Feeds:
Posts
Comments

4. Mengobati sakit mata.

Sebelum penaklukan Benteng Khaibar, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai pemegang bendera pasukan. Namun ternyata Ali sedang menderita sakit mata. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam segera memanggilnya, lalu mengusap mata Ali yang sakit dengan ludah beliau. Seketika, mata Alipun menjadi sembuh seolah-olah tak pernah sakit mata.

Di lain waktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat kabar bahwa keluarga Qatadah berniat memotong dan membuang mata  Qatadah radhiyallahu ‘anhu yang tercongkel dalam Perang Uhud karena sakit yang tak tertahankan, dan berpikir mustahil untuk disembuhkan. Ketika itu bola matanya keluar bersama urat-uratnya, menjulur ke wajah beserta darah yang mengalir deras.

Maka Rasulullah segera memanggil Qatadah. Kemudian dengan telapak tangan beliau bola mata yang terjulur tersebut didorong masuk ke dalam lubang matanya. Seketika itu pula sembuh mata Qatadah seperti tidak pernah terluka.

5. Berbicara dengan pohon.

“Maukah kamu aku pindahkan ke kebun kurma semula, sehingga bisa berbuah dan memberikan makanan bagi orang-orang yang beriman? atau aku pindahkan ke surga, setiap akarmu meminum air dari minuman surga, lalu para penghuni surga menikmati buah kurmamu?”

Itulah yang dikatakan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebuah pohon yang berada tidak jauh dari rasulullah dan para sahabat.  Peristiwa tersebut terjadi tak lama setelah rasulullah memulai khutbah dari yang biasanya bersandar ke pohon kurma tersebut pindah ke mimbar. Ketika itu para sahabat terkejut mendengar ada suara mirip tangisan keluar dari pohon tersebut.

Rasulullahpun  segera mendekati pohon tersebut. Kemudian berbicara sebagaimana diatas sambil meletakkan tangan beliau ke batang pohon kurma tersebut dan mengusapnya. Setelah itu beliau memeluk pohon kurma tersebut hingga suara raungan mereda dan akhirnya berhenti.

Ternyata pohon kurma tersebut memilih pilihan kedua. Nabipun bersabda: af’al Insha Allah sebanyak 3 kali. Kemudian kepada para sahabat Nabi bersabda kembali; “Demi Allah, yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau tidak aku tenangkan dia, dia akan terus merintih sampai hari kiamat karena kerinduannya kepadaku”.

Tempat dimana pohon kurma dulu berdiri itu hingga sekarang masih bisa kita temui di dalam Masjid Nabawi. Itulah yang dinamakan Ustuwanah Hannanah yang artinya ‘Pilar Tangisan’. Pilar tersebut terletak di selatan area Raudhah persis di belakang mimbar.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan pohon tidak hanya sekali itu saja.

Suatu hari, Jabir dan para sahabat lain berjalan bersama Rasulullah, hingga berhenti di sebuah lembah yang luas. Rasulullah kemudian pergi untuk membuang hajat. Jabir lantas mengikuti beliau dengan membawa kantong kulit berisi air. Saat itu, Nabi melihat ke sekeliling dan tidak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai tabir (penghalang).

Di pinggir lembah, terdapat dua pohon. Rasulullah kemudian menghampiri salah satu pohon dan meraih satu dahan sambil berkata, “Menunduklah kepadaku dengan izin Allah!” Pohon itu pun menunduk di hadapan Rasulullah seperti unta yang penurut.

Kemudian, Rasulullah menghampiri pohon yang lain, lalu meraih sebuah dahan sambil mengatakan, “Menunduklah kepadaku atas izin Allah!” Pohon itu pun menunduk di hadapan beliau, dan muncullah celah di antara kedua pohon itu.

“Saling mendekatlah kalian kepadaku atas izin Allah!” kata Nabi. Kedua pohon itu pun saling mendekat dan melekat.

Kemudian, Jabir pun menjauh dari tempat itu karena khawatir jika Rasul mengetahui ia di dekatnya. Jabir menjauh darinya sambil berbicara kepada diri sendiri, hingga ia mendengar suara mendekat. Ternyata, itu suara Rasulullah yang sedang mendekat ke arahnya. Ia melihat kedua pohon itu telah berpisah dan masing-masing telah berdiri tegak kembali.

Para sahabat diantaranya Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi juga menceritakan suatu hari pernah melihat sebuah pohon menjadi saksi kerasulan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika itu Rasulullah mengajak seorang Baduy untuk bersyahadat. Namun orang tersebut tidak serta merta mempercayai Rasulullah.

“Siapa yang menjadi saksi atas apa yang kau katakan itu?” tanya orang tersebut.

“Pohon ini,” Rasulullah menunjuk sebuah pohon, ada yang berpendapat bahwa itu adalah pohon kurma. Pohon itu berdiri tegak di atas akarnya, di tepi sebuah lembah.

Begitu Rasulullah menunjuknya, pohon itu tiba-tiba bergerak. Dengan ajaib, pohon kurma itu berjalan menuju Rasulullah kemudian berhenti tepat di hadapan nabiyullah. Pohon itu pun kemudian merunduk di hadapan sang kekasih.

Rasulullah lalu meminta pohon tersebut untuk bersaksi tiga kali sebagaimana sabda beliau. Yakni bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah. Pohon itu pun melakukannya. Ia bersyahadat tiga kali. Setelah itu, Rasulullah menyuruh pohon itu kembali ke tempatnya. Ia menurut dan berjalan kembali ke tepian lembah. Arab Badui yang menyaksikan begitu terkejut. Ia menyaksikan keajaiban mukjizat Rasulullah dengan mata kepalanya. Pria Badui itu pun kemudian bersyahadat di hadapan nabi, saat itu juga.

6. Segelas susu mengenyangkan banyak orang.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu adalah shahabat Nabi yang sangat miskin tetapi amat banyak ilmunya dan kuat hafalannya. Dia sering mengalami kelaparan. Pada suatu hari ketika Abu Hurairah sedang duduk di jalan, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatinya dan tersenyum melihatnya. Beliau sangat mengerti akan penderitaan Abu Hurairah. Karenanya, berkatalah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaa Aba Hirr!” Abu Hurairah menjawab, “Labbaika, yaa Rasulullah (aku datang memenuhi panggilanmu, wahai Rasulullah).” beliau berkata, “Ikutilah aku!”

Maka Abu Hurairah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke rumahnya. Kemudian beliau mengizinkannya masuk. Di sana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemukan segelas susu.

Beliau bertanya kepada istrinya, “Dari mana susu ini?” Istrinya menjawab, “Dari Fulan, ia menghadiahkannya untukmu.” Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memanggil Abu Hurairah, “Yaa Aba Hirr!” “Labbaika, yaa Rasulullah,” jawabnya. “Pergilah dan panggil ahlush shuffah.”

Ahlush shuffah adalah sekumpulan sahabat yang tinggal di masjid Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak punya harta dan keluarga di kota Madinah. Abu Hurairah merasa berhak mendapat seteguk lebih dahulu agar kekuatannya yang hilang bisa kembali. Nanti, jika ahlush shuffah datang, tentu Abu Hurairah yang akan melayani mreka. Ia khawatir jika tidak kebagian.

Namun Abu Hurairah tidak mau menentang perintah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Abu Hurairah segera memanggil ahlush shuffah. Mereka pun datang ke rumah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Abu Hurairah, “Yaa Aba Hirr!” “Labbaika, yaa Rasulullah.” “Terimalah ini dan bagikan kepada mereka!” Maka Abu Hurairah memberikan gelas berisi susu itu kepada orang pertama. Orang itu meminumnnya sampai puas.

Kemudian gelas tersebut dikembalikan kepada Abu Hurairah. Lalu diberikan lagi kepada orang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga semua merasa puas. Sungguh menakjubkan! Gelas itu pun diterima kembali oleh Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian tersenyum kepada Abu Hurairah dan berkata, “Yaa Aba Hirr!” “Labbaika, yaa Rasulullah.” Sekarang tinggal aku dan kamu.” “Benar, wahai Rasulllah.” “Duduklah dan minum!”

Dengan penuh suka cita maka Abu Hurairahpun duduk dan minum.  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam terus memerintahkannya minum sampai Abu Hurairah berkata, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, sudah tidak ada tempat lagi dalam perutku”. Kemudian  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikan kepadaku gelas itu.” Beliau memuji Allah dan bersyukur lalu membaca, “Bismillah,” dan meminum sisa susu itu. (Sumber: H.r. Al-Bukhari, no. 6087).

Bersambung.

Para nabi dan rasul adalah manusia istimewa yang dipilih Tuhannya dengan tugas yang juga istimewa. Tugas tersebut tugas yang amat sangat berat, yaitu mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah subhanallahu wa ta’ala, Sang Maha Pencipta Yang Hanya Satu. Untuk itu Sang Khalik membekali mereka dengan berbagai bentuk mukjizat sebagai bukti kebenaran kenabian mereka, bahwa mereka benar-benar diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata dasar Mukjizat adalah dari ‘Ajaza-Yu’jizu yang artinya membuat orang lemah. Maksudnya agar orang yang melihat mukjizat menjadi lemah tak berdaya karena tidak mempunyai alasan untuk tidak percaya apa yang dibawa para nabi dan rasul. Itu sebabnya Mukjizat adalah sesuatu yang di luar nalar dan pengetahuan manusia. Sesuatu yang luar biasa, yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa. Mukjizat juga biasanya tidak bisa dilakukan lagi, hanya sekali terjadi, tidak bisa dilakukan berulang-ulang meski yang bersangkutan menginginkannya.

Mukjizat setiap nabi dan rasul berbeda-beda, biasanya Allah sesuaikan dengan keadaan kaumnya. Sebagai contoh mukjizat nabi Ibrahim as yang bisa keluar dari kobaran api dengan selamat tanpa tersentuh api sedikitpun. Atau nabi Musa as yang hidup di zaman keemasan sihir. Maka Allah memberikan nabi Musa mukjizat tongkat yang ketika dilempar berubah menjadi ular. Atau nabi Isa as yang diutus pada suatu kaum dimana ilmu kedokteran sedang berkembang pesat. Maka Allah berikan nabi Isa mukjizat menyembuhkan orang yang sakit lepra. Bahkan pernah suatu saat menghidupkan orang yang sudah mati, dengan izin Allah tentu saja.

Sementara nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup di zaman tanah Arab berada pada puncak keemasan keindahan dan kefasihan bahasa dengan sya’ir-sya’irnya, maka Allah turunkan Al-Qur’an yang merupakan kalamullah/firman Allah, dengan ketinggian dan keindahan bahasanya. Yang di kemudian hari terbukti bukan hanya unggul dalam keindahan bahasanya tapi juga kandungannya yang sesuai ilmu pengetahuan dan sains hari ini. Karena Al-Quran memang Allah turunkan untuk semua manusia hingga akhir zaman nanti. Itu sebabnya Al-Quran disebut sebagai mukjizat terbesar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal tersebut diakui banyak ilmuwan masa kini.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ‘Tidak seorang nabipun kecuali ia diberi beberapa mukjizat yang tak bisa diserupai oleh apapun sehingga manusia mengimaninya, dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah berupa wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi manusia yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat”.

Namun demikian sebenarnya Rasulullah memiliki mukjizat selain Al-Quran yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan seperti nabi Sulaiman yang diberi kemampuan bisa berbicara dengan binatang dan menaklukan jin, begitu pula Rasulullah. Sayang riwayat-riwayat tersebut kurang dipublikasikan.  Para ulama menyebutkan bahwa Allah swt mengaruniakan Rasulullah tak kurang dari tiga ribu mukjizat, selain Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an sendiri mengandung enam puluh atau tujuh puluh ribu mukjizat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Ayat-ayat dan burhan yang menunjukkan kenabian Nabi kita Muhammad sangat banyak dan beragam, lebih banyak dan lebih agung daripada ayat-ayat nabi sebelum beliau”.

Berikut beberapa mukjizat Rasulullah selain Al-Qur’anul Karim :

1. Isra’ Mi’raj.

Isra’Miraj adalah mukjizat Rasulullah terbesar setelah Al-Quran. Pada peristiwa tersebut dengan menaiki Buraq, binatang sejenis burung, Rasulullah  terbang dari Mekah menuju Masjidil Aqsho di Palestina. Dari masjid ke tiga tersuci umat Islam tersebut Buraq membawa Rasulullah ke langit menuju singgasana Sang Khaliq. Disanalah Rasulullah menerima perintah shalat 5 waktu yang kemudian menjadi kewajiban seluruh umat Islam dimanapun berada.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. ( Terjemah QS. Al-Isra(17):1).   

“Hingga akhirnya Allah berfirman, “Hai Muhammad, shalat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap shalat berpahala sepuluh shalat, maka itulah lima puluh kali shalat”. … …  Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya”. Maka aku menjawab, “Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya”. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim).

2. Terbelahnya bulan

Suatu ketika orang-orang kafir Mekah menantang Rasulullah untuk membuktikan ke-rasulannya. Maka Allah menunjukkannya dengan terbelahnya bulan di hadapan mereka.

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu`jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus“.(Terjemah QS. Al-Qomar(54):1-2).

Peristiwa terbelahnya bulan tidak hanya dijelaskan dalam Al-Quran tapi juga dalam hadist. Itupun tidak hanya sekali melainkan dua kali sebagaimana hadist berikut :

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Ia berkata,

Dua kali beliau perlihatkan bulan terbelah.” (HR. Muslim dalam Kitab Sifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Nar 2802 dan Ahmad 13177).

Peristiwa pertama terjadi di Mina.

Bulan terbelah. Saat itu kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mina.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah 3656).

Dan kejadian kedua terjadi di Mekah. Yaitu sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu:

“Aku melihat bulan terbelah menjadi dua bagian sebanyak dua kali. Peristiwa ini terjadi di Mekah sebelum hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu potongan di atas Gunung Abu Qubais dan potongan lainnya di atas as-Suwaida. Mereka berkata, ‘Bulan telah disihir’. Turunlah firman-Nya: ‘Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan’.” (HR. al-Hakim 3757. Ia berkata, “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan muslim walaupun keduanya tidak meriwayatkannya. Disepakati oleh adz-Dzhabai).

Mukjizat tersebut disaksikan tidak hanya oleh para sahabat tapi juga orang-orang kafir Mekkah. Meski demikian orang-orang kafir tersebut mendustakan beliau bahkan menyebutnya sebagai sihir.  Dikemudian hari sejumlah ilmuwan yang meneliti bulan mengakui bahwa ada tanda-tanda bahwasanya pada suatu ketika bulan pernah terbelah.  

3. Air memancar dari sela-sela jemari.

Sebuah wadah air pernah disodorkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelupkan tangannya ke dalam wadah air itu. Maka, air memancar dari sela-sela jemari tangan beliau. Dengan air itu, para sahabat berwudhu. Jumlah mereka waktu itu adalah 300 orang. (HR. Al-Bukhari, no. 3572).

Bersambung.

Dalam sebuah pidatonya presiden Turki Recep Tayyib Erdogan  bercerita tentang kisah menarik antara Hulagu Khan penguasa Mongol yang kejam dengan Kadihan, seorang guru sebuah madrasah.

Sebagaimana diketahui pada tahun 1258 M, Hulagu Khan cucu Jengis Khan kaisar Mongol, mendapat perintah untuk menaklukkan Asia Tengah dan Timur Tengah  yang ketika itu dibawah kekuasaan dinasti Abbasiyah. Tanpa perlawanan berarti Hulagu yang dikenal bengis dan kejam berhasil memporak-porandakan dinasti Islam tersebut.

Baghdad ibu kota Abbasiyah yang ketika itu merupakan pusat budaya dan ilmu pengetahuan dibumi hanguskan. Masjid-masjid megah nan cantik, perpustakaan, madrasah dan bangun-bangunan bersejarah lainnya luluh lantak. Pasukan Abbasiyah nyaris 400 ribu termasuk rakyat sipil tewas mengenaskan dihadapan Khalifah Al-Mustasim, khalifah terakhir Abbbasiyah.    

Sebelumnya Hulagu sempat menyodorkan khalifah malang tersebut sebuah nampan emas untuk dimakan, benar-benar untuk dimakan. Tentu saja Al-Mutasim menolaknya.

Lantas mengapa tuan menyimpannya?” tanya Hulagu sinis. “Alih-alih tuan bisa memberikannya kepada prajurit tuan? Mengapa tuan tidak meleburnya saja pintu besi istana ini lalu menjadikannya mata panah? Dengan panah-panah itu setidaknya tuan bisa menghalau pasukan saya.

“Ini semua kehendak Tuhan,” jawab sang Khalifah.

Kalau begitu, apa yang akan terjadi pada tuan setelah ini adalah kehendak Tuhan juga,” kata Hulagu mengakhiri percakapan.

Beberapa hari kemudian setelah menghancurkan Baghdad, Hulagu keluar dari kota tersebut dengan membawa serta khalifah Al-Mustasim, putra mahkota serta para pelayan. Hulagu lalu mengeksekusi mereka semua di sebuah desa bernama Waqaf. Sementara di istana Baghdad, sisa-sisa keluarga khalifah dibantai.

Kembali pada kisah yang diceritakan Erdogan. Suatu hari Hulagu menantang datang ke istananya ulama terbesar wilayah yang baru dikuasainya. Tapi tak ada satupun yang berani memenuhinya, kecuali Kadihan seorang guru muda sebuah madrasah yang datang ke istana dengan membawa seekor ayam, seekor unta dan seekor kambing bersamanya.

Dengan heran Hulagu memandangi anak muda tersebut dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil berkata, ”Mereka—ulama hanya menemukan orang seperti anda untuk bertemu denganku?? “

Kadihan dengan tenang menjawab,”Tuan, jika tuan ingin bertemu dengan yang lebih besar (dari saya), di luar markas ini ada saya bawa seekor unta. Atau jika anda ingin bertemu yang berjenggot, di luar sana saya ada bawa kambing. Bahkan jika anda ingin berjumpa dengan yang bersuara nyaring, di luar sana juga sudah siap seekor ayam jantan (jago).

Mendengar jawaban itu, Hulagu menyadari anak muda yang berani itu bukanlah orang sembarangan. “Baiklah, kata Hulagu, coba kamu jelaskan, apa yang telah membawa aku bisa datang ke sini (Baghdad)”.

Guru muda ini menjawab, ”Sesungguhnya perbuatan kami sendirilah yang telah membuat dan membawa tuan datang ke sini. Kami tidak pernah lagi mensyukuri nikmat Allah. Kami tenggelam dalam kesenangan dunia, berfoya-foya. Kami hanya sibuk mengejar pangkat dan jabatan, berebut kekuasaan dan kekayaan (dengan mengabaikan yang lain). Akhirnya Allah-lah yang telah menggerakkan tuan melangkah ke mari untuk menarik semua kenikmatan itu, hingga kamipun jadi begini,” katanya.

Hulagu kembali bertanya, “Lantas apa yang dapat mengusir aku dari negeri ini?”

Tuan Hulagu”, kata sang anak muda itu, “ Jika kami (bangsa ini) menyadari kembali, untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah, dan kamipun berhenti bertikai, maka ketahuilah, andapun tidak akan pernah bisa bertahan lama (menjajah dan menjarah) negeri kami ini”.

Erdogan menutup cerita yang disambut tepuk tangan riuh itu dengan pertanyaan : ”Fahamkan anda semua dengan apa yang saya sampaikan ini??” 

https://www.portal-islam.id/2019/07/pidato-erdogan-yang-sangat-menarik.html

Sungguh benar apa yang dikatakan Kadihan dan disampaikan kembali Erdogan kepada rakyatnya. Sejarah mencatat Abbasiyah pada saat datangnya pasukan Mongol sedang berada dalam masa kejayaannya. Kekayaan melimpah, rakyat hidup berkecukupan, Baghdad kota kosmopolitan gudang ilmu dimana para pejabatnya hidup berfoya-foya sebagaimana yang disindir Hulagu melalui nampan emasnya. Meski tidak lagi segemerlap masa-masa kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-803) atau Abdullah Al-Makmun (813-833).

Masa kejayaan dan budaya Islam telah terkikis sedikit demi sedikit. Pada saat Al-Mustasim naik takhta pada 1242, kekuatan politik maupun militer dinasti ini sudah jauh menurun dibanding khalifah-khalifah sebelumnya. Intrik politik, perang saudara di antara elite kekhalifahan, konflik Sunni-Syiah terjadi setiap waktu. Hingga ketika Hulagu datang menawarkan agar menyerah secara damai, Al-Mutasim menolaknya mentah-mentah tak sadar sudah tak memiliki kekuatan memadai menghadapi pasukan Mongol yang terkenal kejam dan begis tersebut. Maka berakhirlah kejayaan lima abad kekhilafahan Abbasiyah untuk selamanya.

Namun kebrutalan Hulagu dan pasukannya bukan semata karena Hulagu yang dikenal bengis, tapi juga disebabkan salah satu istri dan jendral andalan Hulagu, Dokuz Khatun yang beragama Kristen. Keduanya menyimpan benci dan dendam terhadap kekalahan Romawi dan Persia dari pasukan khalifah Umar bin Khattab pada abad 7.

Sebaliknya Hulagu juga tidak bertahan lama di wilayah bekas Abbasiyah. Ia dikalahkan oleh Berke Khan sepupu Hulagu pendiri Khanat Berke kerajaan Mongol Islam di Eropa Timur. Berke memeluk Islam setelah bertemu seorang ulama kharismatik di Bukhara. Kemenangan ini diawali dengan kemenangan Sultan Qutuz dari kerajaan Mamluk Mesir dan Baibar yang bersatu melawan pasukan Hulagu dibawah jendral Dokuz Khatun dalam perang Ain Jalut. Hulagu sendiri absen karena sedang ada urusan mendesak di Mongol.

Sekembalinya Hulagu bermaksud membalas kekalahan pasukannya. Namun ia terkejut mendapati yang harus dihadapi adalah sepupunya sendiri yang telah memeluk Islam. Berke bahkan tanpa ragu menunjukkan bahwa persaudaraan sesama Muslim lebih tinggi nilainya dari ikatan darah. Berke telah menunjukkan ketinggian dan kwalitas keimanannya meski belum lama memeluk Islam. Sesuatu yang harusnya membuat malu kita yang terlahir Islam tapi tidak memiliki rasa tersebut.

Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.’‘ (HR Bukhari dan Muslim).

Hulagu telah menghancurkan semua kota Muslim dan telah menyebabkan kematian khalifah. Dengan bantuan Allah, saya akan memanggilnya untuk menghitung begitu banyak darah orang yang tidak bersalah”, demikian isi surat Berke yang ditujukan kepada Hulagu.

Ditambah dengan penaklukan Konstatinopel pada 1453 oleh Sultan Memed II dari Turki Ustmani, Islampun kembali meraih cahayanya kembali. Islam terus berjaya dan sedikit demi sedikit kembali menuju kejatuhannya pada 1923 yaitu dengan jatuhnya kekhalifahan Turki Ustmani setelah 5 abad berkuasa.    

Selanjutnya Erdogan yang terpilih menjadi presiden pada 2014 berhasil mengeluarkan Turki dari kesekulerannya. Ia berhasil mengembalikan berkumandangnya adzan dalam bahasa aslinya yaitu Arab, pemakaian jilbab, shalat Subuh berjamaah di masjid, juga difungsikannya kembali Aya Sofia sebagai masjid. Pada saat itu Erdogan bahkan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan indah dan syahdunya.

Dan melalui pidatonya tentang kisah Hulagu dan Kadihan yang kemudian viral itu, Erdogan mengingatkan pentingnya mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana dicontohkan para sahabat, serta menguatkan persatuan sesama Muslim, bila Islam ingin kembali mencapai kejayaannya.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):110).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan/khaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku.” (HR. Tirmidzi).

Akhir kata semoga kita sebagai Muslim Indonesia juga dapat ikut berpartisipasi dalam meraih kembalinya kejayaan Islam, sebagaimana yang juga diharapkan almarhum Syeikh Ali Jaber ulama yang giat dalam pembinaan hafidz cilik Indonesia. Ulama asli Madinah yang wafat beberapa hari lalu ini sangat berharap suatu hari nanti ada diantara santrinya bisa memimpin negri yang sangat dicintainya, yaitu Indonesia.

https://turkinesia.net/index.php/2020/09/15/syekh-ali-jaber-kagumi-erdogan-yakini-indonesia-akan-lahir-pemimpin-adil-dan-hafidz-al-quran/

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Januari 2021.

Vien AM.       

Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Eropa dan Amerika Serikat.” —New York Times

Lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) Pew Research Center (PRC) memprediksi, Islam akan menjadi agama terbesar di dunia pada 2075. Hal ini terjadi seiring dengan terus bertambahnya kelahiran di keluarga Muslim. Hasil riset yang dilansir the Guardian, beberapa waktu lalu itu juga menyebut, selama dua dekade mendatang jumlah bayi yang lahir dari keluarga Muslim akan menyalip jumlah bayi yang lahir dari keluarga Kristen.

Pada 2020, jumlah Muslim mencapai kurang lebih 25 persen dari sekitar 7.7  miliar jiwa penduduk dunia. Pertumbuhan Islam itu, harus diakui banyak disumbang dari proses perpindahan iman (mualaf) yang mulai marak pasca tragedi 9/11 di Amerika. Namun sejatinya perpindahan iman tersebut telah terjadi jauh sebelum itu. Berikut 5 tokoh mualaf manca negara yang mampu membawa perubahan dalam sejarah dunia.

1.  Berke Khan (1209- 1266), penakluk Eropa Timur dari Mongol.

Berke Khan adalah cucu Jenghis Khan, penakluk kenamaan Mongol.  Ia adalah orang Mongol pertama yang memeluk Islam. Ia berkuasa pada tahun 1257 hingga syahidnya di medan perang pada 1266. Kekuasaannya meliputi Rusia, Bulgaria, Rumania dan wilayah Kaukasus. Selanjutnya Berke memperluas kekuasaannya hingga ke Polandia dan Lithuania.

