Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”. (HR. Muslim).

Rukun Islam adalah lima pilar dasar amalan lahiriah umat Muslim yang wajib dijalankan yaitu 1. Syahadat, 2. Shalat, 3. Zakat, 4. Puasa Ramadan dan 5. Haji bagi yang mampu. Rukun ini menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim untuk mencapai ridho Allah SWT dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kesempurnaan iman.

Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251).

Hadist diatas secara jelas menerangkan bahwa Islam memiliki sejumlah tali ikatan yang dengannya seorang Muslim bergantung, menjadikannya seorang Muslim sejati. Ikatan-ikatan tersebut adalah tali  syariah/hukum Islam, tali puasa, tali zakat, tali ukhuwah Islamiyah, tali shalat dan tali-tali lain. Yang dimaksud tali syariah/hukum Islam diantaranya adalah hukum ekonomi seperti riba, hukum muamalah/berdagang, hukum politik seperti memilih pemimpin/presiden, hukum menutup aurat dll yang semuanya itu jelas tertulis dalam kitab suci Al-Quran.

Namun dapat kita saksikan sendiri saat ini sebagian besar hukum Islam sudah tidak lagi dipegang erat oleh sebagian besar Muslim di didunia ini. Hukum-hukum tersebut diganti dengan hukum Barat yang sifatnya melulu duniawi. Sangat dapat dipahami karena Barat yang notabene kafir menganggap bahwa kehidupan hanyalah di dunia sebagaimana ayat 37 surat Al-Mukminun berikut, “ Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi”.

Jadi sungguh tidak masuk akal, seorang yang mengaku Muslim yang sudah seharusnya meyakini kehidupan akhirat bisa terperangkap dan dengan sukarela mau mengikuti hukum kafir. Tapi itulah yang terjadi. Selanjutnya adalah shalat. Berdasarkan hadist di atas, hanya shalat inilah yang masih dipegang umat ini. Inilah tali ikatan terakhir umat Islam yang bila ditinggalkan juga celakalah sudah.  

Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya”. (Umar bin Khotob radhiallahu anhu).

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu”.

Jika diperhatikan dengan seksama, perintah shalat yaitu shalat malam telah diturunkan sejak awal dakwah Rasulullah. Perintah tersebut turun  melalui surat Al-Muzzamil ayat 1-4 sebagai berikut, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”.

Ayat-ayat tersebut turun di Mekah pada awal dakwah Rasulullah jauh sebelum hijrah.  Turun sebagai surat ke 3 setelah 5 ayat pertama Al-Alaq dan 7 ayat awal surat Al-Qalam, yaitu ketika Rasulullah sedang merasa ketakutan karena didatangi malaikat Jibril yang menyampaikan ayat-ayat sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi dan pentingnya kedudukan shalat. Shalat terutama shalat malam dapat menenangkan jiwa seperti yang dialami Rasulullah pada awal-awal dakwah.

Dalam Shahih Bukhori, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Pada awalnya, shalat itu diwajibkan dua rakaat. Kemudian setelah beliau -Shallallahu‘alaihi wasallam – hijrah, shalat diwajibkan menjadi empat rakaat. Hanya saja ketentuan sholat untuk orang yang safar, seperti ketentuan sholat sebelumnya (yakni 2 rakaat untuk sholat yang 4 rakaat)“.

Sebagian yang lain menerangkan, waktu itu sudah ada kewajiban shalat. Yaitu dua raka’at di waktu fajar dan dua raka’at di sore hari. Hal itu berdasarkan ayat 130 surat Thaha berikut, “Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya”.

Sejarah mencatat, antara tahun ke 4-6 hijriyah terdapat 3 kejadian penting berkenaan dengan shalat. Pertama, ketika Rasulullah Muhammad saw sedang shalat di Hijr Ismail yang merupakan bagian dari Ka’bah di Mekah, beliau diserang secara brutal oleh seorang musrik Quraisy. Abu Bakar ra yang melihat kejadian tersebut segera datang menolong tapi sahabat setia nabi tersebutpun tak luput dari serangan bertubi-tubi hingga jatuh tak sadarkan diri. Namun begitu sadar ia langsung menanyakan keadaan rasul hingga membuat ayahnya jengkel. Akan tetapi karena keinginan kerasnya, dengan dibopong ia berhasil menjenguk Rasulullah yang juga dalam keadaan masih lemah. Di kemudian hari Abu Bakar berkata tidak ada kejadian yang lebih melegakan hatinya kecuali hari dimana ia bisa melihat Rasulullah dalam keadaan masih hidup meski sangat lemah.

Kedua, ketika Rasulullah sedang shalat, beliau didatangi dan dicekik oleh menantunya sendiri yaitu Uthbah bin Abu Lahab. Namun beliau berhasil membebaskan diri dan kemudian bersabda bahwa ia akan mati dimakan binatang. Dua tahun kemudian hal tersebut benar-benar terjadi. Uthbah mati dimakan seekor srigala dalam perjalanan pulang dari berdagang di negri Syam yang biasa ia lalui. Dan yang lebih mengerikan beberapa saat sebelum kejadian ia sempat ketakutan teringat kutukan tersebut.

Ketiga, ketika Rasulullah sedang shalat di Kabah beliau didatangi orang-orang musrik Quraisy. Dan tepat ketika beliau sedang sujud, mereka menaruh kotoran binatang di kepala beliau. Fathimah, putri Rasul yang melihat kejadian tersebut sontak menangis dan memarahi orang-orang tersebut sambil membersihkan kotoran di atas kepala ayahnya tercinta. Ketika itu Fathimah masih berusia 5 tahun.

Rasulullah dan para sahabat baru melakukan shalat wajib 5x sehari seperti shalat yang dilakukan umat Islam saat ini satu setengah tahun sebelum hijrah, yaitu setelah peristiwa Isra’ Miraj sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut,“Pada malam isra’ mi’raj, tepatnya satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian secara berangsur, Allah terangkan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta hal-hal yang berkaitan dengan shalat”.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam penentuan waktu tepat terjadinya Isra‘ Mi’raj. Namun sebagian besar berpendapat antara satu setengah tahun hingga tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Peristiwa  Isra‘ Mi’raj  dimana Allah swt secara langsung memberikan perintah shalat 5 waktu, diabadikan Allah swt melalui ayat 1 surat Al-Isra’ berikut,“Maha suci Allah yang telah meng-Isra’-kan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya, untuk kami tunjukkan kepadanya tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Kami. Sesungguhnya (Allah) Maha Mendengar dan Melihat”.

Sekembali dari Miraj’, Rasulullah menceritakan, pada awalnya jumlah shalat yang diwajibkan adalah lima puluh kali dalam sehari semalam. Namun dalam perjalanan, nabi Musa as mengatakan bahwa umat Islam tidak akan sanggup melakukannya dan menyarankan Rasulullah memohon kepada Allah swt agar menguranginya. Maka setelah beberapa kali “pertemuan”, Allah swt menetapkan shalat wajib bagi umat Islam adalah lima waktu sehari semalam dengan pahala setara dengan lima puluh kali shalat. “ Maka akupun malu untuk memohon menguranginya lagi meski nabi Musa tetap berkeras umat Islam tidak akan sanggup melakukannya”, lanjut Rasulullah.

”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (Terjemah QS. Al-Isra’(17): 78).

Ayat diatas turun bertepatan dengan peristiwa Isra’ Mira dimana Allah swt memerintahkan shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam. Ketika itu Rasulullah baru menyampaikannya secara lisan dan waktu-waktu pelaksanaannyapun belum tercantum di dalam Al-Qur’an, hingga turunlah ayat diatas yang menegaskan tentang pelaksanaan shalat wajib tersebut.

Yang dimaksud “sesudah matahari tergelincir” adalah waktu untuk shalat Zuhur dan Asar, sedangkan “sampai gelap malam” adalah waktu salat Magrib, Isya dan Subuh. Inilah yang menjadi dasar pelaksanaan shalat lima waktu dalam Islam.

Sementara yang dimaksud “disaksikan” adalah hadist berikut, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh”. (HR. Muslim, no. 656)

Shalat adalah simbol ketundukan dan kepatuhan seorang Muslim terhadap Tuhannya Yang Satu, Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Namun shalat bukan hanya sekadar ibadah ritual tetapi juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt agar mendapatkan ketenangan batin. Shalat juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan berbagai nilai kehidupan seorang Muslim. Diantaranya yaitu nilai kebersihan yang diawali dengan wudhu, memakai pakaian dan alas shalat yang bersih. Nilai kedisiplinan, shalat memiliki nilai plus apabila dilaksanakan pada awal waktu. Nilai keadilan, dalam pelaksanaannya shalat tidak membedakan status sosial seseorang. Nilai kesejahteraan, pertemuan antara Muslim yang rutin pada shalat jamaah mengajarkan kesetaraan, persatuan dan kerukunan demi tercapainya ikatan ukhuwah sesama Muslim. Serta nilai toleransi, untuk saling menghargai antara imam dan makmum.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Ayat diatas turun berkenaan dengan Yahudi Madinah yang sangat keras kepala menentang ajaran Islam. Untuk itu Allah mengajarkan agar meminta pertolongan-Nya dengan sabar dan shalat. Sekaligus mengingatkan bahwa pada saatnya nanti setiap orang akan kembali menemui Tuhannya. Shalat sejatinya adalah cara berkomunikasi dengan Sang Pencipta yang paling effektif. Sehubungan dengan orang-orang Yahudi yang keras kepala, ternyata setelah 15 abad berlalu mereka tidak berubah. Bahkan saat ini dunia dapat menyaksikan secara jelas betapa makin kejamnya mereka, terutama terhadap rakyat Palestina.    

Yang juga tak kalah penting, ibadah shalat juga menjadi penentu dari semua amal di hari akhir kelak. Rasulullah bersabda yang artinya “Pertama kali yang akan dihisab atas seorang hamba Allah di hari kiamat adalah shalat. Apabila ia baik, niscaya baik semua amalnya. Dan apabila ia buruk niscaya buruk semua amalnya”. (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab Al-Ausath dan Dilya’ dalam kitab Al-Mukhtarah dari sahabat Anaa ra dengan isnad hasan).  

Perintah shalat yang diberikan Allah swt secara langsung kepada Rasulullah, bukan melalui turunnya ayat yang disampaikan melalui malaikat Jibril sebagaimana perintah lain, memiliki hikmah mendalam. Selain untuk menekankan tinggi dan pentingnya kedudukan shalat juga sebagai pengingat pentingnya hadist. Begitu juga dengan gerakan shalat dan jumlah rakaat dalam shalat yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran melainkan melalui hadist. Demikian pula shalat rawatib yang sangat dianjurkan dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi).

Jadi sungguh merugi orang-orang yang mengaku Muslim namun merasa cukup dengan Al-Quran dan mengabaikan hadist secara keseluruhan. Karena mengabaikan hadist sama dengan tidak mentaati Rasul. Meski harus diakui hadist memang mempunyai beberapa tingkatan, mulai dari shahih, hasan, dhaif hingga maudhu alias palsu. Itu sebabnya kita harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, bukan malah mengabaikannya. Apalagi tidak sedikit ayat Al-Quran yang memerintahkan umat untuk mentaati Rasul, diantaranya adalah ayat 32 surat Ali Imran berikut,

Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

Yang juga menarik adalah perintah shalat malam melalui ayat 1-4 surat Al Muzammil yang telah diterangkan di awal tulisan ini. Perintah sholat malam yang awalnya adalah wajib, dihapus menjadi sunnah setelah datangnya perintah shalat wajib 5 waktu. Jadi alangkah beruntungnya umat Islam yang saat ini tidak merasakan shalat malam sebagai kewajiban. Karena bahkan para sahabat di masa lalupun merasakan beratnya shalat malam sebagai shalat wajib. 

Sedangkan perintah shalat Tahajud secara khusus turun beberapa saat sebelum peristiwa hijrah melalui ayat 79 surat Al-Isra’ berikut, “Pada sebagian malam lakukanlah shalat Tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (maqāman maḥmūdan)”. 

Bahwasanya Nabi saw ditanya seseorang, “Shalat manakah yang paling utama setelah shalat yang diwajibkan (shalat lima waktu).” Rasulullah SAW menjawab, “Sholat Tahajud.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).

Perintah shalat Tahajud diatas turun sebagai bekal persiapan hijrah ke Madinah. Karena hijrah memerlukan persiapan mental dan fisik yang kuat demi menghadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi di tempat baru tersebut. Namun demikian shalat tersebut hukumnya sunnah bagi kaum Muslimin akan tetapi khusus bagi Rasulullah wajib. Para ulama sepakat wajib bagi Rasul karena Allah swt hendak mengangkat Rasul ke tempat terpuji/ maqāman maḥmūdan, yaitu pemberian syafaat. Syafaat Rasul inilah yang nantinya akan membantu kaum Muslimin di hari Perhitungan nanti. Tentu saja bagi yang menginginkannya yaitu dengan membanyak shalawat.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):56).

Akhir kata, jangan pernah tinggalkan shalat baik shalat wajib yang 5 waktu maupun shalat-shalat sunnah yang merupakan tali pertolongan terakhir bagi umat ini.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Agustus 2026/ 27 Safar 1448H.

Vien AM.

Sumber:

https://lampung.nu.or.id/syiar/sejarah-shalat-lima-waktu-dan-keutamaannya-m923F

https://muslim.or.id/27120-kapan-shalat-5-waktu-mulai-diwajibkan.html

Read Full Post »

Al-‘Aliyyu yang artinya Yang Maha Tinggi, adalah satu dari 99 nama Allah  sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qu’ran berikut, “Allah memiliki Asmaul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna (nama-nama terbaik) itu. … ” (Terjemah QS.Al-A’raf(7):180).

“(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)”. (Terjemah QS.Toha(20):8).

Nama-nama tersebut menunjukkan macam ragam sifat Allah yang menunjukkan kebesaran, ketinggian, keindahan, keagungan dan kesempurnaan Allah SWT, dan wajib kaum Muslimin mengimaninya. Dengan mengimani Asmaul Husna, berarti kita mengakui dan meyakini bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah satu-satunya pemilik sekaligus penguasa alam semesta dengan segala isinya. Keutamaan membaca Asmaul Husna adalah membuat kita senantiasa mengingat keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang mampu menghafal dan menjaganya pasti akan masuk surga“. [Hadis sahih] – [Muttafaq ‘alaih]

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait jumlah nama-nama Allah. Sebagian mengatakan bahwa nama Allah pada dasarnya tidak terbatas pada angka tertentu. Ada pula yang berpendapat, bahwa jumlah nama itu terbatas di angka tertentu (100, 1000, 99, dan lainnya) meskipun sebagian nama-nama-Nya tidak diketahui manusia secara keseluruhan. Pendapat bahwa Asmaul Husna berjumlah 99 adalah paling populer dengan berpatokan pada hadits di atas.

Allah Azza wa Jala menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang meyakini adanya Allah, melakukan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, serta yang mampu menghafal dan menjaga 99 nama-indah-Nya. Dengan membaca dan mengimani Asmaul Husna, secara tidak langsung, kita telah mendekatkan diri kepada Allah swt. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menyebut salah satu asma Allah ketika kita berdoa sesuai dengan muatan doa kita. Jadi sungguh suatu keuntungan besar bila kita hafal nama-nama tersebut.

*Al-`Aliyyu العَلِيُّ Yang Maha Tinggi*

Sebagai salah satu dari 99 Asmaul Husna, nama ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki ketinggian mutlak dalam zat, sifat, kekuasaan dan derajat, jauh melampaui segala makhluk-Nya. Dalam ayat 59 surat Al-Furqon disebutkan bahwasanya Allah Aza wa Jala bersemayam di atas Arsy,

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy … “.

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”. (Terjemah QS. Al-Haqqah (69):17).

Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (Terjemah QS. Al-Buruj(85):14-16).

Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya? Beliau menjawab, ‘Dia berada di ‘amaa, tidak ada diatas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya di atas air”.[ HR. Tirmidzi].

Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah ‘Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga”. [ HR Bukhari].

Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, sesuatu yang amat sangat jauh dari jangkauan kita. Oleh sebab itu sudah seharusnya untuk tidak mempertanyakannya. Yang pasti ilmuwan dengan peralatan super canggihnya baru belakangan ini mengetahui bahwa alam semesta ini amat sangat luas. Bahwasanya galaksi Bima Sakti dimana bumi berada hanya salah satu dari trilyunan galaksi yang ada di alam semesta ini. Bahkan matahari yang terlihat begitu jauh dari pandangan kita dan merupakan pusat perputaran tata surya kita sejatinya hanyalah salah satu bintang yang ada di galaksi Bima Sakti.

Mari kita simak ayat 143 surat Al-‘Araf yang secara bahasa berarti “tempat tertinggi” atau “tempat tertinggi yang dibatasi oleh dinding” berikut,

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Sementara dalam hadits Qudsi Allah berfirman kepada para malaikat: “Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihat-Ku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”.

Hadist diatas merujuk pada keadaan Wukuq di Arafah pada saat musim Haji yang dilakukan umat Islam yang merupakan kewajiban bagi yang mampu. Saat itu Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada hamba-hamba-Nya yang wuquf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka.

“ . . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?

Ayat dan hadist diatas menunjukkan 2 sifat sekaligus yang tampak berlawanan yaitu Al-‘Aliyyu yang artinya yang maha Tinggi dan Al-Qoribu ( yang maha dekat). Ayat 143 surat Al-‘Araf diatas menerangkan secara gamblang bahwasanya gunung selaku salah satu mahluk Allah hancur luluh ketika Ia menampakkan diri. Sebaliknya hadist diatas menceritakan umat Islam yang sedang berhaji tetap utuh seperti semula ketika Ia tidak hanya menampakkan diri tapi bahkan mendekatinya. Allah dengan segala kehendak-Nya mampu berbuat segalanya. Jadi sungguh alangkah tinggi dan beruntungnya umat Islam.

Akan halnya Al-Qoribu ( Yang Maha Dekat), meski umumnya tidak masuk dalam tabel Asmaul Husna namun sifat Allah tersebut beberapa kali muncul dalam Al-Quranul Karim, diantaranya pada ayat 186 surat Al-Baqarah sebagai berikut,“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Sementara pada ayat 19 surat Al-Alaq, Allah swt memerintahkan umat Islam untuk mendirikan shalat (sujud) dan mendekatkan diri pada-Nya. Ayat tersebut  adalah ayat sajadah ( ayat yang mengandung perintah sujud). Ayat yang ketika umat Islam mendengar atau membacanya dianjurkan untuk melakukan sujud tilawah sebagai bentuk ketundukan dan penghormatan terhadap ayat tersebut, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Menariknya, bacaan sujud yang dilakukan umat Islam minimal 34 x dalam sehari ( dalam 5x shalat wajib), adalah “ Subhanallah robbiyal a’la wa bi hamdi ” yang artinya “Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala puji bagi-Nya”. Untuk diingat sujud, yaitu posisi dimana dahi menempel ke tanah adalah posisi terdekat dengan Allah swt. Secara umumpun tanpa merujuk agama, orang mengartikan sujud sebagai bentuk penyembahan dan penghambaan, penghinaan bagi orang yang sujud kepada benda/mahluk yang di-sujud-inya.  

Dalam Islam penyembahan dan penghambaan hanya berlaku kepada Sang Pencipta, Allah Subhanallah Wa Ta’ala, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi karena manusia memang hamba Allah. Sujud kepada mahluk lain selain Allah adalah bentuk kesyirikan yang merupakan dosa besar yang tiada ampun baginya.  

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Terjemah QS.An-Nissa(4):48).

Demikianlah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-‘Aliyyu melalui Asmaul Husna. Dan dengan mengimani Asmaul Husna, salah satu hikmah yang akan kita dapat adalah dirahmati oleh Allah SWT. Allah akan melindungi hambanya yang mendekatkan diri pada-Nya. Dengan mengetahui makna Asmaul Husna maka Allahpun akan memudahkan segala urusan kita, untuk selalu berperilaku baik tidak hanya kepada-Nya tapi juga kepada sesama manusia hingga Allahpun ridho dan hidup kitapun tenang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Mei 2026 / 25 Dzulhijjah 1447 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan, sesungguhnya, pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):185).

Tidak sedikit ayat suci A-Quranul Karim yang menerangkan bahwa semua orang pasti akan mati. Hanya saja kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan dengan cara bagaimana kita akan meninggal. Keyakinan ini tidak saja dimiliki oleh orang beriman semata tapi juga orang kafir. Bahkan orang yang tidak percaya akan adanya Tuhanpun meyakini hal tersebut.

Namun bagi orang beriman kematian tidak dapat dianggap sepele. Karena kematian sejatinya adalah awal kehidupan yang sesungguhnya. Kematian adalah gerbang kehidupan akhirat yang jauh lebih kekal dibanding kehidupan dunia.

Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).

Sayangnya, kehidupan akhirat hanya ada 1 pilihan, yaitu surga atau neraka. Padahal neraka adalah tempat kembali yang sangat mengerikan dan panas tak terhingga. Penghuni neraka akan disiksa dengan siksa sangat pedih. Bahkan penjaganyapun sangat menakutkan.

Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. (Terjemah QS.Az-Zumar( 39):72).

Sedangkan surga adalah tempat kembali yang benar-benar indah dan menyenangkan sebagaimana hadist Qudsi, “Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“ … … Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya“.(Terjemah QS. AZ-Zumar (39:73).

Maka sebagai seorang yang beriman sudah sewajarnya masuk surga adalah cita-cita tertinggi dalam hidup. Meninggal dalam keadaan terbaiknya yaitu husnul khotimah. Untuk itu wajib kita mengetahui caranya, yaitu dengan mempelajari Al-Quranul Karim dan As-Sunnah dan tentu saja mengamalkannya. Menjalankan segala perintah dan menjauhi semua larangan, tidak memilah ayat-ayat sesuai kehendak hati..

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Setiap orang akan dibangkitkan sesuai kematiannya.” (HR. Muslim).

Para ulama sepakat yang dimaksud hadist diatas adalah wafat sesuai dengan kebiasaannya dan dibangkitkan sesuai kebiasaan tersebut. Artinya agar wafat dalam keadaan husnul khotimah wajib hukumnya agar kita membiasakan diri dengan hal-hal yang baik, baik sesuai pandangan Allah swt tentunya.

Kita semua juga tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Tidak peduli dengan kondisi apakah seorang hamba dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau sedang bermaksiat. Apakah dalam keadaan sakit atau sehat. Apakah masih muda atau sudah tua.

Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan“. (Terjemah QS.Al-Munafiqun(63):11).

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh“.(Terjemah QS.An-Nisa(4):78).

Kemungkinan orang meninggal sesuai kebiasaan atau hobbynya memang sangat tinggi. Betapa seringnya kita mendengar kabar seorang pawang singa atau ular wafat diterkam binatang piaraannya. Pembalap meninggal dalam kecelakaan balap mobil/motor. Artis, penyanyi, penari, pembawa acara meninggal ketika sedang melakukan profesi atau hobbynya tersebut.

Namun yang paling mengerikan adalah ketika seorang pezina dimatikan ketika dalam keadaan sedang berzina. Na’udzu billah min dzalik … Sebaliknya tidak sedikit orang yang terbiasa menjaga wudhu, shalat, sujud,  membaca Al-Quran Allah wafatkan dalam keadaan yang ia sukai itu. Masya Allah alangkah indahnya … 

Itu sebabnya kita harus pintar-pintar dalam memilih kebiasaan, hobby bahkan profesi/pekerjaan. Karena, kita akan dimatikan dalam kebiasaan tersebut. Orang yang terbiasa dalam ketaatan insya Allah akan diwafatkan dalam ketaatannya, husnul khotimah.

Untuk itulah pentingnya peran orang-tua. Perkenalkan anak pada kebiasaan dan  hobby yang baik sejak dini. Seperti membaca Al-Quran, lisan yang selalu berdzikir dll. Jangan sampai hobby menari, menyanyi, bermain piano, bermain bola dll membuat anak lupa dari mengingat kepada Sang Khalik. Apalagi setelah lebih besar nanti, anak akan lebih banyak lagi tantangan dalam hidupnya.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal lain yang tak kalah pentingnya, adalah hadist berikut :

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Hadist di atas mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan selalu memohon kepada Allah swt agar istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat dan wafat dalam keadaan husnul khotimah. Karena tidak sedikit orang yang banyak beramal sholeh namun Allah matikan justru ketika sedang berbuat maksiat hingga ia mengalami kematian yang buruk (su’ul khotimah).

Sebaliknya ada juga ahli maksiat yang menjelang ajalnya bertobat dan segera beramal ibadah. Lalu Allah wafatkan ia dalam keadaan demikian hingga iapun mengalami husnul khotimah.  Orang seperti ini sangatlah beruntung karena sebenarnya ia tidak pernah tahu kapan ia akan dimatikan. Sungguh beruntung Allah swt memberinya kesempatan bertobat.  

Sebagai catatan, beramal ibadah adalah segala perbuatan yang baik menurut Sang Pencipta bukan menurut manusia. Contohnya yaitu melaksanakan rukun Islam yang 5, rukun Iman yang 6, berkata baik, hormat pada orang-tua, memegang janji, menutup aurat dan banyak lagi.  Sedang berbuat maksiat tidak saja murtad, kafir, membunuh, berzinah, mencuri namun juga menunda shalat tanpa alasan yang benar, tidak menjaga pendengaran/lisan/pandangan, hati yang penuh dengan beragam penyakit hati, malas, meninggalkan ibadah dll.

Masuk surga atau neraka adalah hak prerogative Allah Azza wa Jala, bukan semata karena amal ibadah kita. Melainkan berkat rahmat-Nya. Karena seumur hidup beramal ibadahpun tidak akan mampu membalas segala kebaikan-Nya. Untuk itu doa sepanjang waktu sangat diperlukan.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. ( Terjemah QS. Ghofir(40):60).

Doa memohon kepada Allah swt agar kita istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat, dimatikan dalam keadaan terbaik kita, menutupnya dengan kalimat tauhid “Laa ilaha illa Allah”,  dan husnul khotimah. Jangan sampai kita lalai, lelah beramal ibadah lalu tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dalam keadaan maksiat. Na’udzubillah min dzalik …       

Dalam kitab Shahih Tirmidzi disebutkan dalam hadis Shahihnya, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi).

Diterangkan dalam Risalah Majmu’ Fatawa, Ibnu Utsaimin berkata bahwa hendaknya manusia banyak merenung karena sebenarnya setiap orang senantiasa dalam bahaya disebabkan kematian selalu mengintai dan tidak ada batas waktu yang diketahui.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara yaitu 1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, 2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, 3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, 4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, 5. Hidupmu sebelum datang matimu.

Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan kesempatan umur sebaik-baiknya, yaitu dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Sudah seharusnya manusia selalu merasa dirinya banyak melakukan kesalahan hingga harus bertaubat dan memperbaiki kesalahan. Terus membiasakan diri dalam kebaikan hingga ajal tiba dalam sebaik-baik keadaan. Sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalani.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Juni 2024.

Vien AM.

Read Full Post »

Ramadhan Karim.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,  (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):183).

Tak terasa bulan suci Ramadhan, bulan dimana Allah swt perintahkan umat Islam agar berpuasa, telah tiba. Berpuluh tahun sudah kita menjalani bulan suci tersebut. Pertanyaannya adakah puasa kita dari tahun ke tahun ada peningkatan kwalitas? Atau sama saja? Atau bahkan lebih buruk???

KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam artikel berjudul “Keistimewaan Bulan Ramadhan” menyebut puasa berasal dari bahasa Sansekerta yakni upavasa. Upa berarti dekat dan vasa/wasa berarti yang maha agung. Jadi upavasa artinya mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.

Hampir semua agama memang mempunyai perintah berpuasa. Tapi hanya Islam yang mewajibkan umatnya berpuasa selama 1 bulan penuh yaitu di bulan Ramadhan. Bulan di mana pertama kali diturunkan ayat suci Al-Quran. Itulah ayat 1 – 5 surat Al-‘Alaq. Ayat ini adalah ayat perintah agar membaca. Menandakan betapa pentingnya membaca. Kita semua pasti tahu membaca adalah bagian terpenting dalam menuntut ilmu agar orang menjadi pandai. Uniknya dalam Islam, pandai adalah minimal mengetahui bahwa yang menciptakan manusia adalah Allah subhanallahu wa Ta’ala.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Dalam bahasa Arab, puasa adalah shaum/shiyam (shaamu – yashuumu) yang berarti menahan. Meski demikian ada perbedaan mencolok antara shaum dan shiyam. Shaum adalah menahan bicara atau berpuasa dalam arti menahan makan dan minum sedangkan shiyam menahan makan, minum, syahwat dan hal-hal yang tidak disukai Allah swt dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Itu sebabnya perintah berpuasa dalam ayat 183 surat Al-Baqarah di atas menggunakan kata shiyam bukan shaum.  

Ibadah puasa mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan ibadah lain seperti sedekah, haji dan lainnya, bahkan shalat. Ini berdasarkan hadist qudsi berikut:

Setiap amal perbuatan manusia demi dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

Dengan demikian sungguh tinggi nilai puasa di hadapan Allh swt. Apalagi puasa Ramadhan. Untuk itu sungguh rugi orang yang memasuki bulan Ramadhan berpuasa tapi tidak secara sungguh-sungguh. Berpuasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan syahwat.

Ramadhan adalah bulan dimana semua amal ibadah dilipat gandakan pahalanya. Ibaratnya adalah seperti toko yang mengobral barang-barang bermutu alias SALE yang biasanya diburu terutama kaum perempuan.

Maka bila obral saja diburu tidakkah Ramadhan lebih lagi?? Mari di bulan suci ini kita berlomba dalam mengerjaan ibadah, tidak hanya puasanya tapi juga dalam tilawah (membaca Al-Quran), mengkhatamkan dan menghafalnya, shalat Tarawih dan Witir, sedekah/infak, sodaqoh, dll. Jangan lupa juga untuk terus mendoakan dan membantu saudara-saudari kita di Palestina terutama Gaza yang hingga detik ini masih dalam kesulitan memenangkan pertempuran melawan Zionis Israel terkutuk.  Mari kita memulainya dengan hati yang bersih, dengan saling memaafkan.

Mari kita dekatkan diri kepada Allah Azza wa Jala agar Ia mencintai kita hingga ridho memudahkan segala urusan kita dan kelak memasukkan kita kedalam syurga-Nya yang indah memukau, dalam keadaan mata yang terbuka lebar sebagaimana Allah telah memberi kita mata yang dapat melihat di dunia. Syurga yang Rasulullah gambarkan keindahannya tidak pernah ada di dunia ini bahkan terlintaspun tidak, sebagaimana hadist berikut:

“Allah SWT berfirman: Aku telah menyiapkan  untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia untuk hamba-hamba-Ku yang saleh.” (HR. Muslim)

Sedangkan buta yang dimaksud dalam ayat-ayat berikut bukan mata fisik yang buta melainkan hati yang buta. Mengapa demikian?? Karena matanya tidak digunakan untuk membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang merupakan firman Allah sebagaimana perintah-Nya di awal turunnya Al-Quranul Karim di bulan Ramadhan. Nau’udzubillah min dzalik …

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”. (Terjemah QS Al-Hajj (22):46).

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”(Terjemah QS Al-Isra’ (17):72).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Maret 2024/ 29 Sya’ban 1445 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Palestina dan Ribath.

Kata “Ribath” dan “ Murabith” belakangan ini sering muncul, terutama yang berhubungan dengan berita perlawanan Gaza/Hamas melawan penjajah teroris Zionis Yahudi terkutuk.  Ribath berasal dari kata “rabatho-yarbuthu” yang secara bahasa artinya bisa bermacam-macam dari mulai mengikat, menghubungkan, menggandeng, menjaga, menguatkan, mengeratkan dan yang semacamnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kutunjukkan kepada kalian sesuatu yang dapat menjadi sebab Allah menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat.” Mereka -para sahabat- menjawab, “Tentu saja mau, wahai Rasulullah.” Maka beliau menjawab, “Yaitu menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu sholat berikutnya sesudah mengerjakan sholat, maka itulah RIBATH.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah).

Sedangkan secara istilah, ribath sering diartikan sebagai berjihad menjaga perbatasan suatu daerah dari serangan/rongrongan musuh dari luar. Orang yang melakukan ribath disebut Murabith. Seorang murabith tidak berarti harus berperang membawa senjata melawan musuh tapi juga bertahan tidak meninggalkan tempat walau jiwanya diancam. Contohnya dengan menolong korban/orang yang sakit, menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari dll.

Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan apa pun yang ada di atasnya”. (Shahih Al-Bukhari: 2892).

Itulah yang dilakukan rakyat Palestina, khususnya penduduk Gaza saat ini. Dapat kita saksikan betapa gigihnya perlawanan mereka terhadap kejahatan Zionis yang sudah benar-benar keterlaluan keji dan bengisnya. Dengan alasan membela diri dari serangan Hamas 7 Oktober 2023 lalu, mereka seenaknya memperlakukan penduduk Gaza. Gaza yang merupakan penjara terbesar di dunia adalah kota dimana lahir Hamas organisasi terbesar Palestina yang gigih berjuang meraih kemerdekaan Palestina agar lepas dari penjajah Israel yang telah merebut tanah air mereka pada tahun 1948.   

Perjuangan Hamas dan organisasi perjuangan Palestina lainnya yang berjihad dengan mengangkat senjata, serta rakyat Palestina yang berjihad dengan ribath, tentu saja bukan sekedar demi tanah air mereka tapi terlebih lagi dengan adanya kompeks Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama kaum Muslimin.      

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan RIBATH (tetaplah bersiap siaga di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung“. ( Terjemah QS. A-Ali Imron(3):200).

Maka atas kalian kewajiban berjihad, dan sesungguhnya jihad kalian yang paling utama adalah ribath menjaga perbatasan, dan sesungguhnya ribath kalian yang paling utama adalah di ‘Asqalan.” (HR Ath Thabrani, sanadnya shahih menurut Al Albani).

Berdasar penemuan sejarah, Gaza dan ‘Asqalan telah ada dan telah dihuni sejak masa prasejarah. Teks pertama menyebut wilayah ‘Asqalan berasal dari abad 19 sebelum Masehi. Sementara Gaza yang berjarak 12 mil dari ‘Asqalan, sejak dibebaskan dan menjadi kota Islam sampai terjadinya Perang Salib adalah bagian dari ‘Asqalan. Itulah mengapa ada yang menyebut Imam Asy Syafi’i lahir di Gaza, ada pula di ‘Asqalan.

“Adapun ‘Asqalan”, catat Ibn Taimiyah, “Termasuk wilayah perbatasan kaum Muslimin, karenanya banyak orang-orang shalih dari ummat ini yang bertempat tinggal di sana dalam rangka untuk ribath di jalan Allah.”

Dalam banyak rekaman video terlihat  bukan saja orang dewasa tapi juga anak-anak Palestina yang dengan tekad kuat menyatakan, “Ini tanah kami, dan kami akan menjaganya” meski kematian sudah tampak dekat di hadapan mereka. “Kami hanya takut kepada Allah” begitulah jawaban para murabith tanah ribath Palestina. Dan separah apapun keadaan yang mereka alami, “Alhamdulillah” adalah kata yang keluar dari lisan mereka.

Bahkan seorang nenek usia 80 tahunpun tak mau kalah untuk ribath. “Jika seluruh dunia datang, kami tidak akan meninggalkan tanah kami. Jika bukan saya, anak dan cucu saya akan hidup di sini selamanya, saya ingin syahid (mati) di tanahku. Saya akan tetap di sini meskipun semua kehancuran dan serangan,” kata nenek Fatihia, dikutip Aljazeera, Jumat (5/1). “Tidak ada yang bersama kami, rakyat Palestina menderita, kami hanya punya Allah, tapi saya tidak akan keluar dari rumah saya, saya tidak ingin keluar, baik mati atau terhina.”, lanjutnya lagi.

Kami bisa saja pergi dari sini mengungsi ke tempat yang lebih aman, tetapi jika kami pergi, lalu siapa yang akan menjaga Al-Aqsho. Jika Al-Aqsho dikuasai mereka (entitas Yahudi). Maka kehormatan umat Muslim di seluruh dunia akan diinjak-injak,” tegas  Komandan Brigade Al-Qassam Hamas, Abu Ubaidah.

Zionis Israel sejatinya tidak hanya menginginkan tanah Palestina yang mereka klaim sebagai tanah suci mereka. Zionis dan para sekutunya di belakang hari ternyata memiliki agenda tersembunyi yaitu ingin membangun sebuah terusan yang mau tidak mau harus melewati jalur Gaza, demi menyaingi terusan Suez yang saat ini dikuasai Mesir. Ini adalah proyek raksasa yang bakal membuat mereka makin kaya raya.    

Itu sebabnya kita saksikan betapa gencarnya tentara Zionis membombardir Gaza. Dengan semena-mena mereka mengusir penduduk Gaza utara untuk mengungsi ke Gaza selatan tapi setiba disana tetap ditembaki! Gaza dengan cara apapun memang ingin mereka rampas.   

Namun kini sebagian besar penduduk Gaza tidak mau mengulangi kesalahan dengan apa yang dikenal peristiwa Nakba. Nakba yang berarti bencana atau malapetaka adalah tragedy diusirnya rakyat Palestina dari kota-kota dan kampung-kampung  mereka hingga Zionis Israel dengan leluasa dapat merampas rumah dan tanah mereka.

Sebanyak  530 kota dan desa dihancurkan, sekitar 15 ribu warga Palestina dibunuh. Dan pada akhirnya Israel memperoleh 78 persen wilayah Palestina dengan menyisakan Tepi Barat, wilayah timur Yerusalem dan Jalur Gaza yang terisolasi dari keduanya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1948 menyusul diproklamirkannya negara Israel yang di prakasai Inggris.  

Pertanyaannya, apakah ribath hanya milik warga Gaza\’Asqalan semata?? Tidak berlaku  bagi kaum Muslimin yang lain seperti kita, Muslim yang tinggal jauh dari Palestina?? Cukupkah kita membantu hanya dengan  doa dan donasi uang/makanan padahal korban hari ini sudah mencapai lebih dari 23 ribu jiwa mayoritas anak2??

https://almanhaj.or.id/1908-ar-ribath-berjuang-di-jalan-allah-adalah-salah-satu-sebab-diselamatkan-dari-siksa.html

Dari An-Nu’man bin Bisyir dia berkata, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685).

Lupakah kita bagaimana hebat dan kuatnya persaudaraan Muslim hingga Islam di masa lalu dapat mencapai kejayaannya, Islam yang ditakuti sekaligus dihormati musuh. Bukan Islam yang menjadi korban dan bahan bualan musuh.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Januari 2024.

Vien AM.

Read Full Post »

Mengenal Diri.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “ Tidak ada seorangpun manusia yang terlahir kecuali terlahir atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”.

Hadis ini menegaskan bahwa sesungguhnya semua manusia pada dasarnya adalah baik karena lahir dalam keadaan fitrah/suci. Ibarat kertas, semua manusia terlahir seperti kertas putih, bersih tanpa noda. Ia mengenal baik Tuhan Yang menciptakannya, Allah Yang Satu, Allah  Subhana Wa Ta’ala. Kesaksian penting yang terjadi di alam ruh, tempat semua manusia yang merupakan keturunan nabi Adam as sebelum diturunkan dan dilahirkan melalui ibunya ke dunia ini terekam jelas pada ayat 172 surat Al-Araf berikut:

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Sumpah tersebut bahkan dengan gamblang menegaskan bahwa mereka berlepas diri dari kesesatan orang-tua yang mempersekutukan Allah Azza wa Jala, orang tua pilihan Sang Khalik, yang akan diberi tugas dan mandat untuk mendidik dan membesarkan mereka kelak di dunia yang penuh cobaan itu. Hal tersebut tercermin dari kelanjutan surat Al-Araf ayat 172 di atas, yaitu pada ayat 173 sebagai berikut :

“atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”. ( Terjemah QS. Al-Araf (7):173).

Ayat di atas menunjukkan betapa besar peran orang tua dalam mempengaruhi warna keagamaan anaknya sesuai hadist yang disebutkan pada awal tulisan ini. Orang tua adalah orang yang menentukan, mengarahkan bahkan dapat memaksakan agama anaknya sesuai agama orang-tua, apakah ia Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, bahkan atheis. Orang tua yang dimaksud bisa berupa orang tua biologis, yakni ibu dan ayah kandungnya ataupun orang-tua angkatnya. Intinya adalah yang mendidik dan mengasuh anak sejak kecil.

Namun seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan anak, seseorang bisa saja berubah agama dan kepercayaannya. Dan ini sangat dipengaruhi lingkungan dan pergaulannya. Sebagai misal, ketika ada seorang bayi yang lahir dari orang-tua non Islam, di lingkungan yang juga jauh dari Islam. Misalnya di Swedia yang sekarang ini sedang terserang Islamophia akut. Dapat dipastikan bayi tersebut akan mengikuti agama orang-tuanya, yang bisa jadi ketika dewasa seperti juga orang-tua dan lingkungannya sangat membenci Islam. Tapi dapatkah kita pastikan orang tersebut akan selamanya demikian hingga akhir hayatnya??

Berikut adalah kisah 3 politikus Belanda dan Jerman yang awalnya membenci Islam namun kemudian bertaubat dan memeluk Islam.

https://www.haibunda.com/trending/20200422155356-93-136524/3-politikus-ini-awalnya-benci-jadi-cinta-islam-ada-yang-sudah-naik-haji

Hal yang sama dengan yang dialami pemuda-pemuda Quraisy yang hidup dizaman kemusyirikan meraja-lela tapi mau mendengar dakwah Rasulullah, kemudian memeluk Islam dan rela berjuang mati-matian membela Islam.

Tidak bisa kita pungkiri hidayah adalah milik Allah swt, tak satupun orang menjadi Islam tanpa izin-Nya. Allah memberikan hidayah kepada siapa dan dengan cara apapun  yang Ia kehendaki. Akan tetapi hidayah tetap harus dicari, bagaimana agar petunjuk tersebut tidak menjadi sia-sia. Salah satunya adalah dengan mencari ilmu mengenai-Nya, tentang Islam agama tauhid yang haram hukumnya menyekutukan Sang Pencipta, tentang syariah dan fiqihnya, tentang kehidupan Rasul-Nya Muhammad saw lengkap dengan sunnah-sunnahnya, dll.

Yang tak kalah menariknya, Allah swt memberi pahala 2 kali bagi ahli kitab ( Nasrani dan Yahudi) yang kemudian memeluk Islam. Ini sebagai balasan atas keimanan mereka pada nabi Isa as bagi kaum Nasrani dan nabi Musa as bagi kaum Yahudi karena ketidak-tahuan mereka, yang bisa jadi karena didikan orang-tua yang salah hingga mereka tidak memahami ajaran Islam, tidak mengenal Al-Quranul Karim. Bukankah manusia lahir tanpa dapat memilih orang-tua? Hal yang sangat sesuai dengan ayat 173 surat Al-Araf sebagai hadiah istimewa atas cobaan berat mendapat orang-tua kafir.   

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”. (Terjemah QS.Al-Qashash (28):52-54).

Sebaliknya seorang yang dilahirkan dari orang tua muslim sudah seharusnya mensyukuri  kelebihan tersebut. Jangan malah menjadi lalai dan gegagah menjalani kehidupan sebagai Muslim dengan merasa tidak perlu mencari dan memperdalam ilmu tentang keislaman dan keimanan yang diwariskan dari orang-tuanya. Jangan pernah lupa betapa besarnya pengaruh lingkungan dan pergaulan. Lingkungan dan pergaulan yang salah berpotensi menjadikan seorang Muslim menjadi orang Munafik bahkan murtad. Celakanya lagi tempat kembali orang Munafik kelak adalah kerak neraka dengan siksaan 2 kali. Na’udzubillah min dzalik …    

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar”. ( Terjemah QS. At-Taubah(9):101).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya masyarakat madani, yaitu masyarakat beradab yang saling tolong menolong dalam menegakkan kebaikan dan keadilan, mencegah terjadinya kemungkaran serta saling menghargai. Untuk itu dalam memilih seorang pemimpin tidak boleh sembarangan. Seorang pemimpin harus mampu membuat rakyatnya agar dapat hidup tenang dalam menjalankan kehidupannya termasuk dalam hal menjalankan agamanya. Bayangkan bagaimana nasib seorang anak yang lahir dari orang tua dan keluarga Muslim namun hidup di bawah pemerintahan yang tidak menghargai nilai-nilai Islam atau bahkan memusuhi Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

“Lebih utamanya manusia di sisi Allah derajatnya di hari kiamat itu seorang pemimpin yang adil yang lemah lembut (memiliki kasih sayang). Dan seburuk-buruk hamba di sisi Allah derajatnya di hari kiamat yaitu pemimpin yang zalim yang kasar.” (HR Thabarani).

“Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).

Umur manusia di zaman sekarang ini rata-rata hanya 70 tahun-an. Umat Islam menjadikan usia Rasulullah Muhamad saw yaitu 63 tahun sebagai patokan usia. Usia yang sangat pendek. Sebagai contoh, mari kita lihat apa yang terjadi dengan anak-anak yang lahir dan hidup di Azerbaijan, Tajikistan dan Uzbekistan. Ketiga negara tersebut tadinya berada di bawah pemerintahan Islam yang adil namun kemudian Uni Sovyet yang beraliran komunis menjajah negara-negara tersebut. Meski “hanya” dikuasai tidak lebih dari 80 tahun, yang berarti lebih dari usia hidup seseorang, ternyata sebagian besar anak-anak tersebut rusak akidahnya. Sungguh memprihatinkan. Perlu perjuangan yang tidak ringan  bagi mereka untuk kembali ke jalan Islam yang benar.   

Anomali tampaknya hanya terjadi di tanah Palestina. Rakyat Palestina yang tanahnya direbut Zionis Israel sejak tahun 1948 hingga detik ini tetap terjaga kuat aqidahnya. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Allah swt menyebut tanah Palestina dimana di dalamnya berdiri Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama umat islam, adalah tanah yang diberkahi.

Menariknya lagi, berkat Keadilan-Nya, pada akhir hayatnya semua manusia akan kembali mengakui ke-Esa-an Tuhannya sesuai kesaksian mereka di alam sebelum mereka dilahirkan dahulu. Allah swt mengabadikan kisah pengakuan Firaun di akhir hidupnya bahwa tiada tuhan selain Allah swt pada ayat 90 surat Yunus. Meski sayangnya Allah swt tidak menerima taubat yang demikian.

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir‘aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri)“.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”. ( Terjemah An-Nisa (4):18).

“Allah selalu menerima tobat seseorang, sebelum nyawa sampai di kerongkongan“. (HR at Tirmidzi).

Akhir kata, mari kita terus memperdalam ke-Islaman dan keimanan kita agar ketika Sang Khalik memanggil kita untuk kembali, kita tetap dalam fitrah yang sama ketika dulu dilahirkan. Mari kita berlomba dengan para mualaf yang biasanya memiliki semangat tinggi untuk mengejar ketinggalan mereka dalam ber-Islam dan ber-Iman.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2023.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »