Waktu adalah uang, adalah terjemah pepatah Barat “Time is Money” yang sangat sering kita dengar. Bagi kebanyakan orang pepatah ini terlihat baik karena intinya adalah jangan pernah suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan, hendaklah dalam hidup kita menghargai waktu, dan lain sebagainya.
Namun bila diperhatikan lebih mendalam, yaitu dengan membandingkan waktu dengan uang, maka akan terlihat betapa materialistisnya pepatah tersebut. Cerminan nyata bahwa orang Barat sangat mengagungkan materi (uang). Hal yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Bandingkan dengan pepatah Arab “Al-Waqtu Kassaifi” yang artinya waktu laksana pedang. Pepatah ini sangat sesuai dengan surat ke 111 dalam Al-Quranul Karim yaitu Al-Ashr yang artinya adalah waktu. Surat tersebut mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperhatikan keberadaan waktu.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Setiap manusia, beragama atau tidak beragama, percaya atau tidak percaya akan keberadaan Tuhan, pasti menyadari dan yakin bahwa suatu saat nanti akan mati. Artinya ia tahu bahwa hidup itu terbatas waktunya. Bedanya dengan orang beragama, orang tidak beragama tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa hidup bukan hanya di dunia. Itu sebabnya orientasinya hanya seputar duniawi alias materialistis. Sedangkan orang beragama pasti yakin adanya kehidupan setelah mati, itulah kehidupan akhirat.
Dalam Islam, hidup di dunia adalah ladang amal yang hasilnya tidak hanya dinikmati di dunia tapi terlebih lagi di akhirat. Kehidupan di dunia hanya sementara dan sangat singkat. Sedangkan di akhirat jauh lebih kekal.
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Terjemah QS.Al A’laa (87): 16-17).
Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya berlomba dengan waktu, memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat segala macam dan bentuk kebaikan. Kebaikan tersebut tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi orang lain, hewan dan tumbuhan. Termasuk juga mengingatkan dan mengajak orang lain untuk berbuat baik.
Dan uniknya semua itu atas landasan iman karena tidak semua kebaikan itu benar. Kebaikan yang benar adalah yang sesuai pandangan Sang Pencipta bukan pandangan kelompok, golongan, bangsa atau suku tertentu. Islam juga memerintahkan untuk tidak berhenti dalam kebaikan, untuk terus berusaha dan bekerja.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS al-Insyirah [94]: 7).
Secara lengkap pepatah Arab diatas bunyinya adalah “Al-Waqtu Kassaifi, Al-Waqtu Ka as-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka”, artinya waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu”.
Imam Syafi’i berkata, “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”.
Sebagaimana pisau, pedang adalah benda penting dan bermanfaat tapi tergantung penggunaannya. Di tangan yang benar ia sangat bermanfaat tapi di tangan yang tidak benar ia sangat berbahaya. Maknanya, jangan pernah sia-siakan waktu karena ia yang akan memotongnya kita jika kita tidak memotongnya.
Umur panjang yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan tidak hanya sia-sia namun juga bisa memasukannya ke api neraka bila digunakan untuk bermaksiat. Sebaliknya umur pendek tapi sarat kebaikan akan mengantarkan ke surga.
Waktu diibaratkan bagai pedang karena sifat pedang yang cepat bagaikan kilat. Waktu sangat cepat berlalu maka jangan pernah menunda-nunda pekerjaan dan kesempatan.
“ … … Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu“. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):47).
“Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. at-Tirmidzi).
Artinya, rata-rata umur biologis (umur yang dihitung berdasarkan kelahiran ke dunia) umat Islam bila dibandingkan dengan waktu akhirat hanya 1.5 jam. Meski tidak mustahil umur hakiki (umur kebaikan) seseorang bisa lebih panjang dari umur biologisnya. Ini terjadi bila kita bisa memanfaatkan waktu dengan baik.
Waktu tidak akan pernah berputar ke belakang, ia akan terus maju menggerus apapun yang ada di hadapan kita. Oleh sebab itu jangan ceroboh dalam bertindak. Itu pentingnya mencari ilmu sebanyak mungkin supaya tidak salah dalam bertindak. Dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu akhirat (agama) yang akan menuntun bukan malah menyesatkan. Jangan sampai menyesali perbuatan yang tanpa dipikirkan terlebih dahulu, karena nasi telah menjadi bubur sebagaimana ayat 38-40 surat An-Naba’ berikut,
38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.
039. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.
040. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.
Kembali kepada pepatah Barat “ Time is Money” atau “Waktu adalah uang”, Islam bukannya melarang umatnya menjadi kaya. Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah contoh sahabat dekat Rasulullah yang kekayaannya berlimpah-ruah. Namun kekayaannya bukan ditujukan semata untuk memperkaya diri melainkan disumbangkan untuk kepentingan umat.
Ustman dan Abdurrahman adalah dua sahabat yang dijamin surga. Keduanya bukan hanya dikenal sebagai ahli ibadah tapi juga ahli sedekah. Jauh sebelum menjadi khalifah, dengan hartanya Ustman bin Affan membeli sumber air milik Yahudi untuk kepentingan umat Islam. Sementara Aburrahman bin Auf tanpa ragu menginfakkan 500 ekor unta, 1.500 unta serta 40.000 dinar untuk keperluan jihad.
Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.
Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 31 Desember 2025 / 12 Rajab 1447H.
Vien AM.