Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(Terjemah QS. An-Nisa(4):1).

Menjaga hubungan silaturrahim baik dengan saudara yang sedarah maupun tidak, sangat dianjurkan dalam Islam. Lebih jauh, silaturrahim bukan hanya menjaga hubungan yang sudah baik, melainkan menyambung hubungan yang terputus. Hubungan silaturrahim yang baik sudah pasti membawa kedamaian. Tak salah bila semua agama mengajarkan hal yang satu ini.

Tapi Islam bukan hanya agama yang membumi, karena manusia memang hidup di bumi/dunia. Dalam Islam dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat beramal ibadah, tempat sementara. Tempat yang relative abadi adalah kehidupan akhirat yaitu surga atau neraka. Disanalah kita akan menuai hasil yang kita tanam di dunia.

Oleh karenanya silaturrahim dalam Islam harus karena Allah swt. Inilah yang akan dinilai sebagai amal ibadah yang kelak akan diperhitungkan di akhirat. Dalam Islam bahkan senyumpun adalah ibadah, bila dilakukan demi mencari ridho-Nya.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pada zaman Rasulullah saw masih hidup dan berdakwah di kota Mekah, kota kelahiran dimana orang-tua, sanak saudara berkumpul, Rasulullah justru dilecehkan dan dimusuhi bahkan akan dibunuh. Dukungan kepada dakwah Rasulullah malah datang dari penduduk Madinah yang bukan sanak saudara. Itu sebabnya ketika akhirmya Rasulullah hijrah ke Madinah beliau disambut dengan penuh suka cita oleh penduduk Madinah. Merekapun berbondong-bondong memeluk Islam.

Al-Quran menyebut pendukung Rasulullah dari Madinah ini sebagai kaum Anshor ( yang menolong). Sedangkan pendukung Rasulullah dari Mekah yang akhirnya juga ikut berhijrah ke Madinah, disebut kaum Muhajirin ( orang-orang yang berhijrah). Kaum Anshar dengan ikhlas membantu segala kebutuhan kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka karena siksaan orang-orang Quraisy yang tidak rela mereka memeluk Islam. Dari situlah kemudian muncul apa yang disebut Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam).

Dan penduduk Madinah yang telah beriman sebelum kedatangan Rasul (kaum Anshar) sangat mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (kaum Muhajirin). Mereka tidak pernah berkeinginan untuk mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada Muhajirin. Bahkan, kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin dibanding diri mereka sendiri, sekalipun mereka sedang dalam kesulitan. Dan orang-orang yang memelihara dirinya dari sifat kikir, itulah orang-orang yang beruntung”. (Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 9).

Sayangnya Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan dasyat milik kaum Muslim ini berangsur luntur. Sebagian orang menganggap ikatan ini dianggap sebagai pemecah bangsa bahkan radikal. Ironisnya lagi tidak sedikit umat Islam yang termakan anggapan miring tersebut. Mereka tidak menyadari ini adalah bagian dari perang pemikiran ( Ghozwl Fikri) yang dihembuskan musuh-musuh Islam untuk menggembosi Islam dari dalam. Musuh-musuh Islam yang selama berabad-abad lamanya pernah terpaksa takluk dan mengakui kebesaran Islam. Dan yang dengan izin Allah swt, di akhir zaman nanti masa kejayaan tersebut akan terulang kembali.

Islam memang mengajarkan bahwa ikatan persaudaraan tidak hanya ikatan persaudaraan Islam. Ada yang namanya Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan umat manusia) yang juga disebut Ukhuwah Insaniyah. Ketiga ukhuwah tersebut wajib dijaga.

“Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah).

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”. (HR. Al Baihaqi).

Namun ketika Islam mulai dilecehkan dan dipinggirkan, ukhuwah Islamiyah wajib didahulukan. Karena persaudaraan ini didasari kecintaan kepada Allah swt sebagai Sang Khalik, Sang Pencipta dimana nanti kita akan kembali.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):10).

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).

Tapi apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyedihkan. Ulama dilecehkan, di persekusi umat tidak peduli. Sebaliknya orang yang jelas-jelas melecehkan Al-Quranul Karim malah dibela habis-habisan. Ironisnya lagi hal ini terus berlarut hingga hari ini. Anies Bawesdan, gubernur DKI yang nyata-nyata telah mengalahkan petahana si penista dalam pilkada resmi, terus saja dibully. Dan ini berlanjut hingga ke tingkat pemilihan presiden yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan. Aroma dendam kesumat sungguh terasa kental.

Yang lebih menyedihkan lagi perpecahan dalam Islam di negri ini seperti sengaja dibiarkan terjadi, bahkan semakin disulut agar bertambah parah. Dengan alasan HAM, Demokrasi dll Islam terus disudutkan sebagai radikal, tidak toleran, anti Pancasila dll.

Tak ayal mereka yang tipis imannyapun terperangkap oleh isu busuk tersebut. Mereka menjadi tidak Percaya Diri terhadap ke-Islam-an mereka. Mereka bahkan menganggap apa-apa yang berbau Islam pasti buruk. Mereka juga tidak mampu membedakan antara Arab dan ajaran Islam. Sementara semua yang berasal dari Barat dianggap benar, bagus, modern serta perlu diikuti.

Harus diakui, sebagian besar Muslim di negri tercinta ini memang Islam keturunan, Islam karena nenek moyang. Mereka malas dan tidak merasa perlu belajar tentang Islam apalagi memperbarui ke-Islam-an mereka. Itu sebabnya mereka mudah dibodohi musuh-musuh Islam. Sungguh mengenaskan. Tidakkah mereka menyadari bahwa perpecahan adalah sumber petaka ??

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 14 Januari 2019.

Vien AM.

