Feeds:
Posts
Comments

Reuni 212, Perlukah ??

Jutaan-massa-Reuni-akumni-212-di-monas-by-syakur-DSC_4856-354gv87auea5a5a1t9i0hsSesuai rencana, acara Reuni 212 yang digelar bersamaan dengan peringatan  Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung aman, lancar dan tertib. Perhelatan yang diawali di masjid Istiqlal pukul 3.00 dengan  shalat Tahajud, dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah ini kemudian dilanjutkan dengan berkumpul di Monas untuk mendengarkan tausiyah yang diberikan oleh sejumlah ulama.  Ketua GNPF –MUI uzt Bahtiar Nasir dan wakilnya yaitu ust Zaitun Rasmin yang merupakan penggerak ABI 2016 lalu terlihat bersama uztad-uztad kondang seperti uzt Abdul Somad, uzt Fadzlan Garamatan, uzt Felix Siauw, uzt  Didin Hafihuddin dll, disamping tokoh-tokoh alumni 212 seperti Amien Rais, Fahri Hamzah, Fadli Zon dll. Acara ini diikuti para alumni 212 dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa yang kabarnya mencapai bilangan jutaan. Allahu Akbar …

reuni212areuni212bLantunan shalawat serta pekik takbir menggema di halaman luar Masjid Istiqlal. Semangat mengikuti Reuni 212 terpancar dari setiap raut wajah peserta yang hadir. Dengan pakaian serba putih, warna kesukaan Rasulullah sebagai dress code, jamaah silih berganti memasuki Masjid Istiqlal. Harap maklum karena rupanya tidak semua pintu masjid dibuka untuk umum.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar,” pekik para peserta Reuni Akbar saat memasuki halaman Masjid Istiqlal.

Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Lapangan Monas, setelah menghadiri Subuh berjamaah di masjid Istiqlal yang rupanya tidak terdeteksi jamaah masjid, mendapat sambutan hangat dan menambah semangat jamaah yang hadir di tempat tersebut.

Dalam kesempatan tersebut sang gubernur memohon doa dari para peserta agar bisa menjalankan amanah memimpin Jakarta dan menuntaskan janji dengan sebaik-baiknya. “Kami ingin membangun Jakarta menjadi kota yang maju, yang warganya bahagia, yang warganya merasakan suasana tenang, nyaman berdasarkan iman dan takwa,” imbuhnya.

Sementara Ustadz Zaitun Rasmin yang mewakili GNPF –MUI mengungkapkan bahwa pendapat sebagian orang bahwa Islam itu radikal, intoleransi, anti-NKRI, anti-Pancasila dll, terbantah dengan terlaksananya reuni 212 yang tertib, aman dan damai. Persatuan Islam yang selama ini ingin dkoyak musuh-musuh Islam paska 212 justru terlihat solid. Baik peserta maupun tokoh dari berbagai ormas yang hadir pada kesempatan tersebut mampu membuktikan meski terdapat perbedaan pendapat, mereka bisa saling menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada.

Wakil GNPF –MUI tersebut juga mengingatkan untuk tidak menanggapi mereka yang berkomentar negatif terhadap Reuni Alumni 212. Diantaranya Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyebutkan reuni itu bermotif politik. “Ini (Reuni 212) juga enggak akan jauh-jauh dari politik juga, politik 2018. Ini pastinya ke arah politik 2018 dan 2019,” tandas Tito di Hotel Bidakara, Kamis (30/11).

Atau komentar Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (29/11), “Gubernur DKI kan sudah dilantik, hal temporer sudah selesai. Beda dengan reuni sekolah. Kalau temporer reuni dan alasannya saya belum tahu”.

Mungkin ke 2 petinggi diatas lupa atau tidak mau tahu bahwa pemicu Aksi Bela Islam yang terjadi tahun lalu itu adalah lisan Ahok yang mengutak-atik ayat suci umat Islam, yaitu ayat 51 surat Al-Quran tentang persyaratan memilih pemimpin. Padahal Ahok sendiri adalah kandidat pemimpin yang berdasarkan ayat tersebut haram untuk dipilih!

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Artinya secara sadar atau tidak, Ahok sendiri yang sudah menantang umat Islam untuk berpolitik. Begitulah tampaknya Sang Khalik Allah swt menyentil umat Islam yang selama ini tertidur, lalai dalam menjalankan perintah Tuhannya dalam menjalankan sistim kepemimpinan/pemerintahan. Atau berpolitk dalam istilah “keren”nya.

Umat Islam rupanya telah lama terbius dengan slogan “ Islam Yes Partai Islam No” yang dipopulerkan almarhum Nurcholis Madjid belasan tahun lalu. Sebuah propaganda busuk Barat dan kaum sekuler yang ingin memisahkan umat Islam dari kepemimpinan/politik. Maklum Barat pernah lama trauma dengan kekalahannya dalam memimpin dunia oleh umat Islam. Itulah zaman ke-emasan ke-khalifahan Islam yang detik ini menjadi momok menakutkan, ironisnya bukan hanya bagi Barat tapi juga bagi sebagian orang yang mengaku Islam !

Tak terkecuali umat Islam di negri tercinta kita, Indonesia, yang katanya mayoritas Islam itu. Kriminalsasi ulama, pengakuan aliran kepercayaan dalam kolom agama di ktp, penerimaan kaum Homoseksual hingga pembubaran ormas yang dianggap ingin menghidupkan sistim ke-khalifahan. Lucunya semua itu dengan embel-embel demi membela Pancasila dan NKRI. Padahal sila pertama Pancasila, sejak dulu adalah “ Ketuhahan Yang  Maha Esa”, pasal 29 UUD memberi kebebasan dan hak warga negara untuk melaksanakan ajaran agama masing-masing. Dan agama yang diakui negara ada 6 yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.

Namun yang lebih menyedihkan lagi adalah adanya persepsi yang kelihatannya sengaja diarahkan bahwa mereka yang pro212 adalah anti NKRI dan anti Pancasila. Sementara yang anti212 berarti cinta NKRI dan Pancasila. Sungguh cara adu domba yang sangat menyakitkan dan sama sekali tidak lucu.

Ini masih ditambah dengan diberikannya penghargaan acara dakwah Islam kepada Metro TV. Penghargaan ini langsung diserahkan oleh mentri agama Lukman Hakim Saifuddin pada November yang baru lalu. Padahal selama ini media tv milik politikus Nasdem Surya Paloh tersebut sering sekali memberitakan berita mengenai dunia Islam secara tidak seimbang bahkan terkesan mengadu-domba sesama Muslim. Apalagi yang berkenaan dengan kegiatan 212. Tak heran bila kantor berita tersebut sering diplesetkan dengan julukan Metrotipu.

Pada liputan Reuni 212 yang baru lalu, pembawa berita media tv tersebut dengan nada dan gaya bahasa mengesalkan menyebut para peserta reuni sebagai orang-orang yang tidak toleran. Dengan santai ia mengatakan bahwa acara tersebut sangat menyakitkan hati pendukung Ahok. Padahal harusnya peserta Reuni 212 sudah puas dengan menangnya jagoan mereka dan dipenjarakanya sang saingan !?!?  HHmmm hanya sebegitu sajakah menurutnya Reuni212, juga arti toleransi baginya???

Anehnya lagi, Metro TV yang selama ini sering memojokkan berita-berita mengenai kerjaan Arab Saudi termasuk isu Wahabi yang mempunyai pengikut cukup banyak di tanah air, tiba-tiba membuat acara dakwah di stasiunnya dengan pembicara uztad yang sering dituduh sebagai Wahabi. Apa maksud dibalik semua itu? Wahabi seperti juga yang di Arab Saudi memang berprinsip tidak boleh melawan pemerintah yang sedang berkuasa. Oleh sebab itu mereka tidak menganjurkan pengikutnya untuk berpartipasi dalam Reuni 212. Tapi mengapa tiba-tiba Metro memunculkannya di tengah suasana ini ?? Apa itu namanya bukan adu domba??

“Sesungguhnya setan telah kehilangan harapan untuk disembah oleh orang Islam, untuk itu setan memecah-belah mereka” (HR Bukhari).

Belum lagi pernyataan Azyumardi Azra pada acara ILC bertajuk “ Reuni 212, perlukah?” yang baru lalu. Dengan santai tokoh JIl (jaringan Islam Liberal) itu malah mempermasalah peringatan Maulud Nabi yang menurutnya bi’dah. Padahal hampir semua ulama sepakat bahwa hal tersebut adalah khilafiyah ( ada perbedan pendapat). Bukan saatnya lagi umat Islam memperdebatkan hal-hal yang sifatnya bukan aqidah. Tapi ya maklumlah, bukan JIL kalau tidak demikian.

http://forum1dakwah.blogspot.co.id/2013/04/azyumardi-azra-melontarkan-pernyataan.html 

Nabi pernah keluar sedangkan sebagian shahabat sedang berdebat tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau, lalu beliau bersabda : “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan ayat dengan ayat !! Karena inilah umat-umat sebelum kalian Hancur !!” (HR Ahmad, asalnya dari Shahih Muslim).

Imam Ahmad berkata : “Jangan duduk dengan orang yang suka berdebat (dengan sesama Muslim) meskipun dia membela kebenaran, sebab sesungguhnya yang demikian tidak akan berubah menuju kebaikan.”

Sementara Lukman Hakim sendiri sebagai seorang mentri agama tidak jarang mengecewakan umat Islam. Diantaranya adalah dukungan kentalnya terhadap kaum Homoseksual, yang dibuktikan dengan kehadirannya di acara mereka. Selain memberikan sambutan kabarnya Lukman Hakim juga menangis mendengar curhatan kaum nabi Luth yang jelas-jelas dilaknat Al-Quran karena prilaku menyimpangnya. Sebaliknya terhadap acara Reuni 212, alih-alih menunjukkan simpati, Lukman justru mempertanyakan urgensi acara tersebut.

http://www.panjimas.com/news/2016/08/30/innalillahi-menteri-agama-hadiri-acara-pemberian-penghargaan-kaum-lgbt/

Dengan adanya berbagai fakta di atas jelas bahwa reuni 212 itu penting untuk dilakukan. Agar umat Islam senantiasa ingat dan sadar akan hak dan tanggung-jawabnya, serta agar selalu besatu. Tujuan ABI baik 411 maupun 212 tahun lalu bukan sekedar menuntut Ahok dipenjarakan karena menistakan ajaran Islam. Lebih dari itu, yaitu agar umat Islam mau kembali mentaati Al-Quran dan hadist. Apalagi sebentar lagi pemilihan presiden sudah hampir tiba.

Persis seperti yang sering dikatakan uztad Abdul Somad, sampai berbuih mulut para uztad dan ulama menyampaikan ajaran Islam bila pemimpinnya tidak mau tunduk pada ajarannya, percuma semua itu. Sebaliknya, tanda tangan seorang pemimpin, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, mampu membuat apa yang disampaikan para uztad dan ulama berjalan. Itu sebabnya Allah swt memerintahkan umat Islam agar memilih pemimpin sesama Muslim. Agar dengan demikian hukum dan peraturan bisa sesuai ajaran kita, seperti haramnya riba, judi dan pelacuran, pentingnya kehalalalan suatu makanan, tentang perlindungan terhadap kaum hawa seperti menutup aurat, warisan dan lain-lain sebagainya. Diadakannya musola di halte bus way misalnya. Itu adalah contoh yang kelihatannya sepele dari kepemimpinan Anis Bawesdan sebagai gubernur DKI yang baru 2 bulan.

ABI berseri yang terjadi tahun lalu sejatinya adalah bagaikan membangunkan harimau yang sedang tidur. Itulah umat Islam yang selama ini abai terhadap hak politik, mudah dipecah belah dan hanya sibuk dengan perbedaan-perbedaan amalan yang tidak mendasar. Umat Islam telah membuktikan bila kita bersatu pasti Allah swt akan membantu memenangkan kita meskipun musuh-musuh Islam lebih banyak dan lebih kuat. Ajaran Islam bukan hanya mengenai akhirat namun juga urusan dunia.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.( Terjemah QS. Al-Qashash(28):77).

Bukankah Islam itu rahmatan lil aalamiin, oleh sebab itu adalah fitrah harus menjadi pemimpin/khalifah di muka bumi. Bagi seorang Muslim dunia itu ladang tempat kita beramal yang akan menentukan hidup kita di akhirat nanti. Tidak penting apa partai dan siapa orangnya. Namun selama ia mau tunduk pada Tuhannya Yang Esa, dan bersedia berkomitmen menjalankan kepemimpinan sesuai Al-Quran dan Hadist sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw maka orang tersebut patut kita pilih dan jadikan pemimpin tertinggi kita.

Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)”. ( Terjemah QS. An-Naml(27):62).

Reuni 212 juga adalah “show of force” untuk menunjukkan bahwa kita kuat dan mampu bersatu. Persis yang dicontohkan Rasulullah saw ketika kaum Muslimin ber-ihram. Yaitu dengan memperlihatkan bahu kanannya. Padahal ketika itu para sahabat sedang dalam kondisi amat lelah akibat perang bertubi-tubi yang harus mereka hadapi. Islam itu rahmatan lil aalamiin, sejuk, aman, sabar. Tapi bukan berarti mudah untuk dilecehkan apalagi dipermainkan.

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” ( Terjemah QS. Al Anfaal (8): 46).

Dan untuk kesekian kalinya umat Islam di Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Aksi yang diikuti jutaan orang tersebut berjalan tenang, aman dan tertib tanpa sampah tertinggal berserakan. Bahkan rumputpun dijaga agar tidak terinjak.  Masya Allah ….

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Desmber 2017.

Vien AM.

Sultan Abdul HamidTanggal 10 Februari 1918 adalah hari duka bagi kaum muslimin. Saat itu dunia Islam kehilangan salah satu pejuang terbaiknya. Dialah Sultan Abdul Hamid II, legenda terakhir dari silsilah umara besar yang pernah ada. Sultan ke 34 dari wangsa Utsmaniyah ini naik tahta pada 31 Agustus 1876 M. Putra Abdul Majid I yang menguasai bahasa Turki, Arab dan Persia ini menggantikan abangnya Sultan Murad V yang hanya berkuasa selama 93 hari.

Sang khalifah muncul di era kemerosotan institusi khilafah. Inilah masa krisis menjelang keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani dimana negara adikuasa itu disindir bangsa Eropa sebagai The Sick Man of Europe. Dalam kondisi negara yang karut-marut, ia hadir bagai pelita yang kembali menerangi Istana Topkapi. Ia tampil memperpanjang napas peradaban Islam yang kala itu terengah-engah diserang dari luar dan dalam. Dengan jerih payahnya umur keruntuhan khilafah tertangguh 30 tahun lamanya. Realitas tunggakan utang luar negeri yang terus membengkak, parlemen yang tidak produktif, birokrasi pemerintahan yang korup dan kuatnya intervensi tak membuatnya menyerah.

Memang diakui banyak sejarawan Barat memberikan predikat negatif padanya. Namun patut diketahui bahwa namanya ditulis dengan tinta merah dalam berbagai literatur sejarah hanyalah karena penentangannya terhadap Konspirasi Zionisme. Kaum Yahudi yang saat itu (bahkan hingga kini) menguasai media massa dan informasi dunia memberikan stigma sebagai pemimpin otoriter yang haus darah sebab tidak mengizinkan berdirinya negara Israel. Tak ayal, sejumlah penulis Barat menjulukinya sebagai “Sultan Merah” atau “Abdul Terkutuk”. Bahkan sejarawan Muslim, Tamim Ansary dalam Dari Puncak Baghdad ikut menyebutnya sebagai “pria lemah dan konyol”. Begitupun, ia tetap bintang yang dipuja di hati kaum muslimin.

Melawan Konspirasi Asing

Semasa muda, Abdul Hamid pernah turut bersama delegasi Utsmani dalam lawatan ke Prancis, Inggris, Belgia, Austria dan Hongaria. Ia bertemu raja-raja top seperti Napoleon III, Ratu Victoria, Leopold II dan Franz Joseph II. Di sela kunjungan kenegaraan itu, catat Muhammad Ash-Shallaby dalam Ad-Daulah al-Utsmaniyyah; Awamil an-Nuhudh wa as-Suquth, ia mendengar Menteri Utsmani menjawab pertanyaan beberapa pembesar Eropa Barat tersebut. “Berapa kalian jual Pulau Kreta?” tanya mereka. Maka Fuad menjawab lantang, “Dengan harga seperti kami membelinya!”. Maksudnya ialah Utsmani menguasai pulau itu selama 27 tahun dan penuh dengan perang.

Bukan itu saja. Ketika ditanya, “Negara apa yang terkuat di dunia saat ini?” jawaban Fuad sungguh mencengangkan. “Negara terkuat adalah Turki Utsmani. Itu karena kalian berusaha menghancurkannya dari luar. Adapun kami berusaha merusaknya dari dalam. Namun nyatanya kita sama-sama belum berhasil melenyapkannya,” ujarnya. Tentu dari sini Abdul Hamid mengambil banyak hikmah dan kearifan.

Pasca penobatannya yang berlangsung gempita dan membuat Istanbul berwarna, segunung masalah langsung menyambut. Salah satu yang paling krusial adalah esksistensi Gerakan Turki Muda yang sangat kuat dalam kabinet, hingga melampaui otoritas khalifah. Adalah Midhat Pasha sekalu Menteri Besar yang jadi pemimpinnya. Dialah yang dimaksud Ernest E. Ramsaur dalam The Young Turks sebagai aktor intelektual penggulingan dua sultan sebelumnya sekaligus dalang pembunuhan pamannya.

Menurut Eugene Rogan dalam The Fall of Khilafah, gerakan ini tak bisa dilepaskan dari campur tangan gerakan Freemasonry. Organisasi rahasia Yahudi ini menghendaki Turki baru yang menganut Demokrasi Barat dan mencampakkan Islam sebagai sistem hidup. Merekapun sukses mencuci otak banyak anak muda Turki sampai mereka kagum dan tergila-gila kepada apa yang mereka sebut sebagai “kemajuan” dan “modernitas” Eropa. Isu-isu kebebasan serta intoleransi terhadap minoritas juga menjadi beberapa isu utama mereka. Padahal Sultan amat protektif terhadap minoritas Armenia dan Kurdistan. Menyikapi hal itu, Abdul Hamid seperti tertuang dalam Mudzakarat As-Sulthan Abdul Hamid Ats-Tsani yang disusun Dr. Muhammad Harb mengritik keras, “Turki Utsmani adalah negeri berkumpulnya berbagai bangsa dan demokrasi (versi Barat) di negeri ini hanya akan mematikan etnis asli dalam negeri. Apakah ada di parlemen Britania anggota resmi dari penduduk India atau di Parlemen Prancis, anggota dewan dari keturunan Aljazair?”

Membela Al-Quds

Selain keteguhan hatinya, ia juga dikenal sangat peduli pada Tanah Suci Al-Quds. Pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu tegas ditolak Sultan. Tak mau menyerah, Theodor Hertzl, penggagas berdirinya Negara Yahudi yang menulis buku Der Judenstaat, pada 1896 memberanikan diri menemui Abdul Hamid sambil meminta izin mendirikan gedung di Al-Quds. Permohonan itu kembali dijawab Sultan dengan penolakan. “Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu, simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri,” tegas Sultan. Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Utsmani.

Mengingat gencarnya aktivitas Zionis, akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II juga mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas. Setahun berikutnya Sultan menerbitkankan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap. Kedatangannya kali ini untuk menyuap sang sultan. Hertzl menyodorkan hadiah yang sangat menggiurkan yakni uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan pribadi; membayar semua utang pemerintah Utsmani yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta franc; memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Utsmani di Palestina.

Namun semua tawaran itu ditolaknya tegas. Bahkan Sultan tak sudi menemui Hertzl, lalu mewakilkan kepada PM Tahsin Basya, dengan pesan, “Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Usmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya.”

Lain waktu, pernah pula pemerintah Inggris mengajukan proposal penggalian benda-benda purbakala di wilayah kekuasaan Utsmani. Namun ternyata penggalian benda-benda purbakala itu hanya kedok belaka, karena sejatinya mereka ingin mengeruk tambang-tambang minyak. Karena itu Sultan marah luar biasa dan mencabut proyek kerjasama tersebut.

Pelajaran untuk Indonesia

Berbagai turbulensi yang dialami oleh Sultan Abdul Hamid II ini sangat relevan dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Siapapun yang berkuasa, jika ia tak mau mengikuti perintah asing, apalagi mempunyai misi menegakkan Islam, maka akan bernasib sama sebagaimana sang sultan pada masa lalu. Kekuasaan yang dipegang oleh sosok pemimpin muslim yang tegas dalam menjalankan pemerintahan dengan nilai-nilai Islam, akan selalu dirongrong dan digoyang sampai tumbang. Inilah yang kita saksikan saat PM Ismail Haniyah dari HAMAS memenangan Pemilu Palestina. Begitu pula Presiden Mursi di Mesir yang sekeluarganya penghafal Qur’an itu dikudeta dengan zalim oleh militer yang disokong asing.

Saat kekuatan asing tampak mencengkeramkan cakarnya ke tengah bangsa, tentu kita rindu pemimpin bermental Abdul Hamid II. Ketika utang luar negeri terus ditambah, liberalisasi undang-undang migas dan minerba, kepemilikan properti oleh asing, penguasaaan asing hingga 85% saham modal ventura hingga bolehnya 100% saham restoran dan jalan tol dikuasai asing, ada gelora untuk memiliki pemimpin sekuat Abdul Hamid II.

Negara yang berbhineka ini layak belajar darinya. Meski tegas menolak intervensi asing, Abdul Hamid II tetap bisa mengurangi utang Utsmani dari 300 juta lira hingga tinggal sepersepuluhnya saja yakni 30 juta lira. Kitapun jangan sampai latah mengikut polah Gerakan Turki Muda yang membebek budaya Barat, termasuk sisi negatifnya yang bertabur jumlahnya. Seperti yang diakui Abdullah Cevdet, “Yang ada hanya satu peradaban yakni peradaban Eropa. Karena itu kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya maupun durinya sekaligus.”

Mari kita doakan para pemimpin bangsa semakin istiqamah menjaga kedaulatan bangsa. Tidak harus anti asing, tapi tak boleh didikte dan tuduk pada asing.

Dicopas dari :

https://www.kompasiana.com/anugrahroby/teladan-abdul-hamid-ii-melawan-konspirasi-asing_58a13741309773d10531a488

https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_II

Wallahu’alam bis shawwab.

Jakarta, 29 November 2017.

Vien AM.

 

Kebangkitan Islam

4 November 2017, tepat satu tahun setelah Aksi Bela Islam 411, masjid Al-Azhar Jakarta menggelar acara  Shalat Subuh Berjamaah yang diikuti dengan pengajian bertemakan politik Islam. Acara akbar ini diselenggarakan oleh PPI (Pengajian Politik Islam) yang diketuai Hamdan Zoelva. Sekedar pengingat, Aksi Bela Islam (ABI)  digelar untuk memprotes pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang ketika itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, karena ia mengobok-obok ayat 51 surat Al-Maidah. Aksi berjilid ini berjalan dengan sangat aman dan tertib, terutama ABI 212 yang diikuti jutaan umat Islam. Sementara ABI 411 lebih dikenang karena ketika itu polisi menghujani massa dengan gas air mata hingga menimbulkan korban.

http://www.voa-islam.id/read/citizens-jurnalism/2017/11/08/54232/menolak-lupa-tragedi-aksi-bela-islam-411/#sthash.5fFPUGRi.dpbs

Selain masjid Al-Azhar, masjid Baitul Hakim Cipinang Jakarta Timur, di hari yang sama juga menggelar Tabligh Akbar. Tabligh di masjid tersebut diisi oleh ustad kondang Abdul Somad yang didahului sambutan ketua MPR Zulkifli Hasan, sebagai pribadi.

Dalam sambutan tersebut Zulkifli mengatakan di Indonesia saat ini banyak sekali timbul kesalahan fahaman yang sangat merugikan umat Islam. Contohnya, orang taat beragama dikatakan tidak cinta tanah air, pihak yang menolak perpu dituduh anti Pancasila, bahkan menyerukan Takbirpun bisa dianggap radikal.  Peran umat islam yang begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan tampaknya mulai dikesampingkan. Umat Islam dianggap tidak toleran terhadap umat agama lain.

Ketua MPR tersebut juga mengingatkan, Musim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia ( 85%) namun nyatanya hanya kurang 3 % yang menguasai perekonomian.  Sebagian besar penduduk Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan adalah kaum Muslimin. Untuk itu ia menghimbau agar umat Islam mau bersatu dan kompak menyusun kekuatan politik bila ingin maju dan berjaya membentuk Indonesia yang Islami, yang rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.

https://www.kiblat.net/2017/11/06/zulkifli-hasan-salah-paham-jika-taat-beragama-dinilai-anti-nkri/

Hal senada juga pernah dicetuskan Jimly Asshidiqqie, ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) beberapa waktu lalu. Ia mengatakan keberadaan pengusaha muslim di Indonesia saat ini semakin minoritas. Oleh karena itu, Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI) harus mampu menggerakkan perekonomian.

“Kalau dari perspektif penduduk, kita mayoritas muslim. Kalau perspektif ekonomi, kita yang muslim justru minoritas. Dari 50 orang terkaya di Indonesia hanya 5 pengusaha muslim,” kata Jimly saat menerima kunjungan pengurus SKPI di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Demikian juga yang dikatakan Sekretaris Umum MUI Kota Medan, DR Syukri Albani Nasution, saat membuka acara Penyuluhan Penguatan Pemahaman Ekonomi Praktis Bagi Para Dai yang diselenggarakan Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan, Rabu (4/10) di Aula MUI Kota Medan.

“Kita tidak pernah membenci produk di luar produksi nonmuslim, tapi kalau masih ada produk umat kenapa pilih yang lain. Meski kita menilai produk lain lebih terkenal dibandingkan produk umat,” ucapnya.

Sementara itu uztad Abdul Somad yang menjadi primadona Tabligh Akbar 4 November di masjid Baitul Hakim Cipinang mengatakan, setidaknya ada 4 kunci kebangkitan Islam, yaitu :

1. Muliakan ulama, dan amalkan ilmunya.

… … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. … “ (Terjemah QS.Fathiir(35):28).

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi ).

Ulama adalah ibarat guru dalam dunia pendidikan. Dari para ulama inilah ilmu agama diteruskan hingga sampai kepada manusia di akhir zaman. Ulama adalah orang yang paling bertanggung-jawab dalam mendidik dan menyampaikan ilmu dan pengetahuan mereka kepada umat.

Jadi sungguh sudah sepatutnya kedudukan ulama harus diutamakan dan dimuliakan. Perkataan mereka sudah seharusnya didengar dan dipatuhi. Sebaliknya mereka juga dituntut harus memberikan contoh yang baik. Namun apa yang terjadi belakangan ini sungguh menyakitkan hati. Para ulama dilecehkan, dihina bahkan difitnah dengan berbagai fitnah kejam. Tak sedikit ulama yang hidupnya berakhir di belakang jeruji penjara tanpa bukti kesalahan yang jelas.

Tidak hanya itu, pengajianpun dibubarkan paksa dan sang ulama diteror. Perpu ormas yang belakangan diresmikan menjadi UU sejatinya adalah membidik ormas Islam dimana terdapat para ulama di dalamnya. HTI dengan tuduhan ingin mendirikan kekhalifan Islam adalah pembukaannya. FPI adalah sasaran selanjutya, setelah itu ntah siapa lagi.

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas telah terbukti saat ini. Banyak ulama/uztad yang menyampaikan ilmu tidak berdasarkan ayat Al-Quranul Karim maupun hadist shoheh. Anehnya tidak sedikit orang yang begitu saja mempercayainya. Orang-orang liberal, JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah contohnya. Mereka ini mengaku sebagai orang berakal yang mempercayai ajaran agama berdasarkan logika. Padahal Islam tidak selalu sejalan dengan akal. Banyak hal-hal dalam ajaran yang dibawa rasullah Muhammad saw yang tidak mampu kita mencernanya.

Jangan lupa Firaun raja Mesir yang diabadikan kisahnya di dalam Al-Quran juga merasa dirinya hebat dan pintar hingga tidak merasa perlu mempercayai ajaran nabi Musa as karena terlalu mengandalkan akal dan logikanya. Padahal baik dan benar menurut seseorang belum tentu baik dan benar menurut Sang Khalik.

“ … … Fir`aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. ( Terjemah QS. Al-Mukmin(40):29).

Ulama terbagi atas 2 kelompok besar yaitu ulama Suu’ dan ulama Warosatul Anbiya ( Ulama Pewaris Nabi). Ulama Suu’ adalah ulama jahat yaitu yang orientasinya hanya keduniawian. Sementara ulama pewaris nabi sesuai namanya adalah ulama yang mengikuti jejak nabi, yaitu mengajarkan keutamaan akhirat karena memang begitulah hakikat agama, yaitu komitmen kita mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita terima dari Tuhannya.

Sabda Rasulullah SAW, “Apabila tergelincir ulama, maka tergelincirlah umat.”

2. Pemimpin yang adil dan takwa.

Keberhasilan kerja ulama terlihat dari lahirnya pemimpin-pemimpin yang adil dan takwa. Ilmu yang disampaikan para ulama untuk diamalkan bukan hanya sekedar disimpan sebagai ilmu pengetahuan. Disamping itu ilmu agama seharusnya bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri atau keluarga terdekatnya namun juga untuk lingkungan yang ada di sekitarnya.

Islam Rahmatan Lil ’Aalamiin” hanya akan terjadi bila ada orang Islam yang menjadi pemimpin yang adil dan takwa hingga tercipta situasi kondusif yang memungkinkan tidak hanya umat Islam dapat menjalankan kehidupan sesuai tuntunan syariah namun juga umat agama lain. Tidak sedikit ayat-ayat Al-Quranul Karim yang mengajarkan bagaimana cara dan syarat memilih pemimpin.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. At- Taubah(9):23).

Jadi sungguh tidak benar bila ada yang mengatakan “ Yang penting jadi orang baik dan tidak menyusahkan orang lain” atau “ Islam Yes Politik No”.

Harus diingat sesholeh dan sebaik apapun seorang Muslim bila situasi tidak mendukung bukan mustahil ia akan sulit menjalankan ajarannya. Dalam menjalankan ekonomi syariah misalnya, diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengatur kebijaksanaan tersebut.

3. Bangkitkan ekonomi Islam.

Denyut perekonomian adalah cermin keberhasilan suatu negara. Sekali lagi bila ingin membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin maka denyut ini harus kita kuasai. Bagaimana mungkin Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim namun hanya menguasai 3 % perekonomian?

Umat Muslim selama ini terus dicekoki bahwa rasulullah Muhammad saw adalah sosok yang miskin dan selalu hidup dalam kesulitan. Padahal rasulullah sebenarnya kaya raya, tapi kekayaan tersebut tidak  digunakan beliau maupun keluarganya. Namun digunakan untuk dakwah Islam dan disumbangkan kepada fakir miskin.

Rasulullah bersabda, “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran”.(HR.Abu Na’im).

Kesadaran kaum Muslimin di Indonesia akan pentingnya menguasai perekonomian sebenarnya sudah lama terjadi. Yaitu dengan berdirinya organisasi Syarekat Dagang Islam (SDI) yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905. Tujuannya waktu itu untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim  agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Cina yang lebih maju usahanya dari mereka. Pada waktu itu pedagang Cina memang diberi hak dan status yang lebih tinggi oleh  pemerintah Hindia-Belanda. Hal inilah yang membuat kaum Muslimin bangkit bersatu menuntut keadilan. Namun demikian bank syariah pertama di Indonesia baru lahir 87 tahun kemudian. Yaitu  Bank Muamalat Indonesia yang berdiri atas prakarsa ICMI dan MUI pada tahun 1992.

http://salman-rusdi.blogspot.co.id/2012/10/kebangkitan-ekonomi-islam-kedua.html

Ironisnya lagi, setelah lewat lebih dari seratus tahun berdirinya SDI, kaum Muslimin tetap saja terpuruk. Kesenjangan sosial  antara si kaya dan si miskin yang mayoritas Muslim tidak kunjung terselesaikan. Monopoli perdagangan dan ekonomi tetap dipegang etnis Cina yang makin menggurita.  Kebijaksanaan pemerintah saat ini bahkan berat membela kepentingan para taipan Cina yang menguasai hampir semua lini.

Namun syukur Alhamdulillah paska terjadinya Aksi Bela Islam pada November 2106 lalu ghirah umat kembali muncul. Berdirinya Koperasi212 dan Mart212 yang dibidani sejumah ulama kondang dengan penasehat ekonom Anggito Abimanyu adalah buktinya. Koperasi ini diketuai Dr. M Syafii Antonio M.Ec, pemimpin  Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia, seorang pakar perbankan dan ekonomi syariah yang mumpuni.

Keberadaan Syafii Antonio yang etnis Cina dan menjadi mualaf ketika masih duduk di bangku SMA ini menjadi bukti tersendiri bahwa umat Islam tidak rasis. Karena dengan memeluk Islam Syafii pasti tahu persis bagaimana kekayaan harus dikelola.

“ Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. … …”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59):7).

4. Selamatkan anak muda dari segala jenis kerusakan.

Anak muda adalah tonggak masa depan. Di tangan merekalah kemajuan dan kesuksesan bergantung. Sayangnya sebagian anak muda saat ini, “ generasi now” begitu mereka menyebut, telah dilimpahi begitu banyak kesibukan dan kesenangan duniawi. Tidak hanya gadget yang sebenarmya tidak selalu negative, tergantung pemakaian, tapi juga  gaya hidup konsumtif, hidup bebas tanpa aturan seperti LGBT alias homoseksual dan ketergantungan terhadap narkoba contohnya.  Yang bila diingatkan untuk belajar agama berkilah “ Mumpung masih muda, agama nanti kalau sudah tua”. Padahal siapa yang bisa menjamin ia bakal hidup sampai tua??

Anak-anak muda seperti di atas harusnya menyadari dan mengenal bagaimana di zaman nabi para pemuda belasan tahun sudah berjuang untuk menegakkan agama. Diantaranya yaitu Mush’ab bin Umair ra. Mush’ab adalah seorang remaja dari keluarga kaya raya yang sangat dimanjakan ke dua orang-tuanya. Wajahnya yang tampan dengan pakaian dan rambut yang selalu tersisir rapi tak pelak menjadi buah bibir dan idaman para gadis Mekah. Namun semua itu ia tinggalkan demi memeluk Islam.

Paska perjanjian Aqabah rasulullah saw memerintahkan Mush’ab agar mengajarkan ayat-ayat suci Al-Quran kepada penduduk Madinah. Di kemudian hari Mush’ab gugur sebagai syuhada dalam perang Uhud. Tangan kanannya yang ketika itu sedang membawa bendera perang berhasil ditebas musuh. Demikian pula tangan kirinya yang berusaha mempertahankan bendera. Mush’ab segera  memungut bendera yang terjatuh dengan kedua pangkal tangannya namun demikian Mush’ab tak dapat bertahan ketika sebuah tombak ditusukkan ke dadanya. Iapun syahid.

https://vienmuhadi.com/2009/01/19/kisah-mush%E2%80%99ab-bin-umair/

Dalam perang Uhud yang berlangsung tidak seimbang itu, rasulullah melibatkan 2 remaja yang usianya belum 15 tahun, karena umat Islam ketika itu memang baru sedikit sekali. Itupun setelah rasulullah di desak para sahabat dengan alasan kedua remaja tersebut adalah jago panah. Sementara itu Rasulullah memulangkan sejumlah remaja yang sebenarmya sangat ingin bergabung karena usia mereka kurang dari 15 tahun. Salah satu yang dipulangkan tersebut adalah Usamah bin Zaid yang menangis kecewa.

Namun di kemudian hari yaitu ketika Usamah mencapai usia 19 tahun rasulullah menunjuk Usamah sebagai panglima perang melawan pasukan Rum yang ketika itu sangat disegani. Padahal ketika itu terdapat sahabat-sahabat senior, diantaranya Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain.

Usamah memang akhirnya membatalkan keberangkatannya karena mendengar kabar wafatnya rasulullah. Namun setelah kemudian Abu Bakar Shidiq diangkat sebagai khalifah dan tetap melanjutkan perintah rasulullah agar menjadikan Usamah sebagai panglima perang, Usamahpun berangkat.

Lain lagi dengan Zaid bin Tsabit ra yang ketika rasulullah saw wafat usianya baru 20 thn. Zaid adalah penerjemah rasulullah dari bahasa  Yahudi ( Ibrani) ke Bahasa Arab. Rasulullah yang memerintahkan anak muda tersebut agar mempelajari Bahasa tersebut sepaham-pahamnya dengan tujuan agar tidak dibohongi mereka.

Semangat anak-anak muda seperti inilah yang seharusnya ditiru anak muda zaman sekarang. Berjihad membela Islam tidak harus dengan berperang. Dengan menguasai ilmu pengerahuan dan teknologi serta bekal keimanan yang tinggi kejayaan Islam di masa lalu bukan tidak mungkin bisa kita raih kembali.  Bukankah dunia adalah ladang amal yang akan menentukan nasib kita di hari akhirat kelak ??

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.( Terjemah QS. Al-Qashash(28):77).

Jangan biarkan hidup di dunia yang hanya sekali ini membuat kita selamanya menyesal. Jangan biarkan pula tangan-tangan kotor sedikit demi sedikit mencicipi bubur panas dan kita baru menyadarinya setelah habis tandas. Karena bubur panas tersebut tak lain adalah kita, umat Islam yang tidur lelap tidak sadar musuh sedang mengerubuti kita. Na’udzubillah min  dzalik …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 16 November 2017.

Vien AM.

Pribumi Oh Pribumi …

Selasa 17 Oktober 2017 Anies Bawesdan dan Sandiaga Uno resmi menjabat sebagai gubernur dan wagub DKI Jakarta. Ironisnya, hanya selang beberapa jam setelah pelantikan, sebuah ormas sayap PDIP berencana melaporkan Anies ke polisi. Hal ini disebabkan kata pribumi yang digunakan dalam pidato perdana sang gubernur. Alasannya kata yang dianggap berbau rasis ini telah dilarang penggunaannya dalam Inpres Nomor 26 tahun 1998.

Padahal bahkan Jokowi, Yusuf Kalla dan mentri Susipun pernah menggunakan kata tersebut. Tapi mereka tidak mempermasalahkannya. Lucunya lagi, setelah heboh pidato Anies, berita pernyataan Jokowipun segera di edit.

http://nusantarakini.com/2017/10/17/pengeditan-berita-tentang-jokowi-yang-juga-sebut-pribumi/

https://www.gemarakyat.id/ini-jejak-digital-megawati-dan-jokowi-juga-gunakan-istilah-pribumi/

https://www.kaskus.co.id/thread/59e573901854f702488b4567/menteri-susi-pemerintah-akan-bangun-konglomerasi-pribumi/

Lagi pula bila kita cermati, kata pribumi digunakan Anies untuk menunjuk pada situasi masa penjajahan kolonial, yaitu pertempuran merebut kemerdekaan antara bangsa Indonesia ( pribumi) melawan penjajah.  Perlu mendapat catatan, Anies yang berhasil memperkenalkan program “ Indonesia Mengajar” itu adalah wni keturunan Arab yang lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kata pribumi yang digunakan Anies dalam pidatonya, sejatinya justru menjadi bukti bahwa sang gubernur baru ini tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah non pribumi. Maklum sang ayah yaitu Abdurrahman Bawesdan yang dilahirkan di Surabaya itu adalah seorang  nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, sekaligus sastrawan Indonesia.

Abdurrahman Baswedan bahkan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante. Ia adalah salah satu diplomat pertama Indonesia, dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.

https://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Baswedan

Tapi ya begitulah, tampaknya tidak mudah meninggalkan jejak perseteruan pilkada DKI beberapa waktu lalu.  Kekalahan Ahok yang notabene wni keturunan Cina alias non pribumi tampak jelas masih mengganjal partai pendukung dan simpatisannya. Jadi apapun yang dilakukan dan dikatakan Anies maupun Sandi kelihatannya tidak akan mampu memuaskan mereka.

Padahal substansi dari pidato Anies pada pelantikan tersebut sangatlah dalam. Selain memperlihatkan ciri sebagai seorang Muslim bahwa jabatan adalah amanah, juga memperlihatkan kepedulian yang tinggi terhadap keadilan bagi seluruh warga. Tentu kita semua mahfum bahwa kekayaan dan keadilan saat ini sangat timpang. Hampir semua sektor penting dipegang dan dikendalikan segelintir orang/pihak, termasuk tanah, real estate, supermarket bahkan minimarket sekalipun. Inilah yang tidak diinginkan sang gubernur terjadi.

“ Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.  … … “. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):7).

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160915175459-20-158611/komnas-ham-minta-negara-ambil-tanah-yang-dikuasai-konglomerat/

Saya jadi teringat pada ucapan seorang pensiunan jendral pada suatu pertemuan yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Waktu itu yang sedang dibahas adalah maraknya isu kembalinya PKI. Secara singkat ia menjabarkan bahwa Indonesia diincar pihak asing karena Indonesia selain negara yang kaya sumber alam juga terletak di posisi yang strategis, yaitu penghubung antara Asia dan Australia. Paling tidak ada 2 kekuatan yang memperebutkan Indonesia, yaitu Amerika Serikat dan Cina.

Salah satu bukti dominasi Amerika Serikat di Indonesia yang terbesar adalah keberadaan Freeport. Perusahaan tambang raksasa terbesar di dunia ini terletak di Mimika, bumi Papua. Amerika Serikat yang telah mengelola perusahaan tambang emas, perak dan tembaga sejak tahun 1967, dan telah menjadikannya sumber kekayaan mereka, sudah pasti tidak akan mau melepaskan cengkeramannya yang harusnya berakhir pada tahun 2021 mendatang. Banyak pihak berpendapat, penguasaan AS terhadap sumber alam tambang ini tidak jauh beda dengan VOC yang dimasa lalu menjajah negri kita tercinta melalui rempah-rempah.

https://www.kaskus.co.id/thread/50af524d20d719b14900006b/freeport-adalah-voc-masa-kini/

Lain halnya dengan Cina. Hubungan ekonomi dan politik dengan negara komunis yang belakangan mengklaim sebagai sosialis kapitalis ini baru resmi dilakukan di era pemerintahan Jokowi. Kerja sama ini dimulai dengan adanya kunjungan kenegaraan Jokowi ke Beijing pada awal tahun 2015 atas undangan Presiden Cina, Xi Jinping.

Dalam perjanjian tersebut, antara lain disebutkan bahwa kedua negara mendorong kerja sama antar BUMN dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah Indonesia memberikan kesempatan kepada Cina untuk menggarap proyek infrastruktur. Di antaranya: membangun 24 pelabuhan, 15 bandara, dan pembangkit listrik berkapasitas 35.000 Mega Watt. Ditambah lagi, pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung yang hampir seluruh dananya dari Cina.

Model investasi yang ditawarkan oleh Cina menggunakan prinsip “Turnkey Project Management”. Model ini adalah sebuah bentuk investasi yang ditawarkan dan disyaratkan oleh Cina kepada negara peminta dengan “sistem satu paket,” artinya: mulai top management, pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, hingga metode dan tenaga (kuli) kasarnya di datangkan dari Cina.

Tak pelak, ekspansi Cina ke Indonesia baik dari sisi hutang, investasi, dan tenaga kerja dua tahun terakhir ini menjadi semakin masif. Peningkatan jumlah tenaga kerja Cina juga ditopang dari kebijakan pemerintah yang lebih terbuka terhadap pekerja asing. Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 1 Tahun 2015 terhadap revisi Permenaker Nomor 12 Tahun 2013 tentang tata cara penggunaan tenaga kerja asing adalah contohnya. Aturan ini sempat menuai kontroversi karena ketentuan pekerja asing tidak wajib berbahasa Indonesia bila mencari nafkah di Indonesia.

https://nusantara.news/sejarah-dominasi-etnis-cina-di-indonesia/

Namun dominasi Cina di negri tercinta ini sebenarnya telah terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu melalui etnis Cina yang telah beranak pinak sejak ratusan tahun lalu. Dominasi tersebut baik dalam politik ( meski bukan politik praktis) maupun ekonomi yang telah terjadi sejak zaman VOC.

Tingkat ekonomi etnis Cina sebelum kedatangan VOC tidak beda dengan tingkat ekonomi pribumi. Namun hal tersebut berubah sejak penjajah Belanda memperlakukan etnis Cina secara khusus. Selain secara ekonomi mereka juga diberi posisi dalam pemerintahan. Tak heran bila kemudian mereka lebih berpihak kepada penjajah dari pada memperjuangkan kemerdekaan.

Milisi bersenjata “Pao An Tui” adalah contohnya. Mereka ini dilatih dan dipersenjatai oleh tentara Belanda (KNIL) sehingga pada masa perang kemerdekaan pasukan ini tidak berpihak kepada republik.

Hal tersebut terus berlanjut pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, dengan bermunculannya para cukong yang notabene adalah orang-orang Cina konglomerat yang menguasai berbagai sektor perdagangan. Hal ini tentu saja mengakibatkan kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial yang makin lama makin tajam. Parahnya lagi saking kuatnya pengaruh mereka, para taipan ini bahkan mampu mempengaruhi kebijaksanaan politik negri kita tercinta!

Di era pemerintahan Jokowi saat ini, dominasi etnis Cina dalam ekonomi nasional, utamanya dalam pembangunan megaproyek, semakin kuat. Salah satunya pembangunan reklamasi teluk Jakarta dan Meikarta. Kedua proyek raksasa ini disokong para taipan etnis Cina, diantaranya adalah James Riyadi, Jacob Soetoyo, Tahir, Anthony Salim dan Tommy Winata yang juga dikenal dengan sebutan 9 naga.

http://berita360.com/9-naga-taipan-paling-berpengaruh-di-indonesia/

 “Semoga saja tidak ada Sukanta Tanoto lain”, ujar sang pensiunan jendral sedikit geram.

Sukanta Tanoto adalah seorang konglomerat Cina yang pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah bapak angkat sementara Cina adalah bapak kandungnya.

https://www.kaskus.co.id/thread/57c435bf98e31b72178b456a/soal-indonesia-bapak-angkat-dan-china-bapak-kandung-dpr-kecam-taipan-sukanto-tanoto/

Rezim Jokowi secara resmi juga telah meminta Jack Ma menjadi penasehat e-commerce Indonesia. Jack Ma, yang lagi-lagi adalah orang Cina, adalah milyarder pendiri Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Cina.

http://tekno.kompas.com/read/2017/08/23/09063567/jack-ma-resmi-jadi-penasihat-e-commerce-indonesia

Pak pensiunan jendral tersebut juga sempat mengingatkan betapa kuatnya pengaruh psikologis antar pimpinan suatu negara. Contohnya presiden Sukarno, yang pada tahun 1956 dulu tiba-tiba mencetuskan konsep politik Nasakom ( Nasionalis Agama Komunis). Kedekatan hubungan presiden pertama RI ini dengan para presiden ke 3 negara sosialis komunis Cina, Rusia dan Yugoslavia tidak dapat diabaikan begitu saja. Tragedi mengerikan G30S PKI adalah buahnya.

Begitu juga dengan fenomena hari ini, dimana para keluarga dan simpatisan PKI telah berani menampakkan jati diri mereka secara terbuka. Hal ini dimulai pada November 2015 melalui Dewan Tribunal Den Hag, Belanda. Mereka menuntut pemerintah agar mau meminta maaf dan merehabilitasi bahwa mereka tidak bersalah. Hal tersebut terus berlanjut dengan keberanian mereka membuat berbagai simposium dan menerbitkan buku, “ Aku Bangga Menjadi Anak PKI”, dll. Ada apa gerangan ??

Selain Amerika Serikat dan Cina, pak pensiunan jendral sebenarnya juga menyebut Arab sebagai salah satu pihak yang ingin menguasai Indonesia, yaitu dengan Khalifah Islamiyahnya. Namun begitu ia menyebut Habib Riziek sebagai dalangnya, saya langsung tidak mempercayai pernyataan tersebut. Mengapa??

Ayah dan ibu Habib Riziek adalah orang Betawi keturunan Hadramaut (Yaman).  Ibunya bahkan sepupu dari pendekar Betawi, Si Pitung. Pada tahun 1937, Habib Husein, ayah Habib bersama beberapa temannya mendirikan Gerakan Pandu Arab Indonesia dengan tujuan agar para pemuda keturunan Arab bersatu mengabdi pada bangsa melalui bidang kepanduan. Gerakan kepanduan ini merupakan cikal bakal Pandu Islam Indonesia (PII).

Habib Husein juga pernah ditahan tentara Belanda dan divonis hukuman mati. Itu terjadi karena ia sering kedapatan memberikan makanan dan pakaian kepada para pejuang yang bergerilya di sekitar Jakarta. Waktu ia bekerja di bagian logistik Rode Kruis (sekarang Palang Merah Indonesia). Beruntung ia berhasil kabur meski sempat tertembak di bagian belakang.

Sementara Habib Rizieq yang merupakan pimpinan tertinggi FPI kiprahnya sudah banyak diketahui umum. Meski tidak sedikit orang yang memusuhinya, namun keberpihakannya kepada rakyat kecil tidak dapat dipungkiri. Pilihannya untuk berjihad melawan kemungkaran yang makin hari makin memprihatinkan ibu kota, juga perlawanannya sengitnya terhadap komunisme, jelas tidak ada hubungannya dengan dominasi Arab ataupun Khalifah Islamiyah sebagaimana tudingan pak jendral. Tapi lebih karena memenuhi perintah Tuhannya.

“… dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. ( Terjemah QS. Lukman(31):17).

Disamping itu keterlibatannya pada tragedi Poso dan Ambon tahun 1999 yang sangat mengenaskan dan menyebabkan meninggalnya 2000 Muslim itu sudah cukup membuktikan betapa pedulinya Riziek pada nasib bangsa ini.

http://dewisaladin.blogspot.co.id/2011/09/tragedi-poso.html

Singkat kata, heboh pidato Anies Bawesdan beberapa waktu lalu hanyalah mengada-ada.  Rasa cinta dan rasa memiliki bangsa inilah yang membuat Anies menggunakan kata pribumi, untuk memancing dan menggugah rasa kebangsaan warganya agar bisa mandiri, tidak bergantung kepada pihak lain hingga bangsa ini benar-benar bisa merdeka lepas dari segala bentuk penjajahan.

Disamping Anies Bawesdan, Habib Riziek dan ayah mereka, masih banyak lagi tokoh-tokoh wni non pribumi seperti ekonom Kwiek Kian Gie, mantan menlu Ali Alatas,  mantan menkeu Mar’ie Muhammad,  aktivis Soe Hok Gie,  pengarang lagu Syukur sekaligus mantan dubes Vatikan H. Mutahar, dll yang tidak perlu lagi diragukan rasa kebangsaan mereka.

Semoga Allah swt menjauhkan kita dari segala prasangka buruk yang mengakibatkan bangsa ini tidak maju-maju.

Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah olehmu purbasangka, sesungguhnya purbasangka itu pendusta benar (sedusta-dusta pembicaraan). Dan janganlah kamu mendengar rahasia orang, jangan mengintip aib orang, jangan tambah menambahi harga untuk menipu, jangan saling mendengki, benci membenci dan jangan pula bermusuhan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara”. (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 23 Oktober 2017.

Continue Reading »

IMG_0418Mendekati waktu Zuhur kami segera menuju masjid. Sebuah plang tanda arah ke masjid terlihat di persimpangan pasar yang lumayan padat tersebut. Lulu mengingatkan untuk memperhatikan tanda tersebut agar ketika pulang menuju tempat rendez-vous nanti tidak tersasar. Ia mengantar kami hingga gerbang masjid. Terlihat beberapa lelaki berteriak-teriak di tempat tersebut. Tadinya kami tidak begitu paham apa yang mereka teriakkan dan inginkan. Setelah kami dengarkan baik-baik ternyata mereka meneriakkan “ fii sabilillah fii sabilillah”, alias sedang meminta infak/sodaqoh.

Lulu bersiap mengeluarkan dompet untuk membayar tanda masuk. Di depan masjid memang terpampang papan bertuliskan tarif masuk masjid.

Tidak perlu bayar Lulu. Kami kan mau shalat. Itu khusus untuk turis yang ingin melihat-lihat masjid”, jelas suami saya. Dan tanpa menunggu jawabannya kami segera memasuki lokasi. Lulu hanya bengong sebentar kemudian berbalik meninggalkan kami.

Tapi tak lama kemudian, dengan bahasa isyarat seorang lelaki mengatakan bahwa tempat akhwat/perempuan shalat bukan di situ. Kami segera keluar lagi dan  mengikutinya menuju tempat yang dimaksud, yang lumayan jauh dari lokasi  utama.

Tempat shalat bagian perempuan tersebut rupanya adalah sebuah apartemen tingkat 2 sederhana yang sudah di sulap menjadi musola. Tempat wudhu terletak di lantai dasar, sedangkan ruang shalat berada di lantai di atasnya. Terdengar suara dzikir dan shalawat  dari pengeras suara yang terpasang di ruangan berukuran sekitar 6×6 meter tersebut. Sebuah layar televise kecil terlihat di  dinding depannya. Rupanya layar tersebutlah yang menjadi penghubung dengan masjid.  Tak tampak gambar apapun di layar tersebut, mungkin karena waktu Zuhur belum tiba.

Saya melihat hanya ada sekitar 4 muslimah di dalamnya. Tapi setengah jam kemudian setelah saya selesai shalat Tahiyatul masjid, dzikir dan berdoa separuh ruangan telah terisi. Waktu terus berlalu, saya mulai gelisah karena tanda-tanda shalat Jumat belum juga terlihat. Akhirnya dengan alasan perempuan tidak wajib menunaikan shalat tersebut saya memutuskan untuk keluar ruangan.

20170428_13292520170428_133129Alhamdulillah sebelum keluar saya sempat membagikan dulu jilbab yang sengaja saya bawa dari tanah air kepada beberapa ibu yang ada di barisan belakang. Juga  mukena berbordir cantik dari Padang yang tadi saya kenakan. Dengan bahasa isyarat saya katakan bahwa saya dari Indonesia dan hadiah saya berikan sebagai tanda ukhuwah. Mereka tampak terkejut tapi dengan senang mereka menerimanya. Sungguh bahagia hati ini melihat ekspresi dan tanggapan mereka.

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari).

Selanjutnya saya segera menuju masjid utama. Tampak orang berbondong-bondong memasukinya, termasuk juga beberapa orang perempuan. Sayapun nekad masuk bersama mereka.

20170428_13540620170428_13385020170428_13380820170428_134303Masya Allah, ternyata masjid Agung Xian ini menempati area yang cukup luas, menurut info yang saya dapat, sekitar 12.000 – 13.000 m2. Sementara luas masjid utama yang khusus digunakan untuk shalat sekitar 6.000 m2.  Bangunan mirip rumah ibadah Cina, klenteng, ini terletak di ujung lokasi. Komplek masjid ini mempunyai beberapa pendopo dan gapura ber-arsitektur khas Cina, dengan hiasan kaligrafi di sana-sini. Sangat menarik dan unik.

20170428_14070220170428_13474520170428_13551020170428_134140Masjid Agung Xi’an yang dibangun pada tahun 742 M pada masa kekuasaan dinasti Tang (618-907) ini meski sudah berusia sangat tua masih terlihat terawat dan masih berfungsi dengan baik. Pada tahun 1998 pemerintah bahkan menetapkan kompleks masjid Xian sebagai warisan Sejarah China.

20170428_13293920170428_13514320170428_134308Saya sempat ngobrol dengan ibu muda yang tadi juga berada di masjid bagian perempuan. Ia bersama putri kecilnya juga sedang menunggu suaminya shalat Jumat. Perempuan muda asli Cina ini rupanya seorang turis lokal. Masjid Agung Xi’an memang bukan hanya tujuan wisata luar negri, tapi juga dalam negri.

20170428_14100420170428_13442620170428_14020820170428_134020Menjelang waktu shalat tiba, makin banyak jamaah berbondong-bondong datang. Sungguh tak menyangka wajah-wajah bermata sipit tua maupun muda, dengan berbagai penampilan, mulai dari yang ber-jas rapi hingga yang hanya ber-kaos oblong plus tangan bertato, mereka adalah saudara seiman kita. Allahu Akbar …

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.( Terjemah QS. Al-Jumuah (62):9).

20170428_14195020170428_14330920170428_131954Tak urung merinding hati ini mendengar shalawat, dzikir dan adzan berkumandang dengan nada yang tidak biasa, terdengar di negri Tirai Bambu ini. Bahagia rasanya bisa menjadi salah satu saksi shalat Jumat dengan jamaah yang membludak hingga ke luar masjid, meski sayang tidak rapat shaftnya.

Usai shalat kami segera menuju tempat rendez-vous dengan Lulu. Kami melanjutkan kunjungan “wajib” ke Pagoda yang terdiri dari kuil dan patung Budha terbesar di Xian bahkan Cina. Diteruskan dengan makan malam meski sebenarnya masih sore, di sebuah restoran halal tidak jauh dari lokasi. Tampaknya Lulu ingin cepat menyelesaikan tugasnya dan cepat istirahat. Hmm apa boleh buat. Selanjutnya kami di antar pulang ke hotel untuk acara bebas. Kami hanya memanfaatkan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Keesokan paginya kami mengunjungi Musium Terracota yang merupakan wisata utama kota ini. Adalah sejumlah petani yang ketika itu sedang menggali tanah dan secara tidak sengaja menemukan ribuan patung kuda dan prajurit terbuat dari tanah liat, dengan ukuran sebesar aslinya, dengan tinggi rata-rata 1,8 meter.

Peristiwa tersebut terjadi pada Maret 1974, sekitar 1,6 kilometer dari makam Kaisar Qin Shi Huang yang terletak di Gunung Li Shian, sebelah utara kota Xian. Maka sejak itu proses penggalianpun terus dilakukan hingga hari ini. Penggalian tersebut merupakan lokasi penggalian arkeologi terbesar di Cina.

Selanjutnya pemerintah membangun semacam hangar pesawat raksasa di lokasi temuan spektakuler tersebut, dan menjadikannya sebagai Musium dengan nama Terracota Warrior and Horses, yang dibuka secara resmi pada tahun 1979. Musium ini dibagi menjadi tiga seksi.

20170429_10174520170429_10171520170429_11030420170429_105800Seksi pertama merupakan yang paling besar. Ada sekitar 8.000 patung prajurit dan kuda Terracotta, namun hanya sekitar 2.000 patung yang dipamerkan. Hebatnya tiap patung tersebut mempunyai ekspresi wajah dan posisi kucir rambut yang berbeda-beda. Ada yang kucir kiri, ada yang kanan dan ada yang di tengah. Masing-masing memiliki arti dan maksud tersendiri.

Seksi dua dan seksi tiga hingga kini masih dalam tahap penggalian. Kabarnya penggalian yang sekarang ini dilakukan baru 1 % dari perkiraan seluruh galian. Selain patung prajurit dengan berbagai posisi, sebagian besar tidak ada bagian kepalanya, kuda dan kereta kuda juga ditemukan berbagai senjata perang.

20170429_11241720170429_11244020170429_110134Menurut Lulu, aslinya kuda-kuda dan prajurit Terracotta tersebut tersusun pada posisi dan barisan tertentu di bawah atap sebuah bangunan. Semua dikubur menjadi satu. Namun ketika ditemukan hampir semua atapnya sudah rusak. Sementara dari sekian ribu patung yang ditemukan, hanya 1 patung prajurit yang masih utuh, bahkan warnanyapun masih relative jelas.

kaisar QinshihuangAkan halnya kaisar Qin Shi Huang, ia adalah kaisar pendiri dinasti Qin. Ia menjadi kaisar ketika usianya baru 13 tahun. Pada usia 38 tahun sang kaisar muda berhasil mempersatukan Cina, yaitu pada tahun 221 SM. Qin selain dikenal sangat berjasa dalam membangun peradaban Cina, juga dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam.

Ia pernah mengubur hidup-hidup 460 sarjana hanya karena mereka menyimpan buku filsafat yang harusnya dibakar dan dilarang untuk dimiliki rakyat. Qin ini pulalah yang memerintahkan pembangunan tembok besar Cina sepanjang 3000 km yang banyak memakan korban.( Ada yang mengatakan hanya melanjutkan pembangunan). Kabarnya karena tidak sempat diurus dengan baik, para korban tersebut dijebloskan begitu saja ke dalam tembok yang sedang dibangun itu.

20170429_11273820170429_11382920170429_112822Qin wafat pada usia 50 tahun, setelah sebelumnya mempersiapkan kematiannya dengan cara memerintahkan pembuatan ribuan patung prajurit dan ksatria lengkap dengan kereta kuda dan senjatanya, demi menemani dan menjaganya di alam kubur. Serta sebagai persiapan untuk menyambut kehidupan baru setelah kematiannya. Selain juga sebagai tanda untuk menunjukkan kejayaan sekaligus penghormatan terhadap pasukannya yang telah berjasa membantunya dalam menyatukan Cina. Hebatnya lagi patung-patung tersebut diatur sedemikian rupa hingga menyerupai pasukan yang sedang menjaga istana kekaisaran.

( Bersambung).