Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kisah para sahabat’ Category

Usianya ketika itu belum lagi genap 20 tahun. Namun Rasulullah telah menunjuk pemuda gagah berani ini menjadi panglima perang. Padahal ketika itu masih banyak sahabat dan pemimpin yang jauh lebih senior dan lebih berpengalaman dari pemuda tersebut. Yang bakal dihadapinyapun bukan main-main, pasukan Rum ! Pasukan yang dikenal dunia amat kuat dan tak terkalahkan.

Namun sebelum sampai di tujuan, Rasulullah memerintahkan panglima dan pasukannya agar berhenti dahulu di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah yang sudah masuk wilayah kekuasaan Rum, untuk menunggu perintah selanjutnya. Akan tetapi perintah tersebut tak kunjung datang karena ternyata Rasulullah saw jatuh sakit. Dengan penuh kesabaran sang Panglima muda mengumumkan pasukannya untuk tetap siap di tempat, menunggu hingga keadaan Rasulullah membaik.

Beberapa hari berlalu. Tidak ada tanda-tanda bahwa keadaan Rasulullah bakal membaik.Sang Panglima muda mulai merasa was-was. Ia sangat khawatir  tidak akan pernah bersua lagi dengan Rasulullah. Akhirnya ia memutuskan pasukannya untuk kembali. Sekencang mungkin ia memacu kudanya kembali ke Madinah.

Nyaris ia terlambat. Karena beberapa menit setelah kedatangannya dengan sangat hati-hati malaikat Izrail mencabut nyawa Rasulullah saw. Pemimpin yang amat dicintai sekaligus dihormatinya itupun kembali ke pangkuan-Nya. Ya Rasulullah saw telah menghembuskan nafas terakhirnya. Para sahabat dan seluruh umat muslim dilanda rasa duka yang amat mendalam. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un …

Bahkan Umar bin Khattab ra, pemimpin senior yang dikenal garang itupun sempat  terguncang. Bagaikan anak ayam kehilangan indung, ia meraung bahwa Rasulullah tidak mungkin tega  meninggalkan mereka. Untung Abu Bakar ra segera mengingatkan bahwa betapapun Rasulullah adalah manusia biasa, yang pada waktunya pasti akan dipanggil-Nya.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?… “(QS-Ali IMran (3):144).

Sang panglima belia tertunduk lesu. Dengan menahan duka yang amat dalam ia memberikan penghormatan terakhirnya. Waktu terus bergulir. Tidak ada waktu untuk terus berduka. Dakwah harus terus berlanjut. Beberapa waktu kemudian Abu Bakar, khalifah pertama yang diangkat begitu Rasulullah wafat, memerintahkan sang pemuda untuk melanjutkan tugas yang sempat tertunda.

Tetapi sekelompok kaum Anshar berupaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta Umar bin Khattab membicarakannya dengan Khalifah Abu Bakar. Mereka berkata “Jika khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagaimana dikehendakinya kami mengusulkan panglima pasukan yang masih muda remaja ditukar dengan tokoh yang lebih tua dan berpengalaman.”

Namun apa tanggapan sang khalifah mendengar ucapan Umar, “ Hai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasululllah. Demi Allah tidak ada cara begitu!”.

Menyadari kekhilafannya, Umarpun terdiam. Akhirnya berangkatlah pasukan dibawah pimpinan sang panglima muda sesuai petunjuk Rasulullah dahulu. Khalifah Abu Bakar turut mengantar keberangkatan pasukan dengan berjalan kaki di sisi sang panglima yang menunggang kuda. Hal ini rupanya membuat sang panglima muda merasa risih : “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. ” Abu Bakar menjawab : “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! Aku tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kakiku kotor demi mengantarmu berjuang fisabilillah! Aku titipkan padamu agamamu, kesetiaanmu dan kesudahan perjuanganmu kepada Allah. Aku berwasiat kepadamu laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”.“Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersamaku. Izinkanlah dia tinggal untuk membantuku”. Demikianlah Abu Bakar melepas pasukannya

Dengan gagah dan tegar sang panglimapun berangkat memimpin pasukan tentaranya. Segala perintah Rasulullah kepadanya dilaksanakan sebaik-baiknya. Tiba di Balqa’ dan Qal’atud Daarum, seperti perintah Rasulullah dahulu, sang panglima berhenti dan memerintahkan tentaranya untuk berkemah. Kehebatan Rum dapat dihapuskannya dari hati kaum muslimin. Lalu dibentangkannya jalan raya di hadapan mereka bagi penaklukan Syam dan Mesir.

Pasukan yang dipimpinnya berhasil kembali dari medan perang dengan  kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan perang yang banyak,  melebihi perkiraan yang diduga orang. Sehingga orang mengatakan “Belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat, utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan ini.”

Siapakah pemuda 20 tahun gagah perkasa yang mendapat kepercayaan begitu tinggi dari Rasulullah ini??

Itulah Usamah bin Zaid, putra Zaid  bin Haritsah, bekas budak yang pernah dijadikan anak angkat oleh Rasulullah sebelum Al-Quran melarangnya. Ketika itu Zaid bahkan belum memeluk Islam.

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Ahzab (33):5).

Selanjutnya Zaid menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tangga Rasulullah sekaligus sahabat baik dan tempat mempercayakan segala rahasia. Zaid sempat menikah dengan Zainab binti Jahsy ra yang kemudian menjadi salah satu Umirul Mukminin setelah keduanya bercerai. Pernikahan dan perceraian keduanya ini sarat dengan hikmah yang diabadikan ayat-ayat Al-Quran. ( baca : https://vienmuhadi.com/2009/08/23/anak-angkat-dan-kedudukannya-dalam-islam/ )

Usamah lahir 7 tahun sebelum hijrah, yaitu pada tahun  615 H. Ia lahir pada saat Rasulullah sedang susah karena tindakan kaum Quraisy yang tidak hanya selalu menyakitinya namun terlebih lagi karena menyakiti para sahabat. Seorang pembawa berita mengabarkan : “ Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah Rasulullah seketika berseri saking gembiranya. Beliau menyambut berita tersebut dengan suka cita.

Selanjutnya Rasulullah memperlakukan Usamah bagaikan cucu sendiri. Maka para sahabat juga menyayanginya. Bayi yang sangat beruntung itu mereka panggil “Al-Hibb wa Ibnil Hibb”, karena apapun yang disukai Rasulullah juga mereka sukai. Bila Rasulullah bergembira mereka pun turut bergembira.

Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah. Pada suatu kali Usamah tersandung pintu sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah meminta Aisyah ra agar  membersihkan darah dari luka Usamah tetapi tidak mampu melakukannya. Karena itu Rasulullah berdiri mendapatkan Usamah lalu beliau isap darah yang keluar dari lukanya dan ludahkan. Sesudah itu beliau bujuk Usamah dengan kata-kata manis yang menyenangkan hingga hati Usamah merasa tenteram kembali.

Sejak meningkat remaja, sifat dan pekerti Usamah yang mulia sudah terlihat.  Selain cerdik, pintar dan bijaksana, ia juga  takwa dan wara. Ia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Itu sebabnya kasih sayang Rasulullah terhadap dirinya makin hari makin bertambah besar.

Suatu ketika Hakim bin Hazam seorang pemimpin Quraisy menghadiahkan pakaian mahal kepada Rasulullah. Hakam membeli pakaian itu di Yaman dengan harga 50 dinar emas dari Yazan seorang pembesar Yaman. Rasulullah enggan menerima hadiah dari Hakam sebab ketika itu dia masih musyrik. Maka pakaian itu dibeli oleh beliau dan hanya dipakainya sekali ketika hari Jumat. Pakaian itu kemudian diberikan kepada Usamah. Selanjutnya Usamah senantiasa memakainya pagi dan petang hari.

Ketika Perang Uhud terjadi, beserta serombongan anak-anak sebaya putra-putra para sahabat, Usamah datang ke hadapan Rasulullah saw. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian memang diterima namun sebagian lain ditolak karena usia mereka masih sangat muda. Usamah termasuk kelompok anak yang tidak diterima. Karena itu Usamah pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan turut berperang dibawah bendera Rasulullah.

Dalam Perang Khandaq, Usamah kembali datang bersama kawan-kawan remaja putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya tampak lebih tinggi dengan harapan Rasulullah memperkenankannya berperang. Rasulullah terharu melihat kesungguhan hati Usamah. Karenanya beliau mengizinkannya pergi berperang sebagai pasukan pembawa anak panah. Ketika itu Usamah baru berusia lima belas tahun.

Ketika terjadi Perang Hunain tentara muslimin terdesak sehingga barisannya menjadi kacau balau. Tetapi bersama Abbas Sufyan bin Harits dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia Usamah tetap bertahan. Dengah kelompok kecil inilah Rasulullah akhirnya berhasil membalikkan keadaan dari kekalahan menjadi kemenangan. Kaum muslimin yang semula lari dari kejaran kaum musyrikinpun berhasil diselamatkan.

Dalam Perang Mu’tah Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya Zaid bin Haritsah. Ketika itu umurnya kira-kira delapan belas tahun. Usamah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan ia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabat yang telah syahid.

Selanjutnya komando dipegang oleh Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yg tinggal sedikit kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum. Seusai peperangan Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah swt.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, sang khalifah  pernah diprotes oleh putranya sendiri, Abdullah bin Umar karena dianggap melebihkan jatah Usamah dari jatah Abdullah sebagai putra Khalifah. “Wahai ayah, ayah menjatahkan untuk Usamah empat ribu sedangkan kepadaku hanya tiga ribu. Padahal jasa bapaknya tidak lebih banyak dari jasa ayah sendiri. Begitu pula pribadi Usamah, agaknya tidak ada keistimewaannya dibanding putramu sendiri ! ”.

Jawab Khalifah Umar : “Wah, jauh sekali! Bapaknya lebih disayangi Rasulullah daripada bapakmu. Dan pribadinya lebih disayangi Rasulullah daripada dirimu.” Mendengar keterangan ayahnya Abdullah bin Umarpun akhirnya rela menerima jatah lebih sedikit dari jatah Usamah.

Apabila bertemu dengan Usamah Umar menyapa dgn ucapan“Marhaban bi amiri!” . Jika ada orang yang heran dengan sapaan tersebut Umar menjelaskan “Rasulullah pernah mengangkat Usamah menjadi komandan saya.”

Wallahu a’lam bishshawab.

Pau – France, 30 April 2010.

Vien AM.

Sumber : Shuwar min Hayaatis Shahabah Dr. Abdur Rahman Ra’fat Basya Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Read Full Post »

Asma binti Yazid bersama suaminya termasuk yang berhijrah ke Habasyah demi menghindari makin sengitnya kaum Quraisy memusuhi kaum Muslimin. Pada hijrahnya yang kedua yaitu ke Madinah, ia dipersulit oleh keluarganya hingga akhirnya ia terpaksa merelakan suaminya pergi sendiri ke Madinah sementara anak mereka disandera oleh keluarganya sendiri di Makkah. Hal ini berlangsung selama 1 tahun hingga akhirnya dengan tekad yang bulat ia  bersama anaknya berhasil menyusul suaminya itu ke Madinah.

Perempuan yang kemudian biasa dipanggil dengan nama Ummu Salamah ini dikenal karena kepiawaiannya dalam berkutbah. Ia adalah juru bicara kaum perempuan pada masa hidup Rasulullah. Disamping itu ia juga  meriwayatkan 80 hadis. Suatu ketika didorong keinginannya yang begitu besar untuk ikut berjihad bersama kaum lelaki, ia pernah bertanya kepada Rasulullah :

Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh muslmah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta`ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan perempuan, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para perempuan terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum`at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?

Rasulullah tersentak mendengar pertanyaan tersebut. Beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang perempuan tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!”. Kemudian sambil tersenyum Rasulullah bersabda : ” Wahai Asma, kembalilah dan beritahukanlah kepada para perempuan  yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”.

Namun demikian, keinginan kuat yang begitu menggebu dalam dada Asma untuk ikut andil dalam berjihad tidak dapat dipadamkan begitu saja. Beberapa tahun kemudian setelah wafatnya Rasulullah saw, bersama para muhajirin dengan gagah berani ia berhasil melaksanakan niat tersebut, yaitu pada perang Yarmuk.  Bersama para muslimah lainnya, ia  berada di belakang para mujahidin untuk membantu jalannya peperangan. Mereka mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberi minum dan mengobati yang terluka serta memompa semangat juang kaum muslimin. Bahkan dalam perang besar tersebut ia berhasil membunuh 9  tentara Romawi yang ketika itu sedang dalam persembunyian.

Ibnu Katsir mengisahkan bahwa pada perang Yarmuk banyak muslimah yang ikut andil dan ambil bagian. Ia menulis : “Para perempuan menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu.” Adapun Khaulah binti Tsa`labah berkata: “Wahai kalian yang lari dari perempuan  yang bertakwa .Tidak akan kalian lihat tawanan. Tidak pula perlindungan. Tidak juga keridhaan”.

Asma juga adalah masuk satu dari sedikit sekali perempuan yang berbait pada bait pertama Islam yang terjadi pada tahun pertama hijriyah. Pada kesempatan tersebut Rasulullah saw membaiat para perempuan  dengan ayat yang tersebut dalam surat Al-Mumtahanah.

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akn membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah(60) : 12).

Baiat  Asma binti Yazid adalah jujur dan ikhlas. Ini disebutkan  riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi saw bersabda: “Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma,  tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?”.

Maka dengan segera Asmapun mengikuti perintah Rasululah untuk melepas kedua gelang besarnya. Tanpa ragu dan tanpa komentar ia meletakkannya di depan Rasulullah saw.

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Juli 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Khalifah Umar bin Khattab ra sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar percakapan seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Kata ibu : “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”.

Anaknya menjawab:  “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”

Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.

Balas si anak: “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan-nya Amirul Mukminin tahu”.

Umar yang mendengar percakapan tersebut kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu. Ketika pulang ke rumah, Umar segera menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu. Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat, yang kelak bakal  memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.

Asim yang taat, tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini kemudian melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz. Abdul-Aziz bin Marwan adalah  gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik.

Umar bin Abdul Azis dilahirkan sekitar tahun 682 M. Beberapa tradisi menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengklaim ia lahir di  Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh khalifah Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya, Fatimah. Tak lama kemudian setelah ayah mertuanya wafat, ia diangkat menjadi gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I, sepupunya. Ini terjadi pada tahun 706 M.

Umar di era khalifah Al-Walid I.

Tidak seperti sebagian besar penguasa Umayyah pada saat itu, Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah.

Sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj yang kemudian berhasil menekan sang khalifah  untuk memberhentikan Umar. Tetapi justru sejak itu, reputasi Umar di mata rakyat semakin tinggi.

Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area disekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata.

Berkata Said Al Musayyib, “Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana”.

Umar di era Sulaiman bin Abdul Malik ( 715 – 717).

Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan Al-Walid I yang kemudian dilanjutkan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Kekuasaan Bani Umayyah di masa ini sangat kukuh dan stabil. Sejak lama Sulaiman selalu mengagumi Umar. Suatu hari, ia mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.

Sulaiman bertanya kepada Umar, “Apakah yang kau lihat,  wahai Umar bin Abdul-Aziz?” dengan niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.

Namun jawab Umar, “Aku melihat dunia itu sedang makan satu dengan yang lain, dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyai oleh Allah mengenainya“.

Khalifah Sulaiman berkata lagi, “Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita ini?“.

Balas Umar lagi, “Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia kemudian condong kepada dunia“.

Jika Khalifah Sulaiman adalah pemimpin biasa, pasti ia akan marah dengan kata-kata Umar bin Abdul-Aziz tersebut, namun tidakdengan Sulaiman. Ia menerima dengan hati terbuka bahkan kagum dengan kata-kata itu.

Naiknya Umar sebagai Amirul Mukminin.

Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati, “Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?“. Jawab Khalifah Sulaiman, “Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz“.

Surat wasiat diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi sengaja dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya, Sulaiman memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’at dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.

Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, “Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini“.

Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata,Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’at yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki“.

Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah maka Umarpun menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan.  Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716.  Ia di bai’at sebagai khalifah pada hari Jumat setelah shalat Jumat. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini.

Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah. Ketika pulang ke rumah, Umar berpikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik.  Iapun berniat untuk tidur.

Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik, masuk melihat ayahnya dan berkata, Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?“.

Umar menjawab, “Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini“.

Jadi apa yang akan kau perbuat wahai ayah?“, tanya anaknya ingin tahu.

Umar membalas, “Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat”.

Apa pula kata anaknya mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru :

“Ayah, siapa yang menjamin ayah masih hidup hingga waktu zuhur nanti, sedangkan sekarang adalah tanggung-jawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak  orang yang dizalimi”.

Umar bin Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niatnya untuk tidur. Ia memanggil anaknya untuk mendekat, mengecup kedua belah matanya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolongku di atas agamaku”

Hari kedua dilantik menjadi khalifah, Umar menyampaikan khutbah umum.

Diujung khutbahnya, ia berkata:

“Wahai manusia, tidak ada nabi setelah Muhammad saw dan tidak ada  kitab setelah Al-Quran, aku bukan penentu hukum, bahkan  aku hanya pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah bahkan  aku hanya seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik diantara kalian namun justru aku orang yang paling berat tanggungannya diantara kalian,aku mengucapkan ucapan ini sementara aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa disisi Allah”.

Ia kemudian duduk dan berkata  “Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku”.

Setelah itu Umar pulang dan menangis hingga ditegur isterinya:

“Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” 

Beliau menjawab: “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang miskin, janda-janda yang banyak  anaknya namun  rezekinya sedikit, aku teringat akan para tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang tidak dapat menjawab hujah- hujah mereka sebagai khalifah karena aku tahu, yang menjadi pembela  mereka adalah Rasulullah saw’’. Mendengar itu istrinyapun turut meneteskan air mata.

Karenanya amirul mukminin ini segera mengembalikan seluruh harta yang didapat ketika ia menjabat gubernur Madinah ke Baitul Mal ( Kas Negara). Demikian juga istrinya. Ia menyerahkan seluruh perhiasan termasuk berlian yang diterima dari ayahnya sebagai hadiah ketika ayahnya menjabat sebagai khalifah. Umar menjadikan keluarganya yang semula terbiasa hidup bermewah-mewahan menjadi keluarga yang sangat sederhana dan bersahaja. Itu sebabnya banyak ahli sejarah menjuluki amirul mukminin ini dengan Khulafaur Rasyidin ke-5.

Pemerintahan Umar bin Abdul-Aziz.

Pemerintahan Umar berhasil memulihkan keadaan negara dan mengkondisikan negaranya seperti saat  keempat  khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya tak kalah dengan kebijakan para sahabat terbaik Rasulullah saw tersebut. Daerah kekuasaannya membentang luas, yaitu seluruh jazirah Arabia, Syam ( Palestina, Yordania, Syria ), Persia ( Iran, Irak dan sekitarnya ), Afrika Utara, seluruh semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugal) bahkan hingga ke Sisilia ( kepulauan di Laut Tengah, sekarang milik Italia).

Pemerintahannya sangat menakjubkan. Pada waktu itu tidak ada lagi kemiskinan hingga dikatakan tak seorangpun rakyatnya yang layak menerima zakat hingga harta zakat yang menggunung itu terpaksa diiklankan bahkan kepada siapa saja yang tidak mampu menikah untuk segera menikah.

Masa pemerintahan Umar diwarnai dengan banyak perubahan dan perbaikan. Ia berhasil menghidupkan sejumlah tanah yang tidak produktif, menggali sumur-sumur baru, memperluas Masjid Nabawi serta membangun banyak masjid baru. Sayangnya, Umar bin Abdul Aziz yang mulai memeritah pada usia 36 tahun ini hanya berkuasa selama 2 tahun 5 bulan 5 hari karena sakitnya.

Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz

Umar bin AbdulAziz wafat disebabkan oleh sakit akibat diracun oleh pembantunya yang di-iming- imingi sejumlah besar uang oleh musuh politiknya. Umat Islam datang berziarah. Melihat kedhaifan hidup khalifah, salah seorang menteri menegur isterinya. “Gantilah baju khalifah itu“. Istrinya menjawab, “Hanya itu pakaian yang dimiliki khalifah”.

Selanjutnya sang mentri bertanya kepada Amirul Mukminin : “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?

Umar Abdul Aziz menjawab: “Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa”

Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?”

Jika anak-anakku orang soleh, Allahlah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah

Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga (karena tidak menggunakan uang rakyat). Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga.” (ia tidak berkata : aku telah memilih kamu susah).

Anak-anaknya ditinggalkan tidak berharta dibandingkan anak-anak gubernur lain yang kaya. Setelah kejatuhan Bani Umayyah dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul-Aziz.

Wallahu’alam bishawab.

Pau – France, 17 November 2009.

Vien AM.

Dikutip dan diedit dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz

Read Full Post »

Imam Bukhari: Pemimpin dalam Ilmu Hadis

Imam Bukhari dikenal sebagai seorang ulama dan ahli dalam ilmu hadis. Ketelitian dan kecermatannya untuk mengumpulkan hadis-hadis sahih telah diakui para ulama. Bahkan, kitab hadis yang disusunnya (Sahih Bukhari) menjadi rujukan hampir semua ulama di dunia. Nama besarnya sejajar dengan para ahli hadis yang pernah ada sepanjang zaman. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhari.

Dilahirkan di Bukhara, Samarkand (sekarang), Uzbekistan, Asia Tengah, pada 13 Syawal 194 H atau bertepatan pada 21 Juli 810 M. Tak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya. Kemudian, dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa pada suatu malam, ibunda Imam Bukhari bermimpi melihat Nabi Ibrahim AS yang mengatakan, ”Hai Fulanah, sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa.” Ternyata, pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa kedua mata putranya telah bisa melihat kembali.

Iman Bukhari kecil dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab Ast-Tsiqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang bersifat syubhat (samar) hukumnya, terlebih lagi terhadap hal yang haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermazhab Maliki dan merupakan murid dari Imam Malik, yaitu seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Sejak kecil, Imam Bukhari memang telah menunjukkan bakatnya yang cemerlang dan luar biasa. Dia mempunyai ketajaman ingatan dan hafalan yang melebihi orang lain. Ketika berusia 10 tahun, Bukhari selalu datang dan mempelajari ilmu hadis kepada ad-Dakhili, salah seorang ulama yang ahli dalam bidang tersebut. Setahun kemudian, ia mulai menghafal hadis Nabi SAW dan sudah mulai berani mengoreksi kesalahan dari guru yang keliru menyebutkan periwayatan hadis. Pada usia 16 tahun, dia telah menghafal hadis-hadis yang terdapat dalam kitab karangan Ibnu Mubarak dan karangan Waki’ al-Jarrah.

Penelitian hadis
Guru-guru Imam Bukhari dalam bidang hadis sangat banyak. Ada yang menyebutkannya hingga mencapai lebih dari seribu orang. Imam Bukhari sendiri pernah mengatakan bahwa kitab al-Jami’ as-Sahih atau yang terkenal dengan nama Sahih al-Bukhari disusun sebagai hasil dari menemui 1.080 orang guru ahli (sarjana) dalam bidang ilmu hadis.

Dalam mengambil sebuah hadis, Bukhari sangat hati-hati. Ia tidak mau asal mengambil sebuah hadis sebelum diteliti tingkat kesahihannya. Bagaimana kualitasnya, siapa perawinya, adil atau tidak perawi tersebut, dan apakah hadis itu bersambung ke Rasulullah SAW atau tidak? Jika hadis-hadis yang diterimanya tidak sampai bersambung (mutawatir), ia akan meninggalkannya walaupun dalam periwayatannya terdapat imam atau sahabat terkenal.

Karena itulah, ketelitiannya dalam menempatkan sebuah hadis menjadikan dirinya sebagai orang yang hati-hati. Hadis yang diakui oleh imam hadis lainnya, seperti Imam Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai, dan Ahmad, belum tentu sahih menurut Bukhari. Dan, karena itu pula, kitab Sahih Bukhari yang ditulisnya menjadi rujukan pertama banyak ulama sebelum mengambil hadis sahih dari imam yang lain.

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadis sahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun lamanya. Ia mengunjungi berbagai kota guna mendapatkan keterangan yang lengkap tentang suatu hadis, baik mengenai hadis itu sendiri maupun mengenai orang yang meriwayatkannya. Di antaranya, ia melawat dua kali ke daerah Syam (Suriah), Mesir, hingga Aljazair. Kemudian, ia melawat ke Basra empat kali. Lalu, menetap di Hijaz (Makkah dan Madinah) selama enam tahun dan berulang kali ke Kufah dan Baghdad.

Dari pertemuannya dengan para ahli hadis tersebut, Bukhari berhasil memperoleh hadis sebanyak 600 ribu buah. Dan, 300 ribu di antaranya telah dihafal oleh Bukhari. Hadis-hadis yang dihafalnya itu terdiri atas 200 ribu hadis yang tidak sahih dan 100 ribu hadis yang sahih. Karena itu, dalam kitab-kitab fikih dan hadis, hadis-hadis beliau memiliki derajat yang tinggi.

Maka, tak mengherankan jika Imam Bukhari menjadi ahli hadis yang termasyhur di antara para ahli hadis sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan, sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fi al-Hadits (pemimpin kaum Mukmin dalam ilmu hadis). Banyak ahli hadis yang berguru kepadanya, seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr, dan Imam Muslim.

Sering difitnah.

Kebesaran akan keilmuan beliau diakui dan dikagumi sampai ke seluruh dunia Islam. Di Naisabur, tempat asal Imam Muslim–seorang ahli hadis yang juga murid Imam Bukhari–kedatangan Bukhari pada tahun 250 H disambut meriah. Bahkan, juga oleh guru Imam Bukhari sendiri, Muhammad bin Yahya Az-Zihli.

Dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menggambarkan, ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, dirinya tidak melihat kepala daerah, para ulama, dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti yang mereka berikan kepada Imam Bukhari. Kemudian, terjadi fitnah yang menyebabkan Imam Bukhari meninggalkan kota itu dan pergi ke kampung halamannya di Bukhara.

Seperti halnya di Naisabur, di Bukhara beliau disambut secara meriah. Namun, ternyata, fitnah kembali melanda. Kali ini, datang dari Gubernur Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad Az-Zihli, yang akhirnya gubernur ini menerima hukuman dari Sultan Samarkand (Uzbekistan) yang memerintah saat itu, yaitu Ibn Tahir.

Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand, Imam Bukhari akhirnya menetap di Samarkand. Sebelum ke Samarkand, ia singgah di sebuah desa kecil bernama Khartand untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun, di sana, beliau jatuh sakit hingga akhirnya wafat pada 30 Ramadhan 256 H atau bertepatan dengan 31 Agustus 870 M. dia/sya/berbagai sumber

Tokoh Utama Penghimpun Hadis Sahih

Di samping terkenal sebagai penghafal hadis, Imam Bukhari juga terkenal sebagai pengarang yang produktif. Kitab al-Jami’ as-Sahih atau Sahih al-Bukhari merupakan karangannya yang terpenting dan terbesar dalam bidang hadis. Para ulama menilai bahwa kitab Sahih al-Bukhari ini merupakan kitab hadis yang paling sahih. Karena kesahihan hadis-hadis yang dikumpulkannya, kitabnya senantiasa menjadi rujukan para ulama hadis. Bahkan, setiap hadis yang diriwayatkannya sudah tidak diragukan lagi kualitasnya.

Sesuai dengan namanya, kitab ini khusus memuat hadis-hadis sahih. Dari 100 ribu hadis yang diakuinya sahih, hanya 7.275 buah hadis yang dimuatnya dalam kitab tersebut. Jumlah inilah yang betul-betul diyakininya sebagai hadis-hadis sahih dan diakui pula oleh sebagian besar ahli hadis kenamaan.

Ketelitiannya yang begitu tinggi dalam periwayatan hadis tersebut menyebabkan para ulama hadis yang hidup sesudahnya menempatkan kitab Sahih al-Bukhari pada peringkat pertama dalam urutan kitab-kitab hadis yang muktabar (terkenal). Mengenai ini, seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi, menuturkan, ”Suatu ketika, saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur, saya bermimpi melihat Nabi SAW. Beliau berkata kepada saya, ‘Hai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab as-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku?’ Saya berkata, ‘Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?‘ Rasulullah menjawab, ‘Kitab Jami’ karya Muhammad bin Isma’il’.”

Beberapa orang ulama hadis berikutnya juga telah memberikan komentar (syarah) mengenai kitab Sahih al-Bukhari ini. Kitab-kitab yang memuat syarah itu berjumlah 82 judul. Di antaranya yang terkenal adalah kitab Fath al-Bari karangan Ibnu Hajar al-Asqalani yang terdiri atas 13 jilid besar.

Karya Imam Bukhari lain yang terkenal di antaranya adalah al-Jami’ as-Sahih, at-Tarikh as-Sagir, at-Tarikh al-Ausat, at-Tarikh al-Kabir, Tafsir al-Musnad al-Kabir, Kitab al-‘Ilal, Kitab al-Du’afa, Asami as-Sahabah, dan Kitab al-Kuna. Semuanya mengenai hadis. Tidak hanya mengenai hadis, ia juga mengarang kitab mengenai akhlak, Kitab al-Adab al-Mufrad. Selain itu, ia menyusun kitab mengenai akidah, Kitab Khalq Af’al al-Ibad. dia/berbagai sumber

Sumber :

http://www.republika.co.id/berita/42305/Imam_Bukhari_Pemimpin_dalam_Ilmu_Hadis

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Juli 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Mush’ab bin Umair adalah salah satu sahabat yang memeluk Islam pada masa awal keislaman. Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan. Pada waktu remaja ia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah dikarenakan wajahnya yang rupawan, kekayaan, otak yang cerdas dan akhlaknya yang baik.

Suatu hari ia mendengar berita mengenai Muhammad SAW dan apa yang diajarkannya. Iapun tertarik dan memutuskan untuk pergi ke Darul Arqom, suatu tempat dimana kaum Muslim berkumpul dan belajar. Disana ia mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang begitu mempesona. Hatinya menjadi tenang dan damai mendengar untaian ayat-ayat tersebut. Maka Mush’abpun memutuskan untuk memeluk ajaran baru ini. Namun ibunda Mush’ab adalah seorang yang berkepribadian kuat, pendiriannya tidak dapat ditawar-tawar. Oleh sebab itu Mush’ab memutuskan untuk sementara menyembunyikan keislamannya. Namun tak lama kemudian ibundanya mengetahui hal tersebut. Iapun berusaha membujuk agar Mush’ab mau kembali memeluk ajaran leluhurnya namun Mush’ab menolak sehingga akhirnya ia putus asa dan menghentikan pemberian keuangan serta mengurung Mush’ab di kamarnya dan melarangnya keluar rumah.

Beberapa waktu kemudian Mush’ab mendengar berita bahwa beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyi (Ethiopia). Segera Mushabpun memutuskan untuk melarikan diri dan ikut bergabung bersama orang-orang Muslim untuk hijrah ke Habasyi. Beberapa waktu kemudian karena terdengar desas-desus bahwa pihak Quraisy telah mengurangi tekanan terhadap Muslim, mereka memutuskan untuk kembali ke Mekah, begitu pula Mush’ab. Mereka segera menemui Rasulullah dan para sahabat. Demi melihat Mush’ab, Rasulullah menitikkan airmata, penampilan Mush’ab sungguh berbeda, ia berpakaian usang dengan tambalan disana-sini. Rasulullah menatapnya dengan penuh kasih sayang dan bersabda: “ Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam hal memperoleh kesenangan dari orang-tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan RasulNya”.

Setelah peristiwa baiat Aqabah ke 1 pada tahun ke 11 kenabian, Mush’ab ditugasi Rasulullah sebagai duta Muslim ke Madinah untuk mengajarkan Al-Quran dan berbagai pengetahuan lain mengenai Islam kepada penduduk disana. Berkat kecerdasan, kesabaran dan kebesaran jiwanya ia berhasil mengajak sebagian besar masyarakat kota itu untuk memeluk Islam. Itulah sebabnya ia dikenal dengan panggilan Muqri’ul Madinah ( Nara sumber Madinah). Dan sejak itu pula setiap orang yang mengajarkan Al-Qur’an disebut “Mush’ab”. Kemudian pada musim haji tahun berikutnya Mush’ab berhasil mengajak lebih dari 70 kaum Muslimin ke Mekkah dimana kemudian terjadi perjanjian Aqabah 2. Sejak saat itu Mush’ab tidak pernah absen menyertai Rasulullah berperang.

Dalam perang Uhud Mush’ab dipercaya Rasulullah sebagai pembawa bendera pasukan. Peperangan berlangsung sengit. Mulanya pasukan Muslim bisa menguasai keadaan namun ketika pasukan pemanah yang ditugasi untuk bertahan diatas bukit melanggar perintah dikarenakan tergiur oleh banyaknya ghonimah ( pampasan perang ) yang tertinggal di hadapan mereka, keadaan menjadi berubah terbalik. Tanpa diduga pasukan kafir yang dipimpin Khalid bin Walid yang waktu itu belum memeluk Islam menyerang-balik dari balik bukit sehingga pasukan Muslim kocar-kacir. Mush’ab sungguh terkejut. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah. Bila Rasulullah sampai terbunuh di perang tersebut bagaimana nasib kelanjutan ajaran Islam yang baru saja tumbuh itu ??

Lalu iapun segera meneriakkan “ Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul ” sambil mengacungkan bendera tinggi-tinggi dan bertakbir sembari menyerang musuh dengan gagah berani. Namun kemudian pihak musuh berhasil menebas tangannya hingga putus. Mush’ab segera memindahkan bendera ke tangan kirinya namun kali inipun ia tidak berhasil menghindar serangan lawan sehingga tangan kirinya juga ditebas pedang musuh. Mush’ab segera membungkuk kearah bendera lalu dengan kedua pangkal lengannya meraihnya ke dada sambil terus bertakbir. Namun kali ini lawan menyerangnya dengan menusukkan tombak ke dada Mush’ab. Mush’abpun gugur sebagai seorang syuhada yang gagah berani. Ironisnya, wajah Mush’ab yang memang mirip Rasulullah itu justru menjadi penyebab berita bahwa Rasulullah telah terbunuh! Hingga membuat pasukan Muslim semakin kacau dan panik.

Diakhir perang, Rasulullah beserta para sahabat meninjau medan perang dan mendapati jasad Mush’ab. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah yang andai ditaruh di atas kepalanya terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya bila ditutup kakinya maka terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah bersabda : ” Tutupkanlah ke bagian kepalanya , kakinya tutuplah dengan rumput idzkir!”.

Itulah akhir perjuangan Mush’ab bin Umair dalam menegakkan agama yang dengan tidak gentar menghadapi musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang yang enggan mengakui bahwa “Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”( Laa ilaaha illaLLAH wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah).

“ Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS. Ali Imran(3):32).

Itulah kalimat Tauhid, kalimat yang mampu mengantarkan manusia menuju ridho Sang Khalik, karena memang Dialah yang menciptakan manusia, langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya. Dialah Zat satu-satunya yang memegang jiwa dan hidup seseorang. Itulah kalimat Syahadat yang merupakan pintu gerbang ke-Islam-an seseorang. Sebuah pengakuan yang akan mengantarkannya kepada kebebasan dan kemerdekaan dari penyembahan, kepatuhan dan ketundukan kepada selain Allah SWT.

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):136).

Syahadat adalah inti ajaran Islam yang mengajarkan keadilan dan persamaan hak. Manusia disisi Allah adalah sama hanya ketakwaan yang membedakannya .

“ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.(QS.Al-Baqarah(2):132).

Seorang Muslim minimal 5 kali dalam sehari dalam shalatnya mengikrarkan sebuah janji melalui doa Iftitah, yang mustinya diikuti dengan pelaksanaan janji tersebut bahwa hidup dan matiku hanyalah untukMu, Yaa Allah.

“ Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS.Al-An’aam(6):161-163).


Salam atasmu wahai Mush’ab

Salam atasmu syuhada Perang Uhud

Assalamu’alaikum.

 

 

Jakarta, 10/8/2007.

Vien AM.

Read Full Post »

Salman Al-Farisiy adalah salah satu sahabat Rasulullah yang terkenal gigih dalam memperjuangkan tegaknya kebenaran agama Allah. Ia berkebangsaan Persia. Ia memeluk Islam pada periode Madinah. Ayah Salman adalah seorang kepala sebuah desa bernama Jayy, Isfahan di Persia. Keluarganya memeluk agama Majusi. Salman diberi tugas ayahnya untuk menjaga nyala api pemujaan agar jangan sampai padam walau hanya sekejap. Ayahnya begitu menyayanginya hingga tidak pernah mengizinkan Salman pergi kemanapun.

Suatu hari karena ayah Salman sibuk, maka ia meminta Salman agar memeriksa ladang mereka yang terletak agak jauh dari rumah. Sang ayah berpesan agar ia pergi tidak terlalu lama sehingga akan menyebabkan Sang ayah khawatir akan keselamatannya.

Namun dalam perjalanan menuju ladang, Salman muda yang selalu tinggal di rumah melewati sebuah gereja. Ketika ia melongok apa yang dikerjakan orang-orang didalam gereja tersebut ia merasa takjub dan berkata dalam hati bahwa agama ini jauh lebih baik dari agama keluarganya. Maka iapun menanyakan dari manakah agama ini berasal, yang kemudian dijawab : “dari Syam”.

Karena ketertarikannya ia tinggal disana hingga matahari terbenam dan ketika ia pulang kerumah, ternyata ayahnya sedang sibuk mencarinya. Kemudian ketika Salman menceritakan pengalamannya, sang ayah menjadi marah dan mengatakan bahwa agama tersebut tidak cocok untuk keluarga mereka. Maka Salmanpun dihukum, kakinya dibelenggu dan ia dikurung dalam rumah.

Beberapa waktu kemudian, Salman menyuruh orang untuk menemui beberapa orang Nasrani dan berpesan bahwa ia ingin melarikan diri dari rumah dan mengikuti para saudagar Nasrani itu pergi ke Syam. Maka dengan bantuan mereka, akhirnya Salman berhasil meninggalkan rumah dan tiba di negeri Syam. Segera Salman ikut bergabung dengan seorang uskup di gereja dan tinggal bersamanya. Namun ia kecewa ternyata sang pendeta berkelakuan buruk. Ia menganjurkan pengikutnya untuk banyak mendermakan harta namun harta yang banyak itu ia tumpuk sendiri demi kepentingan pribadi. Tak lama kemudian setelah sang uskup wafat, Salman menceritakan keburukan sang uskup hingga akhirnya para pengikutnya tidak jadi memakamkannya dan malah menyalib dan melempari jenazah tersebut.

Setelah itu untuk menggantikan uskup yang telah wafat tersebut kemudian diangkat uskup lain. Kali ini ia seorang uskup yang jujur. Namun sayang, Allah SWT tidak memanjangkan umurnya. Hingga tiga kali Salman hidup berpindah-pindah dan tinggal bersama uskup dibeberapa negeri dan ketiganya adalah orang yang hidup zuhud serta tekun beribadat. Salman amat mencintai mereka.

Akhirnya uskup yang ketiga, yaitu uskup di Rumawi, sebelum ajal meninggalkan pesan pada Salman bahwa saat ini (saat dimana uskup dan Salman hidup) amat jarang orang Nasrani yang menekuni agama sebagaimana yang dilakukannya. Ia juga mengatakan bahwa saat ini telah datang seorang Nabi yang diutus Allah SWT membawa agama Ibrahim. Nabi ini bersedia menerima hadiah namun tidak bersedia menerima sedekah dan beliau memiliki tanda kenabian diantara kedua tulang belikatnya. Nabi ini akan muncul di negeri Arab. Ia menambahkan bahwa sebenarnya kaum Nasrani telah mengetahui hal tersebut karena kitab mereka memang telah mengatakannya namun banyak diantara mereka yang nantinya akan menyangkal kebenaran tersebut.

“ Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya”.(Kitab-Ulangan 18:18).

“ Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.(QS.Ash-Shaff(61):6).

Maka demi memenuhi keinginan untuk segera bertemu dengan Sang Nabi baru, Salmanpun segera mengumpulkan bekal untuk perjalanan ke negeri Arab. Namun sayang, ditengah perjalanan ia dizalimi. Setelah dirampok iapun dijual dan dijadikan budak oleh seorang Yahudi. Tak lama kemudian ia dijual kembali kepada orang Yahudi lain yang tinggal di Madinah. Salman menyimpan harapan agar ditempat ini ia akan segera berjumpa dengan Sang Kekasih Allah.

Suatu hari, ketika ia sedang berada di atas pohon kurma untuk menjalankan perintah majikannya, ia mendengar seseorang berteriak : “ Celakalah orang-orang Bani Qailah, mereka sekarang sedang berkumpul di Quba, menyambut kedatangan seorang dari Makkah yang mereka pandang sebagai Nabi!”.

Maka malam hari itu juga ketika si majikan sedang tidur, Salman segera menuju Quba dan membawa beberapa jenis makanan untuk diberikan kepada Sang Nabi dan mengatakan bahwa itu adalah sedekah. Sang Nabi menerimanya dan menyuruh orang-orang untuk memakannya namun beliau sendiri tidak turut menyantapnya.

Salman berkata dalam hati “Inilah tanda pertama..”. Keesokkan harinya ia kembali lagi dan membawa beberapa jenis makanan, namun kali ini ia mengatakan bahwa ini adalah hadiah. Sang Nabi menerimanya dan menyantapnya bersama orang-orang yang lain. Salman kembali berbisik : ” Inilah tanda kedua itu ..”. Pada kesempatan lain Salman kembali datang menemui dan berusaha untuk melihat bagian punggung Sang Nabi. Rupanya Sang Nabi mengetahui maksud Salman, iapun segera membuka pakaian atasnya. Maka Salmanpun segera melihat tanda kenabian di punggung Sang Nabi sebagaimana yang digambarkan uskup di Rumawi.

Detik itu juga Salman langsung menghambur dan memeluk Sang Nabi, Muhammad Rasulullah dengan penuh haru dan sambil menangis tersedu sedan iapun menceritakan pengalaman panjang hidupnya dalam rangka mencari kebenaran sejati. Salmanpun segera memeluk agama Allah, Islam. Semoga Allah melimpahkan rahmat sebesar-besarnya kepada hambanya yang sudi terseok-seok mencari hidayah-Nya.

Namun perjalanan Salman masih panjang. Karena kedudukannya sebagai budak ia terikat perjanjian kepada majikannya hingga ia sulit menjalankan ajaran agamanya. Untuk menebus dirinya ia harus menyediakan tiga ratus bibit kurma dan menanamnya di sebidang tanah ditambah lagi harus menyerahkan emas seberat kurang lebih 119 gram.

Namun berkat anjuran Rasulullah, maka para sahabatpun rela membantu Salman untuk mengumpulkan barang tebusan tersebut. Maka sejak itulah Salman Al Farisy R.A , sang anak Persia kesayangan ayahnya, tidak pernah meninggalkan Rasulullah dan selalu menyertai beliau dalam memperjuangkan berdiri tegaknya Islam.

“ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”.(QS.Luqman(31):33).

“…… Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”.(QS.Asy-Syuura(42):13).


Wallahu’alam,
Jakarta, 25/4/2007.
Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts