Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2021

Dalam sebuah pidatonya presiden Turki Recep Tayyib Erdogan  bercerita tentang kisah menarik antara Hulagu Khan penguasa Mongol yang kejam dengan Kadihan, seorang guru sebuah madrasah.

Sebagaimana diketahui pada tahun 1258 M, Hulagu Khan cucu Jengis Khan kaisar Mongol, mendapat perintah untuk menaklukkan Asia Tengah dan Timur Tengah  yang ketika itu dibawah kekuasaan dinasti Abbasiyah. Tanpa perlawanan berarti Hulagu yang dikenal bengis dan kejam berhasil memporak-porandakan dinasti Islam tersebut.

Baghdad ibu kota Abbasiyah yang ketika itu merupakan pusat budaya dan ilmu pengetahuan dibumi hanguskan. Masjid-masjid megah nan cantik, perpustakaan, madrasah dan bangun-bangunan bersejarah lainnya luluh lantak. Pasukan Abbasiyah nyaris 400 ribu termasuk rakyat sipil tewas mengenaskan dihadapan Khalifah Al-Mustasim, khalifah terakhir Abbbasiyah.    

Sebelumnya Hulagu sempat menyodorkan khalifah malang tersebut sebuah nampan emas untuk dimakan, benar-benar untuk dimakan. Tentu saja Al-Mutasim menolaknya.

Lantas mengapa tuan menyimpannya?” tanya Hulagu sinis. “Alih-alih tuan bisa memberikannya kepada prajurit tuan? Mengapa tuan tidak meleburnya saja pintu besi istana ini lalu menjadikannya mata panah? Dengan panah-panah itu setidaknya tuan bisa menghalau pasukan saya.

“Ini semua kehendak Tuhan,” jawab sang Khalifah.

Kalau begitu, apa yang akan terjadi pada tuan setelah ini adalah kehendak Tuhan juga,” kata Hulagu mengakhiri percakapan.

Beberapa hari kemudian setelah menghancurkan Baghdad, Hulagu keluar dari kota tersebut dengan membawa serta khalifah Al-Mustasim, putra mahkota serta para pelayan. Hulagu lalu mengeksekusi mereka semua di sebuah desa bernama Waqaf. Sementara di istana Baghdad, sisa-sisa keluarga khalifah dibantai.

Kembali pada kisah yang diceritakan Erdogan. Suatu hari Hulagu menantang datang ke istananya ulama terbesar wilayah yang baru dikuasainya. Tapi tak ada satupun yang berani memenuhinya, kecuali Kadihan seorang guru muda sebuah madrasah yang datang ke istana dengan membawa seekor ayam, seekor unta dan seekor kambing bersamanya.

Dengan heran Hulagu memandangi anak muda tersebut dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil berkata, ”Mereka—ulama hanya menemukan orang seperti anda untuk bertemu denganku?? “

Kadihan dengan tenang menjawab,”Tuan, jika tuan ingin bertemu dengan yang lebih besar (dari saya), di luar markas ini ada saya bawa seekor unta. Atau jika anda ingin bertemu yang berjenggot, di luar sana saya ada bawa kambing. Bahkan jika anda ingin berjumpa dengan yang bersuara nyaring, di luar sana juga sudah siap seekor ayam jantan (jago).

Mendengar jawaban itu, Hulagu menyadari anak muda yang berani itu bukanlah orang sembarangan. “Baiklah, kata Hulagu, coba kamu jelaskan, apa yang telah membawa aku bisa datang ke sini (Baghdad)”.

Guru muda ini menjawab, ”Sesungguhnya perbuatan kami sendirilah yang telah membuat dan membawa tuan datang ke sini. Kami tidak pernah lagi mensyukuri nikmat Allah. Kami tenggelam dalam kesenangan dunia, berfoya-foya. Kami hanya sibuk mengejar pangkat dan jabatan, berebut kekuasaan dan kekayaan (dengan mengabaikan yang lain). Akhirnya Allah-lah yang telah menggerakkan tuan melangkah ke mari untuk menarik semua kenikmatan itu, hingga kamipun jadi begini,” katanya.

Hulagu kembali bertanya, “Lantas apa yang dapat mengusir aku dari negeri ini?”

Tuan Hulagu”, kata sang anak muda itu, “ Jika kami (bangsa ini) menyadari kembali, untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah, dan kamipun berhenti bertikai, maka ketahuilah, andapun tidak akan pernah bisa bertahan lama (menjajah dan menjarah) negeri kami ini”.

Erdogan menutup cerita yang disambut tepuk tangan riuh itu dengan pertanyaan : ”Fahamkan anda semua dengan apa yang saya sampaikan ini??” 

https://www.portal-islam.id/2019/07/pidato-erdogan-yang-sangat-menarik.html

Sungguh benar apa yang dikatakan Kadihan dan disampaikan kembali Erdogan kepada rakyatnya. Sejarah mencatat Abbasiyah pada saat datangnya pasukan Mongol sedang berada dalam masa kejayaannya. Kekayaan melimpah, rakyat hidup berkecukupan, Baghdad kota kosmopolitan gudang ilmu dimana para pejabatnya hidup berfoya-foya sebagaimana yang disindir Hulagu melalui nampan emasnya. Meski tidak lagi segemerlap masa-masa kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-803) atau Abdullah Al-Makmun (813-833).

Masa kejayaan dan budaya Islam telah terkikis sedikit demi sedikit. Pada saat Al-Mustasim naik takhta pada 1242, kekuatan politik maupun militer dinasti ini sudah jauh menurun dibanding khalifah-khalifah sebelumnya. Intrik politik, perang saudara di antara elite kekhalifahan, konflik Sunni-Syiah terjadi setiap waktu. Hingga ketika Hulagu datang menawarkan agar menyerah secara damai, Al-Mutasim menolaknya mentah-mentah tak sadar sudah tak memiliki kekuatan memadai menghadapi pasukan Mongol yang terkenal kejam dan begis tersebut. Maka berakhirlah kejayaan lima abad kekhilafahan Abbasiyah untuk selamanya.

Namun kebrutalan Hulagu dan pasukannya bukan semata karena Hulagu yang dikenal bengis, tapi juga disebabkan salah satu istri dan jendral andalan Hulagu, Dokuz Khatun yang beragama Kristen. Keduanya menyimpan benci dan dendam terhadap kekalahan Romawi dan Persia dari pasukan khalifah Umar bin Khattab pada abad 7.

Sebaliknya Hulagu juga tidak bertahan lama di wilayah bekas Abbasiyah. Ia dikalahkan oleh Berke Khan sepupu Hulagu pendiri Khanat Berke kerajaan Mongol Islam di Eropa Timur. Berke memeluk Islam setelah bertemu seorang ulama kharismatik di Bukhara. Kemenangan ini diawali dengan kemenangan Sultan Qutuz dari kerajaan Mamluk Mesir dan Baibar yang bersatu melawan pasukan Hulagu dibawah jendral Dokuz Khatun dalam perang Ain Jalut. Hulagu sendiri absen karena sedang ada urusan mendesak di Mongol.

Sekembalinya Hulagu bermaksud membalas kekalahan pasukannya. Namun ia terkejut mendapati yang harus dihadapi adalah sepupunya sendiri yang telah memeluk Islam. Berke bahkan tanpa ragu menunjukkan bahwa persaudaraan sesama Muslim lebih tinggi nilainya dari ikatan darah. Berke telah menunjukkan ketinggian dan kwalitas keimanannya meski belum lama memeluk Islam. Sesuatu yang harusnya membuat malu kita yang terlahir Islam tapi tidak memiliki rasa tersebut.

Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.’‘ (HR Bukhari dan Muslim).

Hulagu telah menghancurkan semua kota Muslim dan telah menyebabkan kematian khalifah. Dengan bantuan Allah, saya akan memanggilnya untuk menghitung begitu banyak darah orang yang tidak bersalah”, demikian isi surat Berke yang ditujukan kepada Hulagu.

Ditambah dengan penaklukan Konstatinopel pada 1453 oleh Sultan Memed II dari Turki Ustmani, Islampun kembali meraih cahayanya kembali. Islam terus berjaya dan sedikit demi sedikit kembali menuju kejatuhannya pada 1923 yaitu dengan jatuhnya kekhalifahan Turki Ustmani setelah 5 abad berkuasa.    

