Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

Sekitar 400 petani Perancis bunuh diri setiap tahunnya !  Data ini tercatat terjadi sejak 10 tahun terakhir ini. Penyebabnya adalah masalah kekeringan, berjangkitnya bakteri yang menyerang tanaman mereka serta turunnya harga jual hasil panen.

Seorang petani strowberi yang pernah mencoba bunuh diri namun gagal bercerita. Ia memulai karirnya dengan susah payah.Namun pada tahun 1999, ketika ia sedang berada di puncak kesuksesannya, ladang strowberinya ludes diterjang keganasan angin topan. Ia berusaha bangkit. Namun belum sempat ia bangkit kuat, kekeringan melanda seluruh dataran Perancis.

Ini terjadi pada bulan Agustus tahun 2003. Ketika itu panas udara mencapai hingga lebih dari 40 derajat Celcius! Dikabarkan bahwa untuk menggoreng telurpun tidak perlu wajan dan minyak atau mentega panas. Cukup letakkan saja telur di atas jalanan! Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tragisnya, kekeringan dan panas menyengat di setiap musim panas tersebut terus berlanjut hingga saat ini.

Dampak kekeringan rupanya tidak hanya melanda para petani. Para peternak juga terkena imbasnya. Para peternak ini terpaksa hanya memberikan jerami sebagai ganti rumput hijau untuk makanan ternaknya. Bahkan karena merasa berat memelihara dan membesarkan ternak-ternaknya, banyak diantara mereka yang terpaksa merelakan ’harta’ mereka itu dipotong meski masih muda.

Saya jadi teringat kata-kata anak lelaki saya. ” Kasihan banget bu .. sapi masih muda udah dipotong. Kalo begini terus lama-lama bisa habis dong populasi sapi ..”. Inikah salah satu tanda kerusakan di muka bumi yang dibenci-Nya? Wallahu’alam bish shawwab.

Sejumlah surat kabar memberitakan bahwa masalah bunuh diri di kalangan para petani tidak pernah ter-’ekspos’ secara tajam. Sebaliknya, bunuh diri di kalangan pegawai perkantoran lebih sering mencuat ke permukaan. Meski sebenarnya tingkat bunuh diri di kalangan ini ’hanya’ 1/3 kalangan petani. Penyebab utamanya adalah stress dan depresi alias tertekannya perasaan. Mayoritas adalah stress dalam masalah pekerjaan dan kegagalan dalam membina keluarga.

Sebagai catatan, perceraian di negri Sarkozy ini makin hari makin meningkat. Sementara persentase pernikahan makin menurun. Ini yang menjadi dasar pemikiran orang Perancis, ” lebih baik tidak usah menikah dari pada nanti bercerai ”. . Akibatnya dapat ditebak .. hidup bersama alias kumpul kebo atau hidup bersama tanpa ikatan pernikahanpun makin diminati. … 😦

… Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. … ”. (QS. An-Nisa(4):24).

Bukan itu saja. Bahkan hidup ala homoseksual yang jelas-jelas dikutuk itupun makin terbuka lebar saja. Meski untuk sementara pernikahan antar sesama jenis yang di beberapa negara Eropa telah di-legal-kan, di Perancis masih belum di terima secara legal.

Di sisi lain, benua Eropa saat ini tengah diguncang masalah lain. Yaitu terkontaminasinya sejumlah sayuran oleh bakteri E.coli. Sejak 2 minggu terakhir ini, timun asal Spanyol yang beredar di Jerman dicurigai telah terkontaminasi bakteri yang mematikan. Bakteri yang menyerang ginjal tersebut  telah menelan puluhan korban meninggal di Jerman, Swedia dan Spanyol sendiri. Sementara ribuan lain harus menjalani pengobatan cukup serius.

Beberapa negara segera melakukan penelitian namun hingga detik ini tidak dapat memastikan dari mana sayuran tersebut bisa terkontaminasi. Untuk sementara mereka memperkirakan adanya kemungkinan bahwa taoge adalah sumbernya, meski masih diragukan. Dampak yang paling terasa adalah bagi Spanyol. Karena hampir semua negara Eropa telah membatalkan import timun dari negeri matador ini. Celakanya, tidak hanya timun namun juga tomat, slada dan paprika.

Kabar terakhir, tidak hanya sayuran di atas yang ’disalahkan’ menjadi penyebab meninggalnya korban. Namun juga daging sapi cincang yang dibekukan atau dalam bahasa Perancisnya dinamakan ’steak hache’ juga telah terkontaminasi bakterio E.coli. Beberapa anak Perancis telah menjadi korban. Mereka harus masuk RS dan menjalani pemeriksaan serius.

Sebagai hamba yang tinggal di negri ini meski hanya untuk sementara, sungguh prihatin hati ini. Berbagai bencana dan cobaan terus melanda negri yang sebagian pendududknya kafir bahkan atheis alias tidak percaya akan keberadaan Tuhan, penguasa alam semesta.

Peristiwa petani strowberi di awal tulisan di atas mengingatkan saya akan ayat di bawah ini.

”Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan: “In syaa Allah“, lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,  lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:

Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya“.

Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu”.

Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)”.

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?”

Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.(QS.Al-Qalam(68):17-29).

Sementara berbagai musibah dan bencana alam mengingatkan saya akan azab Allah terhadap kaum Fir’aun di Mesir, berabad-abad lalu. Ketika itu Allah swt menurunkan berbagai cemeti azab diantaranya hama yang menyerang tanaman. Hal ini dikarenakan kaum Fir’aun adalah kaum yang mendustakan nabi Musa as.

”Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta“.(QS.Al-Qashash(28)”38).

Atau kaum Aad dan kaum Tsamud yang tidak mau mendengar seruan para nabi dan utusan Allah swt, Sang Khalik.

”Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud“. (QS.Al-Fushilat(41):13).

Anak perempuan saya yang bersekolah di Paris menceritakan betapa guru bahasa Perancisnya amat sangat anti pati terhadap agama, agama apapun. Anehnya, ia sering memancing pembicaraan ke arah itu. Tentu saja anak saya tidak dapat terima. Begitu saja beberapa teman Kristen dan Yahudinya.

Masih menurut anak saya, gurunya itu sangat menikmati perdebatan yang terjadi di antara muridnya yang multi agama itu. Dengan semangat ia menceritakan apa yang terjadi di kelasnya. Ada hal yang membuat saya cukup terkejut. Yaitu cerita mengenai teman Yahudinya yang dengan semangat menggebu menyatakan bahwa ia tidak sabar untuk segera pergi mengunjungi Yerusalem. Untuk apa? Untuk berperang melawan orang-orang yang memusuhi agamanya !

Allahuakbar .. seorang remaja Yahudi yang tinggal di kota metropolitan Paris bisa  begitu menggebu ingin mempertahan keyakinannya, meski keyakinannya tersebut ternyata tidak benar. Bagaimana dengan kita, kaum Muslimin ? Adakah diantara kita yang  ridho pergi berperang ke tanah Palestina demi membela agama, tanah suci dimana rumah suci Al-Aqsho berdiri? Demi membela saudara-saudara seiman yang tertindas di negrinya sendiri? Ironisnya lagi, kalaupun jawaban ada, tentu ia telah ditangkap dan diinterogasi karena dianggap Teroris!!

Kembali ke perdebatan di kelas anak saya. Mendengar kata-kata remaja Yahudi tadi, si guru langsung menyelak ” Buat apa ada agama, ada Tuhan .. kalo selalu terjadi pertumpahan darah .. Percayalah .. Tuhan itu tidak ada!! ” , begitu ia mengakhiri perdebatan. ” Kesel deh bu ..”, dengan jengkel anak saya mengeluh.

Suatu kali ia juga bercerita betapa murid-murid dicekoki pelajaran tentang seks bebas, demokrasi yang kebablasan dll. Astaghfirullah haladzim … Saya hanya bisa mengelus dada, betapa beratnya tantangan anak-anak muda di negri ini.

” Ya Allah, lindungilah dan teguhkanlah keimanan dan keislaman anak-anak kami”.

Dalam hati saya bertanya-tanya, Ya Allah, mengapa bebal betul orang-orang Barat yang mengaku modern dan berilmu ini? Kurang berat dan kurang hebatkah azab-Mu? Tiba-tiba saya teringat ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengazab suatu kaum selama ada orang Muslim di antara mereka atau selama dakwah belum mencapai tempat tersebut.

Terlintas beberapa daerah di Paris ini dimana saya katakan ” serasa di pasar Seng euy .. ” . Di tempat ini berbagai barang keperluan Muslim bisa didapat, seperti sajadah, Al-Quran, henna semir rambut dan kuku serta barang-barang kelontong lain. Ini memang  daerah dimana Muslim banyak bermukim.

Sementara pasar Seng adalah pasar di Mekah dimana berbagai barang oleh-oleh haji banyak di dapat. Ini adalah tempat kesukaan jamaah haji Indonesia. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi karena tergusur proyek perluasan Masjidil Haram.

Namun betulkah ayat-ayat Allah belum menyentuh Eropa? Tidak juga .. Buktinya Tony Blair, mantan perdana mentri Inggris yang sekarang menjadi penasehat Timur tengah itu, katanya, membaca Al-Quran setiap hari!  Apapun tujuannya, bukan hak kita untuk menghukuminya.

”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (QS.Al-Anfal(8):33).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 16 juni 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

What does mean “’ the highest power outside this universe”?, bisik salah seorang peserta ” English Conversation Class” yang saya ikuti setiap hari Selasa. Ia bertanya maksud baris terakhir tulisan saya hari itu kepada seorang peserta lain yang kebetulan duduk di sebelahnya. Keduanya adalah orang Perancis.

Setengah ragu, yang ditanya kemudian menatap saya ” Maksud kamu Tuhan kan?”.  ” Tepat sekali ”, jawab saya tegas, membuat wajah peserta yang bertanya  tadi, mengkerutkan kedua alisnya, tanda heran dan bingung.

Sayapun kemudian menoleh dan bertanya kepada peserta lain yang duduk disebelah saya, juga orang Perancis, ” Kamu pemeluk Nasrani? Kamu percaya pada Tuhan kan ?”. ” Ya”, jawabnya perlahan, seakan tidak terlalu yakin … atau tidak PD ??

Itu baru salah satu contoh betapa mayoritas orang Perancis ( atau orang Barat) adalah Atheis alias kafir atau tidak mempercayai adanya Tuhan. Bagi mereka   percaya akan beradaan Tuhan, adalah lambang kemunduran dan kebodohan, lambang ke-takhayul-an. Kehidupan, dalam pandangan mereka, ya di dunia ini. Kehidupan itu hanyalah dimulai dari lahirnya seorang bayi dan diakhiri dengan matinya seseorang. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada itu istilah kebangkitan dalam kamus mereka. Kehidupan akhirat bagi mereka adalah hal yang sungguh mustahil dan tidak masuk akal.

Mulanya saya heran juga koq ada ya orang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Namun begitulah kenyataannya. Sungguh, persis seperti apa yang dikatakan orang-orang kafir sejak dahulu. Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana perasaan mereka jika mereka membaca ayat-ayat dibawah ini? Akankah hati mereka tersentuh dan menyadari kesalahan mereka ?

”Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan“.(QS.Al-An’am(6):29).

”Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?”(QS.Al-Waqiyah(56):47-48).

Hati ini bertambah miris, ketika suatu saat, seorang diantara peserta, secara bercanda mengatakan bahwa temannya itu ’kuno’ karena tidak setuju pada kehidupan dan perkawinan Homoseksual … Astaghfirullahaladzim  …

Dalam hati saya hanya bisa berkata ” Alangkah malangnya orang-orang ini. Merasa pintar, modern dan maju .. Namun nyatanya akalnya tidak sampai pada yang ghaib ”…

Pantas saja, Barat sering protes terhadap kebijaksanaan negara-negara Islam yang menerapkan hukum Islam, tentunya. Lhah, cara berpikirnya saja memang berbeda. Persis seperti ketika kita menghadapi anak kecil, yang dunianya memang hanya bermain.

” Wis .. sing waras ngalah ae ”, itu canda sehari-hari suami saya bila kami menemui orang keras kepala yang suka mempertahankan pendapat yang salah. Artinya kurang lebih , orang gila tidak usah ditanggapi …

Kali lain, yaitu pada kelas percakapan bahasa Perancis, saya menulis tentang latar belakang berdirinya Indonesia. Bersama, terutama  dari sudut bahasanya, kami mengoreksi tulisan tersebut. Tiba pada suatu bagian, dimana saya menerangkan bahwa landasan utama Indonesia adalah Ketuhanan Yang Esa.

” Aneh … bagaimana mungkin sebuah negara koq memaksa rakyatnya untuk percaya pada adanya Tuhan .. mengapa pula harus satu … Apakah itu berarti bahwa orang yang tidak percaya pada Tuhan tidak berhak hidup di negara kamu?”, tanya seorang peserta dari Italia, terheran-heran.

Belum juga saya sempat menjawab pertanyaan tersebut saking terkejutnya, seorang peserta lain, kali ini orang Perancis, menimpali :

”Lucunya lagi, orang di negara kamu harus mencantumkan agamanya di dalam KTP-nya, iya kan”.

” Bagi kami, yang aneh justru kalian .. bagaimana mungkin kalian melarang orang untuk mempercayai adanya Tuhan, bagaimana mungkin kalian melarang orang shalat di tempat umum, melarang perempuan-perempuan Muslim mengenakan jilbab ?”, balas saya berusaha menahan emosi.

” Itu hal yang berbeda. Ketahuilah bahwa Perancis adalah negara laic ( sekuler). Negri kami berprinsip bahwa agama adalah hak pribadi. Jangan dicampur adukkan dengan kehidupan bermasyarakat. Itu sebabnya di depan umum, orang tidak boleh memperlihatkan kepercayaannya”, jelas si Parisienne, sebutan bagi orang Paris, sok bijaksana.

”Dan lagi, ingat tulisan kamu minggu lalu tentang masalah kebenaran? Bagaimana mungkin kamu memaksakan ’kebenaran’ kamu adalah ’kebenaran’ bagi semua orang? Semua orang kan punya ’kebenaran’ masing-masing”, serang si orang Italia lagi.

… Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan)”. (QS.Al-Mukmin(40):74-75)

Minggu lalu saya memang sempat mengutip surat Al-Ashr dalam tulisan saya. Dan memang ia sempat merasa terganggu dengan maksud ’kebenaran’ dalam ayat tersebut.

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):1-3).

Astaghfirullah … berat nian ujian ini … kalau saja saat itu ada sesama Muslim yang sama-sama ’care’ terhadap Islam .. tentu akan lebih mudah menghadapi ’kroyokan’ orang-orang kafir ini …   Apa boleh buat .. Bismillah ..

” Justru itu”, jawab saya berusaha tegar. ” Karena setiap orang merasa mempunyai ’kebenaran’ masing-masing maka ’kebenaran’ mana sebenarnya yang paling benar. Ya tentu saja ’kebenaran’ Dia yang mempunyai alam semesta ini, Dia yang menciptakan kita semua ini. Dialah pasti yang paling benar”.

” Nah, kamu berbicara soal agama itu”, potong si Perancis.

Haaah?!?!?  … saya langsung terdiam, tidak menyangka bahwa ia memotong pembicaraan dengan kalimat seperti itu. Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Yaaah .. sayang sekali .. ternyata jam ’terbang’ saya benar-benar sedikit sekali. Dengan penguasaan bahasa asing yang masih terbatas sungguh sulit untuk berbicara dan membahas masalah agama, dalam hal ini Islam. Saya benar-benar merasa kecewa tidak mampu meneruskan perdebatan tersebut.

Padahal bila saja bisa sedikit menahan emosi, seharusnya itu bukan kendala besar. Bukankah itu justru bukti betapa antara agama dan arus kehidupan sehari-hari tidaklah mungkin dipisahkan ?? … L

Ironisnya, 2 minggu setelah pembicaraan diatas, saya belum tergerak untuk kembali menghadiri klas percakapan berbahasa Perancis tersebut. Saya masih merasa malas dan rasanya rasa kesal bercampur putus asa masih bercokol dalam hati ini. Meski, kebetulan saya memang masih sibuk dengan urusan lain hingga saya masih mempunyai alasan untuk tidak hadir.

Pertanyaan saya ” Sanggupkah saya meneruskan dakwah ini” ? Ya, Allah bantulah hamba ini untuk menata emosi dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi disamping juga kemampuan untuk berkomunikasi dan berdebat dalam bahasa asing yang tidak gampang ini …

Terngiang ditelinga ini, kata-kata Yusuf Qurdhowi, cendekiawan Muslim Mesir ternama itu, ” Adalah wajib hukumnya bagi seorang Muslim yang tinggal di negri kafir untuk mendakwahkan Islam. Bila tidak, itu sama dengan menganiaya diri sendiri”.

Ya Allah, berat niaaan .. 😦 ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 6 juni 2011.

Vien AM.

Read Full Post »