Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Hari ini kita telah memasuki bulan Sya’ban, bulan pemanasan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan Sya’ban banyak memilki keutamaan, diantaranya yaitu memperbanyak puasa sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasai’).

Namun meski Rasulullah berpuasa penuh selama satu bulan pada bulan tersebut, tidak berarti bahwa puasa tersebut adalah wajib. Para ulama sepakat bahwa puasa Sya’ban kedudukannya bisa disandingkan dengan shalat rawatib. Bila shalat rawatib gandengannya adalah shalat-shalat wajib, maka puasa Sya’ban gandengannya adalah puasa Ramadhan.     

Bulan Sya’ban juga sering dinamakan sebagai bulan pembaca Alquran. Pada bulan tersebut dianjurkan untuk lebih banyak membaca Al-Quran dibanding bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan.

Salamah bin Kahiil berkata, “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan para qurra’ (pembaca Alquran).”

Yang menarik adalah hadist berikut yang menyatakan bahwa manusia banyak yang lalai pada hari itu. Mengapa bisa demikian ???

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i).

Kaum Muslimin sangat peduli terhadap bulan Ramadhan, tapi sedikit yang peduli terhadap bulan Syaban. Mereka bersemangat menjalankan puasa dan shalat tarawih pada bulan bulan Ramadhan, paling tidak d awal-awal bulan, untuk kemudian semangat pula menyambut Hari Raya Iedul Fitri sebagai hari kemenangan. Pertanyaannya dari kemenangan apa??        

Allah Azza wa Jala memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dengan tujuan agar menjadi hamba yang takwa. Untuk itu puasa yang dimaksud bukan yang hanya sekedar menahan makan, minum, merokok dan hubungan suami istri di siang hari, tanpa melibatkan Sang Khaliq didalamnya. Karena pada dasarnya ibadah itu tergantung pada niatnya.   

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” ( Terjmah QS. Al-Baqarah(2):183).

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy).

Pada bulan suci tersebut itu pulalah kaum Muslimin berlomba menjalankan tidak saja puasa tapi juga ibadah-ibadah lain seperti shalat tarawih, iktikaf, membaca Al-Quranul Karim, berinfak-sodaqoh dan amal perbuatan baik lainnya. Dan puncaknya adalah di 10 hari terakhirnya, yaitu hari dimana Al-Quranul Karim diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit dunia, itulah malam Lailatul Qadar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. ( Terjmah QS. Al-Qadr (97)1-5).

Maka ketika Ramadhan berakhir, kemenanganpun akan di dapat bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh mau mencapainya. Hari kemenangan tersebut adalah Hari Raya Iedul Fitri. Hari dimana manusia kembali ke fitrahnya yang bersih, jauh dari kesyirikan. Dengan kata lain, bulan Ramadhan adalah ibarat ujian akhir tahun bagi kaum Muslimin.

Namun seperti juga dalam semua lomba dan ujian/test, diperlukan persiapan yang baik jika memang sungguh ingin meraih kemenangan. Yaitu dengan melakukan  pemanasan di bulan Sya’ban ini.

Abu Bakr Al-Balkhi berkata, “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadan saatnya menuai hasil.”

Pada akhir bulan ini hutang puasa Ramadhan tahun lalu harus sudah tuntas dibayar. Pada bulan Sya’ban ini juga memperbanyak puasa dan sedekah, shalat di awal lengkap dengan shalat rawatibnya, mentadaburi ayat-ayat Al-Quran, meluruskan niat ibadah hanya untuk-Nya, serta perbuatan baik lainnya dibiasakan kembali, agar memasuki Ramadhan kita bisa memenangkan lomba dengan lebih mudah.

Para ulama terdahulu memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Di antaranya adalah Imam Hanafi (80-148 H) yang dikenal dengan nama Abu Hanifah, yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an 61 kali dalam satu bulan Ramadhan.

Tak heran bila hari inipun banyak Majlis Ta’lim yang meliburkan diri pada Ramadhan terutama pada 10 hari terakhir. Karena para ustad/ustadzahnya mengkhususkan diri berlomba untuk mengkhatamkan Al-Quran. Para ulama sepakat mengatakan Sya’ban ( dan juga bulan-bulan lain) untuk tadabbur Al-Quran sedangkan khusus Ramadhan berlomba mengkhatamkannya sebanyak mungkin.

Pandemi yang sudah lebih dari setahun berjalan ini pasti ada hikmahnya. Ramadhan tahun ini mungkin kita tetap belum bisa shalat tarawih maupun iktikaf di masjid. Namun dengan tetap tinggal di rumah kecuali ada keperluan mendesak, kita dapat maksimal menjalankan ibadah kita dengan lebih baik, bahkan kajianpun tetap bisa kita ikuti via online. Bukankah Rasulullahpun hanya 3 hari pertama shalat tarawih berjamaah di masjid karena khawatir dianggap sebagai kewajiban. Semoga Ramadhan tahun depan kita bisa kembali menjalaninya secara normal, tarawih berjamaah di masjid sebagaimana yang dianjurkan para khulafaur-rasyidin sebagai bagian dari syiar Islam.  

Akhir kata, semoga Allah Subhana wa Ta’ala memudahkan kita dalam  menjalankan seluruh amal ibadah kita, baik selama Sya’ban maupun setelah memasuki Ramadhan nanti, aamiin allahumma aamiin.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Maret 2021 / 9 Syaban 1442 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Mukjizat yang diberikan Allah subhanallah wa ta’ala kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya tidak hanya setelah Allah azza wa Jala mengangkat beliau sebagai nabi. Tapi juga sudah diberikan sejak nabi masih kecil, bahkan pada hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut beberapa kisahnya :

1. Jin Tidak Lagi Bisa Mencuri Berita.

Dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah di larang untuk naik”, berkata bangsa Jin. Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian di muka bumi, dari barat sampai timur, dan perhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya telah terjadi!

Mereka lalu menyebar. Setelah mengeliling bumi dari timur ke barat, sampailah mereka ke kota Mekah. Di sana tampak oleh mereka seorang bayi yang baru dilahirkan sedang dikelilingi para malaikat, dan memancar cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit, sedangkan para malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan yang lain.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Terjemah QS. Al-Azhab(33): 56).

“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”. ( Terjemah Al-Jin (72):9).

2. Bintang Besar Bercahaya.

Para ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) melihat bintang besar dan bercahaya seperti berlensa tepat di hari kelahiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam., sebelumnya bintang itu tidak pernah terlihat. Di antara mereka ada yang berseru, “Nabi penutup zaman sudah lahir”.

Ka’bul Akhbar ra berkata; “Saya telah melihat di dalam Taurat bahwa Allah ta’ala telah mengabarkan kepada Kaum Musa tentang saat keluarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya bintang tetap yang telah kamu ketahui itu, bila ia bergerak dari tempatnya menandakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keluar

3. Keberkahan menyelimuti keluarga Halim As Sa’diyah, ibu susu Rasulullah.

Sebelum menjadi ibu susu nabi, keluarga Halimah selalu dalam kesusahan. Bahkan air susu Halimahpun kering. Begitu pula kambing-kambing peliharaan mereka.

Namun begitu nabi tinggal bersama mereka mendadak keberkahan menyelimuti keluarga ibu susu Rasulullah tersebut. Air susu Halimah menjadi berlimpah hingga cukup tidak hanya untuk Muhammad yang ketika baru berusia beberapa bulan tapi juga bagi bayi Halimah As Sa’diyah dan Al-Harits, suami Halimah. Demikian pula kambing-kambing yang tadinya kurus kering tiba-tiba melimpah air susunya.  

4. Dilindungi awan.   

Ketika Muhammad berusia 12 tahun pernah diajak Abu Thalib paman beliau ke Syam untuk menjalankan perjalanan dagang. Namun di tengah perjalanan Bukhairah, seorang rahib Nasrani mengundang rombongan Abu Thalib untuk singgah di kediamannya. Pendeta tersebut mengundang mereka karena heran melihat awan yang senantiasa menaungi rombongan tersebut. Usut punya usut akhirnya terbukti bahwa awan tersebut mengikuti Muhammad kecil. Bukhairah juga akhirnya menemukan tanda kenabian yang terdapat pada pundak ponakan Abu Thalib tersebut sesuai yang tertulis pada kitab sucinya.

Bukahirapun lalu mengingatkan Abu Thalib agar segera kembali ke Mekah dan menjaga sang keponakan dengan baik karena ia meyakini bahwa semua nabi akan diganggu bahkan dicoba untuk dibunuh.      

Beberapa tahun kemudian Maysaroh budak lelaki yang pernah menemani Rasulullah ke Syam membawa dagangan Khadijah, juga merasakan awan yang selalu menaungi mereka selama perjalanan jauh tersebut.  Peristiwa tersebut tidak luput dari pengamatan Nestor pendeta Nasrani pengganti  Bukhairah yang kemudian juga mengingatkan Maysarah agar menjaga majikannya sebaik mungkin. Kejadian ini terjadi sebelum Muhammad menikahi Khadijah, jauh sebelum kerasulan.    

Begitulah sebagian mukjizat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, satu dari 5 ulul azmi ( nabi dan rasul yang paling diutamakan yaitu Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Nuh sholawatullah wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin) sekaligus nabi dan rasul terakhir.

Sayangnya mukjizat dasyat yang sengaja diberikan Allah subhanallah wa ta’ala kepada para manusia pilihan agar manusia mau mempercayai para utusan tersebut tidak membuat semua orang mau mengimaninya. Bahkan tidak sedikit orang yang mengalami dan melihat mukjizat para nabi terjadi di depan mereka tetap saja mereka dustakan.

Hal tersebut bukan hanya terjadi pada para nabi terdahulu tapi juga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya adalah orang-orang Quraisy Mekah termasuk para paman dan kerabat Rasul. Bahkan Abu Thalib paman nabi yang merawat nabi sejak kecil dan sangat menyayangi beliau. Meski sebenarnya di akhir hidupnya sangat ingin bersyahadat tetapi karena pengaruh dan tekanan orang-orang yang berada di sekelilingnya maka batal. Sungguh ironis …    

Hidayah memang milik Allah Yang Maha Tinggi, yang diberikan kepada yang Ia kehendaki. Namun tidak berarti manusia hanya bisa pasrah dan tidak berusaha menggapainya. Karena hidayah diberikan hanya kepada mereka yang menghendaki, yang berusaha mencari.       

Mungkin apa yang suatu hari dikatakan Syeikh Ali Jabber kepada sopir ojek online yang sering nongkrong di sekitar mesjid ada benarnya. Sopir tersebut menolak ajakan shalat sang ulama dengan alasan khawatir kehilangan peluang mendapatkan pelanggan yang datang ketika ia sedang shalat.

Kenapa g pasrah aja mas … rezeki kan sudah ditentukan?”, sindir Syeikh sambil tersenyum penuh arti.

Akhir kata, semoga kita yang hidup jauuuh dari zaman Rasulullah, tidak pernah melihat apalagi bertemu, mau mengimaninya dengan sebaik-baik iman. Karena sejatinya berbagai mukjizat di atas sifatnya adalah lokal, yaitu hanya bisa dilihat saat itu. Tidak seperti mukizat Al-Quranul Karim yang terasa hingga akhir zaman nanti.  

Sesungguhnya orang-orang yang paling menakjubkan keimanannya di mata Allah adalah mereka yang datang sepeninggalanku, lalu mereka beriman kepadaku dan mempercayaiku meski tidak pernah melihatku. Maka mereka itulah saudara-saudaraku”.  (HR. Bukhari).

Semoga kelak Allah subhanallah wa ta’ala membalasnya dengan sebaik-baik  dan setinggi-tinggi balasan.  

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. ( Terjemah QS. Al-Bayyinah (98):7-8).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Maret 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

Keteguhan Hati Rasulullah.

Paman, demi Tuhan, andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku untuk memaksaku agar meninggalkan tugas suci ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan sampai Tuhan memberiku kemenangan atau aku mati karenanya”.

Itulah jawaban tegas yang diucapkan Rasulullah Muhammad saw ketika Abu Thalib, paman yang amat disayangi dan dihormatinya itu memintanya untuk menghentikan dakwah yang membuat para pemuka Quraisy kebakaran jenggot. Abu Thalib yang selama itu senantiasa melindungi dan menjaga keponakan yang sangat dicintainya itu rupanya sudah tak tahan menghadapi tekanan para pejabat Quraisy tersebut.

Namun mendengar keteguhan Rasulullah yang begitu luar biasa Abu Thalibpun terdiam. Rasa kagum tak dapat dipungkiri merasuki hati Abu Thalib. Ia menyadari segala kerusakan yang terjadi di Mekah, kebejatan ahlak seperti mabuk-mabukan, perjudian, pelacuran, penindasan kaum yang lemah dll, memang sudah mencapai puncaknya.

Maka akhirnya Abu Thalib menyerah dan sejak itu tidak pernah sekalipun meminta keponakannya berhenti berdakwah. Bahkan melindunginya lebih ketat lagi, hingga akhir hayatnya. Hal ini membuat orang-orang Quraisy terutama para petingginya makin kesal. Dengan teganya mereka sebarkan berita bahwa bahwa Muhammad gila, tukang sihir dll. Namun dengan sabar Rasulullah menghadapi hinaan dan berbagai fitnah keji yang menimpa beliau.   

Mereka bahkan nekad memboikot tidak hanya rasulullah tapi juga keluarga besar rasulullah.Tiga tahun lamanya keluarga bani Hasyim dan bani Muthalib diasingkan dan dikucilkan dari pergaulan dan perekonomian. Mereka dipaksa hidup di pemukiman sempit dan terjal ( syi’ib) tanpa bisa keluar dan melakukan aktifitas apapun.

Suku Quraisy yang terdiri atas beberapa bani itu dilarang mengadakan jual beli dengan kedua keluarga bani tersebut. Tidak boleh ada perdamaian, belas kasih, pertemanan, persahabatan apalagi pernikahan dengan anggota ke dua bani tersebut. Bahkan dua putri rasulullah yang waktu itu masih berstatus sebagai istri dari dua anak Abu Lahab, dipaksa cerai oleh Abu Lahab. Puncaknya adalah rencana pembunuhan terhadap Rasulullah. Hal ini dilakukan begitu Abu Thalib meninggal.  

Akhirnya atas perintah Allah swt rasulullahpun berhijrah ke Madinah. Di kota ini Rasulullah mendapat sambutan hangat penduduk yang Allah namakan sebagai kaum Ashar. Sementara mereka yang berhijrah dinamakan sebagai kaum Muhajirin. Di Madinah (dulu Yatsrib) inilah Islam berkembang pesat.

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung“. (Terjemah QS. Al-Hasyr (59):9).

Kecintaan dan rasa persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin yang dilandasi atas dasar takwa tersebut melahirkan kekuatan maha dasyat. Ini yang menjadi kunci kemenangan Islam. Perang terbuka antara kaum Muslimin melawan Quraisy yang didukung Yahudi Madinah yang merasa terancam kedudukan dan agamanyapun tak terhindarkan, bahkan beberapa kali terjadi.

Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).  

Dan hanya atas izin Allah Azza wa Jala, perjuangan panjang dan maha berat Rasulullah dibantu para sahabat akhirnya membuahkan hasilnya. Yaitu dengan terjadinya Penaklukan Mekah (Fathu Makkah) pada tahun 632 M/10 H, sekitar 22 tahun sejak turunnya ayat pertama yang menunjukkan diangkatnya Muhammad menjadi utusan Allah swt.

Ibnu Ishaq berkata, “ Setelah orang-orang berkumpul di sekitarnya, nabi saw sambil memegang kedua penyangga pintu Ka’bah mengucapkan khutbah kepada mereka”,

Tiada Ilah kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah ( Allah) yang menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya ( Muhammad) dan mengalahkan musuh-musuh sendirian. Sesungguhnya segala macam balas dendam, harta dan darah semuanya berada di bawah kedua kakiku ini kecuali penjaga Ka’bah dan pemberi air minum kepada jamaah haji. Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya, Allah telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah dan mengagungkan dengan keturunan. Semua orang berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah”.

Selanjutnya Rasulullah membacakan ajat 13 surat Al-Hujurat sebagai berikut :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat di atas menjadi bukti betapa sejak mula toleransi antar suku, bangsa dan agama adalah bagian dari ajaran Islam. Tidak ada paksaan dalam memasuki Islam. Namun begitu seseorang telah meng-ikrarkan diri sebagai Muslim/Muslimah maka ia terikat pada hukum lslam apapun bangsa, etnis, suku dan warna kulitnya. Islam bukan hanya urusan pribadi tapi juga dalam bermuamalah dan bermasyarakat karena Islam adalah way of life/pandangan hidup bukan sekedar agama dan keyakinan.

