Feeds:
Posts
Comments

Macron dan Karikatur (2).

Sebaliknya Perancis yang katanya negara maju, modern, beradab dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan/humanisme, nyatanya tidak mampu melihat dan menghormati perbedaan. Menyakiti hati orang yang berbeda keyakinan apalagi secara sengaja sudah pasti bukan perbuatan orang yang beradab, apapun alasannya, termasuk kebebasan berpendapat.

Macron tampaknya lupa pada kejadian Agustus tahun lalu yaitu ketika istrinya yang berumur 25 tahun lebih tua darinya itu dijadikan bahan olok-olok oleh Bolsonaro, presiden Brasil. Peristiwa memalukan itu terjadi di tengah panasnya pertemuan KTT G7 di Biarritz, Perancis. Sebelumnya hubungan antara Macron dan Bolsonaro memang tidak baik, Hinaan Bolsonaro tak ayal menambah sengitnya hubungan mereka.    

Apa yang bisa saya katakan? Menyedihkan. Menyedihkan baginya dan bagi orang Brasil. Saya rasa para wanita Brasil mungkin malu membaca bahwa presiden mereka telah melakukan itu.”

Saya pikir orang Brasil, orang-orang hebat, sedikit malu dengan perilaku ini,” ujar Macron kesal.

https://www.merdeka.com/dunia/macron-kecam-presiden-brasil-karena-ejek-istrinya-di-facebook.html

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Terjmah QS. Hujuraat(49):11).

Hari ini giliran rakyat Perancis yang harusnya menanggung malu perbuatan pemimpinnya yang tampaknya lupa bagaimana rasanya sakit hati. Tak tanggung-tanggung bukan cuma istri yang ia hina melainkan nabi!! Kalau saja mereka tahu ayat di atas, bagaimana Islam yang pemimpinnya menyebut agama krisis agama teroris, mengajarkan orang beradab harusnya berprilaku. 

Menyebalkannya lagi Olivier Chambard, duta besar Perancis untuk Indonesia beberapa waktu lalu menanggapi boikot yang dilakukan kaum Musllimin di berbagai negara termasuk Indonesia, dengan cara yang sungguh menyakitkan. Ia mengatakan boikot tidak hanya merugikan negaranya tapi juga rakyat Indonesia sendiri. Jelas terasa jelas kesan pongah dan mengancam dalam ucapannya.

Ada 50 ribu orang yang bekerja di perusahaan Perancis di Indonesia. Ada banyak orang yang terdampak jika aksi boikot terus dilakukan”, katanya.

Ada 200 perusahaan Perancis, dengan ukuran yang berbeda. Jika Anda bicara Danone, itu adalah perusahaan besar di Prancis, di dunia dengan 30 pabrik di Indonesia”, tambahnya.

Alih-alih meminta maaf, Chambard malah menerangkan bahwa ucapan Macron yang telah membuat gaduh dunia Islam itu sejatinya ditujukan bagi kelompok “Islam radikal” di dunia termasuk di Perancis. Ia bahkan berani mengatakan “ seperti juga di lndonesia”, ada “Islam moderat” ada “Islam radikal”. Apa maksudnya ?!?! Apa yang ia ketahui tentang ajaran Islam?

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5247558/dubes-prancis-blak-blakan-soal-boikot-orang-indonesia-terdampak/2

Islam adalah ajaran yang rahmatan lillaalamiin ( rahmat/kebahagiaan untuk semesta alam/semua orang). Namun tidak berarti boleh dan bisa dilecehkan dan dipermainkan. Ini yang ingin dimanfaatkan Barat. Islam yang diam ketika mereka olok-olok bahkan tunduk kepada kemauan dan aturan mereka adalah Islam moderat. Sedangkan yang tidak demikian adalah Islam radikal.

Sayangnya umat Islam tidak menyadari bahwa mereka sedang diadu domba. Kita lihat hari ini betapa parahnya perpecahan dan perseteruan sesama Muslim. Padahal Islam mengajarkan pentingnya persatuan, saling menyayangi agar kuat dan tidak mudah di lecehkan dan dikalahkan.    

Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Pengalaman membuktikan adu domba terhadap sesama Muslim adalah senjata ampuh yang sangat efektif. Lihat apa yang terjadi di negara-negara seperti Suriah, Irak dll. Siapa yang paling diuntungkan kalau bukan para pembuat senjata perang??

Paska tragedy mengenaskan 911 dengan ambruknya Menara Kembar WTC pada tahun 2001 berujung dengan  pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat ke Afghanistan dan Irak. Dalihnya untuk memerangi terorisme, seperti yang dikatakan Bush “ either with me or the terrorists”. Mantan presiden AS yang sangat kental ke-Yahudi-annya ini jelas memposisikan umat Islam. Siapa yang tidak mau bekerja sama dengan Barat berarti teroris !!   

Politik adu domba/ pecah-belah/devide et impera yang dilakukan Barat sudah dikenal sejak lama. Itulah penyebab utama kekalahan Islam, termasuk Indonesia hingga jatuh ke tangan penjajah Belanda.    

“ … … Mereka ( orang-orang kafir) tidak henti-hentinya memerangi kamu (kaum Muslimin) sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. … … “.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):217).    

Indonesia saat ini memang sudah merdeka dari penjajah Belanda. Tapi secara ekonomi, teknologi dll sudahkah kita merdeka?? Apa yang dikatakan duta besar Perancis di atas bisa jadi benar. Boikot tidak hanya merugikan Perancis tapi juga Indonesia.  

Tapi kita tidak perlu takut dan pesimis. Ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk segera keluar dari ketergantungan kita dari dominasi Barat. Ketergantungan yang menyebabkan kita lemah dan tidak memiliki harga diri maupun harga tawar.    

