Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Ibrah Bani Israel

Kita semua pasti tahu kisah nabi Musa as dengan mukjizat tongkat dan laut Merahnya yang spektakuler. Kisah penyelamatan bani Israel dari kejaran pasukan penguasa Mesir Firaun yang dikenal kejam dan bengis ribuan tahun silam tersebut memang diabadikan tidak hanya didalam kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, tapi juga Taurat dan Injil.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (bani Israel), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):50).

Namun yang ingin dibahas kali ini adalah bagaimana kita menyikapi perlakuan buruk bani Israel setelah terlepas dari cengkeraman  maut sebagaimana ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):51).

Ayat di atas menceritakan tentang bani Israel yang menjadikan anak lembu sebagai sesembahan alias Tuhan mereka. Hal tersebut dilakukan ketika nabi Musa as sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Nabi Musa as hanya meninggalkan kaumnya selama 40 hari 40 malam. Namun sekembali dari “pertemuan” dengan Tuhannya tersebut, kaumnya sudah mengingkarinya. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan betapa hebatnya mukjizat yang diberikan nabi mereka hingga mereka bisa lolos dari maut yang berada di ujung tanduk.

Prilaku tersebut menunjukkan betapa umat nabi Musa tersebut sangatlah tercela, tidak tahu berterima-kasih. Lupakah mereka bahwa dibawah kekuasaan Firaun ribuan tahun silam nasib mereka benar-benar terpuruk?? Mereka diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan pernah suatu masa bayi-bayi lelaki harus dibunuh karena Firaun diberi tahu tukang sihirnya bahwa akan datang lelaki Yahudi merebut kekuasannya.

Allah swt, dalam ayat-ayat Al-Quran, banyak sekali menceritakan prilaku buruk bani Israel. Ini untuk mengingatkan kita, umat Islam, agar mengambil hikmahnya, agar tidak terperosok pada kesalahan yang  sama. Jadi bukan hanya sekedar mengolok-olok dan mengutuk bani Israel yang memang telah terkena kutukan-Nya tapi terlebih agar tidak meniru prilaku buruk mereka.

Sekarang mari kita amati bagaimana sikap kita ketika Allah swt memberi kita cobaan, apakah prilaku kita sama dengan bani Israel atau tidak??

Jumat, 28 September menjelang magrib, Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7.2 skala Richter. Tak lama tsunami setinggi lebih dari 10 meterpun datang menggulung wilayah Sulawesi tengah tersebut. Belum lagi guncangan dan amukan gelombang laut dasyat yang menghancurkan ribuan bangunan tersebut usai, bumipun ikut bereaksi.

Bumi tiba-tiba memuntahkan lumpur yang berada di isi perutnya dengan cara yang sungguh mengerikan. Sejumlah saksi yang selamat dari bencana menceritakan apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tanah seperti di blender, di putar, dikocok”, ujar seorang bapak. Sementara seorang ibu dengan penuh emosi mengatakan ”Seperti monster keluar masuk tanah menelan rumah, pohon dan apa saja yang ada di depannya”. Ada juga yang berkomentar “ Layaknya gelombang tsunami tapi bukan air laut melainkan tanah”, katanya bergidik.  Saksi lain juga menceritakan rumahnya berpindah sejauh 500 meter lengkap dengan pohon Mangga yang ada di halamannya.

Peristiwa mengerikan yang dikenal dengan nama fenomena pencairan tanah (likuifaksi) laksana pasir hisap ini menelan lebih dari 700 rumah di Perumnas Balaroa (Palu) dan ratusan rumah lainnya di perumahan di Petobo. Kawasan ini amblas sedalam 5 meter-an, menelan tidak hanya rumah tapi juga penghuninya.

Di lain pihak, sejumlah saksi menceritakan Palu beberapa tahun belakangan ini telah menjadi kota penuh maksiat seperti pelacuran, homoseksual, perjudian dll. Bahkan sekitar 4 bulan sebelum mala petaka terjadi, sebuah konferensi lgbt tingkat nasional diselenggarakan di kota tersebut. Tak tanggung-tanggung, konferensi yang dibuka mentri pariwisata tersebut juga dihadiri mentri agama Lukman Hakim yang memang terkesan melindungi kaum yang dilaknat sejak zaman nabi Luth ini.

“Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.

(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)“.

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):71-74).

Para pemuka agama tentu saja memprotes dan sudah berusaha mencegah konferensi tersebut tetapi tidak dapat berdaya atas alasan HAM. Penduduk juga menceritakan di Petobo hidup seorang raja judi kaya raya yang rumahnya ikut lenyap dalam tragedy tersebut. Hal mengenaskan tersebut mengingatkan mereka akan Karun, tokoh sombong kaya raya Mesir yang harta kekayaannya ditenggelamkan Allah swt.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.( Al-Qashash(28):81).

Lain lagi ceritanya dengan tsunami yang melanda pantai Talise Palu, membuat ambruk jembatan Kuning ikon Palu yang menghubungkan Sulawesi utara dan selatan serta menelan korban ribuan jiwa itu. Bencana datang menjelang dilaksanakannya festival Nomoni yang baru 3 tahun belakangan ini digalakkan kembali dengan judul “Maraton Internasional Palu”. Festival ini juga dimeriahkan dengan penampilan ritual Balia, yang merupakan bagian dari adat suku Kaili di Lembah Palu.

Ritual Balia adalah ritual permohonan kesembuhan bagi orang yang mempunyai sakit parah kepada arwah leluhur. Sesajen dan bau dupa mengiringi tarian yang membawa usungan orang yang sakit hingga puncak prosesi, yaitu penyembelihan kerbau. Darah kerbau yang disembelih itu menjadi simbol kesungguhan harapan atas kesembuhan.

https://www.benarnews.org/indonesian/slide-show/balia-ritual-pengobatan-masyarakat-kaili-01222016125749.html

Para ulama sudah berusaha mengingatkan agar ritual yang sarat kesyirikan tersebut tidak dihidupkan kembali. Tetapi dengan alasan untuk melestarikan adat dan budaya nusantara, pemerintah daerah menolak permohonan tersebut.

Kesyirikan tersebut tak jau berbeda dengan yang dilalukan bani Israel tak lama setelah lolos dari kejaran tentara Firaun ribuan tahun silam. Padahal penduduk Palu adalah rata-rata Muslim. Para ilmuwan mengatakan bahwa bencana yang melanda Palu dan sekitarnya adalah fenomena alam, yaitu karena Indonesia terletak di atas pertemuan beberapa lempengan yang ketika berbenturan menjadi penyebab gempa. Namun siapa yang kuasa menggerakan dan membenturkan lempengan-lempengan tersebut, dan mengapa harus Palu. Bukankah dari dulu letak Palu di atas lempeng-lempeng tersebut, tapi mengapa baru sekarang bencana terjadi??

Lebih menyedihkan lagi, dengan adanya sejumlah penjarahan yang terjadi tak lama paska bencana. Semoga pelakunya hanya para residivis yang lepas dari penjara karena penjara rusak terkena gempa.

Terlepas dari itu semua, penduduk daerah yang tidak terkena bencana, harusnya juga bersyukur tempat tinggalnya masih aman ditinggali. Terutama Jakarta yang sebenarnya sarat segala macam maksiat dan kesyirikan. Yang tampaknya hanya tinggal menunggu gilirannya saja. Kecuali bila penduduknya segera bertobat, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak perbuatan baik dan ibadah kepada-Nya. Lalu  Allah swt ridho menerima tobat tersebut.

Namun demikian ada juga hal yang kelihatannya sepele tapi sering sekali terjadi. Yaitu ketika seseorang dalam kesusahan, sakit misalnya. Ia berdoa secara sungguh-sungguh bahkan rela mengeluarkan ratusan juta rupiah demi kesembuhannya. Namun ketika Allah Azza wa Jalla sembuhkan dan dikeluarkannya dari kesulitan ia melupakan-Nya.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Yunus (10):12).

Semoga kita bukan orang-orang yang dimaksud ayat di atas. Semoga Allah swt jadikan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi sebagai orang-orang yang tahu diri, yang pandai berterima-kasih dan bersyukur serta mampu mengambil hikmah segala kejadian yang terjadi, baik yang di hadapan kita maupun di masa lalu, aamiin 3x yaa robbal ‘aalamiin …Jangan sampai Sang Khalik melupakan kita sebagaimana kita suka melupakan-Nya …  Na’udzubillah min dzalik ..

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. ( Terjemah QS.Thoha (20:126).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Oktober 2018.

Read Full Post »

Untuk menguatkan suatu hubungan biasanya orang membuat suatu kesepakatan yang disetujui ke dua belah pihak. Kesepakatan atau ikatan persetujuan tersebut biasanya dibuat secara tertulis lengkap dengan syarat, tanggung-jawab serta sebab akibat yang akan ditanggung jika salah satu dari pihak yang terkait melanggar persetujuan yang dibuat. Bahkan ada yang harus memakai materai. Tak jarang untuk menjadi sah tidaknya suatu kesepakatan, surat persetujuan harus dibuat didepan Notaris.

Demikian pula antara hamba yaitu manusia dengan Sang Pemilik yaitu Allah Azza wa Jala. Kesepakatan tingkat tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini terdiri dari 4 kesepakatan. Yaitu Kesepakatan Ruh, Kesepakatan Fitrah, Kesepakatan Akal dan Kesepakatan Amanah. Kesepakatan ini berlaku bagi semua manusia dari nabi Adam as sebagai manusia pertama hingga manusia terakhir yang dilahirkan ke dunia nanti. Baik para nabi, orang jahat, laki-laki, perempuan, apapun agama, bangsa dan rasnya.

1. Kesepakatan Ruh.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Al-Araf ayat 172 berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Kesepakatan Ruh dibuat ketika manusia masih berada di alam ruh sebelum lahir ke dunia. Itu sebabnya kita lupa bahwa kita pernah membuat perjanjian Tauhid tersebut. Perjanjian bahwa kelak ketika kita hidup di dunia akan tetap menyembah Tuhan Yang Satu, itulah Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Sang Pencipta Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

2. Kesepakatan Fitrah.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Ar-Rum ayat 30 berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Manusia ketika lahir ke dunia dalam keadaan bersih, jauh dari segala dosa termasuk dosa terbesar yaitu kesyirikan. Itulah fitrah/kodrat manusia. Namun dalam perjalanannya ia akan menjadi kotor tergantung sejauh mana ilmu dan amalnya. Itu sebabnya manusia harus selalu belajar dan menuntut ilmu agar tidak tersesat.

Sayangnya, kebanyakan manusia hanya belajar ilmu yang sifatnya keduniaan/materialistis, lalai terhadap kebutuhan jiwa dan ruhnya. Akibatnya ia lupa akan adanya kesepakatan Ruh yang pernah dibuatnya ketika masih di alam Ruh. Ini adalah tanggung-jawab utama kedua orang-tua yang melahirkan, merawat dan mendidiknya.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” ( HR. Bukahri dan Muslim).

Itu sebabnya, setelah dewasa setiap manusia harus mau belajar, berpikir tentang fitrahnya yang mungkin telah luntur bahkan hilang akibat orang-tua yang tidak memahami tugas dan tanggung-jawabnya. Yaitu dengan bertobat dan shalat sebagaimana lanjutan atas 30 surat Ar-Rum di atas.

 “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30): 31).

Shalat memang bukan monopoli ajaran Islam karena para nabi dan rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw pun mengajarkannya, meski mungkin tidak sama dengan shalat yang biasa dikerjakan umat Islam.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):43).

3. Kesepakatan Akal.

Kesepakatan ini adalah kesepakatan untuk menjadikan para rasul sebagai panutan dalam menjalani kehidupan di dunia. Ayat Al-Quran yang menuliskan kesepakatan ini sangat banyak jumlahnya, diantaranya adalah surat An-Nisa ayat 165 dan surat Al-Baqarah 285 berikut :

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):165).

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“.(Terjemah QS. Al-Baqarah (2):285).

Pada setiap masa Allah swt senantiasa menurunkan utusan-Nya, dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw, dengan membawa ajaran pokok Tauhid yaitu bahwa Tuhan adalah Satu, tidak beranak maupun diperanakkan. Melalui malaikat yang sama pula yaitu, Jibril as, para nabi dan rasul menerima ajaran-Nya.

Pada dasarnya ajaran tersebut hampir sama. Perbedaan hanya terletak pada tata cara yang diajarkan rasul masing-masing. Itu sebabnya kesepakatan ke 3 ini dibuat. Namun meski namanya Kesepakatan Akal tidak berarti akal adalah segala-segalanya. Karena yang dituntut kesepekatan tersebut justru memuliakan para nabi dan rasul di atas akal. Karena akal sering kali mudah kalah oleh syaitan yang merupakan musuh abadi manusia.

Untuk itu Allah swt mewajibkan umat Islam untuk selalu membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya, yang didalamnya terdapat ayat 6 dan 7 sebagai berikut :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang DIMURKAI dan bukan (pula jalan) mereka yang SESAT”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud “DIMURKAI” dalam ayat di atas adalah umat Yahudi sedangkan yang “SESAT” adalah umat Nasrani. Mengapa demikian??

Umat Yahudi disebut umat yang dimurkai karena mereka berakal tapi tidak beramal kebajikan. Rata-rata orang Yahudi bukan saja memahami kitab Taurat mereka, tapi juga Al-Quranul Karim. Bahkan hadistpun mereka percayai. Sayangnya mereka hanya merasa cukup mempercayainya tapi tidak mengamalkannya. Mereka bahkan sangat suka berbuat jahat diantaranya membunuhi para nabi.

“ … … Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):46).

Sementara umat Nasrani mereka banyak berbuat kebaikan tapi tanpa ilmu. Diantaranya keyakinan  bahwa Tuhan adalah tiga sebagaimana diabadikan ayat 73 surat Ali Imran berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Itu sebabnya kita, umat Islam senantiasa diingatkan agar jangan  meniru keduanya. Umat Islam harus berprinsip “Sami’na wa atho’na” ( kamu dengar dan kami patuh)”, yaitu berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut dengan meniru apa yang dicontohkan rasulullah. Itulah Sunnah Rasul atau yang biasa juga dinamakan Hadist.

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

4. Kesepakatan Amanah atau Kesepakatan Mengemban Amanah.

Kesepakatan ini tertulis di dalam ayat 72 surat Al-Ahzab berikut:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena amanat yang enggan ditrima oleh langit, bumi dan gunung-gunung itu amanat yang teramat sangat berat. Amanat tersebut yaitu menjadi khalifah di muka bumi, khalifah yang adil yang mampu ber-a’mar ma’ruf nahi mungkar, berbuat kebaikan dan menolak kemungkaran. Dan bila tidak mampu dan tidak mau bertobat azab adalah balasannya!

“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):73).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 September 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Iman Yang Lemah

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Terjemah QS. Al-Hujuraat(49):10).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR.Bukhari).

Ayat dan hadist mengenai persaudaraan sesama Muslim sangatlah banyak. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mengaku Muslim namun tidak mengamalkannya. Mereka bukan saja tidak menyayangi sesama saudara/i nya tapi bahkan tega mendzaliminya. Ada apa dengan Muslim di negri yang katanya mayoritas Muslim ini  Tidakkah lagi Al-Quran dan As-Sunnah dijadikan pegangan dan pedoman hidup? Padahal menurut catatan Indonesia termasuk pencetak hafidz dan hafidzah terbaik dunia. Apakah Al-Quran hanya dijadikan hafalan atau malah sekedar pajangan di lemari saja ?  Sungguh menyedihkan …

Paska pelecehan ayat 51 Al-Maidah yang dilakukan Ahok tahun 2016 lalu kedzaliman terhadap para ulama makin hari makin meningkat saja. Mulai dari pencegatan ulama di bandara, sertifikasi ulama yang kental keberpihakan, peraturan adzan yang berlebihan hingga ancaman dan penyerangan terhadap ulama baik secara psikis maupun fisik. Anehnya lagi perbuatan busuk tersebut seolah dibiarkan saja oleh aparat, tidak ada tindakan hukum berarti yang mampu membuat si pelaku jera. Yang lebih menyakitkan hati lagi perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian umat Islam sendiri! Astaghfirullahaldzim …

Ustad Abdul Somad atau UAS, adalah salah satu ulama yang beberapa kali menjadi korban kedzaliman tersebut. Ulama kondang kelahiran Asahan Sumatra Utara lulusan universitas Al-Azhar dan universitas di Moroko ini terpaksa membatalkan sejumlah kajiannya di Jawa Tengah baru-baru ini karena adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu. Beredar alasan ditolaknya UAS karena isi ceramah UAS selama ini dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah, tidak Pancasilais bahkan anti NKRI. Benarkah demikian??

http://jambiindependent.com/read/2018/09/04/28310/dpd-anggap-kasus-ancaman-pada-ustad-abdul-somad-sudah-kelewatan/

Dalam sebuah wawancara televisi, Ketua PP GP Ansor Korwil Jawa Tengah. Mujibrurrohman, mengatakan bahwa pihaknya mencurigai ceramah UAS ditunggangi oleh HisbuTahir Indonesia (HTI) yang dibekukan kegiatannya beberapa waktu lalu oleh pemerintah, dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal tersebut kembali ditegaskan malam ini oleh petinggi NU yang diwawancarai oleh seorang reporter televisi swasta.

“Dari sisi atribut yang dipakai oleh krunya.sebelum datang itu kan ada krunya yang menyiapkan itu dari sisi atributnya sudah menggunakan atribut HTI. Ada beberapa orang.ada bendera “La Ilaha IllAllah Muhammad Rasullullah” di topinya, di bajunya”, terang Mujiburrohman.

https://www.portal-islam.id/2018/09/miris-kata-ansor-indikasi-uas.html

Benarkah topi, baju dengan tulisan kalimat tauhid bisa diartikan begitu saja sebagai pendukung/simpatisan HTI?? Syukur Ahamdulillah pertanyaan tersebut dijawab langsung “Tidak Bisa” secara tegas oleh humas irjen kepolisian dalam acara yang sama.

Menentukan bahwa suatu acara/dakwah berbahaya atau tidak apalagi kemudian membatalkannya adalah wewenang mutlak polisi bukan ormas apapun”, imbuhnya.

“Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ada pertanyaan mengapa UAS tidak melaporkan saja langsung ke yang berwenang? Jangan lupa ulama kondang tersebut bukan sekali ini dipersekusi. Pada persekusi sebelumnya UAS pernah melapor tadi tidak ditindak lanjuti. Persis seperti laporan para ulama lain yang pernah mengalami hal yang sama.

Perseteruan antar ormas Islam, termasuk jamaah fanatik butanya, bukan rahasia lagi memang kerap terjadi. Uztad Adi Hidayat (UAH) mengalaminya beberapa hari setelah tragedi UAS. Ia diteriaki seorang jamaah Majils Ta’lim (MT) hanya karena dianggap merebut jadwal MT kelompoknya. Na’udzubillah min dzalik … Ada apa dengan umat Islam negri ini???

Bukankah seharusnya kita saling mengingatkan bila ada saudara/i kita yang melakukan kesalahan, bukan malah menghujatnya. Tidak patut suatu kelompok merasa paling benar dan lebih baik dari kelompok yang lain hingga seenaknya mengolok-olok kelompok lain. Sebaliknya yang bersalah juga mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Alangkah baiknya bila tiap orang, tiap kelompok mau terus belajar, mengkaji ulang dan meningkatkan pengetahuannya, tidak keras kepala mempertahankan pengetahuan, hanya karena ikut-ikutan atau karena menuruti ajaran nenek moyang yang belum tentu kebenarannya …

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.”(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):170).

Contoh lain adalah kasus seorang perempuan di Medan yang memprotes suara adzan yang dianggapnya terlalu nyaring. Adzan yang diprotesnya tersebut berkumandang di lingkungan tempat tinggalnya. Protes yang dilakukan secara kasar dan sinis tersebut akhirnya mengakibatkan kerusuhan yang tidak dapat dihindarkan. Setelah 2 tahun berlalu akhirnya pengadilan memutuskan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan bagi perempuan tersebut.

Hukuman dijatuhkan sebagai bagian dari pasal penghinaan dan pelecehan terhadap umat agama lain. Tujuannya agar rakyat dapat lebih saling menghargai. Protes bukannya dilarang, tapi bila dilakukan secara baik-baik, dengan alasan yang masuk akal serta tidak menyinggung perasaan umat agama lain tentu akan berbeda halnya.

http://soksinews.com/berita/detail/24485/-din-syamsuddin-protes-adzan-bisa-dilakukan-dengan-baik-

Tapi tak lama setelah itu sejumlah orangpun beramai-ramai membully keputusan pengadilan tersebut. Ironisnya, para pembully adalah orang-orang yang mengaku Muslim. Coba bandingkan bila kejadiannya di Bali. Datang seorang Muslim ke rumah ibadah umat Hindu sambil marah-marah memprotes sesajen yang banyak tersebar di sepanjang tempat dan jalan. Ketika ia dijatuhi hukuman, akankah mereka melakukan hal yang sama???

Perseteruan, perselisihan dan pertengkaran di dalam tubuh umat Islam sudah pasti terbaca umat lain yang tidak menyukai Islam berkembang dengan baik. Dan inilah yang terjadi. Mereka segera memanfaatkan hal tersebut.

Adalah pulau Lombok yang selama bulan Agustus yang baru lalu, secara bertubi-tubi mendapat cobaan berat dari Allah swt. Gempa berkekuatan 7 skala Richter disusul ratusan gempa yang yang tak kalah dasyatnya terus menghantam pulau berjulukan Seribu Masjid tersebut. Korbanpun berjatuhan hingga 400 orang korban meninggal, ribuan luka berat dan ringan serta meninggalkan trauma mendalam, terutama anak-anak.

Bantuan segera datang dari berbagai pihak, perorangan maupun ormas. Namun sayangnya pada saat sebagian besar relawan Muslim sedang mengalami kelelahan, datang ormas non Islam yang memanfaatkan bantuan sebagai jalan untuk menyebarkan keyakinannya. Padahal jelas hukumnya, tidak diperbolehkan mendakwahkan agama dan kepercayaan di daerah yang sudah berbasis agama lain. Bukan rahasia lagi Lombok adalah rumah kaum Muslimin.

Namun yang lebih menyedihkan lagi, ketika para relawan Muslim berusaha mencegah Kristenisasi yang dilakukan mereka, justru penduduk setempat yang marah dan kesal. Lucunya lagi seorang mahasiswa yang merekam kejadian tersebut untuk dijadikan bukti Kristenisasi justru diamankan aparat.

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak dapat dipungkiri bantuan ormas Nasrani yang kabarnya didukung Vatikan memang jauh melebihi bantuan ormas-ormas Muslim. Tapi lupakah bahwa sebagai Muslim, pertolongan hanyalah milik Allah Azza wa Jala?? Dan lagi jangan lupakan kerja keras relawan Muslim kita yang ada hingga meninggal karena berbagai penyebab, seperti tertimpa reruntuhan bangunan, kelelahan dan sakit.

Dan lagi apa arti segala bantuan tersebut dibanding harga sebuah keimanan? Seperti juga pembangunan infrastuktur besar-besar bagai rumah yang mewah namun penghuninya tidak merasa aman, nyaman dan tentram, yang setiap hari gontok-gontokan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):214).

Ini saatnya kita harus bersatu, saling bahu membahu menguatkan barisan. Selama masih memegang teguh kalimat tauhid dan dalam ikatan Ahlusunnah Wal Jamaah, mau NU, Muhammadiyah, Persis, DDI, FPI, Salafi dll kita adalah bersaudara dan harus berkasih sayang sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath[48] : 29).

Jangan seperti sekarang ini, antar Muslim berseteru sementara terhadap orang kafir justru berkasih sayang. Terhadap sesama Muslim tidak peduli dan tidak mau saling menolong. Sementara terhadap non Muslim walaupun melakukan kesalahan tetap dibela dan dilindungi tanpa peduli telah menyakiti saudaranya sesama Muslim.

Toleransi dan ide bahwa semua agama adalah sama yang di gembar-gemborkan JIL dan antek-anteknya tampaknya memang sengaja dikembangkan pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hasilnya, jumlah Muslim yang tadinya di atas 90 % sekarang hanya tinggal 76 % !!!

https://www.kaskus.co.id/thread/5ae90af292523386538b4568/populasi-umat-muslim-di-indonesia-tinggal-76-persen/

Tidakkah kita menyadari bahwa slogan-slogan seperti “ Lebih baik pemimpin Kafir daripada Muslim tapi korupsi”, “ Politik itu Kotor” dll adalah cara-cara busuk yang dikembangkan musuh-musuh Islam agar umat Islam malu, alergi dan tidak peduli dengan agamanya ?? Dimana ghirah ( rasa cemburu) umat Islam dalam membela agama yang dilecehkan??

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 September 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Khusyuk Dan Makrifatullah.

Pada suatu kajian seorang jamaah bertanya “ Mengapa saya sulit khusyuk dalam shalat uztad ya?”. Sang uztad lalu menanyakan kepada jamaah yang bertanya tersebut, apakah ia mempunyai sahabat. Ketika dijawab “punya”, sang uztad kembali mengajukan beberapa pertanyaan. Diantaranya, apakah ia mau membantu sahabatnya ketika sang sahabat dalam kesulitan. Katakan, meminjamkan uang dalam jumlah cukup besar, dengan penuh kerelaan.

Asma-ul-HusnaSebaliknya bila yang meminta pertolongan yang sama bukan sahabat yang ia kenal baik, apakah ia mau menolongnya dengan ikhlas? Intinya, jawaban sang uztad, shalat hanya bisa khusyuk bila kita benar-benar mengenal Allah swt, Sang Pencipta;  sifat serta nama-nama-Nya (Asma’ul Husna). Itulah Makrifatullah.

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib (Al-Ghoib) dan yang nyata ( Asy-Syahadah), Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (Ar-Rahim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Malik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salaam), Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mukmin), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa (Al-Aziz), Yang Maha Kuasa (Al- Jabbar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Kholiq), Yang Mengadakan (Al-Bari), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushowwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik (Asma’ul Husna). Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim)”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):22-24).

Sebagai contoh, ketika kita memakai barang pemberian seorang teman, otomatis tentu kita akan teringat teman yang memberi barang  tersebut bukan? Itulah salah sebab mengapa Allah swt sangat menyukai orang yang pandai ber-terimakasih.  Orang yang pandai berterima-kasih adalah mereka yang tidak mudah melupakan jasa dan kebaikan orang lain, serta mudah melupakan keburukan orang lain, dan senantiasa berusaha membalas kebaikan yang ditrimanya dengan yang lebih baik. Orang yang seperti itu Allah akan mudahkan urusannya.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.

Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

“Iya kalo pemberian orang/teman gampang, kelihatan soalnya … nah kalo Allah ??”, celetuk seorang jamaah.

Allah swt Sang Pencipta memang tidak bisa kita lihat secara kasat mata. Tetapi seperti juga teman yang jauh di mata, yang dengan melihat pemberiannya saja mampu membuat kita teringat padanya, demikian pula Allah.

Ini tampaknya yang harus kita latih, menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah Azza wa Jala, yang pada saatnya nanti harus dipertanggung-jawabkan dan dikembalikan, yaitu ketika kita dipanggil untuk menemui-Nya. Seringkali kita lupa bahwa penglihatan, pendengaran dan seluruh yang ada di tubuh kita adalah pinjaman dari Allah swt. Demikian pula air dan sinar matahari yang merupakan kebutuhan pokok manusia. Yang tanpa itu semua mustahil tanaman bisa berbuah, ternak yang biasa kita konsumsi dll bisa hidup.

Simak apa yang dikatakan ayat 71 dan 72 surat Al-Qashah berikut :

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” 

Hati pada awalnya adalah bersih. Namun bila tidak dijaga dengan baik ia akan menjadi kotor dan lama kelamaan akan menjadi penyakit yang sulit untuk dsembuhkan. Iri dan dengki adalah contoh penyakit hati yang sering menyerang manusia. Dan adab pandai berterima-kasih terhadap kebaikan sesama manusia, sekecil apapun, adalah salah satu penangkal mujarab penyakit hati. Dengan bekal hati yang bersih dan sehat kita akan lebih mudah mengenal Sang Khaik. Dan dengan mengenal Allah ( makrifatullah) shalatpun akan lebih khusyuk.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 45-46).