Read Full Post »

Kata “burung” tidak sedikit disebutkan dalam Al-Quranul Karim. Mahluk bersayap ciptaan Allah yang satu ini harus diakui memang mempunyai banyak kelebihan dibanding ciptaan Allah yang lain. Burung, hanya dengan mengandalkan kedua sayapnya mampu terbang tinggi kemanapun ia mau. Berkat mahluk yang pandai terbang ini pula manusia dapat dengan mudah menjelajahi dunia, yaitu dengan adanya pesawat terbang yang merupakan buah inspirasi dari burung.

Itulah yang dilakukan 2 bersaudara dari Amerika Serikat, Wright Bersaudara. Setelah berkali-kali melakukan percobaan, akhirnya berhasil menerbangkan pesawat ciptaan mereka meski hanya dengan waktu sangat singkat, yaitu 12 detik. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tahun 1903, dan tercatat  sebagai tonggak lahirnya burung mesin alias pesawat terbang pertama di dunia.

Ironisnya, selama lebih dari 100 tahun sejak kelahirannya, tidak jarang pesawat terbang mengalami kecelakaan. Dan itu bisa hanya gara2 seekor burung yang masuk ke ruang mesin !

Apa sebenarnya rahasia dasyat dibalik mahluk kecil ini hingga mampu merusak mesin canggih sebuah pesawat terbang yang sedang mengudara?? Menurut sebuah kabar, sekelompok burung seberat 5 kg yang menabrak pesawat yang sedang terbang memiliki kekuatan setara dengan 100 kg beban yang dijatuhkan ke atas sebuah pesawat !

“ Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu”. ( Terjemah QS. Al-Mulk(69):19).

Secara kasat mata, burung bisa terbang di udara berkat kedua sayap yang dikepak-kepakannya, yaitu mengembang dan mengatup secara bersamaan. Biasanya burung akan menghentikannya kepakan sayapnya ketika telah terbang tenang dan seimbang. Dan kembali mengepakannya begitu keseimbangannya mulai  berkurang, atau ingin mempercepat laju terbangnya. Dengan catatan, itu semua atas izin Allah Azza wa Jalla. Ialah yang sebenarnya menahan burung agar tidak terjatuh.

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (An-Nuur(24):41).

Dan seperti juga mahluk ciptaan Allah yang ada di langit dan bumi, burungpun bertasbih, bahkan shalat, dengan cara yang tidak kita ketahui. Tak salah bila sejumlah ulama memberikan perumpamaan rasa takut (khouf) dan harap (roja’) yang dimiliki seorang hamba yang takwa, seharusnya seimbang sebagaimana ke dua sayap burung.

“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Faathir: 28)

Takut yang dimaksud pada ayat diatas adalah takut yang diiringi Ma’rifatullah ( cinta kepada Allah swt). Yaitu takut bila Tuhannya meninggalkannya dan tidak lagi mencintainya, Yang dengan demikian akan membuatnya meninggalkan segala sesuatu yang dibenci-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Ketahuilah sesungguhnya  penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga, yaitu Al-Mahabbah (cinta), Al-Khouf (takut) dan Ar-Rajaa’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat.

Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat. Allah swt berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka.” (QS. Yunus: 62). Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta. Adanya rasa takut akan membantunya untuk tidak keluar dari jalan menuju sosok yang dicintainya, dan rasa harap akan menjadi pemacu perjalanannya”.

Sebaliknya, orang yang berlebihan dalam berharap akan terjebak dalam sikap merasa aman dari murka Allah. Sementara bila keterlaluan dalam rasa takut maka akan terjatuh dalam sikap putus asa terhadap rahmat Allah. Sebagian ulama berpendapat: “Seyogyanya harapan lebih didahulukan tatkala berbuat ketaatan dan diutamakan takut ketika muncul keinginan berbuat maksiat”.

Tapi dalam keadaan normal, rasa takut dan harap yang terbaik adalah dalam keadaan seimbang, layaknya burung yang mengepakkan sayap khouf dan sayap roja’nya menempuh jalan menuju ridho dan cinta-Nya. Itu sebabnya burung tidak pernah merasa takut kehilangan rezekinya. Ia terbang di pagi hari untuk mencari makan dan pulang sore untuk kembali ke sarangnya.

Ini yang seharusnya dicontoh manusia. Manusia hanya bisa berusaha Allah Azza wa Jalla yang menentukan hasilnya. Bersyukur ketika mendapatkan kebaikan, bersabar ketika mendapat kesulitan. Takut berbuat maksiat tapi ketika suatu saat tergelincir tidak mudah berputus asa karena mempunyai harapan bahwa Tuhannya akan mengampuninya, selama ia mau bertobat dan tidak mengulanginya.

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 November 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Kita semua pasti tahu kisah nabi Musa as dengan mukjizat tongkat dan laut Merahnya yang spektakuler. Kisah penyelamatan bani Israel dari kejaran pasukan penguasa Mesir Firaun yang dikenal kejam dan bengis ribuan tahun silam tersebut memang diabadikan tidak hanya didalam kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, tapi juga Taurat dan Injil.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (bani Israel), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):50).

Namun yang ingin dibahas kali ini adalah bagaimana kita menyikapi perlakuan buruk bani Israel setelah terlepas dari cengkeraman  maut sebagaimana ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):51).

Ayat di atas menceritakan tentang bani Israel yang menjadikan anak lembu sebagai sesembahan alias Tuhan mereka. Hal tersebut dilakukan ketika nabi Musa as sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Nabi Musa as hanya meninggalkan kaumnya selama 40 hari 40 malam. Namun sekembali dari “pertemuan” dengan Tuhannya tersebut, kaumnya sudah mengingkarinya. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan betapa hebatnya mukjizat yang diberikan nabi mereka hingga mereka bisa lolos dari maut yang berada di ujung tanduk.

Prilaku tersebut menunjukkan betapa umat nabi Musa tersebut sangatlah tercela, tidak tahu berterima-kasih. Lupakah mereka bahwa dibawah kekuasaan Firaun ribuan tahun silam nasib mereka benar-benar terpuruk?? Mereka diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan pernah suatu masa bayi-bayi lelaki harus dibunuh karena Firaun diberi tahu tukang sihirnya bahwa akan datang lelaki Yahudi merebut kekuasannya.

Allah swt, dalam ayat-ayat Al-Quran, banyak sekali menceritakan prilaku buruk bani Israel. Ini untuk mengingatkan kita, umat Islam, agar mengambil hikmahnya, agar tidak terperosok pada kesalahan yang  sama. Jadi bukan hanya sekedar mengolok-olok dan mengutuk bani Israel yang memang telah terkena kutukan-Nya tapi terlebih agar tidak meniru prilaku buruk mereka.

Sekarang mari kita amati bagaimana sikap kita ketika Allah swt memberi kita cobaan, apakah prilaku kita sama dengan bani Israel atau tidak??

Jumat, 28 September menjelang magrib, Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7.2 skala Richter. Tak lama tsunami setinggi lebih dari 10 meterpun datang menggulung wilayah Sulawesi tengah tersebut. Belum lagi guncangan dan amukan gelombang laut dasyat yang menghancurkan ribuan bangunan tersebut usai, bumipun ikut bereaksi.

Bumi tiba-tiba memuntahkan lumpur yang berada di isi perutnya dengan cara yang sungguh mengerikan. Sejumlah saksi yang selamat dari bencana menceritakan apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tanah seperti di blender, di putar, dikocok”, ujar seorang bapak. Sementara seorang ibu dengan penuh emosi mengatakan ”Seperti monster keluar masuk tanah menelan rumah, pohon dan apa saja yang ada di depannya”. Ada juga yang berkomentar “ Layaknya gelombang tsunami tapi bukan air laut melainkan tanah”, katanya bergidik.  Saksi lain juga menceritakan rumahnya berpindah sejauh 500 meter lengkap dengan pohon Mangga yang ada di halamannya.

Peristiwa mengerikan yang dikenal dengan nama fenomena pencairan tanah (likuifaksi) laksana pasir hisap ini menelan lebih dari 700 rumah di Perumnas Balaroa (Palu) dan ratusan rumah lainnya di perumahan di Petobo. Kawasan ini amblas sedalam 5 meter-an, menelan tidak hanya rumah tapi juga penghuninya.

Di lain pihak, sejumlah saksi menceritakan Palu beberapa tahun belakangan ini telah menjadi kota penuh maksiat seperti pelacuran, homoseksual, perjudian dll. Bahkan sekitar 4 bulan sebelum mala petaka terjadi, sebuah konferensi lgbt tingkat nasional diselenggarakan di kota tersebut. Tak tanggung-tanggung, konferensi yang dibuka mentri pariwisata tersebut juga dihadiri mentri agama Lukman Hakim yang memang terkesan melindungi kaum yang dilaknat sejak zaman nabi Luth ini.

“Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.

(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)“.

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.( Terjemah QS. Al-Hijr(15):71-74).

Para pemuka agama tentu saja memprotes dan sudah berusaha mencegah konferensi tersebut tetapi tidak dapat berdaya atas alasan HAM. Penduduk juga menceritakan di Petobo hidup seorang raja judi kaya raya yang rumahnya ikut lenyap dalam tragedy tersebut. Hal mengenaskan tersebut mengingatkan mereka akan Karun, tokoh sombong kaya raya Mesir yang harta kekayaannya ditenggelamkan Allah swt.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”.( Al-Qashash(28):81).

Lain lagi ceritanya dengan tsunami yang melanda pantai Talise Palu, membuat ambruk jembatan Kuning ikon Palu yang menghubungkan Sulawesi utara dan selatan serta menelan korban ribuan jiwa itu. Bencana datang menjelang dilaksanakannya festival Nomoni yang baru 3 tahun belakangan ini digalakkan kembali dengan judul “Maraton Internasional Palu”. Festival ini juga dimeriahkan dengan penampilan ritual Balia, yang merupakan bagian dari adat suku Kaili di Lembah Palu.

Ritual Balia adalah ritual permohonan kesembuhan bagi orang yang mempunyai sakit parah kepada arwah leluhur. Sesajen dan bau dupa mengiringi tarian yang membawa usungan orang yang sakit hingga puncak prosesi, yaitu penyembelihan kerbau. Darah kerbau yang disembelih itu menjadi simbol kesungguhan harapan atas kesembuhan.

https://www.benarnews.org/indonesian/slide-show/balia-ritual-pengobatan-masyarakat-kaili-01222016125749.html

Para ulama sudah berusaha mengingatkan agar ritual yang sarat kesyirikan tersebut tidak dihidupkan kembali. Tetapi dengan alasan untuk melestarikan adat dan budaya nusantara, pemerintah daerah menolak permohonan tersebut.

Kesyirikan tersebut tak jau berbeda dengan yang dilalukan bani Israel tak lama setelah lolos dari kejaran tentara Firaun ribuan tahun silam. Padahal penduduk Palu adalah rata-rata Muslim. Para ilmuwan mengatakan bahwa bencana yang melanda Palu dan sekitarnya adalah fenomena alam, yaitu karena Indonesia terletak di atas pertemuan beberapa lempengan yang ketika berbenturan menjadi penyebab gempa. Namun siapa yang kuasa menggerakan dan membenturkan lempengan-lempengan tersebut, dan mengapa harus Palu. Bukankah dari dulu letak Palu di atas lempeng-lempeng tersebut, tapi mengapa baru sekarang bencana terjadi??

Lebih menyedihkan lagi, dengan adanya sejumlah penjarahan yang terjadi tak lama paska bencana. Semoga pelakunya hanya para residivis yang lepas dari penjara karena penjara rusak terkena gempa.

Terlepas dari itu semua, penduduk daerah yang tidak terkena bencana, harusnya juga bersyukur tempat tinggalnya masih aman ditinggali. Terutama Jakarta yang sebenarnya sarat segala macam maksiat dan kesyirikan. Yang tampaknya hanya tinggal menunggu gilirannya saja. Kecuali bila penduduknya segera bertobat, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak perbuatan baik dan ibadah kepada-Nya. Lalu  Allah swt ridho menerima tobat tersebut.

Namun demikian ada juga hal yang kelihatannya sepele tapi sering sekali terjadi. Yaitu ketika seseorang dalam kesusahan, sakit misalnya. Ia berdoa secara sungguh-sungguh bahkan rela mengeluarkan ratusan juta rupiah demi kesembuhannya. Namun ketika Allah Azza wa Jalla sembuhkan dan dikeluarkannya dari kesulitan ia melupakan-Nya.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Yunus (10):12).

Semoga kita bukan orang-orang yang dimaksud ayat di atas. Semoga Allah swt jadikan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi sebagai orang-orang yang tahu diri, yang pandai berterima-kasih dan bersyukur serta mampu mengambil hikmah segala kejadian yang terjadi, baik yang di hadapan kita maupun di masa lalu, aamiin 3x yaa robbal ‘aalamiin …Jangan sampai Sang Khalik melupakan kita sebagaimana kita suka melupakan-Nya …  Na’udzubillah min dzalik ..

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. ( Terjemah QS.Thoha (20:126).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Oktober 2018.

Read Full Post »

Untuk menguatkan suatu hubungan biasanya orang membuat suatu kesepakatan yang disetujui ke dua belah pihak. Kesepakatan atau ikatan persetujuan tersebut biasanya dibuat secara tertulis lengkap dengan syarat, tanggung-jawab serta sebab akibat yang akan ditanggung jika salah satu dari pihak yang terkait melanggar persetujuan yang dibuat. Bahkan ada yang harus memakai materai. Tak jarang untuk menjadi sah tidaknya suatu kesepakatan, surat persetujuan harus dibuat didepan Notaris.

Demikian pula antara hamba yaitu manusia dengan Sang Pemilik yaitu Allah Azza wa Jala. Kesepakatan tingkat tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini terdiri dari 4 kesepakatan. Yaitu Kesepakatan Ruh, Kesepakatan Fitrah, Kesepakatan Akal dan Kesepakatan Amanah. Kesepakatan ini berlaku bagi semua manusia dari nabi Adam as sebagai manusia pertama hingga manusia terakhir yang dilahirkan ke dunia nanti. Baik para nabi, orang jahat, laki-laki, perempuan, apapun agama, bangsa dan rasnya.

1. Kesepakatan Ruh.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Al-Araf ayat 172 berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Kesepakatan Ruh dibuat ketika manusia masih berada di alam ruh sebelum lahir ke dunia. Itu sebabnya kita lupa bahwa kita pernah membuat perjanjian Tauhid tersebut. Perjanjian bahwa kelak ketika kita hidup di dunia akan tetap menyembah Tuhan Yang Satu, itulah Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Sang Pencipta Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

2. Kesepakatan Fitrah.

Kesepakatan ini tertulis dalam surat Ar-Rum ayat 30 berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Manusia ketika lahir ke dunia dalam keadaan bersih, jauh dari segala dosa termasuk dosa terbesar yaitu kesyirikan. Itulah fitrah/kodrat manusia. Namun dalam perjalanannya ia akan menjadi kotor tergantung sejauh mana ilmu dan amalnya. Itu sebabnya manusia harus selalu belajar dan menuntut ilmu agar tidak tersesat.

Sayangnya, kebanyakan manusia hanya belajar ilmu yang sifatnya keduniaan/materialistis, lalai terhadap kebutuhan jiwa dan ruhnya. Akibatnya ia lupa akan adanya kesepakatan Ruh yang pernah dibuatnya ketika masih di alam Ruh. Ini adalah tanggung-jawab utama kedua orang-tua yang melahirkan, merawat dan mendidiknya.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” ( HR. Bukahri dan Muslim).

Itu sebabnya, setelah dewasa setiap manusia harus mau belajar, berpikir tentang fitrahnya yang mungkin telah luntur bahkan hilang akibat orang-tua yang tidak memahami tugas dan tanggung-jawabnya. Yaitu dengan bertobat dan shalat sebagaimana lanjutan atas 30 surat Ar-Rum di atas.

 “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (Terjemah QS. Ar-Rum(30): 31).

Shalat memang bukan monopoli ajaran Islam karena para nabi dan rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw pun mengajarkannya, meski mungkin tidak sama dengan shalat yang biasa dikerjakan umat Islam.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):43).

3. Kesepakatan Akal.

Kesepakatan ini adalah kesepakatan untuk menjadikan para rasul sebagai panutan dalam menjalani kehidupan di dunia. Ayat Al-Quran yang menuliskan kesepakatan ini sangat banyak jumlahnya, diantaranya adalah surat An-Nisa ayat 165 dan surat Al-Baqarah 285 berikut :

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):165).

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“.(Terjemah QS. Al-Baqarah (2):285).

Pada setiap masa Allah swt senantiasa menurunkan utusan-Nya, dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw, dengan membawa ajaran pokok Tauhid yaitu bahwa Tuhan adalah Satu, tidak beranak maupun diperanakkan. Melalui malaikat yang sama pula yaitu, Jibril as, para nabi dan rasul menerima ajaran-Nya.

Pada dasarnya ajaran tersebut hampir sama. Perbedaan hanya terletak pada tata cara yang diajarkan rasul masing-masing. Itu sebabnya kesepakatan ke 3 ini dibuat. Namun meski namanya Kesepakatan Akal tidak berarti akal adalah segala-segalanya. Karena yang dituntut kesepekatan tersebut justru memuliakan para nabi dan rasul di atas akal. Karena akal sering kali mudah kalah oleh syaitan yang merupakan musuh abadi manusia.

