Feeds:
Posts
Comments

Aqimus Shalaah.

Al-Quran menggunakan kata “Aqimus shalaah” untuk perintah shalat, bukan “if’alus shalaah” (kerjakan shalat). Begitu pula dalam seruan iqomah yang dikumandangkan setelah adzan sesaat sebelum shalat, kata yang digunakan adalah kata “qodqoomati sholat” yang artinya sama dengan “Aqimus shalaah”, yaitu dirikanlah sholat.

… Aqiimu sholah (dirikanlah sholat), tunaikanlah zakat….” (Terjemah QS. An-Nisaa(4):77).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, aqimus shalaah (mendirikan shalat) dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. … “.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):277).

Mendirikan shalat dan mengerjakan shalat tidaklah sama. Mendirikan shalat ibarat bangunan, adalah fondasi atau tiang agar bangunan di atasnya dapat berdiri kokoh dan kuat. Atau ibarat pohon, mendirikan shalat adalah akar yang kuat, yang mampu menopang batang dan rantingnya. Jadi shalat yang membuahkan hasil yang baik, yang mampu mencegah dari perbuatan jahat, menjauhkan dari segala sesuatu yang dibenci dan diharamkan-Nya, seperti mencuri, korupsi, berzinah dll, itulah yang dimaksud mendirikan shalat.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar…”. (Terjemah QS.Al-Ankabuut(29):45).

Perintah shalat telah turun sejak awal kenabian, yaitu melalui ayat 1-3 surat Al-Muzzammil berikut :

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)”.  

Namun perintah shalat 5 waktu sehari baru turun setelah 10 tahun kenabian. Perintah tersebut langsung Allah swt turunkan kepada Rasulullah saw pada peristiwa spektakuler Isra Mi’raj.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda:”… Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah dalam keadaan kesedihan yang luar biasa. Paman Rasulullah yaitu Abu Thalib yang selalu melindungi Rasulullah dari kejahatan orang-orang  Quraisy, dan Khadijah ra, satu-satunya istri Rasulullah yang selalu mendukung dakwah Rasul sekaligus menghibur beliau, dipanggil menghadap Sang Khalik dalam 1 tahun yang sama. Peristiwa menyedihkan tersebut disebut  Amul Huzni ( Tahun Kesedihan).

Dari kisah di atas dapat disimpulkan shalat sebenarnya adalah kewajiban sekaligus hak kaum Muslimin sebagai cara berkomunikasi langsung dengan Tuhannya, dimana ia dapat mengadukan nasib dan segala keluh kesahnya. Itu sebabnya shalat yang didirikan atas dasar kebutuhan akan Tuhannya mampu membersihkan diri dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, cepat marah dan sebagainya.

Disamping itu shalat yang didirikan atas dasar ketaatan sekaligus harap akan ridho-Nya, sudah pasti akan mendatangkan kenikmatan tersendiri. Cahaya ma’rifatullah akan terus menyertainya hingga iapun mampu menjadi cahaya di tengah masyarakatnya. Ibarat pohon, batangnya mampu menjadi sandaran, daun dan rantingnya mampu memberikan keteduhan, buahnya mampu memberikan kelezatan dan bunganya mampu menyegarkan mata yang memandangnya.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):24-25).

Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (H.R. At-Thabrani)

Sebaliknya shalat yang dilakukan sekedar menghilangkan kewajiban, sekedar penggugur dosa, karena adanya unsur keterpaksaan, tanpa niat untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya, tidak akan mampu membuahkan kebaikan. Itulah beda “mendirikan shalat” dan “melakukan shalat”.

… wa aqimis shalat ( dan dirikanlah sholat) untuk mengingat-Ku. ” QS Thoha (20: 14).

Namun demikian shalat sejatinya bukan monopoli kaum Muslimin. Karena para nabi sebelum Islam datangpun telah menerima perintah tersebut, meski tidak dengan cara yang sama dengan apa yang diperintahkan kepada kaum Muslimin. Inilah yang dinamakan syariat. Setiap nabi membawa syariatnya masing-masing.

Pada awal datangnya Islam, kiblat shalat kaum Muslimin sama dengan kiblat umat nabi lain yaitu Masjidil Aqsho di Palestina. Namun seiring dengan berjalannya waktu Rasulullah sangat menginginkan suatu hari nanti Sang Khalik menganugerahi umat beliau kiblat khusus yang berbeda dengan umat nabi lain. Kiblat yang diharapkan Rasulullah tak lain adalah Ka’bah di Mekah yang sudah tak asing bagi beliau. Dan karena kasih sayang-Nya yang begitu besar, Allah kabulkan keinginan tersebut. Masya Allah …

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):144).

Sejak itulah kaum Muslimin senantiasa menghadap ke Ka’bah di Mekah ketika shalat. Dan sebagai pemeluk sekaligus pengikut yang baik, wajib bagi kita sebagai umat Islam untuk mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw, termasuk dalam hal shalat dan persiapannya yaitu wudhu. Uniknya shalat maupun wudhu  yang dilakukan Rasulullah tersebut tidak dijelaskan di dalam Al-Quran. Tidak ada satupun ayat dalam Al-Quranul Karim yang menerangkan jumlah rakaat dalam tiap shalat. Demikian pula gerakan-gerakan shalat seperti rukuk, wujud dll. Juga keterangan tentang shalat wajib dan sunnah. Itulah pentingnya umat Islam menjadikan Hadist sebagai pegangan.

Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.”

Yang juga patut menjadi catatan, ternyata orang yang shalatpun bisa jadi Allah masukkan sebagai orang yang celaka, sebagaimana ayat berikut :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Terjemah QS. Al-Maa’uun(107):4-5)

Ibnu Mas’ud mengatakan, demi Allah, mereka tidak meninggalkan semua shalat. Andai mereka sama sekali tidak shalat, mereka kafir. Namun mereka tidak menjaga waktu shalat. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makna ayat’ adalah mereka mengakhirkan shalat hingga keluar waktu. (Zadul Masir, 6/194).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut shalatnya orang munafik. Dia secara sengaja menunda-nunda waktu shalat, hingga mendekati berakhirnya waktu shalat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Itulah shalatnya orangn munafik .. duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai shalat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit”. (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).

Na’udzubillah min dzalik, semoga kita bukan termasuk orang yang lalai, aamiin …

Terakhir, shalat dapat memperkokoh tali persaudaraan dan silaturahmi sesama muslim. Yaitu dengan digalakannya shalat berjamaah di masjid atau mushola, khususnya bagi laki-laki.

Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656).

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur”. [HR. Bukhâri dan Muslim,

Itulah persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) yang belakangan sangat kendur hingga mudah di adu domba. Padahal yang demikian akan membuat kita lemah dan mudah diserang musuh-musuh Islam.

Dari Muadz bin Jabal Rasulullah bersabda :

“Pucuk urusan adalah Islam, tiangnya adalah Sholat dan punuknya adalah Jihad”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 2 Mei 2019.

Vien AM.

Pemilihan Presiden tinggal beberapa hari lagi. Bahkan di luar negri pesta rakyat tersebut sudah dimulai sejak 8 April hingga 14 April 2019 nanti. Namun tak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu di beberapa tempat di luar negri kali ini berjalan dengan berbagai keanehan.

Di Malaysia ditemukan sejumlah kantong plastik hitam berisi surat suara sudah tercoblos, sebagian sudah tercecer. Di Belanda banyak pemilih yang telah mencoblos malah menerima kembali surat suara yang harusnya langsung dikirim ke  panitia pemilihan luar negeri (PPLN). Sementara di Sydney ratusan wni membuat petisi menuntut agar pemilu di kota tsb diulang karena banyak yang belum sempat mencoblos sudah ditutup.

Kabarnya karena jumlah wni yang datang jauh lebih banyak dari perkiraan. Itu sebabnya panitia kehabisan lembar surat suara. Pemerintah secara resmi memang membolehkan mencoblos dengan passport. Namun adakah jaminan bahwa pemegang passport setelah pulang ke tanah air nanti tidak akan mencoblos lagi dengan memanfaatkan ktp??

http://riaupos.co/196600-berita-nyoblos-pemilih-boleh-pakai-paspor.html

https://news.detik.com/berita/4506134/panwaslu-laporkan-surat-suara-mayoritas-tercoblos-01-di-selangor-malaysia

https://www.liputan6.com/pileg/read/3939644/wni-di-belanda-bingung-surat-suara-sudah-dicoblos-kembali-ke-pemilih

https://www.alinea.id/pemilu/ricuh-ratusan-wni-di-sydney-tuntut-pemilu-ulang-b1Xey9jdG

Anehnya isu yang berkembang atau dikembangkan bahwa itu semua ulah kecurangan pihak paslon 02, yaitu Prabowo-Sandi. Alasannya karena Prabowo sangat berambisi menjadi presiden. Padahal jika kita mau sedikit saja berpikir; siapa penyelenggara pemilu, siapa yang mempunyai kuasa untuk mencampuri pemilu, siapa yang mencetak, menyimpan dan mendistribusi surat suara?? Bagaimana mungkin pihak Prabowo bisa merekayasa semua itu??

https://news.detik.com/berita/4506220/surat-suara-tercoblos-01-di-selangor-tkn-itu-ditemukan-02-bisa-fitnah

Harus dicatat Pemilu 2019 dari awal memang penuh intrik, hoax dan segala yang berbau negative. Diawali dengan kotak suara yang terbuat dari kardus, digembok. (?) Tak dapat disangkal preseden buruk ini terjadi sejak pilkada DKI yang berbuntut dengan kekalahan Ahok dan kemenangan Anies Bawesdan. Dan itu semua tak terlepas dari gerakan 212 Aksi Bela Islam yang pada akhirnya berhasil memenjarakan Ahok atas tuduhan penistaan agama. Sebaliknya Habib Riziek Syihab yang merupakan motor 212 berhasil dipaksa keluar dari tanah ar tercinta dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Maka sejak itu perseteruan antara 2 kubupun makin menjadi-jadi hingga detik ini.

Apapun yang dilakukan Anies sebagai gubernur DKI tidak pernah benar di mata pendukung Ahok. Sementara di kubu 212, karena rezim dibawah Jokowi berkali-kali terbukti tidak berpihak pada umat Islam bahkan cenderung memusuhi, maka bertekad mantan walikota Solo tersebut tidak pantas untuk dipilih lagi.

Merekapun memutuskan mendukung Prabowo sebagai capres, bergandengan dengan Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha muda sukses, kaya raya, yang dikenal rajin menjalankan syariah Islam. Dukungan ijma ulama terhadap mantan danjen Kopassus di era Suharto ini bukannya tanpa pertimbangan. Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma’arif, menyebut bahwa ditariknya para alim ulama dan mubaligh ke tim pemenangan Prabowo-Sandi merupakan implementasi dari pakta integritas yang diteken Prabowo setelah Ijtima Ulama 212. Dalam kontrak tersebut, satu poin penting yang membuat dukungan aktivis gerakan 212 tetap mendukung Prabowo-Sandi adalah “menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama…”

Disamping itu Prabowo meskipun tidak dikenal sebagai ahli ibadah namun sejak muda dikenal gigih membela Islam. Mantan menantu Suharto ini juga dikenal sebagai seorang patriot yang sangat cinta bangsa.  Ia sangat tidak rela banyak rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan, ditambah lagi asset besar bangsa ini digadaikan asing, aseng, asong.

Ironisnya, isu Prabowo adalah penculik dan orang yang harus bertanggung-jawab terhadap tragedy Mei 1998 selalu dihembuskan setiap kali Prabowo nyaleg. Padahal ia sudah 3x nyapres. Jika memang Prabowo bersalah mengapa kasus hanya dibuka setiap menjelang pemilu. Itupun yang selalu aktif menyerang adalah para jendral atasan Prabowo ketika itu. Bagi awam yang masih berhati bersih, ini justru menampakkan adanya ketakutan bila Prabowo sampai menang.

Sementara itu dengan semakin dekatnya hari H, makin banyak ulama yang dikenal bersih, yang selama ini tidak pernah berpihak dan bukan merupakan anggota partai, menyatakan secara terbuka dukungan mereka terhadap Prabowo Subiyanto. UAS (ustad Abdul Somad) contohnya, yang pernah diminta umat mendampingi Prabowo sebagai cawapres namun secara halus menolak karena ingin tetap berdakwah kepada umat tanpa benturan dengan kepentingan politik.

Ustad kondang dari Riau lulusan S1 Al-Azhar Kairo dan S2 Maroko ini menjumpai Prabowo tidak hanya sekedar menyatakan dukungan tapi juga menasehatinya dengan siraman rohani yang sangat menyejukkan. Pesan UAS yang paling menyentuh adalah “Kalau Bapak (Prabowo) memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. “Pertama, jangan bapak undang saya ke Istana. (Biarkan saya berdakwah) masuk hutan ke hutan. Yang kedua, jangan bapak beri saya jabatan, apa pun,”

Yang juga menarik, dalam pertemuan eksklusif tersebut Prabowo terlihat sangat serius mendengarkan dan memperhatikan dai muda itu berbicara. Sesekali ia bahkan terlihat mengusap air matanya. Pabowo yang dikabarkan garang dan kasar ternyata hatinya lembut. Prabowo telah membuktikan kontrak politiknya terhadap umat. Masya Allah …

Dalam kesempatan itu, UAS berpesan kepada Prabowo agar banyak-banyak berdzikir dan shalat tahajud.

Afdhal dzikir (dzikir terbaik) adalah dzikir “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah)”.

Laa Ilaaha Ilallah.. Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..Laa Ilaaha Ilallah..

Mulut berdzikir, hati di sebelah kiri,” ujar UAS seraya telapak tangan kanannya menekan lama ke dada kiri Prabowo sambil berdzikir.

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/04/12/163142/uas-prabowo-presiden-jangan-undang-saya-ke-istana-jangan-beri-jabatan-apapun.html

Tak sampai 24 jam, UAH (Ustad Adi Hidayat) ustad yang tak kalah kondang dan lurusnya dari UAS juga datang memberikan dukungan. Sama dengan UAS, UAH juga memberikan wejangan yang cukup panjang sekaligus mendoakannya. Ini masih disusul dengan ulama-ulama yang dekat dengan umat seperti aa Gym, ustad Arifin Ilham,  ustazah Irene Handoko, syeikh Ali Jaber, UBN (Ustad Bahtiar Nasir) yang sudah sebelumnya secara terbuka memberikan dukungan, serta ustad Khalid Basalamah. Bahkan ustad Firanda, ustad Salafi yang selama ini mengharamkan jamaahnya mengikuti pemilu kabarnya mendorong jamaahnya untuk mendukung paslon no 02 ini.

Ironisnya, selang beberapa hari kemudian muncullah fitnah yang menyerang pribadi UAS. Sungguh mengherankan, apa yang terjadi dengan republic yang sudah bukan muda lagi ini. Mana yang namanya demokrasi? Mengapa setiap orang yang tidak mendukung paslon 01 harus dianiaya??

Dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.

Pendukung 01 sebetulnya tidak semua pro Ahok. Ada sebagian dari mereka yang tergiur dengan proyek infrastruktur besar-besaran yang saat ini sedang berjalan. Meski sebenarnya proyek-proyek tersebut bukan hanya hasil kerja rezim ini. Tapi juga hasil kerja yang berkesinambungan dari para pemimpin terdahulu, dengan mengandalkan hutang luar negri yang jumlah sangat fantastis, dan bakal membebani hidup anak cucu kita kelak.

Mereka juga seakan tidak peduli apa dan bagaimana program partai-partai pendukung 01. Disanalah berkumpul orang-orang yang memusuhi syariat Islam, yang suka mengolok-olok ajaran yang merupakan ajaran mayoritas penduduk negri ini. Dari mulai jilbab, pembagian waris, poligami hingga isu khilafah. Lupakah mereka bahwa firaun, sang maha raja Mesirpun berhasil membangun kota-kotanya dengan penuh kemegahan. Namun Allah swt meng-azabnya karena ia ingkar kepada Tuhannya.

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan pembangunan kota yang sungguh indah.  Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Peninggalan peradaban dan budaya yang tinggi di kota-kota Islam seperti Damaskus, Istanbul, Palermo, Andalusia dll masih bisa disaksikan hingga detik ini.

Saat ini Islam memang sedang mengalami keterpurukan. Kita tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari dunia Islam, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal ahlak seperti kedisiplin, kebersihan dll. Islamophobia dan label teroris yang disandangkan kepada ajaran yang dibawa Rasulullah saw 15 abad silam, sungguh menyakitkan hati. Persaudaraan Islam yang rentan hingga mudah diadu domba, ulama yang dipersekusi, satu diangkat yang lainnya difitnah. Na’udzubillah min dzalik ….

Namun sejak dimulainya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 di Monas, terlihat bahwa umat Islam mulai bangkit, bangun dari tidur panjangnya. Mereka siap bersatu membela Islam, sadar agar pentingnya menjaga shalat berjamaah dimanapun berada, seperti ketika kampanye akbar terakhir di GBK beberapa waktu lalu, serta menjaga kedisiplinan dan kebersihan.

Maka bila Allah swt ridho memberi Prabowo amanat memegang pucuk pemerintahan, bisa jadi Islam akan kembali mengalami kejayaan, sesuai yang diperkirakan Rasulullah 15 abad lalu. Dengan memanfaatkan ilmu syariat, hutang negara akan bisa diselesaikan melalui dana ZIS ( Zakat, Infak dan Sodakoh) dan Wakaf yang mempunyi potensi sangat tinggi. Atau bahkan dana haji yang merupakan tabungan umat bisa digunakan untuk keperluan negara tanpa satupun kaum Muslimin keberatan, selama pemerintah senantiasa siap melindungi kaum Muslimin. Riba yang merupakan musuh ekonomi terbesar insyaAllah bisa dihilangkan. Itulah salah satu keuntungan mau mendengarkan ulama yang merupakan pewaris para nabi.

“ … … Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (Terjemah QS. Fathir(35):28).

 Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 April 2019.

Vien AM.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu ( bani Israil) dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):93).

Ayat di atas mengisahkan bagaimana bani Israil yang dengan angkuhnya menolak mentaati perintah Tuhan yang telah menciptakan bahkan menganugerahi mereka ilmu/akal. Tampak jelas bahwa ilmu dan akal yang pintar justru telah menyesatkan mereka. Mereka lupa bahwa Sang Khalik mampu berbuat apapun termasuk membalikkan hati yang awalnya bersih menjadi kotor.

Mereka lebih memilih menjawab “Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati” daripada “ Kami mendengar dan kami patuh” sebagai balasan perintah “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!”.

Maka Allahpun balikkan hati mereka dengan memandang sesuatu yang buruk/jelek menjadi baik/indah dan yang buruk/jelek menjadi baik/indah. Akibatnya mereka tidak mampu melihat kebenaran sejati. Allah butakan mata hati mereka dari kebenaran. Diantaranya yaitu menjadikan patung anak sapi sebagai Tuhan. Na’udzubillah min dzalik. Bagaimana mungkin orang berakal bisa berpikiran sedemikian bodohnya. Patung yang merupakan buatan manusia dijadikan sesembahan. Hanya orang gila atau orang idiot yang berpendapat patung yang mengedipkan mata saja tak sanggup, bisa menolong dan memberikan manfaat bagi manusia.

Padahal baru beberapa waktu yang lalu bani Israil tidak hanya melihat dengan mata kepala, tapi bahkan merasakan sendiri kekuatan dan kekuasaan Allah Azza wa Jala, melalui tongkat nabi mereka Musa as yang menyelamatkan mereka dari kejaran pasukan firaun yang kejam. Bagaimana mungkin laut dalam yang ada di hadapan mereka bisa tiba-tiba terbelah memberikan jalan bagi mereka untuk terus berlari. Hebatnya lagi begitu pasukan firaun ikut melaluinya lautpun kembali menutup menenggelamkan mereka seketika itu juga. Allahu Akbar …

Hati adalah milik Allah. Ialah yang membolak-balikkan hati manusia sekehendak-Nya. Itu sebabnya kita harus selalu memohon agar Allah senantiasa melembutkan hati kita. Dalam ayat 10 surat Al-Qashash berikut, Allah swt menceritakan bagaimana hati ibu nabi Musa as menjadi kosong/sedih memikirkan apa yang akan terjadi terhadap bayinya bila keluarga Firaun mengetahui siapa sebenarnya bayi tersebut. Namun kemudian Allah teguhkan hati sang ibu.

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”. ( Terjemah QS. Al-Qashash(28):10).

Allah swt membekali manusia dengan 3 unsur utama yaitu ruh, akal dan hati. Selain jasmani tentunya, karena manusia bukan mahluk ghaib. Tapi tanpa ruh manusia akan mati, tanpa akal manusia akan hidup dalam kesulitan, dan tanpa hati manusia tidak akan memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Ibarat hp, ruh manusia adalah aliran listrik yang bakal mati begitu lupa di charge ketika 0%. Sedangkan jasmaninya adalah casing/bungkus yang sering kali menyesatkan karena tampilan yang cantik padahal belum tentu baik mutunya. Sementara akal adalah ibarat program/aplikasinya. Dan makin canggih aplikasi yang dimiliki hp makin tinggi harga hp. Begitu pula manusia. Meski pada kenyataannya tidak semua orang menilai harga seseorang berdasarkan akalnya. Melainkan juga hatinya.

Di hatilah terletak kebaikan, kejujuran dan kebenaran yang hakiki. Sayangnya hanya hati yang bersih yang dapat menuntun kepada hal tersebut. Tidak hati yang kotor, meski bisa jadi ia memiliki akal yang cemerlang. Itulah beda manusia dengan hp. Dengan kata lain manusia yang tidak mempunyai hati sama dengan hp atau robot.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Terjemah QS. Al-Araf(7):179).

Sebagaimana jasad yang perlu dirawat dan akal yang harus selalu diasah, demikian pula hati. Hati yang baik dan bersih adalah hati yang biasa berdzikir (mengingat Allah swt), banyak bersyukur atas segala yang diberikan-Nya, baik yang sesuai keinginan maupun tidak. Hati yang bersih adalah yang mudah menangis melihat kebesaran Allah dimanapun ia berada, baik ketika melihat keindahan ciptaan-Nya maupun melihat orang yang dalam kesulitan.

Itu sebabnya dalam mendirikan ibadah seperti shalat, puasa, zakat dll hati harus dilibatkan. Allah tidak akan menerima ibadah yang hanya ritual, yang tidak dengan niat mencari ridho-Nya. Dan niat itu adanya di hati.  Hati yang demikian insya Allah akan dijaga-Nya dari keburukan. Itulah nikmat terbesar dalam hidup. Allah Azza wa Jala menjanjikan orang yang sepert itu i kedudukan yang tinggi bersama para rasul.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”. (Terjemah QS. Maryam(19):58).

doa jngn balikkan hatiTelah menceritakan kepada kami Hannad; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas dia berkata; adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca do’a “YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu).” Kemudian aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.”

Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari An Nawwas bin Sam’an, Ummu Salamah, Abdullah bin Amr dan A’isyah. Dan ini adalah hadits Hasan, demikianlah kebanyakan telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas, dan sebagian yang lainnya telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun hadits Abu Sufyan dari Anas lebih shahih. (HR. At Tirmidzi No.2066)

Ironisnya, hari ini kita bisa menyaksikan betapa banyaknya orang yang mengaku Muslim, berakal dan berilmu pula, namun suka melecehkan ayat-ayat Allah swt. Ayat-ayat Al-Quranul Karim mereka tafsirkan sesuka akal mereka. Sebut saja Siti Musdah Mulia guru besar UIN Jakarta yang bersikukuh bahwa Islam membolehkan prilaku menyimpang homoseksual/lesbianisme. Belum lagi dedengkot-dedengkot JIL ( Jaringan Islam Liberal) seperti Ade Amando pakar komunikasi yang mengajar di sejumlah perguruan tinggi yang meng-amin-kan pernyataan Musdah dan sering melontarkan pernyataan nyleneh yang menyakitkan umat Islam, bahwa semua agama adalah benar dll.

Juga Jalaludin Rahmat pentolan Syiah yang ajarannya jauh dari Islam. Belum lagi Said Siraj Aqil Doktor lulusan Universitas Ummul Quro Mekkah dengan isu Islam Nusantaranya dan terakhir sejalan dengan makin panasnya Pilpres 2019 setuju mengganti istilah kafir ( non Muslim seperti Yahudi, Nasrani dll) dengan warga negara yang mempunyai hak sama dengan warga negara apapun agamanya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Adakah orang-orang “berilmu” di atas lupa apa sebenarnya kriteria orang berilmu/berakal menurut Sang Khalik?? Bukankah Allah swt mengabadikan kisah-kisah orang terdahulu termasuk bani Israil agar kita umat Islam tidak mengulangi kesalahan mereka?? Bahwa ayat-ayat Allah tidak untuk dipermainkan, diambil sebagian dibuang sebagian, diplintir, atau hanya sekedar sebagai wacana pemikiran, atau diimani tapi tidak diamalkan??

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191).

Tidakkah mereka takut Allah Yang Maha Esa akan menambah penyakit hati mereka dengan berbagai penyakit hati yang lain, susul menyusul, hingga benar-benar menjadi buta dan tidak bisa lagi kembali ke jalan yang benar hingga ajal menjemput?? Atau bisa jadi sempat bertaubat tapi terlanjur memiliki banyak pengikut yang sesat, sulit pula dikembalikan ? Na’udzubillah min dzalik …

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. ( Terjemah Q. Al-Baqarah (2):10).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Maret 2019.

Vien AM.

Heboh kata “kafir” pernah terjadi jelang Pilkada DKI 2017. Kini polemik mengenai kata tersebut kembali mencuat menjelang Pilpres 2019. Puncaknya adalah usulan untuk mengganti kata ‘kafir’ dengan kata muwathinun atau warga negara yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama dan setara sebagaimana warga negara yang lain. Usulan tersebut dikeluarkan pada acara penutupan Munas PBNU akhir Februari 2019 lalu. Kata muwathinun dianggap “netral” dibanding kata “kafir” yang dianggap menyakitkan hati yang bersangkutan. “Kekerasan teologis”, ujar pimpinan sidang Abdul Moqsith Ghazali.

Karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tetapi muwathinun atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” sambungnya.

http://bangka.tribunnews.com/2019/03/01/kiai-nu-sepakat-tak-sebut-kafir-kepada-non-muslim-di-indonesia?page=2

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengomentari, jika memang tidak ingin menyebut kafir, maka sebutan agama secara langsung justru lebih baik dari pada menyebut non-muslim.

“Daripada menyebut Non Muslim, bagus mereka disebut dengan Identitas agamanya. Warga Negara Kristen, Dia Kristen. WNI Hindhu, Dia Hindhu.WNI Budha, Dia Budha.Warga Negara Kong Hu Chu, Dia Kong Hu Chu. Tanpa Harus Bawa2 MUSLIM. Dia Non-Muslim. Buat apa bawa-bawa Islam?”, ujarnya.

Sementara Ustad Bahtiar Nasir (UBN),  sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia), yang juga merupakan pimpinan Arrohman Quranic Learning (AQL) mengatakan sebutan kafir tidak pernah menjadi momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurut ustad yang pernah menjabat Ketua Umum GNPF MUI, sebutan kafir menjadi ramai hanya dalam masalah memilih pemimpin beberapa tahun belakangan ini saja.

Tentu kita ingat apa yang menjadi pemicu lahirnya gerakan 212 yang fenomenal itu. Kalau saja Ahok yang ketika itu adalah gubernur DKI tidak pernah mengutak-utik ayat 51 surat Al-Maidah kehebohan tentang ayat kepemimpinan tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi. Kelancangan mulut yang menyebabkannya terpaksa berurusan dengan pengadilan atas tuduhan penistaan agama, dan berakhir dengan hukuman penjara 2 tahun yang baru dilaluinya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Prilaku Ahok mempermasalahkan ayat suci yang bukan agamanya, ayat yang berisi tentang cara memilih pemimpin pula, sementara ia dalam posisi mengincar kursi kepemimpinan, dipandang dari sudut manapun,  jelas sangat tidak etis. Ironisnya, tidak sedikit orang yang mengaku Islam namun tetap mati-matian membelanya.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):73).

“Saya percaya Yesus Tuhan bukan kafir. Saya keberatan anda menganggap saya kafir, saya bertuhan dan saya terima Yesus adalah Tuhan dan hak saya di negeri Pancasila, saya berhak menjadi apapun di republik ini,” protes Ahok dalam salah satu sidangnya.

Adalah hak Ahok untuk meyakini keyakinannya. Tapi tidak mungkin ia memaksakan keyakinannya itu kepada orang lain. Apalagi memaksa mengubah isi kitab suci umat lain, Al-Quran khususnya.

Namun berkat Ahok pula kaum Muslimin tersadar akan adanya ayat tersebut, bahwa kita dilarang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Untuk diingat selama ini kita tidak mengacuhkan perintah tersebut. Hal ini tidak ada kaitan sama sekali apakah Indonesia negara Islam atau tidak seperti yang dikeluhkan sebagian orang. Karena kewajiban tersebut berlaku bagi kaum Muslimin, mereka yang mengaku Islam dan sudah semestinya menjadikan Al-Quran sebagai pegangan, dimanapun mereka berada.

Larangan Islam memilih orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin sebenarnya sangatlah wajar dan mudah ditrima akal sehat. Bagaimana mungkin kita dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah bila pemimpinnya tidak satu aqidah. Bagaimana sang pemimpin bisa memahaminya? Lebih parah lagi bila si pemimpin malah menjauhi, melarang bahkan memusuhinya?? Siapa yang rugi??

Dan lagi tidak memilih Yahudi atau Nasrani sebagai pemimpin bukan berarti memusuhi. Sebagai sesama mahluk-Nya kita bahkan wajib mendakwahi mereka. Kalaupun mereka tetap menolak kita tidak boleh memaksa apalagi memusuhi. Apalagi sebagai sesama warga negara Indonesia tercinta, kita wajib menjaga hubungan dengan baik, saling menghormati, tidak menghina dan memaki. UBN dalam kutbahnya menjelaskan kata kafir adalah untuk internal umat Islam. Kafir adalah menolak ajaran Islam. Kafir berasal dari kata tertutup, tertutup dari kebenaran.

https://www.islaminews.com/2019/03/ustadz-bachtiar-nasir-kafir-adalah-kata.html 

Pertanyaannya apa urgensi PBNU mengganti kata kafir dengan kata lain?? Muatan politiskah ?? Bukan rahasia lagi bahwa pimpinan PBNU Said Aqil Siradj berteman erat dengan Ahok. Ahok yang begitu keluar dari tahanan 2 tahun dikurangi remisi  1 bulan, langsung bergabung dengan PDIP, yang berarti satu kubu dengan PKB yang tidak dapat dipungkiri satu bendera dengan NU.

https://news.detik.com/berita/d-4158967/said-aqil-pkb-dan-pbnu-harus-sukseskan-jokowi-maruf-amin

Harus diakui NU dibawa kepemimpinan Said Aqil Siradj saat ini sedang mengalami cobaan berat. Tokoh nyleneh ini sering mengeluarkan pernyataan kontroversial, Islam Nusantara contohnya. Siradj juga suka mengolok-olok jenggot yang merupakan Sunnah nabi yang banyak ditiru kaum Muslimin. Ia juga menuduh bahwa sejumlah perguruan tinggi menyebarkan radikalisme melalui masjid.

http://kabarkampus.com/2017/05/dianggap-sebar-radikalisme-pengurus-masjid-salman-datangi-said-aqil/

Sementara Moqsith Abdul Moqsith yang memimpin sidang penutupan Munas PBNU yang baru lalu tercatat di MUI periode 2015-2020 sebagai Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama (KAUB). Padahal Moqsith adalah pentolan JIL ( Jaringan Islam Liberal), faham yang telah difatwakan sesat oleh MUI. Selain itu, Hasyim Nasution wakil Moqsith di MUI adalah wakil sekretaris umum LDII, yang juga difatwakan sesat oleh MUI. MUI sendiri hingga hari ini ( periode 2015-2020) diketuai oleh tokoh NU Ma’ruf Amin yang saat ini digandeng presiden Jokowi sebagai wakilnya.

https://www.panjimas.com/nahi-munkar/2015/10/02/menyoal-diangkatnya-moqsith-pentolan-liberal-dan-orang-ldii-menjadi-pengurus-mui-2015-2020/

Maka tak heran beberapa waktu lalu, dibentuk apa yang dinamakan Komite Khittah Nahdlatul Ulama (NU). Komite yang mengangkat Choirul Anam sebagai juru bicara tersebut mendesak segera digelarnya Muktamar Luar Biasa NU untuk mengganti kepengurusan yang ada sekarang ini. Choirul menilai Ketua Umum Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj dan mantan Rais Aam Ma’ruf Amin melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.

https://nasional.tempo.co/read/1181648/alasan-komite-khittah-mendesak-muktamar-luar-biasa-nu/full&view=ok

Sangat disayangkan NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia harus mengalami perpecahan di dalam tubuhnya. Bersyukur masih ada orang dalam yang punya keberanian untuk menjaga kelurusannya. Karena kalau tidak pasti akan makin banyak dai-dai muda yang terpaksa meninggalkan ormas tersebut. Anehnya, protes keras justru datang dari Ulil Absor, si pentolan JIL. Apa urusannya dengan NU??

“Akhir-akhir ini ada gerakan yg menamakan dirinya “NU Garis Lurus”. Namanya sendiri sudah menunjukkan bahwa yg membuat gerakan ini tak mengerti kultur NU,” ujar Ulil melalui akun twitter @Ulil.

Semoga NU terutama para sesepuhnya dapat segera menyadari kekhilafan mereka dan segera menyingkirkan orang-orang yang berniat merusak dan mengadu domba ormas tersebut dari dalam, dan juga merusak ajaran Islam secara keseluruhan.

Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada umatku adalah imam-imam (tokoh-tokoh panutan) yang menyesatkan”. (HR Abu Dawud).

Tidak cukupkah pelajaran dari si tokoh Munafikun Abdullah bin Ubay bin Salul yang selalu berusaha melindungi sahabat-sahabat kafirnya yang  memusuhi Islam dan kerap membuat kesal Rasulullah saw?

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik.“, seru Abdullah bin Ubay bin Salul memprotes keputusan Rasulullah saw.

Tanpa memperhatikan air muka Rasulullah yang kesal, hal itu terus diulanginya sampai 3 kali. Akhirnya Rasulullahpun menjawab  ketus : “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”. 

https://vienmuhadi.com/2017/02/22/abdullah-bin-ubay-bin-salul-dan-kemunafikan/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Maret 2019.

Vien AM.

Pulang (2).

Suatu hari putri kami satu-satunya bercerita bahwa ia mendapat rekomendasi novel bagus dari temannya di kantor. “ Pulang”, judulnya. Tanpa begitu memperhatikan novel tersebut saya langsung berkomentar “ Kalo di Islam pulang itu yaa ke syurga, atau neraka”. Putri kami hanya manggut-manggut seperti biasa kalau ibunya sudah mulai “berceramah”.

https://vienmuhadi.com/2009/02/04/pulang/

Beberapa hari kemudian saya melihat novel tersebut tergeletak di atas meja ruang keluarga, dan secara tak sengaja saya melihat nama Leila S Chudori sebagai penulisnya. Tiba-tiba sayapun teringat  nama yang di masa mudanya pernah sangat terkenal itu. Segera saya mengambil dan membaca resensi yang ada di sampul belakang novel tersebut.

20190228_231127-1Jantung saya langsung berdegup kencang begitu disebut sebuah restoran Indonesia di suatu sudut di kota Paris. Saya tahu persis bahwa restoran tersebut adalah milik keluarga ex tapol PKI, dedengkotnya bahkan. Dengan menahan nafas saya melanjutkan  membaca resensi novel tersebut. Dugaan saya benar. Novel tersebut mengisahkan duka cita keluarga tersebut. Sang penulis yang tak lain adalah wartawati senior majalah Tempo tersebut dengan gaya bahasa yang menarik tak diragukan pasti bakal berhasil menarik simpatik siapapun yang membacanya. Apalagi yang tidak mempunyai pengetahuan dan latar belakang tragedy mengerikan G30S/PKI.

Saya hanya dapat menghela nafas panjang dan ber-istighfar. Pantas isu komunis hari ini tidak ditanggapi serius seperti dulu-dulu. Padahal keberadaan mereka dari hari ke hari makin terlhat nyata. Mereka terus melakukan pertemuan-pertemuan konsolidasi, bahkan berani menuntut pemerintah agar meminta maaf kepada mereka. Terbitnya buku “ Aku bangga menjadi anak PKI” adalah salah satu bukti rasa percaya diri yang besar bahwa pemerintah akan menerima mereka.

Lebih parah lagi, langkah TNI yang menyita ratusan buku yang menyinggung komunisme dan PKI ditanggapi sinis oleh sejumlah anggota PDI-P, juga PSI, partai baru yang mensyaratkan 45 tahun sebagai usia maksimal anggotanya. Ditambah lagi presenter andalan Metro-TV Najwa Shihab  yang tak lain adalah putri ulama kenamaan Quraish Shihab yang dikenal sangat toleoran terhadap JIL ( Jaringan Islam Liberal).

“Pelarangan buku adalah kemubaziran akut. Di tengah rendahnya minat baca, pelarangan buku adalah kemunduran luar biasa. Indonesia bisa semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain yang selalu terbuka kepada ide-ide baru dan pengetahuan-pengetahuan baru,” ujarnya.

Tak dapat dipungkiri arus globalisasi yang melanda dunia sejak beberapa tahun belakangan ini telah membuat segalanya menjadi terbuka lebar. Segala macam info dari berbagai belahan dunia, yang benar maupun yang salah, yang pantas maupun tidak pantas, yang baik maupun buruk, yang semula tabu maupun tidak semua dapat diakses oleh siapapun, dari anak kecil hingga orang-tua. Yang dengan demikian menjadikan dunia seakan hanya seluas daun kelor,  yang dapat dijelajahi hanya dengan duduk manis di depan robot yang namanya komputer atau bahkan hp super canggih yang harganya selangit itu.

Namun apa daya gemerlap, hiruk pikuk dan kenikmatan dunia yang begitu terbuka lebar justru telah memperdaya cara dan gaya hidup anak-nak muda zaman sekarang, zaman “Now”, istilah kerennya. Diantaranya adalah Hedonisme yang mengutamakan kesenangan hidup di dunia dan cenderung melupakan kehidupan akhirat. Agama dan tata krama dianggap hanya mempersulit hidup. Mereka hidup dalam dunianya sendiri, tak acuh terhadap kehidupan sekitarnya.

Sudah bukan rahasia lagi, di negri tercinta kita Indonesia yang dulu dikenal memiliki budaya timur yang santun, hari ini guru dibully, orang-tua dilawan, ulama dilecekan, pemimpin tidak dihormati. Jelas sudah kita saat ini sudah kehilangan tokoh panutan, tokoh yang pantas untuk dijadikan keteladanan. Arus informasi dengan segala macam bentuknya telah mengubah cara berpikir sebagian anak-anak muda kita yang merupakan generasi penerus bangsa. Tak sedikit diantara mereka ini yang menjadikan tokoh berhaluan kiri seperti Nietzche yang dikenal dengan seruan “Tuhan Telah Mati” atau Karl Marx dengan ujaran “Agama adalah candu”, sebagai idola mereka.

https://news.detik.com/berita/d-3034636/eks-wapres-try-sutrisno-ingatkan-bahaya-gerakan-komunis-gaya-baru

Dalam keadaan seperti ini tak heran bila dengan mudah komunis yang notabene anti agama diam-diam menyelinap ke republik tercinta ini. Demikian pula pandangan dan cara hidup homoseksual yang jelas-jelas dilaknat agama. Prinsip “Tubuhku adalah milikku”, membuat mereka bersiteguh bahwa tidak ada yang berhak mengatur hidup mereka. Yang penting tidak mengganggu orang lain, kilah mereka.

Ini masih ditambah dengan berita-berita hoax alias palsu yang makin hari makin merajalela. Berita yang saling bertentangan, nyaris dalam hal apapun bisa kita temukan via internet. Anehnya masing-masing kelompok merasa benar. Lalu kebenaran mana yang harus kita pilih??  Kalau sudah begini siapa yang patut disalahkan dan dimintai pertangggung-jawaban? Relakah kelak kita melihat anak-cucu kita harus menanggung dosa yang mungkin tidak mereka sadari melakukannya??

“Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya)”. (Terjemah QS. Ar-Raad(13):1).

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):1).

Yaa, tidak ada jalan lain selain kembali ke Al-Quranul Karim. Inilah kebenaran yang hakiki, kebenaran dari Sang Pencipta Allah Azza wa Jala. Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Yahudi dan Nasrani sebelum kitab tersebut diselewengkan juga benar. Para nabi adalah para utusan Allah yang membawa misi yang sama yaitu menyembah hanya kepada Tuhan Yang Satu, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakan.

Ntah Tuhan dan agama apa yang dimaksud Nietzche sudah mati atau Karl Marx bagai candu. Yang pasti ajaran komunis bertentangan dengan agama apapun. Tak heran Uni Sovyet di masa lalu pernah melarang semua agama, menghancuran rumah-rumah ibadah dan memenjarakan pemeluknya. Begitu pula RRC ( Republik Rakyat Cina) yang hingga detik ini bersikap diskriminatif terhadap umat Islam di Uighur. Komunis dimanapun dan sampai kapanpun akan selalu memusuhi umat beragama.

Kembali kepada novel karya Leila S Chudori yang justru diapresiasi kalangan sastrawan.  Siapapun memang berhak menulis sesuai pengetahuan dan pengalamannya, baik yang diceritakan orang lain atau pengalaman sendiri, baik benar ataupun salah. Namun bila ia mau mendengar pengalaman keluarga korban keganasan PKI tentu akan berbeda 180 derajat. Belum lagi menyoal tragedy Mei 1998 yang juga menjadi latar belakang novel, yang hingga saat ini masih simpang siur ceritanya.

Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zen, menceritakan bahwa PKI dan sekelompok jendral yang tidak menyukai Suharto menunggangi gerakan Mei 1998 yang dipimpin tokoh reformasi Amien Rais.  Mantan purnawirawan itu berbicara dalam acara “ Para Tokoh 98 Bicara” yang diprakasai uztad Haikal Hassan, pada Senin 25 Februari 2019 di gedung AD Premier Jakarta Selatan. PKI memang jelas sangat berkepentingan untuk menjatuhkan presiden ketika itu yaitu Suharto. Karena Suhartolah yang memerangi mereka secara serius.

Untuk diingat PKI dibawah pemerintahan Soekarno merupakan partai komunis terbesar ke 3 di dunia setelah Uni Sovyet dan RRC. Yaitu pada tahun 1959-1965 ketika ideologi negara adalah Nasakom ( Nasionalis Agamis Komunis). Dibawah Orde Baru pimpinan Suharto, PKI dan segala antek-anteknya diberantas dan gerak gerik mereka diawasi.

Tidak seperti dibawah rezim sekarang ini dimana semua yang berani berbicara mengenai komunis harus siap menghadapi resiko didzalimi dengan berbagai alasan.  Jendral Kivlan pernah dituduh makar. Habib Rizak Syihab dengan FPInya yang selalu berbicara keras terhadap bahaya komunis bersama keluarga terpaksa hengkang dari tanah air tercinta atas tuduhan keji dan mengada-ada. Ustad Alfian Tanjung yang dikenal sebagai ustad spesialis komunis harus mendekam di penjara hingga detik ini padahal ia selalu berbicara dengan bukti.

Tak salah mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menyadari ancaman bangkitnya komunis suatu hari memerintahkan generasi muda agar menonton film “Pengkhianatan G30S PKI” yang sejak beberapa tahun belakangan nyaris dilupakan. Dengan tujuan agar bangsa ini tidak lengah dan mengulangi kejadian pahit di masa lalu.

Namun demikian sebagai agama yang rahmatan lilamiin, Islam yang merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia, tidak mengenal apa yang namanya balas dendam. Tengok apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw pada peristiwa Penaklukan Mekah.  Nyaris tidak ada hukuman bagi penduduk Quraisy Mekah yang sebelumnya telah memerangi Islam dengan sangat kecuali segelintir yang benar-benar berbuat keterlaluan, tetap melawan dan tidak mau betobat. Dengan cara itu mereka justru masuk Islam secara sukarela bahkan tidak sedikit yang di kemudian hari berjuang habis-habisan demi tegaknya Islam.

Semoga kita bisa mengambil hikmah atas segala kejadian yang telah berlalu, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Februari 2019.

Vien AM.

Ibrah Dari Bani Israil.

Shalat adalah kewajiban kaum Muslimin yang pertama kali di hisab di hari Akhir nanti. Uniknya baik dalam shalat wajib maupun shalat Sunnah, Al-Fatihah yang merupakan surat pertama dalam Al-Quran, wajib dibaca. Ada apa dengan surat yang juga disebut sebagai Ummul Kitab atau Ummul Quran ini??

Surat Al-Fatihah termasuk dalam kategori ayat Madaniyyah, yaitu turun setelah hijrah ke Madinah. Ayat ini terdiri atas 7 ayat. Sehubungan dengan judul di atas yaitu Ibrah dari bani Israil, maka  fokus hanya dengan ayat 6 dan 7 surat tersebut.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Mereka” yang dimaksud telah dianugerahi nikmat pada ayat di atas adalah  para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh, sebagaimana ayat berikut :

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):69).

Sementara yang dimaksud “mereka yang dimurkai” (Al-Maghdub) adalah kaum Yahudi. Allah swt memurkai mereka karena kebanyakan orang Yahudi tidak berbuat amal kebaikan padahal Allah swt telah memberi mereka bekal lmu yang banyak.  Sedangkan “mereka yang sesat” (Adh-Dholal) adalah kaum Nasrani.  Mereka beramal ibadah tapi tanpa ilmu, yaitu dengan mengatakan “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga“. Padahal baik kaum Yahudi maupun Nasrani sejatinya adalah masuk dalam golongan orang beriman.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):73).

Allah swt mengingatkan kaum Muslimin agar tidak meniru keduanya. Umat Islam tidak cukup hanya beriman tapi juga wajib beramal ibadah sesuai ilmu yang dimiliki, yaitu ilmu yang berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan kata lain orang beriman tapi tidak beramal sholeh/kebaikan seperti mendirikan shalat, zakat dll, Allah swt tidak menjamin yang bersangkutan kelak bisa masuk surga. Ayat-ayat Al-Quran yang menggandengkan iman dan ber-amal sholeh jumlahnya cukup banyak. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam” ( Terjemah QS. Ibrahim (14):23).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya”.( Terjemah QS. Al-Kahfi(18):107).

Uniknya ayat-ayat tersebut tidak hanya ditujukan khusus bagi umat Islam saja tapi juga umat agama lain.

 “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):62).

Ajaran Yahudi, Nasrani dan Islam yang sering disebut sebagai agama langit, sejatinya memang  tidak jauh berbeda. Ketiga agama tersebut sama-sama dibawa oleh malaikat yang sama yaitu malaikat Jibril as, dan disampaikan kepada manusia oleh para nabi yang merupakan utusan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Tak heran bila perintahnyapun sama, yaitu agar tidak menyembah selain Allah, berbuat baik kepada kedua orang-tua, bahkan juga shalat dan sedekah. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang menunaikan perintah tersebut.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):83).

Dan sebagai tanda besarnya kasih sayang Sang Khalik kepada umat Islam, diwajibkanlah kita membaca Al-Fatihah minimal 17 x sehari, dalam 5 x shalat wajib. Salah satu tujuannya agar kita selalu ingat apa yang dilakukan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, jangan sampai kita mengikuti perlakuan buruk kedua kaum tersebut.

Melalui sejumlah ayat, berkali-kali Allah swt menceritakan keburukan mereka, terutama kaum Yahudi. Sayangnya sering kali kita lupa bahwa hal tersebut bukan untuk sekedar mengejek dan mengolok-olok mereka. Lebih penting lagi agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka. Ayat berikut misalnya,

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” … … “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):80).

Ayat di atas menceritakan tentang ulama-ulama Yahudi yang dengan congkaknya berkata dan yakin tidak akan terkena api neraka kecuali hanya sedikit/sebentar. Padahal dengan seenaknya mereka telah menambah-nambahi dan merubah ayat-ayat suci mereka.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. “.  ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):79).

Ironisnya, hari ini kita bisa melihat adanya sebagian ulama Islam yang melakukan hal yang mirip dengan mereka.  Ulama Syiah contohnya, yang telah menulis kitabnya sendiri dan menisbahkannya sebagai dari Allah swt. Ataupun orang-orang Islam yang mengaku-ngaku sebagai nabi, ulama-ulama JIL ( Jaringan Liberal) yang mengatakan semua agama adalah benar, dll.

Pada Al-Baqarah ayat 67-71, Allah swt juga menceritakan kaum Yahudi yang keras kepala, suka membantah dan banyak bertanya apa yang diperintahkan rasul-Nya. Begitu juga kaum Muslimin hari ini yang suka memilah-milah ayat mana yang disukai dan mana yang tidak disukai untuk ditaati. Ayat tentang memilih pemimpin, pembagian harta waris dan kebolehan ber-poligami adalah contoh ayat yang sering enggan ditaati sebagian kaum Muslimin. Bukankah kita diperintahkan untuk kaffah ( secara menyeluruh/tidak tebang pilih) dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya??

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya/kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):208).

Hal lain adalah persaudaraan sesama Muslim yang makin hari makin diabaikan. Lupa bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat, sepanjang tidak menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa saja multi tafsir. Mengapa harus mempertajam perbedaan yang tidak seberapa dan tidak mendasar dengan mengabaikan persamaan yang jauh lebih banyak??

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga 73 golongan.” ( HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Wallahu‘alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Februari 2019.

Vien AM.

Madinah sebelum hijrahnya Rasulullah dan kaum Muhajirin, selain dihuni bangsa Arab juga orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi ini menguasai perdagangan serta perekonomian Yatsrib ( nama lama Madinah).  Mereka juga menguasai lahan-lahan pertanian terbaik dan oase-oase kota. Jumlah mereka makin lama makin besar hingga hampir separuh penduduk Yatsrib.

https://konsultasisyariah.com/29347-sejarah-yahudi-ada-di-madinah.html

Hal ini menyebabkan kabilah-kabilah Arab yang tinggal di kota tersebut membenci mereka. Ditambah lagi sikap orang-orang Yahudi yang arogan dan suka menekan orang-orang Arab. Riba dalam segala hal yang dipraktekkan Yahudi secara semena-mena membuat hubungan kedua etnis tersebut semakin buruk.

Dalam keadaan seperti itu orang-orang Yahudi masih juga suka meng-adu domba kabilah Aus dan kabilah Khajraz, dua kabilah Arab terbesar di Madinah yang sejak lama memang sudah sering bertikai. Akibat adu domba tersebut 5 tahun sebelum hijrahnya nabi dan para sahabat, pecahlah perang Buats. Perang besar ini nyaris menghancurkan seluruh harta benda yang dimiliki ke dua kabilah tersebut.

Beruntung akhirnya mereka menyadari hal tersebut. Mereka segera mengakhiri peperangan dan berjanji tidak akan mau lagi di adu domba Yahudi. Mereka mulai mendambakan seseorang yang dapat menyatukan dan memimpin mereka melawan dominasi Yahudi, dalam segala hal.

Itu sebabnya ketika mereka mendapat kabar telah datang seorang nabi di Mekah mereka sangat antusias. Merekapun mengirim utusan untuk mengetahui  kebenaran berita tersebut. Karena sejak lama orang-orang Yahudi sering menakuti-nakuti mereka dengan berkata:

“Bersama Nabi yang akan segera datang, kami akan menumpas kalian sebagaimana yang dahulu pernah dialami oleh kaum ‘Aad dan lram,”.

Orang-orang Yahudi memang meyakini bahwa di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi. Hal tersebut tersirat di kitab suci mereka, Taurat. Bahkan kedatangan orang-orang Yahudi ke Madinah, menurut beberapa sumber, memang didasarkan ciri-ciri kota dimana nabi tersebut akan datang.

Maka ketika nabi Muhammad saw datang dan hijrah ke Madinah, dengan penuh suka cita penduduk Madinah non Yahudi menyambut beliau. Mereka berbondong-bondong memeluk Islam, dan langsung menobatkan rasulullah Muhamad saw sebagai pemimpin mereka.

Sebaliknya orang-orang Yahudi yang merasa kecewa karena ternyata nabi yang di harapkan kedatangannya itu bukan dari kaumnya, mengingkari dan memusuhi rasulullah.

Kemudian setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah, yang membenarkan apa yang ada pada mereka (yakni: yang ada pada Kitab Suci mereka, Taurat, mengenai kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam), yang sebelum itu selalu mereka harapkan kedatangannya agar mereka dapat mengalahkan orang-orang kafir, namun setelah apa yang mereka ketahui itu datang, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):89).

Namun demikian rasulullah tidak pernah memaksa orang-orang Yahudi untuk menerima ajaran Islam. Rasulullah yang kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah, tetap memperlakukan mereka dengan baik. Sebagai warga Madinah, selain mendapatkan perlindungan dan berbagai hak, bersama penduduk Madinah lainnya mereka juga diberi tanggung-jawab membela dan mempertahankan kota dari musuh.

Namun apa lacur kepercayaan tersebut tidak mereka manfaatkan dengan baik. Sering kali mereka memancing keributan. Bahkan ketika Madinah diserang orang-orang Quraisy Mekah yang ingin membunuh Rasulullah dan kaum Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah ( kaum Muhajirin), orang-orang Yahudi  berkhianat.

Ironisnya lagi, pengkhianatan tersebut dibantu oleh sejumlah penduduk Madinah yang mengaku Muslim. Itulah kaum Munafikun. Tak tanggung-tanggung pentolan Munafikun Abdullah bin Ubai bin Salul, seorang tokoh Madinah yang sebelum kedatangan Islam nyaris diangkat sebagai pemimpin Madinah. Meskipun akhirnya ia ikut bersyahadat dan memeluk Islam namun tidak rela menjadikan Rasulullah sebagai panutan dan pimpinan. Rupanya ia tidak berhasil menghilangkan sakit hatinya gagal menjadi pemimpin Madinah.

https://vienmuhadi.com/2017/02/22/abdullah-bin-ubay-bin-salul-dan-kemunafikan/

Tokoh Madinah yang berkawan erat dengan orang-orang Yahudi tersebut sering sekali melawan perintah nabi. Diantaranya dalam membela teman-teman Yahudinya. Suatu hari ketika Rasulullah memerintahkan hukuman bagi bani Yahudi Qainuqa yang telah mengkhianati perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, ia membantah perintah tersebut.

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik “, serunya.

Tanpa memperhatikan air muka Rasulullah yang kesal, hal itu terus diulanginya sampai 3 kali. Akhirnya Rasulullahpun menjawab ketus : “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”. 

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. …”.  (Terjemah QS.An-Nisa (4):138-139).

Pengusiran terhadap Yahudi terpaksa dilakukan karena pengkhianatan mereka sangat membahayakan tidak saja Rasulullah namun juga perkembangan Islam secara keseluruhan. Rasulullah dengan izin Allah swt mengusir mereka dalam 3 tahap. Dan berkat kekompakan dan persatuan kaum Muhajirin dan Anshar yang kokoh Islam akhirnya dapat berkembang hingga ke seluruh semenanjung Arab.

Abdullah bin Ubai bin Salul dedengkot Munafikun memang sudah lama tiada. Namun sifat dan ciri-ciri orang seperti Abdullah bin Ubay hingga detik ini masih sangat banyak. Bahkan makin hari makin banyak !

https://www.eramuslim.com/berita/analisa/tanda-karakter-munafik-abdullah-bin-ubai-bin-salul-saat-ini.htm#.XEvyC1wzaUk      

Sikap mereka yang suka melindungi orang kafir meskipun nyata-nyata telah melecehkan syariat Islam sangat membahayakan agama yang dengan susah payah disebarkan Rasulullah dan para sahabat.

Dengan ringannya ayat-ayat Allah dikesampingkan. Ayat kepemimpinan, misalnya. Padahal ayat ini diturunkan untuk melindungi kaum Muslimin agar hak-hak mereka seperti mengerjakan shalat di masjid, berpuasa di bulan Ramadhan, pemakaian jilbab, larangan riba dll dapat dilaksanakan dengan tenang.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh tali Islam akan lepas, ikatan demi ikatan. Setiap satu ikatan lepas, maka manusia berpegang pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali lepas adalah hukum (pemerintahan) dan yang paling akhir adalah shalat.”

Kurang banyakkah bukti bahwa Muslim yang tinggal di negara dimana pemimpinnya non Muslim sulit menjalankan syariat agamanya??? Jangankan Palestina, bahkan Perancis yang sering meng-klaim sebagai negara yang mengagungkan toleransi, demokrasi dll, tidak mudah bagi kaum Muslimin untuk menjalankan syariah agama. Yang terakhir adalah Muslim Uighur dibawah pemerintah Cina. Relakah kita anak cucu kita kelak mengalami nasib seperti mereka?? Na’udzubillah min dzalik …

https://www.merdeka.com/dunia/bungkamnya-pemimpin-dunia-saat-warga-muslim-uighur-ditindas-di-china.html

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Januari 2019.

Vien AM.