Feeds:
Posts
Comments

Bagi sebagian orang Lebaran tanpa tradisi mudik rasanya kurang afdol. Tak terkecuali Lebaran 2020 atau Iedul Fitri 1441 H yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang sukses membuat heboh sebagian besar penduduk dunia. Para pemudik tampaknya tidak peduli terhadap bahaya penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan dan telah menyebabkan ribuan korban jiwa melayang termasuk nyawa para petugas medis yang sedang berjuang menolong korban penyakit tersebut.

Kebijakan yang tumpang tindih antara pusat dan daerah seperti karantina daerah (lock down), Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB), dan terakhir larangan mudik namun layanan transportasi justru di aktifkan kembali, disinyalir adalah salah satu penyebabnya.

https://mediaindonesia.com/read/detail/305730-regulasi-tumpang-tindih-dan-bertentangan-persulit-penegakan-hukum

Kepatuhan dan ketidak-patuhan memang tidak dapat dilepaskan dari krisis kepercayaan. Diawali dari pemerintahan yang korup yang sudah mendarah daging di bumi pertiwi ini, hutang pemerintah yang menumpuk hingga tersandera si negara pemberi hutang, angka pengangguran dan kiminalitas yang terus melonjak dll, menambah parahnya krisis kepercayaan masyarakat. Krisis ini tidak hanya kepada instansi tapi juga sosok individu.

Tentu kita semua pernah mendengar kisah klasik tentang seorang penggembala kambing yang untuk mengatasi rasa bosannya membohongi penduduk dengan mengatakan ada srigala datang menyerang kampung mereka.

Awalnya si penggembala berhasil mengecoh penduduk dan puas mentertawai mereka. Namun setelah berkali-kali mengulangi perbuatan buruk tersebut akhirnya pendudukpun sadar bahwa mereka telah dikerjai. Hingga suatu hari ketika benar-benar datang segerombolan srigala maka tak seorangpun mau percaya dan menolong si penggembala.

Sebuah hikmah, jangan pernah berbohong. Karena suatu ketika kita bicara jujur tak seorangpun akan mempercayai kita lagi. Apalagi kita sebagai umat Islam, pasti tahu perbuatan bohong sekecil apapun adalah dosa. Apalagi korupsi dll. Bersyukur kita memiliki panutan yang amat sangat pantas dijadikan keteladanan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Al-Ahzab(33):21).

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. [HR. Al-Bukhari].

Rasulullah adalah seorang yang amanah, siddiq, tabligh dan fathonah. Seorang Muslim seharusnya mencontohnya.  Dengan amanah seseorang akan selalu menepati janji, dengan siddiq ia akan jujur, tidak korupsi, tidak berbohong apalagi membuat berita hoax untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya. Dengan tabligh ia akan berani menyampaikan kebenaran betapapun pahitnya, dan dengan fathonah seseorang akan mampu menyelesaikan segala masalah dengan sebaik mungkin.

Rasulullah Muhammad saw juga dikenal memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat menonjol, tapi juga suka dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Beliau biasa menyelesaikan masalah secara musyawarah. Kasih sayangnya kepada umat jauh lebih besar dari pada kepada keluarga apalagi diri sendiri. Rasulullah tidak marah bila pribadi beliau yang dihina. Sebaliknya bila menyangkut kepentingan umat Rasulullah membelanya mati-matian.

Dengan berbekal inilah Rasulullah menyampaikan Islam hingga bisa berkembang dan menyebar ke segala penjuru dunia. Ajaran yang diturunkan Allah swt melalui malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw ini sejatinya adalah mengajarkan ahlak yang mulia dengan dasar ketundukan, kepatuhan serta penyembahan murni hanya kepada Tuhan Yang Satu, itulah Allah Azza wa Jala.

Tuhan Yang Satu, Tunggal, tidak beranak dan diperanakkan, tidak berkolaborasi dengan apa dan siapapun. Ia tidak membutuhkan dan tidak punya sedikitpun kepentingan atas kita. Ini menunjukkan ke-absolutan kekuasaan sebuah kerajaan yang abadi, kerajaan Allah, penguasa langit, bumi dan seluruh alam semesta, dengan para malaikat sebagai bala tentara yang siap tunduk patuh menjalankan perintah-Nya.

“Hai manusia, kamulah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS. Fathir(35):15).

“Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Terjemah QS.Ibrahim(14): 8)

Sebaliknya dengan penguasa negara di dunia, selain terbatas waktu dan wilayah kekuasaannya, ia memerlukan bantuan dan kerja sama mentri-mentrinya. Juga dukungan rakyat bila ingin pemerintahannya berjalan mulus. Rakyat dengan sendirinya akan patuh ketika merasa  diperhatikan, dilindungi haknya, dijaga keamanan dan dipenuhi kebutuhannya.

Namun bila hal itu tidak juga terjadi tidak heran juga. Bila kerajaan Allah yang begitu dasyat dan rasulullah sebagai penyampai ajaran yang tak diragukan lagi ahlaknya saja bisa di dustakan apalah arti seorang pemimpin negri.

Semoga dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan yang seharusnya membuahkan umat yang takwa, mampu membuat kita memahami apa arti kepatuhan, kepemimpinan dan kepercayaan.  Meyakini betapa pentingnya peran seorang pemimpin. Oleh karenanya tidak sepatutnya seorang Muslim tidak peduli dan asal-asalan dalam memilih pemimpin.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpin kalian jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):23).

Semoga di masa pandemi yang menyebabkan kita harus tetap di rumah beserta keluarga akan melahirkan generasi yang benar-benar memahami ayat-ayat Al-Quranul Karim, bagaimana Rasulullah menyikapinya,  hingga mampu membawa kita kembali ke masa kejayaan Islam dan mampu memimpin kita melawan kejahatan Dajjal yang makin memperlihatkan taringnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Juni 2020.

Vien AM.

Tanpa terasa hari ini kita telah memasuki pekan terakhir Ramadhan 1441H. Di tengah hiruk pikuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dilakukan demi mencegah penyebaran virus Covid19 atau virus Corona, harus diakui hari-hari Ramadhan yang kita lalui bersama keluarga inti ini terasa cukup melegakan. Meski ibadah-ibadah Ramadhan yang biasa kita laksanakan di masjid seperti shalat Taraweh, Iktikaf dan kegiatan lain terpaksa hanya kita jalankan di rumah.

Tapi sebenarnya ini bukan masalah besar karena Rasulullahpun sebenarnya hanya 3 hari saja mendirikan shalat Taraweh di masjid selebihnya di rumah. Ini dilakukan karena Rasulullah khawatir umat merasa terbebani, dan menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Berikut ihwal dilakukannya shalat Taraweh berjamaah di masjid.

Abdurrahman bin Abdul Qari’ berkata, “Saya keluar ke masjid bersama Umar Radhiyallahu anhu pada bulan Ramadhan. Ketika itu orang-orang berpencaran; ada yang shalat sendirian, dan ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil (kurang dari sepuluh orang). Umar berkata, “Demi Allah, saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam, tentu lebih utama,”.

Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam lain. Ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka. Maka Umar Radhiyallahu anhu berkata,’Ini adalah sebaik-baik hal baru.’ Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang”. Peristiwa ini terjadi pada tahun 14H.

https://almanhaj.or.id/3150-shalat-tarawih-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-salafush-shalih.html

Dan lagi masih beruntung kita mengalami masa sulit ini di zaman dimana teknologi sudah sedemikian canggihnya. Dengan bantuan teknologi tersebut dari rumah orang bisa tetap bekerja, bertatap muka dan berkomunikasi dengan dunia luar. Bahkan di bulan suci Ramadhan ini kaum Muslimin, bisa mendengarkan kajian ustad siapapun yang mereka inginkan, tanpa harus meninggalkan rumah, kapanpun kita mau.

Ketika pertama kali saya mengikuti kajian melalui video conference yang biasanya kami lakukan 2 pekan sekali, kesan pertama yang saya dapatkan adalah bisa melihat semua wajah teman-teman pengajian saya secara jelas, di satu screen., tanpa harus menoleh ke kiri maupun ke kanan. Di layar yang relative kecil tersebut saya bisa melihat gerakan bahkan ekspresi mereka yang mengantuk, yang tidak konsen dll. Persis cctv yang biasa dipantau satpam. 🙂

Tiba-tiba saya terpikir begitulah Allah Azza wa Jala mengawasi hamba-hambaNya dari detik ke detik selama 24 jam penuh. Masya Allah … Jadi sungguh aneh bila di zaman modern ini masih ada saja orang yang tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Terjemah QS.Al-Baqarah(2):255).

Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dengan adanya virus Covid ini. Salah satunya yaitu tadi, beribadah bersama keluarga. Tampaknya Allah swt ingin mengingatkan kita bahwa di surga nanti kita bisa bertemu kembali dengan keluarga yang kita cintai. Dengan syarat sama-sama beriman.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (Terjemah QS. At-Thuur(52):21).

Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”,(Terjemah QS. Al-Ghafir( 40):8).

(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”.(Terjemah QS. Ar-Raad(13):23).

Untuk itu kita harus saling mengingatkan, diantaranya yaitu dengan terus mengkaji ayat-ayat Al-Quran, bagaimana Rasulullah menyikapinya, dengan bimbingan orang/ustad yang benar-benar menguasai ilmunya. Dan sekarang ini adalah saat yang tepat. 10 hari terakhir Ramadhan adalah saat-saat berharga dimana Allah swt melipat gandakan semua amal ibadah kita.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Terjemah QS.Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bahwa di kalangan bani Israel terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Qadr 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam Lailatul Qadr lebih baik daripada amal seribu bulan ( 83.3 tahun) yang dilakukan seorang laki-laki dari bani Israel tersebut.

Dari Aisyah RA, beliau berkata:

Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku’.”

Al-Quran diturunkan dalam 2 cara, pertama dari Lauh-Mahfudz ke langit dunia secara keseluruhan. Yang kedua dari langit dunia, disampaikan oleh malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw dengan cara bertahap selama kurang dari 23 tahun, yaitu hingga wafatnya Rasulullah saw. Peristiwa turunnya ayat pertama ( ayat 1-5 surat Al-Alaq ) inilah yang sering diperingati kaum Muslimin di negri kita sebagai peringatan Nuzulul Qur’an pada setiap tanggal 17 Ramadhan.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (HR. Thobari).

Dari Mauwiyah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul Qadr itu pada malam ke 27” (HR. Abu Dawud).

Namun demikian tidak semua ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar pasti terjadi setiap malam 27 Ramadhan. Karena ada beberapa hadist yang menyatakan terjadi pada malam ganjil lain, diantaranya tanggal 23 dan 25. Yang pasti Lailatul Qadar terjadi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Meski besar kemungkinan yang sering terjadi adalah malam 27. Artinya pada malam tersebut jangan sampai kita melewatkannya begitu saja. Alangkah meruginya.

Dari Aisyah RA, “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut(HR. Muslim)

Yang juga menarik Allah swt merahasiakan siapa yang mendapatkan Lailatul Qadar tersebut, meski seorang hamba selama 10 hari itu menghidupkan malam-malam harinya dengan bermunajat kepada Tuhannya. Diantaranya yaitu dengan shalat malam, membaca Al-Quran, berzikir dll. Kita hanya bisa menyaksikan hamba terpilih tersebut pasti akan menunjukkan perbaikan sikap, tidak hanya kepada Allah swt tapi juga kepada sesama manusia. Karena memang untuk itulah Rasulullah diutus kepada manusia.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Akhir kata bisa jadi pandemi covid19 yang sedang kita alami ini adalah sindiran bagi mereka yang lebih suka sibuk dengan urusan mudik di hari-hari akhir Ramadhan daripada mencari malam Lailtul-Qadar. Atau mereka yang sibuk bekerja siang malam demi urusan dunianya tapi lalai memikirkan urusan akhirat. Atau bahkan bisa jadi juga sentilan bagi mereka yang rajin beribadah di masjid tapi tidak pernah mengajak atau mengingatkan keluarganya hal yang sama. Na’udzubillah min dzalik …

Yaa Allah beri kami kemudahan untuk meraih malam keberkahan tersebut, menjadikannya jalan masuk ke surga-Mu bersama keluarga, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Mei 2020.

Vien AM.

 

Sejarah-Lahirnya-Kalender-Hijriyah(Arrahmah.com) – Kalender Hijriyah adalah identitas kaum Muslimin. Bulan-bulan yang kita kenal sekarang juga sudah dikenal oleh masayarakat Arab. Hanya saja mereka belum mengenal penahunan. Di masa itu, penamaan tahun bukan dengan angka. Tapi menggunakan peristiwa yang paling menonjol di tahun tersebut. Seperti tahun gajah. Karena diserangnya Ka’bah oleh pasukan gajah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Quran bahwa hilal, matahari, dan bulan adalah waktu untuk manusia. Seperti dalam firman-Nya,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” [Quran Al-Baqarah: 197]

Demikian juga firman-Nya,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Quran Yunus: 5].

Kemudian muncullah kebutuhan kaum muslimin akan adanya penamaan yang baku pada tahun. Penamaan yang urut sehingga memudahkan aktivitas dan muamalah yang mereka lakukan. Kebutuhan ini terasa begitu mendesak di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian ia memerintahkan untuk menyusun tahun hijriyah.

Sebelum Penyusunan

Perhitungan tahun yang hakiki adalah dimulai sejak Allah menciptakan langit, bumi, matahari, dan bulan. Tatkala Adam ‘alaihissalam turun dari surga. Kemudian lahirlah anak-anaknya, maka keturunannya menghitung waktu dari turunnya Adam tersebut. Perhitungan tersebut terus berlangsung hingga diutusnya Nuh ‘alaihissalam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari diutusnya Nuh hingga banjir yang membuat bumi tenggelam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari topan hingga pembakaran Ibrahim ‘alaihissalam.

Saat anak keturunan Ismail sudah banyak, mereka bermigrasi ke berbagai wilayah. Mereka menyebar. Kemudian anak keturunan Ishaq membuat penanggalan dari peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim hingga diutusnya Yusuf. Dari diutusnya Yusuf sampai diutusnya Musa. Dari zaman diutusnya Nabi Musa hingga masa Nabi Sulaiman. Dari masa Sulaiman hingga Nabi Isa. Dari masa Nabi Isa hingga diutusnya Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ibnul Jauzi: al-Muntazham fi Tarikh al-Mulk wa-l Umam, Daru-l Kutubi-l Ilmiyah, 4/226-227).

Dulu, orang-orang Arab sebelum Islam, mereka menamai tahun dengan kejadian. Misalnya: Tahun Pembangunan Ka’bah, Tahun al-Fijar (terjadi Perang Fijar), Tahun Gajah, Tahun Sail al-Arim (Banjir Arim), dll. Kemudian setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan munculnya syiar Islam di Mekah kemudian hijrah ke Madinah, kaum muslimin memiliki penamaan tersendiri. Penamaan tersebut memiliki nama-nama yang khusus juga. Seperti: Tahun al-Khandaq, dimana terjadi Perang Khandaq. Tahun Kesedihan, karena terdapat peristiwa yang begitu membuat Rasulullah sedih. Yaitu wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Tahun al-Wada’, tahun terjadinya haji al-wada’, Tahun ar-Ramadah (abu), karena kemarau yang panjang di tahun tersebut hingga tanah menjadi abu karena terbakar matahari. Ini terjadi di masa pemerintah Umar radhiallahu ‘anhu (Muhammad Shalih al-Munajid: Tafrigh Lihalaqat Barnamij al-Rashid, 12/54).

Yang Membuat Penanggalan Hijriyah

Tahun-tahun senantiasa disebut dengan peristiwanya hingga terjadi sesuatu di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Negeri-negeri banyak yang bergabung dengan Madinah. Muncullah kebutuhan untuk mengurutkan tahun. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Umar bin al-Khattab perihal utang-piutang. Ada seseorang yang berutang yang jatuh tempo di bulan Sya’ban. Karena ia belum membayar saat jatuh tempo tersebut, pihak pemberi utang melaporkannya kepada Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian Umar meresponnya dengan menanyakan bulan Sya’ban tahun kapan. Dari situlah akhirnya dirumuskan permasalahan penetapan tahun.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat dan berdiskusi dengan mereka. Kata Umar, “Tentukan sesuatu untuk masyarkat yang mereka bisa mengetahui waktu.” Ada yang mengatakan, “Tulislah dengan menggunakan penanggalan Romawi.” Pernyataan ini dikomentari, “Mereka itu membuat penanggalan sejak zaman Dzul Qarnain. Itu terlalu jauh masanya.”

Kemudian ada yang mengatakan, “Tulislah dengan penanggalan Persia.” Lalu ditanggapi, “Orang-orang Persia kalau berganti raja, maka warisan (kebijakan penguasa) sebelumnya ditinggalkan.” Kemudian para sahabat bersepakat untuk menghitung, “Berapa lamakah Rasulullah tinggal di Madinah?” Lamanya adalah 10 tahun. Lalu ditulislah penanggalan dengan menghitung sejak Rasulullah berhijrah.

Permasalahan berikutnya adalah tentang awal bulan dalam satu tahun tersebut. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, orang itu berkata, ‘Tetapkanlah penanggalan’. Umar berkata, ‘Penanggalan apa?’ Orang itu menjawab, ‘Sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang-orang non Arab. Mereka menulis di bulan sekian pada tahun sekian’. Umar berkata, ‘Itu bagus. Tetapkanlah penanggalan’. Mereka berkata, ‘Dari bulan apa kita memulai?’ Ada yang mengatakan, ‘Bulan Ramadhan’. Ada lagi yang mengatakan, ‘Dari bulan Muharram. Karena ini adalah waktu dimana orang-orang pulang dari haji. Itulah bulan Muharram’. Mereka pun menyepakatinya.” (ath-Thabari: Tarikh ar-Rusul wa-l Mulk. Cet. Ke-3 1387 H, 2/388-389).

Pada 20 Jumadil Akhiroh 17 tahun dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulailah penggungnaan penanggalan Islam, penanggalan hijriyah (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/227). Peristiwa ini bertepatan dengan 15 Juli 622 M. Dan tahun ini disebut dengan tahun izin (Arab: سنة الإذن). Maksudnya diizinakannya Rasulullah dan para sahabatnya untuk hijrah dari Mekah ke Madinah (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Digunakanlah penanggalan hijriyah dengan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam setahun. Penanggalan ini sudah dikenal oleh bangsa Arab. Karena mereka orang-orang Arab menentukan waktu dengan bulan. Hari pertama dimulai dengan masuknya waktu malam. Berbeda dengan kaum lainnya yang menentukan waktu dengan matahari (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/228).

Tahun hijriyah ini terdiri dari 12 bulan qamariyah. Jadi satu tahun hijriyah itu sama dengan 354 hari. Dan satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.

Mengapa Muharam?

Tentang awal bulan untuk tahun hijriyah, para sahabat mengajukan beberapa usulan kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Ada yang mengusul bulan Sya’ban sebagai awal tahun. Ada yang mengajukan Ramadhan. Kemudian mengerucut ke pendapat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yaitu bulan Muharram. Dengan alasan karena di bulan ini jamaah haji pulang dan Muharram adalah bulan Allah. Ini alasan dari sisi syariat. Adapun dari sisi sosial-budaya, Muharam merupakan bulan yang dipilih oleh bangsa Arab untuk memulai tahun-tahun mereka sebelum Islam datang. Sehingga mereka telah terbiasa dengan keadaan ini. Setelah Islam datang, Rasulullah mengukuhkannya dengan menyebut bulan ini syahrullah (bulan Allah).

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram. Dan tidak ada bulan setelah bulan Ramadhan yang lebih mulia di sisi Allah melebih bulan Muharram. Bulan ini dinamai dengan bulan Allah karena saking besar kemuliaannya (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan suci dalam Islam. Di bulan ini pula banyak terdapat peristiwa-peristiwa penting dalam syariat maupun dalam sejarah.

Pertama: Penting Secara Syariat

Dianjurkannya Puasa 10 Muharram

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَدِمَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم المدينةَ فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: “مَا هَذَا؟” قالوا: هذا يومٌ صَالِح، هذا يوم نجَّى الله بني إسرائيل من عدوِّهم فصامه موسى، قال:”فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ”. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura (10 Muharram). Beliau bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari baik. Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Lalu Musa pun berpuasa di hari tersebut’. Nabi berkata, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian’. Rasulullah berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di hari itu.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab ash-Shaum 1900 dan Muslim dalam Kitab ash-Shiyam 1130)

Kedua: Peristiwa Penting dalam Catatan Sejarah

Beberapa peristiwa penting dalam catatan sejarah yang terjadi di bulan Muharram adalah datangnya orang-orang Habasyah dengan pasukan gajah mereka di Kota Mekah. Mereka dipimpin oleh Abrahah al-Asyram dengan misi merobohkan Ka’bah. Di bulan ini juga kiblat kaum muslimin berpindah. Semula di Baitul Maqdis kemudian menuju Ka’bah. Perubahan ini terjadi sekitar 16 atau 17 bulan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.

Pada bulan Muharram ini pula, kaum muslimin di masa kekhalifahan Umar berhasil menguasai kota penting di Irak, Bashrah. Hal ini terjadi pada tahun 14 H. Kemudian pada tahun 20 H, kaum muslimin berhasil menaklukkan Mesir dengan panglima mereka Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu. Kemudian bulan ini juga mencatat duka dengan syahidnya cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma, di Karbala (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Peristiwa-peristiwa lainnya juga yang disebut-sebut terjadi pada bulan ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dari banjir besar. Diangkatnya Nabi Idris ‘alaihissalam ke langit keempat. Padamnya api Namrud di masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang lama berduka dipertemukan lagi dengan putranya, Nabi Yusuf ‘alaihisslam. Diterimanya taubat Nabi Dawud ‘alaihissalam. Kemudian ia dijadikan pemimpin di bumi. Dikembalikannya kekuasaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya diselamatkan dari Firaun. Dan di bulan ini pula Nabi Isa ‘alaihissalam diangkat ke langit (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

(fath/arrahmah.com)

Disalin dari: https://www.arrahmah.com/sejarah-lahirnya-kalender-hijriyah/

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 7 Mei 2020.

Vien AM.

Ramadhan 1441H yang sedang dijalani umat Islam saat ini adalah Ramadhan yang benar-benar berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan yang pernah dilalui selama ini. Betapa tidak … Masjid yang selama ini menjadi pusat ibadah kaum Muslimin terutama di bulan Ramadhan, tidak dapat menjalankan fungsinya seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawipun mengalami hal yang sama. Dan ini semua hanya gara-gara mahluk super kecil yang tak terjangkau pandangan mata, yaitu virus Corona atau yang juga dinamakan Covid-19.

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”. ( Terjemah QS. A-Hajj(22):73).

Allah swt menjadikan lalat sebagai perumpamaan betapa kecil dan tidak berdayanya manusia itu. Ilmu kedokteran menyebutkan mahluk kecil bersayap ini mampu membuat manusia jatuh sakit setidaknya dengan 12 macam penyakit yang dibawanya. Diantaranya yang paling sering terjadi adalah typhus.

Disamping itu penelitian yang dilakukan tim kesehatan sebuah universitas di Arab Saudi tentang sayap lalat membuktikan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam segala penciptaan-Nya, termasuk lalat yang kotor dan sarat membawa penyakit itu.

https://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2019/02/10/10506/-p-sebelum-sains-modern-rasulullah-ungkap-rahasia-obat-pada-sayap-lalat-p-.html

Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang dari kalian, maka celupkanlah ia, sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawarnya, maka dari itu celupkan semuanya,” (HR Abu Daud).

Dilansir dari buku “Amazing You! Resep Rahasia Kehidupan Luar Biasa (2011)”  karya dr. Andhyka P. Sedyawan, dijelaskan bahwa lalat memiliki 100.000 sel otak aktif yang jauh lebih kompleks dari otak lebah. Dengan otak itu, lalat memiliki sistem yang sangat cepat untuk mengantisipasi bahaya yang datang, termasuk bahaya tepukan yang berujung kematian. Menghindari tepukan bagi lalat, bukanlah hal yang sulit. Saat terancam, otak lalat akan merespons dengan melakukan menuver yang supercepat. Bahkan, maneuver tersebut dapat dilakukan lalat dengan melakukan ke arah yang berlawanan. Dengan kata lain, lalat sulit dipukul karena mereka bisa bereaksi terhadap suatu gerakan 5 kali lebih cepat dari manusia. Bulu senstif pada tubuh mereka mengirim langsung data ke sayap sehingga lalat bisa langsung mengambil respons cepat.

https://health.kompas.com/read/2020/02/22/170100168/12-penyakit-yang-dapat-ditularkan-lalat?page=all.

Kembali kepada virus Corona yang ditetapkan sebagai pandemic karena daya tularnya yang maha dasyat padahal ukurannya jauh lebih kecil dari lalat,  yaitu 125 nanometer.( 1 nanometer sama dengan 1/1000 mikrometer). Virus yang kabarnya berasal dari kelelawar dan menyerang saluran pernafasan ini mampu membuat geger dunia, tak peduli dengan datangnya bulan suci Ramadhan yang mulia. Bulan dimana ayat pertama Al-Quranul Karim diturunkan, yaitu pada 17 Ramadhan yang diperingati kaum Muslimin sebagai Peringatan Nuzulul Quran.

Pada bulan tersebut pula terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Itulah malam Lailatul Qadar, malam yang paling dinantikan umat Muslim.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. ( Terjemah QS. Al-Qadr(97):1-3).

Bulan Ramadhan juga disebut juga bulan maghfiroh/pengampunan. Pada bulan tersebut segala amal ibadah dilipat gandakan balasannya, termasuk shalat Tarawih dan shalat Witir.

Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni, ”Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, At Tirmidzi ).

Namun sekarang dengan ditutupnya pintu-pintu masjid apakah itu berarti tertutup pula kesempatan untk mendapatkan berkah dan kemuliaan Ramadhan yang begitu berlimpah??

Tentu saja tidak. Bukankan bumi Allah luas? Shalat tidak harus di masjid bila tidak memungkinkan. Imbauan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah dan menjaga jarak dengan orang lain bukan halangan untuk dapat menjalankan Ramadhan sebaik-baiknya. Bahkan bisa jadi lebih baik bila kita mau merenungkan apa sebenarnya hikmah di balik musibah ini. Selain tentu saja kesempatan untuk menjalankan seluruh shalat kita, baik wajib maupun sunnah, bersama keluarga tercinta.

“Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650)

Bisa jadi ini adalah ujian dari Allah swt untuk melihat keseriusan kita dalam beribadah. Apakah dengan berhari-hari bahkan berpekan-pekan diam di rumah membuat kita lebih dekat kepada-Nya, dengan banyak membaca Al-Quran dan mentadaburinya, membantu mereka yang kekurangan, tetap shalat di awal waktu layaknya ketika pintu masjid masih terbuka lebar, dll. Atau justru menjauh dengan mengisi hal-hal yang tidak berguna, seperti bermain game, menonton film, hiburan tv dll secara berlebihan.

Ini adalah saat yang tepat untuk muhasabah ( introspeksi), sudah benarkah ibadah kita selama ini? Shalat, puasa, zakat, haji dan umrah kita?? Ditrimakah amal ibadah kita oleh-Nya?? Jangan-jangan Allah hanya menganggap semua itu ritual belaka, ibadah rutin yang tidak disertai hati kita … Na’udzubillah mun dzalik …

Bukankah Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin, yang dengannya seharusnya umat Islamlah yang memimpin dan menjaga bumi ini dengan baik hingga yang demikian Allahpun ridho menurunkan rahmat-Nya.

Berita perkembangan terakhir menyebutkan 2 negara adi daya, Amerika Serikat dan Cina saling tuduh bahwa merekalah penyebab malapetaka ini. Apapun itu yang pasti Allah swt ternyata mengizinkannya. Bukankah tanpa izin-Nya mustahil segalanya bisa terjadi …

Yaa Allah munculkanlah di bulan suci ini pemimpin Muslim tangguh yang mampu menjaga amanah, sanggup memimpin dan melindungi kaum Muslimin, serta ilmuwan Muslim yang mampu menemukan penangkal virus Corona sebagaimana para ilmuwan Muslim Arab Saudi menemukan kebenaran mukjizat sayap lalat.

Yaa Allah jadikan Ramadhan ini melahirkan generasi yang mampu mengeluarkan kaum Muslimin dari keterpurukan dan ketertinggalannya dari kaum Kafirin.

Yaa Allah ampuni kami, maafkan kami, trimalah tobat kami, dan jadikanlah Ramadhan ini sebagai pembersih dosa, salah dan khilaf kami, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Mei 2020.

Vien AM.

Sejarah mencatat bahwa selama berabad-abad Islam pernah mengalami masa kejayaan. Zaman keemasan tersebut terbagi dua periode  yaitu periode Klasik (650-1250M) dan periode Pertengahan (1250-1800M). Kejayaan ini dimulai dengan berdirinya negara Madinah dibawah langsung kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw (622–632M) dan Kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (632-661M) yang 4, yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra.

Pada masa inilah dasar-dasar ajaran Islam dengan pedoman Al-Quran dan As-Sunnah diterapkan secara sungguh-sungguh. Diantaranya dengan berdirinya Baitul Maal. Pada zaman Umar bin Khattab ra berkuasa tidak ada seorangpun rakyat kelaparan. Ini terjadi karena zakat dijalankan dengan sangat baik, tidak ada sistim riba di dalamnya.

Sedangkan periode Klasik adalah masa dimana berkuasa dinasti Umayyah yang beribu-kota di Damaskus (661-750M), kekhalifahan Cordoba yang berkuasa di Andalusia (755 -1031 M), dilanjutkan periode Taifa ( kerajaan-kerajaan kecil di Andalusia ) pada 1031-1492M, serta dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama 505 tahun (750-1258 M). Pada masa tersebut, tepatnya pada abad sembilan sampai ketiga belas,  dunia Islam dipenuhi dengan era perkembangan ilmiah, religius, filsafat, dan kebudayaan dalam skala kedalaman yang tak tertandingi sejarah, baik sebelum maupun sesudah era tersebut.

Pada masa itulah bermunculan tokoh-tokoh Islam mumpuni yang hingga hari ini namanya masih terus dikenang karena jasanya yang begitu besar dalam dunia Sains. Diantaranya adalah Ibnu Sina/Avicena, Ibnu Rusyd/ Averroes, Abu Musa Jabir bin Hayyan/Geber, Ibnu Batuta dll.

Sementara periode Pertengahan adalah masa kerajaan Mughal di India, Afawiah di Persia dan yang terbesar adalah kekhalifahan Islam Turki Ottoman/Ustmaniyah (1300–1924 M). Pada masa ini kejayaan Islam secara bertahap terus menurun. Puncaknya adalah dengan jatuhnya kekhalifahan Ustmaniyah pada tahun 1924 akibat kalah perang dalam Perang Dunia I hingga tercerai berai menjadi 50 negara.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/03/om8ffh282-3-maret-1924-akhir-riwayat-kekhalifahan-islam-dunia

Expansion-Ottoman-EmpireKesultanan Turki Ottoman mencapai puncak kejayaan dibawah kepemimpinan Sulaiman I atau Sulaiman Agung (1520-1566M). Kekuasaan kesultanan ini membentang di sebagian benua Eropa, Asia, dan Afrika selama 623 tahun, dengan budaya, agama dan bahasa yang berbeda-beda.  Kejayaannya dapat disejajarkan dengan kekaisaran Romawi di masa lalu.

Kesultanan  ini runtuh secara bertahap karena banyak hal. Diantaranya adalah lemah dan tidak berwibawanya sejumlah sultan yang berkuasa di akhir abad 18. Penyebab lainnya adalah terlalu banyaknya campur tangan asing, kehidupan mewah dan berlebihan di kalangan pejabat hingga banyak terjadi penyimpangan dalam keuangan negara. Termasuk dana pertahanan militer yang terus digerogoti. Konspirasi Yahudi yang menginginkan tanah Palestina dengan jeli memanfaatkan celah tersebut. Bekerja sama dengan Barat, ia terus menekan para sultan dengan segala cara busuk.

“Selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.” Demikian jawaban surat Sultan Abdul Hamid II kepada perwakilan Zionis Yahudi yang berusaha menyogoknya.

Sultan Abdul HamidSultan Abdul Hamid II dikenal dekat dengan para ulama dan selalu menaati nasihat-nasihat mereka. Ia berusaha keras memperbaiki kesultanan yang diwarisinya dalam keadaan carut marut. Berbagai upaya ia lakukan termasuk menyatukan umat Islam yang terpuruk, dan membantu mereka agar dapat melawan para penjajah yang menjadi penguasa di negeri mereka sendiri.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/03/om8gc8282-konspirasi-yahudi-di-balik-tumbangnya-khalifah-utsmani

Dari sebuah hadist riwayat Ahmad, diberitakan tentang masalah kepemimpinan yang terbagi atas 5 bagian periode perjalanan sejarah umat manusia lebih khusus lagi umat Islam, yaitu:

  1. Manusia dipimpin oleh para nabi dan para rasul (masa kenabian).
  2. Manusia dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin (masa khilafah sesuai dengan pedoman Rasulullah SAW.
  3. Manusia dipimpin oleh raja-raja yang menggigit (masa malik ‘adhon).
  4. Manusia dipimpin oleh raja-raja ada penguasa yang diktator dan tidak berpedoman pada ajaran Islam.
  5. Manusia dipimpin kembali oleh sistem sesuai pedoman yang dibawa nabi Muhammad SAW.

https://www.dakwatuna.com/2011/12/01/16954/hadits-tentang-periodisasi-kekuasaan/#axzz6K7QBhp4H

Para ulama sepakat bahwa saat ini kita berada di akhir periode 4 menuju periode 5, periode dimana umat kembali menjalankan kehidupannya sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. Tentu tidak semudah membalik tangan. Diperlukan usaha dan keseriusan kaum Muslimin untuk bersatu demi menegakkan Islam yang kaffah, Islam yang menjadi rahmat tidak saja bagi umat Islam tapi juga bagi seluruh isi alam semesta ini.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. ( Terjemah QS. Al-Anbiya(22):107).

Untuk itu para ulama menyusun 10 karakter yang harus dimiliki setiap Muslim sebagai berikut:

  1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).

Aqidah adalah dasar utama seorang Muslim. Tanpa aqidah yang bersih tidak ada artinya seorang Muslim. Aqidah yang bersih, tidak bercampur sedikitpun dengan kesyirikan, akan melahirkan ketakwaan yang sebenarnya. Ia yakin setiap gerak-geriknya senantiasa diawasi Allah swt, dan segala sesuatu terjadi karena Allah swt.   Yang dengan demikian seseorang tidak akan takut kepada selain-Nya. Inilah yang menjadi kunci kemenangan perang Badar di awal periode Islam. Ketika itu jumlah kaum Muslimin hanya 313 orang, 1/3 jumlah musuh, tanpa peralatan perang memadai pula. Namun bisa menang karena modal keyakinan Allah swt senantiasa beserta mereka.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. ( Terjemah QS. Al-An’aam(6):62)

  1. Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar).

Yaitu ibadah sesuai dengan apa yang dicontohkan rasulullah saw, tidak mengada-ada. Ini untuk menunjukkan ketaatan tidak hanya kepada Allah swt, tapi juga kepada Rasulullah saw.

…  Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):13).

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”. (HR. Baihaqi).

  1. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh).

Yaitu dengan mencontoh akhlak rasulullah. Diantaranya yaitu jujur, amanah, sabar, tidak sombong, rendah hati dll.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

  1. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani).

Kekuatan ini tidak hanya diperlukan untuk melakukan berbagai ibadah seperti shalat, puasa, haji dll. Namun juga ketika kita harus menghadapi musuh. Bahkan cara memakai kain ihram yang dibuka pada sisi kanan bahu (idtiba’), bukannya tanpa maksud. Ini untuk menunjukkan pada musuh-musuh Islam bahwa kaum Muslimin itu kuat, jangan coba-coba meremehkannya.

Muslim yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada Muslim yang lemah.” [HR. Muslim].

  1. Mutsaqqoful Fikri (Intelek dalam berpikir).

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir. Alam semesta beserta segala isinya ini diciptakan penuh dengan perhitungan, tidak asal-asalan. Dan kita manusia diberi tugas sebagai khalifah agar dapat mengelola seluruh fasilitas tersebut dengan sebaik mungkin.

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):191).

  1. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu).

Seorang Muslim sejati harus selalu sadar bahwa musuh utama manusia adalah syaitan. Syaitan inilah yang pekerjaannya menghembus-hembuskan hawa nafsu agar tidak mentaati perintah Allah swt. Cinta yang berlebihan terhadap kenikmatan dunia adalah awal petaka yang dapat menjerumuskan manusia pada kehinaan. Inilah yang terjadi pada awal mundurnya kesultanan Ottoman.

Dan awal dari segala hawa nafsu yang harus diperangi adalah sifat sombong sebagaimana yang diabadikan ayat 13-18 surat Al-Baqarah berikut:

Allah berfirman:“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan“.

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.

Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.

  1. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu).

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. ( Terjemah QS. Al-Ashr(103):1-3)

Dari Ibnu Abbas ra: Rasulullah saw bersabda dan menasehati pada seseorang: “Gunakan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum masa matimu,” (HR Al-Hakim).

Islam mengajarkan kaum Muslimin untuk menggunakan waktunya sebaik mungkin, diantaranya shalat yang mempunyai waktu-waktu tertentu bahkan gerakan yang sudah ditentukan dan mempunyai batas waktu. Dan yang utama adalah yang di awal waktu. Inilah awal dari kedisiplinan.

  1. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan).

Dengan kedisiplinan seorang Muslim akan lebih mudah menyelesaikan segala urusan secara tertata/tertib/teratur. Apapun yang dikerjakan, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah, profesionalisme selalu diperhatikan, dikerjakan secara sungguh-sungguh. Dalam ayat 282-283 surat Al-Baqarah Allah swt menerangkan secara terperinci bagaimana cara bermualamah dalam Islam.

Dengan berbekal ilmu seorang Muslim akan mampu menyelesaikan pekerjaannya secara professional, sesuai dengan kedudukan dan jabatan masing-masing. Apakah itu sebagai kepala keluarga, ketua RT/RW/Kelurahan hingga bos perusahaan bahkan mentri dan presiden.

Demikian pula ketika berperang sebagai ayat berikut :

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh”. (Terjemah QS. Ash-Shaff(61): 4).

“Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” ( Ali bin Thalib ra).

  1. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/ mandiri).

Muslim sejati adalah yang tidak tergantung pada orang lain yang beresiko menjadikannya tergadai dan terhina. Apalagi bila ketergantungannya itu terhadap orang kafir. Karena yang demikian bisa menyebabkannya tidak saja harga diri yang tergadai tapi bahkan aqidah.

“Tangan yang diatas adalah yang memberi (mengeluarkan infaq) sedangkan tangan yang di bawah adalah yang meminta”.(HR. Bukhari).

  1. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain).

Inilah ciri Muslim sejati yang mewakili ajaran Islam Rahmatan Lil Aalamiin. Ia bagaikan pohon rindang yang bisa digunakan orang untuk berteduh, akarnya yang kuat mampu menyangga orang yang bersandar, buahnya lezat, dan bunganya indah dipandang mata.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. … “. ( Terjemah QS.Ibrahim (14):24-25).

Sayangnya saat ini kita saksikan kondisi umat Islam secara umum masih saja terpuruk dibawah pengaruh Barat yang sekuler bahkan kafir. Korupsi, khamr, perzinahan, prilaku menyimpang homoseksual  dll yang makin merajela. Belum lagi ikatan persatuan sesama Muslim yang sangat rentan hingga mudah di adu domba musuh-musuh Islam.

“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Dan beliau merekatkan jari-jemarinya”. (HR. Bukhari).

Berikut yang dikatakan  Abdallah ibn Buluggin, seorang cendekiawan yang melihat langsung awal kejatuhan Kerajaan Cordoba pada tahun 1000-an M hingga tercerai-berai menjadi kerajaan-kerajaan kecil Islam yang saling bertikai.

“Ketika dinasti Amirid (al Mansur) berakhir dan rakyat ditinggal tanpa pemimpin, maka setiap komandan militer bangkit membangun kotanya dan melindungi diri mereka sendiri dengan benteng untuk memperkuat posisinya, membangun tentara dan memperkokoh sumber dayanya sendiri. Orang-orang ini saling bersaing dengan lainnya untuk merebut kekuasaan dan mengalahkan lawan-lawannya.”

Tampaknya baru Turki dibawah Recep Tayyip Erdogan yang terlihat siap menghadapi kebangkitan Islam. Ia berhasil membawa kembali Kesultanan Turki Ustmaniyah yang ambruk nyaris 100 tahun silam ke masa kejayaannya. Hanya Erdogan satu-satunya kepala negara di dunia ini yang berani melawan kejahatan Zionis Israel terhadap Palestina secara terang-terangan. Kaum perempuan di era Erdogan juga berhasil mendapatkan kembali haknya menutup aurat dengan baik setelah puluhan tahun lamanya dilarang dibawah pemerintahan Turki yang sekuler. Demikian pula adzan yang kembali dikumandangkan di seantero negri.

Dilansir dari berbagai sumber, Turki baru dibawah Erdogan telah melakukan lompatan ekonomi yang besar, dari rangking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10 % pertahun, yang berarti masuknya Turki kedalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia.

https://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2015/06/30/73321/bagaimana-erdogan-membangun-turki-dan-menumbangkan-sekulerisme-1.html

Bahkan selama pandemi Covid19 Turki memperlihatkan kedigjayaannya dengan mengirim bantuan medis ke Italia dan Spanyol sebagai bagian dari upaya memerangi pandemi virus tersebut. Italia dan Spanyol adalah dua negara yang terdampak virus Corona paling parah di dunia. Bantuan medis yang dikirim tersebut berupa masker, pakaian pelindung dan cairan antibakteri yang diproduksi oleh pabrik serta fasilitas jahit milik Kementerian Pertahanan Turki.

https://news.detik.com/internasional/d-4961337/pandemi-virus-corona-turki-kirim-bantuan-medis-ke-italia-dan-spanyol

Semoga dengan adanya pandemi Covid19 yang menyebabkan kita terpaksa mengurung di dalam rumah masing-masing mampu membuat kita untuk segera berbenah diri, bertobat memohon ampunan-Nya hingga Allah swt pun ridho memberi kita kemenangan dan kejayaan sebagaimana yang pernah dialami para sahabat dan pendahulu-pendahulu kita, bukan sekedar bebas dari virus menular ganas tersebut.

Semoga Allah swt masukkan kita ke dalam bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari tersebut dalam keadaan bukan hanya sehat wal afiat, tapi juga aqidah yang kokoh dan hati yang bersih bebas dari segala kotoran dan buruk sangka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 April 2020.

Vien AM.

Mempersiapkan Kematian.

Tiga pekan sudah kebijakan Social/Physical Distancing ( Jaga Jarak) diterapkan di negri kita tecinta. Kebijakan ini demi menghambat lajunya penularan Covid-19 yang tampaknya makin sulit terbendung hingga menjadi momok mengerikan penduduk seluruh negara dunia.

Pada Sabtu (4/4/2020) pemerintah mengumumkan jumlah pasien yang positif terinfeksi virus ini telah  mencapai 2.092, 191 orang meninggal dunia, 150 orang dinyatakan sembuh. Jumlah ini masih terus meningkat dari hari ke hari. Itu sebabnya akhirnya pemerintah menetapkan status Kedaruratan Kesehatan.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200404143554-20-490309/update-corona-4-april-2092-kasus-191-meninggal-150-sembuh

Sementara Worldometers melansir data per Ahad (5/4/2020),  sebanyak 1.196.944 kasus infeksi virus Covid19 atau Corona di dunia. Dari jumlah tersebut, 246.110 orang dinyatakan sembuh, dan 64.580 orang meninggal dunia. Dengan urutan 10 negara jumlah kasus terbesar terpapar Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis, China, Iran, Inggris, Turki dan Swiss.

https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/05/071000365/update-virus-corona-di-dunia-5-april–1-19-juta-orang-terinfeksi-246.110

Namun demikian sebenarnya jumlah kematian akibat Covid-19 masih kalah jauh dibanding jumlah kematian akibat penyakit berbahaya lain seperti kanker, jantung atau hiv. Masalahnya penyakit yang menyerang pernafasan ini daya tularnya amat dasyat. Ini yang menyebabkan petugas medis kewalahan memberikan pelayanan. Tampaknya kebijakan Social/Physical Distancing tetap harus dijalankan secara lebih ketat. Apalagi jumlah tenaga medis di Indonesia yang wafat ketika sedang menjalankan tugas mulia tersebut kabarnya  terbesar di dunia.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un … Semoga Allah swt mencatat mereka sebagai syuhada, aamiin yaa robbal ‘aalamin …

Sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari. Kemanapun kita lari bersembunyi bila memang sudah waktunya ajal itu akan tiba, dengan cara apapun, tidak harus melalui sakit keras/berbahaya.

” … …  Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”. ( Terjemah QS. Yunus(10):49).

Jadi jelas kematian bukan untuk ditakuti apalagi dihindari. Meski tidak boleh juga kita menantang kematian, misalnya dengan membiarkan diri kita tertular penyakit, apalagi sengaja menularkan penyakit kita kepada orang lain.

Masalahnya kematian bukan akhir segalanya. Kematian adalah proses perpindahan   dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Dan kehidupan akhirat hanya ada 2 pilihan, Surga yang penuh kenikmatan atau Neraka yang apinya menyala-nyala. Tentu tak seorangpun mau masuk Neraka. Itu sebabnya kematian harus dipersiapkan.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”.(Terjemah QS. Muhammad(47):36).

Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi saat ini, bisa jadi adalah teguran Allah swt kepada kita semua yang cenderung lupa/lalai mempersiapkan kematian kita. Kehidupan dunia dengan segala iming-iming dan gemerlapnya telah membuat kita mencintainya secara berlebihan. Bahkan lupa kepada Sang Pencipta yang telah memberikan semua kenikmatan duniawi.

Sebuah video yang kini sedang viral memperlihatkan seorang kakek Italia usia 93 tahun menangis melihat tagihan ventilator yang disodorkan dokter kepadanya. Namun yang mengejutkan, teryata ia menangis bukan karena tak mampu membayarnya.

Selama 93 tahun saya hidup tidak pernah sesenpun saya membayar udara yang saya hirup. Dan saya tidak pernah mensyukurinya. Berapa besar hutang saya pada-Nya??”, keluhnya.

Pertanyaannya, haruskah kita menunggu dan menyadari kesalahan kita setelah kita sakit keras atau setelah usia kita mencapai uzur??

Dari Abdullah Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum kamu kedatangan lima perkara (demi untuk meraih keselamatan dunia akhirat). Yakni Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Sehatmu  sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang faqirmu. Waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu”.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59): 18).

Perumpamaan kehidupan di dunia adalah tempat kita bercocok-tanam yang akan kita petik hasilnya secara keseluruhan di akhirat nanti. Ayat 18 surat Al-Hasyr di atas secara jelas memerintahkan kita untuk berbekal, mempersiapkan hari esok kita di akhirat nanti.

Adalah kedua orang-tua yang harus bertanggung-jawab mempersiapkan hal tersebut, mendidik anak-anaknya sejak kecil, agar mengenal Tuhannya, memahami dengan jelas dan pasti apa tujuan hidup ini.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Baihaqi dan ath-Thabarani).

Bila kita renungkan sejenak saja, kebijakan WFH ( Work From Home) atau aktifitas dari rumah sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk kita kembali memikirkan apa sebenarnya tugas utama kedua orang-tua dalam keluarga.

Jangan sampai kejadian langka ini terlewat begitu saja. Orang-tua tetap disibukkan dengan urusan pekerjaan kantor, urusan perut dan lain-lain yang sifatnya fisik/duniawi. Anak-anak sibuk dengan PR sekolah, ujian dan lain-lain tanpa ada tambahan pelajaran agama seperti hafalan Al-Quran dll.

Inilah saatnya kita bertobat, memohon ampunan Allah swt, segera membersihkan diri dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong dll. Ajari anak untuk berbagi kepada mereka yang kesusahan dan kesakitan, ajak anak shalat ber-jamaah, terangi rumah dengan ayat-ayat suci Al-Quran.

Semoga Alah swt ridho memasukkan kita ke dalam bulan Ramadhan yang sudah di depan mata ini dalam keadaan sehat walafiat, bebas dari segala penyakit, serta hati yang bersih dari segala penyakit hati, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 April 2020.

Vien AM.