Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 25th, 2013

Jakarta kembali dilanda banjir. Orang bilang banjir 5 tahunan. Sebuah sebutan yang sama sekali tidak saya sukai. Lha wong bencana koq dijadwal, seperti ujian sekolah saja. Pasalnya karena pada tahun 2002 dan 2007 lalu ibu kota republik ini juga kebanjiran. Bahkan bulannyapun sama, sekitar Januari – Februari. Karena bulan-bulan tersebut memang bulan dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Sementara banjir kali ini terjadi pada tahun 2013. Jadi sebenarnya bukan 5 tahun tapi 6 tahun. Kesimpulannya, “ maksa.com”, kata anak gaul sekarang, alias memaksakan istilah.

Lebih ajaib lagi, kalau memang banjir bisa diprediksi mengapa tidak ada antisipasinya. Paling tidak begitulah kesannya. Dan yang lebih ajaib lagi, banjir tersebut makin tahun makin parah. Contohnya, di perumahan ibu mertua saya di Pejompongan. Kakak ipar saya menuturkan bahwa banjir pada tahun 2002 air masuk rumah ‘hanya ‘ sebatas semata kaki. Pada tahun 2007 naik hingga ke betis. Dan tahun 2013 ini hingga pangkal paha !

Pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah dengan ibu kota ini ? Bukankah hujan itu rahmat ? Bukankah Jakarta yang rata-rata temperaturnya 30 derajat, dibawah guyuran hujan terasa lumayan adem ? Bukankah Jakarta dengan jalanannya  yang selau berdebu terasa agak berkurang polusinya dengan adanya hujan ?

Secara umum setiap mahluk  hidup : manusia, tanaman dan hewan selalu  membutuhkan air. Bahkan sebagai kebutuhan utamanya. Tanpa air tanaman tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga dan berbuah. Demikian pula hewan. Tanpa air, tidak mungkin ia berkembang biak dan menghasilkan susu dan daging yang baik untuk dikonsumsi. Lalu apa yang dapat kita makan bila tanaman dan hewan berhenti berproduksi? Cukupkah hanya dengan minum saja ? Padahal tanpa hujan, sungai akan kering. Demikian pula mata air pegunungan. Tanpa makan, apalagi minum mungkinkah manusia bisa bertahan hidup ?

Jadi kesimpulannya, benar,  hujan adalah rahmat. Namun mengapa hujan yang melanda Jakarta yang tercinta ini malah menjadi petaka?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Ayat di atas menunjukkan secara jelas bahwa Allah lah yang menurunkan hujan dari langit. Diturunkan-Nya air tersebut sesuka dan sekehendak-Nya, melalui putaran angin dan awan yang dikendalikan-Nya. Dia pulalah yang mengatur agar air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terserap oleh tanah. Itulah yang orang sering menyebutnya sebagai hukum alam, Sunattullah.

Lebih dasyat lagi, secara teoritis, berdasarkan tanda-tanda, gejala dan pengalaman, semua itu dapat dipelajari. Itulah fenomena alam, yang bisa terjadi hanya karena izin-Nya. Dibuka-Nya rahasia tersebut kepada orang-orang yang mau berpikir, yang mau menggunakan akal yang diberikan-Nya.

Artinya, bila ternyata hujan yang seharusnya adalah rahmat itu ternyata malah menjadi bencana, ini adalah kesalahan manusianya. Allah swt telah menciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal kita yang amat dan nyaman. Berbagai fasilitas telah disediakan-Nya, tanpa dipungut bayaran alias gratis. Kita tinggal memanfaatkan dan memeliharanya.

Namun kenyataannya kerusakan telah terjadi dimana-mana. Pendangkalan sungai sebagai akibat berbagai ulah buruk manusia, membuang sampah ke dalam sungai, adalah contoh yang paling sederhana tetapi fatal dampaknya. Penggundulan hutan, pembangunan gedung yang tidak memperhatikan penyerapan air dll adalah contoh lainnya.

Namun demikian, pernahkah terbersit pertanyaan, mengapa bencana banjir tidak terjadi setiap kali hujan besar datang.  Secara teoritis, para ilmuwan pasti mempunyai jawaban yang beragam  tentang hal ini. Yang kemungkinan besar juga bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Tetapi. dapatkan mereka memastikan dimana, kapan dan bagaimana tepatnya bencana itu bakal terjadi?? Jawabannya pasti, “ Tidak dapat ! “, selalu ada kemungkinan lain yang diluar prediksi akal manusia.

Disinilah kekuasaan Allah swt sebagai Sang Pemilik berbicara. Tanpa izin-Nya tidak mungkin segala sesuatu  dapat terjadi. Manusia hanya bisa berusaha namun Dialah yang menentukan hasilnya. Untuk itulah ketakwaan dibutuhkan.

Jakarta tampaknya mempunyai kesulitan besar. Selain tidak bisa menjaga lingkungan, sebagian penduduk Jakarta juga telah berkhianat pada-Nya. Tengoklah bagaimana korupsi meraja-lela, perselingkuhan, homoseksual, perkosaan, bermabuk-mabukan dan lain sebagainya yang terus saja terjadi.

Kasus Hambalang, kasus yang saat ini  sedang hangat dibicarakan dan melibatkan orang-orang beken yang terpaksa di non aktifkan gara-gara kelakuan bobrok mereka seperti mentri OR, AM, anggota DPR yang pernah menyandang ratu kecantikan, AS, hanyalah contoh kecil.  Juga ‘lelucon’ yang sama sekali tidak lucu yang keluar dari mulut seorang calon hakim agung DS yang melecehkan korban perkosaan. Padahal kedudukan hakim agung semustinya  amatlah tinggi karena menjadi cerminan keadilan sebuah bangsa. Ironisnya lagi, ‘lelucon’ tersebut keluar di tengah ramainya skandal ayah yang memperkosa  putrinya sendiri yang baru berusia 11 tahun dalam keadaan istrinya sedang diopname di RS ! Na’udzubillah min dzalik …

Sungguh memalukan, bangsa Indonesia yang menurut laporan mayoritas Muaslim, lupakah mereka akan azab Tuhan yang ditimpakan bagi para pendosa ?? Tidakkah lagi mereka membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang bisa membuat mereka sadar alangkah ngerinya siksa dan kemurkaan-Nya??

“ Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan”.(QS.Fushilat(41):16).

Banjir yang menimpa di Jakarta beberapa hari lalu kabarnya bukan karena intensitas curah hujan yang tinggi bukan juga karena kiriman dari bendungan Kapulampa di Bogor. Bendungan yang awalnya direncanakan akan dibuka karena telah mencapai ketinggian maximumnya hingga dikhawatirkan  jebol.

IMG-20130117-00039Di luar perkiraan, yang jebol justru tanggul Banjir Kanal Barat Latuharhari yang terletak di pusat kota. Tak ayal lagi, daerah-daerah elit di Jakarta pusatpun terendam banjir .  Jalan raya paling bergengsi di negri ini, yaitu jalan MH Thamrin dengan bunderan HI nya dimana hotel-hotel  mewah dan gedung pusat perkantoran serta bank-bank besar berjejer terendam air hingga menyerupai sungai. Bahkan Istana kepresidenan yang hari  itu sedang menanti tamu negarapun  tak luput dari banjir, meski hanya semata kaki.

Belum lagi nasib sebuah parkiran bawah tanah yang didera ‘tsunami’ dasyat sedalam 12 meter. Bencana  yang menyerang parkiran bawah tanah hingga minus 3 gedung mewah perkantoran ini akhirnya memakan korban 2 OB dan ratusan mobil yang sedang di parkir di dalam gedung tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tidak sampai 30 jam setelah itu,  dua buah tanggul ikut jebol secara berturut-turut, satu di perumahan Bekasi satu lagi di Pluit.  Meski belakangan kabar jebolnya bendungan Pluit dibantah, bendungan tersebut ’hanya ‘ terendam banjir. Padahal bendungan terbesar di ibu kota ini amat diandalkan kemampuannya dalam mencegah banjir.  Ironisnya, areal yang awalnya mempunyai luas 80 hektar itu saat ini hanya tinggal 50 hektar saja.  Pemukiman liar bahkan mall yang dibangun dengan izin resmi Pemda DKI telah menggeroti areal vital tersebut.

Akibatnya, 3 perumahan elit di Pluit yang harganya milyaran per unit itu,  sejumlah kompleks perumahan, ratusan sekolah serta  puluhan wilayah Jakarta terendam banjir. Sebagian ada yang mencapai ketinggian 4 meter !

Tetapi  cobaan belum usai. Esoknya, Sabtu, 19 januari, tanggul sungai Citarum ikut jebol. Tanggul yang terletak di kabupaten Karawang  Jawa  Barat ini berhasil menewaskan 2 orang akibat terbawa arus air yang luar biasa deras. Disamping merendam  tak kurang dari 900 rumah warga, ratusan hektar sawah dan memutus jalan raya menuju beberapa kota sekitar tanggul.

Jebolnya sejumlah bendungan yang menyebabkan banjir dasyat Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat ini mau tidak mau mengingatkan kita pada tragedi  memilukan ribuan tahun lalu di ibu kota Yaman.  Yaman ketika itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Saba’ dengan ratunya yang terkenal, yaitu ratu Bilqis atau Balqis. Negri ini makmur karena tanahnya yang subur berkat adanya bendungan Ma’rib. Bendungan ini terletak di kota Ma’rib, yang berlokasi sekitar 120 km di sebelah timur ibukota Yaman sekarang yaitu, Sana’.

Bendungan Ma’rib memiliki ketinggian 16 meter, lebar 60 meter dan panjang 620 meter. Kabarnya bendungan ini mampu mengairi areal seluas 9.600 hektar. Bendungan ini sempat mengalami beberapa kali perbaikan hingga akhirnya runtuh pada tahun 542 M. Jebolnya bendungan ini mengakibatkan “banjir besar Arim” yang dikisahkan dalam surat Saba’ ayat 15-17 sebagai berikut.

“ Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr”.

“ Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.

Saat ini situs kota Ma’rib yang telah kandas tertelan banjir masih ada menjadi saksi bisu kebesaran Sang Khalik sekaligus tanda peringatan bagi kaum yang kafir. Juga peringatan bagi kita, penduduk Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia ini agar kita selalu takwa.

Banjir dan daerah yang terendam beberapa hari lalu, saat ini mungkin sudah surut.   Namun muncul masalah baru, berbagai keluhan dan penyakit mulai timbul.   Keluhan-keluhan yang datang dari para pengungsi yang jumlahnya mencapai puluhan ribu itu antara lain kutu air, batuk, panas, pusing, diare, masuk angin, dan pegal-pegal.  Sebagian mengeluhkan telapak kaki yang melepuh dan pecah-pecah serta  warna kulit yang menjadi pucat akibat lama terendam air  banjir.

BMKG ( Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) masih memprediksi cerah hujan yang tinggi hingga akhir bulan ini.  Ini pertanda bahwa bencana banjir masih mengancam. Sementara perbaikan bendungan dan tanggul yang rusak serta membersihkan lingkungan penyebab banjir dan kerusakan  pasti memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kita benar-benar berkejaran dengan waktu.

Maka sembari memperbaiki lingkungan mari kita bertaubat. Jangan tunggu Allah Azza wa Jalla menjatuhkan kembali azab dan peringatan-Nya yang pedih. Mari kita bermohon pada-Nya agar Ia ridho menjauhkan kita dari segala kesusahan, musibah dan bencana. Bila kita mau menurut pada perintah-Nya, bertawakal hanya pada-Nya, menjadi manusia yang takwa,  pasti pertolongan akan datang. Sebagaimana yang pernah dilakukan-Nya atas kaum nabi Nuh as ribuan tahun silam.

“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”(QS.Huud(11):41).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Januari 2013.

Vien AM.

Read Full Post »