Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2026

“Life begins at 40”.

“Life begins at 40” yang diartikan dalam bahasa Indonesia dengan “hidup dimulai pada usia 40” adalah pepatah Barat yang tidak asing di telinga kita. Ini untuk menggambarkan bahwa orang di usia 40 mulai matang, siap memasuki tahapan yang stabil baik secara finansial maupun emosional. Menandakan pada usia inilah karier seseorang mulai menanjak pesat.  

Namun siapa sangka ternyata pepatah Barat diatas sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana ayat 15 surat Al-Ahqof berikut :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, “ … … sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai EMPAT PULUH TAHUN ia berdo`a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang di usia 40 akan mengalami kematangan jiwa. Ia baru menyadari betapa banyak nikmat yang Allah swt telah ia dapatkan. Mulai dari nikmat dalam perut ibu yang telah mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan ( dalam kandungan antara 6-9 bulan dan menyusui maksimal 24 bulan) hingga ia dewasa menikah dan mendapat keturunan. Untuk itu maka ia bertobat dan memohon petunjuk kepada Sang Pencipta bagaimana cara mensyukuri nikmat tersebut.    

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-’Adhim (7/280) berkata, “Umur 40 tahun adalah umur dimana akal seseorang menjadi sempurna, pemahamannya lebih matang dan cenderung lebih bijak”. 

Tak heran bila Allah swt mengangkat nabi Muhammad ﷺ  menjadi rasul pada usia 40 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan, selain kematangan finansial dan emosional, kematangan spritualpun dialami oleh orang di usia 40.

Usia 40 tahun adalah usia yang istimewa dan mengandung banyak rahasia maupun hikmah. Pada usia 40 biasanya seseorang telah berkeluarga dan memiliki anak usia remaja, sementara kedua orangtuanyapun kemungkinan besar masih ada. Hingga dengan demikian dalam waktu bersamaan ia memiliki dua generasi yang menjadi tanggung jawabnya. Yaitu anak dan dua orang tua.

Tanggung jawab yang cukup berat, karena seperti kita ketahui bersama anak usia remaja dalam rangka mencari jatinya adalah usia yang penuh tantangan. Sering kali anak suka memberontak dan melawan perintah dan keinginan orang-tua. Saat itulah ia akan teringat betapa sulitnya dulu kedua orang-tua mendidiknya.

Sementara orangtua yang sudah lanjut usia dan sudah pensiun, bisa jadi selain membutuhkan bantuan keuangan juga menginginkan perhatian lebih. Sedangkan ia sendiri sedang menuju puncak karier yang pasti memerlukan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.   

Maka tak heran bila kemudian ia tersadar bahwa ia butuh “sesuatu” yang mampu membantunya menyelesaikan permasalahannya. Itulah kebutuhan spiritual. Itu sebabnya para ulama sepakat bahwa usia 40 tahun dapat menentukan masa depan seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Bila ia bertobat dan segera memperbaiki kesalahannya, ia akan selamat. Sebaliknya bila ia tetap dalam keburukan dan kesesatannya, celakalah ia … Na’udzu billah min dzalik …

Ibnu ‘Abbās berkata, “Barang siapa telah mencapai umur 40 tahun, sedangkan perbuatan baiknya belum dapat mengalahkan perbuatan jahatnya, maka hendaklah ia bersiap-siap untuk masuk neraka.”

Diriwayatkan dari al-Qasim bin ‘Abdurrahman bahwa ia bertanya kepada Maruq, “Kapan seseorang dihukum karena dosa-dosanya?” Beliau berkata, “Jika anda sudah sampai umur 40 tahun, maka berhati-hatilah.”

Berkata al-Hajaj bin ‘Abdullah al-Hakami, salah satu Amir bani Umayah di Damaskus, “Saya meninggalkan maksiat dan dosa selama 40 tahun karena malu kepada masyarakat. Setelah itu, saya meninggalkan maksiat dan dosa, karena malu kepada Allah.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi periode kehidupan manusia dalam 4 (empat) periode, yaitu: 1. periode kanak kanak/thufuliyah (mulai lahir hingga baligh), 2. periode muda/syabab (mulai dari usia baligh sampai 40 tahun), 3. periode dewasa/kuhulah(40 tahun sampai 60 tahun) dan 5. periode tua/syaikhukhah(60-70 tahun).

Dengan kata lain, usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa kecil dan mudanya, dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa madya (paruh baya) atau kuhulah. Situasi kejiwaan yang paling menarik pada usia 40 tahun adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama/spiritualisme dibanding masa-masa sebelumnya. Para pakar psikologi menyebutnya sebagai “least religious period of life”. Usia 40 tahun merupakan titik balik untuk introspeksi dan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan yang positif tidak hanya demi masa depan dunianya tapi juga untuk bekal kehidupan di akhirat kelak.

Kabar baiknya lagi bila seseorang telah mencapai usia 40 segera bertobat dan istiqomah melakukan kebaikan maka ketika di hari tuanya  ia tidak lagi mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang biasa dilakukannya, mungkin karena sakit, pikun dll, maka Allah swt tetap mencatat kebaikan tersebut.

Ditambah lagi ketika ia meninggal nanti jika semasa hidupnya ia melakukan 3 hal yaitu sadaqah jariyah ( seperti membangun masjid yang selalu ramai digunakan, menanam pohon yang bermanfaat, membuat pompa air, dll), ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya maka pahalanya akan terus ia dapatkan.

“Apabila manusia meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim dari Abū Hurairah).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Januari 2026.

Vien AM.

Read Full Post »

Waktu adalah uang, adalah terjemah pepatah Barat “Time is Money” yang sangat sering kita dengar. Bagi kebanyakan orang pepatah ini terlihat baik karena intinya adalah jangan pernah suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan, hendaklah dalam hidup kita menghargai waktu, dan lain sebagainya.

Namun bila diperhatikan lebih mendalam, yaitu dengan membandingkan waktu dengan uang, maka akan terlihat betapa materialistisnya pepatah tersebut. Cerminan nyata bahwa orang Barat sangat mengagungkan materi (uang). Hal yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Bandingkan dengan pepatah Arab “Al-Waqtu Kassaifi” yang artinya  waktu laksana pedang. Pepatah ini sangat sesuai dengan surat ke 111 dalam Al-Quranul Karim yaitu Al-Ashr yang artinya adalah waktu. Surat tersebut mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperhatikan keberadaan waktu.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Setiap manusia, beragama atau tidak beragama, percaya atau tidak percaya akan keberadaan Tuhan, pasti menyadari dan yakin bahwa suatu saat nanti akan mati. Artinya ia tahu bahwa hidup itu terbatas waktunya. Bedanya dengan orang beragama, orang tidak beragama tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa hidup bukan hanya di dunia. Itu sebabnya orientasinya hanya seputar duniawi alias materialistis. Sedangkan orang beragama pasti yakin adanya kehidupan setelah mati, itulah kehidupan akhirat.

Dalam Islam, hidup di dunia adalah ladang amal yang hasilnya tidak hanya dinikmati di dunia tapi terlebih lagi di akhirat. Kehidupan di dunia hanya sementara dan sangat singkat. Sedangkan di akhirat jauh lebih kekal.

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Terjemah QS.Al A’laa (87): 16-17).      

Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya berlomba dengan waktu, memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat segala macam dan bentuk kebaikan. Kebaikan tersebut tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi orang lain, hewan dan tumbuhan. Termasuk juga mengingatkan dan mengajak orang lain untuk berbuat baik.

Dan uniknya semua itu atas landasan iman karena tidak semua kebaikan itu benar. Kebaikan yang benar adalah yang sesuai pandangan Sang Pencipta bukan pandangan kelompok, golongan, bangsa atau suku tertentu. Islam juga memerintahkan untuk tidak berhenti dalam kebaikan, untuk terus berusaha dan bekerja.           

 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS al-Insyirah [94]: 7).

Secara lengkap pepatah Arab diatas bunyinya adalah  “Al-Waqtu Kassaifi, Al-Waqtu Ka as-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka”, artinya waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu”.

Imam Syafi’i berkata, “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”.

Sebagaimana pisau, pedang adalah benda penting dan bermanfaat tapi tergantung penggunaannya. Di tangan yang benar ia sangat bermanfaat tapi di tangan yang tidak benar ia sangat berbahaya. Maknanya, jangan pernah sia-siakan waktu karena ia yang akan memotongnya kita jika kita tidak memotongnya.

Umur panjang yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan tidak hanya sia-sia namun juga bisa memasukannya ke api neraka bila digunakan untuk bermaksiat. Sebaliknya umur pendek tapi sarat kebaikan akan mengantarkan ke surga. 

Waktu diibaratkan bagai pedang karena sifat pedang yang cepat bagaikan kilat. Waktu sangat cepat berlalu maka jangan pernah menunda-nunda pekerjaan dan kesempatan.

… … Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu“. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):47).

Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. at-Tirmidzi).

Artinya, rata-rata umur biologis (umur yang dihitung berdasarkan kelahiran ke dunia) umat Islam bila dibandingkan dengan waktu akhirat hanya 1.5 jam. Meski tidak mustahil umur hakiki (umur kebaikan) seseorang bisa lebih panjang dari umur biologisnya. Itulah amal jariyah, amal kebaikan yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya bisa dirasakan orang lain, meski ia telah meninggal dunia. Contohnya ilmu yang bermanfaat, sedekah pembangunan masjid, sedekah air dll.

Waktu tidak akan pernah berputar ke belakang, ia akan terus maju menggerus apapun yang ada di hadapan kita. Oleh sebab itu jangan ceroboh dalam bertindak. Itu pentingnya mencari ilmu sebanyak  mungkin supaya tidak salah dalam bertindak. Dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu akhirat (agama) yang akan menuntun bukan malah menyesatkan. Jangan sampai menyesali perbuatan yang tanpa dipikirkan terlebih dahulu, karena nasi telah menjadi bubur sebagaimana ayat 38-40 surat An-Naba’ berikut,   

38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

039. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

040. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Kembali kepada pepatah Barat “ Time is Money” atau “Waktu adalah uang”, Islam bukannya melarang umatnya menjadi kaya. Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah contoh sahabat dekat Rasulullah yang kekayaannya berlimpah-ruah. Namun kekayaannya bukan ditujukan semata untuk memperkaya diri melainkan disumbangkan untuk kepentingan umat.

Ustman dan Abdurrahman adalah dua sahabat yang dijamin surga. Keduanya bukan hanya dikenal sebagai ahli ibadah tapi juga ahli sedekah. Jauh sebelum menjadi khalifah, dengan hartanya Ustman bin Affan membeli sumber air milik  Yahudi untuk kepentingan umat Islam. Sementara Aburrahman bin Auf tanpa ragu menginfakkan 500 ekor unta, 1.500 unta serta 40.000 dinar untuk keperluan jihad.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

 Jakarta, 31 Desember 2025 / 12 Rajab 1447H.

Vien AM.

Read Full Post »