Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2022

Ibnu Al Haitham dikenal sebagai kamera pertama di dunia dan juga bapak optik modern. Nama sebenarnya adalah Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Namun para sarjana dan kalangan ilmuwan Barat atau Eropa mengenalnya dengan nama Alhazen. Ibnu Al Haitham adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia dikenal sangat ahli dalam bidang bidang ilmu optik khususnya penyelidikannya mengenai cahaya.

Tak mengerankan bila ia disebut sebagai Bapak Optik Modern karena jasanya dalam bidang optik. Ia juga memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah kamera obscura atau kamera kamar gelap.

Ibnu Al Haitham dilahirkan di Basra, Irak pada tanggal 1 Juli 965 M. Beliau memulai pendidikan awalnya di Basra, Irak sebelum diangkat menjadi pegawai pemerintah di tanah kelahirannya. Setelah beberapa lama bekerja dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan fokus perhatian pada penulisan.

Berangkat ke Mesir.

Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan melakukan beberapa penyelidikan mengenai aliran dan saluran Sungai Nil. Ia juga menyalin buku-buku mengenai matematika dan ilmu falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar. Kemudian hasil usahanya itu membuat beliau telah menjadi seo­rang yang amat mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, pengobatan, dan falsafah.

Tulisannya mengenai mata telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang kajian sains di Barat. Malahan kajiannya mengenai pengobatan mata telah menjadi asas kepada pengajian pengobatan modern mengenai mata.

Karya dan Penelitian Ibnu Al Haitham.

Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler mencipta mikroskop serta teleskop. Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemui berbagai data penting mengenai cahaya.

Beberapa buku Ibnu Al Haitham mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antaranya ialah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang bayang dan gerhana. Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila mata­hari berada di garis 19 derajat di ufuk timur.

Warna merah pada senja pula akan hilang apabila mata­hari berada di garis 19 derajat di ufuk barat. Dalam kajiannya, beliau juga telah menjelaskan bagaimana kedudukan atau siffat cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Teori Lensa Pembesar.

Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar. Dan dari situ ia kemudian menemukan teori lensa pembesar. Teori Ibnu Haitham ini telah digunakan oleh para ilmuwan di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.

Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara. Ini jauh sebelum seorang ilmuwan yang bernama Trricella mengetahui hal itu 500 tahun kemudian.

Ibnu Haitham juga telah menemukan model tarikan gravitasi sebelum Sir Isaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Hai­tham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur. Ini kemudian memberikan ilham kepada saintis barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori Ibnu Haitham ini telah membawanya kepada penemuan gulungan film yang kemudiannya disambung-sambung dan ditayangkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat pada masa kini.

Filsafat Ibnu Al Haitham.

Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logika, metafisik, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Penulisan falsafahnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Padanya pertikaian dan pertelingkahan mengenai sesuatu perkara daripada pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya.

Beliau juga berpendapat bahawa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang telah ada. Jadi, pandangannya mengenai falsafah amat menarik untuk disoroti. Bagi Ibnu Haitham, filsafat tidak boleh dipisahkan daripada matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

Karya Ibnu Al Haitham.

Ibnu Haitham membuktikan pandangannya dengan begitu bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Sehingga kini namanya terus dikenal dunia dan ia juga banyak menghasilkan banyak buku dan makalah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametika dan analisanya.
  • Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri.
  • Kitab Tahlil ai’masa^il al ‘Adadiyah tentang aljabar.
  • Makalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi para musafir.
  • Makalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum islam
  • Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan filsafat amat banyak. Karena itulah Ibnu Haitham dikenal sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan sehingga ke hari ini.

Penemu Kamera Pertama di Dunia.

Gambar berikut adalah Kamera Obscura atau dalam bahasa Latin berarti disebut dengan kamera kamar gelap. Kamera Obscura Ini adalah kamera pengembangan hasil penemuan Ibnu Al Haitham yang didasarkan atas prinsip menangkap pantulan cahaya dari sebuah benda.

Walau bagaimanapun sebagian karyanya telah “dicuri” dan “diklaim” oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada beliau. Sesungguhnya barat patut berterima kasih kepada Ibnu Al Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka kemungkinan dunia Eropa masih diselubungi dengan kegelapan.

Kajian Ibnu Al Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama, tulisannya mengenai filsafat telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut. Dan tidak lagi dibelenggu oleh pemikiran filsafat Yunani.

Masa ilmuwan-ilmuwan Islam.

Islam sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang mundur dan memundurkan. Islam juga dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.

Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.Walaupun tokoh itu lebih dikenali dalam bidang sains dan pengobatan tetapi dia juga memiliki kemahiran yang tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan sebagainya. Ibnu Al Haitham adalah salah satunya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Oktober 2022.

Vien AM.

Diambil dari : https://www.biografiku.com/biografi-ibnu-al-haitham.

Read Full Post »

Al-Quran Sebagai Cahaya.

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Secara Bahasa Al-Qur’an memiliki arti bacaan. Sedangkan secara istilah, Al-Quran memiliki arti firman Allah SWT yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an bagi umat Islam adalah kitab suci yang bukan hanya wajib dibaca, tetapi juga dipelajari, diterapkan, diamalkan, dan dijadikan petunjuk bagi kehidupan manusia.

Al-Quran mempunyai beberapa nama lain. Diantaranya yaitu Al-Furqan yang artinya pembeda, At-Tanzil yang  artinya  diturunkan langsung dari Allah,  Az-Zikri yang artinya pemberi peringatan, Al-Huda yang artinya petunjuk, As-Syifa artinya penyembuh, An-Nuur artinya cahaya dan lain sebagianya.

Al-Quran sebagai cahaya atau An-Nuur. Kita semua pasti tahu betapa pentingnya cahaya bagi kehidupan. Tanpa cahaya meski kita memiliki mata, kita tidak akan dapat melihat apapun. Dalam ilmu kesehatan kita diajarkan bahwa  tubuh kita memerlukan sinar matahari  diantaranya agar tulang kita kuat. Tumbuh2an perlu sinar matahari untuk proses fotosintesis. Demikian pula dalam dunia fotografi, tanpa cahaya keindahan suatu objek foto akan berkurang.

Tak dapat dipungkiri kita amat sangat tergantung pada cahaya. Siang hari Allah swt anugerahkn kita matahari. Bagaimana dengan malam hari. Bersyukur Allah kirimkan Thomas Alva Edison sang penemu lampu hingga dng demikian kita tetap bisa beraktivitas pada malam hari.

Meski sebenarnya ada hikmah besar dibalik gelapnya malam hari. Yaitu selain untuk istirahat juga agar kita memiliki waktu untuk merenungi luasnya langit nan indah dimana milyaran bintang-bintang bertaburan. Malam hari nan pekat gelap gulita dimana benda-benda langit dapat terlihat jelas. Mengingatkan bahwa ada kehidupan lain selain di dunia yang fana ini.

Allah swt berfirman dalam ayat 191 surat Ali Imran sebagai berikut :

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Tidak sedikit ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah cahaya, diantaranya adalah :

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an)”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):174).

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. ( Terjemah QS.Ibrahim (14):1)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Terjemah QS. Asy-Syuraa (42):52).

Demikian pula hadist yang menyiratkan bahwa Al-Quran adalah cahaya. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Sesungguhnya, rumah yang dibacakan di dalamnya Alquran, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi” (HR Ahmad).

Masya Allah … kita penduduk bumi yang senantiasa terkagum-kagum akan indahnya bintang-bintang di langit. Ternyata malaikat sebagai penduduk langit bisa memandang kita penduduk bumi sebagaimana kita bintang-bintang di langit … Allahu Akbar …

Dengan kata lain Al-Quran akan menjadi cahaya ketika kita baca. Apalagi bila dibaca dengan tartil, dengan tajwij yang benar maka akan sempurnalah cahaya tersebut.

Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat Hasanat/ kebaikan dan tiap Hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR. Attirmidzy).

Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim).

Pada tahun 2003, Masaru Emoto seorang seorang peneliti dari Jepang, melalui penelitiannya mengungkapkan bahwa susunan partikel molekul air bisa berubah ketika dibacakan kata-kata ke dalamnya. Bila yang disebutkan kata-kata yang baik partikel air tersebut membentuk kristal yang indah. Sebaliknya bila kata-kata buruk yang terbentuk adalah susunan kristal air yang juga buruk .

Apabila kata-kata baik saja mampu membentuk susunan molekul yang indah apalagi bacaan Al-Quranul Karim !

Sementara dalam penelitian lain diketahui, hanya dengan mendengarkan lantunan ayat suci Quran, ternyata mampu menimbulkan efek terapeutik sekalipun pada orang yang tak mengerti isi ataupun arti dari ayat-ayat Quran yang didengarnya.

Seorang dokter spesialis kanker dari rumah sakit Beirut, Lebanon, menyatakan bahwa bacaan ayat suci Al-Quran mampu meningkatkan aktivitas sel-sel sehat dan membangkitkan sistem imun yang melemah agar dapat bertempur melawan sel-sel tumor atau kanker yang paling berbahaya sekalipun. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Dan kami turunkan Alquran sebagai penawar ( as-syifa)  dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Terjemah QS. Al-Isra (17): 82).

Al-Quran adalah As-Syifa yang artinya penawar atau penyembuh penyakit. Sungguh dasyat energy yang dikeluarkan orang yang membaca Al-Quran sekalipun yang bersangkutan tidak memahaminya. Ia mampu mengeluarkan yang membacanya dari segala macam kegelapan seperti penyakit, menuju cahaya yang terang, yaitu kesembuhan.

Pada ayat 35 surat An-Nuur (24) Allah berfirman,

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Nuur ala nuur, cahaya di atas cahaya. Tidak seperti sinar matahari ataupun sinar lampu yang dapat terhalang oleh sesuatu, seperti awan, gunung, bangunan, topi dll, cahaya Al-Quran tidak mungkin dihalangi dan terhalangi oleh apapun. Cahaya Al-Quran tidak hanya mampu menembus batu hitam yang berada di dasar lautan nan gelap gulita tapi juga hati manusia. Dengan Al-Quran hati siapapun yang membacanya secara berulang-ulang akan menjadi tenang. Ayat 23 surat Az-Zumar menyiratkan hal tersebut.  

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”. ( Terjemah QS. Az-Zumar (39):23).

Dengan cahaya inilah kita dapat dapat berjalan kemanapun/ kapanpun, dengan tenang tanpa khawatir tersesat. Di bawah cahaya Al-Quran inilah kita dapat membedakan mana yang baik/haqq dan mana yang buruk/bathil. Itu sebabnya Al-Quran juga disebut dengan Al-Furqon yang artinya adalah Pembeda.  

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika makan siang sering kali saya tidak menyalakan lampu karena saya pikir sudah cukup terang. Namun rupanya putri kami tidak menyukainya. Sambil menyalakan lampu ia berkata ”Bukannya enak gini bu,  teraaang”. Spontan sambil tersenyum saya mencadainya, “ Naah persis nih Al-Quran sebagai cahaya … jadi kelihatan jelas semuaa … bayam beda dengan kangkung, buncis g sama dengan kacang, wortel orange, tomat merah”.      

Bicara mengenai cahaya, Rasulullah pernah bersabda bahwa umatnya nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka.

Di akhirat nanti, cahaya tersebut akan menerangi kubur orang Mukmin, menolong perjalanannya menyeberangi jembatan Shiratal Mustaqin serta membelanya pada pengadilan hari akhir nanti. Cahaya ini akan sangat kita butuhkan karena pada hari Kiamat nanti,  matahari yang selama ini menjadi sumber cahaya bumi akan hilang. Pada hari itu bumi menjadi rata dan gelap gulita.

Jadi sungguh benar, cahaya adalah sesuatu yang mutlak kita butuhkan, baik ketika kita masih di dunia apalagi di akhirat nanti. Namun demikian hanya membaca Al-Quran dengan tujuan agar kita mendapatkan cahaya-Nya tidaklah cukup. Kita harus mentadaburi agar kita benar-benar faham apa yang dikehendaki-Nya, agar menjadi petunjuk atau Al-Huda … kemudian mengamalkannya agar Allah swt meridhoi kita agar kelak bisa masuk ke surga-Nya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 3 Oktober 2022.

Vien AM.

Read Full Post »