15 abad lewat sudah perjuangan berat Rasulullah mendakwahkan Islam. Berkat para sahabat dan ulama sebagai penerus nabi kita bangsa Indonesia mengenal Islam. Bahkan mayoritas penduduk negara kita tercinta adalah Muslim. Sungguh beruntung kita mempunyai Muhammad Rasulullah sebagai panutan dan contoh keteladanan.   

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Terjemah Al-Ahzab(33):21).

Namun dapat kita saksikan betapa buruknya keadaan kita sekarang ini. Korupsi, perjudian, pelacuran, perzinahan, homoseksual dll meraja-lela, persis keadaan Mekah di awal dakwah Rasulullah. Bedanya pada zaman nabi mereka belum mengenal ajaran Islam. Sedangkan sekarang???

Bahkan hari ini ulama yang berani menjalankan nahi mungkarpun dimusuhi karena dianggap melawan pemerintah. Adu domba dan perpecahan antar kelompok sesama Muslim makin meruncing. Ini masih ditambah lagi dengan fenomena akan diakuinya kelompok-kelompok seperti Syiah dan Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas disahkan sesat oleh MUI. Sejarah mencatat Sunni dan Syiah tidak pernah bisa bersatu sampai kapanpun.

https://almanhaj.or.id/3630-pokok-pokok-kesesatan-aqidah-syiah.html

Pertanyaan besar, akankah kita menyia-nyiakan perjuangan berat Rasulullah dan para penerusnya?? Tegakah kita melihat masa depan anak cucu kita terpuruk, tidak saja di dunia tapi juga di akhirat???

Akhir kata, semoga Allah swt ridho mengeluarkan bangsa ini dari kerusakan moral, semoga kita mampu meneladani Rasulullah, dan para ulama khususnya berani dan tegar mencontoh keteguhan rasulullah dalam menegakkan Islam, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …   

Ya Muqallibal qulub tsabbit qulubinna ‘ala dinika.”

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hati kami (agar) senantiasa berada di atas agamamu”. 

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Desember 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Macron dan Karikatur (1).

Perancis berulah lagi. Awal Oktober lalu presiden Perancis, Emmanuel Macron, mengumumkan rencana undang-undang yang lebih ketat untuk mengatasi hal yang ia sebut “separatisme Islam” di Prancis. Ia mengatakan kelompok minoritas Muslim di Prancis – terdiri dari kira-kira enam juta orang yang berpotensi membentuk “masyarakat tandingan”. Ia menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis”, agama bermasalah yang perlu dibendung. Dengan keji ia juga mengatakan itu semua akibat makanan halal yang dikonsumsi kaum Muslimin. Ia menegaskan pengawasan yang lebih ketat pada sekolah dan kontrol yang lebih baik atas pendanaan masjid dari pihak asing.

Macron juga menegaskan dengan dalih kebebasan berekspresi, tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad. Tak tanggung-tanggung poster karikatur penghinaanpun dipasang di gedung pemerintahan. Padahal ia tahu persis kartun penggambaran seperti itu terbukti telah menimbulkan kemarahan besar kaum Muslimin dimanapun berada. Islam dengan berbagai alasan memang melarang penggambaran nabi terakhir itu dalam bentuk apapun. Apalagi dalam bentuk penghinaan!!. Meski penghinaan dalam bentuk apapun tidak akan membuat rasulullah menjadi hina.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

Adalah majalah satir karikatur Perancis Charlie Hebdo yang pada tahun 2006 mencetak ulang karikatur nabi Muhammad saw yang setahun sebelumnya pernah diterbitkan surat kabar Denmark.  Kejadian tersebut  menyulut gelombang protes di berbagai tempat, mengutuk keras perbuatan yang menyakitkan hati jutaan umat muslim dunia. Namun hal tersebut tidak membuat mereka jera. Pada tahun 2011 dan 2012 majalah tersebut bahkan menerbitkan lebih banyak lagi karikatur kontroversial tersebut. Akhirnya pada tahun 2015, dua orang yang diduga sebagai anggota Al-Qaeda melakukan serangan brutal ke kantor majalah satir tersebut hingga menewaskan 12 orang korban meninggal. 

Tampak jelas Macron tidak bisa mengambil pelajaran tragedy berdarah tersebut. Ntah setan apa yang membuatnya mengambil keputusan berbahaya tersebut. Dan seperti yang sudah diperkirakan dunia Islampun geger. Mulai dari rakyat biasa hingga tokoh-tokoh dari Turki, Mesir, Libia, Yaman, Yordan, Palestina, Pakistan, Indonesia, Malaysia dll. Demo di depan kedutaan Perancis untuk menunjukkan kemarahan kaum Muslimin yang tersakiti hatinya terus bermunculan hingga hari ini (2/11/2020). 

Islam adalah agama damai dan tidak memiliki tempat untuk terorisme, Prancis adalah sumber terorisme”, kata seorang tokoh lokal Palestina dalam unjuk rasa yang digelar. “Kami tidak melupakan pembunuhan 1,5 juta orang di Aljazair oleh Prancis,” tambahnya.

Recep Tayyip Erdogan presiden Turki yang dikenal memiliki ghiroh (kecintaan dam semangat tinggi membela Islam) melayangkan kegusarannya. Ia menyebut Macron sebagai orang yang sakit mental, yang tidak bisa menghargai perbedaan dan agama lain padahal di negrinya hidup kaum Muslimin meski hanya minoritas. Untuk itu ia menyerukan dunia agar memboikot produk Perancis. Sambutan tersebut langsung disambut negara-negara timur tengah yang merupakan konsumen besar produk Perancis.  Sambutan juga datang dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).    

https://news.detik.com/berita/d-5235701/bergema-seruan-boikot-produk-prancis-dari-majelis-ulama-indonesia/3

Macron terbukti telah memprovokasi makin suburnya radikalisme yang tidak hanya merugikan kaum Muslimin tapi juga membahayakan rakyatnya sendiri. Seorang pemuda Chechnya usia 18 tahun nekad membunuh guru kelas dramanya setelah sebelumnya menunjukkan karikatur nabi Muhammad saw di depan kelas. Menyusul 2 pekan kemudian tragedi mengerikan yang menewaskan 3 orang yang sedang berada di dalam gereja Notredame Nice. Macron mengatakan kejadian tragis 29 Oktober, tak sampai 1 bulan setelah pengumumannya, bahwa penikaman itu adalah “serangan teroris kelompok Islamis”.

Akibatnya mudah ditebak, Islamophobiapun makin menjadi-jadi. Kaum Muslimin terpaksa menjalankan shalat Jumat di jalanan karena masjid ditutup. Itupun tetap diganggu dengan orang-orang yang mendatangi jalanan tempat kaum Muslim shalat sembari membawa spanduk bertuliskan kebencian terhadap Islam. 

Macron juga berhasil memperuncing perseteruannya dengan Erdogan. Paska pernyataan Erdogan yang menyebutnya sebagai sakit mental, presiden Perancis tersebur segera memanggil pulang dubesnya di Turki. Dengan culasnya Charlie Hebdopun memanfaatkan keahliannya dengan mempublikasikan karikatur menghina Erdogan demi mengeruk keuntungan dari orang-orang yang membenci Islam.

Sebuah pertanyaan besar apa sebenarnya maksud dan tujuan Macron melakukan ini semua??

Dari berbagai sumber dapat disimpulkan setidaknya ada 3 hal penyebabnya, yaitu :  

1. Ketakutan yang berlebihan terhadap perkembangan Islam yang makin tak terbendung tidak saja di Perancis tapi juga di Barat. Sebaiknya umat Nasrani makin berkurang, terbukti dari banyaknya gereja yang dijual karena sepi jamaah dan dibeli kaum Muslimin untuk dijadikan masjid karena jumlah masjid yang jauh kurang dari kebutuhan. Di Perancis makanah halal juga makin menjamur.   

2. Popularitas Macron di dalam negri yang makin menurun. Kekalahan partai pengusung Macron dalam pemilu pemanasan yang dilakukan bulan Juli lalu membuktikan hal tersebut. Partainya kembali harus bersaing ketat dengan partai pengusung Marine Le Pen yang dikenal sangat anti Isam.

https://mediaindonesia.com/read/detail/323995-partai-macron-menderita-kekalahan-besar-dalam-pemilu-prancis

3. Ketidak-pahamannya tentang Islam bahwa agama dalam pandangan Islam adalah di atas segalanya. Bahwa mencintai nabinya yaitu Muhammad saw, adalah menunjukkan ketinggian iman seseorang.

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):24).

Abdullah bin Hisyam menceritakan, suatu hari ia dan sejumlah sahabat melihat Nabi Muhammad SAW sedang menjabat tangan Umar bin Khatab. Sambil berjabat tangan itu, Umar berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segalanya, kecuali diriku sendiri.”

Mendengar perkataan Umar, Nabi berujar, “Tidak beriman salah seorang dari kamu sampai aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.”

Mendengar sabda Nabi, Umar pun berkata, “Kalau begitu, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.

Mendengar jawaban sahabatnya ini, Rasulullah menegaskan, “Sekarang inilah imanmu telah sempurna, wahai Umar.”

Seorang pengamat Turki, Mustafa Guldagi, bahkan berani mengatakan bahwa perseteruan Macron dengan Erdogan menambah penyebab keputusan kontroversial Macron. Turki baru-baru ini meluncurkan penerbangan Turkish Air ke seluruh Afrika. Padahal selama ini sebagian besar negara Afrika yang merupakan bekas jajahan Perancis tidak punya pilihan lain selain menggunakan penerbangan Perancis.

Bekas negara-negara Perancis yang kelihatannya sudah bebas merdeka tersebut sejatinya memang belum merdeka penuh. Merdeka mereka adalah merdeka bersyarat. Selain masalah penerbangan, mereka harus tergabung dalam apa yang dinamakan “Francophonie” yang mewajibkan Perancis sebagai Bahasa ibu. Mereka juga wajib tergabung dalam CFA sebuah sistem moneter Perancis yang mengontrol keuangan mereka.      

https://hajinews.id/2020/10/29/mengapa-presiden-prancis-macron-menyerang-turki/

Itu sebabnya Macron sangat ketakutan bila Turkish Air bisa masuk Afrika dan merebut salah satu sumber keuangan terbesar mereka. Apalagi Turki dibawah Erdogan sekarang ini sangat Islami. Sementara penduduk negara-negara jajahan Perancis mayoritas adalah Muslim. Kejengkelan Macron ditambah lagi  dengan makin banyaknya orang Turki Muslim yang datang menempati kota-kota besar Perancis.    

