Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Jalan Kebenaran.

DSC04132Adalah hal yang sangat wajar bila seorang pemeluk agama meyakini bahwa agamanya adalah yang terbaik, yang paling benar. Dan bahwa keyakinannya itu akan menjaminnya masuk surga, dan menghindarkannya dari pedihnya siksa api neraka. Keyakinan inilah tentunya yang membuat seseorang sudi memeluk suatu agama tertentu.  Dan ini berlaku bagi seluruh agama, tidak hanya Islam, tapi juga Yahudi maupun Nasrani.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani“. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):111).

Keyakinan inilah yang membuat mereka berani mencemooh dan mentertawakan kaum Muslimin yang mereka anggap sesat. Mereka yakin berada di jalan kebenaran sementara umat Islam berada di jalan kesesatan sebagaimana yang diceritakan ayat 29-32 surat Al-Muthafifin berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, ( Terjemah QS. (83):29-32).

Pertanyaannya benarkah prasangkaan mereka itu ?? Yang pasti semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Namun ketika prinsip dasar tentang ke-Tuhan-annya saja rancu, tidak jelas bahkan salah, bagaimana mungkin orang bisa begitu yakin bahwa agamanya itu benar …

Kebenaran sejati adalah milik Sang Pencipta. Tuhan pencipta manusia, langit, bumi dan segala isinya. Tuhan yang mustahil menyerupai apapun yang diciptakannya. Tuhan yang tidak beranak maupun diperanakkan. Tuhan yang tidak mempunyai kepentingan apapun terhadap segala ciptaannya.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):255).

Kebenaran berdasarkan akal manusia yang merupakan mahluk ciptaan tentu relative, sangat beragam dan pasti sangat rapuh. Oleh karenanya untuk mengetahui dan meyakini kebenaran suatu agama tidak ada jalan lain kecuali dengan memahami isi kitab sucinya, siapa pembawanya, bukan dari sikap pemeluk agamanya yang bisa saja salah memahami ajarannya.

Agama Nasrani dan Yahudi yang merupakan agama samawi pada dasarnya sama dengan agama Islam, yaitu mengimani Tuhan Yang Satu, Allah swt. Namun seiring dengan berjalan waktu agama yang dibawa nabi Isa as dan nabi Musa as melalui malaikat Jibril as sebagai perantara tersebut, mengalami berbagai penyelewengan yang parah.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. … “. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):73).

Sebaliknya aneh bin ajaib ketika ada pemeluk suatu agama namun meyakini bahwa semua agama adalah sama, semua benar, dan bahwa semua orang bisa masuk surga, asalkan baik. Sepintas kelihatannya mungkin benar, bahkan terkesan sangat bijak dan penuh toleransi.

Tapi bila dipikir lebih jauh, baik itu menurut siapa?? Menurut sesama manusia? Manusia yang mana?? Bukankah antar suku saja kriteria sebuah kebaikan tidak selalu sama ?? Apalagi penduduk bumi yang jumlahnya milyaran dengan jutaan suku, etnis dan kultur yang berbeda-beda. Lagi pula kalau semua agama adalah sama tidak perlu orang memilih satu agama. Ikuti saja semua peraturan agama yang pastinya akan membuat kewalahan dirinya sendiri. Mungkinkah???

Lebih mengerikan lagi, bila orang itu adalah seorang pemeluk agama Islam, yang mengaku Islam tapi suka mengejek dan mentertawakan saudaranya sesama Muslim, sangat bisa jadi Allah Azza wa Jala memasukkan yang bersangkutan sebagai golongan orang Munafik.  Padahal orang Munafik itu derajatnya lebih rendah dari orang Kafir. Tempatnya adalah di kerak neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Bersyukurlah kita yang telah Allah Azza wa Jala pilihkan Islam sebagai agama kita. Biarlah orang-orang kafir mencemooh dan mentertawakan kita di dunia ini. Tidak perlu kita berkecil hati, sakit hati apalagi marah. Karena pada akhirnya merekalah yang akan kecewa dan menyesali perbuatan mereka.

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang ( orang-orang kafir, yang diganjar). Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Terjemah QS. Al-Muthafifin(83):34-36).

Pada kelanjutan ayat 111 Al-Baqarah di awal tulisan, Allah swt berfirman :

“ Demikian itu (hanya) angan-angan mereka ( Nasrani dan Yahudi) yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

Dilanjutkan dengan :

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Namun demikian kita tetap tidak boleh lengah dan terbuai dengan janji surga dan ampunan-Nya yang seluas langit dan bumi dengan ke-Islam-an kita. Karena modal iman dan Islam saja tidak cukup untuk meraih semua itu. Diperlukan juga amal ibadah. Hebatnya lagi bukan hanya ibadah shalat, puasa yang bernilai ukhrowi namun juga segala amal kebaikan kepada sesama manusia seperti zakat, infak, menolong orang yang dalam kesusahan, silaturahmi, sabar dll sebagainya.

Jangan sampai Allah swt memasukkan kita sebagai golongan yang sama dengan orang yang dimurkai-Nya yaitu kaum Yahudi karena  berilmu tapi tidak beramal. Atau kaum Nasrani yang sesat karena beramal tapi tanpa ilmu yang benar, sebagaimana firman Allah swt di ayat 6 dan 7 Al-Fatihah yang selalu kita baca setiap shalat.

“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Agustus 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Indonesia adalah negara yang kaya raya. Selain sumber daya alam yang melimpah seperti minyak, gas dan lain lain, sumber daya manusianyapun tak terkira banyaknya. Indonesia saat ini tercatat sebagai  Negara no 4 terbanyak penduduk di dunia. Dan sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan jumlah lebih dari 87% Muslim, sekitar 237 juta orang, kekayaan zakat, infak, sodaqoh dan wakaf di Indonesia patut diperhitungkan. Zakat sebesar 2.5 % yang merupakan kewajiban kaum Muslimin yang bila dikumpulkan dan dikelola dengan baik dan difungsikan secara maksimal tidak perlu lagi bangsa ini mengemis pinjaman ke negara lain.

