Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2011

Knud Valdemar Gylding Holmboe lahir pada 22 April 1902, sebagai anak tertua dari keluarga pedagang yang terpandang di kota Horsens, Denmark. Sejak remaja, Knud sudah tertarik dengan ilmu filsafat dan agama dan dalam usia muda, Knud sudah bekerja sebagai wartawan magang dan menulis untuk sejumlah koran lokal di Denmark.

Pada usia 20 tahun, Knud menyatakan memeluk agama Katolik dan tinggal di sebuah seminari di Clairvaux, Prancis. Dengan cepat ia membaur dalam kehidupan biara dan ingin memperdalam ilmu agamanya ke tempat lain. Tahun 1924, ia pun pergi ke Maroko dan di negara inilah ia malah mengenal Islam.

Knud sering menemui seorang syaikh di sebuah masjid kecil di kawasan pegunungan di negara itu. Dari pertemuan-pertemuan itu, Knud menyadari bahwa hatinya terpaut pada Islam. Setahun kemudian, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Pulang ke Denmark, Knud menerbitkan buku pertamanya “Poems” berisi tulisan-tulisannya tentang kematian, kehidupan, keyakinan dan gurun pasir. Tak lama setelah buku pertama, Knud menerbitkan buku tentang pengalamannya selama tinggal di Maroko berjudul “Between the Devil and The Deep Sea – a dash by plane to seething Morocco”.

Tahun 1925, Knud melakukan perjalanan ke Timur Tengah, mulai dari Suriah, Palestina, Yordania, Irak dan Persia. Ia menyaksikan sendiri pertikaian politik di Baghdad dan Palestina, yang menjadi cikal bakal ketidakstabilan situasi Timur Tengah hingga sekarang.

Setelah Timur Tengah, pada tahun 1927, ia mengunjungi kawasan Balkan bersama isterinya yang baru dinikahinya. Di Albania, ia menyaksikan bagaimana orang-orang Italia menindas komunitas Muslim. Knud menulis dan mengirimkan banyak artikel serta foto apa yang ia saksikan di Albania ke media massa di Denmark. Salah satunya yang memicu kontroversial adalah artikel Knud tentang tindakan penguasa Italia menggantung seorang pendeta Katolik terkemuka Albania. Cerita itu menyebar ke seluruh Eropa dan membuat otoritas Italia marah besar.

Saat kembali ke Denmark, Knud mencoba keberuntungannya dengan menjadi editor di sebuah koran lokal. Tapi kesulitan ekonomi membuatnya memilih meninggalkan Denmark. Bersama istrinya, Nora dan puterinya, Aisha, Knud pindah ke Maroko. Knud juga mengganti namanya menjadi Ali Ahmed El Gheseiri, yang merupakan terjemahan bebas nama asli Knud ke dalam bahasa Arab.

Ikut Jihad Melawan Italia.

Tahun 1930, Knud melakukan perjalanan yang membuatnya menjadi terkenal. Dengan menggunakan mobil Chevrolet Model 1929 dari Maroko melintasi gurun Sahara menuju Mesir. Saat melewati Libya, Knud lagi-lagi menyaksikan perlakun buruk penguasa Italia yang saat itu menjajah Libya, terhadap masyarakat Muslim di negeri itu. Orang-orang Italia itu menggantung, mengeksekusi, menyerang, menyiksa penduduk Muslim serta merusak sumber nafkah mereka sehingga penduduk Muslim di Libya hidup dalam kemiskinan. Knud menulis dan mengambil foto-foto apa yang disaksikannya di Libya.

Pengusa Italia di Libya tidak tinggal diam. Mereka menangkap Knud di kota Derna dan mengusir Knud dari Libya. Sejak itu, Knud memutuskan untuk bergabung dengan gerakan perlawanan rakyat Libya yang dipimpin oleh Syaikh Omar Al-Mokhtar.

Knud tetap melanjutkan perjalanannya ke Mesir. Di negeri Piramida itu, ia berjuang keras meyakinkan masyarakat Muslim di Mesir untuk membantu jihad muslim Libya melawan penjajahan Italia. Knud sedang bersiap-siap membawa bantuan dengan karavan ke kota Al-Kufra, Libya, ketika duta besar Italia untuk Mesir meminta otoritas Inggris dan Mesir menangkap dan menjebloskan Knud ke penjara. Sebulan lamanya ia mendekam di penjara, lalu dipulangkan dengan kapal laut ke negara asalnya, Denmark.

Di Denmark, Knud menuliskan kekejaman penjajahan Italia di Libya dalam bukunya “Desert Encounter”, yang dengan cepat menjadi buku terlaris di Denmark dan beberapa negara Eropa lainnya, serta di AS. Di Italia, buku itu dinyatakan terlarang hingga tahun 2004. Pemerintah Italia menghabiskan dana ribuan dollar untuk melakukan kampanye hitam terhadap buku Knud tersebut dan memanfaatkan media massa di Italia untuk membantah semua tulisan-tulisan Knud tentang kejahatan perang Italia di Libya.

Tahun 1931, Knud kembali melakukan perjalanan. Kali ini ia berencana ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanannya, ia menyempatkan diri bertemu dengan para pemimpin dan tokoh perlawanan Libya yang diasingkan ke Turki, Yordania dan Suriah. Saat berada di Suriah, masyarakat Arab sedang melakukan demonstrasi besar-besaran di depan kantor konsulat Italia di Damaskus. Lagi-lagi Knud diusir dari Suriah. Knud boleh masuk ke Yordania dan melanjutkan perjalanannya ke Mekkah, setelah kantor konsulat Denmark di Istanbul menyampaikan proters keras atas perlakuan terhadap Knud.

Dibunuh Saat Menuju Mekkah.

Pemerintah Italia masih menyimpan rasa khawatir terhadap Knud. Mereka takut Knud akan menyerukan jihad melawan Italia sesampainya di Mekkah. Untuk itu, Italia melakukan berbagai cara untuk mencegah Knud agar tak sampai ke Mekkah. Knud mengalami berbagai macam percobaan pembunuhan ketika masih berada di Amman, Yordania. Namun Knud tetap pada rencananya semula untuk pergi ke Mekkah. Ia membeli seekor unta dan melanjutkan perjalanannya ke Aqaba. Di sini, ia harus menunggu izin masuk ke wilayah Kerajaan Saudi.

Tanggal 11 Oktober 1931, Knud meninggalkan untanya di dekat perbatasan Saudi. Ia konon sedang bermalam di dekat oasis Haql ketika sekelompok suku Arab Badui mendatanginya. Suku di Saudi itu dikenal sebagai sekutu orang-orang Italia yang menguasai wilayah itu. Mereka menyuruh Knud untuk melanjutkan perjalanan sendirian dan di tengah jalan antara Al-Haql dan Humayda, Knud diserang dan disergap. Tapi malam itu juga, Knud berhasil meloloskan diri, ia berenang menjauhi bibir pantai. Saat kelelahan dan terdapar di sebuah pesisir pantai, suku Arab Badui menemukan Knud dan langsung menembaknya hingga tewas. Usia Knud saat itu baru 29 tahun. Jenazahnya dikubur di dekat pantai.

Petugas perbatasan Yordania Arif Saleem berusaha mengejar seorang syaikh, pemimpin kelompok yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan terhadap Knud. Saleem berhasil menangkapnya di wilayah Aqaba dan menginterogasinya selama beberapa jam. Tapi atas perintah komandan pasukan Inggris John Glubb, syaikh itu akhirnya dibebaskan. Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa sejumlah anggota suku yang membunuh Knud, melakukan bunuh diri massal ketika tentara-tentara yang setia dengan Raja Ibnu Saud menghancurkan kamp-kamp mereka.

Tulisan, buku-buku dan foto-foto karya Knud menjadi warisan bersejarah yang sangat penting. Setelah Perang Dunia II usai, Italia diseret ke pengadilan internasional, tapi masyarakat Muslim di Libya tidak pernah menerima kompensasi atas kekejaman yang dilakukan pemerintah Italia selama menjajah Libya. Jenazah Knud juga tidak pernah dipulangkan ke Denmark.

sumber : eramuslim.

Diambil dari :

http://muallaf-online.blogspot.com/2011/03/knud-valdemar-mualaf-asal-denmark-yang.html

Jakarta, 22 Agustus 2011.

Vien AM.

Semoga Allah swt membalas perjuangan hebat sang mualaf dengan balasan sebaik-baiknya. Dan semoga dapat menjadi pemicu kita, yang terlahir Muslim, agar peduli terhadap penderitaan saudara-saudara kita seiman, dimanapun berada.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Read Full Post »

Buat saya pribadi, pengalaman paling menyedihkan ketika kita di negri minoritas Muslim adalah ketika Lebaran. Lebaran atau Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah sebulan lamanya kita berpuasa, mengendalikan hawa nafsu. Makan minum dan seks adalah diantara yang harus dijaga, meski hanya ketika siang hari saja.

Pada hari kemenangan ini Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk mendirikan shalat Ied sebanyak 2 rakaat, sebaiknya di lapangan terbuka. Di tanah air biasanya ritual ini diteruskan dengan acara silaturahmi. Bermaaf-maafan, ‘sungkeman’, berbincang dan ‘guyon’  melepas rindu sambil menyantap ketupat lebaran beserta kelengkapannya adalah sebuah kesempatan indah yang rasanya sulit untuk ditinggalkan begitu saja.

Bahkan tidak jarang, Lebaran adalah momen langka dimana seluruh anggota keluarga besar bisa berkumpul. Kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, anak, ponakan, cucu semua berbaur menjadi satu. Ini yang menjadi penyebab mengapa ‘tradisi’ pulkam alias pulang kampung menjadi suatu ‘keharusan’.

Meski beberapa kali para ulama mengingatkan bahwa acara kumpul-kumpul tersebut bukan bagian dari syariat tapi tetap saja ritual tersebut berjalan lancar tiap tahunnya.  Setiap menjelang lebaran kita bisa menyaksikan betapa berjuta-juta orang Indonesia rela bermacet-macet ria demi menjalani acara tahunan pulkam ini. Tidak hanya dari dan ke daerah namun juga yang tinggal jauh di negri seberangpun tak mau ketinggalan momen istimewa ini.

Nah, buat kita-kita yang dengan berbagai alasan tidak pulkam nih … Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun ada semacam perasaan ‘terlupakan’ .. L .. Itu sebabnya sebisa mungkin biasanya mereka-mereka ini berusaha menemukan suasana penggantinya. Kedutaan Besar biasanya adalah tempat berlabuhnya.

Begitu juga kami. Saya dan keluarga sempat mengalami hal ini beberapa kali. Beruntung kami tinggal di kota dimana kedutaan negri kita tercinta berkedudukan. Itulah Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI di Paris, Perancis.

Dua minggu sekali pihak KBRI mengadakan acara buka puasa bersama. Ta’jil seperti kolak, es cendol dll adalah menu yang bisa dibilang selalu hadir. Sementara shalat taraweh hanya diadakan pada setiap malam minggu. Namun bila mau kita dapat pergi ke Mosquee de Paris. Masjid terbesar di Paris ini menyelenggarakan shalat taraweh setiap hari. Juga beberapa masjid kecil di sekitar kota tersebut. Sayangnya, tausiyah diberikan dalam bahasa Arab. Harap maklum, sebagian besar jamaah masjid-masjid tersebut memang orang Arab atau keturunan Arab.

Beruntung KBRI menyelenggarakan shalat Ied. Meski shalat hanya diadakan di dalam ruang aula yang letaknya di bawah tanah. Sementara shalat yang diizinkan oleh pemerintah setempat hanya yang diselenggarakan di dalam lingkungan masjid, tidak di lapangan terbuka.

Yang menjadi masalah adalah anak-anak sekolah. Di negri paman Sarkozy ini tidak ada yang namanya libur Idul Fitri. Padahal negri yang mengaku diri berazaskan demokrasi dan ‘laic’ alias sekuler ini secara resmi merayakan sejumlah hari besar keagamaan termasuk beberapa hari besar Yahudi, tentu saja di luar hari-hari besar Kristen. Namun nyatanya tak satupun hari besar Islam yang diberi tempat dan penghormatan yang layak, meski jumlah Muslim jauh lebih banyak daripada penganut Yahudi. Akibatnya, anak-anak , juga para karyawan Muslim terpaksa harus meminta izin atau kalau perlu terpaksa bolos ketika akan mendirikan shalat Ied, shalat hari kemenangan yang hanya setahun sekali diselenggarakan itu.

Beruntung tahun ini, kami sekeluarga diberi keleluasaan untuk menekuni Ramadhan di tanah air. Alhamdulillah kami dapat mendirikan shalat taraweh di masjid setiap hari, kalau mau. Tetapi tak urung ternyata ada sedikit kekecewaan menyelinap di hati ini.

Di kampung halaman yang dirindukan ini, dimana sebagian besar penduduk adalah Muslim, shalat taraweh ternyata malah tidak seindah di negri non Muslim. Mengapa bisa begitu?

Pertama, brisik.

Ya, brisik. Di masjid Paris, nyaris tidak ada seorangpun berani berbicara bahkan berbisik-bisikpun tidak ketika tausiyah sedang diberikan. Semua orang terlihat memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan sang uztad. Malah, begitu nama Muhammad Rasulullah disebut, langsung gumaman shalawat terdengar khidmat diucapkan. Subhanallah .. Betapa indahnya …

Bagi saya, shalat di masjid–masjid Paris laksana shalat di tanah suci. Ini bukan hanya karena imamnya fasih berbahasa Arab namun juga suasananya. Benar-benar khusuk !  Dalam hati saya berpikir, apa ini karena mereka memahami bahasanya? Oh, alangkah beruntungnya kalau saja saya dapat memahami bahasa Arab. Bukankah kitab suci kitapun berbahasa Arab? Bukankah Rasulullah dan para sahabat yang membela mati-matian Islam juga orang Arab? Bahkan shalatpun haram membaca terjemahannya meski kita tidak paham, bukan ?

Yang juga membuat saya heran, kenapa di tanah air, orang, terutama para ibu, sering mengajak anak-anaknya yang masih kecil ke masjid tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu adab dan sopan santun di masjid. Anak-anak berteriak-teriak, bermain kejar-kejar bahkan diatas sajadah kita ! Ya Allah ..

Tentu saja ini tidak terjadi di semua masjid. Namun fenomena ini ada dan yang jelas ini saya alami sendiri.

Yang kedua, shaf-shaf yang kosong dan berjarak.

“ Sebaik-baik shaf pria adalah shaf terdepan dan seburuk-buruk shaf adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf perempuan adalah shaf terakhir dan seburuk-buruk shaf perempuan adalah yang terdepan”. 

Hadits diatas berlaku ketika tempat shalat antara kaum lelaki dan kaum perempuan tidak terdapat tirai pembatas. Jika ada, shaf terbaik kaum perempuan sama dengan kaum lelaki, yaitu shaf terdepan.

Namun meski setiap kali sebelum shalat dimulai imam mengumumkan agar barisan dirapikan, tetap saja para perempuan tidak bergeming dari kedudukan awalnya. Seolah pengumumam tersebut hanya berlaku untuk kaum lelaki. Beberapa kali saya mencoba mengingatkan untuk merapatkan shaf, nihil hasilnya. Dengan sajadahnya masing-masing yang berlebar kurang lebih 60 cm malah mungkin lebih, masing-masing bertahan di tempatnya yang satu sama lain berjauhan.

Sedihnya lagi, ini juga terjadi ketika shalat Ied. Shaf kosong tidak segera diisi. Jamaah yang baru datang lebih memilih tempat terdekat yang dicapai atau tempat teduh daripada jauh-jauh harus menyelinap dan mengisi shaf kosong. Meski seringkali dengan alasan shaf telah terisi tumpukan sandal jamaah.

” Yaah .. emang sandal ikut shalat apa? Kenapa bukannya bawa tas plastik atau menyembunyikannya  dibawah sajadah aja sih?”, pikir saya kesal.

Sungguh terbalik dengan apa yang terjadi di masjid Paris. Di sana, bahkan untuk duduk miring pada tahiyat akhirpun hampir mustahil. Bahu kami saling bersentuhan, persis seperti yang dianjurkan syariat. Tak ada sedikitpun lowongan bagi syaitan untuk menyelinap diantara kami dan mengganggu shalat kami.

Yang terakhir, salam yang mendahului imam.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Selesai shalat beliau menghadap kepada kami dan berkata : “Wahai sekalian manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku ketika ruku’, sujud, berdiri, dan salam. Karena aku dapat melihat kalian di hadapanku maupun di belakangku.” 

Hadits diatas jelas mengajarkan kita untuk tidak mendahului gerakan imam. Namun sering saya jumpai ‘tetangga’ saya sudah menoleh ke kiri sebelum imam selesai mengucap salam.  Padahal di masjid Paris, salam ini mampu membuat saya merinding haru. Secara serempak makmum mengucap salam agak keras sambil menoleh ke kanan dan kiri begitu imam usai mengucap salamnya yang kedua, bukan yang pertama. Dan karena salam diucapkan dengan agak keras saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh didoakan ‘tetangga’ dengan ikhlas bukan sekedar ritual.

