Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan, sesungguhnya, pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):185).

Tidak sedikit ayat suci A-Quranul Karim yang menerangkan bahwa semua orang pasti akan mati. Hanya saja kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan meninggal. Keyakinan ini tidak saja dimiliki oleh orang beriman semata tapi juga orang kafir. Bahkan orang yang tidak percaya akan adanya Tuhanpun meyakini hal tersebut.

Namun bagi orang beriman kematian tidak dapat dianggap sepele. Karena kematian sejatinya adalah awal kehidupan yang sesungguhnya. Kematian adalah gerbang kehidupan akhirat yang jauh lebih kekal dibanding kehidupan dunia.

Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).

Sayangnya, kehidupan akhirat hanya ada 1 pilihan, yaitu surga atau neraka. Padahal neraka adalah tempat kembali yang sangat mengerikan dan panas tak terhingga, Penghuni neraka akan disiksa dengan siksa sangat pedih. Bahkan penjaganyapun sangat menakutkan.

Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. (Terjemah QS.Az-Zumar( 39):72).

Sedangkan surga adalah tempat kembali yang benar-benar indah dan menyenangkan sebagaimana hadist Qudsi, “Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“ … … Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya“.(Terjemah QS. AZ-Zumar (39:73).

Maka sebagai seorang yang beriman sudah sewajarnya masuk surga adalah cita-cita tertinggi dalam hidup. Meninggal dalam keadaan terbaiknya yaitu husnul khotimah. Untuk itu wajib kita mengetahui caranya, yaitu dengan mempelajari Al-Quranul Karim, As-Sunnah dan tentu saja mengamalnya.

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Setiap orang akan dibangkitkan sesuai kematiannya.” (HR. Muslim).

Para ulama sepakat yang dimaksud hadist diatas adalah wafat sesuai dengan kebiasaannya dan dibangkitkan sesuai kebiasaan tersebut. Artinya agar wafat dalam keadaan husnul khotimah wajib hukumnya agar kita membiasakan diri dengan hal-hal yang baik, baik sesuai pandangan Allah swt tentunya.

Kita semua juga tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Tidak peduli dengan kondisi apakah seorang hamba dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau sedang bermaksiat. Apakah dalam keadaan sakit atau sehat. Apakah masih muda atau sudah tua.

Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan“. (Terjemah QS.Al-Munafiqun(63):11).

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh“.(Terjemah QS.An-Nisa(4):78).

Kemungkinan orang meninggal sesuai kebiasaan atau hobbynya memang sangat tinggi. Betapa seringnya kita mendengar kabar seorang pawang singa atau ular wafat diterkam binatang piaraannya. Pembalap meninggal dalam kecelakaan balap mobil/motor. Artis, penyanyi, penari, pembawa acara meninggal ketika sedang melakukan profesi atau hobbynya tersebut.

Namun yang paling mengerikan adalah ketika seorang pezina dimatikan ketika dalam keadaan sedang berzina. Na’udzu billah min dzalik … Sebaliknya tidak sedikit orang yang terbiasa menjaga wudhu, shalat, sujud,  membaca Al-Quran Allah wafatkan dalam keadaan yang ia sukai itu. Masya Allah alangkah indahnya … 

Itu sebabnya kita harus pintar-pintar dalam memilih kebiasaan, hobby bahkan profesi/pekerjaan. Karena, kita akan dimatikan dalam kebiasaan tersebut. Orang yang terbiasa dalam ketaatan insya Allah akan diwafatkan dalam ketaatannya, husnul khotimah.

Untuk itulah pentingnya peran orang-tua. Perkenalkan anak pada kebiasaan dan  hobby yang baik sejak dini. Seperti membaca Al-Quran, lisan yang selalu berdzikir dll. Jangan sampai hobby menari, menyanyi, bermain piano, bermain bola dll membuat anak lupa dari mengingat kepada Sang Khalik. Apalagi setelah lebih besar nanti, anak akan lebih banyak lagi tantangan dalam hidupnya.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal lain yang tak kalah pentingnya, adalah hadist berikut :

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Hadist di atas mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan selalu memohon kepada Allah swt agar istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat dan wafat dalam keadaan husnul khotimah. Karena tidak sedikit orang yang banyak beramal sholeh namun Allah matikan justru ketika sedang berbuat maksiat hingga ia mengalami kematian yang buruk (su’ul khotimah).

Sebaliknya ada juga ahli maksiat yang menjelang ajalnya bertobat dan segera beramal ibadah. Lalu Allah wafatkan ia dalam keadaan demikian hingga iapun mengalami husnul khotimah.  Orang seperti ini sangatlah beruntung karena sebenarnya ia tidak pernah tahu kapan ia akan dimatikan. Sungguh beruntung Allah swt memberinya kesempatan bertobat.  

Sebagai catatan, beramal ibadah maksudnya adalah bersyahadat, shalat, puasa dan amal kebaikan lain.  Sedang berbuat maksiat adalah murtad, kafir ataupun tidak menjaga pendengaran, lisan, pandangan, hati yang penuh dengan beragam penyakit hati, malas dan meninggalkan ibadah, lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah.

Masuk surga atau neraka adalah hak prerogative Allah Azza wa Jala, bukan semata karena amal ibadah kita. Melainkan berkat rahmat-Nya. Karena seumur hidup beramal ibadahpun tidak akan mampu membalas segala kebaikan-Nya. Untuk itu doa sepanjang waktu sangat diperlukan.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. ( Terjemah QS. Ghofir(40):60).