Tidakkah Macron pernah mendengar cerita tentang kado istimewa Erdogan untuk Sarkozy, mantan presiden Perancis yang mengadakan kunjungan kerja 6 jam ke ibu kota Turki. Kunjungan itu dilakukan selaku ketua G-20 dimana Turki adalah salah satu anggotanya. Seperti juga Macron, Sarkozy memperlakukan kaum Muslimin di negaranya secara tidak adil. Dan Erdogan ingin memberikan pelajaran kepada Sarkozy bagaimana ber-sosialisasi yang baik.   

Untuk itu Erdogan memberikan sepucuk surat salinan yang diambil dari arsip Turki Utsmani. Surat yang ditulis pada tahun 932H/1525M tersebut merupakan surat balasan sultan Turki Utsmani kala itu yaitu  Sulaiman Al-Qonuni kepada raja Perancis, Francis I. Isinya memohon bantuan Turki Utsmani menghadapi pasukan Spanyol yang menyerang negaranya.  

Intinya surat itu menggambarkan bagaimana kerajaan Turki Ustmani sebagai negara adi daya yang luasnya jauh lebih besar dari Perancis bahkan dari Amerika Serikat, Rusia atau Cina sekarang, mau membantu negara yang membutuhkan bantuan, dengan ikhlas, tanpa syarat dan imbalan apapun. Sesuatu yang mustahil terjadi di zaman sekarang.

Hal itu dilakukan sebagai tanda persahabatan antar negara, meski Perancis bukan negara Islam. Hebatnya lagi sang raja Turki tak lupa melibatkan nama Allah di dalam surat resminya, baik sebagai kalimat pembuka maupun di alinea berikutnya.

Bersambung.

 

Read Full Post »

Kedasyatan Al-Quran.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.  Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( Terjemah QS. Al-‘Alaq(96):1-5).

Ayat di atas adalah ayat yang pertama turun kepada Rasulullah Muhammad saw. Disampaikan oleh malaikat Jibril as ketika Rasulullah sedang berkhalwat di gua Hira yang telah menjadi kegiatan rutin karena prihatin terhadap prilaku penduduk Mekah yang makin hari terperosok dalam kemaksiatan. Sejak itu ayat-ayatpun terus turun selama nyaris 23 tahun hingga menjelang wafatnya Rasulullah.

Awalnya Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Ayat-ayat disampaikan hanya kepada orang-orang terdekat seperti Khadijah sang istri tercinta satu-satunya, keponakan yang masih muda belia Ali bin Abu Thalib serta sahabat-sahabat dekat seperti Abu Bakar dll.

Namun setelah 3 tahun berlalu turun ayat yang memerintahkan agar rasul berdakwah secara terbuka dan terang-terangan. Maka Rasulpun mengumpulkan penduduk Mekah di suatu tempat terbuka, mengumumkan kerasulan beliau sekaligus memperkenalkan ajaran Islam.

Sayang ajakan tersebut ditolak mentah-mentah, terutama oleh para pembesar Mekah. Perlu diketahui keadaan Mekah ketika itu adalah merupakan pusat peribadatan dengan Ka’bah sebagai pusatnya. Ka’bah memang sudah ada jauh sebelum Islam datang. Ibadah haji termasuk thawaf dan sa’i adalah ritual ibadah peninggalan nabi Ibrahim as dan putranya nabi Ismail as yang sudah berumur ribuan tahun.

Namun dengan berlalunya waktu ibadah tersebut telah diselewengkan sedemikian rupa hingga menjadi penyembahan berhala. Sebagai pusat peribadatan, Mekah banyak didatangi peziarah dari segala penjuru tanah Arab. Selain beribadah mereka juga datang untuk berlomba memamerkan kemahiran mereka bersyair, sekaligus juga untuk berniaga.

Puncaknya adalah musim haji. Pada saat itu, pasar-pasar Arab dibuka lebar-lebar. Yang paling terkenal adalah Pasar Ukaz. Di Ukaz inilah terdapat mimbar khusus tempat para penyair Arab adu kepiawaian. Disamping itu, Ukaz juga memiliki tempat penjualan budak dari berbagai ras dan bangsa, mulai yang berkulit hitam, kuning, coklat hingga berkulit putih.

Para pembesar Mekah sudah pasti adalah yang paling merasakan keuntungannya. Itu sebabnya mereka adalah yang paling takut kehilangan pengaruh dan kekuasaan bila  datang agama baru ke daerah kekuasaan mereka.

Namun Rasulullah tidak menyerah, ayat-ayat Al-Quranul Karim tetap beliau perdengarkan kepada penduduk Mekah. Dan tak sedikit diantara para penyair handal yang mau tak mau harus mengakui kehebatan dan keindahan ayat-ayat tersebut.  Bahkan Walid bin Mughirah, seorang pembesar Mekah yang juga ahli syair, mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah merasa tersentuh.

Demi Allah, tak seorangpun diantara kalian yang melebihi pengetahuanku tentang syair, puisi dan sajak, bahkan dari kalangan jinpun. Demi Allah apa yang diucapkan Muhammad tak sedikitpun menyerupai semua itu. Sungguh perkataannya indah dan menyejukkan. Kata-katanya sangat tinggi dan tak mungkin tertandingi”, aku Walid kagum.

Hal ini menyebabkan pembesar Mekah lain bertambah kesal dan marah. Fitnahpun disebarkan, Muhammad adalah penyihir, orang gila, maka harus dijauhi. Muhammad adalah pemecah bangsa, pengkhianat agama nenek moyang.

Tidak cukup puas hanya dengan menyebar fitnah mereka juga mengolok-olok bahkan melempari Rasulullah dengan kotoran binatang.

Suatu hari Umar bin Khattab seorang pembesar Mekah yang dikenal garang bermaksud menemui Rasulullah untuk membunuhnya.

