Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2013

Perang Siffin terjadi pada tahun 657 M di suatu daerah bernama Siffin di tepi sungai Efrat, tak lama setelah perang Jamal usai. Sebelumnya Ali sempat memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kuffah. Tujuannya selain karena posisinya yang lebih strategis juga agar memudahkan penyerangan ke Damaskus, ibu kota Syam, yang memberontak karena menuntut sang khalifah segera menyelesaikan masalah pembunuhan Ustman bin Affan, khalifah sebelum Ali. Itu sebabnya Muawiyah, gubernur Syam menolak kekhalifahan Ali. Muawiyyah berpendapat bahwa Ali ikut terlibat dalam pembunuhan itu dan harus mempertanggung-jawabkannya kepada umat Islam.

Sebelum penyerangan dimulai, Ali mengutus Jarir bin Abdullah menemui Muawiyah, mengingatkan sekali lagi agar mau menyerah dan mengakui Ali sebagai khalifah, namun tetap ditolak. Akhirnya pecahlah perang yang sangat melelahkan dan memakan korban yang banyak itu.

Pada awalnya perang hanya berlangsung satu kali sehari, pagi setelah dhuha hingga waktu zuhur, atau ba’da zuhur hingga menjelang magrib. Namun berikutnya perang bisa terjadi 2x dalam sehari. Shalat dilakukan ke 2 belah pihak, yang memang sama-sama Muslim itu, di sela-sela perang, secara bergantian.

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. … … ”. (QS.An-Nisa(4):102).

Bulan telah berganti namun tidak ada tanda-tanda bahwa perang akan usai. Muawiyah mulai khawatir pihaknya akan kalah,dan para pendukungnya mundur dan berbalik memihak Ali. Maka segera ia mencari strategi untuk melemahkan lawan, yaitu dengan menyebarkan rumor bahwa pasukannya akan menggali pinggiran sungai agar dengan demikian pasukan Ali tenggelam kedalamnya.

Mendengar  desas-desus ini pasukan Alipun panik, dan meminta Ali agar segera memindahkan posisi mereka. Namun Ali yang memang menguasai taktik perang segera berujar : “ Celakalah kalian, sesungguhnya mereka sedang menipu agar kalian pergi dari tempat ini. Posisi kita jauh lebih baik dari posisi mereka”.

Tetapi pasukan Ali yang memang suka membantah dan cenderung tidak mau mendengar suara sang pemimpin tetap berkeras meninggalkan tempat, dan meninggalkan Ali. Hingga terpaksa Alipun mengikuti kemauan mereka. Dan akhirnya pasukan Muawiyah menempati tempat itu.

“Seandainya mereka taat, tentu mereka selamat hingga Yamamah dan Syria dapat ditaklukkan, tetapi mereka menentang ucapan dan perintahku. Orang-orang bodoh itu selalu saja menentangku”, keluh Ali dikemudian hari.

Perang terus berkelanjutan hingga memasuki bulan berikutnya. Ali benar-benar prihatin menyaksikan hal ini. Maka di suatu sore, ketika matahari telah terbenam, Ali menulis surat dan mengutus seorang utusan agar menyampaikannya kepada Muawwiyah.

“Wahai Muawwiyah, mengapa kita harus membiarkan rakyat mati atas nama kita. Mari kita selesaikan masalah ini satu lawan satu. Siapa yang tetap berdiri dialah yang akan mengendalikan kekuasaan”.

Muawiyyah terdiam sejenak. Ia juga sudah mulai lelah menghadapi peperangan ini. Namun ia juga menyadari tak ada seorangpun dapat menandingi keahlian pedang Ali.  Amr bin Ash, bekas gubernur Mesir yang merupakan orang kepercayaan Muawiyyah segera berdiri.

“Ali adalah seorang yang lembut meskipun ia jago pedang, terimalah tantangannya. Aku yang akan menghadapinya”, tegasnya.

Maka terjadilah duel diantara keduanya. Dan seperti telah diperkirakan, dalam waktu singkat Amr pun tumbang. Ia terjatuh dari kudanya. Dengan sekali tebas saja mustinya selesailah pertarungan. Namun itu bukan karakter Ali. Betapa banyak sejarah mencatat Ali meninggalkan lawan yang telah dikalahkannya begitu saja, tanpa memenggal kepalanya, seperti lazimnya perang. Tampak bahwa sabda Rasulullah selalu terngiang di telinganya:

“Seorang mujahid sejati bukanlah seorang yang meneriakkan kemenangannya melainkan dia yang mampu mengatasi kemarahan pribadinya dalam kancah peperangan”.

“Apakah kau mampu membelah hatinya untuk mengetahui ia jujur atau bohong?”. Pertanyaan ini dilontarkan nabi saw kepada Usama, adik kesayangan Ali, yang suatu ketika tetap memenggal kepala orang yang dikalahkannya dalam pertempuran meski ia telah bersyahadat, dengan alasan itu hanya pura-pura.

Sebaliknya kelemah-lembutan ini pula yang menjadi pangkal kekalahan Ali. Setelah berperang selama lebih dari 1 bulan, pasukan Ali sebenarnya sudah nyaris dapat mengalahkan pasukan Muawiyyah. Namun lagi-lagi Amr bin Ash, yang memang dikenal sebagai seorang yang jago diplomasi, menawarkan Muawiyyah agar segera dilakukan tahkim, atau genjatan senjata. Caranya yaitu dengan menancapkan Al-Quranul Karim di ujung pedang setiap prajuritnya.

Cara ini ternyata terbukti ampuh. Pasukan Ali langsung terbelah saat itu juga. Sebagian ingin berhenti berperang, karena mereka berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah hukum tertinggi, sedangkan sebagian lain tetap ingin berperang hingga usai. Ali sendiri sebenarnya merasa bahwa ini hanyalah jebakan. Namun ia tidak kuasa memaksa pasukannya untuk terus berperang, sebagaimana ia juga tidak kuasa menahan pasukannya untuk tetap bertahan di posisi mereka, padahal ketika itu mereka sudah nyaris menang.

Akhirnya terjadilah genjatan senjata. Diputuskan bahwa dalam beberapa waktu kedepan akan diadakan pertemuan antara kedua utusan untuk mencari pemecahan masalah. Maka Alipun segera menarik mundur pasukannya yang telah mulai terpecah itu ke Kuffah dan Muawiyah ke Damaskus.

Sementara itu pada hari yang ditentukan bertemulah Abu Musa bin Asya’ari sebagai wakil Ali dan Amr bin Ash sebagai wakil Muawiyah. Perundingan ini berlangsung setahun setelah terjadinya tahkim. Sebenarnya Ali tidak setuju dengan penunjukkan Abu Musa sebagai walinya, karena ia tahu bahwa Abu Musa bukanlah seorang yang pandai berdiplomasi. Namun sekali lagi, atas desakan sebagian besar pengikutnya Ali terpaksa mengalah.

Dan nyatanya memang itulah yang terjadi. Dalam perundingan antara kedua orang yang tidak seimbang itu Ali berada di pihak yang dirugikan. Amr berhasil mendeklarasikan bahwa Muawiyah secara resmi adalah penguasa Syam dan Mesir. Sementara Ali tetap sebagai khalifah Islam di luar daerah kekuasaan Muawiyah. Inipun masih ditambah dengan perpecahan di dalam tubuh pasukan Ali yang makin lama makin parah.

Dikabarkan seusai tahkim 12 ribu personil pasukan Ali menyatakan keluar. Orang-orang ini desersi karena tidak puas terhadap hasil tahkim, dan menyalahkan Ali sebagai penyebabnya. Sejak itupun mereka selalu membuat keributan, kerusuhan dan pemberontakan. Orang-orang ini dikemudian hari dinamakan kelompok Khawarij. Sedangkan pendukung Ali yang masih setia disebut sebagai  kelompok Syiah.

Mengenai orang-orang Khawarij yang dikenal rajin shalat, berpuasa dan membaca Al-Quran ini, Rasulullah saw pernah bersabda :

“ Akan keluar pada kalian, suatu kaum yang shalat mereka mengalahkan shalat kalian, shiyam mereka mengalahkan shiyam kalian dan amal-amal mereka mengalahkan amal-amal kalian. Mereka membaca Al-Qur`an tapi tidak sampai melewati tenggorokannya, mereka keluar dari Ad-dien seperti keluarnya anak panah dari busurnya”. [HR . Bukhari dan Muslim].

Begitulah akhir perang Siffin, kepemimpinan Islam terbagi 2 dengan karakter perbedaan yang mencolok. Muawiyah yang selanjutnya berhasil membangun dinasti keluarga besar, hidup bergelimang kemegahan di istananya yang megah. Yang meski demikian berhasil mencatat kemenangan demi kemenangan serta mencatat zaman keemasan Islam yang sebelumnya belum pernah ada. Kekuasaan dinasti ini terus meluas dan ilmu pengetahuanpun berkembang pesat.

Sementara Ali, sang khalifah, tetap bertahan zuhud sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar. Ali yang sejak kecil dibesarkan di dalam suasana kenabian yang sederhana tampak tidak mau berkompromi dengan situasi dunia Islam yang sedang menuju kejayaan. Ia tetap bertahan hidup dalam kesederhanaan dan kekurangan. Dari sini pula muncul aliran tasawuf yang mengedepankan ke-zuhud-an itu.

Disamping itu Ali juga benar-benar kecewa terhadap pendukungnya di Kuffah, baik yang sudah keluar maupun yang tinggal segelintir. Ia menyatakan kekecewaan yang sangat karena mereka tidak mau mentaati dirinya sebagai seorang pemimpin.

“ …. Kalaulah aku menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan selain orang-orang yang murtad dan kalaulah aku menyeleksi mereka maka tidak ada yang lolos seorangpun dari sebanyak seribu orang”.

Selama masa kekuasaannya itu pemberontakan demi pemberontakan terus terjadi. Pengikutnya terpecah menjadi 2 bagian extrim, sebagian memusuhinya dengan amat sengit, dan sebagian lain memujanya secara sangat berlebihan.

Ya Ali, nasibmu kelak akan seperti Isa bin Maryam, dimana sebagian umat Yahudi membangkang dan melontarkan fitnah kejam terhadap ibunya, sementara sebagian umat Nasrani secara berlebihan memujanya hingga di luar batas”. ( al-Baihaqi, as-Sunnanu’l-Kubra, 5/137(8488).)

Ali dikelilingi oleh orang-orang Khawarij yang senantiasa berkoar-koar bahwa mereka membunuh orang atas nama jihad. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang berbuat dosa besar, yang berpartisipasi dalam perang Jamal dan menyetujui tahkim adalah kafir dan halal darahnya. « Tidak ada pengadilan lain kecuali pengadilan Tuhan! ».

Sementara para pengikut yang memujanya secara berlebihan adalah mereka yang menjadikan Abdullah bin Saba’ sebagai pemimpin. Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang menyusup ke dalam golongan Syiah, dan mengkalim bahwa dirinya adalah nabi dan Ali adalah Sang Pencipta !

Namun para ulama Syiah tidak mengakui hal ini, dengan alasan Abdullah bin Saba hanya tokoh bayangan yang sengaja diciptakan tokoh-tokoh Sunni untuk memojokkan Syiah sebagai kelompok yang  mengklaim sebagai kelompok pecinta ahli bait ( keluarga rasul). Meski kitab Syiah sendiri jelas-jelas menyatakan hal ini.

Dari Abu Abdullah, dia berkata, “Allah melaknat Abdullah bin Saba’ karena dia mendakwakan ketuhanan kepada Amirul mukminin alaihisalam. … … “.

Dari Abu Ja’far alaihisalam : Sesunggujnya Abdullah bin Saba’ mengaku-ngaku sebagai nabi dan mendakwakan bahwa amurul mukminin adalah Tuhan. … … “.

Dari kitab-kitab itu pula dikabarkan bahwa suatu hari Ali memanggil Abdullah bin Saba’, menyuruhnya untuk bertaubat namun menolak. Maka akhirnya Alipun terpaksa membakarnya sebagai hukuman. Ini menjadi bukti kuat bahwa Abdullah bin Saba’ adalah nyata bukan tokoh fiktif.

( Bersambung).

Read Full Post »

Pasca terbunuhnya Ustman bin Affan, penduduk Madinah sepakat mengangkat Ali bin Tahlib sebagai khalifah ke 4. Mulanya Ali menolak penunjukkan tersebut. Tetapi atas desakan para sahabat, diantaranya Tolhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, 2 dari 10 sahabat yang dijamin Rasulullah saw masuk surga, akhirnya Alipun menyerah. Tholhah dan Zubair berpendapat bahwa kekosongan khalifah sangat rentan terhadap pemberontakan di saat-saat yang memang kritis tersebut.

Maka jadilah Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin tertinggi umat Islam di saat yang amat rawan. Pemberontakan dan boikot yang berakhir dengan dibunuhnya Ustman telah membuat umat Islam terpecah dan menimbulkan fitnah terbesar dalam sejarah Islam. Para pembunuh Ustman menyembunyikan identitas mereka dan menyelinap kedalam kelompok elit yang makin lama makin menggurita dan menciptakan persekongkolan yang membuat Ali sulit melacak siapa sebenarnya otak pembunuhan Ustman. Padahal gelombang protes menuntut agar Ali segera menemukan biang kerok kerusuhan makin hari makin meningkat.

Sementara itu, Ali juga harus bertindak cepat membuat sejumlah kebijakan baru, diantaranya yaitu menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, mengaktifkan kembali sistem distribusi pajak tahunan seperti yang pernah diterapkan Umar dan mengganti para gubernur yang dianggap bermasalah. Memang salah satu penyebab buruk sangkanya masyarakat terhadap Ustman adalah sikapnya yang kurang tegas terhadap prilaku kurang baik sebagian gubernur yang diangkat karena kedekatan hubungan kekeluargaan itu.

Itu sebabnya Ali mencopot gubernur Basrah, Yaman, Kuffah dan Mesir, dan menggantinya dengan yang baru. Demikian pula dengan Syam, namun Muawiyah, sang gubernur menolak. Hingga Ali terpaksa mengiriminya surat. namun Muawiyah, yang merupakan keponakan Ustman itu malah membalasnya dengan surat yang hanya berbunyi : « Dari Muawiyyah bin Abu Sufyan kepada Ali bin Abu Thalib ».

Dengan air mata berlinang dan senyum pedih tersungging di bibir, Ali, sang khalifah baru, langsung dapat menangkap pesan kuat tersebut. Muawiyyah tidak mengakui kekhalifahannya. Rupanya Muawiyyah tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan yang diambilnya, terutama yaitu cara Ali menangani pembunuh Usman. Seperti juga kebanyakan sahabat dan rakyat, ia menginginkan Ali segera menangkap pembunuh tersebut. Sayangnya tidak hanya cukup disitu, Muawiyyah yang berkedudukan di Damaskus itu bahkan telah mempersiapkan pasukan besar untuk menentang Ali.

Di lain pihak, Tolhah dan Zubair, tak lama setelah membaiat Ali meminta izin pergi ke Mekah  untuk melaksanakan umrah, sekaligus menemui Aisyah  umirul Mukminin, yang saat itu sedang memimpin rombongan umrah. Rupanya kedua sahabat kental ini ingin mengetahui pendapat Aisyah mengenai terbunuhnya sang khalifah. Aisyah memang sangat terpukul mendengar kabar memilukan ini. Bagaimana mungkin pemimpin tertinggi umat Islam bisa dibunuh dengan sedemikian kejinya, didalam kamar istananya sendiri dan dijaga ketat oleh kedua putra Ali pula, yaitu Hasan dan Husein.

Aisyah memang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kemarahannya tersebut. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk pergi bersama Thalhah dan Zubair menemui Ali.  Mereka sepakat agar Ali segera menuntut balas pembunuh Ustman. Namun sebelumnya mereka akan ke Basrah dulu, untuk mencari dukungan. Sayangnya, sekali lagi, tidak hanya ketiga sahabat ini yang bermaksud pergi ke Basrah menuntut Ali segera menyelesaikan kemelut tersebut. Namun juga rombongan umrah pimpinan Aisyah dan sejumlah kelompok lain yang makin lama makin banyak hingga mencapai kelompok besar dengan jumlah ribuan orang.

Menjelang memasuki Basrah, rombongan besar ini dicegah masuk oleh gubernur Basrah yang baru saja diangkat Ali. Mulanya memang tidak terjadi sesuatu. Namun ntah bagaimana tiba-tiba terjadi kerusuhan yang menyebabkan jatuhnya kurban.  Kejadian berdarah ini segera sampai ke telinga Ali.

Ali yang saat itu sedang memimpin pasukannya menuju Syam untuk menghadapi pasukan besar Muawiyyah benar-benar tercengang. Ia tidak menyangka Tholhah dan Zubair yang sebelumnya telah membaitnya telah berubah pikiran. Ali bukannya tidak mau menyelesaikan masalah pembunuhan Ustman.  Sebaliknya, ia tahu persis bahwa pembunuhan Ustman adalah sebuah konspirasi besar yang sangat serius. Untuk itu diperlukan dukungan penuh  dari semua wilayah negri.  Stabilitas negara harus dibenahi dahulu sebelum mencari pembunuh Ustman. Ia tidak ingin umat Islam terpecah-belah.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.(QS. Ali Imran(3):103).

Ali menyadari tampaknya ada yang mengajaknya bermain di air keruh, ada yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan. Tampak jelas bahwa kelompok pembunuh Ustman yang belum diketahui identitasnya itu belum cukup merasa puas dengan terbunuhnya Ustman. Terpaksa Alipun merubah haluan pasukannya, dari menuju Damaskus berganti ke Basrah. Iapun segera mengutus Alqa’qa bin Amr untuk menanyakan secara langsung, sebenarnya apa maksud kedatangan rombongan Tholhah, Zubair dan Aisyah ke Basrah.

Setelah jelas permasalahannya, merekapun segera berembug. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak perlu ada kekerasan, apalagi pertumpahan darah diantara sesama Muslim. Pembunuh Ustman harus di-qishos, namun nanti setelah kestabilan Negara tercapai. Alipun kemudian keluar untuk menemui Zubair, lalu berkata,

Wahai Zubair, tidaklah kamu mendengar sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukkan kepada dirimu:  Sesungguhnya kamu akan memerangi Ali dan (saat itu) kamu berbuat zhalim kepadanya”.

Mendengar itu Zubair tertunduk, sadar akan kekhilafannya. Zubair segera menarik mundur pasukannya hingga ke suatu tempat dimana terdapat suatu mata air. Di tempat ini Aisyah mendengar gonggongan anjing.

“Dimanakah kita ini?”, tanya umirul Mukiminin masygul.

Ketika Aisyah tahu bahwa tempat itu adalah Hau’ab, bukan kepalang kagetnya Aisyah. Dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Kembalikan aku, kembalikan aku !”. “ Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ketika itu istri-istrinya berada di Hau’ab, siapa diantara kalian yang disalak oleh anjing Hau’ab maka kembalilah

Namun belum sempat mereka memenuhi keinginan Aisyah, menjelang Subuh dilaporkan bahwa mereka telah diserang secara diam-diam, hingga ada yang terbunuh. Dikabarkan bahwa Ali dan pasukannya telah berkhianat. Rupanya telah terjadi fitnah besar, hasutan datang dari pihak yang tidak senang dan kecewa atas batalnya perang antar bersaudara tersebut. Usaha ini tercapai, terbukti dengan segera bersiapnya kelompok Aisyah dkk untuk membalas serangan tersebut. Di lain pihak, pasukan Ali yang mendapat kabar bahwa pasukan Zubair dan kawan-kawan telah bersiap-siap menyerang, merekapun juga segera menyiapkan diri.

Tanpa dapat dielakkan lagi pecahlah pertempuran yang melibatkan ribuan personil itu. Perang dasyat yang di kemudian hari diberi nama perang Jamal ini terjadi setelah Zuhur. Baik pihak Ali maupun Zubair sebenarnya telah berusaha mengingatkan pasukan masing-masing untuk menahan diri.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.(QS.Al-Hujurat(49):10).

Namun bisikan syaitan tidak mampu dicegah hingga akhirnya terjadilah perang mengerikan antara 10 ribu pendukung Ali melawan sekitar 6 ribu pendukung Aisyah, Zubair dan Tholhah. Sore harinya perang memang segera usai, namun dengan jumlah korban yang sungguh memilukan. Pertempuran selesai setelah pasukan Ali berhasil menaklukkan unta yang dikendarai Aisyah. Itu sebabnya perang ini dinamakan perang Jamal (Unta). Ketika itu salah satu pengikut Aisyah sengaja membawa keluar unta yang dikendarai Aisyah, dengan tujuan mengobarkan semangat kelompok Aisyah yang sudah hampir kalah dan patah semangat. Apalagi mengetahui bahwa Tholhah dan Zubair, pemimpin mereka telah terbunuh. Namun usaha terakhir mereka ini gagal. Pasukan Ali berhasil membuat unta Aisyah terjatuh.

Diriwayatkan dari Ali; dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda kepadanya: “Akan terjadi suatu masalah antara kau dan Aisyah.” Ali berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu, tentu aku akan menjadi orang yang paling celaka.” Rasulullah berkata: “Tidak demikian adanya, tapi jika itu terjadi, maka kembalikanlah dia (Aisyah) ke tempatnya yang aman.”

Itu sebabnya maka Ali pun melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepadanya. Ia memperlakukan Aisyah dengan hormat, lalu memerintahkan seorang kepercayaannya agar mengantar Aisyah kembali ke Madinah.

Usai perang, hati Ali benar-benar hancur menyaksikan kesudahan perang saudara yang tidak seharusnya terjadi ini. Dengan hati duka Ali berkeliling dan ketika ia melihat jenazah Tholhah diantara korban bergeletakan yang jumlahnya tak terkira itu, ia  segera turun dari kudanya dan mengangkat jenazah tersebut. Sambil menangis pilu, ia berkata:

“Wahai Abu Muhammad, alangkah berat perasaan ini melihatmu meninggal tergeletak di atas tanah di bawah bintang-bintang langit. Aduhai, seandainya aku mati dua puluh tahun silam sebelum peristiwa ini”.

Ironisnya, Tholhah sebenarnya ketika itu tidak ikut berperang. Ia terbunuh ketika  sedang berusaha melerai para prajurit yang berperang. Demikian pula Zubair, ia dikuntit dan dibunuh secara diam-diam ketika berusaha meninggalkan medan perang. Ia tidak lagi berminat memerangi Ali sejak Ali mengingatkan apa yang pernah dikatakan Rasulllah saw beberapa tahun lalu.

Itu sebabnya Ali sangat kecewa dan marah mengetahui anak buahnya telah membunuh Zubair. Ketika itu datang Ibnu Jurmuz menemui Ali sambil membawa pedang milik Zubair, lalu berkata: “Aku telah membunuh Zubair, aku telah membunuh Zubair.” Mendengar  itu, Ali berkata: “Pedang ini telah begitu lama menghilangkan duka dan kesusahan Rasulullah. Berikanlah berita gembira kepada orang yang telah membunuh Ibnu Shafiyyah (yaitu Azzubeir) bahwa ia akan masuk neraka”. Dan sejak itu Ali tidak pernah lagi mengizinkan Ibnu Jurmuz menemuinya.

Beberapa hadist dengan bunyi hampir sama, mengatakan “Setiap nabi mempunyai penolong, Zubair ini adalah penolongku“, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam”, “ Thalhah dan Zubair adalah dua tetanggaku di surga (nanti)”.

Begitulah akhir dari perang Jamal yang sungguh memilukan itu. Dalam keadaan duka yang mendalam Ali memimpin langsung shalat jenazah bagi semua korban, tanpa kecuali. Namun demikian tidak ada waktu bagi sang khalifah yang baru saja naik jabatan itu untuk terus meratapi dan menyesali apa yang telah terjadi, kecuali menjadikannya sebagai suatu pelajaran berharga, tidak hanya bagi Ali dan yang menjadi saksi langsung kejadian tragis itu, namun juga bagi kita semua.

Ali masih harus menghadapi tantangan dasyat lain, yaitu pemberontakan gubernur Syam Muawiyyah yang tidak puas terhadap kebijakan-kebijakan khalifah yang tidak diakuinya karena dianggap tidak mau mencari dan mengadili pembunuh Ustman bin Affan, khalifah sebelum Ali. Ironisnya, pemberontakan tersebut berbuntut menjadi sekali lagi perang antar sesama Muslim, yaitu perang Siffin.

( Bersambung).

Read Full Post »