Suatu hari Nabi s.a.w masuk masjid kemudian masuk pula seseorang ke dalam masjid lalu ia shalat dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi saw menjawab salamnya dan bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi,  sebab kamu belum shalat.” Serta merta orang itu pun shalat lalu mengucapkan salam kepada Nabi saw dan beliau bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belum shalat,” tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa lebih baik dari itu, maka ajarilah aku.” Beliau bersabda, “Apabila kamu hendak shalat beratkbirlah lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (Al-Fatihah). Lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar tenang dalam ruku’, kemudian angkatlah sampai tegak berdiri, lalu sujudlah sampai tenang dalam sujud, kemudian bangunlah sampai kamu tenang dalam duduk, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujud. Lakukan hal itu dalam semua shalatmu.

Maka tak salah bila Al-Qurthubi mengatakan bahwa khusyuk adalah keadaan di dalam jiwa yang nampak pada anggota badan dalam bentuk ketenangan dan kerendahan. Sementara Qatadah mengatakan bahwa khusyuk adalah rasa takut dan menahan pandangan dalam shalat.

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”. ( Terjemah QS. Al-Muzzammil (73):6).

Jumhur ulama memang sepakat bahwa khusyuk dalam shalat tidak termasuk syarat, rukun atau pun wajib. Khusyuk dalam shalat adalah sunnah, tidak terkait dengan sah dan tidaknya sholat. Namun demikian harus disadari shalat yang dilakukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban tidak akan melahirkan Islam yang Rahmatan Lillamiin, Islam yang dapat mendatangkan kebaikan sekaligus mencegah kemungkaran, seperti korupsi dll. Untuk itulah shalat sepantasnya dilakukan secara khusyuk. Meski tidak mudah pastinya melakukan shalat khusyuk seperti shalatnya rasulullah maupun para sahabat.

Diriwayatkan, dalam suatu peperangan, Ali bin Abi Thalib ra, terkena panah pada salah satu anggota tubuhnya. Ketika para sahabat akan mencabut panah tersebut, Ali berkata: ”Keluarkanlah panah ketika aku sedang berada ditengah sholatku”. Alhasil, panahpun berhasil dicabut tanpa sang Amirul Mukminin merasa kesakitan … Allahu Akbar …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 Agustus 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Husnul Khotimah

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”. (Terjemah QS. An-Anbiya (21):35).

Mati adalah suatu kepastian yang tidak mungkin dielakkan manusia, apapun suku, ras, bangsa, agama, laki-laki ataupun perempuan. Dan semua Muslim pasti ingin ketika meninggal nanti dalam keadaan husnul khotimah, yaitu dalam keadaan terbaiknya. Itulah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Terjemah QS. Al-Fajr (89):27-30).

“ … Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. An-Nahl: 31-32).

Itu sebabnya ketika ada anggota keluarga, kawan atau kerabat yang “dipanggil menghadap” Sang Khalik, doa yang dipanjatkan sering kali adalah “semoga husnul khotimah”.

Lawan dari husnul khotimah adalah su’ul khotimah, yaitu dalam keadaan terburuknya. Itulah jiwa khomisa atau jiwa yang marah/gelisah. Su’ul khotimah akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang meninggalkan kewajiban bahkan berani melakukan dosa-dosa besar. Yang hingga ajal menjemput tidak sempat bertaubat.

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);

“Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu”. (Terjemah QS.Ah-Nahl(16):28-29).

Masalahnya Sang Khalik me-wafatkan hamba-Nya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, juga tanpa harus sakit atau menunggu tua. Betapa seringnya kita mendengar berita orang meninggal dalam usia muda, sehat pula. Jadi tidak ada jalan bagi kita selain harus selalu menyiapkan diri.

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad hasan).

Berkata Ibnul Qayyim: “Sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai  ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi”.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan  diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir”.

Artinya, orang yang suka dan terbiasa berbuat maksiat akan diwafatkan dalam keadaan yang disukainya itu, yaitu ketika bermaksiat. Sebaliknya, orang yang suka dan terbiasa beramal kebajikan akan diwafatkan dalam keadaan tersebut.

Dengan kata lain, kesiapan itu harus dimulai sedini mungkin. Sekalipun hanya kalimat ‘La ilaaha illallah’ yang kelihatannya sangat mudah. Karena kebiasaan itu tidak datang secara tiba-tiba melainkan harus dilatih, bukan sekedar ucapan di mulut tapi juga di hati, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Dalam ayat 27 surat Al-Fajr diatas, disebutkan “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. Apa yang maksud di “ ridhoi-Nya”?

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):69).

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Terjemah QS. Ar-Rad(13):28).

Al-Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa suka bertemu dengan Allah, maka Allahpun suka bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allahpun benci bertemu dengannya”

Begitulah yang dimaksud di-ridho Allah swt. Lalu dipersilahkannnya orang-orang tersebut masuk ke surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung akhirnya”. (Shahih, HR. ibnu Hibban)..

Hadist di atas menunjukkan bahwa kita harus senantiasa hati-hati, istiqomah dalam menjalani kebaikan, hingga ajal menjemput. Karena sebaik apapun amal ibadah kita, bila Allah swt membalikkan hati kita di akhir hayat nanti, sungguh celakalah kita.

Dan sebagaimana tubuh yang harus dijaga kesehatannya, demikian pula hati kita. Yaitu dengan terus hadir di majlis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, senantiasa ber-dzikir dan bermunajat kepada Allah swt agar ridho diberikan akhir yang baik. Tidak sepatutnya urusan dunia mengalahkan urusan akhirat. Urusan dunia tidak akan ada habisnya bila kita terus mengikuti nafsu dan selalu memandang ke atas.

Tengoklah mereka yang hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan hingga tidak mempunyai waktu untuk beribadah. Sebaliknya alangkah ruginya orang-orang sukses, kaya raya tapi tidak mau menyempatkan diri untuk kepentingan akhirat-Nya. Karena susah senang, sakit sehat, sukses atau tidak sukses, sejatinya hanyalah cobaan. Nikmat hidup tidak seharusnya hanya dihitung dari harta benda tapi keberkahan dan keridhoan dari Sang Khalik jauh lebih berharga.

Berikut karakter jiwa yang tenang menurut Ibnu Abbas :

  1. Yang senantiasa membenarkan ke-Esa-an Allah swt. ( QS.Al-Ikhlas(112):1)
  2. Yang penuh syukur, tidak serakah. ( QS. Ar-Rahman, QS. Lukman (31:12).
  3. Yang selalu sabar terhadap ujian Allah swt. (QS. Al-Baqarah(2):45,153), Ali Imran(3):186), Al-Ankabut (29):59) dll.
  4. Yang ridho atas takdir Allah swt. ( QS.Yasin (36):43).
  5. Yang merasa cukup/puas dengan pemberian Allah (qonaah).

”Ridholah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (HR Turmudzi).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 April 2018.

Vien AM.

 

Read Full Post »

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)”.

Ayat 10-12 surat Al-Kahfi di atas adalah sebagian kecil dari kisah sejumlah pemuda beriman yang pergi ke sebuah gua dan berlindung di dalamnya. Al-Quran menyebut para pemuda beriman tersebut sebagai para penghuni gua Kahfi ( Ash-habul Kahfi).

Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa pemuda-pemuda tersebut bertemu di sekitar gua, secara tidak sengaja. Kerajaan Romawi dibawah raja Daqyanus, pada saat itu dipenuhi orang-orang dzalim penyembah taghut dan berhala. Pada hari-hari tertentu rakyat dipaksa untuk menyembelih ternak sebagai persembahan. Demikian pula yang dilakukan orang-tua para Ash-habul Kahfi yang tak lain adalah para pembesar kerajaan.

Namun dengan izin Allah swt, para pemuda belia tersebut lama kelamaan menyadari bahwa hal tersebut adalah sebuah kesesatan. Itu sebabnya diam-diam mereka pergi ke gua Kahfi untuk mengasingkan diri. Disanalah mereka bertemu. Di sana pula akhirnya mereka membuat tempat ibadah untuk memuja Allah swt. Namun itupun akhirnya diketahui kaumnya dan dilaporkan kepada sang raja. Di depan raja, mereka dipaksa bertobat dan kembali kepada ajaran para leluhur.

“dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. ( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:14).

Tentu saja raja dan para penguasa kerajaan sangat terkejut dan marah atas keteguhan hati para pemuda yang kukuh mempertahankan keimanan mereka. Namun dengan menahan kesal, raja memberi kesempatan para pemuda untuk memikirkan kembali pendapat mereka. Itulah skenario Sang Khalik yang dengan demikian memberikan kesempatan para pemuda untuk segera melarikan diri.

Dan atas kuasa Allah swt jua, pasukan yang kemudian dikirim untuk mengejar mereka tidak berhasil menemukan jejak para pemuda. Persis seperti yang terjadi pada Rasulullah dan Abu Bakar as Shidiq ketika bersembunyi di dalam gua, dari kejaran kaum Quraysh.

Di dalam gua Kahfi itulah Allah “menidurkan” para pemuda selama ratusan tahun tanpa ada yang mengetahuinya. Kalaupun ada yang pernah melihatnya mereka merasa ketakutan dan menganggapnya sebagai orang gila. Karena selama “tidur” ratusan tahun tersebut para pemuda kadang-kadang bergerak layaknya orang tidur, bahkan matanya kadang-kadang terbuka. Allahlah yang membolak-balikkan tubuh mereka agar terkena pancaran sinar matahari. Itu sebabnya tubuh mereka tidak rusak.

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah…. “.( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:17).

 “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. “.( Terjemah QS. Al-Kahfi (18:18).

Hingga tiba saatnya Allah swt membangunkan para pemuda tersebut tanpa mereka sadar bahwa mereka telah tidur selama tiga ratus sembilan tahun. Mereka menyangka hanya tertidur sehari atau bahkan setengah hari. Dengan uang perak yang masih tersisa di tangan salah satu pemuda tersebut pergi ke pasar untuk membeli makanan. Teman-temannya mewanti-wanti agar berhati-hati, khawatir raja dan kaumnya akan memergoki mereka.

Namun ternyata tak seorangpun mengenali sang pemuda, juga uang yang dibawanya. Mereka lalu membawanya ke hadapan raja yang sudah bukan lagi raja  Daqyanus. Dan ternyata raja serta kaumnya bukan lagi penyembah taghut, mereka adalah orang-orang beriman. Setelah menceritakan kisahnya, bersama sang pemuda rajapun pergi menemui pemuda lain yang masih menunggu di dalam gua. Demikianlah Allah swt mengakhiri kisah Ash-habul Kahfi, dengan menidurkan para pemuda untuk selamanya.

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran, betapa keimanan kepada Allah Yang Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta adanya hari Kiamat, adalah hal yang amat sangat patut dipertaruhkan. Para pemuda belia yang biasa hidup di lingkungan mewah istana itu adalah salah satu buktinya.

Bukti lain adalah kisah seorang pengikut Firaun yang selama beberapa waktu menyembunyikan keimanannya. Tapi suatu hari terpaksa membuka keimanan tersebut demi melindungi orang beriman lainnya yang akan dibunuh kaumnya dengan resiko ia ikut dibunuh. Peristiwa ini diabadikan dalam surat Al-Ghofir ayat 28 sebagai berikut :

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. … … “.

Di masa awal keislaman, banyak sahabat yang rela mengorbankan harta bendanya demi Islam. Diantaranya adalah Khadijah ra, istri rasulullah, yang sebelum menikah  adalah seorang yang kaya raya, tapi ketika wafat tidak memiliki harta yang berarti. Demikian pula Abu Bakar yang rela menebus jiwa para sahabat dengan harta yang tidak sedikit. Juga Bilal bekas budak yang sering disiksa demi mempertahankan ke-islam-annya. Belum lagi para sahabat yang rela syahid di medan perang demi melawan kesyirikan dan tegaknya kalimat tauhid.

Disamping itu, ber-tauhid, adalah fitrah manusia. Itulah jalan yang lurus, jalan kebenaran. Setiap manusia yang baru lahir ke dunia sejatinya mengenali Tuhannya yang esa. Orang-tua dan lingkungannyalah yang kemudian menyesatkannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna”.(HR. Bukhari).

Sebaliknya kesyirikan adalah jalan yang bengkok, yang penuh kebathilan dan kemustahilan. Itu sebabnya para pemuda Ash-habul Kahfi meski mereka masih belia sudah dapat merasakan ketidak-nyamanan terhadap kebiasaan dan ajaran yang dianut orang-tua dan para leluhur mereka.

Itu sebabnya potensi pemuda tidak boleh diabaikan. Mereka harus dibina dan diarahkan agar hatinya tetap bersih, mau berpikir dan tidak hanya meniru apa yang dilakukan orang-tuanya. Kebenaran harus ditegakkan dan kebathilan harus dihilangkan. Itulah amar ma’ruf nahi mungkar. Dakwah tidak mengenal lelah dan tidak boleh pernah berhenti. Meski sebenarnya dengan cara-Nya sendiri, kebenaran akan senantiasa menang walau misalnya tak satupun orang mau memperjuangkannya. Manusia hanya bisa berikhtiar Allah yang menentukan hasilnya. Persis seperti yang terjadi pada para pemuda Ash-habul Kahfi yang begitu terbangun dari tidur panjangnya Sang Khalik telah memenangkan mereka.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, kalau ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau ia tidak mampu maka dengan hatinya, mengingkari (dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah.” ( HR. Muslim).

Begitu juga dengan yang terjadi saat ini, ketika perzinahan, homoseksual, riba dan khamar merajalela, ayat-ayat suci dipermainkan, ulama tidak ditaati bahkan dibully. Apa yang harus kita lakukan dan bagaimana kita harus menyikapinya? Cukupkah kita hanya berpangku tangan  menyaksikan semua itu terjadi di depan mata kita??

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 28 Februari 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Kebangkitan Islam

4 November 2017, tepat satu tahun setelah Aksi Bela Islam 411, masjid Al-Azhar Jakarta menggelar acara  Shalat Subuh Berjamaah yang diikuti dengan pengajian bertemakan politik Islam. Acara akbar ini diselenggarakan oleh PPI (Pengajian Politik Islam) yang diketuai Hamdan Zoelva. Sekedar pengingat, Aksi Bela Islam (ABI)  digelar untuk memprotes pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang ketika itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, karena ia mengobok-obok ayat 51 surat Al-Maidah. Aksi berjilid ini berjalan dengan sangat aman dan tertib, terutama ABI 212 yang diikuti jutaan umat Islam. Sementara ABI 411 lebih dikenang karena ketika itu polisi menghujani massa dengan gas air mata hingga menimbulkan korban.

http://www.voa-islam.id/read/citizens-jurnalism/2017/11/08/54232/menolak-lupa-tragedi-aksi-bela-islam-411/#sthash.5fFPUGRi.dpbs

Selain masjid Al-Azhar, masjid Baitul Hakim Cipinang Jakarta Timur, di hari yang sama juga menggelar Tabligh Akbar. Tabligh di masjid tersebut diisi oleh ustad kondang Abdul Somad yang didahului sambutan ketua MPR Zulkifli Hasan, sebagai pribadi.

Dalam sambutan tersebut Zulkifli mengatakan di Indonesia saat ini banyak sekali timbul kesalahan fahaman yang sangat merugikan umat Islam. Contohnya, orang taat beragama dikatakan tidak cinta tanah air, pihak yang menolak perpu dituduh anti Pancasila, bahkan menyerukan Takbirpun bisa dianggap radikal.  Peran umat islam yang begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan tampaknya mulai dikesampingkan. Umat Islam dianggap tidak toleran terhadap umat agama lain.

Ketua MPR tersebut juga mengingatkan, Musim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia ( 85%) namun nyatanya hanya kurang 3 % yang menguasai perekonomian.  Sebagian besar penduduk Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan adalah kaum Muslimin. Untuk itu ia menghimbau agar umat Islam mau bersatu dan kompak menyusun kekuatan politik bila ingin maju dan berjaya membentuk Indonesia yang Islami, yang rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.

https://www.kiblat.net/2017/11/06/zulkifli-hasan-salah-paham-jika-taat-beragama-dinilai-anti-nkri/

Hal senada juga pernah dicetuskan Jimly Asshidiqqie, ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) beberapa waktu lalu. Ia mengatakan keberadaan pengusaha muslim di Indonesia saat ini semakin minoritas. Oleh karena itu, Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI) harus mampu menggerakkan perekonomian.

“Kalau dari perspektif penduduk, kita mayoritas muslim. Kalau perspektif ekonomi, kita yang muslim justru minoritas. Dari 50 orang terkaya di Indonesia hanya 5 pengusaha muslim,” kata Jimly saat menerima kunjungan pengurus SKPI di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Demikian juga yang dikatakan Sekretaris Umum MUI Kota Medan, DR Syukri Albani Nasution, saat membuka acara Penyuluhan Penguatan Pemahaman Ekonomi Praktis Bagi Para Dai yang diselenggarakan Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan, Rabu (4/10) di Aula MUI Kota Medan.

“Kita tidak pernah membenci produk di luar produksi nonmuslim, tapi kalau masih ada produk umat kenapa pilih yang lain. Meski kita menilai produk lain lebih terkenal dibandingkan produk umat,” ucapnya.

Sementara itu uztad Abdul Somad yang menjadi primadona Tabligh Akbar 4 November di masjid Baitul Hakim Cipinang mengatakan, setidaknya ada 4 kunci kebangkitan Islam, yaitu :

1. Muliakan ulama, dan amalkan ilmunya.

… … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. … “ (Terjemah QS.Fathiir(35):28).

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi ).

Ulama adalah ibarat guru dalam dunia pendidikan. Dari para ulama inilah ilmu agama diteruskan hingga sampai kepada manusia di akhir zaman. Ulama adalah orang yang paling bertanggung-jawab dalam mendidik dan menyampaikan ilmu dan pengetahuan mereka kepada umat.

Jadi sungguh sudah sepatutnya kedudukan ulama harus diutamakan dan dimuliakan. Perkataan mereka sudah seharusnya didengar dan dipatuhi. Sebaliknya mereka juga dituntut harus memberikan contoh yang baik. Namun apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyakitkan hati. Para ulama dilecehkan, dihina bahkan difitnah dengan berbagai fitnah kejam. Tak sedikit ulama yang hidupnya berakhir di belakang jeruji penjara tanpa bukti kesalahan yang jelas.

Tidak hanya itu, pengajianpun dibubarkan paksa dan sang ulama diteror. Perpu ormas yang belakangan diresmikan menjadi UU sejatinya adalah membidik ormas Islam dimana terdapat para ulama di dalamnya. HTI dengan tuduhan ingin mendirikan kekhalifan Islam adalah pembukaannya. FPI adalah sasaran selanjutya, setelah itu ntah siapa lagi.

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas telah terbukti saat ini. Banyak ulama/uztad yang menyampaikan ilmu tidak berdasarkan ayat Al-Quranul Karim maupun hadist shoheh. Anehnya tidak sedikit orang yang begitu saja mempercayainya. Orang-orang liberal, JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah contohnya. Mereka ini mengaku sebagai orang berakal yang mempercayai ajaran agama berdasarkan logika. Padahal Islam tidak selalu sejalan dengan akal. Banyak hal-hal dalam ajaran yang dibawa rasullah Muhammad saw yang tidak mampu kita mencernanya.

Jangan lupa Firaun raja Mesir yang diabadikan kisahnya di dalam Al-Quran juga merasa dirinya hebat dan pintar hingga tidak merasa perlu mempercayai ajaran nabi Musa as karena terlalu mengandalkan akal dan logikanya. Padahal baik dan benar menurut seseorang belum tentu baik dan benar menurut Sang Khalik.

“ … … Fir`aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. ( Terjemah QS. Al-Mukmin(40):29).

Ulama terbagi atas 2 kelompok besar yaitu ulama Suu’ dan ulama Warosatul Anbiya ( Ulama Pewaris Nabi). Ulama Suu’ adalah ulama jahat yaitu yang orientasinya hanya keduniawian. Sementara ulama pewaris nabi sesuai namanya adalah ulama yang mengikuti jejak nabi, yaitu mengajarkan keutamaan akhirat karena memang begitulah hakikat agama, yaitu komitmen kita mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita terima dari Tuhannya.

Sabda Rasulullah SAW, “Apabila tergelincir ulama, maka tergelincirlah umat.”

2. Pemimpin yang adil dan takwa.

Keberhasilan kerja ulama terlihat dari lahirnya pemimpin-pemimpin yang adil dan takwa. Ilmu yang disampaikan para ulama untuk diamalkan bukan hanya sekedar disimpan sebagai ilmu pengetahuan. Disamping itu ilmu agama seharusnya bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri atau keluarga terdekatnya namun juga untuk lingkungan yang ada di sekitarnya.

Islam Rahmatan Lil ’Aalamiin” hanya akan terjadi bila ada orang Islam yang menjadi pemimpin yang adil dan takwa hingga tercipta situasi kondusif yang memungkinkan tidak hanya umat Islam dapat menjalankan kehidupan sesuai tuntunan syariah namun juga umat agama lain. Tidak sedikit ayat-ayat Al-Quranul Karim yang mengajarkan bagaimana cara dan syarat memilih pemimpin.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. At- Taubah(9):23).

Jadi sungguh tidak benar bila ada yang mengatakan “ Yang penting jadi orang baik dan tidak menyusahkan orang lain” atau “ Islam Yes Politik No”.

Harus diingat sesholeh dan sebaik apapun seorang Muslim bila situasi tidak mendukung bukan mustahil ia akan sulit menjalankan ajarannya. Dalam menjalankan ekonomi syariah misalnya, diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengatur kebijaksanaan tersebut.

3. Bangkitkan ekonomi Islam.

Denyut perekonomian adalah cermin keberhasilan suatu negara. Sekali lagi bila ingin membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin maka denyut ini harus kita kuasai. Bagaimana mungkin Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim namun hanya menguasai 3 % perekonomian?

Umat Muslim selama ini terus dicekoki bahwa rasulullah Muhammad saw adalah sosok yang miskin dan selalu hidup dalam kesulitan. Padahal rasulullah sebenarnya kaya raya, tapi kekayaan tersebut tidak  digunakan beliau maupun keluarganya. Namun digunakan untuk dakwah Islam dan disumbangkan kepada fakir miskin.

Rasulullah bersabda, “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran”.(HR.Abu Na’im).

Kesadaran kaum Muslimin di Indonesia akan pentingnya menguasai perekonomian sebenarnya sudah lama terjadi. Yaitu dengan berdirinya organisasi Syarekat Dagang Islam (SDI) yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905. Tujuannya waktu itu untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim  agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Cina yang lebih maju usahanya dari mereka. Pada waktu itu pedagang Cina memang diberi hak dan status yang lebih tinggi oleh  pemerintah Hindia-Belanda. Hal inilah yang membuat kaum Muslimin bangkit bersatu menuntut keadilan. Namun demikian bank syariah pertama di Indonesia baru lahir 87 tahun kemudian. Yaitu  Bank Muamalat Indonesia yang berdiri atas prakarsa ICMI dan MUI pada tahun 1992.

http://salman-rusdi.blogspot.co.id/2012/10/kebangkitan-ekonomi-islam-kedua.html

Ironisnya lagi, setelah lewat lebih dari seratus tahun berdirinya SDI, kaum Muslimin tetap saja terpuruk. Kesenjangan sosial  antara si kaya dan si miskin yang mayoritas Muslim tidak kunjung terselesaikan. Monopoli perdagangan dan ekonomi tetap dipegang etnis Cina yang makin menggurita.  Kebijaksanaan pemerintah saat ini bahkan berat membela kepentingan para taipan Cina yang menguasai hampir semua lini.

Namun syukur Alhamdulillah paska terjadinya Aksi Bela Islam pada November 2106 lalu ghirah umat kembali muncul. Berdirinya Koperasi212 dan Mart212 yang dibidani sejumah ulama kondang dengan penasehat ekonom Anggito Abimanyu adalah buktinya. Koperasi ini diketuai Dr. M Syafii Antonio M.Ec, pemimpin  Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia, seorang pakar perbankan dan ekonomi syariah yang mumpuni.

Keberadaan Syafii Antonio yang etnis Cina dan menjadi mualaf ketika masih duduk di bangku SMA ini menjadi bukti tersendiri bahwa umat Islam tidak rasis. Karena dengan memeluk Islam Syafii pasti tahu persis bagaimana kekayaan harus dikelola.

“ Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. … …”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59):7).

4. Selamatkan anak muda dari segala jenis kerusakan.

Anak muda adalah tonggak masa depan. Di tangan merekalah kemajuan dan kesuksesan bergantung. Sayangnya sebagian anak muda saat ini, “ generasi now” begitu mereka menyebut, telah dilimpahi begitu banyak kesibukan dan kesenangan duniawi. Tidak hanya gadget yang sebenarmya tidak selalu negative, tergantung pemakaian, tapi juga  gaya hidup konsumtif, hidup bebas tanpa aturan seperti LGBT alias homoseksual dan ketergantungan terhadap narkoba contohnya.  Yang bila diingatkan untuk belajar agama berkilah “ Mumpung masih muda, agama nanti kalau sudah tua”. Padahal siapa yang bisa menjamin ia bakal hidup sampai tua??

Anak-anak muda seperti di atas harusnya menyadari dan mengenal bagaimana di zaman nabi para pemuda belasan tahun sudah berjuang untuk menegakkan agama. Diantaranya yaitu Mush’ab bin Umair ra. Mush’ab adalah seorang remaja dari keluarga kaya raya yang sangat dimanjakan ke dua orang-tuanya. Wajahnya yang tampan dengan pakaian dan rambut yang selalu tersisir rapi tak pelak menjadi buah bibir dan idaman para gadis Mekah. Namun semua itu ia tinggalkan demi memeluk Islam.

Paska perjanjian Aqabah rasulullah saw memerintahkan Mush’ab agar mengajarkan ayat-ayat suci Al-Quran kepada penduduk Madinah. Di kemudian hari Mush’ab gugur sebagai syuhada dalam perang Uhud. Tangan kanannya yang ketika itu sedang membawa bendera perang berhasil ditebas musuh. Demikian pula tangan kirinya yang berusaha mempertahankan bendera. Mush’ab segera  memungut bendera yang terjatuh dengan kedua pangkal tangannya namun demikian Mush’ab tak dapat bertahan ketika sebuah tombak ditusukkan ke dadanya. Iapun syahid.

https://vienmuhadi.com/2009/01/19/kisah-mush%E2%80%99ab-bin-umair/

Dalam perang Uhud yang berlangsung tidak seimbang itu, rasulullah melibatkan 2 remaja yang usianya belum 15 tahun, karena umat Islam ketika itu memang baru sedikit sekali. Itupun setelah rasulullah di desak para sahabat dengan alasan kedua remaja tersebut adalah jago panah. Sementara itu Rasulullah memulangkan sejumlah remaja yang sebenarmya sangat ingin bergabung karena usia mereka kurang dari 15 tahun. Salah satu yang dipulangkan tersebut adalah Usamah bin Zaid yang menangis kecewa.

Namun di kemudian hari yaitu ketika Usamah mencapai usia 19 tahun rasulullah menunjuk Usamah sebagai panglima perang melawan pasukan Rum yang ketika itu sangat disegani. Padahal ketika itu terdapat sahabat-sahabat senior, diantaranya Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain.

Usamah memang akhirnya membatalkan keberangkatannya karena mendengar kabar wafatnya rasulullah. Namun setelah kemudian Abu Bakar Shidiq diangkat sebagai khalifah dan tetap melanjutkan perintah rasulullah agar menjadikan Usamah sebagai panglima perang, Usamahpun berangkat.

Lain lagi dengan Zaid bin Tsabit ra yang ketika rasulullah saw wafat usianya baru 20 thn. Zaid adalah penerjemah rasulullah dari bahasa  Yahudi ( Ibrani) ke Bahasa Arab. Rasulullah yang memerintahkan anak muda tersebut agar mempelajari Bahasa tersebut sepaham-pahamnya dengan tujuan agar tidak dibohongi mereka.

Semangat anak-anak muda seperti inilah yang seharusnya ditiru anak muda zaman sekarang. Berjihad membela Islam tidak harus dengan berperang. Dengan menguasai ilmu pengerahuan dan teknologi serta bekal keimanan yang tinggi kejayaan Islam di masa lalu bukan tidak mungkin bisa kita raih kembali.  Bukankah dunia adalah ladang amal yang akan menentukan nasib kita di hari akhirat kelak ??

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.( Terjemah QS. Al-Qashash(28):77).

Jangan biarkan hidup di dunia yang hanya sekali ini membuat kita selamanya menyesal. Jangan biarkan pula tangan-tangan kotor sedikit demi sedikit mencicipi bubur panas dan kita baru menyadarinya setelah habis tandas. Karena bubur panas tersebut tak lain adalah kita, umat Islam yang tidur lelap tidak sadar musuh sedang mengerubuti kita. Na’udzubillah min  dzalik …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 16 November 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »