Feeds:
Posts
Comments

XXVI. Perang Hunain.

Perang yang terjadi sebulan setelah penaklukkan Mekkah ini terjadi karena rasa tidak senang pemimpin suku Hawazin dan suku Tsaqif terhadap kemenangan pasukan Islam. Dalam pandangan para pemimpin kedua suku yang menempati daerah sekitar Mekkah ini, kemenangan Islam bakal mengancam kedudukan mereka sebagai pemimpin yang selama ini sangat dihormati masyarakatnya.

Maka pada suatu hari, Malik bin Auf, seorang tokoh Hawazin, menghimpun seluruh kekuatan yang dimiliki berupa harta kekayaan, kaum perempuan dan anak-anak mereka  untuk berkumpul di Authas, tempat antara Mekkah dan Tha’if, untuk memerangi Islam. Rasulullah menyambut tantangan tersebut dengan memberangkatkan pasukan besar berjumlah 12.000 orang, yang terdiri dari 10.000 penduduk Madinah dan 2.000 penduduk Mekah.

Namun di suatu pagi yang masih gelap ketika pasukan Islam tiba di lembah Hunain tiba-tiba mereka dikejutkan oleh serangan mendadak pasukan musyrik. Pasukan ini keluar dari persembunyian rahasia mereka di lorong-lorong lembah yang dilalui pasukan Islam. Serangan mendadak ini ternyata mampu membuat pasukan yang sebagian besarnya baru saja memeluk Islam  menjadi bubar dan lari tunggang langgang.

Muslim meriwayatkan dari Abbas ra, katanya: “Aku ikut bersama Rasulullah saw dalam perang Hunain. Aku bersama Abu Sofyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib berada di atas baghal putihnya ketika kaum Muslimin lari mundur terbirit-birit. Kemudian Rasulullah saw mengarahkan baghalnya menuju ke arah orang-orang kafir.” Abbas ra berkata: “Aku memegangi tali kekang baghal sementara Rasulullah saw menahannya agar tidak terlalu cepat. Sedangkan Abu Sofyan memegangi pelananya. Nabi saw lalu bersabda: “Panggillah Ash-habus Samrah (para sahabat yang pernah melakukan baiat Ridhwan pada tahun Hudaibiyah).“ Kemudian aku panggil dengan suaraku yang keras: “Wahai Ash-habus Samrah!“ Abbas berkata: “Demi Allah, begitu mendengar teriakan itu, mereka segera kembali seperti sapi yang datang memenuhi panggilan anaknya, seraya berkata: “Kami sambut seruanmu, kami sambut seruanmu!“. Kemudian mereka maju bertempur dengan seruan: “Wahai orang-orang Anshar!“ Rasulullah saw memperhatikan pertempuran seraya berkata: “Sekarang pertempuran berkecamuk.“, lalu beliaupun mengambil batu-bati kerikil dari tanah dan melemparkannya ke arah wajah orang-orang kafir seraya berkata: “Musnahlah kalian demi Rabb Muhammad!“.

Pertempuran sengitpun tak dapat terhindarkan. Bahkan sejumlah kaum perempuan ikut terlibat dalam peperangan ini. Ummu Sulaim binti Milhan terlihat berada disamping suaminya, Abu Thalhah,  sambil membawa belati. Ia bersiaga dan siap menusukkannya ke tubuh orang musrik yang berusaha mendekatinya.  Dalam peperangan ini pasukan Islam hanya didukung sekitar 200 orang sahabat Anshar karena sebagian besar telah bubar. Mereka yang bubar sebagian besar adalah penduduk Mekah yang baru saja meng-ikrarkan keislamannya. Dari sini tampak jelas bahwa keimanan belum benar-benar meresap kedalam sanubari. Ironisnya, hal ini ternyata cukup mampu menularkan saudara-saudara mereka yang telah lebih dulu berislam hingga mereka ikut takut bertempur.

Beruntung kemudian Allah memasukkan rasa gentar ke dalam hati musuh. Kaum musryik akhirnya kalah dan lari terbirit-birit meninggalkan medan pertempuran dan harta benda yang melimpah. Malik bin Auf sendiri bersama sejumlah pendukungnya berhasil melarikan diri ke Thaif dan berlindung di benteng-benteng mereka.

Rasulullah segera memerintahkan untuk mengumpulkan para tawanan dan harta rampasan perang. Barang-barang rampasan perang tersebut kemudian disimpan di Ji’ranah dan dijaga oleh Mas’ud bin Amr al-Ghiffari. Selanjutnya bersama para sahabat Rasulullah mengejar Malik dan kawan-kawannya ke Thaif.  Selama 10 hingga 20 hari, Rasulullah mengepung benteng-benteng tersebut. Terjadi perlawanan sengit hingga jatuhlah beberapa korban.

Akhirnya Rasulullah memutuskan untuk meninggalkan lokasi. Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mengumumkan kepada para sahabatnya, “ Kita berangkat, insya Allah”. Sebagian sahabat bertanya, “ Kita pergi sebelum berhasil menaklukkannya?”. Nabi saw bersabda,” Jika kalian suka, perangilah mereka”. Merekapun kemudian memeranginya sampai ada yang terluka. Sementara Rasulullah saw mengatakan kepada mereka, “  Besok kita berangkat”. Pengumuman ini sangat mengherankan  mereka tetapi Rasulullah saw hanya membalas dengan senyuman. ( HR. Bukhari Muslim).

Di tengah perjalanan, Rasulullah bersabda, “ Katakanlah!  Kami kembali, bertobat, beribadah dan bertasbih kepada Rabb kami”. Sebagian sahabat yang tidak puas berkata : “ Wahai Rasulullah, berdoalah untuk kehancuran Tsaqif!” Namun sebaliknya Rasulullah malah berdoa “ Ya Allah, tunjukilah Tsaqif dan datangkanlah mereka”.

Sungguh, betapa mulianya Rasulullah itu. Berkat rasa kasih sayangnya beliau mampu menghilangkan kenangan dan sakit hati yang pernah dirasakannya ketika beberapa tahun yang lalu penduduk Thaif mengusir dan melemparinya dengan batu. Semua itu hanya karena beliau tidak ingin penduduk kota berhawa sejuk ini ditimpa kemurkaan-Nya. Beliau sama sekali tidak mengharapkan upah ataupun balasan dari mereka. Semata-mata hanya balasan ridho Allah yang diharapkan beliau.

“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, “(QS.Al-Furqan(25):57-58).

Maka Sang Khalikpun mengabulkan doa kekasih-Nya. Tak lama kemudian beberapa penduduk Tsaqif datang menemui Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Kemudian mereka kembali. Sementara itu, di Ji’ranah, Rasulullah beristirahat sambil menunggu kedatangan Amr bin Auf dan pendukungnya. Setelah sepuluh hari menanti, datanglah yang ditunggu-tunggu itu. Namun ternyata mereka adalah kaum Muslimin yang baru beberapa hari lalu berikrar. Mereka diutus untuk meminta dikembalikannya tawanan dan  harta rampasan perang.

Rasulullah menjawab permohonan tersebut “ Pilihlah salah satu, harta atau tawanan. Sesungguhnya aku sengaja menunda pembagian pampasan karena mengharap keislaman kalian”. Kemudian Rasulullah mempersilahkan mereka untuk kembali dan membicarakan hal tersebut kepada pemimpin mereka.

Tak lama kemudian mereka kembali dan memilih tawananlah yang dikembalikan kepada mereka. Rasulpun menepati janji beliau. Rasulullah mengembalikan para tawanan seraya bersabda : “Beritahukan kepada pemimpin kalian. Jika dia mau datang menyatakan diri masuk Islam aku akan mengembalikan seluruh harta dan keluarganya. Bahkan akan aku tambahkan seratus unta”.

Dengan cara itulah datang hidayah kepada Malik bin Auf. Ia datang dan menyatakan keislamannya. Rasulullahpun memenuhi janjinya dan sejak saat itu Malik membuktikan keislamannya itu dengan baik. Lalu Rasulullah dan rombongan kembali ke Mekah. Di kota yang baru ditaklukkanya ini  Rasululullah kemudian membagikan ghanimah ( pampasan perang) kepada para mualaf, penduduk Mekah yang baru masuk Islam.  Ini dimaksudkan untuk menundukkan dan mengikat hati mereka kepada Islam.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS.At-Taubah (9):60).

Namun ternyata hal ini memancing kecemburuan sebagian kaum Anshar. “ Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Dia memberi Quraisy dan membiarkan kita padahal pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka”.

Betapa sedihnya Rasulullah mendengar berita ini. Beliau tidak menyangka bahwa kaum Anshar yang begitu tinggi keimanan  dan amat dicintainya ternyata menyimpan rasa cemburu terhadap harta benda keduniawian. Maka Rasulpun mengumpulkan mereka dan berkhutbah khusus dihadapan orang-orang yang dicintainya itu.

“ Hai kaum Anshar, apakah kalian jengkel karena tidak menerima sejumput sampah keduniaan yang tidak ada artinya? Dengan ‘sampah’ itu, aku hendak menjinakkan suatu kaum yang baru saja memeluk Islam. Hai kaum Anshar, apakah yang kalian tidak puas melihat orang lain pulang membawa kambing dan unta sedangkan kalian pulang membawa Rasul Allah? Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang itu lebih baik daripada apa yang mereka bawa. Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, kalau bulan karena hijrah niscaya aku menjadi salah seorang dari Anshar. Seandainya orang lain berjalan di lereng gunung dan kaum Anshar juga berjalan di lereng gunung yang lain, aku pasti turut berjalan di lereng gunung yang ditempuh kaum Anshar”.

Mendengar ucapan nabi tersebut kaum Anshar menangis hingga jenggot mereka basah karena air mata. Mereka kemudian menjawab “ Kami  rela mendapatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai pembagian dan jatah kami”. ( HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa’ad).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris,  22 April 2011.

Vien AM.

Ibnu Ishaq berkata, Setelah orang-orang berkumpul di sekitarnya, nabi saw sambil memegang kedua penyangga pintu Ka’bah mengucapkan khutbah kepada mereka,

“ Tiada Ilah kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah ( Allah) yang menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya ( Muhammad) dan mengalahkan musuh-musuh sendirian. Sesungguhnya segala macam balas dendam, harta dan darah semuanya berada di bawah kedua kakiku ini kecuali penjaga Ka’bah dan pemberi air minum kepada jamaah haji. Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya, Allah telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah dan mengagungkan dengan keturunan. Semua orang berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah”. 

Rasulullah meneruskan sabdanya :

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS.Al-Hujurat(49):13).

Selanjutnya nabi saw bertanya: “ Wahai kaum Quraisy! Menurut pendapat kalian, tindakan apakah yang hendak kuambil terhadap kalian?”

“ Tentu yang baik baik! Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia”, jawab mereka.

Rasulullah lalu bersabda,: “ Pergilah kalian semua, kalian bebas !”

Begitu pula sebagian orang yang mulanya telah dipastikan harus dibunuh pada awal penaklukkan Mekah. Sebagian lain terlanjur dibunuh dalam perlawanan dengan Khalid. Mereka yang bebas adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Habbar bin al-Aswad, Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah dan Hindun binti Uthbah, perempuan istri Abu Sufyan yang mengaduk-ngaduk isi perut Hamzah, paman Rasulullah. Padahal ketika itu Rasulullah begitu sedih dan marah mengetahui paman tercinta itu dianiaya dan bersumpah akan membalas perbuatan biadab tersebut. Di kemudian hari, orang-orang yang telah dibebaskan tersebut membuktikan bahwa mereka bisa menjadi Muslim yang baik.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Adwi bahwa Nabi saw bersabda di dalam khutbahnya pada waktu fat-hu Makkah: “Sesungguhnya Makkah telah diharamkan oleh Allah, bukan manusia yang mengharamkannya, tidak boleh bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menumpahkan darah dan mencabut pohon di Makkah. Seandainya ada orang yang berdalih bahwa Rasulullah saw pernah melakukan peperangan di Makkah, maka katakanlah kepadanya: “Sesungguhnya Allah mengijinkan bagi Rasul-Nya tetapi tidak mengijinkan kepadanya (Nabi saw) hanya sebentar. Sekarang “keharaman“ telah kembali lagi sebagaimana sebelumnya. Hendaklah yang menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak hadir“.

Kemudian Rasulullah membaiat kaum lelaki agar senantiasa mendengar dan taat  kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS.An-Nisa(4):80).

Setelah itu giliran kaum perempuan yang berbaiat. Rasulullah bersabda :

“Hendaklah kalian berbai‘at kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Tidak akan mencuri, tidak akan berzina dan tidak akan membunuh anak-anak kalian. Juga tidak berbohong untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakang kalian:“ 

Kemudian Rasulullah saw berkata kepada Umar ra: “Bai‘atlah mereka”.

Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: Adalah Nabi saw membai‘at kaum wanita secara lisan (saja) dengan ayat ini: “Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.“ Selanjutnya Aisyah ra menjelaskan: “Tangan Rasulullah saw tidak menyentuh tangan wanita sama sekali kecuali wanita yang telah halal baginya“. Muslim meriwayatkan hadits yang serupa dengan ini dari Aisyah ra.

Peristiwa pembaitan kaum perempuan diatas inilah yang kemudian menjadi dasar tidak perlunya jabat tangan antara kaum lelaki dan kaum perempuan kecuali muhrimnya. Banyak peristiwa menarik di seputar penaklukkan Mekah yang dapat dijadikan acuan dan dasar pertimbangan dalam Islam. Jabat tangan sebagaimana kasus diatas, pelarangan pertumpahan darah dan penebangan pohon di kota Mekah, pelarangan gambar dan berhala di masjid adalah diantaranya.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Fadhalah bin Umair al-Laitsi bermaksud ingin membunuh Nabi saw pada saat beliau sedang thawaf di Ka‘bah di hari Fat-hu Makkah. Ketika Fadhalah mendekat tiba-tiba Rasulullah saw mengatakan: “Apakah ini Fadhalah?“ Ia menjawab: “Ya, saya Fadhalah wahai Rasulullah saw.“ Nabi saw bertanya: “Apa yang sedangkau pikirkan?“ Ia menjawab: “Tidak memikirkan apa-apa, aku sedang teringat Allah kok.“ Sambil tersenyum Rasulullah saw berkata: “Mohonlah ampun kepada Allah …“ Kemudian Nabi saw meletakkan tangannya di atas dadanya sehingga hatinya menjadi tenang. Fadhalah berkata: “Begitu beliau melepaskan tangan dari dadaku, aku merasa tak seorang pun yang lebih aku cintai daripada beliau.“

Begitulah Mekah, kota kelahiran Rasulullah dimana rumah suci tertua didunia berdiri, akhirnya kembali ke pelukan Islam, setelah berabad-abad lamanya diselewengkan. Tidak itu saja. Rasulullah Muhammad saw, atas izin Sang Pemilik, tidak hanya berhasil mengembalikan kedudukan kota yang tinggi namun juga berhasil mengajak seluruh penduduknya agar kembali menyembah hanya kepada Allah swt, Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu. Rasulullah berada di Mekkah selama 19 hari. Setelah itu beserta pasukannya beliau kembali ke Madinah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 20 April 2011.

Vien AM.

“ Siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Ya, itulah yang dikatakan Rasulullah kepada Abu Sufyan agar disampaikan kepada orang-orang Quraisy Mekah yang akan beliau masuki beberapa saat lagi. Ini adalah cara Rasulullah menghindari perang antar saudara. Rasulullah hendak menaklukkan Mekah dengan Ka’bahnya bukan karena nafsu perang melainkan demi meluruskan kembali ajaran Ibrahim yang berabad-abad lamanya telah diselewengkan.

Setelah Abu Sufyan dan 2 kawannya yang diserahi memata-matai kaum Muslimin tertangkap, Rasulullah segera meneruskan perjalanan menuju Mekah. Akan tetapi sebelum berangkat, beliau berpesan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, paman yang dicintai sekaligus sahabat Abu Sufyan yang baru saja memeluk Islam, agar menahan sahabatnya itu di mulut lembah yang akan dilalui pasukan Muslim. Rasulullah memang bermaksud mempertontonkan kekuatan dan kebesaran pasukan tersebut kepada pemimpin Quraisy yang disegani masyarakatnya itu.

Maka pasukan demi pasukanpun berjalan melewati Abu Sufyan. Tercengang ia dibuatnya hingga ia merinding ketakutan.

“Abbas, siapakah mereka itu?”

“Mereka itu kabilah Sulaim”, jawab Abbas.

“Apa urusanku dengan kabilah Sulaim?!” komentar Abu Sufyan.

Kabilah lainpun lewat. Abu Sufyan bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Mereka kabilah Muzainah,” Abbas menjawab lagi.

“Apa urusanku dengan Kabilah Muzainah?!”

Begitulah seterusnya hingga setiap kabilah lewat. Terakhir, pasukan Rasulullah yang berwarna hijaupun melewatinya. Abu Sufyan menatap tanpa berkedip. Mereka semua dilindungi baju besi.

“Subhanallah, Abbas! Siapa mereka itu?”

“Itu Rasul bersama Muhajirin dan Anshar.”

“Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi kekuatan mereka. Demi Allah, hai Abu Fadhal, kemenakanmu kelak akan menjadi maharaja besar ….”.

Hai Abu Sufyan, itu bukan kerajaan, melainkan kenabian”, tukas Abbas.

Kalau begitu, alangkah mulianya, ungkap Abu Sufyan dengan yakin. Sekarang ia mulai mantap dengan status keislamannya.

Demikianlah Ibnu Sa’ad, Ibnu Ishaq, Ibnu Jurair juga Bukhari meriwayatkan kekaguman Abu Sufyan akan kebesaran Islam. Meski sebenarnya malam sebelum berikrarpun ia telah terkagum-kagum dengan pasukan Islam yang pada malam yang dingin itu sedang melaksanakan wudhu sebelum shalat.

Riwayat di atas juga mengandung hikmah bahwa apa yang disangka Abu Sufyan kerajaan itu tidak sama dengan kenabian. Nyaris 22 tahun lamanya Rasulullah berjuang menegakkan agama Islam,  bukan kerajaan. Jika hanya sekedar kekuasaan dan kerajaan sebenarnya Rasulullah dapat meraihnya tanpa perlu berhijrah ke Madinah. Para pemuka Quraisy sendirilah yang ketika itu menawarkannya kepada Rasulullah, saking gemasnya melihat kekerasan hati Rasulullah dalam berdakwah menuju Islam.

Selanjutnya Abbas berkata, : “ Selamatkanlah kaummu !”. Maka Abu Sufyanpun segera pergi ke Mekah sebelum Rasulullah dan pasukan Islam memasukinya. Dengan suara nyaring, ia berteriak : “Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

Mendengar itu, istri Abu Sufyan, Hindun binti Uthbah, memarahinya “ Alangkah buruknya perbuatanmu sebagai pemimpin”. Abu Sufyan menegaskan “ Celakalah kalian kalau bertindak menuruti hawa nafsu. Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian tandingi”.

Sementara orang-orang Quraisy mencemoohnya , “ Celakalah engkau, hai Abu Sufyan! Apa gunanya rumahmu bagi kami?”. Lalu Abu Sufyan menyahut : ” Barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Menyadari bahwa pemimpin mereka tidak main-main, akhirnya merekapun berlarian, sebagian pulang ke rumah menutup pintu dan sebagian lain berlindung ke Masjidil Haram. Sementara itu Rasulullah telah makin mendekati Mekah. Beliau memasuki kota ini dari dataran tinggi Kida dan memerintahkan pasukan pimpinan Khalid bin Walid masuk melalui dataran rendah Kida.

Bukhari meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “ Aku pernah mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata, ‘Aku melihat Rasulullah pada waktu Fath-Makkah berada diatas untanya seraya membaca surat Al-Fath berulang-ulang dengan bacaan yang merdu sekali. Sabda beliau, “ Seandainya orang-orang tidak berkerumun di sekitarku, niscaya aku akan membacanya berulang-ulang”.

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana supaya Dia memasukkan orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah”,(QS. Al-Fath(48):1-5).

Rasulullah berpesan kepada pasukannya agar menghindari sebanyak mungkin korban. Hanya 6 orang lelaki dan 4 perempuan yang beliau perintahkan agar dibunuh dimanapun mereka berada. Mereka itu adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Habbar bin al-Aswad, Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah, Muqis bin Dhahabah al-Laitsi, Huwairits bin Nuqaid dan Abdullah bin Hilal. Sedangkan yang perempuan adalah Hindun binti Uthbah, Sarah, Fartanai dan Qarinah. Ke 10 orang ini adalah orang-orang kejam yang sangat membenci Islam dan harus dihukum mati.

Maka dalam waktu yang relatife singkat, pasukan Islampun berhasil menaklukkan Mekah dan Ka’bahnya tanpa banyak perlawanan kecuali pasukan Khalid. Pasukan ini akhirnya menang setelah memakan korban 24 orang Quraisy. Jumlah yang teramat sedikit bagi hitungan perang dimana pasukan Islam mengirimkan 10 ribu orang pasukan. Itupun tampak bahwa Rasulullah tidak senang ketika melihat kilatan pedang di kejauhan. Namun ketika beliau mendapat penjelasan bahwa itu adalah pasukan Khalid yang membalas serangan musuh, beliaupun hanya berkomentar : “ Ketentuan Allah selalu baik”.

Rasulullah langsung menuju Ka’bah. Di sekitar tempat tersebut terdapat 360 berhala. Dengan mengucap “ Kebenaran telah tiba dan lenyaplah kebathilan.  Kebenaran telah tiba dan kebathilan tak akan kembali lagi”, Rasulullah mengayunkan pentungan dan menghancurkannya satu persatu. Demikian pula berhala-berhala yang ada di dalam Ka’bah, semua dikeluarkan sebelum Rasulullah memasukinya. Beliau bertakbir disudut-sudut Ka’bah kemudian keluar.

Ketika Rasulullah hendak mengembalikan kunci pintu Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah, memohon agar kunci rumah suci tersebut diserahkan kepadanya.  Namun atas perintah Allah swt melalui Jibril as, Rasulullah tetap menyerahkannya kepada Utsman. Rasulullah tidak memindahkan hak tersebut karena itu memang perintah Sang Khalik.

“ Terimalah kunci ini untuk selamanya. Bukan aku yang menyerahkan kepada kalian tetapi Allah menyerahkannya kepada kalian. Sesungguhnya tak seorangpun akan mencabutnya ( hak memegang kunci Ka’bah) kecuali orang yang zalim”.

Tak lama kemudian turun ayat yang tertera di kain penutup Ka’bah hingga saat ini :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS.An-Nisa(4):58).

Utsman memang adalah pemegang kunci Ka’bah secara turun temurun sejak zaman nabi Ismail as. Ia keturunan bani Thalhah. Namun setelah ia wafat, kunci kini dipegang oleh keturunan anak bapaknya, yaitu bani Syaibah, hingga detik ini. Setelah itu Rasulullah thawaf kemudian memerintahkan Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan shalat. Orang-orang kemudian berduyun-duyun masuk ke dalam agama Allah.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”.(QS.An-Nasr(110):1-3).

( Bersambung).

Dalam perjanjian Hudaibiyah disebutkan bahwa setiap kabilah dan bani Arab memiliki hak untuk memilih kepada siapa mereka berpihak, kepada Rasulullah atau kepada bani Quraisy. Maka bani Khuza’ahpun memilih untuk berdiri di pihak Rasulullah. Sementara bani Bakar memilih bani Quraisy sebagai pihak yang didukungnya.

Suatu hari di tahun 8 H ( 630 M), orang-orang bani Bakar yang memang memusuhi bani Khuza’ah meminta bantuan Quraisy untuk memerangi musuhnya itu. Tanpa berpikir panjang Quraisypun mengirim bantuannya. Dengan cara menyamar mereka berkomplot mengepung perkampungan bani Khuza’ah yang saat itu sedang tidur nyenyak. Orang-orang bani Khuza’ah sama sekali tidak mengira bahwa malam tersebut mereka akan diserang pada malam hari. Pada peristiwa nahas tersebut, 20 orang Khuza’ah terbunuh.

Keesokan harinya, segera Amr bin Salim al-Khuza’ah bersama 40 orang dari bani Khuza’ah, dengan mengendarari kudanya pergi menemui Rasulullah memohon bantuan.

“ Aku tidak akan ditolong jika aku tidak membantu sebagaimana aku menolong diriku sendiri”, begitu tanggapan Rasulullah begitu menerima pengaduan tersebut.

”Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12).

Pihak Quraisy sendiri menyesali perbuatan ceroboh tersebut. Segera mereka mengutus Abu Sufyan agar menemui Rasulullah guna meminta perpanjangan dan perbaruan genjatan senjata.  Namun Rasulullah tidak menanggapi permintaan tersebut. Maka Abu Sufyanpun menemui Abu Bakar. Abu Bakarpun menolak, «  Aku tidak bisa melakukannya ». Demikian pula Umar bin Khattab yang kemudian ditemuinya setelah mendengar jawaban Abu Bakar.

“ Apa? Aku harus membantumu menghadapi Rasulullah? Demi Allah, sekiranya aku tahu engkau berbuat kesalahan walau sebutir pasir, tentu engkau kuperangi ».

Akhirnya Abu Sufyan terpaksa pulang tanpa membawa hasil.

Sementara itu diam-diam Rasulullah menyiapkan penyerangan. Beliau berdoa : «  Ya Allah, tutuplah mata orang-orang Quraisy agar mereka tidak melihatku kecuali secara tiba-tiba”. ( HR. Ibnu Ishaq dan Ibnu Saa’d).

Rasulullah mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah. Hal ini dilakukan untuk mengecoh Quraisy agar tidak mengetahui tujuan sebenarnya. Pada saat itulah Rasulullah tiba-tiba memerintahkan Ali bin Abi Thalib bersama dua sahabat lain untuk segera mengejar seorang perempuan yang berada di sebuah kebun bernama Khakh. Ali mendapat tugas untuk merampas surat yang dibawa perempuan berkuda tersebut.

«  Keluarkan surat yang kamu bawa ! », perintah Ali begitu ia berhasil menemukan perempuan yang dimaksud Rasul. Mulanya perempuan tersebut menyangkal bahwa ia membawa surat. Akan tetapi setelah Ali mengancamnya maka terpaksa ia mengeluarkan surat yang disembunyikan di balik gulungan rambutnya itu.

Setelah itu segera Ali kembali ke hadapan Rasulullah dan menyerahkan surat tersebut. Ternyata surat tersebut ditulis oleh Hatib bin Abi Balta’ah, seorang shahabat Muhajirin. Ia menujukkan surat tersebut kepada seorang Quraisy, mengabarkan bahwa Rasulullah saw sedang menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Dialah, Allah, Dzat Yang Maha Melihat, yang kemudian mewahyukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dilakukan Hatib.

Rasulullahpun segera memanggil Hatib dan meminta penjelasan tentang apa yang telah dilakukannya itu. “Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana”, begitu penjelasan Hatib.

Mendengar itu, sontak Umar bin Ibn-Khattab berkata :  “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”

Namun dengan bijak, Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar … “.

Akan tetapi tak lama kemudian turun ayat yang isinya teguran kepada orang  yang suka membocorkan rahasia Rasulullah, seperti apa yang diperbuat Hatib.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.(QS.Al-Mumtahanah(60) :1).

Selanjutnya, pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8 H, dengan membawa 10 ribu Muslimin, Rasulullah meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Di lain pihak, meski orang-orang Quraisy belum mengetahui rencana Rasulullah, dengan gagalnya misi Abu Sufyan, mereka telah memperkirakan penyerangan tersebut. Untuk memastikan hal itu, maka mereka mengutus Abu Sufyan, Hakim bin Hizzam dan Badil bin Warqa untuk menyelidiki apa yang dilakukan kaum Muslimin.

Hingga di suatu tempat di sekitar Zhahran, mereka melihat obor api yang sangat besar. Sebelum mereka menyadari bahwa itu adalah rombongan kaum Muslimin dibawah pimpinan Rasulullah, para pengawal telah menangkap ketiganya. Maka keesokan harinya, ketiga orang Quraisy tersebutpun memeluk Islam.

Ibnu Ishaq berkata,: Diriwayatkan dari Abbas tentang rincian Islamnya Abu Sufyan, “ Keesokan harinya, aku bawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah saw. Setelah melihatnya, Rasulullah berkata, “ Celaka engkau, wahai Abu Sufyan. Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui sesungguhnya tidak ada Ilah kecuali Allah ?” Abu Sufyan menyahut, “ Alangkah penyantunnya engkau, alangkah mulianya engkau dan alangkah baiknya engkau! Demi Allah, aku telah yakin seandainya ada Ilah selain Allah niscaya dia telah membelaku “. Nabi saw bertanya lagi, “  Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui bahwa aku adalah Rasul Allah?” Abu Sufyan menyahut, “ Sungguh engkau sangat penyantun, pemurah dan suka menyambung tali keluarga. Demi Allah, mengenai hal yang satu ini sampai sekarang di dalam diriku masih ada sesuatu yang mengganjal”. Abbas menukas,:  “ Celaka ! Masuk Islamlah dan bersaksilah tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah sebelum aku penggal lehermu”. Abu Sufyan kemudian mengucapkan syahadat dengan benar dan masuk Islam”.    .

Hadist diatas mencerminkan bahwa Abu Sufyan, dedengkot musuh Islam  itu, sesungguhnya mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ia juga mengakui bahwa Muhammad, ponakannya itu, adalah orang yang patut menjadi panutan karena beliau adalah seorang yang baik hatinya, penyantun, pemurah dan suka menyambung tali silaturahmi. Namun demikian ia masih belum dapat mengakuinya sebagai utusan karena menurutnya ada sesuatu yang masih mengganjal meski ia sendiri tidak tahu apa ganjalan tersebut.

Itu sebabnya, Abbas yang merupakan sahabat karib Abu Sufyan, mendesaknya agar segera berikrar. Karena ia tahu bahwa ganjalan tersebut bukanlah hal utama. Islam memang mengajarkan bahwa untuk memeluk Islam ( tunduk ) seseorang tidak harus telah memiliki keimanan yang tinggi. Karena keimanan itu akan tumbuh dan berproses seiring dengan berjalannya waktu dan pengetahuan, atas izin-Nya.

“Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Hujurat(49):14).

Itu pula sebabnya, pada saat peperangan, seorang Mukmin tidak boleh menganggap Islamnya seseorang yang tadinya kafir di tengah pertempuran hanya sekedar rasa takut atau ingin mendapatkan rampasan perang meski dari luar tampaknya memang demikian.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni`mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa(4):94).

Abu Sufyan, sebagai orang Quraisy yang awalnya sangat membenci dan memusuhi Islam serta memeluk Islam karena ancaman Abbas membuktikan hal tersebut. Setelah penaklukkan Mekah, ia ikut berperang beberapa kali. Pada peristiwa pengepungan Tha’if ia kehilangan salah satu matanya.

Rasulullah saw kemudian bertanya, : “Yang manakah yang engkau lebih inginkan, sebuah mata di surga atau aku berdoa kepada Allah agar matamu dikembalikan sekarang?” . Ternyata Abu Sufyan lebih memilih sebuah mata di surga. Kemudian pada perang berikutnya, yaitu perang Yarmuk yang terjadi 6 tahun setelah penaklukkan Mekah, ia bahkan kehilangan matanya yang keduanya. Selama 14 tahun setelah peristiwa itu, Abu Sufyan tetap dalam keislamannya hingga akhir hayatnya.

Kembali ke peristiwa masuk Islamnya Abu Sufyan. Tak lama setelah Abu Sufyan bersyahadat,  Abbas yang adalah juga salah satu paman Rasul itu, berkata: Ya Rasul, Abu Sofyan adalah orang yang senang dengan kebanggaan. Karena itu berikan sesuatu kepadanya.”

“Ya. Aku sudah memikirkan hal itu. Untuk itu, siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

( Bersambung)

Menurut Al-Waqidi dan lainnya, mereka berkata: Satu peristiwa, pada pertempuran Yarmuk, keluarlah dari barisan musuh seorang panglima besar musyrik, lalu dia menyeru Khalid bin Al-Walid untuk keluar dari barisan kaum Muslimin. Khalid pun keluar dengan kuda tangkasnya, hingga hampir-hampir kedua kuda itu berlaga kerana ketangkasannya. Maka berkatalah panglima pasukan musyrik itu yang bernama Jarjah:

“Engkaukah yang dikenal Khalid, panglima pasukan ini?”.
“Ya, aku Khalid pedang Allah!” jawab Khalid.
“Khalid, pedang Allah?” tanya Jarjah lagi.
“Ya”, jawab Khalid. “Dan engkau siapa?”
“Aku Jarjah, panglima perang!”

“Apa maksudmu memanggil aku ke sini?” tanya Khalid.
“Hai Khalid! Bicaralah yang benar, dan jangan berdusta! Sebab orang yang merdeka itu tidak berdusta. Dan jangan pula engkau menipuku, kerana orang yang berkedudukan seperti engkau ini tidak akan menipu yang lain, apa lagi bila hal itu ada pertaliannya dengan Allah!” jarjah ingin menguji kejujuran Khalid.
“Baiklah”, jawab Khalid. “Aku akan berkata benar dan menjawab sesuai dengan kehendakmu!”

“Engkau mengaku diri sebagai pedang Allah, bukan?” tanya Jarjah.
“Ya”, jawab Khalid pendek
“Apakah Allah telah menurunkan pedang itu dari langit kepada Utusan kamu, lalu dia menyerahkan pedang itu kepadamu, dan engkau tidak akan menghunuskan kepada sesiapa pun, melainkan engkau akan mengalahkannya?” Jarjah meminta penerangan dari Khalid.
“Tidak!” jawab Khalid pendek lagi.
“Oh, tidak?!” Jarjah mengejek. “Jadi bagaimana engkau dipanggil sebagai pedang Allah? Bukankah itu ajaib sekali?!” Jarjah menambah lagi.
“Tidak ajaib, jika engkau mendengar cerita yang sebenarnya!” jawab Khalid.
“Kalau begitu ceritakanlah kepadaku!” pinta Jarjah.

“Sekarang dengarlah ceritanya: Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita UtusanNya, lalu Beliau mengajak kami memeluk Islam, tetapi kami menjauhkan diri darinya, dan kami sekalian menyingkirkannya. Meskipun begitu ada juga setengah dari kami yang mempercayainya dan mengikutnya, manakala yang lain mendustakannya dan menentangnya, dan jika engkau ingin tahu aku adalah di antara orang-orang yang mendustakannya dan menentangnya”, Khalid menceritakan dirinya dengan jujur.
“Sesudah itu?” tanya Jarjah yang mendengar dengan penuh minat.
“Kemudian Allah telah melembutkan hati kami, dan membukakan pemikiran kami, lalu kami diberiNya petunjuk untuk memeluk Islam, dan kami pun memberikan kesetiaan kami kepadanya”, Khalid berdiam sebentar mengenang dirinya di masa lalu.
“Kemudian, apa yang berlaku?” tanya Jarjah lagl
‘Kerana aku memeluk Islam itulah, maka beliau berkata kepadaku: Hai Khalid! Engkau ini adalah pedang dari pedang-pedang Allah, yang dihunuskan Allah ke atas kaum musyrik, dan beliau mendoakan bagiku dengan kemenangan!” jelas Khalid.
“Sebab itulah engkau dikenal dengan pedang Allah?!” tanya Jarjah.
“Ya, aku rasakan itu, dan aku orang yang paling keras di antara pasukan Islam ke atas kaum musyrik”, ‘jelas Khalid lagi.

“Baiklah”, tanya Jarjah. “Engkau membawa pasukanmu ke sini itu, untuk apa?”
“Aku datang ke sini untuk menyeru orang-orang seperti kamu kepada Islam, dan mempercayai Tuhan yang Satu!” jawab Khalid.
“Tuhan yang Satu?” tanya Jarjah.
“Ya, dengan menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah, serta meyakini bahwa apa yang dibawa Muhammad itu adalah dari Allah yang Maha Mulia”, terang Khalid.
“Kalau kami tidak mahu menerimanya?”
“Bayar upeti, dan kami akan melindungi kamu!”
“Kalau kami tidak mahu membayar upeti itu?”
“Kami akan memerangi kamu habis-habisan!”

“Baiklah, apa kedudukan orang yang mengikut seruanmu itu, dan yang mendampingkan diri dalam apa yang engkau seru itu?”
‘Kedudukannya dengan kami sama tentang apa yang difardhukan Allah ke atas kami sekalian, baik dia orang berpangkat atau orang yang rendah, yang pertama memeluk Islam dan yang kebelakangan! Yakni siapa yang mengikut Muhammad sekarang ini akan memperoleh pahala yang sama dengan siapa yang telah mengikutnya lama sebelum ini, iaitu balasannya dan kelebihannya?!”
“Bagaimana itu?” Jarjah meminta penjelasan.
“Ya”, jawab Khalid, “bahkan boleh jadi lebih utama lagi”.

“Bagaimana sampai begitu? Bagaimana agamamu menyamakan orang-orang ini dengan kamu, padahal kamu sudah mendahului mereka?” tanya Jarjah.
“Mudah saja!” jawab Khalid. “Kita orang-orang yang terdahulu memeluk Islam secara terpaksa, kerana kita telah menentangnya sebelum itu. Kemudian kita memberikan kesetiaan kami kepadanya sedang dia hidup di sisi kita, berita-berita langit sedang turun kepadanya, dia memberitahu kita tentang firman-firman Allah itu serta dibuktikannya dengan keterangan-keterangan yang tidak dapat diragukannya lagi”, kata Khalid.
“Jadi, apa alasannya?” tanya Jarjah lagi.
“Jadi orang-orang seperti kita ini sudah melihat semua bukti-bukti itu, dan kami mendengar sendiri darinya, sudah seharusnyalah kami mengikutnya dan menganut kepercayaannya. Tetapi kamu tidak seperti kami, kamu tidak melihat apa yang kami lihat, dan kamu tidak mendengar seperti apa yang kami dengar dan berbagai keajaiban dan bukti-bukti yang membenarkan seruan dan dakwaannya. Jadi barangsiapa yang mengikut perkara ini di antara kamu dengan kebenaran dan niat yang baik, tentulah dia lebih utama dari kami”.

Jarjah terharu dengan penerangan Khalid itu, lalu dia berkata: “Demi Allah, aku yakin engkau telah mengatakan yang benar, dan engkau tidak menipuku!”
“Demi Allah, aku telah berkata yang benar, tiada suatu pun yang aku sembunyikan, dan Allah telah membantuku untuk menjawab soalan-soalanmu itu dengan yang benar”, terang Khalid.
“Kalau begitu, apa gunanya lagi aku menyandang perisai ini”, kata Jarjah, dia lalu melepaskannya, sambil memeluk Khalid dan berkata: “Hai Khalid! Ajarkanlah aku agama Islam itu!” pinta Jarjah.

Khalid Ialu mengajak Jarjah datang ke kemahnya, lalu disiramkan ke atasnya dengan qirbah air (kulit kambing yang dibuat untuk mengisi air), kemudian diajaknya Jarjah bersembahyang dengannya dua rakaat.

Akhirnya pasukan Romawi kecewa apabila Jarjah tidak kembali lagi kepada mereka. Lalu mereka memulai penyerangannya kepada pasukan Islam, dan pada mulanya mereka merasa bangga dengan kemenangan kecil di mana mereka dapat mematahkan sayap-sayap pasukan Islam, kecuali yang sedang dipertahankan oleh lkrimah bin Abu jahal ra. dan Al-Harits bin Hisyam ra. Khalid bin Walid ra. pun keluar ke medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan Islam, dan keluar bersamanya Jarjah yang baru memeluk Islam. Keduanya pun memimpin pasukan Islam di tengah-tengah pasukan Romawi yang mencoba mengepung pasukan Islam. pasukan Islam pun berteriak semangat dan menggempur di belakang panglimanya, si pedang Allah, sehingga akhirnya pasukan Romawi tidak mampu bertahan lagi, dan mereka pun mundur kebarisan mereka yang asal.

Khalid terus berjuang pedang dengan pedang bersama-sama pasukan Islam yang telah kembali semangat perjuangannya, sedang Jarjah turut berjuang sebelah-menyebelah dengan pasukan Islam dari sejak tengah hari hingga matahari akan terbenam dan masuk waktu maghrib. Pasukan Islam bersembahyang shalat Dzhuhur dan Asar secara menunduk-nunduk saja kerana hebatnya pertarungan yang berlaku di antara dua pihak itu.

Akhimya Jarjah, moga-moga Allah merahmatinya, gugur syahid setelah mendapat luka-luka berat, dan dia tidak bersembahyang kepada Allah selain dua rakaat yang dikerjakannya dengan Khalid ra. ketika dia memeluk Islam itu.

(Al-Bidayah Wan-Nibayah 7:12 – Menurut Abu Nu’aim dalam “Dalaa’ilun Nubuwah”, nama panglima Romawi itu ialah jarjir bukan jarjah.)

( Diambil dari : http://azharjaafar.blogspot.com/2008/08/dakwah-khalid-bin-walid-ra-di-medan.html )

XXIV. Perang Mu’tah.

Mu’tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam. Desa tersebut sekarang ini bernama Kirk. Disinilah perang antara kaum Muslimin dan pasukan Syurabil bin Amr al-Ghassani, penguasa Bushra berlangsung.

Perang ini dilakukan sebagai balasan atas dibunuhnya seorang utusan Muslimin. Ketika itu Rasulullah mengutus Harits bin Umair al-Adzi bin Amr agar menyampaikan surat yang isinya mengajak memeluk Islam kepada pemimpin Bushra tersebut.

Seperti juga peraturan dunia politik saat ini, sejak dahulupun telah ada aturan bahwa seorang utusan negri lain tidak boleh dibunuh tanpa sebab yang jelas. Itu sebabnya Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi Islam kemudian mengirim pasukan ke Bushra. Itupun setelah Rasulullah menunggu beberapa waktu. Dalam kesempatan tersebut beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang yang membawahi pasukan berjumlah 3.000 orang.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya”.

Sementara itu Syurabilpun menyiapkan 100.000 pasukannya. Ini masih dibantu dengan pasukan Heraklius, raja Romawi, yang mengirimkan 100.000 tentaranya. Pasukan Islam tampak ragu melihat besarnya kekuatan musuh yang lebih dari 60 kali lipat itu. Selama dua malam mereka berhenti di suatu daerah untuk merundingkan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Beberapa orang diantara mereka berpendapat “ Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah guna melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan?”. Akan tetapi Abdullah bin Rawahah tidak sependapat. Ia berkomentar,

“Hai saudara-saudaraku, mengapa kalian tidak menyukai mati syahid yang menjadi tujuan kita berangkat ke medan perang ini ! Kita berperang tidak mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan tetapi semata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah kepada kita. Karena itulah, marilah kita maju ! Tidak ada pilihan lain kecuali salah satu dari dua kebajikan : menang atau mati syahid”.

Dengan segera musnahlah rasa takut pasukan Islam dan terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dengan gagah berani pasukan Islam terus bertempur hingga akhirnya Zaid bin Haritsah harus syahid. Segera Ja’far bin Abi Thalib yang waktu itu baru berusia 30 tahun maju menggantikan Haritsah.

“ Alangkah dekatnya surga ! Harumnya semerbak dan segarnya minuman.

Kita hunjamkan siksa ke atas orang-orang Romawi yang kafir nun jauh nasabnya

Pastilah aku yang memeranginya”.

Namun iapun harus syahid setelah tangan kanannya disusul tangan kirinya  yang memegang panji pimpinan ditebas musuh. Mujahid gagah berani ini ditebas tubuhnya hingga terbelah dua dari belakang dalam keadaan sedang mengepit panji kepemimpinan dengan sisa kedua tangannya yang tersisa. ! Subhanallah ..

Selanjutnya majulah Abdullah bin Rawahah menggantikan kedudukan Ja’far. Semula ia agak kecut melihat kedua sahabatnya telah tewas sementara tubuhnya sendiri telah penuh luka. Ia juga mendengar kabar bahwa Syurabil telah menyelamatkan diri. Sementara Heraklius menambah lagi 200.000 pasukannya. Namun ketinggian imannya berkata lain. Sambil menerjunkan diri ke kancah pertempuran sengit ia melantunkan syair hingga iapun syahid.

“Wahai hati, kamu harus turun meskipun dengan senang hati ataupun dengan berat hati. Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama. Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani. Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam. Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga”.

Setelah syahidnya ketiga panglima perang yang sebelumnya telah ditunjuk Rasulullah kaum Muslimin kemudian menyepakati Khalid bin Walid menjadi panglima perang.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas ra bahwa sebelum kaum Muslimin ( di Madinah) mendengar berita gugurnya tiga orang panglima mereka, Rasulullah saw bersabda “ Zaid memegang panji kemudian gugur. Panji diambil oleh Ja’far dan ia gugur. Panji itu diambil oleh Ibnu Rawahah dan iapun gugur …”. Saat itu, beliau meneteskan air mata seraya melanjutkan sabdanya , “ .. Akhirnya panji diambil oleh ‘Pedang Allah ( Khalid bin Walid ) dan akhirnya Allah mengaruniakan kemenangan bagi mereka ( kaum Muslimin)”.

Dibawah pimpinan Khalid, bekas panglima perang Quraisy yang dikenal sebagai ahli strategi nan tak terkalahkan ini, pasukan Muslim berhasil merubah keadaan. Begitu mendapat tanda bahwa ia ditunjuk sebagai panglima, Khalid langsung menyerbu pasukan musuh dengan gagah berani. Ia berhasil mengobarkan kembali semangat pasukannya hingga membuat musuh kocar kacir.

Namun begitu malam tiba dan pertempuran dihentikan ( ini adalah peraturan umum perang yang berlaku ketika itu ) Khalid langsung menyusun strategi baru. Dengan strateginya ia berhasil membuat pasukan musuh mundur. Ia mengubah posisi pasukan, yang tadinya di sayap kanan dipindahkan ke sayap kiri dan sebaliknya. Sementara pasukan yang di depan diputar sedemikian rupa dengan pasukan yang dibelakang.

Perubahan posisi yang menyerupai gelombang ini membuat pasukan musuh mengira bahwa pasukan Muslim mendapat tambahan pasukan. Mereka menjadi khawatir, bila dengan kekuatan yang jauh di bawah kekuatan mereka saja pasukan Muslim sulit untuk dikalahkan apalagi dengan adanya tambahan. Karena rasa takutnya itu akhirnya mereka memutuskan untuk mundur teratur tanpa menyadari bahwa sang panglima lebih senang lagi. Pasukan Khalid bin Walid tidak mengejar musuh yang mundur karena menyadari bahwa kekuatan mereka saat itu memang tidak mencukupi.

Maka pasukan Muslimpun kembali ke Madinah dengan  membawa pampasan yang ditinggalkan musuh begitu saja. Menjelang masuk kota, pasukan ini disambut oleh Rasulullah dan anak-anak  yang berhamburan menjemput mereka.

“ Ambillah anak-anak dan gendonglah mereka. Berikanlah kepadaku anak Ja’far!”, sabda Rasulullah.

Kemudian terdengar orang-orang meneriaki pasukan Khalid, “ Wahai orang-orang yang lari! Kalian lari dari jalan Allah”.

Akan tetapi Rasulullah segera menimpali “ Mereka tidak lari ( dari medan perang) tetapi mundur untuk menyerang balik, insya Allah”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 5 April 2011.

Vien AM.