Untuk itu Allah swt mewajibkan umat Islam untuk selalu membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalatnya, yang didalamnya terdapat ayat 6 dan 7 sebagai berikut :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang DIMURKAI dan bukan (pula jalan) mereka yang SESAT”.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud “DIMURKAI” dalam ayat di atas adalah umat Yahudi sedangkan yang “SESAT” adalah umat Nasrani. Mengapa demikian??

Umat Yahudi disebut umat yang dimurkai karena mereka berakal tapi tidak beramal kebajikan. Rata-rata orang Yahudi bukan saja memahami kitab Taurat mereka, tapi juga Al-Quranul Karim. Bahkan hadistpun mereka percayai. Sayangnya mereka hanya merasa cukup mempercayainya tapi tidak mengamalkannya. Mereka bahkan sangat suka berbuat jahat diantaranya membunuhi para nabi.

“ … … Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):46).

Sementara umat Nasrani mereka banyak berbuat kebaikan tapi tanpa ilmu. Diantaranya keyakinan  bahwa Tuhan adalah tiga sebagaimana diabadikan ayat 73 surat Ali Imran berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Itu sebabnya kita, umat Islam senantiasa diingatkan agar jangan  meniru keduanya. Umat Islam harus berprinsip “Sami’na wa atho’na” ( kamu dengar dan kami patuh)”, yaitu berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut dengan meniru apa yang dicontohkan rasulullah. Itulah Sunnah Rasul atau yang biasa juga dinamakan Hadist.

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

4. Kesepakatan Amanah atau Kesepakatan Mengemban Amanah.

Kesepakatan ini tertulis di dalam ayat 72 surat Al-Ahzab berikut:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena amanat yang enggan ditrima oleh langit, bumi dan gunung-gunung itu amanat yang teramat sangat berat. Amanat tersebut yaitu menjadi khalifah di muka bumi, khalifah yang adil yang mampu ber-a’mar ma’ruf nahi mungkar, berbuat kebaikan dan menolak kemungkaran. Dan bila tidak mampu dan tidak mau bertobat azab adalah balasannya!

“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):73).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 September 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Iman Yang Lemah

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Terjemah QS. Al-Hujuraat(49):10).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR.Bukhari).

Ayat dan hadist mengenai persaudaraan sesama Muslim sangatlah banyak. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mengaku Muslim namun tidak mengamalkannya. Mereka bukan saja tidak menyayangi sesama saudara/i nya tapi bahkan tega mendzaliminya. Ada apa dengan Muslim di negri yang katanya mayoritas Muslim ini  Tidakkah lagi Al-Quran dan As-Sunnah dijadikan pegangan dan pedoman hidup? Padahal menurut catatan Indonesia termasuk pencetak hafidz dan hafidzah terbaik dunia. Apakah Al-Quran hanya dijadikan hafalan atau malah sekedar pajangan di lemari saja ?  Sungguh menyedihkan …

Paska pelecehan ayat 51 Al-Maidah yang dilakukan Ahok tahun 2016 lalu kedzaliman terhadap para ulama makin hari makin meningkat saja. Mulai dari pencegatan ulama di bandara, sertifikasi ulama yang kental keberpihakan, peraturan adzan yang berlebihan hingga ancaman dan penyerangan terhadap ulama baik secara psikis maupun fisik. Anehnya lagi perbuatan busuk tersebut seolah dibiarkan saja oleh aparat, tidak ada tindakan hukum berarti yang mampu membuat si pelaku jera. Yang lebih menyakitkan hati lagi perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian umat Islam sendiri! Astaghfirullahaldzim …

Ustad Abdul Somad atau UAS, adalah salah satu ulama yang beberapa kali menjadi korban kedzaliman tersebut. Ulama kondang kelahiran Asahan Sumatra Utara lulusan universitas Al-Azhar dan universitas di Moroko ini terpaksa membatalkan sejumlah kajiannya di Jawa Tengah baru-baru ini karena adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu. Beredar alasan ditolaknya UAS karena isi ceramah UAS selama ini dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah, tidak Pancasilais bahkan anti NKRI. Benarkah demikian??

http://jambiindependent.com/read/2018/09/04/28310/dpd-anggap-kasus-ancaman-pada-ustad-abdul-somad-sudah-kelewatan/

Dalam sebuah wawancara televisi, Ketua PP GP Ansor Korwil Jawa Tengah. Mujibrurrohman, mengatakan bahwa pihaknya mencurigai ceramah UAS ditunggangi oleh HisbuTahir Indonesia (HTI) yang dibekukan kegiatannya beberapa waktu lalu oleh pemerintah, dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal tersebut kembali ditegaskan malam ini oleh petinggi NU yang diwawancarai oleh seorang reporter televisi swasta.

“Dari sisi atribut yang dipakai oleh krunya.sebelum datang itu kan ada krunya yang menyiapkan itu dari sisi atributnya sudah menggunakan atribut HTI. Ada beberapa orang.ada bendera “La Ilaha IllAllah Muhammad Rasullullah” di topinya, di bajunya”, terang Mujiburrohman.

https://www.portal-islam.id/2018/09/miris-kata-ansor-indikasi-uas.html

Benarkah topi, baju dengan tulisan kalimat tauhid bisa diartikan begitu saja sebagai pendukung/simpatisan HTI?? Syukur Ahamdulillah pertanyaan tersebut dijawab langsung “Tidak Bisa” secara tegas oleh humas irjen kepolisian dalam acara yang sama.

Menentukan bahwa suatu acara/dakwah berbahaya atau tidak apalagi kemudian membatalkannya adalah wewenang mutlak polisi bukan ormas apapun”, imbuhnya.

“Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ada pertanyaan mengapa UAS tidak melaporkan saja langsung ke yang berwenang? Jangan lupa ulama kondang tersebut bukan sekali ini dipersekusi. Pada persekusi sebelumnya UAS pernah melapor tadi tidak ditindak lanjuti. Persis seperti laporan para ulama lain yang pernah mengalami hal yang sama.

Perseteruan antar ormas Islam, termasuk jamaah fanatik butanya, bukan rahasia lagi memang kerap terjadi. Uztad Adi Hidayat (UAH) mengalaminya beberapa hari setelah tragedi UAS. Ia diteriaki seorang jamaah Majils Ta’lim (MT) hanya karena dianggap merebut jadwal MT kelompoknya. Na’udzubillah min dzalik … Ada apa dengan umat Islam negri ini???

Bukankah seharusnya kita saling mengingatkan bila ada saudara/i kita yang melakukan kesalahan, bukan malah menghujatnya. Tidak patut suatu kelompok merasa paling benar dan lebih baik dari kelompok yang lain hingga seenaknya mengolok-olok kelompok lain. Sebaliknya yang bersalah juga mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Alangkah baiknya bila tiap orang, tiap kelompok mau terus belajar, mengkaji ulang dan meningkatkan pengetahuannya, tidak keras kepala mempertahankan pengetahuan, hanya karena ikut-ikutan atau karena menuruti ajaran nenek moyang yang belum tentu kebenarannya …

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.”(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):170).

Contoh lain adalah kasus seorang perempuan di Medan yang memprotes suara adzan yang dianggapnya terlalu nyaring. Adzan yang diprotesnya tersebut berkumandang di lingkungan tempat tinggalnya. Protes yang dilakukan secara kasar dan sinis tersebut akhirnya mengakibatkan kerusuhan yang tidak dapat dihindarkan. Setelah 2 tahun berlalu akhirnya pengadilan memutuskan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan bagi perempuan tersebut.

Hukuman dijatuhkan sebagai bagian dari pasal penghinaan dan pelecehan terhadap umat agama lain. Tujuannya agar rakyat dapat lebih saling menghargai. Protes bukannya dilarang, tapi bila dilakukan secara baik-baik, dengan alasan yang masuk akal serta tidak menyinggung perasaan umat agama lain tentu akan berbeda halnya.

http://soksinews.com/berita/detail/24485/-din-syamsuddin-protes-adzan-bisa-dilakukan-dengan-baik-

Tapi tak lama setelah itu sejumlah orangpun beramai-ramai membully keputusan pengadilan tersebut. Ironisnya, para pembully adalah orang-orang yang mengaku Muslim. Coba bandingkan bila kejadiannya di Bali. Datang seorang Muslim ke rumah ibadah umat Hindu sambil marah-marah memprotes sesajen yang banyak tersebar di sepanjang tempat dan jalan. Ketika ia dijatuhi hukuman, akankah mereka melakukan hal yang sama???

Perseteruan, perselisihan dan pertengkaran di dalam tubuh umat Islam sudah pasti terbaca umat lain yang tidak menyukai Islam berkembang dengan baik. Dan inilah yang terjadi. Mereka segera memanfaatkan hal tersebut.

Adalah pulau Lombok yang selama bulan Agustus yang baru lalu, secara bertubi-tubi mendapat cobaan berat dari Allah swt. Gempa berkekuatan 7 skala Richter disusul ratusan gempa yang yang tak kalah dasyatnya terus menghantam pulau berjulukan Seribu Masjid tersebut. Korbanpun berjatuhan hingga 400 orang korban meninggal, ribuan luka berat dan ringan serta meninggalkan trauma mendalam, terutama anak-anak.

Bantuan segera datang dari berbagai pihak, perorangan maupun ormas. Namun sayangnya pada saat sebagian besar relawan Muslim sedang mengalami kelelahan, datang ormas non Islam yang memanfaatkan bantuan sebagai jalan untuk menyebarkan keyakinannya. Padahal jelas hukumnya, tidak diperbolehkan mendakwahkan agama dan kepercayaan di daerah yang sudah berbasis agama lain. Bukan rahasia lagi Lombok adalah rumah kaum Muslimin.

Namun yang lebih menyedihkan lagi, ketika para relawan Muslim berusaha mencegah Kristenisasi yang dilakukan mereka, justru penduduk setempat yang marah dan kesal. Lucunya lagi seorang mahasiswa yang merekam kejadian tersebut untuk dijadikan bukti Kristenisasi justru diamankan aparat.

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak dapat dipungkiri bantuan ormas Nasrani yang kabarnya didukung Vatikan memang jauh melebihi bantuan ormas-ormas Muslim. Tapi lupakah bahwa sebagai Muslim, pertolongan hanyalah milik Allah Azza wa Jala?? Dan lagi jangan lupakan kerja keras relawan Muslim kita yang ada hingga meninggal karena berbagai penyebab, seperti tertimpa reruntuhan bangunan, kelelahan dan sakit.

Dan lagi apa arti segala bantuan tersebut dibanding harga sebuah keimanan? Seperti juga pembangunan infrastuktur besar-besar bagai rumah yang mewah namun penghuninya tidak merasa aman, nyaman dan tentram, yang setiap hari gontok-gontokan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):214).

Ini saatnya kita harus bersatu, saling bahu membahu menguatkan barisan. Selama masih memegang teguh kalimat tauhid dan dalam ikatan Ahlusunnah Wal Jamaah, mau NU, Muhammadiyah, Persis, DDI, FPI, Salafi dll kita adalah bersaudara dan harus berkasih sayang sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath[48] : 29).

Jangan seperti sekarang ini, antar Muslim berseteru sementara terhadap orang kafir justru berkasih sayang. Terhadap sesama Muslim tidak peduli dan tidak mau saling menolong. Sementara terhadap non Muslim walaupun melakukan kesalahan tetap dibela dan dilindungi tanpa peduli telah menyakiti saudaranya sesama Muslim.

Toleransi dan ide bahwa semua agama adalah sama yang di gembar-gemborkan JIL dan antek-anteknya tampaknya memang sengaja dikembangkan pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hasilnya, jumlah Muslim yang tadinya di atas 90 % sekarang hanya tinggal 76 % !!!

https://www.kaskus.co.id/thread/5ae90af292523386538b4568/populasi-umat-muslim-di-indonesia-tinggal-76-persen/

Tidakkah kita menyadari bahwa slogan-slogan seperti “ Lebih baik pemimpin Kafir daripada Muslim tapi korupsi”, “ Politik itu Kotor” dll adalah cara-cara busuk yang dikembangkan musuh-musuh Islam agar umat Islam malu, alergi dan tidak peduli dengan agamanya ?? Dimana ghirah ( rasa cemburu) umat Islam dalam membela agama yang dilecehkan??

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 September 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Khusyuk Dan Makrifatullah.

Pada suatu kajian seorang jamaah bertanya “ Mengapa saya sulit khusyuk dalam shalat uztad ya?”. Sang uztad lalu menanyakan kepada jamaah yang bertanya tersebut, apakah ia mempunyai sahabat. Ketika dijawab “punya”, sang uztad kembali mengajukan beberapa pertanyaan. Diantaranya, apakah ia mau membantu sahabatnya ketika sang sahabat dalam kesulitan. Katakan, meminjamkan uang dalam jumlah cukup besar, dengan penuh kerelaan.

Asma-ul-HusnaSebaliknya bila yang meminta pertolongan yang sama bukan sahabat yang ia kenal baik, apakah ia mau menolongnya dengan ikhlas? Intinya, jawaban sang uztad, shalat hanya bisa khusyuk bila kita benar-benar mengenal Allah swt, Sang Pencipta;  sifat serta nama-nama-Nya (Asma’ul Husna). Itulah Makrifatullah.

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib (Al-Ghoib) dan yang nyata ( Asy-Syahadah), Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (Ar-Rahim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Malik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salaam), Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mukmin), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa (Al-Aziz), Yang Maha Kuasa (Al- Jabbar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Kholiq), Yang Mengadakan (Al-Bari), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushowwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik (Asma’ul Husna). Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim)”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):22-24).

Sebagai contoh, ketika kita memakai barang pemberian seorang teman, otomatis tentu kita akan teringat teman yang memberi barang  tersebut bukan? Itulah salah sebab mengapa Allah swt sangat menyukai orang yang pandai ber-terimakasih.  Orang yang pandai berterima-kasih adalah mereka yang tidak mudah melupakan jasa dan kebaikan orang lain, serta mudah melupakan keburukan orang lain, dan senantiasa berusaha membalas kebaikan yang ditrimanya dengan yang lebih baik. Orang yang seperti itu Allah akan mudahkan urusannya.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.

Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

“Iya kalo pemberian orang/teman gampang, kelihatan soalnya … nah kalo Allah ??”, celetuk seorang jamaah.

Allah swt Sang Pencipta memang tidak bisa kita lihat secara kasat mata. Tetapi seperti juga teman yang jauh di mata, yang dengan melihat pemberiannya saja mampu membuat kita teringat padanya, demikian pula Allah.

Ini tampaknya yang harus kita latih, menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah Azza wa Jala, yang pada saatnya nanti harus dipertanggung-jawabkan dan dikembalikan, yaitu ketika kita dipanggil untuk menemui-Nya. Seringkali kita lupa bahwa penglihatan, pendengaran dan seluruh yang ada di tubuh kita adalah pinjaman dari Allah swt. Demikian pula air dan sinar matahari yang merupakan kebutuhan pokok manusia. Yang tanpa itu semua mustahil tanaman bisa berbuah, ternak yang biasa kita konsumsi dll bisa hidup.

Simak apa yang dikatakan ayat 71 dan 72 surat Al-Qashah berikut :

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” 

Hati pada awalnya adalah bersih. Namun bila tidak dijaga dengan baik ia akan menjadi kotor dan lama kelamaan akan menjadi penyakit yang sulit untuk dsembuhkan. Iri dan dengki adalah contoh penyakit hati yang sering menyerang manusia. Dan adab pandai berterima-kasih terhadap kebaikan sesama manusia, sekecil apapun, adalah salah satu penangkal mujarab penyakit hati. Dengan bekal hati yang bersih dan sehat kita akan lebih mudah mengenal Sang Khaik. Dan dengan mengenal Allah ( makrifatullah) shalatpun akan lebih khusyuk.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 45-46).

Suatu hari Nabi s.a.w masuk masjid kemudian masuk pula seseorang ke dalam masjid lalu ia shalat dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi saw menjawab salamnya dan bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi,  sebab kamu belum shalat.” Serta merta orang itu pun shalat lalu mengucapkan salam kepada Nabi saw dan beliau bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belum shalat,” tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa lebih baik dari itu, maka ajarilah aku.” Beliau bersabda, “Apabila kamu hendak shalat beratkbirlah lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (Al-Fatihah). Lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar tenang dalam ruku’, kemudian angkatlah sampai tegak berdiri, lalu sujudlah sampai tenang dalam sujud, kemudian bangunlah sampai kamu tenang dalam duduk, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujud. Lakukan hal itu dalam semua shalatmu.

Maka tak salah bila Al-Qurthubi mengatakan bahwa khusyuk adalah keadaan di dalam jiwa yang nampak pada anggota badan dalam bentuk ketenangan dan kerendahan. Sementara Qatadah mengatakan bahwa khusyuk adalah rasa takut dan menahan pandangan dalam shalat.

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”. ( Terjemah QS. Al-Muzzammil (73):6).

Jumhur ulama memang sepakat bahwa khusyuk dalam shalat tidak termasuk syarat, rukun atau pun wajib. Khusyuk dalam shalat adalah sunnah, tidak terkait dengan sah dan tidaknya sholat. Namun demikian harus disadari shalat yang dilakukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban tidak akan melahirkan Islam yang Rahmatan Lillamiin, Islam yang dapat mendatangkan kebaikan sekaligus mencegah kemungkaran, seperti korupsi dll. Untuk itulah shalat sepantasnya dilakukan secara khusyuk. Meski tidak mudah pastinya melakukan shalat khusyuk seperti shalatnya rasulullah maupun para sahabat.

Diriwayatkan, dalam suatu peperangan, Ali bin Abi Thalib ra, terkena panah pada salah satu anggota tubuhnya. Ketika para sahabat akan mencabut panah tersebut, Ali berkata: ”Keluarkanlah panah ketika aku sedang berada ditengah sholatku”. Alhasil, panahpun berhasil dicabut tanpa sang Amirul Mukminin merasa kesakitan … Allahu Akbar …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 Agustus 2018.

Vien AM.

Read Full Post »

Husnul Khotimah

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”. (Terjemah QS. An-Anbiya (21):35).

Mati adalah suatu kepastian yang tidak mungkin dielakkan manusia, apapun suku, ras, bangsa, agama, laki-laki ataupun perempuan. Dan semua Muslim pasti ingin ketika meninggal nanti dalam keadaan husnul khotimah, yaitu dalam keadaan terbaiknya. Itulah jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah).

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Terjemah QS. Al-Fajr (89):27-30).

“ … Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. An-Nahl: 31-32).

Itu sebabnya ketika ada anggota keluarga, kawan atau kerabat yang “dipanggil menghadap” Sang Khalik, doa yang dipanjatkan sering kali adalah “semoga husnul khotimah”.

Lawan dari husnul khotimah adalah su’ul khotimah, yaitu dalam keadaan terburuknya. Itulah jiwa khomisa atau jiwa yang marah/gelisah. Su’ul khotimah akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang meninggalkan kewajiban bahkan berani melakukan dosa-dosa besar. Yang hingga ajal menjemput tidak sempat bertaubat.

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);

“Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu”. (Terjemah QS.Ah-Nahl(16):28-29).

Masalahnya Sang Khalik me-wafatkan hamba-Nya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, juga tanpa harus sakit atau menunggu tua. Betapa seringnya kita mendengar berita orang meninggal dalam usia muda, sehat pula. Jadi tidak ada jalan bagi kita selain harus selalu menyiapkan diri.

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad hasan).

Berkata Ibnul Qayyim: “Sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai  ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi”.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan  diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir”.

Artinya, orang yang suka dan terbiasa berbuat maksiat akan diwafatkan dalam keadaan yang disukainya itu, yaitu ketika bermaksiat. Sebaliknya, orang yang suka dan terbiasa beramal kebajikan akan diwafatkan dalam keadaan tersebut.

Dengan kata lain, kesiapan itu harus dimulai sedini mungkin. Sekalipun hanya kalimat ‘La ilaaha illallah’ yang kelihatannya sangat mudah. Karena kebiasaan itu tidak datang secara tiba-tiba melainkan harus dilatih, bukan sekedar ucapan di mulut tapi juga di hati, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Dalam ayat 27 surat Al-Fajr diatas, disebutkan “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. Apa yang maksud di “ ridhoi-Nya”?

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa (4):69).

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Terjemah QS. Ar-Rad(13):28).

Al-Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa suka bertemu dengan Allah, maka Allahpun suka bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allahpun benci bertemu dengannya”

Begitulah yang dimaksud di-ridho Allah swt. Lalu dipersilahkannnya orang-orang tersebut masuk ke surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung akhirnya”. (Shahih, HR. ibnu Hibban)..

Hadist di atas menunjukkan bahwa kita harus senantiasa hati-hati, istiqomah dalam menjalani kebaikan, hingga ajal menjemput. Karena sebaik apapun amal ibadah kita, bila Allah swt membalikkan hati kita di akhir hayat nanti, sungguh celakalah kita.

Dan sebagaimana tubuh yang harus dijaga kesehatannya, demikian pula hati kita. Yaitu dengan terus hadir di majlis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, senantiasa ber-dzikir dan bermunajat kepada Allah swt agar ridho diberikan akhir yang baik. Tidak sepatutnya urusan dunia mengalahkan urusan akhirat. Urusan dunia tidak akan ada habisnya bila kita terus mengikuti nafsu dan selalu memandang ke atas.

Tengoklah mereka yang hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan hingga tidak mempunyai waktu untuk beribadah. Sebaliknya alangkah ruginya orang-orang sukses, kaya raya tapi tidak mau menyempatkan diri untuk kepentingan akhirat-Nya. Karena susah senang, sakit sehat, sukses atau tidak sukses, sejatinya hanyalah cobaan. Nikmat hidup tidak seharusnya hanya dihitung dari harta benda tapi keberkahan dan keridhoan dari Sang Khalik jauh lebih berharga.

Berikut karakter jiwa yang tenang menurut Ibnu Abbas :

  1. Yang senantiasa membenarkan ke-Esa-an Allah swt. ( QS.Al-Ikhlas(112):1)
  2. Yang penuh syukur, tidak serakah. ( QS. Ar-Rahman, QS. Lukman (31:12).
  3. Yang selalu sabar terhadap ujian Allah swt. (QS. Al-Baqarah(2):45,153), Ali Imran(3):186), Al-Ankabut (29):59) dll.
  4. Yang ridho atas takdir Allah swt. ( QS.Yasin (36):43).
  5. Yang merasa cukup/puas dengan pemberian Allah (qonaah).

”Ridholah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (HR Turmudzi).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 April 2018.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Older Posts »