Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2025

Sejarah mencatat pada 1874, orang Yahudi  yang tinggal di Palestina hanya 14.000 jiwa. Sementara etnis Arab dengan jumlah 426.000 jiwa menempati rumah-rumah di atas tanah yang telah dimiliki keluarga selama beberapa generasi. Rata-rata mereka hidup dengan bertani. Jadi pada saat itu orang Yahudi hanya 3 persen dari total penduduk Palestina.

Pada saat yang sama  orang-orang Eropa, dengan berbagai alasan, sangat membenci bangsa Yahudi yang tinggal bersama mereka di tanah Eropa. Itulah yang kemudian dikenal dengan Antisemitisme. Dipicu hal tersebut para pemimpin Zionis memikirkan perlunya berdiri negara Yahudi. Dan tanah Palestina yang ketika itu merupakan bagian dari Kesultanan Turki Ottoman, dan memang sejak lama mereka impikan, adalah targetnya !!!

Maka ketika akhirnya meletus Perang Dunia I (1914-1918) dengan kekalahan blok Turki, Inggris sebagai pemenang berupaya memfasilitasi pembentukan kerajaan Arab bersatu. Ironisnya, pada Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919, negara-negara Eropa justru mencegah terciptanya kerajaan Arab bersatu tersebut.

Sebaliknya mereka justru menetapkan serangkaian mandat yang memungkinkan pembagian seluruh wilayah bekas kesultanan Ottoman yang sangat luas itu kepada pemenang PD I. Diantaranya yaitu penetapan Jalur Gaza menjadi bagian dari Mandat Inggris atas Palestina. Selanjutnya pada 1948 atas izin PBB Inggris memberikannya kepada Israel.

Maka sejak 1948 sekitar 172.973 hektare tanah milik warga Palestina diambil alih. Zionis Israel tidak hanya merampas tanah dan rumah warga Palestina tapi juga menangkap, memenjarakan bahkan menyiksa dan membunuhi warga, baik tua muda anak-anak lelaki maupun perempuan. Itulah yang kemudian dinamakan Nakba ( malapetaka).

Ratusan ribu warga Palestina menjadi pengungsi dengan nasib yang tidak jelas. Kebanyakan mereka memilih Jalur Gaza yang ketika itu berada dibawah kekuasaan Mesir. Ironisnya 19 tahun kemudian yaitu pada 1967, wilayah kantong inipun menjadi jajahan Israel paska kekalahan koalisi Arab pada perang Enam Hari melawan Israel.

Itu sebabnya wilayah Palestina terpisah dan terbagi dua yaitu Tepi Barat ( West Bank) dan Jalur Gaza. Di Tepi Barat  inilah berdiri megah Masjidil-Aqsho, masjid tersuci ke 3 umat Islam di Jerusalem yang merupakan ibu kota Palestina. Wilayah yang didalamnya terdapat beberapa kota besar seperti Hebron, Jericho, Nazareth dll ini berbatasan langsung dengan Israel, kecuali bagian timur laut dengan Yordania yang sebagiannya adalah laut Mati. 

Sementara Jalur Gaza (Gaza Strip) yang terletak 50 km barat daya Tepi Barat, berbatasan dengan  Mesir di Rafah, laut Mediterania di barat laut dan sisanya dengan Israel. Luas wilayah yang tidak sampai 1/15 Tepi Barat ini dijejali oleh  2.3 juta jiwa.

Penduduk Gaza dikenal sangat militan. Meski pembangunan di Gaza cukup maju, terbukti dengan berdirinya sejumlah gedung perkantoran, rumah sakit, universitas dll, namun itu bukan berarti mereka tunduk dan pasrah diperlakukan sebagai wilayah  jajahan.  

Adalah Universitas Islam Gaza. Universitas ini dibangun pada tahun 1983 oleh Syaikh Ahmad Yasin dengan ruh muqawamah (perlawanan) melawan  penjajah. Kuliah pertamanya dilakukan di kemah-kemah pengungsi, dibimbing para dosen yang juga terusir dari rumah-rumahnya.

Hingga pada suatu hari di bulan Desember 1987, sebuah truk militer penjajah pendudukan Israel menabrak sejumlah pekerja Palestina dari Jalur Gaza, dan mengakibatkan empat warga Palestina tewas dan lainnya mengalami luka-luka.

Insiden ini kemudian menjadi pemicu pecahnya Intifada I (1987-1993) dan Intifada II (2000 – 2006).  Intifada dalam bahasa Arab artinya melepaskan diri atau  perlawanan. Dan karena senjata yang digunakan hanyalah batu maka perlawanan tersebut dinamakan Intifada Batu. 

Perlawanan sengit yang bertujuan melepaskan diri dari penjajahan Israel tersebut akhirnya meluas tidak hanya terjadi di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas tapi juga di Tepi Barat yang dikuasai Fatah. Meski Hamas dan Fatah terlihat sering berseteru sebenarnya kedua kelompok tersebut berada dalam barisan perjuangan yang sama, yakni memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina atas tanah dan kedaulatannya.

Perbedaan ideologi, strategi perjuangan dan basis kekuatan di lapangan membuat keduanya berkembang menjadi dua entitas politik dengan orientasi yang berbeda. Fatah yang mendominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), berakar pada nasionalisme sekuler. Kelompok ini memilih jalur diplomasi dan negosiasi politik dengan komunias internasional. Sementara Hamas yang lahir pada akhir 1980-an di tengah Intifada pertama, tumbuh dari basis gerakan dakwah dan sosial yang memiliki orientasi Islamis. Hamas melihat perjuangan bersenjata sebagai bagian sah dari jihad melawan pendudukan Israel.

Pada masa itulah pemerintahan penjajajahan Israel menutup universitas yang ada di Palestina, mengusir ratusan aktivis serta menghancurkan rumah-rumah penduduk. Kemarahan dan semangat perlawanan rakyat makin memuncak ketika PM Israel ketika itu, yaitu Ariel Sharon memasuki Mesjid Al-Aqsha pada tahun 2000. Inilah  pemicu pecahnya Intifada II yang ditanggapi penjajah dengan pembangunan pagar tembok tinggi yang memisahkan wilayah Palestina dan Israel. Ini masih ditambah prilaku terhadap rakyat Palestina yang semakin diskriminatif.

Selanjutnya pada tahun 2007 ketika Hamas memenangkan pemilu Palestina secara telak, dunia internasional, Barat khususnya yang telah melabeli Hamas sebagai organisasi teroris, mengkudeta pemilu tersebut. Dan sejak itulah dengan dibangunnya tembok tinggi yang memagari Gaza membuatnya menjadi penjara terbesar dengan kepadatan tertinggi di dunia yang hanya mempunyai 1 pintu keluar masuk yaitu Rafah, Mesir.

Para pejuang Intifada yang ketika itu masih remaja tampaknya adalah cikal bakal pejuang Hamas yang tak pernah lelah berjuang merebut kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid al-Aqsa. Terakhir adalah serangan 7 Oktober  2023 dengan nama sandi “Thufan Al-Aqsa”. Serangan ini serangan lintas batas paling serius yang pernah dihadapi Israel selama lebih dari satu generasi yang dilancarkan Hamas dari Jalur Gaza. Serangan ini dikemudian dibalas Zionis secara membabi buta hingga menelan korban lebih dari 70.000 orang syahid, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai hampir 171.000 lainnya.

Namun demikian operasi Thufan Al-Aqsa ini berhasil membuka mata dunia betapa berani, tabah, dan sabarnya bangsa Palestina.  Slogan lan narhal (tidak akan pergi) menggambarkan bahwa bangsa tersebut rela mengorbankan apa saja, termasuk jiwa raga mereka dari pada harus pergi mengungsi. Slogan ini sebenarnya menggambarkan ajaran Islam tentang ribath, yaitu berjihad menjaga perbatasan suatu daerah dari serangan/rongrongan musuh dari luar.

Orang yang melakukan ribath disebut Murabith. Seorang murabith tidak berarti harus berperang membawa senjata melawan musuh tapi juga bertahan tidak meninggalkan tempat walau jiwanya diancam. Contohnya dengan menolong korban/orang yang sakit, menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari dll.

“Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan apa pun yang ada di atasnya”. (Shahih Al-Bukhari: 2892).

Meninggalkan tanah air dimana didalamnya berdiri masjid al-Aqsa sama saja dengan membiarkan Zionis mencaploknya. Meski mereka menyadari bahwa teknologi perang mereka jauh di belakang musuh apalagi dengan Amerika Serikat di belakang Zionis, mereka tetap tak mau begitu saja menyerah. Walau Israelpun akhirnya harus mengakui sistim pertahanan bawah tanah Gaza sangat rumit dan canggih. 

Dan yang lebih penting lagi, akhirnya duniapun menyadari betapa keimanan ternyata bisa mengalahkan segalanya. Tragedi Palestina bagaikan panggung besar terbuka dakwah ajaran Islam yang tidak saja indah namun juga kokoh berbobot. Pengakuan mengejutkan para sandera Israel yang ditahan Hamas dan diperlakukan dengan sangat baik selama kurang lebih 2 tahun lamanya tidak dapat begitu saja dihapus dari ingatan.

Hikmah lain perang ini berhasil membuat Hamas dan Fatah menyadari pentingnya persatuan. Itu sebabnya pasca-gencatan senjata Hamas menyatakan siap berdialog dengan hati dan tangan terbuka. Sementara Fatah juga memberikan sinyal bersedia merumuskan kembali mekanisme pemerintahan yang selama ini rapuh.  

Saat ini genjatan senjata antara Hamas – Israel yang sudah memasuki bulan ke 2 sedang berlangsung namun Zionis selama ratusan kali telah melanggarnya. Barat mulai terbuka dan tidak sedikit yang secara terbuka mulai membela Palestina. Bahkan berani mengatakan bahwa Israel adalah Negara teroris. Pertanyaan besar, akankah Palestina segera mendapatkan kemerdekaannya?? Adakah Dajjal si mata satu raja Israel telah muncul?? Bagaimana dengan Imam Mahdi dan nabi Isa as yang berdasarkan banyak riwayat hadist akan muncul di akhir zaman?? 

Lalu turunlah Isa bin Maryam … kemudian ia mengejar Dajjal hingga berhasil membunuhnya di pintu gerbang kota Ludd (Palestina).” (HR. Muslim no. 2937).

Tidak sedikit hadist-hadist panjang akhir zaman menerangkan bahwa ketika kejahatan bangsa Israel telah mencapai puncaknya, Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa AS untuk mengakhirinya. Nabi Allah yang oleh umat Nasrani disebut Yesus tersebut akan memerangi dan membunuh Dajjal di pintu kota Palestina. Setelah itu dibawah kepemimpinan Imam Mahdi, dunia akan kembali kepada keadaan damai selama beberapa waktu hingga kiamat menjelang tiba.

Kebenaran pasti akan menang mengalahkan kebathilan. Kebenaran hakiki adalah yang datang dari penguasa, pemilik alam semesta, itulah Allah Azza wa Jala. Dialah yang menurunkan dan mengutus para nabi mulai dari nabi Adam as hingga Ibrahim as ( Abraham), Yaqub, Ishaq, Ismail, Yusuf, Sulaiman ( Solomon), Musa as ( Moses), Isa as ( Yesus) hingga nabi terakhir Muhammad saw.  Para nabi dan rasul tersebut datang dengan membawa misi utama tauhid yaitu bahwa Tuhan hanya satu, tidak beranak dan tidak diperanakan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. ( Terjemah QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):255).

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [HR. Al-Bukhari].

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Desember 2025.

Read Full Post »

Seperti telah diketahui, pada Sidang Umum PBB 22 September 2025 di kantor pusat PBB New York, 153 dari 193 negara anggota secara resmi menyetujui solusi 2 negara Palestina dan Israel. Negara-negara besar mitra AS seperti Inggris dan Perancis termasuk di dalamnya.

Sementara pada 10 Oktober 2025 genjatan senjata antara Zionis Israel dan Gaza, paska serangan 7 Oktober 2023, juga telah disepakati meski Israel seperti biasa melanggarnya berkali-kali. Sebelumnya yaitu  pada 15 Januari 2025 genjatan senjata juga pernah terjadi namun lagi-lagi Israel melanggarnya.

PM Netanyahu beberapa kali menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak akan pernah menyetujui berdirinya Negara Palestina. Sebelumnya telah beredar pula peta baru Israel yang ia sebut sebagai Israel Raya yang wilayahnya meliputi seluruh Israel, Tepi Barat, Gaza, Suriah, Yordania, Lebanon, Mesir dan Arab Saudi. Amat sangat provokatif !!!   

Mengingat hal tersebut, sebuah pertanyaan besar akankah Palestina bisa berdiri dalam waktu dekat ini??Mungkin ada baiknya kita menengok ke belakang untuk melihat latar belakang mengapa Israel begitu bernafsu menguasai tanah Palestina dan sekitarnya.

Syeikh Imran Hosein, seorang cendekiawan Muslim sekaligus pemerhati politik asal Trinidad, dalam bukunya “Jerusalem in the Qur’an”, membeberkan keyakinan Yahudi mengenai restorasi Israel, dua ribu tahun setelah kehancuran kerajaan Israel. Orang-orang Yahudi meyakininya sebagai salah satu tanda kedatangan Messiah alias Dajjal, si mata satu raja Yahudi yang amat diharapkan kemunculannya. Restorasi Israel yang dimaksud adalah Israel dengan luas seperti pada era Nabi Daud as, yang merupakan era keemasan Bani Israil, kurang lebih seperti peta Israel Raya yang beredar baru-baru ini.

Jadi tidak sepenuhnya tepat bila dikatakan bahwa masalah Palestina – Israel bukanlah masalah agama. Di Islampun keyakinan perang akhir zaman antara yang hak (benar) dan bathil ( jahat) pasti akan terjadi, bahkan di tempat yang sama dengan keyakinan Yahudi, yaitu tanah yang diberkati, Palestina !   

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” ( Terjemah QS. Al-Isra (17):1).

Dalam hadist mengenai akhir zaman hal tersebut banyak dijumpai bahkan dengan penjelasan yang detail. Tanda-tanda akhir zaman dibagi menjadi 2 bagian, yaitu tanda-tanda kecil yang sudah terjadi dan masih berlangsung, dan yang kedua tanda-tanda besar ( belum terjadi).

https://www.rumahzakat.org/tanda-kiamat-kecil-dan-besar/

Kedatangan Dajjal masuk dalam kelompok tanda-tanda besar. Pemeluk Nasrani menyebut Dajjal dengan Antikristus. Dan sama dengan Islam, Antrikristus atau Dajjal  adalah tokoh super jahat yang akan muncul di akhir zaman. Sementara pemeluk Yahudi mengganggap Dajal ( Messiah) sebagai raja yang mereka tunggu-tunggu.

Dengan demikian dapat dibayangkan mengapa orang-orang Yahudi Israel begitu bernafsu merebut tanah Palestina dan sekitarnya. Sayangnya meski dengan dalih kitab suci dan kepercayaan mereka melakukannya dengan amat sangat keji. Betulkah itu agama? Agama mengajarkan kejahatan, mungkinkah??  Apalagi bila itu agama Yahudi yang dibawa nabi Musa as, rasul Allah swt, yang orang Yahudipun mengakuinya sebagai nabi mereka, dengan nama Moses …   

Didalam kitab suci Al-Quran banyak sekali ditemukan kisah pembangkangan kaum Yahudi terhadap perintah nabi dan Tuhannya. Diantaranya adalah sebagai berikut, sebagai berikut, 

Mereka ( orang-orang Yahudi) berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ( penduduk Jerusalem) ada di dalamnya ( Jerusalem), karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):24).

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”. ( Terjemah QS.Al-Anam (6):91).

Saat ini dunia dapat melihat dengan kasat mata kekejaman Zionis Israel terhadap Palestina, penduduk Gaza khususnya. Hanya orang yang tak punya hati yang bisa menerima prilaku Israel. Dan ini terbukti dengan banyaknya Negara berdemo menentang kejahatan Zionis Israel di Gaza dan puncaknya adalah pengakuan Palestina. Tak heran bila kemudian viral “Tak perlu menjadi Muslim untuk membela Palestina. Cukup kau menjadi manusia!”.

Israel dengan Natanyahunya tidak akan pernah mau meninggalkan Palestina, tidak akan ada genjatan senjata, serangan balik 7 Oktober hanyalah dalih agar dunia bersedia memaklumi tindakan genosida Israel. Netanyahu ( dan rabi-rabi Yahudi pendukungnya yang bisa jadi merasa bersalah karena dulu para tetuanya pernah berdosa karena menolak perintah nabi dan Tuhannya untuk memasuki Jerusalem)  sudah merasa mendekati cita-cita muluknya, tidak hanya merebut Gaza tapi juga Jerusalem di Tepi Barat dimana berdiri di dalamnya Masjidil Aqsho yang mereka yakini sebagai kuil ketiga tempat dimana sang Messiah akan muncul. Apalagi menyadari bahwa serangan brutal dan pencaplokan wilayah beberapa Negara sekitar Palestina yang mereka lakukan tidak mendapat perlawanan berarti dari Negara-negara lain.       

Yang kemudian menjadi aneh adalah justru kesiapan kaum Muslimin ( juga kaum Nasrani) yang sudah dibekali pengetahuan akan datangnya hal tersebut. Jangankan membela Palestina, ini malah membangun kerja sama dan normalisasi dengan Israel yang digagas presiden AS Trump dengan apa yang dinamakan Abraham Accord ( Kesepakatan Ibrahim). Perjanjian tersebut diberi nama Abraham ( Ibrahim) untuk mencerminkan perdamaian antar Islam, Yahudi dan Nasrani. Menjadi bukti bahwa Barat yang notabene kafir dan selalu menolak alasan agama sejatinya tidak demikian. Yang mereka inginkan hanyalah kaum Muslimin menjauhkan diri dari ajarannya, yang dengan demikian mudah mereka mengalahkan Islam. Itulah Islamophobia. Dan tampaknya memang berhasil. Persaudaraan sesama Muslim dan jihad yang sejatinya adalah senjata paling ampuh bagi umat Islam, hilang sudah.

Tak heran jika 15 abad silam Rasulullah saw  telah memperingatkan bahwa  Dajjal adalah fitnah berat, fitnah terbesar yang pernah ada. Betapa banyak manusia terperdaya melihat kekuatan yang dianggap luar biasa itu. Cinta dunia berlebihan adalah sumber masalahnya. Kemajuan teknologi dan pembagunan, kemewahan hidup meski harus dengan jalan berhutang dan riba yang jelas-jelas haram telah membuat lupa kehidupan akhirat. Itulah surga dunia yang jelas-jelas hanya sementara.    

Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang lebih besar fitnahnya dari Dajjal.” [HR. Muslim].

Sesungguhnya bersama Dajjal ada surga dan neraka. Nerakanya sebenarnya surga, dan surganya sebenarnya neraka.” [HR. Muslim no. 2934].

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Hampir saja umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Beliau pun berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, ada apa dengan pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya ,”Apa itu ‘wahn’?” Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, semoga Allah merahmatinya ).

Bandingkan dengan penduduk Palestina, Gaza khususnya, Masya Allah …

Hari ini dunia bisa melihat bagaimana tangguhnya penduduk Palestina. Penderitaan mereka bukan hanya dialami dua tahun terakhir ini tapi telah dimulai sejak tahun 1948 yaitu sejak Israel dibantu Inggris mengumumkan berdiri negaranya di atas tanah Palestina. Peristiwa mengenaskan yang ditandai dengan pengusiran besar-besaran rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri ini dikenal dengan sebutan Nakba yang artinya adalah malapetaka.

( Bersambung).

Read Full Post »