Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Save Palestine’ Category

Pada 7 Oktober 2025, 2 tahun genap sudah pasukan Zionis Israel melakukan genosida terhadap penduduk Gaza yang luasnya hanya setengah Jakarta (363 km2) hingga menelan sekitar 63.700 korban meninggal kebanyakan anak-anak, ratusan ribu terluka dan puluhan bangunan luluh lantak.

Bahkan rumah sakit dan antrian panjang orang yang mengantri bahan pokok makananpun tak luput jadi sasaran kekejaman Zionis. Demikian pula orang yang bermaksud membantu evakuasi ledakan bom dan drone Zionis. Dengan sengaja mereka membiarkan anjing berdatangan mengendus mayat-mayat yang berserakan tersebut … Na’udzu billah min dzalik … Sungguh biadab …   

https://international.sindonews.com/read/1627047/43/mayat-mayat-bergeletakan-di-jalanan-gaza-tentara-israel-halangi-tim-evakuasi-1759241379

Kesadisan dan kebrutalan tentara Zionis yang sudah jauh diatas batas kewajaran tersebut membuat dunia muak hingga membuahkan protes dan demo di seluruh penjuru dunia. Belanda dan Italia tercatat memecahkan rekor terbesar demo pro Palestina. Di Italia semua kota besar melakukan demo besar-besaran.  Spanyol belakangan bahkan melakukan tindakan nyata menghentikan kerja sama dengan Israel.

Tidak sedikit kejuaraan seni dan olahraga ajang dunia yang menolak keterlibatan tim Israel.  Termasuk pemerintah Indonesia yang sebentar lagi akan menjadi tuan rumah olah raga senam. Tapi anehnya tidak sedikit pula orang Indonesia yang mencemoohnya. Menurut Prof Sudarnoto, seorang cendekiawan Muslim dari Muhammadiyah,  ada dua persen pembela atau pendukung Zionisme di Indonesia.  Bukan jumlah sedikit … Alangkah menyedihkannya …

Sementara Global Sumud Flotilla ( GSF), sebuah aksi kemanusiaan kolaborasi manca Negara demi mendobrak blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang terancam bahaya kelaparan akut, kembali berani menunjukkan diri. Setidaknya 15.000 peserta yang terdiri dari aktivis, dokter, artis bahkan juga pejabat lebih dari 44 negara tercatat dalam misi kemanusiaan terbesar yang pernah ada di muka bumi ini. Dengan membawa obat-obatan, susu bayi, pampers dan kebutuhan pokok lainnya, pada Agustus hingga September 2025, sekitar 450 peserta dengan menumpang lebih dari 50 kapal berlayar menuju Gaza.

Ironisnya, pada 3 Oktober begitu mendekati tujuan, meski masih berada di wilayah lautan internasional, mereka disergap tentara Israel. Persis seperti yang dialami kapal Turki Mavi Marmara dan 5 kapal lainnya yang datang  dengan membawa misi serupa. Tragedi memilukan yang terjadi pada tahun 2010 tersebut memakan korban 10 penumpang tewas dan 50 lainnya terluka.

Kali ini tentara Israel memang tidak menembaki para aktivis, tapi mereka menangkap dan menjebloskannya ke penjara Israel. Namun karena tekanan internasional 2 hari kemudian sebagian aktivis tersebut dideportasi ke Negara masing-masing. Akan tetapi meski hanya dalam waktu sangat singkat para aktivis yang sedang menjalankan tugas mulia tersebut diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Bahkan dengan ringannya pihak Israel mengatakan bahwa misi tersebut merupakan perpanjangan Hamas yang mereka cap sebagai teroris.

https://news.detik.com/internasional/d-8145974/dideportasi-aktivis-global-sumud-flotilla-kami-diperlakukan-bak-binatang

Tampak jelas Israel tidak peduli dengan tanggapan internasional atas perbuatannya yang semena-mena tersebut. Ini terjadi karena dukungan Amerika Serikat yang selalu merestui apapun yang dilakukan mitranya itu. Bukti nyata setiap PBB melakukan sidang pembahasan kebebasan Palestina, negri paman Sam tersebut selalu memvetonya.   

Pada pra sidang KTT PBB September 2025 lalu, tak lama setelah mengumumkan persetujuannya atas solusi 2 negara Palestina dan Israel, Perancis dibawah presiden Macron dengan menggandeng Arab Saudi berinisiatif mengumpulkan puluhan pemimpin dunia demi menggalang dukungan internasional terkait solusi dua Negara tersebut. Andorra, Belgia, Luksemburg, Malta dan Monako langsung bergabung  dalam deklarasi bersama ini. Sidang tersebut berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB di pusat PBB, yaitu New York.

Alhasil pada Sidang Umum PBB pada Senin, 22 September 2025, 153 dari 193 anggota PBB secara resmi memberikan pengakuan berdirinya Palestina sebagai Negara. Termasuk negara-negara mitra Israel seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal. Sementara Irlandia, Spanyol dan Norwegia sejak Mei 2024 sudah lebih dahulu menyatakan akan menyetujui Palestina sebagai Negara, hal yang membuat PM Israel uring-uringan.

Namun lagi-lagi Amerika Serikat memveto hasil sidang tersebut. Tak ayal presiden Kolombia yang di sidang paling bergengsi di dunia itu berpidato secara berapi-api dan terang-terangan menyerang negeri adi daya tersebut langsung mengecam tindakan konyol tersebut. Begitu juga presiden Cina.

Tapi anehnya, Amerika Serikat ini pula yang dipercaya memberikan draft rencana penghentian perang Israel-Palestina (Hamas). Diantara butir-butir terdapat butir pelucutan senjata Hamas yang diberi label teroris. Sayangnya hanya Erdogan, presiden Turki yang secara nyata berani memberikan label pejuang kemerdekaan bagi Hamas, bukan teroris.  

Lain lagi dengan presiden Indonesia Prabowo, yang sepintas terlihat garang dengan gaya bicaranya yang penuh retorika menggebrak meja. Namun ternyata setelah diperhatikan meski mendukung berdirinya Negara Palestina ( yang hidup berdampingan dengan Israel) tapi juga menekankan untuk melindungi Israel !! Sebuah pertanyaan besar, melindungi dari apa?? Tidak cukupkah sebegitu banyak tindakan melanggar hukum internasional yang didiamkan saja?? Belum lagi kata sambutan Prabowo “Shalom” dalam bahasa Ibrani yang berarti “damai”. Dan ini tak lepas dari pengamatan media Israel sebagai pesan rekonsiliasi dengan Israel.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20250924124006-4-669768/media-israel-sorot-pidato-prabowo-di-pbb-soroti-shalom-palestina

Sementara presiden Palestina, dalam sidang PBB tersebut secara online mengatakan tindakan Hamas pada 7 Oktober yang dianggap sebagai pemicu perang, tidak mewakili Palestina. Mahmud Abbas yang telah menduduki jabatan tertinggi sejak 2005 adalah dari partai Fatah yang selalu berseteru dengan Hamas yang menguasai Jalur Gaza.

Tindakan Hamas menyerang dan menculik sejumlah warga Israel pada 7 Oktober 2023 yang selalu dijadikan alasan Israel melakukan genosida, sejatinya adalah salah satu usaha untuk melawan penjajah Israel yang menguasai Palestina selama 77 tahun tanpa reaksi berarti dunia. Meski tak sedikit pihak yang meragukan kabar terbunuhnya 1000 lebih warga Israel adalah benar-benar akibat serangan Hamas. Banyak video beredar bagaimana senjata-senjata canggih tentara Israel justru yang menjadi penyebab terbunuhnya korban sebanyak itu.     

Kekejaman tentara pendudukan Zionis Israel sudah terjadi jauh sebelum peristiwa 7 Oktober. Bukan rahasia lagi bahwa hampir setiap hari rakyat Palestina selama 77 tahun tersebut selalu diperlakukan dengan tidak adil bahkan kejam. Berbagai kebebasan termasuk kebebasan berpendapat yang seharusnya merupakan hak rakyat dibatasi. Rumah dan tanah rakyat digusur, diambil paksa. Ribuan rakyat ditangkap, dipenjara, disiksa secara sadis hingga cacat seumur hidup, bahkan dibunuh tanpa alasan jelas. Adakah reaksi dunia???

Sebaliknya tawanan Israel yang ditangkap Hamas diperlakukan dengan amat sangat baik. Mereka dilindungi, diberi perawatan dokter dan makanan cukup padahal penduduk Gaza menderita kelaparan hebat akibat tentara Israel yang membombardir seluruh fasilitas umum yang ada di Gaza. Pengakuan para ex sandera Israel dapat dicari dengan mudah di medsos, bila tidak diblokir tentunya.

Tindakan Hamas memperlakukan tawanan perang dengan sangat baik tak lain adalah meniru apa yang diperintahkan Al-Quran dan dicontohkan Rasulullah SAW. “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” [Terjemah QS.Al-Insan(76):8).

Aku wasiatkan agar kalian berbuat baik terhadap mereka -yaitu tawanan-.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 977).

Hamas adalah pejuang Palestina yang tidak hanya menuntut kemerdekaan Palestina tapi juga adalah para mujahidin yang berjihad demi mempertahankan Masjidil Aqsho yang merupakan rumah suci ke 3 umat Islam yang sejatinya adalah incaran utama Zionis Israel.

https://spiritofaqsa.or.id/pemukim-yahudi-serbu-masjid-al-aqsha-tentara-israel-ubah-rumah-di-tepi-barat-jadi-barak-militer.html

Kabar terbaru, kesepakatan gencatan senjata memang telah tercapai namun siapa yang berani menjamin Israel yang dikenal sering ingkar janji dan selalu melanggar hukum namun tidak pernah diadili, bakal mematuhinya? Bahkan baru beberapa jam setelah presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan awal tahap pertama gencatan senjata, tentara Israel mengebom rumah sebuah keluarga Palestina di wilayah barat Gaza menyebabkan lebih dari 70 warga sipil syahid dan terluka, sementara banyak korban lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan. Astaghfirullah …

https://spiritofaqsa.or.id/israel-lakukan-pembantaian-di-distrik-sabar-hamas-penjajah-ingin-gagalkan-implementasi-gencatan-senjata.html

Lalu sebagai umat Islam, apa yang telah dan akan kita lakukan untuk saudara/saudari kita yang terdzalimi tersebut?? Akankah kita terus diam membisu padahal sebagian besar Barat yang notabene mitra Israel telah memberikan pembelaan mereka???

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya). ‘ (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2024/ 18 Rabi’ul Akhir 1447H.     

Vien AM.

Read Full Post »

Anehnya lagi, Israel tak hanya menyerang Gaza yang merupakan wilayah kekuasaan Hamas tapi juga wilayah Tepi Barat ( West Bank)  dimana berdiri didalamnya situs penting umat Islam yaitu Masjidil Aqsho yang dilindungi hukum internasional. Ratusan pemukim Israel berkali-kali menerobos masjid suci ke 3 umat Islam tersebut, dibawah perlindungan resmi polisi Israel pula. Zionis Israel juga menangkapi penduduk kota-kota Tepi Barat, memenjarakan tanpa alasan jelas, menembak, mengusir dan merebut rumah-rumah penduduk.

Ironisnya dunia hanya diam bahkan PBB pun tak mampu berbuat apapun meski ICC (International Criminal Court)  secara resmi telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu yang beberapa bulan sebelumnya telah ditetapkan sebagai penjahat  perang. Sekutu terdekat Israel, Amerika Serikat, untuk kesekian kalinya  malah memveto resolusi gencatan senjata segera tanpa syarat yang diajukan DK PBB. ( Berita terbaru, Presiden AS Donald Trump selain menjatuhkan sanksi kepada empat hakim ICC juga kepada Francesca Albanese, seorang Pelapor Khusus PBB asal Italia untuk Palestina atas kritik tajamnya terhadap dugaan kejahatan Israel atas rakyat Gaza).

Tak heran bila Israelpun makin congkak.  Dengan penuh kebanggaan mereka memamerkan peta baru Israel Raya yang meliputi Israel, Palestina, Yordania, Suriah, Mesir dan Arab Saudi! Peta tersebut terpasang di lengan baju para tentara Israel. Makin nyata bahwa Negara Zionis tersebut memiliki agenda tersendiri yang mungkin tidak semua Negara menyadarinya.

Namun bagi kaum Muslimin apalagi yang mengikuti hadist-hadist akhir zaman, tentu saja bukan hal mengagetkan. Tujuan utama Israel sudah pasti yaitu menguasai kompleks Masjidil Aqsho yang mereka yakini sebagai kuil Solomon yang pernah berdiri megah pada zaman raja Solomon alias nabi Sulaiman as berabad-abad silam. Orang-orang Yahudi meyakini bahwa di tempat inilah sang Messias alias Dajjal, orang yang paling mereka nantikan akan datang memimpin mereka menguasai dunia.

Sementara Islam juga mempunyai keyakinan di tempat inilah perang akhir zaman antara kebenaran/kebaikan yang dipimpin Imam Mahdi melawan kebathilan/kejahatan yang dipimpin Dajjal raja Yahudi yang super kejam akan terjadi. Dalam banyak hadist disebutkan bahwa tempat tersebut adalah Syam yang terdiri dari Lebanon, Palestina, Suriah dan Yordania.

Ironisnya, Negara-negara Timur Tengah yang penduduknya mayoritas Islam seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, Maroko dll tidak terlihat bersikap nyata dan tegas melawan kejahatan Zionis. Bukan rahasia lagi bahwa negara-negara tersebut memang menjalin kerja sama baik politik maupun perdagangan  dengan Israel dan Amerika Serikat. Dengan kata lain mereka itu terikat berbagai perjanjian yang menyebabkan mereka terbelenggu dan tidak berkutik. Na’udzubillah min dzalik …

Sebaliknya pembelaan dan perlawanan sengit justru datang dari Houthi (kelompok di Yaman), Lebanon dan Iran yang notabene Syiah, yaitu Islam dengan aqidah melenceng. Dengan tegas ketiga negara musuh bebuyutan Israel ini menuntut agar Negara Zionis itu segera menghentikan agresinya di Palestina, Gaza khususnya. Namun lagi-lagi Amerika Serikat dibawah Trump terus membela sekutunya itu.

Israelpun makin besar kepala. Dalam keadaan di hujat oleh banyak pihak, pada Jumat (13/6/2025) malah membombardir Iran dengan alasan Iran merancang program senjata nuklir. Iran yang terpaksa kehilangan sejumlah petinggi dan ilmuwannya segera membalasnya. Iron drome alat pertahanan canggih Israel yag selama ini dibangga-banggakan sebagai pertahanan terhebat di dunia tak kuasa menahan serangan dasyat dan bertubi-tubi Iran. Bahkan rumah dinas Netanyahupun tak terkecuali.

Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS. Ar-Rum (30):4-5).

Ayat di atas mengingatkan kegembiraan kaum Muslimin terhadap kemenangan Romawi atas Persia pada masa hidup Rasulullah saw berabad-abad yang lalu. Meskipun keduanya adalah musuh Islam namun kita harus mensyukurinya sebagai pembuka pertolongan Allah swt. Hal  yang mirip dengan Iran yang membantu Gaza melawan kekejaman Israel saat ini.

Dan tak seperti penduduk Gaza yang mati-matian bertahan mempertahankan tanah tumpah darah mereka, penduduk Israel justru serentak berhamburan melarikan diri ke luar negri. Anehnya lagi Netanyahu tanpa berkaca diri menuding Iran sebagai pelaku kejahatan perang ( crime war) begitu sebuah rumah sakit di negaranya terkena sasaran rudal Iran. Padahal di Gaza pasukan Zionis telah meluluh lantakkan  seluruh rumah sakit yang ada di wilayah tersebut.

Ia juga memohon Negara-negara G7 untuk menolongnya melawan Iran. Ironisnya, dengan segera Jerman menerimanya dan berkomentar serangan sekutunya itu merupakan tangan kotor yang sangat diharapkan. Bersama Amerika Serikat, keduanya langsung mengirimkan bantuan senjata. Pada 21 Juni Trump mengumumkan bahwa pasukan militernya telah menjatuhkan bom ke 3 fasilitas nuklir Iran. Barat selama ini memang sangat memusuhi Iran karena Iran tidak pernah mau tunduk kepada Barat.  

Namun demikian perlu diingat, prilaku dan tindakan pemimpin/pemerintahan suatu Negara dan rakyatnya tidak selalu identik. Demo besar-besaran di Eropa melawan kejahatan Israel makin sering terjadi. Di banyak kota di AS beberapa hari terakhir demo terjadi melawan pemerintahan Trump. Demo yang juga diikuti sejumlah  kelompok Yahudi yang tinggal di Negara tersebut menyalahkan orang no 1 AS yang selalu membantu Israel tersebut atas serangan dasyat balasan Iran terhadap Negara mereka. 

Bukan rahasia lagi, AS dan Israel dengan AIPAC nya memang mempunysi hubungan sangat kental. AIPAC (Komite Urusan Publik Amerika-Israel) adalah sebuah kelompok lobi pro-Israel yang bertugas memperkuat hubungan AS-Israel dengan mempengaruhi kebijakan pemerintah AS. Belum lagi kelompok-kelompok rahasia seperti Free Mason dan Illuminaty yang tidak mampu menyembunyikan hubungan satanic kedua Negara tersebut.  

Mungkinkah tanda-tanda perang akhir zaman antara pasukan kebenaran dibawah Imam Mahdi melawan pasukan jahat dibawah raja Israel Dajjal si mata satu yang telah diprediksi dalam banyak hadist akan segera terjadi?? Pertanyaannya dimanakah posisi kita sebagai umat Islam akan berdiri?? Siapkah kita dan anak cucu kita berjihad membela kebenaran??

“Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya walaupun sambil merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah Al Mahdi.” (HR: Ibnu Majah).

Atau cukup berpangku tangan menjadi penonton sambil mencibir hingga Allah swt memasukkannya sebagai golongan Munafikun yang tempatnya di kerak neraka. Astaghfirullahaldzim …  Sementara di balik benua sana dengan modal hati yang bersih yang dengan demikian Allah swt ridho memberinya hidayah memeluk Islam dan berjihad bersama kaum Muslimin, Allahu Akbar … 

Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi ia akan dilindungi dari fitnah Dajjal, dan barangsiapa yang hafal penutup surat Al-Kahfi maka ia akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat kelak“. (HR. Ahmad dan Muslim).

https://hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/2020/04/05/181114/ini-yang-terjadi-sebelum-imam-mahdi-muncul.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Juli 2025.

Vien AM.

Read Full Post »

Dua puluh bulan sudah tentara Israel dibawah kepemimpinan Netanyahu memperlihatkan sifat ke-dajal-annya yang makin terang-terangan. Perlakuan keji terhadap penduduk Gaza seolah hewan ternak yang bisa sewaktu-waktu dibunuh, kota yang porak poranda, pembatasan air bersih, listrik, makanan dan obat-obatan yang membuat kelaparan makin meraja-lela dll, sudah benar-benar diluar nalar manusia normal.

Terakhir ( 29/6) warga Gaza menemukan pil dalam kantong tepung yang diberikan oleh pusat bantuan makanan dari AS-Israel. Dan ternyata pil tersebut adalah pil narkoba yang dapat membuat orang yang memakannya menjadi kesakitan dan ketagihan. Hal tersebut memicu  munculnya kekhawatiran jangan-jangan pil telah ditumbuk dan dicampurkan kedalam tepung. Astaghfirullah …  

https://news.detik.com/berita/d-7987939/usai-tembaki-warga-gaza-kini-israel-diduga-campur-tepung-bantuan-pakai-narkoba

Sebelumnya ratusan warga sipil Gaza yang sedang berkerumun menanti bantuan makanan, tewas dalam waktu 1 bulan di area pusat pembagian makanan AS-Israel. Mereka ditembaki oleh tentara bayaran Israel. Dalam suatu pengakuan, tentara Israel mengklaim mendapat perintah untuk menembaki warga sipil di lokasi distribusi bantuan. Memberi pesan jelas, mati ditembak atau mati kelaparan !!!

Gaza tidak lagi menjadi perhatian siapa pun. Itu telah menjadi tempat dengan hukumnya sendiri. Bahkan pembunuhan tidak lagi memerlukan pernyataan tentang terjadinya insiden itu,” kata seorang tentara Israel yang tidak disebutkan namanya. Inikah yang namanya perang???

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250627223910-120-1244541/pengakuan-tentara-israel-sengaja-tembaki-warga-gaza-yang-kelaparan

Tak heran bila kini sejumlah Negara sekutu Israelpun mulai berani memberikan stempel Negara teroris kepada Negara Zionis tersebut.  Beberapa Negara Eropa yaitu Irlandia, Spanyol dan Norwegia sudah berani memberikan pengakuan Palestina sebagai Negara. Ke 3 negara tersebut ditambah Slovenia mengecam keputusan Israel melarang Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) beroperasi di Gaza. PM Slovenia dalam pidatonya di Majelis Umum PBB secara tegas meminta Israel menghentikan operasi militer dan mengakhiri pendudukan di wilayah Palestina. Ia juga menekankan bila Uni Eropa tidak segera bertindak tegas ia mengingatkan agar tidak meyalahkannya bila negaranya mencari jalan keluar sendiri.

Saya ingin mengatakan ini dengan lantang dan jelas kepada Pemerintah Israel: Hentikan pertumpahan darah, hentikan penderitaan, pulangkan para sandera, dan hentikan pendudukan,” serunya.

Hal serupa juga dilakukan pemerintah Meksiko. Presiden perempuan berdarah Yahudi yang baru dilantik beberapa waktu lalu  tersebut menyerukan pengakuan Palestina sebagai negara. Sementara Kanada, Prancis, Italia, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris meski belum mengakui secara resmi tapi sedang berupaya ke arah tersebut. Jerman yang biasanya tidak berani mencela Israel karena beban psiokologis pelaku Holocaust dimasa lalu juga sudah mulai gerah terhadap prilaku beringas Israel yang terihat jumawa merasa tak satupun Negara bakal menentangnya.

Padahal Mahkamah Pengadilan Internasional (ICC) telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Netanyahu atas tuduhan genosida.  Meski nyatanya perintah yang dikeluarkan pada November 2024 hingga detik ini, masih bebas melakukan aksi brutal dan sadisnya.

Demonstrasi menuntut Israel agar segera keluar dari Gaza terjadi di berbagai Negara. Yang terbesar terjadi di Den Haag, Belanda. Demo yang terjadi pada 18 Mei 2025 tersebut diikuti lebih dari 100.000 peserta. Mereka mendesak pemerintah Belanda agar mengambil langkah-langkah yang lebih tegas untuk menghentikan kekejaman Israel di Gaza.

Sementara itu sejumlah aktifis berbagai kewarga-negaraan yang menamakan diri Koalisi Freedom Flotilla, pada 8 Juni 2025, dengan menumpang sebuah kapal nekad berlabuh dari pulau Sisilia di Italia menuju Gaza. Mereka membawa berbagai kebutuhan pokok seperti obat-obatan dll. Namun kemudian militer laut Israel mencegat kapal tersebut, menangkap seluruh penumpang dan mendeportasi mereka ke Negara-negara masing-masing. Hal tersebut dilakukan Israel padahal kapal masih berada di perairan internasional, dan mata seluruh dunia mengawasinya!

Selanjutnya adalah Long March to Gaza, yaitu aksi jalan kaki massal atau konvoi solidaritas yang dilakukan oleh aktivis kemanusiaan dari berbagai negara untuk menunjukkan dukungan terhadap rakyat Palestina. Aksi yang diikuti ribuan orang lebih dari 35 negara ini rencananya akan berkumpul pada 15 Juni di kota Al-Arish Mesir. Selanjutnya para peserta akan berjalan kaki ke perlintasan Rafah yang jaraknya sekitar 50 KM dari Gaza, sambil membawa bendera, poster untuk menyerukan kebebasan bagi masyarakat Palestina. Rafah adalah satu-satunya pintu masuk ke Gaza dari dunia luar.

Namun apa lacur sesampai di Kairo polisi Mesir malah menginterogasi bahkan  menangkap sejumlah peserta dan mendeportasinya. Aksi tersebut dinyatakan illegal. Sepuluh aktifis Indonesia termasuk artis  Zaskia Mecca dan politisi Wanda Hamidah yang bergabung dalam aksi tersebut bercerita bahwa mereka terkurung di hotel Kairo  dibawah pengawasan ketat polisi Mesir hingga akhirnya memutuskan pulang ke tanah air. Sementara sejumlah perserta bule yang kebanyakan non muslim terekam adu mulut  dengan polisi Mesir. Mereka mempertanyakan bagaimana para polisi itu bisa berdiam diri melihat saudara/i mereka sesama Muslim diperlakukan begitu kejam oleh Zionis Isrrael. Sungguh memalukan …   

Namun demikian dunia Islam sebenarnya bukannya diam. Indonesia sejak awal sudah mengutuk pendudukan Israel di tanah Palestina. Demo pro Palestina sering diadakan di berbagai kota besar. Terakhir ( Juni 2025) Indonesia dan Arab Saudi mengeluarkan deklarasi bersama mengutuk genosida yang dilakukan Negara Zionis tersebut. Bahkan imam besar Masjidil Aqsho telah menyerukan jihad, dan ditanggapi positif oleh MUI.     

Selanjutnya sebagai tanggapan atas kegagalan total komunitas internasional untuk menerapkan hukum internasional di Gaza, koalisi akademisi, intelektual, pembela hak asasi manusia serta perwakilan organisasi masyarakat sipil membentuk sebuah pengadilan dengan nama Pengadilan Gaza.

Deklarasi ini dibentuk pada November 2024 di London dan telah mengadakan sidang publik pertamanya pada Mei 2025 di Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Sidang terakhir rencananya akan diadakan pada Oktober 2025 di Istanbul untuk menyampaikan draf temuan dan keputusan pengadilan, dengan mengacu pada kesaksian dari para saksi dan pernyataan dari warga Palestina yang terkena dampak krisis.

Deklarasi tersebut menuntut penghentian segera aksi militer Israel dan penarikan pasukan militer, serta penghentian “genosida, pemindahan paksa dan pengusiran, aktivitas permukiman, pengepungan Gaza dan pembatasan pergerakan di Tepi Barat.”

Tampaknya alasan bela diri Israel terhadap serangan 7 Oktober 2023 yang dilakukan Hamas sudah tidak lagi dapat ditrima akal sehat. Serangan brutal dan membabi buta tentara Israel yang menyasar fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, kamp penampungan bahkan rumah pribadi seperti yang dialami direktur RS Indonesia Gaza, telah mengakibatkan korban lebih dari 55 ribu sebagian besar anak. Pencegahan masuknya bantuan makanan dan obat-obatan serta penyerangan dan pembunuhan terhadap tenaga medis menambah daftar kejahatan perang Negara Zionis tersebut.  

Ditambah lagi dengan adanya pengakuan para sandera Israel yang telah dibebaskan Hamas. Pengakuan baik yang diberikan di depan PBB maupun prilaku akrab para sandera terhadap ex penculik yang dinarasikan sebagai teroris oleh Israel itu justru membuktikan siapa sebenarnya yang teroris.

(Bersambung ke https://vienmuhadi.com/2025/07/05/gaza-israel-dan-dajjal-2/ ).

Read Full Post »

Dari Abdullah bin Abi Aufa, rasulullah bersabda:

Wahai sekalian manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Tetapi jika kalian bertemu dengan musuh, hendaknya kalian bersabar. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”. (Hadis sahih) – (Muttafaq ‘alaih).

Hadist ini sering digunakan untuk menyerang Islam dengan cara dipotong bagian awalnya hingga seolah Islam adalah ajaran pedang alias kekerasan. Inilah yang dijadikan pegangan bahwa Islam adalah ajaran penuh kebencian hingga menyebabkan Islamophobia akut di kalangan Barat. Islam bagi mereka adalah teroris.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”.

Padahal bila kita baca dan perhatikan secara utuh, hadist tersebut justru mengajarkan kesabaran. Menariknya lagi, dengan adanya panggilan “wahai sekalian manusia” bukan “wahai sekalian orang beriman” di awal kalimat, menunjukkan bahwa hadis ini mengajarkan agar seluruh manusia, bukan khusus umat Islam atau orang beriman, untuk selalu berbaik sangka, tidak mencari permusuhan dan keributan. Berdoa selalu kepada Allah swt agar diberi keselamatan.

Akan tetapi bila ternyata ada orang datang mengganggu, memusuhi,  apalagi memerangi, hendaknya bersabar. Namun bersabar bukan berarti diam, pasrah akan tetapi wajib melawan sekuat tenaga, bahkan hingga mati. Mati demi membela diri dan keimanan, keluarga, darah dan harta, syurga adalah balasannya. Itulah mati syahid. Kata pedang digunakan karena perang pada waktu itu biasanya menggunakan pedang. Kilatan pedang menunjukan kedasyatan perang.   

Dari sini jelas terlihat bahwa perang dengan pedang/kekerasan adalah jalan terakhir ketika jalan damai tidak dapat dilakukan. Ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam adalah defensive/bertahan bukan ofensif/menyerang. Perang cara ini adalah demi tegaknya keadilan di atas muka bumi. Sementara perang dengan lisan dan pena yaitu dengan perkataan dan tulisan adalah demi tegaknya kalimat Laa ilaha ila Allah, tiada tuhan selain Allah.  

Islam adalah agama yang damai, agama yang tidak menyukai peperangan kecuali terpaksa. Ayat 32 surat Al-Maidah  berikut secara jelas menerangkan membunuh 1 orang tanpa sebab maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”.

Ayat Al-Quran diatas menyebut dengan jelas, bani Israil, namun sebenarnya juga berlaku bagi umat nabi Muhammad saw yaitu umat Islam. Ironisnya, hari ini seluruh dunia bisa melihat dengan jelas bagaimana Zionis Israil melakukan kebiadaban yang benar-benar di luar nalar manusia. Lebih dari 50 ribu penduduk Gaza mereka bantai, tidak peduli laki perempuan, tua muda, anak kecil. Bahkan sekolah, rumah sakit dan penampunganpun mereka bombardir. Pun setelah adanya perjanjian genjatan senjata tanpa rasa malu mereka langgar.

Bandingkan dengan apa yang terjadi pada peristiwa penaklukkan Yerusalem di tahun 637 di zaman khalifah Umar bin Khattab ra atau pada salah satu perang Salib (pertempuran Hittin ) pada tahun 1187 di masa sultan Salahuddin Al-Ayyubi.

Pada akhir ayat di atas, dapat kita ketahui pula bahwa orang-orang Israil sejak dulu memang  suka berbuat kerusakan di muka bumi, termasuk membunuh para nabi. Rasulullahpun tak luput dari percobaan pembunuhan, bahkan hingga beberapa kali.

Pengusiran yang dilakukan Rasulullah terhadap bani Israil seperti bani Qainuqa’, bani Quraizhah dan bani Nadhir dari Madinah ( dulu Yastrib) karena berkali-kali mereka melanggar piagam Madinah, bukan hanya karena mereka Yahudi.

Piagam Madinah adalah piagam perdamaian yang dibuat Rasulullah agar penduduk Madinah hidup damai, saling menghargai dan menghormati apapun agama maupun suku mereka. Piagam ini juga menerangkan bagaimana berinteraksi antar pemeluk agama yang berbeda.

Para pakar politik dunia saat ini mengakui bahwa piagam Madinah adalah konstitusi pertama dunia yang menjadi sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang pluralistik, memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan masyarakat internasional dan menjadi pandangan hidup modern berbagai negara di dunia.

Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” (HR al-Bukhari).

Perang yang terjadi selama masa kerasulan ( perang pertama baru terjadi pada tahun ke 2 hijriyah, atau 15 tahun setelah masa kerasulan) sebenarnya juga bukan perang panjang dengan korban massif. Perang-perang tersebut berlangsung hanya dalam hitungan hari dengan adanya jeda waktu. Bandingkan dengan sejumlah perang yang pernah terjadi di dunia yang bisa mencapai tahunan bahkan ratusan tahun sebagaimana tercantum pada link berikut :

https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/0a0b2090f28488f/daftar-perang-terpanjang-dalam-sejarah-hingga-lebih-dari-700-tahun

Melansir dari World Atlas, perang dengan periode terlama yang dicatat sejarah adalah Reconquista, yakni berlangsung selama 781 tahun. Perang Reconquista atau Perang Salib Iberia merupakan perang antara Portugis dan Spanyol dengan Kekhalifahan Kordoba. Perang-perang lain adalah Perang Dunia I (4 tahun), Perang Dunia II (6 tahun), perang Seratus Tahun antara Inggris dan Perancis dll.

Perang di masa hidup Rasulullah yang jumlahnya 27 kali ( mulai tahun ke 2 H hingga tahun ke 10 H), bila ditotal jumlahnya tidak lebih dari 540 hari ( kurang dari 1.5 tahun). Korbannyapun tidak pernah menyasar warga sipil apalagi anak-anak. Demikian pula perintah perang dalam Al-Quran yang sering dituding oleh musuh-musuh Islam sebagai biang kekerasan, sebenarnya hanya 7% dari total ayat yang ada dalam Al-Quran. Itupun dengan berbagai persyaratan. Diantaranya  adalah sebagai berikut:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”. (HR. An Nasa’i).

Selebihnya bermacam-macam, antara lain yang paling utama adalah tentang tauhid ( bahwa Tuhan adalah satu), berbagai perintah ( seperti shalat, zakat, infak sedekah, haji, berbuat baik pada orang-tua/manusia/mahluk dll, berbagai larangan ( seperti minum khamr/alcohol, makan babi, zina dll), sains dan kedasyatan alam semesta, kisah orang-orang terdahulu, nabi, rasul dll.     

Dari Abdullah ibnul Mishwar, ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Seorang yang beriman tidak akan kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar”.

Anehnya ada saja orang yang saat ini masih juga membela Israel yang jelas-jelas telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina, Gaza khususnya, bahkan menyebar Islamophobia yang jelas-jelas menjadi korban kebiadaban Israel.   

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. ( Terjemah QS. Al-Hajj (22):46).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 April 2025.

Vien AM.

Read Full Post »

Operasi Badai Al-Aqsa, serangan mendadak yang dilakukan kelompok Hamas pada Sabtu (7/10/2023) adalah serangan Hamas terhebat yang pernah dialami Israel sejak Perang Yom Kippur pada 1973. Secara tiba-tiba Hamas meluncurkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel di pagi hari tersebut, mengejutkan warga Israel di bagian selatan. Sirine serangan udara pun berbunyi hingga ke wilayah Tel Aviv, ibu kota Israel. Di pagi hari 7 Oktober 2023 itu, dalam hitungan menit, tentara Hamas berhasil menerobos pagar perbatasan wilayah Israel selatan dan menyerbu masuk ke tengah acara perayaan Yahudi dan festival music yang digelar bersamaan.

Kami ingin masyarakat internasional menghentikan kekejaman di Gaza, terhadap rakyat Palestina, tempat suci kami seperti Al-Aqsa,” jelas juru bicara Hamas mengenai serangan tersebut.

Seperti kita ketahui bersama pendudukan Israel terhadap tanah Palestina telah berjalan selama puluhan tahun yaitu sejak tahun 1948, dilanjutkan dengan pencaplokan wilayah tahun 1967 yang membuat wilayah Palestina makin menyempit. Penjajahan yang terjadi di era modern ini terjadi dengan perlakuan kejam terhadap rakyat Palestina. Hampir setiap hari tentara penjajah melakukan perampasan tanah dan rumah penduduk, penyiksaan, penculikan bahkan pembunuhan terhadap rakyat Palestina.

Kemarahan rakyat mencapai puncaknya disebabkan makin seringnya para pemeluk Yahudi menerobos masuk kompleks Masjidil Aqsho. Dibawah pengawasan tentara penjajah mereka seenaknya melarang bahkan mengusir umat Islam yang sedang shalat di dalam Masjidil Aqsho.  Masjidil Aqsho adalah rumah ibadah umat Islam pertama sekaligus kibat pertama sebelum Allah swt memerintahkannya pindah ke Ka’bah di Mekkah. Masjid ini berada di Jerusalem Timur yang merupakan ibu kota Palestina.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan Muslim].

Shalat di Masjidil Haram (Mekah) lebih utama dari seratus ribu shalat di tempat lainnya, dan shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di tempat lainnya, dan shalat di Masjidil Aqsa lebih utama dari lima ratus shalat di tempat lainnya.” (HR. Bukhari)

Tak heran bila akhirnya Hamas sebagai organisasi Islam terbesar di Palestina yang berkedudukan di Gaza, untuk mengakhiri pendudukan Israel, menyerukan  semua penduduk yang mempunyai senjata untuk bergerak. “Waktunya telah tiba“, seru jubir Hamas.

Gayungpun bersambut. Sementara para pejuang bertempur, rakyatpun ribath yaitu bertahan di tanah air mereka, apapun yang terjadi. Mereka tidak mau tragedy Nakba 1948 yang memaksa mereka exodus/keluar dari tanah air hingga Israel berhasil merebut tanah kelahiran mereka, kembali terjadi.   

Sementara Israelpun mengamuk karena tanpa disangka serangan mendadak HAMAS pada 7 Oktober tersebut telah memakan tidak saja ratusan tentara Israel dan sipil tapi bahkan berhasil menyandera 270 orang Israel yang sedang menyaksikan pesta musik dan perayaan Yahudi. Dari Jalur Gaza, setidaknya Hamas telah menembakkan 3.000 roket ke wilayah perbatasan Israel.

Tiga belas bulan lamanya pertempuran tidak seimbang antara Israel yang didukung AS dengan senjata canggihnya melawan pejuang Hamas yang berperang habis-habisan secara gerilya bermodalkan sistim pertahanan bawah tanahnya yang rumit. Lebih 47 ribu korban syahid sebagian besar anak-anak dan orang-tua, 110 ribu lebih korban luka, ratusan bangunan mulai rumah, sekolah, masjid hingga rumah sakit ambruk. Tapi penduduk Gaza tetap bertahan meski terpaksa mengungsi daerah 1 wilayah ke wilayah lain Gaza. Tak sudi mereka meninggalkan tanah air kelahiran mereka. Sementara pejuang Hamas terus berjuang mati-matian tanpa kenal lelah dan takut.

Tak salah bila akhirnya pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap petinggi otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan bekas petinggi otoritas pertahanannya, atas dakwaan kejahatan perang dan kejahatan genosida terhadap kemanusiaan di Gaza.

Hingga akhirnya  tercapailah genjatan senjata pada 15 Januari 2025 lalu. Gencatan senjata ini dimediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat. Meski Gaza hancur lebur namun kebanyakan pakar militer berpendapat Israel adalah pihak yang kalah. Israel yang didukung Amerika Serikat dengan berbagai senjata canggih mutakhir, menghadapi Gaza yang hanya seluas tak lebih dari luas 1/5 Jakarta, 1 tahun lebih tidak mampu menguasai daerah kantong, rumah bagi 2,3 juta orang Palestina trsebut.

Genjatan senjata ini dibarengi dengan pertukaran sandera Israel yang dibawa Hamas pada 7 Oktober dengan ribuan tahanan Palestina yang disekap Israel selama bertahun-tahun tanpa tuduhan jelas. Pelaksanaan pertukaran tahanan setelah perundingan yang alot telah berjalan mulai 19 Januari lalu.

Hamas mengawalinya dengan membebaskan 3 sandera perempuan Israel dalam kondisi sehat. Bahkan pada penyerahan sandera berikutnya terlihat beberapa sandera mencium kening penyanderanya. Seorang bekas sandera pada sebuah siaran televisi menceritakan bahwa ia diperlakukan dengan baik oleh sebuah keluarga Palestina dimana ia ditempatkan. Ia justru merasa lebih takut terkena bom pemerintahnya yang berkali-kali menyasar rumah dimana ia tinggal, dari pada kepada pejuang Hamas. Ia juga menambahkan bahwa dua orang temannya tewas akibat bom Israel.

Salut dengan apa yang dilakukan para pejuang Hamas karena memang begitulah yang dicontohkan Rasulullah, yaitu berbuat baik kepada musuh. Ahklak inilah tampaknya yang menjadi salah satu kunci keberhasilan dakwah Islam.

Salah satu contohnya adalah usai perang Khaibar ( perang melawan Yahudi di benteng Khaibar) yang dimenangkan kaum Muslimin. Ketika itu Rasulullah melihat para tawanan perempuan digiring melewati jasad-jasad musuh yang tak lain adalah keluarga mereka. Melihat itu, Rasulullah bangkit seraya berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan perempuan-perempuan itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”

Contoh lain adalah perlakuan Rasulullah terhadap Abu Sufyan pada peristiwa Fathu Makkah. Pemuka Quraisy yang sangat memusuhi Islam ini diberi Rasulullah kesempatan untuk melihat kebesaran pasukan Islam bahkan kehormatan berupa keselamatan bagi musuh yang berlindung ke dalam rumahnya, hal yang membuat Abu Sufyan tersanjung. Dan akhirnya tokoh Quraisy itupun luluh dan masuk Islam.   

Hal tersebut bertolak belakang dengan kondisi ribuan tahanan Israel yang dilepaskan secara bertahap. Selama di penjara mereka disiksa dengan berbagai siksaan sadis oleh para penjaga penjara. Tak sedikit ex para tahanan tersebut yang keluar dalam keadaan cacat dan terganggu emosinya.

Anehnya di tengah genjatan senjata dan pertukaran tawanan yang sedang berlangsung, Donald Trump, presiden AS yang baru saja terpilih, melemparkan usulan ajaib yaitu relokasi penduduk Gaza ke Negara-negara tetangga seperti Mesir, Yordan dll juga Indonesia sebagai Negara mayoritas Muslim, dengan alasan agar pembangunan kota dapat berjalan mudah. Dan lebih anehnya lagi tanpa ada jaminan kapan mereka dapat kembali menempati tanah air mereka itu karena tanah tersebut akan diambil oleh Amerika Serikat !??!!

Logika apa yang digunakan orang nomor 1 yang katanya Negara adi daya tersebut??? Untuk apa rakyat Gaza/Palestina berjuang, berperang mati-matian mempertahankan tanah air jika akhirnya harus menyerahkannya kepada pihak asing??? Benar-benar tidak masuk akal. Saking anehnya, orang Amerikapun banyak yang malu melihat tingkah laku presidennya itu.

Dan kini di akhir genjatan senjata tahap 1 yang seharusya masuk tahap 2,  dengan pongah Israel membatalkan genjatan senjata tersebut. Mereka menutup perbatasan demi mencegah masuknya bantuan sosial untuk Gaza. Bahkan selama genjatan senjata tahap 1 pun tidak jarang mereka melanggar kesepakatan. Beberapa kali mereka mengebom kerumunan dan rumah penduduk hingga menewaskan ratusan warga Gaza. Begitulah sifat Yahudi, persis yang dikisahkan dalam banyak ayat Al-Quranul Karim, diantaranya adalah sebagai berikut:

Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Bahkan sebagian mereka tidak beriman”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2): 100).

Hamas mencurigai mereka memang tidak bersungguh-sungguh berniat menepati genjatan senjata. Mereka hanya menginginkan kembalinya sandera Israel kemudian akan melanjutkan penghancuran dan genosida, tidak saja penduduk Gaza tapi juga Tepi Barat dimana kompleks Masjidil Aqsho berada. Dan hal tersebut diakui secara resmi oleh pihak Israel!!

Beberapa waktu lalu penjajah tersebut secara provokatif mengeluarkan peta Israel yang memasukkan Palestina, Yordania, Suriah dan Lebanon sebagai bagian dari Israel Raya.

https://www.tribunnews.com/internasional/2025/01/09/terbitkan-peta-provokatif-israel-klaim-palestina-yordania-suriah-dan-lebanon-adalah-tanah-zionis

Kabar lain menyatakan bahkan sebagian wilayah Arab Saudi, Mesir  dan Irakpun mereka masukkan. Banyak pakar dan akademisi menyatakan hal tersebut bukan semata-mata kemauan Israel tapi merupakan bagian kebijakan luar negeri AS yang bertujuan memperluas hegemoni AS ke Timur Tengah dan usaha memecah belahnya. Gagasan Israel Raya tersebut tentu saja memicu kecaman di seluruh dunia, tidak hanya Negara yang terkena dampak.

Pertanyaan besar akankah kaum Musimin tetap diam berpangku tangan menyaksikan kompleks suci ini jatuh ketangan Israel terkutuk??? Bersyukur Mesir, Yordania maupun Arab Saudi tegas menolak permintaan ajaib Trump meski dibawah tekanan. Kabar terakhir para pemimpin negara Liga Arab pada Selasa (4/3/2025) sepakat membentuk komite dana perwalian guna membiayai rekonstruksi Jalur Gaza  akibat agresi brutal Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu.

Semoga para pemimpin Negara mayoritas Islam terutama negara-negara teluk mampu teguh mempertahankan pendirian mereka hingga terbentuk Negara Palestina merdeka. Bukankah kemerdekaan adalah hal segala bangsa, mengapa Palestina harus dipersulit??? 

Dan sebagai Muslim sejati yang senantiasa mewaspadai berita akhir zaman yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad saw 15 abad silam, tentunya harus siap memperjuangkan dan menyambut hari kemenangan tersebut, tidak hanya diam menanti. Jangan sampai kalah dengan kaum di luar sana yang justru mampu melihat kebenaran dan keagungan Islam berkat kesucian hati mereka, untuk kemudian bersyahadat dan membela Islam dengan sungguh-sungguh.

Wallahu’alam bi shawwab.
Jakarta, 6 Maret 2025/ 6 Ramadhan 1446 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Hingga akhirnya, pada tahun 1095 Paus Urbanus II di Clermont, Perancis Selatan mengobarkan ajakan perang untuk merebut Palestina. Ajakan ini langsung disambut ribuan pengikutnya. Maka rombongan dengan berbagai tujuan dan niat yang  kemudian bergabung dengan tentara Salib dibawah para bangsawan, segera bergerak menuju Palestina. Namun sejarah mencatat bahwa dalam perjalanan jauhnya, rombongan yang makin lama makin membesar tersebut, melakukan berbagai tindakan anarkis, termasuk pembantaian terhadap orang-orang Yahudi yang tinggal di sepanjang perjalanan.  

Pada tahun 1099 dalam perang yang berlangsung selama 3 hari,  tentara Salib  berhasil menguasai kota dengan membantai lebih dari 30.000 penduduknya, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan Nasrani yang bermukim disekitar kota tua tersebut.

Dalam bukunya, Karen Amstrong mengutip kata-kata Raymond dari Aguilles, seorang saksi dari Perancis yang mengatakan : ”Tumpukan kepala, tangan dan kaki dapat terlihat”, ”… para pria berjalan dengan darah yang naik hingga ke lutut dan tali kekang kuda mereka …”. Dengan cara seperti itulah Yerusalem jatuh ke tangan pihak Nasrani Eropa. 88 tahun kemudian yaitu pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin Ayubi, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom.

Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem. Selanjutnya yaitu pada tahun 1517-1917 sebagian besar wilayah Palestina  berada di bawah kesultanan Islam Ottoman. Hingga pada tahun 1918 ketika kesultanan tersebut runtuh paska Perang Dunia I, Palestina dikuasai oleh Inggris. Liga Bangsa-Bangsa (LBB) kemudian  mengeluarkan mandat kepada Inggris untuk mengontrol secara administratif kawasan Palestina, termasuk ketentuan mendirikan tanah air nasional Yahudi di Palestina dan mulai berlaku pada 1923 M.

Hingga akhirnya di tahun 1948, ketika Yahudi Israel dengan dukungan Barat memaksakan terbentuknya Negara Israel, Palestinapun kembali memasuki masa kelamnya. Ini dimulai dengan apa yang dinamakan peristiwa tragis Nakba ( Malapetaka Palestina). Genosida yang dilakukan Yahudi terhadap rakyat Palestina disertai perampasan tanah Palestina ini mengakibatkan eksodusnya 700.000 orang Palestina dan berpindahnya 78% wilayah Palestina ke Negara Israel yang baru terbentuk.  

Maka sejak itulah perlawanan rakyat Palestina baik yang masih bertahan di tanah Palestina maupun yang berada di pengungsian terus terjadi hingga hari ini. Apalagi ditambah dengan perlakuan kejam dan diskriminatif tentara Zionis Israel yang makin hari makin brutal.

Dengan demikian jelas bahwa apa yang kita saksikan setahun belakangan ini bukanlah semata-mata akibat serangan 7 Oktober 2023 yang dilakukan  faksi perjuangan Hamas sebagaimana yang dituduhkan Netanyahu. PM Israel tersebut sejatinya sedang berusaha menghindar dari kasus korupsi yang dilakukannya. Hukum Israel rupanya memberi kelonggaran kepada pemimpinnya bila ia sedang berperang.

Ironisnya, Netanyahu bahkan tidak peduli terhadap nasib ratusan warganya yang disandera Hamas. Bila terhadap rakyatnya saja tidak peduli apatah arti kematian 41 ribu lebih rakyat Gaza, sebagian besar anak-anak dan kaum perempuan. Juga puluhan bangunan termasuk sekolah, masjid dan rumah penduduk yang hancur lebur di bom tentara Zionis Israel.    

Sementara orang-orang Yahudi extrim berkeras ingin merebut Al-Quds dari tangan Islam. Dengan dikawal tentara Zionis, beberapa kali mereka menerobos masuk ke dalam masjid ke 3 tersuci umat Islam tersebut secara paksa. Mereka masuk tanpa menanggalkan sepatu, merusak barang-barang yang di dalamnya bahkan menyerang dan mengusir jamaah yang sedang shalat. Mereka beralasan disitulah rumah ibadah mereka pernah berada. “Demi mematuhi perintah Tuhan”, kilah mereka.

Lalu bagaimana dengan ayat 24 surat Al-Maidah yang secara terang benderang menceritakan penolakan orang-orang Yahudi atas perintah nabinya, yang notabene berarti perintah Tuhannya, untuk memasuki Baitul Maqdis berabad-abad lalu??

Mereka ( orang-orang Yahudi) berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya ( Baitul Maqdis) selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” ( Terjemah QS.Al-Maidah(5):24).

Dan banyak lagi ayat Al-Quran yang menceritakan betapa seringnya kaum Yahudi melawan perintah Tuhannya. Bahkan nabi dan rasulpun mereka aniaya dan bunuh. Dan lagi apakah ada Tuhan yang memerintahkan suatu kaum membantai orang tidak bersalah??? Bandingkan dengan adab Islam dalam berperang yang ditunjukkan khalifah Umar bin Khattab ra ataupun Sultan Salahuddin Ayubi berabad-abad silam.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.(Terjemah QS.Ali Imran(3):19).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 19 September 2024.

Vien AM.    

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »