menkeu-pilih-utang-atau-gaji-pns-dipotong/

Sebegitu mendesaknyakah keadaan keuangan repubik kita tercinta ini?? Bukankah tugas negara untuk mensejahterakan dan melindungi kepentingan rakyat? Mengapa harus dana haji milik rakyat atau gaji pegawai negri, bukannya gaji atau tunjangan istimewa para pejabat negara yang suka korupsi atau anggaran pejabat yang tidak/kurang penting, seperti pesawat kepresidenan yang super mewah itu misalnya??? Atau kejarlah para koruptor kelas kakap seperti mereka yang merampok dana  BLBI yang jumlahnya trilyunan itu.

Bagaimana pula dengan tax amnesty yang merupakan ide Sri Mulyani dan menurutnya bisa untuk menjerat dan mendapatkan dana segar para konglomerat yang diamankan di bank-bank internasonal. Khususnya konglomerat kelas wahid keturunan Cina yang tak dapat dipungkiri memang lihai dalam berbisnis.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa hampir semua bisnis dan ekonomi negri ini berada dalam cengkeraman 9 taipan tersebut. Hampir semua mega proyek mulai dari pembangunan perumahan, gedung perkantoran, mall hingga pembangunan jalan, jembatan dan proyek pembangkit listrik & energy, merekalah yang memegang kendali.

Tengoklah proyek raksasa pembangunan kota baru Meikarta di Bekasi yang di targetkan akan menjadi saingan Jakarta. Proyek Lippo grup milik James Riyadi bernilai ratusan trilyun ini berencana membangun ratusan pencakar langit yang dibangun sekaligus, meski sebenarnya belum mendapatkan izin resmi dari pemda. Tak dapat dibayangkan berapa besarnya asset dan kekayaan mereka.

http://katadata.co.id/berita/2017/08/02/deddy-mizwar-minta-lippo-hentikan-sementara-proyek-meikarta

http://stabilitas.co.id/home/detail/menguatnya-cengkeraman-sang-naga

http://ekonomi.kompas.com/read/2015/04/25/165045026/Tiongkok.Sapu.Bersih.Proyek.Infrastruktur.Indonesia

Juga bukan rahasia demi nafsu mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara lain maka pemerintahpun nekad berhutang. Ntah berapa besar tepatnya, kepada siapa saja, bagaimana dan kapan hutang tersebut bakal lunas. Apakah semua itu tidak diperhitungkan lebih dahulu?? Tidak adakah standard prioritas mana yang harus didahulukan, yang lebih pro rakyat kecil, selain untuk mengurangi resiko mangkraknya pembangunan?? Atau mungkinkah ada tekanan dari pihak lain hingga pemerintah tidak berani menolak si pemberi hutang??

Yang pasti dengan hutang yang demikian besarnya tak heran bila akhirnya sang pemberi hutangpun dengan mudah ikut masuk ke dalam percaturan politik dan ikut menentukan arah kepemimpinan negri kita tercinta Indonesia. Negri yang katanya menyimpan kekayaan besar yang terpendam ntah dimana.

Padahal Islam yang merupakan ajaran dan agama mayoritas penduduk Indonesia, sejak awal telah melarang kebiasaan buruk berhutang. Tangan di atas ( memberi) lebih baik dari tangan di bawah ( meminta/hutang).

“Berhati-hati kamu dalam berhutang, sesungguhnya hutang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan menyebabkn kehinaan di siang hari”.(HR Al-Baihaqi).

Kasus Srilanka di bawah amat sangat patut menjadi renungan kita. Relakah kita bila suatu hari nanti kita mengalami hal serupa???

http://www.beritaislam24h.info/2017/07/tak-bisa-bayar-utang-sri-lanka-lepas.html

Kembali kepada rencana pemerintah untuk memanfaatkan dana haji milik umat Islam yang jumlahnya trilyunan itu. Islam tidak pernah memisahkan masalah keagamaan dengan kenegaraan. Hal yang menjadi momok menakutkan rezim Jokowi, yang menginginkan agar agama tidak di campur-adukkan dengan politik. Rezim yang alergi terhadap bendera tauhid dan kata “ kekhalifahan” hingga harus mengeluarkan perppu pembubaran ormas seperti HTI itu ternyata kini menginginkan dana haji milik umat Islam. Alasannya  untuk biaya infrastruktur.

Bukankah Cina dan Arab Saudi baru saja menggelontorkan pinjaman trilyunan rupiah?? Tidak cukupkah semua itu?? Apa jangan-jangan sudah menguap ntah kemana seperti biasa ???

Dan lagi betulkah dana tersebut untuk biaya infrastruktur, infrastruktur apa, yang mana? Apakah ada kaitannya dengan tujuan utama tabungan haji, perbaikan fasilitas pondokan dan transport di Mekah dan Madinah, misalnya. Karena selama ini kedua fasilitas tersebut kalah jauh dengan apa yang didapat jamaah haji Malaysia.

Bila saja penduduk negri mayoritas Islam, dimana pejabat negara termasuk presiden disumpah dibawah kitab suci Al-Quran, mau sedikit saja memahami makna “ Masuklah kedalam Islam secara kaffah”, masalah hutang sebenarnya tidak  akan menjadi masalah besar.

Adalah Baitul maal yang berdiri pada zaman nabi dan juga para khalifah. Di dalam lembaga ini tersimpan semua dana rakyat termasuk harta pampasan perang, zakat, infak, sodaqoh, wakaf dan lain-lain. Dengan mengelola dana itulah para pemimpin ketika itu berhasil mensejahterakan rakyat tanpa adanya riba seperti bunga, bahkan tanpa harus berhutang kepada siapapun. Itulah zaman keemasan Islam yang tidak dapat dipungkiri sejarah. Mereka benar-benar berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus tergantung negara/pihak lain.

Selama 8 abad Islam dibawah para khalifah berhasil menguasai dunia dalam segala hal baik ekonomi, pembangunan, seni budaya dll. Termasuk kebebasan dalam beragama. Jadi sungguh tidak benar apa yang dikatakan politikus Partai Nasdem yang menuduh sistim khilafah akan memaksa semua orang shalat, berjilbab dll. Berikut pengakuan seorang pemuka Katolik tentang Aceh yang sejak beberapa tahun ini telah menegakkan syariat.

http://www.planetmuslim.id/2017/01/pemuka-agama-katolik-di-aceh-syariat.html?m=1

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. (TerjemahQS.Al-Kafirun(109):6).

Para pemimpin terutama di zaman kekhalifahan yang 4, tidak hanya menunjukkan keberhasilan yang sifatnya duniawi seperti yang dicapai Barat saat ini. Tetapi juga keberhasilan ukhrowi. Ketakwaan mereka kepada Sang Khalik benar-benar patut diacungi jempol. Demikian pula rakyatnya. Karena pemimpin sejatinya adalah panutan yang harus ditiru.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.( Terjemah QS. At-Taubah (9);23).

Jadi tak perlu heran bila sekarang ini sebagian besar umat Islam keberatan dana haji yang mereka tabung selama bertahun-tahun dan dicicil sedikit demi sedikit itu akan digunakan pemerintah. Meski kabarnya MUI menyetujui rencana tersebut, tampaknya tidak akan mudah membujuk para pemilik dana haji agar ridho menyerahkan tabungan mereka. Apalagi untuk meyakinkan bahwa dana mereka akan aman, tidak dikorupsi serta dijamin tidak akan mengganggu jadwal keberangkatan mereka.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Agustus 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Beberapa hari terakhir ini pengguna medsos heboh beramai-ramai menulis status “  Saya … , saya Pancasila” dengan lambang Garuda Pancasila berlatar belakang bendera merah putih. Puncaknya terjadi  pada tanggal 1 Juni 2017, hari lahir Pancasila, yang  diresmikan presiden Jokowi sebagai hari libur nasional. Meski sebenarnya ada perbedaan pendapat di antara kalangan pakar hukum mengenai hari tersebut.

http://www.antaranews.com/berita/378447/yusril-pancasila-lahir-18-agustus-1945

Kehebohan masih ditambah dengan adanya undangan kepresidenan untuk Afi Nihaya agar hadir di acara peringatan tersebut. Afi adalah seorang murid SMA yang beberapa hari terakhir ini telah membuat kegaduhan. Yaitu berkenaan dengan tulisannya yang kontroversial karena bernada liberal. Tulisan tersebut berjudul “ Islam bukan agama warisan”.  Dan ironisnya lagi, tepat pada hari H nya, beredar kabar bahwa tulisan tersebut bukan tulisan asli hasil karyanya, melainkan hasil plagiat dari seorang bernama Mita Handayani yang selama ini dikenal sebagai pendukung prilaku menyimpang homoseksual ( LGBT).  Na’udzubillah min dzalik …

http://www.portal-islam.id/2017/06/geger-jejak-plagiarisme-afi-nihaya.html

http://www.rakyatjakarta.com/telak-jawaban-untuk-dek-afi-agama-islam-bukan-warisan-berikut-alasannya/

Viralnya tulisan Afi, di luar benar tidaknya hasil plagiat atau bukan, sebenarnya mencerminkan masih adanya perseteruan antara pendukung Ahok dan penentangnya. Meski pilkada DKI yang merupakan pilkada terheboh yang pernah ada dalam sejarah itu telah usai, dengan hasil kalahnya pasangan Ahok-Jarot secara demokrasi. Ini masih disusul dengan hasil sidang pengadilan yang menyatakan bahwa Ahok bersalah atas kasus penistaan agama yang dilontarkannya di pulau Seribu. Mantan gubernur yang menduduki jabatan tertinggi di DKI berkat naiknya Jokowi sebagai presiden ini, diganjar hukuman  2 tahun penjara. Inilah tampaknya yang menjadi biang kekecewaan dan sakit hati para pendukung Ahok. “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”, pepatah yang sangat tepat untuk menggambarkan kekecewaan mereka.

Anehnya, kekecewaan dan sakit hati tersebut bukan hanya melanda para Ahokers, tapi juga pemerintah. Ini terbukti dengan pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan, mantan Menko Polhukam yang kini menjabat Menteri Kemaritiman. Dengan nada kesal ia menyatakan jika Jakarta tenggelam maka Anis – Sandi yang harus bertanggung-jawab. Hal tersebut ia lontarkan sehubungan proyek reklamasi yang ditentang Anis – Sandi karena selain menyusahkan nelayan yang biasa melaut di pantai tersebut juga dibangun tanpa rekomendasi amdal yang meyakinkan. Proyek reklamasi ini adalah proyek andalan Ahok yang sempat heboh karena ditengarai hanya proyek titipan yang hanya menguntungkan pengembang.

Disamping itu sejak awal pilkada Luhut sudah menunjukkan ketidak-senangannya terhadap umat Islam yang melakukan Aksi Bela Islam selama pilkada berlangsung. Ia bahkan tega menuduh para peserta aksi sebagai Islam radikal, dan mengecam Habib Riziek Syihab sebagai biang kekalahan Ahok di pilkada.

“Kami punya data yang cukup rinci tentang dia. Kita lihat apa yang terjadi. Kami tahu apa yang akan kami lakukan,” ujar Luhut.

http://www.suaramedan.com/2016/12/waspada-luhut-panjaitan-incar-habib.html

Dan itulah yang terjadi. Tak lama setelah Habib Riziek dijadikan tersangka perbuatan yang tidak terbukti dilakukannya, dan tanpa ada satupun persidangan. Ironisnya, fitnah tersebut berupa chatting asusila yang sama sekali jauh dari sifat Islam, khususnya ulama, yang pasti tahu jangankan berzina, bahkan mendekatinya pun dilarang !

“ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.(Terjemah QS. Al-Isra (17):32).

Tak heran bila Habib menolak memenuhi panggilan, malah sebaliknya menantang mubahalah. Mubahalah adalah tantangan bersumpah atas nama Allah dimana yang berdusta harus bertobat jika tidak ia harus siap menerima azab Sang Khalik. Untuk diketahui Luhut adalah seorang pemeluk Nasrani.

Peristiwa mubahalah pernah dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap pendeta Kristen dari Najran pada tahun ke-9 Hijriah, sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imron ayat 61 sebagai berikut :

“Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Ironisnya, dengan mudahnya Said Aqil Siraj,  mantan ketua PBNU yang memang dikenal nyleneh,  menyatakan bahwa pornografi lebih baik dari pada mendengarkan ceramah islam radikal. Apa yang dimaksud islam radikal oleh ulama yang sering melontarkan pernyataan menyakitkan hati umat Islam ini??

Yang pasti beberapa hari sebelum ia mengatakan hal tersebut, Aqil sempat menuduh masjid Salman ITB adalah sarang Islam radikal. Namun ketika para pengurus masjid milik perguruan tinggi negri bergengsi tersebut datang menemui dan meminta penjelasannya, ia segera meminta maaf.

Sungguh menyedihkan apa yang terjadi di negri tercinta ini. Perseteruan paska pilkada yang seharusnya telah usai, justru diarahkan menjadi pertentangan antara ex pendukung Anis yang dicitrakan sebagai Islam radikal, melawan ex pendukung  Ahok yang dicitrakan sebagai pendukung NKRI dan ke-Bhineka-an. Sebuah upaya adu domba yang sama sekali tidak lucu.

http://www.gemarakyat.id/yusril-era-jokowi-pancasila-lebih-banyak-dibenturkan-dengan-umat-islam/ 

Para ulama dan tokoh yang mendukung Aksi Bela Islam yang terbukti berjalan tertib dan aman, terus dipojokkan dengan berbagai cara dan jalan. Selain Habib Riziek, uztad Bahtiar Nasir dari GNPF-MUI yang sempat difitnah terlibat dengan organisasi bejat ISIS, belakangan ini dilarang ceramah di berbagai kampus.

Sementara ustad Alfian Tanjung, dosen sebuah universitas Islam yang juga merupakan wakil ketua Komite Dakwah Khusus MUI Pusat, ditangkap polisi. Ia dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh kepala staf kepresidenan Teten Masduki karena ceramahnya tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Alfian Tanjung selama ini memang dikenal sebagai ustad spesialis PKI karena kelengkapan info dan data yang dimilikinya. Tak heran bila ia tetap tenang karena yakin bukti-bukti yang dimilikinya dapat ia pertanggung-jawabkan di depan pengadilan nanti.

Berita lain, Irjen Rycko Amelza Dahniel yang baru 9 bulan menjabat sebagai  Kapolda Sumatera Utara tiba-tiba dimutasi. Kapolri menyatakan mutasi di tubuh kepolisian adalah sesuatu yang biasa. Namun tak urung isu kedekatan Rycko dengan Habib Riziek ditengarai sebagai penyebab ia dimutasi. Ketika Habib datang ke Medan pada 28 Desember 2016 dalam rangka aksi bela Islam, Rycko menyambut ketua umum FPI itu di bandara dan bahkan ikut dalam aksi. Dalam orasinya Rycko menyebut Habib Rizieq sebagai imam besar umat Islam.

http://www.portal-islam.id/2017/06/kapolda-sumut-yang-menyatakan-habib.html

Hal yang sama menimpa 3 hakim yang menangani kasus penodaan agama oleh Ahok. Usai memvonis Ahok 2 tahun penjara, Dwiarso Budi yang mengetuai majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara bersama 3 rekannya dimutasi ke berbagai daerah.

Sementara itu dokter Chilafat Dalimunthe, dokter spesialis anak yang akrab di panggil dokter Chacha, diberhentikan secara sepihak dari rumah sakit tempatnya bekerja setelah menyerukan gerakan Dokter Bela Islam.

“Saya diberhentikan secara sepihak dari Rumah Sakit Sahid Sahirman sejak 23 Mei kemarin,” kata Chilafat kepada Kiblat.net di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (25/05).

https://www.kiblat.net/2017/05/25/galang-gerakan-dokter-bela-islam-dokter-ini-dipecat-dari-tempat-kerjanya/

Demikian juga kapolres Solok yang dipecat Kapolri karena dianggap kurang tegas menangani “persekusi” terhadap seorang dokter yang melecehkan dan mengata-ngatai Habib Rizek melalui medsos. Padahal menurut warga kota yang dikenal dengan julukan serambi Madinah itu, tidak ada tindakan “persekusi” sepeti yang dilaporkan dokter tersebut.

“Kota Solok selama ini dan hingga detik ini aman dan nyaman, tidak seperti apa yang di opinikan dokter tersebut di media massa, tidak ada persekusi dan intimidasi apalagi teror, karena semua sudah selesai dengan damai tanpa ada tekanan dan paksaan, tapi kenapa dia menggambarkan seakan kota kita kota teror. Sekarang justru dia yang membuat masalah baru sehingga berhujung pencopotan kepada Kapolres” kata seorang peserta aksi.

https://anekainfounik.net/2017/06/05/anggap-dr-fiera-lovita-bikin-masalah-warga-solok-gelar-aksi-protes/

http://www.liputan-terkini.com/11821/bundo-kanduang-di-kota-bareh-solok-turun-kejalan-protes-dr-fiera-lovita.html

Kemudian ada lagi kasus seorang CEO Indosat yang dipecat hanya karena memposting status di medsos membela Habib Riziek.  Petinggi perusahaan komunikasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan kebijaksanaan perusaahaan yang harus sejalan dengan pemerintah. Dan dikategorikan sebagai perbuatan anti NKRI. ???

https://www.portal-piyungan.com/wow-pegawai-indosat-bela-habib-rizieq-kritik-pemerintah-ceo-nya-bilang-anti-nkri-langsung-dipecat/

Terakhir adalah Amin Rais, mantan ketua MPR dan ketua Muhammadiyah yang dikenal aktif sangat mendukung Aksi Bela Islam. Dalam sidang dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan yang terjadi pada tahun 2004, tiba-tiba saja jaksa penuntut umum melontarkan nama Amin Rais sebagai penerima aliran dana, tanpa adanya bukti kuat keterlibatan Amin dalam kasus tersebut. Hal tersebut diumumkan tepat pada Jumat 2 Juni, hari dimana rencananya Amin Rais bersama alumi 212 akan menggelar demo meminta pemerintah agar berhenti mengkrimalisasi para ulama, Habib Riziek khususnya.

http://www.tribunislam.com/2017/06/fakta-persidangan-buktikan-amien-rais-tidak-terlibat-korupsi-alkes.html

Pertanyaannya sampai kapan perseteruan tidak sehat ini akan berlangsung ?? Apa sebenarnya maksud dan tujuan presiden kita meresmikan hari lahir Pancasila di tengah suasana yang tidak kondusif ini?? Apalagi dengan munculnya kembali wacana bahwa pelajaran Agama di sekolah akan dihapuskan dan hanya akan dijadikan kegiatan exkul. Wacana yang pernah dikeluarkan beberapa tahun lalu oleh seorang tokoh JIL Musdah Mulia dari PDI Perjuangan. Padahal Jerman saja mulai tahun ini malah memasukkan pelajaran Islam ke dalam kurikulum mereka.

http://www.atjehcyber.net/2013/03/jerman-masukkan-pelajaran-islam-dalam.html

Itukah cerminan “ Aku Pancasila” yang bunyi sila pertamanya “ Ketuhanan Yang Maha Esa”?? Sila pertama yang lahir dengan perjuangan alot karena dalam  Piagam Jakarta yang merupakan cikal bakal dasar negara Pancasila, menyebutkan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”.

https://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Jakarta

Umat Islam sebagai mayoritas penduduk negri tercinta ini, tampaknya masih harus terus bersabar menghadapi mereka yang tidak menyukai ajaran yang dibawa Rasulullah Muhamad saw 15 abad silam. Ironisnya mereka yang terus menyudutkan Islam masih juga mengaku Islam. Menjadi bukti bahwa persaudaraan sesama Muslim yang merupakan sumber kekuatan Islam, sudah jauh panggang dari api. Bukannya saling menasehati malah saling lempar fitnah.

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya” (HR. Bukhari dan Muslim ).

Yang dimaksud tetangga pada hadist di atas termasuk non Muslim. Jadi tidak benar bila ada yang berpendapat Islam tidak toleran terhadap non Muslim. Namun itu bukan berarti umat Islam bisa dijadikan bulan-bulanan seperti yang terjadi hari ini dimana para ulama di kriminasilasi sesuka hati. Pernyataan-pernyataan seperti “ Lebih baik pemimpin kafir dari pada pemimpin korupsi” dan “ Menghormati yang tidak berpuasa” jelas sangat melecehkan Islam.

Pada bulan suci Ramadhan tahun ini kita bisa melihat bagaimana sebagian besar rumah-makan, besar maupun kecil, leluasa membuka usahanya tanpa sedikitpun tabir seperti  tahun-tahun sebelumnya.  Sementara pada bulan Desember, para pelayan toko dan rumah makan diwajibkan memakai topi Sinterklas dalam rangka Natal. Juga pada hari Nyepi di Bali, bukan “hanya” adzan dilarang berkumandang, bahkan penerbanganpun dihentikan. Itukah yang dinamakan toleransi beragama??

Sebuah pertanyaan besar, mengapa para pemimpin negri tercinta yang berpenduduk mayoritas Islam ini seperti terkena dampak Islamophia yang sedang menyerang Barat. PBB misalnya, yang meminta pemerintah agar mempertimbangkan kembali hukuman Ahok. Kemudian ratu Elizabeth dari Inggris yang bermaksud akan memberikan Ahok penghargaan khusus.  ( Meski ada berita lain bahwa itu hoax). Apa urusan mereka dengan keputusan dalam negri kita???

http://sinarharapan.net/2017/05/ahok-terima-penghargaan-ratu-inggris-murni-hoax/

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):120).

Na’udzubillah min  dzalik.

Jakarta, 14 Juni 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Halusinasi dan Rukyah

1 Ramadhan 1438 H. Kami mengawalinya dengan takziyah ke rumah bude, sepupu ibu yang wafat, meski agak terlambat karena almarhumah telah dimakamkan sehari sebelumnya. Selama ini bude tinggal bersama putra sulung beliau yang mengalami kelumpuhan sejak 3 tahun yang lalu. Dengan penuh kasih sayang bude yang sudah sepuh itu merawat putranya yang juga sudah tidak muda itu, yaitu 48 tahun. Kebetulan putra beliau tersebut memang belum menikah.

Ketika kami tiba di rumah duka, Andi, katakanlah begitu nama sang putra sulung, sedang dimandikan perawatnya. Setelah menyampaikan duka cita dan berbincang seputar hari-hari akhir almarhumah dengan salah satu putra bude yang menemui kami, dan Andipun sudah selesai dirapikan perawat, kamipun menemuinya.

Tak disangka, ternyata Andi masih mengenali kami semua, ia bahkan ingat nama-nama kami, dan bisa berkomunikasi seadanya. Padahal bila dilihat keadaannya cukup mengenaskan, tulang kedua kaki dan kedua tangannya tampak bengkok. Dan tak jarang ia mengulang-ngulang perkataan dan apa yang dinginkannya sambil menjeduk-jedukkan kepalanya ke bantal. Kadang-kadang ia juga menatap ke atas beberapa lama, tanpa berkedip, tanpa ekspresi.

Hingga saya terpancing bertanya : “Apa yang kamu lihat Andi?”. “ G ada”, jawabnya cepat.

“Kalau begitu apa yang kamu pikirkan?”, tanya saya lagi. “Allah”, jawabnya tegas.

Saya terkesiap, masya Allah. Memang sejak tadi ia terdengar bershalawat, kadang membaca Al-Fatihah atau ayat Qursi, di sela-sela permintaannya meminta air minum yang diucapkan looping alias tak henti-henti dan dengan nada yang datar.

Ketika saya menasehatinya agar berdoa, memohon kepala Allah agar diberi kesembuhan, sontak iapun berucap “ Ya Allah, aku mau sembuh” secara berulang-ulang meski dengan nada datar tanpa intonasi. Spontan sayapun berucap ” Sabar yaa … ini semua adalah cobaan dari Allah swt. Jangan pernah bosan berdoa. Insya Allah, nanti kalau Allah berkehendak memanggil kamu menyusul ibu dan bapak, Allah akan memasukkan kamu ke surga, dikasih istri yang cantik, sholehah”. “Aamiin”, jawabnya, sambil terus menatap saya, penuh harap.

Sama koq, orang yang diberi pasangan hidup, anak, sehat, rezeki berlimpah, semua itu cobaan”, lanjut saya lagi. Tapi “jleb”, saya terhenyak, tersentil oleh kata-kata saya sendiri. Astaghfirullah … Ya Allah, benar sekali, semua ini hanyalah cobaan, titipan-Mu yang pada saatnya nanti harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan penggunaannya.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.( Terjemah QS. Al-Fajr(89(15-16).

Susah maupun senang adalah ujian, bukan kemuliaan bukan juga kehinaan. Keduanya harus dipertanggung-jawabkan. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un … Ya Allah jangan lalaikan kami dari peringatan-Mu, aamiin …

Dari cerita adiknya, saya baru tahu, ternyata sepupu saya tersebut divonis dokter mengidap gangguan mental yang nama kerennya Skizofrenia. Sejujurnya saya tidak begitu mengenal penyakit tersebut. Tapi dari hasil searching internet, Skizofrenia yang berasal dari kata skizo ( retak atau pecah) dan frenia ( jiwa) dalam bahasa Yunani, adalah gangguan mental atau keretakan jiwa/ kepribadian yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku.

Ranti, sang adik, bercerita bahwa hal itu terjadi sejak ayah mereka yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Andi, wafat. Rupanya ia tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Selama beberapa waktu ia selalu murung dan cenderung mengucilkan diri. Beberapa kali ia menceritakan didatangi almarhum ayah yang sangat dicintainya itu.

Saya tidak tahu bagaimana prosesnya, yang pasti, akhirnya Andi dibawa berobat ke seorang psikiater. Dan sejak itu, hingga hari ini, Andi harus selalu mengkonsumsi obat-obatan. Belakangan ia juga sempat terserang stroke hingga 2 kali.

Menurut informasi yang saya dapat, penderita Skizofrenia tidak dapat disembuhkan. Mereka tergantung obat seumur hidup karena bila tidak, bisa menyusahkan bahkan membahayakan orang lain. Saya jadi teringat kasus di Kalbar, dimana seorang polisi membunuh dan memutilasi 2 anaknya, tanpa rasa menyesal sedikitpun. Menurut istrinya, suaminya itu sering mendapat bisikan mahluk halus. Diduga polisi tersebut mengidap  Skizofrenia.

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5: 32)

Ranti juga sempat bercerita, sehari setelah ibu mereka wafat, Ahmad, salah satu adik Andi, melihat “ayah dan ibu” mereka mengunjungi Andi, mereka berdiri di samping tempat tidur Andi. Ironisnya, ketika saya menanyakan hal tersebut kepada Ahmad, ia tertawa.

“Wah mb Ranti ya yang cerita. Nanti aku dikira mengidap Skizofrenia juga niih”, ucapnya dengan nada agak kecut. Menurut Ranti, adiknya itu sejak lama memang memiliki kemampuan melihat hal-hal seperti itu.

Saya segera melirik suami saya. Kebetulan suami saya juga sempat memiliki kemampuan melihat yang ghaib. Demikian pula bapak saya yang sudah 3 tahun lebih menderita kelumpuhan mirip Andi, tapi daya ingat dan komunikasi bapak masih sangat bagus.

Saya teringat, hari-hari pertama bapak mengalami kelumpuhan, beliau sering sekali berhalusinasi. Bapak sering sekali marah-marah dan menyuruh pergi “seseorang” yang dianggap suka mengganggunya. Akhirnya adik saya berinisiatif mendatangkan seorang ustad yang dikenal sering merukyah alias mengusir roh jahat yang datang mengganggu. Alhamdulillah bapak sekarang sudah terbebas dari gangguan tersebut.

Berikut  hadist menarik yang diceritakan oleh Aisyah R.ha dan Ibnu Mas’ud R.a :

Rasulullah saw bersabda, ” Setiap kamu ada Qarin dari bangsa jin, dan juga Qarin dari bangsa malaikat. Mereka bertanya: “Engkau juga ya Rasulullah.”
“Ya aku juga ada, tetapi Allah swt telah membantuku sehingga Qarin itu dapat aku islamkan dan hanya mengajakku dalam hal kebajikan saja.”
(Riwayat Ahmad dan Muslim).

https://adamfirdauz.wordpress.com/2012/12/25/tentang-qorin-jin-pendamping-manusia/

Saya jadi berpikir betulkah vonis yang dijatuhkan dokter kepada Andi tempo hari ?? Bukanlah jin termasuk qarin kembaran kita, tidak mengenal mati kecuali pada hari Kiamat nanti, hingga dengan demikian kemungkinan qarin itulah yang menampakkan diri dan mengganggu manusia. Yang ilmu kedokteran kemudian menyebutnya halusinasi ???

Yang pasti ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil. Yang pertama, kita tidak boleh mencintai seseorang, baik itu suami/istri/anak/orang-tua, apalagi harta benda, secara berlebihan. Karena semua itu hanya titipan yang pada suatu hari kelak pasti diminta kembali oleh Sang Pemilik. Kecintaan tertinggi hanya untuk Allah swt.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Yang kedua, sebagai orang beriman, kita tentu yakin dengan adanya yang ghaib. Dan ada orang-orang tertentu yang diberi-Nya kemampuan melihat dan merasakan hal tersebut. Sebagai contoh yaitu para nabi. Demikian juga ayat-ayat suci Al-Quranul Karim yang turun kepada rasulullah Muhammad saw. Sebagian ayat turun dalam bentuk suara, tanpa terlihat siapa yang berbicara, disamping apa yang disampaikan oleh malaikat Jibril as yang datang dalam bentuk laki-laki biasa. Itu sebabnya nabi saw sering dituduh gila (majnun) oleh orang-orang Quraisy yang tidak meng-imani beliau. Na’udzubillah min dzalik …

“Berkat ni’mat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila”.( Terjemah QS. Al-Qalam (68):2-6).

Yang ketiga, rasulullah saw mengajarkan kita, kaum Muslimin, agar terbiasa merukyah diri kita sendiri. Diantaranya yaitu dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas,  Al-Falaq, An-Naas, Al-Baqarah ayat 255 ( ayat Qursi) serta 3 ayat terakhir surat Al-Baqarah.

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Terjemah QS. Al-Isro (17): 82).

Bacakan ruqyah-ruqyah kalian kepadaku, tidak apa-apa dengan ruqyah yang tidak mengandung kesyirikan didalamnya.” (HR. Muslim).

http://ruqyahislam.blogspot.co.id/2013/12/ayat-dan-doa-dalam-meruqyah.html

Ke-empat, Islam menganjurkan kita, kaum Muslimin agar menjenguk orang yang sakit dan mengantar jenazah ke kubur. Tujuannya tak lain adalah agar kita banyak bersyukur dan senantiasa mengingat bahwa pada saatnya nanti kitapun akan mati.

” Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga.” (HR Tirmidzi).

Terakhir, yuuk kita biasakan membaca ta’awuuz, yaitu “A’uzubillahi minas Syaitonir Rajim” sebelum memulai segala aktifitas kita, terutama sebelum membaca Al-Quran, agar kita dijauhkan dari segala macam godaan syaitan terkutuk.

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Al-A’raaf(7): 200).

Syukur Alhamdulillah, Andi sekarang telah terbiasa merukyah dirinya sendiri. Beberapa kali ia memanggil-manggil kami, agar senantiasa mendoakannya “ Doain aku ya, baca Al-Fatihah 3x, Al-Ikhlas 3x,  Al-Falaq 3x, An-Naas 3x, ayat Qursi 3x”. Secara berulang-ulang ia mengatakan hal tersebut, meski dengan nada datar dan tanpa ekspresi.

Ya Allah, berilah sepupu kami tersebut kesabaran dalam menghadapi cobaan-Mu, berilah ia kesembuhan yang baik, bila Kau me-ridhonya, aamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Mei 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Pada tanggal 5 Mei 2017, untuk kesekian kalinya GNPF-MUI menggelar Aksi Bela Islam, kali ini dengan nama Aksi Simpatik 55. Aksi damai ini diselenggarakan setelah shalat Jum’at di masjid Istiqlal, dengan agenda khusus ber-munajat kepada Allah swt agar Sang Khalik sudi mengabulkan permintaan delegasi yang dikirim untuk menemui perwakilan Mahkamah Agung RI.

http://www.panjimas.com/news/2017/05/05/sebelum-aksi-simpatik-55-perhatikan-seruan-ustadz-bachtiar-nasir/

Permintaan tersebut adalah agar MA menjaga independensi dari pengaruh luar. Karena seperti yang kita ketahui bersama kecenderungan tersebut amatlah kentara, diantaranya dengan adanya tuntutan hukum yang sangat ringan. Yaitu 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun, yang berarti Ahok tidak akan masuk penjara kecuali dalam waktu 2 tahun membuat kesalahan yang sama. Bandingkan dengan hukuman yang dijatuhkan terhadap para terdakwa kasus penodaan agama seperti Arswendo (4 tahun), Lia Eden (2.5 tahun), Permadi (7 bulan) dan Rusgiani (14 bulan).

https://www.nahimunkar.com/penodaan-agama-ahok-sampai-arswendo/

Berikut adalah sebagian pengantar yang diucapkan Ustad Bachtiar Nasir (UBN) selaku ketua GNPF-MUI, sebelum acara digelar :

” Kepada hakim yang terhormat dan hakim yang mulia, kami tidak pada posisi untuk menekan sistem peradilan sedikit pun. Kami hanya bermunajat kepada Allah SWT di Masjid Istiqlal dan menyampaikan aspirasi kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia, dan setelah itu kami serahkan keputusan kepada yang Mulia Majelis Hakim, dan kami bertawakkal kepada Allah SWT Yang Maha Adil”.

Dengan demikian Aksi Simpatik 55 yang merupakan rangkaian ABI (Aksi Bela Islam) 411, 212 dan 112, adalah aksi terakhir yang diprakasai GNPF-MUI, apapun putusan hakim pada Selasa 9 Mei besok. Sebuah rangkaian aksi yang diikuti jutaan peserta yang disatukan oleh iman, dan dapat berjalan dengan tertib, santun, aman dan damai. Allahu Akbar …

Ya manusia memang hanya bisa berusaha, Allah lah penentu segalanya. Sebagian umat Islam telah melakukan usaha maksimal, yaitu melalui Aksi Bela Islam yang berkali-kali itu. Sebagai warga negara yang baik mereka berusaha untuk tidak main hakim sendiri, untuk mentaati hokum negara. Meski mereka bisa melihat kenyataan betapa hokum berjalan lamban, dan terkesan ogah-ogahan. Padahal mereka tahu bahwa menurut hukum Islam, orang yang mengolok-olok ayat-ayat-Nya bisa dijatuhi hukuman berat, yaitu hukuman mati.

Pada saat yang sama, panitia  KPU DKI secara resmi menetapkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih priode 2017-2022. Tak salah bila kemudian UBN menyebut bahwa tanggal 5 bulan 5 adalah hari yang istimewa, sesuai ayat 5 surat 5 yaitu Al-Maidah sebagai berikut :

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”.

Penetapan pemenang pilkada yang diselenggarakan di kantor KPU, juga cukup membuat merinding. Karena begitu Anies Bawesdan mengucap bahwa kemenangan tersebut tak lepas dari ridho Allah swt, adzan Asarpun berkumandang. Dan calon gubernur tersebutpun menghentikan sambutannya untuk mendengar azan hingga selesai dikumandangkan. Masya Allah …

Betul memang, kemenangan pasangan Anies dan Sandi tak lepas dari kuasa Sang Khalik. Di tengah suasana panas pilkada, terpanas dan terheboh dalam sejarah pilkada Indonesia, pasangan Muslim tersebut bisa meraih kemenangan. Padahal pihak pasangan Ahok, sang terdakwa, dan Jarot, yang didukung partai-partai besar, para cukong bahkan pemerintahan Jokowi, telah habis-habisan menguras tenaga dan dana demi kemenangan pasangan yang mereka dukung.

Bahkan Ahok, tampaknya tak menyadari, bahwa perbuatan buruknya membawa-bawa ayat 51 surat Al-Maidah, justru menjadi bumerang bagi dirinya. Sebagian umat Islam yang tadinya tidak tahu, atau kurang begitu peduli terhadap adanya larangan memilih pemimpin dari kalangan non Muslim, dengan perbuatan Ahok malah jadi tahu, dan tidak memilihnya. Meski bisa saja ada banyak faktor penyebab selain itu.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Yang juga harus disadari umat Islam, adalah adanya tuduhan bahwa tuntutan umat Islam terhadap Ahok adalah politisasi, agar Ahok tidak bisa dipilih menjadi gubernur. Agak aneh. Ayat larangan memilih pemimpin dari kalangan non Muslim/kafir, ada banyak, tidak hanya ayat 51 Al-Maidah. Jika itu yang dimaksud politisasi, Islam memang bukan agama yang hanya mengurusi persoalan akhirat, tapi juga semua segi kehidupan termasuk masalah sosial dan politik. Ayat-ayat tersebut sudah ada jauh sebelum negri ini diproklamirkan.

Justru Ahoklah yang tiba-tiba memunculkan dan membahas ayat tersebut, karena merasa kepentingan politiknya terhalangi ayat tersebut. Jadi jelas ialah yang mempolitisasi ayat Al-Quran, ironisnya lagi, ayat kitab suci yang tidak di-imani-nya, ayat suci umat lain, yang tidak sepantasnya ia utak-atik. Itu sebabnya meski Ahok telah kalah, umat Islam tetap menuntut agar Ahok tetap dipenjara mempertanggung-jawabkan prilakunya yang merusak persatuan NKRI dan ke-Bhineka-an yang selama ini terjaga dengan baik, agar tidak ada lagi orang yang berani mengolok-olok ajaran dan kitab suci agama umat lain.

Hal ini makin memperjelas betapa Maha Kuasanya Allah swt. Larangan tersebut sungguh tepat dan pada tempatnya. Bagaimana mungkin seseorang mempunyai pemimpin yang berbeda cara pandang dengan orang yang dipimpin?? Hal yang demikian pasti akan melahirkan banyak permasalahan.

Sungguh alangkah beruntungnya kita, Allah swt telah memberikan kemenangan bagi pasangan Anies-Sandi yang sama-sama Muslim.  Semoga keduanya dapat menjaga amanah dengan baik, mengembalikan persatuan antar sesama umat beragama, menjadikan ibu kota tercinta aman, tentram dan nyaman bagi seluruh warganya, baik rakyat kecil atau pejabat, miskin ataupun kaya, apapun agamanya, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Sementara Ahok, dipenjara ataupun tidak, semoga Allah swt memberinya hidayah, dan segera ber-taubat, aamiin … Mari kita memasuki bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari dengan hati yang bersih dan damai …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2017.

Vien AM.

Catatan:

Majelis hakim Pengadilan Jakarta Utara, Selasa 9 Mei 2017 memutuskan vonis 2 tahun penjara bagi Ahok … Allahu Akbar … Trima-kasih ya Allah yang telah mengabulkan doa dan harapan kaum Muslimin. Semoga hal ini dapat menambah rasa syukur kaum Muslimin betapa besarnya cinta-Nya kepada kita … Masya Allah …

http://spiritriau.com/view/Nasional/93375/Hakim-Vonis-Ahok-2-Tahun-Penjara.html#.WRKKDuWGOUk

Read Full Post »

Older Posts »