Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 20th, 2014

Pujian dalam pandangan Islam.

Rasanya tak ada di dunia ini orang yang tidak senang  dipuji, baik secara langsung maupun tidak. Yang berbeda mungkin hanya tanggapannya, ada yang bersyukur, ada yang biasa-biasa saja, ada yang senang, ada yang bangga dan ada pula overacting. Meski pujian tidak jarang hanya basa-basi, bahkan bisa jadi dengan maksud tertentu. Yang terakhir ini mungkin ditujukan bagi orang yang memang gila hormat dan pujian.

Pujian adalah cerminan dari perhatian yang diberikan kepada seseorang, bisa karena prestasi, bisa juga karena kelebihan yang dimiliki orang yang bersangkutan. Kelebihan tersebut bisa berupa  kesuksesan,  kepintaran, kesholehan,  kekayaan , kecantikan/ ketampanan,  dan lain sebagainya.

Dalam dunia pendidikan, reward and punishment atau pujian dan hukuman adalah hal biasa. Pujian dan penghargaan diberikan kepada mereka yang berbuat baik, yang berhasil meraih prestasi misalnya. Sedangkan hukuman diberikan kepada yang berbuat salah, melanggar aturan, contohnya.

Dengan kata lain, penghargaan diberikan sebagai ungkapan rasa senang dan bangga atas perbuatan baik dan prestasi anak.  Sedang hukuman diberikan dengan tujuan untuk menuntun dan memperbaiki kesalahan, bukan untuk menjatuhkan apalagi tujuan balas dendam. Jadi reward and punishment adalah alat untuk mendidik agar anak didik mau berusaha memperbaiki kelakuan, sikap  dan prestasinya.

Secara umum, Allah swt mencontohkan hal ini dengan adanya pahala dan dosa.

“ … …,  maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. … ” , (QS Al-Maidah (5):48).

Ini untuk memotivasi manusia agar mau berbuat baik. Karena pada dasarnya manusia itu senang berlomba. Meski sayangnya, tidak jarang manusia itu senang berlomba dalam segala hal, baik dalam hal kebaikan maupun hal keburukan.

Dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Celakalah engkau, kau telah menggorok leher saudaramu. Kau telah meggorok leher saudaramu!”.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” [HR. Bukhari Muslim ).

Ya pujian adalah ibarat pedang bermata dua, yang dapat menjadi sarana ketakwaan kepada Allah di satu sisi,  dan dapat menjadi alat masuknya bisikan syaithan, di sisi sebaliknya. Oleh karenanya Islam mengatur adab dam tata cara memuji ini, bagaimana agar pujian tidak menjadi bumerang , agar pujian tidak menyebabkan seseorang menjadi besar kepala dan lalai.

Pujian terbagi menjadi 2, yaitu pujian yang tercela dan pujian yang diperbolehkan. Pujian yang tercela, adalah pujian yang berlebihan dan pujian yang dapat menyebabkan orang yang dipuji merasa bangga diri (‘ujub). Sedangkan pujian yang dibolehkan adalah yang hanya sekedarnya, tulus dan membuat yang dipuji bertambah dekat kepada Sang Khalik.

Harus kita ingat bahwa pujian hanyalah milik Allah Azza wa Jalla. Kebaikan dan kelebihan seorang hamba tidak ada apa-apanya dibanding dengan-Nya. Dan lagi kelebihan seorang hamba sejatinya adalah pemberian dan berkat izin-Nya. Apalagi bila kelebihan tersebut adalah kelebihan yang sifatnyas fisik, kecantikan misalnya. “Udah dari sononya”, kata orang Betawi.

Ironisnya, kelebihan semacam ini makin hari makin sirna, ditelan umur dan waktu. Kecantikan dan ketampanan seseorang jelas tidak abadi. Cobalah bayangkan seorang perempuan yang diwaktu mudanya cantik rupawan. Bandingkan dengan ketika ia berusia 70 tahunan, ketika giginya sudah mulai tanggal alias ompong. Atau lelaki yang ketika muda tampan dan gagah, bandingkan setelah ia berusia lanjut, giginya ompong, perutnya buncit dan kepalanyapun botak.

“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,  Maha Pemurah lagi Maha Penyayang » (QS. Al-Fatihah(1) : 2-3).

Bicara soal gigi, suatu hari saya pernah mengantar seorang kerabat yang sudah sepuh ke tukang gigi, untuk memperbaiki gigi palsunya yang patah beberapa minggu sebelumnya. Kerabat saya tersebut mengeluh bahwa ia merasa lidahnya lebih panjang dari sebelumnya. Selain itu ia juga merasa tidak dapat berkata-kata secara jelas, alias pelo. Padahal ia tidak sakit alias sehat-sehat saja.

Usut punya usut, ternyata pangkal semuanya adalah karena gigi. Menurut tukang gigi tersebut, yang menyebabkan ibu tersebut merasa lidahnya memanjang, karena selama beberapa minggu ia tidak memakai gigi palsunya. Akibatnya lidah menjadi tidak terkontrol, dan ‘lari ‘kesana-kemari, keluar dari ‘pagar’gigi yang selama ini membatasinya. Demikian juga kata-kata yang tidak jelas dan mendesis, itu semua diakibatkan karena alpanya gigi ! Subhanallah …

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya ».(QS.At-Tiin(95):4).

Imam Al Ghazali berkata: “Apabila kalian membenci atas dirimu hendaklah kalian alihkan untuk memuji kepada Allah swt. Karena orang yang memuji Allah itu adalah orang yang dekat dengan Allah. Orang yang berlebihan memuji manusia adalah yang lupa bahwa Allah bersifat Maha Tinggi lagi terpuji.”

Lagi pula, dibalik kelebihan dan kesholehan seorang hamba, pasti ada kejelekan dan kekurangannya, meski mungkin hanya dirinya yang mengetahui hal tersebut. Oleh karenanya, ketika kita sedang dipuji, dianjurkan agar segera istighfar, meyakini  bahwa Allah swt sedang menutupi kejelekan dan kekurangannya tersebut. Dan membaca doa yang artinya adalah sebagai berikut :

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku sendiri daripada mereka yang memujiku”.

“Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka duga, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan sebab perkataan mereka” (HR. Al-Baihaqi).

Sebaliknya bagi yang suka memuji, bila ia benar-benar mencintai saudaranya, tahanlah pujian tersebut, karena pada umumnya manusia itu memiliki sifat-sifat lemah, seperti munafik, ujub, lupa diri, dan sifat-sifat buruk lainnya.

Disamping itu bila memang kita ingin memujinya, lakukan itu dengan ikhlas, dengan tujuan untuk memotivasi, dan agar ia mensyukuri kelebihan tersebut. Yang dengan demikian dapat lebih mendekatkan diri pada-Nya.

“ … … Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. … … “. (QS. Al Maidah(5): 2).

Fenomena puji memuji yang belakangan ini menjadi trend adalah pemberian ‘jempol’di dunia maya, FaceBook, contohnya. Jempol diberikan kepada status atau foto yang diunggah sesama anggota FB, sebagai bentuk perhatian, apresiasi atau sekedar ‘sudah dibaca”.  Atau bisa juga hanya basa-basi. Padahal tidak jarang status atau foto yang dipajang itu tidak Islami. Tidak jelas sebenarnya atas dasar apa jempol tersebut diacungkan.

Lebih parah lagi apa yang terjadi saat ini. Yaitu pujian yang sifatnya membela seseorang secara berlebihan, tidak peduli orang yang dipuji dan dibelanya itu salah atau benar. Ini adalah contoh pujian yang sama sekali tidak islami, karena sifatnya sangat emosional, dan sudah mengarah kepada pendewaan.

“ Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. Muslim).

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu anhu dia berkata:

 “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.” (HR. Muslim).

Mungkin sudah saatnya  kita harus introspeksi, memilah-milah mana yang patut mendapat pujian, mana yang tidak. Jangan sembarang mengangkat jempol, memuji dan mengeluarkan pendapat, karena semua itu ada pertanggung-jawabannya, baik di dunia apalagi di akhirat nanti.

“ pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS.An-Nuur(24) :24).

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk fisik kalian dan harta kalian. Melainkan Dia melihat kepada hati kalian”. (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Februari 2014.

Vien AM.

Read Full Post »