Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Husnul Khotimah

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”. (Terjemah QS. An-Anbiya (21):35).

Mati adalah suatu kepastian yang tidak mungkin dielakkan manusia, apapun suku, ras, bangsa, agama, laki-laki ataupun perempuan. Dan semua Muslim pasti ingin ketika meninggal nanti dalam keadaan husnul khotimah, yaitu dalam keadaan terbaiknya. Itulah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Terjemah QS. Al-Fajr (89):27-30).

“ … Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. An-Nahl: 31-32).

Itu sebabnya ketika ada anggota keluarga, kawan atau kerabat yang “dipanggil menghadap” Sang Khalik, doa yang dipanjatkan sering kali adalah “semoga husnul khotimah”.

Lawan dari husnul khotimah adalah su’ul khotimah, yaitu dalam keadaan terburuknya. Itulah jiwa khomisa atau jiwa yang marah/gelisah. Su’ul khotimah akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang meninggalkan kewajiban bahkan berani melakukan dosa-dosa besar. Yang hingga ajal menjemput tidak sempat bertaubat.

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);

“Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu”. (Terjemah QS.Ah-Nahl(16):28-29).

Masalahnya Sang Khalik me-wafatkan hamba-Nya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, juga tanpa harus sakit atau menunggu tua. Betapa seringnya kita mendengar berita orang meninggal dalam usia muda, sehat pula. Jadi tidak ada jalan bagi kita selain harus selalu menyiapkan diri.

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad hasan).

Berkata Ibnul Qayyim: “Sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai  ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi”.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan  diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir”.

Artinya, orang yang suka dan terbiasa berbuat maksiat akan diwafatkan dalam keadaan yang disukainya itu, yaitu ketika bermaksiat. Sebaliknya, orang yang suka dan terbiasa beramal kebajikan akan diwafatkan dalam keadaan tersebut.

Dengan kata lain, kesiapan itu harus dimulai sedini mungkin. Sekalipun hanya kalimat ‘La ilaaha illallah’ yang kelihatannya sangat mudah. Karena kebiasaan itu tidak datang secara tiba-tiba melainkan harus dilatih, bukan sekedar ucapan di mulut tapi juga di hati, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Dalam ayat 27 surat Al-Fajr diatas, disebutkan “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. Apa yang maksud di “ ridhoi-Nya”?

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):69).

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Terjemah QS. Ar-Rad(13):28).

Al-Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa suka bertemu dengan Allah, maka Allahpun suka bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allahpun benci bertemu dengannya”

Begitulah yang dimaksud di-ridho Allah swt. Lalu dipersilahkannnya orang-orang tersebut masuk ke surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung akhirnya”. (Shahih, HR. ibnu Hibban)..

Hadist di atas menunjukkan bahwa kita harus senantiasa hati-hati, istiqomah dalam menjalani kebaikan, hingga ajal menjemput. Karena sebaik apapun amal ibadah kita, bila Allah swt membalikkan hati kita di akhir hayat nanti, sungguh celakalah kita.

Dan sebagaimana tubuh yang harus dijaga kesehatannya, demikian pula hati kita. Yaitu dengan terus hadir di majlis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, senantiasa ber-dzikir dan bermunajat kepada Allah swt agar ridho diberikan akhir yang baik. Tidak sepatutnya urusan dunia mengalahkan urusan akhirat. Urusan dunia tidak akan ada habisnya bila kita terus mengikuti nafsu dan selalu memandang ke atas.

Tengoklah mereka yang hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan hingga tidak mempunyai waktu untuk beribadah. Sebaliknya alangkah ruginya orang-orang sukses, kaya raya tapi tidak mau menyempatkan diri untuk kepentingan akhirat-Nya. Karena susah senang, sakit sehat, sukses atau tidak sukses, sejatinya hanyalah cobaan. Nikmat hidup tidak seharusnya hanya dihitung dari harta benda tapi keberkahan dan keridhoan dari Sang Khalik jauh lebih berharga.

Berikut karakter jiwa yang tenang menurut Ibnu Abbas :

  1. Yang senantiasa membenarkan ke-Esa-an Allah swt. ( QS.Al-Ikhlas(112):1)
  2. Yang penuh syukur, tidak serakah. ( QS. Ar-Rahman, QS. Lukman (31:12).
  3. Yang selalu sabar terhadap ujian Allah swt. (QS. Al-Baqarah(2):45,153), Ali Imran(3):186), Al-Ankabut (29):59) dll.
  4. Yang ridho atas takdir Allah swt. ( QS.Yasin (36):43).
  5. Yang merasa cukup/puas dengan pemberian Allah (qonaah).

”Ridholah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (HR Turmudzi).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 April 2018.

Vien AM.

 

Advertisements

Read Full Post »

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)”.

Ayat 10-12 surat Al-Kahfi di atas adalah sebagian kecil dari kisah sejumlah pemuda beriman yang pergi ke sebuah gua dan berlindung di dalamnya. Al-Quran menyebut para pemuda beriman tersebut sebagai para penghuni gua Kahfi ( Ash-habul Kahfi).

Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa pemuda-pemuda tersebut bertemu di sekitar gua, secara tidak sengaja. Kerajaan Romawi dibawah raja Daqyanus, pada saat itu dipenuhi orang-orang dzalim penyembah taghut dan berhala. Pada hari-hari tertentu rakyat dipaksa untuk menyembelih ternak sebagai persembahan. Demikian pula yang dilakukan orang-tua para Ash-habul Kahfi yang tak lain adalah para pembesar kerajaan.

Namun dengan izin Allah swt, para pemuda belia tersebut lama kelamaan menyadari bahwa hal tersebut adalah sebuah kesesatan. Itu sebabnya diam-diam mereka pergi ke gua Kahfi untuk mengasingkan diri. Disanalah mereka bertemu. Di sana pula akhirnya mereka membuat tempat ibadah untuk memuja Allah swt. Namun itupun akhirnya diketahui kaumnya dan dilaporkan kepada sang raja. Di depan raja, mereka dipaksa bertobat dan kembali kepada ajaran para leluhur.

“dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. ( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:14).

Tentu saja raja dan para penguasa kerajaan sangat terkejut dan marah atas keteguhan hati para pemuda yang kukuh mempertahankan keimanan mereka. Namun dengan menahan kesal, raja memberi kesempatan para pemuda untuk memikirkan kembali pendapat mereka. Itulah skenario Sang Khalik yang dengan demikian memberikan kesempatan para pemuda untuk segera melarikan diri.

Dan atas kuasa Allah swt jua, pasukan yang kemudian dikirim untuk mengejar mereka tidak berhasil menemukan jejak para pemuda. Persis seperti yang terjadi pada Rasulullah dan Abu Bakar as Shidiq ketika bersembunyi di dalam gua, dari kejaran kaum Quraysh.

Di dalam gua Kahfi itulah Allah “menidurkan” para pemuda selama ratusan tahun tanpa ada yang mengetahuinya. Kalaupun ada yang pernah melihatnya mereka merasa ketakutan dan menganggapnya sebagai orang gila. Karena selama “tidur” ratusan tahun tersebut para pemuda kadang-kadang bergerak layaknya orang tidur, bahkan matanya kadang-kadang terbuka. Allahlah yang membolak-balikkan tubuh mereka agar terkena pancaran sinar matahari. Itu sebabnya tubuh mereka tidak rusak.

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah…. “.( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:17).

 “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. “.( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:18).

Hingga tiba saatnya Allah swt membangunkan para pemuda tersebut tanpa mereka sadar bahwa mereka telah tidur selama tiga ratus sembilan tahun. Mereka menyangka hanya tertidur sehari atau bahkan setengah hari. Dengan uang perak yang masih tersisa di tangan salah satu pemuda tersebut pergi ke pasar untuk membeli makanan. Teman-temannya mewanti-wanti agar berhati-hati, khawatir raja dan kaumnya akan memergoki mereka.

Namun ternyata tak seorangpun mengenali sang pemuda, juga uang yang dibawanya. Mereka lalu membawanya ke hadapan raja yang sudah bukan lagi raja  Daqyanus. Dan ternyata raja serta kaumnya bukan lagi penyembah taghut, mereka adalah orang-orang beriman. Setelah menceritakan kisahnya, bersama sang pemuda rajapun pergi menemui pemuda lain yang masih menunggu di dalam gua. Demikianlah Allah swt mengakhiri kisah Ash-habul Kahfi, dengan menidurkan para pemuda untuk selamanya.

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran, betapa keimanan kepada Allah Yang Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta adanya hari Kiamat, adalah hal yang amat sangat patut dipertaruhkan. Para pemuda belia yang biasa hidup di lingkungan mewah istana itu adalah salah satu buktinya.

Bukti lain adalah kisah seorang pengikut Firaun yang selama beberapa waktu menyembunyikan keimanannya. Tapi suatu hari terpaksa membuka keimanan tersebut demi melindungi orang beriman lainnya yang akan dibunuh kaumnya dengan resiko ia ikut dibunuh. Peristiwa ini diabadikan dalam surat Al-Ghofir ayat 28 sebagai berikut :

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. … … “.

Di masa awal keislaman, banyak sahabat yang rela mengorbankan harta bendanya demi Islam. Diantaranya adalah Khadijah ra, istri rasulullah, yang sebelum menikah  adalah seorang yang kaya raya, tapi ketika wafat tidak memiliki harta yang berarti. Demikian pula Abu Bakar yang rela menebus jiwa para sahabat dengan harta yang tidak sedikit. Juga Bilal bekas budak yang sering disiksa demi mempertahankan ke-islam-annya. Belum lagi para sahabat yang rela syahid di medan perang demi melawan kesyirikan dan tegaknya kalimat tauhid.

Disamping itu, ber-tauhid, adalah fitrah manusia. Itulah jalan yang lurus, jalan kebenaran. Setiap manusia yang baru lahir ke dunia sejatinya mengenali Tuhannya yang esa. Orang-tua dan lingkungannyalah yang kemudian menyesatkannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna”.(HR. Bukhari).

Sebaliknya kesyirikan adalah jalan yang bengkok, yang penuh kebathilan dan kemustahilan. Itu sebabnya para pemuda Ash-habul Kahfi meski mereka masih belia sudah dapat merasakan ketidak-nyamanan terhadap kebiasaan dan ajaran yang dianut orang-tua dan para leluhur mereka.

Itu sebabnya potensi pemuda tidak boleh diabaikan. Mereka harus dibina dan diarahkan agar hatinya tetap bersih, mau berpikir dan tidak hanya meniru apa yang dilakukan orang-tuanya. Kebenaran harus ditegakkan dan kebathilan harus dihilangkan. Itulah amar ma’ruf nahi mungkar. Dakwah tidak mengenal lelah dan tidak boleh pernah berhenti. Meski sebenarnya dengan cara-Nya sendiri, kebenaran akan senantiasa menang walau misalnya tak satupun orang mau memperjuangkannya. Manusia hanya bisa berikhtiar Allah yang menentukan hasilnya. Persis seperti yang terjadi pada para pemuda Ash-habul Kahfi yang begitu terbangun dari tidur panjangnya Sang Khalik telah memenangkan mereka.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, kalau ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau ia tidak mampu maka dengan hatinya, mengingkari (dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah.” ( HR. Muslim).

Begitu juga dengan yang terjadi saat ini, ketika perzinahan, homoseksual, riba dan khamar merajalela, ayat-ayat suci dipermainkan, ulama tidak ditaati bahkan dibully. Apa yang harus kita lakukan dan bagaimana kita harus menyikapinya? Cukupkah kita hanya berpangku tangan  menyaksikan semua itu terjadi di depan mata kita??

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 28 Februari 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Kebangkitan Islam

4 November 2017, tepat satu tahun setelah Aksi Bela Islam 411, masjid Al-Azhar Jakarta menggelar acara  Shalat Subuh Berjamaah yang diikuti dengan pengajian bertemakan politik Islam. Acara akbar ini diselenggarakan oleh PPI (Pengajian Politik Islam) yang diketuai Hamdan Zoelva. Sekedar pengingat, Aksi Bela Islam (ABI)  digelar untuk memprotes pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang ketika itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, karena ia mengobok-obok ayat 51 surat Al-Maidah. Aksi berjilid ini berjalan dengan sangat aman dan tertib, terutama ABI 212 yang diikuti jutaan umat Islam. Sementara ABI 411 lebih dikenang karena ketika itu polisi menghujani massa dengan gas air mata hingga menimbulkan korban.

http://www.voa-islam.id/read/citizens-jurnalism/2017/11/08/54232/menolak-lupa-tragedi-aksi-bela-islam-411/#sthash.5fFPUGRi.dpbs

Selain masjid Al-Azhar, masjid Baitul Hakim Cipinang Jakarta Timur, di hari yang sama juga menggelar Tabligh Akbar. Tabligh di masjid tersebut diisi oleh ustad kondang Abdul Somad yang didahului sambutan ketua MPR Zulkifli Hasan, sebagai pribadi.

Dalam sambutan tersebut Zulkifli mengatakan di Indonesia saat ini banyak sekali timbul kesalahan fahaman yang sangat merugikan umat Islam. Contohnya, orang taat beragama dikatakan tidak cinta tanah air, pihak yang menolak perpu dituduh anti Pancasila, bahkan menyerukan Takbirpun bisa dianggap radikal.  Peran umat islam yang begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan tampaknya mulai dikesampingkan. Umat Islam dianggap tidak toleran terhadap umat agama lain.

Ketua MPR tersebut juga mengingatkan, Musim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia ( 85%) namun nyatanya hanya kurang 3 % yang menguasai perekonomian.  Sebagian besar penduduk Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan adalah kaum Muslimin. Untuk itu ia menghimbau agar umat Islam mau bersatu dan kompak menyusun kekuatan politik bila ingin maju dan berjaya membentuk Indonesia yang Islami, yang rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.

https://www.kiblat.net/2017/11/06/zulkifli-hasan-salah-paham-jika-taat-beragama-dinilai-anti-nkri/

Hal senada juga pernah dicetuskan Jimly Asshidiqqie, ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) beberapa waktu lalu. Ia mengatakan keberadaan pengusaha muslim di Indonesia saat ini semakin minoritas. Oleh karena itu, Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI) harus mampu menggerakkan perekonomian.

“Kalau dari perspektif penduduk, kita mayoritas muslim. Kalau perspektif ekonomi, kita yang muslim justru minoritas. Dari 50 orang terkaya di Indonesia hanya 5 pengusaha muslim,” kata Jimly saat menerima kunjungan pengurus SKPI di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Demikian juga yang dikatakan Sekretaris Umum MUI Kota Medan, DR Syukri Albani Nasution, saat membuka acara Penyuluhan Penguatan Pemahaman Ekonomi Praktis Bagi Para Dai yang diselenggarakan Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan, Rabu (4/10) di Aula MUI Kota Medan.

“Kita tidak pernah membenci produk di luar produksi nonmuslim, tapi kalau masih ada produk umat kenapa pilih yang lain. Meski kita menilai produk lain lebih terkenal dibandingkan produk umat,” ucapnya.

Sementara itu uztad Abdul Somad yang menjadi primadona Tabligh Akbar 4 November di masjid Baitul Hakim Cipinang mengatakan, setidaknya ada 4 kunci kebangkitan Islam, yaitu :

1. Muliakan ulama, dan amalkan ilmunya.

… … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. … “ (Terjemah QS.Fathiir(35):28).

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi ).

Ulama adalah ibarat guru dalam dunia pendidikan. Dari para ulama inilah ilmu agama diteruskan hingga sampai kepada manusia di akhir zaman. Ulama adalah orang yang paling bertanggung-jawab dalam mendidik dan menyampaikan ilmu dan pengetahuan mereka kepada umat.

Jadi sungguh sudah sepatutnya kedudukan ulama harus diutamakan dan dimuliakan. Perkataan mereka sudah seharusnya didengar dan dipatuhi. Sebaliknya mereka juga dituntut harus memberikan contoh yang baik. Namun apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyakitkan hati. Para ulama dilecehkan, dihina bahkan difitnah dengan berbagai fitnah kejam. Tak sedikit ulama yang hidupnya berakhir di belakang jeruji penjara tanpa bukti kesalahan yang jelas.

Tidak hanya itu, pengajianpun dibubarkan paksa dan sang ulama diteror. Perpu ormas yang belakangan diresmikan menjadi UU sejatinya adalah membidik ormas Islam dimana terdapat para ulama di dalamnya. HTI dengan tuduhan ingin mendirikan kekhalifan Islam adalah pembukaannya. FPI adalah sasaran selanjutya, setelah itu ntah siapa lagi.

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas telah terbukti saat ini. Banyak ulama/uztad yang menyampaikan ilmu tidak berdasarkan ayat Al-Quranul Karim maupun hadist shoheh. Anehnya tidak sedikit orang yang begitu saja mempercayainya. Orang-orang liberal, JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah contohnya. Mereka ini mengaku sebagai orang berakal yang mempercayai ajaran agama berdasarkan logika. Padahal Islam tidak selalu sejalan dengan akal. Banyak hal-hal dalam ajaran yang dibawa rasullah Muhammad saw yang tidak mampu kita mencernanya.

Jangan lupa Firaun raja Mesir yang diabadikan kisahnya di dalam Al-Quran juga merasa dirinya hebat dan pintar hingga tidak merasa perlu mempercayai ajaran nabi Musa as karena terlalu mengandalkan akal dan logikanya. Padahal baik dan benar menurut seseorang belum tentu baik dan benar menurut Sang Khalik.

“ … … Fir`aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. ( Terjemah QS. Al-Mukmin(40):29).

Ulama terbagi atas 2 kelompok besar yaitu ulama Suu’ dan ulama Warosatul Anbiya ( Ulama Pewaris Nabi). Ulama Suu’ adalah ulama jahat yaitu yang orientasinya hanya keduniawian. Sementara ulama pewaris nabi sesuai namanya adalah ulama yang mengikuti jejak nabi, yaitu mengajarkan keutamaan akhirat karena memang begitulah hakikat agama, yaitu komitmen kita mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita terima dari Tuhannya.

Sabda Rasulullah SAW, “Apabila tergelincir ulama, maka tergelincirlah umat.”

2. Pemimpin yang adil dan takwa.

Keberhasilan kerja ulama terlihat dari lahirnya pemimpin-pemimpin yang adil dan takwa. Ilmu yang disampaikan para ulama untuk diamalkan bukan hanya sekedar disimpan sebagai ilmu pengetahuan. Disamping itu ilmu agama seharusnya bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri atau keluarga terdekatnya namun juga untuk lingkungan yang ada di sekitarnya.

Islam Rahmatan Lil ’Aalamiin” hanya akan terjadi bila ada orang Islam yang menjadi pemimpin yang adil dan takwa hingga tercipta situasi kondusif yang memungkinkan tidak hanya umat Islam dapat menjalankan kehidupan sesuai tuntunan syariah namun juga umat agama lain. Tidak sedikit ayat-ayat Al-Quranul Karim yang mengajarkan bagaimana cara dan syarat memilih pemimpin.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. At- Taubah(9):23).

Jadi sungguh tidak benar bila ada yang mengatakan “ Yang penting jadi orang baik dan tidak menyusahkan orang lain” atau “ Islam Yes Politik No”.

Harus diingat sesholeh dan sebaik apapun seorang Muslim bila situasi tidak mendukung bukan mustahil ia akan sulit menjalankan ajarannya. Dalam menjalankan ekonomi syariah misalnya, diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengatur kebijaksanaan tersebut.

3. Bangkitkan ekonomi Islam.

Denyut perekonomian adalah cermin keberhasilan suatu negara. Sekali lagi bila ingin membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin maka denyut ini harus kita kuasai. Bagaimana mungkin Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim namun hanya menguasai 3 % perekonomian?

Umat Muslim selama ini terus dicekoki bahwa rasulullah Muhammad saw adalah sosok yang miskin dan selalu hidup dalam kesulitan. Padahal rasulullah sebenarnya kaya raya, tapi kekayaan tersebut tidak  digunakan beliau maupun keluarganya. Namun digunakan untuk dakwah Islam dan disumbangkan kepada fakir miskin.

Rasulullah bersabda, “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran”.(HR.Abu Na’im).

Kesadaran kaum Muslimin di Indonesia akan pentingnya menguasai perekonomian sebenarnya sudah lama terjadi. Yaitu dengan berdirinya organisasi Syarekat Dagang Islam (SDI) yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905. Tujuannya waktu itu untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim  agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Cina yang lebih maju usahanya dari mereka. Pada waktu itu pedagang Cina memang diberi hak dan status yang lebih tinggi oleh  pemerintah Hindia-Belanda. Hal inilah yang membuat kaum Muslimin bangkit bersatu menuntut keadilan. Namun demikian bank syariah pertama di Indonesia baru lahir 87 tahun kemudian. Yaitu  Bank Muamalat Indonesia yang berdiri atas prakarsa ICMI dan MUI pada tahun 1992.

http://salman-rusdi.blogspot.co.id/2012/10/kebangkitan-ekonomi-islam-kedua.html

Ironisnya lagi, setelah lewat lebih dari seratus tahun berdirinya SDI, kaum Muslimin tetap saja terpuruk. Kesenjangan sosial  antara si kaya dan si miskin yang mayoritas Muslim tidak kunjung terselesaikan. Monopoli perdagangan dan ekonomi tetap dipegang etnis Cina yang makin menggurita.  Kebijaksanaan pemerintah saat ini bahkan berat membela kepentingan para taipan Cina yang menguasai hampir semua lini.

Namun syukur Alhamdulillah paska terjadinya Aksi Bela Islam pada November 2106 lalu ghirah umat kembali muncul. Berdirinya Koperasi212 dan Mart212 yang dibidani sejumah ulama kondang dengan penasehat ekonom Anggito Abimanyu adalah buktinya. Koperasi ini diketuai Dr. M Syafii Antonio M.Ec, pemimpin  Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia, seorang pakar perbankan dan ekonomi syariah yang mumpuni.

Keberadaan Syafii Antonio yang etnis Cina dan menjadi mualaf ketika masih duduk di bangku SMA ini menjadi bukti tersendiri bahwa umat Islam tidak rasis. Karena dengan memeluk Islam Syafii pasti tahu persis bagaimana kekayaan harus dikelola.

“ Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. … …”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59):7).

4. Selamatkan anak muda dari segala jenis kerusakan.

Anak muda adalah tonggak masa depan. Di tangan merekalah kemajuan dan kesuksesan bergantung. Sayangnya sebagian anak muda saat ini, “ generasi now” begitu mereka menyebut, telah dilimpahi begitu banyak kesibukan dan kesenangan duniawi. Tidak hanya gadget yang sebenarmya tidak selalu negative, tergantung pemakaian, tapi juga  gaya hidup konsumtif, hidup bebas tanpa aturan seperti LGBT alias homoseksual dan ketergantungan terhadap narkoba contohnya.  Yang bila diingatkan untuk belajar agama berkilah “ Mumpung masih muda, agama nanti kalau sudah tua”. Padahal siapa yang bisa menjamin ia bakal hidup sampai tua??

Anak-anak muda seperti di atas harusnya menyadari dan mengenal bagaimana di zaman nabi para pemuda belasan tahun sudah berjuang untuk menegakkan agama. Diantaranya yaitu Mush’ab bin Umair ra. Mush’ab adalah seorang remaja dari keluarga kaya raya yang sangat dimanjakan ke dua orang-tuanya. Wajahnya yang tampan dengan pakaian dan rambut yang selalu tersisir rapi tak pelak menjadi buah bibir dan idaman para gadis Mekah. Namun semua itu ia tinggalkan demi memeluk Islam.

Paska perjanjian Aqabah rasulullah saw memerintahkan Mush’ab agar mengajarkan ayat-ayat suci Al-Quran kepada penduduk Madinah. Di kemudian hari Mush’ab gugur sebagai syuhada dalam perang Uhud. Tangan kanannya yang ketika itu sedang membawa bendera perang berhasil ditebas musuh. Demikian pula tangan kirinya yang berusaha mempertahankan bendera. Mush’ab segera  memungut bendera yang terjatuh dengan kedua pangkal tangannya namun demikian Mush’ab tak dapat bertahan ketika sebuah tombak ditusukkan ke dadanya. Iapun syahid.

https://vienmuhadi.com/2009/01/19/kisah-mush%E2%80%99ab-bin-umair/

Dalam perang Uhud yang berlangsung tidak seimbang itu, rasulullah melibatkan 2 remaja yang usianya belum 15 tahun, karena umat Islam ketika itu memang baru sedikit sekali. Itupun setelah rasulullah di desak para sahabat dengan alasan kedua remaja tersebut adalah jago panah. Sementara itu Rasulullah memulangkan sejumlah remaja yang sebenarmya sangat ingin bergabung karena usia mereka kurang dari 15 tahun. Salah satu yang dipulangkan tersebut adalah Usamah bin Zaid yang menangis kecewa.

Namun di kemudian hari yaitu ketika Usamah mencapai usia 19 tahun rasulullah menunjuk Usamah sebagai panglima perang melawan pasukan Rum yang ketika itu sangat disegani. Padahal ketika itu terdapat sahabat-sahabat senior, diantaranya Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain.

Usamah memang akhirnya membatalkan keberangkatannya karena mendengar kabar wafatnya rasulullah. Namun setelah kemudian Abu Bakar Shidiq diangkat sebagai khalifah dan tetap melanjutkan perintah rasulullah agar menjadikan Usamah sebagai panglima perang, Usamahpun berangkat.

Lain lagi dengan Zaid bin Tsabit ra yang ketika rasulullah saw wafat usianya baru 20 thn. Zaid adalah penerjemah rasulullah dari bahasa  Yahudi ( Ibrani) ke Bahasa Arab. Rasulullah yang memerintahkan anak muda tersebut agar mempelajari Bahasa tersebut sepaham-pahamnya dengan tujuan agar tidak dibohongi mereka.

Semangat anak-anak muda seperti inilah yang seharusnya ditiru anak muda zaman sekarang. Berjihad membela Islam tidak harus dengan berperang. Dengan menguasai ilmu pengerahuan dan teknologi serta bekal keimanan yang tinggi kejayaan Islam di masa lalu bukan tidak mungkin bisa kita raih kembali.  Bukankah dunia adalah ladang amal yang akan menentukan nasib kita di hari akhirat kelak ??

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.( Terjemah QS. Al-Qashash(28):77).

Jangan biarkan hidup di dunia yang hanya sekali ini membuat kita selamanya menyesal. Jangan biarkan pula tangan-tangan kotor sedikit demi sedikit mencicipi bubur panas dan kita baru menyadarinya setelah habis tandas. Karena bubur panas tersebut tak lain adalah kita, umat Islam yang tidur lelap tidak sadar musuh sedang mengerubuti kita. Na’udzubillah min  dzalik …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 16 November 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Amal ibadah dan ilmu

Beberapa hari yang lalu saya “ terjebak” film Hollywood yang diputar channel HBO berjudul “Tomorrow Land”, sebuah film yang judulnya mengambil salah satu wahana hiburan terkenal Disneyland bertema futuristik.  Mengapa saya katakan ”terjebak”? Karena jujur sebenarnya saya bukan orang yang hobby nonton film baik di tv apalagi di bioskop. Tapi kalau kebetulan kepergok film di tv menarik, sering kali saya keterusan menontonnya, meski tidak dari awal dan belum tentu ditonton sampai selesai … 🙂

Lalu apa menariknya film sains-fiksi yang bercerita tentang sulit dan banyaknya bencana di bumi hingga menyebabkan seorang saintis berambisi menciptakan alternative tempat tinggal yang jauh lebih aman di luar angkasa sana.  Hhhmm … sampai disini mungkin sudah dapat ditebak ke arah mana pikiran saya …

Betul sekali .. bukankah kita hidup di dunia ini hanya sementara, sedang akhirat adalah kehidupan yang relative jauh lebih abadi. Kehidupan dunia adalah cobaan dan ujian, yang baik maupun yang buruk, yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Untuk itu dituntut kesabaran yang tinggi. Islam mengajarkan umatnya untuk mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” ketika menghadapi kesulitan.

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (Terjemah QS. Al-Ghafir(40):39).

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2): 155-156).

Dan sebagai balasannya Allah swt sebagai pemilik sekaligus penguasa kehidupan ini menjanjikan kita kehidupan yang aman, menyenangkan, jauh dari segala kesulitan. Itulah kehidupan akhirat di surga yang jauh lebih kekal dibanding kehidupan duniawi.

Sayangnya tempat yang  penuh kenikmatan itu hanya khusus diperuntukkan mereka yang taat kepada Tuhannya saja, yaitu Allah Azza wa Jala. Itulah tuhan semesta alam, tuhannya semua manusia, mulai dari manusia pertama nabi Adam as hingga manusia terakhir kelak, apapun agama, bangsa dan warna kulitnya.  Khusus bagi mereka yang lulus dari berbagai kesulitan ujian dan cobaan yang diberikan-Nya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):214).

Dengan kata lain, tak perlu kita repot-repot menciptakan dunia baru yang serba canggih, aman dari segala bencana dan kesusahan seperti film “ Tomorrow Land”. Apalagi kita semua tahu bahwa kematian pasti akan mendatangi kita semua, kapan kita dapat menikmati tanah masa depan ciptaan sang saintis??

Tapi begitulah mimpi besar dan khayalan orang-orang Yahudi ( Barat) yang tercermin dari sebagian besar film  Disney dan Hollywood yang karyanya hampir selalu mendunia dan berhasil memperdaya sebagian besar manusia dengan ide-ide gilanya. Itulah mimpi dan cita-cita menguasai dunia, hidup dalam kemewahan dan kenyamanan yang berlebihan hingga lupa kehidupan akhirat. Lupa bahwa dunia adalah ladang amal yang menentukan kemana akan kembali, yaitu surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang siksanya sungguh pedih.

Mungkin saat ini mereka memang telah berhasil mencapai kemajuan yang menakjubkan. Namun sungguh tidak seharusnya kita sebagai Muslim iri terhadap kesuksesan duniawi yang mereka capai tersebut. Karena dasar mereka bukan karena keimanan dan kecintaan terhadap Sang Pencipta. Dan keberhasilan tersebut juga tidak menyebabkan mereka lebih bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya. Keberhasilan yang demikian tidak akan mendatangkan ke-ridho-an-Nya, justru sebaliknya, jahanamlah tempat kembali mereka. Na’udzubillah min dzalik ..

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan-nya bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):196-198).

Atas izin-Nya usaha gigih mereka yang hanya menghendaki kesuksesan dunia memang dibalas-Nya bahkan secara sempurna, tanpa sedikitpun kerugian. Tapi sayangnya sesuai keinganan mereka, ya hanya sebatas kehidupan dunia, di akhirat nanti perbuatan mereka tidak akan diperhitungkan-Nya, sungguh alangkah sia-sianya …

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Huud(11): 15-16).

Ironisnya, orang-orang Yahudi yang mengaku beriman kepada Tuhan Semesta Alam serta adanya surga dan neraka, pada kenyataannya amat sangat ingin berumur panjang bahkan hingga seribu tahun. Tampak bahwa sifat serakah dan cinta dunia yang berlebihan telah mengalahkan keimanan mereka hingga begitu takutnya mati.

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):96).

Maha benar Allah swt yang telah memperingatkan kita, kaum Muslimin, agar senantiasa membaca surat Al-Fatihah dalam shalat kita, yaitu minimal 17 x dalam sehari.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. ( Terjemah QS. Al-Fatihah (2):6-7).

Sadarkah kita apa sebetulnya yang dimaksud “ jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” dalam ayat 6 dan 7 surat tersebut?

Rasululah saw bersabda bahwa “Sesungguhnya orang –orang yang dimurkai itu adalah orang-orang  Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang  yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani”. ( HR Imam Turmuzi, Imam Ahmad).

http://www.ibnukatsironline.com/2014/08/tafsir-fatihah-ayat-7.html

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitabnya Iqtidha Shirathil Mustaqim, “Pangkal kekufuran Yahudi adalah karena mereka tak mengamalkan ilmunya. Padahal mereka mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya dalam bentuk ucapan atau perbuatan, atau bahkan tidak mau mengikuti keduanya”.

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah ayat 146).

Beliau (Ibnu Taimiyah) melanjutkan “ Sedangkan kekufuran Nasrani berawal dari perbuatan mereka yang tanpa ilmu. Mereka berijtihad (berpendapat) sendiri dalam banyak ragam ibadah, tanpa ada ajaran dari Allah. Mereka berpendapat atas nama Allah tanpa ilmu. Kesalahan mereka terbesar adalah menjadikan nabi Isa as dan roh kudus sebagai sesembahan selain Allah. Bahkan disebutkan bahwa tidaklah Nabi Isa itu diangkat menjadi Tuhan kecuali setelah berlalunya masa beliau selama 325 tahun”.

Kekufuran dan kejahatan orang-orang Yahudi dalam memerangi kebenaran sejak dahulu kala, diantaranya yaitu dengan membunuhi para nabi, mengubah-ubah ayat-ayat Taurat dan Injil, mengadu domba umat Islam dengan umat Nasrani, terus berlanjut hingga hari ini. Rakyat Palestina yang tanah airnya diduduki Zionis Yahudi terkutuk sejak puluhan tahun lalu adalah yang paling menderita. Bahkan hingga detik ini mereka harus berjuang mati-matian mempertahankan Masjidil Aqsho yang dengan semena-mena direbut dan dikuasai pasukan bar-bar tersebut. Mereka kerap melarang umat Islam masuk dan shalat di dalam masjid ke 3 paling utama bagi umat Islam tersebut.

Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsha lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Ya Allah lindungi saudara-saudari kami di Palestina, beri mereka kekuatan dan kesabaran untuk mempertahankan rumah-Mu, jiwa serta keimanan dan keislaman mereka …

Ya Allah satukan hati kaum Muslimin untuk melawan dan memerangi segala tak-tik dan akal bulus Zionis Yahudi terkutuk ( termasuk film, fashion dan gaya hidup seperti LGBT dll) dalam memenuhi nafsu jahat mereka untuk menguasai dunia dan mengelabui kaum Muslimin …

Ya Allah beri kami kaum Muslimin kemauan dan kemampuan agar dapat menjalankan amal ibadah sesuai ilmu yang Kau berikan melalui nabi-Mu Muhammad saw … aamiin 3x ya robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Juli 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

4 Model Mukmin.

Al-Quran banyak menyebutkan ciri-ciri orang yang benar-benar beriman, di antaranya ayat 2-4 surat Anfal sebagai berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal:2-4).

Ayat di atas menyebutkan lima ciri mukmin sejati, yaitu :

  1. Hatinya bergetar saat mendengar nama Allah SWT.
  2. Keimanannya bertambah saat mendengar lantunan atau bacaan ayat Al-Quran.
  3. Bertawakal (berserah diri) hanya kepada Allah SWT.
  4. Mendirikan shalat
  5. Menafkahkan rezeki di jalan Allah.

Makna ayat diatas dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir antara lain sebagai berikut :

Ali Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, orang-orang munafik tidak terpengaruh jika nama Allah SWT disebut. Mereka sama sekali tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, tidak bertawakal, tidak shalat apabila sendirian, dan tidak menunaikan zakat harta bendanya.

Mujahid mengatakan, orang mukmin itu ialah orang yang apabila disebut nama Allah hatinya gemetar karena takut kepada-Nya.

Sedangkan Sufyan As-Sauri mengatakan, ia pernah mendengar As-Saddi mengatakan, sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah maka gemetarlah hati mereka. Yang dimaksud ialah seorang lelaki yang apabila ia hendak berbuat aniaya (dosa) atau hampir berbuat maksiat, lalu dikatakan kepadanya.”Bertakwalah kepada Allah!” Maka gemetarlah hatinya (dan membatalkan perbuatan aniaya atau maksiatnya).

Sebagian ulama sepakat Mukmin yang demikian sebagai Mukmin Hanif. Pertanyaannya bagaimana dengan Mukmin yang tidak tergetar hatinya dan tidak merasa takut ketika nama Allah Azza wa Jalla disebut, apakah itu berarti ia termasuk golongan orang Munafik??

Ibn Rajab berkata: “Nifaq (kemunafikan) secara bahasa merupakan jenis penipuan, makar, menampakkan kebaikan dan memendam kebalikannya”.

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: bila berbicara, ia berdusta; bila berjanji, ia mengingkari; dan bila diberi kepercayaan (amanah), ia berkhianat.” Dalam riwayat lain ditambahkan, jika berseteru ia licik.

Secara syari’at Nifaq terbagi dua yaitu Nifaq Amaly ( munafik perbuatan ) dan Nifaq Diny ( munafik agama ). Nifaq Amaly tidak mengeluarkan seseorang dari Islam (murtad). Itulah yang dimaksud hadist di atas. Hampir setiap orang pernah melakukan salah satu dari hal tersebut, dengan tingkatan yang berbeda tentunya. Namun demikian hal tersebut sangat buruk, karena bisa merugikan orang lain. Oleh sebab itu harus dihindari sejauh-jauhnya.

Allah swt menyebut orang yang demikian sebagai orang yang menyembah Allah di tepi. Mereka mau beribadah, menjalankan shalat, zakat dll ketika mereka mendapat kenikmatan. Tapi bermalas-malasan bila tertimpa musibah atau hal yang tidak sesuai dengan keinginannya dan harapannya. Mereka adalah orang-orang merugi.

“ Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):11).

Termasuk di dalam kelompok ini adalah mereka yang bermalas-malasan ketika menjalankan shalat. Sebagian ulama sepakat menamakan mereka sebagai Mukmin Awam.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):142).

Sebaliknya Nifaq Diny. Jenis nifak ini mengeluarkan seseorang dari agamanya ( murtad ) dan mereka akan kekal di dasar neraka jahanam. Itulah yang dinamakan Munafikun Sejati. Contohnya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul yang hidup pada zaman Rasulullah saw. Juga Abdullah bin Saba, pendiri Syiah sekaligus biang perusak Islam yang hidup di zaman khalifah Ustman bin Affan ra dan khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS.An-Nisa(4): 145).

Sifat mereka seperti yang dijelaskan dalam ayat 8 sampai 20 surah Al-Baqarah. Diantaranya yaitu mengaku dan merasa beriman kepada Allah dan hari akhir padahal tidak. Mereka melakukan kerusakan besar di muka bumi ( terutama kerusakan agama), tetapi merasa telah melakukan perbaikan. Mereka menganggap orang beriman sebagai orang yang lemah akal, padahal merekalah orang lemah akal yang sesungguhnya. Sikap mereka berpura-pura baik di hadapan orang beriman demi kemaslahatan duniawi semata-mata, padahal hati mereka bersama kekufuran. Keimanan mereka sangat tipis. Mereka bagaikan musuh dalam selimut, yang siap menjatuhkan dan menerkam sesama saudara seiman.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):13).

Di samping itu ada satu lagi jenis Mukmin yang paling tinggi derajatnya, itulah Mukmin Mujahid.  Mukmin Mujahid adalah seorang Mukmin Hanif sebagaimana kriteria ayat 2-4 surat Al-Anfal di atas, namun kepeduliannya terhadap sesama Muslim dan ajaran Islam sangatlah tinggi. Selain taat ber-ibadah Mukmin Mujahid juga aktif mengajak lingkungannya agar berbuat ma`ruf dan mencegah kemungkaran ( ‘amar ma’ruf nahi munkar).  Mereka tidak suka melihat kebathilan terjadi di depan mata mereka tanpa mereka berusaha mencegahnya. Mereka tidak rela saudara-saudarinya seiman di dzalimi, ayat-ayat Allah dipermainkan dan dilecehkan. Itu semua dilakukannya karena kecintaannya yang begitu tinggi terhadap Sang Khalik.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”. Terjemah QS. At-Taubah (9):112).

Untuk itu mereka rela dimusuhi dan dikucilkan orang-orang yang tidak menyukainya. Mereka adalah orang-orang yang pantang menyerah meski ujian dan cobaan berat menghadang mereka. Bahkan bila jalan damai tidak bisa ditempuh, berperang mempertaruhkan tidak hanya harta namun juga jiwa dan keluarga demi tegaknya keadilan, demi kalimat Allah swt, mereka tidak ragu melakukannya.

“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang menegaskan pentingnya berperang, berjihad dengan harta dan diri demi membela Islam.

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu ( untuk tidak berperang dengan bermacam alasan), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya”. ( Terjemah QS. At-Taubah (9):45).

Sejatinya keberadaan Mukmin Mujahid seperti itulah yang menyebabkan Islam yang lil aalamiin dapat terwujud. Seperti juga sebaik dan sebagus apapun sebuah negara, tanpa tegaknya hukum dan keadilan mustahil hal itu bisa terjadi. Inilah yang menjadi kunci kesuksesan Islam di masa lalu.  Para sahabat yang tidak pernah takut berperang dalam membela ajaran dan nabinya. Ketika itu jumlah sahabat yang gugur tak terhitung banyaknya. Tak heran bila Allah swt menjanjikan para syuhada ( mati syahid) ini dengan imbalan yang sangat tinggi yaitu kenikmatan di surga bersama para nabi.

” Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.(TerjemahQS. An-Nisa 69).

Bahkan seorang Mukmin Hanifpun sebenarnya ia egois karena ia hanya mementingkan dan memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak mau repot dengan urusan di  luar diri dan keluarganya. Bukankah tugas kaum Mukminin dan Muslimin untuk saling mengingatkan, saling menasehati, bahu membahu dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, seperti ketika kita shalat berjamaah dengan shaf yang rapat, rapi dan teratur, taat dibawah komando imam yang satu??

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. ( Terjemah QS. Al-Asr (103):2-3).

Sungguh tepat apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib ra, yang mengalami bencana besar pertama dalam Islam paska wafatnya Rasulullah saw, “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Juli 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Umat Islam hari ini semakin berduka dengan  terpilihnya Donald Trump sebagai orang no 1 Amerika Serikat menggantikan Barack Obama yang telah menyelesaikan 2 periode kepresidenan. Pemilik Trump Tower darimana milyuner gaek ini menjalankan bisnis raksasanya, resmi menjadi presiden AS ke pada 8 November 2016. Keprihatinan tersebut bukannya tanpa alasan.

Saat kampanye ia melontarkan beragam pernyataan yang mengkhawatirkan umat muslim. Diantaranya adalah gagasan untuk memantau masjid-masjid di seantero AS dan agar umat Islam diawasi aparat sebagai langkah melawan terorisme.

Trump menampilkan sikap konfrontatif bukan hanya pada Islam dan kaum Muslim, tetapi juga pada China, Meksiko, dan juga banyak sekutu Eropa-nya. Sikap rasis itu tampaknya sudah menjadi karakternya, karena pada tahun 1971 ketika usianya masih 25 tahun, ia pernah di[panggil Departemen Kehakiman dengan tuduhan diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam yang ingin menyewa apartemen miliknya. Terpilihnya Trump yang beberapa kali dilaporkan melakukan pelecehan seksual ini, ternyata kurang disukai rakyatnya sendiri. “Penyuka” perempuan sekaligus pemilik organisasi miss universe penyelenggara miss universe dan miss US ini hanya menang tipis terhadap saingannya yang juga kebetulan mahluk hawa yaitu Hillary Clinton.

Yang pasti, terpilihnya Trump menjadi Presiden Amerika, menambah deretan panjang pemimpin dan pemuka negara pembenci Islam. Diantaranya yaitu pemimpin kelompok radikal bhiksu Myanmar, pemimpin politik sayap kanan Eropa Le Pen (Prancis) dan Wilder Geert (Belanda). Para pemimpin tersebut segera merapat dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memojokkan Islam.

Kekhawatiran umat Islam ternyata terbukti tak lama setelah Trump dilantik, yaitu dengan adanya  pelarangan masuk AS warga tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim, yaitu, Iran, Syria, Iraq, Libya, Somalia, Sudan dan Yaman. Alasannya, banyak warga keenam negara ini terlibat dalam radikalisme dan terorisme. Trump juga menghentikan penerimaan pengungsi Suriah. Meski demikian, dia mengecualikan pengungsi Suriah yang berasal dari komunitas minoritas, yaitu penganut Nasrani. Sekali lagi, Trump menunjukkan sikapnya yang menjadikan kaum Muslim sebagai target.

idlib1

idlib2

Idlib -Suriah

Namun serangan rudal Amerika Serikat ke beberapa target penting di Suriah beberapa hari lalu telah membuat kita terhenyak. Apa lagi bila benar alasannya adalah kemarahan gedung putih terhadap kebiadaban pemerintah Syiah pimpinan Basyar Assad yang menggunakan senjata kimia untuk menyerang sipil, rakyatnya sendiri. Menurut laporan serangan dengan senjata kimia tersebut telah menelan 87 warga, sebagian besar anak-anak dan perempuan.

Perang di Suriah yang berkecamuk sejak tahun 2011 memang menjadi semakin rumit. Protes damai yang dilakukan rakyat atas kebijakan Assad yang tidak pro rakyat malah ditanggapi dengan kekerasan. Hingga hari ini konflik telah menewaskan lebih dari 400 ribu warga dan menyebabkan separuh penduduk negri mengungsi mencari tempat yang lebih aman. Inilah salah satu penyebab Islamphobia akut negara-negara Eropa termasuk Trump yang melarang kedatangan pengungsi Suriah ke negaranya.

Ironisnya Rusia tanpa malu-malu malah ikut membantu dan mendukung pemerintahan Assad yang keji. Juga negara tetangga, Iran yang memang sama-sama Syiah. Rusia untuk ke 8 kalinya bahkan menjatuhkan veto untuk membela presiden Suriah tersebut. Veto terakhir untuk mementahkan rancangan resolusi mengecam serangan senjata kimia yang dilancarkan rezim Assad di Khan Syaykun, Idlib, Suriah yang merupakan basis penentang Assad.

Namun yang paling menyedihkan sekaligus memalukan adalah sikap Indonesia. Sebagai negara mayoritas berpenduduk Muslim, Sunni pula, harusnya kitalah yang berkewajiban membantu penderitaan saudara-saudari kita yang  terdzalimi di negaranya sendiri.

“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur ”. ( HR. Bukhari).

Sungguh ironis, presiden kita Jokowi bahkan tanpa ragu menolak bergabung dengan koalisi 34 negara-negara Islam yang bertujuan membantu dan melindungi Islam dari kelompok yang meneror pihak yang tidak bersalah. Padahal Indonesia sudah berjanji akan memerangi terorisme termasuk ISIS, organisasi biadab yang mengaku Islam namun sama sekali tidak mencerminkan ke-Islaman-nya. Arab Saudi, Yordania, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Turki, Malaysia, Pakistan dan beberapa negara teluk serta negara Afrika termasuk dalam koalisi ini.

Indonesia, khususnya kaum Musliminnya, hari ini tampaknya memang sedang mengalami kemunduran dasyat. Berbagai penyakit kronis menghinggapi tidak saja rakyatnya yang miskin tapi terlebih lagi pemimpin dan pemuka-pemukanya.

Pantas bila DR Zakir Naik, cendekiawan Muslim asal India, yang beberapa hari lalu ber-safari dakwah di 6  kota besar di Indonesia,  merasa benar-benar prihatin. Betapa tidak, sejumlah anak muda datang pada acara beliau, berbicara di depan umum menggunakan mike, dan dengan bangga mengaku lahir dari keluarga Muslim namun kemudian murtad. Sementara tidak sedikit non Muslim yang justru bersyahadat di bawah tuntunan beliau.

Mana tanggung-jawab para orang-tua dan komunitas yang katanya mayoritas Muslim?”, tanya DR Zakir dengan nada prihatin.

Kami di India, adalah minoritas. Tapi kami sungguh malu bila ada yang murtad”, sambung beliau.

Ulama kenamaan yang datang seminggu menjelang pilkada ( pemilihan kepala daerah ) atas kehendak sendiri ini, sungguh  menjadi hiburan bagi bangsa yang sedang dirundung duka mendalam. Pasalnya, calon kuat  pemimpin yang banyak didukung anak muda itu adalah non Muslim yang berstatus tersangka akibat pelecehan ayat Al-Quran yaitu Al-Maidah ayat 51 tentang kepemimpinan. Bahkan dengan santainya masih berani berseloroh akan meluncurkan wifi bernama Almadah dengan password kafir. Kaum Muslimin amat berharap kedatangan beliau sanggup mengembalikan sebagian Muslim yang ngotot membela dan memilih paslon bermasalah  tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman“. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):57).

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam”, ( Terjemah QS. An-Nisa (4):140).

Padahal “kesalahan” calon tersebut bukan hanya karena non Muslim tapi juga lisannya yang telah berhasil membuat kaum Muslimin terpecah, terkotak-kotak bahkan saling serang untuk menjatuhkan. Ironisnya lagi, calon tersebut tidak sebersih yang digembar-gemborkan media main stream selama ini. Berbagai kasus sebenarnya telah menjeratnya, seperti kasus reklamasi yang jelas-jelas telah diputuskan bermasalah oleh pengadilan, kasus RS Sumber Waras, pengadaan bus Transjakarta dll. Tapi tak satupun kasus tersebut ditindak-lanjuti. Bahkan pemerintahpun tampak jelas ingin menutupi dan membelanya.

Pengadilan Ahok yang tak kunjung usai bahkan ditunda dengan alasan yang mengada-ada,  peresmian masjid raya Daan Mogot oleh Jokowi menjelang pilkada yang terkesan dipaksakan adalah salah satu contohnya.

Tidak berhenti disitu, fitnah dan kekerasan juga digunakan, ntah oleh siapa. Beberapa hari lalu penyidik KPK, Novel Bawesdan, disiram cairan kimia ( diduga air keras) oleh 2 orang tak dikenal, hingga menyebabkan mata kirinya nyaris buta. Peristiwa keji tersebut terjadi ketika Novel sedang pulang dari shalat Subuh berjamaah di masjid tak jauh dari rumahnya. Namun dengan santainya kapolda Metrojaya M.Iriawan berkomentar kejadian itu berhubungan dengan bisnis online jualan jilbab istri Novel !

Padahal ini adalah serangan ke enam selama Novel menjabat di KPK. Novel dikenal sebagai penyidik yang menangani berbagai kasus besar seperti e-KTP yang kabarnya melibatkan nama banyak pejabat, juga kasus lama RS Sumber Waras yang melibatkan gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang tak kunjung tuntas.

http://news.detik.com/berita/d-3359666/ketua-kpk-saya-dapat-info-baru-kasus-sumber-waras-bpk-ajak-ketemu

Belum lagi ulama-ulama kondang GNPF-MUI seperti Habib Riziek Syihab dan Bahtiar Nasir yang dikenal sebagai penggerak Aksi Bela Islam 411 dan 212, aksi super damai memprotes pernyataan Ahok yang melecehkan ayat suci umat Islam Oktober 2016.

Bukan hanya sekali dua kali Habib Riziek tertimpa fitnah kejam. Terakhir adalah Minggu malam 15 April lalu, sebuah mobil terbakar tidak jauh dari tempat berkumpulnya ribuan jamaah yang sedang mendengarkan ceramah Habib hingga menimbulkan kebakaran besar. Sementara dua mobil lain dengan beberapa jeriken berisi bensin di dalamnya, terlihat terparkir tidak jauh dari mobil Riziek diparkir. Anehnya lagi polisi yang dihubungi begitu kejadian baru datang 3 jam kemudian. Tapi dengan santainya kapolres Jaktim meminta untuk tidak membesar-besarkan kejadian tersebut.

https://news.detik.com/berita/d-3475790/fpi-jelaskan-kronologi-mobil-terbakar-di-cawang 

Lain lagi dengan ustad Bahtiar Nasir yang dituding sebagai penghubung ISIS hanya karena menerima titipan dana umat demi terselenggaranya ABI yang begitu besar. Dan ironisnya kapolri Tito Karnavian terpaksa membatalkan tuntutan ngawur tersebut setelah LSM di Turki yang biasa menyalurkan dana titipan Bahtiar, mengancam melaporkan Tito ke mahmakam internasional karena tuduhan palsu tersebut.

https://www.intelijen.co.id/ada-apa-dengan-kapolri-tito-karnavian/

Prilaku buruk Ahok juga mengajarkan keberanian seorang etnis Tionghoa melecehkan dan menghina orang lain. Pemuda tersebut dengan arogan memaki seorang “pribumi” dengan kata-kata “tiko” yang berarti tikus kotor bahkan bisa juga berarti anjing atau babi. Kejadian tersebut terjadi di bandara Singapura, dan ironisnya yang ia maki adalah Zainul Mujadi, gubernur NTB yang dikenal alim dan santun !

Terakhir, hari ini, 2 hari sebelum pilkada, panitia berseragam kotak-kotak merah khas terlihat membagikan amplop berisi uang dan sembako gratis menyerbu perkampungan-perkampungan DKI. Dengan uang rupanya mereka ingin membeli suara rakyat. Ironisnya kegiatan tersebut dilakukan secara terang-terang dan massif, yakin tindakan kotor mereka tidak akan dicegah pihak berwajib. ???

Apapun, itulah cerminan rakyat Indonesia, Muslim warga ibu kota Jakarta khususnya. Dengan modal keimanan yang hanya sebatas perut, maksimal akal yang merasa pintar, tidak sampai ke hati sanubari, bagaimana mungkin mampu memikirkan hal-hal besar seperti memikirkan apalagi membantu penderitaan saudara-saudarinya di Suriah, Palestina, Myanmar dll.  yang terdzalimi di negrinya sendiri??

Bahkan ketika dibohongi bahwa membawa ayat-ayat agama ke ranah politik bisa mengakibatkan krisis seperti di Suriahpun mudah saja percaya. Itulah fitnah yang dilemparkan seorang guru besar politik UI, Arbi Sanit. Islam adalah ajaran yang sempurna. Allah swt melalui Al-Quran dan nabi-Nya telah mengajarkan dan memberikan semua solusi permasalahan, baik masalah pribadi maupun sosial dan kenegaraan.

Maka ketika negara-negara besar di dunia telah menentukan sikap dan arah dengan jelas, dimanakah posisi kita?? Sebagai pelaku, saksi atau malah hanya korban??

“Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya”. “ Salah seorang sahabat berkata; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?”. Nabi menjawab: “Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada didalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. “Kata para sahabat: “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu?”.Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati. “. (HR Abu Daud ).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 17 April 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Perbedaan dalam Islam adalah indah, itulah rahmatan lillaalamiin yang amat sangat patut kita syukuri. Perbedaan dapat menambah wawasan hingga kita dapat lebih bijak dan lebih menghargai perbedaan dalam menghadapi permasalahan. Perbedaan bukan berarti perpecahan. Sebaliknya perbedaan yang mengarah pada potensi perpecahan harus di waspadai. Itu sebabnya ada batas-batas yang harus ditaati dan dipahami seberapa jauh perbedaan  dapat ditolerir.

Rasulullah saw bersabda: ”Kutinggalkan kepadamu dua perkara, dan kamu sekalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya)”. (HR. Muslim)  .

“Barangsiapa mencari agama SELAIN agama ISLAM, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang RUGI”. (Terjemah QS. Ali Imran (3);85).

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Terjemah QS. Al-Hijr: (15):9).

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan PENUTUP nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Terjemah QS. Al-Ahzab(33):40).

Kalian akan melihat perselisihan yang hebat sepeninggalku, maka berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyin sepeninggalku. Gigitlah ia dengan gigi geraham (peganglah kuat-kuat), dan jauhilah perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah sesat.” (Shahih Sunan Ibnu Majah)

“ Orang-orang terdahulu lagi pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah… “.( Terjemah QS. At-Taubah(9):100).

Dari ayat dan hadist di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan dapat ditrima dan dibenarkan selama mengacu pada ayat-ayat Al-Quran, hadist-hadist shoheh dan mengikuti apa yang dicontohkan para sahabat khulafa’ur Rasyidin. Perbedaan selama tidak menyangkut aqidah/tauhid yaitu ke-Esa-an Allah swt serta sifat-sifat-Nya, Rasulullah Muhammad saw adalah penutup para nabi, Al-Quran adalah murni tidak terjadi pembengkokan di dalamnya serta Islam adalah satu-satunya agama yang benar yang diridho-i Allah Azza wa Jalla, tidak ada masalah. Keempat hal tersebut adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipertentangan.

Itu sebabnya MUI menyatakan dengan tegas bahwa Syiah dan  Ahmadiyah adalah sesat. Sementara JIL ( Jaringan Islam Liberal) dengan jargon SIPILIS nya ( Sekuler Pluralis Liberalis) berdasarkan fatwa MUI 2005 haram bagi umat Islam untuk mengikutinya.

http://arsyadal-baghdadi.blogspot.co.id/2012/09/fatwa-mui-tentang-jil.html

Sayangnya, pemerintah hingga detik ini tidak/kurang meng-apresiasi fatwa lembaga ke-Islam-an tertinggi tersebut. Ini dapat terlihat jelas dengan adanya kenyataan ketiga aliran sesat tersebut yang tetap saja exist. Bahkan kabarnya sudah merambah ke dalam pemerintahan. Bahkan lagi,

Jadi disadari atau tidak, perbedaan tajam tersebut memang ada, dan inilah yang dimanfaatkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tersangka penista agama yang hingga detik ini tetap bebas beraktifitas bahkan tetap menjabat gubernur DKI, dan bertarung dalam pilkada. Padahal aturan pemerintah tentang seseorang dengan status tersangka harus meletakkan jabatan yang sedang dipegang, ada.

Maka tak heran bila pernyataan berbau SARA yang dilontarkan Ahok di pulau Seribu beberapa bulan lalu ditanggapi dengan bermacam pendapat. Tidak semua ulama sepakat dan mau menerima fatwa yang dikeluarkan MUI bahwa pernyataan tersebut adalah sebuah penistaan agama. Akibatnya mudah ditebak, umat Islam saling gontok-gontokan, masing-masing mencari pembenaran dengan cara merujuk ulama-ulama yang sesuai dengan keinginan dan kecenderungan hatinya. Tidak peduli atau lupa adakah ulama yang diikuti itu menjadikan Al-Quran dan hadist sebagai pegangan atau tidak. Tidak peduli Syiah, Ahmadiyah, JIL atau simpatisannya. Itulah yang ditunggu-tunggu musuh-musuh Islam, perpecahan yang semakin nyata dan runcing !

Tak aneh bila kemudian dalam sidang pengadilan,  tim pengacara Ahok berani mengajukan ulama sebagai saksi ahli seperti Ahmad Ishomuddin, contohnya. Dalam kesaksiannya, dosen IAIN ini menyatakan larangan memilih pemimpin nonmuslim dalam surat Al Maidah 51 tidak berlaku lagi untuk saat ini.Tentu saja pernyataan kontroversial ini memicu banyak reaksi. Termasuk teman-teman Ishomuddin sesama alumni IAIN yang merasa kecewa dan dikhianati hingga akhirnya mengeluarkan pernyataan berlepas darinya.

http://inilampung.com/alumni-iain-radin-intan-kecewa-pada-kesaksian-ahmad-ishomuddin-pada-sidang-ahok/

http://www.portal-islam.id/2017/03/membongkar-kedok-gelar-dan-jabatan.html

Yang menjadi pertanyaan apakah Ishomuddin lupa bahwa ayat yang melarang memilih pemimpin kafir bukan cuma ayat 51 Al-Maidah. Tapi juga Ali Imran 28, 118, 149-150, An-Nisa 144, Al-Maidah 57, At-Taubah 23, Al-Mujadilah 22 dll. Apakah semua ayat tersebut juga sudah tidak berlaku lagi ???

http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/10/03/20572/inilah-dalildalil-mengharamkan-umat-islam-memilih-pemimpin-kafir/#sthash.vYAAiT7f.dpbs

Perlu menjadi catatan, sejak lama umat Islam dibuat tidak peduli terhadap masalah politik termasuk kepemimpinan. Tentu kita ingat jargon “ Islam Yes Politik No” yang di populerkan tokoh JIL alm Cak Nur pada tahun  1970an. JIL yang merupakan salah satu produk Yahudi Zionis itu memang sengaja dirancang untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dengan berbekal slogan demokrasi, toleransi, HAM dan yang semacamnya jaringan ini berhasil masuk dan mengelabui umat Islam.  Islam digambarkan seolah hanya mengurusi hubungan manusia dengan Tuhannya, agama adalah urusan pribadi yang tidak perlu diperlihatkan kepada umum dan mencampur adukannya dengan masalah kenegaraan dan kepemimpinan. Maka dapat kita rasakan akibatnya sekarang, ayat-ayat yang berhubungan dengan kepemimpinanpun akhirnya diabaikan dan dianggap sepele. Bahkan Jokowi terang-terangan melontarkan keinginannya memisahkan agama dari politik !.

http://www.panjimas.com/news/2017/03/26/jokowi-ingin-pisahkan-agama-dan-politik-pemuda-muhammadiyah-ini-bertentangan-dengan-pancasila/

Siasat Yahudi dengan adu dombanya bukankah hal baru. Sebelum datangnya Islam, suku Aus dan Khahraj sering di adu domba oleh Yahudi yang sama-sama menetap di Yatsrib ( Madinah). Perseteruan kedua suku  yang merupakan cikal bakal kaum Anshor tersebut membuat kedua suku tersebut tidak mampu  menghadapi dominasi Yahudi di kota tersebut. Hal itu terus terjadi hingga hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah dan mempersaudarakan suku Aus dan Khahraj dengan kaum Muhajirin. Dan dengan adanya persatuan dan persaudaraan tersebut akhirnya runtuhlah dominasi Yahudi di Madinah. Inilah yang menambah kebencian Yahudi terhadap Islam.

Persaudaraan dan persatuan dalam Islam adalah kunci kemenangan Islam. Hal ini sangat disadari musuh-musuh Islam. Sayang justru sebagian Muslim kurang menyadarinya. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

Namun bagaimanapun apa yang diucapkan Ahok di kepulauan Seribu beberapa waktu lalu tidak terlepas dari skenario Allah Azza wa Jalla. Seperti juga apa yang terjadi di Madinah paska turunnya ayat jihad menuju kemenangan Islam, Allah swt memperlihatkan mana muslimin sejati dan mana yang tidak alias munafikun.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/11/xvi-pengkhianatan-pertama-yahudi-dan-munculnya-tanda-tanda-kemunafikan/

“Tidak, bahkan jumlah kalian banyak. Namun kalian seperti buih di air bah, sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian, dan sungguh Allah akan memasukan penyakit Wahn didalam hatimu. Kami bertanya, “Apakah penyakit Wahn itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Sesuai peringatan Rasulullah saw 15 abad lalu, di akhir zaman nanti jumlah umat Islam memang banyak tapi sayang hanya seperti buih. Penyebabnya karena kecintaan yang berlebihan kepada segala yang bersifat duniawi, seperti harta benda, kemegahan dan yang semacamnya. Lupa bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dunia adalah ladang mencari amal untuk kehidupan akhirat. Lupa bahwa 1000 tahun hitungan manusia hanyalah 1 hari di sisi Allah. Artinya bila usia kita sama dengan Rasulullah saw yaitu kurang lebih 63 tahun, berarti itu sama dengan 1.5 jam di akhirat.

Pertanyaannya akankah kita menyia-nyiakan waktu yang hanya sangat sedikit itu dengan memilah ayat sesuka hati kita dan lebih memilih hal-hal keduniawian yang tidak mendatangkan manfaat bahkan mudharat ???

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”. ( Terjemah QS. Al-Hajj ( 22):47).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »