Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Akhlak’ Category

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS.Al-Baqarah(2):183).

Ramadhan adalah bulan dimana Allah swt mewajibkan umat Islam untuk berpuasa. Inilah satu-satunya ibadah yang hanya dapat diketahui oleh Nya dan diri kita sendiri. Selama sebulan penuh, 29 atau 30 hari, kita dituntut untuk dapat menahan lapar dan dahaga, setelah 11 bulan lainnya kita dapat bebas menikmati rezeki dari-Nya. Meski sebenarnya perintah puasa di bulan dimana  Al-Quranul Karim turun untuk pertama kalinya ini bukan sekedar puasa dari menahan makan dan minum,  dari menjelang matahari terbit atau subuh hingga menjelang matahari terbenam atau magrib. Melainkan agar menjadi hamba yang takwa.

Ramadhan pada dasarnya adalah bulan dimana umat Islam menjalani tes, ujian untuk naik tingkatan. Persis ujian atau tes di sekolah agar bisa naik ke kelas yang lebih tinggi. Materi utama yang diujikan dalam bulan ini memang puasa dari menahan makan dan minum, termasuk merokok serta menahan hubungan suami istri. Namun untuk mencapai derajat sempurna, yaitu takwa tadi itu, maka kwalitas puasa seorang Mukmin ikut mendapat penilaian.

Memang banyak tidur dan bermalas-malasan dengan alasan lemas dan tidak bertenaga tidak mendatangkan dosa. Bahkan masih lebih baik dibanding ‘menggosip’ apalagi membicarakan kesalahan dan kejelekan orang lain. Namun puasa yang seperti ini tidak akan menghasilkan buah apapun selain lapar dan haus. Walhasil dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya tidak akan ada perubahan dan perbaikan sikap, baik secara pribadi maupun secara umum.

Padahal tidak mungkin Sang Khalik memerintahkan sesuatu yang tidak ada gunanya. Bukankah Islam diturunkan untuk rahmatan lil alamin, agar tercapai masyarakat yang adil dan makmur ? Kesabaran, kedisiplinan, kepedulian sosial dan ketundukan kepada-Nya adalah beberapa diantara manfaat atau buah yang dapat kita capai. Temuan sains mutakhir bahkan berani mengatakan bahwa puasa secara teratur sangat baik bagi kesehatan. Ini adalah bagian dari detoksifikasi atau pembuangan racun dalam tubuh, sebuah pengobatan yang belakangan ini sedang ‘ngetrend’.

Khusus mengenai kepedulian sosial, kepedulian terhadap sesama. Puasa mustinya mampu membuat seorang Mukmin merasakan kesulitan dan penderitaan hidup masyarakat miskin, yang terpaksa berpuasa karena keadaan. Mereka yang berpuasa tanpa sahur dan tidak mengenal waktu berbuka, baik ketika Ramadhan maupun bukan Ramadhan. Bukan yang seperti kebanyakan kita, yang justru makan berlebihan ketika berbuka, dan makan sekenyang mungkin ketika sahur, seolah bakal tidak makan berhari-hari.

Mukmin yang mempunyai empati tinggi terhadap orang susah seperti ini pasti hatinya lembut, mudah tersentuh. Diawali dengan hati yang seperti itulah, hidayah dan petunjuk Allah swt akan mudah masuk. Yang dengan demikian dapat merasakan bahwa kebenaran hanya milik Yang Pencipta Yang Maha Esa. Tidak ada kebenaran atas nama kelompok, karena kelompok pasti mempunyai kebutuhan dan niat tertentu. Tidak demikian dengan Allah swt. Maka dengan demikian tujuan takwa sebagaimana yang diharapkan-Nya akan lebih mudah dicapai.

Tidak  mudah memang membuat definisi persis apa itu takwa. Namun secara sederhana kata takwa dapat diartikan dengan rasa takut. Tapi bukan takut seperti takutnya seseorang kepada binatang buas atau penjahat, melainkan takut karena khawatir ditinggalkan-Nya, khawatir tidak lagi mendapat perhatian dan kasih sayang-Nya, khawatir dan takut membuat-Nya murka. Karena ia menyadari bahwa ia hanya seorang hamba yang tanpa-Nya ia bukanlah apa-apa. Ini yang dapat menyebabkan seseorang  rela mengerjakan apapun permintaan dan perintah-Nya serta menjauhi segala larangan dan apapun yang tidak disukai-Nya. Intinya, apapun tindakannya selalu berpatokan pada Allah dan rasul-Nya.

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(QS.An-Nur(24):51).

Dari Irbadh bin Sariyah ra berkata: Rasulullah saw  pernah memberi peringatan kepada kami yang membuat hati bergetar dan mata berlinang. Kami lalu berkata, “Ya Rasulullah, seolah-olah itu peringatan perpisahan. Maka dari itu, berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Aku mewasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun yang memerintah kalian seorang budak. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sesudahku, lalu melihat perselisihan yang banyak, maka kalian wajib berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk; gigitlah ia dengan gigi geraham; dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan sebab semua bid’ah (perkara baru yang diada-adakan) adalah kesesatan”.  (HR Ahmad, Abu Dawud Ibn Majah, at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hadis hasan shahih).

Takut dalam arti takwa juga bisa mengambil contoh kepada gunung yang bila saja Allah swt menurunkan Al-Quran itu kepadanya, maka gunung tersebut akan tunduk jatuh tersungkur bahkan pecah saking takutnya.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”.(QS.Al-Hasry(59):21).

Jadi hati yang bersih sebenarnya adalah kunci kemenangan Ramadhan. Dengan hati yang bersih umat Islam dapat melihat dan merasakan keadilan, dapat membedakan mana kebaikan mana kebathilan. Tragedi di Negara-negara Muslim belakangan ini seperti di Mesir dan Suriah contohnya, harusnya mampu membuat mata kita melek. Bahwa kejahatan Fir’aun di masa lalu telah terjadi lagi di bumi para nabi.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata: Bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu, maka cegahlah dengan lisanmu, dan jika kamu tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman”. ( HR. Muslim ).

Dan sudah sepantasnya pula bila kita harus banyak bersyukur karena dapat menjalankan puasa dan ibadah Ramadhan ini dalam keadaan aman dan tenang, insya Allah hingga akhir. Semoga di hari raya Iedul Fitri nanti, kita bisa kembali ke fitrah. Yaitu fitrah manusia yang bersih, sebersih hati bayi yang baru dilahirkan.

Pada waktu itulah  Allah swt juga mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan zakat fitrah. Zakat yang jumlahnya tidak seberapa  ini diberikan kepada orang yang tidak mampu, agar mereka juga dapat merayakan Hari Raya terbesar kedua bagi umat Islam ini, meski hanya sekedarnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Juli 2013 / 20 Ramadhan 1434 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Teror ala Barat (1).

Sebuah film pelecehan terhadap Rasulullah kembali di ungguh Youtube dan membuat umat Islam seluruh dunia bagai kebakaran jenggot. Protes dan demo besar-besaranpun segera digelar.  Dapat dibayangkan betapa kecewa, gusar dan sakit hatinya umat Islam. Jangankan pelecehan apalagi fitnah, penggambaran wajah Rasulullah, meski tanpa niat jelekpun sebenarnya tidak dibenarkan dalam Islam.

Ini bukan kali pertama Barat dan musuh-musuh Islam mengeluarkan film dan gambar-gambar pelecehan yang amat menyakitkan hati umat. Berlindung dibalik kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat ( freedom of speech), Barat membiarkan anggota masyarakatnya menghina, memfitnah dan melecehkan junjungan umat Islam, Rasulullah Muhammad saw dan ajarannya.

Jyllands-Posten, surat kabar terbesar di Denmark adalah surat kabar pertama yang tercatat menerbitkan karikatur Rasulullah saw. Pada akhir September 2005, surat kabar ini menerbitkan 12 gambar hasil lomba karikatur Rasulullah. 3 bulan kemudian yaitu Desember 2005 OKI ( Organisasi Konferensi Islam) mulai menyatakan keberatannya. Sejak itulah kontroversi ini kemudian menghangat di seantero dunia.

Sejak semula, Islam telah melarang penggambaran benda hidup seperti manusia dan binatang. Ini diawali dengan pembersihan gambar dan patung-patung yang berada di dalam Ka’bah, segera begitu Rasulullah berhasil menaklukan kota Mekah dari dominasi kaum musrikin Quraisy. Meski dalam perjalannya, ntah bagaimana dan sejak kapan, pelarangan ini tidak lagi begitu diindahkan. Kecuali bangunan masjid.

Itu sebabnya dekorasi rumah ibadah umat Islam dimanapun, selain kaligrafi ayat-ayat suci hanya diisi oleh gambar dan bentuk bunga dan dedaunan. Penggambaran mahluk bernyawa apalagi sosok dan wajah Rasulullah sama sekali tidak dibenarkan bahkan dilarang.

Dari Ibnu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupkannya.’” [HR. Bukhari].

Rasulullah mewanti-wanti umatnya agar tidak mengkultuskan diri beliau seperti umat Nasrani mengkultuskan nabi mereka, nabi Isa as atau Yesus Kristus. Diantaranya yaitu dengan tidak menggambar wajah beliau.

Namun demi alasan demokrasi dan kebebasan berpendapat dan berekspresi, Barat yang merasa diri dan mengaku  berperadaban paling tinggi di dunia, tidak mau memahami hal ini. Pelecehan dan fitnah terhadap Rasulullah saw dan kitab suci umat Islam melalui karikatur, foto dan film  terus berlanjut hingga detik ini.

Protes umat Islam dari seluruh pelosok dunia, mulai dari yang kasar dan penuh kekerasan hingga jalur diplomatik yang santun, tak ada satupun yang digubris. Inilah demokrasi kebablasan, kalau kita, umat Islam, orang timur sebagai pihak yang terkalahkan alias pecundang boleh menyuarakan pendapat.

Karena nyatanya, Holocaust, peristiwa pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman puluhan tahun lalu, dilarang diprotes. Padahal beberapa sumber menyatakan bahwa peristiwa tersebut sengaja dibesar-besarkan agar dunia jatuh simpati kepada Yahudi. Yang dengan demikian mereka punya alasan untuk menyerang dan merebut tanah Palestina yang semua orang juga tahu betapa rasisnya prilaku mereka terhadap penduduk asli non Yahudi. Inilah konspirasi busuk Zionis dengan Amerika Serikat sebagai Negara pelindung mereka.

Gerard Fredick Toben, pendiri universitas Adelaide, seorang Jerman kelahiran Australia adalah salah satu buktinya. Ia dijatuhi hukuman 7 bulan masuk penjara gara-gara berani mengemukakan pendapat bahwa Holocaust terlalu di besar-besarkan. Ia beragumentasi bahwa korban Holocaust bukan semuanya orang Yahudi.

Sementara Robert Forison, seorang ilmuwan Perancis staf pengajar di Lyon Universite, diberhentikan dari tempatnya mengajar.  Penyebabnya adalah karena ia mempertanyakan kebenaran Holocaust serta keberadaan ruang gas ( gaz chamber) lewat bukunya «  Ruangan gas : fiktif atau nyata ? ».  Ini terjadi pada tahun 1978.

Pertanyaannya, mengapa Barat bisa melarang seluruh dunia memprotes dan melindungi Holocaust hingga sedemikian rupa. Sementara protes dan permintaan umat Islam agar nabinya dilindungi diabaikan. Malah seenaknya saja dijadikan bahan olok-olok keji tanpa boleh sedikitpun memprotes !

Jelas, kebebasan berpendapat yang didengungkan Barat itu tidak berlaku umum. Ada standard ganda di sini. Karena itu tadi, tidak jelas batas-batasnya. Siapa yang berhak dilindungi siapa yang tidak.

Beberapa waktu lalu di Paris, Perancis, begitu sebuah surat kabar memuat gambar pelecehan Rasulullah, Mosque de Paris, masjid agung Paris, sebagai masjid terbesar, langsung dijaga ketat. Puluhan mobil polisi disiagakan demi mengantisipasi jamaah umat Islam berkumpul dan memprotes hal tersebut.

Artinya mereka sepenuhnya sadar bahwa pemuatan gambar seperti itu bakal memicu emosi umat Islam dan beresiko tinggi melahirkan amarah dan kerusuhan. Bahkan baru beberapa minggu yang lalu salah seorang duta besar mereka terpaksa menanggung kemarahan sebagian umat yang benar-benar tidak mampu menahan kekesalan dan kekecewaan. Ini hanya  gara-gara sebuah film keluaran Amerika yang berisi lagi-lagi, fitnah keji terhadap Rasulullah saw. Sesuatu yang tidak masuk akal.

«  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ».(QS.Al-Ahzab(33) :21).

Beberapa hari lalu ada lagi berita menyesakkan.  Adalah Mona Eltahawy, seorang wartawati Amerika asal Mesir. Ia ditangkap polisi gara-gara kedapatan sedang menyemprotkan cat ke poster raksasa di sebuah stasiun subway di New York. Poster yang menurut kabar tersebar di 10 stasiun dan bertuliskan :   In any war between the civilized man and the savage, support the civilized man. Support Israel defeat Jihad” ini ingin ditutupnya dengan cat semprot agar tidak menimbulkan ketidak nyamanan, terutama bagi umat Islam, tentunya.

Poster yang dialamatkan ke arah umat Islam dengan ‘Jihad’nya ini jelas-jelas berisi hasutan dan sangat berbau rasisme. Tapi orang yang berusaha mencegahnya malah ditangkap polisi dan dipenjarakan. Sementara pembuat film sampah Amerika yang membuat jutaan umat Islam marah dan tersinggung dibiarkan melenggang dan dilindungi negara.

Tampak bahwa ini memang disengaja. Disengaja supaya terjadi keributan dan kerusuhan, supaya ada kesempatan memberi cap « teroris » bagi umat Islam. Agar orang Barat makin takut dan membenci Islam. Menjadi bukti nyata bahwa Islamophobia memang diciptakan secara sengaja. Apalagi melihat kenyataan bahwa Islam makin dilirik orang Barat yang berilmu, yang masih bersih hatinya alias tidak menyimpan dengki.

Mereka tampaknya lupa bahwa peristiwa 11 september 2002 lalu, yang sengaja diciptakan dengan tujuan sama itu, sebenarnya  telah gagal. Lupa akan adanya berbagai bukti bahwa peristiwa kejam tersebut adalah hasil konspirasi jahat tingkat tinggi mereka. Ironisnya,  kejadian memilukan tersebut justru membuat penasaran banyak orang untuk mengetahui dan mempelajari lebih dalam apa itu Islam. Alhasil, sebagianpun kembali ke fitrah ; bersyahadat dan memeluk Islam. Subhanallah ..

«  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS.Ali Imran(3) :54).

Semakin jelas, siapa sebenarnya yang teroris itu, siapakah penyebar aksi teror.  Jadi, masih patutkah kita menganggap dan menjadikan Barat kiblat dan panutan peradaban? Peradaban pemuja kebebasan mengkritik, menghasut, menghina dan memprovokasi kerusuhan dan kejahatan atas nama kebebasan berekspresi tanpa mengindahkan norma-norma. Sementara di hadapan kita jelas nabi yang mereka hina mengajarkan dan mencontohkan yang sebaliknya ??

Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: «Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara «  ( HR. Shahih Muslim).

Wallahu’alam  bish shawwab.

Paris, 28 September 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Buah Ramadhan

Kaum Muslimin adalah kaum yang paling beruntung di dunia ini. Sungguh, betapa banyaknya nikmat yang dilimpahkan Sang Khalik kepada umat nabi terakhir, Rasulullah Muhammad saw ini.  Bulan suci Ramadhan adalah salah satu buktinya.

Betapa tidak … Sekali dalam setahun, sebulan lamanya, Allah swt menawarkan diskon besar2an. Inilah pesta obral terbesar bagi kaum Muslimin yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Pada bulan suci ini Sang Khalik melipat gandakan balasan setiap amal perbuatan kita. Dan balasan terbesar adalah dibersihkannya kita dari segala kotoran dan dosa hingga bagaikan bersihnya hati seorang bayi yang baru dilahirkan ! Subhanallah ..

Seorang Muslim yang beruntung menerima ganjaran diatas akan terlihat dari sikap dan prilakunya, setelah berakhirnya Ramadhan. Tindak-tanduknya akan jauh lebih baik dari sebelum bulan diskon tersebut.  Bila sebelumnya ia ‘cuek’ atau tidak/kurang  peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya; khususnya kedua orang tua, orang-orang miskin dan anak-anak yatim piatu, maka setelah Ramadhan ia lebih perhatian dan peka terhadap orang-orang tersebut.

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (QS.An-Nisa(4):36).

Dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad saw bersabda : “Sebaik-baik rumah orang muslim adalah apabila di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik dan sejelek-jelek rumah orang muslim adalah apabila terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk”.

Dari  Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :“ Orang yang menolong para janda serta orang miskin sama ( pahalanya ) dengan orang yang berjihad dijalan Allah swt”.  

Ditambah lagi, ia lebih sabar dan dapat menahan amarah dari pada sebelum bulan suci Ramadhan.  Ia pandai meniru apa yang dicontohkan Rasulullah saw yang memang sudah seharusnya menjadi panutan kaum Muslimin. Yaitu segera berwudhu ketika godaan syaitan datang menggoda agar tidak menahan sabar dan amarah. Setelah itu iapun mendirikan shalat sunnah 2 rakaat.

“ Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS.Al-Baqarah(2):153).

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah  menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR.Ahmad).

“Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

Namun demikian seorang hamba yang telah dibersihkan hatinya itu tidak berarti tidak boleh marah. Bila ia telah merubah posisinya dari berdiri, duduk kemudian berbaring, setelah itu berwudhu kemudian shalat dengan khusuk, namun rasa marah tetap berada di dalam hatinya, berarti marah tersebut adalah marah yang diridhoi-Nya.

Dari Muadz bin Anas al-Juhani bahwa Rasulullah saw. bersabda: “ Barangsiapa yang memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya”.

Seseorang yang telah dibersihkan dosa dan kesalahannya jadi pandai memaafkan kesalahan orang lain. Ia tidak perlu menunggu  orang yang telah menyakiti hatinya meminta maaf terlebih dahulu. Tanpa diminta ia mampu memaafkan  saudaranya itu. Tidak ada rasa dendam dan permusuhan dalam diri orang yang bersih hatinya.  Ucapan maaf tidak hanya sekedar ucapan di bibir melainkan tulus dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas adalah kuncinya. Inilah ciri khas orang yang takwa.

“…Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Baqarah: 237).

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang takwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali Imran(3):133-134).

Islam mengajarkan “ yang terlebih dahulu datang untuk menjalin hubungan, jauh lebih utama di sisi Allah daripada yang menunggu.”

Ciri khas orang takwa yang lain adalah segera bertaubat ketika melakukan kesalahan serta tidak mengulanginya kembali. Ia tidak menunda-nundanya hingga datang kesulitan, sakit apalagi sakratul maut. Intinya ia selalu berusaha untuk mendekatkan diri ( taqarub) pada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Singkat kata, tindak tanduk orang yang berhasil mencapai takwa dalam bulan Ramadhan adalah :

1.Memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi.

2. Tidak murah marah.

3. Cepat memaafkan kesalahan orang lain.

4. Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Itulah buah Ramadhan. Dapat dibayangkan bila saja setiap tahun sejumlah hamba berhasil memetik buah ini  alangkah damainya bumi kita tercinta ini. Tidak ada korupsi, tidak ada kemiskinan, tidak ada kecurangan, kezaliman dll. Bahkan kesulitanpun akan hilang. Karena janji Allah sebagai berikut :

… … Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. … … Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya  … … … Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. … …  dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”.(QS.At-Thalaq(65):2-5).

Hal penting yang patut menjadi perhatian, malaikat Jibril as pernah meminta Rasulullah saw agar mengamini doanya. Doa tersebut adalah permintaan agar Allah tidak menerima puasa seseorang ketika :

1.  seorang hamba masih menyakiti hati kedua orang-tuanya.

2.  seorang istri masih juga membangkang suaminya atau seorang suami masih mendzalimi  istrinya.

3.  seorang hamba masih  menyimpan rasa dendam dan permusuhan terhadap hamba yang lain.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Agustus 2012.

Vien AM.

( Disarikan dari khutbah Iedul Fitri 1433 H di lapangan RS Dr. Soeyoto jln Veteran, Jakarta Selatan).

Read Full Post »

Cahaya Al-Quran

Secara sederhana, dalam pengertian awam, cahaya adalah sesuatu yang membuat mata normal dapat melihat benda yang ada di depan kita. Cahaya paling akrab yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari adalah cahaya matahari dan cahaya lampu. Itu sebabnya ketika malam tiba, ketika kegelapan datang menyergap, secara otomatis kita menyalakan lampu. Sebab kalau tidak, kita tidak akan bisa melihat apapun. Dengan demikian cahaya menjadi sangat penting bagi kita semua.

IMG_3410Bagi pencinta fotografi, keberadaan cahaya merupakan suatu keharusan, mutlak hukumnya. Karena hanya kurang sedikit saja cahaya, kecantikan sebuah obyek foto akan berkurang.

IMG_0885Birunya laut nan indah mempesona tetapi awan menghalanginya, maka keindahan fotopun akan sangat berkurang. Birunya laut nan indah mempesona menjadi tidak seindah biru ketika matahari bersinar cerah tanpa sedikitpun penghalang. Intinya, tanpa cahaya keindahan warna adalah tiada. Tanpa cahaya hidup menjadi kelabu. Cahaya adalah sumber keindahan, sumber kehidupan, sumber kebahagiaan.

Begitupun wajah manusia. Secantik apapun seorang perempuan tanpa cahaya yang memancar dari dalam dirinya, pasti nilai kecantikan tersebut akan sangat berkurang. Sebaliknya seorang perempuan bersahaja namun memiliki cahaya dalam dirinya pasti akan jauh lebih menarik. Iniah yang dinamakan Inner Beauty. Pertanyaannya, cahaya yang bagaimana dan bagaimanakah caranya agar kita mendapatkan cahaya Inner Beauty tersebut ? Karena kita ini buatan Allah Azza wa Jalla maka sudah sewajarnya bila yang kita buka adalah Al-Quranul Karim …

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an)”.(QS. An-Nisa(4):174).

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu ( Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.(QS.Ibrahim(14):1).

Ya, Al-Quranul Karim itulah cahaya yang kita cari. Tentu saja yang dimaksudkan disini bukan Al-Quran sebagai kitab, lembaran-lembaran buku secara fisik. Namun isinya. Kumpulan ayat berisi perintah, larangan dan berbagai informasi dari Sang Khalik yang disampaikan malaikat Jibril as 14 abad silam kepada Rasulullah saw selama kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari ini sebenarnya adalah sebuah cahaya yang sungguh tak terhingga nilainya. Dengannya seseorang tidak akan tersesat, terjatuh atau tersakiti. Dengannya seseorang dapat berjalan tegap melintasi badai, angin dan topan. Dengannya ia akan merasakan kebahagiaan hakiki.

Al-Quran adalah kitab berisi ayat-ayat suci yang harus diamalkan. Meski dengan hanya membaca, mendengar dan menyimaknya, walau hanya 1 huruf, Allah swt menjanjkan pahala yang besar, namun tanpa pengamalan cahaya tersebut tidak akan berfungsi secara maksimal.

al_quran_al_karim_Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat Hasanat/ kebaikan dan tiap Hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR. Attirmidzy).

Cahaya Al-Quran adalah hidayah dari Sang Pencipta. Namun tidak seperti sinar matahari atau cahaya bulan yang dapat terhalang oleh sesuatu, seperti awan, gunung, bangunan, topi dll, cahaya Al-Quran tidak mungkin dihalangi dan terhalangi oleh apapun, kecuali oleh hati yang kotor. Itulah buruk sangka..

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”. (Muttafaqun alaih).

Manusia diciptakan dari tanah hitam kering yang kemudian dibentuk oleh-Nya. Ruh atau nur alias cahaya-Nya ditiupkan pada usia sekitar 3 atau 4 bulan kehamilan ibunya. Kehamilan ini akan terus disempurnakan hingga mencapai 9 bulan 10 hari.

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.(QS.Shad(38):71-72).

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh … (HR.Bukhari Muslim)

Maka ketika bayi lahir ke dunia, akibat nur-Nya inilah, setiap bayi itu bersih tanpa dosa setitikpun. Sifat-sifat Ilahiah seperti sifat pemaaf, penyayang, penolong, pemurah dll, mewarnai hati bayi yang baru lahir ini. Berbekal hati yang sebening kaca inilah cahaya Al-Quran mudah masuk meresap ke dalam hati seorang anak manusia yang rajin membaca Al-Quran, mengkaji, menghafal dan mengamalkannya. Hingga dengan demikian terpancarlah cahaya sejuk dari dalam dirinya.

Sebaliknya hati yang kotor, yang penuh syak wasangka, cahaya Al-Quran sulit untuk masuk, kecuali atas kehendak-Nya. Syak wasangka adalah bisikan syaitan yang amat jahat. Itu sebabnya Allah swt mengajarkan untuk membaca ta’awudz sebelum membaca ayat-ayat-Nya.

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”.(QS.An-Nahl(16):98-99).

Jadi hati itu sifatnya bagaikan cermin. Bila hati bersih maka pantulan cahayanya juga bersih. Dan bila hati kotor maka pantulan cahayanyapun kotor. Cahaya inilah yang memberi warna wajah dan tubuh kita. Dampak dari pelaksanaan rukun Islam yang 5 seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji yang didirikan atas dasar ketakwaan, akan terlihat, menjema menjadi insan yang ber-ahlak yang mulia, Ahlakul Khorimah. Insan yang pandai menjaga tangan, lidah dan hatinya dari perbuatan jahat, kotor dan keji. Sehingga kehidupannya di dunia akan tentram dan damai. Ini baru dampak di dunia.

” … … Rasulullah kemudian bersabda, Umatku nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka.” (HR Muslim).

Pada ayat 11 hingga 15 surat Hadid berikut ini dikisahkan bahwa Allah swt akan menganugerahkan cahaya yang bersinar di depan dan samping kanan orang-orang Mukmin, laki-laki maupun perempuan, yang mau meminjamkan pinjaman yang baik kepada-Nya. Pinjaman ini adalah perumpamaan bagi seluruh amal kebajikan yang dikerjakan orang-orang Mukmin dengan niat mencari ridho Sang Khalik.

Siapa yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak, (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka):

“Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak”.

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman:

“Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.

Dikatakan (kepada mereka):

“Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.

Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata:

“Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?”

Mereka menjawab:

“Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali”.

Di akhirat nanti, cahaya tersebut akan menerangi kubur orang Mukmin, menolong perjalanannya menyeberangi jembatan Shiratal Mustaqin serta membelanya pada pengadilan hari akhir nanti. Cahaya ini akan sangat kita butuhkan karena pada hari Kiamat, hari dimana bumi digoncangkan dengan sekencang-kencangnya goncangan, Allah Azza wa Jalla akan membenturkan matahari yang selama ini menjadi sumber cahaya bumi, dengan bumi itu sendiri. Maka pada hari itu, bumi akan menjadi rata dan gelap gulita.

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.(QS. Al-An’am(6):122).

Sementara ayat 14 – 20 surat Al-Baqarah dibawah menerangkan bagaimana nasib orang yang mengaku Islam tapi enggan mengamalkan ajaran Islam, bahkan suka memperolok ayat-ayat sucinya sendiri, itulah orang Munafik, di alam akhirat nanti.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:

“Kami telah beriman.”

Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:

“Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. 

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Demikianlah Allah swt menurunkan Al-Quran sebagai cahaya bagi orang-orang yang mau menjadikannya pelindung, petunjuk, pembeda ( antara jalan yang benar dan sesat) serta penerang bagi kehidupan baik dunia maupun akhiratnya. Ironisnya, ada saja orang yang bersikeras memilih syaitan sebagai pelindung mereka. Itulah orang-orang yang kafir, orang-orang yang diperbudak oleh hawa nafsunya, yang merasa cukup senang dan puas dengan kehidupan dunianya yang kelihatannya gemerlap, padahal menipu dan hanya sesaat. Sebuah fatamorgana yang menuju pada kegelapan total, tanpa secuilpun cahaya penerang. Kegelapan mencekam ini akan berakhir di neraka jahanam dengan api abadinya yang panas membara, yang membakar dari ujung kaki hingga ubun-ubun orang yang mendustakan-Nya. Na’udzubillah min dzalik.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Baqarah(2):257).

Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 8 Juni 2012.
Vien AM.

Read Full Post »

Tak sampai satu minggu lagi bulan suci Ramadhan yang dinanti-nanti kaum Muslimin akan tiba. Bagi yang benar-benar memahami arti keberkahan dan kesucian bulan dimana ayat Al-Quran pertama kali diturunkan ini, tentu telah memikirkan dan mempersiapkan apa kira-kira yang akan dilakukannya.

Sebagai perbandingan. Karena kebetulan suami saya saat ini sedang mendapat kesempatan ‘mengais ‘ rezeki di Paris, Perancis, maka sayapun mendapat kesempatan untuk menyaksikan ‘pesta diskon’ di kota ini. Tampaknya sudah menjadi kesepakatan antar Negara Eropa bahwa di benua ini ‘sale’ dilakukan setahun 2 kali., yaitu di awal musim panas dan di musim dingin.

Kesempatan emas ini tentu saja tidak disia-siakan penduduknya. Malah saya dengar ada saja sejumlah orang yang berbelanja khusus hanya pada saat-saat tersebut. Tidak mengherankan karena ‘sale’ yang dilakukan memang benar-benar dengan harga miring. Bahkan di sejumlah butik terkenal, orang rela antri berjam-jam sejak subuh, sekalipun di musim salju! Kabarnya, biasanya mereka sudah ‘mengincar’ barang yang disukainya itu berbulan-bulan sebelumnya.

Lalu apa hubungan pesta diskon alias obral di Negara-negara tersebut dengan bulan Ramadhan ? Bulan Ramadhan adalah bulan obral yang ditawarkan Sang Khalik. Obral apa? Obral pahala ! Di bulan yang suci ini sebenarnya Allah swt bukan hanya sekedar memerintahkan umat Muslim untuk berpuasa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. … … ”.(QS.Al-Baqarah(2):183-184).

Ayat di atas memerintahkan kita berpuasa agar kita menjadi manusia yang bertakwa. Artinya puasa yang bukan sekedar menahan lapar dan haus. Melainkan mengisinya dengan berbagai hal yang dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik agar Ia meridhoi setiap jengkal derap langkah kita. Memperbanyak zakat, infak dan sedekah, mengerjakan shalat-shalat sunnah seperti shalat rawatib ( qobla’ dan ba’da shalat wajib), shalat malam, membaca, memahami, menghafal dan mempraktekkan ayat-ayat suci Al-Quran adalah diantaranya. Istimewanya, semua amal kebaikan tersebut diganjar dengan pahala yang berlipat ganda ! Subhanallah ..

Jadi sungguh betapa ruginya bila kita tidak memanfaatkan kesempatan emas ini. Jika orang mau bersusah payah mengantri sejak subuh di musim dingin yang menggigit demi mendapatkan kesenangan duniawinya yang hanya sesaat saja, mengapa untuk kebahagiaan yang lebih abadi kita tidak mau ??

Dari Salman Al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain”.

“ Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun ».

“ Kami berkata : »Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa ? ». Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka”. (HR Al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani).

Di bulan Ramadhan yang agung ini pula untuk kali pertama Allah menurunkan Al-Qur’anul Al-Karim, Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS.Al-Qodar(97):1).

(ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (QS.Ibrahim(14):1).

“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan di dalamnya Al-Qur’an membawa petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk tersebut dan membawa Al-Furqan (pembeda antara yang hak dan yang bathil)”. (QS.Al-Baqarah(2):185).

Tak dapat disangkal lagi, betapa tingginya kedudukan Al-Quran disisi Allah. Allah berjanji bahwa kitab suci ini akan senantiasa terjaga baik kesucian maupun kemurniannya hingga akhir zaman nanti. Yang lebih menakjubkan lagi, bukan hanya para malaikat saja yang diberi kehormatan untuk menjaganya. Namun juga manusia ! Itulah para hafiz.

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang akan runtuh “.(HR Tirmizi).

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah(kehormatan), Al-Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan“.(HR Tirmizi).

Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” (HR. Al Hakim dan Ahmad).

Begitulah Allah swt membalas jerih payah para penghafal Al-Quran. Tak satupun kitab di dunia ini yang dihafal oleh begitu banyak manusia, persis dalam urutannya tepat pula panjang pendeknya ! Kedudukan para hafiz ini sangat tinggi di sisi Allah. Juga di sisi manusia. Mengapa ? Karena mereka adalah pasukan khusus penjaga kitab suci yang menjadi pegangan dan panutan umat Islam di seluruh pelosok penjuru bumi ini, hingga akhir zaman nanti.

Berkat para hafiz inilah, dengan izin Sang Khalik, detik ini kita dapat membaca, mengkaji dan mempraktekkan isi Al-Quranul Karim. Subhanallah …Ya Allah, sungguh pantas balasan yang Kau janjikan bagi mereka itu.

Dari Imam Syafi’i, aku mengeluhkan buruknya hafalanku. ” Jauhilah maksiat”, pesan guruku. ” Karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah bukan untuk pelaku dosa”.

Ramadhan adalah bulan suci dimana Allah memenjarakan syaitan dan bala tentaranya hingga ia jauh dari kita. Ini adalah kesempatan untuk menjauhi segala macam maksiat. Ya Allah, jadikan bulan Ramadhan kali ini sebagai penyemangat untuk menghafal ayat-ayat-Mu. Ya Allah, beri hamba dan anak cucu hamba kemampuan dan kemauan untuk mencontoh para hafiz.  Beri pula hamba ini kemampuan untuk menahan godaan ‘pesta diskon’ berbagai produk kebutuhan duniawi yang berpotensi membuat kami silau dan menjauh dari-Mu. Amiin .. amiin .. amiin ya robbal ‘alamin ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 27 Juli 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Pemimpin yang dzalim.

Tidak dapat dipungkiri bahwa contoh pemerintahan Islam yang terbaik adalah pada masa Madinah dibawah Rasulullah saw. Setelah itu masa kekhalifahan yang 4 yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra. Dan satu lagi mungkin Umar bin Abdul Azis yang sering disebut-sebut sebagai khalifah ke 5.

Pada masa itu, Rasulullah dan ke 4 sahabat itu benar-benar menjalankan dan memberlakukan aturan dan hukum sesuai dengan kehendak Sang Khalik. Dengan mencontoh dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan, Al-Quran dijunjung tinggi, tidak hanya sebatas bacaan atau teori.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(3):21).

Ketakwaan, akhlak dan prilaku mulia para khalifah, atas ridho Allah swt, mampu menjadikan negri yang mencakup seluruh semenanjung Arabia ( Saudi Arabia, Yaman, Oman, Qatar, Kuwait dan Dubai), bekas Persia ( Irak dan Iran), Syam ( Yordan, Syria, Lebanon dan  Palestina) serta Mesir, sebuah masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum Islam.

Nafas toleransi, keadilan dan musyawarah amat terasa di negri tersebut. Berbagai kisah tentang para khalifah yang hidup sederhana itu tertulis dengan tinta emas, menjadi bukti sejarah yang sulit untuk dilupakan begitu saja.

Melalui Shirah Nabi atau Biografi Rasulullah banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana Rasulullah menyikapi perbedaan pendapat dengan musyawarah. Dengan sikap arif dan bijaksana Rasulullah rela mengganti keputusan yang telah diambil selama itu bukan perintah Allah dan dianggap lebih baik dan tepat.

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. QS.Asy-Syua’ra(42):38).

Abu Bakar yang sebelum menjadi khalifah dikenal lembut namun setelah menjadi khalifah ternyata bisa keras dan tegas. Terbukti dari sikapnya yang tegas terhadap sekelompok Muslim yang menolak menunaikan zakat begitu Rasulullah wafat.

Sementara Umar bin Khattab yang sebelum memeluk Islam dikenal keras namun setelah menjadi khalifah berubah dratis menjadi lembut. Terbukti dengan kebiasaannya menyamar menjadi rakyat biasa dan berkeliling mengunjungi orang-orang miskin sekaligus membantu kesulitan mereka.

Tetapi ketegasannya tetap muncul pada saat-saat dibutuhkan. Terlihat jelas dalam kisahnya tentang sebuah tulang ayam yang dikirimkannya kepada Amr bin Ash, pemimpin Mesir kala itu. Ini adalah peringatan agar Amr tidak bertindak semena-mena terhadap nenek Yahudi yang mengadukan kepada sang khalifah bahwa ia digusur karena tanah miliknya itu akan dijadikan masjid oleh pihak pemerintah.

Sedangkan Ustman bin Affan, menantu Rasulullah yang terpilih menjadi khalifah berkat musyawarah, dikenal karena kelembutan dan kesabarannya. Oleh karenanya setiap hari Jumat ia membebaskan seorang budak dengan harga yang sangat tinggi.

Sementara Ali bin Abu Thalib, suami Fatimah binti Muhammad saw, dikenal sebagai orang yang zuhud, yang memilih hidup dalam kesederhaan sekalipun beliau adalah seorang khalifah. Pakaiannya hanyalah kain kasar yang sekedar cukup melindungi beliau dari panasnya matahari dan dinginnya udara ketika musim dingin tiba.

Ingat pula bagaimana Umar bin Abdul Azis yang meminta istrinya agar mengembalikan gelang emas berlian hadiah dari ayahnya ketika ia menjabat sebagai khalifah kepada Baitul Maal. Baitul Maal adalah sebuah lembaga kekayaan negara.

Dari contoh-contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Demokrasi itu sudah ada sejak awal Islam. Namun Demokrasi tersebut tidak sama dengan demokrasi yang sekarang sering digembar-gemborkan pihak Barat. Demokrasi dalam Islam bukan berarti kekuatan rakyat. ( Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yang berarti Demos untuk kekuatan dan Cratos yang berarti rakyat).

Demokrasi dalam kacamata Islam  adalah azas musyawarah. Siapa yang diajak musyawarah? Apakah semua orang ? Tidak ! Dasar pemikiran Islam adalah tunduk dan patuh itu hanya kepada Sang Khalik, Allah swt. Karena sebenarnya Dialah yang menjadikan seseorang itu menjadi pemimpin. Tanpa izin-Nya mustahil seseorang bisa mencapai puncak kepemimpinan. Maka orang-orang yang diajak musyawarahpun otomatis hanya orang-orang yang memahami arti Islam, yaitu orang-orang yang beriman dan tunduk pada-Nya. Itulah kaum Mukminin.

Sebaliknya, Allah swt telah menurunkan aturan dan persyaratan bagaimana memilih seorang pemimpin. Itu sebabnya sebagai rakyat biasa kita juga harus berhati-hati ketika memilih pimpinan. Karena kita sendirilah yang nantinya bakal merasakan dampak kepemimpinan seseorang. Bahkan dengan tegas Allah mengatakan bahwa orang yang memilih pemimpin yang mengutamakan kekafiran daripada keimanan adalah termasuk golongan orang yang zalim.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS.At-Taubah(9):23).

Namun apa yang terjadi saat ini sungguh jauh dari apa yang telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabat. Kaum Muslimin saat ini banyak yang tidak memperhatikan kriteria ketakwaan dan kesholehan yang ada dalam pribadi calon pemimpin yang dipilihnya. Kelihatannya standard dan cara berpikir barat yang cenderung mendewakan kehebatan akal telah merusak cara berpikir kaum Muslimin.

Lebih parah lagi, bila kekuatan materi alias kekayaan yang dijadikan patokan. Ataupun hubungan kekerabatan. Bahkan kekuatan militer alias kudeta ! Haus akan kekuatan dan kekuasaan tampaknya telah menjadi ’tren’ sebagian para pemimpin dunia Islam. Mereka lupa bahwa kekuatan dan kekuasaan itu hanyalah titipan dan cobaan yang tanggung jawabnya amatlah berat.

Inilah yang  dikatakan Umar bin Abdul Azis sepulang dari pengangkatannya sebagai khalifah.

“Apa yang kau tangiskan?” tanya istri Umar. Umar  mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang miskin, janda-janda yang banyak  anaknya namun  rezekinya sedikit, aku teringat akan para tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang tidak dapat menjawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah karena aku tahu, yang menjadi pembela  mereka adalah Rasulullah saw’’. Mendengar itu istrinyapun turut meneteskan air mata.

(Click:https://vienmuhadi.com/2009/11/17/keteladanan-umar-bin-abdul-aziz-amirul-mukminin/ )

Islam juga mengajarkan agar kaum Muslimin berdiri di atas kaki sendiri alias tidak bergantung kepada pihak lain apalagi kaum Kafirun. Ini bukan berarti kaum Muslimin disuruh membenci mereka. Allah memerintahkan hal tersebut karena dalam hati mereka sebenarnya menyimpan kebencian yang mendalam kepada Islam, disadari maupun tidak.

” Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.(QS.Ali Imran(3):119).

Tentu saja hal ini amat berbahaya. Dapat dibayangkan apa yang dapat dilakukan seseorang apalagi musuh dalam selimut ketika kita memiliki hutang. Hutangnya tidak tanggung-tanggung pula, hutang negara . Hutang dimana rakyat, tanah air dan keimanan adalah jaminannya !! Itu sebabnya Allah mengancam orang-orang yang berbuat demikian dengan azab yang benar-benar pedih. Dan Allah memasukkannya kepada golongan orang munafik !

”Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”.(QS.An-Nisa(4):138-139).

Pemimpin adalah penyayom, pelindung sekaligus contoh bagi rakyatnya. Amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat bila tidak diiringi perbuatan baik terhadap sesama adalah sia-sia. Rasulullah menyebutnya bangkrut.  Mengapa ? Karena seseorang harus membayar perbuatan buruknya seperti mencaci, memfitnah dll dengan pahala amal ibadah yang diperbuatnya. Dan bila perbutan dzalim itu lebih besar dan banyak dari dapa pahala ibadahnya maka bangkrutlah ia.

Rasulullah bersabda: “Orang yang bangkrut ialah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat tetapi sekaligus membawa (dosa) mencaci orang, memfitnah dan menganiaya serta menyiksa sesama semasa hidupnya” .

” … Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?” Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. …”. (QS.Asy-Syua’ra(42):44-45).

Bila mencaci, memfitnah, menganiaya dan menyiksa sesama manusia saja dilarang bagaimana pula dengan membunuh ?

“……barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya……”.(QS.Al-Maidah(5):32).

”Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.(QS.Asy-Syua’ra(42):42).

Bagaimana dengan orang-orang yang didzalimi ? Bolehkah mereka membela diri atau haruskah mereka takut dan tunduk kepada pemimpin yang dzalim? Berdosakah mereka? Apakah mereka juga harus menanggung dosa orang-orang yang ditakutinya itu?

”Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.(QS.Asy-Syua’ra(42):41-42).

Sebaliknya orang-orang tertindas yang tidak membela diri, membiarkan dirinya terdzalimi dan melihat kedzalimin terjadi di depan matanya tanpa berbuat apapun dan hatinyapun tidak mengutuknya maka neraka adalah tempat kembalinya.

” Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah yang paling lemah imannya”.(HR Bukhari-Muslim).

Dalam surat Ash-Shad ayat 59-64 Allah menceritakan percakapan yang terjadi antar penghuni neraka sebagai berikut :

(Dikatakan kepada mereka): “Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)”. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): “Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka”.

Pengikut-pengikut mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap”.

Mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.”

……

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka”.

”Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan shalat. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu)”.(QS.Fathir(35):18).

Rasulullah juga bersabda bahwa sesama Muslim itu bersaudara. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk mengingatkan  saudaranya yang lalai ataupun sedang khilaf. Tidak boleh kita membiarkan saudara kita tersesat. Apalagi menunggu  hingga orang lain ( non Muslim ) menegur bahkan menyerangnya!

Semoga  apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah cermin kesadaran kaum Muslimin dalam rangka menuju ketakwaaan.  Rasanya sudah terlalu lama kita ini terbuai dalam gelimang hutang para pemimpin yang menggadaikan keimanan ini kepada kaum Kufar. Lupa bahwa suatu hari nanti ia harus mempertanggung-jawaban perbuatannya itu.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 16 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »