Feeds:
Posts
Comments

Hari ini kita telah memasuki bulan Sya’ban, bulan pemanasan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan Sya’ban banyak memilki keutamaan, diantaranya yaitu memperbanyak puasa sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasai’).

Namun meski Rasulullah berpuasa penuh selama satu bulan pada bulan tersebut, tidak berarti bahwa puasa tersebut adalah wajib. Para ulama sepakat bahwa puasa Sya’ban kedudukannya bisa disandingkan dengan shalat rawatib. Bila shalat rawatib gandengannya adalah shalat-shalat wajib, maka puasa Sya’ban gandengannya adalah puasa Ramadhan.     

Bulan Sya’ban juga sering dinamakan sebagai bulan pembaca Alquran. Pada bulan tersebut dianjurkan untuk lebih banyak membaca Al-Quran dibanding bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan.

Salamah bin Kahiil berkata, “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan para qurra’ (pembaca Alquran).”

Yang menarik adalah hadist berikut yang menyatakan bahwa manusia banyak yang lalai pada hari itu. Mengapa bisa demikian ???

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i).

Kaum Muslimin sangat peduli terhadap bulan Ramadhan, tapi sedikit yang peduli terhadap bulan Syaban. Mereka bersemangat menjalankan puasa dan shalat tarawih pada bulan bulan Ramadhan, paling tidak d awal-awal bulan, untuk kemudian semangat pula menyambut Hari Raya Iedul Fitri sebagai hari kemenangan. Pertanyaannya dari kemenangan apa??        

Allah Azza wa Jala memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dengan tujuan agar menjadi hamba yang takwa. Untuk itu puasa yang dimaksud bukan yang hanya sekedar menahan makan, minum, merokok dan hubungan suami istri di siang hari, tanpa melibatkan Sang Khaliq didalamnya. Karena pada dasarnya ibadah itu tergantung pada niatnya.   

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” ( Terjmah QS. Al-Baqarah(2):183).

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy).

Pada bulan suci tersebut itu pulalah kaum Muslimin berlomba menjalankan tidak saja puasa tapi juga ibadah-ibadah lain seperti shalat tarawih, iktikaf, membaca Al-Quranul Karim, berinfak-sodaqoh dan amal perbuatan baik lainnya. Dan puncaknya adalah di 10 hari terakhirnya, yaitu hari dimana Al-Quranul Karim diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit dunia, itulah malam Lailatul Qadar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. ( Terjmah QS. Al-Qadr (97)1-5).

Maka ketika Ramadhan berakhir, kemenanganpun akan di dapat bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh mau mencapainya. Hari kemenangan tersebut adalah Hari Raya Iedul Fitri. Hari dimana manusia kembali ke fitrahnya yang bersih, jauh dari kesyirikan. Dengan kata lain, bulan Ramadhan adalah ibarat ujian akhir tahun bagi kaum Muslimin.

Namun seperti juga dalam semua lomba dan ujian/test, diperlukan persiapan yang baik jika memang sungguh ingin meraih kemenangan. Yaitu dengan melakukan  pemanasan di bulan Sya’ban ini.

Abu Bakr Al-Balkhi berkata, “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadan saatnya menuai hasil.”

Pada akhir bulan ini hutang puasa Ramadhan tahun lalu harus sudah tuntas dibayar. Pada bulan Sya’ban ini juga memperbanyak puasa dan sedekah, shalat di awal lengkap dengan shalat rawatibnya, mentadaburi ayat-ayat Al-Quran, meluruskan niat ibadah hanya untuk-Nya, serta perbuatan baik lainnya dibiasakan kembali, agar memasuki Ramadhan kita bisa memenangkan lomba dengan lebih mudah.

Para ulama terdahulu memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Di antaranya adalah Imam Hanafi (80-148 H) yang dikenal dengan nama Abu Hanifah, yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an 61 kali dalam satu bulan Ramadhan.

Tak heran bila hari inipun banyak Majlis Ta’lim yang meliburkan diri pada Ramadhan terutama pada 10 hari terakhir. Karena para ustad/ustadzahnya mengkhususkan diri berlomba untuk mengkhatamkan Al-Quran. Para ulama sepakat mengatakan Sya’ban ( dan juga bulan-bulan lain) untuk tadabbur Al-Quran sedangkan khusus Ramadhan berlomba mengkhatamkannya sebanyak mungkin.

Pandemi yang sudah lebih dari setahun berjalan ini pasti ada hikmahnya. Ramadhan tahun ini mungkin kita tetap belum bisa shalat tarawih maupun iktikaf di masjid. Namun dengan tetap tinggal di rumah kecuali ada keperluan mendesak, kita dapat maksimal menjalankan ibadah kita dengan lebih baik, bahkan kajianpun tetap bisa kita ikuti via online. Bukankah Rasulullahpun hanya 3 hari pertama shalat tarawih berjamaah di masjid karena khawatir dianggap sebagai kewajiban. Semoga Ramadhan tahun depan kita bisa kembali menjalaninya secara normal, tarawih berjamaah di masjid sebagaimana yang dianjurkan para khulafaur-rasyidin sebagai bagian dari syiar Islam.  

Akhir kata, semoga Allah Subhana wa Ta’ala memudahkan kita dalam  menjalankan seluruh amal ibadah kita, baik selama Sya’ban maupun setelah memasuki Ramadhan nanti, aamiin allahumma aamiin.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Maret 2021 / 9 Syaban 1442 H.

Vien AM.

Ayana Jihye Moon, adalah seorang muslimah asal Korea Selatan yang namanya cukup di kenal di kalangan muslimah, Indonesia dan Malaysia khususnya. Selebgram berparas cantik khas K-Pop ini pernah menjadi brand  ambassador Wardah, beberapa kali muncul sebagai tamu acara televisi, serta menjadi pembicara sejumlah kajian. Terakhir Ayana terlihat di Istora Senayan Islamic Book Fair (IBF) di JCC Jakarta pada acara peluncuran bukunya yang berjudul ‘Ayana Journey To Islam’. Kisah ke-Islaman gadis Korea kelahiran tahun 1995 ini memang menarik untuk diikuti. 

Ayana lahir dan besar di tengah keluarga ekonomi menengah atas yang tidak begitu peduli agama di sebuah kota di Korea Selatan. Ia mendengar adanya agama Islam pertama kali karena keluarganya sering membicarakan aksi teror 911 dan perang Amerika di Irak dan Afghanistan. Ketika itu usia Ayana baru 7 tahun. Namun ia juga mendengar bahwa kaum Muslimin berpuasa, shalat dan berjilbab. Kebetulan salah satu pamannya ada yang telah lama memeluk Islam. Hal yang amat sangat langka terjadi di negaranya. Islam adalah kaum minoritas dan tidak banyak orang mengenal agama ini. Rata-rata orang Korea Selatan adalah atheis.  

Untuk mengatasi rasa penasaran dan keingin-tahuannya yang begitu tinggi menjelang remaja Ayana sering googling. Hebatnya lagi karena ketika itu ia belum fasih berbahasa Inggris iapun menggunakan kamus untuk belajar memahami apa yang ingin diketahuinya. Selama beberapa tahun ia melakukan hal tersebut.  Berkat Googling pula Allah swt mempertemukannya dengan seorang profesor yang menguasai ajaran Islam.

Maka setelah dirasa cukup memahami konsep Islam, ditambah bantuan dari pamannya, pada usia 16 tahun akhirnya Ayanapun memeluk Islam. Namun sayang keinginannya untuk mengenakan hijab yang merupakan kewajiban bagi kaum Muslimah untuk sementara terpaksa ia singkirkan. Di negaranya tidak mungkin murid sekolah memakai hijab ke sekolah. Ayana ketika itu duduk di bangku sekolah menengah atas.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Menjelang lulus SMA orang-tuanya baru mengetahui bahwa putri mereka satu-satunya itu telah berganti keyakinan. Merekapun tidak mau lagi menanggung kehidupan finansialnya. Namun Ayana tidak mau menyerah meski menyadari pasti akan sangat berat. Apalagi ia ingin sekali meneruskan pendidikan ke yang lebih tinggi, yaitu berkuliah.

Saat itu aku tidak punya pilihan. Aku tahu orangtuaku tidak akan menanggung biaya kehidupanku jika aku pindah ke agama lain, atau menjadi ateis seperti mereka. Sehingga dengan situasi ekstrem seperti itu, justru menguatkanku. Aku lakukan apa yang bisa aku lakukan,” kenangnya.

Bahkan, sebelum aku pergi ke Malaysia, aku harus melakukan banyak sekali pekerjaan sampingan di Korea Selatan, seperti menjadi guru les matematika, menjual ikan kering di pasar, menjadi part-timer di restoran kecil, dan sebagainya. Meski begitu, alhamdulillah aku bisa dapat beasiswa penuh karena aku adalah siswa teladan,” tambahnya.

Berkat kegigihannya mempertahanlan ke-Islam-annya tak heran bila Allah Azza wa Jala memberinya jalan keluar. Apalagi Ayana memang seorang anak yang cerdas hingga berhasil mendapatkan beasiswa.  Dengan modal beasiswa dan tekad kuat pada tahun 2014 di usianya yang ke 19 tahun, Ayanapun meninggalkan negaranya menuju Malaysia. Sebelumnya ia sempat mempertimbangkan Mesir sebagai tujuan kuliah sambil memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Disana sudah pasti ia bisa memakai hijab, sesuatu yang diimpikannya.  Tapi karena situasi politik yang tidak memungkinkan ia memilih Malaysia sebagai gantinya.  

Sebagai gadis muda yang baru pertama kali hidup sendiri jauh dari orang-tua dan keluarga di negara dimana ia tidak mengenal seorangpun, tanpa restu dan bekal orang tua pula, dapat dipahami bila suatu ketika ia sempat mengalami kesulitan dan sempat nyaris putus asa. Ibunya bahkan khusus datang menjemputnya untuk membawanya pulang ke negaranya. Namun Allah subhana wa ta’ala kembali menyelamatkannya. Seorang kenalan instagramnya di Indonesia menawarkan pekerjaan sebagai bintang iklan kosmetika Wardah di Jakarta. Iapun langsung menerima tawaran tersebut.

Dan selama kontrak tersebut Ayana merasa ditrima dengan sangat baik. Ia banyak menerima undangan wawancara terutama tentang kisah ke-Islamannya. Ayanapun lebih tenang dan mendapatkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat goyah. Usai kontrak 1 tahun Ayana kembali ke Malaysia untuk melanjutkan kembali kuliahnya di program studi komunikasi. Ayana dapat merasakan betapa bedanya kehidupannya di Korea Selatan dengan di Malaysia dan di Indonesia.

Rasanya menyenangkan karena bisa menjalani shalat di mana pun. Aku bisa makan makanan halal, rasanya menyenangkan“. “Di Korea aku tidak bisa shalat di mana saja dan tidak ada makanan halal. Aku cuma bisa makan seafood, sangat sulit,” ujarnya.

Dalam pengakuannya, kini ia lebih bisa tersenyum, hidup lebih bermakna, dan selalu bersyukur. Hingga sang adik, heran dengan sifat kakaknya yang tadinya galak dan mudah marah berubah menjadi baik. Maka berita gembirapun datang. Aydin, adik satu-satunya dengan beda usia 8 tahun, pada tahun 2019 lalu mengikuti jejaknya memeluk Islam.

Dalam Instagramnya Ayana memamerkan foto diri dan adiknya yang menjalani Ramadhan di rumah mereka di Korea Selatan. Orang-tua mereka tampaknya sudah bisa menerima ke-Islaman keduanya.  

Ramadhan pertama kita yang sangat spesial, dia adalah satu-satunya yang selalu membuatku nyaman. Aku bertanya pendapatnya dalam segala hal. My very smart tutor and the best sister till Jannah,” tulis Aydin dalam keterangan fotonya.

Ayana juga memamerkan sebuah video bersama ibu dan adiknya di dalam sebuah masjid. Ibunya memang belum bersedia masuk Islam tapi Ayana sangat mengharapkan doa orang-orang yang melihat video tersebut.

“Ini adalah masjid tempat aku dan Aydin sering berkunjung. Aku berharap ibu akan lebih sering ke sini, Insya Allah, Aku harap,” ujar Ayana menutup videonya.    

Dalam salah satu wawancaranya, Ayana menceritakan rencana masa depannya.  Ia juga menjawab sebuah pertanyaan apakah ia sudah cukup merasa puas dengan aktifitasnya sebagai Selebgram yang memiliki lebih dari 3 juta followers. Ayana menjawab bahwa profesi tersebut hanya batu loncatan. Lingkungan keluarganya yang banyak berkecimpung dalam dunia politik menyebabkannya ikut tertarik memikirkan hal tersebut. Minimal ia ingin agar muslimah berhijab di negaranya bisa mendapat kemudahan dalam mencari pekerjaan dan kesetaraan.  

Aku ada rencana ingin melanjutkan jenjang pendidikan di bidang politik ke Inggris, setelah menyelesaikan pendidikan di Malaysia. Ada banyak cara aku berkontribusi bagi negaraku. Misalnya, membantu politisi dalam membuat kebijakan, tanpa harus terjun ke dunia politik,”, jelasnya.

Barakallah Ayana, semoga Allah swt senantiasa memudahkan perjalanan hidupnya. Semoga dapat menjadi inspirasi para muslimah yang terlahir Islam agar dapat menjadi muslimah yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.      

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Maret 2021.

Vien AM.

Note.

– Usia 7 tahun adalah usia seorang anak mulai kritis. Ia menjadi pemerhati segala kejadian yang dilihatnya. Oleh sebab itu orang-tua  harus waspada. Tak salah bila pada usia ini Islam mulai mengajarkan anak untuk shalat.

Ajarilah anak kalian mengerjakan salat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah ia jika telah mencapai 10 tahun ia mengabaikannya” (HR Abu Daud, Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan Ibn Khuzaimah). 

– Menjadi Islam sejak lahir adalah suatu anugerah yang harus disyukuri. Tentu kita sering mendengar bagaimana beratnya perjuangan menuju Islam seperti yang dialami Ayana di atas.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi”. Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim).

Mukjizat yang diberikan Allah subhanallah wa ta’ala kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya tidak hanya setelah Allah azza wa Jala mengangkat beliau sebagai nabi. Tapi juga sudah diberikan sejak nabi masih kecil, bahkan pada hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut beberapa kisahnya :

1. Jin Tidak Lagi Bisa Mencuri Berita.

Dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah di larang untuk naik”, berkata bangsa Jin. Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian di muka bumi, dari barat sampai timur, dan perhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya telah terjadi!

Mereka lalu menyebar. Setelah mengeliling bumi dari timur ke barat, sampailah mereka ke kota Mekah. Di sana tampak oleh mereka seorang bayi yang baru dilahirkan sedang dikelilingi para malaikat, dan memancar cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit, sedangkan para malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan yang lain.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Terjemah QS. Al-Azhab(33): 56).

“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”. ( Terjemah Al-Jin (72):9).

2. Bintang Besar Bercahaya.

Para ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) melihat bintang besar dan bercahaya seperti berlensa tepat di hari kelahiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam., sebelumnya bintang itu tidak pernah terlihat. Di antara mereka ada yang berseru, “Nabi penutup zaman sudah lahir”.

Ka’bul Akhbar ra berkata; “Saya telah melihat di dalam Taurat bahwa Allah ta’ala telah mengabarkan kepada Kaum Musa tentang saat keluarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya bintang tetap yang telah kamu ketahui itu, bila ia bergerak dari tempatnya menandakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keluar

3. Keberkahan menyelimuti keluarga Halim As Sa’diyah, ibu susu Rasulullah.

Sebelum menjadi ibu susu nabi, keluarga Halimah selalu dalam kesusahan. Bahkan air susu Halimahpun kering. Begitu pula kambing-kambing peliharaan mereka.

Namun begitu nabi tinggal bersama mereka mendadak keberkahan menyelimuti keluarga ibu susu Rasulullah tersebut. Air susu Halimah menjadi berlimpah hingga cukup tidak hanya untuk Muhammad yang ketika baru berusia beberapa bulan tapi juga bagi bayi Halimah As Sa’diyah dan Al-Harits, suami Halimah. Demikian pula kambing-kambing yang tadinya kurus kering tiba-tiba melimpah air susunya.  

4. Dilindungi awan.   

Ketika Muhammad berusia 12 tahun pernah diajak Abu Thalib paman beliau ke Syam untuk menjalankan perjalanan dagang. Namun di tengah perjalanan Bukhairah, seorang rahib Nasrani mengundang rombongan Abu Thalib untuk singgah di kediamannya. Pendeta tersebut mengundang mereka karena heran melihat awan yang senantiasa menaungi rombongan tersebut. Usut punya usut akhirnya terbukti bahwa awan tersebut mengikuti Muhammad kecil. Bukhairah juga akhirnya menemukan tanda kenabian yang terdapat pada pundak ponakan Abu Thalib tersebut sesuai yang tertulis pada kitab sucinya.

Bukahirapun lalu mengingatkan Abu Thalib agar segera kembali ke Mekah dan menjaga sang keponakan dengan baik karena ia meyakini bahwa semua nabi akan diganggu bahkan dicoba untuk dibunuh.      

Beberapa tahun kemudian Maysaroh budak lelaki yang pernah menemani Rasulullah ke Syam membawa dagangan Khadijah, juga merasakan awan yang selalu menaungi mereka selama perjalanan jauh tersebut.  Peristiwa tersebut tidak luput dari pengamatan Nestor pendeta Nasrani pengganti  Bukhairah yang kemudian juga mengingatkan Maysarah agar menjaga majikannya sebaik mungkin. Kejadian ini terjadi sebelum Muhammad menikahi Khadijah, jauh sebelum kerasulan.    

Begitulah sebagian mukjizat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, satu dari 5 ulul azmi ( nabi dan rasul yang paling diutamakan yaitu Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Nuh sholawatullah wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin) sekaligus nabi dan rasul terakhir.

Sayangnya mukjizat dasyat yang sengaja diberikan Allah subhanallah wa ta’ala kepada para manusia pilihan agar manusia mau mempercayai para utusan tersebut tidak membuat semua orang mau mengimaninya. Bahkan tidak sedikit orang yang mengalami dan melihat mukjizat para nabi terjadi di depan mereka tetap saja mereka dustakan.

Hal tersebut bukan hanya terjadi pada para nabi terdahulu tapi juga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya adalah orang-orang Quraisy Mekah termasuk para paman dan kerabat Rasul. Bahkan Abu Thalib paman nabi yang merawat nabi sejak kecil dan sangat menyayangi beliau. Meski sebenarnya di akhir hidupnya sangat ingin bersyahadat tetapi karena pengaruh dan tekanan orang-orang yang berada di sekelilingnya maka batal. Sungguh ironis …    

Hidayah memang milik Allah Yang Maha Tinggi, yang diberikan kepada yang Ia kehendaki. Namun tidak berarti manusia hanya bisa pasrah dan tidak berusaha menggapainya. Karena hidayah diberikan hanya kepada mereka yang menghendaki, yang berusaha mencari.       

Mungkin apa yang suatu hari dikatakan Syeikh Ali Jabber kepada sopir ojek online yang sering nongkrong di sekitar mesjid ada benarnya. Sopir tersebut menolak ajakan shalat sang ulama dengan alasan khawatir kehilangan peluang mendapatkan pelanggan yang datang ketika ia sedang shalat.

Kenapa g pasrah aja mas … rezeki kan sudah ditentukan?”, sindir Syeikh sambil tersenyum penuh arti.

Akhir kata, semoga kita yang hidup jauuuh dari zaman Rasulullah, tidak pernah melihat apalagi bertemu, mau mengimaninya dengan sebaik-baik iman. Karena sejatinya berbagai mukjizat di atas sifatnya adalah lokal, yaitu hanya bisa dilihat saat itu. Tidak seperti mukizat Al-Quranul Karim yang terasa hingga akhir zaman nanti.  

Sesungguhnya orang-orang yang paling menakjubkan keimanannya di mata Allah adalah mereka yang datang sepeninggalanku, lalu mereka beriman kepadaku dan mempercayaiku meski tidak pernah melihatku. Maka mereka itulah saudara-saudaraku”.  (HR. Bukhari).

Semoga kelak Allah subhanallah wa ta’ala membalasnya dengan sebaik-baik  dan setinggi-tinggi balasan.  

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. ( Terjemah QS. Al-Bayyinah (98):7-8).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 Maret 2021.

Vien AM.

7. Air sedikit menjadi banyak.

Dalam sebuah perjalanan, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya kehabisan bekal air. Padahal tidak ada air di sekitar mereka. Tak lama mereka bertemu seorang perempuan yang membawa sedikit air. Lalu  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kantung air milik perempuan tersebut. Kemudian para shahabat yang kehausan itu meminumnya. Jumlah mereka 40 orang. Setelah puas minum, mereka mengisi kantung air masing-masing hingga juga penuh.(HR. Al-Bukhari, no. 3571).

8.Berbicara dengan unta.

Dari Abdullah bin Ja’far ra, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam kebun salah seorang laki-laki Anshar. Tiba-tiba di tempat itu ada seekor unta . Ketika Rasulullah  melihatnya, unta itu merintih dan bercucuran air matanya. Rasulullah kemudian mendatangi unta itu seraya mengusapnya dari perut sampai ke punuh dan tulang telinga unta itu hingga menjadi tenanglah unta itu. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Siapakah pemilik unta ini ?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata : “Unta itu milikku, wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda pula : “Tidakkah engkau bertaqwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah. Binatang ini telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar disebabkan membebani punggungnya dengan beban yang terlampau berat”. (HR. Ahmad & Abu Dawud).

9. Makanan sedikit cukup untuk orang banyak.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lemas karena menahan lapar. Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu yang mendengar hal itu akhirnya menemui istrinya. Abu Thalhah dan istrinya berniat mengundang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk makan.

Singkat cerita, Abu Thalhah dan istrinya ternyata hanya memiliki makanan yang sedikit. Padahal Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak banyak sahabat untuk ikut makan di rumah Abu Thalhah. Abu Thalhah menjadi cemas; makanan sedikit apakah cukup untuk menjamu tamu sebanyak itu? Dengan perasaan gundah pasangan suami istri tersebut hanya bisa pasrah menyambut kedatangan Rasulullah beserta para sahabat. Sebelum acara makan dimulai, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan makanan yang dihidangkan. Setelah itu para tamu diminta makan bergantian. Yang pertama makan adalah 10 sahabat. Lalu, 10 sahabat berikutnya, kemudian 10 sahabat berikutnya, begitu seterusnya.

Akhirnya semua sahabat yang datang itu makan sampai kenyang, sedangkan jumlah mereka waktu itu 70 atau 80 orang. Setelah itu, barulah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga Tholhah makan pula hingga kenyang pula. (Sumber: H.r. Al-Bukhari, no. 3385; Muslim, no. 2040)

10. Berbicara dengan jin dan mengikatnya.  

Dalam sebuah Hadist dikisahkan bahwa suatu hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak memasuki masjid, terlihat iblis sedang melongok-longok di sisi pintu masjid.

Wahai Iblis apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Maka iblis itu menjawab, “Aku hendak masuk masjid dan akan merusak shalat orang yang sedang shalat ini, tetapi aku takut pada lelaki yang tengah tidur ini.

Lalu Nabi berkata, “Wahai Iblis, kenapa kamu bukannya takut pada orang yang sedang shalat, padahal dia dalam keadaan ibadah dan bermunajat pada Tuhannya, dan justru takut pada orang yang sedang tidur, padahal ia dalam posisi tidak sadar?” Iblis pun menjawab, “Orang yang sedang shalat ini bodoh, mengganggu shalatnya begitu mudah. Akan tetapi orang yang sedang tidur ini orang alim (pandai).”

Dalam riwayat lain, dari Muhammad bin Ja’far dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang bersabda, “Sesungguhnya Ifrit dari kalangan jin tadi malam telah datang kepadaku dan berusaha mengganggu shalatku, tetapi Allah memberiku kemampuan untuk mengalahkannya. Aku ingin mengikatnya di salah satu pilar masjid, agar pada waktu subuh kalian dapat melhatnya, tetapi aku teringat kata-kata saudara Sulaiman, (seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an), ‘Ya Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah aku kerajaan yang tiada seorang pun sesudahku patut memilikinya.’ (Shad: 35)”. Lalu berkata, “Kemudian beliau mengusirnya dalam keadaan hina.” (HR Al-Bukhari).

11. Dapat melihat orang yang disiksa dalam kubur.

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, Nabi saw pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau berkata; “Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar melainkan karena dia tidak menyucikan diri dari kencingnya, sedangkan yang lain karena suka mengadu domba.”

Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Masing-masing ditancapkannya di dua kuburan tersebut. Para sahabat lantas bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?” Beliau bersabda, “Semoga diringankan siksa kubur keduanya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Bukhari).

Saat itu pula, ketika Rasulullah berjalan, tiba – tiba saja awan menaungi beliau. Rahib pun semakin yakin dengan kenabian Muhammad SAW. Di Syam

12. Hilang dari pandangan manusia.

“ Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat”.(QS.Yasin(36):9 ).

Riwayat menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum meninggalkan kamar menaburkan pasir ke muka orang-orang kafir Quraisy yang ketika itu ditugaskan mengawasi Rasulullah dan berjaga di depan kamar beliau sambil membaca ayat di atas.

Peristiwa tersebut terjadi pada malam Rasulullah secara diam-diam  meninggalkan rumah beliau di Mekah untuk menuju Madinah demi meloloskan diri dari pembunuhan yang telah direncanakan secara matang oleh pejabat-pejabat Mekah yang sangat memusuhi Islam. Beberapa hari kemudian ketika Rasulullah yang ditemani Abu Bakar bersembunyi di dalam gua para pengejarnya kembali tidak berhasil menemukan mereka berdua. Padahal para pengejar tersebut telah berdiri tepat di depan gua.  Dengan kuasa Allah Azza wa Jala gua yang baru dimasuki keduanya tiba-tiba tertutup sarang laba-laba. Seekor burung besar berjaga di mulut gua.

13. Mengetahui berbagai berita gaib.

Ketika terjadi Perang Mu’tah, komandan pasukan perang yang ditunjuk  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memimpin pasukan muslimin terbunuh. Yang pertama terbunuh adalah Zaid bin Haritsah. Setelah Zaid terbunuh, komandan pasukan digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Kemudian, Ja’far bin Abi Thalib juga terbunuh. Sebelum kematian dua komandan itu sampai ke Madinah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan kematian Zaid bin haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib kepada para shahabatnya. Inilah salah satu mukjizat  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam; Allah beri wahyu kepada beliau tentang berita gaib. (Sumber: H.r. Al-Bukhari,  no. 3630)

14. Berbagai hadist nabi yang terbukti benar belakangan ini baik karena terbukti terjadi maupun yang  sesuai ilmu pengetahuan, kedokteran dan sains.

Contohnya adalah tentang jatuhnya Konstatinopel pada 1453 M atau 7 abad setelah prediksi nabi. Kemudian manfaat berpuasa 3 hari dalam sebulan, manfaat habatus sauda ( Jintan hitam), cara tidur dan makan nabi, terakhir bahkan cara menghadapi pandemi dengan cara karantina seperti yang saat ini sedang melanda dunia yaitu covid 19, terlepas  adanya teori konspirasi ataupun tidak.

“Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Khattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu Umar bin Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR Bukhari dan Muslim).

15. dan masih banyak lagi.

Bersambung.

4. Mengobati sakit mata.

Sebelum penaklukan Benteng Khaibar, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai pemegang bendera pasukan. Namun ternyata Ali sedang menderita sakit mata. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam segera memanggilnya, lalu mengusap mata Ali yang sakit dengan ludah beliau. Seketika, mata Alipun menjadi sembuh seolah-olah tak pernah sakit mata.

Di lain waktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat kabar bahwa keluarga Qatadah berniat memotong dan membuang mata  Qatadah radhiyallahu ‘anhu yang tercongkel dalam Perang Uhud karena sakit yang tak tertahankan, dan berpikir mustahil untuk disembuhkan. Ketika itu bola matanya keluar bersama urat-uratnya, menjulur ke wajah beserta darah yang mengalir deras.

Maka Rasulullah segera memanggil Qatadah. Kemudian dengan telapak tangan beliau bola mata yang terjulur tersebut didorong masuk ke dalam lubang matanya. Seketika itu pula sembuh mata Qatadah seperti tidak pernah terluka.

5. Berbicara dengan pohon.

“Maukah kamu aku pindahkan ke kebun kurma semula, sehingga bisa berbuah dan memberikan makanan bagi orang-orang yang beriman? atau aku pindahkan ke surga, setiap akarmu meminum air dari minuman surga, lalu para penghuni surga menikmati buah kurmamu?”

Itulah yang dikatakan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebuah pohon yang berada tidak jauh dari rasulullah dan para sahabat.  Peristiwa tersebut terjadi tak lama setelah rasulullah memulai khutbah dari yang biasanya bersandar ke pohon kurma tersebut pindah ke mimbar. Ketika itu para sahabat terkejut mendengar ada suara mirip tangisan keluar dari pohon tersebut.

Rasulullahpun  segera mendekati pohon tersebut. Kemudian berbicara sebagaimana diatas sambil meletakkan tangan beliau ke batang pohon kurma tersebut dan mengusapnya. Setelah itu beliau memeluk pohon kurma tersebut hingga suara raungan mereda dan akhirnya berhenti.

Ternyata pohon kurma tersebut memilih pilihan kedua. Nabipun bersabda: af’al Insha Allah sebanyak 3 kali. Kemudian kepada para sahabat Nabi bersabda kembali; “Demi Allah, yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau tidak aku tenangkan dia, dia akan terus merintih sampai hari kiamat karena kerinduannya kepadaku”.

Tempat dimana pohon kurma dulu berdiri itu hingga sekarang masih bisa kita temui di dalam Masjid Nabawi. Itulah yang dinamakan Ustuwanah Hannanah yang artinya ‘Pilar Tangisan’. Pilar tersebut terletak di selatan area Raudhah persis di belakang mimbar.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan pohon tidak hanya sekali itu saja.

Suatu hari, Jabir dan para sahabat lain berjalan bersama Rasulullah, hingga berhenti di sebuah lembah yang luas. Rasulullah kemudian pergi untuk membuang hajat. Jabir lantas mengikuti beliau dengan membawa kantong kulit berisi air. Saat itu, Nabi melihat ke sekeliling dan tidak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai tabir (penghalang).

Di pinggir lembah, terdapat dua pohon. Rasulullah kemudian menghampiri salah satu pohon dan meraih satu dahan sambil berkata, “Menunduklah kepadaku dengan izin Allah!” Pohon itu pun menunduk di hadapan Rasulullah seperti unta yang penurut.

Kemudian, Rasulullah menghampiri pohon yang lain, lalu meraih sebuah dahan sambil mengatakan, “Menunduklah kepadaku atas izin Allah!” Pohon itu pun menunduk di hadapan beliau, dan muncullah celah di antara kedua pohon itu.

“Saling mendekatlah kalian kepadaku atas izin Allah!” kata Nabi. Kedua pohon itu pun saling mendekat dan melekat.

Kemudian, Jabir pun menjauh dari tempat itu karena khawatir jika Rasul mengetahui ia di dekatnya. Jabir menjauh darinya sambil berbicara kepada diri sendiri, hingga ia mendengar suara mendekat. Ternyata, itu suara Rasulullah yang sedang mendekat ke arahnya. Ia melihat kedua pohon itu telah berpisah dan masing-masing telah berdiri tegak kembali.

Para sahabat diantaranya Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi juga menceritakan suatu hari pernah melihat sebuah pohon menjadi saksi kerasulan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika itu Rasulullah mengajak seorang Baduy untuk bersyahadat. Namun orang tersebut tidak serta merta mempercayai Rasulullah.

“Siapa yang menjadi saksi atas apa yang kau katakan itu?” tanya orang tersebut.

“Pohon ini,” Rasulullah menunjuk sebuah pohon, ada yang berpendapat bahwa itu adalah pohon kurma. Pohon itu berdiri tegak di atas akarnya, di tepi sebuah lembah.

Begitu Rasulullah menunjuknya, pohon itu tiba-tiba bergerak. Dengan ajaib, pohon kurma itu berjalan menuju Rasulullah kemudian berhenti tepat di hadapan nabiyullah. Pohon itu pun kemudian merunduk di hadapan sang kekasih.

Rasulullah lalu meminta pohon tersebut untuk bersaksi tiga kali sebagaimana sabda beliau. Yakni bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah. Pohon itu pun melakukannya. Ia bersyahadat tiga kali. Setelah itu, Rasulullah menyuruh pohon itu kembali ke tempatnya. Ia menurut dan berjalan kembali ke tepian lembah. Arab Badui yang menyaksikan begitu terkejut. Ia menyaksikan keajaiban mukjizat Rasulullah dengan mata kepalanya. Pria Badui itu pun kemudian bersyahadat di hadapan nabi, saat itu juga.

6. Segelas susu mengenyangkan banyak orang.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu adalah shahabat Nabi yang sangat miskin tetapi amat banyak ilmunya dan kuat hafalannya. Dia sering mengalami kelaparan. Pada suatu hari ketika Abu Hurairah sedang duduk di jalan, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatinya dan tersenyum melihatnya. Beliau sangat mengerti akan penderitaan Abu Hurairah. Karenanya, berkatalah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaa Aba Hirr!” Abu Hurairah menjawab, “Labbaika, yaa Rasulullah (aku datang memenuhi panggilanmu, wahai Rasulullah).” beliau berkata, “Ikutilah aku!”

Maka Abu Hurairah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke rumahnya. Kemudian beliau mengizinkannya masuk. Di sana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemukan segelas susu.

Beliau bertanya kepada istrinya, “Dari mana susu ini?” Istrinya menjawab, “Dari Fulan, ia menghadiahkannya untukmu.” Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memanggil Abu Hurairah, “Yaa Aba Hirr!” “Labbaika, yaa Rasulullah,” jawabnya. “Pergilah dan panggil ahlush shuffah.”

Ahlush shuffah adalah sekumpulan sahabat yang tinggal di masjid Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak punya harta dan keluarga di kota Madinah. Abu Hurairah merasa berhak mendapat seteguk lebih dahulu agar kekuatannya yang hilang bisa kembali. Nanti, jika ahlush shuffah datang, tentu Abu Hurairah yang akan melayani mreka. Ia khawatir jika tidak kebagian.

Namun Abu Hurairah tidak mau menentang perintah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Abu Hurairah segera memanggil ahlush shuffah. Mereka pun datang ke rumah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Abu Hurairah, “Yaa Aba Hirr!” “Labbaika, yaa Rasulullah.” “Terimalah ini dan bagikan kepada mereka!” Maka Abu Hurairah memberikan gelas berisi susu itu kepada orang pertama. Orang itu meminumnnya sampai puas.

Kemudian gelas tersebut dikembalikan kepada Abu Hurairah. Lalu diberikan lagi kepada orang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga semua merasa puas. Sungguh menakjubkan! Gelas itu pun diterima kembali oleh Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian tersenyum kepada Abu Hurairah dan berkata, “Yaa Aba Hirr!” “Labbaika, yaa Rasulullah.” Sekarang tinggal aku dan kamu.” “Benar, wahai Rasulllah.” “Duduklah dan minum!”

Dengan penuh suka cita maka Abu Hurairahpun duduk dan minum.  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam terus memerintahkannya minum sampai Abu Hurairah berkata, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, sudah tidak ada tempat lagi dalam perutku”. Kemudian  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikan kepadaku gelas itu.” Beliau memuji Allah dan bersyukur lalu membaca, “Bismillah,” dan meminum sisa susu itu. (Sumber: H.r. Al-Bukhari, no. 6087).

Bersambung.

Para nabi dan rasul adalah manusia istimewa yang dipilih Tuhannya dengan tugas yang juga istimewa. Tugas tersebut tugas yang amat sangat berat, yaitu mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah subhanallahu wa ta’ala, Sang Maha Pencipta Yang Hanya Satu. Untuk itu Sang Khalik membekali mereka dengan berbagai bentuk mukjizat sebagai bukti kebenaran kenabian mereka, bahwa mereka benar-benar diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata dasar Mukjizat adalah dari ‘Ajaza-Yu’jizu yang artinya membuat orang lemah. Maksudnya agar orang yang melihat mukjizat menjadi lemah tak berdaya karena tidak mempunyai alasan untuk tidak percaya apa yang dibawa para nabi dan rasul. Itu sebabnya Mukjizat adalah sesuatu yang di luar nalar dan pengetahuan manusia. Sesuatu yang luar biasa, yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa. Mukjizat juga biasanya tidak bisa dilakukan lagi, hanya sekali terjadi, tidak bisa dilakukan berulang-ulang meski yang bersangkutan menginginkannya.

Mukjizat setiap nabi dan rasul berbeda-beda, biasanya Allah sesuaikan dengan keadaan kaumnya. Sebagai contoh mukjizat nabi Ibrahim as yang bisa keluar dari kobaran api dengan selamat tanpa tersentuh api sedikitpun. Atau nabi Musa as yang hidup di zaman keemasan sihir. Maka Allah memberikan nabi Musa mukjizat tongkat yang ketika dilempar berubah menjadi ular. Atau nabi Isa as yang diutus pada suatu kaum dimana ilmu kedokteran sedang berkembang pesat. Maka Allah berikan nabi Isa mukjizat menyembuhkan orang yang sakit lepra. Bahkan pernah suatu saat menghidupkan orang yang sudah mati, dengan izin Allah tentu saja.

Sementara nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup di zaman tanah Arab berada pada puncak keemasan keindahan dan kefasihan bahasa dengan sya’ir-sya’irnya, maka Allah turunkan Al-Qur’an yang merupakan kalamullah/firman Allah, dengan ketinggian dan keindahan bahasanya. Yang di kemudian hari terbukti bukan hanya unggul dalam keindahan bahasanya tapi juga kandungannya yang sesuai ilmu pengetahuan dan sains hari ini. Karena Al-Quran memang Allah turunkan untuk semua manusia hingga akhir zaman nanti. Itu sebabnya Al-Quran disebut sebagai mukjizat terbesar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal tersebut diakui banyak ilmuwan masa kini.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ‘Tidak seorang nabipun kecuali ia diberi beberapa mukjizat yang tak bisa diserupai oleh apapun sehingga manusia mengimaninya, dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah berupa wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi manusia yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat”.

Namun demikian sebenarnya Rasulullah memiliki mukjizat selain Al-Quran yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan seperti nabi Sulaiman yang diberi kemampuan bisa berbicara dengan binatang dan menaklukan jin, begitu pula Rasulullah. Sayang riwayat-riwayat tersebut kurang dipublikasikan.  Para ulama menyebutkan bahwa Allah swt mengaruniakan Rasulullah tak kurang dari tiga ribu mukjizat, selain Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an sendiri mengandung enam puluh atau tujuh puluh ribu mukjizat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Ayat-ayat dan burhan yang menunjukkan kenabian Nabi kita Muhammad sangat banyak dan beragam, lebih banyak dan lebih agung daripada ayat-ayat nabi sebelum beliau”.

Berikut beberapa mukjizat Rasulullah selain Al-Qur’anul Karim :

1. Isra’ Mi’raj.

Isra’Miraj adalah mukjizat Rasulullah terbesar setelah Al-Quran. Pada peristiwa tersebut dengan menaiki Buraq, binatang sejenis burung, Rasulullah  terbang dari Mekah menuju Masjidil Aqsho di Palestina. Dari masjid ke tiga tersuci umat Islam tersebut Buraq membawa Rasulullah ke langit menuju singgasana Sang Khaliq. Disanalah Rasulullah menerima perintah shalat 5 waktu yang kemudian menjadi kewajiban seluruh umat Islam dimanapun berada.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):1).   

“Hingga akhirnya Allah berfirman, “Hai Muhammad, shalat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap shalat berpahala sepuluh shalat, maka itulah lima puluh kali shalat”. … …  Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya”. Maka aku menjawab, “Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya”. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim).

2. Terbelahnya bulan

Suatu ketika orang-orang kafir Mekah menantang Rasulullah untuk membuktikan ke-rasulannya. Maka Allah menunjukkannya dengan terbelahnya bulan di hadapan mereka.

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu`jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus“.(Terjemah QS. Al-Qomar(54):1-2).

Peristiwa terbelahnya bulan tidak hanya dijelaskan dalam Al-Quran tapi juga dalam hadist. Itupun tidak hanya sekali melainkan dua kali sebagaimana hadist berikut :

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Ia berkata,

Dua kali beliau perlihatkan bulan terbelah.” (HR. Muslim dalam Kitab Sifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Nar 2802 dan Ahmad 13177).

Peristiwa pertama terjadi di Mina.

Bulan terbelah. Saat itu kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mina.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah 3656).

Dan kejadian kedua terjadi di Mekah. Yaitu sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu:

“Aku melihat bulan terbelah menjadi dua bagian sebanyak dua kali. Peristiwa ini terjadi di Mekah sebelum hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu potongan di atas Gunung Abu Qubais dan potongan lainnya di atas as-Suwaida. Mereka berkata, ‘Bulan telah disihir’. Turunlah firman-Nya: ‘Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan’.” (HR. al-Hakim 3757. Ia berkata, “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan muslim walaupun keduanya tidak meriwayatkannya. Disepakati oleh adz-Dzhabai).

Mukjizat tersebut disaksikan tidak hanya oleh para sahabat tapi juga orang-orang kafir Mekkah. Meski demikian orang-orang kafir tersebut mendustakan beliau bahkan menyebutnya sebagai sihir.  Dikemudian hari sejumlah ilmuwan yang meneliti bulan mengakui bahwa ada tanda-tanda bahwasanya pada suatu ketika bulan pernah terbelah.  

3. Air memancar dari sela-sela jemari.

Sebuah wadah air pernah disodorkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelupkan tangannya ke dalam wadah air itu. Maka, air memancar dari sela-sela jemari tangan beliau. Dengan air itu, para sahabat berwudhu. Jumlah mereka waktu itu adalah 300 orang. (HR. Al-Bukhari, no. 3572).

Bersambung.