Berke bersama saudaranya Batu Khan, mendapatkan mandat untuk menaklukan Eropa Timur, bersamaan dengan Hulaghu Khan, cucu Jengis Khan lain yang mendapatkan tugas untuk menaklukan Asia Tengah dan Timur Tengah  yang ketika itu dibawah kekuasaan dinasti Muslim Abbasiyah.

Dalam perjalanannya menuju Rusia, rombongan Berke berpapasan dengan kafilah dagang Muslim di kota Bukhara. Pasukannya lalu menginterogasi mereka, dan Berke sangat terkesan oleh keberanian, ketenangan, dan ketangkasan ulama yang menjadi juru bicara dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan pasukannya. Berkepun kemudian memeluk Islam, diikuti banyak pengikutnya.

Pada saat yang sama ia mendengar berita kebrutalan yang dilakukan Hulaghu pada saat menaklukan wilayah dinasti Abbasiyah. Sepupunya itu melakukan pembantaian terhadap penduduk yang tidak berdosa, merusak warisan ilmu yang dimiliki, serta menghancurkan berbagai bangunan bersejarah. Berke sangat marah dan kecewa bercampur malu.

Maka ketika Syaifudin Qutuz, sultan Mamluk penguasa Mesir, memintanya untuk membantu menghadapi pasukan Hulaghu, Berke dengan senang hati mengabulkan permintaan tersebut. Di kemudian hari pasukan gabungan Berke dan Mamluk dalam perang Ain Jalut yang fenomenal tersebut dikenang sebagai penyelamat dunia Islam dari kebrutalan bangsa Mongol. Mereka berhasil menghentikan laju pasukan  Hulaghu dan mempertahankan wilayah Mesir, Syria, dan Hijaz dari serangan pasukan Mongol yang kejam.

2. Zaganos Pasha ( 1446 – 1461 M), penasehat Sultan Muhammad al-Fatih.

Zaganos Pasha adalah seorang penganut Kristen asal Albania. Ia direkrut menjadi Yenicheri, pasukan elit kesultanan Turki Utsmani. Seperti Yenicheri lainnya, ia dibekali ilmu agama Islam, administrasi pemerintahan, dan pelatihan militer. Ia ditunjuk menjadi mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Muhammad al-Fatih yang ketika itu masih sangat belia.

Saat al-Fatih dilantik sebagai raja Utsmani, Zaganos yang juga masih relative muda diangkat menjadi seorang menteri. Zaganos selalu dilibatkan dalam semua urusan negara, terutama rencana penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Dalam pengepungan Konstantinopel, pasukannya yang pertama kali berhasil mencapai menara benteng yang dikenal sangat kokoh tersebut. Zaganoslah yang menancapkan bendera Turki di atap Menara. Dan atas prestasinya itu, salah satu menara di benteng Konstantinopel dinamakan dengan namanya yaitu Menara Zaganos Pasha.

Zaganos dikenal sangat loyal dan penuh semangat. Ia berhasil membantu mengembalikan tekad dan semangat para pasukan yang pada saat itu sempat dilanda keputus-asaan karena selama beberapa bulan pengepungan tidak juga  berhasil membobol pertahanan kota bersejarah tersebut. Peninggalan-peninggalan Zaganos masih tersisa di wilayah Edrine berupa masjid, dapur umum, dan pemandian umum. Sayang awal ke-Islam-an Zaganos tidak diketahui secara umum. 

3. Ibrahim Muteferrika (1674 – 1745 M), duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia

Ibrahim Muteferrika adalah seorang berdarah Hungaria yang di kemudian hari memeluk Islam. Ia menjabat sebagai duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia pada saat dinasti tersebut sedang mengalami stagnansi inovasi.

Usai tugas di kedua negara Eropa Barat tersebut, Muteferrinka kembali ke Istanbul membawa ide Renaisans dan penggunaan mesin cetak. Dengan bantuan alat tersebut ia berhasil mengkopi atlas, kamus, dan buku-buku Islam.  Di antara banyak karya yang dicetaknya, ada atlas buatan ahli geografi terkenal Katip Çelebi yang dibuat pada tahun 1728. Atlas tersebut memuat ilustrasi dunia dengan detail dan tingkat presisi yang mengagumkan untuk ukuran saat itu. Satu diantara isi dari serial Cihannuma (Geografi Alam Semesta) yang diilustrasikan oleh  buku peta cetakan pertama tersebut adalah peta Indonesia.  

Muteferrinka juga menulis dan mencetak buku-buku dengan berbagai topik, seperti sejarah, teologi, sosiologi, dan astronomi. Muteferrika meninggal di Istanbul. Patungnya hingga kini berdiri tegak di Sahaflar Çarşısı, Grand Bazaar,  Istanbul.

4. Alexander Russel Webb (1846 – 1916 M), diplomat Amerika.

Di akhir abad 19, dunia jurnalistik Amerika mulai memasuki era baru. Pengaruh dunia tulis-menulis sangat besar dan efektif dalam membentuk opini di masyarakat. Salah seorang yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Alexander Russel Webb.

Webb dilahirkan dari orang-tua beragama Kristen, namun semakin hari agama tersebut malah menimbulkan keraguan baginya, hingga hilanglah kepercayaannya dengan agamanya tersebut. Setelah kepercayaan terhadap agama Kristen hilang, ia mulai membuka diri dan mempelajari agama-agama selain Kristen.

Penunjukkan dirinya sebagai seorang pejabat kedutaan Amerika di Philipina pada tahun 1887, makin membuka ketertarikannya pada Islam. Ia mengawalinya ke-Islam-annya melalui paham Ahmadiyah. Namun ia terus belajar dan memperdalam ke-Islam-annya dengan menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam dan bertemu dengan para ulama sehingga ia mendapatkan pemahaman yang baik tentang Islam dan terlepas dari pengaruh Ahmadiyah.

Tahun 1893, ia mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan kembali ke Amerika. Di negeri Paman Sam inilah ia memulai dakwahnya menyeru kepada Islam. Dengan kemampuan jurnalistiknya, ia menulis sejumlah buku dan kolom-kolom opini di media masa menjelaskan kepada masyarakat Amerika tentang Islam. Di awal abad 20, ia semakin dikenal sebagai seorang Muslim yang giat dan vokal dalam mendakwahkan Islam di Amerika, bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, memberinya gelar kehormatan dari kerajaan sebagai apresiasi terhadap apa yang telah ia lakukan.

5. Muhammad Marmaduke Pickthall (1875-1936), jurnalis novelis Inggris.

Pickthall lahir dari keluarga kelas menengah Inggris dengan nama William Pickthall. Ayahnya adalah seorang pendeta Anglikan yang meninggal ketika ia masih kanak-kanak. Pada usia muda Pickthall mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu Bahasa termasuk bahasa Arab. Ia berharap suatu saat bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang konsuler di Palestina. Di usianya yang belum genap 18 tahun, ia memutuskan untuk berlayar ke Port Said, Mesir.

Perjalanan ke Port Said ini menjadi awal mula petualangannya ke negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah dan Turki. Keahliannya dalam berbahasa Arab telah memikat penguasa Ottoman. Atas undangan dari pihak Kesultanan Ottoman, Pickthall yang kala itu belum menjadi seorang Muslim, mendapat tawaran untuk belajar mengenai kebudayaan Timur. Hasinya, selama masa Perang Dunia I tahun 1914-1918, ia banyak menulis surat dukungan untuk Turki Usmaniyah.

Setelah akhirnya memutuskan memeluk Islam pada tahun 1917, Pickthall aktif dalam berbagai kegiatan dakwah.  Ia mempunyai cita-cita besar untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Ia berkeyakinan adalah tanggungjawab semua umat Muslim untuk memahami Al-Quran secara utuh. Cita-cita mulia tersebut  akhirnya terealisasi 11 tahun kemudia, yaitu pada tahun 1928.

Karya Pickthall ini menjadi karya pertama penulisan makna Al-Quran dalam bahasa Inggris oleh orang Inggris asli. Karya mulia tersebut tercatat sebagai salah satu dari dua karya terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris yang sangat populer. Karya lainnya ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali dari India.

Terjemah Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris juga pernah dilakukan seorang mualaf, yaitu Leopold Weiss ( Muhammad Asad), jurnalis asal Austria/Hungaria yang tadinya memeluk Yahudi. Asad bahkan melengkapi terjemahan yang berjudul “The Message of the Qur’an” itu dengan tafsir singkat berdasarkan pengetahuannya dalam bahasa Arab klasik dan tafsir-tafsir klasik. “Road To Mecca” adalah salah satu buku tulisannya yang terkenal.

Akhir kata semoga Islam terus berkembang menyinari seluruh sudut-sudut dunia yang fana ini, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 11 Januari 2021.

Vien AM.

Diambil dari beberapa sumber:

https://rmol.id/read/2020/04/07/429203/mengenang-berke-khan-muslim-mongol-pertama-penyelamat-dunia-islam

https://republika.co.id/berita/ocdg6b313/4-mualaf-ini-pengaruhi-sejarah-dunia

https://republika.co.id/berita/q65cfd440/muhammad-marmaduke-pickthall-sang-mualaf-penerjemah-alquran

https://republika.co.id/berita/qhakr4320/kala-pohon-bicara-dengan-rasulullah-saw-dan-islamkan-badui

Keteguhan Hati Rasulullah.

Paman, demi Tuhan, andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku untuk memaksaku agar meninggalkan tugas suci ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan sampai Tuhan memberiku kemenangan atau aku mati karenanya”.

Itulah jawaban tegas yang diucapkan Rasulullah Muhammad saw ketika Abu Thalib, paman yang amat disayangi dan dihormatinya itu memintanya untuk menghentikan dakwah yang membuat para pemuka Quraisy kebakaran jenggot. Abu Thalib yang selama itu senantiasa melindungi dan menjaga keponakan yang sangat dicintainya itu rupanya sudah tak tahan menghadapi tekanan para pejabat Quraisy tersebut.

Namun mendengar keteguhan Rasulullah yang begitu luar biasa Abu Thalibpun terdiam. Rasa kagum tak dapat dipungkiri merasuki hati Abu Thalib. Ia menyadari segala kerusakan yang terjadi di Mekah, kebejatan ahlak seperti mabuk-mabukan, perjudian, pelacuran, penindasan kaum yang lemah dll, memang sudah mencapai puncaknya.

Maka akhirnya Abu Thalib menyerah dan sejak itu tidak pernah sekalipun meminta keponakannya berhenti berdakwah. Bahkan melindunginya lebih ketat lagi, hingga akhir hayatnya. Hal ini membuat orang-orang Quraisy terutama para petingginya makin kesal. Dengan teganya mereka sebarkan berita bahwa bahwa Muhammad gila, tukang sihir dll. Namun dengan sabar Rasulullah menghadapi hinaan dan berbagai fitnah keji yang menimpa beliau.   

Mereka bahkan nekad memboikot tidak hanya rasulullah tapi juga keluarga besar rasulullah.Tiga tahun lamanya keluarga bani Hasyim dan bani Muthalib diasingkan dan dikucilkan dari pergaulan dan perekonomian. Mereka dipaksa hidup di pemukiman sempit dan terjal ( syi’ib) tanpa bisa keluar dan melakukan aktifitas apapun.

Suku Quraisy yang terdiri atas beberapa bani itu dilarang mengadakan jual beli dengan kedua keluarga bani tersebut. Tidak boleh ada perdamaian, belas kasih, pertemanan, persahabatan apalagi pernikahan dengan anggota ke dua bani tersebut. Bahkan dua putri rasulullah yang waktu itu masih berstatus sebagai istri dari dua anak Abu Lahab, dipaksa cerai oleh Abu Lahab. Puncaknya adalah rencana pembunuhan terhadap Rasulullah. Hal ini dilakukan begitu Abu Thalib meninggal.  

Akhirnya atas perintah Allah swt rasulullahpun berhijrah ke Madinah. Di kota ini Rasulullah mendapat sambutan hangat penduduk yang Allah namakan sebagai kaum Ashar. Sementara mereka yang berhijrah dinamakan sebagai kaum Muhajirin. Di Madinah (dulu Yatsrib) inilah Islam berkembang pesat.

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung“. (Terjemah QS. Al-Hasyr (59):9).

Kecintaan dan rasa persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin yang dilandasi atas dasar takwa tersebut melahirkan kekuatan maha dasyat. Ini yang menjadi kunci kemenangan Islam. Perang terbuka antara kaum Muslimin melawan Quraisy yang didukung Yahudi Madinah yang merasa terancam kedudukan dan agamanyapun tak terhindarkan, bahkan beberapa kali terjadi.

Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).  

Dan hanya atas izin Allah Azza wa Jala, perjuangan panjang dan maha berat Rasulullah dibantu para sahabat akhirnya membuahkan hasilnya. Yaitu dengan terjadinya Penaklukan Mekah (Fathu Makkah) pada tahun 632 M/10 H, sekitar 22 tahun sejak turunnya ayat pertama yang menunjukkan diangkatnya Muhammad menjadi utusan Allah swt.

Ibnu Ishaq berkata, “ Setelah orang-orang berkumpul di sekitarnya, nabi saw sambil memegang kedua penyangga pintu Ka’bah mengucapkan khutbah kepada mereka”,

Tiada Ilah kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah ( Allah) yang menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya ( Muhammad) dan mengalahkan musuh-musuh sendirian. Sesungguhnya segala macam balas dendam, harta dan darah semuanya berada di bawah kedua kakiku ini kecuali penjaga Ka’bah dan pemberi air minum kepada jamaah haji. Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya, Allah telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah dan mengagungkan dengan keturunan. Semua orang berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah”.

Selanjutnya Rasulullah membacakan ajat 13 surat Al-Hujurat sebagai berikut :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat di atas menjadi bukti betapa sejak mula toleransi antar suku, bangsa dan agama adalah bagian dari ajaran Islam. Tidak ada paksaan dalam memasuki Islam. Namun begitu seseorang telah meng-ikrarkan diri sebagai Muslim/Muslimah maka ia terikat pada hukum lslam apapun bangsa, etnis, suku dan warna kulitnya. Islam bukan hanya urusan pribadi tapi juga dalam bermuamalah dan bermasyarakat karena Islam adalah way of life/pandangan hidup bukan sekedar agama dan keyakinan.

15 abad lewat sudah perjuangan berat Rasulullah mendakwahkan Islam. Berkat para sahabat dan ulama sebagai penerus nabi kita bangsa Indonesia mengenal Islam. Bahkan mayoritas penduduk negara kita tercinta adalah Muslim. Sungguh beruntung kita mempunyai Muhammad Rasulullah sebagai panutan dan contoh keteladanan.   

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Terjemah Al-Ahzab(33):21).

Namun dapat kita saksikan betapa buruknya keadaan kita sekarang ini. Korupsi, perjudian, pelacuran, perzinahan, homoseksual dll meraja-lela, persis keadaan Mekah di awal dakwah Rasulullah. Bedanya pada zaman nabi mereka belum mengenal ajaran Islam. Sedangkan sekarang???

Bahkan hari ini ulama yang berani menjalankan nahi mungkarpun dimusuhi karena dianggap melawan pemerintah. Adu domba dan perpecahan antar kelompok sesama Muslim makin meruncing. Ini masih ditambah lagi dengan fenomena akan diakuinya kelompok-kelompok seperti Syiah dan Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas disahkan sesat oleh MUI. Sejarah mencatat Sunni dan Syiah tidak pernah bisa bersatu sampai kapanpun.

https://almanhaj.or.id/3630-pokok-pokok-kesesatan-aqidah-syiah.html

Pertanyaan besar, akankah kita menyia-nyiakan perjuangan berat Rasulullah dan para penerusnya?? Tegakah kita melihat masa depan anak cucu kita terpuruk, tidak saja di dunia tapi juga di akhirat???

Akhir kata, semoga Allah swt ridho mengeluarkan bangsa ini dari kerusakan moral, semoga kita mampu meneladani Rasulullah, dan para ulama khususnya berani dan tegar mencontoh keteguhan rasulullah dalam menegakkan Islam, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …   

Ya Muqallibal qulub tsabbit qulubinna ‘ala dinika.”

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hati kami (agar) senantiasa berada di atas agamamu”. 

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Desember 2020.

Vien AM.

Siapa yang tak kenal Jenghis Khan, kaisar Mongol yang terkenal karena kebengisan dan kebrutalannya dalam menaklukkan tanah dan negri yang dimasukinya termasuk negri-negri Islam. Pada puncak kekuasaannya, Jenghis dan anak cucunya berhasil menaklukkan wilayah Asia Tengah, China, Rusia, sebagian Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Namun karena penaklukkannya tersebut tidak berlandaskan ideology apapun kecuali bermodalkan kekuatan militer dan nafsu menguasai maka banyak di antara mereka yang pada akhirnya terpengaruh oleh budaya dan agama bangsa/penduduk yang mereka jajah. Bahkan kemudian memeluk Islam. Tughluk Timur adalah salah satunya. Sementara yang pertama masuk Islam adalah Berke Khan (w. 1266). Ia adalah cucu Jenghis Khan dari anak pertamanya, Jochi. Berke Khan masuk Islam di tangan Saifuddin Boharzi, seorang Syeikh sufi dari Bukhara,

Tughluk Timur merupakan keturunan Jenghis Khan yang ketujuh, dari jalur Chagatai. Ia hidup lebih dari satu abad setelah Jenghis Khan. Kekuasaannya pada jaman sekarang ini mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, Kazakhstan, dan Barat Laut China (Xinjiang) yang penduduknya ketika itu mayoritas beragama Budha.

Sejarah pemerintahan Tughluk Timur dan keturunannya secara khusus tertulis dalam buku Tarikh-i-Rashidi yang disusun oleh Mirza Muhammad Haidar, seorang emir dari keluarga Dughlat. Mirza sendiri sempat memimpin wilayah Kashmir dan meninggal di wilayah itu.

Tarikh-i-Rashidi menceritakan kisah masuk Islam-nya Tughluk Timur. Pada suatu hari, Tughluk Timur yang masih berumur 18 tahun pergi berburu bersama beberapa orang bawahannya. Ketika itu tampaknya ia baru menjelang diangkat sebagai khan atau pemimpin Moghulistan. Tughluk memerintahkan orang-orang untuk menyertainya berburu, tidak boleh ada yang absen.

Ketika itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk beristirahat tak jauh dari tempatnya berburu. Maka ia pun memerintahkan agar orang-orang ini ditangkap, karena mereka telah melanggar perintahnya untuk ikut serta berburu. Mereka kemudian dibawa ke hadapan Tughluk Timur.

Orang-orang yang ditangkap ini adalah rombongan kecil yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin, seorang ulama keturunan Tajik. Saat berada di hadapannya, Tughluk bertanya kepadanya, “Mengapa kalian melawan perintah saya?”

Syeikh Jamaluddin kemudian menjawab, “Kami ini orang asing yang meninggalkan reruntuhan kota Katak. Kami tidak mengerti tentang perburuan dan aturan dalam berburu, karena itu kami tidak melanggar perintahmu.”

Apa yang dikatakan Syeikh Jamaluddin memang benar, sehingga Tughluk tidak memiliki alasan untuk menahan atau menghukumnya. Ia pun memutuskan untuk membebaskan mereka. Tapi mungkin masih ada rasa kesal dalam hatinya terhadap Syeikh Jamaluddin, sehingga ia mengajukan pertanyaan terakhir yang bertujuan menghinakannya. Ketika itu ia sedang memberi makan anjingnya dengan potongan daging babi. Maka ia pun bertanya kepada Syeikh Jamaluddin, “Apakah kamu lebih baik daripada anjing ini; atau anjing ini yang lebih baik daripada kamu?”

Syeikh Jamaluddin memberikan jawaban yang bijak, “Kalau saya memiliki iman, maka saya lebih baik daripada anjing ini; tapi kalau saya tidak memiliki iman, maka anjing ini lebih baik daripada saya.”

Tughluk rupanya terkesan dengan jawaban ini. Setelah selesai dari aktivitasnya, ia memutuskan untuk pulang dan ia memerintahkan anak buahnya untuk menaikkan Syeikh Jamaluddin ke atas kuda dan membawanya untuk menemuinya. Anak buah Tughluk kemudian membawa seekor kuda dan mempersilahkan Syeikh Jamaluddin naik ke atasnya. Saat melihat ada bekas darah babi pada sadel kuda itu, Syeikh Jamaluddin memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi karena terus didesak, ia akhirnya mengendarai kuda itu dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas sadel kuda itu.

Saat tiba di hadapan Tughluk, ia kembali ditanya, “Apa itu tadi yang sekiranya dimiliki oleh seseorang ia akan lebih baik daripada anjing?”

Iman,” jawab Syeikh Jamaluddin. Beliau kemudian menjelaskan apa itu iman dan menjelaskan tentang Islam kepada Tughluk Timur sehingga yang terakhir ini tersentuh dan menangis.

Tughluk kemudian berkata kepada Syeikh Jamaluddin, “Kalau nanti saya menjadi seorang Khan dan memiliki kekuasaan yang mutlak, kamu harus datang lagi kepada saya, dan saya berjanji akan menjadi seorang Muslim.” Ia kemudian menyuruh orang-orangnya untuk membawa pergi Syeikh Jamaluddin dengan penuh penghormatan.

Tak lama setelah kejadian itu, sebelum Tughluk diangkat menjadi seorang penguasa, Syeikh Jamaluddin meninggal dunia. Namun sebelum meninggalnya, ia menceritakan pengalamannya itu kepada anaknya yang bernama Arshaduddin yang juga alim dan soleh.

Ia berpesan kepada anaknya itu, “Karena saya mungkin akan meninggal dunia tak lama lagi, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kamu. Jika pemuda itu menjadi seorang Khan, ingatkan dia tentang janjinya untuk menjadi seorang Muslim; dengan begitu berkah kebaikan ini mudah-mudahan terjadi dengan perantaraanmu, dan karenanya dunia akan menjadi terang benderang (dengan cahaya Islam, pen.).”

Tidak lama setelah itu, Tughluk Timur diangkat menjadi seorang Khan yang berkuasa penuh atas wilayah Moghulistan. Saat mendengar hal ini, Syeikh Arshaduddin segera berangkat ke Moghulistan dan mencari jalan untuk bertemu dengan Tughluk Khan. Tetapi berkali-kali mencoba, ia tetap tidak berhasil menjumpainya.

Ia terus menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Khan yang baru diangkat itu. Sementara itu, ia punya kebiasaan melantunkan azan subuh setiap pagi di tempat yang tidak terlalu jauh dari tenda tempat tinggal Tughluk Khan. Pada suatu pagi, Tughluk Khan memanggil seorang pengawalnya dan berkata, “Ada orang yang bersuara keras seperti ini setiap pagi, pergi dan bawalah ia ke sini.”

Syeikh Arshaduddin masih di tengah lantunan azannya ketika pengawal itu datang dan terus menangkap dan membawanya ke hadapan Tughluk Khan. Tughluk kemudian bertanya kepadanya, “Siapa kamu yang selalu mengganggu tidur saya setiap pagi di waktu yang awal ini?”

Saya putra seseorang yang pada satu ketika dulu Anda berjanji kepadanya untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Syeikh Arshaduddin. Ia pun menceritakan apa yang dahulu pernah terjadi antara ayahnya dan Tughluk Khan sehingga yang terakhir ini ingat.

Engkau diterima,” kata Tughluk Khan, “dan dimana ayahmu?”

Ayah saya telah meninggal dunia, tetapi ia memberikan amanah misi ini kepada saya,” jawab Syeikh Arshad.

Sejak saya naik ke tampuk kepemimpinan saya ingat bahwa saya mempunyai sebuah janji, tetapi orang yang saya beri janji itu tidak pernah datang. Sekarang saya menerimamu. Apa yang mesti saya lakukan?”

Maka Syeikh Arshaduddin membimbingnya untuk melakukan wudhu dan mengucapkan kalimat syahadat selepasnya. Kemudian ia mengajarinya hal-hal yang mendasar dalam Islam. Mereka juga sepakat untuk mengajak setiap emir di pemerintahan Tughluk Khan untuk masuk Islam. Satu demi satu emir-emir kepercayaannya diseru kepada Islam dan mereka menerima ajakan ini. Ternyata beberapa emir itu ada yang sudah masuk Islam secara diam-diam sebelumnya. Mereka merahasiakan hal ini karena khawatir Tughluk Khan tidak akan menyukainya.

Keislaman Tughluk Timur Khan telah membawa perubahan besar dalam pemerintahan di Moghulistan. Ia lah yang secara resmi untuk pertama kalinya menjadikan Islam sebagai agama negara di wilayah ini. Semuanya berawal dari pertemuannya dengan seorang Syeikh yang soleh dan mampu menjelaskan kepadanya tentang hakikat iman; bahwa iman itulah yang menentukan nilai kemuliaan seorang hamba dan membedakannya dari seekor hewan.

https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2013/05/17/1376/kisah-islamnya-tughluk-timur-khan.html

Tughluk Timur gugur bersama putra mahkotanya Ilyas Khoja pada tahun 1363M ketika harus menghadapi Timur Lenk, penakluk Mongol yang tak kalah kejamnya dengan Jenghis Khan, padahal ia telah masuk Islam. Tughuk Timur berperang untuk mempertahankan kekuasaannya di Transoxiana (Uzbekistan dan Turkmenistan) yang ingin dikuasai calon penakluk Mongol tersebut. Mungkin saking senangnya Timur Lenk berperang ia tidak pernah sempat membaca dan mempelajari bahwa Islam melarang manusia berbuat zalim kepada siapapun, dan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara.

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan“. (Terjemah QS. Al-Isra(17):33).

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).

Atau bisa jadi ajaran Islam yang ditrimanya tidak benar karena kabarnya Timur Lenk adalah seorang penganut Syiah yang menghalalkan darah penganut Suni. Na’udzubillah min dzalik …

https://ihram.co.id/berita/qaqpqy385/kisah-islam-dalam-rentang-kejayaan-kekaisaran-mongol-part1

https://almanhaj.or.id/3630-pokok-pokok-kesesatan-aqidah-syiah.html


Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 Desember 2020.

Vien AM.