Al-‘Aliyyu yang artinya Yang Maha Tinggi, adalah satu dari 99 nama Allah sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qu’ran berikut, “Allah memiliki Asmaul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna (nama-nama terbaik) itu. … ” (Terjemah QS.Al-A’raf(7):180).
“(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)”. (Terjemah QS.Toha(20):8).
Nama-nama tersebut menunjukkan macam ragam sifat Allah yang menunjukkan kebesaran, ketinggian, keindahan, keagungan dan kesempurnaan Allah SWT, dan wajib kaum Muslimin mengimaninya. Dengan mengimani Asmaul Husna, berarti kita mengakui dan meyakini bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah satu-satunya pemilik sekaligus penguasa alam semesta dengan segala isinya. Keutamaan membaca Asmaul Husna adalah membuat kita senantiasa mengingat keagungan dan kebesaran Allah SWT.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang mampu menghafal dan menjaganya pasti akan masuk surga“. [Hadis sahih] – [Muttafaq ‘alaih]
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait jumlah nama-nama Allah. Sebagian mengatakan bahwa nama Allah pada dasarnya tidak terbatas pada angka tertentu. Ada pula yang berpendapat, bahwa jumlah nama itu terbatas di angka tertentu (100, 1000, 99, dan lainnya) meskipun sebagian nama-nama-Nya tidak diketahui manusia secara keseluruhan. Pendapat bahwa Asmaul Husna berjumlah 99 adalah paling populer dengan berpatokan pada hadits di atas.
Allah Azza wa Jala menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang meyakini adanya Allah, melakukan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, serta yang mampu menghafal dan menjaga 99 nama-indah-Nya. Dengan membaca dan mengimani Asmaul Husna, secara tidak langsung, kita telah mendekatkan diri kepada Allah swt. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menyebut salah satu asma Allah ketika kita berdoa sesuai dengan muatan doa kita. Jadi sungguh suatu keuntungan besar bila kita hafal nama-nama tersebut.
*Al-`Aliyyu العَلِيُّ Yang Maha Tinggi*
Sebagai salah satu dari 99 Asmaul Husna, nama ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki ketinggian mutlak dalam zat, sifat, kekuasaan dan derajat, jauh melampaui segala makhluk-Nya. Dalam ayat 59 surat Al-Furqon disebutkan bahwasanya Allah Aza wa Jala bersemayam di atas Arsy,
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy … “.
“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”. (Terjemah QS. Al-Haqqah (69):17).
“Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (Terjemah QS. Al-Buruj(85):14-16).
“Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya? Beliau menjawab, ‘Dia berada di ‘amaa, tidak ada diatas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya di atas air”.[ HR. Tirmidzi].
“Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah ‘Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga”. [ HR Bukhari].
Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, sesuatu yang amat sangat jauh dari jangkauan kita. Oleh sebab itu sudah seharusnya untuk tidak mempertanyakannya. Yang pasti ilmuwan dengan peralatan super canggihnya baru belakangan ini mengetahui bahwa alam semesta ini amat sangat luas. Bahwasanya galaksi Bima Sakti dimana bumi berada hanya salah satu dari trilyunan galaksi yang ada di alam semesta ini. Bahkan matahari yang terlihat begitu jauh dari pandangan kita dan merupakan pusat perputaran tata surya kita sejatinya hanyalah salah satu bintang yang ada di galaksi Bima Sakti.
Mari kita simak ayat 143 surat Al-‘Araf yang secara bahasa berarti “tempat tertinggi” atau “tempat tertinggi yang dibatasi oleh dinding” berikut,
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.
Sementara dalam hadits Qudsi Allah berfirman kepada para malaikat: “Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihat-Ku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”.
Hadist diatas merujuk pada keadaan Wukuq di Arafah pada saat musim Haji yang dilakukan umat Islam yang merupakan kewajiban bagi yang mampu. Saat itu Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada hamba-hamba-Nya yang wuquf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka.
“ . . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ? “
Ayat dan hadist diatas menunjukkan 2 sifat sekaligus yang tampak berlawanan yaitu Al-‘Aliyyu yang artinya yang maha Tinggi dan Al-Qoribu ( yang maha dekat). Ayat 143 surat Al-‘Araf diatas menerangkan secara gamblang bahwasanya gunung selaku salah satu mahluk Allah hancur luluh ketika Ia menampakkan diri. Sebaliknya hadist diatas menceritakan umat Islam yang sedang berhaji tetap utuh seperti semula ketika Ia tidak hanya menampakkan diri tapi bahkan mendekatinya. Allah dengan segala kehendak-Nya mampu berbuat segalanya. Jadi sungguh alangkah tinggi dan beruntungnya umat Islam.
Akan halnya Al-Qoribu ( Yang Maha Dekat), meski umumnya tidak masuk dalam tabel Asmaul Husna namun sifat Allah tersebut beberapa kali muncul dalam Al-Quranul Karim, diantaranya pada ayat 186 surat Al-Baqarah sebagai berikut,“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Sementara pada ayat 19 surat Al-Alaq, Allah swt memerintahkan umat Islam untuk mendirikan shalat (sujud) dan mendekatkan diri pada-Nya. Ayat tersebut adalah ayat sajadah ( ayat yang mengandung perintah sujud). Ayat yang ketika umat Islam mendengar atau membacanya dianjurkan untuk melakukan sujud tilawah sebagai bentuk ketundukan dan penghormatan terhadap ayat tersebut, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.
Menariknya, bacaan sujud yang dilakukan umat Islam minimal 34 x dalam sehari ( dalam 5x shalat wajib), adalah “ Subhanallah robbiyal a’la wa bi hamdi ” yang artinya “Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala puji bagi-Nya”. Untuk diingat sujud, yaitu posisi dimana dahi menempel ke tanah adalah posisi terdekat dengan Allah swt. Secara umumpun tanpa merujuk agama, orang mengartikan sujud sebagai bentuk penyembahan dan penghambaan, penghinaan bagi orang yang sujud kepada benda/mahluk yang di-sujud-inya.
Dalam Islam penyembahan dan penghambaan hanya berlaku kepada Sang Pencipta, Allah Subhanallah Wa Ta’ala, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi karena manusia memang hamba Allah. Sujud kepada mahluk lain selain Allah adalah bentuk kesyirikan yang merupakan dosa besar yang tiada ampun baginya.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Terjemah QS.An-Nissa(4):48).
Demikianlah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-‘Aliyyu melalui Asmaul Husna. Dan dengan mengimani Asmaul Husna, salah satu hikmah yang akan kita dapat adalah dirahmati oleh Allah SWT. Allah akan melindungi hambanya yang mendekatkan diri pada-Nya. Dengan mengetahui makna Asmaul Husna maka Allahpun akan memudahkan segala urusan kita, untuk selalu berperilaku baik tidak hanya kepada-Nya tapi juga kepada sesama manusia hingga Allahpun ridho dan hidup kitapun tenang.
Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 13 Mei 2026 / 25 Dzulhijjah 1447 H.
Vien AM.
Leave a comment