Sebaliknya Perancis dengan semboyan Fraternity (persaudaran), Egalite (persamaan) dan Liberte (kebebasan) sejatinya tidak konsisten  dengan semboyannya sendiri. Setidaknya bagi rakyatnya yang Muslim. Di negara tersebut tidak ada yang namanya libur lebaran, bahkan di kalendernya tercantumpun tidak, masjid diawasi, jilbab apalagi cadar dilarang. Bandingkan dengan Indonesia dimana pemeluk Nasrani, Hindu, Budha yang meskipun minoritas tetap dihormati, diberi tempat ibadah dan bebas melakukan ibadah. 

Perancis beberapa waktu lalu menerima kabar gembira dengan dibebaskannya Sophie Petronin, seorang relawan kemanusiaan Perancis. Perempuan berusia 75 tahun itu beserta dua warga negara Italia dan seorang politisi Mali terkemuka telah disandera selama 4 tahun oleh sebuah kelompok Dukungan untuk Islam dan Muslim (GSIM) yang kabarnya berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Macron khusus datang ke bandara untuk menyambut pembebasan yang ditebusnya dengan uang senilai 10 Juta Euro ditambah pembebasan 200 tahanan tersebut. Namun di luar dugaan siapapun, Petronin muncul dengan hijab di kepala dan pakaian tertutup ala Muslimah. Ternyata Petronin telah memeluk Islam. Selanjutnya, tanpa pemberitahuan jelas, Macron yang sedianya akan memberikan sambutan membatalkannya. Ada apakah gerangan?? Kecewakah ia karena mantan misionaris itu berpindah ke agama yang ia sebut sebagai agama krisis???

Akan halnya Petronin, ia berkata bahwa ia masuk Islam secara sukarela, tanpa paksaan. Ia menceritakan ke-Islam-annya diantaranya karena perlakuan baik para penyanderanya. Bandingkan dengan perlakuan kejam penjara Guantanamo terhadap dokter perempuan Aafia Siddiqui, seorang dokter ahli syaraf perempuan asal Pakistan yang ditangkap dan dipenjara bersama 3 anaknya oleh FBI, dengan tuduhan tidak jelas. 

https://tausyah.wordpress.com/2012/10/17/dr-aafia-siddiqui-seorang-ilmuwan-muslimah-pakistan-yang-di-perkosa-disiksa-dan-dilecehkan-di-dalam-penjara-beserta-pidato-lauren-booth-bahwa-aafia-kerap-bermimpi-bertemu-dengan-rasulullah-dan-aisya/

Kabar terakhir Siddiqiu dalam keadaan stress dan ingatan yang kacau saking seringnya menerima siksaan di penjara yang dikenal paling sadis di dunia itu. Dokter dengan nomor 650 yang dikenai hukuman 86 tahun penjara ini dikenal juga dikenal sebagai seorang yang taat ibadah sekaligus seorang hafizah (penghafal Al-Quran).

https://tausyah.wordpress.com/2012/10/17/dr-aafia-siddiqui-seorang-ilmuwan-muslimah-pakistan-yang-di-perkosa-disiksa-dan-dilecehkan-di-dalam-penjara-beserta-pidato-lauren-booth-bahwa-aafia-kerap-bermimpi-bertemu-dengan-rasulullah-dan-aisya/

Berikut surat ibunda dokter Aafia Siddiqui kepada PM Pakistan Imran Khan sebelum kunjungannya ke AS, memohon pembebasan putri tercintanya. 

https://mediaumat.news/ibunda-aafia-siddiqui-tulis-surat-kepada-pm-pakistan-sebelum-kunjungannya-ke-as/

Lebih lanjut, Petronin menceritakan sering melihat para penjaganya shalat dan membaca Al-Quran.  Petronin sejak lama memang sering mengunjungi Mali demi tugas misionaris yang diembannya. Jadi ia sudah mengenal Islam walaupun tidak banyak. Beruntung Allah swt memberinya hidayah.

Akhir kata semoga Macron mau segera menyadari kesalahannya, meminta maaf dan mencabut kebijakannya atas kebebasan menghina Islam, khususnya nabi Muhammad, sebelum radikalisme makin merajalela.

Sebaliknya umat Islam agar dapat merenung mengapa umat Islam begitu lemah tak berdaya hingga mudah dibully dan di olok-olok oleh musuh-musuh Islam. Mari kita bersatu bergandengan tangan, jauhkan perbedaan, jadikan moment untuk belajar mandiri tidak bergantung kepada kaum lain, dan yang terpenting, segera kembali menjadikan Al-Quranul Karim dan As-Sunnah sebagai pegangan hidup.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 November 2020.

Vien AM.

Macron dan Karikatur (1).

Perancis berulah lagi. Awal Oktober lalu presiden Perancis, Emmanuel Macron, mengumumkan rencana undang-undang yang lebih ketat untuk mengatasi hal yang ia sebut “separatisme Islam” di Prancis. Ia mengatakan kelompok minoritas Muslim di Prancis – terdiri dari kira-kira enam juta orang yang berpotensi membentuk “masyarakat tandingan”. Ia menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis”, agama bermasalah yang perlu dibendung. Dengan keji ia juga mengatakan itu semua akibat makanan halal yang dikonsumsi kaum Muslimin. Ia menegaskan pengawasan yang lebih ketat pada sekolah dan kontrol yang lebih baik atas pendanaan masjid dari pihak asing.

Macron juga menegaskan dengan dalih kebebasan berekspresi, tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad. Tak tanggung-tanggung poster karikatur penghinaanpun dipasang di gedung pemerintahan. Padahal ia tahu persis kartun penggambaran seperti itu terbukti telah menimbulkan kemarahan besar kaum Muslimin dimanapun berada. Islam dengan berbagai alasan memang melarang penggambaran nabi terakhir itu dalam bentuk apapun. Apalagi dalam bentuk penghinaan!!. Meski penghinaan dalam bentuk apapun tidak akan membuat rasulullah menjadi hina.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

Adalah majalah satir karikatur Perancis Charlie Hebdo yang pada tahun 2006 mencetak ulang karikatur nabi Muhammad saw yang setahun sebelumnya pernah diterbitkan surat kabar Denmark.  Kejadian tersebut  menyulut gelombang protes di berbagai tempat, mengutuk keras perbuatan yang menyakitkan hati jutaan umat muslim dunia. Namun hal tersebut tidak membuat mereka jera. Pada tahun 2011 dan 2012 majalah tersebut bahkan menerbitkan lebih banyak lagi karikatur kontroversial tersebut. Akhirnya pada tahun 2015, dua orang yang diduga sebagai anggota Al-Qaeda melakukan serangan brutal ke kantor majalah satir tersebut hingga menewaskan 12 orang korban meninggal. 

Tampak jelas Macron tidak bisa mengambil pelajaran tragedy berdarah tersebut. Ntah setan apa yang membuatnya mengambil keputusan berbahaya tersebut. Dan seperti yang sudah diperkirakan dunia Islampun geger. Mulai dari rakyat biasa hingga tokoh-tokoh dari Turki, Mesir, Libia, Yaman, Yordan, Palestina, Pakistan, Indonesia, Malaysia dll. Demo di depan kedutaan Perancis untuk menunjukkan kemarahan kaum Muslimin yang tersakiti hatinya terus bermunculan hingga hari ini (2/11/2020). 

Islam adalah agama damai dan tidak memiliki tempat untuk terorisme, Prancis adalah sumber terorisme”, kata seorang tokoh lokal Palestina dalam unjuk rasa yang digelar. “Kami tidak melupakan pembunuhan 1,5 juta orang di Aljazair oleh Prancis,” tambahnya.

Recep Tayyip Erdogan presiden Turki yang dikenal memiliki ghiroh (kecintaan dam semangat tinggi membela Islam) melayangkan kegusarannya. Ia menyebut Macron sebagai orang yang sakit mental, yang tidak bisa menghargai perbedaan dan agama lain padahal di negrinya hidup kaum Muslimin meski hanya minoritas. Untuk itu ia menyerukan dunia agar memboikot produk Perancis. Sambutan tersebut langsung disambut negara-negara timur tengah yang merupakan konsumen besar produk Perancis.  Sambutan juga datang dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).    

https://news.detik.com/berita/d-5235701/bergema-seruan-boikot-produk-prancis-dari-majelis-ulama-indonesia/3

Macron terbukti telah memprovokasi makin suburnya radikalisme yang tidak hanya merugikan kaum Muslimin tapi juga membahayakan rakyatnya sendiri. Seorang pemuda Chechnya usia 18 tahun nekad membunuh guru kelas dramanya setelah sebelumnya menunjukkan karikatur nabi Muhammad saw di depan kelas. Menyusul 2 pekan kemudian tragedi mengerikan yang menewaskan 3 orang yang sedang berada di dalam gereja Notredame Nice. Macron mengatakan kejadian tragis 29 Oktober, tak sampai 1 bulan setelah pengumumannya, bahwa penikaman itu adalah “serangan teroris kelompok Islamis”.

Akibatnya mudah ditebak, Islamophobiapun makin menjadi-jadi. Kaum Muslimin terpaksa menjalankan shalat Jumat di jalanan karena masjid ditutup. Itupun tetap diganggu dengan orang-orang yang mendatangi jalanan tempat kaum Muslim shalat sembari membawa spanduk bertuliskan kebencian terhadap Islam. 

Macron juga berhasil memperuncing perseteruannya dengan Erdogan. Paska pernyataan Erdogan yang menyebutnya sebagai sakit mental, presiden Perancis tersebur segera memanggil pulang dubesnya di Turki. Dengan culasnya Charlie Hebdopun memanfaatkan keahliannya dengan mempublikasikan karikatur menghina Erdogan demi mengeruk keuntungan dari orang-orang yang membenci Islam.

Sebuah pertanyaan besar apa sebenarnya maksud dan tujuan Macron melakukan ini semua??

Dari berbagai sumber dapat disimpulkan setidaknya ada 3 hal penyebabnya, yaitu :  

1. Ketakutan yang berlebihan terhadap perkembangan Islam yang makin tak terbendung tidak saja di Perancis tapi juga di Barat. Sebaiknya umat Nasrani makin berkurang, terbukti dari banyaknya gereja yang dijual karena sepi jamaah dan dibeli kaum Muslimin untuk dijadikan masjid karena jumlah masjid yang jauh kurang dari kebutuhan. Di Perancis makanah halal juga makin menjamur.   

2. Popularitas Macron di dalam negri yang makin menurun. Kekalahan partai pengusung Macron dalam pemilu pemanasan yang dilakukan bulan Juli lalu membuktikan hal tersebut. Partainya kembali harus bersaing ketat dengan partai pengusung Marine Le Pen yang dikenal sangat anti Isam.

https://mediaindonesia.com/read/detail/323995-partai-macron-menderita-kekalahan-besar-dalam-pemilu-prancis

3. Ketidak-pahamannya tentang Islam bahwa agama dalam pandangan Islam adalah di atas segalanya. Bahwa mencintai nabinya yaitu Muhammad saw, adalah menunjukkan ketinggian iman seseorang.

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):24).

Abdullah bin Hisyam menceritakan, suatu hari ia dan sejumlah sahabat melihat Nabi Muhammad SAW sedang menjabat tangan Umar bin Khatab. Sambil berjabat tangan itu, Umar berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segalanya, kecuali diriku sendiri.”

Mendengar perkataan Umar, Nabi berujar, “Tidak beriman salah seorang dari kamu sampai aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.”

Mendengar sabda Nabi, Umar pun berkata, “Kalau begitu, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.

Mendengar jawaban sahabatnya ini, Rasulullah menegaskan, “Sekarang inilah imanmu telah sempurna, wahai Umar.”

Seorang pengamat Turki, Mustafa Guldagi, bahkan berani mengatakan bahwa perseteruan Macron dengan Erdogan menambah penyebab keputusan kontroversial Macron. Turki baru-baru ini meluncurkan penerbangan Turkish Air ke seluruh Afrika. Padahal selama ini sebagian besar negara Afrika yang merupakan bekas jajahan Perancis tidak punya pilihan lain selain menggunakan penerbangan Perancis.

Bekas negara-negara Perancis yang kelihatannya sudah bebas merdeka tersebut sejatinya memang belum merdeka penuh. Merdeka mereka adalah merdeka bersyarat. Selain masalah penerbangan, mereka harus tergabung dalam apa yang dinamakan “Francophonie” yang mewajibkan Perancis sebagai Bahasa ibu. Mereka juga wajib tergabung dalam CFA sebuah sistem moneter Perancis yang mengontrol keuangan mereka.      

https://hajinews.id/2020/10/29/mengapa-presiden-prancis-macron-menyerang-turki/

Itu sebabnya Macron sangat ketakutan bila Turkish Air bisa masuk Afrika dan merebut salah satu sumber keuangan terbesar mereka. Apalagi Turki dibawah Erdogan sekarang ini sangat Islami. Sementara penduduk negara-negara jajahan Perancis mayoritas adalah Muslim. Kejengkelan Macron ditambah lagi  dengan makin banyaknya orang Turki Muslim yang datang menempati kota-kota besar Perancis.    

Tidakkah Macron pernah mendengar cerita tentang kado istimewa Erdogan untuk Sarkozy, mantan presiden Perancis yang mengadakan kunjungan kerja 6 jam ke ibu kota Turki. Kunjungan itu dilakukan selaku ketua G-20 dimana Turki adalah salah satu anggotanya. Seperti juga Macron, Sarkozy memperlakukan kaum Muslimin di negaranya secara tidak adil. Dan Erdogan ingin memberikan pelajaran kepada Sarkozy bagaimana ber-sosialisasi yang baik.   

Untuk itu Erdogan memberikan sepucuk surat salinan yang diambil dari arsip Turki Utsmani. Surat yang ditulis pada tahun 932H/1525M tersebut merupakan surat balasan sultan Turki Utsmani kala itu yaitu  Sulaiman Al-Qonuni kepada raja Perancis, Francis I. Isinya memohon bantuan Turki Utsmani menghadapi pasukan Spanyol yang menyerang negaranya.  

Intinya surat itu menggambarkan bagaimana kerajaan Turki Ustmani sebagai negara adi daya yang luasnya jauh lebih besar dari Perancis bahkan dari Amerika Serikat, Rusia atau Cina sekarang, mau membantu negara yang membutuhkan bantuan, dengan ikhlas, tanpa syarat dan imbalan apapun. Sesuatu yang mustahil terjadi di zaman sekarang.

Hal itu dilakukan sebagai tanda persahabatan antar negara, meski Perancis bukan negara Islam. Hebatnya lagi sang raja Turki tak lupa melibatkan nama Allah di dalam surat resminya, baik sebagai kalimat pembuka maupun di alinea berikutnya.

Bersambung.

 

Siapa tak kenal Umar ibnul Khattab, sahabat rasul yang mempunyai julukan Al Faruq’ yang berarti Sang Pembeda atau Sang Pemisah. Rasulullah memberikan julukan tersebut berkat ketegasan Umar memisahkan antara yang hak dan yang batil.  

Ketika menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah, Umar tak segan-segan menindak siapa pun yang melanggar hukum.

Sekalipun aku ini keras, tapi sejak semua urusan diserahkan kepadaku, aku menjadi orang yang sangat lemah di hadapan yang hak,” ujar Umar di depan rakyatnya.

Umar sebelum masuk Islam memang dikenal sebagai orang yang sangat keras. Ia sering menyiksa orang-orang Quraisy yang kedapatan meninggalkan agama nenek moyang mereka demi memeluk Islam. Ini ia lakukan semata karena keyakinannya yang begitu kokoh terhadap berhala-berhala yang menjadi sesembahan kaumnya ketika itu.

Hingga suatu hari rasulullah berdoa memohon kepada Allah swt agar Islam diberi kekuatan dengan masuk Islamnya seorang diantara Umar, yaitu Umar ibnu Khattab atau Amr bin Hisyam alias Abu Jahal. Dan ternyata Allah swt memilih Umar ibnu Khattab sebagai kekuatan Islam.

Ya, Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” ucap Rasulullah.

Umar juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu ( rendah hati/tidak sombong). Sikapnya tersebut terlihat jelas dari penampilannya. Namun penampilan bersahaja tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawanya sebagai seorang khalifah. Bahkan sikap tersebut mampu menarik musuh untuk lebih menghormatinya lagi.

Contohnya adalah Hormuzan. Hormuzan adalah panglima perang Persia yang gigih memimpin pasukannya menghadapi pasukan Islam, diantaranya yang paling sengit adalah dalam perang Jalula. Jalula adalah sebuah kota perbukitan di sebelah utara Iran.

Pasukan Hormuzan beberapa kali mengalami kekalahan. Namun Hormuzan sendiri selalu berhasil meloloskan diri. Selanjutnya setelah berhasil membangun kekuatan, ia kembali melakukan penyerangan terhadap Islam meski tetap saja kalah. Akhirnya Hormuzanpun menyerah dan menanda-tangani perjanjian damai serta menyerahkan jizyah sebagai buktinya.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):29).

Tetapi tak lama kemudian Hormuzan melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri yaitu dengan memimpin pemberontakan, menyerang dan membunuh rakyat sipil.  Dua kali hal tersebut dilakukannya. Maka ketika akhirnya ia berhasil ditangkap, iapun dibawa ke Madinah untuk diserahkan kepada khalifah Umar.  

Hormuzan dibawa ke Madinah dalam keadaan masih mengenakan pakaian kebesarannya yang mewah layaknya pembesar Persia, yaitu sutra bersulam emas dan berhiaskan permata.

Selanjutnya ia dibawa ke rumah Umar, namun tidak bertemu. Rupanya sang khalifah sedang tertidur di teras masjid dengan berselimutkan sarung lusuh. Di tangannya tergenggam sebuah kantong kecil berisi jagung. Terkejut Hormuzan dibuatnya.

Mana pengawalnya? Mana ajudannya??” tanya Hormuzan keheranan.

Ia tidak punya ajudan, tidak juga pengawal, tidak juga sekretaris pribadi. Ia hidup bersahaja”, jawab Anas ibn Malik yang mengantarnya.

“Kalau begitu ia adalah seorang nabi yang suci”, seru Hormuzan tertegun.

Singkat cerita, terjadilah percakapan antara Umar dan Hormuzan.

Hai Hormuzan, tidakkah engkau saksikan akibat dari setiap tipu muslihat yang kalian lakukan terhadap Allah?” tanya Umar membuka pembicaraan.

Dulu Allah berpihak kepada kami maka kamipun dapat menaklukkan kalian. Namun kini rupanya Allah berpihak pada kalian maka kalianpun menaklukkan kami,” jawab Hormuzan.

Aku menawarkanmu memeluk Islam, sekadar saran agar engkau bisa selamat di dunia maupun di akhirat”, lanjut Umar.

Aku tidak mau. Aku akan tetap berpegang pada agama dan keyakinanku. Aku tidak mau masuk Islam karena tekanan”, balas Hormuzan.

Baik, aku tidak akan memaksamu“, jawab Umar.

” Sekarang apa yang engkau inginkan?” lanjut Umar lagi.

Sambil menatap tajam, Hormuzan menjawab, “Aku khawatir engkau akan membunuhku sebelum aku mengucapkan keinginanku”

Jangan khawatir,  katakan saja!“, balas Umar.

Hormuzan lalu mengatakan bahwa ia haus dan ingin minum. Umarpun memberinya semangkuk air.

Namun Hormuzan tidak segera meminumnya. “Aku kuatir engkau akan membunuhku sebelum aku meminum air ini”

Jangan  khawatir, minumlah!”, tegas Umar.

Hormuzanpun menegukkan minuman tersebut. Setelah itu sambil menatap Umar, ia berkata” Sungguh engkau telah nyata memberikan jaminan keselamatan padaku. Sekarang aku mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad adalah rasul Allah, dan bahwa ajaran yang dibawanya adalah benar datang dari Allah.”

Akhirnya engkau memeluk Islam. Tapi, mengapa tidak sejak tadi engkau ucapkan syahadat itu?”, tanya Umar.

Aku tidak mau orang menyangka kalau aku memeluk Islam karena takut dibunuh”, tegas Hormuzan.

Umarpun berkata, “Memang benar! Orang-orang Persia memang punya cara berpikir yang hebat. Layak kalau mereka mempunyai kerajaan besar.” Lalu Umar memerintahkan asisten-asistennya untuk menghormati dan berbuat baik kepada Hormuzan.

Namun apa lacur beberapa tahun kemudian ketika Umar wafat karena dibunuh oleh seorang budak bekas Majusi Persia bernama Fairuz yang bergelar Abu Lu’luah, bekas panglima Persia itu ternyata ikut terlibat perbuatan keji tersebut. Na’udzubillah min dzalik.

Di kemudian hari kebencian orang-orang Persia yang merasa Islam telah merenggut kebesaran kerajaan mereka adalah pangkal lahirnya Syiah. Mereka sejatinya memeluk Islam karena terpaksa demi mewujudkan dendam kesumat mereka.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Oktober 2020.

Vien AM.  

Baitul-Maal berasal dari 2 kata bahasa Arab, yaitu bait yang berarti “rumah”, dan al-mal yang berarti “harta”. Jadi secara bahasa Baitul-Maal berarti rumah untuk mengumpulkan atau menyimpan harta.

Ada perbedaan pendapat mengenai kapan Baitul-Maal pertama didirikan. Namun sebagian besar berkeyakinan bahwa  Baitul-Maal pertama didirikan pertama kali pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra.

Sebelumnya yaitu pada masa hidup rasulullah saw, harta yang berasal dari rampasan perang (Ghanimah) dan juga harta Fai, langsung dibagikan hingga habis kepada kaum Muslimin dan segala keperluannya, dengan petunjuk yang diberikan Rasulullah saw. Bilal bin Rabah sahabat sekaligus muadzin kesayangan nabi, adalah orang yang dipercaya mengurus hal tersebut.

Harta Fai yaitu harta rampasan perang yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran, muncul melalui banyak cara. Diantaranya  melalui perdamaian, jizyah, kharaj (pajak tanah), dan bisa juga karena pihak musuh lari meninggalkan harta bendanya sebelum terjadinya peperangan.

Di zaman jahiliah, sebelum datangnya Islam, kabilah- kabilah Arab jika menang dalam berperang akan mengambil ghanimah, termasuk tawanan, dan tanah, kemudian membagi-bagikannya kepada orang yang ikut berperang. Pemimpin mereka mendapat bagian yang besar.

Namun pada ayat 41 surat Al-Anfal berikut Allah Azza wa Jala memerintahkan bahwa bagian rasullullah sebagai pemimpin umat hanya 1/5 bagian, itupun termasuk untuk Allah, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil. Dan pada prakteknya rasulullah tidak pernah mengambilnya di luar kebutuhan pokok.

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(Terjemah QS. Al-Anfal(8):41).

Selanjutnya khalifah Abu Bakar ra sepeninggal rasullullah meneruskan apa yang dicontohkan rasul. Namun sejak masa ke-khalifahan Umar bin Khattab ra, dengan makin meluasnya wilayah kekuasaan Islam, Umar memberdayakan apa yang disebut Baitul Maal. Seluruh harta kekayaan umat termasuk uang zakat, infak dan sedekah, yang makin lama makin berlimpah ruah itu disimpan di dalam Baitul Maal.

Umar memerintahkan para gubernurnya untuk mendirikan dan memberdayakan Baitul Maal di daerah kekuasaan masing-masing. Hebatnya, pengelolaan rumah harta milik rakyat ini sangat transparan, karena harta tersebut memang milik rakyat, dan untuk rakyat. Semua orang yang membutuhkan boleh dan bisa mengambil secukupnya. Sementara yang berlebih bisa memasukan harta mereka ke tempat tersebut.

Semua ini bisa terjadi berkat Umar sang khalifah, yang mencontohkan akhlak yang mulia. Umar sangat ketat menjaga diri dan keluarganya dari harta rakyat.

Umar berkata, “Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang-orang Quraisy biasa, dan aku adalah seorang biasa, seperti kebanyakan kaum muslimin”.

Umar sungguh-sungguh menjadikan rasulullah sebagai panutan dalam segala hal termasuk kezuhudannya. Bayangkan, Umar adalah seorang khalifah kerajaan raksasa yang kekuasaannya meliputi seluruh negara bekas Persia ( Irak, Iran, Azerbaijan, Armenia), 2/3 bagian bekas Rumawi Timur/Byantium ( Jordan, Palestina, Suriah, Lebanon, dataran tinggi Golan dan Mesir) serta seluruh jazirah Arab yang sebelumnya telah ditalukkan yaitu pada masa rasulullah.     

Penaklukan yang dilakukan pasukan Umarpun bukannya sembarangan. Ia meneladani apa yang diperintahkan rasulullah agar memerangi kemusrykan yang ada di dunia ini demi mencari ridho-Nya.  

Dari Buraidah r.a, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Berperanglah fi sabilillah dengan menyebut nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, berperanglah dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat dan janganlah membunuh anak-anak.” (HR Muslim 1731).

Perang adalah jalan terakhir bila suatu kaum menolak cara damai dengan membayar jiziyah dan tunduk kepada hukum Islam. Itupun setelah kalah perang tidak ada paksaan untuk memeluk Islam.    

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Pada masa Umar pulalah untuk pertama kali dalam sejarah Arab, diberlalukan sistem akuntansi pencatatan belanja negara. Untuk itu Umar mengangkat pengelola dan pengawas Baitul Maal dari kalangan terpilih dan terpercaya dari para sahabat. Pada perkembangannya Baitul Maal selalu digandengkan dengan masjid, dan selalu dijaga pasukan tentara.

Dengan harta tersebut pula Umar membangun kota-kota termasuk masjid-masjid besar, madrasah\sekolah, perpustakaan dll, yang berhasil membawa Islam menuju masa kejayaan.

Akhir kata, semoga suatu hari nanti kita bisa kembali mempunyai seorang pemimpin seperti Umar, yang dengan demikian bisa memperoleh kembali kejayaan yang telah lama hilang. Tak perlu lagi kita kehilangan kemuliaan Islam akibat hutang yang menggunung kepada negara lain .. na’udzubillah min dzalik …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Oktober 2020.

Vien AM.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Gary Miller merupakan seorang profesor matematika.

Dia dibesarkan di Kanada. Sekolah-sekolah keagamaan adalah tempatnya menimba ilmu. Selain mendapatkan pengetahuan, dia di sana juga mendapatkan keimanan. Dia kemudian belajar teologi di Universitas Wheeling Jesuit, Amerika Serikat. Prestasi akademik banyak diraihnya di sana. Anugerah kecerdasan telah memudahkannya memahami berbagai ilmu pengetahuan. Berkat kecerdasan dan bakatnya, dia menjadi pendukung penyebaran agamanya yang aktif dalam berbagai kesempatan.

Dia menyebarkan keyakinannya kepada khalayak ramai. Dengan penuh semangat, lelaki itu berdiri di podium dan menjelaskan ajaran keimanan yang ketika itu diyakininya benar. Ceramahnya juga ditayangkan di televisi. Kemudian, ia mendapat gelar doktor dalam bidang matematika dari Universitas Toronto. Pemikiran ilmiah Miller kerap berbenturan dengan ajaran agama yang dianut. Hal ini membuatnya tidak nyaman sehingga dia lebih memutuskan untuk berpindah ke agama lain. Dia juga berpidah-pindah rumah ibadahnya selama sembilan tahun karena tidak mendapatkan jawaban dari pemuka agama soal ketuhanan.

Pertanyaan dan penjelasan Miller kerap membuat pusing pemuka agama. Mereka yang seharusnya mampu memberikan jawaban untuk menambah keimanan masyarakat, malah terdiam. Pemuka agama itu tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada Miller. Ketidakpuasan yang muncul karena jawaban itu tidak didiamkan. Miller mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban yang dapat menghilangkan rasa penasarannya. Kali ini dia tidak lagi menghujani pemuka agama dengan berbagai pertanyaan mengenai ketuhanan. Dia mem baca buku-buku tentang Islam karangan orientalis.

Ketika membaca buku itu, Miller tidak melepaskan sikap kritis. Dia tetap mempertanyakan kesimpulan-kesimpulan orientalis yang kerap memojokkan ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Bagaimana mungkin seorang nabi yang ajarannya kini mendunia disebut tidak waras. Apakah mungkin sosok utusan Sang Pencipta yang membawa dan menyebarkan risalah Ilahiyah hidup dengan abnormal. Kesimpulan-kesimpulan semacam itu sama sekali tidak masuk akal. Dia mengabaikannya.

Miller menginginkan kebenaran. Jika Muhammad adalah orang yang baik dan cerdas, mengapa dia harus berbohong untuk mengklaim kenabiannya. Atau, jika Rasul gila sehingga tidak sadar dengan tindakannya, bagaimana mungkin dia memahami wahyu Ilahi. Jawaban tentang semua kegelisahan Miller ternyata ada dalam Alquran surah az-Zariyat ayat 52-53. Bunyinya adalah,

“Tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Sindiran Allah dalam firman itu menyadarkannya bahwa tudingan orientalis bukan hal baru. Mereka hanya mengulang apa yang dilakukan masyarakat dahulu yang menolak risalah Islam. Alquran jelas menerangkan Rasulullah tidak berdusta. Kemudian, pandangannya kembali terbuka ketika membaca kisah anak Rasul Ibrahim yang meninggal dunia. Ibrahim meninggal bersamaan dengan gerhana matahari yang terjadi. Seorang sahabat Nabi pernah berkata, matahari hilang karena anak Rasulullah telah wafat. Rasulullah pun membantah perkataan sahabat,

“Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hilangnya nyawa seseorang.” Jawaban itu adalah bukti yang jelas bahwa Nabi Muhammad bukan pembohong ataupun orang gila.

Inspirasi dari kalam Ilahi itu menghadirkan kepuasan tersendiri. Miller kemudian makin semangat mendalami Islam. Pada tahun 1977 dia memutuskan untuk membaca Alquran. Dia juga mencari tahu apa yang benar dan salah di dalamnya. Dalam tiga hari dia membaca ayat-ayat Ilahi. Setelah selesai, dia berkata kepada diri sendiri, “Inilah keyakinan yang telah saya katakan dan percaya selama 15 tahun terakhir ini.”

Pada mulanya dia meyakini, Alquran merupakan otobiografi yang membahas kehidupan Nabi Muhammad, keluarga, dan lingkungannya. Dia menganggapnya seperti kitab agama sebelumnya yang berisi hikayat orang-orang dulu. Namun, ia terkejut menemukan hal yang tak terduga. Ternyata Alquran hanya menyebutkan nama Rasulullah sebanyak lima kali. Sementara, Alquran menyebutkan nama Nabi Isa sebanyak 25 kali. Adapun nabi Musa disebutkan lebih dari seratus kali.

Dia makin tercengang ketika menemukan surah Maryam. Sebaliknya, dia tidak menemukan satu surah pun dengan nama Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Dia juga tidak menemukan cerita yang berhubungan dengan perasaan pribadi Rasulullah. Selain itu, tak ada ayat Alquran yang menceritakan euforia kemenangan Perang Badar atau penderitaan setelah Perang Uhud. Miller menemukan tidak ada satu kata pun yang disebutkan dalam Alquran tentang kesedihan yang menimpa Rasulullah. Karena kitab ini berasal dari Allah, bukan Muhammad.

Pada saat pertama kali mengetahui Alquran, dia sempat berpikir bahwa konten di dalamnya adalah pengetahuan kuno yang dibuat oleh pria gurun pasir ribuan tahun lalu. Setelah membaca ayat-ayat di dalamnya, dia menyadari prediksi itu tidak tepat.

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Miller kemudian memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Alquran.

Dua ratus tahun lalu, ilmuwan Belanda Antony Leeuwenhoek telah menemukan bahwa 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Dia tidak tahu bahwa Alquran telah lebih dahulu menyebutkannya. Allah mengatakan hal itu dalam surah al-Anbiya ayat 30 dan Fussilat ayat 11.

Hal yang sama terjadi di tahun 2011 ketika Saul Perlmutter, Adam Riess, dan Brian Schmidt telah memenangkan Nobel fisika. Penghargaan yang mereka terima adalah untuk menemukan fenomena percepatan ekspansi alam semesta. Sekali lagi, fakta ilmiah ini sudah ada di dalam Alquran dalam surah az-Zariyat ayat 47. 

Ayat Embrio.

Al-Quran juga telah berbicara tentang tahap-tahap embrio. Surah al-Hajj ayat 5 menarik perhatian Profesor Keith Moore, rekan sejawat Miller di Universitas Toronto. Moore adalah profesor embriologi dan penulis buku terkenal, The Developing Human. Buku ini merupakan referensi mahasiswa fakultas kedokteran dunia. Al-Quran membuat tanda di buku-buku Profesor Keith Moore. Dalam edisi selanjutnya, dia menambahkan informasi yang dia pelajari dari Alquran tentang embriologi.

Namun, dunia telah bangkit saat Keith Moore mengeluarkan buku tentang embriologi klinis. Di dalamnya, dia menulis tentang diutamakannya Alquran dalam menyebutkan fakta perkembangan embrio. Miller kagum dengan kesepakatan penulis Barat bahwa Alquran tidak dapat ditulis oleh Rasulullah. Karena ini adalah buku pengetahuan berisikan topik yang menakjubkan. Kesimpulan tersebut menunjukkan dengan arif bahwa Alquran adalah wahyu Ilahi.

Klaim yang paling mudah adalah bahwa beberapa komite anonim membantu Rasul mengerjakannya. Namun, ada yang bilang, setan membantunya mengarangnya. Ini adalah kesimpulan yang penuh fitnah. Miller memikirkan secara mendalam tentang klaim terakhir dan menganggapnya sebagai semacam pelarian dan kegagalan untuk menghadapi kebenaran.

Jika Alquran diilhami setan, mengapa iblis mengisi bukunya dalam penghinaan terhadap setan. Makhluk pengganggu manusia itu selalu mengajak manusia untuk mengingkari perintah Allah sehingga mereka akan masuk ke dalam neraka penuh siksa. Banyak buku tidak dapat menyuguhkan penjelasan yang dapat diterima tentang keajaiban Quran. Berbagai kesimpulan buruk tentang Islam selalu dilontarkan dalam berbagai media. Namun, itu semua justru menjadi pemicu orang untuk lebih mendalami hakikat Islam.

Gary Miller memeluk Islam pada tahun 1978. Dia memilih nama mualaf Abdul Wahid Omar. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya di departemen matematika dan lebih memilih mengabdi untuk berdakwah di Kanada. Buku yang ditulisnya menarik perhatian banyak orang berjudul The Stunning Quran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 27 September 2020.

Vien AM.

Dicopas dari :

https://republika.co.id/berita/qgin9s430/kisah-profesor-matematika-jadi-mualaf-sebab-surat-azzariyat

Semangat Hijrah(2).

Persaudaraan sesama Muslim adalah hikmah yang sering dilupakan orang ketika berbicara tentang hijrah. Padahal tak lama setelah Rasulullah tiba di kota Madinah ketika hijrah 14 abad silam, beliau segera mempersaudarakan kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah dengan kaum Muhajirin yaitu para sahabat yang hijrah dari Mekah ke Madinah. Contohnya yaitu Umar bin Khattab ( Muhajirin) dipersaudarakan dengan Itban bin Malik al-Khazraji (Anshar) dan Abdurrahman bin Auf ( Muhajirin) dengan Sa’ad bin Rabi (Anshar).

Berikut salah satu kisah menarik tentang persaudaaan antar kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang diabadikan dalam ayat 9 surat Al-Hasyr :

Suatu hari datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (dalam keadaan lapar), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada para istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?”

Salah seorang kaum Anshâr berseru: “Saya,” lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshâr itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu. Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.

Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung –Qs. al-Hasyr/59 ayat 9. [HR Bukhari] 

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):9).

Kisah persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi berikut juga tak kalah menariknya. 

Sa’ad ra berkata kepada Abdurrahman ra, “Aku adalah kaum Anshâr yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa ‘iddahnya, engkau bisa menikahinya”. Mendengar pernyataan saudaranya itu, ‘Abdurrahmân menjawab: “Aku tidak membutuhkan hal itu. Adakah pasar (di sekitar sini) tempat berjual-beli?” Lalu Sa’ad menunjukkan pasar Qainuqa’. Maka mulai saat itu Abdurrahmân sering pergi ke pasar untuk berniaga hingga akhirnya ia berkecukupan dan tidak lagi tergantung  bantuan Sa’ad, saudaranya, atau siapapun. [HR. Bukhari].

Tak dapat dipungkiri rasa persatuan dan rasa persaudaraan diantara sesama Muslim pada periode tersebut adalah kunci kemenangan Islam dalam menghadapi dominasi kekuatan kaum Kuffar. Kaum Muslimin yang waktu itu hanya menguasai kota Madinah namun berhasil mempecundangi  dua super power dunia ketika itu yaitu Romawi Timur dan Byzantium.

Dibawah kekhalifahan yang 4 yaitu para Khulafaur Rasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan rad an Ali bin Abu Thalib ra) yang merupakan generasi sahabat terbaik, dakwah Islam secara cepat berkembang hingga ke separuh belahan dunia. Simak apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte kaisar kenamaan Perancis yang terekam dalam “Bonaparte et L’Islam” karya Christian Cherfils pada hal 105.     

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia … Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentausaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat … Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separuh bola bumi … Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”.

Kejayaan Islam selama berabad-abad dimulai pada periode Madinah yaitu sejak hijrahnya rasulullah pada tahun 622 M hingga akhir kekhalifahan Ottoman pada tahun 1923. Kejayaan ini terbagi atas beberapa periode dan fase. Kejatuhan kejayaan Islam terjadi secara bertahap, tidak secara tiba-tiba. Penyebab utamanya adalah lemahnya rasa persatuan umat hingga mudah diadu domba oleh mereka yang tidak menyukai Islam. Cinta dunia dan takut mati yang berlebihan seperti gila harta dan kekuasaan hingga tidak mau berjuang untuk Islam, makin mempercepat kejatuhan Islam. Dan hal tersebut terus berlanjut hingga detik ini. 

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Oleh sebab itu fenomena banyaknya pemuda yang hijrah belakangan ini merupakan angin segar tanda kebangkitan Islam yang telah lama dinantikan. Namun demikian hal yang harus dicatat, hijrah haruslah 100 % alias hijrah total, tidak setengah-setengah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Jangan kita memilah-milah hukum Allah, ditaati hukum yang kita sukai dan ditinggalkan hukum yang tidak kita sukai. Hukum menutup aurat, hukum waris, hukum riba, poligami dan jihad perang adalah beberapa contoh hukum yang sering ditolak sebagian kaum Muslimin.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):216).

Allah swt memerintahkan kita untuk tuntas dalam melakukan segala sesuatu, tidak setengah-setengah. Dalam ilmu kedokteran mungkin kita bisa menyetarakannya dengan pasien yang minum antibiotic. Semua orang pasti tahu bahwa minum antibiotik harus sampai habis. Kalau tidak maka akan percuma, dan harus diulang dari awal.

Contohnya dalam shalat. Waktu dan jumlah rakaat tiap shalat sudah tertentu. Subuh 2 rakaat, haram hukumnya kita menambahnya menjadi 3 atau 4 rakaat dengan alasan 2 rakaat terlalu sedikit misalnya. Atau shalat yang sudah nyaris selesai tinggal salam, tetapi tiba-tiba buang angin. Sah kah shalat kita??? Tidak … kita harus mengulang dari awal, bahkan dari wudhu. Bahkan wudhupun harus sesuai syariat, tidak boleh sesuka hati.

Begitulah syariah Islam. Janji Allah Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin, kebaikan untuk seisi alam semesta, akan terpenuhi bila syariah dijalankan secara keseluruhan/tuntas tidak sebagian-sebagian. Bangsa Indonesia adalah mayoritas Muslim, merupakan jamaah haji terbesar seluruh dunia. Tapi adakah keberkahan di bumi kita tercinta?? Bukankah Allah swt telah menganugerahi bangsa ini tanah yang sangat subur, dengan sumber kekayaan alamnya yang tak terhingga?

Mari kita introspeksi, tingkat berapakah korupsi negara kita di dunia? Bagaimana dengan sistim per-bank-an kita yang sarat riba itu?? Bagaimana pula tingkat kriminalitas, perkosaan, pedophili, prilaku menyimpang seperti homoseksualitas, perzinaan, pengguguran kandungan dll yang semua jelas-jelas terlarang dalam Islam??? Belum lagi perpecahan antar kelompok Islam yang makin lama meruncing seolah tidak ada rasa kasih sayang antar mereka.  

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Harus diingat musuh kita bukan “cuma” syaitan yang membisik-bisiki hati, tapi juga musuh nyata yang menyerang berbagai lini kehidupan, yang popular dengan sebutan 7 F( Fashion, Food, Film, Free thingking, Free sex, Fun dan Friction).

Jadi bila kita memang sungguh-sungguh ingin kembali mencapai kejayaan Islam seperti dulu maka tidak ada jalan lain selain harus hijrah sebenar-benar hijrah, hijrah dalam segala hal, dengan niat murni demi menggapai ridho-Nya.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 September 2020.

Vien AM.