Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2020

Siapa tak kenal Umar ibnul Khattab, sahabat rasul yang mempunyai julukan Al Faruq’ yang berarti Sang Pembeda atau Sang Pemisah. Rasulullah memberikan julukan tersebut berkat ketegasan Umar memisahkan antara yang hak dan yang batil.  

Ketika menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah, Umar tak segan-segan menindak siapa pun yang melanggar hukum.

Sekalipun aku ini keras, tapi sejak semua urusan diserahkan kepadaku, aku menjadi orang yang sangat lemah di hadapan yang hak,” ujar Umar di depan rakyatnya.

Umar sebelum masuk Islam memang dikenal sebagai orang yang sangat keras. Ia sering menyiksa orang-orang Quraisy yang kedapatan meninggalkan agama nenek moyang mereka demi memeluk Islam. Ini ia lakukan semata karena keyakinannya yang begitu kokoh terhadap berhala-berhala yang menjadi sesembahan kaumnya ketika itu.

Hingga suatu hari rasulullah berdoa memohon kepada Allah swt agar Islam diberi kekuatan dengan masuk Islamnya seorang diantara Umar, yaitu Umar ibnu Khattab atau Amr bin Hisyam alias Abu Jahal. Dan ternyata Allah swt memilih Umar ibnu Khattab sebagai kekuatan Islam.

Ya, Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” ucap Rasulullah.

Umar juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu ( rendah hati/tidak sombong). Sikapnya tersebut terlihat jelas dari penampilannya. Namun penampilan bersahaja tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawanya sebagai seorang khalifah. Bahkan sikap tersebut mampu menarik musuh untuk lebih menghormatinya lagi.

Contohnya adalah Hormuzan. Hormuzan adalah panglima perang Persia yang gigih memimpin pasukannya menghadapi pasukan Islam, diantaranya yang paling sengit adalah dalam perang Jalula. Jalula adalah sebuah kota perbukitan di sebelah utara Iran.

Pasukan Hormuzan beberapa kali mengalami kekalahan. Namun Hormuzan sendiri selalu berhasil meloloskan diri. Selanjutnya setelah berhasil membangun kekuatan, ia kembali melakukan penyerangan terhadap Islam meski tetap saja kalah. Akhirnya Hormuzanpun menyerah dan menanda-tangani perjanjian damai serta menyerahkan jizyah sebagai buktinya.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):29).

Tetapi tak lama kemudian Hormuzan melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri yaitu dengan memimpin pemberontakan, menyerang dan membunuh rakyat sipil.  Dua kali hal tersebut dilakukannya. Maka ketika akhirnya ia berhasil ditangkap, iapun dibawa ke Madinah untuk diserahkan kepada khalifah Umar.  

Hormuzan dibawa ke Madinah dalam keadaan masih mengenakan pakaian kebesarannya yang mewah layaknya pembesar Persia, yaitu sutra bersulam emas dan berhiaskan permata.

Selanjutnya ia dibawa ke rumah Umar, namun tidak bertemu. Rupanya sang khalifah sedang tertidur di teras masjid dengan berselimutkan sarung lusuh. Di tangannya tergenggam sebuah kantong kecil berisi jagung. Terkejut Hormuzan dibuatnya.

Mana pengawalnya? Mana ajudannya??” tanya Hormuzan keheranan.

Ia tidak punya ajudan, tidak juga pengawal, tidak juga sekretaris pribadi. Ia hidup bersahaja”, jawab Anas ibn Malik yang mengantarnya.

“Kalau begitu ia adalah seorang nabi yang suci”, seru Hormuzan tertegun.

Singkat cerita, terjadilah percakapan antara Umar dan Hormuzan.

Hai Hormuzan, tidakkah engkau saksikan akibat dari setiap tipu muslihat yang kalian lakukan terhadap Allah?” tanya Umar membuka pembicaraan.

Dulu Allah berpihak kepada kami maka kamipun dapat menaklukkan kalian. Namun kini rupanya Allah berpihak pada kalian maka kalianpun menaklukkan kami,” jawab Hormuzan.

” Sekarang apa yang engkau inginkan?” tanya Umar penuh wibawa.

Sambil menatap tajam, Hormuzan menjawab, “Aku khawatir engkau akan membunuhku sebelum aku mengucapkan keinginanku”

Jangan khawatir,  katakan saja!“, balas Umar.

Hormuzan lalu mengatakan bahwa ia haus dan ingin minum. Umarpun memberinya semangkuk air.

Namun Hormuzan tidak segera meminumnya. “Aku kuatir engkau akan membunuhku sebelum aku meminum air ini”

Jangan  khawatir, minumlah!”, tegas Umar.

Hormuzanpun menegukkan minuman tersebut. Setelah itu sambil menatap Umar, ia berkata” Sungguh engkau telah nyata memberikan jaminan keselamatan padaku“.

Umar hanya tersenyum sambil mengangguk. Selanjutnya menurut beberapa riwayat Hormuzan lalu bersyahadat di hadapan Umar. Allahu Akbar.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Oktober 2020.

Vien AM.  

Diambil dari buku “Kisah Umar bin Khattab” karya Dr. Musthafa Murad.           

Read Full Post »

Baitul-Maal berasal dari 2 kata bahasa Arab, yaitu bait yang berarti “rumah”, dan al-mal yang berarti “harta”. Jadi secara bahasa Baitul-Maal berarti rumah untuk mengumpulkan atau menyimpan harta.

Ada perbedaan pendapat mengenai kapan Baitul-Maal pertama didirikan. Namun sebagian besar berkeyakinan bahwa  Baitul-Maal pertama didirikan pertama kali pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra.

Sebelumnya yaitu pada masa hidup rasulullah saw, harta yang berasal dari rampasan perang (Ghanimah) dan juga harta Fai, langsung dibagikan hingga habis kepada kaum Muslimin dan segala keperluannya, dengan petunjuk yang diberikan Rasulullah saw. Bilal bin Rabah sahabat sekaligus muadzin kesayangan nabi, adalah orang yang dipercaya mengurus hal tersebut.

Harta Fai yaitu harta rampasan perang yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran, muncul melalui banyak cara. Diantaranya  melalui perdamaian, jizyah, kharaj (pajak tanah), dan bisa juga karena pihak musuh lari meninggalkan harta bendanya sebelum terjadinya peperangan.

Di zaman jahiliah, sebelum datangnya Islam, kabilah- kabilah Arab jika menang dalam berperang akan mengambil ghanimah, termasuk tawanan, dan tanah, kemudian membagi-bagikannya kepada orang yang ikut berperang. Pemimpin mereka mendapat bagian yang besar.

Namun pada ayat 41 surat Al-Anfal berikut Allah Azza wa Jala memerintahkan bahwa bagian rasullullah sebagai pemimpin umat hanya 1/5 bagian, itupun termasuk untuk Allah, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil. Dan pada prakteknya rasulullah tidak pernah mengambilnya di luar kebutuhan pokok.

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(Terjemah QS. Al-Anfal(8):41).

Selanjutnya khalifah Abu Bakar ra sepeninggal rasullullah meneruskan apa yang dicontohkan rasul. Namun sejak masa ke-khalifahan Umar bin Khattab ra, dengan makin meluasnya wilayah kekuasaan Islam, Umar memberdayakan apa yang disebut Baitul Maal. Seluruh harta kekayaan umat termasuk uang zakat, infak dan sedekah, yang makin lama makin berlimpah ruah itu disimpan di dalam Baitul Maal.

Umar memerintahkan para gubernurnya untuk mendirikan dan memberdayakan Baitul Maal di daerah kekuasaan masing-masing. Hebatnya, pengelolaan rumah harta milik rakyat ini sangat transparan, karena harta tersebut memang milik rakyat, dan untuk rakyat. Semua orang yang membutuhkan boleh dan bisa mengambil secukupnya. Sementara yang berlebih bisa memasukan harta mereka ke tempat tersebut.

Semua ini bisa terjadi berkat Umar sang khalifah, yang mencontohkan akhlak yang mulia. Umar sangat ketat menjaga diri dan keluarganya dari harta rakyat.

Umar berkata, “Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang-orang Quraisy biasa, dan aku adalah seorang biasa, seperti kebanyakan kaum muslimin”.

Umar sungguh-sungguh menjadikan rasulullah sebagai panutan dalam segala hal termasuk kezuhudannya. Bayangkan, Umar adalah seorang khalifah kerajaan raksasa yang kekuasaannya meliputi seluruh negara bekas Persia ( Irak, Iran, Azerbaijan, Armenia), 2/3 bagian bekas Rumawi Timur/Byantium ( Jordan, Palestina, Suriah, Lebanon, dataran tinggi Golan dan Mesir) serta seluruh jazirah Arab yang sebelumnya telah ditalukkan yaitu pada masa rasulullah.     

Penaklukan yang dilakukan pasukan Umarpun bukannya sembarangan. Ia meneladani apa yang diperintahkan rasulullah agar memerangi kemusrykan yang ada di dunia ini demi mencari ridho-Nya.  

Dari Buraidah r.a, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Berperanglah fi sabilillah dengan menyebut nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, berperanglah dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat dan janganlah membunuh anak-anak.” (HR Muslim 1731).

Perang adalah jalan terakhir bila suatu kaum menolak cara damai dengan membayar jiziyah dan tunduk kepada hukum Islam. Itupun setelah kalah perang tidak ada paksaan untuk memeluk Islam.    

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):256).

Pada masa Umar pulalah untuk pertama kali dalam sejarah Arab, diberlalukan sistem akuntansi pencatatan belanja negara. Untuk itu Umar mengangkat pengelola dan pengawas Baitul Maal dari kalangan terpilih dan terpercaya dari para sahabat. Pada perkembangannya Baitul Maal selalu digandengkan dengan masjid, dan selalu dijaga pasukan tentara.

Dengan harta tersebut pula Umar membangun kota-kota termasuk masjid-masjid besar, madrasah\sekolah, perpustakaan dll, yang berhasil membawa Islam menuju masa kejayaan.

Akhir kata, semoga suatu hari nanti kita bisa kembali mempunyai seorang pemimpin seperti Umar, yang dengan demikian bisa memperoleh kembali kejayaan yang telah lama hilang. Tak perlu lagi kita kehilangan kemuliaan Islam akibat hutang yang menggunung kepada negara lain .. na’udzubillah min dzalik …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Oktober 2020.

Vien AM.

Read Full Post »