Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2016

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. … … … … … … …“ (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):183 – 184).

Beberapa hari tertentu yang dimaksud tersebut adalah 29 atau 30 hari penuh selama bulan Ramadhan. Ya, bulan Ramadhan yang merupakan bulan ke 9 dalam tahun Hijriyah memang bulan yang sangat istimewa. Pada bulan inilah tidak saja kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, namun juga kitab suci umat Yahudi yaitu Taurat maupun kitab suci umat Nasrani yaitu Injil, diturunkan.

Namun bedanya bila Taurat dan Injil diturunkan sekaligus maka Al-Quran diturunkan dalam 2 tahapan. Tahap pertama Allah swt menurunkannya secara langsung dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah. Yang ke dua, dari Baitul Izzah kepada Rasulullah Muhammad  saw melalui malaikat Jibril as secara bertahap selama hampir 23 tahun, dan permulaannya diturunkan pada malam Lailatul Qadar, yaitu pada malam-malam di bulan Ramadhan.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. ( Terjemah QS. Al-Qadr (97):1-3).

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/nuzulul-qur-an.htm#.V2qfSbh96Uk

Jadi sungguh tidak aneh mengapa Allah swt memilih bulan Ramadhan sebagai bulan dimana umat Islam mengalami penggeblengan, fisik maupun mental, agar menjadi hamba-Nya yang takwa. Yang dengan demikian akan menambah limpahan cinta dan ridho Sang Khalik atas umat yang telah dilebihkannya atas umat yang lain itu.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Terjemah QS. Ali Imran (3):110).

Ayat diatas menjelaskan secara gamblang mengapa Allah swt menyebut kita, umat Islam, adalah umat terbaik. Yaitu karena Islam menyuruh kepada yang ma`ruf ( kebaikan) dan mencegah dari yang munkar ( kejahatan), selain beriman kepada-Nya, tentunya. Untuk itulah setiap tahun diadakan pelatihan dan penggemblengan diri, agar kita tidak lupa akan fitrah tersebut. Itulah Ramadhan, bulan penggemblengan.

Selama hari-hari bulan suci tersebut Allah swt  memerintahkan kita agar berpuasa menahan lapar dan haus serta hubungan badan antara suami dan istri, dimulai dari terbitnya fajar hingga tenggelam matahari. Selama satu bulan penuh itu pula di perintahkannya agar kita dapat menguasai segala macam emosi buruk kita, seperti marah, iri, dengki, bergunjing dll, termasuk mempertontonkan aurat. Allah swt juga memerintahkan agar kita memperbanyak perbuatan baik, seperti berinfak, membantu orang yang dalam kesulitan dll, disamping menjalankan shalat malam dan membaca kitab suci Al-Quran.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”. ( HR.Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079).

Agar suasana kondusif, karena Allah swt maklum bahwa godaan syaitan amatlah berat dan dasyat, maka dibelengguNya syaitan-syaitan terkutuk. Dan sebagai penyemangat dibukaNya pintu-pintu surga lebar-lebar serta ditutupNya rapat-rapat pintu-pintu neraka. Dengan kata lain bila pada bulan suci tersebut kita tidak dapat juga menguasai diri kita sendiri dari sifat2 syaitan terkutuk, sungguh alangkah meruginya kita.

Ibaratnya sekolah, bulan Ramadhan adalah ujian akhir sekolah. Dan agar para murid dapat melaksanakan ujian dengan baik, adalah kewajiban sekolah untuk meng-kondisikan suasana sekolah yang tenang, jauh dari hingar bingar yang berpotensi mengganggu konsentrasi murid.

Jadi sungguh aneh bila kemudian di negri yang katanya mayoritas Islam ini, ternyata ada pejabat tinggi, yang tidak mau memerintahkan warung makan agar menutup warungnya di siang hari. Alasannya demi menghormati mereka yang tidak berpuasa. Inikah toleransi kebablasan?

https://www.nahimunkar.com/kebijakan-nyeleneh-hormati-tidak-puasa-dikecam-ulama/

http://www.suara-islam.com/read/index/18606/Hormati-yang-Tidak-Puasa–Habib-Rizieq–Itu-Logika-Kaum-Zindiq

Ironisnya, tidak sedikit pula orang yang nyinyir berkomentar “ Masak diiming-imingi makanan gitu aja jadi pingin batal puasa. Justru itu tantangannya!”.

Kalau kita tinggal di negara dimana kita minoritas, di Eropa atau Amerika misalnya, masih bisa ditrima. Tapi ketika kita di rumah sendiri, sebagai mayoritas pula, apakah itu tidak aneh? Sementara Sang Khalik saja sebagai Penguasa Tertinggi telah memberikan keistimewaan bagi kita, dengan diberinya suasana kondusif …

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):119).

Ayat diatas ditujukan kepada kaum Muslimin yang hidup pada zaman Rasulullah saw dimana hidup pula di sekitar mereka orang-orang munafik. Orang-orang munafik itu layaknya musuh dalam selimut yang dari luar kelihatannya sama dengan kaum Muslimin pada umumnya. Namun sesungguhnya mereka tidak menyukai kaum Muslimin.

Tapi yang lebih ajaib lagi ketika ada pejabat gubernur yang memerintahkan agar sekolah tidak membuat aturan siswa perempuan wajib berjilbab di bulan Ramadhan. Apa urgensinya seorang non Muslim meski ia seorang gubernur, ikut repot dengan urusan yang tidak menjadi wewenangnya ?

Namun ya sudahlah, inilah ketetapanNya yang harus kita ambil hikmahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Ramadhan adalah bulan penggemblengan agar kita menjadi manusia yang takwa, yang ber-akhlak mulia. Bila ketika di bulan Ramadhan kita terbiasa menjaga emosi agar tidak suka berbohong, tidak mudah marah, tersinggung, jauh dari ghibah dll. Maka kebiasaan baik tersebut harus kita pertahankan walaupun Ramadhan telah usai.

Bila ketika Ramadhan murid-murid perempuan mengenakan jilbab karena adanya aturan sekolah. Maka usai Ramadhan tetap mengenakannya, karena memang itu adalah perintah-Nya.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami, … … “. (Terjemah QS. An-Nuur(24):31).

Bila ketika Ramadhan kita semua menantikan waktu datangnya Magrib, dengan tidak sabar, untuk berbuka. Maka seperti itu pula nantinya, di 11 bulan lainnya, kita semua juga menanti Magrib, bukan untuk berbuka, tapi untuk bersegera menjalankan shalat Magrib secara berjamaah, di masjid.

Bila ketika Ramadhan kita berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat Taraweh, maka di bulan-bulan lain kita juga berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat Isya berjamaah. Dan bila ketika Ramadhan kita bangun pagi sebelum waktu Subuh untuk sahur, maka di bulan-bulan lain kita bangun untuk shalat Tahajud dan bersiap menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah.

“Shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri lebih utama dua puluh lima (dalam riwayat lain: dua puluh tujuh derajat)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 645, 646 dan Muslim no. 649, 650)

Meski bagi Muslimah shalat jamaah di masjid, terutama shalat fardhu, tidaklah wajib. Karena shalat di rumah bagi mereka lebih baik. Sebaliknya shalat sunnah seperti Taraweh boleh dilakukan di masjid dengan syarat-syarat tertentu. Diantaranya yaitu atas izin suami, dan bila keadaan aman.

https://cahayawahyu.wordpress.com/religion/hukum-shalat-berjamaah-di-masjid-bagi-wanita-dari-berbagai-pendapat/

Jadi sungguh tepat ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum”, yang berarti semoga Allah menerima ( amalan) kami dan ( amalan) kalian. Bukan “ Minal Aizin wal Faidzin” yang selama ini lazim digunakan masyarakat Indonesia tanpa sadar bahwa itu bukan hal  yang diajarkan Rasulullah saw. Apalagi dengan tambahan ucapan “ maaf lahir dan bathin” seolah itu adalah terjemahan “ Minal Aizin wal Faidzin”.

Permintaan maaf dan saling memaafkan dalam Islam bisa dilakukan kapanpun tanpa menunggu hari Raya Lebaran/Iedu Fitri. Bahkan bila kita berbuat kesalahan sebaiknya segera meminta maaf, tidak menunda-nundanya.

Jubair bin Nufair berkata, “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Juni 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID, Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani.  Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam. Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

”Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,” ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.

                                                                      ***
Kisah Jad dan Ibrahim.

Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun. Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

“Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!” ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim  menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun. Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya. Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan “Hei Yahudi” atau “Hei kafir” bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

                                                                                ***

Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, “Buku apakah ini?” tanyanya. Temannya pun menjawab, “Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam,” ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, “Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?” 

Temannya menjawab, “Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat.” Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur’an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini. Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.

Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

“Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik…”.

Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad. Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Allahuakbar …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 Juni 2016.

Vien AM.

Dicopy dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/03/29/m1mo1k-subhanallah-pria-yahudi-ini-mengislamkan-jutaan-orang

Read Full Post »