Selanjutnya Erdogan yang terpilih menjadi presiden pada 2014 berhasil mengeluarkan Turki dari kesekulerannya. Ia berhasil mengembalikan berkumandangnya adzan dalam bahasa aslinya yaitu Arab, pemakaian jilbab, shalat Subuh berjamaah di masjid, juga difungsikannya kembali Aya Sofia sebagai masjid. Pada saat itu Erdogan bahkan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan indah dan syahdunya.

Dan melalui pidatonya tentang kisah Hulagu dan Kadihan yang kemudian viral itu, Erdogan mengingatkan pentingnya mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana dicontohkan para sahabat, serta menguatkan persatuan sesama Muslim, bila Islam ingin kembali mencapai kejayaannya.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):110).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan/khaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku.” (HR. Tirmidzi).

Akhir kata semoga kita sebagai Muslim Indonesia juga dapat ikut berpartisipasi dalam meraih kembalinya kejayaan Islam, sebagaimana yang juga diharapkan almarhum Syeikh Ali Jaber ulama yang giat dalam pembinaan hafidz cilik Indonesia. Ulama asli Madinah yang wafat beberapa hari lalu ini sangat berharap suatu hari nanti ada diantara santrinya bisa memimpin negri yang sangat dicintainya, yaitu Indonesia.

https://turkinesia.net/index.php/2020/09/15/syekh-ali-jaber-kagumi-erdogan-yakini-indonesia-akan-lahir-pemimpin-adil-dan-hafidz-al-quran/

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Januari 2021.

Vien AM.       

Read Full Post »

Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Eropa dan Amerika Serikat.” —New York Times

Lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) Pew Research Center (PRC) memprediksi, Islam akan menjadi agama terbesar di dunia pada 2075. Hal ini terjadi seiring dengan terus bertambahnya kelahiran di keluarga Muslim. Hasil riset yang dilansir the Guardian, beberapa waktu lalu itu juga menyebut, selama dua dekade mendatang jumlah bayi yang lahir dari keluarga Muslim akan menyalip jumlah bayi yang lahir dari keluarga Kristen.

Pada 2020, jumlah Muslim mencapai kurang lebih 25 persen dari sekitar 7.7  miliar jiwa penduduk dunia. Pertumbuhan Islam itu, harus diakui banyak disumbang dari proses perpindahan iman (mualaf) yang mulai marak pasca tragedi 9/11 di Amerika. Namun sejatinya perpindahan iman tersebut telah terjadi jauh sebelum itu. Berikut 5 tokoh mualaf manca negara yang mampu membawa perubahan dalam sejarah dunia.

1.  Berke Khan (1209- 1266), penakluk Eropa Timur dari Mongol.

Berke Khan adalah cucu Jenghis Khan, penakluk kenamaan Mongol.  Ia adalah orang Mongol pertama yang memeluk Islam. Ia berkuasa pada tahun 1257 hingga syahidnya di medan perang pada 1266. Kekuasaannya meliputi Rusia, Bulgaria, Rumania dan wilayah Kaukasus. Selanjutnya Berke memperluas kekuasaannya hingga ke Polandia dan Lithuania.

Berke bersama saudaranya Batu Khan, mendapatkan mandat untuk menaklukan Eropa Timur, bersamaan dengan Hulaghu Khan, cucu Jengis Khan lain yang mendapatkan tugas untuk menaklukan Asia Tengah dan Timur Tengah  yang ketika itu dibawah kekuasaan dinasti Muslim Abbasiyah.

Dalam perjalanannya menuju Rusia, rombongan Berke berpapasan dengan kafilah dagang Muslim di kota Bukhara. Pasukannya lalu menginterogasi mereka, dan Berke sangat terkesan oleh keberanian, ketenangan, dan ketangkasan ulama yang menjadi juru bicara dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan pasukannya. Berkepun kemudian memeluk Islam, diikuti banyak pengikutnya.

Pada saat yang sama ia mendengar berita kebrutalan yang dilakukan Hulaghu pada saat menaklukan wilayah dinasti Abbasiyah. Sepupunya itu melakukan pembantaian terhadap penduduk yang tidak berdosa, merusak warisan ilmu yang dimiliki, serta menghancurkan berbagai bangunan bersejarah. Berke sangat marah dan kecewa bercampur malu.

Maka ketika Syaifudin Qutuz, sultan Mamluk penguasa Mesir, memintanya untuk membantu menghadapi pasukan Hulaghu, Berke dengan senang hati mengabulkan permintaan tersebut. Di kemudian hari pasukan gabungan Berke dan Mamluk dalam perang Ain Jalut yang fenomenal tersebut dikenang sebagai penyelamat dunia Islam dari kebrutalan bangsa Mongol. Mereka berhasil menghentikan laju pasukan  Hulaghu dan mempertahankan wilayah Mesir, Syria, dan Hijaz dari serangan pasukan Mongol yang kejam.

2. Zaganos Pasha ( 1446 – 1461 M), penasehat Sultan Muhammad al-Fatih.

Zaganos Pasha adalah seorang penganut Kristen asal Albania. Ia direkrut menjadi Yenicheri, pasukan elit kesultanan Turki Utsmani. Seperti Yenicheri lainnya, ia dibekali ilmu agama Islam, administrasi pemerintahan, dan pelatihan militer. Ia ditunjuk menjadi mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Muhammad al-Fatih yang ketika itu masih sangat belia.

Saat al-Fatih dilantik sebagai raja Utsmani, Zaganos yang juga masih relative muda diangkat menjadi seorang menteri. Zaganos selalu dilibatkan dalam semua urusan negara, terutama rencana penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Dalam pengepungan Konstantinopel, pasukannya yang pertama kali berhasil mencapai menara benteng yang dikenal sangat kokoh tersebut. Zaganoslah yang menancapkan bendera Turki di atap Menara. Dan atas prestasinya itu, salah satu menara di benteng Konstantinopel dinamakan dengan namanya yaitu Menara Zaganos Pasha.

Zaganos dikenal sangat loyal dan penuh semangat. Ia berhasil membantu mengembalikan tekad dan semangat para pasukan yang pada saat itu sempat dilanda keputus-asaan karena selama beberapa bulan pengepungan tidak juga  berhasil membobol pertahanan kota bersejarah tersebut. Peninggalan-peninggalan Zaganos masih tersisa di wilayah Edrine berupa masjid, dapur umum, dan pemandian umum. Sayang awal ke-Islam-an Zaganos tidak diketahui secara umum. 

3. Ibrahim Muteferrika (1674 – 1745 M), duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia

Ibrahim Muteferrika adalah seorang berdarah Hungaria yang di kemudian hari memeluk Islam. Ia menjabat sebagai duta dinasti Turki Utsmani untuk Prancis dan Swedia pada saat dinasti tersebut sedang mengalami stagnansi inovasi.

Usai tugas di kedua negara Eropa Barat tersebut, Muteferrinka kembali ke Istanbul membawa ide Renaisans dan penggunaan mesin cetak. Dengan bantuan alat tersebut ia berhasil mengkopi atlas, kamus, dan buku-buku Islam.  Di antara banyak karya yang dicetaknya, ada atlas buatan ahli geografi terkenal Katip Çelebi yang dibuat pada tahun 1728. Atlas tersebut memuat ilustrasi dunia dengan detail dan tingkat presisi yang mengagumkan untuk ukuran saat itu. Satu diantara isi dari serial Cihannuma (Geografi Alam Semesta) yang diilustrasikan oleh  buku peta cetakan pertama tersebut adalah peta Indonesia.  

Muteferrinka juga menulis dan mencetak buku-buku dengan berbagai topik, seperti sejarah, teologi, sosiologi, dan astronomi. Muteferrika meninggal di Istanbul. Patungnya hingga kini berdiri tegak di Sahaflar Çarşısı, Grand Bazaar,  Istanbul.

4. Alexander Russel Webb (1846 – 1916 M), diplomat Amerika.

Di akhir abad 19, dunia jurnalistik Amerika mulai memasuki era baru. Pengaruh dunia tulis-menulis sangat besar dan efektif dalam membentuk opini di masyarakat. Salah seorang yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Alexander Russel Webb.

Webb dilahirkan dari orang-tua beragama Kristen, namun semakin hari agama tersebut malah menimbulkan keraguan baginya, hingga hilanglah kepercayaannya dengan agamanya tersebut. Setelah kepercayaan terhadap agama Kristen hilang, ia mulai membuka diri dan mempelajari agama-agama selain Kristen.

Penunjukkan dirinya sebagai seorang pejabat kedutaan Amerika di Philipina pada tahun 1887, makin membuka ketertarikannya pada Islam. Ia mengawalinya ke-Islam-annya melalui paham Ahmadiyah. Namun ia terus belajar dan memperdalam ke-Islam-annya dengan menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam dan bertemu dengan para ulama sehingga ia mendapatkan pemahaman yang baik tentang Islam dan terlepas dari pengaruh Ahmadiyah.

Tahun 1893, ia mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan kembali ke Amerika. Di negeri Paman Sam inilah ia memulai dakwahnya menyeru kepada Islam. Dengan kemampuan jurnalistiknya, ia menulis sejumlah buku dan kolom-kolom opini di media masa menjelaskan kepada masyarakat Amerika tentang Islam. Di awal abad 20, ia semakin dikenal sebagai seorang Muslim yang giat dan vokal dalam mendakwahkan Islam di Amerika, bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, memberinya gelar kehormatan dari kerajaan sebagai apresiasi terhadap apa yang telah ia lakukan.

5. Muhammad Marmaduke Pickthall (1875-1936), jurnalis novelis Inggris.

Pickthall lahir dari keluarga kelas menengah Inggris dengan nama William Pickthall. Ayahnya adalah seorang pendeta Anglikan yang meninggal ketika ia masih kanak-kanak. Pada usia muda Pickthall mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu Bahasa termasuk bahasa Arab. Ia berharap suatu saat bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang konsuler di Palestina. Di usianya yang belum genap 18 tahun, ia memutuskan untuk berlayar ke Port Said, Mesir.

Perjalanan ke Port Said ini menjadi awal mula petualangannya ke negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah dan Turki. Keahliannya dalam berbahasa Arab telah memikat penguasa Ottoman. Atas undangan dari pihak Kesultanan Ottoman, Pickthall yang kala itu belum menjadi seorang Muslim, mendapat tawaran untuk belajar mengenai kebudayaan Timur. Hasinya, selama masa Perang Dunia I tahun 1914-1918, ia banyak menulis surat dukungan untuk Turki Usmaniyah.

Setelah akhirnya memutuskan memeluk Islam pada tahun 1917, Pickthall aktif dalam berbagai kegiatan dakwah.  Ia mempunyai cita-cita besar untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Ia berkeyakinan adalah tanggungjawab semua umat Muslim untuk memahami Al-Quran secara utuh. Cita-cita mulia tersebut  akhirnya terealisasi 11 tahun kemudia, yaitu pada tahun 1928.

Karya Pickthall ini menjadi karya pertama penulisan makna Al-Quran dalam bahasa Inggris oleh orang Inggris asli. Karya mulia tersebut tercatat sebagai salah satu dari dua karya terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris yang sangat populer. Karya lainnya ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali dari India.

Terjemah Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris juga pernah dilakukan seorang mualaf, yaitu Leopold Weiss ( Muhammad Asad), jurnalis asal Austria/Hungaria yang tadinya memeluk Yahudi. Asad bahkan melengkapi terjemahan yang berjudul “The Message of the Qur’an” itu dengan tafsir singkat berdasarkan pengetahuannya dalam bahasa Arab klasik dan tafsir-tafsir klasik. “Road To Mecca” adalah salah satu buku tulisannya yang terkenal.

Akhir kata semoga Islam terus berkembang menyinari seluruh sudut-sudut dunia yang fana ini, aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 11 Januari 2021.

Vien AM.

Diambil dari beberapa sumber:

https://rmol.id/read/2020/04/07/429203/mengenang-berke-khan-muslim-mongol-pertama-penyelamat-dunia-islam

https://republika.co.id/berita/ocdg6b313/4-mualaf-ini-pengaruhi-sejarah-dunia

https://republika.co.id/berita/q65cfd440/muhammad-marmaduke-pickthall-sang-mualaf-penerjemah-alquran

https://republika.co.id/berita/qhakr4320/kala-pohon-bicara-dengan-rasulullah-saw-dan-islamkan-badui

Read Full Post »