Yaah, begitulah .. dibalik sebuah kesusahan pasti ada juga hikmahnya.

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS.Al-Insirah(94):6).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Agustus 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Mempelajari Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab sucinya saja. Mengapa demikian? Ada beberapa penyebab mengapa untuk mengenal ajaran Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab suci agama tersebut.

Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw melalui perantaraan malaikat Jibril as. Sebelum kitab ini Allah swt pernah menurunkan beberapa kitab kepada para rasul, diantaranya kitab Zabur kepada nabi Daud as, kitab Taurat kepada nabi Musa as dan kitab Injil kepada nabi Isa as. Kitab-kita tersebut diturunkan melalui malaikat yang sama, yaitu Jibril as.

Diantara kitab-kitab tersebut terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan. Persamaan yang mendasar adalah perintah untuk menyembah hanya kepada Allah swt. Sedangkan perbedaan mencolok terletak dari cara turunnya.

Al-Quran turun secara berangsur-angsur, yaitu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Ayat –ayat tersebut turun tidak dengan urutan seperti yang kita lihat saat ini. Malaikat  Jibrillah  yang memberitahukan langsung kepada Rasulullah bagaimana letak dan susunan ayat dalam surat harus diletakkan.

Perumpamaannya adalah seperti rak lemari kosong yang telah diberi sekat, no dan tanda. Kemudian Rasulullah tinggal memasukkan dan menyelipkannya sesuai no dan tanda yang tertera. Susunan Al-Quran yang seperti  ini sesuai dengan kitab yang ada disisi-Nya dan dijaga ketat oleh para malaikat, yaitu yang ada  di Lauh-Mahfuz.

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. (22 tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat-ayat Al-Quran turun begitu saja tanpa penyebab tetapi tidak jarang pula  diturunkan sebagai jawaban suatu permasalahan atau keadaan tertentu dan  bahkan ada yang turun atas pertanyaan pribadi. Ini yang menjadi penyebab utama  mengapa kitab suci ini tidak dapat dibaca layaknya kitab-kitab lain, yaitu dibaca berurut dari depan ke belakang lalu memahaminya secara tekstual.

Untuk dapat  memahami dengan baik apa yang dimaksud ayat-ayat Al-Quran diperlukan pemahaman latar belakang, keadaan dan  suasana ketika ayat turun disamping memahami bahasa Arab, arti secara bahasa maupun secara istilah, khususnya yang berlaku umum pada masa itu.

Itulah urgensi mengenal, mengetahui dan memahami  sejarah kehidupan  Muhammad saw, nabi yang mendapat kehormatan untuk menerima kitab suci ini. Itulah yang disebut Sirah Nabawiyah.

Logo Muhammad sawMuhammad saw adalah seorang hamba Allah yang sejak kecil bahkan calon ayah ibunyapun telah dipersiapkan secara matang oleh Sang Khalik. Beliau adalah seorang hamba pilihan yang telah ditunjuk secara terhormat untuk mengemban tugas maha berat, yaitu menerima wahyu Allah dan kemudian menyampaikannya kepada umat manusia.  Yang tak lama setelah menunaikan misi suci tersebut dengan sangat memuaskan maka Allahpun memanggilnya. Maasya Allah …

Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah inilah kita dapat mengetahui makna sebenarnya perintah dan maksud ayat-ayat suci al-Quran. Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah kita dapat mengetahui bagaimana Rasulullah memahami dan merespons perintah-perintah Tuhannya. Uniknya, kadang perintah tersebut direspons Rasulullah tidak secara kontekstual. Contohnya  adalah cara berwudhu.

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,… ”. (QS Al-Maidah (5): 6).

Dalam prakteknya Rasulullah menyempurnakan wudhu dengan membasuh tapak tangan, berkumur, memasukkan dan mengeluarkan air dari hidung serta membasuh kedua telinga. Dan Allah swt  tidak melarang hal tersebut. Artinya Sang Khalik meridhoi apa yang dilakukan nabi.

Jadi selama Allah swt  mendiamkan dan tidak menegur apa yang dilakukan Rasulullah, wajib kita mencontohnya.

Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS.An-Nisa(4):80).

Dari sini tampak jelas bahwa  untuk memahami  Al-Quran tidak cukup hanya dengan sekedar membacanya kemudian mengartikan dan  menafsirkannya sesuai pengetahuan dan pengertian akal kita.

Para sahabat yang ketika itu sedang berada di sisi Rasulullah adalah saksi turunnya ayat-ayat. Mereka tahu persis bunyi ayat yang turun karena Rasulullah memang selalu langsung menyampaikan apa yang diterimanya itu. Beliau bahkan memerintahkan mereka untuk segera menghafalnya. Meski demikian dalam penerapannya  mereka tetap mengerjakan apa yang dicontohkan junjungan mereka itu.

Sebaliknya, bila dalam perjalanannya ternyata ada sejumlah perbedaan penafsiran, ini harus dimaklumi. Karena Rasulullah pada awalnya memang  melarang  menuliskan apa yang dikatakan, dikerjakan dan diamnya Rasulullah  karena khawatir bercampur dengan ayat-ayat Al-Quran itu sendiri.

Namun Rasulullah  tetap memerintahkan  para sahabat agar mengingat, mencatat dalam  hati dan kemudian meneruskan serta menyampaikannya kepada yang lain. Yang juga harus diingat, ada saat-saat dalam  keadaan dan situasi tertentu dimana  Rasulullah menyikapinya dengan sikap dan cara berbeda.

Ini yang menjadi penyebab menambahnya perbedaan hadits. Beruntung beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah, sejumlah sahabat dan  para  tabi’in segera memutuskan untuk menuliskannya. Ini dilakukan  demi menjaga agar hadist tetap terjaga ( dengan segala macam perbedaannya), dengan pertimbangan ayat-ayat Al-Quran otomatis telah turun sempurna dengan wafatnya Sang Utusan. Dan juga agar tidak makin sering dipalsukan baik sengaja maupun tidak.

Tampaknya ini sudah menjadi sunatullah. Perbedaan selama bukan mengenai hal-hal yang pokok dan masih mengikuti apa yang pernah dicontohkan Rasulullah tetap dibenarkan. Kita tidak boleh saling merasa bahwa kitalah yang benar dan pihak lain salah.

Perbedaan pendapat (di kalangan) umatku adalah rahmat”.(HR. Al-Baihaqi).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549

Sebaliknya orang  yang suka mencari-cari perbedaan secara sengaja, diantaranya dengan mentakwilkan ayat-ayat Mutasyabihat, Allah melaknatmya. Tempat mereka adalah neraka jahanam. Inilah yang sering dilakukan musuh-musuh Islam, termasuk juga orang-orang Munafik yang tega menjual ayat-ayat Allah demi kepentingan pribadi, keluarga atau kelompoknya. Juga ulama-ulama su’ ( ulama jahat) seperti yang telah diperingatkan Rasulullah akan muncul di akhir zaman nanti.

Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah bersabda, Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-Hakim)

Ayat  Mutasyabihat adalah  ayat-ayat yang samar, yang seringkali  membutuhkan pemikiran yang bahkan seringkali memang tidak dapat ditakwilkan. Contohnya adalah “Mim”, “ Nuun”, “ Alif Laam Miim” ) dan yang semacamnya.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah”.(QS.Ali Imran(3):7).

Rasulullah saw telah lama meninggalkan kita. Demikian pula para sahabat dan para tabi’in beserta generasinya. Allah swt memerintahkan umat Islam tidak hanya mematuhi Allah dan rasul-Nya namun juga para ulil amri atau pemimpin yang menjunjung tinggi ayat-ayat-Nya. Demi mencegah perpecahan dan  memberi  manfaat yang banyak bagi umat, mereka diberi keleluasaan memaknai ayat-ayat suci Al-Quran  dan hadits. Inilah ijma dan istihad yang bisa menjadi rujukan umat.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS.An-Nisa’(4)59).

Adalah tugas kita, umat Islam, saat ini,  untuk menjaga kesucian dan keutuhan Al-Quran, isi dan maknanya. Para hafidz adalah garda terdepannya. Sementara kaum Muslimin dan Muslimat, secara keseluruhan, wajib menjaganya minimal dengan mengetahui bagaimana Rasulullah menyikapi dan memaknai isi Al-Quran tersebut. Inilah urgensi mengenal Sirah Nabawiyah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 Agustus 2011.

Vien AM.

Read Full Post »