Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2013

Militer Mesir yang merupakan pendukung utama aksi kudeta terhadap pemerintahan resmi pimpinan Mursi, presiden terpilih secara demokratis, kembali memamerkan kebrutalan dan kebiadabannya. Rabu, 14 Agustus lalu, mereka menembaki dari udara demonstran pendukung Mursi yang sejak beberapa minggu terakhir tinggal di tenda-tenda  yang dibangun di 2 lapangan besar Kairo sebagai tanda protes. Militer juga membuldozer, bahkan membakar tenda-tenda tersebut, tanpa peduli di dalam ada penghuninya.  Alhasil, ratusan orangpun tewas, menurut sumber resmi pemerintah pengkudeta, ribuan menurut Ikhwanul Muslimin. Belum lagi korban  terluka yang kabarnya mencapai 4000-an orang.

Seperti kesetanan, keesokan harinya, militer yang ‘normalnya’ berfungsi sebagai pelindung rakyat, masih juga menembaki dan membakar sebuah rumah sakit yang menampung korban pembantaian mereka.  Astaghfirullahaladzim … Hanya orang buta tuli tak berhati saja yang tak akan tersentuh oleh tragedi memilukan ini. Apalagi secara umum, mereka adalah sesama Muslim. Padahal belum juga kering darah para syuhada di bumi Suriah.  Ada apa ini sebenarnya?

“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian, sehingga dia mencintai saudaranya (sesama Muslim) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri “. ( HR. Bukhori).

Catatan resmi melaporkan, berbagai kerusuhan yang terjadi di Timur Tengah, diawali pada Desember 2010.  Ketika itu, hampir secara serempak,  di Tunisia, Libia, Mesir, Yaman, Suriah, Aljazair, Maroko, Irak, Kuwait, Yordan, Bahrain dan  Sudan, terjadi gelombang protes melawan kekuasaan pemerintahan masing-masing yang dianggap tidak demokrasi, otoriter, pemimpin yang diktator, dan tidak pro rakyat. Media menyebut rentetan peristiwa ini dengan nama The Arab Spring.

Tetapi hingga detik ini, setelah 2 tahun 8 bulan berlalu, kerusuhan bukannya mereda malah sebaliknya makin memarah, meski di sebagian negara, presiden baru telah terpilih secara demokrasi. Contoh yang paling jelas ya Mesir itu tadi.

Husni Mubarak, mantan presiden Mesir yang pernah berkuasa selama 30 tahun secara otoriter dan dianggap menjalankan pemerintahan secara tidak demokratis memang berhasil digulingkan. Namun penggantinya, Muhammad Mursi, yang nyata-nyata dipilih secara demokratis, pun tetap digulingkan, bahkan hanya satu tahun setelah terpilih.

Parahnya lagi, mantan presiden yang didukung Ikhwanul Muslimin ini hingga detik ini tidak diketahui keberadaannya. Kabarnya ia disembunyikan militer yang menjegalnya. Sebaliknya Husni Mubarak yang sebelumnya terancam berbagai kasus berat selama masa pemerintahannya tiba-tiba saja dibebaskan.  Dan para jenderal masa pemerintahannya dulupun kini mendapatkan posnya kembali.

Akan halnya Ikhwanul Muslimin yang dibentuk 83 tahun lalu oleh Hasan Al-Banna yang wafat dibunuh secara misterius pada tahun 1949, sejak berdirinya  memang selalu dimusuhi pemerintah. Hasan Al-Banna sendiri dikenal sebagai ulama andal yang ingin menghidupkan kembali masyarakat Islam yang sesuai dengan Al-Quran dan hadist. Untuk tujuan itulah Ikhwanul Muslimin didirikan.

Ulama yang sejak umur 14 tahun telah hafal Al-Quran alias hafiz ini hidup di masa sekulerisme mulai menjangkiti dunia Islam. Ini adalah hasil kerja Barat, khususnya kolonial Inggris untuk menghancurkan persatuan Islam, yang otomatis kandas sejak tahun 1924, seiring dengan jatuhnya kekhalifahan Islam yang berpusat di Turki. Ini masih ditambah dengan pecahnya Perang Dunia II, yang membuat Negara-negara Islam terpecah belah dan takluk kepada sekutu (Barat) yang notabene Kristen.

Maka sejak itu pulalah Islam kehilangan jati dirinya. Melalui Gazwl Fikrinya ( Perang Pemikiran), Barat  berhasil mencekoki umat Islam dengan ide-ide yang jauh dari nilai Islam. Demokrasi adalah salah satunya. Hingga akhirnya, detik ini rasanya sedikit sekali orang berani mengatakan secara terang-terangan,  bahwa demokrasi itu tidak Islami.

Bagaimana tidak, di zaman di mana orang jahat lebih banyak  dari pada orang baik, orang yang tidak tahu lebih banyak dari orang yang tahu, namun kita dipaksa harus menerima  pendapat dan pikiran orang-orang seperti itu, hanya karena mereka mayoritas dan kita minoritas. Padahal bila saja kita mau mengambil salah satu hikmah mempelajari sirah nabi ( biografi Rasulullah), musyawarah itu jauh lebih berkwalitas dari pada azas demokrasi. Demokrasi bisa dijalankan setelah masyarakat terdidik dengan baik, dapat membedakan kebenaran, mana kejahatan mana kebaikan.

Dengan mempelajari sirah nabi pula, kita bisa mengetahui bagaimana Rasulullah menerapkan  ayat-ayat Al-Quran, bagaimana Rasulullah menghadapi orang-orang musyrik, para ahli kitab dan kaum munafikun yang memusuhi Islam. Haram hukumnya menjadikan orang-orang yang tidak seagama sebagai orang kepercayaan apalagi pemimpin.

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(QS. Al-Maidah(5):51).

 “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu ( agamamu),  mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”. (QS. Ali Imran(3):118).

Namun inilah yang terjadi, sebagian besar Negara Islam dan Negara mayoritas berpenduduk Muslim saat ini menjadikan Barat sebagai kiblat, bahkan menjadikan mereka  tempat bergantung, tempat meminta bantuan dan berhutang, tidak peduli apa yang mereka sembah serta bagaimana sikap mereka terhadap umat Islam. Rasa rendah diri karena memang kaum Muslimin saat ini ‘tidak ada apa-apanya’ dibanding Barat membuat mereka rela menjual agama dan harga diri mereka, asal bisa ditrima dan disukai Barat.

“ Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. (QS. Ali Imran(3):119).

Tampak jelas bahwa Al-Quran telah diremehkan, tidak lagi diperhatikan dan dijadikan rujukan utama. Itulah keimanan yang hanya setengah-setengah. Padahal yang seperti ini dapat membuat kita masuk ke dalam golongan orang munafik.  Bukahkan Allah swt memerintahkan kita agar masuk Islam haruslah secara kaffah ( keseluruhan ) bila ingin selamat, dunia akhirat.

Harusnya kita benar-benar menyadari bahwa orang-orang munafik adalah musuh terberat, karena mereka musuh dalam selimut, yang sewaktu-waktu bisa menikam tanpa kita sadari, yang diam-diam membantu musuh ketika kita sibuk berperang. Sungguh, betapa berbahayanya orang munafik itu. Tidak heran jika Al-Quran mengancam mereka ini dengan kerak neraka, neraka yang terdalam letaknya. Padahal sebenarnya surga sudah berada di genggaman bila saja  mereka mau memperdalam agamanya, tidak berburuk sangka dan yakin bahwa Allah pasti menolongnya, di dunia maupun di akhirat.

Tampaknya inilah yang terjadi di Negara-negara Timur Tengah yang notabene Islam. Suriah dengan Basar Assadnya yang Syiah, sebuah aliran agama yang mengaku Islam namun meragukan keaslian Al-Quran, menjadikan pemimpinnya sesembahan, maksum alias mustahil berbuat kesalahan, melestarikan kawin mut’ah yang identik dengan perzinahan dan menjadikan carcian sebagai bagian dari syahadat, tak tanggung-tanggung,  carcian tersebut terhadap para sahabat dan istri Rasulullah pula !

Tak heran bila detik ini tanpa ragu, bahkan dengan sadisnya mereka membantai habis-habisan rakyat yang dianggap tidak sepaham dengan pemikiran mereka. Terbuka sudah kedok yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat dibalik taqiyahnya, yaitu dakwah lemah lembut yang menjadi syarat ulama Syiah itu.

Jadi Arab Spring ini sebenarnya memang sunatullah. Kebenaran pasti akan datang. 89 tahun sudah umat Islam tidur lelap dalam mimpi buruknya. Abad 15 hijriyah yang sering  disebut-sebut sebagai era kebangkitan Islam tampaknya sedang menuju realita. Inilah fenomena akhir zaman yang telah diprediksi Rasulullah saw.

Dari Abu Hurairah Ra., katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Hari qiamat tidak akan terjadi sehingga harta benda melimpah ruah dan timbul banyak fitnah (ujian, kesesatan, kekufuran, kegilaan, penderitaan, mushibah) serta sering terjadi “al-Harj”. Sahabat bertanya, “Apakah al-Harj itu wahaii Rasulullah?”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Peperangan, peperangan, peperangan. Beliau mengucapkannya tiga kali,” (HR. Ibnu Majah).

Hari ini dunia ini telah disesaki berbagai gadget, harta benda hasil kemajuan teknologi yang demikian pesat. Dimana-mana hiruk pikuk dan kemewahan duniawi bergaung keras, membenamkan bisikan hati nurani jauh-jauh ke dalam sana. Namun rupanya tak cukup untuk benar-benar menguburkannya. Buktinya yaitu tadi, Arab Spring, gelombang protes yang menyuarakan hati hamba-hamba Allah yang menyadari bahwa hari pembalasan akan segera tiba.

Perang antara hisbullah (pasukan Allah) sebagai pembawa kebenaran melawan hisbusyaitan (pasukan syaitan) sebagai pembawa kejahatan pasti akan terjadi, bukan perang antara Timur vs Barat, atau antara Islam vs Kristen/Yahudi sebagaimana yang disangka banyak orang.

Mesir hari ini membuktikan hal ini, dalam sebuah rekaman video terlihat umat Nasrani bergandengan tangan membentuk rantai pelindung bagi Muslim yang sedang shalat berjamaah. Padahal beberapa hari sebelumnya rumah ibadah mereka telah dibakar dan dikabarkan bahwa Muslimlah yang harus bertanggung-jawab atas peristiwa busuk tersebut. Namun Allah swt berkehendak lain, dibukanya topeng mahluk jahat tersebut, ternyata ini adalah hasil kerja militer yang ingin memfitnah kaum Muslimin, Ikhwanul Muslim, khususnya. Syukurlah pada akhirnya umat Nasrani bisa melihat kenyataan ini.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”. … …  “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad s.a.w.)”. (QS. Al-Maidah(5):82-83).

Abdullah bin zubair menjelaskan bahwa ayat 82 dan 83 surat Al-Maidah diatas diturunkan sehubungan dengan raja Najasyi, penganut Nasrani, dan para teman pendetanya. Saat dibacakan beberapa ayat Al-Quran di hadapan mereka, air mata mereka berlinang. Mereka yakin dan percaya terhadap isi dan kandungan ayat-ayat itu.(HR. Nasa’i).

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan …. “.(QS.Al-Baqarah(2):213).

Manusia adalah umat yang satu, memiliki Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak disekutukan dengan apapun. Allah swt mengirimkan sejumlah nabi dan rasul dengan kitabnya masing-masing agar manusia tidak lupa dan berselisih akan kenyataan ini.

Sayang sebagian manusia ada yang tetap keras kepala, lupa dan tersesat.  Beruntunglah umat Islam memiliki kitab suci yang hingga detik ini tetap murni dan tidak diselewengkan, hingga akhir zaman nanti. Itulah janji Allah. Ini berkat adanya hadist yang merupakan saksi turunnya ayat-ayat disamping penghafal-penghafal Al-Quran yang selalu ada dan banyak jumlahnya hingga hari akhir nanti.

Manusia, dibawah syariat dan aturan nabi masing-masing, diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan. Namun tetap bersatu dibawah keimanan bahwa Tuhan adalah Dia, Allah swt, dalam melawan kebathilan, melawan Iblis dan pasukannya.

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.(QS. Al-Jasiyah(45):18).

” … … Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” , (QS. Al-Maidah(5):48).

Mesir tampaknya telah mendahului bangsa lain yang masih terbuai dalam keegoisan rasa kebangsaan, suku dan agamanya. Saat ini Mesir sedang berada di tahap bersatu melawan pasukan syaitan. Adalah kewajiban kita untuk segera mengikutinya, menyongsong peperangan akhir zaman yang telah diprediksi ratusan tahun silam.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 24 Agustus 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Memang benar, bahwa kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan peng­hargaan ….

Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka . .. . Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan … Abu Hurairah r.a. mem­punyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam seni meng­hafal dan menyimpan . . . . Didengarnya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia sertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, Serta meriwayatkannya.

Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw. mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah “hadits”, dengan menggunakan kata-kata:  ”Berkata Abu Hurairah . . . “.

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw. menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di­habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.’

Di sana Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yalkg sengaja hendak diselundup­kan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing ­hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya ….

Setiap anda mendengar muballigh atau penceramab atau khatib Jum’at mengatakan kalimat yang mengesankan “dari Abu Hurairah r.a. berkata ia, telah bersabda Rasulullah saw.

Saya katakan ketika anda mendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah … banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fikih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka ketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabdanya …. Karena itulah perbendaharaannya yang mena’jubkan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi saw. jarang diperoleh bandingannya . . . . Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah merupa­kan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari masa kehidupan Rasulullah saw. beserta para shahabatnya r.a. dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang membuktikan kehebatan Muhammad saw. beserta shahabat-shahabat­nya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan pikiran sehat. Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut . . . .

Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakan­nya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan . . . . Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan. Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa . . . . Inilah dia sekarang bercerita dan berkata:

“Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin . . . . Aku menerima upah sebagai pem­bantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku…! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian . . . . Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat …

Ia datang kepada Nabi saw. di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar; ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan . . . . Dan semenjak ia ber­temu dengan Nabi saw. dan berbaiat kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur . . . . Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw. yakni sejak ia masuk Islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pen­dengaran.

Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat ke­sempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memain­kan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

Pahlawan perang di kalangan shahabat, banyak ….

Ahli fiqih, juru da’wah dan para guru juga tidak sedikit ….

Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya, jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab Saja, tidak mementing­kan tulis-menulis. Dan tulis-menulis itu belum lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.

Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajanya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf tak tahu tulis baca, padahal me­nurut ukuran masa itu, mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan besar ….

Kembali kita pada pembicaraan semula untuk melihat Abu Hurairah, bagaimana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang ada para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.

Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempatan atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak pula perniagaan yang akan diurus… .

Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalan­nya, dengan cara mengikuti Rasul terus-menerus dan secara tetap menyertai majlisnya . . .. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, Serta semakin sertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do’a Rasul saw., agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.

Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan meme­lihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian ….

Abu Hurairah bukan tergolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalah seorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan . . . . Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah dengan Rasul, baik dalam perjalanan maupun di kala menetap ….

Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah saw. dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul ‘Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan Hadits-­hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya Hadits-hadits ini, kapan didengarnya dan diendapkannya dalam ingatannya ….

Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari para shahabatnya, maka katanya: “Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan Hadits dari Nabi saw. . . . Dan tuan-tuan katakan pula orang-­orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan Hadits-hadits itu … ? Ketahuilah, bahwa shahabat-shahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk dengan tanah pertanian mereka …. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen .. dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena ke­sibukan ….

Dan Nabi saw. pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau:

“Siapa yang membentangkan serbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarnya daripadaku … ! “

Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya . . . ! Demi Allah, kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa­apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterang­an dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malatkat-malatkat) . . . !”

Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw.

Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk me­nyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.

Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah-diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat ….

Ketiga, is menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan Hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidup­nya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalat yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalatannya. … !

Oleh sebab itulah ia harus  memberitakan, tak suatu pun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarang­nya . . . hingga pada suatu hari Amirul Mu’minin Umar berkata kepadanya: “Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka’kan kukembalikan kau ke tanah Daus … !” (yaitu tanah kaum dan keluarganya).

Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali al-Quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran ….

Al-Quran adalah Kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya, dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah saw. teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya saw., saat sedang dihimpunnya al-Quran, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan campur-baur yang tak berguna dan tak perlu terjadi . . . !

Oleh karena ini Umar berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan al-Quran karena dia adalah kalam Allah . . . “. Dan katanya lagi: “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!”

Dan sewaktu beliau mengutus Abu Musa al-Asy’ari ke Irak ia berpesan kepadanya:  “Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al­Quran seperti suara lebah, maka biarkanlah seperti itu, dan jangan anda bimbangkan mereka dengan Hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini …….

Al-Quran sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dapat dirembesi oleh hal-hal lainnya …. Adapun Hadits, maka Umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada -ada terhadap Rasulullah saw. dan merugikan Agama Islam.. ..

Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu

selama diyakininya bahwa mrnyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.

Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pernah didengar dan ditangkap­nya tetap saja disampaikan dan dikatakannya ….

Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang me­nimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang Hadits yang lain yang menyebarkan hadits-hadits dari Rasul saw. Dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para. shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka’ab al-Ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.

Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali, dan dimintanya mem­bacakan lagi hadits-hadits yang dulu itu Yang telah ditulis oleh sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau agak sepatah kata pun … !

Ia berkata tentang dirinya: — “Tak ada seorang pun dari shabat-shahabat Rasul Yang lebih banyak menghafal Hadits dari pada aku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak . . . “. Dan Imam Syafi’I mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: — “Ia seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits semasanya”. Sementara Imam Bukhari menyatatakan pula: Ada kira-kira delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah”.

Demikianlah Abu Hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya ….

Abu Hurairah termasuk seorang ahli ibadat yang mendekat­kan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula­- mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian di­lanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat!

Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk me­nyertai Rasul saw. ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Dan pernah ia menceritakan kepada kita bagaimana rasa lapar telah menggigit-gigit perutnya, maka diikatkannya batu dengan surbannya ke perutnya itu dan di­tekannya ulu hatinya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia di mesjid sambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian shahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan … !

Semenjak ia menganut Islam tak ada yang memberatkan dan menekan perasaan Abu Hurairah dari berbagai persoalan hidupnya ini, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya, karena waktu itu ia menolak untuk masuk Islam . . . . Bukan hanya sampai di sana saja, bahkan ia menyakitkan perasaannya dengan menjelek-jelekkan Rasulullah di depannya ….

Pada suatu hari ibunya itu kembali mengeluarkan kata-kata Yang menyakitkan hati Abu Hurairah tentang Rasulullah saw., hingga ia tak dapat menahan tangisnya dikarenakan sedihnya, lalu ia pergi ke mesjid Rasul . .. . Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan berita kejadian itu sebagai berikut:

Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah, lalu kata­ku: — “Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk Islam. Ajakanku itu ditolaknya, dan hari ini aku pun baru saja me­mintanya masuk Islam. Sebagai jawaban ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri anda. Karenanya mohon anda doakan kepada Allah kiranya ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam …

Maka Rasulullah saw. berdoa: “Ya Allah tunjukilah ibu Abu Hurairah!”

Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang doa Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran bunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: “Hai Abu Hurairah, tunggulah di tempatmu itu . . . !”

Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan mem­balutkan selendangnya sambil mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasu­luh . . . “

Aku pun segera berlari menemui Rasulullah saw. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka, dan kataku padanya: “Kusampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabulkan doa anda . . . , Allah telah menunjuki ibuku ke dalam Islam … “. Kemu­dian kataku Pula: “Ya Rasulallah, mohon anda doakan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mu’min, baik laki-laki maupun perempuan!” Maka Rasul berdoa: “Ya Allah, mohon engkau jadikan hamba-Mu ini beserta ibunyadikasihi oleh sekalian orang-orang Mu’min, laki-laki dan pe­rempuan … !”

Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid . .. tak pernah ia ketinggalan dalam perang, dan tidak Pula dari ibadat. Di zaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai amir untuk daerah Bahrain, sedang Umar sebagaimana kita ketahui adalah seorang yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. Apabila ia mengangkat se­seorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaian maka sewaktu meninggalkan jabatannya nanti haruslah orang itu hanya mem­punyai dua pasang pakaian juga … malah lebih utama kalau ia hanya memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun kekayaan itu berasal dari jalan halal yang dibolehkan syara’! Suatu dunia lain . .  yang diisi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumkan … !

Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrain ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui oleh Umar, maka ia pun dipanggilnya datang ke Madinah  . . . Dan mari kita dengar­kan Abu Hurairah memaparkan soal jawab ketus yang ber­langsung antaranya dengan Amirul Mu’minin Umar;  Kata Umar: “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?” Jawabku: “Aku bukan musuh Allah dan tidak Pula musuh Kitab-Nya …hanya aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah . . . !”  Dari mana kau peroleh sepuluh ribu itu?  Kuda kepunyaanku beranak-pinak dan pemberian orang berdatangan . . . .  Kembalikan harta itu ke perbendaharaan negara (baitul maal) … !

Abu Hurairah menyerahkan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya ke arah langit sambil ber­doa: “Ya Allah, ampunilah Amirul Mu’minin …….

Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil Abu Hurai­rah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf karena tak dapat menerimanya. Kata Umar kepadanya: — “Kenapa, apa sebab­nya?” Jawab Abu Hurairah: “Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul … !” Kemudian katanya lagi: “Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih … !”

Pada suatu hari sangatlah rindu Abu Hurairah hendak ber­temu dengan Allah …. Selagi orang-orang yang mengunjunginya mendoakannya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang­-ulang memohon kepada Allah dengan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu, Semoga Engkau pun demikian . . . !” Dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 Hijriyah ia pun berpulang ke rahmatullah. Di sekeliling orang-orang shaleh penghuni pandam pekuburan Baqi’, di tempat yang beroleh berkah, di sanalah jasadnya di­baringkan . . . ! Dan sementara orang-orang yang mengiringkan jenazahnya kembali dari pekuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hantinya membaca Hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasul yang mulia ….

Salah seorang di antara mereka yang baru masuk Islam sertanya kepada temannya: “Kenapa syekh kita yang telah berpulang ini diberi gelar Abu Hurairah (bapak kucing)? Tentu temannya yang telah mengetahui akan menjawabnya: “Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang-bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar “Bapak kucing”, moga-moga Allah ridla kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah … !

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Agustus 213.

Vien AM.

 Dicopy dari: http://edywitanto.wordpress.com/2010/12/09/abu-hurairah/

Read Full Post »

Malaikat, jin dan manusia adalah 3 makhluk ciptaan Allah yang sering disebut dalam Al-Quranul Karim. Perbedaan pokok di antara ketiganya adalah dari bahan penciptaannya. Malaikat terbuat dari materi cahaya, jin dari materi api dan manusia dari materi tanah.

Dalam tafsir Ibnu Katsir diberitakan bahwa Iblis, yang merupakan kakek moyang jin, sebagaimana Adam yang merupakan kakek moyang manusia, awalnya adalah hamba yang shaleh. Bersama malaikat ia rajin beribadah.  Hingga tiba suatu saat Allah swt menciptakan Adam dan memerintahkan malaikat dan Iblis agar bersujud kepada Adam. Perintah ini sebenarnya hanya untuk mengetahui seberapa jauh tingkat ketaatan keduanya kepada Sang Khalik. Dan ternyata karena kesombongannya Iblis menolak. ia merasa bahwa dirinya yang terbuat dari api, jauh lebih terhormat dari pada Adam yang hanya terbuat dari tanah. Berikut rekaman surat Al-Araaf ayat 11 dan 12 yang mengabadikan peristiwa tersebut.

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

 Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”

Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah“.

Kesombongan yang diperlihatkan Iblis di atas adalah kedurhakaan Iblis pertama terhadap Allah Azza wa Jalla. Berbeda dengan Adam yang begitu menyadari kekeliruannya ketika ia tetap memetik buah Kuldi padahal Allah melarangnya, ia langsung bertobat. Sebaliknya dengan Iblis. Bukannya menyesal, ia malah menantang Sang Khalik agar hukumannya ditangguhkan hingga akhir zaman nanti.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan“.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah(2):35-37).

Allah berfirman: “Turunlah kamu ( Iblis) dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.

 Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.

Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. (QS.Al-Araaf(7):13-18).

Inilah  yang membedakan antara keduanya, meski akibatnya keduanya sama-sama harus  turun ke muka bumi.  Adam ( dan Hawa) turun ke bumi dalam keadaan terhormat, bersih dari dosa. Sementara Iblis turun dalam keadaan terhina dan tercela bahkan terkutuk. Inilah awal permusuhan dan perseteruan antara bangsa jin dan bangsa manusia, yang akan terus terjadi hingga akhir zaman nanti.

Namun dalam perkembangannya, tidak semua bangsa jin itu jahat, hina dan terkutuk. Seperti juga bangsa manusia yang tidak semua bersih dan bebas dari dosa. Jadi, baik jin maupun manusia ada yang beriman, sholeh dan taat namun ada juga yang ingkar dan kafir.  Hal ini terlihat dari surat Al-Jin  ayat 11 hingga 15 berikut.

“ Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada) Nya dengan lari”.

“ Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan”.

“ Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta`at dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang ta`at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam”.

Sementara syaitan sebenarnya bukanlah makhluk melainkan sifat jahat yang bisa dimiliki baik oleh jin maupun manusia.

 “ dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An-Naas(114):4-6).

Secara lengkap dan jelas surat  Jin menceritakan bagaimana proses berimannya sebagian jin. Dikisahkan, sebelum kedatangan Rasulullah saw, bangsa jin biasa naik ke langit untuk mencuri dengar pembicaraan para malaikat, hingga para jinpun bisa meramalkan masa depan manusia, apa yang akan terjadi dan menimpa manusia. Hal ini kemudian disampaikan kepada para dukun dan tukang-tukang sihir, tentu saja dengan tambahan disana sini. Itu sebabnya sihir dan ilmu hitam di masa itu sangat populer dan marak berkembang di kalangan masyarakat, karena sering kali bisa mendekati kenyataan.

Hingga suatu saat mereka terkejut mendapati pintu langit dipenuhi penjagaan yang sangat ketat hingga mereka tidak lagi mudah mencuri dengar rahasia langit. Maka Iblispun sebagai raja jin memerintahkan pasukannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Menyebarlah kalian semuanya di muka bumi dari barat sampai timur, dan perhatikanlah dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi.”

Maka setan-setan dari bangsa jin itu kemudian menyebar, mengelilingi muka bumi dari barat ke timur, hingga  sampailah mereka di kota Makkah. Di atas sebuah masjid yang  dikemudian hari dinamakan masjid  Jin, mereka melihat cahaya terang memancar dengan terangnya, hingga mencuat ke ujung langit. Mereka segera mendekat dan memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalamnya. Ternyata di dalam sana Rasulullah Muhammad saw sedang membacakan ayat-ayat suci Al-Quran.

“ Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. ”. (QS. Al-Jin (72):19).

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata:

“Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak”. (QS. Al-Jin (72):1-3).

Rupanya itulah yang terjadi. Sebagian jinpun beriman. Dan sejak itu pulalah pintu langit dijaga ketat oleh para malaikat. Maka sejak itulah bangsa jin tidak lagi dapat mencuri dengar pembicaraan di langit, kalau tidak ingin dikejar panah api yang dilontarkan oleh malaikat penjaga.

“ dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”. (QS. Al-Jin (72):8-9).

Akhir kata, dari ayat-ayat di atas saja ada beberapa kesimpulan yang tampaknya dapat kita ambil,

1. Sombong, adalah sifat buruk yang tidak boleh disepelekan begitu saja. Iblis, hamba Allah yang tadinya adalah hamba yang sholeh, ternyata terpeleset hanya karena nafsu sombongnya, yang merasa api yang menjadi materi dasar pembuatannya itu lebih baik dari  tanah yang merupakan materi dasar penciptaan Adam as.

 « Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski hanya sebiji sawi »(HR. Ibnu Majah ).

2. Taubat, adalah perbuatan yang sangat mulia dan tinggi di sisi Allah swt. Nabi Adam as dan istrinya, Hawa telah membuktikan hal tersebut.

3.  Nasab seseorang tidak menentukan kesholehan. Buktinya anak cucu Iblis yang telah dikutuk karena kesombongan dan keenggannya untuk bertobat ,tetap ada yang sholeh. Sebaliknya anak cucu Adam yang telah diampuni dosa dan kesalahannya, juga tetap ada yang kafir.

4. Iblis dan pasukannya, yaitu setan dari jenis jin dan manusia akah senantiasa mengganggu kita, hingga akhir zaman nanti. Tujuannya agar bisa menjadi ‘teman’mereka dalam memasuki neraka jahanam.

5. Hidup di dunia hanya sementara, akhiratlah tempat kembali. Ibaratnya kita sedang menjalani ujian yang hasilnya akan menentukan kemana nanti kita akan kembali, surga atau neraka. Yang sayangnya kita tidak pernah tahu, kapan ujian tersebut harus kita serahkan ke “penguji”.

6. Tidak perlu lagi mempercayai para dukun dan tukang sihir karena bangsa jin sebagai sumber kepercayaan yang dulunya bisa mencuri dengar rahasia langit, sejak diutusnya Rasulullah saw ke muka bumi ini tidak dapat lagi melakukan hal tersebut.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Agustus 2013.

Vien Muhadi.

Read Full Post »