Feeds:
Posts
Comments

Kata Pandemi berasal dari bahasa Yunani “Pan” yang artinya “Semua” dan “Demi” dari kata “Demos” yang artinya “Orang“. Singkat kata Pandemi adalah epidemi (wabah penyakit yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga) yang menyebar di wilayah yang sangat luas, meliputi beberapa benua, atau bahkan ke seluruh dunia, menjangkiti semua orang,  karena penularan yang sangat cepat.

Sepanjang sejarah, sejumlah pandemi penyakit telah terjadi, seperti cacar (variola) dan tuberkulosis. Salah satu pandemi yang paling menghancurkan adalah Maut Hitam ( Black Death)  yang menewaskan sekitar 75–200 juta orang atau 1/3 hingga 2/3 penduduk dunia, sebagian besar penduduk Eropa. Pandemi ini terjadi antara tahun 1400-an hingga 1700-an. Pandemi lain yang tak kalah dasyatnya adalah Pandemi Influenza 1918 ( Spanish Flue) yang menelan korban antara 50 – 100 juta penduduk dunia.

Saat ini dunia kembali gempar karena adanya virus Corona  yang muncul pada Desember 2019.  Virus yang ditularkan dari kelelawar ini bermula dari kota Wuhan, sebuah wilayah China bagian tengah. Warga China, Wuhan khususnya memang dikenal sangat suka melahap daging kelelawar.

Ironisnya tragedy ini terjadi tak lama setelah presiden China Xi Jinping dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menggoyahkan China. Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam perayaan 70 tahun kekuasaan Partai Komunis China pada 1/10/2019.

Tidak ada satu kekuatanpun yang bisa menggoyahkan landasan negara hebat ini,”.”Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang China dan negara China untuk melangkah maju”, serunya, sesumbar.

Maklum China adalah negara komunis yang menafi’kan keberadaan Tuhan. Tak heran bila kemudian Allah swt menjungkir-balikkan pernyataan pongah Jinping. Dari Wuhan virus terus menyebar tak terbendung ke berbagai penjuru kota China menyebabkan jatuhnya puluhan ribu korban. Pemerintah China segera mengeluarkan perintah untuk mengisolasi kota, penduduk dilarang keluar masuk kota yang terinfeksi.

Akhirnya WHO pun menyatakan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemik menyusul ditemukannya ratusan ribu kasus Corona di berbagai negara dan berisiko semakin menyebar luas. Tujuannya agar seluruh negara di dunia siap menghadapi kemungkinan penularan secara lebih luas dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan lain sebagainya.  Tercatat, kasus terparah di luar China hingga pertengahan Maret adalah Korea Selatan, Italia dan Iran.

Tak ayal sejumlah negarapun menyatakan Lockdown, artinya negara menutup semua perbatasannya, dengan tujuan tidak ada satupun orang bisa keluar masuk kota/negara bersangkutan. Jakarta diikuti beberapa kota besar lainnya akhirnya mengikuti jejak tersebut, meski bukan Lockdown dalam arti sebagaimana yang dilakukan negara lain.

https://wow.tribunnews.com/2020/03/14/jakarta-siaga-corona-covid-19-anies-baswedan-liburkan-sekolah-anak-anak-adalah-penular?_ga=2.191341866.1028413833.1584329569-650280403.1553788439.

Anies Bawesdan selaku gubernur DKI pada Sabtu 14 Maret dengan tegas memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sebelumnya yaitu pada hari Jumat 13 Maret, Anies juga menghimbau agar umat Islam dalam melaksanakan shalat Jumat tetap waspada dalam menghadapi bahaya virus Corona, diantaranya yaitu dengan membawa alat shalat masing-masing, yang kurang sehat memakai masker, membersihkan tangan dengan sanitizer sebelum memasuki pintu utama masjid dll.

Menariknya, gubernur DKI tersebut tidak lupa mengutip hadist yang berkaitan dengan Lockdown sebagaimana berikut,

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Dulu di zaman Rasululullah SAW, sebelum diketahui obatnya, memang pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

“Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR Bukhari).

Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab ra sekitar tahun 18H (640 M) pernah pula terjadi wabah penyakit menular. Ketika itu Umar bin Khattab bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Di perbatasan sebelum memasuki Syam mereka mendengar ada wabah Tha’un Amwas sedang melanda negeri tersebut. Tha’un Amwas adalah sebuah penyakit menular berupa benjolan diseluruh tubuh yang ketika pecah akan mengakibatkan pendarahan. Umar dan rombonganpun berhenti.

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang sahabat sekaligus gubernur Syam ketika itu segera datang menemui rombongan. Terjadilah percakapan hangat, membicarakan bagaimana sebaiknya rombongan bersikap, melanjutkan masuk Syam atau pulang kembali ke Madinah.

Umar yang bijaksana, seperti biasa meminta saran para sahabat. Mereka semua berbeda pendapat. Abu Ubaidah menginginkan rombongan tetap masuk, dan berkata :”Mengapa engkau harus lari dari takdir Allah SWT?”

Namun Umar ra menyanggahnya, dan bertanya, “Jika engkau mempunyai kambing dan ada 2 lahan, yang satu subur dan yang lain kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah”.

“Sesungguhnya dengan kami pulang, kami hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain”, lanjut Umar.

Beruntung tiba-tiba Abdurrahman bin Auf ra teringat ucapan Rasulullah SAW,

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya”.

Akhirnya rombonganpun kembali ke Madinah. Namun demikian Umar tidak kuasa meninggalkan Abu Ubaidah, sahabat yang dikaguminya itu tetap tinggal di Syam. Umar lalu menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah.

Tapi apa jawaban Abu Ubaidah?? Ternyata sahabat Rasul tersebut memilih hidup dan mati bersama rakyatnya. Umar ra pun menangis membaca surat balasan Abu Ubaidah. Tangisnya bahkan bertambah mendengar Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat mulia lainnya seperti Muadz bin Jabal dan Suhail bin Amr wafat akibat wabah Tha’un yang merenggut sekitar 20 ribu orang, hampir separuh penduduk Syam ketika itu.

Wabah baru berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Ia berkata:

Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung”.

Pendudukpun mematuhinya. Mereka berpencar dan menempati gunung2. Wabah berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan bakar.

Dari peristiwa di atas dapat disimpulkan keputusan Lockdown dan Social distancing (menjaga jarak, mengurangi perjumpaan/kontak fisik) adalah sesuai dengan ajaran Islam. Makin membuktikan Islam akan senantiasa sesuai untuk manusia hingga akhir zaman.

Sayang penduduk Jakarta yang mayoritas Muslim itu ternyata banyak yang kurang memahami ajaran agamanya sendiri. Terbukti satu hari setelah Anies me”liburkan“ sekolah, jalan menuju Puncak Bogor macet sepanjang 8 km. Alasannya karena tempat rekreasi di Jakarta ditutup ! Dan ini berlanjut hingga esok harinya, dimana antrian panjang orang yang hendak pergi bekerja mengular di jalur antrian stasiun MRT dan busway Transjakarta.  Padahal imbauan agar orang bekerja dari rumah ( Work From Home) kecuali darurat telah dikeluarkan.

https://www.liputan6.com/global/read/4204213/bedanya-lockdown-dan-social-distancing-yang-perlu-dipahami-untuk-cegah-virus-corona

Tidakkah mereka menyadari bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan orang lain?? Jika yang berdesakan di stasiun MRT dan busway dengan alasan harus bekerja demi kemaslahatan seperti para dokter, petugas medis, petugas pemadam kebakaran atau para pejabat tinggi yang memang mempunyai tanggung-jawab besar terhadap masyarakat, tentu bisa dimaklumi. Bahkan bila niatnya demi mencari ridho Allah swt pahala besar sudah pasti akan mereka raih. Tapi mereka yang hanya sekedar berjalan-jalan rekreasi ???

Sejumlah hadist mengatakan penyakit bisa jadi rahmat bahkan syahid bagi kaum Mukmimin, tapi tentunya setelah ikhtiar maksimal. Dan bersabar adalah salah satu syaratnya.

“Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin”.

“Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid”. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”. (HR Bukhari).

Akhir kata semoga kita semua bisa lulus dari ujian berat ini, dan semoga Alah swt berkenan segera mengakhirinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

“Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”.(HR. Bukhari)

96ecc4d5-bd64-4256-9d33-38db0863e78eWallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Maret 2020.

Vien AM.

Kaum Muslimin sebagai kaum minoritas kembali menjadi korban kekerasan dan kebiadaban. Kali ini terjadi di India yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Pemicunya adalah Citizenship Amendment Act (CAA) sebuah RUU yang memungkinkan pemerintah India memberikan kewarganegaraan pada warga ber-agama minoritas, kecuali Islam. Kecuali Islam???

Perdana Menteri Narendra Modi berdalih undang-undang baru itu diperlukan untuk membantu dan memberi perlindungan (amnesti) kaum minoritas yang melarikan diri ke India dari penganiayaan agama di negara mayoritas Muslim di Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan yang merupakan tetangga terdekat India. Namun ia tidak menjelaskan penganiayaan yang dimaksudkannya tersebut.

Tidak semua rakyat India termasuk yang beragama Hindu menyetujui  undang-undang sepihak dan diskriminatif tersebut. Mereka berpendapat bahwa hukum tersebut sangat bertentangan dengan semangat konstitusi sekuler negara.

https://www.merdeka.com/dunia/deretan-aktor-bollywood-dukung-demo-penolakan-uu-kewarganegaraan-baru-india.html

Para kritikus bahkan meyakini bahwa RUU itu adalah bagian dari upaya partai BJP (Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata) yang merupakan pemegang kekuasaan, untuk meminggirkan Umat Islam. Ini demi mengejar agenda pro-Hindu sebagai yang dijanjikan ketika terpilih kembali sebagai PM tahun lalu. Namun demikian Modi menyangkal adanya bias terhadap populasi Muslim India yang jumlahnya lebih dari 180 juta orang itu.

Pimpinan lembaga Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet juga mengatakan undang-undang baru yang diadopsi Desember lalu itu memang “sangat memprihatinkan”. Namun, ia mengimbau agar semua pihak menghindari kekerasan.

Saya menghimbau semua pemimpin politik untuk mencegah kekerasan,” kata Bachelet dalam pidatonya di dewan HAM PBB di Jenewa, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Demo antara demonstran pendukung (Hindu) dan penolak CAA yang mayoritas beragama Islam pertama kali terjadi pada Minggu (23/02/2020). Kerusuhan demi kerusuhan terus terjadi selama kunjungan resmi pertama presiden AS Donald Trump ke India.

Dalam kerusuhan tersebut terjadi aksi pembakaran, penjarahan, penganiayaan, pelemparan batu dll. Korban terakhir tercatat 38 orang meninggal, lebih dari 150 orang mengalami luka serius, mayoritas Muslim. Dilaporkan banyak pula warga yang menderita luka tembak.

Yang juga menyedihkan adalah adanya perusakan masjid. Secara brutal mereka menaiki menara masjid dan mencabut simbol bulan sabit yang ada di atasnya lalu menggantinya dengan lambang Hanuman yang merupakan lambang sakral umat Hindu.

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1202063-pecah-kerusuhan-bendera-hanoman-dikibarkan-di-menara-masjid?medium=terpopuler-widget

india riotriot india1Dengan beringas, ber-ramai-ramai mereka pukuli orang yang sedang menuju masjid, mereka masuki rumah-rumah kaum Muslimin  yang telah puluhan tahun ditinggali, memaksa meninggalkannya bahkan selanjutnya membakarnya. Belum lagi penyerbuan polisi ke Universitas Jamia Millia Islamia. … Astaghfirullahaladzim …

Menjadi pertanyaan besar mengapa umat Islam ketika posisinya minoritas sering kali di dzalimi??? Mengapa mereka yang tidak menyukai bahkan membenci Islam bisa dan berani berbuat semena-mena terhadap saudara-saudari kita ?? Sungguh menyedihkan … Belum juga usai penderitaan kaum Muslimin di Palestina, Suriah, Rohingnya, Uighur … kini India …

Dimana ikatan persaudaraan Islam yang harusnya mampu mencegah dan melindungi saudara-saudari kita yang terdzalimi di negri dimana mereka hanya minoritas???

Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang Muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Bukankah jumlah kaum Muslimin di dunia ini cukup banyak, bukan hanya sedikit hingga tidak mampu berbuat sesuatu. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah saw berabad-abad silam.

Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati”. [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Tampaknya hanya Tayyip Erdogan, presiden Turki, satu-satunya kepala negara mayoritas Muslim yang secara lantang berani membela dan memprotes apa yang dialami kaum Muslimin. Jokowi presiden negara mayoritas Muslim terbesar tidak sedikitpun mengeluarkan pernyataan keprihatinan.

Aktivis pembela kemanusiaan, Natalius Pigai, mempertanyakan peran dari Jokowi, “Hari ini umat Islam di India dibantai, di mana Ir. Joko Widodo?” kata Pigai dalam siaran persnya kepada VIVAnews, Jumat, 28 Februari 2020.

Dalam kesempatan tersebut ia membandingkan dengan apa yang dilakukan Soekarno, presiden pertama Indonesia dalam menghadapi apa yang dilakukan India terhadap kaum Muslimin di Kashmir beberapa puluh tahun yang lalu.

“Saya bantu karena solidaritas bangsa Muslim”, begitu jawaban Soekarno terhadap pertanyaan Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India ketika itu) yang kaget dengan sikap Soekarno, sahabatnya,

https://www.vivanews.com/berita/nasional/38454-natalius-pigai-umat-islam-dibantai-di-india-di-mana-jokowi?medium=autonext

Bandingkan pula dengan pernyataan Modi di awal tulisan, yang berdalih CAA dibuat demi membantu kaumnya yang ia anggap tertindas meski anggapan tersebut tidak terbukti dan belum tentu benar. Karena Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan pemaksaan apalagi dalam hal keimanan.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Namun harus diakui tindakan partai Hindu yang mengusung Modi demi  memprioritaskan kaum Hindu yang merupakan mayoritas adalah tindakan yang patut dihargai. Caranya yang terlalu mencolok hingga menyakiti dan menimbulkan bentrokan berdarah antar kaum beragama tanpa usaha maksimal penguasa, yang harus kita cela.

Hal yang rasanya tidak mungkin terjadi di negri kita tercinta yang katanya mayoritas Islam ini. Yang mendengar kata “khilafah” saja sudah alergi. Maka tak heran ketika ormas seperti FPI, GNPF Ulama serta PA 212 melakukan demo besar-besaran di depan kedutaan India pada Jumat 6 Maret 2020 lalu tidak satupun media mainstream meliputnya. Yang ada malah sejumlah orang yang mengaku Muslim nyinyir menanggapinya … Na’udzubillah min dzalik …

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200306110017-20-481028/demo-kedubes-india-pa-212-tuntut-putus-hubungan-diplomatik

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, 9 Maret 2020.

Vien AM.

Note:

Kabar terakhir, sebuah video menunjukkan hampir 3000 warga Hindu India berbondong-bondong memeluk Islam paska kerusuhan CAA. Allahu Akbar …

2104168manusia-pertama-bisa-terbang780x390Jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat pada tahun 1903, ilmuwan Muslim telah mengembangkan prinsip-prinsip penerbangan. Abbas Ibn Firnas, seorang matematikawan, astronom, fisikawan, dan ahli penerbangan Muslim dari abad ke-9, tercatat sebagai manusia pertama yang mengembangkan alat penerbangan dan sukses terbang.

Pengertian manusia pertama di sini berlaku umum, mencakup siapa pun yang berhasil terbang menggunakan alat apa pun, tidak harus berupa pesawat terbang seperti yang ada saat ini. Ibn Firnas berhasil terbang menggunakan glider, alat terbang sederhana yang dilengkapi sayap. Sementara itu, tak diragukan, Wright merupakan penemu dan penerbang pesawat terbang pertama.

Alat terbang Ibn Firnas memang masih sederhana. Namun, keberhasilan Ibn Firnas menguji dan menerbangkan alat buatannya pada tahun 852 memberi inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan Barat untuk mengembangkan pesawat. Ibn Firmas lahir di Izn-Rand Onda (sekarang Ronda, Spanyol) tahun 810 Masehi. Pria Maroko ini hidup pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol). Semasa hidupnya, seorang genius yang hidup di Cordoba ini dikenal sebagai ilmuwan serba bisa dan menguasai beragam disiplin ilmu pengetahuan.

Menurut sejumlah sumber, ketertarikan Abbas pada aeronautika bermula saat ia menyaksikan atraksi pria pemberani bernama Armen Firman. Pria tersebut membuat alat dari sutra yang diperkuat dengan batang kayu. Ia lantas terjun dari ketinggian, tetapi ia tak berhasil. Untungnya, alat cukup menghambat gerak jatuh bebas Firman sehingga ia tak terluka. Ibn Firnas yang berada dalam kerumuman penonton terkesan dengan aksi Armen Firman. Pengalamannya ini yang menyeretnya mempelajari aeronautika lebih dalam.

Sumber lain menyebut, Armen Firman sejatinya merupakan nama Ibn Firnas yang “dilatinkan”. “Penerbangan” pada tahun 852 adalah percobaan pertamanya. Tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibn Firnas merancang dan membuat sebuah alat terbang yang mampu membawa penumpang. Ia lantas mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Sebelum melakukan uji coba terbang, Ibn Firnas sempat mengucapkan salam perpisahan, mengantisipasi jika penerbangannya gagal.

Saat ini, saya akan mengucapkan selamat tinggal. Saya akan bergerak dengan mengepakkan sayap, yang seharusnya membuat saya terbang seperti burung. Jika semua berjalan dengan baik, saya bisa kembali dengan selamat,” katanya.

Penerbangan itu sukses. Ibn Firnas mampu terbang selama 10 menit. Sayang, cara meluncurnya tidak tepat sehingga melakukan pendaratan yang fatal. Ibn Firnas terempas ke tanah bersama “pesawatnya” dan mengalami patah tulang pada bagian punggung. Kecelakaan itu terjadi karena dia lupa untuk menambahkan ekor pada alat buatannya. Ibn Firnas tidak memperhitungkan pentingnya ekor sebagai bagian yang digunakan untuk memperlambat kecepatan saat melakukan pendaratan sebagaimana layaknya burung ketika menggunakan ekornya.

Abbas Ibn Firnas wafat pada tahun 888. Ia tidak bisa bertahan dari deraan sakit akibat cedera punggung yang diderita saat melakukan uji coba pesawat buatannya. Pengalaman terbang Ibn Firnas menjadi pelajaran bagi ilmuwan lain. Gagasannya terus dipelajari oleh ilmuwan-ilmuwan lain setelahnya. Abbas bukan hanya penemu pesawat terbang pertama.

Ia juga dikenal sebagai ilmuwan serba bisa yang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ia mempelajari halilintar dan kilat, membuat tabel astronomi, dan menciptakan gelas berwarna. Bahkan, Ibn Firnas menemukan jam air yang disebut Al-Maqata.

Di bidang astronomi, Ia juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk menjelaskan pola pergerakan planet-planet dan bintang-bintang. Atas kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan, beberapa negara bahkan memberikan penghormatan khusus.

Pemerintah Libya mengeluarkan prangko bergambar Abbas Ibn Firnas untuk mengenangnya. Irak juga membangun patung sang penerbang pertama itu di sekitar lapangan terbang internasionalnya serta mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad. Baru-baru ini namanya dipakai sebagai nama jembatan di kota asalnya, Cordoba. Nama Armen Firman sendiri menjadi nama salah satu kawah di bulan. A(Researcgate, Muslim Memo, Forgotten Islamic History)

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 6 Maret 2020.

Vien AM.

Diambil dari :

https://sains.kompas.com/read/2016/06/15/21063001/manusia.pertama.yang.berhasil.terbang.ternyata.seorang.muslim?page=all#page3

Pertolongan Allah.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. …”, ( Al-Baqarah(2):45).

Bagi kaum Muslimin ayat di atas tentu tidak asing meski pada prakteknya mungkin tidak mudah. Karena harus diakui tidak sedikit orang yang mengerjakan shalat karena sekedar memenuhi kewajiban semata. Shalat memang adalah kewajiban yang pertama dihisab di hari akhirat nanti.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi”. (HR. Tirmidzi).

Ironisnya, dalam sebuah hadist dikatakan bahwa shalat adalah tali pertolongan terakhir yang dilepaskan manusia.  Artinya tali pertolongan Allah itu sejatinya banyak. Namun kebanyakan manusia meremehkannya yaitu dengan tidak menjalankannya. Maka bila tali terakhirpun diabaikan yaitu shalat, sungguh tidak ada artinya orang yang mengaku Islam. Allah swt tidak akan mau menolong bahkan melaknatnya dengan neraka jahanam.  Tali pertama yang dilepaskan manusia adalah hukum atau syariat Islam. Ini terbukti jelas dengan sangat banyaknya negara yang mengabaikan hukum Islam padahal penduduknya mayoritas mengaku Muslim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Buhul/ikatan Islam akan terputus satu demi satu. Setiap kali putus satu buhulan, manusia mulai perpegang pada tali berikutnya. Yang pertama-kali putus adalah adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.”

Sayangnya tidak semua shalat dapat mendatangkan petolongan Allah. Shalat yang dikerjakan bukan karena Allah swt dan yang riya (pamer) adalah diantaranya.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, ( itulah) orang-orang yang berbuat riya”. ( Terjemah QS. Al-Maun(107):4-6).

Lalu shalat yang yang bagaimanakah yang dimaksud ayat 45 surat Al-Baqarah di atas? Mari kita perhatikan kelanjutan ayat tersebut.

“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” ( Al-Baqarah(2):45-46).

Ya hanya orang yang yakin akan menemui Tuhannya dan bahwa suatu hari kelak mereka akan kembali kepada-Nya, merekalah yang akan ditolong-Nya. Keyakinan ini harus terus melekat di hati sanubari kita, dalam keadaan apapun, susah maupun senang, ketika sendiri maupun bersama orang lain.  Dan sesuai ayat di atas memang bukan hal yang mudah, bahkan amat berat.

Untuk itulah diperlukan kesabaran. Manusia hanya bisa berusaha Allah yang menentukan hasilnya. Dan wajib hukumnya kita menerima ketentuan takdir dari-Nya. Itulah cobaan Allah yang akan mengarahkan kehidupan kita kelak di akhirat, yaitu surga atau neraka.

Nabi SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sungguh segala keadaannya selalu baik buat dirinya, dan ini tidak diperoleh kecuali siapa yang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka ini baik baginya, dan bila ia ditimpa musibah, ia bersabar, ini pun baik baginya” (H.R. Muslim melalui Shuhaib Ibn Sinan).

Maka ketika suatu hari kami ( saya dan suami) menerima kabar bahwa putri kami tercinta yang sedang melanjutkan study di sebrang benua nun jauh di sana, mengalami masalah yang tidak kami ketahui secara pasti karena ia tak mengatakannya dengan jelas, kami hanya pasrah. Bukankah Allah berjanji akan menolong hambanya yang mau bersabar dan menjalankan shalat dengan khusuk?  Di akhir shalat kami hanya dapat memohon supaya Allah swt ridho memberinya jalan keluar terbaik, apapun kesulitan yang dihadapinya.

Namun tak ayal betapa shocknya kami ketika 16 hari kemudian akhirnya putri kami tersebut menceritakan apa yang sebenarnya dialaminya. Rupanya ia kehilangan dompet dengan segala isinya termasuk passport. Padahal ketika itu ia sedang berlibur bersama teman-temannya di sebuah negara Eropa Timur. Parahnya lagi instansi yang berwenang mengeluarkan passport sementara di kota tersebut hanya buka sekali sepekan ! Akibatnya ia tidak bisa meninggalkan kota untuk kembali ke Newcaste Inggris tempat ia menuntut ilmu, setidaknya selama 2 pekan-an.

Artinya selama 16 hari kami berhubungan 2 hari sekali melalui video call putri kami tersebut tidak berada di tempat yang semestinya. Yang sedihnya kami tidak menyadarinya sama sekali kecuali di hari-hari terakhir.

“Itu tulisan-tulisan di gedung belakang Dilla koq aneh yaa  .. Kayak huruf Rusia”, komentar suami selesai kami ber-video call dengannya.

Rupanya putri kami sengaja tidak mau menceritakan musibah yang dialamiya kepada kami berdua karena khawatir membuat kami risau. Kami memang sempat bertanya-tanya melihat ekspresi wajahnya yang sedikit galau. Ia mengungkapkan itu disebabkan kegundahan karena terpaksa berbohong kepada kami. Itu sebabnya ia selalu melaporkan segala kejadian kepada kakaknya yang berada di Jakarta dengan syarat tidak menyampaikannya kepada kami. Masya Allah …

dillabudapest2Tapi yang sungguh membuat kami meng-haru biru adalah prilaku teman-temannya yang sangat peduli terhadapnya. Mereka langsung bergerak cepat ada yang melapor ke kantor polisi, melapor KBRI Budapest, UK embassy serta menghubungi PPI Budapest memohon kesediaan menampung putri kami tersebut selama urusan passport belum tuntas.

Bahkan di hari besoknya yang seharusnya melanjutkan liburan ke Praha Cekoslavakia mereka batalkan demi menemaninya. Mereka rela membeli tiket baru pesawat Budapaest-Newcastle langsung tanpa mampir Praha ke esokan harinya, setelah yakin temannya itu ada yang bisa menampungnya. Belum lagi salah seorang teman yang rela meminjamkan kartu kreditnya tanpa diminta, hingga selama 16 hari di kota tersebut putri kami tidak keteteran … Allahu Akbar …

Pertanyaan besar, siapa yang kuasa membuka hati mereka untuk berbuat baik kepada putri kami tercinta tersebut??

Jangan salah, teman-teman tersebut bukanlah teman lama melainkan teman-teman yang baru 6 bulan berkenalan karena sama-sama kuliah di kampus yang jauh dari orang-orang yang mereka sayangi. Alasan kebersamaan sebagai sesama pelajar di luar negri? Bisa jadi … namun tetap bila Allah tidak mengizinkannya tidak mungkin mereka rela melakukannya.

dillabudapest1

Gul Baba Museum Budapest

Museum Gul Baba 

Demikian pula teman-teman PPI Budapest yang berkenan menerimanya tinggal di tempat mereka selama 16 hari tanpa meminta sepeserpun imbalan. Bahkan mau menghiburnya dengan berjalan-jalan menikmati kota, hiking bahkan mengajaknya mengunjungi museum Islam Gul Baba yang ada di kota tersebut.

dillabudapest3Belum lagi seorang teman yang rela terbang dari Newcastle menuju Budapest untuk membawakan beberapa baju ganti dan lap top agar putri kami tersebut tetap bisa mengikuti pelajarannya di kampus. Masya Allah … Semoga Allah swt membalas kebaikan mereka dengan yang lebih baik.

Sungguh alangkah besarnya cinta dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Diturunkannya pertolongan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Bergidik hati ini bila mengingat kejadian yang belum lama terjadi. Yaitu kisah seorang pelajar Indonesia di Manchester Inggris yang menganiaya ratusan orang dengan sangat keji. Bagaimana bila putri bungsu kami tercinta tersebut jatuh ke tangan orang seperti itu ??? Na’udzubllah min dzalik …

Ataukah ini salah satu buah kesabaran putri kami dalam menutup aurat yang jika di lakukan di tanah air mungkin hal biasa namun tidak ketika berada di lingkungan dimana Islam adalah minoritas. Apalagi di kelas yang jumlahnya ratusan hanya ia sendiri yang mengenakkan hijab?? Wallahu ‘alam …

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33:59).

Yaa Allah berilah kami dan putri kami kemampuan untuk dapat merasakan cinta-Mu yang demikian besar. Berilah pula kami kemampuan untuk dapat mengambil hikmah segala kejadian, meyakini kebesaran-Mu, agar mau lebih mendekatkan diri lagi kepada-Mu, dengan langkah nyata yaitu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Mu, hingga akhir hayat kelak.

Beri juga putri kami kepahaman dan keyakinan betapa kuatnya doa kedua orang-tua terhadap anak meski mereka tidak tahu persis kesulitan apa yang dihadapinya. Dan tolonglah kami agar tidak menjadi orang yang kufur terhadap nikmat sebagaimana ayat berikut, na’udzubillah min dzalik.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(Terjemah QS. Yunus(10):12).

Berikut kisah inspiratif bahwa ketika berdoa memohon pertolongan kepada-Nya, Allah Azza wa Jala mengizinkan kita menyebutkan amal kebaikan yang pernah kita perbuat. Karena amal sekecil apapun, seperti menolong orang yang dalam kesulitan, menuntut ilmu dll, selama diniatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, Allah swt mencatat dan pasti membalasnya.

https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 21 Februari 2020.

Vien AM.

sarangan1IMG_20191216_143949Dengan disambut hujan rintik-rintik, atas izin-Nya, sampai juga kami di tepian telaga Sarangan yang cantik itu. Pemandangan gunung Lawu dengan pohon pinusnya yang menjadi latar belakang danau sungguh menambah keindahan danau yang airnya jernih tersebut. Tak salah bila telaga ini juga dinamai Cermin Raksasa. Sejumlah perahu boat dengan aneka warnanya terlihat diparkir di tepi danau, siap mengantar pengunjung mengelilingi danau berudara sejuk tersebut. Disamping juga kuda, yang siap mengitarinya dari daratan.

Sayang hujan makin lama turun makin lebat. Dengan berat hati, akhirnya kamipun meninggalkan danau yang punya kenangan indah tersendiri bagi saya itu. Kenangan puluhan tahun lalu ketika orang-tua saya mengajak kami, anak-anak yang masih kecil, mengunjungi danau tersebut …

Dalam perjalanan kembali menuju Solo, di tengah hujan yang masih mengguyur, keindahan pemandangan pegunungan masih terus menampakkan diri. Hingga ketika terlihat sederetan warung di pinggir jalan, Bimo menyeletuk “Makan mie rebus enak nih kayaknya”, “ Tambah jagung bakar sama pisang goreng”, sahut Laras penuh selera, “ plus kopi panas”, imbuh bapaknya seraya melirik saya, seolah menunggu izin.

Walhasil menepilah kami di salah satu warung yang ditunggui seorang ibu tua. Kami segera keluar dan memesan makanan. Udara terasa dingin menggigit.

Ini masih lumayan bu, paling cuma 12 drajat. Kalau malam lebih dingin lagi”, ujar si ibu pemilik warung. Kami saling pandang penuh arti,” … Waah g nyangka rupanya orang desapun tahu satuan drajat yaa .. hebring, bisik saya kagum … 🙂

sarangan3Untung tak lama, munculah kopi, mie rebus, pisang goreng dan jagung bakar pesanan kami. Sambil menikmati dinginnya udara dan cantiknya pemandangan kamipun segera menyantapnya. Angin berhembus datang pergi membawa kabut tebal “menelan” perbukitan deretan bukit hijau kekuningan yang melatar-belakangi warung.

IMG_20191216_161712Tak lama kamipun meneruskan perjalanan. Rupanya tempat kami tadi berhenti persis di depan Cemara Kandang, pos bagi mereka yang hendak mendaki ke puncak Gunung Lawu. Pos ini terletak tidak terlalu dengan perbatasan Jateng – Jatim.

Esoknya, kami mengunjungi pasar Klewer untuk membeli sekedar oleh-oleh batik. Setelah itu, dengan berjalan kaki kami menyebrangi jalan dan tiba di masjid Agung yang letaknya bersebelahan dengan kraton ( kerajaan) Solo/Surakarta.

20191217_14075220191217_140307Masjid kuno yang dibangun oleh Sunan Pakubuwono III pada tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768 ini awalnya memang milik kraton Surakarta. Selain digunakan untuk shalat Jumat sebagaimana layaknya masjid agung, masjid juga digunakan untuk berbagai kegiatan tradisi seperti Sekaten (festival memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW) dengan Garebeg sebagai acara puncaknya.

Pada puncak acara tersebut iring-iringan gunungan, yaitu susunan berbagai makanan yang biasanya terdiri dari hasil bumi, beras ketan, makanan, buah-buahan serta sayur-sayuran yang diusung sejumlah orang diarak dari istana menuju masjid Agung. Setelah didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan dan lambang keberkahan tersebut dibagikan kepada masyarakat yang sudah menunggu sejak pagi hari. Selanjutnya sebagian gunungan tersebut dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang mereka dengan harapan agar sawah\ladang mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

Menurut beberapa sumber, tradisi Garebeg telah dilakukan sejak masa kerajaan Majapahit yang menganut ajaran Hindu, dan berlanjut hingga masa kerajaan Mataram. Wali Songo yang kemudian datang memperkenalkan ajaran Islam memperbolehkan tradisi tersebut berlanjut sebagai jembatan peralihan menuju ajaran Islam.

Kami memang tidak melihat acara tersebut tapi siang itu ketika kami menuju Pasar Klewer terjadi kemacetan parah. Usut punya usut akhirnya kami mendapat info bahwa sedang berlangsung acara haul Habib Ali bin Muhammad.

Awalnya kami tidak paham acara apakah gerangan. Setelah googling kami baru tahu bahwa Habib Ali bin Muhammad adalah seorang ulama besar asal Yaman keturunan rasululah Muhammad saw dari jalur Husein bin Ali bin Abu Thalib, putra dari Fatimah Az-Zahra putri rasulullah saw. Meski ulama Yaman tersebut seumur hidupnya tidak pernah menginjakkan kakinya di Indonesia namun namanya sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, khususnya Solo. Itu disebabkan salah keturunan Habib Ali yang menetap di Solo, dan mempunyai banyak murid di kota ini.

https://www.solopos.com/gagasan-haul-dan-risalah-maulid-simtuddurar-883666

Habib Ali wafat pada tahun usia 74 tahun, bertepatan dengan 20 Rabiulakhir 1333 Hijriah atau tahun 1912 Masehi. Hari wafatnya itulah yang kemudian tiap tahunnya diperingarti masyarakat Solo. Itulah yang dinamakan Haul. Beberapa tahun terakhir, jemaah yang mengikuti Haul terus bertambah, tidak hanya dari Solo melainkan juga dari kota-kota lain di Indonesia bahkan dari negara tetangga seperti Singapur, Malaysia, Yaman dll.

Namun seperti juga Maulud ( peringatan hari kelahiran nabi Muhammad saw), Haul sejatinya adalah bagian dari tradisi masyarakat bukan ajaran Islam. Karena Islam hanya mengenal 2 hari besar yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha sebagaimana hadist berikut:

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Demikian juga upacara Cembengan yang juga dikenal dengan sebutan Tebu Manten. Ritual ini biasa dilakukan pabrik-pabrik gula di Indonesia sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus permohonan akan kelancaran selama proses penggilingan.

Cembengan berasal dari kata Ching Bing (Cheng Beng) yaitu ritual khas Cina untuk mendoakan roh nenek moyang. Istilah ini dikenalkan oleh para pekerja asal daratan Cina yang ketika itu sengaja didatangkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di berbagai perkebunan milik penjajah Belanda tersebut, termasuk pabrik-pabrik gula. Mereka itulah itulah yang pertama kali membawa tradisi Ching Bing, sebagai ritual diawal musim giling tebu.

Selanjutnya Mangkunegara IV sebagai pemilik pabrik gula Colomadu di Solo, dengan mencampurkan adat Jawa di dalamnya, meneruskan ritual tersebut. Hal ini terekam di dalam museum De Tjolomadoe yang kami kunjungi keesokan harinya.

tjolomadoe1Musium megah ini rupanya bekas pabrik gula Colomadu yang pernah mengalami kejayaan di masa lalu. Pabrik ini didirikan tahun 1861. Selain krisis ekonomi tahun 1997–1998, pergantian lahan dari perkebunan tebu menjadi persawahan di sekitar lokasi adalah pemicu berhenti beroperasinya pabrik gula tersebut.

tjolomadoe2tjolomadoe3tjolomadoe4Di dalam museum ini pengunjung selain diajak melihat proses pembuatan gula juga diajak mengenang kesuksesan pabrik pertama milik pribumi tersebut. Melalui gula hasil pengolahan pohon tebu pabrik tersebut kekeratonan Solo membiayai hampir seluruh kebutuhan kraton termasuk pemberian beasiswa pendidikan anak-anak pekerja pabrik.

Tak heran bila kemudian sang sultan mengajarkan rakyatnya untuk mensyukuri keberkahan tersebut melalui acara Cembengan. Seperti juga dalam acara Sekaten, Cembengan juga diisi dengan acara arak-arakan sesaji seperti aneka jajan pasar, hasil bumi, nasi tumpeng, nasi merah lengkap dengan tujuh kepala kerbau.

Setiba di pabrik, sesaji kemudian diletakkan di bagian bawah mesin produksi. Khusus kepala kerbau diyakini sebagai penolak bala agar proses giling tebu terhindarkan dari kejadian yang tak diinginkan.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Terjemah QS.Al-Baqarah: 186)

Ini masih dilanjutkan keesokan harinya dengan apa yang dinamakan acara Tebu Manten. Pada acara puncak tersebut, sepasang pohon tebu didandani layaknya manten/pengantin, lalu di arak dengan iringan sesaji dan kepala kerbau seperti hari sebelumnya, hingga masuk ruang giling, digiling, disusul belasan pasang tebu pengiringnya.

Filosofi dari tebu manten adalah layaknya seperti mantu. Kita ibaratkan, saat ini adalah perpaduan tebu dari pabrik dan dari petani. Harapannya adalah hasil melimpah,” ujar seorang penanggung jawab upacara.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, … “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):45).

https://www.liputan6.com/regional/read/2936185/cembengan-ritual-kuno-arakan-kepala-kerbau-di-pabrik-gula.

Demikianlah kami menutup liburan kami di Solo dan sekitarnya, yang penuh makna dan variasi, dari kulinernya yang menggugah selera, budayanya yang kental hingga pemandangan alamnya yang mempesona. Alhamdulillah …

Trima-kasih yaa Allah, beri kami kemampuan untuk mengambil pelajaran atas segala yang kami lihat dan alami … aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Januari 2020.

Vien AM.

Pada pertengahan Desember yang baru lalu, kami ( saya dan suami) menerima undangan mantu seorang kerabat di Salatiga, Jawa Tengah. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk sekaligus berwisata ke Solo dan sekitarnya yang memang belum pernah sama sekali kami kunjungi. Kebetulan anak lelaki kami kedua yang baru menikah beberapa bulan lalu, bersama istrinya, bisa cuti dan ingin menemani kami, bahkan menggebu ingin meng-“intertain” kami selama 4 hari liburan tersebut.

“Mumpung belum ada tanggungan. Ayah ibu yang bikin itinerynya, terserah pinginnya kemana ayah ibu … Boleh ayah ibu yaa .. “, mohon keduanya, tulus … Masya Allah … Terharu hati ini … Semoga Allah swt mencatatnya sebagai amal kebaikan yang tak terhingga nilainya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. … “. (Terjemah QS. Al-Isra’(17):23).

IMG_20191213_073600Maka jadilah kami ber-empat memulai wisata singkat kami.  Kami memulai perjalanan dari bandara Adi Soemarmo Solo dengan mobil sewaan. Di pintu keluar bandara sepasang kereta kencana keraton menyambut kami. Sementara orang yang mengantarkan mobil sewaan meng-infokan adanya museum menarik bernama De Tjolomadu yang baru dibuka tahun lalu.

Menurutnya sayang kalau dilewatkan, apalagi lokasinya tidak jauh dari bandara dan pasti dilewati. Tapi ternyata tidak semudah itu karena mbah Google menyarankan melewati jalan-jalan potong kecil hingga akhirnya malah nyasar ntah kemana. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke rencana semula yaitu, mengunjungi batik. Museum bila memungkinkan, di hari terakhir sebelum ke bandara.

Berkunjung ke Solo tanpa menyambangi batik rasanya memang kurang afdol. Ada beberapa pilihan menarik diantaranya pasar Klewer, Kampung Batik Kauman dan kampung Batik Laweyan yang merupakan tempat tinggal para pengrajin Batik Solo.

Kota berjulukan “Spirit of Java” ini memang menyimpan banyak kekayaan budaya, batik adalah salah satu contohnya. Batik telah ada sejak dulu dan masih eksis hingga kini. Motif kawung dan parang adalah dua di antara berbagai motif khas batik Solo yang mempunyai penggemar tersendiri.

IMG_20191213_084323Khusus di Kampung Batik Kauman dan kampung Batik Laweyan pengunjung selain dapat berbelanja batik dengan harga yang relative murah juga dapat melihat proses pembuatan batik. Untuk itu kami memutuskan mengunjungi salah satu darinya yaitu Kampung Batik Laweyan. Sayang ketika kami tiba di lokasi sekitar pukul 10 pagi sebagian besar toko belum buka.

“ Dari pada balik lagi mending lihat batik di tempat lain kali yaa .. Lusa tapi, balik dari Salatiga”, usul saya.

Besok dan lusa pagi sesuai rencana memang khusus disiapkan untuk menghadiri acara mantu kerabat sekaligus silaturahim keluarga besar di Salatiga.

IMG_20191213_150307IMG_20191213_150312Akhirnya kamipun berburu kuliner yang daftarnya sudah kami kantongi dari jauh-jauh hari. Solo kabarnya memang surga bagi pencinta kuliner. Mulai dari es dawet di dalam traditional Pasar Gede, serabi Notosuman, Soto Tengkleng hingga Timlo Solo, Selat Solo dan Nasi Liwet yang merupakan masakan khas kota tersebut.

Uniknya masakan yang direkomendasi umumnya bukan yang di restoran besar tapi di warung kaki lima, dengan harga yang relative murah namun rasanya tak kalah dengan yang di jual di restoran.

Namun dari sejumlah warung kaki lima dan resto yang kami kunjungi, bagi saya pribadi, rumah makan Adem Ayem yang terletak di jalan Slamet Riyadi, Laweyan adalah yang paling top. Karena selain label Halal MUI yang terpampang jelas dan besar, pilihan juga banyak dan enak, tempatnyapun bersih dan nyaman. Apalagi bila mengingat tidak sedikit restoran di kota ini yang menjual masakan babi yang jelas-jelas  haram bagi umat Islam.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):168).

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.  … … “. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):173).

Esoknya sesuai rencana kami ke Salatiga. Ada cerita cukup menarik begitu kami tiba di kota dingin ini. Beberapa meter sebelum mencapai hotel yang sengaja kami pilih berdekatan dengan lokasi acara pernikahan, ternyata jalan di tutup karena ada pawai menjelang Natal, hingga kami harus berputar-putar mencari jalan lain. Syukur Alhamdulillah akhirnya mobil berhasil menyelinap tepat di depan arak-arakan dan masuk ke lokasi acara.  Harap maklum Salatiga memang dikenal sebagai kota yang banyak pemeluk Nasraninya ( 21 %). Universitas Kristen Satya Wacana salah satu universitas Kristen swasta ternama di Indonesia, berada di kota ini.

“Itu bukti kota kami adalah kota yang toleran”, jelas kerabat kami menjawab penjelasan alasan keterlambatan kedatangan kami.

Tentu tidak menjadi masalah selama tidak ada paksaan untuk merayakan acara keagamaan yang bukan agamanya. Toleransi dalam agama adalah saling menghormati agama tanpa harus melibatkan diri ke dalamnya, apalagi yang sampai merusak akidah.

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Singkat cerita usai acara keluarga dan silaturahim, sorenya kami  melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah Tawangmangu tempat wisata pegunungan di kabupaten Karanganyar yang berjarak 21 km dari Solo, atau sekitar 80 km dari Salatiga. Objek wisata di lereng barat gunung Lawu ini sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda.

Sayang kami memasuki kawasan wisata ketika matahari telah jauh terbenam. Padahal kami harus menghadapi jalanan pegunungan kecil sempit berliku tajam nan terjal. Sementara resort hotel yang telah kami booking jauh-jauh hari tidak memberikan respons ketika kami hubungi berkali-kali. Akhirnya meski dengan susah payah, kami berhasil tiba di “resort hotel” tersebut. Namun dengan berbagai alasan kami memutuskan untuk batal dan mencari hotel lain. Alhamdulillah kami mendapatkannya meski tidak begitu sesuai harapan.

Esok harinya kami segera menuju objek wisata yang banyak dimiliki daerah tersebut. Salah satunya adalah Grojogan Sewu yang merupakan bagian dari Hutan Wisata Grojogan Sewu. Penamaan Grojogan Sewu yang berarti air terjun seribu (dalam bahasa Jawa grogojan artinya air terjun sedangkan sewu adalah seribu) merujuk pada tingginya air terjun, yaitu seribu pecak, atau sekitar 81 meter. Pecak adalah satuan jarak yang biasa digunakan ketika itu. Satu pecak sama dengan satu telapak kaki orang dewasa.

Awalnya kami sempat ragu mengunjungi grogojan tsb karena infonya jalan menuju kesana tidak mudah, harus melewati ratusan anak tangga. Apalagi ketika di Salatiga kemarin hnp alias syaraf kejepit saya sempat kambuh. Tapi setiba di Karanganyar kami mendapat info untuk menuju ke lokasi ada 2 pintu masuk. Pintu utama, yang masuk dari arah bagian atas air terjun memang harus melalui anak tangga yang jumlahnya ratusan. Sementara pintu yang satu yaitu yang dari arah bagian bawah air terjun relative mudah karena landai.

20191216_101146IMG_20191216_102034Akhirnya kami putuskan masuk lewat pintu tersebut. Jalanan terlihat lengang, kelihatannya bukan jalan umum. Bus dan mobil besar tidak bisa lewat jalan tersebut. Dan memang keputusan yang sangat tepat. Selain landai jalur tersebut mengikuti jalur sungai, sesuatu yang sangat saya sukai. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak seperti umumnya sungai di Indonesia yang kurang bersih dan banyak sampah, sungai maupun jalan setapak menuju air terjun ini benar-benar bersih, dan jernih. Batu-batu besar dan kecil menghiasi sungai tersebut … Masya Allah …

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):74).

20191216_10364520191216_111722IMG_20191216_111020Puas menikmati keindahan pemandangan dan suara gemericik air kamipun melanjutkan perjalanan ke telaga Sarangan, yang jaraknya sekitar 40 km dari Grogojan Sewu.  Telaga cantik ini terletak di kabupaten Magetan Jawa Timur, di lereng Gunung Lawu, di sisi belakang Grogojan Sewu pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, tidak jauh dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meski ini adalah rute pegunungan tak disangka ternyata jalanannya beraspal lebar dan mulus. Sayang mobil yang kami sewa ternyata kurang oke. Perkiraan suami mungkin perjalanan mendaki malam kemarin yaitu ketika kami mencari hotel adalah penyebab tipisnya cakram rem. Maka untuk mencegah kemungkinan lebih buruk terpaksa kami berhenti beberapa kali agar rem tidak terlalu panas.

(Bersambung).

Selama ini Italia dikenal sebagai kelezatan pizza dan pastanya. Bagi orang Italia, pasta sudah menjadi makanan sehari-harinya. Tidak lengkap rasanya jika tidak ada sajian pasta dalam sehari saja. Nah, di Negeri Menara Pissa ini mencari daging cincang yang menjadi ‘teman’ pasta tidak sulit, terutama yang dalam proses penyembelihannya mengucapkan asma Allah. Terdapat toko daging halal di Kota Cesena, salah satu kota kecil di Italia. Sebab di negeri inilah Islam terus berkembang dari waktu ke waktu.

Sejak abad ke-9, keberadaan muslim di Italia terus bertambah melalui Sisilia sebagai pintu masuk Islam dari Afrika Utara. Kini, hampir dua juta jiwa muslim hidup di Italia.
Meski demikian, sampai dengan hari ini Italia sendiri masih belum sepenuhnya mengakui keberadaan agama Rahmatan Lil Alamin in. Padahal Islam banyak tertoreh dalam lembaran sejarah negara tersebut.

Berbeda dengan Inggris dan Jerman yang memiliki ratusan masjid dengan kubah dan menara yang khas, di Italia hanya ada dua masjid besar. Keduanya terletak di Kota Roma. Namun banyak pendatang yang terus berdatangan untuk mengais rezeki di Ibu Kota Italia itu. Kebanyakan dari mereka yang datang berasal dari negeri Islam. Sejak itu, Italia sudah menjadi negara yang lebih terbuka terhadap gelombang multikultur setelah krisis ekonomi yang melanda sejak awal tahun 2010 lalu.

komunitas muslim muda Italia atau Giovanni Musulmani De Italia (GMI)/Tim Jazirah Islam Trans7

Kaum muslim yang datang ke Italia dari waktu ke waktu akhirnya membentuk komunitas muslim muda Italia atau Giovanni Musulmani De Italia (GMI). GMI merupakan organisasi besar yang menaungi seluruh muslim muda di Italia dan berpusat di Kota Milan. Organisasi ini sudah berdiri sejak 15 tahun dan anggotanya terus bertambah. Komunitasnya juga menyebar di setiap penjuru Italia.

Di kota kecil bernama Cesena, tepatnya di Garage Aquilone, terdapat kelas melukis yang diselenggarakan oleh komunitas muslimah di sana. Kegiatan tersebut tidak dikhususkan untuk muslimah, tetapi juga siapa saja yang tertarik untuk belajar seni lukis kulit dengan henna, dipersilakan datang.

Seni ini telah mengakar selama lima ribu tahun lamanya yang berasal dari India dan Timur Tengah. Seni ini digunakan sebagai salah satu media untuk memperkuat ukhuwah dan menyebarkan citra Islam yang positif di Casena.

Alasan kami membuat kelas henna ini adalah pertama, sebagai media dakwah untuk menyebarkan pesan Nabi Muhammad SAW. Biasanya di kegiatan ini kita juga menyediakan buku-buku Islam dan Alquran terjemahan berbahasa Italia dari Roberto Picardo secara gratis. Kami mau menyebarkan pesan yang sesungguhnya dari Islam bukan pesan yang disampaikan oleh berbagai media bahwa Islam adalah teroris karena Islam adalah damai,” ujar gadis muslim bernama Kaltum Kamal Idrissi saat berbincang.

Belajar seni lukis kulit dengan henna/ Tim Jazirah Islam Trans7

Kaltum menceritakan, kegiatan melukis ini berawal dari keinginannya untuk membagikan buku Islam dan menjawab pertanyaan seputar Islam. Lalu salah satu dari anggota komunitasnya mahir membuat henna sehingga mereka sepakat membuka kelas henna.

Proyek yang diinisiasi Kaltum dan kawan-kawan mendapat apresiasi positif. Tidak sedikit perempuan yang datang untuk belajar. Sejak itulah, Kaltum membagikan buku-buku Islam di kelas ini. Semua yang datang juga memberi sumbangan untuk membeli alat-alat henna, buku dan henna.

Untuk itulah bagi siapa saja yang mau mengikuti kegiatan di kelas, peserta akan dikenakan biaya 3 Euro guna mendapatkan peralatan henna dan makanan ringan. Bahan pewarna cat yang digunakan berasal dari bubuk henna atau daun tanaman Lawsonia Inermisi.

Tim Jazirah Islam/ Trans7

Selain menawarkan seni, GMI juga rutin mengadakan diskusi untuk mengenal Islam lebih dekat. Diskusi ini sudah diadakan selama dua kali. Berbagai pertanyaan dari peserta kerap muncul, mulai dari hijab hingga masalah poligami.

Kami ingin memberikan tempat untuk masyarakat yang ingin tahu tentang Islam juga untuk orang yang lahir sebagai muslim namun tidak mengetahui cara menjalankan agama Islam dengan benar. Kita harus bangga sebagai muslim,” kata dia.

Kaltum dan kawan-kawan juga kini tengah mengembangkan investasi marketingnya melalui sosial media, satu diantaranya melalui Facebook. Dalam laman itu, mereka menjabarkan Islam.

Seni lukis henna terus berkembang di Cesena dari waktu ke waktu. Kota tersebut merupakan kota kecil dengan total penduduk 90 ribu jiwa. Banyak muslim yang bermukim di kota ini, namun sayang tidak banyak masjid yang bisa dijumpai. Tak ayal, sebagian warga menyulap garasinya menjadi musala untuk sekadar bisa salat berjamaah.

Kaltum dan salah seorang rekannya yang juga mualaf bernama Fatiha menilai Islam masih menjadi minoritas di kota yang terdiri dari deretan gedung tua ini. Namun hal itu tidak menjadikan mereka terasingkan.

Bicara mengenai minoritas, kami tidak menemui banyak kesulitan. Kami memiliki banyak teman dan rekan yang mencintai kami,” terangnya.

Aksi terorisme yang sempat terjadi di Paris dan Brussel beberapa waktu lalu sempat melukai hati umat muslim yang berada di Eropa. Sebab lagi-lagi mereka harus menerima anggapan Islam sarat dengan kekerasan.

Mendengar komentar negatif menjadi hal yang biasa. Sebagai muslim di Barat, kini kami merasa seperti mengulang tragedi 9 September di Amerika. Ada beberapa kasus seperti kami tidak bisa mengenakan hijab saat bekerja, namun kami selalu mengupayakan berbagai cara agar kami tidak lagi menjadi korban karena penting bagi mereka tahu siapa kami dan bagaimana nilai kami di masyarakat,” imbuh Kaltum.

Tim Jazirah Islam/ Trans7

Setiap malam, Kaltum dan Fatiha menyempatkan diri mengulik telepon pintarnya untuk membuat kampanye salat subuh. Mereka kemudian menggunggah foto seruan untuk salat subuh di akun Facebook milik GMI Cesena. Keduanya kerap menggunakan berbagai aplikasi edit foto untuk membuat gambar poster salat subuh. Kemudian mereka membubuhkan aneka petikan kalimat yang berisi ajakan salat subuh.

Kami mulai membuat kampanye ini untuk mengajak orang-orang subuh karena jika kita melakukan salat subuh maka akan mudah melakukan salat yang lainnya. Namun jika kita kelewatan salat subuh maka akan sangat menyesal karena dengan salat subuh kita akan dapat banyak keuntungan,” kata Kaltum.

Tujuan kita hanya satu membuat semakin banyak orang yang salat subuh,” imbuhnya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Januari 2020.

Vien AM.

Dicopas dari : https://news.detik.com/berita/d-3228980/melihat-kegiatan-anak-muda-italia-kenalkan-islam-di-negeri-pizza