“Aku akan menemui Muhammad! Dia yang menukar agama nenek moyang kita. Dia yang memecah belah masyarakat Quraisy. Dia memiliki banyak angan-angan bodoh. Dia yang mencaci tuhan-tuhan kita. Untuk semua kesalahannya itu, aku akan menebas lehernya!“, serunya geram.

Namun dalam perjalanannya menuju Darul Arqam dimana Rasulullah sering berkumpul dengan para sahabat ia mendapat kabar bahwa adik perempuan yang sangat ia cintai yaitu Fatimah dan suaminya Sa’id bin Zaid telah masuk Islam. Segera Umarpun merubah haluan menuju rumah pasangan tersebut untuk memastikan kebenarannya. Singkat cerita saking marahnya Umar memukul adiknya hingga terjatuh dan darahpun mengucur dari wajahnya.  Melihat itu Umar menyesal, lalu meminta adiknya untuk memperlihatkan lembaran-lembaran Al-Quran yang sempat disembunyikan di bawah kursinya. Lembaran-lembaran tersebut adalah lembaran surat Thaahaa berikut :

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”. (Terjemah QS. Thaahaa(20):1-6).

Umar tertegun, hatinya tersentuh, tubuhnya bergetar hebat, tangannya terkulai dan matanya menerawang jauh. Tiba-tiba ia teringat suatu malam secara tidak sengaja mendengar Rasulullah membaca ayat berikut:

“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”   (Terjemah QS. Al-Haqqah(69):41).

Ketika itu ia berpikir “Jika bukan perkataan penyair pasti perkataan Muhammad sendiri”. Didorong rasa keingin-tahuan yang tinggi, keesokan malamnya diam-diam ia menyelinap ke dekat rumah Rasulullah. Atas kehendak Allah swt ternyata yang dibaca Rasulullah adalah kelanjutan ayat yang didengarnya kemarin.

“Ia (Al Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.”

Segera Umarpun meninggalkan adiknya yang memandangnya penuh harap, dan pergi menuju Darul Arqam. Tapi kali ini bukan untuk membunuh Rasulullah melainkan untuk menyatakan ke-Islam-annya. Allahu Akbar …

Sebuah pertanyaan besar mengapa Umar yang dikenal temperamen, keras kepala dan tidak sudi mendengarkan pendapat orang lain begitu mudah luluh mendengar ayat-ayat Allah dibacakan?

Sama halnya dengan bangsa jin sebagaimana ayat berikut :

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan,” (Terjemah QS. Al-Jinn(72):1).

Al-Quran juga mampu membuat orang tergetar hebat menangis meski ia tidak memahami bahasa apalagi maknanya. Kita juga bisa melihat betapa orang di seluruh penjuru dunia, lelaki perempuan besar kecil hafal Al-Quran, bahkan  bacaan panjang pendeknyapun sesuai dengan yang tertulis.

Yaa … Al-Quran adalah mukjizat terbesar Rasulullah. Jika nabi Musa as dengan tongkat ajaibnya yang bisa berubah menjadi ular mampu membuat para penyihir bertekuk lutut. Nabi Isa as dengan kemampuan menyembuhkan orang lepra bahkan Allah swt pernah suatu kali mengizinkan beliau menghidupkan seorang yang mati. Nabi Ibrahim as yang berhasil keluar dari hukuman api dari rajanya. Nabi Saleh dengan unta betina yang muncul dari batu. Maka selain mukjizat-mukjizat kecil yang tidak jauh beda dari mukjizat nabi yang lain, Allah swt membekali Rasulullah dengan Al-Quranul Karim sebagai mukjizat terbesarnya.

Al-Quran adalah kitab suci yang bukan hanya indah rangkaian kata dan susunan kalimatnya. Tapi terlebih lagi makna dan kandungan yang ada di dalamnya. Kitab ini bukan hanya berisi perintah dan larangan, cerita para nabi dan umat-umat terdahulu, tapi juga berita-berita langit yang sungguh sangat visioner, menembus batas akal dan pikiran manusia yang sulit dipahami manusia pada waktu itu. Ayat-ayat yang seperti itu baru belakangan ini terbukti ternyata sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan dan sains yang makin hari makin terkuak itu. Ini makin membuktikan bahwa Al-Quran bukan buatan manusia.  Ia adalah kumpulan Firman Allah Azza wa Jala Yang Maha Tinggi di atas sana. Allahu Akbar.

Tak heran jika hingga saat ini, 15 abad sejak awal diturunkannya, mukjizat Al-Quran masih bisa terus dirasakan. Betapa banyaknya orang yang mau memeluk Islam setelah membaca dan mempelajari Al-Quran. Para ilmuwan dari berbagai negara maju tak terhitung banyaknya yang terkagum-kagum membaca ayat-ayat Al-Quran yang ternyata sesuai dengan ilmu yang selama bertahun-tahun mereka geluti.

Jadi, sungguh beruntung kita yang sejak lahir sudah mengenal Al-Quran. Sebaliknya alangkah sialnya bila kita tidak mampu merasakan kedasyatannya. Untuk itu marilah kita maksimalkan pengenalan kita terhadap kitab suci ini, tidak dengan hanya membacanya siang dan malam, tapi juga dengan mentaddaburi serta mengamalkannya,  agar kita dapat memperoleh ridho dan ampunan-Nya.

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah saw bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Quran. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib, Syarah Ihya)

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah,

Aku adalah Alquran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Juni 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Bagi sebagian orang Lebaran tanpa tradisi mudik rasanya kurang afdol. Tak terkecuali Lebaran 2020 atau Iedul Fitri 1441 H yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang sukses membuat heboh sebagian besar penduduk dunia. Para pemudik tampaknya tidak peduli terhadap bahaya penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan dan telah menyebabkan ribuan korban jiwa melayang termasuk nyawa para petugas medis yang sedang berjuang menolong korban penyakit tersebut.

Kebijakan yang tumpang tindih antara pusat dan daerah seperti karantina daerah (lock down), Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB), dan terakhir larangan mudik namun layanan transportasi justru di aktifkan kembali, disinyalir adalah salah satu penyebabnya.

https://mediaindonesia.com/read/detail/305730-regulasi-tumpang-tindih-dan-bertentangan-persulit-penegakan-hukum

Kepatuhan dan ketidak-patuhan memang tidak dapat dilepaskan dari krisis kepercayaan. Diawali dari pemerintahan yang korup yang sudah mendarah daging di bumi pertiwi ini, hutang pemerintah yang menumpuk hingga tersandera si negara pemberi hutang, angka pengangguran dan kiminalitas yang terus melonjak dll, menambah parahnya krisis kepercayaan masyarakat. Krisis ini tidak hanya kepada instansi tapi juga sosok individu.

Tentu kita semua pernah mendengar kisah klasik tentang seorang penggembala kambing yang untuk mengatasi rasa bosannya membohongi penduduk dengan mengatakan ada srigala datang menyerang kampung mereka.

Awalnya si penggembala berhasil mengecoh penduduk dan puas mentertawai mereka. Namun setelah berkali-kali mengulangi perbuatan buruk tersebut akhirnya pendudukpun sadar bahwa mereka telah dikerjai. Hingga suatu hari ketika benar-benar datang segerombolan srigala maka tak seorangpun mau percaya dan menolong si penggembala.

Sebuah hikmah, jangan pernah berbohong. Karena suatu ketika kita bicara jujur tak seorangpun akan mempercayai kita lagi. Apalagi kita sebagai umat Islam, pasti tahu perbuatan bohong sekecil apapun adalah dosa. Apalagi korupsi dll. Bersyukur kita memiliki panutan yang amat sangat pantas dijadikan keteladanan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Al-Ahzab(33):21).

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. [HR. Al-Bukhari].

Rasulullah adalah seorang yang amanah, siddiq, tabligh dan fathonah. Seorang Muslim seharusnya mencontohnya.  Dengan amanah seseorang akan selalu menepati janji, dengan siddiq ia akan jujur, tidak korupsi, tidak berbohong apalagi membuat berita hoax untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya. Dengan tabligh ia akan berani menyampaikan kebenaran betapapun pahitnya, dan dengan fathonah seseorang akan mampu menyelesaikan segala masalah dengan sebaik mungkin.

Rasulullah Muhammad saw juga dikenal memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat menonjol, tapi juga suka dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Beliau biasa menyelesaikan masalah secara musyawarah. Kasih sayangnya kepada umat jauh lebih besar dari pada kepada keluarga apalagi diri sendiri. Rasulullah tidak marah bila pribadi beliau yang dihina. Sebaliknya bila menyangkut kepentingan umat Rasulullah membelanya mati-matian.

Dengan berbekal inilah Rasulullah menyampaikan Islam hingga bisa berkembang dan menyebar ke segala penjuru dunia. Ajaran yang diturunkan Allah swt melalui malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw ini sejatinya adalah mengajarkan ahlak yang mulia dengan dasar ketundukan, kepatuhan serta penyembahan murni hanya kepada Tuhan Yang Satu, itulah Allah Azza wa Jala.

Tuhan Yang Satu, Tunggal, tidak beranak dan diperanakkan, tidak berkolaborasi dengan apa dan siapapun. Ia tidak membutuhkan dan tidak punya sedikitpun kepentingan atas kita. Ini menunjukkan ke-absolutan kekuasaan sebuah kerajaan yang abadi, kerajaan Allah, penguasa langit, bumi dan seluruh alam semesta, dengan para malaikat sebagai bala tentara yang siap tunduk patuh menjalankan perintah-Nya.

“Hai manusia, kamulah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS. Fathir(35):15).

“Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS.Ibrahim(14): 8)

Sebaliknya dengan penguasa negara di dunia, selain terbatas waktu dan wilayah kekuasaannya, ia memerlukan bantuan dan kerja sama mentri-mentrinya. Juga dukungan rakyat bila ingin pemerintahannya berjalan mulus. Rakyat dengan sendirinya akan patuh ketika merasa  diperhatikan, dilindungi haknya, dijaga keamanan dan dipenuhi kebutuhannya.

Namun bila hal itu tidak juga terjadi tidak heran juga. Bila kerajaan Allah yang begitu dasyat dan rasulullah sebagai penyampai ajaran yang tak diragukan lagi ahlaknya saja bisa di dustakan apalah arti seorang pemimpin negri.

Semoga dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan yang seharusnya membuahkan umat yang takwa, mampu membuat kita memahami apa arti kepatuhan, kepemimpinan dan kepercayaan.  Meyakini betapa pentingnya peran seorang pemimpin. Oleh karenanya tidak sepatutnya seorang Muslim tidak peduli dan asal-asalan dalam memilih pemimpin.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpin kalian jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):23).

Semoga di masa pandemi yang menyebabkan kita harus tetap di rumah beserta keluarga akan melahirkan generasi yang benar-benar memahami ayat-ayat Al-Quranul Karim, bagaimana Rasulullah menyikapinya,  hingga mampu membawa kita kembali ke masa kejayaan Islam dan mampu memimpin kita melawan kejahatan Dajjal yang makin memperlihatkan taringnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Juni 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »