Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Mualaf’ Category

”Islam adalah agama rasional dan satu-satunya agama yang menolak adanya dosa warisan.”
Islam adalah agama yang rasional dan universal. Ia bisa diterima dan sesuai dengan akal sehat. Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Sebab, kendati diturunkan di Jazirah Arabia, agama Islam bukan hanya untuk orang Arab, tetapi juga bisa diterima oleh orang yang bukan Arab (Ajam).

Bahkan, ilmu-ilmu dan ajaran yang terkandung dalam Alquran, sesuai dengan pandangan hidup umat manusia. Karena itu, tak heran, bila agama yang dibawa oleh Muhammad SAW ini, dengan mudah diterima oleh orang-orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya. Itulah yang dialami Dr Murad Wilfried Hofmann, mantan Diplomat Jerman. Ia menerima agama Islam, disaat kariernya berada di puncak.

Dr Hofmann, menerima Islam pada 25 September 1980. Ia mengucapkan syahadat di Islamic Center Colonia yang dipimpin oleh Imam Muhammad Ahmad Rasoul. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Dia adalah lulusan dari Union College di New York dan kemudian melengkapi namanya dengan gelar Doktor di bidang ilmu hukum dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957.

Selain itu, Hofmann dulunya adalah seorang asisten peneliti pada Reform of Federal Civil Procedure. Dan pada tahun 1960, ia menerima gelar LLM dari Harvard Law School. Kemudian, pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels. Selanjutnya, ia ditugaskan sebagai diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Tahun 1982 ia berumrah, dan 10 tahun (1992) kemudian melaksanakan haji.

Namun, justru sebelum di Aljazair dan Maroko inilah, Hofmann memeluk Islam. Dan ia baru mempublikasikan keislamannya setelah dirinya menulis sebuah buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif) tahun 1992. Setelah terbit bukunya ini, maka gemparlah Jerman.

Dalam buku tersebut, ia tidak saja menjelaskan bahwa Islam adalah alternatif yang paling baik bagi peradaban Barat yang sudah kropos dan kehilangan justifikasinya, namun secara eksplisit Hofmann mengatakan, bahwa agama Islam adalah agama alternatif bagi masyarakat Barat. Islam tidak menawarkan dirinya sebagai alternatif yang lain bagi masyarakat Barat pasca industri. Karena memang hanya Islam-lah satu-satunya alternatif itu, tulisnya.

Karena itu, tidak mengherankan saat buku itu belum terbit saja telah menggegerkan masyarakat Jerman. Mulanya adalah wawancara televisi saluran I dengan Murad Hofmann. Dan dalam wawancara tersebut, Hofmann bercerita tentang bukunya yang ketika itu sebentar lagi akan terbit itu.Saat wawancara tersebut disiarkan, seketika gemparlah seluruh media massa dan masyarakat Jerman. Dan serentak mereka mencerca dan menggugat Hofmann, hingga mereka membaca buku tersebut. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh media massa murahan yang kecil, namun juga oleh media massa yang besar semacam Der Spigel.

Malah pada kesempatan yang lain, televisi Jerman men-shooting Murad Hofmann saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter: Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?

Hofmann tersenyum mendengar komentar sang reporter.Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih. Artinya, Hofmann paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segala sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya. Dan baginya Islam adalah agama yang rasional dan maju.

Sebagai seorang diplomat, pemikiran Hofmann terkenal sangat brilian. Karena itu pula, ia menambah nama depannya dengan Murad, yang berarti yang dicari. Leopold Weist, seorang Muslim Austria yang kemudian berganti nama menjadi Muhamad Asad, mengatakan, dalam pengertian luas, Murad adalah tujuan, yakni tujuan tertinggi Wilfried Hofmann.

Keislaman Hofmann dilandasi oleh rasa keprihatinannya pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.
Apalagi, ketika ia bertugas menjadi Atase di Kedutaan besar Jerman di Aljazair, ia menyaksikan sikap umat Islam Aljazair yang begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Atas dasar itu dan sikap orang Eropa yang mulai kehilangan jati diri dan moralnya, Hofmann memutuskan untuk memeluk Islam.

Ia merasa terbebani dengan pemikiran manusia yang harus menerima dosa asal (turunan/warisan) dan adanya Tuhan selain Allah. Mengapa Tuhan harus memiliki anak dan kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib untuk menyelamatkan diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa, tegasnya.

Bahkan, sewaktu masa dalam masa pencarian Tuhan, Hofmann pernah memikirkan tentang keberadaan Allah. ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada.

Ia kemudian bertanya; Bagaimana Allah berkomunikasi dengan manusia dan membimbingnya? Disini ia menemukan adanya wahyu yang difirmankan Tuhan. Dan ketika membandingkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam, yang umatnya diberi wahyu, Hofmann menemukannya dalam Islam, yang secara tegas menolak adanya dosa warisan.

Ketika manusia berdoa, mereka harusnya tidak berdoa atau meminta kepada tuhan lain selain Allah, sang Pencipta. Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah, tegasnya.

Hofmann melihat bahwa agama Islam adalah agama yang murni dan bersih dari kesyirikan atau adanya persekutuan Allah dengan makhluknya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan,ujarnya. Dalam bukunya Der Islam Als Alternative, Annie Marie Schimmel memberikan kata pengantar dengan mengutip kata-kata Goethe.Jika Islam berarti ketundukan dengan penuh ketulusan, maka atas dasar Islam-lah selayaknya kita hidup dan mati.

Dalam bukunya Trend Islam 2000, Hofmann menyebutkan, potensi masa depan peradaban Islam. Ia menjelaskan, ada tiga sikap muslim terhadap masa depan mereka. Yakni, kelompok pesimis (yang melihat perjalanan sejarah selalu menurun), kelompok stagnan (yang melihat sejarah Islam seperti gelombang yang naik turun), dan ketiga kelompok optimis (umat yang melihat masa depannya terus maju). Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk senantiasa bersikap optimis dan menatap hari esok yang lebih baik.

Hofmann juga banyak terlibat aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia senantiasa menyampaikan pemikiranpemikiran briliannya untuk kemajuan Islam. Pada pertengahan September 2009 lalu, ia dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year (Muslim Berkepribadian Tahun Ini), yang diselenggarakan oleh Dubai International Holy Quran Award (DIHQA). Penghargaan serupa pernah diberikan pada Syekh Dr Yusuf al-Qaradhawi.

Islam Agama Rasional

Ada beberapa alasan yang membuat Murad Wilfried Hofmann akhirnya keluar dari Katholik dan memilih Islam. Dan alasan-lasan itu sangat membekas dalam pikirannya.

Tahun 1961, ketika ia bertugas sebagai Atase Kedutaan Besar Jerman di Aljazair, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah perang gerilya berdarah antara tentara Prancis dan Front Nasional Aljazair yang telah berjuang untuk kemerdekaan Aljazair, selama delapan tahun. Disana ia menyaksikan kekejaman dan pembantaian yang dialami penduduk Aljazair. Setiap hari, banyak penduduk Aljazair tewas.

Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi dengan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka, ujarnya. Alasan lain yang membuatnya memilih Islam, Hofmann adalah seorang penyuka seni dan keindahan.

Islam punya beragam kesenian yang sangat menarik dan indah, termasuk seni arsitekturnya. Hampir semua ruangan dimanifestasikan dalam seni keindahan Islam yang universal. Mulai dari kaligrafi, pola karpet, ruang bangunan dan arsitektur masjid, menunjukkan kuatnya seni Islam, jelasnya. Dari beberapa alasan diatas, persoalan yang benar-benar membuatnya harus memeluk Islam, karena hanya agama ini yang tidak mengajarkan doktrin tentang dosa warisan.

Pernyataan yang terdapat dalam Alquran sangat jelas, rasional dan tegas.Tak ada keraguan bagi saya akan kebenaran Islam dan misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SA, paparnya. sya/berbagai sumber Biodata
Nama : Wilfried Hofmann
Nama Muslim : Murad Wilfried Hofmann
Lahir : Jerman, 6 September 1931
Masuk Islam : 25 September 1980

Pekerjaan :
*Direktur Informasi NATO di Brussels Belgia
(1983-1987)
*Duta Besar Jerman untuk Aljazair (1987-
1990)
*Duta Besar Jerman untuk Maroko (1990-
1994).
*Penulis

Dicopy dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/09/09/29/78582-hidayah-bagi-sang-diplomat-jerman

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID, Jika tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bank dan mendalami ketertarikannya di dunia fotografi, Lisa Vogl mungkin tak akan menemukan cahaya Islam.

Begitulah alur perkenalan perempuan 31 tahun ini dengan agama samawi ini. Berniat membuat tugas videografi tentang jilbab, Lisa justru tertarik mendalami Islam. Padahal, Lisa begitu akrab disapa, besar dalam keluarga Kristiani. Secara keseluruhan, keluarga tidak terlalu religius, tapi ibu Lisa sangat memerhatikan spiritualitas. Seperti itulah Lisa dibesarkan.

Ia menuturkan kisah perjalanan hidupnya. Saat berusia 18 tahun, Lisa masuk kampus perempuan, Chatham College, Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia memilih aktif di klub softball. Setahun pertama berkuliah, ia lantas memilih cuti selama satu tahun. Ia sempat magang di beberapa tempat, antara lain, Disney World, sembari bekerja di tempat lain.

Dari uang yang ia kumpulkan, sosok yang besar di East Lansing, Michigan, AS, ini melancong ke berbagai wilayah dunia untuk mengenal aneka budaya. Tak disangka, perjalanan yang dilakukan sulung dari enam bersaudara ini tak hanya meninggalkan kesan tentang budaya bangsa lain, tapi juga cahaya Islam di hatinya.

Maroko menjadi destinasi petualangannya. Selama berada tiga bulan di Maroko, ia tinggal bersama warga lokal di ruangan dengan luas sekitar 200 meter persegi. Mereka makan dan tidur di ruangan yang sama. Tak ada air panas, tak ada kamar mandi yang memadai. Untuk bertahan hidup, ia mengajar bahasa Inggris di American Language Center. Di sinilah titik balik kehidupannya bermula. Maroko merupakan pengalaman paling menakjubkan dan berkesan dalam hidupnya.

Sadar atau tidak, perjalanan Lisa ke Maroko itu pulalah yang turut menyumbang pandangannya soal perempuan di masyarakat. Kesan itu ia tuangkan ketika menulis ihwal perempuan dan eksploitasinya di dunia Barat sebagai tugas wajib akhir kuliah.

Berhenti

Lulus kuliah, ia mendapat pekerjaan di sebuah bank di Chicago. Meski ia tidak tahu bekerja dengan sistem berbunga adalah haram dalam Islam, ia merasakan kebimbangan. ”Tapi, saya merasa hati saya tidak senang bekerja di sana,” ungkap Lisa seperti dikutip laman Aquila-style.com.

Lisa memutuskan berhenti. Ia memulai karier yang ia pandang lebih sejalan dengan minatnya, yakni fotografi. Ia bahkan sengaja mengikuti kuliah fotografi di Daytona State University, Florida, untuk mengasah minatnya tersebut.

Tahun pertama kuliah, ia mendapat tugas membuat video di kelas videografi. Tugasnya sederhana, membuat video dokumenter singkat tentang satu topik atau objek yang diminati. Muncul ide di benak Lisa mengangkat tema tentang jilbab guna memenuhi tugas kuliahnya. Gagasan tersebut mencuat ketika ia aktif di kegiatan amal lokal, Project Downtown, yang memberi makanan para tunawisma setiap Ahad di masjid kota.

Selama menjalani aktivitas sosialnya tersebut, ia berkerudung. Kerudung, bagi Lisa, bukan hal asing. Ia telah terbiasa sejak di Maroko meski motifnya sekadar menghormati tradisi warga lokal di Maroko. Gayung bersambut, Lisa memulai dengan mewawancarai Nadine Abu Jubbara, rekan kerjanya di Project Downtown. Meski tanpa ia sadari, sentuhan hidayah telah begitu dekat dari hatinya. Berbagai pertanyaan ia sodorkan untuk Nadine. Jawaban demi jawaban membuka pintu hati Lisa ihwal alasan Muslimah berhijab.

“Hijab dalam Islam sebagai pelindung dan penghormatan perempuan,” kata Lisa yang kini tinggal di Las Cruce, Negara Bagian New Mexico, AS, bersama suami dan ibu mertuanya.

Hatinya tergerak. Rasa penasarannya memuncak. Lisa menelusuri ayat-ayat Alquran tentang hijab. Ia semakin tertarik mempelajari Islam. Ia menemui sejumlah ulama, melihat video ceramah mereka di Youtube, dan menelaah Alquran lebih menyeluruh.