Doa memohon kepada Allah swt agar kita istiqomah beramal ibadah hingga akhir hayat, dimatikan dalam keadaan terbaik kita, menutupnya dengan kalimat tauhid “Laa ilaha illa Allah”,  dan husnul khotimah. Jangan sampai kita lalai, lelah beramal ibadah lalu tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dalam keadaan maksiat. Na’udzubillah min dzalik …       

Dalam kitab Shahih Tirmidzi disebutkan dalam hadis Shahihnya, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi).

Diterangkan dalam Risalah Majmu’ Fatawa, Ibnu Utsaimin berkata bahwa hendaknya manusia banyak merenung karena sebenarnya setiap orang senantiasa dalam bahaya disebabkan kematian selalu mengintai dan tidak ada batas waktu yang diketahui.

Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan kesempatan umur sebaik-baiknya, yaitu dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Sudah seharusnya manusia selalu merasa dirinya banyak melakukan kesalahan hingga harus bertaubat dan memperbaiki kesalahan. Terus membiasakan diri dalam kebaikan hingga ajal tiba dalam sebaik-baik keadaan. Sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalani.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Juni 2024.

Vien AM.

Read Full Post »

Ramadhan Karim.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,  (Terjemah QS. Al-Baqarah (2):183).

Tak terasa bulan suci Ramadhan, bulan dimana Allah swt perintahkan umat Islam agar berpuasa, telah tiba. Berpuluh tahun sudah kita menjalani bulan suci tersebut. Pertanyaannya adakah puasa kita dari tahun ke tahun ada peningkatan kwalitas? Atau sama saja? Atau bahkan lebih buruk???

KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam artikel berjudul “Keistimewaan Bulan Ramadhan” menyebut puasa berasal dari bahasa Sansekerta yakni upavasa. Upa berarti dekat dan vasa/wasa berarti yang maha agung. Jadi upavasa artinya mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.

Hampir semua agama memang mempunyai perintah berpuasa. Tapi hanya Islam yang mewajibkan umatnya berpuasa selama 1 bulan penuh yaitu di bulan Ramadhan. Bulan di mana pertama kali diturunkan ayat suci Al-Quran. Itulah ayat 1 – 5 surat Al-‘Alaq. Ayat ini adalah ayat perintah agar membaca. Menandakan betapa pentingnya membaca. Kita semua pasti tahu membaca adalah bagian terpenting dalam menuntut ilmu agar orang menjadi pandai. Uniknya dalam Islam, pandai adalah minimal mengetahui bahwa yang menciptakan manusia adalah Allah subhanallahu wa Ta’ala.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Dalam bahasa Arab, puasa adalah shaum/shiyam (shaamu – yashuumu) yang berarti menahan. Meski demikian ada perbedaan mencolok antara shaum dan shiyam. Shaum adalah menahan bicara atau berpuasa dalam arti menahan makan dan minum sedangkan shiyam menahan makan, minum, syahwat dan hal-hal yang tidak disukai Allah swt dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Itu sebabnya perintah berpuasa dalam ayat 183 surat Al-Baqarah di atas menggunakan kata shiyam bukan shaum.  

Ibadah puasa mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan ibadah lain seperti sedekah, haji dan lainnya, bahkan shalat. Ini berdasarkan hadist qudsi berikut:

Setiap amal perbuatan manusia demi dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

Dengan demikian sungguh tinggi nilai puasa di hadapan Allh swt. Apalagi puasa Ramadhan. Untuk itu sungguh rugi orang yang memasuki bulan Ramadhan berpuasa tapi tidak secara sungguh-sungguh. Berpuasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan syahwat.

Ramadhan adalah bulan dimana semua amal ibadah dilipat gandakan pahalanya. Ibaratnya adalah seperti toko yang mengobral barang-barang bermutu alias SALE yang biasanya diburu terutama kaum perempuan.

Maka bila obral saja diburu tidakkah Ramadhan lebih lagi?? Mari di bulan suci ini kita berlomba dalam mengerjaan ibadah, tidak hanya puasanya tapi juga dalam tilawah (membaca Al-Quran), mengkhatamkan dan menghafalnya, shalat Tarawih dan Witir, sedekah/infak, sodaqoh, dll. Jangan lupa juga untuk terus mendoakan dan membantu saudara-saudari kita di Palestina terutama Gaza yang hingga detik ini masih dalam kesulitan memenangkan pertempuran melawan Zionis Israel terkutuk.  Mari kita memulainya dengan hati yang bersih, dengan saling memaafkan.

Mari kita dekatkan diri kepada Allah Azza wa Jala agar Ia mencintai kita hingga ridho memudahkan segala urusan kita dan kelak memasukkan kita kedalam syurga-Nya yang indah memukau, dalam keadaan mata yang terbuka lebar sebagaimana Allah telah memberi kita mata yang dapat melihat di dunia. Syurga yang Rasulullah gambarkan keindahannya tidak pernah ada di dunia ini bahkan terlintaspun tidak, sebagaimana hadist berikut:

“Allah SWT berfirman: Aku telah menyiapkan  untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia untuk hamba-hamba-Ku yang saleh.” (HR. Muslim)

Sedangkan buta yang dimaksud dalam ayat-ayat berikut bukan mata fisik yang buta melainkan hati yang buta. Mengapa demikian?? Karena matanya tidak digunakan untuk membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang merupakan firman Allah sebagaimana perintah-Nya di awal turunnya Al-Quranul Karim di bulan Ramadhan. Nau’udzubillah min dzalik …

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”. (Terjemah QS Al-Hajj (22):46).

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”(Terjemah QS Al-Isra’ (17):72).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Maret 2024/ 29 Sya’ban 1445 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Palestina dan Ribath.

Kata “Ribath” dan “ Murabith” belakangan ini sering muncul, terutama yang berhubungan dengan berita perlawanan Gaza/Hamas melawan penjajah teroris Zionis Yahudi terkutuk.  Ribath berasal dari kata “rabatho-yarbuthu” yang secara bahasa artinya bisa bermacam-macam dari mulai mengikat, menghubungkan, menggandeng, menjaga, menguatkan, mengeratkan dan yang semacamnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kutunjukkan kepada kalian sesuatu yang dapat menjadi sebab Allah menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat.” Mereka -para sahabat- menjawab, “Tentu saja mau, wahai Rasulullah.” Maka beliau menjawab, “Yaitu menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu sholat berikutnya sesudah mengerjakan sholat, maka itulah RIBATH.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah).

Sedangkan secara istilah, ribath sering diartikan sebagai berjihad menjaga perbatasan suatu daerah dari serangan/rongrongan musuh dari luar. Orang yang melakukan ribath disebut Murabith. Seorang murabith tidak berarti harus berperang membawa senjata melawan musuh tapi juga bertahan tidak meninggalkan tempat walau jiwanya diancam. Contohnya dengan menolong korban/orang yang sakit, menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari dll.

Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan apa pun yang ada di atasnya”. (Shahih Al-Bukhari: 2892).

Itulah yang dilakukan rakyat Palestina, khususnya penduduk Gaza saat ini. Dapat kita saksikan betapa gigihnya perlawanan mereka terhadap kejahatan Zionis yang sudah benar-benar keterlaluan keji dan bengisnya. Dengan alasan membela diri dari serangan Hamas 7 Oktober 2023 lalu, mereka seenaknya memperlakukan penduduk Gaza. Gaza yang merupakan penjara terbesar di dunia adalah kota dimana lahir Hamas organisasi terbesar Palestina yang gigih berjuang meraih kemerdekaan Palestina agar lepas dari penjajah Israel yang telah merebut tanah air mereka pada tahun 1948.   

Perjuangan Hamas dan organisasi perjuangan Palestina lainnya yang berjihad dengan mengangkat senjata, serta rakyat Palestina yang berjihad dengan ribath, tentu saja bukan sekedar demi tanah air mereka tapi terlebih lagi dengan adanya kompeks Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama kaum Muslimin.      

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan RIBATH (tetaplah bersiap siaga di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung“. ( Terjemah QS. A-Ali Imron(3):200).

Maka atas kalian kewajiban berjihad, dan sesungguhnya jihad kalian yang paling utama adalah ribath menjaga perbatasan, dan sesungguhnya ribath kalian yang paling utama adalah di ‘Asqalan.” (HR Ath Thabrani, sanadnya shahih menurut Al Albani).

Berdasar penemuan sejarah, Gaza dan ‘Asqalan telah ada dan telah dihuni sejak masa prasejarah. Teks pertama menyebut wilayah ‘Asqalan berasal dari abad 19 sebelum Masehi. Sementara Gaza yang berjarak 12 mil dari ‘Asqalan, sejak dibebaskan dan menjadi kota Islam sampai terjadinya Perang Salib adalah bagian dari ‘Asqalan. Itulah mengapa ada yang menyebut Imam Asy Syafi’i lahir di Gaza, ada pula di ‘Asqalan.

“Adapun ‘Asqalan”, catat Ibn Taimiyah, “Termasuk wilayah perbatasan kaum Muslimin, karenanya banyak orang-orang shalih dari ummat ini yang bertempat tinggal di sana dalam rangka untuk ribath di jalan Allah.”

Dalam banyak rekaman video terlihat  bukan saja orang dewasa tapi juga anak-anak Palestina yang dengan tekad kuat menyatakan, “Ini tanah kami, dan kami akan menjaganya” meski kematian sudah tampak dekat di hadapan mereka. “Kami hanya takut kepada Allah” begitulah jawaban para murabith tanah ribath Palestina. Dan separah apapun keadaan yang mereka alami, “Alhamdulillah” adalah kata yang keluar dari lisan mereka.

Bahkan seorang nenek usia 80 tahunpun tak mau kalah untuk ribath. “Jika seluruh dunia datang, kami tidak akan meninggalkan tanah kami. Jika bukan saya, anak dan cucu saya akan hidup di sini selamanya, saya ingin syahid (mati) di tanahku. Saya akan tetap di sini meskipun semua kehancuran dan serangan,” kata nenek Fatihia, dikutip Aljazeera, Jumat (5/1). “Tidak ada yang bersama kami, rakyat Palestina menderita, kami hanya punya Allah, tapi saya tidak akan keluar dari rumah saya, saya tidak ingin keluar, baik mati atau terhina.”, lanjutnya lagi.

Kami bisa saja pergi dari sini mengungsi ke tempat yang lebih aman, tetapi jika kami pergi, lalu siapa yang akan menjaga Al-Aqsho. Jika Al-Aqsho dikuasai mereka (entitas Yahudi). Maka kehormatan umat Muslim di seluruh dunia akan diinjak-injak,” tegas  Komandan Brigade Al-Qassam Hamas, Abu Ubaidah.

Zionis Israel sejatinya tidak hanya menginginkan tanah Palestina yang mereka klaim sebagai tanah suci mereka. Zionis dan para sekutunya di belakang hari ternyata memiliki agenda tersembunyi yaitu ingin membangun sebuah terusan yang mau tidak mau harus melewati jalur Gaza, demi menyaingi terusan Suez yang saat ini dikuasai Mesir. Ini adalah proyek raksasa yang bakal membuat mereka makin kaya raya.    

Itu sebabnya kita saksikan betapa gencarnya tentara Zionis membombardir Gaza. Dengan semena-mena mereka mengusir penduduk Gaza utara untuk mengungsi ke Gaza selatan tapi setiba disana tetap ditembaki! Gaza dengan cara apapun memang ingin mereka rampas.   

Namun kini sebagian besar penduduk Gaza tidak mau mengulangi kesalahan dengan apa yang dikenal peristiwa Nakba. Nakba yang berarti bencana atau malapetaka adalah tragedy diusirnya rakyat Palestina dari kota-kota dan kampung-kampung  mereka hingga Zionis Israel dengan leluasa dapat merampas rumah dan tanah mereka.

Sebanyak  530 kota dan desa dihancurkan, sekitar 15 ribu warga Palestina dibunuh. Dan pada akhirnya Israel memperoleh 78 persen wilayah Palestina dengan menyisakan Tepi Barat, wilayah timur Yerusalem dan Jalur Gaza yang terisolasi dari keduanya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1948 menyusul diproklamirkannya negara Israel yang di prakasai Inggris.  

Pertanyaannya, apakah ribath hanya milik warga Gaza\’Asqalan semata?? Tidak berlaku  bagi kaum Muslimin yang lain seperti kita, Muslim yang tinggal jauh dari Palestina?? Cukupkah kita membantu hanya dengan  doa dan donasi uang/makanan padahal korban hari ini sudah mencapai lebih dari 23 ribu jiwa mayoritas anak2??

https://almanhaj.or.id/1908-ar-ribath-berjuang-di-jalan-allah-adalah-salah-satu-sebab-diselamatkan-dari-siksa.html

Dari An-Nu’man bin Bisyir dia berkata, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685).

Lupakah kita bagaimana hebat dan kuatnya persaudaraan Muslim hingga Islam di masa lalu dapat mencapai kejayaannya, Islam yang ditakuti sekaligus dihormati musuh. Bukan Islam yang menjadi korban dan bahan bualan musuh.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Januari 2024.

Vien AM.

Read Full Post »

Mengenal Diri.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “ Tidak ada seorangpun manusia yang terlahir kecuali terlahir atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”.

Hadis ini menegaskan bahwa sesungguhnya semua manusia pada dasarnya adalah baik karena lahir dalam keadaan fitrah/suci. Ibarat kertas, semua manusia terlahir seperti kertas putih, bersih tanpa noda. Ia mengenal baik Tuhan Yang menciptakannya, Allah Yang Satu, Allah  Subhana Wa Ta’ala. Kesaksian penting yang terjadi di alam ruh, tempat semua manusia yang merupakan keturunan nabi Adam as sebelum diturunkan dan dilahirkan melalui ibunya ke dunia ini terekam jelas pada ayat 172 surat Al-Araf berikut:

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Sumpah tersebut bahkan dengan gamblang menegaskan bahwa mereka berlepas diri dari kesesatan orang-tua yang mempersekutukan Allah Azza wa Jala, orang tua pilihan Sang Khalik, yang akan diberi tugas dan mandat untuk mendidik dan membesarkan mereka kelak di dunia yang penuh cobaan itu. Hal tersebut tercermin dari kelanjutan surat Al-Araf ayat 172 di atas, yaitu pada ayat 173 sebagai berikut :

“atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”. ( Terjemah QS. Al-Araf (7):173).

Ayat di atas menunjukkan betapa besar peran orang tua dalam mempengaruhi warna keagamaan anaknya sesuai hadist yang disebutkan pada awal tulisan ini. Orang tua adalah orang yang menentukan, mengarahkan bahkan dapat memaksakan agama anaknya sesuai agama orang-tua, apakah ia Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, bahkan atheis. Orang tua yang dimaksud bisa berupa orang tua biologis, yakni ibu dan ayah kandungnya ataupun orang-tua angkatnya. Intinya adalah yang mendidik dan mengasuh anak sejak kecil.

Namun seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan anak, seseorang bisa saja berubah agama dan kepercayaannya. Dan ini sangat dipengaruhi lingkungan dan pergaulannya. Sebagai misal, ketika ada seorang bayi yang lahir dari orang-tua non Islam, di lingkungan yang juga jauh dari Islam. Misalnya di Swedia yang sekarang ini sedang terserang Islamophia akut. Dapat dipastikan bayi tersebut akan mengikuti agama orang-tuanya, yang bisa jadi ketika dewasa seperti juga orang-tua dan lingkungannya sangat membenci Islam. Tapi dapatkah kita pastikan orang tersebut akan selamanya demikian hingga akhir hayatnya??

Berikut adalah kisah 3 politikus Belanda dan Jerman yang awalnya membenci Islam namun kemudian bertaubat dan memeluk Islam.

https://www.haibunda.com/trending/20200422155356-93-136524/3-politikus-ini-awalnya-benci-jadi-cinta-islam-ada-yang-sudah-naik-haji

Hal yang sama dengan yang dialami pemuda-pemuda Quraisy yang hidup dizaman kemusyirikan meraja-lela tapi mau mendengar dakwah Rasulullah, kemudian memeluk Islam dan rela berjuang mati-matian membela Islam.

Tidak bisa kita pungkiri hidayah adalah milik Allah swt, tak satupun orang menjadi Islam tanpa izin-Nya. Allah memberikan hidayah kepada siapa dan dengan cara apapun  yang Ia kehendaki. Akan tetapi hidayah tetap harus dicari, bagaimana agar petunjuk tersebut tidak menjadi sia-sia. Salah satunya adalah dengan mencari ilmu mengenai-Nya, tentang Islam agama tauhid yang haram hukumnya menyekutukan Sang Pencipta, tentang syariah dan fiqihnya, tentang kehidupan Rasul-Nya Muhammad saw lengkap dengan sunnah-sunnahnya, dll.

Yang tak kalah menariknya, Allah swt memberi pahala 2 kali bagi ahli kitab ( Nasrani dan Yahudi) yang kemudian memeluk Islam. Ini sebagai balasan atas keimanan mereka pada nabi Isa as bagi kaum Nasrani dan nabi Musa as bagi kaum Yahudi karena ketidak-tahuan mereka, yang bisa jadi karena didikan orang-tua yang salah hingga mereka tidak memahami ajaran Islam, tidak mengenal Al-Quranul Karim. Bukankah manusia lahir tanpa dapat memilih orang-tua? Hal yang sangat sesuai dengan ayat 173 surat Al-Araf sebagai hadiah istimewa atas cobaan berat mendapat orang-tua kafir.   

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”. (Terjemah QS.Al-Qashash (28):52-54).

Sebaliknya seorang yang dilahirkan dari orang tua muslim sudah seharusnya mensyukuri  kelebihan tersebut. Jangan malah menjadi lalai dan gegagah menjalani kehidupan sebagai Muslim dengan merasa tidak perlu mencari dan memperdalam ilmu tentang keislaman dan keimanan yang diwariskan dari orang-tuanya. Jangan pernah lupa betapa besarnya pengaruh lingkungan dan pergaulan. Lingkungan dan pergaulan yang salah berpotensi menjadikan seorang Muslim menjadi orang Munafik bahkan murtad. Celakanya lagi tempat kembali orang Munafik kelak adalah kerak neraka dengan siksaan 2 kali. Na’udzubillah min dzalik …    

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar”. ( Terjemah QS. At-Taubah(9):101).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Itu sebabnya Islam mengajarkan perlunya masyarakat madani, yaitu masyarakat beradab yang saling tolong menolong dalam menegakkan kebaikan dan keadilan, mencegah terjadinya kemungkaran serta saling menghargai. Untuk itu dalam memilih seorang pemimpin tidak boleh sembarangan. Seorang pemimpin harus mampu membuat rakyatnya agar dapat hidup tenang dalam menjalankan kehidupannya termasuk dalam hal menjalankan agamanya. Bayangkan bagaimana nasib seorang anak yang lahir dari orang tua dan keluarga Muslim namun hidup di bawah pemerintahan yang tidak menghargai nilai-nilai Islam atau bahkan memusuhi Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

“Lebih utamanya manusia di sisi Allah derajatnya di hari kiamat itu seorang pemimpin yang adil yang lemah lembut (memiliki kasih sayang). Dan seburuk-buruk hamba di sisi Allah derajatnya di hari kiamat yaitu pemimpin yang zalim yang kasar.” (HR Thabarani).

“Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).

Umur manusia di zaman sekarang ini rata-rata hanya 70 tahun-an. Umat Islam menjadikan usia Rasulullah Muhamad saw yaitu 63 tahun sebagai patokan usia. Usia yang sangat pendek. Sebagai contoh, mari kita lihat apa yang terjadi dengan anak-anak yang lahir dan hidup di Azerbaijan, Tajikistan dan Uzbekistan. Ketiga negara tersebut tadinya berada di bawah pemerintahan Islam yang adil namun kemudian Uni Sovyet yang beraliran komunis menjajah negara-negara tersebut. Meski “hanya” dikuasai tidak lebih dari 80 tahun, yang berarti lebih dari usia hidup seseorang, ternyata sebagian besar anak-anak tersebut rusak akidahnya. Sungguh memprihatinkan. Perlu perjuangan yang tidak ringan  bagi mereka untuk kembali ke jalan Islam yang benar.   

Anomali tampaknya hanya terjadi di tanah Palestina. Rakyat Palestina yang tanahnya direbut Zionis Israel sejak tahun 1948 hingga detik ini tetap terjaga kuat aqidahnya. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Allah swt menyebut tanah Palestina dimana di dalamnya berdiri Masjidil Aqsho yang merupakan kiblat pertama umat islam, adalah tanah yang diberkahi.

Menariknya lagi, berkat Keadilan-Nya, pada akhir hayatnya semua manusia akan kembali mengakui ke-Esa-an Tuhannya sesuai kesaksian mereka di alam sebelum mereka dilahirkan dahulu. Allah swt mengabadikan kisah pengakuan Firaun di akhir hidupnya bahwa tiada tuhan selain Allah swt pada ayat 90 surat Yunus. Meski sayangnya Allah swt tidak menerima taubat yang demikian.

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir‘aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri)“.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”. ( Terjemah An-Nisa (4):18).

“Allah selalu menerima tobat seseorang, sebelum nyawa sampai di kerongkongan“. (HR at Tirmidzi).

Akhir kata, mari kita terus memperdalam ke-Islaman dan keimanan kita agar ketika Sang Khalik memanggil kita untuk kembali, kita tetap dalam fitrah yang sama ketika dulu dilahirkan. Mari kita berlomba dengan para mualaf yang biasanya memiliki semangat tinggi untuk mengejar ketinggalan mereka dalam ber-Islam dan ber-Iman.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2023.

Vien AM.

Read Full Post »

Surga dan Neraka, nyatakah???

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.( Terjemah QS. Al-‘Alaq(96):1-5).

Ayat diatas adalah yang pertama kali diturunkan Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw melalui malaikat Jibril as. Ini menandakan bahwa umat Muhammad saw wajib pandai membaca. Diawali dengan membaca seseorang akan menjadi pandai, dengan izin Allah swt tentunya. Tidak sedikit ayat-ayat Al-Quranul Karim yang menerangkan tingginya derajat orang berilmu, diantaranya adalah ayat 11 surat Al-Mujadillah berikut:   

“ …  Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Namun demikian derajat tinggi yang dijanjikan sang Khalik haruslah memenuhi persyaratan. Persyaratan tersebut adalah ilmu yang dapat mencapai pada pengenalan terhadap-Nya hingga membuatnya takluk dan patuh terhadap segala kehendak-Nya. Dan pengenalan terhadap Sang Pencipta hanya mungkin tercapai oleh mereka yang mau merenung dan banyak berpikir tentang alam semesta dan segala isinya.

Waktu untuk merenungi penciptaan langit dan bumi yang terbaik adalah pada malam hari yang hening. Karena hanya di malam hari itulah langit nan luas dengan bintang-bintangnya yang kemerlip dapat kita saksikan. Membuktikan betapa kecil dan tidak berartinya manusia. Tidak seperti siang hari dimana semua orang sibuk beraktifitas. Siang hari dibawah terang benderangnya sinar matahari yang membuat benda-benda langit seolah lenyap tak berbekas ntah kemana. Ibarat ketika kita sedang berkegiatan di atas meja dengan bantuan lampu sorot yang fokus pada pekerjaan kita, itulah siang hari atau kehidupan dunia. Sementara bagian meja yang tidak tersorot lampu terlihat gelap hingga tidak tampak adanya berbagai benda yang berada di atasnya. Padahal itulah sejatinya kehidupan akhirat yang banyak orang mendustakannya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191).

Itu sebabnya mengapa belakangan ini kita sering mendengar banyaknya ilmuwan yang awalnya tidak mau percaya akan keberadaan Tuhan Sang Pencipta  akhirnya tunduk pasrah dan kemudian bersyahadat memeluk Islam yang tadinya mereka benci. Kemajuan sains dan teknologi yang berkembang pesat tidak dapat dipungkiri adalah penyebab terbesar masuknya mereka ke dalam Islam. Temuan demi temuan yang ternyata sejalan dengan ayat-ayat Al-Quranul Karim yang turun 1400 tahun lalu terus saja terjadi. Meski seandainya ternyata tidak sesuai dapat dipastikan yang benar adalah Al-Quranul Karim atau bisa saja pemahaman terhadap Al-Quran yang kurang tepat.    

Temuan-temuan canggih seperti teori pembentukan alam semesta dan penghancurannya yang dikenal dengan nama Big Bang dan Big Cruch, berbagai teori tentang bintang seperti bintang jatuh, komet, planet, matahari, galaksi dll, menyatakan bahwa matahari yang selama ini kita lihat sebagai satu-satunya matahari ternyata hanya 1 dari matahari yang tak terhitung banyaknya di alam semesta ini. Karena matahari sejatinya adalah bintang yang merupakan pusat peredaran sekumpulan benda-benda langit dalam 1 tatanan yang dinamakan tata surya ( Solar System). Dan planet kita yaitu Bumi, bersama 8 planet lainnya yang berada dalam 1 tata surya, hanya memiliki 1 matahari yang jaraknya ratusan juta km. Sementara tata surya tidak hanya 1 melainkan milyaran!

Para ilmuwan astronom mengelompokkan setiap tata surya ke dalam kelompok gugusan bintang atau galaksi. Galaksi kita adalah apa yang dinamakan galaksi Bima Sakti atau Milky Way dalam Bahasa Inggrisnya. Dan untuk memudahkan para astronom untuk meneliti jarak antar benda-benda langit yang maha jauh tersebut, mereka memberikan satuan khusus yang diberi nama satuan tahun cahaya. 1 AU (satuan astronomi) adalah patokan yang diberikan untuk jarak dari bumi ke matahari kita yang setara dengan 150 juta km. Dengan kata lain dalam tahun cahaya, matahari berjarak 0,00001581 tahun cahaya dari bumi.

Belum lagi dengan adanya teori mengenai benda langit seperti Black hole dan Wormhole yang baru ditemukan belakangan ini. Black hole adalah bagian dari ruang waktu yang merupakan gravitasi paling kuat, yang saking kuatnya tidak hanya mampu menghisap benda-benda yang berada di sekitarnya tapi juga cahaya yang melintasinya. Tak heran benda langit yang jaraknya dari bumi sekitar 26.000 tahun cahaya disebut sebagai kuburan angkasa. Sedangkan Wormhole atau Lorong Waktu adalah jalan pintas melalui ruang dan waktu. Sejumlah pesawat terbang dan kapal laut yang tiba-tiba hilang ketika melintas di atas Segitiga Bermuda lautan Atlantik kabarnya terhisap oleh Worm Hole ini. 

Manusia dengan akal dan segala kepandaiannya telah begitu jauh melangkah mengungkap rahasia-rahasia langit yang dulu sama sekali tidak diketahui. Dan atas izin-Nya diberikan kunci-kunci tersebut. Sesuatu yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dipersilahkannya kita menembus segala penjuru langit dan bumi, dengan bekal kekuatan/ilmu .

Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.(Terjemah QS.Ar-Rahman(55:33).     

Dengan adanya temuan-temuan maha dasyat yang membuktikan betapa luasnya alam semesta ini sungguh aneh bila ada manusia terutama ilmuwan beranggapan bahwa Tuhan, surga, neraka dll adalah sesuatu yang mengada-ada alias mustahil. Mungkinkah alam semesta dengan segala keteraturan dan kesempurnaannya terjadi dengan sendirinya??

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):255).

Dengan demikian jelas sudah, surga dan neraka, keduanya pasti ada meski tak seorangpun tahu dimana dan bagaimana. Kalaupun seandainya Allah “hanya” menempatkan ahli surga ke salah satu bintang dari milyaran bintang yang ada di alam semesta, dengan segala keindahannya, pasti setiap manusia dengan senang hati memasukinya.

Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) kamu untuk (meraih) pengampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Terjemah QS.Ali Imran(3:133).

 “Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan (tinggi di surga) yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Dan seandainya Allah “hanya” menempatkan ahli neraka ke salah satu bintang dari milyaran bintang yang ada di alam semesta, dengan segala kepedihan dan kesengsaraannya sebagaimana ayat 30 – 37 surat Al-Haqqah berikut, sudah pasti tak satupun manusia mau memasukinya bahkan meliriknyapun tidak.

“(Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa“.

Sesuatu yang dahulu kala dianggap ghaib belum tentu memang benar-benar ghaib. Karena bisa jadi ghaib karena kita tidak tahu. Seperti juga maha luasnya alam semesta dengan milyaran benda langit seperti matahari, bulan dan bintang yang baru belakangan ini terkuak. Itu sebabnya mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad saw bukan seperti nabi-nabi yang lain yang sifatnya instan melainkan Al-Quranul Karim yang sarat sains dan pengetahuan. Diantaranya adalah ayat-ayat yang menggambarkan peristiwa dasyat Big Bang dan Big Crunch sebagai berikut: 

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.   (Terjemah QS.Al-Anbiya (21):30).

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)”. (Terjemah QS.Adz-Dzariyat (51):47-48).

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya”. (Terjemah QS.Al-Anbiya(21):104).

Para ahli medis seperti dokter yang pastinya sangat menguasai ilmu tentang tubuh manusia dan proses penciptaan manusia sejak di dalam rahim ibunya pasti terkesima dengan ayat 57 surat Al-Ghofir berikut :

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Dengan memahami betapa dasyat Sang Pencipta dan segala ciptaan-Nya sudah seharusnya kitapun yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Termasuk perjalanan semalam Isra Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsho di Palestina sebagaimana orang sekarang bepergian dengan pesawat terbang dalam waktu singkat. Sedangkan Mi’raj Rasulullah dari  Masjidil Aqsho ke Sidratul Muntaha, singgasana Allah swt di langit tertinggi … bila seorang astronot saja bisa bepergian dari bumi ke bulan meski dalam waktu yang lama, mengapa Rasulullah tidak???

Maka berdasarkan ayat 5 surat As-Sajdah yang ternyata sesuai dengan temuan sains yang menunjukkan betapa jauhnya jarak bumi dengan benda-benda langit, yaitu 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia :

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”, 62 tahun yang merupakan usia Rasulullah Muhammad saw dan sering dijadikan sebagai patokan rata-rata usia umatnya, adalah sama dengan 1.5 jam di akhirat.

Dan karena kehidupan dunia ini adalah ujian untuk menentukan akhir hidup kita, yaitu surga atau neraka, masuk akalkah bila kita menggunakan waktu yang hanya 1.5 jam itu dengan terus bersenda-gurau??? Jangan pernah lupa, perjalanan kita setelah kematian kita nanti masih amat sangat panjang, seperti luasnya alam semesta ini, sebelum akhirnya memasuki surga atau neraka Allah. Itulah perjalanan mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita lakukan di dunia sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 28 Februari 2023.

Vien AM.

https://www.sainskomputer.com/2019/01/big-crunch-teori-bagaimana-alam-semesta.html

https://lifestyle.kontan.co.id/news/mengenal-apa-itu-black-hole-atau-lubang-hitam-begini-penjelasannya

https://id.wikipedia.org/wiki/Ledakan_Dahsyat

Read Full Post »

Siapa bilang Islam anti terhadap tradisi lokal? Dalam banyak kasus, bahkan sudah terjadi sejak zaman Rasulullah saw, agama samawi ini cenderung akomodatif pada tradisi setempat. Selama tidak bertentangan dengan syariat, Islam sangat terbuka dengan lingkungan di mana ia dilabuhkan.

Jauh sebelum Islam menjejakkan kaki di kota Makkah, masyarakat jahiliah setempat sudah memiliki tradisi yang cukup mapan. Kendati mereka belum tersentuh ajaran wahyu dari Rasulullah, bangsa Arab sudah memiliki budaya dan tradisi moral yang luhur. Jadi, jangan sampai begitu kita mendengar kata ‘jahiliah’, kemudian berpikir bahwa nilai-nilai moral pada saat itu sangat bobrok sama sekali dan sangat jauh dari semangat moral ajaran Islam.

Bangsa Arab jahiliah dengan segala dinamikanya tetap memiliki budaya yang luhur, bahkan beberapa semangat tradisi saat itu masih dilestarikan Islam sampai hari ini. Bulan-bulan yang dimuliakan Salah satu budaya lokal bangsa Arab jahiliah adalah menghormati bulan-bulan haram (asyhurul ḫurum) yang ada empat, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharam, dan Sya’ban. Dinamakan ‘haram’ karena pada bulan tersebut dilarang untuk melakukan peperangan dan perbuatan keji.

Sejarawan Jawad Ali menjelaskan dalam kitabnya, al-Mufasshal fi Tarîkhil ‘Arab Qablal Islâm, bangsa Arab jahiliah membagi bulan menjadi dua. Pertama sebagai bulan biasa (i’tiyâdiyah) yang jumlahnya ada delapan, yaitu Safar, Rabiul awal, Rabiul Akhir, Jumadil ula, Jumadil akhir, Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal. 

Sementara yang kedua adalah bulan-bulan suci/mulia yang jumlahnya ada empat, yaitu Muharam. Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijah. Untuk menjaga kemuliaannya, pada bulan-bulan tersebut masyarakat dilarang untuk melakukan peperangan dan perbuatan keji.   Berbeda dengan ke delapan bulan lainnya, aktivitas peperangan masih diperbolehkan. Bahkan seorang laki-laki tidak boleh menyerang atau membalas seorang yang membunuh ayah atau saudaranya sendiri pada bulan mulia tersebut.

Asal mula tradisi penghormatan ini tidak lepas dari tabiat bangsa Arab Badui (pedalaman). Nasib hidup yang serba kekurangan membuat mereka menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup, termasuk jika harus menghunuskan pedang. Akibatnya, peperangan dan pertikaian berkepanjangan menjadi bagian integral dari kehidupan mereka, termasuk tidak segan untuk merampok dan memerangi rombongan dagang yang melintas untuk dirampas hartanya.

Hidup dalam kondisi sosial yang penuh ketegangan, tentu membuat Arab Badui tidak nyaman. Mereka membutuhkan waktu sebagai jeda untuk menyelesaikan hal-hal yang tidak bisa tersentuh dalam kondisi masyarakat yang tidak stabil. Sebab itulah mereka menentukan waktu jeda yang kemudian ditetapkan empat bulan tersebut.

Selanjutnya kondusifitas waktu ini juga diteruskan oleh bangsa Arab secara umum, bukan hanya dari kalangan Badui. (Jawad Ali, Al-Mufasshal fi Tarîkhil ‘Arab Qablal Islâm, [Maktabah Syamilah Online], juz 16, h. 105) Tradisi penghormatan tersebut masih tetap eksis dalam ajaran Islam sampai hari ini.

Jika pada masa jahiliah bentuk penghormatannya dengan larangan perang dan perbuatan keji, maka pada masa Islam dengan berbagai keistimewaan yang dijanjikan pada bulan tersebut. Seperti pelipatgandaan pahala amal shaleh, anjuran berpuasa, penekanan untuk menghindari dosa, dan banyak lainnya.

Allah swt dalam surat At-Taubah ayat 36) berfirman yang artinya sebaga berikut:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Berkaitan ayat di atas, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya, Mafatihul Ghaib menjelaskan, para ulama sepakat bahwa Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharam merupakan bulan-bulan yang dimuliakan dalam Islam.Maksud kata al-ḫurum pada ayat tersebut adalah perbuatan maksiat pada bulan-bulan tersebut akan mendapat balasan siksa lebib berat di banding bulan lain. Demikian pula perbuatan baik akan mendapat pahala lebih besar. (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, juz XVI, h. 52).

Selain disinggung dalam nash Al-Qur’an, penegasan ini juga disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi Saw bersabda yang artinya: “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati: 3 bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat di antara bulan Jumada Akhirah dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam tradisi Islam, mengistimewakan amal shaleh berdasarkan waktu dan tempat tertentu memang banyak ditemui. Seperti mengistimewakan kota suci Makkah dibanding kota atau negara lainnya, hari Jumat dibanding hari-hari pada umumnya, hari ‘Arafah dibanding hari yang lain, bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lain, malam lailatul qadar dibanding malam-malam lain, dan sebagainya. (Fakhruddin ar-Razi, juz XVI, h. 52).

Keistimewaan empat bulan itu banyak dijelaskan banyak hadits Nabi. Bahkan tidak sedikit ulama yang menulis kitab dengan pembahasan secara khusus tentang keutamaan-keutamaannya. Seperti Ibnu Hajar al-Atsqalani menulis kitab berjudul Tabyînul ‘Ajab bi Mâ Warada fî Fadhli Rajab yang menghimpun hadits-hadits seputar amalan pada bulan Rajab dan keutamaannya.

Penulis : Muhamad Abror, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek-Cirebon dan Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta.

Sumber: https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/tradisi-pra-dan-pasca-islam-memuliakan-bulan-bulan-haram-G9u9d#

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Februari 2023.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »