Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Kedasyatan Al-Quran.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.  Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( Terjemah QS. Al-‘Alaq(96):1-5).

Ayat di atas adalah ayat yang pertama turun kepada Rasulullah Muhammad saw. Disampaikan oleh malaikat Jibril as ketika Rasulullah sedang berkhalwat di gua Hira yang telah menjadi kegiatan rutin karena prihatin terhadap prilaku penduduk Mekah yang makin hari terperosok dalam kemaksiatan. Sejak itu ayat-ayatpun terus turun selama nyaris 23 tahun hingga menjelang wafatnya Rasulullah.

Awalnya Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Ayat-ayat disampaikan hanya kepada orang-orang terdekat seperti Khadijah sang istri tercinta satu-satunya, keponakan yang masih muda belia Ali bin Abu Thalib serta sahabat-sahabat dekat seperti Abu Bakar dll.

Namun setelah 3 tahun berlalu turun ayat yang memerintahkan agar rasul berdakwah secara terbuka dan terang-terangan. Maka Rasulpun mengumpulkan penduduk Mekah di suatu tempat terbuka, mengumumkan kerasulan beliau sekaligus memperkenalkan ajaran Islam.

Sayang ajakan tersebut ditolak mentah-mentah, terutama oleh para pembesar Mekah. Perlu diketahui keadaan Mekah ketika itu adalah merupakan pusat peribadatan dengan Ka’bah sebagai pusatnya. Ka’bah memang sudah ada jauh sebelum Islam datang. Ibadah haji termasuk thawaf dan sa’i adalah ritual ibadah peninggalan nabi Ibrahim as dan putranya nabi Ismail as yang sudah berumur ribuan tahun.

Namun dengan berlalunya waktu ibadah tersebut telah diselewengkan sedemikian rupa hingga menjadi penyembahan berhala. Sebagai pusat peribadatan, Mekah banyak didatangi peziarah dari segala penjuru tanah Arab. Selain beribadah mereka juga datang untuk berlomba memamerkan kemahiran mereka bersyair, sekaligus juga untuk berniaga.

Puncaknya adalah musim haji. Pada saat itu, pasar-pasar Arab dibuka lebar-lebar. Yang paling terkenal adalah Pasar Ukaz. Di Ukaz inilah terdapat mimbar khusus tempat para penyair Arab adu kepiawaian. Disamping itu, Ukaz juga memiliki tempat penjualan budak dari berbagai ras dan bangsa, mulai yang berkulit hitam, kuning, coklat hingga berkulit putih.

Para pembesar Mekah sudah pasti adalah yang paling merasakan keuntungannya. Itu sebabnya mereka adalah yang paling takut kehilangan pengaruh dan kekuasaan bila  datang agama baru ke daerah kekuasaan mereka.

Namun Rasulullah tidak menyerah, ayat-ayat Al-Quranul Karim tetap beliau perdengarkan kepada penduduk Mekah. Dan tak sedikit diantara para penyair handal yang mau tak mau harus mengakui kehebatan dan keindahan ayat-ayat tersebut.  Bahkan Walid bin Mughirah, seorang pembesar Mekah yang juga ahli syair, mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah merasa tersentuh.

Demi Allah, tak seorangpun diantara kalian yang melebihi pengetahuanku tentang syair, puisi dan sajak, bahkan dari kalangan jinpun. Demi Allah apa yang diucapkan Muhammad tak sedikitpun menyerupai semua itu. Sungguh perkataannya indah dan menyejukkan. Kata-katanya sangat tinggi dan tak mungkin tertandingi”, aku Walid kagum.

Hal ini menyebabkan pembesar Mekah lain bertambah kesal dan marah. Fitnahpun disebarkan, Muhammad adalah penyihir, orang gila, maka harus dijauhi. Muhammad adalah pemecah bangsa, pengkhianat agama nenek moyang.

Tidak cukup puas hanya dengan menyebar fitnah mereka juga mengolok-olok bahkan melempari Rasulullah dengan kotoran binatang.

Suatu hari Umar bin Khattab seorang pembesar Mekah yang dikenal garang bermaksud menemui Rasulullah untuk membunuhnya.

“Aku akan menemui Muhammad! Dia yang menukar agama nenek moyang kita. Dia yang memecah belah masyarakat Quraisy. Dia memiliki banyak angan-angan bodoh. Dia yang mencaci tuhan-tuhan kita. Untuk semua kesalahannya itu, aku akan menebas lehernya!“, serunya geram.

Namun dalam perjalanannya menuju Darul Arqam dimana Rasulullah sering berkumpul dengan para sahabat ia mendapat kabar bahwa adik perempuan yang sangat ia cintai yaitu Fatimah dan suaminya Sa’id bin Zaid telah masuk Islam. Segera Umarpun merubah haluan menuju rumah pasangan tersebut untuk memastikan kebenarannya. Singkat cerita saking marahnya Umar memukul adiknya hingga terjatuh dan darahpun mengucur dari wajahnya.  Melihat itu Umar menyesal, lalu meminta adiknya untuk memperlihatkan lembaran-lembaran Al-Quran yang sempat disembunyikan di bawah kursinya. Lembaran-lembaran tersebut adalah lembaran surat Thaahaa berikut :

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”. (Terjemah QS. Thaahaa(20):1-6).

Umar tertegun, hatinya tersentuh, tubuhnya bergetar hebat, tangannya terkulai dan matanya menerawang jauh. Tiba-tiba ia teringat suatu malam secara tidak sengaja mendengar Rasulullah membaca ayat berikut:

“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”   (Terjemah QS. Al-Haqqah(69):41).

Ketika itu ia berpikir “Jika bukan perkataan penyair pasti perkataan Muhammad sendiri”. Didorong rasa keingin-tahuan yang tinggi, keesokan malamnya diam-diam ia menyelinap ke dekat rumah Rasulullah. Atas kehendak Allah swt ternyata yang dibaca Rasulullah adalah kelanjutan ayat yang didengarnya kemarin.

“Ia (Al Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.”

Segera Umarpun meninggalkan adiknya yang memandangnya penuh harap, dan pergi menuju Darul Arqam. Tapi kali ini bukan untuk membunuh Rasulullah melainkan untuk menyatakan ke-Islam-annya. Allahu Akbar …

Sebuah pertanyaan besar mengapa Umar yang dikenal temperamen, keras kepala dan tidak sudi mendengarkan pendapat orang lain begitu mudah luluh mendengar ayat-ayat Allah dibacakan?

Sama halnya dengan bangsa jin sebagaimana ayat berikut :

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan,” (Terjemah QS. Al-Jinn(72):1).

Al-Quran juga mampu membuat orang tergetar hebat menangis meski ia tidak memahami bahasa apalagi maknanya. Kita juga bisa melihat betapa orang di seluruh penjuru dunia, lelaki perempuan besar kecil hafal Al-Quran, bahkan  bacaan panjang pendeknyapun sesuai dengan yang tertulis.

Yaa … Al-Quran adalah mukjizat terbesar Rasulullah. Jika nabi Musa as dengan tongkat ajaibnya yang bisa berubah menjadi ular mampu membuat para penyihir bertekuk lutut. Nabi Isa as dengan kemampuan menyembuhkan orang lepra bahkan Allah swt pernah suatu kali mengizinkan beliau menghidupkan seorang yang mati. Nabi Ibrahim as yang berhasil keluar dari hukuman api dari rajanya. Nabi Saleh dengan unta betina yang muncul dari batu. Maka selain mukjizat-mukjizat kecil yang tidak jauh beda dari mukjizat nabi yang lain, Allah swt membekali Rasulullah dengan Al-Quranul Karim sebagai mukjizat terbesarnya.

Al-Quran adalah kitab suci yang bukan hanya indah rangkaian kata dan susunan kalimatnya. Tapi terlebih lagi makna dan kandungan yang ada di dalamnya. Kitab ini bukan hanya berisi perintah dan larangan, cerita para nabi dan umat-umat terdahulu, tapi juga berita-berita langit yang sungguh sangat visioner, menembus batas akal dan pikiran manusia yang sulit dipahami manusia pada waktu itu. Ayat-ayat yang seperti itu baru belakangan ini terbukti ternyata sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan dan sains yang makin hari makin terkuak itu. Ini makin membuktikan bahwa Al-Quran bukan buatan manusia.  Ia adalah kumpulan Firman Allah Azza wa Jala Yang Maha Tinggi di atas sana. Allahu Akbar.

Tak heran jika hingga saat ini, 15 abad sejak awal diturunkannya, mukjizat Al-Quran masih bisa terus dirasakan. Betapa banyaknya orang yang mau memeluk Islam setelah membaca dan mempelajari Al-Quran. Para ilmuwan dari berbagai negara maju tak terhitung banyaknya yang terkagum-kagum membaca ayat-ayat Al-Quran yang ternyata sesuai dengan ilmu yang selama bertahun-tahun mereka geluti.

Jadi, sungguh beruntung kita yang sejak lahir sudah mengenal Al-Quran. Sebaliknya alangkah sialnya bila kita tidak mampu merasakan kedasyatannya. Untuk itu marilah kita maksimalkan pengenalan kita terhadap kitab suci ini, tidak dengan hanya membacanya siang dan malam, tapi juga dengan mentaddaburi serta mengamalkannya,  agar kita dapat memperoleh ridho dan ampunan-Nya.

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah saw bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Quran. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib, Syarah Ihya)

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah,

Aku adalah Alquran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Juni 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Bagi sebagian orang Lebaran tanpa tradisi mudik rasanya kurang afdol. Tak terkecuali Lebaran 2020 atau Iedul Fitri 1441 H yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang sukses membuat heboh sebagian besar penduduk dunia. Para pemudik tampaknya tidak peduli terhadap bahaya penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan dan telah menyebabkan ribuan korban jiwa melayang termasuk nyawa para petugas medis yang sedang berjuang menolong korban penyakit tersebut.

Kebijakan yang tumpang tindih antara pusat dan daerah seperti karantina daerah (lock down), Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB), dan terakhir larangan mudik namun layanan transportasi justru di aktifkan kembali, disinyalir adalah salah satu penyebabnya.

https://mediaindonesia.com/read/detail/305730-regulasi-tumpang-tindih-dan-bertentangan-persulit-penegakan-hukum

Kepatuhan dan ketidak-patuhan memang tidak dapat dilepaskan dari krisis kepercayaan. Diawali dari pemerintahan yang korup yang sudah mendarah daging di bumi pertiwi ini, hutang pemerintah yang menumpuk hingga tersandera si negara pemberi hutang, angka pengangguran dan kiminalitas yang terus melonjak dll, menambah parahnya krisis kepercayaan masyarakat. Krisis ini tidak hanya kepada instansi tapi juga sosok individu.

Tentu kita semua pernah mendengar kisah klasik tentang seorang penggembala kambing yang untuk mengatasi rasa bosannya membohongi penduduk dengan mengatakan ada srigala datang menyerang kampung mereka.

Awalnya si penggembala berhasil mengecoh penduduk dan puas mentertawai mereka. Namun setelah berkali-kali mengulangi perbuatan buruk tersebut akhirnya pendudukpun sadar bahwa mereka telah dikerjai. Hingga suatu hari ketika benar-benar datang segerombolan srigala maka tak seorangpun mau percaya dan menolong si penggembala.

Sebuah hikmah, jangan pernah berbohong. Karena suatu ketika kita bicara jujur tak seorangpun akan mempercayai kita lagi. Apalagi kita sebagai umat Islam, pasti tahu perbuatan bohong sekecil apapun adalah dosa. Apalagi korupsi dll. Bersyukur kita memiliki panutan yang amat sangat pantas dijadikan keteladanan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Al-Ahzab(33):21).

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. [HR. Al-Bukhari].

Rasulullah adalah seorang yang amanah, siddiq, tabligh dan fathonah. Seorang Muslim seharusnya mencontohnya.  Dengan amanah seseorang akan selalu menepati janji, dengan siddiq ia akan jujur, tidak korupsi, tidak berbohong apalagi membuat berita hoax untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya. Dengan tabligh ia akan berani menyampaikan kebenaran betapapun pahitnya, dan dengan fathonah seseorang akan mampu menyelesaikan segala masalah dengan sebaik mungkin.

Rasulullah Muhammad saw juga dikenal memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat menonjol, tapi juga suka dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Beliau biasa menyelesaikan masalah secara musyawarah. Kasih sayangnya kepada umat jauh lebih besar dari pada kepada keluarga apalagi diri sendiri. Rasulullah tidak marah bila pribadi beliau yang dihina. Sebaliknya bila menyangkut kepentingan umat Rasulullah membelanya mati-matian.

Dengan berbekal inilah Rasulullah menyampaikan Islam hingga bisa berkembang dan menyebar ke segala penjuru dunia. Ajaran yang diturunkan Allah swt melalui malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw ini sejatinya adalah mengajarkan ahlak yang mulia dengan dasar ketundukan, kepatuhan serta penyembahan murni hanya kepada Tuhan Yang Satu, itulah Allah Azza wa Jala.

Tuhan Yang Satu, Tunggal, tidak beranak dan diperanakkan, tidak berkolaborasi dengan apa dan siapapun. Ia tidak membutuhkan dan tidak punya sedikitpun kepentingan atas kita. Ini menunjukkan ke-absolutan kekuasaan sebuah kerajaan yang abadi, kerajaan Allah, penguasa langit, bumi dan seluruh alam semesta, dengan para malaikat sebagai bala tentara yang siap tunduk patuh menjalankan perintah-Nya.

“Hai manusia, kamulah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS. Fathir(35):15).

“Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS.Ibrahim(14): 8)

Sebaliknya dengan penguasa negara di dunia, selain terbatas waktu dan wilayah kekuasaannya, ia memerlukan bantuan dan kerja sama mentri-mentrinya. Juga dukungan rakyat bila ingin pemerintahannya berjalan mulus. Rakyat dengan sendirinya akan patuh ketika merasa  diperhatikan, dilindungi haknya, dijaga keamanan dan dipenuhi kebutuhannya.

Namun bila hal itu tidak juga terjadi tidak heran juga. Bila kerajaan Allah yang begitu dasyat dan rasulullah sebagai penyampai ajaran yang tak diragukan lagi ahlaknya saja bisa di dustakan apalah arti seorang pemimpin negri.

Semoga dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan yang seharusnya membuahkan umat yang takwa, mampu membuat kita memahami apa arti kepatuhan, kepemimpinan dan kepercayaan.  Meyakini betapa pentingnya peran seorang pemimpin. Oleh karenanya tidak sepatutnya seorang Muslim tidak peduli dan asal-asalan dalam memilih pemimpin.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpin kalian jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):23).

Semoga di masa pandemi yang menyebabkan kita harus tetap di rumah beserta keluarga akan melahirkan generasi yang benar-benar memahami ayat-ayat Al-Quranul Karim, bagaimana Rasulullah menyikapinya,  hingga mampu membawa kita kembali ke masa kejayaan Islam dan mampu memimpin kita melawan kejahatan Dajjal yang makin memperlihatkan taringnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Juni 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Tanpa terasa hari ini kita telah memasuki pekan terakhir Ramadhan 1441H. Di tengah hiruk pikuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dilakukan demi mencegah penyebaran virus Covid19 atau virus Corona, harus diakui hari-hari Ramadhan yang kita lalui bersama keluarga inti ini terasa cukup melegakan. Meski ibadah-ibadah Ramadhan yang biasa kita laksanakan di masjid seperti shalat Taraweh, Iktikaf dan kegiatan lain terpaksa hanya kita jalankan di rumah.

Tapi sebenarnya ini bukan masalah besar karena Rasulullahpun sebenarnya hanya 3 hari saja mendirikan shalat Taraweh di masjid selebihnya di rumah. Ini dilakukan karena Rasulullah khawatir umat merasa terbebani, dan menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Berikut ihwal dilakukannya shalat Taraweh berjamaah di masjid.

Abdurrahman bin Abdul Qari’ berkata, “Saya keluar ke masjid bersama Umar Radhiyallahu anhu pada bulan Ramadhan. Ketika itu orang-orang berpencaran; ada yang shalat sendirian, dan ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil (kurang dari sepuluh orang). Umar berkata, “Demi Allah, saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam, tentu lebih utama,”.

Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam lain. Ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka. Maka Umar Radhiyallahu anhu berkata,’Ini adalah sebaik-baik hal baru.’ Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang”. Peristiwa ini terjadi pada tahun 14H.

https://almanhaj.or.id/3150-shalat-tarawih-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-salafush-shalih.html

Dan lagi masih beruntung kita mengalami masa sulit ini di zaman dimana teknologi sudah sedemikian canggihnya. Dengan bantuan teknologi tersebut dari rumah orang bisa tetap bekerja, bertatap muka dan berkomunikasi dengan dunia luar. Bahkan di bulan suci Ramadhan ini kaum Muslimin, bisa mendengarkan kajian ustad siapapun yang mereka inginkan, tanpa harus meninggalkan rumah, kapanpun kita mau.

Ketika pertama kali saya mengikuti kajian melalui video conference yang biasanya kami lakukan 2 pekan sekali, kesan pertama yang saya dapatkan adalah bisa melihat semua wajah teman-teman pengajian saya secara jelas, di satu screen., tanpa harus menoleh ke kiri maupun ke kanan. Di layar yang relative kecil tersebut saya bisa melihat gerakan bahkan ekspresi mereka yang mengantuk, yang tidak konsen dll. Persis cctv yang biasa dipantau satpam. 🙂

Tiba-tiba saya terpikir begitulah Allah Azza wa Jala mengawasi hamba-hambaNya dari detik ke detik selama 24 jam penuh. Masya Allah … Jadi sungguh aneh bila di zaman modern ini masih ada saja orang yang tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Terjemah QS.Al-Baqarah(2):255).

Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dengan adanya virus Covid ini. Salah satunya yaitu tadi, beribadah bersama keluarga. Tampaknya Allah swt ingin mengingatkan kita bahwa di surga nanti kita bisa bertemu kembali dengan keluarga yang kita cintai. Dengan syarat sama-sama beriman.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (Terjemah QS. At-Thuur(52):21).

Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”,(Terjemah QS. Al-Ghafir( 40):8).

(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”.(Terjemah QS. Ar-Raad(13):23).

Untuk itu kita harus saling mengingatkan, diantaranya yaitu dengan terus mengkaji ayat-ayat Al-Quran, bagaimana Rasulullah menyikapinya, dengan bimbingan orang/ustad yang benar-benar menguasai ilmunya. Dan sekarang ini adalah saat yang tepat. 10 hari terakhir Ramadhan adalah saat-saat berharga dimana Allah swt melipat gandakan semua amal ibadah kita.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Terjemah QS.Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bahwa di kalangan bani Israel terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Qadr 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam Lailatul Qadr lebih baik daripada amal seribu bulan ( 83.3 tahun) yang dilakukan seorang laki-laki dari bani Israel tersebut.

Dari Aisyah RA, beliau berkata:

Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku’.”

Al-Quran diturunkan dalam 2 cara, pertama dari Lauh-Mahfudz ke langit dunia secara keseluruhan. Yang kedua dari langit dunia, disampaikan oleh malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw dengan cara bertahap selama kurang dari 23 tahun, yaitu hingga wafatnya Rasulullah saw. Peristiwa turunnya ayat pertama ( ayat 1-5 surat Al-Alaq ) inilah yang sering diperingati kaum Muslimin di negri kita sebagai peringatan Nuzulul Qur’an pada setiap tanggal 17 Ramadhan.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (HR. Thobari).

Dari Mauwiyah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul Qadr itu pada malam ke 27” (HR. Abu Dawud).

Namun demikian tidak semua ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar pasti terjadi setiap malam 27 Ramadhan. Karena ada beberapa hadist yang menyatakan terjadi pada malam ganjil lain, diantaranya tanggal 23 dan 25. Yang pasti Lailatul Qadar terjadi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Meski besar kemungkinan yang sering terjadi adalah malam 27. Artinya pada malam tersebut jangan sampai kita melewatkannya begitu saja. Alangkah meruginya.

Dari Aisyah RA, “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut(HR. Muslim)

Yang juga menarik Allah swt merahasiakan siapa yang mendapatkan Lailatul Qadar tersebut, meski seorang hamba selama 10 hari itu menghidupkan malam-malam harinya dengan bermunajat kepada Tuhannya. Diantaranya yaitu dengan shalat malam, membaca Al-Quran, berzikir dll. Kita hanya bisa menyaksikan hamba terpilih tersebut pasti akan menunjukkan perbaikan sikap, tidak hanya kepada Allah swt tapi juga kepada sesama manusia. Karena memang untuk itulah Rasulullah diutus kepada manusia.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Akhir kata bisa jadi pandemi covid19 yang sedang kita alami ini adalah sindiran bagi mereka yang lebih suka sibuk dengan urusan mudik di hari-hari akhir Ramadhan daripada mencari malam Lailtul-Qadar. Atau mereka yang sibuk bekerja siang malam demi urusan dunianya tapi lalai memikirkan urusan akhirat. Atau bahkan bisa jadi juga sentilan bagi mereka yang rajin beribadah di masjid tapi tidak pernah mengajak atau mengingatkan keluarganya hal yang sama. Na’udzubillah min dzalik …

Yaa Allah beri kami kemudahan untuk meraih malam keberkahan tersebut, menjadikannya jalan masuk ke surga-Mu bersama keluarga, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Mei 2020.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Mempersiapkan Kematian.

Tiga pekan sudah kebijakan Social/Physical Distancing ( Jaga Jarak) diterapkan di negri kita tecinta. Kebijakan ini demi menghambat lajunya penularan Covid-19 yang tampaknya makin sulit terbendung hingga menjadi momok mengerikan penduduk seluruh negara dunia.

Pada Sabtu (4/4/2020) pemerintah mengumumkan jumlah pasien yang positif terinfeksi virus ini telah  mencapai 2.092, 191 orang meninggal dunia, 150 orang dinyatakan sembuh. Jumlah ini masih terus meningkat dari hari ke hari. Itu sebabnya akhirnya pemerintah menetapkan status Kedaruratan Kesehatan.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200404143554-20-490309/update-corona-4-april-2092-kasus-191-meninggal-150-sembuh

Sementara Worldometers melansir data per Ahad (5/4/2020),  sebanyak 1.196.944 kasus infeksi virus Covid19 atau Corona di dunia. Dari jumlah tersebut, 246.110 orang dinyatakan sembuh, dan 64.580 orang meninggal dunia. Dengan urutan 10 negara jumlah kasus terbesar terpapar Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis, China, Iran, Inggris, Turki dan Swiss.

https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/05/071000365/update-virus-corona-di-dunia-5-april–1-19-juta-orang-terinfeksi-246.110

Namun demikian sebenarnya jumlah kematian akibat Covid-19 masih kalah jauh dibanding jumlah kematian akibat penyakit berbahaya lain seperti kanker, jantung atau hiv. Masalahnya penyakit yang menyerang pernafasan ini daya tularnya amat dasyat. Ini yang menyebabkan petugas medis kewalahan memberikan pelayanan. Tampaknya kebijakan Social/Physical Distancing tetap harus dijalankan secara lebih ketat. Apalagi jumlah tenaga medis di Indonesia yang wafat ketika sedang menjalankan tugas mulia tersebut kabarnya  terbesar di dunia.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un … Semoga Allah swt mencatat mereka sebagai syuhada, aamiin yaa robbal ‘aalamin …

Sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari. Kemanapun kita lari bersembunyi bila memang sudah waktunya ajal itu akan tiba, dengan cara apapun, tidak harus melalui sakit keras/berbahaya.

” … …  Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”. ( Terjemah QS. Yunus(10):49).

Jadi jelas kematian bukan untuk ditakuti apalagi dihindari. Meski tidak boleh juga kita menantang kematian, misalnya dengan membiarkan diri kita tertular penyakit, apalagi sengaja menularkan penyakit kita kepada orang lain.

Masalahnya kematian bukan akhir segalanya. Kematian adalah proses perpindahan   dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Dan kehidupan akhirat hanya ada 2 pilihan, Surga yang penuh kenikmatan atau Neraka yang apinya menyala-nyala. Tentu tak seorangpun mau masuk Neraka. Itu sebabnya kematian harus dipersiapkan.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”.(Terjemah QS. Muhammad(47):36).

Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi saat ini, bisa jadi adalah teguran Allah swt kepada kita semua yang cenderung lupa/lalai mempersiapkan kematian kita. Kehidupan dunia dengan segala iming-iming dan gemerlapnya telah membuat kita mencintainya secara berlebihan. Bahkan lupa kepada Sang Pencipta yang telah memberikan semua kenikmatan duniawi.

Sebuah video yang kini sedang viral memperlihatkan seorang kakek Italia usia 93 tahun menangis melihat tagihan ventilator yang disodorkan dokter kepadanya. Namun yang mengejutkan, teryata ia menangis bukan karena tak mampu membayarnya.

Selama 93 tahun saya hidup tidak pernah sesenpun saya membayar udara yang saya hirup. Dan saya tidak pernah mensyukurinya. Berapa besar hutang saya pada-Nya??”, keluhnya.

Pertanyaannya, haruskah kita menunggu dan menyadari kesalahan kita setelah kita sakit keras atau setelah usia kita mencapai uzur??

Dari Abdullah Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum kamu kedatangan lima perkara (demi untuk meraih keselamatan dunia akhirat). Yakni Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Sehatmu  sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang faqirmu. Waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu”.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 18).

Perumpamaan kehidupan di dunia adalah tempat kita bercocok-tanam yang akan kita petik hasilnya secara keseluruhan di akhirat nanti. Ayat 18 surat Al-Hasyr di atas secara jelas memerintahkan kita untuk berbekal, mempersiapkan hari esok kita di akhirat nanti.

Adalah kedua orang-tua yang harus bertanggung-jawab mempersiapkan hal tersebut, mendidik anak-anaknya sejak kecil, agar mengenal Tuhannya, memahami dengan jelas dan pasti apa tujuan hidup ini.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Baihaqi dan ath-Thabarani).

Bila kita renungkan sejenak saja, kebijakan WFH ( Work From Home) atau aktifitas dari rumah sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk kita kembali memikirkan apa sebenarnya tugas utama kedua orang-tua dalam keluarga.

Jangan sampai kejadian langka ini terlewat begitu saja. Orang-tua tetap disibukkan dengan urusan pekerjaan kantor, urusan perut dan lain-lain yang sifatnya fisik/duniawi. Anak-anak sibuk dengan PR sekolah, ujian dan lain-lain tanpa ada tambahan pelajaran agama seperti hafalan Al-Quran dll.

Inilah saatnya kita bertobat, memohon ampunan Allah swt, segera membersihkan diri dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong dll. Ajari anak untuk berbagi kepada mereka yang kesusahan dan kesakitan, ajak anak shalat ber-jamaah, terangi rumah dengan ayat-ayat suci Al-Quran.

Semoga Alah swt ridho memasukkan kita ke dalam bulan Ramadhan yang sudah di depan mata ini dalam keadaan sehat walafiat, bebas dari segala penyakit, serta hati yang bersih dari segala penyakit hati, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 April 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Shibghah Allah.

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):138).

Shibghah, apakah Shibghah itu?? Shibghah artinya adalah tathiir (pensucian) sebagaimana asbabunuzul berikut,

Ibnu Jarir berkata, “Sesungguhnya orang-orang Nasrani bila anak mereka dilahirkan, maka mereka datang kepada pendeta pada hari yang ketujuh, mereka memandikannya dengan air yang disebut ‘al-Ma’mudi untuk membaptisnya. Mereka mengatakan, “Ini adalah kesucian pengganti khitan. Maka apabila mereka telah mengerjakannya jadilah anak itu seorang Nasrani yang sebenarnya.” Maka Allah menurunkan ayat ini”.

Ayat diatas adalah sindiran terhadap kaum Nasrani yang merasa ritual pembaptisan kepada bayi mereka lebih baik dari pada ritual khitan yang biasa dilakukan kaum Muslimin. Tentu saja hal ini tidak benar. Islam mengajarkan bahwa bayi yang baru lahir itu bersih, bebas dari segala dosa. Oleh sebab itu tidak perlu pensucian ( pembaptisan).

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim).

Fitrah manusia adalah bersih dari segala dosa termasuk dosa syirik yang merupakan dosa terbesar manusia. Tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah Subhanallahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Satu, Esa, tidak beranak dan diperanakkan.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Terjemah QS. Ar-Rum (30):30)

Dan yang lebih penting lagi cara pembersihan dosa tidak dengan cara baptis melainkan taubat nasuha, yaitu taubat yang benar-benar tidak akan mengulanginya lagi. Itupun bukan dengan cara pengakuan dosa di depan ulama/pendeta atau orang yang dianggap suci seperti yang biasa dilakukan kaum Nasrani. Melainkan langsung kepada Sang Pencipta Allah Azza wa Jala Yang Maha Menerima Tobat, tanpa perlu seorangpun saksi.

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, … … “. (Terjemah QS. At-Tahrim (66):8).

Sebaliknya khitan bertujuan untuk kesehatan dan kebersihan tubuh bukan semata kebersihan jiwa. Dan hari ini ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa khitan memang sangat baik bagi kesehatan manusia.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Lima dari fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis”.[HR Muslim].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”‘Barangsiapa masuk Islam, maka berkhitanlah, sekalipun sudah dewasa” ; Syaikh kami (Ibnu Taymiah) berkata,’Ibrahim mengkhitan Ishaq pada hari ketujuh dan mengkhitan Isma’il ketika hendak baligh. Jadilah khitan Ishaq menjadi sunnah (tradisi) bagi anak cucunya, dan juga khitan Ismail menjadi sunnah bagi anak cucunya.Wallahu a’lam’.”

Khitan juga ternyata adalah ajaran para nabi, sejak nabi Ibrahim as hingga nabi Isa as. Jadi khitan sejatinya bukan hanya berlaku untuk umat Islam tapi juga untuk seluruh pemeluk agama Samawi kalau tidak mau dikatakan untuk seluruh manusia yang peduli kesehatan.

Untuk itulah Allah swt menegaskan bahwa shibghah Allah adalah shibghah yang paling baik. Shibghah yang juga berarti celupan. Sibhghah Allah, “celupan Allah” yaitu iman kepada Allah yang diikuti pembuktian tidak hanya ritual menyembah hanya kepada-Nya, tapi juga dengan mentaati semua perintah dan menjauhi segala larangan.

Perumpamaan mudah Shibghah Allah adalah seperti kain dan celupan warna dalam pewarnaan sebuah kain. Untuk mendapatkan warna yang sempurna kain harus dimasukkan ke dalam celupan secara keseluruhan, tidak separuh-separuh. Dan celupannyapun harus benar-benar sesuai dengan warna yang kita inginkan. Dengan demikian setelah kain dikeluarkan dari celupan hasilnya akan benar-benar sempurna. Warnanya tampak jelas, persis seperti celupannya, tidak belang-belang, setengah berwarna setengah tidak.

Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):208).

Shibghoh Allah adalah dien, komitmen totalitas hidup, ritual maupun non ritual kepada Allah swt, Sang Pencipta. Komitmen yang akan mewarnai hidup kita dengan ajaranNya. Tidak cukup hanya dengan iman di dalam hati tapi juga harus tampak dari luar. Itulah Islam yang kaffah, yang tidak setengah-setengah, tidak tebang pilih ayat yang sesuai nafsu dan keinginan.

Rasulullah terbiasa mengganti nama para sahabat yang bermakna tidak baik, seperti Abdul Uzza yang artinya hamba Uzza. (Uzza adalah nama tuhannya orang jahiliyah).  Demikian juga kaum perempuan dengan hijabnya, yang dengan demikian akan lebih mudah untuk dikenali, dan tidak diganggu orang jahat.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Ibaratnya adalah seragam suatu sekolah yang membuat pihak sekolah mudah mengenali identitas murid-muridnya, memberikan bantuan dan perlindungan. Sebaliknya seragam juga membawa baik dan buruk nama sekolah.

Begitupun dengan kaum Muslimin. Penampilan harus dibarengi prilaku dan sikap yang Islami, yang sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Al-Hadist.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: (1) jika diberi amanat, khianat; (2) jika berbicara, dusta; (3) jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; (4) jika berselisih, dia akan berbuat zalim.” (HR. Muslim no. 58)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Desember 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Jalan Kebenaran.

DSC04132Adalah hal yang sangat wajar bila seorang pemeluk agama meyakini bahwa agamanya adalah yang terbaik, yang paling benar. Dan bahwa keyakinannya itu akan menjaminnya masuk surga, dan menghindarkannya dari pedihnya siksa api neraka. Keyakinan inilah tentunya yang membuat seseorang sudi memeluk suatu agama tertentu.  Dan ini berlaku bagi seluruh agama, tidak hanya Islam, tapi juga Yahudi maupun Nasrani.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani“. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):111).

Keyakinan inilah yang membuat mereka berani mencemooh dan mentertawakan kaum Muslimin yang mereka anggap sesat. Mereka yakin berada di jalan kebenaran sementara umat Islam berada di jalan kesesatan sebagaimana yang diceritakan ayat 29-32 surat Al-Muthafifin berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, ( Terjemah QS. (83):29-32).

Pertanyaannya benarkah prasangkaan mereka itu ?? Yang pasti semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Namun ketika prinsip dasar tentang ke-Tuhan-annya saja rancu, tidak jelas bahkan salah, bagaimana mungkin orang bisa begitu yakin bahwa agamanya itu benar …

Kebenaran sejati adalah milik Sang Pencipta. Tuhan pencipta manusia, langit, bumi dan segala isinya. Tuhan yang mustahil menyerupai apapun yang diciptakannya. Tuhan yang tidak beranak maupun diperanakkan. Tuhan yang tidak mempunyai kepentingan apapun terhadap segala ciptaannya.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):255).

Kebenaran berdasarkan akal manusia yang merupakan mahluk ciptaan tentu relative, sangat beragam dan pasti sangat rapuh. Oleh karenanya untuk mengetahui dan meyakini kebenaran suatu agama tidak ada jalan lain kecuali dengan memahami isi kitab sucinya, siapa pembawanya, bukan dari sikap pemeluk agamanya yang bisa saja salah memahami ajarannya.

Agama Nasrani dan Yahudi yang merupakan agama samawi pada dasarnya sama dengan agama Islam, yaitu mengimani Tuhan Yang Satu, Allah swt. Namun seiring dengan berjalan waktu agama yang dibawa nabi Isa as dan nabi Musa as melalui malaikat Jibril as sebagai perantara tersebut, mengalami berbagai penyelewengan yang parah.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. … “. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):73).

Sebaliknya aneh bin ajaib ketika ada pemeluk suatu agama namun meyakini bahwa semua agama adalah sama, semua benar, dan bahwa semua orang bisa masuk surga, asalkan baik. Sepintas kelihatannya mungkin benar, bahkan terkesan sangat bijak dan penuh toleransi.

Tapi bila dipikir lebih jauh, baik itu menurut siapa?? Menurut sesama manusia? Manusia yang mana?? Bukankah antar suku saja kriteria sebuah kebaikan tidak selalu sama ?? Apalagi penduduk bumi yang jumlahnya milyaran dengan jutaan suku, etnis dan kultur yang berbeda-beda. Lagi pula kalau semua agama adalah sama tidak perlu orang memilih satu agama. Ikuti saja semua peraturan agama yang pastinya akan membuat kewalahan dirinya sendiri. Mungkinkah???

Lebih mengerikan lagi, bila orang itu adalah seorang pemeluk agama Islam, yang mengaku Islam tapi suka mengejek dan mentertawakan saudaranya sesama Muslim, sangat bisa jadi Allah Azza wa Jala memasukkan yang bersangkutan sebagai golongan orang Munafik.  Padahal orang Munafik itu derajatnya lebih rendah dari orang Kafir. Tempatnya adalah di kerak neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Bersyukurlah kita yang telah Allah Azza wa Jala pilihkan Islam sebagai agama kita. Biarlah orang-orang kafir mencemooh dan mentertawakan kita di dunia ini. Tidak perlu kita berkecil hati, sakit hati apalagi marah. Karena pada akhirnya merekalah yang akan kecewa dan menyesali perbuatan mereka.

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang ( orang-orang kafir, yang diganjar). Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Terjemah QS. Al-Muthafifin(83):34-36).

Pada kelanjutan ayat 111 Al-Baqarah di awal tulisan, Allah swt berfirman :

“ Demikian itu (hanya) angan-angan mereka ( Nasrani dan Yahudi) yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

Dilanjutkan dengan :

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Namun demikian kita tetap tidak boleh lengah dan terbuai dengan janji surga dan ampunan-Nya yang seluas langit dan bumi dengan ke-Islam-an kita. Karena modal iman dan Islam saja tidak cukup untuk meraih semua itu. Diperlukan juga amal ibadah. Hebatnya lagi bukan hanya ibadah shalat, puasa yang bernilai ukhrowi namun juga segala amal kebaikan kepada sesama manusia seperti zakat, infak, menolong orang yang dalam kesusahan, silaturahmi, sabar dll sebagainya.

Jangan sampai Allah swt memasukkan kita sebagai golongan yang sama dengan orang yang dimurkai-Nya yaitu kaum Yahudi karena  berilmu tapi tidak beramal. Atau kaum Nasrani yang sesat karena beramal tapi tanpa ilmu yang benar, sebagaimana firman Allah swt di ayat 6 dan 7 Al-Fatihah yang selalu kita baca setiap shalat.

“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Agustus 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »