Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2013

Merengkuh Hidayah Allah

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra.  Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw :” Sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis RIZKInya, batas UMURnya, AMAL dan kecelakaan atau KEBAHAGIAAN hidupnya”.

Pertanyaan sebagian orang, “Kalau begitu buat apa harus bekerja keras siang malam, berobat menghabiskan uang puluhan juta rupiah, menuntut ilmu tinggi-tinggi dan berusaha mati-matian bila semua itu telah ditetapkan sebelumnya?”.

Dan memang kenyataannya, sering kita melihat tidak semua orang yang bekerja keras, hidup steril sepanjang hidup demi menjaga kesehatan dan selalu berhati-hati dalam hidup, dapat mencapai apa yang diinginkan dan diusahakannya itu. Tidak mudah memang memahaminya. Namun saya yakin ketetapan yang dimaksudkan-Nya itu tidak sesederhana dan sekaku itu. Saya membayangkannya, ibaratnya ‘chip’ komputer super canggih yang dipasang di dalam tubuh manusia. Kalau manusia saja bisa membuat game-game canggih dengan segala aturannya, apalagi Yang Maha Kuasa !

( lihat https://vienmuhadi.com/2009/01/27/mencoba-memahami-konsep-takdir/ ).

Manusia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, bersih dari segala kotoran dan dosa. Ia tahu persis siapa Tuhannya, sebagaimana ia mengenal kedua orang-tuanya.

Saya pernah melihat rekaman video, sebuah ilustrasi yang memperlihatkan percakapan antara bayi yang akan dilahirkan  ke dunia ini, dengan Tuhannya. Intinya, bayi lahir ke dunia itu sebenarnya dengan rasa berat hati, karena berbagai alasan. Diantaranya adanya kekhawatiran di dunia nanti si bayi  akan hidup susah karena ia mendapat kabar bahwa dunia penuh kejahatan. Ia juga takut akan kehilangan kesenangan karena di dunia banyak tugas dan tanggung-jawab yang harus diembannya. Selain itu si bayi juga khawatir akan kehilangan kasih sayang dan perhatian Tuhannya yang selama ini selalu memperhatikan dan mengasihinya.

Bagaimana nanti kalau aku rindu pada-Mu?? », tanya bayi penuh kekhawatiran, meski Tuhannya meyakinkan bahwa meskipun kelihatannya jauh, sebenarnya Ia tetap sangat dekat dengannya.

Dalam percakapan itu dijawab bahwa ibunyalah ( mustinya juga ayahnya) yang nantinya akan mengajarkannya bagaimana dan apa yang ia harus lakukan ketika ia rindu pada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Adz-Dzariyat)51):56)

Kesimpulannya, video ini ingin menggambarkan bahwa pada awalnya setiap manusia itu mengenal Tuhannya, Tuhan yang men-Cipta-kannya, yang me-Nyayangi-nya, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan ibunya, sebagai perempuan yang dipercaya untuk mengandung dan melahirkannya, bersama dengan ayahnya, selaku pasangan suami istri, yang diberi tanggung-jawab untuk merawat, menjaga dan mendidiknya adalah orang no 1 yang paling bertanggung jawab bila sampai si anak setelah dewasa lupa akan hal-hal tadi. Setelah kedua-orang tua, lingkungan dan teman pergaulan adalah dua hal yang dapat mempengaruhi kesucian anak.

Sebagian ulama meyakini bahwa Allah swt membekali setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia dengan 4 hal, yaitu hati, akal, potensi baik dan potensi buruk. Potensi baik adalah hasrat untuk menjalankan kebaikan. Sedangkan potensi buruk adalah hasrat untuk melakukan perbuatan buruk. Potensi baik ini dibimbing oleh malaikat, sementara potensi buruk mengikuti bisikan syaitan. Dengan akal manusia bisa berpikir, untuk dapat membedakan mana benar dan mana salah. Dan dengan hati, manusia bisa merasakan mana baik dan mana buruk.

Disamping itu, Allah swt sebagai Yang Maha Pencipta Yang Maha Pengasih, juga membekali manusia petunjuk. Bahkan Allah mewajibkan dirinya sendiri sebagai suatu kewajiban.

Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk”, (QS. Al-Lail (92):12.

Petunjuk Allah ini terdiri atas 2 bagian, yaitu petunjuk (ayat/tanda) Kauniyah dan petunjuk ( ayat/tanda) Qauliyah. Ayat Kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta. Sedangkan ayat Qauliyah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada para nabi melalui malaikat Jibril as. Al-Quranul Karim adalah ayat Qauliyah yang diturunkan terakhir kali, yaitu kepada rasulullah Muhammad saw.

Kedua petunjuk ini diberikan Sang Khalik kepada seluruh manusia, terserah manusia, apakah ia mau menerimanya atau tidak. Selanjutnya untuk memahami petunjuk ini manusia harus mengfungsikan seluruh perbekalan yang diberikan Allah swt, yaitu tadi, akal dan hatinya.

Perumpamaannya bagaikan radio atau pesawat televisi di rumah kita. Untuk mendapatkan gambar dan suara yang jelas dan bening, harus dicari frekwensi yang tepat. Setelah ‘klop’, maka telingapun difungsikan, apakah mau sekedar “ hearing” atau lebih serius “listening”. “Hearing” adalah ketika seseorang hanya mendengarkan sepintas, sambil lalu dan tidak serius. Sedangkan “listening” mendengarkan dengan sungguh-sungguh, cermat.

Setelah itu giliran potensi baik yang harus diaktifkan. Bila potensi baik ini berhasil mengalahkan dan menyingkirkan potensi buruk, berarti hidayah telah masuk ke dalam dirinya. Potensi baik inilah yang akan melahirkan amalan-amalan dan  perbuatan yang diridhoi Allah swt. Inilah yang disebut Taufik, dan ini adalah kemenangan terbesar dalam hidup.

Yang menjadi masalah, dengan berlalunya waktu, hati manusia yang tadinya suci dan bersih, menjadi kotor. Ini adalah hasil kerja keras pasukan syaitan yang terus-menerus  membisiki dan mendorong potensi buruk manusia agar muncul menampakkan diri. Kotoran-kotoran yang semula tampak kecil, namun bila tidak segera dibersihkan ( dengan bertaubat) dan dibiarkan menumpuk, maka lama kelamaanpun menjadi besar dan sulit dihilangkan. Akibatnya hati akan membatu dan makin sulit membedakan mana baik mana buruk. Yang pada akhirnya menjadi penghalang masuknya hidayah.

“Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh manusia ada sepotong organ yang  jika ia sehat maka seluruh tubuhnya juga sehat, dan jika ia rusak, maka seluruh tubuhnya rusak. Ketahuilah bahwa organ itu adalah hati”. (HR. Bukhari Muslim).

“Jika manusia mengetahui hatinya, maka ia akan mengetahui dirinya yang sebenarnya; jika ia mengetahui dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sayang mayoritas manusia di dunia ini tidak memahami hatinya,”(Imam Al-Ghazali).

Jadi tampaknya hati adalah faktor terpenting dalam merengkuh hidayah Allah. Maka dengan demikian kebersihan hati mutlak diperhatikan. Beruntung kita memiliki Al-Quran. Di kitab suci umat Islam ini dijelaskan bahwa zakai, infak dan sedekah adalah salah satu cara untuk membersihkan hati. Agar kita lebih peduli terhadap  orang-orang yang tidak punya, anak-anak yatim dan lingkungan kita.

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi”.(QS. Al-Lail(92):17-20).

Namun kita juga harus menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dengan kwalitas hati, akal, usaha dan potensi yang terbatas dan berbeda-beda. Tugas kita hanyalah memaksimalkan pemberian Allah tersebut, dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukurannya masing-masing”. (QS. Al-Qamar (54): 49).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 November 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

(Arrahmah.com) – Di bawah ini adalah ringkasan sejarah kelompok Rafidhah (sebutan yang diberikan para ulama terhadap aliran Syi’ah), kanker yang menggerogoti umat islam dan penyakit yang menular, kami akan menyebutkan – dengan izin Allah – peristiwa-peristiwa nyata dan penting yang pernah dilalui dalam sejarah mereka. Semoga ringkasan singkat ini mampu membuka pandangan mayoritas Ahlus Sunnah yang telah termakan isu dan slogan-slogan pendekatan antara Islam dan Rafidhah.

14 H. Pada tahun inilah pokok dan asas dari kebencian kaum Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin, karena pada tahun ini meletus perang Qadisiyyah yang berakibat takluknya kerajaan Persia Majusi, nenek moyang kaum Rafidhah. Pada saat itu kaum muslimin dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.

16 H. Kaum muslimin berhasil menaklukkan ibu kota kekaisaran Persia, Mada’in. Dengan ini hancurlah kerajaan Persia. Kejadiaan ini masih disesali oleh kaum Rafidhah hingga saat ini.

23 H. Abu Lu’lu’ah Al-Majusi yang dijuluki Baba ‘Alauddin oleh kaum Rafidhah membunuh khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Dan ini merupakan salah satu simbol mereka dalam memusuhi Islam.

34 H. Munculnya Abdullah bin saba’, si yahudi dari yaman yang dijuluki Ibnu Sauda’ berpura-pura masuk Islam, tapi menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Dia menggalang kekuatan dan melancarkan provokasi melawan khalifah ketiga Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu hingga khalifah tersebut dibunuh oleh para pemberontak karena fitnah yang dilancarkan oleh Ibnu Sauda’ (Abdullah bin Saba’) pada tahun 35 H. Keyakinan yang diserukan oleh Abdullah bin Saba’ ini berasal dari pokok-pokok ajaran Yahudi, Nasrani dan Majusi yaitu menuhankan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, wasiat, raj’ah, wilayah, keimamahan, bada’ dan lain-lain.

36 H. Malam sebelum terjadinya perang Jamal, kedua belah pihak telah sepakat untuk berdamai. Mereka bermalam dengan sebaik-baik malam sementara Abdullah bin Saba’ beserta pengikutnya bermalam dengan penuh kedongkolan. Lalu dia membuat provokasi kepada kedua belah pihak hingga terjadilah fitnah seperti yang diinginkan oleh Ibnu Saba’. Pada masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, kelompok Abdullah bin Saba’ datang kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, “Kamulah, kamulah!!” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Siapakah saya?”, mereka berkata: “Kamulah sang pencipta!”, lalu Ali bin Abi Thalib menyuruh mereka untuk bertaubat tapi mereka menolak. Kemudian Ali bin Abi Thalib menyalakan api dan membakar mereka.

41 H. Tahun ini adalah tahun yang paling dibenci oleh kaum Rafidhah karena tahun ini dinamakan tahun jama’ah (tahun persatuan) kaum muslimin dibawah pimpinan khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu, dimana Hasan bin Ali bin Abi Thalib menyerahkan kekhilafahan kepada Mu’awiyah. Maka dengan ini surutlah tipu daya kaum Rafidhah.

61 H. Pada tahun ini Husein bin Ali Radhiyallahu ‘anhu terbunuh di karbala yaitu pada hari ke-10 bulan muharram setelah ditinggalkan oleh para penolongnya dan diserahkan kepada pembunuhnya.

260 H. Hasan Al-Askari meninggal dunia, namun kaum Rafidhah menyangka bahwa imam ke-12 yang ditunggu-tunggu (Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari) telah bersembunyi di sebuah sirdab (ruang bawah tanah) di samurra’ dan akan kembali lagi ke dunia.

277 H. Munculnya gerakan Al-Qaramithah beraliran Rafidhah di daerah kufah dibawah kendali Hamdan bin Asy’ats yang dikenal dengan julukan Qirmith.

278 H. Munculnya gerakan Al-Qaramithah beraliran Rafidhah di daerah Bahrain dan Ahsa’ yang dipelopori oleh Abu Sa’id Al-Janabi.

280 H. Munculnya kerajaan Zaidiyah beraliran Rafidhah di Sha’dah dan Shan’a daerah Yaman, dibawah kepemimpinan Al-Husein bin Al-Qasim Ar-Rasiy.

297 H. Munculnya kerajaan Ubaidiyin di Mesir dan Maghrib (Maroko) yang didirikan oleh Ubaidillah bin Muhammad Al-Mahdi.

317 H. Abu Thahir Ar-Rafidhi Al-Qurmuthi sampai dan memasuki kota Mekah pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) lalu membunuh para jamaah haji di masjidil Haram serta mencongkel hajar Aswad dan membawanya ke tempat ibadah mereka di Ahsa’. Dan hajar Aswad itu berada disana sampai tahun 355 H. Kerajaan mereka tetap eksis di Ahsa’ hingga tahun 466 H. Pada tahun ini berdirilah kerajaan Hamdaniyah di Mousul dan Halab kemudian tumbang pada tahun 394 H.

329 H. Pada tahun ini Allah telah menghinakan kaum Rafidhah karena pada tahun ini dimulailah Ghaibah Al-Kubra atau menghilang selamanya. Menurut mereka, imam Rafidhah yang ke-12 telah menulis surat dan sampai kepada mereka yang bunyinya: “Telah dimulailah masa menghilangku dan aku tidak akan kembali sampai masa yang diizinkan oleh Allah, maka barangsiapa yang mengatakan bahwa dia telah berjumpa denganku maka dia adalah pendusta dan telah tertipu.” Semua ini mereka lakukan dengan tujuan menghindari akan banyaknya pertanyaan orang-orang awam kepada ulama mereka tentang keterlambatan Imam Mahdi keluar dari persembunyiannya.

320-334 H. Munculnya kerajaan Buwaihiyah beraliran Rafidhah di daerah Dailam yang didirikan oleh Buwaih bin Syuja’. Mereka membuat kerusakan-kerusakan di kota Baghdad, Iraq, sehingga orang-orang bodoh pada masa itu mulai berani memaki-maki para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

339 H. Hajar Aswad dikembalikan ke Mekkah atas rekomendasi dari pemerintahan Ubaidiyah di mesir.

352 H. Pemerintahan Buwaihiyun mengeluarkan peraturan untuk menutup pasar-pasar pada tanggal 10 muharram dan meliburkan semua kegiatan jual beli. Lalu para wanita keluar rumah tanpa mengenakan jilbab dengan memukul-mukul diri mereka di pasar-pasar. Pada saat itulah pertama kali dalam sejarah diadakan perayaan kesedihan atas meninggalnya Husein bin Ali bin Abi Thalib.

358 H. Kaum Ubaidiyun beraliran Rafidhah menguasai Mesir. Salah satu pemimpinya yang terkenal adalah Al-Hakim Biamrillah yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan menyeru kepada ajaran reinkarnasi. Dengan runtuhnya kerajaan ini pada tahun 568 H muncullah gerakan Druz yang berfaham kebatinan.

402 H. Keluarnya pernyataan kebatilan nasab Fatimah yang digembar-gemborkan oleh penguasa kerajaan Ubaidiyah di Mesir dan menjelaskan ajaran mereka yang sesat dan mereka adalah zindiq dan telah dihukumi kafir oleh seluru ulama’ kaum muslimin.

408 H. Penguasa kerajaan Ubaidiyah di Mesir yang bernama Al-Hakim Biamrillah mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan. Salah satu dari kehinaannya adalah dia berniat untuk memindahkan kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dari kota madinah ke mesir sebanyak 2 kali. Yang pertama adalah ketika dia disuruh oleh beberapa orang zindik untuk memindahkan jasad Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ke Mesir. Lalu dia membangun bangunan yang megah dan menyuruh Abul Fatuh untuk membongkar kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu masyarakat tidak rela dan memberontak sehingga membuat dia mengurungkan niatnya. Yang kedua ketika mengutus beberapa orang untuk membongkar kuburan Nabi. Utusan ini tinggal didekat mesjid dan membuat lobang menuju kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu makar itupun ketahuan dan utusan tersebut dibunuh.

483 H. Munculnya gerakan Al-Hasyasyin yang menyeru kepada kerajaan Ubaidiyah berfaham Rafidhah di Mesir didirikan oleh Al-Hasan As-Shabah yang berketurunan darah persia. Dia memulai dakwahnya di wilayah persia tahun 473 H.

500 H. Penguasa Ubaidiyun membangun sebuah bangunan yang megah di Mesir dan diberi nama mahkota Al-Husein. Mereka menyangka bahwa kepala Husein bin Ali bin Abi Thalib dikuburkan di sana. Hingga saat ini banyak kaum Rafidhah yan pergi berhaji ke tempat tersebut. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat akal yang diberikan kepada kita.

656 H. Penghianatan besar yang dilakukan oleh Rafidhah pimpinan Nasiruddin At-Thusi dan Ibnul Alqomi yang bersekongkol dengan kaum Tartar Mongolia sehingga kaum Tartar masuk ke Baghdad dan membunuh lebih dari 2 juta muslim dan membunuh sejumlah besar dari Bani Hasyim yang seolah-olah dicintai oleh kaum Rafidhah. Pada tahun yang sama muncullah kelompok Nushairiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Nusair berfaham Rafidhah Imamiyah.

907 H. Berdirinya kerajaan Shafawiyah di Iran yang didirikan oleh Syah Ismail bin Haidar Al-Shafawi yang juga seorang Rafidhah. Dia telah membunuh hampir 2 juta muslim yang menolak memeluk madzhab Rafidhah. Pada saat masuk ke Baghdad dia memaki-maki Khulafa’ Rasyidin di depan umum dan membunuh siapa saja yang tidak mau memeluk madzhab Rafidhah. Tak ketinggalan pula dia membongkar banyak kuburan orang-orang Sunni (Ahlus Sunnah) seperti kuburan Imam Abu Hanifah.

Termasuk peristiwa penting yang terjadi pada masa kerajaan Shafawiyah adalah ketika Shah Abbas berhaji ke Masyhad untuk menandingi dan memalingkan orang-orang yang melakukan haji ke Mekah. Pada tahun yang sama Shadruddin Al-Syirazi memulai dakwahnya kepada madzhab Baha’iyah. Mirza Ali Muhammad Al-Syirazi mengatakan bahwa Allah telah masuk ke dalam dirinya, setelah mati dia digantikan oleh muridnya Baha’ullah. Sementara itu di India muncul kelompok Qadiyaniyah pimpinan Mirza Ghulam Ahmad yang mengatakan bahwa dirinya ialah Nabi dan keyakinan-keyakinan lainnya yang batil. Kerajaan Safawiyah berakhir pada tahun 1149 H.

1218 H. Seorang Rafidhah dari Irak datang ke daerah Dar’iyah di Najd dan menampakkan kesalehan serta kezuhudannya. Pada suatu hari, dia shalat di belakang Imam Muhammad bin Su’ud lalu diapun membunuhnya ketika sedang sujud dalam shalat Ashar dengan menggunakan belati yang disembunyikan dan telah dipersiapkannya. Semoga Allah memerangi kaum Rafidhah para pengkhianat.

1289 H. Pada tahun ini buku Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab (kalimat penjelas bahwa kitab Allah telah diselewengkan dan diubah) karangan Mirza Husain bin Muhammad An-Nuri At-Thibrisi. Kitab ini memuat pendapat dan klaim-klaim Rafidhah bahwasanya Al-Qur’an yang ada saat ini telah diselewengkan, dikurangi dan ditambah.

1366 H. Sebuah majalah Rafidhah dengan nama Birajmil Islam terbit dengan memuat syair-syair yang mengutamakan tanah karbala atas Mekkah Al-Mukarramah.

Ia karbala tanah membentang, thawaflah tujuh kali pada tempat kediamannya,

Tanah mekkah tak memiliki keistimewaan dibanding keistimewaannya,

Sebongkah tanah, meski hamparan gersang adanya,

Mendekat dan mengangguk-angguk bagian atasnya kepada bagian yang dibawahnya.

1389 H. Khomeini menulis buku Wilayatul faqih dan Al-Hukumah Al-Islamiyah. Sebagian kekafiran yang ada pada buku tersebut (Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal. 35) : Khomeini berkata bahwa termasuk keyakinan pokok dalam madzhab kami adalah bahwa para imam kami memiliki posisi yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat dan para Nabi sekalipun.

1399 H. Berdirinya pemerintahan Rafidhah di Iran yang didirikan oleh penghianat besar Khomeini setelah berhasil menumbangkan pemerintahan Syah di Iran. Ciri khas negara Syi’ah Iran ini adalah mengadakan demonstrasi dan tindakan anarkis atas nama revolusi Islam di tanah suci Mekah pada hari mulia yaitu musim haji pada setiap tahun.

1400 H. Khomeini menyampaikan pidatonya pada peringatan lahirnya Imam Mahdi fiktif mereka pada tanggal 15 sya’ban. Sebagian pidatonya berbunyi demikian : “Para Nabi diutus Allah untuk menanamkan prinsip keadilan di muka bumi tapi mereka tidak berhasil, bahkan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diutus untuk memperbaiki kemanusiaan dan menanamkan prinsip keadilan tidak berhasil.. yang akan berhasil dalam misi itu dan menegakkan keadilan di muka bumi serta dapat meluruskan segala penyimpangan adalah Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu….” Begitulah menurut Khomeini para Nabi telah gagal, termasuk Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara revolusi kafirnya dianggapnya sebagai suatu keberhasilan dan keadilan.

1407 H. Jamaah haji iran mengadakan demonstari besar-besaran di kota Mekah pada hari jum’at di musim haji tahun 1407 H. Mereka melakukan tindakan perusakan di kota Mekah seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka kaum Al-Qaramithah, mereka membunuh beberapa orang aparat keamanan dan jamaah haji, merusak dan membakar toko, menghancurkan dan membakar mobil-mobil beserta mereka yang ada di dalamnya. Jumah korban saat itu mencapai 402 orang tewas, 85 dari mereka adalah aparat keamanan dan penduduk Saudi.

1408 H. Mu’tamar Islam yang diadakan oleh Liga Dunia Islam di Mekah mengumumkan fatwa bahwa Khomeini telah kafir.

1409 H. Pada musim haji tahun ini kaum Rafidhah meledakkan beberapa tempat di sekitar Masjidil Haram di kota Mekah. Mereka meledakkan bom itu tepat pada tanggal 7 Dzulhijjah dan mengakibatkan tewasnya seorang jamaah haji dari Pakistan dan melukai 16 orang lainnya serta mengakibatkan kerusakan materi yang begitu besar. 16 pelaku insiden itu berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1410 H.

1410 H. Khomeini meninggal dunia, semoga Allah memberinya balasan yang setimpal. Kaum Rafidhah membangun sebuah bangunan diatas kuburannya yang menyerupai ka’bah di Mekah, semoga Allah memerangi mereka.

Dan akan senantiasa terus berulang sejarah tentang peristiwa dan pengkhianatan mereka dengan tujuan menghancurkan islam dan melemahkan kita kaum muslimin, ketahuilah wahai kaum muslimin, setiap kali ada pengkhianatan hampir pasti dibelakangnya ada campur tangan kaum Rafidhah.

(saifalbattar/syiahindonesia/arrahmah.com)

Dari:http://www.arrahmah.com/kajian-islam/sekilas-sejarah-hitam-syiah-sepanjang-zaman.html

Read Full Post »

Suatu hari Ali mendapat laporan bahwa Abdullah bin Khabab dan istrinya telah dianiaya dengan begitu kejamnya hingga menemui ajal. Abdullah bin Khabab adalah salah seorang sahabat. Selain itu kelompok jahat tersebut juga membunuh tiga perempuan lain secara sadis.

Mendengar ini Ali segera mengutus seorang kepercayaannya untuk mendatangi para kawanan pembunuh tersebut, yang tak lain adalah kaum Khawarij. Namun utusan inipun langsung mereka bunuh tanpa adanya penjelasan.

Akibatnya para sahabat dan pendukung Alipun geram. Mereka menuntut Ali agar segera menangkap dan mengadili gerombolan perusuh tersebut. Maka Alipun segera bertindak, ia mempersiapkan pasukannya dan menuju ke arah Nahrawan, dengan tekad kaum Khawarij yang telah keterlaluan menantang kepemimpinannya itu harus diperangi. Ali teringat akan ucapan Rasulullah yang suatu ketika pernah berujar :

Sekelompok kaum memisahkan diri dari Muslim dan  mereka diperangi oleh salah satu dari dua kelompok yang paling dekat dengan kebenaran”.(HR. Muslim).

Namun Ali tidak pernah menyangka bahwa peristiwa itu akan terjadi pada dirinya. Tiba-tiba Ali teringat bagaimana prilaku orang-orang Khawarij terhadap hasil tahkim dalam perang Siffin yang baru lalu, padahal mereka pula yang memaksa Ali menyetujui usulan pihak Muawiyah tersebut.

Mengapa kalian menegosiasikan urusan agama Allah dengan orang-orang itu?”, protes al-Asy’ats bin Qais, seorang pentolan Khawarij ketika itu.

Ucapan itulah yang kemudian banyak ditiru para qari, alias pembaca Al-Quran yang merupakan mayoritas pendukung Khawarij. “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”, inilah kata-kata yang kemudian menjadi senjata mereka dalam melawan kebijaksanaan Ali, sang khalifah, pemimpin mereka sendiri. Dan sejak itulah sekitar 12.000 orang yang tadinya merupakan pendukung Ali, menyatakan keluar dan memisahkan diri dari pasukan pendukung Ali. Itulah asal mulanya Khawarij.

Dan sejak itu pula dengan gencar mempropagandakan pandangan dan keyakinan mereka. Ironisnya, dengan beraninya pula mereka mengkafirkan semua orang yang berseberangan dengan pandangan mereka, termasuk Alipun, mereka kafirkan ! Mereka bahkan menuntut ponakan sekaligus menantu Rasulullah ini mengakui kekafirannya dan segera bertobat.

Tentu saja hal ini membuat Ali benar-benar prihatin. Hingga suatu saat Ali mengutus seorang sahabat, Ibn Abbas, agar menanyakan alasan mereka mengkafirkan dirinya. Ternyata salah satu alasan tersebut adalah karena pada perang Jamal yang baru lalu, Ali bukannya menawan Aisyah, umirul mukminin, tapi malah melepaskan bahkan menyuruh seseorang untuk mengawalnya pulang ke Madinah. Padahal sebagai pihak yang kalah dalam perang, sesuai ayat Al-Quran, mustinya ditawan, dibalas sesuai perbuatannya dan dijadikan budak. Mereka kemudian menyitir beberapa ayat diantaranya surat Al-Maidah ayat 45  dibawah ini,

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.

Ali terkesima mendengar hal tersebut. Aisyah walau bagaimanapun adalah istri Rasulullah, ibunya umat Islam, umirul mukminin. Mana mungkin ia mampu berbuat setega itu. Dan lagi perang Jamal adalah perang yang terjadi karena kesalah-fahaman, antara sesama Muslim, dan  hasil adu domba pihak tertentu.

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. … “. (QS. Al-Ahzab(33):6).

Tapi itulah sifah kaum Khawarij. Mereka menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai pembenaran sikap dan langkah mereka, namun dengan pemikiran yang sangat sempit dan kaku. Yang bagi orang awam selintas kelihatannya benar. Ironisnya, pemikiran ala Khawarij ini telah merasuk ke dalam sejumlah golongan dalam Islam hingga detik ini, tanpa menyadari bahwa hal tersebut adalah tidak benar. Mereka ini menggunakan  ayat-ayat Al-Quran  tanpa mau melihat situasi dan asbabul nuzulnya.

Maka karena mereka tidak bisa dinasehati akhirnya Alipun terpaksa memerangi mereka. Perang ini dinamakan perang Narahwan, karena terjadi di tempat tersebut. Ketika itu Ali berpidato

“Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya”.

“Sekiranya pasukan yang memerangi mereka tahu pahala yang telah ditetapkan bagi mereka atas lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya mereka akan berhenti beramal. Ciri-cirinya adalah bahwa di antara mereka ada seorang laki-laki yang memiliki lengan tak berhasta dan di atasnya terdapat biji seperti putting susu dan juga berbulu-bulu putih. Pergilah kalian ke Mu’awiyah dan penduduk Syam dan kalian meninggalkan mereka. Sebab, mereka akan mendatangi keluarga dan harta-harta kalian (membunuh keluarga  kalian dan menjarah harta kekayaan kalian) . Demi Allah, aku benar-benar mengharap bahwa mereka itulah kaum yang dimaksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka telah menumpahkan darah yang haram dan mengelabui manusia. Maka, berangkatlah kalian atas nama Allah”.

Namun tampak bahwa nafsu dan bisikan syaitan telah membutakan orang-orang Khawarij. Dengan penuh semangat mereka menyambut pasukan Ali seraya berseru : “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, ayo, songsonglah surga, sambutlah surga “.

Usai perang Nahrawan yang dimenangkan pasukan Ali, menyisakan banyak kesedihan. Pasukan Ali dilanda kelemahan dan perpecahan yang semakin parah. Suara Ali sebagai khalifah makin tidak didengarkan. Banyak diantara mereka yang tadinya mendukung dan membantu perjuangan Ali kini berbalik mengkritik dan mencelanya. Demikian juga rakyat Syria yang mustinya merupakan daerah kekuasaan Ali juga makin melecehkannya. Berkali-kali Ali berusaha membakar semangat persatuan pasukannya, agar mau memerangi rakyat Syria yang membangkang itu, namun tetap diabaikan.

Ali sungguh prihatin meghadapi cobaan berat ini. Ia menyadari bahwa waktunya akan tiba bahwa ia akan dianiaya pendukungnya sendiri, hingga suatu saat ia berkata « Jenggot ini akan berubah menjadi merah disebabkan darah yang mengucur dari kepala ini ».

Dan ini menjadi kenyataan ketika suatu hari Ali sedang menuju masjid untuk memimpin shalat Subuh. Ia dikuntit dan ditikam dengan pedang yang telah diberi racun oleh orang Khawarij bernama Abdullah bin Muljam dan 2 orang temannya. Awalnya Ali menyangka orang tersebut juga hendak sholat bersamanya.

« Hai Ali pengadilan adalah milik Tuhan, bukan milikmu atau temanmu ! », begitu pernyataan si pembunuh dengan penuh percaya diri, ketika akhirnya ditangkap, Tragedi mengenaskan ini terjadi 4 tahun setelah perang Siffin yaitu pada Jumat 17 Ramadhan tahun 40H( 661M), di usia Ali yang 60 tahun.

Dalam keadaan berlumuran darah hingga jenggot seperti perkiraan Ali, ia dibawa pulang ke rumah. Umi Kalsum, putri kesayangan Ali yang juga merupakan istri dari Umar bin Khattab menangis histeris melihat ayahnya pulang dalam keadaan demikian. Begitu pula orang-orang dekat Ali. Melihat keadaan Ali yang semakin parah, beberapa orang sempat menyarankan agar Ali segera menunjuk Hasan bin Ali sebagai penggantinya.

« Tidak », jawab Ali. « Aku tidak ingin memberi kalian amanat ataupun menghambat apapun keputusan kalian”.

“ Tapi apa yang akan kau katakan kepada Tuhanmu bila kau tinggalkan kami tanpa seorangpun pemimpin?”, desak mereka lagi.

“ Akan aku katakan pada-Nya bahwa aku kembali kepada-Mu seperti rasul-Mu yang yang kembali tanpa menunjuk seorangpun pemimpin baru”, jawab Ali meyakinkan.

Kemudian Ali menasehati, diantaranya “Puncak kekayaan adalah kecerdasan akal sedang dasar kemiskinan adalah ketidak-tahuan. Sementara puncak kejahatan adalah kesombongan, dan puncak kebaikan adalah sifat dan prilaku yang santun”.

Demikianlah akhir kehidupan Ali, sang khulafaurrasyidin ke 4 itu wafat tanpa meninggalkan wasiat siapa penggantinya. Namun pendukungnya tetap mengangkat Hasan sebagai penggantinya. Meski tak lama kemudian, demi mencegah perpecahan umat, dengan amat bijaksana Hasanpun mengundurkan diri, dan menyerahkan seluruh kekuasaan ke tangan Muawiyyah.

Maka sejak itu berdirilah kerajan Islam Umayah, yang merupakan keluarga dari bani Quraisy. Kerajaan ini membentang dari Iberia di Spanyol sekarang, Afrika utara, seluruh jazirah Arab hingga ke bagian timur India, yang berdiri hingga tahun 750 M.

Sementara itu, paska terbunuhnya Ali, terbersit rasa penyesalan di hati Muawiyah yang sebenarnya memang tidak mempunyai rasa permusuhan pribadi. Itu sebabnya maka ia mengundang Saad bin Abi Waqqash, salah satu sahabat utama yang tidak berpihak baik kepada Ali maupun Muawiyyah. Selain Saad, tercatat Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah dan Usamah bin Zaid adalah beberapa sahabat yang termasuk di kelompok ini. Muawiyah memulai interogasinya dengan membacakan ayat 9 surat Al-Hujurat berikut :

”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Namun apa jawaban Saad, yang ternyata benar-benar membuat Muawiyah tercengang.

“Bagaimana mungkin aku dapat memenuhi ajakan melawan seseorang yang Rasulullah pernah bersabda “  Kau bagiku seperti Harun dengan Musa. Namun demikian tidak ada nabi setelah aku”. Kalau kau masih juga tidak percaya wahai Muawiyah, dengarlah apa yang dikatakan Rasulullah kepada Ali : “ Dimanapun engkau Ali, kau bersama keadilan, dan keadilan bersamamu!”.

Mendengar itu Muawiyah berkata: “ Apakah ada orang lain yang mendengar ini? Kau harus membuktikannya, Saad”.

Maka Saadpun menyebut beberapa nama, diantaranya umirul mukminin Ummi Kalsum. Beruntung umirul mukminin ini masih hidup hingga dapat diambil kesaksiannya. Dan ternyata memang benar ia mendengar apa yang dikatakan rasulullah, persis seperti apa yang didengar Saad. Seketika pucatlah wajah Muawiyah, dengan nada penuh penyesalan ia berkata,

“Wahai Abu Ishak ( Saad bin Abi Waqqash), aku bersumpah, demi Allah, kalau saja aku mengetahui hal ini, tidak akan aku memberontak dan berperang melawan Ali. Mulai saat ini aku tidak akan lagi mencerca perbuatan Ali yang telah lalu”.

Perlu menjadi catatan, pembunuh Ustman yang tampaknya merupakan sebuah konspirasi dasyat, hingga detik ini tetap menjadi rahasia yang tak terpecahkan, menjadi polemik bagi sebagian umat Islam. Rentetan pembunuhan Ustman dan Ali, bahkan juga mungkin Umar, disusul dengan lahirnya kelompok Syiah dan kelompok Khawarij adalah sebuah rangkaian yang tampaknya sudah direncanakan secara sistimatis dan sangat matang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Oktober 2013.

Vien AM.

Referensi:

1. Ali bin Abi Thalib, le heroes de la chevalerie karya Recit Haylamas

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib

3. http://www.anneahira.com/ali-bin-abu-talib.htm

4. Kisah hidup Ali ibn Abu Thalib, karya Dr. Musthafa Murad.

5. Berbagai sumber lainnya.

Read Full Post »

Yang juga unik, di pelataran parkir Tanah Lot yang disesaki kios berbagai souvenir khas Bali, terdapat sejumlah kios yang telah disulap menjadi musholla! Kelihatannya ini adalah wakaf pemilik kios. Ya Allah semoga Engkau membalas mereka dengan yang lebih baik lagi, aamiin …

Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, dan HR. Muslim).

Demikianlah akhirnya kami mengakhiri liburan ini, dengan pertanyaan menggelantung berapa persenkah kira-kira Muslim di pulau ini. Dan ternyata tidak perlu menunggu terlalu lama saya mendapatkan jawaban. Karena suatu hari tak lama setelah itu, secara bercanda uztad di suatu pengajian, mengajak jamaahnya tamasya ke Bali, untuk menengok kampung Muslim di Nusa Penida, Bali !

Tak ayal lagi, sepulang pengajian itu saya langsung browsing mencari keberadaan kampung tersebut. Ternyata benar, di Nusa Penida, pulau kecil di sebelah tenggara Bali yang merupakan bagian dari kabupaten Klungkung itu, terdapat perkampungan Muslim.

Dan ternyata perkampungan Muslim tidak hanya terdapat di Nusa Penida, namun juga di kabupaten Klungkung yang terletak di daratan Bali. Kabupaten Klungkung terbagi atas 1/3 bagian di daratan Bali dimana Semarapura ibukota Klungkung berada, dan 2/3 bagian di Nusa Penida..

Ada beberapa komunitas Muslim kuno di Klungkung daratan, diantaranya yaitu kampung Gelgel, kampung Lebah, kampung Jawa dan kampung Kusamba. Di kampung Kusamba yang mayoritas Muslimnya keturunan Banjar ini terdapat berbagai peninggalan Muslim kuno, diantaranya adalah makam seorang tokoh desa dan Al-Quran yang diperkirakan usianya telah mencapai 400 tahun. Al-Quran ini merupakan tulisan tangan ulama besar asal Bugis.

Sementara di kampung Gelgel berdiri sebuah masjid tertua di Bali, masjid Al-Huda namanya. Masjid ini konon dibangun pada abad 13, namun sumber lain mengatakan pada abad 14 atau 15. Sejarah masuknya Islam ke pulau seribu pura ini memang sudah lama sekali yaitu sejak berkuasanya kerajaan Bali kuno, Gelgel. Kerajaan Gelgel adalah cikal bakal kerajaan Klungkung.

Islam masuk ke kerajan ini berkat hubungan dekatnya dengan  kerajaan Majapahit yang ketika itu telah memeluk Islam, Ini terjadi di akhir masa jatuhnya Majapahit Hindu Budha, dengan datangnya laksamana Cheng Ho, seorang jenderal muslim China dari dinasti Ming.

Menurut buku sejarah “Masuknya Islam di Bali”  Islam datang dari Majapahit ke pulau Bali melalui  kabupaten Klungkung pada tahun 1460 M. Ini terjadi pada masa kerajaan Gelgel, tepatnya pada masa Raja Watu Renggong, yang ketika itu karena simpatinya mengizinkan rombongan tamunya yang berjumlah 40 orang itu, bermukim di daerah Gelgel. Muslim Majapahit Inilah cikal bakal umat Islam yang ada saat ini, khususnya yang berada di Desa Kampung Gelgel, Kampung Lebah dan sebagian kampung Kusamba serta desa Kampung Toyapakeh di Nusa Penida.

Jumlah umat Islam di Klungkung saat ini diperkirakan sekitar 5 % dari penduduk Klungkung. Mereka bisa bertahan selama berabad-abad lamanya karena bisa  menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang mayoritas Hindu dengan baik. Saudara-saudari kita seiman tersebut kabarnya menggunakan nama-nama khas Bali seperti Wayan, Nyoman, Nengah, Ketut dll. Penampilan merekapun tidak ada bedanya dengan penduduk asli Bali. Intinya, mereka hidup rukun, saling menghormati dan menjaga kepercayaan masing-masing.

Sedangkan umat Islam yang saat ini tersebar di beberapa wilayah Bali masuk dari berbagai periode, cara dan dari pelbagai daerah di tanah air ini. Ada yang berasal dari zaman kerajaan Sasak dan Bugis yang dibawa para raja Buleleng, ada yang dari pulau Madura, bahkan ada pula komunitas Muslim Sumatera Utara.

Masjid di Bedugul

Masjid di Bedugul

Masjid Polda Denpasar

Masjid Polda Denpasar

Masjid di Denpasar

Masjid di Denpasar

Jumlah umat Islam di Bali saat ini mencapai 9 % dari total penduduk Bali. Sebagian besar memilih tinggal di Denpasar dan Badung karena tempat ini memang daerah wisata yang tentunya relative lebih terbuka daripada wilayah lain yang masih sangat kental kehidupan adat dan keberagamaannya.

Muncul sebuah pertanyaan besar, mengusik hati ini, mengapa Islam tidak juga berhasil menyentuh apalagi menembus hati sanubari masyarakat asli Bali, meski Islam telah masuk ratusan tahun yang lalu ?? Pertanyaan sekaligus harapan saya yang lain, semoga toleransi yang berhasil dibangun sedemikian rupa tidak sampai melampau batas akidah.

Tentu bukan lagi rahasia bahwa sebagian masyarakat Muslim di tanah Jawa ada yang masih mencampurak-adukkan akidah islam dan Hindu. Perayaan 1 Suro misalnya, perayaan dimana Kyai Slamet dikirab. Pada hari itu ‘sang kyai’ yang tak lain adalah seekor sapi/kerbau/lembu berwarna putih diarak, dielu-elukan dan dihormati karena dianggap memilki kekuatan dalam memberikan rezeki. Yang bahkan kotorannyapun dijadikan rebutan karena dianggap suatu keberkahan. Jelas, ini adalah sebuah upacara tradisi yang mengandung kesyirikan, dosa terbesar dalam ajaran Islam.

Sapi/lembu, terutama yang berwarna putih, dalam ajaran Hindu memang sangat dimuliakan. Kedudukannya seperti ibu sendiri. Karenanya umat Hindu dilarang mengkonsumsi daging hewan suci ini. Selain itu, sapi juga dihormati karena ia adalah kendaraan dewa Syiwa, salah satu dewa HIndu yang tiga, yaitu dewa Brahma dan dewa Wisnu. Tak heran jika belakangan ini seorang pemuka Bali meminta umat islam di pulau tersebut untuk mengganti kurban sapi dengan hewan lain pada saat hari raya kurban.

http://narayanasmrti.com/hindu-menjawab/kenapa-orang-hindu-menghormati-sapi/

Mungkin inilah yang menjadi kendala utama mengapa ajaran Islam sulit ditrima umat Hindu. Namun yang menjadi menarik untuk dperhatikan, 1 Suro dalam kalender Jawa sebenarnya berasal dari tahun baru Hijriyah milik umat Islam. Nama Suro diambil dari kata Asyura, hari besar Islam yang jatuh pada tanggal 10 Muharam. Pada hari itu umat Islam disunahkan untuk berpuasa.

Bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bershaum pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut. (HR. Al-Bukhari dan HR. Muslim )..

Harus diakui, Islam dan Yahudi memang memiliki ikatan yang sangat kuat. Ini disebabkan nabi Musa as dan nabi Muhammad saw dan juga seluruh nabi dan rasul itu adalah utusan Allah swt, Tuhan Yang Satu. Tuhan yang tak dapat dilihat oleh mata manusia, karena zatnya memang berbeda, bukan dari cahaya seperti malaikat, atau api seperti jin apalagi tanah seperti manusia.

Itu sebabnya banyak orang menyebut kedua agama ini, tiga, dengan Nasrani, sebagai agama Monotheisme. Meski pada perjalanannya Yahudi mengklaim bahwa Tuhan memiliki anak yaitu Uzair, dan Nasrani, Yesus atau nabi Isa as.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah(9):30).

Ironis, Syiah Rofidhoh, salah satu sekte dalam Islam mengklaim bahwa Ali bin Abu Thalib, keponakan sekaligus menantu Rasulullah saw, adalah Tuhan !  Ini yang menyebabkan MUI mengeluarkan fatwa bahwa Syiah yang seperti itu adalah aliran sesat, bahkan sebagian menyatakan bukan Islam.

Bagaimana dengan agama Hindu ? Adakah keterikatan ajaran Polytheisme ini dengan Islam atau Yahudi? Mungkin sapi/ lembu bisa menjadi bahan pemikiran. Ini atas dasar kisah umat Yahudi yang suatu ketika pernah diperintahkan untuk menyembelih sapi sebagai kurban.

« Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. … … “.(QS. Al-Baqarah(2) :67).

Namun mereka terus saja mencoba membantah perintah tersebut, hingga membuat mereka sendiri susah. Selanjutnya juga kisah Samiri yang mencoba menyesatkan mereka dengan sesembahan sapi, ketika Musa sedang menanti perintah Tuhannya. Kisah ini berakhir dengan diusirnya Samiri.

“ kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”. (QS.Thoha(20:88).

“Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).. Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.   (QS.Thoha(20:97-98).

Adakah ajaran Samiri yang mengagungkan sapi/lembu ada kaitannya dengan ajaran Hindu yang ada saat ini? Wallahu’alam .. Yang pasti, 15 abad lampau, ketika Rasulullah diperintahkan Tuhannya agar memperkenalkan Islam kepada penduduk Mekah, mereka menolak dengan alasan mereka telah memiliki sesembahan sendiri. Yaitu Latta, Uzza dan Manat. Mereka mengatakan itu adalah ajaran warisan nenek moyang yang usianya telah sangat tua dan harus dipertahankan. Hingga turunlah firman Allah :

“ Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah(5):104).

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.(QS. Az- Zumar(39):29).

Ayat diatas adalah perumpamaan dan penggambaran antara Polytheisme dan  Monotheisme.  Polytheisme diumpamakan sebagai seorang budak yang dimiliki lebih dari 1 orang yang senantiasa berselisih. Sedangkan Monotheisme diumpamakan sebagai seorang budak yang dimiliki 1 orang merdeka. Ini untuk menunjukkan betapa sulitnya si budak memenuhi perintah sang pemilik yang banyak, karena setiap pemilik memberi perintah yang berlawanan.

Selain itu, penduduk Mekah juga khawatir bila mereka memeuk Islam dan meninggalkan tuhan-tuhan mereka, rezeki mereka akan jauh. Padahal selama ini mereka merasa hidup berkecukupan. Mekah sejak zaman jahiliyah memang telah cukup tenar dan mendatangkan kemakmuran bagi penduduknya. Ini berkat ritual haji, ritual peninggalan nabi Ibrahim as ribuan tahun lalu, yang sayangnya telah diselewengkan.

Namun dapat kita saksikan hari ini, Mekah telah menjadi makmur ratusan kali lipat dibanding zaman Rasulullah dulu. Setiap hari jutaan jamaah dari seluruh penjuru dunia datang untuk memenuhi panggilan-Nya. Ini berkat ridho dan izin Allah swt karena penduduk Mekah mau ‘kembali’ ke fitrah, Islam, yaitu menyembah hanya kepada Allah, tuhannya semua manusia, mulai nabi Adam as sebagai manusia pertama sampai manusia terakhir nanti. Hingga ritual haji yang tadinya sarat kesyirikan itupun akhirnya kembali ke aslinya, sebagaimana mustinya.

“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah akan membuat kamu sekalian berkecukupan dengan karunia-Nya jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah [9):28).

Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi),  ... … “.(QS.Al-Hajj(22):66).

Demikianlah, semoga saudara-saudari kita Muslim di Bali mampu meneladani Rasulullah, tidak hanya menjadi Muslim yang baik, namun juga mau dan mampu berdakwah memperkenalkan Islam kepada saudara-saudari kita di pulau dewata. Selalu terngiang di telinga ini “Mengapa selama bertahun-tahun saya tinggal di Jawa tak seorangpun mengajak saya kepada Islam”, keluh seorang mualaf negri kanguru yang menemukan hidayah justru setelah kembali ketanah airnya.

Saya yakin, kebanyakan orang Bali masih bersih hatinya, tidak seperti rata-rata penduduk kota besar didunia ini,  yang suka buruk sangka dan malas menolong. Selama 3 hari kami di pulau tersebut, beberapa kali kami terpaksa berhenti dan bertanya kepada penduduk setempat karena kami kesasar, maklum petunjuk arah di Bali sangat minim. Kami sempat berpikir, “Kasian banget nih, turis-turis bule kalo kesasar gimana yaa … 😦  “.

Namun orang Bali memang hebat, dengan sabar mereka mau menolong kami. Tak terkecuali, seorang berperawakan preman, badan besar bertato, kuping ditindik dan bersepatu lars. Ketika itu ia sedang di bengkelnya, sibuk memperbaiki motor. Terus terang kami kaget melihat penampilannya begitu ia menengok dan membalikan badan karena kami memanggilnya untuk menanyakan arah menuju bandara Ngurah Rai, Denpasar. Namun kami kembali tercengang atas reaksinya yang begitu bersemangat memberikan  jawaban dengan dialek khas Balinya, tanpa sedikitpun merasa terganggu.

Sebenarnya bukan hal yang mengherankan, bukankah mayoritas penduduk pulau seribu pura ini taat beragama.  Ya, begitulah ciri orang beragama, yakin bahwa segala perbuatannya di dunia akan dibalas di hari akhirat nanti. Yang dengan demikian hidayah akan mudah masuk, insya Allah …

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Ahzab(33):35).

Jakarta, 14 November 2013.

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.

Nara sumber :

http://dhurorudin.wordpress.com/2012/01/19/berkunjung-ke-kampung-muslim-kusamba-bali-tulisan-2-2/

http://forum.kompas.com/travel/287615-mengunjungi-dua-kampung-islam-di-bali.html

http://ahmadyaniblog.wordpress.com/monografi/

http://wargamuslimsahatabali.blogspot.com/2011/10/masuknya-islam-ke-pulau-bali-sejarah.html

http://sejarah.kompasiana.com/2013/03/02/islamisasi-di-bali-533474.html

Read Full Post »

Siapa tak kenal Bali, pulau paling terkenal di Indonesia, yang saking terkenalnya, kerap kali orang Barat tidak mengetahui bahwa pulau tersebut adalah bagian dari Negara Indonesia ..  😦  … Pulau berjulukan pulau Dewata ini mampu menyedot 6 hingga 8 ribu turis mancanegara setiap harinya, Ini menjadikan Bali sebagai pusat wisata  penyumbang devisa terbesar se-Indonesia.

Tak dapat dipungkiri Bali memang memilki daya tarik yang tak ada bandingnya. Bukan hanya alamnya yang begitu mempesona namun juga suasananya yang sarat romantisme dan eksotisme. Ini masih ditambah lagi dengan kultur dan budaya religiusnya yang begitu mistis, yang tampaknya menjadi daya tarik istimewa wisatawan Barat yang atheis. Tak heran bila sejumlah produser film Barat mengabadikannya dalam karya mereka. Tak tanggung-tanggung bahkan bintang-bintang kenamaan Holywood seperti mantan pasangan Tom Cruise dan Kattie Holmes, Bradd Pit dan Angelina Jolie  serta Julia Robert dll dikabarkan pernah mengunjungi pulau ini.

IMG_1479IMG_5607Alhamdulillah, untuk ke sekian kalinya kami kembali mendapat kesempatan untuk mengunjungi pulau ini. Obyek-obyek wisata ‘standard’ seperti pantai Kuta, pantai Jimbaran, Tanah Lot, Bedugul dan Kintamani adalah tempat-tempat yang kami kunjungi selama 2 hari 2 malam kami berada di pulau tersebut. Waktu yang terasa amat singkat bila kita ingin menikmati Bali dan menggali keindahannya lebih jauh lagi.

Bahkan bagi mereka yang hanya ingin menikmati pantai-pantai di Balipun, 2 hari tidaklah cukup.  Karena selain Kuta yang terkenal paling ‘crowded’, Bali juga memiliki Legian dan Seminyak yang berada di garis pantai yang sama dengan Kuta. Kemudian ada lagi pantai Sanur dan Nusa Dua yang lebih tenang, jauh dari kebisingan kota. Ditambah lagi Uluwatu bagi para pecinta surfing. Dan masih banyak lagi pantai di bagian Bali lainnya yang kabarnya juga cukup menarik.

Jujur, sebenarnya saya jauh lebih suka menikmati pemandangan pegunungan daripada pantai. Namun malam itu, putri kami satu-satunya yang memang sangat menyukai pantai memaksa saya untuk menanggalkan alas kaki dan menikmati kelembutan pasir. Ketika itu kami sedang berada di salah satu resto di Jimbaran, dimana berjajar resto di atas pasir pantai, menikmati lezatnya masakan khas Bali dan tariannya yang mistis itu.

Dan tenyata Subhanallah, di bawah gemerlapnya bintang-bintang nun jauh disana, telinga yang menikmati suara deburan ombak, serta mata yang menyaksikan ombak yang saling berkejaran, kaki sayapun dapat merasakan lembutnya pasir putih ciptaan-Nya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS.Ali Imran(3):190-191).

Selain pantai yang indah, Bali juga mempunyai danau yang terletak di dataran tinggi. Pemandangan menakjubkan tersebut dapat dinikmati dari Kintamani, kota berudara sejuk yang terletak di bagian utara pulau.

Kali ini kami mencoba jalur alternative, yaitu melalui Tegalalang. Pada peta panduan wisata yang saya beli beberapa bulan lalu, ada beberapa titik yang diberi bintang, artinya di tempat tersebut ada obyek wisata yang cukup menarik. Ternyata itu adalah Ubud, yang memang belum pernah kami kunjungi, dan « paddy terrace ».

IMG_5508Paddy teracce adalah lahan persawahan bertingkat-tingat, yang  menggunakan  sistim Subak, sebuah pengairan tradisional khas Bali yang telah diakui dan mendapat penghargaan international. Tampaknya orang Bali tahu betul bagaimana memanfaatkan kekayaan dan kecantikan alam mereka. Buktinya, untuk melewati jalan umum dengan area persawahan cantik sepanjang beberapa ratus meter disisi jalannya saja kita dikenai pajak. Meski sebenarmya pemandangan seperti ini tidak hanya terdapat di tempat ini.

Namun memang banyak kelebihannya melewati jalur ini. Sepanjang jalan Celuk mendekati Ubud hingga paddy terrace, berjajar  workshop benda-benda seni khas Bali dari perak dan emas. Juga toko-toko  dan pasar yang menjual berbagai souvenir khas Bali, mulai gantungan kunci sederhana, bolpen, kipas, pakaian hingga patung-patung batu berbagai model dan ukuran. Yang tak kalah menarik, saya sempat melihat mukena Bali yang sedang trend di Jakarta di gantung-gantung di pasar.  Mukena ini tebuat dari kain katun yang adem dengan corak bunga warna warni nan cerah.

Juga surprise buat kami, mendapati sejumlah resoran dengan label HALAL dengan huruf-huruf lumayan mencolok. Cukup membuat hati lega, setelah sepanjang perjalanan 79 km tersebut, mata terus disuguhi tulisan “ Babi Guling” di warung dan resto-resto yang ada di sepanjang jalan. Spontan muncul pertanyaan dihati, berapa persen sebenarnya Muslim di pulau yang mayoritas beragama Hindu ini. Tampaknya ada peningkatan signifikan pada 10 tahun terakhir ini. Karena ketika itu rasanya kami tidak menemukan hal tersebut.

Demikian pula ketika kami tiba di Kintamani. Kami sempat ragu menentukan resto halal  mana yang akan kami jajal. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke salah satu resto dimana terpampang tulisan besar ‘HALAL”dan “ADA MUSHOLA”. Restoran prasmanan ini terletak di pinggir jalan menghadap ke danau Batur yang terletak di gunung dengan nama yang sama. Sebuah pemandangan yang sungguh menakjubkan, Subhanallah …

Sayangnya, kenikmatan tersebut terganggu oleh banyaknya lalat yang mengerubuti meja panjang yang dipasang di bibir tebing tersebut … 😦 …

IMG_5550IMG_5542Setelah puas menikmati indahnya panorama, makan siang yang sebenarnya lumayan enak tapi gara-gara lalat jadi menjijikan, plus shalat zuhur dan asar yang dijama’ di mushola yang bersih, kamipun segera meninggalkan area. Kami meluncur menuju Ubud yang tadi hanya kami lewati karena khawatir terlalu sore tiba di Kintamani.

Menjelang magrib kami tiba di Ubud. Ubud adalah sebuah kota kecil dengan jalan-jalan sempit yang disesaki resto dan toko-toko souvenir serta barang seni khas Bali. Juga workshop untuk belajar menari, melukis dll kegiatan seni Bali. Banyak wisatawan asing yang menyukai kota ini.  Kami berada di kota ini selama kurang lebih 1 jam, dan kemudian kembali ke Kuta, ke hotel dimana kami menginap, untuk beristirahat sejenak.

Malamnya kami keluar lagi dengan berjalan kaki untuk mencari makan malam. Lagi-lagi kami kembali dibuat terpana dengan adanya sebuah area dimana berjajar sejumlah restoran dengan label HALAL mencolok. Area ini berada di pinggir jalan raya di depan pantai Kuta yang crowded, dimana puluhan restoran berjajar, berlomba menarik perhatian pengunjung dengan gegap gempitanya music live yang disajikan khusus bagi para pengunjung.

Setelah puas menyantap hidangan makan malam, kami melewati tengah malam dengan menikmati suara deburan ombak yang saling berkejaran, sambil menatap langit luas tak beratap yang berlampu bintang-bintang itu. Ini masih ditambah lagi dengan nikmat lembutnya pasir ciptaan-Nya. Allahuakbar …

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)”, (QS. An-nahl(160:12).

“Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS.Ar-Rahman(55):13).

IMG_5568IMG_5621Kesokan harinya giliran danau Bedugul dan tanah Lot yang kami sambangi. Di kedua obyek wisata ini berdiri pura, rumah ibadah umat Hindu. Mayoritas masyarakat Bali tampaknya memang sangat religius. Berkali-kali, sejak kedatangan kami di hari pertama, kami menyaksikan masyarakat berbondong-bondong menuju pura yang jumlahnya tak terhitung itu, untuk menghadiri upacara adat dan keagamaan. Fenomena ini terlihat baik di kota besar seperti Denpasar maupun kota-kota kecil yang kami lewati.

2004-11 Bali-14Di semua tempat umum tanpa kecuali, mulai dari toko, restoran hingga hotel bintang 5 sekalipun, sesajen yang berupa bunga-bungaan selalu terlihat disajikan, baik di dalamnya maupun di depan jalan masuknya. Bahkan di perempatan-perempatan jalan dan pohon-pohon besar yang sengaja diberi sarung kotak-kotak hitam putih khas Bali, hampir selalu ditemukan sesajen tersebut. Beberapa kali saya memergoki gadis-gadis muda berkebaya Bali dengan tali kuningnya di pinggang, meletakkan piring berisi bunga dan lidi yang ujungnya dibakar di kasir-kasir toko oleh-oleh yang kami kunjungi.  Mereka meletakannya setelah membacakan doa sejenak.

Masyarakat Bali sebagai mayoritas pemeluk Hindu memang memiliki banyak sekali upacara adat dan keagamaan. Ngaben, Ngerebong, Mekotek, Mejaga-jaga dan Mesuryak adalah diantaranya. Dan sebagian besar upacara tersebut diselenggarakan di pura. Tak heran bila Bali mempunyai julukan pulau Seribu Pura.

(Lihat:http://www.indonesia.travel/id/destination/277/ubud/article/50/upacara-pembakaran-jenazah-paling-megah-di-bali

http://www.indonesia.travel/id/destination/277/ubud/article/50/upacara-pembakaran-jenazah-paling-megah-di-bali ).

2004-11 Bali-17Di Bedugul pada tahun 2004, beruntung kami bisa menyaksikan upacara seseorang yang baru saja meninggal dunia. Meski itu bukan upacara yang spektakuler seperti Ngaben, yaitu pembakaran jasad. Setelah ritual tertentu, tampaknya pembacaan doa, dengan sebuah perahu, debu hasil pembakaran jasad dibawa ke tengah danau. Disana debu tersebut dituangkan kedalam danau, diserahkan kepada perlindungan dewa laut.

Upacara-upacara semacam ini selalu menarik perhatian banyak wisatawan asing maupun wisatawan lokal, Tampaknya inilah kelebihan utama wisata Bali dibanding wisata pantai lain didunia ini.

Bedugul saat ini jauh berbeda dengan Bedugul 9 tahun yang lalu. Ini dapat kami rasakan begitu kami memasuki area parkir dan gerbang utamanya. Pekarangannya yang luas meskipun masih asri namun telah terlihat dikomersialkan sedemikian rupa. Sementara di bagian dalam pekarangan, dimana 2 pura berdiri, air danau naik hingga terlihat memisahkan kedua pura tersebut.

IMG_5558Namun seperti juga di sepanjang jalan menuju Kintamani kemarin, surprised juga terjadi disini, yaitu banyaknya resto di sekitar obyek wisata yang memasang label HALAL dengan tulisan mencolok. Bahkan di sisi seberang jalan pura Bedugul, di atas sebuah tempat yang agak tinggi, sebuah masjid besar terlihat kokoh berdiri. Allahuakbar …

Sedangkan di Tanah Lot, menurut saya pribadi tidak terlalu banyak perubahan, kecuali yaitu tadi, sama dengan di Bedugul, warung-warung makan dengan label HALAL.  Alhamdulillah …

Namun ada pernyataan salah seorang penjaja warung yang cukup mengagetkan kami.

Hati-hati bu, tidak semua warung disini benar-benar halal “, “Meski ada tulisan HALAL nya ??”, tanya saya lagi, setengah tak percaya. “Ya, meski ada tulisan HALAL nya”, jawabnya meyakinkan.

Na’udzubillah min dzalik. Memang sih tulisan HALAL besar nan mencolok tersebut memang bukan label standard yang dikeluarkan MUI. Bahkan sebagian tulisan tersebut hanya menggunakan huruf latin. Tetapi ada juga warung yang mencantumkan tulisan Bismillahirahmanirahim dalam huruf Arab, meyakinkan bahwa pemiliknya adalah Muslim. Namun tentu saja bukan jaminan bahwa masakannya Halal kaaan …

Kabar baiknya, masih menurut ibu pemilik warung asal Madura tadi, orang Bali asli kalau sudah memeluk Islam, “jempol “, katanya sambil mengangkat jempolnya. Subhanallah …

( Bersambung)

Read Full Post »