Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2020

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Gary Miller merupakan seorang profesor matematika.

Dia dibesarkan di Kanada. Sekolah-sekolah keagamaan adalah tempatnya menimba ilmu. Selain mendapatkan pengetahuan, dia di sana juga mendapatkan keimanan. Dia kemudian belajar teologi di Universitas Wheeling Jesuit, Amerika Serikat. Prestasi akademik banyak diraihnya di sana. Anugerah kecerdasan telah memudahkannya memahami berbagai ilmu pengetahuan. Berkat kecerdasan dan bakatnya, dia menjadi pendukung penyebaran agamanya yang aktif dalam berbagai kesempatan.

Dia menyebarkan keyakinannya kepada khalayak ramai. Dengan penuh semangat, lelaki itu berdiri di podium dan menjelaskan ajaran keimanan yang ketika itu diyakininya benar. Ceramahnya juga ditayangkan di televisi. Kemudian, ia mendapat gelar doktor dalam bidang matematika dari Universitas Toronto. Pemikiran ilmiah Miller kerap berbenturan dengan ajaran agama yang dianut. Hal ini membuatnya tidak nyaman sehingga dia lebih memutuskan untuk berpindah ke agama lain. Dia juga berpidah-pindah rumah ibadahnya selama sembilan tahun karena tidak mendapatkan jawaban dari pemuka agama soal ketuhanan.

Pertanyaan dan penjelasan Miller kerap membuat pusing pemuka agama. Mereka yang seharusnya mampu memberikan jawaban untuk menambah keimanan masyarakat, malah terdiam. Pemuka agama itu tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada Miller. Ketidakpuasan yang muncul karena jawaban itu tidak didiamkan. Miller mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban yang dapat menghilangkan rasa penasarannya. Kali ini dia tidak lagi menghujani pemuka agama dengan berbagai pertanyaan mengenai ketuhanan. Dia mem baca buku-buku tentang Islam karangan orientalis.

Ketika membaca buku itu, Miller tidak melepaskan sikap kritis. Dia tetap mempertanyakan kesimpulan-kesimpulan orientalis yang kerap memojokkan ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Bagaimana mungkin seorang nabi yang ajarannya kini mendunia disebut tidak waras. Apakah mungkin sosok utusan Sang Pencipta yang membawa dan menyebarkan risalah Ilahiyah hidup dengan abnormal. Kesimpulan-kesimpulan semacam itu sama sekali tidak masuk akal. Dia mengabaikannya.

Miller menginginkan kebenaran. Jika Muhammad adalah orang yang baik dan cerdas, mengapa dia harus berbohong untuk mengklaim kenabiannya. Atau, jika Rasul gila sehingga tidak sadar dengan tindakannya, bagaimana mungkin dia memahami wahyu Ilahi. Jawaban tentang semua kegelisahan Miller ternyata ada dalam Alquran surah az-Zariyat ayat 52-53. Bunyinya adalah,

“Tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Sindiran Allah dalam firman itu menyadarkannya bahwa tudingan orientalis bukan hal baru. Mereka hanya mengulang apa yang dilakukan masyarakat dahulu yang menolak risalah Islam. Alquran jelas menerangkan Rasulullah tidak berdusta. Kemudian, pandangannya kembali terbuka ketika membaca kisah anak Rasul Ibrahim yang meninggal dunia. Ibrahim meninggal bersamaan dengan gerhana matahari yang terjadi. Seorang sahabat Nabi pernah berkata, matahari hilang karena anak Rasulullah telah wafat. Rasulullah pun membantah perkataan sahabat,

“Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hilangnya nyawa seseorang.” Jawaban itu adalah bukti yang jelas bahwa Nabi Muhammad bukan pembohong ataupun orang gila.

Inspirasi dari kalam Ilahi itu menghadirkan kepuasan tersendiri. Miller kemudian makin semangat mendalami Islam. Pada tahun 1977 dia memutuskan untuk membaca Alquran. Dia juga mencari tahu apa yang benar dan salah di dalamnya. Dalam tiga hari dia membaca ayat-ayat Ilahi. Setelah selesai, dia berkata kepada diri sendiri, “Inilah keyakinan yang telah saya katakan dan percaya selama 15 tahun terakhir ini.”

Pada mulanya dia meyakini, Alquran merupakan otobiografi yang membahas kehidupan Nabi Muhammad, keluarga, dan lingkungannya. Dia menganggapnya seperti kitab agama sebelumnya yang berisi hikayat orang-orang dulu. Namun, ia terkejut menemukan hal yang tak terduga. Ternyata Alquran hanya menyebutkan nama Rasulullah sebanyak lima kali. Sementara, Alquran menyebutkan nama Nabi Isa sebanyak 25 kali. Adapun nabi Musa disebutkan lebih dari seratus kali.

Dia makin tercengang ketika menemukan surah Maryam. Sebaliknya, dia tidak menemukan satu surah pun dengan nama Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Dia juga tidak menemukan cerita yang berhubungan dengan perasaan pribadi Rasulullah. Selain itu, tak ada ayat Alquran yang menceritakan euforia kemenangan Perang Badar atau penderitaan setelah Perang Uhud. Miller menemukan tidak ada satu kata pun yang disebutkan dalam Alquran tentang kesedihan yang menimpa Rasulullah. Karena kitab ini berasal dari Allah, bukan Muhammad.

Pada saat pertama kali mengetahui Alquran, dia sempat berpikir bahwa konten di dalamnya adalah pengetahuan kuno yang dibuat oleh pria gurun pasir ribuan tahun lalu. Setelah membaca ayat-ayat di dalamnya, dia menyadari prediksi itu tidak tepat.

Alquran adalah kitab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena mendahului sains modern dengan fakta paling akurat sebagai temuan ilmiah terbaru. Miller kemudian memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Alquran.

Dua ratus tahun lalu, ilmuwan Belanda Antony Leeuwenhoek telah menemukan bahwa 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Dia tidak tahu bahwa Alquran telah lebih dahulu menyebutkannya. Allah mengatakan hal itu dalam surah al-Anbiya ayat 30 dan Fussilat ayat 11.

Hal yang sama terjadi di tahun 2011 ketika Saul Perlmutter, Adam Riess, dan Brian Schmidt telah memenangkan Nobel fisika. Penghargaan yang mereka terima adalah untuk menemukan fenomena percepatan ekspansi alam semesta. Sekali lagi, fakta ilmiah ini sudah ada di dalam Alquran dalam surah az-Zariyat ayat 47. 

Ayat Embrio.

Al-Quran juga telah berbicara tentang tahap-tahap embrio. Surah al-Hajj ayat 5 menarik perhatian Profesor Keith Moore, rekan sejawat Miller di Universitas Toronto. Moore adalah profesor embriologi dan penulis buku terkenal, The Developing Human. Buku ini merupakan referensi mahasiswa fakultas kedokteran dunia. Al-Quran membuat tanda di buku-buku Profesor Keith Moore. Dalam edisi selanjutnya, dia menambahkan informasi yang dia pelajari dari Alquran tentang embriologi.

Namun, dunia telah bangkit saat Keith Moore mengeluarkan buku tentang embriologi klinis. Di dalamnya, dia menulis tentang diutamakannya Alquran dalam menyebutkan fakta perkembangan embrio. Miller kagum dengan kesepakatan penulis Barat bahwa Alquran tidak dapat ditulis oleh Rasulullah. Karena ini adalah buku pengetahuan berisikan topik yang menakjubkan. Kesimpulan tersebut menunjukkan dengan arif bahwa Alquran adalah wahyu Ilahi.

Klaim yang paling mudah adalah bahwa beberapa komite anonim membantu Rasul mengerjakannya. Namun, ada yang bilang, setan membantunya mengarangnya. Ini adalah kesimpulan yang penuh fitnah. Miller memikirkan secara mendalam tentang klaim terakhir dan menganggapnya sebagai semacam pelarian dan kegagalan untuk menghadapi kebenaran.

Jika Alquran diilhami setan, mengapa iblis mengisi bukunya dalam penghinaan terhadap setan. Makhluk pengganggu manusia itu selalu mengajak manusia untuk mengingkari perintah Allah sehingga mereka akan masuk ke dalam neraka penuh siksa. Banyak buku tidak dapat menyuguhkan penjelasan yang dapat diterima tentang keajaiban Quran. Berbagai kesimpulan buruk tentang Islam selalu dilontarkan dalam berbagai media. Namun, itu semua justru menjadi pemicu orang untuk lebih mendalami hakikat Islam.

Gary Miller memeluk Islam pada tahun 1978. Dia memilih nama mualaf Abdul Wahid Omar. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya di departemen matematika dan lebih memilih mengabdi untuk berdakwah di Kanada. Buku yang ditulisnya menarik perhatian banyak orang berjudul The Stunning Quran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 27 September 2020.

Vien AM.

Dicopas dari :

https://republika.co.id/berita/qgin9s430/kisah-profesor-matematika-jadi-mualaf-sebab-surat-azzariyat

Read Full Post »

Semangat Hijrah(2).

Persaudaraan sesama Muslim adalah hikmah yang sering dilupakan orang ketika berbicara tentang hijrah. Padahal tak lama setelah Rasulullah tiba di kota Madinah ketika hijrah 14 abad silam, beliau segera mempersaudarakan kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah dengan kaum Muhajirin yaitu para sahabat yang hijrah dari Mekah ke Madinah. Contohnya yaitu Umar bin Khattab ( Muhajirin) dipersaudarakan dengan Itban bin Malik al-Khazraji (Anshar) dan Abdurrahman bin Auf ( Muhajirin) dengan Sa’ad bin Rabi (Anshar).

Berikut salah satu kisah menarik tentang persaudaaan antar kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang diabadikan dalam ayat 9 surat Al-Hasyr :

Suatu hari datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (dalam keadaan lapar), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada para istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?”

Salah seorang kaum Anshâr berseru: “Saya,” lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshâr itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu. Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.

Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung –Qs. al-Hasyr/59 ayat 9. [HR Bukhari] 

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr (59):9).

Kisah persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi berikut juga tak kalah menariknya. 

Sa’ad ra berkata kepada Abdurrahman ra, “Aku adalah kaum Anshâr yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa ‘iddahnya, engkau bisa menikahinya”. Mendengar pernyataan saudaranya itu, ‘Abdurrahmân menjawab: “Aku tidak membutuhkan hal itu. Adakah pasar (di sekitar sini) tempat berjual-beli?” Lalu Sa’ad menunjukkan pasar Qainuqa’. Maka mulai saat itu Abdurrahmân sering pergi ke pasar untuk berniaga hingga akhirnya ia berkecukupan dan tidak lagi tergantung  bantuan Sa’ad, saudaranya, atau siapapun. [HR. Bukhari].

Tak dapat dipungkiri rasa persatuan dan rasa persaudaraan diantara sesama Muslim pada periode tersebut adalah kunci kemenangan Islam dalam menghadapi dominasi kekuatan kaum Kuffar. Kaum Muslimin yang waktu itu hanya menguasai kota Madinah namun berhasil mempecundangi  dua super power dunia ketika itu yaitu Romawi Timur dan Byzantium.

Dibawah kekhalifahan yang 4 yaitu para Khulafaur Rasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan rad an Ali bin Abu Thalib ra) yang merupakan generasi sahabat terbaik, dakwah Islam secara cepat berkembang hingga ke separuh belahan dunia. Simak apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte kaisar kenamaan Perancis yang terekam dalam “Bonaparte et L’Islam” karya Christian Cherfils pada hal 105.     

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia … Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentausaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat … Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separuh bola bumi … Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”.

Kejayaan Islam selama berabad-abad dimulai pada periode Madinah yaitu sejak hijrahnya rasulullah pada tahun 622 M hingga akhir kekhalifahan Ottoman pada tahun 1923. Kejayaan ini terbagi atas beberapa periode dan fase. Kejatuhan kejayaan Islam terjadi secara bertahap, tidak secara tiba-tiba. Penyebab utamanya adalah lemahnya rasa persatuan umat hingga mudah diadu domba oleh mereka yang tidak menyukai Islam. Cinta dunia dan takut mati yang berlebihan seperti gila harta dan kekuasaan hingga tidak mau berjuang untuk Islam, makin mempercepat kejatuhan Islam. Dan hal tersebut terus berlanjut hingga detik ini. 

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” [HR. Abu Daud dan Ahmad].

Oleh sebab itu fenomena banyaknya pemuda yang hijrah belakangan ini merupakan angin segar tanda kebangkitan Islam yang telah lama dinantikan. Namun demikian hal yang harus dicatat, hijrah haruslah 100 % alias hijrah total, tidak setengah-setengah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Jangan kita memilah-milah hukum Allah, ditaati hukum yang kita sukai dan ditinggalkan hukum yang tidak kita sukai. Hukum menutup aurat, hukum waris, hukum riba, poligami dan jihad perang adalah beberapa contoh hukum yang sering ditolak sebagian kaum Muslimin.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):216).

Allah swt memerintahkan kita untuk tuntas dalam melakukan segala sesuatu, tidak setengah-setengah. Dalam ilmu kedokteran mungkin kita bisa menyetarakannya dengan pasien yang minum antibiotic. Semua orang pasti tahu bahwa minum antibiotik harus sampai habis. Kalau tidak maka akan percuma, dan harus diulang dari awal.

Contohnya dalam shalat. Waktu dan jumlah rakaat tiap shalat sudah tertentu. Subuh 2 rakaat, haram hukumnya kita menambahnya menjadi 3 atau 4 rakaat dengan alasan 2 rakaat terlalu sedikit misalnya. Atau shalat yang sudah nyaris selesai tinggal salam, tetapi tiba-tiba buang angin. Sah kah shalat kita??? Tidak … kita harus mengulang dari awal, bahkan dari wudhu. Bahkan wudhupun harus sesuai syariat, tidak boleh sesuka hati.

Begitulah syariah Islam. Janji Allah Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin, kebaikan untuk seisi alam semesta, akan terpenuhi bila syariah dijalankan secara keseluruhan/tuntas tidak sebagian-sebagian. Bangsa Indonesia adalah mayoritas Muslim, merupakan jamaah haji terbesar seluruh dunia. Tapi adakah keberkahan di bumi kita tercinta?? Bukankah Allah swt telah menganugerahi bangsa ini tanah yang sangat subur, dengan sumber kekayaan alamnya yang tak terhingga?

Mari kita introspeksi, tingkat berapakah korupsi negara kita di dunia? Bagaimana dengan sistim per-bank-an kita yang sarat riba itu?? Bagaimana pula tingkat kriminalitas, perkosaan, pedophili, prilaku menyimpang seperti homoseksualitas, perzinaan, pengguguran kandungan dll yang semua jelas-jelas terlarang dalam Islam??? Belum lagi perpecahan antar kelompok Islam yang makin lama meruncing seolah tidak ada rasa kasih sayang antar mereka.  

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Harus diingat musuh kita bukan “cuma” syaitan yang membisik-bisiki hati, tapi juga musuh nyata yang menyerang berbagai lini kehidupan, yang popular dengan sebutan 7 F( Fashion, Food, Film, Free thingking, Free sex, Fun dan Friction).

Jadi bila kita memang sungguh-sungguh ingin kembali mencapai kejayaan Islam seperti dulu maka tidak ada jalan lain selain harus hijrah sebenar-benar hijrah, hijrah dalam segala hal, dengan niat murni demi menggapai ridho-Nya.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 September 2020.

Vien AM.

Read Full Post »