Sementara wakaf yang selama ini hanya dianggap sebagai tanah wakaf untuk masjid, sebenarnya bisa digunakan untuk mendirikan fasilitas umum yang lebih besar manfaatnya untuk masyarakat luas. Saat ini Dompet Dhuafa, salah satu lembaga Amil Zakat milik masyarakat, telah membangun sarana pro dhuafa yang mencakup pendidikan seperti Sekolah Smart Ekselensia, Masjid Al-Madinah, dan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa dan masih banyak lagi sarana serta aset wakaf Dompet Dhuafa.

Kekayaan yang terlalu jomplang dan hanya menumpuk di suatu kelompok sudah pasti akan menciptakan kesenjangan sosial yang berpotensi memicu kebencian, iri, dengki dll. Itu sebabnya ZIS ( Zakat, Infak, Sodaqoh) amat sangat diperlukan, tidak hanya sebagai hubungan dengan Tuhannya, tapi juga sebagai hubungan baik sesama manusia. Harus diingat semua perintah dan larangan Allah swt dapat dipastikan berguna baik kita sendiri, baik di dunia apalagi di akhirat nanti.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS.Al-Baqarah (2): 261)

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan rakyat senantiasa berlomba dalam kebaikan. Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Era tersebut telah berakhir sejak kejatuhan kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah/Ottoman pada tahun 1924. Era tersebut adalah era ke 3 yaitu era Mulkan Adlon (kerajaan yang menggigit) yang kemudian memasuki era ke 4 yang dinamakan era Mulkan Jabariyyah (kerajaan diktator).

Sejak itulah Islam mengalami keterpurukan. Penguasa negara tidak lagi peduli kepada ajaran Islam meskipun penduduknya mayoritas Islam. Mereka ini bahkan takluk dan sangat takut kepada Barat. Hukum Islam diabaikan, ulama tidak hanya tidak dihargai tapi bahkan di dzalimi. Huru-hara dan kejahatan dimana-mana, maksiat merajalela, nyanyi-nyanyian serta alat musik bahkan perzinaan, khamr dan riba menjadi hal yang lazim.

Tak ayal Islamphobia dan label terorispun dengan mudahnya disandangkan kepada umat Islam. Belum lagi hilangnya persaudaraan Islam yang merupakan kekuatan yang sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Isu toleransi dan demokrasi yang sejatinya sesuatu yang baik dan sah-sah saja dijadikan alat sebagai alat adu domba untuk memecah persaudaaran tersebut.

Kita juga jauh tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari keberhasilan Islam di masa lalu, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal akhlak seperti kedisiplin, kebersihan dll.

Namun sejak  terjadinya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016  yang berlangsung rapi, bersih, tertib dan aman, perlahan umat mulai menyadari kekurangan-kekurangan tersebut. Umat mulai merasakan pentingnya menerapkan isi Al-Quran dan hadist dalam kehidupan sehari-hari, perlunya persatuan dan persaudaraan, serta mandiri tidak tergantung kepada pihak lain.

Adakah ini pertanda kebangkitan umat yang telah diprediksi sebagai tanda datangnya akhir zaman, masa kembalinya kejayaan khilafah yang sangat ditakuti pemegang kekuasaan saat ini?? Apalagi semua tanda-tanda kecil datangnya hari Kiamat telah bermunculan hari demi hari. Gempa yang terus bermunculan susul menyusul di seantero jagad adalah salah satunya. Dan ini akan terus terjadi hingga  puncaknya munculah tanda-tanda kiamat besar, seperti Dajjal, Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan Ya’juj Ma’juj.

Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin al-Yaman r.a, berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Masa kenabian itu berada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang sombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam,”(H.R Ahmad).

Hadist diatas menunjukan bahwa Akhir Zaman akan melalui 5 masa, yaitu:

1.Masa kenabian.

2.Masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khulafahur Rasyidin)

3.Masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adlon)

4.Masa kerajaan diktator (Mulkan Jabariyyah)

5.Masa kembali pada Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah

http://faseakhirzaman.blogspot.com/2016/09/5-fase-akhir-zaman-berdasarkan-hadist.html

Tanda-tanda kebangkitan Islam tidak hanya terasa di negri kita tercinta Indonesia. Hukum-hukum Islam mulai diterapkan di beberapa negara, bahkan yang bukan mayoritas Islam. Termasuk juga perbankan syariah yang mulai merambah Barat.

Berikut jawaban Rasulullah Muhammad SAW  atas pertanyaan khalifah Umar bin Khattab yang bermaksud mewakafkan tanahnya di Khaibar. “Jika engkau suka tahanlah pangkalnya dan sedekahkan hasilnya”. Ini menyiratkan, harta yang diwakafkan itu perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat menyejahterakan orang yang membutuhkan.

Di Amerika Serikat misalnya, Muslim di negara tersebut telah berhasil mengembangkan wakaf yang ada secara produktif. Awalnya mereka memang mengandalkan bantuan dana dari negara-negara Timur Tengah. Namun sejak tahun 1990 terutama setelah Perang Teluk yang menghabiskan dana yang tidak sedikit, mereka mulai mandiri. Sementara di Indonesia wakaf yang jumlahnya cukup banyak itu, belakangan ini mulai dikelola secara produktif.

Demikian pula halnya dengan dana haji yang sempat heboh karena akan digunakan pemerintah untuk keperluan infrastuktur. Umat dijamin sebetulnya tidak akan keberatan dana tersebut digunakan untuk kepentingan umum tidak hanya kepentingan khusus umat Islam seperti masjid atau pondok pesantren misalnya. Tapi juga sekolah, rumah sakit bahkan jalanan, perumahan, apartemen, pertokoan dll sebagainya. Yang dengan demikian tidak perlu lagi negara ini berhutang kepada pihak atau negara lain hingga menyebabkan kita berhutang budi, atau terpaksa menggadaikan asset negara. Dengan syarat pemerintah benar-benar menunjukkan keberpihakan pada umat, tidak semena-mena terhadap ulama dan rakyat kecil yang mayoritas Islam itu. Dan tentu saja tidak mengganggu jadwal keberangkatan para pemilik tabungan haji.

Memang tidak semudah membalik tangan, perjuangan masih panjang dan berliku. Fitnah Dajjal dan kekejaman Ya’juj Ma’juj yang dalam hadist digambarkan sebagai suatu bangsa bermata sipit berhidung pesek harus kita hadapi.

https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/12/19/156703/bangsa-bermata-sipit-dan-tanda-akhir-zaman.html

Indonesia memiliki sejumlah permasalahan serius seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, keterbelakangan, korupsi yang merajalela, dan pengelolaan sumber daya alam yang buruk. Berdasarkan data Global Wealth Report tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara paling timpang di dunia, dimana 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Di dalam urusan membaca pun Indonesia menempati posisi buncit. Dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University di New Britain dari tahun 2003 sampai 2014, Indonesia menempati posisi ke-60 atau nomer dua dari belakang terkait dengan minat baca masyarakat. Dalam hal korupsi, Indonesia menempati urutan ke-90 dari 176 negara yang disurvei oleh Transparancy International dalam data Indeks Persepsi Korupsi.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59:7).

Namun kita harus optimis, dengan adanya kesadaran persatuan persaudaraan Islam, pentingnya menerapkan ajaran Islam serta tidak mau lagi tergantung kepada pihak lain, adalah merupakan kunci awal menuju kembalinya kejayaan Islam, Islam yang rahmatan lilalamiiin, yang mengayomi semua rakyatnya apapun agama, kepercayaan, ras dan sukunya, dengan izin dan ridho Allah swt.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Aqimus Shalaah.

Al-Quran menggunakan kata “Aqimus shalaah” untuk perintah shalat, bukan “if’alus shalaah” (kerjakan shalat). Begitu pula dalam seruan iqomah yang dikumandangkan setelah adzan sesaat sebelum shalat, kata yang digunakan adalah kata “qodqoomati sholat” yang artinya sama dengan “Aqimus shalaah”, yaitu dirikanlah sholat.

… Aqiimu sholah (dirikanlah sholat), tunaikanlah zakat….” (Terjemah QS. An-Nisaa(4):77).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, aqimus shalaah (mendirikan shalat) dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. … “.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):277).

Mendirikan shalat dan mengerjakan shalat tidaklah sama. Mendirikan shalat ibarat bangunan, adalah fondasi atau tiang agar bangunan di atasnya dapat berdiri kokoh dan kuat. Atau ibarat pohon, mendirikan shalat adalah akar yang kuat, yang mampu menopang batang dan rantingnya. Jadi shalat yang membuahkan hasil yang baik, yang mampu mencegah dari perbuatan jahat, menjauhkan dari segala sesuatu yang dibenci dan diharamkan-Nya, seperti mencuri, korupsi, berzinah dll, itulah yang dimaksud mendirikan shalat.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar…”. (Terjemah QS.Al-Ankabuut(29):45).

Perintah shalat telah turun sejak awal kenabian, yaitu melalui ayat 1-3 surat Al-Muzzammil berikut :

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)”.  

Namun perintah shalat 5 waktu sehari baru turun setelah 10 tahun kenabian. Perintah tersebut langsung Allah swt turunkan kepada Rasulullah saw pada peristiwa spektakuler Isra Mi’raj.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda:”… Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah dalam keadaan kesedihan yang luar biasa. Paman Rasulullah yaitu Abu Thalib yang selalu melindungi Rasulullah dari kejahatan orang-orang  Quraisy, dan Khadijah ra, satu-satunya istri Rasulullah yang selalu mendukung dakwah Rasul sekaligus menghibur beliau, dipanggil menghadap Sang Khalik dalam 1 tahun yang sama. Peristiwa menyedihkan tersebut disebut  Amul Huzni ( Tahun Kesedihan).

Dari kisah di atas dapat disimpulkan shalat sebenarnya adalah kewajiban sekaligus hak kaum Muslimin sebagai cara berkomunikasi langsung dengan Tuhannya, dimana ia dapat mengadukan nasib dan segala keluh kesahnya. Itu sebabnya shalat yang didirikan atas dasar kebutuhan akan Tuhannya mampu membersihkan diri dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, cepat marah dan sebagainya.

Disamping itu shalat yang didirikan atas dasar ketaatan sekaligus harap akan ridho-Nya, sudah pasti akan mendatangkan kenikmatan tersendiri. Cahaya ma’rifatullah akan terus menyertainya hingga iapun mampu menjadi cahaya di tengah masyarakatnya. Ibarat pohon, batangnya mampu menjadi sandaran, daun dan rantingnya mampu memberikan keteduhan, buahnya mampu memberikan kelezatan dan bunganya mampu menyegarkan mata yang memandangnya.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):24-25).

Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (H.R. At-Thabrani)

Sebaliknya shalat yang dilakukan sekedar menghilangkan kewajiban, sekedar penggugur dosa, karena adanya unsur keterpaksaan, tanpa niat untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya, tidak akan mampu membuahkan kebaikan. Itulah beda “mendirikan shalat” dan “melakukan shalat”.

… wa aqimis shalat ( dan dirikanlah sholat) untuk mengingat-Ku. ” QS Thoha (20: 14).

Namun demikian shalat sejatinya bukan monopoli kaum Muslimin. Karena para nabi sebelum Islam datangpun telah menerima perintah tersebut, meski tidak dengan cara yang sama dengan apa yang diperintahkan kepada kaum Muslimin. Inilah yang dinamakan syariat. Setiap nabi membawa syariatnya masing-masing.

Pada awal datangnya Islam, kiblat shalat kaum Muslimin sama dengan kiblat umat nabi lain yaitu Masjidil Aqsho di Palestina. Namun seiring dengan berjalannya waktu Rasulullah sangat menginginkan suatu hari nanti Sang Khalik menganugerahi umat beliau kiblat khusus yang berbeda dengan umat nabi lain. Kiblat yang diharapkan Rasulullah tak lain adalah Ka’bah di Mekah yang sudah tak asing bagi beliau. Dan karena kasih sayang-Nya yang begitu besar, Allah kabulkan keinginan tersebut. Masya Allah …

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):144).

Sejak itulah kaum Muslimin senantiasa menghadap ke Ka’bah di Mekah ketika shalat. Dan sebagai pemeluk sekaligus pengikut yang baik, wajib bagi kita sebagai umat Islam untuk mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw, termasuk dalam hal shalat dan persiapannya yaitu wudhu. Uniknya shalat maupun wudhu  yang dilakukan Rasulullah tersebut tidak dijelaskan di dalam Al-Quran. Tidak ada satupun ayat dalam Al-Quranul Karim yang menerangkan jumlah rakaat dalam tiap shalat. Demikian pula gerakan-gerakan shalat seperti rukuk, wujud dll. Juga keterangan tentang shalat wajib dan sunnah. Itulah pentingnya umat Islam menjadikan Hadist sebagai pegangan.

Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.”

Yang juga patut menjadi catatan, ternyata orang yang shalatpun bisa jadi Allah masukkan sebagai orang yang celaka, sebagaimana ayat berikut :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Terjemah QS. Al-Maa’uun(107):4-5)

Ibnu Mas’ud mengatakan, demi Allah, mereka tidak meninggalkan semua shalat. Andai mereka sama sekali tidak shalat, mereka kafir. Namun mereka tidak menjaga waktu shalat. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makna ayat’ adalah mereka mengakhirkan shalat hingga keluar waktu. (Zadul Masir, 6/194).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut shalatnya orang munafik. Dia secara sengaja menunda-nunda waktu shalat, hingga mendekati berakhirnya waktu shalat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Itulah shalatnya orangn munafik .. duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai shalat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit”. (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).

Na’udzubillah min dzalik, semoga kita bukan termasuk orang yang lalai, aamiin …

Terakhir, shalat dapat memperkokoh tali persaudaraan dan silaturahmi sesama muslim. Yaitu dengan digalakannya shalat berjamaah di masjid atau mushola, khususnya bagi laki-laki.

Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656).

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur”. [HR. Bukhâri dan Muslim,

Itulah persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) yang belakangan sangat kendur hingga mudah di adu domba. Padahal yang demikian akan membuat kita lemah dan mudah diserang musuh-musuh Islam.

Dari Muadz bin Jabal Rasulullah bersabda :

“Pucuk urusan adalah Islam, tiangnya adalah Sholat dan punuknya adalah Jihad”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 2 Mei 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu ( bani Israil) dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):93).

Ayat di atas mengisahkan bagaimana bani Israil yang dengan angkuhnya menolak mentaati perintah Tuhan yang telah menciptakan bahkan menganugerahi mereka ilmu/akal. Tampak jelas bahwa ilmu dan akal yang pintar justru telah menyesatkan mereka. Mereka lupa bahwa Sang Khalik mampu berbuat apapun termasuk membalikkan hati yang awalnya bersih menjadi kotor.

Mereka lebih memilih menjawab “Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati” daripada “ Kami mendengar dan kami patuh” sebagai balasan perintah “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!”.

Maka Allahpun balikkan hati mereka dengan memandang sesuatu yang buruk/jelek menjadi baik/indah dan yang buruk/jelek menjadi baik/indah. Akibatnya mereka tidak mampu melihat kebenaran sejati. Allah butakan mata hati mereka dari kebenaran. Diantaranya yaitu menjadikan patung anak sapi sebagai Tuhan. Na’udzubillah min dzalik. Bagaimana mungkin orang berakal bisa berpikiran sedemikian bodohnya. Patung yang merupakan buatan manusia dijadikan sesembahan. Hanya orang gila atau orang idiot yang berpendapat patung yang mengedipkan mata saja tak sanggup, bisa menolong dan memberikan manfaat bagi manusia.

Padahal baru beberapa waktu yang lalu bani Israil tidak hanya melihat dengan mata kepala, tapi bahkan merasakan sendiri kekuatan dan kekuasaan Allah Azza wa Jala, melalui tongkat nabi mereka Musa as yang menyelamatkan mereka dari kejaran pasukan firaun yang kejam. Bagaimana mungkin laut dalam yang ada di hadapan mereka bisa tiba-tiba terbelah memberikan jalan bagi mereka untuk terus berlari. Hebatnya lagi begitu pasukan firaun ikut melaluinya lautpun kembali menutup menenggelamkan mereka seketika itu juga. Allahu Akbar …

Hati adalah milik Allah. Ialah yang membolak-balikkan hati manusia sekehendak-Nya. Itu sebabnya kita harus selalu memohon agar Allah senantiasa melembutkan hati kita. Dalam ayat 10 surat Al-Qashash berikut, Allah swt menceritakan bagaimana hati ibu nabi Musa as menjadi kosong/sedih memikirkan apa yang akan terjadi terhadap bayinya bila keluarga Firaun mengetahui siapa sebenarnya bayi tersebut. Namun kemudian Allah teguhkan hati sang ibu.

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”. ( Terjemah QS. Al-Qashash(28):10).

Allah swt membekali manusia dengan 3 unsur utama yaitu ruh, akal dan hati. Selain jasmani tentunya, karena manusia bukan mahluk ghaib. Tapi tanpa ruh manusia akan mati, tanpa akal manusia akan hidup dalam kesulitan, dan tanpa hati manusia tidak akan memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Ibarat hp, ruh manusia adalah aliran listrik yang bakal mati begitu lupa di charge ketika 0%. Sedangkan jasmaninya adalah casing/bungkus yang sering kali menyesatkan karena tampilan yang cantik padahal belum tentu baik mutunya. Sementara akal adalah ibarat program/aplikasinya. Dan makin canggih aplikasi yang dimiliki hp makin tinggi harga hp. Begitu pula manusia. Meski pada kenyataannya tidak semua orang menilai harga seseorang berdasarkan akalnya. Melainkan juga hatinya.

Di hatilah terletak kebaikan, kejujuran dan kebenaran yang hakiki. Sayangnya hanya hati yang bersih yang dapat menuntun kepada hal tersebut. Tidak hati yang kotor, meski bisa jadi ia memiliki akal yang cemerlang. Itulah beda manusia dengan hp. Dengan kata lain manusia yang tidak mempunyai hati sama dengan hp atau robot.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Terjemah QS. Al-Araf(7):179).

Sebagaimana jasad yang perlu dirawat dan akal yang harus selalu diasah, demikian pula hati. Hati yang baik dan bersih adalah hati yang biasa berdzikir (mengingat Allah swt), banyak bersyukur atas segala yang diberikan-Nya, baik yang sesuai keinginan maupun tidak. Hati yang bersih adalah yang mudah menangis melihat kebesaran Allah dimanapun ia berada, baik ketika melihat keindahan ciptaan-Nya maupun melihat orang yang dalam kesulitan.

Itu sebabnya dalam mendirikan ibadah seperti shalat, puasa, zakat dll hati harus dilibatkan. Allah tidak akan menerima ibadah yang hanya ritual, yang tidak dengan niat mencari ridho-Nya. Dan niat itu adanya di hati.  Hati yang demikian insya Allah akan dijaga-Nya dari keburukan. Itulah nikmat terbesar dalam hidup. Allah Azza wa Jala menjanjikan orang yang sepert itu i kedudukan yang tinggi bersama para rasul.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”. (Terjemah QS. Maryam(19):58).

doa jngn balikkan hatiTelah menceritakan kepada kami Hannad; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas dia berkata; adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca do’a “YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu).” Kemudian aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.”

Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari An Nawwas bin Sam’an, Ummu Salamah, Abdullah bin Amr dan A’isyah. Dan ini adalah hadits Hasan, demikianlah kebanyakan telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas, dan sebagian yang lainnya telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun hadits Abu Sufyan dari Anas lebih shahih. (HR. At Tirmidzi No.2066)

Ironisnya, hari ini kita bisa menyaksikan betapa banyaknya orang yang mengaku Muslim, berakal dan berilmu pula, namun suka melecehkan ayat-ayat Allah swt. Ayat-ayat Al-Quranul Karim mereka tafsirkan sesuka akal mereka. Sebut saja Siti Musdah Mulia guru besar UIN Jakarta yang bersikukuh bahwa Islam membolehkan prilaku menyimpang homoseksual/lesbianisme. Belum lagi dedengkot-dedengkot JIL ( Jaringan Islam Liberal) seperti Ade Amando pakar komunikasi yang mengajar di sejumlah perguruan tinggi yang meng-amin-kan pernyataan Musdah dan sering melontarkan pernyataan nyleneh yang menyakitkan umat Islam, bahwa semua agama adalah benar dll.

Juga Jalaludin Rahmat pentolan Syiah yang ajarannya jauh dari Islam. Belum lagi Said Siraj Aqil Doktor lulusan Universitas Ummul Quro Mekkah dengan isu Islam Nusantaranya dan terakhir sejalan dengan makin panasnya Pilpres 2019 setuju mengganti istilah kafir ( non Muslim seperti Yahudi, Nasrani dll) dengan warga negara yang mempunyai hak sama dengan warga negara apapun agamanya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Adakah orang-orang “berilmu” di atas lupa apa sebenarnya kriteria orang berilmu/berakal menurut Sang Khalik?? Bukankah Allah swt mengabadikan kisah-kisah orang terdahulu termasuk bani Israil agar kita umat Islam tidak mengulangi kesalahan mereka?? Bahwa ayat-ayat Allah tidak untuk dipermainkan, diambil sebagian dibuang sebagian, diplintir, atau hanya sekedar sebagai wacana pemikiran, atau diimani tapi tidak diamalkan??

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191).

Tidakkah mereka takut Allah Yang Maha Esa akan menambah penyakit hati mereka dengan berbagai penyakit hati yang lain, susul menyusul, hingga benar-benar menjadi buta dan tidak bisa lagi kembali ke jalan yang benar hingga ajal menjemput?? Atau bisa jadi sempat bertaubat tapi terlanjur memiliki banyak pengikut yang sesat, sulit pula dikembalikan ? Na’udzubillah min dzalik …

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. ( Terjemah Q. Al-Baqarah (2):10).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Maret 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Heboh kata “kafir” pernah terjadi jelang Pilkada DKI 2017. Kini polemik mengenai kata tersebut kembali mencuat menjelang Pilpres 2019. Puncaknya adalah usulan untuk mengganti kata ‘kafir’ dengan kata muwathinun atau warga negara yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama dan setara sebagaimana warga negara yang lain. Usulan tersebut dikeluarkan pada acara penutupan Munas PBNU akhir Februari 2019 lalu. Kata muwathinun dianggap “netral” dibanding kata “kafir” yang dianggap menyakitkan hati yang bersangkutan. “Kekerasan teologis”, ujar pimpinan sidang Abdul Moqsith Ghazali.

Karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tetapi muwathinun atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” sambungnya.

http://bangka.tribunnews.com/2019/03/01/kiai-nu-sepakat-tak-sebut-kafir-kepada-non-muslim-di-indonesia?page=2

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengomentari, jika memang tidak ingin menyebut kafir, maka sebutan agama secara langsung justru lebih baik dari pada menyebut non-muslim.

“Daripada menyebut Non Muslim, bagus mereka disebut dengan Identitas agamanya. Warga Negara Kristen, Dia Kristen. WNI Hindhu, Dia Hindhu.WNI Budha, Dia Budha.Warga Negara Kong Hu Chu, Dia Kong Hu Chu. Tanpa Harus Bawa2 MUSLIM. Dia Non-Muslim. Buat apa bawa-bawa Islam?”, ujarnya.

Sementara Ustad Bahtiar Nasir (UBN),  sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia), yang juga merupakan pimpinan Arrohman Quranic Learning (AQL) mengatakan sebutan kafir tidak pernah menjadi momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurut ustad yang pernah menjabat Ketua Umum GNPF MUI, sebutan kafir menjadi ramai hanya dalam masalah memilih pemimpin beberapa tahun belakangan ini saja.

Tentu kita ingat apa yang menjadi pemicu lahirnya gerakan 212 yang fenomenal itu. Kalau saja Ahok yang ketika itu adalah gubernur DKI tidak pernah mengutak-utik ayat 51 surat Al-Maidah kehebohan tentang ayat kepemimpinan tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi. Kelancangan mulut yang menyebabkannya terpaksa berurusan dengan pengadilan atas tuduhan penistaan agama, dan berakhir dengan hukuman penjara 2 tahun yang baru dilaluinya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Prilaku Ahok mempermasalahkan ayat suci yang bukan agamanya, ayat yang berisi tentang cara memilih pemimpin pula, sementara ia dalam posisi mengincar kursi kepemimpinan, dipandang dari sudut manapun,  jelas sangat tidak etis. Ironisnya, tidak sedikit orang yang mengaku Islam namun tetap mati-matian membelanya.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):73).

“Saya percaya Yesus Tuhan bukan kafir. Saya keberatan anda menganggap saya kafir, saya bertuhan dan saya terima Yesus adalah Tuhan dan hak saya di negeri Pancasila, saya berhak menjadi apapun di republik ini,” protes Ahok dalam salah satu sidangnya.

Adalah hak Ahok untuk meyakini keyakinannya. Tapi tidak mungkin ia memaksakan keyakinannya itu kepada orang lain. Apalagi memaksa mengubah isi kitab suci umat lain, Al-Quran khususnya.

Namun berkat Ahok pula kaum Muslimin tersadar akan adanya ayat tersebut, bahwa kita dilarang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Untuk diingat selama ini kita tidak mengacuhkan perintah tersebut. Hal ini tidak ada kaitan sama sekali apakah Indonesia negara Islam atau tidak seperti yang dikeluhkan sebagian orang. Karena kewajiban tersebut berlaku bagi kaum Muslimin, mereka yang mengaku Islam dan sudah semestinya menjadikan Al-Quran sebagai pegangan, dimanapun mereka berada.

Larangan Islam memilih orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin sebenarnya sangatlah wajar dan mudah ditrima akal sehat. Bagaimana mungkin kita dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah bila pemimpinnya tidak satu aqidah. Bagaimana sang pemimpin bisa memahaminya? Lebih parah lagi bila si pemimpin malah menjauhi, melarang bahkan memusuhinya?? Siapa yang rugi??

Dan lagi tidak memilih Yahudi atau Nasrani sebagai pemimpin bukan berarti memusuhi. Sebagai sesama mahluk-Nya kita bahkan wajib mendakwahi mereka. Kalaupun mereka tetap menolak kita tidak boleh memaksa apalagi memusuhi. Apalagi sebagai sesama warga negara Indonesia tercinta, kita wajib menjaga hubungan dengan baik, saling menghormati, tidak menghina dan memaki. UBN dalam kutbahnya menjelaskan kata kafir adalah untuk internal umat Islam. Kafir adalah menolak ajaran Islam. Kafir berasal dari kata tertutup, tertutup dari kebenaran.

https://www.islaminews.com/2019/03/ustadz-bachtiar-nasir-kafir-adalah-kata.html 

Pertanyaannya apa urgensi PBNU mengganti kata kafir dengan kata lain?? Muatan politiskah ?? Bukan rahasia lagi bahwa pimpinan PBNU Said Aqil Siradj berteman erat dengan Ahok. Ahok yang begitu keluar dari tahanan 2 tahun dikurangi remisi  1 bulan, langsung bergabung dengan PDIP, yang berarti satu kubu dengan PKB yang tidak dapat dipungkiri satu bendera dengan NU.

https://news.detik.com/berita/d-4158967/said-aqil-pkb-dan-pbnu-harus-sukseskan-jokowi-maruf-amin

Harus diakui NU dibawa kepemimpinan Said Aqil Siradj saat ini sedang mengalami cobaan berat. Tokoh nyleneh ini sering mengeluarkan pernyataan kontroversial, Islam Nusantara contohnya. Siradj juga suka mengolok-olok jenggot yang merupakan Sunnah nabi yang banyak ditiru kaum Muslimin. Ia juga menuduh bahwa sejumlah perguruan tinggi menyebarkan radikalisme melalui masjid.

http://kabarkampus.com/2017/05/dianggap-sebar-radikalisme-pengurus-masjid-salman-datangi-said-aqil/

Sementara Moqsith Abdul Moqsith yang memimpin sidang penutupan Munas PBNU yang baru lalu tercatat di MUI periode 2015-2020 sebagai Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama (KAUB). Padahal Moqsith adalah pentolan JIL ( Jaringan Islam Liberal), faham yang telah difatwakan sesat oleh MUI. Selain itu, Hasyim Nasution wakil Moqsith di MUI adalah wakil sekretaris umum LDII, yang juga difatwakan sesat oleh MUI. MUI sendiri hingga hari ini ( periode 2015-2020) diketuai oleh tokoh NU Ma’ruf Amin yang saat ini digandeng presiden Jokowi sebagai wakilnya.

https://www.panjimas.com/nahi-munkar/2015/10/02/menyoal-diangkatnya-moqsith-pentolan-liberal-dan-orang-ldii-menjadi-pengurus-mui-2015-2020/

Maka tak heran beberapa waktu lalu, dibentuk apa yang dinamakan Komite Khittah Nahdlatul Ulama (NU). Komite yang mengangkat Choirul Anam sebagai juru bicara tersebut mendesak segera digelarnya Muktamar Luar Biasa NU untuk mengganti kepengurusan yang ada sekarang ini. Choirul menilai Ketua Umum Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj dan mantan Rais Aam Ma’ruf Amin melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.

https://nasional.tempo.co/read/1181648/alasan-komite-khittah-mendesak-muktamar-luar-biasa-nu/full&view=ok

Sangat disayangkan NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia harus mengalami perpecahan di dalam tubuhnya. Bersyukur masih ada orang dalam yang punya keberanian untuk menjaga kelurusannya. Karena kalau tidak pasti akan makin banyak dai-dai muda yang terpaksa meninggalkan ormas tersebut. Anehnya, protes keras justru datang dari Ulil Absor, si pentolan JIL. Apa urusannya dengan NU??

“Akhir-akhir ini ada gerakan yg menamakan dirinya “NU Garis Lurus”. Namanya sendiri sudah menunjukkan bahwa yg membuat gerakan ini tak mengerti kultur NU,” ujar Ulil melalui akun twitter @Ulil.

Semoga NU terutama para sesepuhnya dapat segera menyadari kekhilafan mereka dan segera menyingkirkan orang-orang yang berniat merusak dan mengadu domba ormas tersebut dari dalam, dan juga merusak ajaran Islam secara keseluruhan.

Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada umatku adalah imam-imam (tokoh-tokoh panutan) yang menyesatkan”. (HR Abu Dawud).

Tidak cukupkah pelajaran dari si tokoh Munafikun Abdullah bin Ubay bin Salul yang selalu berusaha melindungi sahabat-sahabat kafirnya yang  memusuhi Islam dan kerap membuat kesal Rasulullah saw?

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik.“, seru Abdullah bin Ubay bin Salul memprotes keputusan Rasulullah saw.

Tanpa memperhatikan air muka Rasulullah yang kesal, hal itu terus diulanginya sampai 3 kali. Akhirnya Rasulullahpun menjawab  ketus : “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”. 

https://vienmuhadi.com/2017/02/22/abdullah-bin-ubay-bin-salul-dan-kemunafikan/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Maret 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Ibrah Dari Bani Israil.

Shalat adalah kewajiban kaum Muslimin yang pertama kali di hisab di hari Akhir nanti. Uniknya baik dalam shalat wajib maupun shalat Sunnah, Al-Fatihah yang merupakan surat pertama dalam Al-Quran, wajib dibaca. Ada apa dengan surat yang juga disebut sebagai Ummul Kitab atau Ummul Quran ini??

Surat Al-Fatihah termasuk dalam kategori ayat Madaniyyah, yaitu turun setelah hijrah ke Madinah. Ayat ini terdiri atas 7 ayat. Sehubungan dengan judul di atas yaitu Ibrah dari bani Israil, maka  fokus hanya dengan ayat 6 dan 7 surat tersebut.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Mereka” yang dimaksud telah dianugerahi nikmat pada ayat di atas adalah  para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh, sebagaimana ayat berikut :

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):69).

Sementara yang dimaksud “mereka yang dimurkai” (Al-Maghdub) adalah kaum Yahudi. Allah swt memurkai mereka karena kebanyakan orang Yahudi tidak berbuat amal kebaikan padahal Allah swt telah memberi mereka bekal lmu yang banyak.  Sedangkan “mereka yang sesat” (Adh-Dholal) adalah kaum Nasrani.  Mereka beramal ibadah tapi tanpa ilmu, yaitu dengan mengatakan “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga“. Padahal baik kaum Yahudi maupun Nasrani sejatinya adalah masuk dalam golongan orang beriman.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):73).

Allah swt mengingatkan kaum Muslimin agar tidak meniru keduanya. Umat Islam tidak cukup hanya beriman tapi juga wajib beramal ibadah sesuai ilmu yang dimiliki, yaitu ilmu yang berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan kata lain orang beriman tapi tidak beramal sholeh/kebaikan seperti mendirikan shalat, zakat dll, Allah swt tidak menjamin yang bersangkutan kelak bisa masuk surga. Ayat-ayat Al-Quran yang menggandengkan iman dan ber-amal sholeh jumlahnya cukup banyak. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam” ( Terjemah QS. Ibrahim (14):23).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya”.( Terjemah QS. Al-Kahfi(18):107).

Uniknya ayat-ayat tersebut tidak hanya ditujukan khusus bagi umat Islam saja tapi juga umat agama lain.

 “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):62).

Ajaran Yahudi, Nasrani dan Islam yang sering disebut sebagai agama langit, sejatinya memang  tidak jauh berbeda. Ketiga agama tersebut sama-sama dibawa oleh malaikat yang sama yaitu malaikat Jibril as, dan disampaikan kepada manusia oleh para nabi yang merupakan utusan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Tak heran bila perintahnyapun sama, yaitu agar tidak menyembah selain Allah, berbuat baik kepada kedua orang-tua, bahkan juga shalat dan sedekah. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang menunaikan perintah tersebut.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):83).

Dan sebagai tanda besarnya kasih sayang Sang Khalik kepada umat Islam, diwajibkanlah kita membaca Al-Fatihah minimal 17 x sehari, dalam 5 x shalat wajib. Salah satu tujuannya agar kita selalu ingat apa yang dilakukan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, jangan sampai kita mengikuti perlakuan buruk kedua kaum tersebut.

Melalui sejumlah ayat, berkali-kali Allah swt menceritakan keburukan mereka, terutama kaum Yahudi. Sayangnya sering kali kita lupa bahwa hal tersebut bukan untuk sekedar mengejek dan mengolok-olok mereka. Lebih penting lagi agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka. Ayat berikut misalnya,

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” … … “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):80).

Ayat di atas menceritakan tentang ulama-ulama Yahudi yang dengan congkaknya berkata dan yakin tidak akan terkena api neraka kecuali hanya sedikit/sebentar. Padahal dengan seenaknya mereka telah menambah-nambahi dan merubah ayat-ayat suci mereka.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):79).

Ironisnya, hari ini kita bisa melihat adanya sebagian ulama Islam yang melakukan hal yang mirip dengan mereka.  Ulama Syiah contohnya, yang telah menulis kitabnya sendiri dan menisbahkannya sebagai dari Allah swt. Ataupun orang-orang Islam yang mengaku-ngaku sebagai nabi, ulama-ulama JIL ( Jaringan Liberal) yang mengatakan semua agama adalah benar, dll.

Pada Al-Baqarah ayat 67-71, Allah swt juga menceritakan kaum Yahudi yang keras kepala, suka membantah dan banyak bertanya apa yang diperintahkan rasul-Nya. Begitu juga kaum Muslimin hari ini yang suka memilah-milah ayat mana yang disukai dan mana yang tidak disukai untuk ditaati. Ayat tentang memilih pemimpin, pembagian harta waris dan kebolehan ber-poligami adalah contoh ayat yang sering enggan ditaati sebagian kaum Muslimin. Bukankah kita diperintahkan untuk kaffah ( secara menyeluruh/tidak tebang pilih) dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya??

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya/kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):208).

Hal lain adalah persaudaraan sesama Muslim yang makin hari makin diabaikan. Lupa bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat, sepanjang tidak menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa saja multi tafsir. Mengapa harus mempertajam perbedaan yang tidak seberapa dan tidak mendasar dengan mengabaikan persamaan yang jauh lebih banyak??

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga 73 golongan.” ( HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Wallahu‘alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Februari 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(Terjemah QS. An-Nisa(4):1).

Menjaga hubungan silaturrahim baik dengan saudara yang sedarah maupun tidak, sangat dianjurkan dalam Islam. Lebih jauh, silaturrahim bukan hanya menjaga hubungan yang sudah baik, melainkan menyambung hubungan yang terputus. Hubungan silaturrahim yang baik sudah pasti membawa kedamaian. Tak salah bila semua agama mengajarkan hal yang satu ini.

Tapi Islam bukan hanya agama yang membumi, karena manusia memang hidup di bumi/dunia. Dalam Islam dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat beramal ibadah, tempat sementara. Tempat yang relative abadi adalah kehidupan akhirat yaitu surga atau neraka. Disanalah kita akan menuai hasil yang kita tanam di dunia.

Oleh karenanya silaturrahim dalam Islam harus karena Allah swt. Inilah yang akan dinilai sebagai amal ibadah yang kelak akan diperhitungkan di akhirat. Dalam Islam bahkan senyumpun adalah ibadah, bila dilakukan demi mencari ridho-Nya.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pada zaman Rasulullah saw masih hidup dan berdakwah di kota Mekah, kota kelahiran dimana orang-tua, sanak saudara berkumpul, Rasulullah justru dilecehkan dan dimusuhi bahkan akan dibunuh. Dukungan kepada dakwah Rasulullah malah datang dari penduduk Madinah yang bukan sanak saudara. Itu sebabnya ketika akhirmya Rasulullah hijrah ke Madinah beliau disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk Madinah. Merekapun berbondong-bondong memeluk Islam.

Al-Quran menyebut pendukung Rasulullah dari Madinah ini sebagai kaum Anshor ( yang menolong). Sedangkan pendukung Rasulullah dari Mekah yang akhirnya juga ikut berhijrah ke Madinah, disebut kaum Muhajirin ( orang-orang yang berhijrah). Kaum Anshar dengan ikhlas membantu segala kebutuhan kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka karena siksaan orang-orang Quraisy yang tidak rela mereka memeluk Islam. Dari situlah kemudian muncul apa yang disebut Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam).

Dan penduduk Madinah yang telah beriman sebelum kedatangan Rasul (kaum Anshar) sangat mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Mereka tidak pernah berkeinginan untuk mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada Muhajirin. Bahkan, kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin dibanding diri mereka sendiri, sekalipun mereka sedang dalam kesulitan. Dan orang-orang yang memelihara dirinya dari sifat kikir, itulah orang-orang yang beruntung”. (Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 9).

Sayangnya Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan dasyat milik kaum Muslim ini berangsur luntur. Sebagian orang menganggap ikatan ini dianggap sebagai pemecah bangsa bahkan radikal. Ironisnya lagi tidak sedikit umat Islam yang termakan anggapan miring tersebut. Mereka tidak menyadari ini adalah bagian dari perang pemikiran ( Ghozwl Fikri) yang dihembuskan musuh-musuh Islam untuk menggembosi Islam dari dalam. Musuh-musuh Islam yang selama berabad-abad lamanya pernah terpaksa takluk dan mengakui kebesaran Islam. Dan yang dengan izin Allah swt, di akhir zaman nanti masa kejayaan tersebut akan terulang kembali.

Islam memang mengajarkan bahwa ikatan persaudaraan tidak hanya ikatan persaudaraan Islam. Ada yang namanya Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan umat manusia) yang juga disebut Ukhuwah Insaniyah. Ketiga ukhuwah tersebut wajib dijaga.

“Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah).

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”. (HR. Al Baihaqi).

Namun ketika Islam mulai dilecehkan dan dipinggirkan, ukhuwah Islamiyah wajib didahulukan. Karena persaudaraan ini didasari kecintaan kepada Allah swt sebagai Sang Khalik, Sang Pencipta dimana nanti kita akan kembali.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):10).

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).

Tapi apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyedihkan. Ulama dilecehkan, di persekusi umat tidak peduli. Sebaliknya orang yang jelas-jelas melecehkan Al-Quranul Karim malah dibela habis-habisan. Ironisnya lagi hal ini terus berlarut hingga hari ini. Anies Bawesdan, gubernur DKI yang nyata-nyata telah mengalahkan petahana si penista dalam pilkada resmi, terus saja dibully. Dan ini berlanjut hingga ke tingkat pemilihan presiden yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan. Aroma dendam kesumat sungguh terasa kental.

Yang lebih menyedihkan lagi perpecahan dalam Islam di negri ini seperti sengaja dibiarkan terjadi, bahkan semakin disulut agar bertambah parah. Dengan alasan HAM, Demokrasi dll Islam terus disudutkan sebagai radikal, tidak toleran, anti Pancasila dll.

Tak ayal mereka yang tipis imannyapun terperangkap oleh isu busuk tersebut. Mereka menjadi tidak Percaya Diri terhadap ke-Islam-an mereka. Mereka bahkan menganggap apa-apa yang berbau Islam pasti buruk. Mereka juga tidak mampu membedakan antara Arab dan ajaran Islam. Sementara semua yang berasal dari Barat dianggap benar, bagus, modern serta perlu diikuti.

Harus diakui, sebagian besar Muslim di negri tercinta ini memang Islam keturunan, Islam karena nenek moyang. Mereka malas dan tidak merasa perlu belajar tentang Islam apalagi memperbarui ke-Islam-an mereka. Itu sebabnya mereka mudah dibodohi musuh-musuh Islam. Sungguh mengenaskan. Tidakkah mereka menyadari bahwa perpecahan adalah sumber petaka ??

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 14 Januari 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »