Feeds:
Posts
Comments

Rahmat Dan Azab Allah SWT.

Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 808).

Imam Nawawi menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit.

Sementara Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berpendapat yang dimaksud diberi kecukupan pada hadist adalah dijaga dan diperintahkan oleh Allah, juga diperhatikan dalam do’a karena dalam ayat tersebut terdapat doa untuk maslahat dunia dan akhirat.

Namun dibalik itu semua terdapat hikmah besar yang mendasari turunnya ke 2 ayat istimewa di atas. Yaitu turunnya ayat 284 Al-Baqarah berikut :  

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Terjemah QS Al-Baqarah (2):284).

Mendengar itu para sahabat merasa kecil hati, khawatir tidak sanggup menjalankannya. Shalat, puasa, sedekah bahkan jihad mengorbankan diri mereka sanggup menjalaninya. Namun apa yang ada di dalam hati?? Bisikan-bisikan yang bisa jadi berasal dari syaitan yang memang merupakan musuh terberat manusia, sanggupkah manusia menghindarinya??

Para sahabat bagaimanapun adalah manusia biasa yang tidak jarang bisa lengah dan lelah. Mereka juga mempunyai keinginan duniawi bahkan keluarga yang mungkin belum begitu kuat keimanannya. Jadi sungguh wajar bila mereka sangat khawatir ketika harus mempertanggung-jawabkan apa yang terlintas dalam hati mereka.      

“Abu Hurairah ra menceritakan, “ Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah SAW, lalu mereka mendatangi Rasulullah SAW seraya berlutut di atas lutut masing-masing dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami dibebani amalan yang kami sanggup mengerjakannya seperti: Shalat, Puasa, Jihad dan Sedekah. Sekarang telah diturunkan kepada anda ayat ini ( surat Al-Baqarah ayat: 284), dan kami tidak sanggup.”

Namun apa jawaban Rasulullah??

Apakah kamu ingin mengucapkan apa yang sudah diucapkan kedua golongan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) sebelum kamu; “ Kami dengar dan kami durhakai?”.

Selanjutnya Rasulullah bersabda, katakanlah “ Kami dengar dan kami taati, ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Dan apa pula jawaban para sahabat??

“Mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taati, ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Masya Allah …

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(Terjemah QS, An-Nuur (24):51).

Para sahabat memang bukan tandingan kita. Ketaatan mereka pada Rasulullah benar-benar mengagumkan. Karena mereka memang tahu betul, haqul yaqin, bahwa cucu pemuka Quraisy Abdul Muthalib itu adalah seorang utusan Allah, Tuhan Yang Menciptakan manusia dan seluruh alam semesta ini. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana ayat-ayat diturunkan dan bagaimana Rasulullah menyikapinya.

Dari Rasululah pula mereka mengetahui bagaimana kaum Yahudi dan kaum Nasrani bersikap terhadap ayat-ayat yang diturunkan kepada dua golongan ahli kitab tersebut. Hingga Allah SWT pun mengabadikannya dalam ayat terakhir surat Al-Fatihah, bacaan yang wajib kita baca dalam shalat.

… … bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.      

Yang dimaksud mereka yang dimurkai ( Al-Maghdhub) dalam ayat di atas adalah orang-orang Yahudi karena mereka adalah orang-orang yang berilmu tapi tidak beramal. Sedangkan mereka yang sesat ( Al-Dhoolin) adalah orang-orang Nasrani, mereka beramal tapi tanpa ilmu.

Allah swt mewajibkan kita membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalat kita diantaranya agar kita tidak melakukan hal yang sama dengan kedua kaum tersebut. Tak heran bila kemudian Sang Khalikpun menjawab tanggapan dasyat para sahabat dengan yang lebih dasyat lagi. Yaitu dengan turunnya 2 ayat terakhir Al-Baqarah tadi, ayat 285 dan 286 sebagaimana berikut :

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali“. ( Terjemah Al-Baqarah(2):285).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. ( Terjemah Al-Baqarah(2):286).

Allahu Akbar …

Allah Azza wa Jala tidak pernah menyalahi janjinya. Sesuai janji-Nya pada ayat 51 surat An-Nuur bahwa mereka yang berkata “Kami mendengar dan kami patuh”, mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Dengan mengulang ikrar Rasul dan para sahabat yang diabadikan dalam ayat 285, Allahpun melanjutkannya dengan janji tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. Masya Allah …

Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap tiga perkara, yaitu keliru, lupa dan dipaksa”. (HR. Ibnu Majah; shahih)

Sungguh alangkah beruntungnya kita … Bayangkan bila apa yang ada dalam hati harus kita pertanggung-jawabkan … Alangkah celakanya …

Dengan begitu Allah swt telah menasikh ( menghapus) ayat 284 dan me-mansubkannya (mengganti) dengan ayat 286, bahwa Allah swt tidak akan memberatkan hamba-Nya yaitu apa yang ada dalam hati seseorang. Hanya niat yang baik yang Allah balas sedangkan niat buruk selama hanya dalam hati Allah tidak menghisabnya.     

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak.

Dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu sebagai satu keburukan.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini).

Memang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada yang menyatakan bahwa ayat-ayat tersebut ayat nasikh-mansub tapi ada pula yang bukan. Masing-masing dengan dalil yang kuat. Tapi sebagai orang awam hal tersebut bukanlah masalah. Yang pasti Allah swt telah menunjukkan kasih sayang-Nya yang begitu besar, terutama bagi orang-orang yang taat pada Allah dan Rasul-Nya. Rahmat Allah lebih luas dari langit dan bumi beserta segala isinya. Sekaligus juga peringatan bahwa Ia mengerahui segala isi hati dan bisikan, yang baik maupun jahat.

Selanjutnya , dalam ayat yang sama ( Al-Baqarah ayat 286) Allah Azza wa Jala mengajarkan bagaimana cara kita memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari segala beban dan kesalahan.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Ma’afkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Yang juga tak kalah menarik, adalah hadist berikut :

“Lalu siapa, wahai Rasul?,” tanya para sahabat. Lalu Nabi SAW bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. 

Itu adalah jawaban Rasulullah atas pertanyaan “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?” yang diajukan kepada para sahabat. Dan itu adalah kita, selama kita terus berada dalam keimanan dan bersiteguh “Kami dengar dan kami taat.”. Allahu Akbar ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 September 2021.

Vien AM. 

1. Alexander Russel Webb, ilmuwan Amerika Serikat.

Nama lengkapnya adalah Alexander Russel Webb. Dia seorang mualaf yang tadinya memegang teguh doktrin-doktrin lama tentang ketuhanan maupun sekularisme yang dia anut. Berkenalan dengan Islam, cahaya Illahi masuk ke relung jiwanya melalui jalur intelektualitas yang ia geluti.

Berdasarkan buku Tujuh Mualaf yang Mengharumkan Islam karya Tofik Pram dijelaskan, Russel mulai tertarik dengan Islam saat dirinya mempelajari agama-agama timur. Dia membaca buku-buku karya Mill, Kant, Locke, Hegel, Fitchte, Huxley yang kesemuanya membahas tentang protoplasma (unsur-unsur atom dalam pembentukan jasad makhluk hidup). Namun demikian, dia tak mendapati seorang pun yang dapat menerangkan tentang jiwa/ruh sesudah jasad manusia mati.

Setelah mengenal Islam, dia pun menyadari bahwa selain jasad terdapat hal krusial yang juga dimintai pertanggung jawaban kelak usai kematian. Proses perkenalan kepada Islam pun terus dia jalankan. Dia juga menegaskan dan memilih Islam sebagai agama yang dia anut dan percaya.

Dia menyebut bahwa ketika memilih menjadi seorang Muslim, hal itu bukan karena ikut-ikutan buta atau dorongan emosi semata. Akan tetapi, memeluk Islam adalah hasil dari penelitian dan pelajaran yang sungguh-sungguh, jujur, tekun, dan bebas yang disertai penelidikan mendalam olehnya. Dia menyimpulkan, inti dari ajaran Islam adalah akidah yang murni yaitu berserah kepada Allah SWT. Adapun tanda penjelmaan berserah diri adalah melalui shalat. Islam mengajak pada persaudaraan dan kecintaan umat manusia di seluruh dunia agar dapat berbuat baik pada sesama.

Berlatar belakang sebagai seorang intelektual, semangat Islam itulah yang kemudian ditelurkan Russel dalam aksi. Dialah tokoh penting yang membangun Islamic Center di New York. Islamic Center yang didirikannya ini terbukti banyak membantu pendirian masjid dan perpustakaan-perpustakaan Islam di Amerika.

Adapun sumber pendanaan pendirian Islamic Center kala itu bersumber dari Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Dari ikhtiar Russel inilah Islam mulai bertumbuh di kota-kota Amerika.

Alexander Russel juga akhirnya didaulat sebagai wakil utama Islam di konferensi agama-agama tingkat dunia yang didakan di Chicago, pada 1893. Dia juga lah yang menjadi juru bicara Islam di Amerika pada masanya. Bahkan, banyak pemikir-pemikir terkemuka yang telah menyimak paparannya perihal pengaruh Islam terhadap keadaan sosial pada 1893. Inilah ihwal pokok ajaran Islam yang dia sampaikan dan mempengaruhi pemikiran penulis besar, Mark Twain. Russel wafat pada 1916.

2. Laurence Brown, dokter yang ditinggalkan istrinya karena menjadi Islam.

“Saya kira adalah hal yang sulit bagi siapapun ketika membuat perubahan drastis dalam hidup mereka. Terutama di dunia Barat ketika Anda menjadi Muslim, maka pastinya Anda akan menghadapi kesulitan,” kata Laurence Brown, dikutip dari YouTube Ayatuna Ambassador, Rabu (27/1/2021).

Diakui Laurence, saat memutuskan memeluk Islam, ia merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hidupnya.

“Saya ingat pada masa awal jadi Muslim, saya merasakan kedamaian dan kenyamanan luar biasa. Perasaan itu tidak pernah lekang dari saya,” tuturnya.

Hanya saja, keputusannya memeluk Islam itu bukanlah perkara mudah. Langkah besar yang diambilnya tersebut menyebabkan banyak perubahan terjadi dalam hidupnya. Salah satunya dijauhi orang tuanya.

“Tapi kehidupan dunia saya hancur, orang tua saya tidak bisa mengerti akan pilihan saya,” ungkapnya.

Kata Laurence, ia dikenalkan Islam oleh saudara laki-lakinya yang lebih dahulu menjadi Muslim. Itu sebabnya, saat Laurence memutuskan jadi mualaf, orang tuanya merasa sangat kehilangan.

“Kami hanya dua bersaudara, saya dan saudara laki-laki saya. Maka ketika saya menjadi Muslim, orang tua saya merasa kehilangan anak yang satunya lagi karena Islam,” ucapnya.

“Orang tua saya ketika saya masih bersama mereka, mereka bukan Kristen yang taat. Tapi sama saja, mereka merasa, perpindahan saya ke Islam adalah kehancuran dalam hidup mereka,” sambungnya.

Tak hanya dijauhi orang tuanya, dokter Laurence Brown juga sampai diceraikan sang istri.

Keputusan dr.Laurence Brown memeluk Islam berakhir dengan perceraian. Ia bahkan harus kehilangan anak-anaknya karena hak asuh jatuh ke tangan mantan istrinya.

“Ketika saya jadi Muslim, saya diceraikan, lalu Allah beri saya istri yang lain. Saya kehilangan anak-anak saya karena putusan pengadilan di keluarga sebelumnya, Allah beri saya anak yang lain dan keluarga baru,” ungkapnya.

Meski demikian, diakui Laurence, perceraian tersebut tidak membuatnya sedih. Sebaliknya, ia merasa bahagia karena mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Dalam film, ketika Anda bercerai, Anda jadi merana, mulai memukul tembok sampai berlubang, dan dengan sengaja menabrakkan mobil Anda, tidak berdaya. Tapi, saya malah bahagia,” katanya.

Lebih lanjut, Laurence juga mengungkapkan kehilangan lainnya yang ia hadapi setelah memeluk Islam. Bersamaan dengan hal baik yang Allah SWT gantikan untuknya.

“Saya lepaskan pekerjaan saya, Allah beri saya pekerjaan yang lebih baik. Saya kehilangan rumah karena perceraian, Allah berikan saya rumah di kota suci Madinah. Saya kehilangan harta, Allah ganti dan lipat gandakan,” ujarnya.

Sebenarnya Laurence tidak benar-benar merasa kehilangan. Karena ia percaya bahwa Allah mengganti hal tersebut dengan yang lebih baik. Begitu pula terkait hubungan dengan orang tuanya yang juga membaik.

“Saya tidak kehilangan orang tua saya selamanya. Akhirnya, kami berbicara kembali, dan saya merasa hubungan kami sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya,” katanya.

Islam di mata dokter Laurence Brown.

Bagi dr.Laurence Brown, Islam adalah agama yang damai. Ia bahkan mengaku sebelum masuk Islam, tidak menemukan kedamaian dalam hidupnya.

“Seingat saya, saya tidak pernah merasakan kedamaian sampai saya masuk Islam. Setelah masuk Islam, saya merasakan ketenangan dalam setiap perbuatan saya,” ujarnya.

Sebelum masuk Islam, ia terlena dengan kehidupan dunia. Namun setelah masuk Islam, ia kehilangan hasrat untuk kehidupan gaya Barat tersebut.

“Saya tertarik pada pisau, senjata api, main paintball, saya ada dalam militer, itu yang kami lakukan, sesuatu yang kami nikmati di Barat. Saya nonton film Rambo, Commando, James Bond, saya memimpikan kehidupan seperti itu,” tuturnya.

Kini, Laurence merasa hidupnya yang dahulu tidak beraturan dan paranoid berubah jadi damai. Ia juga kini menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

“Saya menjadi diri saya yang sekarang, seorang yang berdamai dengan diri, orang di sekitar, dan masyarakat umum,” katanya.

3. Nicole Queen, dari kehidupan malam menjadi pendakwah,

Hidayah dapat datang kapan saja kepada siapa pun. Tak ada yang tidak mungkin ketika Allah SWT sudah berkehendak. Bahkan hati manusia yang gelap dapat berubah seketika.

Dunia malam sudah bukan hal tabu di negara bebas seperti Amerika Serikat. Klub dan berbagai jenis bar ramai didatangi orang-orang di malam hari. Termasuk Nicole Queen, penggemar pesta yang kini menjadi hijaber dan tokoh muslimah inspiratif.

Nicole Queen hanyut dalam gemerlap dunia malam di tahun 2005 silam. Wanita asal Dallas, Amerika Serikat itu kerap berdandan dan pergi berkeliaran dengan teman-temannya. Ia selalu berpesta dan mencoba berbagai jenis aktivitas dunia malam. Nicole yang kala itu berprofesi sebagai seorang fotografer sering berpindah-pindah dari satu klub ke klub lain di sekitar Kota Dallas.

“Saya bekerja di industri malam dan telah menghabiskan banyak waktu di sekitar orang-orang yang minum dan berpesta,” ungkap Nicole, dikutip dari The National News, Jumat (05/03/21).

Selama menjalankan profesi sebagai fotografer dunia malam, Nicole Queen terpengaruh gaya hidup bebas yang membuatnya jadi ketagihan minum dan berpesta. Parasnya yang cantik serta kemampuan memotret yang andal membuat Nicole juga dilirik oleh para artis Hollywood.

Ia mendapatkan banyak pesohor sebagai kliennya, seperti Justin Timberlake dan Kate Hudson. Hal itu membuatnya semakin terjerumus di kehidupan malam. Hal itu membuat Nicole merasakan pergolakan batin. Ia merasa hidupnya hampa hingga kemudian bertemu Hasan, pria muslim asal Yordania yang kini menjadi suaminya.

Ketertarikan Nicole terhadap Hasan membawanya ke dunia Islam. Nicole bertemu dengan sejumlah teman muslim. Hatinya pun terketuk sehingga ia mulai tertarik untuk mempelajari Islam. Nicole kemudian mulai mengikuti kelas agama Islam di sebuah masjid yang berlokasi di sekitar tempat tinggalnya. Simak kisah Nicole Queen di halaman berikutnya ya, Bunda.

Nicole Queen membutuhkan waktu enam bulan belajar Islam. Ia akhirnya resmi menjadi mualaf pada tahun 2007. Tak lama kemudian, Nicole juga memutuskan untuk memakai hijab. Ia menutup tubuhnya dengan busana muslim. Namun perjalanan Nicole menjadi muslimah inspiratif masih panjang, Bunda. Berbagai cobaan mulai menghampiri Nicole Queen usai memeluk Islam. Hatinya hancur ketika keluarganya tidak menerima keputusan Nicole untuk menjadi mualaf.

Kariernya pun ikut tenggelam. Ia banyak ditolak saat melamar pekerjaan karena mengenakan hijab. Kini hidup sebagai golongan minoritas di Negeri Paman Sam, Nicole kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang di sekitarnya.

Selain diskriminasi, ia juga menjadi sasaran empuk kebencian. Nicole pernah mendapat perlakuan buruk ketika pelayan restoran dengan sengaja menaruh potongan daging babi ke dalam minumannya. Cobaan demi cobaan terus Nicole lalui. Namun hatinya tidak pernah goyah dan tetap berpegang teguh pada Islam. Kegigihan Nicole membuatnya tumbuh semakin kuat, Bunda. Nicole percaya bahwa Islam dapat memberikannya kedamaian hidup. Perlahan-lahan, ia kembali menggeluti profesinya sebagai fotografer. Namun ia sudah tidak lagi berhubungan dengan kehidupan dunia malam.

Mantap memeluk Islam, Nicole kerap mengunggah konten seputar agama di YouTube. Ia banyak membicarakan topik seputar menjadi mualaf, mendidik anak hingga persahabatan antara orang berbeda agama. Ia kini menjadi sosok muslimah inspiratif. Nicole beberapa kali tampil sebagai pembicara di masjid. Di sana, ia bertemu dengan hijaber lainnya. Nicole pun bersahabat dengan wanita bernama Monica Traverzo itu.

“Kami sangat cocok. Di perjalanan pulang ke rumah, kami banyak mengobrol dan bahkan tetap berada di apartemen untuk berbincang,” kata Nicole.

Kedua muslimah inspiratif itu sepakat berkolaborasi meluncurkan tayangan podcast yang diberi nama Salam Girl! Bersama-sama, mereka memperkenalkan Islam kepada komunitas non-muslim di Dallas, Texas. Nicole membawakan dakwah dengan gaya yang modern sehingga sesuai dengan masyarakat Amerika Serikat. Ia juga memakai istilah umum ketika berbicara di hadapan non-muslim, seperti mengganti nama ‘Allah’ dengan ‘Tuhan’.

Podcast Salam Girl! kini sudah diunduh lebih dari 60 ribu kali lewat aplikasi Apple Podcast dan Spotify. Jumlah pendengar podcast mereka juga telah bertambah banyak sejak 10 episode pertama. Nicole dan Monica juga banyak membahas soal fashion muslim. Mereka bahkan sengaja merancang feed Instagram yang didominasi oleh tone warna pink pastel agar terlihat estetik dan menarik perhatian publik. Mereka mengunggah berbagai foto OOTD hijab, perlengkapan sholat seperti tasbih, Al-Quran hingga interior Masjid.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2021.

Diambil dari :

https://www.republika.co.id/berita/q8qdei320/alexander-russel-mualaf-as-di-balik-karya-besar-mark-twain

https://www.haibunda.com/trending/20210305122153-93-196511/kisah-mualaf-bule-hijaber-dari-terjerumus-dunia-malam-hingga-jadi-pendakwah

4. Fitnah Kekuasaan.

Abu Dzarr berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim).

Itulah yang dikatakan Rasulullah kepada Abu Dzarr, seorang sahabat yang suatu kali pernah menanyakan mengapa Rasulullah tidak memberinya jabatan. Hadist diatas mengisyaratkan bahwa kekuasaan adalah amanah yang sangat berat pertanggung-jawabannya. Tidak banyak pemimpin dunia yang mampu lolos dari fitnah kekuasaan.   

Dalam surat Al-Kahfi Allah swt memilih Dzukarnaen, seorang raja yang alim lagi bijaksana, sebagai panutan. Dzukarnaen senantiasa menyandarkan kekuasaan dan kemampuannya sebagai seorang penguasa kepada Allah swt. Sementara dalam urusan keduniawiannya ia tidak lupa melibatkan rakyatnya agar berpartisipasi dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Baginya kekuasaan bukan tujuan melainkan alat untuk menegakkan agama agar tercipta masyarakat beriman, aman dari segala kejahatan dan ketakutan.

Dzulkarnaen yang hidup ratusan tahun sebelum Masehi adalah seorang raja yang sangat terkenal. Terdapat beberapa pendapat tapi mayoritas ulama sepakat bahwa Dzulkarnaen yang dikisahkan Al-Quran bukanlah Aleksander Agung sebagaimana yang diyakini Barat.   

Orang-orang Quraisy pada masa awal datangnya Islam rupanya juga pernah mendengar kisah tentang raja tersebut.  Oleh sebab itu mereka menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw.

Maka Rasulpun menyampaikan ayat 83 hingga 98 surat Al-Kahfi. Melalui ayat-ayat di atas Allah swt menceritakan sepak terjang Dzulkarnaen, mulai dari perjalanannya dari Barat ke Timur hingga akhirnya bertemu dengan suatu kaum yang memohon pertolongannya.

Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” ( Terjemah Al-Kahfi(18):94).

Di dalam beberapa hadits tentang tanda-tanda hari Kiamat Kubra, disebutkan ada sepuluh tanda hari kiamat. Di antaranya adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Pada kelanjutan ayat di atas, diterangkan bagaimana Dzulkarnaen kemudian membangun dinding tinggi terbuat dari besi yang bisa mencegah turunnya Ya’juj dan Ma’juj hingga menjelang hari Kiamat nanti.

Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah datangnya janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Anbiya(21):96-97).

Bagi orang awam termasuk orang-orang Qurasiy yang menanyakan hal tersebut, kisah Dzulkarnaen agak sulit untuk dipahami. Bahkan hingga hari inipun siapa sebenarnya Dzulkarnaen, dari mana asalnya, apa nama kerajaannya, apakah ia nabi atau bukan, siapa pula yang dimaksud Ya’juj dan Ma’juj, dll, semua masih merupakan misteri. Para ulama berbeda pendapat. Persis seperti kisah pemuda Al-Kahfi, siapa para pemuda tersebut, dimana letak gua Kahfi, bahkan jumlah pemudanyapun masih diperdebatkan.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):22).

Kewajiban kita sebagai orang beriman adalah mempercayainya. “Kami dengar dan kami patuh”, jangan seperti kebanyakan orang Yahudi “ Kami dengar tapi tidak mau patuh”.

Meski tidak ada salahnya bila para ilmuwan, ilmuwan Muslim khususnya, berusaha memecahkan misteri tersebut, selama bisa menambah keimanan bukan malah sebaliknya. Apalagi Allah swt dalam surat Al-Kahfi, khususnya, telah memberikan sebagian tanda-tanda yang bisa menjadi kunci dibukanya misteri tersebut. Al-Quran memang bukan kitab sejarah bukan pula kitab panduan Ilmu Pengetahuan dan Sains namun demikian banyak sekali ayat-ayatnya yang mengandung ke 2 pengetahuan tersebut. 

Yang juga tak kalah pentingnya, surat Al-Kahfi ternyata dapat melindungi kita dari fitnah Dajjal yang juga merupakan salah satu dari 10 tanda-tanda besar menjelang Hari Kiamat.  

“Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya.” (HR Dailami).

Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim).

Fitnah Dajjal adalah fitnah terberat dalam hidup karena menggabungkan sekaligus ke 4 fitnah di atas, yaitu fitnah agama, fitnah kekayaan, fitnah ilmu dan fitnah kekuasaan

Lebih mengerikannya lagi, fitnah yang disebarkannya tersebut sangat lembut hingga orang tidak merasa sedang tertipu. Kebebasan berpendapat alias demokrasi yang kebablasan diantaranya bahwa tubuh adalah milik pribadi yang adalah haknya untuk berbuat sesukanya hingga melahirkan prilaku menyimpang seperti LGBT, perzinahan, persamaan hak laki-laki dan perempuan, dll adalah salah satu contohnya. Belum lagi sistim ekonomi riba yang telah menyusup ke negara-negara mayoritas Islam tanpa pelakunya merasa sedikitpun bersalah.   

Itu sebabnya Dajjal disebut Al-Masih Al-Dajjal yang berarti Dajjal si pengusap, yang mengusap korbannya dengan penuh “kelembutan dan kasih sayang”. Sebutan yang sama dengan nabiyullah Isa Al-Masih as, namun dengan konotasi negative … Na’udzubillah min dzalik.

Untuk itu Rasulullah mengajarkan umatnya untuk senantiasa membaca doa berikut pada tahiyat akhir shalat.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 7 Agustus 2021.

Vien AM.

Surat Al-Kahfi adalah surat ke 18 dari 114 surat yang terdapat dalam Al-Quranul Karim. Surat yang terletak pada akhir juz 15 dan awal juz 16 ini termasuk dalam golongan surat Makkiyah. Golongan surat Makkiyah adalah surat yang turun sebelum Rasulullah saw hijrah ke Madinah.

Semua surat dalam Al-Quran sudah pasti memiliki banyak kebaikan bahkan ada yang mempunyai keistimewaan. Demikian pula surat Al-Kahfi sebagaimana hadist-hadist berikut :

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra., dari Ibnu Umar ra., mengatakan bahwa “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua Jum’at.’”.

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi).

Siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, dan siapa yang membaca keseluruhannya maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi.” (HR Ahmad).

Seperti juga surat lain dalam Al-Quran, Al-Kahfi juga menceritakan banyak kisah hikmah. Surat Al-Kahfi dibuka dengan penegasan bahwa Al-Quran adalah kitab yang lurus, tidak ada kebengkokan di dalamnya. Ia adalah petunjuk, bimbingan sekaligus peringatan bahwa orang beriman dan beramal sholeh, tempatnya kelak adalah surga. Sedangkan orang kafir yaitu orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah Subhana wa ta’ala mempunyai anak, tempatnya adalah neraka.

Setidaknya ada 4 kisah menarik dalam surat ini, yaitu kisah tentang pemuda penghuni gua Kahfi, kisah 2 pemilik kebun, kisah nabi Musa dengan nabi Khidir, dan terakhir kisah raja Dzulkarnaen, dan sedikit kaitannya dengan Yajuj Majuj yang akan muncul di akhir zaman nanti.

Ke 4 kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia dalam mengarungi hidupnya akan menghadapi berbagai fitnah dan cobaan. Siapa yang berhasil lolos mereka akan masuk surga sedangkan yang kalah akan masuk neraka. Fitnah dan cobaan yang harus dihadapi manusia paling tidak ada 4, yaitu fitnah agama sebagaimana yang dihadapi para pemuda Kahfi, fitnah kekayaan sebagaimana kisah 2 pemilik kebun, fitnah ilmu seperti kisah nabi Musa yang berguru kepada nabi Khidir, serta fitnah kekuasaan yang dikisahkan melalui raja alim Dzukarnaen.

1. Fitnah agama.

Ini adalah fitnah terbesar dan terberat dalam hidup. Tak salah bila Allah swt menempatkan kisah Pemuda Penghuni Gua Kahfi( Ashabul Kahfi) pada bagian awal surat Al-Kahfi. Kisah ini terdapat pada ayat 9 hingga ayat 26, dibuka dengan ayat tentang keheranan sebagian orang tentang bagaimana mungkin orang bisa tertidur selama ratusan tahun di dalam sebuah gua. 

Selanjutnya pada ayat 13 Allah swt menegaskan bahwa para pemuda yang ditidurkan-Nya tersebut adalah orang-orang beriman.  Mereka hidup pada saat raja dan masyarakat dimana mereka tinggal adalah kafir. Maka demi menyelamatkan aqidah mereka memilih untuk menjauh, pergi meninggalkan kota. Lalu Allah pun berkenan menyembunyikan para pemuda tersebut ke dalam sebuah gua, bahkan menidurkannya selama 300 tahun ditambah 9 tahun.

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):25).

Namun para pemuda tersebut tidak menyadari bahwa mereka tidur selama itu. Dan ketika akhirnya Allah swt membangunkan mereka, keadaan telah berubah. Raja dan masyarakat telah menjadi orang-orang yang beriman.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). … …”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):19).

Banyak hikmah dari kisah di atas, namun yang terpenting adalah bahwa aqidah di atas segalanya. Kenikmatan duniawi betapa berlimpahnya tidak ada artinya tanpa aqidah yang kuat.

dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.  ( Terjemah Al-Kahfi(18):14).   

2. Fitnah Kekayaan.

Pada ayat 32 Allah swt memberikan perumpamaan dua orang lelaki, yang satu kaya raya yang lain tidak. Si kaya Allah anugerahi 2 buah kebun anggur  yang dikelilingi pohon-pohon kurma, dan diantara ke 2 kebun tersebut terdapat ladang. Ini masih ditambah lagi dengan mengalirnya sungai di celah-celah kebun hingga tak syak lagi selalu menghasilkan buah yang berlimpah.

Namun sayangnya si pemilik kebun adalah orang yang congkak dan sombong. Ia merasa jumawa dengan harta dan banyaknya pengikut lebih hebat dari temannya. Ia bahkan juga mendustakan hari Kiamat.

Hingga suatu hari dengan pongahnya ia memasuki kebunnya dengan maksud  untuk memanen hasilnya. Namun apa yang terjadi???

Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.    ( Terjemah Al-Kahfi(18):42).   

Salah satu hikmah yang dapat kita petik dari kisah yang tertera dari ayat 32 hingga 46 surat Al-Kahfi di atas adalah bahwa kekayaan termasuk anak dan keluarga, tidaklah kekal. Ia hanyalah titipan yang suatu hari harus dikembalikan pada Empunya, Allah Azza wa Jala. Maka tak sepantasnya orang merasa sombong apalagi menyekutukan-Nya. 

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):46).   

3. Fitnah Ilmu.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( Terjemah QS. Al-Alaq(96):1-5).

Ayat di atas adalah ayat yang pertama kali diturunkan Allah Azza wa Jala kepada Rasulullah saw. Maknanya, Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu ( melalui perintah “Bacalah!”) adalah hal yang sangat penting dan utama. 

Nabi Musa alahi salam adalah salah satu dari ulul azmi yang lima, yang sudah pasti ilmunya tidak perlu lagi diragukan. Nabi Musa di anugerahi mukjizat yang sangat banyak, yang paling fenomenal adalah tongkat yang atas izin Allah swt mampu membelah laut hingga dapat menyelamatkan nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun yang kejam.

Namun dalam surat Al-Kahfi kisah yang diangkat mengenai nabi Musa tidak sama dengan ayat-ayat dalam surat lain. Yaitu kisah pertemuan dengan nabi Khidir, nabi yang tidak populer dan bahkan kemungkinan tidak mempunyai pengikut. Pada ayat 66 surat tersebut diberitakan bahwa nabi Musa ingin berguru kepada nabi Khidir demi mendapatkan ilmu yang dimiliki nabi tersebut. 

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” ( Terjemah Al-Kahfi(18):66).

Rupanya itu adalah cara Allah swt menegur nabi Musa as, karena suatu ketika nabi Musa pernah merasa dirinya adalah orang yang paling pandai.

Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah bersabda, “Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’

Nabi Musapun segera menyadari kesalahannya. Maka dengan ikhlas ia mematuhi perintah Tuhannya untuk mencari nabi Khidir dan mempelajari ilmu darinya. Meski pada perjalanannya nabi Musa sering kehilangan kesabaran karena tidak mampu memahami ilmu tersebut hingga sering memprotes. Diantaranya sebagaimana ayat 71 berikut :

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar”.  

Padahal sejak awal nabi Khidir sudah memperingatkannya bahwa ia tidak akan sabar berguru padanya.

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):67).

“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun“. ( Terjemah Al-Kahfi(18):69).

Tiga kali nabi Musa mempertanyakan apa yang dilakukan nabi Khidir. Hingga akhirnya nabi Khidirpun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka dan kemudian menjelaskan apa yang dilakukannya sebagaimana yang terekam dalam ayat 78-82 surat Al-Kahfi.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas. Namun yang terpenting adalah bahwa ilmu adalah cobaan yang harus dipertanggung-jawabkan. Ilmu sangat banyak dan beragam tetapi yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang mampu menambah keimanan bukan malah menjadi sombong apalagi takabur.

( Bersambung).

Gagal Faham.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,”( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):155).

Ayat di atas menerangkan bahwa ketakutan, kelaparan dan kemiskinan adalah cobaan atau ujian dari-Nya.  Termasuk di dalamnya virus Covid-19, pandemi yang sudah memasuki tahun ke 2 ini.

Seperti juga layaknya suatu ujian yang pasti pernah dialami semua orang, ntah itu ujian memasuki jenjang pendidikan, seperti test masuk sekolah , ujian kenaikan tingkat, ataupun ujian kepegawaian atau ujian-ujian lain, tak jarang seseorang mengalami kegagalan.

Namun yang paling menyakitkan adalah ketika kegagalan bukan disebabkan kita salah, melainkan akibat gagal memahami maksud pertanyaan. Gagal faham atau galfok alias gagal fokus, istilah anak muda zaman Now. Misalnya ketika kita diminta menerangkan sesuatu lalu dengan penuh keyakinan kita menjawabnya dengan tulisan panjang lebar yang ternyata tidak sesuai pertanyaan. Yang lebih celakanya lagi kita baru menyadari kesalahan tersebut begitu kita menyerahkan lembar jawaban. Sungguh menyesakkan bukan ???       

Begitupun ujian Covid-19. Supaya tidak gagal faham, sebagai orang beriman kita harus memahami apa yang diinginkan Sang Pencipta dengan ujian tersebut.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):214).

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (Terjemah QS.Al-Anfal(8):28).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. Terjemah QS.Al-Anbiya (21):35

Dari ayat-ayat di atas dapat kita ketahui bahwa :

1. Ujian dibuat sebaga seleksi masuk surga.

2. Orang-orang terdahulu juga mengalami ujian dan cobaan.

3. Ujian dan cobaan bisa berupa malapetaka dan kesengsaraan.

3. Bisa juga harta kekayaan dan anak-anak kita.

4. Pertolongan Allah amat dekat.

5. Semua manusia pasti akan mati dan kembali pada Sang Pencipta.

Dengan demikian, artinya semua yang kelihataannya baik dan menyenangkan dalam pandangan kita seperti kekayaan, kesehatan bahkan anak-anak kita, maupun yang tampaknya buruk seperti kemiskinan, kesengsaraan, mala petaka dan berbagai penyakit seperti Covid-19, adalah ujian dan cobaan. Persis seperti ujian berpuasa di bulan Ramadhan, yang tujuannya adalah takwa. Karena hanya orang-orang takwa yang bisa memasuki surga-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):183).

Manusia diciptakan sebagai mahluk terbaik dan terpandai di muka bumi ini agar dapat menjadi khalifah/pemimpin, minimal pemimpin bagi keluarga dan dirinya sendiri agar tidak mudah dipengaruhi bisikan syaitan terkutuk. Puncaknya adalah pemimpin yang mampu menciptakan masyarakat yang adil, tenang dan makmur, dibawah ketundukan kepada Sang Khalik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.       

Covid-19, pandemi yang sedang melanda dunia saat ini sungguh terasa berat. Hampir setiap hari setiap saat kita mendengar kabar kerabat dan handai taulan yang wafat dalam perjuangan melawan virus yang makin mengganas tersebut. Tak tanggung-tanggung dalam 1 keluarga bisa beberapa anggotanya meninggal dalam waktu berdekatan.

Hingga pemerintahpun mengeluarkan peraturan yang membatasi pergerakan kita. Diantaranya tidak ke luar rumah kecuali mendesak, tidak berkumpul banyak orang,  termasuk shalat Jumat. Sungguh menyedihkan. Pertanyaannya murkakah Allah hingga tidak sudi melihat hamba-2nya memasuki rumah-Nya?!? Benarkah ini yang diinginkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala???

Tidak dapat kita pungkiri negeri kita tercinta ini sarat dengan keboborokan. Mulai dari pejabat korup, perzinahan dan mabuk2an yang terus meraja-lela, perempuan-perempuan berlomba memamerkan auratnya, ayat2 suci diabaikan, Al-Quran yang hanya menjadi pajangan, dll.

Salah siapakah ini?? Bukankah Islam mengajarkan untuk saling menasehati, saling mengingatkan. Tak pelak, ini adalah kesalahan bersama yang akibatnyapun harus ditanggung bersama pula.

Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia  tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’

Sungguh disayangkan tapi apa mau dikata. Padahal negara kita termasuk relative aman damai dibanding dengan negara-negara Timur Tengah seperti Palestina dan Suriah yang hampir setiap hari terjadi ledakan bom. Mengapa kita tidak mensyukurinya, syukur dengan cara yang benar. Yaitu memperbaiki ibadah dan hubungan dengan-Nya.        

Mengapa Allah Azza Wa Jala turunkan pandemi ini baru kita mau bertobat?? Kematian adalah hak prerogative Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak dapat ditawar-tawar, yang tidak dapat dihindari kemanapun kita bersembunyi. Yang penting dalam keadaan bagaimana kita wafat.Sementara bagi keluarga yang ditinggalkan, tidak boleh merasa kecewa apalagi marah. Ini adalah ketetapan-Nya. Sebaliknya ketika seseorang sembuh dari Covid, atau bahkan sehat terhindar dari virus tersebut, tidak sepatutnya merasa “jumawa”. Seharusnya ia lebih bersyukur lagi karena Allah telah memberinya kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki amal ibadah, bukannya malah melanjutkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.  

Begitupun dengan yang sudah melakukan vaksinasi. Jangan  takabur bahwa Covid tidak akan menyentuhnya. Jangan pernah lupa, tanpa izin-Nya, vaksin, obat-obatan, prokes dll tidak akan menyelamatkannya dari bencana. Manusia hanya bisa ikhtiar yang memang merupakan bagian dari ibadah. Termasuk berdoa seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, yang isinya mencerminkan bahwa keselamatan dalam ber-agama adalah no 1, baru setelah itu kesehatan dll. Doa tersebut juga berisi permohonan agar dimudahkan ketika sakratul maut.

Akhir kata, jangan sampai kita gagal paham terhadap ujian Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti halnya dalam ujian-ujian keduniawian kita. Karena akibatnya benar-benar fatal. Kalo saja kita bisa melihat catatan malaikat tentang hasil ujian Covid yang pasti berbeda jauh dengan catatan WHO yang hanya mencatat korban wafat, korban terinfeksi, persentase yang sudah di vaksin dll ….           

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Juli 2021.

Vien AM.

Adalah kodrat manusia, perempuan tertarik kepada lelaki, dan lelaki tergoda kepada  perempuan. Yang tidak normal, di luar kodrat bahkan haram dalam pandangan Islam adalah tertarik ( secara hubungan seksual) dengan sesama jenis. Namun demikian ketertarikan dua jenis kelamin berbeda tersebut harus dikendalikan, diatur sesuai kehendak Sang Khalik, tidak diumbar dan dibiarkan lepas begitu saja tanpa kendali. Itulah perbedaannya dengan binatang.

Rasulullah saw bersabda, ”Pernikahan adalah sunnah-ku, karena itu barangsiapa yang tiada menyukainya maka ia bukan termasuk umatku .”

Sunnah terbagi atas dua jenis sebagaimana sabda Rasulullah: ”Sunnah itu ada dua macam : (1) sunnah yang merupakan suatu kewajiban, yang jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Dan (2) sunnah yang bukan kewajiban, yang bilamana dikerjakan niscaya mendapat pahala (keutamaan) dan jika ditinggalkan bukan merupakan suatu kesalahan.”

Pernikahan dalam Islam hukumnya adalah sunnah yang termasuk dalam sunnah kelompok pertama, yaitu jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Artinya, Allah swt mengganjar hambanya yang mau menikah bukan saja dengan pahala yang banyak namun lebih utama lagi beroleh petunjuk. Karena menikah  dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan zina yang sangat dilaknati dan dimurkai-Nya.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, ……” ( Terjemah QS. Al Furqon(25): 68-70).

Zina bukan hanya melakukan persetubuhan antar pasangan yang bukan muhrim, tapi juga termasuk perbuatan-perbuatan yang membangkitkan syahwat.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Terjemah QS. Al Isro’(17): 32).

Hukuman perbuatan zina amatlah berat karena zina merampas kehormatan dan merusak nasab. Padahal ajaran Islam itu menjaga kehormatan jiwa, agama, nasab, akal dan harta. Bahkan seluruh agama menyatakan bahwa zina itu terlarang, tidak ada satu pun agama yang menyatakan halal.

Ironis bagi rata-rata orang Barat ( non Islam ) zina adalah hal biasa, bukan perbuatan buruk. Menurut mereka zina adalah kebutuhan dan kesenangan manusia yang harus tersalurkan seperti juga kebutuhan makan dan minum. Setidaknya itulah pemikiran yang dipopulerkan Sigmund Freud pada awal abad 20. Freud adalah seorang Yahudi asal Austria yang dikenal sebagai bapak teori Psikoanalisis. Freud seperti juga temannya sesama ahli psikologi kenamaan Friedrick Nietzsche adalah penganut Atheis alias tidak percaya akan adanya Tuhan. “ Tuhan telah mati” itu yang mereka katakan.

Namun demikian, hukum pernikahan dalam Islam tidaklah bersifat kaku dan mengikat sehingga dapat menyulitkan para hamba-Nya.  Karena pada dasarnya Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia. Karenanya bila ada sebagian kecil manusia yang disebabkan satu dan lain hal merasa tidak sanggup menikah, hal ini masih dapat dibenarkan.

Contohnya adalah  orang  yang sakit  parah dan  laki-laki impoten. Sebagian ulama bahkan berpendapat haram hukumnya. Sebab hal ini dapat mengakibatkan timbulnya pertengkaran dan ketidak-bahagiaan sepihak. Itu sebabnya Islam tidak mengharamkan perceraian bila memang benar-benar tidak dapat dihindarkan. Misalnya ketidak-cocokan yang mengakibatkan pertengkaran yang berkepanjangan hingga membuat anak menjadi korban ketakutan, suami yang tidak menafkahi keluarga hingga waktu tertentu. dll.

Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah cerai.

Abu Yusuf berkata, “Ketahuilah –barakallahu fikum– bahwa asal hukum cerai adalah makruh dan terlarang, namun bisa berubah pada hukum lainnya. Hal ini sangat tergantung pada kondisi rumah tangga tersebut, bisa menjadi haram, boleh, sunah bahkan wajib.“.

Perceraian menjadi wajib hukumnya ketika salah satu pasangan murtad.

Namun demikian pernikahan dalan Islam bukan hanya sekedar untuk  menghindarkan zina, melainkan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawardah wa rahmah. Yaitu keluarga yang tenang, terhormat, aman, penuh cinta dan kasih sayang, saling menjaga dan melindungi, dibawah naungan ridho Allah Azza wa Jala. Hingga dengan demikian hubungan seksual yang dilakukan sepasang suami istri akan mendatangkan kenikmatan, kesenangan serta kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan semu dan sesaat apalagi sekedar pelepasan nafsu birahi.

Tanda keluarga yang demikian terlihat dengan antara lain adanya kesetiaan dari masing-masing pasangan, anak-anak yang berbakti kepada kedua orang-tuanya serta lingkungan sosial yang sehat serta rizki yang dekat.

Itu sebabnya pernikahan memerlukan saksi agar dapat ditrima masyarakat sekitar. Karena sejatinya keluarga adalah bagian atau kelompok terkecil dari sebuah masyarakat. Masyarakat yang akan dapat saling melindungi dan mengingatkan. Dalam rangka menciptakan masyarakat yang adil, tenang dan makmur inilah, Islam mengajarkan agar perempuan dan laki-laki yang telah cukup umur segera melangsungkan pernikahan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemah QS.Ar-Rum(30):21).

Rasullullah bersabda: “ Pilihlah untuk benih-benih kalian, karena sesungguhnya keturunan itu direncanakan”.

Namun dari hadist diatas dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah sebuah perencanaan masa depan berjangka panjang.  Maka diperlukan kesiapan dalam banyak hal, diantaranya dalam memilih calon pasangan. Diperlukan pula tanggung jawab tinggi agar pernikahan dapat berjalan lancar sesuai apa yang di kehendaki-Nya.

Akhir kata, pernikahan, perceraian dan segala tindakan dalam hidup ini harus berlandaskan ketaatan pada-Nya.

Siapa yang cintanya karena Allah, bencinya karena Allah, memberinya karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Juni 2021.

Vien AM.