Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Tanpa terasa hari ini kita telah memasuki pekan terakhir Ramadhan 1441H. Di tengah hiruk pikuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dilakukan demi mencegah penyebaran virus Covid19 atau virus Corona, harus diakui hari-hari Ramadhan yang kita lalui bersama keluarga inti ini terasa cukup melegakan. Meski ibadah-ibadah Ramadhan yang biasa kita laksanakan di masjid seperti shalat Taraweh, Iktikaf dan kegiatan lain terpaksa hanya kita jalankan di rumah.

Tapi sebenarnya ini bukan masalah besar karena Rasulullahpun sebenarnya hanya 3 hari saja mendirikan shalat Taraweh di masjid selebihnya di rumah. Ini dilakukan karena Rasulullah khawatir umat merasa terbebani, dan menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Berikut ihwal dilakukannya shalat Taraweh berjamaah di masjid.

Abdurrahman bin Abdul Qari’ berkata, “Saya keluar ke masjid bersama Umar Radhiyallahu anhu pada bulan Ramadhan. Ketika itu orang-orang berpencaran; ada yang shalat sendirian, dan ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil (kurang dari sepuluh orang). Umar berkata, “Demi Allah, saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam, tentu lebih utama,”.

Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam lain. Ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka. Maka Umar Radhiyallahu anhu berkata,’Ini adalah sebaik-baik hal baru.’ Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang”. Peristiwa ini terjadi pada tahun 14H.

https://almanhaj.or.id/3150-shalat-tarawih-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-salafush-shalih.html

Dan lagi masih beruntung kita mengalami masa sulit ini di zaman dimana teknologi sudah sedemikian canggihnya. Dengan bantuan teknologi tersebut dari rumah orang bisa tetap bekerja, bertatap muka dan berkomunikasi dengan dunia luar. Bahkan di bulan suci Ramadhan ini kaum Muslimin, bisa mendengarkan kajian ustad siapapun yang mereka inginkan, tanpa harus meninggalkan rumah, kapanpun kita mau.

Ketika pertama kali saya mengikuti kajian melalui video conference yang biasanya kami lakukan 2 pekan sekali, kesan pertama yang saya dapatkan adalah bisa melihat semua wajah teman-teman pengajian saya secara jelas, di satu screen., tanpa harus menoleh ke kiri maupun ke kanan. Di layar yang relative kecil tersebut saya bisa melihat gerakan bahkan ekspresi mereka yang mengantuk, yang tidak konsen dll. Persis cctv yang biasa dipantau satpam. 🙂

Tiba-tiba saya terpikir begitulah Allah Azza wa Jala mengawasi hamba-hambaNya dari detik ke detik selama 24 jam penuh. Masya Allah … Jadi sungguh aneh bila di zaman modern ini masih ada saja orang yang tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Terjemah QS.Al-Baqarah(2):255).

Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dengan adanya virus Covid ini. Salah satunya yaitu tadi, beribadah bersama keluarga. Tampaknya Allah swt ingin mengingatkan kita bahwa di surga nanti kita bisa bertemu kembali dengan keluarga yang kita cintai. Dengan syarat sama-sama beriman.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (Terjemah QS. At-Thuur(52):21).

Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”,(Terjemah QS. Al-Ghafir( 40):8).

(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”.(Terjemah QS. Ar-Raad(13):23).

Untuk itu kita harus saling mengingatkan, diantaranya yaitu dengan terus mengkaji ayat-ayat Al-Quran, bagaimana Rasulullah menyikapinya, dengan bimbingan orang/ustad yang benar-benar menguasai ilmunya. Dan sekarang ini adalah saat yang tepat. 10 hari terakhir Ramadhan adalah saat-saat berharga dimana Allah swt melipat gandakan semua amal ibadah kita.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Terjemah QS.Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bahwa di kalangan bani Israel terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Qadr 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam Lailatul Qadr lebih baik daripada amal seribu bulan ( 83.3 tahun) yang dilakukan seorang laki-laki dari bani Israel tersebut.

Dari Aisyah RA, beliau berkata:

Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku’.”

Al-Quran diturunkan dalam 2 cara, pertama dari Lauh-Mahfudz ke langit dunia secara keseluruhan. Yang kedua dari langit dunia, disampaikan oleh malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw dengan cara bertahap selama kurang dari 23 tahun, yaitu hingga wafatnya Rasulullah saw. Peristiwa turunnya ayat pertama ( ayat 1-5 surat Al-Alaq ) inilah yang sering diperingati kaum Muslimin di negri kita sebagai peringatan Nuzulul Qur’an pada setiap tanggal 17 Ramadhan.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (HR. Thobari).

Dari Mauwiyah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul Qadr itu pada malam ke 27” (HR. Abu Dawud).

Namun demikian tidak semua ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar pasti terjadi setiap malam 27 Ramadhan. Karena ada beberapa hadist yang menyatakan terjadi pada malam ganjil lain, diantaranya tanggal 23 dan 25. Yang pasti Lailatul Qadar terjadi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Meski besar kemungkinan yang sering terjadi adalah malam 27. Artinya pada malam tersebut jangan sampai kita melewatkannya begitu saja. Alangkah meruginya.

Dari Aisyah RA, “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut(HR. Muslim)

Yang juga menarik Allah swt merahasiakan siapa yang mendapatkan Lailatul Qadar tersebut, meski seorang hamba selama 10 hari itu menghidupkan malam-malam harinya dengan bermunajat kepada Tuhannya. Diantaranya yaitu dengan shalat malam, membaca Al-Quran, berzikir dll. Kita hanya bisa menyaksikan hamba terpilih tersebut pasti akan menunjukkan perbaikan sikap, tidak hanya kepada Allah swt tapi juga kepada sesama manusia. Karena memang untuk itulah Rasulullah diutus kepada manusia.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Akhir kata bisa jadi pandemi covid19 yang sedang kita alami ini adalah sindiran bagi mereka yang lebih suka sibuk dengan urusan mudik di hari-hari akhir Ramadhan daripada mencari malam Lailtul-Qadar. Atau mereka yang sibuk bekerja siang malam demi urusan dunianya tapi lalai memikirkan urusan akhirat. Atau bahkan bisa jadi juga sentilan bagi mereka yang rajin beribadah di masjid tapi tidak pernah mengajak atau mengingatkan keluarganya hal yang sama. Na’udzubillah min dzalik …

Yaa Allah beri kami kemudahan untuk meraih malam keberkahan tersebut, menjadikannya jalan masuk ke surga-Mu bersama keluarga, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Mei 2020.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Mempersiapkan Kematian.

Tiga pekan sudah kebijakan Social/Physical Distancing ( Jaga Jarak) diterapkan di negri kita tecinta. Kebijakan ini demi menghambat lajunya penularan Covid-19 yang tampaknya makin sulit terbendung hingga menjadi momok mengerikan penduduk seluruh negara dunia.

Pada Sabtu (4/4/2020) pemerintah mengumumkan jumlah pasien yang positif terinfeksi virus ini telah  mencapai 2.092, 191 orang meninggal dunia, 150 orang dinyatakan sembuh. Jumlah ini masih terus meningkat dari hari ke hari. Itu sebabnya akhirnya pemerintah menetapkan status Kedaruratan Kesehatan.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200404143554-20-490309/update-corona-4-april-2092-kasus-191-meninggal-150-sembuh

Sementara Worldometers melansir data per Ahad (5/4/2020),  sebanyak 1.196.944 kasus infeksi virus Covid19 atau Corona di dunia. Dari jumlah tersebut, 246.110 orang dinyatakan sembuh, dan 64.580 orang meninggal dunia. Dengan urutan 10 negara jumlah kasus terbesar terpapar Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis, China, Iran, Inggris, Turki dan Swiss.

https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/05/071000365/update-virus-corona-di-dunia-5-april–1-19-juta-orang-terinfeksi-246.110

Namun demikian sebenarnya jumlah kematian akibat Covid-19 masih kalah jauh dibanding jumlah kematian akibat penyakit berbahaya lain seperti kanker, jantung atau hiv. Masalahnya penyakit yang menyerang pernafasan ini daya tularnya amat dasyat. Ini yang menyebabkan petugas medis kewalahan memberikan pelayanan. Tampaknya kebijakan Social/Physical Distancing tetap harus dijalankan secara lebih ketat. Apalagi jumlah tenaga medis di Indonesia yang wafat ketika sedang menjalankan tugas mulia tersebut kabarnya  terbesar di dunia.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un … Semoga Allah swt mencatat mereka sebagai syuhada, aamiin yaa robbal ‘aalamin …

Sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari. Kemanapun kita lari bersembunyi bila memang sudah waktunya ajal itu akan tiba, dengan cara apapun, tidak harus melalui sakit keras/berbahaya.

” … …  Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”. ( Terjemah QS. Yunus(10):49).

Jadi jelas kematian bukan untuk ditakuti apalagi dihindari. Meski tidak boleh juga kita menantang kematian, misalnya dengan membiarkan diri kita tertular penyakit, apalagi sengaja menularkan penyakit kita kepada orang lain.

Masalahnya kematian bukan akhir segalanya. Kematian adalah proses perpindahan   dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Dan kehidupan akhirat hanya ada 2 pilihan, Surga yang penuh kenikmatan atau Neraka yang apinya menyala-nyala. Tentu tak seorangpun mau masuk Neraka. Itu sebabnya kematian harus dipersiapkan.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”.(Terjemah QS. Muhammad(47):36).

Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi saat ini, bisa jadi adalah teguran Allah swt kepada kita semua yang cenderung lupa/lalai mempersiapkan kematian kita. Kehidupan dunia dengan segala iming-iming dan gemerlapnya telah membuat kita mencintainya secara berlebihan. Bahkan lupa kepada Sang Pencipta yang telah memberikan semua kenikmatan duniawi.

Sebuah video yang kini sedang viral memperlihatkan seorang kakek Italia usia 93 tahun menangis melihat tagihan ventilator yang disodorkan dokter kepadanya. Namun yang mengejutkan, teryata ia menangis bukan karena tak mampu membayarnya.

Selama 93 tahun saya hidup tidak pernah sesenpun saya membayar udara yang saya hirup. Dan saya tidak pernah mensyukurinya. Berapa besar hutang saya pada-Nya??”, keluhnya.

Pertanyaannya, haruskah kita menunggu dan menyadari kesalahan kita setelah kita sakit keras atau setelah usia kita mencapai uzur??

Dari Abdullah Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum kamu kedatangan lima perkara (demi untuk meraih keselamatan dunia akhirat). Yakni Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Sehatmu  sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang faqirmu. Waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu”.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 18).

Perumpamaan kehidupan di dunia adalah tempat kita bercocok-tanam yang akan kita petik hasilnya secara keseluruhan di akhirat nanti. Ayat 18 surat Al-Hasyr di atas secara jelas memerintahkan kita untuk berbekal, mempersiapkan hari esok kita di akhirat nanti.

Adalah kedua orang-tua yang harus bertanggung-jawab mempersiapkan hal tersebut, mendidik anak-anaknya sejak kecil, agar mengenal Tuhannya, memahami dengan jelas dan pasti apa tujuan hidup ini.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Baihaqi dan ath-Thabarani).

Bila kita renungkan sejenak saja, kebijakan WFH ( Work From Home) atau aktifitas dari rumah sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk kita kembali memikirkan apa sebenarnya tugas utama kedua orang-tua dalam keluarga.

Jangan sampai kejadian langka ini terlewat begitu saja. Orang-tua tetap disibukkan dengan urusan pekerjaan kantor, urusan perut dan lain-lain yang sifatnya fisik/duniawi. Anak-anak sibuk dengan PR sekolah, ujian dan lain-lain tanpa ada tambahan pelajaran agama seperti hafalan Al-Quran dll.

Inilah saatnya kita bertobat, memohon ampunan Allah swt, segera membersihkan diri dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong dll. Ajari anak untuk berbagi kepada mereka yang kesusahan dan kesakitan, ajak anak shalat ber-jamaah, terangi rumah dengan ayat-ayat suci Al-Quran.

Semoga Alah swt ridho memasukkan kita ke dalam bulan Ramadhan yang sudah di depan mata ini dalam keadaan sehat walafiat, bebas dari segala penyakit, serta hati yang bersih dari segala penyakit hati, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 April 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Shibghah Allah.

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):138).

Shibghah, apakah Shibghah itu?? Shibghah artinya adalah tathiir (pensucian) sebagaimana asbabunuzul berikut,

Ibnu Jarir berkata, “Sesungguhnya orang-orang Nasrani bila anak mereka dilahirkan, maka mereka datang kepada pendeta pada hari yang ketujuh, mereka memandikannya dengan air yang disebut ‘al-Ma’mudi untuk membaptisnya. Mereka mengatakan, “Ini adalah kesucian pengganti khitan. Maka apabila mereka telah mengerjakannya jadilah anak itu seorang Nasrani yang sebenarnya.” Maka Allah menurunkan ayat ini”.

Ayat diatas adalah sindiran terhadap kaum Nasrani yang merasa ritual pembaptisan kepada bayi mereka lebih baik dari pada ritual khitan yang biasa dilakukan kaum Muslimin. Tentu saja hal ini tidak benar. Islam mengajarkan bahwa bayi yang baru lahir itu bersih, bebas dari segala dosa. Oleh sebab itu tidak perlu pensucian ( pembaptisan).

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim).

Fitrah manusia adalah bersih dari segala dosa termasuk dosa syirik yang merupakan dosa terbesar manusia. Tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah Subhanallahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Satu, Esa, tidak beranak dan diperanakkan.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Terjemah QS. Ar-Rum (30):30)

Dan yang lebih penting lagi cara pembersihan dosa tidak dengan cara baptis melainkan taubat nasuha, yaitu taubat yang benar-benar tidak akan mengulanginya lagi. Itupun bukan dengan cara pengakuan dosa di depan ulama/pendeta atau orang yang dianggap suci seperti yang biasa dilakukan kaum Nasrani. Melainkan langsung kepada Sang Pencipta Allah Azza wa Jala Yang Maha Menerima Tobat, tanpa perlu seorangpun saksi.

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, … … “. (Terjemah QS. At-Tahrim (66):8).

Sebaliknya khitan bertujuan untuk kesehatan dan kebersihan tubuh bukan semata kebersihan jiwa. Dan hari ini ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa khitan memang sangat baik bagi kesehatan manusia.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Lima dari fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis”.[HR Muslim].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”‘Barangsiapa masuk Islam, maka berkhitanlah, sekalipun sudah dewasa” ; Syaikh kami (Ibnu Taymiah) berkata,’Ibrahim mengkhitan Ishaq pada hari ketujuh dan mengkhitan Isma’il ketika hendak baligh. Jadilah khitan Ishaq menjadi sunnah (tradisi) bagi anak cucunya, dan juga khitan Ismail menjadi sunnah bagi anak cucunya.Wallahu a’lam’.”

Khitan juga ternyata adalah ajaran para nabi, sejak nabi Ibrahim as hingga nabi Isa as. Jadi khitan sejatinya bukan hanya berlaku untuk umat Islam tapi juga untuk seluruh pemeluk agama Samawi kalau tidak mau dikatakan untuk seluruh manusia yang peduli kesehatan.

Untuk itulah Allah swt menegaskan bahwa shibghah Allah adalah shibghah yang paling baik. Shibghah yang juga berarti celupan. Sibhghah Allah, “celupan Allah” yaitu iman kepada Allah yang diikuti pembuktian tidak hanya ritual menyembah hanya kepada-Nya, tapi juga dengan mentaati semua perintah dan menjauhi segala larangan.

Perumpamaan mudah Shibghah Allah adalah seperti kain dan celupan warna dalam pewarnaan sebuah kain. Untuk mendapatkan warna yang sempurna kain harus dimasukkan ke dalam celupan secara keseluruhan, tidak separuh-separuh. Dan celupannyapun harus benar-benar sesuai dengan warna yang kita inginkan. Dengan demikian setelah kain dikeluarkan dari celupan hasilnya akan benar-benar sempurna. Warnanya tampak jelas, persis seperti celupannya, tidak belang-belang, setengah berwarna setengah tidak.

Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):208).

Shibghoh Allah adalah dien, komitmen totalitas hidup, ritual maupun non ritual kepada Allah swt, Sang Pencipta. Komitmen yang akan mewarnai hidup kita dengan ajaranNya. Tidak cukup hanya dengan iman di dalam hati tapi juga harus tampak dari luar. Itulah Islam yang kaffah, yang tidak setengah-setengah, tidak tebang pilih ayat yang sesuai nafsu dan keinginan.

Rasulullah terbiasa mengganti nama para sahabat yang bermakna tidak baik, seperti Abdul Uzza yang artinya hamba Uzza. (Uzza adalah nama tuhannya orang jahiliyah).  Demikian juga kaum perempuan dengan hijabnya, yang dengan demikian akan lebih mudah untuk dikenali, dan tidak diganggu orang jahat.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Ibaratnya adalah seragam suatu sekolah yang membuat pihak sekolah mudah mengenali identitas murid-muridnya, memberikan bantuan dan perlindungan. Sebaliknya seragam juga membawa baik dan buruk nama sekolah.

Begitupun dengan kaum Muslimin. Penampilan harus dibarengi prilaku dan sikap yang Islami, yang sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Al-Hadist.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: (1) jika diberi amanat, khianat; (2) jika berbicara, dusta; (3) jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; (4) jika berselisih, dia akan berbuat zalim.” (HR. Muslim no. 58)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Desember 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Jalan Kebenaran.

DSC04132Adalah hal yang sangat wajar bila seorang pemeluk agama meyakini bahwa agamanya adalah yang terbaik, yang paling benar. Dan bahwa keyakinannya itu akan menjaminnya masuk surga, dan menghindarkannya dari pedihnya siksa api neraka. Keyakinan inilah tentunya yang membuat seseorang sudi memeluk suatu agama tertentu.  Dan ini berlaku bagi seluruh agama, tidak hanya Islam, tapi juga Yahudi maupun Nasrani.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani“. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):111).

Keyakinan inilah yang membuat mereka berani mencemooh dan mentertawakan kaum Muslimin yang mereka anggap sesat. Mereka yakin berada di jalan kebenaran sementara umat Islam berada di jalan kesesatan sebagaimana yang diceritakan ayat 29-32 surat Al-Muthafifin berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, ( Terjemah QS. (83):29-32).

Pertanyaannya benarkah prasangkaan mereka itu ?? Yang pasti semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Namun ketika prinsip dasar tentang ke-Tuhan-annya saja rancu, tidak jelas bahkan salah, bagaimana mungkin orang bisa begitu yakin bahwa agamanya itu benar …

Kebenaran sejati adalah milik Sang Pencipta. Tuhan pencipta manusia, langit, bumi dan segala isinya. Tuhan yang mustahil menyerupai apapun yang diciptakannya. Tuhan yang tidak beranak maupun diperanakkan. Tuhan yang tidak mempunyai kepentingan apapun terhadap segala ciptaannya.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):255).

Kebenaran berdasarkan akal manusia yang merupakan mahluk ciptaan tentu relative, sangat beragam dan pasti sangat rapuh. Oleh karenanya untuk mengetahui dan meyakini kebenaran suatu agama tidak ada jalan lain kecuali dengan memahami isi kitab sucinya, siapa pembawanya, bukan dari sikap pemeluk agamanya yang bisa saja salah memahami ajarannya.

Agama Nasrani dan Yahudi yang merupakan agama samawi pada dasarnya sama dengan agama Islam, yaitu mengimani Tuhan Yang Satu, Allah swt. Namun seiring dengan berjalan waktu agama yang dibawa nabi Isa as dan nabi Musa as melalui malaikat Jibril as sebagai perantara tersebut, mengalami berbagai penyelewengan yang parah.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. … “. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):73).

Sebaliknya aneh bin ajaib ketika ada pemeluk suatu agama namun meyakini bahwa semua agama adalah sama, semua benar, dan bahwa semua orang bisa masuk surga, asalkan baik. Sepintas kelihatannya mungkin benar, bahkan terkesan sangat bijak dan penuh toleransi.

Tapi bila dipikir lebih jauh, baik itu menurut siapa?? Menurut sesama manusia? Manusia yang mana?? Bukankah antar suku saja kriteria sebuah kebaikan tidak selalu sama ?? Apalagi penduduk bumi yang jumlahnya milyaran dengan jutaan suku, etnis dan kultur yang berbeda-beda. Lagi pula kalau semua agama adalah sama tidak perlu orang memilih satu agama. Ikuti saja semua peraturan agama yang pastinya akan membuat kewalahan dirinya sendiri. Mungkinkah???

Lebih mengerikan lagi, bila orang itu adalah seorang pemeluk agama Islam, yang mengaku Islam tapi suka mengejek dan mentertawakan saudaranya sesama Muslim, sangat bisa jadi Allah Azza wa Jala memasukkan yang bersangkutan sebagai golongan orang Munafik.  Padahal orang Munafik itu derajatnya lebih rendah dari orang Kafir. Tempatnya adalah di kerak neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Bersyukurlah kita yang telah Allah Azza wa Jala pilihkan Islam sebagai agama kita. Biarlah orang-orang kafir mencemooh dan mentertawakan kita di dunia ini. Tidak perlu kita berkecil hati, sakit hati apalagi marah. Karena pada akhirnya merekalah yang akan kecewa dan menyesali perbuatan mereka.

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang ( orang-orang kafir, yang diganjar). Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Terjemah QS. Al-Muthafifin(83):34-36).

Pada kelanjutan ayat 111 Al-Baqarah di awal tulisan, Allah swt berfirman :

“ Demikian itu (hanya) angan-angan mereka ( Nasrani dan Yahudi) yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

Dilanjutkan dengan :

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Namun demikian kita tetap tidak boleh lengah dan terbuai dengan janji surga dan ampunan-Nya yang seluas langit dan bumi dengan ke-Islam-an kita. Karena modal iman dan Islam saja tidak cukup untuk meraih semua itu. Diperlukan juga amal ibadah. Hebatnya lagi bukan hanya ibadah shalat, puasa yang bernilai ukhrowi namun juga segala amal kebaikan kepada sesama manusia seperti zakat, infak, menolong orang yang dalam kesusahan, silaturahmi, sabar dll sebagainya.

Jangan sampai Allah swt memasukkan kita sebagai golongan yang sama dengan orang yang dimurkai-Nya yaitu kaum Yahudi karena  berilmu tapi tidak beramal. Atau kaum Nasrani yang sesat karena beramal tapi tanpa ilmu yang benar, sebagaimana firman Allah swt di ayat 6 dan 7 Al-Fatihah yang selalu kita baca setiap shalat.

“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Agustus 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Indonesia adalah negara yang kaya raya. Selain sumber daya alam yang melimpah seperti minyak, gas dan lain lain, sumber daya manusianyapun tak terkira banyaknya. Indonesia saat ini tercatat sebagai  Negara no 4 terbanyak penduduk di dunia. Dan sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan jumlah lebih dari 87% Muslim, sekitar 237 juta orang, kekayaan zakat, infak, sodaqoh dan wakaf di Indonesia patut diperhitungkan. Zakat sebesar 2.5 % yang merupakan kewajiban kaum Muslimin yang bila dikumpulkan dan dikelola dengan baik dan difungsikan secara maksimal tidak perlu lagi bangsa ini mengemis pinjaman ke negara lain.

Sementara wakaf yang selama ini hanya dianggap sebagai tanah wakaf untuk masjid, sebenarnya bisa digunakan untuk mendirikan fasilitas umum yang lebih besar manfaatnya untuk masyarakat luas. Saat ini Dompet Dhuafa, salah satu lembaga Amil Zakat milik masyarakat, telah membangun sarana pro dhuafa yang mencakup pendidikan seperti Sekolah Smart Ekselensia, Masjid Al-Madinah, dan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa dan masih banyak lagi sarana serta aset wakaf Dompet Dhuafa.

Kekayaan yang terlalu jomplang dan hanya menumpuk di suatu kelompok sudah pasti akan menciptakan kesenjangan sosial yang berpotensi memicu kebencian, iri, dengki dll. Itu sebabnya ZIS ( Zakat, Infak, Sodaqoh) amat sangat diperlukan, tidak hanya sebagai hubungan dengan Tuhannya, tapi juga sebagai hubungan baik sesama manusia. Harus diingat semua perintah dan larangan Allah swt dapat dipastikan berguna baik kita sendiri, baik di dunia apalagi di akhirat nanti.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS.Al-Baqarah (2): 261)

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan rakyat senantiasa berlomba dalam kebaikan. Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Era tersebut telah berakhir sejak kejatuhan kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah/Ottoman pada tahun 1924. Era tersebut adalah era ke 3 yaitu era Mulkan Adlon (kerajaan yang menggigit) yang kemudian memasuki era ke 4 yang dinamakan era Mulkan Jabariyyah (kerajaan diktator).

Sejak itulah Islam mengalami keterpurukan. Penguasa negara tidak lagi peduli kepada ajaran Islam meskipun penduduknya mayoritas Islam. Mereka ini bahkan takluk dan sangat takut kepada Barat. Hukum Islam diabaikan, ulama tidak hanya tidak dihargai tapi bahkan di dzalimi. Huru-hara dan kejahatan dimana-mana, maksiat merajalela, nyanyi-nyanyian serta alat musik bahkan perzinaan, khamr dan riba menjadi hal yang lazim.

Tak ayal Islamphobia dan label terorispun dengan mudahnya disandangkan kepada umat Islam. Belum lagi hilangnya persaudaraan Islam yang merupakan kekuatan yang sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Isu toleransi dan demokrasi yang sejatinya sesuatu yang baik dan sah-sah saja dijadikan alat sebagai alat adu domba untuk memecah persaudaaran tersebut.

Kita juga jauh tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari keberhasilan Islam di masa lalu, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal akhlak seperti kedisiplin, kebersihan dll.

Namun sejak  terjadinya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016  yang berlangsung rapi, bersih, tertib dan aman, perlahan umat mulai menyadari kekurangan-kekurangan tersebut. Umat mulai merasakan pentingnya menerapkan isi Al-Quran dan hadist dalam kehidupan sehari-hari, perlunya persatuan dan persaudaraan, serta mandiri tidak tergantung kepada pihak lain.

Adakah ini pertanda kebangkitan umat yang telah diprediksi sebagai tanda datangnya akhir zaman, masa kembalinya kejayaan khilafah yang sangat ditakuti pemegang kekuasaan saat ini?? Apalagi semua tanda-tanda kecil datangnya hari Kiamat telah bermunculan hari demi hari. Gempa yang terus bermunculan susul menyusul di seantero jagad adalah salah satunya. Dan ini akan terus terjadi hingga  puncaknya munculah tanda-tanda kiamat besar, seperti Dajjal, Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan Ya’juj Ma’juj.

Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin al-Yaman r.a, berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Masa kenabian itu berada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang sombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam,”(H.R Ahmad).

Hadist diatas menunjukan bahwa Akhir Zaman akan melalui 5 masa, yaitu:

1.Masa kenabian.

2.Masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khulafahur Rasyidin)

3.Masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adlon)

4.Masa kerajaan diktator (Mulkan Jabariyyah)

5.Masa kembali pada Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah

http://faseakhirzaman.blogspot.com/2016/09/5-fase-akhir-zaman-berdasarkan-hadist.html

Tanda-tanda kebangkitan Islam tidak hanya terasa di negri kita tercinta Indonesia. Hukum-hukum Islam mulai diterapkan di beberapa negara, bahkan yang bukan mayoritas Islam. Termasuk juga perbankan syariah yang mulai merambah Barat.

Berikut jawaban Rasulullah Muhammad SAW  atas pertanyaan khalifah Umar bin Khattab yang bermaksud mewakafkan tanahnya di Khaibar. “Jika engkau suka tahanlah pangkalnya dan sedekahkan hasilnya”. Ini menyiratkan, harta yang diwakafkan itu perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat menyejahterakan orang yang membutuhkan.

Di Amerika Serikat misalnya, Muslim di negara tersebut telah berhasil mengembangkan wakaf yang ada secara produktif. Awalnya mereka memang mengandalkan bantuan dana dari negara-negara Timur Tengah. Namun sejak tahun 1990 terutama setelah Perang Teluk yang menghabiskan dana yang tidak sedikit, mereka mulai mandiri. Sementara di Indonesia wakaf yang jumlahnya cukup banyak itu, belakangan ini mulai dikelola secara produktif.

Demikian pula halnya dengan dana haji yang sempat heboh karena akan digunakan pemerintah untuk keperluan infrastuktur. Umat dijamin sebetulnya tidak akan keberatan dana tersebut digunakan untuk kepentingan umum tidak hanya kepentingan khusus umat Islam seperti masjid atau pondok pesantren misalnya. Tapi juga sekolah, rumah sakit bahkan jalanan, perumahan, apartemen, pertokoan dll sebagainya. Yang dengan demikian tidak perlu lagi negara ini berhutang kepada pihak atau negara lain hingga menyebabkan kita berhutang budi, atau terpaksa menggadaikan asset negara. Dengan syarat pemerintah benar-benar menunjukkan keberpihakan pada umat, tidak semena-mena terhadap ulama dan rakyat kecil yang mayoritas Islam itu. Dan tentu saja tidak mengganggu jadwal keberangkatan para pemilik tabungan haji.

Memang tidak semudah membalik tangan, perjuangan masih panjang dan berliku. Fitnah Dajjal dan kekejaman Ya’juj Ma’juj yang dalam hadist digambarkan sebagai suatu bangsa bermata sipit berhidung pesek harus kita hadapi.

https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/12/19/156703/bangsa-bermata-sipit-dan-tanda-akhir-zaman.html

Indonesia memiliki sejumlah permasalahan serius seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, keterbelakangan, korupsi yang merajalela, dan pengelolaan sumber daya alam yang buruk. Berdasarkan data Global Wealth Report tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara paling timpang di dunia, dimana 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Di dalam urusan membaca pun Indonesia menempati posisi buncit. Dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University di New Britain dari tahun 2003 sampai 2014, Indonesia menempati posisi ke-60 atau nomer dua dari belakang terkait dengan minat baca masyarakat. Dalam hal korupsi, Indonesia menempati urutan ke-90 dari 176 negara yang disurvei oleh Transparancy International dalam data Indeks Persepsi Korupsi.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59:7).

Namun kita harus optimis, dengan adanya kesadaran persatuan persaudaraan Islam, pentingnya menerapkan ajaran Islam serta tidak mau lagi tergantung kepada pihak lain, adalah merupakan kunci awal menuju kembalinya kejayaan Islam, Islam yang rahmatan lilalamiiin, yang mengayomi semua rakyatnya apapun agama, kepercayaan, ras dan sukunya, dengan izin dan ridho Allah swt.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Aqimus Shalaah.

Al-Quran menggunakan kata “Aqimus shalaah” untuk perintah shalat, bukan “if’alus shalaah” (kerjakan shalat). Begitu pula dalam seruan iqomah yang dikumandangkan setelah adzan sesaat sebelum shalat, kata yang digunakan adalah kata “qodqoomati sholat” yang artinya sama dengan “Aqimus shalaah”, yaitu dirikanlah sholat.

… Aqiimu sholah (dirikanlah sholat), tunaikanlah zakat….” (Terjemah QS. An-Nisaa(4):77).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, aqimus shalaah (mendirikan shalat) dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. … “.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):277).

Mendirikan shalat dan mengerjakan shalat tidaklah sama. Mendirikan shalat ibarat bangunan, adalah fondasi atau tiang agar bangunan di atasnya dapat berdiri kokoh dan kuat. Atau ibarat pohon, mendirikan shalat adalah akar yang kuat, yang mampu menopang batang dan rantingnya. Jadi shalat yang membuahkan hasil yang baik, yang mampu mencegah dari perbuatan jahat, menjauhkan dari segala sesuatu yang dibenci dan diharamkan-Nya, seperti mencuri, korupsi, berzinah dll, itulah yang dimaksud mendirikan shalat.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar…”. (Terjemah QS.Al-Ankabuut(29):45).

Perintah shalat telah turun sejak awal kenabian, yaitu melalui ayat 1-3 surat Al-Muzzammil berikut :

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)”.  

Namun perintah shalat 5 waktu sehari baru turun setelah 10 tahun kenabian. Perintah tersebut langsung Allah swt turunkan kepada Rasulullah saw pada peristiwa spektakuler Isra Mi’raj.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda:”… Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah dalam keadaan kesedihan yang luar biasa. Paman Rasulullah yaitu Abu Thalib yang selalu melindungi Rasulullah dari kejahatan orang-orang  Quraisy, dan Khadijah ra, satu-satunya istri Rasulullah yang selalu mendukung dakwah Rasul sekaligus menghibur beliau, dipanggil menghadap Sang Khalik dalam 1 tahun yang sama. Peristiwa menyedihkan tersebut disebut  Amul Huzni ( Tahun Kesedihan).

Dari kisah di atas dapat disimpulkan shalat sebenarnya adalah kewajiban sekaligus hak kaum Muslimin sebagai cara berkomunikasi langsung dengan Tuhannya, dimana ia dapat mengadukan nasib dan segala keluh kesahnya. Itu sebabnya shalat yang didirikan atas dasar kebutuhan akan Tuhannya mampu membersihkan diri dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, cepat marah dan sebagainya.

Disamping itu shalat yang didirikan atas dasar ketaatan sekaligus harap akan ridho-Nya, sudah pasti akan mendatangkan kenikmatan tersendiri. Cahaya ma’rifatullah akan terus menyertainya hingga iapun mampu menjadi cahaya di tengah masyarakatnya. Ibarat pohon, batangnya mampu menjadi sandaran, daun dan rantingnya mampu memberikan keteduhan, buahnya mampu memberikan kelezatan dan bunganya mampu menyegarkan mata yang memandangnya.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):24-25).

Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (H.R. At-Thabrani)

Sebaliknya shalat yang dilakukan sekedar menghilangkan kewajiban, sekedar penggugur dosa, karena adanya unsur keterpaksaan, tanpa niat untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya, tidak akan mampu membuahkan kebaikan. Itulah beda “mendirikan shalat” dan “melakukan shalat”.

… wa aqimis shalat ( dan dirikanlah sholat) untuk mengingat-Ku. ” QS Thoha (20: 14).

Namun demikian shalat sejatinya bukan monopoli kaum Muslimin. Karena para nabi sebelum Islam datangpun telah menerima perintah tersebut, meski tidak dengan cara yang sama dengan apa yang diperintahkan kepada kaum Muslimin. Inilah yang dinamakan syariat. Setiap nabi membawa syariatnya masing-masing.

Pada awal datangnya Islam, kiblat shalat kaum Muslimin sama dengan kiblat umat nabi lain yaitu Masjidil Aqsho di Palestina. Namun seiring dengan berjalannya waktu Rasulullah sangat menginginkan suatu hari nanti Sang Khalik menganugerahi umat beliau kiblat khusus yang berbeda dengan umat nabi lain. Kiblat yang diharapkan Rasulullah tak lain adalah Ka’bah di Mekah yang sudah tak asing bagi beliau. Dan karena kasih sayang-Nya yang begitu besar, Allah kabulkan keinginan tersebut. Masya Allah …

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):144).

Sejak itulah kaum Muslimin senantiasa menghadap ke Ka’bah di Mekah ketika shalat. Dan sebagai pemeluk sekaligus pengikut yang baik, wajib bagi kita sebagai umat Islam untuk mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw, termasuk dalam hal shalat dan persiapannya yaitu wudhu. Uniknya shalat maupun wudhu  yang dilakukan Rasulullah tersebut tidak dijelaskan di dalam Al-Quran. Tidak ada satupun ayat dalam Al-Quranul Karim yang menerangkan jumlah rakaat dalam tiap shalat. Demikian pula gerakan-gerakan shalat seperti rukuk, wujud dll. Juga keterangan tentang shalat wajib dan sunnah. Itulah pentingnya umat Islam menjadikan Hadist sebagai pegangan.

Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.”

Yang juga patut menjadi catatan, ternyata orang yang shalatpun bisa jadi Allah masukkan sebagai orang yang celaka, sebagaimana ayat berikut :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Terjemah QS. Al-Maa’uun(107):4-5)

Ibnu Mas’ud mengatakan, demi Allah, mereka tidak meninggalkan semua shalat. Andai mereka sama sekali tidak shalat, mereka kafir. Namun mereka tidak menjaga waktu shalat. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makna ayat’ adalah mereka mengakhirkan shalat hingga keluar waktu. (Zadul Masir, 6/194).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut shalatnya orang munafik. Dia secara sengaja menunda-nunda waktu shalat, hingga mendekati berakhirnya waktu shalat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Itulah shalatnya orangn munafik .. duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai shalat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit”. (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).

Na’udzubillah min dzalik, semoga kita bukan termasuk orang yang lalai, aamiin …

Terakhir, shalat dapat memperkokoh tali persaudaraan dan silaturahmi sesama muslim. Yaitu dengan digalakannya shalat berjamaah di masjid atau mushola, khususnya bagi laki-laki.

Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656).

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur”. [HR. Bukhâri dan Muslim,

Itulah persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) yang belakangan sangat kendur hingga mudah di adu domba. Padahal yang demikian akan membuat kita lemah dan mudah diserang musuh-musuh Islam.

Dari Muadz bin Jabal Rasulullah bersabda :

“Pucuk urusan adalah Islam, tiangnya adalah Sholat dan punuknya adalah Jihad”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 2 Mei 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu ( bani Israil) dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):93).

Ayat di atas mengisahkan bagaimana bani Israil yang dengan angkuhnya menolak mentaati perintah Tuhan yang telah menciptakan bahkan menganugerahi mereka ilmu/akal. Tampak jelas bahwa ilmu dan akal yang pintar justru telah menyesatkan mereka. Mereka lupa bahwa Sang Khalik mampu berbuat apapun termasuk membalikkan hati yang awalnya bersih menjadi kotor.

Mereka lebih memilih menjawab “Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati” daripada “ Kami mendengar dan kami patuh” sebagai balasan perintah “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!”.

Maka Allahpun balikkan hati mereka dengan memandang sesuatu yang buruk/jelek menjadi baik/indah dan yang buruk/jelek menjadi baik/indah. Akibatnya mereka tidak mampu melihat kebenaran sejati. Allah butakan mata hati mereka dari kebenaran. Diantaranya yaitu menjadikan patung anak sapi sebagai Tuhan. Na’udzubillah min dzalik. Bagaimana mungkin orang berakal bisa berpikiran sedemikian bodohnya. Patung yang merupakan buatan manusia dijadikan sesembahan. Hanya orang gila atau orang idiot yang berpendapat patung yang mengedipkan mata saja tak sanggup, bisa menolong dan memberikan manfaat bagi manusia.

Padahal baru beberapa waktu yang lalu bani Israil tidak hanya melihat dengan mata kepala, tapi bahkan merasakan sendiri kekuatan dan kekuasaan Allah Azza wa Jala, melalui tongkat nabi mereka Musa as yang menyelamatkan mereka dari kejaran pasukan firaun yang kejam. Bagaimana mungkin laut dalam yang ada di hadapan mereka bisa tiba-tiba terbelah memberikan jalan bagi mereka untuk terus berlari. Hebatnya lagi begitu pasukan firaun ikut melaluinya lautpun kembali menutup menenggelamkan mereka seketika itu juga. Allahu Akbar …

Hati adalah milik Allah. Ialah yang membolak-balikkan hati manusia sekehendak-Nya. Itu sebabnya kita harus selalu memohon agar Allah senantiasa melembutkan hati kita. Dalam ayat 10 surat Al-Qashash berikut, Allah swt menceritakan bagaimana hati ibu nabi Musa as menjadi kosong/sedih memikirkan apa yang akan terjadi terhadap bayinya bila keluarga Firaun mengetahui siapa sebenarnya bayi tersebut. Namun kemudian Allah teguhkan hati sang ibu.

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”. ( Terjemah QS. Al-Qashash(28):10).

Allah swt membekali manusia dengan 3 unsur utama yaitu ruh, akal dan hati. Selain jasmani tentunya, karena manusia bukan mahluk ghaib. Tapi tanpa ruh manusia akan mati, tanpa akal manusia akan hidup dalam kesulitan, dan tanpa hati manusia tidak akan memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Ibarat hp, ruh manusia adalah aliran listrik yang bakal mati begitu lupa di charge ketika 0%. Sedangkan jasmaninya adalah casing/bungkus yang sering kali menyesatkan karena tampilan yang cantik padahal belum tentu baik mutunya. Sementara akal adalah ibarat program/aplikasinya. Dan makin canggih aplikasi yang dimiliki hp makin tinggi harga hp. Begitu pula manusia. Meski pada kenyataannya tidak semua orang menilai harga seseorang berdasarkan akalnya. Melainkan juga hatinya.

Di hatilah terletak kebaikan, kejujuran dan kebenaran yang hakiki. Sayangnya hanya hati yang bersih yang dapat menuntun kepada hal tersebut. Tidak hati yang kotor, meski bisa jadi ia memiliki akal yang cemerlang. Itulah beda manusia dengan hp. Dengan kata lain manusia yang tidak mempunyai hati sama dengan hp atau robot.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Terjemah QS. Al-Araf(7):179).

Sebagaimana jasad yang perlu dirawat dan akal yang harus selalu diasah, demikian pula hati. Hati yang baik dan bersih adalah hati yang biasa berdzikir (mengingat Allah swt), banyak bersyukur atas segala yang diberikan-Nya, baik yang sesuai keinginan maupun tidak. Hati yang bersih adalah yang mudah menangis melihat kebesaran Allah dimanapun ia berada, baik ketika melihat keindahan ciptaan-Nya maupun melihat orang yang dalam kesulitan.

Itu sebabnya dalam mendirikan ibadah seperti shalat, puasa, zakat dll hati harus dilibatkan. Allah tidak akan menerima ibadah yang hanya ritual, yang tidak dengan niat mencari ridho-Nya. Dan niat itu adanya di hati.  Hati yang demikian insya Allah akan dijaga-Nya dari keburukan. Itulah nikmat terbesar dalam hidup. Allah Azza wa Jala menjanjikan orang yang sepert itu i kedudukan yang tinggi bersama para rasul.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”. (Terjemah QS. Maryam(19):58).

doa jngn balikkan hatiTelah menceritakan kepada kami Hannad; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas dia berkata; adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca do’a “YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu).” Kemudian aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.”

Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari An Nawwas bin Sam’an, Ummu Salamah, Abdullah bin Amr dan A’isyah. Dan ini adalah hadits Hasan, demikianlah kebanyakan telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas, dan sebagian yang lainnya telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun hadits Abu Sufyan dari Anas lebih shahih. (HR. At Tirmidzi No.2066)

Ironisnya, hari ini kita bisa menyaksikan betapa banyaknya orang yang mengaku Muslim, berakal dan berilmu pula, namun suka melecehkan ayat-ayat Allah swt. Ayat-ayat Al-Quranul Karim mereka tafsirkan sesuka akal mereka. Sebut saja Siti Musdah Mulia guru besar UIN Jakarta yang bersikukuh bahwa Islam membolehkan prilaku menyimpang homoseksual/lesbianisme. Belum lagi dedengkot-dedengkot JIL ( Jaringan Islam Liberal) seperti Ade Amando pakar komunikasi yang mengajar di sejumlah perguruan tinggi yang meng-amin-kan pernyataan Musdah dan sering melontarkan pernyataan nyleneh yang menyakitkan umat Islam, bahwa semua agama adalah benar dll.

Juga Jalaludin Rahmat pentolan Syiah yang ajarannya jauh dari Islam. Belum lagi Said Siraj Aqil Doktor lulusan Universitas Ummul Quro Mekkah dengan isu Islam Nusantaranya dan terakhir sejalan dengan makin panasnya Pilpres 2019 setuju mengganti istilah kafir ( non Muslim seperti Yahudi, Nasrani dll) dengan warga negara yang mempunyai hak sama dengan warga negara apapun agamanya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Adakah orang-orang “berilmu” di atas lupa apa sebenarnya kriteria orang berilmu/berakal menurut Sang Khalik?? Bukankah Allah swt mengabadikan kisah-kisah orang terdahulu termasuk bani Israil agar kita umat Islam tidak mengulangi kesalahan mereka?? Bahwa ayat-ayat Allah tidak untuk dipermainkan, diambil sebagian dibuang sebagian, diplintir, atau hanya sekedar sebagai wacana pemikiran, atau diimani tapi tidak diamalkan??

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191).

Tidakkah mereka takut Allah Yang Maha Esa akan menambah penyakit hati mereka dengan berbagai penyakit hati yang lain, susul menyusul, hingga benar-benar menjadi buta dan tidak bisa lagi kembali ke jalan yang benar hingga ajal menjemput?? Atau bisa jadi sempat bertaubat tapi terlanjur memiliki banyak pengikut yang sesat, sulit pula dikembalikan ? Na’udzubillah min dzalik …

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. ( Terjemah Q. Al-Baqarah (2):10).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Maret 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »