Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Mualaf’ Category

… …  mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):97).

Ya ibadah haji adalah kewajiban bagi yang mengaku Muslim dan memiliki kemampuan untuk melakukannya. Kemampuan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukannya harus kaya raya dalam arti mempunyai harta yang berlimpah. Melainkan cukup memiliki biaya untuk mengadakan perjalanan pulang pergi ke tanah suci, biaya hidup selama disana dan biaya cukup bagi keluarga yang ditinggalkan selama yang bersangkutan berhaji. Serta yang utama dalam keadaan sehat sehingga ia mampu melakukan seluruh rentetan rukun dan wajib haji.

Haji adalah impian bagi seorang Muslim sejati. Puncaknya adalah wukuf di Arafah. Itulah saat dimana semua orang berkumpul dalam kedudukan yang sama di hadapan Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. Baik yang kaya maupun miskin, raja maupun rakyat biasa, lelaki maupun perempuan, tua maupun muda, apapun warna kulitnya, semua bersimpuh, rukuk dan sujud memohon ampunan dan ridho-Nya. Bagi seorang Muslim, hari-hari haji adalah hari-hari yang merupakan puncak spiritual yang sungguh tinggi nilainya dihadapan Sang Khalik. Pada hari itu para jamaah memandangi langit Arafah. Disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman kepada para malaikat:

Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihat-Ku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”.

Saat itu Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada hamba-hamba-Nya yang wuquf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka. Nabi Muhammad saw bersabda :

“ . . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ? “

Maka tak heran bila kita sering mendengar kisah seorang Muslim, dengan segala keterbatasannya, pergi menunaikan haji. Keterbatasan tersebut bermacam-macam, ada yang kurang mampu secara harta, ada yang secara fisik, dan ada juga yang dengan perjuangan berat dengan berbagai alasan. Perjalanan haji di jaman modern ini tidaklah begitu sulit dilakukan. Akan tetapi, tidak semua orang seberuntung itu, ada sebagian orang yang harus menempuh perjalanan berbulan-bulan untuk sampai ke Mekah. Berikut adalah diantara kisahnya :

1. Bulat Nassib Abdulla , seorang pemuda Rusia.

mualaf-rusia-berhaji-dng-bersepedaPada tanggal 8 September 2016, Bulat  Nassib Abdulla, seorang pemuda Rusia,  tiba di Makkah, setelah bersepeda menempuh jarak 6600 km dari tempat tinggalnya.  Ia diterima sebagai tamu kehormatan dan mendapat banyak penghargaan dari organisasi pramuka Saudi. Selain melakukan ibadah haji, pemuda berusia 24 tahun tersebut mendapatkan kehormatan bergabung dalam tim relawan yang bertugas melayani para jamaah dari berbagai negara. Pemuda tersebut dimasukkan ke dalam kloter peziarah Pramuka Hulaifah Saudi.

Bulat meninggalkan Rusia pada hari pertama Ramadhan, 6 Juni 2016. Setelah melewati beberapa negara seperti Azerbaizan, Yordania, Cyprus, Turki. Tiga bulan kemudian, akhirnya ia berhasil sampai di Madinah.

Haji diwajibkan untuk sekali dalam seumur hidup bagi semua umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahun Muslim di seluruh dunia mengunjungi Makkah untuk melakukan ibadah tersebut. Pada haji tahun 2016 ini, semoga Allah menerima ibadah haji dan doa kami serta melindungi kita dari setiap hal yang buruk,” ujarnya.

2. Mohammad, dari RRC.

muslim-cinaMohammad, demikian nama lelaki setengah baya yang melakukan perjalanan sejauh 8.150 kilometer dengan mengayuh sepeda dari rumahnya di provinsi Xinjiang menuju Arab Saudi. Setelah menempuh perjalanan 2 bulan, pada tanggal 21 Agustus 2016, tibalah Muhammad di tujuan.

Mohammad berkisah bahwa ia termasuk orang yang tak mampu membayar biaya berhaji secara normal. Namun hal tersebut tak membuatnya putus asa. Ia mengumpulkan bekal sebisanya, kemudian sebagai seorang yang terbiasa bersepeda iapun mengkomunikasikan perjalanan spektakulernya kepada komunitas sepeda di Arab Saudi. Alhasil, begitu ia sampai di kota Thaif, kota peristirahatan  tak jauh dari Makkah, ia pun disambut oleh kelompok bersepeda kota itu dan mengiringinya hingga ke Mekah.

Kami adalah klub sepeda pertama di Arab Saudi yang menyambut pesepeda Muslim Cina, dan kami berharap pada klub-klub sepeda lokal lainnya untuk dapat menerima Mohammad dengan hangat serta memperkenalkannya dengan kota-kota mereka,” kata Nayef Al Rawas, Ketua klub sepeda lokal di kota Taif.

3. Senad Hadzic dari Bosnia.

senadhadzic-haji-berjalankakiPada tahun 2012, demi mencapai impian melaksanakan haji, Senad Hadzic (47 tahun), berjalan kaki sejauh 5.900 km dari desanya di Bosnia menuju Mekah. Ia meninggalkan kota kelahirannya, Banovici, Bosnia, dan berjalan kaki sekitar 3.540 mil melintasi Bosnia, Serbia, Bulgaria, Turki, Suriah, Yordania dan Arab Saudi untuk akhirnya mencapai Mekah.

Saya berjalan atas nama Allah, untuk Islam, untuk Bosnia-Herzegovina, untuk orang tua saya, dan untuk kakak perempuan saya,” jelas Hadzic.

Berbekal ransel seberat 20 kg berisi peralatan hidup sekedarnya dan uang 200 euro di tangan, Hadzic memulai perjalanan spiritualnya. Bila ia lelah atau malam hari tiba ia istirahat dan tidur di masjid yang ditemuinya, atau di taman kota, dan kadang-kadang juga di jalanan. Namun demikian ia menyatakan perjalanannya yang berat itu terasa ringan begitu akhirnya ia tiba di Mekah : “Aku benar-benar sangat senang dan menurutku ini adalah tempat yang paling indah di dunia.”

4. Nathim Cairncross dan Imtiyaz Ahmad Haron, dari Cape Town

afrika-selatanPada tahun 2010, Nathim Cairncross (28) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25), dua orang pemuda dari Cape Town, Afrika Selatan mengayuh sepeda ke Arab Saudi untuk melakukan perjalanan haji.

“Mengayuh sepeda ke Arab Saudi dari Cape Town adalah pengalaman yang melelahkan. Kami memang berniat melakukan perjalanan haji dengan cara ini agar kami bisa merasakan sendiri kerasnya melakukan ibadah haji,” kata Cairncross, seorang pemuda yang berprofesi sebagai perencana tata kota.

Ketika ditanya mengapa mereka memilih untuk naik sepeda, Cairncross berkata: “Ini memberi kita banyak kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang dari negara yang berbeda. Selain itu, selama perjalanan kami bisa berdakwah di mana pun kami berhenti untuk menginap.”

5.Salim Moumou, seorang pemuda Perancis.

salim-moumou-eljeddahoui-monasPada tahun 2007, Salim Moumou, seorang mahasiswa Perancis berusia 25 tahun melakukan perjalanan sejauh 4800 km ke tanah suci dengan bersepeda. Ia memulai perjalanannya dari kota asalnya di Perancis. Ia melalui Belgia, Swiss dan Italia lalu dari Italia berlayar ke Turki. Ia mengakui bahwa perjalanan spiritual tersebut termotivasi oleh kisah kakeknya yang mengayuh sepeda mulai dari Suriah, Jordania, kemudian Arab Saudi.

Kakek saya butuh waktu enam bulan untuk sampai ke Mekah, saat itu kondisi untuk makan dan tidur masih sangat sulit. Saya ingin merasakan kondisi yang sama dan kesulitan yang sama.” katanya penuh semangat.

6. Dzhanar Aliyev Magomed Ali dari Chechnya.

dzhanar-aliyev-magomed-ali-monasMagomed Ali membutuhkan sekitar 10 minggu perjalanan dari Urus-Martan, sebuah desa kecil di Chechnya, ke kota suci Mekah di Arab Saudi. “Aku hanya takut kepada Allah, dan kemungkinan bahwa aku tidak akan sampai ke tujuan,” kata Magomed Ali setelah pulang dari perjalanan ibadah hajinya.

Magomed Ali bukanlah seorang yang masih muda namun semangat dan kemauannya yang begitu tinggi sangat patut diacungi jempol. Dalam usianya yang sudah 63 tahun, ia mencari pengalaman spiritual terbesar dalam hidupnya. Pada tahun 2007 dengan sepedanya yang sudah karatan, ia berhasil melakukan perjalanan sepanjang 12 ribu kilometer, dengan melintasi 13 negara untuk kemudian bergabung dengan hampir tiga juta Muslim dari seluruh dunia untuk melakukan ibadah haji.

Rupanya perjalanan tersebut adalah bentuk nazar Magomed kepada sang ibu, yaitu jika ada sedikit rezeki untuk bertamu ke Baitullah, maka dia ingin melakukannya lewat jalan darat.

7. Konvoi sepeda motor rombongan dari Malaysia.

Pada Mei 2014 serombongan calon jamaah dari Malaysia bersepeda motor dari Kuala Lumpur menuju Madinah. Rombongan berjumlah 12 orang ini berhasil memasuki tanah suci dengan mengendarai 8 sepeda motor dan satu mobil kecil,setelah melewati 12 negara dan mampir di 53 kota.

Pengalaman dua bulan di jalan nyaris tanpa kendala, kecuali ketika tiba di perbatasan antarnegara. Kedutaan Besar Malaysia di masing-masing negara transit harus selalu turun tangan untuk membantu memfasilitasi perjalanan mereka. “Kebanyakan soal prosedur perbatasan saja,” kata mereka.

Perjalanan spiritual dengan cara konvoi sepeda motor yang dilakukan rombongan ini adalah untuk yang ke 3 kalinya.

Tentu masih banyak lagi kisah perjalanan haji mereka yang berangkat tidak secara yang biasa kita dengar.  Bahkan saking menggebunya tidak jarang calon jamaah nekad melakukan perjalanan tanpa izin resmi. Choiron Nasichin, adalah salah satu contohnya. Pada tahun 1992, lelaki asal Jombang Indonesia ini nekad menyusup ke dalam pesawat jamaah haji yang berangkat dari bandara Juanda Surabaya. Aksinya baru ketahuan menjelang pesawat turun di bandara King Abdul Aziz Jedah, hingga akhirnya terpaksa dipulangkan ke tanah air. Namun demikian perbuatan kurang baik yang dilandasi keinginan yang begitu tinggi agar bisa beribadah di rumah-Nya ini berbuah menyenangkan. Dua kali ia dibiayai seseorang untuk berhaji, yaitu pada tahun 1994 dan 2005. Allahu Akbar …

Sementara dari Pakistan dilaporkan satu kelompok yang tidak memiliki izin resmi berhasil memasuki  pegunungan Taif yang terletak 80 km dari Mekkah. Mereka ini bahkan tak memakai alas kaki dan bekal yang cukup. Dan kalau kita perhatikan di sana memang banyak sekali jamaah yang keadaannya demikian, terutama dari Pakistan dan India.

Jadi sungguh aneh bila di zaman modern ini masih saja ada orang yang mengaku Muslim tapi dengan berbagai alasan enggan menjalankan rukun Islam ke 5 ini padahal ia mampu melakukannya. Apa sebenarnya yang menghalanginya???

Semoga kisah perjuangan para jamaah haji di atas mampu menggerakkan hati mereka yang belum ingin pergi haji segera melakukannya, aamiin ya robbal ‘aalamiin …

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Desember 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

thomas-j-abercrombie-_mualafasSiang itu bertepatan dengan hari Jumat. Di sebuah masjid di Kota Alma-Ata (Almaty), Kazakhstan, keramaian masih tampak, padahal waktu shalat Jumat telah berlalu. Di salah satu sudut bangunan masjid, seorang pria paruh baya tampak duduk bersila dikelilingi oleh para jamaah.

Laki-laki itu sedang menceritakan pengalamannya saat menunaikan ibadah haji. Sesekali ia menunjukkan koleksi fotonya saat di Tanah Suci kepada jamaah yang mengerumuninya.

Jamaah yang mengelilinginya tampak terharu mendengar kisah perjalanan pria itu saat menunaikan rukun Islam kelima. Melihat foto-foto Ka’bah, Masjidil Haram, dan orang-orang yang tawaf, banyak dari jamaah masjid itu yang menitikan air matanya. Mereka berharap mendapatkan berkah dari seorang haji agar memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Itulah sepenggal kisah yang dialami Thomas J Abercrombie saat berkunjung ke negara pecahan Uni Sovyet tersebut pada 1972. Tom, begitu pria itu akrab disapa, adalah seorang jurnalis foto majalahNational Geographic.

Ia pernah menunaikan ibadah haji dan mempunyai koleksi beberapa foto tentang Makkah dan pelaksanaan ibadah haji. Seperempat juta Muslim mengelilingi Ka’bah untuk berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Efek buram pada foto orang-orang yang mengelilingi Ka’bah tepat di tengah menciptakan bayangan tentang gerakan kosmis,”
tulis Abercrombie dalam artikelnya “The Sword and the Sermon”, yang menceritakan mengenai kisah pengalaman pertamanya saat menunaikan ibadah haji.

Thomas J Abercrombie dilahirkan di Kota Stillwater, negara bagian Minnesota, Amerika Serikat pada 13 Agustus 1930. Ia tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga kelas menengah di Negeri Paman Sam. Keluarganya adalah pemeluk Kristen. Sebagian besar hidupnya ia habiskan di Minnesota.

Ketertarikan Tom terhadap dunia fotografi dimulai ketika menginjak remaja, yakni 15 tahun. Saat itu, ia tengah menemani kakak laki-lakinya, Bruce, menyaksikan parade Hari Penebang di pusat kota Stillwater.

Di tengah keramaian parade, ia melihat seorang bocah laki-laki berdiri di tepi jalan sedang mengambar wajah para gadis yang tengah ikut berparade. Menyaksikan pemandangan tersebut, keinginan untuk mengabadikan momen tersebut muncul dalam diri Tom. Ia kemudian meminjam kamera Leica milik sang kakak dan langsung memotret anak laki-laki tersebut.

Sejak saat itu, minatnya terhadap dunia fotografi mulai tampak. Selepas menamatkan pendidikannya di Macalester College, Saint Paul, Minnesota, Tom memulai karier profesionalnya di bidang fotografi sebagai fotografer harian lokal, The Fargo Forum.

Kemudian pada 1953, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan surat kabar The Milwaukee Journal. Karya-karya foto yang dibuat Tom saat bergabung di The Milwaukee Journal telah membuat editor foto surat kabar tersebut, Bob Gilka, terkesan.

Bahkan, salah satu fotonya yang memuat gambar seekor burung murai tengah memangsa seekor cacing tanah menarik perhatian editor sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah National Geographic, Melville Bell Grosvenor. Foto itulah yang membuka jalan bagi Tom untuk bisa bergabung dengan tim redaksi National Geographic pada 1956. Tak lama setelah diterima bekerja sebagai jurnalis foto di majalah National Geographic, Tom dikirim ke Lebanon.

Baginya, ini merupakan pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri. Perjalanan ke Lebanon ini berlanjut ke kawasan Antartika hingga akhirnya ia tiba di wilayah Kutub Selatan. Mengunjungi negeri Muslim Selama hampir 38 tahun berkarier sebagai jurnalis foto di National Geographic, Tom telah menulis 43 artikel. Keseluruhan artikel tersebut merupakan hasil liputannya ke sejumlah tempat di dunia, seperti Jepang, Kamboja, Tibet, Venezuela, Spanyol, Australia, Brasil, Alaska, Kutub Selatan, Lebanon, Mesir, dan Arab Saudi. Namun, dari keseluruhan karyanya ini, 16 artikel di antaranya ia tulis ketika mengunjungi negeri-negeri Muslim dalam kurun waktu 1956 hingga 1994.

Senior Editor National Geographic, Don Belt, dalam tulisan obituarinya mengungkapkan, pada pertengahan 1960-an, Tom banyak menghabiskan waktu mengunjungi negara-negara di kawasan Timur Tengah. Petualangannya di negeri-negeri Muslim ini telah membuatnya mahir bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Selain bahasa Arab, Tom juga menguasai bahasa Jerman, Prancis, dan Spanyol.

Dengan kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya, menurut Belt, Tom tidak mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat. Saat bermukim di kawasan Timur Tengah, Tom mulai mengenal budaya dan ajaran Islam. Berawal dari sinilah, ia kemudian memiliki ketertarikan untuk mempelajari kitab suci umat Islam, Al-Quran.

Minat Tom untuk mempelajari Al-Quran pada akhirnya telah membawanya pada sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Tom menyatakan niat dan keinginannya untuk menjadi seorang Muslim. Kala itu ia tengah berada di Arab Saudi. Namun, tak banyak tulisan yang mengupas mengenai prosesi keislaman Tom. Setelah resmi masuk Islam, Tom menggunakan nama Omar sebagai nama Muslimnya.

Kedekatannya dengan lingkungan keluarga Kerajaan Arab Saudi kemudian membuka pintu rezeki bagi Tom untuk bisa memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ke Tanah Suci. Atas undangan dari pihak Kerajaan Arab Saudi, pada musim haji tahun 1965, ia pun berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Pengalaman pertamanya menunaikan ibadah haji ini kemudian dituliskannya dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Pemred Melville Grosvenor.

Dalam surat tertanggal 17 April 1965 itu, Tom menulis, “Salam dan harapan terbaik dari Kota Suci umat Islam. Saya baru saja mendapat kehormatan untuk menjadi saksi, mengabadikannya dalam foto, dan ikut berpartisipasi dalam salah satu perjalanan spiritual paling mengharukan yang pernah dikenal umat manusia, yakni berziarah ke Kota Makkah dan Padang Arafah.”

Ini merupakan pengalaman pribadi yang tak terlupakan. Dan tanpa keraguan, itu merupakan klimaks dari seluruh perjalanan mengunjungi Arab Saudi. Tak hanya melalui surat pribadi kepada atasannya, pengalaman berhaji tersebut juga kemudian Tom tuangkan dalam sebuah artikel dan foto yang diberi judul “The Sword and the Sermon”, dan dimuat dalam majalah National Geographic edisi Juli 1972.

Karyanya tersebut diharapkan Tom bisa menjadi jembatan hubungan antara dunia Islam dan Barat ke arah yang lebih baik. Berkat karya jurnalistiknya tersebut, suami dari Marilyn yang juga merupakan fotografer di majalahNational Geographic ini bisa sampai ke Kazakhstan. Ia mengunjungi sebuah masjid di Alma-Ata dan berkesempatan mengikuti shalat Jumat berjamaah di sana.

Saat berada di masjid di Kota Alma-Ata inilah, ia mengalami pengalaman yang tak akan pernah dilupakannya, selain pengalamannya berhaji.

“Saya memperkenalkan diri kepada syekh (imam masjid—Red), dan ketika kami tengah berbicara dalam bahasa Arab, tiba-tiba para jamaah sudah berkumpul di sekeliling tanpa kami sadari. Ketika saya menunjukkan kepada mereka gambar Kota Makkah dan Ka’bah, mereka nyaris menangis.”

“Banyak dari mereka yang kemudian menggosokkan tangan mereka ke pakaian yang saya kenakan dan kemudian mengusap wajah mereka,” papar Tom menceritakan pengalaman yang menurutnya penuh emosional, sebagaimana dikutip dari laman situs National Geographic.

Jurnalis Barat Pertama yang Meliput Ibadah Haji.

Lebanon menjadi negara pertama di luar tanah kelahirannya, Amerika Serikat, yang Tom kunjungi. Perjalanan ke Lebanon inilah yang kemudian membawanya hingga ke wilayah Kutub Selatan di Antartika dan menjadikannya sebagai jurnalis pertama yang berhasil mencapai wilayah tersebut.

Tom terdampar di Antartika selama tiga minggu dan harus bertahan hidup di tengah kondisi cuaca dengan suhu minus 50 derajat. Selama mengunjungi banyak tempat dan negara dalam rangka tugasnya sebagai seorang jurnalis foto, berbagai pengalaman suka dan duka pernah Tom alami.

Ia pernah terserang tipus saat di Himalaya dan harus ikut mengamputasi jari kaki salah seorang rekannya yang mengalami kebekuan akibat cuaca yang ekstrem. Bahkan, beberapa kali nyawanya hampir terenggut. Salah satunya adalah ketika Yak—sejenis sapi—yang ia tunggangi saat di Afghanistan jatuh ke dalam jurang sedalam seribu kaki. Begitu juga ketika di Venezuela, dia terjatuh dari atas kereta gantung yang dinaikinya dalam sebuah pendakian gunung.

Peristiwa tersebut bahkan meninggalkan bekas luka seumur hidupnya. Namun, dari kesemua itu, pengalaman menunaikan ibadah haji di tahun 1965, diakui ayah dari Marie dan Bruce Abercrombie ini merupakan pengalaman paling berkesan sepanjang kariernya sebagai seorang jurnalis foto.

Pengalaman berhaji ini pulalah yang menjadikan Tom sebagai jurnalis Barat pertama yang meliput pelaksanaan ibadah haji. Setelah berkarier selama 38 tahun di National Geographic, Tom memutuskan untuk pensiun pada 1994. Kemudian, waktunya lebih banyak disibukkan untuk mengajar mata kuliah geografi di Universitas George Washington.

Sepanjang kariernya sebagai seorang jurnalis foto, Tom telah menulis sebanyak 43 artikel, 16 di antaranya ia tulis ketika mengunjungi negeri-negeri Muslim dalam kurun waktu 1956 hingga 1994. Tom wafat pada 3 April 2006 di usia 75 tahun. Ia meninggal di Rumah Sakit Johns Hopkins, Baltimore, Maryland, AS akibat komplikasi pascaoperasi transplantasi jantung yang dijalaninya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Oktober 2016.

Vien AM.

Dicopy dari : http://www.kisahmuallaf.com/thomas-abercrombie-hidayah-di-tanah-suci/

Read Full Post »

Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi, sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? ” (HR. Bukhari).

alexander-pert 1Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi.

Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun. Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan. Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun.

Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil. Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu,

Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?” Wartawan itu berkata: ”Tidak”.

Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya. Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”.

Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan- kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat.

Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.” Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”.

Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan. 

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita.  Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad.

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan.

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”.

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?” .

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”

”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad.

alexander-pert-shalatKemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan. Allahuakbar !

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 Agustus 2016.

Vien AM.

Dicopy dari:

http://www.voa-islam.com/read/upclose/2011/01/19/12852/muhammad-alexander-pertz-kisah-bocah-amerika-menemukan-islam-dalam-buku/#sthash.I9WkHzdm.dpbs

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID, Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani.  Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam. Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

”Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,” ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.

                                                                      ***
Kisah Jad dan Ibrahim.

Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun. Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

“Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!” ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim  menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun. Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya. Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan “Hei Yahudi” atau “Hei kafir” bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

                                                                                ***

Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, “Buku apakah ini?” tanyanya. Temannya pun menjawab, “Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam,” ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, “Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?” 

Temannya menjawab, “Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat.” Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur’an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini. Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.

Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

“Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik…”.

Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad. Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Allahuakbar …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 Juni 2016.

Vien AM.

Dicopy dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/03/29/m1mo1k-subhanallah-pria-yahudi-ini-mengislamkan-jutaan-orang

Read Full Post »

Bilal Philips, mualaf mampu Islamkan 3.000 tentara Amerika

Abu Ameenah Bilal Philips bernama asli Dennis Bradley Philips. Dia berdarah Jamaika namun masa kecilnya dihabiskan di Kanada. Perjalanannya mengenal Islam menarik untuk disimak.

Dibesarkan dalam kultur kental musik Jamaika membuatnya memilih gitaris sebagai profesi. Jimi Hendrix dan Bob Marley adalah panutannya. Bermain musik memberikan kesempatan pria kelahiran Jamaika, 6 Januari 1946, ini menjelajah ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia pada 1960-an. Di dua negara berpenduduk mayoritas Islam ini, Philips mulai tertarik mempelajari agama Nabi Muhammad.

Balik ke negaranya pada 1972, lelaki berjanggut ini memutuskan mempelajari Islam secara intensif. Dia kerap berdiskusi dengan para cendekiawan muslim dan mempelajari buku-buku agama rahmatan lil alamin ini. Tak perlu waktu cukup banyak, beberapa bulan kemudian Philips mengucapkan dua kalimat syahadat, tanda sumpah serta pengakuan keesaan Allah dan Rasulullah sebagai utusanNya.

Setelah menjadi muslim, Philips memutuskan berhenti menjadi musikus dan mempelajari agama barunya lebih dalam. Dia mengaku tidak nyaman lagi bermusik.

“Ketika saya kuliah di Universitas Simon Frasier di Vancouver, Kanada, saya memainkan gitar dalam pertunjukan musik di klub-klub malam. Ketika saya tinggal di Malaysia, saya tampil di panggung-panggung dan dikenal sebagai Jimmy Hendrix-nya Sabah di Malaysia Timur,” tutur Philips pada Gulf Today.

“Tapi, begitu saya menjadi seorang muslim, saya merasa tidak nyaman melakukan itu semua, dan saya memutuskan berhenti main musik secara pribadi maupun secara profesional,” lanjutnya.

“Menjadi artis rentan terhadap perilaku dilarang Allah seperti obat-obatan, seks bebas, perempuan, dan pergaulan salah. Saya tidak mau seperti itu lagi,” ujarnya.

Dia kembali bersekolah dengan mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Alasannya, dia ingin belajar Islam dari sumber klasik di kota-kota bersejarah dan bukan budaya prakteknya. “Beda lingkungan akan berbeda menerjemahkan Islam,” kata Philips.

Kelar di Universitas Madinah, Philips terus belajar. Kali ini dia mendaftar program master di Universitas Riyadh. Selain berkuliah, dia juga nyambi menjadi pembawa acara ” Why Islam” di Channel Two, stasiun televisi milik pemerintah Saudi. Acara seputar wawancara dengan para muallaf dari berbagai latar belakang dan ketertarikan mereka mempelajari Islam. Dengan membawa acara itu, Philips mengaku imannya semakin kuat. Tak cuma menjadi presenter, dia juga menulis buku, antara lain Poligami dalam Islam dan Prinsip Dasar Iman dalam Islam.

Setelah berhasil meraih gelar MA-nya, Philips bekerja di departemen agama markas besar Angkatan Udara Arab Saudi di Riyadh. Kala itu Perang Teluk tengah berkecamuk. Irak menginvansi ke Kuwait karena menolak menghapus utang luar negeri negeri Saddam Hussein itu. Posisi Kuwait kewalahan dan meminta bantuan ke Amerika Serikat. Negara adidaya itu mengirimkan pasukannya dan membuat pangkalan di Arab Saudi. Ketika itulah Philips mendapat tugas memberikan pengajaran tentang Islam bagi  pasukan AS di basis-basis militer mereka di Bahrain dan di provinsi bagian timur Arab Saudi.
“Karena gambaran tentang Islam begitu terdistorsi di AS, saya dan lima orang Amerika lainnya, setelah Perang Teluk, selama lima setengah bulan terlibat dalam proyek untuk menghilangkan keraguan terhadap agama Islam pada sekitar setengah juta pasukan AS yang ada di kawasan Teluk. Hasilnya, lebih dari 3.000 tentara AS yang akhirnya masuk Islam,” ungkap Philips.

Ia kemudian pergi ke AS untuk membantu memberikan bimbingan rohani bagi para tentara yang baru masuk Islam. Dengan bantuan organisasi “Muslim Members of the Miltary (MMM)”, Philips menggelar berbagai konferensi dan kegiatan yang berhasil mendesak militer AS untuk membangun fasilitas-fasilitas mushola di seluruh basis-basis militernya. Pemerintah AS juga berkewajiban untuk meminta komunitas Muslim mengajukan kandidat ulama yang akan menjadi pembimbin rohani bagi tentara yang muslim di kemiliteran AS.

“Beberapa tentara Perang Teluk yang masuk Islam, pergi ke Bosnia untuk memberikan pelatihan pada rakyat Bosnia dan ikut berjuang bersama mereka melawan kekejaman tentara Serbia,” ujar Philips.

Setelah beberapa lama tinggal di AS, Philips kemudian pindah ke Philipina dan memberikan kuliah di berbagai tempat di Mindanao. Ia menekankan pentingnya sistem pendidikan yang Islami bagi umat Islam dalam setiap ceramah dan kuliahnya, sehingga mendorong didirikannya Universitas berbasis Islam di Cotobato City. Di universitas ini, ia membuka jurusan studi Islam sampai level untuk mendapatkan gelar MA dan menyiapkan tenaga guru-yang berorientasi pada Islam.

Tahun 1994, Philips imigrasi ke Uni Emirat Arab atas undangan Syaikh Salim Al-Qasimi dan bergabung dengan lembaga amal Dar Al Ber di Dubai. Philips juga membentuk Pusat Informasi Islam yang sekarang dikenal dengan nama “Discover Islam” di Karama. Pusat informasi dibuat untuk meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang Islam. Ia dibantu oleh para mualaf dari dari berbagai negara seperti Uthma Barry asal Irlandia, Ahmed Abalos asal Philipina dan Abdul Latif dari Kerala, dalam mengelola pusat informasi itu.

“Dalam kurun waktu lima tahun setelah dibentuknya Pusat Informasi Islam, sekitar 1.500 orang dari Amerika, Australia, Inggris, Rusia, Cina, Jerman, Philipina, Sri Lanka, India dan Pakistan, masuk Islam di Pusat Informasi ini,” kata Philips.

“Alasan mereka masuk Islam karena frustasi dan rasa tidak puas, selain kebutuhan akan landasan rasional dan spiritual yang kuat. Beberapa di antara mereka masuk Islam, karena menikah dengan muslim dan yang lainnya memilih masuk Islam karena terdorong rasa ingin tahu mereka tentang Islam dan muslim,” jelas Philips.

Setelah sukses mendirikan Pusat Informasi Islam, ia membentuk sebuah departemen percetakan Dar Al Falah untuk menerbitkan literatur-literatur Islam dalam berbagai bahasa untuk memberikan edukasi tentang ajaran Islam bagi masyarakat non-bahasa Arab.

Dari seluruh kegiatan dakwahnya menegakkan agama Allah, saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup Philips adalah ketika kedua orangtuanya, dalam usia 70-an tahun akhirnya juga menerima Islam sebagai agama mereka. Kedua orangtua Philips yang sudah terbiasa hidup di lingkungan masyarakat Muslim di berbagai negara, antara lain Nigeria, Yaman dan Malaysia memilih masuk Islam setelah mereka menyaksikan bagaimana rusaknya kehidupan masyarakat di Amerika.

Bilal Philips saat ini masih aktif dalam dunia pendidikan. Ia mengajar sejarah Islam dan studi Hadis Rasulullah saw.

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 3 April 2016.
Vien AM.
Diambil dari :

Read Full Post »

Perindusurga.com – Ada seorang doktor wanita berasal dari Jerman, berkebangsaan Amerika, umurnya 46 tahun. Dia masuk Islam karena mahasiswinya yang bernama Fathimah. Dia menuturkan kisah keislamannya:

Dulu saya membenci kalimat Islam. Saya tidak pernah berangan-angan akan menemui seorang muslim atau muslimah hingga saya sampai di Amerika. Sejak bertahun-tahun lamanya saya menambah kebencian terhadap Islam sesuai dengan pemberitaan di pagi hari dan sore hari yang memberikan menu kebencian terhadap Islam. Setelah itu takdir Allah menundukkan saya untuk bertemu dengan Fathimah.

Pada suatu hari Kepala jurusan berkata kepada saya: “Kami memiliki seorang mahasiswi muslim yang cerdas dan baik. Dia memiliki syarat yang aneh, yaitu dia harus berada di bawah bimbingan seorang doktor wanita tidak di bawah bimbingan doktor laki-laki!”

Saya katakan: “Saya tidak tahu, saya akan mencobanya. Saya akan menemuinya terlebih dahulu sebelum persetujuan untuk membimbingnya.” Maka sayapun menemuinya.

Berubahlah segalanya. Hanya sekedar bertemu dengannya. Berubahlah pandanganku terhadap Islam. Dia adalah seorang wanita yang elok, berbudi luhur, berbaju sopan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sebuah wajah bercahaya putih yang semakin menambah cahaya dan kilatannya setiap kali tersenyum. Konsisten memegang agama dan ajaran. Konsisten terhadap pakaiannya hingga sampai pada tingkatan yang semakin menambah penghormatanku kepadanya.

Wahai Tuhanku, dia kuat berbangga dengan agamanya! Dia mensyaratkan apa yang menjaga kemuliaan diri dan agamanya!! Dia memuliakan orang lain, dia muliakan dirinya, agamanya, dan umatnya. Dia tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan.

Saya putuskan untuk setuju dan membimbingnya. Setiap hari bertambahlah kekagumanku terhadapnya. Dia tunaikan shalat pada sudut terbuka dari ruangan laboratorium. Maka saya izinkan dia untuk masuk ke kantorku saat dia memerlukan shalat. Saya mengawasi shalatnya, dia menoleh setelah shalat, dan sungguh wajahnya bersinar dan bercahaya. Saya merasa seakan-akan dia telah menjadi makhluk malaikat dari cahaya setelah selesai dari beribadah.

Saya sangat berkeinginan untuk mengetahui rahasia hal ini, saya berusaha untuk mengetahuinya. Sayapun berbincang dengannya, berdebat dan berdialog tentang segala sesuatu; kehidupannya, dan ilmunya. Sayapun menyetujuinya dalam keimanan, akan tetapi saya tidak merasakan kenikmatan terhadap keimanan sebagaimana dia bisa merasakan keimanan tersebut.

Pada suatu kali dia shalat pada salah satu tiang di dalam kantorku, sayapun mengawasinya, dan memperhatikan gerakan-gerakannya. Maka saat dia menoleh kepadaku, dia tersenyum dengan senyuman lembut. Sayapun merasakan perasaan yang mengalirkan keinginan untuk menangis. Saya sangat ingin memeluknya, dan memintanya dengan terus terang untuk mengetahui rahasia kebahagiaan yang terus menerus dan cahaya pada wajahnya?!

Pada suatu kali saya gagal dalam menjalankan perkerjaan rutinku. Maka dia tersenyum dan berkata: “Sesungguhnya ini adalah termasuk pengaturan Allah Ta’ala.” Maka saya bertanya kepadanya, maka diapun menjelaskan kepada saya tentang iman terhadap qadha dan qadar!! Oh..Seandainya saya memiliki iman ini,

agar tidak bosan dengan jiwa saya, tidak menggerutu atas kegagalan saya yang menjadikan saya merasa gundah.

Sayapun meminta dia memberikan informasi tentang agamanya. Maka dia menghadiahkan kepada saya sebuah mushhaf, yang di dalamnya telah diterjemahkan makna-makna kalimat. Saya terhenti pada dua ayat yang ada di halaman pertama (yakni pada surat al-Fatihah):

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Siapakah mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah? Apakah jalan yang lurus itu? Saya terus mengulang-ulang kedua ayat tersebut tanpa sadar, sayapun hampir berteriak. Kemudian pecahlah tangisan saya, dan saya berteriak tanpa sadar: “Wahai Tuhanku, tunjukilah saya jalan yang lurus, tunjukilah saya jalan yang lurus!!

Sungguh saya telah hidup dalam jalan yang bengkok, gelap, dan derita!” Kemudian saya menguasai diri dan bertanya-tanya: Apakah jalan yang lurus itu?! Saya kembali lagi melihat kepada al-Qur`an, maka datanglah jawabannya yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Ta’ala atas mereka. Siapakah mereka menurut pendapat anda?!

Jiwa saya menjawabnya, dari lubuk hati yang paling dalam. Mereka itu adalah orang-orang seperti Fathimah!! Ya, orang-orang seperti Fathimah, yang hidup dalam nikmatnya senyuman, nikmatnya kebahagiaan, nikmatnya ketenangan jiwa, mulia dengan apa yang dimilikinya dan apa yang tumbuh baginya.!!

Sayapun menangis, dan saya mengulang-ulang do’a, “Tunjukkanlah kepada saya jalan yang lurus wahai Tuhanku!” Pada malam itu saya tidak bisa tidur dengan baik. Pagi harinya saya menemui Fathimah. Saya memuliakan dan menghormatinya dengan penghormatan yang lebih dari biasanya, seakan-akan saya adalah mahasiswi dan dia adalah dosen.

Sayapun mengabarkan kepadanya akan keputusan saya!! Saya ingin di pagi ini menjadi orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka!! Diapun tersenyum kemudian memelukku!! Kamipun diam sambil berpelukan satu sama lain untuk beberapa menit. Sayapun menangis dengan penuh kerinduan dan kekhusyukan. Saya sama sekali tidak ingin melepaskan lehernya.

Dia mengurus urusan pernyataan keislaman saya melalui Islamic Center.

Saya merasakan nikmatnya kebahagiaan. Saya rasakan nikmat dan manisnya iman. Saya rasakan manisnya kehidupan dalam lindungan dan naungan Allah. Saya semakin bertambah bahagia setelah saya bertemu dengan bagian kewanitaan pada Islamic Center tersebut, dimana kami membaca al-Qur`an, kami saling membantu dalam membaca al-Qur`an, dan peningkatan keimanan melalui program menyenangkan yang memenuhi hidup saya dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Saya mencintai Allah, saya mencintai saudari-saudariku muslimah, saya terikat dengan mereka di rumah Allah, sayapun menjadi ibu bagi yang kecil diantara mereka, menjadi teman bagi yang besar, dan ini adalah sesuatu yang paling mahal yang saya temui dalam kehidupan saya. Alhamdulillah Rabbil Alamin.

(Sumber Facebook Majalah Qiblati)

Dicopas dari :

http://www.perindusurga.com/2016/01/masya-allah-dosen-ini-masuk-islam-gara.html

Jakarta, 29 Januari 2016.

Vien AM.

Catatan.

Seringkali kita yang terlahir Muslim, shalat 5x sehari, tapi tidak menyadari betapa dasyatnya makna yang terkandung dalam setiap bacaan shalat kita, alangkah ironisnya … Semoga kisah diatas dapat memotivasi kita agar dapat menjadi lebih baik, aamiin …

Read Full Post »

Dr Roger Haddenkisahmuallaf.com – Roger Hadden adalah seorang dokter gigi berasal dari Dungannon, Irlandia Utara. Ia membuka praktek dokter giginya di Inggris. Namun, ia telah lama tinggal di Skotlandia.

Hadden dibesarkan dari keluarga Kristen, dan ia adalah telah memutuskan menjadi Kristen sejak lahir. Meskipun dibesarkan dengan ajaran Alkitab, namun ia tidak terlalu mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan.

Hadden layaknya pemuda Inggris kebanyakan, sangat suka bersenang-senang tanpa mengenal batas. Ketika remaja ia mengaku tidak menjalankan agama apa pun, termasuk Kristen. “Saya selalu percaya bahwa Tuhan itu ada,” ujarnya.

Ia meyakini alam semesta ada penciptanya dan manusia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Ketika terus berusaha berpikir tentang Tuhan dari waktu ke waktu, Hadden selalu terganjal dalam keyakinannya.

Ketika melanjutkan studi ke jenjang universitas, ia bertemu banyak Muslim. Pada saat itu ia dan teman-teman Muslimnya terus bergulat dalam diskusi yang membahas tentang keyakinan. Hadden sangat menikmati diskusi-diskusi tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Hadden ingin bersikeras memperdalam keagamaannya dan keyakinan Kristennya.

Ketika memasuki tahun terakhir kuliahnya di universitas, Roger Hadden membuat rencana untuk mereformasi keyakinannya dan menjadi seperti orang tuanya dulu; Kristen taat. Dan ia memutuskan untuk memulai memahami bacaan Alkitab.

Ia memulainya dengan memantapkan konsep Trinitas, yang selalu mengganggu pikirannya. Karena pada waktu itu pemahaman agama Kristennya masih awam, kadang ia cukup bingung untuk berdoa. “Apakah doa saya akan ditujukan kepada Tuhan Bapa atau Yesus,” ujarnya.

Hadden kemudian berbicara dengan beberapa pemuka agama Kristen, untuk mendapatkan penjelasan akan konsep Tritunggal. Namun, tak satu pun dari mereka yang dapat meyakinkan dirinya.

Ia kemudian memutuskan untuk terus membaca dan memahami Alkitab, dengan mencari kebenaran di dalamnya.

“Masalah Trinitas membingungkan saya. Karena mengapa semua Nabi dalam Perjanjian Lama berdoa kepada Tuhan dan melakukan tindakan benar berharap pengampunan Tuhan? Dan tidak ada yang berdoa kepada Yesus?” gusarnya.

Bahkan tidak disebutkan kata ‘Trinitas’ dalam Perjanjian Lama, dan sebagian pemuka Kristen bahkan berpendapat tidak ada dalam Perjanjian Baru. Hadden tahu, Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, jadi pasti ada yang salah dengan ini.

Hadden kemudian berbicara dengan teman-temannya di Universitas. Beberapa mereka beragama Sikh, Katolik, ateis, dan beberapa juga ada yang Muslim. Keingintahuan telah merubah hidup Hadden sepenuhnya, dan ia menemukan jawaban dari sahabat Muslimnya.

Dalam Islam diperintahkan menyembah satu Tuhan, yang tidak memiliki mitra atau partner dengan-Nya. “Saya sangat tertarik dengan konsep ini,” kata Hadden. Namun, Hadden terus membaca Alkitab dan membandingkan sumber-sumber Kristen dengan Alquran dan buku-buku Islam.

Ia menemukan bahwa Muslim percaya Tuhan mengirim pesan kepada umat manusia melalui para nabi yang berbeda sejak Adam, manusia pertama. Dan semua nabi itu hanya percaya pada satu Tuhan, Allah SWT. Dan Muslim juga percaya bahwa akan ada hari perhitungan di akhir dunia nanti, ketika semua orang akan dibangkitkan dan dihakimi.

“Saya menyadari bahwa inilah yang saya percaya. Dan apa saya pikir, seperti inilah Alkitab berkata pada saya,” kata dia. Hadden kemudian mendiskusikan hal-hal tersebut dengan kedua orang tuanya, namun mereka tidak terlalu terkesan.

Beberapa bulan memperoleh karunia dan hidayah Allah, Hadden memantapkan hati untuk menjadi seorang Muslim. Ia pun memutuskan memeluk Islam.

Ia meyakini keputusannya ini adalah langkah yang tepat. “Alhamdulillah, terima kasih Allah,” ujarnya.

Hadden kini mencoba menjadi Muslim sejati dan berusaha membantu orang lain. Hari-harinya diisi dengan ibadah, shalat lima waktu dan tadarus (membaca) Alquran. Teman-teman Hadden di universitas sempat terkejut dengan perubahannya, terutama sejawatnya di kedokteran gigi.

Orang tua Hadden pun marah besar, mereka percaya sang anak sudah dicuci otaknya. Ia ingat ketika pertama kali memberi tahu orang tuanya bahwa ia memilih menjadi seorang Muslim, mereka tidak terlalu terkesan.

Kedua orang tuanya mengatakan langkah Hadden itu adalah “tindakan yang dibenci agama”. Namun, itu tidak menyurutkan langkah sang dokter gigi untuk menjadi pengikut Rasulullah. Beberapa bulan kemudian ia memutuskan bersyahadat.

Walaupun sejak masuk universitas Hadden selalu berjauhan dengan orang tuanya, tetapi ia terus mencoba untuk mengunjungi mereka. Kini, ia merasa hubungan dengan orang tuanya telah membaik. Sebab, berlaku baik kepada mereka (orang tua) adalah perintah Allah dalam Alquran.

“Saat ini saya bekerja sebagai dokter gigi di Inggris. Dan telah menikah dengan seorang wanita Muslimah setahun yang lalu. Dan berkat karunia Allah, kami dianugerahi seorang anak bernama Ismael,” tuturnya.

Jakarta, 2 November 2014.

Dikutip dari : http://www.kisahmuallaf.com/dr-roger-hadden-memeluk-islam-karena-trinitas/

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »