Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Syariah’ Category

Mencoba Memahami Konsep Takdir

Berbicara mengenai takdir memang menarik dan selalu mengundang banyak pertanyaan. Telah banyak buku ditulis mengenai hal ini tetapi tetap tidak dapat memuaskan semua pihak. Saya ingin mencoba memberikan sedikit pandangan dan pendapat mengenai takdir dengan tujuan untuk sedikit lebih dapat mengenal ilmu Allah yang satu ini. Semoga Allah tidak menganggap ini sebagai sebuah kelancangan seorang hamba, Naudzu billah min dzalik…

Takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi dengan ridho Allah. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa takdir telah ditetapkan jauh sebelum manusia diciptakan.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi ini dan (tidak pula)pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”.( QS. Al Hadid(57):22).

       Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang berbunyi: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. Katanya: Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw ( orang yang selalu benar dan dibenar kan) :”sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis RIZKInya, batas UMURnya, AMAL dan kecelakaan atau KEBAHAGIAAN hidupnya”.

Akan tetapi ada pula sebagian pendapat yang mengatakan bahwa takdir dijatuhkan setelah manusia berusaha. Mereka menyatakan ini berdasarkan salah satunya akan adanya ayat berikut:

“…. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…. ”. (QS. Ar Ra’d(13):11)

Saya pribadi lebih condong dan berpegang pada ayat (57:22) tetapi tentu saja tanpa mengabaikan adanya ayat2 lain termasuk ayat 13:11 diatas. Namun takdir tersebut tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Misalnya bahwa si A ditakdirkan lahir sebagai orang miskin atau si B telah ditakdirkan meninggal karena bunuh diri atau karena bencana alam dsb. Alangkah naifnya Allah bila ia menciptakan takdir sesederhana itu. Bahkan pada permainan atau game-game seperti playstation atau komputer saja,si pembuat game mampu menciptakan permainan yang rumit yang memerlukan ketrampilan dan kecekatan si pemain bila ia menginginkan hasil yang memuaskan. Atau ambil contoh lain,sebagai ilustrasi,bayangkan kita sedang berada di dalam sebuah labirin. Untuk dapat keluar dari labirin tersebut,tidak ada jalan lain kecuali harus mencoba melalui segala jalan. Hal tersulit adalah pada saat kita menjumpai suatu persimpangan,dimana kita harus memutuskan untuk terus,belok kiri atau kanan tanpa mengetahui apa yang ada dihadapan kita. Dan bila ternyata jalan tersebut buntu kita harus kembali ke persimpangan terdekat dan kembali harus mencoba menempuh jalan lain.

Demikian pula halnya dengan takdir kehidupan. Takdir telah Allah persiapkan jauh sebelum kita diciptakan. Takdir diciptakan dalam sebuah program yang disimpandalam bentuk sebuah “chip” bagaikan sebuah “chip” dalam komputer,yang kemudian diselipkan pada otak manusia yang akan dibawanya serta ketika manusia dilahirkan. Setiap manusia memiliki “chip” masing2 yang berbeda satu sama lain. Ada yang rumit dan ada pula yang sederhana. Semua atas kehendakNya.

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya ”. (QS. Al Israa’(17):13)

Nah,dengan bekal “chip” inilah manusia harus menjalani kehidupannya. Perbedaannya dalam kehidupan kita tidak mungkin melangkah mundur. Roda kehidupan terus berlanjut. Labirin belum mencapai “finish” selama hayat masih dikandung badan. Pada saat inilah manusia dituntut untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya. Ia diberi akal,pikiran dan perasaan untuk dapat menentukan mana baik,mana buruk,mana yang disukai,mana yang tidak disukainya.

Bila dalam setiap permainan atau game komputer ataupun dalam pembuatan kendaraan misalnya,si pembuat menyertakan buku panduan maka apalagi Allah,sang Maha Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada diantara keduanya. Pada setiap zaman Ia menurunkan petunjuk melalui kitab-kitabNya. Mungkin dapat kita bandingkan dengan adanya edisi 1,edisi2 pada setiap peluncuran buku-buku terbitan baru,dimana kandungan edisi terbarunya selalu lebih baik & lebih sempurna,demikianlah dengan kitab-kitab Allah,kitab terakhir menerangkan &memberi penjelasan akan kitab sebelumnya. Semuanya itu untuk kepentingan umatNya,umat yang amat dicintaiNya. Dengan bekal buku petunjuk inilah manusia akan dapat menentukan langkahnya. Selalu ada kemungkinan untuk berhasil ataupun gagal,tergantung pada usaha masing-masing. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah(Allah),maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk(keselamatan) dirinya sendiri;dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi(kerugian) dirinya sendiri”. (QS. Al Israa’(17):15).

Akan tetapi yang perlu selalu diingat,kemungkinan-kemungkinan tersebut tetap berada dalam kerangka program pada masing-masing “chip” yang telah disiapkan olehNya jauh sebelum ia dilahirkan. Oleh sebab itu tidaklah patut apabila seseorang mengatakan bahwa keberhasilannya adalah semata karena usahanya. Sebaliknya bahwa kegagalannya adalah karena ketidak-mampuannya semata.

“(Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Al Hadid(57):23).

Yang terpenting adalah niat dan usaha kita,karena niat,usaha dan juga sikap akhir kita dalam menerima ketetapan Allah inilah yang akan diperhitungkan kelak di akhirat. Karena sesungguhnya dunia hanyalah permainan sebagaimana firman Allah:

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya;sedang apa yang disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”. (QS Al Qashash(28):60)

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan(kepadanya).(An Najm(53):39-40)

Tetapi kita juga tidak perlu terlalu khawatir akan ketetapan-ketetapan tersebut karena Allah juga berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS Al Baqarah(2):286).

Oleh sebab itu agar kita dapat melalui takdir terbaik kita,disamping harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat(termasuk mengenal fenomena alam, sebab &akibatnya),kerja keras dalam pengamalan pengetahuan tersebut,kita juga harus selalu memohon petunjukNya.

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumuah(62):10).

Keberadaan ‘chip’ ini mungkin dapat pula kita bandingkan dengan ‘black-box’ pada pesawat terbang. Namun bila Black-box hanya mampu merekam apa yang terjadi pada saat-saat terakhir perjalanan didalam sebuah pesawat terbang, maka chip pada diri manusia selain memiliki program ‘perjalanan hidup’ juga sekaligus memiliki kemampuan merekam segala kejadian yang dilaluinya sejak ia dilahirkan hingga kematiannya. Ia terus mendampinginya, merekam dan mencatat kejadian demi kejadian, yang besar maupun yang kecil dan baru berhenti merekam begitu manusia masuk kubur. Chip inilah yang akan memberikan kesaksian di hari Akhir nanti. Maka tak seorangpun kelak mampu menyembunyikan ataupun menghindar dari satu perkara betapapun kecil dan sepelenya suatu perkara.

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis) “.(QS.Al-Kahfi(18):49).

Chip ini bahkan mampu merekam apa yang dibisikkan dalam hati.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.(QS.Qaaf(50):16-18).

Oleh sebab itu dikatakan pada hari pembalasan nanti Yang Maha Kuasa akan memperlihatkan kepada manusia segala amal perbuatannya.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula”. (QS.Al-Zalzalah(99):7-8).

Bahkan Ia berfirman setiap anggota tubuh dirinya mampu melihat catatan perbuatannya sendiri. Cukup dirinya sendiri sebagai saksi, tidak ada kebohongan, kecurangan maupun kelalaian didalamnya.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”(QS.Al-Israa’(17):14).

Dan agar supaya Ia berkenan mengabulkan doa dan memberikan petunjukNya,maka sudahlah sepatutnya bila kita wajib mengenalNya dengan baik,yaitu dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam kitab dan sunah rasulNya. Kemudian apakah bencana, penyakit,kekurang-beruntungan kita dalam memperoleh rezeki bahkan jodoh yang kurang bertanggung-jawab misalnya apakah itu semua adalah suatu takdir?Semua yang telah terjadi sudah pasti adalah takdir. Akan tetapi yang perlu dipertanyakan adalah apakah sebelum terjadinya hal-hal tersebut kita telah berusaha menghindari dan mencegahnya dengan sungguh-sungguh?Bila tidak,ada kemungkinan sebetulnya ada jalan lain,takdir yang lebih baik yang memungkinkan kita terhindar dari takdir yang kurang menyenangkan tersebut. Akan tetapi sekali lagi kita tidak perlu terlalu khawatir, karena Allah menciptakan bumi & langit dan segala isinya ini dengan penuh keseimbangan. Semua saling mengisi dan saling membutuhkan sebagaimana halnya cara kerja tubuh manusia,antara jantung,paru-paru,ginjal dsb yang masing-masing bekerja tetapi saling tergantung satu sama lain.

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS Al Hijr(15):21).

Coba bayangkan,bila didunia ini tidak ada seorangpun pekerja sampah,supir,pelayan dsb,apa yang bakal terjadi?

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat,agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Az Zukhruf(43):32).

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,serta diguncangkan(dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah?”Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al Baqarah(2):214).

Wallahu‘alam bish shawab.

Jakarta, 9 Februari 2006

Vien AM.( pernah diterbitkan oleh Noor edisi 6 pada Juni 2006)

Read Full Post »

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Terjemah QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.( Terjemah QS.Al-Qashash(28):71-73).

Pernahkah kita mencoba merenungkan makna kedua ayat diatas? Jika saja manusia mau berpikir, sungguh tak terhitung nikmat Allah yang telah dilimpahkan atas mahluk-Nya; baik itu nikmat kehidupan, nikmat kesehatan, nikmat ketenangan dan ketentraman, nikmat keturunan, nikmat kekayaan dan terutama tentu saja nikmat ke-Islam-an. Karena jauh sebelum Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini, Ia memang telah mempersiapkan seluruh sarananya terlebih dahulu, diantaranya adalah perputaran antara siang dan malam serta turunnya air hujan yang tidak asin ( juga air laut yang asin) yang merupakan kebutuhan mutlak seluruh mahluk hidup sebagaimana kedua ayat diatas. Belum lagi aneka ragam tumbuhan serta binatang yang siap dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup manusia. Jadi sudah sepantasnyalah manusia itu harus banyak bersyukur. Dan sebagai penyempurnaan akan rasa syukurnya, manusia diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji minimal 1x dalam hidupnya, bila ia mampu.

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”(Terjemah QS.Ali Imran(3(:97).

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa kesanggupan yang dimaksud adalah kesanggupan dalam menyiapkan perbekalan diri dan harta untuk melakukan perjalanan pulang-pergi ke Baitullah, termasuk didalamnya adalah kekuatan atau kesehatan untuk melaksanakan seluruh kegiatan fardhu haji serta perbekalan keluarga yang ditinggalkan. Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulllah bersabda :

Bersegeralah melakukan haji (yaitu haji yang fardhu ) karena kalian tidak tahu apa yang akan menimpa kalian”. ( HR Ahmad).

Rasulullah juga menambahkan bahwa barangsiapa yang dengan sengaja memperlambat pergi haji padahal ia mampu, maka bila ia meninggal dunia dalam keadaan demikian maka matinya sama dengan matinya orang Yahudi atau Nasrani!

ka'bah1Ibadah haji adalah suatu kegiatan ritual, suatu rentetan kegiatan simbolis yang mencerminkan perjalanan kehidupan manusia. Ibadah haji bertujuan agar manusia mau berpikir apa hakekat dan tujuan hidup ini, dari mana dan hendak kemana kita ini, apa yang telah kita lakukan selama ini. Dan sebagai hasilnya manusia yang telah menyelesaikan ibadah haji semestinya akan memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ia banyak berzikir untuk mengingatNya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Manusia yang telah berhasil menyempurnakan rukun Islam terakhir ini seharusnya akan terlihat dari prilakunya. Ia jauh dari sifat-sifat buruk dan jahat seperti pendendam, pembohong serta pendengki. Sebaliknya ia akan menjelma menjadi sosok yang pemaaf dan penyantun, peduli terhadap sekeliling serta mampu menjalin dan mengikat kembali silaturahmi yang terputus. Itulah yang disebut haji mabrur, surga adalah imbalan baginya.

Ibadah haji adalah ibadah yang telah berumur sangat tua. Ibadah ini dilaksanakan di kota Mekah, Saudi Arabia. Di dalam Al-Quran , kota ini disebut Ummul Qura yang berarti ibu negeri. Menurut beberapa mufassir terkenal yang kemudian diperkuat dengan adanya hasil penyelidikan terhadap lapisan bumi, ternyata lapisan sekitar jazirah Arab lebih tua daripada lapisan bagian bumi lainnya. Oleh karena itulah Al-Quran menyebutnya ‘Umm’ atau ‘ibu’ yang dapat diartikan sebagai asal-usul sebuah negeri, tempat yang tertua di dunia. Ditempat inilah Ibrahim as dan Ismail as melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya. Islam hanya meluruskannya kembali setelah ibadah ini sempat diselewengkan selama ribuan tahun lamanya.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”( Terjemah QS.Al-Baqarah(2):127-128).

Kegiatan-kegiatan dalam haji seperti Tawaf, Sa’i, Wukuf, melempar Jumrah dan sebagainya bukanlah sekedar kegiatan ritual belaka. Semua mempunyai makna yang amat mendalam. Tawaf yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x, merupakan gerakan simbolis yang mencerminkan bahwa manusia, mau ataupun tidak mau, harus mengikuti arus perputaran waktu, 7 hari dalam seminggu terus menerus selama hidupnya. Ia harus pasrah, tunduk patuh terhadap hukum-Nya, sunatullah, hukum alam yang diciptakan-Nya. Bila tidak, ia akan terlempar dari perputaran, terinjak-injak dan menderita.

Sedangkan Sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak 7x, merupakan cerminan usaha manusia untuk bekerja keras 7 hari dalam seminggu selama hidupnya demi mendapatkan apa yang dicita-citakannya dengan mengharap ridho-Nya. Dan bila Allah SWT ridho, cita-cita tersebut akan terlaksana. Kegiatan ini juga untuk mengenang bagaimana seorang Siti Hajjar, seorang perempuan yang ditinggalkan di tengah padang pasir karena ketakwaan sang suami (Ibrahim as) akan Tuhannya, berjuang keras untuk mendapatkan setetes air untuk bayi yang baru dilahirkannya (Ismail as). Dan atas ridho-Nya pulalah akhirnya muncul sumber air zam-zam di dekat kaki sang bayi. Sumber air yang telah ribuan tahun umurnya ini hingga kini masih terus memancarkan airnya walaupun setiap tahun dikonsumsi oleh jutaan jamaah haji.

Berikutnya adalah Wukuf di padang Arafah. Inilah puncak kegiatan haji. Tamu-tamu Allah yang datang dengan susah payah dari segala penjuru dunia ini diberi kesempatan mulai waktu zuhur hingga waktu magrib untuk ‘menemui’Nya. Di tempat inilah Allah SWT secara langsung mendengar keluh-kesah maupun permintaan hamba-hambaNya dan menatapnya dengan penuh kasih-sayang.

Rasulullah bersabda : “… Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?”.

Kehadiran Sang Khalik di padang Arafah untuk menyaksikan hamba-Nya yang datang dan hadir di padang yang gersang tersebut sesungguhnya adalah sebuah kehormatan besar dan kemuliaan bagi umat Rasulullah saw. Karena bahkan gunung dan Musa as pun sebagai salah satu rasul pilihan, tidak sanggup menyaksikan kehadiran-Nya.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Terjemah QS.Al-‘Araaf(7):143).

Wukuf di Arafah adalah sebuah gambaran puncak perjalanan hidup bahwa semua manusia kelak sebelum masuk surga atau neraka akan dikumpulkan disuatu tempat yang dinamakan padang Masyar. Ditempat ini semua atribut keduniawian ditanggalkan. Kain Ihram yang dikenakan para jemaah haji adalah cerminan kain kafan yang merupakan satu-satunya harta yang dibawa seseorang ketika wafat. Hadir di Arafah juga mengingatkan agar manusia hendaknya kembali ke fitrah semula sebagaimana bayi yang dilahirkan ke dunia tanpa membawa apapun. Jadi wukuf adalah sebuah kegiatan untuk merenungkan diri dalam rangka menghadapi hari akhir yang sungguh dasyat dan mengerikan, yaitu sebuah hari yang pasti terjadi dan tak terelakkan.

Kemudian Jumrah, yaitu melemparkan batu kerikil ke 3 buah tugu; Aqabah, Ula’ dan Wustha’. Kegiatan ini melambangkan perlawanan manusia terhadap nafsu jahat yang ditebarkan oleh syaitan. Ditempat inilah Ibrahim as dicegah oleh syaitan agar membatalkan niat melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail as.

Namun sebelum Jumrah, kita harus ‘mabit’ atau ‘bermalam’ dahulu di Muzdalifah guna mencari batu-batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar Jumrah. Hikmah yang dapat diambil dalam kegiatan ini adalah diperlukannya persiapan dalam menghadapi lawan diantaranya yaitu pentingnya bekal ilmu.

Terakhir, sebagai bukti bahwa seorang hamba telah berhasil mengusir dan melawan nafsu jahatnya maka ia wajib berkorban dengan menyembelih kambing, unta ataupun sapi. Pengorbanan atau penyembelihan ini sesungguhnya hanyalah lambang ketaatan dan ketakwaan terhadap Tuhannya, Allah Azza wa Jalla sebagaimana dicontohkan Ibrahim as yang dengan patuh melaksanakan perintah-Nya walau perintah tersebut adalah perintah untuk menyembelih putra satu-satunya ketika itu.

Beruntung, kita tidak dicoba dengan perintah untuk menyembelih anak kita! Allah swt amat memahami tingkat keimanan kita. Oleh karenanya Ia hanya menyuruh kita untuk mengorbankan sebagian harta dan waktu yang sungguh tidak seberapa dibanding segala nikmat yang telah kita terima… Masya Allah …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26/12/06.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts