Feeds:
Posts
Comments

Keutamaan Ibadah Abu Bakar.

Selain dikenal sebagai orang yang sangat dermawan Abu Bakar ra juga dikenal sebagai seorang yang tawakal.  Dalam sebuah kisah disebutkan bagaimana Umar bin Khattabra  terpaksa mengakui keunggulan sahabatnya itu.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Umar bin Khathab . Ia berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku. Rasulullah  bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?‘ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini.’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah  bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?‘ Abu Bakar menjawab, ‘Aku telah menyisakan Allah dan Rasulullah  bagi mereka.’ Aku (Umar) berkata, “Demi Alloh, aku tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.“

Demikian pula dalam beramal ibadah, Abu Bakar selalu unggul. Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Aku”. Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” Maka Abu Bakar berkata, “Aku”. Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Maka Abu Bakar berkata, “Aku”. Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali berkata, “Aku”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang kecuali dia pasti akan masuk surga.” (HR.Muslim, no.1028).

Ketika Rasulullah sakit keras beliau saw meminta Aisyah menyampaikan pesan kepada ayahnya, Abu Bakar, agar menggantikan Rasulullah memjadi imam shalat selama beliau sakit. Beberapa hari kemudian, ketika Rasulullah merasa kondisinya membaik, dengan dibopong  Ali bin Abi Thalib dan al-Fadhl bin Abbas, menuju ke masjid untuk mengerjakan Shalat Shubuh. Mengira Rasulullah sudah sembuh, para sahabat menyambut dengan gembira.

Abu Bakar yang ketika itu sudah berada di posisi imam segera bersiap mundur untuk memberikan tempat pada Rasulullah. Namun Rasulullah menepukkan tangannya di pundak sahabatnya itu dan memintanya melanjutkan posisi sebagai imam. Ternyata shalat tersebut menjadi shalat terakhir Rasulullah bersama para sahabat.

Menjadi Khalifah.

Ketika Rasulullah saw meninggal dunia, para sahabat sangat berduka sekaligus kebingungan siapa yang paling pantas menggantikan Rasulullah untuk memimpin umat yang baru seumur jagung tersebut.        

“Wahai kaum Anshar, ingat kalian tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin shalat kaum Muslimin, siapakah di antara kalian yang rela untuk melangkahi Abu Bakar? Maka orang-orang Anshar pun menjawab: Kita berlindung kepada Allah dari melangkahi Abu Bakar”. (HR.Ahmad, 1:282)

Maka sejak itulah Abu Bakar ra dibaiat menjadi khalifah. Berkat pidatonya yang menyejukkan pada saat pelantikan Abu Bakar ia berhasil menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar yang sempat berselisih dalam hal penetuan pengganti Rasulullah. Berikut isi pidato tersebut,

Wahai saudara-saudara, sesungguhnya aku telah kalian percayakan untuk memangku jabatan khalifah, padahal aku bukanlah yang paling baik di antara kalian. Sebaliknya, kalau aku salah, luruskanlah langkahku. Kebenaran adalah kepercayaan, dan dusta adalah penghianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat dalam pandanganku, sesudah hak-haknya aku aku berikan kepadanya. Sebaliknya, orang yang kuat di antara kalian aku anggap lemah setelah haknya aku ambil. Bila ada yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menghinakannya. Bila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah aku selama aku masih taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi selama aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, gugurlah kesetiaan kalian kepadaku. Laksanakanlah shalat, Allah akan memberikanmu rahmat”.

Hal pertama yang dilakukan Abu Bakar begitu diangkat menjadi khalifah adalah melanjutkan pengiriman pasukan dibawah Usamah bin Zaid menuju Syam yang ketika itu berada dibawah dominasi Bizantium/Rumawi Timur. Ini dilakukan semata karena Abu Bakar tidak mau membatalkan apa yang diinginkan dan telah diniatkan Rasulullah saw, yaitu menunjukkan keberadaan dan kekuatan Islam. Rasulullahlah yang menunjuk langsung Usamah bin Zaid yang ketika itu baru berusia 19 tahun untuk memimpin pasukan ke Syam. Namun di perbatasan keluar Madinah Usamah mendapat kabar bahwa Rasulullah wafat. Usamahpun berhenti untuk menunggu perintah selanjutnya.    

Para sahabat sempat tidak menyetujui pengiriman tersebut karena begitu Rasulullah wafat terjadi berbagai kekacauan. Mulai dari kabilah-kabilah yang tidak mau membayar zakat, pemurtadan hingga munculnya nabi-nabi palsu. Mereka khawatir Madinah akan diserang dari dalam. Namun Abu Bakar tetap pada pendiriannya.

Demi Zat yang jiwa Abu Bakar berada di tangan-Nya! Sekiranya aku yakin ada binatang buas yang akan menerkamku, sungguh aku akan tetap melaksanakan pengiriman pasukan Usamah seperti yang diperintahkan Rasulullah SAW. Seandainya tidak tersisa di negeri ini selain diriku, sungguh aku tetap akan melaksanakan perintah itu”, demikian ia berpidato.

Abu Bakar bahkan melepas sendiri Usamah dengan berjalan kaki, sementara Usamah berada di atas punggung unta. Hal itu merupakan bentuk penghormatan kepada Rasulullah yang telah menunjuk Usamah sebagai panglima perang. Sebelum melepaskan Usamah dan pasukannya yang berkekuatan 3000 prajurit, Abu Bakar menyampaikan pidato yang sangat menarik, “Berperanglah dengan nama Allah dan di jalan Allah. Jangan berkhianat, jangan melanggar janji, jangan memotong-motong tubuh mayat. Jangan membunuh anak kecil, orang lanjut usia dan perempuan. Jangan menebang pohon, jangan merusak dan membakar pohon kurma. Jangan menyembelih kibas atau unta kecuali untuk dimakan. Kalian akan melewati suatu kaum yang berdiam di biara-biara, biarkan mereka. Perangi orang yang memerangi kalian dan berdamailah dengan orang yang berdamai dengan kalian”.

Selanjutnya untuk mengatasi pembrontakan yang terjadi, kebalikan dari Umar bin Khattab yang sebelum memeluk Islam keras sikapnya kemudian menjadi lembut setelah memeluk Islam. Maka  Abu Bakar yang sebelumnya dikenal sabar dan lembut, sebagai khalifah ia dengan tegas mengirimkan pasukannya untuk mengatasi berbagai permasalan yang timbul.  Orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat segera diperangi, hingga mereka mau melaksanakan kewajiban tersebut.

Sementara untuk memberantas kemurtadan yang dipimpin nabi palsu Musailamah al-Kadzab dari Yamamah dan Tulaihah bin Khuwailid dari Yaman, Abu Bakar mengirimkan pasukan dibawah panglima Khalid bin Walid untuk memerangi mereka. Hingga setelah kedua nabi palsu tersebut berhasil dikalahkan para pengikutnyapun kembali memeluk Islam.

Namun peperangan tersebut tak urung memakan korban yang sangat banyak.  Sebanyak 1.200 orang 39 diantaranya sahabat besar dan penghafal Al-Qur’an syahid. Hal inilah yang menjadi pemicu dihimpunkannya Al-Quran.

Aku khawatir di tempat-tempat lain akan bertambah banyak penghafal Al-Qur’an yang akan terbunuh sehingga Al-Qur’an akan banyak yang hilang, kecuali jika kita himpun. Aku ingin mengusulkan supaya Al-Qur’an dihimpun,” kata Umar bin Khattab kepada Abu Bakar.

Abu Bakar tidak langsung menyetujui sahabatnya tersebut. Ia berpikir bagaimana mungkin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw. Namun setelah berdiskusi dengan para sahabat, akhirnya Abu Bakar sepakat dengan usulan tersebut. Lalu ia mengangkat Zaid bin Tsabit sebagai ketua pelaksana penghimpunan Al-Qur’an. Proses penghimpunan atau kodifikasi Al-Qur’an terus berlanjut pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dan disempurnakan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Abu Bakar menjadi khalifah memang hanya dalam waktu yang sangat singkat yaitu hanya dua tahun tiga bulan. Namun demikian ia berhasil menyebar-luaskan ajaran Islam hingga ke Persia dan sebagian Syam. Tanah Syam secara keseluruhan baru berhasil dibebaskan dari penyembahan kepada selain Allah Azza wa Jala pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Khalifah Abu Bakar menyiapkan rencana-rencana perluasan wilayah Islam setelah berhasil mengatasi persoalan-persoalan dalam negeri.

Wafatnya Sang Khalifah.

Abu Bakar wafat pada Senin malam, 21 Jumadil Akhir tahun ke-13 H (634 M). Ia meninggal di usia yang sama dengan Rasulullah saw  yaitu 63 tahun. Abu Bakar Sang Khalifah Pertama, menghembuskan nafasnya setelah mengalami demam beberapa hari. Ia dimakamkan pada malam hari itu juga disamping makam Rasulullah saw. Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat agar dikafani dengan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari dan dimandikan oleh istrinya, Asma binti Umais, dan anaknya, Abdur Rahman.

Adalah Aisyah yang mendampingi Abu Bakar di akhir-akhir hidupnya.   Abu Bakar meminta agar putrinya itu menyerahkan seorang hamba sahaya, seekor unta penyiram tanaman, seekor unta penghasil susu, sepotong kain dan wadah untuk mencelup makanan kepada Umar bin Khattab ketika dirinya wafat. Segera Aisyahpun menjalankan amanat tersebut begitu ayahandanya tercinta wafat.   

Di akhir hayatnya demi masa depan umat Islam, Abu Bakar masih sempat memikirkan siapa yang paling pantas menggantikan dirinya. Maka setelah berdiskusi dengan sahabat-sahabat besar, Abu Bakar berwasiat bahwa Umar bin Khattab adalah orang yang paling tepat. Abu Bakar juga sempat berwasiat agar uang yang diterimanya selama menjabat sebagai khalifah dikembalikan ke Baitul Maal.

Alangkah indah dan mulianya perjalanan hidup Abu Bakar sang khalifah sang kekasih. Sungguh amat sangat pantas mengapa Rasulullah menyebutnya sebagai satu dari  sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Semoga umat Islam terutama para pemimpinnya mampu menjadikannya contoh keteladan, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta,   6 September 2024.

Vien AM.    

Sumber: https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/biografi-abu-bakar-menjadi-khalifah-hingga-wafat-kyVPb

Sumber https://rumaysho.com/26450-syarhus-sunnah-keutamaan-abu-bakar-ash-shiddiq.html

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang sahabat terdekat Rasulullah saw yang memeluk Islam pada awal ke-Islam-an (Assabiqunal awwalun) dan termasuk satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga ((Asratul Kiraam) berdasarkan hadist berikut :

“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Silsilah Keluarga.

Nama lengkap Abu Bakar adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah saw pada kakeknya yaitu Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Ibu Abu Bakar, ummu al-Khair Salma, seperti ayah Abu Bakar, juga berasal dari kabilah bani Taim.

Masa muda dan perkenalannya dengan Muhammad muda.

Abu Bakar lahir di Makkah tahun 573 M, sekitar 2-3 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang sukses dan dikenal sebagai orang yang jujur dan amanah. Beberapa catatan sejarawan Islam  bahkan mengatakan Abu Bakar juga adalah seorang hakim dengan kedudukan tinggi.

Abu Bakar mengenal Muhammad muda yang ketika itu telah menjadi pedagang yang sukses dan kemudian menikahi Khadijah yang merupakan tetangga Abu Bakar. Ketika itu Rasulullah berusia 25 tahun. Sejak itu mereka sering bertemu dan berteman baik.

Masuk Islamnya Abu Bakar.

Di usianya yang ke 37 tahun, begitu mendengar sahabatnya itu menerima wahyu dan menyatakan bahwa Allah swt telah mengangkatnya sebagai salah seorang Rasul, tanpa ragu Abu Bakarpun langsung mengimaninya. Rasulullah kemudian mengganti nama asli Abu Bakar yang tadinya Abdul Ka’bah yang artinya “hamba Ka’bah” menjadi Abdullah yang artinya ‘hamba Allah”. Dan sejak itulah, Abu Bakar selalu setia mendampingi Rasulullah saw. Iapun membenarkan dan melakukan segala apa yang disabdakan dan dicontohkan Rasulullah.

Dengan penuh keyakinan dan semangat Abu Bakar kemudian mengajak teman-teman dekatnya diantaranya adalah Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqas untuk memeluk Islam. Ajakannya tersebut diterima dengan baik bahkan di kemudian hari teman-temannya tersebut menjadi tokoh penting dalam Islam. Contohnya Utsman bin Affan yang menjadi khalifah ke 3 setelah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Sayangnya salah seorang stri dan seorang anak Abu Bakar tidak mau mendengar ajakannya hingga Abu Bakar terpaksa menceraikannya dan berpisah dengan keduanya.

Abu Bakar dengan hartanya yang berlimpah  juga dikenal sering sekali membebaskan dan menebus para budak Muslim yang disiksa tuannya karena keislamannya. Diantaranya adalah Bilal sang Muadzin. 

Paska peristiwa Isra Mi’raj di tahun ke 10  kenabian, sebagian orang yang telah menyatakan Islam tetapi dengan keimanan yang masih lemah, menjadi murtad. Mereka merasa dibohongi karena perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsho di Palestina di masa itu, tidak mungkin dilakukan dalam 1 malam. Apalagi untuk pulang pergi. Merekapun mentertawakan dan melecehkan Rasulullah.

Namun tidak demikian dengan Abu Bakar. Ketika orang-orang menanyainya apakah ia mempercayainya, dengan tenang ia menjawab, “ Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang”. Untuk itu Rasulullah kemudian memberinya gelar As-Shiddiq yang artinya Pembenar Kebenaran ( jujur).

Abu Bakar Al-Muzani , seorang ulama besar dari kalangan tabi’in, berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, “Tidaklah Abu Bakar itu melampaui batas bagi sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hati.”

Hijrah menemani Rasulullah saw.

Selanjutnya pada persiapan hijah ke Madinah, yaitu pada tahun ke 12 kenabian, secara khusus Rasulullah datang ke rumah Abu Bakar dan memintanya untuk menemani berhijrah.  Abu Bakarpun segera menyanggupi dan menyiapkan 2 unta terbaiknya. Maka pada malam  hari itu bersama Rasulullah Abu Bakar secara diam-diam meninggalkan Mekah melalui jalan berputar yang tidak biasa dilakukan orang. Tujuannya untuk mengecoh orang yang ingin menangkap Rasulullah. Mereka harus extra hati-hati karena penguasa Makkah membuat sayembara siapapun yang bisa menyerahkan Rasulullah dalam keadaan hidup atau mati akan diganjar dengan seratus ekor unta!

Untuk itu Abu Bakar tak lupa menyuruh putranya, Abdullah, untuk mengawasi dan melaporkan pergerakan orang-orang Quraisy di Mekah. Abdullah juga ditugasi untuk mengantar makanan yang disiapkan dua putri Abu Bakar yaitu Asma’ dan Aisyah. Sementara Amir bin Fuhaira, pembantu setianya, bertugas menghapus jejak Abdullah dengan berpura-pura menggembalakan ternak. Selama 3 malam keduanya bersembunyi di sebuah gua kecil di bukit Tsur, di sisi timur kota Makkah.

Ayat 40 surat At-Taubah mengabadikan peristiwa menegangkan tersebut sebagai berikut, Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Dua orang yang dimaksud pada ayat diatas tak lain adalah Rasulullah saw dan Abu Bakar ra yang ketika itu sedang bersembunyi di dalam gua. Mereka dikejar oleh orang-orang Quraisy hingga di gua tempat keduanya bersembunyi. Dari persembunyiannya itulah Abu Bakar melihat kaki orang-orang Qurasy tersebut hingga berkata “Wahai Rasulullah, sekiranya mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti akan melihat kita”. Namun dengan tenang Rasulullah menjawab: “Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira bahwa kita ini hanya berdua; ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita”.

Sedangkan yang dimaksud tentara yang tidak terlihat pada ayat diatas adalah sarang laba-laba yang menutupi gua dan seekor burung Merpati yang mengerami telurnya persis di mulut gua, tak lama setelah keduanya memasuki gua. Inilah yang menyebabkan orang-orang Quraisy tersebut mengurungkan niatnya untuk memeriksa isi gua.

Pada peristiwa Hijrah tersebut Rasulullah juga dapat merasakan kecintaan Abu Bakar yang amat sangat terhadap diri beliau. Ketika Rasulullah tertidur di atas pangkuan Abu Bakar seekor ular berbisa datang hendak memasuki gua. Abu Bakar melihatnya namun tidak tega membangunkan Rasulullah. Ia segera menjulurkan kakinya di mulut gua dengan maksud menghalangi ular tersebut masuk gua.

Ular tersebut memang tidak jadi masuk gua namun ia mengigit kaki Abu Bakar. Abu Bakar tidak bergerak seraya menahan sakitnya gigitan tersebut. Namun tak urung air matanya menetes dan menjatuhi Rasulullah yang kemudian terbangun.

“Apakah engkau sudah tidak tahan bersamaku?“, tanya Rasulullah terkejut mendapati sahabatnya menangis. “Bukan begitu ya Rasulullah tapi gigitan ular telah membuat kakiku bengkak dan tubuhku serasa sakit”, jawab Abu Bakar.

Segera Rasulullahpun meludahkan air liurnya ke kaki Abu Bakar yang digit ular sambil mendoakannya. Maka seketika itu pula kakinya yang membengkak menjadi kempes dan rasa sakitnyapun hilang.

“Sekiranya aku diijinkan oleh Allah untuk menjadikan seseorang sebagai khalil (kekasih), niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku (kekasihku), akan tetapi ia adalah saudara dan sahabatku, sedangkan Allah yang menjadikan sahabat kalian ini (diriku) sebagai khalilnya”. (HR. Bukhari, no. 3656 dan Muslim, no. 2383).

( Bersambung).

Sembilan setengah bulan sudah Gaza tercabik-cabik. Lebih dari 38.000 orang syahid ( bahkan sumber lain melaporkan lebih dari 180.000) mayoritas perempuan dan anak–anak, puluhan ribu bangunan hancur lebur termasuk sekolah, rumah sakit, masjid dan rumah penduduk.

Netanyahu PM Israel dengan sesumbar menyatakan tidak akan berhenti menggempur Gaza meski dunia memprotesnya, hingga HAMAS dapat dilumpuhkan. Zionis Israel sejak lama memang sangat geram kepada HAMAS yang pantang menyerah dan terus melawan penjajahan Israel.

Seperti kita ketahui pada 1948, Israel nekad memproklamirkan diri. Ini tak lepas dari keputusan PBB pada 1947 yang mengeluarkan resolusi yang sama sekali tidak adil, yaitu memberikan 55% tanah Palestina dimana di dalamnya berdiri kota-kota dan pelabuhan penting kepada Israel. Padahal ketika itu kaum Yahudi di tanah tersebut hanya sepertiga dari total populasi dan tanah kurang dari enam persen.  

Palestina tentu saja menolak dan mengadakan perlawanan hingga pecah perang 6 hari antara Negara-negara Arab dan Israel. Sayangnya paska perang, Israel justru berhasil merebut wilayah Palestina hingga menjadi 70 %!  Akibatnya rakyat Palestina terpaksa meninggalkan rumah dan tanah air mereka tercinta. Peristiwa yang mengakibatkan sekitar 13.000 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 750.000 terusir dan menjadi pengungsi tersebut dikemudian hari diperingati sebagai peristiwa Nakba yang artinya bencana. 

Hari demi hari berlalu penuh penderitaan. Penjajah Israel memperlakukan rakyat Palestina dengan semena-mena. Perampasan rumah, tanah, kebun terus saja terjadi. Rakyat Palestina tidak diberi berbagai hak seperti pekerjaan, kebebasan berkumpul dan bersuara. Tentara penjajah seenaknya menangkapi, memenjarakan bahkan menembak mati siapapun yang dianggap melawan.

Hingga pada tahun 1950 berdirilah gerakan Fatah, yang artinya Gerakan Nasional Pembebasan Palestina. Gerakan sekuler ini didirikan di Kuwait oleh pendiri PLO ( Organisasi Pembebasan Palestina) mendiang Yasser Arafat dan kawan-kawan, dengan tujuan membebaskan Palestina dari penjajahan Israel, secara militer, pada awalnya.  

Selanjutnya pada tahun 1987 kekecewaan dan kemarahan rakyat Palestina memuncak karena sikap penjajah yang makin semena-mena.  Dengan hanya bermodalkan senjata batu dan kerikil, sebagaimana burung Ababil yang menyerang pasukan Abrahah yang berkendaraan gajah, para pemuda Palestina nekad melakukan perlawanan terhadap penjajah Israel. Perlawanan  ini dinamakan gerakan Intifada.

Tak lama kemudian dibawah pimpinan Syeikh Ahmad Yassin dan teman-teman, lahir gerakan berideologi Islam bernama HAMAS. Kelompok yang bertekad merebut kemerdekaan secara bersenjata ini didukung rakyat Palestina. HAMAS adalah singkatan bahasa Arab yang artinya adalah Gerakan Perlawanan Islam.

Sementara itu untuk meredam kekecewaan rakyat, pada 1988, Fatah dibawah bendera PLO, memproklamirkan kemerdekaan negara Palestina dengan Yasser Arafat sebagai presiden. Sayangnya pada 1990-an, Fatah secara resmi menanggalkan perlawanan bersenjatanya.  Organisasai ini memilih jalan damai dengan mendukung Resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan untuk membangun negara Palestina sesuai perjanjian perbatasan tahun 1967 (Tepi Barat  dan Gaza sebagai milik Palestina dengan Jerusalem Timur sebagai ibukota) berdampingan dengan Israel. Sesuatu yang tidak diinginkan rakyat. Selain itu rakyat juga melihat banyak keboborokan dalam tubuh Fatah. Diantaranya adalah korupsi yang semakin merajela.  

Maka tak heran ketika pada 2006 diadakan pemilu, Hamas berhasil mengalahkan Fatah. Barat dibawah Amerika Serikat yang memang selalu mendukung Israelpun berang. Mereka tidak mengakui hasil pemilu bahkan memberikan cap Hamas sebagai kelompok teroris. Akhirnya Hamas hanya meguasai Gaza. Sementara Fatah tetap berkuasa di Tepi Barat.     

https://international.sindonews.com/read/1238793/45/mengenal-perbedaan-hamas-dan-fatah-dari-sejarah-hingga-cara-perjuangan-bagi-palestina-1698653459/22

Selanjutnya ketegangan antara Hamas dan Israel terus terjadi hingga detik ini. Artinya genosida terhadap Gaza yang dilakukan Israel saat ini dengan alasan membalas serangan HAMAS pada Oktober 2023 sejatinya hanyalah mengada-ada. Buktinya Tepi Barat yang sejak lama selalu mengalami penindasan hari inipun tak luput dari sasaran kebengisan tentara Israel. Mereka juga menghancurkan situs-situs penting di Tepi Barat bahkan di Jerusalem.

Sungguh tidak masuk akal Netanyahu yang sesumbar tidak akan menghentikan perang melawan Hamas sampai Hamas lenyap.  Hamas adalah pejuang Palestina bersenjata yang berjuang keras mendapatkan kemerdekaan negaranya lepas dari penjajahan Israel dalam bentuk apapun. Israel tahu persis hanya dengam mengenyahkan Hamas maka Palestina secara keseluruhan akan dapat direbutnya, termasuk kompleks Masjidil Aqsho di Jerusalem Timur, yang sejatinya memang adalah tujuan utama Israel menjajah tanah Palestina.    

Beberapa waktu lalu Netanyahu dengan lugunya menyatakan bahwa ia dan kaumnya berjuang mendapatkan haknya sebagai pemilik tanah Palestina karena Tuhannya. Benarkah demikian??? Apakah ia yakin Tuhannya meridhoi cara mereka yang secara brutal membombardir dan membunuh warga Gaza seenaknya seolah binatang tak berharga??

Bagaimana dengan ayat 24 surat Al-Maidah yang secara terang benderang menerangkan penolakan orang-orang Yahudi atas perintah nabinya untuk memasuki Baitul Maqdis??

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” ( Terjemah QS.Al-Maidah(5):24).

Dan juga banyak ayat Al-Quran yang berisi kutukan Alah swt kepada  Israil yang selalu melawan perintah Tuhannya.  Jika nabi dan rasul saja berani mereka membunuhnya apatah penduduk Palestina. Sejarah juga mencatat berapa banyaknya orang di dunia ini yang tampaknya tidak menyukai orang Yahudi. Antisemit dan Nazi adalah contoh yang paling mudah. Di masa awal kedatangan Islam di Madinahpun orang-orang Yahudi selalu membuat kekacauan.  Mereka juga berusaha membunuh Rasulullah Muhammad saw.

Tak heran bila saat ini tak satupun peringatan dunia agar segera menghentikan genosida mereka tak mau mendengarnya. Genjatan senjata selalu gagal. Demikian pula Amerika Serikat sekutu terdekat Israel yang selalu menggunakan vetonya untuk menggagalkan genjatan senjata. Juga negara-negara yang selama ini mengampanyekan keadilan,  ketertiban dan juga bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa, hanya diam menyaksikan kekejian terjadi di depan mata. Bahkan ikut memasok senjata yang tidak jarang adalah senjata yang secara resmi dilarang digunakan, fosfor putih contohnya. 

https://www.hrw.org/id/news/2023/10/17/israel-white-phosphorus-used-gaza-lebanon

Namun yang lebih parah lagi adalah prilaku Negara-negara Muslim dan Negara yang mayoritas berpenduduk Muslim, termasuk Negara kita tercinta Indonesia. Indonesia yang secara resmi mendukung kemerdekaan Palestina dan tidak mempunyai hubungan politik maupun dagang dengan Israel ternyata diam-diam melakukan berbagai hubungan seperti perdagangan dan pariwisata. Yang ironisnya bahkan meningkat tajam pada 2024 ini.

https://www.cnbcindonesia.com/research/20240621075021-128-548018/diam-diam-ri-impor-deretan-barang-ini-dari-israel-apa-saja

Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”. Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?”. Beliau menjawab: “Tidak, bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian buih, seperti buih di lautan. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian”. Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”. Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian.” (HR. Abu Dawud no. 4297)

Kabar terakhir masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kabar tentang 5 orang tokoh NU, ormas islam terbesar di Indonesia,  yang pergi ke Israel untuk menemui presiden Israel. Apa maksudnya?? Beruntung ketua PBNU segera meresponsnya dengan memberhentikan ke 5 tokoh tersebut. Namun belum rasa terkejut tersebut hilang muncul pula berita bahwa masjid Istiqlal akan menyelenggarakan seminar dengan pembicara direktur Muslim-Jewish Relation American Jewish Committee. Meski kemudian  Nasaruddin Umar, imam besar Masjid Istiqlal, tidak mengakuinya.

Rakyat Palestina benar-benar hanya bergantung pada Tuhannya tidak peduli bahkan ketika seluruh isi dunia termasuk Negara-negara Islam tetangganya tidak mau membantu mereka. Juga ketika sebagian umat Islam shalat Subuh membaca Qunut tapi tidak mendoakan rakyat Palestina. Dan ternyata justru orang-orang Syiah seperti Iran dan Yaman yang berani melawan penjajah Israel, apapun alasannya. Dan kini malah Cina yang berhasil mempersatukan faksi-faksi Palestina yang selama ini sulit bersatu.     

Perjuangan, pengorbanan dan penderitaan rakyat Palestina sungguh sangat berat. Ribuan orang disiksa di penjara-penjara Israel secara sadis seperti yang dialami para sahabat seperti Bilal dll di masa kenabian. Para pejuang terus berjuang mati-matian agar tanah Palestina dimana Masjidil Aqsho berdiri tetap berada dibawah penjagaan kaum Muslimin. Mereka adalah para mujahidin yang bisa dikatakan tidak kalah hebatnya dengan para mujahidin di zaman Rasulullah saw. Mereka inilah tampaknya yang dimaksud Rasulullah kaum yang beliau banggakan karena tidak pernah bertemu dan melihat beliau tapi tetap beriman dan membuktikan keimannya tersebut.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (Terjemah QS.Al-‘Ankabut(29):2).

Manusia yang paling dasyat ujiannya adalah para Anbiya’ (Nabi dan Rasul) kemudian orang-orang serupa lalu orang-orang yang serupa. Seseorang itu diuji menurut ukuran (dalam suatu riwayat kadar) agamanya. Jika agamanya kuat, maka cobaannya pun dashyat. Dan jika agamanya lemah, maka ia diuji menurut agamanya. Maka cobaan akan selalu menimpa seseorang sehingga membiarkannya berjalan di muka bumi, tanpa tertimpa kesalahan lagi”, (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Al-Hakim).

Operasi Badai Al-Aqsa, perang Hamas – Israel yang terjadi sejak Oktober 2023 hingga saat ini masih berlangsung tampaknya bakal mengakibatkan hal positif, yaitu bersatunya Hamas yang berideologi Islam dan Fatah yang nasionalis sekuler. Semoga ini adalah jalan baik menuju kemerdekaan Palestina dengan Jerusalem Timur sebagai ibukotanya. Dan semoga dengan demikian Allah  swt pun meridoinya, amin yaa robba’ alamiin …    

Kabar terakhir, Inggris sekutu dekat Israel setuju dengan genjatan senjata. Bahkan sejumlah Negara Barat seperti Irlandia, Spanyol dan Norwegia mulai mengakui Palestina sebagai Negara. Jerman setuju dengan pernyataan International Criminal Court (ICC) bahwa Netanyahu adalah penjahat perang dan harus diadili. Demikian pula kandidat calon presiden AS yang kabarnya akan menghentikan bantuan kepada Israel bila tidak segera melakukan genjatan senjata. Yaa Allah hanya kepadaMu kami berharap pertolongan …     

Walahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 29 Juli 2024.

Vien AM.

Note.

Dua hari setelah tulisan diatas, pimpinan tertinggi Hamas, Ismail Haniyeh, syahid di atas tempat tidurnya pada sekitar pukul 2.00 pagi di sebuah wisma tamu di Teheran. Haniyeh berada di ibu kota Iran tersebut untuk menghadiri acara pelantikan presiden baru Iran. Ia meninggal setelah sebuah bom yang diselipkan di kamarnya diledakkan dari jarak jauh. Haniyeh tercatat sebagai petinggi Hamas ke 3 yang dibunuh oleh penjajah Israel.

Seolah mengetahui ajalnya telah dekat, dalam pidatonya di depan presiden Iran, mengatakan, “Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dan Allah Maha Mengetahui semua tindakan … Jika seorang pemimpin pergi, yang lain akan muncul'”. Ia menyusul 60 anggota keluarga besarnya yang dibunuh Zionis Israel termasuk 3 putra dan 4 cucunya yang masih kanak-kanak. “Darah anak-anak saya tidak lebih berharga daripada darah anak-anak rakyat Palestina. … Semua martir Palestina adalah anak-anak saya,” ujarnya tegar.

Semoga Allah swt mencatat kematian Haniyeh sebagai syahid sebagaimana syahidnya para pejuang Palestina lainnya. Dan semoga kematiannya menambah semangat rakyat dan para pejuang Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wal jubni wal haromi wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas, rasa takut dan keburukan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).

Hadist di atas mengajarkan bagaimana Rasulullah berdoa memohon kepada Allah swt, agar seorang Mukmin terhindar dari sifat lemah, malas, rasa takut dan keburukan di hari tua serta sifat kikir. Juga agar terhindar dari siksa kubur yang sangat mengerikan serta dari bencana kehidupan dan kematian.

Semua orang pasti akan mengalami ketuaan kecuali Allah swt berkehendak lain. Dan kita semua menyadari bahwa masa tua adalah masa dimana keadaan fisik dan kesehatan sudah banyak berkurang. Tulang sudah mulai  keropos hingga shalat tidak tahan berdiri lama, penglihatan mulai memudar hingga membaca huruf-huruf Al-Quran kurang jelas, daya ingat menurun hingga sulit menghafal ayat-ayat suci Al-Quran apalagi memahaminya, dll. Itu adalah kodrat,

“ … … kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, … … “.( Terjemah QS.Al-Hajj(22):5).

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. ( Terjemah QS.An-Nahl (16):70).

Ayat di atas menyatakan bahwa manusia diwafatkan ada yang dalam usia muda/dewasa namun ada juga yang diberi kesempatan hidup yang saking panjangnya hingga menjadi pikun. Tentu tak satupun orang mau dan ingin menjadi tua dalam keadaan pikun. Namun bila Sang Khalik berkehendak sudah pasti kita tidak akan mampu melawan kehendakNya.  

Lalu apa yang dapat kita lakukan agar ketika kita mengalami hal tersebut kita tetap dapat mendapatkan pahala yang di hari Hisab nanti akan menjadi pemberat timbangan kebajikan kita. Bukankah Allah adalah Zat yang Maha Adil, maka tidak mungkin Ia mendzalimi apalagi melanggar janji-Nya.  

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir).

Hadist di atas secara tegas menyatakan, “Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu”, bahkan di urutan pertama. Ini menunjukkan bahwa ketika tua kita tidak akan mampu beramal ibadah sebaik dan sekuat ketika kita masih muda. Itu sebabnya Allah swt memerintahkan kita untuk mengerjakan amal ibadah sejak muda, tidak menunggu dan menundanya hingga tua, lemah dan sakit-sakitan. Menunaikan ibadah hajinya, contohnya. Rukun Islam ke 5 ini benar-benar membutuhkan tenaga dan kesehatan yang prima. Begitu pula berpuasa.   

Namun karena kasih sayang dan adil-Nya, Allah swt akan tetap menghitung amal kebaikan mereka yang sudah tua dan tidak sanggup lagi mengerjakan amal ibadah, sesuai dengan apa yang biasa mereka kerjakan ketika muda. Tidak sanggup tentu tidak sama dengan malas. Masya Allah … Alangkah beruntungnya orang yang sejak muda senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Namun demikian, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu jangan pernah puas dengan amalan yang kita lakukan. Apalagi bermalas-malasan merasa cukup dengan ibadah wajib saja yang sebenarnya belum tentu ditrima Sang Khalik. Itu sebabnya Rasulullah mengajarkan kita untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah dengan tujuan dapat menambal kekurangan ibadah wajib kita.

Disamping itu, meski umat Islam dijamin masuk surga berkat syahadatnya, namun tetap harus melewati proses yang tidak sedikit. Diantaranya adalah melewati jembatan Shirothol Mustaqim. Jembatan yang membentang di atas neraka ini selain sangat tipis, juga tajam hingga sangat sulit untuk dilewati.

Orang Mukmin (berada) di atasnya (shirâth), ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling terakhir merangkak secara pelan-pelan”. (Muttafaqun ‘alaih).

Itu sebabnya Allah Azza wa Jala memerintahkan umat Islam untuk membaca surat Al-Fatihah pada tiap rakaat shalat kita. Jumhur ulama menafsirkan bahwa ayat 6 dan 7 surat tersebut adalah permohonan agar kita dapat melewati jembatan Shirothol Mustaqim tanpa kesulitan. Shirothol Mustaqim ini bisa dilewati berdasarkan kwalitas amal perbuatan manusia. Ada yang secepat angin namun tidak sedikit yang harus berkali-kali jatuh bangun.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Mereka melewati shiroth sesuai dengan tingkat amalan mereka. Di antara mereka ada cahayanya seperti gunung, ada cahayanya yang seperti pohon, ada cahayanya setinggi orang berdiri, yang paling sedikit cahayanya sebatas menerangi ampu kakinya, sesekali nyala sesekali padam”. ( HR. Ibnu Abi Hâtim dan Ibnu Jarîr).

Hadist diatas menerangkan tentang cahaya yang dimiliki seorang beriman. Cahaya inilah yang akan menyelamatkan kita ketika menyebrangi Shirotol Mustaqin. Inilah salah satu hikmah Allah swt memerintahkan umat Islam untuk berwudhu.

Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudu, maka barangsiapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahaya wajahnya maka lakukanlah” (HR. Bukhari).  

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. ( Terjemah QS.Al-An’am (6):122).

“Dan dibentangkanlah shirâth di atas permukaan neraka Jahannam. Maka aku dan umatku menjadi orang yang pertama kali melewatinya. Dan tiada yang berbicara pada saat itu kecuali para rasul. Dan doa para rasul pada saat itu: “Ya Allâh, selamatkanlah, selamatkanlah……di antara mereka ada yang tertinggal dengan sebab amalannya dan di antara mereka ada yang dibalasi sampai ia selamat”. [HR. Muslim].

Akhir kata semoga kita dapat mengamalkan doa Rasulullah saw diatas. Memanfaatkan waktu muda dan sehat kita dengan sebaik-baiknya, hingga ketika kita tua dan tidak lagi sanggup melakukannya, Allah swt akan tetap mencatatnya seperti ketika kita muda, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Juli 2024.

Vien AM.

Referensi:

https://almanhaj.or.id/10712-mengimani-shirath-jembatan-di-atas-neraka-2.html

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan, sesungguhnya, pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):185).

Tidak sedikit ayat suci A-Quranul Karim yang menerangkan bahwa semua orang pasti akan mati. Hanya saja kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan meninggal. Keyakinan ini tidak saja dimiliki oleh orang beriman semata tapi juga orang kafir. Bahkan orang yang tidak percaya akan adanya Tuhanpun meyakini hal tersebut.

Namun bagi orang beriman kematian tidak dapat dianggap sepele. Karena kematian sejatinya adalah awal kehidupan yang sesungguhnya. Kematian adalah gerbang kehidupan akhirat yang jauh lebih kekal dibanding kehidupan dunia.

Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).

Sayangnya, kehidupan akhirat hanya ada 1 pilihan, yaitu surga atau neraka. Padahal neraka adalah tempat kembali yang sangat mengerikan dan panas tak terhingga, Penghuni neraka akan disiksa dengan siksa sangat pedih. Bahkan penjaganyapun sangat menakutkan.

Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. (Terjemah QS.Az-Zumar( 39):72).

Sedangkan surga adalah tempat kembali yang benar-benar indah dan menyenangkan sebagaimana hadist Qudsi, “Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“ … … Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya“.(Terjemah QS. AZ-Zumar (39:73).

Maka sebagai seorang yang beriman sudah sewajarnya masuk surga adalah cita-cita tertinggi dalam hidup. Meninggal dalam keadaan terbaiknya yaitu husnul khotimah. Untuk itu wajib kita mengetahui caranya, yaitu dengan mempelajari Al-Quranul Karim, As-Sunnah dan tentu saja mengamalnya.

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Setiap orang akan dibangkitkan sesuai kematiannya.” (HR. Muslim).

Para ulama sepakat yang dimaksud hadist diatas adalah wafat sesuai dengan kebiasaannya dan dibangkitkan sesuai kebiasaan tersebut. Artinya agar wafat dalam keadaan husnul khotimah wajib hukumnya agar kita membiasakan diri dengan hal-hal yang baik, baik sesuai pandangan Allah swt tentunya.

Kita semua juga tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Tidak peduli dengan kondisi apakah seorang hamba dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau sedang bermaksiat. Apakah dalam keadaan sakit atau sehat. Apakah masih muda atau sudah tua.

Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan“. (Terjemah QS.Al-Munafiqun(63):11).

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh“.(Terjemah QS.An-Nisa(4):78).

Kemungkinan orang meninggal sesuai kebiasaan atau hobbynya memang sangat tinggi. Betapa seringnya kita mendengar kabar seorang pawang singa atau ular wafat diterkam binatang piaraannya. Pembalap meninggal dalam kecelakaan balap mobil/motor. Artis, penyanyi, penari, pembawa acara meninggal ketika sedang melakukan profesi atau hobbynya tersebut.

Namun yang paling mengerikan adalah ketika seorang pezina dimatikan ketika dalam keadaan sedang berzina. Na’udzu billah min dzalik … Sebaliknya tidak sedikit orang yang terbiasa menjaga wudhu, shalat, sujud,  membaca Al-Quran Allah wafatkan dalam keadaan yang ia sukai itu. Masya Allah alangkah indahnya … 

Itu sebabnya kita harus pintar-pintar dalam memilih kebiasaan, hobby bahkan profesi/pekerjaan. Karena, kita akan dimatikan dalam kebiasaan tersebut. Orang yang terbiasa dalam ketaatan insya Allah akan diwafatkan dalam ketaatannya, husnul khotimah.

Untuk itulah pentingnya peran orang-tua. Perkenalkan anak pada kebiasaan dan  hobby yang baik sejak dini. Seperti membaca Al-Quran, lisan yang selalu berdzikir dll. Jangan sampai hobby menari, menyanyi, bermain piano, bermain bola dll membuat anak lupa dari mengingat kepada Sang Khalik. Apalagi setelah lebih besar nanti, anak akan lebih banyak lagi tantangan dalam hidupnya.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal lain yang tak kalah pentingnya, adalah hadist berikut :

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Hadist di atas mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan selalu memohon kepada Allah swt agar istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat dan wafat dalam keadaan husnul khotimah. Karena tidak sedikit orang yang banyak beramal sholeh namun Allah matikan justru ketika sedang berbuat maksiat hingga ia mengalami kematian yang buruk (su’ul khotimah).

Sebaliknya ada juga ahli maksiat yang menjelang ajalnya bertobat dan segera beramal ibadah. Lalu Allah wafatkan ia dalam keadaan demikian hingga iapun mengalami husnul khotimah.  Orang seperti ini sangatlah beruntung karena sebenarnya ia tidak pernah tahu kapan ia akan dimatikan. Sungguh beruntung Allah swt memberinya kesempatan bertobat.  

Sebagai catatan, beramal ibadah maksudnya adalah bersyahadat, shalat, puasa dan amal kebaikan lain.  Sedang berbuat maksiat adalah murtad, kafir ataupun tidak menjaga pendengaran, lisan, pandangan, hati yang penuh dengan beragam penyakit hati, malas dan meninggalkan ibadah, lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah.

Masuk surga atau neraka adalah hak prerogative Allah Azza wa Jala, bukan semata karena amal ibadah kita. Melainkan berkat rahmat-Nya. Karena seumur hidup beramal ibadahpun tidak akan mampu membalas segala kebaikan-Nya. Untuk itu doa sepanjang waktu sangat diperlukan.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. ( Terjemah QS. Ghofir(40):60).

Doa memohon kepada Allah swt agar kita istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat, dimatikan dalam keadaan terbaik kita, menutupnya dengan kalimat tauhid “Laa ilaha illa Allah”,  dan husnul khotimah. Jangan sampai kita lalai, lelah beramal ibadah lalu tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dalam keadaan maksiat. Na’udzubillah min dzalik …       

Dalam kitab Shahih Tirmidzi disebutkan dalam hadis Shahihnya, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi).

Diterangkan dalam Risalah Majmu’ Fatawa, Ibnu Utsaimin berkata bahwa hendaknya manusia banyak merenung karena sebenarnya setiap orang senantiasa dalam bahaya disebabkan kematian selalu mengintai dan tidak ada batas waktu yang diketahui.

Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan kesempatan umur sebaik-baiknya, yaitu dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Sudah seharusnya manusia selalu merasa dirinya banyak melakukan kesalahan hingga harus bertaubat dan memperbaiki kesalahan. Terus membiasakan diri dalam kebaikan hingga ajal tiba dalam sebaik-baik keadaan. Sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalani.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Juni 2024.

Vien AM.

Hari Kiamat adalah rukun ke 5 dari Rukun Iman yang merupakan pilar tegaknya seorang beriman. Hari yang merupakan berakhirnya kehidupan seluruh manusia dan alam semesta ini wajib diyakini oleh umat Islam. Hari Kiamat didahului dengan datangnya tiupan sangkakala (terompet raksasa)  pertama. Maka hancurlah alam semesta. Kemudian ketika sangkakala kembali bertiup maka seluruh manusia yang pernah ada di bumi ini akan hidup kembali. Itulah hari Berbangkit.

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)“.( Terjemah QS. Az-Zumar(39):68).

Ia adalah sesuatu yang ghaib. Tidak ada yang mengetahui kapan akan terjadi kecuali Allah swt. Rasulullah saw bersabda jarak antara hari Kiamat dengan beliau seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Menandakan bahwa hari tersebut tidaklah terlalu lama akan terjadi.      

Manusia bertanya kepadamu tentang hari Berbangkit. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu wahai (Muhammad), boleh jadi hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya”. ( Terjemah QS. Al-Ahzaab(33): 63).

Rasulullah hidup pada abad 7. Sedangkan kini kita berada di abad 21. Dalam pandangan kita jarak 15 abad tentu sangat jauh. Tapi dibanding umur bumi dan alam semesta ini tidak ada artinya. Dan lagi sebenarnya tidak penting kita mempermasalahan kapan Kiamat akan terjadi karena kiamat kecil yaitu hari Allah swt memanggil kita jauh lebih dekat. Pengetahuan dan keyakinan datangnya hari Kiamat adalah bagian dari keimanan yang tidak penting untuk diperdebatkan.    

Namun demikian demi memenuhi sifat manusia yang selalu ingin tahu, Allah swt  memberikan tanda-tandanya. Yaitu melalui ayat suci Al-Quranul Karim dan hadist Rasulullah saw yang jumlahnya sangat banyak. Pada tulisan kali ini yang akan dibahas adalah 3 hal yaitu pemimpin yang bodoh, gempa dan kembali suburnya tanah Arab Saudi.

Mengenai pemimpin yang bodoh telah dibahas pada artikel sebelum ini. Hal tersebut sangat berkaitan dengan masalah Palestina yang makin hari makin tak terkendali. Yang secara tak langsung karena masalah kepemimpinan Islam yang tidak tangguh alias bodoh menurut syariat.

Palestina dan Fenomena Akhir Zaman (1) -Kepemimpinan Dalam Islam.

Selanjutnya adalah,

2. Gempa dengan korban yang sangat banyak.

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda bahwa di antara tanda semakin dekatnya Hari Kiamat adalah banyaknya gempa bumi dan banyak orang meninggal dunia karena musibah tersebut. (HR. Bukhari no.XIII/81-82, Shahih; HR. Ahmad no.IV/104, Hasan/Shahih).

Dapat kita saksikan belakangan ini betapa seringnya gempa melanda bumi kita tercinta. Diantaranya yang terdasyat adalah gempa Aceh yang disusul gelombang tsunami di tahun 2004. Gempa berskala 9.3 SR yang menelan korban tewas sekitar 227.898 orang ini terasa hingga di  14 negara. Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, dan Maladewa adalah negara yang paling parah terkena dampaknya.

Menyebabkannya tercatat sebagai gempa bumi terkuat di Asia, ketiga di dunia sejak tahun 1900 setelah gempa Valdivia 1960 dan gempa Alaska 1964. Wikipedia mencatat gempa Aceh merupakan patahan terpanjang ( 1.200 km hingga 1.300 km ) dengan durasi guncangan terlama ( setidaknya 10 menit). Gempa ini bahkan menyebabkan seluruh planet Bumi bergetar 1 sentimeter dan memicu aktivitas gempa di berbagai wilayah, termasuk Alaska. Total kerugian finansial akibat bencana ini mencapai USD$14 miliar atau sekitar Rp 51,4 triliun, sehingga membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun untuk pemulihan seperti kondisi sebelum bencana.

https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004

Gempa yang menelan korban sangat banyak dapat dipastikan akibat disusulnya  tsunami. Dan ini terjadi pertama kali pada abad 15 yaitu tahun 1498 di Jepang. Gempa berkekuatan 8.3 SR ini menewaskan 31.000 jiwa.

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6771006/10-tsunami-terbesar-di-dunia-dengan-korban-terbanyak-2-terjadi-indonesia

Bumi yang kita tinggali ini memang sudah amat renta. Gunung yang merupakan pasak/paku bumi hingga tempat manusia tinggal selama ribuan tahun ini dapat berdiri tegak dan stabil itu, kini mulai goyah. Gesekan antar lempengan di dasar kerak bumi akhirnya tak dapat dihindarkan. Maka bumipun bergoncang.  Itulah gempa yang makin hari makin sering kita rasakan.

“Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu,…” (Terjemah QS.An-Nahl(16):15).

“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka,…”. ( Terjemah QS.An-Anbiya(21):31).

Pada ayat 88 surat An-Naml dikatakan bahwa gunung-gunung itu sebenarnya tidak diam melainkan berjalan sebagaimana jalannya awan yang terbawa angin. Hal ini makin membuktikan betapa Allah swt sebagai Zat Pencipta mengetahui segala sesuatu yang kita sebagai mahluk ciptaan, sangkakan.    

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

3. Menghijaunya kembali tanah Arab.

Hari kiamat tidak berlaku sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR Muslim).

Sejumlah ilmuwan yang dikutip dalam buku “Kiamat Sudah Dekat?” karya Dr. Muhammad al-‘Areifi, menunjukkan bukti bahwa perambatan sungai es sekarang bergerak ke arah Jazirah Arab dengan membawa salju turun dan hujan. Keduanya biasanya menjadi faktor tumbuhnya tanaman dan kemakmuran.

https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6512800/hadits-tanah-arab-kembali-hijau-jadi-tanda-kiamat-dulu-pernah-subur-makmur

Sejarah mencatat bahwa jazirah Arab dulunya adalah tanah yang subur, dengan padang rumput dan sungai-sungainya. Hal ini dikatakan seorang ahli geologi asal Institute of Geosciences Johannes Gutenberg-University Jerman, Alfred Kroner, sebagaimana termuat dalam buku Mausu’ah al-Ijaz al-Qur’ani karya Nadiah Tharayyarah.

Dalam perbincangannya dengan seorang dai muslim bernama Syekh Abdul Majid al-Zindani saat membahas tanah Arab yang gersang dulunya adalah padang rumput yang hijau, Alfred Kroner mengatakan bahwa para pakar geologi sudah mengetahui hal itu. Ia mengatakan, bila tanah di Jazirah Arab digali, akan ditemukan jejak-jejak yang membuktikan bahwa wilayah tersebut dulunya adalah tanah yang subur. Salah satunya pernah ditemukan kampung hijau bernama Al-Faw di bawah gurun pasir Rub’ al-Khali.

Kroner menjelaskan bukti ilmiah mengapa Jazirah Arab yang dulunya hijau bisa berubah menjadi gersang dan kemungkinan akan kembali menghijau. Berdasarkan penelitian sejarah bumi di masa lampau yang ia lakukan, hal ini terjadi lantaran Jazirah Arab pernah mengalami fase zaman es.

Lebih lanjut ia menjelaskan, fase zaman es ini terjadi ketika air laut dalam volume besar akan berubah menjadi es dan berkumpul di Kutub Utara yang beku, lalu bergerak perlahan menuju arah selatan. Pergerakan inilah yang akan memengaruhi keadaan tanah yang ada di sekitarnya.

Di antara daerah yang tanahnya mengalami perubahan kondisi adalah semenanjung Arab. Cuaca menjadi dingin. Tanah Arab akan menjadi negeri yang paling banyak curah hujannya dan aliran-aliran sungainya,” jelas Kroner seperti diterjemahkan oleh M. Zaenal Arifin dkk.

Selain Alfred Kroner, seorang pakar geologi asal Amerika juga memprediksi kembalinya danau-danau ke gurun pasir Jazirah Arab dan kembalinya air ke sungai-sungai yang kini terpendam di bawah gurun pasir. Dalam riset modern, bumi mengalami zaman es sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Setelah itu, bumi berada pada periode interglasial (hangat) yang berlangsung 10 hingga 20 ribu tahun.

Dalam kenyataannya kita telah tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini Mekah dan Madinah beberapa kali mengalami hujan lebat bahkan hujan es. Ini adalah peristiwa langka. Itu sebabnya ketika hujan  datang banjir hampir selalu terjadi. Arab Saudi dan juga negara2 Teluk lainnya sep Dubai, UEA (Uni Emirat Arab) dll, memang tidak mempunyai sistim drainase yang baik karena amat jarang sekali mengalami hujan.

Dengan makin canggihnya teknologi, demi mengatasi suhu panas extrim  yang merupakan suasana sehari-hari, beberapa waktu lalu sebuah perusahaan di UEA berusaha memindahkn gunung es/iceberg yang berada di laut Antartika. Yaitu dengan cara menyeret bongkahan es raksasa yang jaraknya ribuan km itu ke pantai UEA.

https://jagatbisnis.com/2023/06/06/arab-saudi-akan-memindahkan-gunung-es-antartika/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Juni 2024.

Vien AM.