Selama sembilan bulan, ia juga sempat membandingkan dua kitab suci, Alkitab dan Alquran. Ada beberapa kesamaan, tetapi keduanya tetap berbeda. Injil telah beberapa kali diubah, sementara Alquran tidak demikian.

Syahadat

Lisa VoglAkhirnya, pada Jumat, 29 Juli 2011, sebelum Ramadhan, Lisa Vogl mengikrarkan dirinya sebagai Muslimah. Ia merasakan berkah yang amat sangat betapa hidupnya mengalami perubahan. Keluarganya tidak keberatan dengan keputusannya itu. Tapi, saat Lisa mulai berjilbab, ibunya merasa ‘kehilangan’ putri kesayangannya. Dengan jilbab, berarti Lisa tidak hanya menunjukkan identitasnya sebagai Muslimah di depan keluarganya, tapi kepada semua orang.

Lisa mencoba menjelaskan kepada keluarganya menggunakan jilbab justru merupakan keberkahan dan menjadi jalan dakwahnya. Penjelasan ini juga yang Lisa sampaikan kepada mereka yang bertanya mengapa ia berjilbab.

Berbagai inspirasi

Lewat video yang ia buat tentang jilbab, ia berharap bisa berbagi inspirasi yang sama melalui ketertarikannyanya di bidang fotografi. Beberapa Muslimah yang lebih senior dari Lisa bahkan mengaku terinspirasi segera berjilbab usai berkaca pada Lisa. Bagaimanapun, meski bukan Muslimah sejak lahir, ia tetap berjilbab ke manapun ia pergi.

Lisa juga tidak menutup mata atas beragam penilaian orang-orang di sekitarnya soal jilbab yang ia kenakan. Ia hanya berkeyakinan perubahan hanya bisa dirasakan dengan menghadapinya. “Sebagai Muslim, kita harus berupaya mengubah perspektif buruk tentang jilbab itu,” tutur Lisa.

Setelah merasakan nikmatnya hidayah, Lisa berbagi nasihat bagi saudara Muslim. Pertama, jangan pernah takut menunjukkan jati diri. Jika seorang Muslim bangga dengan keislamannya, orang lain akan menghormati. Kedua, jilbab adalah bentuk dakwah. Perempuan lebih berpeluang dibanding laki-laki untuk menyebarkan Islam lewat busana yang dipakai. ”Kita gunakan kesempatan dan berkah itu untuk menunjukkan Islam,” ajak Lisa.

Dan, sebagai Muslim, tak ada alasan berhenti mengejar mimpi dan cita-cita. Setelah semua yang ia lewati, ia bersyukur meninggalkan banyak hal dan memilih fotografi yang justru mempertemukannya dengan Islam.

Subhanallah …

Jakarta, 11 Agustus 2014.

Di copy dari :

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/08/05/n9tb7k-hidayah-menyapa-lewat-film-dokumenter-1

Read Full Post »

 “ Allahu akbar, Allahu akbar , tiada  tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah “.

Kawasan Haram Asy-Syarif

Kawasan Haram Asy-Syarif

2008-05 Umrah_59Suara kumandang azan bergema keras di telinga Dr Yahya A Lehman. Ketika itu ia baru saja melewati dinding ratapan yang suram, sisa peninggalan kuil Herodian, tempat peribadatan umat Yahudi yang hingga kini masih mereka hormati. Kemudian Dr Yahya berusaha memanjat The Holy Temple Rock ( As-Sakrah) yang memang berada di kawasan yang sama yaitu Haram Asy-Syarif ( Temple Mount) di Yerusalem.

Sempat terpana, tak lama kemudian ia melihat orang-orang Muslim Palestina datang berbondong-bondong menuju Masjidil Aqso memenuhi panggilan tersebut. Di pagi buta sebelum fajar menyingsing itulah ia menyaksikan Muslim shalat bersama-sama ; rukuk dan sujud, mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu.

Dr Yahya terperangah. Hatinya benar-benar tergetar menyaksikan pemandangan di depan matanya. Ia berusaha memahami bacaan shalat dalam bahasa Arab yang didengungkan sang imam dengan begitu khusuk dan merdu. “ Alangkah indahnya”, bisik Yahya, syahdu.

Beberapa lama kemudian dari balik gunung di kejauhan sana mataharipun menampakkan sinarnya yang begitu kemilau. Hati Yahya  bergemuruh. Cahaya tersebut seolah memanggilnya, mengajaknya untuk membuka mata agar mau menerima pandangan baru tentang kebenaran hakiki yang memang sedang ia teliti.  Itulah Islam, sebuah agama yang benar-benar baru baginya. Karena selama ini agama yang diperkenalkan orang-tua dan sistim di negaranya, Jerman, hanyalah Kristen dan Yahudi saja.

Dr Yahya sebenarnya datang ke kota ini dalam rangka menghadiri upacara Paskah. Ia adalah seorang peneliti dalam kajian khusus Gulungan Laut Mati ( the dead sea scroll) yang kontroversial itu. Selama di kota ini ia juga terus beribadah di gereja dengan tekun.

Namun sejak ia mendengar panggilan shalat dan menyaksikan umat Islam shalat berjamaah hatinya mulai gundah. Cahaya Sang Khalik menuntunnya, hingga ke semenanjung Malaysia, dimana ia bekerja sebagai pendeta dan pendidik. Di sinilah, ia menyelesaikan penelitiannya yang sungguh sulit, yaitu tesis doktoralnya  tentang perkembangan awal Kristen dan tulisan-tulisan tentang Perjanjian Baru.

“ Pernyataan agama Monoteistik Islam dari menara di atas tempat suci di Yerusalem terdengar bagi saya seperti pesan agama baru yang mempunyai kekuatan besar dan menantang. Masa study pasca-sarjana saya selama beberapa tahun di bidang perbandingan agama dan penelitian khusus dari pergerakan Yahudi pada zaman Yesus dan dampaknya terhadap perkembangan awal agama Kristen, telah membimbing saya secara pasti, kepada kebenaran Islam, membawa saya lebih dekat akan pesan asli Yesus,  nabi dari Nazaret yang diutus Tuhan, yang memanggil para pengikutnya kembali ke jalan agama yang benar dan telah dirintis nabi-nabi Yahudi terdahulu. Juga Ibrahim, agar berserah diri kepada Tuhan yang Satu, Allah swt, Pencipta semua mahluk,  dan agar  berjuang menegakkan persaudaraan di antara sesama manusia”.      

“ Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”.(QS.Al-Qashash(28):52-54).

Ayat diatas diturunkan kepada raja Najasyi, Negus, seorang ahli kitab yang hidup pada masa Al-Quran turun. Ia betul-betul tersentuh ketika surat Maryam dibacakan dihadapannya. Selanjutnya iapun lalu mengakui bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah adalah ajaran yang benar, ajaran yang diturunkan Tuhan semesta alam..

Lain lagi dengan pengalaman Ahmed Holt. Seperti umumnya orang Barat, sejak kecil ia telah dicekoki pemikiran bahwa Islam disebarkan dengan ancaman pedang, bahwa kaum Muslimin dan orang-orang Palestina adalah kaum teroris yang tidak berperikemanusiaan dan bahwa kaum Yahudi adalah kaum minoritas yang tertindas.  Akibatnya timbullah kebencian terhadap kaum Muslimin dan simpati kepada Yahudi. Ia juga sangat setuju dengan pendapat bahwa sudah seharusnya orang-orang Yahudi di pengungsian pulang ke tanah leluhur mereka di Yerusalem.

Hingga suatu hari niat menggebu-gebu Holt untuk merealisasikan rasa simpatinya untuk membela dan berperang demi kaum ini terlaksana. Namun sesampainya di tanah suci ke 3 agama besar ini, Holt tidak merasa dimusuhi oleh orang-orang Muslim Palestina. Mereka tetap memperlihatkan sikap ramah, kasih sayang dan persahabatan padahal mereka tahu bahwa ia berada di pihak Yahudi. Namun demikian mereka juga tidak berusaha membicarakan apa itu Islam apalagi memperkenalkannya.

Lama kelamaan, tanpa disadari, hal ini telah mempengaruhi sikap Holt terhadap mereka. Hingga akhirnya, Holt justru diusir oleh pemerintah Yahudi karena dianggap terlalu akrab dengan orang-orang Palestina.

Selama di Yerusalem, Holt memang tidak bisa menutup mata bahwa ia melihat penderitaan orang-orang Muslim di tanah tersebut. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kejamnya perlakuan pemerintah Israel terhadap mereka. Para pemuda dipenjara dan disiksa. Tanah mereka disita kemudian pemiliknya diusir. Bahkan ia menyaksikan sendiri polisi-polisi Yahudi memukuli anak-anak sekolah Palestina.

Hingga suatu hari di London, ketika ia berbincang dengan orang Inggris setempat, ia berujar : “ Anda seorang Muslim tapi anda tidak menyadarinya”. Holt sempat terhenyak. Tampaknya, tanpa disadarnya, pengalaman selama di Yerusalem telah mempengaruhi pikirannya. Dari sinilah ia mulai mencari kebenaran agama yang selama ini dianutnya.

« Sebelum aku memeluk Islam ada kendala yang harus kuatasi. Ini menyangkut Isa as. Selama ini aku menerima Yesus sebagai ‘anak Tuhan’, dan ‘ manusia yang diciptakan Tuhan’. Aku mulai membuat rasionalisasi. Kepada siapa Yesus berdoa? Bagaimana ia berdoa? Ia pergi ke padang pasir dan bersujud kepada yang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta. Aku mulai memikirkan pembukaan doa yang diajarkan Yesus sendiri”.

“ Bapak kami yang di surga”. “ Bukan Bapakku tetapi Bapak kami. Jadi Yesus member tahu kita bahwa Allah adalah Bapak dari semua makhluk, Bapak dari semua ciptaan karena semua diciptakan Allah. Ini melegakan nurani dalam pikiranku, dan dengan penuh bahagia, aku menjadi Muslim”.  

Demikianlah Allah swt memberikan hidayah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.  Dr Yahya A Lehman dan Ahmed Holt hanya 2 diantara banyak orang yang dibukakan mata dan hatinya di tanah suci Yerusalem dimana Masjidil Aqsha berdiri tegar, meski dinding-dinding tuanya telah lapuk tertelan usia.

“ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjisar dil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.Al-Isra(17):1).

Disinilah umat tiga agama besar “ Monotheisme” yang dibawa para Rasul Allah bersengketa. Yaitu umat nabi Musa as ( Moses) yaitu umat Yahudi, umat nabi Isa as (Yesus) yaitu umat Nasrani dan umat nabi Muhammad as yaitu umat Islam. Padahal ketiga nabi tersebut tidak pernah bertikai dan satu sama lain saling menghormati. Karena pada dasarnya mereka membawa ajaran yang sama, yaitu meng-Esa-kan Sang Khalik, Allah azza wa jalla. Tidak ada sekutu bagi-Nya.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah (9):30).

“ Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(QS. Al-Ikhlas (112):1-4).

Saat ini umat Yahudi menjadikan sebagian tembok yang terletak sisi barat Haram Asy-Syarif dimana berdiri 2 bangunan utama, Masjidil Aqsha dan Masjid As-Sakrah ( Kubah Batu atau Dome of the Rock),  sebagai tempat suci mereka.  Tembok Ratapan, demikian mereka memberi nama tembok ini, dianggap umat Yahudi sebagai rumah ibadah nenek moyang mereka yang tersisa hingga kini. Menurut kepercayaan mereka, rumah ibadah ini dibangun oleh nabi Sulaiman as pada tahun 950 SM.  Dan kemudian dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M. Mulanya panjang tembok tersebut  485 meter namun saat ini yang tersisa hanya 60 meter saja.

Ini yang menjadi ambisi besar pemerintah Israel saat ini. Yaitu membangun kembali kejayaan Yahudi, dengan mendirikan kembali rumah Yahudi di tempat yang sama, yaitu di atas Haram As-Syarif, tanpa peduli bahwa di atas tanah tersebut sejak lama telah berdiri 2 rumah suci umat Islam. Masjidil Aqsha dan Masjid As-Sakrah adalah bangunan masjid milik umat Islam yang masih berfungsi, hingga detik ini, meski otoritas Israel selalu berusaha keras melarangnya.

Ironisnya lagi, sebenarnya tidak ada bukti kuat yang mengatakan bahwa rumah ibadah buatan raja Solomon ( nabi Sulaiman as) pernah ada di tempat tersebut. Ini hanya akal-akalan poltik Zionis untuk mencari pembenaran merampas tanah Palestina dari umat Islam.

P1010015

Masjid Nabawi

Masjid Nabawi

Sementara bagi umat Nasrani, gereja Makam Kudus, yang dijaga seorang Muslim secara turun temurun itu, adalah tempat tersuci bagi mereka. Di dalam gereja yang terletak di bukit Golgota inilah mereka meyakini bahwa Yesus ( nabi Isa as) disalibkan, dikuburkan dan dibangkitkan nanti di akhir zaman. Bagi umat Islam sendiri, Masjidil Aqsho adalah masjid tersuci ketiga setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Dari sinilah Rasulullah saw miraj’ ke Sidratul Muntaha. Umat Islam menguasai Palestina termasuk Yerusalem pada tahun 638 M, pada masa kekahilfahan Umar bin Khattab.  Ketika itu bahkan penguasa Nasrani Yerusalem  sendiri yang berkenan menyerahkan langsung kunci kota kepada sang khalifah dengan suka rela. Ini disebabkan kepahamannya bahwa umat Islam dibawah khalifah terkenal bijak itu tidak akan menzalimi rakyatnya, jauh lebih baik dibanding bila kekuasaan jatuh kepada Yahudi.

Itulah yang terjadi saat ini. Umat Islam dibawah pemerintah kolonoal Israel terbukti memang terbukti sangat tertindas. Namun tipu daya Allah jauh lebih hebat dari tipu daya orang atau bangsa manapun. Penindasan Yahudi terhadap umat Islam ternyata malah membuat  mata dunia terbuka bahwa islam adalah agama yang hak.

« Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS.Ali Imran(3) :54).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Juni 2012

Vien AM.

Read Full Post »

Sebut saja namanya Khadija, nama yang digunakannya setelah masuk Islam. Ia seorang profesor keturunan Yahudi yang menemukan cahaya Islam setelah menyaksikan kematian seorang sutradara bernama Tony Richardson akibat penyakit AIDS. Khadija mengagumi Richardson sebagai sutradara panggung drama yang profesional, brilian dan diakui kalangan seniman internasional.

Kehidupan Richardson sebagai homoseks menularkannya penyakit AIDS yang mematikan. Dari situlah Khadija mulai memikirkan gaya hidup masyarakat Barat dan masyarakat Amerika terutama dalam masalah moralitas. Khadija pun mulai melirik ajaran Islam.

Khadija memulainya dengan mempelajari sejarah Islam. Sebagai seorang Yahudi, ia masih mengingat sejarah nenek moyangnya, Yahudi Spanyol yang hidup di tengah masyarakat Muslim dan terusir pada masa inkuisisi pada tahun 1942. Khadija mempelajari bagaimana kekhalifahan Turki Ustmani memperlakukan para pengungsi Yahudi dengan cara yang manusiawi pada masa pengusiran orang-orang Yahudi dari daratan Eropa.

“Allah membimbing saya dalam belajar dan saya belajar Islam dari banyak tokoh seperti Imam Siddiqi dari South Bay Islamic Association, Hussein Rahima dan kakak angkat saya, Maria Abidin, seorang muslim orang Amerika asli dan bekerja sebagai penulis di majalah SBIA, IQRA,” kisah Khadija mengawali ceritanya sebelum menjadi seorang muslim.

Saat melakukan riset tentang Islam, Khadija mewawancarai seorang pemilik toko daging halal di sebuah distrik di San Francisco. Di toko itu ia bertemu dengan seorang pembeli, perempuan berjilbab yang kemudian sangat mempengaruhinya dalam memahami ajaran Islam. Khadija terkesan dengan perilaku perempuan itu yang lembut dan ramah, apalagi perempuan berjilbab itu ternyata menguasai empat bahasa asing.

“Kecerdasannya, membuat saya merasa terbebas dari sikap arogan dan memberikan kesan mendalam di masa-masa awal saya mempelajari bagaimana Islam bisa mempengaruhi perilaku manusia,” ujar Khadija.

“Riset yang saya lakukan membuat saya tahu lebih banyak tentang Islam dari sekedar sekumpulan fakta, bahwa Islam adalah agama yang hidup. Saya belajar bagaimana kaum Muslimin memperlakukan diri mereka sendiri dengan penuh martabat dan kebaikan sehingga bisa mengangkat mereka dari kekerasan dan perbudakan di Amerika …”

“Saya belajar bahwa lelaki dan perempuan Muslim bisa saling mendukung keberadaan masing-masing, tanpa harus merusak keduanya secara verbal maupun fisik. Saya juga belajar bahwa busana yang pantas menunjukkan semangat spiritualitas dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia,” papar Khadija.

Kondisi itu sangat berbeda dengan apa yang dialami Khadija selama ini, sebagai perempuan yang hidup di tengah budaya masyarakat Amerika. Seperti perempuan Amerika pada umumnya, ia ibarat hidup di tengah perbudakan seksual. Sejak usia dini, Khadija belajar bahwa masyarakat AS pada umumnya menilai manusia semata-mata dari penampilan luarnya saja sehingga banyak remaja, baik perempuan maupun laki-laki yang putus asa karena merasa tidak diterima oleh teman sebayanya.

Setelah mengetahui lebih banyak tentang Islam dan bergaul dengan beberapa muslim Amerika, Khadija makin mencintai dan menghormati Islam. “Saya mendukung dan mengagumi Islam karena Islam memberikan hak yang sama dalam masalah pendidikan untuk laki-laki dan perempuan, menghormati hak laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan ajaran tentang cara berbusana yang pantas serta aturan Islam tentang perkawinan,” tukas Khadija.

“Islam mengajarkan untuk menghargadi diri kita sendiri sebagai makhluk ciptaanNya yang dianugerahi kemampuan untuk bertanggung jawab dalam hubungan kita dengan orang lain. Lewat salat dan zakat, serta komitmen keimanan dan pendidikan, jika kita mengikuti jalan Islam, kita memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anak yang akan terbebas dari ancaman kekerasan dan eksploitasi,” sambungnya.

Dalam perjalanannya memeluk Islam, Khadija aktif di organisasi AMILA (American Muslims Intent on Learning and Activism) dan ikut mengelola situs organisasi itu. Khadija dengan jujur mengakui bahwa komunitas Muslim adalah komunitas yang mengagumkan. “Islam memberi petunjuk pada kita agar terhindar dari api neraka,” kata Khadija.

Khadija pun bertekad bulat untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. “Sang Pencipta dikenal dengan banyak nama. Rahmat-Nya kita rasakan dan kehadiran-Nya dimanifestasikan dengan cinta, toleransi dan kasih sayang yang hadir di tengah kehidupan masyarakat,” tandas Khadija. (ln/oi)

Diambil dari :

http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/kagum-pada-ajaran-islam-soal-moral-profesor-yahudi-bersyahadat.htm

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON–Hasil survei terbaru dari Faith Matters menyatakan penyebaran Islam di Inggris lebih cepat ketimbang di negara Eropa lainnya. Per tahun, diperkirakan ada sekitar 5.000 mualaf baru di Inggris, sementara di Jerman dan Prancis jumlah mualaf per tahunnya sekitar 4.000 orang.

Peneliti dari Faith Matters menyurvei tiap masjid yang ada di London. Hasilnya, untuk Kota London saja, selama 2010 ada 1.400 mualaf baru. Ini belum termasuk data dari kota-kota di seluruh Inggris Raya.

Direktur Faith Matters, Fiyaz Mughal, mengatakan maraknya Islam di Inggris dipicu karena tingginya sorotan publik atas umat Muslim. “Warga ingin tahu apa sebenarnya Islam. Dan ketika mereka sudah tahu, sebagian kecil ada yang menjadi mualaf. Mereka menemukan kedamaian dalam Islam,” katanya.

Simak pernyataan Hana Tajima (23 tahun) yang bekerja sebagai perancang busana. “Awalnya aku memiliki beberapa teman Muslim saat kuliah. Saat itu aneh saja. Mereka jarang keluar malam, ke klub atau nongkrong,” katanya.

“Dan ketika aku mengambil mata kuliah filsafat, aku mulai bingung dengan makna hidupku. Padahal saat itu aku cukup terkenal di kampus. Aku sudah merasa cukup. Tapi aku bertanya, betulkah ini kehidupan yang aku inginkan?” kata Tajima, panjang lebar.

“Lalu aku membaca literatur tentang Islam dan perempuan. Anehnya, ternyata mereka sangat relevan. Semakin banyak aku membaca, semakin yakin aku terhadap Islam,” katanya.

Lain lagi dengan pengalaman Denise Horsley (26) yang bekerja sebagai guru menari. Ia kenal Islam lewat pacarnya. “Saat itu banyak orang bertanya apakah aku menjadi mualaf karena pacaran? Aku jawab tidak! Aku menemukan Islam. Aku tumbuh sebagai penganut Kristen,” katanya.

Horsley kini mengenakan jilbab. Ia mengatakan, jilbab adalah konsep penting dalam Islam. “Kerudung ini bukan sekedar pakaian atau tren. Mengenakan jilbab justru menyatakan kejujuran atas diri sendiri dan apa yang akan kau lakukan,” katanya.

“Sebenarnya sih, aku masih orang yang sama dengan yang sebelumnya. Cuma aku tidak minum-minuman keras, makan babi, dan sekarang aku shalat lima kali sehari,” katanya.

Pengalaman Dawud Beale (23) lebih unik. Sebelumnya, ia adalah pemuda rasis yang menyepelekan Islam. “Lalu aku berlibur ke Maroko. Di situ pertama kali aku berkenalan dengan Islam. Aku akui sebelumnya aku penganut rasis. Tapi sepekan usai pulang dari Maroko, aku memutuskan memeluk Islam,” katanya.

Beale bermukim di Somerset. Ketika ia baru-baru menjadi mualaf, sangat sukar menemukan masjid di Somerset, yang memang tidak ada. Ia lalu bertemu dengan rekan-rekan dari Hizb-ut Tahrir, gerakan politik Islam. “Ternyata banyak yang media barat katakan tentang Islam salah,” katanya.

“Aku yakin sudah menemukan jalan hidup yang tepat dalam Islam,” katanya lagi.

Sementara Paul Martin (27) mengatakan ia menikmati gaya hidup sebagai muslim. “Awalnya aku berkenalan dengan Islam setelah mengamati gaya hidup teman-teman Muslim. Mereka tampak menikmati betul hidup, tidak merusak tubuhnya. Setelah itu, aku mendalami Alquran,” katanya.

Seorang teman Martin lantas mengenalkannya ke seorang tokoh Islam yang berprofesi sebagai dokter. Martin banyak berkonsultasi tentang Islam dengannya. Mereka mengobrolkan Islam di kafe. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat saya di kafe,” kata Martin. “Saya tahu banyak yang mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid, tapi bagi saya, Islam bukan sekedar tempat di mana kau percaya pada Allah SWT. Islam adalah tempat di hatimu,” katanya.

Redaktur: Stevy Maradona

Sumber: Telegraph

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/01/04/156298-kisah-empat-remaja-inggris-menemukan-kehidupan-dalam-islam

Read Full Post »

Knud Valdemar Gylding Holmboe lahir pada 22 April 1902, sebagai anak tertua dari keluarga pedagang yang terpandang di kota Horsens, Denmark. Sejak remaja, Knud sudah tertarik dengan ilmu filsafat dan agama dan dalam usia muda, Knud sudah bekerja sebagai wartawan magang dan menulis untuk sejumlah koran lokal di Denmark.

Pada usia 20 tahun, Knud menyatakan memeluk agama Katolik dan tinggal di sebuah seminari di Clairvaux, Prancis. Dengan cepat ia membaur dalam kehidupan biara dan ingin memperdalam ilmu agamanya ke tempat lain. Tahun 1924, ia pun pergi ke Maroko dan di negara inilah ia malah mengenal Islam.

Knud sering menemui seorang syaikh di sebuah masjid kecil di kawasan pegunungan di negara itu. Dari pertemuan-pertemuan itu, Knud menyadari bahwa hatinya terpaut pada Islam. Setahun kemudian, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Pulang ke Denmark, Knud menerbitkan buku pertamanya “Poems” berisi tulisan-tulisannya tentang kematian, kehidupan, keyakinan dan gurun pasir. Tak lama setelah buku pertama, Knud menerbitkan buku tentang pengalamannya selama tinggal di Maroko berjudul “Between the Devil and The Deep Sea – a dash by plane to seething Morocco”.

Tahun 1925, Knud melakukan perjalanan ke Timur Tengah, mulai dari Suriah, Palestina, Yordania, Irak dan Persia. Ia menyaksikan sendiri pertikaian politik di Baghdad dan Palestina, yang menjadi cikal bakal ketidakstabilan situasi Timur Tengah hingga sekarang.

Setelah Timur Tengah, pada tahun 1927, ia mengunjungi kawasan Balkan bersama isterinya yang baru dinikahinya. Di Albania, ia menyaksikan bagaimana orang-orang Italia menindas komunitas Muslim. Knud menulis dan mengirimkan banyak artikel serta foto apa yang ia saksikan di Albania ke media massa di Denmark. Salah satunya yang memicu kontroversial adalah artikel Knud tentang tindakan penguasa Italia menggantung seorang pendeta Katolik terkemuka Albania. Cerita itu menyebar ke seluruh Eropa dan membuat otoritas Italia marah besar.

Saat kembali ke Denmark, Knud mencoba keberuntungannya dengan menjadi editor di sebuah koran lokal. Tapi kesulitan ekonomi membuatnya memilih meninggalkan Denmark. Bersama istrinya, Nora dan puterinya, Aisha, Knud pindah ke Maroko. Knud juga mengganti namanya menjadi Ali Ahmed El Gheseiri, yang merupakan terjemahan bebas nama asli Knud ke dalam bahasa Arab.

Ikut Jihad Melawan Italia.

Tahun 1930, Knud melakukan perjalanan yang membuatnya menjadi terkenal. Dengan menggunakan mobil Chevrolet Model 1929 dari Maroko melintasi gurun Sahara menuju Mesir. Saat melewati Libya, Knud lagi-lagi menyaksikan perlakun buruk penguasa Italia yang saat itu menjajah Libya, terhadap masyarakat Muslim di negeri itu. Orang-orang Italia itu menggantung, mengeksekusi, menyerang, menyiksa penduduk Muslim serta merusak sumber nafkah mereka sehingga penduduk Muslim di Libya hidup dalam kemiskinan. Knud menulis dan mengambil foto-foto apa yang disaksikannya di Libya.

Pengusa Italia di Libya tidak tinggal diam. Mereka menangkap Knud di kota Derna dan mengusir Knud dari Libya. Sejak itu, Knud memutuskan untuk bergabung dengan gerakan perlawanan rakyat Libya yang dipimpin oleh Syaikh Omar Al-Mokhtar.

Knud tetap melanjutkan perjalanannya ke Mesir. Di negeri Piramida itu, ia berjuang keras meyakinkan masyarakat Muslim di Mesir untuk membantu jihad muslim Libya melawan penjajahan Italia. Knud sedang bersiap-siap membawa bantuan dengan karavan ke kota Al-Kufra, Libya, ketika duta besar Italia untuk Mesir meminta otoritas Inggris dan Mesir menangkap dan menjebloskan Knud ke penjara. Sebulan lamanya ia mendekam di penjara, lalu dipulangkan dengan kapal laut ke negara asalnya, Denmark.

Di Denmark, Knud menuliskan kekejaman penjajahan Italia di Libya dalam bukunya “Desert Encounter”, yang dengan cepat menjadi buku terlaris di Denmark dan beberapa negara Eropa lainnya, serta di AS. Di Italia, buku itu dinyatakan terlarang hingga tahun 2004. Pemerintah Italia menghabiskan dana ribuan dollar untuk melakukan kampanye hitam terhadap buku Knud tersebut dan memanfaatkan media massa di Italia untuk membantah semua tulisan-tulisan Knud tentang kejahatan perang Italia di Libya.

Tahun 1931, Knud kembali melakukan perjalanan. Kali ini ia berencana ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanannya, ia menyempatkan diri bertemu dengan para pemimpin dan tokoh perlawanan Libya yang diasingkan ke Turki, Yordania dan Suriah. Saat berada di Suriah, masyarakat Arab sedang melakukan demonstrasi besar-besaran di depan kantor konsulat Italia di Damaskus. Lagi-lagi Knud diusir dari Suriah. Knud boleh masuk ke Yordania dan melanjutkan perjalanannya ke Mekkah, setelah kantor konsulat Denmark di Istanbul menyampaikan proters keras atas perlakuan terhadap Knud.

Dibunuh Saat Menuju Mekkah.

Pemerintah Italia masih menyimpan rasa khawatir terhadap Knud. Mereka takut Knud akan menyerukan jihad melawan Italia sesampainya di Mekkah. Untuk itu, Italia melakukan berbagai cara untuk mencegah Knud agar tak sampai ke Mekkah. Knud mengalami berbagai macam percobaan pembunuhan ketika masih berada di Amman, Yordania. Namun Knud tetap pada rencananya semula untuk pergi ke Mekkah. Ia membeli seekor unta dan melanjutkan perjalanannya ke Aqaba. Di sini, ia harus menunggu izin masuk ke wilayah Kerajaan Saudi.

Tanggal 11 Oktober 1931, Knud meninggalkan untanya di dekat perbatasan Saudi. Ia konon sedang bermalam di dekat oasis Haql ketika sekelompok suku Arab Badui mendatanginya. Suku di Saudi itu dikenal sebagai sekutu orang-orang Italia yang menguasai wilayah itu. Mereka menyuruh Knud untuk melanjutkan perjalanan sendirian dan di tengah jalan antara Al-Haql dan Humayda, Knud diserang dan disergap. Tapi malam itu juga, Knud berhasil meloloskan diri, ia berenang menjauhi bibir pantai. Saat kelelahan dan terdapar di sebuah pesisir pantai, suku Arab Badui menemukan Knud dan langsung menembaknya hingga tewas. Usia Knud saat itu baru 29 tahun. Jenazahnya dikubur di dekat pantai.

Petugas perbatasan Yordania Arif Saleem berusaha mengejar seorang syaikh, pemimpin kelompok yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan terhadap Knud. Saleem berhasil menangkapnya di wilayah Aqaba dan menginterogasinya selama beberapa jam. Tapi atas perintah komandan pasukan Inggris John Glubb, syaikh itu akhirnya dibebaskan. Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa sejumlah anggota suku yang membunuh Knud, melakukan bunuh diri massal ketika tentara-tentara yang setia dengan Raja Ibnu Saud menghancurkan kamp-kamp mereka.

Tulisan, buku-buku dan foto-foto karya Knud menjadi warisan bersejarah yang sangat penting. Setelah Perang Dunia II usai, Italia diseret ke pengadilan internasional, tapi masyarakat Muslim di Libya tidak pernah menerima kompensasi atas kekejaman yang dilakukan pemerintah Italia selama menjajah Libya. Jenazah Knud juga tidak pernah dipulangkan ke Denmark.

sumber : eramuslim.

Diambil dari :

http://muallaf-online.blogspot.com/2011/03/knud-valdemar-mualaf-asal-denmark-yang.html

Jakarta, 22 Agustus 2011.

Vien AM.

Semoga Allah swt membalas perjuangan hebat sang mualaf dengan balasan sebaik-baiknya. Dan semoga dapat menjadi pemicu kita, yang terlahir Muslim, agar peduli terhadap penderitaan saudara-saudara kita seiman, dimanapun berada.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID,  Kolonel Donald S Rockwell lahir di Illinois, Amerika Serikat. Ia menyelesaikan studi d Universitas Washington dan Columbia di mana ia memperoleh banyak gelar kehormatan. Ia adalah seorang penyair, kritik sastra sekaligus pimpinan redaksi di Radio Personalities.

Ia mendapat pangkat kolonel saat ikut wajib militer pada masa Perang Dunia II, ketika AS melawan Jerman dan Jepang. Sebagai sastrawan ia pun menulis buku, salah satunya yang terkenal berjudul  “Beyond the Brim and Bazar of Dreams.

Dalam bukunya itu ia menuliskan pandangannya tentang Islam dan mengapa akhirnya ia memilih memeluk Islam. Berikut nukilannya yang pernah dipublikasikan oleh Islamic Review pada tahun 1935.

Kesetaraan dalam Islam selalu menarik perhatian Donald. Orang kaya dan orang miskin memiliki hak yang sama di lantai masjid, bersujud dalam ibadah yang rendah hati. “Tidak ada bangku yang disewakan atau tidak ada kursi khusus yang bisa dipesan sebelumnya,”

Kesederhanaan dalam Islam, daya tarik kuat dan atmosfer yang memikat dari masjid-masjid, kesungguhan para penganut setianya, serta perwujudan meyakinkan yang menginspirasi dari jutaan pemeluknya di dunia yang menjawab panggilan lima kali sehari untuk melaksanakan shalat–semua faktor tadi menarik hati Donald pertama kali.

Namun setelah ia memutuskan untuk menjadi pemeluk Islam, ia menemukan banyak lagi alasan mendalam yang kian memperkuat keputusan tersebut. Konsep kehidupan penuh kelembutan–nasihat bijaksana, amal untuk meningkatkan rasa kasih sayang, kemanusiaan yang luas serta perintis deklarasi hak milik perempuan–adalah faktor-faktor lain dari ajaran ini–begitu impresi Donald terhadap ajaran Islam, ia pandang luar biasa.

Begitu pula ketika mendengar hadis yang menuturkan kisah seorang pria Mekah dengan Rasul Muhammad yang berbunyi”Beriman dan percayalah pada Tuhan dan ikatlah untamu”. Bagi Donald itu adalah bukti singkat paling jelas dari sebuah praktek keagamaan yang ditunjukkan tepat dalam kata-kata tak langsung Rasul Muhammad.

Dari kisah itu Donald menilai ada sistem bersikap normal dalam beriman, bukan keyakinan buta di bawah perlindungan kekuatan tak terlihat. Namun di sisi lain ia meyakini bahwa jika manusia melakukan semua dengan benar dan terbaik menurut kemampuannya, maka seseorang layak meyakini takdir baik sebagai kehendak Tuhan.

Selain faktor tadi ia juga terkesan dengan toleransi berwawasan luas Islam terhadap agama lain. Rasul Muhammad, tulis Donald, akan menegur pengikutnya yang tidak memperlakukan Ahli Kitab dengan baik, karena Ibrahim, Musa dan Isa juga diakui sebagai nabi dari Satu Tuhan. Tentu, tulis Donald, itu sikap yang sangat murah hati terhadap agama lain.

Satu juga yang digarisbawahi oleh Donald adalah praktek keagamaan dan ibadah yang bebas dari berhala dan kemusrikan. Donald memandang itu adalah inti utama dari kekuatan dan kemurnian menyehatkan dari keyakinan seorang Muslim.

Tak hanya itu, Donald juga kagum dengan kemurnian ajaran Rasul yang tidak terkooptasi dalam perubahan atau tambahan doktrin meski waktu telah terpaut jauh sejak Islam pertama kali diajarkan Rasul. Al Qur’an tetap seperti sejak pertama ia diturunkan. Kitab tersebut, ungkap Donald, justru hadir untuk membenahi umat politheis yang korup di era Rasul Muhammad. Sebagai jantung Islam itu sendiri, Al Qur’an tidak berubah.

Kesahajaan dan sikap tidak berlebihan dalam segala hal sebagai kunci utama dalam Islam diakui Donald telah memenangkan persetujuan dalam dirinya secara wajar tanpa pengecualian. Yang juga membuat ia semakin kagum, Islam juga menyentuh keseharian. Ia menyaksikan bagaimana Muslim yang sehat karena meneladani sikap Rasul, yakni hidup dalam kebersihan dan melakukan puasa untuk menekan nafsu duniawi.

Ketika Donald berdiri di depan masjid-masjid di Istanbul, Damaskus, Yerusalem, Kairo, Aljazair, Tangier, Fez dan kota-kota lain, ia menemukan hal lain yang menyentuh kesadarannya. Potensi ampuh kesederhanaan Islam lahir pada hal-hal lebih tinggi. Donald menyadari tak ada ornamen berlebih, ukiran-ukiran rumit, sosok makhluk hidup, gambar dan ritual seremoni dalam rumah ibadah tersebut.

Masjid, tulis Donald, adalah sebuah tempat kontemplasi yang sunyi dan tempat melakukan penghapusan diri ke dalam realitas yang lebih besar yakni Satu Tuhan yang Esa.

Ia juga menyukai konsep di mana Muslim tak memiliki perantara antara dirinya dan Tuhannya. Ia langsung menuju sumber tak kasat mata, pencipta kehidupan itu sendiri, Tuhan, tanpa ada ketergantungan terhadap rumus pengakuan dosa dan kepercayaan bahwa ada kekuatan seorang guru atau manusia suci sebagai penyelamat.

Terakhir namun tak kalah mengagumkan adalah persaudaraan dalam Islam. Terlepas dari warna kulit, aliran politik, ras dan negara, Donald merasa selalu menemukan rumah setiap saat dalam kehidupannya saat bersinggungan dengan Muslim dan Islam. Itulah salah satu faktor pula yang mendorong Donald untuk memeluk keyakinan tersebut.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Dikutip dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/02/09/163243-bagi-donald-rockwell-beriman-dan-ikatlah-untamu-bukan-keyakinan-buta

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »