Feeds:
Posts
Comments

Thalhah bin Ubaidillah ra adalah 1 dari 10 sahabat  yang disebut Rasulullah saw sebagai calon penghuni surga sebagaimana hadist berikut,

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Thalhah bersama ke 9 sahabat yang dijamin masuk surga tersebut di atas, dan sejumlah sahabat lain juga termasuk dalam golongan As-Sabiqunal Al-Awwalun atau orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Bahkan masuk dalam 8 orang pertama yang memeluk Islam. Melalui ayat 100 surat At-Taubah Allah swt secara gamblang menyebutkan bahwa Allah swt menyediakan surga bagi mereka. 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Masuk islamnya Thalhah.

Thalhah adalah seorang pemuda Quraisy dengan nasab Thalhah bin Ubaidillah bin Ustman bin Amru bin Ka’ab hingga sampai pada Ka’ab bin Lu’ai yang merupakan leluhur Rasulullah saw. Kisah keislaman Thalhah yang ketika itu baru berusia 15 tahun dimulai ketika ia sebagai seorang pedagang  muda pergi ke Syam bersama rombongan kafilah dagangnya. Di kota Bushra, Thalhah mengalami peristiwa menarik yang mengubah garis hidupnya.

Ia melihat seorang pendeta berteriak-teriak,”Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?”.

Ya, aku penduduk Makkah,” sahut Thalhah.

“Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanyanya.

“Ahmad siapa?”, tanya Thalhah keheranan.

Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai Nabi penutup para Nabi. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Ia akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya wahai anak muda”, sambung pendeta itu.

Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah bin Ubaidillah, hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar ia langsung pulang ke Makkah. Setibanya di Makkah, ia langsung bertanya kepada keluarganya,”Ada peristiwa apa sepeninggalku?”. “Muhammad bin Abdullah mengatakan dirinya Nabi dan Abu Bakar As Siddiq telah mempercayai dan mengikuti apa yang dikatakannya,” jawab mereka.

Aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang lapang dada, penyayang dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan teguh. Kami berteman baik, banyak orang menyukai majelisnya, karena dia ahli sejarah Quraisy,” gumam Thalhah bin Ubaidillah.

Segera Thalhah mencari Abu Bakar As Siddiq. “Benarkah Muhammad bin Abdullah telah menjadi Nabi dan engkau mengikutinya?” “Betul.” Abu Bakar As Siddiq menceritakan kisah Muhammad sejak peristiwa di gua Hira’ sampai turunnya ayat pertama. Abu Bakarpun mengajak Thalhah untuk masuk Islam. Usai Abu Bakar bercerita, Thalhah menceritakan pertemuannya dengan pendeta Bushra. Abu Bakar tercengang. Lalu ia mengajak Thalhah untuk segera menemui Muhammad dan menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan pendeta Bushra. Di hadapan Rasulullah, Thalhah bin Ubaidillah langsung mengucapkan dua kalimat syahadat.

Masuk Islamnya Thalhah di lingkungan keluarganya bagai petir di siang hari bolong. Mereka terutama sang ibu  tidak mengira putranya yang dikenal santun tersebut secepat itu mengakui Muhammad sebagai seorang rasul bahkan langsung mengikutinya. Ibu dan seluruh keluarga besar beserta seluruh anggota  sukunya berusaha mengeluarkan Thahlah dari Islam.

Mulanya mereka bertindak dengan cara halus. Namun karena Thalhah tak sedikitpun goyah merekapun bertindak kasar. Mereka menyiksanya dengan berbagai cara. Dengan tangan terbelenggu di leher, Thalhah digiring, dan disepanjang jalan orang-orang mendorong, memecut dan memukuli kepalanya. Tak terkecuali ibunya yang sudah tua, terus berteriak mencaci makinya. Tentu saja Thalhah sangat sedih dan kecewa namun ia tetap bertahan. Walau akhirnya dalam waktu yang tak terlalu jauh, sang ibu dan saudara-saudaranya juga memeluk Islam.

Suatu hari pernah seorang lelaki Quraisy menyeret Abu Bakar As Siddiq dan Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian mengikat keduanya menjadi satu dan seorang algojo mengeksekusi keduanya hingga darah mengalir dari tubuh sahabat yang mulia ini. Peristiwa menyedihkan ini di kemudian hari menjadikan keduanya digelari Al-Qarinain atau sepasang sahabat yang mulia.

Keteguhan iman dan keberanian Thalhah.

Selain itu berkat keteguhan dan perjuangannya dalam menegakkan Islam Thalhah yang gagah berani mendapat banyak gelar, diantaranya yaitu Assyahidul Hayy yang artinya syahid yang hidup. Gelar kehormatan tersebut didapat pemuda berbadan tegap dan kekar tersebut berkat perjuangan dalam perang Uhud. Ketika itu ia bersama sejumlah sahabat berusaha mati-matian melindungi Rasulullah dari kepungan musuh yang penuh rasa dendam ingin melumat Rasulullah dan tentara Muslimin karena  kekalahan musuh pada perang sebelumnya, yaitu perang Badar. 

Perang yang terjadi pada tahun ke 3H itu nyaris dimenangkan pasukan Islam. Padahal jumlah tentara musuh jauh lebih besar ( 3000 personil) dibanding pasukan Muslim yang hanya 700 orang. Sayang kemudian berbalik akibat kelalaian 43 dari 50 pemanah yang bertugas melindungi kaum Muslimin di atas bukit tergiur oleh harta milik musuh yang tercecer di hadapan mereka. Padahal berkali-kali Rasulullah mengingatkan mereka untuk tetap berjaga pada tempatnya apapun yang terjadi.

Pasukan Quraisy dibawah panglima Khalid bin Walid yang ketika itu belum memeluk Islam berhasil menyerang balik dari arah belakang pasukan panah yang sibuk memunguti harta musuh. Keadaan menjadi kacau balau hingga membahayakan posisi Rasulullah yang berada di atas bukit. Para sahabat segera berusaha menyelamatkan Rasulullah. Akan tetapi sangat sulit bagi para sahabat untuk berkumpul di satu posisi.  Akhirnya mereka terpaksa berpencaran.

Dalam keadaan genting, Thalhah yang berada paling dekat dengan Rasulullah melihat Rasulullah bersimbah darah. Dua mata besi menancap pada pipi Rasulullah hingga mematahkan gigi dan merobek bibir bawah dan kening Rasulullah. Thalhah segera melompat ke arah Rasul. Dipeluknya Rasulullah  dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengepungnya dari segala arah.

Akhirnya Rasulullah dapat diselamatkan dari amukan musuh. Thalhah memapahnya ke tempat yang aman dan bersembunyi di atas bukit Uhud. Tapi tak urung lebih dari tujuh puluh tikaman pedang dan panah melukai Thalhah, dan satu jari tangannya putus. Karena inilah, ia mendapat gelar Asy-Syahidu Hayyu atau seorang syahid yang hidup akibat banyak yang mengira bahwa Thalhah telah syahid, namun ternyata masih hidup.

Sementara di medan pertempuran pasukan Muslim bertempur mati-matian. Saking kacaunya, ada pasukan muslim yang membunuh muslim lainnya. Hal itu lantaran terjadi penyerangan dari depan dan belakang. Pada saat itu terlihat Mushab bin Umair yang mempunyai perawakan dan wajah mirip Rasulullah terbunuh dengan bendera perang d tangan.

Rupanya begitulah cara Allah swt menyelamatkan pasukan Muslimin. Yaitu dengan dimasukkannya persangkaan ke hati pasukan Musyirik bahwa Rasulullah telah tewas hingga merekapun kegirangan dan pulang meninggalkan medan perang.

Sementara itu di atas bukit, dalam keadaan luka parah Thalhah terus menciumi tangan, tubuh dan kaki Rasulullah seraya berkata, “Aku tebus engkau Ya Rasulullah saw dengan ayah ibuku.” Nabi SAW tersenyum dan berkata, ” Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Di hadapan para sahabat Nabi SAW bersabda, “Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh.” Yang dimaksud nabi SAW adalah memperoleh surga.

Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat julukan selain Assyahidul Hayy, juga “Burung elang hari Uhud” dan “Sang Perisai Rasulullah”. Terlihat jelas betapa tinggi keimanan, keikhlasan, pengorbanan serta  dan kecintaan Thalahah pada Islam dan Rasulnya.  Thalhah tercatat merupakan salah seorang sahabat yang selalu ikut berperang bersama Rasulullah. Kecuali dalam Perang Badar karena Rasulullah menugaskannya bersama Sa’id bin Zaid menuju Syam.

Kedermawanan Thalhah.

Selain dikarunia Allah swt kekuatan dan badan yang kekar, wajah yang tampan menyerupai Rasulullah, Allah swt juga menganugerahi Thalhah kemampuan berdagang yang mumpuni. Kekayaan Thalhah tidak kalah dengan Abdurahman bin Auf yang dikenal kaya raya.  Sama dengan Abdurrahman, Thalhah dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan hingga dijuluki  Thalhah Al-Jaud (Thalhah yang pemurah) serta Thalhah Al-Fayyadh atau Thalhah yang dermawan. Gelar ini diberikan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satu contohnya adalah ketika suatu hari ia membawa keuntungan dagang yang sangat besar yaitu 700 ribu dirham (setara dengan Rp 35 milyar sekarang). Malamnya bukannya tidur nyenyak seperti kebanyakan orang, Thalhah justru merasa tidak tenang dan gelisah. Melihat hal itu, istri Thalhah pun bingung dan menanyakan apa gerangan yang terjadi hingga kemudian bertanya, “Mengapa begitu gelisah, apakah aku melakukan suatu kesalahan?”

Thalhah menjawab, “Engkau tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja terdapat sesuatu yang mengganggu pikiranku. Pikiran yang tidak tenang sebagai hamba karena ada harta yang tertumpuk di rumahnya.”

Istri Thalhahpun menjawab, “Mengapa sampai risau begitu, bukankah masih banyak yang membutuhkan pertolongan melaluimu?” Dia melanjutkan, “Bagikanlah saja uang tersebut esok hari pada orang-orang yang membutuhkan.”

Thalhah begitu bahagia mendapati jawaban penuh bijak dari istrinya itu. Dia berkata, “Semoga Allah selalu merahmatimu. Sungguh, kau adalah wanita yang mendapatkan taufik Allah.

Esoknya Thalhah membagikan keuntungan perniagaannya tersebut pada fakir miskin. Selain itu ia juga menggunakan uangnya untuk pernikahan anak-anak muda di keluarganya dan mencukupi kebutuhan keluarga yang tidak mampu.

Kedermawanan Thalhah juga terlihat ketika terjadi masalah dengan Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat dari 10 sahabat yang juga dijamin masuk surga.  Alkisah Abdurrahman dan Thalhah mempunyai sebidang tanah yang letaknya bersebelahan. Suatu hari Abdurrahman bermaksud mengairi tanahnya lewat tanah Thalhah. Tapi oleh suatu sebab Thalhah tidak mengizinkannya. Abdurrahmanpun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Namun apa jawaban Rasulullah ?

“Bersabarlah, Thalhah adalah seseorang yang telah wajib baginya surga”. 

Abdurahmanpun menahan diri. Ia lalu mendatangi Thalhah dan mengabarkan apa yang disampaikan Rasulullah. Medengar itu, dengan suka cita Thalhah berseru, “Aku bersaksi kepada Allah, dan kepada Rasullulah  bahwa harta itu menjadi milikmu wahai saudaraku”.

Wafatnya Thalhah bin Ubaidillah.

Pasca wafatnya Rasulullah saw, apalagi setelah wafatnya khalifah Abu Bakar ra dan terbunuhnya khalifah Umar bin Khattab ra, kondisi kehidupan kaum muslimin menjadi sangat kacau. Terjadi kerusuhan besar akibat fitnah mengerikan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan ra yang menggantikan Umar.  Ali bin Abi Thalib ra kemudian diangkat menggantikan Ustman.

Namun orang-orang munafik terus menebar fitnah dan hasutan, mereka mengadu domba umat Islam sehingga terjadilah peperangan yang dinamakan perang Jamal yang membuat umat terpecah menjadi 2, yaitu antara yang memihak Aisyah ra dan yang memihak Ali bin Thalib ra. Dengan suatu alasan yang diyakininya, Thalhah memilih berada di pihak Aisyah ra.

Dalam perang tersebut banyak korban berjatuhan. Khalifah Ali menangis dan menghentikan peperangan meskipun saat itu dalam keadaan menang. Ali selain meminta Aisyah yang kemudian menyesal mengapa harus berperang dengan Ali untuk berdamai, , juga meminta Thalhah dan Zubair yang juga berpihak kepada Aisyah ra, untuk hadir melakukan perdamaian. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair akan berbagai hal termasuk sabda-sabda Rasulullah tentang mereka bertiga. Thalhah dan Zubair menangis mendengarkan perkataan Ali.

Thalhah dan Zubair akhirnya memutuskan untuk mundur dan menghentikan pertempuran. Kemudian keduanya menemui pasukannya. Akan tetapi, orang-orang munafik tidak puas dengan keputusan ini. Maka merekapun membunuh kedua sahabat tersebut dengan cara memanah mereka. Karena luka yang sangat dalam dan darah yang terus mengalir deras Thalhah bin Abu Ubaidillah, Sang Perisai Rasul akhirnya meninggal dunia. Ia wafat  dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah. Tragedi memilukan tersebut menambah kedukaan yang amat mendalam bagi kaum Muslimin.  

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2023.

Vien AM.

Pemerintah kolonial Belanda kewalahan menghadapi pasukan pangeran Diponegoro yang berperang dengan menggunakan berbagai cara tersebut. Pasukan Diponegoro dikenal sangat gesit, cepat dan lincah berkat semangat perang Sabilillah.

Terpaksa pemerintah Hindia Belanda mengirimkan banyak jenderal, kolonel dan mayor ke Pulau Jawa, diantaranya adalah gubernur jendral De Kock. Cara licikpun dilakukan. Mereka mengeluarkan sayembara bahwa siapapun yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro baik hidup atau mati, akan diberi hadiah sebesar 50.000 Gulden, beserta tanah dan penghormatan. Sebuah jumlah yang sangat menggiurkan untuk ukuran ketika itu.

Upaya licik tersebut berhasil menarik mereka yang lemah iman dan rasa kebangsaan yang kerdil. Pasukan pangeran Diponegoro dengan rasa sedih dan kecewa terpaksa melawan mati-matian saudara mereka setanah air dan seiman.

Sayang pada akhir tahun ke 3 perang yang banyak sekali menelan korban, menguras tenaga dan biaya tersebut, Kiai Mojo tertangkap. Hal ini membuat semangat perlawanan pasukan Diponegoro melemah. Disusul tahun depannya lagi yaitu tahun 1829, dengan tertangkapnya para panglima, istri dan putra sang pangeran. Disamping juga karena kesulitan biaya yang makin membengkak.

Akhirnya terjadilah gencatan senjata dan perundingan yang membuat musuh mampu menjebak pangeran Diponegoro dalam situasi yang rumit. Tepat pada hari Raya Iedul tahun 1830M, pangeran Diponegoro ditangkap di kediamannya sendiri, langsung oleh gubernur jendral Belanda Jenderal De Kock yang berpura-pura datang untuk bersilaturahim.

Selanjutnya Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado bersama istri serta para pengikutnya. Kemudian  dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam pada Januari 1855.

Perang Diponegoro tercatat sebagai perang yang menelan korban terbanyak dalam sejarah Indonesia, yakni 15 ribu korban serdadu Hindia Belanda termasuk 7 ribu pribumi pengkhianat di dalamnya, 200 ribu pasukan Diponegoro serta kerugian materi 25 juta Gulden.

Di kemudian hari diketahui, selama dalam pengasingan di Manado, pangeran Diponegoro menuliskan biografinya melalui seorang juru tulisnya. Biografi tersebut diberi nama “Babad Diponegoro” yang merupakan kumpulan puisi tradisional Jawa/tembang setebal 1.170 halaman folio, yang menceritakan sejarah kehidupan Rasulullah saw, sejarah Pulau Jawa dari zaman Majapahit hingga Perjanjian Giyanti (Mataram).

Di buku tersebut dapat juga kita temui gambar stempel yang biasa digunakan pangeran Diponegoro dalam berkorespondasi dengan pihak lain. Menariknya lagi, buku tersebut ditulis dalam aksara Arab gundul (tanpa tanda baca) dan aksara Jawa. Sayang naskah asli Babad Diponegoro, menurut sejarawan Peter Carey, sudah hilang. Yang ada hanyalah salinan yang saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional di Rotterdam, Belanda.

Keberadaan buku tersebut menjadi bukti betapa tinggi kecintaan dan kekaguman pangeran Diponegoro terhadap Rasulullah Muhammad saw.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab (33):21).

Selain “Babad Diponegoro” yang mendapatkan penghargaan tertinggi oleh UNESCO pada 21 Juni 2013. UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World), pangeran Diponegoro teryata juga menyempatkan diri menulis sebuah Al-Quran. Al-Qur’an berumur ratusan tahun tersebut ditemukan di Pondok Pesantren Nurul Falah, Salaman, Kabupaten Magelang.

Penangkapan Diponegoro telah mengakhiri perlawanan secara militer. Pangeran Diponegoro diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada November 1973 melalui Keppres No 87/TK/1973. Tapi, perjuangan melawan penjajah tidak berakhir.

Para panglima perang pasukan Diponegoro yang masih hidup melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda melalui pendidikan, yakni melalui pondok-pondok pesantren yang hingga kini masih berdiri tegak. Pondok-pondok pesantren yang mencetak bukan hanya para santri yang mahir membaca Al-Quran namun juga memahami dan melaksanakannya dengan baik.   

Akhir kata, semoga kita bisa mengambil hikmah perjuangan sang pangeran, tidak hanya sebagai pahlawan nasional tapi juga sebagai sosok agamis yang mampu mendudukkan dirinya sebagai hamba Allah yang kaffah.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. ( Terjemah QS. Al-Baqoroh (2):208).

Hamba yang kaffah adalah hamba Allah yang memeluk Islam secara keseluruhan tidak setengah-setengah, memilah dan memilih ayat yang disukai dan mengabaikan ayat yang tidak disukai sesuka hati. Seperti contohnya ayat tentang memilih pemimpin, kewajiban berhijab dll.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Ayat 51 surat Al-Maidah di atas adalah ayat yang memerintahkan bagaimana umat Islam harus memilih pemimpin, terutama pemimpin tertinggi pemerintahan. Ayat ini sangat penting diterapkan karena seorang pemimpin bukan hanya suri keteladanan tapi juga pemegang kekuasaan yang keputusan-keputusannya harus kita patuhi.

Oleh sebab itu ketika kita salah dalam memilih pemimpin kemudian pemimpin terpilih tersebut membuat keputusan-keputusan yang menyusahkan rakyat apalagi bertentangan dengan hukum yang kita yakini maka kita sendirilah yang rugi. Meski Allah swt yang akan menghukumnya.       

“Tidaklah seseorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga” (HR Bukhari-Muslim).

Itulah sebabnya pangeran Diponegoro berani berjuang dan  mempertaruhkan nyawanya demi melepaskan diri dari pemerintahan penjajah Belanda yang kafir, dzalim, suka merusak ahlak dan budaya rakyat serta suka memecah belah dan mengadu domba rakyat.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Juli 2023.

Vien AM.

Diambil dari sumber-sumber berikut:

https://id.wikipedia.org/wiki/Diponegoro

https://nasional.okezone.com/read/2021/04/29/337/2402568/kisah-laskar-pangeran-diponegoro-menyebar-di-pulau-jawa-dirikan-pesantren

https://www.adianhusaini.id/detailpost/beginilah-para-prajurit-diponegoro-melanjutkan-perjuangan-melalui-pondok-pesantren

https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6675254/inilah-al-quran-tulisan-tangan-pangeran-diponegoro-di-ponpes-magelang.

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang para siswa/santrinya tinggal bersama menginap di asrama, dan belajar di bawah bimbingan guru yang dikenal dengan sebutan kiai. Di dalam kompleks pesantren biasanya berdiri pula masjid untuk shalat berjamaah. Pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarluaskan dan mengembangkan ajaran Islam sekaligus mencetak kader-kader ulama dan dai.

Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berakar kuat di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa. Asal usul pesantren tidak bisa dipisahkan dari pengaruh walisongo yang  masuk ke Asia Tenggara antara tahun 1250 -1404 M.

Misi yang dibawa oleh utusan Kesultanan Utsmaniyah di Istambul Turki ini diperkirakan masuk pulau Jawa pada tahun 1404 ketika berada dibawah kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Misi ini dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, seorang ulama kelahiran Magrib, yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik. Ia menjadikan rumahnya di Gresik Jawa Timur sebagai tempat berkumpul dan belajar menuntut ajaran Islam.

Setelah Sunan Gresik wafat Raden Rahmat seorang ulama kelahiran Champa Vietnam menggantikannya. Keponakan raja Majapahit yang dikenal dengan Sunan Ampel ini mendirikan padepokan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Para wali yang jumlahnya 9 tersebut bisa dikatakan sebagai peletak dasar-dasar pendidikan pesantren di Indonesia.

Selanjutnya para santri yang telah selesai menuntut ilmu kembali ke daerahnya masing-masing, mengamalkan ilmunya bahkan membuka pesantren di tempat asal mereka. Hingga lahirlah ulama-ulama besar seperti yang kita saksikan saat ini. Dengan cara inilah Islam berkembang dan menyebar ke berbagai pelosok Nusantara.

Perang Diponegoro.

Perang Diponegoro atau Perang Jawa adalah perang yang dipimpin oleh pangeran Diponegoro. Perang ini berlangsung selama 5 tahun,  dari tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang memasuki bumi pertiwi pada tahun 1602 melalui tangan VOC .

Pangeran Diponegoro yang bernama asli Bendara Raden Mas Antawirya dan bernama Islam Abdul Hamid, lahir di Yogyakarta pada tahun 1785. Ayahnya bernama Gusti Raden Mas Suraja yang di kemudian hari naik takhta dengan gelar Hamengkubuwono III.

Diponegoro menolak keinginan ayahnya menggantikannya menjadi raja. Ia beralasan bahwa ibunya yang bukan permaisuri membuatnya tak layak untuk menduduki jabatan tersebut. Disamping ia memang kurang tertarik dengan masalah pemerintahan dan kekeratonan. Ia lebih tertarik pada masalah keagamaan dan membaur dengan rakyat.

Ketika masih kecil, Diponegoro diasuh nenek buyutnya, GKR Ageng Tegalreja yang merupakan putri dari salah satu ulama terkenal yakni Ki Ageng Derpoyudo. Suami Ratu Ageng adalah Sultan Mangkubumi (Hamengkubuwono I).

Ratu Ageng memutuskan keluar dari keraton ketika putranya naik tahta menggantikan ayahnya karena tidak cocok dengan putranya tersebut. Ia memilih Tegalreja yang terletak di luar Yogyakarta, dan membangun sebuah lingkungan yang didominasi oleh orang-orang yang agamis.

Disitulah Pangeran Diponegoro tumbuh dan akrab dengan kehidupan pesantren. Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang cerdas, banyak membaca, dan ahli di bidang hukum Islam-Jawa. Ia pernah mengenyam pendidikan Islam di Pondok Pesantren Gebang Tinanar, Ponorogo asuhan Kiai Hasan Besari. Ia juga dikenal memiliki hubungan yang akrab dengan para pemuka agama dan ulama.

Ketidak-sukaan pangeran Diponegoro terhadap pemerintahan kolonial Belanda dimulai dengan adanya perbedaan peraturan pajak antara pribumi dan asing ( Eropa dan Cina). Sebelumnya ia juga tahu benar bagaimana pemerintahan penjajah tersebut memainkan peran adu domba dan pecah belah terhadap kerajaan Mataram Islam hingga lahirlah kekeratonan Yogya dan Surakarta, 30 tahun sebelum ia lahir. Kemarahan Diponegoro meledak ketika pemerintah mematok tanah yang berada di bawah kekuasaannya tanpa sepengetahuannya.

Diponegoro mulai mencari dukungan. Dukunganpun berdatangan dari berbagai pelosok termasuk pesantren-pesantren, para alim ulama, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di wilayah bekas Mataram seperti Pangeran Mangkubumi dan Kiai Mojo. Kiai Mojo adalah kiai kepercayaan Sunan Pakubuwono IV, Raja Surakarta. Hingga Sang Rajapun memutuskan tidak hanya memberi dukungan dalam bentuk dana perang, tapi juga pasukan dan para senopati pilihan.

Kiai Mojo yang dikenal sebagai ulama penegak ajaran Islam sejak lama bercita-cita tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang mendasarkan hukumnya pada syariat Islam bukan pemimpin yang tunduk pada peraturan kolonial Belanda yang jelas-jelas jauh dari Islam.

Itu sebabnya ia mendukung semangat perjuangan pangeran Diponegoro dan menjadikan semangat tersebut sebagai perang suci melawan penjajah Belanda yang kafir.  Pangeran Diponegoropun dinobatkan menjadi kepala negara bergelar “Sultan Abdulhamid Herucakra Amirulmukminin Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa“, dengan pusat negara berada di Plered, dengan pertahanan yang kuat.

Diantara banyak panglima yang dimiliki pangeran Diponegoro yang menonjol adalah Sentot Ali Pasha. Panglima belia ini diilhami oleh sosok Usamah bin Zaid, panglima Islam yang diangkat langsung oleh Rasulullah sebagai pimpinan tertinggi ketika itu untuk memimpin perang melawan bangsa Romawi di usianya yang sama, yaitu 18 tahun. Sentot Ali Pasha juga dijuluki sebagai “Napoleon Jawa”. Ia memimpin pasukan sebanyak 1.000 orang dengan menyandang senjata dan mengenakan jubah dan sorban mirip pasukan Turki Utsmani di masa kejayaan Islam.

Sejarah mencatat, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Metode perang terbuka dan perang gerilya yang dilaksanakan melalui taktik hit and run serta pengadangan. Ini bukan sebuah perang suku, melainkan suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dilakukan sebelumnya.  

Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat saraf (psy-war) melalui tekanan-tekanan serta provokasi terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran, dan kegiatan mata-mata (spionase) demi mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.

( Bersambung)

Ikhtiar dan Tawakal

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”.

Ayat 7 surat Al-Insyirah di atas adalah perintah Allah swt untuk beraktifas, bekerja, berkegiatan dari satu aktifitas/kegiatan ke aktifitas/kegiatan lainnya, secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Umar bin al-Khatthab berkata: “Sungguh aku membenci melihat salah seorang dari kalian semua sebagai orang yang menganggur; tidak beraktivitas dalam kegiatan duniawi maupun kegiatan ukhrawi”.

Ali bin Abi Thalhah berkata: “Jika kamu dalam keadaan sehat, jadikan waktu luangmu untuk berlelah-lelahan dalam beribadah”.

Yang kemudian di lanjutkan pada ayat 8, adapun hasilnya adalah milik Allah azza wa Jala, maka mintalah kepada-Nya agar hasilnya baik.

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.

Syekh Nawawi menafsirkan ayat 8 di atas dengan makna: “Kepada Tuhanmu ajukan kebutuhan-kebutuhanmu; jadikan harapanmu hanya kepada Allah; dan jangan meminta kecuali kemurahan-Nya dengan bertawakal atau berpasrah diri kepada-Nya”.

Bekerja dan beraktifitas, apapun jenis dan perkerjaan/aktifitas sebenarnya adalah kodrat manusia. Manusia yang hanya berdiam diri di dalam rumah tanpa sedikitpun aktifitas selama beberapa waktu selain dapat menyebabkan efek negatif bagi kesehatan juga berpotensi menimbulkan stress bathin. Diantaranya yaitu tulang kropos karena kekurangan sinar matahari dan otot yang lemah karena tidak terlatih.

Ahli fisiologi Keith Baar mengatakan, butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun kekuatan otot, tetapi hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menghilangkan kekuatan otot. Belum lagi jantung dan paru-paru yang melemah. Ahli paru-paru Panagis Galiatsatos mengatakan, fungsi pernapasan akan memburuk jika tidak melakukan aktivitas fisik.

Namun demikian Islam mengajarkan agar bekerja dan beraktifitas dilandaskan atas niat untuk mencari ridho Allah swt. Jadi tidak sekedar bekerja dan bekerja. Menjadi catatan penting, bekerja dan beraktifitas yang dimaksud tersebut termasuk juga dalam hal ibadah.  

Bekerja diawali dengan niat yang benar dan doa agar Allah swt mudahkan, dilanjutkan dengan bekerja secara sungguh-sungguh lalu ditutup lagi dengan doa. Inilah yang dinamakan ikhtiar. Dan yang terakhir adalah bertawakal, yaitu pasrah kepada Allah swt atas hasilnya.

Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Terjemah QS. Al-Mukmin/Ghofir (40):60).

Ikhtiar secara bahasa berasal dari bahasa Arab yang artinya memilih. Sedangkan secara istilah ikhtiar adalah usaha sungguh-sungguh untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Derngan kata lain orang yang berikhtiar adalah orang yang memilih suatu pekerjaan kemudian dia melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang berlaku dalam bidang yang diusahakan, dengan disertai doa kepada Allah agar usahanya itu berhasil.

Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Taqwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan  diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah”.

Itu sebabnya ikhtiar memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah swt. Malaikat mencatat dan Sang Khalik yang akan membalasnya dengan timbangan amal baik yang berat, yaitu mengampuni bahkan menghapus segala dosa dan melipat gandakan pahala.

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):5).

Uniknya ikhtiar tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang dicapai seseorang. Hasil adalah mutlak milik Allah swt. Itu sebabnya kita diperintahkan untuk tawakal. Tidak perlu kita terlalu risau dengan hasil usaha kita. Bisa jadi Allah swt tidak mengabulkan doa dan usaha kita sesuai keinginan kita. Tapi yakinlah bahwa Ia pasti akan menggantinya dengan yang sesuai kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, dengan cara atau jalan yang kita tidak pernah pikirkan maupun bayangkan..  

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“. (Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):3).

Sebaliknya sebagai seorang Muslim yang baik, jangan pernah kita terkecoh ketika melihat ada orang yang sukses dalam hidupnya, baik melalui usaha yang gigih maupun tidak. Kesuksesan maupun kegagalan keduanya adalah ujian dan cobaan dari Allah swt yang harus dipertanggung-jawabkan.

Bisa jadi hasilnya sesuai keinginan, yang berarti adalah bonus di dunia yang tetap saja akan dimintai pertanggung-jawaban, apakah ia bersyukur atau tidak. Bersyukur tidak hanya di bibir tapi juga dengan prilaku. Syukur atas harta yang berlimpah adalah dengan memperbesar zakat infak sedekah, syukur atas sehat adalah dengan menambah amal ibadah, syukur atas jabatan adalah menjaga amanah, dll.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 6 Juli 2023.

Vien AM.

Membaca kisah perjalanan mualaf dari berbagai negara dalam menemukan hidayahNya selalu menarik untuk diikuti. Allah SWT lah yang memberi hidayah dan petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan ini berlaku sepanjang masa sejak diciptakannya manusia pertama hingga akhir dunia nanti.

Termasuk juga para sahabat di zaman awal lahirnya Islam seperti Abu Bakar ra dll. Bahkan Umar ibnul Khattab pemuda gagah berani bertemparamen keras yang sangat membenci Islam hingga berniat membunuh Rasulullah Muhammad SAW. Namun ketika kemudian ia diberi tahu bahwa adik perempuannya sendiri diam-diam memeluk Islam. Maka ia membelokkan langkahnya menuju rumah adiknya tersebut untuk mendampratnya. Namun apa yang terjadi?? Ketika adiknya menunjukkan potongan surat Thoha ayat 1 hingga 8, hatinyapun tiba-tiba luluh.

Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.  (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)”.

Umar segera mengayunkan langkahnya menuju Darul Arqam dimana Rasulullah biasa berkumpul bersama para sahabat untuk mengkaji Al-Quranul Karim. Begitu mengetahui Umar yang terkenal keji berada di depan pintu, para sahabat segera bersiap dengan pedang mereka.

Namun ternyata Umar  yang di kemudian hari menjabat sebagai amirul mukminin dengan gelar Al-Faruq yang artinya pemisah antara yang haq (benar) dan batil (salah) itu datang tidak dengan menghunuskan pedang melainkan untuk menyatakan ke-Islam-annya.

Rupanya Allah swt tengah mengabulkan doa Rasulullah sebagai berikut, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang yang lebih Engkau cintai dari kedua laki-laki ini, Abu Jahal atau Umar bin Al-Khaththab.”

Demikianlah Allah Azza wa Jala memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki, dengan cara apapun yang Ia kehendaki.

**********

Pada suatu hari di tahun 2009, seorang pria bertubuh tinggi kekar berjalan menuju masjid dengan kepala tertunduk dan wajah merah padam menyimpan kemarahan yang siap meledak. Hari itu adalah hari Jumat dan masjid dipenuhi jemaah yang bersiap melaksanakan shalat Magrib.

Pria bertato itu adalah Richard McKinney, seorang mantan anggota Angkatan Laut AS yang membenci Islam sejak bertempur di Irak dan Afghanistan. Kebencian dan kemarahannya semakin memuncak ketika ia pulang ke kampung halamannya di Muncie, Indiana, Amerika Serikat, melihat banyak Muslim di kotanya.

Ia memasuki masjid tentu saja bukan untuk beribadah melainkan  untuk menghancurkan tempat suci tersebut dengan bom. Ia menyebutnya sebagai misi terakhirnya dengan taruhan rela mati.  Sore itu ia pergi ke masjid dengan niat untuk mengamati lokasi dimana ia akan meletakkan bom yang dibawanya sekaligus mengumpulkan informasi intelijen untuk mendukung asumsinya bahwa Islam adalah ideologi kejam. 

Islam adalah kanker dan saya seorang dokter bedah yang akan mengobatinya,” ujarnya sesumbar kepada banyak orang yang ditemuinya.

Dalam benaknya terbayang pemandangan indah meledak dan matinya para teroris Islam, dari tempat parkirnya.

Namun begitu memasuki masjid, terjadi sesuatu yang tak disangkanya.  Beberapa orang jamaah masjid yang tampaknya menaruh curiga terhadapnya, mendekati dan bahkan melucutinya tanpa ia bisa berbuat sesuatu.  

Dan sebelum ia sempat berpikir panjang, Mohammad S Bahrami, warga Afghanistan salah satu pendiri Islamic Center tersebut datang memeluknya dan menangis. Kemudia ia memberinya Al-Quran, dan meminta untuk membaca dan mempelajarinya. Serta menawarkannya untuk datang kapan saja ke masjid tersebut untuk menanyakan apapun yang ia ingin ketahui tentang Islam.

McKinney benar-benar dibuat terpukau atas apa yang terjadi. Istri Mohammad S Bahrami, Bibi Bahrami, yang diberi julukan “Ibu Teresa” oleh komunitas Muslim di Muncie bahkan mengundangnya datang ke rumah mereka. Dan menghidangkannya hidangan lezat khas Afghanistan.

8 bulan kemudian setelah yakin akan kebenaran Islam, McKinney pun bersyahadat. Kini McKinney bukan lagi orang asing yang berdiri di gerbang masjid. Ia telah menemukan ikatan persaudaraan di sana, bukan dalam panasnya pertempuran, tapi dalam keyakinan. Ia bahkan sempat menjabat sebagai Presiden Islamic Center Muncie selama dua tahun.

Sebuah pelajaran menarik, disamping hidayah, doa dari orang-orang sholeh yang menginginkan seseorang memeluk Islam adalah penting.

Beberapa tahun kemudian, Josh Seftel seorang sutradara film yang memproduksi film seri documenter berjudul “The Secret Life of Muslims” tertarik dengan kisah Mc Kinney. Maka iapun mengangkat kisah tersebut menjadi film pendek dokumenter berjudul “Stranger at the Gate”. Film ini memenangkan penghargaan khusus di Festival Film Tribeca 2022.

Film ini bukan sekedar berbagi kisah nyata dalam ber-Islam. Tetapi untuk  memotivasi agar orang mau bertindak melawan kebencian”, McKinney menjelaskan alasannya bersedia kisahnya didokumentasikan dalam film.

Itu untuk semua orang. Dengan semua ‘isme’ yang harus kita hadapi setiap hari di negara ini”, imbuhnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Mei 2023.

Vien AM.

Sumber :

https://www.merdeka.com/dunia/tentara-itu-masuk-ke-masjid-membawa-bom-tapi-calon-korbannya-malah-mengubah-hidupnya.html

Dasyatnya Istighfar.

Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun ” ( Terjemah QS.Nuh (71):10).

Perintah agar memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau Istighfar, banyak dijumpai dalam Al-Quranul Karim. Ini menunjukkan betapa tingginya nilai Istighfar dalam Islam.Istighfar tidak hanya merupakan permohonan ampun atas segala dosa dan salah tapi juga sekaligus menutup dan menjaga dari akibat buruk dosa tersebut. Ibnu Rojab al-Hanbali berkata, Istighfar adalah memohon maghfiroh/ampunan, dan maghfiroh adalah menjaga dari akibat buruknya dosa disertai dengan tertutupnya dosa.

Istighfar adalah penutup setiap amalan shalih. Shalat lima waktu, haji, shalat malam, pertemuan dalam majelis dll biasa ditutup dengan amalan dzikir istighfar ini. Jika istighfar berfungsi sebagai dzikir/pengingat kepada-Nya, maka jadi penambah pahala. Sedangkan jika diniatkan karena ada sesuatu yang sia-sia dalam ibadah, maka fungsi istighfar sebagai kafaroh (penambal).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Istighfar juga sering kali digandengkan dengan taubat karena keduanya memang saling berkaitan erat. Istighfar harus diakukan oleh semua yang mengaku Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan taubat sejatinya wajib dilakukan orang Islam yang melakukan perbuatan dosa, baik dosa kecil apalagi dosa besar. Pertanyaannya, adakah seorang manusia yang tidak pernah berbuat salah dan dosa???

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan pada umatnya untuk memperbanyak istighfar. Karena manusia tidaklah luput dari kesalahan dan dosa, sehingga istighfar dan taubat mesti dijaga setiap saat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk terbaik di sisi Allah dan dosanya yang telah lalu dan akan datang telah diampuni, namun beliau masih beristighfar sebanyak 70 kali dalam rangka pengajaran kepada umatnya dan supaya meninggikan derajat beliau di sisi Allah.

Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga.

Pertama, menjauhi maksiat tersebut. Kedua, menyesali perbuatan  maksiat tersebut. Ketiga, berniat tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.Sedangkan jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Syarat ketiga di atas ditambah keempat yaitu melepaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus diberikan kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma’af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.

Bacaan Istighfar ada beberapa macam, diantaranya adalah :

1.Astaghfirullah.

Artinya : “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Ini adalah lafal yang paling singkat dalam beristighfar.

2. Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.

Artinya : Aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertaubat kepadaNya.

3. Astaghfirullah alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyuul qoyyuum wa atuubu ilaiih.

Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah, dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.

4. Istighfar yang paling sempurna yaitu Penghulu Istighfar ( Sayyidul Istighfar) sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,

 “Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta”.

Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari no. 6306).

5. Khusus di bulan Ramadhan. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni”.

Artinya: Yaa Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513).

Selain sebagai permohonan ampun, Istighfar mempunyai manfaat yang sungguh luar biasa, diantaranya adalah melancarkan rezeki, memudahkan adanya keturunan, menjauhkan dari sulitnya musim kering dan memohon hujan, dll.

Khalifah Umar bin Abdul Azis ra, suatu ketika berkata, “Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Rabb kalian. Kemudian bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan pada kalian hujan lebat dari langit.”

Berikut adalah kisah Imam Ahmad bin Hambali ra mengenai dasyatnya Istighfar.

Sebelum meninggal dunia, Imam Ahmad menceritakan bahwa suatu  ketika tiba-tiba muncul keinginan menggebu untuk mengunjungi kota Basrah di Irak tanpa suatu keperluan apapun.  

Sampai di kota tersebut, hari sudah gelap, waktu shalat Isya’ telah tiba. Imam Ahmad segera melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat berjamaah. Usai shalat ia ingin istirahat sejenak.

Namun baru sebentar berbaring marbot masjid menegurnya, “Maaf Syaikh, apa yang Anda lakukan di sini?”. Rupanya ia tidak mengenal bahwa sosok di hadapannya adalah ulama kenamaan Imam Ahmad bin Hanbal yang dikenal sebagai pendiri madzab Hambali.

Saya musafir. Saya ingin istirahat sebentar di masjid ini”, jawab sang ulama tanpa memperkenalkan diri.

Tidak boleh, Syaikh. Dilarang tidur di masjid.”

Imam Ahmadpun pindah ke serambi masjid. Akan tetapi marbot itu kembali menegurnya.

Di sini juga tidak boleh, Syaikh. Saya sudah memperingatkan, ayo pergi,” kata Marbot itu sambil mendorong-dorong tubuh Imam Ahmad sampai ke jalan.

Terpaksa sang Imam pergi meninggalkan masjid tersebut. Namun baru beberapa langkah, seorang penjual roti di samping masjid memanggilnya.

Menginap di rumahku saja syaikh. Tunggulah sebentar, rumahku tak jauh dari sini”, ajak si penjual roti.

Sambil mengucapkan terima kasih, Imam Ahmad melihat mulut laki-laki tersebut terus berkomat-kamit sambil melayani pembeli. Tak lama setelah itu, ia menutup dagangannya dan mengajak Imam Ahmad pulang bersama. Selama perjalanan sambil mengobrol si tulang roti tetap terus berdzikir, hingga tiba di rumahpun demikian.

Dipicu oleh rasa ingin tahu, Imam Ahmadpun bertanya,

Dzikir apa yang engkau ucapkan, yaa saudaraku?

“Saya membiasakan mengucap istighfar, Syaikh”, jawab si tukang roti.

“Masya Allah, sudah berapa lama?”, tanyanya lagi.

Cukup lama. Sejak saya berjualan roti, 30 tahun yang lalu”, jawabnya lagi.

Lalu apa yang engkau dapatkan dengan istighfar itu?”, tanya Imam Ahmad tambah ingin tahu.

Alhamdulillah semua doaku dikabulkan Allah. Kecuali satu yang belum.”

Apa itu?”

Saya minta kepada Allah dipertemukan dengan Imam Ahmad. Sampai sekarang belum terkabul”, jawab si tukang roti dengan tenang.

Allahu Akbar. Doamu terkabul sekarang, saudaraku. Akulah Ahmad bin Hanbal. Mungkin karena istighfarmu itulah tiba-tiba aku ingin pergi ke Bashrah. Lalu aku diusir dari masjid hingga didorong-dorong agar dipertemukan-Nya denganmu”, ucap Imam Ahmad terperangah.

Si penjual roti itu terhentak takjub. Ternyata tamunya adalah Imam Ahmad yang selama ini ingin ia temui. Segera ia pun memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah mengabulkan doa dan harapan terakhirnya.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 6 April 2023.

Vien AM.